Keywords: gold mining, field reclamation, ground cover

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Keywords: gold mining, field reclamation, ground cover"

Transkripsi

1 ANALISIS VEGETASI TUMBUHAN BAWAH PADA AREAL LAHAN BEKAS TAMBANG EMAS RAKYAT (Vegetation Analysis of Ground Cover on Field Area of ex Civillian Gold Mining in Kecamatan Naga Juang Kabupaten Mandailing Natal) Jeskiel Sipayung 1, Delvian 2 dan Kansih Sri Hartini 2 1 Mahasiswa Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Jl. Tridharma Ujung No.1 Kampus USU Medan (Penulis Korespondensi, [email protected]) 2 Staf Pengajar Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara The activity of mining has negative effects to the soil both physical, chemical, and biological. In Physically the structure of the soil, its texture, and porosity will be broken. Mine waste (Tailing) will influence in plant growth because the tailing contained mercury (Hg), lack of micro and macro nutrition and lack of organic substances. Reclamation activities are needed. As a starting point on reclamation, it is a need to be known what locally ground cover which can live in a mining field will be recommended to be planted. This research purposing on knowing what the type of ground cover vegetation which exist on field area of ex civillian gold mining in Kecamatan Naga Juang Kabupaten Mandailing Natal, knowing soil chemical condition for parameter ph, organic-c, available-p, KTK, choose cover vegetation potential for reclamation actifity. Vegetation data collection done in 20 m x 20 m plot purposively arranged, then the K (density), KR (relative density), F (frequency), FR (relative frequency), and INP (important value index) will be analyzed. Result of the research showing that there are 23 type of ground cover vegetation; Paspalum conjugatum, Micania micrantha, Acmella uliginosa, Paspalum comemersorili, Ageratum conyzoides, Crassocephalum crepidioides, Bidens sp, Sida rhombifolia, Solanum torvumn, Ipomea hederaceae, Diplazium esculentum, Calopogonium mucunoides, Borreria sp, Centrosema pubescens, Andropagu aciculatus, Borreria laevis, Amaranthus sp, Cucumis sp, Colocasia esculenta, Chrysopogon sp, Physalis anguleta, Urena lobata, Polygala paniculata. Condition for parameter ph: somewhat acid, organic-c: low, available-p: moderate, KTK: moderate. From those 23 type, there are 5 ground cover potential as pioneer plant based on the highest INP; Paspalum conjugatum (INP: 73,108), Micania micrantha (INP: 36,757), Acmella uliginosa (INP: 10, 968), Paspalum comemersorili (INP: 10,067), Ageratum conyzoides (INP: 9,016). Keywords: gold mining, field reclamation, ground cover PENDAHULUAN Kegiatan penambangan emas berdampak negatif terhadap tanah dan tumbuhan. Secara fisik, tanah akan rusak struktur, tekstur, porositas dan kerapatannya, buruknya sistem tata air (water infiltration and percolation) dan aerasi (peredaran udara) secara biologi, akan buruknya kehidupan mikroba tanah yang potensial akibat ketiadaan serasah (Delvian, 2004). Limbah tambang (tailing) yang dibuang dipermukaan tanah akan berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman karena tailing memiliki sifat porositas yang tinggi sehingga kapasitas untuk memegang air (holding capacity) rendah, struktur tidak stabil, sangat miskin bahan organik, miskinnya unsur hara mikro dan makro bahkan, tidak adanya aktivitas mikroba sama sekali (Purwantari, 2007) ditambah limbah tambang tersebut mengandung Merkuri (Siregar, 2013). Merkuri (Hg) merupakan logam berat yang beracun bagi tanaman. Dengan keadaan tanah dan limbah dari pertambangan tersebut, tumbuhan akan sulit untuk dapat bertahan hidup. Sebagai awal dari kegiatan reklamasi lahan perlu diketahui jenis tumbuhan bawah lokal yang dapat hidup di daerah di daerah pertambangan emas, yang nantinya akan direkomendasikan menjadi tumbuhan pionir pada saat melakukan reklamasi lahan. Tujuan penelitian ini adalah, Mengidentifikasi jenis-jenis vegetasi tumbuhan bawah yang hidup pada areal lahan bekas tambang emas rakyat. Mengetahui kondisi kimia tanah untuk parameter ph, C-organik, P-tersedia, KTK, pada areal lahan bekas tambang emas

2 rakyat. Memilih tumbuhan bawah lokal potensial untuk kegiatan reklamasi lahan. METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni sampai Juli Pengambilan sampel tanah dan data tumbuhan bawah dilakukan di lahan bekas tambang emas rakyat, Mandailing Natal, Sumatera Utara. Analisis data dilakukan di Laboratorium Ekologi Hutan Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara. Analisis tanah dilakukan di Laboratorium Tanah oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Utara (BPTP-Sumut). Prosedur Penelitian 1.Pembuatan Petak Pembuatan Petak contoh dilakukan dengan menggunakan tali rafia berbentuk persegi dengan ukuran 20 x 20 m. Sebanyak 8 (delapan) petak contoh yang ditempatkan secara purposive (mewakili) di daerah bekas penambangan atau tailing dari tambang emas rakyat. 2. Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data tumbuhan bawah dan data sifat kimia tanah. Pada data tumbuhan bawah parameter yang diamati adalah jenis atau spesies tumbuhan bawah dan jumlahnya di dalam masing-masing petak ( 20 x 20 m). Metode menghitung jumlah spesies dalam petak ini disebut metode count atau list count quadrat (Suin, 2002). Untuk kimia tanah, pengambilan data dilakukan dengan analisis laboratorium melalui pengambilan contoh tanah. Pengambilan sampel atau contoh tanah dilakukan di 8 petak contoh yang telah tentukan, dimana setiap petak contohnya akan di ambil sampel tanah secara diagonal, dari 6 titik didalam petak pada kedalaman 0-20 cm. Berat tanah yang diambil sekitar 500 g /titik. Sifat kimia tanah yang dianalisis adalah ph tanah, C-organik, KTK dan P tersedia tanah. 3. Analisis Data Data tumbuhan bawah yang telah didapat kemudian dianalisis, dengan analisis kuantitatif dan analisis deskriptif kualitatif. Parameter yang digunakan dalam analis kuantitatif adalah. a.kerapatan (K) = jumlah individu suatu jenis luas petak contoh K suatu jenis Kerapatan relatif= x 100% K totsl seluruh jenis jumlah petak ditemukan suatu jenis b.frekuensi (F)= jumlah seluruh petak frekuensi suatu jenis Frekuensi relatif= x 100 % frekuensi seluruh jenis c. Indeks nilai penting Indeks nilai penting = KR (%) + FR (%) Setelah didapat data jenis-jenis tumbuhan bawah yang hidup daerah bekas tambang. Jenis-jenis tersebut dianalisis secara deskriptif kualitatif yakni dengan mendeskripsikan ciri morfologi dari spesies tumbuhan bawah yang hidup di kawasan penambangan serta diuraikan taksonominya berdasarkan kunci determinasi dan klasifikasi dengan menggunakan buku Flora (Steenis, 2005). Metode Pengenalan Jenis Pengenalan jenis dilakukan saat menganalisis tumbuhan bawah pada petak pengamatan di lapangan. Tumbuhan bawah yang sudah diketahui jenisnya langsung dicatat dan dihitung jumlahnya. Tumbuhan bawah yang belum diketahui jenisnya, diberi tanda berupa simbol huruf dengan menggunakan kertas label pada daun tanaman lalu didokumentasikan. Foto hasil dokumentasi nantinya akan menjadi bahan untuk identifikasi pengenalan jenis tumbuhan HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian Kecamatan Naga Juang merupakan salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara. Kecamatan tersebut dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1.Lokasi penelitian Kec Naga Juang Kabupaten Mandailing Natal (Pemkab Madina, 2001)

3 Lokasi penambangan emas rakyat berada di Bukit Sihayo, pada Desa Humbang di dalam Kecamatan Naga Juang. Tanah di Bukit ini mengandung mineral emas yang tinggi. Bukit Sihayo dulunya adalah hutan, yang kemudian dibuka oleh masyarakat pendatang untuk diusahakan dan ditanami tanaman perkebunan, karet dan kakao. Kemudian diketahui bahwa tanah pada bukit tersebut mengandung emas dari pihak PT. Sorikmasmining yang melakukan aktivitas pra penambangan di bukit tersebut seperti, inventarisasi kandungan emas, mengebor tanah sebagai penanda dan sebagai titik lokasi dimana terdapat kandungan emas. Pengetahuan adanya kandungan emas pada bukit Sihayo menarik masyarakat untuk melakukan penambangan, karena didorong oleh keadaan ekonomi masyarakat di sekitar desa tersebut yang rendah.aktivitas penambangan masyarakat di Bukit Sihayo berlangsung pertama kali pada tahun Pada tahun 2013 berhenti kemudian pada tahun 2015 dibuka kembali secara berlahan. Jadi dapat dikatakan tambang tersebut sudah ditinggalkan selama 2 tahun lalu mulai dibuka lagi oleh masyarakat. Luas areal bekas tambang diperkirakan 7 Ha (Pengamatan) dengan kemiringan bervariasi dari sedang hingga curam. Aktivitas penambangan di bukit tersebut dilakukan masyarakat dengan cara menggali tanah membentuk lubang atau sumur, di dalam lubang tersebut masyarakat memperoleh batuan yang mengandung emas. Batuan yang mengandung emas kemudian dipisahkan dari batuan yang tidak mengandung emas. Batuan yang mengandung emas tersebut kemudian dibawa ke kaki bukit dengan menggunakan karung. Batuan yang tidak mengandung emas tetap ditinggalkan di bukit pada lokasi penambangan. Bila diamati, aktivitas penambangan yang dilakukan berakibat negatif terhadap vegetasi, sifat fisik, biologi, dan sifat kimia tanah pada lahan tersebut. Hilangnya vegetasi berakibat hilangnya sumber bahan organik bagi tanah (Delvian, 2004). Pada sifat fisik tanah, tanah menjadi semakin padat dan bercampur bebatuan. Akibatnya air sulit meresap kedalam tanah dan run off (aliran air permukaan) meningkat. Tercampurnya tanah dengan batu juga dapat mengurangi liat / misel pada tanah sehingga berakibat terhadap perubahan sifat kimia tanah. 2. Data Jenis, Habitus dan Famili Tumbuhan Bawah Dari penelitian analisis vegetasi yang sudah dilakukan, diperoleh jumlah jenis, habitus dan famili tumbuhan bawah pada areal bekas tambang emas rakyat di Kecamatan Naga Juang. Data tersebut dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Data jenis, habitus, dan famili tumbuhan bawah No Nama Jenis Habitus Famili 1 Paspalum conjugatum Rumput Gramineae 2 Micania micrantha Herba (menjalar) Asteraceae 3 Acmella uliginosa Herba Asteraceae 4 Paspalum commersorili Rumput Gramineae 5 Ageratum conyzoides Herba Asteraceae 6 Crassocephalum crepidioides Herba Asteraceae 7 Bidens sp Herba Asteraceae 8 Sida rhombifolia Perdu Malvaceae 9 Solanum torvumn Perdu Solanaceae 10 Ipomea hederacea Herba (menjalar) Convolvulaceae 11 Diplazium esculentum Paku-pakuan Athyriaceae 12 Calopogonium mucunoides Herba (menjalar) Fabaceae 13 Borreria sp Herba Rubiaceae 14 Centrosema pubescens Herba (menjalar) Fabaceae 15 Adropagu aciculatus Rumput Poaceae 16 Borreria laevis Herba Rubiaceae 17 Amaranthus sp Herba Amarantaceae 18 Cucumis sp Herba (menjalar) Cucurbitaceae 19 Colocasia esculenta Herba Araceae 20 Chrysopogon sp Rumput Poaceae 21 Physalis anguleta Herba Polygalaceae 22 Urena lobata Perdu Malvaceae 23 Polygala paniculata Herba Polygalaceae 2.a. Deskripsi jenis Deskripsi masing-masing jenis vegetasi tumbuhan bawah yang ditemukan dapat dilihat pada penjelasan berikut Paspalum conjugatum Gambar 2. Paspalum conjugatum Paspalum conjugatum ialah tumbuhan bawah yang memiliki tinggi cm, batang padat, agak pipih, berwarna hijau bercorak ungu dan berbukubuku. Setiap buku dapat tumbuh akar dan batang baru. Helai daun berbentuk pita, ujungnya lanset dan di sepanjang tepi dan permukaannya berbulu halus. Bunga berbentuk tandan yang terletak berhadapan satu dengan yang lain. 2. Micania micrantha Gambar 3. Micania micrantha

