BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah
|
|
|
- Verawati Hartanto
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Preeklamsia merupakan salah satu kontributor utama morbiditas dan mortalitas pada ibu dan janin. Etiopatogenesis pasti sampai saat ini belum jelas dan masih dalam tahap penelitian. Preeklamsia mempunyai gambaran klinis bervariasi dan komplikasinya sangat berbahaya pada saat kehamilan, persalinan dan masa nifas (Pribadi Adhi et al, 2015). Preeklamsia terjadi pada 3% - 8% dari seluruh kehamilan, komplikasi preeklamsia menyebabkan sekitar kematian maternal tiap tahun. Di negara berkembang dimana keterbatasan akses untuk mendapatkan penanganan kesehatan maternal yang memadai, angka kematian maternal dapat mencapai 15% jika dibandingkan dengan negara maju yang sekitar 0%-1,8% (Staff et al, 2013). Hipertensi dalam kehamilan diperkirakan 16% penyebab kematian maternal di negara berkembang, dan sekitar 9% penyebab kematian maternal di Afrika dan Asia. Preeklamsia juga berkaitan dengan 10% penyebab kematian perinatal dan neonatal (Maynard and Karumanchi, 2011). Kasus preeklamsia di Indonesia 30%-40% menjadi penyebab kematian ibu hamil dan 30-50% menjadi penyebab kematian perinatal. Kematian maternal Di RSUD Dr. Moewardi Surakarta yang disebabkan oleh preeklamsia yaitu 67,6% dari 37 kasus preeklamsia dari 1956 persalinan pada tahun 2008 (Sulistyowati et al, 2010). Preeklamsia merupakan suatu diagnosis klinis, yaitu hipertensi (tekanan darah sistolik 140 mmhg dan atau diastolik 90 mmhg) pada wanita dengan umur kehamilan 20 minggu dan proteinuria (kadar protein 300 mg/24 jam urin tampung atau +1 pada pemeriksaan urinalisis tanpa adanya infeksi saluran kemih). Komplikasi maternal yang dapat ditimbulkan dari preeklamsia antara lain: eklamsia, Hemolytic-Elevated Liver enzim and Low Platelet (HELLP) syndrome, edema paru, solusio plasenta, Disseminated Intravascular Coagulation (DIC), hipertensi emergensi (hipertensi ensefalopati, cerebro-vascular attack/stroke, kebutaan daerah kortikal serebri), juga meningkatkan resiko persalinan preterm dan perdarahan. Sedangkan komplikasi janin yang dapat ditimbulkan dari preeklamsia antara lain:
2 intra uterine fetal death (IUFD), intra uterine growth restriction (IUGR), gawat janin, juga meningkatkan resiko respiratory distress dan berat badan lahir rendah terkait prematuritas. Hingga saat ini belum ditemukan pengobatan preeklamsia yang efektif sebagai pencegahan, pengakhiran kehamilan atau persalinan dianggap sebagai pilihan yang paling baik terutama pada kasus preeklamsia dengan komplikasi (Cunningham et al, 2014; Creasy et al, 2014). Preeklamsia dideskripsikan sebagai sindroma spesifik-kehamilan yang dapat mempengaruhi terhadap seluruh sistem organ. Beberapa teori etiologi dan patogenesis preeklamsia di antaranya abnormalitas invasi trofoblas, maladaptasi imunologi, maladaptasi kardiovaskular atau perubahan proses inflamasi, predisposisi faktor genetik, faktor nutrisi (Cunningham et al, 2014). Plasenta mempunyai peranan penting pada preeklamsia. Preeklamsia hanya ditemukan jika adanya jaringan plasenta, tidak adanya fetus misal pada kasus mola hidatidosa dapat berkembang menjadi preeklamsia dan hampir seluruh kasus membaik segera setelah plasenta dilahirkan. Pada kasus preeklamsia berat didapatkan