BAB V HASIL DAN ANALISIS

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB V HASIL DAN ANALISIS"

Transkripsi

1 BAB V HASIL DAN ANALISIS Dalam bab ini akan dibahas berbagai macam hasil dan analisis dari simulasi yang telah dilakukan. Simulasi dibagi dalam beberapa bagian yaitu : A. Studi numerik : 1. Simulasi dengan berbagai jumlah elemen grid 2. Simulasi dengan berbagai model turbulensi B. Studi fisik aliran : 3. Simulasi steady dengan pengaruh putaran rotor dengan interface frozen rotor 4. Simulasi quasi steady dengan interface frozen rotor 5. Simulasi dengan kondisi unsteady C. Studi perbandingan bilah impuls dengan 50% reaksi 6. Simulasi dengan perubahan bilah rotor 5.1 Studi Numerik I. Analisis pengaruh jumlah elemen Grid Daerah pada model ini dibagi menjadi 3 daerah untuk masing masing bilah stator dan rotor. Daerah tersebut adalah daerah upstream, daerah mainstream dan daerah downstream [Gambar 5.1]. Penambahan elemen dilakukan di daerah mainstream. Pertimbangannya adalah bahwa di daerah ini terjadi banyak perubahan properti aliran dibandingkan daerah upstream dan downstream yang relatif stabil. Gambar 5.1 Daerah upstream, mainstream dan downstream stator Halaman

2 Gambar 5.2 Edge pada stator dan rotor dengan tambahan jumlah elemen Untuk stator, daerah tersebut dibatasi oleh 3 edge yang ditandai dengan garis putus-putus [Gambar 5.2] kiri. Sedangkan untuk rotor daerah dengan tambahan elemen dibatasi oleh 4 edge [Gambar 5.2] kanan. Jumlah penambahan titik pada tiap edgenya tetap, yaitu sekitar 10 % dari jumlah titik tiap edge pada model IV dan konsisten dari model yang satu ke model yang lain. Maksudnya untuk satu edge dalam satu model, penambahan jumlah titiknya sama dengan penambahan titik di edge yang sama untuk model selanjutnya. Di dalam tahap ini dilakukan mesh enrichment dan mesh adaption, yaitu penambahan grid serta penyesuaian distribusi grid [Ref 5.1]. Distribusi titik pada tiap edge mengikuti spline dan diatur agar daerah dekat body memiliki kerapatan yang sangat tinggi seperti terlihat pada gambar dibawah [Gambar 5.3, 5.4 dan 5.5]. Hal ini dimaksudkan agar grid yang dibuat dapat menangkap fenomena pada lapisan batas. Model yang dibuat berjumlah 8 buah dengan kisaran jumlah elemen total antara dengan beda jumlah rata-rata sekitar Dengan penambahan jumlah elemen dan letak seperti yang telah dijelaskan diatas maka kedelapan model tersebut dapat dibandingkan dalam tabel berikut [Tabel 5.1]. Halaman

3 Tabel 5.1 Jumlah masing masing grid pada stator dan rotor Jumlah grid Model Stator Rotor Total Model I Model II Model III Model IV Model V Model VI Model VII Model VIII Agar lebih jelas disajikan beberapa grid dengan jumlah elemen yang berbeda. Model yang disajikan adalah model II, V dan VIII sehingga dapat dilihat bagaimana perbandingan jumlah elemennya [Gambar 5.3, 5.4 dan 5.5] Gambar 5.3 Jumlah elemen tiap edge Model II Halaman

4 Gambar 5.4 Jumlah elemen tiap edge Model V Gambar 5.5 Jumlah elemen tiap edge Model VIII Halaman

5 Setelah itu dilakukan simulasi terhadap kedelapan model dengan parameter simulasi yang sama. Hasil Dibawah ini diperlihatkan tabel hasil perhitungan torsi, daya dan efisiensi untuk berbagai model. Tabel 5.2 Daya dan efisiensi yang dihasikan (pengaruh grid) Efisiensi % kenaikan dari Torsi (Nm) Daya (10 7 Watt) daya sebelumnya Model I Model II Model III Model IV Model V Model VI Model VII Model VIII Dibawah ini disajikan grafik sejarah konvergensi dari salah satu model, untuk model yang lain sejarah konvergensinya tidak jauh berbeda dengan model di bawah ini. Untuk lebih jelasnya disajikan dalam grafik sebagai berikut [Grafik 5.1]. Grafik 5.1 Sejarah konvergensi Model V Halaman

6 Grafik 5.2 Pengaruh perubahan jumlah elemen grid terhadap daya Dari hasil diatas dapat diketahui bahwa terjadi kenaikan daya yang cukup besar antara model I ke model II dan ke III yaitu lebih dari 0.2%. Sedangkan untuk model V hingga model ke VIII hanya terjadi kenaikan kurang dari 0.2% Dari grafik tersebut kita dapat melihat bahwa penambahan elemen dari model I ke model II, dari model II ke model III dan dari model III ke model IV menghasilkan perubahan besar daya masing masing 0.359%, 0.423% dan 0.213%. Sedangkan penambahan elemen dari model V sampai model VIII menghasilkan perubahan besar daya sebesar 0.178% % [Tabel 5.2]. Artinya penambahan jumlah elemen grid dari model I ke model IV masih menghasilkan perubahan daya yang cukup besar ( > 0.2% ). Sedangkan penambahan jumlah elemen dari model V sampai model VIII menghasilkan perubahan daya yang kurang dari 0.2%. Hal ini merupakan salah satu bahan pertimbangan dalam memilih model yang akan digunakan selanjutnya. Model V hingga model VIII cenderung dipilih karena tidak terjadi perubahan yang cukup besar terhadap penambahan elemen, artinya hasil yang didapatkan dengan jumlah elemen pada model dapat dikatakan independen terhadap penambahan jumlah elemen. Selain dari output yang dihasilkan, jumlah grid juga mempengaruhi waktu komputasi. Hal ini merupakan pertimbangan yang sangat penting karena dengan kemampuan komputasi yang terbatas, penghematan dalam waktu komputasi akan sangat bermanfaat. Halaman

7 Tabel 5.3 Tabel Perhitungan waktu komputasi Jumlah iterasi Waktu total (s) Waktu per iterasi (s) Tambahan waktu komputasi (s) Model I Model II Model III Model IV Model V Model VI Model VII Model VIII Tambahan waktu komputasi pada tabel diatas merupakan ukuran seberapa besar waktu komputasi tambahan yang dibutuhkan untuk tambahan satu elemen grid pada model selanjutnya. Diambil contoh untuk penambahan 1 elemen grid dari model I ke model II dibutuhkan sekon waktu komputasi tambahan rata-rata dan untuk penambahan 1 elemen grid dari model II ke model III dibutuhkan waktu komputasi tambahan rata-rata [Tabel 5.4]. Apabila disajikan dalam bentuk grafik adalah sebagai berikut. Grafik 5.3 Tambahan waktu komputasi ke model selanjutnya Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa model II sampai model V membutuhkan tambahan waktu dibawah 0.01 detik sedangkan model VI hingga model VIII membutuhkan tambahan waktu komputasi lebih dari 0.01 detik untuk tiap elemennya. Oleh karena itu model I hingga model V cenderung dipilih karena tambahan waktu komputasi yang digunakan relatif lebih sedikit dibanding model VI hingga model VIII. Halaman

8 Pengaruh jumlah elemen grid juga dapat diketahui dengan melihat perbedaan kontur ataupun vektor dari properti fluida seperti kecepatan, tekanan ataupun temperatur. Namun secara umum tidak terjadi perbedaan yang cukup besar antara kelima model yang digunakan. Perbandingan yang diambil adalah dengan melihat bagaimana perbedaan kontur Bilangan Mach dan tekanan di model model tersebut. Hal ini dapat dibuktikan dengan melihat pada gambar berikut [Gambar 5.7]. Gambar 5.6 Kontur Bilangan Mach dan Tekanan model I, III, V dan VIII Halaman

9 Dengan pertimbangan pertimbangan diatas maka model V dipilih sebagai model yang akan digunakan selanjutnya. Alasannya adalah model ini memiliki jumlah elemen grid cukup banyak sehingga apabila jumlah elemennya ditambah maka hasil yang didapatkan relatif tidak berbeda namun cukup sedikit sehingga waktu komputasi yang dibutuhkan relatif tidak terlalu besar. II. Simulasi dan analisis pengaruh Model turbulensi Setelah didapatkan model yang akan dipakai selanjutnya maka perlu diketahui juga pengaruh pemilihan model turbulensi terhadap hasil yang didapatkan. Di ANSYS CFX Turbomachinery disediakan 4 buah model turbulensi yaitu k-epsilon (k-e), Shear Stress Transport (SST), BSL Reynolds Stress (BSL) dan SSG Reynolds Stress (SSG) seperti disajikan di tabel berikut : Kriteria konvergensi yang digunakan adalah Residual Type = RMS dan Residual Target = Artinya proses komputasi akan dihentikan apabila harga semual residual target dibawah Tabel 5.4 Waktu komputasi dan jumlah iterasi yang diperlukan Model Waktu komputasi (s) Jumlah iterasi k-e SST BSL SSG Dibawah ini diberikan grafik sejarah konvergensi untuk semua model, hal ini digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pemilihan model turbulensi. Halaman

10 Grafik 5.4 Sejarah konvergensi keempat model Dari sejarah konvergensi dapat dilihat bahwa model k Epsilon dan SST lebih cepat dalam hal konvergensi dan waktu komputasi. Proses komputasi untuk kedua model Reynolds Stress berhenti karena maksimum iterasi telah dicapai. Dua model turbulensi lain yaitu model k-epsilon dan Shear Stress Transport lebih cepat konvergen yaitu pada iterasi di 38 dan 44 [Grafik 5.4]. Hal ini sesuai dengan dasar teori yaitu bahwa model Reynolds Stress mempunyai tambahan persamaan yang harus diselesaikan dibanding model k-epsilon dan SST [Ref 5.1]. Dari daya dan efisiensi yang dihasilkan juga tidak terjadi perbedaan yang cukup jauh antara keempat modelnya seperti terlihat di tabel berikut ini. Tabel 5.5 Daya dan efisiensi yang dihasikan (pengaruh model turbulensi) Model Daya (Watt) Efisiensi % perbedaan daya k-e SST BSL SSG Halaman

