VOLCANIC HAZARDS AND MONITORING
|
|
|
- Harjanti Salim
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 VOLCANIC HAZARDS AND MONITORING 1. PERSEPSI AWAL TENTANG GUNUNG API DAN AKTIVITASNYA Selama hampir 18 abad,gunung api selalu di kaitkan dengan mitos mitos kuno tuhan dan iblis.sampailah pada saat seorang filsuf Yunani kuno(empedocles) mulai tertarik dan penasaran dengan salah satu gunung teraktif pada saat itu,yaitu Etna dan Stromboli.Selama 17 abad dan pertengahan abad ke 18 pandangan mengenai apa elemen penyusun gunung api adalah api,angin dan sulfur(coal).pada pertengahan abad 18 Hamilton konsen meneliti gunung Vesuvius. Bagaimana dan mengapa ada gunung api Gunung api merupakan sebuah bukti bahwa bumi kita ini hidup,sangat panas dan dinamis di lapisan dalamnya.ada 3 aspek penting dalam mempelajari sebuah gunung api yaitu: - Bagaimana sistem magma dari sebuah gunung api,termasuk seberapa dalam dan seberapa besarnya. - Gunung api merupakan hasil dari aktifitas tektonik lempeng - Ilmu tentang gunung api semakin berkembang,bukan hanya tentang komposisi dan aspek fisika dari magma tapi juga tentang hubungan dengan lingkungan sekitar. Terminologi Ada beberapa istilah yang perlu di pahami dalam mempelajari gunung api,guna menjelaskan antara bahaya gunung api,material gunung api,resiko dari sebuah gunung api dan bencana yang diimbulkannya. - Erupsi gunung api,merupakan proses alam dari sebuah gunung api yang menunjukan ekspresi dari sistem dalam bumi yang dinamis dan hidup. - Bahaya gunung api,seperti proses alam lainnya erupsi gunung api erat hubungannya dengan ancaman terhadap manusia dan lingkungan sekitarnya,di definisikan tergantung tipe,besarnya dan seberapa sering. - Bencana,merupakan sebuah proses interaksi antara proses alam dengan aspek politik ekonomi sosial dan teknologi. - Mitigasi bencana,merupakan seluruh aktifitas untuk mengurangi resiko bencana. 2. Volcanic Explosivity Index (VEI) Skala Pengukuran Untuk Kejadian Alam Mengukur kekuatan sebuah kejadian alam merupakan tantangan bagi seorang ilmuan. Telah diketahui bahwa ilmuan membuat sebuah skala atau ukuran untuk mengestimasi besar kekuatan atau kejadian alam. Sebagai contoh yaitu skala Richter digunakan untuk mengukur
2 kekuatan gempa, skala Saffir-Simpson digunakan untuk mengukur potensi angina topan dan skala Fujita untuk mengukur intensitas angin topan. Didalam bidang vulkanologi, skala yang digunakan untuk mengukur kekuatan erupsi vulkanik adalah VEI (Volcanic Explosivity Index). Skala ini dikenalkan oleh Chris Newhall dari US Geological Survey dan Stephen SelfdariUniversity of Hawaii pada tahun Skala ini adalah skala relatif yang membandingkan kejadian erupsi eksplosif vulkanik dengan kejadian yang lain. Karakteristik yang digunakan untuk menentukan VEI ini adalah volume piroklastik material yang dikeluarkan oleh gunung api ketika meletus. Material piroklastik ini terdiri dari abu vulkanik, tepra, aliran piroklastik dan jenis-jenis material lain. Selain itu, ketinggian kolom erupsi dan durasi erupsi juga dipertimbangkan dalam menentukan level VEI. Skala VEI Skala VEI dimulai dari nilai 0 yaitu nilai yang paling rendah untuk erupsi dengan volume material yang dikeluarkan kurang dari kubik kilometer. Sebagian besar erupsi pada skala ini memiliki kekuatan yang relative kecil. Sehingga tipe letusannya cenderung effusif dari pada eksplosif. Erupsi effusif ditandai oleh lava yang mengalir dari kawah. Skala VEI 1 ditandai dengan volume erupsi berkisar antara sampai km 3. Diatas VEI 1, skala akan menjadi logaritmik, ini artinya setiap penambahan skala maka jumlah volume material yang dikeluarkan akan menjadi 10 kali lipat dari skala dibawahnya. Sebagai contoh pada VEI 2, volume material yang dikeluarkan berkisar antara sampai 0,01km 3. Pada VEI 3, volume material yang dikeluarkan berkisar antara 0.01 sampai 0.1 km 3. Skala VEI 0 sampai 8 ditunjukkan pada gambar dibawah ini. Karena setiap penambahan skala memiliki besar 10 kali lipat dari skala dibawahnya, VEI 5 memiliki besar 10 kali lipat lebih eksplosif dari VEI 4, makan VEI 6 memiliki besar 100 kali lipat lebih eksplosif dari VEI 4. Sehingga VEI 8 memiliki besar 1 juta lebih eksplosif dari VEI 2. Contoh letusan gunung api yang memiliki skala VEI 8 yaitu Toba ( tahun yang lalu), Yellowstone ( tahun yang lalu), dan lake Taupo ( tahun yang lalu). Erupsi gunung api pada skala VEI 8 paling besar sekarang yaitu erupsi Wah Wah Springs yang terjadi di daerah Utah (30 juta tahun yang lalu) dengan material yang dikeluarkan sekitar 5500 km 3 dengan durasi letusan sekitar satu minggu.
3 VEI Eruption Frequency
4 Grafik diatas menunjukkan rangkuman dari frekuensi erupsi berbanding dengan VEI yang diambil dari data Global Volcanism Program Smithsonian Institution untuk erupsi yang terjadi sekitar tahun yang lalu sampai tahun Hanya 4 erupsi yang terjadi pada skala VEI 7 yang pernah terdokumentasikan, sedangkan 3477 erupsi pernah terjadi pada skala VEI 2. Dari grafik ini dapat disimpulkan bahwa erupsi yang besar sangat jarang terjadi. 3. PENGAMATAN GUNUNG API DAN PREDIKSI ERUPSI JANGKA PENDEK Pengamatan terhadap gunung api yang mengalami erupsi secara periodik dilakukan atas 2 alasan yakni untuk mempelajari struktur internal suatu gunung api dan untuk mengerti tandatanda aktivitas guna mengetahui indikator suatu gunung api akan meletus demi mengambil tindakan dalam mengantisipasinya. Pengamatan aktifitas gunung api dapat dilakukan secara visual dan berdasarkan data pengukuran (seismisitas, thermal, deformasi, gas, metode geofisika, dan lain- lain).
