BAB II TINJAUAN TEORITIS
|
|
|
- Utami Lanny Agusalim
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB II TINJAUAN TEORITIS 2.1. Pengertian Tanah dan Fungsinya Sejak adanya kehidupan di dunia ini, tanah merupakan salah satu sumberdaya yang penting bagi makhluk hidup. Tanah merupakan salah satu bagian dari ekosistem tempat makhluk hidup berdiam, bertumbuh dan berkembang. Demikianlah tanah merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan makhluk hidup. Pada awalnya, tanah umumnya dimanfaatkan untuk keperluan produksi (misalnya bertani, memelihara ikan, ternak dan lainlain) dibandingkan untuk keperluan produksi seperti tempat tinggal, tempat mandi, tempat berproduksi dan lain-lain. Hal ini berhubungan dengan keberadaan masyarakat Indonesia sebagai masyarakat agraris yang hidup dan bermata pencaharian dari hasil pertanian. Seiring dengan perubahan waktu, masyarakat juga mengalami perubahan dalam berbagai aspek baik ekonomi, sosial-budaya, pandangan dan pemanfaatan terhadap sumberdaya alam ini adalah perubahan tindakan manusia dalam hal pemanfaatan dan penggunaannya. Perubahan pemanfaatan tanah tidak lagi didominasi oleh praktek-praktek pemanfaatan dalam hal meningkatkan fungsi produksi melainkan terjadi pergeseran kearah pemanfaatan tanah untuk fungsi reproduksi. Misalnya perubahan pemanfaatan tanah dari pertanian menjadi perumahan (Sihaloho, 2004). Menurut Tauchid (2009), soal agraria adalah soal hidup dan penghidupan manusia, karena lahan adalah asal dan sumber makanan bagi manusia. Perebutan lahan berarti perebutan makanan yang berarti pula perebutan tiang hidup manusia. Maka dari itu, orang rela menumpahkan darah bahkan mengorbankan segala yang ada demi mempertahankan hidup selanjutnya. Untuk mempertahankan hidup, orang berjuang mendapatkan makanan demi mempertahankan kekalnya keturunan, dimana orang membela keluarga, anak istri dan bangsanya. Perjuangan berebut makanan dan membela turunan adalah perjuangan hidup manusia di bumi ini. 6
2 2.2. Konversi Lahan dan Tipologi Konversi Kustiawan (1997) dalam Massardy (2009), konversi lahan berarti alih fungsi atau mutasi lahan secara umum menyangkut transformasi dalam pengalokasian sumberdaya lahan dari satu penggunaan kepenggunaan lainnya. Konversi lahan pertanian pada dasarnya terjadi akibat adanya persaingan dalam pemanfaatan lahan antara sektor pertanian dan sektor non-pertanian yang muncul akibat adanya tiga fenomena ekonomi dan sosial, yaitu keterbatasan sumberdaya alam, pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi. yaitu: Menurut Sihaloho (2004), tipologi konversi lahan terbagi menjadi tujuh, 1. Konversi gradual-sporadik, pola konversi yang diakibatkan oleh dua faktor penggerak utama yaitu lahan yang tidak/kurang produktif/bermanfaat secara ekonomi dan keterdesakan pelaku konversi; 2. Konversi sistematik berpola enclave, pola konversi yang mencangkup wilayah dalam bentuk sehamparan tanah secara serentak dalam waktu yang relatif sama; 3. Konversi adaptif demografi, pola konversi yang terjadi karena kebutuhan tempat tinggal/pemukiman akibat adanya pertumbuhan pendudukan; 4. Konversi yang disebabkan oleh masalah sosial, pola konversi yang terjadi karena motivasi untuk berubah dari kondisi lama untuk keluar dari sektor pertanian utama; 5. Konversi tanpa beban, pola konversi yang dilakukan oleh pelaku untuk melakukan aktivitas menjual tanah kepada pihak pemanfaat yang selanjutnya dimanfaatkan untuk peruntukan lain; 6. Konversi adaptasi agraris, pola konversi yang terjadi karena keinginan untuk meningkatkan hasil pertanian dan membeli tanah baru di tempat tertentu; dan 7. Konversi multi bentuk atau tanpa pola, konversi yang diakibatkan berbagai faktor peruntukan seperti pembangunan perkantoran, sekolah, koperasi, perdagangan, dan sebagainya. 7
3 2.3. Struktur Agraria dan Hubungan Antar Aktor Wiradi (1998) dalam Sitorus (2002), struktur agraria dapat mempengaruhi munculnya hubungan sosial agraris yang berbeda antara satu tipe struktur agraria dengan tipe struktur agraria lain. Ada tiga macam struktur agraria yaitu: 1. Tipe Kapitalis: sumber-sumber agraria dikuasai oleh non-penggarap (perusahaan); 2. Tipe Sosialis: sumber-sumber agraria dikuasai oleh negara/kelompok pekerja; dan 3. Tipe Populis/Neo-Populis: sumber-sumber agraria dikuasai oleh keluarga/ rumahtangga pengguna. Struktur agraria dan hubungan antar aktor yang mempunyai kepentingan terhadap lahan dapat diterangkan dalam bagan di bawah ini: Pemerintah Swasta Sumber Agraria Tanah/Lahan Masyarakat Keterangan: Hubungan Teknis Agraria Hubungan Sosial Agraria Gambar 1. Hubungan Aktor-Aktor dalam Pemanfaatan Sumber Agraria (Sitorus 2002) 8
