BAB III METODE PENELITIAN
|
|
|
- Liani Makmur
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 33 BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Subjek Penelitian Dalam penelitian tindakan kelas ini, peneliti akan melaksanakannya di salah satu sekolah lokasi PLP yaitu di SD N Sukarame yang beralamat di Jalan Cieunteung No. 123 Kelurahan Argasari Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya. Penelitian ini dilaksanakan pada semester II tahun pelajaran 2013/2014, yaitu sekitar bulan Maret Mei 2014, disesuaikan dengan kalender pendidikan atau kalender akademik sekolah. Dasar pertimbangan pemilihan lokasi penelitian ini yang juga merupakan salah satu lokasi PLP, mengingat peneliti mengalami pengalaman mengajar saat kegiatan PLP dan dari pengalaman tersebut, peneliti mengalami kesulitan dalam KBM yaitu rendahnya hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA. Salah satunya pada pembelajaran materi energi bunyi. Subjek penelitian adalah sasaran pelaksanaan penelitian tindakan kelas, yaitu guru (peneliti) dan siswa kelas IV SD N Sukarame Tasikmalaya. Jumlah keseluruhan siswa kelas IV SD N Sukarame ialah sebanyak 45 orang. Namun, di sini peneliti menggunakan teknik simple random sampling atau bisa disebut dengan teknik sampel acak sederhana. Sehingga dari jumlah 45 orang, peneliti mengambil sampel dari populasi secara acak, tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi tersebut. Jumlah siswa yang dijadikan sampel pada penelitian ini berjumlah 33 orang terdiri dari 17 orang siswa perempuan dan 16 orang siswa laki-laki. Tiga puluh tiga orang siswa ini dijadikan sampel untuk mewakili populasi siswa kelas IV yang sebenarnya. Karakteristik yang dimiliki siswa sangat beragam. Sebagian besar siswa memiliki kecepatan belajar yang hampir sama. Hanya sebagian kecil dari keseluruhan jumlah siswa yang memiliki hasil belajar tinggi di berbagai mata pelajaran, terutama mata pelajaran IPA. Selain siswa kelas IV SD N Sukarame, yang menjadi subjek penelitian lainnya adalah guru sekaligus peneliti yang mengalami masalah atau kesulitan 33
2 34 dalam proses pembelajaran. Dalam penelitian tindakan kelas ini, peneliti bekerjasama dengan guru wali kelas IV SD N Sukarame sebagai peneliti mitra yang bernama Turliah S.Pd untuk bertindak sebagai observer. Hal ini didasarkan atas pertimbangan bahwa beliau mempunyai pengalaman melaksanakan PTK dan kompeten dalam memberi penilaian. B. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas (PTK). Desain penelitian merupakan langkah-langkah penelitian yang akan dilaksanakan. Adapun desain penelitian yang dilakukan dalam PTK ini meliputi tahap orientasi dan identifikasi masalah, tahap perencanaan tindakan penelitian, serta pelaksanaan tindakan penelitian. Gambaran mengenai desain penelitian pada PTK ini dapat dilihat dari peta alur penelitian sebagai berikut: 2 Memilih masalah Studi Pendahuluan Merumuskan masalah Merumuskan hipotesis 1 3 Tahap Orientasi dan Identifikasi Masalah Tahap Perencanaan Penelitian 4 6 Memilih pendekatan Menentukan variabel dan sumber data Menentukan dan menyusun instrumen 5 7 Mengumpulkan data 8 10 Analisis data Menarik kesimpulan 9 Tahap Pelaksanaan Penelitian Membuat laporan Gambar 3.1 Desain Penelitian
3 35 Secara lebih rinci, desain penelitian pada PTK ini dapat diuraikan kembali sebagai berikut: 1. Orientasi dan Identifikasi Masalah Tahap orientasi dan identifikasi masalah merupakan tahap awal yang dilakukan peneliti dalam kegiatan penelitian. Kegiatan orientasi dan identifikasi masalah ini dilakukan untuk mendapat gambaran permasalahan utama yang terjadi di dalam pembelajaran IPA kelas IV SD N Sukarame, terutama dalam upaya guru mengelola pembelajaran serta meningkatkan hasil belajar siswa. Dalam tahap orientasi dan identifikasi masalah, hal-hal yang dilakukan peneliti adalah: a. Identifikasi permasalahan yang dihadapi. Tahap ini dimulai dengan melakukan observasi/studi pendahuluan secara langsung terhadap proses pelaksanaan pembelajaran IPA, melakukan studi dokumentasi terhadap hasil belajar siswa khususnya dalam pembelajaran IPA. Selain itu, peneliti pun mengadakan wawancara dengan siswa dan guru wali kelas IV di sekolah tersebut berkenaan tentang proses pembelajaran IPA yang biasa dilakukan, meliputi metode, strategi, ataupun model pembelajaran yang digunakan guru dalam pembelajaran IPA, kesan siswa dalam mengikuti pembelajaran IPA, serta kesulitan siswa dalam memahami materi pembelajaran. Selain itu juga, dalam kegiatan yang bersamaan, peneliti sedang melaksanakan Program Latihan Profesi (PLP). Kegiatan PLP ini merupakan mata kuliah yang wajib diikuti oleh para mahasiswa tingkat akhir sebagai ajang persiapan dan mencari pengalaman mahasiswa sebelum benar-benar terjun di lapangan. Dalam hal ini, peneliti melaksanakan pembelajaran IPA di kelas IV mengenai energi bunyi. Ternyata setelah dilaksanakan evaluasi berkaitan dengan materi yang disampaikan, didapatkan hasil bahwa hasil belajar siswa masih rendah. Sebagian besar siswa belum memenuhi KKM. Hasil dari observasi dan wawancara, serta hambatan yang dirasakan oleh peneliti selama pembelajaran kemudian dianalisis permasalahan apa saja yang muncul di lapangan. Kemudian peneliti memfokuskan pada salah satu
