|
|
|
- Widya Kusumo
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Perencanaan Tambang Dan Perencanaan Teknis Reklamasi Pasca Tambang Pada Tambang Batuan Di Dusun Srumbung, Desa Segoroyoso, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, DIY Sarwo Edy Lewier 1, Muh. Fathin Firaz 2, Yeremias K. L. Killo 3, Yusias Andrie 4 1,2,3,4, Mahasiswa Program Magister Teknik Pertambangan UPN "Veteran" Yogyakarta [email protected] Abstrak Penambangan bahan tambang batuan berupa breksi tufan dan batupasir tufan di Dusun Srumbung Desa Segoroyoso, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, DIY dikategorikan ke dalam penambangan rakyat dengan sistem penambangan terbuka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar tingkat perubahan lahan akibat kegiatan penambangan bahan tambang batuan dan upaya reklamasi yang tepat untuk memulihkan kualiatas lingkungan akibat dampak dari kegiatan penambangan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey, pemetaan, wawancara, analisis laboratorium, analisis studio. Arahan pengelolaan yang dapat dilakukan di daerah penelitian adalah melalui pendekatan secara teknis yaitu membuat perencanaan tambang (good mining practice) untuk mendukung perencanaan reklamasi tambang. Ukuran lebar jalan tambang 6 m dengan panjang jalan 30 m (grade 10%), tinggi dinding jenjang 3 m dengan sudut dinding jenjang 45 0, sedangkan untuk lebar jenjang 15 m. Upaya reklamasi yang akan dilakukan pada rencana reklamasi tahapan 1 dan 3 adalah kegiatan revegetasi dengan tanaman sawo. Dimensi pot tanam 1 m 3 dengan jarak antar pot tanam 6 x 6 m. Rencana reklamasi tahapan 2 direncanakan akan dilakukan pembangunan ruko-ruko dan rumah tinggal. Kata Kunci: penambangan, reklamasi, tingkat perubahan lahan. 1. Pendahuluan Dampak dari kegiatan penambangan rakyat berupa breksi tufan mengakibatkan perubahan bentuklahan, sehingga perlu adanya kegiatan reklamasi dan perencanaan pasca tambang. Kegiatan reklamasi bertujuan untuk memulihkan, memperbaiki atau menata kegunaan lahan yang terganggu sebagai akibat kegiatan usaha pertambangan agar dapat berfungsi dan berdaya guna sesuai peruntukannya. Kegiatan penelitian ini bertujuan guna mengetahui peningkatan dampak perubahan lahan terhadap lingkungan akibat kegiatan pertambangan rakyat di Dusun Srumbung, Desa Segoroyoso (lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 2) 2. Metode Metode penelitian yang digunakan berdasarkan pada parameter fisik, kimia dan informasi yang berhubungan dengan penelitian dilakukan dengan cara metode pemetaan, survei, pengharkatan, wawancara, analisis laboratorium, analisis studio. 2.1 Metode Pengumpulan Data Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah metode sampling sistematis yaitu sengaja dengan memilih tempat yang mengalami perubahan lahan dan tempat yang diduga terkena dampak akibat kegiatan penambangan bahan tambang batuan. Penentuan titik sampling dilakukan secara menyebar namun tetap memperhatikan batas lokasi penelitian. Sampel yang diambil di lokasi penelitian antara lain pengukuran struktur geologi (kekar, strike-dip bidang perlapisan), pengukuran tinggi muka airtanah, pengamatan jalan, pengambilan sampel batuan (uji sifat fisik dan uji kuat geser) dan tanah (uji kandungan usur hara makro) 2.2 Metode Analisis Data Metode analisis data yang digunakan adalah metode analisis kuantitatif. Metode ini diterapkan karena data yang diperoleh dilakukan analisis dan memberikan keluaran yang bersifat kuantitatif. Uji laboratorium untuk sifat fisik dan uji kuat geser batuan dilakukan untuk mengetahui seberapa besar sudut geser dalam dan kohesi pada batuan sehingga dapat digunakan sebagai penentu faktor keamanan. Uji laboratorium untuk kandungan unsur hara makro tanah dilakukan untuk mengetahui seberapa besar kandungan unsur hara dalam tanah guna mendukung perencanaan reklamasi. 3. Hasil dan Pembahasan Bagian ini berisi hasil analisis dan pembahasan hasil analisis. Uraikan secara terstruktur, rinci, lengkap dan padat, sehingga pembaca dapat mengikuti alur analisis dan diskusi peneliti dengan baik. Uraian pada bagian ini dapat menggunakan sub judul sesuai dengan poin-poin analisis dan pembahasan yang ingin dijelaskan 339
2 oleh penulis. Analisis dan pembahasan dapat dilengkapi dengan tabel dan gambar sehingga lebih jelas dan menarik dengan tata cara seperti yang dijelaskan berikut ini. Parameter yang diteliti guna menentukan tingkat perubahan lahan pada tambang batuan di Dusun Srumbung, Desa Segoroyoso, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, yaitu (1) batas tepi galian, (2) batas kedalaman galian dari permukaan tanah awal, (3) relief dasar galian, (4) batas kemiringan tebing galian, (5) tinggi dinding galian, (6) kondisi jalan, (7) tutupan vegetasi, (8) erosi dan gerakan massa tanah, (9) upaya reklamasi. Hasil analisis dapat dilihat pada Tabel 1. Tanah di lokasi penelitian merupakan tanah latosol yang karaterisitik dari tanah ini adalah berwarna merah yang umumnya berada pada lapisan dalam. Jenis tanah ini sangat baik dalam meyerap air. Berdasarkan analisis laboratorium di BPTP Yogyakarta parameter kualitas tanah berdasarkan sifat fisik dan kimia yang dianalisis yaitu: ph H 2 O, tekstur (pasir, debu, liat), C-org, N-total, dan K-tersedia. Hasil dari analisis kualitas tanah ini akan digunakan sebagai dasar penanaman tanaman untuk mendukung kegiatan reklamasi yang direncanakan. Secara rinci hasil analisis kualitas tanah berdasarkan sifat fisik dan kimia (dapat dilihat pada Tabel 2). Hasil Analisis Kualitas Tanah Berdasarkan Sifat Fisik dan Kimia. Sedangkan untuk hasil mekanika batuan yang dianalisis dilakukan di laboratoirum mekanikan batuan Jurusan Tambang UPN V Yogyakarta, yang mana hasil dari analisis mekanika batuan berupa uji sifat fisik dan uji kkuat geser akan digunakan sebagai acuan dalam membuat geometri lereng yang sesuai dengan karakteristik batuan sehingga dalam perencanaann tambang yang dirancangkan akan sesuai dengan penambangan yang baik dan benar (good mining practice). Berdasarkan hasil pengujian sifat fisik batuan data yang akan diperlukan adalah Unit weight batuan breksi tufan dan batupasir tufan, sedangkan untuk uji kuat geser yang diperlukan adalah kohesi dan sudut geser dalam dari breksi tufan dan batupasir tufan. Data - data tersebut akan digunakan sebagai penentu faktor keamanan (safety factor) dalam rancangan geometri