METODE PENELITIAN SEMIOTIKA
|
|
|
- Hengki Tanudjaja
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Suplemen bagi penelitian bahasa METODE PENELITIAN SEMIOTIKA Dalam bidang sosial, sebagian manusia mungkin memang cocok disebut homo homini lupus, dalam sejarah tercatat sebuah sebutan kontroversial mengenai sebutan homo erectus bagi kita yang memang dinilai mulai bisa berdiri tegak setelah mengalami proses evolusi yang panjang dan melelahkan. Dalam semiotika, sebutan semacam itu yang mungkin lebih relevan adalah homo significans, kita adalah makhluk yang cenderung termotivasi untuk membuat tanda bagi berbagai hal. Dengan sangat tegas, Pierce mendukung ungkapan ini dengan argumentasi bahwa manusia hanya bisa berpikir melalui tanda. dalam kajian ini, penyusun akan mencoba mengetengahkan pendapat dua orang linguis besar mengenai tanda yang memang kontras antara satu dengan yang lainnya. pendapat pertama merupakan model tanda yang dikemukakan oleh linguis besar asal Swiss, yaitu Ferdinand de Saussure, sedangkan linguis kedua adalah seorang filsuf Amerika bernama Charles Sanders Pierce. Kedua ahli ini mengemukakan gagasannya mengenai tanda dalam waktu yang relatif bersamaan. Perbedaan yang ada diantara kedua gagasan yang dikemukakan oleh masing-masing ahli bahasa tersebut menunjukkan orisinalitas keilmuan, yang pada gilirannya akan membuka cakrawala pemahaman kita yang mencermatinya. Model Tanda Saussure 1. Gagasan model Tanda Saussure Model tanda yang dikemukakan oleh Saussure adalah model tanda dua bagian, atau disebut pula dengan istilah dyadic. Saussure menegaskan bahwa tanda dibentuk dari dua 1
2 hal, yaitu sigifier (significant) dan signified (signifiě). Signifier dimaknai sebagai sebuah pola bunyi, yaitu impresi psikologis pendengar akan sebuah bunyi. Pola bunyi (sound pattern) pada akhirnya membedakan makna yang dikandungnya dengan bunyi. Signified sendiri tidak mengacu kepada objek atau benda, tapi cenderung mengacu kepada konsep. dengan demikian, Saussure menekankan bahwa tanda linguistik bukan merupakan hubungan antara sebuah hal dengan sebuah nama, tapi merupakan hubungan antara sebuah konsep dengan pola bunyi. Lebih jelasnya, model tanda Saussure dapat digambarkan sebagai berikut: signified signifier Dalam model tanda yang dikemukakan oleh Saussure ini, tanda merupakan keseluruhan yang muncul dari kombinasi antara signifier dan signified. Hubungan antara signifier dan signified disebut dengan istilah signfication. Dalam diagram di atas, 2
3 signification diwakili oleh tanda panah. Garis putus-putus menandai kedua elemen tersebut sebagai pembatas. Sebagai contoh dari model tersebut bisa kita ambil kata buka dalam konteks seseorang menemukan kata tersebut tergantung di pintu sebuah toko. Tanda buka ini terdiri atas: - sebuah signifier, yaitu kata buka - sebuah signified, yaitu konsep bahwa toko tersebut buka dan dapat dikunjungi. Sebagaimana disebutkan di awal, Saussure memandang signifier sebagai sebuah pola bunyi, namun Saussure memandang tulisan sebagai sistem tanda sekunder yang berbeda. Dalam tulisan, Saussure berpendapat bahwa tulisan huruf t misalnya, merupakan signifier yang mewakili sebuah bunyi dalam sistem tanda primer bahasa. Dengan demikian, maka kata tertulis juga merupakan wakil dari suara, dan bukan konsep. Di lain pihak, signified dalam konsep Saussure dipandang sebagai kontruksi mental, sebuah konsep yang ada dalam pikiran. Bukan merupakan benda atau hal, tetapi lebih merupakan gagasan yang ada dalam pikiran. Contoh menarik yang bissa kita ambil untuk memahami ini adalah stimulus berupa kata Susilo Bambang Yudhoyono yang diperdengarkan kepada kita, tidak akan serta merta membuat kita mengulurkan tangan untuk bersalaman dengannya, namun cenderung hanya memikirkan sosoknya. Dengan demikian, pemahaman ini cenderung akan berdekatan dengan argumentasi Sapir yang menyatakan bahwa bahasa membentuk persepsi kita akan dunia. Diagram model tanda Saussure menggambarkan pendapatnya yang khas, yaitu bahwa signifier dan signified merupakan dua hal yang yang saling berhubungan secara erat, 3
