SELAYANG PANDANG BPDAS CITACILI
|
|
|
- Ida Oesman
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 SELAYANG PANDANG BPDAS CITACILI Kegiatan Penghijauan Daerah Aliran Sungai (DAS) sudah di mulai sejak tahun an dengan Dana Inpres (Instruksi Presiden). Institusi yang menangani bernama Proyek Perencanaan Pembinaan Reboisasi Penghijauan Daerah Aliran Sungai (P3RP DAS) dengan slogan Penyelamatan Hutan, Tanah dan Air. Seiring dengan arah perkembangan pemerintahan nama institusi tersebut mengalami perubahan-perubahan, mulai di bawah Departemen Pertanian sampai di bawah Departemen Kehutanan (tahun 1983), dan terakhir tahun 2002 namanya menjadi Balai Pengelolaan DAS Citarum Ciliwung. Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BP-DAS) Citarum-Ciliwung merupakan penyempurnaan organisasi dan tata hubungan kerja Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah (RLKT) Citarum-Ciliwung. Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Citarum-Ciliwung yang dibentuk berdasarkan SK Menhut No. 665/Kpts- II/2002 tanggal 7 Maret 2002 dan disempurnakan kembali melalui Permenhut No. P.15/Menhut-II/2007 merupakan upaya perwujudan dalam rangka pengembangan pengelolaan DAS untuk menuju terwujudnya daya guna dan hasil guna pengelolaan DAS yang didasarkan atas prinsip koordinasi, integrasi dan sinkronisasi. Penyempurnaan organisasi dan tata kerja tersebut membawa konsekuensi pada pengembangan tugas pokok dan fungsi yang harus dilaksanakan oleh BPDAS Citarum-Ciliwung sehingga peranannya akan lebih terasa, baik dalam menyajikan data dan informasi mengenai perencanaan pengelolaan DAS, pengembangan kelembagaan dan kemitraan pengelolaan DAS maupun pemantauan dan evaluasi pengelolaan DAS. Pembangunan kehutanan sebagai bagian internal dari pembangunan nasional mengacu kepada prinsip pendayagunaan sumber daya alam yang dilakukan secara terencana, rasional dan optimal, bertanggungjawab dan sesuai dengan kemampuan daya dukung lahannya untuk memberi manfaat sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dengan tetap memperhatikan aspek kelestarian fungsi dan keseimbangan lingkungan hidup bagi pembangunan nasional. Pembangunan kehutanan tidak saja ditekankan pada aspek perolehan manfaat ekonomi, tetapi juga memberikan perhatian yang besar terhadap kelestarian lingkungan, konservasi fisik, tata air, tanah dan biota (flora dan fauna) serta meningkatkan peran serta masyarakat dan pemerintah daerah dalam menyusun kebijaksanaannya. Amanat tersebut membawa implikasi bahwa pembangunan kehutanan harus dapat memberi manfaat kepada banyak pihak secara adil dan merata. Dalam upaya pelestarian sumber daya alam, program pembangunan kehutanan di bidang rehabilitasi lahan dan perhutanan sosial yang telah dilaksanakan sampai saat ini erat kaitannya dengan konservasi tanah dan lahan serta pengembangan pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS). Tujuan terpenting dari program ini adalah untuk memulihkan kondisi lahan kritis sehingga mampu berfungsi sebagai lahan yang berproduksi maupun sebagai penyangga sistem kehidupan. Program-program ini dijabarkan ke dalam kegiatan/proyek pembangunan di bidang kehutanan yang
2 didanai oleh Dana Reboisasi (DR), Dana Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dan atau dana yang lainnya. Visi, Misi dan Tupoksi Visi BPDAS Citarum-Ciliwung adalah menjadi yang Terdepan Dalam Penyajian Data dan Informasi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Misi BPDAS Citarum-CIliwung adalah sebagai berikut : a. Memantapkan data dan informasi pengelolaan DAS melalui penyusunan rencana, pengembangan model, kelembagaan dan kemitraan serta pemantauan dan evaluasi b. Mengembangkan kelembagaan dan kemitraan Pengelolaan DAS c. Mengembangkan system penyusunan serta penyajian data dan informasi d. Meningkatkan kualitas pelayanan data dan informasi pengelolaan DAS Tugas Pokok BPDAS Citarum-Ciliwung adalah melaksanakan Penyusunan Rencana, Pengembangan Kelembagaan dan Evaluasi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Dalam melaksanakan tugasnya, Balai Pengelolaan DAS Citarum-Ciliwung menyelenggarakan fungsi sebagai berikut : 1. Penyusunan Rencana pengelolaan Daerah Aliran Sungai 2. Penyusunan dan Penyajian Informasi Daerah Aliran Sungai 3. Pengembangna model, Pengelolaan Daerah Aliran Sungai 4. Pengembangan Kelembagaan dan Kemitraan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai 5. Pemantauan dan Evaluasi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai 6. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Balai Wilayah Kerja Berdasarkan wilayah Administrasi meliputi: a. Propinsi Banten meliputi 4 Kabupaten dan 4 kota yaitu: Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Kota Cilegon dan Kota Serang; b. Propinsi Jawa Barat meliputi 9 Kabupaten dan 6 Kota yaitu: Kabupaten Bandung, Kab. Bandung Barat, Kab. Subang, Kab. Purwakarta, Kab, Karawang, Kab. Cianjur, Kab. Sukabumi,Kab. Bogor, Kab. Bekasi, Kota Bandung, Kota Cimahi, Kota Bogor, Kota Sukabumi, Kota Bekasi dan Kota Depok; c. Propinsi DKI Jakarta meliputi 5 Kota dan 1 Kabupaten Administratif yaitu: Kota Jakarta Pusat, Kota Jakarta Barat, Kota Jakarta Utara, Kota Jakarta Timur, Kota Jakarta Selatan dan Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu. d. Terdapat wilayah yang secara administrasi masuk sebagian ke wilayah kerja BPDAS Citarum-Ciliwung yaitu: Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Indramayu. Tetapi secara pelayanan dikaitkan dengan kegiatan dan anggaran,tidak termasuk kedalam wilayah BPDAS Citarum-Ciliwung tetapi masuk dalam wilayah BPDAS Cimanuk-Citanduy.
