BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA"

Transkripsi

1 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Pada bab ini akan dibahas beberapa teori yang berkaitan dengan variabel-variabel yang akan diteliti pada penelitian ini. 2.1 Pernikahan Pernikahan merupakan awal terbentuknya kehidupan keluarga. Pernikahan, dengan kata dasar nikah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002) didefinisikan sebagai perjanjian antara laki-laki dan perempuan untuk bersuami istri (dengan resmi), perkawinan, membentuk keluarga dengan lawan jenis, bersuami atau istri. Menurut Olson DeFrain (2006), pernikahan merupakan suatu komitmen secara emosi maupun hukum yang sah antara dua orang untuk berbagi keintiman fisik dan emosional, berbagai macam tugas dan dalam hal keuangan. Pernikahan menurut Papalia (2002) merupakan faktor yang sangat penting dalam menciptakan kebahagiaan individu, bahkan lebih penting daripada pekerjaan, pertemanan dan lain sebagainya. Pada umumnya, individu mengharapkan kesuksesan dalam kehidupan pernikahannya. Kesuksesan tersebut dapat tercermin dari kebertahanan dan kualitas pernikahan, terpenuhinya cita-cita yang diidamkan pasangan, terpenuhi kebutuhan seperti kebutuhan psikologis, kebutuhan sosial, dan kebutuhan seksual diantara kedua belah pihak, serta terciptanya kepuasan pernikahan pada pasangan (DeGenova, 2008). Agar pernikahan dapat terwujud sesuai dengan harapan kita, maka dibutuhkan kesiapan sebelum menikah Kesiapan Menikah Konsep kesiapan menikah Wiryasti diperoleh melalui studi penelitian dari Fowers & Olson (1992). Menurut Fowers & Olson (1992), dibutuhkan kemampuan-kemampuan dasar dalam pernikahan seperti kemampuan berkomunikasi, kemampuan dalam finansial, dan kemampuan-kemampuan lain karena hal tersebut sangatlah penting dalam menentukan keberhasilan awal pernikahan pada pasangan. Kurangnya kemampuan-kemampuan tersebut dapat terlihat dari tingkat perceraian yang tinggi pada pasangan individu yang belum lama menikah pada saat studi dilakukan yaitu, 50% (Olson& DeFrain, 1997, dalam Olson & Olson). Oleh sebab itu, pada tahun 1978, inventori PREPARE/ENRICH dikembangkan berdasarkan indikator-indikator

2 teoritis dan empiris dari permasalahan-permasalahan dan konflik-konflik yang umum terjadi pada pernikahan. Indikator ini terdiri dari 4 kelompok utama yaitu personality issues, intrapersonal issues, interpersonal issues, dan external issues. Pada studi yang dilakukan Fowers dan Olson (1992) disimpulkan bahwa kepuasan dan keberhasilan pernikahan dapat diprediksi dari kualitas hubungan sebelum menikah dan pernikahan dapat ditingkatkan dan distabilisasi melalui intervensi sebelum pernikahan. Intervensi yang dilakukan akan lebih sesuai, efektif dan efisien bila sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh pasangan yang akan menikah. Maka dari itu, Fowers dan Olson (1992) mengembangkan tipologi pasangan berdasarkan inventori PREPARE agar dapat membantu dalam menemukan intervensi yang sesuai. Mereka pun membaginya kedalam 4 tipe pasangan yaitu, vitalized couples, harmonious couples, traditional couples, dan conflicted couples. Karakteristik dari tipe-tipe pasangan menurut Fowers dan Olson (1992) adalah sebagai berikut: A. Vitalized couples Pasangan yang memiliki tingkat kepuasan yang tinggi pada keseluruhan hubungannya. Pasangan ini memiliki nilai yang tinggi pada kenyamanan dalam mendiskusikan hubungannya masing-masing, dan dapat menyelesaikan masalahnya bersama-sama. B. Harmonious couples Pasangan yang memiliki tingkat kepuasan yang sedang pada hubungannya. Pasangan ini menyatakan bahwa secara relatif mereka puas akan kepribadian dan perilaku pasangannya, merasa dimengerti oleh pasangannya, dapat mendiskusikan perasaannya satu sama lain, dapat menghadapi perbedaan-perbedaan pada pasangannya, dan merasa nyaman dengan teman-teman dan keluarga pasangannya. C. Traditional couples Pasangan ini memiliki ketidakpuasan pada area interaksional hubungan mereka, tapi memiliki kekuatan dalam area-area yang melibatkan pengambilan keputusan dan perencanaan masa depan. D. Conflicted couples

3 Pada pasangan ini, mengidikasikan kesulitan pada semua skala PREPARE. Pasangan ini menyatakan ketidakpuasannya terhadap kepribadian dan kebiasaan-kebiasaan yang dimiliki pasangannya. Kemudian, pada tahun 1996, Fowers & Olson membuat program pre-marital PREPARE guna melihat kekuatan dan kelemahan dari pasangan yang sudah akan menikah, dimana tujuan program tersebut adalah mengantisipasi ketidakpuasan yang akan terjadi diantara pasangan. Pada tahun 2003, Risnawaty mengadaptasi PREPARE/ENRICH ke dalam bahasa Indonesia, yang kemudian dinamakan Inventori Kesiapan Menikah. Inventori Kesiapan Menikah pun kembali diadaptasi secara lebih mendalam oleh Wiryasti pada tahun 2004, yang kemudian berubah nama menjadi Modifikasi Inventori Kesiapan Menikah Definisi Kesiapan Menikah Menurut Larson (1988 dalam Badger, 2005) kesiapan menikah adalah evaluasi subjektif individu terhadap kesiapan dirinya untuk mengemban tanggung jawab dan tantangan dalam pernikahan. Menurut Holman & Li (1997), kesiapan menikah merupakan kemampuan yang dipersepsi oleh individu untuk menjalankan peran dalam pernikahan dan merupakan bagian dari proses memilih pasangan atau perkembangan hubungan. Kesiapan menikah menurut Wiryasti (2004) merupakan kemampuan individu untuk menyandang peran barunya, yaitu sebagai suami dan istri, dan digambarkan oleh adanya faktorfaktor eksternal seperti kematangan pribadi, pengalaman dalam menjalin hubungan interpersonal, usia minimal dewasa muda, adanya sumber finansial dan studi yang telah selesai. Berdasarkan definisi kesiapan menikah di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kesiapan menikah merupakan kemampuan individu untuk mengemban tanggung jawab dan menjalankan peran dalam pernikahannya kelak Komponen Kesiapan Menikah Terdapat komponen-komponen dalam kesiapan menikah yang perlu untuk diukur. Komponen tersebut diukur menggunakan Modifikasi Inventori Kesiapan Menikah yang dikembangkan oleh Wiryasti (2004) yang telah merangkum komponen-komponen kesiapan menikah dari beberapa ahli, yaitu Holman & Larson (1994), Fowers & Olson (1996), dan

