BAB 2 LANDASAN TEORI

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB 2 LANDASAN TEORI"

Transkripsi

1 BAB 2 LANDASAN TEORI Bab ini membahas tentang teori penunjang serta penelitian sebelumnya yang berhubungan dengan permasalahan identifikasi jenis citra catur cina, serta metode Backpropagation Citra Citra adalah gambaran dari suatu objek yang dihasilkan dari pantulan atau pembiasan sinar yang difokuskan dari sebuah lensa atau cermin (Simonett, 1983). Citra didefenisikan sebagai suatu fungsi dua dimensi f(x,y), dimana x dan y adalah koordinat spasial dan luasan dari f untuk tiap pasang koordinat (x,y) disebut sebagai intensitas keabuan citra pada suatu titik tertentu. Jika x, y, dan nilai intensitas f bersifat terbatas, maka citra tersebut dapat disebut sebagai citra digital (Gonzales et al, 2002). Citra yang digunakan pada penilitian ini adalah biji catur cina. Citra biji catur cina merupakan sebuah gambaran citra foto yang didapatkan dari sensor kamera pada webcam di dalam penelitian ini. Suatu gambar memiliki ciri yang berbeda dengan gambar yang lain berdasarkan pada karakteristik yang mencolok pada gambar tersebut. Ciri didefinisikan sebagai sebuah tanda yang khusus, dimana tanda tersebut menbedakan suatu gambar dengan gambar lain. Citra dari biji catur cina dapat dibedakan berdasarkan pada ciri pada biji catur cina tersebut seperti pola dari tulisan, warna, tekstur dan sisi atas Image Processing Image processing adalah sebuah transformasi input data yang mentah untuk membantu kemampuan komputasional dan pencari ciri serta mengurangi noise(derau) (Putra, 2008). Image processing adalah sebuah teknik untuk menemukan orientasi dari sebuah citra, untuk menghilangkan noise kemudian meningkatkan kualitas dari sebuah

2 9 citra sehingga memudahkan dalam proses pengklasifikasian dan penelitian lebih lanjut tentang sebuah citra Canny Edge Detection Edge detection adalah topik yang penting di dalam analisis citra (Soo-Ji, 2002). Tujuan dari edge detection secara umum adalah untuk mengurangi jumlah data di dalam sebuah citra dan juga menyediakan elemen struktural digunakan untuk pemrosesan citra yang lebih mendalam (Canny, 1986). Walaupun algoritma Canny menyertakan proses smoothing, tetapi algoritma Canny tidak menyampingkan penggunaan dari median filter. Dikarenakan, proses smoothing hanya mengaburkan citra dan proses smoothing hanya menyebabkan sedikit noise pada citra untuk dikaburkan. Akantetapi, median filter menyebabkan banyak noise yang dihilangkan (Nosrati et al, 2012) Hough Circle Transform Hough Transform telah dikenal sebagai sebuah tool yang kuat untuk pendeteksian bentuk kurva-kurva yang bersifat parametirk di dalam citra (Duda & Hart, 1972; Hough, 1962). Circle Hough Transform didesain untuk menemukan lingkaranlingkaran yang terbentuk oleh sebuah titik pusat (x0, y0) dan sebuah radius r. Dalam menentukan sebuah lingkaran, sangat penting untuk mengakumulasi nilai nilai parameter pada tiga ruang dimensi (x0, y0, r) (Smereka & Duleba, 2008) Image Enhancement Proses perbaikan citra terdiri dari sekumpulan teknik yang bertujuan untuk meningkatkan kondisi visual dari citra atau untuk mengubah citra menjadi bentuk yang lebih baik disesuaikan untuk analisis oleh manusia atau mesin. Tujuan utama dari perbaikan citra adalah untuk memodifikasi atribut-atribut dari sebuah citra untuk proses yang diperlukan dan peneliti yang khusus. Selama proses perbaikan citra, satu atau lebih atribut pada citra dimodifikasikan. (Snehal & Shandilya, 2012). Perbaikan citra merupakan salah satu proses preprocessing image yang penting dan dapat mempengaruhi hasil dari proses klasifikasi.

3 Dilation Dilasi adalah operasi yang berkebalikan dari operasi erosi. Dilasi memperbesar foreground sedangkan erosi memperkecil foreground. Foreground direntangkan dari batas luar foreground tersebut. Jika terdapat lubang di dalam foreground pada citra, lubang tersebut akan menghilang. Sama seperti erosi, operasi dilasi menggunakan structural elements (Jawas & Suciati, 2013). Dilasi menggunakan persamaan 2.1 dibawah ini (Tambe et al, 2013). X B = X + b = { x + b : x X &b B} (2.1) : X = citra grayscale asli B = structuring elements x = set dari citra asli b = set dari structing elements Gaussian Blur Di dalam image processing, operasi yang paling umum adalah penggunaan dari kernel filter. Persamaan dari Gaussian yang menghasilkan jenis-jenis dari kernel-kernel tersebut dianggap memiliki nilai mean nol. Berikut adalah persamaan Gaussian satu dimensi 2.2 didefinisikan dibawah ini (Robinson et al, 2012). ( ) (2.2) : ( ) a = amplitude dari curve σ = variansi dari Gaussian Min-Max Linear Contrast Stretch Sewaktu menggunakan minimum-maximum linear contrast strectch, nilai minimum dan maximum dari citra asli diubah menjadi sekumpulan nilai-nilai yang spesifik yang mewakili jangkauan dari tingkat kecerahan pada citra (Saleh et al, 2010). Berikut persamaan dari Min-Max Linear Contrast Stretch 2.3 dibawah ini (Saleh et al, 2010). ( ) ( ( ) ) ( ) (2.3)

4 11 : g(x,y) = citra Min-Max Linear Contrast Stretch dengan matriks x dan y f(x,y) = citra input dengan matriks x dan y min = nilai intensitas minumum pada citra input max = nilai intensitas maximum pada citra input Colour Space Conversion Warna adalah cara dari HVS(Human Visual System) dalam menghitung sebuah bagian dari gelombang elektromagnetik, diantara nilai 300 sampai dengan 830 nm. Disebabkan oleh beberapa elemen dari HVS yang tidak dapat dilihat dari semua kemungkinan pengabungan spektrum oleh mata manusia, tetapi manusia lebih cenderung untuk membedakan keberagaman spektrum dengan warna. Colour space adalah sebuah notasi yang dimana dapat menspesifikan warna (Tkalci & Jurij, 2003) RGB2Grayscale Semua pengubahan color-space menggunakan konvensi : citra-citra 8-bit berskala 0-255, citra-citra 16-bit berskala , dan angka pecahan adalah diantara 0.0 dan 1.0. Ketika citra keabuan diubah menjadi citra berwana, semua komponen yang menghasilkan citra dianggap menjadi sama; tetapi untuk transformasi yang berkebalikan (RGB atau BGR menjadi Grayscale), nilai keabuan dihitung dengan rumusan yang berbobot secara perseptual (Bradski & Kaehler, 2008).Berikut persamaan 2.4 untuk menghitung transformasi citra RGB atau BGR menjadi citra keabuan (Bradski & Kaehler, 2008). ( ) ( ) ( ) (2.4) : Y = nilai grayscale yang dihasilkan R = nilai red dari citra RGB atau BGR G = nilai green dari citra RGB atau BGR B = nilai blue dari citra RGB atau BGR