3 Berdasarkan Wilayah topografi Daerah Aliran Sungai meliputi; a. Satuan Wilayah Pengelolaan DAS (SWP DAS) Ciliwung-Cisadane-Cimandiri seluas ,37 Ha yang meliputi 23 DAS diantaranya 10 DAS termasuk prioritas I, II dan III yaitu: Ciliwung, Cisadane, Cimandiri, Cikaso, Ciletuh,, Cidurian, Cimanceuri, Kali Angke, Kali Bekasi dan Kali Sunter; b. Satuan Wilayah Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (SWP DAS) Citarum seluas ,30 Ha yang meliputi 21 DAS, dengan 7 DAS prioritas yaitu: : Citarum, Cipunagara, Ciasem, Cibuni, Cilamaya, Cisadea dan Cilaki; c. Satuan Wilayah Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (SWP DAS) Ciujung seluas ,61 Ha yang meliputi 47 DAS dengan 7 DAS prioritas yaitu : Ciujung, Cidanau, Cibanten, Ciliman, Cibaliung, Cibungur dan Cimadur. Secara terinci seluruh DAS di BPDAS Citarum-Ciliwung berdasarkan SWP DAS juga urutan berdasarkan Prioritas disajikan pada tabel berikut : Tabel 1. SWP DAS Ciliwung-Cisadane-Cimandiri No SWP_DAS Nama DAS Kelas Prioritas Luas (m2) Luas (ha) 1 CILIWUNG CISADANE CIDURIAN II , ,11 CIMANDIRI CIKARANG Non Prioritas , ,71 CIKASO II , ,90 CILELEUS Non Prioritas , ,51 CILETUH III , ,10 CILIWUNG I , ,12 CIMAJA Non Prioritas , ,14 CIMANCEURI II , ,18 CIMANDIRI II , ,66 CIMARINJUNG Non Prioritas , ,55 CIPAMARANGAN Non Prioritas , ,82 CIPASILIAN Non Prioritas , ,56 CIRARAB Non Prioritas , ,95 CISADANE I , ,91 CISOLOK Non Prioritas , ,09 CISUKAWAYANA Non Prioritas , ,79 CITEPUS Non Prioritas , ,60 K. ANGKE PESANGGRAHAN I , ,36 K. BEKASI I , ,53 K. BUARAN Non Prioritas , ,76 K. CAKUNG Non Prioritas , ,77 K. KRUKUT Non Prioritas , ,12 K. SUNTER I , ,12 Jumlah : , ,37 Tabel 2. SWP DAS Citarum No SWP_DAS Nama DAS Kelas Prioritas Luas (m2) Luas (ha) 2 CITARUM CIASEM II , ,38 CIBULAN-BULAN Non Prioritas , ,68 CIBUNI II , ,24 CIDAMAR Non Prioritas , ,07 CIDEREWAK Non Prioritas , ,89 CILAKI II , ,65 CILAMAYA II , ,41 CIPANDAK Non Prioritas , ,52 CIPEPETAN Non Prioritas , ,34 CIPUNAGARA I , ,41 CISADEA II , ,49 CISELANG Non Prioritas , ,94 CISOGA Non Prioritas , ,40 CISOKAN Non Prioritas , ,11 CITARUM I , ,11 CIUJUNG (CIANJUR) Non Prioritas , ,03 CIWADAS Non Prioritas , ,33 K. BATANGLEUTIK Non Prioritas , ,99 K. BLANAKAN Non Prioritas , ,12 K. KAMAL Non Prioritas , ,15 K. SEWO Non Prioritas , ,06 Jumlah : , ,30
4 Tabel 3. SWP DAS Ciujung Teluk Lada No SWP_DAS Nama DAS Kelas Prioritas Luas (m2) Luas (ha) 3 CIUJUNG CIANYAR Non Prioritas , ,03 CIBALIUNG II , ,49 CIBAMA Non Prioritas , ,89 CIBANTEN II , ,39 CIBANUA Non Prioritas , ,95 CIBAREO Non Prioritas , ,31 CIBUNGUR II , ,88 CICAMARA Non Prioritas , ,41 CIDANO II , ,98 CIGEBLAG Non Prioritas , ,61 CIHARA Non Prioritas , ,88 CIHONJE Non Prioritas , ,71 CIJARALANG Non Prioritas , ,60 CIJEGOG Non Prioritas , ,42 CIKADUBULUH Non Prioritas , ,82 CIKALICAAH Non Prioritas , ,29 CIKAWUNG Non Prioritas , ,11 CIKONENG Non Prioritas , ,21 CILANGKAHAN Non Prioritas , ,48 CILATAK Non Prioritas , ,39 CILETUK Non Prioritas , ,34 CILIMAN II , ,02 CIMADUR II , ,78 CIMANTIYUNG Non Prioritas , ,78 CIMOKJA Non Prioritas , ,18 CINANGKA Non Prioritas , ,44 CIPAGER Non Prioritas , ,34 CIPATUJAH Non Prioritas , ,30 CIPETEY Non Prioritas , ,25 CIPUNTENAGUNG Non Prioritas , ,05 CIRAGAS Non Prioritas , ,20 CISAWARNA Non Prioritas , ,68 CISEUKEUT Non Prioritas , ,23 CISEULEUDEUNGEN Non Prioritas , ,79 CISIIH Non Prioritas , ,29 CISIRIH Non Prioritas , ,64 CITAWING Non Prioritas , ,82 CITEUREUP Non Prioritas , ,74 CIUJUNG (BANTEN) I , ,89 CIWAKA Non Prioritas , ,17 K. GEDONG Non Prioritas , ,73 K. GROGOL Non Prioritas , ,18 K. KEDUNGINGAS Non Prioritas , ,47 K. LANGON Non Prioritas , ,50 K. PASAURAN Non Prioritas , ,05 P. PANAITAN Non Prioritas , ,79 UJUNG KULON Non Prioritas , ,11 Jumlah : , ,61
5 Penggunaan dan Penutupan Lahan Penggunaan lahan di wilayah kerja BPDAS Citarum-Ciliwung terdiri atas lahan yang berada di dalam kawasan hutan dan di luar kawasan hutan. Sebagian besar lahan yang berada di bawah pengelolaan BPDAS Citarum-Ciliwung berada di luar kawasan hutan dan sebagian kecil berada di dalam kawasan. Wilayah kerja BPDAS Citarum-Ciliwung yang memiliki penggunaan lahan di dalam kawasan dengan fungsi hutan produksi, hutan lindung dan hutan konservasi adalah sebagai berikut : 1. Kab. Bandung 2. Kab. Bandung Barat 3. Kab. Purwakarta 4. Kab. Subang 5. Kab. Bogor 6. Kab. Cianjur 7. Kab. Sukabumi 8. Kab. Pandeglang 9. Kab. Lebak 10. Kab. Adm. Kepulauan Seribu 11. Terdapat (empat) Taman Nasional yaitu Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan Taman Nasional Gunung Halimun Salak Taman Nasional Ujung