gambaran patologis plasenta yang berhubungan dengan hipoperfusi dan iskemia plasenta antara lain aterosis akut, penebalan lapisan intima, nekrosis, aterosklerosis, kerusakan endotel, dan infark plasenta (Maynard and Karumanchi, 2011). Konsep bahwa kontributor utama penyebab preeklamsia adalah plasenta, hingga saat ini banyak diterima dan telah terbukti di sebagian penelitian. Para ahli berpendapat preeklamsia terjadi dalam dua tahap. Tahap pertama bersifat asimtomatik dengan karakteristik perkembangan abnormal plasenta pada trimester pertama. Perkembangan abnormal plasenta terutama proses angiogenesis mengakibatkan insufisiensi plasenta dan terlepasnya material plasenta memasuki sirkulasi maternal. Pada proses endotelialisasi terjadi gangguan sitotrofoblas serta invasi arteri spiralis pada miometrium yang tidak adekuat. Proses plasentasi yang jelek ini menyebabkan terjadinya iskemia dan hipoksia pada plasenta. Terlepasnya material plasenta memicu gambaran klinis tahap kedua yaitu tahap simtomatik. Pada tahap ini berkembang gejala hipertensi, gangguan ginjal dan proteinuria, dan kerusakan end organ lainnya. Sehingga adanya gangguan histologi, fungsi, dan
3 metabolisme plasenta diduga sangat besar peranannya pada patofisiologi preeklamsia. (Pribadi Adhi et al, 2015; Roberts J and Hubel, 2009) Bukti kuat ketidakseimbangan faktor angiogenik dan anti-angiogenik pada preeklamsia salah satunya dijelaskan oleh adanya soluble Fms-like tyrosine kinase (sflt-1) yang meningkat pada preeklamsia. Ketidakseimbangan tersebut dapat terdeteksi sebelum diagnosis klinis preeklamsia. Saat ini pengukuran kadar serum sflt-1 dan rasio sflt-1/plgf dapat digunakan sebagai prediktor untuk preeklamsia. Iskemia plasenta pada hewan coba menyebabkan penurunan tekanan perfusi uterus (RUPP/Reduced Uterine Perfusion Pressure) yang menghasilkan peningkatan sflt-1 dan penurunan kadar VEGF bebas pada sirkulasi (Warrington et al, 2013). PlGF secara prinsip mempunyai pasangan ikatan reseptor membran yang dikenal sebagai vascular endothelial growth factor receptor-1 (VEGFR-1) yang dikenal juga sebagai Fms-like tyrosine kinase-1 (Flt-1), yang mempunyai bentuk terlarut (soluble) svegfr-1 atau sflt-1. Sementara untuk VEGF mempunyai reseptor VEGFR-2, dan selain itu dapat pula berikatan dengan VEGFR-1 (Pribadi Adhi et al, 2015). Ketidakseimbangan antara faktor angiogenik seperti placental growth factor (PIGF) dan vascular endothelial growth factor (VEGF) dengan faktor penghambat angiogenesis (anti angiogenik) seperti soluble Fms-like tyrosine kinase-1 (sflt-1) dan soluble Endoglin (seng), diduga terlibat dalam patogenesis terjadinya preeklamsia. Keseimbangan antara PlGF dan VEGF sebagai faktor proangiogenik dengan sflt-1 dan seng sebagai faktor anti angiogenik penting dalam mempengaruhi proses angiogenenesis, vaskulogenesis, dan perkembangan plasenta selama kehamilan. Peningkatan sflt-1 disebabkan oleh penurunan PlGF bebas pada serum preeklamsia akibat adanya disfungsi endotel (Levine et, 2006; Gu et al, 2008). Jika terjadi disfungsi endotel maka pada permukaan endotel akan diekspresikan molekul adhesi, seperti vascular cell adhesion molecule-1 (VCAM-1) dan intercellular cell adhesion molecule-1 (ICAM-1). Peningkatan kadar soluble VCAM-1 ditemukan dalam supernatan kultur sel endotel yang diinkubasi dengan serum penderita preeklamsia, tetapi tidak dijumpai peningkatan molekul adhesi