4 2.4. Faktor Penyebab Konversi Lahan Menurut Ilham (2006), pertumbuhan perekonomian menuntut pembangunan infrastruktur baik berupa jalan, bangunan industri dan pemukiman. Dengan kondisi demikian, diduga permintaan terhadap lahan untuk penggunaan hal tersebut semakin meningkat. Akibatnya banyak lahan sawah, terutama yang berada di sekitar perkotaan, mengalami alih fungsi ke penggunaan non-pertanian. Menurut Massardy (2009), faktor yang paling mempengaruhi dalam penjualan lahan tersebut adalah kebutuhan hidup. Para petani menganggap bahwa pemanfaatan lahan pertanian yang dibuat sawah tidak lagi mempunyai nilai ekonomis, dengan alasan saat ini padi hanya bisa ditanam sebanyak satu kali dalam setahun. Maka banyak petani yang memenuhi kebutuhan hidupnya di luar sektor pertanian, sehingga keinginan menjual lahan menjadi sangat besar. Mereka ingin meningkatkan pendapatan dan taraf hidup rumah tangganya dengan cara membuka usaha baru. Munir (2008), mengemukakan sulitnya pemasaran produk pertanian. Misalnya, pada musim tanam harga produk pertanian melambung sehingga banyak petani yang bermimpi akan menjadi kaya setelah menjual hasil panen. Tetapi yang terjadi tidak demikian, harga produk-produk pertanian tersebut jatuh seketika saat musim panen tiba. Para petani harus tetap menjual hasil panen mereka walaupun dengan rasa kekesalan. Selain itu, permainan harga pasar pada hakekatnya sudah mulai menyiutkan semangat para petani untuk tetap mengadu nasib di bidang pertanian. Pernyataan itu ditambah dengan masalah kelangkaan saprotan terutama pupuk urea. Harga pertanian yang tidak mendukung sudah cukup membuat para petani menderita. Menurut Budiman (2009), konversi lahan pertanian dilakukan untuk meningkatkan nilai ekonomi dan daya guna lahan sehingga berimbas pada peningkatan pendapatan rumahtangga. Keputusan yang sering diambil oleh petani pemilik lahan untuk meningkatkan pendapatan rumahtangganya adalah mengkonversi lahan pertanian miliknya menjadi bentuk penggunaan lain yang lebih menguntungkan dan memiliki siklus hidup yang pendek. Motif petani dan pemilik lahan dalam mengkonversi lahan pertanian adalah untuk meningkatkan daya guna dan nilai ekonomi lahan pertaniannya sehingga mereka bisa meningkatkan pendapatan rumahtangganya. 9
5 Setiap masyarakat dalam suatu wilayah pasti mempunyai suatu kebiasaan yang khas dan mencirikan suatu identitas masyarakatnya. Kehidupan sosial masyarakat bisa terlihat salah satunya pada kegiatan mereka dalam memenuhi kebutuhan hidup. Pada masyarakat pedesaan biasanya hubungan sosial mereka masih sangat kental. Sebagian besar penduduk desa bermata pencaharian di bidang pertanian baik sebagai pemilik lahan maupun buruh tani. Fenomena sosial terlihat dari sistem kerja yang dikenal dengan nama patron-klien. Menurut Wiradi (2009), panen padi di Jawa dengan cara tradisionil, yaitu dengan menggunakan ani-ani, memang memungkinkan siapa saja yang mau untuk ikut serta panenan. Ini merupakan suatu metode panenan yang menunjukan sumbangasih petani terhadap kesejahteraan masyarakatnya serta adanya pola hubungan patron-klien (the patron-client relationship) antara petani pemilik sawah dengan buruh tani yang tidak punya tanah. Laju konversi lahan yang terjadi di Indonesia salah satunya tergantung pada kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Namun, saat ini pemerintah pusat maupun daerah menghadapi dilema antara kepentingan untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan upaya untuk mempertahankan keberadaan lahan terutama sawah beririgasi teknis. Akan tetapi, semua tergantung dari kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Apakah mendorong untuk kegiatan konversi lahan atau sebaliknya Dampak Konversi Lahan Budiman (2009), pendapatan petani pemilik lahan setelah dikonversi cukup beragam. Rata-rata pendapatan mereka naik, walaupun ada yang memiliki pendapatan tetap. Hal ini disebabkan petani mempunyai keahlian yang terbatas di luar bidang pertanian. Konversi lahan ini menyebabkan terjadinya diversifikasi mata pencaharian sebagai bentuk respon dari petani. Menurut Massardy (2009), pola nafkah dikaji berdasarkan sistem mata pencaharian masyarakat. Untuk wilayah yang lahan pertaniannya telah berubah menjadi pabrik, mata pencaharian mereka berubah dari pertanian ke sektor industri. Ada juga yang berubah menjadi seorang wiraswasta. Sedangkan di wilayah yang lahan pertaniannya masih belum 10
