BAB II LANDASAN TEORI
|
|
|
- Suryadi Tan
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Perancangan die (die design) Perancangan dan pembuatan die sangat penting sekali dan sangat dibutuhkan dalam aspek proses ekstrusi aluminium. Rancangan die tersebut dipengaruhi berbagai macam faktor yaitu prosedur serta perawatan pada saat melakukan proses ekstrusi, mengetahui bentuk profil dan toleransinya, serta mengetahui karakteristik komposisi aluminiumnya. Ketrampilan serta keahlian yang baik pada seorang perancang dan pembuat die sangat vital agar produksinya lebih efisien. Akhir-akhir ini rancangan serta pembuatan die ekstrusi aluminium mengalami perkembangan yang sangat komplek pada bentuk, ketebalan dan kualitas permukaan profil. Dari beberapa pengalaman yang didapat hingga saat ini, maka dibuatlah beberapa persyaratan dalam merancang sebuah die, tetapi merancang die ekstrusi masih tergantung dari penilaian masing-masing orang, pemikiran, dan pengalaman. Tidak ada dua die yang memiliki kesamaan rancangan, material, kekerasan, dan juga hasil ekstrusi yang sama. Sebuah hubungan pekerjaan yang saling terkait antara perancang die, pembuat die, operator mesin ekstrusi serta korektor die sangat dibutuhkan untuk memeriksa toleransi dan kinerja produksi. Ada tiga tujuan utama dari perancangan sebuah die untuk semua operasi ekstrusi yaitu menyediakan agar aliran aluminium pada saat dilakukan ekstrusi relatif mudah, dimensinya tetap stabil, serta hasil ekstrusi yang diperoleh sesuai dengan yang diinginkan. Pada prinsipnya proses ekstrusi sangat mudah, tetapi banyak faktor prosesnya, termasuk perancangan die dan modifikasinya, penyesuaian peralatan, pemilihan komposisi paduan aluminiumnya, serta temperatur pemanasannya adalah faktor penentu utama agar spesifikasi profil yang 6
2 diinginkan dapat tercapai dengan baik. Deformasi die akibat tekanan pada saat proses juga harus dipertimbangkan dalam merancang sebuah die. Pertimbangan utama dalam merancang die adalah sebagai berikut : 1. Jumlah opening die berdasarkan bentuk dan ukuran profil 2. Koordinat keluaran yang lurus dengan sumbu billet 3. Posisinya harus tepat di titik tengah lingkaran opening die 4. Faktor penentu yang utama dari opening die berdasarkan pemanasan billet, pergeseran yang diijinkan, dan defleksi die (antara die dan kedalaman tongue) 5. Optimasi panjang bearing untuk meningkatkan produktifitas Informasi dasar yang harus diperhatikan untuk merancang sebuah die : 1. Bentuk geometri profil 2. Jenis dan komposisi serta ukuran billet 3. Kapasitas mesin (ton) 4. Ukuran profil yang diminta oleh pelanggan (customer) 5. Komponen-komponen pendukung die (backer atau volster) yang dipakai. 6. Berat profil per meter Layout die Dalam merancang sebuah die, harus menentukan terlebih dahulu layout diesnya yang ditentukan oleh beberapa faktor seperti berikut : 1. Jarak (clearance) yang sesuai (C), antara opening die dan dinding container, dan juga jarak yang sesuai (D) antara opening tersebut. 2. Keseimbangan aliran aluminium untuk menghindari distorsi profil. 3. Mudah dalam perancangan dan pabrikasi 7
3 4. Untuk menghindari profil yang dihasilkan saling tumpang tindih dan penggoresan oleh partikel komponen ekstrusi. Die diameter C D Container Wall D Gambar 2.1 Radial layout dan flat layout Minimum jarak antara opening die dan dinding container dibutuhkan untuk menghindari aliran oksidasi dari kulit permukaan billet dalam ekstrusi, untuk kasus ekstrusi langsung. Pada saat yang sama, minimum jarak antara dua opening pada multihole die (die dengan lubang atau keluaran yang banyak) harus cukup memadai untuk menyediakan kekuatan yang semestinya untuk menahan tekanan dari billet. Kekuatan yang tepat pada sebuah die kemungkinan dapat menghindari terjadinya retakan dan defleksi pada die. Pada pokoknya, ada dua metode layout untuk multihole die tersebut yaitu : radial layout dan flat layout. Pada radial layout, sumbu utamanya untuk masingmasing profil adalah sepanjang radius, setiap bagian pada permukaan die bearing memberikan hubungan sama terhadap pusat die. Keuntungan radial layout adalah layout, bearing, dan aliran aluminium yang seragam, serta mudah dalam pengkoreksian die. Sedangkan kerugiannya adalah sulit untuk mengkontrol terjadinya profil yang memuntir (twisting) dan penanganan pada runout table (meja tempat tumpuan profil pada saat proses ekstrusi). Karena penanganan yang sulit tersebut, maka radial layout tidak digunakan pada industri ekstrusi aluminium. 8
4 Sedangkan pada flat layout, sumbu utama tiap profil berada di sudut kanan, atau sejajar dengan radius. Keuntungan utama flat layout adalah mudah penanganannya pada runout table untuk produktifitas yang tinggi. Sedangkan kerugiannya adalah sulit dalam pengkoreksian die, karena die bearing tidak seragam, serta sulit mengkontrol keseragaman panjang hasil ekstrusinya. Tetapi dengan adanya teknologi perancangan die yang semakin modern, maka pengkoreksian die saat ini menjadi semakin mudah. Aliran aluminium pada saat proses ekstrusi untuk multihole die sangat rumit. Karena aliran aluminiumnya tergantung pada banyak hal seperti bentuk profil, jumlah keluaran dan layout die Menentukan diameter dan tebal die 1. Diameter die Untuk menentukan diameter die pada hollow die dan solid die yaitu dengan memperhitungkan dari berat profil tiap kilogramnya yang sudah diketahui sebelumnya. 2. Tebal die (die thickness) Untuk menentukan tebal die, ada beberapa pilihan yang harus dipertimbangkan sebelum mengambil keputusan. Hal ini dilakukan untuk menghindari pemborosan biaya maupun material karena die terlalu tebal dan juga sebaliknya untuk menghindari die pecah atau melengkung karena terlalu tipis (terutama pada bagian tongue) Bentuk profil (opening) Untuk menentukan bentuk profil perlu diketahui terlebih dahulu standar pembuatan die yang baik, yaitu : 9
5 A R = (2.1) n. a Keterangan : R A a n = Desain yang diijinkan = Luas container = Luas penampang profil = Jumlah profil dalam satu die R 20 Untuk profil solid R 25 Untuk profil hollow Luas container : 6 (ø162 mm) = mm 2 7 (ø185 mm) = mm 2 8 (ø210 mm) = mm 2 Setelah syarat-syarat di atas terpenuhi, kemudian mencari titik tengah (center line) untuk profil yang akan dibuat yaitu : 1. Cari posisi landasannya 2. Putar sesuai jatuhnya profil dan tarik garis singgung keempat sisi luarnya sejajar sumbu x dan sumbu y. 3. Kemudian beri ukuran sesuai bentuk yang dibuat. Standar pembuatan tebal profil yang sering digunakan adalah sebagai berikut : 1. Yang diproses berulang-ulang Tebal profil (die) = t (gambar profil) Proses surface treatment Tebal profil = t (gambar profil)
6 3. Untuk profil yang mempunyai tongue, tebal profil ditambah dengan perkalian tongue (panjang tongue x 0.004). Untuk kasus profil yang panjang, tebal profil sangat sulit sekali untuk mencapai kerataannya, karena perbedaan tekanan saat ekstrusi pada setiap jarak dari sumbu (titik pusat). Untuk itu pada posisi tertentu harus ditambah tinggi bearing serta tebal opening die. Demikian halnya dengan profil yang mempunyai tongue yang panjang Ukuran die bearing (Lintasan aliran aluminium) Skema konfigurasi permukaan datar (die bearing) sebuah solid die adalah sebuah lintasan untuk aliran aluminium yang menentukan kecepatan aliran aluminium. Bearing pada sebuah die sepenuhnya sangat penting sekali. Fungsi dari die bearing adalah untuk mengontrol ukuran, bentuk, hasil dan kecepatan pada saat dilakukan ekstrusi. Die bearing juga sebagai penentu utama dari umur sebuah die. Gesekan pada permukaan die adalah faktor pengontrol untuk memperlambat aliran aluminium. Ukuran bearing di banyak lokasi pada opening die tergantung atas luasan yang mana aliran aluminium pada titik tersebut harus diperlambat. Utamanya, ada tiga parameter yang menentukan dimensi die bearing untuk mengkontrol aliran aluminium yaitu : 1. Jarak antara opening die dengan titik pusat billet 2. Gap atau ketebalan profil pada suatu titik 3. Bentuk pocket dan ukurannya Pada proses ekstrusi langsung, gesekan yang berlawanan pada permukaan kontainer lebih rendah daripada aliran aluminium yang dekat dengan permukaan billet. Pergerakan aluminium pada titik pusat billet bergerak lebih cepat dibandingkan pergerakan aluminium pada keliling billet. Untuk menyeragamkan aliran aluminium, 11