lereng. Secara rinci hasil analisis mekanika batuan berdasarkan uji sifat fisik dan uji kuat geser (dapat dilihat pada Tabel 3). Berdasarkan hasil pengukuran batas tepi galian diukur dengan menggunakan alat berupa meteran, hasil pengukuran dan pengamatan dilakukan dari 3 titik pengukuran menunjukkan bahwa pada lokasi penambangan mempunyai batas tepi galian rata-rata < 3 meter dari tepi kepemilikan, berarti tolok ukurnya rusak atau dengan harkat/skor 3 Hasil pengukuran di lapangan dengan 4 titik pengukuran dan rerata bahwa kedalaman galian pada lokasi penambangan batupasir tufan dan breksi tufan adalah 1,45 meter diatas permukaan air tertinggi, maka memiliki kriteria baik (harkat 1) Berdasarkan hasil pengamatan dan pengukuran dilakukan dari 4 titik pengukuran, pengukuran relief dasar galian terendah berkisar antara 1 m sampai 3,3 m dibawah topografi terendah di sekitarnya, maka untuk kondisi relief dasar galian termasuk dalam klasifikasi tolok ukur rusak atau dengan harkat/skor 3. Berdasarkan hasil pengamatan dan pengukuran di lapangan, masing-masing kemiringan lereng galian di empat titik, di lokasi penambangan ditemukan kondisi lereng yang vertikal, hasil pengukuran didapatkan rata-rata kemiringan tebing galian 80º di lokasi penambangan maka kemiringan lereng lebih besar > 50% sehingga tolok ukur untuk parameter ini dinyatakan rusak atau dengan harkat/skor 3. Berdasarkan hasil pengukuran dan pengamatan dilakukan dari beberapa titik pengukuran tinggi dinding galian di lokasi penelitian berkisar antara 5,5 18 meter, maka untuk kondisi tinggi dinding galian termasuk dalam klasifikasi tolok ukur rusak atau dengan harkat/skor 3. kondisi jalan menuju lokasi penambangan berupa jalan raya yang masih sangat baik karena baru diaspal kembali sedangkan untuk jalan tanah berbatuan atau bukan jalan aspal kondisinya masih baik hanya sedikit bergelombang, sehingga untuk kondisi jalan di lokasi penelitian masih termasuk dalam klasifikasi tolok ukur baik atau dengan harkat/skor 1. Pada saat musim kemarau di lokasi penambangan tidak ada sama sekali vegetasi yang tumbuh. Setelah pada saat musim hujan vegetasi yang tumbuh di lokasi penambangan hanya sedikit, dengan tutupan vegetasi < 30% sehingga dengan kondisi lahan bekas galian berupa hamparan lahan kosong maka tutupan vegetasi di lokasi penambangan termasuk dalam klasifikasi tolok ukur rusak atau dengan harkat/skor 3. Dari hasil survei yang dilakukan di sekitar lokasi penambangan, ditemukan erosi lembar, erosi alur pada dinding-dinding galian yang penyebarannya tidak terlalu luas. Sedangkan jenis gerakan massa tanah dan/atau batuan yang berada pada lokasi penambangan dan sekitarnya berupa runtuhan batu (rock fall) dan gelinciran batu. Berdasarkan pengamatan erosi dan gerakan massa tanah dan/atau batuan pada lokasi penelitian masuk dalam kriteria baik dengan nilai harkat 1. Kondisi lahan bekas galian kondisinya berupa hamparan lahan kosong termasuk dalam klasifikasi tolok ukur rusak atau dengan 340
3 harkat/skor 3 atau belum adanya upaya reklamasi. Dari hasil evaluasi terhadap sembilan parameter tersebut, sebagian besar parameter-parameter yang diteliti mempunyai kriteria rusak dengan kondisi lahan mengalami perubahan menuju kerusakan lahan dengan skor 21, termasuk dalam kelas II yaitu Perubahan lahan Sedang. Berdasarkan hasil analisis kualitas tanah diapatkan bahwa ketersediaan unsur hara makro berupa C-org, N-total, dan K-tersedia kurang dari standar. Dimana C-org kurang dari 1% yaitu 0,76 0,80%, N-Total kurang dari 0,1% yaitu 0,06% yang sangat berpengauh terhadap pertumbuhan tanaman, K-Tersedia kurang dari 0,60 me/100g yaitu 0,29 0,30 me/100g. Namun untuk meningkatkan kadar unsur hara makro dalam tanah hanya perlu diberikan pupuk NPK dan pupuk organik. Berdasarkan hasil analisis laboratorium mekanika batuan, didapatkan dari hasil pengujian sifat fisik breksi tufan 19,2217 KN/m 3 sedangkan untuk batupasir tufan 19,1237 KN/m 3. Untuk hasil pengujian uji kuat geser didapatkan kohesi dari breksi tufan 147,968 KN/m 2 dan batupasir tufan 281,884 KN/m2, sedangkan sudut geser dalam dari breksi tufan 42,55 0 dan batupasir tufan 36,01 0. Dengan hasil tersebut kemudian kaji dengan mencari nilai faktor keamanan guna untuk sebagai dasar perencanaan rancangan geometri lereng yang sesuai, mengingat tambang di Dusun Srumbung ini merupakan tambang rakyat yang belum memiliki desain tambang yang baik. analisis kestabilan lereng yang dibuat berdasarkan hasil pengujian sifat fisik dan uji kuat geser didapatkan untuk lereng dengan tinggi dinding galian 18 meter dan kemiringan 45 0 memiliki nilai faktor keamanan untuk single slope 1,795 dan overall slope 3,718, kemiringan 70 0 memiliki nilai faktor keamanan untuk single slope 1,061 dan overall slope 2,575, kemiringan 90 0 memiliki nilai faktor keamanan untuk single slope 0,005 dan overall slope 2,501 (dapat dilihat pada Tabel 4). Dari hasil tersebut maka perencanaan lereng yang aman berdasarkan faktor keamanan adalah kemiringan lereng Mengingat lokasi penambangan berada dekat sesar oyo yang merupakan pusat gempa bantul tahun 2006, sehingga perlunya perencanaan geometri lereng yang sangat stabil dan aman. Berdasarkan tingkat perubahan lahan sedang akibat kegiatan penambangan bahan tambang batuan dan peta perencanaan reklamasi, maka di lokasi penelitian akan dilakukan 3 tahapan reklamasi, dimana untuk tahapan 1 dan 3 akan dilakukan kegiatan revegetasi. Kegiatan revegetasi pada lahan pasca tambang dalam reklamasi tahapan ini yang ditanami tanaman sawo, bertujuan nantinya tanaman ini akan menjadi tanaman budidaya untuk masyarakat di Dusun Srumbung sebagai mata pencaharian untuk peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat. Dalam perencanaan reklamasi tahapan 1 dan 3 terlebih dahulu dimulai dari kegiatan penataan lahan bekas tambang yang masih belum rata, kemudian setelah itu akan dilakukan penyebaran overburden untuk nantinya akan membantu perakaran tanaman dalam upaya reklamasi. Kegiatan selanjutnya yang akan dilakukan adalah perancangan sistem pot/lubang tanam yang bertujuan untuk meminimalisir pemakaian top soil dalam kegiatan reklamasi, setelah itu dilanjutkan dengan teknik penanaman tanaman yang menentukan keberhasilan dari upaya reklamasi. Sistem penataan lahan yang digunakan dalam kegiatan reklamasi dalam sistem perataan tanah. Penataan yang dilakukan pada lokasi penelitian