Jurnal Flywheel, Volume 1, Nomor 2, Desember 2008 ISSN :
|
|
|
- Harjanti Darmadi
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 ANALISIS SIMULASI PENGARUH SUDUT CETAKAN TERHADAP GAYA DAN TEGANGAN PADA PROSES PENARIKAN KAWAT TEMBAGA MENGGUNAKAN PROGRAM ANSYS 8.0 I Komang Astana Widi Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Nasional Malang Kampus 2 Jl. Karanglo Km.2 Malang [email protected] ABSTRAKSI Selama ini proses pembuatan kawat menggunakan proses wire drawing hanya dilakukan oleh perusahaan-perusahaan, sehingga proses pembuataannya dan data perhitungan untuk mendapatkan cetakan yang sesuai, berapa besar gaya penarikan merupakan rahasia perusahaan. Oleh karena itu penulis mencoba untuk menganalisa pembuatan kawat menggunakan sistem wire drawing sehingga dapat digunakan sebagai pertimbangan semisal usaha kecil. Dan dalam analisa ini penulis menggunakan simulasi dengan bantuan software Ansys 8.0 untuk lebih menghemat biaya. Analisis simulasi pengaruh sudut cetakan terhadap gaya dan tegangan pada proses penarikan kawat tembaga menggunakan program ansys 8.0 telah dilakukan pengamatan. Hasil pengamatan menunjukan bahwa Cetakan yang terbaik untuk mendapatkan kawat tembaga dari diameter 2 mm menjadi diameter 1 mm adalah menggunakan cetakan dengan sudut cetakan (θ) sebesar 15 0, karena menghasilkan gaya tarikan dan tegangan terkecil yaitu 0, Pa dengan gaya penarikan sebesar 557 N, sedangkan tegangan masimal terjadi pada sudut cetakan (θ) sebesar 5 0 yaitu sebesar 0, Pa, namun hasil ini masih di bawah tegangan ijin kawat tembaga yaitu sebesar 0, Pa sehingga kegagalan penarikan kawat dengan sudut tersebut tidak akan terbentuk. Kata Kunci : wire drawing, tegangan, gaya, sudut cetakan. PENDAHULUAN Kawat dalam dunia industri keberadaannya sangatlah penting, karena kawat banyak digunakan diberbagai bidang, seperti : bidang permesinan, konstruksi bangunan, jaringan listrik, telekomunikasi, elektronika dan lain-lain. Karena itu kawat tidak dapat dipisahkan keberadaannya dari dunia industri. Teknologi yang digunakan dalam proses pembuatan kawat menggunakan Teknologi Metal Forming dengan proses Wire Drawing. Proses wire drawing merupakan proses pembentukan logam dimana suatu logam direduksi penampangnya dengan cara menarik logam disalah satu ujungnya dengan menggunakan peralatan tarik. Dalam proses pembuatan kawat pertama-tama dilakukan pengerolan terhadap batang kawat sehingga ujung batang kawat tersebut bisa masuk kedalam lubang cetakan, dan dalam proses penarikan kawat akan melalui beberapa celah cetakan (die) sehingga batang kawat akan mengalami penurunan dimensi/ukuran sehingga bisa didapatkan ukuran diameter kawat yang diinginkan. Pada prinsipnya proses wire drawing adalah batang kawat ditarik melalui beberapa dies guna didapat ukuran yang diinginkan. Pada proses penarikan kontinyu kawat ditarik melalui beberapa dies, dengan demikian kawat mengalami deformasi maksimal sebelum memerlukan anil. 24
2 Prinsip penarikan batang kawat pada dasarnya sama, walaupun peralatan yang digunakan berbeda untuk ukuran produk yang berlainan. Batang dan tabung yang tidak dapat digulung diproduksi pada mesin tarik. Batang ditusuk dengan penusuk dimasukkan kecetakan dan dijepitkan pada kepala tarik. Kepala tarik digerakkan oleh mekanisme hidroliks. Penarikan kawat dimulai dengan pengerolan panas batang kawat. Mulamula batang dibersihkan untuk menghilangkan kerak yang dapat mengakibatkan cacat permukaan dan keausan cetakan yang berlebihan. Tahap berikutnya adalah persiapan batang agar pelumasan efektif. Untuk menghasilkan kekuatan kawat yang tinggi, diperlukan persiapan yang lunak dengan kapur atau lapisan tipis tembaga atau timah putih. Selain itu sering pula digunakan lapisasn konversi seperti sulfat atau aksalat. Bahan ini dipergunakan disamping pelumas, seperti sabun pada penarikan kering. Pada penarikan basah cetakan dan batang seluruhnya tercelup dalam minyak pelumas. Bila diameter batang cukup kecil sehingga dapat digulung, maka dapat digunakan blok penggulung sehingga ruang yang digunakan tidak terlalu luas. Karena pada umumnya reduksi penampang setiap pas tarik tidak lebih dari persen, maka diperlukan reduksi ganda untuk mencapai reduksi keseluruhan. Mesin blok ganda dengan satu cetakan dan satu blok tarik untuk setiap reduksi adalah umum. Karena diameter kawat berkurang setelah melalui pas tertentu, kecepatan dan panjang kawat bertambah. Jadi kecepatan setiap blok tarik harus bertambah besar agar tidak terjadi slip antara kawat dan blok. Hal ini dapat dicapai bila kecepatan setiap blok tarik dikendalikan oleh motor sendiri. Akan tetapi untuk menghemat energi digunakan satu motor listrik untuk menjalankan kerucut bertingkat. Diameter setiap kerucut dirancang sedemikian rupa sehingga kecepatannya sebanding dengan reduksi penampang tertentu. Bila kecepatan kawat dan kecepatan blok gulung tidak sesuai, kawat menggeser pada blok sewaktu berputar dan menyebabkan terjadinya gesekan. Kecepatan tarik pada mesin cetakan ganda dapat mencapai 600 m/menit untuk penarikan kawat besi/baja dan 2000 m/menit untuk kawat bukan besi. Operasi penarikan menurut temperatur kerjanya dapat dibagi menjadi dua macam yaitu : penarikan panas dan penarikan dingin. Pada penarikan panas benda kerja dipanaskan terlebih dahulu sampai mencapai temperatur diatas temperatur rekristalisasi dari logam. Besarnya temperatur rekristalisasi dari masing-masing logam tidak sama dimana besarnya dipengaruhi oleh jenis logam maupun paduannya. Sedangkan penarikan dingin merupakan penarikan yang dilakukan pada temperatur dibawah temperatur rekristalisasi. Karena sifat tembaga murni adalah ulet maka operasi penarikan kawat tembaga dilakukan dengan penarikan dingin. Proses wire drawing menggunakan dies yang berbentuk kerucut. Selama malalui dies, kawat mengalami deformasi plastis dan terjadi penyusutan diameter. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses wire drawing adalah : 1. Gaya luar dan tegangan yang diperlukan untuk mengerjakan drawing. 25
