BAB III SOLUSI BISNIS
|
|
|
- Ida Tedjo
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB III SOLUSI BISNIS 3.1 Alternatif Solusi Bisnis Untuk memecahkan rumusan tantangan bisnis yang dihadapi Trijaya Transport dalam implementasi sistem hybrid, terdapat beberapa alternatif solusi yang dapat ditempuh, dengan syarat desain rumusan yang akan disajikan sebagai solusi tersebut harus pula mempertimbangkan kondisi dan batasan-batasan yang telah terdefinisikan dalam analisis five forces dan TOWS pada bab sebelumnya. Dengan menggunakan kerangka proses pengembangan produk baru yang terdapat pada buku Peter & Donnelly, akan didapat kerangka analisis untuk menelaah pros & cons beberapa alternatif solusi secara sistematis dengan tujuan akhir untuk memberikan alternatif terbaik beserta rencana implementasinya berdasarkan karakteristik perusahaan Trijaya Transport. Gambar 3.1 New Product Development Process (Peter&Donnelly, 2004:103) Sesuai dengan diagram proses diatas, system hybrid Trijaya Transport akan dianalisis melalui tahapan idea generation, idea screening dan project planning untuk mengkaji berbagai alternatif yang ada dalam kaitannya dengan faktor-faktor yang akan mempengaruhinya beserta kondisi internal Trijaya Transport sendiri. Tahap product development dan test marketing adalah pengkajian analisis solusi bisnis dimana alternatif implementasi terbaik telah dipilih dan ditelaah lebih dalam dengan memanfaatkan masukan dari pengguna. Tahap terakhir, commercialization adalah rencana implementasi yang akan dibahas dalam bab terakhir penelitian ini. 30
2 3.1.1 Proses Idea Generation Sistem Hybrid Sistem hybrid dalam Trijaya Transport muncul sebagai ide pertama kali sebagai reaksi atas dua hal berikut: Mulai beroperasinya PO Primajasa sebagai penyelenggara travel rute Bandung-Bandara Soekarno Hatta dengan harga murah pada Oktober Munculnya PO Primajasa ini telah mengakibatkan menurunnya pendapatan karena para pelanggan Trijaya lebih memilih untuk menggunakan PO Primajasa yang adalah penyelenggara sistem Point-to- Point. Terdapat indikasi bahwa sistem Door-to-Point yang dianut Trijaya Transport memiliki banyak kelemahan dari segi biaya operasional yang harus dikeluarkan, juga ketidakteraturan waktu perjalanan karena beragamnya alamat yang harus dijemput. Keberagaman ini selain karena Trijaya Transport harus menjemput pelanggan di alamat yang telah ditentukan oleh pelanggan, juga karena dalam industri travel dikenal adanya high season yaitu momen-momen seperti liburan panjang dan hari besar seperti Idul Fitri dan Tahun Baru dimana arus penumpang yang melaksanakan mudik atau pulang kampung sangat tinggi, namun terdapat pula low season yang ditandai oleh menurunnya arus penumpang yang biasa terjadi di bulan-bulan diantara dua libur panjang. Pada saat high season, tidak jarang seorang penumpang harus ikut berputar-putar selama hampir dua jam menjemput penumpang lain. Disaat lain, tidak jarang pula Trijaya harus melakukan penjemputan yang sangat jauh walaupun jumlah penumpang yang harus dijemput tidak banyak. Tidak efektifnya sistem Door-to-Point Trijaya dijelaskan dalam lembar lampiran, yang dianalisis dari manifest penumpang bulan Agustus sampai November Untuk mengantisipasi kelemahan tersebut, maka Trijaya Transport memiliki keinginan untuk menyediakan layanan lebih baik pada pelanggannya dan disaat yang sama mengurangi beban operasinya. Keinginan ini dimanifestasikan dalam upaya untuk mengambil keunggulan sistem Door-to-Point yang biasa dianggap mementingkan kenyamanan dan Point-to-Point yang dianggap sebagai cara murah dan tepat waktu untuk melakukan perjalanan. Dengan pertimbangan hasil survey 31
3 yang mengungkapkan adanya unfulfilled needs dari konsumen terhadap sistem yang ada saat ini maka rumusan sistem hybrid tersebut adalah sebagai berikut: Membuka tidak hanya satu, tapi beberapa titik penjemputan di daerah Bandung yang digunakan sebagai rally point (tempat berkumpul) para pengguna jasa di jam-jam tertentu sesuai jadwal yang ditentukan Trijaya. Beberapa titik ini akan dilayani oleh satu kendaraan yang akan menjemput pengguna di satu-persatu titik keberangkatan pada jam-jam tertentu sebelum akhirnya berangkat ke Bandara Soekarno Hatta. Pengguna dapat memesan tempat dan menunggu di titik penjemputan terdekat dengan domisilinya, agar memudahkan mobilitas dan mengurangi hassle (kerepotan) dalam bepergian. Harga yang ditawarkan oleh Trijaya untuk sistem ini lebih murah daripada harga rata-rata sistem Point-to-Point Rp 100,000.- rupiah. Dalam merumuskan perpaduan sistem ini, Trijaya Transport mengaplikasikan salah satu langkah yang disebut oleh Kim & Mauborgne dalam Blue Ocean Strategy yaitu konsep looking across alternative industries as a path towards a blue ocean strategy, dimana sistem hybrid meminjam modus operasi industri kereta api/subway yang memiliki banyak pemberhentian dalam satu daerah dan akan menjemput pengguna jasa di titik tersebut pada waktu-waktu yang tetap. Rumusan sistem hybrid ini apabila dikaji dalam kerangka analytical tool Eliminate-Reduce-Raise-Create Grid dari Kim & Mauborgne maka akan didapat paparan sebagai berikut: Gambar 3.2 Analisa Grid Sistem Hybrid Trijaya Transport 32
4 Setelah tahap perumusan idea tentang sistem hybrid, maka tahap selanjutnya adalah pengkajian kecocokan rumusan ini dengan faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi bisnis Trijaya Transport Proses Idea Screening Sistem Hybrid Proses idea screening adalah pengkajian atas ide yang telah dirumuskan sebelumnya untuk meminimalisasi resiko-resiko yang akan dihadapi apabila ide tersebut diimplementasikan. Secara lebih rinci, proses idea screening menilik sistem hybrid Trijaya dari tiga jenis resiko yaitu: Market Risk, yang merupakan analisa apakah sistem hybrid akan dapat memenuhi kebutuhan pasar dan memberikan added-value yang cukup signifikan untuk menjadi terdiferensiasi daripada value offering yang sudah ada di pasar saat ini (Peter & Donnelly, 2004:104). Sesuai dengan analisa in-depth interview yang dilakukan terhadap para pengguna jasa travel pada bab 2.3, terdapat peluang untuk memenuhi unfulfilled needs dari konsumen yang saat ini menginginkan travel Bandung-Bandara yang murah, tepat waktu tetapi juga nyaman dalam arti tidak membutuhkan upaya ekstra untuk menggunakannya. Sistem Point-to-Point yang saat ini populer memiliki karakteristik murah dan tepat waktu namun terdapat anggapan bahwa terkadang merepotkan untuk mencapai tempat penjemputan, terutama untuk para pengguna yang membawa banyak barang bawaan dan pengguna wanita yang melakukan perjalanan malam. Riset eksploratif lebih lanjut menemukan bahwa para pengguna jasa sering merasakan adanya faktor biaya tambahan berupa uang transport (kendaraan umum, taksi ataupun bensin kendaraan pribadi) yang harus dikeluarkan yang terkadang cukup banyak sehingga menyamai atau bahkan melebihi biaya yang harus dikeluarkan apabila memakai sistem Door-to-Point, tergantung dari jauh-dekatnya posisi pengguna terhadap titik penjemputan. Sistem Door-to-Point sendiri dipersepsikan sebagai merupakan sistem yang lebih mahal daripada Point-to-Point dengan ketepatan waktu yang tidak bisa diandalkan namun sering diasosiasikan 33
