V. HASIL DAN PEMBAHASAN
|
|
|
- Yandi Wibowo
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Hasil yang diperoleh selama periode Maret 2011 adalah data operasional PMS Gunung Meliau, distribusi penerimaan TBS di PMS Gunung Meliau, distribusi penerimaan fraksi TBS di PMS Gunung Meliau, dan rendemen maksimal yang mungkin diperoleh dari fraksi TBS yang diterima oleh PMS Gunung Meliau. Datadata ini diperoleh secara observasi, pengujian, dan perhitungan berdasarkan rumusrumus tertentu Data operasional PMS Gunung Meliau periode Maret Data operasional PMS Gunung Meliau tanggal 01 Maret 2011 s.d. 05 Maret 2011 Buah Diterima No Uraian Target (1/03/2011) (2/03/2011) (3/03/2011) (4/03/2011) (5/03/2011) Buah Diterima 400, , , ,110 89,500 Gunung Meliau (kg) 227, , , ,170 30,240 1 Kebun Inti Sungai Dekan (kg) 98,120 95, ,650 88,290 5,890 Gunung Mas (kg) 74, , ,000 94,650 53,370 Kebun Plasma (kg) 10,240 45,400 2,560 7,700 3,450 Pihak Ketiga (kg) 186, , , ,400 0 Jumlah (kg) 596, , , ,210 92,950 2 Buah Restan Awal (kg) 131, , , , ,360 Total TBS Hari Ini (kg) 727, , , , ,310 3 Buah Diolah (kg) 550, , , , Buah Restan akhir (kg) 177, , , , ,310 Jam Kerja (jam) ,5 10, Jam Mulai Pengolahan (Jam) Jam Stop Pengolahan (Jam) Kapasitas Olah (TBS /Jam) ,348 55,000 52, Produksi CPO aktual (kg) 116, , ,219 88,078 0 Produksi CPO dari RKAP (kg) 124, , ,661 94, Rendemen Minyak (%) , ALB Minyak Produksi (%) Kadar Air Minyak Produksi (%) Kadar Kotoran Minyak Produksi (%) Produksi inti sawit Aktual (kg) 26,550 32,670 27,540 21,780 0 Produksi inti sawit dari RKAP (kg) 25,856 29,348 25,750 19, Rendemen inti sawit (%)
2 ALB Inti Produksi (%) Kadar Air Inti Produksi (%) Kadar Kotoran Inti Produksi (%) Total Kehilangan CPO (%) Total kehilangan inti sawit (%) Data operasional PMS Gunung Meliau tanggal 07 Maret 2011 s.d. 11 Maret 2011 Buah Diterima No Uraian Target (07/03/2011) (08/03/2011) (09/03/2011) (10/03/2011) (11/03/2011) 1 2 Buah Diterima 480, , , , ,310 Kebun Inti Gunung Meliau (kg) 258, , , , ,450 Sungai Dekan (kg) 77,230 88, , ,340 76,670 Gunung Mas (kg) 144, , , , ,190 Kebun Plasma (kg) 29,130 28,230 26,400 30,630 23,160 Pihak Ketiga (kg) 244, , , , ,360 Jumlah (kg) 753, , , , ,830 Buah Restan Awal (kg) 289, , , , ,400 Total TBS Hari Ini (kg) 1,043, , , , ,230 3 Buah Diolah (kg) 850, , , , ,000 4 Buah Restan akhir (kg) 193, , , , ,230 Jam Kerja (jam) Jam Mulai Pengolahan (Jam) Jam Stop Pengolahan (Jam) Kapasitas Olah (TBS /Jam) 53,125 52,500 55,102 54,476 53,429 Produksi CPO aktual (kg) 181, , , , ,093 7 Produksi CPO dari RKAP (kg) 192, , , , ,932 8 Rendemen Minyak (%) ALB Minyak Produksi (%) Kadar Air Minyak Produksi (%) Kadar Kotoran Minyak Produksi (%) Produksi Inti Sawit Aktual (kg) 42,120 26,370 31,680 26,010 26, Produksi Inti Sawit dari RKAP (kg) 39,764 24,671 31,725 26,876 26, Rendemen Inti Sawit (%) ALB Inti Produksi (%) Kadar Air Inti Produksi (%) Kadar Kotoran Inti Produksi (%) Total Kehilangan CPO (%) Total kehilangan Inti Sawit (%)
3 3. Data operasional PMS Gunung Meliau tanggal 12 Maret 2011 s.d. 16 Maret 2011 Buah Diterima No Uraian Target (12/03/2011) (13/03/2011) (14/03/2011) (15/03/2011) (16/03/2011) 1 Buah Diterima 397, , , , ,880 Kebun Inti Gunung Meliau (kg) 194,600 92, , , ,650 Sungai Dekan (kg) 68, ,150 72, ,770 Gunung Mas (kg) 134,320 18, , , ,460 Kebun Plasma (kg) 40, ,080 39,690 70,610 Pihak Ketiga (kg) 176, , , ,150 Jumlah (kg) 615, , , , ,640 2 Buah Restan Awal (kg) 143, , , , ,920 Total TBS Hari Ini (kg) 758, ,340 1,142, , ,560 3 Buah Diolah (kg) 600, ,000, , ,810 4 Buah Restan akhir (kg) 157, , , , ,750 Jam Kerja (jam) Jam Mulai Pengolahan (Jam) Jam Stop Pengolahan (Jam) Kapasitas Olah (TBS /Jam) 54, ,632 53,958 56,139 Produksi CPO aktual (kg) 128, , , ,357 7 Produksi CPO dari RKAP (kg) 135, , , ,402 8 Rendemen Minyak (%) ALB Minyak Produksi (%) Kadar Air Minyak Produksi (%) Kadar Kotoran Minyak Produksi (%) Produksi Inti Sawit Aktual (kg) 28, ,590 37,090 30, Produksi Inti Sawit dari RKAP (kg) 28, ,711 37, Rendemen Inti Sawit (%) ALB Inti Produksi (%) Kadar Air Inti Produksi (%) Kadar Kotoran Inti Produksi (%) Total Kehilangan CPO (%) Total kehilangan Inti Sawit (%)
4 4. Data operasional PMS Gunung Meliau tanggal 17 Maret 2011 s.d. 21 Maret 2011 Buah Diterima No Uraian Target (17/03/2011) (18/03/2011) (19/03/2011) (20/03/2011) (21/03/2011) 1 Buah Diterima 448, , , , ,850 Gunung Meliau (kg) 200, , , , ,410 Kebun Inti Sungai Dekan (kg) 97, ,900 87,130 23,400 54,710 Gunung Mas (kg) 151, , ,200 30,460 90,730 Kebun Plasma (kg) 91,660 86,860 55,100 9,410 14,700 Pihak Ketiga (kg) 229, , , ,770 Jumlah (kg) 769, , , , ,320 2 Buah Restan Awal (kg) 129, , , , ,800 Total TBS Hari Ini (kg) 899, , , , ,120 3 Buah Diolah (kg) 775, , , ,000 4 Buah Restan akhir (kg) 124, , , , ,120 Jam Kerja (jam) Jam Mulai Pengolahan (Jam) Jam Stop Pengolahan (Jam) Kapasitas Olah (TBS /Jam) 55,357 56,914 54, ,818 7 Produksi CPO aktual (kg) 165, , , ,884 Produksi CPO dari RKAP (kg) 174, , , ,692 8 Rendemen Minyak (%) ALB Minyak Produksi (%) Kadar Air Minyak Produksi (%) Kadar Kotoran Minyak Produksi (%) Produksi Inti Sawit Aktual (kg) 34,920 37,350 30, ,880 Produksi Inti Sawit dari RKAP (kg) 36,243 37,250 27, , Rendemen Inti Sawit (%) ALB Inti Produksi (%) Kadar Air Inti Produksi (%) Kadar Kotoran Inti Produksi (%) Total Kehilangan CPO (%) Total kehilangan Inti Sawit (%)
5 5. Data operasional PMS Gunung Meliau tanggal 22 Maret 2011 s.d. 26 Maret 2011 Buah Diterima No Uraian Target (22/03/2011) (23/03/2011) (24/03/2011) (25/03/2011) (26/03/2011) 1 Buah Diterima 440, , , , ,400 Gunung Meliau (kg) 209, , , , ,410 Kebun Inti Sungai Dekan (kg) 80,710 82,220 76,860 74,540 77,930 Gunung Mas (kg) 150, , , , ,060 Kebun Plasma (kg) 9,400 2,560 4,160 5,110 5,580 Pihak Ketiga (kg) 55,040 58, , , ,380 Jumlah (kg) 505, , , , ,360 2 Buah Restan Awal (kg) 129, , , , ,180 Total TBS Hari Ini (kg) 634, , , , ,540 3 Buah Diolah (kg) 425, , , , ,000 4 Buah Restan akhir (kg) 209, , , , ,540 Jam Kerja (jam) Jam Mulai Pengolahan (Jam) Jam Stop Pengolahan (Jam) ,15 6 Kapasitas Olah (TBS /Jam) 53,125 53,000 55,000 52,417 53,659 7 Produksi CPO aktual (kg) 90, , , , ,839 Produksi CPO dari RKAP (kg) 97, , , , ,462 8 Rendemen Minyak (%) ALB Minyak Produksi (%) Kadar Air Minyak Produksi (%) Kadar Kotoran Minyak Produksi (%) Produksi Inti Sawit Aktual (kg) 20,430 24,930 28,350 23,670 23,400 Produksi Inti Sawit dari RKAP (kg) 20,058 22,570 25,844 22,120 25, Rendemen Inti Sawit (%) ALB Inti Produksi (%) Kadar Air Inti Produksi (%) Kadar Kotoran Inti Produksi (%) Total Kehilangan CPO (%) Total kehilangan Inti Sawit (%)
6 6. Data operasional PMS Gunung Meliau tanggal 28 Maret 2011 s.d. 01 April 2011 Buah Diterima No Uraian Target (28/03/2011) (29/03/2011) (30/03/2011) (31/03/2011) (1/04/2011) 1 Buah Diterima 552, , , , ,840 Gunung Meliau (kg) 258, , , , ,480 Kebun Inti Sungai Dekan (kg) 111, ,410 96,280 85,330 69,950 Gunung Mas (kg) 182, , , , ,410 Kebun Plasma (kg) 2,870 11,030 32,550 37,880 6,580 Pihak Ketiga (kg) 346, , , , ,200 Jumlah (kg) 902, , , , ,620 2 Buah Restan Awal (kg) 168, , , , ,320 Total TBS Hari Ini (kg) 1,070, , , , ,940 3 Buah Diolah (kg) 900, , , , ,000 4 Buah Restan akhir (kg) 170, , , , ,940 Jam Kerja (jam) Jam Mulai Pengolahan (Jam) Jam Stop Pengolahan (Jam) Kapasitas Olah (TBS /Jam) 52,941 56,181 55,125 50,000 54,000 7 Produksi CPO aktual (kg) 192, , , ,075 98,646 Produksi CPO dari RKAP (kg) 202, , , , ,647 8 Rendemen Minyak (%) ALB Minyak Produksi (%) Kadar Air Minyak Produksi (%) Kadar Kotoran Minyak Produksi (%) Produksi Inti Sawit Aktual (kg) 37,080 29,610 27,900 25,740 19,530 Produksi Inti Sawit dari RKAP (kg) 41,870 34,199 31,044 25,759 21, Rendemen Inti Sawit (%) ALB Inti Produksi (%) Kadar Air Inti Produksi (%) Kadar Kotoran Inti Produksi (%) Total Kehilangan CPO (%) Total kehilangan Inti Sawit (%)
7 5.1.2 Distribusi penerimaan TBS PMS Gunung Meliau periode Maret Distibusi penerimaan TBS PMS Gunung Meliau tanggal 01 Maret 2011 s.d. 11 Maret 2011 Tanggal 01/03/ /03/ /03/ /03/ /03/ /03/ /03/ /03/ /03/ /03/2011 Kebun TOTAL (Kg) Gunung Meliau 0 8,110 29, ,600 30,740 23,400 24,640 4, ,480 Sungai Dekan ,390 29,000 23,150 12,680 5, ,120 Gunung Mas 4, ,110 19,040 12,770 18,180 7,030 6, ,520 Plasma 0 0 2,180 2, , ,240 Pihak Ketiga 10,240 21,040 12,030 30,020 3,530 14,970 63,280 26, ,620 Gunung Meliau ,880 71,220 30,610 16,240 14,090 6, ,370 Sungai Dekan 0 0 5,180 46,590 17,360 5,680 14,680 6, ,680 Gunung Mas 6, ,620 34,530 19,430 6,350 19,580 18,740 7, ,200 Plasma ,790 6,500 10,500 3, ,460 Pihak Ketiga 22,670 2,480 16,930 11,720 13,380 3,810 11,820 33,140 48, ,290 Gunung Meliau 4, ,680 92,650 36,920 11,210 6, ,460 Sungai Dekan 0 0 5,340 41,190 30,180 20,320 4, ,650 Gunung Mas 0 0 5,170 39,830 37,120 20, ,000 Plasma 0 0 2, ,560 Pihak Ketiga 20,800 27,330 33, ,780 1,990 54, ,840 Gunung Meliau ,780 57,610 35, , ,340 Sungai Dekan 0 0 4,800 52,310 25,600 5, ,290 Gunung Mas 5, ,310 23,370 30,350 11,750 13, ,550 Plasma 0 0 3,560 4, ,700 Pihak Ketiga 6,570 8,930 14,520 18,610 13,780 21,350 27, ,400 Gunung Meliau ,710 6,820 6, ,240 Sungai Dekan Gunung Mas 0 0 5,670 21,340 25, , ,260 Plasma , ,450 Pihak Ketiga Gunung Meliau 12,800 16,940 52, ,210 50,520 13,460 7, ,870 Sungai Dekan ,290 38,810 15,770 11, ,230 Gunung Mas 11,360 11,790 14,610 34,380 10,700 59, ,100 Plasma 0 4, ,030 4,860 15, ,130 Pihak Ketiga 37,440 30,510 26,810 17,120 53,660 78, ,990 Gunung Meliau 0 4,770 28,340 66,530 60,800 34, ,760 Sungai Dekan ,910 57,540 11,730 11, ,220 Gunung Mas 0 4, ,030 44,100 31,590 22, ,900 Plasma 0 5,000 5,580 4,230 10,000 3, ,230 Pihak Ketiga 16,870 7,610 14,190 5,390 17,960 31,870 13, ,000 Gunung Meliau ,940 76,970 39,170 45,620 11, ,150 Sungai Dekan ,130 35,990 30,480 11,400 22, ,980 Gunung Mas 0 6, ,080 36,250 27,860 25, ,970 Plasma 1,050 8,560 1,690 4,360 4,900 2,270 3, ,400 Pihak Ketiga 8,550 14,630 19,180 11,920 25,970 13,220 43, ,460 Gunung Meliau ,540 71,910 53,090 20,910 11, ,860 Sungai Dekan ,140 37,890 33, , ,040 Gunung Mas ,600 61,290 8,030 16, ,870 Plasma 0 0 2,680 3,250 11, ,980 4, ,630 Pihak Ketiga 10,540 8,610 17,570 20,470 15,430 26,910 26, ,490 Gunung Meliau ,140 71,790 6,410 26, ,480 Sungai Dekan ,750 10,340 6,520 4, ,660 Gunung Mas 0 3, ,510 35,670 27,430 19, ,190 Plasma 0 0 4,340 7,320 1,340 10, ,160 Pihak Ketiga 26,210 4,660 25,840 15,050 16,760 30,790 43, ,400 30
8 2. Distibusi penerimaan TBS PMS Gunung Meliau tanggal 12 Maret 2011 s.d. 21 Maret 2011 Tanggal 12/03/ /03/ /03/ /03/ /03/ /03/ /03/ /03/ /03/ /03/2011 Kebun TOTAL (Kg) Gunung Meliau 0 5,450 29,130 82,660 59, , ,300 Sungai Dekan ,300 27,780 16,060 4,390 10, ,850 Gunung Mas 0 0 5,010 68,700 36, , ,420 Plasma 2,540 13,970 3,040 2, ,060 14, ,840 Pihak Ketiga 18,830 13,090 8,100 41,780 17,620 5,240 72, ,670 Gunung Meliau ,290 54,240 18, ,150 Sungai Dekan ,420 6, ,840 Gunung Mas Plasma Pihak Ketiga Gunung Meliau ,720 61,320 77,830 11,280 24,310 21, ,800 Sungai Dekan ,420 12,210 7,280 18,100 14, ,150 Gunung Mas 7,600 10,080 15,770 51,620 34,670 5,630 23,400 6, ,000 Plasma 2, , ,620 6,640 11,470 3, ,080 Pihak Ketiga 85,640 57,530 55,150 26,190 28,820 21,360 48,380 35, ,590 Gunung Meliau 0 3,860 26, ,040 27,830 27,270 13,820 11, ,410 Sungai Dekan 0 0 4,980 48,050 14,720 4, ,740 Gunung Mas ,150 33,290 42,880 18,830 4, ,110 Plasma 0 4,840 3,410 12, ,350 7, ,690 Pihak Ketiga 31,750 44,830 30,000 32,240 41,510 33,220 90,340 21, ,200 Gunung Meliau ,770 78,510 44,670 49,840 25, ,700 Sungai Dekan ,810 45,230 24,740 5,320 17, ,970 Gunung Mas ,670 61,980 24,760 23,210 10, ,420 Plasma 2,390 6,900 9, ,600 10,900 2, ,610 Pihak Ketiga 17,110 34,800 19,070 31,390 16,750 51,250 40, ,050 Gunung Meliau ,330 64,360 27,850 36,850 21,330 27,120 5, ,090 Sungai Dekan ,510 22,700 20,880 17,440 14, ,230 Gunung Mas 11,730 13,600 6,890 23,530 11,350 35,830 25,960 22, ,360 Plasma 2,200 7,670 20,020 11,729 6,940 4,530 13,570 10,100 14,910 91,669 Pihak Ketiga 19,260 17,260 27,240 29,170 15,680 4,020 23,310 62,880 30, ,170 Gunung Meliau 5,070 3,400 28,010 96,650 35,460 25,430 4,630 4, ,560 Sungai Dekan ,430 26,050 31,040 12,430 5,230 5, ,900 Gunung Mas 14, ,000 47,070 34,840 12,990 11,310 6, ,990 Plasma 6,280 6,140 28,300 15,620 11,240 7,340 5,410 6, ,860 Pihak Ketiga 33,080 18,460 24,340 30,120 17,150 41,380 22,660 59, ,440 Gunung Meliau ,700 83,110 64,690 9, ,280 Sungai Dekan 0 0 6,160 58,500 15, , ,130 Gunung Mas 11, ,220 46,340 21,040 22, ,200 Plasma 13,030 15,000 10,690 3,280 4,840 4,900 3, ,100 Pihak Ketiga 40,370 6,640 15,720 26,110 26,730 57,550 7, ,980 Gunung Meliau ,550 72,790 50, ,240 Sungai Dekan 0 0 5,510 7,680 10, ,400 Gunung Mas ,340 4,510 4, ,460 Plasma , ,410 Pihak Ketiga Gunung Meliau ,700 34,030 30,600 32, , ,010 Sungai Dekan ,840 14,900 4, ,710 Gunung Mas ,150 57,540 17, ,730 Plasma 0 0 9,510 5, ,700 Pihak Ketiga 33,100 17,440 25, ,130 35, ,820 31
9 3. Distibusi penerimaan TBS PMS Gunung Meliau tanggal 22 Maret 2011 s.d. 01 April 2011 Tanggal 22/03/ /03/ /03/ /03/ /03/ /03/ /03/ /03/ /03/ /04/2011 Kebun TOTAL (Kg) Gunung Meliau 0 2,930 36,250 57,210 65,510 33,940 14, ,990 Sungai Dekan ,550 26,490 27, , ,770 Gunung Mas ,370 46,290 36,680 42,760 6, ,010 Plasma , , ,400 Pihak Ketiga 3, ,450 9,710 25,210 5, ,040 Gunung Meliau ,030 74,670 44,130 50,820 4, ,070 Sungai Dekan ,160 41, ,220 Gunung Mas ,880 16,200 54, ,230 Plasma , ,560 Pihak Ketiga ,150 14,480 29,860 9, ,310 Gunung Meliau 4, ,020 49,040 67,680 36, ,750 Sungai Dekan 0 4,480 4,830 51,080 9,760 6, ,860 Gunung Mas 5,320 6,910 13,860 46,240 17,360 29,480 2, ,399 Plasma 4, ,160 Pihak Ketiga 21,110 14,040 14,850 24,190 20,150 9,490 17, ,980 Gunung Meliau 0 5,110 21,980 54,460 69, , ,960 Sungai Dekan ,610 20,770 30,520 6, ,540 Gunung Mas ,520 53, , ,610 Plasma , ,110 Pihak Ketiga 6,340 4,680 17,370 25,180 24,660 36,880 14, ,600 Gunung Meliau 0 9,560 32,370 49,650 74,240 6,530 11, ,410 Sungai Dekan ,480 29,430 18,080 12, ,166 Gunung Mas 6, ,920 37,280 42,040 27,040 4, ,030 Plasma , ,580 Pihak Ketiga 0 3,920 32,380 2,710 26,470 52,960 12, ,380 Gunung Meliau 0 10,980 54,380 28,470 79,420 43,210 41, ,750 Sungai Dekan 0 0 5,840 3,860 38,440 10,350 4,470 13, ,130 Gunung Mas 11,860 30,690 5,350 54,560 16,730 6,850 26,610 30, ,870 Plasma 0 0 2, ,870 Pihak Ketiga 88,400 45,190 41,410 11,920 43,460 9,370 39,820 53, ,530 Gunung Meliau 5,330 6,710 9, ,650 78,030 19,450 20,640 4, ,930 Sungai Dekan ,770 44,010 36, , ,410 Gunung Mas ,050 36,060 55,990 21,130 11, ,060 Plasma 5, , , ,030 Pihak Ketiga 24,180 4,620 14,990 22,480 29,910 36,920 60,940 24, ,830 Gunung Meliau , ,660 24,240 57,010 4, ,710 Sungai Dekan 0 0 9,020 52,710 30,890 3, ,280 Gunung Mas 10, ,480 30,710 21,710 45,190 15, ,010 Plasma 0 3, ,930 4,030 3, ,550 Pihak Ketiga 21,180 12,140 13,070 15,220 12,610 48,710 40, ,730 Gunung Meliau ,520 84,570 67,170 24, ,390 Sungai Dekan ,560 53,880 8,730 6,680 5, ,330 Gunung Mas ,880 54,670 29, ,680 Plasma 5,950 5,760 14,530 7,040 1, , ,880 Pihak Ketiga 27,150 7,400 15,450 15,550 20,440 46,480 22, ,900 Gunung Meliau ,740 86,770 39,550 3, ,780 Sungai Dekan ,860 45,980 13, ,950 Gunung Mas 0 0 7,540 47,270 35,330 17, ,410 Plasma 0 3, , ,580 Pihak Ketiga 15,490 6,740 10,930 12,800 26,040 38, ,200 32
10 5.1.3 Persentase distribusi penerimaan fraksi TBS di PMS Gunung Meliau periode Maret Persentase distribusi penerimaan fraksi TBS PMS Gunung Meliau tanggal 01 Maret 2011 s.d. 05 Maret 2011 Fraksi (1/03/2011) (2/03/2011) (3/03/2011) (4/03/2011) (5/03/2011) T. Kosong Brondolan Sampah T. Panjang Persentase distribusi penerimaan fraksi TBS PMS Gunung Meliau tanggal 07 Maret 2011 s.d. 11 Maret 2011 Fraksi (07/03/2011) (08/03/2011) (09/03/2011) (10/03/2011) (11/03/2011) T. Kosong Brondolan Sampah T. Panjang Persentase distribusi penerimaan fraksi TBS PMS Gunung Meliau tanggal 12 Maret 2011 s.d. 16 Maret 2011 Fraksi (12/03/2011) (13/03/2011) (14/03/2011) (15/03/2011) (16/03/2011) 00 1,29 0,00 0,32 0,75 1,36 0 3,07 0,00 2,51 2,36 2, ,86 0,00 32,73 26,98 35, ,14 0,00 26,43 25,88 23, ,48 0,00 18,83 21,14 18, ,05 0,00 11,78 13,96 10,87 5 5,46 0,00 7,02 8,12 6,87 T. Kosong 0,64 0,00 0,37 0,83 0,46 Brondolan 7,04 0,00 7,07 7,53 7,16 Sampah 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 T. Panjang 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 33
11 4. Persentase distribusi penerimaan fraksi TBS PMS Gunung Meliau tanggal 17 Maret 2011 s.d. 21 Maret 2011 Fraksi (17/03/2011) (17/03/2011) (18/03/2011) (19/03/2011) (21/03/2011) 00 1,12 1,10 1,73 1,04 0,42 0 3,24 2,95 2,54 3,05 2, ,64 33,13 32,39 28,12 29, ,64 26,30 27,39 25,14 26, ,33 18,30 13,63 18,98 21, ,42 11,25 11,03 14,20 11,82 5 7,08 6,41 5,09 7,41 7,27 T. Kosong 0,53 0,56 0,33 2,08 0,62 Brondolan 7,01 7,26 7,93 7,05 6,60 Sampah 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 T. Panjang 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 5. Persentase distribusi penerimaan fraksi TBS PMS Gunung Meliau tanggal 22 Maret 2011 s.d. 26 Maret 2011 Fraksi (22/03/2011) (23/03/2011) (24/03/2011) (25/03/2011) (26/03/2011) T. Kosong Brondolan Sampah T. Panjang Persentase distribusi penerimaan fraksi TBS PMS Gunung Meliau tanggal 28 Maret 2011 s.d. 01 April 2011 Fraksi (28/03/2011) (29/03/2011) (30/03/2011) (31/03/2011) (01/04/2011) T. Kosong Brondolan Sampah T. Panjang
12 5.1.4 Rendemen maksimal yang mungkin diperoleh berdasarkan fraksi TBS yang dipanen periode Maret 2011 Tanggal Fraksi TOTAL (%) (01/03/2011) (02/03/2011) (03/03/2011) (04/03/2011) (05/03/2011) (07/03/2011) (08/03/2011) (09/03/2011) (10/03/2011) (11/03/2011) (12/03/2011) (13/03/2011) (14/03/2011) (15/03/2011) (16/03/2011) (17/03/2011) (18/03/2011) (19/03/2011) (20/03/2011) (21/03/2011) (22/03/2011) (23/03/2011) (24/03/2011) (25/03/2011) (26/03/2011) (28/03/2011) (29/03/2011) (30/03/2011) (31/03/2011) (01/04/2011)
13 5.1.5 Kadar Betakaroten dari sampel khusus di Kebun Inti Gunung Mas Baris 4/ pohon 6 Ulangan1 ( berat sampel = 0.11 g, Absorbansi = , volume pelarut = 25 ml) TB1 = x 383 x 25 = ppm 100 x 0.11 Ulangan2 ( berat sampel = 0.11 g, Absorbansi = , volume pelarut = 25 ml) TB1 = x 383 x 25 = ppm 100 x 0.11 Ratarata = ppm Baris 7/ pohon 4 Ulangan1 ( berat sampel = 0.11 g, Absorbansi = , volume pelarut = 25 ml) TB1 = x 383 x 25 = ppm 100 x 0.11 Ulangan2 ( berat sampel = 0.11 g, Absorbansi = , volume pelarut = 25 ml) TB1 = x 383 x 25 = ppm 100 x 0.11 Ratarata = ppm Baris 5/ pohon 6 Ulangan1 ( berat sampel = 0.10 g, Absorbansi = , volume pelarut = 25 ml) TB1 = x 383 x 25 = ppm 100 x 0.10 Ulangan2 ( berat sampel = 0.11 g, Absorbansi = , volume pelarut = 25 ml) TB1 = x 383 x 25 = ppm 100 x 0.11 Ratarata = ppm Baris 7/ pohon 2 Ulangan1 ( berat sampel = 0.11 g, Absorbansi = , volume pelarut = 25 ml) TB1 = x 383 x 25 = ppm 100 x 0.11 Ulangan2 ( berat sampel = 0.12 g, Absorbansi = , volume pelarut = 25 ml) TB1 = x 383 x 25 = ppm 100 x 0.12 Ratarata = ppm Kontrol Ulangan1 ( berat sampel = 0.12 g, Absorbansi = , volume pelarut = 25 ml) TB1 = x 383 x 25 = 428.8ppm 100 x 0.12 Ulangan2 ( berat sampel = 0.12 g, Absorbansi = , volume pelarut = 25 ml) TB1 = x 383 x 25 = ppm 100 x 0.12 Ratarata = ppm 36
14 5.2 Pembahasan Keunggulan kompetitif dalam industri CPO dan inti sawit dapat dicapai bila rantai kegiatan dari kebun hingga konsumen terkelola dengan baik secara nilai maupun biaya. Rantai kegiatan tersebut pada hakekatnya merupakan rantai pasokan yang mengalirkan bahan baku buah sawit dari kebun menuju pabrik kemudian diolah menjadi CPO dan inti sawit, ditimbun dalam tangki dan gudang penyimpanan, dipasok ke konsumen industri, didistribusikan ke retailer hingga sampai ke tangan konsumen akhir. Penelitian dengan melakukan pendekatan melalui sistem Suppy Chain Managemet (SCM) menitikberatkan pada proses yang menjamin keluarnya Tandan Buah Segar (TBS) dari kebun hingga menjadi Crude Palm Oil (CPO) dan inti sawit dengan kualitas dan produktivitas yang tinggi. Proses ini meliputi manajemen panen, transportasi kebun menuju pabrik, manajemen pabrik, sistem pengolahan, hingga penyimpanan CPO dan inti sawit. Sistem ini diharapkan dapat menstimulasikan keunggulan kompetitif dari produkproduk yang dihasilkan PMS Gunung Meliau. Keunggulan kompetitif dapat terwujud melalui keunggulan nilai dan keunggulan produktivitas. Keunggulan nilai dapat dicapai melalui proses yang menjamin dihasilkannya karakter produk berkualitas tinggi yang diinginkan konsumen. Keunggulan produktivitas tercermin dari volume produksi yang tinggi dengan proses berbiaya rendah tiap unitnya. Perusahaan berbasis kelapa sawit berpotensi meningkatkan keunggulan produktivitasnya melalui peningkatan produksi TBS, peningkatan rendemen, pengurangan losis produksi, dan pengoptimalan jam kerja karyawan. Diagram Ishikawa keunggulan kompetitif dapat dilihat pada gambar 8. ALB Air Kualitas Keunggulan Nilai Kotoran Keunggulan Kompetitif Cost Per Palm Product Keunggulan Produktivitas Gambar 8. Diagram Ishikawa yang menunjukkan keunggulan kompetitif pada perusahaan berbasis perkebunan kelapa sawit. Penelitian ini membatasi objek pada kebun penyuplai TBS dan PMS Gunung Meliau. PMS Gunung Meliau adalah salah satu pabrik pengolah CPO dan inti sawit terbesar yang dimiliki oleh PTPN XIII. PMS Gunung Meliau ini berada di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. PMS Gunung Meliau menerima TBS dari beberapa kebun seperti kebun inti Gunung Meliau, kebun inti Sungai Dekan, kebun inti Gunung Mas, kebun plasma, dan kebun milik pihak ketiga. PMS Gunung Meliau memiliki kapasitas produksi 60 ton TBS/ jam. Produkproduk yang dihasilkan seperti CPO dan inti sawit ditujukan untuk memenuhi permintaan dalam negeri. Berdasarkan kecenderungan data mutu dan produksi, hingga saat ini PMS Gunung Meliau sulit menghasilkan CPO dan inti sawit dengan kualitas tinggi dengan cost per palm product yang rendah. Kualitas dan cost per palm product yang didapat selama ini bersifat fluktuatif. Kondisi tersebut tentu tidak diharapkan karena dapat menurunkan kepercayaan konsumen dan menurunkan keuntungan perusahaan. 37
15 Ratarata persentase kadar ALB CPO produksi adalah sebesar % dan melebihi standar maksimal yang telah ditetapkan oleh perusahaan yaitu sebesar 3.5 %. Ratarata persentase kadar air CPO produksi adalah sebesar % dan melebihi standar maksimal yang telah ditetapkan oleh perusahaan yaitu sebesar 0.15 %. Ratarata persentase kadar kotoran CPO produksi adalah sebesar 0.02 % dan sama dengan standar maksimal yang telah ditetapkan oleh perusahaan yaitu sebesar 0.02 %. Ratarata persentase kadar ALB inti sawit produksi adalah sebesar % dan berada dibawah standar yang telah ditetapkan oleh perusahaan yaitu sebesar 2.00%, Ratarata persentase kadar air inti sawit produksi sebesar % dan melebihi standar maksimal yang telah ditetapkan oleh perusahaan yaitu sebesar 7.00%. Ratarata persentase kadar kotoran inti sawit produksi sebesar 9.10 % dan melebihi standar maksimal yang telah ditetapkan oleh perusahaan yaitu sebesar 6.00%. Dari datadata tersebut, hanya ratarata persentase kadar kotoran CPO yang sama dengan standar maksimal dan hanya ratarata persentase kadar ALB inti sawit yang berada dibawah standar maksimal yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Namun ditinjau secara harian, persentase kadar kotoran CPO produksi yang dihasilkan bersifat fluktuatif dan terdapat kecenderungan melebihi standar maksimalnya, sedangkan persentase kadar ALB inti sawit lebih rendah dari standar maksimalnya karena inti sawit memang bersifat lebih tahan terhadap cahaya, suhu, dan udara yang dapat mempengaruhi kenaikan ALB seperti yang dialami oleh CPO. Grafik persentase kadar ALB, kadar air, dan kadar kotoran CPO dan inti sawit bertuutturut dapat dilihat pada gambar 9, 10, 11, 12, 13, dan 14. % 5,000 4,500 4,000 3,500 3,000 2,500 2,000 1,500 1,000 0,500 0,000 Kadar ALB Minyak Sawit Produksi Standar ALB Minyak Sawit Gambar 9. Grafik persentase kadar ALB minyak sawit periode Maret
16 0,400 % 0,350 0,300 0,250 0,200 0,150 0,100 0,050 0,000 Kadar Air Minyak Sawit Produksi Standar Kadar Air Minyak Sawit Gambar 10. Grafik persentase kadar air minyak sawit periode Maret 2011 % 0,022 0,021 0,021 0,020 0,020 0,019 0,019 0,018 Kadar Kotoran Minyak Sawit Produksi Standar Kadar Kotoran Minyak Sawit Gambar 11. Grafik persentase kadar kotoran minyak sawit periode Maret ,500 % 2,000 1,500 1,000 0,500 0,000 Kadar ALB Inti Sawit Produksi Standar Kadar ALB Inti Sawit Gambar 12. Grafik persentase kadar ALB inti sawit periode Maret
17 % 8,200 8,000 7,800 7,600 7,400 7,200 7,000 6,800 6,600 6,400 Kadar Air Inti Sawit Produksi Standar Kadar Air Inti Sawit Gambar 13. Grafik persentase kadar air inti sawit periode Maret 2011 % 12,000 10,000 8,000 6,000 4,000 2,000 0,000 Kadar Kotoran Inti Sawit Produksi Standar Kadar Kotoran Inti Sawit Gambar 14. Grafik persentase kadar kotoran inti sawit periode Maret 2011 Sementara itu, produktivitas yang diperoleh selama periode Maret 2011 tidak dapat memenuhi target perusahaan. Dari data tersebut, ratarata persentase rendemen CPO produksi hanya sebesar % dan berada dibawah target perusahaan yaitu sebesar 22.5 %. Ratarata persentase total kehilangan CPO produksi sebesar % dan melebihi standar maksimal yang telah ditetapkan perusahaan yaitu sebesar 1.65 %. Ratarata persentase rendemen inti sawit produksi hanya sebesar % dan berada di bawah target perusahaan yaitu sebesar 4.8 %. Ratarata persentase total kehilangan inti sawit produksi sebesar % dan melebihi standar maksimal yang telah ditetapkan oleh perusahaan yaitu sebesar 0.6 %. Selama proses produksi, ratarata persentase CPO yang dihasilkan dibandingkan dengan RKAP sebesar % sehingga ratarata persentase CPO yang tidak dapat diraih sebesar %. Grafik persentase rendemen, total kehilangan minyak sawit dan inti sawit serta persentase CPO yang dihasilkan dibandingkan dengan RKAP dapat dilihat pada gambar 15, 16, 17, 18, dan
18 23,000 % 22,500 22,000 21,500 Rendemen Minyak Sawit Produksi 21,000 20,500 20,000 Target Rendemen Minyak Sawit Gambar 15. Grafik persentase rendemen minyak sawit periode Maret 2011 % 1,720 1,710 1,700 1,690 1,680 1,670 1,660 1,650 1,640 1,630 1,620 Total Kehilangan Minyak Sawit Produksi Standar Total Kehilangan Minyak Sawit Gambar 16. Grafik persentase total kehilangan minyak sawit produksi periode Maret
19 6,000 % 5,000 4,000 3,000 2,000 1,000 0,000 Rendemen Inti Sawit Produksi Target Rendemen Inti Sawit Gambar 17. Grafik persentase rendemen inti sawit periode Maret ,660 % 0,640 0,620 0,600 0,580 0,560 0,540 0,520 0,500 Total Kehilangan Inti Sawit Produksi Standar Total Kehilangan Inti Sawit Gambar 18. Grafik persentase total kehilangan inti sawit periode Maret
20 777 7 % CPO Yang Dihasilkan % CPO Yang Tidak Dapat Diraih (01/03/2011) (02/03/2011) (03/03/2011) (04/03/2011) (05/03/2011) (07/03/2011) (08/03/2011) (09/03/2011) (10/03/2011) (11/03/2011) (12/03/2011) (13/03/2011) (14/03/2011) (15/03/2011) (16/03/2011) (17/03/2011) (18/03/2011) (19/03/2011) (20/03/2011) (21/03/2011) (22/03/2011) (23/03/2011) (24/03/2011) (25/03/2011) (26/03/2011) (28/03/2011) (29/03/2011) (30/03/2011) (31/03/2011) (01/04/2011) Gambar 19. Grafik persentase CPO yang dihasilkan dibandingkan dengan RKAP periode Maret 2011 Hasil data yang diperoleh menunjukkan bahwa kualitas CPO dan inti sawit yang dihasilkan dan cost per palm product di PMS Gunung Meliau belum dapat memenuhi harapan dari perusahaan. Persentase kadar ALB, kadar air, dan kadar kotoran dari CPO dan inti sawit yang tidak sesuai dengan harapan dapat memicu turunnya kepercayaan konsumen pada produkproduk hasil olahan PTPN XIII khususnya di PMS Gunung Meliau, sedangkan rendahnya persentase rendemen dan tingginya total kehilangan CPO dan inti sawit dapat menurunkan tingkat keuntungan dari perusahaan karena meningkatkan cost per palm product pada tiap proses pengolahan. Halhal seperti ini harus segera diatasi untuk mencegah respon negatif yang akan muncul dikemudian hari. Untuk mengatasi kasus yang terjadi di PMS Gunung Meliau, diperlukan suatu identifikasi mendalam untuk menemukan faktorfaktor permasalahan yang menjadi penyebab rendahnya kualitas CPO dan inti sawit dan tingginya cost per palm product. Identifikasi permasalahan dilakukan dengan pendekatan secara survei dan observasi di lapangan sepanjang rantai produksi bahan baku hingga menjadi produk akhir. Survei dan observasi awal dilakukan di kebun penyuplai TBS hingga ke PMS Gunung Meliau seperti kebun inti Gunung Meliau, kebun inti Gunung Mas, kebun inti Sungai Dekan, kebun plasma, dan kebun dari pihak ketiga. Selain itu, dilakukan pula observasi pada kondisi jalan penghubung dari kebun menuju pabrik beserta transportasi yang digunakan selama pengangkutan. Dan yang terakhir adalah observasi kondisi PMS Gunung Meliau yang menghasilkan CPO dan inti sawit. Survei dan observasi kebun meliputi sistem manajemen kebun, tata cara pemanenan, sistem perawatan tanaman menghasilkan dan tanaman belum menghasilkan, sistem premi, kondisi lingkungan, kondisi jalan, jarak dari kebun menuju pabrik, sistem pengangkutan TBS, jumlah TBS yang dikirimkan, luas areal kebun, luas areal tanaman menghasilkan, dan luas areal tanaman belum menghasilkan/replanting. Survei dan observasi kondisi jalan penghubung meliputi kondisi jalan blok, kondisi jalan panen, kondisi jalan raya menuju pabrik, sistem pengiriman buah, jenis transportasi yang digunakan, dan manajemen pengiriman. Survei dan observasi yang dilakukan di PMS Gunung Meliau meliputi sistem manajemen pabrik, sistem penerimaan TBS, sistem sortasi, waktu pengolahan TBS, proses pengolahan TBS menjadi CPO dan inti sawit, sistem pembersihan pabrik, dan perawatan alatalat produksi. 43
21 5.2.1 Keunggulan Nilai 1) Asam Lemak Bebas (ALB) Potensi pembentukan Asam Lemak Bebas (ALB) pada CPO lebih besar dibandingkan dengan potensi pembentukan ALB pada inti sawit. Hal ini dikarenakan CPO lebih mudah terpapar akan faktorfaktor pemicu terbentuknya ALB dibandingkan dengan inti sawit. Persentase kadar ALB yang tinggi pada minyak sawit disebabkan oleh beberapa faktor selama proses pemanenan, pengangkutan, dan pengolahan TBS. Peningkatan kadar ALB telah dimulai sejak proses pemanenan di kebun. Identifikasi permasalahan akan tingginya ALB CPO dapat dilihat pada gambar 20. Transportasi Kondisi Jalan Buah Luka Selama transportasi Waktu Selama Transportasi Buah Restan di Kebun Waktu Pengangkutan Buah Luka Selama Pemanenan Penyimpanan CPO dan Inti Sawit Buah Restan di pabrik Pabrik Proses Pengolahan Buah Luka di Loading Ramp ALB Kebun Fraksi Buah Gambar 20. Diagram Ishikawa yang menunjukkan identifikasi permasalahan tingginya kadar ALB CPO produksi PMS Gunung Meliau periode Maret 2011 Secara umum sistem pemanenan TBS telah melalui verifikasi oleh PTPN XIII dan diaplikasikan pada setiap kebun inti. Aplikasi sistem pemanenan TBS disesuaikan dengan kondisi lingkungan masingmasing kebun. Hasil observasi di kebun inti Gunung Meliau, kebun inti Sungai Dekan, kebun inti Gunung Mas, dan kebun plasma menunjukkan kecenderungan permasalahan yang sama. Selama proses pemanenan, buruh panen menentukan TBS siap dipanen atau tidak apabila terdapat berondolan yang jatuh dengan minimal berondolan sebanyak tiga buah. Cara ini memudahkan buruh panen dalam menentukan TBS siap dipanen atau tidak, namun beresiko menghasilkan TBS yang belum matang atau bahkan terlalu matang. Proses panen yang sulit mengakibatkan buah luka. Buah luka akan menstimulasi enzim lipase untuk memecah minyak dan menghasilkan gliserol dan asam lemak bebas. Buah yang telah dipanen kemudian dikumpulkan pada satu tempat yang dinamakan Tempat Penampungan Hasil (TPH). Dari hasil observasi, kondisi TPH kurang memadai karena hanya berupa tanah kosong sehingga dapat memicu percepatan terbentuknya ALB. Kenaikan ALB disebabkan adanya reaksi hidrolisis pada minyak menjadi gliserol dan ALB. Reaksi ini dipercepat dengan adanya faktor faktor panas, air, keasamaan, dan katalis (enzim). Rekasi pembentukan ALB CPO dapat dilihat pada gambar
22 Gambar 21. Reaksi pembentukan ALB minyak sawit (Anonim 2010) Kondisi TPH yang tidak memadai dimana terdapat lumpur atau timbunan air pada saat hujan akan mempercepat terbentuknya ALB. Hal ini diperparah apabila terjadi buah restan di TPH karena keterlambatan pemanenan sehingga truk pengangkut telah meninggalkan area tersebut atau keterlambatan pengangkutan buah. Buah yang direstan dalam waktu lama dengan kondisi lingkungan yang buruk akan mengakibatkan semakin banyak ALB yang terbentuk. Keterlambatan pemanenan dapat terjadi karena keterlambatan buruh panen atau kurangnya tenaga untuk memanen buah terutama pada saat panen raya. Keterlambatan pengangkutan buah dapat terjadi karena kondisi topografi kebun yang sulit untuk dijangkau. Jalan blok dan afdeling yang kecil dan buruk menyulitkan pengangkutan buah dengan menggunakan truk sehingga diperlukan sistem lansir yang memerlukan waktu lebih banyak. Pengangkutan yang tertahan pada salah satu TPH akan berdampak pada TPH berikutnya karena pengangkutan TBS di TPH tersebut memerlukan waktu yang lebih lama selama menunggu giliran. Ada banyaknya perusahaan pengangkut TBS semakin mempersulit koordinasi dalam sistem pengangkutan buah. Perusahaan yang berbeda tidak akan memback up pengangkutan buah apabila terjadi keterlambatan bila bukan areal kerjanya. Kondisi lebih buruk terjadi pada kebun pihak ketiga. Kebun pihak ketiga adalah kebun milik masyarakat yang mengirimkan TBS miliknya ke PMS Gunung Meliau setelah proses kontrak. Kondisi kebun, sistem pemanenan, dan kondisi TPH yang buruk di kebun pihak ketiga akan memicu terbentuknya ALB. TBS yang dihasilkan oleh kebun pihak ketiga lebih sering mengalami restan karena berat TBS hasil panen yang kecil. Pemilik kebun pihak ketiga merestan TBS hingga beratnya cukup untuk dikirim. Restan bahkan dapat terjadi hingga berharihari. Restan buah yang lama dan kondisi penyimpanan sementara TBS yang buruk milik kebun pihak ketiga akan memicu pembentukan ALB yang tinggi. Pada beberapa kondisi, truk mengangkut TBS melebihi kapasitas yang diperbolehkan. TBS disusun menumpuk hingga melebihi tinggi truk. Hal ini dapat menyebabkan TBS yang ditumpuk dibagian bawah mengalami luka. Pengangkutan TBS dilakukan apabila truk telah penuh dan biasanya pada saat siang hari. Jalan yang dilalui dari kebun menuju pabrik pun tidak memadai sehingga proses pengangkutan memerlukan waktu yang lebih lama. Cuaca yang panas, jalan yang buruk, dan TBS yang terluka karena tertimpa beban terlalu berat akan memicu proses pembentukan ALB selama pengiriman buah menuju PMS Gunung Meliau. Saat pengangkut TBS tiba menuju pabrik, TBS tidak dapat langsung diolah. Pengolahan TBS baru dapat dimulai apabila TBS yang diterima sudah berbobot minimal 100 ton. TBS akan direstan apabila bobot minimal belum mencukupi. Kondisi restan tidak hanya terjadi saat bobot minimal belum tercapai, tetapi juga pada saat buah yang datang melebihi kapasitas oleh pabrik. Pengiriman TBS dari kebunkebun inti, kebun plasma, dan kebun pihak ketiga yang tidak terkoordinasi dengan baik akan menyebabkan penumpukan TBS pada waktuwaktu tertentu. Penumpukan TBS ini akan menyebabkan buah restan hingga mendapat giliran untuk diolah. Peluang untuk terbentuknya ALB 45
23 semakin tinggi bila buah direstan dalam waktu lama dan kondisi buah yang telah terluka. Persentase jumlah TBS yang diolah dan direstan dapat dilihat pada gambar 22. % Buah Diolah Produksi % Buah Direstan Produksi (01/03/2011) (02/03/2011) (03/03/2011) (04/03/2011) (05/03/2011) (07/03/2011) (08/03/2011) (09/03/2011) (10/03/2011) (11/03/2011) (12/03/2011) (13/03/2011) (14/03/2011) (15/03/2011) (16/03/2011) (17/03/2011) (18/03/2011) (19/03/2011) (20/03/2011) (21/03/2011) (22/03/2011) (23/03/2011) (24/03/2011) (25/03/2011) (26/03/2011) (28/03/2011) (29/03/2011) (30/03/2011) (31/03/2011) (01/04/2011) Gambar 22. Persentase buah diolah periode Maret 2011 Bagian penting dalam proses pengolahan TBS menjadi CPO yang dapat menghentikan terbentuknya ALB adalah proses perebusan. Salah satu tujuan perebusan adalah menonaktifkan enzim lipase yang berperan dalam mengurai minyak secara hidrolisis menjadi gliserol dan ALB. Selain itu, perebusan juga bertujuan untuk menurunkan kadar air. Namun selama penyimpanan, CPO masih mengalami proses peningkatan ALB walaupun enzim lipase telah dirusak selama perebusan. peningkatan ALB disebabkan karena CPO masih mengandung air yang dapat memacu reaksi hidrolisis. Tercampurnya CPO yang baru dihasilkan dengan CPO grade rendah hasil pengutipan ulang dari bak Vat Pit dan Deoling Pond akan semakin mempercepat terbentuknya ALB. 2) Kadar Air Berbeda dengan kadar ALB, kadar air pada CPO dan inti sawit hanya disebabkan oleh faktorfaktor selama pengolahan. Faktorfaktor selama pemanenan dan pengangkutan buah seperti terjadinya hujan dan kelembaban udara yang tinggi tidak berefek terlalu besar pada tingkat kadar air karena dapat dikurangi selama proses pengolahan. Proses penurunan kadar air untuk CPO berbeda dengan proses penurunan kadar air inti sawit. Kadar air CPO diturunkan dengan menggunakan vacuum drier di stasiun klarifikasi, sedangkan kadar air pada inti sawit diturunkan dengan menggunakan kernel silo drier di stasiun kernel recovery. Faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya kadar air tergantung dari efisiensi dan kinerja alat vacuum drier untuk CPO dan kernel silo dryer untuk inti sawit. Identifikasi permasalahan pada tingginya kadar air CPO dan inti sawit dapat dilihat pada gambar
24 Suhu inlet CPO Vaccum Drier Kadar Air CPO Tingkat Kevakuman Lama Pengeringan Kualitas Kadar Air Kernel Silo Drier Kadar Air Inti Sawit Suhu Pengeringan Gambar 23. Diagram Ishikawa yang menunjukkan identifikasi permasalahan tingginya kadar air CPO dan inti sawit produksi PMS Gunung Meliau periode Maret 2011 Sebelum mengalami pengeringan, CPO masih mengandung air berkisar % sehingga perlu dikeringkan. Pengeringan ini bertujuan agar air tersebut tidak lagi berfungsi sebagai bahan pereaksi dalam reaksi hidrolisis. Untuk mengurangi air yang terkandung dalam CPO, pengeringan yang dilakukan tidak dapat melalui proses biasa karena dapat merusak CPO sehingga diperlukan proses pengeringan khusus. Pengeringan biasa dapat memicu proses oksidasi, kegosongan, dan perombakan karoten dalam minyak yang tidak disukai konsumen baik secara gizi maupun secara sensori. Pemanasan yang terlalu tinggi pada CPO dapat merangsang terjadinya proses oksidasi terutama jika minyak tersebut kontak dengan udara dan di dalam minyak terkandung prooksidant. Pemanasan yang berlebihan juga dapat menyebabkan kegosongan minyak sehingga dalam proses pemucatan akan lebih sulit dilakukan. PMS Gunung Meliau melakukan proses pengeringan CPO dengan menggunakan vacuum drier. Penurunan kadar air dengan vacuum drier hanya dilakukan dengan menurunkan tekanan CPO tanpa menggunakan proses pemanasan sama sekali. Dengan menurunnya tekanan, air yang terkandung di dalam CPO dapat dengan mudah menguap sehingga kadar air CPO dapat diturunkan hingga berkisar kurang dari 0.2 %. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kadar air akhir CPO dalam proses vacuum drying, antara lain : suhu minyak, kehampaan udara, dan interaksi suhu minyak dan kehampaan udara. Penurunan kadar air di dalam CPO semakin efektif apabila suhu CPO yang masuk semakin tinggi. Meskipun pemanasan tidak dilakukan dalam vacuum drier, suhu CPO dapat diatur di oil tank. Suhu akhir CPO dari oil tank sangat mempengaruhi efektivitas pengeringan di vacuum drier. Apabila suhu awal CPO saat masuk ke dalam vacuum drier terlalu rendah, air yang terkandung di dalam CPO tidak akan menguap secara maksimal. Namun apabila suhu terlalu tinggi, CPO akan mengalami kerusakan. Oleh karena itu, pengontrolan suhu di oil tank sebelum masuk oil purifier menjadi sangat penting. Selain itu, kehampaan udara juga mempengaruhi tingkat penguapan air di dalam CPO. Air akan lebih mudah menguap apabila kondisi dalam keadaan hampa udara. Kehampaan udara di dalam vacuum drier dipengaruhi oleh kemampuan pompa vacuum dan fluktuasi debit CPO yang masuk. Oleh karena itu, semakin hampa kondisi vacuum drier, semakin maksimal air yang dapat menguap. Begitu pula sebaliknya, semakin tidak hampa kondisi vacuum drier, air yang menguap tidak akan maksimal. Suhu dan kehampaan udara harus dikolaborasikan dengan tepat. Vacuum drier dianggap bekerja dengan baik apabila suhu awal CPO sesaat sebelum masuk berkisar ± 90 0 C dengan tekanan operasi 50 Torr atau sekitar 0,067 atm. 47
25 Apabila salah satu faktor tidak dikontrol dengan tepat, penurunan kadar air di dalam CPO tidak dapat terjadi dengan maksimal. Berdasarkan hasil observasi, masih tingginya kadar air pada CPO dikarenakan kurangnya kontrol dan pengawasan proses dari pihak pabrik dalam memaksimalkan efisiensi dan kinerja alat vacuum drier. Penurunan kadar air pada inti sawit bertujuan untuk mengawetkan produk dan menjaga kualitas. Proses penurunan mutu umumnya terjadi selama proses penyimpanan. Oleh karena itu, perlu diperhatikan proses dan kondisi penyimpanan serta interaksi antara kelembaban udara dengan kadar air inti. Kadar air inti yang diinginkan dalam penyimpanan adalah 6 7 % karena pada tingkat tersebut mikroba sulit untuk hidup. Permukaan inti sawit yang basah merupakan media tumbuh mikroba. Mikroba yang tumbuh dapat menghasilkan enzim yang dapat merusak lemak, protein, karbohidrat, dan vitamin baik secara hidrolisis maupun oksidasi. Untuk menjaga kualitas inti sawit, perlu dilakukan proses pengeringan. Pengeringan inti sawit dilakukan dengan menggunakan kernel silo. Kernel silo dilengkapi dengan heater yang berada di bagian atas silo. Udara panas dihembuskan dari atas ke bawah melalui pipa yang kemudian disebar keseluruh dinding silo. Udara panas inilah yang mempengaruhi tingkat kekeringan inti sawit. Temperatur pengeringan yang baik berkisar C. Suhu udara panas tidak boleh terlalu rendah untuk menghindari adanya air yang tersisa pada inti sawit, namun tidak boleh pula terlalu tinggi karena dapat menyebabkan perubahan warna pada kernel. Lama pengeringan yang baik berkisar 16 jam. Pengontrolan suhu dan lama pengeringan yang baik di kernel silo dapat menghasilkan inti sawit yang dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama dengan mutu yang baik. Berdasarkan hasil observasi, masih tingginya kadar air pada inti sawit dikarenakan kurangnya kontrol dan pengawasan proses dari pihak pabrik dalam memaksimalkan efisiensi dan kinerja alatalat pengeringan. 3) Kadar Kotoran Sama halnya dengan kadar air, kadar kotoran akhir pada CPO dan inti sawit bergantung pada proses pengolahan di pabrik. Kotoran yang terkandung pada CPO adalah lumpur, pasir, dan materi lain yang tidak diharapkan, sedangkan kotoran yang terkandung pada inti sawit adalah cangkang dan serabut yang secara tidak sengaja ikut terbawa selama proses pemisahan. Alat yang berfungsi untuk memurnikan CPO dari kotoran adalah serangkaian alat pada stasiun klarifikasi yang terdiri atas vibrating screen, CST, desanding cyclone, dan oil purifier, sedangkan alat yang berfungsi untuk memurnikan inti sawit dari kotoran adalah LTDS. Identifikasi permasalahan pada tingginya kadar kotoran CPO dan inti sawit dapat dilihat pada gambar
26 Vibrating screen CST Desanding cyclone Oil Purifier Kapasitas Alat Suhu CPO Tingkat Kebersihan Kadar Kotoran CPO Stabilitas Daya Hisap Daya Hisap Kualitas Kadar Kotoran LTDS Kadar Kotoran Inti Sawit Kontinuitas umpan Gambar 24. Diagram Ishikawa yang menunjukkan identifikasi permasalahan tingginya kadar kotoran CPO dan inti sawit produksi PMS Gunung Meliau periode Maret 2011 Sebelum mengalami pemurnian, CPO masih mengandung banyak kotoran yang terakumulasi selama berada di kebun hingga ke pabrik. Serangkaian alat pada stasiun klarifikasi berfungsi untuk memurnikan minyak dari kotoran. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi efisiensi dan efektivitas kinerja alatalat tersebut, antara lain : suhu CPO, kapasitas alat, dan tingkat kebersihan alat. Suhu CPO sangat mempengaruhi tingkat kemurnian CPO akhir. Suhu yang baik dalam proses pemurnian CPO adalah dengan menggunakan suhu tinggi. Suhu yang tinggi akan menyebabkan viskositas minyak menurun sehingga proses pemisahan minyak dengan kotoran menjadi lebih mudah. Namun, suhu tidak boleh terlalu tinggi karena dapat merusak CPO. Sedangkan apabila suhu yang dipakai terlalu rendah, viskositas CPO masih tinggi sehingga proses pemurnian CPO tidak maksimal. Suhu optimal dalam proses pemurnian berkisar C. Kapasitas alat juga mempengaruhi efisiensi pemurnian CPO. Semakin besar kapasitas alat, kemampuan alat dalam menurunkan kadar kotoran minyak semakin meningkat namun tetap harus dipertimbangkan tingkat ekonomisnya. Ukuran alat harus disesuaikan dengan requirement / parameter proses. Pembersihan alat juga perlu dilakukan secara rutin. Pembersihan dan pembilasan yang baik dilakukan minimal setiap 2 jam tergantung dari kotoran yang tertimbun di dalam alat. Pembersihan yang tidak dilakukan secara rutin mengakibatkan tertimbunnya kotoran di dalam alat sehingga kotoran yang terpisah tidak dapat dilakukan dengan maksimal. Pengontrolan suhu dan pembersihan alat menjadi poin penting dalam menjaga tingkat kadar kotoran akhir CPO. Berdasarkan hasil observasi, masih tingginya kadar kotoran pada CPO dikarenakan kurangnya kontrol dan pengawasan proses dari pihak pabrik dalam memaksimalkan efisiensi dan kinerja alatalat pemurnian CPO di stasiun klarifikasi. Sementara itu, pembersihan inti sawit dari kotoran berupa cangkang dan serat dilakukan berdasarkan prinsip perbedaan massa jenis dan bentuk inti sawit serta kotoran. Pemisahan ini dilakukan dengan menggunakan kekuatan hisap. Kekuatan daya hisap mempengaruhi pemisahan inti sawit dengan kotoran. Daya hisap harus diatur dengan seksama agar efisiensi pemisahan menjadi maksimal. Hisapan yang terlalu kuat akan menyebabkan inti ikut terangkat ke atas bersama cangkang dan serat sehingga menyebabkan efisiensi pengutipan inti menurun, dan jika hisapan terlalu lemah maka pemisahan menjadi tidak sempurna karena banyak cangkang yang terikut ke inti sawit. Dalam proses penghisapan, stabilitas daya hisap alat juga mempengaruhi proses pemisahan inti sawit dengan kotorannya. Stabilitas daya hisap alat ditentukan oleh daya hisap blower yang dipengaruhi oleh variasi arus listrik. Hisapan yang terputusputus akan menyebabkan turbulensi sehingga hasil pemisahan tidak sempurna. Sementara itu, kontinuitas umpan yang masuk akan mempengaruhi efisiensi 49
27 pengutipan dan pemisahan inti. Semakin besar jumlah umpan maka daya hisap akan menurun dan menyebabkan penurunan efisiensi. Oleh karena itu, pengontrolan kekuatan daya hisap, stabilitas, dan kontinuitas masuknya bahan harus dijaga dengan baik untuk menjaga efisiensi dan efektivitas pemisahan inti sawit dari kotoran berupa cangkang inti dan serat. Berdasarkan hasil observasi, masih tingginya kadar kotoran pada inti sawit disebabkan oleh kurangnya kontrol dan pengawasan proses dari pabrik dalam memaksimalkan efisiensi dan kinerja alat LTDS Keunggulan Produktivitas Industri berbasis kelapa sawit menggunakan terminologi cost per palm product sebagai indikator keunggulan produktivitasnya. Cost per palm product sangat ditentukan oleh total output dan biaya operasionalnya sendiri. Total output CPO dan inti sawit sangat dipengaruhi oleh total output kebun dan pabrik. Pada saat total output kebun dan pabrik tinggi maka dengan biaya operasional yang relatif sama akan menghasilkan cost per palm product yang semakin rendah dan bersaing. Permasalahan yang dihadapi oleh PTPN XIII khususnya di kebun penyuplai TBS dan PMS Gunung Meliau adalah tingginya losis selama proses pemanenan dan proses pengolahan TBS. Selain itu, rendemen yang dihasilkan juga tidak mencapai target yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Hal ini akan meningkatkan cost per palm product sehingga keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan menjadi berkurang karena harga CPO dan inti sawit tidak dapat diatur oleh perusahaan berdasarkan cost dan margin tetapi mengikuti harga pasar. Penelusuran masalah dilakukan sepanjang rantai pengiriman TBS dari kebun hingga ke pabrik. Identifikasi permasalahan akan rendahnya produktivitas CPO dan inti sawit dapat dilihat pada gambar 25. Kebun Jumlah Pekerja Fraksi Buah Pekerja / SDM Jam Kerja Buah Tertinggal Panen Pupuk Irigasi Serangan Hama Penyakit Brondolan Tidak Terkutip Pemeliharaan Tanaman Usia Produktivitas Pekerja / SDM Transportasi Jam Kerja Jumlah Pekerja Proses Pengolahan Buah Jatuh Pabrik Gambar 25. Diagram Ishikawa yang menunjukkan identifikasi permasalahan rendahnya produktivitas PMS Gunung Meliau periode Maret 2011 Berdasarkan data yang diperoleh, kebun inti yang paling banyak menyuplai TBS hingga yang paling sedikit menyuplai TBS berturutturut adalah kebun inti Gunung Meliau, kebun inti Gunung Mas, dan kebun inti Sungai Dekan. Kebun inti Gunung Meliau mengirimkan semua TBS yang dipanen ke PMS Gunung Meliau. Kebun inti Gunung Mas mengirimkan ±70% TBS ke PMS Gunung Meliau dan ± 30% ke PMS Rimba Belian. Kebun inti Sungai Dekan mengirimkan ± 60% TBS ke 50
28 PMS Gunung Meliau dan ± 40% TBS ke PMS Rimba Belian. Pengiriman TBS ini didasarkan pada jarak afdeling kebun dengan pabrik sehingga tidak semua afdeling yang berada di dalam satu kawasan mengirimkan TBSnya ke satu pabrik saja. Hal ini dilakukan untuk menjaga efisiensi waktu pengiriman dan kapasitas olah pabrik sehingga tidak banyak buah yang direstan. Jumlah pengiriman TBS dari kebun inti Gunung Meliau, kebun inti Gunung Mas, dan kebun inti Sungai Dekan selama periode bulan Maret 2011 dapat dilihat pada gambar Kilogram Gunung Meliau Sungai Dekan Gunung Mas 0 Gambar 26. Grafik jumlah TBS kebun inti yang diterima PMS Gunung Meliau periode Maret 2011 Berdasarkan kepemilikan lahan dan organisasi pengolahan, TBS paling banyak yang diterima oleh PMS Gunung Meliau berasal dari kebun inti disusul kebun pihak ketiga dan yang terakhir berasal dari kebun plasma. Kebun plasma dan kebun pihak ketiga mengirimkan semua TBS hasil panen ke PMS Gunung Meliau berdasarkan kontrak yang telah disepakati bersama yang ditinjau dari aspek jarak antara kebun dan pabrik dengan kapasitas olah pabrik selama menerima TBS dari kebun inti, kebun plasma, dan kebun pihak ketiga. Jumlah TBS dari kebun inti, kebun plasma, dan kebun pihak ketiga dapat dilihat pada gambar
29 Kilogram Kebun Inti Kebun Plasma Kebun Pihak 3 0 Gambar 27. Grafik jumlah TBS diterima PMS Gunung Meliau periode Maret 2011 berdasarkan asal Kebun Sementara itu, tiaptiap kebun memiliki areal Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) dan Tanaman Menghasilkan (TM). Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) adalah tanaman kelapa sawit muda dan belum dapat menghasilkan TBS. Areal TBM dan TM pada kebun inti, kebun plasma, dan kebun pihak ketiga dapat dilihat pada tabel 12. Tabel 11. Areal Kebun TM dan TBM hingga tahun 2010 Kebun Kebun Inti Gunung Meliau Kebun Inti Gunung Mas Kebun Inti Sungai Dekan Kebun Plasma (G. Meliau & G. Mas) Kebun Pihak Ketiga Tanaman Menghasilkan (TM) (ha) Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) (ha) TM +TBM (ha) , Produktivitas akan meningkat secara berkala dengan bertambahnya usia tanaman kelapa sawit, mencapai usia produktif puncak kemudian menurun dan akhirnya tanaman tidak dapat menghasilkan TBS lagi karena sudah terlalu tua dan siap dilakukan replanting. TBS yang dihasilkan tanaman kelapa sawit muda masih berbobot rendah dan TBS akan semakin berat bila usia tanaman semakin tua. Dari data areal kebun TBM dan TM, dapat dilihat bahwa kebun inti Gunung Meliau memiliki produktivitas yang paling tinggi dan kebun inti Sungai Dekan memiliki produktivitas paling rendah. Produktivitas berdasarkan areal TBM dan TM bukanlah hal yang krusial karena kondisi 52
30 seperti ini pasti akan dialami oleh setiap kebun. Namun, hal tersebut akan mempengaruhi produktivitas PMS Gunung Meliau yang menerima TBS dari kebunkebun tersebut. Rendahnya produktivitas kebun akibat replanting mengakibatkan TBS yang dikirim menjadi sedikit dan output produk yang dihasilkan menjadi tidak maksimal dengan biaya operasional yang sama. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, irigasi dan pemupukan telah dilakukan dengan cukup baik. Setiap blok kebun memiliki jalur air yang cukup sehingga kebun tidak tergenang air saat hujan tiba. Proses pemupukan juga telah dijalankan dengan baik dimana pemupukan dilakukan dua kali dalam setahun sesuai rekomendasi Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS). Namun pemupukan sering dilakukan tidak tepat waktu karena keterlambatan pengadaan pupuk. Keterlambatan ini tentu tidak baik bagi pertumbuhan tanaman kelapa sawit terutama TBM karena akan berdampak pada tingkat produktivitas TBS setelah memasuki masa TM Serangan hama dan penyakit juga mempengaruhi pada tingkat produktivitas tanaman kelapa sawit. Tanaman kelapa sawit yang terserang hama dan penyakit akan terganggu pertumbuhannya sehingga TBS yang diproduksi tidak maksimal bahkan tanaman menjadi mati. Dari hasil observasi, hama dan penyakit tidak berdampak terlalu besar pada kebunkebun penyuplai TBS ke PMS Gunung Meliau karena kondisi cuaca dan pemeliharaan yang baik. Namun sekecil apapun dampaknya, serangan hama dan penyakit tentu akan menurunkan produktivitas TBS di kebun dan secara tidak langsung akan mengganggu produktivitas pabrik. Setiap afdeling pada masingmasing kebun telah diberikan target bobot TBS yang dapat dipanen setiap proses pemanenan berdasarkan umur tanaman dan luas areal kebun. Apabila TBS yang dipanen telah melebihi target, kelebihan dari target tersebut akan dikalkulasikan sebagai premi bagi buruh panen. Premi yang diterima oleh buruh panen juga berdampak pada premi yang diterima oleh mandor. Sistem yang diterapkan ini mengakibatkan buruh panen cenderung lebih mengejar premi daripada kualitas TBS yang diharapkan. Kondisi seperti ini tidak dapat dikontrol dengan maksimal karena mandor juga mendapatkan premi dari kelebihan target tersebut. Selain itu, teknik pemanenan yang dilakukan dengan melihat ada tidaknya berondolan yang jatuh dimana TBS siap untuk dipanen apabila berondolan jatuh berjumlah minimal tiga buah tidaklah efektif dari sisi produktivitas. Teknik ini baik bila dilihat dari sisi efisiensi kerja, tetapi tidak baik bila dilihat dari sisi tingkat produktivitas kebun. Derajat kematangan tandan erat hubungannyadengan jumlah kandungan minyak yang terdapat di dalam buah yang dapat dilihat dari jumlah buah yang lepas secara alami dari tandan, yang dimulai dari ujung tandan bagian buah paling luar, sampai ke arah pangkal tandan. Kriteria matang yang umum dipraktekkan yaitu berdasarkan jumlah berondolan yang jatuh dalam kriteria tanaman dengan umur kurang dari 10 tahun, jumlah berondolan yang jatuh kurang lebih 10 butir dan tanaman dengan umur lebih dari 10 tahun, jumlah berondolan yang jatuh sekitar 1520 butir. Selama periode Maret 2011, TBS yang paling banyak diterima adalah TBS dengan fraksi 1 alias belum matang. Banyaknya TBS yang belum matang akan meningkatkan cost per palm product dalam menghasilkan CPO dan inti sawit. Fraksi TBS yang diterima oleh PMS Gunung Meliau dapat dilihat pada gambar
31 100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% (01/03/2011) (02/03/2011) (03/03/2011) (04/03/2011) (05/03/2011) (07/03/2011) (08/03/2011) (09/03/2011) (10/03/2011) (11/03/2011) (12/03/2011) (13/03/2011) (14/03/2011) (15/03/2011) (16/03/2011) (17/03/2011) (18/03/2011) (19/03/2011) (20/03/2011) (21/03/2011) (22/03/2011) (23/03/2011) (24/03/2011) (25/03/2011) (26/03/2011) (28/03/2011) (29/03/2011) (30/03/2011) (31/03/2011) (01/04/2011) T. Kosong Brondolan Sampah T. Panjang Gambar 28. Histogram fraksi TBS diterima PMS Gunung Meliau periode Maret 2011 Setiap kategori fraksi TBS memiliki standar maksimum rendemen CPO yang dapat dicapai. Data fraksi TBS yang diterima PMS Gunung Meliau dapat digunakan untuk memprediksi persentase total rendemen CPO maksimum. Berdasarkan standar teknis Dirjen Perkebunan, persentase total rendemen CPO maksimum dapat dilihat pada gambar ,00 % 22,50 22,00 21,50 21,00 20,50 Potensi rendemen berdasarkan fraksi TBS Standar Rendemen dari perusahaan Gambar 29. Grafik rendemen dari fraksi TBS yang diterima PMS Gunung Meliau periode Maret 2011 Berdasarkan grafik, fraksi TBS yang diterima PMS Gunung Meliau selama periode Maret 2011 menghasilkan persentase total rendemen CPO maksimum yang tetap lebih rendah daripada 54
32 standar yang ditetapkan oleh perusahaan. Efisiensi yang tinggi tidak mungkin dapat memenuhi standar perusahaan karena konversi rendemen CPO dari fraksifraksi TBS yang diterima tidak memungkinkan bagi pabrik untuk mencapai standar tersebut. Selain itu, berondolan yang tidak terkutip juga mempengaruhi tingkat produktivitas kebun. Banyaknya berondolan yang tidak terkutip dapat terjadi karena topografi lahan yang sulit dilewati dan kurangnya tenaga kerja dalam memanen TBS. Kadang kala, terjadi pula buah tertinggal sehingga buah direstan satu malam karena keterlambatan panen. Buah tertinggal dianggap mempengaruhi produktivitas karena proyeksi TBS yang dikirimkan ke pabrik menjadi berkurang dan akan menumpuk dihari berikutnya. Selama observasi periode Maret 2011, jumlah dan jam kerja buruh panen masih dapat terkoordinasi dengan baik. Namun permasalahan akan muncul pada saat musim panen raya. Banyaknya TBS yang dipanen menyulitkan buruh panen untuk dapat bekerja sesuai rotasi panen yang telah dirancang. Kondisi ini akan berdampak pada banyaknya TBS yang terlalu matang dan busuk karena keterlambatan panen. Dalam proses pengiriman buah, truk pengangkut TBS kadang kala mengirimkan TBS dalam jumlah yang berlebihan. Hal ini mengakibatkan TBS dapat jatuh selama perjalanan tanpa disadari oleh supir. Kondisi ini didukung dengan medan jalan yang tidak rata dan berlikuliku sehingga potensi TBS jatuh akan semakin besar. Setiap proses pengolahan memiliki faktor masingmasing yang mempengaruhi tingkat rendemen dan losis produksi, namun terdapat beberapa stasiun yang berpengaruh langsung pada tingkat rendemen dan losis produksi. Selama proses pengolahan TBS menjadi CPO dan inti sawit, bagianbagian proses pengolahan yang mempengaruhi tingkat rendemen dan losis produksi adalah proses perebusan, thresing, digestion, kernel recovery untuk inti sawit, dan klarifikasi untuk CPO. Selama proses perebusan, terjadi proses pelepasan molekul minyak dari ampasnya sehingga produk minyak menjadi mudah untuk dipisahkan. Setelah itu, tandan kosong dan buah dipisahkan pada proses thresing. Efisiensi tahap ini dapat dilihat dari banyak sedikitnya berondolan yang ikut terbawa bersama tandan kosong. Berondolan yang telah terpisah dari tandannya kemudian dipress dengan menggunakan digester yang dimana CPO akan mengalami proses klarifikasi untuk mendapatkan CPO murni dan biji sawit akan dibawa menuju stasiun kernel recovery untuk mendapatkan inti sawit. Proses perebusan menjadi titik kritis awal karena bila suhu dan tekanan selama perebusan tidak sesuai, molekul minyak tidak akan mudah terlepas dari ampasnya pada saat dipress. Pada tahap thresing, terdapat banyak berondolan yang ikut terbawa tandan kosong dan tentu saja ini akan meningkatkan losis pabrik. Pada tahap digestion, kontrol suhu menjadi poin penting dalam memudahkan molekul minyak terlepas dari dagingnya. Suhu yang terlalu rendah akan mengakibatkan molekul minyak tidak meleleh secara sempurna sehingga pemisahan minyak dari daging menjadi tidak maksimal. Dalam tahap klarifikasi, ekstraksi pada sludge separator akan mempengaruhi tingkat rendemen CPO yang dihasilkan. Ekstraksi yang sempurna akan mendapatkan kembali CPO yang terbawa oleh lumpur. Begitu pula dengan biji yang dibawa menuju kernel recovery. Biji sawit yang dipecah dengan sempurna di nut cracker akan menghasilkan rendemen inti sawit yang tinggi. Efisiensi kerja di PMS Gunung Meliau dapat dikatakan belum maksimal. Ketergantungan bahan baku berupa TBS dari kebunkebun inti, kebun plasma, dan kebun pihak ketiga mengakibatkan produksi CPO dan inti sawit di PMS Gunung Meliau tidak stabil. Apabila TBS yang diterima tidak mencapai bobot minimal, pabrik tidak akan mengolah karena akan mengalami kerugian dari pembayaran operasional pabrik dan karyawan. Namun dihari berikutnya, jam olah pabrik meningkat tinggi karena banyaknya TBS yang harus diolah dari buah restan dihari sebelumnya dan buah yang diterima pada hari tersebut. Ketidakstabilan ini akan mempengaruhi cost per palm product dari perusahaan. Perbedaan cost per palm product tiap harinya akan berdampak pada tingkat keuntungan perusahaan. Waktu olah TBS yang berbedabeda akan menganggu sistem kerja pabrik yang 55
33 menggunakan sistem shift. Saat pabrik mengolah, pekerja mendapatkan premi berdasarkan jumlah buah yang diolah. Dengan adanya ketidakstabilan olah di pabrik, premi yang diterima oleh pekerja tiap shift menjadi tidak sama. Selain itu, waktu olah pabrik yang tidak stabil akan memberikan peluang terjadinya kerusakan alatalat pengolahan. Ketergantungan dan tidak adanya sistem yang mengatur kedatangan buah menyebabkan pabrik tidak memiliki waktu untuk proses perawatan alatalat olah. Konsumsi minyak dan lemak dunia pun dikuasai oleh minyak berbasis sawit sebesar 29.70% dan diikuti minyak nabati asal non sawit. Minyak sawit memiliki keunggulan dibandingkan minyak nabati lainnya. Minyak sawit memiliki kandungan mikronutrien yang banyak dan beragam. Kandungan nutrisi dalam minyak sawit tersebut antara lain α, β, dan γ karoten, vitamin E(tokoferol, tokotrienol), likopen, lutein, sterol, asam lemak tidak jenuh dan ubiquinon. Salah satu keunggulan utama minyak sawit adalah kandungan pigmen karotenoid yang berwarna kuning merah sekitar ppm (untuk beta karoten setara dengan IU aktivitas vitamin A per 100 gram). Komponen tersebut memiliki nilai biologis yang sangat penting, antara lain berfungsi sebagai provitamin A, merupakan antioksidan yang mampu mencegah penyakit degeneratif. Selain itu minyak sawit juga memiliki kandungan komponen tokoferol (vitamin E) yang tinggi. Keunggulan minyak sawit tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan produkproduk turunan minyak sawit yang bermanfaat bagi kesehatan. Satusatunya perkebunan sawit yang mempunyai tanaman sawit dengan karoten tinggi adalah milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XIII yang berlokasi di Kebun inti Gunung Mas. PTPN XIII memiliki kebun kelapa sawit dari varietas sawit dengan kandungan karoten tinggi yaitu berkisar antara ppm. Luas areal tanaman tersebut hanya sekitar 2 ha dengan jumlah pohon sekitar 200 pokok dan saat ini kurang terawat. Proses pengolahan minyak sawit dengan karoten tinggi saat ini masih dicampur dengan tanaman sawit lainnya yang memiliki kandungan karoten ratarata ppm. Pengolahan dengan pencampuran ini sangat disayangkan mengingat potensi kelapa sawit dengan karoten tinggi dapat dimanfaatkan menjadi produk olahan lain seperti minyak sawit merah(seperti minyak salad), pekatan karoten, minuman emulsi maupun produk farmasetikalnutrasetikal lainnya yang memiliki nilai tambah dan nilai ekonomi yang tinggi. Sampel buah sawit tinggi betakaroten yang diambil untuk di uji sebanyak 4 sampel dengan lokasi pada baris 4/ pohon 6, baris 7/ pohon 4, baris 5/ pohon 6, dan baris 7/pohon 2. Sampel dibawa ke PMS Gunung Meliau untuk direbus. Keempat sampel yang telah direbus kemudian dirontokkan dari tandannya dan di press secara manual. CPO kasar hasil penyaringan ditampung dalam botol yang dilapisi lakban hitam yang berguna untuk menghindari kontak langsung dengan cahaya yang dapat merusak betakaroten. Sampel CPO kasar dalam botol disimpan di dalam lemari pendingin untuk mencegah kerusakan betakaroten akibat panas dari lingkungan. Keempat sampel yang diambil memiliki karakteristik yang berbedabeda. Karakteristik pada sampel dianalisis sebagai bagian dari perbedaan varietas yang diambil. Sampel tersebut akan dilakukan uji kadar betakarotennya. Data kadar betakaroten dari keempat sampel yang diuji pada baris 4/ pohon 6, baris 7/ pohon 4, baris 5/ pohon 6, baris 7/pohon 2, dan kontrol berturutturut sebesar ppm, ppm, ppm, ppm, dan ppm. Data keempat sampel yang diujikan cukup memuaskan. Walaupun data ini masih jauh berbeda dari data yang telah didapatkan dari PPKS dimana nilai kadar betakaroten yang diperoleh semuanya lebih dari 1000ppm, namun dari keempat sampel yang diuji terdapat satu sampel yang memiliki kadar betakaroten diatas 1000ppm. Hasil yang diperoleh tersebut menunjukkan adanya suatu sumber daya potensial yang belum dikembangkan secara maksimal oleh PTPN XIII. Walaupun pengujian yang dilakukan masih pengujian kasar yang menggunakan spektrofotometer, namun data yang diperoleh sudah dapat dijadikan sebagai representatif seberapa 56
34 besar potensi yang dapat dikembangkan oleh PTPN XIII untuk masuk ke usaha dan industri hilir. Kepemilikan satusatunya dan kebijakan pemerintah yang mengharuskan adanya pengembangan industri hilir dapat menjadi alasan yang sangat tepat dan kuat untuk mulai masuk ke dalam aspek hilir Pengembangan Model Supply Chain Management (SCM) Pemetaan masalah dan hubungan antarvariabel yang telah dipaparkan sebelumnya digunakan sebagai landasan dalam membangun model Supply Chain Management (SCM) dalam agribisnis kelapa sawit. Model ini merupakan abstraksi dari sistem nyata perjalanan TBS mulai dari dipanen dalam kebun, diangkut ke pabrik, diolah menjadi CPO dan inti sawit, penyimpanan, dan sampai ke tangan berikutnya. Perancangan model diharapkan dapat meningkatkan kualitas produksi dengan merancang waktu yang cepat dan dapat menurunkan cost per palm product dengan merancang sistem pemanenan, pengiriman, dan pengolahan secara tepat. Model SCM yang dibangun terdiri atas tiga submodel, yaitu : submodel SCM aspek operasional, submodel SCM aspek taktis, dan submodel SCM aspek strategis. Perbedaan dari ketiga jenis submodel ini berdasarkan rentang waktu pelaksanaan sistem. Submodel SCM aspek operasional menggunakan horizon waktu harian untuk menggambarkan permasalahan operasional. Submodel SCM aspek taktis menggunakan horizon waktu bulanan untuk menggambarkan permasalahan taktis. Dan submodel SCM aspek strategis menggunakan horizon waktu tahunan untuk menggambar permasalahan strategis. 1) Submodel SCM Pada Aspek Operasional Sistem pemanenan, transportasi, dan pengolahan TBS yang kurang tepat menyebabkan produk yang dihasilkan tidak sesuai dengan ekspektasi perusahaan. Tingginya kadar ALB, kadar air, dan kadar kotoran serta rendahnya produktivitas TBS, rendahnya rendemen, dan tingginya losis produksi mengharuskan adanya suatu sistem pengaturan yang dapat mengontrol seluruh kinerja yang dimulai dari proses pemanenan hingga pengolahan. Submodel SCM pada aspek operasional ini ditekankan pada aliran material hingga didapatkan produk dengan kualitas dan kuantitas yang tinggi. Berdasarkan data yang diperoleh, waktu pengiriman TBS dari kebun menuju PMS Gunung Meliau tidak teratur. Hal ini menyebabkan kinerja pabrik sangat bergantung pada kebun sebagai penyuplai bahan baku dimana rantai pengiriman bahan baku menjadi tidak terkontrol dan pabrik tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya. Distribusi waktu penerimaan TBS di PMS Gunung Meliau selama periode Maret 2011 dapat dilihat pada gambar
35 Kg Kebun G.Meliau Kebun G.Mas Kebun Pihak Ketiga Kebun S.Dekan Kebun Plasma Gambar 30. Histogram jumlah TBS diterima PMS Gunung Meliau per jam periode Maret 2011 Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa jam tinggi kedatangann TBS ke PMS Gunung Meliau dimulai pada pukul Waktu kedatangan TBS yang mencukupi untuk memulai produksi dengan kapasitas 60 ton/jam adalah pukul dan mengalami kelebihan kapasitas pada pukul Hal ini tidak diinginkan karena efisiensi kerja di PMS Gunung Meliau menjadi tidak maksimal. Dari data, ratarata waktu selesai pengolahan TBS adalah pukul dimana bila dibandingkan dengan grafik, TBS yang datang sudah menurun hingga kurang dari 20 ton pada pukul Dari penyimpangan tersebut, dapat disimpulkan bahwa banyak terjadi buah restan di PMS Gunung Meliau karena pengunaan kapasitas pabrik yang tidak efisien. Hal ini bukan hanya dapat menurunkan produktivitas, tetapi juga kualitas CPO dan inti sawit yang dihasilkan. Kondisi ini akan meningkatkan peluang terjadinya buah menginap semalam karena pabrik tidak mampu mengolah semua TBS yang datang. Padahal pada beberapa kondisi, kapasitas pabrik tidak digunakan dengan maksimal karena jumlah TBS yang belum cukup untuk memulai pengolahan seperti yang terjadi pada pukul Apabila penggunaan kapasitas pabrik dapat dipakai dengan maksimal pada saat dimulainya proses pengolahan hingga saat pengolahan berhenti, TBS yang mengalami restan semalaman dapat dihindari, efisiensi kerja dipabrik akan maksimal, dan kualitas CPO dan inti sawit dapat dijaga dengan baik. Untuk dapat menggunakan kapasitas pabrik dengan efisiean dari mulai hingga selesai pengolahan, diperlukan suatu sistem jadwal pengirimann yang teratur dan terintegrasi dengan baik. Hal ini sangat berhubungann erat dengan kemampuan dan jadwal panen dari kebun. Selama proses pemanenan, pengaturan waktu diperlukan untuk mencegah terjadinya buah tinggal atau restan. Pengaturan ini harus dikoordinasikan dengan pemilik truk pengantar TBS ke PMS Gunung 58
36 Meliau. Waktu pemanenan tidak bisa disamaratakan pada tiaptiap kebun dan afdeling. Kebanyakan buruh panen mulai memanen TBS pada pukul 6 pagi hingga selesai. Keadaan seperti ini akan menyebabkan terjadinya buah yang tertinggal karena buruh kebun tidak mampu memanen semua TBS pada saat truk pengangkut datang atau ada pula buah yang terlalu lama mengalami restan di TPH karena masih menunggu truk pengangkut datang untuk mengangkut TBS tersebut. Selain itu, kondisi ini dapat memicu penurunan efisiensi penggunaan kapasitas pabrik dan kualitas CPO dan inti sawit saat diproduksi di pabrik. Grafik pengiriman TBS dari tiaptiap kebun menuju PMS Gunung Meliau per jam pada periode Maret 2011 dapat dilihat pada gambar Kg Kebun G.Meliau Kebun S.Dekan Kebun G.Mas Kebun Plasma Kebun Pihak Ketiga Gambar 31. Histogram Jumlah ratarata TBS diterima PMS Gunung Meliau per jam periode Maret 2011 Dari grafik dapat dilihat bahwa pengiriman TBS yang konsisten tiap waktunya hanya dilakukan oleh kebunkebun pihak ketiga dan kebun plasma. Ironisnya, kebunkebun inti yang ternyata tidak mengirimkan TBS dengan konsisten pada tiap jamnya padahal sistem organisasi dan pemanenan yang dimiliki jauh lebih baik daripada kebun plasma dan kebunkebun pihak ketiga. Kebunkebun inti berkontribusi sangat besar dalam menyuplai TBS yaitu sebesar 67 % dari total TBS yang diterima PMS Gunung Meliau selama periode Maret Persentase sumber TBS yang diterima oleh PMS Gunung Meliau dapat dilihat pada gambar 32. Kebun Inti Kebun Plasma Kebun Pihak 3 28% 5% 67% Gambar 32. Diagram persentase TBS diterima PMS Gunung Meliau per jam periode Maret
37 Penjadwalan dalam proses pemanenan di setiap kebun perlu dilakukan dengan memperhitungkan jarak pengiriman, jumlah truk pengangkut, dan kondisi jalan. Selain itu, pabrik juga harus menentukan dengan pasti waktu mulai pengolahan TBS setiap harinya. Dengan waktu yang telah ditentukan, tiaptiap kebun dapat mengalokasikan waktu pemanenan dan transportasi sehingga kedatangan TBS dapat diatur dengan baik. Selama periode Maret 2011, waktu ratarata pengolahan di PMS Gunung Meliau berkisar 11 jam. Waktu pengolahan tersebut tidak efisien karena tidak semua jam menunjukkan efisiensi kapasitas pengolahan yang sesuai dengan kapasitas pabrik yaitu 60 ton / jam. Waktu pengolahan yang paling efisien berdasarkan jumlah TBS yang diterima selama periode Maret 2011 adalah 10 jam karena dapat mengalokasikan semua TBS yang diterima untuk diolah dengan baik tanpa restan. Oleh karena itu, waktu mulai pengolahan yang baik dapat dilakukan pada pukul dan selesai pada pukul Waktu yang sudah terjadwal ini akan membantu buruh pabrik untuk dapat melakukan perawatan dan pembersihan pabrik dengan lebih maksimal tanpa khawatir waktu mulai pengolahan yang selama ini bergantung dari kedatangan TBS. Skenario pengiriman yang baik dari kebunkebun penyuplai TBS ke PMS Gunung Meliau dapat dilihat pada gambar Kebun Pihak Ketiga Kebun Plasma Kebun G. Mas Kebun S. Dekan Kebun G. Meliau Gambar 33. Histogram skenario jumlah TBS diterima PMS Gunung Meliau Dari gambar dapat dijelaskan bahwa kebunkebun inti memberikan kontribusi paling besar pada waktuwaktu mulai pengolahan dan semakin berkurang pada waktuwaktu sebelum pengolahan selesai, sedangkan kebunkebun pihak ketiga memberikan kontribusi paling rendah pada waktuwaktu mulai pengolahan dan semakin bertambah pada waktuwaktu sebelum pengolahan selesai. Kebun plasma mengisi kekurangan dari tiaptiap waktu pengolahan sehingga kapasitas olah pabrik dapat dipenuhi dengan maksimal karena kontribusi pengiriman TBS hanya berkisar 5 % dari total TBS yang diterima. Skenario ini memberikan jatah pengiriman sesuai dengan jarak, kondisi jalan, dan jumlah TBS yang dikirim. Kebun inti Gunung Meliau yang memiliki jarak paling dekat dari PMS Gunung Meliau diharapkan dapat mengisi kekosongan TBS pada waktuwaktu mulai pengolahan. Untuk dapat mencapai harapan tersebut, proses pemanenan di kebun inti Gunung Meliau harus lebih pagi daripada kebunkebun inti lainnya. Jam mulai pengolahan yang dimulai pada pukul akan memberikan kesempatan kepada buruh panen untuk dapat mengejar bobot target sehingga TBS dapat diolah tepat waktu. Kebun inti Sungai Dekan dan kebun inti Gunung Mas yang jaraknya lebih jauh dapat 60
38 memberikan kontribusi paling besar pada pertengahan proses pengolahan seperti pada pukul Skenario kepada kebun inti Sungai Dekan dan Gunung Mas diberikan berdasarkan perhitungan jarak yang cukup jauh dan kondisi jalan yang kurang baik dari kebun menuju PMS Gunung Meliau. Kebunkebun pihak ketiga dapat memberikan kontribusi paling besar pada waktuwaktu akhir proses pengolahan sehingga dapat mencegah kedatangan TBS yang bersamaan dengan TBS dari kebunkebun inti. Kontribusi TBS dari kebunkebun pihak ketiga sendiri sebesar 28 % dari total TBS yang diterima PMS Gunung Meliau. Dengan penjadwalan dan alokasi waktu tersebut, tiaptiap kebun dapat menyesuaikan waktu pemanenan dan pengiriman TBS tanpa harus mengalami restan terlebih dahulu. Waktu pemanenan yang tepat akan meningkatkan efisiensi kerja di kebun dan di PMS Gunung Meliau. Skenario penerimaan TBS oleh PMS Gunung Meliau harus didukung oleh kebunkebun penyuplai TBS. Skenario yang baik hanya akan terlaksana bila didukung oleh semua pihak dari hulu hingga ke hilir. Selain jadwal pemanenan yang tepat, faktor pendukung lain adalah sistem transportasi. Penggunaan truk pengangkut harus disesuaikan dengan bulanbulan tinggi dan rendahnya produksi TBS. Pada saat panen raya, jumlah truk pengangkut yang diperlukan akan lebih banyak bila dibandingkan dengan bulanbulan biasa. Bila jumlah truk pengangkut tidak diatur dengan baik, peluang TBS mengalami restan akan semakin besar terutama pada saat musim panen raya dan akan terjadi penurunan efisiensi penggunaan truk pengangkut pada saat musim paceklik. Sistem pengangkutan TBS dari TPH harus dialokasikan dengan tepat sesuai dengan luasan blok dan letak TPH dalam sebuah afdeling sehingga semua TBS dapat diangkut dalam sekali jalan tanpa harus berputar apabila terjadi buah tinggal. Waktu pengangkutan buah juga harus disesuaikan dengan waktu pemanenan buah yang telah diatur berdasarkan skenario penerimaan TBS oleh PMS Gunung Meliau sehingga skenario dapat berjalan dengan baik. Pemantauan proses pengangkutan TBS dengan truk pengangkut perlu dilakukan untuk meminimalisir luka TBS selama pengiriman. Berdasarkan hasil observasi, TBS yang dikirim oleh truk pengangkut banyak yang melebihi kapasitas. Tumpukan yang terlalu tinggi akan mengakibatkan luka pada buah sehingga proses pembentukan ALB semakin tinggi. Selain itu peluang TBS jatuh selama perjalanan juga besar karena tidak ada yang menjaga TBS selama dalam perjalanan. Pemantauan oleh pihak internal kebun akan berefek baik karena pihak kebun dapat memberikan peringatan bila TBS yang diangkut telah melebihi kapasitas truk. Pemantauan ini akan menurunkan tingkat luka buah dan jatuhnya TBS selama pengiriman. Pemantauan dan pengecekan awal TBS saat masih di kebun akan membantu meningkatkan efisiensi proses pengolahan pabrik karena dapat mengurangi waktu pengecekan TBS setelah diterima di PMS Gunung Meliau. Pengecekan awal TBS akan lebih mudah dilakukan karena jumlah buah yang lebih sedikit dibandingkan pada saat TBS telah diterima di pabrik. TBS yang telah diterima lebih baik langsung diolah. Pada waktuwaktu tinggi kedatangan TBS, banyak sampel yang tidak dicek dengan maksimal karena kurangnya waktu dan tenaga dalam proses pengecekan. Oleh karena itu, pihak kebun sebagai penyuplai bahan baku berperan sangat penting untuk dapat memberikan bahan baku berkualitas baik. TBS yang tidak sesuai kriteria tidak boleh dikirim karena akan berpengaruh pada produktivitas dan kualitas CPO dan inti sawit hasil pengolahan. Masalah yang terjadi adalah buruh kebun cenderung mengejar premi buah dan ironisnya mandor panen tidak dapat mengontrol dengan maksimal karena premi yang diterima oleh buruh panen berdampak positif pada premi mandor panen. Oleh karena itu, perlu dilakukan sistem denda apabila ditemukan TBS yang tidak sesuai kriteria dan TBS tersebut tidak boleh dikirimkan ke pabrik. Sementara itu, proses perawatan mesinmesin pabrik harus dilakukan dengan maksimal dan berkala. Selama ini perawatan mesinmesin tidak dapat dilakukan dengan maksimal karena waktu 61
39 perawatan tidak cukup dan tidak ada hari khusus yang diperuntukan untuk perawatan mesin. Berdasarkan hasil observasi di PMS Gunung Meliau, terdapat 3 hari dalam sebulan tidak ada proses pengolahan TBS. Proses pengolahan tidak dilakukan bukan karena adanya proses perawatan mesin, tetapi dikarenakan TBS yang diterima tidak mencukupi bobot minimal untuk menutupi biaya operasional. Kondisi seperti ini menyebabkan buah yang mengalami restan menjadi banyak dan efisiensi kerja pabrik menjadi tidak optimal. Dengan kondisi tersebut, akan lebih baik apabila waktu tersebut dialokasikan untuk melakukan proses perawatan mesin pengolahan tanpa melakukan proses pemanenan yang dapat mengakibatkan buah restan. Waktu tersebut dapat dilakukan pada hari minggu. Penentuan waktu ini akan mencegah pemanenan TBS pada hari minggu sehingga tidak akan terjadi buah restan. Penggunaan waktu untuk perawatan mesin sangat berguna karena dapat mengistirahatkan dan mempersiapkan mesin untuk produksi enam hari ke depan. Pada saat musim panen raya, waktu perawatan mesin dapat dikurangi hingga 2 kali dalam sebulan. Namun waktu perawatan tidak boleh ditiadakan sama sekali karena dengan banyaknya TBS yang diolah, kondisi mesin akan lebih cepat mengalami masalah dan kerusakan teknis. Selama proses pengolahan berlangsung, semua stasiun pengolahan wajib mengikuti Standar Operasional Pabrik (SOP) yang telah ditetapkan. SOP yang telah diberikan harus selalu dipantau dan disesuaikan dengan kondisi sebenarnya untuk mencegah terjadinya penyimpangan dan penurunan produktivitas CPO dan inti sawit. Berdasarkan hasil observasi, sebagian buruh pabrik cenderung melaksanakan sistem pengolahan berdasarkan pengalaman. Hal tersebut tidak dikehendaki karena proses pengolahan menjadi bias dan penyimpangan yang terjadi tidak dapat terdeteksi dengan segera dan baik. Oleh karena itu, perlu dilakukan pemantauan secara berkala oleh masingmasing kepala stasiun yang harus segera diinformasikan secara sistematis dan terstruktur kepada kepala pabrik sehingga apabila terjadi penyimpanan dapat langsung dilakukan tindakantindakan perbaikan. Sebelum dikirim, CPO akan disimpan dalam tangki timbun. Temperatur penyimpanan harus terkontrol dengan baik yaitu sekitar 55 C untuk mencegah terjadinya oksidasi dan hidrolisis. Selain itu, tangki timbun perlu dicuci secara berkala paling sedikit 2 kali dalam setahun untuk mencegah kerusakan CPO karena adanya kerak dan kotoran yang terbenam dalam tangki timbun. Kebersihan tangki harus selalu dijaga terutama terhadap kotoran dan air. Selain itu, perlu pula dilakukan sistem First In First Out (FIFO) untuk menjaga kualitas CPO. 2) Submodel SCM Pada Aspek Taktis Hingga tahun 2010, jumlah karyawan pelaksana yang berkecimpung langsung dalam proses pemanenan di kebunkebun inti dan kebun plasma berjumlah kurang lebih 3000 orang. Tingginya jumlah karyawan ini tidak diimbangi dengan pemekalan materi yang cukup. Selama ini, proses pemanenan TBS hanya dikontrol oleh mandor panen dimana setiap mandor panen mengontrol 2 5 orang buruh panen dalam area yang luas. Pemanenan yang dilakukan oleh buruh panen hanya didasarkan pada ada tidaknya berondolan yang jatuh. Teknik ini tentu tidak dapat memberikan hasil yang maksimal karena tidak didasarkan pada landasan ilmu yang kuat. Oleh karena itu, pelatihan kepada seluruh karyawan tentang karakteristik TBS termasuk fraksi TBS beserta sifat fisiologis yang akan muncul pada masingmasing fraksi akan memberikan dampak yang sangat besar. Pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas TBS dimana TBS yang dipanen adalah TBS dengan fraksi 2 atau fraksi 3 dengan kategori matang. TBS yang dipanen saat fraksi yang tepat akan berdampak pada produktivitas CPO dan inti sawit di PMS Gunung Meliau dimana molekul minyak pada tiap berondolan yang dihasilkan lebih banyak dan maksimal. Hal yang sama akan tampak pula pada produksi inti sawit yang dihasilkan dimana produksi inti sawit akan lebih besar pada TBS matang. Selama ini pengontrolan proses pemanenan termasuk fraksi TBS yang dipanen hanya 62
40 dilakukan oleh mandor panen. Kontrol mandor tentu tidak akan maksimal karena luasnya areal kebun sawit yang harus dikontrol. Ketergantungan mandor panen dapat dikurangi dengan adanya pelatihan tersebut. Selain itu, perlu ditanamkan kepedulian dan rasa kepemilikan kepada perusahaan sehingga orientasi kerja karyawan bukan hanya mengejar gaji dan premi, tetapi juga dapat memberikan kinerja yang maksimal. Pelatihan tentang sistem panen tidak boleh hanya diberikan kepada karyawankaryawan dari kebunkebun inti dan kebun plasma, tetapi juga perlu diberikan kepada pemilik kebunkebun pihak ketiga. Pelatihan yang diperuntukan kepada pemilik kebunkebun pihak ketiga perlu dilaksanakan karena mereka menyumbangkan 28 % atau kurang lebih ¼ dari jumlah total TBS yang diolah oleh PMS Gunung Meliau. Materi yang diberikan tentu berbeda dengan kebunkebun inti dan kebun plasma karena kondisi yang dialami berbeda. Pemilik kebunkebun pihak ketiga cenderung menimbun TBS hingga beberapa hari hingga cukup bagi mereka untuk dikirim ke PMS Gunung Meliau. Penimbunan TBS hanya dilakukan di depan rumah tanpa adanya pelindung. Hal ini tentu akan memicu terjadinya buah busuk dan memicu terbentuknya ALB. Ironisnya, pengontrolan TBS dari PMS Gunung Meliau tidak dapat dilakukan dengan maksimal karena kurangnya tenaga kerja. TBS yang terdeteksi jelek hanya diberikan sanksi pemotongan pembayaran kepada pemilik namun TBS tersebut tetap diterima untuk memenuhi keperluan bahan baku yang telah terikat kontrak sebelumnya. Pelatihan dan pemberian materi yang sesuai kepada pemilik kebunkebun pihak ketiga diharapkan dapat meningkatkan kualitas TBS sehingga berdampak positif bagi kualitas CPO dan inti sawit hasil pengolahan PMS Gunung Meliau. Karyawan pabrik juga perlu diberikan pelatihan karena mereka memegang peranan penting dalam menjaga kualitas dan produktivitas produk tetap tinggi selama proses pengolahan. Setiap buruh pabrik wajib mengetahui segala informasi penting dari stasiun pengolahan tempat mereka bekerja. Pengetahuan yang cukup akan memberikan timbal balik yang positif dimana pemantauan pabrik tidak lagi dipusatkan kepada beberapa orang. Kondisi ini akan mempercepat respon yang dapat diberikan apabila terjadi penyimpangan selama proses berlangsung. Kondisi jalan kebun yang buruk mengakibatkan terhambatnya pengiriman buah karena waktu yang diperlukan menjadi lebih lama. Berdasarkan hasil observasi, jalanjalan kebun tidak cukup memadai untuk dilewati oleh kendaraan berat seperti truk pengangkut. Sebagian besar jalan kebun tidak rata dan beberapa jalan blok tidak dilapisi aspal sehingga sangat sulit dilalui pada saat hujan. Selain itu, jalan yang berlubang, kecil, dan naik turun menghambat pengiriman TBS karena perlu dilakukan proses lansir secara bertahap untuk dapat mengangkut semua TBS dari beberapa blok di afdeling tertentu. Oleh karena itu, perlu dilakukan perbaikan jalan secara menyeluruh sehingga jalan dapat dilewati oleh kendaraan berat. Jalan yang tidak cukup kuat akan mudah rusak dalam jangka waktu singkat setelah terus menerus dilewati kendaraan berat yang mengangkut TBS. Pelebaran jalan juga perlu dilakukan untuk mempermudah truk pengangkut menjangkau setiap TPH sehingga tidak perlu dilakukan proses lansir. Semakin banyak proses lansir pada buah, kemungkinan terjadi buah luka sangat besar karena buah beberapa kali diangkat dan diturunkan. Buah yang luka akan memicu terbentuknya ALB. Jalan raya yang menghubungkan kebun dan pabrik juga perlu dilakukan perbaikan karena kondisinya yang sangat parah. Jalan raya bukan lagi wewenang dari perusahaan karena sudah berada dalam pengaturan Pemerintah daerah (Pemda) setempat. Jalan raya yang menghubungkan kebunkebun menuju pabrik tidak memadai untuk dilewati oleh kendaraan berat. Oleh karena itu, perusahaan dan pemerintah setempat perlu memikirkan solusi yang tepat untuk dapat mengirimkan TBS dalam waktu yang cepat namun tidak harus melewati jalan raya yang sebenarnya tidak diperuntukkan bagi kendaraan berat. Adanya jalan pintas atau jalan khusus pengiriman TBS dapat menjadi salah satu solusi yang dapat diberikan untuk dapat mengirimkan TBS tepat waktu tanpa 63
41 khawatir pada rusaknya jalan raya yang selalu dilalui kendaraan berat setiap hari. Hingga saat ini, ada beberapa jalan pintas yang dapat ditempuh oleh truk pengangkut menunju pabrik. Jalan pintas tersebut adalah jalan kebun yang dapat terkoneksi langsung dengan PMS Gunung Meliau. Namun sayangnya, kondisi jalan pintas tersebut tidak berbeda jauh dengan kondisi jalan kebun lainnya yang tidak rata dan cukup rusak. Walaupun jarak dan waktu yang diperlukan lebih singkat saat melewati jalan pintas, supir truk pengangkut lebih memilih untuk melewati jalan raya yang lebih jauh karena kenyamanan berkendara lebih baik pada saat melewati jalan raya. Untuk dapat menghemat waktu, jalan pintas yang menjadi koneksi langsung menuju pabrik perlu dilakukan perbaikan sehingga jalan mampu dilewati kendaraan berat setiap harinya. Dalam proses pemanenan, kondisi restan sangat tidak mungkin dihindari. Permasalahan teknis dan non teknis yang tidak terduga di lapangan akan memicu terjadinya restan TBS. Untuk tetap dapat menjaga kualitas TBS yang mengalami restan dan produktivitas kebun, TPH sebagai tempat pengumpulan buah perlu dirancang sedemikian rupa sehingga peningkatan ALB dan tidak terkutipnya berondolan di TPH dapat dicegah. TPH yang baik harus diberi dasar yang baik dan bersih. Dari observasi, sebagian besar dasar TPH hanya berupa tanah kosong yang masih ditumbuhi rumput dan beberapa TPH sudah tidak layak untuk digunakan karena tergenang lumpur. Salah satu opsi yang dapat dilakukan adalah melapisi dasar TPH dengan semen untuk menghindari genangan air pada saat hujan. Selain itu, untuk mencegah pembentukan ALB yang berlebihan pada TBS yang mengalami restan, dapat di rancang stasiun blancing kecil yang terletak di tempattempat strategis atau dapat pula berupa stasiun yang bisa berpindahpindah seperti truk yang dapat mencari buahbuah restan di semua TPH sehingga pada saat TBS mengalami restan, TBS dapat diberi perlakuan pendahuluan dengan blansir sehingga enzim yang berperan dalam pembentukan ALB dapat dinonaktifkan terlebih dahulu. Selama pengiriman buah ke PMS Gunung Meliau, setiap truk pengangkut harus melindungi TBS dengan menggunakan terpal atau jejaring. Penggunaan terpal atau jejaring bertujuan untuk menghindari jatuhnya TBS selama perjalanan dari kebun menuju ke PMS Gunung Meliau. Kondisi jalan yang buruk dan kapasitas pengangkutan buah yang melebihi standar dapat meningkatkan peluang terjadinya buah jatuh. Jatuhnya buah selama pengiriman buah jarang diketahui oleh supir karena sulitnya memantau TBS. Dengan adanya terpal atau jaring, kemungkinan TBS jatuh selama proses pengiriman dapat dikurangi karena buah tersekat dengan baik. Pemupukan tanaman produktif juga harus dilakukan secara berkala dan tepat waktu. Pemupukan yang terlambat akan mempengaruhi produktivitas TBS yang dihasilkan. Selama ini, pengiriman pupuk sering kali terlambat sehingga proses pemupukan pada pohonpohon produktif tidak dapat dilakukan sesegera mungkin. Untuk memastikan persediaan pupuk yang cukup dan tepat waktu, diperlukan suatu sistem kontrak yang jelas dan tegas sehingga tidak ada pihak yang dirugikan. Keterlambatan suplai pupuk perlu ditanggapi dengan serius dengan memberikan sanksi. Suplier tunggal juga harus dihindari sehingga pada saat salah satu perusahaan tidak mampu menyuplai pupuk tepat waktu, perusahaan lain dapat mengisi kekosongan tersebut. 3) Submodel SCM Pada Aspek Strategis Untuk meningkatkan keunggulan kompetitif, PTPN XIII harus menentukan standar untuk menstimulasi perbaikan produk yang menyesuaikan standar, mencegah dan menghilangkan hambatan perdagangan, meningkatkan daerah penjualan produk, dan memudahkan penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi terkini. Standar yang telah ditentukan akan diklasifikasikan ke dalam beberapa spesifikasi. Spesifikasi ini merupakan batasbatas terukur yang ditetapkan oleh PTPN XIII yang dijadikan acuan oleh semua komponen di dalamnya untuk dipenuhi. Spesifikasi ini disusun untuk memenuhi harapan dan keinginan konsumen dan selanjutnya merupakan senjata untuk 64
42 memasarkan produk yang dihasilkan. Spesifikasi produk merupakan gambaran utuh mengenai produk tersebut. Gambaran ini tidak dapat ditentukan sepenuhnya oleh PTPN XIII, tetapi sudah seharusnya melibatkan konsumen karena produk hasil produksi PTPN XIII akan dipakai oleh konsumen sehingga konsumen yang mengerti betul apa yang diinginkannya. Tanpa adanya spesifikasi yang jelas maka kegiatan pengendalian kualitas dan produktivitas tidak dapat dilakukan dengan baik. Spesifikasi yang dihasilkan oleh PTPN XIII adalah acuan yang harus diikuti dan mencakup semua tahapan proses dimulai dari kebun, pengadaan, transportasi, pabrik, dan segala sesuatu yang mendukung tercapainya tujuan yang dimaksud. Spesifikasi yang perlu dirancang oleh PTPN XIII adalah spesifikasi bahan mentah, proses, dan produk. Spesifikasi bahan mentah harus didefinisikan dengan baik agar dapat dimengerti dengan jelas oleh kebun dan pabrik. Spesifikasi bahan mentah berguna untuk mengurangi variasi mutu bahan ditingkat pemasok dari kebun inti, kebun plasma, dan kebun pihak ketiga serta perubahan selama distribusi dan penyimpanan. Jika semua pemasok menggunakan standar dan kelas mutu telah disepakati, pabrik akan lebih mudah melakukan pembelian, penanganan, dan pengolahan. Selain itu, proses ini akan meningkatkan efisiensi karena proses inspeksi di pabrik dapat diminimalkan. Spesifikasi bahan mentah meliputi penentuan fraksi dan efisiensi pemanenan TBS. Spesifikasi proses merupakan persyaratanpersyaratan yang berkaitan dengan kondisi proses selama pengolahan di Pabrik Minyak Sawit (PMS) dan yang berkaitan dengan produkproduk antara sebelum menjadi produk akhir. Spesifikasi proses ini meliputi kondisi proses pengolahan TBS menjadi CPO dan inti sawit dalam kaitannya dengan efisiensi kerja dan standar baku pengolahan TBS. Kualitas dan produktivitas sangat tergantung pada sejauh mana spesifikasi bahan mentah dan spesifikasi proses telah dipenuhi. Kualitas dan produktivitas juga tergantung pada sejauh mana spesifikasi telah dipertimbangkan dalam memenuhi keinginan konsumen. Spesifikasi produk akhir pada CPO dan inti sawit meliputi kadar ALB, kadar air, kadar kotoran, tingkat efisiensi pemanenan, rendemen, losis produksi, dan efisiensi kerja. Berdasarkan sudut pandang kualitas, diperlukan suatu sistem terintegrasi berupa Total Quality Management (TQM) dalam melaksanakan perbaikan mutu. Dengan menerapkan TQM, manfaat yang diperoleh perusahaan dapat dilihat dari dua sisi, yaitu dari perbaikan posisi persaingan dan dari pengurangan cacat produk yang dihasilkan. Jika produk cacat dapat diminimumkan, maka biaya mutu akan berkurang dan lebih jauh lagi akan mengurangi total biaya produksi. Perusahaan yang menghasilkan mutu produk yang baik dan mampu memberikan jaminan kepada konsumen akan mendapatkan citra positif dari konsumen. Selanjutnya posisi persaingan akan semakin bagus dan harga produk dapat lebih ditingkatkan sehingga keuntungan yang diperoleh menjadi lebih besar. Beberapa manfaat yang dapat dinikmati oleh perusahaan dari penerapan TQM dapat dilihat pada gambar
43 Perbaikan Mutu Perbaikan Posisi Persaingan Penurunan Produk Cacat Harga Lebih Tinggi Peningkatan Pangsa Pasar Penurunan Biaya Produksi Peningkatan Penghasilan Peningkatan Laba Perusahaan Gambar 34. Manfaat Total Quality Management (TQM) (Muhandri dan Kadarisman 2008) Menurut Joseph M Juran, TQM adalah suatu konsep yang sangat sederhana, tetapi sudah mengakomodasikan semua hal yang berkaitan dengan mutu (Suwardi 2001). Joseph M Juran mengemukakan bahwa TQM dapat diimplementasikan jika mengikuti tiga proses manajerial, yaitu : (1) perencanaan mutu, (2) pengendalian mutu, dan (3) peningkatan/perbaikan mutu yang lebih dikenal dengan istilah Trilogi Juran. Konsep Trilogi Juran merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. a) Perencanaan Mutu Perencanaan mutu merupakan suatu proses yang mengidentifikasi pelanggan, persyaratan, dan harapan tinggi tentang ciriciri produk serta mengembangkan proses yang tepat untuk menghasilkan produk sesuai dengan keinginan pelanggan. PTPN XIII telah menentukan standar mutu pada produk CPO dan inti sawit yang diproduksi. Standar ini ditentukan berdasarkan peninjauan dari konsumen dan kemampuan yang dapat dicapai perusahaan. Sayangnya, mutu yang ditentukan oleh perusahaan tidak diilhami dengan baik oleh seluruh karyawan kebun dan karyawan pabrik. Berdasarkan observasi dan wawancara, banyak karyawan tidak mengetahui betapa pentingnya menjaga mutu CPO dan inti sawit. Mereka hanya melaksanakan apa yang dikehendaki atasan tanpa mengetahui secara pasti tujuannya. Oleh karena itu diperlukan sosialisasi kepada seluruh karyawan yang berperan dalam menjaga mutu selama pemanenan di kebun hingga pengolahan di pabrik. Sosialisasi dilakukan dengan menggambarkan tujuan mutu dengan jelas dan rinci kepada seluruh karyawan. Tujuan mutu harus disepakati dan dipahami oleh seluruh karyawan sehingga muncul kebersamaan tindakan untuk pencapaiannya. Pemahaman yang baik pada tujuan mutu akan memperkuat sistem internal dalam perusahaan terutama di pabrikpabrik tempat produksi CPO dan inti sawit. Setelah tujuan mutu tersosialisasi dengan baik, perusahaan dapat maju ketahap identifikasi pelanggan. Identifikasi pelanggan bertujuan untuk mengenali pelanggan. Secara umum pelanggan dibagi menjadi dua yaitu pelanggan internal dan pelanggan eksternal. Pelanggan internal adalah bagian dari perusahaan sendiri, sedangkan pelanggan eksternal merupakan pihakpihak yang bukan merupakan bagian perusahaan tetapi terkena dampak kegiatan perusahaan. Pelanggan internal yang dimaksud adalah bagianbagian mulai dari proses pengiriman TBS hingga menjadi produk CPO dan inti sawit dalam Suppy Chain Management (SCM). b) Pengendalian Mutu Pengendalian mutu merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menjamin bahwa proses yang dilaksanakan akan menghasilkan produk sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Sistem ini mencakup seluruh proses yang ada. Saat ini, PMS Gunung Meliau telah mengaplikasikan 66
44 standar ISO Namun dalam operasionalnya, standar ISO 9001 tersebut belum diaplikasikan dengan maksimal. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengendalian secara berkala untuk menjaga kualitas yang telah distandarisasikan pada standar ISO Kegiatan pengendalian terdiri atas beberapa kegiatan, yaitu: mengevaluasi kinerja proses, membandingkan kinerja nyata proses dengan SOP, dan mengambil tindakan jika dijumpai adanya penyimpangan antara kinerja dan SOP. Skenario pengendalian yang dapat dilakukan oleh PTPN XIII secara Suppy Chain Management (SCM) dapat dilihat pada gambar 35. Pemanenan TBS Kontrol Kebun Pengumpulan TBS Pemeriksaan Lulus Denda Transportasi Pengangkutan TBS Kontrol Penerimaan TBS Inspeksi Lulus Thresing Perebusan Kontrol Kontrol Pengolahan Digestion Devericarping Kernel Recovery Kontrol Kontrol Lulus Perbaikan Mutu Klarifikasi Kontrol Penyimpanan Tangki CPO Kontrol Gudang Inti Sawit Konsumen Pembelian Komplain Gambar 35. Skenario pengendalian secara Suppy Chain Management (SCM) 67
45 c) Perbaikan Mutu Perbaikan mutu mengacu pada serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk menghasilkan CPO dan inti sawit yang ada menjadi lebih baik. Kegiatan perbaikan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dengan pengendalian mutu dalam rangka pengembangan perusahaan. Program perbaikan mutu harus terorganisir dengan baik sehingga mampu merangsang munculnya ideide peningkatan mutu. Salah satu teknik yang dapat diaplikasikan di PMS Gunung Meliau adalah teknik Plan, Do, Check, Action (PDCA). Siklus PDCA dapat dilihat pada gambar 36. Action Mempertahankan Perbaikan Identifikasi Masalah Plan Spesifikasi Masalah Pengumpulan Data Analisis Data Pemeriksaan Kesimpulan P Pembuatan Kesimpulan Tentatif Melakukan Percobaan Check Do Gambar 36. Siklus PDCA yang dapat diterapkan PMS Gunung Meliau Jaminan mutu dan produksi tidak akan terwujud jika pelaksanaan berbagai fungsi dalam perusahaan tidak dapat berjalan dengan baik. Bukti bahwa fungsi mutu telah berjalan dengan baik adalah dengan melaksanakan audit. Pada umumnya, audit dilakukan oleh pihak internal ataupun eksternal. Audit internal dilaksanakan oleh PTPN XIII, sedangkan audit eksternal dapat dilaksanakan oleh pihak kedua yaitu konsumen dan universitas terkemuka atau pihak ketiga yaitu lembaga sertifikasi yang telah terakreditasi. Bentuk audit yang dapat dilaksanakan antara lain : audit mutu dan produksi, survei mutu dan produksi, dan audit produk. Audit mutu dan produksi merupakan tinjauan independen untuk membandingkan beberapa aspek kerja setiap stasiun pengolahan dengan SOP yang telah ditentukan. Survei mutu dan produksi merupakan tahap yang dilakukan untuk mengetahui tingkat efisiensi prosedur dan kinerja dalam produksi CPO dan inti sawit. Audit produk adalah suatu evaluasi yang independen terhadap mutu dan produksi produk untuk menentukan kelayakan dan kesesuaian dengan standar yang telah ditentukan oleh perusahaan. Sebaiknya, orang yang melaksanakan audit bukan berasal dari karyawan dalam PMS Gunung Meliau agar mutu dan produksi CPO dan inti sawit dapat digambarkan secara objektif. Audit juga harus dilakukan secara berkala untuk menjaga konsistensi dan performa PMS Gunung Meliau. 68
46 Dalam merespon akan adanya sumber daya potensial yang dimiliki oleh PTPN XIII yang terdapat di Kebun inti Gunung Mas, diperlukan suatu tindakan nyata sehingga sumber daya potensial tersebut tidak dibiarkan dengan siasia. Kondisi pohon yang sudah tua yaitu telah berusia 22 tahun dan jumlah pohon yang sedikit yaitu berkisar 200 pohon, tentu tidak memungkinkan untuk menggunakan satu line proses di PMS Gunung Meliau karena bila dilihat dari sisi ekonomis pabrik sangat tidak efisien. Namun hal tersebut dapat disiasati dengan perancangan dan pembuatan pabrik skala pilot plan yang dikhususkan untuk mengolah pohonpohon yang memiliki kadar betakaroten tinggi tersebut. Perancangan pabrik perlu dikolaborasikan antara pihak internal maupun eksternal. Kerjasama dengan pihak eksternal sangat diperlukan dalam aspek ilmu pengetahuan yang dapat membantu pihak internal yang lebih mengerti kondisi lingkungan kebun khususnya kebun inti Gunung Mas. Perancangan pabrik tidak harus diaplikasikan hingga proses hilir berupa produksi produk jadi yang dapat langsung dikonsumsi, namun perancangan dapat dilakukan hingga produksi produk setengah jadi berupa minyak sawit merah. Minyak sawit merah ini dapat menjadi bahan baku dalam pembuatan produkproduk turunan berikutnya seperti produk emulsi, farmasetikal, nutrasetikal, dan lainlainnya. Kondisi masyarakat modern dengan tingginya permintaan produkproduk makanan kesehatan tentu akan merangsang permintaan produk berbahan dasar minyak sawit tinggi betakaroten dan mikronutrient lain sebagai salah satu produk kesehatan yang akan sangat diminati. Tingginya permintaan tersebut akan memicu banyak perusahaan yang bergerak di industri hilir kelapa sawit akan sangat berminat untuk bekerjasama dengan PTPN XIII sebagai satusatunya pemilik pohon dengan kadar betakaroten 56 kali lebih banyak dari pohonpohon biasa. Kondisi tersebut tentu sangat menguntungkan perusahaan karena posisi tawar PTPN XIII menjadi lebih tinggi sebagai satusatunya pemilik pohon yang memiliki buah berkadar betakaroten tinggi. 69
BAB I PENDAHULUAN. dihasilkan oleh perusahaan. Bahan baku suatu perusahaan industri dapat
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Bahan baku yang berkualitas akan meningkatkan kualitas dari produk yang dihasilkan oleh perusahaan. Bahan baku suatu perusahaan industri dapat bervariasi dari satu
VI. PENINGKATAN MUTU PRODUK KOMODITAS BERBASIS KELAPA SAWIT
VI. PENINGKATAN MUTU PRODUK KOMODITAS BERBASIS KELAPA SAWIT QFD (Quality Function Deployment) adalah suatu alat untuk membuat pelaksanaan TQM (Total Quality Management) menjadi efektif untuk mentranslasikan
BAB 1 PENDAHULUAN. Pengolahan tandan buah segar (TBS) di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) dimaksudkan untuk
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pengolahan tandan buah segar (TBS) di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) dimaksudkan untuk memperoleh minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil) dari daging buah dan inti sawit (kernel)
VII. FAKTOR-FAKTOR DOMINAN BERPENGARUH TERHADAP MUTU
VII. FAKTOR-FAKTOR DOMINAN BERPENGARUH TERHADAP MUTU Faktor-faktor dominan yang mempengaruhi mutu komoditas dan produk sawit ditentukan berdasarkan urutan rantai pasok dan produk yang dihasilkan. Faktor-faktor
PEMBAHASAN (A) (B) (C) (D) Gambar 13. TBS Yang Tidak Sehat (A) Buah Mentah dan Abnormal, (B) Buah Sakit, (C) Buah Batu dan (D) Buah Matang Normal
PEMBAHASAN Kriteria Mutu Buah Sebagai Dasar Sortasi TBS Tandan buah segar yang diterima oleh pabrik hendaknya memenuhi persyaratan bahan baku, yaitu tidak menimbulkan kesulitan dalam proses ekstraksi minyak
I. U M U M. TATA CARA PANEN.
LAMPIRAN : PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 17/Permentan/OT.140/2/2010 TANGGAL : 5 Pebruari 2010 TENTANG : PEDOMAN PENETAPAN HARGA PEMBELIAN TANDA BUAH SEGAR (TBS) KELAPA SAWIT PRODUKSI PEKEBUN TATA
DAFTAR ISI KATA PENGANTAR A. PENGOLAHAN KELAPA SAWIT MENJADI CPO. 1 B. PENGOLAHAN KELAPA SAWIT MENJADI PKO...6 KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA...
DAFTAR ISI KATA PENGANTAR i DAFTAR ISI ii A. PENGOLAHAN KELAPA SAWIT MENJADI CPO. 1 B. PENGOLAHAN KELAPA SAWIT MENJADI PKO...6 KESIMPULAN 8 DAFTAR PUSTAKA...9 PROSES PENGOLAHAN KELAPA SAWIT MENJADI CPO
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANG (PKL) DI PT. PERKEBUANAN NUSANTARA VII (Persero) UNIT BEKRI KAB. LAMPUNG TENGAH PROV. LAMPUNG. Oleh :
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANG (PKL) DI PT. PERKEBUANAN NUSANTARA VII (Persero) UNIT BEKRI KAB. LAMPUNG TENGAH PROV. LAMPUNG Oleh : MARIA ULFA NIM.110 500 106 PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN
PANEN KELAPA SAWIT Pengrtian Panen Sistim Panen 2.1 Kriteria Matang Panen 2.2 Komposisi TBS Fraksi Komposisi (%) Kematangan
PANEN KELAPA SAWIT 1. Pengrtian Panen Panen adalah serangkaian kegiatan mulai dari memotong tandan matang panen sesuai criteria matang panen, mengumpulkan dan mengutipbrondolan serta menyusun tandan di
2013, No.217 8
2013, No.217 8 LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14/Permentan/OT.140/2/2013 TENTANG PEDOMAN PENETAPAN HARGA PEMBELIAN TANDAN BUAH SEGAR KELAPA SAWIT PRODUKSI PEKEBUN TATA CARA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. lemaknya, minyak sawit termasuk golongan minyak asam oleat-linolenat. Minyak
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Minyak Kelapa Sawit Sebagai minyak atau lemak, minyak sawit adalah suatu trigliserida, yaitu senyawa gliserol dengan asam lemak. Sesuai dengan bentuk bangun rantai asam lemaknya,
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanaman Kelapa Sawit 2.1.1 Sejarah Perkelapa Sawitan Mengenai daerah asal kelapa sawit terdapat beberapa pendapat. Pendapat pertama menyatakan bahwa kalapa sawit berasal dari
PEMBAHASAN Penetapan Target
54 PEMBAHASAN Penetapan Target Tanaman kelapa sawit siap dipanen ketika berumur 30 bulan. Apabila memasuki tahap menghasilkan, tanaman akan terus berproduksi hingga umur 25 tahun. Pada periode tanaman
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan Berdasarkan analisis yang telah dilakukam maka simpulan dari penelitian ini adalah : 1. Bahan Baku. a. Pelaksanaan pengendalian kualitas penerimaan TBS (Tandan Buah
TINJAUAN PUSTAKA Manajemen Agribisnis Kelapa Sawit Syarat Tumbuh Kelapa Sawit
3 TINJAUAN PUSTAKA Manajemen Agribisnis Kelapa Sawit Agribisnis kelapa sawit membutuhkan organisasi dan manajemen yang baik mulai dari proses perencanaan bisnis hingga penjualan crude palm oil (CPO) ke
TINJAUAN PUSTAKA. Teknis Panen
3 TINJAUAN PUSTAKA Teknis Panen Panen merupakan rangkaian kegiatan terakhir dari kegiatan budidaya kelapa sawit. Pelaksanaan panen perlu dilakukan secara baik dengan memperhatikan beberapa kriteria tertentu
Lampiran 3 Klasifikasi ABC Lp3. Lampiran 4 Perhitungan Interval Waktu Lp4. Lampiran 5 Hasil Perhitungan Interval Waktu Lp5
Lampiran 2 Data Harga Komponen.Lp2 Lampiran 3 Klasifikasi ABC Lp3 Lampiran 4 Perhitungan Interval Waktu Lp4 Lampiran 5 Hasil Perhitungan Interval Waktu Lp5 Lampiran 6 Menghitung MTTF Menggunakan Minitab
BAB I PENDAHULUAN. tandan buah segar (TBS) sampai dihasilkan crude palm oil (CPO). dari beberapa family Arecacea (dahulu disebut Palmae).
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tanaman kelapa sawit merupakan sumber minyak nabati yang pada saat ini telah menjadi komoditas pertanian unggulan di negara Indonesia. Tanaman kelapa sawit dewasa ini
PEMBAHASAN Kebutuhan Tenaga Panen
PEMBAHASAN Kebutuhan Tenaga Panen Kebutuhan tenaga panen untuk satu seksi (kadvel) panen dapat direncanakan tiap harinya berdasarkan pengamatan taksasi buah sehari sebelum blok tersebut akan dipanen. Pengamatan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Produktivitas Tanaman Kelapa Sawit Potensi produksi tanaman kelapa sawit ditentukan oleh beberapa faktor sebagai berikut.
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Produktivitas Tanaman Kelapa Sawit Potensi produksi tanaman kelapa sawit ditentukan oleh beberapa faktor sebagai berikut. A. Jenis atau Varietas Kelapa Sawit Jenis (varietas)
TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit Syarat Tumbuh
3 TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit Tanaman kelapa sawit diklasifikasikan sebagai berikut : Divisi : Embryophyta Siphonagama Kelas : Angiospermae Ordo : Monocotyledonae Famili : Arecaceae Sub Famili
Bab II Tinjauan Pustaka
A. Minyak Sawit Bab II Tinjauan Pustaka Minyak sawit berasal dari mesokarp kelapa sawit. Sebagai minyak atau lemak, minyak sawit adalah suatu trigliserida, yaitu senyawa gliserol dengan asam lemak. Sesuai
BAB2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Proses Pengolahan Kelapa Sawit Secara umum pengolahan kelapa sawit terbagi menjadi dua hasil akhir, yaitu pengolahan minyak kelapa sawit (CPO) dan pengolahan inti sawit (kernel).
1 PENDAHULUAN. Sumber : Direktorat Jendral Perkebunan (2014) Gambar 2 Perkembangan Produksi CPO Indonesia
1 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Negara Indonesia merupakan salah satu negara yang berpotensi pada sektor pertanian. Wilayah Indonesia yang luas tersebar di berbagai wilayah dan kondisi tanahnya yang subur
KAJIAN JUMLAH TANDAN BUAH SEGAR DAN GRADING DI PT. SAWIT SUKSES SEJAHTERA KECAMATAN MUARA ANCALONG KABUPATEN KUTAI TIMUR PROPINSI KALIMANTAN TIMUR
KAJIAN JUMLAH TANDAN BUAH SEGAR DAN GRADING DI PT. SAWIT SUKSES SEJAHTERA KECAMATAN MUARA ANCALONG KABUPATEN KUTAI TIMUR PROPINSI KALIMANTAN TIMUR Oleh : BAYU SUGARA NIM. 110500079 PROGRAM STUDI BUDIDAYA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kelapa Sawit Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) berasal dari negeria, Afrika barat. Meskipun demikian, ada yang menyatakan bahwa kelapa sawit berasal dari amerika
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. PROFIL MUTU MINYAK SAWIT KASAR Minyak sawit kasar (CPO) yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari PT Sinar Meadow Internasional Jakarta, PTPN VIII Banten, PT Wilmar
PEMBAHASAN Manajemen Panen Teluk Siak Estate
48 PEMBAHASAN Manajemen Panen Teluk Siak Estate Dalam kegiatan agribisnis kelapa sawit dibutuhkan keterampilan manajemen yang baik agar segala aset perusahaan baik sumberdaya alam, sumberdaya manusia,
ANALISA KEBUTUHAN UAP PADA STERILIZER PABRIK KELAPA SAWIT DENGAN LAMA PEREBUSAN 90 MENIT
ANALISA KEBUTUHAN UAP PADA STERILIZER PABRIK KELAPA SAWIT DENGAN LAMA PEREBUSAN 90 MENIT Tekad Sitepu Staf Pengajar Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara Abstrak Sterilizer
PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 395/Kpts/OT.140/11/2005 TENTANG
PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 395/Kpts/OT.140/11/2005 TENTANG PEDOMAN PENETAPAN HARGA PEMBELIAN TANDAN BUAH SEGAR (TBS) KELAPA SAWIT PRODUKSI PEKEBUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pentingnya sektor pertanian dalam perekonomian Indonesia dilihat dari aspek kontribusinya terhadap PDB, penyediaan lapangan kerja, penyediaan penganekaragaman menu makanan,
BAB I PENDAHULUAN. Tahun
BAB I PENDAHULUAN Penelitian menjelaskan bagaimana sistem informasi manajemen rantai pasok minyak sawit mentah berbasis GIS dirancang. Pada bab ini menjelaskan tentang latar belakang penelitian, perumusan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanaman Kelapa Sawit Tanaman kelapa sawit (Elaesis Guineses Jacq) merupakan tumbuhan tropis golongan palma yang termasuk dalam family Palawija. Kelapa sawit biasanya mulai berbuah
BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini pemerintah sedang menggalakkan produksi non-migas,
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Masalah Dewasa ini pemerintah sedang menggalakkan produksi non-migas, disamping migas sendiri sebagai sumber pemasukan devisa dan juga sektor yang lain dianggap perlu
BAB 3 METODOLOGI. 3.1 Alat dan Bahan Alat-alat - Beaker glass 50 ml. - Cawan porselin. - Neraca analitis. - Pipet tetes.
BAB 3 METODOLOGI 3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat-alat - Beaker glass 50 ml - Cawan porselin - Neraca analitis - Pipet tetes - Oven - Gelas erlenmeyer 50 ml - Gelas ukur 10 ml - Desikator - Buret digital
I. TINJAUAN PUSTAKA. mandor panen. Rumus peramalan produksi harian yaitu : P = L x K x T x B. L = Luas areal yang akan dipanen (ha)
I. TINJAUAN PUSTAKA A. Produksi 1. Peramalan Produksi Peramalan produksi sangat penting dan ketepatannya akan meningkatkan efesiensi dibidang pemakaian tenaga pemanen, angkutan dan jam olah pabrik. peramalan
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Prospek agroindustri perkebunan kelapa sawit di Indonesia sangat bagus, hal ini bisa dilihat dari semakin luasnya lahan tanam yang ada. Luas lahan yang sudah ditanami
PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 14/Permentan/OT.140/2/2013 TENTANG PEDOMAN PENETAPAN HARGA PEMBELIAN TANDAN BUAH SEGAR KELAPA SAWIT PRODUKSI PEKEBUN
PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 14/Permentan/OT.140/2/2013 TENTANG PEDOMAN PENETAPAN HARGA PEMBELIAN TANDAN BUAH SEGAR KELAPA SAWIT PRODUKSI PEKEBUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN,
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Panen Kelapa sawit Panen merupakan suatu kegiatan memotong tandan buah yang sudah matang, kemudian mengutip tandan dan memungut brondolan, dan mengangkutnya dari pohon ke tempat
II. TINJAUAN PUSTAKA. Proses pengolahan kelapa sawit menjadi crude palm oil (CPO) di PKS,
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Proses Pengolahan Kelapa Sawit Proses pengolahan kelapa sawit menjadi crude palm oil (CPO) di PKS, terdiri dari beberapa stasiun yang menjadi alur proses dalam pemurnian kelapa
segar yang dipanen dapat masuk ke pabrik pada hari yang sama.
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Panen Kelapa Sawit Panen dan produksi merupakan hasil dari aktivitas kerja dibidang pemeliharaan tanaman. Baik dan buruknya pemeliharaan tanaman selama ini akan tercermin dari panen
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang. Bagi perekonomian Indonesia, sektor pertanian merupakan sektor yang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bagi perekonomian Indonesia, sektor pertanian merupakan sektor yang penting karena secara tradisional Indonesia merupakan negara agraris yang bergantung pada sektor
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN PERTANIAN. Kelapa Sawit. Pembelian Produksi Pekebun.
No.79, 2010 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN PERTANIAN. Kelapa Sawit. Pembelian Produksi Pekebun. PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 17/Permentan/OT.140/2/2010 TENTANG PEDOMAN
PROGRAM PENDIDIKAN SARJANA EKSTENSI DEPARTEMEN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA M E D A N
PENENTUAN FAKTOR-FAKTOR YANG PALING BERPENGARUH DALAM PEROLEHAN PERSENTASE RENDEMEN CRUDE PALM OIL (CPO) DENGAN METODE ANALISA VARIANS (ANAVA) PADA STASIUN REBUSAN DI PABRIK KELAPA SAWIT PT. PERKEBUNAN
TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit
TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) berasal dari Afrika dan termasuk famili Aracaceae (dahulu: Palmaceae). Tanaman kelapa sawit adalah tanaman monokotil
BAB I PENDAHULUAN. berkembang pesat di Indonesia. Sejak tahun 2006 Indonesia telah menjadi
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas pertanian yang paling berkembang pesat di Indonesia. Sejak tahun 2006 Indonesia telah menjadi produsen crude palm oil (CPO)
PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 395/Kpts/OT.140/11/2005 TENTANG
MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 395/Kpts/OT.140/11/2005 TENTANG PEDOMAN PENETAPAN HARGA PEMBELIAN TANDAN BUAH SEGAR (TBS) KELAPA SAWIT PRODUKSI PEKEBUN DENGAN RAHMAT
I. PENDAHULUAN. masyarakat Indonesia salah satunya di Provinsi Sumatera Selatan. Pertanian
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Usaha di bidang pertanian merupakan sumber mata pencaharian pokok bagi masyarakat Indonesia salah satunya di Provinsi Sumatera Selatan. Pertanian berperan sangat
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1 Sejarah Perusahaan PT Perkebunan Sumatera Utara diperoleh dari perusahaan Inggris pada awal tahun 1962-1967. PT Perkebunan Sumatera Utara pada awalnya bernama Perusahaan
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menurut data yang dikeluarkan oleh Direktorat Jendral Perkebunan tahun 2008 di Indonesia terdapat seluas 7.125.331 hektar perkebunan kelapa sawit, lebih dari separuhnya
TUGAS AKHIR EVALINA KRISTIANI HUTAHAEAN
PENGARUH PROSES PENGOLAHAN TERHADAP MUTU CRUDE PALM OIL (CPO) YANG DIHASILKAN DI PTPN IV PKS ADOLINA PERBAUNGAN-MEDAN TUGAS AKHIR EVALINA KRISTIANI HUTAHAEAN 052409076 PROGRAM STUDI DIPLOMA-III KIMIA INDUSTRI
PROPOSAL INVESTASI TRADING TANDAN BUAH SEGAR SAWIT ( TBS ) : KOPERASI AL-ASNHOR SATU NEGERI PEKANBARU : PEKANBARU, RIAU INDONESIA
PROPOSAL INVESTASI TRADING TANDAN BUAH SEGAR SAWIT ( TBS ) Pengelola Lokasi : KOPERASI AL-ASNHOR SATU NEGERI PEKANBARU : PEKANBARU, RIAU INDONESIA Struktur Koperasi - Ketua Koperasi Gita Purnama, S.T -
SISTEM INFORMASI BIAYA POKOK UNTUK MEMPRODUKSI CPO DI PKS TANAH PUTIH. Oleh AHMAD FAUZI LUBIS 07 118 039
SISTEM INFORMASI BIAYA POKOK UNTUK MEMPRODUKSI CPO DI PKS TANAH PUTIH Oleh AHMAD FAUZI LUBIS 07 118 039 FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS ANDALAS PADANG 2011 SISTEM INFORMASI BIAYA POKOK UNTUK MEMPRODUKSI
II. TINJAUAN PUSTAKA
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Varietas Kelapa Sawit 1. Varietas Kelapa Sawit Berdasarkan Ketebalan Tempurung dan Daging Buah Ada beberapa varietas tanaman kelapa sawit yang telah dikenal. Varietasvarietas itu
Bab I Pengantar. A. Latar Belakang
A. Latar Belakang Bab I Pengantar Indonesia merupakan salah satu produsen kelapa sawit (Elaeis guineensis) terbesar di dunia. Produksinya pada tahun 2010 mencapai 21.534 juta ton dan dengan nilai pemasukan
BAB I PENDAHULUAN. PT. Suryaraya Lestari 1 merupakan salah satu industri berskala besar yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah PT. Suryaraya Lestari 1 merupakan salah satu industri berskala besar yang memproduksi minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil : CPO). Perusahaan ini mengolah
BAB II LANDASAN TEORI. dari tempurung dan serabut (NOS= Non Oil Solid).
BAB II LANDASAN TEORI II.1. Pemurnian Minyak Sawit Minyak sawit yang keluar dari tempat pemerasan atau pengepresan masih berupa minyak sawit kasar karena masih mengandung kotoran berupa partikelpertikel
EFEKTIFITAS PENGGUNAAN FRESH FRUIT BUNCH
EFEKTIFITAS PENGGUNAAN FRESH FRUIT BUNCH (FFB) SCRAPPER PADA LOADING RAMP UNTUK MEMINIMALISASI OIL LOSSES IN EMPTY BUNCH (Studi Kasus di Pabrik Kelapa Sawit PT. Cisadane Sawit Raya Sumatera Utara) Ari
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN Bab ini terdiri dari latar belakang penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, batasan masalah penelitian, dan sistematika penulisan laporan dari penelitian yang dilakukan. 1. 1
I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian memberikan kontribusi yang besar sebagai. sumber devisa negara melalui produk-produk primer perkebunan maupun
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sektor pertanian memberikan kontribusi yang besar sebagai sumber devisa negara melalui produk-produk primer perkebunan maupun produk hasil olahannya. Berdasarkan data triwulan
PENGELOLAAN LIMBAH CAIR INDUSTRI KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) DI PT AGROWIYANA, TUNGKAL ULU, TANJUNG JABUNG BARAT, JAMBI
PENGELOLAAN LIMBAH CAIR INDUSTRI KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) DI PT AGROWIYANA, TUNGKAL ULU, TANJUNG JABUNG BARAT, JAMBI Oleh PUGUH SANTOSO A34103058 PROGRAM STUDI AGRONOMI FAKULTAS PERTANIAN
Manajemen Pengolahan Kelapa Sawit di PTPN. Oleh : Rediman Silalahi
Manajemen Pengolahan Kelapa Sawit di PTPN Oleh : Rediman Silalahi BIODATA Nama : Rediman Silalahi Pekerjaan/Jabatan : Direktur Operasional Institusi : PT. Perkebunan Nusantara IV Alamat : Jl. Suprapto
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
V-34 BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1 Sejarah Perusahaan PT.PN III (PT. Perkebunan Nusantara III) Kebun Rambutan merupakan salah satu unit PT. PN III yang memiliki 8 wilayah kerja yang dibagi berdasarkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tanaman kelapa sawit (Elais guinensis jacq) adalah tanaman berkeping satu yang termasuk dalam family Palmae. Tanaman genus Elaeis berasal dari bahasa Yunani Elaion
SIMULASI HUBUNGAN ANTARA FRAKSI KEMATANGAN BUAH DAN TINGGI POHON TERHADAP JUMLAH BUAH MEMBRONDOL TANAMAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq)
Jurnal Penelitian STIPAP, 2013, 4 (1) : 1-11 SIMULASI HUBUNGAN ANTARA FRAKSI KEMATANGAN BUAH DAN TINGGI POHON TERHADAP JUMLAH BUAH MEMBRONDOL TANAMAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq) 1 2 Mardiana
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pengolahan Tandan Buah Segar (TBS) di pabrik bertujuan untuk memperoleh minyak
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengolahan Hasil Panen Pengolahan Tandan Buah Segar (TBS) di pabrik bertujuan untuk memperoleh minyak sawit yang berkualitas baik.pada dasarnya ada dua macam hasil olahan utama
IV. GAMBARAN UMUM. Sumber : WTRG Economics
IV. GAMBARAN UMUM 4.1. Perkembangan Harga Minyak Bumi Minyak bumi merupakan salah satu sumber energi dunia. Oleh karenanya harga minyak bumi merupakan salah satu faktor penentu kinerja ekonomi global.
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. adalah kelapa sawit (Elaeis guinensis JACQ). Kelapa sawit (Elaeis guinensis JACQ)
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Minyak Kelapa Sawit Salah satu dari beberapa tanaman golongan palm yang dapat menghasilkan minyak adalah kelapa sawit (Elaeis guinensis JACQ). Kelapa sawit (Elaeis guinensis
BAB I PENDAHULUAN. ditanam di hampir seluruh wilayah Indonesia. Bagian utama dari kelapa sawit yang diolah adalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pertanian dan perkebunan merupakan sektor utama yang membuat perekonomian di Indonesia semakin tumbuh pesat. Salah satu sektor agro industri yang cenderung
BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. PT. Salim Ivomas Pratama Tbk Kabupaten Rokan Hilir didirikan pada
BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Sejarah Umum Perusahaan PT. Salim Ivomas Pratama Tbk Kabupaten Rokan Hilir didirikan pada tahun 1996 oleh PT. Dirga Bratasena Enginering dan resmi beroperasi
Sektor pertanian memberikan kontribusi yang besar sebagai. produk hasil olahannya. Berdasarkan data triwulan yang dikeluarkan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sektor pertanian memberikan kontribusi yang besar sebagai sumber devisa negara melalui produk-produk primer perkebunan maupun produk hasil olahannya. Berdasarkan data triwulan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan nasional sedang memasuki era industrialisasi dan globalisasi yang ditandai dengan semakin berkembangnya perindustrian. Sehingga diperlukan peningkatan kualitas
PROSES PENGOLAHAN CPO DI PT MURINIWOOD INDAH INDUSTRI. Oleh : Nur Fitriyani. (Di bawah bimbingan Ir. Hj Evawati, MP) RINGKASAN
i PROSES PENGOLAHAN CPO DI PT MURINIWOOD INDAH INDUSTRI Oleh : Nur Fitriyani (Di bawah bimbingan Ir. Hj Evawati, MP) RINGKASAN PT Muriniwood Indah Indurtri merupakan salah satu perusahaan yang bergerak
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sejarah Kelapa Sawit di Indonesia Kelapa sawit (Elaeis guinensis Jack) merupakan tumbuhan tropis yang diperkirakan berasal dari Nigeria (Afrika Barat) karena pertama kali ditemukan
BAB 1 PENDAHULUAN. Manajemen rantai pasok, sebagai subyek penelitian, masih dalam masa
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manajemen rantai pasok, sebagai subyek penelitian, masih dalam masa pertumbuhan. Hal ini dicerminkan dari penggunaan aplikasi logistik dalam perusahaan, tidak
TINJAUAN PUSTAKA. 3.1 Tanaman Kelapa Sawit Ciri-Ciri Fisiologis Kelapa Sawit
III. TINJAUAN PUSTAKA 3.1 Tanaman Kelapa Sawit Kelapa sawit (Elaeis guineensis) merupakan tumbuhan hutan hijau tropis yang banyak ditemukan di daerah Afrika Barat terutama di Kamerun, Pantai Gading, Liberia,
BAB 3 METODE PENELITIAN
BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Tempat Dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboraturium STIPAP-MEDAN dan Laboratorium Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan. Waktu pelaksanaan selama 4 bulan,
ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha
ABSTRAK PT Karya Tama Bakti Mulia merupakan salah satu perusahaan dengan kompetensi pengelolaan perkebunan kelapa sawit yang sedang melakukan pengembangan bisnis dengan perencanaan pembangunan pabrik kelapa
PENGUKURAN DAN ANALISA PRODUKTIVITAS DENGAN MENGGUNAKAN METODE OBJECTIVE MATRIX (OMAX) DI PTPN IV UNIT USAHA SAWIT LANGKAT
PENGUKURAN DAN ANALISA PRODUKTIVITAS DENGAN MENGGUNAKAN METODE OBJECTIVE MATRIX (OMAX) DI PTPN IV UNIT USAHA SAWIT LANGKAT TUGAS SARJANA Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Dari Syarat-Syarat Memperoleh Gelar
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Alur Penelitian Metodologi penelitian merupakan tahapan-tahapan dan langkah-langkah yang akan di lewati dalam melakukan penelitian ini, yaitu seperti pada Gambar 3.1 merupakan
KARYA ILMIAH DARWIS SYARIFUDDIN HUTAPEA
PENENTUAN KADAR MINYAK YANG TERDAPAT PADA TANDAN BUAH KOSONG SESUDAH PROSES PEMIPILAN SECARA SOKLETASI DI PTP. NUSANTARA III PABRIK KELAPA SAWIT SEI MANGKEI - PERDAGANGAN KARYA ILMIAH DARWIS SYARIFUDDIN
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Sebagai minyak atau lemak, minyak sawit adalah suatu trigliserida, yaitu senyawa
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Minyak Kelapa Sawit Sebagai minyak atau lemak, minyak sawit adalah suatu trigliserida, yaitu senyawa gliserol dengan asam lemak. Sesuai dengan bentuk bangun rantai asam lemaknya,
METODE MAGANG. Tempat dan Waktu
METODE MAGANG Tempat dan Waktu Kegiatan magang dilaksanakan selama tiga bulan, yaitu dimulai dari tanggal 13 Februari 2012 sampai 12 Mei 2012 di Teluk Siak Estate (TSE) PT. Aneka Intipersada, Minamas Plantation,
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1. Sejarah Umum Perusahaan Unit Usaha Sawit Langkat (disingkat SAL) mulai berdiri pada tanggal 01 Agustus 1974 sebagai salah satu Unit Usaha dari PTP.VIII yang bergerak
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1Sejarah perkebunan kelapa sawit Kelapa sawit (Elacis guineensis jascg) adalah tumbuhan industri penting penghasil minyak masak, minyak industri, maupun bahan baker (biodisel).
TINJAUAN PUSTAKA. apabila seluruh kondisi perlakuan dilaksanakan dengan baik.
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Produktivitas Tanaman Kelapa Sawit Potensi produksi tanaman kelapa sawit tergantung dari tingkat kesesuaian lahan, keunggulan bahan tanam, dan tindakan kultur teknis. Unsur kesesuaian
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Umum Mengenai Kelapa Sawit Pabrik kelapa sawit (PKS) adalah Pabrik yang mengolah Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa sawit dengan proses standar menjadi produk minyak sawit
I.PENDAHULUAN Selain sektor pajak, salah satu tulang punggung penerimaan negara
I.PENDAHULUAN 1.1 LATARBELAKANG Selain sektor pajak, salah satu tulang punggung penerimaan negara untuk membiayai pembangunan adalah ekspor nonmigas, yang mulai diarahkan untuk menggantikan pemasukan dari
I. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman kelapa sawit biasanya mulai menghasilkan buah pada umur 3-4
I. TINJAUAN PUSTAKA A. Panen Tanaman kelapa sawit biasanya mulai menghasilkan buah pada umur 3-4 tahun. Proses pemanenan kelapa sawit meliputi kegiatan memotong tandan buah yang masak, memungut brondolan,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tingginya minat masyarakat pedesaan di Daerah Riau terhadap usaha tani kelapa sawit telah menjadikan Daerah Riau sebagai penghasil kelapa sawit terluas di Indonesia.
I. PENDAHULUAN. Pabrik Kelapa Sawit (PKS) merupakan perusahaan industri yang bergerak
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pabrik Kelapa Sawit (PKS) merupakan perusahaan industri yang bergerak dibidang pengolahan bahan baku Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit dengan tujuan memproduksi
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. minyak adalah kelapa sawit. Tanaman kelapa sawit (Elaeis guinensis Jack) adalah
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kelapa Sawit Salah satu dari beberapa tanaman golongan palm yang dapat menghasilkan minyak adalah kelapa sawit. Tanaman kelapa sawit (Elaeis guinensis Jack) adalah tanaman berkeping
PEMBAHASAN. Tabel 11. Rencana dan Realisasi Pemupukan Kebun Mentawak PT JAW Tahun 2007 dan 2008.
51 PEMBAHASAN Produksi Pencapaian produksi tandan buah segar (TBS) Kebun Mentawak PT JAW dari tahun 2005 2007 (Tabel 2) mengalami peningkatan yang signifikan yaitu dari tahun 2005 ke 2006 ± 10 000 ton,
Manajemen Panen Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Kebun Sei Lukut, Siak, Riau
Manajemen Panen Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Kebun Sei Lukut, Siak, Riau Harvesting Management of Palm Oil (Elaeis guineensis Jacq.) in Sei Lukut Estate, Siak, Riau Zul Adhri Harahap dan Hariyadi
MODEL PENGOLAHAN LIMBAH CAIR PABRIK KELAPA SAWIT BAB I PENDAHULUAN
MODEL PENGOLAHAN LIMBAH CAIR PABRIK KELAPA SAWIT BAB I PENDAHULUAN Komoditi kelapa sawit merupakan salah satu andalan komoditi pertanian Indonesia yang pertumbuhannya sangat cepat dan mempunyai peran strategis
Produksi dan Panen Kelapa Sawit
Produksi dan Panen Kelapa Sawit Tujuan Memberikan Informasi Mengenai Prinsip Pelaksanaan Panen dan Mutu Tandan Buah Segar Serta Pelaksanaan Inspeksi Panen Sesuai Peraturan Perusahaan Sasaran Pada akhir
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 1.1 Sejarah Berdiri Perusahaan PT. Rohul Sawit Industri (RSI) PKS -Sukadamai adalah bagian dari perusahaan besar yakni anak perusahaan dari BGA Group (Bumitama Gunajaya
TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Kelapa Sawit
3 TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Kelapa Sawit Kelapa sawit merupakan tanaman yang berasal dari Afrika. Tanaman yang merupakan subkelas dari monokotil ini mempunyai habitus yang paling besar. Klasifikasi