3 2. Reduksi maksimum yang mungkin dilakukan bila gaya luar maksimum diterapkan. 3. Kondisi optimal dari proses yaitu sudut dies optimal. Teknik penarikan kawat dibagi menjadi dua kelompok utama, yaitu : 1. Penarikan logam besi. 2. Penarikan logam bukan besi. Kelompok kedua dapat dibagi lagi menjadi penarikan logam bukan besi yang berat seperti tembaga dan penarikan logam bukan besi yang ringan seperti alumunium. Ansys 8.0 adalah perangkat lunak atau juga dapat dikatakan software yang dapat digunakan untuk menyelesaikan berbagai kasus dibidang struktur, termal dan fluida. Perangkat lunak (software) ini berbasis pada metode elemen. Perangkat lunak (software) ini sangat berguna untuk diterapkan pada bidang konstruksi. Perangkat lunak ( software) ANSYS 8.0 yang menggunakan dasar prinsip metode elemen hingga, disini akan dijelaskan sedikit mengenai metode elemen hingga tetapi dalam analisis tegangan ini tidak dibahas mengenai metode elemen hingga. Bila suatu kontinum dibagi-bagi menjadi beberapa bagian yang lebih kecil. Bagian-bagian ini disebut elemen hingga. Proses pembagian suatu kontinum menjadi elemen hingga ini sering dikenal sebagai proses diskritisasi (pembagian). Dinamakan elemen hingga karena ukuran elemen kecil ini berhingga (bukannya kecil tidak berhingga) dan umumnya memiliki bentuk geometri yang lebih sederhana dibandingkan dengan kontinumnya. Dengan menggunakan metode elemen hingga dapat dirubah masalah yang memiliki jumlah derajat kebebasan tidak berhingga menjadi suatu masalah dengan derajat lebih sederhana. Derajat kebebasan dapat didefinisikan sebagai suatu perpindahan bebas (tidak diketahui) yang dapat terjadi di suatu titik. Perpotongan antar elemen dinamakan simpul atau titik simpul dan permukaan antar elemen-elemen disebut garis simpul dan bidang simpul. METODOLOGI PENELITIAN Diagram Alir Software Ansys 8.0 mempunyai cara-cara sistematik dalam menganalisis suatu persoalan. Adapun diagram alurnya sebagai berikut : Start Pemilihan Jenis Analisis Pembuatan Model Penentuan Tipe Elemen dan Material Meshing Solusi Hasil End ya Tidak Gambar 3.1. Alur Program Ansys 8.0 Data Material Pada proses pembuatan kawat dengan wire drawing, menggunakan dua jenis bahan yaitu untuk cetakan dan kawat dengan spesifikasi sebagai berikut : Cetakan 26
4 Bahan = Baja ST 37 Massa jenis = 7850 kg/m 3 Angka poisson = 0,3 Modulus elastisitas = 1,99 x Pa Tegangan ijin = 9, Pa Kawat Diameter awal = 2 mm Diameter akhir = 1 mm Bahan = Tembaga (C22000) Massa jenis = 8880 kg/m 3 Angka poisson = 0,285 Modulus elastisitas = 1,31 x Pa Tegangan ijin = 9, Pa Koefisien gesek = 0,22 (Sumber; Oberg, Erik, 2000, Machinery s Handbook, New York, Industrial Press Inc) Dimensi awal cetakan (b) ( c) Gambar 3.5. sudut cetakan (θ) 5 0 a) Model Simulasi wire drawing b). Model cetakan c). Model kawat Gambar 3.2 Dimensi awal cetakan (a) Gambar 3.3 Sudut cetakan Dimensi Awal kawat (b) Gambar 3.4 Dimensi awal kawat HASIL DAN DISKUSI Pemodelan Simulasi (c) (a) (d) 27
5 (e) Gambar 3.6. Model Simulasi wire drawing dengan sudut cetakan a) b) c) d) e).30 0 Penentuan Tipe Elemen dan Spesifikasi Bahan ANSYS 8.0 menyediakan 133 jenis elemen yang bisa digunakan untuk berbagai macam jenis analisis. Untuk penentuan dari tipe elemen dari suatu benda yang dianalisis tergantung dari bentuk benda, model analisis yang akan di lakukan dan bentuk elemen yang akan digunakan. Untuk analisis wire drawing, elemen yang digunakan adalah Solid 92. Dimana Solid 92 adalah berbentuk elemen segi tiga yang mempunyai sepuluh node dan setiap node mempunyai enam DOF. untuk semua arah ( All Dof) pada cetakan karena pada waktu melakukan kerja, cetakannya tidak bergerak. Sedangkan untuk kawat diberikan tumpuan arah sumbu Z karena kawat ditarik ke arah sumbu Z sebesar 0,005 m Gambar 4.2. Free body diagram pembebanan pada wire drawing Hasil Simulasi Ansys 8.0 Hasil analisa tegangan Untuk pemodelan simulasi dengan sudut cetakan (θ) 5 0 Deskritisasi atau Pembagian Elemen Deskritisasi atau pembagian elemen dilakukan dengan proses yang dinamakan meshing. Dengan menggunakan dasar metode elemen hingga, bentuk elemen adalah elemen segi tiga ( 10-node tetrahedral structural solid) didapatkan : Gambar 4.1. Pembagian Elemen (meshing) Penyelesaian atau solusi Langkah solusi meliputi pemberian tumpuan ( displacement). Untuk pemberian tumpuan di berikan tumpuan Gambar 4.3. Kontur tegangan yang terjadi pada simulasi wire drawing Dari hasil analisis yang dikerjakan pada simulasi wire drawing menggunakan program Ansys
6 didapatkan hasil tegangan yang berupa kontur seperti terlihat pada gambar 4.11 di atas. Dimana tegangan maksimum terdapat pada daerah yang ditunjukkan dengan warna merah yaitu di sekitar ujung kawat yang ditarik yaitu sebesar 0, Pa, sedangkan daerah yang di tunjukkan dengan warna biru merupakan daerah yang mengalami tegangan minimum sebesar 567 Pa, akan tetapi pada kenyataannya daerah tersebut memiliki nilai yang berbeda. Hasil analisa defleksi Untuk pemodelan simulasi dengan sudut cetakan (θ) 5 0 terdapat pada daerah yang di tunjukkan dengan warna merah yaitu di ujung kawat yaitu sebesar 0, m, sedangkan daerah yang di tunjukkan dengan warna biru merupakan daerah yang mengalami defleksi minimum sebesar 0, m, akan tetapi pada kenyataannya daerah tersebut memiliki nilai yang berbeda. Hasil analisa gaya Untuk pemodelan simulasi dengan sudut cetakan (θ) 5 0 Gambar 4.5. Kontur gaya yang terjadi simulasi wire drawing Gambar 4.4. Kontur defleksi yang terjadi pada simulasi wire drawing Dari hasil analisis yang dikerjakan pada simulasi wire drawing menggunakan program Ansys 8.0 didapatkan hasil defleksi yang berupa kontur seperti terlihat pada gambar 4.12 di atas. Dimana defleksi maksimum Dari hasil analisis yang dikerjakan pada simulasi wire drawing menggunakan program Ansys 8.0 didapatkan hasil gaya yang berupa kontur seperti terlihat pada gambar 4.13 di atas. Dimana gaya maksimum terdapat pada daerah yang di tunjukkan dengan warna merah, yang pada penggambaran ini tidak 29