5 3.1. Pengamatan Seismisitas Tekanan di dapur magma menyebabkan gunung api mengembang (Sumber: USGS-Volcano) Pengamatan seismisitas gunung api pertama sekali diperkenalkan pada akhir tahun 1970-an melalui publikasi Aki et.al pada tahun Ketika sebuah gunung api akan meletus maka akan ada aktifitas seismisitas berupa tremor/getaran-getaran kecil/gempa vulkanik yang biasanya dirasakan oleh masyarakat yang dekat dengan gunung api. Aktifitas seismisitas ini meningkat karena peningkatan aktifitas dan tekanan di dapur magma. Peningkatan ini menyebabkan terjadinya rekahan-rekahan yang menjadi sumber gempa vulkanik. Sebelum pengamatan seismisitas ini bisa dilakukan, hal pertama yang harus dilakukan adalah pemasangan seismometer di sekitar gunung api yang akan diamati. Untuk pengamatan lebih akurat, harus dipasang lebih dari satu seismometer di setiap gunung api.
6 3.1 Pengamatan Gas dan Thermal Selain peningkatan seismisitas, peningkatan gas dan thermal (suhu) juga terjadi apabila sebuah gunung api akan erupsi. Beberapa gas keluar ketika gunung api mau dan sedang erupsi antara lain; Karbonmonoksida (CO), Karbondioksida (CO 2), Hidrogen Sulfide (H 2S), Sulfurdioksida (S0 2), dan Nitrogen (NO 2). Peningkatan suhu juga bisa teramati dari mulai mengeringnya sungai dan danau serta perpohonan yang mulai mati di sekitar gunung api. Pengukuran untuk gas dan thermal bisa dilakukan secara langsung, namun pengukuran secara langsung sangat berisiko bagi pengukur. Solusi lain adalah dengan cara memasang alat pengukuran gas dan thermal di lapangan fumaroel dan datanya terekam secara terus-menerus dan bisa dikirim secara automatis ke pusat pengamatan Pengamatan Deformasi Ketika gunung api akan meletus (erupsi) akan terjadi peningkatan tekanan di dapur magma. Peningkatan tekanan di dalam dapur magma ini akanmenyebabkan deformasi (naik dan turun) permukaan gunung api. Deformasi ini bisa diamati menggunakan GPS, Tiltmeter, dan beberapa peralatan lainnya. Pengamatan deformasi ini akan memberikan informasi apakah gunung api sedang mengembang (akan meletus) atau sedang tidak mengembang (tidur).
7 3.4. Pengamatan Graviti dan Geomagnet Pengamatan berat jenis merupakan salah satu pengamatan menggunakan metode geofisika. Ketika gunung api mau meletus maka akan terjadi perubahan densitas (berat jenis) di bawah permukaan karena adanya magma yang menuju ke permukaan tanah. Untuk mengetahui perubahan magma bawah permukaan ini perlu dilakukan pengukuran metode graviti secara berkala pada sebuah gunung api. Permodelan hasil pengukuran gravitasiakan bisa memprediksi volume dapur magma suatu gunung api. Pengamatan Geomagnet dilakukan untuk mengamati nilai intensitas magnet di atas gunung api, apabila magma mulai naik ke atas permukaan maka nilai intensitas magnet di atas gunung api akan rendah karena pengaruh panas magma. Magma yang naik ke atas permukaan akan memiliki nilai susceptibilitas yang rendah dibandingkan dengan batuan vulkanik pembentuk gunung api. Hasil akhir dari pengukuran Geomagnet juga untuk memodelkan volume daripada dapur magma. 4. Dapatkah Bencana Gunung Berapi Dihindari? 4.1 Diagnosis Analisis yang cermat mengenai sejarah awal sebuah gunung api merupakan salah satu metode yang penting untuk memperkirakan kemungkinan jangka panjang terjadinya tipe letusannya serta energi spesifiknya. Gunung berapi pada umumnya merupakan kumpulan dari kejadian stratigrafi dan kronostratigrafi sejarah dan pra-sejarah yang luar biasa. Sejarah ini dapat direkonstruksi ketika endapannya telah dipetakan, stratigrafinya telah diketahui, struktunya telah dianalisa serta diketahui kapan kejadiannya. Informasi-informasi tersebut salah satunya dapat diketahui dari komposisi kimia dan mineralnya pada lava yang tererupsi serta endapan piroklastiknya.
8 Parameter-parameter vulkanologi, seperti volume, ukuran grain, karakteristik partikel, mekanisme fragmentasinya, dan lain-lain dapat digunakan untuk menentukan perilaku letusan dari sebuah gunung api. Ini bergantung pada prinsip uniformitas, yaitu, sebuah gunung api cenderung berperilaku sama di masa yang akan datang dengan masa lampau. Dari data ini, peta bahaya dapat ditentukan, dimana di sana tampak distribusi berbagai macam jenis produk letusan (termasuk di dalamnya aliran lava, aliran piroklastik, jatuhan awan panas, lahar, longsoran sisasisa letusan, serta kemungkinan terjadinya tsunami. Kemungkinan suatu gunung berapi yang pernah meletus akan meletus lagi di kemudian hari dari pada gunung itu mati. Walaupun begitu, waktu tertidur nya gunung berapi jauh lebih lama di masa lampau dari pada yang terekam oleh sejarah manusia. Gunung berapi yang pernah erupsi besar yang pernah dialami dan dirasakan oleh manusia misalnya adalah Gunung Kilauae, Vesuvius, Hekla (Islandia), Etna (Sisili), Mayon (Filifina), Merapi (Jawa), Sakurajima (Jepang), Komagatake (Jepang), Arenal (Kosta Rika) dan Gunung Augustine (Alaska). Salah satu yang selama ini cuku aktif, tetapi sekarang tidak stabil, adalah Gunung Stromboli di Laut Tyrrhenian, dengan fase erupsinya hanya beberapa menit atau jam saja.