4 Risnawaty (2003). Berikut komponen-komponen perbandingan yang melatarbelakangi definisi kesiapan menikah menurut Wiryasti (2004) : Holman & Larson Komunikasi Resolusi Konflik Keluarga Besar (Family of origin) Masalah keuangan Tujuan Pernikahan Tabel 2.1 Tabel Perbandingan Kompoen Kesiapan Menikah Fowers & Olson Risnawaty Wiryasti (1992) (2003) (2004) Personality Issues Komunikasi Komunikasi (Kepribadian) Keuangan Keuangan - Assertiveness Anak dan Anak dan - Self confidence pengasuhan pengasuhan - Avoidance Pembagian Pembagian - Partner peran suami peran suami dominance istri dan istri Intrapersonal Issues Latar Latar - Idealistic Belakang belakang Distortion pasangan pasangan dan - Spiritual Beliefs dan relasi relasi dengan - Leisure dengan keluarga activities keluarga besar - Marriage besar Agama expectation Agama Minat dan Interpersonal Issues pemanfaatan - Communication waktu luang - Conflict Perubahan Resolution pada - Children and pasnagan dan parenting pola hidup - Couple closeness - Role

5 Holman & Larson Fowers & Olson Risnawaty Wiryasti (1992) (2003) (2004) relationship - Sexual relationship External Issues - Family and friend - Financial management - Family closeness and family flexibility Berikut komponen kesiapan menikah yang diukur oleh Wiryasti (2004): 1. Komunikasi Komunikasi adalah kemampuan untuk mengekspresikan ide atau perasaannya dan mendengarkan pesan. Menurut Olson & DeFrain (2006), komunikasi adalah cara yang digunakan individu untuk membentuk dan membagi suatu arti, baik secara verbal, maupun non-verbal, dimana kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik adalah sebuah keterapilan yang esensial dan sangat membantu yang harus dikuasai oleh individu bisa menikmati hubungan dengan pasangan. Menurut Wiryasti (2004), indikator dalam komponen komunikasi ini terdiri dari keterbukaan, kejujuran, kepercayaan, empati dan keterampilan mendengarkan. Keterbukaan (self-disclosure) menurut Budyatna dan Ganiem (2011) adalah saling memberikan data biografis, gagasan-gagasan pribadi, dan perasaan-perasaan yang tidak diketahui bagi orang lain, dan umpan balik berupa verbal dan respon-respon fisik kepada orang dan/atau pesan-pesan mereka di dalam suatu hubungan. Sedangkan empati merupakan kemampuan untuk mendengarkan secara aktif dan penuh perhatian, serta mengidentifikasi pernyataan emosi dari pasangan bahan ketika ia tidak membagi perasaannya (Wiryasti, 2004).

6 2. Keuangan Keuangan dalam hal ini merupakan hal-hal yang berkaitan dengan masalah pengaturan ekonomi rumah tangga. Keuangan merupakan stressor yang paling umum dirasakan pasangan dan keluarga, terlepas dari berapa banyak uang yang mereka hasilkan (Olson DeFrain, 2006). Menurut Wiryasti (2004), indikator dalam komponen ini dalah pengendalian atau pengaturan keuangan (menabung atau tidak, ada rencana penyusunan anggaran) dan membentuk kesepakatan yang telah dibuat dengan pasangan. Masalah yang berkaitan dengan ekonomi menjadi suatu hal yang penting dalam rumah tangga, dimana kebutuhan hidup masing-masing anggota keluarga seperti keperluan rumah, biaya transportasi, makanan, kesehatan, rekreasi, pendidikan dan kebutuhan lainnya diharapkan dapat terpenuhi (DeGenova, 2008). 3. Anak dan Pengasuhan Ketika individu siap untuk menikah, maka siap pula untuk menghadapi segala konsekuensinya, seperti memiliki anak. Namun, menjadi orangtua ternyata bukanlah suatu hal yang mudah (DeGenova, 2008). Masalah anak dan pengasuhan berkaitan dengan perencanaan untuk memiliki anak dan cara pengasuhan atau didikan yang akan diberikan. Dalam komponen ini, terdapat lima indikator menurut Wiryasti (2004) yaitu, pengaruh kehadiran anak terhadap relasi, rencana untuk memiliki anak, kesepakatan cara KB, kesepakatan cara pengasuhan dan kesiapan menjalankan peran orangtua. 4. Pembagian peran suami dan istri Setiap individu dalam suatu pasangan memiliki dua peran, yaitu peran domestic (peran dalam rumah tangga) dan peran publik (peran di luar rumah tangga). Pembagian peran suami dan istri merupakan persepsi dan sikap dalam memandang peran-peran domestik dan publik serta kesepakatan dalam pembagiannya. Terdapat dua indicator dalam komponen pembagian peran suami dan istri menurut Wiryasti (2004) yaitu, sikap terhadap peran-peran tradisional atau egaliter dan kesepakatan pembagian peran suami istri dengan pasangan. 5. Latar belakang pasangan dan relasi dengan keluarga besar Ketika pasangan menikah, maka mereka tidak hanya menikah dengan pasangannya, melainkan juga dengan keluarga dan lingkungan sosial dari pasangan (Broderick, 1992, 1993, dalam Olson & DeFrain, 2006). Komponen latar belakang pasangan dan relasi

7 dengan keluarga besar menurut Wiryasti (2004), merupakan nilai-nilai dan sistem keluarga besar (asal) yang membentuk karakter individu dan relasi anggota keluarga. Indikator dalam komponen ini menurut Wiryasti (2004) ialah latar belakang keluarga, evaluasi terhadap nilai-nilai keluarga besar (sama atau berbeda apakah berpotensi menjadi konflik), sikap keluarga besar terhadap anggota baru apakah menerima atau tidak dan suku bangsa. 6. Agama Komponen agama merupakan nilai-nilai religius yang menjadi dasar pernikahan. Menurut Hatch, James & Schumm (1986, dalam DeGenova, 2008), bahwa pasangan yang sukses merupakan pasangan yang berbagi aktivitas spiritual, memiliki kesamaan nilai dan religiusitas, serta pasangan yang memiliki derajat tinggi dalam orientasi keagamaan. Menurut Wiryasti (2004), komponen ini terdiri dari dua indikator yaitu, kesamaan prinsip agamaapakah harus seiman atau tidak serta penempatan nilai agama atau religiusitas dalam relasi apakah dilandasi nilai agama atau tidak. Komponen agama juga berkaitan dengan penempatan nilai agama dalam kehidupan pernikahan dan dalam hubungan dengan pasangan, serta apakah janji pernikahan yang telah dibuat secara sungguh-sungguh berarti bagi pasangan (Wiryasti, 2004). 7. Minat dan pemanfaatan waktu luang Sikap terhadap minat pasangan dan kesepakatan mengenai pemanfaatan waktu luang bagi diri sendiri dan pasangan. Dalam komponen ini terdiri dari indicator minat apakah pasangan saling mendukung atau tidak, waktu untuk bersama serta waktu untuk sendiri. 8. Perubahan pada pasangan dan pola hidup Komponen ini merupakan persepsi dan sikap terhadap perubahan pasangan dan pola hidup, yang mungkin terjadi setelah menikah. Dimana terdiri dari dua indikator yaitu perubahan pada diri pasangan dan perubahan pada pola hidup Faktor yang Mempengaruhi Kesiapan Menikah Menurut De Genova (2008) dan Holman & Li (1997), terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kesiapan menikah, yaitu: 1. Usia saat menikah