4 namun tetap berada diantara dua wilayah berbeda yang dibatasi garis putus-putus. Hal inilah yang dikritisi oleh kaum poststrukturalis. Mereka berpandangan bahwa signifier dan signified merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan secara tegas, misalnya dengan membuat garis pemarka antara wilayah kedua variabel tersebut. Hubungan antara kedua hal ini digambarkan oleh Saussure melalui contoh yang ia ungkapkan sekait dengan konteks bahasa lisan. Saussure berpendapat, bahwa sebuah tanda tidak mungkin hanya terdiri atas makna tanpa bunyi, atau hanya terdiri atas bunyi tanpa makna. kedua hal ini berkaitan erat bagaikan dua sisi dari selembar kertas. Pemarka yang ada di antara keduanya menekankan bahwa signifier dan signified bisa dibedakan untuk mempermudah proses menganalisisnya. Pemahaman tersebut akan mendorong kita untuk sampai pada kesimpulan bahwa hubungan antara signifier dan signified dalam model tanda Saussure lebih bersifat struktural dan relasional, bukan referensial. Bagi Saussure, tanda mengacu utamanya kepada tanda lainnya, atau dengan bahasa Saussure, dalam sistem bahasa, semuanya bergantung pada hubungan. Argumentasi ini mungkin akan sulit kita pahami, mengingat satu kata saja sudah cukup bagi kita untuk memunculkan persepsi yang relevan dalam benak kita. Sebagai contoh, bila kita mendengar kata pohon maka gambaran atau gagasan mengenai pohon akan secara mandiri muncul dalam benak kita. Argumentasi Saussure untuk menjelaskan keadaan ini adalah, bahwa konsep pohon dalam benak kita akan secara utuh terbentuk bila kita membandingkannya dengan kata lain dalam bahasa, misalnya kata semak. signified signifier signified signifier signified signifier 4
5 2. Value dan Tanda Memahami definisi Saussure tidak akan lengkap tanpa memahamai gagasannya mengenai tanda dan nilai (value) yang dimilikinya. Nilai sebuah tanda tergantung kepada hubungannya dengan tanda lain dalam sistem yang sama. Analogi yang dapat kita gunakan untuk memahami konsep ini adalah permainan catur. Dalam catur, nilai tiap bidak akan tergantung pada posisinya dalam papan catur. Saussure berpendapat bahwa tanda lebih bermakna dari sekedar kombinasi bunyi dan konsep tertentu. Memahami tanda sebagai suatu hal yang hanya terdiri atas kombinasi bunyi dan konsep tertentu akan berakibat terisolasinya tanda tersebut dari keseluruhan sistem dimana tanda tersebut berada. Sebuah contoh kontrastif dari bahasa Perancis dan Inggris bisa membantu kita memahami perbedaaan antara signification dan value. kata mouton dalam bahasa Perancis dapat dipandang mempunyai makna yang sama dengan kata sheep dalam bahasa Inggris, namun kedua kata ini tidak mempunyai nilai yang sama. salah satu alasan yang melandasinya adalah karena mouton bisa berarti kambing dan bisa juga berarti daging kambing yang dihidangkan, sedangkan dalam bahasa Inggris, daging kambing setelah dimasak dan dihidangkan tidak lagi disebut sheep, namun disebut mutton. 3. Arbitrariness Meskipun signifier dianggap sebagai wakil dari signified, para ahli semiotik yang sepaham dengan Saussure menekankan bahwa keberadaan hubungan langsung antara kedua 5
6 variabel tersebut bukan merupakan sebuah keharusan. Hal ini terjadi karena sifat tanda yang arbitrer. Saussure memandang sifat arbitrer dari tanda sebagai prinsip pertama bahasa sebagai sebuah sistem tanda primer. Oleh karena itu, ia meyakini bahwa signifier dan signified tidak berhubungan secara alami. Konsep ini sebenarnya bukan merupakan hal baru dalam bidang semiotika. Pendapat yang sama pernah dikemukakan oleh Aristoteles, yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan alamiah antara bunyi dalam bahasa apapun dengan makna yang diwakilinya. Dalam buku terkenal Cratylus dari Plato, terdapat kata-kata yang diungkapkan oleh Hermogenes kepada Socrates yang menegaskan, bahwa nama apapun yang kita berikan untuk sebuah benda adalah nama yang benar. Kemudian apabila kita mengganti nama tersebut dengan nama lainnya, maka nama yang barupu tidak kalah benarnya dengan nama yang lebih awal kita berikan. 