11 Namun dari kempat model tersebut dapat kita lihat bahwa model Reynolds Stress memiliki besar daya yang hampir sama dengan Model VIII pada tahap pengaruh grid. Hal ini juga menjadi bahan pertimbangan. Bila dilihat dari kontur Turbulence Kinetic Energy di keempat model, tidak terdapat perbedaan yang cukup signifikan. Hal ini dapat dibuktikan dengan melihat kontur Turbulence Kinetic Energy keempat model seperti berikut ini. Gambar 5.7 Kontur Turbulence Kinetic Energy dari keempat model Pertimbangan lain yang digunakan dalam pemilihan model turbulensi adalah keakuratan model dalam memprediksi aliran yang sebenarnya serta kecocokan dengan kondisi aliran sesuai referensi. Seperti misalnya aliran yang berotasi, besar bilangan Reynolds aliran dan juga pertimbangan kualitas dan jumlah grid di near wall [ Ref 5.1]. Model k Epsilon memiliki kelemahan dalam menangani masalah swirling flows dan aliran dengan lapisan batas yang melengkung dikarenakan model ini tidak mengandung pengaruh streamline yang melengkung pada turbulensi. Padahal model turbin impuls ini memiliki bentuk bilah yang sangat melengkung. Halaman

12 Oleh karena itu model k Epsilon tidak dapat digunakan karena kurang akurat untuk kasus ini. Sedangkan model Shear Stress Transport dapat digunakan untuk memberikan akurasi yang tinggi terhadap letak awal dan jumlah aliran dalam separasi didalam adverse pressure gradient [ Ref 5.1]. Oleh karena itu dengan pertimbangan bahwa model Reynolds Stress membutuhkan waktu komputasi lebih serta masalah konvergensi dan didukung Referensi 5.1 bahwa model k Epsilon kurang bagus dalam menangani kasus streamline yang melengkung. Maka model Shear Stress Transport sebagai model turbulensi untuk simulasi selanjutnya. 5.2 Studi Fisik Aliran I. Simulasi steady pengaruh putaran rotor dengan interface frozen rotor Simulasi ini dilakukan dengan tujuan mengetahui dengan lebih jelas pengaruh rotasi atau putaran rotor terhadap aliran steady. Dengan mengetahui pengaruh putaran rotor terhadap aliran kita dapat lebih memahami bagaimana perilaku aliran di sekitar turbin serta efek terhadap daya maupun properi aerodinamikanya.. Dibawah ini diperlihatkan kontur tekanan, Bilangan Mach serta temperatur di kondisi steady dengan putaran rotor 0, 100, 1500 dan 3000 RPM. Gambar 5.8 Kontur kecepatan aliran steady dengan variasi putaran rotor Dari kontur kecepatan diatas dapat dilihat bahwa kecepatan keluar stator semakin semakin rendah untuk putaran rotor semakin tinggi. Hal ini disebabkan Halaman

13 karena adanya aliran yang menyatu (mixed) antara aliran keluar stator dengan aliran arah tangensial rotor. Dengan putaran yang semakin tinggi juga dapat dilihat bahwa kecepatan semburan keluar dari rotor akan semakin besar juga kecuali pada 0 RPM justru semakin kecil karena adanya daerah stagnasi yang besar sebelum keluar rotor. Gambar 5.8 Kontur tekanan aliran steady dengan variasi putaran rotor Kontur tekanan diatas dapat menunjukkan bahwa tekanan di daerah keluar stator menjadi semakin tinggi dengan kenaikan putaran rotor. Untuk Rpm 0 dan 100 Rpm terdapat daerah tekanan rendah yang cukup besar di depan. Gambar 5.8 Kontur temperatur aliran steady dengan variasi putaran rotor Halaman

14 Dari kontur temperatur diatas dapat dilihat bahwa semakin tinggi kecepatan putar rotor maka daerah dengan temperatur tinggi akan semakin luas. Untuk kecepatan putar 0 RPM bahkan tidak terdapat daerah dengan temperatur diatas 360 Kelvin. Daya yang dihasilkan semakin besar dengan bertambahnya putaran rotor namun kenaikannya tidak linier. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di grafik sebagai berikut. RPM Vs Daya 25 Daya MWatt RPM Grafik 5.5 Kenaikan daya terhadap RPM kondisi steady Pembahasan selanjutnya adalah membandingkan 2 kondisi yang ekstrimnya yaitu 0 Rpm atau rotor diam dan 3000 Rpm (kondisi operasi). Dapat dikatakan juga bahwa untuk 0 Rpm rotor dalam keadaan statis dan 3000 Rpm dalam keadaan bergerak. Pembahasan dilakukan dengan melihat satu persatu perbedaan kontur mulai dari kontur tekanan, kecepatan atau Bilangan Mach serta kontur temperatur dan vektor kecepatannya. Halaman

15 Gambar 5.9 Kontur tekanan kecepatan rotasi 0 Rpm dan 3000 Rpm Dari kontur diatas terlihat adanya perbedaan tekanan di edge bagian atas dari stator. Untuk kondisi rotor statis, tekanan di edge bagian atas menjadi lebih cepat mengecil daripada kondisi rotor bergerak [Gambar 5.9]. Hal ini disebabkan karena efek putaran rotor menyebabkan kecepatan keluar stator tidak terlalu tinggi dan tekanan keluar dari stator masih cukup tinggi. Oleh karena itu penurunan tekanan edge bagian atas stator menjadi lebih kecil. Hal ini berkebalikan dengan kondisi rotor diam dimana tidak ada efek putaran rotor sehingga kecepatan keluar stator cukup tinggi dan tekanannya menjadi rendah. Karena tekanan keluar stator menjadi rendah maka penurunan tekanan di stator menjadi lebih cepat. Gambar 5.10 Kontur tekanan kecepatan 0 Rpm dan (kiri) kecepatan 3000 Rpm(kanan) Dari kontur tekanan diatas dapat dilihat bahwa terjadi tekanan yang rendah daerah keluar dari stator [Gambar 5.10]. Hal ini disebabkan fluida di daerah Halaman

16 tersebut kecepatannya sangat tinggi karena tidak ada efek putaran rotor. Untuk kondisi 3000 Rpm dapat dilihat bahwa kecepatan masuk rotor lebih rendah karena ada pengaruh kecepatan putaran rotor. Hal ini dapat dibuktikan dengan melihat kontur kecepatan sebagai berikut. Gambar 5.11 Kontur Bilangan Mach kecepatan 0 RPM dan 3000 RPM Di kontur kecepatan, terlihat daerah dimana kecepatannya sangat tinggi (warna merah) seperti gambar dibawah ini lalu diikuti dengan terjadinya daerah dengan kecepatan sangat rendah (warna biru tua) sedikit di luar lapisan batas. Gambar 5.12 Kontur Bilangan Mach kecepatan 0 RPM Untuk mengetahui bagaimana kontur density diperlihatkan dalam gambar berikut. Dari kontur dibawah ini terlihat adanya penurunan density yang cukup besar di daerah dengan kecepatan Mach yang tinggi. Dari definisi bahwa Halaman

17 shockwave terjadi pada kecepatan supersonik ( M >1) dan terjadi penurunan properti (kecepatan dan density) setelah lewat shockwave maka diprediksi bahwa di daerah ini terjadi gelombang kejut (shockwave). Gambar 5.13 Kontur density kondisi 0 Rpm Hal ini didukung dengan melihat kontur kecepatan dimana terjadi fenomena yang dapat dijelaskan secara sekuensial seperti berikut. Di daerah Bilangan Mach tinggi terjadi shockwave. Shockwave tersebut berinteraksi dengan lapisan batas di daerah dekat permukaan bilah sehingga mengakibatkan aliran di dekat permukaan mengalami separasi. Separasi dapat dilihat sebagai daerah dengan kontur Bilangan Mach yang kecil (warna biru tua) Hal ni berlanjut hingga aliran menyatu kembali ke permukaan (reattachment) seperti terlihat di gambar berikut. Halaman

18 Gambar 5.14 Kontur bilangan Mach kondisi steady Konsekuensi dari adanya daerah turbulensi tersebut adalah adanya kenaikan temperatur yang cukup tinggi di daerah tersebut seperti terlihat di gambar dibawah ini. Gambar 5.15 Kontur temperatur 0 Rpm (kiri) dan 3000 Rpm (kanan) Turbulensi tersebut disebabkan adanya separasi aliran karena adanya interaksi antara shockwave dan lapisan batas selain dari kelengkungan airfoil yang cukup tinggi. [Gambar 5.15]. Halaman

19 Gambar 5.16 Perbesaran daerah tengah bawah airfoil rotor Setelah terjadi separasi karena interaksi tersebut maka aliran akan berbalik menuju ke leading edge rotor. Hal ini dapat dibuktikan dengan melihat vektor kecepatan di bawah ini. Bila kita perbesar untuk daerah di bagian bawah tengah airfoil rotor dapat dilihat bagaimana vektor kecepatan yang terjadi di daerah tersebut serta adanya backflow. Halaman

20 II. Simulasi kondisi quasi steady dengan interface frozen rotor Simulasi ini memberikan hasil aliran dalam kondisi quasi steady, berikut adalah hasil perhitungan disajikan dalam kontur Bilangan Mach, tekanan dan temperatur. Gambar 5.17 Kontur Bilangan Mach kondisi quasi steady Gambar 5.18 Kontur Tekanan kondisi quasi steady Halaman

21 Gambar 5.19 Kontur Temperatur kondisi quasi steady Dalam melakukan simulasi quasi steady dibutuhkan beberapa perhitungan dengan menganggap rotor bergerak dari waktu ke waktu. Hal ini dilakukan dengan cara mensimulasikan kondisi steady dalam beberapa posisi rotor dalam gerak rotasinya. Kondisi quasi steady I [Gambar 5.19] merupakan kondisi steady pada t = 0, lalu rotor mulai bergerak dan pada suatu waktu mencapai posisi quasi steady II, dengan menerapkan kondisi batas periodik di rotor seharusnya terjadi keseragaman aliran yang sempurna pada bilah rotor atas dan bawah gambar. Namun dari kontur diatas sedikit perbedaan kondisi aliran di bilah rotor atas dan bawah, hal ini diperkirakan karena kurang seragamnya aliran yang masuk ke rotor. Posisi yang lebih jauh lagi dari posisi awa kontur yang didapatkan antara 3 propertinya tidak terlihat perbedaan yang terlalu besar. Dari besar dayanya dapat disimpulkan bahwa simulasi quasi steady ini memang mendekati kondisi steady dan kondisi batas periodiknya cukup valid. Tabel 5.6 Besar daya simulasi steady dan quasi steady Kondisi Daya (Mwatt) Steady Quasi steady I Quasi steady II Quasi steady III Quasi steady IV Halaman

