ANTARA REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION (RME)
|
|
|
- Johan Darmadi
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 ANTARA REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION (RME) DENGAN MATEMATIKA MODERN (NEW MATH) (Suatu kajian perbandingan dalam pembelajaran) oleh Darhim dan Hamzah *) Abstrak: The implementation of new mathematics for about 29 years in Indonesia is still in doubt to increase students mathematical achievment. Related to this, right now, Indonesia has tried-out a new kind of approach in teaching mathematics, called Realistic Mathematics Education (RME). This approach has a number of similarities and differences with the new mathematics one. Kata kunci: Antara, Realistic Mathematics Education, dan New Math. Pembelajaran matematika modern sebagai pengganti pembelajaran matematika lama (tradisional) pada awalnya mendapat berbagai sorotan tajam dari sejumlah kalangan. Di antaranya datang dari orang tua siswa, para ahli pendidikan matematika dan guru matematika (Ruseffendi, 1988). Suatu komentar dari sumber yang tidak resmi yang dikemukakan oleh de Lange (pakar Realistic Mathematics Education) bahwa matematika modern (new math) adalah malapetaka. Akan tetapi, untuk meluruskan pandangan tersebut, Bell (1978) mengemukakan bahwa dalam menimbang penilaian positif dan negatif revolusi matematika modern, kebanyakan orang yang betul-betul mengetahui matematika modern, sampai kepada kesimpulan bahwa matematika modern tersebut bukan suatu kegagalan yang suram, bukan pula keberhasilan yang melimpah ruah. Selain itu Ruseffendi (1988) mengemukakan bahwa menurunnya kemampuan berhitung siswa (kala itu) belum tentu disebabkan oleh pengajaran matematika modern. Mengapa? Karena kemerosotan kemampuan berhitung juga terjadi pada pengajaran matematika lama. Sehubungan dengan hal di atas, dalam mengembangkan dan menerapkan pembelajaran dengan pendekatan baru, seperti Realistic Mathematics Education (RME) atau matematika realistik, perlu sejumlah pertimbangan yang matang guna mengurangi berbagai resiko yang bakal terjadi pada saat penerapannya. Salah satu pertimbangan penting yang patut diperhatikan sehubungan dengan upaya ujicoba RME di Indonesia adalah persamaan dan perbedaan antara RME dan matematika
2 modern. Pertimbangan ini sangat logis adanya, mengingat bahwa pembelajaran matematika modern yang dicanangkan sejak kurikulum tahun 1975, hingga saat ini belum mampu mengangkat hasil belajar matematika siswa. Dengan kata lain, Nilai Ebtanas Murni (NEM) siswa pada mata pelajaran matematika di seluruh Indonesia hingga saat ini masih sangat rendah. Indikator yang dapat digunakan adalah ratarata NEM mata pelajaran matematika SLTP seluruh Indonesia dari tahun 1990 hingga tahun 2000 selalu di bawah skor 5,0 dalam skala 1 sampai 10. Selain itu, studi yang dilakukan oleh Suriyanto dan Somerset terhadap 16 SLTP pada beberapa propinsi di Indonesia tentang hasil belajar siswa, melaporkan bahwa hasil tes siswa sangat rendah, utamanya pada soal cerita matematika (Zulkardi, 2001). Untuk tingkat internasional, TIMSS (The Third International Mathematics Science Study) tahun 1999 melaporkan bahwa hasil belajar matematika siswa SLTP di Indonesia berada pada urutan ke-34 dari 38 negara yang dievaluasi (Mulis at al, 2000). Persamaan antara RME dengan matematika modern Berkaitan dengan aspek kesempatan siswa dalam memahami proses matematika, kedua pembelajaran tersebut mempunyai persamaan yang erat. Pembelajaran matematika realistik yang menekankan pada pemecahan masalah melalui masalah-masalah kontekstual (Gravemeijer, 1994) pada umumnya mampu menopang proses penemuan kembali (reinvention) atau penemuan (invention). Hal ini dapat mengantarkan pada proses pemahaman matematika secara formal. Begitu pula pada pembelajaran matematika modern (Maryunis, 1993) lebih memungkinkan siswa untuk mengerti atau memahami proses pengerjaan matematika. Hal ini disebabkan siswa diharapkan tidak menghafal proses mekanistik suatu masalah matematika. Misalnya, untuk masalah 7+3 =..., siswa tidak diharapkan untuk menjawab 10, tanpa mengetahui arti 7+3 tersebut. Dalam rangka membangun dan mengembangkan cara berfikir logis dan bersikap kritis serta kreatif dari siswa, kedua pembelajaran tersebut mempunyai peluang yang sama. Pembelajaran matematika modern sejak tahun 1980-an telah menerapkan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) dan penemuan (Ruseffendi, 2001). Hal ini justru sesuai dengan salah satu karakteristik pembelajaran matematika realistik, aktif dan kreatif (de Lange, 1987). Selain itu, dalam pembelajaran
3 matematika realistik siswa dituntut untuk saling berinteraksi dalam bentuk negosiasi, kooperasi dan intervensi, baik antara siswa dengan siswa maupun antara siswa dengan guru (de Lange, 1987). Kegiatan seperti ini dalam pembelajaran matematika realistik, sangat penting artinya untuk mengantarkan cara bermatematisasi siswa dari strategi informal menjadi pemahaman matematika secara formal atau standar (Gravemeijer, 1994). Kedua pembelajaran tersebut juga mempunyai kesamaan dalam hal kontinuitas dan hirarki materi matematika. The key goals for mathematics education (Bron, 1998) memuat enam sasaran utama dan dijabarkan menjadi 23 tujuan khusus. Pedoman ini dimulai dengan gagasan tentang pengetahuan umum kemudian materi tentang pecahan. Sesudah itu barulah siswa diberi pengetahuan tentang pengukuran dan geometri. Sejalan pandangan ini, Ruseffendi (1979a) mengatakan bahwa pembelajaran matematika modern lebih menjamin kontinuitas dan sifat hirarki materi matematika. Hal ini ditandai dengan adanya pengetahuan prasyarat yang harus dimiliki oleh siswa sebelum mempelajari materi selanjutnya. Jika pengetahuan prasyarat tidak dipenuhi, maka siswa pada umumnya kurang mampu menerima pelajaran selanjutnya. Dalam kaitannya dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kedua pembelajaran juga mempunyai pandangan yang serupa. Pembelajaran matematika realistik menggunakan produk teknologi sebagai salah satu sarana kontekstual dalam pemecahan masalah matematika tertentu (Gravemeijer, 1994). Sementara itu, pembelajaran matematika modern, juga sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini. Perkembangan dunia yang semakin kompleks dan pesat, juga membutuhkan pelayanan matematika yang semakin lengkap. Hal ini justru terdapat pada matematika modern (Maryunis, 1993). Selain itu, materi matematika modern mengandung sejumlah topik-topik baru yang lebih cocok untuk melayani perkembangan ilmu pengetahuan yang lebih kompleks. Misalnya topik Statistika dan Probabilitas, Himpunan, Logika, Aljabar Boole, dan sebagainya. Persamaan yang tergolong sangat penting dari kedua pembelajaran tersebut adalah kedua pembelajaran tersebut dapat melayani siswa yang heterogen.