akan menggunakan alat Bulldozer Type CAT D 9 R. Alat ini kegunaannya untuk meratakan permukaan lahan yang akan direklamasi, khususnya pada tahapan reklamasi 1 dan 3. Setelah dilakukan perataan lahan maka akan dilakukan peyebaran lapisan tanah penutup overburden secara merata dengan ketebalan 1,5 m di seluruh permukaan lahan yang akan direklamasi. Ketersediaan overburden di lokasi penelitian adalah sebanyak ,75 LCM, sedangkan total kebutuhan overburden yang diperlukan dalam sistem perataan tanah pada tahapan reklamasi tahap 1 dan 3 adalah sebanyak 9750,04 BCM. Kemudian untuk rancangan pot/lubang tanam akan dibuat pada lahan yang telah dilapisi dengan overburen dan yang telah diratakan. Volume setiap pot/lubang tanam adalah sebesar 1 m 3 dengan dimensi ukuran 1 m x 1 m x 1 m, dengan ukuran tersebut maka jumlah pot/lubang tanam yang dibuat pada lahan seluas 5965,88 m 2 adalah sebanyak 165 pot/lubang tanam. Pot/lubang tanam akan dibuat dengan menggunakan Backhoe Caterpillar 320 CL dengan kapasitas alatnya 1 m3. Setelah pot/lubang tanam siap kemudian pot/lubang tanam diisi dengan tanah pucuk yang telah dicampurkan dengan pupuk organik/kompos. Tanah pucuk (top soil) akan ditempatkan pada empat lubang pertama dan empat lubang berikutnya. Kebutuhan top soil pada sistem pot/lubang tanam ini adalah sebanyak 183,15 BCM dengan luasan total lahan yang direklamasi pada tahap 1 dan 3 adalah 5965,88 m 2 (dapat dilihat pada Gambar 1). Jarak tanam antar tanaman yang akan digunakan dalam kegiatan revegetasi lahan adalah dengan jarak tanam 6 x 6 m yang telah sesuai dengan metode budidaya tanaman sawo (dapat dilihat pada Tabel 5). Dimensi dari pot/lubang tanam adalah kedalaman 1 m, panjang 1 m, lebar 1 m. Volume setiap pot/lubang tanam adalah 1 m 3 dan jumlah pot/lubang tanam yang dibuat sebanyak
4 lubang (dapat dilihat pada Gambar 4). Bibit sawo yang akan digunakan adalah bibit sawo dengan tinggi cm dengan umur bibit sawo 3 4 bulan. Bibit tanaman yang ditanam akan ditopang dengan menggunakan bambu anjir sebagai media penopang tanaman dalam proses pertumbuhan tanaman sawo. Bulan yang tepat dalam penanaman bibit tanaman sawo adalah pada bulan November April, data tersebut didapatkan dari Stasiun Meteorologi Barongan, Kecamatan Jetis, Kab. Bantul Tahun Dikarenakan pada bulan tersebut masuk dalam bulan musim penghujan sehingga tingkat keberhasilan pertumbuhan dari bibit sawo akan tumbuh dengan baik. Sedangkan tahapan ke 2 akan direncanakan untuk pembangunan bangunan sipil seperti rumah tinggal maupun ruko-ruko guna mendukung ekonomi masyarakat setempat. Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul secara garis besar arah pengembangan dan pembangunan wilayah mengarah pada pengendalian kegiatan pada cagar budaya, pengembangan destinasi wisata, kawasan rawan gempa bumi dan tanah longsor dan kekeringan. Hal tersebut merupakan salah satu upaya perencanaan program pembangunan yang memperhatikan suatu tatanan wilayah yang terpadu dan teratur di Kabupaten Bantul. Bangunan yang direncanakan akan dibangun pada perencanaan reklamasi tahapan 2 adalah ruko-ruko bertingkat 1 dengan ukuran bangunan 6 m x 8 m dan bangunan rumah tinggal dengan ukuran 6 m x 6 m. Diharapkan dengan ruko-ruko yang dibangun di tepi jalan raya di Dusun Srumbung, Desa segoroyoso akan membuat dusun ini berkembang dalam kegiatan peningkatan ekonomi masyarakat dan diharapkan juga ruko-ruko yang dibangun dapat digunakan sebagai tepat penjualan barang sentra industri dari Dusun Srumbung sendiri seperti Krecek dan Wayang sehingga pengembangan destinasi wisata yang direncanakan dapat tercapai sesuai dengan RTRW yang direncanakan. Diharapkan dengan adanya perencanaan reklamasi di lahan pasca tambang ini maka hal tersebut dapat mengembalikan lahan sesuai dengan tujuan penggunaannya, dalam hal ini memperkecil erosi selama dalam proses reklamasi, serta mengubah iklim mikro dan meningkatkan ekonomi masyarakat di Dusun Srumbung, Desa Segoroyoso ke arah yang lebih baik lagi sehingga pemikiran masyarakat tentang tambang yang selalu merusak lingkungan dapat berubah. Agar semua perencanaan tersebut tercapai, maka sangat diperlukan peran masyarakat dan para penambang dalam memantau dan mengelolah areal reklamasi sesuai dengan kondisi yang diharapkan. Rancangan rencana reklamasi pasca tambang dapat dilihat pada Gambar Tabel Tabel 1. Hasil Pengklasifikasi Potensi Perubahan Lahan Lokasi Penelitian di Dusun Srumbung No Parameter Harkat/Skor 1 Batas Tepi Galian 3 2 Kedalaman Lubang Galian dari 1 Permukaan Tanah Awal 3 Relief Dasar Galian 3 4 Batas Kemiringan Dinding 3 Galian 5 Tinggi Dinding Galian 3 6 Kondisi Jalan 1 7 Tutupan Vegetasi 3 8 Erosi dan/atau Gerakan massa 1 batuan 9 Upaya Reklamasi 3 Jumlah Harkat/Skor 21 Kelas/ Tingkat Perubahan Lahan II/ Sedang Sumber : Kep. Gubernur DIY No. 63 Tahun 2003 Tabel 2. Hasil Analisis Kualitas Tanah Berdasarkan Sifat Fisik dan Kimia No ph H 2 o T.1 6, ,77 0,06 0,30 T.2 6, ,80 0,06 0,29 T.3 6, ,76 0,06 0,29 X 6, ,3 32,6 0,77 0,06 0,29 Hasil Analisis Laboratorium. BPTP Yogyakarta, 14 Juni 2013 Tabel 3. Hasil Perbandingan Kohesi dan Sudut Geser DalamAntara Breksi Tufan dan Batupasir Tufan di Lokasi Penelitian Dusun Srumbung Sampel Tekstur (%) Pasir Debu Liat Kohesi (KN/m 2 ) C-org (%) Sudut geser dalam ( o ) N-total (%) Unit weight (KN/m3) Breksi Tufan 147, ,2217 Batupasir Tufan 281, ,1237 Sumber: Data Hasil Analisis dari Laboratorium Mekanika Batuan, Jurusan Tambang UPN V Yogyakarta Tabel 4. Hasil Analisis Kestabilan Lereng di Lokasi Penelitian Dusun Srumbung Faktor Keamanan (Safety Factor) 45 0 Single Slope Overall Slope Keterangan 1,795 3,718 Stabil 70 0 Single Slope Overall Slope Ket 1,061 2,575 Kurang Satbil 90 0 Single Slope Overall Slope Ket 0,005 2,501 Tidak Stabil Sumber: Data Hasil Analisis dari Laboratorium Mekanika Batuan, Jurusan Tambang UPN V Yogyakarta K- tersedia (me/100g ) 342
5 Tabel 5. Syarat Tumbuh Tanaman Sawo dengan Kondisi Lahan di Daerah Penelitian No. Kriteria Syarat Kondisi Lahan Ket Kesesuaian lahan Tumbuh di Lokasi 1. ph tanah sesuai 2. Curah Hujan ,44 sesuai (mm/tahun) 3. Tekstur tanah Lempung, massif dan berpasir mm/tahun Lempung dan berpasir sesuai 4. Kedalaman 40 cm 100 cm sesuai efektif tanah pucuk 5. Suhu udara 22ºC 32 22,2ºC 31ºC sesuai ºC Ketinggian mdpl 74 mdpl sesuai 3.2 Gambar A B Gambar 1. A. Breksi Tufan ; B. Batupasir Tufan di Lokasi Penelitian 343
