USULAN PROGRAM PPM UNGGULAN BERBASIS TEKNOLOGI TEPAT GUNA (TTG)
|
|
|
- Glenna Setiabudi
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 1 USULAN PROGRAM PPM UNGGULAN BERBASIS TEKNOLOGI TEPAT GUNA (TTG) 1. JUDUL Rancang Bangun Mesin Pengering dan Pemotong Bulu untuk Meningkatkan Hasil Produksi Shuttlecock Industri Kecil di Pedesaan 2. ANALISIS SITUASI Desa manggung, merupakan salah satu desa di wilayah Kowen II, Timbulharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pasca gempa Bantul tahun 2006 dengan kekuatan gempa 5,9 skala rihter praktis melumpuhkan perekonomian di Kabupaten Bantul khususnya di kota Bantul sendiri. Banyak UKM-UKM dari yang skala besar sampai ke yang paling kecil mengalami kerugian, baik dari bangunan ataupun perusahaan yang rusak sampai ke penjualan yang menurun drastis. Sekitar 5000 orang di perkirakan meninggal, dan tidak terhitung lagi masyarakat yang cidera baik ringan maupun yang parah, dan hampir sebagian rumah di Bantul mengalami kerusakan dari yang paling parah maupun yang hanya rusak ringan. Praktis perekonomian khususnya di Kabupaten Bantul lumpuh total saat itu, terkena dampak dari kehebatan gempa bumi tersebut. Tak terkecuali itupun dialami oleh UKM kecil di bidang jasa pembuatan suttlecock Nusantara yang mengalami kerugian khususnya pada material, mulai dari perusahaan yang rusak sampai karyawan yang binggung akan rumahnya yang mengalami kerusakan dan bahkan anggota keluarga para pegawai yang terkena dampak dari gempa. Praktis UKM pembuatan sutllecock Nusantara tutup dalam waktu
2 2 yang belum ditentukan. Seiring dengan berjalanya waktu dari tahun ke tahun perekonomian di Kabupaten Bantul mulai mengalami perubahan kearah semakin baik dan seperti sediakala, itu dapat dilihat dengan mulai munculnya kembali UKM-UKM yang mulai aktif maupun beroprasi kembali. Melihat permaslahan tersebut Bapak Parman berinisiatif untuk mengembalikan usaha sutllecock yang telah lama berhenti dengan mendirikan perusahaan home industri yang diberi nama SINAR ALAM. Sinar Alam berdiri pada tahun 2009, dan home industry ini bergerak hanya dalam bidang pembuatan sutllecock, bukan penyedia bahan baku pembuatan sutllecock. Cara pemasaran home industry ini bermula pada tidak adaanya target penjualan, melihat haasil pemasaran dan membawa langsung hasil produksi ke toko-toko penjualan olahraga, dikarenakan belum adanya modal yang memadai. Seiringnya waktu home industri Sinar Alam mulai berkembang, dapat dilihat dari hasil produksi dan tingkat pemesanan konsumen. Jumlah pegawai Sinar Alam sampai saat ini sebanyak 9 orang yang menitik beratkan pada bidang usaha pembuatan shuttlecock. Produk yang dihasilkan oleh kelompok usaha di bidang kewirausahaan tersebut yaitu berupa shuttlecock yang teridiri dari 3 (tiga) macam jenis cock yaitu kelas III Sinar Alam berwarna hijau haranya 15 ribu shuttlecock khusus untuk anak berusia 12 tahun, Sinar Alam Silver harganya 20 ribu shuttlecock khusus untuk dewasa berumur 15 tahun ke atas, serta cock berwarna biru dengan harga 33 ribu, merupakan shuttlecock yang paling baik ataupun shuttlecock unggulan Sinar Alam dan biasanya di pesan untuk pertandingan.
3 3 Pengembangan dan pendayagunaan sektor industri termasuk di dalamnya industri kecil rumah tangga (home industry) dalam rangka otonomi daerah seperti yang telah diuraikan di atas, merupakan salah satu program unggulan yang perlu mendapat perhatian dari semua pihak termasuk perguruan tinggi terdekat. Program unggulan tersebut diharapkan dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) bagi wilayah yang bersangkutan. Hal ini, sesuai dengan harapan masyarakat yang berada di wilayah Kabupaten Bantul tersebut khususnya Desa Manggung. Maksud pernyataan di atas, sejalan dengan potensi manusia di Kabupaten Bantul Provinsi Yogyakarta khususnya di kecamatan Sewon memiliki beragam potensi industri, yang salah satunya adalah industri kecil pedesaan yang berupa produksi home industry pembuatan sutllecock. Sutllecock merupakan komponen pokok dalam permainan Bulutangkis. Proses awal pembuatan sutllecock dilakukan dengan alat yang terbatas dan sumberdaya manusia, yang pada awal berdirinya home industri tersebut masih dilakukan secara manual dengan tenaga manusia. Dalam rangka peningkatan produktivitas dari kelompok usaha tersebut, permasalahan yang timbul berikutnya adalah proses pengeringan dan pemotongan bulu yang pada saat ini dilakukan secara manual yang tidak seimbang dengan produksi proses pengeringan dan pemotongan bulu yang dilakukan secara manual. Berlatar belakang pada proses pengeringan bulu dan pemotongan bulu sebagai bahan dasar pembuatan shuttlecock yang masih tradisional secara manual industri rumahan Sinar Alam belum mampu meningkatkan kualitas
4 4 dan kuantitas produknya sehingga tidak mampu menghasilkan shuttlecock secara cepat dan dalam jumlah yang banyak sesuai permintaan dan kebutuhan dari konsumen. Oleh karena itu, industri rumah tangga yang sangat prospektif tersebut selayaknya dikembangkan dengan meningkatkan kwalitas dan kwantitas produknya, karena permintaan pasar khususnya shuttlecock yang semakin meningkat dan mempunyai nilai jual yang sangat tinggi. Permasalahan di atas itulah yang pada saat ini masih dialami oleh kelompok industri kecil rumah tangga Sinar Alam yang masih menerapkan teknologi sederhana dalam proses pembuatan shuttlecock yang merupakan produk unggulannya, sehingga perlu adanya upaya untuk perbaikan di masa mendatang. Upaya peningkatan kualitas dan kuantitas produk yang dimaksud yaitu agar dapat dihasilkan shuttlecock yang lebih berkualitas yang diawali dari proses pengeringan bulu dan pemotongan bulu dilanjutkan pemasangan bulu serta pembuatan rangkaian bahan shuttlecock dengan proses secara mekanis sehingga diperolah tingkat homogenitas bulu yang lebih baik dan merata. Hal ini dikarenakan, untuk dapat memproduksi shuttlecock dengan jumlah yang lebih besar dan kualitas yang lebih baik diperlukan sarana penunjang khususnya mesin pengering dan pemotong bulu. Mesin pengering bulu sangat dibutuhkan karena mengeringkan bulu dengan manual akan sangat bergantung dengan cuaca dan musim apabila musim hujan atau cuaca tidk panas maka akan kesulitan untuk mengeringkan bulu. Mesin pemotong bulu juga sangat diperlukan karena dengan mesin pemotong tentu
5 5 homogenitas bulu akan terjaga dan tentu saja membutuhkan waktu yang relatif sedikit dan tidak melelahkan. Oleh sebab itu, Program PPM Unggulan Berbasis Teknologi Tepat Guna (TTG) ini dimaksudkan untuk mengatasi permasalahan sebagaimana tersebut di atas dengan menciptakan TTG yang sesuai dan tepat sasaran. Teknologi tepat guna yang dimaksud adalah berupa Rancang bangun mesin pengering dan pemotong bulu untuk menunjang proses pegolahan bahan baku dalam pembuatan shuttlecock khususnya berupa mesin pengering dan pemotong bulu, penerapan teknologi pengolahannya untuk dapat menghasilkan shuttlecock yang berkualitas. Penerapan PPM Berbasis TTG khususnya Rancang Bangun Mesin Pengering Bulu dan Mesin Pemotong Bulu untuk Meningkatkan Kapasitas Produksi Industri Kecil di Pedesaan ini, diharapkan mampu meningkatkan kualitas produk dan efisiensi kerja bagi industri kecil rumah tangga di pedesaan khususnya di wilayah Dusun Manggung, kowen II, Timbulharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Untuk mencapai tujuan tersebut, rancang bangun mesin tersebut tentunya perlu didasarkan pada persyaratan TTG, antara lain: (1) alat dapat memecahkan permasalahan industri kecil maupun rumah tangga; (2) biaya operasi terjangkau; (3) bentuk menarik, ergonomis, dan sederhana; (4) mudah dioperasikan, dirawat, dan aman; serta (5) dapat menaikkan pendapatan dan peluang kerja. Untuk itu, dibutuhkan penguasaan dan pengembangan teknologi secara tepat guna dan progresif, sehingga berdaya guna dan berhasil guna bagi industri kecil rumah tangga di pedesaan.
