TINJAUAN PUSTAKA Emulsifier Surfaktan Anionik
|
|
|
- Hartanti Setiawan
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 5 TINJAUAN PUSTAKA Emulsifier Emulsi dapat didefinisikan sebagai sebuah sistem heterogen yang memiliki setidaknya satu jenis cairan (liquid) yang seharusnya tidak mungkin dicampurterlarut dalam cairan lainnya dan membentuk campuran baru yang sifatnya semi padat menyerupai tetesan air (Schueller & Romanowski, 1999). Emulsi adalah jenis sistem penghantar yang paling banyak digunakan dalam berbagai produk kosmetik. Pada produk kosmetik, jenis emulsi yang digunakan biasanya berupa bahan semipadat yang memiliki fase air (hidrofilik) dan fase minyak (hidrofobik). Kedua fase ini membentuk fase internal dan eksternal pada emulsi. Fase internal terdiri dari bahan-bahan yang membentuk sebaran butiran teremulsifikasi, sedangkan fase eksternal terbentuk dari sisa-sisa fase internal. Partikel yang membentuk fase internal memiliki ukuran yang berbedabeda (polidisperse). Ukuran rata-rata diameter partikel digunakan untuk mengklasifikasikan emulsi. Sebagai contoh, jika rata-rata diameter partikel lebih kecil dari 100 nm (1000 Ǻ), emulsi tersebut dinamakan nanoemulsi. Emulsi dengan rata-rata diameter partikel 1000 Ǻ Ǻ disebut mikroemulsi, sedangkan diameter yang lebih besar lagi disebut makroemulsi (US Patent Pub No 2004/ AI). Emulsifier merupakan komponen yang berfungsi menstabilkan proses penguraian fase internal yang terjadi pada fase eksternal (kontinyu). Emulsifier merupakan surfaktan yang mampu menurunkan tegangan antarmuka antara dua fase, yaitu molekul-molekul hidrofilik dan lipofilik. Seperti halnya surfaktan, emulsifier dikelompokkan menjadi kelompok anionik, kationik, non-ionik, atau amfoterik sesuai sifat kelarutan gugus utamanya dalam air. Surfaktan Anionik Surfaktan ini banyak digunakan dalam formula pembersih menggunakan alkil sulfat. Alkil sulfat terbentuk dari rantai panjang hidrokarbon yang berikatan dengan gugus sulfonat pada salah satu ujungnya. Contohnya adalah sodium lauryl sulfat (SLS). Sejumlah surfaktan anionik dapat dibuat dengan mengubah sifat
2 6 polar gugus utama dan susunan rantai karbon. Sebagai contoh, alkil eter sulfat, alkil fosfat, dialkil sulfosuksinat dan alkanaloamida sulfat adalah varian dari rantai utama yang sama. Surfaktan Amfoterik Surfaktan amfoterik seperti asil β-aminopropionat (antara lain sodium laurimino-dipropionat), juga berfungsi sebagai deterjen, tetapi kelompok ini memiliki perbedaan sifat dan struktur kimia. Definisi amfoterik mengandung pengertian zwitterionik; yaitu dapat diubah menjadi proton, dengan menerima muatan positif dalam suasana asam. Dalam suasana basa (alkali), surfaktan amfoterik melepaskan proton dan memiliki rantai yang bermuatan negatif. Bahan-bahan tersebut di atas biasanya tidak menimbulkan iritasi dibandingkan dengan jenis surfaktan lain, sehingga banyak digunakan sebagai formula utama deterjen yang lembut, seperti sampo bayi. Surfaktan Kationik dan Non-ionik Surfaktan kationik merupakan deterjen efektif, yang menghasilkan busa, akan tetapi surfaktan ini dapat mengakibatkan iritasi pada kulit dan mata. Di satu sisi, surfaktan non-ionik dapat bersifat sangat lembut, tetapi hanya menghasilkan sangat sedikit busa. Sorbitan monooleat (SM) adalah salah satu surfaktan non-ionik dengan nama dagang Span 80. Sorbitan monooleat merupakan surfaktan non-ionik ester dari asam lemak dan alkohol bervalensi banyak, seperti sorbitol atau eter cincin tertutup yang terbentuk di bawah pemisahan air dengan struktur tetrahidrofuran (Gambar 1). Reaksi antara asam oleat dengan sorbitol berlangsung dengan reaksi esterifikasi secara parsial, yaitu hanya satu yang teresterifikasi dari beberapa yang terdapat pada sorbitol. Span 80 termasuk surfaktan emulsi jenis air dalam minyak dengan LB 3,0 sampai dengan 4,3 dan mempunyai bilangan penyabunan sekitar 143 sampai 151 dengan bilangan asam sekitar 10.
3 7 C 2 C (C 3 ) 7 C C (C 2 ) 7 C 3 Gambar 1. Struktur molekul sorbitan monooleat (thmer,1994) Polietilen glikol (400) dioleat dan Polietilen glikol (400) monooleat merupakan surfaktan non-ionik yang berasal dari asam oleat dan polioksietilen, dengan proses pembentukan secara esterifikasi. Polietilen glikol (PEG) yang digunakan mempunyai berat molekul n ± 400 gram/mol (Gambar 2 dan 3). Polietilen glikol (400) monooleat bersifat cair dengan bilangan asam sekitar 5 dan bilangan penyabunan antara 80 sampai 89, serta nilai LB kurang dari 11,6. Sedangkan polietilen glikol (400) dioleat (Gambar 3) mempunyai bilangan asam sekitar 10, bilangan penyabunan , dan LB 8,3 yang menunjukkan kemudahan sifat untuk melarut dalam air dibandingkan dalam minyak. Aplikasi polietilen glikol (400) monooleat dan polietilen glikol (400) dioleat dalam industri adalah untuk kosmetik, sampo, lotion, tekstil, plastik dan bahan aditif pada resin. -(C 2 C 2 ) n -C-(C 2 ) 7 -C=C-(C 2 )7-C 3 Gambar 2. Struktur molekul polietilen glikol (400) monooleat (thmer,1994) C 3 -(C 2 ) 7 -C=C-(C 2 ) 7 -C-(C 2 C 2 ) n -C-(C 2 ) 7 -C=C-(C 2 ) Gambar 3. Struktur molekul polietilen glikol (400) dioleat (thmer,1994)
4 8 Jika dimasukkan ke dalam sistem air, emulsifier cenderung membentuk rantai lurus dan dapat mencegah terjadinya interaksi antara gugus hidrofilik dengan hidrofobik. Pada jumlah yang melimpah, emulsifier membentuk struktur sferis yang disebut misel. Struktur ini berkumpul membentuk pola dimana ekor hidrofobik terorientasi kearah pusat misel, sedangkan kepala hidrofilik berada di permukaan (lapisan terluar) seperti yang dapat dilihat pada Gambar 4. Gambar 4. Misel emulsi (Schueller & Romanowski, 1999). Walaupun emulsifier membantu menstabilkan interaksi antara fase minyak dengan air secara inheren, namun emulsi masih belum stabil. al ini dikarenakan berlakunya ukum Termodinamika ke-2, yaitu pada waktu tertentu fase minyak dan air ini akan terpisah juga (Schueller & Romanowski, 1999). Kecepatan dan kesempurnaan pemisahan kedua fase tersebut tergantung kepada komposisi emulsi. Jika sejumlah surfaktan polimer dimasukkan kedalam sistem emulsi, sistem tersebut sanggup mempertahankan kestabilannya (Schueller & Romanowski, 1999). Surfaktan polimer berfungsi sebagai pengikat fasa minyak dan fasa air yang terkait dengan LB yaitu keseimbangan antara komponen yang larut air dan larut minyak. Metode yang banyak digunakan untuk memilih emulsifier adalah LB (Griffin, 1974). Metode ini menggunakan dasar afinitas minyak dan air dengan skala Formula dengan LB rendah bersifat lipofilik, dan sebaliknya formula dengan LB tinggi bersifat hidrofilik. Nilai LB bahan mempengaruhi jenis emulsi yang akan terbentuk. Pada umumnya bahan-bahan dengan nilai LB
5 9 3-8 menghasilkan emulsi w/o, dan LB menghasilkan emulsi o/w. Sistem emulsi ini pada awalnya dirancang untuk jenis emulsifier non-ionik, tetapi kini telah banyak diaplikasikan untuk surfaktan-surfaktan lainnya. Metode LB sistem juga bisa digunakan untuk mengukur nilai LB yang diperlukan pada sistem minyak dan jenis emulsi yang akan terbentuk. Sebagai contoh, minyak mineral memerlukan bahan yang mempunyai nilai LB 4,5 untuk membentuk emulsi w/o, sedangkan untuk membuat emulsi o/w, minyak mineral memerlukan emulsifier dengan LB 11. Penentuan nilai LB dapat dilakukan di laboratorium maupun dengan melihat tabel. Walaupun sistem LB bisa digunakan untuk memprediksi jenis emulsi yang akan terbentuk, sistem ini tidak dapat memberikan referensi konsentrasi bahan yang diperlukan. Informasi tersebut hanya bisa diperoleh melalui pengukuran laboratorium. Destabilisasi Emulsi Destabilisasi atau ketidakstabilan emulsi terjadi mengikuti 4 mekanisme utama, yaitu : creaming, flocculation, coalescence, dan inversion. Keempat proses tersebut terjadi secara simultan (Gambar 5). Menurut Suryani et al (2000), faktor-faktor yang menyebabkan ketidakstabilan emulsi yaitu komposisi bahan yang tidak tepat, ketidakcocokan bahan, kecepatan dan waktu pencampuran yang tidak tepat, tidak sesuainya rasio antara fase terdispersi dan fase pendispersi, pemanasan dan penguapan yang berlebihan, jumlah dan pemilihan emulsifier yang tidak tepat, pembekuan, guncangan mekanik atau getaran, ketidak seimbangan densitas, ketidak murnian emulsi, adanya reaksi antara dua atau lebih komponen dalam sistem emulsi serta penambahan asam atau senyawa elektrolit. Creaming Butiran-butiran dalam emulsi memiliki densistas yang berbeda-beda yang menimbulkan kecenderungan mengalami proses destabilisasi yang disebut creaming. Partikel-partikel dengan ukuran kerapatan (densitas) kecil akan naik ke permukaan. asil akhir proses creaming adalah 2 jenis emulsi, yaitu : 1. Emulsi dengan fase internal lebih besar, dan 2. Emulsi dengan fase eksternal lebih besar.