7 tampak atau tidak memenuhi syarat warna merah, dimana gaya maksimal yang terjadi sebesar 669 N. PEMBAHASAN Perhitungan Manual Pada perhitungan manual untuk mendapatkan kawat tembaga dengan diameter 2 mm menjadi 1 mm, didapatkan perhitungan sebagai berikut : Reduksi (r) A A dimana : Maka : r = A a A b b A 21 r = 2 = 0,5 Regangan bidang () = ln 1 1 r = ln 1 1 0,5 b a...(dieter, 1996 ; 250) = Diameter akhir kawat = 1 mm = Diameter awal kawat = 2 mm = 0,69 Tegangan alir () K.ε n Dimana = n 1.(Dieter, 1996 ; 250) K = Koefisien kekuatan pada bahan tembaga (319,92 MPa) n = eksponen pengerasan regangan pada bahan tembaga (0,54) maka : = 0,54 319,92 x 0,69 0,541 = 170,02 MPa Tegangan tarik ( a ) 1 B A a = σ 1 B A a b B (Dieter, 1996 ; 250) Dimana : B = cotg = tan Dengan = koefisien gesek = 0,22 dan = sudut cetakan Dan gaya tarik (F) F = a. A Maka : Untuk sudut cetakan () 5 0 B = a = 0,22 tan 5 = 2,51 1 2, ,02 1 2,51 2 F = = 196,02 MPa 196,02 x 3,14.0,001 = 615,5 N 2,51 Pembahasan diambil dari hasil simulasi menggunakan Ansys 8.0 dan perhitungan manual, dan dapat ditabelkan sebagai berikut : Tabel hasil tegangan No. Sudut Cetakan (θ) Tegangan Hasil Simulasi (Pa) 2 Tegangan Hasil Perhitungan (Pa) , , , , , , , , , , , , Tabel hasil gaya No. Sudut Cetakan (θ) Gaya Hasil Simulasi (N) Gaya Hasil Perhitungan (N) , , , , , ,47 30
8 Grafik hasil tegangan dan gaya Tegangan (Pa) Gaya (N) 2.50E E E E E E+00 Grafik Perbandingan Tegangan Hasil Simulasi Dengan Perhitungan Manual Pada Analisa Wire Drawing simulasi manual 8.00E E E E E E E E E Sudut Cetakan ( ) Grafik Perbandingan Gaya Tarik Hasil Simulasi Dengan Perhitungan Manual Pada Analisa Wire Drawing simulasi manual Sudut Cetakan ( ) Sebagai pembanding hasil simulasi dilakukan perhitungan manual, dari diameter awal 2 mm dan diameter akhir 1 mm, reduksi sebesar 0,5 dan regangan bidang sebesar 0,69 didapatkan masing-masing nilai untuk tegangan yang terjadi dan gaya yang dibutuhkan untuk tiap masing-masing sudut cetakan. Sudut cetakan ditentukan dari sudut terkecil sebesar 5 0 sampai dengan sudut terbesar sebesar 30 0 dengan lebar cetakan yang tetap. Variabel sudut yang bervariasi dipilih karena dengan berubahnya sudut cetakan maka lebar cetakan untuk bidang persinggungan antara kawat dan cetakan juga berubah. Dengan sudut cetakan yang bervariasi didapatkan tegangan tarik dan gaya tarik minimal yang dibutuhkan untuk dapat membentuk kawat dari diameter 2 mm menjadi diameter 1 mm. Dari perbandingan tegangan hasil simulasi dan perhitungan manual dapat dilihat semakin besar sudut cetakan maka tegangan yang terjadi cenderung menurun. Pada perhitungan manual penurunan tegangan pada variasi sudut cetakan diakibatkan semakin turunnya ketebalan kawat yang diakibatkan kenaikan sudut cetakan. Sedangkan dalam perhitungan secara simulasi tegangan yang terjadi dan dihasilkan cenderung bervariasi tetapi tetap cenderung turun. Hal ini disebabkan karna didalam simulasi terjadi ketidaksamaan bidang kontak antara kawat tembaga dengan cetakan yang diakibatkan ukuran pembagian elemen (meshing) yang berbeda, begitu juga yang terjadi pada hasil gaya (F) yang dibutuhkan untuk membentuk kawat dari diameter 2mm menjadi 1mm. Sedangkan selisih nilai yang terjadi antara perhitungan manual dan simulasi, karena tegangan yang terjadi pada perhitungan manual berdasarkan dari gaya tarik minimal yang dibutuhkan untuk membentuk kawat. Sedangkan didalam simulasi tegangan yang terjadi merupakan tegangan konstan setelah terjadi penarikan oleh gaya pada pergeseran selang jarak tertentu. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Dari hasil analisa wire drawing pada pembuatan kawat menggunakan simulasi dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Cetakan yang tebaik untuk mendapatkan kawat tembaga dari diameter 2 mm menjadi diameter 1 mm adalah menggunakan cetakan dengan sudut cetakan (θ) sebesar 15 0, 31
9 karena menghasilkan gaya tarikan dan tegangan terkecil. 2. Tegangan terkecil pada simulasi sebesar 0, Pa yang terjadi pada sudut cetakan (θ) sebesar 15 0, dimana merupakan tegangan terkecil yang terjadi untuk mendapatkan kawat tembaga dari diameter 2 mm menjadi 1 mm. 3. Gaya penarikan kawat tembaga pada sudut cetakan (θ) sebesar 15 0 adalah sebesar 557 N, dimana merupakan gaya tarikan terkecil untuk mendapatkan kawat tembaga dari diameter 2 mm menjadi 1 mm. 4. Tegangan masimal yang terjadi pada pembuatan kawat pada sudut cetakan 0 (θ) sebesar 5 adalah sebesar 0, Pa, masih di bawah tegangan ijin kawat tembaga sebesar 0, Pa sehingga tidak terjadi patah pada saat penarikan. Saran Dari hasil simulasi wire drawing untuk pembuatan kawat tembaga diharapkan dapat dijadikan acuan untuk pembuatan kawat tembaga dengan cara wire drawing yang sebenarnya, serta dapat dilakukan simulasi selanjutnya dengan memasukkan komponen-komponen lainnya seperti pelumasan, perlakuan panas dan lain-lain. DAFTAR PUSTAKA 1. Sriati Djaprie, Metalurgi mekanik, penerbit Erlangga, Jakarta 1988, hal Gere dan Timoshenko, Mekanika Bahan, Penerbit Erlangga, hal
PENGARUH VARIASI SUDUT DIES TERHADAP PENARIKAN KAWAT ALUMINIUM. Asfarizal 1 dan Adri Jamil 2. Abstrak
PENGARUH VARIASI SUDUT DIES TERHADAP PENARIKAN KAWAT ALUMINIUM Oleh : Asfarizal 1 dan Adri Jamil 2 1 Dosen Teknik Mesin - Institut Teknologi Padang 2 Alumni Teknik Mesin Institut Teknologi Padang Abstrak
III. METODE PENELITIAN
33 III. METODE PENELITIAN Metode penelitian adalah suatu cara yang digunakan dalam penelitian, sehingga pelaksanaan dan hasil penelitian bisa untuk dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Penelitian ini menggunakan
METODE PENELITIAN. Model tabung gas LPG dibuat berdasarkan tabung gas LPG yang digunakan oleh
III. METODE PENELITIAN Model tabung gas LPG dibuat berdasarkan tabung gas LPG yang digunakan oleh rumah tangga yaitu tabung gas 3 kg, dengan data: Tabung 3 kg 1. Temperature -40 sd 60 o C 2. Volume 7.3
III. METODELOGI. satunya adalah menggunakan metode elemen hingga (Finite Elemen Methods,
III. METODELOGI Terdapat banyak metode untuk melakukan analisis tegangan yang terjadi, salah satunya adalah menggunakan metode elemen hingga (Finite Elemen Methods, FEM). Metode elemen hingga adalah prosedur
BAB IV SIFAT MEKANIK LOGAM
BAB IV SIFAT MEKANIK LOGAM Sifat mekanik bahan adalah : hubungan antara respons atau deformasi bahan terhadap beban yang bekerja. Sifat mekanik : berkaitan dengan kekuatan, kekerasan, keuletan, dan kekakuan.
