BAB II 2 KAJIAN PUSTAKA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB II 2 KAJIAN PUSTAKA"

Transkripsi

1 BAB II 2 KAJIAN PUSTAKA 2.1 Sistem Jaringan Adalah suatu sistem yang berupa jaringan prasarana transportasi di dalam suatu wilayah yang berfungsi mempermudah pergerakan arus manusia, kendaraan, dan barang. Beberapa alternatif yang dapat dilakukan dalam meningkatkan efisiensi sistem jaringan adalah dengan pembangunan aksesibilitas baru dan meningkatkan kapasitas prasarana yang ada. Jaringan transportasi seringkali dijadikan tolak ukur kemajuan suatu wilayah, yang paling jelas adalah semakin baik jaringan transportasi di suatu wilayah semakin tinggi nilai lahan di suatu wilayah tersebut. Sesuai dengan perannya dalam pembangunan ekonomi, jaringan transportasi juga dapat memicu pembangunan. Sistem jaringan itu sendiri terdiri dari lintas (link), simpul (node) dan simpul/titik transfer (transfer node). a. Lintas atau Ruas Lintas merupakan representasi dari jaringan prasarana yang dibagi menjadi 4 jenis prasarana (moda transportasi) yaitu moda jalan, kereta api, laut dan penyebrangan. Jaringan prasarana kereta api hanya terdapat di pulau Sumatera dan Jawa karena di pulau lain moda ini belum ada. Untuk rencana atau evaluasi pengembangan moda kereta api dapat ditambahkan di masing-masing pulau. b. Simpul atau Terminal Simpul pada suatu pemodelan transportasi dapat berarti suatu kota, terminal, stasiun, pelabuhan, bandara atau persimpangan. Simpul pada perangkutan barang dapat berarti lebih karena pada simpul ini terdapat delay (keterlambatan) baik akibat kapasitas simpul tersebut maupun akibat adanya perpindahan moda. c. Titik Perpindahan atau Interchange Titik perpindahan atau transfer adalah lokasi di mana perpindahan antarmoda pada perangkutan barang dapat terjadi. Terdapat dua jenis perpindahan seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Di Pulau Jawa, titik perpindahan terdapat pada simpul kota yang mereprentasikan pergerakan atau perpindahan antar moda darat. Kajian Pustaka 7

2 2.2 Terminal Terminal merupakan titik dimana penumpang dan barang masuk dan keluar sistem dan merupakan komponen penting dalam sistem transportasi. Terminal juga merupakan prasarana yang memerlukan biaya besar dan merupakan tempat kemungkinan terjadinya kongesti (kemacetan). Fungsi utama terminal transportasi adalah untuk memberikan fasilitas keluar masuk dari lalu lintas barang atau penumpang dari dan menuju sistem. Berikut ini adalah fungsi-fungsi terminal transportasi : Memuat penumpang atau barang ke atas kendaraan transport serta membongkar atau menurunkannya. Memindahkan dari satu kendaraan ke kendaraan lain. Menampung penumpang atau barang dari waktu tiba sampai waktu berangkat. Kemungkinan untuk memproses barang seperti menimbang, membungkus serta memilih rute untuk diangkut. Menyediakan kenyamanan penumpang. Menyapkan dokumen perjalanan. (Sumber : Edward K. Morlok, 1978) Terminal atau transfer point ialah suatu tempat yang mampu menerima beberapa moda transport yang berbeda dengan tujuan untuk mengatur perpindahan moda angkutan (dari suatu moda ke moda yang lain) dan sebagai tempat penyimpanan muatan sementara. Menurut Innovative Technologies for Intermodal Transfer Points, terminal ini tergabung dalam suatu jaringan transportasi yang digambarkan sbb: Gambar 2.1 Jaringan transportasi terminal Kajian Pustaka 8

3 Jaringan yang optimum diperoleh ketika akses menuju jaringan (a) telah tersedia dan bersifat paling minimum (dari segi jarak). Situasi ideal terjadi bila jaringan melintasi atau berdekatan dengan terminal Klasifikasi Terminal Sistem terminal merupakan sesuatu yang unik, masing-masing jenis terminal memiliki desain dan metode operasi yang khusus yang jarang terdapat di tempat lain. Tetapi pada dasarnya terminal dapat dibedakan berdasarkan sifat-sifat pelayanannya yaitu antara terminal penumpang dan terminal barang. Karakteristik jenis-jenis terminal menurut jenis angkutannya dapat dibedakan menjadi : a. Terminal Penumpang Karakteristik umum terminal penumpang adalah biasanya memiliki waktu pelayanan yang lebih cepat karena penumpang dapat bergerak sendiri tanpa harus digerakkan dengan alat-alat bongkar muat seperti pada terminal barang. b. Terminal barang Terminal barang pada dasarnya berbeda dari terminal penumpang dalam satu hal penting yaitu barang harus digerakkan seluruhnya dengan usaha dari operator terminal karena barang tidak dapat bergerak sendiri seperti penumpang. Perbedaan ini menimbulkan konsekuensi yang cukup besar dalam desain dan operasi terminal barang. Salah satu diantaranya adalah pemprosesan barang di terminal lebih lama dibandingkan penumpang yang lebih mudah dan lancar tanpa memerlukan operator. 2.3 Terminal Peti Kemas Terminal peti kemas merupakan salah satu jenis terminal barang yang khusus menagani kegiatan bongkar muat peti kemas. Pada terminal ini terdapat berbagai sarana yang diperuntukkan untuk menangani kegiatan bongkar muat peti kemas. Demi kelancaran proses tersebut terminal peti kemas memiliki tiga fasilitas utama : 1. Spoor/dermaga bongkar muat, tempat berhentinya kereta api atau kapal untuk melakukan bongkar muat peti kemas. 2. Container yard (lapangan penumpukan), untuk menyimpan atau menumpuk peti kemas. Areal ini juga termasuk gudang-gudang CFS (Container Freight Station) tempat konsolidasi barang-barang. 3. Areal bongkar muat peti kemas, tempat ini terdiri dari alat-alat berat seperti gantry crane, top loader yang tugasnya memindahkan peti kemas dari dan ke kereta api atau kapal laut. Pada terminal peti kemas hal utama yang membedakan dari terminal penumpang adalah objek pelayanannya yaitu peti kemas. Peti kemas adalah alat angkut barang tahan cuaca digunakan untuk mengangkut bermacam-macam barang, paket atau Kajian Pustaka 9

4 barang curah. Angkutan menggunakan peti kemas mempunyai banyak keunggulan dibandingkan cara angkutan konvensional, antara lain : Proses bongkar muat lebih cepat karena bentuk yang sudah standar Barang yang dikirim lebih aman terhadap kerusakan ataupun pencurian Peti kemas tidak memerlukan gudang tetapi cukup areal penumpukan karena peti kemas tahan terhadap cuaca Biaya yang dikeluarkan lebih kecil untuk setiap ton barang yang dikirim Selain memiliki kelebihan angkutan barang dengan peti kemas juga memiliki kelemahan, antara lain : Memerlukan biaya yang besar khususnya untuk investasi fasilitas Rawan terhadap penyelundupan karena untuk mengeahui isinya peti kemas harus dibongkar Peti kemas juga terdiri dari jenis-jenis tertentu sesuai dengan yang dibawanya, yaitu peti kemas umum, peti kemas dengan pengatur suhu, dan peti kemas khusus. Pada umumnya peti kemas dibuat dari material baja, alumunium atau FRP (Fiberglass Reinforced Plastics). Peti kemas memiliki ukuran yang sudah ditetapkan, yaitu berdasarkan standar ISO dalam satuan TEU (Twenty Feet Equivalent Units). Peti kemas dengan ukuran 20 ft sama dengan 1 TEU dan ukuran 40 ft sama dengan 2 TEU. Dalam mekanisme pelayanan peti kemas ada dua mekanisme pelayanan peti kemas, yaitu : Full Container Load (FCL) Untuk jenis ini muatan dalam peti kemas, dikirm hanya pada satu alamat penerima saja di pelabuhan tujuan. Less Container Load (LCL) Pada sistem ini barang yang ada di dalam peti kemas dapat saja dari beberapa pengirim untuk beberapa penerima. Pengirim atau pemilik barang mengirim barang ke CFS (Container Freight Station), setelah barang terkumpul semua selanjutnya barang tersebut dimuat (stuffing) oleh petugas terminal untuk selanjutnya diangkut sesuai tujuan pengiriman. Pemilik peti kemas dapat memilih sistem pelayanan mana yang diinginkannya sesuai dengan kebutuhannya. Kapasitas dari suatu terminal petikemas harus sesuai dengan kebutuhan yang ada. Hal ini merupakan faktor penting yang menjamin kecocokan antara servis yang tersedia dan volume kargo yang dapat ditangani, dan akan mempengaruhi langsung terhadap level terminal, peralatan dan layout. Kajian Pustaka 10

