BAB 3 PERANCANGAN SISTEM

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB 3 PERANCANGAN SISTEM"

Transkripsi

1 BAB 3 PERANCANGAN SISTEM Pada bab ini akan dijelaskan perancangan dari prototype yang dibuat, yaitu konsep dasar alat, diagram blok, perancangan elektronika yang meliputi rangkaian rangkaian elektronika dari alat, serta perancangan perangkat lunak. 3.1 Konsep Dasar Prototype lengan robot terkendali lengan manusia merupakan system yang dapat bekerja dengan menggunakan mikrokontroller ATMega 8535 sebagai pusat pengendaliannya. Lengan robot ini akan bergerak mengikuti gerakan yang dilakukan oleh lengan pengguna pada lengan pengendalinya. Alat ini terbagi menjadi dua bagian mekanik, yaitu lengan pengendali dan lengan robot. Kedua bagian mekanik tersebut terhubung dengan mikrokontroller sebagai pusat pengendali. Lengan pengendali terdiri dari lima buah sendi dan satu buah endeffector yang menjepit dimana pada masing masing sendi dan penggerak end-effector terdapat variable resistor ( VR ) yang berfungsi sebagai input. VR ini akan memberikan nilai analog yang berbeda beda kepada mikrokontroller sesuai dengan simpangan yang terjadi pada lengan pengendali. Seperti juga lengan pengendali, lengan robot memiliki lima buah sendi dan satu buah end-effector. Untuk pergerakkannya, masing masing sendi dipasangkan motor servo yang terhubung dengan mikrokontroller. 52

2 53 Untuk lebih jelasnya, rancangan mekanik prototype ini dapat dilihat pada gambar 3.1. Dari gambar dapat dilihat bahwa rancangan mekanik terdiri dari 5 buah sendi. Jenis sendi yang digunakan adalah 5 buah revolute joint ( Joint 1, 2, 3, 4, dan 5 ) dan satu buah prismatic joint sebagai end-effector. Joint Gambar 3.1 (a) Rancang Gambar Lengan Pengendali Tampak Belakang Joint Gambar 3.1 (b) Rancang Gambar Lengan Pengendali Tampak Samping

3 54 Joint Gambar 3.1 (c) Rancang Gambar Lengan Pengendali Tampak Depan Joint 6 End-effector Joint 5 Joint 4 Joint 3 End-effector Joint 2 Joint 1 5 Joint 1 Gambar 3.2 Rancangan Gambar Lengan Robot

4 55 Keterangan pada gambar 3.1 dan 3.2 Panah Pada Lengan pengendali Mekanik Menunjukkan joint lengan pengendali mekanik (potensiometer) Panah Pada Lengan Robot menunjukkan Joint Yang akan bergerak Base Joint (Joint 1) : bergerak kanan kiri mengikuti pergerakkan kanan kiri pada bahu lengan (Shoulder Rotation), Base rotation ini bergerak seperti pada waist rotation Joint 2 : Bergerak atas bawah mengikuti pergerakkan atas bawah pada Bahu lengan (shoulder) Joint 3 : Bergerak atas atau bawah Mengikuti pergerakkan ke atas atau bawah pada Siku Lengan (Elbow) Joint 4 : Bergerak atas bawah mengikuti Pergerakan sendi pergelangan tangan (wrist) Joint 6 : Bergerak Memutar end effecor hingga 360 derajat yang putarannya diatur oleh tangan kiri dengan memutar potensiometer (Potensiometer ke 5 ini terpisah dari pengontrol mekaniknya) End-effector Joint 5 : bagian ujung lengan robot bergerak bergeser dan menjepit (gripper) yang di fungsikan untuk menjepit dan mengangkat benda tertentu pada bagian ini digerakkan (dicontrol) dengan pergerakkan atas bawah jari telunjuk.

5 Perancangan Protototipe Manipulator Lengan Robot Perancangan Model prototipe manipulator lengan robot berbentuk articulated joint atau Elbow Manipulator adalah mempunyai model mekanik yang sederhana, reliable dan relatif mudah di implementasikan serta dapat menduduki ruangan yang terbatas karena bentuknya yang ringkas. Sistem dirancang dengan lima derajat kebebasan dan satu end-effector Manipulator yang dirancang terdiri dari 4 bagian, yaitu Base, link 1, link 2 dan link 3 yang berhubungan langsung dengan end-effector Setiap robot pasti memiliki area kerja yang berbeda beda tergantung dari bagaimana fungsinya robot itu dibuat dan struktur robot tersebut, dalam skripsi lengan robot ini memiliki area kerja yang berbeda di masing joint dan link nya untuk itu disini akan diberikan beberapa gambar dengan posisi yang maksimal, yang dimaksud maksimal disini adalah posisi bagaimana suatu lengan robot dapat mencapai posisi sudut yang maksimal. Aturan tangan kanan digunakan untuk mempermudah dalam menentukan koordinat (frame) pada sebuah joint Ketentuan : o Z tegak lurus dengan arah putar joint o X searah dengan link Gambar 3.3 Aturan tangan kanan digunakan untuk mempermudah dalam menentukan koordinat (frame) pada sebuah joint

6 57 Y5 Z5 Z3 Z2 Y6 X5 Z4 X6 Z6 X4 X3 X2 Y2 Y4 Y3 Z1 WORLD X1 BASE JOINT Y1 Gambar 3.4 Koordinat Frame Lengan Robot Berikut ini adalah tabel workspace lengan robot pada skripsi ini. Tabel 3.1 Workspace Perancangan Lengan robot Joint n Min Max Range Joint 1 ( Base Joint) Joint Joint Joint Joint Grip End-Effector 0 cm (Tutup) 5 cm (Buka) 5 cm

7 58 Link-3 Link-2 Link-1 Base Gambar 3.5 Link lengan robot yang dirancang Pada bagian base untuk penggerakknya menggunakan motor servo type GWS S04 BBM yang fungsinya untuk menggerakkan lengan robot pad link-1 hingga end-effector agar dapat berputar -90 hingga 90 dengan diameter perputaran lingkaran 5 cm.

8 59 90 Diameter 5 CM -90 Gambar 3.6 Sudut Pergerakkan Pada bagian Base lengan robot Lingkaran Base ditopang lagi dengan acrylic yang berbentuk persegi, tujuannya agar dapat menahan beban lengan robot dan memberikan keseimbangan pada setiap posisi pergerakkan lengan robot, sedangkan jarak antara base atas dengan base bawah adalah 9 cm 9 CM Gambar 3.7 Bagian Base atas dan Base Bawah Lengan Robot Perancangan Link-1 dan Joint-2 Lengan Robot Link 1 posisinya berada antara joint 2 dengan joint 3, pada link 1 ini dihubungkan dengan Joint 2 dan Joint 3, dimana pada joint 2 merupakan titik pergerakan yang terberat untuk menggerakkan dan menahan beban lengan

9 60 robot, oleh sebab itu pada joint 2 lengan robot, diberikan motor servo yang memiliki kekuatan torsi yang paling besar untuk menggerakkan beban, pada perancangan ini diberikan motor servo type HITECH HS-805BB+ dengan kekuatan torsi 19.8kg.cm. Joint Dua ini mempengaruhi pergerakkan lengan robot dengan sudut minimal 0 (Posisi acuan) hingga 115 (Posisi Maksimal) Gambar 3.8 Pergerakkan Sudut Joint 2 Lengan Robot Perancangan Link 2 dan Joint 3 Lengan Robot Pada perancangan link 2 ini berhubungan dengan joint 3 dan joint 4 dan sebagai penggeraknya dipengaruhi oleh joint 2 dan joint 3, posisi pada joint 3 diberikan motor servo type GWS SO4 BBM.