22 II. Simulasi dan analisis unsteady Setelah dilakukan simulasi untuk aliran steady dengan jumlah grid dan model turbulensi yang telah ditentukan, langkah selanjutnya adalah mensimulasikan turbin dengan tipe simulasi unsteady Perhitungan total time dan time step yang digunakan : Kecepatan rotasi 3000rpm 314 rad/s 60 2 Rotor yang dimodelkan = 2 = 0.07 rad Waktu untuk lewat 1 pitch = = sekon 314 Time step yang digunakan untuk setiap interval berjumlah 10, oleh karena itu = sekon setiap time step memakan waktu 10 Selain kontur serta plot vektor kita dapat melihat output lain seperti besar torsi dan daya yang dibangkitkan. Tabel 5.7 Input untuk simulasi unsteady Input Jumlah time step 10 Time duration ( s ) Time step ( s ) Model turbulensi Shear Stress Transport Selain input diatas, untuk melakukan simulasi unsteady harus ada tebakan harga awal untuk beberapa variabel. Besar nilai tebakan diambil dari harga variabel tersebut pada kondisi steady. Dibawah ini adalah beberapa input yang diperlukan untuk simulasi unsteady. Tabel 5.8 Input sebagai tebakan awal simulasi unsteady Input Stator kecepatan arah X (m/s) 0 kecepatan arah Y (m/s) 80 kecepatan arah Z (m/s) 0 temperatur inlet stator ( C) tekanan inlet stator (bar) 6.2 Rotor kecepatan arah X (m/s) -240 kecepatan arah Y (m/s) 100 Halaman

23 kecepatan arah Z (m/s) 0 temperatur inlet stator ( C) 160 tekanan inlet stator (bar) 3.7 Hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut : Kontur tekanan stator-rotor unsteady Kontur kecepatan stator-rotor unsteady Halaman

24 Kontur temperatur stator-rotor unsteady Gambar 5.10 Kontur berbagai properti dari simulasi unsteady Selain kontur dari beberapa propertinya didapatkan juga nilai dayanya yang nantinya akan dibandingkan dengan hasil dari kondisi quasi steady. Tabel 5.9 Daya dan torsi yang dihasikan (unsteady) Analisis tekanan Torsi (Nm) Daya (Watt) Gambar 5.18 Kontur tekanan kondisi steady(kiri) dan unsteady (kanan) Dari kontur diatas dapat kita lihat bahwa terjadi penurunan tekanan di daerah trailing edge rotor. Walaupun tidak terlalu besar namun dapat terlihat bahwa terdapat daerah (warna biru muda) pada gambar kiri dimana terjadi penurunan tekanan hingga sekitar 1.6 bar [Gambar 5.18]. Hal ini dapat dilihat juga sebagai Halaman

25 adanya kenaikan kecepatan pada daerah tersebut yang dapat dijelaskan melalui kontur kecepatan dibawah ini. Analisis kecepatan Kondisi steady Kondisi unsteady Gambar 5.19 Kontur Bilangan Mach steady dan unsteady Dari kontur kecepatan diatas dapat dilihat bahwa : Adanya penurunan kecepatan keluar stator yang lebih tinggi pada kondisi unsteady dibandingkan kondisi steady. Terjadi daerah stagnasi yang lebih besar di kondisi unsteady dibandingkan kondisi steady. Kecepatan keluar rotor pada kondisi unsteady lebih kecil daripada kondisi steady Analisis temperatur Gambar 5.20 Kontur temperatur Halaman

26 Dari gambar diatas terlihat jelas bahwa terjadi daerah temperatur tinggi pada daerah stagnasi aliran. Hal ini disebabkan karena adanya turbulensi di daerah tersebut. Semua hal diatas adalah konsekuensi dari kondisi unsteady dimana terjadi kecepatan relatif yang bergerak berlawanan dengan arah gerak rotasi rotor]. Hal ini disebabkan karena pada saat rotor berotasi dalam arah tangensial (arah bawah gambar) maka aliran di depan rotor bergerak relatif terhadap rotor ke arah tangensial (atas gambar) berlawanan dengan gerak rotor. Gambar 5.21 Gerak aliran realtif Konsekuensinya seperti yang ditulis diatas yaitu terjadi penurunan kecepatan keluar stator yang lebih tinggi karena pengaruh aliran di depan rotor yang bergerak ke arah tangensial berlawanan arah aliran keluar stator. Hal lain adalah terjadinya daerah stagnasi yang cukup besar di rotor pada kondisi unsteady, hal ini merupakan pengaruh aliran yang bergerak keatas sehingga pada mengurangi kecepatan pada leading edge rotor dan mengakibatkan kecepatan di daerah di belakangnya turun [Gambar 5.22]. Seperti pada gambar dibawah ini resultan gerak aliran di daerah di belakang leading edge rotor menjadi Halaman

27 berkurang dan menyebabkan semakin besarnya daerah stagnasi dan berpengaruh juga terjadinya penurunan kecepatan keluar rotor. Gambar 5.22 Gerak aliran akibat efek gerak fluida relatif Dari hasil yang didapatkan terlihat bahwa terjadi perbedaan nilai output yang cukup besar dengan simulasi steady. Tabel 5.10 Daya dan efisiensi yang dihasikan (steady dan unsteady) Simulasi steady Torsi (Nm) Daya (Watt) Simulasi unsteady Torsi (Nm) Daya (Watt) Perbedaan daya (Watt) Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa daya yang dihasilkan dengan simulasi unsteady lebih kecil dibanding kondisi steady. Hal ini dapat disebabkan beberapa hal yaitu : Adanya daerah stagnasi yang cukup besar di rotor sehingga menimbulkan drag yang cukup besar dan mengurangi besar daya karena torsi yang dihasilkan berkurang dibandingkan kondisi steady Halaman

28 Adanya efek gerak fluida relatif juga menyebabkan terjadinya penurunan kecepatan keluar stator yang cukup besar. Hal ini berakibat berkurangnya momentum yang masuk ke rotor dan akhirnya berpengaruh terhadap torsi yang dihasilkan oleh rotor Lalu untuk mengetahui bagaimana pengaruh gerak fluida relatif terhadap daya dilakukan simulasi unsteady dengan beberapa harga kecepatan rotasi. Dibawah ini diperlihatkan tabel variasi kecepatan putar terhadap daya yang dibangkitkan. Tabel 5.11 Variasi RPM terhadap daya (unsteady) Kecepatan putar (rpm) Daya (Watt) Gradien perubahan Kecepatan putar vs Daya Daya (10xMW) rpm, 4000 rpm, 3500 rpm, 3000 rpm, Kec putar (RPM) Grafik 5.6 Variasi RPM terhadap Daya Dari grafik dan tabel diatas dapat dilihat bahwa daya yang dibangkitkan tidak berubah secara linier, terlihat dari gradien perubahan yang berbeda satu sama lain [Tabel 5.11]. Hal ini membuktikan efek gerak fluida relatif yang semakin besar berkontribusi terhadap pengurangan daya diluar dari pengaruh yang lain. Apabila dibandingkan dengan kondisi steady akan terdapat perbedaan daya yang cukup besar. Perbedaan dapat dilihat untuk kecepatan putar antara 2500 Rpm 3000 Rpm dikarenakan simulasi untuk steady antara RPM sedangkan simulasi unsteady antara Rpm. Tabel 5.12 Besar daya kondisi unsteady dan steady Halaman

29 dengan variasi kecepatan putar Unsteady Steady RPM Daya (Mwatt) Daya (Mwatt) Grafik ini dibuat untuk menunjukkan secara kualitatif perbedaan daya yang dibangkitkan antar kondisi steady dan unsteady akibat efek gerak fluida relatif. Perbedaan Daya Steady vs transien 25 Daya (MWatt) Transien Steady RPM Grafik 5.7 Perbedaan daya antar kondisi steady dan kondisi unsteady Dari grafik diatas dapat kita lihat perbedaan daya yang cukup besar untuk kondisi unsteady dan kondisi steady, dengan kecepatan rotasi semakin yang semakin tinggi maka besar perubahan daya yang dibangkitkan akan menurun. Halaman

30 5.3 Studi perbandingan bilah impuls dengan 50% reaksi Setelah dilakukan simulasi unsteady, simulasi selanjutnya adalah dengan melihat simulasi kedua dengan melihat bagaimana pengaruh perubahan bilah terhadap perilaku aliran, daya serta efisiensinya. Dibawah ini diperlihatkan hasil dari simulasi dengan tipe bilah reaksi, hasil yang disajikan adalah kontur, vektor serta daya yang dihasilkan Halaman

31 Kontur temperatur Gambar 5.23 Berbagai properti rotor tipe 50% reaksi Dari hasil yang didapatkan dapat terlihat bahwa : Terjadi penurunan tekanan yang cukup besar pada rotor tipe reaksi dibanding dengan tipe impuls yaitu masuk rotor sekitar 5 bar dan keluar rotor sekitar 2.5 bar. Sedangkan pada rotor tipe impuls hanya terjadi pengurangan tekanan yang cukup kecil yaitu dari 3 bar ke 2.5 bar [Gambar 5.24]. Kecepatan keluar stator dan keluar rotor untuk tipe impuls tidak berbeda jauh yaitu sekitar 0.8 Mach sedangkan untuk tipe reaksi terjadi perbedaan kecepatan masuk rotor dengan keluar rotor yaitu saat masuk rotor 0.2 Mach dan keluar dari rotor 1.0 Mach[Gambar 5.25]. Gambar 5.24 Kontur tekanan bilah impuls dan reaksi Halaman

32 Gambar 5.25 Kontur kecepatan bilah impuls dan reaksi Dibawah ini ditunjukkan besar daya dan efisiensi dari kedua tipe turbin. Tabel 5.13 Daya dan efisiensi yang dihasikan kedua tipe Bilah impuls Output Torsi (Nm) Daya (Watt) Efisiensi Bilah reaksi Torsi (Nm) Daya (Watt) Efisiensi Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa daya yang dihasilkan oleh bilah tipe reaksi lebih kecil dibandingkan bilah tipe impuls. Hasil diatas cukup masuk akal karena dengan kecepatan rotasi yang sama maka turbin tipe impuls pasti menghasikan daya yang lebih besar dari tipe reaksi. Sedangkan turbin tipe reaksi seharusnya memiliki efisiensi lebih tinggi daripada tipe impuls, hal ini dikarenakan bilah stator yang digunakan seharusnya merupakan tipe reaksi juga. Halaman

BAB IV PROSES SIMULASI

BAB IV PROSES SIMULASI BAB IV PROSES SIMULASI 4.1. Pendahuluan Di dalam bab ini akan dibahas mengenai proses simulasi. Dimulai dengan langkah secara umum untuk tiap tahap, data geometri turbin serta kondisi operasi. Data yang