5 sebagai sistem yang nyaman karena pengguna tidak harus mengeluarkan upaya ekstra untuk menggunakan sistem ini. Berdasarkan kajian market risk ini maka sistem hybrid yang berupaya menyediakan layanan murah, tepat waktu dan dengan titik penjemputan sebisa mungkin mendekati lokasi pelanggan dapat dinilai sebagai sistem yang akan dapat memberikan added value yang cukup tinggi bagi pengguna jasa. Internal Risk adalah analisa tentang kemampuan perusahaan dalam menyelenggarakan ide yang dirumuskan. Sesuai dengan hasil analisa tentang strength & weakness yang saat ini dihadapi oleh perusahaan, didapati bahwa Trijaya saat ini memiliki armada yang berada dalam posisi under-utilized sehingga tidak harus mengorbankan operasi sehari-harinya maupun menambah armada baru untuk mengimplementasikan sistem hybrid. Namun, potensi hambatan internal datang dari cara operasi Trijaya yang masih mengandalkan manual order taking dan juga sistem filing & database yang masih mengandalkan tulisan tangan. Hal ini berpotensi membuat koordinasi antar-titik penjemputan akan menjadi sulit apabila Trijaya hendak mendelegasikan order taking di titik-titiknya. Alternatif pemecahan masalah ini adalah tetap mensentralkan order taking di kantor pusat Trijaya untuk kemudian kantor pusat mengkoordinasikan pada caretaker point-point penjemputannya. Selain masalah administrasi diatas, posisi Trijaya yang bukan merupakan perusahaan berkapasitas modal besar dapat membatasi kemampuan untuk membiayai investasi yang dibutuhkan untuk pembukaan titik-titik penjemputan dalam skala besar. Alternatif yang dapat dilakukan adalah menjalin kerjasama dengan existing businesses dengan sistem bagi hasil atau sewa sebagian kecil ruang usahanya sebagai ruang tunggu dan keberangkatan Trijaya Transport. Hal ini dinilai feasible untuk dilakukan karena secara garis besar kebutuhan untuk sebuah titik penjemputan tidak banyak, hanya berupa sarana menunggu, counter administrasi dan akses parkir bagi kendaraan Trijaya. Strategic Risk adalah pengkajian mengenai kecocokan ide yang dikembangkan dengan isu-isu strategis yang menjadi kebutuhan 34
6 perusahaan. Dalam hal ini terdapat dua strategic issue utama yang saling terkait yang menjadi perhatian yaitu profitability dari sistem hybrid dan juga reaksi agen terhadap diberlakukannya sistem ini. Dari sisi profitability, sistem hybrid hendak mengambil posisi penawaran harga yang lebih rendah dari harga rata-rata Point-to-Point Rp. 100,000. Pada saat ini Trijaya Transport memiliki harga break even point sekitar Rp. 77,000 yang termasuk didalamnya komponen biaya operasional, biaya perawatan kendaraan, depresiasi kendaraan dan amortisasi asuransi (Sudana 2007:31). Hal ini memiliki implikasi bahwa penawaran harga Trijaya akan berada dalam kisaran Rp. 77,000 s/d Rp 100,000. Dilain pihak, dalam menjalankan bisnisnya, Trijaya saat ini dapat dikatakan bergantung pada para agen yang mendatangkan sekitar 65% dari total pesanan yang dilayani Trijaya. Dalam kerjasama ini, para agen mendapatkan 9% s/d 18% dari harga tiket untuk tiap penumpang tergantung pada frekuensi dan besar pesanan yang didatangkannya (Efendi 2007:4). Hal ini menimbulkan implikasi tersendiri dalam perhitungan profitabilitas karena dengan potongan 18% maka harga minimum yang dapat diterapkan oleh Trijaya adalah diatas Rp. 94,000 untuk masih tetap mendapatkan profit. Untuk mendapatkan profit yang lebih tinggi maka Trijaya harus dapat mengurangi cost structure nya atau melakukan negosiasi ulang tarif komisi terhadap para agen. Dari analisis yang dilakukan terhadap tiga jenis resiko tersebut terungkap batasanbatasan yang harus dihadapi untuk dapat mengimplementasikan sistem hybrid yang memenuhi kebutuhan konsumen dan tetap menjaga profitabilitas perusahaan Project Planning Sistem Hybrid Langkah Project Planning ini dilakukan dengan memfokuskan pada aspek marketing mix, dan tidak membahas aspek aspek internal seperti budgeting, scheduling dan lain-lain secara rinci, sesuai dengan tujuan awal yang disebutkan didalam pendahuluan penelitian ini. 35
7 Pemilihan Daerah Potensial Penjemputan Setelah menganalisis resiko yang mungkin dihadapi dalam menjalankan sistem hybrid, langkah selanjutnya adalah menentukan lokasi-lokasi yang paling potensial untuk pembukaan titik penjemputan di kota Bandung. Untuk keperluan itu, maka penelitian ini menganalisis passenger manifest Trijaya Transport selama bulan Agustus-Desember 2006 dan memetakan lokasi-lokasi pesanan yang dilayani Trijaya selama periode tersebut. Analisis ini mengungkapkan 1970 lokasi penjemputan yang didatangi oleh Trijaya Transport dari 1 Agustus s/d 31 Desember 2006, dengan rincian sebagai berikut: Gambar 3.3 Pemetaan Lokasi Asal Pesanan Trijaya Transport Aug-Dec 2006 Dalam pemetaan diatas, digunakan ilustrasi warna untuk menjelaskan intensitas pesanan, dimana dalam suatu grid, tingginya pesanan berbanding lurus dengan terangnya warna yang digunakan. Khusus untuk daerah Jatinangor dan sekitarnya tidak termasuk didalam peta melainkan dikelompokkan dalam grid J9 untuk menjaga agar skala grid tidak terlalu kecil apabila daerah Sumedang juga disertakan dalam pemetaan tersebut. Sesuai dengan needs dari konsumen yang menginginkan lokasi penjemputan yang dekat agar tidak merepotkan dan mengeluarkan biaya banyak, maka lokasi titik penjemputan paling strategis adalah di daerah dengan intensitas pesanan yang paling tinggi. Dari pemetaan ini didapat 36
8 setidaknya tujuh daerah dengan intensitas pesanan lebih tinggi secara signifikan dari daerah-daerah lainnya yaitu: 1 Daerah Jl. Setiabudi, Geger Kalong dan Setrasari (grid B3, C4) 2 Daerah Dago/ Jl. Juanda, Jl. Dipati Ukur, ruas Surapati-Cicaheum, Pahlawan, Diponegoro dan sekitarnya (grid C5, C6, D5-D8, E6) 3 Daerah Kompleks Antapani, Kompleks Arcamanik (grid F8-F9) 4 Daerah Kopo, Terminal LeuwiPanjang (grid H4-H5) 5 Daerah Kompleks Margahayu Permai (grid H8) 6 Daerah Jatinangor, Jalan Sayang, sekitar Universitas Padjajaran/STPDN (grid J9) Riset eksploratif terhadap daerah-daerah yang tertera diatas menunjukkan bahwa ada beberapa ciri demografis yang sama sehingga daerah-daerah diatas dapat dikelompokkan menjadi sebagai berikut: Daerah Residensial. Daerah yang termasuk dalam daerah ini adalah area nomor (1), (3), (4), (5) dengan ciri-ciri sebagian besar daerah dalam masing-masing grid adalah kompleks perumahan. Riset eksploratif yang dilakukan bersamaan dengan in-depth interview menemukan bahwa pengguna jasa yang tinggal di daerah semacam ini biasanya adalah masyarakat Bandung yang hendak bepergian ataupun pesanan atas nama saudara yang bertandang dan akan pulang kembali ke daerah asalnya diluar Kota Bandung. Daerah Komersial/Zona Pendidikan. Yang termasuk dalam daerah ini adalah area (2) dan (6) dengan ciri-ciri memiliki banyak lokasi perdagangan, perkantoran dan terutama tempat kost. Para pelanggan yang berasal dari daerah ini kebanyakan adalah pelajar/mahasiswa/pegawai yang bukan warga asli Bandung yang secara periodik pulang ke tempat asalnya menggunakan pesawat dari Bandara Soekarno Hatta, khususnya pada musim liburan/ hari besar agama seperti Idul Fitri yang menyebabkan mobilitas dan frekuensi penggunaan travel menjadi lebih tinggi dibandingkan penghuni daerah perumahan/residensial. 37