6 berubah, pertanian masih menjadi sektor pekerjaan yang dominan. Perubahan penguasaan lahan justru membuka lapangan kerja bagi yang tidak mempunyai lahan Strategi Nafkah dan Bentuk-Bentuknya Widiyanto (2009), menjelaskan bahwa strategi nafkah suatu rumahtangga dibangun dengan mengkombinasikan aset-aset (modal) yang dimiliki, yaitu: modal alami, modal fisik, modal finansial, modal sumber daya manusia, dan modal sosial. Beberapa strategi nafkah, yaitu: strategi produksi, solidaritas vertikal, solidaritas horizontal, berhutang, patronase, serabutan, akumulasi, dan manipulasi komoditas. Selain beberapa strategi nafkah di atas, terdapat pula strategi nafkah berserakan. Menurut Iqbal (2004), pola nafkah komunitas menjadi berserakan mengikuti kesempatan dan peluang pekerjaan yang tersedia. Serakan nafkah kemudian dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Serakan waktu Strategi nafkah ini berlangsung dalam waktu tertentu, misalnya sekali dalam seminggu, tahunan, atau saat-saat hari besar nasional. Artinya, waktu yang diperlukan dalam pencaharian nafkah tidak lagi bersifat konstan dan menentu, tetapi terkait dengan kesempatan dan peluang pada masing-masing mata pencaharian. Adakala kesempatan tersebut datang dalam waktu malam, siang, sore, atau pagi hari. b. Serakan spasial Pada jenis ini, tenaga rumahtangga tidak hanya menggantungkan pada peluang di daerah setempat, melainkan hingga ke tempat lain. Terbatasnya peluang sumber nafkah yang ada di desa setempat, mendorong tenaga rumahtangga melakukan gerakan spasial. c. Serakan alokasi tenaga kerja Jumlah anggota rumahtangga yang besar pada masyarakat desa, mengakibatkan melimpahnya tenaga kerja dalam rumahtangga. Tanggungjawab dalam pemenuhan kebutuhan rumahtangga tidak lagi bergantung pada kepala rumahtangga, tetapi juga anggota rumahtangga 11
7 lainnya. Meskipun tanggungjawab dalam pemenuhan nafkah rumahtangga masih bertumpu pada kepala keluarga, seluruh anggota rumahtangga juga turut membantu dalam pemenuhan kebutuhan rumahtangga. Sumber pendapatan pada gilirannya berserak dari semua anggota keluarga. Bahkan tidak sedikit rumahtangga yang mengerahkan anak-anak sebagai penopang ekonomi rumahtangga. d. Serakan Usaha Semakin beragamnya sektor pekerjaan, kegiatan ekonomi masyarakat desa juga semakin berserak ke berbagai ragam pekerjaan tesebut. Masyarakat desa, terutama komunitas nelayan, tidak lagi tertumpu semata pada salah satu sektor atau pada sektor laut semata. Terlebih lagi, penghasilan dari kegiatan melaut semakin hari semakin mengalami penyusutan, sehingga rumahtangga nelayan harus melakukan usaha lain, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Dharmawan (2001) dalam Musyarofah (2006), menyebutkan bahwa secara umum strategi nafkah dapat diklasifikasikan menjadi dua bentuk, yaitu: 1. Strategi nafkah normatif, strategi ini berbasiskan pada kegiatan sosial ekonomi yang tergolong ke dalam kegiatan positif seperti kegiatan produksi, sistem pertukaran, migrasi, maupun strategi sosial dengan membangun jejaring sosial. Strategi ini juga disebut peaceful ways atau sah dalam melaksanakan strategi nafkah; dan 2. Strategi nafkah yang ilegal, dalam strategi ini termasuk di dalamnya berbagai tindakan sosial ekonomi yang melanggar hukum dan ilegal. Seperti penipuan, perampokan, pelacuran, dan sebagainya. Kategori ini disebut juga sebagai non peaceful, karena cara yang ditempuh biasanya menggunakan cara kekerasan atau kriminal. 12
8 2.7. Kerangka Pemikiran Keputusan dalam menjual lahan yang terjadi di Kelurahan Mulyaharja disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhinya meliputi tingkat pendapatan rumahtangga, tingkat pendidikan rumahtangga, kepemilikan luas lahan, kebutuhan hidup, gaya hidup, strategi mediator perusahaan dan investasi perusahaan. Semua faktor tersebut, turut memberikan sumbangasih dalam kegiatan konversi lahan di Kelurahan Mulyaharja. Keputusan dalam menjual lahan telah membawa dampak yang cukup signifikan. Salah satu dampak yang ditimbulkan yaitu terjadinya perubahan dalam bidang ekonomi dan sosial masyarakat. Perubahan tingkat pendapatan dan keberagaman strategi nafkah terjadi sesudah adanya konversi lahan. Begitu juga dengan hubungan sosial masyarakatnya. Perubahan strategi nafkah mampu merubah pola hubungan sosial yang telah terbentuk dan begitu pula sebaliknya. Jadi, keputusan dalam menjual lahan telah menciptakan perubahan pada sektor sosial ekonomi masyarakat sebelum dan sesudah terjadinya konversi lahan (Gambar 2). 13