4. Konsep Arbriter dan Hipotesis Sapir-Whorf Konsep ke-arbriter-an tanda merupakan sebuah konsep yang radikal karena konsep ini menegaskan otonomi bahasa dalam kaitannya dengan realita. Model dari Saussure, dengan penekanan terhadap struktur internal dalam sistem tanda mendukung argumentasi yang menyatakan bahwa bahasa tidak merefleksikan realitas, namun cenderung membentuknya. manusia dapat menggunakan bahasa untuk menyatakan apa-apa yang ada di dunia dan juga apa-apa yang tidak ada di dunia. Karena manusia mengenal dunia melalui bahasa yang dieskspos padanya sejak lahir ke dunia, maka dipandang sah untuk mengatakan, 6
7 bahwa bahasa yang kita miliki menentukan realitas, dan bukan realitas yang menentukan bahasa (Strurrock 1986:79 dalam Chandler:29). Argumentasi ini mempunyai nada yang sama dengan hipotesis yang dikemukakan oleh Sapir dan Whorf. Hipotesis Sapir-Whorf menyatakan bahwa bahasa milik suatu bangsa menentukan pandangannya terhadap dunia dan lingkungan sekitarnya. Tidaklah mungkin bagi seseorang untuk mampu mengenali realitas yang ada dalam lingkungannya tanpa menggunakan bahasa. Seiring perjalanan waktu, hipotesis ini mengarah pada pembentukan pendapat yang kuat dan pendapat yang moderat. Pemikiran yang kuat yang berlandaskan hipotesis ini menyatakan bahwa pemikiran seseorang ditentukan oleh kategori-kategori yang disediakan oleh bahasa mereka. Hal ini disebut Determinisme Linguistik. Sedangkan pemikiran yang lebih moderat dikenal dengan istilah Relativisme Linguistik. Pemikiran ini menyatakan bahwa perbedaan antar bahasa mengakibatkan perbedaan pemikiran para penuturnya. Realitas secara tidak sadar dibangun di atas perilaku berbahasa suatu kelompok. Tidak ada dua bahasa yang benar-benar bisa mewakili realitas yang sama. Hal ini disebabkan tidak hanya karena bahasanya yang berbeda, namun juga karena dunia dimana masingmasing bahasa tersebut digunakan, berbeda. Sebagai contoh, orang Inuit yang tinggal di sekitar wilayah kutub mempunyai jauh lebih banyak kosakata yang mengacu kepada salju dibandingkan dengan orang Indonesia. Mereka mempunyai kata tersendiri bagi tiap kondisi salju yang ada. Misalnya, mereka mempunyai sebutan yang berbeda bagi salju yang mencair, yang retak bila diinjak, atau yang membeku dan berwarna hijau. Di Indonesia, hanya ada satu kata yang disediakan oleh bahasa Indonesia, yaitu salju, yang kemudian diikuti oleh kata sifat untuk membedakan kondisi yang berbeda. 7
8 Contoh yang dikemukakan oleh Sapir untuk menunjang hipotesis ini adalah sebuah fenomena kebahasaan yang muncul antara bahasa Inggris dengan bahasa orang-orang Wintu, yaitu sebuah suku penduduk asli Amerika. Kata kerja beraturan dalam bahasa Inggris menggunakan akhiran -ed dan orang Wintu menambahkan imbuhan yang sama untuk membedakan pengetahuan yang didapat dari pengamatan dengan pengetahuan yang diperoleh dari desas-desus. Kedua hal ini tidak mencakup aspek realitas yang sama. Argumentasi yang dikemukakan Whorf terkait dengan penamaan warna. Bahasa Latin tidak membedakan coklat dengan abu-abu. Di lain pihak, bahasa Rusia mempunyai banyak kata untuk warna biru. Hal ini menarik karena fisiologi menyatakan bahwa sel-sel di mata terhubung ke neuron sedemikian rupa, sehingga bisa lebih optimal mengenali warna merah di atas latar hijau, biru di atas kuning, dan hitam di atas putih. Seberapa besarpun pengaruh bahasa, retina dan sel ganglion tetap tidak akan terpengaruh. Saussure kemudian mengungkapkan, bahwa seluruh sistem linguistik dibangun di atas sebuah prinsip irasional yang menyatakan bahwa tanda bersifat arbriter. Namun demikian, pernyataan provokatif ini kemudian diikuti oleh