BAB III SENSOR, PENGKONDISIAN SINYAL DAN AKUISISI DATA
|
|
|
- Hadi Rachman
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB III SENSOR, PENGKONDISIAN SINYAL DAN AKUISISI DATA III. Strain Gage III.. Strain, Stress dan Poisson s Ratio Ketika sebuah material menerima gaya tarik (tensile force) P, material akan mengalami tekanan (stress) yang berhubungan dengan gaya yang dialaminya itu. Secara proporsional dengan tekanan tersebut, penampang akan berkontraksi dan bertambah panjang sebesar L dari panjang material mula-mula L. Gambar 3. Batang yang Mengalami Tarik dan Tekan [] Rasio dari pertambahan panjang dengan panjang mula-mula disebut tensile strain dan dirumuskan sebagai berikut: L ε = [] L : Strain L : Panjang mula-mula L : Pertambahan panjang 77 Proses manufaktur dan optimasinya..., Brianti Satrianti Utami, FT UI, 008
2 Perhatikan gambar bagian bawah dari Gambar 3.. Apabila material menerima gaya tekan (compressive force), maka material akan mengalami compressive strain yang dirumuskan sebagai berikut: L ε = [] L Sebagai contoh, apabila sebuah gaya tarik membuat material dengan panjang 00mm bertambah panjang sebesar 0,0mm, strain yang terjadi pada material tersebut adalah: L 0,0 6 ε = = = 0,000 = 00 0 [] L 00 Strain adalah bilangan absolut dan dituliskan dengan nilai numeriknya beserta 0-6 strain, µ atau µm/m. Hubungan dari stress dan strain yang diinisiasikan pada sebuah material yang menerima gaya dirumuskan oleh hukum Hooke sebagai berikut: σ = Eε [] E : Stress : Elastic modulus : Strain Stress diperoleh dengan mengkalikan strain dengan elastic modulus material. Ketika material mengalami gaya tarik maka material akan memanjang pada arah axial dan juga akan berkontraksi pada arah transversal. Perpanjangan pada arah axial dinamakan longitudinal strain dan kontraksi pada arah transversal dinamakan transverse strain. Nilai absolut dari perbandingan antara longitudinal strain dan transverse strain dinamakan Poisson s ratio, yang dirumuskan sebagai berikut: ε ε v = [] v : Poisson s ratio : Longitudinal strain : Transverse strain L atau (Gambar III.) L LL D D atau D (Gambar III.) D 78 Proses manufaktur dan optimasinya..., Brianti Satrianti Utami, FT UI, 008
3 Poisson s ratio berbeda-beda tergantung dari material. Berikut adalah propertiproperti dari material yang sering digunakan pada aplikasi industri, termasuk pada property tersebut adalah Poisson s ratio. Tabel 3. Mechanical Properties of Industrial Materials [] III.. Prinsip Kerja Strain Gage Setiap material memiliki hambatan yang spesifik. Sebuah gaya tarik (gaya tekan) akan menambah (mengurangi) hambatan dengan menambah panjang (mengkontraksi) material. Misalkan hambatan mula-mula adalah R dan strain menginisiasikan perubahan hambatan sebesar R, maka kita dapat mengkonklusikan persamaan sebagai berikut: R R L = Ks L = Ks ε [] Dimana, Ks adalah gage factor, sebuah koefisien yang mengekspresikan sensitivitas dari strain gage. Pada umumnya strain gage menggunakan copper-nickel atau nickel-chrome alloy sebagai elemen resistif, dan gage factor yang dihasilkan dari alloy ini adalah sekitar. Walaupun strain gage mampu mendeteksi besarnya strain yang terjadi pada elemen dan mengkonversi mekanisme strain ini menjadi perubahan hambatan listrik, tetapi karena strain merupakan fenomena infinitesimal yang tak nampak, jadi perubahan hambatan yang terjadi sangat kecil. Agar hambatan listrik yang kecil ini mampu untuk dihitung, maka diperlukan suatu amplifier dengan menggunakan sirkuit elektris yang disebut dengan jembatan Wheatstone. 79 Proses manufaktur dan optimasinya..., Brianti Satrianti Utami, FT UI, 008
4 III..3 Jenis-Jenis Strain Gage Terdapat bermacam-macam jenis strain gage. Dari jenis elemen resistifnya, strain gage di bagi atas [7] :. Foil Strain Gage (Cu-Ni alloy, Ni-Cr aiioy). Wire Strain Gage (Cu-Ni alloy, Ni-Cr alloy) 3. Semikonduktor Strain Gage (monocrystal silicon) Material dari carrier matrix mempengaruhi karakteristik dari starin gage, sama halnya dengan material dari elemen resistifnya. Umumnya carrier matrix menggunakan polymide atau material organik lainnya. Strain gage yang beroperasi untuk temperatur yang tinggi umumnya menggunakan material jenis keramik, dan untuk strain gage yang ditempelkan pada benda hasil las, carrier matrix-nya menggunakan logam seperti inconel 600. Berdasarkan carrier-matrix materialnya, strain gage terdiri atas bermacam-macam jenis, misalnya strain gage yang menggunakan kertas sebagai carrier matrixnya, fenol, epoxy, polymide, dan lain-lain. Berdasarkan konfigurasinya strain gage terdiri atas konfigurasi monoaksial, konfigurasi biaksial, konfigurasi triaksial, dan konfigurasi khusus untuk keperluan khusus. Gambar 3. Jenis-Jenis Strain Gage Berdasarkan Konfigurasinya[7] 80 Proses manufaktur dan optimasinya..., Brianti Satrianti Utami, FT UI, 008
5 Secara garis besarnya klasifikasi strain gage sebagai berikut : Tabel 3. Tabel Klasifikasi Strain Gage [7] Material Elemen Resistif Foil strain gage (Cu-Ni alloy, Ni-Cr aiioy, etc.) Wire strain gage (Cu-Ni alloy, Ni-Cr alloy, etc.) Semiconductor strain gage (monocrystal silicon, etc.) Material Carrier Matrix Paper Phenol/epoxy Polyimide Panjang Gage 0.4-0mm Monoaxis Bentuk Multiaksis (seperti gage rosette) Gage yang memiliki alur khusus Hambatan Gage ohm atau lebih (semiconductor gage, lebih dari 0Kohm) III..4 Struktur Foil pada Strain gage Sebuah foil strain gage memiliki metal foil photo-etched dengan pola berlikuliku pada sebuah insulator elektrik yang terbuat dari resin yang tipis dan di bagian pangkalnya juga terdapat gage leads, deskripsi strain gage dapat terlihat pada gambar di bawah. Gambar 3. 3 Struktur Pembentuk Strain gage [] 8 Proses manufaktur dan optimasinya..., Brianti Satrianti Utami, FT UI, 008
6 Strain gage direkatkan pada objek yang akan diukur dengan menggunakan bahan adesif tertentu. Strain yang terjadi pada bagian objek yang akan diukur ini ditransfer menuju elemen peraba melalui dasar gage (gage base). Untuk memperoleh pengukuran yang akurat, strain gage dan bahan adesifnya harus cocok dengan material yang diukur dan kondisi operasi termasuk suhu. III..5 Prinsip Pengukuran Strain Strain menginisiasikan perubahan hambatan dengan sangat kecil. Oleh karena itu, untuk pengukuran strain sebuah jembatan Wheatsone digunakan untuk mengkonversi perubahan hambatan menjadi perubahan tegangan. Misal pada gambar 3, hambatan () adalah R, R, R 3, dan R 4 dan tegangan jembatan (V) adalah E exc. Maka, tegangan keluaran e 0 (V) dapat diperoleh dengan persamaan sebagai berikut: RR3 R R4 e0 = E exc [9] ( R + R )( R + R ) 3 4 Misalkan hambatan R adalah strain gage dan berubah besarannya sebanyak R akibat strain. Maka, tegangan keluaran adalah, e 0 = ( R + R) R3 R R4 ( R + R + R )( R + R ) Apabila, R = R = R 3 = R 4 = R, e 0 R = ( R + R) R R R R 3 E exc 4 E exc Sejak R dianggap jauh lebih besar dari nilai R, R e0 = E = K s ε E exc [9] 4 R 4 Berdasarkan persamaan di atas, diperoleh keluaran hambatan yang proporsional dengan perubahan hambatan, sebagai contoh akibat perubahan strain. Keluaran tegangan yang sangat kecil ini diamplifikasi untuk pembacaan analog atau pun indikasi digital dari strain. 8 Proses manufaktur dan optimasinya..., Brianti Satrianti Utami, FT UI, 008
7 Gambar 3. 4 Aplikasi Jembatan Wheatstone pada Strain gage [] III..6 Sistem Pengkabelan Strain gage Sebuah jembatan Wheatstone dari stain gage memiliki konfigurasi, atau 4 gage tergantung dari kebutuhan pengukuran. Pengkabelan yang umum digunakan ditunjukkan pada Gambar 3.5, 3.6 dan 3.7. III..6. Sistem -gage Pada sistem -gage, sebuah strain gage dihubungkan pada sebuah sisi dari jembatan Wheatstone dan sebuah resistor diletakkan pada setiap 3 sisi jembatan yang lain. Sistem ini dapat dengan mudah dikonfigurasi, dan sistem ini adalah yang paling umum digunakan pada pengukuran stress atau strain. Sistem -gage dengan -kabel ditunjukkan pada Gambar 3.5 (a) menerima banyak pengaruh dari leads. Oleh karena itu, apabila diperlukan antisipasi perubahan temperatur yang cukup besar dan leadwire yang cukup panjang, sistem -gage dengan 3-kabel seperti yang ditunjukkan Gambar 3.5 (b) harus digunakan. (a) (b) Gambar 3. 5 Konfigurasi Sistem -gage [] 83 Proses manufaktur dan optimasinya..., Brianti Satrianti Utami, FT UI, 008
8 III..6. Sistem -gage Dengan sistem -gage, buah strain gage dihubungkan pada jembatan dengan konfigurasi satu pada setiap dua sisi atau kedua strain gage pada satu sisi saja. Sebuah resistor tetap dihubungkan pada setiap atau 3 sisi yang lain. Perhatikan Gambar 3.6 (a) dan Gambar 3.6 (b)di bawah ini. Terdapat dua metode, yaitu metode active-dummy, dimana sebuah strain gage digunakan untuk mengkompensasi perubahan temperatur dan metode active-active dimana kedua strain gage berfungsi sebagai strain gage aktif. Sistem -gage digunakan untuk mengeliminasi komponen strain. Tergantung pada kebutuhan pengukuran, buah strain gage dihubungkan ke jembatan dengan cara yang berbeda-beda. (a) (b) Gambar 3. 6 Konfigurasi Sistem -gage [] III..6.3 Sistem 4-gage Perhatikan Gambar 3.7, pada sistem 4-gage, terdapar 4 buah strain gage yang dihubungkan pada setiap keempat sisi jembatan. Rangkaian ini akan menghasilkan keluaran yang besar dari tranduser strain-gage dan memperbaikan kompensasi temperatur demikian pula dapat mengeliminasi komponen strain dibandingkan strain target. 84 Proses manufaktur dan optimasinya..., Brianti Satrianti Utami, FT UI, 008
9 Gambar 3. 7 Konfigurasi Sistem 4-gage [] III..7 Tegangan Keluaran dari Berbagai Konfigurasi Jembatan Wheatstone III..7. Tegangan Keluaran pada Sistem -gage Seperti yang diilustrasikan gambar di bawah, sebuah strain gage dilekatkan pada permukaan atas dari batang yang memiliki penampang kotak. Apabila beban W diberikan pada ujung batang, daerah perekatan strain gage memiliki besar tegangan permukaan : σ = ε 0 E Strain 0 diperoleh dengan persamaan sebagai berikut: 6WL ε 0 = [] Ebh Dimana, b : Lebar dari batang h L : Tebal dari batang : Jarak dari titik beban ke bagian tengah strain gage Gambar 3. 8 Pengukuran Bending dengan Konfigurasi Sistem -gage [] III..7. Tegangan Keluaran pada Sistem -gage Terdapat dua metode konfigurasi pada sistem -gage ini, dimana setiap metode memiliki kegunaan masing-masing. Metode pertama adalah pemasangan seperti pada Gambar 3.6 (a). Keluaran tegangan yang terjadi pada rangkaian ini adalah []: 85 Proses manufaktur dan optimasinya..., Brianti Satrianti Utami, FT UI, 008
10 e = 4 R R R R E exc = K ε ε E [] 4 e atau, ( ) exc Sementara itu, metode kedua adalah untuk kasus pemasangan sesuai dengan Gambar 3.5 (b), keluaran tegangan yang terjadi adalah []: e = 4 R R R + R E exc Gambar 3. 9Aplikasi sistem konfigurasi -gage pada batang [] Konfigurasi [] konfigurasi [] Gambar 3. 0 Sistem - gage = K ε + ε E [] 4 e atau, ( ) exc Berdasarkan rumusan di atas dapat dikatakan bahwa, strain yang dihasilkan oleh strain gage kedua akan mengurangi/menambah strain yang dihasilkan oleh strain gage pertama, bila pemasangan kedua strain gage berada pada sisi yang bersebelahan/berlawanan. Sistem -gage umum digunakan pada kasus sebagai berikut. Untuk mengetahui secara terpisah dari parameter regangan akibat bending atau tensile yang dihasilkan batang yang terkena gaya, dua buah strain gage diletakkan pada posisi yang sama masing-masing pada setiap sisi atas dan bawah, seperti yang terlihat pada gambar. Kedua strain gage ini terhubung pada jembatan Wheatstone dengan dua konfigurasi yang berbeda, yakni bersebelahan atau berlawanan sisi, setiap konfigurasi dapat mengukur regangan akibat bending atau tensile secara terpisah. Prinsip kerjanya adalah sebagai berikut, strain gage akan merasakan regangan tarik (positif) dan strain gage akan merasakan regangan tekan (negatif). Nilai absolut dari kedua regangan adalah serupa, yang berbeda hanya polaritasnya saja, hal ini karena kedua strain gage memiliki jarak yang sama terhadap ujung terkenanya gaya. 86 Proses manufaktur dan optimasinya..., Brianti Satrianti Utami, FT UI, 008
11 Untuk mengukur bending stress saja hal yang dilakukan adalah melakukan offset dari regangan tarik dengan cara mengkonfigurasi strain gage pada sisi yang bersebelahan dengan strain gage pada jembatan Wheatstone (gambar). Maka tegangan keluaran yang terjadi adalah []: e = K( ε ε ) E exc [] 4 Apabila batang mengalami tarikan (tensile stress), kedua strain gage akan merasakan regangan tarik yang sama-sama bernilai positif, sehingga dari persamaan akan menghasilkan keluaran 0 ( - ). Sementara itu, bending stress akan mengakibatkan strain gage bernilai positif dan strain gage bernilai negatif, dari persamaan e = K( ε ε ) E exc, maka nilai strain gage akan menambah nilai strain gage, 4 sehingga diperoleh keluaran tegangan dengan nilai dua kali lipat. Oleh karena itu, rangkaian seperti Gambar 3.0 hanya dapat mengukur bending stress saja. Apabila strain gage dihubungkan pada sisi yang berlawanan dengan strain gage, tegangan keluaran dari jembatan Wheatstone adalah: e = K( ε + ε ) E exc [] 4 Persamaan ini berlawanan dengan persamaan sebelumnya, tegangan keluaran jembatan Wheatstone akan nol bila mengalami bending strain dan akan mengeluarkan keluaran dua kali lipat bila mengalami tensile strain. Maka dari itu, konfigurasi jembatan seperti pada Gambar 3.0 dapat menghilangkan pengaruh bending strain, akan tetapi tetap mampu mengukur tensile strain. Gambar 3. Pengukuran Bending Stress dengan Sistem -gage [] 87 Proses manufaktur dan optimasinya..., Brianti Satrianti Utami, FT UI, 008
12 III..7.3 Tegangan Keluaran pada Sistem 4-gage Sistem 4-gage memiliki 4 buah strain gage yang dirangkai pada setiap sisi dari jembatan. Meskipun system ini jarang digunakan dalam pengukuran regangan, akan tetapi system ini sering digunakan dalam tranduser strain gage. Ketika keempat strain gage mengalami perubahan hambatan menjadi masing-masing R + R, R + R, R 3 + R 3, dan R 4 + R 4, maka tegangan keluaran dari jembatan adalah []: e = 4 R R R R R + R 3 3 R R 4 4 E exc Gambar 3. Sistem 4-gage [] Apabila strain gage pada keempat sisi memiliki spesifikasi yang serupa, termasuk gage factor, K, dan menerima strain masing-masing,, 3, dan 4, maka persamaan (III.4) menjadi: e = K( ε ε + ε 3 ε 4 ) E exc [] 4 III..8 Strain pada Batang Strain o pada batang diperoleh dengan menggunakan persamaan ε = M o ZE [] Dimana, M: Bending moment Z: Section modulus E: Young s modulus 88 Proses manufaktur dan optimasinya..., Brianti Satrianti Utami, FT UI, 008
13 Tabel 3. 3 Section Modulus Berbagai Penampang[] III..9 Kompensasi Temperatur oleh Strain Gage Misalkan objek yang akan diukur dan elemen hambatan dari strain gage memiliki koefisien ekspansi linier s dan g. Maka, strain gage yang dilekatkan pada permukaan dari objek akan mengalami strain yang diinduksikan oleh perubahan tempertur sebesar T per C dan dapat dirumuskan oleh persamaan berikut ini []: s ( β β ) α ε T = + s g [] K Dimana, K s : : Koefisien perubahan hambatan oleh temperatur dari elemen hambatan Gage faktor dari strain gage Gambar 3. 3 Pengaruh Ekspansi Linier Temperatur Material Terhadap Strain Gage [] Kompensasi temperatur strain gage dirancang sedemikian rupa sehingga T pada persamaan di atas dapat bernilai mendekati nol dengan cara mengendalikan koefisien perubahan hambatan oleh temperatur dari elemen hambatan strain gage () yang sesuai dengan dengan koefisien ekspansi linear dari objek ukur. Parameter dari elemen 89 Proses manufaktur dan optimasinya..., Brianti Satrianti Utami, FT UI, 008
14 hambatan dapat dikontrol dengan proses perlakuan panas (heat treatment) selama proses produksi foil. Ketika direkatkan pada material yang sesuai, kompensasi-temperatur strain gage dapat meminimalkan timbulnya strain pada jangkauan kompensasi temperatur hingga ±,8/ C (grafik di bawah menampilan keluaran regangan yang timbul dari 3-wire strain gage KYOWA). Oleh karena setiap jenis strain gage diatur berdasarkan koefisien ekspansi linear dari material objek ukur, aplikasi strain gage pada jenis material lain tidak hanya dapat berakibat hilangnya kemampuan kompensasi temperatur tetapi juga dapat menimbulkan kesalahan pengukuran yang besar. Gambar 3. 4 Grafik Karakteristik Suhu dari Kompensasi-Temperatur Foil Strain Gage [] Tabel 3. 4 Koefisien Ekspansi Linier Berbagai Material[] 90 Proses manufaktur dan optimasinya..., Brianti Satrianti Utami, FT UI, 008
15 III..0 Pengaruh Temperatur Terhadap Leadwire pada -Wire System Tabel 3. 5 Reciprocating Resistance dan Nilai Ekuivalen Strain yang Timbul Akibat Kenaikan Temperatur pada Leadwire [] Strain yang timbul akibat induksi termal T (/ C) diperoleh dengan pesamaan sebagai berikut []: r ε T = R + r g α K s Dimana, R g : Hambatan dari strain gage () r l : Hambatan dari kabel kepala() K s : Gage faktor : Koefisien hambatan oleh temperatur dari kabel tembaga (R/R/ C), 3,9*0-3 [] Gambar 3. 5 Rangkaian Strain Gage dengan Hambatan dalam pada Leadwire[] 9 Proses manufaktur dan optimasinya..., Brianti Satrianti Utami, FT UI, 008
16 III..0. Metode Kompensasi Efek Temperatur dari Leadwire (3-wire system) Untuk memperoleh kompensasi-temperatur-mandiri yang efektif hendaknya menggunakan sistem -gage. Meskipun sudah tersedianya kemampuan kompensasitemperatur-mandiri dari strain gage, bila kabel kepala yang digunakan adalah sistem - kabel, dan panjang kabel kepala relatif panjang, keluaran strain dari jembatan tetap akan dipengaruhi oleh efek temperatur yang terjadi pada kabel kepala. Sebagai contoh, tembaga digunakan untuk material kabel kepala, memiliki koefisien hambatan oleh temperatur sebesar 3,93*0-3 / C. Apabila luas penampang kabel 0,3mm, hambatan dalam 0,06/m, jarak strain gage ke sisi jembatannya 0m, maka panjang kabel adalah 0m. Efek temperatur yang diperoleh adalah setara strain sebesar 0x0-6 untuk setiap perubahan C. Untuk menghindari efek temperatur tersebut maka diadopsi sistem 3- kabel. Apabila 3 kabel kepala dihubungkan seperti yang terlihat pada gambar di bawah, setengah dari hambatan kabel kepala akan terdapat pada sisi sebelah dari jembatan Wheatstone, hal ini untuk mengkompensasi perubahan hambatan akibat temperatur dengan cara kedua sisi jembatan yang bersebelahan tersebut akan mengalami perubahan hambatan yang sama akibat perubahan temperatur, maka dari itu keluaran tegangan dari jembatan Wheatstone akan terbebas dari pengaruh temperatur pada kabel kepala. Pengaruh temperatur yang terhubung langsung pada amplifier dapat diabaikan karena pada amplifier tersedia impedansi masukan yang besar. Yang menjadi catatan penting dalam penggunaan sistem 3-kabel adalah ketiga buah kabel harus pada jenis, panjang dan penampang yang sama untuk memperoleh pengaruh temperatur yang sama. Apabila kabel tersebut terkena sinar matahari secara langsung, pembungkus kabel juga harus memiliki warna yang serupa. Gambar 3. 6 Aplikasi 3-wire system[] 9 Proses manufaktur dan optimasinya..., Brianti Satrianti Utami, FT UI, 008
17 III.. Pengaruh dari Hambatan Material Insulasi Hambatan dari material insulasi strain gage tidak akan mempengaruhi hasil pengukuran apabila memiliki hambatan di atas 00M. Akan tetapi, apabila hambatan tersebut berkurang secara drastis pada saat pengukuran berlangsung, maka akan terdapat kesalahan pada hasil pengukuran. Gambar 3. 7 Rangkaian Strain Gage dengan Hambatan Material Insulasi[] Apabila hambatan insulasi berkurang dari r menjadi r seperti pada gambar di atas, kesalahan pada strain adalah: R g ( r r ) ε = [] K r r s Misalnya, R g = 0 (hambatan strain gage) K s =,00 (gage factor) r = 000M (hambatan insulasi awal) r = 0M (hambatan insulasi setelah berubah) maka, kesalahan strain yang terjadi adalah mendekati 6. Selama pengukuran strain kesalahan seperti ini akan tidak akan tampak. Pada aplikasinya, penurunan hambatan insulasi ini tidak akan memiliki nilai yang konstan, dan hambatan ini akan berubah secara tajam karena pengaruh temperatur dan kelembapan, serta pengaruh lingkungan lainnya. Adalah hal yang tidak mungkin untuk mengetahui insulasi bagian mana pada rangkaian yang mengalami penurunan hambatan. Oleh karena itu, tindakan preventif sangat perlu dilakukan. 93 Proses manufaktur dan optimasinya..., Brianti Satrianti Utami, FT UI, 008
18 III.. Perubahan Hambatan Strain Gage Akibat Perekatan pada Permukaan Kurva Strain c yang timbul pada elemen hambatan akibat perekatan strain gage pada permukaan kurva dapat diperoleh dengan persamaan sebagai berikut []: t ε c = [] r + t Dimana, t: ketebalan dari strain gage ditambah ketebalan permukaan perekat (adhesive) r: jari-jari permukaan daerah perekatan Gambar 3. 8 Strain Gage yang Direkatkan pada Permukaan Kurva [] III..3 Pengaruh Pemasangan yang Tidak Tepat (Missalignment) Strain 0 yang terukur oleh strain gage yang tidak tepat terpasang dengan sudut penyimpangan dari arah prinsipal strain, dapat dirumuskan sebagai berikut []: ε 0 = {( ε + ε ) + ( ε ε ) cos θ } [] Apabila ε = vε (v: Poisson s ratio) pada kondisi menerima gaya pada satu sumbu saja, ε 0 = ε { ( v ) + ( + v) cos θ } [] Gambar 3. 9 Strain Gage dengan Pemasangan yang Tidak Tepat [] 94 Proses manufaktur dan optimasinya..., Brianti Satrianti Utami, FT UI, 008
19 III..4 Metode Kompensasi Panjang Kabel Kepala Apabila panjang kabel kepala pada sistem -gage atau sistem -gage relatif panjang (>m), maka penambahan hambatan diinisiasikan secara seri pada strain gage, hal ini berakibat pada penurunan gage factor. Sebagai contoh, apabila kabel kepala dengan panjang 0m dan penampang 0,3mm digunakan, gage factor akan berkurang sebesar %. Pada aplikasi sistem 4-gage, penambahan panjang juga akan mengurangi tegangan keluaran jembatan. Pada kasus ini, strain yang sebenarnya terjadi dapat diperoleh dengan rumusan sebagai berikut: r = + [] l ε ε i Rg Dimana, i : Strain terukur R g : Hambatan strain gage r l : Hambatan total dari kabel kepala Tabel 3. 6 Spesifikasi Berbagai Leadwire dan Reciprocating Resistance [] *pada sistem 3-kabel digunakan hambatan satu-arah (hambatan satu arah = 0.5*hambatan reciprocating) III..5 Metode Kompensasi Ketidaklinieran pada Sistem -Gage Ketidaklinearan yang melebihi spesifikasi pada pengukuran regangan yang relatif besar dengan sistem -gage dapat dikompensasi melalui persamaan berikut untuk memperoleh regangan yang sebenarnya []: ε 0 6 ε = ( 0 ) [] ε Dimana, 0 0 : regangan terukur 95 Proses manufaktur dan optimasinya..., Brianti Satrianti Utami, FT UI, 008
20 III..6 Metode Mendapatkan Besaran dan Arah dari Principal Stress (Rosette Analysis) Apabila arah dari principal stress tidak diketahui dari sebuah pengukuran tegangan pada suatu struktur, maka triaxial rosette gage lazim digunakan dan berbagai parameter dapat diperoleh dengan menggunakan nilai-nilai dari regangan yang terukur oleh rangkai strain gage ini. Langkah-langkah aplikasi rosette analysis adalah:. Tetapkan a b c sebagai arah urutan. Sudut adalah: Sudut dari regangan maksimum terhadap sumbu a bila a > c ; Sudut dari regangan minimum terhadap sumbu a bila a < c ; Perbandingan antara a dan c tetap memperhitungkan nilai positif dan negatifnya. Gambar 3. 0 Konfigurasi Pemasangan Strain Gage pada Rosette Analysis [] Maximum principal strain ε [ ε { ( ) ( }] a + ε c + ε a ε b + ε b ε c = [] max ) Minimum principal strain ε [ ε { ( ) ( }] a + ε c ε a ε b + ε b ε c = [] min ) 96 Proses manufaktur dan optimasinya..., Brianti Satrianti Utami, FT UI, 008
21 Arah dari principal strain θ = tan ε b ε a ε c ε a ε c Maximum shearing strain γ {( ε ε ) + ( ε ε } max a b b c ) [] = [] Maximum principal stress σ [( + v)( ε ) ( ) { ( ) ( }] a + ε c + v ε a ε b + ε b ε c E = [] ( v ) max ) Minimum principal stress σ [( + v)( ε ) ( ) { ( ) ( }] a + ε c v ε a ε b + ε b ε c E = [] ( v ) min ) Maximum shearing stress τ {( ε ε ) + ( ε ε } E = [] ( v) max a b b c ) v: Poisson s ratio E: Young s modulus III..7 Metode Mendapatkan Nilai Kalibrasi dengan Tip Parallel Resistance Ketika perpanjangan kabel kepala mencapai beberapa ratus meter atau untuk memperoleh nilai kalibrasi yang tepat, penggunaan metode Tip Parallel Resitance adalah sangat tepat. Kalibrasi ini dilakukan untuk mengetahui nilai regangan sebenarnya yang dialami strain gage, hubungan antara tegangan keluaran e dengan regangan strain gage, untuk sistem -gage adalah 4e ε =. Nilai regangan yang diperoleh berdasarkan ε K s besarnya e dengan menggunakan persamaan diatas dapat memberikan nilai regangan yang tidak tepat, hal ini dapat disebabkan oleh pengaruh panjangnya kabel kepala, kesalahan arah pemasangan, hambatan insulasi dan faktor-faktor lain yang telah disebutkan di atas. Konsep Tip Parallel Resistance ini adalah dengan penambahan hambatan paralel pada strain gage, hambatan-total-paralel antara strain gage setelah 97 Proses manufaktur dan optimasinya..., Brianti Satrianti Utami, FT UI, 008
22 meregang dan resistor tambahan adalah sama dengan hambatan awal strain gage. Persamaannya adalah sebagai berikut: R * R parallel parallel = r R g = R R ( R + R) Rg g r = R Rg r = K sε g = R g g + + R r + R Dimana, R g : Hambatan dari strain gage K s : Gage Factor dari strain gage : Nilai regangan kalibrasi [] Gambar 3. Tip Parallel Resistance untuk Kalibrasi Strain [] Bila setelah dipasang resistor paralel tambahan dan sistem mengalami regangan, tegangan keluaran jembatan menunjukkan nilai nol, maka hal ini menunjukkan bahwa regangan yang dialami strain gage sebenarnya adalah sebesar nilai regangan kalibrasi. Tabel 3. 7 Contoh dari Nilai Regangan Kalibrasi dan Hambatan Parallel Tambahan[] (Rg = 0, Ks =,00) 98 Proses manufaktur dan optimasinya..., Brianti Satrianti Utami, FT UI, 008
23 III..8 Metode Perekatan Strain Gage dan Dampproofing Treatment. Seperti menggambar lingkaran dengan sandpaper (#300), poles daerah perekatan strain gage, daerah ini harus memiliki lebar yang lebih besar dari ukuran strain gage.. Dengan menggunakan katun mampu serap, atau kertas SILBON yang direndam pada pelarut highly volatile seperti aseton, dengan tekanan kuat usaplah daerah perekatan strain gage pada satu arah saja. Pelarut ini akan dengan mudah menghilangkan minyak dan lemak. Arah pengusapan yang bolak-balik tidak akan membersihkan permukaan. Setelah dibersihkan, berikan tanda untuk posisi strain gage. 3. Bedakan dan pastikan mana posisi depan (metal foil part) dan bagian belakang strain gage. Berikan setitik adesif pada permukaan belakang dan segera mungkin letakkan strain gage pada daerah perekatan. (Jangan meratakan adesif pada permukaan belakang, apabila ini dilakukan proses pengeringan akan berlangsung jauh lebih cepat.) 4. Tutup strain gage dengan lembaran polyethylene kemudian dengan kuat tekan strain gage yang tertutup dengan 99 Proses manufaktur dan optimasinya..., Brianti Satrianti Utami, FT UI, 008
24 menggunakan jempol tangan selama kurang lebih menit (jangan melepas tekanan sebelum menit). Lakukan tahap 3 dan 4 secara cepat, jika tidak perekat akan segera kering. Ketika strain gage telah terikat pada permukaan, jangan mencoba untuk mengangakatnya lagi guna mengatur posisi. 5. Ketika adesif sudah kering, lepaskan lembaran polyethylene dan cek kondisi cairan adesif. Idealnya, cairan adesif tersebut akan tersebar merata disekitar strain gage. 6. Apabila adesif tersebar sangat jauh dari strain gage, hilangkan bagian yang jauh tersebut dengan cutter atau sandpaper. Letakkan kabel kepala strain gage dengan kondisi kendur. 7. Letakkan kabel kepala strain gage memanjang ke belakang. Letakkan sepotong coating agent di bawah kabel kepala dengan posisi kabel yang sedikit kendur. 8. Tutup strain gage, adesif yang mengelilingi, dan bagian kabel kepala dengan potongan coating agent yang lain. Jangan lupa untuk menekan potongan coating agent terlebih dahulu dengan jari sehingga lebih melebar dan dapat menutupi strain gage dan bagian kabel kepala secara sempurna. Gambar 3. Metode Perekatan Strain Gage [] 00 Proses manufaktur dan optimasinya..., Brianti Satrianti Utami, FT UI, 008
25 III. Konfigurasi Strain gage pada Sistem Pendeteksi Gaya Multi Axis Gambar 3. 3 Skematik Konfigurasi Strain Gage Sistem Pendeteksi Gaya Multi Axis pada Semua Komponen Plate Gambar III.3 adalah konfigurasi strain gage pada Sistem Pendeteksi Gaya Multi Axis. Beberapa hal penting yang menjadi pertimbangan pemilihan konfigurasi di atas adalah:. Konfigurasi jembatan Wheatstone yang dipilih untuk ketiga rangkaian adalah sistem -gage dengan susunan strain gage yang saling bersebelahan (Gambar 3.0). Sistem konfigurasi jembatan wheatstone seperti ini akan membantu mendeteksi besarnya strain yang terjadi akibat bending. Tabel 3. 8 Tabel Deskripsi Sistem -Gage [8] Adapun konfigurasi rangkaian elektronik jembatan wheatstone dari sistem pendeteksi gaya multi axis ditunjukkan pada gambar di bawah ini. 0 Proses manufaktur dan optimasinya..., Brianti Satrianti Utami, FT UI, 008
26 Gambar 3. 4 Rangkaian Elektronik Jembatan Wheatstone dari Sistem Pendeteksi Gaya Multi Axis. Pada komponen plat baik itu arah sumbu x, maupun sumbu y, strain gage direkatkan di permukaan bawah plat dan masing-masing plat membutuhkan satu strain gage. Setiap satu sumbu memiliki dua stain gage dengan arah yang berbeda, hal ini dimaksudkan agar nilai keluaran voltage yang dikeluarkan dari rangkaian jembatan wheatsone akan saling menguatkan. Misalkan gaya datang dari arah sumbu x, plat strain gage pertama akan mendeteksi sebuah gaya compressive yang terjadi padanya, dan sebaliknya dengan plat strain gage yang kedua membaca gaya tensile. Dengan konfigurasi seperti ini, maka gaya compressive sama dengan gaya tensile. 0 Proses manufaktur dan optimasinya..., Brianti Satrianti Utami, FT UI, 008
27 F SG SG Gambar 3. 5 Simulasi Gaya yang Datang terhadap Plat X atau Plat Y Pada contoh kasus Gambar 3.5 terlihat bahwa pada saat plat sumbu x menerima gaya dari arah x positif, pada bagian plat sg (strain gage ) akan mengalami tekan, dan pada bagian plat sg (strain gage ) akan mengalami tarik, sehingga strain yang dialami strain gage x,, adalah bernilai positif dan strain gage x,, adalah bernilai negatif, sementara nilai absolut kedua strain adalah sama, ε = ε. Sesuai persamaan yang berlaku pada konfigurasi ini, yakni persamaan ( ) exc = K ε ε E, maka tegangan 4 e keluaran, e adalah sama dengan dua kali ε yang ada. 3. Tegangan eksitasi dari jembatan Wheatstone adalah 3,333volt, sesuai dengan spesifikasi dari Modul Pengkondisian Sinyal Strain Gage. 4. Pada plat sumbu z, strain gage diletakkan pada sisi yang sama dari plat. Design stick mampu mengkompensasi pendeteksian gaya dari arah sumbu lain. Sisi kiri dan kanan dari plat secara teoritis akan mengalami bending stress dan strain yang sama apabila terkena gaya yang searah sumbu z dan titik konsentrasi gaya berada tepat di tengah plate. F SG SG Gambar 3. 6 Simulasi Gaya yang Datang terhadap Plat Z 5. Untuk melengkapi dua buah sisi masing-masing jembatan Wheatstone yang belum terisi, maka dirangkaikan resistor variable yang memiliki jangkauan hambatan 0-00 di setiap sisi. Resistor ini berfungsi sebagai sarana untuk 03 Proses manufaktur dan optimasinya..., Brianti Satrianti Utami, FT UI, 008
28 melaksanakan offset nulling, yakni pengaturan hambatan untuk menyeimbangkan jembatan Wheatstone saat pembebanan belum dilakukan. III.3 Pengkondisian Tegangan Keluaran Jembatan Wheatstone pada Sistem Pendeteksi Gaya Multi Axis Gambar 3. 7 Diagram Blok SCM5B38 [3] Peranti keras yang digunakan untuk pengkondisian sinyal pada Sistem Pendeteksi Gaya Multi Axis adalah SCM5B38-3 Strain Gage Input Module, yang merupakan produk dari DATAFORTH. Setiap SCM5B38-3 menyediakan sebuah channel untuk masukan strain gage dimana pengkondisian sinyal yang diberikan adalah filtering, isolasi, amplifikasi dan konversi menjadi tegangan keluaran analog tingkat tinggi (Gambar 3.7). Tegangan keluaran terkontrol dengan suatu logic swith, yang memungkinkan modul ini dapat berbagi satu analog bus dengan modul-modul yang lain tanpa memerlukan external multiplexers. III.3. Tegangan Eksitasi Modul pengkondisi sinyal strain gage menyediakan sumber tegangan yang konstan untuk rangkaian jembatan Wheatstone. Tegangan eksitasi yang umum disediakan modul pengkondisi sinyal adalah 3,333 volt atau 0 volt. Pada aplikasi Sistem Pendeteksi Gaya Multi Axis, tegangan eksitasi yang diberikan adalah 3,333 volt. Dengan tegangan 04 Proses manufaktur dan optimasinya..., Brianti Satrianti Utami, FT UI, 008
29 eksitasi yang besar, maka tegangan keluar yang dihasilkan juga bertambah secara proporsional. Tegangan yang terlalu besar dapat mengakibatkan error yang besar akibat pemanasan pada elemen. III.3. Amplifikasi Keluaran tegangan dari rangkaian jembatan strain gage adalah sangat kecil. Pada umumnya, tegangan keluaran dari jembatan strain gage adalah sekitar 0 mv/v (0mV tegangan keluaran untuk setiap V tegangan eksitasi). Dengan tegangan eksitasi sekitar 0V, maka tegangan keluaran adalah sekitar 00mV. Oleh karena itu, pengkondisian sinyal untuk strain gage pada umumnya menggunakan amplifier untuk meningkatkan resolusi pengukuran dan meningkatkan rasio sinyal terhadap gangguan (noise). Terdapat dua hal penting yang perlu diketahui dalam menganalisa rangkaian op amp, yakni: arus yang masuk pada terminal input op amp adalah nol dan beda tegangan di antara kedua input terminal juga nol. Penting untuk diingat, bahwa generalisasi Hukum Kirchoff untuk arus tidak berlaku pada op amp Gambar 3.8. Apabila arus input adalah nol bukan berarti arus output juga nol. Hal ini dapat terlihat lebih jelas pada Gambar III.3, dimana hubungan terhadap sumber daya diperlihatkan. Maka dari itu, Hukum Kirchoff untuk arus tidak dapat diaplikasikan pada terminal 3 Gambar 3.9, karena adanya terminal yang tidak terlihat, jadi kita tidak dapat mengetahui berapa arus output. Gambar 3. 8 Operasional Amplifier dengan Sumber Daya [4] Perhatikanlah gambar di bawah ini. v adalah tegangan keluaran dari op amp dan, seperti yang kita lihat, adalah fungsi dari tegangan masukan v dan dua buah resistor. 05 Proses manufaktur dan optimasinya..., Brianti Satrianti Utami, FT UI, 008
30 Gambar 3. 9 Voltage-Controlled Voltage Source [4] III.3.3 Filtering Strain gage biasanya terletak di lingkungan yang banyak gangguan elektrikal. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk mengeliminasi gangguan tersebut sehingga dapat diperoleh keluaran yang tepat. Lowpass filters dapat digunakan bersebelahan dengan strain gage, komponen itu dapat menghilangkan gangguan frekuensi tinggi dan biasa diaplikasikan pada berbagai kondisi lingkungan. III.3.4 Isolasi Isolasi, adalah sebuah pengkondisian yang penting untuk menghindari efek dari pembebanan elektrikal antara dua buah rangkaian atau sistem yang berdekatan [5]. Isolator adalah sebuah rangkaian yang memungkinkan sinyal ditransfer dari satu rangkaian ke rangkaian yang lain, sementara itu menjaga kedua rangkaian atau sistem terisolasi secara elektrik antara satu sama lain. Impedansi keluaran yang dihasilkan oleh rangkaian awal atau impedansi masukan yang diterima oleh rangkaian setelahnya dapat mengganggu transmisi sinyal diantara kedua rangkaian. Gain dari isolator bernilai satu, keluaran dihubung singkat dengan noninverting terminal dari ap amp. 06 Proses manufaktur dan optimasinya..., Brianti Satrianti Utami, FT UI, 008
31 Gambar Isolator di antara Dua Rangkaian [5] Gambar 3. 3 Isolator dengan OPAMP [5] Gambar 3. 3 Prinsip Kerja optoisolation [5] Isolasi juga dapat dilakukan dengan menggunakan sinyal optik. Sinyal elektrik yang dihasilkan oleh rangkaian- pada Gambar 3.3 dikonversi menjadi sinyal optik oleh LED (Light Emitting Diode). Kemudian sinyal optik ini akan dikonversi kembali menjadi sinyal elektrik oleh photodevice seperti photodiode atau phototransistor dan proses isolasi dapat berlangsung. III.3.5 Offset Nulling Ketika rangkaian Jembatan Wheatstone telah terbentuk, maka dipastikan tegangan keluaran yang dihasilkan adalah tidak sama dengan nol (e 0), meskipun tidak terjadi regangan sama sekali pada strain gage. Variasi dari hambatan dari setiap sisi jembatan dan perbedaan hambatan dari masing-masing kabel dapat mengakibatkan tegangan keluaran awal yang tidak sama dengan nol. Offset nulling dapat dilakukan melalui dua cara, yakni melalui peranti keras atau pun peranti lunak.. Kompensasi peranti lunak Dengan metode kompensasi ini, nilai tegangan, yang keluar saat pertama kali sistem diberi tegangan eksitasi dan strain gage belum mengalami regangan, dijadikan besar 07 Proses manufaktur dan optimasinya..., Brianti Satrianti Utami, FT UI, 008
32 nilai offset untuk membuat nilai awal menjadi nol. Metode ini cukup sederhana, mudah, cepat dan tidak memerlukan pengaturan manual. Kerugian dari kompensasi peranti lunak ini adalah offset pada jembatan Wheatstone tidak dihilangkan. Apabila offset yang terjadi cukup besar, hal ini dapat membatasi gain dari amplifier yang dapat diberikan pada tegangan keluaran, sehingga dapat mengurangi jangkauan dinamik penukuran.. Kompensasi peranti keras Proses stabilisasi untuk kompensasi offset dengan peranti keras adalah dengan menggunakan potensiometer, atau resistor variable. Dengan mengatur besar hambatan pada resistor variable yang menjadi elemen di salah satu sisi jembatan Wheatstone maka proses pengaturan tegangan keluarn jembatan dapat dilakukan hingga mendapatkan nilai nol. III.3.6 Remote Sensing Apabila rangkaian strain gage terletak jauh dari pengkondisi sinyal dan sumber tegangan eksitasi, terdapat kemungkinan terjadinya error yakni tegangan jatuh akibat hambatan pada kabel yang menghungkan jembatan dan sumber tegangan eksitasi. Modul pengkondisi sinyal terdapat kemampuan untuk melakukan remote sensing untuk mengkompensasi error ini. Kabel pendeteksi jarak jauh dihubungkan pada titik saat rangkaian jembatan dan sumber eksitasi terhubung. Kabel pendeteksi ekstra ini bertugas mengatur besar sumber eksitasi melalui amplifier feedback negatif untuk mengkompensasi kerugian pada kabel dan mengirimkan tegangan yang tepat diperlukan untuk rangkaian jembatan. Pada Sistem Pendeteksi Gaya Multi Axis aplikasi ini tidak perlu digunakan mengingat panjang kabel yang digunakan antara rangkaian jembatan dan sumber eksitasi adalah sangat pendek (< m). III.4 Tegangan Keluar Teoritis Tegangan keluaran teoritis diperoleh dari persamaan berikut : e = K 4 ( ε ε ) E exc 08 Proses manufaktur dan optimasinya..., Brianti Satrianti Utami, FT UI, 008
33 Saat pembebanan maksimum N, untuk Daerah Pendeteksi Gaya Arah x, strain () yang terjadi adalah,6 0 -, sementara tegangan eksitasi, E exc, adalah 3,333volt, Gage Factor strain gage,k, adalah,. Maka tegangan keluaran dari jembatan Wheatstone, e adalah 8, Saat pembebanan maksimum N, untuk Daerah Pendeteksi Gaya Arah y, strain () yang terjadi adalah,6 0 -, sementara tegangan eksitasi, E exc, adalah 3,333volt, Gage Factor strain gage,k, adalah,. Maka tegangan keluaran dari jembatan Wheatstone, e adalah 8, Saat pembebanan maksimum N, untuk Daerah Pendeteksi Gaya Arah z, strain () yang terjadi adalah,4 0 -, sementara tegangan eksitasi, E exc, adalah 3,333volt, Gage Factor strain gage,k, adalah,. Maka tegangan keluaran dari jembatan Wheatstone, e adalah 7, Grafik Tegangan Keluaran Teoritis Terhadap Beban pada Arah Sumbu X Tegangan (Voltage),00E-0 8,00E-0 6,00E-0 4,00E-0,00E-0 0,00E ,00E ,00E-0-6,00E-0-8,00E-0 Gaya (Newton) nilai teoitis Linear (nilai teoitis ) Gambar Grafik Tegangan Keluaran Teoritis Terhadap Beban pada Arah Sumbu X 09 Proses manufaktur dan optimasinya..., Brianti Satrianti Utami, FT UI, 008
34 Grafik Tegangan Keluaran Teoritis Terhadap Beban pada Arah Sumbu Y Tegangan (Voltage),00E-0 8,00E-0 6,00E-0 4,00E-0,00E-0 0,00E ,00E ,00E-0-6,00E-0-8,00E-0 Gaya (Newton) nilai teoitis Linear (nilai teoitis ) Gambar Grafik Tegangan Keluaran Teoritis Terhadap Beban pada Arah Sumbu Y Grafik Tegangan Keluaran Teoritis terhadap Beban pada Arah Sumbu Z Tegangan (Voltage).00E-0.50E-0.00E E E E E E E-0 Gaya (Newton) nilai teoritis Linear (nilai teoritis) Gambar Grafik Tegangan Keluaran Teoritis Terhadap Beban pada Arah Sumbu Z III.5 Akuisisi Data Sistem Pendeteksi Gaya Multi Axis III.5. Prinsip Operasi Akusisi Data pada Board DT300 Proses akuisisi data pada Sistem Pendeteksi Gaya Multi Axis berfungsi untuk mengkonversi sinyal analog yang keluar dari peranti pengkondisi sinyal strain gage menjadi sinyal digital yang dapat diproses lebih lanjut oleh komputer. Hardware yang digunakan untuk proses akuisisi data ini adalah board seri DT300 produk dari Data 0 Proses manufaktur dan optimasinya..., Brianti Satrianti Utami, FT UI, 008
35 Translation. Terdapat beberapa metode dan prosedur yang perlu dikonfigurasi untuk mendapatkan sebuah proses akuisisi data yang efektif dan efisien. Metode dan prosedur tersebut di antaranya adalah:. Channel-gain list;. Sumber A/D sample clock; 3. Metode konversi input analog; 4. Sumber trigger dan metode akuisisi trigger; 5. Format data dan transfer. Gambar Skematik DT300 Board [6] III.5.. Channel-gain list Channel-gain list adalah susunan channels yang terhubung jembatan strain gage beserta gain yang digunakan untuk pembesaran nilai sinyal masukan. Sebagai informasi, berikut adalah channel-gain list yang digunakan pada Sistem Pendeteksi Gaya Multi Axis: Proses manufaktur dan optimasinya..., Brianti Satrianti Utami, FT UI, 008
36 Tabel 3. 9 Contoh dari Nilai Regangan Kalibrasi dan Hambatan Parallel Tambahan [6] Entry Channel Gain Keterangan Berkorelasi dengan jembatan strain gage pendeteksi gaya arah sumbu (sumbu x) end effector 8 Berkorelasi dengan jembatan strain gage pendeteksi gaya arah sumbu 3 (sumbu x) end effector 8 Berkorelasi dengan jembatan strain gage pendeteksi gaya arah sumbu 4 (sumbu y) end effector Berkorelasi dengan jembatan strain gage pendeteksi gaya arah sumbu 5 (sumbu y) end effector Berkorelasi dengan jembatan strain gage pendeteksi gaya arah sumbu (sumbu z) end effector III.5.. Sumber A/D Sample Clock Seri DT300 board menyediakan dua buah sumber sample clock untuk mengiringi operasi input analog pada continuous mode, yaitu:. A/D sample clock internal yang menggunakan 4-bit A/D Counter pada board, dan. A/D sample clock eksternal yang dapat dihubungkan dengan panel screw terminal. A/D sample clock ini berfungsi mengiringi input analog untuk kemudian mengakuisisi data dari setiap channel pada channel gain-list. Clock ini dapat juga disebut sebagai A/D pacer clock. Sumber A/D sample clock pada proses akuisisi data Sistem Pendeteksi Gaya Multi Axis menggunakan jenis A/D Sample Clock internal karena sumber sample clock yang berasal dari board ini dirasa cukup memadai dan praktis tanpa memerlukan tambahan perangkat keras baru. Proses manufaktur dan optimasinya..., Brianti Satrianti Utami, FT UI, 008
37 III.5..3 Sumber A/D Sample Clock internal Berdasarkan teori sampling (teori Nyquist), spesifikasi frekuensi sampling paling rendah adalah dua kali frekuensi tertinggi dari suatu komponen sinyal input. Sebagai contoh, untuk melakukan sampling yang akurat terhadap sinyal berfrekuensi 0kHz, maka spesifikasi untuk frekuensi sampling terendah adalah 40kHz. Dengan melakukan hal ini berarti proses sampling dapat terhindar dari kondisi error yang dinamakan aliasing, dimana komponen input berfrekuensi tinggi tampak sebagai komponen berfrekuensi rendah setelah proses sampling. III.5..4 Metode Konversi Input Analog DT300 menyediakan beberapa metode konversi sinyal analog sebagai berikut:. Operasi single-value Metode ini cukup sederhana dalam organisasi buffer, akan tetapi memiliki fleksibilitas dan efisiensi yang rendah. Cara penggunaannya cukup mendefinisi range, gain, analog input channel kemudian mengakuisisi data dari channel dan mengkonversi hasil, setelah itu data akan ditampilkan dengan segera. Dengan metode ini, tidak perlu untuk menspesifikasi sumber clock, trigger, metode akuisisi trigger, metode scan maupun buffer. Operasi single-value akan berhenti dengan sendirinya apabila proses telah selesai, operator tidak dapat menghentikan proses ini.. Metode scan Metode ini memungkinkan pengguna untuk mengoptimalkan kemampuan dari board seri DT300 karena akan banyak fitur yang dimanfaatkan. Terdapat dua metode scan, yakni continuously-paced scan dan triggered scan. Dengan menggunakan peranti lunak, operasi scan dapat dihentikan dengan metode yang teratur, bukan dengan metode berhenti seketika (misal: saat kehilangan daya). Pada proses berhenti teratur, peranti keras akan berhenti untuk mendapatkan sederetan samples dan menghentikan akuisisi, mentransfer data yang didapat pada host memory, dan seluruh trigger akan dihiraukan. Pada konfigurasi proses akuisisi data Sistem Pendeteksi Gaya Multi Axis metode yang digunakan adalah metode continuously-paced scan, karena metode inilah yang 3 Proses manufaktur dan optimasinya..., Brianti Satrianti Utami, FT UI, 008
38 paling sesuai dengan kebutuhan untuk mengakuisi data secara berkelanjutan dan realtime. III.5..5 Metode Continuously-Paced Scan Metode ini memungkinkan untuk mengontrol secara akurat periode antara konversi dari masing-masing channel. Saat mendeteksi trigger, board akan mengambil data mengenai channel dan gain pada channel-gain list, memperoleh dan mengkonversi nilai dari setiap entry yang berkorelasi dengan channel yang telah ditetapkan pada channel-gain list, proses ini disebut sebagai scan. Setelah seluruh entry diproses, maka board akan akan melakukan proses wrap yakni kembali pada entry pertama untuk melakukan proses scan kembali. Proses akan berlangsung terus-menerus hingga seluruh alokasi buffer terisi atau adanya perintah stop dari pengguna. Laju konversi dipengaruhi oleh frekuensi dari A/D sample clock. Laju sampling, yakni laju dimana sebuah entry pada channel-gain list dilakukan proses sampling, parameter ini ditentukan oleh besar frekuensi A/D sample clock dibagi jumlah entry pada channel-gain list. Metode continuous-paced scan memerlukan sebuah sumber initial trigger, dimana sumber initial trigger ini dapat dikonfigurasi sesuai dengan metode akuisisi trigger yang digunakan. III.5..6 Triggers Trigger adalah sebuah kejadian yang muncul berdasarkan suatu kondisi spesifik. Seri DT300 menyediakan beberapa metode sumber trigger dan metode akuisisi trigger, berikut adalah penjelasan singkatnya. Sumber Trigger DT300 menyediakan beberapa sumber trigger, diantaranya adalah:. Software trigger;. External digital (TTL) trigger; 3. Analog threshold trigger. Metode Akuisisi Trigger 4 Proses manufaktur dan optimasinya..., Brianti Satrianti Utami, FT UI, 008
39 Seri DT300 mampu memperoleh data dengan menggunakan metode posttrigger, pre-trigger, atau about-trigger. Post-trigger adalah metode yang mengatur agar board mengakuisisi data setelah trigger muncul, pre-trigger adalah metode yang mengatur agar board mengakuisisi data sebelum kemunculan suatu kejadian eksternal spesifik (misal kemunculan suatu post-trigger), sementara itu about-trigger adalah metode yang mengatur board agar mengakuisisi data sesudah dan sebelum suatu kejadian eksternal spesifik. Perancangan sistem akuisisi data pada Sistem Pendeteksi Gaya Multi Axis menggunakan sumber software trigger karena sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan akuisisi data yang sederhana dan tidak ada ketergantung oleh komponen lain. Software trigger akan muncul dengan sendirinya ketika operasi analog input dijalankan (komputer akan memberikan perintah pada board untuk memulai konversi). Sementara itu metode akuisisi trigger yang digunakan adalah pre-trigger yang bersumber pada software. A/D Sample Clock Pre-trigger muncul Board secara kontinyu mengakuisisi data Gambar Metode continuous pre-trigger [6] Gambar di atas mengilustrasikan metode continuous pre-trigger pada sistem akuisisi data Sistem Pendeteksi Gaya Multi Axis. Pre-trigger akan muncul dengan sendirinya saat software dijalankan, kemudian board akan mulai mengakuisisi data. Konversi A/D dimulai setiap falling edge dari output A/D sample clock. Board akan terus melakukan proses wrap untuk kembali memproses entry pertama (channel 0) pada channel-gain list setelah mengakuisisi entry terakhir (channel ) dan proses ini akan berlangsung secara kontinyu. 5 Proses manufaktur dan optimasinya..., Brianti Satrianti Utami, FT UI, 008
40 III.5..7 Format Data dan Transfer Untuk merepresentasikan sinyal unipolar, DT300 menggunakan data binary 000 untuk 0 volts dan FFFh untuk tegangan skala penuh. Sementara itu untuk merepresentasikan sinyal bipolar, DT300 menggunakan offset binary data encoding, yakni menggunakan data 000 sebagai tegangan negatif skala penuh dan FFFh sebagai tegangan positif skala penuh. Board mengemas dua input sample, yakni sampel ganjil dan sampel genap. Sampel yang berkorelasi dengan entry 0,, 4 dan seterusnya akan tergolong sampel genap, sementara sisanya, entry, 3, 5, dan seterusnya akan tergolong sampel ganjil. Menggunakan PCI bus, board akan mentrasfer data analog input ke 56 KB circular buffer yang disediakan oleh harddisk komputer. Board akan memperlakukan buffer ini sebagai dua blok memori berukuran 8 KB. Device Driver dari DT300 akan mengakses circular buffer untuk mengisi nilai buffer yang dialokasikan di software. Direkomendasikan untuk menggunakan minimum tiga buah buffer untuk operasi input analog. Berikut adalah buffer wrap mode yang tersedia:. None Apabila wrap mode adalah none, maka data akan diberikan ke alokasi buffer hingga tidak ada lagi buffer yang kosong, kemudian operasi akan berhenti.. Multiple Apabila wrap mode adalah multiple, maka data akan diberikan ke alokasi multiple buffer secara kontinyu, ketika tidak ada lagi buffer yang tersedia, board akan melakukan overwrite pada data yang telah terisi, dimulai dari lokasi pertama dari buffer pertama. Proses ini akan terus-menerus berulang hingga diberhentikan oleh operator. 3. Single Apabila wrap mode adalah single, data akan diberikan ke alokasi single buffer secara kontinyu, ketika tidak ada lagi buffer yang tersedia, board akan melakukan overwrite pada data yang telah terisi, dimulai dari lokasi pertama dari buffer pertama. Proses ini akan terus-menerus berulang hingga diberhentikan oleh operator. 6 Proses manufaktur dan optimasinya..., Brianti Satrianti Utami, FT UI, 008
41 Buffer wrap mode yang digunakan pada sistem akusisi data Sistem Pendeteksi Gaya Multi Axis adalah jenis multiple, hal ini disesuaikan dengan jenis operasi kontinyu dengan jumlah channel yang lebih dari satu. III.5. Rangkuman Konfigurasi Akusisi Data Sistem Pendeteksi Gaya Multi Axis Berikut adalah rangkuman konfigurasi yang digunakan dalam sistem akuisisi data pada alat Sistem Pendeteksi Gaya Multi Axis: Tabel 3. 0 Konfigurasi Akuisisi Data Sistem Pendeteksi Gaya Multi Axis No Kategori Spesifikasi Keterangan Resolusi bit Spesifikasi standar Channel-Gain List Entry 0 3 Sumber A/D sample clock 4 Frekuensi A/D sample clock 5 Metode konversi input analog Entry Entry Entry 3 Entry 4 Internal DT300 Channel 0 gain 8 Channel gain 8 Channel gain 8 Channel 3 gain 8 Channel 4 gain 8 Spesifikasi standar DT Hz Kelipatan jumlah entry Continuously- Paced Scan 6 Sumber trigger Software 7 Metode akuisisi trigger Pre-trigger 8 Format data bipolar - 5 volt s/d 5 volt 8 Jumlah buffer 4 Harus lebih dari 3 9 Buffer wrap mode multiple 7 Proses manufaktur dan optimasinya..., Brianti Satrianti Utami, FT UI, 008
BAB III SENSOR, PENGKONDISIAN SINYAL DAN AKUISISI DATA
BAB III SENSOR, PENGKONDISIAN SINYAL DAN AKUISISI DATA III. Strain Gage III.. Strain, Stress dan Poisson s Ratio Ketika sebuah material menerima gaya tarik (tensile force) P, material akan mengalami tekanan
BAB IV PENGUJIAN SISTEM PENDETEKSI GAYA MULTI AXIS DAN ANALISA DATA
BAB IV PENGUJIAN SISTEM PENDETEKSI GAYA MULTI AXIS DAN ANALISA DATA Pengujian sistem pendeteksi gaya multi axis dimaksudkan untuk melihat kinerja dari alat. Pengujian ini juga dimaksudkan untuk mendapatkan
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN PENELITIAN LEBIH LANJUT
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN PENELITIAN LEBIH LANJUT V. 1. Kesimpulan V. 1. 1. Sistem Kerja Pendeteksi Gaya dengan Strain Gage Gambar V.1 adalah pemetaan konversi besaran yang terjadi dalam pendeteksi gaya
BAB IV PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI SISTEM
BAB IV PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI SISTEM IV.1 Deskripsi Perangkat Perangkat yang dirancang dalam tugas akhir ini merupakan sistem instrumentasi pengukuran yang bertujuan untuk merekam data sinyal dari
BAB III PERANCANGAN SISTEM
BAB III PERANCANGAN SISTEM Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, pengukuran resistivitas dikhususkan pada bahan yang bebentuk silinder. Rancangan alat ukur ini dibuat untuk mengukur tegangan dan arus
KARAKTERISASI SENSOR STRAIN GAUGE. Kurriawan Budi Pranata, Wignyo Winarko Universitas Kanjuruhan Malang
KARAKTERISASI SENSOR STRAIN GAUGE Kurriawan Budi Pranata, Wignyo Winarko Universitas Kanjuruhan Malang [email protected], [email protected] ABSTRAK. Karakterisasi sensor strain gauge dengan resistansi
LVDT (Linear Variable Differensial Transformer)
LVDT (Linear Variable Differensial Transformer) LVDT merupakan sebuah transformator yang memiliki satu kumparan primer dan dua kumparan sekunder. Ketiga buah kumparan tadi, diletakkan simetris pada sebuah
Gambar 1.6. Diagram Blok Sistem Pengaturan Digital
Gambar 1.6. Diagram Blok Sistem Pengaturan Digital 10 Bab II Sensor 11 2.1. Pendahuluan Sesuai dengan banyaknya jenis pengaturan, maka sensor jenisnya sangat banyak sesuai dengan besaran fisik yang diukurnya
JOBSHEET SENSOR BEBAN (STRAIN GAUGE)
JOBSHEET SENSOR BEBAN (STRAIN GAUGE) A. TUJUAN 1. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami sensor strain gauge 2. Mahasiswa dapat menjelaskan rangkaian sensor strain gauge 3. Mahasiswa dapat mempraktekkan
Pemodelan Sistem Kontrol Motor DC dengan Temperatur Udara sebagai Pemicu
Pemodelan Sistem Kontrol Motor DC dengan Temperatur Udara sebagai Pemicu Brilliant Adhi Prabowo Pusat Penelitian Informatika, LIPI [email protected] Abstrak Motor dc lebih sering digunakan
APLIKASI PENGOLAHAN DATA DARI SENSOR-SENSOR DENGAN KELUARAN SINYAL LEMAH
APLIKASI PENGOLAHAN DATA DARI SENSOR-SENSOR DENGAN KELUARAN SINYAL LEMAH Sensor adalah merupakan salah satu komponen penting sebagai pengindera dari sistem. Bagian ini akan mengubah hal-hal yang dideteksi
ADC (Analog to Digital Converter)
ADC (Analog to Digital Converter) Analog to Digital Converter (ADC) adalah sebuah piranti yang dirancang untuk mengubah sinyal-sinyal analog menjadi sinyal sinyal digital. IC ADC 0804 dianggap dapat memenuhi
Sistem Pengukuran Data Akuisisi
Sistem Pengukuran Data Akuisisi Missa Lamsani Hal 1 Perkembangan Sistem Akuisisi Data Pada mulanya proses pengolahan data lebih banyak dilakukan secara manual oleh manusia, sehingga pada saat itu perubahan
BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM
BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM III.1. Analisis Masalah Dalam perancangan alat pengukuran tinggi badan dan berat badan berbasis mikrokontroler dan interface ini terdapat beberapa masalah yang harus
BAB III LANDASAN TEORI
9 BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Umum Dengan semakin berkembangnya teknologi saat ini dan perkembangan itu meliputi para pelaku usaha didunia industri untuk membuat produk yang lebih modern dan ramah lingkungan.
TEKNIK MESIN STT-MANDALA BANDUNG DASAR ELEKTRONIKA (1)
TEKNIK MESIN STT-MANDALA BANDUNG DASAR ELEKTRONIKA (1) DASAR ELEKTRONIKA KOMPONEN ELEKTRONIKA SISTEM BILANGAN KONVERSI DATA LOGIC HARDWARE KOMPONEN ELEKTRONIKA PASSIVE ELECTRONIC ACTIVE ELECTRONICS (DIODE
KARAKTERISAS I SENSOR STRAIN GAUGE Kurriawan Budi Pranata 1, Wignyo Winarko 2, Solikhan 3
KARAKTERISAS I SENSOR STRAIN GAUGE Kurriawan Budi Pranata 1, Wignyo Winarko 2, Solikhan 3 1,2,3 Program Studi Pendidikan Fisika Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Kanjuruhan Malang [email protected],
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI Pada bab ini akan dibahas dasar teori yang berhubungan dengan perancangan skripsi antara lain fungsi dari function generator, osilator, MAX038, rangkaian operasional amplifier, Mikrokontroler
Gambar 11 Sistem kalibrasi dengan satu sensor.
7 Gambar Sistem kalibrasi dengan satu sensor. Besarnya debit aliran diukur dengan menggunakan wadah ukur. Wadah ukur tersebut di tempatkan pada tempat keluarnya aliran yang kemudian diukur volumenya terhadap
Elektronika Lanjut. Penguat Instrumen. Elektronika Lanjut Missa Lamsani Hal 1
Penguat Instrumen Missa Lamsani Hal 1 . Missa Lamsani Hal 2 / 28 Penguat Instrumentasi Penguat instrumentasi adalah suatu loop tertutup (close loop) dengan masukan differensial dan penguatannya dapat diatur
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 1.1. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan pada rancang bangun pengukur kecepatan kendaraan menggunakan sensor GMR adalah metode deskriftif dan eksperimen. Melalui
Materi-2 SENSOR DAN TRANSDUSER (2 SKS / TEORI) SEMESTER 106 TA 2016/2017
Materi-2 SENSOR DAN TRANSDUSER 52150802 (2 SKS / TEORI) SEMESTER 106 TA 2016/2017 KONSEP AKUISISI DATA DAN KONVERSI PENGERTIAN Akuisisi data adalah pengukuran sinyal elektrik dari transduser dan peralatan
Petunjuk Penggunaan SENSOR TEGANGAN (GSC )
Petunjuk Penggunaan SENSOR TEGANGAN (GSC 410 04) Jl. PUDAK No. 4 Bandung 40113, Jawa Barat-INDONESIA - Phone +62-22-727 2755 (Hunting) Fax. +62-22-720 7252 - E-mail: [email protected] - Website: www.pudak.com
BAB VI INSTRUMEN PENGKONDISI SINYAL
BAB VI INSTRUMEN PENGKONDISI SINYAL Pengkondisian sinyal merupakan suatu konversi sinyal menjadi bentuk yang lebih sesuai yang merupakan antarmuka dengan elemen-elemen lain dalam suatu kontrol proses.
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Bab ini akan membahas hasil dan pembahasan dari perangkat yang telah dirancang dan dibuat. Sebelum dibahas mengenai hasil dan pembahasan dilakukan terlebih dahulu pengujian dari
Pengkondisian Sinyal. Rudi Susanto
Pengkondisian Sinyal Rudi Susanto Tujuan Perkuliahan Mahasiswa dapat menjelasakan rangkaian pengkondisi sinyal sensor Mahasiswa dapat menerapkan penggunaan rangkaian pengkondisi sinyal sensor Pendahuluan
Pembebanan Batang Secara Aksial. Bahan Ajar Mekanika Bahan Mulyati, MT
Pembebanan Batang Secara Aksial Suatu batang dengan luas penampang konstan, dibebani melalui kedua ujungnya dengan sepasang gaya linier i dengan arah saling berlawanan yang berimpit i pada sumbu longitudinal
SENSOR DAN TRANDUSER. Aktuator C(s) Sensor / Tranduser
SENSOR DAN TRANDUSER PENGANTAR Pada sistem pengaturan loop tertutup, terkadang bentuk energi dari sinyal keluaran plant tidak sama dengan bentuk energi dari sinyal masukan sehingga tidak dapat dibandingkan,
BAB III PERANCANGAN SISTEM
BAB III PERANCANGAN SISTEM 3.1. Perangkat Keras Sistem Perangkat Keras Sistem terdiri dari 5 modul, yaitu Modul Sumber, Modul Mikrokontroler, Modul Pemanas, Modul Sensor Suhu, dan Modul Pilihan Menu. 3.1.1.
BAB II TEORI DASAR SISTEM C-V METER PENGUKUR KARAKTERISTIK KAPASITANSI-TEGANGAN
BAB II TEORI DASAR SISTEM C-V METER PENGUKUR KARAKTERISTIK KAPASITANSI-TEGANGAN 2.1. C-V Meter Karakteristik kapasitansi-tegangan (C-V characteristic) biasa digunakan untuk mengetahui karakteristik suatu
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Metode penelitian Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode eksperimen murni. Eksperimen dilakukan untuk mengetahui pengaruh frekuensi medan eksitasi terhadap
BAB III PERANCANGAN SISTEM
BAB III PERANCANGAN SISTEM Pada bab ini akan dijelaskan mengenai perancangan dari perangkat keras, serta perangkat lunak dari alat akuisisi data termokopel 8 kanal. 3.1. Gambaran Sistem Alat yang direalisasikan
BAB II ANALOG SIGNAL CONDITIONING
BAB II ANALOG SIGNAL CONDITIONING 2.1 Pendahuluan Signal Conditioning ialah operasi untuk mengkonversi sinyal ke dalam bentuk yang cocok untuk interface dengan elemen lain dalam sistem kontrol. Process
BAB III METODE PENELITIAN. alat pendeteksi frekuensi detak jantung. Langkah langkah untuk merealisasikan
BAB III METODE PENELITIAN Pada penelitian ini, akan dilakukan beberapa langkah untuk membuat alat pendeteksi frekuensi detak jantung. Langkah langkah untuk merealisasikan alat pendeteksi frekuensi detak
BAB III DESKRIPSI MASALAH
BAB III DESKRIPSI MASALAH 3.1 Perancangan Hardware Perancangan hardware ini meliputi keseluruhan perancangan, artinya dari masukan sampai keluaran dengan menghasilkan energi panas. Dibawah ini adalah diagram
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. MATERI Sensor dan Tranduser
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya MATERI Sensor dan Tranduser Contoh Soal Ringkasan Latihan Assessment Pada sistem pengendalian loop tertutup, terkadang bentuk energi dari sinyal keluaran plant
BAB III PERANCANGAN ALAT
BAB III PERANCANGAN ALAT Pada bab ini akan dijelaskan perancangan alat, yaitu perancangan perangkat keras dan perancangan perangkat lunak. Perancangan perangkat keras terdiri dari perangkat elektronik
BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM
BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM III.1. Analisis Masalah Dalam perancangan dan implementasi timbangan digital daging ayam beserta harga berbasis mikrokontroler ini terdapat beberapa masalah yang harus
SISTEM PENGENDALIAN SUHU PADA TUNGKU BAKAR MENGGUNAKAN KONTROLER PID
SISTEM PENGENDALIAN SUHU PADA TUNGKU BAKAR MENGGUNAKAN KONTROLER PID Raditya Wiradhana, Pembimbing 1: M. Aziz Muslim, Pembimbing 2: Purwanto. 1 Abstrak Pada saat ini masih banyak tungku bakar berbahan
ISI PENDAHULUAN STRAIN GAGES TAHANAN LISTRIK JENIS-JENIS STRAIN GAGES KALIBRASI
PENGUKUAN EGANGAN ISI PENDAHULUAN STAIN GAGES TAHANAN LISTIK JENIS-JENIS STAIN GAGES PENGKONDISIAN SINYAL STAIN GAGE KALIBASI APA ITU EGANGAN (STAIN)? lateral axial egangan adalah besarnya deformasi sebuah
BAB IV ANALISA DAN PENGUJIAN SISTEM
BAB IV ANALISA DAN PENGUJIAN SISTEM 4.1 Pengujian Perangkat Keras (Hardware) Pengujian perangkat keras sangat penting dilakukan karena melalui pengujian ini rangkaian-rangkaian elektronika dapat diuji
BAB 3 PERANCANGAN SISTEM
BAB 3 PERACAGA SISTEM Pada bab ini penulis akan menjelaskan mengenai perencanaan modul pengatur mas pada mobile x-ray berbasis mikrokontroller atmega8535 yang meliputi perencanaan dan pembuatan rangkaian
BAB III RANCANG BANGUN SISTEM KARAKTERISASI LED. Rancangan sistem karakterisasi LED diperlihatkan pada blok diagram Gambar
BAB III RANCANG BANGUN SISTEM KARAKTERISASI LED 3.1. Rancang Bangun Perangkat Keras Rancangan sistem karakterisasi LED diperlihatkan pada blok diagram Gambar 3.1. Sistem ini terdiri dari komputer, antarmuka
III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2012 sampai dengan Januari 2013.
III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2012 sampai dengan Januari 2013. Perancangan alat penelitian dilakukan di Laboratorium Elektronika, Laboratorium
BAB III KONSEP DASAR PERANCANGAN
BAB III KONSEP DASAR PERANCANGAN III. Sensor Sensor adalah suatu piranti yang dapat mendeteksi dan mengubah besaran alam atau besaran fisis seperti kecepatan, percepatan, tekanan, regangan, dan lain-lain
BAB III PERANCANGAN SISTEM
25 BAB III PERANCANGAN SISTEM Sistem monitoring ini terdiri dari perangkat keras (hadware) dan perangkat lunak (software). Perangkat keras terdiri dari bagian blok pengirim (transmitter) dan blok penerima
INSTRUMENTASI INDUSTRI (NEKA421) JOBSHEET 2 (PENGUAT INVERTING)
INSTRUMENTASI INDUSTRI (NEKA421) JOBSHEET 2 (PENGUAT INVERTING) I. TUJUAN Tujuan dari pembuatan modul Penguat Inverting ini adalah: 1. Mahasiswa mengetahui karakteristik rangkaian penguat inverting sebagai
KONSEP DASAR PENGUKRAN. Primary sensing element Variable conversion element Data presentation element
KONSEP DASAR PENGUKRAN Primary sensing element Variable conversion element Data presentation element PRIMARY SENSING ELEMENT Elemen pengindraan Utama adalah Tranduser. Tranduser adalah sebuah alat yang
BAB III PERANCANGAN SISTEM
BAB III PERANCANGAN SISTEM Bab ini akan membahas tentang perancangan sistem deteksi keberhasilan software QuickMark untuk mendeteksi QRCode pada objek yang bergerak di conveyor. Garis besar pengukuran
BAB I TEORI RANGKAIAN LISTRIK DASAR
BAB I TEORI RANGKAIAN LISTRIK DASAR I.1. MUATAN ELEKTRON Suatu materi tersusun dari berbagai jenis molekul. Suatu molekul tersusun dari atom-atom. Atom tersusun dari elektron (bermuatan negatif), proton
BAB III PERANCANGAN. Pada bab ini akan menjelaskan perancangan alat yang akan penulis buat.
BAB III PERANCANGAN Pada bab ini akan menjelaskan perancangan alat yang akan penulis buat. Perancangan tersebut mulai dari: blok diagram sampai dengan perancangan rangkaian elektronik, sebagai penunjang
Gambar 3. 1 Diagram blok system digital
3.1 Introduction Kebanyakan informasi yang ada di dunia nyata adalah besaran analog. Contohnya tegangan, arus listrik, massa, tekanan, suhu, intensitas cahaya dan lain sebagainya. Namun pada era masa kini
BAB 4 HASIL UJI DAN ANALISA
BAB 4 HASIL UJI DAN ANALISA Serangkaian uji dan analisa dilakukan pada alat, setelah semua perangkat keras (hardware) dan program dikerjakan. Pengujian alat dimaksudkan untuk mengetahui apakah alat dapat
Tipe op-amp yang digunakan pada tugas akir ini adalah LT-1227 buatan dari Linear Technology dengan konfigurasi pin-nya sebagai berikut:
BAB III PERANCANGAN Pada bab ini berisi perancangan pedoman praktikum dan perancangan pengujian pedoman praktikum dengan menggunakan current feedback op-amp. 3.. Perancangan pedoman praktikum Pada pelaksanaan
PERCOBAAN 3 RANGKAIAN OP AMP
PERCOBAAN 3 RANGKAIAN OP AMP TUJUAN Mempelajari penggunaan operational amplifier Mempelajari rangkaian rangkaian standar operational amplifier PERSIAPAN Pelajari keseluruhan petunjuk praktikum untuk modul
Gambar 2.20 Rangkaian antarmuka Hall-Effect
D = Konstanta ketebalan Gambar 2.19 Cara kerja Hall-Effect Sensor Gambar 2.20 Rangkaian antarmuka Hall-Effect Dari persamaan terlihat V H berbanding lurus dengan I dan B. Jika I dipertahankan konstan maka
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Mikrokontroller AVR Mikrokontroller adalah suatu alat elektronika digital yang mempunyai masukan serta keluaran serta dapat di read dan write dengan cara khusus. Mikrokontroller
BAB II LANDASAN TEORI. ACS712 dengan menggunakan Arduino Nano serta cara kerjanya.
BAB II LANDASAN TEORI Di bab ini, akan dijelaskan komponen-komponen utama yang digunakan untuk merancang pembuatan suatu prototype kwh meter digital dengan menggunakan sensor ACS712 dengan menggunakan
BAB V PENGUJIAN DAN ANALISIS. dapat berjalan sesuai perancangan pada bab sebelumnya, selanjutnya akan dilakukan
BAB V PENGUJIAN DAN ANALISIS Pada bab ini akan diuraikan tentang proses pengujian sistem yang meliputi pengukuran terhadap parameter-parameter dari setiap komponen per blok maupun secara keseluruhan, dan
JOBSHEET SENSOR SUHU (PTC, NTC, LM35)
JOBSHEET SENSOR SUHU (PTC, NTC, LM35) A. TUJUAN Setelah melakukan praktikum ini, Mahasiswa diharapkan dapat: 1. Mengetahui pengertian rangkaian Sensor Suhu LM 35, PTC dan NTC terhadap besaran fisis. 2.
ANALOG SIGNAL PROCESSING USING OPERASIONAL AMPLIFIERS
ANALOG SIGNAL PROCESSING USING OPERASIONAL AMPLIFIERS (PEMROSESAN SINYAL ANALOG MENGGUNAKAN PENGUAT OPERASIONAL) A. PENDAHULUAN Sinyal keluaran dari sebuah tranduser atau sensor sangat kecil hampir mendekati
SATUAN ACARA PERKULIAHAN UNIVERSITAS GUNADARMA
Mata Kuliah Kode / SKS Program Studi Fakultas : Elektronika Dasar : IT012346 / 3 SKS : Sistem Komputer : Ilmu Komputer & Teknologi Informasi 1 Pengenalan Komponen dan Teori Semikonduktor TIU : - Mahasiswa
BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT
BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT 3.1 Gambaran Umum Pada bab ini akan dibahas mengenai perencanaan perangkat keras elektronik (hardware) dan pembuatan mekanik robot. Sedangkan untuk pembuatan perangkat
BAB III SISTEM PENGUKURAN ARUS & TEGANGAN AC PADA WATTMETER DIGITAL
34 BAB III SISTEM PENGUKURAN ARUS & TEGANGAN AC PADA WATTMETER DIGITAL Pada bab ini akan dijelaskan mengenai rancangan desain dan cara-cara kerja dari perangkat keras atau dalam hal ini adalah wattmeter
BAB III PERANCANGAN ALAT. Gambar 3.1 Diagram Blok Pengukur Kecepatan
BAB III PERANCANGAN ALAT 3.1 PERANCANGAN PERANGKAT KERAS Setelah mempelajari teori yang menunjang dalam pembuatan alat, maka langkah berikutnya adalah membuat suatu rancangan dengan tujuan untuk mempermudah
RANCANG BANGUN SISTEM AKUISISI DATA TEMPERATUR BERBASIS PC DENGAN SENSOR THERMOPILE MODULE (METODE NON-CONTACT)
RANCANG BANGUN SISTEM AKUISISI DATA TEMPERATUR BERBASIS PC DENGAN SENSOR THERMOPILE MODULE (METODE NON-CONTACT) Wildian dan Irza Nelvi Kartika Jurusan Fisika Universitas Andalas [email protected]
PRINSIP KERJA, CARA KERJA DAN PENERAPAN APLIKASI TRANSFORMATOR DIFFERENSIAL TUGAS PENGUKURAN TEKNIK KELOMPOK IV
PRINSIP KERJA, CARA KERJA DAN PENERAPAN APLIKASI TRANSFORMATOR DIFFERENSIAL TUGAS PENGUKURAN TEKNIK KELOMPOK IV 1. Torang Ridho S 0806368906 2. Deni Mulia Noventianus 0906604722 3. Mohammad Adiwirabrata
MODUL PRAKTIKUM PENGUKURAN BESARAN LISTRIK
MODUL PRAKTIKUM PENGUKURAN BESARAN LISTRIK TIM PENYUSUN DIANA RAHMAWATI, S.T., M. T HARYANTO, S.T., M.T KOKO JONI, S.T., M.Eng ACHMAD UBAIDILLAH, S.T., M.T RIZA ALFITA, S.T., MT MIFTACHUL ULUM, S.T., M.T
PENGENALAN OPERATIONAL AMPLIFIER (OP-AMP)
+ PENGENALAN OPERATIONAL AMPLIFIER (OPAMP) Penguat operasional atau Operational Amplifier (OPAMP) yaitu sebuah penguat tegangan DC yang memiliki 2 masukan diferensial. OPAMP pada dasarnya merupakan sebuah
BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI ALAT
BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI ALAT Bab ini akan membahas mengenai perancangan dan realisasi perangkat keras serta perangkat lunak dari setiap modul yang mendukung keseluruhan alat yang dibuat. Gambar
III. METODE PENELITIAN. Penelitian, perancangan, dan pembuatan tugas akhir ini dilakukan di Laboratorium
III. METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian, perancangan, dan pembuatan tugas akhir ini dilakukan di Laboratorium Terpadu Teknik Elektro Universitas Lampung (khususnya Laboratorium
SATUAN ACARA PERKULIAHAN
SATUAN ACARA PERKULIAHAN MATA KULIAH : ELEKTRONIKA DASAR KODE : TSK-210 SKS/SEMESTER : 2/2 Pertemuan Pokok Bahasan & ke TIU 1 Pengenalan Komponen dan Teori Semikonduktor TIU : - Mahasiswa mengenal Jenis-jenis
BAB III PERANCANGAN DAN PENGUKURAN
BAB III PERANCANGAN DAN PENGUKURAN 3.1 Perancangan Sistem Perancangan mixer audio digital terbagi menjadi beberapa bagian yaitu : Perancangan rangkaian timer ( timer circuit ) Perancangan rangkaian low
BAB 2 DASAR PERANCANGAN COUPLER. Gambar 2.1 Skema rangkaian directional coupler S S S S. ij ji
5 BAB 2 DAAR PERANCANGAN COUPLER 2.1 DIRECTIONAL COUPLER Directional coupler memegang peranan penting dalam rangkaian microwave pasif. Divais ini di implementasikan dalam banyak cara untuk mendapatkan
Gambar 1 UVTRON R2868. Gambar 2 Grafik respon UVTRON
Sensor-sensor Keperluan Khusus Sensor-sensor jenis ini adalah merupakan sensor yang digunakan secara spesifik untuk robot-robot dengan tujuan tertentu. Contohnya, sensor api untuk robot yang difungsikan
Sistem Akuisisi Data Suhu Multipoint Dengan Mikrokontroler
Sistem Akuisisi Data Suhu Multipoint Dengan Mikrokontroler Mytha Arena 1, Arif Basuki 2 Dosen Jurusan Teknik Elektro STTNAS Yogyakarta Jln. Babarsari, Depok, Sleman, Yogyakarta 55281. [email protected]
Bab III. Operational Amplifier
Bab III Operational Amplifier 30 3.1. Masalah Interfacing Interfacing sebagai cara untuk menggabungkan antara setiap komponen sensor dengan pengontrol. Dalam diagram blok terlihat hanya berupa garis saja
BAB II PENCUPLIKAN DAN KUANTISASI
BAB II PENCUPLIKAN DAN KUANTISASI Sebagian besar sinyal-sinyal di alam adalah sinyal analog. Untuk memproses sinyal analog dengan sistem digital, perlu dilakukan proses pengubahan sinyal analog menjadi
JOBSHEET 2 PENGUAT INVERTING
JOBSHEET 2 PENGUAT INVERTING A. TUJUAN Tujuan dari pembuatan modul Penguat Inverting ini adalah: 1. Mahasiswa mengetahui karakteristik rangkaian penguat inverting sebagai aplikasi dari rangkaian Op-Amp.
BAB 3 PERANCANGAN SISTEM
BAB 3 PERANCANGAN SISTEM 3.1. Gambaran Umum Sistem Sistem ini terdiri dari 2 bagian besar, yaitu, sistem untuk bagian dari panel surya ke baterai dan sistem untuk bagian dari baterai ke lampu jalan. Blok
JURUSAN TEKNIK MESIN Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya 2010
TUGAS AKHIR PENGGUNAAN STRAIN GAUGE SEBAGAI SENSOR GAYA UNTUK MENINGKATKAN KINERJA SISTEM TRANSMISI CONTINUOUSLY VARIABLE TRANSMISSION ( CVT ) Oleh : HERLAMBANG BAGUS P. NRP 2108 100 506 Dosen Pembimbing
BAB III PERANCANGAN SISTEM
BAB III PERANCANGAN SISTEM Pada bab ini akan dijelaskan perancangan sistem alat pembuat biogas dari eceng gondok. Perancangan terdiri dari perancangan perangkat keras dan perancangan perangkat lunak. 3.1.
TERMINOLOGI PADA SENSOR
TERMINOLOGI PADA SENSOR Tutorial ini merupakan bagian dari Seri Pengukuran Fundamental Instrumen Nasional. Setiap tutorial dalam seri ini, akan mengajarkan anda tentang topik spesifik aplikasi pengukuran
MODUL PRAKTIKUM PENGUKURAN BESARAN LISTRIK
MODUL PRAKTIKUM PENGUKURAN BESARAN LISTRIK Tim penyusun: Diana Rahmawati, S. T., M. T. Haryanto, S. T., M. T. Koko Joni, S. T., M. Eng. Achmad Ubaidillah, S. T., M. T. Riza Alfita, S. T., M. T. Miftachul
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sejarah dan Pengenalan Fenomena termoelektrik pertama kali ditemukan tahun 1821 oleh seorang ilmuwan Jerman, Thomas Johann Seebeck. Ia menghubungkan tembaga dan besi dalam sebuah
TUJUAN Setelah menyelesaikan perkuliahan ini peserta mampu:
TUJUAN Setelah menyelesaikan perkuliahan ini peserta mampu: Menggunakan rumus-rumus dalam rangkaian elektronika untuk menganalisis rangkaian pengkondisi sinyal pasif Menggunakan kaidah, hukum, dan rumus
MODUL PRAKTIKUM PENGUKURAN BESARAN LISTRIK
MODUL PRAKTIKUM PENGUKURAN BESARAN LISTRIK Tim penyusun: Diana Rahmawati, S. T., M. T. Haryanto, S. T., M. T. Koko Joni, S. T., M. Eng. Achmad Ubaidillah, S. T., M. T. Riza Alfita, S. T., M. T. Miftachul
BAB III PERANCANGAN Bahan dan Peralatan
BAB III PERANCANGAN 3.1 Pendahuluan Perancangan merupakan tahapan terpenting dari pelaksanaan penelitian ini. Pada tahap perancangan harus memahami sifat-sifat, karakteristik, spesifikasi dari komponen-komponen
Ultrasonic Level Transmitter Berbasis Mikrokontroler ATmega8
Ultrasonic Level Transmitter Berbasis Mikrokontroler ATmega8 Thiang, Indra Permadi Widjaja, Muliadi Tedjotjahjono Jurusan Teknik Elektro, Universitas Kristen Petra Jalan Siwalankerto 121-131 Surabaya 60236
PERCOBAAN I TRANSDUSER TAHANAN UNTUK APLIKASI POSISI LINIER ATAU ANGULAR
PERON I TRNSDUSER THNN UNTUK PLIKSI POSISI LINIER TU NGULR. TUJUN PERON Setelah melaksanakan praktek, mahasiswa diharapkan dapat : 1. Mengetahui konstruksi dasar tahanan variabel jenis putar dan geser.
BAB 4 PENGUJIAN, DATA DAN ANALISIS
BAB 4 PENGUJIAN, DATA DAN ANALISIS 4.1 Pengujian Turbin Angin Turbin angin yang telah dirancang, dibuat, dan dirakit perlu diuji untuk mengetahui kinerja turbin angin tersebut. Pengujian yang dilakukan
Jl. Tamansari no. 71, Bandung Telp Fax
Perangkat Lunak Sistem Akuisisi Data Menggunakan Delphi 1, Nanda Nagara & 2, Putranto Ilham Yazid 1,2 Pusat Teknologi Nuklir Bahan dan Radiometri, Bandung, Indonesia Jl. Tamansari no. 71, Bandung 40132
BAB III PERANCANGAN ALAT. Sistem pengendali tension wire ini meliputi tiga perancangan yaitu perancangan
31 BAB III PERANCANGAN ALAT Sistem pengendali tension wire ini meliputi tiga perancangan yaitu perancangan mekanik alat, perancanga elektronik dan perancangan perangkat lunak meliputi program yang digunakan,
Gambar Rangkaian seri dengan 2 buah resistor
9.3. angkaian Dasar istrik.3. angkaian Seri Apabila dua buah tahanan kita hubungkan berturut-turut seperti didalam Gambar.3, maka rangkaian ini disebut rangkaian deret / seri. Gambar.3. angkaian seri dengan
III. METODE PENELITIAN
33 III. METODE PENELITIAN Metode penelitian adalah suatu cara yang digunakan dalam penelitian, sehingga pelaksanaan dan hasil penelitian bisa untuk dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Penelitian ini menggunakan
BAB III. Tahap penelitian yang dilakukan terdiri dari beberapa bagian, yaitu : Mulai. Perancangan Sensor. Pengujian Kesetabilan Laser
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3. 1. Tahapan Penelitian Tahap penelitian yang dilakukan terdiri dari beberapa bagian, yaitu : Mulai Perancangan Sensor Pengujian Kesetabilan Laser Pengujian variasi diameter
Elektronika Lanjut. Pengkondisian Sinyal. Elektronika Lanjut Missa Lamsani Hal 1
Pengkondisian Sinyal Missa Lamsani Hal 1 Instrumen Pengkondisi Sinyal Pengkondisian sinyal merupakan suatu konversi sinyal menjadi bentuk yang lebih sesuai yang merupakan antarmuka dengan elemen-elemen
INSTRUMENTASI INDUSTRI (NEKA421)
INSTRUMENTASI INDUSTRI (NEKA421) JOBSHEET 13 (ADC 2 Bit) I. TUJUAN 1. Mahasiswa dapat mengetahui prinsip kerja dan karakteristik rangkaian ADC 2 Bit. 2. Mahasiswa dapat merancang rangkaian ADC 2 Bit dengan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu Dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di Lab. Mekanika Struktur Jurusan Teknik Mesin Universitas Lampung untuk mensimulasikan kemampuan tangki toroidal penampang
Control II ( ADC DAC)
Modul 3 Control II ( ADC DAC) KHAMDIMUBAROK MUBAROK, M.ENG TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA Parameter dan variabel pada operasi manufaktur 1 Suatu variabel/parameter kontinyu adalah suatu penunjukan