7 maka ukuran bearing harus berbanding terbalik dengan jarak dari titik pusat billet. Titik yang paling kecil atau tipis ukuran profilnya, maka aliran aluminiumnya lebih lambat. Karena ukuran opening die lebih kecil, maka untuk menyeimbangkan aliran pada ukuran profil yang tipis atau kecil yaitu dengan membuat ukuran bearing yang lebih kecil agar laju aliran aluminiumnya seimbang. Perubahan yang mendadak pada bearing akan menyebabkan terjadinya gores pada profil yang dihasilkan, hal ini terjadi karena aliran yang tidak merata pada aluminium atau kemungkinan tidak cukup untuk mengisi opening die. Berbagai variasi pada ukuran bearing pada titik persimpangan harus dibuat sebagaimana mestinya untuk mencegah terjadinya goresan. Kadang-kadang perbaikan yang tepat untuk die sangat dibutuhkan untuk mengkoreksi atau merubah rata-rata aliran aluminium yang dikendalikan oleh lebar bearing dan panjang bearing. Perlakuan pada permukaan depan dan belakang bearing pada celah die yang dikenal dengan relief atau choke. Aliran aluminium yang pelan ini adalah sebagai akibat mengisi penuh celah atau lubang die untuk mendapatkan kestabilan dimensi yang lebih baik. Penambahan sudut relief pada belakang dan sisi luar bearing ditingkatkan setinggi 7 0 maka akan mengurangi aliran aluminium dari lebar bearing yang sebenarnya. 12
8 Gambar 2.2 Konfigurasi permukaan datar die (die bearing) Bearing length Sebelum membuat ataupun menentukan ketingggian bearing, terlebih dahulu tentukan posisi potongan profilnya yaitu : 1. Totukibu Yaitu ujung profil yang berbelok, ketentuannya adalah sebagai berikut : - t 0.8 a; 0.7 < a b < 4; b > 0.8 a Keterangan : t = tebal profil 13
9 a = tebal profil pada ujung yang berbelok b = panjang profil pada ujung yang berebelok Gambar 2.3 Macam macam bentuk totukibu 2. Atunikubu Yaitu posisi pada profil yang terdapat perbedaan ketebalan profil, ketentuannya adalah sebagai berikut : t < 0.8 a; 0.2 b 0.8 a; 1.2 < a < 14 Gambar 2.4 Macam macam bentuk atunikubu 3. Mizobu Yaitu profil yang terdapat bentuk menyerupai parit, ketentuannya adalah : l < 2 tidak dipotong, l 2 dipotong. 4. Nikuatsu henka Gambar 2.5 Macam macam bentuk mizobu Yaitu Profil yang terdapat perubahan ketebalan profil, ketentuannya adalah : 14
10 b 0.2; untuk l 4; θ 1 0 maka dipotong di tengah, sedangkan untuk l > 4; θ 1 0 maka dipotong pada dua bagian. Gambar 2.6 Macam macam bentuk Nikuatsu henka 5. Tanbu Yaitu bentuk yang biasanya berada pada ujung profil, ketentuannya adalah : t 2.5 maka dipotong sepanjang 2 mm, untuk profil tirus 3 mm. Sedangkan untuk t > 2.5 maka dipotong sebesar 0.8t, untuk profil tirus 1.2t. Gambar 2.7 Macam macam bentuk Tanbu 6. Nikuatsu kousa Yaitu posisi yang terdapat pada persimpangan bentuk profil, ketentuannya adalah persimpangan dipotong apabila tebal profil yang bersimpangan tidak sama besarnya Ketinggian bearing (depth bearing) Setelah ditentukan potongan bearingnya, kita dapat menentukan tebal bearing tiap-tiap bagian atau potongan yaitu sebagai berikut : A d = 4 (2.2) S 15
11 Keterangan : D A S : Ketinggian bearing : Luas daerah yang ditentukan potongan bearingnya : Keliling daerah yang ditentukan potongan bearingnya Sedangkan untuk menentukan ketinggian ketinggian bearing pada hollow die, selain ketentuan diatas masih ada ketentuan tambahan yaitu sebagai berikut: 1. Ketebalan profil/gap 2. Jarak terhadap Port hole 3. Posisi profil/gap yang akan diberi ukuran antara lain: a. Posisi tengah b. Posisi ujung profil c. Posisi tongue d. Posisi terhadap pusat die. Adapun secara garis besar perhitungannya sama dengan pembuatan Solid die, tetapi untuk posisi tertentu ditambah sedikit perubahan sebagai berikut : a i c j d e g h f b Gambar 2.8 Gambar hollow die serta posisi profil atau gap [1] 16
12 Tabel 2.1 Tabel keterangan gambar Ketentuan diatas belum mutlak karena ada pertimbangan lain dalam menentukan ketinggian bearing. Sedangkan untuk menentukan ketinggian bearing pada kondisi normal biasanya menggunakan angka perkalian 2.5. Untuk pembuatan in-die pada hollow die biasanya ditambah 1 mm dari ketinggian bearing out-die, tetapi pada kondisi tertentu ketentuan tersebut bisa berubah seperti perbedaan bearing yang hanya sedikit antara 1mm sampai 2 mm Port hole Bentuk Port hole sangat berpengaruh terhadap aliran aluminium pada sebuah die. Untuk itu perlu dipilih bentuk port hole yang paling sesuai untuk setiap bentuk profil pada pembuatan gambar die. Adapun bentuk-bentuk port hole tersebut seperti berikut : 1) Bentuk standar a) Digunakan untuk membuat die dengan 4 profil 17
13 Gambar 2.9 Port hole tipe A b) Digunakan untuk membuat die dengan 2 profil Gambar 2.10 Port hole tipe B c) Digunakan untuk membuat die dengan 1 profil bentuk memanjang Gambar 2.11 Port hole tipe C d) Digunakan untuk membuat die 1 profil yang berbentuk segi empat atau yang mendekati segi empat (bujur sangkar) 18
14 Gambar 2.12 Port hole tipe D e) Digunakan untuk membuat die 1 profil yang berbentuk segi empat memanjang atau mendekati bentuk tersebut. Gambar 2.13 Port hole tipe E 2) Bentuk Spesial Digunakan untuk membuat die yang profilnya mempunyai bentuk in-die besar tetapi tengah ada bentuk memotong atau membelah in-die tersebut. Gambar 2.14 Port hole Spesial 19
15 2.1.8 Neck Neck merupakan leher atau lengan penopang die bearing pada in-die agar posisinya sejajar dengan die bearing pada out-die. Untuk memudahkan pengerjaan, bagian neck dibuat bentuk standar yang disesuaikan dengan peralatan permesinan yang ada. Tetapi bentuk ini hanya untuk bagian atau sisi terluar saja pada sebuah in-die. Sedangkan sisi yang berada lebih ketengah atau kedalam dibentuk dengan menggunakan Back Electode (BE). Adapun bentuk-bentuk standar sebagai berikut : (a) (b) (c) (d) (e) (f) Gambar 2.15 Bentuk standar neck pada hollow die Untuk ketinggian Neck mempunyai ketentuan standar sebagai berikut : a. Untuk Die 20P, maka ketinggian neck = 20 mm b. Untuk Die 24P, maka ketinggian neck = 22.5 mm c. Untuk Die 28P, maka ketinggian neck = 25 mm Head (Kepala In-die) Pada umumnya apabila merancang bentuk neck selalu diikuti bagian head (kepala), terutama ketinggiannya. 20
16 Gambar 2.16 Bentuk Head (kepala in-die) a. Untuk Die 20P, maka h 5 mm b. Untuk Die 24P dan 28P, maka h 7.5 mm c. Untuk Die 31P, maka h 10 mm Adapun ketentuan pembuatannya adalah sebagai berikut : 1. Ketinggian h bertambah tiap 2.5 mm 2. Nilai a 1mm 3. Apabila ada base pocket maka tinggi minimum 15 mm 2.2 Pembuatan die (die manufacturing) Die Manufacturing adalah pembuatan cetakan ekstrusi yang disebut Die. Die Manufacturing memiliki permesinan yang memiliki tingkat kecanggihan teknologi yang tinggi dalam mengubah material baja silindris untuk dijadikan dies, komponen pendukung (Die Ring, Spreader, Backer, Volster, Volster Ring dan Sub Volster), dan beberapa benda lainnya yang juga digunakan dalam proses produksi dengan pembuatan produk yang membutuhkan tingkat akurasi yang tinggi dan toleransi kesalahan yang kecil. Dalam pembuatan die ada beberapa proses yaitu sebagai berikut : Pemotongan material Proses ini adalah proses pemotongan material dengan menggunakan mesin gergaji (band saw) untuk mendapatkan hasil potongan yang sesuai dengan ukuran yang telah ditentukan sebelumnya. Tetapi biasanya untuk ukuran yang diinginkan 21