Lebih terperinci

SIMULASI NUMERIK ALIRAN 3D UNTUK KONDISI QUASI STEADY DAN UNSTEADY PADA TURBIN UAP AKSIAL

SIMULASI NUMERIK ALIRAN 3D UNTUK KONDISI QUASI STEADY DAN UNSTEADY PADA TURBIN UAP AKSIAL SIMULASI NUMERIK ALIRAN 3D UNTUK KONDISI QUASI STEADY DAN UNSTEADY PADA TURBIN UAP AKSIAL TUGAS AKHIR Disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik dari Institut Teknologi Bandung

Lebih terperinci

BAB IV HASIL YANG DICAPAI DAN POTENSI KHUSUS

BAB IV HASIL YANG DICAPAI DAN POTENSI KHUSUS 31 BAB IV HASIL YANG DICAPAI DAN POTENSI KHUSUS 4.1 DESAIN PIPA PENSTOCK Desain Pipa Penstock yang akan berkaitan dengan besar debit air yang mengalir melalui Pipa Penstock. Jadi debit optimum air (Qopt)

Lebih terperinci

SIMULASI PENGUJIAN PRESTASI SUDU TURBIN ANGIN

SIMULASI PENGUJIAN PRESTASI SUDU TURBIN ANGIN SIMULASI PENGUJIAN PRESTASI SUDU TURBIN ANGIN Sulistyo Atmadi"', Ahmad Jamaludin Fitroh**' ipenellti Pusat Teknologi Dirgantara Terapan. LAPAN ">Peneliti Teknik Penerbangan ITB ABSTRACT Identification

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 HASIL PERHITUNGAN PARAMETER PENSTOCK

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 HASIL PERHITUNGAN PARAMETER PENSTOCK 40 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 HASIL PERHITUNGAN PARAMETER PENSTOCK Diameter pipa penstock yang digunakan dalam penelitian ini adalah 130 mm, sehingga luas penampang pipa (Ap) dapat dihitung

Lebih terperinci

Penelitian Numerik Turbin Angin Darrieus dengan Variasi Jumlah Sudu dan Kecepatan Angin

Penelitian Numerik Turbin Angin Darrieus dengan Variasi Jumlah Sudu dan Kecepatan Angin JURNAL TEKNIK ITS Vol. 6, No. 1, (2017) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) B-13 Penelitian Numerik Turbin Angin Darrieus dengan Variasi Jumlah Sudu dan Kecepatan Angin Rahmat Taufiqurrahman dan Vivien Suphandani

Lebih terperinci

Bab IV Analisis dan Pengujian

Bab IV Analisis dan Pengujian Bab IV Analisis dan Pengujian 4.1 Analisis Simulasi Aliran pada Profil Airfoil Simulasi aliran pada profil airfoil dimaskudkan untuk mencari nilai rasio lift/drag terhadap sudut pitch. Simulasi ini tidak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebutuhan terhadap energi merupakan hal mendasar yang dibutuhkan dalam usaha meningkatkan taraf hidup masyarakat. Seiring dengan meningkatnya taraf hidup serta kuantitas

Lebih terperinci

STUDI NUMERIK PENGARUH PENAMBAHAN BODI PENGGANGGU TERHADAP KARAKTERISTIK ALIRAN FLUIDA MELINTASI SILINDER UTAMA

STUDI NUMERIK PENGARUH PENAMBAHAN BODI PENGGANGGU TERHADAP KARAKTERISTIK ALIRAN FLUIDA MELINTASI SILINDER UTAMA JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 2, (2012) ISSN: 2301-9271 1 STUDI NUMERIK PENGARUH PENAMBAHAN BODI PENGGANGGU TERHADAP KARAKTERISTIK ALIRAN FLUIDA MELINTASI SILINDER UTAMA Studi Kasus: Pengaruh penambahan

Lebih terperinci

oleh : Ahmad Nurdian Syah NRP Dosen Pembimbing : Vivien Suphandani Djanali, S.T., ME., Ph.D

oleh : Ahmad Nurdian Syah NRP Dosen Pembimbing : Vivien Suphandani Djanali, S.T., ME., Ph.D STUDI NUMERIK PENGARUH VARIASI REYNOLDS NUMBER DAN RICHARDSON NUMBER PADA KARAKTERISTIK ALIRAN FLUIDA MELEWATI SILINDER TUNGGAL YANG DIPANASKAN (HEATED CYLINDER) oleh : Ahmad Nurdian Syah NRP. 2112105028

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA DATA. Kecepatan arus ( m/s) 0,6 1,2 1,6 1,8. Data kecepatan arus pada musim Barat di Bulan Desember dapt dilihat dari tabel di bawah.

BAB IV ANALISA DATA. Kecepatan arus ( m/s) 0,6 1,2 1,6 1,8. Data kecepatan arus pada musim Barat di Bulan Desember dapt dilihat dari tabel di bawah. BAB IV ANALISA DATA 4.1 Umum Pada bab ini menguraikan langkah-langkah dalam pengolahan data-data yang telah didapatkan sebelumnya. Data yang didapatkan, mewakili keseluruhan data sistem yang digunakan

Lebih terperinci

STUDI NUMERIK PENGARUH GEOMETRI DAN DESAIN DIFFUSER UNTUK PENINGKATAN KINERJA DAWT (DIFFUSER AUGMENTED WIND TURBINE)

STUDI NUMERIK PENGARUH GEOMETRI DAN DESAIN DIFFUSER UNTUK PENINGKATAN KINERJA DAWT (DIFFUSER AUGMENTED WIND TURBINE) STUDI NUMERIK PENGARUH GEOMETRI DAN DESAIN DIFFUSER UNTUK PENINGKATAN KINERJA DAWT (DIFFUSER AUGMENTED WIND TURBINE) Adhana Tito 2411106007 Dosen Pembimbing : Dr.Gunawan Nugroho, S.T,M.T. NIPN. 1977 11272002

Lebih terperinci

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 2, (2012) ISSN:

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 2, (2012) ISSN: 1 STUDI EKSPERIMEN DAN NUMERIK ALIRAN DIDALAM RECTANGULAR ELBOW 90 o YANG DILENGKAPI DENGAN ROUNDED LEADING AND TRAILING EDGES GUIDE VANE Studi Kasus Untuk Bilangan Reynolds, Re Dh = 2,1 x 10 4 Adityas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Desain yang baik dari sebuah airfoil sangatlah perlu dilakukan, dengan tujuan untuk meningkatkan unjuk kerja airfoil

BAB I PENDAHULUAN. Desain yang baik dari sebuah airfoil sangatlah perlu dilakukan, dengan tujuan untuk meningkatkan unjuk kerja airfoil BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Desain yang baik dari sebuah airfoil sangatlah perlu dilakukan, dengan tujuan untuk meningkatkan unjuk kerja airfoil itu sendiri. Airfoil pada pesawat terbang digunakan

Lebih terperinci

STUDI EKSPERIMEN DAN NUMERIK TENTANG ALIRAN BOUNDARY LAYER YANG MELINTASI BUMP DENGAN RADIUS KELENGKUNGAN YANG KECIL

STUDI EKSPERIMEN DAN NUMERIK TENTANG ALIRAN BOUNDARY LAYER YANG MELINTASI BUMP DENGAN RADIUS KELENGKUNGAN YANG KECIL Proposal Tugas Akhir Konversi Energi STUDI EKSPERIMEN DAN NUMERIK TENTANG ALIRAN BOUNDARY LAYER YANG MELINTASI BUMP DENGAN RADIUS KELENGKUNGAN YANG KECIL Disusun Oleh : Herry Sufyan Hadi 2107100081 Dosen

Lebih terperinci

Studi Numerik Karakteristik Aliran Melalui Backward Facing Inclined Step dengan Penambahan Paparan Panas Deri Gedung pada Sisi Upstream

Studi Numerik Karakteristik Aliran Melalui Backward Facing Inclined Step dengan Penambahan Paparan Panas Deri Gedung pada Sisi Upstream B29 Studi Numerik Karakteristik Aliran Melalui Backward Facing Inclined Step dengan Penambahan Paparan Panas Deri Gedung pada Sisi Upstream Franciska Enstinita Puspita dan Wawan Aries Widodo Departemen

Lebih terperinci

Studi Numerik Karakteristik Aliran Fluida Melintasi Airfoil NASA LS-0417 yang Dimodifikasi dengan Vortex Generator

Studi Numerik Karakteristik Aliran Fluida Melintasi Airfoil NASA LS-0417 yang Dimodifikasi dengan Vortex Generator JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 2, (2012) ISSN: 2301-9271 1 Studi Numerik Karakteristik Aliran Fluida Melintasi Airfoil NASA LS-0417 yang Dimodifikasi dengan Vortex Generator Nafiatun Nisa dan Sutardi

Lebih terperinci

4.2 Laminer dan Turbulent Boundary Layer pada Pelat Datar. pada aliran di leading edge karena perubahan kecepatan aliran yang tadinya uniform

4.2 Laminer dan Turbulent Boundary Layer pada Pelat Datar. pada aliran di leading edge karena perubahan kecepatan aliran yang tadinya uniform 4.2 Laminer dan Turbulent Boundary Layer pada Pelat Datar Aliran laminer dan turbulen melintasi pelat datar dapat disimulasikan dengan mengalirkan uniform flow sepanjang pelat (Gambar 4.15). Boundary Layer

Lebih terperinci

STUDI EKSPERIMEN dan NUMERIK PENGARUH PENAMBAHAN KEKASARAN PERMUKAAN TERHADAP KARAKTERISTIK BOUNDARY LAYER MELINTASI BUMP (Re = 21000)

STUDI EKSPERIMEN dan NUMERIK PENGARUH PENAMBAHAN KEKASARAN PERMUKAAN TERHADAP KARAKTERISTIK BOUNDARY LAYER MELINTASI BUMP (Re = 21000) JURNAL TEKNIK ITS Vol. 1, No. 1, (2014) ISSN: 2334-234300 1 STUDI EKSPERIMEN dan NUMERIK PENGARUH PENAMBAHAN KEKASARAN PERMUKAAN TERHADAP KARAKTERISTIK BOUNDARY LAYER MELINTASI BUMP (Re = 21000) Mega Dewi

Lebih terperinci

FakultasTeknologi Industri Institut Teknologi Nepuluh Nopember. Oleh M. A ad Mushoddaq NRP : Dosen Pembimbing Dr. Ir.

FakultasTeknologi Industri Institut Teknologi Nepuluh Nopember. Oleh M. A ad Mushoddaq NRP : Dosen Pembimbing Dr. Ir. STUDI NUMERIK PENGARUH KELENGKUNGAN SEGMEN KONTUR BAGIAN DEPAN TERHADAP KARAKTERISTIK ALIRAN FLUIDA MELINTASI AIRFOIL TIDAK SIMETRIS ( DENGAN ANGLE OF ATTACK = 0, 4, 8, dan 12 ) Dosen Pembimbing Dr. Ir.