9 Berdasarkan data tersebut diatas maka didapati kesimpulan bahwa aplikasi sistem hybrid dapat mendatangkan kemungkinan sukses lebih besar apabila titik-titik penjemputan diletakkan pada daerah-daerah potensial yang tertera diatas, dengan zona pendidikan menjadi prioritas utama karena karakteristik penghuni yang berdomisili di zona tersebut Benchmark Terhadap Kompetitor Sejenis Sebelum merancang bauran pemasaran sistem hybrid, penelitian ini melakukan perbandingan/benchmark dengan sistem yang ada untuk menentukan parameterparameter yang menyusun batasan level pelayanan yang saat ini diterima oleh pelanggan. Untuk keperluan benchmark, penelitian ini memilih menganalisis sistem Cipaganti Travel. Hal ini dilakukan sebab Cipaganti Travel adalah salah satu leader dalam usaha travel Bandung-Bandara Soekarno Hatta dan juga menyelenggarakan kedua sistem yang ada, Point-to-Point dan Door-to-Point, untuk rute tersebut. Riset eksploratif yang dilakukan terhadap bauran pemasaran Cipaganti Travel mengungkapkan beberapa fakta dibawah ini terhadap rute Bandung-Bandara nya: Price: Cipaganti Travel memasang harga Rp. 115,000 untuk sistem Doorto-Point dan Rp. 100,000 untuk sistem Point-to-Point Product: Untuk Door-to-Point, Cipaganti Travel akan menjemput pelanggan di alamat yang telah ditentukan oleh pelanggan. Reservasi dilakukan melalui Cipaganti Travel pusat (Jl. Gatot Subroto Bandung). Rata-rata lama perjalanan adalah empat jam, dengan kecenderungan untuk lebih tinggi tergantung pada jumlah pengguna yang harus dijemput. Untuk Point-to-Point, pelanggan dapat melakukan reservasi dan menunggu penjemputan dari tiga titik yaitu Factory Outlet Paris van Java Jl. Cihampelas, Bandung Trade Center (BTC) Jl. Terusan Pasteur, dan Cipaganti Pusat Jl Gatot Subroto. Hal yang unik dalam operasi Cipaganti adalah sistem pooling yang dilakukan, dimana pelanggan yang menunggu di Jl Cihampelas dan BTC Pasteur akan diantar menuju ke Jl. Gatot Subroto untuk kemudian berpindah mobil sebelum akhirnya berangkat ke Bandara Soekarno Hatta. Rata-rata lama waktu perjalanan total adalah 38
10 empat jam dengan perincian satu jam untuk standby dan pooling, tiga jam waktu perjalanan ke tujuan. Place: Seperti yang disebutkan diatas, untuk sistem Point-to-Point Cipaganti menyediakan tiga tempat menunggu dengan sistem pooling. Sebagai ilustrasi, proses keberangkatan Cipaganti Travel tergambar dibawah ini: Gambar 3. 4 Proses Penjemputan Point-to-Point Cipaganti Travel Promotion: Dalam berpromosi, Cipaganti sering memasang iklan di media cetak seperti Pikiran Rakyat dan Tribun Bandung. Selain metode promosi konvensional melalui iklan, Cipaganti juga melakukan kerjasama dengan beberapa bisnis, salah satunya adalah pemberian diskon untuk pembelian produk sepatu Edward Forrer tiap menggunakan Cipaganti Travel Disain Purwarupa Sistem Hybrid Dari bauran pemasaran Cipaganti Travel terutama strategi operasi Point-to-Point dengan sistem pooling, dapat ditarik beberapa parameter pelayanan, khususnya harga Rp 100,000.- dan waktu tempuh perjalanan selama empat jam. Apabila Trijaya hendak mengaplikasikan sistem hybrid, maka bentuk idealnya adalah yang memberikan harga lebih murah dengan waktu tempuh yang sama atau lebih 39
11 sedikit. Dalam analisa bab didapati enam zona yang potensial untuk dijadikan titik penjemputan. Hal ini menjadi masalah karena jarak antar titik tersebut tidak saling berdekatan. Riset yang dilakukan menemukan bahwa untuk menempuh daerah-daerah tersebut dengan kendaran roda empat membutuhkan waktu sekitar 150 menit (2 ½ jam) dengan perincian sebagai berikut: Gambar 3.5 Ilustrasi Perjalanan 7 Titik Penjemputan Trijaya Transport Lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menempuh titik-titik tersebut membuat waktu total yang dibutuhkan untuk mencapai bandara adalah sekitar lima sampai enam jam. Rentang waktu ini lebih lama daripada yang ditawarkan oleh pesaing sehingga menjadi tidak menarik. Untuk menekan waktu yang diperlukan untuk menjemput para pelanggan, penelitian ini memberikan solusi sebagai berikut: Membagi tujuh titik diatas menjadi dua daerah operasi (Daop), yang dilayani oleh dua mobil yang berbeda. Daop 1 akan melayani ring Bandung selatan dengan rute penjemputan Jatinangor- Arcamanik-Margahayu- Kopo-Bandara Daop 2 akan melayani Kota Bandung dengan rute penjemputan Surapati- Dago-Gegerkalong-Bandara Setelah melayani penjemputan, kedua mobil Daop tersebut dapat keduanya menuju Bandara atau berkumpul terlebih dahulu untuk pooling dan 40
12 menggabungkan penumpang dalam satu mobil seandainya jumlah penumpang mencukupi satu mobil saja. Dengan strategi diatas maka rute masing masing DaOp dapat diilustrasikan sebagai berikut: Gambar 3. 6 Ilustrasi Sistem Hybrid Trijaya Dengan Dua Daerah Operasi Dengan membagi dua rute yang harus dijemput, waktu penjemputan bisa dikurangi menjadi paling lama sekitar 80 menit untuk Daop 1 dan 60 menit untuk Daop 2, sehingga waktu total perjalanan bisa ditekan menjadi sekitar empat jam saja. Waktu tempuh penjemputan ini bisa menjadi lebih rendah karena tidak setiap waktu para pelanggan akan selalu ada di tiap titik penjemputan sehingga tidak setiap titik dalam rute yang ditempuh perlu didatangi. Sebagai tambahan, Trijaya dapat menjalin kerjasama sejenis seperti yang dilakukan Cipaganti dengan berbagai usaha yang ada di Kota Bandung berupa potongan harga atau program kemitraan lainnya sebagai servis pada pelanggan, terutama apabila Trijaya hendak memberlakukan sistem kerjasama pengadaan titik penjemputan dengan usaha yang ada di daerah-daerah potensial. 41
13 3. 2 Analisis Solusi Bisnis Setelah melalui beberapa tahapan untuk memilih solusi terbaik dalam implementasi sistem hybrid Trijaya Transport, didapat kesimpulan bahwa sistem hybrid akan mempunyai kemungkinan sukses lebih besar apabila dilaksanakan dengan mempertimbangkan hal-hal berikut: Menerapkan prinsip jasa travel yang tepat waktu, nyaman, dan murah. Trijaya harus memperbaiki sistem administrasi dan order taking agar memudahkan koordinasi, juga pengumpulan informasi guna memudahkan evaluasi dan pengambilan keputusan strategis tentang implementasi berjalan sistem hybrid. Trijaya harus dapat menyiasati keterbatasan modalnya dan menjalin kerjasama dengan berbagai pihak yang berpotensi sebagai mitra kerjasama dalam pembukaan titik penjemputan di Bandung. Trijaya harus dapat menegosiasikan kembali komisi untuk agen apabila ingin memposisikan penawarannya secara murah namun tetap menguntungkan secara finansial. Penyebaran asal pesanan Trijaya menunjukkan adanya konsentrasi pelanggan Trijaya di daerah-daerah tertentu. Trijaya disarankan untuk membuka titik-titik penjemputannya di daerah yang telah dianalisis, dengan prioritas pada zona pendidikan yang karakteristik penghuninya lebih sering menggunakan travel daripada zona residensial. Trijaya harus dapat menekan waktu tempuh perjalanannya menjadi maksimal empat jam sehingga diperlukan pembagian titik-titik penjemputan menjadi dua daerah operasi, daerah Bandung selatan dan Kota Bandung. Dengan mengasumsikan bahwa semua langkah diatas dapat diaplikasikan oleh Trijaya, maka langkah selanjutnya adalah mengembangkan bauran pemasaran untuk sistem hybrid Trijaya Transport dan melakukan test pasar untuk mengetahui apakah sistem ini dapat diterima dengan baik oleh para pengguna jasa. Pengembangan bauran pemasaran sistem ini akan dibahas dalam proses Project Development dan test pasar dilakukan dalam kerangka proses Test Marketing. 42