Kulon dan Taman Nasional Kepulauan Seribu disamping kawasan konservasi lainnya. Sedangkan wilayah kerja BP DAS Citarum-Ciliwung yang hanya memiliki kewenangan pengelolaan lahan di luar kawasan hutan adalah sebagai berikut : 1. Kota Bandung 2. Kota Cimahi 3. Kota Depok 4. Kota Bekasi 5. Kota Bogor 6. Kota Sukabumi 7. Kota Serang 8. Kota Cilegon 9. Kota Tangerang 10. Kota Tangerang Selatan 11. Kota Jakarta Utara 12. Kota Jakarta Selatan 13. Kota Jakarta Timur 14. Kota Jakarta Barat 15. Kota Jakarta Pusat Kekritisan Lahan/DAS Total luas lahan kritis (total jumlah lahan yang masuk kategori agak kritis, kritis, potensial kritis, sangat kritis dan tidak kritis) yang berada di wilayah kerja BP DAS Citarum-Ciliwung adalah sekitar ,24 hektar. Luas lahan di luar kawasan hutan (sekitar ,24 hektar) lebih luas dibandingkan dengan luas lahan di
6 dalam kawasan hutan (sekitar hektar). Untuk lahan yang berada di wilayah kerja terdiri atas lahan yang sangat kritis sekitar ,16 hektar, kritis ,51 hektar, agak kritis sekitar ,18 hektar dan potensial kritis sekitar ,29 hektar (data berdasarkan hasil review lahan kritis tahun 2009). Pembangunan Kehutanan Bidang RLPS/ BPDAS PS Kegiatan pembangunan kehutanan bidang RLPS/ BPDAS PS yang dilaksanakan oleh BPDAS Citarum-Ciliwung dan yang dilaksanakan oleh Dinas/ Instansi/ Satker yang mengurusi kehutanan Kabupaten/ Kota, UPT Kementerian Kehutanan dan BUMN Kementerian Kehutanan (Perhutani) lingkup wilayah kerja BPDAS Citarum-Ciliwung pada umumnya dibedakan menjadi 2, yaitu kegiatan yang dilaksanakan di luar kawasan hutan dan di dalam kawasan hutan. Jenis kegiatan yang diimplementasikan di dalam kawasan hutan di laksanakan oleh Perhutani, Taman Nasional dan BKSDA, di antaranya sebagai berikut : 1. Reboisasi dan Rehabilitasi hutan produksi, hutan lindung dan hutan konservasi 2. Hutan kemasyarakatan 3. Rehabilitasi hutan mangrove 4. UP UPSA 5. Pengembangan hasil hutan bukan kayu hanya pengembangan budidaya rotan, dan lebah madu 6. dan lain-lain Jenis kegiatan yang dilaksanakan di luar kawasan hutan dilaksanakan oleh BPDAS Citarum-Ciliwung dan Dinas/ Instansi/ Satker yang mengurusi kehutanan Kabupaten/ Kota di wilayah kerja BPDAS Citarum-Ciliwung, diantaranya adalah sebagai berikut : 1. Hutan Rakyat 2. Tanaman kanan kiri sungai 3. Tanaman turus jalan 4. Hutan kota 5. Penghijauan lingkungan 6. Hutan mangrove 7. Hutan pantai 8. Pengembangan hasil hutan bukan kayu, berupa wanatani, wanafarma, jarak pagar, persuteraan alam, perlebahan, dam pengendali, dam penahan, sumur resapan, embung air dan gully plug. 9. Penanaman kanan kiri jalan 10. Rehabilitasi sumber mata air 11. Kelembagaan yang terdiri dari kelompok tani, LSM dan forum-forum DAS. 12. Kebun Bibit Rakyat 13. dan lain-lain
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Maksud Dan Tujuan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Balai Pengelolaan DAS Citarum-Ciliwung sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) pusat Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial di daerah mempunyai kewenangan
KATA PENGANTAR. Harapan kami semoga buku Statistik Pembangunan ini dapat bermanfaat. Bogor, Maret 2009 KEPALA BALAI
KATA PENGANTAR Buku Statistik Pembangunan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Citarum-Ciliwung Tahun 2008 merupakan penerbitan lanjutan tahun-tahun sebelumnya. Dengan adanya kesinambungan penerbitan,
DEPARTEMEN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL REHABILITASI LAHAN DAN PERHUTANAN SOSIAL
DEPARTEMEN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL REHABILITASI LAHAN DAN PERHUTANAN SOSIAL STATISTIK PEMBANGUNAN BALAI PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI SAMPEAN MADURA TAHUN 2007 Bondowoso, Januari 2008 BALAI PENGELOLAAN
Tabel 4.1. Perkembangan Luas Lahan Kritis di Luar Kawasan Hutan Per Kabupaten di Provinsi Jawa Barat Tahun 2003 s/d 2005
Tabel 4.1. Perkembangan Luas Lahan Kritis di Luar Kawasan Hutan Per Kabupaten di Provinsi Jawa Barat s/d 2005 Luas (Ha) No Kabupaten/Kota 2005 1 Bogor 20.042,60 12.140,00 26.349,46 2 Sukabumi 37.155,48
Perkembangan Jumlah Pegawai Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Barat Berdasarkan Status Kepegawaian Tahun Dinas Kehutanan Propinsi
Tabel 5.1. Perkembangan Jumlah Pegawai Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Barat Berdasarkan Status Kepegawaian Tahun 2005 No Status Pegawai Dinas Kehutanan Propinsi BP3HH Cirebon Balai Tahura Ir. H. Djuanda
KATA PENGANTAR. Demikian, semoga buku stasistik ini bermanfaat. Mamuju, Januari 2009 KEPALA BALAI, Ir.Abdul Rachman, MBA NIP.