17 harus ditambah 3mm pada saat dipotong pada proses ini. Material yang digunakan untuk membuat die adalah baja SKD Pembuatan lubang (drilling) Proses ini yaitu Proses pembuatan lubang pin dan lubang baut untuk tipe solid die, dan pembentukan port hole juga bisa dilakukan secara manual untuk tipe hollow die. Gambar 2.17 Proses drilling Pembubutan (turning) Proses ini adalah proses membubut material potongan menjadi bentukbentuk dasar die. Prosesnya adalah proses pemakanan selimut atau bagian tepi dari die atau komponen pendukung die, Tetapi kadang juga dilakukan proses finishing untuk memperbaiki perubahan bentuk yang terjadi setelah proses heat treatment. Mesin turning sudah memakai NC machine programming, sehingga pekerjaan dilakukan secara otomatis, menghemat waktu serta biaya. Gambar 2.18 Proses turning 22
18 2.2.4 Vertikal dan horizontal milling Proses ini adalah proses yang dilalui untuk pembuatan neck, die bearing, under cut dan port hole. Hal-hal yang harus diperhatikan adalah toleransi bentuk, neck dan bearing In-die. Solid die dan out-die tidak melalui vertical milling. Gambar 2.19 Proses horizontal dan vertical milling Writing Writing merupakan pembuatan gambar kerja dengan menggunakan ujung indikator height gauge pada permukaan atau penampang material die dengan cara menggoreskan ke penampang die tersebut. Tujuan proses writing adalah sebagai pemandu bagi operator drilling, vertikal milling, EDM, machining center, wire cutting dan finishing untuk proses pembuatan lubang pin, lubang baut, port hole, ribu dan welding chamber serta merupakan wujud transformasi aplikasi dari gambar desain ke aplikasi manufacturing. Gambar 2.20 Proses writing 23
19 2.2.6 Start point Untuk memudahkan dalam proses wire cutting maka dilakukan proses start point yaitu proses penentuan titik awal (lubang) untuk proses wire cutting Wire cutting Yaitu proses pemotongan material die untuk pembuatan die bearing, pembuatan jig, dan pemotongan carbon graphite dengan menggunakan kawat tembaga jenis wire cutting yang berdiameter 0.25 mm. Wire cutting tembaga kemudian secara otomatis dialiri oleh arus listrik, jika terjadi kontak antara kawat yang beraliran listrik dengan material die maka wire akan menyala seperti terbakar dan akan mengikis material die secara perlahan. Jalur pengikisan wire cutting diatur dalam pemrograman yang dipakai dalam software mesin wire cutting sehingga mesin ini memiliki akurasi yang sangat tinggi dan perkerjaan pemotongan material dies dengan sangat rapi dan sesuai dengan gambar design yang dibuat Cu Electro discharge machine (EDM) Yaitu proses permesinan dengan menggunakan batang-batang Cu (tembaga) untuk proses pembuatan undercut yang miring (tapper). Gambar 2.21 Proses Cu Electro Discharge Machine 24
20 2.2.9 Electro discharge machine (EDM) Proses permesinan dengan menggunakan graphite (carbon) untuk mengikis material logam (dies) untuk membentuk profil yang diinginkan sesuai desain gambar. Pada proses ini juga terdapat proses RE (Roughing Electrode) yang diaplikasikan untuk pembuatan undercut pada pengerjaan solid die dan out-die Failing Menghaluskan permukaan port hole, ribu untuk in-die dan welding chamber untuk out-die, yang telah dibuat oleh Vertikal milling yang cenderung memiliki karakteristik permukaan potongan yang kasar. Proses failing menggunakan rotary grinding dan mounted stone. Tujuan proses ini adalah untuk mereduksi tingkat gesekan yang terjadi antara aliran logam aluminium dengan material die saat berlangsungnya proses ekstrusi, sehingga diperoleh keseragaman aliran aluminium yang mampu memberikan kontribusi baik untuk hasil keluaran profil ekstrusi yang bagus serta mengurangi kemungkinan terjadinya cacat suji, dies mark dan hair line. Gambar 2.22 Proses failing Vertical Surface Grinding Menghaluskan permukaan port hole, ribu untuk in-die dan welding chamber untuk out-die, yang telah dibuat oleh Vertical milling. 25
21 Heat treatment Sesuai dengan sifat besi dengan perlakuan panas dapat meningkatkan kekerasan dengan perlakuan-perlakuan tertentu. Meningkatkan kekerasan dengan cara memanaskan dalam Vacuum Furnace (VF), untuk mencapai tingkat kekerasan 46 ~ 48 HRC, proses heat treament harus mempertimbangkan faktor temperatur dan waktu Inspection Pemeriksaan terakhir sebelum nitriding yang dilakukan untuk memastikan bahwa proses pembuatan die dari awal hingga finish dan terbentuk die, tidak ada kecenderungan akan adanya penyimpangan dimensi dari gambar desain Finishing Dalam proses finishimg terdapat 2 proses yaitu : a. Vertical grinding Meratakan atau menghaluskan permukaan die dengan cara memasangnya pada meja mesin dan benda kerja dicekam oleh magnet. Bertujuan untuk meratakan dan menghaluskan permukaan die yang tidak rata seperti bagian bearing dan badan die. Gambar 2.23 Proses vertical grinding 26
22 b. Lapping Pembersihan geram dan penghalusan permukaan bearing pada die dengan menggunakan alat diamond denchaku dan kain amplas. Gambar 2.24 Proses lapping 2.3 Ekstrusi Ekstrusi adalah proses untuk membuat benda dengan penampang tetap, atau proses untuk merubah billet menjadi bentuk profil yang kita inginkan. Keuntungan dari proses ekstrusi adalah bisa membuat benda dengan penampang yang rumit, bisa memproses bahan yang rapuh karena pada proses ekstrusi hanya bekerja tegangan tekan, sedangkan tegangan tarik tidak ada sama sekali. Aluminium, baja dan plastik adalah contoh bahan yang banyak diproses dengan ektrusi[2]. Proses ekstrusi dibagi menjadi dua macam yaitu proses ekstrusi langsung dan proses ekstrusi tidak langsung. Semua proses tersebut memiliki tujuan yang sama yaitu untuk mendapatkan bentuk serta karakteristik dimensi yang diinginkan. 27
23 Ekstrusi Ekstrusi langsung (Direct extrusion) Ekstrusi tidak langsung (Indirect extrusion) Paduan lunak (Soft alloy) Paduan sedang (Medium alloy) Paduan keras (Hard alloy) Paduan sangat keras (Harder alloy) Gambar 2.25 Macam-macam proses ekstrusi aluminium [3] Pada ekstrusi langsung, aliran aluminium diekstrusi langsung oleh gerakan ram. Ekstrusi langsung biasanya digunakan untuk ekstrusi aluminium dengan paduan yang lebih lunak (soft alloys), sedang (medium alloys), dan keras (hard alloys). Sedangkan untuk ekstrusi tidak langsung, aliran aluminiumnya berkebalikan dengan gerakan ram. Esktrusi tidak langsung ini biasanya digunakan untuk ektrusi material aluminium dengan paduan yang sangat keras (harder alloys) ketika bentuk profilnya terdapat bagian yang kritis. Proses ekstrusi yang digunakan di PT. YKK AP INDONESIA adalah proses ekstrusi langsung dengan material aluminium dengan paduan yang lunak Bagian-bagian pada proses ekstrusi aluminium Gambar 2.26 Bagian bagian pada proses ekstrusi aluminium [4] 28
24 1. Sub-volster Merupakan salah satu komponen pada die yang berfungsi untuk menahan volster pada saat dilakukan proses ekstrusi. Penggunaan sub-volster ini juga bertujuan untuk efisiensi produksi serta biaya yaitu dengan sub-volster yang sama dapat digunakan untuk profil yang berbeda-beda. 2. Volster Merupakan salah satu bagian die yang berfungsi untuk menahan die, terutama untuk profil yang mempunyai tongue yang besar. Karena die yang mempunyai tongue yang besar akan membuat die cepat rusak atau hasil ekstrusinya tidak sesuai dengan yang diinginkan, untuk itu digunakan volster untuk memperkuat die pada saat dilakukan proses ekstrusi. 3. Die ring Die ring adalah salah satu komponen die yang berfungsi sebagai tempat meletakkan die, baik pada solid die maupun hollow die. 4. Backer Merupakan salah satu komponen pada solid die yang berfungsi untuk menjaga agar die terutama yang mempunyai tongue yang besar agar tidak cepat rusak sehingga hasil ekstrusi sesuai dengan yang diinginkan dan juga untuk memperpanjang umur die. 5. Die Merupakan bagian penting dalam sebuah proses ekstrusi, karena yang membuat pola atau bentuk dari profil keluaran sesuai dengan yang diinginkan. Ada beberapa jenis die yaitu : solid die dan hollow die. 29