9 Faktor-Faktor: 1. Tingkat Pendapatan Rumahtangga 2. Tingkat Pendidikan Rumahtangga 3. Luas Kepemilikan Lahan 4. Kebutuhan Hidup 5. Gaya Hidup 6. Strategi Mediator Perusahaan 7. Investasi Swasta 8. Keputusan dalam Menjual Lahan Dampak Ekonomi: Perubahan Strategi Nafkah Masyarakat Sebelum dan Sesudah Terjadinya Konversi Lahan Sosial: Perubahan Hubungan Sosial Masyarakat Sebelum dan Sesudah Terjadinya Konversi Lahan Keterangan: Hubungan Langsung Hubungan Timbal Balik Mencangkup Gambar 2. Bagan Alur Konversi Lahan dan Strategi Nafkah Masyarakat Pedesaan 14
10 2.8. Hipotesis Penelitian Hipotesis pengarah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Diduga terdapat hubungan yang signifikan antara faktor penyebab konversi lahan dengan keputusan menjual lahan; 2. Diduga terdapat hubungan antara keputusan menjual lahan terhadap dampak perubahan di bidang ekonomi; 3. Diduga terdapat hubungan antara keputusan menjual lahan dengan dampak perubahan di bidang sosial; dan 4. Diduga terdapat hubungan antara perubahan di bidang ekonomi dengan perubahan di bidang sosial dan sebaliknya Definisi Konseptual Istilah untuk variabel-variabel dalam hipotesis atau kerangka pemikiran penelitian didefinisikan sebagai berikut: 1. Kebutuhan hidup adalah segala sesuatu yang harus ada dan tersedia demi berlangsungnya kehidupan; 2. Gaya hidup adalah suatu pola kehidupan yang terbentuk dan sudah menjadi suatu kebudayaan; 3. Strategi mediator perusahaan adalah segala cara yang ditempuh oleh perantara perusahaan untuk mendapatkan segala sesuatu yang diinginkan oleh pihak perusahaan; 4. Investasi perusahaan adalah sejumlah modal yang dikembangkan oleh suatu perusahaan untuk mendapatkan keuntungan (profit); 5. Keputusan dalam menjual lahan pertanian adalah segala sesuatu yang sudah direncanakan untuk menjual lahan pertanian yang dimiliki kepada pihak lain; 6. Dampak adalah akibat yang ditimbulkan oleh suatu peristiwa, misalkan akibat yang ditimbulkan oleh konversi lahan; 7. Strategi nafkah adalah segala cara yang ditempuh oleh masyarakat dalam menjalani aktivitas pekerjaan mencari uang dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup; dan 8. Hubungan sosial dalam masyarakat adalah bentuk interaksi yang telah terbangun dan tersistem secara turun-temurun dalam suatu masyarakat budaya. 15
11 2.10. Definisi Operasional Istilah untuk variabel-variabel dalam hipotesis atau kerangka pemikiran penelitian didefinisikan sebagai berikut: 1. Tingkat pendapatan rumahtangga adalah rataan pendapatan yang diperoleh oleh suatu rumahtangga yang dapat diuangkan responden dalam satu bulan, diukur dalam rupiah. Dikategorikan dengan (1) rendah: < Rp ,-; (2) sedang: Rp Rp ,-; dan (3) tinggi: > Rp ,-; 2. Tingkat pendidikan yaitu pendidikan tertinggi yang ditempuh oleh responden, meliputi (1) tidak tamat SD, (2) tamat SD, (3) tidak tamat SMP, (4) tamat SMP, dan (5) tamat SMA; dan 3. Luas kepemilikan lahan adalah jumlah lahan yang dimiliki oleh responden yang diukur dalam satuan hektar (ha), meliputi (1) rendah yaitu < 0,5 hektar, (2) sedang antara 0,5-0,9 hektar, (3) tinggi yaitu > 0,9 hektar. 16
BAB VI STRATEGI NAFKAH MASYARAKAT SEBELUM DAN SESUDAH TERJADINYA KONVERSI LAHAN
BAB VI STRATEGI NAFKAH MASYARAKAT SEBELUM DAN SESUDAH TERJADINYA KONVERSI LAHAN 6.1. Strategi Nafkah Sebelum Konversi Lahan Strategi nafkah suatu rumahtangga dibangun dengan mengkombinasikan aset-aset
BAB III METODE PENEITIAN
BAB III METODE PENEITIAN A. Metode Penelitian Pada sebuah penelitian terdapat sesuatu metode atau cara yang bersifat ilmiah yang di perlukan untuk mencapai suatu tujuan yang diharapkan. Menurut Surakhmad
BAB II PENDEKATAN KONSEPTUAL
BAB II PENDEKATAN KONSEPTUAL 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Konsep Agraria Pengertian agraria menurut Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) 1960 (UU No.5 Tahun 1960) adalah seluruh bumi, air dan ruang angkasa,
PENDAHULUAN. Latar Belakang
1 PENDAHULUAN Latar Belakang Salah satu isu yang muncul menjelang berakhirnya abad ke-20 adalah persoalan gender. Isu tentang gender ini telah menjadi bahasan yang memasuki setiap analisis sosial. Gender
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Pustaka Alih fungsi atau konversi lahan secara umum menyangkut transformasi dalam pengalokasian sumberdaya lahan dari satu penggunaan ke penggunaan lainnya. Alih fungsi
TINJAUAN PUSTAKA. serta pendorong dan penarik tumbuhnya sektor sektor ekonomi, dapat. dan pengangguran serta dapat mensejahterakan masyarakat.
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Pertanian dan Petani Pertanian memiliki arti penting dalam pembangunan perekonomian. Sektor pertanian tidak saja sebagai penyediaan kebutuhan pangan melainkan sumber kehidupan.