4 36 permasalahan untuk dijadikan ide penelitian. Rendahnya hasil belajar siswa pada materi energi bunyi menjadi masalah penelitian yang dipilih oleh peneliti. b. Menganalisis penyebab permasalahan Setelah merumuskan permasalahan penelitian, langkah selanjutnya yaitu menganalisis penyebab permasalahan tersebut muncul di lapangan. Peneliti mengidentifikasi faktor-faktor yang menjadi unsur penyebab rendahnya hasil belajar siswa pada materi energi bunyi. c. Menganalisis kemungkinan pemecahan Setelah ditemukan penyebab permasalahan dari fokus penelitian ini, peneliti menganalisis kemungkinan pemecahan atau solusi permasalahan yang bisa dilakukan. 2. Perencanaan Tindakan Penelitian Perencanaan tindakan didasarkan pada orientasi dan identifikasi masalah pada kegiatan pra-tindakan atau sebelum penelitian dilaksanakan. Dalam tahap perencanaan tindakan penelitian, hal-hal yang dilakukan ialah: a. Merencanakan jumlah siklus Penelitian tindakan kelas ini direncanakan akan dilaksanakan dalam 2-3 siklus, pada bulan Maret-Mei 2014 disesuaikan dengan kalender pendidikan tergantung pada cukup atau tidaknya waktu penelitian yang tersedia. Siklus I berorientasi pada kemampuan guru dalam penyusunan rencana pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran dengan penggunaan model Team Assisted Individualization, dan hasil belajar siswa tentang materi energi bunyi. Peneliti akan merefleksi tindakan yang telah dilaksanakan pada tiap siklusnya. Hasil refleksi menjadi acuan peneliti untuk melihat apakah penelitian perlu dilanjutkan ke siklus berikutnya atau cukup dengan satu siklus. Jika hasil refleksi pada siklus I menunjukkan kemampuan guru merencanakan dan melaksanakan pembelajaran serta peningkatan hasil belajar siswa melalui model Team Assisted Individualization masih kurang dari 75 %, maka penelitian dilanjutkan pada siklus berikutnya.
5 37 b. Merancang tindakan dalam bentuk skenario pembelajaran Setelah merencanakan jumlah siklus, peneliti merumuskan tindakan yang akan dilakukan ke dalam bentuk skenario pembelajaran. Skenario pembelajaran yang dibuat berupa RPP dengan menggunakan model pembelajaran Team Assisted Individualization. Di dalamnya memuat tiga kegiatan, terdiri dari kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup. c. Mempersiapkan fasilitas dan sarana yang diperlukan di kelas Fasilitas dan sarana pembelajaran merupakan salah satu komponen yang berperan dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu langkah selanjutnya peneliti mempersiapkan segala fasilitas dan sarana pembelajaran yang diperlukan guna menunjang proses pembelajaran dalam PTK ini. Misalnya menyiapkan media pembelajaran. d. Penentuan Observer Untuk mempermudah kinerja peneliti dalam melaksanakan penelitian, peneliti bekerjasama dengan peneliti mitra/observer. Peneliti mitra ini berasal dari guru yang berada di sekolah tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah peneliti berkomunikasi dan berkonsultasi dengan peneliti mitra yang telah dipilihnya. Peneliti mitra ini akan bertugas mengobservasi kinerja guru/peneliti dalam hal merencanakan pembelajaran berupa RPP, dan kinerja guru/peneliti dalam melaksanakan pembelajaran melalui penggunaan model Team Assisted Individualization. Selain observer/peneliti mitra yang berasal dari guru, peneliti juga memilih seorang teman sejawat untuk bertindak sebagai observer. Observer teman sejawat ini bertugas untuk mengamati segala sesuatu yang berkaitan dengan proses pelaksanaan pembelajaran. e. Mempersiapkan instrumen pengumpulan data Langkah selanjutnya yang dilakukan peneliti ialah mempersiapkan instrumen pengumpulan data. Peneliti mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan teknik pengumpulan data. Teknik pengumpulan data dalam PTK ini menggunakan teknik observasi, wawancara dan juga tes tulis hasil belajar siswa. Untuk itu peneliti mempersiapkan instrumen penelitian yang akan
6 38 digunakan dalam memperoleh data, seperti lembar observasi untuk memperoleh data tentang: 1) kemampuan guru dalam merencanakan pembelajaran; 2) kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran dengan model Team Assisted Individualization; 3) faktor penghambat dan pendukung pelaksanaan model Team Assisted Individualization; serta 4) penilaian hasil belajar siswa dalam ranah afektif dan psikomotor. Selain itu peneliti juga mempersiapkan tes hasil belajar untuk memperoleh data tentang hasil belajar siswa dalam ranah kognitif. Untuk mempertegas data hasil penelitian, maka peneliti menyiapkan sarana dokumentasi, catatan lapangan, dan wawancara. 3. Pelaksanaan Tindakan Penelitian Tahap pelaksanaan tindakan penelitian merupakan implementasi dari perencanaan tindakan penelitian yang telah dirancang sebelumnya. Pelaksanaan PTK direncanakan dilakukan dalam 3 siklus secara berulang sesuai dengan model PTK Kemmis & Taggart, meliputi tahap-tahap perencanaan, tindakan dan pengamatan, serta refleksi. Secara lebih rinci, kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada setiap tahapan siklus dapat diuraikan sebagai berikut: a. Siklus I 1) Tahap Perencanaan Tahap perencanaan ini adalah tahap awal yang dilakukan oleh peneliti sebelum melaksanakan tindakan penelitian. Pada tahap ini, kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh peneliti diantaranya: a) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan menggunakan model pembelajaran Team Assisted Individualization, dilengkapi dengan soal pretest, LKS, soal post-test, dan kunci jawaban. b) Mempersiapkan instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa lembar observasi meliputi lembar observasi kinerja guru dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Team Assisted Individualization, lembar observasi penilaian hasil belajar siswa dalam hal afektif dan psikomotor, serta tes tulis untuk mengukur kognitif siswa.