6 Gambar 2. Peta Lokasi Penelitian, Peta Satuan Batuan, Peta Topografi 344
7 Lereng dengan Kemiringan 45 0 Single Slope Overall Slope Lereng dengan Kemiringan 70 0 Lereng dengan Kemiringan 70 0 Single Slope Overall Slope Lereng dengan Kemiringan 90 0 Single Slope Overall Slope Gambar 3. Analisis Kestabilan Lereng dengan Kemiringan Lereng 45 0, 70 0,
8 Gambar 4. Sketsa Teknik Penanaman Tanaman Sawo dalam Upaya Revegetasi Lahan Pasca Tambang Penambangan Bahan Tambang Batuan di Dusun Srumbung, Desa Segoroyoso, Kecamatan Pleret Gambar 5. Pemodelan 3D Rancangan Tambang dan Reklamasi Pasca Tambang Penambangan Bahan Tambang Batuan di Dusun Srumbung, Desa Segoroyoso, Kecamatan Pleret 346
9 4. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian mengenai Perencanaan Teknis Reklamasi Pasca Tambang Berdasarkan Tingkat Perubahan Lahan Akibat Penambangan Bahan Tambang Batuan di Dusun Srumbung, Desa Segoroyoso, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Dampak dari kegiatan penambangan bahan tambang batuan berupa breksi tufan dan batupasir tufan pada lokasi penelitian di Dusun Srumbung, Desa Segoroyoso, maka terjadi tingkat perubahan lahan fisik dalam katagori tingkat perubahan lahan sedang, dengan skor Hasil analisis kestabilan lereng di lokasi penambangan menunjukkan dengan sudut kemiringan dinding galian 45 0 stabil jika dibandingkan dengan lereng dengan kemiringan 90 0 dan 70 0 tidak stabil dengan tinggi dinding galian ±18 meter. 3. Perencanaan tambang dan teknik penambangan yang direncanakan akan dimulai penambangan dari atas bukit menuju bawah bukit untuk mencegah gerakan massa tanah/batuan. 4. Jenjang yang direncanakan dalam kegiatan penambangan di Dusun Srumbung adalah tinggi jenjang 3 meter, lebar jenjang 15 meter dengan sudut dinding jenjang Jalan tambang yang direncanakan dibuat dalam lokasi penambangan adalah lebar jalan 6 meter, panjang jalan 30 meter antar jenjang (grade 10%). 5. Sistim penataan lahan yang digunakan dalam kegiatan reklamasi adalah sistim perataan tanah dengan menggunakan Bulldozer Type CAT D 9 R. Ketebalan overburden dalam perataan tanah adalah 1,5 m. Ketersediaan overburden di lokasi penelitian adalah sebanyak ,75 LCM, sedangkan kebutuhan overburden yang diperlukan pada tahapan reklamasi tahap 1 dan 3 dalam perataan tanah adalah sebanyak 9750,04 BCM. 6. Rancangan sistim pot/lubang tanam menggunakan dimensi pot/lubang tanaman dengan ukuran 1 m 3 (1 m x 1 m x 1 m) dengan jumlah 165 pot/lubang tanam. 7. Tanah pucuk (top soil) yang telah dicampurkan dengan pupuk organik/kompos akan ditempatkan pada empat lubang pertama dan empat lubang berikutnya. Kebutuhan top soil pada sistim pot/lubang tanam ini adalah sebanyak 183,15 BCM. 8. Jarak tanam antar tanaman yang akan digunakan dalam kegiatan revegetasi lahan adalah dengan jarak tanam 6 x 6 m. Bibit sawo yang akan digunakan adalah bibit sawo dengan tinggi cm dengan umur bibit sawo 3 4 bulan. 9. Bulan yang tepat dalam penanaman bibit tanaman sawo adalah pada bulan November April. Upaya meningkatkan unsur hara makro berupa N-total, C-org dan K-tersedia maka akan digunakan pupuk organik/kompos, pupuk urea dan NPK. 10. Bangunan yang direncanakan akan dibangun pada perencanaan reklamasi tahapan 2 adalah ruko-ruko bertingkat 1 dengan ukuran bangunan 6 m x 8 m dan bangunan rumah tinggal dengan ukuran 6 m x 6 m. Ucapan Terima Kasih Terimakasih kepada masyarakat Dusun Srumbung Desa Segoroyoso, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, DIY, serta Team dosen Teknik Lingkungan UPN V Y. Daftar Pustaka Arief, N., 2004, Prinsip-Prinsip Reklamasi Tambang. Diklat Perencanaan Tambang Terbuka, Unisba. Bandung. Asdak, C., 1995, Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Edisi Pertama. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Direktorat Geologi dan Sumberdaya Mineral, 1986, Buku Petunjuk Usaha Pertambangan Bahan Galian Golongan C. Ditjen Pertambangan Umum. Hardiyatmo, Hary Christiady Penanganan Tanah Longsor Dan Erosi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Kartasapoetra, 1985, Teknologi Konservasi Tanah dan Air, Rineka Cipta : Jakarta. Keputusan Gubernur Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 63 Tahun 2003 Tentang Kriteria Baku Kerusakan Lingkungan Bagi usaha dan/atau Kegiatan Penambangan bahan Galian golongan C di Wilayah Provinsi Daerah Istimewah Yogyakarta. Peraturan Menteri Energi Sumberdaya Mineral Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Reklamasi dan Penutupan Tambang. Prodjosoemarto, P., 2006, Tambang terbuka (Surface Mining), Diktat Kuliah, Jurusan Teknik Pertambangan, Fakultas Teknologi Mineral, Institut Teknologi Bandung. Pleret dalam Angka Badan Pusat Statistik Yogyakarta. Soemarwoto, 1994, Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan, Djambatan, Yogyakarta. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Babtubara. 347
PERENCANAAN TEKNIS REKLAMASI PASCA TAMBANG BERDASARKAN TINGKAT PERUBAHAN LAHAN AKIBAT PENAMBANGAN BAHAN TAMBANG BATUAN
PERENCANAAN TEKNIS REKLAMASI PASCA TAMBANG BERDASARKAN TINGKAT PERUBAHAN LAHAN AKIBAT PENAMBANGAN BAHAN TAMBANG BATUAN Sarwo Edy Lewier 1*, M. Fathin. Firaz 1, Clara. Paramita 1, Ancy. N. Sihombing 2 1
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... ii KATA PENGANTAR... iii PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN... iv DAFTAR ISI... v DAFTAR TABEL... ix DAFTAR GAMBAR... x DAFTAR PETA... xii DAFTAR LAMPIRAN...
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL HALAMAN PERSETUJUAN KATA PENGANTAR PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PERSETUJUAN... ii KATA PENGANTAR... iii PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN... iv DAFTAR ISI... v DAFTAR GAMBAR... ix DAFTAR TABEL... xi INTISARI... xiii ABSTRACT... xiv BAB
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN... 93
DAFTAR ISI Halaman RINGKASAN... v ABSTRAK... vi KATA PENGANTAR... vii DAFTAR ISI... viii DAFTAR GAMBAR... x DAFTAR TABEL... xii DAFTAR LAMPIRAN... xiii BAB I. PENDAHULUAN... 1 1.1. Latar Belakang... 1
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... HALAMAN PERSETUJUAN... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR GAMBAR...
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PERSETUJUAN... ii KATA PENGANTAR... iii DAFTAR ISI... iv DAFTAR GAMBAR... vii DAFTAR TABEL... viii DAFTAR PETA... ix INTISARI.... x ABSTRACT.... xi BAB I. PENDAHULUAN...
GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 62 TAHUN 2010 TENTANG
GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 62 TAHUN 2010 TENTANG KRITERIA KERUSAKAN LAHAN PENAMBANGAN SISTEM TAMBANG TERBUKA DI JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang Mengingat : a. bahwa
GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA KEPUTUSAN GUBERNUR PROPINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR : 63 TAHUN 2003
GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA KEPUTUSAN GUBERNUR PROPINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR : 63 TAHUN 2003 TENTANG KRITERIA BAKU KERUSAKAN LINGKUNGAN BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN PENAMBANGAN BAHAN
MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP,
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 43 Tahun 1996 Tentang : Kriteria Kerusakan Lingkungan Bagi Usaha Atau Kegiatan Penambangan Bahan Galian Golongan C Jenis Lepas Di Dataran MENTERI NEGARA LINGKUNGAN
Kementerian Lingkungan Hidup LINGKUNGAN HIDUP
KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : KEP- 43/MENLH/10/1996 TENTANG KRITERIA KERUSAKAN LINGKUNGAN BAGI USAHA ATAU KEGIATAN PENAMBANGAN BAHAN GALIAN GOLONGAN C JENIS LEPAS DI DATARAN LINGKUNGAN
KAJIAN PENILAIAN KEBERHASILAN REKLAMASI TERHADAP LAHAN BEKAS PENAMBANGAN DI PT. SUGIH ALAMANUGROHO KABUPATEN GUNUNGKIDUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
KAJIAN PENILAIAN KEBERHASILAN REKLAMASI TERHADAP LAHAN BEKAS PENAMBANGAN DI PT. SUGIH ALAMANUGROHO KABUPATEN GUNUNGKIDUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Oleh : Fanny Crosby Elisabeth Wona Program Studi Teknik
PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN
DAFTAR ISI v Halaman HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... ii KATA PENGANTAR... iii PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN... iv DAFTAR ISI... v DAFTAR TABEL... viii DAFTAR GAMBAR... ix INTISARI... xi ABSTRACT...
HALAMAN PENGESAHAN...
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN... KATA PENGANTAR... PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR PETA... INTISARI... ABSTRACT... i ii iii iv v ix
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... HALAMAN PERSETUJUAN... KATA PENGANTAR... PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN... DAFTAR ISI... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL...
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... HALAMAN PERSETUJUAN... KATA PENGANTAR... PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN... DAFTAR ISI... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL... DAFTAR PETA... INTISARI... ABSTRACT... i ii iii iv
DAFTAR ISI. II. LINGKUP KEGIATAN PENELITIAN Ruang Lingkup Penelitian Kerangka Alur Pikir Penelitian... 22
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN... KATA PENGANTAR... PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR PETA... DAFTAR LAMPIRAN... INTISARI... ABSTRACT...
RENCANA REKLAMASI DENGAN PENATAAN LAHAN PADA LAHAN BEKAS PENAMBANGAN TANAH LIAT DI PT. HOLCIM INDONESIA Tbk, CILACAP, JAWA TENGAH
RENCANA REKLAMASI DENGAN PENATAAN LAHAN PADA LAHAN BEKAS PENAMBANGAN TANAH LIAT DI PT. HOLCIM INDONESIA Tbk, CILACAP, JAWA TENGAH Oleh: Muslim Hamsah Prodi Teknik Pertambangan UPN Veteran Yogyakarta No.
BAB II RUANG LINGKUP PENELITIAN
DAFTAR ISI iv Halaman HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... ii KATA PENGANTAR... iii DAFTAR ISI... iv DAFTAR TABEL... vii DAFTAR GAMBAR... viii INTISARI... x ABSTRACT... xi BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1.
INDIKATOR RAMAH LINGKUNGAN UNTUK USAHA DAN/ATAU KEGIATAN PENAMBANGAN TERBUKA BATUBARA
INDIKATOR RAMAH LINGKUNGAN UNTUK USAHA DAN/ATAU KEGIATAN PENAMBANGAN TERBUKA BATUBARA Antung Deddy Asdep Keanekaragaman Hayati dan Pengendalian Kerusakan Lahan Deputi Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan
PENGARUH BEBAN DINAMIS DAN KADAR AIR TANAH TERHADAP STABILITAS LERENG PADA TANAH LEMPUNG BERPASIR
PENGARUH BEBAN DINAMIS DAN KADAR AIR TANAH TERHADAP STABILITAS LERENG PADA TANAH LEMPUNG BERPASIR Yulvi Zaika, Syafi ah Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya Malang Jl. MT. Haryono
REKLAMASI LAHAN BEKAS PENAMBANGAN
REKLAMASI LAHAN BEKAS PENAMBANGAN PENDAHULUAN Masalah utama yang timbul pada wilayah bekas tambang adalah perubahan lingkungan. Perubahan kimiawi berdampak terhadap air tanah dan air permukaan. Perubahan
KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI. A. Letak Geografis. 08º00'27" Lintang Selatan dan 110º12'34" - 110º31'08" Bujur Timur. Di
IV. KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI A. Letak Geografis Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mempunyai lima Kabupaten dan satu Kotamadya, salah satu kabupaten tersebut adalah Kabupaten Bantul. Secara geografis,
BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG
1 BAB I PENDAHULUAN 1. 1. LATAR BELAKANG Gunungpati merupakan daerah berbukit di sisi utara Gunung Ungaran dengan kemiringan dan panjang yang bervariasi. Sungai utama yang melintas dan mengalir melalui
DAFTAR ISI... Halaman HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... KATA PENGANTAR... PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN...
DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... KATA PENGANTAR... PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR PETA... INTISARI... ABSTRACT... BAB I
MODEL REKLAMASI LAHAN KRITIS PADA AREA BEKAS PENGGALIAN BATU BATA
PKMM-1-6-2 MODEL REKLAMASI LAHAN KRITIS PADA AREA BEKAS PENGGALIAN BATU BATA Rahmat Hidayat, M Indriastuti, F Syafrina, SD Arismawati, Babo Sembodo Jurusan Pengelolaan Hutan dan Konservasi Sumberdaya Hutan
TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN
TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN PERTEMUAN 10 SUMBERDAYA LAHAN Sumberdaya Lahan Lahan dapat didefinisikan sebagai suatu ruang di permukaan bumi yang secara alamiah dibatasi oleh sifat-sifat fisik serta bentuk
BAB V PEMBAHASAN. 5.1 Tata Ruang Lahan Daerah Penelitian. Menurut penataan ruang Kaupaten Lebak lokasi penambangn ini
BAB V PEMBAHASAN 5.1 Tata Ruang Lahan Daerah Penelitian Menurut penataan ruang Kaupaten Lebak lokasi penambangn ini diperuntukan untuk perkebunan dan budidaya. Disebelah timur lokasi tambang pada jarak
DAFTAR ISI. Halaman Judul... Halaman Persetujuan... Kata Pengantar... Daftar Isi... Daftar Tabel... Daftar Gambar... Daftar Peta... Daftar Lampiran...
DAFTAR ISI Halaman Judul... Halaman Persetujuan... Kata Pengantar... Daftar Isi... Daftar Tabel... Daftar Gambar... Daftar Peta... Daftar Lampiran... i ii iii vi ix xi xiii xii BAB I. PENDAHULUAN... 1
KAJIAN KERUSAKAN LINGKUNGAN FISIK AKIBAT PENAMBANGAN PASIR DAN BATU DI KECAMATAN TEMPEL KABUPATEN SLEMAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
KAJIAN KERUSAKAN LINGKUNGAN FISIK AKIBAT PENAMBANGAN PASIR DAN BATU DI KECAMATAN TEMPEL KABUPATEN SLEMAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Agung Dwi Sutrisno Jurusan Teknik Pertambangan, Sekolah Tinggi Teknologi
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL...
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PERSETUJUAN... ii KATA PENGANTAR... iii PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN... iv DAFTAR ISI... v DAFTAR TABEL... viii DAFTAR GAMBAR... x DAFTAR PETA... xii DAFTAR LAMPIRAN...