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia hingga saat ini masih tergolong negara yang sedang berkembang dengan tingkat pertumbuhan penduduk yang
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia hingga saat ini masih tergolong negara yang sedang berkembang dengan tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi. Selain itu juga Indonesia merupakan negara agraris
II. TINJAUAN PUSTAKA. sumberdaya lahan (land resources) sebagai lingkungan fisik terdiri dari iklim, relief,
II. TINJAUAN PUSTAKA 2. 1 Sumberdaya Lahan Sumberdaya lahan merupakan sumberdaya alam yang sangat penting untuk kelangsungan hidup manusia karena diperlukan dalam setiap kegiatan manusia, seperti untuk
A. LATAR BELAKANG PENELITIAN
1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG PENELITIAN Indonesia adalah negara agraris dimana mayoritas penduduknya mempunyai mata pencaharian sebagai petani. Berbagai hasil pertanian diunggulkan sebagai penguat
TINJAUAN PUSTAKA. Lestari (2009) mendefinisikan alih fungsi lahan atau lazimnya disebut sebagai konversi
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Alih Fungsi Lahan dan Faktor-Faktor Penyebabnya Lestari (2009) mendefinisikan alih fungsi lahan atau lazimnya disebut sebagai konversi lahan adalah perubahan fungsi sebagian
BAB III KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS
BAB III KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS 3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian Pencemaran pesisir merupakan dampak negatif dari zat atau energi yang masuk baik secara langsung maupun tidak langsung pada lingkungan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian merupakan salah satu sektor ekonomi andalan bagi perkembangan perekonomian Indonesia. Kekayaan alam Indonesia yang berlimpah dilengkapi dengan iklim
BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN
BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Tinjauan Pustaka Lestari (2009) mendefinisikan alih fungsi lahan atau lazimnya disebut sebagai konversi lahan adalah
TINJAUAN PUSTAKA Konversi Lahan Pola Konversi dan Pemanfaatan Lahan yang Dikonversi
7 TINJAUAN PUSTAKA Bagian ini akan menjelaskan mengenai acuan-acuan yang melandasi pemikiran terhadap permasalahan dalam penelitian. Beberapa acuan diperoleh dari laporan hasil penelitian, baik cetak maupun
II. TINJAUAN PUSTAKA Konversi Lahan Konversi lahan merupakan perubahan fungsi sebagian atau seluruh
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Konversi Lahan Konversi lahan merupakan perubahan fungsi sebagian atau seluruh kawasan lahan dari fungsinya semula (seperti yang direncanakan) menjadi fungsi lain yang membawa
BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan dan membangun pertanian. Kedudukan Indonesia sebagai negara
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia adalah negara agraris yang kaya akan sumber daya alam. Hasil bumi yang berlimpah dan sumber daya lahan yang tersedia luas, merupakan modal mengembangkan dan
BAB I PENDAHULUAN. daerah pesisir pantai yang ada di Medan. Sebagaimana daerah yang secara
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kelurahan Bagan Deli Kecamatan Medan Belawan merupakan salah satu daerah pesisir pantai yang ada di Medan. Sebagaimana daerah yang secara geografis berada di pesisir
BAB I PENDAHULUAN. individu manusia setelah pangan dan sandang. Pemenuhan kebutuhan dasar
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kebutuhan papan merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi individu manusia setelah pangan dan sandang. Pemenuhan kebutuhan dasar bagi setiap individu manusia pasti
1 Universitas Indonesia
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan yang dilaksanakan di Indonesia hingga saat ini belum mampu mensejahterakan seluruh masyarakat Indonesia. Sebagian besar masyarakat masih belum merasakan
Dari rumusan di atas maka dapat disimpulkan bahwa konversi hak-hak atas tanah adalah penggantian/perubahan hakhak atas tanah dari status yang lama
KONVERSI RH Pengertian Konversi Beberapa ahli hukum memberikan pengertian konversi yaitu : A.P. Parlindungan (1990 : 1) menyatakan : Konversi itu sendiri adalah pengaturan dari hak-hak tanah yang ada sebelum
VI. ALOKASI WAKTU KERJA, KONTRIBUSI PENDAPATAN, DAN POLA PENGELUARAN RUMAHTANGGA PETANI LAHAN SAWAH
59 VI. ALOKASI WAKTU KERJA, KONTRIBUSI PENDAPATAN, DAN POLA PENGELUARAN RUMAHTANGGA PETANI LAHAN SAWAH 6.1. Curahan Tenaga Kerja Rumahtangga Petani Lahan Sawah Alokasi waktu kerja dalam kegiatan ekonomi
I. PENDAHULUAN. Sub sektor perikanan menjadi salah satu sub sektor andalan dalam
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sub sektor perikanan menjadi salah satu sub sektor andalan dalam perekonomian Indonesia karena beberapa alasan antara lain: (1) sumberdaya perikanan, sumberdaya perairan
I PENDAHULUAN. Petani merupakan pekerjaan yang telah berlangsung secara turun-temurun bagi kehidupan
I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Petani merupakan pekerjaan yang telah berlangsung secara turun-temurun bagi kehidupan masyarakat tani di Indonesia, yang sebagian besar dilakukan oleh penduduk yang tinggal
BAB V GAMBARAN UMUM RESPONDEN
BAB V GAMBARAN UMUM RESPONDEN 5.1. Usia Usia responden dikategorikan menjadi tiga kategori yang ditentukan berdasarkan teori perkembangan Hurlock (1980) yaitu dewasa awal (18-40), dewasa madya (41-60)
BAB V KONVERSI LAHAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONVERSI LAHAN
BAB V KONVERSI LAHAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONVERSI LAHAN 5.1. Fenomena Konversi Lahan di Kelurahan Mulyaharja Kelurahan Mulyaharja merupakan salah satu daerah yang memiliki lahan pertanian