4 lainnya seperti ICAM-1 dan E-selektin. Oleh karena itu diduga VCAM-1 mempunyai peranan pada preeklamsia (Sulistyowati et al, 2010) Beberapa penelitian pada hewan coba menjelaskan biomarker yang dapat digunakan sebagai prediktor preeklamsia sebelum timbulnya onset klinis dan juga memberikan pengobatan preeklamsia pada tahap sebelum timbul gejala klinis (subklinis) dengan menggunakan hewan coba model preeklamsia, salah satunya menggunakan mencit yang diberi perlakuan sehingga menyerupai sindroma preeklamsia. Pengobatan terhadap preeklamsia sejauh ini hanya terbatas pada pencegahan terhadap terjadinya komplikasi. Pemahaman etiopatogenesis preeklamsia diharapkan dapat menghasilkan strategi untuk mencegah dan memberikan terapi preeklamsia secara lebih tepat. Penelitian hewan coba berdasarkan pertimbangan bahwa mencit (Mus musculus) paling sering dipakai dalam penelitian biomedik, karena secara genetik mempunyai kemiripan dengan manusia serta mempunyai kemampuan beradaptasi hidup dalam lingkungan laboratorium (Sulistyowati et al, 2010; Suzuki et al, 2014). VEGF 121 rekombinan merupakan VEGF eksogen yang dapat digunakan dalam penelitian yaitu protein proangiogenik yang mempunyai peran terhadap proses vaskulogenesis dan angiogenesis yang mempunyai reseptor di dinding endotel yaitu VEGFR-1. Pemberian VEGF 121 rekombinan sebagai pengobatan preeklamsia pada hewan coba memiliki kemampuan menurunkan kadar sflt-1 dalam sirkulasi darah, secara klinis menurunkan tekanan darah, secara histopatologis perbaikan fungsi endotel dan mengurangi hipoksia plasenta (Li et al, 2007; Mateus et al, 2011) Masalah Penelitian Adakah pengaruh pemberian VEGF 121 rekombinan terhadap ekspresi VCAM-1 di plasenta mencit model preeklamsia? Tujuan Penelitian Tujuan Umum Menganalisis pengaruh pemberian VEGF 121 rekombinan terhadap ekspresi VCAM-1 di plasenta mencit normal dan mencit model preeklamsia.
5 Tujuan Khusus Menganalisis fungsi VEGF 121 rekombinan sebagai terapi preeklamsia, terutama ekspresi VCAM-1 di plasenta sebagai gambaran perbaikan disfungsi endotel paska preeklamsia Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk: 1. Keilmuan a. Hasil penelitian ini diharapkan mampu menambah informasi tentang terapi VEGF 121 rekombinan pada kasus preeklamsia terutama pengaruh terhadap ekspresi VCAM-1 di plasenta b. Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan masukan dan pertimbangan dalam pemeriksaan laboratoris biomolekuler setelah mengetahui efek pengobatan VEGF 121 rekombinan pada kasus preeklamsia guna menurunkan angka morbiditas dan mortalitas baik maternal maupun perinatal. 2. Pelayanan Menjadi bahan pertimbangan dalam pengelolaan kasus preeklamsia di lapangan dan pemeriksaan klinis terkait disfungsi endotel akibat preeklamsia. 3. Penelitian Memberikan sumbangan pengetahuan tentang efek VEGF 121 pada endotel plasenta hewan uji model preeklamsia sehingga dapat menjadi dasar penelitian berikutnya. 4. Kedokteran Keluarga Menjadi model acuan pada manusia sehingga bisa dikembangkan usaha-usaha preventif dan kuratif pada kasus preeklamsia secara lebih dini dengan
6 mengetahui adanya perbedaan ekspresi VCAM-1 di plasenta setelah pemberian VEGF 121 rekombinan pada mencit bunting model preeklamsia..