5 Resizing Sering dijumpai citra dengan berbagai ukuran yang perlu diubah sesuai dengan ukuran yang diinginkan. Secara umum, diperlukan pemetaan dari sumber citra ke cirta resized tujuan menjadi semulus mungkin (Bradski & Kaehler, 2008) Image Normalization Di dalam mendapatkan hasil pengenalan yang baik, normalisasi biasa digunakan untuk mengskalakan dan memindahkan karakter ke dalam ukuran yang ternormalisasikan dan sesuai dengan aspek rasio. Algoritma normalisasi yang baik akan menggunakan grid untuk proses yang lebih jauh (Liu, Y., 2009). Berdasarkan hasil penelitian oleh X.Ding, karakter yang ternormalisasikan berdasarkan pada center mass lebih cepat untuk diproses daripada batas-batas citra yang mengakibatkan beberapa informasi dari citra hilang ketika kualitas input tidak sempurna (Ding, 2002). Dalam menghadapi ukuran font yang berbeda, normalisasi juga akan mengcocokkan ukuran font dan sesuai dengan aspek rasio pada karakter (Liu, Y., 2009) Thresholding Threshold menjadi sangat sederhana tetapi merupakan sebuah tool yang efektif untuk memisahkan objek dari background. Keluaran dari operasi threshold adalah citra biner yang akan mengindikasikan objek foreground, yang merupakan, teks yang tercetak, simbol-simbol, tujuan pada peta dan bahan materi dari sebuah objek. Berikut persamaan 2.5 threshold dibawah ini (Romen et al, 2011). ( ) { ( ) ( ) (2.5) : b(x,y) = citra yang terbinerisasikan I(x,y) = citra asli yang akan dilakukan threshold T(x,y) = nilai matriks threshold untuk citra Thinning Goresan pada tulisan tebal dan besar secara normal lebih tebal dari font yang lain, hal tersebut memberikan sebuah perbedaan yang sangat besar pada nilai fitur yang terkandung di dalam citra font tersebut. Oleh sebab itu, proses thinning sangat dibutuhkan untuk proses yang lebih lanjut pada citra (Liu, Y., 2009)

6 Ekstraksi Fitur Ekstraksi fitur merupakan nilai fitur yang terkandung di dalam sebuah citra yang mewakili ciri khusus dari sebuah citra. Nilai yang didapatkan dari hasil pengekstraksian fitur dari sebuah citra kemudian akan di proses untuk diklasifikasi. Ekstaksi Fitur yang digunakan di dalam penelitian ini adalah Direction Feature Extraction Direction Feature Direction Feature adalah pencarian nilai-nilai fitur berdasarkan label arah pada setiap pixel. Pada metode Direction Feature, setiap pixel foreground pada gambar memiliki arah tersendiri dimana arah yang digunakan memiliki empat arah dan masing-masing arah diberikan label nilai tersendiri (Liu & Blumenstein, 2008). Arah yang digunakan dapat dilihat pada tabel 2.1 dibawah ini (Agung et al, 2009). Tabel 2.1 Nilai Label dan Arah pada Direction Feature Arah Nilai Bentuk Vertikal 2 Diagonal Kanan 3 / Horizontal 4 _ Diagonal Kiri 5 \ Nilai arah pada setiap pixel dapat diperoleh melalui proses pengecekan secara raster dari arah kiri ke kanan. Pengecekan secara raster bertujuan untuk mencari pixel yang memiliki nilai 1 atau pixel yang berasal dari foreground. Selama pengecekan raster berlangsung, pixel yang memilii nilai1 atau berasal dari pixel foreground akan mengecek nilai neighbour dari pixel tersebut. Apabila P adalah pixel foreground yang tercek, pixel neighbour akan dicek adalah P1atau P5 terdapat pixel foreground maka diberikan label nilai 2, P2 atau P6 terdapat pixel foreground maka diberikan label nilai 3, P3 atau P7 terdapat pixel foreground maka diberikan label nilai 4, P4 atau P8 terdapat pixel foreground maka diberikan label nilai 5. Tabel 2.2 menunjukkan matriks neighbour pixel P dalam pelabelan nilai arah.

7 14 Tabel 2.2 Matriks neighbour pixel P dalam pelabelan nilai arah P1 P2 P3 P8 P P4 P7 P6 P5 Selanjutnya, nilai-nilai fitur yang berdimensi sesuai dengan citra biner yang diubah akan mengalami proses transisi. Proses transisi melakukan pengecekan secara raster dari empat arah (kiri ke kanan, kanan ke kiri, atas ke bawah, bawah ke atas). Sebelum melakukan transisi, nilai transisi maksimum didefinisikan terlebih dahulu. Apabila nilai T adalah nilai transisi maksimum yang didefinisikan, nilai W dan H adalah nilai lebar dan tinggi dari citra yang diproses. Persamaan 2.6 ukuran dari Direction Feature dari kiri menuju kanan di bawah ini. LR = T. H (2.6) Persamaan 2.7 ukuran dari transisi pada Direction Feature dari kanan menuju kanan dibawah ini. RL = T. H (2.7) Persamaan 2.8 ukuran dari transisi pada Direction Feature dari atas menuju bawah dibawah ini. UD = T. W (2.8) Persamaan 2.9 ukuran dari transisi pada Direction Feature dari bawah menuju atas dibawah ini. DU = T. W (2.9) : LR = ukuran transisi kiri ke kanan RL = ukuran transisi kanan ke kiri UD = ukuran transisi atas ke bawah DU = ukuran transisi bawah ke atas T = nilai transisi W = lebar dari citra asli H = tinggi dari citra asli

8 15 Proses berikutnya adalah menormalkan ukuran fitur dari transisi fitur pertama sekali pada Direction Feature. Proses menormalkan ukuran matriks transisi bertujuan untuk mengecilkan data input fitur supaya proses pengklasifikasian menghasilkan hasil yang lebih akurat dan proses yang tidak memakan waktu terlalu banyak. Ukuran penormalan citra dilakukan secara berurutan dengan menjumlahkan baris pertama sampai dengan baris yang berindeks jumlah transisi setiap arah. Persamaan 2.10 menunjukkan ukuran normalisasi dari nilai transisi direction feature. (2.10) : NS = ukuran fitur normalisasi setiap arah DT =ukuran transisi pada direction feature pada setiap arah (kiri ke kanan, kanan ke kiri, atas ke bawah, bawah ke atas) T = nilai transisi Hasil akhir yang dihasilkan oleh fitur ekstraksi Direction Feature adalah nilai normalisasi dari keempat arah yang digabungkan. Nilai fitur akhir dari Direction Feature memiliki ukuran yang berukuran dengan jumlah dari normalisasi keempat arah. Persamaan 2.11 menunjukkan ukuran akhir dari nilai fitur yang dihasilkan. (2.11) : DF = ukuran dari hasil akhir Direction Feature NS = ukuran fitur normalisasi setiap arah(kiri ke kanan, kanan ke kiri, atas ke bawah, bawah ke atas) T = nilai transisi 2.4. Backpropagation Jaringan feed-forward dapat digunakan untuk bermacam masalah klasifikasi dan pengenalan. Di dalam algoritma Backpropagation, tidak penting untuk mengetahui model matematika dari permasalahan pengenalan dan klasifikasi untuk melatih dan kemudian memanggil informasi yang berasal dari jaringan (Khusbu & Mehta, 2013).

9 16 Di dalam algoritma ini, apabila arsitektur dari jaringan yang dipilih tepat dan sekumpulan data training yang memadai disertakan, jaringan Backpropagation akan memberikan solusi yang tepat (Khusbu & Mehta, 2013). Langkah-langkah yang dilakukan oleh algoritma Backpropagation adalah sebagai berikut (Khusbu & Mehta, 2013): 1. Data input disertakan di dalam elemen yang memproses lapisan pertama dari jaringan Backpropagation dan diperbanyak sepanjang jalur penghubung menuju lapisan pertama. 2. Setiap elemen pemrosesan, h di dalam hidden layer menghitung jumlah dari bobot input dari setiap input, i, dari lapisan sebelumnya. Persamaan 2.12 menunjukkan jumlah bobot yang terdapat pada setiap elemen di lapisan input yang menuju lapisan hidden. ( ) (2.12) : Weighted sum h = jumlah bobot pada elemen dari lapisan input ke hiddden weight h = bobot pada elemen dari lapisan input ke hidden input h = nilai input yang berada pada lapisan hidden. 3. Keluaran dari pemrosesan pada lapisan hidden h, kemudian dikalkulasikan dengan fungsi aktivasi, f, dan kemudian diperbanyak ke lapisan selanjutnya. Fungsi aktivasi sigmoidal biasanya adalah f(x) = 1 / (1+ex). Persamaan 2.13 menunjukkan perhitungan fungsi aktivasi sigmoid keluaran elemen h dari lapisan hidden. ( ) (2.13) : Hidden output h = nilai dari fungsi aktivasi sigmoidal elemen h dari lapisan hidden weighted sum h = jumlah bobot di elemen h bias h = nilai bias pada elemen h 4. Langkah pada nomor 2 dan nomor 3 mengalami perulangan pada lapisan hidden sampai lapisan output dijangkau.

10 17 5. Setiap elemen pemrosesan o, di dalam lapisan output mengkalkulasikan jumlah dari bobot input yang berada pada setiap elemen h, dari lapisan sebelumnya. Persamaan 2.14 menunjukkan jumlah bobot yang berasal dari lapisan hidden menuju lapisan output. ( ), untuk semua elemen h (2.14) : Weighted sum o = jumlah bobot dari lapisan hidden menuju output weight oh = jumlah bobot pada elemen h pada hidden ke output layer input oh = nilai input yang berada pada lapisan output 6. Nilai keluaran dari elemen pemrosessan lapisan output o, kemudian dikalkulasikan dengan fungsi aktivasi, f. Persamaan 2.15 menunjukkan perhitungan fungsi aktivasi elemen o di lapisan output. ( ) (2.15) : Output o = nilai dari fungsi aktivasi elemen o di lapisan output weighted sum o = jumlah bobot di elemen o bias o = nilai bias di elemen o 7. Nilai output yang telah dihitung dibandingkan dengan output tujuan untuk menghitung nilai error untuk setiap elemen pemrosesan lapisan output. Turunan dari fungsi aktivasi f digunakan untuk mencari nilai rata-rata perubahan. Untuk contoh ini f (x) = f(x) (1-f(x)). Persamaan 2.16 menunjukkan perhitungan kesalahan yang terjadi di lapisan output. Perulangan dan jaringan mempelajari ketika melakukan perulangan sampai menemukan nilai error yang paling kecil. ( ) ( ) (2.16) : Error o = nilai error yang terdapat pada setap elemen o target o = nilai elemen pada node target elemen o output o = nilai output pada elemen o weightedsumo = jumlah beban pada elemen o biaso = nilai bias pada elemen o 8. Error pada lapisan-lapisan hidden di dalam elemen pemrosesan dihitung dengan melajukan error kembali melalui jaringan. Sangat penting bahwa weightedh adalah bobot dari output unit,o yang berhubungan dengan unit hidden, h. Persamaan 2.17 menunjukkan ( ) ( ) (2.17) : Error h = nilai error yang terdapat pada setiap elemen h

11 18 weightedsumh = jumlah bobot yang berada pada elemen h biash = nilai bias yang terdapat pada elemen h erroro = nilai error yang terdapat pada elemen o weightoh = nilai bobot yang berada pada elemen o 9. Bobot-bobot di dalam lapisan output telah terupdate, β = learning rate diantara 1 dan 0, α = konstanta momentum. Penggunaan β*erroro mewakili peran dari delta. Input o adalah nilai input bergerak di jalur-jalur yang berasal dari lapisan hidden menuju lapisan output. Persamaan 2.18 menunjukkan proses update bobot yang dilakukan oleh Backpropagation pada lapisan output. ( ) ( ) ( ) ( ( ) ( )) (2.18) : Weighto() = bobot pada elemen o t = indeks elemen pada bobot α = konstanta momentum β = learning rate antara 1 dan 0 erroro = nilai error pada elemen o input = nilai input dari lapisan hidden menuju output. input2 = nilai input dari lapisan hidden menuju output selanjutnya. 10. Bobot-bobot pada setiap lapisan hidden telah terupdate. β = konstanta learning rate antara 1 dan 0, α = konstanta momentum. Persamaan 2.19 menunjukkan proses update bobot yang dilakukan oleh Backpropagation pada lapisan hidden. ( ) ( ) ( ) ( ( ) ( )) (2.19) : Weighth() = bobot pada elemen o t = indeks elemen pada bobot α = konstanta momentum

12 19 β = konstanta learning rate errorh = nilai error pada elemen h input = nilai input dari lapisan hidden menuju output. input2 = nilai input dari lapisan hidden menuju output selanjutnya. Dalam menjalankan algoritma Backpropagation, proses feedforward menjalankan langkah 1 sampai 6 dan proses backpropagation terjadi selama langkah 7 sampai 10 untuk mengecek error yang dihasilkan (Khusbu & Mehta, 2013) Penelitian Terdahulu Penelitian tentang pengenalan huruf maupun tulisan dalam OCR (Optical Character Recognition) atau pengenalan karakter optik telah banyak dilakukan dengan berbagai metode. Pada umumnya, pengenalan huruf diimplementasikan untuk scanning teks, automasi, robotik dan lain-lain. Penelitian yang dilakukan oleh (Wen, 2014) menggunakan metode Feature Comparisons Technique untuk diimplementasikan dalam menghitung jarak dari tiap contour yang terdapat pada setiap biji catur cina dan menghitung jarak tengah dari citra biji catur cina. Pada penilitian ini, metode yang dilakukan adalah dengan membandingkan fitur-fitur yang terdapat pada citra catur. Hasil dari penelitian ini adalah 100% tingkat akurasi dengan persentase noise dibawah 20% dan sudut inklanasi 40 derajat. Penelitian yang dilakukan oleh (Jia et al, 2011) menggunakan metode Radial Harmonic Fourier Moments untuk diimplementasikan dalam mengenali karakterkarakter cina yang terdapat pada permukaan atas catur cina. Pada penelitian ini, metode yang digunakan menunjukkan hasil keakuratan pada data training 99.14% dan data testing 100%. Akantetapi, disebabkan oleh discrimination power pada metode yang digunakan menghasilkan tingkat keakuratan yang tidak selalu sama dari dimensi fitur yang berbeda-beda. Sampel data training yang digunakan adalah 10 derajat rotasi sehingga menghasilkan 36 sampel data untuk setiap biji catur. Penelitian yang dilakukan oleh (Khusbu & Mehta, 2013) menggunakan metode Backpropagation untuk diimplementasikan dalam mengenali karakter-

13 20 karakter alphabet dengan menggunakan jaringan saraf tiruan. Pada peneltian ini, ukuran vektor input pada input layer adalah 26x26 dengan tujuan error sebesar 0,01. Jaringan saraf tiruan Backpropagation yang telah mengalami proses training selama 1000 epochs. Setelah proses training selesai, jaringan saraf tiruan dapat mengenali semua karakter secara benar pada penelitian ini. Penelitian yang dilakukan oleh (Agung et al, 2009) menggunakan metode Modified Direction Feature Extraction dan Learning Vector Quantization untuk diimplementasikan dalam mengenali huruf bali. Pada penelitian ini, hasil analisis pada variasi ukuran normalisasi, jumlah transisi MDF dan pembagian gambar menjadi beberapa bagian menunjukkan tingkat akurasi 88.89% pada data training dan 81.49% pada data testing. Rangkuman dari penelitian-penelitian terdahulu dapat dilihat pada tabel 2.3. Tabel 2.3 Tabel Peneltian Terdahulu No. Peneliti (Tahun) Metode Keterangan 1 Wen (2004) Feature Comparison Techniques - Pengenalan citra biji catur cina dengan menggunakan Feature Comparisons Technique - Metode penelitian ini bersifat robust terhadap 40 derajat perubahan pada citra catur. - Metode penelitian ini dapat menahan noise 20% dari pepper dan salt noise. Tingkat akurasi 100% dengan nilai noise dibawah 20%. - Sample biji catur yang digunakan hanya terdapat 1 buah jenis set 2 Jia et al (2011) Radial Harmonic Fourier Moments biji catur - Pengenalan catur cina pada RHFM(Radial Harmonic Fourier Moments) bekerja pada translasi, rotasi, skala dan invariant intensity - Tingkat keakuratan pada training data adalah 99.14% dan testing data adalah 100%. - Jumlah rotasi pada setiap data training dan testing adalah setiap 10 derajat sehingga menghasilkan 36 sampel. - Disebabkan discrimination power

14 21 3 Khusbu & Mehta (2013) 4 Agung et al (2009) pada setiap dimensi pada fiturfitur yang berbeda-beda menghasilkan hasil persentasi yang tidak sama - Sampel biji catur yang dicantumkan hanya terdapat 2 buah jenis set biji catur Backpropagation - Pengenalan huruf alfabet - Fungsi: untuk mengenali huruf alfabet secara digital - Selama noise diproses dengan noise medium di dalam data input, dan menggunakan algoritma Backpropagation,masih Modified Direction Feature Extraction dan Learning Vector Quantization memberikan hasil yang benar - Pengenalan huruf bali - Fungsi : untuk mengenali huruf bali secara digital - Pengujian dan analisa hasil kerja sistem meliputi: ukuran normalisasi citra, jumlah transisi pada MDF dan pembagian gambar menjadi beberapa bagian - Hasil analisis berdasarkan variasi ukuran normalisasi, jumlah transisi MDF dan pembagian gambar menjadi beberapa bagian menunjukkan tingkat keakuratan % pada data training dan 81.49% pada data testing sebagai tingkat keakuratan tertinggi Perbedaan penelitian yang dilakukan dengan penelitian terdahulu adalah penelitian ini berfokus pada tingkat keakuratan berdasarkan pola karakter dari metode yang digunakan. Berikut adalah metode beserta alasan penggunaan metode yang akan diterapkan pada penelitian ini. - Menggunakan fitur ekstraksi arah pada pola, sehingga penelitian ini juga dapat mengklasifikasi tulisan karakter mandarin maupun karakter mandarin yang dicetak dengan berbagai jenis font pada ukuran biji catur yang sama. - Menerapkan beberapa operasi citra dan morfologi sehingga dapat menanggani kasus biji catur yang memiliki kualitas warna cat yang rendah pada cincin biji catur maupun biji catur.

15 22 - Menggunakan dataset training yang bersifat real world dan pengujian terhadap dataset font digital yang dikumpulkan oleh peneliti dari berbagai set sampel catur yang memiliki jenis font yang berbeda. - Menerapkan salah satu metode jaringan saraf tiruan sebagai metode pengklasifikasian yang memiliki tingkat keakuratan yang lebih tinggi.

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permainan catur cina, yang dikenal sebagai xiang qi dalam bahasa mandarin, merupakan sebuah permainan catur traditional yang memiliki jumlah 32 biji catur. Setiap

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI. dilakukan oleh para peneliti, berbagai metode baik ekstraksi fitur maupun metode

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI. dilakukan oleh para peneliti, berbagai metode baik ekstraksi fitur maupun metode BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI 2. Penelitian Terdahulu Beberapa penelitian mengenai pengenalan tulisan tangan telah banyak dilakukan oleh para peneliti, berbagai metode baik ekstraksi fitur

Lebih terperinci

BAB 3 ANALISA DAN PERANCANGAN SISTEM

BAB 3 ANALISA DAN PERANCANGAN SISTEM BAB 3 ANALISA DAN PERANCANGAN SISTEM 3.1 Analisa Program Aplikasi Dalam proses identifikasi karakter pada plat nomor dan tipe kendaraan banyak menemui kendala. Masalah-masalah yang ditemui adalah proses

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Citra Citra (image) sebagai salah satu komponen multimedia memegang peranan sangat penting sebagai bentuk informasi visual. Citra mempunyai karakteristik yang tidak dimiliki oleh

Lebih terperinci

Penggunaan Jaringan Syaraf Tiruanuntuk Membaca Karakter pada Formulir Nilai Mata Kuliah

Penggunaan Jaringan Syaraf Tiruanuntuk Membaca Karakter pada Formulir Nilai Mata Kuliah Vol. 14, No. 1, 61-68, Juli 2017 Penggunaan Jaringan Syaraf Tiruanuntuk Membaca Karakter pada Formulir Nilai Mata Kuliah La Surimi, Hendra, Diaraya Abstrak Jaringan syaraf tiruan (JST) telah banyak diaplikasikan

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PERANCANGAN

BAB 3 METODE PERANCANGAN BAB 3 METODE PERANCANGAN 3.1 Konsep dan Pendekatan Tujuan utama yang ingin dicapai dalam pengenalan objek 3 dimensi adalah kemampuan untuk mengenali suatu objek dalam kondisi beragam. Salah satu faktor

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN. a. Spesifikasi komputer yang digunakan dalam penelitian ini adalah

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN. a. Spesifikasi komputer yang digunakan dalam penelitian ini adalah BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Alat dan Bahan Penelitian 3.1.1 Alat Penelitian a. Spesifikasi komputer yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Prosesor Intel (R) Atom (TM) CPU N550

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Studi Pada penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa jurnal sebagai tinjauan studi, yaitu sebagai berikut : a. Pengenalan Huruf Bali Menggunakan Metode Modified

Lebih terperinci

Oleh: Riza Prasetya Wicaksana

Oleh: Riza Prasetya Wicaksana Oleh: Riza Prasetya Wicaksana 2209 105 042 Pembimbing I : Dr. I Ketut Eddy Purnama, ST., MT. NIP. 196907301995121001 Pembimbing II : Muhtadin, ST., MT. NIP. 198106092009121003 Latar belakang Banyaknya

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Teori Umum 2.1.1. Warna Dengan menggunakan 3 buah reseptor manusia dapat membedakan banyak warna. Warna tricromatic RGB dalam sistem grafis umumnya menggunakan 3 byte (2 8 ) 3,

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Pengenalan Pola Pengenalan pola adalah suatu ilmu untuk mengklasifikasikan atau menggambarkan sesuatu berdasarkan pengukuran kuantitatif fitur (ciri) atau sifat utama dari suatu

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI Dalam bab ini dibahas teori yang digunakan sebagai landasan pengerjaan pengenalan kata berdasarkan tulisan tangan huruf Korea (hangūl) menggunakan jaringan saraf tiruan propagasi balik.

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengenalan Marka Jalan Marka jalan merupakan suatu penanda bagi para pengguna jalan untuk membantu kelancaran jalan dan menghindari adanya kecelakaan. Pada umumnya marka jalan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI 6 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Sel Darah Merah Sel darah merah atau eritrositmemiliki fungsi yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Sel darah merah mengandung hemoglobin yang berfungsi untuk

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Pada bab ini akan membahas landasan teori-teori yang bersifat ilmiah untuk mendukung penulisan skripsi ini. Teknik-teknik yang dibahas mengenai pengenalan pola, prapengolahan citra,

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI SISTEM

BAB III PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI SISTEM BAB III PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI SISTEM Pada bab ini akan dijelaskan mengenai tahapan dan algoritma yang akan digunakan pada sistem pengenalan wajah. Bagian yang menjadi titik berat dari tugas akhir

Lebih terperinci

Jurnal Ilmiah Komputer dan Informatika (KOMPUTA) IMPLEMENTASI JARINGAN SYARAF TIRUAN BACKPROPAGATION UNTUK MENGENALI MOTIF BATIK

Jurnal Ilmiah Komputer dan Informatika (KOMPUTA) IMPLEMENTASI JARINGAN SYARAF TIRUAN BACKPROPAGATION UNTUK MENGENALI MOTIF BATIK IMPLEMENTASI JARINGAN SYARAF TIRUAN BACKPROPAGATION UNTUK MENGENALI MOTIF BATIK Fany Hermawan Teknik Informatika Universitas Komputer Indonesia Jl. Dipatiukur 112-114 Bandung E-mail : [email protected]

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Desain penelitian untuk pengenalan nama objek dua dimensi pada citra

BAB III METODE PENELITIAN. Desain penelitian untuk pengenalan nama objek dua dimensi pada citra BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Desain penelitian untuk pengenalan nama objek dua dimensi pada citra adalah sebagai berikut. Gambar 3.1 Desain Penelitian 34 35 Penjelasan dari skema gambar

Lebih terperinci

BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN PROGRAM APLIKASI

BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN PROGRAM APLIKASI BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN PROGRAM APLIKASI Bab ini berisi analisis pengembangan program aplikasi pengenalan karakter mandarin, meliputi analisis kebutuhan sistem, gambaran umum program aplikasi yang

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Citra Citra merupakan salah satu komponen multimedia yang memegang peranan sangat penting sebagai bentuk informasi visual. Meskipun sebuah citra kaya akan informasi, namun sering

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. fuzzy logic dengan aplikasi neuro computing. Masing-masing memiliki cara dan proses

BAB 2 LANDASAN TEORI. fuzzy logic dengan aplikasi neuro computing. Masing-masing memiliki cara dan proses 8 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Teori Neuro Fuzzy Neuro-fuzzy sebenarnya merupakan penggabungan dari dua studi utama yaitu fuzzy logic dengan aplikasi neuro computing. Masing-masing memiliki cara dan proses

Lebih terperinci

PERANCANGAN SISTEM PENGENALAN DAN PENYORTIRAN KARTU POS BERDASARKAN KODE POS DENGAN MENGGUNAKAN ARTIFICIAL NEURAL NETWORK

PERANCANGAN SISTEM PENGENALAN DAN PENYORTIRAN KARTU POS BERDASARKAN KODE POS DENGAN MENGGUNAKAN ARTIFICIAL NEURAL NETWORK PERANCANGAN SISTEM PENGENALAN DAN PENYORTIRAN KARTU POS BERDASARKAN KODE POS DENGAN MENGGUNAKAN ARTIFICIAL NEURAL NETWORK OLEH ARIF MIFTAHU5R ROHMAN (2200 100 032) Pembimbing: Dr. Ir Djoko Purwanto, M.Eng,

Lebih terperinci

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM. Dalam pengerjaan tugas akhir ini memiliki tujuan untuk mengektraksi

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM. Dalam pengerjaan tugas akhir ini memiliki tujuan untuk mengektraksi BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM 3.1 Model Pengembangan Dalam pengerjaan tugas akhir ini memiliki tujuan untuk mengektraksi fitur yang terdapat pada karakter citra digital menggunakan metode diagonal

Lebih terperinci

PEMANFAATAAN BIOMETRIKA WAJAH PADA SISTEM PRESENSI MENGGUNAKAN BACKPROPAGATION NEURAL NETWORK

PEMANFAATAAN BIOMETRIKA WAJAH PADA SISTEM PRESENSI MENGGUNAKAN BACKPROPAGATION NEURAL NETWORK PEMANFAATAAN BIOMETRIKA WAJAH PADA SISTEM PRESENSI MENGGUNAKAN BACKPROPAGATION NEURAL NETWORK Program Studi Matematika FMIPA Universitas Negeri Semarang Abstrak. Saat ini, banyak sekali alternatif dalam

Lebih terperinci

PENGOLAHAN CITRA DIGITAL

PENGOLAHAN CITRA DIGITAL PENGOLAHAN CITRA DIGITAL Aditya Wikan Mahastama [email protected] Sistem Optik dan Proses Akuisisi Citra Digital 2 UNIV KRISTEN DUTA WACANA GENAP 1213 v2 Bisa dilihat pada slide berikut. SISTEM OPTIK MANUSIA

Lebih terperinci

BAB II TI JAUA PUSTAKA

BAB II TI JAUA PUSTAKA BAB II TI JAUA PUSTAKA Pada bab ini akan dibahas mengenai teori-teori yang menunjang tugas akhir ini. Antara lain yaitu pengertian citra, pengertian dari impulse noise, dan pengertian dari reduksi noise.

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI 7 BAB 2 LANDASAN TEORI Pada bab ini akan dibahas mengenai teori pendukung dan penelitian sebelumnya yang berhubungan dengan metode ekstraksi fitur, serta metode klasifikasi Support Vector Machine dalam

Lebih terperinci

DETEKSI DAN SEGMENTASI OTOMATIS DERET PADA CITRA METERAN AIR

DETEKSI DAN SEGMENTASI OTOMATIS DERET PADA CITRA METERAN AIR DETEKSI DAN SEGMENTASI OTOMATIS DERET PADA CITRA METERAN AIR Naser Jawas STIKOM Bali Jl. Raya Puputan, No.86, Renon, Denpasar, Bali Email: [email protected] ABSTRAK Meter air adalah sebuah alat yang

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. dan bahan, agar mendapatkan hasil yang baik dan terstruktur. Processor Intel Core i3-350m.

BAB III METODE PENELITIAN. dan bahan, agar mendapatkan hasil yang baik dan terstruktur. Processor Intel Core i3-350m. BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Alat dan Bahan Untuk menunjang penelitian yang akan dilakukan, maka diperlukan alat dan bahan, agar mendapatkan hasil yang baik dan terstruktur. 3.1.1 Alat Penelitian Adapun

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengenalan Citra Citra adalah suatu representasi (gambaran), kemiripan atau imitasi dari suatu objek. Citra sebagai keluaran suatu sistem perekaman data dapat bersifat optik berupa

Lebih terperinci

GLOSARIUM Adaptive thresholding Peng-ambangan adaptif Additive noise Derau tambahan Algoritma Moore Array Binary image Citra biner Brightness

GLOSARIUM Adaptive thresholding Peng-ambangan adaptif Additive noise Derau tambahan Algoritma Moore Array Binary image Citra biner Brightness 753 GLOSARIUM Adaptive thresholding (lihat Peng-ambangan adaptif). Additive noise (lihat Derau tambahan). Algoritma Moore : Algoritma untuk memperoleh kontur internal. Array. Suatu wadah yang dapat digunakan

Lebih terperinci

SAMPLING DAN KUANTISASI

SAMPLING DAN KUANTISASI SAMPLING DAN KUANTISASI Budi Setiyono 1 3/14/2013 Citra Suatu citra adalah fungsi intensitas 2 dimensi f(x, y), dimana x dan y adalahkoordinat spasial dan f pada titik (x, y) merupakan tingkat kecerahan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Sel Darah Merah Sel yang paling banyak di dalam selaput darah adalah sel darah merah atau juga dikenal dengan eritrosit. Sel darah merah berbentuk cakram bikonkaf dengan diameter

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Citra Citra menurut kamus Webster adalah suatu representasi atau gambaran, kemiripan, atau imitasi dari suatu objek atau benda, contohnya yaitu foto seseorang dari kamera yang

Lebih terperinci

BAB II TEORI PENUNJANG

BAB II TEORI PENUNJANG BAB II TEORI PENUNJANG 2.1 Computer Vision Komputerisasi memiliki ketelitian yang jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan cara manual yang dilakukan oleh mata manusia, komputer dapat melakukan berbagai

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN 18 METODOLOGI PENELITIAN Kerangka Penelitian Sistem pengenalan roda kendaraan pada penelitian ini tampak pada Gambar 10, secara garis besar dapat dibagi menjadi dua tahapan utama yaitu, tahapan pelatihan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI 5 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Digital Image 2.1.1 Definisi Digital Image Menurut Gonzalez dan Woods (1992, p6), digital image adalah image f(x,y) yang telah dibedakan berdasarkan koordinat tata letak dan

Lebih terperinci

BAB 2 KONSEP DASAR PENGENAL OBJEK

BAB 2 KONSEP DASAR PENGENAL OBJEK BAB 2 KONSEP DASAR PENGENAL OBJEK 2.1 KONSEP DASAR Pada penelitian ini, penulis menggunakan beberapa teori yang dijadikan acuan untuk menyelesaikan penelitian. Berikut ini teori yang akan digunakan penulis

Lebih terperinci

... BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Citra

... BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Citra 6 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Citra Citra atau image adalah suatu matriks dimana indeks baris dan kolomnya menyatakan suatu titik pada citra tersebut dan elemen matriksnya (yang disebut sebagai elemen gambar

Lebih terperinci

SISTEM REKOGNISI KARAKTER NUMERIK MENGGUNAKAN ALGORITMA PERCEPTRON

SISTEM REKOGNISI KARAKTER NUMERIK MENGGUNAKAN ALGORITMA PERCEPTRON 30 BAB IV SISTEM REKOGNISI KARAKTER NUMERIK MENGGUNAKAN ALGORITMA PERCEPTRON 4.1 Gambaran Umum Sistem Diagram sederhana dari program yang dibangun dapat diilustrasikan dalam diagram konteks berikut. Gambar

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN SISTEM

BAB III PERANCANGAN SISTEM BAB III PERANCANGAN SISTEM Dalam pengerjaan perancangan dan pembuatan aplikasi pengenalan karakter alfanumerik JST algoritma Hopfield ini menggunakan software Borland Delphi 7.0. 3.1 Alur Proses Sistem

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2. Pengertian Citra Citra (image) atau istilah lain untuk gambar sebagai salah satu komponen multimedia yang memegang peranan sangat penting sebagai bentuk informasi visual. Meskipun

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN SISTEM

BAB III PERANCANGAN SISTEM BAB III PERANCANGAN SISTEM 3.1 Definisi Masalah Dalam beberapa tahun terakhir perkembangan Computer Vision terutama dalam bidang pengenalan wajah berkembang pesat, hal ini tidak terlepas dari pesatnya

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI 7 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Citra Digital Citra digital merupakan sebuah fungsi intensitas cahaya, dimana harga x dan y merupakan koordinat spasial dan harga fungsi f tersebut pada setiap titik merupakan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI Pada bab ini akan dibahas teori yang berkaitan dengan sistem pendeteksi orang tergeletak mulai dari : pembentukan citra digital, background subtraction, binerisasi, median filtering,

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA ,...(1)

TINJAUAN PUSTAKA ,...(1) 3 TINJAUAN PUSTAKA Dalam bab ini akan dibahas teori-teori yang mendasari penelitian ini. Dimulai dari teori dan konsep citra digital, deteksi pola lingkaran dengan Circle Hough Transform (CHT), ekstrasi

Lebih terperinci

APLIKASI DETEKSI MIKROKALSIFIKASI DAN KLASIFIKASI CITRA MAMMOGRAM BERBASIS TEKSTUR SEBAGAI PENDUKUNG DIAGNOSIS KANKER PAYUDARA

APLIKASI DETEKSI MIKROKALSIFIKASI DAN KLASIFIKASI CITRA MAMMOGRAM BERBASIS TEKSTUR SEBAGAI PENDUKUNG DIAGNOSIS KANKER PAYUDARA APLIKASI DETEKSI MIKROKALSIFIKASI DAN KLASIFIKASI CITRA MAMMOGRAM BERBASIS TEKSTUR SEBAGAI PENDUKUNG DIAGNOSIS KANKER PAYUDARA Yusti Fitriyani Nampira 50408896 Dr. Karmilasari Kanker Latar Belakang Kanker

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Klasifikasi Klasifikasi adalah sebuah proses untuk menemukan sebuah model yang menjelaskan dan membedakan konsep atau kelas data dengan tujuan memperkirakan kelas dari suatu objek

Lebih terperinci

PERANCANGAN PROGRAM PENGENALAN BENTUK MOBIL DENGAN METODE BACKPROPAGATION DAN ARTIFICIAL NEURAL NETWORK SKRIPSI

PERANCANGAN PROGRAM PENGENALAN BENTUK MOBIL DENGAN METODE BACKPROPAGATION DAN ARTIFICIAL NEURAL NETWORK SKRIPSI PERANCANGAN PROGRAM PENGENALAN BENTUK MOBIL DENGAN METODE BACKPROPAGATION DAN ARTIFICIAL NEURAL NETWORK SKRIPSI Oleh Nama : Januar Wiguna Nim : 0700717655 PROGRAM GANDA TEKNIK INFORMATIKA DAN MATEMATIKA

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Automatic Number Plate Recognition (ANPR) Berdasarkan penjelasan dari penelitian sebelumnya mengenai deteksi plat nomor, maka dapat disimpulkan bahwa pendeteksian ini sangat dibutuhkan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Teknologi pengenalan teks merupakan teknologi yang mampu mengenali teks

BAB 2 LANDASAN TEORI. Teknologi pengenalan teks merupakan teknologi yang mampu mengenali teks BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengenalan Teks Teknologi pengenalan teks merupakan teknologi yang mampu mengenali teks pada citra digital dan mengalihkannya pada dokumen digital. Aplikasi dari teknologi pengenalan

Lebih terperinci

Rekognisi karakter optik merupakan salah satu aplikasi pengenalan pola yang

Rekognisi karakter optik merupakan salah satu aplikasi pengenalan pola yang 17 BAB II REKOGNISI KARAKTER NUMERIK 2.1 Gambaran Singkat Rekognisi Karakter Optik Rekognisi karakter optik merupakan salah satu aplikasi pengenalan pola yang dirancang untuk menerjemahkan teks baik berupa

Lebih terperinci

HUBUNGAN JUMLAH INPUT LAYER DAN OUTPUT LAYER NEURAL NETWORK TERHADAP TINGKAT AKURASI SISTEM HANDWRITING RECOGNITION DENGAN METODE BACKPROPAGATION

HUBUNGAN JUMLAH INPUT LAYER DAN OUTPUT LAYER NEURAL NETWORK TERHADAP TINGKAT AKURASI SISTEM HANDWRITING RECOGNITION DENGAN METODE BACKPROPAGATION HUBUNGAN JUMLAH INPUT LAYER DAN OUTPUT LAYER NEURAL NETWORK TERHADAP TINGKAT AKURASI SISTEM HANDWRITING RECOGNITION DENGAN METODE BACKPROPAGATION Harjono, Didik Warasto Politeknik Pratama Mulia Surakarta

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORETIS

BAB 2 TINJAUAN TEORETIS BAB 2 TINJAUAN TEORETIS 2. Citra Digital Menurut kamus Webster, citra adalah suatu representasi, kemiripan, atau imitasi dari suatu objek atau benda. Citra digital adalah representasi dari citra dua dimensi

Lebih terperinci

DOKUMENTASI ULANG NASKAH BRAILLE MENGGUNAKAN BACKPROPAGATION NEURAL NETWORK

DOKUMENTASI ULANG NASKAH BRAILLE MENGGUNAKAN BACKPROPAGATION NEURAL NETWORK DOKUMENTASI ULANG NASKAH BRAILLE MENGGUNAKAN BACKPROPAGATION NEURAL NETWORK Chairisni Lubis 1, Yoestinus 2 1 Fakultas Teknologi Informasi, Universitas Tarumanagara-Jakarta, [email protected]

Lebih terperinci

BAB 3 ANALISA DAN PERANCANGAN

BAB 3 ANALISA DAN PERANCANGAN 44 BAB 3 ANALISA DAN PERANCANGAN 3.1 Analisa Analisa yang dilakukan terdiri dari : a. Analisa terhadap permasalahan yang ada. b. Analisa pemecahan masalah. 3.1.1 Analisa Permasalahan Pengenalan uang kertas

Lebih terperinci

SISTEM PENGENALAN BARCODE MENGGUNAKAN JARINGAN SYARAF TIRUAN LEARNING VECTOR QUANTIZATION

SISTEM PENGENALAN BARCODE MENGGUNAKAN JARINGAN SYARAF TIRUAN LEARNING VECTOR QUANTIZATION SISTEM PENGENALAN BARCODE MENGGUNAKAN JARINGAN SYARAF TIRUAN LEARNING VECTOR QUANTIZATION Nama Mahasiswa : Gigih Prasetyo Cahyono NRP : 1206 100 067 Jurusan : Matematika FMIPA-ITS Dosen Pembimbing : Prof.

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Data Yang Digunakan Dalam melakukan penelitian ini, penulis membutuhkan data input dalam proses jaringan saraf tiruan backpropagation. Data tersebut akan digunakan sebagai

Lebih terperinci

Operasi-operasi Dasar Pengolahan Citra Digital

Operasi-operasi Dasar Pengolahan Citra Digital Operasi-operasi Dasar Pengolahan Citra Digital Pendahuluan Citra digital direpresentasikan dengan matriks. Operasi pada citra digital pada dasarnya adalah memanipulasi elemen- elemen matriks. Elemen matriks

Lebih terperinci

BAB 3 IMPLEMENTASI SISTEM

BAB 3 IMPLEMENTASI SISTEM BAB 3 IMPLEMENTASI SISTEM Bab ini akan membahas mengenai proses implementasi dari metode pendeteksian paranodus yang digunakan dalam penelitian ini. Bab ini terbagai menjadi empat bagian, bagian 3.1 menjelaskan

Lebih terperinci

Program Aplikasi Komputer Pengenalan Angka Dengan Pose Jari Tangan Sebagai Media Pembelajaran Interaktif Anak Usia Dini

Program Aplikasi Komputer Pengenalan Angka Dengan Pose Jari Tangan Sebagai Media Pembelajaran Interaktif Anak Usia Dini Program Aplikasi Komputer Pengenalan Angka Dengan Pose Jari Tangan Sebagai Media Pembelajaran Interaktif Anak Usia Dini Wawan Kurniawan Jurusan PMIPA, FKIP Universitas Jambi [email protected] Abstrak

Lebih terperinci

PENGENALAN HURUF BALI MENGGUNAKAN METODE MODIFIED DIRECTION FEATURE (MDF) DAN LEARNING VECTOR QUANTIZATION (LVQ)

PENGENALAN HURUF BALI MENGGUNAKAN METODE MODIFIED DIRECTION FEATURE (MDF) DAN LEARNING VECTOR QUANTIZATION (LVQ) PENGENALAN HURUF BALI MENGGUNAKAN METODE MODIFIED DIRECTION FEATURE (MDF) DAN LEARNING VECTOR QUANTIZATION (LVQ) Tjokorda Agung BW 1, I Gede Rudy Hermanto 2, Retno Novi D 3 1,2,3 Fakultas Teknik Informatika

Lebih terperinci

KLASIFIKASI CITRA PARU MENGGUNAKAN MODEL SELF-ORGANIZING MAPS RADIAL BASIS FUNCTION NEURAL NETWORKS (SOM-RBFNN) SKRIPSI

KLASIFIKASI CITRA PARU MENGGUNAKAN MODEL SELF-ORGANIZING MAPS RADIAL BASIS FUNCTION NEURAL NETWORKS (SOM-RBFNN) SKRIPSI KLASIFIKASI CITRA PARU MENGGUNAKAN MODEL SELF-ORGANIZING MAPS RADIAL BASIS FUNCTION NEURAL NETWORKS (SOM-RBFNN) SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri

Lebih terperinci

Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan deteksi penyakit pada daun rose dengan menggunakan metode ANN.

Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan deteksi penyakit pada daun rose dengan menggunakan metode ANN. Laporan Akhir Projek PPCD Deteksi Penyakit Daun Menggunakan Artificial Neural Network (ANN) TRI SONY(G64130020), GISHELLA ERDYANING (G64130040), AMALIYA SUKMA RAGIL PRISTIYANTO (G64130044), MUHAMMAD RIZQI

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Implementasi antar muka dalam tugas akhir ini terdiri dari form halaman

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Implementasi antar muka dalam tugas akhir ini terdiri dari form halaman BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Implementasi Antar Muka Implementasi antar muka dalam tugas akhir ini terdiri dari form halaman judul perangkat lunak, form pelatihan jaringan saraf tiruan, form pengujian

Lebih terperinci

BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN

BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN 3.1. Analisis Masalah 3.1.1. Deskripsi Masalah Seiring dengan perkembangan jaman, maka makin meningkat pula kebutuhan seseorang akan informasi. Penerapan teknologi informasi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Waktu yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dalam kurun waktu enam bulan terhitung mulai februari 2012 sampai juli 2012. Tempat yang digunakan

Lebih terperinci

BAB 3 PERANCANGAN SISTEM. Bab ini menguraikan analisa penelitian terhadap metode Backpropagation yang

BAB 3 PERANCANGAN SISTEM. Bab ini menguraikan analisa penelitian terhadap metode Backpropagation yang BAB 3 PERANCANGAN SISTEM Bab ini menguraikan analisa penelitian terhadap metode Backpropagation yang diimplementasikan sebagai model estimasi harga saham. Analisis yang dilakukan adalah menguraikan penjelasan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Citra Digital Citra digital adalah citra yang bersifat diskrit yang dapat diolah oleh computer. Citra ini dapat dihasilkan melalui kamera digital dan scanner ataupun citra yang

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. tangan dengan menggunakan metode Support Vector Machine (SVM).

BAB III METODE PENELITIAN. tangan dengan menggunakan metode Support Vector Machine (SVM). BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Di dalam desain penelitian ini akan menggambarkan proses pengenalan tulisan tangan dengan menggunakan metode Support Vector Machine (SVM). Praproses Input

Lebih terperinci

2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 9 2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terkait Secara umum penelitian pengenalan plat nomor kendaraan terdiri dari tiga tahapan [1][7][11], yaitu deteksi plat nomor kendaraan, segmentasi karakter,

Lebih terperinci

PENINGKATAN KUALITAS CITRA DENGAN METODE FUZZY POSSIBILITY DISTRIBUTION

PENINGKATAN KUALITAS CITRA DENGAN METODE FUZZY POSSIBILITY DISTRIBUTION PENINGKATAN KUALITAS CITRA DENGAN METODE FUZZY POSSIBILITY DISTRIBUTION Sugiarti [email protected] Universitas Muslim Indonesia Abstrak Peningkatan kualitas citra merupakan salah satu proses awal

Lebih terperinci

BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN PROGRAM

BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN PROGRAM BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN PROGRAM Program aplikasi ini dirancang dengan menggunakan perangkat lunak Microsoft Visual C# 2008 Express Edition. Proses perancangan menggunakan pendekatan Object Oriented

Lebih terperinci

Pertemuan 3 Perbaikan Citra pada Domain Spasial (1) Anny Yuniarti, S.Kom, M.Comp.Sc

Pertemuan 3 Perbaikan Citra pada Domain Spasial (1) Anny Yuniarti, S.Kom, M.Comp.Sc Pertemuan 3 Perbaikan Citra pada Domain Spasial (1), S.Kom, M.Comp.Sc Tujuan Memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai berbagai teknik perbaikan citra pada domain spasial, antara lain : Transformasi

Lebih terperinci

PENGENALANAN KARAKTER MANDARIN DENGAN BACKPROPAGATION NEURAL NETWORK

PENGENALANAN KARAKTER MANDARIN DENGAN BACKPROPAGATION NEURAL NETWORK PENGENALANAN KARAKTER MANDARIN DENGAN BACKPROPAGATION NEURAL NETWORK Chairisni Lubis 1), Tony 2), Ardy Kuncoro 3) 1), 2), 3) Fakultas Teknologi Informasi Universitas Tarumanagara Jalan S.Parman No.1 Jakarta

Lebih terperinci

Konvolusi. Esther Wibowo Erick Kurniawan

Konvolusi. Esther Wibowo Erick Kurniawan Konvolusi Esther Wibowo [email protected] Erick Kurniawan [email protected] Filter / Penapis Digunakan untuk proses pengolahan citra: Perbaikan kualitas citra (image enhancement) Penghilangan

Lebih terperinci

APLIKASI PENGENALAN DAUN UBI JALAR UNTUK JENIS UBI JALAR UNGU, MERAH, PUTIH DAN KUNING MENGGUNAKAN METODE PRINCIPAL COMPONENT ANALYSIS

APLIKASI PENGENALAN DAUN UBI JALAR UNTUK JENIS UBI JALAR UNGU, MERAH, PUTIH DAN KUNING MENGGUNAKAN METODE PRINCIPAL COMPONENT ANALYSIS APLIKASI PENGENALAN DAUN UBI JALAR UNTUK JENIS UBI JALAR UNGU, MERAH, PUTIH DAN KUNING MENGGUNAKAN METODE PRINCIPAL COMPONENT ANALYSIS SKRIPSI Diajukan Untuk Penulisan Skripsi Guna Memenuhi Salah Satu

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI SEGMENTASI PEMBULUH DARAH RETINA PADA CITRA FUNDUS MATA BERWARNA MENGGUNAKAN PENDEKATAN MORFOLOGI ADAPTIF

IMPLEMENTASI SEGMENTASI PEMBULUH DARAH RETINA PADA CITRA FUNDUS MATA BERWARNA MENGGUNAKAN PENDEKATAN MORFOLOGI ADAPTIF IMPLEMENTASI SEGMENTASI PEMBULUH DARAH RETINA PADA CITRA FUNDUS MATA BERWARNA MENGGUNAKAN PENDEKATAN MORFOLOGI ADAPTIF Dini Nuzulia Rahmah 1, Handayani Tjandrasa 2, Anny Yuniarti 3 Teknik Informatika,

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. dari sudut pandang matematis, citra merupakan fungsi kontinyu dari intensitas cahaya

BAB 2 LANDASAN TEORI. dari sudut pandang matematis, citra merupakan fungsi kontinyu dari intensitas cahaya 5 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Citra Secara harfiah citra atau image adalah gambar pada bidang dua dimensi. Ditinjau dari sudut pandang matematis, citra merupakan fungsi kontinyu dari intensitas cahaya pada

Lebih terperinci

SIMULASI PENGENALAN TULISAN MENGGUNAKAN LVQ (LEARNING VECTOR QUANTIZATION )

SIMULASI PENGENALAN TULISAN MENGGUNAKAN LVQ (LEARNING VECTOR QUANTIZATION ) SIMULASI PENGENALAN TULISAN MENGGUNAKAN LVQ (LEARNING VECTOR QUANTIZATION ) Fachrul Kurniawan, Hani Nurhayati Jurusan Teknik Informatika, Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI Pada bab ini akan dibahas teori yang berkaitan dengan pemrosesan data untuk sistem pendeteksi senyum pada skripsi ini, meliputi metode Viola Jones, konversi citra RGB ke grayscale,

Lebih terperinci

Pengenalan Karakter Sintaktik menggunakan Algoritma Otsu dan Zhang-Suen

Pengenalan Karakter Sintaktik menggunakan Algoritma Otsu dan Zhang-Suen Pengenalan Karakter Sintaktik menggunakan Algoritma Otsu dan Zhang-Suen Yusfia Hafid Aristyagama (23214355) Electrical Engineering, Digital Media and Game Technology Institut Teknologi Bandung Bandung,

Lebih terperinci

PENGENALAN TANDA TANGAN DENGAN METODE MODIFIED DIRECTION FEATURE (MDF) DAN EUCLIDEAN DISTANCE

PENGENALAN TANDA TANGAN DENGAN METODE MODIFIED DIRECTION FEATURE (MDF) DAN EUCLIDEAN DISTANCE PENGENALAN TANDA TANGAN DENGAN METODE MODIFIED DIRECTION FEATURE (MDF) DAN EUCLIDEAN DISTANCE Fitri Damayanti D3 Manajemen Informatika Universitas Trunojoyo Jl. Raya Telang, PO BOX 2, Kamal, Bangkalan

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Dasar Teori Citra Digital

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Dasar Teori Citra Digital 4 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Dasar Teori Bab ini berisi tentang teori yang mendasari penelitian ini. Terdapat beberapa dasar teori yang digunakan dan akan diuraikan sebagai berikut. 2.1.1 Citra Digital

Lebih terperinci

Muhammad Zidny Naf an, M.Kom. Gasal 2015/2016

Muhammad Zidny Naf an, M.Kom. Gasal 2015/2016 MKB3383 - Teknik Pengolahan Citra Pengolahan Citra Digital Muhammad Zidny Naf an, M.Kom. Gasal 2015/2016 CITRA Citra (image) = gambar pada bidang 2 dimensi. Citra (ditinjau dari sudut pandang matematis)

Lebih terperinci

BAB 3 PROSEDUR DAN METODOLOGI. menawarkan pencarian citra dengan menggunakan fitur low level yang terdapat

BAB 3 PROSEDUR DAN METODOLOGI. menawarkan pencarian citra dengan menggunakan fitur low level yang terdapat BAB 3 PROSEDUR DAN METODOLOGI 3.1 Permasalahan CBIR ( Content Based Image Retrieval) akhir-akhir ini merupakan salah satu bidang riset yang sedang berkembang pesat (Carneiro, 2005, p1). CBIR ini menawarkan

Lebih terperinci

pola-pola yang terdapat pada suatu daerah bagian citra. Tekstur juga dapat membedakan permukaan dari beberapa kelas.

pola-pola yang terdapat pada suatu daerah bagian citra. Tekstur juga dapat membedakan permukaan dari beberapa kelas. Ruang Lingkup Penelitian Ruang Lingkup penelitian ini adalah: 1. Objek citra adalah data citra daun tumbuhan obat dan citra pohon tanaman hias di Indonesia. 2. Dalam penelitian ini operator MBLBP yang

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Citra Digital

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Citra Digital BAB II DASAR TEORI 2.1 Citra Digital Citra digital didefinisikan sebagai fungsi f (x,y) dua dimensi,dimana x dan y adalah koordinat spasial dan f(x,y) adalah disebut dengan intensitas atau tingkat keabuan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI Pada bab ini akan dielaskan mengenai teori-teori yang berhubungan dengan penelitian ini, sehingga dapat diadikan sebagai landasan berpikir dan akan mempermudah dalam hal pembahasan

Lebih terperinci

ANALISIS CONTRAST STRETCHING MENGGUNAKAN ALGORITMA EUCLIDEAN UNTUK MENINGKATKAN KONTRAS PADA CITRA BERWARNA

ANALISIS CONTRAST STRETCHING MENGGUNAKAN ALGORITMA EUCLIDEAN UNTUK MENINGKATKAN KONTRAS PADA CITRA BERWARNA ANALISIS CONTRAST STRETCHING MENGGUNAKAN ALGORITMA EUCLIDEAN UNTUK MENINGKATKAN KONTRAS PADA CITRA BERWARNA Nurliadi 1 *, Poltak Sihombing 2 & Marwan Ramli 3 1,2,3 Magister Teknik Informatika, Universitas

Lebih terperinci

ALGORITMA LEARNING VECTOR QUANTIZATION UNTUK PENGENALAN BARCODE BUKU DI PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS GALUH CIAMIS

ALGORITMA LEARNING VECTOR QUANTIZATION UNTUK PENGENALAN BARCODE BUKU DI PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS GALUH CIAMIS ALGORITMA LEARNING VECTOR QUANTIZATION UNTUK PENGENALAN BARCODE BUKU DI PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS GALUH CIAMIS Egi Badar Sambani 1), Neneng Sri Uryani 2), Rifki Agung Kusuma Putra 3) Jurusan Teknik Informatika,

Lebih terperinci

Pengenalan Tulisan Tangan Dengan Menggunakan Metode Diagonal Feature Extraction dan K-Nearest Neighbour. Yustar Pramudana

Pengenalan Tulisan Tangan Dengan Menggunakan Metode Diagonal Feature Extraction dan K-Nearest Neighbour. Yustar Pramudana Pengenalan Tulisan Tangan Dengan Menggunakan Metode Diagonal Feature Extraction dan K-Nearest Neighbour Yustar Pramudana Program Studi Teknik Informatika, Departemen Informatika Telkom University Jl. Telekomunikasi

Lebih terperinci

Algoritma Kohonen dalam Mengubah Citra Graylevel Menjadi Citra Biner

Algoritma Kohonen dalam Mengubah Citra Graylevel Menjadi Citra Biner Jurnal Ilmiah Teknologi dan Informasia ASIA (JITIKA) Vol.9, No.2, Agustus 2015 ISSN: 0852-730X Algoritma Kohonen dalam Mengubah Citra Graylevel Menjadi Citra Biner Nur Nafi'iyah Prodi Teknik Informatika

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Pengolahan Citra adalah pemrosesan citra, khususnya dengan menggunakan

BAB II LANDASAN TEORI. Pengolahan Citra adalah pemrosesan citra, khususnya dengan menggunakan BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Citra Citra adalah gambar pada bidang dwimatra (dua dimensi). Ditinjau dari sudut pandang matematis, citra merupakan fungsi menerus dan intensitas cahaya pada bidang dwimatra

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Meter Air. Gambar 2.1 Meter Air. Meter air merupakan alat untuk mengukur banyaknya aliran air secara terus

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Meter Air. Gambar 2.1 Meter Air. Meter air merupakan alat untuk mengukur banyaknya aliran air secara terus BAB II DASAR TEORI 2.1 Meter Air Gambar 2.1 Meter Air Meter air merupakan alat untuk mengukur banyaknya aliran air secara terus menerus melalui sistem kerja peralatan yang dilengkapi dengan unit sensor,

Lebih terperinci

SATUAN ACARA PERKULIAHAN ( SAP )

SATUAN ACARA PERKULIAHAN ( SAP ) SATUAN ACARA PERKULIAHAN ( SAP ) Mata Kuliah : Pengolahan Citra Digital Kode : IES 6323 Semester : VI Waktu : 1 x 3x 50 Menit Pertemuan : 6 A. Kompetensi 1. Utama Mahasiswa dapat memahami tentang sistem

Lebih terperinci

DETEKSI NOMINAL MATA UANG DENGAN JARAK EUCLIDEAN DAN KOEFISIEN KORELASI

DETEKSI NOMINAL MATA UANG DENGAN JARAK EUCLIDEAN DAN KOEFISIEN KORELASI DETEKSI NOMINAL MATA UANG DENGAN JARAK EUCLIDEAN DAN KOEFISIEN KORELASI Marina Gracecia1, ShintaEstriWahyuningrum2 Program Studi Teknik Informatika Universitas Katolik Soegijapranata 1 [email protected],

Lebih terperinci

Pembentukan Citra. Bab Model Citra

Pembentukan Citra. Bab Model Citra Bab 2 Pembentukan Citra C itra ada dua macam: citra kontinu dan citra diskrit. Citra kontinu dihasilkan dari sistem optik yang menerima sinyal analog, misalnya mata manusia dan kamera analog. Citra diskrit

Lebih terperinci