KATA PENGANTAR Buku Statistik Balai Pengelolaan Daerah aliran Sungai Lariang Mamasa Tahun 2008 ini secara garis besar memuat informasi dan data tentang visi,misi,tugas pokok dan fungsi, kondisi wilayah
DEPARTEMEN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL REHABILITASI LAHAN DAN PERHUTANAN SOSIAL
DEPARTEMEN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL REHABILITASI LAHAN DAN PERHUTANAN SOSIAL STATISTIK PEMBANGUNAN BALAI PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI REMU RANSIKI TAHUN 2008 Manokwari, Mei 2008 BALAI PENGELOLAAN
U R A I A N BELANJA BELANJA TIDAK LANGSUNG 66,749,438, BELANJA LANGSUNG 321,706,465,000.00
Urusan Pemerintahan Organisasi : : 1.03 URUSAN WAJIB Pekerjaan Umum 1.03.02 Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air KODE 00 00 5 00 00 5 1 00 00 5 1 1 BELANJA BELANJA TIDAK LANGSUNG 66,79,38,559.00 Belanja Pegawai
STATISTIK PEMBANGUNAN BALAI PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI (BPDAS) AKE MALAMO
DEPARTEMEN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL REHABILITASI LAHAN DAN PERHUTANAN SOSIAL BALAI PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI AKE MALAMO Jl. Kompleks Barito Pacifik, Kalumata Puncak, Ternate Maluku Utara Telp.
DAFTAR PERATURAN Versi 31 Agustus 2012
I. UNDANG-UNDANG DAFTAR PERATURAN Versi 31 Agustus 2012 1. Undang-undang Republik Indonesia No.8 Tahun 1981 Tentang Kitab Hukum Undang-undang Acara Pidana (KUHP) 2. Undang-undang Republik Indonesia No.5
PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P.51/Menhut-II/2008 TENTANG
PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P.51/Menhut-II/2008 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR P.21/Menhut-V/2007 TENTANG PENYELENGGARAAN KEGIATAN GERAKAN NASIONAL REHABILITASI
LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN
PROGRAM DAN KEGIATAN DINAS LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN PROVINSI BANTEN BELANJA LANGSUNG APBD TAHUN ANGGARAN 2017 STATISTIK (DATA) Otda, pemerintahan umum, Adm keuangan daerah, Perangkat daerah, Kepegawaian
U R A I A N JUMLAH PENDAPATAN 10,000, BELANJA BELANJA TIDAK LANGSUNG 48,960,360, BELANJA LANGSUNG 200,545,530,896.00
Urusan Pemerintahan Organisasi : : 1.03 URUSAN WAJIB Pekerjaan Umum 1.03.02 Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air KODE 00 00 PENDAPATAN DAERAH 00 00 1 PENDAPATAN ASLI DAERAH 10,000,000.00 00 00 1 2 Retribusi
BAGIAN KEEMPAT PETUNJUK PELAKSANAAN PELAPORAN GN RHL/GERHAN BAB I PENDAHULUAN
LAMPIRAN II. PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P.03/MENHUT-V/2004 /KPTS-V/2004 TANGGAL : 22 JULI 2004 BAGIAN KEEMPAT PETUNJUK PELAKSANAAN PELAPORAN GN RHL/GERHAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Laporan
Judul Artikel PENGELOLAAN DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA AIR DI KABUPATEN SERANG. Di tulis oleh: Subki, ST
Judul Artikel PENGELOLAAN DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA AIR DI KABUPATEN SERANG Di tulis oleh: Subki, ST Disampaikan kepada: Tim redaktur/pengelola website DLHK Provinsi Banten Kawasan pusat pemerintahan
BAB II PERENCANAAN STRATEGIS
BAB II PERENCANAAN STRATEGIS 2.1 Rencana Strategis Tahun 2013-2018 Rencana Stategis Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013-2018 mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR P.35/MENLHK/SETJEN/KUM.1/5/2017 TENTANG PELIMPAHAN SEBAGIAN KEWENANGAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN SEBAGAI PENGGUNA
BAB 2 Perencanaan Kinerja
BAB 2 Perencanaan Kinerja 2.1 Rencana Strategis Tahun 2013-2018 Rencana Stategis Dinas Kean Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013-2018 mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi
PENDAHULUAN Latar Belakang
1 PENDAHULUAN Latar Belakang Pengelolaan DAS di Indonesia telah dimulai sejak tahun 70-an yang diimplementasikan dalam bentuk proyek reboisasi - penghijauan dan rehabilitasi hutan - lahan kritis. Proyek
LAPORAN STATISTIK TAHUN 2015
LAPORAN STATISTIK TAHUN 2015 KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA BALAI PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI REMU RANSIKI PAPUA BARAT i Statistik-2015 Balai Pengelolaan Daerah Aliran
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA HASIL PEMERIKSAAN SEMESTER II TAHUN ANGGARAN (TA) 2007 ATAS KEGIATAN REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN (RHL)
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA HASIL PEMERIKSAAN SEMESTER II TAHUN ANGGARAN (TA) 2007 ATAS KEGIATAN REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN (RHL) DI PROVINSI JAWA BARAT AUDITORAT UTAMA KEUANGAN NEGARA
Disampaikan Oleh : Ir. Muhajir, MS Kepal Balai Pengelolaan DASHL Jeneberang Saddang
Disampaikan Oleh : Ir. Muhajir, MS Kepal Balai Pengelolaan DASHL Jeneberang Saddang Makasar, 25 Januari 2017 PENDAHULUAN PERPRES NO. 16 TAHUN 2015 Tentang Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Inspektorat
Bab III Studi Kasus. Daerah Aliran Sungai Citarum
Bab III Studi Kasus III.1 Daerah Aliran Sungai Citarum Sungai Citarum dengan panjang sungai 78,21 km, merupakan sungai terpanjang di Propinsi Jawa Barat, dan merupakan salah satu yang terpanjang di Pulau
DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) DAN WILAYAH SUNGAI (WS) DI PROVINSI BANTEN Oleh:
DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) DAN WILAYAH SUNGAI (WS) DI PROVINSI BANTEN Oleh: R.D Ambarwati, ST.MT. Istilah Daerah Aliran Sungai (DAS) banyak digunakan oleh beberapa ahli dengan makna atau pengertian yang
Hilangnya Fungsi Kawasan Lindung di Puncak Bogor
LEMBAR FAKTA FOREST WATCH INDONESIA Hilangnya Fungsi Kawasan Lindung di Puncak Bogor Kawasan Puncak di Kabupaten Bogor memegang peranan yang sangat vital bagi banyak daerah yang berada di bawahnya. Seluruh
BAB I PENDAHULUAN. Selain isu kerusakan hutan, yang santer terdengar akhir - akhir ini adalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Selain isu kerusakan hutan, yang santer terdengar akhir - akhir ini adalah degradasi Daerah Aliran Sungai (DAS) berupa : lahan kritis, lahan gundul, erosi pada lereng-lereng
MODAL DASAR PD.BPR/PD.PK HASIL KONSOLIDISASI ATAU MERGER
LAMPIRAN I : PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR : 30 Tahun 2010 TANGGAL : 31 Desember 2010 TENTANG : PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR 14 TAHUN 2006 TENTANG PERUSAHAAN DAERAH
PENANGANAN INFRASTRUKTUR SUMBER DAYA AIR Oleh: R.D Ambarwati, ST.MT.
PENANGANAN INFRASTRUKTUR SUMBER DAYA AIR Oleh: R.D Ambarwati, ST.MT. Penanganan infrastruktur sumber daya air yang dilaksanakan di wilayah Pemerintah Provinsi Banten meliputi beberapa item kegiatan, antara
Tabel 24.1 Status Kualitas Air Sungai di Provinsi Jawa barat Tahun Frekuensi Sampling. 1 Sungai Ciliwung 6 5 memenuhi-cemar ringan
24. LINGKUNGAN HIDUP 184 Tabel 24.1 Status Kualitas Air Sungai di Provinsi Jawa barat Tahun 2010 No Nama Jumlah Titik Sampling Frekuensi Sampling Kisaran Status Mutu Air Sungai Berdasarkan KMA PP 82/2001
Dana Reboisasi: Pengertian dan pelaksanaannya
Dana Reboisasi: Pengertian dan pelaksanaannya Salam sejahtera, Kabar dari: Tim Pengelolaan Hutan Bersama No. 16, Agustus 2003. Bapak-bapak dan ibu-ibu yang berbahagia, kita berjumpa lagi dalam seri kabar
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
Lampiran : Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.25/Menhut-II/2006 Tanggal : 8 Mei 2006 Tentang : PEDOMAN PENILAIAN PELAKSANAAN GERAKAN NASIONAL REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN (GNRHL/GERHAN) TAHUN 2003 DAN
PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR : 7 TAHUN 2005 TENTANG PENGENDALIAN DAN REHABILITASI LAHAN KRITIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR : 7 TAHUN 2005 TENTANG PENGENDALIAN DAN REHABILITASI LAHAN KRITIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA BARAT, Menimbang Mengingat : a. bahwa kondisi
BAB V GAMBARAN UMUM PROPINSI JAWA BARAT. Lintang Selatan dan 104 o 48 '- 108 o 48 ' Bujur Timur, dengan luas wilayah
5.1. Kondisi Geografis BAB V GAMBARAN UMUM PROPINSI JAWA BARAT Propinsi Jawa Barat secara geografis terletak di antara 5 o 50 ' - 7 o 50 ' Lintang Selatan dan 104 o 48 '- 108 o 48 ' Bujur Timur, dengan
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.349, 2013 KEMENTERIAN KEHUTANAN. Pelimpahan Kewenangan. Sebagian. Pengguna Anggaran/Barang. Provinsi. Kepala UPT. Perubahan. PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA
BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 25 TAHUN 2013 TENTANG
BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 25 TAHUN 2013 TENTANG PEMBENTUKAN ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIT PELAKSANA TEKNIS KESATUAN PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI MODEL KOTAWARINGIN
Bab IV Alih Fungsi Lahan Pertanian dan Pengaruhnya Terhadap Ketahanan Pangan
122 Bab IV Alih Fungsi Lahan Pertanian dan Pengaruhnya Terhadap Ketahanan Pangan IV.1 Kondisi/Status Luas Lahan Sawah dan Perubahannya Lahan pertanian secara umum terdiri atas lahan kering (non sawah)
KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN Nomor : 665/Kpts-II/2002 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BALAI PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI MENTERI KEHUTANAN,
KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN Nomor : 665/Kpts-II/2002 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BALAI PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI MENTERI KEHUTANAN, Menimbang : bahwa dalam upaya pengembangan sistem rehabilitasi
DEPARTEMEN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL REHABILITASI LAHAN DAN PERHUTANAN SOSIAL STATISTIK PEMBANGUNAN
DEPARTEMEN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL REHABILITASI LAHAN DAN PERHUTANAN SOSIAL STATISTIK PEMBANGUNAN BALAI PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI MAHAKAM BERAU 2009 Samarinda, Januari 2010 BALAI PENGELOLAAN
RENCANA STRATEGIS DINAS KEHUTANAN TAHUN
PEMERINTAH KABUPATEN GARUT DINAS KEHUTANAN RUT 2011 Jl. Patriot No. O5 Tlp. (0262) 235785 Garut 44151 RENCANA STRATEGIS DINAS KEHUTANAN TAHUN 2014-2019 G a r u t, 2 0 1 4 KATA PENGANTAR Dinas Kehutanan
RENCANA STRATEGIS. Direktorat Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung. Tahun (Perubahan)
RENCANA STRATEGIS Direktorat Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Tahun 2015-2019 (Perubahan) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Direktorat Jenderal Pengendalian Daerah