4 Freudenthal (1971) menegaskan bahwa salah satu hal penting dalam pembelajaran matematika realistik adalah bekerja bersama-sama antara sejumlah siswa dalam kelompok yang kemampuannya heterogen. Sejalan dengan pandangan di atas, Ruseffendi (1979a) menegaskan bahwa pembelajaran matematika modern mampu melayani siswa yang heterogen. Sebagaimana kita ketahui bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat memicu kesadaran orang tua dan siswa akan pentingnya pendidikan sehingga semakin banyak siswa yang harus dilayani dengan kemampuan yang bervariasi di sekolah. Kedua pembelajaran tersebut juga mempunyai persamaan mendasar dalam hal pelaku utama pembelajaran. Dalam pembelajaran matematika realistik siswa merupakan pelaku utama dalam pembelajaran. Mereka diharapkan mampu mengkonstruksi sendiri pengetahuannya melalui manipulasi benda-benda nyata yang ada pada lingkungannya atau yang dapat dibayangkan. Guru dalam hal ini hanya bertindak sebagai fasilitator dalam belajar. Pada pembelajaran matematika modern juga lebih mengutamakan atau memfokuskan pada siswa (student centered) daripada memfokuskan kepada guru (teacher centered). Hal ini penting mengingat bahwa fasilitas belajar yang disediakan (misalnya media pembelajaran, ruangan sarana, dan prasarana yang memadai atau sumber-sumber belajar yang lain) terutama diperuntukan untuk siswa belajar, bukan untuk guru mengajar. Di samping itu dalam pembelajaran matematika modern siswa dituntut untuk belajar dan sesuatu yang dipelajari oleh siswa tersebut dituntut untuk memulainya dengan benda-benda kongkrit, selanjutnya kepada hal-hal yang abstrak. Sedapat mungkin siswa yang memulai berbuat, bukan ditunjukkan oleh guru. Mengapa? Karena anak bukan bentuk makro dari orang dewasa. Untuk mengerti suatu konsep dalam matematika, seyogyanya siswa telah terlebih dahulu memiliki keterampilan menghitung yang pada gilirannya, belajar dalam matematika tersebut bertumpu kepada simbol-simbol yang abstrak. Dalam pembelajaran matematika realistik pun pada umumnya seperti itu juga (Ruseffendi,2001). Ruseffendi (1979b) mengatakan bahwa pembelajaran matematika untuk anak yang tahap berpikirnya masih kongkrit, akan lebih mudah memahami, bila diberikan dengan menggunakan benda-benda kongkrit atau alat peraga yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa dalam
5 bentuk soal cerita. Soal cerita tersebut kemudian diubah dalam bentuk kongkrit atau model diagram (gambar), selanjutnya ke dalam bentuk simbol. Hal ini juga dijumpai dalam pembelajaran matematika realistik. Keterbatasan kemampuan guru dalam mengembangkan metode mengajar dalam kaitannya dengan topik baru dalam matematika modern berdampak sama dengan keterbatasan kemampuan guru dalam menciptakan dan mengembangkan soal-soal yang kontekstual dalam pembelajaran matematika realistik. Hal ini dapat menjadi kendala, khususnya di Indonesia atau paling tidak harapan pembelajaran matematika modern maupun matematika realistik sulit untuk dicapai, karena guru pada umumnya hanya mampu mengajar dengan metode lama yang biasa mereka lakukan. Selain itu, kepadatan materi pelajaran dalam pembelajaran matematika modern mungkin tidak seimbang dengan waktu yang tersedia dalam satu semester tertentu. Hal ini dapat menjadi kendala manakala guru tidak pintar menanganinya dengan pendekatan yang bervariasi. Ada kemungkinan materi yang dapat diajarkan secara tuntas kurang dari harapan atau tujuan yang telah dirumuskan (Ruseffendi,1979a). Dengan kata lain, kepadatan materi pelajaran mungkin tidak seimbang dengan waktu yang tersedia dalam satu semester tertentu. Hal ini nampaknya juga akan terjadi pada pembelajaran matematika realistik, utamanya dalam proses matematisasi horizontalnya. Dari beberapa kesamaan di atas, dapat dikatakan bahwa kedua pembelajran, matematika modern dan matematika realistik, menekankan kepada penemuan dan pemecahan masalah. Hal ini sangat baik untuk melatih siswa berfikir logis, bersikap kritis, dan kreatif. Siswa dituntut untuk menemukan atau memecahkan sendiri persoalan matematika yang mereka hadapi, sehingga pelajaran akan bertahan lama dalam memori siswa atau pebelajar. Perbedaan antara RME dengan Matematika Modern Setelah menguraikan sejumlah persamaan antara pembelajaran matemaika realistik dengan pembelajaran matematika modern, selanjutnya akan dibahas sejumlah perbedaan antara keduanya. Bagian ini juga diharapkan dapat memberi gambaran yang lebih mendalam kepada pembaca tentang pembelajaran matematika realistik atau RME.