25 6. Spreader Spreader berfungsi untuk mendistribusikan aliran aluminium menuju opening die, mengikis lapisan billet paling luar karena biasanya kulit billet paling luar tidak bersih sehingga mempengaruhi hasil ekstrusinya, serta menahan tekanan billet pada saat dilakukan proses ekstrusi agar tidak cepat merusak die. Spreader ini biasanya digunakan untuk komponen pendukung pada pembuatan profil solid. 7. Clean out block (dummy block) Bagian ini berfungsi untuk melindungi stem pada saat dilakukan proses ekstrusi karena stem harganya lebih mahal daripada dummy block ini. 8. Centering pin Berfungsi sebagai pengarah serta penepat bagi Clean out block pada Stem, agar selalu tetap pada posisinya meskipun pada saat dilakukan press pada billet. 9. Platen Berfungsi untuk menahan komponen die agar pada saat dilakukan ekstrusi posisi die tidak berubah-ubah. 10. Pressure ring Berfungsi untuk memindahkan beban ekstrusi dari volster ke Platen dan juga untuk mencegah defleksi yang terjadi pada volster. 11. Die slide Sebagai pemegang ataupun tempat untuk menempatkan die bersama dengan spreader serta backer. 12. Container Merupakan ruangan yang digunakan untuk menempatkan billet pada saat dilakukan proses ekstrusi 30
26 13. Container liner Merupakan lapisan pada container yang berfungsi untuk melindungi container pada saat dilakukan ekstrusi, karena bagian ini yang bersinggungan langsung dengan billet. 14. Billet loader Billet loader yaitu tempat untuk menempatkan billet sebelum dilakukan proses ekstrusi. 15. Stem Merupakan batang torak dari hidrolik yang berfungsi untuk menekan billet pada saat dilakukan proses ekstrusi. 16. Billet Merupakan material aluminium yang berbentuk batangan sebagai material untuk membuat profil aluminium pada saat proses ekstrusi. Ada beberapa ukuran billet, yaitu : Ø6 (155 mm), Ø7 (178 mm), Ø8 (203 mm). 2.4 Jenis jenis die Solid die Solid die adalah Cetakan yang digunakan untuk membuat profil yang berbentuk kurva terbuka atau yang biasa dikenal dengan profil solid. Gambar 2.27 Solid die 31
27 2.4.2 Hollow die Hollow die merupakan cetakan untuk membentuk profil yang berbentuk kurva tertutup atau yang biasa disebut dengan profil hollow. Gambar 2.28 Hollow die (In-die) 2.5 Komponen pendukung die a. Spreader Spreader merupakan bagian dari komponen pendukung pada pembuatan profil solid. Sedangkan untuk tipe spreader ada 2 macam yaitu : Type A Type B Gambar 2.29 Tipe spreader d - Type-B 0.55mm D d - Type-A > 0.55mm D 32
28 Keterangan : d = diameter luar profil D = diameter die Ketentuan dalam pembuatan spreader : 1. Jarak dari garis profil terluar dengan lubang spreader semua sama, tetapi minimal jaraknya adalah 20 mm. S mm S1 Keterangan : S1 dan S2 = Luas area yang diarsir 3. Posisi sudut dalam lubang spreader dibuatkan champer 4. Pembentukan kemiringan spreader yaitu antara 10 0 ~ 15 0 b. Backer Backer merupakan komponen pada solid die maupun hollow die, posisi backer berada dibelakang die. Ada dua macam backer yaitu backer standar dan spesial. Berikut adalah cara untuk menentukan penggunaan backer standar atau spesial : S1 S2 Gambar 2.30 Lubang spreader tampak dari depan A y = (2.3) B d k = (2.4) D 33
29 x = k (2.5) y max Keterangan : y = Perbandingan luas tongue dengan panjang tongue A = Luas tongue (mm 2 ) B d D k = Jarak / panjang tongue (mm) = diameter luar profil (mm) = Diameter die (mm) = Perbandingan diameter profil dan diameter die Jika k 0.2, maka k = 0. 2 x y max = Faktor keamanan = Nilai y yang paling besar dalam 1 profil Setelah mendapatkan nilai x, untuk mengetahui pemakaian backer standar atau spesial, lihat tabel di bawah ini : Tabel 2.2 Tabel penentuan penggunaan backer standar atau spesial [5] 2,5 x 0 x < 2,5 Tongue < 9 Tongue 9 A < 220 A 220 A < 220 A 220 Standard Spesial Standard Spesial Spesial Rumus untuk membuat opening backer adalah : L = ( t t x (2.6) 0 die + bac ker ) tan 2 Keterangan : L t die = Jarak garis terluar opening die dengan opening backer (offset backer) = Tebal die t backer = Tebal backer 34
30 Dalam pembuatan backer terdapat beberapa perubahan bentuk pada lubang backer standar akibat profil yang dibuat terdapat daerah kritis atau tongue yang tidak memungkinkan untuk dibuat backer. Macam-macam perubahan dari standar pembuatan backer adalah sebagai berikut : Tabel 2.3 Macam macam perubahan dari standar pembuatan backer [5] Apabila ada ukuran yang tebalnya di bawah tebal minimum (< 10 mm), maka dibuat ukuran minimum dengan penambahan sama besar kedua sisi. Apabila sudah masuk ukuran gap minimum, tetapi terdapat daerah kritis (tongue) maka dimensi di geser pada kedua sisi sama besar. Apabila sudah masuk ukuran gap minimum, tetapi terdapat daerah kritis (tongue) maka dimensi di geser pada kedua sisi sama besar. Jika l 17 maka dimensi digeser 4 Jika l < 17 maka dimensi diperkecil. c. Volster Volster merupakan salah satu komponen pada solid die dan hollow die ang berfungsi untuk menahan die pada saat dilakukan proses ekstrusi agar tidak terjadi 35
31 defleksi yang besar, terutama untuk die yang memiliki tongue besar. Seperti backer, ada dua macam volster yaitu volster standar dan spesial. Berikut adalah cara untuk memilih volster standar atau spesial : A y = (2.7) B d k = (2.8) D x = k (2.9) y max Keterangan : y = Perbandingan luas tongue dengan panjang tongue A = Luas tongue (mm 2 ) B d D k = Jarak / panjang tongue (mm) = diameter luar profil (mm) = Diameter die (mm) = Perbandingan diameter profil dan diameter die Jika k 0.4, maka k = 0. 4 x y max = Faktor keamanan = Nilai y yang paling besar dalam 1 profil Setelah mendapatkan nilai x, untuk mengetahui pemakaian volster standar atau spesial, lihat tabel di bawah ini : Tabel 2.4 Memilih volster standar atau spesial [5] DIE x < 20 x 20 S Standard Spesial H Spesial Standard ( bila sederhana ) Spesial 36
32 Untuk menentukan dimensi opening volster pada adalah sebagai berikut : a. hollow die : b. Solid die : L 0 = ( tdie + tvolster ) x tan 2 (2.10) L = ( t x (2.11) 0 die + tbac ker + t volster ) tan 2 Keterangan : L t die t backer t volster = Jarak garis terluar opening die dengan opening volster (offset volster) = Tebal die = Tebal backer = Tebal volster Seperti halnya backer, dalam pembuatan volster terdapat beberapa perubahan bentuk pada lubang volster standar akibat profil yang dibuat terdapat daerah kritis atau tongue yang tidak memungkinkan untuk dibuat backer. Berikut adalah macam-macam perubahan dari standar pembuatan volster : Tabel 2.5 Macam macam perubahan pada volster standar [5] 1 35 V (s) Apabila ada ukuran yang tebalnya di bawah tebal minimum (< 10 mm), maka ukuran diperbesar sampai ukuran minimum. 2 Apabila terdapat daerah kritis, maka hanya diperbesar sebelah hingga mencapai dimensi minimum. (minimum) Demikian pula halnya dengan bentuk lain V (s) 37
33 4 Juga profil seperti gambar di samping 5 Jika l 22 maka dimensi digeser Jika l < 227 maka dimensi sebelah diperkecil dan bagian yang lain di geser. 2.6 Koreksi die Setelah die selesai dibuat di die manufacturing, die dikirim kebagian ekstrusi untuk dilakukan percobaan (trial) untuk mengetahui hasil press dari die yang sudah dibuat. Meskipun menggunakan CAD/CAM dan CNC pada perancangan dan manufaktur die ekstrusi aluminium, bentuk serta hasil produknya tidak dapat diprediksikan secara tepat. Jika profil yang diproduksi berhasil pada percobaan pertama kali, maka akan dilanjutkan produksi dengan pengukuran serta pengecekan secara semestinya. Jika ekstrusinya tidak berhasil, maka die perlu dikoreksi ataupun dilakukan penggantian die dengan berdasarkan hasil laporan selama dilakukannya percobaan dengan mengambil contoh pada bagian ujung depan dan belakang hasil ekstrusinya. Die korektor sangat dibutuhkan karena berbagai alasan antara lain tidak stabilnya aliran lauminium, dimensi yang bervariasi, serta permukaan hasil ekstrusi yang kurang baik. Akan tetapi, prosedur koreksi die membutuhkan pertimbangan 38