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Preeklampsia merupakan komplikasi kehamilan yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah disertai proteinuria pada wanita hamil dengan umur kehamilan 20 minggu
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4. 1. Hasil 4. 1. 1. Karakteristik Subjek Penelitian Tujuan khusus penelitian ini adalah menganalisis fungsi VEGF 121 rekombinan sebagai terapi preeklamsia, terutama ekspresi
BAB I PENDAHULUAN. Hipertensi dalam kehamilan masih merupakan masalah besar. dalam bidang obstetri, dengan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hipertensi dalam kehamilan masih merupakan masalah besar dalam bidang obstetri, dengan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi baik pada ibu maupun bayi. Hipertensi
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian bayi di Indonesia masih tinggi. Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi di Indonesia merupakan yang tertinggi ASEAN dengan
BAB 1 PENDAHULUAN. Preeklamsi (PE) merupakan gangguan multiorgan pada kehamilan,
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Preeklamsi (PE) merupakan gangguan multiorgan pada kehamilan, berkembang setelah usia kehamilan 20 minggu dan ditandai dengan peningkatan tekanan darah (>140 mmhg/90
BAB I PENDAHULUAN. kelahiran preterm, dan intrauterine growth restriction (IUGR) (Sibai, 2005;
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Preeklamsia sangat berhubungan dengan 5-7% morbiditas dan mortalitas maternal dan perinatal di seluruh dunia. Preeklamsia juga merupakan penyebab 15-20% mortalitas
BAB I PENDAHULUAN. angka morbilitas dan morbiditas yang masih tinggi. World Health Organization
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Preeklamsi (PE) merupakan gangguan multisistem pada kehamilan, berkembang setelah usia kehamilan 20 minggu dan ditandai dengan peningkatan tekanan darah (>140 mmhg/90
BAB I PENDAHULUAN. kematian maternal (maternal mortality). Menurut World Health
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada umumnya ukuran yang dipakai untuk menilai baik atau buruknya pelayanan kebidanan (maternity care) dalam suatu negara atau daerah ialah kematian maternal (maternal
BAB I PENDAHULUAN. berkembang secara bermakna setelah 2 minggu (Harper, 2005). 75% di antaranya berada di Asia, Afrika (20%), dan Amerika Latin (5%).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pertumbuhan Janin Terhambat (PJT) merupakan masalah penting dalam dunia kedokteran, karena PJT dikaitkan dengan peningkatan mortalitas dan morbiditas neonatal. Selain
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. 1. Preeklamsia 2. 1. 1. Definisi Preeklamsia didefinisikan hipertensi dalam kehamilan dimana tekanan darah sistolik 140 mmhg dan atau tekanan darah diastolik 90 mmhg yang diukur
BAB 1 PENDAHULUAN. kehamilan 20 minggu. American College Obstetry and Gynecology (ACOG)
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Preeklampsia merupakan new onset hipertensi dengan proteinuria setelah kehamilan 20 minggu. American College Obstetry and Gynecology (ACOG) membagi preeklampsia menjadi
BAB I PENDAHULUAN. kematian ibu, disamping perdarahan dan infeksi. Dari kelompok hipertensi
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Hipertensi dalam kehamilan merupakan penyebab 3 besar kematian ibu, disamping perdarahan dan infeksi. Dari kelompok hipertensi dalam kehamilan, syndrom preeklampsia,
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Trombosit Darah manusia terdiri atas unsur-unsur padat berupa eritrosit, leukosit dan trombosit, yang tersuspensi dalam media cair yang disebut plasma. Plasma itu sendiri terdiri
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap tahunnya, angka kehamilan dunia semakin meningkat. Pada tahun 1995 terjadi 209,5 juta kehamilan di dunia, yang kemudian meningkat menjadi 210,9 juta pada 2008
BAB I PENDAHULUAN. dunia mengalami preeklampsia (Cunningham, 2010). Salah satu penyulit dalam
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Preeklampsia adalah sindroma spesifik kehamilan dengan menurunnya perfusi organ yang berakibat terjadinya vasospasme pembuluh darah dan aktivasi endotel (Angsar, 2010).
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hipertensi merupakan penyulit medis yang sering ditemukan pada kehamilan yang dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas baik ibu maupun perinatal. Hipertensi dalam
BAB I PENDAHULUAN. gangguan pada berbagai organ. Sampai saat ini preeklamsia masih merupakan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Preeklamsia adalah suatu sindroma penyakit yang dapat menimbulkan gangguan pada berbagai organ. Sampai saat ini preeklamsia masih merupakan penyulit utama dalam kehamilan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Patofisiologi Selama kehamilan normal, sitotrofoblas vili menginvasi hingga ke sepertiga bagian dalam miometrium, dan arteri spiralis kehilangan endotelium dan sebagian besar