6 6 3. LANDASAN TEORI Permasalahan yang dihadapi oleh para pengusaha kecil dan menengah termasuk di dalamnya adalah industri kecil rumah tangga di pedesaan antara lain adalah kurangnya pengalaman, pendidikan yang rendah, modal terbatas, pemilihan lokasi yang tidak tepat, kemampuan bersaing yang rendah, peralatan dan produk yang ketinggalan, kurang mengikuti informasi dan perkembangan, serta kekeliruan pengelolaan (Cahyono dan Adi, 2006: 8). Dengan demikian, perlu adanya suatu langkah terobosan dalam membantu para pengusaha kecil dan menengah khususnya home industry di pedesaan dalam usaha meningkatkan kualitas dan kuantitas produk mereka. Perguruan tinggi melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) sangat potensial dalam usaha mengatasi permasalahan ini yaitu dengan menerapkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (ipteks) yang telah diteliti, dikembangkan, diujicoba, dan dimiliki di kampus. Perkembangan ipteks di perguruan tinggi sangat berperan dalam menunjang aktivitas kehidupan manusia di sekitarnya. Kemajuan ipteks menuntut manusia untuk melakukan perkembangan dalam banyak hal. Pola pikir yang semakin maju didukung oleh keinginan untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi diri-sendiri maupun orang lain, manusia dituntut untuk dapat menciptakan sesuatu yang dulunya tidak ada menjadi ada atau suatu inovasi baru dan pengembangan dari yang sudah ada menjadi lebih baik serta efisien (Raharjo, 2004). Pengembangan ini dapat berupa penciptaan alat
7 7 (mesin teknologi tepat guna) yang tepat guna dan dapat diterapkan secara mudah di masyarakat. Perancangan dan pembuatan alat yang berupa mesin TTG harus memperhatikan pertimbangan disain. Pertanyaan terkait dengan disain berteknologi tepat guna yang perlu dilontarkan sebelum melakukan rancang bangun dan membuat produk sebagaimana disampaikan oleh Espito dan Thrower (2005), yaitu: (1) Apakah produk memenuhi kebutuhan manusia?, (2) Apakah produk mampu bersaing di pasaran?, (3) Apakah produk ekonomis untuk diproduksi?, (4) Apakah produk akan menguntungkan bila dijual?. Sedangkan ahli lain berpendapat, bahwa beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam upaya pembuatan alat tepat guna yaitu bagi pemakai, meliputi: penampilan, efisiensi, kemudahan dioperasikan, dan dipelihara, berat dan ukuran produk, daya tahan, kemanfaatan, biaya operasi, biaya perawatan dan pemeliharaan, dan kemudahan mendapatkan suku cadang (Beam, 2000: 130). Memperhatikan pernyataan di atas, maka dalam melakukan rancang bangun dan pembuatan mesin pengering bulu dan mesin pemotong bulu untuk menunjang produksi shuttlecock ini juga berdasarkan persyaratan TTG bagi industri kecil, antara lain: (1) alat tersebut dapat memecahkan permasalahan industri kecil; (2) biaya operasinya terjangkau oleh kelompok sasaran; (3) bentuknya menarik, ergonomis, sederhana; serta (4) mudah dioperasikan, dirawat, dan aman. Oleh karena itu, guna memenuhi permintaan kwalitas dan kwantitas produk shuttlecock, perlu diciptakan suatu alat bantu (mesin TTG) yang dapat
8 8 digunakan secara baik, sesuai dengan keperluan dan optimal fungsinya. Penciptaan alat bantu ini akan dapat menghemat tenaga, waktu, dan biaya produksi. Penciptaan alat bantu TTG ini memang memerlukan disain, pemikiran, dan pertimbangan yang matang. Terdapat beberapa hal yang menjadi dasar pertimbangan dalam membuat (rancang bangun) suatu alat, diantaranya yaitu: (1) segi fungsi, alat berfungsi untuk membantu mempermudah cara kerja manusia, (2) segi efisien, pekerjaan dapat diselesaikan dengan cepat, penggunaan tenaga lebih sedikit sehingga efisien dari segi waktu dan tenaga, (3) segi ekonomi, dengan ditekannya waktu dan tenaga yang digunakan akan mengurangi biaya operasional suatu pekerjaan, dan (4) segi keselamatan kerja, tidak membahayakan bagi pemakai alat, serta lingkungan atau tempat kerja (Harahap, Tt). Mesin pengering bulu dan pemotong bulu dirancang dan dibuat untuk membantu mempermudah dan mempercepat proses pekerjaan pembuatan shuttlecock sesuai dengan diharapkan. Pada awalnya gagasan pembuatan shuttlecock di industri rumah tangga Sinar Alam yaitu dari banyaknya permintaan akan produk shuttlecock, akan tetapi pasca gempa di Bantul 2006 banyak produksi home industry yang gulung tikar sehingga tidak dapat memenuhi banyaknya permintaan. Memproduksi shuttlecock dengan mengeringkan bulu dengan alat dan memotong dengan alat dasarnya tidak berbeda dengan mengeringkan secara alami dan memotong secara manual yang pada saat ini telah dapat dibuat oleh mitra kerja (home industry Sinar Alam ) walaupun masih dikerjakan dengan sistem pengoperasian secara manual yaitu dengan menggunakan tangan manusia (tradisional). Padahal,
9 9 pengeringan bulu dan pemotongan bulu dengan cara yang manual membutuhkan waktu yang cukup lama. Kendala dalam proses pengeringan bulu yang menjadi masalah adalah kendala cuaca yang tidak menentu. Apabila cuaca sedang mendung ataupun hujan maka produksi akan terhenti karena bahan baku shuttlecock yang berupa bulu harus kering untuk bias dibuat. Sedangkan pemotongan bulu menggunakan tangan manual ataupun gunting akan sangat memakan waktu yang lama dan hasil potonganyapun tidak sama rata walaupun hanya selisih sedikit atau hasilnya tidak homogen. Hal tersebut juga dapat terjadi terjadi dikarenakan adanya factor kelelahan dalam proses pemotongan bulu Berawal dari kondisi dan permasalahan di lapangan seperti tersebut di atas, maka perlu dibuat mesin pengering bulu dan mesin pemotong bulu shuttlecock sebagai mesin penunjang produksi shuttlecock dengan kecepatan yang tinggi dan hasil potongan bulu yang homogen. Dengan adanya alat mesin pengering bulu dan pemotong bulu dengan teknologi pengadaan alat ini diharapkan dapat membantu menambah hasil produksi shuttlecock, yang diproduksi oleh industri kecil rumah tangga Sinar Alam di Desa manggung, Kowen II, Timbulharjo Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul Yogyakarta sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja industri kecil rumah tangga di pedesaan tersebut. 4. IDENTIFIKASI DAN PERUMUSAN MASALAH Berdasarkan uraian di atas selanjutnya dapat dilakukan identifikasi dan sekaligus rumusan masalah dalam pekerjaan rancang bangun mesin
10 10 pengering bulu dan pemotong bulu serta penerapan teknologinya yaitu sebagai berikut. 1) Bagaimanakah membuat konstruksi mesin mekanis pengering bulu dan pemotong bulu yang kuat, stabil dan ramah lingkungan? 2) Berapa ukuran mesin pengering bulu dan pemotong bulu yang sesuai untuk industri kecil rumah tangga Sinar Alam di Desa Manggung, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul? 3) Bagaimana teknik pengoperasian mesin mekanis pengering bulu dan pemotong bulu untuk peningkatan hasil produksi shuttlecock tersebut? 4) Apakah ada perbedaan hasil pengeringan bulu dan pemotong bulu yang dilakukan secara manual menggunakan tenaga manusia dengan menggunakan teknologi mesin? 5) Apakah ada perbedaan kualitas antara shuttlecock dengan bulu hasil pengeringan dan pemotongan dengan alat dan shuttlecock denga bulu hasil pengeringan ddan pemotongan secara manual ini ditinjau dari segi efisiensi waktu, tenaga, biaya yang dikeluarkan, dan kwalitas bulu yang dihasilkan? 6) Bagaimana teknik menjaga keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dalam mengoperasikan mesin pengering bulu dan mesin pemotong bulu tersebut? 5. TUJUAN KEGIATAN Tujuan dari kegiatan program PPM dalam bentuk PPM Unggulan berbasis TTG ini adalah untuk membantu pemecahan masalah yang dihadapi oleh industri kecil rumah tangga Sinar Alam di Desa manggung, Kowen II,
11 11 Timbulharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya dalam hal pemecahan masalah proses pengeringan bulu dan pemotongan bulu dalam pembuatan shuttlecock. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka dilakukan rancang bangun mesin pengering bulu dan mesin pemotong bulun yang bersifat mekanis sebanyak satu unit. Satu unit mesin pengering bulu mekanis ini terdiri dari: (1) kerangka mesin, (2) kerangka tempat bulu untuk dikeringkan, (3) tombol on-off, (4) tabung pengering. Gambar 1. Mesin pengering bulu shuttlecock produksi pasaran Satu unit mesin pemotong bulu terdiri dari (1) besi pemotong yang berbentuk pisau, (2) Besi pegangan untuk memotong bulu, (3) penyetel potongan. Gambar 2. Pemotong bulu manual
12 12 Desain usulan untuk mesin Pengering Bulu Shuttlecock go green. Z E x T 0 C T 1 T 2 T 3 T 4 T 5 HR F Gambar 3. Mesin pengering bulu shuttlecock Keterangan gambar: C : Chimney (Cerobong) E : Exhouster (Kipas penarik udara) F : Furnace (Dapur pembangkit panas) dengan bahan bakar sampah daun/kayu HR : Hot room (Ruang pemanas) T 0 T 1-5 : Perforated roof (Langit-langit berlubang-lubang kecil) : Perforated Tray (Rak berlubang-lubang kecil) tempat bulu dikeringkan Desain usulan untuk mesin Pemotong Bulu Shuttlecock go green. Pemotong bulu tidak bisa otomatik, tetap manual. Yang diubah adalah sekali potong bisa untuk motong lembar bulu, tergantung lebar landasan.
13 13 Panjang pisau menyesuaikan lebar landasan. Desain seperti pemotong kertas saja, dengan sistim ulir dari atas. R U L P M Gambar 4. Mesin pemotong bulu Keterangan gambar: L : Landasan tempat bulu yang akan dipotong lengkap dengan lempeng penjepit bulu M : Meja P : Pisau pemotong bulu R : Roda pemutar ulir U : Ulir penggerak pisau pemotong bulu 6. MANFAAT KEGIATAN 6.1. Manfaat Kegiatan Ditinjau dari Potensi Ekonomi Produk Apabila mesin mekanis pengering bulu dan pemotong bulu digunakan dalam pekerjaan sehari-hari akan dapat meningkatkan hasil produksi yang dihasilkan sehingga diperoleh: (1) Dengan mesin pengering bulu maka tidak perlu mengandalkan cuaca kebutuhan utama sehingga dimanapun tempat akan dapat mengeringkan bulu. (2) Dimusim penghujanpun Sinar Alam tetap
14 14 akan mampu memproduksi shuttlecock karena bahan dasar bulu yang sudah kering siap digunakan. Dengan menggunakan mesin pemotong bulu maka: (1) Mampu mempercepat melakukan pemotongan bulu atau lebih effisien. (2) hasil pemotongan bulu homogen karena menggunakan mesin pemotong tanpa harus pegawai berkonsentrasi untuk memotong bulu supaya sama dengan potongan bulu yang pertama. Selain itu, dapat meningkatkan motivasi dan semangat kerja bagi para anggota karena selama ini penyiapan bahan dilakukan secara manual dan bergantung kepada cuaca. Manfaat khusus bagi instansi terkait dalam penggunaan mesin pengering bulu dan pemotong bulu ini adalah sebagai berikut. a. Bagi Universitas Negeri Yogyakarta khususnya Jurusan Pendidikan Teknik Mesin dan Jurusan Pendidikan Sipil dan Perencanaan adalah untuk menambah peralatan sebagai media pendidikan di Bengkel Kerja Baja dan Logam. b. Bagi Jurusan Fakultas Ilmu Keolahragaan untuk menambah peralatan sebagai pendidikan dan pengetahuan dalam pembuatan shuttlecock. c. Bagi industri kecil pedesaan yang memproduksi shuttlecock industri rumah tangga Sinar Alam yang bergerak dalam bidang produksi shuttlecock meningkatkan kualitasnya dan kuantitas produksinya. Bila produk yang dihasilkan meningkat kualitasnya, tentunya akan berdampak meningkatkan nilai jual produk yang dihasilkan. Begitu juga, dengan dimilikinya mesin pengering bulu dan pemotong bulu diharapkan kwantitas dan kualitasnya produksinya akan semakin meningkat. Meningkatnya kwalitas dan kualitas produk tentunya akan berpengaruh secara signifikan
15 15 terhadap pendapatan yang diraih oleh para anggotanya yang pada akhirnya juga akan dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Manfaat Kegiatan Ditinjau dari Nilai Tambah Produk dari Sisi Ipteks Seperti yang telah diuraikan di muka, bahwa industri kecil rumah tangga Sinar Alam dalam proses pengeringan bulu dan pemotongan bulu dilakukan secara manual dengan memakai bantuan matahari dan pemotongan dilakukan secara manual kurang efektif. Kondisi seperti ini ditinjau dari segi waktu dan teknologi kurang menguntungkan karena tergantung pada musim dan produktivitasnya sangat rendah. Oleh karena itu, pembuatan mesin pengering bulu dan pemotong bulu yang bersifat mekanis yang dilakukan melalui program PPM Unggulan Berbasis TTG dari perguruan tinggi ini akan sangat relevan sekali untuk mengatasi masalah produktivitas yang rendah tersebut. Dengan memanfaatkan mesin mekanis pengering bulu dan pemotong bulu, jumlah pekerja yang harus melayani dalam pengoperasiannya cukup satu orang ataupun 2 orang saja. Dua orang pekerja inipun tidak akan mengeluarkan tenaga yang berat dan waktu yang lama seperti pada saat pengeringan dan pemotongan sehingga pekerja yang lain dapat membuat suttlecock tanpa menunggu bahan bulu yang lama untuk siap dipasang. Pekerja ini tugasnya hanya melayani mesin dalam proses pengeringan bulu dan pemotongan bulu sesuai dengan kecepatan produksi yang diharapkan. Selain itu, hasil akhir pengeringan bulu dan pemotongan bulu dapat diatur sesuai dengan kebutuhan homogenitas yang diharapkan.