pernyataan selanjutnya, bahwa bila sifat arbitrer ini diterapkan tanpa batasan, akan mengakibatkan munculnya kekacauan ujaran. Bila tanda linguistik diterapkan secara total maka bahasa tidak akan menjadi sebuah sistem dan fungsi komunikatifnya akan hilang. Oleh karena itu, Saussure meyakini, bahwa bahasa tidak sepenuhnya arbitrer, karena sistem bahasa memiliki rasionalitas tertentu. Tanda tidak ditentukan secara ekstralinguistik namun ditentukan secara intralinguistik. Sebagai contoh signifier harus disusun melalui kombinasi bunyi yang baik, yang sesuai dengan pola bahasa terkait. Contoh lainnya ialah adanya kata majemuk yang dibentuk dari tanda-tanda yang sudah ada, jadi tidak sepenuhnya arbitrer, seperti misalnya matahari. 8
9 sifat arbitrer tanda pada gilirannya akan mengarahkan ahli semiotika untuk mengatakan bahwa hubungan antara signifier dan signified bersifat konvensional, tergantung kepada konvensi cultural dan sosial dari masyarakat penggunanya. Hal ini ditegaskan oleh Saussure yang menyatakan bahwa sebuah kata baru mempunyai makna ketika kita secara kolektif menyepakati pemaknaannya. Model dari Peirce 1. Model triadic Peirce Charles Sanders Peirce mengemukakan gagasannya mengenai model tanda dan taksonominya. Berbeda dengan model dyadic yang diungkapkan oleh Saussure, Peirce mengemukakan model triadic tanda, yang terdiri atas elemen-elemen sebagai berikut. a. Representamen, adalah bentuk yang diambil sebagai tanda (tidak senantiasa bersifat material). b. Interpretant, cenderung bermakna gagasan yang dimunculkan oleh tanda. c. Objekt, adalah hal kemana tanda terkait mengacu. Hubungan antara ketiga elemen tersebut disebut semiosis. Untuk lebih memahaminya, kita bisa ilustrasikan dengan lampu lalu lintas. Dalam model tanda yang dikemukakan oleh Peirce, lampu tanda berhenti akan diwakili oleh lampu merah yang ada di persimpangan jalan (sebagai representamen), kendaraan berhenti (sebagai objek) dan gagasan bahwa lampu merah mengindikasikan kendaraan harus berhenti (sebagai interpretant). 9
10 sense B A sign vehicle C referent 2. Mode Hubungan Sign Vehicle dengan Referent Model tanda Saussure dengan penekanan pada konsep arbritrary tanda tidak menawarkan gagasan mengenai tifologi tanda. Dalam hal ini Peirce justru memberikan penekanan pada gagasan tifologi tanda yang disebutnya dengan istilah the most fundamental divisions of signs. pembagian tanda Peirce ini kemudian menjadi rujukan bagi banyak ahli semiotika di dunia sampai saat ini. Namun demikian, para ahli cenderung tetap menggunakan istilah signifier dan signified sebagai pengganti istilah sign vehicle dan objectnya Peirce. ketiga mode yang dikemukakan Peirce adalah sebagai berikut. a. Symbol/symbolic: adalah mode dimana signifier benar-benar secara arbitrer mewakili signified. Dengan demikian, hubungan antara dua variabel ini harus dipelajari. Contohnya bahasa secara umum, kode morse, lampu lalu lintas atau bendera nasional. 10
11 b. Icon/iconic: sebuah mode dimana signifier diasumsikan sebagai tiruan dari signified (dapat dikenali dari tampakan, suara, perasaan, rasa atau aromanya). Signifier semacam ini contohnya adalah model skala (termasuk miniatur), onomatopoeia, metaphor, sound effect, kartun dsb. c. Index/indexical: sebuah mode dimana signifier tidak bersifat arbitrer, namun sama sekali berkaitan dengan signified. hubungan antara keduanya dapat dengan mudah dilihat dan diamati. Sebagai contoh adalah tapak jejak kaki, asap, gema, detak jantung, semua jenis rekaman (seperti foto, video atau rekaman suara), trademark (seperti tanda tangan) dan kata indeksikal (seperti itu dan ini ), jam tangan, thermometer dsb. Bagi Peirce, menemukan sebuah tanda yang benar-benar termasuk ke dalam indexical mode merupakan sebuah hal yang sulit, karena ia berpandangan hamper tidak mungkin menemukan benda yang benar-benar memenuhi prasyarat untuk disebut sebagai tanda indeksikal. Peirce bahkan memasukkan