I. PENDAHULUAN. Sasaran pembangunan pertanian tidak saja dititik-beratkan pada. peningkatan produksi, namun juga mengarah pada peningkatan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Sasaran pembangunan pertanian tidak saja dititik-beratkan pada peningkatan produksi, namun juga mengarah pada peningkatan pendapatan masyarakat, peningkatan
I. PENDAHULUAN. bahan pangan utama berupa beras. Selain itu, lahan sawah juga memiliki
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lahan sawah memiliki manfaat sebagai media budidaya yang menghasilkan bahan pangan utama berupa beras. Selain itu, lahan sawah juga memiliki manfaat bersifat fungsional
BAB V STRATEGI NAFKAH MASYARAKAT LOKAL DESA GOROWONG. 5.1 Strategi Nafkah Kampung Ater dan Kampung Ciawian
28 BAB V STRATEGI NAFKAH MASYARAKAT LOKAL DESA GOROWONG 5.1 Strategi Nafkah Kampung Ater dan Kampung Ciawian Strategi nafkah dalam kehidupan sehari-hari direprensentasikan oleh keterlibatan individu-individu
BAB I PENDAHULUAN. Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia setiap tahunnya. Sektor pertanian telah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian merupakan sektor yang penting dalam membentuk Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia setiap tahunnya. Sektor pertanian telah memberikan kontribusi
BAB I PENDAHULUAN. perekonomian nasional. Hal ini dapat dilihat dari kontribusi yang dominan, baik
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian mempunyai peranan yang sangat penting dalam perekonomian nasional. Hal ini dapat dilihat dari kontribusi yang dominan, baik secara langsung maupun
I. PENDAHULUAN. menyebabkan terjadinya perubahan struktur penguasaan lahan pertanian, pola
1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Proses pelaksanaan pembangunan, dalam jangka menengah dan panjang menyebabkan terjadinya perubahan struktur penguasaan lahan pertanian, pola hubungan kerja dan stuktur
BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
18 BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Gambaran Umum Desa Gorowong Desa Gorowong merupakan salah satu desa yang termasuk dalam Kecamatan Parung Panjang, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Desa
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Indonesia adalah negara maritim sebagian besar penduduk menggantungkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia adalah negara maritim sebagian besar penduduk menggantungkan hidupnya menjadi nelayan. Walaupun mata pencarian orang-orang desa di pesisir beragam, namun
I. PENDAHULUAN. Lahan sudah menjadi salah satu unsur utama dalam menunjang. kelangsungan kehidupan sejak manusia pertama kali menempati bumi.
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Lahan sudah menjadi salah satu unsur utama dalam menunjang kelangsungan kehidupan sejak manusia pertama kali menempati bumi. Lahan berfungsi sebagai tempat manusia beraktivitas
BAB V GAMBARAN UMUM 5.1. Kondisi Wilayah
BAB V GAMBARAN UMUM 5.1. Kondisi Wilayah Penelitian dilakukan di Kecamatan Panumbangan, Sindangkasih dan Cihaurbeuti. Tiga kecamatan ini berada di daerah Kabupaten Ciamis sebelah utara yang berbatasan
BAB III PRAKTEK PELAKSANAAN GADAI TANAH DAN PEMANFAATAN TANAH GADAI DALAM MASYARAKAT KRIKILAN KECAMATAN SUMBER KABUPATEN REMBANG
BAB III PRAKTEK PELAKSANAAN GADAI TANAH DAN PEMANFAATAN TANAH GADAI DALAM MASYARAKAT KRIKILAN KECAMATAN SUMBER KABUPATEN REMBANG A. Profil Desa Krikilan 1. Kondisi Geografis Desa Krikilan di bawah pemerintahan
I. PENDAHULUAN. lebih dari dua pertiga penduduk Propinsi Lampung diserap oleh sektor
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu sektor andalan perekonomian di Propinsi Lampung adalah pertanian. Kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Propinsi Lampung
BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN
6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Tinjauan Pustaka Utomo dkk (1992) mendefinisikan alih fungsi lahan adalah perubahan fungsi sebagian atau seluruh
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
24 GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN Keadaan Wilayah dan Potensi Sumber daya Alam Desa Cikarawang adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat dengan luas wilayah 2.27
Pada gambar 2.3 diatas, digambarkan bahwa yang melatarbelakangi. seseorang berpindah tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor non pertanian
31 Pada gambar 2.3 diatas, digambarkan bahwa yang melatarbelakangi seseorang berpindah tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor non pertanian dilatar belakangi oleh alih fungsi lahan. Lalu, perpindahan
II. TINJAUAN PUSTAKA
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Pustaka Proses alih fungsi lahan dapat dipandang sebagai suatu bentuk konsekuensi logis dari adanya pertumbuhan dan transformasi serta perubahan struktur sosial ekonomi
I. PENDAHULUAN. Pengembangan sumberdaya manusia merupakan proses untuk. ini juga merupakan proses investasi sumberdaya manusia secara efektif dalam
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengembangan sumberdaya manusia merupakan proses untuk meningkatkan pengetahuan manusia, kreativitas dan keterampilan serta kemampuan orang-orang dalam masyarakat. Pengembangan
I. PENDAHULUAN. Sebagian besar wilayah Indonesia merupakan pedesaan yang kehidupan
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sebagian besar wilayah Indonesia merupakan pedesaan yang kehidupan masyarakatnya masih bergantung pada kepemilikan lahan. Warga pedesaan kebanyakan masyarakatnya
V. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Dampak Konversi Lahan Sawah Terhadap Produksi Padi. 1. Konversi lahan sawah Kecamatan Mertoyudan