16 Manfaat Kegiatan Ditinjau dari Dampak Sosial Sampai dengan awal tahun 2012 ini, krisis perekonomian nasional yang diikuti krisis multi dimensional dan keuangan global belum tampak nyata benar kapan akan berakhirnya sejak bergulir pada tahun 1998 (empat belas tahun) yang lalu. Pergantian pemimpinan nasional dengan berbagai susunan kabinet yang dibentuknya kurang mampu menekan jumlah kemiskinan dan pengangguran di negeri ini. Bahkan adanya krisis ekonomi global akhir-akhir ini, tentunya sangat berpengauh besar pada berbagai sektor ekonomi masyarakat. Dampak yang lebih besar antara lain: terus meningkatnya jumlah kemiskinan dan pengangguran, banyak investor yang enggan menanamkan modalnya di wilayah Indonesia, banyaknya tenaga kerja Indonesia (TKI) yang dipulangkan terutrama dari Malaysia, Arab Saudi, dan ada juga perusahaaan yang memindahkan lokasi industrinya keluar negeri ini. Di dalam negeri sendiri banyak perusahaan besar dan menengah yang tidak dapat beroperasi dengan baik dan lancar yang akibatknya tidak sedikit para karyawannya mendapatkan pemutusan hubungan kerja (di-phk). Kondisi tersebut di atas, banyak terjadi di perusahaan besar dan menengah di beberapa kota besar di negeri ini, yang notebennya pekerjanya berasal dari daerah termasuk dari Yogyakarta dan sekitarnya. Pada hal, kebutuhan suttlecock di daerah tersebut dan daerah lain khususnya kota-kota pengemar olahraga badminton. Meningkatnya kebutuhan konsumen suttlecock tentunya perlu diiringi oleh produksi bahan baku dan pengolahan bulu sebagai bahan dasar suttlecock yang lebih baik yang seharusnya dilakukan oleh pengurus dan para anggota KUB Sinar Alam tersebut.
17 17 Peningkatan produksi tersebut atau pendirian industri kecil rumah tangga yang baru diharapkan dapat dilaksanakan oleh para karyawan yang sementara ini terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dari perusahaan besar dan menengah di kota-kota besar. Mereka dapat kembali ke kampung halamannya untuk membangkitkan sektor riil khususnya industri kecil di daerahnya masing-masing, sehingga tidak membebani kota-kota besar seperti yang tampak pada akhir-akhir ini. Harapan ini sesuai dengan pendapat Hadi Prayitno (2005: 27), bahwa industri kecil pedesaan memiliki banyak keuntungan antara lain yaitu dapat mengurangi perpindahan penduduk ke kota. Begitu juga, Irsan Ashari (2006: 76) berpendapat bahwa ada tiga manfaat yang dapat disumbangkan oleh industri kecil di pedesaan, yaitu: (1) Dapat memberikan peluang berusaha yang luas dengan pembiayaan yang relatif murah, (2) Dapat mengambil bagian dalam peningkatan dan mobilitas tabungan domistik, dan (3) Mempunyai kedudukan komplementer terhadap industri besar dan sedang. 7. KERANGKA PEMECAHAN MASALAH Kerangka pemecahan masalah dalam rangka untuk meningkatkan produktivitas shuttlecock bagi industri kecil rumah tangga Sinar Alam di Desa Manggung, Kowen II, Timbulharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Yogyakarta Ringinlarik melalui pembuatan mesin pengering bulu dan pemotong bulu tersebut adalah sebagai berikut. a. Pembuatan disain mesin. b. Pembelian bahan untuk mewujudkan mesin pengering bulu dan pemotong bulu. c. Pemotongan bahan sesuai dengan gambar disain yang direncanakan.
18 18 d. Perakitan (assembling) antar komponen pembentuk mesin pengering bulu dan pemotong bulul. e. Ujicoba mesin pengering bulu dan pemotong bulu di laboratorium. f. Perbaikan mesin sesuai temua kelemahan berdasar hasil uji coba di laboratorium. g. Finishing (pengecatan). h. Ujicoba lapangan sesuai dengan kondisi riil bahan baku bulu yang dikeringkan dan bulu yang dipotong. i. Penyerahan mesin kepada mitra kerja. j. Pelatihan penggunaan mesin bagi anggota/karyawan industri suttlecock. k. Pemantauan dan pendampingan lapangan sesuai dengan permasalahan yang dialami oleh mitra kerja selama penggunaan mesin. 8. KHALAYAK SASARAN Khalayak sasaran PPM Unggulan Berbasis TTG ini yaitu para Pengurus dan Anggota Kelompok Usaha Bersama Sinar Alam yang berjumlah sebanyak 9 orang yang bergerak di bidang industri Suttlecock. Khalayak sasaran dalam kegiatan Program PPM Unggulan ini beralamat di Dusun Manggung, kowen II, Timbulharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. 9. KETERKAITAN Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Yogyakarta (LPPM UNY) dalam gerak langkahnya didukung oleh berbagai potensi sumber daya manusia (SDM), laboratorium, bengkel kerja, dan
19 19 peralatan penunjang dari enam fakultas termasuk di dalamnya Fakultas Ilmu Keolahragaan yang mempunyai tiga jurusan yaitu Pendidikan Jasmani dan Rekreasi, Pendidikan Kepelatihan Olahraga, dan Ilmu Olahraga yang kesemuanya berperan dalam memajukan dunia olahraga khususnya di daerah tersebut. sesuai dengan program PPM yang ditawarkan melalui program PPM Unggulan Berbasis TTG ini. Peran tersebut di atas, bagi UNY adalah sebagai wujud pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi khususnya dharma yang ketiga yaitu Pengabdian Kepada Masyarakat. Bagi Perangkat Desa setempat dan Dinas Perindustrian Kabupaten Boyolali, akan mempunyai kesempatan yang baik dalam membina dan mengembangkan industri kecil rumah tangga di wilayah setempat. 10. METODE KEGIATAN Untuk membantu mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh industri kecil rumah tangga Sinar Alam dalam usaha memproduksi shuttlecock sebagai produk unggulan mitra kerja dalam pengabdian masyarakat ini, dipilih beberapa metode pemecahan masalah yaitu sebagai berikut Metode Disain dan Pembuatan Mesin Proses disain merupakan langkah awal dalam pekerjaan pembuatan mesin untuk penerapan berbasis TTG. Berdasarkan hasil disain tersebut akan dapat diketahui dimensi mesin, jumlah kebutuhan bahan, rencana kekuatan mesin, rencana produktivitas mesin, dan permasalahan lain terkait dengan rencana pembuatan mesin tersebut.
20 20 Berdasarkan hasil gambar disain tersebut, dilajutkan dengan pengadaan peralatan (mesin pengering dan pemotong bulu mekanis) sesuai dengan disain mutlak harus dilaksanakan guna menunjang keberhasilan semua rencana Program PPM Unggulan Berbasis TTG yang telah direncanakan. Di samping itu, pengadaan peralatan yang berupa mesin pengering bulu dan pemotong bulu ini secara lambat-laun akan sangat membantu pemecahan masalah yang dihadapi oleh industri kecil rumah tangga KUB Sinar Alam di Desa Manggung, Kowen II, Timbulharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Yogyakarta Metode Teori dan Ceramah Metode teori dan ceramah dipilih untuk menyampaikan beberapa teori pendukung yang erat kaitannya dengan masalah penggunaan mesin mekanis pengering bulu dan pemotong bulu dan proses pembuatan shuttlecock tersebut. Permasalahan yang disampaikan dalam metode ini, seperti: (1) Menentukan ukuran mesin mekanis pengering bulu dan pemotong bulu yang sesuai untuk industri kecil rumah tangga, (2) Teknik pengoperasian mesin mekanis pengering bulu dan pemotong bulu, dan (3) Cara menjaga keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dalam menggunakan mesin mekanis pengering bulu dan pemotong bulu tersebut Metode Demonstrasi Metode demonstrasi diperlukan untuk memberi pengetahuan, pengalaman, pemahaman, dan contoh kepada para karyawan/anggota industri kecil pasangan (industri kecil rumah tangga Sinar Alam ).