34 dari pengalaman praktek. Banyak cara untuk melakukan koreksi beberapa masalah pada die berdasarkan ketrampilan serta pengalaman seorang die korektor. Hal yang sangat penting bahwa die korektor harus melihat secara langsung selama dilakukan proses percobaan untuk mendapatkan informasi mengenai variabel press, billet dan die. Tabel 2.6 Macam-macam perbedaan kecepatan aliran aluminium [6] No Deskripsi Keterangan 1 Ketinggian bearing (H) H 1 lebih cepat daripada H 2 2. Ketebalan bearing (t) t 1 lebih lambat daripada t 2 2 Sudut bearing (θ) θ 1 lebih lambat daripada θ 2 4. Kehalusan bearing Ra 1 lebih cepat daripada Ra 2 39
35 No Deskripsi Keterangan 5. Luas bagian yang mengalirkan aluminium V 1 lebih cepat daripada V 2 ke bearing (volume port hole) 6. Kondisi kehalusan dinding port hole Ra lebih cepat daripada Ra 7. Kelurusan dari bagian-bagian proses ekstrusi Apabila terdapat bagian yang tidak lurus/segaris antara bagian yang satu dengan yang lain, akan terjadi perbedaan kecepatan pada profil yang diekstrusi. 8. Keadaan suhu pada die slide Apabila pemanasan die tidak merata atau pengaruh suhu die slide dan udara sekitar tidak seimbang, akibatnya panas die tidak merata, sehingga pada saat ekstrusi akan terjadi perbedaan kecepatan. 40
36 No Deskripsi Keterangan 9. Posisi sumbu die dengan container V 1 lebih cepat daripada V Pada profil yang lebih dari satu, pengaturan posisi profil sangat Gambar.1 lebih sedikit kecepatannya disbanding gambar.2 berpengaruh terhadap kecepatan pada saat dilakukan proses ekstrusi. Gambar.1 Gambar Pengaturan letak profil terhadap sumbu container Pada gambar di samping, jika die diekstrusi akan terjadi perubahan kecepatan. Saat billet masih panjang, no.1 dan 3 akan lebih cepat dibanding no.1 dan 4. Tetapi saat billet tinggal sedikit no.1 dan 4 akan menjadi lebih cepat dibanding no.2 dan 3. 41
37 Sedangkan cara-cara yang biasa digunakan oleh die korektor untuk mengkoreksi die yaitu : 1. Choke Yaitu membuat bentuk miring (taper) pada posisi muka bearing yang berfungsi untuk memperlambat aliran aluminium. 2. Relieve Yaitu membuat bentuk miring (taper) pada posisi belakang bearing yang berfungsi untuk mempercepat aliran aluminium. 3. Welding atau yosetsu Yaitu membuat bentuk rintangan dengan cara mengelas pada sisi samping bearing, fungsinya untuk memperkecil tekanan aluminium yang melewati bearing. Cara ini juga terdapat pada sisi/dinding port hole yang fungsinya untuk mengurangi suplai aluminium. 4. Grinding/cut bearing Yaitu memperpendek tinggi bearing dengan menggerinda sisi muka beraing pada bentuk solid atau memotong tinggi bearing pada in-die. Cara koreksi seperti ini berfungsi untuk mempercepat aliran aluminium pada bentuk solid dan merubah arah aliran pada bentuk hollow (mengurangi terjadinya cembung pada profil yang akan dibuat) 42
IMPLEMENTASI PERANCANGAN DIE EKSTRUSI UNTUK MATERIAL ALUMINIUM A6063S
IMPLEMENTASI PERANCANGAN DIE EKSTRUSI UNTUK MATERIAL ALUMINIUM A6063S Laporan Tugas Akhir Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Menyelesaikan Program Strata Satu (S1) Pada Program Studi Teknik
BAB III PROSES PERANCANGAN DAN PERHITUNGAN
BB III PROSES PERNCNGN DN PERHITUNGN 3.1 Diagram alir penelitian MULI material ie an material aluminium yang iekstrusi Perancangan ie Proses pembuatan ie : 1. Pemotongan bahan 2. Pembuatan lubang port
BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH
BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH Pemecahan masalah dalam penyusunan skripsi mempunyai beberapa tahapan penelitian yang digunakan. Tahapan tersebut di tuangkan dalam bentuk diagram alir pemecahan masalah
MODUL 6 PROSES PEMBENTUKAN LOGAM
MODUL 6 PROSES PEMBENTUKAN LOGAM Materi ini membahas tentang proses pembuatan logam bukan besi. Tujuan instruksional khusus yang ingin dicapai adalah (1) Menjelaskan perbedaan antara proes pengerjaan secara
Mesin Perkakas Konvensional
Proses manufaktur khusus digunakan untuk memotong benda kerja yang keras yang tidak mudah dipotong dengan metode tradisional atau konvensional. Dengan demikian, bahwa dalam melakukan memotong bahan ada
BAB lll PEMBUATAN PROFIL ALUMUNIUM
BAB lll PEMBUATAN PROFIL ALUMUNIUM 3.1 PROSES PRODUKSI 3.3.1 DAPUR PELEBURAN (FURNICE) Proses dimana bahan baku akan di panaskan sampai cair dengan suhu tertentu. Bahan baku tersebut terdiri dari 60% ingot
Gambar 2.1 Baja tulangan beton polos (Lit 2 diunduh 21 Maret 2014)
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Baja Tulangan Beton Baja tulangan beton adalah baja yang berbentuk batang berpenampang lingkaran yang digunakan untuk penulangan beton,yang diproduksi dari bahan baku billet
BEKERJA DENGAN MESIN BUBUT
BEKERJA DENGAN MESIN BUBUT STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA (SKKNI) BIDANG KOMPETENSI 1. KELOMPOK DASAR / FOUNDATION 2. KELOMPOK INTI 3. PERAKITAN (ASSEMBLY) 4. PENGECORAN DAN PEMBUATAN CETAKAN
POROS BERTINGKAT. Pahat bubut rata, pahat bubut facing, pahat alur. A. Tujuan Adapun tujuan dari pembuatan poros bertingkat ini yaitu :
POROS BERTINGKAT A. Tujuan Adapun tujuan dari pembuatan poros bertingkat ini yaitu : Mampu mengoprasikan mesin bubut secara benar. Mampu mebubut luar sampai halus dan rata. Mampu membubut lurus dan bertingkat.
BAKU 4 PROSES GURDI (DRILLING) Dr. Dwi Rahdiyanta
BAKU 4 PROSES GURDI (DRILLING) Dr. Dwi Rahdiyanta JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2010 1 Proses gurdi adalah proses pemesinan yang paling sederhana diantara
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Untuk mengurangi biaya produksi, peningkatan efisiensi proses manufaktur suatu produk sangat berpengaruh, terutama dengan menurunkan waktu proses manufakturnya. Dalam
PROSES MANUFACTURING
PROSES MANUFACTURING Proses Pengerjaan Logam mengalami deformasi plastik dan perubahan bentuk pengerjaan panas, gaya deformasi yang diperlukan adalah lebih rendah dan perubahan sifat mekanik tidak seberapa.
Jurnal Flywheel, Volume 1, Nomor 2, Desember 2008 ISSN :
ANALISIS SIMULASI PENGARUH SUDUT CETAKAN TERHADAP GAYA DAN TEGANGAN PADA PROSES PENARIKAN KAWAT TEMBAGA MENGGUNAKAN PROGRAM ANSYS 8.0 I Komang Astana Widi Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri,
PROSES PEMBUBUTAN LOGAM. PARYANTO, M.Pd.
PROSES PEMBUBUTAN LOGAM PARYANTO, M.Pd. Jur.. PT. Mesin FT UNY Proses bubut adalah proses pemesinan untuk menghasilkan bagian-bagian mesin (komponen) berbentuk silindris yang dikerjakan dengan menggunakan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Teknologi pemesinan saat ini telah berkembang sangat pesat, bermula pada tahun 1940-an dimana pembuatan produk benda masih menggunakan mesin perkakas konvensional
BEKERJA DENGAN MESIN BUBUT
1 BEKERJA DENGAN MESIN BUBUT PENGERTIAN Membubut adalah proses pembentukan benda kerja dengan mennggunakan mesin bubut. Mesin bubut adalah perkakas untuk membentuk benda kerja dengan gerak utama berputar.
FORMAT GAMBAR PRAKTIKUM PROSES MANUFAKTUR ATA 2014/2015 LABORATURIUM TEKNIK INDUSTRI LANJUT UNIVERSITAS GUNADARMA
FORMAT GAMBAR PRAKTIKUM PROSES MANUFAKTUR ATA 2014/2015 LABORATURIUM TEKNIK INDUSTRI LANJUT UNIVERSITAS GUNADARMA A. Perlengkapan Gambar 1. Drawing Pen ukuran 0,3 dan 0,5 mm 2. Maal 3 mm 3. Penggaris /
Perancangan Dan Pembuatan Jig Untuk Proses Drilling pada CNC Router
Perancangan Dan Pembuatan Jig Untuk Proses Drilling pada CNC Router Yovie Rahmatullah 1, Bayu Wiro K 2, Fipka Bisono 3 1 Program Studi Teknik Desain dan Manufaktur, Jurusan Teknik Permesinan Kapal, Politeknik
PROSES FREIS ( (MILLING) Paryanto, M.Pd.