4 Micania micrantha merupakan tumbuhan menjalar berwarna hijau muda, bercabang dan ditumbuhi rambut-rambut halus. Panjangnya dapat mencapai 3-6 m. Batang beruas-ruas, di setiap ruasnya terdapat daun sepasang yang berhadapan. Daun menyerupai hati dengan panjang 4-13 cm, lebar 2-9 cm. Permukaan daun licin, tepi bergerigi. Bunga berwarna putih kecil, dengan panjang 4,5-6 mm yang tumbuh di ketiak daun atau pada ujung tunas. 3. Acmella uliginosa Gambar 4. Acmella uliginosa Acmella uliginosa merupakan tumbuhan bawah yang memiliki tinggi cm, batang bulat berwarna ungu tua. Daun berbentuk bundar telur hingga membentuk segitiga, ujung runcing dan tepi bergerigi dengan warna ungu. Bunga berwarna kuning, berbentuk tabung, padat berjejal-jejal. 4. Paspalum commersorili Gambar 5. Paspalum commersorili Tumbuhan ini memiliki tinggi cm, batang tegak, berumpun, tidak menjalar, berbentuk bulat agak pipih. Daun memiliki panjang 5-10 cm, berbentuk pita yang semakin ke ujung semakin meruncing. Bunga terdiri dari 2 tandan yang tumbuh miring ke samping. 5. Ageratum conyzoides daun berbentuk bundar telur terbalik, panjang 8-20 cm, lebar 3-6 cm, ujung daun runcing, bertepi rata atau belekuk dan bergerigi. Bunga majemuk berbongkol-bongkol yang tersusun dalam malai rata terminal. 7. Bidens sp Gambar 8. Bidens sp Bidens sp merupakan tumbuhan bawah yang miliki tinggi cm, berbatang tegak berbentuk segi empat, tidak berumpun, sedikit berambut dan tidak menjalar. Daun bertiga-tiga berbentuk oval sedang dengan pinggir bergerigi. Bunga berwarna kuning, berbentuk bongkol-bongkol yang berkumpul terminal. 8. Sida rhombifolia Gambar 9. Sida rhombifolia Sida rhombifolia merupakan tumbuhan bawah yang memiliki tinggi cm, tegak berkayu, berbentuk bulat, arah tumbuh condong ke atas. Daun tunggal dengan susunan berhadapan berseling, ujung daun runcing, tepi bergerigi, petulangan menyirip dengan panjang daun 1,5-4 cm, lebar 1-1,5 cm. bunga tunggal berbentuk corong berwarna kuning cerah yang keluar dari ketiak daun. 9. Solanum torvumn Gambar 6. Ageratum conyzoides Tumbuhan ini memiliki tinggi cm, batang tegak, tidak berumpun, tidak menjalar dan berwarna hijau. Daun tunggal berbentuk bulat telur, ujung runcing dengan panjang 3-4 cm, lebar 1-2 cm, tepi bergerigi dan berwarna hijau. Bunga berbentuk lonceng berwarna putih atau ungu. 6. Crassocephalum crepidioides Gambar 10. Solanum torvumn Solanum torvumn adalah tumbuhan bawah berhabitus perdu rendah, tinggi mencapai 1,5 m. Batang bulat, bercabang, berduri kecil dan berwarna abu-abu. Daun berbentuk bulat telur, tunggal, letaknya selang seling berwarna hijau, panjang 7-20 cm, lebar 4-18 cm. Bunga majemuk sempurna, berbentuk bintang dan berwarna putih. Buah dapat dijadikan sayur untuk dimakan. 10. Ipomea hederaceae Gambar 7. Crassocephalum crepidioides Tumbuhan ini memiliki tinggi cm, batang tegak, permukaannya beralur, memiliki banyak percabangan, lunak dan berair. Helaian Gambar 11. Ipomea hederaceae Tumbuhan ini merupakan tumbuhan bawah

5 yang menjalar, hidup berkelompok. Batang bulat berbentuk tabung, panjang batang 1-2 m, batang berbuku-buku berwarna ungu kehijau-hijauan, setiap buku terdapat daun. Daun menjari berwarna hijau dengan tulang daun berwarna ungu. 11. Diplazium esculentum berbentuk telur, ujung tajam, berambut, panjang 5-12 cm ; lebar 3-10 cm. Bunga berbentuk tandan terletak pada ketiak daun. Tiap tandan terdiri dari 3-5 bunga. Daun kelopak bunga berbentuk lonceng. 15. Andropagu aciculatus Gambar 12. Diplazium esculentum Tumbuhan ini merupakan tumbuhan pakupakuan, tinggi cm, tangkai berwarna hijau dan agak halus yang panjang tangkainya cm. Daun majemuk, menyirip, lanset, tepinya bergerigi dan ujungnya runcing. Panjang daun 5-6 cm dengan lebar 1-2 cm. Berkembang biak dengan spora. 12. Calopogonium mucunoides Gambar 16. Andropagu aciculatus Tumbuhan ini berperawakan rumput. Batang tegak lurus dengan diameter 1-2 mm, panjang cm, berwarna hijau. Daun berbentuk pita bergaris, pangkal daun meruncing, panjang 2-20 cm; lebar 4-9 mm, berwarna hijau. Bunga berbentuk jarum, majemuk, berukuran 5-12 cm. 16. Borreria laevis Gambar 13. Calopogonium mucunoides Merupakan tanaman herba/terna yang tumbuh cepat, menjalar di permukaan tanah, membelit dengan panjang 2-4 m. Daun majemuk beranak 3, panjang 1,5-9,5 cm ; lebar 1-7 cm; tangkai 4-10 cm, berbentuk menjorong, membundar telur dengan ujung meruncing. Bunga kupu-kupu berwarna ungu kebiru-biruan di ketiak daun. 13. Borreria sp Gambar 17. Borreria laevis Tumbuhan ini memiliki batang tegak, bulat, berwarna ungu, lembek, tinggi cm. Daun berbangun, bulat panjang lanset, ujungnya runcing, berwarna hijau keungu-unguan dengan ukuran panjang 2,5-5,5 cm; lebar 0,75-2 cm. Bunga tidak memiliki kelopak, berwarna putih yang terdapat di ketiak daun dan di ujung batang dengan ukuran >12 mm. 17. Amaranthus sp Gambar 14. Borreria sp Borreria sp merupakan tumbuhan bawah yang memiliki tinggi cm, tumbuh tegak, tidak berkelompok. Daun tunggal, berbentuk serrate, terletak berhadapan pada batang dan melingkar pada ujung batang, panjang 3-8 cm; lebar 2-5 cm. Bunga sempurna, berwarna ungu, yang terletak pada ujung batang. 14. Centrosema pubescens Gambar 18. Amaranthus sp Amaranthus sp merupakan tumbuhan bawah yang tumbuh tegak, tinggi cm, batang berwarna hijau kemerahan. Daun tunggal, letak berselang berbentuk bundar telur memanjang dengan panjang 1,5-6 cm dan lebar 1-3 cm berwarna hijau. Bunga berbentuk bulir untuk jantan berbentuk bulat untuk betina yang terletak di ketiak batang. 18. Cucumis sp Gambar 15. Centrosema pubescens Centrosema pubescens merupakan tumbuhan bawah dengan pembelit dan menjalar, batang panjang 2-4 m, berbulu dan berbuku-buku. Daun Gambar 19. Cucumis sp Tumbuhan ini merupakan tumbuhan merambat / menjalar, lemah merata di permukaan tanah. Batang pipih dengan panjang 0,5-2,5 m. Daun tunggal berbentuk bulat, pertulangan menjari,

6 ujung daun meruncing, tepi bergerigi, permukaan daun halus, dengan panjang daun 7-18 cm ; lebar 7-15 cm, warna hijau tua yang terletak berselang seling. 19. Coloasia esculenta lengkap dengan ukuran 1,7 mm. 23. Polygala paniculata Gambar 20. Coloasia esculenta Merupakan tanaman umbi-umbian berhabitus herba. Batang tumbuh dengan tegak dengan tinggi 60 cm. Daun termasuk daun lengkap, tunggal, berwarna hijau dengan panjang 6-60 cm; lebar 7-53 cm, berbentuk bulat oval lonjong, ujung daun runcing dan bawahnya berlilin, pertulangan menjari. 20. Chrysopogon sp Gambar 21. Chrysopogon sp Chrysopogon sp merupakan tumbuhan bawah berperawakan rumput. Batang tegak dengan tinggi 4-16 cm. daun berbentuk pita bergaris, bagian ujung daun meruncing, panjang 2-20 cm; lebr 4-9 mm. Bunga majemuk seperti bunga padi-padian yang tersusun dalam tandan atau malai yang cabangnya banyak. 21. Physalis anguleta Gambar 22. Physalis anguleta Tumbuhan ini memiliki tinggi antara 0,1-1 m, batang tegak bercabang, berwarna hijau. Daun tunggal bertangkai, berbentuk bulat telur/bulat memanjang, ujung runcing, di bagian bawah daun terletak tersebar, di bagian atas daun berpasangan. Bunga bertipe bunga tunggal, terletak di ketiak daun, ukuranya sekitar 3 cm. 22. Urena lobata Gambar 24. Polygala paniculata Polygala paniculata ialah tumbuhan bawah yang memiliki tinggi 60 cm, berbentuk semak. Daun merupakan daun tunggal yang terletak tersebar di batang, ujung daun runcing, tepi rata, panjang 1-8 cm; lebar 3 mm. bunga berwarna putih dengan ukuran 3 mm. Berdasarkan Tabel 1 jumlah jenis tumbuhan bawah yang berhasil diperoleh sebanyak 23 jenis tumbuhan, yang berasal dari empat habitus dan tiga belas famili. Empat habitus yang ditemukan adalah habitus rumput, herba, paku-pakuan dan perdu. Tiga belas famili yang ditemukan adalah famili Gramineae, Asteraceae, Rubiaceae, Convolvulaceae, Malvaceae, Solanaceae, Athyriaceae, Fabaceae, Poaceae, Amaranthaceae, Cucurbitaceae, Araceae, Polygalaceae. Habitus yang terbanyak adalah habitus herba, berjumlah 15 jenis tumbuhan bawah, Mendominasinya tumbuhan bawah yang berhabitus herba pada lahan bekas pertambangan emas rakyat di Kecamatan Naga Juang diduga karena, lahan bekas pertambangan emas tersebut sedang dalam proses suksesi di tahap awal. Pada umumnya proses perubahan tutupan lahan dari yang tidak ada vegetasi menjadi ada vegetasi pada tahap awalnya diawali dengan tumbuhnya jenisjenis tumbuhan kecil sebagai pionir yang berhabitus herba kemudian berkembang. Perkembangan yang terjadi akan mengubah suatu habitat hingga tumbuhan dari habitus lain dapat hidup. Sesuai dengan pernyataan Groninger dkk (2007) Suksesi dari lahan gundul menuju hutan dimulai dari tanaman pionir, mencakup herba dan rumput dominasi dari tipe komunitas ini akan berlanjut untuk beberapa tahun kedepan. Gambar 23. Urena lobata Merupakan tanaman berkayu, perdu rendah, batang tegak berwarna kemerahan, dengan tinggi 0,6-2,5 m. daun berbentuk ovate, di bagian bawah daun berbentuk hati, tepi bergerigi. Bunga berwarna merah muda, termasuk bunga

7 3. Analisis Data Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, di lahan bekas tambang emas rakyat, diperoleh nilai K (kerapatan), KR (kerapatan relatif), F (frekuensi), FR (frekuensi relatif), dan INP (indeks nilai penting). Nilai tersebut dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Nilai kerapatan relatif (KR), frekuensi relatif (FR) dan indeks nilai penting (INP) No Nama Jenis Jumlah K KR F FR INP Individu 1 Paspalum conjugatum , ,249 0,875 9,859 73,108 2 Micania micrantha , , ,268 36,757 3 Acmella uliginosa 632 0,1975 1,109 0,875 9,859 10,968 4 Paspalum comemersorili 921 0,2878 1,616 0,75 8,451 10,067 5 Ageratum conyzoides 322 0,1006 0,565 0,75 8,451 9,016 6 Crassocephalum crepidioides 93 0,0291 0,163 0,75 8,451 8,614 7 Bidens sp 37 0,0116 0,065 0,5 5,634 5,699 8 Sida rhombifolia 29 0,0091 0,051 0,5 5,634 5,685 9 Solanum torvumn 10 0,0031 0,018 0,5 5,634 5, Ipomea hederacea ,75 4,212 0,125 1,408 5,62 11 Diplazium esculentum 165 0,0516 0,29 0,375 4,225 4, Calopogonium mucunoides 827 0,2584 1,451 0,25 2,817 4, Borreria sp 112 0,035 0,197 0,25 2,817 3, Centrosema pubescens 28 0,0088 0,049 0,25 2,817 2, Adropagu aciculatus 294 0,0922 0,518 0,125 1,408 1, Borreria laevis 246 0,0769 0,432 0,125 1,408 1,84 17 Amaranthus sp 185 0,0578 0,325 0,125 1,408 1, Cucumis sp 38 0,0119 0,067 0,125 1,408 1, Colocasia escutenta 33 0,0103 0,058 0,125 1,408 1, Chrysopogon sp 32 0,01 0,056 0,125 1,408 1, Physalis anguleta 8 0,0025 0,014 0,125 1,408 1, Urena lobata 3 0,0009 0,005 0,125 1,408 1, Polygala paniculata 1 0,0003 0,002 0,125 1,408 1,41 Total , , Pada Tabel 2 ada dua jenis tumbuhan bawah yang memiliki INP yang tinggi dari 21 tumbuhan bawah lainnya yang ditemukan di areal bekas tambang. yakni Paspalum conjugatum dan Micania micrantha. Tingginya INP (indeks nilai penting) suatu individu menunjukkan bahwa individu tersebut tersebar secara merata di daerah bekas tambang emas rakyat, dan tumbuhan tersebut memiliki daya toleransi atau hidup yang tinggi serta lingkungan yang mendukung pertumbuhan dari tumbuhan tersebut. Seperti cahaya, ketinggian tempat, suhu dan kelembaban (Sofyan, 1991 dalam Hutasuhut, 2011). Pada petak pengambilan data tumbuhan bawah, didapati tutupan atau naungan hanya ada pada petak ke-2 dari ke-8 petak yang diteliti. Hal ini menunjukkan dari segi persaingan faktor lingkungan seperti cahaya tumbuhan bawah di areal tersebut tidak mengalami gangguan dan persaingan yang tinggi. Karena pada umumnya tumbuhan membutuhkan cahaya untuk proses hidup. Cahaya yang diterima akan berpengaruh terhadap cepat atau lambatnya pertumbuhan tanaman, karena cahaya merupakan unsur yang dibutuhkan tanaman dalam proses fotosintesis. Hal ini sependapat dengan Barus (2003) dalam Faisal (2011) yang mengatakan semakin tingginya intensitas cahaya mencapai tumbuhan dimana daun-daunya akan menjadi jenuh oleh cahaya maka laju fotosintesis menjadi maksimum dan pertumbuhan akan meningkat. Gambar 25. Kondisi kanopi pada petak 2 Faktor lain yang menyebabkan Paspalum congjugatum dan Micania micrantha memiliki nilai INP tinggi, ialah faktor biologi. Biologi Paspalum congjugatum dan Micania micrantha dalam hal perkembangbiakannya secara generatif. Paspalum congjugatum berkembang secara generatif dengan menggunakan biji. Satu individu Paspalum congjugatum dapat menghasilkan 1500 biji yang mudah menyebar baik dengan udara, hewan pada bulu-bulunya, maupun melalui air pada saat hujan, sehingga peluang untuk tumbuh dan berkembang biak Paspalum congjugatum semakin besar (Holm, 1977 dalam Adriadi, 2012). Banyaknya biji ini juga memungkinkan pelipatgandaan dari Paspalum congjugatum semakin cepat ditambah sifat

8 dari biji Paspalum congjugatum yang ringan, dan mudah melekat pada apa saja yang melewatinya (Nasution,1986). Dengan sifat dan karakteristik dari biji Paspalum congjugatum tersebut maka penyebaran Paspalum congjugatum hampir ditemukan pada seluruh petak pengamatan. Tidak jauh berbeda dengan Paspalum congjugatum, Micania micrantha juga berkembang biak secara generatif dengan menggunakan biji. Tetapi tidak hanya berkembang biak secara generatif Micania micrantha dapat juga berkembang biak secara vegetatif dengan menggunakan batang, namun penyebaran secara vegetatif dengan batang tidak sebanyak dengan menggunakan biji (Tjitrosoedjo dkk, 1983). Tumbuhan ini merupakan tumbuhan yang mudah menyebar dan berkembang biak dengan cepat, dalam sehari dapat tumbuh sebanyak 9 cm dan dapat tumbuh di lingkungan apa saja seperti lingkungan lembab dan lingkungan kering (Adriadi, 2012). Menurut Nasution (1986) Penyebaran Micania micrantha yang mudah dan cepat dikarenakan biji Micania micrantha memiliki kemampuan bekecambah yang baik yakni lebih dari 60 persen dan kemampuan tumbuh potongan batangnya sebagai stek (budregeneration ability) melebihi 95 persen. Selain Paspalum congjugatum dan Micania micrantha. Ada 21 individu tumbuhan bawah yang memiliki INP yang rendah. INP terendah adalah Polygala paniculata dengan nilai INP 1,41. Rendahnya INP dari suatu individu menunjukkan bahwa individu tersebut tidak tersebar merata didaerah bekas tambang dan jumlah individunya sedikit disetiap petak pengamatan. Walaupun individu Ipomea hederacea (Tabel 2) memiliki jumlah 2400 individu yang merupakan jumlah terbanyak ke- 3 setelah Paspalum congjugatum dan Micania micrantha, Ipomea hederacea dari segi frekuensi (F) hanya bernilai 0,125 yang artinya individu tersebut hanya ditemukan pada satu petak pengamatan saja. Bila dibandingkan dengan hasil penelitian tumbuhan bawah pada areal bekas tambang yang lain, terdapat persamaan dan perbedaan tumbuhan bawah yang ditemukan dari segi jumlah tumbuhan bawah dan jenis tumbuhan bawah yang ditemukan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Kintom (2013) di Kecamatan Sumalata Kabupaten Gorontalo Utara, diperoleh 12 jenis tumbuhan bawah yang mampu tumbuh pada areal tambang yakni, Cyperus kyllinga, Fimbrystilis miliace, Paspalum conjugatum, Davallia denticulata, Nephrolepis exaltata, Melatomata malabatricum, Hyptis capitata, Cassia tora, Ageratum conyzoides, Ludwigia octovalvis, Solanum torvum, Amaranthus spinosus. Dari hasil penelitian tersebut terdapat empat jenis tumbuhan bawah yang sama yang ditemukan, yakni Paspalum conjugatum, Ageratum conyzoides, Solanum torvum dan Amaranthus spinosus. Sedangkan berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Binibis (2013) dari 14 jenis tumbuhan bawah yang ditemukan, terdapat juga empat spesies tumbuhan sama yang ditemukan yakni Paspalum conjugatum, Acmella uliginosa, Sida rhombifolia, Solanum torvum. Berdasarkan tiga lokasi tambang emas yang berbeda diperoleh satu spesies tumbuhan bawah yang sama yang dapat hidup di daerah penambangan emas, yakni Paspalum conjugatum. Berdasarkan hasil penelitian ketiga lokasi ini terbukti bahwa tumbuhan bawah Paspalum conjugatum mampu hidup di daerah yang miskin hara dan lingkungan yang rusak. Pernyataan ini sesuai dengan yang dikemukakan Juhaeti dkk (2009) dalam Binibis (2013) bahwa Paspalum conjugatum merupakan jenis rumput yang mampu hidup dengan baik di tempat yang miskin unsur hara bahkan di tempat yang banyak mengandung merkuri dan mampu mengakumulasikan logam merkuri dalam jumlah yang cukup tinggi yaitu mencapai 47 mg Hg/kg bobot kering. 4. Hasil Analisis Tanah Setelah sampel tanah yang berasal dari 8 petak pengamatan diambil dan kemudian dianalisis oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Utara (BPTP-Sumut), diperoleh nilai dari ph (H2O), C- Organik (Walkley&Black), P-Tersedia (Bray.I) dan KTK (Perkolasi NH4OAC 1NpH7) tanah. Nilai dari analisis ke empat sifat kimia tanah tersebut dapat dilihat pada Tabel 3.

9 Tabel 3. Hasil analisis tanah tambang emas rakyat di Kecamatan Naga Juang No Parameter Petak 1,2,3 1 ph 4.49 (Sangat masam) 2 C-Organik 1.01 (%) (Rendah) 3 P-Tersedia (ppm) 3.80 (Sangat rendah) 4 KTK (me / 100gr) 40.9 (Sangat tinggi) Petak (Netral) 1.34 (Rendah) (Tinggi) (Rendah) Petak 5,6, (Agak masam) 2.70 (Sedang) (Sangat tinggi) (Sedang) Petak (Masam) 2.06 (Sedang) 6.51 (Rendah) (Sedang) Kriteria hasil analisis tanah berdasarkan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat tanah bekas penambangan emas rakyat di Desa Humbang secara umum merupakan tanah yang agak masam dengan tingkat C-organik yang rendah dan P-tersedia, KTK tanah sedang. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Juhaiti (2005) yang mengatakan bahwa tanah tailing merupakan tanah yang miskin akan hara. Juga sesuai dengan hasil analisis tanah pada lahan pasca tambang batubara di Kalimantan Timur oleh Hilwan (2013) yang memaparkan data bahwa ph tanah pada bekas penambangan batubara merupakan tanah yang masam. Bila dilihat pada Tabel 2 ada 1 jenis tumbuhan bawah yang memiliki frekuensi 1 yakni Micania micrantha dan ada 2 jenis tumbuhan bawah yang frekuensi 0,875 yakni Paspalum conjugatum dan Acmella uliginosa. Frekuensi merupakan hasil pembagian dari jumlah petak ditemukannya suatu jenis dibagi dengan jumlah seluruh petak pengamatan. Frekuensi 1 menunjukkan bahwa tumbuhan bawah Micania micrantha dari segi kehadirannya dapat ditemukan di semua petak pengamatan di areal lahan bekas tambang. Frekuensi 0,875 pada tumbuhan bawah Paspalum conjugatum dan Acmella uliginosa berarti tumbuhan bawah tersebut dapat ditemukan pada 7 petak pengamatan dan frekuensi 0,75 pada jenis Paspalum comemersorili dan Ageratum conyzoides berarti jenis tumbuhan bawah ini dapat ditemukan pada 6 petak pengamatan di lahan bekas tambang emas rakyat di Desa Humbang Kecamatan Naga Juang. Dari penjelasan di atas dapat diketahui dari segi analisis tanah kelima tumbuhan bawah yaitu Paspalum conjugatum, Micania micrantha, Acmella uliginosa, Paspalum comemersorili, Ageratum conyzoides memiliki toleransi hidup yang tinggi terhadap perubahan kondisi tanah pada lahan bekas tambang emas terkhusus untuk parameter yang diamati seperti ph, C-organik, P- tersedia dan KTK tanah. Hal ini dibuktikan dengan kehadiran tumbuhan bawah tersebut pada setiap petak pengamatan yang cukup tinggi. Bila dibandingkan dengan hasil analisis tanah pada tambang emas rakyat di pasir keusik, sukabumi, tanah bekas tambang emas rakyat di Desa Naga Juang ini masih tergolong baik. Hasil analisis tanah dari emas rakyat di Pasir Keusik, Sukabumi, dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Perbandingan hasil analisis tanah tambang emas rakyat di Pasir Keusik, Sukabumi dengan tanah bekas tambang emas rakyat Naga Juang No Parameter Tambang emas rakyat di Pasir Keusik, Sukabumi 1 ph 4,65 (Masam) 2 C- Organik (%) 1, 54 (Rendah) 3 P-tersedia 0, 27 (Sangat Rendah) 4 KTK (me/100 gr) 13, 87 (Rendah) Sumber : Widodo dkk tahun Pada Tabel 4 perbedaan nilai analisis tanah tambang emas rakyat di Pasir Keusik, Sukabumi dengan tambang emas masyarakat di Naga Juang sangat berbeda, dilihat dari tiga paremeter kimia tanah. Bila dibandingkan dengan data ini maka kondisi tanah pada tambang emas rakyat di Naga Juang masih tergolong baik, sehingga sangat memungkinkan tumbuhan untuk dapat hidup. Ini menjawab permasalahan atas banyaknya jumlah jenis dan jumlah individu yang di temukan di lahan bekas penambangan emas di Kecamatan Naga Juang, yang seharusnya jumlah dan jenis tanaman yang hidup adalah sedikit. 5.Rekomendasi Jenis Tumbuhan Bawah Potensial Tumbuhan yang memiliki INP tertinggi dari suatu kegiatan analisis vegetasi menunjukkan jenis tumbuhan tersebut Rata-rata hasil analisis tanah di Tambang emas rakyat Naga Juang 5,9 (Agak Asam) 1,91 (Rendah) 10,94 (Sedang) 21,09 (Sedang)

10 merupakan spesies yang dominan (yang berkuasa) dalam suatu komunitas tumbuhan (Indriyanto, 2006). Berdasarkan nilai INP (indeks nilai penting) yang tertinggi dan hasil analisis kimia tanah pada lahan bekas tambang emas rakyat, akan dipilih sebanyak 5 tumbuhan bawah yang berpotensi dijadikan bahan rekomendasi reklamasi lahan. Lima jenis tumbuhan bawah tersebut dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Jenis tumbuhan bawah potensial Kelima jenis tumbuhan bawah tersebut berhabitus herba (Micania micrantha, Acmella uliginosa dan Ageratum conyzoides) dan rumput (Paspalum conjugatum dan Paspalum comemersorili). Berfamili Gramine (Paspalum conjugatum dan Paspalum comemersorili) dan Asteraceae (Micania micrantha, Acmella uliginosa dan Ageratum conyzoides). No Nama Jenis Jumlah Individu K KR F FR INP 1 Paspalum conjugatum , ,249 0,875 9,859 73,108 2 Micania micrantha , , ,268 36,757 3 Acmella uliginosa 632 0,1975 1,109 0,875 9,859 10,968 4 Paspalum comemersorili 921 0,2878 1,616 0,75 8,451 10,067 5 Ageratum conyzoides 322 0,1006 0,565 0,75 8,451 9,016 Pemilihan kelima jenis tumbuhan bawah juga mempertimbangkan kemampuan tumbuhan tersebut untuk dapat hidup di lahan bekas penambangan. Kemampuan tumbuhan tersebut dilihat dari frekuensi dan jumlah individu, kemudian dibandingkan dengan kondisi perubahan sifat kimia pada tanah lahan bekas tambang. DAFTAR PUSTAKA KESIMPULAN 1. Diperoleh sebanyak 23 jenis vegetasi tumbuhan bawah yang hidup pada areal lahan bekas tambang emas rakyat. 2. Kondisi kimia tanah pada areal lahan bekas tambang emas rakyat untuk parameter ph : agak masam, C-organik : rendah, P-tersedia : sedang, KTK : sedang. 3.Lima jenis tumbuhan bawah yang potensial yang dipilh untuk kegiatan reklamasi lahan yakni, Paspalum conjugatum, Micania micrantha, Acmella uliginosa, Paspalum comemersorili dan Ageratum conyzoides. Adriadi, A Analisis Vegetasi Gulma pada Perkebunan Kelapa Sawit (Elais quineensis Jacq) di Kilangan, Muaro Bulian, Batang Hari. Jurnal Biologi Universitas Andalas. 1(2): Binibis, L Inventarisasi Tumbuhan Bawah di Kawasan Penambangan Emas Desa Juria Kecamatan bilato Kabupaten Gorontalo. [skripsi]. Fakultas MIPA. Universitas Negeri Gorontalo. Gorontalo. Delvian Aplikasi Cendawan Mikoriza Arbuskula Dalam Reklamasi Lahan Kritis Pasca tambang. e-usu Repository. Medan Faisal, R Inventarisasi Gulma pada Tegakan Tanaman Muda Eukalyptus spp. [Skripsi]. Prodi Kehutanan, Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara. Medan. Groninger,J.,J.Skousen.,P.angel.,C.Barton.,J.Burg er.,c.zipper Mine Reclamation Practices to Enhance Forest Development Through Natural Succession. Forest reclamation advisory no.5. USA. Hilwan,I.,D.Mulyana.,W,G. Pananjung Keanekaragaman Jenis Tumbuhan Bawah pada Tegakan Sengon Buto (Enterolobium cyclocarpum Griseb.) dan Trembesi (sammanea saman Merr.) di Lahan Pasca Tambang Batubara PT Kitadin, Embalut, Kutai kartanagara, Kalimantan Timur. Jurnal Silvikultur Tropika Vol. 04 Hal Hutasuhut, M.A Studi Tumbuhan Herba di Hutan Sibayak I. [Tesis]. Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Sumatera Utara. Medan. Indriyanto Ekologi Hutan. Bumi aksara. Jakarta. Juhaeti, T., F. Syarif & N. Hidayati Inventarisasi Tumbuhan Potensial untuk Fitoremediasi Lahan dan Air Terdegradasi Penambangan Emas. Biodiversitas Vol. 6 No. 1. pp:

11 Kinton, N Inventarisasi Tumbuhan Bawah di Kawasan Penambangan Emas Desa Hulawa Kecamatan Sumalata Kabupaten Gorontalo Utara [skripsi]. Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan IPA.Universitas Negeri Gorontalo. Gorontalo. Nasution, U Gulma dan Pengendaliannya di Perkebunan Karet Sumatera Utara dan Aceh. Pusat penelitian dan Pengembangan perkebunan Tanjung Morawa (P4TM). Medan. Purwantari, N.D Reklamasi Area Tailing di Pertambangan Dengan Tanaman Pakan Ternak; Mungkinkah?.Wartazoa Vol. 17 No. 3. Siregar, N.R Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kadar Merkuri (Hg) pada Air Sumur Penduduk di Desa Tamiang Kecamatan Kotanopan Kabupaten Mandailng Natal [Tesis]. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Sumatera Utara. Medan. Steenis, V Flora. PT Pradnya Paramita: Jakarta. Suin, M.N Metoda Ekologi. Universitas Andalas. Padang Tjitrosoedirdjo, S., I.H. Utomo., J. Witroatmodjo Pengelolaan Gulma di Perkebunan. Gramedia. Jakarta. Widodo., A. Subardja., M. U. A. Gani., N. Hidayati., T. Jehaeti., F. Syarif Pemulihan Lahan Bekas Tambang Rakyat (Studi Kasus Daereah Pasir Keusik, Kertajaya, Pelabuhan Ratu, Sukabumi). Buletin geologi tata lingkungan Vol.11 No 4, Maret 2000:

12

ANALISIS VEGETASI TUMBUHAN BAWAH PADA AREAL LAHAN BEKAS TAMBANG EMAS RAKYAT DI KECAMATAN NAGA JUANG KABUPATEN MANDAILING NATAL

ANALISIS VEGETASI TUMBUHAN BAWAH PADA AREAL LAHAN BEKAS TAMBANG EMAS RAKYAT DI KECAMATAN NAGA JUANG KABUPATEN MANDAILING NATAL ANALISIS VEGETASI TUMBUHAN BAWAH PADA AREAL LAHAN BEKAS TAMBANG EMAS RAKYAT DI KECAMATAN NAGA JUANG KABUPATEN MANDAILING NATAL SKRIPSI Oleh : Jeskiel Sipayung 111201150 Budidaya Hutan PROGRAM STUDI KEHUTANAN

Lebih terperinci

INVENTARISASI TUMBUHAN BAWAH DI KAWASAN PENAMBANGAN EMAS DESA JURIA KECAMATAN BILATO KABUPATEN GORONTALO

INVENTARISASI TUMBUHAN BAWAH DI KAWASAN PENAMBANGAN EMAS DESA JURIA KECAMATAN BILATO KABUPATEN GORONTALO INVENTARISASI TUMBUHAN BAWAH DI KAWASAN PENAMBANGAN EMAS DESA JURIA KECAMATAN BILATO KABUPATEN GORONTALO Lindawati Binibis 1, Novri Y. Kandowangko 2, Marini S. Hamidun 3 1) Mahasiswa Jurusan Biologi, 2)

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Desa Juria merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Bilato

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Desa Juria merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Bilato BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian Desa Juria merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Bilato Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo yang terletak dipesisir

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. daun-daun kecil. Kacang tanah kaya dengan lemak, protein, zat besi, vitamin E

II. TINJAUAN PUSTAKA. daun-daun kecil. Kacang tanah kaya dengan lemak, protein, zat besi, vitamin E 7 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanaman Kacang Tanah Kacang tanah tumbuh secara perdu setinggi 30 hingga 50 cm dan mengeluarkan daun-daun kecil. Kacang tanah kaya dengan lemak, protein, zat besi, vitamin E

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. menjadi tegas, kering, berwarna terang segar bertepung. Lembab-berdaging jenis

TINJAUAN PUSTAKA. menjadi tegas, kering, berwarna terang segar bertepung. Lembab-berdaging jenis 16 TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Ada 2 tipe akar ubi jalar yaitu akar penyerap hara di dalam tanah dan akar lumbung atau umbi. Menurut Sonhaji (2007) akar penyerap hara berfungsi untuk menyerap unsur-unsur

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. pada area bekas tambang batu bara Kecamatan Lahei Barat Barito Utara. tempat pengambilan sampel penelitian.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. pada area bekas tambang batu bara Kecamatan Lahei Barat Barito Utara. tempat pengambilan sampel penelitian. 45 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi lokasi penelitian Deskripsi masing-masing jenis tumbuhan paku yang ditemukan pada area bekas tambang batu bara Kecamatan Lahei Barat Barito Utara. Penelitian

Lebih terperinci

BAB IV METODOLOGI 4.1 Waktu dan Tempat Penelitian 4.2 Bahan dan Alat 4.3 Metode Pengambilan Data Analisis Vegetasi

BAB IV METODOLOGI 4.1 Waktu dan Tempat Penelitian 4.2 Bahan dan Alat 4.3 Metode Pengambilan Data Analisis Vegetasi BAB IV METODOLOGI 4.1 Waktu dan Tempat Penelitian Kegiatan penelitian ini dilaksanakan mulai bulan April sampai bulan Juni tahun 2009, pada areal hutan produksi perusahaan pemegang Izin Usaha Pemanfaatan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Jagung (Zea mays.l) keluarga rumput-rumputan dengan spesies Zea mays L.

II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Jagung (Zea mays.l) keluarga rumput-rumputan dengan spesies Zea mays L. 6 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Jagung (Zea mays.l) Tanaman jagung merupakan tanaman asli benua Amerika yang termasuk dalam keluarga rumput-rumputan dengan spesies Zea mays

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit

TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit Setyamidjaja (2006) menjelasakan taksonomi tanaman kelapa sawit (palm oil) sebagai berikut. Divisi : Spermatophyta Kelas : Angiospermae Ordo : Monocotyledonae Famili

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Pemadatan Tanah

TINJAUAN PUSTAKA. Pemadatan Tanah 3 TINJAUAN PUSTAKA Pemadatan Tanah Hillel (1998) menyatakan bahwa tanah yang padat memiliki ruang pori yang rendah sehingga menghambat aerasi, penetrasi akar, dan drainase. Menurut Maryamah (2010) pemadatan

Lebih terperinci

Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia, April 2010, hlm ISSN

Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia, April 2010, hlm ISSN Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia, April 2010, hlm. 14-19 ISSN 0853 4217 Vol. 15 No.1 PENGARUH PEMBERIAN PUPUK NPK DAN KOMPOS TERHADAP PERTUMBUHAN SEMAI JABON (Anthocephalus cadamba Roxb Miq) PADA MEDIA

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN A.

BAB I. PENDAHULUAN A. BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) merupakan salah satu primadona tanaman perkebunan yang memiliki prospek pengembangan cukup cerah, Indonesia memiliki luas areal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hutan Sekipan merupakan hutan pinus yang memiliki ciri tertentu yang membedakannya dengan hutan yang lainnya.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hutan Sekipan merupakan hutan pinus yang memiliki ciri tertentu yang membedakannya dengan hutan yang lainnya. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hutan Sekipan merupakan hutan pinus yang memiliki ciri tertentu yang membedakannya dengan hutan yang lainnya. Adapun yang membedakannya dengan hutan yang lainnya yaitu

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Tanah Gambut. memungkinkan terjadinya proses pelapukan bahan organik secara sempurna

TINJAUAN PUSTAKA. Tanah Gambut. memungkinkan terjadinya proses pelapukan bahan organik secara sempurna TINJAUAN PUSTAKA Tanah Gambut Tanah gambut terbentuk dari bahan organik sisa tanaman yang mati diatasnya, dan karena keadaan lingkungan yang selalu jenuh air atau rawa, tidak memungkinkan terjadinya proses

Lebih terperinci

Iwan Hilwan 1, Dadan Mulyana 1, dan Weda Gelar Pananjung 1

Iwan Hilwan 1, Dadan Mulyana 1, dan Weda Gelar Pananjung 1 JURNAL 6 Iwan Hilwan SILVIKULTUR et al. TROPIKA J. Silvikultur Tropika Vol. 04 No. 01 April 2013, Hal. 6 10 ISSN: 2086-8227 Keanekaraaman Jenis Tumbuhan Bawah pada Tegakan Sengon Buto (Enterolobium cyclocarpum

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman. diikuti oleh akar-akar samping. Pada saat tanaman berumur antara 6 sampai

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman. diikuti oleh akar-akar samping. Pada saat tanaman berumur antara 6 sampai TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Pada saat jagung berkecambah, akar tumbuh dari calon akar yang berada dekat ujung biji yang menempel pada janggel, kemudian memanjang dengan diikuti oleh akar-akar samping.

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantiatif. Penelitian deskriptif merupakan penelitian

Lebih terperinci

Lili paris ( Chlorophytum comosum Landep (Barleria prionitis L.) Soka(

Lili paris ( Chlorophytum comosum Landep (Barleria prionitis L.) Soka( Lili paris (Chlorophytum comosum) Kingdom : plantae divisi : magnoliophyta kelas : liliopsida ordo :liliaceae family : anthericaceae genus :chlorophytum spesies : chlorophytum comusum var. vittatum Batang

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan waktu Penelitian lapangan dilaksanakan di areal IUPHHK PT. Sari Bumi Kusuma Propinsi Kalimantan Tengah. Areal penelitian merupakan areal hutan yang dikelola dengan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini dilaksanakan di Cagar Alam tangale yang terdapat di

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini dilaksanakan di Cagar Alam tangale yang terdapat di BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Cagar Alam tangale yang terdapat di Kabupaten Gorontalo. Cagar Alam ini terbagi menjadi dua kawasan yaitu

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. dalam buku Steenis (2003), taksonomi dari tanaman tebu adalah Kingdom :

TINJAUAN PUSTAKA. dalam buku Steenis (2003), taksonomi dari tanaman tebu adalah Kingdom : TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Berdasarkan klasifikasi taksonomi dan morfologi Linneus yang terdapat dalam buku Steenis (2003), taksonomi dari tanaman tebu adalah Kingdom : Plantae, Divisio : Spermatophyta,

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN III. METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di hutan hujan tropika yang berlokasi di areal IUPHHK PT. Suka Jaya Makmur, Kalimantan Barat. Penelitian dilaksanakan

Lebih terperinci

HASIL. Gambar 1 Permukaan atas daun nilam Aceh. Gambar 2 Permukaan atas daun nilam Jawa.

HASIL. Gambar 1 Permukaan atas daun nilam Aceh. Gambar 2 Permukaan atas daun nilam Jawa. 6 3 lintas, ada tiga hal yang harus diperhatikan yaitu: 1. Apabila koefisien korelasi antara peubah hampir sama dengan koefisien lintas (nilai pengaruh langsung) maka korelasi tersebut menjelaskan hubungan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Revegetasi di Lahan Bekas Tambang Setiadi (2006) menyatakan bahwa model revegetasi dalam rehabilitasi lahan yang terdegradasi terdiri dari beberapa model antara lain restorasi

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Wilayah Kecamatan Sumalata didominasi oleh perbukitan dan pegunungan,

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Wilayah Kecamatan Sumalata didominasi oleh perbukitan dan pegunungan, BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Lokasi Penelitian Wilayah Kecamatan Sumalata didominasi oleh perbukitan dan pegunungan, walaupun tidak terdapat gunung berapi, ketinggian tempat Kecamatan ini bervariasi

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman. Tanaman kedelai (Glycine max L. Merrill) memiliki sistem perakaran yang

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman. Tanaman kedelai (Glycine max L. Merrill) memiliki sistem perakaran yang 17 TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Tanaman kedelai (Glycine max L. Merrill) memiliki sistem perakaran yang terdiri dari akar tunggang, akar sekunder yang tumbuh dari akar tunggang, serta akar cabang yang

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Ordo : Liliales ; Famili : Liliaceae ; Genus : Allium dan Spesies : Allium

TINJAUAN PUSTAKA. Ordo : Liliales ; Famili : Liliaceae ; Genus : Allium dan Spesies : Allium 14 TINJAUAN PUSTAKA Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Dalam dunia tumbuhan, tanaman bawang merah diklasifikasikan dalam Divisi : Spermatophyta ; Sub Divisi : Angiospermae ; Class : Monocotylodenae ;

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kelestarian fungsi danau. Mengingat ekosistem danau memiliki multi fungsi dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kelestarian fungsi danau. Mengingat ekosistem danau memiliki multi fungsi dan 6 2.1 Kawasan Timur Danau Limboto BAB II TINJAUAN PUSTAKA Kawasan danau mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi danau. Mengingat ekosistem danau memiliki multi fungsi dan manfaat,

Lebih terperinci

LAMPIRAN. 1. Deskripsi jenis Anggrek yang ditemukan di Hutan Pendidikan USU

LAMPIRAN. 1. Deskripsi jenis Anggrek yang ditemukan di Hutan Pendidikan USU LAMPIRAN 1. Deskripsi jenis Anggrek yang ditemukan di Hutan Pendidikan USU 1. Agrostophyllum longifolium Habitat : herba, panjang keseluruhan ± 60 cm, pola pertumbuhan monopdodial Batang : bentuk pipih,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kawasan secara umum merupakan permukaan tanah atau air yang sederhana

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kawasan secara umum merupakan permukaan tanah atau air yang sederhana 6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kawasan Utara Danau Limboto Kawasan secara umum merupakan permukaan tanah atau air yang sederhana luasnya tetapi lebih besar dari situs. Kawasan adalah istilah yang digunakan

Lebih terperinci

LAMPIRAN 1 : PETA LOKASI PENELITIAN

LAMPIRAN 1 : PETA LOKASI PENELITIAN 36 LAMPIRAN 1 : PETA LOKASI PENELITIAN Keterangan: Lokasi I ketinggian : 1000 mdpl Lokasi II ketinggian : 1100 mdpl Lokasi III ketinggian : 1200 mdpl 37 LAMPIRAN 2 : PLOT PENELITIAN Lokasi 1 (1000 mdpl)

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 11 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 2 lokasi penelitian yang digunakan yaitu Harapan dan Inalahi yang terbagi menjadi 4 plot pengamatan terdapat 4 jenis tanaman

Lebih terperinci

6. Panjang helaian daun. Daun diukur mulai dari pangkal hingga ujung daun. Notasi : 3. Pendek 5.Sedang 7. Panjang 7. Bentuk daun

6. Panjang helaian daun. Daun diukur mulai dari pangkal hingga ujung daun. Notasi : 3. Pendek 5.Sedang 7. Panjang 7. Bentuk daun LAMPIRAN Lampiran 1. Skoring sifat dan karakter tanaman cabai 1. Tinggi tanaman : Tinggi tanaman diukur mulai dari atas permukaan tanah hingga ujung tanaman yang paling tinggi dan dinyatakan dengan cm.

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Kacang Panjang (Vigna sinensis L.)

TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Kacang Panjang (Vigna sinensis L.) II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Kacang Panjang (Vigna sinensis L.) Menurut Fachruddin (2000) tanaman kacang panjang termasuk famili leguminoceae. Klasifikasi tanaman kacang panjang

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Semangka merupakan tanaman semusim yang termasuk ke dalam famili

II. TINJAUAN PUSTAKA. Semangka merupakan tanaman semusim yang termasuk ke dalam famili II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Botani Tanaman Semangka Semangka merupakan tanaman semusim yang termasuk ke dalam famili Cucurbitaceae sehingga masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan melon (Cucumis melo

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) banyak ditanam di daerah beriklim panas

II. TINJAUAN PUSTAKA. Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) banyak ditanam di daerah beriklim panas II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Morfologi Tanaman Sorgum Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) banyak ditanam di daerah beriklim panas dan daerah beriklim sedang. Sorgum dibudidayakan pada ketinggian 0-700 m di

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Van Steenis (2005), bengkuang (Pachyrhizus erosus (L.))

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Van Steenis (2005), bengkuang (Pachyrhizus erosus (L.)) TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Menurut Van Steenis (2005), bengkuang (Pachyrhizus erosus (L.)) termasuk ke dalam Kelas : Magnoliopsida, Ordo : Fabales, Famili : Fabaceae, Genus : Pachyrhizus, Spesies

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Tanaman Penutup Tanah

TINJAUAN PUSTAKA Tanaman Penutup Tanah TINJAUAN PUSTAKA Tanaman Penutup Tanah Tanaman penutup tanah adalah tanaman yang khusus ditanam untuk melindungi tanah dari ancaman kerusakan oleh erosi. Selain itu, tanaman penutup tanah juga digunakan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi tanaman kacang hijau menurut Hartono dan Purwono (2005)

II. TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi tanaman kacang hijau menurut Hartono dan Purwono (2005) 6 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi Kacang Hijau Klasifikasi tanaman kacang hijau menurut Hartono dan Purwono (2005) adalah sebagai berikut Kingdom Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Plantae :

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Bawang Merah

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Bawang Merah II. TINJAUAN PUSTAKA A. Bawang Merah Menurut Rahayu dan Berlian (1999) tanaman bawang merah dapat di klasifikasikan sebagai berikut: Kingdom Divisio : Plantae : Spermatophyta Subdivisio : Angiospermae

Lebih terperinci

BAB III METODE DAN PROSEDUR PENELITIAN. yang dilaksanakan adalah penelitian deskriptif eksploratif yaitu suatu

BAB III METODE DAN PROSEDUR PENELITIAN. yang dilaksanakan adalah penelitian deskriptif eksploratif yaitu suatu 44 BAB III METODE DAN PROSEDUR PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian yang dilaksanakan adalah penelitian deskriptif eksploratif

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Kondisi Umum Saat Ini Faktor Fisik Lingkungan Tanah, Air, dan Vegetasi di Kabupaten Kutai Kartanegara Kondisi umum saat ini pada kawasan pasca tambang batubara adalah terjadi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Saninten (Castanopsis argentea Blume A.DC) Sifat Botani Pohon saninten memiliki tinggi hingga 35 40 m, kulit batang pohon berwarna hitam, kasar dan pecah-pecah dengan permukaan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Genus Hevea terdiri dari berbagai spesies, yang keseluruhannya berasal dari lembah

II. TINJAUAN PUSTAKA. Genus Hevea terdiri dari berbagai spesies, yang keseluruhannya berasal dari lembah II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Botani Tanaman Karet Genus Hevea terdiri dari berbagai spesies, yang keseluruhannya berasal dari lembah sungai Amazon. Beberapa diantara spesies tersebut mempunyai morfologi yang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi tanaman mentimun ( Cucumis sativus L.) (Cahyono, 2006) dalam tata nama tumbuhan, diklasifikasikan kedalam :

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi tanaman mentimun ( Cucumis sativus L.) (Cahyono, 2006) dalam tata nama tumbuhan, diklasifikasikan kedalam : 1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Mentimun Klasifikasi tanaman mentimun ( Cucumis sativus L.) (Cahyono, 2006) dalam tata nama tumbuhan, diklasifikasikan kedalam : Divisi :

Lebih terperinci

Cynodon dactylon (L.) Pers.

Cynodon dactylon (L.) Pers. Cynodon dactylon (L.) Pers. Kingdom : Plantae Divisi : Magnoliophyta Kelas : Liliopsida Ordo : Cyperales Famili : Poaceae Genus : Cynodon Rich. Spesies : Cynodon dactylon (L.) Pers. Nama Ilmiah : Cynodon

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Penelitian Parameter pertumbuhan yang diamati pada penelitian ini adalah diameter batang setinggi dada ( DBH), tinggi total, tinggi bebas cabang (TBC), dan diameter tajuk.

Lebih terperinci

Keanekaragaman Jenis dan Pola Distribusi Nepenthes spp di Gunung Semahung Kecamatan Sengah Temila Kabupaten Landak

Keanekaragaman Jenis dan Pola Distribusi Nepenthes spp di Gunung Semahung Kecamatan Sengah Temila Kabupaten Landak Vol. 2 (1): 1 6 Keanekaragaman Jenis dan Pola Distribusi Nepenthes spp di Gunung Semahung Kecamatan Sengah Temila Kabupaten Landak Gustap Baloari 1, Riza Linda 1, Mukarlina 1 1 Program Studi Biologi, Fakultas

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 21 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Karbon Biomassa Atas Permukaan Karbon di atas permukaan tanah, meliputi biomassa pohon, biomassa tumbuhan bawah (semak belukar berdiameter < 5 cm, tumbuhan menjalar dan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 14 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kondisi Awal Lahan Bekas Tambang Lahan bekas tambang pasir besi berada di sepanjang pantai selatan desa Ketawangrejo, Kabupaten Purworejo. Timbunan-timbunan pasir yang

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Sejarah Tanaman Cabai Botani Tanaman Cabai

TINJAUAN PUSTAKA Sejarah Tanaman Cabai Botani Tanaman Cabai 3 TINJAUAN PUSTAKA Sejarah Tanaman Cabai Cabai ditemukan pertama kali oleh Columbus pada saat menjelajahi Dunia Baru. Tanaman cabai hidup pada daerah tropis dan wilayah yang bersuhu hangat. Selang beberapa

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kedudukan tanaman gladiol dalam taksonomi tumbuhan sebagai berikut :

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kedudukan tanaman gladiol dalam taksonomi tumbuhan sebagai berikut : II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Taksonomi dan Morfologi Tanaman Gladiol 2.1.1 Taksonomi Tanaman Gladiol Kedudukan tanaman gladiol dalam taksonomi tumbuhan sebagai berikut : Divisi : Tracheophyta Subdivisi : Pteropsida

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Tomat

TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Tomat 3 TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Tomat Tomat (Lycopersicum esculantum MILL.) berasal dari daerah tropis Meksiko hingga Peru. Semua varietas tomat di Eropa dan Asia pertama kali berasal dari Amerika Latin

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Morfologi Bawang Merah ( Allium ascalonicum L.)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Morfologi Bawang Merah ( Allium ascalonicum L.) 6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Morfologi Bawang Merah ( Allium ascalonicum L.) Menurut Rahayu dan Berlian ( 2003 ) tanaman bawang merah dapat diklasifikasikan sebagai berikut: Tabel 1. Botani Bawang Merah

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Botani dan Ekologi Tanaman Jagung (Zea mays L.)

TINJAUAN PUSTAKA. Botani dan Ekologi Tanaman Jagung (Zea mays L.) TINJAUAN PUSTAKA Botani dan Ekologi Tanaman Jagung (Zea mays L.) Tanaman jagung merupakan tanaman asli benua Amerika yang termasuk dalam keluarga rumput-rumputan dengan spesies Zea mays L. Taksonomi tanaman

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Gladiol berasal dari bahasa latin Gladius yang berarti pedang kecil, menunjukkan

TINJAUAN PUSTAKA. Gladiol berasal dari bahasa latin Gladius yang berarti pedang kecil, menunjukkan 14 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gladiol Gladiol berasal dari bahasa latin Gladius yang berarti pedang kecil, menunjukkan pada bentuk daunnya yang sempit dan panjang seperti pedang. Genus gladiolus terdiri

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman bawang merah berakar serabut dengan sistem perakaran dangkal

TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman bawang merah berakar serabut dengan sistem perakaran dangkal TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Bawang Merah Tanaman bawang merah berakar serabut dengan sistem perakaran dangkal dan bercabang terpencar, pada kedalaman antara 15-20 cm di dalam tanah. Jumlah perakaran

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian tentang karakteristik habitat Macaca nigra dilakukan di CA Tangkoko yang terletak di Kecamatan Bitung Utara, Kotamadya Bitung, Sulawesi

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman mentimun papasan (Coccinia gandis) merupakan salah satu angggota

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman mentimun papasan (Coccinia gandis) merupakan salah satu angggota 6 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Mentimun Papasan Tanaman mentimun papasan (Coccinia gandis) merupakan salah satu angggota Cucurbitaceae yang diduga berasal dari Asia dan Afrika. Tanaman mentimun papasan memiliki

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Botani dan Syarat Tumbuh Tanaman

TINJAUAN PUSTAKA Botani dan Syarat Tumbuh Tanaman TINJAUAN PUSTAKA Botani dan Syarat Tumbuh Tanaman Cabai (Capsicum sp.) berasal dari Amerika dan menyebar di berbagai negara di dunia. Cabai termasuk ke dalam famili terong-terongan (Solanaceae). Menurut

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian Penanaman rumput B. humidicola dilakukan di lahan pasca tambang semen milik PT. Indocement Tunggal Prakasa, Citeurep, Bogor. Luas petak yang digunakan untuk

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Kondisi tanah di Indonesia yang merupakan negara tropis basah. tahunnya diperlukan penambahan unsur hara yaitu untuk lahan kering sekitar

PENDAHULUAN. Kondisi tanah di Indonesia yang merupakan negara tropis basah. tahunnya diperlukan penambahan unsur hara yaitu untuk lahan kering sekitar PENDAHULUAN Latar Belakang Kondisi tanah di Indonesia yang merupakan negara tropis basah menyebabkan terjadinya pengikisan unsur hara yang berada pada lapisan top soil. Setiap tahunnya terjadi pengikisan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. vegetasinya termasuk rumput-rumputan, berakar serabut, batang monokotil, daun

II. TINJAUAN PUSTAKA. vegetasinya termasuk rumput-rumputan, berakar serabut, batang monokotil, daun II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanaman Padi Tanaman padi merupakan tanaman tropis, secara morfologi bentuk vegetasinya termasuk rumput-rumputan, berakar serabut, batang monokotil, daun berbentuk pita dan berbunga

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman. Sistem perakaran tanaman bawang merah adalah akar serabut dengan

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman. Sistem perakaran tanaman bawang merah adalah akar serabut dengan TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Menurut Rukmana (2005), klasifikasi tanaman bawang merah adalah sebagai berikut: Divisio Subdivisio Kelas Ordo Famili Genus : Spermatophyta : Angiospermae : Monocotyledonae

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Echinochloa crus-galli (L.) P. Beauv. Morfologi Echinochloa crus-galli

TINJAUAN PUSTAKA Echinochloa crus-galli (L.) P. Beauv. Morfologi Echinochloa crus-galli TINJAUAN PUSTAKA Echinochloa crus-galli (L.) P. Beauv. E. crus-galli merupakan suatu jenis rumput liar yang termasuk gulma tahunan. E. crus-galli termasuk dalam kelas Poales, famili Poaceae (Galinato et

Lebih terperinci

PENGENALAN VARIETAS LADA, PALA, dan CENGKEH. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat November 2015

PENGENALAN VARIETAS LADA, PALA, dan CENGKEH. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat November 2015 PENGENALAN VARIETAS LADA, PALA, dan CENGKEH Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat November 2015 DESKRIPSI VARIETAS LADA LADA VAR. NATAR 1 SK Menteri Pertanian nomor : 274/Kpts/KB.230/4/1988 Bentuk Tangkai

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Bawang Merah. yang merupakan kumpulan dari pelepah yang satu dengan yang lain. Bawang

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Bawang Merah. yang merupakan kumpulan dari pelepah yang satu dengan yang lain. Bawang II. TINJAUAN PUSTAKA A. Bawang Merah Bawang merah termasuk dalam faimili Liliaceae yang termasuk tanaman herba, tanaman semusim yang tidak berbatang, hanya mempunyai batang semu yang merupakan kumpulan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pada tahun 1924 kawasan hutan Way Kambas ditetapkan sebagai daerah hutan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pada tahun 1924 kawasan hutan Way Kambas ditetapkan sebagai daerah hutan II. TINJAUAN PUSTAKA A. Taman Nasional Way Kambas Pada tahun 1924 kawasan hutan Way Kambas ditetapkan sebagai daerah hutan lindung. Pendirian kawasan pelestarian alam Way Kambas dimulai sejak tahun 1936

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Botani Tanaman Bayam Bayam (Amaranthus sp.) merupakan tanaman semusim dan tergolong sebagai tumbuhan C4 yang mampu mengikat gas CO 2 secara efisien sehingga memiliki daya adaptasi

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Mucuna Bracteata DC.

TINJAUAN PUSTAKA Mucuna Bracteata DC. 3 TINJAUAN PUSTAKA Mucuna Bracteata DC. Tanaman M. bracteata merupakan salah satu tanaman kacang-kacangan yang pertama kali ditemukan di areal hutan Negara bagian Tripura, India Utara, dan telah ditanam

Lebih terperinci

Ketersediaan pakan khususnya pakan hijauan masih merupakan kendala. yang dihadapi oleh para peternak khususnya pada musim kemarau.

Ketersediaan pakan khususnya pakan hijauan masih merupakan kendala. yang dihadapi oleh para peternak khususnya pada musim kemarau. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ketersediaan pakan khususnya pakan hijauan masih merupakan kendala yang dihadapi oleh para peternak khususnya pada musim kemarau. Pemanfaatan lahan-lahan yang kurang

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman gladiol termasuk ke dalam famili Iridaceae dan memiliki daun yang

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman gladiol termasuk ke dalam famili Iridaceae dan memiliki daun yang 10 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Botani dan Morfologi Tanaman Gladiol Bunga gladiol yang berasal dari daratan Afrika Selatan ini memang sangat indah. Bunga ini simbol kekuatan, kejujuran, kedermawanan, ketulusan

Lebih terperinci

KOMPOSISI TEGAKAN SEBELUM DAN SESUDAH PEMANENAN KAYU DI HUTAN ALAM

KOMPOSISI TEGAKAN SEBELUM DAN SESUDAH PEMANENAN KAYU DI HUTAN ALAM KOMPOSISI TEGAKAN SEBELUM DAN SESUDAH PEMANENAN KAYU DI HUTAN ALAM Muhdi Staf Pengajar Program Studi Teknologi Hasil Hutan Departemen Kehutanan USU Medan Abstract A research was done at natural tropical

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tanaman gelagah (Phragmites karka) merupakan tanaman yang dapat tumbuh di berbagai lingkungan baik di daaerah tropis maupun non tropis. Gelagah dapat berkembang

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Pengumpulan data dilakukan pada bulan Januari hingga Februari 2011 di beberapa penutupan lahan di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur (Gambar 1). Pengolahan

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Rotan adalah salah satu jenis tumbuhan berbiji tunggal (monokotil) yang memiliki peranan ekonomi yang sangat penting (FAO 1997). Sampai saat ini rotan telah dimanfaatkan sebagai

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Kelapa Sawit

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Kelapa Sawit 3 TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit Kelapa sawit adalah tanaman perkebunan/industri berupa pohon batang lurus dari famili Arecaceae. Tanaman tropis ini dikenal sebagai penghasil minyak sayur yang berasal

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Komunitas Tumbuhan Bawah Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme kehidupannya

Lebih terperinci

PERBANDINGAN MEDIA TANAM TOP SOIL DAN PUPUK KANDANG PADA WADAH BAMBU TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT MUCUNA BRACTEATA

PERBANDINGAN MEDIA TANAM TOP SOIL DAN PUPUK KANDANG PADA WADAH BAMBU TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT MUCUNA BRACTEATA PERBANDINGAN MEDIA TANAM TOP SOIL DAN PUPUK KANDANG PADA WADAH BAMBU TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT MUCUNA BRACTEATA Sylvia Madusari, Toto Suryanto, April Kurniawan Abstrak Penggunaan bambu sebagai wadah media

Lebih terperinci

ANALISIS VEGETASI STRATA SEEDLING PADA BERBAGAI TIPE EKOSISTEM DI KAWASAN PT. TANI SWADAYA PERDANA DESA TANJUNG PERANAP BENGKALIS, RIAU

ANALISIS VEGETASI STRATA SEEDLING PADA BERBAGAI TIPE EKOSISTEM DI KAWASAN PT. TANI SWADAYA PERDANA DESA TANJUNG PERANAP BENGKALIS, RIAU ANALISIS VEGETASI STRATA SEEDLING PADA BERBAGAI TIPE EKOSISTEM DI KAWASAN PT. TANI SWADAYA PERDANA DESA TANJUNG PERANAP BENGKALIS, RIAU Khairijon, Mayta NovaIiza Isda, Huryatul Islam. Jurusan Biologi FMIPA

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman gonda dalam bahasa jawa disebut gondo atau orang barat

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman gonda dalam bahasa jawa disebut gondo atau orang barat II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Deskripsi Tanaman Gonda Tanaman gonda dalam bahasa jawa disebut gondo atau orang barat menyebutnya chikenspike termasuk dalam keluarga Sphenocleaceae. Klasifikasi taksonomi dijelaskan

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN Terdapat 11 profil tanah yang diamati dari lahan reklamasi berumur 0, 5, 9, 13 tahun dan lahan hutan. Pada lahan reklamasi berumur 0 tahun dan lahan hutan, masingmasing hanya dibuat

Lebih terperinci

Ekologi Padang Alang-alang

Ekologi Padang Alang-alang Ekologi Padang Alang-alang Bab 2 Ekologi Padang Alang-alang Alang-alang adalah jenis rumput tahunan yang menyukai cahaya matahari, dengan bagian yang mudah terbakar di atas tanah dan akar rimpang (rhizome)

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Paprika. Syarat Tumbuh

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Paprika. Syarat Tumbuh 4 TINJAUAN PUSTAKA Botani Paprika Tanaman paprika (Capsicum annum var. grossum L.) termasuk ke dalam kelas Dicotyledonae, ordo Solanales, famili Solanaceae dan genus Capsicum. Tanaman paprika merupakan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. luas di seluruh dunia sebagai bahan pangan yang potensial. Kacang-kacangan

II. TINJAUAN PUSTAKA. luas di seluruh dunia sebagai bahan pangan yang potensial. Kacang-kacangan 5 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi Tanaman Kacang Hijau Kacang-kacangan (leguminosa), sudah dikenal dan dimanfaatkan secara luas di seluruh dunia sebagai bahan pangan yang potensial. Kacang-kacangan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) berasal dari negara Afrika.

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) berasal dari negara Afrika. 8 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengenalan Tanaman Sorgum Tanaman Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) berasal dari negara Afrika. Tanaman ini sudah lama dikenal manusia sebagai penghasil pangan, dibudidayakan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. membentuk bagian-bagian tubuhnya. Dengan demikian perubahan akumulasi biomassa

TINJAUAN PUSTAKA. membentuk bagian-bagian tubuhnya. Dengan demikian perubahan akumulasi biomassa TINJAUAN PUSTAKA Produksi Biomassa dan Karbon Tanaman selama masa hidupnya membentuk biomassa yang digunakan untuk membentuk bagian-bagian tubuhnya. Dengan demikian perubahan akumulasi biomassa dengan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit

TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit 4 TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit Taksonomi kelapa sawit yang dikutip dari Pahan (2008) adalah sebagai berikut: Kingdom : Plantae Divisi : Embryophyta Siphonagama Kelas : Angiospermeae Ordo : Monocotyledonae

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit

TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit 3 TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit Kelapa sawit adalah tanaman perkebunan berupa pohon batang lurus dari famili Palmae yang berasal dari Afrika. Kelapa sawit pertama kali diintroduksi ke Indonesia

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. muda. Tanaman ini merupakan herba semusim dengan tinggi cm. Batang

TINJAUAN PUSTAKA. muda. Tanaman ini merupakan herba semusim dengan tinggi cm. Batang Tanaman bawang sabrang TINJAUAN PUSTAKA Klasifikasi bawang sabrang menurut Gerald (2006) adalah sebagai berikut: Kingdom Divisio Subdivisio Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Plantae : Magnoliophyta : Spermatophyta

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Deskripsi Tanaman Sukun (Artocarpus communis Frost) Dalam sistematika tumbuh-tumbuhan tanaman sukun dapat

TINJAUAN PUSTAKA. Deskripsi Tanaman Sukun (Artocarpus communis Frost) Dalam sistematika tumbuh-tumbuhan tanaman sukun dapat TINJAUAN PUSTAKA Deskripsi Tanaman Sukun (Artocarpus communis Frost) Dalam sistematika tumbuh-tumbuhan tanaman sukun dapat diklasifikasikan sebagai berikut (Dephut, 1998): Kingdom : Plantae Divisio : Spematophyta

Lebih terperinci

SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO

SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO Sejumlah faktor iklim dan tanah menjadi kendala bagi pertumbuhan dan produksi tanaman kakao. Lingkungan alami tanaman cokelat adalah hutan tropis. Dengan demikian curah hujan,

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan waktu penelitian. Penelitian dilaksanakan di lahan sawah di Dusun Tegalrejo, Taman Tirto,

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan waktu penelitian. Penelitian dilaksanakan di lahan sawah di Dusun Tegalrejo, Taman Tirto, III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan waktu penelitian Penelitian dilaksanakan di lahan sawah di Dusun Tegalrejo, Taman Tirto, Kasihan, Bantul dan di Laboratorium Penelitian Fakultas Pertanian Universitas

Lebih terperinci

METODOLOGI. Lokasi dan Waktu

METODOLOGI. Lokasi dan Waktu METODOLOGI Lokasi dan Waktu Penelitian dilakukan di Kabupaten Kepulauan Meranti Provinsi Riau, pada 3 tipe penggunaan lahan gambut yaitu; Hutan Alam, Kebun Rakyat dan Areal HTI Sagu, yang secara geografis

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) termasuk famili Graminae

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) termasuk famili Graminae 7 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanaman Sorgum Tanaman sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) termasuk famili Graminae (Poaceae). Tanaman ini telah lama dibudidayakan namun masih dalam areal yang terbatas. Menurut

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. : Spermatophyta. : Monocotyledonae. Species : Allium ascalonicum L.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. : Spermatophyta. : Monocotyledonae. Species : Allium ascalonicum L. BAB II TINJAUAN PUSTAKA D. Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) 1. Klasifikasi Menurut Rahayu, Estu dan Berlian (2006) Tanaman bawang merah diklasifikasikan dalam golongan berikut : Divisi Subdivisi Class

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Botani

TINJAUAN PUSTAKA Botani 3 TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman mentimun berasal dari kaki pegunungan Himalaya. Domestikasi dari tanaman liar ini berasal dari India utara dan mencapai Mediterania pada 600 SM. Tanaman ini dapat tumbuh

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kegiatan pembangunan seringkali menyebabkan kerusakan lingkungan,

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kegiatan pembangunan seringkali menyebabkan kerusakan lingkungan, 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kegiatan pembangunan seringkali menyebabkan kerusakan lingkungan, sehingga menyebabkan penurunan mutu lingkungan, berupa kerusakan ekosistem yang selanjutnya mengancam

Lebih terperinci

INVENTARISASI GULMA PADA PERKEBUNAN COKELAT DESA PAJAR BULAN KABUPATEN LAHAT PROVINSI SUMATERA SELATAN. Dewi Rosanti

INVENTARISASI GULMA PADA PERKEBUNAN COKELAT DESA PAJAR BULAN KABUPATEN LAHAT PROVINSI SUMATERA SELATAN. Dewi Rosanti INVENTARISASI GULMA PADA PERKEBUNAN COKELAT DESA PAJAR BULAN KABUPATEN LAHAT PROVINSI SUMATERA SELATAN Dewi Rosanti e-mail : [email protected] Dosen Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas PGRI Palembang

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret 2015 bertempat di kawasan sistem

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret 2015 bertempat di kawasan sistem III. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret 2015 bertempat di kawasan sistem agroforestry Register 39 Datar Setuju KPHL Batutegi Kabupaten Tanggamus. 3.2 Objek

Lebih terperinci