BAB I PENDAHULUAN. Ekstrusi merupakan salah satu proses yang banyak digunakan dalam
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ekstrusi merupakan salah satu proses yang banyak digunakan dalam proses manufaktur. Dimana aplikasinya sangat luas seperti dijumpai pada aplikasi-aplikasi struktur,
TEORI SAMBUNGAN SUSUT
TEORI SAMBUNGAN SUSUT 5.1. Pengertian Sambungan Susut Sambungan susut merupakan sambungan dengan sistem suaian paksa (Interference fits, Shrink fits, Press fits) banyak digunakan di Industri dalam perancangan
Proses Lengkung (Bend Process)
Proses Lengkung (Bend Process) Pelengkuan (bending) merupakan proses pembebanan terhadap suatu bahan pada suatu titik ditengah-tengah dari bahan yang ditahan diatas dua tumpuan. Dengan pembebanan ini bahan
MODUL 6 PROSES PEMBENTUKAN LOGAM
MODUL 6 PROSES PEMBENTUKAN LOGAM Materi ini membahas tentang proses pembuatan logam bukan besi. Tujuan instruksional khusus yang ingin dicapai adalah (1) Menjelaskan perbedaan antara proes pengerjaan secara
Analisis Kekuatan dan Deformasi Piston Mesin Bensin-Bio Etanol dan Gas dengan Injeksi Langsung untuk Kendaraan Nasional dengan Simulasi Numerik
Analisis Kekuatan dan Deformasi Piston Mesin Bensin-Bio Etanol dan Gas dengan Injeksi Langsung untuk Kendaraan Nasional dengan Simulasi Numerik Oleh : Moch. Wahyu Kurniawan 219172 Jurusan Teknik Mesin
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu Dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di Lab. Mekanika Struktur Jurusan Teknik Mesin Universitas Lampung untuk mensimulasikan kemampuan tangki toroidal penampang
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR 3.1 Diagram Alir Proses Perencanaan Proses perencanaan mesin pembuat es krim dari awal sampai akhir ditunjukan seperti Gambar 3.1. Mulai Studi Literatur Gambar Sketsa Perhitungan
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR 3.1 Skema Dan Prinsip Kerja Alat Prinsip kerja mesin pemotong krupuk rambak kulit ini adalah sumber tenaga motor listrik ditransmisikan kepulley 2 dan memutar pulley 3 dengan
BAB III PERANCANGAN DAN PERHITUNGAN
BAB III PERANCANGAN DAN PERHITUNGAN 3.1 Diagram Alir Proses Perancangan Proses perancangan konstruksi mesin pengupas serabut kelapa ini terlihat pada Gambar 3.1. Mulai Survei alat yang sudah ada dipasaran
BAB II DASAR TEORI 2.1 Konsep Perencanaan 2.2 Motor 2.3 Reducer
BAB II DASAR TEORI 2.1 Konsep Perencanaan Konsep perencanaan komponen yang diperhitungkan sebagai berikut: a. Motor b. Reducer c. Daya d. Puli e. Sabuk V 2.2 Motor Motor adalah komponen dalam sebuah kontruksi
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR 3.1 Diagram Alir Proses Perancangan Proses perancangan mesin peniris minyak pada kacang seperti terlihat pada gambar 3.1 berikut ini: Mulai Studi Literatur Gambar Sketsa
BAB IV SIFAT MEKANIK LOGAM
BAB IV SIFAT MEKANIK LOGAM Sifat mekanik bahan adalah : hubungan antara respons atau deformasi bahan terhadap beban yang bekerja. Sifat mekanik : berkaitan dengan kekuatan, kekerasan, keuletan, dan kekakuan.
ANALISA KEGAGALAN POROS DENGAN PENDEKATAN METODE ELEMEN HINGGA
ANALISA KEGAGALAN POROS DENGAN PENDEKATAN METODE ELEMEN HINGGA Jatmoko Awali, Asroni Jurusan Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Metro Jl. Ki Hjar Dewantara No. 116 Kota Metro E-mail : [email protected]
PERANCANGAN POROS DIGESTER UNTUK PABRIK KELAPA SAWIT DENGAN KAPASITAS OLAH 12 TON TBS/JAM DENGAN PROSES PENGECORAN LOGAM
1 PERANCANGAN POROS DIGESTER UNTUK PABRIK KELAPA SAWIT DENGAN KAPASITAS OLAH 12 TON TBS/JAM DENGAN PROSES PENGECORAN LOGAM SKRIPSI Skripsi Yang Diajukan untuk Melengkapi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana
METODOLOGI PENELITIAN
III. METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mekanika Struktur Jurusan Teknik Mesin Universitas Lampung. Penelitian ini dilaksanakan mulai dari bulan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. buah kabin operator yang tempat dan fungsinya adalah masing-masing. 1) Kabin operator Truck Crane
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Bagian-bagian Utama Pada Truck Crane a) Kabin Operator Seperti yang telah kita ketahui pada crane jenis ini memiliki dua buah kabin operator yang tempat dan fungsinya adalah
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR 3.1 Skema Dan Prinsip Kerja Alat Prinsip kerja mesin pencacah rumput ini adalah sumber tenaga motor listrik di transmisikan ke poros melalui pulley dan v-belt. Sehingga pisau
BAB III TINJAUAN PUSTAKA
14 BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3.1 PENDAHULUAN Uji tarik adalah suatu metode yang digunakan untuk menguji kekuatan suatu bahan/material dengan cara memberikan beban gaya yang sesumbu (Askeland, 1985). Hasil
BAB III OPTIMASI KETEBALAN TABUNG COPV
BAB III OPTIMASI KETEBALAN TABUNG COPV 3.1 Metodologi Optimasi Desain Tabung COPV Pada tahap proses mengoptimasi desain tabung COPV kita perlu mengidentifikasi masalah terlebih dahulu, setelah itu melakukan
PROSES MANUFACTURING
PROSES MANUFACTURING Proses Pengerjaan Logam mengalami deformasi plastik dan perubahan bentuk pengerjaan panas, gaya deformasi yang diperlukan adalah lebih rendah dan perubahan sifat mekanik tidak seberapa.