3.2 Alat. 3.3 Batasan Studi
3.2 Alat Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain alat tulis dan kamera digital. Dalam pengolahan data menggunakan software AutoCAD, Adobe Photoshop, dan ArcView 3.2 serta menggunakan hardware
DAFTAR ISI... RINGKASAN... ABSTRACT... KATA PENGANTAR... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL... DAFTAR LAMPIRAN... BAB I. PENDAHULUAN
DAFTAR ISI RINGKASAN... ABSTRACT... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL... DAFTAR LAMPIRAN... BAB I. PENDAHULUAN Halaman 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Permasalahan... 2 1.3 Tujuan
BAB I PENDAHULUAN. di tahun 2006 menjadi lebih dari 268,407 juta ton di tahun 2015 (Anonim, 2015).
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hasil tambang merupakan salah satu kekayaan alam yang sangat potensial. Penambangan telah menjadi kontributor terbesar dalam pembangunan ekonomi Indonesia selama lebih
Artikel Pendidikan 23
Artikel Pendidikan 23 RANCANGAN DESAIN TAMBANG BATUBARA DI PT. BUMI BARA KENCANA DI DESA MASAHA KEC. KAPUAS HULU KAB. KAPUAS KALIMANTAN TENGAH Oleh : Alpiana Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Mataram
KEASLIAN PENELITIAN...
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... ii KATA PENGANTAR... iii PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN... v INTISARI... vi ABSTRACT... vii DAFTAR ISI... viii DAFTAR TABEL... ix DAFTAR GAMBAR... x
RENCANA TEKNIS PENATAAN LAHAN PADA BEKAS PENAMBANGAN BATU ANDESIT DI QUARRY 1 PT. HOLCIM BETON PASURUAN JAWA TIMUR
RENCANA TEKNIS PENATAAN LAHAN PADA BEKAS PENAMBANGAN BATU ANDESIT DI QUARRY 1 PT. HOLCIM BETON PASURUAN JAWA TIMUR Oleh : Arif Gumilar Prodi Teknik Pertambangan UPN Veteran Yogyakarta Contact: 085764131445,
BAB I PENDAHULUAN. lereng, hidrologi dan hidrogeologi perlu dilakukan untuk mendapatkan desain
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam perencanaan sistem tambang terbuka, analisis kestabilan lereng, hidrologi dan hidrogeologi perlu dilakukan untuk mendapatkan desain tambang yang aman dan ekonomis.
III. METODE PENELITIAN
17 III. METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian survei. Menurut Moh. Pabundu Tika ( 2005:6) survei merupakan suatu metode penelitian
BAB II METODE PENELITIAN 2.1. Alat dan Bahan Alat Penelitian Kegiatan Survey Lapangan Uji Tekstur Tanah...
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i LEMBAR PENGESAHAN... ii LEMBAR ORISINALITAS... iii LEMBAR PERNYATAAN... iv INTISARI... v ABSTRACT... vi KATA PENGANTAR... vii DAFTAR ISI... ix DAFTAR TABEL... xii DAFTAR GAMBAR...
DAFTAR ISI Keaslian Penelitian... 4
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i LEMBAR PENGESAHAN... ii KATA PENGANTAR... iii PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN... v DAFTAR ISI... vi DAFTAR TABEL... x DAFTAR GAMBAR... xii DAFTAR PETA... xiv INTISARI... xv ABSTRAK...
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penambangan batubara dapat dilakukan dengan dua cara: yaitu penambangan dalam dan penambangan terbuka. Pemilihan metode penambangan, tergantung kepada: (1) keadaan
V. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Karakteristik dan Fisiografi Wilayah. lingkungan berhubungan dengan kondisi fisiografi wilayah.
V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik dan Fisiografi Wilayah Pertumbuhan dan perkembangan tanaman dipengaruhi oleh beberapa faktor selain faktor internal dari tanaman itu sendiri yaitu berupa hormon
I. Pendahuluan Tanah longsor merupakan sebuah bencana alam, yaitu bergeraknya sebuah massa tanah dan/atau batuan menuruni lereng akibat adanya gaya
I. Pendahuluan Tanah longsor merupakan sebuah bencana alam, yaitu bergeraknya sebuah massa tanah dan/atau batuan menuruni lereng akibat adanya gaya gravitasi. Tanah longsor sangat rawan terjadi di kawasan
BAB I PENDAHULUAN. Lingkungan hidup adalah, kesatuan ruang dengan semua benda, daya, mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Lingkungan hidup adalah, kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri,
I. PENDAHULUAN. yang mendayagunakan sumberdaya alam dan diharapkan dapat. menjamin kehidupan di masa yang akan datang. Sumberdaya alam yang tidak
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kegiatan pertambangan adalah bagian dari kegiatan pembangunan ekonomi yang mendayagunakan sumberdaya alam dan diharapkan dapat menjamin kehidupan di masa yang akan datang.
KESESUAIAN LAHAN TANAM KENTANG DI WILAYAH BATU
KESESUAIAN LAHAN TANAM KENTANG DI WILAYAH BATU Ni Wayan Suryawardhani a, Atiek Iriany b, Aniek Iriany c, Agus Dwi Sulistyono d a. Department of Statistics, Faculty of Mathematics and Natural Sciences Brawijaya
BAB III METODE PENELITIAN. adanya dan mengungkapkan fakta-fakta yang ada, walaupun kadang-kadang
BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif lebih mengarah pada pengungkapan suatu masalah atau keadaan sebagaimana adanya dan mengungkapkan
BAB I. PENDAHULUAN A.
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) merupakan salah satu primadona tanaman perkebunan yang memiliki prospek pengembangan cukup cerah, Indonesia memiliki luas areal
KONDISI UMUM WILAYAH STUDI
16 KONDISI UMUM WILAYAH STUDI Kondisi Geografis dan Administratif Kota Sukabumi terletak pada bagian selatan tengah Jawa Barat pada koordinat 106 0 45 50 Bujur Timur dan 106 0 45 10 Bujur Timur, 6 0 49
BAB III TANGGUNG JAWAB PERUSAHAAN PERTAMBANGAN TERHADAP LAHAN BEKAS TAMBANG
BAB III TANGGUNG JAWAB PERUSAHAAN PERTAMBANGAN TERHADAP LAHAN BEKAS TAMBANG A. Kondisi Lahan Bekas Tambang Batu bara merupakan salah satu sumber energi yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Batu
BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG MASALAH
1 BAB I PENDAHULUAN 1. 1. LATAR BELAKANG MASALAH Sigar Bencah merupakan daerah perbukitan yang terletak di Kelurahan Bulusan Kecamatan Tembalang Kota Semarang Propinsi Jawa Tengah. Pada daerah ini terdapat
BAB II LINGKUP KEGIATAN PENELITIAN Lingkup Kegiatan Penelitian Komponen Lingkungan Kerangka Alur Penelitian...
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PERSETUJUAN... ii KATA PENGANTAR... iii PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN... iv DAFTAR ISI... iv DAFTAR TABEL... vii DAFTAR GAMBAR... viii DAFTAR PETA... ix INTISARI...
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL...
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... HALAMAN PERSETUJUAN... KATA PENGANTAR... PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN... DAFTAR ISI... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL... DAFTAR PETA... DAFTAR LAMPIRAN... INTISARI... ABSTRACT...
