BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
|
|
|
- Farida Susanto
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan Negara beraneka ragam adat dan budaya. Daerah yang satu dengan daerah yang lainnya memiliki adat dan budaya yang berbeda-beda. Demikian juga dalam hal pewarisan mempunyai berbagai macam bentuk pewarisan. Hukum waris di Indonesia bersifat pluralistis, belum ada kodifikasi mengenai hukum waris. Hukum waris yang berlaku secara nasional belum terbentuk dan hingga kini ada 3 (tiga) macam hukum waris yang berlaku dan diterima masyarakat Indonesia, yakni hukum waris yang berdasarkan hukum Islam, hukum Adat dan hukum Perdata Barat (BW). Masing-masing hukum tersebut mempunyai perbedaan satu dengan yang lainnya. Hukum Islam meliputi seluruh kehidupan manusia di dunia, baik untuk mewujudkan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat nanti. Di antara hukum tersebut ada yang mengandung sanksi yang dapat dirasakan di dunia seperti sanksi hukum pada umumnya dan ada pula sanksi yang dirasakan di dunia namun ditimpakan di akhirat kelak dalam bentuk dosa dan balasan atas dosa tersebut. 1 Allah telah mengatur semua kehidupan manusia di atas dunia iniyang dituangkan dalam bentuk perintah atau kehendak Allah tentang suatu perbuatan yang boleh dilakukan mauun perbuatan yang tidak boleh dilakukan oleh manusia. Aturan Allah mengenai tingkah laku manusia secara sederhana adalah syariah atau hukum syara yang sekarang ini biasanya disebut hukum Islam. 2 1 Moh. Muhibbin dan Abdul Wahid, Hukum Kewarisan Islam Sebagai Pembaharuan Hukum Positif di Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, 2011, hlm Ibid. 1
2 2 Segi kehidupan yang diatur oleh Allah dapat dikelompokkan kepada dua kelompok, yaitu : 1. Hablum min Allaah, mengenai hal-hal yang berkaitan dengan hubungan lahir manusia dengan Allah penciptanya. Aturan tentang hal ini disebut hukum ibadah. Tujuannya untuk menjaga hubungan Allah dengan hamba- Nya. 2. Hablun min Annass, mengenai hal-hal yang berkaitan dengan hubungan manusia satu dengan lainnya dan alam sekitarnya. Aturan tentang hal ini disebut hukum muamalat. Tujuannya untuk menjaga hubungan manusia satu dengan lainnya. 3 Nilai-nilai ke-islaman adalah nilai-nilai moral sebagai pedoman berkehidupan Islam sesuai dengan apa yang diperintahkan dalam Al Qur an dan Al Hadits (As Sunnah). Nilai-nilai ke-islaman itu akan terbentuk dalam diri dan terekspresikan pada perilaku yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Karena sebagai muslim mentaati semua syariat Islam itu adalah kewajiban, yang berlaku secara universal. Salah satu syariat yang diatur dalam ajaran Islam adalah tentang hukum waris, yaitu pemindahan harta warisan dari pewaris kepada ahli waris yang berhak menerimanya, yang meliputi segala jenis harta benda, baik berupa uang, tanah, mobil, emas dan sebagainya. 4 Sebagai agama yang sempurna, Islam mengatur segala sisi kehidupan manusia, termasuk dalam hal-hal yang berkaitan dengan peralihan harta yang ditinggal oleh seseorang, setelah meninggal dunia. Hukum yang mengatur tentang peralihan harta orang yang sudah meninggal dunia tersebut dinamakan hukum kewarisan, yang dalam hukum Islam disebut dengan hukum faraid. Di dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) Pasal 171 huruf a menjelaskan tentang pengertian dari hukum kewarisan yaitu hukum yang mengatur tentang pemindahan hak kepemilikan harta peninggalan (tirkah), pewaris, menentukan siapa-siapa yang berhak menjadi ahli waris dan berapa bagiannya masing-masing. 3 Ibid, hlm.2. 4 Muhammad Ali Ash-Shabuni, Pembagian Warisan Menurut Islam, Cetakan II, Gema Insani Press, Jakarta, 1996, hlm. 39.
3 3 Dalam hukum kewarisan Islam mengenal asas Ijbari, yaitu peralihan harta seseorang yang meninggal dunia kepada ahli warisnya berlaku dengan sendirinya menurut ketetapan Allah tanpa digantungkan kepada kehendak pewaris atau ahli waris. Dalam Islam tata cara mengenai pembagian harta warisan telah diatur dengan sebaik-baiknya dan jelas. Al Qur an menjelaskan dan merinci secara detail hukum-hukum yang berkaitan dengan hak kewarisan tanpa mengabaikan hak seorangpun. 5 Pembagian masing-masing ahli waris baik laki-laki maupun perempuan telah ada ketentuannya di dalam Al Qur an Surah An Nisaa ayat 7, yang artinya : Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu bapak dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan. (An-Nisaa : 7). 6 Aturan tentang waris tersebut ditetapkan oleh Allah SWT melalui firman-nya di dalam Al Qur an terutama Surah An-Nisaa ayat 7, 8, 11, 12 dan 176. Ketentuan Allah yang berkenaan dengan warisan pada dasarnya sudah jelas mengenai maksud, arah dan tujuannya. Hal-hal yang memerlukan penjelasan, baik yang sifatnya menegaskan ataupun merinci, juga telah diatur melalui hadits-hadits Rosululah SAW atau sering sebut Sunnah Rosul. Namun dalam penerapannya masih menimbulkan wacana pemikiran dan pembahasan di kalangan para ahli hukum Islam yang kemudian dirumuskan dalam ajaran yang bersifat normatif. Aturan tersebut yang kemudian diabadikan dalam lembaran kitab fiqh serta menjadi pedoman bagi ummat muslim dalam menyelesaikan permasalahan tentang kewarisan. 7 Timbulnya kebutuhan untuk mengetahui kejelasan ketentuan hukum kewarisan tersebut tidak harus menunggu karena adanya sengketa perkara waris, tetapi sebaiknya karena ingin agar dapat melaksanakan ketentuan hukum waris ini sebagaimana menurut ketentuan hukum Islam, mengingat sebagian besar bangsa Indonesia menganut agama Islam (muslim). Namun 5 Ibid, hlm Yayasan Penyelenggaraan Penterjemah/Pentafsiran Al Qur an, Al Qur an dan Terjemahannya, PT. Intermasa, Jakarta, 1993, hlm Moh. Muhibbin dan Abdul Wahid, op.cit, hlm. 2.
4 4 kenyataannya masih banyak orang muslim terutama di Indonesia yang belum memiliki pengetahuan yang mantap tentang kewarisan Islam, sekalipun hanya sekadar dasar-dasarnya. Mungkin seorang Muslim yang taat pada aturan agamanya menginginkan untuk melaksanakan pembagian warisan menurut hukum Islam, tetapi kadang-kadang ia tidak begitu memahami, ragu dan takut salah yang akan menimbulkan dosa, sehingga untuk menghilangkan keragu-raguan atau kekawatiran berbuat salah terhadap harta peninggalan atau warisan itu, ia akan bertanya dan meminta pendapat maupun saran Ulama, Kyai bahkan ahli hukum atau Sarjana Hukum yang dianggap ahli dan paham mengenai hukum kewarisan Islam. Selain itu tentu saja pengetahuan hukum waris Islam ini akan lebih penting lagi bagi seorang hakim maupun pengacara yang menghadapi perkara demikian yang secara moral berkewajiban untuk menguasai pengetahuan hukum waris Islam tersebut. 8 Demikian pula bagi seorang Notaris dalam memberikan penyuluhan hukum dan penjelasan terhadap siapa saja atau klien yang datang kepadanya untuk meminta solusi penyelesaian terhadap permasalahan yang dihadapinya mengenai pembagian harta warisan khususnya bagi yang beragama Islam. Karena itu, mengingat bangsa Indonesia mayoritas beragama Islam, tentunya mengharapkan berlakunya hukum Islam di Indonesia termasuk hukum warisnya bagi mereka yang beragama Islam, maka sudah selayaknya di dalam menyusun hukum waris nasional nanti hendaknya memasukkan ketentuan-ketentuan pokok hukum waris Islam ke dalamnya, dengan memperhatikan pula pola budaya atau adat yang hidup di masyarakat yang bersangkutan. Hukum kewarisan Islam atau yang juga dikenal dengan sebutan the Islamic Law of Inheritance mempunyai karakteristik tersendiri jika dibandingkan dengan sistem hukum lainnya, misalnya Civil Law ataupun Common Law. Di dalam hukum Islam ketentuan materiil bagi orang-orang yang ditinggalkan pewaris, telah digariskan dalam Al Qur an dan Al-Hadits secara rinci dan jelas sedangkan di dalam sistem hukum Barat pada pokoknya 8 Ibid.
5 5 menyerahkan soal harta peninggalan pewaris berdasarkan kepada keinginan yang bersangkutan itu sendiri, yaitu pewaris bisa membuat wasiat pada saat hidupnya. Dengan perkataan lain, kehendak atau keinginan pewaris merupakan sesuatu yang utama dan hukum baru ikut campur, apabila ternyata pewaris tidak meninggalkan wasiat yang sah. Hukum kewarisan Islam telah merombak secara mendasar sistem kewarisan yang berlaku pada masa sebelum Islam yang pada pokoknya tidak memberikan hak kewarisan kepada wanita dan anak-anak. Dengan demikian, hukum kewarisan Islam telah meletakkan suatu dasar keadilan hukum yang sesuai dengan hak asasi dan martabat manusia di dunia. 9 Para Sarjana hukum Barat banyak yang menganggap Hukum Kewarisan Islam tidak mempunyai sistem dan hanya bersandar pada asas patrilineal. Di sisi lain di kalangan umat Islam sendiri banyak pula yang mengira tidak ada sistem tertentu dalam hukum kewarisan Islam, sehingga menimbulkan sebuah anggapan seolah-olah hukum kewarisan Islam merupakan hukum yang sangat rumit dan sulit. Hal itulah yang menyebabkan hukum kewarisan Islam menurut fiqih kebudayaan Arab itu sangat sulit diterima masyarakat Islam di Indonesia. 10 Selain hal tersebut di atas, banyak kitab yang membahas tentang hukum kewarisan Islam selalu mengandung perbedaan pendapat, baik di kalangan ulama yang satu mazhab, maupun yang berbeda mazhab. Hal ini menimbulkan ketidakpastian hukum yang dapat membingungkan umat yang berperkara dan juga dapat menyulitkan para Hakim Pengadilan Agama untuk menentukan pendapat mana yang diambil di antara sekian banyak pendapat itu. 11 Seiring dengan diterbitkannya Kompilasi Hukum sebagai Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991, ditindak lanjuti oleh Keputusan Menteri Agama Nomor 154 Tahun 1991, dan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 Tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan 9 Ibid, hlm Ibid, hlm Ibid.
6 6 Agama, yang dirubah lagi dengan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 Tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama, para hakim pengadilan agama di Indonesia telah mempunyai sandaran hukum yang jelas dalam memutuskan perkara, khususnya masalah hukum kewarisan Islam. 12 Demikian juga bagi seorang Notaris dalam menjalankan perannya juga telah mempunyai sandaran hukum (pijakan hukum) dalam menjalankan peran jabatannya sebagai Notaris sesuai peraturan Jabatan Notaris yang berlaku di Indonesia. Bagi umat Islam melaksanakan ketentuan yang berkenaan dengan hukum kewarisan merupakan suatu kewajiban yang harus dijalankan, karena itu merupakan bentuk manifestasi keimanan dan ketakwaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Dewasa ini dalam kehidupan bermasyarakat telah mengalami perkembangan yang cukup pesat, dengan perkembangan yang semakin maju tersebut, kebutuhan masyarakat atas jasa dari notaris semakin dibutuhkan. Hal ini terutama terkait dengan adanya keinginan dari masyarakat untuk menyatakan kehendak dengan alat bukti yang autentik. Masyarakat banyak yang menganggap Notaris bisa dan sudah biasa menyelesaikan semua permasalahan yang mereka hadapi yang berhubungan dengan pembuatan akta-akta termasuk menyelesaikan permasalahan tentang pembagian warisan sesuai apa yang mereka pilih termasuk bagi yang memilih atau tunduk pada hukum Islam. Tugas jabatan Notaris adalah memformulasikan keinginan atau tindakan para pihak ke dalam akta autentik dengan memperhatikan aturan hukum yang berlaku. Notaris merupakan pejabat umum yang mempunyai tugas dan kewenangan memberikan pelayanan dankonsultasi hukum kepada masyarakat yang membutuhkan. Bantuan hukum yang dapat diberikan dari seorang Notaris adalah dalam bentuk membuat akta autentik dan ataupun kewenangan lainnya sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 2 tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 Tentang Jabatan Notaris. 12 Ibid.
7 7 Tugas Notaris yang selain memberikan bantuan dengan membuat akta autentik, tetapi juga konsultasi hukum kepada masyarakat. Dengan demikian, penting bagi Notaris untuk dapat memahami ketentuan yang diatur oleh undang-undang supaya masyarakat umum yang tidak tahu atau kurang memahami aturan hukum, dapat memahami dengan benar serta tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hukum. Kepastian, ketertiban, dan perlindungan hukummenuntut, antara lain, bahwa lalu lintas hukum dalam kehidupan masyarakat memerlukan adanya alat bukti yang menentukan dengan jelas hak dan kewajiban seseorang sebagai obyek hukum dalam masyarakat. Akta autentik sebagai alat bukti terkuat dan terpenuh, mempunyai peranan penting dalam setiap hubungan hukum dalam kehidupan masyarakat. Dalam berbagai hubungan bisnis, kegiatan di bidang perbankan, pertanahan, kegiatan sosial, dan lain-lain yang termasuk hubungan muamalah, memerlukan akan pembuktian tertulis berupa akta autentik, perkembangan tuntutan akan kepastian hukum dalam berbagai hubungan ekonomi dan sosial, baik pada tingkat regional, nasional, maupun global. Melalui akta autentik yang dibuat oleh atau di hadapan Notaris, yang disebut dengan akta notaris, yang menentukan secara jelas hak dan kewajiban para pihak dan menjamin kepastian hukum dan sekaligus diharapkan pula dapat dihindari terjadinya sengketa. Walaupun sengketa tersebut tidak dapat dihindari, dalam proses penyelesaian sengketa tersebut, akta autentik yang merupakan alat bukti tertulis terkuat dan terpenuh yang memberi sumbangan nyata bagi penyelesaian perkara secara murah dan cepat. Notaris, adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta autentik, sejauh pembuatan akta autentik tertentu tidak dikhususkan bagi pejabat umum lainnya. Pembuatan akta autentik, ada yang diharuskan oleh peraturan perundang-undangan dalam rangka menciptakan kepastian, ketertiban, dan perlindungan hukum. Akta autentik dibuat oleh peraturan perundang-undangan, selain itu juga karena dikehendaki oleh pihak yang berkepentingan untuk memastikan hak dan kewajiban para pihak demi
8 8 kepastian, ketertiban, dan perlindungan hukum bagi pihak yang berkepentingan, sekaligus bagi masyarakat secara keseluruhan. Akta autentik pada hakikatnya memuat kebenaran formal, sesuai dengan apa yang diberitahukan para pihak kepada Notaris. Namun, Notaris mempunyai kewajiban untuk memasukan ketentuan, bahwa apa yang termuat dalam akta notaris sungguh-sungguh telah dimengerti dan sesuai dengan kehendak para pihak, yaitu dengan cara membacakannya, sehingga menjadi jelas isi akta notaris, serta memberikan akses terhadap informasi, termasuk akses terhadap peraturan perundang-undangan yang terkait dengan akta yang dibuat bagi para pihak. Selain itu dapat menentukan dengan bebas untuk menyetujui atau tidak menyetujui isi akta notaris yang akan ditandatanganinya. Profesi Notaris sangat penting dalam pembuatan akta waris maupun akta yang berhubungan dengan kewarisan khususnya mengenai pembagian harta warisan. Notaris sebagai Pejabat Publik, dituntut profesionalitasnya yang salah satunya adalah menjembatani kepentingan para pihak (klien yang datang menghadap kepada Notaris) dalam menyelesaikan permasalahan yang adadan atau menuangkan keinginan para pihak ke dalam sebuah akta autentik. Dalam penelitian ini penulis akan meneliti dan menganalisis sebuah akta mengenai pembagian warisan yang dilakukan oleh orang-orang yang beragama Islam (muslim) menurut hukum Islam yang dibuat secara autentik di hadapan Notaris. Dengan adanya permasalahan tersebut di atas, sebelumnya telah dilakukan beberapa penelitian hukum yang sejenis, di antaranya yaitu : pertama adalah penelitian hukum berupa tesis yang ditulis oleh Susiawati, tahun 2008, dengan judul Pelaksanaan Tashaluh Dalam Pembagian Warisan Pada Masyarakat Muslim Banjarsari Ciamis, dari Magister Kenotariatan Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Penelitian ini membahas tentang pelaksanaan pembagian warisan yang dilakukan pada masyarakat muslim Banjarsari Ciamis, yang dilakukan dengan tashaluh. Hasil dari penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa pelaksanaan tashaluh dalam pembagian
9 9 warisan pada masyarakat muslim Banjarsari, Ciamis belum sepenuhnya sesuai dengan Pasal 183 Kompilasi Hukum Islam (KHI). Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis yaitu tentang jenis penelitiannya dan obyek yang diteliti. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Susiawati tersebut jenis penelitiannya yaitu penelitian hukum Empiris (Yuridis Empiris) dengan obyek penelitiannya mengenai pelaksanaan pembagian warisan pada masyarakat Muslim Banjarsari Ciamis dengan cara Tashaluh (damai) dengan hasil belum sesuai dengan Pasal 183 Kompilasi Hukum Islam (KHI). Sedangkan jenis penelitian yang dilakukan oleh penulis yaitu penelitian hukum Normatif (Yuridis Normatif) dengan obyek yang diteliti yaitu Akta autentik yang dibuat di hadapan Notaris (akta Notaris) yang isinya mengenai pembagian warisan yang dilakukan oleh para ahli waris dengan cara damai (Ash-Shulh atau Tashaluh) berdasarkan hukum Islam. Kedua, penelitian hukum berupa tesis yang ditulis oleh Maryani, tahun 2002, dengan judul Akta Notariil Sebagai Salah Satu Bukti Penyelesaian Kewarisan Bagi Orang-Orang Islam, dari Program Studi Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI), yang membahas tentang penyelesaian perkara kewarisan bagi orang-orang beragama Islam. Hasil penelitian yang diperoleh adalah dalam menyelesaikan perkara warisan bagi orang-orang beragama Islam tidak harus dengan melalui jalur pengadilan tapi bisa melalui Notaris untuk meminta penyelesaian perkara kewarisan tersebut dengan cara mengadakan pembagian terhadap harta peninggalan pewaris yang dituangkan ke dalam sebuah akta autentik yang dibuat di hadapan Notaris. Akta Notaris atau akta notariil yang dibuat tersebut yaitu akta pemisahan dan pembagian harta peninggalan. Akta ini biasanya berlaku dan dikenal bagi orang-orang yang tunduk pada Hukum Perdata Barat (BW). Namun bisa juga diperuntukkan bagi orang-orang yang beragama Islam dalam menyelesaikan perkara pewarisan menurut hukum Islam. Hanya saja belum begitu banyak orang-orang Islam yang mengetahui. Perbedaan dengan penelitian hukum yang diteliti oleh penulis yaitu mengenai permasalahan yang diteliti. Penelitian hukum yang dilakukan oleh penulis mengkaji permasalahan
10 10 tentang kewenangan Notaris dalam membuat akta autentik mengenai pembagian warisan yang dilakukan para ahli waris menurut hukum Islam berdasarkan kesepakatan damai, sedangkan penelitian hukum yang dilakukan oleh Maryani dalam tesisnya tersebut mengkaji tentang fungsi akta Notariil sebagai salah satu bukti dan upaya untuk menyelesaikan permasalahan atau perkara kewarisan bagi orang-orang yang beragama Islam melalui jalur di luar pengadilan. Ketiga, penelitian hukum berupa tesis yang ditulis oleh Risanti Rosalina, S.H., tahun 2011, dengan judul Akta Notariil Pembagian Waris Sama Rata Antara Anak Laki-Laki Dan Perempuan Menurut Hukum Islam, dari Program Studi Kenotariatan, Fakultas Hukum, Universitas Airlangga, yang membahas tentang pembagian warisan yang dilakukan oleh orang-orang yang beragama Islam menurut hukum Islam dengan pembagian sama rata antara ahli waris anak laki-laki dan anak perempuan. Pembagian warisan sama rata antara anak laki-laki dan anak perempuan dilaksanakan atas dasar kesepakatan, para ahli waris mengadakan upaya perdamaian pembagian waris berdasarkan kehendak bersama, yang kemudian dituangkan ke dalam sebuah akta autentik yang dibuat di hadapan Notaris. Tugas Notaris menformulasikan keinginan para pihak ke dalam akta otentik berupa akta Notariil (akta notaris) dengan memperhatikan aturan dan norma hukum yang berlaku. Hasil dari penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa Notaris sebagai pejabat umum yang berwenang membuat akta autentik sesuai dengan tugas jabatannya menformulasikan keinginan atau kehendak para pihak yang dalam hal ini ahli waris anak laki-laki dan ahli waris anak perempuan dalam membagi warisan dengan pembagian sama rata ke dalam akta Notaris (akta notariil). Akta Notaris yang subtansinya tentang perdamaian pembagian waris sama rata antara anak laki-laki dan anak perempuan tersebut merupakan kehendak para pihak yang harus dihormati dan merupakan intisari dari tujuan syariah yaitu terwujudnya kemaslahatan. Perbedaan dengan penelitian hukum yang diteliti oleh penulis yaitu subtansi yang diteliti. Penelitian hukum yang dilakukan oleh penulis subtansinya tentang analisis akta notaris mengenai pembagian
11 11 warisan menurut hukum Islam dihubungkan dengan kewenangan Notaris dalam membuat akta autentik mengenai pembagian warisan tersebut, sedangkan penelitian hukum yang dilakukan oleh Risanti Rosalina, S.H., dalam tesisnya tersebut subtansinya hanya mengenai perdamaian pembagian warisan sama rata antara anak laki-laki dan anak perempuan menurut hukum Islam. B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan pokok-pokok permasalahan sebagai berikut : 1. Bagaimana kewenangan Notaris dalam membuat akta yang menyimpang dari norma yang ditentukan dalam hukum Islam? 2. Bagaimana kekuatan hukum Akta Pembagian Warisan Menurut hukum Islam yang dibuat di hadapan Notaris? C. Tujuan Penelitian Dalam suatu penelitian pada dasarnya memiliki suatu tujuan tertentu yang hendak dicapai. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Tujuan Objektif. a. Untuk mengetahui bagaimana kewenangan Notaris dalam membuat akta yang menyimpang dari norma yang ditentukan dalam hukum Islam. b. Untuk mengetahui bagaimana kekuatan hukum Akta Pembagian Warisan menurut hukum Islam yang dibuat di hadapan Notaris tersebut. 2. Tujuan Subjektif. a. Penelitian ini dimaksudkan sebagai suatu kajian akademik yang diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran terhadap bahasan yang terkait dengan Akta Pembagian Warisan menurut
12 12 hukum Islam, yang dibuat di hadapan Notaris sebagai pejabat umum yang berwenang membuat akta autentik sebagaimana telah diatur di dalam Undang-Undang Jabatan Notaris. b. Memenuhi persyaratan akademis guna mencapai gelar Magister Kenotariatan pada Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta. D. Manfaat Penelitian Setiap penelitian dalam penulisan diharapkan adanya manfaat dari penelitian tersebut, yaitu : 1. Secara Teoritis a. Di harapkan bisa menjadi bahan informasi bagi klien, Notaris maupun masyarakat Indonesia pada umumnya mengenai akta pembagian warisan menurut hukum Islam yang dibuat dihadapan Notaris. b. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat teoritis dan sumbangan bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya ilmu hukum yang berkaitan dengan bidang Kenotariatan. 2. Secara Praktis a. Mengetahui lebih dalam mengenai Akta Pembagian Warisan menurut hukum Islam yang dibuat di hadapan Notaris. b. Sebagai bahan tinjauan bagi Notaris sebagai pejabat umum yang berwenang membuat akta autentik, maupun kewenangan lainnya yang yang telah diatur dalam peraturan jabatan Notaris. c. Memberikan informasi yang bermanfaat, baik berupa masukan, saran dan sumbangan pemikiran bagi pihak-pihak yang berkepentingan dan Notaris sebagai pejabat umum yang berwenang membuat akta autentik yang dalam hal ini akta Notaris berkenaan dengan pemisahan dan pembagian harta warisan menurut hukum Islam di hadapan Notaris.
BAB I PENDAHULUAN. pertumbuhannya telah mampu merombak tatanan atau sistem kewarisan yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Hukum kewarisan, termasuk salah satu aspek yang diatur secara jelas dalam Al-Qur an dan Sunnah Rasul. Hal ini membuktikan bahwa masalah kewarisan cukup penting
ANALISIS AKTA PEMBAGIAN WARISAN YANG DIBUAT DI HADAPAN NOTARIS MENURUT HUKUM ISLAM
ANALISIS AKTA PEMBAGIAN WARISAN YANG DIBUAT DI HADAPAN NOTARIS MENURUT HUKUM ISLAM Rosita Ruhani E-mail : [email protected] Mahasiswa Magister Kenotariatan Universitas Sebelas Maret Surakarta Mohammad
BAB I PENDAHULUAN. penting dalam setiap hubungan hukum kehidupan masyarakat, baik dalam
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Akta otentik sebagai alat bukti terkuat dan terpenuh mempunyai peranan penting dalam setiap hubungan hukum kehidupan masyarakat, baik dalam berbagai hubungan bisnis,
BAB I PENDAHULUAN. meninggal dunia. Apabila ada peristiwa hukum, yaitu meninggalnya seseorang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hukum kewarisan sangat erat kaitannya dengan ruang lingkup kehidupan manusia. Bahwa setiap manusia pasti akan mengalami suatu peristiwa yang sangat penting dalam hidupnya,
BAB I PENDAHULUAN. Islam bukan keluarga besar (extended family, marga) bukan pula keluarga inti
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Hukum Islam merupakan satu kesatuan sistem hukum. Sistem perkawinan menentukan sistem keluarga, sistem keluarga menentukan sistem kewarisan. Bentuk perkawinan
BAB I PENDAHULUAN. hidup atau sudah meninggal, sedang hakim menetapkan kematiannya. Kajian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Mafqud (orang hilang) adalah seseorang yang pergi dan terputus kabar beritanya, tidak diketahui tempatnya dan tidak diketahui pula apakah dia masih hidup atau
BAB I PENDAHULUAN. Dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia di dalam. kerjasama yang mengikat antara dua individu atau lebih.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia di dalam masyarakat, individu yang satu senantiasa berhubungan dengan individu yang lain. Dengan perhubungan tersebut diharapkan
BAB I PENDAHULUAN. hukum diungkapkan dengan sebuah asas hukum yang sangat terkenal dalam ilmu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Peranan hukum dalam mengatur kehidupan masyarakat sudah dikenal sejak masyarakat mengenal hukum itu sendiri, sebab hukum itu dibuat untuk mengatur kehidupan
BAB I PENDAHULUAN. memenuhi kebutuhannya manusia tetap bergantung pada orang lain walaupun sampai
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Manusia selain sebagai individu juga sebagai makhluk sosial, dimana dalam memenuhi kebutuhannya manusia tetap bergantung pada orang lain walaupun sampai saat ia akan
BAB I PENDAHULUAN. dengan perikatan yang terkait dengan kehidupan sehari-hari dan juga usaha
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian Kehadiran notaris sebagai pejabat publik adalah jawaban dari kebutuhan masyarakat akan kepastian hukum atas setiap perikatan yang dilakukan, berkaitan
BAB I PENDAHULUAN. hukum yang selanjutnya timbul dengan adanya peristiwa kematian
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Setiap manusia pasti akan mengalami peristiwa kematian. Akibat hukum yang selanjutnya timbul dengan adanya peristiwa kematian seseorang diantaranya ialah masalah bagaimana
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Penelitian. Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hukum. 1. Hal itu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hukum. 1 Hal itu menegaskan bahwa pemerintah menjamin kepastian hukum dalam kehidupan bermasyarakat,
BAB I PENDAHULUAN. Segi kehidupan manusia yang telah diatur Allah dapat dikelompokkan
BAB I PENDAHULUAN Segi kehidupan manusia yang telah diatur Allah dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok. Pertama, hal-hal yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah sebagai penciptanya. Aturan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyebutkan dengan tegas, dalam Pasal 1 angka 3, bahwa Indonesia adalah Negara yang berdasarkan
BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pasal 1 ayat (3) Undang -Undang Dasar Negara Republik Indonesia
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pasal 1 ayat (3) Undang -Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan secara tegas bahwa Negara Republik Indonesia adalah negara hukum. Prinsip negara
BAB I PENDAHULUAN. tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Profesi hukum termasuk di dalamnya profesi notaris, merupakan suatu profesi khusus di samping profesi luhur lainnya. Kekhususannya adalah bahwa pada hakikatnya profesi
BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia Tahun 2004 Nomor 117, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4432, Penjelasan umum.
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peranan hukum dalam mendukung jalannya roda pembangunan maupun dunia usaha memang sangat penting. Hal ini terutama berkaitan dengan adanya jaminan kepastian hukum.
BAB I PENDAHULUAN. Tinjauan yuridis..., Ravina Arabella Sabnani, FH UI, Universitas Indonesia
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia. Cakupan pembagunan nasional ini
BAB I PENDAHULUAN. yang berlaku dalam masyarakat. Dapat pula dikatakan hukum merupakan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Hukum sebagai kaidah atau norma sosial yang tidak terlepas dari nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Dapat pula dikatakan hukum merupakan pencerminan dari
HAK ANAK ANGKAT TERHADAP HARTA PENINGGALAN ORANG TUA ANGKAT MENURUT HUKUM ISLAM
Hak Anak Angkat terhadap Peninggalan Orang Tua Angkat Menurut Hukum Islam Kanun Jurnal Ilmu Hukum Susiana No. 55, Th. XIII (Desember, 2011), pp. 139-148. HAK ANAK ANGKAT TERHADAP HARTA PENINGGALAN ORANG
PEMBAHASAN KOMPILASI HUKUM ISLAM
PEMBAHASAN KOMPILASI HUKUM ISLAM Materi : HUKUM KEWARISAN Oleh : Drs. H.A. Mukti Arto, SH, M.Hum. PENDAHULUAN Hukum Kewarisan Hukum Kewarisan ialah Hukum yang mengatur tentang pemindahan hak pemilikan
BAB III PERANAN NOTARIS DALAM PEMBAGIAN HARTA WARISAN DENGAN ADANYA SURAT KETERANGAN WARIS
BAB III PERANAN NOTARIS DALAM PEMBAGIAN HARTA WARISAN DENGAN ADANYA SURAT KETERANGAN WARIS A. Kedudukan Notaris Pasal 1 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris (UUJN), menyebutkan bahwa
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Negara Indonesia adalah negara hukum, pernyataan tersebut diatur di dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, Pasal 1 ayat (3). Sebagai konsekuensi
BAB I PENDAHULUAN. menimbulkan kewajiban orang lain untuk mengurus jenazahnya dan dengan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Masalah Proses perjalanan kehidupan manusia yang membawa pengaruh dan akibat hukum kepada lingkungannya, menimbulkan hak dan kewajiban serta hubungan antara keluarga,
BAB I PENDAHULUAN. mengatur hidup manusia dalam bermasyarakat. Didalam kehidupan
11 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia sebagai makhluk sosial yang hidup berkelompok akan berusaha agar tatanan kehidupan masyarakat seimbang dan menciptakan suasana tertib, damai, dan
PELEMBAGAAN HUKUM ISLAM DI INDONESIA. Oleh: Dr. Marzuki, M.Ag. sendiri. Jadi, hukum Islam mulai ada sejak Islam ada. Keberadaan hukum Islam di
PELEMBAGAAN HUKUM ISLAM DI INDONESIA Oleh: Dr. Marzuki, M.Ag. I Hukum Islam telah ada dan berkembang seiring dengan keberadaan Islam itu sendiri. Jadi, hukum Islam mulai ada sejak Islam ada. Keberadaan
BAB I PENDAHULUAN. untuk selanjutnya dalam penulisan ini disebut Undang-Undang Jabatan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 diperbaharui dan dirubah dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Jabatan Notaris yang untuk selanjutnya dalam penulisan
BAB I PENDAHULUAN. sebuah keluarga, namun juga berkembang ditengah masyarakat. Hal ini sebagaimana diatur dalam Pasal 2 Kitab Undang-undang Hukum
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Penelitian Anak merupakan karunia yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa kepada kedua orang tuanya. Setiap anak tidak hanya tumbuh dan berkembang dalam sebuah
BAB I PENDAHULUAN. dan ahli dalam menyelesaikan setiap permasalahan-permasalahan hukum.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 menegaskan bahwa Indonesia adalah Negara hukum. Sejalan dengan ketentuan tersebut maka diperlukanlah
BAB I PENDAHULUAN. (selanjutnya ditulis dengan UUP) menjelaskan, Perkawinan ialah ikatan lahir bathin
BAB I PENDAHULUAN Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (selanjutnya ditulis dengan UUP) menjelaskan, Perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita
BAB I PENDAHULUAN. hubungan dengan manusia lainnya karena ingin selalu hidup dalam. kebersamaan dengan sesamanya. Kebersamaannya akan berlangsung baik
10 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada hakekatnya kehidupan manusia tidak dapat terlepas dari hubungan dengan manusia lainnya karena ingin selalu hidup dalam kebersamaan dengan sesamanya.
BAB I PENDAHULUAN. Dalam fase kehidupan manusia terdapat tiga peristiwa penting yaitu, kelahiran,
BAB I PENDAHULUAN Dalam fase kehidupan manusia terdapat tiga peristiwa penting yaitu, kelahiran, perkawinan, dan kematian. Dengan adanya kelahiran maka berakibat pada timbulnya hak dan kewajban baik dari
BAB I PENDAHULUAN. Hukum waris perdata dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, termasuk
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Hukum waris perdata dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, termasuk dalam lapangan atau bidang hukum perdata. Semua cabang hukum yang termasuk dalam bidang
BAB I PENDAHULUAN Pasal 1 ayat (3). Hukum merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia adalah negara hukum. berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 1 ayat (3). Hukum merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat. Keberadaan
BAB I PENDAHULUAN. Masyarakat dalam kehidupan sehari-hari senantiasa akan melakukan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masyarakat dalam kehidupan sehari-hari senantiasa akan melakukan hubungan satu sama lain dalam berbagai bentuk. Hubungan tersebut dapat dilakukan antara individu
BAB I PENDAHULUAN. seperti jual beli, hibah, dan lain-lain yang menyebabkan adanya peralihan hak milik
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Kepemilikan terhadap harta benda baik bergerak maupun tidak bergerak diatur secara komplek dalam hukum di Indonesia. Di dalam hukum perdata, hukum adat maupun
BAB I PENDAHULUAN. pemerintah mempunyai peran paling pokok dalam setiap perbuatan-perbuatan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Penelitian Seiring dengan perkembangan zaman dan era globalisasi saat ini, peran notaris sebagai pejabat umum pembuat akta yang diakui secara yuridis oleh
BAB I PENDAHULUAN. bermasyarakat dapat menghasilkan suatu peristiwa-peristiwa tersebut dapat
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia dalam kehidupan bermasyarakat tidak bisa terlepas dari hubungan manusia lainnya hal ini membuktikan bahwa manusia merupakan mahkluk sosial. Interaksi atau hubungan
BAB 1 PENDAHULUAN. Muhammad dan Idrus Al-Kaff, (Jakarta: Lentera, 2007), hal. 635.
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan Wakaf adalah perbuatan hukum wakif untuk memisahkan dan/atau menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka
BAB I PENDAHULUAN. Negara Indonesia saat ini masih terdapat beraneka sistem hukum
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Negara Indonesia saat ini masih terdapat beraneka sistem hukum kewarisan yang berlaku bagi warga negara Indonesia. Negara Indonesia memberlakukan tiga macam hukum
BAB I PENDAHULUAN. kewajiban seseorang sebagai subjek hukum dalam masyarakat. 2 Hukum sebagai
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia adalah negara hukum yang berlandaskan Pancasila dan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Prinsip Negara hukum menjamin kepastian,
BAB III ANALISIS PASAL 209 KHI TENTANG WASIAT WAJIBAH DALAM KAJIAN NORMATIF YURIDIS
64 BAB III ANALISIS PASAL 209 KHI TENTANG WASIAT WAJIBAH DALAM KAJIAN NORMATIF YURIDIS A. Implikasi Yuridis Pasal 209 KHI Kedudukan anak angkat dan orang tua angkat dalam hokum kewarisan menurut KHI secara
BAB 1 PENDAHULUAN. yang menimbulkan suatu hubungan hukum yang dikategorikan sebagai suatu
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian Manusia dalam mencapai kebutuhan hidupnya saling berinteraksi dengan manusia lain. Masing-masing individu dalam berinteraksi adalah subjek hukum yang
I. PENDAHULUAN. maupun manfaat untuk dimiliki oleh penerima wasiat sebagai pemberian yang
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu bentuk pengalihan hak selain pewarisan salah satu diantaranya adalah wasiat, yaitu pemberian seseorang kepada orang lain, baik berupa benda, piutang, maupun
BAB I PENDAHULUAN. hukum maupun perbuatan hukum yang terjadi, sudah barang tentu menimbulkan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sejalan dengan berkembangnya kehidupan manusia dalam bermasyarakat, banyak sekali terjadi hubungan hukum. Hubungan hukum tersebut, baik peristiwa hukum maupun perbuatan
SKRIPSI KEDUDUKAN NOTARIS DALAM PEMBUATAN DAN PENCABUTAN TESTAMENT (SURAT WASIAT)
SKRIPSI KEDUDUKAN NOTARIS DALAM PEMBUATAN DAN PENCABUTAN TESTAMENT (SURAT WASIAT) : Studi Kasus di Kantor Notaris dan PPAT Eko Budi Prasetyo, SH di Kecamatan Baki Sukoharjo Disusun dan Diajukan untuk Melengkapi
BAB I PENDAHULUAN. Qur anul Karim dan Sunnah Rosullulloh saw. Dalam kehidupan didunia ini, Firman Allah dalam Q.S. Adz-Dzaariyat : 49, yang artinya :
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkawinan merupakan suatu amalan sunah yang disyari atkan oleh Al- Qur anul Karim dan Sunnah Rosullulloh saw. Dalam kehidupan didunia ini, segala sesuatu
BAB I PENDAHULUAN. benua dan lautan yang sangat luas, maka penyebaran agama-agama yang dibawa. melaksanakan kemurnian dari peraturan-peraturannya.
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Di lihat dari letak geografis kepulauan Indonesia yang strategis antara dua benua dan lautan yang sangat luas, maka penyebaran agama-agama yang dibawa oleh pendatang
BAB I PENDAHULUAN. untuk membuat akta otentik dan akta lainnya sesuai dengan undangundang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang. Notaris sebagai pejabat umum dipandang sebagai pejabat publik yang menjalankan profesinya dalam pelayanan hukum kepada masyarakat, untuk membuat akta otentik dan
PELAKSANAAN PERALIHAN HAK ATAS TANAH BERDASARKAN PERJANJIAN PENGIKATAN JUAL BELI DAN KUASA UNTUK MENJUAL YANG DIBUAT OLEH NOTARIS
PELAKSANAAN PERALIHAN HAK ATAS TANAH BERDASARKAN PERJANJIAN PENGIKATAN JUAL BELI DAN KUASA UNTUK MENJUAL YANG DIBUAT OLEH NOTARIS Bambang Eko Mulyono Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Lamongan. ABSTRAK
BAB I PENDAHULUAN. Setiap makhluk hidup pasti akan mengalami kematian, demikian juga
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Setiap makhluk hidup pasti akan mengalami kematian, demikian juga manusia akan meninggalkan dunia ini tanpa membawa suatu apapun juga. Dia lahir ke dunia dengan
TINJAUAN HUKUM TERHADAP HAK DAN KEWAJIBAN ANAK DAN ORANG TUA DILIHAT DARI UNDANG UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 DAN HUKUM ISLAM
TINJAUAN HUKUM TERHADAP HAK DAN KEWAJIBAN ANAK DAN ORANG TUA DILIHAT DARI UNDANG UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 DAN HUKUM ISLAM Oleh : Abdul Hariss ABSTRAK Keturunan atau Seorang anak yang masih di bawah umur
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia peraturan mengenai notaris dicantumkan dalam Reglement op het
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Lembaga kenotariatan telah dikenal sejak jaman penjajahan Belanda. Hal ini dibuktikan dengan catatan sejarah yang termuat dalam beberapa buku saat ini. Di Indonesia
BAB IV ANALISIS HUKUM WARIS ISLAM TERHADAP PRAKTEK PEMBAGIAN WARIS DI KEJAWAN LOR KEL. KENJERAN KEC. BULAK SURABAYA
BAB IV ANALISIS HUKUM WARIS ISLAM TERHADAP PRAKTEK PEMBAGIAN WARIS DI KEJAWAN LOR KEL. KENJERAN KEC. BULAK SURABAYA A. Analisis Terhadap Kebiasaan Pembagian Waris Di Kejawan Lor Kelurahan Kenjeran Kecamatan
BAB I PENDAHULUAN. tertulis untuk berbagai kegiatan ekonomi dan sosial di masyarakat. Notaris
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Jabatan Notaris diadakan atau kehadirannya dikehendaki oleh aturan hukum dengan maksud membantu dan melayani masyarakat yang membutuhkan alat bukti tertulis
BAB IV ANALISIS EFEKTIVITAS PENGAWASAN KUA KECAMATAAN SEDATI TERHADAP PENGELOLA BENDA WAKAF
BAB IV ANALISIS EFEKTIVITAS PENGAWASAN KUA KECAMATAAN SEDATI TERHADAP PENGELOLA BENDA WAKAF A. ANALISIS EFEKTIVITAS PELAKSANAAN PENGAWASAN KUA TERHADAP PENGELOLA BENDA WAKAF DI KECAMATAN SEDATI Perwakafan
BAB I PENDAHULUAN. dalam pelaksanaanya kedua belah pihak mengacu kepada sebuah perjanjian layaknya
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian Manusia dalam menjalankan hubungan hukum terhadap pihak lain akan membutuhkan suatu kesepakatan yang akan dimuat dalam sebuah perjanjian, agar dalam
BAB I PENDAHULUAN. Achmad Rubaie, Hukum Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum, (Malang: Bayumedia Publishing, 2007), hal 1.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pokok-pokok pikiran yang tercantum di dalam Pasal 33 ayat (3) Undang- Undang Dasar 1945 menekankan bahwa bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya
BAB I PENDAHULUAN. pejabat berwenang, yang isinya menerangkan tentang pihak-pihak yang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Persoalan mengenai waris merupakan persoalan yang tidak dapat dilepaskan dari masalah yang terkait dengan bukti sebagai ahli waris. Bukti sebagai ahli waris
A.Latar Belakang Masalah
A.Latar Belakang Masalah Setiap manusia hidup mempunyai kepentingan. Guna terpenuhinya kepentingan tersebut maka diperlukan adanya interaksi sosial. Atas interaksi sosial tersebut akan muncul hak dan kewajiban
BAB I PENDAHULUAN. pula harta warisan beralih kepada ahli waris/para ahli waris menjadi. Peristiwa pewarisan ini dapat terjadi ketika :
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Peristiwa pewarisan adalah perihal klasik dan merupakan salah satu hal penting dalam kehidupan manusia. Apabila ada seseorang meninggal dunia, maka pada saat itulah
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Menurut Pasal 1 Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Menurut Pasal 1 Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyatakan: Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan
BAB I PENDAHULUAN. menyebutkan bahwa perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan menyebutkan bahwa perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP HAK WARIS ANAK PADA PERKAWINAN SIRRI ABSTRAK
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP HAK WARIS ANAK PADA PERKAWINAN SIRRI Anggyka Nurhidayana 1, Amnawati 2, Kasmawati 3. ABSTRAK Upaya perlindungan hukum dalam perkawinan sirri atau disebut perkawinan tidak dicatatkan
BAB I PENDAHULUAN. Pada waktu manusia dilahirkan ke dunia ini telah tumbuh tugas baru
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada waktu manusia dilahirkan ke dunia ini telah tumbuh tugas baru dalam kehidupannya. Dalam arti sosiologis manusia menjadi pengemban hak dan kewajiban, selama manusia
BAB I PENDAHULUAN. seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri. Ikatan lahir ialah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkawinan merupakan hal yang sangat penting bagi setiap individu, dalam perkawinan akan terbentuk suatu keluarga yang diharapkan akan tetap bertahan hingga
BAB I PENDAHULUAN. Dalam setiap kematian erat kaitannya dengan harta peninggalan. Setiap
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam setiap kematian erat kaitannya dengan harta peninggalan. Setiap harta yang ditinggalkan oleh seseorang baik yang bersifat harta benda bergerak maupun harta benda
BAB I PENDAHULUAN. bukti dalam ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (selanjutnya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Hukum perdata mengenal mengenal tentang adanya alat-alat bukti. Alat bukti dalam ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (selanjutnya disebut KUH Perdata)
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Penelitian. Negara Indonesia adalah negara hukum. Semua Warga Negara
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian Negara Indonesia adalah negara hukum. Semua Warga Negara Indonesia mempunyai kedudukan yang sama dimuka hukum, dan wajib mematuhi hukum yang berlaku
BAB I PENDAHULUAN. hidupnya dengan surat wasiat maupun tanpa surat wasiat. 2. Pewaris meninggalkan harta kekayaannya yang akan diterima oleh ahli
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Waris merupakan proses berpindahnya hak milik dari orang meninggal kepada ahli warisnya yang hidup, baik peninggalan berupa harta maupun hakhak syariah. 1 Pewaris
BAB I PENDAHULUAN. kalangan individu maupun badan usaha. Dalam dunia usaha dikenal adanya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia adalah Negara hukum, dimana Negara hukum memiliki prinsip menjamin kepastian, ketertiban dan perlindungan hukum yang berintikan kepada kebenaran dan
BAB I PENDAHULUAN. Semakin berkembangnya dunia bisnis di Indonesia, juga turut berpengaruh pada
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Semakin berkembangnya dunia bisnis di Indonesia, juga turut berpengaruh pada dunia kenotariatan. Semakin banyak masyarakat yang berkeinginan untuk menjadi
BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Notaris adalah pejabat umum yang berwenang membuat akta otentik dan kewenangan lainnya, yang ditentukan oleh Undang-Undang. Keberadaan Notaris sangat penting
BAB I PENDAHULUAN. setiap manusia akan mengalami peristiwa hukum yang dinamakan kematian.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hukum waris merupakan salah satu dari bagian dari hukum perdata secara keseluruhan dan merupakan bagian terkecil dari hukum kekeluargaan. Hukum waris sangat erat kaitannya
BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan berkembangnya jumlah penduduk, kebutuhan akan tanah terus
12 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Tanah ditempatkan sebagai suatu bagian penting bagi kehidupan manusia. Seiring dengan berkembangnya jumlah penduduk, kebutuhan akan tanah terus meningkat.
BAB I PENDAHULUAN. dengan pemerintah. Prinsip negara hukum menjamin kepastian, ketertiban dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Negara Republik Indonesia merupakan suatu negara hukum dimana kekuasaan tunduk pada hukum. Sebagai negara hukum, maka hukum mempunyai kedudukan paling tinggi dalam pemerintahan,
BAB I PENDAHULUAN. perlindungan hukum yang berintikan kebenaran dan keadilan. Kepastian dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Prinsip negara hukum menjamin kepastian, ketertiban dan perlindungan hukum yang berintikan kebenaran dan keadilan. Kepastian dan perlindungan hukum menuntut
BAB IV TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP HIBAH SEBAGAI PENGGANTI KEWARISAN BAGI ANAK LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN DI DESA PETAONAN
BAB IV TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP HIBAH SEBAGAI PENGGANTI KEWARISAN BAGI ANAK LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN DI DESA PETAONAN A. Analisis Terhadap Hibah Sebagai Pengganti Kewarisan Bagi Anak Laki-laki dan
BAB I PENDAHULUAN. hukum dan perbuatan hukum. Peristiwa hukum pada hekekatnya adalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia di dalam perjalanan hidupnya pasti akan mengalami peristiwa hukum dan perbuatan hukum. Peristiwa hukum pada hekekatnya adalah kejadian, keadaan atau
I. PENDAHULUAN. bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Salah satu hikmah
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami-isteri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal
TINJAUAN HUKUM PENYELESAIAN PERKARA PEMBATALAN AKTA HIBAH. (Studi Kasus di Pengadilan Negeri Surakarta)
TINJAUAN HUKUM PENYELESAIAN PERKARA PEMBATALAN AKTA HIBAH (Studi Kasus di Pengadilan Negeri Surakarta) SKRIPSI Disusun dan Diajukan untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Syarat-syarat Guna Mencapai Derajat
BAB I PENDAHULUAN. tersebut juga termasuk mengatur hal-hal yang diantaranya hubungan antar
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Negara Indonesia adalah merupakan negara hukum, dimana hukum mempunyai kedudukan paling tinggi dalam segala hal. Keberadaan hukum tersebut juga termasuk mengatur hal-hal