10 Pada Joint Link 3 ini, untuk posisi minimal hingga -90 dapat tercapai jika posisi Joint 1 berada di posisi antara sudut 48 hingga Gambar 3.9 Sudut Pergerakkan Link 2 Pada Joint 3 Terhadap Joint 1 pada sudut 90

11 Gambar 3.10 Sudut Pergerakkan Link 2 Pada Joint 3 Terhadap Joint 1 pad sudut Perancangan Link 3, Joint 4. Joint 5 dan End-Effector Lengan Robot Pada Perancangan Link 3 ini merupakan bagian dari end-effector dimana pada end-effector terdapat 3 motor servo joint 4, Joint 5. Joint 5 Untuk memutar end-effector dan Grip Tool yang merupakan join prismatic dimana pergerakkannya menjepit (menutup) dan membuka. Pada Gambar 3.10 berikut ini merupakan bentuk sudut pergerakan yang dapat dilakukan pada link 3, joint 4 dan joint 5 serta pergerakan end-effector

12 (a) (b) 5 CM (c) Gambar 3.11 (a) Pergerakan sudut yang dapat dilakukan oleh link 3 dan end-effectornya (b) Pergerakkan memutar end-effector -90 hingga 90 (c) Pergerakkan tool end-effector posisi menutup/menjepit grip dan membuka grip

13 Perancangan Lengan Pengendali Untuk Pengendali Lengan Robot Pada Perancangan lengan pengendali ini terdiri dari beberapa joint dan link yang jumlahnya sama dengan lengan robot yang akan dikendalikan, dalam hal ini konstruksi lengan pengendali memiliki analogi dengan bagian lengan manusia yang sesungguhnya dimana lengan memiliki bagian yang digambarkan pada gambar Lengan Pengendali yang terdiri dari 5 joint dan 1 end-effecto untuk itu pada lengan pengendali ini joint dibuat dengan potensiometer yang mana sebagai deteksi pergerakkan persendian lengan manusia, dan setiap joint pada lengan pengendali di kaitkan dengan link yang dirancang dengan acrylic. Dalam hal ini joint lengan manusia sebagai sendi akan berhubungan dalam pergerakkan joint potensiometer pada lengan pengendali dan link pada lengan manusia yang dianalogikan sebagai tulang lengan manusia yang berhubungan dengan link lengan pengendali dalam bentuk acrylic. Z5 Z2 Y1 X5 X2 X1 Y5 Z4 Z1 Y2 X4 JOINT-4 Tool End-Effector Z3 Y4 JOINT-3 JOINT-2 X3 JOINT-5 JOINT-1 Base Joint Y3 Gambar 3.12 Hubungan Lengan Pengendali dengan Lengan Manusia

14 65 Keterangan : Tabel 3.2 hubungan lengan manusia dengan lengan pengendali Nama Joint Pada Lengan Manusia Pada Lengan Pengendali Joint-1 (Base Joint) Bahu VR-1 Joint-2 Bahu VR-2 Joint-3 Siku VR-3 Joint-4 Pergelangan Telapak Tangan VR-4 Joint-5 Diputar manual dengan tangan kiri VR-5 (letaknya Terpisah) Tool-End-effector Jari Telunjuk VR Hubungan Lengan Pengendali dengan Lengan Robot Lengan pengendali ini merupakan jenis pengendali manual dimana lengan robot hanya akan bergerak jika dikendalikan manual oleh manusia lewat lengan pengendalinya, berikut ini adalah gambar hubungan joint antara lengan pengendali dengan lengan robot

15 X4 Z4 Z5 X5 66 Y4 Y5 X3 Z3 Z2 Y3 Y2 X2 Z1 Y1 X1 Gambar 3.13 Hubungan antara Joint Lengan Pengendali dengan lengan robot Keterangan : Tabel 3.3 hubungan lengan Pengendali dengan lengan Mekanik Robot Nama Joint Pada Lengan Pengendali Pada Lengan Robot Joint-1 (Base Joint) VR1 Servo 1 (Revolute Joint) Joint-2 VR2 Servo 2 (Revolute Joint) Joint-3 VR3 Servo 3 (Revolute Joint) Joint-4 VR4 Servo 4 (Revolute Joint) Joint-5 VR5 (Letaknya Terpisah) Servo 5 (Revolute Joint) Tool-End-effector VR6 Servo 6 (Prismatic Joint)

16 Diagram Blok Sistem Gambar 3.14 Diagram Blok Sistem Dari diagram blok pada gambar 3.3 diatas, dapat dilihat bahwa sistem pada prototype ini terbagi menjadi tiga bagian utama, yaitu : 1. Pusat Pengendali, merupakan rangkaian dari mikrokontroller ATMega8535 yang digunakan sebagai pengendali dari keseluruhan sistem. Mikrokontroller berupa sinyal analog. Besarnya sinyal bergantung pada besarnya simpangan lengan pengendali yang memutar VR. 2. Input, merupakan rangkaian dari VR1, VR2, VR3, VR4, dan VR5 yang berfungsi sebagai pemberi sinyal masukan kepada mikrokontroller berupa sinyal analog. Besarnya sinyal bergantung pada besarnya simpangan lengan pengendali yang memutar VR.

17 68 3. Motor Penggerak, adalah lima buah motor servo yang berfungsi sebagai penggerak dari lengan robot. Dimana putaran dari motor servo bergantung pada lebar pulsa yang diberikan oleh mikrokontroller. 3.5 Cara Kerja System Cara kerja keseluruhan system secara garis besar dapat digambarkan dengan diagram blok lingkar tertutup dibawah ini : r Variable Resisor (Lengan Mekanik) ADC ATMega8535 e Kontroller Actuator (Motor Servo) y Lengan Robot ( ) Driver Motor Servo Gambar 3.15 Diagram Blok Lingkar Tertutup Saat lengan pengendali digerakkan, VR akan ikut berputar dan memberikan besaran input (r) berupa sinyal analog pada mikrokontroller. VR akan memberikan nilai besaran secara terus menerus. Oleh karena itu kualitas VR sangat mempengaruhi kinerja keseluruhan dari sistem. Sinyal analog yang diberikan VR kemudian diubah menjadi sinyal digital oleh internal ADC (Analog to Digital Converter), yang terdapat pada ATMega8535, kemudian mikrokontroller akan memproses semua sinyal digital sesuai dengan program yang telah dibuat. Berdasarkan perintah pada program yang ada, mikrokontroller akan memberikan sinyal keluaran kepada motor servo. Sinyal ini akan

18 69 mengakibatkan motor servo berputar sehingga lengan robot dapat bergerak. Driver pada motor servo akan memberikan sinyal balikan kepada mikrokontroller berupa besarnya PWM yang telah diterima oleh motor servo. 3.6 Perancangan Alat Elektronika Sistem perancangan alat ini terbagi menjadi tiga bagian rangkaian utama, yaitu : bagian rangkaian input, bagian rangkaian catu daya, dan bagian rangkaian pengendali Rangkaian Input VCC1 VR1 VR PA0 C12 10uF 0 Gambar 3.16 Rangkaian Sensor Potensiometer Rangkaian transducer ini menggunakan Variable Resistor (VR) berupa potensiometer sebagai komponen utamanya. Fumgsi dari kapasitor pada rangkaian adalah untuk mengurangi noise. Rangkaian sensor ini berguna untuk memberikan data spesifik kepada mikroprosesor atas tiap tiap pergerakan dari lengan pengendali. VR terletak pada masing masing sendi dari lengan pengendali. VR akan berputar saat lengan pengendali digerakkan. Besar simpangan VR akan sama dengan besar simpangan dari lengan pengendali. Oleh karena itu VR

19 70 akan memberikan sinyal analog yang berbeda beda terhadap tiap tiap sudut dari pergerakan lengan pengendali. Karena VR memberikan sinyal secara terus menerus, maka penggunaan VR yang memiliki tegangan yang tetap pada tiap tiap titiknya akan menambah tingkat kestabilan system. Tingkat ketelitian dari VR akan sangat mempengaruhi pergerakan dari lengan robot Rangkaian Catu Daya Rangkaian catu daya pada sistem ini digunakan untuk menghasilkan tegangan 5 volt DC yang digunakan untuk mengaktifkan mikrokontroller, sensor dan motor servo. Rangkaian ini menggunakan dioda bridge, transistor dan IC regulator. Fungsi dari dioda bridge ini adalah untuk mengubah fase tegangan dari tegangan bolak balik (AC) ke searah (DC). Sedangkan transistor digunakan untuk menguatkan arus yang keluar dari dioda bridge. Dan yang terakhir IC regulator digunakan untuk membatasi tegangan yang akan didistribusikan pada implementasi alat. IC regulator yang digunakan pada rangkaian ini adalah IC regulator 7805.

20 71 Gambar 3.17 Rangkaian Catu Daya Rangkaian Pengendali Mikrokontroller pada rangkaian ini berfungsi sebagai tempat pengendalian alat dimana berisi penyimpanan semua program dan instruksi untuk menjalankan alat secara keseluruhan. Mikrokontroler juga digunakan sebagai pengolah data dari input yang berasal dari sensor sensor kemudian di proses dengan instruksi yang sudah disimpan dalam mikrokontroler sehingga output berupa motor penggerak dapat bekerja sesuai dengan yang diinginkan. Mikrokontroler dapat bekerja dengan memberikan supply berupa tegangan sebesar 5 volt yang dihubungkan pada pin VCC. Pada mikrokontroler ini terdapat 4 buah port dimana masing masing port terdapat 8 buah pin. Port port ini berfungsi sebagai port paralel. Mikrokontroler juga memerlukan rangkaian pendukungnya, rangkaian tersebut antara lain : Power reser dan rangkaian on chip osilator (clock generator). Rangkaian power reset berfungsi untuk mengembalikan program ke posisi awal. Rangkaian ini dibutuhkan apabila terjadi kesalahan (error) pada sistem, sehingga sistem dapat berada pada kondisi semula.