9 Penyebab perbedaan periode erupsi setiap gunung masih sangat kompleks dan belum diketahui. Kemungkinan perbedaan periode letusan ini bergantung pada umur magma di dapur magma, kecepatan naiknya magma dari dalam bumi, proses kompleks di dapur magma serta interaksinya dengan air tanah atau air permukaan. Erupsi gunung api dapat berlangsung dalam hitungan menit hingga ratusan tahun, tergantung dari bagaimana orang mendefinisikannya. Rata-rata durasi letusan gunung adalah pada batas lempeng konvergen adalah sekitar 65 hari, sedangkan untuk gunung api yang berada di dalam lempeng adalah sekitar 31 hari. Itu adalah harga minimum, bagaimana pun juga, waktu terjadinya erupsi tidak dapat diketahui secara pasti. Prediksi erupsi gunung berapi yang didasarkan pada analisis statistic pada kejadian masa lampau, tetap tidak dapat menghitung secara tepat dan pasti kapan terjadinya erupsi. Pengalaman yang ada selama ini menunjukkan bahwa warga pedesaan yang ada di sekitar gunung berapi memprediksikan dengan kemungkinan yang belum tentu tepat. Untuk studi secara geologi, monitoring gunung berapi merupakan metode yang sangat penting untuk memprediksikan erupsi yang akan datang, tidak hanya waktu, tetapi juga tipe erupsinya serta lokasi leher magmanya. 4.2 Prediksi ke Depan Salah satu tujuan utama dari penelitian gunung api adalah untuk meningkatkan kemampuan dalam memprediksikan erupsi. Hal ini digunakan untuk memberikan waktu kepada warga setempat untuk dilakukan evakuasi. Tetapi untuk ahli vulkanologis dan saintis,
10 keakuratan prediksi ini sangat dibutuhkan untuk menentukan tindakan sebelum dan setelah terjadinya erupsi. Salah satu hal paling penting dalam hal ini adalah evakuasi. Selain prediksi kapan terjadinya suatu erupsi gunung api, kesadaran warga untuk menaati peraturan pun perlu ditingkatkan untuk menyelamatkan nyawa mereka sendiri. Karena mungkin masih banyak warga sekitar yang tidak mau dievakuasi dengan alasan mereka yakin bahwa tidak akan terjadi erupsi atau mereka masih terlalu memikirkan masalan harta benda yang akan mereka tinggal jika mereka dievakuasi. Namun peringatan yang terlalu dini mengenai erupsi juga dapat menyebabkan warga merasa tidak percaya akan terjadinya erupsi jika memang gunung tersebut tidak jadi erupsi. Ini juga salah satu hal yang menyebabkan warga tidak antusias lagi ketika mendengarkan peringatan selanjutnya. Contohnya adalah yang terjadi di Hawaii, yaitu ketika saintis yang ada di Observatori Gunung Api Hawaii (Hawaiian Volcano Observatory) berani memprediksikan erupsi di Mauna Loa pada tahun Pada waktu itu, sudah banyak warga yang bersiap untuk dievakuasi, tetapi letusan terjadi delapan tahun kemudian yaitu pada tahun Prediksi yang terlalu dini ini dikarenakan data yang digunakan hanyalah data statisktik semata atau hanya dengan analisa kemungkinan. Prediksi yang salah dapat mempengaruhi kondisi politik dan social warga sekitar.
11 Perkiraan yang tepat adalah dalam jangka waktu yang paling mendekati saat-saat akan terjadinya erupsi, yaitu bisa dalam hitungan minggu atau hari sehingga warga tidak terlalu dirugikan. Prediksi ini juga harus mampu menjelaskan dimana lokasi vent-nya, serta apa tipe kemungkinan letusannya. Prediksi serta perkiraan yang tepat, sangat berpengaruh terhadap mitigasi bencana dari gunung api itu sendiri. Sehingga diperlukan kecermatan dan kredibilitas yang tinggi untuk memprediksi erupsi gunung api, karena dalam hal ini menyangkut hak hidup warga di sekitar gunung api tersebut. Mitigasi Bencana Upaya dalam mengurangi dampak erupsi gunung api bisa dilakukan dengan 2 cara, yakni: kesiapsiagaan sebelum bencana erupsi dan penanganan saat bencana erupsi terjadi. Kesiapsiagaan sebelum bencana terjadi Pemantauan dan pengamatan kegiatan pada semua gunung berapi yang aktif Melakukan penyelidikan dan penelitian geologi, geofisika dan geokimia di gunung berapi Membuat peta ancaman, mengenali daerah ancaman, daerah aman Melakukan peningkatan sumberdaya manusia (SDM) dan pendukungnya seperti peningkatan sarana dan prasarana Membuat perencanaan penanganan bencana mempersiapkan jalur dan tempat pengungsian yang sudah siap dengan bahan kebutuhan dasar (air, jamban, makanan, pertolongan pertama) jika diperlukan Penanganan saat bencana terjadi Hindari daerah rawan bencana seperti lereng gunung, lembah, aliran sungai kering dan daerah aliran lahar Hindari tempat terbuka, lindungi diri dari abu letusan Masuk ruang lindung darurat bila terjadi awan panas Siapkan diri untuk kemungkinan bencana susulan Kenakan pakaian yang bisa melindungi tubuh, seperti baju lengan panjang, celana panjang, topi dan lainnya Memebentuk tim gerak cepat Meningkatkan pemantauan dan pengamatan dengan didukung oleh penambahan peralatan yang memadai Meningkatkan pelaporan tingkat kegiatan alur dan frekuensi pelaporan sesuai dengan kebutuhan Memberikan rekomendasi kepada pemerintah setempat sesuai prosedur
12 Kesiapan yang matang sangat dibutuhkan dalam keadaan ini. Karena salah sedikit saja dalam tindakan antisipasi bencana atau evakuasi akan menimbulkan banyak sekali kerugian materil maupun jiwa. Dalam kasus khusus, daerah yang mempunyai curah hujan yang tinggi ataupun erosi yang tinggi, topografi dari gunung api sangat memungkinkan untuk membentuk jalur dari lahar, arus bongkahan piroklastik, dan lahar dingin mencapai pemukiman. Oleh karenanya, diperlukan barrier untuk menahan laju dari arus tersebut atau setidaknya mengalihkan arus dari daerah yang berpenduduk. Contoh kasus pembuatan barrier yang sukses dibuat di gunung Etna Gambar 1. Peta rencana pembuatan barrier Gambar 2. Pembuatan monte vetore barrier
13 Gambar 3. Pembuatan barrier lain, Sapienza barrier Gambar 4. Lahar aa setebal 10m mencapai Sapienza barrier Gambar 5. Foto udara kenampakan Sapienza barrier Jika sudah tidak memungkinkan lagi untuk melakukan evakuasi maka tindakan yang harus dilakukan menjadi terbatas.