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Preeklampsia adalah suatu sindroma penyakit yang dapat menimbulkan gangguan pada berbagai organ. Sampai saat ini preeklampsia masih merupakan penyulit utama dalam kehamilan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang International Non Goverment Organization (NGO) Forum on Indonesian Development (INFID) menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara di Asia Tenggara dengan kematian
BAB I PENDAHULUAN. berperan sebagai salah satu penyulit kehamilan. 1. (AKI) di Indonesia masih merupakan salah satu yang tertinggi di Asia
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Preeklampsia didefinisikan sebagai hipertensi yang timbul setelah 20 minggu kehamilan disertai dengan proteinuria. Kejadian ini diketahui berperan sebagai salah satu
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap tahunnya, terjadi peningkatan angka kehamilan secara signifikan. Pada tahun 2012 sekitar 18,8 juta kehamilan terjadi di Asia Tenggara. 1 Tingginya angka kehamilan
BAB I PENDAHULUAN. Hipertensi dalam kehamilan adalah hipertensi yang terjadi saat kehamilan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hipertensi dalam kehamilan adalah hipertensi yang terjadi saat kehamilan berlangsung dan biasanya pada bulan terakhir kehamilan, tekanan darah mencapai nilai 140/90
Hipertensi dalam kehamilan. Matrikulasi Calon Peserta Didik PPDS Obstetri dan Ginekologi
Hipertensi dalam kehamilan Matrikulasi Calon Peserta Didik PPDS Obstetri dan Ginekologi DEFINISI Hipertensi adalah tekanan darah sekurang-kurangnya 140 mmhg sistolik atau 90 mmhg diastolik pada dua kali
BAB I PENDAHULUAN. Millenium development goal (MDG) menargetkan penurunan AKI menjadi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Perinatal merupakan salah satu masalah kesehatan yang memerlukan perhatian khusus di Indonesia. AKI di Indonesia masih merupakan
BAB I PENDAHULUAN. terdiri dari ovulasi, migrasi sperma dan ovum, konsepsi dan pertumbuhan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Proses kehamilan merupakan mata rantai yang bersinambung yang terdiri dari ovulasi, migrasi sperma dan ovum, konsepsi dan pertumbuhan zigot, nidasi (implantasi) pada
BAB I PENDAHULUAN. (BBLR) adalah salah satu dari penyebab utama kematian pada neonates
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Berat badan (BB) adalah salah satu indikator kesehatan pada bayi baru lahir. BB lahir menjadi begitu penting dikarenakan bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah salah
ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT MATERNITAS: EKLAMPSIA
ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT MATERNITAS: EKLAMPSIA NIKEN ANDALASARI Pengertian Eklampsia Eklampsia adalah suatu keadaan dimana didiagnosis ketika preeklampsia memburuk menjadi kejang (Helen varney;
BAB2 TINJAUAN PUSTAKA. Preeklampsia (PE) merupakan gangguan multisistem pada kehamilan
8 BAB2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Preeklampsia Preeklampsia (PE) merupakan gangguan multisistem pada kehamilan yang mempengaruhi keadaan ibu dan janin.perubahan yang terjadi pada ibu meliputi hipertensi dan
BAB II LANDASAN TEORI. 1. Gangguan Hipertensi dalam Kehamilan. mmhg dan Tekanan darah diastolik mmhg), sedang (Tekanan darah
BAB II LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka 1. Gangguan Hipertensi dalam Kehamilan a. Definisi Gangguan hipertensi dalam kehamilan didefinisikan sebagai kenaikan tekanan darah sistolik >140mmHg dan tekanan
BAB I PENDAHULUAN. Kehamilan merupakan masa yang penting bagi perkembangan janin.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kehamilan merupakan masa yang penting bagi perkembangan janin. Salah satu indikasi perkembangan janin yang baik adalah berat badan. Rerata berat bayi normal pada usia
BAB I PENDAHULUAN. Peningkatan kesehatan ibu adalah satu dari delapan program Millenium
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peningkatan kesehatan ibu adalah satu dari delapan program Millenium Development Goals (MDGs) yang telah disepakati oleh negara di seluruh dunia pada tahun 2000. World
BAB 1 PENDAHULUAN. Angka kematian ibu (AKI) adalah jumlah kematian selama kehamilan atau
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Angka kematian ibu (AKI) adalah jumlah kematian selama kehamilan atau dalam periode 42 hari setelah berakhirnya kehamilan, akibat semua sebab yang terkait dengan atau
BAB I PENDAHULUAN. Buruknya derajat kesehatan perempuan di Indonesia. di tunjukan dengan AKI (Angka Kematian Ibu) dan AKB
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Buruknya derajat kesehatan perempuan di Indonesia di tunjukan dengan AKI (Angka Kematian Ibu) dan AKB (Angka Kematian Bayi) yang meningkat. Angka kematian ibu juga merupakan
BAB 1 : PENDAHULUAN. dengan penyebab yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan, dan nifas
BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Wanita di negara berkembang berisiko meninggal sekitar 23 kali lebih tinggi dengan penyebab yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan, dan nifas dibandingkan dengan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dalam ruang lingkup keilmuan Obstetri Ginekologi.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Ruang Lingkup Penelitian (Keilmuan) Penelitian ini dalam ruang lingkup keilmuan Obstetri Ginekologi. 3.2 Tempat dan Waktu Penelitian 3.2.1 Ruang Lingkup Tempat Tempat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pre-eklamsia adalah hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan yang biasanya terjadi setelah 20 minggu kehamilan. Pada pre-eklamsia, ditandai dengan hipertensi
Persalinan Induksi persalinan diindikasikan pada pre-eklampsia dengan kondisi buruk seperti gangguan
HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN 1.1 Definisi Definisi hipertensi pada kehamilan berdasarkan nilai tekanan darah absolut (sistolik 140 atau diastolik 90 mmhg) dan dibedakan antara kenaikan tekanan darah ringan
Pertumbuhan Janin Terhambat. Matrikulasi Calon Peserta Didik PPDS Obstetri dan Ginekologi
Pertumbuhan Janin Terhambat Matrikulasi Calon Peserta Didik PPDS Obstetri dan Ginekologi Definisi Janin dengan berat badan kurang atau sama dengan 10 persentil, atau lingkaran perut kurang atau sama dengan
PENGARUH VASCULAR ENDOTHELIAL GROWTH FACTOR 121 REKOMBINAN TERHADAP EKSPRESI HEAT SHOCK PROTEIN 70 PADA MENCIT (Musmusculus) MODEL PREEKLAMPSIA
digilib.uns.ac.id PENGARUH VASCULAR ENDOTHELIAL GROWTH FACTOR 121 REKOMBINAN TERHADAP EKSPRESI HEAT SHOCK PROTEIN 70 PADA MENCIT (Musmusculus) MODEL PREEKLAMPSIA The Effect of Vascular Endothelial Growth
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hipertensi kehamilan merupakan salah satu komplikasi yang dapat terjadi pada kehamilan. Komplikasi kehamilan merupakan salah satu penyebab angka kematian ibu dan janin.
dr. Hydrawati Sari, SpOG
dr. Hydrawati Sari, SpOG Hipertensi Gestasional Hipertensi Kronik Preeklamsia - eklamsia Preeklamsia Superimposed TD > 140/90mmHg setelah umur kehamilan 20 minggu Proteinuria: 300mg/24 jam atau 1+dipstick
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dengan preeklampsia memperlihatkan edema 9. Jika gejala yang muncul adalah
1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Preeklampsia Preeklampsia adalah hipertensi yang disertai dengan proteinuria pada ibu dengan usia kehamilan di atas 20 minggu, dengan catatan bahwa tidak semua ibu
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini mencakup bidang keilmuan Obstetri dan Ginekologi.
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Ruang lingkup penelitian Penelitian ini mencakup bidang keilmuan Obstetri dan Ginekologi. 4.2 Tempat dan waktu penelitian Penelitian ini bertempat di Instalasi Rekam Medik
PERBEDAAN LUARAN MATERNAL DAN PERINATAL PREEKLAMPSIA BERAT DENGAN SINDROM HELLP DAN SINDROM HELLP PARSIAL LAPORAN HASIL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH
PERBEDAAN LUARAN MATERNAL DAN PERINATAL PREEKLAMPSIA BERAT DENGAN SINDROM HELLP DAN SINDROM HELLP PARSIAL LAPORAN HASIL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH Diajukan sebagai syarat untuk mengikuti ujian hasil
BAB I PENDAHULUAN. yang diawali terjadinya ketuban pecah dini. Akan tetapi sulit menentukan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sampai saat ini mortalitas dan morbiditas neonatus pada bayi preterm / prematur masih sangat tinggi. Hal ini berkaitan dengan maturitas organ pada bayi lahir seperti
BAB I PENDAHULUAN. 2012, Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia adalah 359 per
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia adalah 359 per 100.000 kelahiran hidup. 1 Penyebab utama yang menyumbang
BAB I PENDAHULUAN. sebagai suatu onset baru dari hipertensi dan proteinuria selama waktu paruh
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Preeklampsia merupakan suatu sindroma klinis yang didefinisikan sebagai suatu onset baru dari hipertensi dan proteinuria selama waktu paruh kedua kehamilan (Powe
BAB I PENDAHULUAN. Preeklampsia/eklampsia merupakan salah satu penyebab. utama morbiditas dan mortalitas ibu dan bayi di dunia
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Preeklampsia/eklampsia merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas ibu dan bayi di dunia khususnya negara-negara sedang berkembang. Kematian ibu
BAB I PENDAHULUAN. Ketuban pecah dini (KPD) adalah keluarnya air ketuban (cairan amnion) sebelum
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ketuban pecah dini (KPD) adalah keluarnya air ketuban (cairan amnion) sebelum terjadinya persalinan. KPD merupakan masalah penting dalam obstetri berkaitan
BAB I PENDAHULUAN meninggal dunia dimana 99% terjadi di negara berkembang. 1 Angka
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kematian dan kesakitan Ibu masih merupakan masalah kesehatan yang serius di negara berkembang. World Health Organisation (WHO) mencatat sekitar delapan juta perempuan
BAB I PENDAHULUAN. Insidensi di negara berkembang sekitar 5-9 % (Goldenberg, 2008).