PENDAHULUAN Latar Belakang
PENDAHULUAN Latar Belakang Hutan merupakan salah satu sumberdaya alam yang dapat memberikan berbagai manfaat bagi kehidupan manusia, yaitu manfaat ekologis, sosial maupun ekonomi. Tetapi dari berbagai
1.1. UMUM. Statistik BPKH Wilayah XI Jawa-Madura Tahun
1.1. UMUM 1.1.1. DASAR Balai Pemantapan Kawasan Hutan adalah Unit Pelaksana Teknis Badan Planologi Kehutanan yang dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 6188/Kpts-II/2002, Tanggal 10
Draft 18/02/2014 GUBERNUR JAWA BARAT,
Draft 18/02/2014 Gubernur Jawa Barat PERATURAN GUBERNUR JAWA BARAT NOMOR : TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN BANTUAN KEUANGAN KEPADA KABUPATEN UNTUK KEGIATAN FASILITASI DAN IMPLEMENTASI GREEN PROVINCE
RENCANA STRATEGIS
2015-2019 RENCANA STRATEGIS DIREKTORAT KONSERVASI TANAH DAN AIR DIREKTORAT KONSERVASI TANAH DAN AIR DIREKTORAT JENDERAL PENGENDALIAN DAS DAN HUTAN LINDUNG KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN Desember,
BAB I PENDAHULUAN. Menurut Undang-Undang Kehutanan Nomor 41 tahun 1999, hutan adalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menurut Undang-Undang Kehutanan Nomor 41 tahun 1999, hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan
PENDAHULUAN. Indonesia memiliki hutan mangrove yang terluas di dunia. Hutan
PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia memiliki hutan mangrove yang terluas di dunia. Hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis, yang didominasi oleh beberapa jenis pohon bakau yang mampu
URGENSI SIPD DALAM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH
URGENSI SIPD DALAM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH Cirebon, 22 Desember 2015 OUTLINE PEMBAHASAN 1 SIPD DALAM UU 23 TAHUN 2014 2 PERMENDAGRI 8/2014 TENTANG SIPD AMANAT UU 23 TAHUN 2014 Pasal 274: Perencanaan
tertuang dalam Rencana Strategis (RENSTRA) Kementerian Kehutanan Tahun , implementasi kebijakan prioritas pembangunan yang
PENDAHULUAN BAB A. Latar Belakang Pemerintah telah menetapkan bahwa pembangunan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) menjadi salah satu prioritas nasional, hal tersebut tertuang dalam Rencana Strategis (RENSTRA)
BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN
BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN Wilayah Bodetabek Sumber Daya Lahan Sumber Daya Manusia Jenis tanah Slope Curah Hujan Ketinggian Penggunaan lahan yang telah ada (Land Use Existing) Identifikasi Fisik Identifikasi
BUPATI MUSI RAWAS PERATURAN BUPATI MUSI RAWAS NOMOR 58 TAHUN 2008 T E N T A N G
BUPATI MUSI RAWAS PERATURAN BUPATI MUSI RAWAS NOMOR 58 TAHUN 2008 T E N T A N G PENJABARAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS KEHUTANAN KABUPATEN MUSI RAWAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MUSI RAWAS,
KEPUTUSAN KEPALA DINAS KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN KABUPATEN LEBAK. Nomor : 522/Kep. -Hutbun/2014 Lampiran : 1 (satu) berkas.
Renstra Dishutbun Lebak 2014-2019 P E M E R I N T A H K A B U P A T E N L E B A K DINAS KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN Jalan Siliwangi (Pasir Ona) No.3 Telp. (0252) 280 790 R A N G K A S B I T U N G 42313 KEPUTUSAN
PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR : 5 TAHUN 2008 TENTANG PENGELOLAAN AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA BARAT,
30 Juni 30 Juni 2008 2008 PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR : 5 TAHUN 2008 TENTANG PENGELOLAAN AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA BARAT, Menimbang : a. bahwa pengaturan
Citarum 1 Bandung - Citarum , , , , , ,00 Cianjur Purwakarta Karawang
Tabel I.1. Wilayah Kerja BPDAS Citarum Ciliwung Berdasarkan Batas-batas Kawasan-Baplan/Tata Ruang Tahun 2008 Dalam Kawasan Hutan Propinsi DAS Hutan Lebat Hutan Tanaman Hutan Sekunder Taman Nasional Lainnya
Pelayanan Terbaik Menuju Hutan Lestari untuk Kemakmuran Rakyat.
BAB IV VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN STRATEGIS DAN KEBIJAKAN 4.1. Visi dan Misi Visi Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Tengah adalah Pelayanan Terbaik Menuju Hutan Lestari untuk Kemakmuran Rakyat. Pelayanan
STATISTIK KEHUTANAN TAHUN 2005
PEMERINTAH PROPINSI JAWA BARAT DINAS KEHUTANAN Jalan Soekarno-Hatta No. 751 Km. 11,2 Bandung Telp./Fax. (022) 7304031 STATISTIK KEHUTANAN TAHUN 2005 Bandung, Nopember 2006 KATA PENGANTAR Puji syukur kami
PROGRAM BANTUAN PENGHIJAUAN DAN REBOISASI Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 8 Tahun 1976 Tanggal 1 April 1976 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PROGRAM BANTUAN PENGHIJAUAN DAN REBOISASI Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 8 Tahun 1976 Tanggal 1 April 1976 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa perlu diusahakan peningkatan kegiatan penghijauan
PERATURAN BUPATI MUSI RAWAS NOMOR 58 TAHUN 2008 T E N T A N G PENJABARAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS KEHUTANAN KABUPATEN MUSI RAWAS
PERATURAN BUPATI MUSI RAWAS NOMOR 58 TAHUN 2008 T E N T A N G PENJABARAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS KEHUTANAN KABUPATEN MUSI RAWAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MUSI RAWAS, Menimbang : a.