8 Menurut DeGenova (2008), Individu yang menikah pada masa remaja menyebabkan mereka harus meninggalkan kegiatan pendidikan dan menerima status yang rendah dalam pekerjaan, dimana hal tersebut mempersulit pernikahan mereka ke depannya. Senada dengan DeGenova (2008), menurut Holman & Li (1997), karakteristik sosiodemografis merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kesiapan menikah. Karakteristik sosiodemografis berkaitan dengan usia individu, pekerjaan, tabungan atau pendapatan (financial) dan hal-hal tersebut turut mempengaruhi kesiapan seseorang untuk menikah. 2. Level kedewasaan pasangan Remaja biasanya belum cukup dewasa untuk menghadapi pernikahan, karena kurangnya kemampuan komunikasi, rasa cemburu, atau kurangnya kesetiaan (DeGenova, 2008). Sedangkan menurut Holman & Li (1997), kualitas komunikasi pasangan dan tingkat persetujuan pasangan merupakan salah faktor yang mempengaruhi kesiapan menikah. Kualitas komunikasi dengan pasangan dan cara berinteraksi dengan pasangan dalam menjalin suatu hubungan dengan pasangan berkaitan dengan level persetujuan dengan pasangan dimana hal tersebut menghasilkan bagaimana individu tersebut dapat melakukan persetujuan dengan pasangannya apakah sulit atau mudah. hal tersebut dapat menjadi faktor yang mempengaruhi kesiapan menikah dan menjadi faktor kuat untuk melanjutkan hubungan ke arah pernikahan. 3. Waktu menikah Menurut DeGenova (2008), beberapa pasangan menikah pada waktu yang tidak tepat, tidak sesuai dengan rencana mereka. Sehingga, hal tersebut membuat individu menjadi kecewa dengan pernikahannya. 4. Motivasi untuk menikah Kebanyakan orang menikah karena cinta, persahabatan dan keamanan. Tapi, ada juga individu yang menikah untuk terbebas dari keadaan hidup yang tidak menyenangkan, untuk menyembuhkan ego, atau dengan maksud membuktikan bahwa mereka layak untuk menikah. Beberapa individu merasa tertarik untuk menikahi individu yang butuh diperhatikan (DeGenova, 2008). 5. Kesiapan untuk eksklusivitas seksual Pada umumnya, pasangan menginginkan eksklusivitas seksual. Jika ia belum siap akan hal tersebut, maka kemungkinan ia tidak siap untuk menikah (DeGenova, 2008).

9 6. Emansipasi emosi dari orangtua Emansipasi emosi dari orangtua yang dimaksud oleh DeGenova (2008) adalah keadaan dimana individu harus siap untuk memberikan loyalitas dan perhatian utama mereka kepada pasangan, bukan lagi kepada orangtua mereka. 7. Tingkat pendidikan dan aspirasi vokasional dan derajat pemenuhan pendidikan Diugkapkan oleh DeGenova (2008), bahwa secara umum orang dengan pendidikan yang rendah akan menikah lebih awal. Jika seseorang memiliki aspirasi yang tinggi maka ia akan menunggu lebih lama untuk menyelesaikan kuliahnya terlebih dulu dan kemudian menikah, serta akan menunggu lebih lama untuk memiliki anak setelah menikah. 8. Jumlah dukungan yang signifikan dari orang lain untuk hubungan Menurut Holman & Li (1997), apabila terdapat jumlah dukungan orang lain yang signifikan terhadap hubungan yang sedang dijalani individu, dalam arti semakin banyak orang yang memberikan dukungan terhadap hubungannya dengan pasangannya maka akan semakin menimbulkan kesiapan menikah pada diri individu tersebut. Berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan menikah yang telah dijabarkan di atas menurut De Genova (2008) dan Holman & Li (1997), salah satu faktor yang mempengaruhi kesiapan menikah adalah motivasi untuk menikah. Dimana dalam hal ini yang dimakasud dengan motivasi untuk menikah adalah pernikahan yang didorong oleh perasaan cinta, persahabatan, dan keamanan. Motivasi merupakan salah satu komponen yang terdapat dalam teori hope atau dalam teori hope itu sendiri biasa disebut dengan agency thinking atau willpower yang merupakan pemikiran untuk memulai usaha guna meraih tujuan. 2.2 Hope Definisi Hope Snyder (1991, dalam Snyder, Sympson, Ybasco, Borders, Babyak & Higgins, 1994) menjelaskan hope sebagai sekumpulan kognitif yang didasari pada hubungan timbal-balik antara agency dan pathway. Menurut Snyder (1994), harapan adalah keseluruhan daya kehendak (willpower/agency) dan strategi (waypower/pathway) yang dimiliki individu untuk mencapai sasaran (goal). Menurut Snyder (dalam Lopez & Snyder, 2003), hope merupakan pemikiran yang terarah pada tujuan, dimana individu merasa bahwa mereka dapat membuat rute yang diinginkan untuk meraih tujuan (pathways thinking) dan motivasi yang diperlukan untuk

10 menggunakan rute mereka tersebut (agency thinking). Bila seseorang tidak memiliki semua komponen tersebut dalam hope, maka hal itu tidak bisa disebut sebagai harapan. Hope dapat diukur dengan menggunakan The Adult Dispositional (Trait) Hope Scale oleh Snyder (1991) dan The Adult State Hope Scale oleh Snyder (1996). Dimana kedua alat ukur ini sama-sama ditunjukkan untuk subjek dengan usia 15 tahun keatas. The Adult Dispositional (Trait) Hope Scale merupakan self report dimana untuk mengisinya, subjek diminta untuk membayangkan dirinya berada pada situasi dan waktu tertentu. Oleh sebab itu, The Adult Dispositional (Trait) Hope Scale juga biasa disebut The Future Scale. The Adult Dispositional (Trait) Hope Scale memiliki 12 item, 4 item untuk komponen agency thinking (willpower), 4 item untuk komponen pathway thinking (waypower), dan 4 item distractor. Sedangkan The Adult State Hope Scale juga merupakan self report, namun hal yang membedakan dibandingkan dengan The Adult Dispositional (Trait) Hope Scale adalah untuk mengisinya subjek diminta untuk mendeskripsikan apa yang mereka pikirkan tentang diri mereka pada saat sekarang. The Adult Hope Scale memiliki 6 item, 3 item untuk komponen agency thinking (willpower), dan 3 item untuk komponen pathway thinking (waypower). Oleh sebab itu, peneliti memilih untuk menggunakan alat ukur The adult Dispositional (Trait) Hope Scale karena dalam penelitian teori hope dihubungkan dengan kesiapan menikah Komponen Hope Menurut Snyder (2000) terdapat tiga komponen dalam teori hope yaitu goal, agency thinking/willpower dan pathway thinking/waypower Tujuan (Goal) Goal adalah sasaran dari tahapan tindakan mental yang menghasilkan komponen kognitif (Snyder, 2005). Goal harus cukup bernilai bagi individu untuk menempati pemikiran sadar yang dapat bervariasi dalam jangka waktu untuk mencapainya, mulai dari yang dapat dicapai dalam beberapa menit berikutnya (jangka pendek) sampai tujuan yang memerlukan waktu berbulanbulan bahkan bertahun-tahun (jangka panjang) untuk mencapainya (Snyder, 2002). Menurut Snyder (2002), terdapat dua jenis tujuan yang diharapkan. Jenis pertama merupakan tujuan positif atau tujuan mendekati. Sedangkan jenis yang kedua ialah tujuan negatif untuk mencegah Agency Thinking (Willpower)