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Rumusan Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di Indonesia banyak sekali daerah yang,mengalami longsoran tanah yang tersebar di daerah-daerah pegunngan di Indonesia. Gerakan tanah atau biasa di sebut tanah longsor
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan pendekatan ekologi. Penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan ekologi
Analisis Kesesuaian Lahan untuk Lokasi Permukiman Kecamatan Bantul, Kabupaten Bantul
Analisis Kesesuaian Lahan untuk Lokasi Permukiman Kecamatan Bantul, Kabupaten Bantul NASKAH PUBLIKASI ILMIAH Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana S-1 Disusun Oleh : Yetti
1. 1. LATAR BELAKANG MASALAH
BAB I PENDAHULUAN 1. 1. LATAR BELAKANG MASALAH Bendan merupakan daerah perbukitan yang terletak di daerah Semarang Utara Propinsi Jawa Tengah arteri Tol Jatingaleh Krapyak seksi A menurut Peta Geologi
TINJAUAN PUSTAKA. Faktor Lingkungan Tumbuh Kelapa Sawit
TINJAUAN PUSTAKA Faktor Lingkungan Tumbuh Kelapa Sawit Tanaman kelapa sawit semula merupakan tanaman yang tumbuh liar di hutan-hutan maupun daerah semak belukar tetapi kemudian dibudidayakan. Sebagai tanaman
KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa ruang selain merupakan sumber alam yang penting artinya bagi
BAB I PENDAHULUAN. memiliki kerentanan longsor yang cukup besar. Meningkatnya intensitas hujan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia yang berada pada iklim tropis dengan curah hujan yang tinggi memiliki kerentanan longsor yang cukup besar. Meningkatnya intensitas hujan mengakibatkan
BAB II TINJAUAN UMUM
BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Lokasi dan Kesampaian Daerah Lokasi CV. Jayabaya Batu Persada secara administratif terletak pada koordinat 106 O 0 51,73 BT dan -6 O 45 57,74 LS di Desa Sukatani Malingping Utara
DAFTAR ISI. Halaman ABSTRAK... i KATA PENGANTAR... ii DAFTAR ISI... iii DAFTAR TABEL... v DAFTAR GAMBAR... vii
DAFTAR ISI ABSTRAK... i KATA PENGANTAR... ii DAFTAR ISI... iii DAFTAR TABEL... v DAFTAR GAMBAR... vii BAB I PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang Masalah... 1 B. Rumusan Masalah... 3 C. Tujuan... 4 D. Manfaat...
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA BADAN GEOLOGI
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA BADAN GEOLOGI JALAN DIPONEGORO NO. 57 BANDUNG 40122 JALAN JEND. GATOT SUBROTO KAV. 49 JAKARTA 12950 Telepon: 022-7212834, 5228424, 021-5228371
IV. KONDISI UMUM 4.1 Kondisi Fisik Wilayah Administrasi
IV. KONDISI UMUM 4.1 Kondisi Fisik 4.1.1 Wilayah Administrasi Kota Bandung merupakan Ibukota Propinsi Jawa Barat. Kota Bandung terletak pada 6 o 49 58 hingga 6 o 58 38 Lintang Selatan dan 107 o 32 32 hingga
BAB I PENDAHULUAN. PT. PACIFIC GLOBAL UTAMA (PT. PGU) bermaksud untuk. membuka tambang batubara baru di Desa Pulau Panggung dan Desa
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang PT. PACIFIC GLOBAL UTAMA (PT. PGU) bermaksud untuk membuka tambang batubara baru di Desa Pulau Panggung dan Desa Tanjung Lalang, Kecamatan Tanjung Agung Kabupaten
RANCANGAN GEOMETRI LERENG AREA IV PIT D_51_1 DI PT. SINGLURUS PRATAMA BLOK SUNGAI MERDEKA KUTAI KARTANEGARA KALIMANTAN TIMUR
RANCANGAN GEOMETRI LERENG AREA IV PIT D_51_1 DI PT. SINGLURUS PRATAMA BLOK SUNGAI MERDEKA KUTAI KARTANEGARA KALIMANTAN TIMUR Oleh 1) Dafiq Akhmedia Amin 2) Dr. Ir. Barlian Dwinagara, MT, Ir. Hasywir Thaib
ANALISA KESTABILAN LERENG METODE SLICE (METODE JANBU) (Studi Kasus: Jalan Manado By Pass I)
ANALISA KESTABILAN LERENG METODE SLICE (METODE JANBU) (Studi Kasus: Jalan Manado By Pass I) Turangan Virginia, A.E.Turangan, S.Monintja Email:[email protected] ABSTRAK Pada daerah Manado By Pass
MENAMBANG TANPA MERUSAK LINGKUNGAN Oleh : Adang P. Kusuma (Badan Geologi, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral)
MENAMBANG TANPA MERUSAK LINGKUNGAN Oleh : Adang P. Kusuma (Badan Geologi, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral) SARI Indonesia memiliki deposit berbagai jenis bahan tambang yang cukup melimpah yang
BAB I PENDAHULUAN. tanahdengan permeabilitas rendah, muka air tanah dangkal berkisar antara 1
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kota Gorontalo merupakan salah satu kota di Indonesia yang rawan terjadi banjir. Hal ini disebabkan oleh curah hujan yang tinggi berkisar antara 106 138mm/tahun,
BAB IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN. Secara Geografis Kota Depok terletak di antara Lintang
BAB IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1. Letak, Luas dan Batas Wilayah Secara Geografis Kota Depok terletak di antara 06 0 19 06 0 28 Lintang Selatan dan 106 0 43 BT-106 0 55 Bujur Timur. Pemerintah
ANALISIS KETIDAKSTABILAN LERENG PADA KUARI TANAH LIAT DI MLIWANG PT. SEMEN INDONESIA (PERSERO) TUBAN JAWA TIMUR
Jurnal Teknologi Pertambangan Volume. 1 Nomor. 2 Periode: Sept. 2015 Feb. 2016 ANALISIS KETIDAKSTABILAN LERENG PADA KUARI TANAH LIAT DI MLIWANG PT. SEMEN INDONESIA (PERSERO) TUBAN JAWA TIMUR Galih Nurjanu,
STUDI KASUS ANALISA KESTABILAN LERENG DISPOSAL DI DAERAH KARUH, KEC. KINTAP, KAB. TANAH LAUT, KALIMANTAN SELATAN
STUDI KASUS ANALISA KESTABILAN LERENG DISPOSAL DI DAERAH KARUH, KEC. KINTAP, KAB. TANAH LAUT, KALIMANTAN SELATAN A. Sodiek Imam Prasetyo 1, B. Ir. R. Hariyanto, MT 2, C. Tedy Agung Cahyadi, ST, MT 2 1
BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang Air merupakan sumberdaya alam yang terbarukan dan memiliki peranan
1 BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Air merupakan sumberdaya alam yang terbarukan dan memiliki peranan penting pada pemenuhan kebutuhan makhluk hidup untuk berbagai keperluan. Suplai air tersebut dapat
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. atau menurunnya kekuatan geser suatu massa tanah. Dengan kata lain, kekuatan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kelongsoran Tanah Kelongsoran tanah merupakan salah satu yang paling sering terjadi pada bidang geoteknik akibat meningkatnya tegangan geser suatu massa tanah atau menurunnya
A.A Inung Arie Adnyano 1 STTNAS Yogyakarta 1 ABSTRACT
PENILAIAN TINGKAT KEBERHASILAN REKLAMASI LAHAN BEKAS TAMBANG PIT 2 PT. PIPIT MUTIARA JAYA DI KABUPATEN TANA TIDUNG KALIMANTAN UTARA A.A Inung Arie Adnyano STTNAS Yogyakarta [email protected], ABSTRACT
TANAH LONGSOR; merupakan salah satu bentuk gerakan tanah, suatu produk dari proses gangguan keseimbangan lereng yang menyebabkan bergeraknya massa
AY 12 TANAH LONGSOR; merupakan salah satu bentuk gerakan tanah, suatu produk dari proses gangguan keseimbangan lereng yang menyebabkan bergeraknya massa tanah ke tempat yang relatif lebih rendah. Longsoran
Rencana Penataan Lahan Bekas Kolam Pengendapan Timah Di Pit Tb 1.42 Pemali PT.Timah (Persero) Tbk, Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Rencana Penataan Lahan Bekas Kolam Pengendapan Timah Di Pit Tb 1.42 Pemali PT.Timah (Persero) Tbk, Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Ika Tri Novianti Siregar, Riko Suryanata, Indri Febriyanti,
GEOTEKNIK TAMBANG DASAR DASAR ANALISIS GEOTEKNIK. September 2011 SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NASIONAL (STTNAS) YOGYAKARTA.