ANALISIS CELLULAR BEAM DENGAN METODE PENDEKATAN DIBANDINGKAN DENGAN PROGRAM ANSYS TUGAS AKHIR. Anton Wijaya
ANALISIS CELLULAR BEAM DENGAN METODE PENDEKATAN DIBANDINGKAN DENGAN PROGRAM ANSYS TUGAS AKHIR Diajukan untuk melengkapi syarat penyelesaian Pendidikan sarjana teknik sipil Anton Wijaya 060404116 BIDANG
Pembebanan Batang Secara Aksial. Bahan Ajar Mekanika Bahan Mulyati, MT
Pembebanan Batang Secara Aksial Suatu batang dengan luas penampang konstan, dibebani melalui kedua ujungnya dengan sepasang gaya linier i dengan arah saling berlawanan yang berimpit i pada sumbu longitudinal
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Kelapa sawit sebenarnya sudah ada sejak zaman panjajahan Belanda ke
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kelapa sawit sebenarnya sudah ada sejak zaman panjajahan Belanda ke Indonesia. Pada masa penjajahan Belanda pertumbuhan perkebunan besar kelapa sawit di Indonesia seperti
Kategori Sifat Material
1 TIN107 Material Teknik Kategori Sifat Material 2 Fisik Mekanik Teknologi Kimia 6623 - Taufiqur Rachman 1 Sifat Fisik 3 Kemampuan suatu bahan/material ditinjau dari sifat-sifat fisikanya. Sifat yang dapat
dislokasi pada satu butir terjadi pada bidang yang lebih disukai (τ r max).
DEFORMASI PLASTIS BAHAN POLIKRISTAL Deformasi dan slip pada bahan polikristal lebih kompleks. Polikristal terdiri dari banyak butiran ( grain ) yang arah slip berbeda satu sama lain. Gerakan dislokasi
Jurusan Teknik Perkapalan Fakultas Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
TUGAS AKHIR MN 091382 ANALISA PENGARUH VARIASI TANGGEM PADA PENGELASAN PIPA CARBON STEEL DENGAN METODE PENGELASAN SMAW DAN FCAW TERHADAP DEFORMASI DAN TEGANGAN SISA MENGGUNAKAN ANALISA PEMODELAN ANSYS
R. Hengki Rahmanto 1)
SIMULASI V-BENDING DENGAN VARIASI KECEPATAN PEMBEBANAN TERHADAP KEAUSAN DIES MENGGUNAKAN SOFTWARE FINITE ELEMENT METHODE R. Hengki Rahmanto 1) 1) Dosen Program Studi Teknik Mesin - Universitas Islam 45,
TUGAS AKHIR. Analisa Tegangan dan Defleksi Pada Plat Dudukan Pemindah Transmisi Tipe Floor Shift Dengan Rib Atau Tanpa Rib. Yohanes, ST.
TUGAS AKHIR Analisa Tegangan dan Defleksi Pada Plat Dudukan Pemindah Transmisi Tipe Floor Shift Dengan Rib Atau Tanpa Rib PEMBIMBING Yohanes, ST. Msc SYAMSUL ARIF 2110 106 023 LATAR BELAKANG Kualitas dari
PERENCANAAN MEKANISME PADA MESIN POWER HAMMER
PERENCANAAN MEKANISME PADA MESIN POWER HAMMER Oleh: Ichros Sofil Mubarot (2111 030 066) Dosen Pembimbing : 1. Ir. Eddy Widiyono, MSc. NIP. 19601025 198701 1 001 2. Hendro Nurhadi, Dipl.-lng.,Ph.D NIP.
LAMPIRAN A. Tabel A-1 Angka Praktis Plat Datar
LAMPIRAN A Tabel A-1 Angka Praktis Plat Datar LAMPIRAN B Tabel B-1 Analisa Rangkaian Lintas Datar 80 70 60 50 40 30 20 10 F lokomotif F gerbong v = 60 v = 60 1 8825.959 12462.954 16764.636 22223.702 29825.540
ANALISA MAMPU BENTUK ALUMINIUM KOMERSIAL TERHADAP EFEK PERBEDAAN KETEBALAN MATERIAL PADA PROSES SPINNING
ANALISA MAMPU BENTUK ALUMINIUM KOMERSIAL TERHADAP EFEK PERBEDAAN KETEBALAN MATERIAL PADA PROSES SPINNING Taufik Bardhan, Ir. Iqbal., M.T 1), Ir. Duskiardi., M.T 2) Program Studi Teknik Mesin-Fakultas Teknologi
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 1, No. 1(Sept. 2012) ISSN: G-340
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 1, No. 1(Sept. 2012) ISSN: 2301-9271 G-340 Analisa Pengaruh Variasi Tanggem Pada Pengelasan Pipa Carbon Steel Dengan Metode Pengelasan SMAW dan FCAW Terhadap Deformasi dan Tegangan
VII ELASTISITAS Benda Elastis dan Benda Plastis
VII EASTISITAS Kompetensi yang diharapkan dicapai oleh mahasiswa setelah mempelajari bab elastisitas adalah kemampuan memahami, menganalisis dan mengaplikasikan konsep-konsep elastisitas pada kehidupan
ANALISA KONSTRUKSI DAN PERECANAAN MULTIPLE FIXTURE
ANALISA KONSTRUKSI DAN PERECANAAN MULTIPLE FIXTURE Richy Dwi Very Sandy 2106.100.085 Dosen Pembimbing: Ir. Sampurno, MT Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Modul II Wire Drawing
A I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang masalah Secara umum Wire Drawing merupakan salah satu jenis proses manufaktur dengan memanfaatkan fenomena deformasi plastis akibat gaya pembentukan. Gaya pembentukan
PREDIKSI SPRINGBACK PADA PROSES DEEP DRAWING DENGAN PELAT JENIS TAILORED BLANK MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK BERBASIS METODE ELEMEN HINGGA
PREDIKSI SPRINGBACK PADA PROSES DEEP DRAWING DENGAN PELAT JENIS TAILORED BLANK MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK BERBASIS METODE ELEMEN HINGGA Tri Widodo Besar Riyadi, Alfian Safaat, Bambang Waluyo Febriantoko
BAB I PENDAHULUAN. Salah satu material yang sangat penting bagi kebutuhan manusia adalah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu material yang sangat penting bagi kebutuhan manusia adalah logam. Seiring dengan jaman yang semakin maju, kebutuhan akan logam menjadi semakin tinggi.