14 Upaya penenganan setelah bencana Jauhi wilayah yang terkena hujan abu Bersihkan atap dari timbunan abu karena beratnya bisa merusak atau meruntuhkan atap bangunan Hindari mengendarai mobil di daerah yang terkena hujan abu sebab bisa merusak mesin motor, rem, persneling dan pengapian Membangun kembali daerah yang rusak karena letusan, membangun infrastruktur yang vital bagi kehidupan masyarakat. Menghijaukan kembali lahan yang rusak karena letusan gunung berapi dengan reboisasi. KESIMPULAN 1. Ancaman di GunungApi dapat berupa ancaman langsung yakni berupa efek yang cepat seperti lava dan debu yang mengenai bangunan, maupun ancaman tidak langsung seperti dampak terhadap lahan pertanian/ gagal panen yang dalam jangka panjang dapat menimbulkan bencana kelaparan serta perubahan iklim. 2. Aliran lava walaupun sangat jarang menyebabkan kematian karena kecepatan alirannya yang rendah namun dapat merusak infrastuktur dan lahan pertanian 3. Material piroklastik merupakan salah satu ancaman utama terhadap bangunan karena debu- debu ringan yang membahayakan kesehatan serta bahaya bagi penerbangan. 4. Pyroclastic density current dan surges merupakan ancaman yang paling fatal karena dapat merusak segala sesuatu yang dilewati. Material ini mengalir dengan kecepatan tinggi dan hanya dapat dihindari dengan melakukan evakuasi dini. 5. Aliran lahar yang merupakan campuran piroklastik dengan air juga dapat merusak infrastruktur seperti halnya pyroclastic density currents. 6. Gas yang dikeluarkan dari gunung api, kecuali uap air secara kimiawi beracun dan berbahaya bagi kesehatan 7. Penilaian bahaya terhadap gunung api perlu dilakukan memerlukan data dari erupsi sebelumnya untuk analisa dan prediksi erupsi di masa mendatang. 8. Beberapa gunung api yang sering mengalami erupsi dan berlokasi di kawasan yang berpenduduk umumnya dipantau dengan cara merakam aktivitas seismic di kawasan gunung tersebut, mengukur deformasi yang terjadi di bangunan gunung api, memantau gas yang dikeluarkan dari kantong magma dangkal. 9. Walaupun telah dilakukan pemantauan yang mendetail, tidak mudah untuk dapat menentukan sistem peringatan dini yang paling akurat.
Ringkasan Materi Seminar Mitigasi Bencana 2014
\ 1 A. TATANAN TEKTONIK INDONESIA MITIGASI BENCANA GEOLOGI Secara geologi, Indonesia diapit oleh dua lempeng aktif, yaitu lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik yang subduksinya dapat
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1046, 2014 KEMENPERA. Bencana Alam. Mitigasi. Perumahan. Pemukiman. Pedoman. PERATURAN MENTERI PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pattern Recognition Konsep utama dari Pattern Recognition adalah tentang ketidakpastian (uncertainty) (Bishop, 2006). Pattern Recognition disebut juga sebagai proses klasifikasi
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA BADAN GEOLOGI
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA BADAN GEOLOGI JALAN DIPONEGORO NOMOR 57 BANDUNG 40122 JALAN JENDERAL GATOT SUBROTO KAV. 49 JAKARTA 12950 TELEPON: 022-7215297/021-5228371 FAKSIMILE:
BADAN GEOLOGI - ESDM
Studi Kasus Merapi 2006 : Peranan Pengukuran Deformasi dalam Prediksi Erupsi A. Ratdomopurbo Kepala BPPTK-PVMBG Sosialisasi Bidang Geologi -----------------------------------------------------------------------
BAB I PENDAHULUAN. letusan dan leleran ( Eko Teguh Paripurno, 2008 ). Erupsi lelehan menghasilkan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gunungapi Merapi merupakan gunung yang aktif, memiliki bentuk tipe stripe strato yang erupsinya telah mengalami perbedaan jenis erupsi, yaitu erupsi letusan dan leleran
Jenis Bahaya Geologi
Jenis Bahaya Geologi Bahaya Geologi atau sering kita sebut bencana alam ada beberapa jenis diantaranya : Gempa Bumi Gempabumi adalah guncangan tiba-tiba yang terjadi akibat proses endogen pada kedalaman
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan salah satu Negara di dunia yang dilewati oleh dua jalur pegunungan muda dunia sekaligus, yakni pegunungan muda Sirkum Pasifik dan pegunungan
BAB I PENDAHULUAN. samudra Hindia, dan Samudra Pasifik. Pada bagian selatan dan timur
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Secara geografis Indonesia merupakan Negara kepulauan yang terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik yaitu lempeng benua Eurasia, lempeng samudra Hindia,
SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 7. MENGANALISIS MITIGASI DAN ADAPTASI BENCANA ALAMLATIHAN SOAL 7.2
SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 7. MENGANALISIS MITIGASI DAN ADAPTASI BENCANA ALAMLATIHAN SOAL 7.2 1. Serangkaian peristiwa yang menyebabkan gangguan yang mendatangkan kerugian harta benda sampai
BAB 1 PENDAHULUAN. mengenai bencana alam, bencana non alam, dan bencana sosial.