PROSES FREIS ( (MILLING) Paryanto, M.Pd. Jur.. PT. Mesin FT UNY Proses pemesinan freis (milling) adalah penyayatan benda kerja menggunakan alat dengan mata potong jamak yang berputar. proses potong Mesin
BAB 4 PROSES GURDI (DRILLING)
BAB 4 PROSES GURDI (DRILLING) 101 Proses gurdi adalah proses pemesinan yang paling sederhana diantara proses pemesinan yang lain. Biasanya di bengkel atau workshop proses ini dinamakan proses bor, walaupun
Rancangan Welding Fixture Pembuatan Rangka Produk Kursi
Bidang Teknik Mesin Yogyakarta, 10 November 2012 Rancangan Welding Fixture Pembuatan Rangka Produk Kursi Hendro Prassetiyo, Rispianda, Irvan Rinaldi Ramdhan Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi
3. Mesin Bor. Gambar 3.1 Mesin bor
3. Mesin Bor 3.1 Definisi Dan Fungsi Mesin Bor Mesin bor adalah suatu jenis mesin gerakanya memutarkan alat pemotong yang arah pemakanan mata bor hanya pada sumbu mesin tersebut (pengerjaan pelubangan).
MATERI KULIAH PROSES PEMESINAN KERJA BUBUT KOMPLEKS Ulir, Tirus, Eksentrik dan Benda Panjang
Kegiatan Belajar MATERI KULIAH PROSES PEMESINAN KERJA BUBUT KOMPLEKS Ulir, Tirus, Eksentrik dan Benda Panjang Dwi Rahdiyanta FT-UNY Membubut Komplek : Ulir, Tirus, Eksentrik, dan Membubut Benda a. Tujuan
MESIN BOR. Gambar Chamfer
MESIN BOR Mesin bor adalah suatu jenis mesin gerakanya memutarkan alat pemotong yang arah pemakanan mata bor hanya pada sumbu mesin tersebut (pengerjaan pelubangan). Sedangkan Pengeboran adalah operasi
BAB III PERAWATAN MESIN BUBUT PADA PT.MITSUBA INDONESIA
BAB III PERAWATAN MESIN BUBUT PADA PT.MITSUBA INDONESIA 3.1 Mesin Bubut Mesin bubut adalah mesin yang dibuat dari logam, gunanya untuk membentuk benda kerja dengan cara menyayat, gerakan utamanya adalah
PROSES PENGERJAAN PANAS. Yefri Chan,ST.MT (Universitas Darma Persada)
PROSES PENGERJAAN PANAS PROSES PENGERJAAN PANAS Adalah proses merubah bentuk logam tanpa terjadi pencairan (T proses : T cair > 0,5), volume benda kerja tetap dan tak adanya geram (besi halus sisa proses).
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Seiring dengan perkembangan dunia robotika yang semakin meningkat, bentuk desain dan fungsi robot pun semakin bervariasi. Pada umumnya komponen rangka dan
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR 3.1 Flow Chart Pembuatan Mesin Pemotong Umbi Mulai Studi Literatur Perencanaan dan Desain Perhitungan Penentuan dan Pembelian Komponen Proses Pengerjaan Proses Perakitan
BAB III DESAIN DAN FABRIKASI
BAB III DESAIN DAN FABRIKASI III. 1 DESAIN Objektifitas dari perancangan ini adalah: 1) modifikasi sistim feeding bahan bakar yang lebih optimal. Sebelumnya, setiap kali penambahan bahan bakar solid (batubara),
Gambar 1.1. Contoh Peralatan Micro-Manufacturing (Qin, 2006)
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam teknologi fabrikasi modern, kecenderungan miniaturisasi semakin meningkat. Hal ini ditunjukkan dengan produk-produk, alat dan instrumen yang diproduksi saat
BAB 3 PERANCANGAN PROSES PENGERJAAN KOMPONEN PROTOTYPE V PISTON MAGNETIK
BAB 3 PERANCANGAN PROSES PENGERJAAN KOMPONEN PROTOTYPE V PISTON MAGNETIK 3.1 Perancangan dan Tahap-tahap Perancangan Perancangan adalah tahap terpenting dari seluruh proses pembuat alat. Tahap pertama
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Proses Produksi Proses produksi adalah tahap-tahap yang harus dilewati dalam memproduksi barang atau jasa. Ada proses produksi membutuhkan waktu yang lama, misalnya
BAB II DASAR TEORI. 2.1 Konsep Perencanaan Sistem Produksi. 2.2 Pengelasan
BAB II DASAR TEORI 2.1 Konsep Perencanaan Sistem Produksi Pada perancangan suatu kontruksi hendaknya mempunyai suatu konsep perencanaan. Konsep perencanaan ini akan membahas dasar-dasar teori yang akan
BAB IIIPROSES PEMBUATAN MOLD GRAB RAIL K15A PROSES PEMBUATAN MOLD GRAB RAIL K15A
BAB IIIPROSES PEMBUATAN MOLD GRAB RAIL K15A PROSES PEMBUATAN MOLD GRAB RAIL K15A 3.1 Deskripsi Molding Injection Mold (cetakan) terdiri dari dua bagian pelat bergerak (core plate) dan pelat diam (cavity
TEORI MEMESIN LOGAM (METAL MACHINING)
TEORI MEMESIN LOGAM (METAL MACHINING) Proses permesinan (machining) : Proses pembuatan ( manufacture) dimana perkakas potong ( cutting tool) digunakan untuk membentuk material dari bentuk dasar menjadi
BAB 3 PROSES FRAIS (MILLING)
BAB 3 PROSES FRAIS (MILLING) 66 Proses pemesinan frais adalah proses penyayatan benda kerja dengan alat potong dengan mata potong jamak yang berputar. Proses penyayatan dengan gigi potong yang banyak yang
1 BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Semakin meningkatnya produktivitas dan kualitas dari produk yang dihasilkan merupakan tantangan bagi industri permesinan masa kini seiring dengan meningkatnya pengetahuan
Studi Pengaruh Besar Arus dan Arc On-Time Pada Electrical Discharge Machining (EDM) Sinking
Studi Pengaruh Besar dan Arc On-Time Pada Electrical Discharge Machining (EDM) Sinking Terhadap Kekasaran Permukaan Benda Kerja dan Keausan Elektroda Roche Alimin, Juliana Anggono, Rinto Hamdrik Jurusan
BUKU 3 PROSES FRAIS (MILLING) Dr. Dwi Rahdiyanta
BUKU 3 PROSES FRAIS (MILLING) Dr. Dwi Rahdiyanta JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2010 1 Proses pemesinan frais adalah proses penyayatan benda kerja dengan
III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2014 sampai dengan bulan Juli 2014
III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2014 sampai dengan bulan Juli 2014 di Laboratorium Daya, Alat, dan Mesin Pertanian Jurusan Teknik Pertanian Fakultas
Analisis Pengaruh Time Buff Terhadap Tingkat Kekasaran dan Kekerasan Permukaan Pada Proses EDM MP-50 Material Stainless Steel SUS 304
Analisis Pengaruh Time Buff Terhadap Tingkat Kekasaran dan Kekerasan Permukaan Pada Proses EDM MP-50 Material Stainless Steel SUS 304 Ahmad Syaifullah 1, Siswiyanti ², Rusnoto³ ¹ Mahasiswa Teknik mesin,
PROSES PEMBUATAN SAKLAR TOGGLE SHAFT WELDED CIRCUIT BREAKER PADA CV. GLOBALINDO PERKASA ENGINEERING
PROSES PEMBUATAN SAKLAR TOGGLE SHAFT WELDED CIRCUIT BREAKER PADA CV. GLOBALINDO PERKASA ENGINEERING NAMA : SOFIAN OKTAVIARDI NPM : 27412096 JURUSAN : TEKNIK MESIN PEMBIMBING : IRWANSYAH, ST., MT. Latar
BAB II DASAR TEORI P =...(2.1)
4 BAB II DASAR TEORI 2.1 Motor Motor adalah suatu komponen utama dari sebuah kontruksi permesinan yang berfungsi sebagai penggerak. Gerakan yang dihasilkan oleh motor adalah sebuah putaran poros. Komponen
MESIN PENGGURDI DAN PENGEBOR
Presentasi Proses Produksi 2 MESIN PENGGURDI DAN PENGEBOR MESIN PENGGURDIAN Mesin Penggurdian adalah membuat lobang dalam sebuah obyek dengan menekankan sebuah gurdi berputar kepadanya. Hal yang sama dapat
SMK PGRI 1 NGAWI TERAKREDITASI: A
TEKNIK PEMESINAN SMK PGRI 1 NGAWI TERAKREDITASI: A Jl. Rajawali No. 32, Telp./Faks. : (0351) 746081 Ngawi. Homepage: 1. www.smkpgri1ngawi.sch.id 2. www.grisamesin.wordpress.com Facebook: A. Kecepatan potong
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR 3.1 Diagram Alir Proses Perancangan Proses perancangan mesin peniris minyak pada kacang seperti terlihat pada gambar 3.1 berikut ini: Mulai Studi Literatur Gambar Sketsa
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR 3.1 Skema dan Prinsip Kerja Alat Prinsip kerja mesin spin coating adalah sumber tenaga motor listrik ditransmisikan ke poros hollow melalui pulley dan v-belt untuk mendapatkan
Analisa Deformasi Material 100MnCrW4 (Amutit S) Pada Dimensi Dan Media Quenching Yang Berbeda. Muhammad Subhan