6 10 Gambar 5. Proses destabilisasi emulsi ( Schueller &Romanowski, 1999). Contoh klasik creaming adalah susu non-homogen, yaitu secara alami susu akan membentuk krim lemak yang mengambang di permukaan (kepala susu). Creaming tidak menyebabkan permasalahan stabilitas yang serius, karena sesungguhnya tidak ada satu pun partikel dalam sistem yang benar-benar menyatu. Creaming dapat diatasi dengan cara agitasi. Flocculation Selama proses creaming, butiran-butiran fase internal bereaksi 2 arah membentuk ikatan lemah. Secara khusus hal ini disebabkan oleh muatan permukaan yang tidak memadai pada misel, sehingga terjadi pengurangan gaya repulsif di antara butiran-butiran fase internal. Kedua partikel tersebut saling menggabung, tetapi tidak ada perubahan ukuran. Kejadian dapat diilustrasikan seperti dua buah bola bilyar yang saling disentuhkan. Pada saat keduanya bersentuhan terbentuklah asosiasi. Akan tetapi asosiasi tersebut mudah dilepaskan dengan memindahkan salah satu bola. Dengan mekanisme yang sama, flocculation pada emulsi dapat dikembalikan dengan cara mengagitasi sistem. Dengan demikian flocculation bukanlah ancaman serius terhadap stabilitas emulsi.
7 11 Coalescence Ketika dua butiran fase internal saling mendekat, keduanya dapat bergabung membentuk partikel yang lebih besar. Proses ini berlangsung 1 arah (irreversible), sehingga bisa menimbulkan masalah serius pada stabilitas produk. Sejumlah tertentu partikel yang mengalami coalescence dapat memisahkan kedua fase emulsi secara sempurna. stwald ripening adalah fenomena yang sama dimana partikel fase internal cenderung bergabung membentuk ukuran seragam. Peristiwa ini juga bisa menyebabkan pemisahan fase. Inversion Pada saat terjadi inversion, fase eksternal berubah menjadi internal dan sebaliknya. Perubahan seperti ini biasanya tidak diinginkan karena karakter fisik emulsi yang terbentuk akan berbeda. Faktor-Faktor Lain Peningkatan suhu penyimpanan akan mempercepat destabilisasi emulsi dan sebaliknya. Penguapan fase air dapat menurunkan stabilitas emulsi. Faktor pemicu yang lain adalah kontaminasi mikroba dan reaksi kimia. Pada kadar tertentu, semua jenis emulsi mudah terpengaruh oleh proses destabilisasi dan hasil setiap proses bebeda-beda. Sebagai contoh, mikroemulsi transparan (tembus cahaya) yang mengalami flocculation dapat berubah menjadi translucent (tidak tembus cahaya). Proses ini merugikan, terutama jika terjadi pada produk kosmetik bening, yaitu tidak dapat terdeteksi terjadinya flocculation pada makroemulsi. Jika proses berlanjut pada coalescence, permasalahan menjadi lebih serius karena dapat menimbulkan berbagai rheologi pada makroemulsi. Destabilitasi dapat ditekan dengan meracik formula emulsi seteliti mungkin. Beberapa metode telah digunakan untuk mengukur derajat destabilisasi. Metode-metode yang sederhana antara lain pengamatan langsung, mengukuran p dan viskositas. Metode lain yang lebih kompleks adalah dengan light scattering, pengkuran konduktivitas, evaluasi mikroskopis, dan NMR (Schueller & Romanowski, 1999).
8 12 Polimer Kationik Secara umum polimer kationik terdiri dari rantai polimer lurus yang mempunyai sisi muatan positif yang terdapat pada struktur polimer tersebut. Seperti surfaktan kationik, polimer kationik dapat diaplikasikan pada rambut dan kulit karena interaksi elektrostatik antara sisi muatan positif pada polimer dan sisi negatif pada rambut. Tidak seperti surfaktan, banyak polimer kationik dapat bergabung dengan surfaktan anionik dan membentuk film pada rambut dan kulit. Lapisan film ini memberikan kontribusi kepada rambut dan kulit sebagai pelembut. Polimer kationik dibuat dengan mengganti gugus hidroksil pada fatty alkil membentuk polimer natural atau sintetik termodifikasi. Pada saat strukturnya mirip dengan quats (surfaktan kationik dalam bentuk garam amonium kuartener), polimer mempunyai sisi kation lebih banyak per molekulnya dan semakin besar berat molekulnya. Polimer kationik harus dikondisikan untuk memberikan suasana yang efektif seperti halnya quats. Polimer kationik alami terbentuk melalui atraksi kolumbik (interaksi antara partikel-partikel yang bermuatan, partikel yang bermuatan sama akan saling tolak menolak sedangkan partikel yang bermuatan berbeda akan saling tarik menarik) pada permukaan anion. Interaksi antara surfaktan dengan polimer kationik dapat diilustrasikan sebagai berikut : Surfaktan non ionik memiliki gugus polar yang dapat larut dalam air (hidrofilik) dan gugus non polar (hidrofobik) yang dapat larut dalam minyak, ketika terdapat dalam suatu sistem emulsi maka gugus polar akan berada dalam permukaan fase air. Di dalam larutan emulsi terdapat energi permukaan yang dapat menyebabkan terjadinya koalesen antara droplet-droplet (butiran-butiran). Koalesen ini akan menyebabkan ukuran droplet menjadi lebih besar sehingga akan terpisah menjadi fase air dan fase minyak. Apabila terjadi pemisahan antara fase air dan fase minyak disebut emulsi tidak stabil. Dengan adanya polimer yang ditambahkan dalam sistem emulsi maka polimer tersebut akan menyelubungi surfaktan karena adanya interaksi antar surfaktan dengan polimer. Interaksinya berupa ikatan hidrogen (Goddard et al, 1993). Ikatan hidrogen itu terjadi antara atom oksigen pada rantai polietilen glikol dengan gugus
9 13 hidroksil pada chitosan. Ikatan hidrogen yang terbentuk banyak karena banyaknya oksigen pada etilen glikol yang berbentuk polimer, begitu juga halnya dengan gugus hidroksil yang terdapat pada chitosan yang merupakan polisakarida. Dengan banyaknya ikatan hidrogen yang terbentuk membuat droplet stabil karena ikatan hidrogen tersebut dapat meminimalkan energi permukaan, sehingga koalesen tidak terjadi. Interaksi antara surfaktan dengan polimer kationik dapat dilihat pada Gambar 6. Surfaktan non-ionik + polimer kationik Surfaktan non-ionik Droplet minyak Polimer Sistem emulsi polimer surfaktan Surfaktan Gambar 6. Interaksi surfaktan dengan polimer kationik (Goddard et al.,1993) Polimer kationik dapat dibuat dengan berbagai macam sintesis polimer alami, seperti selulosa dan chitosan. Karakteristik fisis polimer menyerupai monomernya dan rasio monomer digunakan untuk pembuatan polimer kationik. Berat molekul merupakan faktor lain yang berpengaruh pada karakteristik fisis polimer dan sifat penggunaannya. Turunan selulosa kationik yang mengandung gugus 2-hidroksipropil trialkil amonium klorida secara luas digunakan sebagai conditioning agent pada
10 14 produk perawatan rambut dan kulit. Sejumlah makalah berkaitan dengan hal tersebut telah dipublikasikan misalnya review oleh Idson, 1999, yaitu efek kondisioning dapat dirasakan karena adanya gugus amonium yang bermuatan positif dari turunan selulosa kationik mampu mengikat sisi anionik yang ada dalam keratin alami seperti rambut dan kulit. al tersebut menyebabkan rambut menjadi lebih mudah dirapikan ketika disisir basah dan ketika kering akan lebih lembut, berkilau dan mudah diatur. Pada saat menyisir pun tidak perlu keraskeras. Untuk kulit, turunan selulosa kationik memberi efek lembut, lembab dan melindungi kulit. Struktur molekul dari turunan selulosa kationik yang mengandung gugus 2-hidroksipropil trialkil amonium klorida adalah sebagai berikut. 3 C C 3 Cl - N + C 3 -C 2 -C-C 2 2 C n Gambar 7. Turunan selulosa kationik (Drovetskaya et al., 2004) Chitosan merupakan produk deasetilasi chitin, yang berupa rantai panjang glukosamin (2-amino-2-deoksiglukosa), chitosan akan bermuatan positif dalam larutan karena adanya gugus amin yang dapat mengikat ion positif. Turunan chitosan kationik mengandung gugus 2-hidroksipropil trialkil amonium klorida yang dapat berfungsi sebagai pelembab, membentuk film pelindung yang jernih, membentuk lapisan pada kulit dan bersifat non alergenik. Struktur molekul dari polimer kationik chitosan adalah sebagai berikut.