BAB 1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor non-alam maupun
2015, No Indonesia Tahun 1997 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3676); 2. Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2012 tentang Keselamatan da
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.620, 2015 BAPETEN. Instalasi Nuklir. Aspek Kegunungapian. Evaluasi. Pencabutan. PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 5 TAHUN 2015 TENTANG EVALUASI TAPAK
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Di Indonesia banyak sekali terdapat gunung berapi, baik yang masih aktif maupun yang sudah tidak aktif. Gunung berapi teraktif di Indonesia sekarang ini adalah Gunung
LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 15 TAHUN 2011 TANGGAL : 9 SEPTEMBER 2011 PEDOMAN MITIGASI BENCANA GUNUNGAPI
LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 15 TAHUN 2011 TANGGAL : 9 SEPTEMBER 2011 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang PEDOMAN MITIGASI BENCANA GUNUNGAPI Indonesia adalah negara
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi bencana geologi yang sangat besar, fakta bahwa besarnya potensi bencana geologi di Indonesia dapat dilihat dari
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang terletak di ring of fire (Rokhis, 2014). Hal ini berpengaruh terhadap aspek geografis, geologis dan klimatologis. Indonesia
BAB I PENDAHULUAN. Secara geografis Indonesia terletak di daerah khatulistiwa dan melalui
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Secara geografis Indonesia terletak di daerah khatulistiwa dan melalui garis astronomis 93⁰BT-141 0 BT dan 6 0 LU-11 0 LS. Dengan morfologi yang beragam dari
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Gunung Merapi merupakan gunung api tipe strato, dengan ketinggian 2.980 meter dari permukaan laut. Secara geografis terletak pada posisi 7 32 31 Lintang Selatan dan
BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan letak astronomis, Indonesia terletak diantara 6 LU - 11 LS
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, dan memiliki kurang lebih 17.504 buah pulau, 9.634 pulau belum diberi nama dan 6.000 pulau tidak berpenghuni
24 November 2013 : 2780/45/BGL.V/2013
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA BADAN GEOLOGI JALAN DIPONEGORO NO. 57 BANDUNG 40122 JALAN JEND. GATOT SUBROTO KAV. 49 JAKARTA 12950 Telepon: 022-7212834, 5228424, 021-5228371
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gunung Merapi adalah salah satu gunung api yang sangat aktif di Indonesia yang terletak di daerah berpenduduk padat di Propinsi Jawa Tengah dan Propinsi Daerah Istimewa
4.15. G. LEWOTOBI PEREMPUAN, Nusa Tenggara Timur
4.15. G. LEWOTOBI PEREMPUAN, Nusa Tenggara Timur G. Lewotobi Laki-laki (kiri) dan Perempuan (kanan) KETERANGAN UMUM Nama Lain Tipe Gunungapi : Lobetobi, Lewotobi, Lowetobi : Strato dengan kubah lava Lokasi
BAB I PENDAHULUAN. sampai Maluku (Wimpy S. Tjetjep, 1996: iv). Berdasarkan letak. astronomis, Indonesia terletak di antara 6 LU - 11 LS dan 95 BT -
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia dikenal sebagai suatu negara kepulauan yang mempunyai banyak sekali gunungapi yang berderet sepanjang 7000 kilometer, mulai dari Sumatera, Jawa,
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Ringkasan Temuan Penahapan penanggulangan bencana erupsi Gunung Kelud terdapat lima tahap, yaitu tahap perencanaan penanggulangan bencana erupsi Gunung Kelud 2014, tahap
TEKANAN PADA ERUPSI GUNUNG BERAPI
TEKANAN PADA ERUPSI GUNUNG BERAPI ARINI ROSA SINENSIS SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) NURUL HUDA 2017 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG Indonesia dikenal dengan negara yang memiliki
7.4. G. KIE BESI, Maluku Utara
7.4. G. KIE BESI, Maluku Utara G. Kie Besi dilihat dari arah utara, 2009 KETERANGAN UMUM Nama Lain : Wakiong Nama Kawah : Lokasi a. Geografi b. : 0 o 19' LU dan 127 o 24 BT Administrasi : Pulau Makian,
Beda antara lava dan lahar
lahar panas arti : endapan bahan lepas (pasir, kerikil, bongkah batu, dsb) di sekitar lubang kepundan gunung api yg bercampur air panas dr dl kawah (yg keluar ketika gunung meletus); LAHAR kata ini berasal
BAB I PENDAHULUAN. imbas dari kesalahan teknologi yang memicu respon dari masyarakat, komunitas,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menurut Parker (1992), bencana ialah sebuah kejadian yang tidak biasa terjadi disebabkan oleh alam maupun ulah manusia, termasuk pula di dalamnya merupakan imbas dari
SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 7. MENGANALISIS MITIGASI DAN ADAPTASI BENCANA ALAMLATIHAN SOAL BAB 7
SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 7. MENGANALISIS MITIGASI DAN ADAPTASI BENCANA ALAMLATIHAN SOAL BAB 7 1. Usaha mengurangi resiko bencana, baik pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan
Studi Pengaruh Lahar Dingin Pada Pemanfaatan Sumber Air Baku Di Kawasan Rawan Bencana Gunungapi (Studi Kasus: Gunung Semeru)
Studi Pengaruh Lahar Dingin Pada Pemanfaatan Sumber Air Baku Di Kawasan Rawan Bencana Gunungapi (Studi Kasus: Gunung Semeru) Disusun oleh: Anita Megawati 3307 100 082 Dosen Pembimbing: Ir. Eddy S. Soedjono.,Dipl.SE.,MSc.,
I. PENDAHULUAN. dan berada di jalur cincin api (ring of fire). Indonesia berada di kawasan dengan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kawasan kepulauan Indonesia merupakan daerah pertemuan lempeng bumi dan berada di jalur cincin api (ring of fire). Indonesia berada di kawasan dengan curah hujan yang relatif
BAPPEDA Kabupaten Probolinggo 1.1 LATAR BELAKANG
1.1 LATAR BELAKANG merupakan wilayah dengan karateristik geologi dan geografis yang cukup beragam mulai dari kawasan pantai hingga pegunungan/dataran tinggi. Adanya perbedaan karateristik ini menyebabkan
Definisi dan Jenis Bencana
Definisi dan Jenis Bencana Definisi Bencana Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana menyebutkan definisi bencana sebagai berikut: Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa
TUGAS MITIGASI BENCANA LETUSAN GUNUNG API. Virgian Rahmanda
TUGAS MITIGASI BENCANA LETUSAN GUNUNG API Virgian Rahmanda 1215051054 A. Pengertian Letusan Gunung Api Letusan gunung merupakan peristiwa yang terjadi akibat endapan magma di dalam perut bumi yang didorong
II. PENGAMATAN 2.1. VISUAL
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA BADAN GEOLOGI JALAN DIPONEGORO NO. 57 BANDUNG 4122 JALAN JEND. GATOT SUBROTO KAV. 49 JAKARTA 1295 Telepon: 22-7212834, 5228424, 21-5228371
7.5. G. IBU, Halmahera Maluku Utara
7.5. G. IBU, Halmahera Maluku Utara G. Ibu dilihat dari Kampung Duono, 2008 KETERANGAN UMUM Lokasi a. Geografi b. Adminstrasi : : 1 29' LS dan 127 38' BT Kecamatan Ibu, Kabupaten Halmahera Barat, Prop.