IRWNS 213 Analisa Deformasi Material 1MnCrW4 (Amutit S) Pada Dimensi Dan Media Quenching Yang Berbeda Muhammad Subhan Jurusan Teknik Mesin, Politeknik Manufaktur Negeri Bangka Belitung, Sungailiat, 33211
BAB IV PROSES PEMBUATAN DAN PENGUJIAN
BAB IV PROSES PEMBUATAN DAN PENGUJIAN 4.1 Proses Pengerjaan Proses pengerjaan adalah suatu tahap untuk membuat komponen-komponen pada mesin pengayak pasir. Komponen komponen yang akan dibuat adalah komponen
BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN
26 BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN 4.1. ALUR PROSES PENGERJAAN Pada waktu pelaksanaan Kerja Praktik, penulis ditugaskan untuk membantu proses Membuat komponen Dies Guard RL Hanger K25A, Adapun diagram
Materi Kuliah PROSES GERINDA. Oleh: Dwi Rahdiyanta FT-UNY
Materi Kuliah PROSES GERINDA Oleh: Dwi Rahdiyanta FT-UNY KEGIATAN BELAJAR 1. Kegiatan Belajar 1 : Menentukan Persyaratan Kerja a. Tujuan Pembelajaran 1 1). Peserta diklat dapat menentukan langkah kerja
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Proses Pemesinan Untuk membuat suatu alat atau produk dengan bahan dasar logam haruslah di lakukan dengan memotong bahan dasarnya. Proses pemotongan ini dapat dilakukan dengan
BAB II DASAR TEORI. Mesin perajang singkong dengan penggerak motor listrik 0,5 Hp mempunyai
BAB II DASAR TEORI 2.1. Prinsip Kerja Mesin Perajang Singkong. Mesin perajang singkong dengan penggerak motor listrik 0,5 Hp mempunyai beberapa komponen, diantaranya adalah piringan, pisau pengiris, poros,
Pendahuluan. Keyword : Semi automated manufacture, Make to order, CNC, Fixed Layout
PENGGUNAAN METODE MESIN CNC DALAM PEMBUATAN PRODUK RODA GIGI SILVIANUS WISMA CAHYA, OKTAVIANUS CHRIS, CHRISTIAN YONATHAN LUMBAN TOBING, GUIDO GIANTLUGI PANYANGA, dan FERNANDES KLAUDISIUS SIMANJUNTAK PROGRAM
BAB II PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH. pemesinan. Berikut merupakan gambar kerja dari komponen yang dibuat: Gambar 1. Ukuran Poros Pencacah
BAB II PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH A. Identifikasi Gambar Kerja Gambar kerja merupakan alat komunikasi bagi orang manufaktur. Dengan melihat gambar kerja, operator dapat memahami apa yang diinginkan perancang
PROSES PERMESINAN. (Part 2) Learning Outcomes. Outline Materi. Prosman Pengebor horisontal JENIS MESIN GURDI
Prosman - 04 Learning Outcomes PROSES PERMESINAN Mahasiswa dapat menerangkan prinsip kerja mesin bor dan gurdi PROSES PERMESINAN (Part 2) Outline Materi Proses Pemesinan dengan Mesin Bor dan Gurdi Proses
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Diagram Alir Penelitian Pada penelitian ini ada beberapa langkah yang dilakukan. Langkah langkah dalam proses pengerjaan las friction stir welding dapat dilihat pada
I. PENDAHULUAN. industri akan ikut berkembang seiring dengan tingginya tuntutan dalam sebuah industri
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan teknologi telah merubah industri manufaktur menjadi sebuah industri yang harus dapat berkembang dan bersaing secara global. Pada dasarnya seluruh elemen dalam
BAB III METODA PENELITIAN DAN ANALISA PENGUJIAN
23 BAB III METODA PENELITIAN DAN ANALISA PENGUJIAN Dalam menyelesaikan tugas akhir ini penulis akan memulai dari pengumpulan data acuan proses punch, heat treatment, metode pengujian kekerasan Vickers
TEORI SAMBUNGAN SUSUT
TEORI SAMBUNGAN SUSUT 5.1. Pengertian Sambungan Susut Sambungan susut merupakan sambungan dengan sistem suaian paksa (Interference fits, Shrink fits, Press fits) banyak digunakan di Industri dalam perancangan
BAB IV PROSES PEMBUATAN
BAB IV PROSES PEMBUATAN 4.1. Proses Pengerjaan Proses pengerjaan adalah suatu tahap untuk membuat komponen-komponen pada mesin pengayak pasir. Komponen-komponen yang akan dibuat adalah komponen yang tidak
II. TINJAUAN PUSTAKA. seluruh kegiatan yang terdapat dalam proses perancangan. Kegiatankegiatan
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Fase Fase Dalam Proses Perancangan Perancangan merupakan rangkaian yang berurutan, karena mencakup seluruh kegiatan yang terdapat dalam proses perancangan. Kegiatankegiatan dalam
Optimasi Cutting Tool Carbide pada Turning Machine dengan Geometry Single Point Tool pada High Speed
ISBN 978-979-3541-50-1 IRWNS 2015 Optimasi Cutting Tool Carbide pada Turning Machine dengan Geometry Single Point Tool pada High Speed Badruzzaman a, Dedi Suwandi b a Jurusan Teknik Mesin,Politeknik Negeri
PROSES PEMBUATAN ROUGH GUIDE DI PT. ARTECH PRESISI MESINDO NAMA: DENNI HARTONO NPM :
PROSES PEMBUATAN ROUGH GUIDE DI PT. ARTECH PRESISI MESINDO NAMA: DENNI HARTONO NPM : 21412840 UNIVERSITAS GUNADARMA FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PENULISAN ILMIAH/ LAPORAN KERJA PRAKTEK PROSES PEMBUATAN
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kajian Pustaka Conveyor merupakan suatu alat transportasi yang umumnya dipakai dalam proses industri. Conveyor dapat mengangkut bahan produksi setengah jadi maupun hasil produksi
Gambar 9. Macam Proses Ekstrusi: a. Ekstrusi langsung, b. Ekstrusi tidak langsung.
BAB 4. EKSTRUSI Kompetensi : Menguasai prosedur dan trampil dalam proses pembentukan material melalui proses ekstrusi. Sub Kompetensi : Menguasai cara pembentukan plastik melalui ekstrusi langsung. DASAR
Frekuensi yang digunakan berkisar antara 10 hingga 500 khz, dan elektrode dikontakkan dengan benda kerja sehingga dihasilkan sambungan la
Pengelasan upset, hampir sama dengan pengelasan nyala, hanya saja permukaan kontak disatukan dengan tekanan yang lebih tinggi sehingga diantara kedua permukaan kontak tersebut tidak terdapat celah. Dalam
PROSES BUBUT (Membubut Tirus, Ulir dan Alur)
MATERI PPM MATERI BIMBINGAN TEKNIS SERTIFIKASI KEAHLIAN KEJURUAN BAGI GURU SMK PROSES BUBUT (Membubut Tirus, Ulir dan Alur) Oleh: Dr. Dwi Rahdiyanta, M.Pd. Dosen Jurusan PT. Mesin FT-UNY 1. Proses membubut
BAB III PENELITIAN DAN ANALISA
BAB III PENELITIAN DAN ANALISA 3.1 Dimensi Benda Uji Spesifikasi benda uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Benda uji dibuat dengan ukuran Diameter pipa x Panjang (12 x 1350
Menentukan Peralatan Bantu Kerja Dengan Mesin Frais
MATERI KULIAH PROSES PEMESINAN PROSES FRAIS Menentukan Peralatan Bantu Kerja Dengan Mesin Frais Kegiatan Belajar Oleh: Dwi Rahdiyanta Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta Menentukan Peralatan
BAB IV PROSES PEMBUATAN DAN PENGUJIAN
BAB IV PROSES PEMBUATAN DAN PENGUJIAN 4.1. Proses Pembuatan proses pembuatan adalah proses untuk mencapai suatu hasil. Proses pembuatan sand filter rotary machine dikerjakan dalam beberapa tahap, mulai
MODUL I PRAKTIKUM PROSES PRODUKSI
MODUL I PRAKTIKUM PROSES PRODUKSI LABORATORIUM PROSES DAN SISTEM PRODUKSI LABORATORIUM TEKNOLOGI MEKANIK DEPARTEMEN TEKNIK MESIN DAN INDUSTRI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS GADJAH MADA 2017 TATA TERTIB PRAKTIKUM
Pengaruh Besar Arus Listrik Dan Tegangan Terhadap Kekasaran Permukaan Benda Kerja Pada Electrical Discharge Machining (EDM)
Pengaruh Besar Arus Listrik Dan Tegangan Terhadap Kekasaran Permukaan Benda Kerja Pada Electrical Discharge Machining (EDM) Dengan Metode Respon Surface P u r n o m o, Efrita AZ, Edi Suryanto Jurusan Teknik
PERTEMUAN 13 TOLERANSI GEOMETRI DAN KONFIGURASI PERMUKAAN
PERTEMUAN 13 TOLERANSI GEOMETRI DAN KONFIGURASI PERMUKAAN 13.1. Toleransi geometri Toleransi geometri atau toleransi bentuk adalah batas penyimpangan yang diizinkan, dari dua buah garis yang sejajar, atau