21 72 Mikroprosesor ATMega 8535 memiliki kondisi reset yang berbeda dari mikrokontroler keluarga MCS 51. Pada ATMega8535, reset akan terjadi apabila pin reset diberi logika LOW selama dua siklus mesin. Oleh karena itu dibuatlah rangkaian sistem reset seperti pada gambar 3.6 dibawah ini, Gambar 3.18 Rangkaian Sistem Reset Rangkaian on-chip osilator menggunakan kristal dengan frekuensi MHz dan untuk menstabilkan sistem ditambahkan pula 2 buah kapasitor pada setiap input osilator sebesar 30pF. Berikut ini merupakan rangkaian dasar mikrokontroller ATMega8535 PB0 PB1 PB2 PB3 PB4 PB5 PB6 PB IC1 PB0 (T0) PB1 (T1) PB2 (AIN0) PB3 (AIN1) PB4 (SS) PB5 (MOSI) PB6 (MISO) PB7 (SCK) PA0 (ADC0) PA1 (ADC1) PA2 (ADC2) PA3 (ADC3) PA4 (ADC4) PA5 (ADC5) PA6 (ADC6) PA7 (ADC7) PA0 PA1 PA2 PA3 PA4 PA5 PA6 PA7 PD0 PD1 PD2 PD3 PD4 PD5 PD6 PD PD0 (RXD) PD1 (TDX) PD2 (INT0) PD3 (INT1) PD4 (OC1B) PD5 (OC1A) PD6 (ICP) PD7 (OC2) (TOSC2) PC7 (TOSC1) PC6 PC5 PC4 PC3 PC2 PC1 PC PC7 PC6 PC5 PC4 PC3 PC2 PC1 PC0 X2 X X2 X1 AREF AGND AREF RST 9 RESET AVCC 30 VCC X1 Y X2 AT MEGA 8535 C1 30pF C2 30pF VCC R1 100 SW0 RST C3 RST Gambar 3.19 Rangkaian dasar Mikrokontroller ATMega8535

22 73 Dalam proses pengerjaan, harus diketahui berapa jumlah masukkan dan jumlah keluaran yang diperlukan. Selain itu juga perlu ditentukan komponen mana yang berfungsi sebagai masukkan dan komponen mana yang berfungsi sebagai keluaran, sehingga pengalamatan dapat diberikan. Setelah data yang diperlukan sudah lengkap maka dalam penyusunan program dapat dengan mudah dilakukan sehingga script pemrograman dari sistem kerja tersebut dapat dibuat dengan efektif dan efisien serta sempurna. Berikut ini akan dijabarkan alamat dari input dan output yang digunakan serta kegunaannya diperlihatkan pada tabel 3.4 dan 3.5 sebagai berikut : Tabel 3.4 Alamat input (Lengan Pengendali) pada mikrokontroler Alamat PORT/PIN Input Penggunaan Port A.0 / 40 Sensor VR 1 Port A.1 / 39 Sensor VR 2 Port A.2 / 38 Sensor VR 3 Port A.3 / 37 Sensor VR 4 Port A.4 / 36 Sensor VR 6 Port A.5/35 Sensor VR 5 X1 X2 Clock Generator

23 74 Tabel 3.5 Alamat Output (Lengan Robot) pada mikrokontroler Alamat PORT/PIN Output Penggunaan Port C.0 Motor Servo 1 Port C.1 Motor Servo 2 Port C.2 Motor Servo 3 Port C.3 Motor Servo 4 Port C.4 Motor Servo 6 Port C.5 Motor Servo Perancangan Perangkat Lunak Perangkat lunak pengendali sistem alat ini menggunakan Program bahasa basic yang di download ke memori mikrokontroller ATMega8535. Untuk membuat bahasa basic diperlukan suatu software, dalam hal ini software yang digunakan adalah BasComp ( Basic Compiler ), software ini selain dapat digunakan untuk membuat bahasa basic, dapat juga digunakan untuk mensimulasi hasil pemrograman yang telah dilakukan. Apabila terdapat suatu kesalahan pada program yang telah dibuat disediakan debugger yang dapat dimanfaatkan. Kemudian untuk mendownload semua program yang telah selesai maka digunakan download reader dengan bantuan hardware untuk memindahkannya ke IC mikrokontroller ATMega8535. Pada perancangan program untuk alat ini, penulis melakukan tahap tahap sebagai berikut :

24 1. Mencari data ADC titik nol (awal) dan maximum (akhir) pada motor 75 servo cara ini dilakukan dengan menyesuaikan posisi awal motor servo setelah dipasang pada rancangan hingga menentukan posisi perpindahan sudut terjauh pada motorservo tersebut. 2. Mencari data ADC titik nol (awal) dan maximum (akhir) pada potensiometer Cara ini sama dilakukan dengan dengan cara diatas menentukan posisi awal dan posisi terjauh pergerakan masing masing joint lengan pengendali. 3. Hubungkan Kedua data tersebut (Data motor servo dan potensiometer) untuk mencari rumus persamaannya 4. Setelah Itu Implentasikan di Program Berikut ini adalah Parameter Data yang digunakan untuk mengimplementasikan kedalam program : Mikrokontroler ATMega 8535 Memiliki Resolusi ADC sebesar 10 bit, sehingga data resolusi data yang dapat digunakan adalah 2 10 = 1024 data Masing-Masing Motor Servo pada tiap joint lengan robot Memiliki Titik Maksimum (n ) dan Minimum ( 0 ) untuk Titik 0 khusus pada pencarian data awal ini oleh penulis diasumsikan pada posisi (- maksimum), sebagai contoh jika motor servo maksimum bergerak hingga 180 maka kita anggap posisi 0 adalah pada posisi Kemudian Penulis mencari Data PWM titik maksimum dan minimum dengan cara mencoba menginputkan data PWM Kepada Masing Masing motor

25 76 servo agar dapat juga mengetahui data PWM titik maksimum dan minimumnya. Pergerakannya berikut ini adalah tabel Posisi Maksimum dan Minimum Masing Masing Servo dalam Ruang Kerja Lengan Robot Tersebut Motor Servo Titik Minimum ( n ) Titik Maksimum (n ) Titik Minimum Data ADC PWM (us) Titik Maksimum Data ADC PWM (us) Motor Servo 1 (Base) Motor Servo Motor Servo Motor Servo Motor Servo 5 (End-effector) Posisi Tutup Grip Posisi Buka Grip 80 (Buka Grip) 150 (Tutup Grip) Motor Servo Tabel 3.6 Data Pergerakkan Sudut Maksimum dan Minimum Lengan Robot - Motor Servo Setelah Mendapatkan Data Motor Servo Diatas, Kemudian Mencari Data ADC pada setiap pergerakkan Potensiometer di setiap joint lengan pengendali dengan memposisikan parameter pergerakan sama dengan lengan robot motor servo, berikut ini tabel Data ADC potensiometer :

26 77 Potensio meter Titik batas minimum ( n ) Titik batas maximum (n ) Nilai Minimum ADC Potensiometer Nilai Maksimum ADC Potensiometer VR1 (Base Joint) VR2 (Link 1) VR3 (Link 2) VR4 (Link 3) VR5 (Grip Buka Tutup) VR6 (Putaran Endeffector) Tabel 3.7 Data ADC Potensiometer Pergerakkan Lengan Pengendali berdasarkan sudut maksimum dan minimum Setelah Kedua Data Diperoleh ( Data Motor Sevo dan Data Potensiometer) Maka Penulis Langsung Menghubungkan atau mengkorespondensikan kedua data tersebut agar dapat memperoleh rumus persamaan untuk tiap-tiap joint sebagai berikut :

27 78 Rumus persamaan umumnya adalah : Data Minimum Servo + (Data ADC potensio yang diterima Data minimum ADC Potensio) * Perbandingan selisih maximum minimum data servo dengan Selisih maximum minimum data potensiometer Sebagai Contoh dalam mencari rumus adalah sebagai berikut kita ambil contoh pada Motor Servo 1 : Data Minimum Servo 1 (Sudut -90 ) : 50 us Data Maksimum Servo 1 (Sudut 90 ) : 240 us Maka Selisih Data Maksimum Minimum Motor Servo 1 : = Hasil (1) Data Minimum VR1 (sudut -90 ) : 0 Data Maksimum VR1 (Sudut 90 ) : 620 Maka Selisih Data Maksimum Minimum VR 1 (Potensiometer 1 ) : = Hasil (2) Dari Hasil (1) dan (2), didapat untuk mencari persamaan : = 190 / 620 = 19 / 62...Hasil (3) Setelah itu, Data Min Motor Servo 1 + (Input Data ADC Data Min VR 1) x Hasil (3) Maka Hasil Akhirnya adalah, 50 + (Input Data ADC dari Potensiometer 240) x 19/62 Berikut ini adalah tabel lengkap hasil rumus persamaan untuk tiap-tiap joint yang nantinya rumus ini akan diimplementasikan kedalam program.