14 3.2.1 Project Development Sistem Hybrid Setelah menyaring berbagai masukan alternatif dan menganalisis berbagai data yang tersedia, maka penelitian ini sampai pada kesimpulan bahwa marketing mix untuk sistem hybrid Trijaya Transport adalah sebagai berikut: Product: Survey persepsi yang telah dilakukan mengungkapkan bahwa konsumen mengidentifikasikan Point-to-Point dengan harga murah, tepat waktu tetapi menimbulkan kerepotan dan biaya tambahan karena tempat penjemputannya jauh dari domisili konsumen, sedangkan Door-to-Point diidentifikasikan sebagai layanan yang mahal, sering tidak tepat waktu tetapi nyaman karena konsumen tidak harus meninggalkan rumah. Keunggulan Value offering sistem hybrid Trijaya adalah memberikan jasa travel Bandung-Bandara Soekarno Hatta yang memadukan the best of both sides antara sistem Point-to-Point dan Door-to-Point. Sistem ini merupakan sistem yang tepat waktu, mempunyai titik penjemputan relatif dekat dengan domisili pengguna jasa, tetapi dengan penawaran harga yang ringan. Untuk lebih memberikan kepuasan pada pelanggan, waktu total perjalanan dari tempat penjemputan sampai ke bandara ditetapkan maksimal empat jam. Waktu tempuh ini dicapai dengan memisahkan titik-titik penjemputan menjadi dua daerah operasi, walaupun berarti membutuhkan investasi yang lebih besar. Pada prakteknya dalam sistem ini konsumen tidak memerlukan edukasi yang tinggi ataupun level keterlibatan baru dalam menggunakan sistem ini karena kemiripannya dengan sistem Point-to-Point namun dengan elemen commuter yang melayani beberapa titik penjemputan seperti layaknya kereta api/subway. Mudahnya penggunaan oleh konsumen terhadap sistem baru ini akan memudahkan penerimaan dan penyerapan produk ini oleh pasar. Faktor lain yang mempermudah penerimaan dan penyerapan produk ini oleh pasar adalah Trijaya Transport sebagai perusahaan yang telah berdiri cukup lama dan memiliki credentials cukup baik dimata konsumen selain customer base yang cukup banyak yang dibuktikan oleh jumlah pelanggan yang dilayani oleh Trijaya selama Agustus-Desember Hal ini memudahkan pengenalan produk 43
15 baru karena selain Trijaya mempunyai akses kepada existing customers yang cukup besar, nama Trijaya juga cukup familiar di kalangan pengguna travel Bandung-Bandara sehingga mengurangi rasa distrust kepadanya oleh para calon konsumen saat diperkenalkannya produk baru ini. Aspek yang harus diperbaiki oleh Trijaya apabila ingin memperkenalkan layanan ini adalah sistem koordinasi dan pencatatan pesanan, agar dapat mengantisipasi kemungkinan lonjakan pesanan apabila sistem ini berhasil dan diminati oleh konsumen. Perbaikan pencatatan juga sangat berguna untuk pengumpulan informasi dan pengambilan keputusan tindak lanjut di masa depan. Place: Penelitian ini telah menemukan bahwa pelanggan Trijaya berasal dari tujuh zona utama di Kota Bandung dan sekitarnya, yaitu daerah Setiabudi, Dago, Surapati, Kopo, Margahayu, Antapani dan Jatinangor. Berdasarkan hal ini maka kesimpulan logis yang dapat diambil adalah Trijaya harus meletakkan titik-titik penjemputannya pada zona-zona tersebut sehingga Trijaya akan memiliki tujuh lokasi penjemputan. Lokasi penjemputan ini idealnya merupakan kantor-kantor cabang Trijaya yang mampu melayani order dan menyediakan tempat menunggu yang nyaman. Namun, mengingat Trijaya bukan perusahaan dengan dukungan modal yang terlalu besar, maka lokasi titik penjemputan ini dapat berupa sepetak lokasi yang disewa Trijaya untuk memenuhi tiga fasilitas dasar yang harus dimiliki sebuah titik penjemputan: (1) tempat menunggu kendaraan datang, (2) akses dan tempat parkir untuk kendaraan Trijaya dan (3) counter bagi caretaker/staf Trijaya di lokasi. Perwujudan tempat penjemputan sederhana seperti yang disebutkan diatas mudah untuk dilakukan dan sudah menjadi praktek yang cukup umum ditemui di Kota Bandung, antara lain dengan sering ditemuinya jasa cuci/semir mobil yang hanya menyewa beberapa slot parkir di basement parking beberapa tempat perbelanjaan di Bandung. Bentuk usaha potensial yang dapat dipilih untuk diajak bekerjasama dalam pembukaan titik penjemputan adalah tempat usaha jenis food & beverages, hotel/penginapan, atau supermarket dengan alasan bahwa jenis usaha seperti ini dapat dikategorikan sebagai industri komplementer bagi travel, dimana para pengguna travel jurusan 44
16 bandara seringkali adalah pendatang yang menginap di hotel, dan juga para pengguna travel biasanya membeli makanan, minuman, snack ataupun bahan bacaan untuk di perjalanan, sehingga merupakan tempat yang nyaman bagi pengguna jasa untuk melewatkan waktunya menunggu datangnya kendaraan penjemput. Selain itu, tempat usaha seperti jenis diatas seringkali memiliki kapasitas parkir lebih dari cukup yang dapat dimanfaatkan oleh Trijaya. Berdasarkan alasan-alasan tersebut diatas maka penelitian ini memilih tempattempat sebagai berikut sebagai tempat paling potensial untuk dijadikan titik penjemputan di masing-masing daerah: Ruko Indomart/Kentucky Fried Chicken Margahayu Raya/Metro Ruko Borma/Dunkin Donuts Antapani pertigaan Jl Jakarta/Jl. Purwakarta Lapangan parkir Hotel terbesar di Jatinangor: Puri Khatulistiwa Pertokoan sekitar Terminal Leuwi Panjang Lapangan parkir Hero persimpangan Jl. Pahlawan/Jl. Surapati Lapangan parkir Salon & Wartel Memory, Simpang Dago Pujasera pertigaan Jl. Setiabudi-Jl Gerlong Girang Promotion: Salah satu faktor yang cukup signifikan dalam aplikasi sistem hybrid adalah kemungkinan reaksi kompetitor. Telah disinggung sebelumnya bahwa munculnya sistem ini dapat memicu berbagai reaksi dari kompetitor, dengan tiga kecenderungan reaksi utama yaitu meniru sistem Trijaya, tetap dengan sistemnya tetapi menurunkan harga, atau rival mengkombinasikan keduanya dengan mengaplikasikan sistem Trijaya yang dimodifikasi sesuai dengan kemampuan atau karakteristik perusahaan rival tersebut. Karena reaksi-reaksi ini merupakan reaksi yang sifatnya tidak dapat dihindarkan/inevitable, maka penelitian ini menyarankan agar dalam melakukan promosi produknya Trijaya melakukan halhal berikut ini: Mengkomunikasikan produk ini dengan penekanan bahwa Trijaya adalah pelopor sistem hybrid yang memadukan keuntungan dua jenis sistem travel yang ada saat ini, sehingga pengguna mengidentifikasikan sistem hybrid sebagai sistem Trijaya 45
17 Dalam mengkomunikasikan sistem yang baru ini Trijaya disarankan untuk menghindari penggunaan jargon hybrid karena diperkirakan bahwa berkat maraknya pemberitaan media mengenai mesin berbahan baker bio-diesiel dan mulai dimasyarakatkannya kendaraan berbahanbakar gas, persepsi masyarakat Indonesia pada umumnya pada konsep hybrid adalah kendaraan berbahan bakar alternatif. Karena sistem baru ini mengadopsi sebagian cara operasinya dari kereta api/subway maka sebagai pengganti istilah hybrid pada saat mengkomunikasikan produk diusulkan penggunaan jargon Trijaya Rapid Transport, atau dipersingkat menjadi Trijaya Rapid yang meminjam istilah dari Mass Rapid Transportation (MRT), nama sebuah layanan subway di Singapura yang identik dengan layanan tepat waktu, efektif dan terjangkau, sehingga dalam mengkomunikasikan produknya Trijaya dapat pula menonjolkan aspek-aspek keunggulan yang ditawarkan seperti murah dan tujuh pilihan tempat keberangkatan. Agar tidak menimbulkan kerancuan penelitian ini tetap akan menggunakan istilah hybrid. Secara above the line, komunikasi produk yang menonjolkan aspek-aspek diatas dapat dilakukan melalui media cetak. Langkah ini sesuai dengan hasil penelitian yang menyimpulkan bahwa media pilihan pertama pengguna Trijaya untuk mendapatkan informasi mengenai travel adalah koran, lebih khususnya koran pada akhir pekan edisi hari Sabtu yang selalu memuat lebih banyak proporsi iklan dan penawaran-penawaran dibanding hari lain (Prasojo, 2007:70). Untuk jenis iklan di koran ini, Trijaya disarankan untuk menyediakan anggaran belanja iklan lebih tinggi untuk beralih ke iklan blok yang dapat memuat lebih banyak informasi serta lebih menarik perhatian daripada iklan baris yang selama ini digunakan. Untuk jenis promosi below the line, cara yang diperkirakan akan efektif untuk dilakukan oleh Trijaya adalah mengusahakan level pelayanan jasa yang prima pada pelanggannya untuk mendapatkan word of mouth yang positif, karena walaupun tidak ada studi mengenai efektifitas word of mouth dalam konteks 46
18 bisnis Trijaya Transport, pendapat Lovelock & Writz dalam Services Marketing patut diperhatikan bahwa dalam usaha jasa..reccomendations from other customers are generally viewed as more credible than firm-initiated promotional activities (2004:141). Price: Sebagai elemen terakhir dalam bauran pemasaran sistem hybrid Trijaya, penelitian ini menganggap hasil survey Riani K. Sudana tahun 2007 terhadap pengguna jasa Trijaya mengenai persepsi pricing ideal yang pantas dibayar untuk jasa travel Bandung-Bandara Soekarno Hatta sebesar Rp 90,000 merupakan harga yang ideal karena lebih rendah dari harga travel Point-to-Point pengusaha travel leader Cipaganti Travel Rp 100,000,- sedangkan menurut penelitian yang sama harga break even point (BEP) Trijaya adalah Rp 77,000 sehingga Trijaya masih mendapatkan untung yang cukup besar per penumpang. Namun, informasi terkini yang diperoleh adalah adanya komisi kepada agen yang bisa mencapai 18% dari harga tiket yang menyebabkan apabila Trijaya menetapkan harga Rp. 90,000 maka revenue yang diterimanya setelah potongan komisi berada dibawah BEP. Untuk mengantisipasi hal ini maka Trijaya harus mengadakan negosiasi ulang dengan para agen mengenai tarif komisinya. Negosiasi ini bisa dilakukan karena Trijaya memiliki bargaining leverage berupa sistem baru yang berpotensi menjaring lebih banyak penumpang sehingga para agen kemungkinan besar bisa dibujuk untuk setuju dengan komisi lebih rendah untuk ditukar dengan volume yang lebih tinggi, sehingga harga Trijaya bisa ditetapkan sebesar Rp 90, Test Marketing Sistem Hybrid Setelah merumuskan bauran pemasaran yang akan diimplementasikan oleh Trijaya, maka langkah selanjutnya adalah langkah Test Marketing yang disebut oleh Peter&Donnelly sebagai langkah untuk to evaluate and adjust, as necessary, the general product marketing strategy and the appropriate marketing mix (2004:106). Karena keterbatasan sumber daya Trijaya Transport, maka tes pasar sistem hybrid ini tidak dapat dilakukan dengan mengadakan test market sebenarnya yang 47
19 melibatkan berjalannya transaksi jual-beli sistem hybrid. Tes pasar yang dilakukan bersifat in-depth interview dengan alat bantu berupa ilustrasi mengenai berjalannya sistem hybrid yang akan diberlakukan beserta ilustrasi pembanding yang menjelaskan sistem Point-to-Point. Dalam melakukan wawancara diberlakukan parameter-parameter sebagai berikut terhadap responden: Responden adalah laki-laki/perempuan yang pernah menggunakan jasa travel sistem Point-to-Point dan Door-to-Point Responden mewakili berbagai elemen pengguna jasa travel (mahasiswa, pegawai, ibu rumah tangga, dan lain-lain) Responden berdomisili di salah satu daerah potensial pembukaan titik penjemputan Berdasarkan batasan tersebut dan sumberdaya yang disediakan Trijaya maka penelitian ini memilih untuk mewawancara 30 responden yang berdomisili di daerah Surapati-Dipati Ukur-Dago. Hal ini dilakukan karena masyarakat yang berdomisili di daerah tersebut lebih majemuk daripada daerah lain karena di daerah tersebut banyak dijumpai institusi pendidikan, tempat kost, zona perdagangan, juga residensial. Hasil Content Analysis terhadap keywords yang muncul saat wawancara terhadap para responden adalah sebagai berikut: Tabel 3.1 Content Analysis Wawancara Mengenai Sistem Hybrid Trijaya Dari hasil diatas terdapat beberapa fakta yang dapat dianalisis yaitu: Responden lebih banyak mengeluarkan komentar positif daripada negative terhadap sistem hybrid 48
20 Hal yang paling dianggap menarik oleh responden mengenai sistem ini adalah harga murah (45% dari pendapat positif) dan lokasi titik penjemputan yang dekat rumah (35%) Para responden memiliki persepsi bahwa sistem hybrid memiliki potensi keterlambatan yang besar (50% dari pendapat negatif). Hal ini dikarenakan responden melihat potensi macet dalam perjalanan antar titik dan juga stigma tradisional mengenai perilaku orang Indonesia yang sering terlambat, dalam hal ini baik konsumen maupun kendaraan sehingga akan merusak ketepatan waktu. Seperti yang telah diperkirakan sebelumnya, sebagian yang cukup besar dari responden memilih untuk menunggu referensi dari pihak ketiga bahwa sistem hybrid dapat berjalan dengan sukses (40%) Dari hasil tersebut dapat ditarik evaluasi bahwa konsumen menghargai aspek harga murah, ketepatan waktu dan dekatnya titik jemput dengan domisili mereka. Kurang percayanya konsumen pada suatu sistem baru merupakan hal yang wajar dan Trijaya harus dapat melaksanakan sistem ini dengan baik agar konsumen menyebarkan word of mouth yang positif dan menciptakan product image yang baik. 49
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Business Assignment
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Business Assignment Program studi Master of Business Administration Institut Teknologi Bandung (MBA-ITB) menekankan pentingnya pemahaman dan penguasaan atas dinamika
BAB 5 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI STUDI DALAM PENGEMBANGAN KA BANDARA SOEKARNO-HATTA
BAB 5 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI STUDI DALAM PENGEMBANGAN KA BANDARA SOEKARNO-HATTA Pada bab sebelumnya telah dilakukan analisis-analisis mengenai karakteristik responden, karakteristik pergerakan responden,
REKOMENDASI MARKETING MIX DALAM IMPLEMENTASI SISTEM HYBRID UNTUK TRAVEL DENGAN RUTE BANDUNG-BANDARA SOEKARNO HATTA DI TRIJAYA TRANSPORT PROYEK AKHIR
REKOMENDASI MARKETING MIX DALAM IMPLEMENTASI SISTEM HYBRID UNTUK TRAVEL DENGAN RUTE BANDUNG-BANDARA SOEKARNO HATTA DI TRIJAYA TRANSPORT PROYEK AKHIR Oleh : AGUNG YOGA SEMBADA NIM : 29105001 Program Magister
Porter s Five Forces di Trijaya Transport
BAB II EKSPLORASI ISU BISNIS 2.1 Perumusan Conceptual Framework Dalam penelitian proyek akhir ini dasar pemikiran awal yang terbentuk mengacu pada analisis appeal dan rencana implementasi sistem hybrid
BAB I PENDAHULUAN. diberikan antara satu penyedia jasa (service provider) dengan pemberi jasa
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Industri jasa saat ini berkembang dengan sangat cepat. Persaingan yang terjadi saat ini sangat kompetitif dalam bidang industry ini. Pelayanan yang diberikan
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Analisis Porter Strategi kompetitif merupakan suatu framework yang dapat membantu perusahaan untuk menganalisa industrinya secara keseluruhan, serta menganalisa kompetitor dan
BAB I PENDAHULUAN. Setiap orang akan selalu berusaha untuk terus memenuhi kebutuhannya dengan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Setiap orang akan selalu berusaha untuk terus memenuhi kebutuhannya dengan menggunakan atau mengkonsumsi barang atau jasa yang ada. Dengan semakin meningkatnya
Universitas Kristen Maranatha 1 BAB I PENDAHULUAN. lebih baik. Menurut data dari BPS.go.id, jumlah pertumbuhan penduduk DKI Jakarta dari
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Dengan kondisi perekonomian Indonesia yang masih dalam tahap pertumbuhan, sehingga mau tidak mau harus terus berbenah diri karena sedang menuju ke arah
BAB 2 KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN
BAB 2 KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Penjualan Pribadi (Personal Selling) Menurut Kotler (2010: 29), pemasaran adalah suatu proses sosial-manajerial yang membuat seorang
BAB I PENDAHULUAN. keseharian sampai saat ini masih menjadi andalan, khususnya pemenuhan. dalam peningkatan pelayanan angkutan publik.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Moda transportasi darat untuk memenuhi mobilitas masyarakat dalam keseharian sampai saat ini masih menjadi andalan, khususnya pemenuhan mobilitas dalam
BAB I PENDAHULUAN 1.6 LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1.6 LATAR BELAKANG Dengan perkembangan zaman sekarang ini, semakin banyak orang yang memerlukan sarana transportasi antar kota yang aman. Apalagi pada tahun 2005 setelah adanya akses
BAB I PENDAHULUAN. melakukan pembelian (Lee et al., 2011). Zeithaml et al. (2013) berpendapat bahwa
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Munculnya internet telah mengubah sudut pandang seluruh kalangan bisnis dari produsen hingga konsumen. Internet telah menciptakan peluang bagi perusahaan untuk lebih
BAB 1 PENDAHULUAN. Kebutuhan adalah keadaan merasa tidak memiliki kepuasan dasar dan bersifat
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Manusia mempunyai banyak kebutuhan yang harus dipenuhi, baik kebutuhan yang bersifat biogenetik seperti rasa lapar dan haus maupun kebutuhan yang bersifat
BAB I PENDAHULUAN. merupakan Ibu kota negara Republik Indonesia. Jakarta sering disebut sebagai kota
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Daerah Khusus Ibukota Jakarta atau biasa disebut dengan nama DKI Jakarta, merupakan Ibu kota negara Republik Indonesia. Jakarta sering disebut sebagai kota metropolitan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pemasaran 2.1.1 Pengertian Pemasaran Perusahaan melakukan kegiatan pemasaran pada saat perusahaan ingin memuaskan kebutuhannya melalui sebuah proses transaksi. Pemasaran juga
BAB I PENDAHULUAN. bagi pemenuhan kebutuhan transportasi yang cepat dan aman. Perkembangan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Semakin berkembangnya bidang teknologi dan perubahan pola kehidupan manusia yang semakin cepat membuat begitu banyak aktivitas yang harus dilakukan oleh manusia untuk
BAB I PENDAHULUAN. menggunakan lintasan rel. Sementara Bus dan shuttle Travel menggunakan jalanan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Transportasi digunakan untuk berpindah dari suatu tempat ke tempat lainnya. Moda transportasi yang sering digunakan adalah moda tranportasi darat. Moda transportasi
LANDASAN TEORI. memberikan informasi mengenai barang atau jasa dalam kaitannya dengan. memuaskan kebutuhan dan keinginan manusia.
II. LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Pemasaran Pemasaran adalah proses penyusunan komunikasi terpadu yang bertujuan untuk memberikan informasi mengenai barang atau jasa dalam kaitannya dengan memuaskan kebutuhan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Perkembangan teknologi dan industri membawa pengaruh besar bagi kehidupan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Perkembangan teknologi dan industri membawa pengaruh besar bagi kehidupan manusia terutama dalam dunia usaha sekarang ini. Bisnis di zaman sekarang ini telah
BAB I PENDAHULUAN. mobilitas diberbagai tempat, tidak heran jika manusia selalu membutuhkan sarana
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan teknologi dan industri membawa pengaruh besar bagi kehidupan manusia terutama dalam dunia usaha sekarang ini. Bisnis di era abad ke-21 telah berkembang
BAB II MANAJEMEN PEMASARAN
BAB II MANAJEMEN PEMASARAN 2.1 Konsep Pemasaran Pemasaran tidak bisa dipandang sebagai cara yang sempit yaitu sebagai tugas mencari cara-cara yang benar untuk menjual produk/jasa. Pemasaran yang ahli bukan
BAB 1 PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dewasa ini, kebutuhan akan penggunaan alat transportasi semakin meningkat. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya peningkatan penggunaan jasa transportasi umum
BAB I PENDAHULUAN. dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Transportasi berperan penting dalam
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Transportasi merupakan suatu bagian yang tidak dapat dipisahkan dan sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Transportasi berperan penting dalam menunjang
BAB 4 KARAKTERISTIK DAN PREFERENSI PENGGUNA POTENSIAL KA BANDARA SOEKARNO-HATTA
BAB 4 KARAKTERISTIK DAN PREFERENSI PENGGUNA POTENSIAL KA BANDARA SOEKARNO-HATTA Bab ini berisi analisis mengenai karakteristik dan preferensi pengguna mobil pribadi, taksi, maupun bus DAMRI yang menuju
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bisnis pasar modern sudah cukup lama memasuki industri retail Indonesia dan dengan cepat memperluas wilayahnya sampai ke pelosok daerah. Bagi sebagian konsumen pasar
BAB I PENDAHULUAN. Jasa transportasi merupakan salah satu bidang usaha yang memegang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jasa transportasi merupakan salah satu bidang usaha yang memegang peranan penting dalam perekonomian terutama kebutuhan mobilisasi manusia dari satu tempat ke tempat
BAB 1 PENDAHULUAN. bisnis harus menghadapi tuntutan bisnis yang terus menerus mengalami
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam dunia bisnis, suatu persaingan antara perusahaan sudah menjadi tradisi yang tidak dapat dihindari. Tetapi perusahaan yang ingin bertahan dalam dunia bisnis
BAHAN AJAR Jurusan : Administrasi Bisnis Konsentrasi : Mata Kuliah : Pengantar Bisnis
BAB 7 Manajemen Pemasaran 7.1. Konsep-Konsep Inti Pemasaran Pemasaran adalah sistem keseluruhan dari kegiatan usaha yang ditujukan untuk merencanakan produk, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Transportasi Transportasi adalah pergerakan orang dan barang bisa dengan kendaraan bermotor, kendaraan tidak bermotor atau jalan kaki, namun di Indonesia sedikit tempat atau
BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya perusahaan didirikan adalah untuk menggabungkan semua
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada dasarnya perusahaan didirikan adalah untuk menggabungkan semua potensi efektif yang ada untuk mencapai tujuan tertentu, tidak peduli bagaimana bentuk struktur
BAB I PENDAHULUAN. kepuasaan pelanggan untuk memaksimalkan laba dan menjaga. keberlangsungan perusahaanya. Hal ini juga untuk memberikan kepuasan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perusahaan yang menghasilkan barang dan jasa perlu menjaga kepuasaan pelanggan untuk memaksimalkan laba dan menjaga keberlangsungan perusahaanya. Hal ini juga untuk
I. PENDAHULUAN. pemasaran untuk merancang program pemasarannya. Konsep pemasaran tersebut
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam konsep pemasaran modern, banyak perusahaan yang mengacu pada bauran pemasaran untuk merancang program pemasarannya. Konsep pemasaran tersebut dijadikan acuan
BAB 1 PENDAHULUAN. Peranan sektor jasa semakin lama semakin luas dan canggih dalam kehidupan
1.1. Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN Peranan sektor jasa semakin lama semakin luas dan canggih dalam kehidupan ekonomi, sehingga banyak bermunculan penyedia jasa dengan berbagai jenis layanan
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penulisan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penulisan Transportasi merupakan alat yang di gunakan oleh kalangan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari untuk melakukan perpindahan tempat satu ke tempat lainya.
I. PENDAHULUAN. Sebagai negara kepulauan terluas di dunia dengan total luas 1,9 juta km 2,
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebagai negara kepulauan terluas di dunia dengan total luas 1,9 juta km 2, Indonesia merupakan salah satu negara dengan potensi perpindahan barang dan orang terbesar di
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Manajemen Pemasaran Pengertian manajemen pemasaran menurut Adi (2006:6) adalah suatu analisis, perencana, pelaksanaan serta kontrol program-program yang telah direncanakan
BAB III METODOLOGI. Market Assessment. Marketing Strategy. Business Plan. Conclusion
40 BAB III METODOLOGI 3.1. Kerangka Pikir Market Assessment SWOT Porter s Five Forces Marketing Strategy Business Plan Conclusion Gambar 3.1 Kerangka Pikir 41 3.2. Penjelasan Kerangka Pikir Pertama-tama,
BAB 4. ANALISIS dan HASIL PENELITIAN
BAB 4 ANALISIS dan HASIL PENELITIAN 4.1 Pelaksanaan Kegiatan Distribusi Perusahaan Untuk melaksanakan kegiatan pemasarannya, PT. ANUGERAH IDEALESTARI telah menunjuk PT. ANUGERAH CENTRAL AUTOMOTIVE sebagai
bisnis yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, memuaskan kebutuhan, baik kepada pembeli yang ada maupun pembeli
BAB II LANDASAN TEORI A. PEMASARAN 1. Pengertian dari Pemasaran Pemasaran merupakan salah satu dari kegiatan-kegiatan pokok yang dilakukan oleh para pengusaha dalam usahanya untuk mempertahankan kelangsungan
BAB 1 PENDAHULUAN. dari sudut pandang ruang dan waktu. Persaingan yang ketat inipun tidak hanya
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Menjelang memasuki tahun 2010 (APEC) dan tahun-tahun selanjutnya didunia ini masing-masing negara seperti tidak mempunyai batas lagi, ditinjau dari sudut pandang
BAB III SOLUSI BISNIS
BAB III SOLUSI BISNIS Berdasarkan hasil analisis pada akar permasalahan pada Bab II, disimpulkan bahwa permasalahan bagi Diamond Supermarket (D BEST Fatmawati) pada saat ini adalah image Diamond Supermarket
BAB I PENDAHULUAN. Sektor pariwisata merupakan usaha yang pada umumnya sangat
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Sektor pariwisata merupakan usaha yang pada umumnya sangat menjanjikan dalam meraih devisa negara. Salah satu komponen industri pariwisata yang besar peranannya
III. KERANGKA PEMIKIRAN
III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Konsep Pemasaran Menurut Parkinson (1991), pemasaran merupakan suatu cara berpikir baru tentang bagaimana perusahaan atau suatu organisasi
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Loyalitas pelanggan merupakan bagian penting bagi suatu perusahaan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Loyalitas pelanggan merupakan bagian penting bagi suatu perusahaan karena memiliki peran untuk memberikan keuntungan finansial yang terusmenerus atau keuntungan jangka
BAB II LANDASAN TEORI. adalah Manajemen pemasaran adalah analisis, perencanaan, implementasi dan
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Manajemen Pemasaran 2.1.1 Pengertian Manajemen Pemasaran Definisi manajemen pemasaran menurut Kotler dan Amstrong (2005 : 18) adalah Manajemen pemasaran adalah analisis, perencanaan,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bauran Pemasaran Jasa Pemasaran dalam suatu perusahaan akan menghasilkan kepuasan pelanggan serta kesejahteraan konsumen dalam jangka panjang sebagai kunci untuk memperoleh
BAB VI KESIMPULAN & SARAN
BAB VI KESIMPULAN & SARAN 6.1 Kesimpulan Setelah pengolahan data dan analisis yang dilakukan, maka dapat diperoleh beberapa kesimpulan berdasarkan tujuan penelitian yang telah ditetapkan. Berikut merupakan
BAB I PENDAHULUAN. Industri ritel merupakan salah satu industri yang strategis di Indonesia.
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Industri ritel merupakan salah satu industri yang strategis di Indonesia. Industri ini merupakan sektor kedua terbesar dalam hal penyerapan tenaga kerja,
BAB II BAHAN RUJUKAN. Pemasaran merupakan salah satu kegiatan pokok yang dilakukan oleh
BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Pengertian Pemasaran Pemasaran merupakan salah satu kegiatan pokok yang dilakukan oleh perusahaan, dalam usaha mempertahankan kelangsungan hidupnya untuk berkembang dan mencapai
BAB I PENDAHULUAN. Dalam usaha untuk melakukan pembelian, konsumen tidak terlepas dari
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam usaha untuk melakukan pembelian, konsumen tidak terlepas dari karakteristik produk baik mengenai penampilan, gaya, dan mutu dari produk tersebut. Perusahaan yang
BAB V ANALISA. terbanyak dalam segmen ini adalah sebagai wiraswasta dengan pendapatan
BAB V ANALISA 5.1 Analisis Segmentasi Segmentasi berdasarkan variabel demografi dengan analisis klaster pada bab sebelumnya terbentuk 3 klaster, berdasarkan variabel gaya hidup juga terbentuk 3 klaster,
SKENARIO TINGKAT OPTIMALITAS KOMPONEN BIAYA & HARGA SUATU PRODUK TERHADAP PANGSA PASAR. Dheni Haryanto
SKENARIO TINGKAT OPTIMALITAS KOMPONEN BIAYA & HARGA SUATU PRODUK TERHADAP PANGSA PASAR Dheni Haryanto [email protected] Marketing Quotient Community http://www.mqc.cjb.net F o c u s On Marketing Macam
BAB 1 PENDAHULUAN 1-1
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Saat ini persaingan antar perusahaan jasa semakin ketat. Salah satu perusahaan jasa yang ada adalah perusahaan yang bergerak di bidang transportasi. Mengingat
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Setelah penulis menguraikan hasil penelitian dan melakukan analis mengenai TINJAUAN PELAKSANAAN STRATEGI PEMASARAN PADA Unkl347 Jl. Trunojoyo No. 04 Bandung. Maka
BAB 1 PENDAHULUAN. nama RODEX Tours & Travel merupakan perusahaan jasa yag memberikan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Seiring dengan perkembangan dunia usaha Tour & Travel saat ini yang tidak lepas dari persaingan dengan para pelaku usaha sejenis, menuntut perusahaan untuk
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Pemasaran BAB II TINJAUAN PUSTAKA Menurut Stanton dalam Tambajong (2013:1293), pemasaran adalah suatu sistem dari kegiatan bisnis yang dirancang untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan
BAB 2 TINJAUAN UMUM 2.1. Gambaran Umum Proyek Nama Proyek Kategori Proyek Sifat Proyek Pemilik Luas Lahan : Transportasi Antar Moda : Fasilitas Transportasi : Fiktif : Negri : ± 4 Ha KDB (%) : 60 % KLB
BAB I PENDAHULUAN. Transportasi Laut, dan Transportasi Udara, namun transportasi yang paling
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Transportasi adalah pemindahan manusia atau barang dari satu tempat ke tempat lainnya dengan menggunakan sebuah kendaraan yang digerakkan oleh manusia atau
II. TINJAUAN PUSTAKA. dan tranportasi atau perangkutan adalah bagian kegiatan ekonomi yang. dan penumpang dari suatu tempat ke tempat lain.
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Transportasi Menurut Drs. H. M. N. Nasution, M. S. Tr. (1996) transportasi diartikan sebagai perpindahan barang dan manusia dari tempat asal ke tempat tujuan, dan tranportasi atau
BAB I PENDAHULUAN. maksimal serta dapat mempertahankan kelangsungan usahanya. Tuntutan kerja
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perusahaan akan selalu berusaha agar tujuannya dapat tercapai secara maksimal serta dapat mempertahankan kelangsungan usahanya. Tuntutan kerja dan target yang
BAB I PENDAHULUAN. henti-hentinya bagi perusahaan-perusahaan yang berperan di dalamnya. Banyaknya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat saat ini, dapat dilihat bahwa sektor dunia usaha saat ini telah menjadi suatu arena persaingan yang sengit dan tidak
I. PENDAHULUAN. negara- negara ASEAN yang lain. Hal ini disebabkan pemerintah Indonesia telah
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia telah memasuki perdagangan bebas lebih awal dibandingkan negara- negara ASEAN yang lain. Hal ini disebabkan pemerintah Indonesia telah menandatangani Letter
Pengembangan Marketing Mix untuk Mendukung Kinerja Pemasaran UKM
MAKALAH KEGIATAN PPM Pengembangan Marketing Mix untuk Mendukung Kinerja Pemasaran UKM Oleh: Muniya Alteza, M.Si 1 Disampaikan pada Pelatihan Pengelolaan Usaha bagi UKM di Desa Sriharjo, Bantul Dalam Rangka
BAB VII PERUMUSAN STRATEGI UNTUK MENINGKATKAN KEPUASAN KONSUMEN
BAB VII PERUMUSAN STRATEGI UNTUK MENINGKATKAN KEPUASAN KONSUMEN Berdasarkan hasil data dan mengenai karakteristik konsumen, analisis tingkat kepuasan konsumen terhadap mutu atribut dan pelayanan, maka
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Melalui hasil observasi yang di lakukan oleh penulis pada hotel mahkota graha kota
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Melalui hasil observasi yang di lakukan oleh penulis pada hotel mahkota graha kota tasikmalaya, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : Hotel mahkota
I. PENDAHULUAN. Perekonomian Indonesia saat ini mengalami kemunduran dibandingkan dengan
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perekonomian Indonesia saat ini mengalami kemunduran dibandingkan dengan perekonomian dunia yang mengalami perkembangan yang sangat baik. Kemunduran ini disebabkan oleh
BAB I PENDAHULUAN UKDW. (tangible) kinerjanya pada dasarnya tidak nyata (intangible) dan biasanya
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Di era modern ini, persaingan dunia bisnis jasa semakin ketat. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya bisnis yang bergerak dalam bidang jasa. Salah satu penyebabnya
BAB I PENDAHULUAN. perkembangannya, namun perekonomian Indonesia mampu tumbuh dalam tingkat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Ekonomi global menunjukkan adanya ketidakpastian dalam perkembangannya, namun perekonomian Indonesia mampu tumbuh dalam tingkat yang mengesankan. Badan Pusat
Pemasaran Pada Perusahaan Kecil. Oleh Sukanti, M.Pd
Pemasaran Pada Perusahaan Kecil Oleh Sukanti, M.Pd A. Pendahuluan Pengusaha kecil pada umumnya menghadapi masalah kurangnya keahlian dalam bidang pemasaran dan kelemahan dalam bidang organisasi dan manajemen,
BAB I PENDAHULUAN. untuk melakukan pembelian atas produk ataupun jasa tertentu. Minat konsumen
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Minat untuk mengunjungi suatu tempat didasari dari rencana konsumen untuk melakukan pembelian atas produk ataupun jasa tertentu. Minat konsumen untuk berkunjung ke
BAB I RINGKASAN EKSEKUTIF. karena permintaan akan jasa salon ini sudah menjadi gaya hidup bahkan kebutuhan
BAB I RINGKASAN EKSEKUTIF 1.1 Deskripsi Konsep Bisnis Saline adalah bisnis yang bergerak di bidang jasa salon. pemilihan bisnis tersebut karena permintaan akan jasa salon ini sudah menjadi gaya hidup bahkan
BAB I PENDAHULUAN. keinginan dan kebutuhan konsumen maka produsen perlu memahami perilaku
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perilaku pembelian seseorang dapat dikatakan sesuatu yang unik, karena preferensi dan sikap terhadap obyek setiap orang berbeda. Semakin beragamnya keinginan dan kebutuhan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian Sejarah Singkat Perusahaan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian 1.1.1 Sejarah Singkat Perusahaan Sukses Mandiri adalah perusahaan jasa yang bergerak dibidang pendidikan & pelatihan kursus mengemudi mobil yang berlokasi
BAB I PENDAHULUAN. tertentu. Keberadaan perusahaan ritel yang bermunculan di dalam negeri
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Bisnis Ritel di Indonesia makin hari dirasakan semakin ramai dan persaingan bisnisnya menunjukan perkembangan yang cukup pesat, namun tidak menjadi halangan
BAB I PENDAHULUAN. pasar domestik maupun di pasar internasional atau global. Fenomena ini semakin
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Dalam era globalisasi ini, persaingan bisnis menjadi sangat tajam, baik di pasar domestik maupun di pasar internasional atau global. Fenomena ini semakin
BAB IV PEMBAHASAN DATA STRATEGI PEMASARAN PRODUK GADAI (AR- RAHN) DALAM MENINGKATKAN MINAT NASABAH DI PEGADAIAN SYARIAH CABANG BLAURAN SURABAYA
BAB IV PEMBAHASAN DATA STRATEGI PEMASARAN PRODUK GADAI (AR- RAHN) DALAM MENINGKATKAN MINAT NASABAH DI PEGADAIAN SYARIAH CABANG BLAURAN SURABAYA A. Strategi Pemasaran Produk Gadai (Ar-rahn) dan Implementasinya
BAB I PENDAHULUAN. jumlah penduduk. Seiring dengan pesatnya daya beli masyarakat dalam bidang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Perkembangan bisnis kuliner di Indonesia saat berkembang sangat pesat seiring dengan meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat dan bertambahnya jumlah penduduk.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan teknologi di dunia berdampak pada gaya hidup manusia. Hal tersebut juga mendorong berkembangnya bisnis jasa layanan pesan antar (delivery) yang saat ini
BAB I PENDAHULUAN UKDW. Menurut Hurriyati (2005, p.49) : untuk bauran pemasaran jasa mengacu
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pemasaran merupakan aspek yang sangat penting bagi semua perusahaan yang tetap ingin survive dalam menciptakan keunggulan kompetitif yang berkesinambungan.
BAB I PENDAHULUAN. konteks manusia sebagai makhluk sosial, maka komunikasi tidak saja sebagai alat
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kehidupan manusia tidak terlepas dari ruang lingkup komunikasi. Dalam konteks manusia sebagai makhluk sosial, maka komunikasi tidak saja sebagai alat untuk
BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS DATA
BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS DATA A. Penyajian Data Data yang disajikan pada bab ini akan diuraikan secara deskriptif yang diperoleh dari hasil wawancara, yaitu 2 orang responden dan 1 orang informan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Penelitian Terdahulu Tinjauan penelitian terdahulu yang dijadikan peneliti sebagai bahan pertimbangan pertama, penelitian yang dilakukan oleh Ade Zulfikar Abraham Iqbal
BAB I PENDAHULUAN. Salah satu ukuran atau indikasi kemajuan suatu masyarakat adalah tersedianya fasilitas
121 BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Salah satu ukuran atau indikasi kemajuan suatu masyarakat adalah tersedianya fasilitas penunjang bagi masyarakat itu sendiri. Fasilitas penunjang yang di maksud,
BAB I PENDAHULUAN. Kesuksesan suatu bisnis tergantung pada ide, peluang dan pelaku bisnis.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Kesuksesan suatu bisnis tergantung pada ide, peluang dan pelaku bisnis. Pelaku bisnis harus mampu menciptakan ide-ide baru agar dapat memberikan nilai lebih
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan teknologi yang ada sekarang ini telah memungkinkan pengembangan produk baru bisa berlangsung dengan cepat. Kompetisi di pasar menjadi sangat ketat dan
BAB I PENDAHULUAN. seharusnya senantiasa melakukan riset dan pengembangan agar selalu dapat. perusahaan baik secara kuantitatif maupun kualitatif.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan zaman membuat setiap pemilik atau pelaku usaha seharusnya senantiasa melakukan riset dan pengembangan agar selalu dapat bersaing dengan usaha pesaingnya.
BAB 4 RENCANA IMPLEMENTASI
BAB 4 RENCANA IMPLEMENTASI 4.1. Rencana Implementasi Dari hasil pengumpulan dan pengolahan data melalui alternatif solusi yang didapat dengan menggunakan matriks strategi operasi, terlihat bahwa perlu
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Pemasaran Menurut Kottler dan Amstrong (2001:7), Pemasaran adalah Suatu proses sosial dan manajerial yang membuat individu dan berkelompok memperoleh apa yang mereka
BAB 1 PENDAHULUAN. Seiring trend gaya hidup masyarakat sekarang ini, industri kafe dan restoran
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring trend gaya hidup masyarakat sekarang ini, industri kafe dan restoran di Indonesia semakin meningkat pesat. Sekjend Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia
ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha
ABSTRAK The Auto Bridal merupakan perusahaan yang bergerak dibidang jasa perawatan mobil. Perusahaan yang didirikan oleh Bapak Ridwan berdiri tahun 2003 dan terletak di jalan Setiabudhi no 119, Bandung.
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil pengumpulan data, pengolahan data dan analisis yang telah dilakukan, adapun kesimpulan yang didapat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN. Dalam beberapa tahun terakhir ini kota Bandung menjadi salah satu tujuan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Dalam beberapa tahun terakhir ini kota Bandung menjadi salah satu tujuan wisata terpenting. Selain terkenal dengan kulinernya, kota Bandung belakangan ini
BAB VII PENUTUP A. Kesimpulan
BAB VII PENUTUP A. Kesimpulan Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah: 1. Karakteristik pengguna jasa Stasiun Lempuyangan Yogyakarta dapat dijabarkan sebagai berikut: a. Jenis Kelamin Responden