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Seiring dengan kemajuan teknologi, banyak material yang semakin sulit untuk dikerjakan dengan proses pemesinan konvensional. Selain tuntutan terhadap kualitas
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Pembuatan Prototipe 5.1.1. Modifikasi Rangka Utama Untuk mempermudah dan mempercepat waktu pembuatan, rangka pada prototipe-1 tetap digunakan dengan beberapa modifikasi. Rangka
Toleransi& Implementasinya
Toleransi& Implementasinya Daftar Isi 1. Toleransi Linier... 3 a) Suaian-suaian (Fits)... 6 b) Jenis jenis Suaian... 6 c) Toleransi Khusus dan Toleransi Umum... 6 1) Toleransi Khusus... 6 2) Toleransi
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) Dalam proses pembuatan mesin pengupas kulit kentang perlu memperhatikan masalah kesehatan dan keselamatan kerja (K3). Adapun maksud
BAB III METODOLOGI. Pembongkaran mesin dilakukan untuk melakukan pengukuran dan. Selain itu juga kita dapat menentukan komponen komponen mana yang
BAB III METODOLOGI 3.1 Pembongkaran Mesin Pembongkaran mesin dilakukan untuk melakukan pengukuran dan mengganti atau memperbaiki komponen yang mengalami kerusakan. Adapun tahapannya adalah membongkar mesin
ANALISA KERUSAKAN PISAU POTONG MESIN GAP SHEAR DI PT. INKA NAMA : M. RIMANU NRP :
FIELD PROJECT 2011 ANALISA KERUSAKAN PISAU POTONG MESIN GAP SHEAR DI PT. INKA NAMA : M. RIMANU NRP : 6308030008 LATAR BELAKANG Mesin Gap Shear merupakan suatu mesin potong yang menggunakan sistem hidrolik
BAB II PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH. harus mempunyai sebuah perencanaan yang matang. Perencanaan tersebut
BAB II PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH Proses pembuatan rangka pada mesin pemipih dan pemotong adonan mie harus mempunyai sebuah perencanaan yang matang. Perencanaan tersebut meliputi gambar kerja, bahan,
I. PENDAHULUAN. Proses permesinan merupakan proses manufaktur dimana objek dibentuk
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Proses permesinan merupakan proses manufaktur dimana objek dibentuk dengan cara membuang atau meghilangkan sebagian material dari benda kerjanya. Tujuan digunakan proses
ANALISIS PROFIL KEBULATAN UNTUK MENENTUKAN KESALAHAN GEOMETRIK PADA PEMBUATAN KOMPONEN MENGGUNAKAN MESIN BUBUT CNC
ANALISIS PROFIL KEBULATAN UNTUK MENENTUKAN KESALAHAN GEOMETRIK PADA PEMBUATAN KOMPONEN MENGGUNAKAN MESIN BUBUT CNC Muhammad Yanis Jurusan Teknik Mesin-Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya Jl.Raya Prabumulih
BAB 1 PENDAHULUAN. Gambar 1.1. Proses Pemesinan Milling dengan Menggunakan Mesin Milling 3-axis
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan ilmu pengetahuan dan penemuan-penemuan proses serta teknik pemotongan logam (metal cutting) terus mendorong industri manufaktur semakin maju. Ini terlihat
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN. Gambar 3.1 Baja AISI 4340
26 BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Bahan 3.1.1 Benda Kerja Benda kerja yang digunakan untuk penelitian ini adalah baja AISI 4340 yang telah dilakukan proses pengerasan (hardening process). Pengerasan dilakukan
PEMBERIAN UKURAN DIMENSI
PEMBERIAN UKURAN DIMENSI Dodi Sofyan Arief, ST., MT 17 Desember 2008 Tujuan Pembelajaran : Menggunakan teknik-teknik pemeberian dimensi untuk menguraikan dan bentuk secara baik pada gambar teknik. Membuat
SOAL LATIHAN 3 TEORI KEJURUAN PEMESINAN
SOAL LATIHAN 3 TEORI KEJURUAN PEMESINAN OLEH: TIM PEMESINAN SMK PGRI 1 NGAWI CONTACT PERSON: HOIRI EFENDI, S.PD 085736430673 SOAL NAS: F018-PAKET A-08/09 1. Sebuah poros kendaraan terbuat dari bahan St
BAB III PENGUKURAN DAN GAMBAR KOMPONEN UTAMA PADA MESIN MITSUBISHI L CC
BAB III PENGUKURAN DAN GAMBAR KOMPONEN UTAMA PADA MESIN MITSUBISHI L 100 546 CC 3.1. Pengertian Bagian utama pada sebuah mesin yang sangat berpengaruh dalam jalannya mesin yang didalamnya terdapat suatu
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pengelasan Friction Stir Welding Setelah dilakukan proses pengelasan friction stir welding, maka akan terlihat bekas hasil pengelasan pada permukaan material. Pengelasan
PEMBUATAN MEKANISME SIMULATOR MESIN PEMBUAT RODA GIGI LURUS (RACK GENERATION) TUGAS AKHIR
PEMBUATAN MEKANISME SIMULATOR MESIN PEMBUAT RODA GIGI LURUS (RACK GENERATION) TUGAS AKHIR Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat mencapai Sarjana Strata Satu (S-1) JurusanTeknik Universitas Pasundan
PROSES PEMBUATAN DIES UNTUK PEMBENTUKAN PANEL MOBIL DI PT. METINDO ERA SAKTI. Nama : Haga Ardila NPM : Jurusan : Teknik mesin
PROSES PEMBUATAN DIES UNTUK PEMBENTUKAN PANEL MOBIL DI PT. METINDO ERA SAKTI Nama : Haga Ardila NPM : 23410094 Jurusan : Teknik mesin LATAR BELAKANG Perkembangan teknologinya dilakukan dengan cara melakukan
BAB III PEMILIHAN BAHAN DAN PROSES MANUFAKTUR CRUISE CONTROL
BAB III PEMILIHAN BAHAN DAN PROSES MANUFAKTUR CRUISE CONTROL III.1 Pemilihan Bahan dan Proses Manufaktur Cruise Control Versi Magnetic Clutch III.1.1 Pemilihan Bahan Cruise Control Versi Magnetic Clutch
BAB IV PERHITUNGAN DAN PERANCANGAN ALAT. Data motor yang digunakan pada mesin pelipat kertas adalah:
BAB IV PERHITUNGAN DAN PERANCANGAN ALAT 4.1 Perhitungan Rencana Pemilihan Motor 4.1.1 Data motor Data motor yang digunakan pada mesin pelipat kertas adalah: Merek Model Volt Putaran Daya : Multi Pro :
1 Teknik Pemesinan SMK PGRI 1 Ngawi Cerdas, Kreatif, Intelek dan Wirausahawan. By: Hoiri Efendi, S.Pd
1 A. PENGERTIAN TEKNIK PEMESINAN SMK PGRI 1 NGAWI TERAKREDITASI: A Jl. Rajawali No. 32, Telp./Faks. : (0351) 746081 Ngawi. Homepage: 1. www.smkpgri1ngawi.sch.id 2. www.grisamesin.wordpress.com Facebook:
Ditinjau dari macam pekerjan yang dilakukan, dapat disebut antara lain: 1. Memotong
Pengertian bengkel Ialah tempat (bangunan atau ruangan) untuk perawatan / pemeliharaan, perbaikan, modifikasi alt dan mesin, tempat pembuatan bagian mesin dan perakitan alsin. Pentingnya bengkel pada suatu
PERANCANGAN TEKNIS BAUT BATUAN BERDIAMETER 39 mm DENGAN KEKUATAN PENOPANGAN kn LOGO
www.designfreebies.org PERANCANGAN TEKNIS BAUT BATUAN BERDIAMETER 39 mm DENGAN KEKUATAN PENOPANGAN 130-150 kn Latar Belakang Kestabilan batuan Tolok ukur keselamatan kerja di pertambangan bawah tanah Perencanaan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. masing-masing benda uji, pada pengelasan las listrik dengan variasi arus 80, 90,
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Penelitian Spesimen 4.1.1. Proses Pengelasan Setelah pengamatan, pengukuran serta pengujian dilaksanakan terhadap masing-masing benda uji, pada pengelasan
BAB II DASAR TEORI 2.1 Proses Pengelasan.
digilib.uns.ac.id 3 BAB II DASAR TEORI 2.1 Proses Pengelasan. 2.1.1 Pengertian pengelasan Pengelasan adalah suatu sambungan yang permanen yang mana berasal dari peleburan dan dua bagian yang digabungkan
BAB III RANCANGAN MODIFIKASI KONSTRUKSI
35 BAB III RANCANGAN MODIFIKASI KONSTRUKSI 3.1 Konstruksi dies drawing dan dies trimming (dua dies dua kali proses) 3.1.1 Dies Drawing Pada proses ini terjadi proses perubahan bentuk dari material lembaran
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Diagram Alir Penelitian Untuk dapat mengetahui hasil dari penelitian ini maka pada bab ini akan di bahas mengenai metode penelitian yakni mengenai proses pelaksanaan dan prosedur