V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Dampak Konversi Lahan Sawah Terhadap Produksi Padi 1. Konversi lahan sawah Kecamatan Mertoyudan Perkembangan luas lahan sawah dan produksi padi mengalami penurunan yang disebabkan
II. TINJAUAN PUSTAKA. nafkah. Lahan merupakan sumberdaya alam strategis bagi pembangunan. Hampir
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Lahan Pertanian Sumberdaya lahan merupakan salah satu sumberdaya alam yang memiliki banyak manfaat bagi manusia, seperti sebagai tempat hidup, tempat mencari nafkah. Lahan merupakan
BAB VII STRUKTUR AGRARIA DESA CIPEUTEUY
117 BAB VII STRUKTUR AGRARIA DESA CIPEUTEUY Desa Cipeuteuy merupakan desa baru pengembangan dari Desa Kabandungan tahun 1985 yang pada awalnya adalah komunitas pendatang yang berasal dari beberapa daerah,
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi 4.1.1 Keadaan Geografis Desa Oluhuta Utara merupakan salah satu Desa yang berada di Kecamatan Kabila, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo. Luas
I. PENDAHULUAN. Perekonomian di sebagian besar negara-negara yang sedang berkembang. hal
1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian merupakan sektor yang sangat penting perananya dalam Perekonomian di sebagian besar negara-negara yang sedang berkembang. hal tersebut bisa kita lihat
V. GAMBARAN UMUM LOKASI DAN RESPONDEN
V. GAMBARAN UMUM LOKASI DAN RESPONDEN 5.1. Gambaran Umum Desa Purwasari Desa Purwasari merupakan salah satu Desa pengembangan ubi jalar di Kecamatan Dramaga Kabupaten Bogor. Usahatani ubi jalar menjadi
II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR. Geografi adalah mempelajari gejala-gejala di permukaan bumi secara keseluruhan dengan
1 II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR A. Tinjauan Pustaka 1. Pengertian Geografi Geografi adalah mempelajari gejala-gejala di permukaan bumi secara keseluruhan dengan memperhatikan tiap-tiap gejala
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Indonesia merupakan negara agraris dan sebagian besar penduduknya bermata pencaharian di bidang pertanian. Sebenarnya negara ini diuntungkan karena dikaruniai
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian Kecamatan Telaga merupakan salah satu dari 17 Kecamatan yang ada di Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo. Kecamatan Telaga berjarak 10
I. PENDAHULUAN. utama perekonomian nasional. Sebagian besar masyarakat Indonesia masih
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris dimana pertanian merupakan basis utama perekonomian nasional. Sebagian besar masyarakat Indonesia masih menggantungkan hidupnya pada
Bab IV Alih Fungsi Lahan Pertanian dan Pengaruhnya Terhadap Ketahanan Pangan
122 Bab IV Alih Fungsi Lahan Pertanian dan Pengaruhnya Terhadap Ketahanan Pangan IV.1 Kondisi/Status Luas Lahan Sawah dan Perubahannya Lahan pertanian secara umum terdiri atas lahan kering (non sawah)
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang artinya bahwa pertanian memegang peranan penting dari keseluruhan perekonomian nasional. Hal ini dapat ditunjukkan dari banyaknya
I. PENDAHULUAN. Indonesia sebagai negara beriklim tropis mempunyai potensi yang besar
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia sebagai negara beriklim tropis mempunyai potensi yang besar mengembangkan sektor pertanian. Sektor pertanian tetap menjadi tumpuan harapan tidak hanya dalam
PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Lahan merupakan ruang darat yang dimanfaatkan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Manusia memanfaatkan lahan dalam wujud penggunaan lahan. Penggunaan lahan adalah
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR A. Tinjauan Pustaka 1. Pengertian Geografi Geografi adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kelingkungan atau
BAB I PENDAHULUAN. Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 140), yang disebut lingkungan hidup
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di dalam Pasal 1 Angka 1 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor
I. PENDAHULUAN. Secara keseluruhan daerah Lampung memiliki luas daratan ,80 km², kota
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian Secara keseluruhan daerah Lampung memiliki luas daratan 34.623,80 km², kota Bandar Lampung merupakan Kabupaten/Kota di Provinsi Lampung yang memiliki
BAB 1 PENDAHULUAN. Lahan sawah adalah lahan pertanian yang berpetak-petak dan dibatasi oleh
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Lahan sawah adalah lahan pertanian yang berpetak-petak dan dibatasi oleh pematang (galengan), saluran untuk menahan/ menyalurkan air,yang biasanya ditanami padi sawah
BAB I PENDAHULUAN. yang terdiri dari beberapa unsur, diantaranya terdiri dari unsur fisik dan sosial
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Lahan merupakan salah satu kawasan yang berada di permukaan bumi yang terdiri dari beberapa unsur, diantaranya terdiri dari unsur fisik dan sosial yang salah
PROPOSAL POTENSI, Tim Peneliti:
PROPOSAL PENELITIAN TA. 2015 POTENSI, KENDALA DAN PELUANG PENINGKATAN PRODUKSI PADI PADA LAHAN BUKAN SAWAH Tim Peneliti: Bambang Irawan PUSAT SOSIAL EKONOMI DAN KEBIJAKAN PERTANIAN BADAN PENELITIAN DAN
V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Keadaan Umum dan Geografis Penelitian dilakukan di Desa Lebak Muncang, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung. Desa Lebak Muncang ini memiliki potensi yang baik dalam
PENDAHULUAN. Lahan sudah menjadi salah satu unsur utama dalam menunjang. kelangsungan kehidupan sejak manusia pertama kali menempati bumi.