Lebih terperinci

STUDI NUMERIK : MODIFIKASI BODI NOGOGENI PROTOTYPE PROJECT GUNA MEREDUKSI GAYA HAMBAT

STUDI NUMERIK : MODIFIKASI BODI NOGOGENI PROTOTYPE PROJECT GUNA MEREDUKSI GAYA HAMBAT STUDI NUMERIK : MODIFIKASI BODI NOGOGENI PROTOTYPE PROJECT GUNA MEREDUKSI GAYA HAMBAT GLADHI DWI SAPUTRA 2111 030 013 DOSEN PEMBIMBING DEDY ZULHIDAYAT NOOR, ST, MT, PhD PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK

Lebih terperinci

BAB 4 ANALISA DAN PEMBAHASAN HASIL EKSPERIMEN

BAB 4 ANALISA DAN PEMBAHASAN HASIL EKSPERIMEN BAB 4 ANALISA DAN PEMBAHASAN HASIL EKSPERIMEN 4.1 Data Penelitian Pada metode ini, udara digunakan sebagai fluida kerja, dengan spesifikasi sebagai berikut: Asumsi aliran steady dan incompressible. Temperatur

Lebih terperinci

STUDI NUMERIK RADIUS VOLUTE TONGUE RUMAH KEONG PADA BLOWER SENTRIFUGAL

STUDI NUMERIK RADIUS VOLUTE TONGUE RUMAH KEONG PADA BLOWER SENTRIFUGAL STUDI NUMERIK RADIUS VOLUTE TONGUE RUMAH KEONG PADA BLOWER SENTRIFUGAL Sutrisno 1), Suwandi. S. 2), Ayub. S. 3) Prodi Teknik Mesin Universitas Kristen Petra 1,2,3) Jalan. Siwalankerto 121-131, Surabaya

Lebih terperinci

STUDI NUMERIK VARIASI INLET DUCT PADA HEAT RECOVERY STEAM GENERATOR

STUDI NUMERIK VARIASI INLET DUCT PADA HEAT RECOVERY STEAM GENERATOR JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 2, (2014) ISSN: 2301-9271 1 STUDI NUMERIK VARIASI INLET DUCT PADA HEAT RECOVERY STEAM GENERATOR Bayu Kusuma Wardhana ), Vivien Suphandani Djanali 2) Jurusan Teknik Mesin,

Lebih terperinci

Studi Numerik Karakteristik Separasi dan Reattachment Aliran Di Belakang Gundukan (BUMP) Setengah Lingkaran. Setyo Hariyadi S.P. 1

Studi Numerik Karakteristik Separasi dan Reattachment Aliran Di Belakang Gundukan (BUMP) Setengah Lingkaran. Setyo Hariyadi S.P. 1 Studi Numerik Karakteristik Separasi dan Reattachment Aliran Di Belakang Gundukan (BUMP) Setengah Lingkaran Setyo Hariyadi S.P. 1 1) Program Studi Teknik Pesawat Udara, Politeknik Penerbangan Surabaya

Lebih terperinci

MAKALAH KOMPUTASI NUMERIK

MAKALAH KOMPUTASI NUMERIK MAKALAH KOMPUTASI NUMERIK ANALISA ALIRAN FLUIDA DALAM PIPA SIRKULAR DAN PIPA SPIRAL UNTUK INSTALASI SALURAN AIR DI RUMAH DENGAN SOFTWARE CFD Oleh : MARIO RADITYO PRARTONO 1306481972 DEPARTEMEN TEKNIK MESIN

Lebih terperinci

Perubahan Hambatan Viskos Kapal Katamaran akibat Variasi Yaw Angel dengan Simulasi Numerik

Perubahan Hambatan Viskos Kapal Katamaran akibat Variasi Yaw Angel dengan Simulasi Numerik Perubahan Hambatan Viskos Kapal Katamaran akibat Variasi Yaw Angel dengan Simulasi Numerik Tebiary Lepinus 1 *, Ronald Mangasi Hutauruk 2 Pengajar Akademi Maritim Maluku, Ambon, Indonesia 1* e-mail: [email protected]

Lebih terperinci

DAFTAR GAMBAR Gambar 1.1 Konsumsi tenaga listrik Indonesia... 1 Gambar 2.1 Klasifikasi aliran fluida... 6 Gambar 2.2 Daerah aliran inviscid dan aliran viscous... 7 Gambar 2.3 Roda air kuno... 10 Gambar

Lebih terperinci

STUDI NUMERIK VARIASI TURBULENSI MODEL PADA ALIRAN FLUIDA MELEWATI SILINDER TUNGGAL YANG DIPANASKAN (HEATED CYLINDER)

STUDI NUMERIK VARIASI TURBULENSI MODEL PADA ALIRAN FLUIDA MELEWATI SILINDER TUNGGAL YANG DIPANASKAN (HEATED CYLINDER) TUGAS AKHIR KONVERSI ENERGI STUDI NUMERIK VARIASI TURBULENSI MODEL PADA ALIRAN FLUIDA MELEWATI SILINDER TUNGGAL YANG DIPANASKAN (HEATED CYLINDER) Syaiful Rizal 2112105036 Dosen Pembimbing : Vivien Suphandani

Lebih terperinci

tudi kasus pengaruh perbandingan rusuk b/a = 12/12, 5/12, 4/12, 3/12, 2/12, 1/12, 0/12 dengan Re = 3 x 10 4.

tudi kasus pengaruh perbandingan rusuk b/a = 12/12, 5/12, 4/12, 3/12, 2/12, 1/12, 0/12 dengan Re = 3 x 10 4. TUGAS AKHIR (KONVERSI ENERGI) TM 091486 STUDI EKSPERIMENTAL DAN NUMERIK KARAKTERISTIK ALIRAN FLUIDA MELINTASI PRISMA TERPANCUNG Dengan PANJANG CHORD (L/A) = 4 tudi kasus pengaruh perbandingan rusuk b/a

Lebih terperinci

Bab II Ruang Bakar. Bab II Ruang Bakar

Bab II Ruang Bakar. Bab II Ruang Bakar Bab II Ruang Bakar Sebelum berangkat menuju pelaksanaan eksperimen dalam laboratorium, perlu dilakukan sejumlah persiapan pra-eksperimen yang secara langsung maupun tidak langsung dapat dijadikan pedoman

Lebih terperinci

Tulisan pada bab ini menyajikan simpulan atas berbagai analisa atas hasil-hasil yang telah dibahas secara detail dan terstruktur pada bab-bab

Tulisan pada bab ini menyajikan simpulan atas berbagai analisa atas hasil-hasil yang telah dibahas secara detail dan terstruktur pada bab-bab Tulisan pada bab ini menyajikan simpulan atas berbagai analisa atas hasil-hasil yang telah dibahas secara detail dan terstruktur pada bab-bab sebelumnya. Selanjutnya agar penelitian ini dapat memberikan

Lebih terperinci

Kaji Numerik Optimasi Kinerja Rotor Savonius Dua Bilah dan Tiga Bilah

Kaji Numerik Optimasi Kinerja Rotor Savonius Dua Bilah dan Tiga Bilah Kaji Numerik Optimasi Kinerja Rotor Savonius Dua Bilah dan Tiga Bilah Maria F. Soetanto (1) dan Asri Yusnita (2) (1) Jurusan Teknik Mesin, Politeknik Negeri Bandung Jl. Gegerkalong Hilir, Ds Ciwaruga,

Lebih terperinci

START STUDI LITERATUR MENGIDENTIFIKASI PERMASALAHAN. PENGUMPULAN DATA : - Kecepatan Angin - Daya yang harus dipenuhi

START STUDI LITERATUR MENGIDENTIFIKASI PERMASALAHAN. PENGUMPULAN DATA : - Kecepatan Angin - Daya yang harus dipenuhi START STUDI LITERATUR MENGIDENTIFIKASI PERMASALAHAN PENGUMPULAN DATA : - Kecepatan Angin - Daya yang harus dipenuhi PENGGAMBARAN MODEL Pemilihan Pitch Propeller (0,2 ; 0,4 ; 0,6) SIMULASI CFD -Variasi

Lebih terperinci

BAB III CFD DAN PENDEKATAN NUMERIK

BAB III CFD DAN PENDEKATAN NUMERIK BAB III CFD DAN PENDEKATAN NUMERIK 3.1. CFD [10] Computational Fluid Dynamics (CFD) adalah tool berbasis komputer untuk mensimulasikan perilaku suatu sistem yang melibatkan aliran fluida, perpindahan panas

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI Pendahuluan. 2.2 Turbin [6,7,]

BAB II DASAR TEORI Pendahuluan. 2.2 Turbin [6,7,] BAB II DASAR TEORI 2.1. Pendahuluan Bab ini membahas tentang teori yang digunakan sebagai dasar simulasi serta analisis. Bagian pertama dimulasi dengan teori tentang turbin uap aksial tipe impuls dan reaksi

Lebih terperinci

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 1, (2013) ISSN: ( Print) B-26

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 1, (2013) ISSN: ( Print) B-26 JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 1, (2013) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) B-26 Studi Numerik Pengaruh Variasi Jarak Antar Gigi, Tinggi Gigi, Tekanan Inlet dan Kecepatan Putaran Poros Turbin ORC Pada

Lebih terperinci

MASUK FAISAL HAJJ MESINN TEKNIK MEDAN Universitas Sumatera Utara

MASUK FAISAL HAJJ MESINN TEKNIK MEDAN Universitas Sumatera Utara ANALISA PRESTASI TURBIN VORTEX DENGAN MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK CFD PADA DUA VARIASI DIMENSI SUDU SERTA VARIASI DEBIT AIR MASUK SKRIPSI Skripsi Yangg Diajukan Untuk Melengkapi Syarat Memperoleh Gelar

Lebih terperinci

SIMULASI PERILAKU AERODINAMIKA DALAM KONDISI STEADY DAN UNSTEADY PADA MOBIL MENYERUPAI TOYOTA AVANZA DENGAN CFD

SIMULASI PERILAKU AERODINAMIKA DALAM KONDISI STEADY DAN UNSTEADY PADA MOBIL MENYERUPAI TOYOTA AVANZA DENGAN CFD TUGAS AKHIR SIMULASI PERILAKU AERODINAMIKA DALAM KONDISI STEADY DAN UNSTEADY PADA MOBIL MENYERUPAI TOYOTA AVANZA DENGAN CFD Tugas Akhir ini disusun Untuk Memenuhi Sebagai Persyaratan Memperoleh Derajat

Lebih terperinci

NASKAH PUBLIKASI KARYA ILMIAH SIMULASI PERILAKU AERODINAMIKA DALAM KONDISI STEADY DAN UNSTEADY PADA MOBIL MENYERUPAI TOYOTA AVANZA DENGAN CFD

NASKAH PUBLIKASI KARYA ILMIAH SIMULASI PERILAKU AERODINAMIKA DALAM KONDISI STEADY DAN UNSTEADY PADA MOBIL MENYERUPAI TOYOTA AVANZA DENGAN CFD NASKAH PUBLIKASI KARYA ILMIAH SIMULASI PERILAKU AERODINAMIKA DALAM KONDISI STEADY DAN UNSTEADY PADA MOBIL MENYERUPAI TOYOTA AVANZA DENGAN CFD Disusun Untuk Memenuhi Tugas dan Syarat - Syarat Guna Memperoleh

Lebih terperinci

INVESTIGASI KARAKTERISTIK PERPINDAHAN PANAS PADA DESAIN HELICAL BAFFLE PENUKAR PANAS TIPE SHELL AND TUBE BERBASIS COMPUTATIONAL FLUID DYNAMICS (CFD)

INVESTIGASI KARAKTERISTIK PERPINDAHAN PANAS PADA DESAIN HELICAL BAFFLE PENUKAR PANAS TIPE SHELL AND TUBE BERBASIS COMPUTATIONAL FLUID DYNAMICS (CFD) INVESTIGASI KARAKTERISTIK PERPINDAHAN PANAS PADA DESAIN HELICAL BAFFLE PENUKAR PANAS TIPE SHELL AND TUBE BERBASIS COMPUTATIONAL FLUID DYNAMICS (CFD) Mirza Quanta Ahady Husainiy 2408100023 Dosen Pembimbing

Lebih terperinci

Bab IV Analisis. 4.1 Uji Konvergensi

Bab IV Analisis. 4.1 Uji Konvergensi Bab IV Analisis... 37 4.1 Uji Konvergensi... 37 4.1.1 Pendahuluan... 37 4.1.2 Uji Konvergensi pada model tanpa cacat... 37 4.1.3 Uji Konvergensi pada model cacat... 39 4.2 Analisis Tegangan Bilah Kipas...

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 29 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 PENDAHULUAN Metodelogi penelitian merupakan cara atau prosedur yang berisi tahapan tahapan yang jelas dan runtut yang disusun secara sistematis dalam proses penelitian.

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Diagram Alir Penelitian Urutan langkah-langkah pengujian turbin Savonius mengacu pada diagram dibawah ini: MULAI Studi Pustaka Pemilihan Judul Penelitian Penetapan Variabel

Lebih terperinci

Simulasi Numerik Karakteristik Aliran Fluida Melewati Silinder Teriris Satu Sisi (Tipe D) dengan Variasi Sudut Iris dan Sudut Serang

Simulasi Numerik Karakteristik Aliran Fluida Melewati Silinder Teriris Satu Sisi (Tipe D) dengan Variasi Sudut Iris dan Sudut Serang Simulasi Numerik Karakteristik Aliran Fluida Melewati Silinder Teriris Satu Sisi (Tipe D) dengan Variasi Sudut Iris dan Sudut Serang Astu Pudjanarsa Laborotorium Mekanika Fluida Jurusan Teknik Mesin FTI-ITS

Lebih terperinci

BAB IV PENGOLAHAN DATA

BAB IV PENGOLAHAN DATA BAB IV PENGOLAHAN DATA 4.1 Penentuan Data Uncertainty Dalam setiap penelitian, pengambilan data merupakan hal yang penting. Namun yang namanya kesalahan pengambilan data selalu ada. Kesalahan tersebut

Lebih terperinci

Analisa Aliran Fluida Pada Turbin Udara Untuk Pneumatic Wave Energy Converter (WEC) Menggunakan Computational Fluid Dynamic (CFD)

Analisa Aliran Fluida Pada Turbin Udara Untuk Pneumatic Wave Energy Converter (WEC) Menggunakan Computational Fluid Dynamic (CFD) LOGO Analisa Aliran Fluida Pada Turbin Udara Untuk Pneumatic Wave Energy Converter (WEC) Menggunakan Computational Fluid Dynamic (CFD) Dosen Pembimbing : 1. Beni Cahyono, ST, MT. 2. Sutopo Purwono F. ST,

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PERHITUNGAN

BAB III METODOLOGI PERHITUNGAN BAB III METODOLOGI PERHITUNGAN Pada bab ini menguraikan langkah-langkah sistematis yang dilakukan dalam perhitungan. Metodologi merupakan kerangka dasar dari tahapan penyelesaian tugas akhir. Metodologi

Lebih terperinci

BAB V BACKWARD - FACING STEP. Hasil validasi software memberikan informasi tentang karakteristik

BAB V BACKWARD - FACING STEP. Hasil validasi software memberikan informasi tentang karakteristik BAB V BACKWARD - FACING STEP Hasil validasi software memberikan informasi tentang karakteristik discretization scheme dan performance kelima model turbulensi dalam menyelesaikan aliran di dekat dinding.

Lebih terperinci

SIMULASI NUMERIK ALIRAN FLUIDA PADA TINGKAT PERTAMA KOMPRESOR DALAM INSTALASI TURBIN GAS DENGAN DAYA 141,9MW MENGGUNAKAN CFD FLUENT 6.3.

SIMULASI NUMERIK ALIRAN FLUIDA PADA TINGKAT PERTAMA KOMPRESOR DALAM INSTALASI TURBIN GAS DENGAN DAYA 141,9MW MENGGUNAKAN CFD FLUENT 6.3. 1 SIMULASI NUMERIK ALIRAN FLUIDA PADA TINGKAT PERTAMA KOMPRESOR DALAM INSTALASI TURBIN GAS DENGAN DAYA 141,9MW MENGGUNAKAN CFD FLUENT 6.3.26 SKRIPSI Skripsi Yang Diajukan Untuk Melengkapi Syarat Memperoleh

Lebih terperinci

Komparasi Bentuk Daun Kemudi terhadap Gaya Belok dengan Pendekatan CFD

Komparasi Bentuk Daun Kemudi terhadap Gaya Belok dengan Pendekatan CFD JURNAL TEKNIK ITS Vol. 1, (Sept, 2012) ISSN: 2301-9271 G-104 Komparasi Bentuk Daun Kemudi terhadap Gaya Belok dengan Pendekatan CFD Prima Ihda Kusuma Wardana, I Ketut Aria Pria Utama Jurusan Teknik Perkapalan,

Lebih terperinci

STUDI EKSPERIMENTAL PERBANDINGAN ALIRAN MELINTASI DUA SILINDER SIRKULAR DAN SILINDER ELIPS TERSUSUN TANDEM DAN INTERAKSINYA TERHADAP DINDING DATAR

STUDI EKSPERIMENTAL PERBANDINGAN ALIRAN MELINTASI DUA SILINDER SIRKULAR DAN SILINDER ELIPS TERSUSUN TANDEM DAN INTERAKSINYA TERHADAP DINDING DATAR STUDI EKSPERIMENTAL PERBANDINGAN ALIRAN MELINTASI DUA SILINDER SIRKULAR DAN SILINDER ELIPS TERSUSUN TANDEM DAN INTERAKSINYA TERHADAP DINDING DATAR Helmizar 1 ABSTRACT The study was conducted to obtain

Lebih terperinci

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 7, No. 7, (2014) 1-6 1

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 7, No. 7, (2014) 1-6 1 JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 7, No. 7, (2014) 1-6 1 STUDI NUMERIK PENGARUH GEOMETRI DAN DESAIN DIFFUSER UNTUK PENINGKATAN KINERJA DAWT(DIFFUSER AUGMENTED WIND TURBINE) Adhana Tito Hary W. 1, Gunawan Nugroho

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya semua fenomena aerodinamis yang terjadi pada. kendaraan mobil disebabkan adanya gerakan relative dari udara

BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya semua fenomena aerodinamis yang terjadi pada. kendaraan mobil disebabkan adanya gerakan relative dari udara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada dasarnya semua fenomena aerodinamis yang terjadi pada kendaraan mobil disebabkan adanya gerakan relative dari udara disepanjang bentuk body mobil. Streamline adalah

Lebih terperinci

Bab VI Hasil dan Analisis

Bab VI Hasil dan Analisis Bab VI Hasil dan Analisis Dalam bab ini akan disampaikan data-data hasil eksperimen yang telah dilakukan di dalam laboratorium termodinamika PRI ITB, dan juga hasil pengolahan data-data tersebut yang diberikan

Lebih terperinci

BAB IV VALIDASI SOFTWARE. Validasi software Ansys CFD Flotran menggunakan dua classical flow

BAB IV VALIDASI SOFTWARE. Validasi software Ansys CFD Flotran menggunakan dua classical flow BAB IV VALIDASI SOFTWARE Validasi software Ansys CFD Flotran menggunakan dua classical flow problem. Simulasi pertama adalah aliran di dalam square driven cavity. Simulasi ini akan menguji kemampuan software

Lebih terperinci

Analisa Efisiensi Turbin Vortex Dengan Casing Berpenampang Lingkaran Pada Sudu Berdiameter 56 Cm Untuk 3 Variasi Jarak Sudu Dengan Saluran Keluar

Analisa Efisiensi Turbin Vortex Dengan Casing Berpenampang Lingkaran Pada Sudu Berdiameter 56 Cm Untuk 3 Variasi Jarak Sudu Dengan Saluran Keluar Analisa Efisiensi Turbin Vortex Dengan Casing Berpenampang Lingkaran Pada Sudu Berdiameter 56 Cm Untuk 3 Variasi Jarak Sudu Dengan Saluran Keluar Ray Posdam J Sihombing 1, Syahril Gultom 2 1,2 Departemen

Lebih terperinci

SIMULASI NUMERIK ALIRAN FLUIDA PADA TINGKAT PERTAMA TURBIN UAP MENGGUNAKAN CFD FLUENT

SIMULASI NUMERIK ALIRAN FLUIDA PADA TINGKAT PERTAMA TURBIN UAP MENGGUNAKAN CFD FLUENT SIMULASI NUMERIK ALIRAN FLUIDA PADA TINGKAT PERTAMA TURBIN UAP MENGGUNAKAN CFD FLUENT SKRIPSI Skripsi diajukan untuk melengkapi syarat memperoleh gelar Sarjana Teknik EKO KURNIAWAN 040401020 DEPARTEMEN

Lebih terperinci

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2014) 1-5 1

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2014) 1-5 1 JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2014) 1-5 1 STUDI EKSPERIMEN DAN NUMERIK TENTANG ALIRAN BOUNDARY LAYER YANG MELINTASI BUMP SETENGAH LINGKARAN DENGAN PENGGANGGU BERUPA KAWAT MELINTANG Studi Kasus Untuk

Lebih terperinci

Seminar NasionalInovasi Dan AplikasiTeknologi Di Industri 2017 ISSN ITN Malang, 4 Pebruari 2017

Seminar NasionalInovasi Dan AplikasiTeknologi Di Industri 2017 ISSN ITN Malang, 4 Pebruari 2017 STUDI NUMERIK 2-D PENGARUH TURBULENSI ALIRAN BEBAS (FREE STREAM TUBULENCE) TERHADAP PERPINDAHAN PANAS ALIRAN CROSSFLOW SILINDER SIRKULAR TUNGGAL DAN TANDEM Arif Kurniawan 1) 1) Jurusan Teknik Mesin Institut

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Keyword : R ed, c p, Nu and k-ω SST. Kata Kunci: R ed, c p, Nu, dan k-ω SST.