potret ke dalam mode iconic. istilah mode yang digunakan oleh Peirce memang mempunyai latar belakang ilmiah. Peirce memandang bahkan tipe cenderung bersifat eksklusif, sedangkan sebuah tanda tidak memiliki sifat seperti itu. sebuah tanda dapat dikategorikan sebagai symbol, icon atau index atau merupakan kombinasi diantara ketiganya. Sebagai contoh, sebuah peta mungkin secara indexical mewakili wilayah-wilayah geografis yang dimilikinya dalam realitas, namun skala yang digunakannya jelas bersifat ikonik. Di sisi lain, peta juga memiliki tanda-tanda yang disepakati sebagai lambang, seperti garis putus-putus, bintang jurusan dsb. tanda-tanda ini tentu saja bersifat simbolik. Contoh lainnya, foto seorang perempuan bisa dianggap sebagai 11
12 tanda ikonik, merupakan wakil bagi perempuan secara umum. Namun bisa juga menjadi tanda indexical, ketika foto tersebut mewakili seorang perempuan tertentu secara khusus. Argumentasi ini dikuatkan oleh pendapat Terence Hawkes, seorang professor bahasa Inggris, yang menyatakan bahwa ketiga mode tersebut saling menunjang keberadaan satu sama lain secara hierarkis dan secara pasti salah satu dari mode tersebut akan mendominasi dua mode lainnya, dimana dominasi ini ditentukan oleh konteks. 3. Perubahan Hubungan Meskipun Saussure cenderung meneliti bahasa secara sinkronis, dan bukannya diakronis, ia menyadari adanya pergeseran hubungan antara signifier dan signified seiring dengan berjalannya waktu. Namun Saussure tidak menjadikan fenomena ini sebagai fokus utamanya. para strukturalis cenderung memandang fenomena ini sebagai sebuah perubahan temporer dan ditentukan secara sosial. dalam mode triadic Peirce, perubahan hubungan ini lebih tampak terjadi. Perubahan hubungan tampak secara hierarkis dari tiga mode tanda yang ia kemukakan. Menurut Peirce, ikonitas merupakan signification yang asli, dipandang sebagai tanda yang orsinil, juga merupakan tanda yang terdiri sebagian dari tanda ikonik dan sebagian lagi indexical. Peirce menambahkan, bahwa semua tulisan primitif seperti misalnya hieroglyph bersifat ikonik. Demikian pula halnya dengan bahasa lisan, Peirce memandang bahwa bentuk paling awal dari bahasa lisan kemungkinan merupakan bahasa yang sebagian besar elemennya terdiri atas mimikri. Seiring dengan perkembangan waktu, tanda-tanda linguistik kemudian berubah menjadi lebih simbolik dan konvemsional. 12
13 Bukti-bukti historis ternyata menunjukkan sebuah kecenderungan bahwa tanda-tanda linguistik berevolusi dari indexical dan ikonik menjadi bentuk-bentuk yang lebih simbolik. Simbol secara semiotic dipandang lebih fleksibel dan efisien. Claude Levi-Strauss juga menemukan kemiripan konsep, dimana ada pergerakan umum dari motivasi menuju arbitrer dalam skema konseptual yang terdapat dalam beberapa kebudayaan. 13
14 DAFTAR PUSTAKA Chandler, D (1997): 'Semiotics for Beginners' [WWW] URL Chandler, Daniel Semiotics: The Basic. London: Routledge De Beaugrande Linguistic Theory.The Discourse of Fundamental Work. New York: Longman Group UK Limited. Palmer, F.R Semantics. London, New York, New Rochelle, Melbourne, Sydney: Cambridge University Press. 14
Pendahuluan. Setiawan*)
ANALISIS SEMIOTIKA GAMBAR DALAM BUKU AJAR STUDIO D A1 Setiawan*) Abstrak Tulisan ini menjelaskan upaya mengungkap nilai yang dijunjung oleh penyusun buku ajar Studio D A1 yang digunakan di berbagai tempat
Semiotika, Tanda dan Makna
Modul 8 Semiotika, Tanda dan Makna Tujuan Instruksional Khusus: Mahasiswa diharapkan dapat mengerti dan memahami jenis-jenis semiotika. 8.1. Tiga Pendekatan Semiotika Berkenaan dengan studi semiotik pada
PEMALSUAN TANDA SEBAGAI FENOMENA SEMIOTIKA BUDAYA
PEMALSUAN TANDA SEBAGAI FENOMENA SEMIOTIKA BUDAYA Oleh: Tedi Permadi Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni - Universitas
12Ilmu. semiotika. Sri Wahyuning Astuti, S.Psi. M,Ikom. Sejarah semiotika, tanda dan penanda, macam-macam semiotika, dan bahasa sebagai penanda.