Peristiwa Alam yang Merugikan Manusia. a. Banjir dan Kekeringan
Peristiwa Alam yang Merugikan Manusia a. Banjir dan Kekeringan Bencana yang sering melanda negara kita adalah banjir dan tanah longsor pada musim hujan serta kekeringan pada musim kemarau. Banjir merupakan
Bab I Pendahuluan I.1. Latar Belakang Penelitian
Bab I Pendahuluan I.1. Latar Belakang Penelitian Indonesia terletak pada pertemuan 3 lempeng tektonik, yaitu lempeng Eurasia, lempeng Hindia-Australia, dan lempeng Pasifik. Pada daerah di sekitar batas
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan 3 (tiga) lempeng tektonik besar yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik. Pada daerah pertemuan
Contents BAB I... 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Pokok Permasalahan Lingkup Pembahasan Maksud Dan Tujuan...
Contents BAB I... 1 PENDAHULUAN... 1 1.1. Latar Belakang... 1 1.2 Pokok Permasalahan... 2 1.3 Lingkup Pembahasan... 3 1.4 Maksud Dan Tujuan... 3 1.5 Lokasi... 4 1.6 Sistematika Penulisan... 4 BAB I PENDAHULUAN
Gambar 1.1 Jalur tektonik di Indonesia (Sumber: Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, 2015)
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak di antara pertemuan tiga lempeng tektonik yaitu lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasific. Pada
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA BADAN GEOLOGI
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA BADAN GEOLOGI JALAN DIPONEGORO NO. 57 BANDUNG 40122 JALAN JEND GATOT SUBROTO KAV. 49 JAKARTA 12950 Telepon: 022-7212834, 5228424,021-5228371
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA BADAN GEOLOGI
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA BADAN GEOLOGI JALAN DIPONEGORO NO. 57 BANDUNG 40122 JALAN JEND GATOT SUBROTO KAV. 49 JAKARTA 12950 Telepon: 022-7212834, 5228424,021-5228371
KERAGAMAN BENTUK MUKA BUMI: Proses Pembentukan, dan Dampaknya Terhadap Kehidupan
KERAGAMAN BENTUK MUKA BUMI: Proses Pembentukan, dan Dampaknya Terhadap Kehidupan 1. Proses Alam Endogen Hamparan dataran yang luas, deretan pegunungan yang menjulang tinggi, lembah-lembah dimana sungai
BAB III LANDASAN TEORI
BAB III LANDASAN TEORI A. Masyarakat Tangguh Bencana Berdasarkan PERKA BNPB Nomor 1 Tahun 2012 tentang Pedoman Umum Desa/Kelurahan Tangguh Bencana, yang dimaksud dengan Desa/Kelurahan Tangguh Bencana adalah
1.1. G. PUET SAGOE, NANGGROE ACEH DARUSSALAM
1.1. G. PUET SAGOE, NANGGROE ACEH DARUSSALAM KETERANGAN UMUM Nama Lain : Puet Sague, Puet Sagu atau Ampat Sagi Lokasi a. Geografi Puncak b. Administrasi : : 4 55,5 Lintang Utara dan 96 20 Bujur Timur Kabupaten
BAB I PENDAHULUAN. dibanding erupsi tahun 2006 dan Dari tiga episode tersebut, erupsi terbesar
BAB I PENDAHULUAN I.1. LATAR BELAKANG Pada dekade terakhir ini, Gunung Merapi mengalami erupsi setiap empat tahun sekali, yaitu tahun 2006, 2010, serta erupsi 2014 yang tidak terlalu besar dibanding erupsi
Bersama ini dengan hormat disampaikan tentang perkembangan kegiatan G. Sinabung di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara.
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA BADAN GEOLOGI JALAN DIPONEGORO NO. 57 BANDUNG 40122 JALAN JEND. GATOT SUBROTO KAV. 49 JAKARTA 12950 Telepon: 022-7212834, 5228424, 021-5228371
1. Kebakaran. 2. Kekeringan
1. Kebakaran Salah satunya kebakaran hutan adalah bentuk kebakaran yang tidak dapat terkendali dan seringkali terjadi di daerah hutan belantara. Penyebab umum hal ini seperti petir, kecerobohan manusia,
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kondisi geografis Indonesia terletak pada busur vulkanik Circum Pacific and
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kondisi geografis Indonesia terletak pada busur vulkanik Circum Pacific and Trans Asiatic Volcanic Belt dengan jajaran pegunungan yang cukup banyak dimana 129 gunungapi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gunungapi Merapi merupakan jenis gunungapi tipe strato dengan ketinggian 2.980 mdpal. Gunungapi ini merupakan salah satu gunungapi yang masih aktif di Indonesia. Aktivitas
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Gambar 1.1 Gambar 1.1 Peta sebaran gunungapi aktif di Indonesia (dokumen USGS).
xvi BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia memiliki gunungapi terbanyak di dunia yaitu berkisar 129 gunungapi aktif (Gambar 1.1) atau sekitar 15 % dari seluruh gunungapi yang ada di bumi. Meskipun
Definisi dan Jenis Bencana
Definisi dan Jenis Bencana Definisi Bencana Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana menyebutkan definisi bencana sebagai berikut: Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia memiliki karakteristik bencana yang kompleks, karena terletak pada tiga lempengan aktif yaitu lempeng Euro-Asia di bagian utara, Indo-Australia di bagian
STANDAR KOMPETENSI. kehidupan manusia. 1.Mendeskripsikan keragaman bentuk muka bumi, proses pembentukan dan dampaknya terhadap kehidupan.