5 2.4 Fasilitas Terminal Peti Kemas Laporan Tugas Akhir (SI-40Z1) Fasilitas terminal peti kemas terbagi menjadi dua bagian, yaitu sarana untuk alat transportasi peti kemas dan sarana untuk fasilitas terminal. Sarana untuk alat transportasi peti kemas dapat berupa kereta api atau pun dermaga kapal. Sedangkan fasilitas terminalnya berupa alat bongkar muat peti kemas yang terdiri dari alat-alat berat seperti crane, fork lift, top loader, trailer dan lain-lain. Selain fasilitas bongkar muat juga terdapat fasilitas struktural terminal, yaitu lapangan penumpukan, gudanggudang dan kantor administrasi. Semua fasilitas tersebut digunakan untuk memperlancar operasi dari sebuah terminal peti kemas. Fasilitas tambahan dapat juga disediakan tergantung dari kebutuhan terminal masing-masing. Dua tipe loading unit yang dapat digunakan pada terminal barang adalah: ITU (intermodal transport unit). Contoh nya container Truk atau trailer Untuk loading unit diatas, terdapat dua skenario cara perpindahan barang yang dapat digunakan : LOLO (lift on lift off) digunakan untuk ITU RORO (roll on roll off) digunakan untuk teknologi/alat yang menggunakan roda Apron Bongkar Muat Pada terminal peti kemas yang menggunakan kereta api sebagai alat angkut utama, biasanya spoor bongkar muat hanya diperuntukkan untuk bongkar muat peti kemas. Sedangkan barang-barang konvensional biasanya dibawa dengan truk. Beda halnya dengan dermaga kapal, dermaga pada pelabuhan laut dibedakan menurut jenis muatannya. Dermaga dapat dibedakan sebagai berikut : 1. Dermaga konvensional adalah dermaga yang digunakan untuk merapat atau sandar kapal-kapal konvensional. 2. Dermaga peti kemas adalah dermaga yang khusus digunakan untuk merapat atau sandar kapal-kapal yang membawa peti kemas. 3. Dermaga curah kering/cair, adalah dermaga khusus untuk barang-barang curah baik yang kering maupun cair Lapangan Penumpukan Lapangan penumpukan adalah suatu areal yang disediakan untuk menampung peti kemas yang akan dibongkar atau muat dari dan ke kereta api. Lapangan penumpukan dibagi menurut fungsinya : Kajian Pustaka 11

6 - Lapangan peti kemas impor - Lapangan peti kemas ekspor - Lapangan peti kemas kosong Laporan Tugas Akhir (SI-40Z1) Selain jenis-jenis diatas, areal penumpukan dapat dibagi-bagi lagi sesuai kebutuhan. Salah satu contoh adalah gudang-gudang CFS (Container Freight Station). Gudanggudang CFS agak berbeda dengan lapangan penumpukan tapi masih dapat dikategorikan sebagai suatu tempat konsolidasi barang-barang. Pada gudang CFS barang-barang dapat dibongkar maupun dimuat kedalam suatu peti kemas Peralatan Bongkar Muat Peti Kemas Peralatan bongkar muat peti kemas adalah peralatan khusus yang menangani proses bongkar muat peti kemas di terminal. Secara umum peralatan tersebut terdiri dari : 1. Container Crane, berfungsi sebagai alat untuk membongkar muat peti kemas dari kereta api ke areal bongkar muat atau sebaliknya. 2. Top loader, berfungsi menurunkan dan menaikkan peti kemas dari dan ke trailer atau untuk memindahkan peti kemas dari suatu tempat ke tempat lain. 3. Forklift, berfungsi untuk membongkar atau memuat barang dari atau ke dalam peti kemas. Forklift juga dapat digunakan untuk memindahkan peti kemas yang kosong tetapi tidak untuk peti kemas yang telah terisi. 4. Trailer, berfungsi untuk mengangkut peti kemas ke dalam atau pun keluar terminal. 2.5 Efisiensi Terminal Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengefisiensian dari suatu terminal. Antara lain: 1. Cukup dekat dengan jaringan utama kereta api, jaringan jalan darat, dan jaringan kelautan 2. Cukup jauh dari daerah pemukiman, karakteristik ini sangat erat hubungannya dengan gangguan yang ditimbulkan oleh pengoperasian terminal, misalnya: Polusi udara Polusi suara Kemacetan di jaringan jalan Dengan demikian terminal di perkotaan harus dapat menghindari gangguan-gangguan di atas. Kapasitas dan kualitas dari suatu terminal haruslah sesuai dengan kebutuhan shipper. Contohnya biaya pengangkutan, jadwal keberangkatan, dan waktu tunggu di container di terminal. Sehingga terminal dapat memberikan kinerja dengan baik. Kajian Pustaka 12

7 Pelayanan dari terminal itu sendiri harus sesuai dengan fungsinya, kostumer, jenis ITU, dan perekonomian daerah. Untuk itu, terminal yang ideal diharapkan memiliki antara lain: Peralatan bongkar muat Kantor operator Depot untuk ITU (kontainer) Tempat parkir kendaraan berat Instalasi perawatan Gudang Peningkatan kualitas terminal dapat dilakukan dengan cukup banyak cara dan sangat erat hubungannya dengan volume aktivitas terminal, tingkat kualitas dan tata letak dari terminal itu sendiri. Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk peningkatan kualitas terminal antara lain: Tersedianya rel kereta api yang cukup panjang Arus lalu lintas Pengefisiensian pengeluaran dan pemasukan administrasi Pengefektifan pergerakan terminal Tingkat kualitas dari suatu terminal dapat dilihat dari perbaikan pada waktu tunggu pada proses pengangkutan barang dari terminal sampai pelabuhan. Hal tersebut sangat dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu: Proses di terminal Tingkat sistem informasi terminal Tingkat performansi pengoperasian terminal Organisasi dan administrasi 2.6 Transportasi Barang Tujuan umum dari sistem transportasi perangkutan barang adalah untuk memastikan ketersediaan barang untuk produksi dan konsumsi di berbagai macam lokasi, ketersediaan sumber daya alam, serta kebutuhan penyalur dan konsumen atas barang. Di dalam sistem transportasi perangkutan barang banyak proses dapat diamati, dimana proses-proses tersebut memungkinkan fungsi yang diperlukan dapat terlaksana. Proses-proses ini terdiri dari banyak kegiatan yang dapat diamati dalam sistem transportasi perangkutan barang seperti pencampuran, sortir, penyimpanan, pengepakan, dan pengisian. Faktor-faktor yang mempengaruhi pergerakan transportasi barang, antara lain : 1. Faktor lokasi. Lokasi sumber bahan mentah dan input untuk proses produksi akan menentukan tingkat pergerakan angkutan barang. Kajian Pustaka 13

8 2. Tingkat perbedaan antara kebutuhan dan jumlah barang yang diproduksi. 3. Faktor fisik. Karakteristik dari bahan mentah dan produksi akhir mempengaruhi cara barang tersebut dipindahkan, baik dalam hal cara pengepakan maupun dalam hal pemilihan moda yang digunakan. 4. Faktor operasional. Kebijakan dalam jalur distribusi dan penyebaran geografis akan mempengaruhi kemungkinan penggunaan moda yang berbeda dan strategi pengiriman yang berbeda pula. 5. Faktor geografis. Lokasi dan kepadatan populasi dapat mempengaruhi distribusi produk akhir. 6. Faktor dinamis. Variasi permintaan dan perubahan selera pasar memiliki pengaruh yang kuat dalam perubahan pola pergerakan angkutan barang. 7. Faktor biaya. Karena barang yang didistribusikan merupakan barang ekonomi, maka biaya transportasinya diusahakan seminim mungkin agar tidak mengurangi nilai tambah barang tersebut. Beberapa syarat angkutan yang diinginkan oleh pemilik barang, yaitu : 1. Aman, barang yang diangkut terhindar dari gangguan yang memungkinkan volumenya berkurang atau yang menyebabkan kerusakan pada barang yang diangkut. 2. Tepat waktu, waktu pengangkutannya tepat baik pada keberangkatannya, barang naik ke kapal dan waktu tiba di tempat tujuan. 3. Selamat, kondisi barang yang diangkut masih seperti semula, tidak terjadi perubahan pada bentuk dan mutu barang. 4. Murah, biaya angkutan per-satuannya dapat bersaing Angkutan barang menurut kemasannya, secara umum terbagi dua, yaitu : 1. Angkutan non-kontainer Angkutan ini digunakan untuk pengiriman barang dalam bentuk padat yang dikemas dalam volume yang kecil, sehingga bisa diangkut dengan truk biasa, bukan dengan trailer. 2. Angkutan Kontainer (peti kemas) Angkutan ini digunakan untuk pengiriman barang dalam bentuk padat yang sudah dikemas dengan volume yang besar atau dengan tonase yang besar pula. Truk yang digunakan juga khusus berupa truk trailer. Angkutan ini biasa digunakan untuk barang-barang dengan mutu ekspor. Angkutan container juga terbagi dua, yaitu FCL (Full Container Load) dan LCL (Less than Container Load). Yang dimaksud FCL adalah container yang memiliki muatan satu jenis yang diangkut dalam satu container. Sedangkan LCL adalah container yang berisi bermacam-macam muatan dengan berbagai variasi kubikasi yang diangkut dalam satu container. Kajian Pustaka 14