semiotika Modul ke: Sejarah semiotika, tanda dan penanda, macam-macam semiotika, dan bahasa sebagai penanda. Fakultas 12Ilmu Komunikasi Sri Wahyuning Astuti, S.Psi. M,Ikom Program Studi S1 Brodcasting
13Ilmu. semiotika. Sri Wahyuning Astuti, S.Psi. M,Ikom. Analisis semiotik, pisau analis semiotik, metode semiotika, semiotika dan komunikasi
semiotika Modul ke: Analisis semiotik, pisau analis semiotik, metode semiotika, semiotika dan komunikasi Fakultas 13Ilmu Komunikasi Sri Wahyuning Astuti, S.Psi. M,Ikom Program Studi S1 Brodcasting analisis
Pengayaan bagi kajian linguistik dengan fokus interkulturelle Kommunikation bagi mahasiswa jurusan bahasa Jerman PENDAHULUAN
JUDUL: PANDANGAN SAPIR TERHADAP BAHASA Pengayaan bagi kajian linguistik dengan fokus interkulturelle Kommunikation bagi mahasiswa jurusan bahasa Jerman PENDAHULUAN Memahami linguistik sebagai ilmu mengenai
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan
45 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tipe Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif, yaitu penelitian untuk menggambarkan sifat suatu keadaan yang sementara
NIM : D2C S1 Ilmu Komunikasi Fisip Undip. Semiotika
Nama : M. Teguh Alfianto Tugas : Semiotika (resume) NIM : D2C 307031 S1 Ilmu Komunikasi Fisip Undip Semiotika Kajian komunikasi saat ini telah membedakan dua jenis semiotikan, yakni semiotika komunikasi
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. dalam kasus ini adalah sifat penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tipe Penelitian Sifat penelitian yang digunakan untuk mengidentifikasi permasalahan dalam kasus ini adalah sifat penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Paradigma Penelitian Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif. Riset kualitatif adalah riset yang menggunakan cara berfikir induktif, yaitu berangkat
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tipe Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif, yaitu penelitian untuk menggambarkan sifat suatu keadaan yang sementara berjalan
BAB I PENDAHULUAN. massa sangat beragam dan memiliki kekhasan yang berbeda-beda. Salah satu. rubrik yang ada di dalam media Jawa Pos adalah Clekit.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Media massa merupakan bagian yang tidak terpisahkan di dalam masyarakat. Media massa merupakan bagian yang penting dalam memberikan informasi dan pengetahuan di dalam
BAB 1 PENDAHULUAN. Bahasa sebagai media komunikasi telah dijadikan instrumen untuk
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahasa sebagai media komunikasi telah dijadikan instrumen untuk memperkuat dan mengubah kognisi dalam menciptakan sejumlah makna-makna konotatif. Namun bahasa tidak
BAB III METODE PENELITIAN. mengkaji label halal pada beberapa kemasan makanan.
44 BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Penelitian dengan judul Analisis Semiotik Label Halal sebagai Simbol Komunikasi Dakwah merupakan penelitian nonkancah atau nonlapangan yang
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. cerita yang penuh arti dan bermanfaat bagi audience yang melihatnya. Begitu juga
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Paragdima Sebuah tontonan akan menjadi daya tarik tersendiri jika memiliki jalan cerita yang penuh arti dan bermanfaat bagi audience yang melihatnya. Begitu juga dengan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Budaya Menurut Marvin Harris (dalam Spradley, 2007:5) konsep kebudayaan ditampakkan dalam berbagai pola tingkah laku yang dikaitkan dengan kelompokkelompok masyarakat tertentu,
Ragam Metode Penelitian Bahasa
Suplemen bagi tema penelitian bahasa Ragam Metode Penelitian Bahasa Akan sangat strategis bila kita berdiskusi terlebih dahulu untuk menentukan makna dari metode dan teknik, daripada langsung berbicara
BAB I PENDAHULUAN. Seni lukis ini memiliki keunikan tersendiri dalam pemaknaan karyanya.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Seni lukis merupakan bagian dari seni rupa yang objek penggambarannya bisa dilakukan pada media batu atau tembok, kertas, kanvas, dan kebanyakan pelukis memilih
BAB 1 PENDAHULUAN. film memiliki realitas yang kuat salah satunya menceritakan tentang realitas
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Konteks Penelitian Film adalah suatu media komunikasi massa yang sangat penting untuk mengkomunikasikan tentang suatu realita yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, film memiliki
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tipe Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif, yaitu penelitian untuk menggambarkan sifat suatu keadaan yang sementara berjalan
Pesan, Tanda, dan Makna dalam Studi Komunikasi. Alimuddin A. Djawad STKIP PGRI Banjarmasin Jl. Sultan Adam, Komp. H.
Stilistika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya ISSN 2527-4104 Vol. 1 No.1, 1 April 2016 Pesan, Tanda, dan Makna dalam Studi Komunikasi Alimuddin A. Djawad STKIP PGRI Banjarmasin Jl. Sultan Adam,
Kajian Semiotik Huruf dan Aksara
Kajian Semiotik Huruf dan Aksara Huruf sebagai bagian dari sistem Tanda Huruf merupakan bagian terkecil dari struktur bahasa tulis dan merupakan elemen dasar untuk membangun kata lalu kalimat. Rangkaian
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. mendeskripsikan apa-apa yang berlaku saat ini. Didalamnya terdapat upaya
40 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tipe Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif yaitu penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan apa-apa yang berlaku saat ini. Didalamnya terdapat upaya mendeskripsikan,
BAB I PENDAHULUAN. Film adalah suatu media komunikasi massa yang sangat penting untuk
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Konteks Penelitian Film adalah suatu media komunikasi massa yang sangat penting untuk mengkomunikasikan tentang suatu realita yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, film memiliki
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. diutarakan oleh Dedy N Hidayat, sebagai berikut:
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Paradigma Paradigma konstruktifitis dapat dijelaskan melalui empat dimensi seperti diutarakan oleh Dedy N Hidayat, sebagai berikut: 1. Ontologis: relativism, realitas
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORETIK
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORETIK 2.1 Teori-Teori Yang Relevan Dengan Variabel Yang Diteliti 2.1.1 Pengertian Semantik Semantik ialah bidang linguistik yang mengkaji hubungan antara tanda-tanda
!$ 3.2 Sifat dan Jenis Penelitian Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis semiotika dari Char
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Paradigma Penelitian Paradigma penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah paradigma konstruktivis. Menurut paradigma konstruktivisme, realitas sosial yang diamati
Strukturalisme (Ferdinand de Saussure) (26 November February 1913)
Strukturalisme (Ferdinand de Saussure) (26 November 1857 22 February 1913) Strukturalisme suatu gerakan pemikiran filsafat yg mempunyai pokok pikiran bhw semua masy & kebudayaan mempunyai suatu struktur
BAB I PENDAHULUAN. Koentjaraningrat (2004:5-8) menyatakan bahwa kebudayaan itu mempunyai tiga. berpola dari manusia dalam masyarakat.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Koentjaraningrat (2004:5-8) menyatakan bahwa kebudayaan itu mempunyai tiga wujud : a. Wujud kebudayaan sebagai suatu yang kompleks dari ide-ide, gagasan-gagasan,
SEMIOTIC LOGICAL APPROACH
SEMIOTIC LOGICAL APPROACH P 40 Ifada Novikasari STAIN Purwokerto [email protected] Abstrak Semiotic awal mulanya digunakan untuk studi pola yang dapat diobservasi dari gejala fisiologis dalam penyakit tertentu.
BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA. gerakan antara dua atau lebih pembicaraan yang tidak dapat menggunakan
BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep 2.1.1 Interpretasi Interpretasi atau penafsiran adalah proses komunikasi melalui lisan atau gerakan antara dua atau lebih pembicaraan yang
BAB I PENDAHULUAN. yang tinggi melalui bahasanya yang padat dan bermakna dalam setiap pemilihan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Puisi sebagai salah satu jenis karya sastra memiliki nilai seni kesusastraan yang tinggi melalui bahasanya yang padat dan bermakna dalam setiap pemilihan katanya. Puisi
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, DAN LANDASAN TEORI. penelitian yang ditemukan oleh para peneliti terdahulu yang berhubungan
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, DAN LANDASAN TEORI 2.1 Kajian Pustaka Kajian pustaka menjelaskan gagasan, pemikiran atau hasil-hasil penelitian yang ditemukan oleh para peneliti terdahulu yang berhubungan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. mengetahui bagaimana film Perempuan Punya Cerita mendeskripsikan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Type Penelitian Berdasarkan tujuan penelitian yang penulis tetapkan yaitu untuk mengetahui bagaimana film Perempuan Punya Cerita mendeskripsikan budaya patriarki yang
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 1.1 Tipe Penelitian Penelitian ini menggunakan tipe penelitian deskriptif dan metode analisis semiotika dengan paradigma konstruktivis. Yang merupakan suatu bentuk penelitian
43 Pengertian Paradigma selanjutnya dijelaskan :Penulisan menggunakan paradigma konstruksivis untuk mengetahui pendapat para komunitas maupun penikmat
BAB III METODELOGI PENELITIAN 3.1 Paradigma Paradigma adalah kumpulan tata nilai yang membentuk pola pikir seseorang sebagai titik tolak pandangannya sehingga akan membentuk citra subjektif seseorang mengenai
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Paradigma Penelitian Paradigma kualitatif ini merupakan sebuah penelitian yang memiliki tujuan utama yaitu untuk mengkaji makna-makna dari sebuah perilaku, simbol maupun
BAB III METODE PENELITIAN. membahas konsep teoritik berbagai kelebihan dan kelemahannya. 19 Dan jenis
37 BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan Dan Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan metode pengkajian pendekatan analisis semiotik. Dengan jenis penelitian kualiatif, yaitu metodologi penelitian
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 1.1 Paradigma Penelitian Paradigma konstruktivisme memandang realitas kehidupan sosial bukanlah realitas yang natural, tetapi terbentuk dari hasil konstruksi. Karenanya, konsentrasi
BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. bahasa yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain (Alwi, dkk 2003: 588).
BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Konsep adalah gambaran mental dari suatu objek, proses, atau apapun yang ada diluar bahasa yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal
BAB I PENDAHULUAN. juga sebagai alat komunikator yang efektif. Film dengan kemampuan daya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Film selain sebagai alat untuk mencurahkan ekspresi bagi penciptanya, juga sebagai alat komunikator yang efektif. Film dengan kemampuan daya visualnya yang didukung
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Konteks Penelitian. Pada hakikatnya manusia membutuhkan sebuah media massa untuk
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Konteks Penelitian Pada hakikatnya manusia membutuhkan sebuah media massa untuk mendapatkan informasi terkini, wawasan maupun hiburan. Media massa sendiri dalam kajian komunikasi
BAB III DATA DAN ANALISA PERANCANGAN
BAB III DATA DAN ANALISA PERANCANGAN A. Data Berkaitan Fungsi Produk Rancangan Tabel 3.1. Data Perancangan. RINCIAN DATA Data Objek Perancangan SIFAT DATA MANFAAT DATA DALAM PERANCANGAN KESIAPAN DATA Primer
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. sedalam dalamnya melalui pengumpulan data sedalam dalamnya.riset ini
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tipe Penelitian Tipe penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kualtatif.penelitian deskriptif adalah jenis penelitian yang memberikan gambaran atau uraian suatu
BAB III METODE PENELITIAN. sistematis dan logis tentang pencarian data yang berkenaan dengan masalah
BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Metode penilitian adalah seperangkat pengetahuan tentang langkah-langkah sistematis dan logis tentang pencarian data yang berkenaan dengan masalah
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Dalam persaingan saat ini, produsen dengan segala cara berusaha untuk
3 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dalam persaingan saat ini, produsen dengan segala cara berusaha untuk mengenalkan produknya kepada masyarakat luas. