1. PENDAHULUAN. Universitas Indonesia
|
|
|
- Benny Sudirman
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 1 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perusahaan ritel (eceran) merupakan bagian yang penting dalam kehidupan perokonomian suatu negara, terutama dalam proses distribusi barang dan jasa dari produsen ke konsumen. Perusahaan ritel menjadi penghubung antara perusahaan manufaktur atau produsen dan wholesaler atau pedagang besar dengan konsumen tingkat akhir (Bermans & Evans, 1992). Tanpa perusahaan ritel, konsumen tidak akan bisa menikmati barang dan jasa yang biasa mereka konsumsi sehari-hari. Selain itu perusahaan ritel banyak memberikan keuntungan kepada konsumen. Perusahaan ritel biasanya membuka toko di lokasi strategis yang mudah dijangkau oleh konsumen. Bahkan, beberapa perusahaan membuka tokonya selama 24 jam dalam sehari. Dengan kata lain perusahaan ritel mempermudah konsumen untuk mendapatkan barang atau jasa yang dibutuhkan kapan dan di mana pun mereka berada Secara umum retailing dapat didefinisikan sebagai kegiatan bisnis yang terlibat dalam penjualan barang atau jasa kepada konsumen yang hanya digunakan untuk kebutuhan pribadi, keluarga, atau rumah tangga mereka (Bermans & Evans, 1992). Definisi ini diperluas oleh Hasty dan Reardon (1997), menjadi kegiatan pemasaran yang dirancang untuk memberikan kepuasan kepada konsumen akhir dan secara menguntungkan mempertahankan konsumen tersebut melalui program perbaikan kualitas yang berkesinambungan.. Dewasa ini iklim persaingan bisnis ritel di Indonesia semakin keras dan menantang. Di satu sisi banyak bermunculan perusahaan-perusahaan ritel lokal yang baru, sedangkan disisi yang lain beberapa perusahaan ritel asing mulai masuk ke dalam negeri. Dalam kompetisi tersebut, setiap perusahaan ritel saling bersaing untuk mempertahankan konsumen yang selama ini menggunakan produk atau jasa mereka. Para perusahaan tersebut berlomba-lomba untuk memuaskan konsumennya masing-masing agar mereka tidak beralih ke produk atau jasa dari perusahaan kompetitor. Maka tak pelak lagi setiap perusahaan ritel harus terus menerus meningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan kepada konsumen demi keberhasilan perusahaan untuk bertahan dalam kompetisi bisnis.
2 2 Dalam situasi organisasi yang semakin kompetitif seperti yang digambarkan di atas, salah satu tingkah laku dalam organisasi yang banyak disoroti adalah komitmen karyawan pada organisasi. Karyawan merupakan ujung tombak perusahaan ritel dalam mencapai sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan. Lebih dari itu karyawan mencerminkan wajah perusahaan melalui pelayanan yang diberikan kepada konsumen. Untuk dapat bertahan, organisasi memerlukan karyawan memerlukan karyawan yang memiliki komitmen organisasi yang tinggi (Seniati, 1996). Menurut Greenberg dan Baron (2003), karyawan yang memiliki komitmen organisasi yang tinggi adalah karyawan yang lebih stabil dan lebih produktif, sehingga pada akhirnya juga lebih menguntungkan bagi organisasi. Hasil penelitian Mowday, Steers, dan Potter (dalam Avolio et. al., 2004) menyatakan bahwa individu yang berkomitmen terhadap organisasi tempat ia bekerja menunjukkan performa yang lebih baik daripada individu yang tidak berkomitmen pada organisasinya. Selain itu individu yang berkomitmen juga akan bertahan lebih lama dalam organisasi (Hom, Katerberg, dan Hulin dalam Avolio et. al., 2004). Robbins (2005) mengatakan bahwa terdapat hubungan yang positif antara komitmen organisasi dan produktivitas kerja, walaupun hubungannya tidak terlalu tinggi. Selain itu Robbins (2005) mengatakan bahwa penelitian juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang negatif antara komitmen organisasi baik dengan absenteeism (tidak masuk kerja) maupun turnover (penarikan diri dari organisasi) Penjelasan teoritis mengenai komitmen organisasi sudah banyak dilakukan oleh para ahli. Meyer dan Allen (1997) yang mendefinisikan komitmen organisasi sebagai kondisi psikologis yang menggambarkan hubungan karyawan dengan organisasinya, dan yang mempengaruhi keputusan karyawan tersebut untuk melanjutkan keanggotaannya dalam organisasi tersebut. Meyer dan Allen (1997) juga menjelaskan bahwa komitmen tersebut dipengaruhi oleh tiga komponen komitmen sehingga pegawai memilih tetap atau meninggalkan organisasi berdasarkan norma yang dimilikinya. Komponen tersebut yaitu, komitmen afektif, komitmen kontinuans, dan komitmen normatif. Komitmen afektif berkaitan dengan adanya keinginan untuk terikat pada organisasi. Lalu komitmen
3 3 kontinuans merupakan suatu komitmen yang didasarkan pada pertimbangan untung-rugi dan apa yang harus dikorbankan bila akan menetap pada organisasi. Sedangkan komitmen normatif merupakan komitmen yang didasarkan pada norma yang ada dalam diri karyawan yang berisi keyakinan individu akan tanggung jawab terhadap organisasi. Ketika membahas tentang pentingnya komitmen organisasi pada karyawan, faktor kepemimpinan di organisasi tidak bisa di abaikan. Beberapa hasil penelitian yang menunjukkan bahwa salah satu faktor yang dianggap penting dalam menentukan komitmen organisasi adalah kepemimpinan (Mowday et. al., dalam Avolio et. al., 2004). Sebagai bagian dari organisasi, kepemimpinan turut mempengaruhi komitmen melalui hubungan atasan-bawahan antara karyawan dengan pemimpinnya (Meyer & Allen, 1997). Hal senada juga diungkapkan oleh Bycio et. al. (dalam Meyer & Allen, 1997) yang mengatakan bahwa terdapat hubungan antara kepemimpinan transaksional dan transformasional dengan komitmen organisasi pada karyawan. Kepemimpinan dalam hal ini menggambarkan tingkat dukungan (supportiveness) organisasi terhadap karyawan (Meyer & Allen, 1997). Teori kepemimpinan transaksional dan transformasional merupakan salah satu teori kepemimpinan yang dibuat berdasarkan relasi antara pemimpin dan bawahan (Munandar, 2001). Teori kepemimpinan ini telah banyak dibahas oleh para ahli selama dua dekade terakhir (Yukl, 2006). Pada perkembangan awalnya teori kepemimpinan ini sangat dipengaruhi oleh ide-ide James McGregor Burns (dalam Bass, 1985). Selanjutnya pengembangan teori ini dilanjutkan dengan penelitian yang lebih empiris yang dilakukan oleh Bass (1985). Burns (dalam Bass, 1985) mendefinisikan kepemimpin transaksional sebagai kepemimpinan yang memotivasi bawahannya dengan memberikan imbalan bagi pelayanan yang dilakukan oleh bawahannya (Burns, dalam Bass, 1985). Bagi seorang pemimpin perusahaan, kepemimpinan transaksional berarti memberikan imbalan atau keuntungan lain sebagai ganti dari usaha yang diberikan oleh bawahannya. Kepemimpinan transaksional mungkin saja melibatkan nilai-nilai dari bawahan, tetapi hanya nilai-nilai yang relevan dengan proses pertukaran keuntungan seperti, kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan
4 4 timbal balik. Pemimpin transaksional memotivasi bawahannya dengan memperhatikan kepentingan pribadi mereka dan pertukaran keuntungan. Pemimpin transaksional menurut Bass (1985), memperjelaskan perannya dengan memberikan pengenalan dan penjelasan mengenali peran dan tuntutan tugas yang dibutuhkan. Dengan cara ini diharapkan dapat mencapai hasil yang diinginkan dan demikian pula pemimpin dapat mengenal kebutuhan dan keinginan bawahan. Dalam hal terjadi proses transaksi. Transaksi seperti ini akan memberi bawahan keyakinan penuh untuk menunjukkan usaha maksimal ke arah tercapainya tujuan tertentu Kepemimpinan transaksional mempunyai 4 aspek, yaitu: (1) contingent reward di mana pemimpin melakukan negosiasi tentang apa yang bisa didapatkan oleh bawahan jika mereka melakukan kerja dengan baik, (2) management by exception (active) di mana pemimpin secara aktif dan ketat memantau pelaksanaan tugas pekerjaan bawahannya agar mereka tidak membuat kesalahankesalahan, (3) management by exception (passive) di mana pemimpin baru bertindak setelah terjadi kegagalan bawahan untuk mencapai tujuan, atau setelah benar-benar timbul masalah yang serius, dan (4) laissez-faire di mana pemimpin membiarkan bawahannya melakukan tugas pekerjaannya tanpa ada pengawasan dari dirinya. Berbeda dengan kepemimpinan transaksional, Burns (dalam Bass, 1985) mendefinisikan kepemimpinan transformasional sebagai kepemimpinan yang memotivasi para bawahannya untuk bekerja mencapai tujuan-tujuan yang lebih tinggi, menimbulkan tingkat kebutuhan yang lebih tinggi, serta untuk mengaktualisasikan diri daripada hanya untuk mencapai minat pribadi semata. Seorang pemimpin transformasional mempertimbangkan nilai-nilai moral dari bawahan dalam usaha meningkatkan kesadaran mereka tentang isu-isu etis dan untuk menggerakkan energi mereka serta sumber daya untuk mentransformasikan institusi (Bass, dalam Yukl, 2006). Bass (1985) mengatakan bahwa ada 5 aspek pada kepemimpinan transformasional, antara lain: (1) attributed charisma di mana pemimpin mampu menimbulkan kesan pada bawahannya bahwa ia memiliki keahlian untuk melakukan tugas pekerjaannya dan patut dihargai, (2) idealized influence, di
5 5 mana pemimpin berusaha mempengaruhi bawahan dengan menekankan pentingnya nilai-nilai dan keyakinan, (3) inspirational leadership di mana pemimpin mampu menimbulkan inspirasi pada bawahannya (4) intelectuall stimulation, di mana pemimpin mendorong bawahan untuk memikirkan kembali cara kerja mereka, dan (5) individualized consideration, di mana pemimpin memperlakukan setiap bawahannya sebagai seorang pribadi yang utuh dengan kecakapan, kebutuhan, dan keinginannya masing-masing. Sejauh ini terdapat beberapa hasil penelitian yang menunjukkan bahwa kepemimpinan transformasional secara positif diasosiasikan dengan komitmen organisasi dalam berbagai keadaan dan budaya organisasi (Bono dan Judge, 2003; Dumdum et. al., 2002; Koh, Steers, dan Terborg, 1995; Lowe et. al., 1996; Walumbwa dan Lawler, 2003, dalam Avolio et. al., 2004) Hasil penelitian penelitian tentang hubungan antara kepemimpinan transformasional dan komitmen organisasi yang dilakukan oleh Avolio et. al. (2004) menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara keduanya. Begitu juga dengan hasil penelitian oleh Walumbwa et. al. (2005) menunjukkan bahwa kepemimpinan tranformasional memiliki hubungan positif yang signifikan dengan kepuasan kerja komitmen dan kepuasan kerja. Shamir et. al. (dalam Avolio et. al., 2004) menyatakan bahwa pemimpin transformasional mampu mempengaruhi komitmen organisasi dari bawahannya dengan menaikkan tingkat nilai intrinsik yang lebih tinggi yang diasosiasikan dengan pencapaian tujuan, menekankan hubungan antara usaha dari bawahan dengan pencapaian tujuan; dan dengan menciptakan tingkat komitmen personal yang lebih tinggi baik pada pemimpin dan bawahan terhadap visi, misi, dan tujuan organisasi. Selain itu pemimpin transformasional mempengaruhi komitmen organisasi dari bawahannya dengan mendorong bawahannya untuk berpikir kritis dengan menggunakan pendekatan yang baru, melibatkan bawahan pada proses decision-making, mengilhami loyalitas, sementara ia mengakui dan menghargai kebutuhan yang berbeda dari masing-masing bawahan untuk mengembangkan potensi mereka (Avolio, 1999; Bass dan Avolio, 1999; Yammarino, Spangler, dan Bass, 1993 dalam Avolio et. al., 2004). Dengan mendorong bawahan untuk mencari cara baru dalam mengatasi masalah dan tantangan, serta dengan mengenali kebutuhan
6 6 bawahan, pemimpin transformasional mampu memotivasi bawahannya untuk lebih terlibat dalam pekerjaan mereka, sehingga menghasilkan tingkat komitmen organisasi yang lebih tinggi (Walumbwa dan Lawler dalam Avolio et. al., 2004). Pandangan ini juga didukung oleh hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa terdapat komitmen organisasi yang lebih tinggi pada pegawai yang pemimpinnya mendorong partisipasi mereka dalam proses pembuatan keputusan (Jermier dan Berkes, 1979; Rhodes dan Steers, 1981 dalam Avolio et. al., 2004). Kepemimpinan transaksional mempunyai cara yang berbeda dalam mempengaruhi komitmen organisasi melalui dimensi-dimensinya. Contingent reward dapat mempengaruhi komitmen kontinuans dari seorang karyawan, karena komitmen ini dipengaruhi oleh pertimbangan untung-rugi ketika karyawan akan meninggalkan perusahaan. Mungkin saja seorang tidak ingin keluar dari perusahaan karena takut kehilangan keuntungan atau imbalan yang diperolehnya selama ini. Dalam konteks ini imbalan atau keuntungan tersebut merupakan hal yang dinegosiasikan oleh pemimpin dan bawahan dalam contingent rewards sekaligus faktor yang dapat mempengaruhi komitmen kontinuans dari karyawan. Selain itu management by exception (active maupun passive) juga dapat mempengaruhi komitmen afektif seorang karyawan, karena melalui management by exception, seorang pemimpin memperjelas hal apa saja yang diharapkan dari karyawan yang mencakup apa saja yang harus dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Karyawan yang merasa tidak yakin akan hal yang diharapkan dari dirinya cenderung memiliki komitmen afektif yang rendah (Meyer & Allen, 1997). Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pemimpin transaksional memiliki cara yang berbeda dengan pemimpin transformasional dalam memimpin bawahannya. Pemimpin transaksional lebih menekankan pemenuhan kebutuhan ekonomis jangka pendek, sedangkan pemimpin transformasional lebih menekankan kebutuhan dan tujuan yang lebih tinggi melebihi kepentingan pribadi semata (Bass, 1985). Sehingga kedua kepemimpinan tersebut juga mempengaruhi komitmen organisasi dengan cara yang berbeda pula. Hal ini mendorong peneliti untuk melakukan penelitian guna melihat lebih jauh apakah terdapat perbedaan
7 7 komitmen organisasi pada karyawan yang dipimpin oleh peminpin transaksional dan karyawan yang dipimpin oleh pemimpin transformasional. Penelitian ini akan dilakukan di PT. XYZ sebuah perusahaan ritel yang berlokasi di Jakarta dengan jumlah karyawan kurang lebih 200 orang, dengan wilayah pemasaran di beberapa kota besar di pulau Jawa, Sumatera, dan Bali 1.2 Permasalahan Apakah terdapat perbedaan komitmen organisasi antara karyawan yang dipimpin oleh pemimpin transaksional dengan karyawan yang dipimpin oleh pemimpin transformasional? 1.3 Tujuan Penelitian Melihat apakah terdapat perbedaan komitmen organisasi yang signifikan pada karyawan yang dipimpin oleh pemimpin transaksional dengan karyawan yang dipimpin pemimpin transformasional? 1.4 Manfaat Penelitian 1. Secara teoritis penelitian ini dapat memperkaya wawasan dan pengetahuan mengenai kepemimpinan transaksional dan transformasional serta hubungannya dengan komitmen organisasi pada karyawan. 2. Secara praktis penelitian ini bermanfaat bagi perusahaan, karena perusahaan dapat mengetahui tingkat komitmen dari karyawannya. Perusahaan juga dapat mengembangkan cara meningkatkan komitmen karyawan khususnya yang berkaitan dengan kepemimpinan di perusahaan tersebut Sistematika Penulisan 1. PENDAHULUAN : berisi fenomena yang menjadi latar belakang penelitian, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian serta sistematika penulisan yang akan digunakan dalam penelitian ini.
8 8 2. TINJAUAN PUSTAKA : berisi teori-teori yang digunakan dalam penelitian, yaitu teori kepemimpinan transaksional dan transformasional serta teori komitmen organisasi. 3. MASALAH, VARIABEL, DAN HIPOTESIS : berisi tentang pertanyaan dari permasalahan penelitian, variabel yang diteliti, dan hipotesis yang diajukan. 4. METODE PENELITIAN : Berisi tentang penjelasan mengenai pendekatan dan tipe penelitian, subjek penelitian, metode pengumpulan data, alat ukur penelitian, norma, prosedur penelitian, serta rencana analisis data. 5. ANALISIS DAN HASIL : Berisi gambaran umum responden, analisis dari data yang didapatkan serta interpretasi dari hasil perhitungan statistik terhadap data, pembuktian hipotesis yang diajukan, serta analisis tambahan yang dibutuhkan. 6. KESIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN : berisi kesimpulan yang menjawab permasalahan penelitian, diskusi yang menjelaskan hasil temuan dengan teori, keterbatasan penelitian, saran teoritis untuk mengembangkan penelitian selanjutnya, serta saran praktis yang dapat dilakukan berdasarkan hasil penelitian. LAMPIRAN : Berisi alat ukur dan data-data lain yang dibutuhkan sebagai informasi tambahan.
4. METODE PENELITIAN
36 4. METODE PENELITIAN 4.1. Subjek Penelitian 4.1.1. Karakteristik Subjek penelitian Subjek dalam penelitian ini adalah karyawan dari PT. XYZ, sebuah perusahaan ritel yang berada di Jakarta. Sebagai sebuah
Analisis interaksi motivasi...puji Lestari, FPsi UI, PENDAHULUAN
1. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Penelitian Berbagai perubahan tatanan global dalam dunia bisnis begitu berpengaruh terhadap Indonesia. Hal ini menimbulkan semangat antimonopoli dan proteksi yang memaksa
BAB I PENDAHULUAN. proses pembelajaran yang merupakan inti dari kegiatan sekolah.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sumber daya manusia adalah aset organisasi yang paling berharga (Shah, 2012), karena tanpa sumber daya manusia yang berkualitas maka organisasi tidak akan bertahan
BAB I PENDAHULUAN. inovasi. Perusahaan yang ingin tetap bertahan dalam lingkungan bisnis harus
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manajemen sumber daya manusia sangat penting bagi perusahaan dalam mengelola, mengatur, dan memanfaatkan sumber daya manusia yang dimiliki sehingga dapat meningkatkan
BAB 1 PENDAHULUAN. begitu ketat, menuntut perusahaan untuk terus membenahi diri melalui pengembangan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan zaman yang semakin pesat mengakibatkan perusahaan terus bertambah, sehingga persaingan antar perusahaan tidak dapat dihindari. Melihat iklim persaingan
Masih dari hasil penelitian Al-Ababneh (2010), tidak ada gaya kepemimpinan
organisasi seperti rendahnya kepuasan, tingginya tingkat stres, dan rendahnya komitmen karyawan. Al-Ababneh (2010) menyatakan bahwa, menentukan hubungan langsung antara gaya kepemimpinan dengan kepuasan
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Inovatif Kerja 1. Definisi Perilaku Inovatif Kerja West dan Farr (dalam West, 2006) mengatakan inovasi bisa diartikan sebagai pengenalan dan pengaplikasian ide, proses,
6. KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN
68 6. KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN Dalam Bab ini peneliti akan membuat kesimpulan dalam penelitian ini, berdasarkan analisis data pada bab sebelumnya. Kemudian peneliti akan membuat diskusi mengenai temuan-temuan
BAB 1 PENDAHULUAN. berorientasi pada tujuan jangka panjang yaitu berkembangnya organisasi yang
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Setiap organisasi baik itu swasta maupun pemerintah akan berupaya dan berorientasi pada tujuan jangka panjang yaitu berkembangnya organisasi yang diindikasikan dengan
BAB X KEPEMIMPINAN TRANFORMASIONAL DAN TRANSAKSIONAL
BAB X KEPEMIMPINAN TRANFORMASIONAL DAN TRANSAKSIONAL Salah satu teori yang menekankan suatu perubahan dan yang paling komprehensif berkaitan dengan kepemimpinan adalah teori kepemimpinan transformasional,..
BAB I PENDAHULUAN. mempunyai peran utama dalam menentukan dinamika dari semua sumber yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kepemimpinan sebagai sebuah konsep manajemen di dalam kehidupan organisasi mempunyai kedudukan yang strategis dan merupakan gejala sosial yanga selalu diperlukan dalam
BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perubahan lingkungan bisnis yang sangat cepat dan komplek
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perubahan lingkungan bisnis yang sangat cepat dan komplek seperti demokrafi, geografis, jenis bisnis, lingkungan bisnis, serta dampak globalisasi, mengharuskan
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Organisasi bisnis menghadapi faktor-faktor eksternal seperti persaingan dari
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Organisasi bisnis menghadapi faktor-faktor eksternal seperti persaingan dari perusahaan-perusahaan lain, situasi ekonomi, situasi politik dan lainnya. Untuk
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Usaha bisnis di era jaman sekarang diharuskan untuk dapat bersaing dengan pesaingnya dengan berbagai macam cara atau metode untuk dapat bertahan di masyarakat dan mengikuti
Penulisan Ilmiah Jurusan Psikologi 2016
Hubungan antara Persepsi terhadap Gaya Kepemimpinan Transformasional dan Komitmen Organisasi pada Pegawai Kementerian Dalam Negeri RI Penulisan Ilmiah Nama : Pradina Utami NPM : 16513879 Pembimbing : Desi
KEPEMIMPINAN DALAM ORGANISASI: Perspektif Teoritik dan Metodologi
Ulas Balik (Review) 1 KEPEMIMPINAN DALAM ORGANISASI: Perspektif Teoritik dan Metodologi (Leadership in Organization: Theory and Methodology Perspectives) Oleh/By Suci Wulandari Peneliti pada Puslitbang
BAB I PENDAHULUAN. Keberhasilan suatu perusahaan dalam mencapai tujuannya tidak dapat
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Keberhasilan suatu perusahaan dalam mencapai tujuannya tidak dapat dilepaskan dari peran pemimpinnya. Dalam suatu perusahaan, seorang pemimpin bukan semata-mata sebagai
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN RUMUSAN HIPOTESIS. kepada keputusan-keputusan, peraturan-peraturan dan nilai-nilai tinggi dari
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN RUMUSAN HIPOTESIS 2.1 Disiplin Kerja 2.1.1 Pengertian Disiplin Kerja Disiplin Kerja adalah suatu kekuatan yang berkembang di dalam tubuh pekerja sendiri dan menyebabkan dia dapat
III. METODELOGI PENELITIAN. sumbernya. Dalam hal ini diperoleh dari responden yang menjawab pertanyaan
43 III. METODELOGI PENELITIAN 3.1 Jenis dan Sumber Data 3.1.1 Data Primer Data yang dikelompokan melalui penelitian yang diperoleh secara langsung dari sumbernya. Dalam hal ini diperoleh dari responden
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS. Menurut Stephen P. (2002:135) Dalam suatu organisasi kepemimpinan
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Kepemimpinan 2.1.1.1 Pengertian Kepemimpinan Menurut Stephen P. (2002:135) Dalam suatu organisasi kepemimpinan merupakan
BAB I PENDAHULUAN. sumber daya yang ada di setiap kegiatan organisasi. Organisasi atau perusahaan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada berbagai aspek dalam organisasi, manusia merupakan salah satu sumber daya yang ada di setiap kegiatan organisasi. Organisasi atau perusahaan harus mampu
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Indonesia. Perkembangan suatu bangsa dapat dipengaruhi oleh mutu pendidikan.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Setiap bangsa memiliki kebutuhan untuk berkembang, termasuk bangsa Indonesia. Perkembangan suatu bangsa dapat dipengaruhi oleh mutu pendidikan. Pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. perusahaan dengan seefektif mungkin. suatu tujuan perusahaan. Pengertian kepemimpinan adalah kemampuan yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perusahaan sebagai suatu organisasi bisnis akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan perusahaan, yaitu mengoptimalkan laba.
BAB II LANDASAN TEORI. A. Tinjauan Pustaka. dari beberapa ahli mengenai Kepemimpinan. Pendapat tersebut adalah sebagai berikut :
BAB II LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka 1. Kepemimpinan 1.1 Pengertian Kepemimpinan Untuk lebih memahami arti Kepemimpinan, maka berikut ini dikutip pendapat dari beberapa ahli mengenai Kepemimpinan.
Bab III. Metode Penelitian
Bab III Metode Penelitian Pada bab ini akan dibahas mengenai variabel penelitian, hipotesa penelitan, subjek penelitian, desain penelitian, alat ukur penelitian, dan prosedur penelitian. 3.1 Variabel Penelitian
BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuktikan bahwa kepemimpinan
BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN 5.1. Simpulan Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuktikan bahwa kepemimpinan transformasional dan kepemimpinan transaksional berpengaruh positif terhadap komitmen terhadap
BAB I PENDAHULUAN. pemerintahannya berbentuk Republik dengan kehadiran berbagai lembaga
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sejak awal Indonesia menyatakan dirinya sebagai negara demokrasi sebagaimana terlihat dalam pembukaan Undang Undang Dasar 1945, dimana pemerintahannya berbentuk Republik
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Efektivitas Kinerja. sesuatu yang tepat ( Stoner, 1996). Menurut Yukl (1994) efektivitas diartikan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Efektivitas Kinerja 1. Pengertian Efektivitas (efectiveness) secara umum dapat diartikan melakukan sesuatu yang tepat ( Stoner, 1996). Menurut Yukl (1994) efektivitas diartikan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Seiring dengan era globalisasi dimana pertumbuhan perusahaan semakin cepat dan semakin maju dalam persaingan bisnis, sehingga perusahaan harus bersikap lebih
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Perubahan lingkungan organisasi yang semakin kompleks dan kompetitif,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perubahan lingkungan organisasi yang semakin kompleks dan kompetitif, menuntut setiap organisasi dan perusahaan untuk bersikap lebih responsif agar sanggup
BAB 1 PENDAHULUAN. sehingga pendidikan saat ini sudah sangat jauh berbeda dengan pendidikan di
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dunia pendidikan saat ini berkembang begitu pesat dari waktu ke waktu, sehingga pendidikan saat ini sudah sangat jauh berbeda dengan pendidikan di masa lalu.
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI A. Kepuasan Kerja 1. Pengertian Kepuasan Kerja Setiap orang yang bekerja mengharapkan memperoleh kepuasan dari tempatnya bekerja. Pada dasarnya kepuasan kerja merupakan hal yang bersifat
BAB 1 PENDAHULUAN. tersebut. Pengembangan organisasi (organizational development) adalah respon
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) membuat semua profesi mengantisipasi dengan mengembangkan diri. Pengembangan organisasi merupakan jawaban yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
17 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap organisasi baik organisasi nirlaba atau yang berorientasi laba, berkepentingan untuk memajukan organisasi terutama dalam era globalisasi saat ini dimana persaingan
BAB I PENDAHULUAN. menghadapi dinamika perubahan lingkungan. Kondisi tersebut menuntut
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Globalisasi menjadi salah satu isu utama yang mendorong perusahaan menghadapi dinamika perubahan lingkungan. Kondisi tersebut menuntut perusahaan untuk senantiasa
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN. Lamba dan Choudary (2013) menyebutkan bahwa komitmen adalah
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Landasan Teori dan Konsep 2.1.1 Komitmen organisasional Lamba dan Choudary (2013) menyebutkan bahwa komitmen adalah semacam ikatan antara karyawan dan
BAB V SIMPULAN DAN SARAN. hasil analisis yang telah dilakukan, simpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini
BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1. Simpulan Berdasarkan teori-teori yang ada, hasil-hasil penelitian sebelumnya, dan hasil analisis yang telah dilakukan, simpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah:
BAB I PENDAHULUAN. Disamping sumber daya alam dan sumber daya modal, sumber daya manusia juga memiliki
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sumber daya manusia merupakan aspek terpenting dalam sebuah perusahaan. Disamping sumber daya alam dan sumber daya modal, sumber daya manusia juga memiliki peran vital
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gaya Kepemimpinan 2.1.1 Pengertian Gaya Kepemimpinan Gaya kepemimpinan pada dasarnya sebagai suatu perwujudan tingkah laku dari seorang pemimpin yang menyangkut kemampuannya
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Gaya Kepemimpinan Transaksional Definisi Gaya kepemimpinan Transaksional
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Gaya Kepemimpinan Transaksional 2.1.1 Definisi Gaya kepemimpinan Transaksional Menurut Bass dalam Robbins & Judge (2009:90) gaya kepemimpinan transaksional adalah model kepemimpinan
Team project 2017 Dony Pratidana S. Hum Bima Agus Setyawan S. IIP
Hak cipta dan penggunaan kembali: Lisensi ini mengizinkan setiap orang untuk menggubah, memperbaiki, dan membuat ciptaan turunan bukan untuk kepentingan komersial, selama anda mencantumkan nama penulis
BAB I. Pendahuluan. penggerak yang mendorong perubahan organisasi. dikaji dan diteleti, karena paling sering diamati namun merupakan fenomena
BAB I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Masalah Pemimpin sebagai panutan dalam organisasi, sehingga perubahan harus dimulai dari tingkat yang paling atas yaitu pemimpin itu sendiri. Maka dari itu, organisasi
BAB II KAJIAN TEORITIS
BAB II KAJIAN TEORITIS 2.1 Kinerja Guru 2.1.1 Pengertian Kinerja Guru Kinerja atau performance merupakan hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai
BAB V PENUTUP. signifikan terhadap kinerja guru PAI SMA/SMK di Kabupaten Pati. Artinya
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Kepemimpinan transformasional kepala berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja
BAB I PENDAHULUAN. Bab pertama ini berisi pembahasan mengenai latar belakang, identifikasi masalah,
1 BAB I PENDAHULUAN Bab pertama ini berisi pembahasan mengenai latar belakang, identifikasi masalah, tujuan, kegunaan penelitian, model penelitian, waktu penelitian, serta sistematika penulisan laporan
BAB II LANDASAN TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA. organisasi, lingkungan kerja, serta kinerja yang dapat mendukung penelitian ini.
26 BAB II LANDASAN TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA Pada bab dua ini dijelaskan beberapa teori mengenai gaya kepemimpinan, budaya organisasi, lingkungan kerja, serta kinerja yang dapat mendukung penelitian ini.
BAB I PENDAHULUAN. oleh setiap anggota dan lapisan masyarakat, tenaga kerja, perusahaan bahkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Era globalisasi menciptakan pola pikir masyarakat yang mau tidak mau harus menghadapi perubahan, kemajuan dan pembaharuan. Hal ini harus dihadapi oleh setiap
BAB I PENDAHULUAN. kecil, menengah, maupun besar, menjadi semakin ketat dan telah memberikan dampak
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pada era globalisasi seperti sekarang ini, persaingan perusahaan-perusahaan sejenis baik kecil, menengah, maupun besar, menjadi semakin ketat dan telah memberikan
BAB 1 PENDAHULUAN. persaingan bisnis di dunia semakin terbuka. Setiap perusahaan harus bersaing
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Saat ini kita hidup di era globalisasi, suatu era yang membuat persaingan bisnis di dunia semakin terbuka. Setiap perusahaan harus bersaing secara terbuka
BAB I PENDAHULUAN. pemimpin agar tujuan yang akan dicapai dapat terlaksana dengan baik.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Setiap bentuk usaha baik profit maupun nonprofit memerlukan seorang pemimpin agar tujuan yang akan dicapai dapat terlaksana dengan baik. Kebijaksanaan dan keputusan
II. LANDASAN TEORI. 2.1 Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia. pada bidang sumber daya manusia yang tidak lagi dianggap sebagai faktor
17 II. LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia Manajemen sumber daya manusia secara khusus menitikberatkan perhatiannya pada bidang sumber daya manusia yang tidak lagi dianggap sebagai
BAB III METODE PENELITIAN. A. Desain Penelitian. Penelitian ini merupakan bentuk penelitian korelasional dengan. B. Variabel Penelitian
BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan bentuk penelitian korelasional dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi sederhana. Penelitian
BAB I PENDAHULUAN. kepemimpinannya. Pembahasan tentang kepuasan kerja karyawan tidak bisa
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kepuasan kerja pegawai banyak dipengaruhi sikap pimpinan dalam kepemimpinannya. Pembahasan tentang kepuasan kerja karyawan tidak bisa dilepaskan dari kenyataan
KUESIONER. Responden. ( Mohon dibubuhi dengan stempel Perusahaan)
KUESIONER Kuesioner ini disusun untuk memperoleh data-data yang diperlukan untuk penelitian mengenai Pengaruh Gaya Kepemimpinan Transformasional dan Penghargaan Terhadap Kinerja Manajerial Dengan Gender
BAB I PENDAHULUAN. wadah tersebut adalah organisasi. Dengan adanya organisasi, perangkat yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam rangka mencapai suatu tujuan usaha diperlukan suatu wadah, wadah tersebut adalah organisasi. Dengan adanya organisasi, perangkat yang terdapat didalamnya dapat
PENGARUH KARAKTERISTIK KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL TERHADAP KEPUASAN KERJA KARYAWAN PADA PT DAN LIRIS DI SUKOHARJO
PENGARUH KARAKTERISTIK KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL TERHADAP KEPUASAN KERJA KARYAWAN PADA PT DAN LIRIS DI SUKOHARJO SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Syarat-Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana
BAB I PENDAHULUAN. kondisi yang ada dengan arah strategis organisasi. Arah strategis organisasi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tugas-tugas dan prioritas Manajemen Sumber Daya Manusia berkembang dari waktu ke waktu. Hal ini terjadi karena diperlukannya penyesuaian kondisi yang ada dengan
BAB VI SIMPULAN, KETERBATASAN, IMPLIKASI DAN SARAN. Bab 6 ini akan membahas mengenai simpulan, keterbatasan, implikasi dan saran pada
BAB VI SIMPULAN, KETERBATASAN, IMPLIKASI DAN SARAN Setelah proses pengumpulan dan pengolahan data serta analisis, maka di dalam Bab 6 ini akan membahas mengenai simpulan, keterbatasan, implikasi dan saran
BAB I PENDAHULUAN. yang tercermin dalam sikap dan terfokus pada perilaku terhadap pekerjaan.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kepuasan kerja (job satisfaction) merupakan wujud dari persepsi karyawan yang tercermin dalam sikap dan terfokus pada perilaku terhadap pekerjaan. Menurut Kreitner &
Psikologi Industri & Organisasi
Modul ke: Psikologi Industri & Organisasi Motivasi Kerja, Kepuasan Kerja, Kepemimpinan Fakultas PSIKOLOGI Irfan Aulia, M.Psi. Psi Program Studi Psikologi www.mercubuana.ac.id Modul 4 Abstract Mahasiswa
BAB I PENDAHULUAN. dari kehidupan sosial masyarakat. Begitu juga bagi kalangan civitas
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di era globalisasi ini, organisasi merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial masyarakat. Begitu juga bagi kalangan civitas akademika yang juga tak bisa
BAB I PENDAHULUAN. Kepuasan kerja (job satisfaction) merupakan sasaran penting dalam. yang memiliki lebih sedikit jumlah pegawai yang puas.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kepuasan kerja (job satisfaction) merupakan sasaran penting dalam manajemen Sumber Daya Manusia (SDM), karena secara langsung maupun tidak langsung akan berpengaruh
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Perkembangan dunia bisnis yang semakin kompetitif menyebabkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan dunia bisnis yang semakin kompetitif menyebabkan perubahan besar dalam hal persaingan, produksi, pemasaran, pengelolaan sumber daya manusia dan penanganan
BAB II LANDASAN PUSTAKA
BAB II LANDASAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Kepemimpinan a. Pengertian Kepemimpinan Kepemimpinan merupakan salah satu faktor utama yang mendukung kesuksesan organisasi dalam mencapai tujuan. Kepemimpinan
BAB I PENDAHAULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dipengaruhi banyak faktor diantaranya keterampilan atau keahlian yang dimiliki,
BAB I PENDAHAULUAN A. Latar Belakang Masalah Kinerja merupakan salah satu ukuran yang dapat digunakan untuk menilai baik buruknya sebuah organisasi atau perusahaan. Sebuah organisasi atau perusahaan dikatakan