PENDAHULUAN. Keyword : R ed, c p, Nu and k-ω SST. Kata Kunci: R ed, c p, Nu, dan k-ω SST. STUDI NUMERIK PENGARUH BILANGAN REYNOLDS TERHADAP PERPINDAHAN PANAS MELINTASI SILINDER STAGGERED METODE TURBULEN K-Ω SST 2-D UNSTEADY REYNOLDS AVERAGED NAVIER STOKES (URANS) (Studi kasus untuk Re d = 4,42x10

Lebih terperinci

STUDI EKSPERIMENTAL PENGARUH GAYA GELOMBANG LAUT TERHADAP PEMBANGKITAN GAYA THRUST HYDROFOIL SERI NACA 0012 DAN NACA 0018

STUDI EKSPERIMENTAL PENGARUH GAYA GELOMBANG LAUT TERHADAP PEMBANGKITAN GAYA THRUST HYDROFOIL SERI NACA 0012 DAN NACA 0018 Program Studi MMT-ITS, Surabaya 27 Juli 213 STUDI EKSPERIMENTAL PENGARUH GAYA GELOMBANG LAUT TERHADAP PEMBANGKITAN GAYA THRUST HYDROFOIL SERI NACA 12 DAN NACA 18 Ika Nur Jannah 1*) dan Syahroni Hidayat

Lebih terperinci

ANALISA AERODINAMIKA FLAP DAN SLAT PADA AIRFOIL NACA 2410 TERHADAP KOEFISIEN LIFT DAN KOEFISIEN DRAG DENGAN METODE COMPUTATIONAL FLUID DYNAMIC

ANALISA AERODINAMIKA FLAP DAN SLAT PADA AIRFOIL NACA 2410 TERHADAP KOEFISIEN LIFT DAN KOEFISIEN DRAG DENGAN METODE COMPUTATIONAL FLUID DYNAMIC NASKAH PUBLIKASI KARYA ILMIAH ANALISA AERODINAMIKA FLAP DAN SLAT PADA AIRFOIL NACA 410 TERHADAP KOEFISIEN LIFT DAN KOEFISIEN DRAG DENGAN METODE COMPUTATIONAL FLUID DYNAMIC Abstraksi Tugas Akhir ini disusun

Lebih terperinci

Studi Eksperimen dan Numerik Pengaruh Penambahan Vortex Generator pada Airfoil NASA LS-0417

Studi Eksperimen dan Numerik Pengaruh Penambahan Vortex Generator pada Airfoil NASA LS-0417 JURNAL TEKNIK ITS Vol. 4, No. 1, (2015) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) B-102 Studi Eksperimen dan Numerik Pengaruh Penambahan Vortex Generator pada Airfoil NASA LS-0417 Ulul Azmi dan Herman Sasongko

Lebih terperinci

Bab 4 Perancangan dan Pembuatan Pembakar (Burner) Gasifikasi

Bab 4 Perancangan dan Pembuatan Pembakar (Burner) Gasifikasi Bab 4 Perancangan dan Pembuatan Pembakar (Burner) Gasifikasi 4.1 Pertimbangan Awal Pembakar (burner) adalah alat yang digunakan untuk membakar gas hasil gasifikasi. Di dalam pembakar (burner), gas dicampur

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2. Blade Falon Dasar dari usulan penelitian ini adalah konsep turbin angin yang berdaya tinggi buatan Amerika yang diberi nama Blade Falon. Blade Falon merupakan desain sudu turbin

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Alat Penelitian Pada penelitian ini software yang digunakan untuk simulasi adalah jenis program CFD ANSYS 15.0 FLUENT. 3.1.1 Prosedur Penggunaan Software Ansys 15.0 Setelah

Lebih terperinci

Studi Eksperimen Aliran Melalui Square Duct dan Square Elbow 90º dengan Double Guide Vane pada Variasi Sudut Bukaan Damper

Studi Eksperimen Aliran Melalui Square Duct dan Square Elbow 90º dengan Double Guide Vane pada Variasi Sudut Bukaan Damper B-62 JURNAL TEKNIK ITS Vol. 5 No. 2 (216) ISSN: 2337-3539 (231-9271 Print) Studi Eksperimen Aliran Melalui Square Duct dan Square Elbow 9º dengan Double Guide Vane pada Variasi Sudut Bukaan Damper Andrew

Lebih terperinci

PENELITIAN KARAKTERISTIK AERODINAMIKA TRAILING EDGE SIRIP ROKET PADA KECEPATAN TRANSONIK DENGAN SIMULASI NUMERIK

PENELITIAN KARAKTERISTIK AERODINAMIKA TRAILING EDGE SIRIP ROKET PADA KECEPATAN TRANSONIK DENGAN SIMULASI NUMERIK PENELITIAN KARAKTERISTIK AERODINAMIKA TRAILING EDGE SIRIP ROKET PADA KECEPATAN TRANSONIK DENGAN SIMULASI NUMERIK Agus Aribowo Peneliti Unit Uji Acrodinamika LAPAN ABSTRACT Research of fin aerodynamic at

Lebih terperinci

ROTASI Volume 8 Nomor 1 Januari

ROTASI Volume 8 Nomor 1 Januari ROTASI Volume 8 Nomor 1 Januari 2006 33 SIMULASI AERODINAMIKA PADA MODEL SIMPLIFIED BUS MENGGUNAKAN PROGRAM COMPUTATIONAL FLUID DYNAMICS MSK. Tony Suryo Utomo 1) Abstrak Pada penelitian ini simulasi aerodinamika

Lebih terperinci

Kajian CFD Perbandingan Kinerja Tiga Buah Model Runner Turbin Francis

Kajian CFD Perbandingan Kinerja Tiga Buah Model Runner Turbin Francis Kajian CFD Perbandingan Kinerja Tiga Buah Model Runner Turbin Francis Gusriwandi Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Andalas, Padang Email: [email protected] Abstrak Kajian ini berisi

Lebih terperinci

ecofirm SIMULASI MEKANISME PASSIVE PITCH DENGAN FLAPPING WING PADA TURBIN VERTIKAL AKSIS ARUS SUNGAI TIPE DARRIEUS STRAIGHT-BLADED BERBASIS CFD

ecofirm SIMULASI MEKANISME PASSIVE PITCH DENGAN FLAPPING WING PADA TURBIN VERTIKAL AKSIS ARUS SUNGAI TIPE DARRIEUS STRAIGHT-BLADED BERBASIS CFD ecofirm SIMULASI MEKANISME PASSIVE PITCH DENGAN FLAPPING WING PADA TURBIN VERTIKAL AKSIS ARUS SUNGAI TIPE DARRIEUS STRAIGHT-BLADED BERBASIS CFD Dosen pembiming: Dr. Ridho Hantoro, ST., MT. NIP. 197612232005011001

Lebih terperinci

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 2, (2014) ISSN:

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 2, (2014) ISSN: JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 2, (2014) ISSN: 2301-9271 1 Studi Eksperimen dan Numerik Mengenai Pengaruh Penambahan Splitter Plate Terhadap Karakteristik Aliran Di Sekitar Silinder Sirkular Pada Bilangan

Lebih terperinci

SIMULASI DAN PERHITUNGAN SPIN ROKET FOLDED FIN BERDIAMETER 200 mm

SIMULASI DAN PERHITUNGAN SPIN ROKET FOLDED FIN BERDIAMETER 200 mm Simulasi dan Perhitungan Spin Roket... (Ahmad Jamaludin Fitroh et al.) SIMULASI DAN PERHITUNGAN SPIN ROKET FOLDED FIN BERDIAMETER 00 mm Ahmad Jamaludin Fitroh *), Saeri **) *) Peneliti Aerodinamika, LAPAN

Lebih terperinci

STUDI EKSPERIMENTAL PERBANDINGAN ALIRAN MELINTASI DUA SILINDER SIRKULAR DAN SILINDER ELIPS TERSUSUN TANDEM DAN INTERAKSINYA TERHADAP DINDING DATAR

STUDI EKSPERIMENTAL PERBANDINGAN ALIRAN MELINTASI DUA SILINDER SIRKULAR DAN SILINDER ELIPS TERSUSUN TANDEM DAN INTERAKSINYA TERHADAP DINDING DATAR STUDI EKSPERIMENTAL PERBANDINGAN ALIRAN MELINTASI DUA SILINDER SIRKULAR DAN SILINDER ELIPS TERSUSUN TANDEM DAN INTERAKSINYA TERHADAP DINDING DATAR Helmizar (1) (1) Dosen Program Studi Teknik Mesin Fakultas

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN Prosedur Penggunaan Software Ansys FLUENT 15.0

BAB III METODOLOGI PENELITIAN Prosedur Penggunaan Software Ansys FLUENT 15.0 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Alat Penelitian Pada penelitian ini menggunakan software jenis program CFD Ansys FLUENT 15.0 dengan diameter dalam pipa 19 mm, diameter luar pipa 25,4 dan panjang pipa

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Pengertian Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH)

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Pengertian Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) 6 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH), adalah suatu pembangkit listrik skala kecil yang menggunakan tenaga air

Lebih terperinci

Studi Numerik Steady RANS Aliran Fluida di Dalam Asymmetric Diffuser

Studi Numerik Steady RANS Aliran Fluida di Dalam Asymmetric Diffuser Journal INTEK. April 2017, Volume 4 (1): 20-26 20 Studi Numerik Steady RANS Aliran Fluida di Dalam Asymmetric Diffuser Yiyin Klistafani 1,a 1 Teknik Mesin, Politeknik Negeri Ujung Pandang, Jl. Perintis

Lebih terperinci

Panduan Praktikum Mesin-Mesin Fluida 2012

Panduan Praktikum Mesin-Mesin Fluida 2012 PERCOBAAN TURBIN PELTON A. TUJUAN PERCOBAAN Tujuan dari pelaksanaan percobaan ini adalah untuk mempelajari prinsip kerja dan karakteristik performance turbin air (pelton). Karakteristik performance turbin

Lebih terperinci

ANALISA PENGARUH BENTUK FOIL SECTION NOZZLE TERHADAP EFISIENSI PROPULSI PADA KAPAL TUNDA

ANALISA PENGARUH BENTUK FOIL SECTION NOZZLE TERHADAP EFISIENSI PROPULSI PADA KAPAL TUNDA ANALISA PENGARUH BENTUK FOIL SECTION NOZZLE TERHADAP EFISIENSI PROPULSI PADA KAPAL TUNDA Triyanti Irmiyana (1), Surjo W. Adji (2), Amiadji (3), Jurusan Teknik Perkapalan, Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 RANCANGAN OBSTACLE Pola kecepatan dan jenis aliran di dalam reaktor kolom gelembung sangat berpengaruh terhadap laju reaksi pembentukan biodiesel. Kecepatan aliran yang tinggi

Lebih terperinci

Simulasi Kincir Angin Savonius dengan Variasi Pengarah

Simulasi Kincir Angin Savonius dengan Variasi Pengarah Simulasi Kincir Angin Savonius dengan Variasi Pengarah Budi Sugiharto 1,2, Sudjito Soeparman 2, Denny Widhiyanuriyawan 2, Slamet Wahyudi 2 1) Teknik Mesin, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Sanata

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI 2.1. Tinjauan Pustaka

BAB II DASAR TEORI 2.1. Tinjauan Pustaka BAB II DASAR TEORI 2.1. Tinjauan Pustaka Chen, dkk (2013) meneliti tentang Vertical Axis Water Turbine (VAWT) yang diaplikasikan untuk menggerakkan power generation untuk aliran air dalam pipa. Tujuannya

Lebih terperinci

ANALISIS SUDU KOMPRESOR AKSIAL UNTUK SISTEM TURBIN HELIUM RGTT200K ABSTRAK ABSTRACT

ANALISIS SUDU KOMPRESOR AKSIAL UNTUK SISTEM TURBIN HELIUM RGTT200K ABSTRAK ABSTRACT ANALISIS SUDU KOMPRESOR AKSIAL UNTUK SISTEM TURBIN HELIUM RGTT200K Sri Sudadiyo Pusat Teknologi Reaktor dan Keselamatan Nuklir ABSTRAK ANALISIS SUDU KOMPRESOR AKSIAL UNTUK SISTEM TURBIN HELIUM RGTT200K.

Lebih terperinci

STUDI NUMERIK PENGARUH PANJANG RECTANGULAR OBSTACLE TERHADAP PERPINDAHAN PANAS PADA STAGGERED TUBE BANKS

STUDI NUMERIK PENGARUH PANJANG RECTANGULAR OBSTACLE TERHADAP PERPINDAHAN PANAS PADA STAGGERED TUBE BANKS 1 STUDI NUMERIK PENGARUH PANJANG RECTANGULAR OBSTACLE TERHADAP PERPINDAHAN PANAS PADA STAGGERED TUBE BANKS Hastama Arinta Fanny dan Prabowo Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi

Lebih terperinci

BAB V PERBANDINGAN SISTEM AKTUASI KATUP

BAB V PERBANDINGAN SISTEM AKTUASI KATUP BAB V PERBANDINGAN SISTEM AKTUASI KATUP 5.1 Perbandingan Dengan Sistem Terdahulu Sistem aktuasi katup terdahulu menggunakan tekanan di titik ukur sebagai masukan terhadap sistem pengendali FCV15. FCV15

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN PERANCANGAN AIRFOIL SUDU TURBIN ANGIN KECEPATAN RENDAH BERBASIS KOMPUTASI CERDAS

PENGEMBANGAN PERANCANGAN AIRFOIL SUDU TURBIN ANGIN KECEPATAN RENDAH BERBASIS KOMPUTASI CERDAS PENGEMBANGAN PERANCANGAN AIRFOIL SUDU TURBIN ANGIN KECEPATAN RENDAH BERBASIS KOMPUTASI CERDAS Ismoyo Haryanto, MSK Tony Suryo Utomo, Muhammad Nuim Labib Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas

Lebih terperinci

ANALISIS LAPISAN BATAS ALIRAN DALAM NOSEL STUDI KASUS: NOSEL RX 122

ANALISIS LAPISAN BATAS ALIRAN DALAM NOSEL STUDI KASUS: NOSEL RX 122 ANALISIS LAPISAN BATAS ALIRAN DALAM NOSEL STUDI KASUS: NOSEL RX 122 Ahmad Jamaludin Fitroh, Saeri Peneliti Pustekwagan, LAPAN Email : [email protected] ABSTRACT The simulation and calculation of boundary

Lebih terperinci

1.1 Latar Belakang dan Identifikasi Masalah

1.1 Latar Belakang dan Identifikasi Masalah BAB I PENDAHULUAN Seiring dengan pertumbuhan kebutuhan dan intensifikasi penggunaan air, masalah kualitas air menjadi faktor yang penting dalam pengembangan sumberdaya air di berbagai belahan bumi. Walaupun

Lebih terperinci

PEMBUATAN KODE DESAIN DAN ANALISIS TURBIN ANGIN SUMBU VERTIKAL DARRIEUS TIPE-H

PEMBUATAN KODE DESAIN DAN ANALISIS TURBIN ANGIN SUMBU VERTIKAL DARRIEUS TIPE-H Pembuatan Kode Desain dan Analisis.. (Agus Muhamad Arsad et al) PEMBATAN KODE DESAIN DAN ANALISIS TRBIN ANGIN SMB VERTIKAL DARRIES TIPE-H Agus Muhamad Arsad*), dan Firman Hartono**) *)niversitas Nurtanio

Lebih terperinci

SIMULASI ALIRAN FLUIDA PADA POMPA HIDRAM DENGAN VARIASI PANJANG PIPA PEMASUKAN DAN VARIASI TINGGI TABUNG UDARA MENGGUNAKAN CFD

SIMULASI ALIRAN FLUIDA PADA POMPA HIDRAM DENGAN VARIASI PANJANG PIPA PEMASUKAN DAN VARIASI TINGGI TABUNG UDARA MENGGUNAKAN CFD SIMULASI ALIRAN FLUIDA PADA POMPA HIDRAM DENGAN VARIASI PANJANG PIPA PEMASUKAN DAN VARIASI TINGGI TABUNG UDARA MENGGUNAKAN CFD SKRIPSI Skripsi Yang Diajukan Untuk Melengkapi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana

Lebih terperinci

BAB 4 MODELISASI KOMPUTASI dan PEMBAHASAN

BAB 4 MODELISASI KOMPUTASI dan PEMBAHASAN BAB 4 MODELISASI KOMPUTASI dan PEMBAHASAN 4.1. Pemodelan dalam EFD Tools Pemodelan komputasi menggunakan paket simulasi EFD Lab.8 yang terintegrasi pada tools CAD Solid Works, di mana proses modelling

Lebih terperinci

PENGARUH PERUBAHAN SUDUT BUTTERFLY VALVE TERHADAP POLA ALIRAN PADA DOWNSTREAM KATUP

PENGARUH PERUBAHAN SUDUT BUTTERFLY VALVE TERHADAP POLA ALIRAN PADA DOWNSTREAM KATUP PENGARUH PERUBAHAN SUDUT BUTTERFLY VALVE TERHADAP POLA ALIRAN PADA DOWNSTREAM KATUP Muhammad Hasbi Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Haluoleo, Kendari E-mail: [email protected] Abstrak

Lebih terperinci

BAB III PEMODELAN ALIRAN DAN ANALISIS

BAB III PEMODELAN ALIRAN DAN ANALISIS BAB III PEMODELAN ALIRAN DAN ANALISIS 3.1 Sistematika Pemodelan Untuk mengetahui pengaruh penutupan LCV terhadap kondisi aliran, perlu dilakukan pemodelan aliran. Pemodelan hanya dilakukan pada sebagian

Lebih terperinci

Studi Numerik Pengaruh Geometri dan Desain Diffuser untuk Peningkatan Kinerja DAWT (Diffuser Augmented Wind Turbine)

Studi Numerik Pengaruh Geometri dan Desain Diffuser untuk Peningkatan Kinerja DAWT (Diffuser Augmented Wind Turbine) Jurnal Teknik Mesin, Vol. 14, No. 2, Oktober 2013, 90-96 ISSN 1410-9867 DOI: 10.9744/jtm.14.2.90-96 Studi Numerik Pengaruh Geometri dan Desain Diffuser untuk Peningkatan Kinerja DAWT (Diffuser Augmented

Lebih terperinci

Studi Numerik Pengaruh Panjang Rectangular Obstacle terhadap Perpindahan Panas pada Staggered Tube Banks

Studi Numerik Pengaruh Panjang Rectangular Obstacle terhadap Perpindahan Panas pada Staggered Tube Banks JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 3, No. 2, (2014) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) B-180 Studi Numerik Pengaruh Panjang Rectangular Obstacle terhadap Perpindahan Panas pada Staggered Tube Banks Hastama Arinta

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN digilib.uns.ac.id BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Pengujian Turbin Cross Flow Tanpa Sudu Pengarah Pengujian turbin angin tanpa sudu pengarah dijadikan sebagai dasar untuk membandingkan efisiensi

Lebih terperinci

SIMULASI ALIRAN FLUIDA PADA POMPA HIDRAM DENGAN TINGGI AIR JATUH 2.3 M DENGAN MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK CFD

SIMULASI ALIRAN FLUIDA PADA POMPA HIDRAM DENGAN TINGGI AIR JATUH 2.3 M DENGAN MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK CFD SIMULASI ALIRAN FLUIDA PADA POMPA HIDRAM DENGAN TINGGI AIR JATUH 2.3 M DENGAN MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK CFD SKRIPSI Skripsi Yang Diajukan Untuk Melengkapi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik HERTO

Lebih terperinci

Bab 4. Analisis Hasil Simulasi

Bab 4. Analisis Hasil Simulasi Bab 4 Analisis Hasil Simulasi Pada bab ini, akan dilakukan analisis terhadap hasil simulasi skema numerik Lax-Wendroff dua langkah. Selain itu hasil simulasi juga akan divalidasi dengan menggunakan data

Lebih terperinci

Studi dan Implementasi Integrasi Monte Carlo

Studi dan Implementasi Integrasi Monte Carlo Studi dan Implementasi Integrasi Monte Carlo Firdi Mulia - 13507045 1 Program Studi Teknik Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha 10 Bandung 40132, Indonesia

Lebih terperinci