7 39 c) Mengadakan konsultasi dengan dosen pembimbing berkenaan tentang rencana pelaksanaan pembelajaran dan instrumen penelitian. d) Mengkomunikasikan teknis cara pengisian instrumen penelitian kepada peneliti mitra yang berperan sebagai observer. 2) Tahap Tindakan dan observasi Pada tahap ini, peneliti melaksanakan tindakan pembelajaran sesuai dengan RPP. Peneliti bertindak sebagai guru, sedangkan peneliti mitra bertugas sebagai observer. Observer bertugas untuk mengamati proses pelaksanaan pembelajaran yang dilaksanakan oleh peneliti kemudian mencatatkannya pada lembar observasi yang telah dirancang sebelumnya. Pada tahap ini peneliti pun melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut: a) Melakukan penilaian hasil belajar siswa dalam hal afektif dan psikomotor berupa lembar observasi yang telah dirancang sebelumnya. b) Menambahkan data observasi dengan catatan lapangan, dokumentasi foto atau dengan merekam video. c) Melakukan evaluasi terhadap hasil belajar kognitif siswa melalui tes tulis. 3) Refleksi Tahap refleksi merupakan tahap melakukan pengkajian terhadap keberhasilan atau kegagalan pencapaian tujuan. Untuk mencapai hal tersebut, guru perlu menentukan terlebih dahulu indikator kriteria keberhasilan. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap refleksi ini diantaranya: a) Setelah melaksanakan tindakan pembelajaran, peneliti mengadakan diskusi kecil dengan peneliti mitra (observer) guna melakukan analisis, sintesa, interpretasi, dan eksplanasi terhadap data yang telah diperoleh observer serta peneliti selama pelaksanaan tindakan pembelajaran berlangsung. Khususnya yang berkaitan dengan kelemahan serta kelebihan pelaksanaan tindakan pembelajaran. Hasil refleksi kemudian digunakan sebagai bahan pertimbangan peneliti untuk menyusun dan melengkapi rencana tindakan pada siklus berikutnya, serta memperbaiki kelemahan-kelemahan yang terjadi pada siklus sebelumnya.
8 40 b) Menyusun hipotesis tindakan untuk langkah perbaikan pada siklus selanjutnya. b. Siklus II Siklus II ini merupakan pengembangan siklus berdasarkan temuan refleksi siklus I, kembali berulang meliputi tahapan perencanaan, tindakan dan observasi, serta tahap refleksi. C. Metode Penelitian Sejalan dengan rumusan dan tujuan penelitian yang akan dilaksanakan yaitu peningkatan hasil belajar siswa melalui model pembelajaran Team Assisted Individualization pada materi energi bunyi di kelas IV SD N Sukarame Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya, maka metode penelitian yang dianggap sesuai ialah metode penelitian tindakan kelas (PTK) atau bisa disebut juga Class Action Research. Bentuk dari Penelitian Tindakan Kelas ini adalah PTK Kolaboratif- Partisipatoris. Dimana dalam hal ini PTK tersebut merupakan penelitian yang mempunyai sifat kerja sama antara peneliti dan peneliti mitra (guru wali kelas). Peneliti merancang pembelajaran dengan penggunaan model Team Assisted Individualization, sedangkan peneliti mitra bertindak sebagai observer dan memberikan saran perbaikan apabila muncul masalah dalam kegiatan proses pembelajaran di kelas. Penelitian Tindakan Kelas ini merujuk pada model PTK menurut Kemmis & Taggart. Model ini merupakan pengembangan dari konsep dasar model PTK yang telah dikemukakan oleh Kurt Lewin. Yang membedakan antara model Kurt Lewin dan Kemmis & M.c Taggart terletak pada tahap tindakan (acting) dan pengamatan (observing), dimana pada model PTK menurut Kemmis & M.c Taggart, tahap tindakan (acting) dan pengamatan (observing) dilakukan pada waktu yang bersamaan. Karena tahap tindakan dan pengamatan merupakan dua kegiatan yang menyatu, terjadi dan dilakukan dalam waktu yang bersamaan. Tindakan yang dilakukan pada setiap siklus akan selalu dievaluasi, dikaji, dan direfleksi dengan tujuan meningkatkan efektivitas tindakan pada siklus berikutnya. PTK menurut model Kemmis & M.c Taggart ini dilaksanakan dalam
9 41 bentuk proses pengkajian bersiklus yang terdiri dari tiga tahap, yaitu: perencanaan (planning), tindakan dan pengamatan (action & observation), serta refleksi (reflection). Untuk lebih jelasnya digambarkan pada alur penelitian sebagai berikut: Rencana tindakan Refleksi Siklus I Observasi Pelaksanaan tindakan Rencana tindakan Refleksi Siklus II Observasi Pelaksanaan tindakan Rencana tindakan Refleksi Siklus III Observasi Pelaksanaan tindakan Kesimpulan Penelitian Gambar 3.2 Model PTK Menurut Kemmis & Mc. Taggart
10 42 Agar pelaksanaan tindakan tepat sasaran, peneliti menentukan fokus tindakan pada tiap siklusnya. Fokus tindakan ialah hal-hal atau aspek-aspek utama yang akan dilihat peningkatannya pada setiap siklus tindakan. Adapun fokus tindakan dalam penelitian ini secara rinci diuraikan sebagai berikut; 1. Kinerja Guru, meliputi: a. Meningkatkan dan mengoptimalkan kemampuan guru dalam menyusun rencana pembelajaran di SD N Sukarame tentang energi bunyi melalui penggunaan model pembelajaran Team Assisted Individualization. b. Meningkatkan dan mengoptimalkan kemampuan guru dalam pelaksanaan pembelajaran energi bunyi melalui penggunaan model pembelajaran Team Assisted Individualization c. Meningkatkan dan mengoptimalkan kemampuan guru dalam usaha meningkatkan hasil belajar siswa tentang energi bunyi melalui penggunaan model pembelajaran Team Assisted Individualization. 2. Siswa a. Meningkatkan hasil belajar siswa tentang energi bunyi melalui penggunaan model pembelajaran Team Assisted Individualization D. Definisi Operasional Variabel 1. Model pembelajaran kooperatif Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang mengutamakan kerjasama diantara siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Model pembelajaran kooperatif yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu penggunaan model pembelajaran Team Assisted Individualization. Diukur dengan menggunakan lembar observasi yang dilakukan terhadap kemampuan guru dalam merencanakan dan menerapkan model pembelajaran Team Assisted Individualization. 2. Hasil Belajar Hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotoris (Sudjana, 2011, hlm. 3). Hasil belajar yang dimaksud dalam penelitian tindakan kelas ini adalah hasil belajar yang mencakup ketiga ranah. Diukur dengan menggunakan