6 Perbedaan mendasar antara pembelajaran matematika realistik dan pembelajaran matematika modern terletak pada penggunaan soal ceritera pada saat yang berbeda. Perbedaan ini merupakan perbedaan yang hakiki dalam proses pembelajarannya, sebab menempatkan soal ceritera pada awal pembelajaran seperti pada matematika realistik akan menentukan alur pembelajaran yang berbeda dengan pembelajaran yang menempatkan soal ceritera di akhir pembelajaran. Pada matematika realistik, sesuai pendapat Bron (1998), masalah kontekstual digunakan sejak awal pembelajaran dan digunakan terus untuk membangun pemahaman siswa tentang topik yang sedang dipelajari dalam proses pembelajaran. Masalah kontekstual dalam matematika realistik antara lain ada yang dinyatakan dalam bentuk soal ceritera. Sedangkan pada matematika modern soal ceritera diberikan di akhir pembelajaran sebagai aplikasi dari topik atau materi yang baru saja dipelajari. Perbedaan lain kedua pembelajaran itu adalah pada proses matematisasinya. Pada pembelajaran matematika realistik, terdapat matematisasi horizontal dan vertikal (Treffers,1987; Treffers dan Goffree,1985). Yang dimaksud dengan matematisasi horizontal dalam pembelajaran matematika realistik adalah kegiatan mengubah masalah-masalah kontekstual ke dalam masalah-masalah matematika. Sedangkan matematika vertikal adalah kegiatan mempormalisasikan masalah marematika ke dalam beragam penyelesaian matematika dengan menggunakan sejumlah prinsip atau aturan yang ada dalam matematika. Menurut de Lange (1987) matematisasi horizontal diartikan sebagai matematika informal dan matematisasi vertikal sebagai matematika formal. Berbeda dengan pembelajaran mateamtika realistik, proses matematisasi pada pembelajaran matematika modern, cenderung lebih terstruktur, dan axiomatik. Dengan kata lain, pada matematika modern lebih banyak kepada matematisasi vertikal (Treffers,1987). Perbedaan mendasar yang lain antar kedua pembelajaran tersebut adalah pandangan tentang matematika itu sendiri. Dalam pembelajaran matematika realistik, matematika dipandang sebagai aktivitas manusia (Freudenthal, 1971). Selain itu, Ernest (1991) juga menegaskan bahwa filsafat matematika, sesungguhnya berhubungan dengan konteks manusia. Lakatos (1976) juga mengemukakan bahwa matematika adalah apa yang dikerjakan dan apa yang telah
7 dikerjakan oleh para matematikawan sebagai aktivitas manusia. Sebaliknya, pembelajaran matematika modern, memandang bahwa matematika adalah suatu subyek atau bidang studi yang harus dipelajari dan dikuasai siswa (Ruseffendi, 2001). Pernyataan ini menunjukan kecenderungan tentang pemahaman matematika yang lebih formal, terstruktur, dan axiomatik deduktif. Selain ketiga perbedaan mendasar tersebut, dalam hal keformalannya, kedua pembelajaran ini juga tidak sama. Dalam pembelajaran matematika realistik penformalan dilakukan setelah melalui proses horizontal. Sedangkan dalam matematika modern penformalan dilakukan lebih dini (Ruseffendi, 2001). Perbedaan lain antara pembelajaran matematika realistik dengan pembelajaran matematika modern terletak pada sistem evaluasinya. Pada pembelajaran matematika realistik, sistem evaluasinya lebih bervariasi daripada pembelajaran matematika modern. Ruseffendi (2001) menyebutkan bahwa terdapat 3 level sistem penilaian dalam pembelajaran matematika realistik. Pertama, level rendah yang berkenaan dengan pengetahuan tentang obyek, definisi, keterampilan teknis, dan algoritma baku. Kedua, level sedang yang berkaitan dengan penguasaan tentang kemampuan mengaitkan dua konsep atau prosedur. Ketiga, level tinggi berkenaan dengan kemampuan siswa berfikir dan memberi alasan secara matematik, bersikap kreatif dan kemampuan membuat generalisasi. Dari tinjauan penggunaan bahasa dalam proses pembelajaran, matematika realistik kurang memperhatikan penggunaan ketepatan bahasa, utamanya pada matematisasi horizontalnya. Namun demikian, dalam rangka menuju kepada formulasi dan generalisasi, dalam kaitannya dengan matematisasi vertikal, matematika realistik juga memperhatikan penggunaan bahasa yang baku. Sebaliknya, dalam pembelajaran matematika modern sangat memperhatikan ketepatan penggunaan bahasa baku. Bahkan hal ini merupakan salah satu hal penting dalam pembelajaran matematika modern (Maryunis, 1993). Suatu topik atau istilah matematika yang telah diajarkan dengan bahasa yang baku, akan melekat pada diri siswa, sehingga pengajaran materi selanjutnya akan lebih mudah dipahami oleh siswa. Maryunis (1993) di sisi lain juga mengemukakan bahwa salah satu kelemahan pembelajaran matematika modern adalah keterampilan berhitung
8 siswa bisa kurang memadai, jika guru kurang memperhatikan aspek lain yang berkaitan dengan keterampilan berhitung tersebut. Misalnya, kurang memperhatikan kemampuan siswa dalam menjumlah, mengurang, mengali, atau membagi. Hal ini bisa terjadi akibat terlalu konsentrasi pada materi baru. Penutup Persamaan antara pembelajaran matematika realistik dengan pembelajaran matematika modern terletak pada banyak aspek. Setiap aspek tersebut mempunyai kekuatan dan kelemahan yang hampir sama dalam mempengaruhi sistem, perkembangan, dan penerapan pembelajaran matematika. Perkembangan selanjutnya akan banyak ditentukan oleh pihak-pihak yang menangani pembelajaran di lapangan secara langsung, utamanya guru dan kepala sekolah pada masing-masing jenjang. Sedangkan perbedaan antara pembelajaran matematika realistik dan matematika modern juga terletak pada banyak aspek. Setiap aspek dari perbedaan tersebut, mencirikan karateristik pembelajaran yang bersangkutan. Selain itu, perbedaan dapat menandakan kekuatan dan kelemahan masing-masing pembelajaran tersebut. Daftar Rujukan Bell, F.H Teaching and learning mathematics in secondary school. New York: Wm C. Brown Company Publisher. Bron Realistic mathematics education: Work in progress. {Online}. Tersedia: http// Freudenthal University [5-9 June 1998]. De Lange, J Mathematics insight and meaning. Utrecht: OW and OC. Ernest, P The philosophy of mathematics education. London: The Falmer Press. Freudenthal, H Geometry between the devil and the deep sea. Educational studies in mathematics. 3, Gravemeijer, K. P. E Developing realistic mathematics education. Utrecht: CD-B Press, Freudenthal Institute. Lacatos, I Proofs and reputations. Cambridge: Cambridge University Press.
9 Maryunis, A Pengantar metode pengajaran matematika: Latar belakang dan rujukan bagi penyusunan SAP. Padang: Tidak diterbitkan. Mullis, I. V. S., Martin, M.O., Gonzales, E.J., Gregory, K.D., Garden, R.A., O Conner, K.M., Chrostowski, S.J. & Smith, T.A TIMSS 1999: International mathematics report findings from IEA s refeat of the third international mathematics and science study at the eight grade. Boston: The International Study Center Boston College Lynch School of Education. Ruseffendi, E.T. 1979a. Seri pengajaran matematika modern untuk orangtua murid, guru dan SPG. Bandung: Tarsito. Ruseffendi, E.T. 1979b. Seri pengajaran matematika modern untuk orangtua murid, guru dan SPG. Bandung: Tarsito. Ruseffendi, E.T Pengantar kepada membantu guru mengembangkan kompetensinya dalam pengajaran matematika untuk meningkatkan CBSA (cetakan kedua). Bandung: Tarsito. Ruseffendi,E.T Evaluasi pembudayaan berfikir logis serta bersikap kritis dan kreatif melalui pembelajaran matematika realistik. Makalah disampaikan pada lokakarya tentang sistem evaluasi pembelajaran matematika realistik. Yoyakarta: Tidak Diterbitkan. Treffers, A Three dimensions: A model of goal and theory description in mathematics educatoin. The Wiskobas Project. Dordrech, The Nederlands: Reidel. Treffers, A and Goffree, F Rational analysis of realistic matematics education the weskobas program. In Streefland (Ed.). Proceeding of ninth international conference for the psychology of mathematics education, (p ). Noordijkerhout. Zulkardi ): Realistic mathematics education (RME): Teori contoh pembelajaran dan taman belajar di internet. Seminar sehari RME di Jurusan Pendidikan Matematika UPI. Bandung: Tidak Diterbitkan. Penulis: Dr. Darhim, M.Si. adalah dosen pada FPMIPA UPI, Bandung. Dr. Hamzah, M.Ed. adalah dosen pada FMIPA UNM, Makasar.
Antara Realistic Mathematics Education (RME) dengan Matematika Modern (New Math)
Antara Realistic Mathematics Education (RME) dengan Matematika Modern (New Math) Darhim Hamzah 1 Abstrak: The implementation of new mathematics for about 29 years in Indonesia is still in doubt to increase
PENGARUH PEMBELAJARAN MATEMATIKA KONTEKSTUAL TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA SEKOLAH DASAR KELAS AWAL
PENGARUH PEMBELAJARAN MATEMATIKA KONTEKSTUAL TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA SEKOLAH DASAR KELAS AWAL Darhim (FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia) Abstrak Penelitian ini adalah eksperimen dengan kontrol.
Pengaruh Pembelajaran Matematika Kontekstual Terhadap Hasil Belajar Siswa Sekolah Dasar
Pengaruh Pembelajaran Matematika Kontekstual Terhadap Hasil Belajar Siswa Sekolah Dasar Darhim (Universitas Pendidikan Indonesia) Abstrak Penelitian ini adalah eksperimen dengan kontrol. Kelompok eksperimen
PENGARUH PEMBELAJARAN MATEMATIKA KONTEKSTUAL TERHADAP SIKAP SISWA SEKOLAH DASAR
PENGARUH PEMBELAJARAN MATEMATIKA KONTEKSTUAL TERHADAP SIKAP SISWA SEKOLAH DASAR Darhim (FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia) Abstrak Sikap siswa terhadap matematika perlu diungkap karena terdapat dukungan
KURIKULUM MATEMATIKA TAHUN 1984 DAN PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK. Tatang Herman
KURIKULUM MATEMATIKA TAHUN 1984 DAN PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK Tatang Herman 1. Pendahuluan Sejak Indonesia merdeka telah terjadi beberapa perubahan atau penyempurnaan kurikulum pendidikan formal
PERMAINAN MATEMATIKA SEBAGAI LATIHAN UNTUK MENUMBUHKAN MINAT TERHADAP MATEMATIKA
PERMAINAN MATEMATIKA SEBAGAI LATIHAN UNTUK MENUMBUHKAN MINAT TERHADAP MATEMATIKA Oleh: Darhim [Dosen Pendidikan Matematika FPMIPA UPI Bandung] Abstrak: Sering didengar bahwa matematika adalah ratunya ilmu.
PENGEMBANGAN DESAIN PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK UNTUK MENUMBUHKEMBANGKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH DAN KOMUNIKASI MATEMATIK SISWA
PENGEMBANGAN DESAIN PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK UNTUK MENUMBUHKEMBANGKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH DAN KOMUNIKASI MATEMATIK SISWA Al Jupri, S.Pd. Kartika Yulianti, S.Pd. Jurusan Pendidikan Matematika
Matematika Modern Versus Matematika Realistik
Matematika Modern Versus Matematika Realistik A. Latar Belakang Masalah Oleh: Endang Mulyana Th. 2003 Pemberlakuan Kurikulum tahun 1975 di tiap tingkatan sekolah, mulai Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah
PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK SEBAGAI SUATU PENDEKATAN
PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK SEBAGAI SUATU PENDEKATAN Drs. Darhim, M.Si. *) Abstrak: Sering didengar bahwa matematika adalah ratunya ilmu. Tetapi tidak jarang banyak kalangan yang minder terhadap
InfinityJurnal Ilmiah Program Studi Matematika STKIP Siliwangi Bandung, Vol 2, No.1, Februari 2013
InfinityJurnal Ilmiah Program Studi Matematika STKIP Siliwangi Bandung, Vol, No., Februari 0 PENDEKATAN ICEBERG DALAM PEMBELAJARAN PEMBAGIAN PECAHAN DI SEKOLAH DASAR Oleh: Saleh Haji Program Pascasarjana
Pembelajaran Matematika Realistik Sebagai Sebuah Cara Mengenal Matematika Secara Nyata
Pembelajaran Matematika Realistik Sebagai Sebuah Cara Mengenal Matematika Secara Nyata oleh : Wahyudi (Dosen S1 PGSD Universitas Kristen Satya Wacana) A. PENDAHULUAN Salah satu karakteristik matematika
Edisi Khusus No. 2, Agustus 2011
PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK (PMR) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERFIKIR SISWA DI TINGKAT SEKOLAH DASAR Oleh: Evi Soviawati ABSTRAK Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik
SILABUS DAN SAP PERKULIAHAN MATA KULIAH KONSEP DASAR MATEMATIKA
SILABUS DAN SAP PERKULIAHAN MATA KULIAH KONSEP DASAR MATEMATIKA Mata Kuliah : Bilangan Kode : GD 514 Bobot : 3 sks Tingkat/Semester : III/6 Mata Kuliah Prasyarat : Konsep Dasar Matematika UNIVERSITAS PENDIDIKAN
KAJIAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERDASARKAN PADA TEORI BELAJAR DARI BRUNER, APOS, TERAPI GESTALT, DAN RME
KAJIAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERDASARKAN PADA TEORI BELAJAR DARI BRUNER, APOS, TERAPI GESTALT, DAN RME 1. Teori Belajar dari Bruner Menurut Bruner (dalam Ruseffendi, 1988), terdapat empat dalil yang
MAKALAH. Oleh: R. Rosnawati, dkk
MAKALAH PELATIHAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK INDONESIA (PMRI) BAGI GURU-GURU SEKOLAH DASAR SELAIN MITRA TIM PMRI UNY Oleh: R. Rosnawati, dkk Dibiayai oleh
PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK
PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK MANGARATUA M. SIMANJORANG Abstrak Konstruktivis memandang bahwa siswa harusnya diberi kebebasan dalam membangun sendiri pengetahuannya. Salah satu pendekatan pembelajaran
SILABUS. MATA KULIAH : BILANGAN KODE : GD 517 BOBOT : 3 sks TINGKAT/SEMESTER : III/6 UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA KAMPUS CIBIRU 2014
SILABUS MATA KULIAH : BILANGAN KODE : GD 517 BOBOT : 3 sks TINGKAT/SEMESTER : III/6 UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA KAMPUS CIBIRU 2014 I. Identitas Mata Kuliah Mata Kuliah : Bilangan Kode : GD 514 Bobot
BAB I PENDAHULUAN. penting dalam kehidupan sehari- hari maupun dalam ilmu pengetahuan.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Matematika merupakan cabang ilmu pengetahuan yang sangat berperan dalam perkembangan dunia. Matematika sangat penting untuk mengembangkan kemampuan dalam pemecahan
LEMBAR KERJA SISWA PADA MATERI HIMPUNAN BERBASIS PENDEKATAN PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK UNTUK SISWA SMP/MTs
LEMBAR KERJA SISWA PADA MATERI HIMPUNAN BERBASIS PENDEKATAN PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK UNTUK SISWA SMP/MTs Nurul Arfinanti ABSTRAK Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan. Penelitian ini
BAB I PENDAHULUAN. spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada dasarnya pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
KEMAMPUAN KONEKSI DAN KOMUNIKASI MATEMATIS DALAM PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK PADA SISWA SMP
KEMAMPUAN KONEKSI DAN KOMUNIKASI MATEMATIS DALAM PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK PADA SISWA SMP Effriyanti, Edy Tandililing, Agung Hartoyo Program studi Magister Pendidikan Matematika
Mengembangkan Kemampuan Berpikir Siswa melalui Pembelajaran Matematika Realistik
Mengembangkan Kemampuan Berpikir Siswa melalui Pembelajaran Matematika Realistik Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan, dan Penerapan MIPA Diselenggarakan oleh FMIPA UNY Yogyakarta
BAB I PENDAHULUAN. Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir
PERANAN LEMBAR KEGIATAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN ARITMETIKA SOSIAL BERDASARKAN PENDEKATAN REALISTIK
PERANAN LEMBAR KEGIATAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN ARITMETIKA SOSIAL BERDASARKAN PENDEKATAN REALISTIK (Studi deskriptif di kelas 1-C SLTP Negeri 27 Bandung) Maulana Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA Universitas
BAB I PENDAHULUAN. meringankan kerja manusia. Matematika diberikan kepada siswa sebagai bekal
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern dan mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin ilmu untuk memajukan daya pikir
PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL Jozua Sabandar
PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL Jozua Sabandar PENDAHULUAN Pembelajaran matematika di sekolah akhir-akhir ini menunjukkan kecenderungan akan pendekatan pembelajaran yang bernuansa konstruktifisme.
PERGESERAN PARADIGMA PEMBELAJARAN MATEMATIKA SEKOLAH
PERGESERAN PARADIGMA PEMBELAJARAN MATEMATIKA SEKOLAH Penulis: Dr. Darhim, M.Si. (Matematika FPMIPA UPI Bandung) Abstrak:Fakta menunjukkan masih terpuruknya prestasi siswa dalam berbagai evaluasi di ajang
BAB I PENDAHULUAN. diperlukan di era globalisasi seperti saat ini. Pemikiran tersebut dapat dicapai
A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Sumber daya manusia yang mempunyai pemikiran kritis, kreatif, logis, dan sistematis serta mempunyai kemampuan bekerjasama secara efektif sangat diperlukan di
TINJAUAN PUSTAKA. dan sasarannya. Efektivitas merujuk pada kemampuan untuk memiliki tujuan
9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Efektivitas Pembelajaran Efektivitas dapat dinyatakan sebagai tingkat keberhasilan dalam mencapai tujuan dan sasarannya. Efektivitas merujuk pada kemampuan untuk memiliki tujuan
II. TINJAUAN PUSTAKA. Pendekatan Realistic Mathematics Education atau Pendekatan Matematika
8 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pendekatan Realistic Mathematics Education Pendekatan Realistic Mathematics Education atau Pendekatan Matematika Realistik merupakan suatu pendekatan pembelajaran dalam pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. sampai 12 atau 13 tahun. Menurut Piaget, mereka berada pada fase. operasional konkret. Kemampuan yang tampak pada fase ini adalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Siswa Sekolah Dasar (SD) umurnya berkisar antara 6 atau 7 tahun, sampai 12 atau 13 tahun. Menurut Piaget, mereka berada pada fase operasional konkret. Kemampuan
Husen Windayana. Kata Kunci: Pembelajaran Matematika Kontekstual, Kelompok Permanen, Kelompok Tidak Permanen, Penalaran, Komunikasi Matematik.
PEMBELAJARAN MATEMATIKA KONTEKSTUAL KELOMPOK PERMANEN DAN TIDAK PERMANEN DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENALARAN DAN KOMUNIKASI MATEMATIK SISWA SEKOLAH DASAR Husen Windayana ABSTRAK Penelitian ini mengkaji
BAB II KAJIAN TEORI. merupakan suatu ide abstrak yang memungkinkan seseorang untuk. pengertian yang benar tentang suatu rancangan atau ide abstrak.
11 BAB II KAJIAN TEORI A. Kerangka Teoretis 1. Pemahaman Konsep Matematika Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, paham berarti mengerti dengan tepat, sedangkan konsep berarti suatu rancangan. Dalam matematika,
PEMBELAJARAN PENGURANGAN PECAHAN MELALUI PENDEKATAN REALISTIK DI KELAS V SEKOLAH DASAR
PEMBELAJARAN PENGURANGAN PECAHAN MELALUI PENDEKATAN REALISTIK DI KELAS V SEKOLAH DASAR Martianty Nalole Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Gorontalo Abstract : Study of reduction through approach
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern dan penting dalam berbagai penerapan disiplin ilmu lain. Banyak konsep dari
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ratna Purwati, 2013
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Di dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) No.20 Tahun 2003, disebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
DAFTAR PUSTAKA. Asikin, M. (2001). Komunikasi Matematika dalam RME. Makalah. Yogyakarta: Seminar Nasional RME di Universitas Sanata Dharma.
107 DAFTAR PUSTAKA Ali, D.S. (2007). Pembelajaran Matematika Realistik melalui Kelompok Kecil untuk Mengembangkan Kemampuan Siswa SMP dalam Pemecahan Masalah Matematik. Tesis. Bandung: SPS UPI. Ansari,
PEMBELAJARAN MATEMATIKA HUMANISTIK DAN KAITANNYA DENGAN PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK INDONESIA (PMRI) * Rahmah Johar
PEMBELAJARAN MATEMATIKA HUMANISTIK DAN KAITANNYA DENGAN PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK INDONESIA (PMRI) * Rahmah Johar PENDAHULUAN Suatu ungkapan dalam bahasa akan kehilangan makna yang sebenarnya atau
Kata Kunci: Pendidikan Matematika Realistik, Hasil Belajar Matematis
Abstrak. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk meningkatan hasil belajar matematika siswa kelas VII A SMP Negeri 2 Sungguminasa melalui pembelajaran matematika melalui
PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK INDONESIA (PMRI) DAN RELEVANSINYA DENGAN KTSP 1. Oleh: Rahmah Johar 2
PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK INDONESIA (PMRI) DAN RELEVANSINYA DENGAN KTSP 1 Oleh: Rahmah Johar 2 PENDAHULUAN Di dalam latar belakang dokumen Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk mata pelajaran
PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK (PMR)
PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK (PMR) A. Pendahuluan Oleh: Atmini Dhoruri, MS Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY Salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan mutu
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori 2.1.1 Pengertian Hasil Belajar Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar siswa pada hakikatnya
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang sangat penting dari jenjang pendidikan dasar hingga pendidikan lanjutan serta suatu alat untuk mengembangkan
PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP MELALUI PENDEKATAN PMR DALAM POKOK BAHASAN PRISMA DAN LIMAS. FMIPA UNP,
PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP MELALUI PENDEKATAN PMR DALAM POKOK BAHASAN PRISMA DAN LIMAS Vivi Utari 1), Ahmad Fauzan 2),Media Rosha 3) 1) FMIPA UNP, email: [email protected] 2,3) Staf Pengajar
Pemahaman Konsep FPB Dengan Pendekatan RME. Oleh: Lailatul Muniroh
Pemahaman Konsep FPB Dengan Pendekatan RME Oleh: Lailatul Muniroh email: [email protected] ABSTRAK Pembelajaran matematika dengan pendekatan RME memberi peluang pada siswa untuk aktif mengkonstruksi pengetahuan
PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK: SEJARAH, TEORI, DAN IMPLEMENTASINYA. Al Jupri Universitas Pendidikan Indonesia
PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK: SEJARAH, TEORI, DAN IMPLEMENTASINYA Al Jupri Universitas Pendidikan Indonesia e-mail: [email protected] ABSTRAK Artikel ini menguraikan tiga hal pokok mengenai Pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Pendidikan dapat diartikan sebagai suatu proses, dimana pendidikan merupakan usaha sadar dan penuh tanggung jawab dari orang dewasa dalam membimbing, memimpin, dan
PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SD MENGGUNAKAN PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK INDONESIA (PMRI)
PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SD MENGGUNAKAN PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK INDONESIA (PMRI) Yuniawatika [email protected] Dosen KSDP FIP Universitas Negeri Malang Abstrak: Ketika mendengar matematika,
PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK (PMR)
PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK (PMR) Oleh : Iis Holisin Dosen FKIP UMSurabaya ABSTRAK Objek yang ada dalam matermatika bersifat abstrak. Karena sifatnya yang abstrak, tidak jarang guru maupun siswa
MENINGKATKAN KOMUNIKASI MATEMATIK SISWA SMP MELALUI REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION (RME) DALAM RANGKA MENUJU SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL (SBI)
1 MENINGKATKAN KOMUNIKASI MATEMATIK SISWA SMP MELALUI REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION (RME) DALAM RANGKA MENUJU SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL (SBI) Oleh: Isrok atun, S.Pd.Si., M.Pd Abstrak Penyelenggaraan
BAB I PENDAHULUAN. berat. Salah satu tantangannya adalah menghadapi persaingan ekonomi global.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada era globalisasi ini, tantangan yang dihadapi generasi muda semakin berat. Salah satu tantangannya adalah menghadapi persaingan ekonomi global. Berdasarkan hasil
Pengembangan Student Worksheet Berbasis Matematika Realistik untuk Pembelajaran Matematika Secara Bilingual di Sekolah Menengah Pertama
Pengembangan Student Worksheet Berbasis Matematika Realistik untuk Pembelajaran Matematika Secara Bilingual di Sekolah Menengah Pertama Atmini Dhoruri, R. Rosnawati, Ariyadi Wijaya Jurusan Pendidikan Matematika
PENGEMBANGAN PERANGKAT PENGAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN PMR BERBANTUAN CD INTERAKTIF PADA MATERI PERSAMAAN LINEAR SATU VARIABEL KELAS VII
ISSN 2502-5872 M A T H L I N E PENGEMBANGAN PERANGKAT PENGAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN PMR BERBANTUAN CD INTERAKTIF PADA MATERI PERSAMAAN LINEAR SATU VARIABEL KELAS VII Ikin Zaenal Mutaqin SMP Negeri
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Memasuki zaman modern seperti sekarang ini, manusia dihadapkan pada berbagai tantangan yang ditandai oleh pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
BAB I PENDAHULUAN. Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir
PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS RME UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHANMASALAH SISWA DI SD
PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS RME UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHANMASALAH SISWA DI SD Puji Rahmawati, Rif at, Halini Program Studi Pasca Sarjana Pendidikan Matematika FKIP Untan Email
BAB II KAJIAN PUSTAKA. atau menangkap segala perisitiwa disekitarnya. Dalam kamus bahasa Indonesia. kesanggupan kecakapan, atau kekuatan berusaha.
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Kemampuan Komunikasi Matematika 2.1.1.1 Kemampuan Kemampuan secara umum diasumsikan sebagai kesanggupan untuk melakukan atau menggerakkan segala potensi yang
Oleh : Qomaria Amanah Mahasiswa S1 Pendidikan Matematika Universitas Negeri Malang
PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA PADA MATERI RELASI DAN FUNGSI DENGAN PENDEKATAN REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION (RME) UNTUK SISWA KELAS VIII SEMESTER I Oleh : Qomaria Amanah Mahasiswa S1 Pendidikan Matematika
PENANAMAN NORMA-NORMA SOSIAL MELALUI INTERAKSI SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN PMRI DI SEKOLAH DASAR
PENANAMAN NORMA-NORMA SOSIAL MELALUI INTERAKSI SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN PMRI DI SEKOLAH DASAR Rini Setianingsih Jurusan Matematika, FMIPA, Unesa ABSTRAK. Salah satu pendekatan
PENGEMBANGAN MATERI LUAS PERMUKAAN DAN VOLUM LIMAS YANG SESUAI DENGAN KARAKTERISTIK PMRI DI KELAS VIII SMP NEGERI 4 PALEMBANG
PENGEMBANGAN MATERI LUAS PERMUKAAN DAN VOLUM LIMAS YANG SESUAI DENGAN KARAKTERISTIK PMRI DI KELAS VIII SMP NEGERI 4 PALEMBANG Hariyati 1, Indaryanti 2, Zulkardi 3 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengembangkan
MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN BERPIKIR SISWA MELALUI PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK
Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA Fakultas MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta, 16 Mei 2009 MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN BERPIKIR SISWA MELALUI PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
10 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Hasil Belajar Matematika Para ahli _naeaclefinisikan tentang matematika antara lain; Matematika adalah bagian pengetahuan manusia tentang bilangan dan kalkulasi (Sujono, 1988);
BAB I PENDAHULUAN. Sekolah dasar merupakan salah satu lembaga pendidikan formal yang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sekolah dasar merupakan salah satu lembaga pendidikan formal yang pertama yang ditempuh peserta didik. Pada jenjang inilah siswa diberikan dasar-dasar pengembangan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Matematika merupakan suatu ilmu yang tersusun secara deduktif (umum ke khusus) yang menyatakan hubungan-hubungan, struktur-struktur yang diatur menurut aturan
Utami Murwaningsih Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo
EKSPERIMENTASI PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA KELAS VII SEMESTER GASAL SMP NEGERI SISWA 2 SUKOHARJO TAHUN PELAJARAN
INTERAKSI SISWA DALAM PEMBELAJARAN PMRI. Makalah dipresentasikan pada. Pelatihan PMRI untuk Guru-Guru SD di Kecamatan Depok dalam rangka
INTERAKSI SISWA DALAM PEMBELAJARAN PMRI Makalah dipresentasikan pada Pelatihan PMRI untuk Guru-Guru SD di Kecamatan Depok dalam rangka Pengabdian Pada Masyarakat Pada tanggal 14 15 Agustus 2009 di FMIPA
PENGGUNAAN MODEL RME DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA TENTANG PECAHAN SISWA KELAS V SD
PENGGUNAAN MODEL RME DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA TENTANG PECAHAN SISWA KELAS V SD Oleh: Muji Parijah 1), Subekti Priyo Husodo 2), Wahyudi 3), Imam Suyanto 4) FKIP, PGSD Universitas Sebelas
BAB I PENDAHULUAN. secara terus menerus sesuai dengan level kognitif siswa. Dalam proses belajar
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika adalah salah satu mata pelajaran yang harus dipelajari siswa di sekolah. Proses belajar matematika akan terjadi dengan lancar apabila dilakukan
PERMAINAN TEPUK BERGILIR YANG BERORIENTASI KONSTRUKTIVISME DALAM PEMBELAJARAN KONSEP KPK SISWA KELAS IV A DI SD N 21 PALEMBANG
PERMAINAN TEPUK BERGILIR YANG BERORIENTASI KONSTRUKTIVISME DALAM PEMBELAJARAN KONSEP KPK SISWA KELAS IV A DI SD N 21 PALEMBANG Rully Charitas Indra Prahmana Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
BAB II KAJIAN PUSTAKA
6 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Hakekat Matematika Istilah matematika berasal dari Bahasa Yunani, mathein atau manthenein yang berarti mempelajari. Kata matematika juga diduga erat hubungannya
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern dan mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin ilmu lain. Oleh sebab
BAB II KAJIAN PUSTAKA
5 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori 2.1.1 Pengertian Hasil Belajar Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar siswa pada
Vol. XI Jilid 1 No.74 Januari 2017
Vol. XI Jilid 1 No.74 Januari 2017 MENARA Ilmu ANALISIS KEBUTUHAN PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA BERBASIS REALISTICS MATHEMATICS EDUCATION (RME) PADA MATERI FPB DAN KPK UNTUK SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR
P-34 PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA SMP MELALUI PENDEKATAN PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK
P-34 PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA SMP MELALUI PENDEKATAN PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK Nila Kesumawati ([email protected]) FKIP Universitas PGRI Palembang ABSTRAK Penelitian
UNIVERSITAS MUHAMADIYAH SURAKARTA
PENINGKATAN AKTIVITAS SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA PADA POKOK BAHASAN BANGUN RUANG MELALUI PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK INDONESIA (PTK Pembelajaran Matematika Kelas IV SD Negeri 01 Langensari)
Bagaimana Cara Guru Matematika Memfasilitasi Siswanya agar dapat Membangun Sendiri Pengetahuan Mereka?
Bagaimana Cara Guru Matematika Memfasilitasi Siswanya agar dapat Membangun Sendiri Pengetahuan Mereka? Fadjar Shadiq, M.App.Sc WI PPPPTK Matematika ([email protected] & www.fadjarpg.wordpress.com) Latar
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan adalah suatu kegiatan yang kompleks, berdimensi luas, dan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah suatu kegiatan yang kompleks, berdimensi luas, dan banyak variabel yang mempengaruhi keberhasilan penyelenggaraannya. pendidikan diharapkan
BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat pesat, hal ini
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat pesat, hal ini menyebabkan kita harus selalu tanggap menghadapi hal tersebut. Oleh karena itu dibutuhkan Sumber Daya
PENGEMBANGAN HANDOUT MATEMATIKA BERBASIS PENDEKATAN REALISTIK UNTUK SISWA SMP KELAS VII SEMESTER 2
PENGEMBANGAN HANDOUT MATEMATIKA BERBASIS PENDEKATAN REALISTIK UNTUK SISWA SMP KELAS VII SEMESTER 2 Rilfi Helmanda 1), Sri Elniati 2), Nonong Amalita 3) 1) FMIPA UNP, email : [email protected] 2,3) Staf
Pengembangan Alur Belajar Pecahan Berbasis Realistic Mathematics Education
Pengembangan Alur Belajar Pecahan Berbasis Realistic Mathematics Education 1* Ahmad Fauzan dan 1 Oci Yulina Sari 1 Program Studi S2 Pendidikan Matematika PPs UNP. *Corresponding Author: [email protected]
BAB I PENDAHULUAN. adanya jembatan yang dapat menetralisir perbedaan atau pertentangan tersebut.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembelajaran matematika di SD/MI merupakan salah satu kajian yang selalu menarik untuk dikemukakan karena adanya perbedaan karakteristik khususnya antara hakikat
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan menjadi salah satu fokus dalam penyelenggaraan negara. Menurut
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan salah satu sarana untuk membangun bangsa. Pendidikan menjadi salah satu fokus dalam penyelenggaraan negara. Menurut Puspendik (2012: 2), kualitas