11 Komponen kedua adalah agency thinking, yaitu kapasitas cara (pathway) individu untuk mencapai tujuan (goal),(snyder, 2005). Agency thinking merupakan motivasi mental individu untuk memulai usaha dalam meraih tujuan. Willpower/agency adalah sumber tekad dan komitmen yang mendorong individu untuk mencapai sasaran (Snyder, 1994). Snyder (2002) menyatakan bahwa willpower bersifat self referential, yaitu individu memiliki pemikiran bahwa dirinya sendirilah yang memulai dan terus bergerak untuk mencapai tujuannya. Keberadaan tujuan yang jelas dan penting mempengaruhi seberapa besar willpower inidvidu untuk mencapainya. Tujuan yang samar-samar tidak memunculkan willpower secara mental untuk maju. Willpower juga dipengaruhi oleh pembelajaran sebelumnya ketika seseorang berusaha untuk menjapai tujuannya. Inidvidu yang memiliki willpower merupakan individu yang telah mampu menghadapi kesulitan dalam hidup Pathway Thinking (Waypower) Komponen ketiga merupakan pathway thinking. Menurut Snyder (2005), pathway thinking diartikan sebagai kemampuan atau rute yang berfungsi untuk mencapai goal (tujuan) individu. Suatu rute atau jalan pikir yang mampu memberikan gambaran dan prediksi tentang cara yang akan ditempuh untuk meraih tujuan (Snyder, 2000). Strategi adalah kapasitas mental untuk menemukan satu atau beberapa cara yang efektif untuk mencapai sasaran (Snyder, 1994). Keberadaan tujuan penting untuk membantu individu untuk merencanakan dengan lebih baik cara-cara untuk mencapainya. Kemampuan merencanakan strategi turut dipengaruhi oleh pengalaman dan pembelajaran menemukan cara-cara tertentu untuk mencapai sasaran. Selain itu informasi yang dimiliki individu turut membantunya untuk merancang strategi mencapai sasaran. Bahkan bila kemudian cara tersebut tidak berhasil, individu bisa menggunakan informasi lain untuk merancang strategi baru. Snyder (2000) menggambarkan hope sebagai berikut:

12 Gambar 2.1 Gambaran Hope Theory Secara lebih lanjut, gambar 2.1 di atas merupakan sebuah gambaran dinamika yang berguna untuk mengetahui siklus proses pemunculan hope hingga proses pencapaian goal pada seseorang. Terdapat berbagai komponen dari hope theory, termasuk diantaranya hubungan interaksi yang dinamis antara pathway dan agency. Pathway dan agency tersebut didasari oleh serangkaian emosi yang berasal dari pengalaman pencapaian goal sebelumnya. Supaya proses pencapaian goal tetap berlangsung, maka perlu nilai yang cukup terkait dengan pencapaian goal. Pada tahapan ini, pathway dan agency akan diaplikasikan pada goal yang diingkan. Dalam rute pencapaian goal, seseorang mungkin menghadapi stress yang dapat menghambat goal tersebut. Menurut teori hope, individu dengan hope yang tinggi akan melihat hambatan sebagai tantangan, sementara individu dengan hope yang renadah akan melihat hambatan sebagai rintangan. Jika berhasil menghadapi rintangan, maka emosi positif akan bertambah dan menambah pathway thoughts dan agency thoughts. Sebaliknya, jika gagal dalam menghadapi hambatan akan muncul emosi negatif yang menghambat proses pencapaian goal (Snyder& Lopez,2006) Emerging Adult Definisi Emerging Adult Emerging adult adalah tahapan perkembangan yang baru muncul di akhir abad ke dua puluh dengan fokus usia tahun (Arnett, 2004) atau tahun (Arnett, 2013). Arnett (2006) mendefinisikan emerging adult sebagai tahapan perkembangan yang bukan lagi tahapan remaja bukan pula tahapan dewasa awal. Emerging adult merupakan saat ketika muncul banyak

13 pilihan terhadap arah kehidupan mereka seperti cinta, pekerjaan dan pandangan terhadap dunia (Santoso, Untario, Wahyuningsih & Setyaningrum, 2009) Ciri-Ciri Emerging Adult Menurut Arnett (2004), terdapat lima ciri yang ditemui pada individu di tahap emerging adult. Ciri-ciri tersebut ialah sebagai berikut: 1. Identity Exploration Individu pada tahap emerging adult akan mencoba segala macam kemungkinankemungkinan, mencari dan mengeksplorasi identitas yang ia cari secara serius dan fokus mempersiapkannya memasuki tahapan kehidupan terutama dalam hal pekerjaan dan cinta. 2. Instability Individu pada tahapan emerging adult mengalami masa yang tidak stabil. Pada tahapan sebelumnya, mereka memiliki rencana yang akan mereka bawa dan wujudkan ketika dewasa kelak. Namun, seiring masuknya ke tahapan emerging adult, mereka banyak mengalami perubahan rencana yang telah disusun. 3. Self Focus Individu mulai membangun kompetensi untuk menjalani aktivitasnya sehari-hari, menggali pemahaman yang lebih dalam mengenali siapa mereka dan apa yang mereka harpkan dalam hidup. Pada tahapan ini, individu mulai dituntut untuk mampu mandiri. 4. Feeling In-Between Individu merasakap dimana ia tidak ingin lagi dianggap sebagai remaja, namun belum siap untuk masuk ke dalam tahapan dewasa. 5. Possibilities Harapan individu dalam tahap emerging adult akan masa depan berkembang besar. Mereka melihat banyakanya kesempatan yang terbuka untuk memulai pekerjaan pada tahapan ini. Sebagian mimpi mereka diupakan dicoba pada kehidupan nyata. 2.4 Tunangan Menurut DeGenova (2008), tunangan merupakan tahapan pasangan antara pacaran dan menikah, setelah pasangan mengumumkan untuk menikah. Pada tahapan ini, individu sudah matang untuk menjadikan pasangannya sebagai calon pendamping hidupnya. Maka, biasanya

14 dirinya memberi simbol seperti cincin dan mengumunkan kepada publik bahwa mereka akan menikah. Selama masa tunangan, hubungan pasangan dikelilingi oleh norma yang kuat hampir seperti pernikahan. Pada saat ini, tanggal pernikahan biasanya ditentukan ketika tunangan berlangsung. 2.5 Kerangka Berfikir Hope menurut Snyder (2000), terdiri dari tiga komponen, yaitu goal, pathway thinking dan agency thinking. Goal merupakan sasaran dari tahapan tindakan mental yang menghasilkan komponen kognitif (Snyder, 2000). Pathway thinking adalah strategi spesifik yang dikembangkan sesorang untuk mencapai tujuan tertentu (Snyder et. al., 2004). Dan agency thinking adalah motivasi mental individu untuk memulai usaha dalam meraih tujuan (Snyder, 2000). Ketiga komponen utama hope ini terkait dengan kesiapan menikah dimana tujuan (goal) pasangan yang akan menikah adalah siap untuk mengemban tanggung jawab sebagai suami maupun istri. Senada seperti yang dikemukan oleh DeGenova (2008), pada umumnya individu mengharapkan kesuksesan dalam kehidupan pernikahannya yang dapat tercermin melalui terpenuhinya cita-cita yang diidamkan kedua pasangan. Ketika pasangan memiliki tujuan baik jangka pendek maupun jangka panjang dalam pernikahannya kelak, maka ia akan mencari cara (pathway thinking) untuk meraih tujuan tersebut. Hal tersebut tercantum dalam komponen kesiapan menikah menurut Wiryasti (2004), yakni komunikasi yang baik, dapat mengatur keuangan, perencanaan untuk memiliki anak dan cara pengasuhan, membagi peran suami dan istri, hubungan dengan keluarga besar, kesepakatan dalam pemanfaatan waktu luang, dan persepsi terhadap perubahan pasangan. Untuk melakukan strategi demi mencapai tujuan maka diperlukan motivasi (agency thinking) dalam kesiapan menikah. Dimana motivasi pernikahan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kesiapan menikah (DeGenova, 2008). Motivasi yang dimaksud dalam hal ini adalah individu menikah yang didasari oleh perasaan cinta kepada pasangannya. Ketika individu menikah berdasarkan cinta dan ingin merasa bahagia, maka hal tersebut akan mendorong individu dalam melakukan strategi guna mencapai tujuan pernikahan yang bahagia seperti yang diinginkannya. Berdasarkan penjelasan di atas, maka alur pemikiran dapat digambarkan sebagai berikut:

15 Hope Kesiapan Menikah Emerging Adult yang sudah bertunangan Gambar 2.2 Kerangka Berpikir Hubungan Hope dengan Kesiapan Menikah 2.6 Asumsi Penelitian Asumsi dari penelitian ini adalah adanya hubungan positif antara kesiapan menikah dengan hope. Dengan begitu, kedua variable memiliki hubungan yang searah. Dapat diartikan apabila individu memiliki kesiapan menikah yang tinggi, maka individu akan memiliki hope yang tinggi pula, begitu pula sebaliknya. Apabila individu memiliki hope yang tinggi, maka individu akan memiliki kesiapan menikah yang tinggi pula.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kesiapan Menikah Pada latar belakang, penulis telah menjelaskan seberapa penting kesiapan menikah untuk individu memasuki jenjang pernikahan. Hal ini dijelaskan oleh Olson dan

Lebih terperinci

BAB 1 Pendahuluan 1.1 Latar Belakang

BAB 1 Pendahuluan 1.1 Latar Belakang BAB 1 Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Pernikahan merupakan awal terbentuknya kehidupan keluarga. Setiap pasangan yang mengikrarkan diri dalam sebuah ikatan pernikahan tentu memiliki harapan agar pernikahan

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kompetensi Interpersonal Sebagaimana diungkapkan Buhrmester, dkk (1988) memaknai kompetensi interpersonal sebagai kemampuan-kemampuan yang dimiliki seseorang dalam membina hubungan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. A. Desain Penelitian. merupakan penelitian kuantitatif yang bersifat deskriptif komparatif, yakni jenis

BAB III METODE PENELITIAN. A. Desain Penelitian. merupakan penelitian kuantitatif yang bersifat deskriptif komparatif, yakni jenis 19 BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Menurut Arikunto (2002) desain penelitian merupakan serangkaian proses yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian. Penelitian ini merupakan

Lebih terperinci

BAB 5 Simpulan, Diskusi, dan Saran

BAB 5 Simpulan, Diskusi, dan Saran BAB 5 Simpulan, Diskusi, dan Saran Pada bab ini peneliti akan membahas mengenai simpulan yang digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan pada bab

Lebih terperinci

BAB 2 Tinjauan Pustaka

BAB 2 Tinjauan Pustaka BAB 2 Tinjauan Pustaka Pada bab ini akan dibahas mengenai teori-teori yang berhubungan dengan variabel-variabel yang terdapat dalam penelitian ini, antara lain pengetahuan tentang pasangan, kesiapan menikah,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kualitas Perkawinan. Definisi lain menurut Wahyuningsih (2013) berdasarkan teori Fowers dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kualitas Perkawinan. Definisi lain menurut Wahyuningsih (2013) berdasarkan teori Fowers dan BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kualitas Perkawinan 1. Pengertian Kualitas Perkawinan Menurut Gullota (Aqmalia, 2009) kepuasan pernikahan merupakan perasaan pasangan terhadap pasangannya mengenai hubungan pernikahannya.

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Bab ini akan membahas tentang landasan teori berupa definisi, dimensi, dan faktor yang berpengaruh dalam variabel yang akan diteliti, yaitu bahasa cinta, gambaran tentang subjek

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN Pernikahan merupakan komitmen yang disetujui oleh dua pihak secara resmi yang dimana kedua pihak tersebut bersedia untuk berbagi keitiman emosional & fisik, bersedia

Lebih terperinci

PEDOMAN WAWANCARA. Universitas Sumatera Utara

PEDOMAN WAWANCARA. Universitas Sumatera Utara 166 PEDOMAN WAWANCARA Untuk Suami Wawancara yang akan dilakukan pada penelitian ini meliputi: I. Pandangan responden terhadap pernikahan dengan pariban - Bagaimana pendapat responden terhadap pernikahan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN TEORITIS. A. Kepuasan Pernikahan

BAB II TINJAUAN TEORITIS. A. Kepuasan Pernikahan BAB II TINJAUAN TEORITIS A. Kepuasan Pernikahan 1. Pengertian Kepuasan Pernikahan Pernikahan didefinisikan sebagai hubungan yang diakui secara sosial antara pria dan wanita yang didalamnya terdapat hubungan

Lebih terperinci

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN. dengan proses pacaran dan proses ta aruf. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN. dengan proses pacaran dan proses ta aruf. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN 3.1. Objek Penelitian Objek penelitian ini difokuskan pada pasangan yang sudah menikah dengan proses pacaran dan proses ta aruf. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kesiapan Menikah Individu dapat dikatakan telah siap menikah ketika ia telah mampu menyandang peranperan barunya yaitu sebagai suami atau istri, kemudian berusaha untuk terlibat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penting. Keputusan yang dibuat individu untuk menikah dan berada dalam

BAB I PENDAHULUAN. penting. Keputusan yang dibuat individu untuk menikah dan berada dalam BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pernikahan bagi beberapa individu dapat menjadi hal yang istimewa dan penting. Keputusan yang dibuat individu untuk menikah dan berada dalam kehidupan yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. saling mengasihi, saling mengenal, dan juga merupakan sebuah aktifitas sosial dimana dua

BAB I PENDAHULUAN. saling mengasihi, saling mengenal, dan juga merupakan sebuah aktifitas sosial dimana dua BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pacaran merupakan sebuah konsep "membina" hubungan dengan orang lain dengan saling mengasihi, saling mengenal, dan juga merupakan sebuah aktifitas sosial dimana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I. Latar Belakang Ilma Kapindan Muji,2013

BAB I PENDAHULUAN I. Latar Belakang Ilma Kapindan Muji,2013 BAB I PENDAHULUAN I. Latar Belakang Pernikahan merupakan perjanjian antara laki-laki dan perempuan untuk bersuami istri dengan resmi (Kamus Umum Bahasa Indonesia, 1984). Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dapat hidup sendiri tanpa berhubungan dengan lingkungannya atau dengan

BAB I PENDAHULUAN. dapat hidup sendiri tanpa berhubungan dengan lingkungannya atau dengan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Individu adalah makhluk sosial yang memiliki kebutuhan untuk menjalin hubungan dengan individu lain sepanjang kehidupannya. Individu tidak pernah dapat hidup

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Saat seseorang memutuskan untuk menikah, maka ia akan memiliki harapan-harapan yang tinggi atas pernikahannya (Baron & Byrne, 2000). Pernikahan merupakan awal terbentuknya

Lebih terperinci

KEPUASAN PERNIKAHAN DITINJAU DARI KEMATANGAN PRIBADI DAN KUALITAS KOMUNIKASI

KEPUASAN PERNIKAHAN DITINJAU DARI KEMATANGAN PRIBADI DAN KUALITAS KOMUNIKASI KEPUASAN PERNIKAHAN DITINJAU DARI KEMATANGAN PRIBADI DAN KUALITAS KOMUNIKASI SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam Mencapai Derajat Sarjana S-1 Diajukan Oleh : Dewi Sumpani F 100 010

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pernikahan merupakan salah satu tahapan dalam kehidupan manusia. Hal ini

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pernikahan merupakan salah satu tahapan dalam kehidupan manusia. Hal ini 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pernikahan merupakan salah satu tahapan dalam kehidupan manusia. Hal ini sering terjadi di belahan bumi manapun dan terjadi kapanpun. Pernikahan itu sendiri

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring dengan berkembangnya zaman banyak perubahan yang terjadi, salah satunya adalah perubahan dalam pandangan orang dewasa mengenai pernikahan. Hal ini didukung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perubahan dan menyelesaikan tugas-tugas perkembangan dari lahir, masa kanakkanak,

BAB I PENDAHULUAN. perubahan dan menyelesaikan tugas-tugas perkembangan dari lahir, masa kanakkanak, BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Setiap manusia dalam perkembangan hidupnya, akan mengalami banyak perubahan dan menyelesaikan tugas-tugas perkembangan dari lahir, masa kanakkanak, masa remaja, masa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. berdasarkan agama dan kepercayaan masing-masing untuk menjalani hidup bersama.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. berdasarkan agama dan kepercayaan masing-masing untuk menjalani hidup bersama. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkawinan merupakan suatu proses penyatuan dua individu yang memiliki komitmen berdasarkan agama dan kepercayaan masing-masing untuk menjalani hidup bersama.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sepakat untuk hidup di dalam satu keluarga. Dalam sebuah perkawinan terdapat

BAB I PENDAHULUAN. sepakat untuk hidup di dalam satu keluarga. Dalam sebuah perkawinan terdapat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkawinan adalah bersatunya dua orang manusia yang bersama-sama sepakat untuk hidup di dalam satu keluarga. Dalam sebuah perkawinan terdapat keterikatan secara

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. A. Kepuasan Pernikahan. 1. Pengertian Kepuasan Pernikahan

BAB II LANDASAN TEORI. A. Kepuasan Pernikahan. 1. Pengertian Kepuasan Pernikahan 13 BAB II LANDASAN TEORI A. Kepuasan Pernikahan 1. Pengertian Kepuasan Pernikahan Pernikahan merupakan suatu istilah yang hampir tiap hari didengar atau dibaca dalam media massa. Namun kalau ditanyakan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Menurut Lemme (1995) kepuasan pernikahan adalah evaluasi suami dan istri terhadap

BAB II LANDASAN TEORI. Menurut Lemme (1995) kepuasan pernikahan adalah evaluasi suami dan istri terhadap BAB II LANDASAN TEORI A. Kepuasan Pernikahan 1. Definisi Kepuasan Pernikahan Menurut Lemme (1995) kepuasan pernikahan adalah evaluasi suami dan istri terhadap hubungan pernikahan yang cenderung berubah

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kepuasan Pernikahan 1. Pengertian kepuasan pernikahan Fowers dan Olson (1993) mendefinisikan kepuasan pernikahan sebagai sebuah evaluasi menyeluruh mengenai hubungan pernikahan

Lebih terperinci

Perkembangan Sepanjang Hayat

Perkembangan Sepanjang Hayat Modul ke: Perkembangan Sepanjang Hayat Memahami Masa Perkembangan Remaja dalam Aspek Psikososial Fakultas PSIKOLOGI Hanifah, M.Psi, Psikolog Program Studi Psikologi http://mercubuana.ac.id Memahami Masa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kebutuhan mencari pasangan hidup untuk melanjutkan keturunan akan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kebutuhan mencari pasangan hidup untuk melanjutkan keturunan akan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kebutuhan mencari pasangan hidup untuk melanjutkan keturunan akan menjadi prioritas dalam hidup jika seseorang sudah berada di usia yang cukup matang dan mempunyai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Tahap perkembangan psikososial Erikson, intimacy versus isolation, merupakan isu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Tahap perkembangan psikososial Erikson, intimacy versus isolation, merupakan isu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tahap perkembangan psikososial Erikson, intimacy versus isolation, merupakan isu utama bagi individu yang ada pada masa perkembangan dewasa awal. Menurut Erikson,

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. interpersonal sebagai kemampuan-kemampuan yang dimiliki seseorang dalam

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. interpersonal sebagai kemampuan-kemampuan yang dimiliki seseorang dalam BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kompetensi Interpersonal 2.1.2 Definisi Kompetensi Interpersonal Sebagaimana diungkapkan Buhrmester, dkk (1988) memaknai kompetensi interpersonal sebagai kemampuan-kemampuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Manusia merupakan mahluk sosial yang tidak pernah terlepas dari

BAB I PENDAHULUAN. Manusia merupakan mahluk sosial yang tidak pernah terlepas dari BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia merupakan mahluk sosial yang tidak pernah terlepas dari hubungannya dengan orang lain. Keberadaan orang lain dibutuhkan manusia untuk melakukan suatu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. berpasang-pasangan. Allah SWT telah menentukan dan memilih jodoh untuk

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. berpasang-pasangan. Allah SWT telah menentukan dan memilih jodoh untuk BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Allah SWT menciptakan manusia yaitu laki-laki dan perempuan secara berpasang-pasangan. Allah SWT telah menentukan dan memilih jodoh untuk setiap masing-masing

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. istri adalah salah satu tugas perkembangan pada tahap dewasa madya, yaitu

BAB I PENDAHULUAN. istri adalah salah satu tugas perkembangan pada tahap dewasa madya, yaitu 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Membangun sebuah hubungan senantiasa menjadi kebutuhan bagi individu untuk mencapai kebahagiaan. Meskipun terkadang hubungan menjadi semakin kompleks saat

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Pernikahan adalah salah satu proses penting dalam kehidupan sosial manusia. Pernikahan merupakan kunci bagi individu untuk memasuki dunia keluarga, yang di dalamnya terdapat

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. A. Desain Penelitian. Penelitian ini termasuk penelitian korelasi yang melihat Hubungan

BAB III METODE PENELITIAN. A. Desain Penelitian. Penelitian ini termasuk penelitian korelasi yang melihat Hubungan BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini termasuk penelitian korelasi yang melihat Hubungan Antara Penyesuaian Perkawinan dengan Kepuasan Perkawinan. B. Identifikasi Variabel Variabel

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. (Santrock,2003). Hall menyebut masa ini sebagai periode Storm and Stress atau

BAB 1 PENDAHULUAN. (Santrock,2003). Hall menyebut masa ini sebagai periode Storm and Stress atau 1 BAB 1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Masa remaja ditandai oleh perubahan yang besar diantaranya kebutuhan untuk beradaptasi dengan perubahan fisik dan psikologis, pencarian identitas dan membentuk hubungan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. untuk kebahagiaan dirinya dan memikirkan wali untuk anaknya jika kelak

BAB I PENDAHULUAN. untuk kebahagiaan dirinya dan memikirkan wali untuk anaknya jika kelak BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Selama 10 tahun saya menjanda, tidak ada pikiran untuk menikah lagi, karena pengalaman yang tidak menyenangkan dengan perkawinan saya. Tapi anak sudah besar,

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN SOSIO-EMOSIONAL PADA MASA DEWASA AWAL