BAB 2. PENGUJIAN TARIK
BAB 2. PENGUJIAN TARIK Kompetensi : Menguasai prosedur dan trampil dalam proses pengujian tarik pada material logam. Sub Kompetensi : Menguasai dan mengetahui proses pengujian tarik pada baja karbon rendah
BAB II TEORI DASAR. Gambar 2.1 Tipikal struktur mekanika (a) struktur batang (b) struktur bertingkat [2]
BAB II TEORI DASAR 2.1. Metode Elemen Hingga Analisa kekuatan sebuah struktur telah menjadi bagian penting dalam alur kerja pengembangan desain dan produk. Pada awalnya analisa kekuatan dilakukan dengan
Jurnal Teknika Atw 1
PENGARUH BENTUK PENAMPANG BATANG STRUKTUR TERHADAP TEGANGAN DAN DEFLEKSI OLEH BEBAN BENDING Agung Supriyanto, Joko Yunianto P Program Studi Teknik Mesin,Akademi Teknologi Warga Surakarta ABSTRAK Dalam
BAB IV PENGERJAAN PANAS LOGAM
BAB IV PENGERJAAN PANAS LOGAM Ingot baja. masih memerlukan pengerjaan lebih lanjut untuk membentuknya menjadi benda yang bermanfaat.bila ingot lebih dingin, proses pembentukan secara mekanis menjadi batang,
04 05 : DEFORMASI DAN REKRISTALISASI
04 05 : DEFORMASI DAN REKRISTALISASI 4.1. Deformasi 4.1.1 Pengertian Deformasi Elastis dan Deformasi Plastis Deformasi atau perubahan bentuk dapat dipisahkan menjadi dua, yaitu deformasi elastis dan deformasi
HSS PADA PROSES BUBUT DENGAN METODE TOOL TERMOKOPEL TIPE-K DENGAN MATERIAL St 41
Tesis PEMODELAN TEMPERATUR PAHAT POTONG HSS PADA PROSES BUBUT DENGAN METODE TOOL TERMOKOPEL TIPE-K DENGAN MATERIAL St 41 Mochamad Mas ud 2107 201 007 Pembimbing Ir. Bambang Pramujati, MSc Eng., Ph.D Dr.
PROSES PENGERJAAN PANAS. Yefri Chan,ST.MT (Universitas Darma Persada)
PROSES PENGERJAAN PANAS PROSES PENGERJAAN PANAS Adalah proses merubah bentuk logam tanpa terjadi pencairan (T proses : T cair > 0,5), volume benda kerja tetap dan tak adanya geram (besi halus sisa proses).
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR 3.1 Flowchart Perencanaan Pembuatan Mesin Pemotong Umbi Proses Perancangan mesin pemotong umbi seperti yang terlihat pada gambar 3.1 berikut ini: Mulai mm Studi Literatur
BAB I PENDAHULUAN. untuk memenuhi dan memudahkan segala aktifitas manusia, karena aktifitas
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada dasarnya teknologi yang ditemukan dalam segala hal bertujuan untuk memenuhi dan memudahkan segala aktifitas manusia, karena aktifitas dari manusia yang semakin
ANALISA SAMBUNGAN LAS PADA PENGELASAN TITIK UNTUK MENENTUKAN JARAK OPTIMAL TITIK LAS PADA BAJA KARBON AISI 1045 DENGAN PENDEKATAN ELEMEN HINGGA
ANALISA SAMBUNGAN LAS PADA PENGELASAN TITIK UNTUK MENENTUKAN JARAK OPTIMAL TITIK LAS PADA BAJA KARBON AISI 1045 DENGAN PENDEKATAN ELEMEN HINGGA (ANSYS 10) Penggunaan teknologi pengelasan dalam proses produksi
PERBANDINGAN DIMENSI LEBAR DIE (CETAKAN) DENGAN PRODUK (HASIL BENDING) DARI PROSES BENDING CHASSIS MOBIL ESEMKA
PERBANDINGAN DIMENSI LEBAR DIE (CETAKAN) DENGAN PRODUK (HASIL BENDING) DARI PROSES BENDING CHASSIS MOBIL ESEMKA NASKAH PUBLIKASI Disusunoleh: SUWARNO NIM : D200 08 0106 JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK
Gambar 2.1 Bagian-bagian mesin press BTPTP [9]
BAB II DASAR TEORI MESIN PRESS BTPTP, KARAKTERISTIK BTPTP DAN METODE ELEMEN HINGGA 2.1 Mesin press BTPTP Pada dasarnya prinsip kerja mesin press BTPTP sama dengan mesin press batako pada umumnya dipasaran
TUGAS SARJANA CHRYSSE WIJAYA L2E604271
TUGAS SARJANA PERBANDINGAN BESARNYA SUDUT SPRINGBACK PADA PROSES PENEKUKAN BERDASARKAN HASIL PENGUJIAN TEKUK, PERHITUNGAN TEORITIS DAN SIMULASI PROGRAM ANSYS 9.0 PADA STAINLESS STEEL Diajukan sebagai salah
Laporan Praktikum MODUL C UJI PUNTIR
Laporan Praktikum MODUL C UJI PUNTIR Oleh : Nama : SOMAWARDI NIM : 23107012 Kelompok : 13 Tanggal Praktikum : November 2007 Nama Asisten (Nim) : Program Studi Teknik Mesin Fakultas Teknologi Industri Institut
SIMULASI PROSES DEEP DRAWING STAINLESS STEEL DENGAN SOFTWARE ABAQUS
SIMULASI PROSES DEEP DRAWING STAINLESS STEEL DENGAN SOFTWARE ABAQUS Tri Widodo Besar Riyadi, Budi Hastomo Program Studi Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta Jl. A. Yani Tromol
PERANCANGAN TEKNIS BAUT BATUAN BERDIAMETER 39 mm DENGAN KEKUATAN PENOPANGAN kn LOGO
www.designfreebies.org PERANCANGAN TEKNIS BAUT BATUAN BERDIAMETER 39 mm DENGAN KEKUATAN PENOPANGAN 130-150 kn Latar Belakang Kestabilan batuan Tolok ukur keselamatan kerja di pertambangan bawah tanah Perencanaan
Perancangandanpembuatan Crane KapalIkanUntukDaerah BrondongKab. lamongan
Perancangandanpembuatan Crane KapalIkanUntukDaerah BrondongKab. lamongan Latar Belakang Dalam mencapai kemakmuran suatu negara maritim penguasaan terhadap laut merupakan prioritas utama. Dengan perkembangnya
BEARING STRESS PADA BASEPLATE DENGAN CARA TEORITIS DIBANDINGKAN DENGAN PROGRAM SIMULASI ANSYS
BEARING STRESS PADA BASEPLATE DENGAN CARA TEORITIS DIBANDINGKAN DENGAN PROGRAM SIMULASI ANSYS TUGAS AKHIR Diajukan untuk melengkapi tugas tugas dan melengkapi syarat untuk menempuh Ujian Sarjana Teknik
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN A. Tahapan Penelitian Dalam bab ini akan dijabarkan langkah langkah yang diambil dalam melaksanakan penelitian. Berikut adalah tahapan tahapan yang dijalankan dalam penelitian
BAB II DASAR TEORI. bahan pangan yang siap untuk dikonsumsi. Pengupasan memiliki tujuan yang
BAB II DASAR TEORI 2.1 Pengertian Umum Pengupasan Pengupasan merupakan pra-proses dalam pengolahan agar didapatkan bahan pangan yang siap untuk dikonsumsi. Pengupasan memiliki tujuan yang sangat penting,