11 15 CC 3 C 2 N C 2 N 2 C 2 N C 3 C-C-C 2 N + Cl - C 3 C 3 n Gambar 8. Turunan chitosan kationik (Paten Pub No DE ) Selulosa Selulosa adalah polimer alam yang paling banyak terdapat dan paling tersebar di alam. Sumber utama selulosa adalah kayu. Umumnya kayu mengandung sekitar 50% selulosa, bersama dengan penyusun lainnya seperti lignin. Selulosa di bangun oleh rantai glukosa yang tersambung melalui β-1,4, glukosa mempunyai rumus molekul C dan strukturnya diperlihatkan pada Gambar 9. Gambar 9. Struktur molekul selulosa (Cowd, 1991) Selulosa merupakan bahan dasar dari banyak produk teknologi seperti kertas, film, serat aditif dan sebagainya. Bahan ini terdiri atas unit-unit anhidroglukopiranosa yang bersambung membentuk rantai molekul. Karena itu selulosa dapat dinyatakan sebagai polimer linier glukan dengan struktur rantai yang seragam (Fengel dan Wegener, 1989). Selulosa merupakan homopolisakarida yang tersusun atas unit-unit β-d glukopiranosa yang terkait satu sama lain dengan ikatan glikosida (1 4). Secara alamiah molekul selulosa tersusun dalam bentuk fibril yang terdiri dari beberapa molekul selulosa paralel yang dihubungkan oleh ikatan hidrogen, fibril-fibril tersebut membentuk struktur kristal.
12 16 Fengel dan Wegener (1989) menyatakan terdapat dua buah modifikasi struktur kristalin selulosa, yaitu selulosa I-α dan selulosa I-β yang disebabkan adanya ikatan hidrogen pada selulosa. Pada selulosa dengan struktur I-α, satu sel unit triklinat mengandung satu rantai selulosa, sedangkan pada selulosa dengan struktur I-β, satu sel monoklinat mengandung dua rantai selulosa. Selulosa bakterial mengandung selulosa I-α kira-kira 60%, berbeda dengan selulosa yang berasal dari tumbuhan (misalya rami dan kapas) yang mengandung selulosa I-α hanya 30%, sedangkan sisanya adalah selulosa I-β. Selulosa memiliki tiga gugus hidroksil per residu anhidroglukosa, sehingga dapat dilakukan reaksi-reaksi seperti esterifikasi, eterifikasi, adisi dan lain-lain (Bydson, 1995). Turunan selulosa yang mempunyai sifat berbeda dari selulosa telah banyak digunakan di berbagai bidang. Dalam beberapa hal, turunan selulosa tersebut hanya merupakan bentuk antara untuk mengubah bentuk selulosa. Dari segi teknis, turunan selulosa yang paling penting adalah ester dan eter yang lingkup penggunaannya sangat luas (Fengel dan Wegener, 1989). Adanya gugus-gugus dalam selulosa dapat bereaksi membentuk berbagai turunan, misalnya pembentukan ester-ester dengan asam-asam anorganik dan organik. Adanya tiga gugus pada setiap unit glukosa dalam selulosa memungkinkan pembentukan mono, di atau triester. Proses pelarutan selulosa dimulai dengan degradasi struktur serat dan fibril dan akan menghasilkan disintegrasi yang sempurna menjadi molekul-molekul individual dengan panjang rantai tidak berubah. Degradasi struktur supramolekul terjadi dengan pembengkakan dan penyisipan gugus kimia yang akan memecah ikatan-ikatan intramolekul dan melapisi molekul-molekul selulosa. Turunan selulosa dapat terjadi karena gugus hidroksil yang tersedia di dalam alkil atau hidroalkil pada rantai selulosa dapat diganti oleh senyawa lain (Gambar 10). Gugus R adalah sebagai senyawa pengganti. Contoh senyawa pengganti seperti hidroksietil (-C 2 -C 2 -), natrium karboksimetil (NaC- C 2 -), metil (C 3 -), etilhidroksietil (C 3 -C 2 --C 2 -C 2 -), hidroksipropil (- C 2 -C 2 -C 2 -), semua senyawa ini larut dalam air. Akibat dari masuknya senyawa pengganti tersebut dalam rantai selulosa, maka berubah dan terpencar
13 susunan selulosanya sehingga molekul air atau senyawa pelarut lain dapat masuk dan melarutkan ikatan rantai. 17 C 2 CR R C 2 R C 2 R R R C 2 Gambar 10. Struktur Selulosa dan Turunannya Gambar 10. Struktur selulosa dan turunannya (Fengel dan Wegener, 1989) Chitosan Chitosan merupakan turunan chitin yang diperoleh melalui proses deasetilasi (penghilangan gugus CC 3 ) dan merupakan senyawa polisakarida terbesar kedua setelah selulosa (Rha, 1984). Chitosan merupakan produk deasetilasi chitin, yang merupakan rantai panjang glukosamin (2-amino-2-deoksiglukosa) (Barkeley, 1973). Gambar 11 merupakan struktur berulang chitosan. Gambar 11. Struktur molekul chitosan (Skjak-Braek at al., 1989) Menurut Knor (1984) berat molekul chitosan sekitar x 10 5 Dalton. Berat molekul chitosan tergantung dari degradasi yang terjadi pada saat proses pembuatan chitosan. Chitosan mempunyai gugus fungsional yaitu gugus amino, sehingga mempunyai derajat reaksi kimia yang tinggi. Chitosan akan bermuatan positif dalam larutan karena adanya gugus amin yang dapat mengikat ion positif, tidak
14 18 seperti polisakarida pada umumnya yang bermuatan negatif atau netral (Muzzarelli, 1985). Menurut Mckay et al. (1987) chitosan tidak larut dalam air, larutan alkali pada p di atas 6,5 dan pelarut organik, tetapi larut dengan cepat dalam asam organik encer seperti asam formiat, asam asetat, asam sitrat dan asam mineral lain kecuali sulfur. Sifat kelarutan chitosan dipengaruhi oleh berat molekul, derajat deasetilasi dan spesifik rotasi, yang dapat bervariasi tergantung dari sumber dan metode isolasinya. Muzzarelli (1985) menyatakan bahwa chitosan dapat diturunkan lagi menjadi senyawa larut air, larutan alkali dan larutan asam. Proses asilasi chitosan akan menghasilkan turunan baru yang dapat larut dalam air. Senyawa yang mengandung gugus amin dapat diasilasi dengan penabahan turunan asam yang bersifat reaktif (misalnya anhidrida-anhidrida dan klorida-korida). Chitosan yang mengalami asilasi mengandung gugus N-acyl. Turunan chitosan tersebut dinamakan N-acylchitosan. Turunan chitosan tersebut cocok sekali dipakai sebagai bahan pengemulsi minyak dalam air dan mempunyai keunggulan yaitu tahan terhadap panas. Seperti halnya chitin, turunan chitosan mampu mengikat air dan minyak karena gugus polar dan non polar. Karena kemampuan tersebut, chitosan dapat bertindak sebagai penstabil, pengental dan penstabil pada obat-obatan, makanan dan kosmetika. Aplikasi chitosan dalam kosmetik khususnya krim perawatan, chitosan dapat berfungsi sebagai pelembab, membentuk film pelindung yang jernih, membentuk lapisan pada kulit dan bersifat non alergenik (Anonim, 1987). Selain krim kosmetik, chitosan dapat mempercepat penyembuhan luka bakar, pengobatan dermatitis, pengobatan infeksi fungal dan sebagai bahan dalam pembuatan kontak lens yang lunak dan bersih. Menurut irano et al. (1984) aplikasi chitosan lainnya antara lain sebagai koagulan pada pengolahan limbah cair, hipocholesterolmic agent, cocok untuk bahan diet, meningkatkan sekresi chitinase pada tanaman yang berfungsi melindungi serangan patogen, menaikkan volume spesifik pada makanan, memperbaiki tekstur tanah dan mampu menyerap uranium pada produksi tenaga nuklir.