PERKEMBANGAN SOSIO-EMOSIONAL PADA MASA DEWASA AWAL PSIKOLOGI PERKEMBANGAN DEWASA DAN LANSIA PERKEMBANGAN SOSIO-EMOSIONAL PADA MASA DEWASA AWAL Oleh: Dr. Rita Eka Izzaty, M.Si Yulia Ayriza, Ph.D STABILITAS DAN PERUBAHAN ANAK-DEWASA TEMPERAMEN Stabilitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berbeda dengan keadaan yang nyaman dalam perut ibunya. Dalam kondisi ini,

BAB I PENDAHULUAN. berbeda dengan keadaan yang nyaman dalam perut ibunya. Dalam kondisi ini, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia merupakan mahluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri tanpa kehadiran manusia lainnya. Kehidupan menjadi lebih bermakna dan berarti dengan kehadiran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. (UU No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan dalam Libertus, 2008). Keputusan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. (UU No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan dalam Libertus, 2008). Keputusan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkawinan dapat diartikan sebagai sebuah ikatan lahir batin seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Manusia tidak dapat hidup seorang diri karena manusia merupakan

BAB I PENDAHULUAN. Manusia tidak dapat hidup seorang diri karena manusia merupakan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Manusia tidak dapat hidup seorang diri karena manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan kehadiran individu lain dalam kehidupannya. Tanpa kehadiran

Lebih terperinci

2015 HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI PARENTAL ATTACHMENT DAN RELIGIUSITAS DENGAN KESIAPAN MENIKAH PADA MAHASISWA MUSLIM PSIKOLOGI UPI

2015 HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI PARENTAL ATTACHMENT DAN RELIGIUSITAS DENGAN KESIAPAN MENIKAH PADA MAHASISWA MUSLIM PSIKOLOGI UPI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sebagian besar mahasiswa strata satu adalah individu yang memasuki masa dewasa awal. Santrock (2002) mengatakan bahwa masa dewasa awal adalah masa untuk bekerja

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Penyesuaian Perkawinan 1. Pengertian Penyesuaian Perkawinan Konsep penyesuaian perkawinan menuntut kesediaan dua individu untuk mengakomodasikan berbagai kebutuhan, keinginan,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN TEORITIS

BAB II TINJAUAN TEORITIS BAB II TINJAUAN TEORITIS A. Komitmen Perkawinan 1. Pengertian Komitmen Perkawinan Dalam menjalani suatu hubungan, individu tidak lepas dari rasa ketergantungan satu dengan yang lainnya, sehingga akan muncul

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Kesiapan menikah

TINJAUAN PUSTAKA Kesiapan menikah 7 TINJAUAN PUSTAKA Kesiapan menikah Duvall (1971) menyatakan bahwa kesiapan menikah adalah laki-laki maupun perempuan yang telah menyelesaikan masa remajanya dan siap secara fisik, emosi, finansial, tujuan,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN TEORITIS. A. Kepuasan Perkawinan. Menurut Aqmalia dan Fakhrurrozi (2009) menjelaskan bahwa per kawinan

BAB II TINJAUAN TEORITIS. A. Kepuasan Perkawinan. Menurut Aqmalia dan Fakhrurrozi (2009) menjelaskan bahwa per kawinan BAB II TINJAUAN TEORITIS A. Kepuasan Perkawinan 1. Pengertian Kepuasan Perkawinan Menurut Aqmalia dan Fakhrurrozi (2009) menjelaskan bahwa per kawinan merupakan suatu ikatan antara pria dan wanita yang

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yaitu penelitian yang menekankan pada data-data numerikal (angka) yang diolah dengan metode statistika

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Perkembangan sosial yang semakin kompleks menuntut keluarga untuk dapat beradaptasi secara cepat (Sunarti 2007). Duvall (1971) menjelaskan bahwa perubahan ini berdampak pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. melainkan juga mengikat janji dihadapan Tuhan Yang Maha Esa untuk hidup

BAB I PENDAHULUAN. melainkan juga mengikat janji dihadapan Tuhan Yang Maha Esa untuk hidup BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pernikahan atau perkawinan adalah suatu kejadian dimana dua orang yang saling mengikat janji, bukan hanya didepan keluarga dan lingkungan sosial melainkan

Lebih terperinci

UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA

UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pernikahan adalah tahap yang penting bagi hampir semua orang yang memasuki masa dewasa awal. Individu yang memasuki masa dewasa awal memfokuskan relasi interpersonal

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Self-Esteem 2.1.1 Pengertian Self-Esteem Menurut Rosenberg (dalam Mruk, 2006), Self-Esteem merupakan bentuk evaluasi dari sikap yang di dasarkan pada perasaan menghargai diri

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Keluarga merupakan unit pelayanan kesehatan yang terdepan dalam

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Keluarga merupakan unit pelayanan kesehatan yang terdepan dalam BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keluarga merupakan unit pelayanan kesehatan yang terdepan dalam meningkatkan derajat kesehatan komunitas. Keluarga sebagai sistem yang berinteraksi dan merupakan unit

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia yang terlahir di dunia ini pasti akan mengalami pertumbuhan dan proses

BAB I PENDAHULUAN. manusia yang terlahir di dunia ini pasti akan mengalami pertumbuhan dan proses 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia tercipta sebagai mahkluk sosial. Sebagai mahkluk sosial manusia harus saling berinteraksi, bertukar pikiran, serta berbagi pengalaman. Setiap manusia

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN 101 BAB V KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Penelitian ini merupakan sebuah upaya untuk memperoleh gambaran mengenai kebutuhan intimacy melalui wawancara mendalam. Berdasarkan hasil analisis,

Lebih terperinci

PENERIMAAN DIRI PADA WANITA BEKERJA USIA DEWASA DINI DITINJAU DARI STATUS PERNIKAHAN

PENERIMAAN DIRI PADA WANITA BEKERJA USIA DEWASA DINI DITINJAU DARI STATUS PERNIKAHAN PENERIMAAN DIRI PADA WANITA BEKERJA USIA DEWASA DINI DITINJAU DARI STATUS PERNIKAHAN Skripsi Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Memperoleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. perkembangan dan menyelesaikan tugas-tugas perkembangan dimulai dari lahir, masa

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. perkembangan dan menyelesaikan tugas-tugas perkembangan dimulai dari lahir, masa 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk sosial. Manusia mengalami berbagai proses perkembangan dan menyelesaikan tugas-tugas perkembangan dimulai dari lahir, masa kanak-kanak,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pada masa remaja, salah satunya adalah problematika seksual. Sebagian besar

BAB I PENDAHULUAN. pada masa remaja, salah satunya adalah problematika seksual. Sebagian besar BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dewasa ini, masalah-masalah yang muncul dalam kehidupan remaja sering menimbulkan berbagai tantangan bagi para orang dewasa. Banyak hal yang timbul pada masa remaja,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori subjective well-being

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori subjective well-being BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Alasan Pemilihan Teori Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori subjective well-being menurut Diener (2005). Teori yang dipilih akan digunakan untuk meneliti gambaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. adalah intimancy versus isolation. Pada tahap ini, dewasa muda siap untuk

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. adalah intimancy versus isolation. Pada tahap ini, dewasa muda siap untuk BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Pada usia dewasa awal tugas perkembangan yang harus diselesaikan adalah intimancy versus isolation. Pada tahap ini, dewasa muda siap untuk menjalani suatu

Lebih terperinci

5. KESIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN

5. KESIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN 149 5. KESIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN Pada bab pendahuluan telah dijelaskan bahwa penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran psychological well-being pada wanita dewasa muda yang menjadi istri

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Menikah merupakan saat yang penting dalam siklus kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Menikah merupakan saat yang penting dalam siklus kehidupan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Menikah merupakan saat yang penting dalam siklus kehidupan manusia. Pernikahan pada dasarnya menyatukan dua pribadi yang berbeda untuk mencapai tujuan bersama.

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN BAB V KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana gambaran identitas diri pada remaja yang menikah dini. Bab ini adalah penutup dari seluruh naskah penelitian,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berketetapan untuk tidak menjalankan tugas dan kewajiban sebagai suami-istri. Pasangan

BAB I PENDAHULUAN. berketetapan untuk tidak menjalankan tugas dan kewajiban sebagai suami-istri. Pasangan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perceraian merupakan suatu perpisahan secara resmi antara pasangan suami-istri dan berketetapan untuk tidak menjalankan tugas dan kewajiban sebagai suami-istri.

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN

BAB V HASIL PENELITIAN BAB V HASIL PENELITIAN A. Rangkuman Hasil Penelitian Ketiga subjek merupakan pasangan yang menikah remaja. Subjek 1 menikah pada usia 19 tahun dan 18 tahun. Subjek 2 dan 3 menikah di usia 21 tahun dan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN TEORI. dalam perkawinan. Bradbury, Fincham, dan Beach (2000) mengatakan. sehingga pernikahan dapat terus bertahan.

BAB II TINJAUAN TEORI. dalam perkawinan. Bradbury, Fincham, dan Beach (2000) mengatakan. sehingga pernikahan dapat terus bertahan. BAB II TINJAUAN TEORI A. Kepuasan Perkawinan 1. Pengertian Kepuasan Perkawinan Setiap pasangan suami istri tentu mendambakan kehidupan rumah tangga yang harmonis dan bahagia atau dengan kata lainmerasakan

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kepuasan Pernikahan Clayton (1975) dan Snyder (1979) menjelaskan bahwa kepuasan perkawinan merupakan evaluasi secara keseluruhan tentang segala hal yang berhubungan dengan kondisi

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. 1952; klemer, 1970, (Ardhianita & Andayani, 2004) diperoleh dari suatu hubungan dengan tingkat perbandingan.

BAB II KAJIAN TEORI. 1952; klemer, 1970, (Ardhianita & Andayani, 2004) diperoleh dari suatu hubungan dengan tingkat perbandingan. 12 BAB II KAJIAN TEORI A. Kepuasan Pernikahan 1. Devinisi Kepuasan Pernikahan Kepuasan merupakan suatu hal yang di hasilkan dari penyesuaian antara yang terjadi dengan yang di harapkan, atau perbandingan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tentang pernikahan menyatakan bahwa pernikahan adalah: berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. (UU RI Nomor 1 Tahun 1974 Pasal 1

BAB I PENDAHULUAN. tentang pernikahan menyatakan bahwa pernikahan adalah: berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. (UU RI Nomor 1 Tahun 1974 Pasal 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH Undang-Undang Republik Indonesia (UU RI) Nomor 1 tahin 1974 pasal 1 tentang pernikahan menyatakan bahwa pernikahan adalah: Ikatan lahir dan batin antara seorang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Masa dewasa awal, merupakan periode selanjutnya dari masa remaja. Sama

BAB I PENDAHULUAN. Masa dewasa awal, merupakan periode selanjutnya dari masa remaja. Sama BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Masa dewasa awal, merupakan periode selanjutnya dari masa remaja. Sama seperti halnya tahap-tahap perkembangan pada periode sebelumnya, pada periode ini, individu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. lazimnya dilakukan melalui sebuah pernikahan. Hurlock (2009) menyatakan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. lazimnya dilakukan melalui sebuah pernikahan. Hurlock (2009) menyatakan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia sebagai makhluk sosial ditakdirkan untuk berpasangan yang lazimnya dilakukan melalui sebuah pernikahan. Hurlock (2009) menyatakan bahwa pernikahan adalah salah

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. membahas mengenai kualitas komunikasi yang dijabarkan dalam bentuk pengertian kualitas

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. membahas mengenai kualitas komunikasi yang dijabarkan dalam bentuk pengertian kualitas BAB II TINJAUAN PUSTAKA Bab ini terbagi atas empat sub bab. Sub bab pertama membahas mengenai komunikasi sebagai media pertukaran informasi antara dua orang atau lebih. Sub bab kedua membahas mengenai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. rentang kehidupan seseorang. Individu pada masa ini telah melewati masa remaja

BAB I PENDAHULUAN. rentang kehidupan seseorang. Individu pada masa ini telah melewati masa remaja BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Masa dewasa awal merupakan awal dari suatu tahap kedewasaan dalam rentang kehidupan seseorang. Individu pada masa ini telah melewati masa remaja dan akan memasuki

Lebih terperinci

PEDOMAN WAWANCARA. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi penyesuaian dengan

PEDOMAN WAWANCARA. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi penyesuaian dengan PEDOMAN WAWANCARA I. Judul Faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian dengan pihak keluarga pasangan pada pria WNA yang menikahi wanita WNI. II. Tujuan Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (Undang-Undang No.1 Tahun

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (Undang-Undang No.1 Tahun BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pernikahan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA 25 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Bahagia Suami Istri 1. Definisi Bahagia Arti kata bahagia berbeda dengan kata senang. Secara filsafat kata bahagia dapat diartikan dengan kenyamanan dan kenikmatan spiritual

Lebih terperinci

PENYESUAIAN DIRI REMAJA PUTRI YANG MENIKAH DI USIA MUDA

PENYESUAIAN DIRI REMAJA PUTRI YANG MENIKAH DI USIA MUDA PENYESUAIAN DIRI REMAJA PUTRI YANG MENIKAH DI USIA MUDA Skripsi Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam Mencapai Derajat Sarjana S-1 Psikologi Diajukan Oleh : FAJAR TRI UTAMI F 100 040 114 FAKULTAS PSIKOLOGI

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pernikahan 2.1.1 Pengertian Pernikahan Secara umum, pernikahan merupakan upacara pengikatan janji nikah yang dilaksanakan dengan menggunakan adat atau aturan tertentu. Sedangkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Manusia merupakan makhluk individu dan sosial. Makhluk individu

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Manusia merupakan makhluk individu dan sosial. Makhluk individu BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Manusia merupakan makhluk individu dan sosial. Makhluk individu yang berkembang untuk memenuhi kebutuhan pribadi, sedangkan manusia sebagai makhluk sosial yang saling

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bagi mahasiswa-mahasiswi sangat beragam. Mereka dapat memilih jurusan sesuai

BAB I PENDAHULUAN. bagi mahasiswa-mahasiswi sangat beragam. Mereka dapat memilih jurusan sesuai 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Mahasiswi adalah sebutan bagi wanita yang menuntut ilmu di Perguruan Tinggi sebagai dasar pendidikan untuk mendapatkan pekerjaan yang dapat menopang kehidupan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tidak tinggal bersama (Long Distance Relationship) dalam satu rumah karena

BAB I PENDAHULUAN. tidak tinggal bersama (Long Distance Relationship) dalam satu rumah karena BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pernikahan adalah sebuah komitmen legal dengan ikatan emosional antara dua orang untuk saling berbagi keintiman fisik dan emosional, berbagi tanggung jawab,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sindhi Raditya Swadiana, 2014

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sindhi Raditya Swadiana, 2014 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada usia dewasa awal tugas perkembangan yang harus diselesaikan adalah intimacy versus isolation. Pada tahap ini, dewasa muda siap untuk menjalin suatu hubungan

Lebih terperinci