Frekuensi yang digunakan berkisar antara 10 hingga 500 khz, dan elektrode dikontakkan dengan benda kerja sehingga dihasilkan sambungan la
Pengelasan upset, hampir sama dengan pengelasan nyala, hanya saja permukaan kontak disatukan dengan tekanan yang lebih tinggi sehingga diantara kedua permukaan kontak tersebut tidak terdapat celah. Dalam
Mengenal Proses Deep Drawing
Definisi Drawing Mengenal Proses Deep Drawing Deep Drawing atau biasa disebut drawing adalah salah satu jenis proses pembentukan logam, dimana bentuk pada umumnya berupa silinder dan selalu mempunyai kedalaman
KOPLING. Kopling ditinjau dari cara kerjanya dapat dibedakan atas dua jenis: 1. Kopling Tetap 2. Kopling Tak Tetap
KOPLING Defenisi Kopling dan Jenis-jenisnya Kopling adalah suatu elemen mesin yang berfungsi untuk mentransmisikan daya dari poros penggerak (driving shaft) ke poros yang digerakkan (driven shaft), dimana
PENENTUAN WELDING SEQUENCE TERBAIK PADA PENGELASAN SAMBUNGAN-T PADA SISTEM PERPIPAAN KAPAL DENGAN MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA
Tugas Akhir PENENTUAN WELDING SEQUENCE TERBAIK PADA PENGELASAN SAMBUNGAN-T PADA SISTEM PERPIPAAN KAPAL DENGAN MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA Disusun oleh : Awang Dwi Andika 4105 100 036 Dosen Pembimbing
Rancang Bangun Sistem Chassis Kendaraan Pengais Garam
SIDANG TUGAS AKHIR TM091476 Rancang Bangun Sistem Chassis Kendaraan Pengais Garam Oleh: AGENG PREMANA 2108 100 603 JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA
Sifat Sifat Material
Sifat Sifat Material Secara garis besar material mempunyai sifat-sifat yang mencirikannya, pada bidang teknik mesin umumnya sifat tersebut dibagi menjadi tiga sifat. Sifat sifat itu akan mendasari dalam
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR 3.1 Skema dan Prinsip Kerja Alat Prinsip kerja mesin spin coating adalah sumber tenaga motor listrik ditransmisikan ke poros hollow melalui pulley dan v-belt untuk mendapatkan
Beberapa sifat mekanis lembaran baja yang mcliputi : pengerasan. regang, anisotropi dan keuletan merupakan parameter-parameter penting
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 11.1. Parameter - Parameter Sifat Mampu Bentuk Beberapa sifat mekanis lembaran baja yang mcliputi : pengerasan regang, anisotropi dan keuletan merupakan parameter-parameter penting
Analisis Pengaruh Ukuran Stopper Pada Sambungan Pelat Kapal Terhadap Tegangan Sisa Dan Deformasi Menggunakan Metode Elemen Hingga
G77 Analisis Pengaruh Ukuran Stopper Pada Sambungan Pelat Kapal Terhadap Tegangan Sisa Dan Deformasi Menggunakan Metode Elemen Hingga Rafid Buana Putra, Achmad Zubaydi, Septia Hardy Sujiatanti Departemen
TUGAS AKHIR MODELING PROSES DEEP DRAWING DENGAN PERANGKAT LUNAK BERBASIS METODE ELEMEN HINGGA
TUGAS AKHIR MODELING PROSES DEEP DRAWING DENGAN PERANGKAT LUNAK BERBASIS METODE ELEMEN HINGGA Tugas Akhir ini Disusun Guna Memperoleh Gelar Kesarjanaan Strata Satu Pada Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik
Program Studi Teknik Mesin S1
SATUAN ACARA PERKULIAHAN MATA KULIAH : PEMILIHAN BAHAN DAN PROSES KODE / SKS : AK042210 / 2 SKS Pertemuan Pokok Bahasan dan TIU 1 Jenis Material Teknik Mahasiswa memahami jenis-jenis material teknik yang
KONSEP TEGANGAN DAN REGANGAN NORMAL
KONSEP TEGANGAN DAN REGANGAN NORMAL MATERI KULIAH KALKULUS TEP FTP UB RYN - 2012 Is This Stress? 1 Bukan, Ini adalah stress Beberapa hal yang menyebabkan stress Gaya luar Gravitasi Gaya sentrifugal Pemanasan
ANALISIS KAPASITAS BALOK BETON BERTULANG DENGAN LUBANG PADA BADAN BALOK
ANALISIS KAPASITAS BETON BERTULANG DENGAN LUBANG PADA BADAN Yacob Yonadab Manuhua Steenie E. Wallah, Servie O. Dapas Fakultas Teknik Jurusan Sipil Universitas Sam Ratulangi Manado Email : [email protected]
PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK MESIN UNIVERSITAS MEDAN AREA
LAPORAN PRAKTIKUM PENGUJIAN PENGERUSAK DAN MICROSTRUKTUR DISUSUN OLEH : IMAM FITRIADI NPM : 13.813.0023 PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK MESIN UNIVERSITAS MEDAN AREA KATA PENGANTAR Puji syukur
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR 3.1 Perencanaan Rangka Mesin Peniris Minyak Proses pembuatan mesin peniris minyak dilakukan mulai dari proses perancangan hingga finishing. Mesin peniris minyak dirancang
Analisis Kekuatan Konstruksi Sekat Melintang Kapal Tanker dengan Metode Elemen Hingga
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 6, No. 2, (2017) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) G-183 Analisis Kekuatan Konstruksi Sekat Melintang Kapal Tanker dengan Metode Elemen Hingga Ardianus, Septia Hardy Sujiatanti,
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Validasi pemodelan Proses validasi analisa hip bearing didasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Yew, A., et al., (3). Simulasi pada pemodelan ini menggunakan parameter
KAJIAN KOEFISIEN PASAK DAN TEGANGAN IZIN PADA PASAK CINCIN BERDASARKAN REVISI PKKI NI DENGAN CARA EXPERIMENTAL TUGAS AKHIR
KAJIAN KOEFISIEN PASAK DAN TEGANGAN IZIN PADA PASAK CINCIN BERDASARKAN REVISI PKKI NI-5 2002 DENGAN CARA EXPERIMENTAL TUGAS AKHIR Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat untuk Menempuh
Karakterisasi Baja Karbon Rendah Setelah Perlakuan Bending
Karakterisasi Baja Karbon Rendah Setelah Perlakuan Bending Budi Setyahandana 1, Anastasius Rudy Setyawan 2 1,2 Program Studi Teknik Mesin Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Kampus III Paingan, Maguwoharjo,
ANALISA STRUKTUR RANGKA DUDUKAN WINCH PADA SALUTE GUN 75 mm WINCH SYSTEM
Rizky Putra Adilana, Sufiyanto, Ardyanto (07), TRANSMISI, Vol-3 Edisi-/ Hal. 57-68 Abstraksi ANALISA STRUKTUR RANGKA DUDUKAN INCH PADA SALUTE GUN 75 mm INCH SYSTEM Rizky Putra Adilana, Sufiyanto, Ardyanto
IV. ANALISA DAN PEMBAHASAN. Tabel 6. Data input simulasi. Shear friction factor 0.2. Coeficient Convection Coulomb 0.2
47 IV. ANALISA DAN PEMBAHASAN A. Data Hasil Tabel 6. Data input simulasi Kecepatan putar Gerak makan 433 rpm 635 rpm 970 rpm 0.10 mm/rev 0.18 mm/rev 0.24 mm/rev Shear friction factor 0.2 Coeficient Convection
Bab 5 Puntiran. Gambar 5.1. Contoh batang yang mengalami puntiran
Bab 5 Puntiran 5.1 Pendahuluan Pada bab ini akan dibahas mengenai kekuatan dan kekakuan batang lurus yang dibebani puntiran (torsi). Puntiran dapat terjadi secara murni atau bersamaan dengan beban aksial,
BAB II DASAR TEORI. c) Untuk mencari torsi dapat dirumuskan sebagai berikut:
BAB II DASAR TEORI 2.1 Daya Penggerak Secara umum daya diartikan sebagai suatu kemampuan yang dibutuhkan untuk melakukan sebuah kerja, yang dinyatakan dalam satuan Watt ataupun HP. Penentuan besar daya
3. Mesin Bor. Gambar 3.1 Mesin bor
3. Mesin Bor 3.1 Definisi Dan Fungsi Mesin Bor Mesin bor adalah suatu jenis mesin gerakanya memutarkan alat pemotong yang arah pemakanan mata bor hanya pada sumbu mesin tersebut (pengerjaan pelubangan).
Analisis Tegangan Plat Penghubung Bucket Elevator Menggunakan Metode Elemen Hingga. Ully Muzakir 1 ABSTRAK
Analisis Tegangan Plat Penghubung Bucket Elevator Menggunakan Metode Elemen Hingga Ully Muzakir 1 ABSTRAK Penggunaan baja sebagai bahan konstruksi sangat banyak ditemukan terutama untuk konstruksi yang
PEGAS DAUN DENGAN METODE HOT STRETCH FORMING.
PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Kendaraan roda empat merupakan salah satu alat transportasi yang banyak digunakan masyarakat. Salah satu komponen alat transportasi tersebut adalah pegas daun yang mempunyai
PENGARUH KOEFISIEN GESEKAN PADA PROSES MANUFAKTUR
PENGARUH KOEFISIEN GESEKAN PADA PROSES MANUFAKTUR Tri Widodo Besar Riyadi Jurusan Teknik Mesin, Universitas Muhammadiyah Surakarta Email: [email protected] ABSTRAKSI Pada proses manufaktur, faktor gesekan
Sidang Tugas Akhir (TM091486)
Sidang Tugas Akhir (TM091486) Dosen Pembimbing : Dr. Ir. Soeharto, DEA Oleh : Budi Darmawan NRP 2105 100 160 Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
BAB III METODE KAJIAN
24 BAB III METODE KAJIAN 3.1 Persiapan Memasuki tahap persiapan ini disusun hal-hal penting yang harus dilakukan dalam rangka penulisan tugas akhir ini. Adapun tahap persiapan ini meliputi hal-hal sebagai
BAB III LANDASAN TEORI Klasifikasi Kayu Kayu Bangunan dibagi dalam 3 (tiga) golongan pemakaian yaitu :
BAB III LANDASAN TEORI 3.1. Klasifikasi Kayu Kayu Bangunan dibagi dalam 3 (tiga) golongan pemakaian yaitu : 1. Kayu Bangunan Struktural : Kayu Bangunan yang digunakan untuk bagian struktural Bangunan dan
EDISI 8 NO 1 AGUSTUS 2016 ITEKS ISSN Intuisi Teknologi Dan Seni
ANALISA MEKANIK BRAKE SHOE TIPE T-360 DAN TIPE T-359 KK DENGAN METODE ELEMEN HINGGA Nana Supriyana 1), Alim Sya bani 2) 1,2) Teknik Mesin STT Wiworotomo Email: [email protected], Email: [email protected]
Laporan Praktikum Laboratorium Teknik Material 1 Modul D Uji Lentur dan Kekakuan
Laporan Praktikum Laboratorium Teknik Material 1 Modul D Uji Lentur dan Kekakuan oleh : Nama : Catia Julie Aulia NIM : Kelompok : 7 Anggota (NIM) : 1. Conrad Cleave Bonar (13714008) 2. Catia Julie Aulia
Mekanika Bahan TEGANGAN DAN REGANGAN
Mekanika Bahan TEGANGAN DAN REGANGAN Sifat mekanika bahan Hubungan antara respons atau deformasi bahan terhadap beban yang bekerja Berkaitan dengan kekuatan, kekerasan, keuletan dan kekakuan Tegangan Intensitas
BAB I PENDAHULUAN. terciptanya suatu sistem pemipaan yang memiliki kualitas yang baik. dan efisien. Pada industri yang menggunakan pipa sebagai bagian
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi mendorong terciptanya suatu sistem pemipaan yang memiliki kualitas yang baik dan efisien. Pada industri yang menggunakan
BAB I PENDAHULUAN. Istimewa Yogyakarta pada khususnya semakin meningkat. Populasi penduduk
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Laju pertumbuhan penduduk di Indonesia pada umumnya dan di Daerah Istimewa Yogyakarta pada khususnya semakin meningkat. Populasi penduduk yang terus meningkat tentu
Spesifikasi batang baja mutu tinggi tanpa pelapis untuk beton prategang
Standar Nasional Indonesia Spesifikasi batang baja mutu tinggi tanpa pelapis untuk beton prategang ICS 91.100.30; 77.140.20 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... 1 Daftar tabel... Error!
3. SIFAT FISIK DAN MEKANIK BAMBU TALI Pendahuluan
3. SIFAT FISIK DAN MEKANIK BAMBU TALI 3.1. Pendahuluan Analisa teoritis dan hasil eksperimen mempunyai peranan yang sama pentingnya dalam mekanika bahan (Gere dan Timoshenko, 1997). Teori digunakan untuk
Analisa Kekuatan Tarik Baja Konstruksi Bj 44 Pada Proses Pengelasan SMAW dengan Variasi Arus Pengelasan
Analisa Kekuatan Tarik Baja Konstruksi Bj 44 Pada Proses Pengelasan SMAW dengan Variasi Arus Pengelasan Imam Basori Universitas Negeri Jakarta, Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Mesin Jl. Rawamangun Muka,
