DARI REDAKSI. Pendidikan Profesi Insinyur
|
|
|
- Inge Susanto
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1
2 DARI REDAKSI Pendidikan Profesi Insinyur Setiap negara yang ingin maju dan punya kemampuan bersaing membutuhkan insinyur. Amerika Serikat pernah memiliki reputasi tinggi dalam pengembangan teknologi. Siapa yang bisa menafikan prestasi luar biasa negara adidaya itu, bersama Rusia, dalam pengembangan teknologi ruang angkasa? Walaupun saat ini banyak negara sudah mengembangkan program luar angkasanya. Dalam beberapa tahun terakhir generasi muda di sana memang makin enggan mengambil studi sains dan teknik. Dampaknya serius. Daya saing mereka melemah. Ketergantungan mereka yang tinggi akan industri keuangan membuat mereka sulit pulih setelah terkena dampak krisis finansial tahun Lain lagi di beberapa negara seperti Korea Selatan, China dan India. Karir dalam bidang keinsinyuran dan sains masih dipandang tinggi, karena bidangbidang ini dikenali sebagai sumber sejati kemakmuran dan kepakaran. Untuk urusan minat terhadap keinsinyuran, tampaknya Indonesia mengekor Amerika Serikat. Kalaupun ada penambahan minat, itu hanya terjadi untuk program studi tertentu seperti teknologi informasi. Secara umum, selain kurang dilirik, banyak sarjana teknik tidak berprofesi sebagai insinyur. Selain mengatur hal-hal yang terkait dengan keinsinyuran, pelaksanaan atau implementasi UU Keinsinyuran yang telah disahkan pada 2014 lalu diharapkan juga mampu mendongkrak minat masyarakat, terutama generasi muda, terhadap bidang keinsinyuran. Salah satu aturannya adalah tentang penggunaan gelar insinyur dan lembaga yang diperbolehkan memberikan gelar insinyur. Pada pertengahan April lalu, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti) menyerahkan mandat pembukaan program studi (prodi) profesi insinyur kepada 40 perguruan tinggi di Indonesia yang harus sudah berjalan pada tahun ajaran 2016/2017. Seorang sarjana teknik yang ingin mendapatkan gelar insinyur dapat mengikuti program profesi ini dengan beban 24 SKS di salah satu perguruan tinggi yang telah diberi mandat tersebut. Berbeda dengan pendidikan selama menempuh program sarjana, pendidikan profesi ini lebih menitikberatkan programnya pada kegiatan praktik. Aries R. Prima Pemimpin Redaksi Seorang sarjana teknik yang kemudian tidak berprofesi sebagai insinyur bukan hanya disebabkan oleh rendahnya remunerasi yang diterima sebagai seorang insinyur. Menurut Djoko Santoso, mantan Dirjen Pendidikan Tinggi, jika sejak awal seorang mahasiswa teknik itu tidak berbakat dan tidak berminat pada keinsinyuran, begitu lulus, secara alamiah, mereka akan lebih tertarik bekerja di bidang non-keinsinyuran. Buat negara-negara maju hal ini tidak terlalu menjadi masalah, karena mereka sudah melampaui periode hard technology. Yang jadi masalah justru di Indonesia. Karena kita belum lagi memasuki periode itu. Tahu-tahu, trendnya sudah beralih ke soft technology, ujarnya. 2
3 Kualifikasi Profesional vs Akademik (Bagian I) Prof. Dr. Ir. Harijono A. Tjokronegoro Guru Besar Teknik Fisika Institut Teknologi Bandung Terminologi profesional maupun akademik, keduanya adalah kata sifat, yang biasanya digunakan untuk menyatakan pengakuan kualifikasi atas kemampuan maupun kapasitas seseorang untuk menyelesaikan sesuatu tugas. Kualifikasi profesional, umumnya, dinyatakan dalam bentuk sertifikat profesi atau yang dikenal pula sebagai professional credential. Sementara kualifikasi akademik umumnya dinyatakan dalam bentuk ijazah atau dapat pula disebut sebagai academic credential. Sertifikat profesi maupun ijazah diterbitkan dan diberikan kepada seseorang yang telah menunjukan kemampuannya dalam menyelesaikan suatu program sesuai dengan bakuan proses serta prosedur yang ditetapkan. Sertifikat profesi umumnya diberikan oleh asosiasi profesi kepada anggotanya, sementara ijazah diberikan oleh institusi akademik/pendidikan (misalkan perguruan tinggi) kepada lulusannya. Dimana, lulusan atau sering dikenal pula sebagai alumni, diartikan bukan lagi anggota institusi pendidikan yang bersangkutan, yang maknanya tidak lagi terdapat ikatan hukum, baik kewajiban maupun tanggung jawab, antara alumni dan institusi pendidikan yang telah menerbitkan ijazah. Sertifikat profesi diterbitkan oleh asosiasi profesi untuk anggotanya sebagai bentuk pengakuan atas capaian yang bersangkutan pada pengetahuan dan ketrampilan atau kompetensi profesional guna mengerjakan sesuatu tugas atau pekerjaan spesifik dengan benar, dengan cepat, dan tanpa menimbulkan kerugian bagi siapapun yang berhubungan dengan pekerjaan tersebut. Dengan demikian, sertifikat profesi sering pula dikenal sebagai sertifikat kompetensi atau competence credential. Dalam hal ini sertifikat profesional diberikan setelah yang bersangkutan mampu menunjukkan keahlian tertentu sesuai dengan bakuan proses serta prosedur tertentu yang ditetapkan oleh asosiasi yang bersangkutan. Pada umumnya suatu jenis atau bidang professional credential hanya diberikan oleh suatu asosiasi profesi tertentu untuk suatu keahlian (kompetensi) tertentu yang memuat sejumlah batasan yang amat ketat di dalamnya, termasuk batasan kompetensi dan masa dan wilayah keberlakuan. Sebaliknya amat jarang (jika tidak dapat dikatakan tidak ada) suatu asosiasi profesi memberikan lebih dari satu jenis bidang professional credential pada setiap sertifikat profesional yang diterbitkannya. Sementara ijazah diberikan setelah yang bersangkutan menyelesaikan program pendidikan dengan capaian tertentu yang berhubungan dengan upaya penguasaan kompetensi akademik. Kompetensi akademik yang dimaksud berhubungan dengan penguasaan keilmuan serta ketrampilan yang luas dan komprehensif dengan objektifnya adalah guna menghadapi tugas dan/atau pekerjaan yang bervariasi. Dalam hal ini, suatu jenis academic credential, untuk suatu bidang yang sama, dapat diberikan oleh banyak institusi pendidikan yang berbeda. Tanggung Jawab dan Kewajiban Di balik kualifikasi profesional yang kemudian dinyatakan oleh sertifikat profesional terdapat makna pengakuan oleh asosiasi profesi sekaligus jaminan kompetensi (warrant of competence) dan jaminan keahlian (warrant of experties) pada pemegang sertifikat, yang pada umumnya terbatas dalam bidang spesifik yang dinyatakan pada sertifikat profesional yang diterbitkannya. Dengan menerbitkan sertifikat profesional, asosiasi profesi memberikan jaminan bahwa pemegang sertifikat telah memiliki kompetensi dalam pengetahuan serta ketrampilan yang cukup untuk suatu tugas atau pekerjaan secara benar dan aman, tanpa menimbulkan kerugian bagi siapapun yang berhubungan dengan karya yang bersangkutan. Di sisi yang lain, dengan memegang sertifikat profesional, yang bersangkutan dinyatakan mampu menjalankan kewajiban serta bertanggung jawab atas semua akibat dari tugas serta hasil pekerjaan yang dijalankan sesuai dengan kompetensi dinyatakan di dalam sertifikat. 3