28 79 Korespondensi Rumus Persamaan M Servo 1 dan VR ( Input Data ADC 0) * 19/62 M Servo 2 dan VR ( Input Data ADC 240) * 85/316 M Servo 3 dan VR ( Input Data ADC 0) * 7/3 M Servo 4 dan VR ( Input Data ADC 0) * 14/57 M Servo 5 dan VR ( Input Data ADC 0) * 70/13 M Servo 6 dan VR ( Input Data ADC 0) * 180/1000 Tabel 3.8 Rumus Persamaan Korespondensi Data digitsl Servo dan potensiometer Setelah Rumus Persamaan didapat maka penulis langsung mengimplementasikaannya kedalam program. 3.8 Cara Kerja Sistem Program Urutan dari kerja sistem Program harus berdasarkan flowchart yang sudah dibuat. Flow chart ini dibuat untuk memudahkan dalam proses perancangan pemrograman. Gambar 3.8 berikut ini merupakan diagram alir dari rangkaian pengendali

29 80 Start Inisialisasi Input VR 1 Ada Perubahan? Y Baca Perubahan VR1 Konversi Nilai VR1 kedalam nilai digital Gerakkan Motor Servo 1 N Input VR 2 Ada Perubahan? Y Baca Perubahan VR2 Konversi Nilai VR2 kedalam nilai digital Gerakkan Motor Servo 2 N Input VR 3 Ada Perubahan? Y Baca Perubahan VR3 Konversi Nilai VR3 kedalam nilai digital Gerakkan Motor Servo 3 N Input VR 4 Ada Perubahan? Y Baca Perubahan VR4 Konversi Nilai VR 4 kedalam nilai digital Gerakkan Motor Servo 4 N Input VR 5 Ada Perubahan? Y Baca Perubahan VR5 Konversi Nilai VR5 kedalam nilai digital Gerakkan Motor Servo 5 N Input VR 5 Ada Perubahan? Y Baca Perubahan VR6 Konversi Nilai VR6 kedalam nilai digital Gerakkan Motor Servo 6 N Gambar 3.20 Diagram alir cara kerja keseluruhan system

30 81 Pada diagram alir terdapat konversi nilai VR kedalam nilai digital. Mikrokontroler melakukan pengkonversian data analog ke digital dengan menggunakan ADC internal. Pengkonversian dilakukan dengan cara pembacaan multikanal terlebih dahulu. Proses ini dilakukan secara bergantian. Adapun perhitungan dalam program untuk pengkonversian tersebut dapat dijelaskan dengan perhitungan matematis berikut ini : Resolusi ADC = 10 bit = 2 10 = 1024 data digital Data analog : Min = 0 V Max = 5 V Linearitas : Gambar 3.21 Linearitas Data digital dan data analog

31 82 ( x1, y1) = (0,0) ( x2, y2) = (5,1024) y y1 x x1 = y2 y1 x2 x1 y 0 x 0 = y x = x1024 y = 5 VinAna log Data digital = x Dari perhitungan dapat disimpulkan, semakin tinggi resolusi ADC semakin banyak nilai analog yang dikonversikan kedalam nilai digital. Hal tersebut mengakibatkan semakin tinggi tingkat ketelitian sistem karena semakin banyak nilai analog yang dapat diproses Penjelasan Diagram Alir : 1. Pada saat dinyalakan mikrokontroller akan melakukan inisialisasi terlebih dahulu. 2. Kemudian mikrokontroler akan memeriksa VR1, Jika VR1 mengalami perubahan maka terjadi langkah langkah berikut : a. Mikrokontroller akan membaca nilai perubahan VR1 b. Melakukan konversi nilai VR1 kedalam nilai digital c. Menggerakkan motor servo 1 sesuai dengan data yang telah diproses, setelah itu mikrokontroler akan kembali memeriksa VR1

32 83 3. Jika VR1 tidak mengalami perubahan maka mikrokontroler akan berlanjut ke instruksi selanjutnya. 4. Mikrokontroler akan memeriksa VR2, jika VR2 mengalami perubahan maka terjadi langkah langkah berikut : a. Mikrokontroller akan membaca nilai perubahan VR2 b. Melakukan konversi nilai VR2 kedalam nilai digital c. Menggerakkan motor servo 2 sesuai dengan data yang telah diproses, setelah itu mikrokontroler akan kembali memeriksa VR2 5. Jika VR2 tidak mengalami perubahan maka mikrokontroler akan berlanjut ke instruksi selanjutnya. 6. Mikrokontroler akan memeriksa VR3, jika VR3 mengalami perubahan maka terjadi langkah langkah berikut : a. Mikrokontroller akan membaca nilai perubahan VR3 b. Melakukan konversi nilai VR3 kedalam nilai digital c. Menggerakkan motor servo 3 sesuai dengan data yang telah diproses, setelah itu mikrokontroler akan kembali memeriksa VR3 7. Jika VR3 tidak mengalami perubahan maka mikrokontroler akan berlanjut ke instruksi selanjutnya. 8. Mikrokontroler akan memeriksa VR4, jika VR4 mengalami perubahan maka terjadi langkah langkah berikut : a. Mikrokontroller akan membaca nilai perubahan VR4 b. Melakukan konversi nilai VR4 kedalam nilai digital c. Menggerakkan motor servo 4 sesuai dengan data yang telah diproses, setelah itu mikrokontroler akan kembali memeriksa VR4

33 84 9. Jika VR4 tidak mengalami perubahan maka mikrokontroler akan berlanjut ke instruksi selanjutnya. 10. Mikrokontroler akan memeriksa VR5, jika VR5 mengalami perubahan maka terjadi langkah langkah berikut : a. Mikrokontroller akan membaca nilai perubahan VR5 b. Melakukan konversi nilai VR5 kedalam nilai digital c. Menggerakkan motor servo 5 sesuai dengan data yang telah diproses, setelah itu mikrokontroler akan kembali memeriksa VR5 11. Proses ini akan berlangsung terus menerus sampai nilai VR1, VR2, VR3, VR4, dan VR5 tidak mengalami perubahan lagi

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT 3.1 Gambaran Umum Pada bab ini akan dibahas mengenai perencanaan perangkat keras elektronik (hardware) dan pembuatan mekanik robot. Sedangkan untuk pembuatan perangkat

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT 39 BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT 3.1 Gambaran Umum Pada bab ini akan dibahas mengenai perencanaan perangkat keras elektronik (hardware) dan pembuatan mekanik Eskalator. Sedangkan untuk pembuatan

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT 3.1 Gambaran Umum Pada bab ini akan dibahas mengenai perencanaan perangkat keras elektronik (hardware) dan pembuatan mekanik robot. Sedangkan untuk pembuatan perangkat

Lebih terperinci

BAB IV PENGUJIAN ALAT DAN ANALISA

BAB IV PENGUJIAN ALAT DAN ANALISA BAB IV PENGUJIAN ALAT DAN ANALISA 4.1 Tujuan Tujuan dari pengujian alat pada tugas akhir ini adalah untuk mengetahui sejauh mana kinerja sistem yang telah dibuat dan untuk mengetahui penyebabpenyebab ketidaksempurnaan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan mulai pada November 2011 hingga Mei Adapun tempat

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan mulai pada November 2011 hingga Mei Adapun tempat III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan mulai pada November 2011 hingga Mei 2012. Adapun tempat pelaksanaan penelitian ini adalah di Laboratorium Elektronika Dasar

Lebih terperinci

BAB 3 PERANCANGAN SISTEM

BAB 3 PERANCANGAN SISTEM BAB 3 PERANCANGAN SISTEM Perancangan sistem pada timbangan digital sebagai penentuan pengangkatan beban oleh lengan robot berbasiskan sensor tekanan (Strain Gauge) dibagi menjadi dua bagian yaitu perancangan

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN ALAT SIMULASI PEGENDALI LAMPU JARAK JAUH DAN DEKAT PADA KENDARAAN SECARA OTOMATIS

BAB III PERANCANGAN ALAT SIMULASI PEGENDALI LAMPU JARAK JAUH DAN DEKAT PADA KENDARAAN SECARA OTOMATIS BAB III PERANCANGAN ALAT SIMULASI PEGENDALI LAMPU JARAK JAUH DAN DEKAT PADA KENDARAAN SECARA OTOMATIS Pada bab ini menjelaskan tentang perancangan dan pembuatan alat simulasi Sistem pengendali lampu jarak

Lebih terperinci

MICROCONTROLER AVR AT MEGA 8535

MICROCONTROLER AVR AT MEGA 8535 MICROCONTROLER AVR AT MEGA 8535 Dwisnanto Putro, S.T., M.Eng. MIKROKONTROLER AVR Jenis Mikrokontroler AVR dan spesifikasinya Flash adalah suatu jenis Read Only Memory yang biasanya diisi dengan program

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN ALAT

BAB III PERANCANGAN ALAT BAB III PERANCANGAN ALAT 3.1. Identifikasi Kebutuhan Proses pembuatan alat penghitung benih ikan ini diperlukan identifikasi kebutuhan terhadap sistem yang akan dibuat, diantaranya: 1. Perlunya rangkaian

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Perkembangan teknologi dan modernisasi peralatan elektronik dan

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Perkembangan teknologi dan modernisasi peralatan elektronik dan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan teknologi dan modernisasi peralatan elektronik dan komputer telah menyebabkan terjadinya perubahan yang mendasar di dalam kegiatan manusia, di mana manusia

Lebih terperinci

SEBAGAI SENSOR CAHAYA DAN SENSOR SUHU PADA MODEL SISTEM PENGERING OTOMATIS PRODUK PERTANIAN BERBASIS ATMEGA8535

SEBAGAI SENSOR CAHAYA DAN SENSOR SUHU PADA MODEL SISTEM PENGERING OTOMATIS PRODUK PERTANIAN BERBASIS ATMEGA8535 3 PENERAPAN FILM Ba 0,55 Sr 0,45 TiO 3 (BST) SEBAGAI SENSOR CAHAYA DAN SENSOR SUHU PADA MODEL SISTEM PENGERING OTOMATIS PRODUK PERTANIAN BERBASIS ATMEGA8535 23 Pendahuluan Indonesia sebagai negara agraris

Lebih terperinci

BAB IV PENGUJIAN ALAT DAN ANALISA

BAB IV PENGUJIAN ALAT DAN ANALISA BAB IV PENGUJIAN ALAT DAN ANALISA 4.1 Tujuan Tujuan dari pengujian alat pada tugas akhir ini adalah untuk mengetahui sejauh mana kinerja sistem yang telah dibuat dan untuk mengetahui penyebabpenyebab ketidaksempurnaan

Lebih terperinci

3. METODE PENELITIAN

3. METODE PENELITIAN 3. METODE PENELITIAN 3.1. Tempat dan waktu penelitian Penelitian dilakukan di Laboratorium Akustik dan Instrumentasi Kelautan IPB. Waktu penelitian dilaksanakan secara efektif selama 4 bulan terhitung

Lebih terperinci

Bab III METODOLOGI PENELITIAN

Bab III METODOLOGI PENELITIAN 8 Bab III METODOLOGI PENELITIAN Pada bab ini akan dibahas mengenai perangkat keras dan perangkat lunak serta beberapa hal mengenai perancangan sistem keseluruhan sehingga sistem bekerja dengan baik sebagaimana

Lebih terperinci

Kotak Surat Pintar Berbasis Mikrokontroler ATMEGA8535

Kotak Surat Pintar Berbasis Mikrokontroler ATMEGA8535 Kotak Surat Pintar Berbasis Mikrokontroler ATMEGA8535 Parulian Sepriadi, Agus Wahyudi, Iman Fahruzi, Siti Aisyah Politeknik Batam Parkway Street Batam Centre, Batam 24961, Kepri, Indonesia E-mail: [email protected];

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA DAN PENGUJIAN ALAT

BAB IV ANALISA DAN PENGUJIAN ALAT BAB IV ANALISA DAN PENGUJIAN ALAT 4.1 Umum Robot merupakan kesatuan kerja dari semua kerja perangkat penyusunnya. Perancangan robot dimulai dengan menggali informasi dari berbagai referensi, temukan ide,

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI PERANGKAT KERAS DAN PERANGKAT LUNAK SISTEM. Dari diagram sistem dapat diuraikan metode kerja sistem secara global.

BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI PERANGKAT KERAS DAN PERANGKAT LUNAK SISTEM. Dari diagram sistem dapat diuraikan metode kerja sistem secara global. BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI PERANGKAT KERAS DAN PERANGKAT LUNAK SISTEM 3.1 Perancangan Perangkat Keras 3.1.1 Blok Diagram Dari diagram sistem dapat diuraikan metode kerja sistem secara global. Gambar

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dan perancangan tugas akhir ini dilakukan di Laboratorium Terpadu

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dan perancangan tugas akhir ini dilakukan di Laboratorium Terpadu 37 III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian dan perancangan tugas akhir ini dilakukan di Laboratorium Terpadu Teknik Elektro Universitas Lampung dan dilaksanakan mulai bulan Maret 2012 sampai

Lebih terperinci

ROBOT OMNI DIRECTIONAL STEERING BERBASIS MIKROKONTROLER. Muchamad Nur Hudi. Dyah Lestari

ROBOT OMNI DIRECTIONAL STEERING BERBASIS MIKROKONTROLER. Muchamad Nur Hudi. Dyah Lestari Nur Hudi, Lestari; Robot Omni Directional Steering Berbasis Mikrokontroler ROBOT OMNI DIRECTIONAL STEERING BERBASIS MIKROKONTROLER Muchamad Nur Hudi. Dyah Lestari Abstrak: Robot Omni merupakan seperangkat

Lebih terperinci

BAB IV METODE KERJA PRAKTEK

BAB IV METODE KERJA PRAKTEK BAB IV METODE KERJA PRAKTEK sebagai berikut : Metode yang digunakan dalam pengerjaan kerja praktek ini adalah 1. Wawancara, yaitu bertanya secara langsung kepada asisten laboratorium mikrokontroler untuk

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN SISTEM

BAB III PERANCANGAN SISTEM BAB III PERANCANGAN SISTEM Pada bab ini membahas perencanaan dan pembuatan dari alat yang akan dibuat yaitu Perencanaan dan Pembuatan Pengendali Suhu Ruangan Berdasarkan Jumlah Orang ini memiliki 4 tahapan

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN DAN CARA KERJA RANGKAIAN

BAB III PERANCANGAN DAN CARA KERJA RANGKAIAN BAB III PERANCANGAN DAN CARA KERJA RANGKAIAN 3.1 Diagram Blok Rangkaian Secara Detail Pada rangkaian yang penulis buat berdasarkan cara kerja rangkaian secara keseluruhan penulis membagi rangkaian menjadi

Lebih terperinci

BAB 3 PERANCANGAN SISTEM

BAB 3 PERANCANGAN SISTEM BAB 3 PERANCANGAN SISTEM 3.1 Gambaran sistem Gambaran cara kerja sistem dari penelitian ini adalah, terdapat sebuah sistem. Yang didalamnya terdapat suatu sistem yang mengatur suhu dan kelembaban pada

Lebih terperinci

BAB III ANALISA SISTEM

BAB III ANALISA SISTEM BAB III ANALISA SISTEM 3.1 Gambaran Sistem Umum Pembuka pintu otomatis merupakan sebuah alat yang berfungsi membuka pintu sebagai penganti pintu konvensional. Perancangan sistem pintu otomatis ini merupakan

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN SISTEM

BAB III PERANCANGAN SISTEM BAB III PERANCANGAN SISTEM Dalam bab ini penulis akan membahas prinsip kerja rangkaian yang disusun untuk merealisasikan sistem alat, dalam hal ini potensiometer sebagai kontroler dari motor servo, dan

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN DAN KERJA ALAT

BAB III PERANCANGAN DAN KERJA ALAT BAB III PERANCANGAN DAN KERJA ALAT 3.1 DIAGRAM BLOK sensor optocoupler lantai 1 POWER SUPPLY sensor optocoupler lantai 2 sensor optocoupler lantai 3 Tombol lantai 1 Tbl 1 Tbl 2 Tbl 3 DRIVER ATMEGA 8535

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Teknik Elektro Universitas Lampung dilaksanakan mulai bulan Mei 2012 sampai

III. METODE PENELITIAN. Teknik Elektro Universitas Lampung dilaksanakan mulai bulan Mei 2012 sampai 48 III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian dan perancangan tugas akhir dilakukan di Laboratorium Terpadu Teknik Elektro Universitas Lampung dilaksanakan mulai bulan Mei 2012 sampai dengan

Lebih terperinci

Membuat Robot Line Follower Hendawan Soebhakti Dosen Teknik Elektronika Politeknik Negeri Batam

Membuat Robot Line Follower Hendawan Soebhakti Dosen Teknik Elektronika Politeknik Negeri Batam Membuat Robot Line Follower Hendawan Soebhakti Dosen Teknik Elektronika Politeknik Negeri Batam email : [email protected] Robot line follower, adalah sebuah robot yang bisa bergerak mengikuti garis tebal berwarna

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT BAB III PEANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT 3.1. Pendahuluan Dalam Bab ini akan dibahas pembuatan seluruh sistem perangkat yang ada pada Perancangan Dan Pembuatan Alat Aplikasi pengendalian motor DC menggunakan

Lebih terperinci

MICROCONTROLER AVR AT MEGA 8535

MICROCONTROLER AVR AT MEGA 8535 MICROCONTROLER AVR AT MEGA 8535 Dwisnanto Putro, S.T., M.Eng. MIKROKONTROLER AVR Mikrokontroler AVR merupakan salah satu jenis arsitektur mikrokontroler yang menjadi andalan Atmel. Arsitektur ini dirancang

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN. Diagram Blok Sistem. Reset Enter Pilihan Sensor Tetesan Program Mikrokontroler Segment Driver Motor DC Motor DC Gambar, Diagram Blok a. Setting volume/waktu tetesan cairan: pengaturan

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI Arduino Mega 2560

BAB II DASAR TEORI Arduino Mega 2560 BAB II DASAR TEORI Pada bab ini akan dijelaskan teori-teori penunjang yang diperlukan dalam merancang dan merealisasikan skripsi ini. Bab ini dimulai dari pengenalan singkat dari komponen elektronik utama

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN ALAT

BAB III PERANCANGAN ALAT BAB III PERANCANGAN ALAT Pada bab ini menjelaskan tentang perancangan sistem alarm kebakaran menggunakan Arduino Uno dengan mikrokontroller ATmega 328. yang meliputi perancangan perangkat keras (hardware)

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN PERANGKAT KERAS

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN PERANGKAT KERAS BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN PERANGKAT KERAS 3.1. Pendahuluan Perangkat pengolah sinyal yang dikembangkan pada tugas sarjana ini dirancang dengan tiga kanal masukan. Pada perangkat pengolah sinyal

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN SISTEM

BAB III PERANCANGAN SISTEM BAB III PERANCANGAN SISTEM Didalam merancang sistem yang akan dibuat ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelumnya, pertama-tama mengetahui prinsip kerja secara umum dari sistem yang akan dibuat

Lebih terperinci

Sistem Minimum Mikrokontroler. TTH2D3 Mikroprosesor

Sistem Minimum Mikrokontroler. TTH2D3 Mikroprosesor Sistem Minimum Mikrokontroler TTH2D3 Mikroprosesor MIKROKONTROLER AVR Mikrokontroler AVR merupakan salah satu jenis arsitektur mikrokontroler yang menjadi andalan Atmel. Arsitektur ini dirancang memiliki

Lebih terperinci

BAB IV PENGUJIAN ALAT DAN ANALISA

BAB IV PENGUJIAN ALAT DAN ANALISA BAB IV Pengujian Alat dan Analisa BAB IV PENGUJIAN ALAT DAN ANALISA 4. Tujuan Pengujian Pada bab ini dibahas mengenai pengujian yang dilakukan terhadap rangkaian sensor, rangkaian pembalik arah putaran

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI SISTEM

BAB III PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI SISTEM BAB III PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI SISTEM Dalam perancangan dan implementasi sistem akan dijelaskan tentang cara kerja sistem terdapat dalam garis besar perancangan sistem dan diikuti dengan penjelasan

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN ALAT

BAB III PERANCANGAN ALAT BAB III PERANCANGAN ALAT Pada bab ini dibahas tentang pembuatan dan pengujian komponenkomponen sensor pada konveyor berbasis Mikrokontroler Arduino Uno. Pembahasan meliputi pembuatan sistem mekanik, pembuatan

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN SISTEM

BAB III PERANCANGAN SISTEM BAB III PERANCANGAN SISEM 3.1. Perancangan Perangkat Keras Blok diagram yang dibuat pada perancangan tugas akhir ini secara keseluruhan dapat dilihat pada gambar 3.1. Keypad Sensor 1 Sensor 2 Sensor 3

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA DAN PENGUJIAN SISTEM

BAB IV ANALISA DAN PENGUJIAN SISTEM BAB IV ANALISA DAN PENGUJIAN SISTEM 4.1 Pengujian Perangkat Keras (Hardware) Pengujian perangkat keras sangat penting dilakukan karena melalui pengujian ini rangkaian-rangkaian elektronika dapat diuji

Lebih terperinci

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI 4.1 Spesifikasi Sistem 4.1.1 Spesifikasi Perangkat Keras Proses pengendalian mobile robot dan pengenalan image dilakukan oleh microcontroller keluarga AVR, yakni ATMEGA

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN. memungkinkan terjadinya kegagalan atau kurang memuaskan kerja alat yang telah dibuat.

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN. memungkinkan terjadinya kegagalan atau kurang memuaskan kerja alat yang telah dibuat. BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN 3.1 Perancangan Peranvangan merupakan suatu langkah kerja yang penting dalam penyusunan dan pembuatan alat dalam proyek akhir ini, sebab tanpa adanya perancangan yang

Lebih terperinci

BAB III ANALISA MASALAH DAN PERANCANGAN

BAB III ANALISA MASALAH DAN PERANCANGAN BAB III ANALISA MASALAH DAN PERANCANGAN III.1. Analisa Sub bab ini berisikan tentang analisa sistem yang akan dibangun. Sub bab ini membahas teknik pemecahan masalah yang menguraikan sebuah sistem menjadi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA Sudah menjadi trend saat ini bahwa pengendali suatu alat sudah banyak yang diaplikasikan secara otomatis, hal ini merupakan salah satu penerapan dari perkembangan teknologi dalam

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN ALAT. Gambar 3.1 Diagram Blok Pengukur Kecepatan

BAB III PERANCANGAN ALAT. Gambar 3.1 Diagram Blok Pengukur Kecepatan BAB III PERANCANGAN ALAT 3.1 PERANCANGAN PERANGKAT KERAS Setelah mempelajari teori yang menunjang dalam pembuatan alat, maka langkah berikutnya adalah membuat suatu rancangan dengan tujuan untuk mempermudah

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. serta menghubungkan pin mosi, sck, gnd, vcc, miso, serta reset. Lalu di

BAB IV METODE PENELITIAN. serta menghubungkan pin mosi, sck, gnd, vcc, miso, serta reset. Lalu di BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Minimum System ATmega8 Minimum system ATmega8 adalah sebuah perangkat keras yang berfurngsi untuk men-download program yang telah dibuat dengan menggunakan DB25 serta menghubungkan

Lebih terperinci

BAB III PERENCANAAN PERANGKAT KERAS DAN LUNAK

BAB III PERENCANAAN PERANGKAT KERAS DAN LUNAK 21 BAB III PERENCANAAN PERANGKAT KERAS DAN LUNAK 3.1 Gambaran umum Perancangan sistem pada Odometer digital terbagi dua yaitu perancangan perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software). Perancangan

Lebih terperinci

BAB III DESKRIPSI MASALAH

BAB III DESKRIPSI MASALAH BAB III DESKRIPSI MASALAH 3.1 Perancangan Hardware Perancangan hardware ini meliputi keseluruhan perancangan, artinya dari masukan sampai keluaran dengan menghasilkan energi panas. Dibawah ini adalah diagram

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Teknik Elektro Universitas Lampung dilaksanakan mulai bulan Desember 2011

III. METODE PENELITIAN. Teknik Elektro Universitas Lampung dilaksanakan mulai bulan Desember 2011 III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian dan perancangan tugas akhir dilakukan di Laboratorium Terpadu Teknik Elektro Universitas Lampung dilaksanakan mulai bulan Desember 2011 sampai dengan

Lebih terperinci

Seminar Tugas Akhir Juni 2017

Seminar Tugas Akhir Juni 2017 Seminar Tugas Akhir Juni 07 Alat Ukur Maloklusi Overbite pada Gigi ( Fahrul Fadli H.B, Bambang Guruh Irianto, Tribowo Indrato) Jurusan Teknik Elektromedik Politeknik Kesehatan Surabaya Jl. Pucang Jajar

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN PERANGKAT KERAS MOBILE-ROBOT

BAB III PERANCANGAN PERANGKAT KERAS MOBILE-ROBOT BAB III PERANCANGAN PERANGKAT KERAS MOBILE-ROBOT 3.1. Perancangan Sistem Secara Umum bawah ini. Diagram blok dari sistem yang dibuat ditunjukan pada Gambar 3.1 di u(t) + e(t) c(t) r(t) Pengontrol Plant

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN ALAT

BAB III PERANCANGAN ALAT BAB III PERANCANGAN ALAT Perancangan merupakan proses yang kita lakukan terhadap alat, mulai dari rancangan kerja rangkaian hingga hasil jadi yang akan difungsikan. Perancangan dan pembuatan alat merupakan

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN SENSOR PARKIR MOBIL PADA GARASI BERBASIS MIKROKONTROLER ARDUINO MEGA 2560

RANCANG BANGUN SENSOR PARKIR MOBIL PADA GARASI BERBASIS MIKROKONTROLER ARDUINO MEGA 2560 RANCANG BANGUN SENSOR PARKIR MOBIL PADA GARASI BERBASIS MIKROKONTROLER ARDUINO MEGA 2560 Oleh : Andreas Hamonangan S NPM : 10411790 Pembimbing 1 : Dr. Erma Triawati Ch, ST., MT. Pembimbing 2 : Desy Kristyawati,

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT 3.1 Konsep dasar Perancangan Pada bab ini akan dibahas mengenai perencanaan perangkat keras elektronik (hardware) dan pembuatan mekanik robot. Sedangkan untuk pembuatan

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN SISTEM

BAB III PERANCANGAN SISTEM BAB III PERANCANGAN SISTEM 3.1 Prinsip Kerja Sistem Yang Dirancang Pada dasarnya alat yang dibuat ini adalah untuk melakukan suatu transfer data karakter menggunakan gelombang radio serta melakukan pengecekan

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN ALAT

BAB III PERANCANGAN ALAT BAB III PERANCANGAN ALAT Pada bab ini akan dijelaskan mengenai perencanaan pembuatan alat telemetri suhu tubuh.perencanaan dilakukan dengan menentukan spesfikasi system secara umum,membuat system blok

Lebih terperinci

BAB III PEMBUATAN ALAT Tujuan Pembuatan Tujuan dari pembuatan alat ini yaitu untuk mewujudkan gagasan dan

BAB III PEMBUATAN ALAT Tujuan Pembuatan Tujuan dari pembuatan alat ini yaitu untuk mewujudkan gagasan dan BAB III PEMBUATAN ALAT 3.. Pembuatan Dalam pembuatan suatu alat atau produk perlu adanya sebuah rancangan yang menjadi acuan dalam proses pembuatanya, sehingga kesalahan yang mungkin timbul dapat ditekan

Lebih terperinci

BAB III ANALISIS MASALAH DAN RANCANGAN ALAT

BAB III ANALISIS MASALAH DAN RANCANGAN ALAT BAB III ANALISIS MASALAH DAN RANCANGAN ALAT III.1. Analisa Permasalahan Masalah yang dihadapi adalah bagaimana untuk menetaskan telur ayam dalam jumlah banyak dan dalam waktu yang bersamaan. Karena kemampuan

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT 3.1. Perancangan Alat 3.1.1. Blok Diagram Blok kontrol sistem penjejak matahari 4 arah adalah sebagai berikut : Gambar 3.1 Blok Perancangan Sistem Kontrol Sistem

Lebih terperinci

BAB III ANALISA DAN CARA KERJA RANGKAIAN

BAB III ANALISA DAN CARA KERJA RANGKAIAN BAB III ANALISA DAN CARA KERJA RANGKAIAN 3.1 Analisa Rangkaian Secara Blok Diagram Pada rangkaian yang penulis buat berdasarkan cara kerja rangkaian secara keseluruhan penulis membagi rangkaian menjadi

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Kegiatan penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2012 sampai bulan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Kegiatan penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2012 sampai bulan BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penalitian Kegiatan penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2012 sampai bulan Juni 2012 yang dilaksanakan di Laboratorium Biofisika Departemen Fisika

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT 3.1 Pendahuluan Bab ini akan membahas pembuatan seluruh perangkat yang ada pada Tugas Akhir tersebut. Secara garis besar dibagi atas dua bagian perangkat yaitu: 1.

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI PERANGKAT KERAS

BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI PERANGKAT KERAS BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI PERANGKAT KERAS 3.1. Spesifikasi Perancangan Perangkat Keras Secara sederhana, perangkat keras pada tugas akhir ini berhubungan dengan rancang bangun robot tangan. Sumbu

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT Dalam bab ini akan dibahas mengenai proses perancangan mekanik pembersih lantai otomatis serta penyusunan rangkaian untuk merealisasikan sistem alat. Dalam hal ini

Lebih terperinci

MANAJEMEN ENERGI PADA SISTEM PENDINGINAN RUANG KULIAH MELALUI METODE PENCACAHAN KEHADIRAN & SUHU RUANGAN BERBASIS MIKROKONTROLLER AT89S51

MANAJEMEN ENERGI PADA SISTEM PENDINGINAN RUANG KULIAH MELALUI METODE PENCACAHAN KEHADIRAN & SUHU RUANGAN BERBASIS MIKROKONTROLLER AT89S51 MANAJEMEN ENERGI PADA SISTEM PENDINGINAN RUANG KULIAH MELALUI METODE PENCACAHAN KEHADIRAN & SUHU RUANGAN BERBASIS MIKROKONTROLLER AT89S51 TUGAS UTS MATA KULIAH E-BUSSINES Dosen Pengampu : Prof. M.Suyanto,MM

Lebih terperinci

PEMROGRAMAN ROBOT PENJEJAK GARIS BERBASIS MIKROKONTROLER

PEMROGRAMAN ROBOT PENJEJAK GARIS BERBASIS MIKROKONTROLER PEMROGRAMAN ROBOT PENJEJAK GARIS BERBASIS MIKROKONTROLER Oleh : Ihyauddin, S.Kom Disampaikan pada : Pelatihan Pemrograman Robot Penjejak Garis bagi Siswa SMA Negeri 9 Surabaya Tanggal 3 Nopember 00 S SISTEM

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI SISTEM

BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI SISTEM BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI SISTEM 3. Perancangan Perangkat Keras Setelah mempelajari teori yang menunjang dalam merealisasikan alat maka langkah berikutnya adalah membuat suatu rancangan perangkat

Lebih terperinci

BAB 4 ANALISIS SIMULASI KINEMATIKA ROBOT. Dengan telah dibangunnya model matematika robot dan robot sesungguhnya,

BAB 4 ANALISIS SIMULASI KINEMATIKA ROBOT. Dengan telah dibangunnya model matematika robot dan robot sesungguhnya, 92 BAB 4 ANALISIS SIMULASI KINEMATIKA ROBOT Dengan telah dibangunnya model matematika robot dan robot sesungguhnya, maka diperlukan analisis kinematika untuk mengetahui seberapa jauh model matematika itu

Lebih terperinci

PENGENDALIAN SUDUT PADA PERGERAKAN TELESKOP REFRAKTOR MENGGUNAKAN PERSONAL COMPUTER

PENGENDALIAN SUDUT PADA PERGERAKAN TELESKOP REFRAKTOR MENGGUNAKAN PERSONAL COMPUTER Jurnal Sistem Komputer Unikom Komputika Volume 1, No.1-2012 PENGENDALIAN SUDUT PADA PERGERAKAN TELESKOP REFRAKTOR MENGGUNAKAN PERSONAL COMPUTER Usep Mohamad Ishaq 1), Sri Supatmi 2), Melvini Eka Mustika

Lebih terperinci

BAB 3 PERANCANGAN SISTEM. pada sistem pengendali lampu telah dijelaskan pada bab 2. Pada bab ini akan dijelaskan

BAB 3 PERANCANGAN SISTEM. pada sistem pengendali lampu telah dijelaskan pada bab 2. Pada bab ini akan dijelaskan BAB 3 PERANCANGAN SISTEM Konsep dasar mengendalikan lampu dan komponen komponen yang digunakan pada sistem pengendali lampu telah dijelaskan pada bab 2. Pada bab ini akan dijelaskan perancangan sistem

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN. Pada bab ini akan dibahas mengenai beberapa hal dasar tentang bagaimana. simulasi mobil automatis dirancang, diantaranya adalah :

BAB III PERANCANGAN. Pada bab ini akan dibahas mengenai beberapa hal dasar tentang bagaimana. simulasi mobil automatis dirancang, diantaranya adalah : BAB III PERANCANGAN Pada bab ini akan dibahas mengenai beberapa hal dasar tentang bagaimana simulasi mobil automatis dirancang, diantaranya adalah : 1. Menentukan tujuan dan kondisi pembuatan simulasi

Lebih terperinci

BAB 3 PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT

BAB 3 PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT BAB 3 PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT 3.1 Blok Diagram Blok diagram ini dimaksudkan untuk dapat memudahkan penulis dalam melakukan perancangan dari karya ilmiah yang dibuat. Secara umum blok diagram dari

Lebih terperinci

BAB IV PENGUJIAN ALAT DAN ANALISA HASIL PENGUJIAN

BAB IV PENGUJIAN ALAT DAN ANALISA HASIL PENGUJIAN 34 BAB IV PENGUJIAN ALAT DAN ANALISA HASIL PENGUJIAN Pada bab ini dilakukan proses akhir dari pembuatan alat Tugas Akhir, yaitu pengujian alat yang telah selesai dirakit. Tujuan dari proses ini yaitu agar

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN DAN PERANCANGAN SISTEM. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan dan

BAB III METODE PENELITIAN DAN PERANCANGAN SISTEM. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan dan BAB III MEODE PENELIIAN DAN PERANCANGAN SISEM 3.1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan dan penelitian laboratorium. Studi kepustakaan dilakukan sebagai penunjang

Lebih terperinci

BAB III ANALISIS MASALAH DAN RANCANGAN PROGRAM

BAB III ANALISIS MASALAH DAN RANCANGAN PROGRAM BAB III ANALISIS MASALAH DAN RANCANGAN PROGRAM III.1. Analisa Masalah Sistem pendeteksi asap rokok adalah suatu alat yang berkerja dengan cara mendeteksi keberadaan asap rokok dalam ruangan. Dalam rangkaian

Lebih terperinci

Rancang Bangun Alat Pengukur Tingkat Keolengan Benda Secara Digital

Rancang Bangun Alat Pengukur Tingkat Keolengan Benda Secara Digital Herny Februariyanti Fakultas Teknologi Informasi, Universitas Stikubank Semarang email : [email protected] Abstrak : Pemanfaatkan komputer sebagai pendukung alat ukur, akan memberikan kemudahan dalam

Lebih terperinci

BAB II KONSEP DASAR PERANCANGAN

BAB II KONSEP DASAR PERANCANGAN BAB II KONSEP DASAR PERANCANGAN Pada bab ini akan dijelaskan konsep dasar sistem keamanan rumah nirkabel berbasis mikrokontroler menggunakan modul Xbee Pro. Konsep dasar sistem ini terdiri dari gambaran

Lebih terperinci

BAB 3 PERANCANGAN SISTEM

BAB 3 PERANCANGAN SISTEM BAB 3 PERANCANGAN SISTEM Pada bab ini membahas tentang perancangan sistem yang dibuat dimana diantaranya terdiri dari penjelasan perancangan perangkat keras, perancangan piranti lunak dan rancang bangun

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN SISTEM

BAB III PERANCANGAN SISTEM BAB III PERANCANGAN SISTEM Bab ini akan membahas tentang perancangan sistem deteksi keberhasilan software QuickMark untuk mendeteksi QRCode pada objek yang bergerak di conveyor. Garis besar pengukuran

Lebih terperinci

Rancang Bangun Prototype Alat Sistem Pengontrol Kemudi Kapal Berbasis Mikrokontroler

Rancang Bangun Prototype Alat Sistem Pengontrol Kemudi Kapal Berbasis Mikrokontroler Rancang Bangun Prototype Alat Sistem Pengontrol Kemudi Kapal Berbasis Mikrokontroler Muhammad Taufiqurrohman Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik dan Ilmu Kelautan Universitas Hang Tuah Jl. Arif Rahman

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN Rancangan Mesin Panjang Terpal PUSH BUTTON. ATMega 128 (Kendali Kecepatan Motor Dua Arah)

BAB IV PEMBAHASAN Rancangan Mesin Panjang Terpal PUSH BUTTON. ATMega 128 (Kendali Kecepatan Motor Dua Arah) BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Identifikasi Masalah Dalam proses produksi hal yang paling menonjol untuk menghasilkan suatu barang produksi yang memiliki kualitas yang bagus adalah bahan dan mesin yang digunakan.

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN Pada bab ini akan dijelaskan langkah-langkah yang akan digunakan dalam menyelesaikan perangkat keras (hardware) yang berupa komponen fisik penunjang seperti IC AT89S52 dan perangkat

Lebih terperinci

PENGGUNAAN MOTOR DC SERVO SEBAGAI PENGGERAK UTAMA LENGAN ROBOT BERJARI PENGIKUT GERAK LENGAN MANUSIA BERBASIS MIKROKONTROLER LAPORAN AKHIR

PENGGUNAAN MOTOR DC SERVO SEBAGAI PENGGERAK UTAMA LENGAN ROBOT BERJARI PENGIKUT GERAK LENGAN MANUSIA BERBASIS MIKROKONTROLER LAPORAN AKHIR PENGGUNAAN MOTOR DC SERVO SEBAGAI PENGGERAK UTAMA LENGAN ROBOT BERJARI PENGIKUT GERAK LENGAN MANUSIA BERBASIS MIKROKONTROLER LAPORAN AKHIR Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Menyelesaikan Pendidikan Diploma

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN SISTEM

BAB III PERANCANGAN SISTEM BAB III PERANCANGAN SISTEM 3.1. Rancangan Sistem Secara Keseluruhan Pada dasarnya Pengebor PCB Otomatis ini dapat difungsikan sebagai sebuah mesin pengebor PCB otomatis dengan didasarkan dari koordinat

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN STAND ALONE RFID READER. Dalam penelitian ini, perancangan sistem meliputi :

BAB III PERANCANGAN STAND ALONE RFID READER. Dalam penelitian ini, perancangan sistem meliputi : BAB III PERANCANGAN STAND ALONE RFID READER 3.1 Perancangan Sistem Dalam penelitian ini, perancangan sistem meliputi : a. perancangan perangkat keras (hardware) dengan membuat reader RFID yang stand alone

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. DIAGRAM ALUR PENELITIAN Metode penelitian merupakan sebuah langkah yang tersusun secara sistematis dan menjadi pedoman untuk menyelesaikan masalah. Metode penelitian merupakan

Lebih terperinci

Gambar 2.1 Mikrokontroler ATMega 8535 (sumber :Mikrokontroler Belajar AVR Mulai dari Nol)

Gambar 2.1 Mikrokontroler ATMega 8535 (sumber :Mikrokontroler Belajar AVR Mulai dari Nol) BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Mikrokontroler Mikrokontroler merupakan keseluruhan sistem komputer yang dikemas menjadi sebuah chip di mana di dalamnya sudah terdapat Mikroprosesor, I/O Pendukung, Memori

Lebih terperinci

BAB III PEMBUATAN ALAT. 1. Alat yang dibuat berupa pengedali motor DC berupa miniatur konveyor.

BAB III PEMBUATAN ALAT. 1. Alat yang dibuat berupa pengedali motor DC berupa miniatur konveyor. BAB III PEMBUATAN ALAT 3.1 Spesifikasi Alat 1. Alat yang dibuat berupa pengedali motor DC berupa miniatur konveyor. 2. karena berupa miniatur maka motor DC yand dipakai hanya menggunakan motor DC dengan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Perancangan Alat Dalam merealisasikan sebuah sistem elektronik diperlukan perancangan komponen secara tepat dan akurat. Tahap perancangan sangat penting dilakukan untuk mempermudah

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3. 1. Blok Diagram Hot Plate Program LCD TOMBOL SUHU MIKROKON TROLER DRIVER HEATER HEATER START/ RESET AVR ATMega 8535 Gambar 3.1. Blok Diagram Hot Plate Fungsi masing-masing

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN LENGAN ROBOT PENGIKUT PERGERAKAN LENGAN DAN JARI MANUSIA MENGGUNAKAN FLEX SENSOR

RANCANG BANGUN LENGAN ROBOT PENGIKUT PERGERAKAN LENGAN DAN JARI MANUSIA MENGGUNAKAN FLEX SENSOR C3 Seminar Nasional Teknologi Informasi 2016 RANCANG BANGUN LENGAN ROBOT PENGIKUT PERGERAKAN LENGAN DAN JARI MANUSIA MENGGUNAKAN FLEX SENSOR Fadhli Dzil Ikram 1), Ratna Aisuwarya, 2), Moh Hafiz Hersyah,

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2015 sampai dengan Agustus 2015.

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2015 sampai dengan Agustus 2015. 44 III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2015 sampai dengan Agustus 2015. Perancangan, pembuatan dan pengambilan data dilaksanakan di Laboratorium

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1.1 Penelitian Terdahulu Sebagai bahan pertimbangan dalam penelitian ini akan dicantumkan beberapa hasil penelitian terdahulu : Penelitian yang dilakukan oleh Universitas Islam

Lebih terperinci

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA RANGKAIAN

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA RANGKAIAN BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA RANGKAIAN Dalam bab ini penulis akan mengungkapkan dan menguraikan mengenai persiapan komponen dan peralatan yang dipergunakan serta langkah langkah praktek, kemudian menyiapkan

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN. Perancangan tersebut mulai dari: spesifikasi alat, blok diagram sampai dengan

BAB III PERANCANGAN. Perancangan tersebut mulai dari: spesifikasi alat, blok diagram sampai dengan 41 BAB III PERANCANGAN Pada bab ini akan menjelaskan perancangan alat yang akan penulis buat. Perancangan tersebut mulai dari: spesifikasi alat, blok diagram sampai dengan perancangan rangkaian elektronik,

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN SISTEM. Secara garis besar rangkaian pengendali peralatan elektronik dengan. blok rangkaian tampak seperti gambar berikut :

BAB III PERANCANGAN SISTEM. Secara garis besar rangkaian pengendali peralatan elektronik dengan. blok rangkaian tampak seperti gambar berikut : BAB III PERANCANGAN SISTEM 3.1. Diagram Blok Secara garis besar rangkaian pengendali peralatan elektronik dengan menggunakan PC, memiliki 6 blok utama, yaitu personal komputer (PC), Mikrokontroler AT89S51,

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil dari perancangan perangkat keras sistem penyiraman tanaman secara

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil dari perancangan perangkat keras sistem penyiraman tanaman secara IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Realisasi Perangkat Keras Hasil dari perancangan perangkat keras sistem penyiraman tanaman secara otomatis menggunakan sensor suhu LM35 ditunjukkan pada gambar berikut : 8 6

Lebih terperinci

MIKROKONTROLER Arsitektur Mikrokontroler AT89S51

MIKROKONTROLER Arsitektur Mikrokontroler AT89S51 MIKROKONTROLER Arsitektur Mikrokontroler AT89S51 Ringkasan Pendahuluan Mikrokontroler Mikrokontroler = µp + Memori (RAM & ROM) + I/O Port + Programmable IC Mikrokontroler digunakan sebagai komponen pengendali

Lebih terperinci

BAB III PERENCANAAN SISTEM DAN PEMBUATAN ALAT

BAB III PERENCANAAN SISTEM DAN PEMBUATAN ALAT BAB III PERENCANAAN SISTEM DAN PEMBUATAN ALAT Dalam bab ini akan dibahas pembuatan dan perancangan seluruh sistem perangkat dari Sistem Miniatur Palang Pintu Otomatis Kerata Api Dengan Identifikasi RFID.

Lebih terperinci