KEGIATAN TKPSDA WILAYAH SUNGAI CIDANAU CIUJUNG CIDURIAN
KEGIATAN TKPSDA WILAYAH SUNGAI CIDANAU CIUJUNG CIDURIAN Disampaikan Pada : Workshop Koordinasi Rencana Pengelolaan SIH3 Tingkat Wilayah Sungai dan Sinkronisasi Program dan Kegiatan TKPSDA WS (Wilayah Barat)
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tabel 1.1 Luas Hutan Mangrove di Indonesia Tahun 2002 No Wilayah Luas (ha) Persen
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia dengan panjang garis pantai sekitar 81.000 km serta lebih dari 17.508 pulau dan luas laut sekitar 3,1 juta km
RENCANA KINERJA TAHUNAN (RKT) DIREKTORAT PERLUASAN DAN PENGELOLAAN LAHAN TA. 2014
RENCANA KINERJA TAHUNAN (RKT) DIREKTORAT PERLUASAN DAN PENGELOLAAN LAHAN TA. 2014 DIREKTORAT JENDERAL PRASARANA DAN SARANA PERTANIAN KEMENTERIAN PERTANIAN 2013 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI...
BAB I PENDAHULUAN A. Dasar Hukum
BAB I PENDAHULUAN A. Dasar Hukum Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Gubernur Jawa Barat Akhir Tahun Anggaran 2011 disusun berdasarkan ketentuan sebagai berikut: 1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1950
A. Bidang. No Nama Bidang Nama Seksi. 1. Bidang Perencanaan dan Pemanfaatan Hutan. - Seksi Perencanaan dan Penatagunaan Hutan
Lampiran Surat Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Provinsi Banten Nomor : 522/ /Hutbun.1/2016 Tanggal : Nopember 2016 Perihal : Kajian Pembentukan UPTD Urusan Kehutanan pada Dinas Lingkungan Hidup dan
PENYUSUNAN MASTER PLAN PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR DAS MUSI BERBASIS DAYA DUKUNG DAN DAYA TAMPUNG
PENYUSUNAN MASTER PLAN PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR DAS MUSI BERBASIS DAYA DUKUNG DAN DAYA TAMPUNG Oleh Budi Kurniawan Kasubdit Inventarisasi dan Alokasi KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN DITJEN
PERATURAN BUPATI SUBANG NOMOR : TAHUN 2008 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN KABUPATEN SUBANG BUPATI SUBANG,
PERATURAN BUPATI SUBANG NOMOR : TAHUN 2008 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN KABUPATEN SUBANG BUPATI SUBANG, Menimbang : a. bahwa Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Subang
I. PENDAHULUAN. keanekaragaman hayati yang tinggi. Apabila dimanfaatkan secara bijaksana akan
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hutan tropis Indonesia merupakan kekayaan alam yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Apabila dimanfaatkan secara bijaksana akan terjamin kelestariannya dan
BAB II. PERENCANAAN KINERJA
BAB II. PERENCANAAN KINERJA A. Rencana Strategis Organisasi Penyelenggaraan pembangunan kehutanan di Sumatera Selatan telah mengalami perubahan paradigma, yaitu dari pengelolaan yang berorientasi pada
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
No. 1230, 2014 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENHUT. Kelompok Tani Hutan. Pembinaan. Pedoman. PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR P.57/Menhut-II/2014 TENTANG PEDOMAN PEMBINAAN KELOMPOK
L.III - 1 BUPATI SUKABUMI, H. SUKMAWIAJAYA
L.III - 1 LAMPIRAN III PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKABUMI NOMOR : TANGGAL : TENTANG : RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN SUKABUMI 2012-2032 RENCANA POLA RUANG KABUPATEN A. PETA RENCANA POLA RUANG KABUPATEN
Memperhatikan pokok-pokok dalam pengelolaan (pengurusan) hutan tersebut, maka telah ditetapkan Visi dan Misi Pembangunan Kehutanan Sumatera Selatan.
BAB II. PERENCANAAN KINERJA A. Rencana Strategis Organisasi Penyelenggaraan pembangunan kehutanan di Sumatera Selatan telah mengalami perubahan paradigma, yaitu dari pengelolaan yang berorientasi pada
PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.63/Menhut-II/2011
PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.63/Menhut-II/2011 TENTANG PEDOMAN PENANAMAN BAGI PEMEGANG IZIN PINJAM PAKAI KAWASAN HUTAN DALAM RANGKA REHABILITASI DAERAH ALIRAN SUNGAI Menimbang
PP 62/1998, PENYERAHAN SEBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN DI BIDANG KEHUTANAN KEPADA DAERAH *35837 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA (PP)
Copyright (C) 2000 BPHN PP 62/1998, PENYERAHAN SEBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN DI BIDANG KEHUTANAN KEPADA DAERAH *35837 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA (PP) NOMOR 62 TAHUN 1998 (62/1998) TENTANG PENYERAHAN
TENTANG MENTERI KEHUTANAN,
PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P.47/MENHUT-V/2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR P.25/MENHUT-II/2006 TENTANG PEDOMAN PENILAIAN PELAKSANAAN GERAKAN NASIONAL REHABILITASI HUTAN
2017, No Pengolahan Air Limbah Usaha Skala Kecil Bidang Sanitasi dan Perlindungan Daerah Hulu Sumber Air Irigasi Bidang Irigasi; Mengingat : 1.
No.247, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMEN-LHK. Penggunaan DAK. Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah Usaha Skala Kecil Bidang Sanitasi dan Perlindungan Daerah Hulu Sumber Air Irigasi bidang
PENYELENGGARAAN KEGIATAN GERAKAN NASIONAL REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN TAHUN 2004 BAB I PENDAHULUAN
LAMPIRAN 1 PERATURAN MENTERI KEHUTANAN Nomor : P.02/Menhut-V/2004 SK. /Kpts-V/2004 Tanggal : 22 Juli 2004 PENYELENGGARAAN KEGIATAN GERAKAN NASIONAL REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN TAHUN 2004 A. Latar Belakang
BAB IV KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN
16 BAB IV KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1.Gambaran Umum Daerah Penelitian 4.1.1. Lokasi Wilayah Kabupaten Subang secara geografis terletak pada batas koordinat 107 o 31-107 o 54 BT dan di antara 6 o
Renstra Dinas Sumber Daya Air dan Pemukiman Provinsi Banten Tahun
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Rencana strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya disingkat dengan Renstra SKPD adalah dokumen perencanaan SKPD untuk periode 5 (lima) tahun. Rencana
PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR: P. 67/Menhut-II/2008 TENTANG KRITERIA DAN KLASIFIKASI UNIT PELAKSANA TEKNIS PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI
PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR: P. 67/Menhut-II/2008 TENTANG KRITERIA DAN KLASIFIKASI UNIT PELAKSANA TEKNIS PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEHUTANAN, Menimbang
1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
1 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perubahan kondisi hidrologi DAS sebagai dampak perluasan lahan kawasan budidaya yang tidak terkendali tanpa memperhatikan kaidah-kaidah konservasi tanah dan air seringkali
PERENCANAAN KINERJA TAHUN 2015 BADAN LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN PROBOLINGGO
PERENCANAAN KINERJA TAHUN 2015 BADAN LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN PROBOLINGGO PEMERINTAH KABUPATEN PROBOLINGGO Jl. Raya Dringu No. 81 Telp/Fax (0335) 433860 website: www.blh.probolinggokab.go.id - email:
INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1976 TENTANG PROGRAM BANTUAN PENGHIJAUAN DAN REBOISASI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1976 TENTANG PROGRAM BANTUAN PENGHIJAUAN DAN REBOISASI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa perlu diusahakan peningkatan kegiatan penghijauan
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. Perusahan Umum yang bergerak di bidang penyediaan air baku dan listrik bagi
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1 Sejarah Singkat Perusahaan Perum Jasa Tirta II adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berbentuk Perusahan Umum yang bergerak di bidang penyediaan air baku dan listrik
DEPARTEMEN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL REHABILITASI LAHAN DAN PERHUTANAN SOSIAL
DEPARTEMEN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL REHABILITASI LAHAN DAN PERHUTANAN SOSIAL STATISTIK PEMBANGUNAN BALAI PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI KAHAYAN TAHUN 2008 Palangkaraya, Pebruari, 2009 BALAI PENGELOLAAN
Perkembangan Luas Kawasan Hutan di Jawa Barat Berdasarkan Fungsinya Tahun 2003 s/d Tahun 2003 (Ha)
Tabel 1.1. Perkembangan Luas Kawasan Hutan di Jawa Barat Berdasarkan Fungsinya Tahun 2003 s/d 2005 No Fungsi Kawasan Tahun 2003 Tahun 2004 Tahun 2005 Keterangan I Kawasan Produksi & Lindung 627.499,78
DINAS KEHUTANAN PROVINSI JAWA BARAT
i ii iii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR i DAFTAR ISI ii DAFTAR TABEL iv DAFTAR GAMBAR v BAB IPENDAHULUAN I-1 I.1. Latar Belakang I-1 I.2. Dasar Hukum Penyusunan I-5 I.3. Maksud Dan Tujuan I-8 I.4. Sistematika
INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1977 TENTANG PROGRAM BANTUAN PENGHIJAUAN DAN REBOISASI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1977 TENTANG PROGRAM BANTUAN PENGHIJAUAN DAN REBOISASI Menimbang : a. bahwa perlu diusahakan peningkatan kegiatan penghijauan dan reboisasi di daerahdaerah
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Administrasi
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 26 Administrasi Kabupaten Sukabumi berada di wilayah Propinsi Jawa Barat. Secara geografis terletak diantara 6 o 57`-7 o 25` Lintang Selatan dan 106 o 49` - 107 o 00` Bujur
SAMBUTAN MENTERI KEHUTANAN PADA PEMBUKAAN RAPAT KOORDINASI TEKNIS PEMBANGUNAN KEHUTANAN BIDANG BINA PRODUKSI KEHUTANAN (Jakarta, 14 Juli 2010)
SAMBUTAN MENTERI KEHUTANAN PADA PEMBUKAAN RAPAT KOORDINASI TEKNIS PEMBANGUNAN KEHUTANAN BIDANG BINA PRODUKSI KEHUTANAN (Jakarta, 14 Juli 2010) Para pejabat Eselon I dan II Lingkup Dephut yang saya hormati,
UPAYA PENANGANAN LAHAN KRITIS DI PROPINSI JAWA BARAT. Oleh : Epi Syahadat. Ringkasan
UPAYA PENANGANAN LAHAN KRITIS DI PROPINSI JAWA BARAT Oleh : Epi Syahadat Ringkasan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan Dan Lahan (GERHAN) merupakan gerakan moral secara nasional untuk menanam pohon di
KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN Nomor : 664/Kpts-II/2002 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BALAI PERSUTERAAN ALAM MENTERI KEHUTANAN,
KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN Nomor : 664/Kpts-II/2002 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BALAI PERSUTERAAN ALAM MENTERI KEHUTANAN, Menimbang : bahwa dalam upaya pengendalian produksi dan distribusi bibit
PERATURAN GUBERNUR SUMATERA BARAT NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG
PERATURAN GUBERNUR SUMATERA BARAT NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG TATA CARA KEMITRAAN PEMANFAATAN HUTAN DI WILAYAH TERTENTU PADA KESATUAN PENGELOLAAN HUTAN LINDUNG DAN KESATUAN PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI DI
Tabel 7. Luas wilayah tiap-tiap kabupaten di Provinsi Jawa Barat. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. 1. Kondisi Geografis Wilayah Provinsi Jawa Barat Provinsi Jawa Barat secara geografis terletak antara 5 54' - 7 45' LS dan 106 22' - 108 50 BT dengan areal seluas 37.034,95