4 Kualifikasi Profesional vs Akademik (Bagian II) Prof. Dr. Ir. Harijono A. Tjokronegoro Guru Besar Teknik Fisika Institut Teknologi Bandung Lebih jauh dari makna sertifkat profesional, pada umumnya berarti pula, asosiasi profesi (di pihak yang menerbitkan sertifikat kompetensi) ikut bertanggung jawab jika terdapat kerugian pada pihak pengguna maupun pemanfaat jasa yang diakibatkan oleh kelalaian anggotanya (pemegang sertifikat kompetensi) dalam menjalankan profesinya. Dengan demikian, atas konsekuensinya, asosiasi profesi memiiki pula kewajiban serta tanggung jawab guna menjaga suasana agar anggotanya selalu memiliki kemampuan menjalankan kewajibannya sesuai dengan kompetensinya, dengan benar dan aman tanpa menimbulkan kerugian di pihak lain. Guna memberikan jaminan maksimum pada keamanan serta kesejahteraan pengguna maupun pemanfaat jasa profesional anggotanya, asosiasi profesi bertanggung jawab pada capaian kompetensi anggotanya. Untuk ini asosiasi profesi bertanggung jawab pada proses sertifikasi dan/atau prosedur competence assessment yang dijalankannya. Oleh karena tanggung jawab yang harus dimiliki, umumnya asosiasi profesi menetapkan bidang yang sangat spesifik (tidak luas). Selanjutnya asosiasi profesi menetapkan suatu bakuan serta proses competence assessment yang amat ketat, cermat dan terukur guna mengungkapkan kemampuan serta kapasitas kompetensi yang bersangkutan. Pada kesempatan tersebut, guna mendapatkan sertifikat pengakuan kualifikasi profesionalnya, yang bersangkutan harus mampu menunjukkan kompetensi yang dimilikinya dengan cara serta prosedur baku yang ditetapkan oleh asosiasi yang bersangkutan. Untuk tujuan di atas, guna mendapatkan kompetensi minimum yang dipersyaratkan, amat sering asosiasi profesi menetapkan prasyarat kualifiasi akademik (gelar akademik) tertentu serta pengalaman kerja tertentu bagi calon anggotanya, di samping sering pula mewajibkannya untuk mengikuti sesuatu program pembelajaran prasyarat tertentu. Meski demikian, sertifikat profesional hanya diberikan jika yang bersangkutan telah mampu menunjukkan kompetensinya melalui suatu proses competence assessment atau uji kompetensi yang telah ditetapkan. Sebaliknya hampir tidak pernah terdapat suatu institusi pendidikan membuat prasyarat agar peserta didik memiliki kualifikasi profesional tertentu untuk dapat diberikan ijazah atau pengakuan kualifikasi akademik. Institusi pendidikan menerbitkan ijazah (suatu bentuk pengakuan kualifikasi akademik) sebagai tanda pengakuan bahwa pemegang ijazah telah menyelesaikan proses pembelajaran serta prasyarat akademik tertentu yang telah ditetapkan. Institusi pendidikan, dalam hal ini, tidak pernah memberikan jaminan kompetensi bekerja kepada lulusannya. Dalam program akademik, pada umumnya, institusi pendidikan tidak memiliki proses pengukuran kompetensi atau competence assessment untuk tujuan penjaminan kompetensi atas suatu pekerjaan tertentu oleh alumninya kelak. Dan karenanya, institusi pendidikan pada umumnya tidak bertanggung jawab jika lulusannya melakukan kesalahan dalam penggunaan pengetahuan yang telah diberikan, bahkan telah merugikan pihak lain. Lulusan (alumni) suatu institusi pendidikan tidak pula memiliki kewajiban menjalankan ilmu yang dinyatakan di dalam ijazah yang dimilikinya. 4
5 Kualifikasi Profesional vs Akademik (Bagian III) Prof. Dr. Ir. Harijono A. Tjokronegoro Guru Besar Teknik Fisika Institut Teknologi Bandung Hak dan Kewenangan Di balik tanggung jawab serta kewajibannya, pemegang sertifikat profesional memiliki kewenangan serta hak sehubungan dengan profesinya yang pada lazimnya dilindungi oleh undang-undang negara di mana asosiasi profesi yang bersangkutan berada. Di antaranya, pemegang sertifikat profesional mempunyai hak mendapatkan semacam surat tanda registrasi profesi hingga surat ijin praktik sesuai dengan kompetensinya. Sementara, hampir tidak terdapat ketentuan negara yang melindungi maupun yang memberikan hak, kewenangan, kewajiban serta tanggug jawab terhadap lulusan institusi pendidikan sehubungan dengan gelar akademik yang dinyatakan di dalam ijazah yang dimilikinya. Meski terdapat banyak institusi pendidikan yang menerbitkan sejenis sertifikat, namun pada dasarnya adalah tanda kelulusan atas suatu program yang dijalankannya, yang pengakuannya tidak menyatakan hak serta kewenangan tertentu. Etika Profesional dan Akademik Asosiasi profesi dalam mengemban tanggung jawab dan kewajibannya sangat berkepentingan dengan etika para anggotanya di manapun mereka berada. Etika profesi adalah bagian yang tak terpisahkan dari praktik keprofesian. Bahkan pelanggaran etika profesi sering merupakan awal dari kerugian yang dilakukan oleh pemegang sertifikat profesional. Oleh karena itu, pada hakikatnya pengertian bahwa asosiasi profesi menjamin kompetensi para anggotanya atau warrant of competence adalah belum cukup. Di dalam kenyataannya asosiasi profesi dituntut pula bukan saja menjamin kompetensi maupun experties tetapi juga menjamin etika profesional para anggotanya. Pernyataan yang kiranya lebih tepat adalah bahwa asosiasi profesi menjamin kepatutan perilaku profesional pada anggotanya. Demikian pentingnya makna etika profesi, jika pada suatu saat yang bersangkutan terbukti telah melakukan pelanggaran etika profesi yang ditetapkan maka yang bersangkutan dapat dikenakan hukuman hingga dikeluarkan dari keanggotaan asosiasi. Dan dengan demikian yang bersangkutan akan kehilangan hak serta kewenangnnya sebagai profesional. Sementara institusi akademik/pendidikan umumnya hanya berkepentingan pada academic misconduct dari mahasiswanya pada proses sampai dengan yang bersangkutan mendapatkan ijazah atau academic credential. Segera setelah itu institusi akademik/pendidikan tidak lagi memiliki tanggung jawab dalam hubungannya dengan etika akademik maupun profesi alumninya dimanapun mereka berada. Pengembangan Kompetensi Berkelanjutan dan Resertifikasi Guna menjamin kompetensinya, dan tanggung jawab baik pada angota maupun asosiasi profesi, sertifiksi profesonal pada umumnya diberikan untuk jangka waktu yang terbatas. Latar belakang dari ini adalah bahwa professionalisme menuntut jaminan kompetensi justru pada saat penugasan diberikan. Ini berarti mutlak diperlukan proses pembaruan kompetensi secara berkelanjutan, atau terdapat kewajiban resertifikasi, guna menjaga kualifikasi kompetensi seseorang terjamin, semata-mata agar selalu dapat diberikan tanggung jawab sesuai dengan kompetensinya. Sebagai akibatnya, jika seseorang gagal dalam proses resertifikasi maka yang bersangkutan akan kehilangan pengakuan kualifikasi profesional yang dimilikinya beserta seluruh hak dan kewenangan yang melekat. Bahkan yang bersangkutan dapat terkena sangsi baik oleh asosiasi maupun oleh lembaga hukum yang berlaku. Sementara, dalam hal ini, ijazah atau academic credential hampir selalu dinyatakan berlaku tanpa batas waktu bagi pemegangnya, meski ilmu pengetahuan maupun ketrampilan yang dimiliki pada saat diberikan sertifikat kualifikasi akademik telah jauh tertinggal dari jamannya. Hampir tidak terdapat sebuah catatan bahwa suatu ijazah dinyatakan kadaluwarsa. 5