STANDAR KOMPETENSI Memahami Lingkungan kehidupan manusia. 1.Mendeskripsikan keragaman bentuk muka bumi, proses pembentukan dan dampaknya terhadap kehidupan. INDIKATOR : I. Mendeskripsikan proses alam endogen
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sumatera Utara secara geografis terletak pada 1ºLintang Utara - 4º Lintang Utara dan 98 Bujur Timur Bujur
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sumatera Utara secara geografis terletak pada 1ºLintang Utara - 4º Lintang Utara dan 98 Bujur Timur - 100 Bujur Timur. Provinsi Sumatera memiliki luas total sebesar
GUNUNG BERAPI! CERITA TENTANG PERAN MASYARAKAT DESA SAAT MENGHADAPI BENCANA LETUSAN GUNUNG BERAPI
! CERITA TENTANG PERAN MASYARAKAT DESA SAAT MENGHADAPI BENCANA LETUSAN Dibuat oleh Yayasan IDEP dengan dukungan dari BAKORNAS PBP, CRS, MPBI, UNESCO, USAID & Masyarakat Indonesia Buku cerita ini adalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki lebih dari 17.000 pulau. Indonesia terletak diantara 2 benua yaitu benua asia dan benua australia
Fisika Gunung Api JENIS SKALA DAN FREKUENSI LETUSAN
Fisika Gunung Api JENIS SKALA DAN FREKUENSI LETUSAN PENDAHULUAN Erupsi dari gunungapi memperlihatkan berbagai macam karakter, seperti : Tipe Erupsi Produk yang dihasilkan Endapan Piroklastik, Aliran Lava
BAB I PENDAHULUAN. Istimewa Yogyakarta merupakan gunung paling aktif di dunia. Gunung Merapi
1 BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Gunung Merapi yang berada di Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan gunung paling aktif di dunia. Gunung Merapi memiliki interval waktu erupsi
Gunungapi (Volcano)* Pokok Bahasan. Pendahuluan
Pokok Bahasan Gunungapi (Volcano)* Dr. Hendra Grandis Kelompok Keilmuan Geofisika Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB Pusat Mitigasi Bencana ITB *disarikan dari berbagai sumber Pendahuluan
GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 11 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PENETAPAN STATUS POTENSI BENCANA
GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 11 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PENETAPAN POTENSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA,
BAB III LANDASAN TEORI
BAB III LANDASAN TEORI A. Pengertian Bencana Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bencana mempunyai arti sesuatu yang menyebabkan atau menimbulkan kesusahan, kerugian atau penderitaan. Sedangkan bencana
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara kepulauan. Menurut Bakosurtanal, pulau di
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia adalah negara kepulauan. Menurut Bakosurtanal, pulau di Indonesia yang terdata dan memiliki koordinat berjumlah 13.466 pulau. Selain negara kepulauan, Indonesia
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Letusan Gunung Merapi pada tanggal 26 Oktober sampai 5 Nopember
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Letusan Gunung Merapi pada tanggal 26 Oktober sampai 5 Nopember 2010 tercatat sebagai bencana terbesar selama periode 100 tahun terakhir siklus gunung berapi teraktif
BAB I PENDAHULUAN. faktor alam dan non alam yang mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bencana merupakan peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan oleh faktor alam dan non alam
4.12. G. ROKATENDA, Nusa Tenggara Timur
4.12. G. ROKATENDA, Nusa Tenggara Timur Puncak G. Rokatenda dilihat dari laut arah selatan P. Palue (Agustus 2008) KETERANGAN UMUM Nama : G. Rokatenda Nama Kawah : Ada dua buah kawah dan tiga buah kubah
BAB I PENDAHULUAN. terbanyak di dunia dengan 400 gunung berapi, terdapat sekitar 192 buah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Negara Indonesia merupakan salah satu negara dengan gunung berapi terbanyak di dunia dengan 400 gunung berapi, terdapat sekitar 192 buah gunung berapi yang masih aktif
Tipe Gunungapi Komposit (Strato( Strato) Sifat Gunungapi Tipe Strato
Tipe Gunungapi Komposit (Strato( Strato) MacDonald (1972) G. Merapi, 16 Juni 2006 Morofologi lereng berundak, kerucut simetri dan tubuh besar dapat setinggi 3 km, jenis gunungapi terindah Tubuhnya tersusun
BAB I PENDAHULUAN. bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Mitigasi bencana merupakan serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara kepulauan yang mempunyai letak sangat strategis, karena terletak di antara dua benua yaitu Asia dan Australia dan juga terletak
BENCANA GERAKAN TANAH DI INDONESIA
BENCANA GERAKAN TANAH DI INDONESIA Disampaikan pada Workshop Mitigasi dan Penanganan Gerakan Tanah di Indonesia 24 Januari 2008 oleh: Gatot M Soedradjat PUSAT VULKANOLOGI DAN MITIGASI BENCANA GEOLOGI Jln.
Oleh: Dr. Darsiharjo, M.S.