21 21 Penggunaan metode demonstrasi ini, khususnya dalam memberikan contoh praktis dalam hal teknik mengoperasikan mesin mekanis pengering bulu dan pemotong bulu serta cara menjaga keselamatan maupun kesehatan kerja. Keselamatan dan kesehatan kerja dapat ditinjau dari keamanan mesin yang digunakan, orang yang bekerja, maupun benda kerjanya (benda yang dikerjakan). Selain itu, metode demonstrasi yang diterapkan untuk memberikan contoh secara nyata bagaimana teknik pengering bulu dan pemotong bulu tersebut sehingga dihasilkan bulu yang layak dan homogen sebagai bahan baku dalam pembuatan shuttlecock Metode Latihan/ Praktek Metode ini bertujuan untuk membekali keterampilan para karyawan/ anggota industri rumah tangga Sinar Alam selaku industri kecil pasangan (mitra kerja) dalam pelaksanaan Program PPM Unggulan Berbasis TTG ini. Latihan dan praktek dalam program ini dikhususkan dalam hal teknik pengoperasian mesin mekanis pengering bulu dan pemotong bulu, cara menjaga keselamatan dan kesehatan kerja dalam menggunakan mesin tersebut, serta teknik pembuatan shuttlecock tersebut. 11. RANCANGAN EVALUASI Rancangan evaluasi tingkat keberhasilan program PPM Unggulan berbasis TTG ini mengacu pada indikator kinerja yang telah disepakati bersama antara Tim Pelaksana Kegiatan dengan Mitra Kerja. Indikator kinerja keberhasil dari Program PPM Unggulan Berbasis TTG ini akan dilihat dari
22 22 berbagai tolok ukur, yang meliputi: (1) kesesuaian dimensi mesin dengan desainnya, (2) kesesuaian produktivitas/unjuk kerja mesin dengan kebutuhan industri mitra, (3) ketepatan waktu dalam menyelesaikan pekerjaan, (4) ketepatan waktu dalam penyerahan mesin kepada industri mitra kerja, (5) terlaksananya pelatihan dalam pengoperasian mesin bagi pemilik/karyawan/ anggota mitra kerja, (6) mesin dapat digunakan secara baik oleh mitra kerja, (7) terjadinya peningkatkan produksi mitra kerja, (8) keeffektifan semua tim pelaksana dalam setiap tahapan penyelesaian pekerjaan, dan (9) terjalinnya komunikasi yang baik antara mitra kerja dengan Tim Pelaksana PPM Unggulan terkait dengan permasalahan mesin hasil dari Program PPM Unggulan Berbasis TTG, dan (10) keselamatan kerja, tidak membahayakan bagi operator dan lingkungan tempat kerja. Indikator kinerja dalam pelaksanaan program PPM Unggulan Berbasis TTG tersebut bila dirumuskan sebagaimana dituliskan dalam Tabel 1 berikut ini. Tabel 1. Kisi-kisi Indikator Kinerja Pelaksanaan Program PPM Unggulan Berbasis TTG No. Aspek yang Dievaluasi Indikator Kinerja 1 Kesesuaian dimensi mesin dengan Sesuai Tidak sesuai disain 2 Kesesuaian produktivitas/unjuk kerja Sesuai Tidak sesuai mesin dengan kebutuhan mitra kerja 3 Ketepatan waktu dalam penyelesaian pekerjaan Tepat waktu Tidak tepat waktu 4 Penyerahan mesin kepada industri mitra kerja Tepat waktu Tidak tepat waktu 5 Terlaksananya pelatihan dalam pengoperasian mesin bagi Terlaksana Tidak terlaksana pemilik/karyawan/anggota mitra kerja 6 Mesin dapat digunakan dengan baik Ya Tidak
23 23 oleh Mitra Kerja 7 Terjadinya peningkatkan produksi mitra kerja 8 Keaktifan semua tim pelaksana dalam setiap tahapan penyelesaian pekerjaan 9 Terjalin komunikasi antara mitra kerja dengan Tim Pelaksana Program dengan Mitra Kerja 10. Keselamatan kerja, tidak membahayakan bagi operator dan lingkungan tempat kerja Ya Aktif Ya Tidak Berbahaya (Aman) Tidak Tidak aktif Tidak Berbahaya (Tidak Aman) 12. RENCANA DAN JADWAL KERJA Untuk melaksanakan program PPM khususnya PPM Unggulan Berbasis TTG ini, dibutuhkan waktu selama enam bulan, terhitung sejak penanda-tanganan kontrak kerja sampai dengan penyerahan mesin kepada industri kecil mitra serta pembuatan laporan akhir kegiatan. Berbagai jenis kegiatan dan alokasi waktu yang direncanakan untuk menyelesaikan pekerjaan dalam Program PPM Unggulan Berbasis TTG ini adalah sebagai berikut (lihat Tabel 2). Tabel 2. Rencana dan Jadwal Kerja Pelaksanaan Program PPM Unggulan Berbasis TTG No. Jenis Kegiatan 1. Persiapan dan survei untuk pemantapan pelaksanaan Program PPM Unggulan Berbasis TTG 2. Seminar rencana kegiatan Program PPM Unggulan Berbasis TTG 3. Pengadaan bahan untuk pembuatan mesin pengering bulu dan pemotong bulu. 4. Persiapan pembuatan mesin pengering bulu dan pemotong bulu. 5. Pembuatan mesin pengering bulu Bulan Ke: I II III IV V VI
24 24 No. Jenis Kegiatan dan pemotong bulu. 6. Uji coba kinerja mesin pengering bulu dan pemotong bulu. 7. Penyempurnaan kinerja mesin pengering bulu dan pemotong bulu. 8. Penyerahan mesin mekanis pengering bulu dan pemotong bulu. 9. Demonstrasi penggunaan mesin pengering bulu dan pemotong bulu. 10. Evaluasi produktivitas mesin 11. Pembuatan laporan akhir 12. Seminar hasil kegiatan Program PPM Unggulan Berbasis TTG 13. Revisi laporan akhir Program PPM Unggulan Berbasis TTG 14. Pengumpulan laporan akhir hasil Program PPM Unggulan Bulan Ke: I II III IV V VI 13. ORGANISASI PELAKSANA 1) Ketua Tim Pelaksana a. Nama dan Gelar Akademik : Drs. Agus Santoso, M.Pd. b. Pangkat/Golongan/NIP : Pembina/ IV/a / c. Jabatan Fungsional : Lektor Kepala d. Bidang Keahlian : Bahan Bangunan e. Fakultas/Program Studi : FT/ Pend. T. Sipil & Perencanaan f. Waktu yang disediakan : 12 Jam/ Minggu. 2) Anggota Tim Pelaksana 1 a. Nama dan Gelar Akademik : Dr. Ir. J. Efendie Tanumihardja, SU. b. Pangkat/Golongan/NIP : Penata / III/c / c. Jabatan Fungsional : Lektor
25 25 d. Bidang Keahlian : Teknik Mesin e. Fakultas/Program Studi : FT/ Pend. Teknik Mesin f. Waktu yang disediakan : 12 Jam/ Minggu. 3) Anggota Tim Pelaksana 2 a. Nama dan Gelar Akademik : Slamet Widodo, S.T.,M.T. b. Pangkat/Golongan/NIP : Penata Tk.I/ III/d c. Jabatan Fungsional : Lektor Kepala (400) d. Bidang Keahlian : Teknik Sipil (Struktur) e. Fakultas/Program Studi : FT/ Pend. T. Sipil & Perencanaan f. Waktu yang disediakan : 12 Jam/ Minggu. 4) Anggota Tim Pelaksana 3 a. Nama dan Gelar Akademik : Fatkurahman Arjuna, M.Or b. Pangkat/Golongan/NIP : Penata Muda Tk 1/ IIIb c. Jabatan Fungsional : Tenaga Pengajar d. Bidang Keahlian : Kesehatan Olahraga e. Fakultas/Program Studi : FIK/ Ilmu Keolahragaan f. Waktu yang disediakan : 12 Jam/ Minggu. 5) Anggota Tim Pelaksana 4 a. Nama dan Gelar Akademik : Drs. Suparman, M.Pd. b. Pangkat/Golongan/NIP : Pembina Utama Muda / IV/c c. Jabatan Fungsional : Lektor Kepala d. Bidang Keahlian : PTK e. Fakultas/Program Studi : FT/ Pend. T. Sipil & Perencanaan f. Waktu yang disediakan : 12 Jam/ Minggu.
26 26 6) Mahasiswa 1 a. N a m a : Tino Putro Pangestu b. N I M : c. Fakultas/Jurusan/Prodi : Teknik/Teknik Sipil/PTSP d. Tugas dalam PPM : Operator Mesin e. Waktu yang disediakan : 5 jam/minggu. 7) Mahasiswa 2 a. N a m a : Mohammad Aqif b. N I M : c. Fakultas/Jurusan/Prodi : Teknik/Teknik Sipil/PTSP d. Tugas dalam PPM : Maintenance Machine e. Waktu yang disediakan : 5 jam/minggu. 8) Mahasiswa 3 a. N a m a : Dika Mafaza b. N I M : c. Fakultas/Jurusan/Prodi : Teknik/Teknik Sipil/PTSP d. Tugas dalam PPM : Panitia Pelaksana Kegiatan e. Waktu yang disediakan : 5 jam/minggu. 14. Rencana Anggaran Rencana aggaran biaya yang diperlukan untuk dapat merealisasikan dengan baik Program PPM Unggulan Berbasis TTG dalam pembuatan mesin pengering bulu dan pemotong bulu, sebagaimana diuraikan dalam Tabel 3, 4, 5, dan 6 berikut ini. 1) Relevansi Belanja dengan Program Semua bentuk belanja barang khususnya bahan dan pembiayaan kegiatan akan disesuaikan dengan program yang telah direncanakan
27 27 sebagaimana yang tertuliskan dalam Usulan Program PPM Unggulan Berbasis TTG ini. 2) Komposisi Penggunaan Biaya Komposisi penggunaan biaya untuk penyelesaian Program PPM Unggulan Berbasis TTG ini dapat dilihat pada Tabel 3, 4, 5, 6, dan 7 berikut ini. Tabel 3. Honorarium (HR) Tim Pelaksana Kegiatan No. Upah Volume Harga (Rp) Satuan Jumlah 1. HR Ketua Pelaksana 6 bulan , ,00 (1 Orang) 2. HR Anggota Pelaksana 6 bulan , ,00 (3 Orang) 3. Upah Pengerjaan Alat 2 paket , ,00 (Tukang Bubut dan Las) JUMLAH ,00 Tabel 4. Pengadaan Bahan Habis dan Suku Cadang No. Jenis Pembiayaan Volume Harga (Rp) Satuan Jumlah 1. Alat Pengering Bulu 1 Barang , ,00 2. Alat Pemotong Bulu 1 Barang , ,00 JUMLAH ,00 Tabel 4. Perjalanan No. Jenis Pembiayaan Volume Harga (Rp) Satuan Jumlah 1. Survei lapangan Tim 2 orang , ,00 Pelaksana PPM 2. Transport kunjungan Tim 5 kali , ,00 Pelaksana ke mitra kerja (2 Orang) 3. Pengangkutan mesin ke 2 kali , ,00 lokasi industri mitra kerja) 4. Transportasi tim monitoring (pemantau internal) LPPM UNY ke industri mitra 2 Org , ,00
28 28 5. Transport peserta pelatihan penggunaan mesin Harga (Rp) 9 org , ,00 JUMLAH ,00 Tabel 5. Lain-lain (Seminar, Dokumentasi, dan Pembuatan laporan) No. Jenis Pembiayaan Volume Harga (Rp) Satuan Jumlah 1. Seminar awal rencana 1 kali , ,00 kegiatan Program PPM Unggulan 2. Seminar akhir hasil 1 kali , ,00 kegiatan Program PPM Unggulan 3. Pembuatan laporan akhir 1 paket , ,00 4. Pengandaan laporan 20 Ekspl , ,00 akhir 5. Dokumentasi foto 1 rol film , ,00 6. Flash Disk 10 GB 1 buah , ,00 JUMLAH ,00 Tabel 6. Rekapitulasi Rencana Anggaran Biaya No. Jenis Pengeluaran Besar Biaya Presentase (Rp) (%) 1. Honorarium (HR) Tim Pelaksana Kegiatan ,00 27,91% 2. Pengadaan Bahan Habis dan Suku Cadang ,00 47,06% 3. Perjalanan ,00 17,14% 4. Lain-lain (Seminar, Dokumentasi, dan Pembuatan laporan) ,00 7,89% JUMLAH ,00 100,00%
29 29 LOKASI TEMPAT HOME INDUSTRI SUTTLECOCK SINAR ALAM Dari Sleman Pasar Seni Gabusan Gedung gabusan Gambar Lokasi Industri Shuttlecock Sinar Alam Keterangan: Perempatan Manding Bunderan Gabusan Jembatan Jalan Bantul Pertigan Lampu MerahTembi LOKASI HOME INDUSTRI SINAR ALAM
30 LAMPIRAN 30
31 31 DAFTAR PUSTAKA Anwir, B.S. (2007). Merakit dan Membongkar Jilid 1. Jakarta: Bharata Karya Aksara. Beam. (2000). System Engineering. New York: Mc. Graw Hill, Inc. Cahyono, T.B. dan Adi, S. (2006). Manajemen Industri Kecil. Yogyakarta: Liberty Pres. Dawan Raharjo. (2004). Transparansi Pertanian, Industralisasi, dan Kesempatan Kerja. Jakarta: UI Press. Espito dan Thrower, R.J., (2005), Machine Design, New York: Delmar Publisher, Inc. Hadi Prayitno. (2005). Perencanaan Ekonomi Pedesaan. Yogyakarta: Liberty. Harahap, G. (Tt). Perencanaan Teknik Mesin Jilid 1 Edisi 4. Jakarta: Erlangga. Hendarsih dan Rohman, A.A. (2004). Elemen Mesin (Elemen Konstruksi dari Sipil dan Perencanaan Mesin). Jakarta: Erlangga. Irsan Ashari. (2006). Industri Kecil Sebuah Tinjauan dan Perbandingan. Jakarta: LP3ES. Sularso. (2004). Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin Cetakan 7. Jakarta: Pradnya Paramita Jakarta. Terheijden, C.V. dan Harun. (2002). Alat-alat Perkakas. Jakarta: Bina Cipta.
32 32 GAMBARAN SKENARIO KERJA Z E x T 0 C T 1 T 2 T 3 T 4 T 5 HR F Gambar Mesin pengering bulu go green Metode kerja alat pengering bulu adalah sebagai berikut: 1. Ruang pemanas terbuat dari dinding AAC (Autoclaved aerated concrete) yang tahan terhadap panas dan kedap suara. Produksi PT. Powerbond Indonesia-Jakarta. 2. Dapur pembangkit panas digunakan untuk menyalurkan panas dari Furnace kedalam Hot room. 3. Bulu diletakkan pada lapisan T 1 -T 5, dengan pemanasan sampai suhu sekitar 40 O C. 4. Bulu yang sudah kering selanjutnya akan berada pada T 0, kemudian dapat diambil hasilnya.
33 33 5. Proses pengeringan bulu tidak membutuhkan waktu yang lama, karena disaring berdasarkan 5 tahapan. Penggunaan energi non-listrik dapat menghemat biaya produksi sampai dengan 40%. Keterangan gambar: C : Chimney (Cerobong) E : Exhouster (Kipas penarik udara) F : Furnace (Dapur pembangkit panas) dengan bahan bakar sampah daun/kayu HR : Hot room (Ruang pemanas) T 0 T 1-5 : Perforated roof (Langit-langit berlubang-lubang kecil) : Perforated Tray (Rak berlubang-lubang kecil) tempat bulu dikeringkan Metode kerja alat pemotong bulu adalah sebagai berikut: 1. Bulu yang akan dipotong dipersiapkan terlebih dahulu. 2. Dengan cara disejajarkan, maka bulu tepat berada di atas landasan pelat pemotong/pisau pemotong P. 3. Secara bersama-sama dengan penggerak mekanik, bulu dapat terpotong dengan rapi. 4. Efisiensi penggunaan alat ini dibandingkan dengan mesin yang sudah ada adalah banyaknya jumlah pemotongan yang dihasilkan, karena mesin sangat lebar. Akan tetapi membutuhkan tingkat kehati-hatian yang tinggi agar kualitas produk yang dihasilkan optimal.
34 34 R U L P M Gambar Mesin pemotong bulu go green Keterangan gambar: L : Landasan tempat bulu yang akan dipotong lengkap dengan lempeng penjepit bulu M : Meja P : Pisau pemotong bulu R : Roda pemutar ulir U : Ulir penggerak pisau pemotong bulu
SEMINAR HASIL PROGRAM PPM UNGGULAN BERBASIS TEKNOLOGI TEPAT GUNA (TTG) : 1. JUDUL
SEMINAR HASIL PROGRAM PPM UNGGULAN BERBASIS TEKNOLOGI TEPAT GUNA (TTG) (Oleh : Tiwan, MT.dkk) 1. JUDUL Rancang Bangun Mesin Pengaduk Adonan Bahan Dodol Batang dan Buah Pepaya untuk Meningkatkan Kapasitas
RANCANG BANGUN MESIN PENGADUK ADONAN BAHAN DODOL BATANG DAN BUAH PEPAYA UNTUK MENINGKATKAN KAPASITAS PRODUKSI INDUSTRI KECIL DI PEDESAAN
RANCANG BANGUN MESIN PENGADUK ADONAN BAHAN DODOL BATANG DAN BUAH PEPAYA UNTUK MENINGKATKAN KAPASITAS PRODUKSI INDUSTRI KECIL DI PEDESAAN Oleh: Tiwan FT Universitas Negeri Yogyakarta Abstract This community
Rancang Bangun Mesin Penggoreng Vakum (Vacuum Frying Ma-chine) bagi Industri Kecil Pedesaan Korban Erupsi Gunung Merapi ABSTRAK
1 Rancang Bangun Mesin Penggoreng Vakum (Vacuum Frying Ma-chine) bagi Industri Kecil Pedesaan Korban Erupsi Gunung Merapi (Oleh : Tiwan* 1, Joko Sumiyanto* 2, RetnaHidayah* 2 ) ABSTRAK Tujuan kegiatan
LAPORAN KEMAJUAN. I b PE KERAJINAN HANDICRAFT DAN TOYS DI KECAMATAN PRAMBANAN KABUPATEN SLEMAN DAN KLATEN
PPM PROGRAM I b PE LAPORAN KEMAJUAN I b PE KERAJINAN HANDICRAFT DAN TOYS DI KECAMATAN PRAMBANAN KABUPATEN SLEMAN DAN KLATEN Oleh: Slamet Karyono, Darmono, dam M. Lies Indarwati Dibiayai oleh Direktorat
MODIFIKASI ALAT PAHAT KAYU MASINAL UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS USAHA MEBELAIR DI DESA PURWOMARTANI KALASAN YOGYAKARTA
LAPORAN KEGIATAN PROGRAM VUCER MODIFIKASI ALAT PAHAT KAYU MASINAL UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS USAHA MEBELAIR DI DESA PURWOMARTANI KALASAN YOGYAKARTA Ketua Pelaksana Dr. Sudji Munadi, M.Pd. Dibiayai
TOR PROGRAM PPM BERBASIS HASIL PENELITIAN LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT TAHUN 2014
TOR PROGRAM PPM BERBASIS HASIL PENELITIAN LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT TAHUN 2014 LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2014 TOR PROGRAM
RANCANG BANGUN MESIN MEKANIS PENGOLAH BATANG DAN BUAH PEPAYA UNTUK MENUNJANG PRODUKSI DODOL DAN MANISAN BAGI INDUSTRI KECIL DI PEDESAAN
1 RANCANG BANGUN MESIN MEKANIS PENGOLAH BATANG DAN BUAH PEPAYA UNTUK MENUNJANG PRODUKSI DODOL DAN MANISAN BAGI INDUSTRI KECIL DI PEDESAAN Oleh: Slamet Widodo dan Darmono *) Abstrak Tujuan kegiatan PPM
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA FURNITURE UNIK DARI LIMBAH JERAMI
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA FURNITURE UNIK DARI LIMBAH JERAMI BIDANG KEGIATAN PKM-Kewirausahaan Diusulkan oleh : Dwi Fera Wati 8111414176 2014 Diva Aureli S. 8111414182 2014 Setyo Puji W. 8111412161
Peningkatan Produktivitas Usaha Briket dan Tungku di Daerah Sleman Guna Mendukung Penyediaan Bahan Bakar Alternatif yang Ramah Lingkungan
Peningkatan Produktivitas Usaha Briket dan Tungku di Daerah Sleman Guna Mendukung Penyediaan Bahan Bakar Alternatif yang Ramah Lingkungan I. Pendahuluan Dewasa ini harga bahan bakar minyak dunia cenderung
TINGKAT EFISIENSI PENGGUNAAN ALAT PEMOTONG KERUPUK RAMBAK SISTEM DOBEL PISAU DENGAN MEMANFAATKAN LIMBAH FIBER DI UKM KERUPUK RAMBAK
TINGKAT EFISIENSI PENGGUNAAN ALAT PEMOTONG KERUPUK RAMBAK SISTEM DOBEL PISAU DENGAN MEMANFAATKAN LIMBAH FIBER DI UKM KERUPUK RAMBAK Wachid Yahya, S.Pd, M.Pd Sfaf Pengajar, Program Studi D3 Mesin Otomotif
Ditinjau dari macam pekerjan yang dilakukan, dapat disebut antara lain: 1. Memotong
Pengertian bengkel Ialah tempat (bangunan atau ruangan) untuk perawatan / pemeliharaan, perbaikan, modifikasi alt dan mesin, tempat pembuatan bagian mesin dan perakitan alsin. Pentingnya bengkel pada suatu
TOR PENYUSUNAN PROPOSAL PROGRAM PPM PENGEMBANGAN WILAYAH TAHUN 2014
TOR PENYUSUNAN PROPOSAL PROGRAM PPM PENGEMBANGAN WILAYAH TAHUN 2014 LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2014 TOR PENYUSUNAN PROPOSAL PROGRAM PPM PENGEMBANGAN
TOR PROGRAM PPM BERBASIS HASIL PENELITIAN TAHUN 2016
TOR PROGRAM PPM BERBASIS HASIL PENELITIAN TAHUN 2016 LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2016 1 TOR PROGRAM PPM BERBASIS HASIL PENELITIAN LEMBAGA PENELITIAN
LAPORAN KEMAJUAN JUDUL: I b PE KERAJINAN BERBAHAN SERAT, BAMBU, DAN KAYU DI SALAMREJO, SENTOLO, KULON PROGO, D.I. YOGYAKARTA
1 PPM PROGRAM IbPE LAPORAN KEMAJUAN JUDUL: I b PE KERAJINAN BERBAHAN SERAT, BAMBU, DAN KAYU DI SALAMREJO, SENTOLO, KULON PROGO, D.I. YOGYAKARTA Oleh: Drs. Darmono, MT., dkk. Dibiayai oleh Direktorat Jenderal
BAB VI PERAWATAN DI INDUSTRI
BAB VI PERAWATAN DI INDUSTRI Tenaga kerja, material dan perawatan adalah bagian dari industri yang membutuhkan biaya cukup besar. Setiap mesin akan membutuhkan perawatan dan perbaikan meskipun telah dirancang
REKAYASA MESIN UNTUK INDUSTRI KECIL PAKAN TERNAK UNGGAS DI KLATEN
REKAYASA MESIN UNTUK INDUSTRI KECIL PAKAN TERNAK UNGGAS DI KLATEN Sugiyanto 1*, Silvia Yulita Ratih 2 1 Program Studi Teknik Mesin, Universitas Surakarta 2 Program Studi Teknik Sipil Universitas Surakarta
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN Penelitian yang baik memerlukan metodologi yang baik pula. Hal tersebut dikarenakan penelitian itu sendiri merupakan suatu proses yang harus dilakukan secara benar dan cermat
TOR PROGRAM PPM PENGEMBANGAN WILAYAH LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT TAHUN 2015
TOR PROGRAM PPM PENGEMBANGAN WILAYAH LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT TAHUN 201 A. Latar Belakang Pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi (PT) yang mencakup pendidikan, penelitian dan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengeringan. Metode pengawetan dengan cara pengeringan merupakan metode paling tua dari semua metode pengawetan yang ada. Contoh makanan yang mengalami proses pengeringan ditemukan
USULAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT IPTEKS TEPAT GUNA BAGI MASYARAKAT (ITGbM) PENGGUNAAN BETON NON PASIR PADA INDUSTRI PEMBUATAN KUSEN BETON
PPM - ITGbM USULAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT IPTEKS TEPAT GUNA BAGI MASYARAKAT (ITGbM) PENGGUNAAN BETON NON PASIR PADA INDUSTRI PEMBUATAN KUSEN BETON TIM PENGUSUL Ketua: Yusep Ramdani, ST., MT. (NIDN.
TERM OF REFERENCE (TOR) PROGRAM PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (PPM) PROGRAM PASCASARJANA UNY TAHUN 2018
TERM OF REFERENCE (TOR) PROGRAM PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (PPM) PROGRAM PASCASARJANA UNY TAHUN 2018 PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2018 1 BAB I PENDAHULUAN A. Pendahuluan Tridharma
PROPOSAL PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA JUDUL PROGRAM GURABU (PIGURA BERBULU) BIDANG KEGIATAN PKM KEWIRAUSAHAAN
PROPOSAL PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA JUDUL PROGRAM GURABU (PIGURA BERBULU) BIDANG KEGIATAN PKM KEWIRAUSAHAAN Diusulkan oleh: Desi Widi Astuti (1401414320/2014) Dianita Utami (1401414266/2014) Muzoda
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. struktur yang paling utama dalam sebuah bangunan. Suatu struktur kolom
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Beton Konvensional Menurut Ervianto (2006), beton konvensional adalah suatu komponen struktur yang paling utama dalam sebuah bangunan. Suatu struktur kolom dirancang untuk bisa
INTRODUKSI TEHNOLOGI PENGOVENAN DALAM MENINGKATKAN EFISIENSI PRODUKSI PADA USAHA PEMBUATAN BAKPIA
INTRODUKSI TEHNOLOGI PENGOVENAN DALAM MENINGKATKAN EFISIENSI PRODUKSI PADA USAHA PEMBUATAN BAKPIA ERLYNA WIDA R 1 DAN CHOIRUL ANAM 2 1 Staf Pengajar di Prodi Agribisnis Fakultas Pertanian UNS 2 Staf Pengajar
BAB I PENDAHULUAN. perkiraan kapasitas pembangkit tenaga listrik.(dikutip dalam jurnal Kelistrikan. Indonesia pada Era Millinium oleh Muchlis, 2008:1)
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Listrik merupakan salah satu kebutuhan masyarakat yang sangat penting dan sebagai sumber daya ekonomis yang paling utama yang dibutuhkan dalam suatu kegiatan usaha.
BAB I PENDAHULUAN. Perdagangan bebas antara ASEAN CHINA atau yang lazim disebut Asean
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perdagangan bebas antara ASEAN CHINA atau yang lazim disebut Asean China Free Trade Area (AC-FTA) yang terjadi saat ini sungguh sangat mengkhawatirkan bagi
BAB I PENDAHULUAN. Luasnya pemakaian logam ferrous baik baja maupun besi cor dengan. karakteristik dan sifat yang berbeda membutuhkan adanya suatu
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Luasnya pemakaian logam ferrous baik baja maupun besi cor dengan karakteristik dan sifat yang berbeda membutuhkan adanya suatu penanganan yang tepat sehingga
BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN Pengetahuan Umum Rencana Anggaran Biaya ( RAB ) diberikan sebagai dasar pemikiran lebih lanjut.
BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN 2.1. Pengetahuan Umum Rencana Anggaran Biaya ( RAB ) Pelaksanaan atau pekerjaan sebuah proyek konstruksi dimulai dengan penyusunan perencanaan, penyusunan jadwal (penjadwalan)
MENENTUKAN JUMLAH KALOR YANG DIPERLUKAN PADA PROSES PENGERINGAN KACANG TANAH. Oleh S. Wahyu Nugroho Universitas Soerjo Ngawi ABSTRAK
112 MENENTUKAN JUMLAH KALOR YANG DIPERLUKAN PADA PROSES PENGERINGAN KACANG TANAH Oleh S. Wahyu Nugroho Universitas Soerjo Ngawi ABSTRAK Dalam bidang pertanian dan perkebunan selain persiapan lahan dan
PERANCANGAN ALAT INJEKSI PLASTIK UNTUK GAGANG PISAU PADA UKM PENGRAJIN PISAU DI DESA HADIPOLO KUDUS
PERANCANGAN ALAT INJEKSI PLASTIK UNTUK GAGANG PISAU PADA UKM PENGRAJIN PISAU DI DESA HADIPOLO KUDUS Taufiq Hidayat 1*, Fajar Nugraha 2 1 Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Muria Kudus
PEMANFAATAN ALAT PENGERING DENGAN PENGONTROL SUHU UNTUK PAKAN IKAN PADA CV. FAJAR ABADI
PEMANFAATAN ALAT PENGERING DENGAN PENGONTROL SUHU UNTUK PAKAN IKAN PADA CV. FAJAR ABADI Sandra (Fak.Teknologi Pertanian, Univ. Andalas) 08121856240, [email protected]) Mulyadi (Politeknik Engineering
TUGAS AKHIR PENGARUH PERUBAHAN TEMPERATUR PENGERING TERHADAP KUALITAS KAYU SUREN, SENGON, DAN MAHONI
TUGAS AKHIR PENGARUH PERUBAHAN TEMPERATUR PENGERING TERHADAP KUALITAS KAYU SUREN, SENGON, DAN MAHONI Tugas Akhir ini Disusun Guna Memperoleh Gelar Sarjana S-1 Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas
I b M KELOMPOK PETANI BUAH MAHKOTA DEWA
LAPORAN AKHIR PROGRAM IPTEKS BAGI MASYARAKAT (I b M) I b M KELOMPOK PETANI BUAH MAHKOTA DEWA Dibiayai oleh DIPA DIT. LITABMAS, Depdiknas Sesuai dengan surat Perjanjian Pelaksanaan Kegiatan No. 075/SP2H/KPM/DIT.
PERANCANGAN DAN PENERAPAN TEKNOLOGI ALAT PEMOTONG RUMPUT MAKANAN TERNAK SEBAGAI UPAYA EFISIENSI DAN PENINGKATAN PRODUKSI
PERANCANGAN DAN PENERAPAN TEKNOLOGI ALAT PEMOTONG RUMPUT MAKANAN TERNAK SEBAGAI UPAYA EFISIENSI DAN PENINGKATAN PRODUKSI Sudiro, ST Sfaf Pengajar, Program Studi D3 Mesin Otomotif Politeknik Indonusa Surakarta
LAPORAN KEMAJUAN 70% PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT IPTEKS TEPAT GUNA BAGI MASYARAKAT (ITGbM)
PPM - ITGbM LAPORAN KEMAJUAN 70% PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT IPTEKS TEPAT GUNA BAGI MASYARAKAT (ITGbM) APLIKASI BETON NON PASIR PADA INDUSTRI PEMBUATAN KUSEN BETON TIM PENGUSUL Ketua: Yusep Ramdani, ST.,
TOR PROGRAM PENGABDIAN PADA MASYARAKAT TAHUN 2015
TOR PROGRAM PENGABDIAN PADA MASYARAKAT TAHUN FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA TOR PENGABDIAN PADA MASYARAKAT DOSEN FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA TAHUN A.
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan di bidang struktur mengalami pertumbuhan pengetahuan dan teknologi sangat pesat yang menyebabkan adanya pembangunan konstruksi yang berkualitas, sehingga
IBM KELOMPOK USAHA (UKM) JAGUNG DI KABUPATEN GOWA
NO. 2, TAHUN 9, OKTOBER 2011 140 IBM KELOMPOK USAHA (UKM) JAGUNG DI KABUPATEN GOWA Muh. Anshar 1) Abstrak: Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas jagung yang dihasilkan agar sesuai
I. PENDAHULUAN Analisis Situasi B. Perumusan Masalah
1 I. PENDAHULUAN A. Analisis Situasi Jamur merupakan salah satu komoditi ekspor dan konsumsi dalam negeri yang dapat dibuat makanan dengan cita rasa yang tinggi. Harga jamur yang relatif mahal membuat
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Beton adalah material konstruksi yang pada saat ini sudah sangat umum digunakan. Saat ini berbagai bangunan sudah menggunakan material dari beton. Pentingnya peranan
VI. HASIL DAN PEMBAHASAN. 6.1 Persepsi Masyarakat Mengenai Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) Ciesek
VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1 Persepsi Masyarakat Mengenai Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) Ciesek Persepsi yang diberikan masyarakat terhadap pembangunan PLTMH merupakan suatu pandangan
BAB II PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH. guna. Alat/mesin pengerol pipa adalah alat/mesin yang digunakan untuk
BAB II PENEKATAN PEMECAHAN MASALAH A. Kajian Tentang Alat/Mesin Pengerol Pipa Alat/mesin pengerol pipa merupakan salah satu alat/mesin tepat guna. Alat/mesin pengerol pipa adalah alat/mesin yang digunakan
TOR PPM KELOMPOK DOSEN TAHUN 2018
TOR PPM KELOMPOK DOSEN TAHUN 2018 A. Latar Belakang Masalah Pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi (PT) yang mencakup pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat harus diusahakan sebaik mungkin
PENGARUH KESELAMATAN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN PADA CV. SRIWIJAYA UTAMA DI BANDAR LAMPUNG. Oleh
15 PENGARUH KESELAMATAN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN PADA CV. SRIWIJAYA UTAMA DI BANDAR LAMPUNG Oleh Supriyadi Dosen Pasca Sarjana USBRJ dan STIE Umitra ABSTRAK CV.Sriwijaya Utama merupakan perusahaan
70 KG/JAM SKRIPSI. Diajukan kepada. Falkutas Teknik Universitas Nusantara. Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Dalam Penyelesaian
PERENCANAAN MESIN PENCACAH SAMPAH KERTAS KAPASITAS 70 KG/JAM SKRIPSI Diajukan kepada Falkutas Teknik Universitas Nusantara Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Dalam Penyelesaian Program Sarjana Teknik
LAPORAN KEGIATAN PPM DOSEN PELATIHAN TEKNIK PRINTING PADA MGMP GURU SENI RUPA SMP SE KABUPATEN BANTUL
LAPORAN KEGIATAN PPM DOSEN PELATIHAN TEKNIK PRINTING PADA MGMP GURU SENI RUPA SMP SE KABUPATEN BANTUL Oleh: Drs. Mardiyatmo, dkk Dilaksanakan Atas Anggaran PNBP FBS UNY Surat Kontrak Nomor : 844/J.35.12/PP/VI/2006
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Beton merupakan bahan bangunan yang banyak dipilih oleh para ahli struktur. Banyaknya pemakaian beton disebabkan beton terbuat dari bahan-bahan yang mudah diperoleh,
PENINGKATAN SDM IKM KAROSERI KE JAWA TIMUR
KERANGKA ACUAN KEGIATAN ( KAK ) PENINGKATAN SDM IKM KAROSERI KE JAWA TIMUR MELALUI KEGIATAN PEMBINAAN DI LINGKUNGAN SOSIAL DAN PEMBERDAYAAN EKONOMI DI WILAYAH IHT BIDANG INDUSTRI ALAT TRANSPORTASI ELEKTRONIKA
PROPOSAL PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA JUDUL PROGRAM CUSTOM ORGANIZER THETALISA LANGKAH AWAL MEMBANGUN UKM BIDANG KEGIATAN: PKM-KEWIRAUSAHAAN
PROPOSAL PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA JUDUL PROGRAM CUSTOM ORGANIZER THETALISA LANGKAH AWAL MEMBANGUN UKM BIDANG KEGIATAN: PKM-KEWIRAUSAHAAN Diusulkan oleh : Shelliana Dwi R (F0315088/2015) Elisabeth
PENERAPAN IPTEKS. Peningkatan Pendapatan Anggota Kelompok UPPKS Manalagi Kecamatan Bilah Hulu Labuhan Batu Dengan Menggunakan Oven Serbaguna.
Peningkatan Pendapatan Anggota Kelompok UPPKS Manalagi Kecamatan Bilah Hulu Labuhan Batu Dengan Menggunakan Oven Serbaguna Irfandi Abstrak Kegiatan ini bertujuan untuk Meningkatkan kemampuan kelompok UPPKS
BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Latar Belakang Proyek. Manajemen sumber daya manusia (MSDM) merupakan salah satu program
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Latar Belakang Proyek Manajemen sumber daya manusia (MSDM) merupakan salah satu program yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pelatihan sumber
USULAN PROGRAM PPM INSTITUSIONAL PRODI PKO SOSIALISASI TES DAN PENGUKURAN KEBERBAKATAN OLAHRAGA KEPADA GURU GURU PENJAS DI D.I.
USULAN PROGRAM PPM INSTITUSIONAL PRODI PKO Judul: Judul: SOSIALISASI TES DAN PENGUKURAN KEBERBAKATAN OLAHRAGA KEPADA GURU GURU PENJAS DI D.I.YOGYAKARTA Diusulkan Oleh: Dr. Siswantoyo, M.Kes / NIP. 19720310
LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN PENGGUNAAN KEUANGAN NEGARA TAHUN ANGGARAN 2009
1 LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN PENGGUNAAN KEUANGAN NEGARA TAHUN ANGGARAN 2009 Unit Kerja Program Kegiatan Rasional : Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat (LPM) : Pengabdian Kepala Masyarakat (PPM) : Penerapan
LAPORAN KEGIATAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
LAPORAN KEGIATAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT PELAKSANAAN RENOVASI GUDANG SEKOLAH SEKOLAH DASAR MUHAMMADIYAH MRISI TIRTONIRMOLO, KASIHAN BANTUL, YOGYAKARTA oleh : 1. Emil Adly ST.,M.Eng (Koordinator Tim)
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Arus lalu lintas yang melalui jalan Yogyakarta Wonosari Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta dari hari ke hari semakin ramai dan padat. Dalam rangka mendukung
PETUNJUK LAPANGAN 3. PANEN DAN PASCAPANEN JAGUNG
PETUNJUK LAPANGAN 3. PANEN DAN PASCAPANEN JAGUNG 1. DEFINISI Panen merupakan pemetikan atau pemungutan hasil setelah tanam dan penanganan pascapanen merupakan Tahapan penanganan hasil pertanian setelah
STUDI WAKTU DAN PROSES PEMBUATAN TERALIS JENDELA DI PT X
STUDI WAKTU DAN PROSES PEMBUATAN TERALIS JENDELA DI PT X I Wayan Sukania 1), Oktaviangel 2), Julita 3) Program Studi Teknik Industri, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Tarumanagara 1) Program
BAB 1 PENDAHULUAN. Perusahaan adalah suatu lembaga yang diorganisir dan dijalankan untuk
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perusahaan adalah suatu lembaga yang diorganisir dan dijalankan untuk menyediakan barang dan jasa bagi masyarakat dengan motif laba. Pada era krisis global yang dialami
Judul IbM A. Analisis Situasi
1 Judul IbM: PENINGKATAN HASIL PRODUKSI KELOMPOK USAHA KRUPUK KORBAN ERUPSI MERAPI MELALUI PENGEMBANGAN PRODUK, ALAT PRODUKSI, KEMASAN DAN MANAJEMEN PEMASARAN Zainur Rofiq, Edy Purnomo A. Analisis Situasi
BAB I IDENTIFIKASI KEBUTUHAN. berfikir kreatif dan ramah terhadap lingkungan. Untuk menyelaraskan
BAB I IDENTIFIKASI KEBUTUHAN A. Latar Belakang Masalah 1. Masalah Umum Kemajuan teknologi di segala bidang menuntut masyarakat harus berfikir kreatif dan ramah terhadap lingkungan. Untuk menyelaraskan
Laboratorium Metalurgi, Jurusan Teknik Mesin, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya Indonesia. Abstrak
Pengaruh Variasi Kecepatan Gerak Benda Kerja terhadap Umur pada Proses Pembuatan Cetakan Paving Blok AISI 1045 Home Industry Menggunakan Metode Progressive Flame Hardening H.C. Kis Agustin 1,a *, Ika Dewi
PENINGKATAN KAPASITAS PRODUKSI DAN KUALITAS DENDENG SAPI DI UD. RIDWAN S. KEFAMENANU
PENINGKATAN KAPASITAS PRODUKSI DAN KUALITAS DENDENG SAPI DI UD. RIDWAN S. KEFAMENANU MM.Endah Mulat Satmalawati*, Ludgardis Ledheng**, Theresia Ika Purwantiningsih*** Kristoforus M.Kia*** *Prodi Agroteknologi
BADAN PELAYANAN PERIZINAN TERPADU DAN PENANAMAN MODAL URAIAN JUMLAH ,
LAMPIRAN II PERATURAN BUPATI DEMAK NOMOR 44 TAHUN 2014 TANGGAL 30 DESEMBER 2014 PEMERINTAH KABUPATEN DEMAK PENJABARAN APBD TAHUN ANGGARAN 2015 URUSAN PEMERINTAHAN ORGANISASI : KODE REKENING : 1.20. - OTONOMI
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA JUDUL PROGRAM LAMPU TEGEL (LAMPU TERANG DALAM GELAP) BIDANG KEGIATAN: PKM-K. Diusulkan oleh: UNIVERSITAS SEBELAS MARET
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA JUDUL PROGRAM LAMPU TEGEL (LAMPU TERANG DALAM GELAP) BIDANG KEGIATAN: PKM-K Diusulkan oleh: Sagita Tearisha Ikawati Sukarna Rizki Amalia Isnawati (C0213060) (C0213032) (C0213058)
ANALISIS PROSES PERMESINAN PADA BAGIAN- BAGIAN REKAYASA DAN RANCANG BANGUN MESIN PEMOTONG KERUPUK
LAPORAN TUGAS AKHIR ANALISIS PROSES PERMESINAN PADA BAGIAN- BAGIAN REKAYASA DAN RANCANG BANGUN MESIN PEMOTONG KERUPUK Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Syarat-Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Teknik
RENCANA KERJA ANGGARAN SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH (RKA - SKPD)
PEMERINTAH KABUPATEN SAMPANG RENCANA KERJA ANGGARAN SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH (RKA - SKPD) TAHUN ANGGARAN 07 URUSAN PEMERINTAHAN :.0. - PEKERJAAN UMUM DAN PENATAAN RUANG ORGANISASI :.0.0. - DINAS PEKERJAAN
BAB I GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
Penentuan harga pokok produksi metode job order cost pada perusahaan Tegel Karya Indah Sukoharjo Upik Yuli Asri F 3300041 BAB I GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN A. Sejarah Dan Perkembangan Perusahaan Perusahaan
BAB I Pendahuluan 1. 1 Latar Belakang
BAB I Pendahuluan 1. 1 Latar Belakang Sasaran pertumbuhan PDB Nasional berdasar RPJPN 2005-2025 adalah mencapai pendapatan per kapita pada tahun 2025 setara dengan negara-negara berpendapatan menengah,
Perancangan Peralatan Bantu Pembuatan Roda Gigi Lurus dan Roda Gigi Payung Guna Meningkatkan Fungsi Mesin Bubut
Performa (2006) Vol. 5, No.2: 11-20 Perancangan Peralatan Bantu Pembuatan Roda Gigi Lurus dan Roda Gigi Payung Guna Meningkatkan Fungsi Mesin Bubut Andi Susilo, Muhamad Iksan, Subono Jurusan Teknik Industri,
LAMPIRAN I DATA PENGAMATAN. 1. Data Uji Kinerja Alat Penepung dengan Sampel Ubi Jalar Ungu
LAMPIRAN I ATA PENGAMATAN. ata Uji Kinerja Alat Penepung dengan Sampel Ubi Jalar Ungu Berikut merupakan tabel data hasil penepungan selama pengeringan jam, 4 jam, dan 6 jam. Tabel 8. ata hasil tepung selama
BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH URAIAN JUMLAH Gaji Pokok PNS/Uang Representasi
LAMPIRAN II PERATURAN BUPATI DEMAK NOMOR 44 TAHUN 2014 TANGGAL 30 DESEMBER 2014 PEMERINTAH KABUPATEN DEMAK PENJABARAN APBD TAHUN ANGGARAN 2015 URUSAN PEMERINTAHAN ORGANISASI : KODE REKENING 1.19.1.19.03.00.00.4.
BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN
BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN 4.1 Review PT. Union Jaya Pratama PT Union Jaya Pratama merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang pembuatan kasur busa. Hasil produksi dikelompokkan menjadi 3 jenis berdasarkan
SELAMAT ATAS PILIHAN ANDA MENGGUNAKAN DISPENSER DOMO
SELAMAT ATAS PILIHAN ANDA MENGGUNAKAN DISPENSER DOMO Dengan cara pemakaian yang benar, Anda akan mendapatkan manfaat yang maksimal selama bertahun-tahun. Bacalah buku petunjuk pengoperasian ini dengan
PENGEMBANGAN SISTEM PENGERING KELOM GEULIS BERBASIS MIKROKONTROLER DENGAN DUA SISI BERPEMANAS PIPA
PENGEMBANGAN SISTEM PENGERING KELOM GEULIS BERBASIS MIKROKONTROLER DENGAN DUA SISI BERPEMANAS PIPA Edvin Priatna 1, Ade Maftuh 2, Sujudi 3 1 Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Siliwangi
LAPORAN KEMAJUAN 70% PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT IPTEKS TEPAT GUNA BAGI MASYARAKAT (ITGbM)
PPM - ITGbM LAPORAN KEMAJUAN 70% PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT IPTEKS TEPAT GUNA BAGI MASYARAKAT (ITGbM) APLIKASI BETON NON PASIR PADA INDUSTRI PEMBUATAN KUSEN BETON TIM PENGUSUL Ketua: Yusep Ramdani, ST.,
PENDAHULUAN Pengabdian kepada Masyarakat merupakan Dharma ketiga dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yang perlu dioptimalkan baik dari segi persiapan,
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 201 1 2 DAFTAR ISI Halaman HALAMAN SAMPUL 1 DAFTAR ISI 2 PENDAHULUAN 3 TUJUAN 3 PERSYARATAN 4 KEGIATAN PPM FT UNY A. Pembuatan Proposal Kegiatan 1 Masalah
PEMBUATAN OVEN PENGERING KOPRA DENGAN SISTEM BAK PASIR SEBAGAI PERATA PANAS
PEMBUATAN OVEN PENGERING KOPRA DENGAN SISTEM BAK PASIR SEBAGAI PERATA PANAS Akmal Indra Teknik Mesin Politeknik Bengkalis-Riau Jl. Batin Alam Sei Alam-Bengkalis [email protected] [email protected]
PENGEMBANGAN USAHA MIKRO INDUSTRI KREATIF KERUPUK PULI
PENGEMBANGAN USAHA MIKRO INDUSTRI KREATIF KERUPUK PULI Judi Suharsono Fakultas Ekonomi, Universitas Panca Marga Probolinggo judisuharsono@gmail. com Hosnol Wafa Fakultas Sastra dan Filsafat Universitas
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Mengacu pada rumusan masalah dan pembahasan pada bab 4 terkait proses pembuatan komponen rangka pada mesin perajang sampah organik, didapat beberapa kesimpulan,
BAB IV HASIL PEMBUATAN DAN PEMBAHASAN. Sebelum melakukan proses pembuatan rangka pada incinerator terlebih
BAB IV HASIL PEMBUATAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Visualisasi Proses Pembuatan Sebelum melakukan proses pembuatan rangka pada incinerator terlebih dahulu harus mengetahui masalah Kesehatan dan Keselamatan Kerja
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA PROPOSAL KAGACI KARDUS GANTUNGAN KUNCI SEBAGAI PEMANFAATAN LIMBAH KARDUS DAN BERNILAI JUAL TINGGI BIDANG KEGIATAN
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA PROPOSAL KAGACI KARDUS GANTUNGAN KUNCI SEBAGAI PEMANFAATAN LIMBAH KARDUS DAN BERNILAI JUAL TINGGI BIDANG KEGIATAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA KEWIRAUSAHAAN Diusulkan oleh
BAB III METODE PROYEK AKHIR. Motor dengan alamat jalan raya Candimas Natar. Waktu terselesainya pembuatan mesin
BAB III METODE PROYEK AKHIR A. Waktu dan Tempat Tempat pembuatan dan perakitan mesin pemotong kerupuk ini di lakukan di Bengkel Kurnia Motor dengan alamat jalan raya Candimas Natar. Waktu terselesainya
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1. Sejarah Umum Perusahaan CV. Makmur Palas merupakan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pendaur ulangan sampah plastik menjadi kantong plastik. Perusahaan ini
PERBAIKAN SISTEM PRODUKSI UNTUK PENINGKATAN KUALITAS DAN KAPASITAS PRODUKSI HOME INDUSTRI PAVING DAN BATAKO DI KABUPATEN MALANG
PERBAIKAN SISTEM PRODUKSI UNTUK PENINGKATAN KUALITAS DAN KAPASITAS PRODUKSI HOME INDUSTRI PAVING DAN BATAKO DI KABUPATEN MALANG Erwin Rommel 1, Rini Pebri Utari 2, Yunan Syaifullah 3, Ernawan Setyono 4
USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA JUDUL PROGRAM
USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA JUDUL PROGRAM KOKOPANDA (Kotak Kado Papertoy dan Diorama) Cara Baru Ungkapkan Kasih Sayang dengan Kotak Kado yang Unik, Kreatif dan Penuh Cinta BIDANG KEGIATAN : PKM
PEMANFAATAN SUMBER AIR BERSIH UNTUK MASYARAKAT DI DESA JERU KECAMATAN TUMPANG KABUPATEN MALANG
PEMANFAATAN SUMBER AIR BERSIH UNTUK MASYARAKAT DI DESA JERU KECAMATAN TUMPANG KABUPATEN MALANG Soedjono, Bambang Budiantono Universitas Widyagama Malang [email protected]. ABSTRAK. Desa Jeru Kecamatan
TAHUN ANGGARAN 2013 PANDUAN PENYUSUNAN LAPORAN BANTUAN OPERASIONAL PERGURUAN TINGGI NEGERI (BOPTN)
TAHUN ANGGARAN 2013 PANDUAN PENYUSUNAN LAPORAN BANTUAN OPERASIONAL PERGURUAN TINGGI NEGERI (BOPTN) KANTOR PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN UNIVERSITAS INDONESIA JUNI 2013 Daftar Isi I. Latar Belakang 3 II.
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN Penelitian yang baik memerlukan metodologi yang baik pula. Hal tersebut dikarenakan penelitian itu sendiri merupakan suatu proses yang harus dilakukan secara benar dan cermat
Selamat Datang MANDOR PEMBESIAN/ PENULANGAN BETON 1.1
Selamat Datang MANDOR PEMBESIAN/ PENULANGAN BETON 1.1 PELATIHAN : DAFTAR MODUL Mandor Pembesian / Penulangan Beton NO. KODE JUDUL NO. REPRESENTASI UNIT KOMPETENSI 1. RCF - 01 UUJK, K3 dan Pengendalian
BAB 5. HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB 5. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian kali ini, difokuskan pada pengrajin gerabah yang ada di desa Kesilir Kcamatan wuluhan Kabupaten Jember. K egiatan yang telah dilakukan tim pelaksana dimulai
PENJABARAN LAPORAN REALISASI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH
Lampiran II Perwal Penjabaran Pertanggungjawaban APBD TA 2016 Nomor : 36 Tahun 201 Tanggal : 22 Agustus 201 Urusan Pemerintahan : 1. 16 Urusan Wajib Penanaman Modal Unit Organisasi : 1. 16. 01 BADAN PENANAMAN
PENJABARAN LAPORAN REALISASI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH
Lampiran II Perwal Penjabaran Pertanggungjawaban APBD TA 2016 Nomor : 36 Tahun 201 Tanggal : 22 Agustus 201 Urusan Pemerintahan : 1. 08 Urusan Wajib Lingkungan Hidup Unit Organisasi : 1. 08. 02 DINAS PERTAMANAN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA,
MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.08/MEN/VII/2010 TENTANG ALAT PELINDUNG DIRI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG
BAB 1 PENDAHULUAN 1-1. Universitas Kristen Maranatha
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Transportasi menjadi bagian yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Berbagai jenis transportasi yang ada sekarang sering dimanfaatkan untuk mengangkut barang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan rekayasa teknologi dalam bidang teknik sipil pada saat ini terasa begitu cepat, terutama beton sebagai salah satu bahan bangunan teknik sipil yang selalu
PEMERINTAH PROVINSI SULAWESI SELATAN PENJABARAN PERUBAHAN APBD TAHUN ANGGARAN 2011
Lampiran I : PERATURAN GUBERNUR NOMOR TANGGAL : : Tahun 2011 2 Oktober 2011 PEMERINTAH PROVINSI SULAWESI SELATAN PENJABARAN PERUBAHAN APBD TAHUN ANGGARAN 2011 URUSAN PEMERINTAHAN ORGANISASI : : 1.20. -
RANCANG BANGUN MESIN PEMECAH BIJI KEMIRI DENGAN SISTEM BENTUR
RANCANG BANGUN MESIN PEMECAH BIJI KEMIRI DENGAN SISTEM BENTUR Sumardi 1* Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Lhokseumawe Jl. Banda Aceh Medan Km. 280 Buketrata Lhokseumawe 24301 Email: [email protected]