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NASIONAL (STTNAS) YOGYAKARTA. GEOTEKNIK TAMBANG DASAR DASAR ANALISIS GEOTEKNIK September 2011 SUPANDI, ST, MT [email protected] GEOTEKNIK TAMBANG Jurusan : Teknik Geologi
GERAKAN TANAH DI KAMPUNG BOJONGSARI, DESA SEDAPAINGAN, KECAMATAN PANAWANGAN, KABUPATEN CIAMIS, JAWA BARAT
GERAKAN TANAH DI KAMPUNG BOJONGSARI, DESA SEDAPAINGAN, KECAMATAN PANAWANGAN, KABUPATEN CIAMIS, JAWA BARAT RACHMAN SOBARNA Penyelidik Bumi Madya pada Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Sari
Analisis Stabilitas Lereng Terhadap Permukiman di Dusun Pengkol, Desa Sriharjo, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, D.
Analisis Stabilitas Lereng Terhadap Permukiman di Dusun Pengkol, Desa Sriharjo, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, D.I Yogyakarta Marcia Violetha Rikumahu 1, Alieftiyani Paramita Gobel 2 Mahasiswa Program
PENANGANAN KAWASAN BENCANA LONGSOR DAS WAI RUHU. Steanly R.R. Pattiselanno, M.Ruslin Anwar, A.Wahid Hasyim
PENANGANAN KAWASAN BENCANA LONGSOR DAS WAI RUHU Steanly R.R. Pattiselanno, M.Ruslin Anwar, A.Wahid Hasyim Program Magister Teknik Sipil Minat Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. 1.2 Maksud dan Tujuan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Geoteknik merupakan suatu ilmu terapan yang peranannya sangat penting, tidak hanya dalam dunia pertambangan akan tetapi dalam berbagai bidang seperti teknik sipil
INVESTIGASI GEOLOGI POTENSI LONGSOR BERDASARKAN ANALISIS SIFAT FISIK DAN MEKANIK BATUAN DAERAH KOTA BALIKPAPAN, KALIMANTAN TIMUR
M1O-03 INVESTIGASI GEOLOGI POTENSI LONGSOR BERDASARKAN ANALISIS SIFAT FISIK DAN MEKANIK BATUAN DAERAH KOTA BALIKPAPAN, KALIMANTAN TIMUR Rizky Teddy Audinno 1*, Muhammad Ilham Nur Setiawan 1, Adi Gunawan
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL...
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... ii KATA PENGANTAR... iii PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN... iv DAFTAR ISI... v DAFTAR TABEL... ix DAFTAR GAMBAR... xi DAFTAR PETA... xiii INTISARI...
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Letak dan Ciri-ciri Lintasan Sepeda Gunung Letak lintasan sepeda gunung di HPGW disajikan dalam Gambar 5. Ciricirinya disajikan dalam Tabel 9. Tabel 9 Keadaan plot penelitian
Yeza Febriani ABSTRACT. Keywords : Erosion prediction, USLE method, Prone Land Movement.
PREDIKSI EROSI MENGGUNAKAN METODA USLE PADA DAERAH RAWAN GERAKAN TANAH DI DAERAH JALUR LINTAS BENGKULU-KEPAHIANG Yeza Febriani Program Studi Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas
TATACARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni Oktober 2015 dan dilakukan
22 TATACARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni Oktober 2015 dan dilakukan di lapangan dan di laboratorium. Pengamatan lapangan dilakukan di empat lokasi
MODEL PENANGGULANGAN BANJIR. Oleh: Dede Sugandi*)
MODEL PENANGGULANGAN BANJIR Oleh: Dede Sugandi*) ABSTRAK Banjir dan genangan merupakan masalah tahunan dan memberikan pengaruh besar terhadap kondisi masyarakat baik secara social, ekonomi maupun lingkungan.
I. PENDAHULUAN. masyarakat dengan memperhatikan tiga prinsip yaitu secara ekologi tidak merusak. waktu, aman dan terjangkau bagi setiap rumah tangga.
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan sektor pertanian, perkebunan dan kehutanan bertujuan untuk perbaikan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pendapatan masyarakat dengan memperhatikan
BAB I PENDAHULUAN. pangan saat ini sedang dialami oleh masyarakat di beberapa bagian belahan dunia.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kehidupan manusia senantiasa berkembang dari masa ke masa, konsekuensinya kebutuhan primer semakin bertambah terutama pangan. Krisis pangan saat ini sedang dialami
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Erosi Erosi adalah hilangnya atau terkikisnya tanah dari suatu tempat ke tempat lain melalui media air atau angin. Erosi melalui media angin disebabkan oleh kekuatan angin sedangkan
BAB III TINJAUAN WILAYAH
BAB III TINJAUAN WILAYAH 3.1. TINJAUAN UMUM DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Pembagian wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) secara administratif yaitu sebagai berikut. a. Kota Yogyakarta b. Kabupaten Sleman
Longsoran translasi adalah ber-geraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk rata atau menggelombang landai.
Tipe-Tipe Tanah Longsor 1. Longsoran Translasi Longsoran translasi adalah ber-geraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk rata atau menggelombang landai. 2. Longsoran Rotasi Longsoran
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam
39 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data penelitian, data yang dikumpulkan bisa berupa data primer maupun
Keputusan Presiden No. 32 Tahun 1990 Tentang : Pengelolaan Kawasan Lindung
Keputusan Presiden No. 32 Tahun 1990 Tentang : Pengelolaan Kawasan Lindung Oleh : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor : 32 TAHUN 1990 (32/1990) Tanggal : 25 JULI 1990 (JAKARTA) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA
BAB I PENDAHULUAN. peningkatan kebutuhan manusia akibat dari pertambahan jumlah penduduk maka
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sumberdaya lahan merupakan komponen sumberdaya alam yang ketersediaannya sangat terbatas dan secara relatif memiliki luas yang tetap serta sangat bermanfaat
BAB I PENDAHULUAN 1. 1 LATAR BELAKANG MASALAH
BAB I PENDAHULUAN 1. 1 LATAR BELAKANG MASALAH Seiring dengan pertumbuhan penduduk di kota Semarang, maka diperlukan sarana jalan raya yang aman dan nyaman. Dengan semakin bertambahnya volume lalu lintas,
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Kondisi Umum Saat Ini Faktor Fisik Lingkungan Tanah, Air, dan Vegetasi di Kabupaten Kutai Kartanegara Kondisi umum saat ini pada kawasan pasca tambang batubara adalah terjadi
TINJAUAN PUSTAKA. Lahan merupakan sumberdaya alam strategis bagi pembangunan di sektor
II. TINJAUAN PUSTAKA Lahan merupakan sumberdaya alam strategis bagi pembangunan di sektor pertanian, kehutanan, perumahan, industri, pertambangan dan transportasi.di bidang pertanian, lahan merupakan sumberdaya
Restorasi Organik Lahan. Aplikasi Organik Untuk Pemulihan Biofisik Lahan & Peningkatan Sosial Ekonomi Melalui Penerapan Agroforestri.
Restorasi Organik Lahan Aplikasi Organik Untuk Pemulihan Biofisik Lahan & Peningkatan Sosial Ekonomi Melalui Penerapan Agroforestri Ex-Tambang Restorasi Perubahan fungsi lahan pada suatu daerah untuk pertambangan,