Oleh: Dr. Darsiharjo, M.S. SEMINAR NASIONAL PENGEMBANGAN MODEL PENDIDIKAN DAN PENYADARAN MASYARAKAT TERHADAP BAHAYA BENCANA GEMPA DAN TSUNAMI TANGGAL 20 APRIL 2005 G e o g r a f i KAJIAN GEOGRAFI Fenomena
BAB II DISASTER MAP. 2.1 Pengertian bencana
BAB II DISASTER MAP 2.1 Pengertian bencana Menurut UU No. 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana, yang dimaksud dengan bencana (disaster) adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam
BAB 1 PENDAHULUAN. bencana disebabkan oleh faktor alam, non alam, dan manusia. Undang- bencana alam, bencana nonalam, dan bencana sosial.
BAB 1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan menggaunggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor non-alam maupun
MITIGASI BENCANA ALAM II. Tujuan Pembelajaran
K-13 Kelas X Geografi MITIGASI BENCANA ALAM II Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan mempunyai kemampuan sebagai berikut. 1. Memahami banjir. 2. Memahami gelombang pasang.
Bersama ini dengan hormat disampaikan tentang perkembangan kegiatan G. Kelud di Kabupaten Kediri, Blitar dan Malang, Provinsi Jawa Timur.
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA BADAN GEOLOGI JALAN DIPONEGORO NO. 57 BANDUNG 40122 JALAN JEND. GATOT SUBROTO KAV. 49 JAKARTA 12950 Telepon: 022-7212834, 5228424, 021-5228371
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Erupsi Gunung Merapi tahun 2010 yang lalu adalah letusan terbesar jika dibandingkan dengan erupsi terbesar Gunung Merapi yang pernah ada dalam sejarah yaitu tahun 1872.
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA BADAN GEOLOGI
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA BADAN GEOLOGI JALAN DIPONEGORO NO. 57 BANDUNG 40122 JALAN JEND. GATOT SUBROTO KAV.49 JAKARTA 12950 Telepon: 022-7212834, 5228424 021-5228371
6.padang lava Merupakan wilayah endapan lava hasil aktivitas erupsi gunungapi. Biasanya terdapat pada lereng atas gunungapi.
BENTUK LAHAN ASAL VULKANIK 1.Dike Terbentuk oleh magma yang menerobos strata batuan sedimen dengan bentuk dinding-dinding magma yang membeku di bawah kulit bumi, kemudian muncul di permukaan bumi karena
BAB I PENDAHULUAN. Gunung Kelud merupakan salah satu gunung api aktif yang ada di
1 BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Gunung Kelud merupakan salah satu gunung api aktif yang ada di Indonesia, yaitu berada di perbatasan Kabupaten Kediri, Kabupaten Malang, dan Kabupaten Blitar, Provinsi
Definisi Vulkanisme. Vulkanisme
VULKANISME Definisi Vulkanisme Vulkanisme Semua gejala di dalam bumi sebagai akibat adanya aktivitas magma disebut vulkanisme. Gerakan magma itu terjadi karena magma mengandung gas yang merupakan sumber
BAB I PENDAHULUAN. mengakibatkan terjadinya kerusakan dan kehancuran lingkungan yang pada akhirnya
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan wilayah yang rawan terhadap berbagai jenis bencana, termasuk bencana alam. Bencana alam merupakan fenomena alam yang dapat mengakibatkan terjadinya
UJI KOMPETENSI SEMESTER I. Berilah tanda silang (x) pada huruf a, b, c, atau d yang merupakan jawaban paling tepat!
UJI KOMPETENSI SEMESTER I Latihan 1 Berilah tanda silang (x) pada huruf a, b, c, atau d yang merupakan jawaban paling tepat! 1. Bencana alam yang banyak disebabkan oleh perbuatan manusia yang tidak bertanggung
DANAU SEGARA ANAK. Gambar 1. Lokasi Danau Segara Anak di Pulau Lombok. Gambar 2. Panorama Danau Segara Anak Rinjani dengan kerucut Gunung Barujari.
DANAU SEGARA ANAK Danau Segara Anak adalah danau kawah (crater lake) Gunung Rinjani yang berada di Desa Sembalun Lawang, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara
TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN BERBASIS MITIGASI BENCANA
TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN PERTEMUAN 13 PERENCANAAN TATA RUANG BERBASIS MITIGASI BENCANA GEOLOGI 1. Pendahuluan Perencanaan tataguna lahan berbasis mitigasi bencana geologi dimaksudkan untuk mengantisipasi
BAB I PENDAHULUAN. kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis. Bencana
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bencana merupakan suatu peristiwa yang tidak dapat diprediksi kapan terjadinya dan dapat menimbulkan korban luka maupun jiwa, serta mengakibatkan kerusakan dan
MEMAHAMI PERINGATAN DINI TSUNAMI
MEMAHAMI PERINGATAN DINI TSUNAMI TSUNAMI ADALAH... Ÿ Serangkaian gelombang laut yang sangat besar, akibat dari gempa bumi yang sangat kuat bersumber di laut. Ÿ Gempa bumi membuat perubahan mendadak pada
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penelitian Menurut Schieferdecker (1959) maar adalah suatu cekungan yang umumnya terisi air, berdiameter mencapai 2 km, dan dikelilingi oleh endapan hasil letusannya.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia adalah salah satu negara yang sangat rentan akan bencana, diantaranya bencana letusan gunungapi, tsunami, gempa bumi dan sebagainya. Bencana tidak
BAB I PENDAHULUAN. merupakan bencana banjir dan longsor (Fadli, 2009). Indonesia yang berada di
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Bencana longsor merupakan salah satu bencana alam yang sering terjadi di Indonesia. Potensi longsor di Indonesia sejak tahun 1998 hingga pertengahan 2008, tercatat
BAB III METODA PENELITIAN
44 BAB III METODA PENELITIAN 3.1. Metoda Pembacaan Rekaman Gelombang gempa Metode geofisika yang digunakan adalah metode pembacaan rekaman gelombang gempa. Metode ini merupakaan pembacaan dari alat yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang, Bendung Krapyak berada di Dusun Krapyak, Desa Seloboro, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Secara geografis terletak pada posisi 7 36 33 Lintang Selatan
PENDAHULUAN Latar Belakang
1 PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang terletak pada zona rawan bencana. Posisi geografis kepulauan Indonesia yang sangat unik menyebabkan Indonesia termasuk daerah yang