9 Khusus kontainer, kemasan ini sangat cocok untuk pengangkutan barang yang menggunakan lebih dari satu moda transportasi (multi moda). Hal ini memungkinkan pengangkutan barang langsung dari pabrik ke tujuan akhir, tanpa dibebani oleh berbagai masalah dalam proses pengangkutannya. Karena itu, sistem container dapat digunakan untuk mengurangi biaya transportasi. Secara umum, pengurangan biaya total bisa didapat dari : a. Pengurangan biaya pengepakan Barang yang diangkut dengan container dapat langsung dimuat dan dikirim. Yang diperhitungkan adalah biaya menyewa container tersebut. b. Pengurang biaya atas kerusakan barang Kontainer terbuat dari bahan logam sehingga kerusakan barang dalam proses bongkar muat dapat ditekan sekecil mungkin. c. Pengurangan kemungkinan barang hilang Kontainer dilengkapi dengan sistem kunci yang kuat sehingga kemungkinan kehilangan barang dapat dikatakan tidak ada. d. Pengurangan biaya asuransi Kerusakan dan kehilangan barang dapat ditekan sehingga biaya asuransi pun secara otomatis dapat ditekan. e. Pengurangan biaya pemerikasaan Biaya pemerikasaan dapat ditekan karena container bersifat seperti gudang yang dapat dipindah-pindah. f. Pengurangan biaya transit dan transfer Kontainer terbuat dari logam dan bersifat sebagai gudang yang dapat dipindah-pindah serta dapat langsung dimuat ke moda pengangkut sehingga biaya transit dan transfer dapat ditekan. Tetapi diperlukan investasi yang cukup besar untuk membeli peralatan bongkar muat. g. Pengurangan biaya servis pintu ke pintu Pengiriman barang dapat dilakukan dengan hanya menggunakan saru container yang sama dari tempat asal sampai ke tempat tujuan dan dapat dilakukan dengan hanya satu dokumen saja sejak sampai dengan diserahkannya barang tersebut kepada penerima. Tetapi, disamping keuntungan di atas, container juga mempunyai kekurangan, yaitu beratnya sendiri yang besar. Secara Umum, ada beberapa pihak yang terlibat daalm pergerakan barang. Pihakpihak tersebut adalah : a. Shippers (pemilik barang), yaitu pihak yang memiliki barang yang akan diangkut. Biasanya adalah perusahaan produsen barang. b. Buyers (pembeli), yaitu pihak yang membeli barang yang diangkut. Untuk perdagangan ke luar negeri, dapat disebut sebagai importir. Kajian Pustaka 15

10 c. EMKL (ekspedisi Muatan Kapal Laut), yaitu jasa angkutan yang berwenang mengangkut barang hingga barang tersebut naik ke kapal, sekaligus mengurus dokumen-dokumen perjalanan barang tersebut. d. Freight forwarder, yaitu pihak yang mengurus masalah angkutan barang yang akan digunakan dan mengurus dokumen-dokumen perjalanan barang tersebut hingga sampai ke Negara tujuan buyers. Forwarder juga dapat berperan sebagai EMKL. 2.7 Angkutan Barang Bandung-Jakarta Dengan tingginya tingkat produksi ekspor di Jawa Barat, maka akan berhubungan erat pula dengan tingkat kebutuhan akan adanya angkutan barang. Semakin banyak volume komoditas-komoditas ekspor, maka akan semakin banyak pula pergerakan barang yang terjadi. Pada Tabel 2.1 ditunjukkan komoditas ekspor terbesar asal Jawa Barat yang secara langsung jumlahnya akan mempengaruhi pergerakan angkutan barang di daerah ini. Tabel 2.1 Ekspor Jawa Barat Menurut Jenis Komoditi Utama (Tahun ) No Jenis Komoditi Volume Volume (ton) (ton) 1 Tekstil dan Garment 1,077,748 1,007,424 2 Besi Baja 568, ,589 3 Kayu Olahan 237, ,245 4 Alat Elektronik 207, ,431 5 Mebel dan Kerajinan 186, ,021 6 Karet 171, ,466 7 Audio Visual 146, ,600 8 Sepatu 92,198 78,347 9 Teh 74,268 69, Kayu Lapis 54,195 45, Makanan Ternak 13,309 9, Udang Beku 3,146 2, Kulit 2, Coklat 1, Diode Transistor 1, Komponen Pesawat Terbang (CN-235) 162 6,743, Lain-lain 8,001,962 9,743,195 Total 10,838,665 9,208,777 (Sumber : BPS, 2002) Menurut Tabel 2.1, terjadi penurunan ekspor komoditas utama propinsi Jawa Barat, Termasuk untuk komoditas tekstil dan garment. Walaupun secara volume turun, namun apabila dibandingkan dengan keseluruhan volume ekspor Jawa Barat, prosentase untuk komoditas tekstil dan garment mengalami kenaikan, dari 9.94% menjadi 10,94% dari keseluruhan volume ekspor yang ada. Kajian Pustaka 16

11 Saat ini telah ada Pelabuhan Tanjung Priok yang menjadi pintu utama keluarnya barang-barang ekspor dari Jawa Barat, untuk barang-barang yang menggunakan moda truk dan moda kereta api. Mekanisme pergerakan barang dari pabrik menuju pelabuhan tergambar dalam skema pada Gambar 2.2. Stuffing DEPOT PETI KEMAS JAKARTA Truk Truk Lift on haulage Truk Lift off PABRIK Truk Lift off PELABUHAN TANJUNG PRIOK Stuffing Stuffing Truk Lift off Truk Truk TERMINAL PETI KEMAS BANDUNG Kereta api TERMINAL PETI KEMAS PASOSO Lift on haulage -Lift on -stucking Truk -Lift on -stack -Lift off -Stack = jalur muatan ekspor DEPOT PETI KEMAS BANDUNG = jalur muatan kosong/impor Gambar 2.2 Skema pergerakan barang dari pabrik menuju Pelabuhan Tanjung Priok (Sumber : LAPI-ITB, 2004) Dalam skema tersebut terlibat beberapa pihak dalam mata rantai servis pergerakan angkutan batang Bandung-Jakarta. Pihak-pihak tersebut, adalah : a. Freight forwarder dan EMKL, yang berwenang : Menghubungkan eksportir dengan pasar asing. Pembuat keputusan dalam memilih moda transportasi yang digunakan. Membawa kontainer dari pabrik menuju TPKB atau langsung menuju Pelabuhan Tanjung Priok. Memberikan masukan kepada Organda dalam menentukan tarif truk. Mengurus dokumen-dokumen perjalanan. b. PT. KAI (PT. Kereta Api Indonesia) di TPKB, yang berwenang : Mengurus dokumen-dokumen perjalanan Bongkar muat kontainer Penyimpanan kontainer Membawa kontainer dari TPKB menuju TPK Pasoso, dan sebaliknya. c. PT. MTI (PT. Multi Terminal Indonesia) di TPK Pasoso, yang berwenang : Kajian Pustaka 17

12 Menyiapkan alat, tenaga kerja serta area bongkar muat kontainer Penyimpanan kontainer Berkoordinasi dengan PT. KAI mengenai masalah jadwal keberangkatan Membawa kontainer dari TPK Pasoso sampai ke dermaga Pelabuhan Tanjung Priok. d. PT. JICT (PT. Jakarta International Container Terminal) di Pelabuhan Tanjung Priok, yang berwenang : Menyiapkan jadwal keberangkatan kapal Bongkar muat kontainer Menaikkan kontainer ke atas kapal Penyimpanan kontainer Freight forwarder/emkl mempunyai peranan penting dalam mengambil keputusan dalam pemilihan moda. Hal ini dikarenakan sebagian besar pengirim (shippers) menyerahkan sepenuhnya proses pengiriman barang dengan alasan kepraktisan. Namun tidak semua shippers menyerahkan masalah pengiriman kepada EMKL. 2.8 Angkutan kereta api Kunci utama dari angkutan kereta api barang adalah keberadaan Terminal Peti Kemas Gede Bage Bandung (TPKB). TPKB yang didirikan pada tanggal 22 Desember 1987 ini berfungsi sebagai : (1) Pelabuhan ekspor-impor. (2) Tempat persinggahan dan distribusi peti kemas ekspor-impor. (3) Tepat penyelesaian administrasi dan prosedur atas dokumen ekspor-impor (prinsip on train is on board). Keadaan yang masih terjadi di TPKB adalah : 1. Kereta api masih bergantung kepada angkutan truk dalam hal pengangkutan barang dari pabrik menuju TPKB. Hal ini berdampak pada penambahan biaya transportasi dan ketidakpraktisan angkutan kereta api. 2. Kereta api dari Gede Bage tidak memiliki akses langsung ke posisi sandar kapal di pelabuhan Tanjung Priok, namun hanya sampai ke TPK Pasoso yang berjarak 2 km ke pelabuhan. Akibatnya, peti kemas harus turun dari KA kemudian diangkut dengan truk ke posisi sandar kapal. Kontainer harus mengalami handling. Akibatnya, dari total handling cost, sebanyak 36% diantaranya harus membayar biaya tersebut. 3. Adanya batas waktu untuk memasukkan peti kemas ke kawasan pelabuhan (posisi sandar kapal) 9 jam sebelum keberangkatan kapal, yang disebut dengan closing time. Kajian Pustaka 18