6 Kualifikasi Profesional vs Akademik (Bagian IV) Prof. Dr. Ir. Harijono A. Tjokronegoro Guru Besar Teknik Fisika Institut Teknologi Bandung Pendidikan Profesi dan Akademik Sejauh ini kurang dikenal suatu institusi pendidikan menyelenggarakan program profesi dan menerbitkan sertifikat profesi. Yang lazim ada yaitu institusi akademik/pendidikan bekerjasama dengan asosiasi profesi. Dalam hal ini institusi pendidikan menerbitkan ijazah dan sebutan gelar profesi tertentu, sementara asosiasi profesi terkait menerbitkan sertifikat profesi setelah yang bersangkutan menempuh proses uji kompetensi. Umumnya uji kompetensi dilakukan oleh lembaga independen yang ditetapkan oleh asosiasi profesi. Pada dasarnya, gelar profesi yang diberikan, jika ada, umumnya tidak memiliki civil effect yang berarti dalam pekerjaan profesional. Dengan demikian, ultimate goal dari pendidikan profesi adalah sertifikat profesi dengan hak, kewenangan, kewajiban dan tanggung jawab yang melekat, yang diterbitkan oleh asosisasi profesi terkait. Pada sertifikat profesional hampir selalu disebutkan kompetensi yang dimiliki oleh yang bersangkutan serta masa berlaku dari serifikat. Sementara, ultimate goal dari institusi pendidikan adalah guna mendapatkan ijazah, yang hampir tidak tercantum padanya mengenai hak, kewenangan, kewajiban serta tanggung jawab baik pemegang ijazah maupun institusi yang menerbitkan ijazah. Juga tidak terdapat ketentuan kadaluwarsa pada ijazah. Badan Akreditasi Independen dan Mutual Recognition Demikian besar tanggung jawab pada asosiasi profesi maupun pada pemegang sertifikat profesional (anggotanya), dan dalam upaya menjaga serta mengembangkan reputasinya, adalah hampir merupakan kewajiban suatu asosiasi profesi berupaya mendapatkan pengakuan amat luas atas kemampuan serta kapasitasnya melakukan competence assessment pada anggotanya. Bahkan upaya saling melakukan assessment penting serta perlu dilakukan untuk mendapatkan saling pengakuan (mutual recognition agreement) di antara asosiasi profesi antarnegara. Tujuannya adalah agar pengakuan profesional yang diberikan oleh suatu asosiasi profesi mendapatkan pengakuan pula yang sederajat dari asosiasi sejenis yang lainnya. Untuk ini, adalah amat umum sejumlah asosiasi sejenis kemudian bersepakat untuk menunjuk suatu badan akreditasi independen guna melakukan assessment kinerja di antara mereka. Lebih dari itu, objektif dari assessment bersama adalah guna melindungi keamanan pengguna/pemanfaat jasa profesional dan menjauhkan resiko lainnya yang merugikan akibat kekeliruan pada pihak profesional dalam menjalankan kewenangan profesinya dimanapun mereka berpraktik. Jika ini terjadi, maka komptensi anggotanya akan mendapatkan pengakuan amat luas dari asosiasi- asosiasi yang bersepakat. Demikian pula halnya, jika dua atau lebih asosiasi profesi yang berbeda negara kemudian bersepakat untuk saling mengakui, maka hak dan kewenangan serta kewajiban anggota dari masing-masing asosiasi juga akan berlaku pula di negara asosiasiasosiasi yang bersepakat. Dalam proses akreditasi, asosiasi profesi harus mampu menunjukkan dengan amat baik, transparan dan terukur proses sertifikasi dan/atau prosedur competence assessment yang dijalankannya dalam menetapkan kompetensi profesional seseorang. Meski tidak berarti tidak bisa salah, tetapi asosiasi profesi harus mampu menunjukkan bahwa persyaratan sertifikasi, standar serta prosedur competence assessment yang dijalankannya mampu memberikan jaminan perlindungan keamanan serta keselamatan yang cukup kepada publik (pengguna/pemanfaat jasa) atas kerja dari setiap anggotanya (pemegang sertifikat kompetensi). Pada dasarnya, upaya mendapatkan pengakuan biasa pula dilakukan oleh insititusi pendidikan, misalkan dengan mengundang suatu badan akreditasi nasional/internasional atau sejenis, namun dengan objektif pengakuan yang berbeda. Bukan pada kompetensi profesional lulusannya, namun pada proses pendidikan yang diselenggarakannya. Tidak merupakan perhatian adalah tanggung jawab serta kewenangan dari lulusan institusi pendidikan. 6
7 INFO RINGAN Mengapa Kemasan Susu Berbentuk Kotak, Sedangkan Soft Drink Berbentuk Silindris? Aries R. Prima Engineer Weekly Umumnya kemasan minuman bersoda terbuat dari aluminium atau kaca, dan berbentuk silindris. Padahal, bentuk seperti ini lebih mahal dan kurang ekonomis dalam pengaturan penyimpanan dari pada bentuk kotak, seperti kemasan susu pada umumnya. Namun, mengapa para produsen minuman soda ini tidak mengubah bentuk kemasan produknya menjadi berbentuk kotak? Menurut buku The Economic Naturalist: Why Economics Explains Almost Everything, dengan kemasan yang terbuat dari aluminium, bentuk silindris sangat baik untuk menahan tekanan yang dapat terbentu dari minuman bersoda ini. Alasan lainnya adalah, biasanya, orang mengonsumsi minuman bersoda langsung dari kemasannya. Bentuk silindris sangat nyaman di tangan dari pada bentuk kotak. Kenyamanan inilah yang menguatkan alasan untuk membuat kemasan minuman bersoda dengan bentuk ini, walaupun relatif lebih mahal dari bentuk kotak. Hal ini juga menjelaskan mengapa ada juga kemasan minuman bersoda dari bahan kaca berbentuk silindris, walaupun bila kemasan ini berbentuk kotak tetap dapat menahan tekanan yang ditimbulkan dari gas yang ditimbulkan oleh minuman berkarbonasi ini. Sebaliknya, kenyamanan ini tidak terlalu penting untuk produk susu yang biasanya tidak diminum langsung dari kemasannya. Di pasar swalayan, produk susu disimpan dalam lemari pendingin yang dbeli dengan harga mahal dan biaya pengoperasiannya pun tidak lah murah. Berbeda dengan produk minuman bersoda, yang sebagian besar di simpan pada rak-rak terbuka, produk-produk susu harus disimpan dalam kemasan yang paling efisien dan ekonomis, yaitu dalam bentuk kotak.*** 7
8 Engineer Weekly Pelindung: A. Hermanto Dardak, Heru Dewanto Penasihat: Bachtiar Siradjuddin Pemimpin Umum: Rudianto Handojo, Pemimpin Redaksi: Aries R. Prima, Pengarah Kreatif: Aryo Adhianto, Pelaksana Kreatif: Gatot Sutedjo,Webmaster: Elmoudy, Web Administrator: Zulmahdi, Erni Alamat: Jl. Bandung No. 1, Menteng, Jakarta Pusat Telepon: Faksimili: Engineer Weekly adalah hasil kerja sama Persatuan Insinyur Indonesia dan Inspirasi Insinyur.
NOMOR 57 PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA BAYU SIDRAP 75 MW. Didukung IKPT, WIJAYA KARYA, JASA MARGA, CIREBON ELECTRIC POWER dan NINDYA KARYA
NOMOR 57 EW PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA BAYU SIDRAP 75 MW Didukung IKPT, WIJAYA KARYA, JASA MARGA, CIREBON ELECTRIC POWER dan NINDYA KARYA Pengantar dari Petikan Berita: ENERGI BARU TERBARUKAN Porsi Energi
NOMOR 63 EW SEMARANG-BAWEN-SALATIGA JALAN TOL PANORAMIK. Didukung IKPT, WIJAYA KARYA, JASA MARGA, CIREBON ELECTRIC POWER dan NINDYA KARYA
NOMOR 63 EW SEMARANG-BAWEN-SALATIGA JALAN TOL PANORAMIK Didukung IKPT, WIJAYA KARYA, JASA MARGA, CIREBON ELECTRIC POWER dan NINDYA KARYA Aries R. Prima Engineer Weekly Di beberapa lokasi, yaitu di KM 21
NOMOR 61 EW JALAN TOL JORR W2 UTARA CONNECTING JAKARTA. Didukung IKPT, WIJAYA KARYA, JASA MARGA, CIREBON ELECTRIC POWER dan NINDYA KARYA
NOMOR 61 EW JALAN TOL JORR W2 UTARA Didukung IKPT, WIJAYA KARYA, JASA MARGA, CIREBON ELECTRIC POWER dan NINDYA KARYA Aries R. Prima Engineer Weekly Salah satu keunikan jalan tol ini adalah tidak seluruhnya
Substansi RUU Pendidikan Tinggi
Substansi RUU Pendidikan Tinggi yang disahkan Paripurna DPR RI, 13 Juli 2012 terkait LAM PTKes dan LPUK Kebijakan Akreditasi (UU PT Pasal 55 ayat 1-8) 1 Akreditasi merupakan kegiatan penilaian sesuai dengan
PT PUPUK KALTIM DISTRIBUTION PLANNING AND CONTROL SYSTEM. Didukung IKPT, WIJAYA KARYA, JASA MARGA, CIREBON ELECTRIC POWER dan NINDYA KARYA
DISTRIBUTION PLANNING AND CONTROL SYSTEM Didukung IKPT, WIJAYA KARYA, JASA MARGA, CIREBON ELECTRIC POWER dan NINDYA KARYA Aries R. Prima Engineer Weekly Distribution Planning and Control System (DPCS)
NOMOR 60 PROYEK PENGEMBANGAN PT PUPUK KALTIM. Didukung IKPT, WIJAYA KARYA, JASA MARGA, CIREBON ELECTRIC POWER dan NINDYA KARYA
NOMOR 60 EW PROYEK PENGEMBANGAN PT PUPUK KALTIM Didukung IKPT, WIJAYA KARYA, JASA MARGA, CIREBON ELECTRIC POWER dan NINDYA KARYA Aries R. Prima Engineer Weekly Pabrik Kaltim-5 menggunakan teknologi proses
NOMOR 56 PLTS CIRATA 1 MW SEMANGAT ENERGI TERBARUKAN. Didukung IKPT, WIJAYA KARYA, JASA MARGA, CIREBON ELECTRIC POWER dan NINDYA KARYA
NOMOR 56 PLTS CIRATA 1 MW SEMANGAT ENERGI TERBARUKAN Didukung IKPT, WIJAYA KARYA, JASA MARGA, CIREBON ELECTRIC POWER dan NINDYA KARYA Pengantar Redaksi SEMANGAT ENERGI TERBARUKAN Baru-baru ini, tepatnya
KONSTRUKSI BENDUNGAN JATIBARANG KOTA SEMARANG
NOMOR 65 EW KONSTRUKSI Didukung IKPT, WIJAYA KARYA, JASA MARGA, CIREBON ELECTRIC POWER dan NINDYA KARYA Aries R. Prima Engineer Weekly Selain untuk pengendali banjir, bangunan ini juga berfungsi sebagai
SYSTEM INTERLOCKING LEN (SIL)-02
Didukung: IKPT, WIJAYA KARYA, JASA MARGA, CIREBON ELECTRIC POWER dan NINDYA KARYA NOMOR 52 Sistem Persinyalan Kereta Api SYSTEM INTERLOCKING LEN Aries R. Prima Engineer Weekly Penggunaan persinyalan dengan
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
No.61, 2014 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA IPTEK. Keinsinyuran. Profesi. Penyelenggaraan. Kelembagaan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5520) UNDANG-UNDANG REPUBLIK
Tata Cara Penyelenggaraan Rekognisi Pembelajaran Lampau(RPL) BAGIAN 2: RPL TIPE B & RPL DOSEN dalam TUGAS
Tata Cara Penyelenggaraan Rekognisi Pembelajaran Lampau(RPL) BAGIAN 2: RPL TIPE B & RPL DOSEN dalam TUGAS Direktorat Pembelajaran Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI
KEPUTUSAN SENAT AKADEMIK INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG Nomor : 34/SK/K01-SA/2004 TENTANG
KEPUTUSAN SENAT AKADEMIK INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG Nomor : 34/SK/K01-SA/2004 TENTANG FUNGSI-FUNGSI JABATAN FUNGSIONAL AKADEMIK DOSEN DI INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG I. SENAT AKADEMIK INSTITUT TEKNOLOGI
PERATURAN MENTERI RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI NOMOR 35 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM STUDI PROGRAM PROFESI INSINYUR
MENTERI RISET,TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM
KEPUTUSAN SENAT AKADEMIK INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG Nomor : 37/SK/K01-SA/2006 TENTANG PEDOMAN EVALUASI KURIKULUM
KEPUTUSAN SENAT AKADEMIK INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG Nomor : 37/SK/K01-SA/2006 TENTANG PEDOMAN EVALUASI KURIKULUM SENAT AKADEMIK INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG Menimbang : a. Bahwa pasal 35 ayat (1) butir (c)
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2012 TENTANG PENDIDIKAN TINGGI
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2012 TENTANG PENDIDIKAN TINGGI BAGIAN KE TIGA JENIS PENDIDIKAN TINGGI 1. Pendidikan Akademik 2. Pendidikan Vokasi 3. Pendidikan Profesi Pendidikan Akademik
REKOGNISI KUALIFIKASI SDM INDONESIA MENINGKATKAN REKOGNISI dan PENYETARAAN KUALIFIKASI DI DALAM & LUAR NEGERI
Indonesian ualification Framework GATS & AFTA, UU SISDIKNAS, REGIONAL CONVENTIONS KESIAPAN INDONESIA MENERIMA INFLUX TENAGA KERJA ASING DALAM BERBAGAI JENJANG PEKERJAAN DI INDUSTRI/PERUSAHAAN REKOGNISI
PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG AKUNTAN PUBLIK
I. UMUM PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG AKUNTAN PUBLIK Profesi Akuntan Publik merupakan suatu profesi yang jasa utamanya adalah jasa asurans dan hasil pekerjaannya
NOMOR 54. ROBOLay ROBOT LAYANGAN. Didukung IKPT, WIJAYA KARYA, JASA MARGA, CIREBON ELECTRIC POWER dan NINDYA KARYA
NOMOR 54 EW ROBOLay ROBOT LAYANGAN Didukung IKPT, WIJAYA KARYA, JASA MARGA, CIREBON ELECTRIC POWER dan NINDYA KARYA Pengantar Redaksi: Alih Teknologi Sebagaimana selalu dikemukakan, untuk dapat menyumbang
KEPUTUSAN DEWAN LEMBAGA PENGEMBANGAN JASA KONSTRUKSI NASIONAL NOMOR : 70 / KPTS / LPJK / D / VIII / 2001
KEPUTUSAN DEWAN LEMBAGA PENGEMBANGAN JASA KONSTRUKSI NASIONAL NOMOR : 70 / KPTS / LPJK / D / VIII / 2001 T E N T A N G PEDOMAN AKREDITASI ASOSIASI PROFESI JASA KONSTRUKSI DEWAN LEMBAGA PENGEMBANGAN JASA
Pengakuan Kualifikasi Lulusan Pendidikan Dokter, Dokter Gigi, dan Dokter/Dokter Gigi Spesialis WNI/WNA Lulusan Luar Negeri
Surabaya, 15 September 2016 Pengakuan Kualifikasi Lulusan Pendidikan Dokter, Dokter Gigi, dan Dokter/Dokter Gigi Spesialis WNI/WNA Lulusan Luar Negeri Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaaan
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG KEINSINYURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG KEINSINYURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sumber daya manusia dalam mengembangkan
Didukung: IKPT, WIJAYA KARYA, JASA MARGA, CIREBON ELECTRIC POWER dan NINDYA KARYA
Didukung: IKPT, WIJAYA KARYA, JASA MARGA, CIREBON ELECTRIC POWER dan NINDYA KARYA DARI REDAKSI Konektivitas Memudahkan Segalanya Aries R. Prima Saat ini sudah bukan hal yang aneh lagi bahwa semua benda
SISTEM SERTIFIKASI INSINYUR PROFESIONAL
Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Managemen Konstruksi Direktorat Jenderal Bina Konstruksi Kementerian PUPR SISTEM SERTIFIKASI INSINYUR PROFESIONAL Ir. Catur Hernanto, MM, IPM Sekretaris Jenderal
Standar Penelitian STIKES HARAPAN IBU
Standar Penelitian STIKES HARAPAN IBU Halaman 2 dari 10 STANDAR PENELITIAN STIKES HARAPAN IBU KODE DOKUMEN : STD.MT.AK. 03/005/2017 REVISI : 0 TANGGAL : 7 Maret 2017 DIAJUKAN & DIKENDALIKAN OLEH : Ketua
DINAS PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TENGAH BALAI PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KEJURUAN
Indonesian ualification Framework GATS & AFTA, UU SISDIKNAS, REGIONAL CONVENTIONS KESIAPAN INDONESIA MENERIMA INFLUX TENAGA KERJA ASING DALAM BERBAGAI JENJANG PEKERJAAN DI INDUSTRI/PERUSAHAAN REKOGNISI
NATIONAL CAPITAL INTEGRATED COASTAL DEVELOPMENT PROYEK PENGAMAN PANTAI DI JAKARTA NOMOR 67 EW
NOMOR 67 EW PROYEK PENGAMAN PANTAI DI JAKARTA NATIONAL CAPITAL INTEGRATED COASTAL DEVELOPMENT Didukung IKPT, WIJAYA KARYA, JASA MARGA, CIREBON ELECTRIC POWER dan NINDYA KARYA Aries R. Prima Engineer Weekly
STANDAR PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
STANDAR PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN Universitas Respati Yogyakarta Jln. Laksda Adi Sucipto KM 6.3 Depok Sleman Yogyakarta Telp : 0274-488 781 ; 489-780 Fax : 0274-489780 B A D A N P E N J A M I N
IMPLIKASI UNDANG-UNDANG GURU DAN DOSEN TERHADAP PENINGKATAN MUTU PROSES PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN
IMPLIKASI UNDANG-UNDANG GURU DAN DOSEN TERHADAP PENINGKATAN MUTU PROSES PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN M. Syaom Barliana Universitas Pendidikan Indonesia L A T A R B E L A K A N G Peningkatan kualitas
PENYELENGGARAAN PROGRAM PENDIDIKAN KELAS KHUSUS INTERNASIONAL DI UNIVERSITAS INDONESIA REKTOR UNIVERSITAS INDONESIA,
Menimbang KEPUTUSAN REKTOR UNIVERSITAS INDONESIA Nomor : 547/SK/R/UI/2005 Tentang PEDOMAN PENYELENGGARAAN PROGRAM PENDIDIKAN KELAS KHUSUS INTERNASIONAL DI UNIVERSITAS INDONESIA REKTOR UNIVERSITAS INDONESIA,
Lampiran Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 06 Tahun 2006 Tanggal : 02 Agustus 2006 PEDOMAN UMUM STANDARDISASI KOMPETENSI PERSONIL DAN
Lampiran Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 06 Tahun 2006 Tanggal : 02 Agustus 2006 PEDOMAN UMUM STANDARDISASI KOMPETENSI PERSONIL DAN LEMBAGA JASA LINGKUNGAN I. UMUM 1. Penetapan dan penerapan
REV 20 FEBRUARI 2015 RANCANGAN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENELITI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
RANCANGAN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENELITI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa penguasaan, pemanfaatan,
MENINGKATKAN KUALITAS TENAGA KERJA MELALUI PROGRAM SERTIFIKASI KOMPETENSI KERJA. oleh
MENINGKATKAN KUALITAS TENAGA KERJA MELALUI PROGRAM SERTIFIKASI KOMPETENSI KERJA oleh Ir. SUMARNA F. ABDURRAHMAN, MSc KETUA KOMITE TETAP SISTEM KOMPETENSI SDM KADIN - INDONESIA KONDISI DAN MASALAH TANTANGAN
MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP,
SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 06 TAHUN 2006 TENTANG PEDOMAN UMUM STANDARDISASI KOMPETENSI PERSONIL DAN LEMBAGA JASA LINGKUNGAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP,
Standar Nasional Pendidikan Tinggi
Sosialisasi Standar Nasional Pendidikan Tinggi Berdasarkan UU No. 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi dan Permenristekdikti No. 44 Tahun 2015 Tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi Kementerian
PERATURAN MENTERI RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2018 TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN KEDOKTERAN
SALINAN MENTERI RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2018 TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
Kode Etik Insinyur (Etika Profesi)
Kode Etik Insinyur (Etika Profesi) Dewan Akreditasi Rekayasa dan Teknologi (ABET) Kode Etik Insinyur ATAS DASAR PRINSIP Insinyur menegakkan dan memajukan integritas, kehormatan dan martabat profesi engineering
Didukung: IKPT, WIJAYA KARYA, JASA MARGA, CIREBON ELECTRIC POWER dan NINDYA KARYA
Didukung: IKPT, WIJAYA KARYA, JASA MARGA, CIREBON ELECTRIC POWER dan NINDYA KARYA DARI REDAKSI Konstruksi Berdaya Saing Tinggi. Dengan akan dipacunya kembali pembangunan infrastruktur pada kuartal tiga
Kebijakan Kemristekdikti untuk Pendidikan Bimbingan dan Konseling
Kebijakan Kemristekdikti untuk Pendidikan Bimbingan dan Konseling Direktur Penjaminan Mutu Jogjakarta, 10 Maret 2018 Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi 2018 1 DEMAND SIDE SUPPLY SIDE Kebutuhan
2017, No di bidang arsitektur, dan peningkatan mutu karya arsitektur untuk menghadapi tantangan global; d. bahwa saat ini belum ada pengaturan
No.179, 2017 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA ORGANISASI. Arsitek. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6108) UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2017 TENTANG
KATA SAMBUTAN Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
i KATA SAMBUTAN Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Uji Kompetensi merupakan suatu bentuk penilaian berbasis kompetensi telah dicanangkan
BUKU STANDAR PENELITIAN
BUKU STANDAR PENELITIAN POLTEKNIK KESEHATAN KEMENKES KUPANG KEMENTERIAN KESEHATAN RI POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES KUPANG JL. PIET A TALLO, LILIBA KUPANG Tlp. (0380) 881880, 881881 Fax. (0380) 8553418
KOMPARASI PROSES SUPERVISI KLINIS DITINJAU DARI SERTIFIKASI DAN MASA KERJA KEPALA SEKOLAH SD/MI KECAMATAN KEDUNGTUBAN BLORA TESIS
KOMPARASI PROSES SUPERVISI KLINIS DITINJAU DARI SERTIFIKASI DAN MASA KERJA KEPALA SEKOLAH SD/MI KECAMATAN KEDUNGTUBAN BLORA TESIS Diajukan Kepada Program Studi Magister Manajemen Pendidikan Universitas
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Keberhasilan pembangunan nasional dalam suatu Negara salah satunya
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keberhasilan pembangunan nasional dalam suatu Negara salah satunya ditentukan oleh keberhasilan Negara tersebut dalam mengelola pendidikan nasional. Pendidikan
Akreditasi Program Studi di PTN-bh
Akreditasi Program Studi di PTN-bh Prof. Tineke Mandang Dr. Wawan Hermawan Prof. Noor Endah Prof. Renanto Topik Bahasan 1. Peraturan Akreditasi Nasional 2. Pembukaan Program Studi PTN Badan Hukum 3. Nomenklatur
Pendidikan Tinggi Teknik dan Profesi Insinyur
DARI REDAKSI Pendidikan Tinggi Teknik dan Profesi Insinyur Sudah diketahui bahwa jumlah insinyur Indonesia sangat kurang untuk memenuhi kebutuhan pembangunan. Sebagian dari 750.000 sarjana teknik yang
FORMULIR PENILAIAN PRAKTIK KERJA UJIAN PROFESIONAL AUDITOR PROFESSIONAL RECOGNITION PROGRAM CERTIFIED PROFESSIONAL AUDITOR OF INDONESIA
FORMULIR PENILAIAN PRAKTIK KERJA UJIAN PROFESIONAL AUDITOR PROFESSIONAL RECOGNITION PROGRAM CERTIFIED PROFESSIONAL AUDITOR OF INDONESIA INSTITUT AKUNTAN PUBLIK INDONESIA Ujian Profesi Akuntan Publik Penilaian
KEPUTUSAN REKTOR UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 SURABAYA Nomor 129/SK/R/V/2013 Tentang PEDOMAN EVALUASI DAN PENGEMBANGAN KURIKULUM
KEPUTUSAN REKTOR UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 SURABAYA Nomor 129/SK/R/V/2013 Tentang PEDOMAN EVALUASI DAN PENGEMBANGAN KURIKULUM REKTOR UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 SURABAYA Menimbang : a. Bahwa Statuta
STANDAR DOSEN DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
STANDAR DOSEN DAN TENAGA KEPENDIDIKAN Kode Dokumen : Revisi ke : Tanggal : 15 April 2015 Diajukan Oleh Disetujui oleh : Tim Penjaminan Mutu : Direktur Naproni, S. T., M. Kom. NIK. 0106003 SISTEM PENJAMINAN
Capaian Pembelajaran Profesi Gizi terhadap Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia
Capaian Pembelajaran Profesi Gizi terhadap Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 25
PROFESIONALISASI BIMBINGAN DAN KONSELING Oleh: Drs. Kuntjojo
PROFESIONALISASI BIMBINGAN DAN KONSELING Oleh: Drs. Kuntjojo A. Standarisasi Profesi Konselor 1. Konsep-konsep Dasar Profesi a. Pengertian Profesi Ada beberapa definisi tentang profesi, diantaranya adalah
PERATURAN REKTOR UNIVERSITAS GADJAH MADA NOMOR 507/P/SK/HT/2010 TENTANG SISTEM REKRUTMEN PEGAWAI SEKOLAH VOKASI UNIVERSITAS GADJAH MADA
PERATURAN REKTOR UNIVERSITAS GADJAH MADA NOMOR 507/P/SK/HT/2010 TENTANG SISTEM REKRUTMEN PEGAWAI SEKOLAH VOKASI UNIVERSITAS GADJAH MADA REKTOR UNIVERSITAS GADJAH MADA, Menimbang : a. bahwa berdasarkan
Dokumen Kurikulum Program Studi : Magister Aktuaria
Dokumen Kurikulum 2013-2018 Program Studi : Magister Aktuaria Fakultas : Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Institut Teknologi Bandung Kode
Didukung: IKPT, WIJAYA KARYA, JASA MARGA, CIREBON ELECTRIC POWER dan NINDYA KARYA
Didukung: IKPT, WIJAYA KARYA, JASA MARGA, CIREBON ELECTRIC POWER dan NINDYA KARYA DARI REDAKSI Ramadan, Teknologi, dan Insinyur Puasa Ramadan yang tengah dijalani oleh pemeluk agama Islam sebentar lagi
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG KEINSINYURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG KEINSINYURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa keinsinyuran merupakan kegiatan penggunaan ilmu
Panduan Pengisian FORMULIR APLIKASI INSINYUR PROFESIONAL. Harijono A. Tjokronegoro IPU
Panduan Pengisian FORMULIR APLIKASI INSINYUR PROFESIONAL Harijono A. Tjokronegoro IPU 1021-03-004340 Cakupan FAIP I UMUM III KUALIFIKASI PROFESIONAL 1. Pendidikan Formal 2. Organisasi Profesi yang Diikuti
AKREDITASI INSTITUSI PERGURUAN TINGGI BARU INSTRUMEN AKREDITASI
BAN-PT AKREDITASI INSTITUSI PERGURUAN TINGGI BARU INSTRUMEN AKREDITASI BADAN AKREDITASI NASIONAL PERGURUAN TINGGI 2016 DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI 1 BAB I PENDAHULUAN 2 BAB II BAB III PRINSIP DASAR PENYUSUNAN
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG KEINSINYURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG KEINSINYURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa keinsinyuran merupakan kegiatan penggunaan
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Kesimpulan Implementasi Sertifikasi Keahlian dalam Bidang Industri Jasa
85 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1.Kesimpulan Kesimpulan Implementasi Sertifikasi Keahlian dalam Bidang Industri Jasa Konstruksi di Kota Bandung 1. Sertifikasi keahlian untuk selanjutnya disebut SKA adalah
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG KEINSINYURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG KEINSINYURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa keinsinyuran merupakan kegiatan penggunaan
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG KEINSINYURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG KEINSINYURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa keinsinyuran merupakan kegiatan penggunaan
LOKAKARYA SERTIFIKASI INSINYUR PROFESIONAL (LSIP)
ReBirth Services Indonesia TM Ketulusan Melayani Indonesia LOKAKARYA SERTIFIKASI INSINYUR PROFESIONAL (LSIP) To be The 1st Engineers in Informatics Global Register (APEC, AER, ACPE) Memenuhi Undang-undang
Didukung: IKPT, WIJAYA KARYA, JASA MARGA, CIREBON ELECTRIC POWER dan NINDYA KARYA
Didukung: IKPT, WIJAYA KARYA, JASA MARGA, CIREBON ELECTRIC POWER dan NINDYA KARYA DARI REDAKSI Teknologi Dalam Kegiatan Manusia Sering tidak kita sadari bahwa setiap hari kita bersentuhan dengan teknologi
2 Mengingat e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d, perlu membentuk Undang-Undang tentang
No.307, 2014 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KESEHATAN. Keperawatan. Pelayanan. Praktik. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5612) UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG KERANGKA KUALIFIKASI NASIONAL INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG KERANGKA KUALIFIKASI NASIONAL INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan
Borang Kinerja Jurusan Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian
Borang Kinerja Jurusan Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian 00404 04001 UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2010 Borang Kinerja Jurusan Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Nama Jurusan : Sosial
Perubahan Yang Dilakukan: Beban Belajar
Perubahan Yang Dilakukan: Beban Belajar Permendikbud No. 49 Tahun 2014 Permenristekdikti No. 44 Tahun 2015 Pasal 18 (1) Beban belajar mahasiswa program diploma dua, program diploma tiga, program diploma
PENJELASAN PERATURAN DAERAH PROPINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 6 TAHUN 2004 TENTANG KETENAGAKERJAAN
PENJELASAN PERATURAN DAERAH PROPINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 6 TAHUN 2004 TENTANG KETENAGAKERJAAN I. PENJELASAN UMUM Pembangunan ketenagakerjaan sebagai bagian integral dari pembangunan Daerah
INSTRUMEN AKREDITASI MINIMUM PEMBUKAAN PROGRAM STUDI PROGRAM PROFESI INSINYUR
Lampiran Peraturan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi Nomor 30 Tahun 2018 tentang Instrumen Akreditasi Minimum Pembukaan Program Studi Program Profesi Insinyur BAN-PT INSTRUMEN AKREDITASI MINIMUM
Gas Matindok (PPGM) Donggi
Didukung: IKPT, WIJAYA KARYA, JASA MARGA, CIREBON ELECTRIC POWER dan NINDYA KARYA NOMOR 44 Proyek Pengembangan Gas Matindok DARI REDAKSI Mengetengahkan kemampuan keinsinyuran Nasional Akhir-akhir ini telah
Panduan Pengusulan Ijin PENGAKUAN TENAGA AHLI SEBAGAI DOSEN melalui mekanisme REKOGNISI PEMBELAJARAN LAMPAU (RPL)
Panduan Pengusulan Ijin PENGAKUAN TENAGA AHLI SEBAGAI DOSEN melalui mekanisme REKOGNISI PEMBELAJARAN LAMPAU (RPL) DIREKTORAT PEMBELAJARAN DAN KEMAHASISWAAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI KEMENTERIAN
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Penelitian Hasanah Ratna Dewi, 2015
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Penelitian Perjalanan sejarah hidup umat manusia tidak terlepas dari proses pendidikan yang menjadi salah satu kebutuhan dari setiap manusia. Berdasarkan
BAB I PENDAHULUAN. perannya yang signifikan dalam mencapai kemajuan di berbagai bidang. kehidupan: sosial, ekonomi, politik, dan budaya.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pendidikan merupakan faktor penting bagi kelangsungan kehidupan bangsa dan faktor pendukung yang memegang peranan penting di seluruh sektor kehidupan. Pembangunan
RENCANA PROGRAM KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS) PROFESI KETEKNIKAN TPT-1011 OLEH :
RENCANA PROGRAM KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS) PROFESI KETEKNIKAN TPT-1011 OLEH : Dr. Ir. Saiful Rochdyanto, MS Dr. Ir. Lilik Sutiarso, M.Eng. PROGRAM STUDI S1 TEKNIK PERTANIAN JURUSAN TEKNIK PERTANIAN
PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36/Permentan/SM.200/6/2015 TENTANG
PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36/Permentan/SM.200/6/2015 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN SERTIFIKASI KOMPETENSI SUMBER DAYA MANUSIA PERTANIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI
PENDIDIKAN PROFESI GURU: IMPLIKASI DARI UNDANG- UNDANG NOMOR 14 TAHUN 2005 KAMIN SUMARDI UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
PENDIDIKAN PROFESI GURU: IMPLIKASI DARI UNDANG- UNDANG NOMOR 14 TAHUN 2005 KAMIN SUMARDI UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA PENGERTIAN GURU GURU ADALAH PENDIDIK PROFESIONAL DENGAN TUGAS UTAMA MENDIDIK, MENGAJAR,
Jakarta, Juli 2009 Rektor Universitas Terbuka
KATA PENGANTAR Kebijakan Depdiknas dalam peningkatan kompetensi melalui program pendidikan berkelanjutan, berdampak pada tumbuhnya hasrat dan minat masyarakat maupun para profesional untuk meningkatkan
2017, No Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 157, Tambahan Lembara
No.107, 2017 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PENDIDIKAN. Guru. Perubahan. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6058) PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN
BAB I PENDAHULUAN. formal atau nonformal. Kedua pendidikan ini jika ditempuh dan dilaksanakan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan kunci untuk mencapai kesejahteraan, tentunya langkah utama harus diawali dengan belajar lebih giat baik melalui pendidikan formal atau
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG KERANGKA KUALIFIKASI NASIONAL INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PRESIDEN NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG KERANGKA KUALIFIKASI NASIONAL INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 5 ayat (3) Peraturan
KRITERIA JENJANG KARIER DOSEN KLINIK DI RS PENDIDIKAN DAN JEJARING Oleh: Dr. Endro Basuki, SpBS (K), MKes
KRITERIA JENJANG KARIER DOSEN KLINIK DI RS PENDIDIKAN DAN JEJARING Oleh: Dr. Endro Basuki, SpBS (K), MKes DISAMPAIKAN PADA ASM (ANNUAL SCIENTIFIC MEETING) DALAM RANGKA DIES NATALIS FK UGM Ke-67 dan HUT
SENORO GAS DEVELOPMENT PROJECT
NOMOR 49 SENORO GAS DEVELOPMENT PROJECT Aries R. Prima Engineer Weekly Pembangunan fasilitas produksi dimulai pada September 2012 dan selesai selama 40 bulan untuk handover all facilities pada November
BAB I LATAR BELAKANG. Pendidikan merupakan sesuatu yang harus diikuti oleh semua orang. Dengan
BAB I LATAR BELAKANG 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan sesuatu yang harus diikuti oleh semua orang. Dengan pendidikan yang memadai seseorang akan mampu menjawab tantangan-tantangan global
UNIVERSITAS INTERNASIONAL BATAM
UNIVERSITAS INTERNASIONAL BATAM STANDAR TENAGA PENDIDIK DAN KEPENDIDIKAN Kode/No. : STD/SPMI-UIB/01.05 Tanggal : 1 September Revisi : 2 Halaman : 1 dari 7 STANDAR TENAGA PENDIDIK DAN KEPENDIDIKAN UNIVERSITAS
PENGEMBANGAN KEPROFESIAN BERKELANJUTAN TENAGA AHLI KONSTRUKSI (menurut Perlem no 13 tahun 2014)
PENGEMBANGAN KEPROFESIAN BERKELANJUTAN TENAGA AHLI KONSTRUKSI (menurut Perlem no 13 tahun 2014) Jimmy Siswanto Juwana Ketua Komite Kerjasama Luar Negeri Lembaga Pengembangan jasa Konstruksi Nasional TUJUAN
PERATURAN BADAN NASIONAL SERTIFIKASI PROFESI NOMOR : 4/ BNSP / VII / 2014 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN DAN PEMELIHARAAN SKEMA SERTIFIKASI PROFESI
PERATURAN BADAN NASIONAL SERTIFIKASI PROFESI NOMOR : 4/ BNSP / VII / 2014 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN DAN PEMELIHARAAN SKEMA SERTIFIKASI PROFESI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KETUA BADAN NASIONAL
Kebijakan Kemristekdikti untuk Program Pendidikan Dokter Spesialis-SubSpesialis
Kebijakan Kemristekdikti untuk Program Pendidikan Dokter Spesialis-SubSpesialis Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaaan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi 2015 1 Program dokter
PENGEMBANGAN KEPROFESIAN BERKELANJUTAN TENAGA AHLI KONSTRUKSI (menurut Perlem no 13 tahun 2014) BAPEL Lembaga Pengembangan jasa Konstruksi Nasional
PENGEMBANGAN KEPROFESIAN BERKELANJUTAN TENAGA AHLI KONSTRUKSI (menurut Perlem no 13 tahun 2014) BAPEL Lembaga Pengembangan jasa Konstruksi Nasional TUJUAN PKB menjaga terjaminnya pelayanan penyelenggaraan
Peran lembaga pendidikan ilmu perpustakaan dan informasi dalam mempersiapkan kompetensi lulusan
Peran lembaga pendidikan ilmu perpustakaan dan informasi dalam mempersiapkan kompetensi lulusan Nove E. Variant Anna Departemen Informasi & Perpustakaan FISIP Univeristas Airlangga [email protected]
BAB I PENDAHULUAN. dihadapi kedepan adalah globalisasi dengan dominasi teknologi dan informasi
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Memasuki abad-21, tugas guru tidak akan semakin ringan. Tantangan yang dihadapi kedepan adalah globalisasi dengan dominasi teknologi dan informasi yang sangat
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Tuntutan terhadap persaingan global menjadi masalah penting dalam bidang jasa kontruksi, khususnya untuk mendapat pengakuan internasional. Untuk menghadapi tantangan
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG JASA KONSTRUKSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG JASA KONSTRUKSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: Mengingat: a. bahwa pembangunan nasional bertujuan
Dewan Akreditasi Rekayasa dan Teknologi (Abet)
Dewan Akreditasi Rekayasa dan Teknologi (Abet) Kode Etik Insinyur ATAS DASAR PRINSIP Insinyur menegakkan dan memajukan integritas, kehormatan dan martabat profesi engineering dengan: I. Menggunakan pengetahuan
Pentingnya EXPECTED LEARNING OUTCOME DALAM PENYUSUNAN KURIKULUM MENGACU KKNI
Pentingnya EXPECTED LEARNING OUTCOME DALAM PENYUSUNAN KURIKULUM MENGACU KKNI Oleh: Hendrawan Soetanto Staf Ahli Wakil Rektor Bidang Akademis Universitas Brawijaya Materi Lokakarya Penyusunan Expected Learning
MEA: DUA SISI MATA UANG
DARI REDAKSI MEA: DUA SISI MATA UANG ASEAN Economic Community (AEC) atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tidak hanya membuka arus perdagangan barang atau jasa, tetapi juga pasar tenaga kerja profesional,
PERATURAN MENTERI RISTEK DAN DIKTI NO 44 TAHUN 2015
PERATURAN MENTERI RISTEK DAN DIKTI NO 44 TAHUN 2015 NASIONAL PENDIDIKAN TINGGI BIRO HUKUM DAN ORGANISASI KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI 2016 12/8/2016 3:54 PM 1 SISTEMATIKA PERMENRISTEKDIKTI
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR /PMK.01/2017 TENTANG AKUNTAN BEREGISTER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR /PMK.01/2017 TENTANG AKUNTAN BEREGISTER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sesuai dengan ketentuan