11 43 lembar tes hasil belajar (kognitif), dan lembar observasi (afektif dan psikomotor). 3. Pembelajaran IPA Pembelajaran IPA di SD merupakan: wahana untuk membekali siswa dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperlukan untuk melanjutkan pendidikan dan untuk menyesuaikan diri dengan perubahanperubahan di sekelilingnya (dalam Mulyana, 2011, hlm. 6). Pembelajaran IPA yang dijadikan variabel dalam penelitian ini yaitu materi di kelas IV Semester II tentang Energi Bunyi. E. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian sangat diperlukan dalam sebuah penelitian. Instrumen penelitian berfungsi sebagai alat pengumpul data. Data-data yang dibutuhkan dalam sebuah penelitian berbeda-beda, tergantung dari variabel penelitiannya. Adapun instrumen yang digunakan pada PTK ini diantaranya: 1. Lembar observasi. Lembar observasi ini digunakan untuk mengumpulkan data tentang: a. Kemampuan guru merencanakan pembelajaran dengan menggunakan model Team Assisted Individualization, b. Kemampuan guru melaksanakan pembelajaran melalui penggunaan model Team Assisted Individualization, c. Penilaian hasil belajar siswa dalam aspek afektif dan psikomotor, serta d. Faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan model pembelajaran Team Assisted Individualization. 2. Lembar soal evaluasi. Lembar soal evaluasi digunakan untuk memperoleh data mengenai hasil belajar siswa dalam aspek kognitif. F. Proses Pengembangan Instrumen Instrumen penelitian yang digunakan dalam PTK ini dirancang dan dikembangkan oleh peneliti lalu diuji terlebih dahulu validitasnya. Beberapa instrumen seperti lembar observasi yang meliputi lembar observasi terhadap kemampuan guru dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran melalui penggunaan model Team Assisted Individualization, lembar observasi untuk
12 44 penilaian hasil belajar afektif serta psikomotor siswa, terlebih dahulu dilakukan validisi ahli dengan cara mengkonsultasikan instrumen yang telah dirancang kepada dosen pembimbing. Selain itu, instrumen tes yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa hasil belajar kognitif siswa, soal terlebih dahulu diujicobakan pada siswa kelas VI atau kelas V, dimana mereka telah mempelajari materi energi bunyi sebelumnya. Soal yang diujikan berupa soal pilihan ganda. Urgensitas validitas tes ditegaskan oleh Rakhmat yang menyatakan bahwa tepat tidaknya data yang diperoleh akan sangat bergantung atas kualitas tingkat kebaikan tes yang digunakan (2006, hlm. 21). Dalam Rakhmat (2006, hlm. 21) menguraikan hal-hal yang perlu dilakukan untuk mengetahui tingkat kebaikan suatu tes, diantaranya yaitu: 1. Validitas Validitas pada dasarnya menunjukkan pada tingkat ketepatan dalam mengukur apa yang seharusnya diukur. Karena suatu tes hasil belajar yang dikatakan valid apabila dapat mengungkap aspek-aspek hasil belajar secara tepat (Rakhmat, 2006, hlm. 21). Berkaitan dengan ini, peneliti menyusun kisi-kisi soal terlebih dahulu agar soal-soal yang dibuat tidak menyimpang dari tujuan pengukuran. Uji validitas dilakukan dengan menggunakan aplikasi pengolah data Microsoft Excel, melalui rumus Korelasi Produk Momen Pearson. Adapun rumus dari Korelasi Produk Momen Pearson ialah: dimana: rxy = koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y xi = nilai data ke-i untuk kelompok variabel X yi = nilai data ke-i untuk kelompok variabel Y n = banyak data Sumber: (Tanpa Nama, 2008, hlm. 8) Langkah-langkah yang dilakukan ialah:
13 45 a. Hitunglah koefisien validitas tiap butir soal dengan skor total yang diperoleh siswa bersangkutan. b. Bandingkan hasil antara r hitung dengan r tabel pada taraf signifikansi α (misalnya 0,05) dan banyaknya jumlah siswa. Kriteria yang digunakan: 1) Instrumen dikatakan valid apabila r hitung > r tabel. 2) Instrumen dikatakan tidak valid apabila r hitung < r tabel. c. Ulangi langkah a-b pada butir soal lainnya. Jika terdapat butir soal yang tidak valid, buang soal tersebut, atau perbaiki kembali redaksi kalimat soal. 2. Reliabilitas Istilah reliabilitas menunjukkan pada tingkat keajegan. Jadi, suatu tes dikatakan reliabel jika tes tersebut dapat menghasilkan data yang relatif konsisten (Rakhmat, 2006, hlm. 22), sehingga tes tersebut dapat dipercaya. Dalam hal ini, peneliti menguji reliabilitas soal dengan menggunakan aplikasi Microsoft Excel melalui perhitungan Alpha Cronbach. Adapun rumus yang digunakan ialah: r 11 = [ ][1 ] Dikatakan reliabel apabila r 11 lebih besar dibandingkan dengan r tabel. Kriteria Reliabilitas: > Kurang dari 0,20 = Hubungan dapat dikatakan tidak ada > 0,20 0,40 = Hubungan rendah > 0,40 0,70 = Hubungan cukup > 0,70 0,90 = Hubungan tinggi > 0,90 1,00 = Hubungan sangat tinggi Sumber : (Rakhmat, 2006, hlm. 74) 3. Tingkat Kesukaran Suatu tes yang baik akan memiliki tingkat kesukaran yang seimbang, memiliki proporsi penyebaran soal dengan kategori sulit-sedang-mudah sesuai dengan kemampuan siswa (Rakhmat, 2006, hlm. 22). Setelah soal diujicobakan, peneliti menghitung tingkat kesukaran soal dengan mengacu pada standar yang
14 46 telah ditetapkan melalui perhitungan menggunakan aplikasi Microsoft Excel. Rumus yang digunakan adalah: TK dimana: TK Ru R1 = = Tingkat Kesukaran Soal = Jumlah testi kelompok unggul yang menjawab benar suatu soal = Jumlah testi kelompok asor yang menjawab benar suatu soal Kriteria tingkat kesukaran: < 0,10 = Sulit sekali 0,10 0,30 = Sulit 0,31 0,70 = Sedang 0,70 0,90 = Mudah > 90 = Mudah sekali Sumber: (Rakhmat, 2006, hlm. 75) 4. Daya Pembeda Daya pembeda soal dapat diartikan sebagai keampuhan soal untuk membedakan testi yang benar-benar mampu dengan testi yang kurang mampu (Rakhmat, 2006, hlm. 22). Maksudnya, suatu tes dikatakan memiliki daya pembeda yang baik apabila tes tersebut dapat membedakan siswa yang benarbenar bisa mengerjakan soal dengan siswa yang tidak bisa mengerjakan soal. Selain menghitung validitas, reliabilitas, dan tingkat kesukaran, peneliti juga menghitung daya pembeda dari tiap item soal. Jika terdapat soal yang memiliki daya pembeda kurang, peneliti merevisi kembali soal tersebut untuk diujicobakan kembali pada siswa. Rumus yang digunakan yaitu: DP = Kriteria untuk menafsirkan daya pembeda suatu soal: < 0,20 = Kurang 0,20 0,29 = Cukup 0,30 0,39 = Baik 0,40 ke atas = Baik sekali Sumber : (Rakhmat, 2006, hlm. 76)
15 47 5. Kepraktisan Kepraktisan ini menyangkut segi kemudahan dalam mengadministrasikan tes (Rakhmat, 2006, hlm. 23). Kriteria kepraktisan tes dapat dilihat dari segi waktu, apakah waktu yang diperlukan untuk mengerjakan tes tersebut sesuai dengan waktu yang tersedia atau tidak. Hal lain yang dijadikan sebagai pertimbangan kepraktisan sebuah tes adalah mengenai teknik penyekoran dan cara menafsirkannya, apakah tes tersebut memiliki teknik penyekoran serta kriteria penafsiran yang jelas atau tidak. G. Teknik Pengumpulan Data PTK merupakan salah satu contoh penelitian kualitatif. Dalam penelitian kualitatif yang menjadi instrumen utama ialah peneliti sendiri. Namun, jika fokus penelitian telah jelas, maka peneliti dapat mengembangkan instrumen sederhana yang dapat melengkapi data serta membandingkannya dengan data yang telah didapat melalui observasi dan wawancara. Peneliti terjun ke lapangan, kemudian mengumpulkan data, membuat analisis, dan membuat kesimpulan sendiri. Menurut Sugiyono (2012, hlm. 308) teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Dari pendapat Sugiyono tersebut, dapat dinyatakan bahwa teknik pengumpulan data adalah hal penting dalam penelitian. Jika peneliti sendiri tidak mengetahui dan memahami teknik pengumpulan data yang baik dan benar, maka data yang diperoleh peneliti tidak akan memenuhi standar yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural setting), sumber data primer, dan teknik pengumpulan data lebih banyak pada observasi berperanserta (participan observation), wawancara mendalam (in depth interview), dan dokumentasi (Sugiyono, 2012, hlm. 309). Pada PTK ini, peneliti menggunakan instrumen penelitian yang telah dirancang dan dikonsultasikan kepada dosen pembimbing. Adapun jenis data, teknik, dan instrumen penelitian yang akan digunakan dapat dilihat dalam tabel berikut:
16 48 Tabel 3.1 Jenis Data, Teknik, dan Instrumen Pengumpulan Data No. Jenis Data Teknik Instrumen (a) (b) (c) (d) 1. Kinerja guru dalam Observasi Lembar Observasi merencanakan pembelajaran dengan penggunaan model Team Assisted Individualization. 2. Kinerja guru dalam Observasi Lembar Observasi melaksanakan pembelajaran dengan penggunaan model Team Assisted Individualization. 3. Hasil belajar siswa selama Tes dan observasi Lembar soal evaluasi pembelajaran dengan dan lembar observasi model Team Assisted Individualization meliputi kognitif, afektif, dan psikomotor. 4. Faktor pendukung dan Observasi Lembar Observasi penghambat pelaksanaan model Team Assisted Individualization 1. Teknik observasi Teknik observasi ini digunakan untuk mengumpulkan data dan gambaran tentang proses pembelajaran pada konsep Energi Bunyi dengan menggunakan model pembelajaran Team Assisted Individualization serta peningkatan hasil belajar pada setiap siklus. Instrumen yang digunakan berupa lembar observasi, meliputi instrumen observasi kemampuan guru merencanakan, melaksanakan
17 49 proses pembelajaran dengan model Team Assisted Individualization, lembar observasi penilaian afektif dan psikomotor siswa. 2. Teknik wawancara Teknik wawancara ini digunakan untuk mengumpulkan data dan gambaran tentang permasalahan yang dialami guru wali kelas pada pembelajaran IPA. Wawancara ini dilaksanakan pada tahap orientasi dan identifikasi masalah. Instrumen yang digunakan berupa panduan wawancara. 3. Teknik tes Teknik ini digunakan untuk mengumpulkan data dan gambaran tentang hasil belajar kognitif siswa dan peningkatannya pada setiap siklus. Instrumen yang digunakan berupa instrumen tes tertulis. 4. Triangulasi Triangulasi dapat diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada (Sugiyono, 2012, hlm. 330). Dalam PTK ini, peneliti menggunakan triangulasi teknik, dimana peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk memperoleh data dari sumber yang sama. Peneliti menggunakan observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi secara serempak untuk sumber data yang sama. H. Analisis Data Tahap yang dilakukan setelah tahap pengumpulan data, yaitu tahap analisis data. Penelitian tindakan kelas ini merupakan penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif, sehingga data-data yang diperoleh pun berupa data-data kuantitatif dan juga data-data kualitatif. Baik data kuantitatif maupun data kualitatif harus dianalisis terlebih dahulu sebelum diambil kesimpulan dan diberikan tindakan pada siklus berikutnya. Teknik dalam menganalisis data dilakukan secara kuantitatif serta kualitatif. 1. Teknik Analisis Kuantitatif Teknik analisis kuantitatif yaitu teknik yang digunakan untuk menganalisis data-data yang bersifat kuantitatif. Dalam penelitian tindakan kelas ini, data-data kuantitatif diperoleh dari hasil tes belajar dan observasi yang dilaksanakan selama
18 50 pelaksanaan tindakan berlangsung. Secara garis besarnya, langkah-langkah yang dilakukan dalam analisis data kuantitatif yaitu sebagai berikut: a. Menghitung skor hasil belajar tiap siswa pada tiap ranah (kognitif, afektif, dan psikomotor). b. Menghitung rata-rata kelas yang diperoleh tiap ranah pada masing-masing siklus. c. Menghitung perbandingan persentase hasil belajar siswa tiap ranah dan menguji signifikansi hasil belajar kognitif siswa dari tiap siklus Perbandingan persentase hasil belajar siswa dijadikan acuan untuk melihat peningkatan hasil belajar siswa pada setiap siklus dan memberi gambaran seberapa besar peningkatan persentase yang diperoleh dari satu siklus ke siklus lainnya. Selain itu, pengujian signifikansi atau yang sering disebut dengan uji t digunakan untuk melihat apakah tindakan yang dilaksanakan itu berpengaruh signifikan terhadap peningkatan hasil belajar siswa atau tidak. 2. Teknik Analisis Kualitatif Teknik analisis kualitatif ialah teknik yang digunakan untuk menganalisis data-data yang bersifat kualitatif. Sebagaimana ditegaskan oleh Sugiyono (2012, hlm. 336) bahwa analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama di lapangan, dan setelah selesai di lapangan. Pada penelitian tindakan kelas ini, data-data kualitatif diperoleh dari hasil wawancara terhadap guru ketika studi pendahuluan, serta diperoleh dari hasil observasi selama proses pembelajaran berlangsung. Data hasil observasi dikumpulkan melalui instrumen penelitian berupa lembar observasi, meliputi lembar observasi kemampuan guru dalam merencanakan pembelajaran, lembar observasi kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran, lembar observasi penilaian afektif dan psikomotor siswa selama proses pembelajaran. Langkah-langkah yang dilaksanakan dalam analisis data kualitatif ini secara garis besar yaitu sebagai berikut: a. Mengkaji dan menelaah lembar observasi yang telah dikumpulkan. b. Mencacah data hasil observasi dengan skala yang telah ditentukan sebelumnya.
19 51 c. Menganalisis tingkat keberhasilan aspek-aspek yang diobservasi dengan menghitung seluruh sub-aspek yang berhasil dipenuhi dalam setiap aspek observasi. Hasil analisis data ini dijadikan acuan untuk melihat setiap perubahan yang terjadi pada kemampuan guru dalam merencanakan pembelajaran, kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran, dan juga kemampuan afektif serta psikomotor siswa dari siklus I hingga ke siklus yang terakhir. Miles and Huberman (dalam Sugiyono, 2012, hlm. 337) mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus-menerus sampai tuntas, hingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data meliputi data reduction, data display, dan conclusion drawing/verification. Untuk lebih jelasnya digambarkan alur sebagai berikut: Periode Pengumpulan Reduksi data Antisipasi Selama Setelah Display data ANALISIS Selama Setelah Kesimpulan/verifikasi Selama Setelah Gambar 3.3 Komponen dalam Analisis Data (flow model) Agar pelaksanaan tindakan yang dilakukan dalam penelitian tindakan kelas ini tepat sasaran, maka peneliti menetapkan standar keberhasilan. Indikator
20 52 keberhasilan dari setiap aspek rumusan masalah penelitian dapat dirincikan sebagai berikut: a. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah dibuat oleh peneliti dikatakan berhasil apabila nilai yang diperoleh pada setiap siklus mengalami peningkatan mencapai nilai minimum 75%. b. Pelaksanaan Pembelajaran Dalam pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti dalam setiap siklus dikatakan berhasil apabila mengalami peningkatan mencapai nilai minimum 75%. Hal ini sesuai dengan pendapat Mulyasa (2009, hlm. 218) yang menyatakan bahwa Kualitas pembelajaran dapat dilihat dari segi proses dan dari segi hasil. Dari segi proses, pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidaknya sebagian besar 75% siswa terlibat aktif, baik fisik, mental, maupun sosial dalam proses pembelajaran... c. Hasil Belajar Siswa Hasil belajar siswa dikatakan berhasil pada setiap siklus jika 75% dari jumlah siswa mencapai nilai KKM (75). Selaras dengan pendapat Mulyasa (2009, hlm. 218) yang menyatakan... dari segi hasil, proses pembelajaran dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan perilaku yang positif pada diri siswa seluruhnya atau setidaknya sebagian besar (75%).
BAB III METODE PENELITIAN
40 BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Subjek Penelitian 1. Lokasi Penelitian Penelitian tindakan kelas ini akan dilaksanakan di SD Negeri Sukarame yang beralamat di Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya.
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Seting dan Karakteristik Penelitian Penelitian Tindakan Kelas ini akan dilaksanakan di kelas 6 SD Negeri 1 Buayan, Kecamatan Buayan, Kabupaten Kebumen pada semester 2 Tahun
BAB III METODE DAN PROSEDUR PENELITIAN
22 BAB III METODE DAN PROSEDUR PENELITIAN A. Metode Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research), yang dilakukan dalam upaya memperbaiki pembelajaran
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Penelitian ini dilakukan dalam rangka memecahkan permasalahan yang terjadi selama proses pembelajaran di kelas berlangsung dengan mencoba menerapkan model
Tabel 3.1 Jadwal Penelitian Tindakan Kelas SD Negeri Mangunsari 01 Kecamatan Sidomukti Kota Salatiga Tahun Pelajaran 2013/2014
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Setting dan Waktu Penelitian 3.1.1Tempat Penelitian Tempat Penelitian dilaksanakannya kegiatan ini mengambil lokasi yang akan diteliti yaitu dikelas II SD Negeri Mangunsari
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Setting dan Karakteristik Subyek Penelitian Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan di SDN Candirejo 02 Tuntang yang terletak di Jl.Mertokusuma 32, Kelurahan Candirejo, Kecamatan
BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Setting dan Karaktersistik Subjek Penelitian. Lokasi penelitian tindakan kelas ini dilakukan di SD 06 Bulungcangkring
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Setting dan Karaktersistik Subjek Penelitian 3.1.1 Setting Penelitian 3.1.1.1 Lokasi Penelitian Lokasi penelitian tindakan kelas ini dilakukan di SD 06 Bulungcangkring Kecamatan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi, Populasi dan Sampel Penelitian 1. Lokasi Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri 1 Cimahi yang beralamat di Jalan Mahar Martanegara Nomor 48, Leuwigajah Kota Cimahi.
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Setting Penelitian dan Karakteristik Subjek Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang dilaksanakan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
44 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian 1. Pendekatan dan Jenis Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan kuantitatif (statistic). Pendekatan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Setting dan Karakteristik Subjek Penelitian Penelitian ini dilakukan di SD Negeri Ujung-ujung 03 yang terletak di Dusun Mukus Desa Ujung-ujung Kecamatan Pabelan Kabupaten
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Setting dan Karakteristik Subjek Penelitian 3.1.1 Setting Penelitian Tempat yang digunakan untuk penelitian adalah kelas 4 SD N Kemambang 02 Kecamtan Banyubiru Kabupaten
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) yang. dikembangkan oleh Kemmis & Taggart 1988, menurutnya Perencanaan
BAB III METODE PENELITIAN A. Metode, Model dan Alur Penelitian 1. Metode Penelitian Metode Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) yang
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Latar Belakang dan Karakteristik Subyek Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif yang diterapkan pada Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan secara
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Tempat dan waktu penelitian mencakup kondisi sekolah dan kondisi kelas secara khusus yang digunakan untuk penelitian serta jangka waktu pelaksanaan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Latar dan Karakteristik Subjek Penelitian 3.1.1 Latar Penelitian 1. Tempat Penelitian Penelitian akan dilakukan di SD Negeri Kumesu 01 Reban Batang Semester II tahun pelajaran
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Penelitian ini dimaksudkan sebagai suatu kajian, refleksi diri, serta tindakan terhadap proses pembelajaran IPA untuk meningkatkan hasil belajar siswa
METODOLOGI PENELITIAN
24 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Setting Penelitian dan Karakteristik Subjek Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas V semester II tahun Pelajaran 2013/2014 di SDN Bugel 02 Salatiga
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah penelitian yang dilakukan guru di kelasnya sendiri dengan cara merencanakan, melaksanakan, dan merefleksikan tindakan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah PTK kolaborasi. Yaitu penerapan penelitian tindakan di dalam dunia pendidikan terutama di kelas yang memposisikan guru sebagai
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Metode dan Pendekatan Penelitian 1. Metode Penelitian Penggunaan metode penelitian ini termasuk kedalam kelompok Penelitian Tindakan Kelas (PTK), dengan gabungan antara data
B. Disain Penelitian Pada penelitian ini menggunakan desain penelitian Kemmis dan Taggart (dalam Wiriaatmadja: 2008)
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang dilakukan oleh peneliti secara
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Sesuai dengan rumusan masalah, penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) yang bertujuan untuk mengubah perilaku
BAB III METODE PENELITIAN
40 BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilakukan di SD Negeri Kebumen yang beralamat di Jalan Kaswari nomer 2 Kelurahan Kebumen
BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian Tempat yang dipilih untuk penelitian adalah SMA Muhammadiyah 1
46 BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian Tempat yang dipilih untuk penelitian adalah SMA Muhammadiyah 1 Karanganyar. Sekolah ini terletak di jalan Slamet Riyadi
BAB III METODE PENELITIAN. pembelajaran (Sanjaya: 2009: 59). Pada penelitian tindakan kelas ini
29 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Penelitian tindakan kelas dapat dilakukan secara kolaboratif yaitu
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Setting dan Karakteristik Subjek Penelitian Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) kolaboratif yaitu penelitian yang dilaksanakan peneliti yang bekerjasama
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri Rejondani Prambanan. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Metode Penelitian BAB III METODOLOGI PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau disebut juga Classroom Action Research. Penelitian Tindakan Kelas
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metoda Penelitian Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Menurut Hopkins (Komalasari, 2010: 270) penelitian tindakan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Setting dan Karakteristik Subjek Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di kelas 5 di SD Negeri 1 Jiken Kecamatan Jiken Kabupaten Blora pada mata pelajaran IPS semester genap
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Setting dan Karakteristik Subjek Penelitian 3.1.1 Jenis Penelitian Penelitian yang digunakan penulis adalah menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK kalaboratif) dalam
BAB III METODE PENELITIAN. bahasa Inggris sering disebut dengan istilah Classroom Action Research
51 BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas, atau dalam bahasa Inggris sering disebut dengan istilah Classroom Action Research (CAR). Penelitian
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Metode dan Model Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) yang memiliki peranan yang sangat
BAB III METODE PENELITIAN
29 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Setting dan Karakteristik Subyek Penelitian Penelitian ini dilakukan di kelas 5 SDN Tambaharjo 02 Kecamatan Pati, Kabupaten Pati. Peneliti melakukan penelitian di kelas
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 1.1. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas. Menurut Kunandar (2011) PTK adalah penelitian tindakan yang dilakukan
BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Metode Penelitian dan Desain Penelitian. mengumpulkan data penelitiannnya (Arikunto, 2006: 160).
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian dan Desain Penelitian Metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data penelitiannnya (Arikunto, 2006: 160). Dalam penelitian
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang termasuk ke dalam penelitian kualitatif walaupun
BAB III METODE PENELITIAN. Kelas (PTK) atau Classroom Action Research (CAR). PTK dilakukan berdasar
27 BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Jenis penelitian yang akan dilaksanakan merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research (CAR). PTK dilakukan berdasar dari adanya
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Menurut Kunandar dalam bukunya Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru menjelaskan PTK adalah suatu kegiatan yang dilakukan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Setting dan Karakteristik Subjek Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas III SDN Sidorejo Lor 06 Salatiga yang beralamatkan di jalan Imam Bonjol Gang Menur
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Setting Penelitian Setting dalam penelitian ini menggunakan setting kelas, di mana data yang diperoleh berasal dari pengamatan saat proses pembelajaran berlangsung di dalam
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3. Setting dan Karakteristik Subyek Penelitian Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas Kolaboratif yaitu penelitian bersama antara peneliti dengan pihak lain (guru
III. METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom action
III. METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research) dengan penekanan terhadap perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran,
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di kelas V SD Negeri Sondakan No. 11 Surakarta tahun ajaran 2015/2016 yang beralamatkan di Jl.
3.2 Variabel Penelitian Variabel dalam Penelitian Tindakan Kelas ini, yaitu :
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Setting dan Karakteristik Subjek Penelitian 3.1.1 Tempat Penelitian Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan di kelas 4 SD Negeri 2 Pilang Kecamatan Randublatung Kabupaten
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Rancangan penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut : 1. Tempat Penelitian Penelitian
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Rancangan penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut : 1. Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di kelas XI IPA 1 SMA Negeri 3 Boyolali,
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Setting dan Karakteristik Subjek Penelitian 3.1.1 Jenis Penelitian Penelitian yang digunakan penulis adalah menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Kunandar (2008)
BAB III METODE PENELITIAN
A. Metode yang digunakan BAB III METODE PENELITIAN Penelitian ini dimagsudkan untuk memecahkan masalah pada proses pembelajaran, dengan aplikasi simulator kelistrikan sistem starter pada kompetensi dasar
BAB III METODE PENELITIAN. Kelas (PTK) atau Classroom Action Research yang dilakukan peneliti secara
28 BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research yang dilakukan peneliti secara langsung.
Perencanaan. Siklus I. Pengamatan. Perencanaan. Siklus III. Pengamatan. Perencanaan. Pengamatan. Hasil Penelitian
47 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Penelitian Tindakan Kelas 3.1.1. Pengertian Penelitian Tindakan Kelas Penelitian tindakan kelas (PTK) adalah sebuah penelitian yang dilakukan di kelas dengan jalan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN Setting dan Karakteristik Subjek Penelitian. sistematis, terencana, dan dengan sikap mawas diri.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Setting dan Karakteristik Subjek Penelitian 1. Jenis Penelitian Penelitian ini menerapkan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yang merupakan penelitian model Kemmis
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) kolaboratif.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) kolaboratif. Dengan menggunakan model Kurt Lewin. Jenis penelitian ini melibatkan guru yang bersangkutan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1.Setting dan Karakteristik Subjek Penelitian Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang bersifat mencari umpan balik bagi penyempurnaan metode pembelajaran.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini yaitu metode Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) yang berusaha menerapkan
BAB III METODELOGI PENELITAN
BAB III METODELOGI PENELITAN A. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Elliot (1991) (dalam Kunandar, 2009:
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilaksanakan di SD Negeri 2 Karangsari yang beralamat di Jalan Cincin Kota No. 15 Karangsari
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang digunakan peneliti adalah jenis PTK kolaboratif. PTK kolaboratif yaitu kerja sama antara peneliti dengan guru kelas,
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Setting dan Karakteristik Subjek Penelitian Jenis Penelitian Penelitian yang digunakan penulis adalah
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Setting dan Karakteristik Subjek Penelitian 3.1.1 Jenis Penelitian Penelitian yang digunakan penulis adalah menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian tindakan
BAB III METODE PENELITIAN
29 BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri Situraja yang terletak di Jalan. Kaum No. 14 Situraja Kabupaten Sumedang. Sekolah ini memiliki 27 ruangan kelas
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Seting dan Karakteristik Subjek Penelitian 3.1.1 Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di kelas V SD Negeri Bendar Kabupaten Pati. Letak desa Bendar berada di pesisir
BAB III METODE PENELITIAN
22 A. Metode Penelitian BAB III METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan untuk memecahkan masalah yang terjadi pada proses pembelajaran di kelas dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif. Sugiono
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi Penelitian 1. Tempat Penelitian Penelitian ini bertempat di kelas III a MIN Punggung Lading Pariaman Selatan. Pemilihan lokasi ini berdasarkan pada pertimbangan sebagai
BAB III METODE PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian
BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan di SMA N 2 Surakarta kelas X MIA 4 semester genap tahun pelajaran 2014/2015 yang beralamat di Jalan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
34 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom Action Reserch). Penelitian tindakan kelas (PTK)
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi Penelitian Penelitian DDR (didactical Design Research) ini dilaksanakan melalui dua tahap, yaitu tahap pengambilan data dan tahap implementasi. Tahap pengambilan data
BAB III METODELOGI PENELITIAN
BAB III METODELOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Pada penelitian ini, peneliti berusaha mendeskripsikan bentuk pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan menerapkan pembelajaran problem
METODOLOGI PENELITIAN. pendekatan penelitian, desain penelitian, faktor-faktor yang diamati, rencana
III. METODOLOGI PENELITIAN Pembahasan pada bab ini akan difokuskan pada beberapa sub bab yang berupa pendekatan penelitian, desain penelitian, faktor-faktor yang diamati, rencana tindakan, data penelitian,
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Setting dan Karakteristik Subjek Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus sampai bulan September 2013 di SD Negeri Ngemplak Kidul 03 Kabupaten Pati. Subjek
BAB III METODE PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian
BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Mangkubumen Kidul No. 16 Surakarta dengan pertimbangan mudahnya akses untuk mengadakan
BAB III METODE PENELITIAN
23 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Setting Penelitian dan Karakteristik Subjek Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2013 di SD Kertomulyo 02 Kecamatan Trangkil Kabupaten Pati. Subjek
BAB III METODE PENELITIAN
42 BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SD Negeri 1 Kedungwinangun. Lokasi sekolah dasar tersebut terletak di Desa