13 4. Tidak konsistennya prinsip on train on board serta penegakan aturan yang telah ditetapkan pada sejumlah landasan hukum pendirian TPKB Gede Bage. 5. Jadwal keberangkatan yang kurang memperhitungkan kebutuhan konsumen. Khusus untuk masalah ini, terjadi karena keterbatasan infrastruktur dan prioritas kereta api barang yang lebih rendah dibandingkan dengan kereta api penumpang. 6. Kapasitas terbatas hanya pada container 20 feet dan 40 feet karena ukuran hing cube dan ukuran jumbo tidak dapat melewati terowongan sasaksaat. 2.9 Angkutan Jalan Raya Dari skema angkutan barang (Gambar 2.2) terlihat bahwa moda jalan raya (truk) mendominasi pergerakan walaupun peti kemas diangkut dengan KA. Hal ini didasari oleh beberapa alasan, antara lain : 1. Truk memiliki akses langsung ke konsumen (pabrik). Sehingga tidak ada tambahan biaya untuk handling (sistem pengangkutan barang single handling). 2. Jadwal keberangkatan truk fleksibel sehingga bisa disesuaikan dengan jadwal kedatangan kapal. 3. Waktu perjalanan dengan truk lebih singkat, hanya berkisar 3-4 jam saja. Lebih singkat dibandingkan dengan KA yang menghabiskan 6-7 jam untuk sampai TPK Pasoso, belum lagi biaya tambahan handling untuk perjalanan ke dermaga. Keunggulan lain yang dimiliki oleh pergerakan angkutan barang dengan truk didukung dengan adanya Jalan Tol Padalarang-Cikampek. Sehingga memudahkan pergerakan angkutan barang melalui jalan raya Transportasi Intermoda Sejumlah karakteristik penting dari transportasi intermoda yang perlu dipahami (menurut MT convention), yakni: - Perjalanan barang dengan 2 atau lebih moda transportasi, - Dilakukan dalam 1 kontrak, - Dalam 1 dokumen, dan - Oleh 1 penanggung jawab (MTO) untuk seluruh perjalanan Rantai Transportasi Intermoda Dalam jaringan transportasi intermoda yang baik, perlu adanya pembagian peran/fungsi dari setiap moda dan simpul transportasi sehingga terjadi pergerakan barang/orang yang efisien. Terdapat 4 definisi fungsi utama dalam transportasi intermoda (Rodrigue and Comtois 1 ), yakni: Kajian Pustaka 19

14 - Komposisi. Pengumpulan dan konsolidasi barang/penumpang di suatu terminal/simpul yang memungkinkan terjadinya interface intermoda antara sistem distribusi lokal/regional dan sistem distribusi nasional/internasional. - Koneksi. Pengaliran barang/penumpang diantara minimal dua terminal/ simpul. Efisiensi koneksi ini diperoleh dari economies of scale. - Perpindahaan/Interchange. Proses perpindahan moda di suatu terminal. Fungsi utama dari intermoda dilakukan di terminal yang berperan menyediakan kontinuitas pergerakan dalam rantai transportasi. - Dekomposisi. Proses pemisahan/fragmentasi barang/penumpang di terminal terdekat dari tujuan dan ditransfer ke dalam jaringan distribusi lokal/regional Pembagian Peran antar Moda Gambar 2.3 Rantai Transportasi Intermoda (Sumber: Rodrigue and Comtois) Transportasi intermoda merupakan usaha untuk meminimalkan biaya transportasi (waktu dan uang). Terdapat korelasi antara biaya transportasi, jarak perjalanan, dan pemilihan jenis moda transportasi yang digunakan, di mana umumnya moda jalan dipilih untuk jarak pendek, KA dipilih untuk jarak menengah, dan moda laut/udara dipilih untuk jarak jauh. Pada Gambar 2.4 disampaikan ilustrasi perbandingan biaya transportasi diantara moda jalan, rel KA, dan laut, dengan masing-masing memiliki fungsi biaya C1, C2, dan C3. Moda jalan memiliki fungsi biaya transportasi yang lebih rendah untuk jarak pendek, namun biayanya naik lebih cepat dibandingkan moda rel dan laut seiring dengan bertambahnya jarak perjalanan. Pada titik jarak sejauh D1, maka akan lebih menguntungkan jika perjalanan menggunakan moda rel sampai dengan titik D2, dan selebihnya akan lebih menguntungkan jika menggunakan moda laut. Kajian Pustaka 20

15 Gambar 2.4 Perbandingan Fungsi Biaya Transportasi Moda Jalan, Rel, dan Laut (Sumber: Rodrigue and Comtois) Indikator Kinerja Transportasi Intermoda Tujuan pengembangan jaringan prasarana dan jaringan pelayanan transportasi secara intermoda selalu diarahkan untuk meningkatkan efisiensi (minimize the cost) dan efektifitas (maximize the benefit). Ockwell (2001) mendefinisikan beberapa kategori indikator kinerja sistem transportasi intermoda sebagai berikut: - biaya - finansial (termasuk profitability), - waktu perjalanan (termasuk waktu transit, frekuensi pelayanan, dan reliabilitas/ketepatan waktu pelayanan), - kualitas pelayanan (kontrol kehilangan dan kerusakan/ control of loss and damage = L & D), dan - kemudahan penggunaan (termasuk administrasi, management aset, dan sumber daya manusia) Biaya Transportasi Menurut Edward K. Morlok 1995 : 380, biaya transportasi dapat dibedakan sebagai berikut : 1. Biaya untuk siapa, dikelompokan sebagai berikut : a. Pemakai jasa 1) Harga langsung (ongkos, tol dan sebagainya); 2) Waktu yang dipakai; 3) Ketidaknyamanan penumpang; 4) Kehilangan atau kerusakan barang, dan 5) Hal lain yang ditanggung oleh pemakai jasa b. Pemilik sistem operator 1) Biaya langsung konstruksi; Kajian Pustaka 21

16 2) Biaya operasi, dan 3) Biaya pemeliharaan c. Bukan pemakai 1) Perubahan nilai lahan, produktifitas dan sebagainya, dan 2) Penurunan tingkat lingkungan (misalnya kebisingan, timbulnya pencemaran baik terhadap lingkungan maupun udara/polusi, segi estetika dan sebagainya) d. Pemerintah 1) Pemberian subsidi dan sumbangan modal, dan 2) Kehilangan hasil pajak (misalnya jika terdapat jalan ataupun fasilitas milik umum lainnya yang menggantikan fungsi suatu lahan, yang dari padanya didapat perolehan pajak). e. Daerah 1) Bagi daerah biasanya tidak langsung, melainkan melalui suatu reorganisasi tata guna lahan, dan 2) Tingkat pertumbuhan yang terhambat 2. Biaya tetap dan biaya variabel. Secara garis besar biaya transportasi dapat digolongkan menjadi dua kelompok, yaitu : a. Biaya tetap yaitu biaya yang tidak bergantung pada perubahan volume produksi. Contoh : penyusutan, biaya perawatan, gaji, bungan uang, biaya overhead. b. Biaya variabel yaitu biaya yang berubah sebanding dengan perubahan volume produksi. Contoh : penggunaan BBM, penggantian suku cadang, oli dan lainlain. Kajian Pustaka 22

BAB I 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jawa Barat adalah Provinsi di Indonesia yang memiliki komoditas cukup besar. Terutama di bidang tekstil dan garment. Sehingga diperlukan suatu system transportasi

Lebih terperinci

EVALUASI PERFORMANSI ANGKUTAN BARANG PETI KEMAS RUTE BANDUNG-JAKARTA

EVALUASI PERFORMANSI ANGKUTAN BARANG PETI KEMAS RUTE BANDUNG-JAKARTA EVALUASI PERFORMANSI ANGKUTAN BARANG PETI KEMAS RUTE BANDUNG-JAKARTA TUGAS AKHIR SEBAGAI SALAH SATU SYARAT UNTUK MENYELESAIKAN PENDIDIKAN SARJANA TEKNIK DI PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL oleh AGUNG GINANJAR

Lebih terperinci

BAB VI 6 ANALISIS KEBIJAKAN

BAB VI 6 ANALISIS KEBIJAKAN BAB VI 6 ANALISIS KEBIJAKAN 6.1 Umum Pada bab analisis dapat diketahui bahwa sebetulnya dari segi harga angkutan barang yang melalui TPKB Gedebage membutuhkan biaya lebih kecil daripada melalui jalan raya.

Lebih terperinci

Deskipsi (S. Imam Wahyudi & Gata Dian A.) Menjelaskan tentang fasilitas Pelabuhan di darat meliputi : fasilitas-fasilitas darat yang berada di

Deskipsi (S. Imam Wahyudi & Gata Dian A.) Menjelaskan tentang fasilitas Pelabuhan di darat meliputi : fasilitas-fasilitas darat yang berada di Deskipsi (S. Imam Wahyudi & Gata Dian A.) Menjelaskan tentang fasilitas Pelabuhan di darat meliputi : fasilitas-fasilitas darat yang berada di terminal barang potongan, terminal peti kemas, terminal barang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. laporan Tugas Akhir ini. Adapun penelitian terdahulu yang penulis ulas

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. laporan Tugas Akhir ini. Adapun penelitian terdahulu yang penulis ulas BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu Sebelum laporan Tugas Akhir yang penulis kerjakan, telah banyak penelitian terdahulu yang memiliki pembahasan yang sama mengenai ekspor dan impor, hal ini

Lebih terperinci

Analisis Pemindahan Moda Angkutan Barang di Jalan Raya Pantura Pulau Jawa (Studi kasus: Koridor Surabaya Jakarta)

Analisis Pemindahan Moda Angkutan Barang di Jalan Raya Pantura Pulau Jawa (Studi kasus: Koridor Surabaya Jakarta) JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 1, (2013) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) E-17 Analisis Pemindahan Moda Angkutan Barang di Jalan Raya Pantura Pulau Jawa (Studi kasus: Koridor Surabaya Jakarta) Ardyah

Lebih terperinci

DAFTAR ISTILAH. Kapal peti kemas (containership) : kapal yang khusus digunakan untuk mengangkut peti kemas yang standar.

DAFTAR ISTILAH. Kapal peti kemas (containership) : kapal yang khusus digunakan untuk mengangkut peti kemas yang standar. DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN...ii KATA PENGANTAR... iii HALAMAN PERSEMBAHAN... v DAFTAR ISI... vi DAFTAR ISTILAH... ix DAFTAR TABEL... xi DAFTAR GAMBAR... xii DAFTAR LAMPIRAN...

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terletak pada lokasi yang strategis karena berada di persilangan rute perdagangan

BAB I PENDAHULUAN. terletak pada lokasi yang strategis karena berada di persilangan rute perdagangan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki lebih dari 17.000 pulau dengan dua pertiga wilayahnya adalah perairan dan terletak pada lokasi

Lebih terperinci

KEPUTUSAN DIREKSI (Persero) PELABUHAN INDONESIA II NOMOR HK.56/2/25/PI.II-02 TANGGAL 28 JUNI 2002

KEPUTUSAN DIREKSI (Persero) PELABUHAN INDONESIA II NOMOR HK.56/2/25/PI.II-02 TANGGAL 28 JUNI 2002 KEPUTUSAN DIREKSI (Persero) PELABUHAN INDONESIA II NOMOR HK.56/2/25/PI.II-02 TANGGAL 28 JUNI 2002 TENTANG TARIF PELAYANAN JASA PETIKEMAS PADA TERMINAL PETIKEMAS DI LINGKUNGAN PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kebutuhan akan jasa angkutan laut semakin lama semakin meningkat, baik

BAB I PENDAHULUAN. Kebutuhan akan jasa angkutan laut semakin lama semakin meningkat, baik BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Kebutuhan akan jasa angkutan laut semakin lama semakin meningkat, baik jumlahnya maupun macamnya. Usaha-usaha dalam pembangunan sarana angkutan laut yang dilakukan sampai

Lebih terperinci

BAB 1 BAB 1 PENDAHULUAN

BAB 1 BAB 1 PENDAHULUAN BAB 1 PENDAHULUAN BAB 1 1.1 Latar Belakang Sistem transportasi merupakan salah satu bagian penting bagi suatu pembangunan negara. Transportasi menjadi salah satu sektor pendukung kemajuan sistem logistik

Lebih terperinci

PENGENALAN ANALISIS OPERASI & EVALUASI SISTEM TRANSPORTASI SO324 - REKAYASA TRANSPORTASI UNIVERSITAS BINA NUSANTARA 2006

PENGENALAN ANALISIS OPERASI & EVALUASI SISTEM TRANSPORTASI SO324 - REKAYASA TRANSPORTASI UNIVERSITAS BINA NUSANTARA 2006 PENGENALAN ANALISIS OPERASI & EVALUASI SISTEM TRANSPORTASI SO324 - REKAYASA TRANSPORTASI UNIVERSITAS BINA NUSANTARA 2006 PENGENALAN DASAR-DASAR ANALISIS OPERASI TRANSPORTASI Penentuan Rute Sistem Pelayanan

Lebih terperinci

BAB V 5 ANALISIS DATA

BAB V 5 ANALISIS DATA Laporan Tugas Akhir (SI-4Z1) BAB V 5 ANALISIS DATA 5.1 Umum Pada Bab ini akan dianalisis faktor-faktor dan kondisi eksisting yang telah dipaparkan di Bab sebelumnya. Faktor-faktor tersebut merupakan faktor

Lebih terperinci

Pesawat Polonia

Pesawat Polonia BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia sebagai negara maritim sekaligus negara kepulauan terbesar di dunia, tidak bisa dibantah bahwa pelabuhan menjadi cukup penting dalam membantu peningkatan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Transportasi. Transportasi adalah usaha memindahkan, menggerakkan, mengangkut,

TINJAUAN PUSTAKA Transportasi. Transportasi adalah usaha memindahkan, menggerakkan, mengangkut, II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Transportasi Transportasi adalah usaha memindahkan, menggerakkan, mengangkut, atau mengalihkan suatu objek dari suatu tempat ke tempat lain, dimana di tempat ini objek tersebut

Lebih terperinci

ANALISIS KINERJA OPERASIONAL BONGKAR MUAT PETI KEMAS PELABUHAN TANJUNG EMAS SEMARANG

ANALISIS KINERJA OPERASIONAL BONGKAR MUAT PETI KEMAS PELABUHAN TANJUNG EMAS SEMARANG ANALISIS KINERJA OPERASIONAL BONGKAR MUAT PETI KEMAS PELABUHAN TANJUNG EMAS SEMARANG Mudjiastuti Handajani Dosen Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Sipil, Universitas Semarang Jalan Soekarno-Hatta, Tlogosari,

Lebih terperinci

BAB IV 4 GAMBARAN KONDISI EKSISTING

BAB IV 4 GAMBARAN KONDISI EKSISTING BAB IV 4 GAMBARAN KONDISI EKSISTING 4.1 Umum Untuk mengangkut peti kemas dari pabrik-pabrik yang berlokasi di sekitar Bandung ke Pelabuhan Tanjung Priok atau sebaliknya, ada 2 (dua) skema pergerakan pengangkutan

Lebih terperinci

[ U.30 ] PENELITIAN FAKTOR DOMINAN YANG MEMPENGARUHI TERHAMBATNYA ARUS DISTRIBUSI BARANG PADA TERMINAL PETI KEMAS GEDEBAGE BANDUNG

[ U.30 ] PENELITIAN FAKTOR DOMINAN YANG MEMPENGARUHI TERHAMBATNYA ARUS DISTRIBUSI BARANG PADA TERMINAL PETI KEMAS GEDEBAGE BANDUNG [ U.30 ] PENELITIAN FAKTOR DOMINAN YANG MEMPENGARUHI TERHAMBATNYA ARUS DISTRIBUSI BARANG PADA TERMINAL PETI KEMAS GEDEBAGE BANDUNG Tim Peneliti : 1. Rosita Sinaga, S.H., M.M. 2. Akhmad Rizal Arifudin,

Lebih terperinci

EVALUASI SISTEM OPERASI DRY PORT GEDEBAGE

EVALUASI SISTEM OPERASI DRY PORT GEDEBAGE EVALUASI SISTEM OPERASI DRY PORT GEDEBAGE TUGAS AKHIR SEBAGAI SALAH SATU SYARAT UNTUK MENYELESAIKAN PENDIDIKAN SARJANA TEKNIK DI PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL oleh ANDY FERDIAN NIM : 15098105 PEMBIMBING Dr.Ir.Ade

Lebih terperinci

Terminal Darat, Laut, dan

Terminal Darat, Laut, dan Terminal Darat, Laut, dan Udara Adipandang Y 11 Beberapa definisi tentang Terminal TERMINAL Merupakan komponen penting dalam sistem transportasi yang direpresentasikan dengan titik dimana penumpang dan

Lebih terperinci

Ir. Dicky Gumilang, MSc. Manajemen Rantai Pasokan

Ir. Dicky Gumilang, MSc. Manajemen Rantai Pasokan Ir. Dicky Gumilang, MSc. Manajemen Rantai Pasokan Transportasi memindahkan produk dari satu tempat ke tempat lain, mendukung suatu rantai pasokan menjalankan fungsi pengiriman barang dari hulu (pemasok)

Lebih terperinci

BAB III 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB III 3 METODOLOGI PENELITIAN BAB III 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Pendahuluan Penyusunan Tugas Akhir ini adalah kegiatan dalam bentuk penelitian yang dilakukan berdasarkan program kerja berurutan dan saling berkaitan. Tahapan-tahapan

Lebih terperinci

ANALISIS MEKANISME DAN KINERJA KONSOLIDASI PETIKEMAS

ANALISIS MEKANISME DAN KINERJA KONSOLIDASI PETIKEMAS ANALISIS MEKANISME DAN KINERJA KONSOLIDASI PETIKEMAS * Siti Dwi Lazuardi, **Firmanto Hadi. *Mahasiswa Jurusan Teknik Perkapalan ** Staff Pengajar Jurusan Teknik Perkapalan Transportasi Laut - Teknik Perkapalan,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Angkot Angkutan adalah mode transportasi yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat di Indonesia khususnya di Purwokerto. Angkot merupakan mode transportasi yang murah dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Terminal Peti Kemas (TPK) Koja merupakan salah satu pelabuhan yang memberikan

BAB I PENDAHULUAN. Terminal Peti Kemas (TPK) Koja merupakan salah satu pelabuhan yang memberikan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Terminal Peti Kemas (TPK) Koja merupakan salah satu pelabuhan yang memberikan jasa pelayanan bongkar dan muat peti kemas yang terletak di wilayah Pelabuhan Tanjung

Lebih terperinci

BAB. 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB. 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB. 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 SISTEM TRANSPORTASI 2.1.1 Pengertian Sistem adalah suatu bentuk keterkaitan antara suatu variabel dengan variabel lainnya dalam tatanan yang terstruktur, dengan kata lain sistem

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pelabuhan merupakan simpul transportasi laut yang menjadi fasilitas penghubung dengan daerah lain untuk melakukan aktivitas perdagangan. Pelabuhan memiliki peranan

Lebih terperinci

Kargo adalah semua barang yang dikirim melalui udara (pesawat terbang), laut (kapal) atau darat baik antar wilayah atau kota di dalam negeri maupun

Kargo adalah semua barang yang dikirim melalui udara (pesawat terbang), laut (kapal) atau darat baik antar wilayah atau kota di dalam negeri maupun Kargo adalah semua barang yang dikirim melalui udara (pesawat terbang), laut (kapal) atau darat baik antar wilayah atau kota di dalam negeri maupun antar negara (internasional) Menurut International Air

Lebih terperinci

BAB VI ANALISA EKONOMI DAN FINANSIAL

BAB VI ANALISA EKONOMI DAN FINANSIAL BAB VI ANALISA EKONOMI DAN FINANSIAL 6.1. Analisa Ekonomi Analisa ekononi dilakukan untuk mengetahui kelayakan pembangunan pelabuhan peti kemas ini dilihat dari sudut pandang pemakai jasa pelabuhan. Analisa

Lebih terperinci

Rp ,- (Edisi Indonesia) / Rp ,- (Edisi Inggris) US$ 750 Harga Luar Negeri

Rp ,- (Edisi Indonesia) / Rp ,- (Edisi Inggris) US$ 750 Harga Luar Negeri Hubungi Kami (021) 3193 0108 (021) 3193 0109 (021) 3193 0070 (021) 3193 0102 [email protected] www.cdmione.com A ngkutan barang memegang peranan penting dalam menunjang keberhasilan pembangunan suatu

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. Hasil penelitian yang telah diperoleh dan simpulan merupakan jawaban. dari perumusan masalah yang ada sebagai berikut:

BAB V PENUTUP. Hasil penelitian yang telah diperoleh dan simpulan merupakan jawaban. dari perumusan masalah yang ada sebagai berikut: BAB V PENUTUP Hasil penelitian yang telah diperoleh dan simpulan merupakan jawaban dari perumusan masalah yang ada sebagai berikut: 5.1. Simpulan 5.1.1. Hasil analisis menunjukkan bahwa dapat didentifikasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. serta sebagai tempat perpindahan intra-dan antarmoda transportasi.

