Bab VIII.17 Japanese Ensefalitis

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Bab VIII.17 Japanese Ensefalitis"

Transkripsi

1 Hardiono Pusponegoro Bab VIII.17 Japanese Ensefalitis Hardiono Pusponegoro Virus Japanese encephalitis (JE) termasuk famili Flavivirus yang ditularkan melalui nyamuk, dengan pejamu utama burung dan babi. Virus JE merupakan salah satu penyebab terpenting dari ensefalitis virus di Asia berdasarkan data epidemiologi dan berat penyakit. Virus JE mirip dengan virus West Nile, ensefalitis St. Louis, dan ensefalitis Murray Valley. Epidemiologi Ensefalitis disebabkan JE ditemukan di Asia dan sebagian Pasifik. Ensefalitis JE lebih sering ditemukan di negara beriklim tropis dibanding beriklim dingin, terutama pada musim hujan. Setiap tahun diperkirakan terjadi kasus ensefalitis JE. Sebanyak 20-30% pasien meninggal dan 30-50% di antara yang hidup mengalami gejala sisa neurologis. Imunisasi untuk PD31 Di Bali, telah dilakukan penelitian prospektif terhadap suatu populasi yang terdiri dari anak antara tahun Kriteria surveilans adalah demam lebih dari 38 o C, defisit neurologis termasuk kejang, dan/atau perubahan status mental dan/atau gejala rangsang meningeal. Ditemukan 86 kasus confirmed ditandai dengan ditemukannya IgM JE di dalam cairan serebrospinal dan 4 kasus probable ditandai dengan ditemukannya IgM JE dalam serum. Kejadian ensefalitis JE adalah 7 per anak berumur kurang dari 10 tahun, 70% kasus berumur kurang dari 5 tahun, dan hanya 1 kasus berumur lebih dari 10 tahun. Dilaporkan 11% kasus meninggal dunia, dan 36% di antara kasus hidup mengalami gejala sisa neurologis. 362

2 Japanese Ensefalitis Selanjutnya, pada tahun di Indonesia dilakukan penelitian yang meliputi 15 rumah sakit di 6 provinsi terhadap anak berumur kurang dari 15 tahun. Ditemukan 1496 kasus ensefalitis, 28 di antaranya disebabkan JE. Proporsi JE sebagai penyebab ensefalitis bervariasi antara 2%-18%. Sembilan puluh lima persen kasus ditemukan pada anak berumur kurang dari 10 tahun. Mortalitas dan gejala sisa neurologis terjadi pada 47% kasus. Adanya daerah endemis JE menyebabkan risiko mengalami ensefalitis JE pada wisatawan, sebesar < 1 kasus per juta wisatawan. Risiko tersebut bervariasi berdasar tujuan, lama tinggal, musim, dan aktivitas. Risiko terinfeksi lebih besar pada wisatawan yang tinggal lebih lama dari 1 bulan di daerah pedesaan, dan banyak beraktivitas di luar ruangan. Sejak tahun , hanya 55 kasus ensefalitis JE pada wisatawan yang dilaporkan. Prediksi memperkirakan bahwa ensefalitis JE dapat menjadi masalah di masa depan di negara Bangladesh, Kamboja, Indonesia, Laos, Myanmar, Korea Utara, dan Pakistan karena bertambahnya populasi, pencetakan sawah baru, dan peternakan babi, tanpa adanya program imunisasi dan surveilans yang baik. Selain itu dikuatirkan terjadi penyebaran ke negara lain disebabkan pergeseran populasi, perubahan iklim, ekologi, pertanian, import hewan, atau migrasi burung. Transmisi/penyebaran virus Virus JE ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk, terutama spesies Culex tritaeniorrhynchus yang bertelur di air tergenang, misalnya di sawah. Nyamuk ini terutama menggigit manusia setelah matahari terbenam. Banyak binatang yang dapat terinfeksi virus, namun hanya yang mengalami viremia hebat dan cukup lama yang penting dalam siklus kehidupan alamiah. Pejamu virus terpenting adalah burung dan babi. Burung berperan dalam amplifikasi virus dan penyebaran ke daerah yang jauh. Babi merupakan pejamu yang terpenting karena sering berada dekat manusia, mengalami viremia 363 Imunisasi untuk PD31

3 Hardiono Pusponegoro yang lama dan hebat. Manusia sendiri disebut sebagai pejamu deadend, karena viremia tidak cukup hebat dan tidak cukup lama untuk menularkan ke nyamuk lagi. Manifestasi klinis Dilaporkan 1 dari 25 sampai 1 dari 1000 orang yang terinfeksi akan memperlihatkan gejala klinis. Masa inkubasi adalah 5-15 hari. Pada awalnya terlihat sebagai infeksi virus biasa dengan demam beberapa hari, disertai pilek, diare, muntah, dan nyeri kepala. Sebagian pasien dapat sembuh sendiri, sebagian menunjukkan gejala seperti kejang demam, dan sebagian menunjukkan gejala meningitis aseptik tanpa ensefalitis. Paralisis flaksid juga pernah dilaporkan. Perkembangan penyakit yang paling buruk adalah terjadinya ensefalitis. Gejala ensefalitis adalah kejang dan penurunan kesadaran. Kejang terutama kejang umum tonik-klonik, yang dapat berkembang menjadi status epileptikus disertai berbagai komplikasi. Sebagian kecil pasien menunjukkan kejang subtle berupa twitching jari, mata, mulut, nistagmus, salivasi yang sulit dibuktikan sebagai kejang kecuali dengan pemeriksaan elektroensefalografi. Deskripsi klasik ensefalitis JE adalah wajah seperti topeng dengan mata terbuka tanpa mengedip, tremor, hipertonia rigiditas, dan opistotonus. Dapat pula terlihat mioklonus dan koreoatetosis, dan kelumpuhan saraf otak. Sekitar 30% pasien meninggal, dan separuh di antara yang selamat menunjukkan gejala sisa neurologis berat berupa kelumpuhan, gejala ekstrapiramidal, ganguan kognitif dan bahasa. Gejala sisa lebih sering ditemukan pada anak. Gejala sisa yang ringan berupa kesulitan belajar, gangguan perilaku dan gejala neurologis minor. Imunisasi untuk PD31 Vaksin JE Vaksin terhadap JE telah dibuat sejak 70 tahun yang lalu, berupa 364

4 Japanese Ensefalitis vaksin formalin-inactivated yang ditumbuhkan dalam otak tikus yang disebut sebagai vaksin JE-MB (JE-mouse brain vaccine). Digunakannya otak tikus menimbulkan kekhawatiran adanya efek samping neurologis dari vaksin ini misalnya acute disseminated encephalomyelitis (ADEM) pada satu di antara 1 juta dosis. Di Amerika terdapat 2 vaksin yang direkomendasikan untuk wisatawan. Pertama adalah JE-VAX (JE-MB) yang ditumbuhkan dalam otak tikus dapat diberikan untuk orang berumur >1 tahun, namun produksinya telah dihentikan. Vaksin lain adalah vaksin mati berasal dari kultur sel vero bernama IXIARO (JE-VC = JE vero cell). Vaksin JE-VC tidak mengandung gelatin dan jaringan saraf seperti JE-MB, sehingga diharapkan tidak menyebabkan efek samping neurologis. Di Cina telah dikembangkan vaksin hidup SA Vaksin ini telah digunakan di Nepal, India, Cina, Korea dan Sri Lanka. WHO belum memberi izin karena vaksin ini ditumbuhkan dalam sel ginjal hamster. Beberapa vaksin lain yang masih menunggu izin di Amerika adalah IC51, suatu vaksin murn inactivated dengan kultur jaringan dan ChimeriVax-JE, suatu vaksin hidup terhadap yellow fever dan JE dari Sanofi-Aventis. ChimeriVax telah mendapat izin di Thailand, Cina dan India. Rekomendasi vaksinasi JE untuk pelancong Vaksin JE-MB direkomendasikan untuk wisatawan yang akan tinggal selama lebih dari 1 bulan di daerah endemik selama masa transmisi virus JE. Vaksin JE-MB dipertimbangkan untuk wisatawan yang akan tinggal selama kurang dari 1 bulan di daerah endemis JE bila mempunyai rencana untuk mengunjungi daerah rural, daerah yang sedang mengalami outbreak JE, dan yang mengunjungi daerah endemis JE tanpa kepastian tujuan, aktivitas dan lama kunjungan. Rekomendasi juga diberikan terhadap petugas laboratorium yang dapat terinfeksi virus JE. 365 Imunisasi untuk PD31

5 Hardiono Pusponegoro Vaksin JE-MB dapat diberikan kepada anak berumur lebih dari 1 tahun. Diberikan 3 dosis hari 0, 7 dan 30 secara subkutan. Dosis terakhir paling lambat 10 hari sebelum keberangkatan. Namun vaksin JE-MB telah dihentikan produksinya. Dosis Vaksin JE-VC diberikan 2 kali dengan interval 28 hari intramuskular. Kekebalan terbentuk 7 hari setelah dosis kedua dan bertahan sampai 6-12 bulan. Harga vaksin JE-VC adalah $390 untuk 2 dosis. Vaksin telah diuji pada anak di India, namun di Amerika belum mendapat persetujuan untuk orang berumur kurang dari 17 tahun. Vaksinasi massal Di beberapa negara misalnya Jepang, Taiwan dan Korea, vaksin terhadap JE telah diberikan terhadap semua anak di dalam populasi sebagai bagian dari program imunisasi. Penelitian di Bali menghasilkan rekomendasi untuk memberikan vaksin terhadap JE secara menyeluruh. Daftar rujukan Imunisasi untuk PD31 1. Fischer M, Griggs A, Staples EJ. Chapter 2. The pre-travel-consultation. Travel-Related vaccine-preventable diseases. CDC yellow book 2010: Available from: cdc.gov/travel/yellowbook/2010/chapter-2/japanese-encephalitis.aspx. 2. Halstead SB, Thomas SJ. New vaccines for japanese encephalitis. Curr Infect Dis Rep 2010, May;12: Solomon T, Dung NM, Kneen R, gainsborough M, Vaughn DW, Knanh VT. Japanese encephalitis. J Neurol Neurosurg Psychiatry 2000;68: Bista MB, Shrestha JM. Epidemiological situation of japanese encephalitis in nepal. JNMA J Nepal Med Assoc 2005;44: Fischer M, Lindsey N, Staples JE, Hills S, Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Japanese encephalitis vaccines: Recommendations of the advisory committee on immunization practices (ACIP). MMWR Recomm Rep 2010, Mar 12;59(RR-1):

6 Japanese Ensefalitis 6. Ompusunggu S, Hills SL, Maha MS, Moniaga VA, Susilarini NK, Widjaya A, et al. Confirmation of Japanese encephalitis as an endemic human disease through sentinel surveillance in indonesia. Am J Trop Med Hyg 2008, Dec;79: Yen NT, Duffy MR, Hong NM, Hien NT, Fischer M, HillsSL. Surveillance for japanese encephalitis in vietnam, Am J Trop Med Hyg 2010, Oct;83: Le VT, Phan TQ, Do QH, Nguyen BH, Lam QB, Bach VC, et al. Viral etiology of encephalitis in children in southern Vietnam: Results of a one-year prospective descriptive study. Plos Negl Trop Dis 2010;4:e Touch S, Hills S, Sokhal B, Samnang C, Sovann L, Khieu V, et al. Epidemiology and burden of disease from Japanese encephalitis in Cambodia: Results from two years of sentinel surveillance. Trop Med Int Health 2009, Nov;14: Imunisasi untuk PD31

7 Edisi Kelima Tahun 2014 Pedoman Imunisasi Di Indonesia Penyunting IG.N. Gde Ranuh Hariyono Suyitno Sri Rezeki S. Hadinegoro Cissy B. Kartasasmita Ismoedijanto Soedjatmiko Satgas Imunisasi - Ikatan Dokter Anak Indonesia i

8 Disclaimer Isi di dalam buku Pedoman Imunisasi di Indonesia ada lah hasil kesepakatan para penulis dan editor Satgas Imunisasi IDAI yang berasal dari berbagai sumber. Buku ini merupakan pedoman umum dalam melakukan imunisasi di Indonesia dan dapat disesuaikan dengan kondisi setempat. Kemungkinan dapat terjadi perbedaan dengan sumber-sumber lain karena perkembangan ilmu dan kebijakan setempat. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang Dilarang memperbanyak, mencetak dan menerbitkan sebagian atau seluruh isi buku ini dengan cara dan bentuk apapun juga tanpa seizin penulis dan penerbit Diterbitkan pertama kali tahun 2001 Diterbitkan kedua kali tahun 2005 Diterbitkan ketiga kali tahun 2008 Diterbitkan keempat kali tahun 2011 Diterbitkan kelima kali tahun 2014 Koordinator Penerbitan Prof. Dr. dr. Sri Rezeki S. Hadinegoro, Sp.A(K) Art director: J.A. Wempi Type setting: Diyan Dwinandio, Yuni Astria, Unggul Sodjo Sumber foto sampul: Agung Darmanto, JO Octora, Ahmad Fadil, Kusnandi Rusmil Edisi 5, cetakan pertama 2014 Penerbit buku ini dikelola oleh: Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia ISBN ii

9 Daftar Isi Sambutan Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI... iii Prakata Tim Penyunting...v Daftar Kontributor...ix Daftar Singkatan... xiii Bab I Bab II Bab III Bab IV Bab V Dasar-Dasar Imunisasi Imunisasi Upaya Pencegahan Primer The Value of Vaccination Basis Imunologi Vaksinasi...24 Jadwal Imunisasi Program Imunisasi Nasional Jadwal Imunisasi Jadwal Imunisasi Tidak Teratur Vaksin Kombinasi Imunisasi Anak Sekolah dan Remaja...91 Imunisasi Kelompok Berisiko Imunisasi pada Bayi dan Anak Berisiko Travel Vaccination Vaksinasi dalam Keadaan Bencana Prosedur Imunisasi Jenis Vaksin Tata Cara Pemberian Imunisasi Penjelasan Kepada Orangtua Mengenai Imunisasi Pencatatan Imunisasi Penyuntikan yang Aman (Safety Injection) dan Penanganan Limbah Imunisasi Penyimpanan dan Transportasi Vaksin Rantai Vaksin vii

10 2 Kualitas Vaksin Bab VI Bab VII Imunisasi Pasif Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI)/ Adverse Events Following Immunization (AEFI) Pelaporan KIPI Bab VIII Imunisasi untuk PD Hepatitis B Poliomielitis Tuberkulosis Difteri, Tetanus, Pertusis Haemophillus Influenza tipe B Pneumokokus Rotavirus Influenza Campak Varisela Campak, Gondongan dan Rubela (Measles, Mumps, Rubella = MMR) Tifoid Hepatitis A Human Papilloma Virus Rabies/Lyssa Meningokokus Japanese Ensefalitis Yellow Fever Kolera Bab IX Bab X Bab XI Miskonsepsi dan Kontroversi Miskonsepsi Imunisasi Kontroversi dalam Imunisasi Tanya Jawab Orang Tua Mengenai Imunisasi Glossary Daftar Vaksin yang Beredar di Indonesia viii

11 Daftar Kontributor Achmad Suryono (alm) Agus Firmansyah Anang Endaryanto Alan Roland Tumbelaka (alm) Arwin A Purbaya Akib Boerhan Hidayat Cissy B Kartasasmita Corry S. Matondang (alm) Dahlan Ali Musa Fatimah Indarso UKK Perinatologi IDAI UKK Gastrohepatologi IDAI, Departemen IKA FK Universitas Indonesia/RSUP Dr.Cipto Mangunkusumo, Jakarta UKK Alergi Imunologi IDAI, Bagian IKA FK Universitas Airlangga/RSUP Dr. Soetomo, Surabaya UKK Infeksi & Pediatri Tropis IDAI, Departemen IKA FK Universitas Indonesia/ RSUP Dr.Cipto Mangunkusumo, Jakarta UKK Alergi Imunologi IDAI, Departemen IKA FK Universitas Indonesia/RSUP Dr.Cipto Mangunkusumo, Jakarta UKK Gizi IDAI, Bagian IKA FK Universitas Airlangga/ RSUP Dr. Soetomo, Surabaya UKK Respirologi IDAI, Bagian IKA, FK Universitas Padjadjaran/RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung UKK Alergi Imunologi IDAI UKK Tumbuh Kembang-Pediatri Sosial IDAI UKK Perinatologi IDAI Gatot Irawan Sarosa UKK Perinatologi IDAI, Bagian IKA, FK Diponegoro/RSUP Dr. Kariadi, Semarang Hanifah Oswari UKK Gastrohepatologi IDAI, Departemen IKA, FK Universitas Indonesia/RSUP Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta ix

12 Hardiono D Poesponegoro Hariyono Soeyitno Harsono Salimo Hartono Gunardi Hindra Irawan Satari Iskandar Syarif Ismoedijanto P. Moedjito IGN Gde Ranuh Jose R L Batubara Kusnandi Rusmil Muhammad Slamet Chandra Kusuma UKK Neurologi IDAI, Departemen IKA FK Universitas Indonesia/RSUP Dr.Cipto Mangunkusumo, Jakarta UKK Tumbuh Kembang Pediatri Sosial IDAI UKK Tumbuh Kembang Pediatri Sosial IDAI, Bagian IKA FK Universitas Sebelas Maret/RSUD Dr. Moewardi, Solo UKK Tumbuh Kembang Pediatri Sosial IDAI, Departemen IKA FK Universitas Indonesia/RSUP Dr.Cipto Mangunkusumo, Jakarta UKK Infeksi dan Pediatri Tropis IDAI, Departemen IKA FK Universitas Indonesia/ RSUP Dr.Cipto Mangunkusumo, Jakarta UKK Neurologi IDAI, Bagian IKA FK Universitas Andalas/RSUP Dr. M. Djamil, Padang UKK Infeksi dan Pediatri Tropis IDAI, Bagian IKA, FK Airlangga/RSUP Dr. Soetomo, Surabaya UKK Tumbuh Kembang Pediatri Sosial IDAI, Bagian IKA, FK Airlangga/ RSUP Dr. Soetomo, Surabaya UKK Endokrin IDAI, Departemen IKA FK Universitas Indonesia/RSUP Dr.Cipto Mangunkusumo, Jakarta UKK Tumbuh Kembang Pediatri Sosial IDAI, Bagian IKA, FK Universitas Padjadjaran/ RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung UKK Respirologi IDAI, Bagian IKA FK Universitas Brawijaya/RSUD Saiful Anwar, Malang x

13 Nastiti N.Rahajoe Noenoeng Rahajoe Purnamawati S. Pujiarto Soedjatmiko Soegeng Soegijanto Sofyan Ismael Sri Rezeki S.Hadinegoro Sri Suparyati Soenarto Syahril Pasaribu Syawitri P Siregar TH Rampengan Titut S. Poesponegoro (alm) UKK Respirologi IDAI UKK Respirologi IDAI UKK Gastrohepatologi IDAI UKK Tumbuh Kembang Pediatri Sosial IDAI, Departemen IKA FK Universitas Indonesia/RSUP Dr.Cipto Mangunkusumo, Jakarta UKK Infeksi dan Pediatri Tropis IDAI, Bagian IKA, FK Airlangga/RSUP Dr. Soetomo, Surabaya UKK Neurologi IDAI, Departemen IKA FK Universitas Indonesia/RSUP Dr.Cipto Mangunkusumo, Jakarta UKK Infeksi dan Pediatri Tropis IDAI, Departemen IKA FK Universitas Indonesia/ RSUP Dr.Cipto Mangunkusumo, Jakarta UKK Gastro-Hepatologi IDAI, Bagian IKA FK Universitas Gadjah Mada/RSUP. Dr. Sardjito, Yogyakarta UKK Infeksi & Pediatri Tropis IDAI, Bagian IKA, FK Sumatera Utara/ RSUP Dr. H Adam Malik, Medan UKK Alergi Imunologi IDAI UKK Infeksi & Pediatri Tropis IDAI, Bagian IKA, FK Sam Ratulangi/ RSUP Dr. Malalayang, Manado UKK Perinatologi IDAI xi

14 Toto Wisnu Hendarto UKK Perinatologi IDAI, Bagian IKA RS Ibu & Anak Harapan Kita, Jakarta UKK: Unit Kerja Koordinasi xii

Bab VIII.5 Haemophillus Influenzae tipe B

Bab VIII.5 Haemophillus Influenzae tipe B Hardiono D.Pusponegoro Bab VIII.5 Haemophillus Influenzae tipe B Hardiono D.Pusponegoro Haemophyllus influenzae tipe b (Hib) bukan virus influenza, tetapi merupakan suatu bakteri Gram negatif. Haemophyllus

Lebih terperinci

Bab VIII.2 Poliomielitis

Bab VIII.2 Poliomielitis Poliomielitis Bab VIII.2 Poliomielitis Ismoedijanto, Hardiono Pusponegoro, Kusnandi Rusmil, Haryono Suyitno Poliomielitis anterior akut adalah suatu penyakit demam akut yang disebabkan virus polio. Kerusakan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Imunisasi 2.1.1. Definisi Imunisasi Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak terpajan antigen

Lebih terperinci

Manfaat imunisasi untuk bayi dan anak

Manfaat imunisasi untuk bayi dan anak Manfaat imunisasi untuk bayi dan anak Bayi dan anak yang mendapat imunisasi dasar lengkap akan terlindung dari beberapa penyakit berbahaya dan akan mencegah penularan ke adik, kakak dan teman-teman disekitarnya.

Lebih terperinci

REKOMENDASI No.: 013/Rek/PP IDAI/IV/2016 Penggantian Vaksin Saat Kelangkaan Vaksin

REKOMENDASI No.: 013/Rek/PP IDAI/IV/2016 Penggantian Vaksin Saat Kelangkaan Vaksin REKOMENDASI No.: 013/Rek/PP IDAI/IV/2016 Penggantian Vaksin Saat Kelangkaan Vaksin Vaksin DTP acellular dan vaksin influenza dalam beberapa bulan terakhir langka di pasaran karena berbagai alasan, antara

Lebih terperinci

WALIKOTA PADANG PROVINSI SUMATERA BARAT

WALIKOTA PADANG PROVINSI SUMATERA BARAT Menimbang WALIKOTA PADANG PROVINSI SUMATERA BARAT PERATURAN WALIKOTA PADANG NOMOR 49 TAHUN 2015 TENTANG PENANGGULANGAN PENYAKIT MENULAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PADANG, : a. bahwa untuk

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.966, 2013 KEMENTERIAN KESEHATAN. Imunisasi. Penyelenggaraan. Pedoman. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Flaviviridae dan ditularkan melalui vektor nyamuk. Penyakit ini termasuk nomor dua

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Flaviviridae dan ditularkan melalui vektor nyamuk. Penyakit ini termasuk nomor dua 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Infeksi dengue disebabkan oleh virus dengue yang tergolong dalam famili Flaviviridae dan ditularkan melalui vektor nyamuk. Penyakit ini termasuk nomor dua paling sering

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan Milenium atau lebih dikenal dengan istilah Millenium Development

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan Milenium atau lebih dikenal dengan istilah Millenium Development BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Cita-cita pembangunan manusia mencakup semua komponen pembangunan yang tujuan akhirnya ialah kesejahteraan masyarakat. Hal ini juga merupakan tujuan pembangunan Milenium

Lebih terperinci

dr. Mei Neni Sitaresmi, PhD, SpA(K)

dr. Mei Neni Sitaresmi, PhD, SpA(K) dr. Mei Neni Sitaresmi, PhD, SpA(K) Divisi Tumbuh kembang Anak-Pedsos, FK UGM- RS DR. Sardjito, Yogyakarta Email : [email protected] Organisasi: Ketua KOMDA KIPI DIY Satgas Imunisasi, IDAI UKK TB-Pedsos

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Program kesehatan di Indonesia periode adalah Program

BAB I PENDAHULUAN. Program kesehatan di Indonesia periode adalah Program BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Program kesehatan di Indonesia periode 2015-2019 adalah Program Indonesia Sehat dengan sasaran meningkatkan derajat kesehatan dan status gizi masyarakat melalui upaya

Lebih terperinci

DAFTAR PUSTAKA Universitas Indonesia

DAFTAR PUSTAKA Universitas Indonesia 46 DAFTAR PUSTAKA 1. Achmadi UF. Imunisasi: mengapa perlu? Jakarta: Penerbit buku Kompas. 2006. h.130. 2. WHO. Immunization against diseases of public health importance. Diunduh dari: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs288/en/index.html

Lebih terperinci

Kata Kunci: Pengetahuan, KIPI

Kata Kunci: Pengetahuan, KIPI PENGETAHUAN IBU TENTANG KEJADIAN IKUTAN PASCA IMUNISASI (KIPI) DI DESA BULUMARGI KECAMATAN BABAT LAMONGAN Dian Nurafifah Dosen D3 Kebidanan STIKes Muhammadiyah Lamongan email: [email protected]

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penyakit infeksi sistem saraf pusat masih. merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama di

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penyakit infeksi sistem saraf pusat masih. merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama di BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit infeksi sistem saraf pusat masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama di negara-negara berkembang (Yoes, 1996). Infeksi pada sistem saraf pusat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Hepatitis karena infeksi virus merupakan penyakit. sistemik yang menyerang hepar. Penyebab paling banyak

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Hepatitis karena infeksi virus merupakan penyakit. sistemik yang menyerang hepar. Penyebab paling banyak BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Hepatitis karena infeksi virus merupakan penyakit sistemik yang menyerang hepar. Penyebab paling banyak dari hepatitis akut yang berhubungan dengan virus pada

Lebih terperinci

Hak Cipta Dilindungi Undangundang

Hak Cipta Dilindungi Undangundang Edisi Ketiga Tahun 2008 Pedoman Imunisasi Di Indonesia Penyunting I.G.N. Ranuh Hariyono Suyitno Sri Rezeki S Hadinegoro Cissy B Kartasasmita Ismoedijanto Soedjatmi ko Disclaimer Isi di dalam buku Pedoman

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Infeksi sistem saraf pusat merupakan penyakit. yang menjadi perhatian dunia dan penyebab yang penting

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Infeksi sistem saraf pusat merupakan penyakit. yang menjadi perhatian dunia dan penyebab yang penting BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Infeksi sistem saraf pusat merupakan penyakit yang menjadi perhatian dunia dan penyebab yang penting dalam morbiditas dan mortalitas (Krcmery, 2007 cited in Michiori

Lebih terperinci

Gejala Penyakit CAMPAK Hari 1-3 : Demam tinggi. Mata merah dan sakit bila kena cahaya. Anak batuk pilek Mungkin dengan muntah atau diare.

Gejala Penyakit CAMPAK Hari 1-3 : Demam tinggi. Mata merah dan sakit bila kena cahaya. Anak batuk pilek Mungkin dengan muntah atau diare. PENYAKIT CAMPAK Apakah setiap bintik-bintik merah yang muncul di seluruh tubuh pada anak balita merupakan campak? Banyak para orangtua salah mengira gejala campak. Salah perkiraan ini tak jarang menimbulkan

Lebih terperinci

Laporan kasus berbasis bukti Perbandingan Efektivitas dan Keamanan Vaksin Pertusis Aselular dan Whole-cell

Laporan kasus berbasis bukti Perbandingan Efektivitas dan Keamanan Vaksin Pertusis Aselular dan Whole-cell Laporan kasus berbasis bukti Perbandingan Efektivitas dan Keamanan Vaksin Pertusis Aselular dan Whole-cell Sendy Tjahjowargo, Hartono Gunardi Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.01.07/MENKES/528/2017 TENTANG PENUNJUKAN RUMAH SAKIT PELAKSANA LAYANAN HEPATITIS C

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.01.07/MENKES/528/2017 TENTANG PENUNJUKAN RUMAH SAKIT PELAKSANA LAYANAN HEPATITIS C KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.01.07/MENKES/528/2017 TENTANG PENUNJUKAN RUMAH SAKIT PELAKSANA LAYANAN HEPATITIS C DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

DAFTAR PUSTAKA. Kelengkapan imunisasi..., Mathilda A., FK UI., Universitas Indonesia

DAFTAR PUSTAKA. Kelengkapan imunisasi..., Mathilda A., FK UI., Universitas Indonesia DAFTAR PUSTAKA 1. Achmadi UF. Imunisasi: mengapa perlu? Jakarta: Penerbit buku Kompas. 2006. h.130. 2. WHO. Immunization against diseases of public health importance. Diunduh dari: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs288/en/index.html

Lebih terperinci

DEFINISI KASUS MALARIA

DEFINISI KASUS MALARIA DEFINISI KASUS MALARIA Definisi kasus adalah seperangkat criteria untuk menentukan apakah seseorang harus dapat diklasifikasikan sakit atau tidak. Kriteria klinis dibatasi oleh waktu, tempat, dan orang.

Lebih terperinci

IMUNISASI SWIM 2017 FK UII Sabtu, 14 Oktober 2017

IMUNISASI SWIM 2017 FK UII Sabtu, 14 Oktober 2017 IMUNISASI Dr. dr. Fx. Wikan Indrarto, SpA SWIM 2017 FK UII (Simposium & Workshop Imunisasi) Sabtu, 14 Oktober 2017 Di Hotel Eastparc Jl. Laksda Adisucipto Km. 6,5, Yogyakarta IMUNISASI Cara meningkatkan

Lebih terperinci

MODUL 2 DASAR DASAR FLU BURUNG, PANDEMI INFLUENZA DAN FASE FASE PANDEMI INFLUENZA MENURUT WHO

MODUL 2 DASAR DASAR FLU BURUNG, PANDEMI INFLUENZA DAN FASE FASE PANDEMI INFLUENZA MENURUT WHO MODUL 2 DASAR DASAR FLU BURUNG, PANDEMI INFLUENZA DAN FASE FASE PANDEMI INFLUENZA MENURUT WHO DepKes RI 2007 Tujuan Pembelajaran Tujuan Pembelajaran Umum : Dapat menjelaskan dasar dasar Flu Burung, pandemi

Lebih terperinci

Manifestasi Klinis dan Faktor-faktor yang. di RSUP Sanglah Denpasar. Putu Junara Putra, I Komang Kari

Manifestasi Klinis dan Faktor-faktor yang. di RSUP Sanglah Denpasar. Putu Junara Putra, I Komang Kari Sari Pediatri, Vol. 8, No. 3 (Suplemen), Januari 2007: 15-20 Manifestasi Klinis dan Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Japanese Encephalitis di RSUP Sanglah Denpasar Putu Junara Putra, I Komang Kari

Lebih terperinci

PENGARUH GROWTH FALTERING TERHADAP KEJADIAN DEMAM DAN KEJANG DEMAM PADA ANAK PASCA IMUNISASI CAMPAK LAPORAN HASIL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH

PENGARUH GROWTH FALTERING TERHADAP KEJADIAN DEMAM DAN KEJANG DEMAM PADA ANAK PASCA IMUNISASI CAMPAK LAPORAN HASIL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH PENGARUH GROWTH FALTERING TERHADAP KEJADIAN DEMAM DAN KEJANG DEMAM PADA ANAK PASCA IMUNISASI CAMPAK LAPORAN HASIL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. kesehatan sehingga mampu meningkatkan rata-rata usia harapan hidup.

BAB 1 PENDAHULUAN. kesehatan sehingga mampu meningkatkan rata-rata usia harapan hidup. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Indonesia sudah mengalami banyak kemajuan terutama di bidang kesehatan sehingga mampu meningkatkan rata-rata usia harapan hidup. Peningkatan pelayanan kesehatan ini

Lebih terperinci

Penyebab, gejala dan cara mencegah polio Friday, 04 March :26. Pengertian Polio

Penyebab, gejala dan cara mencegah polio Friday, 04 March :26. Pengertian Polio Pengertian Polio Polio atau poliomyelitis adalah penyakit virus yang sangat mudah menular dan menyerang sistem saraf. Pada kondisi penyakit yang bertambah parah, bisa menyebabkan kesulitan 1 / 5 bernapas,

Lebih terperinci

Optimisme Cakupan Vaksin MR Menuju Generasi Sehat Berkualitas

Optimisme Cakupan Vaksin MR Menuju Generasi Sehat Berkualitas Optimisme Cakupan Vaksin MR Menuju Generasi Sehat Berkualitas PENYAKIT campak di dunia ini bersifat endemik. Di semua negara di dunia ini, tahun 2013 terjadi 145.700 kematian yang disebabkan oleh campak.

Lebih terperinci

DAFTAR PUSTAKA. 1. B.K. Mandall., et all. Lecture Notes: Penyakit Infeksi. Jakarta: Penerbit

DAFTAR PUSTAKA. 1. B.K. Mandall., et all. Lecture Notes: Penyakit Infeksi. Jakarta: Penerbit DAFTAR PUSTAKA 1. B.K. Mandall., et all. Lecture Notes: Penyakit Infeksi. Jakarta: Penerbit Erlangga; 2006. 2. Widoyono. Penyakit Tropis: Epidemiologi, Penularan, Pencegahan, dan Pemberantasannya. Jakarta:

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN

BAB V HASIL PENELITIAN BAB V HASIL PENELITIAN 5.1 Gambaran Epidemiologi Penyakit Campak di Indonesia Tahun 2004-2008 5.1.1 Gambaran Penyakit Campak Berdasarkan Variabel Umur Gambaran penyakit campak berdasarkan variabel umur

Lebih terperinci

BAB II. PEMBAHASAN MASALAH & SOLUSI MASALAH PERANCANGAN KAMPANYE PENGGUNAAN VAKSIN

BAB II. PEMBAHASAN MASALAH & SOLUSI MASALAH PERANCANGAN KAMPANYE PENGGUNAAN VAKSIN BAB II. PEMBAHASAN MASALAH & SOLUSI MASALAH PERANCANGAN KAMPANYE PENGGUNAAN VAKSIN II.1 Definisi Vaksinasi Vaksinasi merupakan sebuah aktivitas atau kegiatan pemberian vaksin kepada tubuh manusia atau

Lebih terperinci

VACCINATION FOR WORKER

VACCINATION FOR WORKER VACCINATION FOR WORKER dr. Arie Wulandari, MKK, SpOK [email protected] 0877 8136 4684 MENGAPA ORANG DEWASA PERLU VAKSINASI? Imunisasi waktu kecil tidak memberikan jaminan kekebalan untuk seumur hidup,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. oleh virus dan bersifat zoonosis. Flu burung telah menjadi perhatian yang luas

BAB I PENDAHULUAN. oleh virus dan bersifat zoonosis. Flu burung telah menjadi perhatian yang luas BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Flu burung merupakan penyakit saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus dan bersifat zoonosis. Flu burung telah menjadi perhatian yang luas bagi masyarakat karena

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. peningkatan angka kejadian, tidak hanya terjadi di Indonesia juga di berbagai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. peningkatan angka kejadian, tidak hanya terjadi di Indonesia juga di berbagai 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sejak beberapa tahun terakhir ini, berbagai penyakit infeksi mengalami peningkatan angka kejadian, tidak hanya terjadi di Indonesia juga di berbagai belahan dunia

Lebih terperinci

2017, No Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 20, Tambahan L

2017, No Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 20, Tambahan L BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.559, 2017 KEMENKES. Penyelenggaraan Imunisasi. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2017 TENTANG PENYELENGGARAAN IMUNISASI DENGAN

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue. Virus ini ditularkan dari orang ke orang oleh nyamuk Aedes aegypti. Penyakit DBD banyak

Lebih terperinci

PENJADWALAN IMUNISASI ANAK USIA 0 18 TAHUN MENGGUNAKAN METODE FORWARD CHAINING

PENJADWALAN IMUNISASI ANAK USIA 0 18 TAHUN MENGGUNAKAN METODE FORWARD CHAINING Vol. 2, 2017 PENJADWALAN IMUNISASI ANAK USIA 0 18 TAHUN MENGGUNAKAN METODE FORWARD CHAINING Yana Adharani 1*, Popy Meilina 2 Universitas Muhammadiyah Jakarta Jl. Cempaka Putih Tengah 27 Jakarta Pusat.

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.01.07/MENKES/117/2017 TENTANG PELAKSANAAN KAMPANYE DAN INTRODUKSI IMUNISASI JAPANESE ENCEPHALITIS DI PROVINSI BALI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi

Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi Artikel Asli Sari Pediatri, Sari Pediatri, Vol. 2, No. Vol. 1, 2, Juni No. 2000: 1, Juni 22000-10 Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi Sri Rezeki S. Hadinegoro Dalam era globalisasi, imunisasi merupakan upaya

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Salah satu dari 17 program pokok pembangunan kesehatan adalah program

BAB 1 PENDAHULUAN. Salah satu dari 17 program pokok pembangunan kesehatan adalah program BAB 1 PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG Salah satu dari 17 program pokok pembangunan kesehatan adalah program pencegahan dan pemberantasan penyakit, yang salah satu sasarannya untuk mencapai Universal Child

Lebih terperinci

Lalu, kekebalan seperti apa yang dimiliki bayi di bulan-bulan pertamanya?

Lalu, kekebalan seperti apa yang dimiliki bayi di bulan-bulan pertamanya? Apa sih manfaat imunisasi? Dan kapan harus diberikan? Agar ibu tidak salah kaprah, silahkan simak tanya jawab seputar imunisasi dibawah ini. Mengapa anak perlu imunisasi? Karena usia anak-anak merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penyebabnya adalah gaya hidup dan lingkungan yang tidak sehat. Murwanti dkk,

BAB I PENDAHULUAN. penyebabnya adalah gaya hidup dan lingkungan yang tidak sehat. Murwanti dkk, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Berbagai jenis penyakit semakin banyak yang muncul salah satu penyebabnya adalah gaya hidup dan lingkungan yang tidak sehat. Murwanti dkk, (2013: 64) menyebutkan bahwa

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2014 TENTANG PENANGGULANGAN PENYAKIT MENULAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2014 TENTANG PENANGGULANGAN PENYAKIT MENULAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2014 TENTANG PENANGGULANGAN PENYAKIT MENULAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa penyakit

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. pembangunan dibidang kesehatan (Depkes, 2007). masyarakat dunia untuk ikut merealisasikan tercapainya Sustainable Development

BAB 1 PENDAHULUAN. pembangunan dibidang kesehatan (Depkes, 2007). masyarakat dunia untuk ikut merealisasikan tercapainya Sustainable Development BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tujuan pembangunan dibidang kesehatan adalah mewujudkan manusia yang sehat, cerdas dan produktif. Pembangunan kesehatan menitik beratkan pada program-program yang mempunyai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam upaya menurunkan angka kematian bayi dan balita. Imunisasi merupakan

BAB I PENDAHULUAN. dalam upaya menurunkan angka kematian bayi dan balita. Imunisasi merupakan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam ruang lingkup pelayanan kesehatan, bidang preventif merupakan prioritas utama dan dalam melaksanakan Sistem Kesehatan Nasional (SKN), imunisasi merupakan salah

Lebih terperinci

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Indonesia adalah negara berkembang yang berada pada periode triple

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Indonesia adalah negara berkembang yang berada pada periode triple BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia adalah negara berkembang yang berada pada periode triple burden. Seiring dengan terjadinya peningkatan kasus penyakit tidak menular, muncul penyakit baru

Lebih terperinci

BAB 1 : PENDAHULUAN. dalam Sustainable Development Goals (SDG S). Tujuan ke ketiga SDGs adalah

BAB 1 : PENDAHULUAN. dalam Sustainable Development Goals (SDG S). Tujuan ke ketiga SDGs adalah 1 BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perbaikan kualitas manusia disuatu negara dijabarkan secara international dalam Sustainable Development Goals (SDG S). Tujuan ke ketiga SDGs adalah menurunkan angka

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal sebagai salah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia ikut andil pembangunan kesehatan dalam rangka merealisasikan tercapainya Millenium Development Goals (MDGs). Salah satunya adalah Agenda ke 4 MDGs (Menurunkan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Asia Tenggara termasuk di Indonesia terutama pada penduduk yang

BAB 1 PENDAHULUAN. Asia Tenggara termasuk di Indonesia terutama pada penduduk yang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypty dan atau Aedes albopictus. Infeksi virus

Lebih terperinci

SKRIPSI ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN PENYAKIT TUBERKULOSIS PADA ANAK DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT SURAKARTA

SKRIPSI ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN PENYAKIT TUBERKULOSIS PADA ANAK DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT SURAKARTA SKRIPSI ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN PENYAKIT TUBERKULOSIS PADA ANAK DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT SURAKARTA Skripsi Ini Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Ijazah S1 Kesehatan

Lebih terperinci

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP ORANGTUA DENGAN STATUS IMUNISASI ANAKNYA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BANGUNTAPAN II BANTUL YOGYAKARTA 2017

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP ORANGTUA DENGAN STATUS IMUNISASI ANAKNYA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BANGUNTAPAN II BANTUL YOGYAKARTA 2017 HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP ORANGTUA DENGAN STATUS IMUNISASI ANAKNYA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BANGUNTAPAN II BANTUL YOGYAKARTA Titik Mariati 1 Prodi Kesehatan Masyarakat STIKES Surya Global Yogyakarta

Lebih terperinci

BUPATI TRENGGALEK PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN TRENGGALEK NOMOR 5 TAHUN 2017 TENTANG PENANGGULANGAN PENYAKIT MENULAR

BUPATI TRENGGALEK PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN TRENGGALEK NOMOR 5 TAHUN 2017 TENTANG PENANGGULANGAN PENYAKIT MENULAR BUPATI TRENGGALEK PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN TRENGGALEK NOMOR 5 TAHUN 2017 TENTANG PENANGGULANGAN PENYAKIT MENULAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TRENGGALEK, Menimbang : a.

Lebih terperinci

BAB 1 : PENDAHULUAN. membungkus jaringan otak (araknoid dan piameter) dan sumsum tulang belakang

BAB 1 : PENDAHULUAN. membungkus jaringan otak (araknoid dan piameter) dan sumsum tulang belakang 1 BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Meningitis merupakan reaksi peradangan yang terjadi pada lapisan yang membungkus jaringan otak (araknoid dan piameter) dan sumsum tulang belakang yang disebabkan

Lebih terperinci

BAB II PEMBAHASAN. Tujuan Surveilans Epidemiologi 2 Tujuan surveilans epidemiologi yaitu:

BAB II PEMBAHASAN. Tujuan Surveilans Epidemiologi 2 Tujuan surveilans epidemiologi yaitu: BAB I PENDAHULUAN Surveilans epidemiologi adalah pengumpulan dan pengamatan secara sistematik berkesinambungan, analisa dan interpretasi data kesehatan dalam proses menjelaskan dan memonitoring kesehatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. oleh virus. Campak disebut juga rubeola, morbili, atau measles. Penyakit ini

BAB I PENDAHULUAN. oleh virus. Campak disebut juga rubeola, morbili, atau measles. Penyakit ini BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Campak adalah suatu penyakit akut yang sangat menular yang disebabkan oleh virus. Campak disebut juga rubeola, morbili, atau measles. Penyakit ini ditandai dengan gejala

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. setidaknya 50% angk kematian di Indonesia bisa dicegah dengan imunisasi dan

BAB I PENDAHULUAN. setidaknya 50% angk kematian di Indonesia bisa dicegah dengan imunisasi dan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Angka Kematian Bayi menjadi indikator pertama dalam menentukan derajat kesehatan anak karena merupakan cerminan dari status kesehatan anak saat ini. WHO 2010 mencatat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mencegah tubuh dari penularan penyakit infeksi. Penyakit infeksi. adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme

BAB I PENDAHULUAN. mencegah tubuh dari penularan penyakit infeksi. Penyakit infeksi. adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Imunisasi merupakan suatu usaha yang dilakukan untuk mencegah tubuh dari penularan penyakit infeksi. Penyakit infeksi adalah suatu penyakit yang disebabkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit campak merupakan salah satu penyebab kematian pada anak-anak di

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit campak merupakan salah satu penyebab kematian pada anak-anak di BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyakit campak merupakan salah satu penyebab kematian pada anak-anak di seluruh dunia yang meningkat sepanjang tahun. Pada tahun 2005 terdapat 345.000 kematian di

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. HIV merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi Human

BAB 1 PENDAHULUAN. HIV merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi Human BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang HIV merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi Human Immunodeficiency Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Infeksi HIV dapat menyebabkan penderita

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. memasukan vaksin ke dalam tubuh agar tubuh membuat zat anti untuk mencegah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. memasukan vaksin ke dalam tubuh agar tubuh membuat zat anti untuk mencegah 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Imunisasi 1. Pengertian Imunisasi Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak dengan memasukan vaksin ke dalam tubuh agar tubuh membuat zat anti untuk

Lebih terperinci

FAKTA IMUNISASI MENEPIS RUMOR IMUNISASI

FAKTA IMUNISASI MENEPIS RUMOR IMUNISASI MENEPIS RUMOR KATANYA, Imunisasi Berbahaya? Itu GOSIP. Artikel di tabloid dan milis internet, ternyata mengutip ilmuwan yang bukan ahli vaksin, melainkan ahli statistik, psikolog, homeopati, bakteriologi,

Lebih terperinci

PENGARUH REAKSI IMUNISASI DPT/HB TERHADAP SIKAP DAN PERILAKU IBU DALAM PELAKSANAAN IMUNISASI DPT/HB DI KOTA SEMARANG

PENGARUH REAKSI IMUNISASI DPT/HB TERHADAP SIKAP DAN PERILAKU IBU DALAM PELAKSANAAN IMUNISASI DPT/HB DI KOTA SEMARANG PENGARUH REAKSI IMUNISASI DPT/HB TERHADAP SIKAP DAN PERILAKU IBU DALAM PELAKSANAAN IMUNISASI DPT/HB DI KOTA SEMARANG THE INFLUENCE OF DPT/HB IMMUNIZATION REACTION TOWARDS THE MOTHER S ATTITUDE AND BEHAVIOR

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. sangat berbahaya, demikian juga dengan Tetanus walau bukan penyakit menular

BAB 1 PENDAHULUAN. sangat berbahaya, demikian juga dengan Tetanus walau bukan penyakit menular BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit Difteri, Pertusis dan Hepatitis B merupakan penyakit menular yang sangat berbahaya, demikian juga dengan Tetanus walau bukan penyakit menular namun apabila

Lebih terperinci

Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi Vaksin Kombinasi DPwT (Sel Utuh) dan Hepatitis B

Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi Vaksin Kombinasi DPwT (Sel Utuh) dan Hepatitis B Sari Pediatri, Sari Pediatri, Vol. 3, No. Vol. 2, 3, September No. 2, September 2001: 722001-76 Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi Vaksin Kombinasi DPwT (Sel Utuh) dan Hepatitis B Diana Mettadewi Jong, Adji

Lebih terperinci

Pertanyaan Seputar Flu A (H1N1) Amerika Utara 2009 dan Penyakit Influenza pada Babi

Pertanyaan Seputar Flu A (H1N1) Amerika Utara 2009 dan Penyakit Influenza pada Babi 1 Lab Biomedik dan Biologi Molekuler Hewan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana Jl Raya Sesetan-Gang Markisa No 6 Denpasar Telp: 0361-8423062; HP: 08123805727 Email: [email protected];

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 1. 1.1. Imunisasi Imunisasi merupakan aplikasi prinsip imunilogi yang paling terkenal dan paling berhasil terhadap kesehatan manusia. (Achmadi 2006: hal.38). Imunisasi berasal dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mencegah terhadap penyakit tertentu. Sedangkan vaksin adalah bahan yang

BAB I PENDAHULUAN. mencegah terhadap penyakit tertentu. Sedangkan vaksin adalah bahan yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak dengan memasukkan vaksin ke dalam tubuh agar tubuh membuat zat anti untuk mencegah terhadap penyakit

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka diambil kesimpulan bahwa : 1. Ada hubungan antara status gizi dengan kejadian pneumonia pada 2. Ada hubungan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. fungsi otak, medulla spinalis, saraf perifer dan otot.

BAB 1 PENDAHULUAN. fungsi otak, medulla spinalis, saraf perifer dan otot. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Defisit neurologis adalah kelainan fungsional area tubuh karena penurunan fungsi otak, medulla spinalis, saraf perifer dan otot. Tanda tanda defisit neurologis merupakan

Lebih terperinci

BAB 1 : PENDAHULUAN. satu di dunia. Data World Health Organization (WHO) tahun 2014 menunjukkan

BAB 1 : PENDAHULUAN. satu di dunia. Data World Health Organization (WHO) tahun 2014 menunjukkan 1 BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi menular pembunuh nomor satu di dunia. Data World Health Organization (WHO) tahun 2014 menunjukkan bahwa terdapat 9,6

Lebih terperinci

TETAP SEHAT! PANDUAN UNTUK PASIEN DAN KELUARGA

TETAP SEHAT! PANDUAN UNTUK PASIEN DAN KELUARGA IMUNODEFISIENSI PRIMER TETAP SEHAT! PANDUAN UNTUK PASIEN DAN KELUARGA TETAP SEHAT! PANDUAN UNTUK PASIEN DAN KELUARGA 1 IMUNODEFISIENSI PRIMER Imunodefisiensi primer Tetap sehat! Panduan untuk pasien dan

Lebih terperinci

cita-cita UUD Pembangunan bidang kesehatan di Indonesia saat ini mempunyai beban ganda (double burden). Penyakit menular masih merupakan

cita-cita UUD Pembangunan bidang kesehatan di Indonesia saat ini mempunyai beban ganda (double burden). Penyakit menular masih merupakan cita-cita UUD 1945. Pembangunan bidang kesehatan di Indonesia saat ini mempunyai beban ganda (double burden). Penyakit menular masih merupakan masalah, sementara penyakit degeneratif juga muncul sebagai

Lebih terperinci

DINAS KESEHATAN KABUPATEN CIANJUR PUSKESMAS CIANJUR KOTA LAMPIRAN NOMOR : TENTANG KERANGKA ACUAN KEGIATAN KAMPANYE VAKSIN MEALSES- RUBELLA (MR)

DINAS KESEHATAN KABUPATEN CIANJUR PUSKESMAS CIANJUR KOTA LAMPIRAN NOMOR : TENTANG KERANGKA ACUAN KEGIATAN KAMPANYE VAKSIN MEALSES- RUBELLA (MR) LAMPIRAN SURAT KEPUTUSAN KEPALA PUSKESMAS CIANJUR KOTA NOMOR : TENTANG KEBIJAKAN KEPALA PUSKESMAS TENTANG PELAKSANAAN KEGIATAN KAMPANYE VAKSIN MEASLES-RUBELLA (MR) KERANGKA ACUAN KEGIATAN KAMPANYE VAKSIN

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. masyarakat karena menyebar dengan cepat dan dapat menyebabkan kematian (Profil

BAB 1 PENDAHULUAN. masyarakat karena menyebar dengan cepat dan dapat menyebabkan kematian (Profil BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit menular yang sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, sering muncul sebagai

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. berbagai penyakit seperti TBC, difteri, pertusis, hepatitis B, poliomyelitis, dan

BAB 1 PENDAHULUAN. berbagai penyakit seperti TBC, difteri, pertusis, hepatitis B, poliomyelitis, dan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Imunisasi merupakan bentuk intervensi kesehatan yang efektif dalam menurunkan angka kematian bayi dan balita. Dengan imunisasi, berbagai penyakit seperti TBC,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) selalu merupakan beban

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) selalu merupakan beban BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) selalu merupakan beban masalah kesehatan masyarakat terutama ditemukan di daerah tropis dan subtropis. DBD banyak ditemukan di

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Imunisasi Imunisasi adalah suatu upaya untuk menimbulkan/meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila suatu saat terpajan dengan penyakit

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA SIKAP IBU TENTANG IMUNISASI DASAR DENGAN KELENGKAPAN IMUNISASI DASAR PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KECAMATAN MIRI SRAGEN

HUBUNGAN ANTARA SIKAP IBU TENTANG IMUNISASI DASAR DENGAN KELENGKAPAN IMUNISASI DASAR PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KECAMATAN MIRI SRAGEN HUBUNGAN ANTARA SIKAP IBU TENTANG IMUNISASI DASAR DENGAN KELENGKAPAN IMUNISASI DASAR PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KECAMATAN MIRI SRAGEN NASKAH PUBLIKASI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai

Lebih terperinci

Ike Ate Yuviska(¹), Devi Kurniasari( 1 ), Oktiana (2) ABSTRAK

Ike Ate Yuviska(¹), Devi Kurniasari( 1 ), Oktiana (2) ABSTRAK JURNAL KEBIDANAN Vol 1, No 3, Oktober 2015: 126-130 HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG EFEK SAMPING IMUNISASI DPT COMBO DENGAN KEJADIAN DEMAM PADA BAYI USIA 2-12 BULAN DI BPS YULIANTI AMD KEB KELURAHAN TALANG

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang. dari seluruh penduduk dunia adalah pembawa kronis penyakit hepatitis B (Zanetti et

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang. dari seluruh penduduk dunia adalah pembawa kronis penyakit hepatitis B (Zanetti et BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Infeksi hepatitis B merupakan masalah global, diperkirakan 6% atau 387 juta dari seluruh penduduk dunia adalah pembawa kronis penyakit hepatitis B (Zanetti et al., 2008).

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. puncak kejadian leptospirosis terutama terjadi pada saat musim hujan dan

BAB I PENDAHULUAN. puncak kejadian leptospirosis terutama terjadi pada saat musim hujan dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit leptospirosis terjadi di seluruh dunia, baik di daerah pedesaan maupun perkotaan, di daerah tropis maupun subtropis. Di daerah endemis, puncak kejadian leptospirosis

Lebih terperinci

Media tertentu 1. udara (TBC, Influenza dll), 2. tempat makan dan minum yang kurang bersih pencuciannya (Hepatitis, Typhoid/Tifus dll), 3.

Media tertentu 1. udara (TBC, Influenza dll), 2. tempat makan dan minum yang kurang bersih pencuciannya (Hepatitis, Typhoid/Tifus dll), 3. PENYAKIT MENULAR Penyakit Menular Disebut juga penyakit infeksi Adalah sebuah penyakit yang disebabkan oleh sebuah agen biologi (seperti virus, bakteria atau parasit), bukan disebabkan faktor fisik (seperti

Lebih terperinci

MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT MODUL - 2 PENILAIAN DAN KLASIFIKASI ANAK SAKIT UMUR 2 BULAN SAMPAI 5 TAHUN

MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT MODUL - 2 PENILAIAN DAN KLASIFIKASI ANAK SAKIT UMUR 2 BULAN SAMPAI 5 TAHUN MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT MODUL - 2 PENILAIAN DAN KLASIFIKASI ANAK SAKIT UMUR 2 BULAN SAMPAI 5 TAHUN PENDAHULUAN Seorang ibu akan membawa anaknya ke fasilitas kesehatan jika ada suatu masalah atau

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan jumlah panas yang hilang ke lingkungan luar. Suhu yang dimaksud adalah

BAB I PENDAHULUAN. dan jumlah panas yang hilang ke lingkungan luar. Suhu yang dimaksud adalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Suhu tubuh adalah perbedaan antara jumlah panas yang diproduksi oleh proses tubuh dan jumlah panas yang hilang ke lingkungan luar. Suhu yang dimaksud adalah

Lebih terperinci

Faktor Risiko Lingkungan pada Pasien Japanese Encephalitis

Faktor Risiko Lingkungan pada Pasien Japanese Encephalitis Artikel Asli Faktor Risiko Lingkungan pada Pasien Japanese Encephalitis I Gede E. Paramarta*, I Komang Kari*, Sunartini Hapsara** * Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Udayana **

Lebih terperinci

Angka kematian bayi dan anak merupakan salah satu indikator penting yang

Angka kematian bayi dan anak merupakan salah satu indikator penting yang Angka kematian bayi dan anak merupakan salah satu indikator penting yang digunakan untuk menentukan derajat kesehatan masyarakat. Hal ini juga menjadi fokus dalam pencapaian Millenium Development Goals

Lebih terperinci