15 19 Menurut Austin (1988) chitosan merupakan polimer mukopolisakarida termasuk dalam komponen larut air pada kulit yang mempunyai kemampuan mengikat air, sehingga dapat dipakai sebagai bahan emollient cream dan lotion. Chitosan mempunyai kemampuan menahan air, membuat lapisan film yang jernih, bersifat non alergenik dan tidak beracun, dengan demikian chitosan merupakan bahan yang dapat dipakai dalam pembuatan emollient cream. Seldner (1973) menyatakan bahwa beberapa karbohidrat dapat dipakai sebagai bahan kosmetik karena mempunyai sifat larut dalam air dan alkohol, mampu mengikat air, menghambat evaporasi dan mampu mengikat parfum tanpa pengadukan. Jenis-jenis karbohidrat tertentu dapat berfungsi sebagai emollient, pelembab dan emulsifier pada krim perawatan. Komponen tersebut meninggalkan film pada kulit lebih baik dibanding dengan bahan emollient yang biasa dipakai yaitu polyol seperti propilen glikol dan sorbitol yang meninggalkan film kaku. Chitosan yang digunakan untuk bahan kosmetik merupakan chitosan yang dapat larut dalam air. Kulit Kulit berfungsi untuk menutupi semua bagian tubuh dan melindungi tubuh dari berbagai macam gangguan eksternal dan kerusakan akibat kehilangan kelembaban. Kulit luar terbagi atas tiga lapisan yaitu epidermis, dermis dan sel subkutan, seperti yang terlihat pada Gambar 12. Lapisan-lapisan epidermis dapat dilihat pada Gambar 13, terdiri dari stratum germinativum, atau sel tumbuh, lapisan Malphigi atau lapisan pigmen, stratum granulosum, stratum lucidum, korneum dan terakhir lapisan kornified. Kulit yang sesungguhnya atau dermis terdiri dari jaringan pembuluh darah, kantung rambut, kelenjar keringat dan kelenjar sebasea. Dibawahnya adalah subkutan jaringan lemak sampai bagian terakhir dari akar rambut. Sel-sel yang membentuk lapisan terbawah berjalan keluar selama siklus hidup mereka dan pada akhirnya menjadi sel-sel mati dari korneum, lapisan luar yang masih ada (hidup) akan lepas. Pergerakan keluar ini, diakhiri dengan pengelupasan kulit. Fungsi kulit, yaitu untuk memberikan perlindungan alami dari gangguan luar yang masuk ke dalam sebagai bahan-bahan yang asing. Kulit juga
16 20 memberikan perlindungan pada jaringan-jaringan yang ada dibawahnya terutama pada elemen penyusunnya, penyaring substansi toksik (beracun) dan dari serangan mikroorganisme. (A) Epidermis, (B) Dermis, (C) Subkutan; (a) Lapisan minyak pada permukaan kulit; (b) Sel kornifil; (c) Korneum; (d) Stratum lucidum; (e) Penahan absorpsi kulit; (f) Stratum granulosum; (g) Lapisan malpigi atau stratum mucosum; (h) Stratum germanativum; (i) Lapisan basal (j) Kelenjar sebasea; (k) Serabut akar rambut; (l) Jaringan akar rambut; (m) Lemak; (n) Kelenjar keringat; (o) Ruang isi minyak dan udara; (p) Rambut; (q) Poripori keringat Gambar 12. Struktur jaringan kulit manusia (Poucher, 1996) Fungsi yang paling penting dari lapisan epidermis adalah menjaga gangguan stimuli eksternal seperti dehidrasi, sinar ultraviolet, faktor fisik dan fakor kimia lainnya. Fungsi ini dilakukan oleh lapisan corneum sebagai lapisan paling luar. Lapisan kulit kedua setelah lapisan epidermis adalah lapisan dermis. Lapisan dermis adalah lapisan yang merupakan gabungan lapisan yang
17 21 dihubungkan oleh sel-sel di bawah lapisan epidermis. Permukaan lapisan dermis yang kontak lansung dengan lapisan epidermis yang menonjol keluar disebut penghubung epidermal. Seperti sel-sel lapisan epidermis, sel-sel dermis tidak terhubung secara kuat satu dengan yang lainnya, dan banyak terdapat ruang kosong. Bagian dari kulit ini mempunyai jaringan struktur molekul makro yang disebut extracellular matrix. Lapisan dermis termasuk sel-sel yang memproduksi histamin dan serotonin yang bertanggung jawab untuk respon yang cepat terhadap alergi, juga memproduksi fibroblast yang mensintesis dan mesekresikan extracellular matrix. Gambar 3. Struktur Epidermis (a) Stratum germinativum, (b) Stratum granulosum, (c)stratum lucidum, (d) Korneum, (e) Lapisan kornified. Gambar 13. Struktur epidermis (Poucher, 1996) Bahan-bahan emolien digunakan sebagai bahan pencegahan terhadap kekeringan pada kulit. Kulit kering mempunyai karakter kasar dan keras, kulit tidak fleksibel dan pecah-pecah (Barnett, 1962). Kulit kering terjadi akibat kekurangan air di stratum korneum, kelembaban yang rendah, hidrasi yang tidak cukup dari lapisan bawah epidermal dan pergerakan air. Selain itu pemakaian sabun dan deterjen secara kontinyu dan berkepanjangan juga dapat menyebabkan stratum korneum kekeringan. Menurut Barnett (1962) komponen larut air mengandung asam-asam amino seperti asam pyroglutamik, polipeptida, laktat, heksosamin, pentosan, ion anorganik dan mukopolisakarida. Komponen hidrofilik
18 22 pada lapisan minyak, pada lapisan corneal akan menyebabkan kulit tidak kering walaupun kelembaban lingkungan rendah. Kekeringan dan sifat kurang lentur pada lapisan korneum dapat diperbaiki jika kandungan air dinaikkan lebih dari kondisi normal (10 persen). Pemakaian krim kosmetik yang mengandung hidrofilik emollient dapat memperbaiki kulit kering. Cream emollient akan meninggalkan film yang rapat pada kulit, permeabilitas terhadap air rendah, mensuplai komponen hidrofilik, sehingga mampu menahan dehidrasi air dari kulit, dengan demikian kulit menjadi lembut. Tronnier (1962) menemukan bahwa emulsi jenis minyak-air merupakan bentuk emulsi yang baik untuk menghasilkan film yang lembut pada kulit, yang mampu mengurangi evaporasi. Skin Lotion Saat ini telah banyak ditemui berbagai macam produk perawatan diantaranya adalah krim dan lotion kulit (skin cream dan skin lotion). Beberapa pengguna tertarik menggunakannya untuk mencegah agar kulit tidak kering dan pengguna lainnya tertarik untuk perawatan kulit agar tetap segar. Lotion merupakan salah satu bentuk emulsi yang didefinisikan sebagai campuran dari dua fase yang tidak dapat bercampur, distabilkan dengan emulsifier, dan jika ditempatkan pada suhu ruang berbentuk cairan yang dapat di tuang. Proses pembuatan lotion adalah dengan cara mencampurkan bahan-bahan yang larut dalam fase air dan pada bahan-bahan yang larut dalam fase minyak, dengan cara pemanasan dan pengadukan (Schmitt, 1996). Keithler (1956) menambahkan bahwa pada kebanyakan pembuatan kosmetik, dua fase secara terpisah dipanaskan pada suhu yang sama, kemudian fase yang satu dituangkan ke fase yang lainnya dan dipanaskan pada temperatur yang sama dengan pengadukan. Pengadukan terus dilakukan sampai emulsi dapat didinginkan pada suhu kamar. Fungsi utama lotion untuk perawatan kulit adalah sebagai pelembut (emolien). asil akhir yang diperoleh tergantung dari daya campur bahan baku dengan bahan lainnya untuk mendapatkan kelembaban, kelembutan dan perlindungan kulit dari kekeringan.
19 23 Bahan-bahan yang berfungsi sebagai pelembut adalah minyak mineral, ester isopropil, alkohol alifatik, turunan lanolin, alkohol dan trigliserida serta asam lemak. Sedangkan bahan pelembab diantaranya adalah gliseril dan propilen glikol. Penggunaan pelembut dan pelembab berkisar antara 0,5% - 15% (Schmitt, 1996). Skin lotion merupakan salah satu produk industri kosmetik yang menggunakan tipe emulsi minyak dalam air atau oil in water (o/w), yang terdiri dari fase minyak 10-25%, humektan 3-10% dan fase air 75-80% (Schmitt, 1996). Fase minyak terbentuk dari bahan-bahan non polar yang biasanya tidak dapat menyatu dengan air. Bahan-bahan tersebut meliputi : lemak, minyak, lilin dan turunannya seperti lemak-alkohol, asam lemak, ester, hidrokarbon, gliserida dan silikon. Pemanfaatan bahan-bahan tersebut dalam produk kosmetik memberi banyak keuntungan. Jika diaplikasikan pada kulit, fase minyak berperan sebagai pelembut (emolient), penghalus dan pelembab, karena minyak dapat membentuk semacam lapisan pelindung yang mempertahankan air. Minyak Silikon digunakan secara luas dalam berbagai bidang, seperti dalam bidang kosmetik tekstil, sebagai zat aditif pada cat, cairan hidrolik, senyawa anti busa, dan sebagai heat transfer oils. Nama lain dari minyak silikon adalah polidimetil siloksan atau dapat disingkat PDMS. PDMS dibentuk melalui proses polimerisasi dari prekursor dimetil silikon. Sifat minyak silikon dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Sifat minyak silikon Sifat Nilai Densitas (g/ml) Indeks refraksi 1,402 Tegangan permukaan pada 25 o C (dyne/cm) 20,8 Penguapan maksimum pada 150 o C (%) 0,5 Panas spesifik 0,36 Sumber : thmer, 1994 Minyak silikon secara visual tampak transparan dan menyerap sinar ultraviolet dengan panjang gelombang dibawah 280 nm. Minyak silikon larut
20 24 dalam pelarut non polar seperti benzen, toluen, kloroform, dan dimetileter. Minyak silikon sedikit larut dalam aseton, etanol, dan butanol, tetapi tidak larut dalam metanol, etilenglikol, dan air. C 3 C 3 C 3 C 3 3 C Si Si Si Si C 3 C 3 C 3 x y C 3 Gambar 14. Struktur molekul minyak silikon (thmer,1994) Minyak Mineral merupakan minyak yang terkandung di dalam bumi, atau bisa juga disebut minyak bumi. Kandungan dari minyak mineral adalah berupa hidrokarbon. idrokarbon yang terkandung dalam minyak mineral dapat dikelompokkan menjadi 4 jenis, yaitu : parafin, naftalena, olefin, dan aromatik. Parafin secara umum memiliki rumus C n 2n+2, parafin merupakan hidrokarbon yang jenuh, dan mengikat atom hidrogen secara maksimal, sehinga parafin bersifat tidak reaktif. lefin merupakan hidrokarbon tidak jenuh lefin dibagi menjadi dua, yaitu : mono olefin (C n 2n ) dan diolefin (C n 2n-2 ). Naftalena memilki rumus umum C n 2n. Naftalena merupakan hidrokarbon jenuh dan memiliki sifat mirip dengan parafin. Atom karbon pada setiap molekul yang terdapat pada naftalena membentuk cincin tertutup. idrokarbon aromatik memliki rumus umum C n 2n-6. Molekul-molekul yang terdapat pada hidrokarbon aromatik membentuk cincin tertutup dan merupakan hidrokarbon tak jenuh. Sifat minyak mineral dapat dilihat pada Tabel 2.
21 25 Tabel 2. Sifat minyak mineral Sifat Nilai Densitas (g/ml) 0,870 Viskositas (cst) pada 40 o C <34,5 Kelarutan Tidak larut dalam air dan alkohol. Larut dalam benzen, kloroform, eter, karbondisulfida, dan petroleum eter. Sumber : Virgin il adalah minyak dan lemak makan yang dihasilkan tanpa mengubah sifat fisiko kimia minyak. Minyak diperoleh dengan hanya perlakuan mekanis dan pemakaian panas minimal serta tidak menggunakan bahan kimia kecuali yang tidak mengalami reaksi dengan minyak. Minyak ini dimurnikan dengan cara pencucian menggunakan air, pengendapan, penyaringan dan sentrifugasi saja. Standar mutu dari virgin coconut oil dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Sifat virgin coconut oil Sifat Nilai Kadar air (%) 0,1-0,5 Densitas (g/ml) 0,9756 Index bias 1,4550 Bilangan peroksida (mg oksigen/100 g contoh) Maks 3,0 Bilangan penyabunan (mg K/g contoh) Bilangan asam (mgk/g contoh) Maks 13 Kadar asam lemak bebas (% asam laurat) Maks 0,5 Warna Jernih krisal Sumber : Pusat Penelitian Kimia-LIPI Serpong Komponen minyak kelapa terdiri dari asam lemak jenuh (90%) dan minyak tak jenuh (10%). Tingginya kandungan asam lemak jenuh menjadikan virgin coconut oil sebagai sumber lemak jenuh. Dalam virgin coconut oil terdapat
22 26 Medium Chain Fatty Acid (MCFA), yaitu komponen asam lemak berantai sedang yang memiliki banyak fungsi, antara lain mampu merangsang produksi inulin sehingga proses metabolisme glukosa dapat berjalan normal. MCFA juga bermanfaat dalam mengubah protein menjadi sumber energi. Fase air dibentuk oleh air dan bahan-bahan hidrofilik lain dalam sebuah sistem seperti gliserin atau propilen glikol. Secara umum, fase air dapat menghemat biaya karena harganya murah. Dalam membuat formula skin lotion harus diperhatikan fungsi utama dalam penggunaannya yaitu melembutkan tangan, mudah dan cepat menyerap pada permukaan kulit, tidak meninggalkan lapisan tipis, tidak menimbulkan lengket pada kulit setelah pemakaian, tidak mengganggu pernafasan, antiseptis, memiliki bau yang khas (menyegarkan) dan memiliki warna yang menarik (Schmitt, 1996). Emulsifier atau pengemulsi yang umum digunakan dalam pembuatan lotion adalah trietanolamin stearat dan oleat. Selain itu asam stearat juga dapat digunakan dalam formulasi sesuai dengan sifatnya yang dapat menghasilkan kilauan yang khas pada produk lotion (Wilkinson et al., 1962). Menurut Barnet (1962) gliseril mono stearat dengan polietilen glikol 400 efektif digunakan sebagai bahan pengental dan penstabil pada konsentrasi rendah. Konsentrasi yang berlebih pada penggunaan bahan-bahan ini harus dihindarkan karena akan membentuk gel pada lotion. umektan merupakan zat yang melindungi emulsi dari pengeringan. umektan ditambahkan pada produk lotion terutama pada produk dengan menggunakan tipe emulsi minyak dalam air (o/w) untuk mengurangi kekeringan ketika produk disimpan pada suhu ruang (Schmitt, 1996). Gliserin merupakan humektan yang paling baik digunakan dalam pembuatan lotion. Penggunaan gliserin akan menghasilkan lotion dengan karakteristik skin lotion yang terbaik dengan komposisi dalam formula berkisar 3% - 10%. Sedangkan menurut Barnett (1962), gliserin berfungsi sebagai penarik, penahan dan penyimpan air dan penyuplai sumber air pada celah lapisan cornified di permukaan kulit. Emolient merupakan zat yang mampu melunakkan kulit, apabila digunakan pada lapisan kulit yang keras dan kering akan mempengaruhi
23 27 kelembutan kulit dengan adanya hidrasi ulang (Schmitt, 1996). Emolient harus memiliki titik cair yang lebih tinggi dari suhu kulit, sehingga apabila lotion dioleskan pada kulit akan menimbulkan rasa nyaman, kering dan tidak berminyak. Cetil alkohol adalah emolient yang paling baik dan juga bisa berfungsi sebagai bahan pengental dengan komposisi berkisar antara 1% -3% pada formulasi produk. Beberapa jenis minyak dapat digunakan dalam pembuatan lotion. Minyak mineral, dan beberapa minyak alam yang berasal dari bunga matahari, zaitun, kelapa dan kacang-kacangan serta campuran dari trigliserida seperti miristat, palmitat, stearat dan asam lemak rantai panjang dapat digunakan dalam pembuatan lotion karena dapat memberikan efek alami kulit menjadi licin, kilau dan halus (Schueller et al., 1999). Air merupakan komponen yang paling penting dalam pembuatan krim dan skin lotion. Air merupakan bahan pelarut dan bahan baku yang tidak berbahaya dibandingkan bahan baku lainnya, tetapi air mempunyai sifat korosif. Air yang digunakan dalam produk kosmetik harus dimurnikan terlebih dahulu. Viskositas merupakan salah satu parameter penting untuk menunjukkan stabilitas produk maupun untuk penanganan suatu produk kosmetik selama penanganan dan distribusi produk (Schmitt, 1996). Bahan pengental digunakan untuk mengatur kekentalan dan mempertahankan kestabilan produk. Bahan pengental berfungsi sebagai pengikat fasa minyak dan fasa air yang terkait dengan idrophyile Lipophyile Balance. Selain itu bahan pengental yang digunakan dalam pembuatan lotion bertujuan untuk mencegah terpisahnya partikel dan emulsi (Strianse, 1996). Menurut Schmitt (1996), pengental polimer seperti gumgum alami, turunan selulosa dan karbomer lebih sering digunakan dalam emulsi dibandingkan dalam formulasi berbasis surfaktan. Selain polimer, bahan pengental dengan berat molekul tinggi juga dapat digunakan pada pembuatan skin lotion seperti polietilen glikol 6000 distearat atau polietilen glikol 120 metil glukosa. Keuntungan menggunakan bahan pengental tersebut adalah stabil terhadap hidrolisis pada suhu tinggi atau pada kondisi p yang sangat ekstrim. Efek samping bahan pengental dengan berat molekul tinggi adalah bahan-bahan ini mempengaruhi sifat-sifat alir bahan yang menyebabkan
24 28 meningkatnya aliran Newtonian. Sedangkan sistem yang terkentalkan oleh garam atau polimer menunjukkan sifat alir yang pseudoplastik (Schmitt,1996). Penggunaan bahan pengental dalam pembuatan skin lotion adalah lebih rendah 2,5%. ampir setiap jenis kosmetik menggunakan zat pewangi, yang berguna terutama untuk menambah nilai estetika produk yang dihasilkan. Minyak parfum yang digunakan spesifik dalam hal jenis, dosis pemakaian dan persyaratan lainnya terutama yang berkaitan dengan pengaruh iritasi dan sensitifisasi terhadap kulit, serta hubungannya dalam formula kosmetik. Jumlah parfum yang ditambahkan harus serendah mungkin, yaitu berkisar antara 0,1% -0,5. Pada proses pembuatan lotion, pewangi dicampurkan ke dalam lotion pada suhu 35 o C agar tidak merusak emulsi yang telah terbentuk (Schueller et al, 1999). Dalam pembuatan skin lotion biasanya ditambahkan bahan pengawet agar mikroba tidak tumbuh karena pengawet bersifat anti mikroba. Menurut Schmitt (1996), pengawet digunakan sebesar 0,1 0,2%, contohnya metil paraben.
39 HASIL DAN PEMBAHASAN
39 HASIL DAN PEMBAHASAN Sistem Emulsi Yang Dihasilkan Ukuran Partikel Sistem Emulsi Dari tiga formula sistem emulsi yang dianalisa ukuran partikelnya menggunakan fotomikroskop menunjukkan bahwa formula
METODOLOGI PENELITIAN
29 METODOLOGI PENELITIAN Bahan dan Alat Penelitian Bahan baku yang digunakan pada pembuatan skin lotion meliputi polietilen glikol monooleat (HLB12,2), polietilen glikol dioleat (HLB 8,9), sorbitan monooleat
REAKSI SAPONIFIKASI PADA LEMAK
REAKSI SAPONIFIKASI PADA LEMAK TUJUAN : Mempelajari proses saponifikasi suatu lemak dengan menggunakan kalium hidroksida dan natrium hidroksida Mempelajari perbedaan sifat sabun dan detergen A. Pre-lab
Memiliki bau amis (fish flavor) akibat terbentuknya trimetil amin dari lesitin.
Lemak dan minyak merupakan senyawa trigliserida atau trigliserol, dimana berarti lemak dan minyak merupakan triester dari gliserol. Dari pernyataan tersebut, jelas menunjukkan bahwa lemak dan minyak merupakan
Lemak dan minyak adalah trigliserida atau triasil gliserol, dengan rumus umum : O R' O C
Lipid Sifat fisika lipid Berbeda dengan dengan karbohidrat dan dan protein, lipid bukan merupakan merupakan suatu polimer Senyawa organik yang terdapat di alam Tidak larut di dalam air Larut dalam pelarut
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Surfaktan Surfaktan (surface active agent) adalah senyawa amphiphilic, yang merupakan molekul heterogendan berantai panjangyang memiliki bagian kepala yang suka air (hidrofilik)
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL 1. Pembuatan sediaan losio minyak buah merah a. Perhitungan HLB butuh minyak buah merah HLB butuh minyak buah merah yang digunakan adalah 17,34. Cara perhitungan HLB
A. Sifat Fisik Kimia Produk
Minyak sawit terdiri dari gliserida campuran yang merupakan ester dari gliserol dan asam lemak rantai panjang. Dua jenis asam lemak yang paling dominan dalam minyak sawit yaitu asam palmitat, C16:0 (jenuh),
Kode Bahan Nama Bahan Kegunaan Per wadah Per bets
I. Formula Asli R/ Krim Kosmetik II. Rancangan Formula Nama Produk : Jumlah Produk : 2 @ 40 g Tanggal Pembuatan : 16 Januari 2013 No. Reg : No. Bets : Komposisi : Tiap 40 g mengandung VCO 15% TEA 2% Asam
I. PENDAHULUAN. Pasta merupakan produk emulsi minyak dalam air yang tergolong kedalam low fat
1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pasta merupakan produk emulsi minyak dalam air yang tergolong kedalam low fat spreads, yang kandungan airnya lebih besar dibandingkan minyaknya. Kandungan minyak dalam
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN BAHASAN
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN BAHASAN Mikroemulsi merupakan emulsi yang stabil secara termodinamika dengan ukuran globul pada rentang 10 nm 200 nm (Prince, 1977). Mikroemulsi dapat dibedakan dari emulsi biasa
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL 1. Hasil Evaluasi Sediaan a. Hasil pengamatan organoleptis Hasil pengamatan organoleptis menunjukkan krim berwarna putih dan berbau khas, gel tidak berwarna atau transparan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. PERSIAPAN BAHAN Bahan baku pada penelitian ini adalah buah kelapa segar yang masih utuh, buah kelapa terdiri dari serabut, tempurung, daging buah kelapa dan air kelapa. Sabut
HASIL DAN PEMBAHASAN. dicatat volume pemakaian larutan baku feroamonium sulfat. Pembuatan reagen dan perhitungan dapat dilihat pada lampiran 17.
Tegangan Permukaan (dyne/cm) Tegangan permukaan (dyne/cm) 6 dihilangkan airnya dengan Na 2 SO 4 anhidrat lalu disaring. Ekstrak yang diperoleh kemudian dipekatkan dengan radas uap putar hingga kering.
Sediaan perawatan dan pembersih kulit adalah sediaan yang digunakan untuk maksud
CLEANSING CREAM Sediaan perawatan dan pembersih kulit adalah sediaan yang digunakan untuk maksud perawatan kulit agar kulit menjadi bersih dan sehat terlindung dari kekeringan~an sengatan cuaca, baik panas
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
21 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Polimer Emulsi 2.1.1 Definisi Polimer Emulsi Polimer emulsi adalah polimerisasi adisi terinisiasi radikal bebas dimana suatu monomer atau campuran monomer dipolimerisasikan
HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian Tahap Satu
HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian Tahap Satu Penentuan Formula Pembuatan Sabun Transparan Penelitian tahap satu merupakan tahap pemilihan formula pembuatan sabun trasnparan. Hasil penelitian tahap satu ini
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sabun adalah senyawa garam dari asam-asam lemak tinggi, seperti
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sabun Sabun adalah senyawa garam dari asam-asam lemak tinggi, seperti natrium stearat, (C 17 H 35 COO Na+).Aksi pencucian dari sabun banyak dihasilkan melalui kekuatan pengemulsian
PEMBAHASAN. I. Definisi
PEMBAHASAN I. Definisi Gel menurut Farmakope Indonesia Edisi IV (1995), merupakan sistem semi padat, terdiri dari suspensi yang dibuat dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar,
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Evaluasi kestabilan formula krim antifungi ekstrak etanol rimpang
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Evaluasi kestabilan formula krim antifungi ekstrak etanol rimpang lengkuas (Alpinia galanga L.) memberikan hasil sebagai berikut : Tabel 2 :
PERCOBAAN II PENGARUH SURFAKTAN TERHADAP KELARUTAN A. Tujuan 1. Mengetahui dan memahami pengaruh penambahan surfaktan terhadap kelarutan suatu zat 2.
PERCOBAAN II PENGARUH SURFAKTAN TERHADAP KELARUTAN A. Tujuan 1. Mengetahui dan memahami pengaruh penambahan surfaktan terhadap kelarutan suatu zat 2. Mengetahui dan memahami cara menentukan konsentrasi
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. membentuk konsistensi setengah padat dan nyaman digunakan saat
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL 1. Evaluasi Krim Hasil evaluasi krim diperoleh sifat krim yang lembut, mudah menyebar, membentuk konsistensi setengah padat dan nyaman digunakan saat dioleskan pada
PENUNTUN PRAKTIKUM KIMIA DASAR II KI1201
PENUNTUN PRAKTIKUM KIMIA DASAR II KI1201 Disusun Ulang Oleh: Dr. Deana Wahyuningrum Dr. Ihsanawati Dr. Irma Mulyani Dr. Mia Ledyastuti Dr. Rusnadi LABORATORIUM KIMIA DASAR PROGRAM TAHAP PERSIAPAN BERSAMA
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pengumpulan Getah Jarak Pengumpulan getah jarak (Jatropha curcas) berada di Bandarjaya, Lampung Tengah yang berusia 6 tahun. Pohon jarak biasanya dapat disadap sesudah berumur
BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Indonesia memiliki hasil perkebunan yang cukup banyak, salah satunya hasil perkebunan ubi kayu yang mencapai 26.421.770 ton/tahun (BPS, 2014). Pemanfaatan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ketoprofen atau asam 2-(3-benzoilfenil) propionat merupakan obat antiinflamasi non steroid yang digunakan secara luas untuk pengobatan rheumatoid arthritis,
KELOMPOK 4 : SEDIAAN GEL
KELOMPOK 4 : SEDIAAN GEL Nevirka Miararani ( M0614039 ) Nia Novita Sari( M0614040 ) Nugraha Mas ud ( M0614041 ) Nur Diniyah ( M0614042 ) Pratiwi Noor ( M0614043 ) Raissa Kurnia ( M0614044 ) Raka Sukmabayu
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 KARAKTERISASI MINYAK Sabun merupakan hasil reaksi penyabunan antara asam lemak dan NaOH. Asam lemak yang digunakan untuk membuat sabun transparan berasal dari tiga jenis minyak,
BAB I PENDAHULUAN. Minyak canola (Brasicca napus L.) adalahminyak yang berasal dari biji
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Minyak canola (Brasicca napus L.) adalahminyak yang berasal dari biji tumbuhan canola, yaitu tumbuhan asli Kanada Barat dengan bunga berwarna kuning. Popularitas dari
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 KARAKTERISASI MINYAK Sabun merupakan hasil reaksi penyabunan antara asam lemak dan NaOH. Asam lemak yang digunakan pada produk sabun transparan yang dihasilkan berasal dari
Perbandingan aktivitas katalis Ni dan katalis Cu pada reaksi hidrogenasi metil ester untuk pembuatan surfaktan
Perbandingan aktivitas katalis Ni dan katalis Cu pada reaksi hidrogenasi metil ester untuk pembuatan surfaktan Tania S. Utami *), Rita Arbianti, Heri Hermansyah, Wiwik H., dan Desti A. Departemen Teknik
3 METODOLOGI PENELITIAN
3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan di Laboratorium SBRC LPPM IPB dan Laboratorium Departemen Teknologi Industri Pertanian FATETA IPB mulai bulan September 2010
II. TINJAUAN PUSTAKA. sawit kasar (CPO), sedangkan minyak yang diperoleh dari biji buah disebut
7 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Minyak Kelapa Sawit Sumber minyak dari kelapa sawit ada dua, yaitu daging buah dan inti buah kelapa sawit. Minyak yang diperoleh dari daging buah disebut dengan minyak kelapa
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN BAHASAN
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN BAHASAN Penelitian ini diawali dengan pemeriksaan bahan baku. Pemeriksaan bahan baku yang akan digunakan dalam formulasi mikroemulsi ini dimaksudkan untuk standardisasi agar diperoleh
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia termasuk daerah beriklim tropis yang merupakan tempat endemik penyebaran nyamuk. Dari penelitiannya Islamiyah et al., (2013) mengatakan bahwa penyebaran nyamuk
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kosmetik merupakan sediaan yang digunakan di luar badan guna membersihkan, menambah daya tarik, dan memperbaiki bau badan tetapi tidak untuk mengobati penyakit (Tranggono
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN Dilakukan identifikasi dan karakterisasi minyak kelapa murni menggunakan GC-MS oleh LIPI yang mengacu kepada syarat mutu minyak kelapa SNI 01-2902-1992. Tabel 4.1.
D. Tinjauan Pustaka. Menurut Farmakope Indonesia (Anonim, 1995) pernyataan kelarutan adalah zat dalam
JURNAL KELARUTAN D. Tinjauan Pustaka 1. Kelarutan Menurut Farmakope Indonesia (Anonim, 1995) pernyataan kelarutan adalah zat dalam bagian tertentu pelarut, kecuali dinyatakan lain menunjukkan bahwa 1 bagian
Protein (asal kata protos dari bahasa Yunani yang berarti "yang paling utama") adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan
A. Protein Protein (asal kata protos dari bahasa Yunani yang berarti "yang paling utama") adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN Mikroemulsi merupakan emulsi jernih yang terbentuk dari fasa lipofilik, surfaktan, kosurfaktan dan air. Dispersi mikroemulsi ke dalam air bersuhu rendah akan menyebabkan
C3H5 (COOR)3 + 3 NaOH C3H5(OH)3 + 3 RCOONa
A. Pengertian Sabun Sabun adalah garam alkali dari asam-asam lemak telah dikenal secara umum oleh masyarakat karena merupakan keperluan penting di dalam rumah tangga sebagai alat pembersih dan pencuci.
4. Hasil dan Pembahasan
4. Hasil dan Pembahasan 4.1. Sintesis Polistiren Sintesis polistiren yang diinginkan pada penelitian ini adalah polistiren yang memiliki derajat polimerisasi (DPn) sebesar 500. Derajat polimerisasi ini
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN BAHASAN
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN BAHASAN Hasil determinasi Citrus aurantifolia (Christm. & Panzer) swingle fructus menunjukan bahwa buah tersebut merupakan jeruk nipis bangsa Rutales, suku Rutaceae, marga Citrus,
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Ketertarikan dunia industri terhadap bahan baku proses yang bersifat biobased mengalami perkembangan pesat. Perkembangan pesat ini merujuk kepada karakteristik bahan
Bab IV Hasil dan Pembahasan
Bab IV Hasil dan Pembahasan 4.1 Tahap Sintesis Biodiesel Pada tahap sintesis biodiesel, telah dibuat biodiesel dari minyak sawit, melalui reaksi transesterifikasi. Jenis alkohol yang digunakan adalah metanol,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Minyak Goreng 1. Pengertian Minyak Goreng Minyak goreng adalah minyak yang berasal dari lemak tumbuhan atau hewan yang dimurnikan dan berbentuk cair dalam suhu kamar dan biasanya
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. KITSAN Kitosan adalah polimer alami yang diperoleh dari deasetilasi kitin. Kitin adalah polisakarida terbanyak kedua setelah selulosa. Kitosan merupakan polimer yang aman, tidak
SIFAT PERMUKAAN SISTEM KOLOID PANGAN AKTIVITAS PERMUKAAN
SIFAT PERMUKAAN SISTEM KOLOID PANGAN AKTIVITAS PERMUKAAN SIFAT PERMUKAAN Terdapat pada sistem pangan yang merupakan sistem 2 fase (campuran dari cairan yang tidak saling melarutkan immiscible) Antara 2
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Pengamatan dan Hasil Ekstrak Daun Binahong (Anredera cordifolia
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Hasil Pengamatan dan Hasil Ekstrak Daun Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steen). Daun binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steen) sebelum
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Minyak Nabati Minyak nabati adalah cairan kental yang diambil atau diekstrak dari tumbuhtumbuhan. Komponen utama penyusun minyak nabati adalah trigliserida asam lemak, yang
BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Surfaktan merupakan suatu molekul yang sekaligus memiliki gugus hidrofilik dan gugus lipofilik sehingga dapat mempersatukan campuran yang terdiri dari air dan minyak.
Air adalah wahana kehidupan
Air Air adalah wahana kehidupan Air merupakan senyawa yang paling berlimpah di dalam sistem hidup dan mencakup 70% atau lebih dari bobot semua bentuk kehidupan Reaksi biokimia menggunakan media air karena
I. ISOLASI EUGENOL DARI BUNGA CENGKEH
Petunjuk Paktikum I. ISLASI EUGENL DARI BUNGA CENGKEH A. TUJUAN PERCBAAN Mengisolasi eugenol dari bunga cengkeh B. DASAR TERI Komponen utama minyak cengkeh adalah senyawa aromatik yang disebut eugenol.
Dalam bidang farmasetika, kata larutan sering mengacu pada suatu larutan dengan pembawa air.
Pendahuluan Dalam bidang farmasetika, kata larutan sering mengacu pada suatu larutan dengan pembawa air. Pelarut lain yang digunakan adalah etanol dan minyak. Selain digunakan secara oral, larutan juga
Untuk mengetahui pengaruh ph medium terhadap profil disolusi. atenolol dari matriks KPI, uji disolusi juga dilakukan dalam medium asam
Untuk mengetahui pengaruh ph medium terhadap profil disolusi atenolol dari matriks KPI, uji disolusi juga dilakukan dalam medium asam klorida 0,1 N. Prosedur uji disolusi dalam asam dilakukan dengan cara
BAB I PENDAHULUAN. kecil daripada jaringan kulit lainnya. Dengan demikian, sifat barrier stratum korneum
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Secara anatomi, kulit terdiri dari banyak lapisan jaringan, tetapi pada umumnya kulit dibagi menjadi tiga lapis jaringan yaitu epidermis, dermis dan lapis lemak di
SUSPENSI DAN EMULSI Mata Kuliah : Preskripsi (2 SKS) Dosen : Kuni Zu aimah B., S.Farm., M.Farm., Apt.
SUSPENSI DAN EMULSI Mata Kuliah : Preskripsi (2 SKS) Dosen : Kuni Zu aimah B., S.Farm., M.Farm., Apt. Sediaan cair banyak dipilih untuk pasien pediatrik dan geriatric karena mudah untuk ditelan, dan fleksibilitas
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium dengan A. PENENTUAN FORMULA LIPSTIK
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium dengan membuat sediaan lipstik dengan perbandingan basis lemak cokelat dan minyak jarak yaitu 60:40 dan 70:30
Gambar IV 1 Serbuk Gergaji kayu sebelum ekstraksi
Bab IV Pembahasan IV.1 Ekstraksi selulosa Kayu berdasarkan struktur kimianya tersusun atas selulosa, lignin dan hemiselulosa. Selulosa sebagai kerangka, hemiselulosa sebagai matrik, dan lignin sebagai
Gambar 2 Penurunan viskositas intrinsik kitosan setelah hidrolisis dengan papain.
4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh konsentrasi papain terhadap hidrolisis kitosan Pengaruh papain dalam menghidrolisis kitosan dapat dipelajari secara viskometri. Metode viskometri merupakan salah satu
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. PERSIAPAN BAHAN 1. Ekstraksi Biji kesambi dikeringkan terlebih dahulu kemudian digiling dengan penggiling mekanis. Tujuan pengeringan untuk mengurangi kandungan air dalam biji,
BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar belakang Senyawa gliserol yang merupakan produk samping utama dari proses pembuatan biodiesel dan sabun bernilai ekonomi cukup tinggi dan sangat luas penggunaannya
ISOLASI BAHAN ALAM. 2. Isolasi Secara Kimia
ISOLASI BAHAN ALAM Bahan kimia yang berasal dari tumbuhan atau hewan disebut bahan alam. Banyak bahan alam yang berguna seperti untuk pewarna, pemanis, pengawet, bahan obat dan pewangi. Kegunaan dari bahan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan bahan yang sangat penting dalam kehidupan manusia dan fungsinya tidak pernah digantikan oleh senyawa lain. Sebuah molekul air terdiri dari sebuah atom
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. KARAKTERISTIK METIL ESTER SULFONAT (MES) Pada penelitian ini surfaktan MES yang dihasilkan berfungsi sebagai bahan aktif untuk pembuatan deterjen cair. MES yang dihasilkan merupakan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Katalis Katalis merupakan suatu senyawa yang dapat meningkatkan laju reaksi tetapi tidak terkonsumsi oleh reaksi. Katalis meningkatkan laju reaksi dengan energi aktivasi Gibbs
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN MESA off grade merupakan hasil samping dari proses sulfonasi MES yang memiliki nilai IFT lebih besar dari 1-4, sehingga tidak dapat digunakan untuk proses Enhanced Oil Recovery
PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Kombinasi Protein Koro Benguk dan Karagenan Terhadap Karakteristik Mekanik (Kuat Tarik dan Pemanjangan)
4. PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Kombinasi Protein Koro Benguk dan Karagenan Terhadap Karakteristik Mekanik (Kuat Tarik dan Pemanjangan) Karakteristik mekanik yang dimaksud adalah kuat tarik dan pemanjangan
SABUN MANDI. Disusun Oleh : Nosafarma Muda (M0310033)
SABUN MANDI Disusun Oleh : Winda Puspita S (M0307070) Arista Margiana (M0310009) Fadilah Marsuki (M0310018) Hartini (M0310022) Ika Lusiana (M0310024) Isnaeni Nur (M0310026) Isya Fitri A (M0310027) Nosafarma
TEKNIK PENGEMASAN DAN PENYIMPANAN KEMASAN KERTAS DAN PLASTIK
TEKNIK PENGEMASAN DAN PENYIMPANAN KEMASAN KERTAS DAN PLASTIK Kertas Kasar Kertas Lunak Daya kedap terhadap air, gas, dan kelembaban rendah Dilapisi alufo Dilaminasi plastik Kemasan Primer Diresapi lilin,
BAB I PENDAHULUAN. sehingga mengakibatkan konsumsi minyak goreng meningkat. Selain itu konsumen
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Minyak goreng adalah salah satu unsur penting dalam industri pengolahan makanan. Dari tahun ke tahun industri pengolahan makanan semakin meningkat sehingga mengakibatkan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Asam Palmitat Asam palmitat adalah asam lemak jenuh rantai panjang yang terdapat dalam bentuk trigliserida pada minyak nabati maupun minyak hewani disamping juga asam lemak
BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kebutuhan akan sumber bahan bakar semakin meningkat dari waktu ke waktu seiring dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk. Akan tetapi cadangan sumber bahan bakar justru
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 KARAKTERISASI LIMBAH MINYAK Sebelum ditambahkan demulsifier ke dalam larutan sampel bahan baku, terlebih dulu dibuat blanko dari sampel yang diujikan (oli bekas dan minyak
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penggunaan kosmetika dekoratif digunakan sehari-hari untuk mempercantik diri. Salah satu contoh kosmetika dekoratif yang sering digunakan adalah lipstik. Lipstik merupakan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 INDUSTRI KIMIA DAN PERKEMBANGANNYA Saat ini, perhatian terhadap industri kimia semakin meningkat karena berkurangnya pasokan bahan baku dan sumber energi serta meningkatnya
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tubuh manusia terbentuk atas banyak jaringan dan organ, salah satunya adalah kulit. Kulit adalah organ yang berfungsi sebagai barrier protektif yang dapat mencegah
BAB I PENDAHULUAN. 1 Prarancangan Pabrik Dietil Eter dari Etanol dengan Proses Dehidrasi Kapasitas Ton/Tahun Pendahuluan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dietil eter merupakan salah satu bahan kimia yang sangat dibutuhkan dalam industri dan salah satu anggota senyawa eter yang mempunyai kegunaan yang sangat penting.
PENDAHULUAN Latar Belakang
PENDAHULUAN Latar Belakang Studi terhadap kitosan telah banyak dilakukan baik dalam bentuk serpih, butiran, membran, maupun gel. Kemampuan kitosan yang diterapkan dalam berbagai bidang industri modern,
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Tanaman kelapa (Cocos nucifera L) sering disebut tanaman kehidupan karena bermanfaat bagi kehidupan manusia diseluruh dunia. Hampir semua bagian tanaman
Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan
Bab IV asil Penelitian dan Pembahasan IV.1 Isolasi Kitin dari Limbah Udang Sampel limbah udang kering diproses dalam beberapa tahap yaitu penghilangan protein, penghilangan mineral, dan deasetilasi untuk
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Data Ekstrak Buah Tomat (Solanum lycopersicum L.) Ekstark buah tomat memiliki organoleptis dengan warna kuning kecoklatan, bau khas tomat, rasa manis agak asam, dan bentuk
Fransiska Victoria P ( ) Steffy Marcella F ( )
Fransiska Victoria P (0911010030) Steffy Marcella F (0911010080) Pengertian & Fungsi Emulsifier atau zat pengemulsi adalah zat untuk membantu menjaga kestabilan emulsi minyak dan air. Pengemulsi adalah
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EKSTRASI
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EKSTRASI EKTRAKSI Ekstraksi tanaman obat merupakan suatu proses pemisahan bahan obat dari campurannya dengan menggunakan pelarut. Ekstrak adalah sediaan yang diperoleh dengan
BAB I PENDAHULUAN. baku baru yang potensial. Salah satu bahan yang potensial untuk pembuatan surfaktan adalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan pembuatan surfaktan tidak hanya dalam pencarian jenis surfaktan yang baru untuk suatu aplikasi tertentu di suatu industri, tetapi juga melakukan pencarian
HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Karakterisasi Bahan Baku Karet Crepe
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakterisasi Bahan Baku 4.1.2 Karet Crepe Lateks kebun yang digunakan berasal dari kebun percobaan Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Ciomas-Bogor. Lateks kebun merupakan
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK I PERCOBAAN III SIFAT-SIFAT KIMIA HIDROKARBON
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK I PERCOBAAN III SIFAT-SIFAT KIMIA HIDROKARBON OLEH NAMA : HABRIN KIFLI HS. STAMBUK : F1C1 15 034 KELOMPOK ASISTEN : VI (ENAM) : HERIKISWANTO LABORATORIUM KIMIA FAKULTAS
LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM BIOKIMIA. (Uji Pembentukan Emulsi Lipid)
LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM BIOKIMIA (Uji Pembentukan Emulsi Lipid) Disusun oleh: NAMA : LASINRANG ADITIA NIM : 60300112034 KELAS : BIOLOGI A KELOMPOK : IV (Empat) LABORATORIUM BIOLOGI FAKULTAS SAINS DAN
HASIL DAN PEMBAHASAN A. ANALISIS GLISEROL HASIL SAMPING BIODIESEL JARAK PAGAR
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. ANALISIS GLISEROL HASIL SAMPING BIODIESEL JARAK PAGAR Gliserol hasil samping produksi biodiesel jarak pagar dengan katalis KOH merupakan satu fase yang mengandung banyak pengotor.
C w : konsentrasi uap air dalam kesetimbangan, v f dan f w menyatakan laju penguapan dengan dan tanpa film di permukaan
Adanya film monomolekuler menyebabkan laju penguapan substrat berkurang, sedangkan kesetimbangan tekanan uap tidak dipengaruhi Laju penguapan dinyatakan sebagai v = m/t A (g.det -1.cm -2 ) Tahanan jenis
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. SIFAT FISIKO-KIMIA BIJI DAN MINYAK JARAK PAGAR Biji jarak pagar (Jatropha curcas L.) yang digunakan dalam penelitian ini didapat dari PT. Rajawali Nusantara Indonesia di daerah
Bab IV Hasil dan Pembahasan
Bab IV Hasil dan Pembahasan Secara garis besar, penelitian ini dibagi dalam dua tahap, yaitu penyiapan aditif dan analisa sifat-sifat fisik biodiesel tanpa dan dengan penambahan aditif. IV.1 Penyiapan
LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FARMASI FISIKA
LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FARMASI FISIKA TEGANGAN PERMUKAAN KELOMPOK 1 SHIFT A 1. Dini Mayang Sari (10060310116) 2. Putri Andini (100603) 3. (100603) 4. (100603) 5. (100603) 6. (100603) Hari/Tanggal Praktikum
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
BAB HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN Pada tahap awal formulasi, dilakukan orientasi untuk mendapatkan formula krim yang baik. Orientasi diawali dengan mencari emulgator yang sesuai untuk membentuk krim air
EMULSI FARMASI. PHARM.DR. JOSHITA DJAJADISASTRA, MS, PhD
EMULSI FARMASI PHARM.DR. JOSHITA DJAJADISASTRA, MS, PhD KEUNTUNGAN Meningkatkan bioavailibilitas obat Controlled rate drug release Memberikan perlindungan terhadap obat yang rentan terhadap oksidasi dan
I PENDAHULUAN. Bab ini menjelaskan mengenai: (1) Latar Belakang Masalah, (2) Identifikasi
I PENDAHULUAN Bab ini menjelaskan mengenai: (1) Latar Belakang Masalah, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dantujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesis dan (7)
Oleh: Dhadhang Wahyu Kurniawan 4/16/2013 1
Oleh: Dhadhang Wahyu Kurniawan 4/16/2013 1 Faktor yang harus diperhatikan dalam formulasi antara lain: Hal-hal yang berdampak pada kelarutan Hal-hal yang berdampak pada kecepatan disolusi Hal-hal yang
B. Struktur Umum dan Tatanama Lemak
A. Pengertian Lemak Lemak adalah ester dari gliserol dengan asam-asam lemak (asam karboksilat pada suku tinggi) dan dapat larut dalam pelarut organik non-polar, misalnya dietil eter (C2H5OC2H5), Kloroform
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 SERAT KELAPA (COCONUT FIBER) Serat kelapa yang diperoleh dari bagian terluar buah kelapa dari pohon kelapa (cocus nucifera) termasuk kedalam anggota keluarga Arecaceae (family
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Kelapa (Cocos Nucifera Linn.) merupakan tanaman yang tumbuh di negara yang beriklim tropis. Indonesia merupakan produsen kelapa terbesar di dunia. Menurut Kementerian