BAB I PENDAHULUAN. serta sebagai tempat perpindahan intra-dan antarmoda transportasi. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menurut Pasal 1 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, Pelabuhan merupakan tempat yang terdiri atas daratan dan/atau perairan dengan batas-batas tertentu

Lebih terperinci

Ir. Dicky Gumilang, MSc. Manajemen Rantai Pasokan

Ir. Dicky Gumilang, MSc. Manajemen Rantai Pasokan Ir. Dicky Gumilang, MSc. Manajemen Rantai Pasokan Transportasi memindahkan produk dari satu tempat ke tempat lain yang membuat suatu rantai pasokan menjalankan pengiriman barang dari hulu ke hilir (pelanggan).

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mereka. Adanya perbedaan kekayaan alam serta sumber daya manusia

BAB I PENDAHULUAN. mereka. Adanya perbedaan kekayaan alam serta sumber daya manusia BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin modern, perdagangan lokal maupun internasional mengalami peningkatan yang cukup tinggi. Setiap negara memiliki kebutuhan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kebutuhan untuk sarana transportasi umum dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Dalam hal ini, transportasi memegang peranan penting dalam memberikan jasa layanan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. gelombang, yang dilengkapi dengan fasilitas terminal laut meliputi dermaga

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. gelombang, yang dilengkapi dengan fasilitas terminal laut meliputi dermaga BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1.1 Pengertian Pelabuhan Pelabuhan (port) adalah daerah perairan yang terlindungi terhadap gelombang, yang dilengkapi dengan fasilitas terminal laut meliputi dermaga dimana kapal

Lebih terperinci

Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan - Universitas Gadjah Mada. Pertemuan Kesembilan TRANSPORTASI UDARA

Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan - Universitas Gadjah Mada. Pertemuan Kesembilan TRANSPORTASI UDARA Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan - Universitas Gadjah Mada Pertemuan Kesembilan TRANSPORTASI UDARA Transportasi udara dapat diklasifikasikan menjadi 2 kelompok: 1. Penerbangan domestik 2. Penerbangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. akan menempatkan eksploitasi laut sebagai primadona industri, baik dari segi

BAB I PENDAHULUAN. akan menempatkan eksploitasi laut sebagai primadona industri, baik dari segi BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Indonesia memiliki sumber daya alam yang sangat kaya. Hal ini berarti akan menempatkan eksploitasi laut sebagai primadona industri, baik dari segi kekayaan alam maupun

Lebih terperinci

PENDAHULUAN ANGKUTAN BARANG 2/23/2018. Pertemuan 1 MATA KULIAH: PERENCANAAN SISTEM LOGISTIK DAN TRANSPORTASI

PENDAHULUAN ANGKUTAN BARANG 2/23/2018. Pertemuan 1 MATA KULIAH: PERENCANAAN SISTEM LOGISTIK DAN TRANSPORTASI Pertemuan 1 PENDAHULUAN MATA KULIAH: PERENCANAAN SISTEM LOGISTIK DAN TRANSPORTASI Dr.Eng. M. Zudhy Irawan, S.T, M.T zudhyirawan.staff.ugm.ac.id ANGKUTAN BARANG 1 Urgensi Angkutan Barang dalam Performansi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan, yang terdiri dari beribu-ribu pulau besar maupun kecil. Kondisi tersebut menyebabkan sektor transportasi memiliki peranan yang

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. Sektor unggulan di Kota Dumai diidentifikasi dengan menggunakan

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. Sektor unggulan di Kota Dumai diidentifikasi dengan menggunakan BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Sektor unggulan di Kota Dumai diidentifikasi dengan menggunakan beberapa alat analisis, yaitu analisis Location Quetiont (LQ), analisis MRP serta Indeks Komposit. Kemudian untuk

Lebih terperinci

MODEL PENGAMBILAN KEPUTUSAN PERENCANAAN SANDARAN KAPAL INTEGRASI DENGAN LAYANAN KERETA API BARANG. (STUDI KASUS: PT.TERMINAL TELUK LAMONG SURABAYA)

MODEL PENGAMBILAN KEPUTUSAN PERENCANAAN SANDARAN KAPAL INTEGRASI DENGAN LAYANAN KERETA API BARANG. (STUDI KASUS: PT.TERMINAL TELUK LAMONG SURABAYA) MODEL PENGAMBILAN KEPUTUSAN PERENCANAAN SANDARAN KAPAL INTEGRASI DENGAN LAYANAN KERETA API BARANG. (STUDI KASUS: PT.TERMINAL TELUK LAMONG SURABAYA) Ivan Akhmad 1) dan Ahmad Rusdiansyah 2) 1) Program Studi

Lebih terperinci

Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan Universitas Gadjah Mada. Pertemuan Ke - 10

Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan Universitas Gadjah Mada. Pertemuan Ke - 10 Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan Universitas Gadjah Mada Pertemuan Ke - 10 1 PENDAHULUAN Dalam melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat yang lain, seringkali tidak bisa ditempuh dengan satu moda

Lebih terperinci

TATANAN KEPELABUHAN NASIONAL KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 53 TAHUN 2002 MENTERI PERHUBUNGAN,

TATANAN KEPELABUHAN NASIONAL KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 53 TAHUN 2002 MENTERI PERHUBUNGAN, TATANAN KEPELABUHAN NASIONAL KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 53 TAHUN 2002 MENTERI PERHUBUNGAN, Menimbang : a. bahwa berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 69 Tahun 2001 tentang Kepelabuhanan, dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Troughput. Gambar 1.1. Troughput di TPKS (TPKS,2013)

BAB I PENDAHULUAN. Troughput. Gambar 1.1. Troughput di TPKS (TPKS,2013) Troughput BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Terminal Peti Kemas Semarang (TPKS) merupakan tempat berlabuhnya kapal yang akan melakukan kegiatan bongkar muat peti kemas. Aktivitas bongkar muat yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perekonomian khususnya perkotaan. Hal tersebut dikarenakan transportasi

BAB I PENDAHULUAN. perekonomian khususnya perkotaan. Hal tersebut dikarenakan transportasi 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Transportasi memegang peranan penting dalam pertumbuhan perekonomian khususnya perkotaan. Hal tersebut dikarenakan transportasi berhubungan dengan kegiatan-kegiatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yakni bentuk keterikatan dan keterkaitan antara satu variabel dengan variabel. optimalisasi proses pergerakan tersebut.

BAB I PENDAHULUAN. yakni bentuk keterikatan dan keterkaitan antara satu variabel dengan variabel. optimalisasi proses pergerakan tersebut. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sistem tranportasi memiliki satu kesatuan definisi yang terdiri atas sistem, yakni bentuk keterikatan dan keterkaitan antara satu variabel dengan variabel lain

Lebih terperinci

PERMASALAHAN PADA PELABUHAN TANJUNG PRIOK Oleh : Tulus Hutagalung

PERMASALAHAN PADA PELABUHAN TANJUNG PRIOK Oleh : Tulus Hutagalung PERMASALAHAN PADA PELABUHAN TANJUNG PRIOK Oleh : Tulus Hutagalung A. PENDAHULUAN Setelah dibukanya Terusan Suez pada tahun 1869, arus kunjungan kapal ke Indonesia meningkat dengan drastis sehingga dibutuhkan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut kamus besar bahasa Indonesia edisi (2005) Evaluasi adalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut kamus besar bahasa Indonesia edisi (2005) Evaluasi adalah BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Evaluasi penilaian. Menurut kamus besar bahasa Indonesia edisi (2005) Evaluasi adalah 2.2 Angkutan Undang undang Nomer 22 Tahun 2009 pasal 1 ayat 1 tentang Lalu Lintas dan Angkutan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. di sembarang tempat. Selain itu sumber bahan baku tersebut harus melalui

BAB I PENDAHULUAN. di sembarang tempat. Selain itu sumber bahan baku tersebut harus melalui BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengangkutan diperlukan karena sumber kebutuhan manusia tidak berada di sembarang tempat. Selain itu sumber bahan baku tersebut harus melalui tahapan produksi yang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mana kapal dapat bertambat untuk bongkar muat barang, kran-kran untuk bongkar

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mana kapal dapat bertambat untuk bongkar muat barang, kran-kran untuk bongkar BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pelabuhan Pelabuhan (Port) adalah daerah perairan yang terlindung terhadap gelombang, yang dilengkapi dengan fasilitas terminal laut meliputi dermaga di mana kapal dapat bertambat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sumber : Data AMDK tahun 2011 Gambar 1.1 Grafik volume konsumsi air minum berdasarkan tahun

BAB I PENDAHULUAN. Sumber : Data AMDK tahun 2011 Gambar 1.1 Grafik volume konsumsi air minum berdasarkan tahun BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kota Jakarta sebagai metropolitan dengan jumlah penduduk yang semakin meningkat menghasilkan permasalahan mendasar yang pelik dan salah satunya adalah ketersediaan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Belawan International Container Terminal (BICT) sebagai unit usaha PT.

BAB 1 PENDAHULUAN. Belawan International Container Terminal (BICT) sebagai unit usaha PT. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Jalur transportasi air/laut merupakan salah satu jalur transportasi yang paling sering digunakan untuk pengiriman barang dalam skala kecil sampai dengan skala besar,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kemajuan teknologi di bidang transportasi sangat membantu manusia dalam menghemat waktu perjalanan yang tadinya berlangsung sangat lama menjadi lebih cepat. Teknologi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Pemahaman Judul Tanjung Emas Container (Peti Kemas) Apartement

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Pemahaman Judul Tanjung Emas Container (Peti Kemas) Apartement BAB I PENDAHULUAN 1.1 Pemahaman Judul Tanjung Emas Tanjung Emas adalah suatu kawasan pelabuhan yang berada di daerah pesisir utara jawa, dan berada disebelah utara kawasan kota Semarang. Pelabuhan yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (Asia dan Australia), jelas ini memberikan keuntungan bagi negara indonesia

BAB I PENDAHULUAN. (Asia dan Australia), jelas ini memberikan keuntungan bagi negara indonesia BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Negara Indonesia dari sudut pandang geografis terletak di daerah katulistiwa, terletak diantara dua samudra (Hindia dan Pasifik) dan dua benua (Asia dan Australia),

Lebih terperinci

I-1 BAB I PENDAHULUAN

I-1 BAB I PENDAHULUAN I-1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Indonesia sebagai negara kepulauan, peranan pelayaran sangat penting bagi kehidupan ekonomi, sosial, pemerintahan, pertahanan/keamanan. Bidang kegiatan pelayaran

Lebih terperinci

ARAHAN PENATAAN RUANG AKTIVITAS DI PELABUHAN TANJUNG TEMBAGA DI PROBOLINGGO TUGAS AKHIR

ARAHAN PENATAAN RUANG AKTIVITAS DI PELABUHAN TANJUNG TEMBAGA DI PROBOLINGGO TUGAS AKHIR ARAHAN PENATAAN RUANG AKTIVITAS DI PELABUHAN TANJUNG TEMBAGA DI PROBOLINGGO TUGAS AKHIR Oleh : MAHMUDAH L2D 097 456 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan Industri di Jawa Tengah telah meningkatkan nilai ekspor pada

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan Industri di Jawa Tengah telah meningkatkan nilai ekspor pada BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permasalahan Pertumbuhan Industri di Jawa Tengah telah meningkatkan nilai ekspor pada tahun 2001 hingga $ 1,97 milyar Amerika, terdiri dari ekspor migas sebesar $

Lebih terperinci

DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN... 1

DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN... 1 DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang... 1 1.1.1 Dasar Hukum... 1 1.1.2 Gambaran Umum Singkat... 1 1.1.3 Alasan Kegiatan Dilaksanakan... 3 1.2 Maksud dan Tujuan... 3 1.2.1 Maksud Studi...

Lebih terperinci

PENGANGKUTAN BARANG DI JALUR PANTURA

PENGANGKUTAN BARANG DI JALUR PANTURA PENGANGKUTAN BARANG DI JALUR PANTURA Oleh: Imran Rasyid, dkk Penulis Kementerian Perhubungan Republik Indonesia Jalan utama di Pulau Jawa yang lebih dikenal dengan nama Jalur Pantura (Jalur Pantai Utara)

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.118, 2012 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN PERHUBUNGAN. Penyelenggaraan. Pengusahaan. Angkutan Multimoda. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM. 8 TAHUN 2012 TENTANG

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Laju pertumbuhan ekonomi di beberapa propinsi di Indonesia menunjukkan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Laju pertumbuhan ekonomi di beberapa propinsi di Indonesia menunjukkan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Laju pertumbuhan ekonomi di beberapa propinsi di Indonesia menunjukkan peningkatan yang significan tiap tahunnya, hal ini nyata dilihat sejak digulirnya konsep otonomi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kemampuan yang rendah dalam melakukan muat-bongkar barang dan upah. terciptanya peti kemas (container) (Amir MS, 2004:111).

BAB I PENDAHULUAN. kemampuan yang rendah dalam melakukan muat-bongkar barang dan upah. terciptanya peti kemas (container) (Amir MS, 2004:111). BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perdagangan internasional sangat memerlukan adanya transportasi khususnya dibidang ekspor karena dapat memperlancar pengiriman barang sampai negara tujuan, barang-barang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Transportasi Transportasi adalah pergerakan orang dan barang bisa dengan kendaraan bermotor, kendaraan tidak bermotor atau jalan kaki, namun di Indonesia sedikit tempat atau

Lebih terperinci

BAB I. Pendahuluan. Indonesia terletak di wilayah Jawa Tengah, yaitu Pelabuhan Tanjung Emas

BAB I. Pendahuluan. Indonesia terletak di wilayah Jawa Tengah, yaitu Pelabuhan Tanjung Emas BAB I Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Salah satu pelabuhan besar di Indonesia yang dikelola oleh PT Pelabuhan Indonesia terletak di wilayah Jawa Tengah, yaitu Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Pelabuhan

Lebih terperinci

Studi Master Plan Pelabuhan Bungkutoko di Kendari KATA PENGANTAR

Studi Master Plan Pelabuhan Bungkutoko di Kendari KATA PENGANTAR KATA PENGANTAR Buku Laporan ini disusun oleh Konsultan PT. Kreasi Pola Utama untuk pekerjaan Studi Penyusunan Master Plan Pelabuhan Bungkutoko di Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara. Laporan ini adalah

Lebih terperinci

RANCANGAN KRITERIA KLASIFIKASI PELAYANAN PELABUHAN

RANCANGAN KRITERIA KLASIFIKASI PELAYANAN PELABUHAN RANCANGAN KRITERIA KLASIFIKASI PELAYANAN PELABUHAN LAMPIRAN 1 i DAFTAR ISI 1. Ruang Lingkup 2. Acuan 3. Istilah dan Definisi 4. Persyaratan 4.1. Kriteria dan Variabel Penilaian Pelabuhan 4.2. Pengelompokan

Lebih terperinci

PRESENTASI TUGAS AKHIR ANALISIS KONDISI HAULAGE PETI KEMAS DI AREA PELABUHAN (STUDI KASUS: PELABUHAN TANJUNG PERAK SURABAYA) Disusun oleh:

PRESENTASI TUGAS AKHIR ANALISIS KONDISI HAULAGE PETI KEMAS DI AREA PELABUHAN (STUDI KASUS: PELABUHAN TANJUNG PERAK SURABAYA) Disusun oleh: 2010 PRESENTASI TUGAS AKHIR COMPANY (MN 091482) NAME ANALISIS KONDISI HAULAGE PETI KEMAS DI AREA PELABUHAN (STUDI KASUS: PELABUHAN TANJUNG PERAK SURABAYA) Disusun oleh: M. Imam Wahyudi N.R.P. 4105 100

Lebih terperinci

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN 1. Kriteria Pelabuhan yang Dapat Diusahakan Secara Komersial dan Non Komersial a. Kriteria Pelabuhan yang Dapat Diusahakan Secara Komersial 1) Memiliki fasilitas

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 1996 TENTANG KEPELABUHANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 1996 TENTANG KEPELABUHANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 1996 TENTANG KEPELABUHANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa dalam Undang-undang Nomor 21 Tahun 1992 tentang Pelayaran, telah diatur

Lebih terperinci

Depo Petikemas Pengawasan Pabean (DP3) (Oleh : Syaiful Anwar / Widyaiswara Utama)

Depo Petikemas Pengawasan Pabean (DP3) (Oleh : Syaiful Anwar / Widyaiswara Utama) Depo Petikemas Pengawasan Pabean (DP3) (Oleh : Syaiful Anwar / Widyaiswara Utama) Ringkasan Depo Peti Kemas Pengawasan Pabean (DP3) adalah salah satu bentuk Fasilitas Lembaga Kepabeanan yang berfungsi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Bandar Udara dan Sistem Lapangan Terbang. Menurut Annex 14 dari ICAO (International Civil Aviation Organization):

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Bandar Udara dan Sistem Lapangan Terbang. Menurut Annex 14 dari ICAO (International Civil Aviation Organization): BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Bandar Udara dan Sistem Lapangan Terbang 2.1.1. Bandar udara Menurut Annex 14 dari ICAO (International Civil Aviation Organization): Bandar udara adalah area tertentu di daratan

Lebih terperinci

Pelabuhan Tanjung Priok

Pelabuhan Tanjung Priok Pelabuhan Tanjung Priok Alamat : Jalan Raya Pelabuhan Nomor 9, Jakarta Utara, DKI Jakarta. Kode Pos : 14310 Telepon : 62-21-4367305 62-21-4301080 Faximile : 62-21-4372933 Peta Lokasi: Sumber: maps.google.com

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.213, 2015 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENKEU. Pabean. Kawasan. Penimbunan Sementara. Tempat. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23/PMK.04/2015 TENTANG KAWASAN PABEAN DAN TEMPAT

Lebih terperinci

TRANSPORTASI DALAM RANTAI PASOK DAN LOGISTIK

TRANSPORTASI DALAM RANTAI PASOK DAN LOGISTIK TRANSPORTASI DALAM RANTAI PASOK DAN LOGISTIK Oleh: Dr. Zaroni, CISCP. Senior Consultant at Supply Chain Indonesia Transportasi berperan penting dalam manajemen rantai pasok. Dalam konteks rantai pasok,

Lebih terperinci

Dr.Eng. MUHAMMAD ZUDHY IRAWAN

Dr.Eng. MUHAMMAD ZUDHY IRAWAN Prodi S1 Teknik Sipil, Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Universitas Gadjah Mada Dr.Eng. MUHAMMAD ZUDHY IRAWAN Pertemuan Pertama Prodi S1 Teknik Sipil, Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan Universitas

Lebih terperinci

A. Abstrak Pengusaha Tiongkok mempunyai rencana mengembangkan kawasan Gunung Kijang di pulau Bintan menjadi kawasan industri. Pelabuhan peti kemas

A. Abstrak Pengusaha Tiongkok mempunyai rencana mengembangkan kawasan Gunung Kijang di pulau Bintan menjadi kawasan industri. Pelabuhan peti kemas 1 A. Abstrak Pengusaha Tiongkok mempunyai rencana mengembangkan kawasan Gunung Kijang di pulau Bintan menjadi kawasan industri. Pelabuhan peti kemas sangat dibutuhkan untuk operasional kawasan industri

Lebih terperinci

PENGANTAR TEKNIK TRANSPORTASI TERMINAL. UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA Jl. Boulevard Bintaro Sektor 7, Bintaro Jaya Tangerang Selatan 15224

PENGANTAR TEKNIK TRANSPORTASI TERMINAL. UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA Jl. Boulevard Bintaro Sektor 7, Bintaro Jaya Tangerang Selatan 15224 PENGANTAR TEKNIK TRANSPORTASI TERMINAL UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA Jl. Boulevard Bintaro Sektor 7, Bintaro Jaya Tangerang Selatan 15224 PENDAHULUAN TERMINAL kelancaran mobilitas keterpaduan intra dan

Lebih terperinci

Terminal kargo bandar udara

Terminal kargo bandar udara Standar Nasional Indonesia Terminal kargo bandar udara ICS 93.120 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan normatif... 1 3 Istilah dan definisi...

Lebih terperinci

Boks 2. Kesuksesan Sektor Jasa Angkutan Udara di Provinsi Jambi

Boks 2. Kesuksesan Sektor Jasa Angkutan Udara di Provinsi Jambi Boks 2. Kesuksesan Sektor Jasa Angkutan Udara di Provinsi Jambi Perekonomian Jambi yang mampu tumbuh sebesar 5,89% pada tahun 2006 merupakan prestasi tersendiri. Pada awal tahun bekerjanya mesin ekonomi

Lebih terperinci

Sinergi pengembangan kawasan industri dan pergudangan dengan pelabuhan peti kemas di kawasan khusus Madura

Sinergi pengembangan kawasan industri dan pergudangan dengan pelabuhan peti kemas di kawasan khusus Madura Sinergi pengembangan kawasan industri dan pergudangan dengan pelabuhan peti kemas di kawasan khusus Madura Dr. Saut Gurning Fakultas Teknologi Kelautan ITS Jalan Arif Rahman Hakim, Keputih-Sukolilo, Surabaya,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 2001 TENTANG KEPELABUHANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 2001 TENTANG KEPELABUHANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 2001 TENTANG KEPELABUHANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah, Pemerintah Daerah diberikan

Lebih terperinci

Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 1996 Tentang : Kepelabuhanan

Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 1996 Tentang : Kepelabuhanan Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 1996 Tentang : Kepelabuhanan Oleh : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor : 70 TAHUN 1996 (70/1996) Tanggal : 4 DESEMBER 1996 (JAKARTA) Sumber : LN 1996/107; TLN PRESIDEN

Lebih terperinci

SU Studi Basic Design Rancangan Bangun Pesawat Udara Untuk Flying School. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perhubungan Udara

SU Studi Basic Design Rancangan Bangun Pesawat Udara Untuk Flying School. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perhubungan Udara SU 2014 03 Studi Basic Design Rancangan Bangun Pesawat Udara Untuk Flying School Pusat Penelitian dan Pengembangan Perhubungan Udara Jakarta: Badan penelitian dan Pengembangan Perubungan, 2014. 468 Hlm.

Lebih terperinci

BAB III PENGUMPULAN DATA

BAB III PENGUMPULAN DATA BAB III PENGUMPULAN DATA Data yang digunakan dalam penyusunan tugas akhir ini merupakan data yang berasal dari perusahaan 3 rd party Logistics yang menangani kegiatan pergudangan untuk shipment ekspor

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengakibatkan tumbuh pesatnya persaingan pada industri jasa kepelabuhanan.

BAB I PENDAHULUAN. mengakibatkan tumbuh pesatnya persaingan pada industri jasa kepelabuhanan. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sejalan dengan diberlakukannya UU No. 17/2008 tentang Pelayaran yang mengatur tentang penghapusan monopoli dalam penyelenggaraan pelabuhan mengakibatkan tumbuh pesatnya

Lebih terperinci

P E N J E L A S A N ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG ANGKUTAN MULTIMODA

P E N J E L A S A N ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG ANGKUTAN MULTIMODA P E N J E L A S A N ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG I. UMUM ANGKUTAN MULTIMODA Angkutan multimoda (Multimodal Transport) adalah angkutan barang dengan menggunakan

Lebih terperinci

URGENSI ANGKUTAN BARANG DALAM PERFORMANSI TRANSPORTASI 12/8/2014

URGENSI ANGKUTAN BARANG DALAM PERFORMANSI TRANSPORTASI 12/8/2014 Pertemuan ke - 14 Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan Universitas Gadjah Mada URGENSI ANGKUTAN BARANG DALAM PERFORMANSI TRANSPORTASI Angkutan barang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses produksi.

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 2001 TENTANG KEPELABUHANAN

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 2001 TENTANG KEPELABUHANAN PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 2001 TENTANG KEPELABUHANAN UMUM Pelabuhan sebagai salah satu unsur dalam penyelenggaraan pelayaran memiliki peranan yang sangat penting

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI. Kata Pengantar... i Daftar Isi... ii

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI. Kata Pengantar... i Daftar Isi... ii KATA PENGANTAR Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas karunia-nya Buku Informasi Transportasi Kementerian Perhubungan 2012 ini dapat tersusun sesuai rencana. Buku Informasi Transportasi

Lebih terperinci

REKAYASA TRANSPORTASI

REKAYASA TRANSPORTASI REKAYASA TRANSPORTASI KAMIS 09.40 11.20 1 REKAYASA TRANSPORTASI Copyright 2017 By. Ir. Arthur Daniel Limantara, MM, MT Materi TRANSPORTASI DASAR PENGENALAN TRANSPORTASI PERENCANAAN TRANSPORTASI KEAMANAN

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI 14 BAB III LANDASAN TEORI 3.1. Pengertian Umum Transportasi Kebutuhan akan transportasi timbul dari kebutuhan manusia. Transportasi dapat diartikan sebagai kegiatan yang memungkinkan perpindahan barang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Infrastruktur memegang peranan penting sebagai salah satu roda

BAB I PENDAHULUAN. Infrastruktur memegang peranan penting sebagai salah satu roda BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Infrastruktur memegang peranan penting sebagai salah satu roda penggerak pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Keberadaan infrastruktur yang memadai sangat diperlukan

Lebih terperinci

B A B 1 P E N D A H U L U A N. bernama Pelabuhan Panjang yang merupakan salah satu Pelabuhan Laut kelas

B A B 1 P E N D A H U L U A N. bernama Pelabuhan Panjang yang merupakan salah satu Pelabuhan Laut kelas 1 B A B 1 P E N D A H U L U A N 1.1. Latar Belakang Provinsi Lampung sebagai gerbang pulau Sumatra memiliki pelabuhan yang bernama Pelabuhan Panjang yang merupakan salah satu Pelabuhan Laut kelas 1 yang

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang 1 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Transportasi melalui laut memainkan peran penting dalam sistem perdagangan. Berbagai jenis barang di seluruh dunia bergerak dari tempat satu ke tempat lainnya melalui laut.

Lebih terperinci

BAB III DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN

BAB III DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN BAB III DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN A. Sejarah Perusahaan PT. Pelabuhan Indonesia IV (Persero) selanjutnya disingkat Pelindo IV merupakan bagian dari transformasi sebuah perusahaan yang dimiliki pemerintah,

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2017 TENTANG PENYELENGGARAAN KEWAJIBAN PELAYANAN PUBLIK UNTUK ANGKUTAN BARANG DARI DAN KE DAERAH TERTINGGAL, TERPENCIL, TERLUAR, DAN PERBATASAN DENGAN

Lebih terperinci

2017, No c. bahwa untuk mempercepat penyelenggaraan kewajiban pelayanan publik untuk angkutan barang di laut, darat, dan udara diperlukan progr

2017, No c. bahwa untuk mempercepat penyelenggaraan kewajiban pelayanan publik untuk angkutan barang di laut, darat, dan udara diperlukan progr No.165, 2017 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PELAYANAN PUBLIK. Daerah Tertinggal, Terpencil, Terluar, Perbatasan. Angkutan Barang. Penyelenggaraan. Pencabutan. PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 10 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Angkutan Undang undang Nomor 22 Tahun 2009 pasal 1 ayat 1 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan mendefinisikan angkutan adalah perpindahan orang dan/atau barang dari satu

Lebih terperinci