PENDAHULUAN Latar Belakang Lahan sudah menjadi salah satu unsur utama dalam menunjang kelangsungan kehidupan sejak manusia pertama kali menempati bumi. Lahan berfungsi sebagai tempat manusia beraktivitas
BAB I PENGANTAR Latar Belakang. asasi manusia, sebagaimana tersebut dalam pasal 27 UUD 1945 maupun dalam
1 BAB I PENGANTAR 1.1. Latar Belakang Pangan merupakan kebutuhan dasar utama bagi manusia yang harus dipenuhi setiap saat. Hak untuk memperoleh pangan merupakan salah satu hak asasi manusia, sebagaimana
BAB I PENDAHULUAN. menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. Sektor pertanian telah. masyarakat, peningkatan Pendapatan Domestik Regional Bruto
1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara agraris dimana pertanian merupakan basis utama perekonomian nasional.sebagian besar masyarakat Indonesia masih menggantungkan hidupnya pada
BAB I PENDAHULUAN. pembangunan adalah sumberdaya perikanan, khususnya perikanan laut.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tujuan Pembangunan Nasional adalah masyarakat yang adil dan makmur. Untuk mencapai tujuan tersebut harus dikembangkan dan dikelola sumberdaya yang tersedia.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1.1 Petani dan Usahatani Menurut Hernanto (1995), petani adalah setiap orang yang melakukan usaha untuk memenuhi sebagian atau seluruh kebutuhan kehidupannya di bidang pertanian
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Otonomi daerah adalah hak dan wewenang daerah untuk mengatur dan
16 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Otonomi daerah adalah hak dan wewenang daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Urusan rumah tangga sendiri ialah urusan yang lahir atas dasar prakarsa
V. HASIL DAN PEMBAHASAN. petani responden menyebar antara tahun. No Umur (thn) Jumlah sampel (%) , ,
V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Karakteristik Responden 5.1.1 Umur petani responden Umur Petani merupakan salah satu faktor yang berpengaruh pada aktivitas di sektor pertanian. Berdasarkan hasil penelitian
BAB VI HUBUNGAN FAKTOR-FAKTOR PENGUASAAN LAHAN TERHADAP TINGKAT PENGUASAAN LAHAN
51 BAB VI HUBUNGAN FAKTOR-FAKTOR PENGUASAAN LAHAN TERHADAP TINGKAT PENGUASAAN LAHAN 6.1 Keragaman Penguasaan Lahan Penguasaan lahan menunjukkan istilah yang perlu diberi batasan yaitu penguasaan dan tanah.
BAB I PENDAHULUAN. Memasuki era teknologi tinggi, penggunaan alat-alat pertanian dengan mesin-mesin
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Memasuki era teknologi tinggi, penggunaan alat-alat pertanian dengan mesin-mesin modern membantu percepatan proses pengolahan produksi pertanian. Modernisasi
BAB III KERANGKA KONSEP PENELITIAN. peningkatan produksi pangan dan menjaga ketersediaan pangan yang cukup dan
BAB III KERANGKA KONSEP PENELITIAN Program ketahanan pangan diarahkan pada kemandirian masyarakat/petani yang berbasis sumberdaya lokal yang secara operasional dilakukan melalui program peningkatan produksi
V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1. Letak dan Keadaan Geografi Daerah Penelitian Desa Pulorejo merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Batas-batas
III KERANGKA PEMIKIRAN
III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Konsep Ekonomi 3.1.1. Fungsi Produksi Dalam proses produksi terkandung hubungan antara tingkat penggunaan faktor-faktor produksi dengan produk atau hasil yang akan diperoleh.
BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan perkembangan zaman, pertumbuhan penduduk dari tahunketahun
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seiring dengan perkembangan zaman, pertumbuhan penduduk dari tahunketahun bertambah dengan pesat sedangkan lahan sebagai sumber daya keberadaannya relatif tetap. Pemaanfaatan
I. PENDAHULUAN. tani, juga merupakan salah satu faktor penting yang mengkondisikan. oleh pendapatan rumah tangga yang dimiliki, terutama bagi yang
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sektor pertanian sebagai sektor primer memiliki kewajiban untuk memberikan kontribusi secara langsung terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rumah tangga tani.
BAB I PENDAHULUAN. Tanah merupakan sumber agraria yang memiliki makna ekonomis serta
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tanah merupakan sumber agraria yang memiliki makna ekonomis serta memiliki nilai sosio-kultural dan pertahanan keamanan. Secara ekonomi tanah merupakan aset (faktor)
BAB II PENDEKATAN TEORITIS
5 BAB II PENDEKATAN TEORITIS 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Konversi Lahan di Jawa Tanah merupakan sumber hidup bagi manusia yang berkembang dan melakukan segala aktivitas di atasnya. Sumberdaya alam seperti
BAB V FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LAJU KONVERSI LAHAN PERTANIAN
43 BAB V FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LAJU KONVERSI LAHAN PERTANIAN 5.1 Fenomena Konversi Lahan Kecamatan Bogor Selatan adalah wilayah yang lahannya tergolong subur. Salah satu bagian dari Kota Bogor
II. TINJAUAN PUSTAKA
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Pustaka Lestari (2009) mendefinisikan alih fungsi lahan atau lazimnya disebut sebagai konversi lahan adalah perubahan fungsi sebagian atau seluruh kawasan lahan dari fungsinya
I. PENDAHULUAN. rumahtangga yang mengusahakan komoditas pertanian. Pendapatan rumahtangga
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pendapatan rumahtangga petani adalah pendapatan yang diterima oleh rumahtangga yang mengusahakan komoditas pertanian. Pendapatan rumahtangga petani dapat berasal dari
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sektor pertanian memiliki peranan yang sangat penting di dalam pembangunan nasional karena sektor ini memanfaatkan sumber daya alam dan manusia yang sangat besar (Soekartawi,
I. PENDAHULUAN. Berkurangnya hutan tropis untuk kepentingan pertanian terkait dengan upayaupaya
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Berkurangnya hutan tropis untuk kepentingan pertanian terkait dengan upayaupaya masyarakat sekitar hutan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Khusus di Propinsi Lampung, pembukaan