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Persalinan preterm adalah kelahiran sebelum usia kehamilan 37 minggu. Angka kejadian persalinan preterm secara global sekitar 9,6%. Insidensi di negara berkembang
BAB I PENDAHULUAN. Pasien dewasa dengan penyakit jantung bawaan menunjukkan insidensi
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pasien dewasa dengan penyakit jantung bawaan menunjukkan insidensi yang meningkat. Secara umum sekitar 5 10% dari pasien tersebut berkembang menjadi Hipertensi Arteri
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kondisi hiperglikemia pada saat masuk ke rumah. sakit sering dijumpai pada pasien dengan infark miokard
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kondisi hiperglikemia pada saat masuk ke rumah sakit sering dijumpai pada pasien dengan infark miokard akut (IMA) dan merupakan salah satu faktor risiko kematian dan
Indonesia dan dapat mengancam keselamatan ibu dan janin. Kondisi. tersebut jelas berperan dalam tingginya AKI dan AKB di Indonesia.
2.1. Preeklampsia Preeklampsia dilaporkan masih menjadi masalah utama ibu hamil di Indonesia dan dapat mengancam keselamatan ibu dan janin. Kondisi tersebut jelas berperan dalam tingginya AKI dan AKB di
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Preeklampsia Berat Preeklampsia adalah hipertensi yang timbul setelah 20 minggu kehamilan disertai dengan proteinuria. 1 Menurut Cunningham (2005) kriteria minimum untuk mendiagnosis
BAB V PEMBAHASAN. dengan preeklamsi di RSUD Dr. Moewardi Surakarta yang sesuai kriteria inklusi
BAB V PEMBAHASAN Hasil penelitian ini di dapatkan sebanyak 18 responden (60%) ibu bersalin dengan preeklamsi di RSUD Dr. Moewardi Surakarta yang sesuai kriteria inklusi berumur 20-35 tahun. Penelitian
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan terkait angka kematian ibu dan anak merupakan masalah global yang sejak dulu hingga sekarang masih merupakan persoalan besar dalam dunia kesehatan. Menurut
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teori 1. Preeklamsia a) Definisi Preeklamsia Preeklamsia adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria akibat kehamilan, setelah umur kehamilan 20 minggu atau segera
TINJAUAN PUSTAKA Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) Definisi Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) 2.1.1. Definisi Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah Menurut Saifuddin (2001), Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi baru lahir
BAB I PENDAHULUAN. individu maupun masyarakat. Identifikasi awal faktor risiko yang. meningkatkan angka kejadian stroke, akan memberikan kontribusi
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Stroke merupakan satu dari masalah kesehatan yang penting bagi individu maupun masyarakat. Identifikasi awal faktor risiko yang meningkatkan angka kejadian stroke, akan
BAB I PENDAHULUAN. indeks pembangunan manusia suatu Negara. World Health Organization ( WHO )
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Angka kematian ibu ( AKI ) merupakan salah satu indikator yang menggambarkan indeks pembangunan manusia suatu Negara. World Health Organization ( WHO )
PERKEMBANGAN TERKINI BIOMARKER PADA PREEKLAMPSIA ( UPDATES ON BIOMARKERS IN PREECLAMPSIA ) John Wantania
ABSTRAK PERKEMBANGAN TERKINI BIOMARKER PADA PREEKLAMPSIA ( UPDATES ON BIOMARKERS IN PREECLAMPSIA ) John Wantania Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado Preeklampsia seringkali berakhir dengan
PERBEDAAN KADAR SOLUBLE Fms-LIKE TYROSINE KINASE-1 (sflt-1) dan PLACENTA GROWTH FACTOR (PlGF) PADA PREEKLAMPSIA DAN KEHAMILAN NORMAL TESIS
PERBEDAAN KADAR SOLUBLE Fms-LIKE TYROSINE KINASE-1 (sflt-1) dan PLACENTA GROWTH FACTOR (PlGF) PADA PREEKLAMPSIA DAN KEHAMILAN NORMAL TESIS Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Magister
Dr. Indra G. Munthe, SpOG
Dr. Indra G. Munthe, SpOG PENDAHULUAN Suatu kumpulan gejala berupa trombosis vena atau arteri disertai peninggian kadar antibodi anti post polipid (APA). SAF mengakibatkan kegagalan kehamilan yg berubungan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) memiliki banyak risiko
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) memiliki banyak risiko mengalami permasalahan pada sistem tubuh, karena kondisi tubuh yang tidak stabil. Kematian perinatal
BAB I PENDAHULUAN. individu. Pemberian antibiotik seperti penisilin pada streptococcal faringitis turut
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Stenosis mitral adalah kondisi dimana terjadi hambatan aliran darah dari atrium kiri ke ventrikel kiri pada fase diastolik akibat penyempitan katup mitral. Stenosis
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Angka Kematian Ibu (AKI) dapat menggambarkan status gizi dan kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan, serta tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil,
Disusun oleh : Intiyaswati. membengkak dan pada pemeriksaan laboratorium dijumpai protein didalam urine
SINOPSIS RENCANA TESIS EFEKTIFITAS METODE ROLL OVER TEST (ROT) DAN METODE PEMERIKSAAN PROTEIN URINE CELUP TERHADAP DETEKSI DINI PRE EKLAMPSIA PADA IBU HAMILTRIMESTER II DAN III DI BKIA RS.WILLIAM BOOTH
BAB 1 PENDAHULUAN. membuat kadar kolesterol darah sangat sulit dikendalikan dan dapat menimbulkan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pola makan modern yang banyak mengandung kolesterol, disertai intensitas makan yang tinggi, stres yang menekan sepanjang hari, obesitas dan merokok serta aktivitas
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Hasil Penelitian Berdasarkan penelitian yang dilakukan selama bulan September hingga Oktober, sebanyak 256 populasi pasien rawat inap yang mendapatkan induksi
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia saat ini masih tinggi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia saat ini masih tinggi dibandingkan dengan AKI negara-negara ASEAN lainnya. Angka kematian ibu di Indonesia pada tahun 2006 sebanyak
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Preeklampsi 1. Pengertian Preeklampsia sejak dahulu didefinisikan sebagai trias yang terdiri dari hipertensi, proteinuria, dan edema pada wanita hamil. Eklampsia adalah kejang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Selama kehamilan, wanita dihadapkan pada berbagai komplikasi yang mungkin terjadi, salah satunya adalah abortus. Abortus adalah kejadian berakhirnya kehamilan secara
BAB 1 PENDAHULUAN. kontributor utama terjadinya aterosklerosis. Diabetes mellitus merupakan suatu
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2 adalah insiden kardiovaskuler yang didasari oleh proses aterosklerosis. Peningkatan Agregasi
BAB I PENDAHULUAN. membahayakan, merupakan penyakit saluran cerna pada neonatus, ditandai
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Enterokolitis nekrotikans (EKN) adalah penyakit yang umum sekaligus membahayakan, merupakan penyakit saluran cerna pada neonatus, ditandai dengan kematian jaringan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kanker Ovarium merupakan penyebab utama kematian dari kanker ginekologi. Selama tahun 2012 terdapat 239.000 kasus baru di seluruh dunia dengan insiden yang bervariasi
HUBUNGAN KARAKTERISTIK IBU BERSALIN DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI RUMAH SAKIT UMUM Dr. SOEDIRAN WONOGIRI SKRIPSI
HUBUNGAN KARAKTERISTIK IBU BERSALIN DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI RUMAH SAKIT UMUM Dr. SOEDIRAN WONOGIRI SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana S1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Preeklampsia di dalam kehidupan awam sehari-hari dikenal sebagai
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Preeklampsia Preeklampsia di dalam kehidupan awam sehari-hari dikenal sebagai keracunan dalam kehamilan. Banyak orang yang kurang memahami mengapa dapat terjadi keracunan saat
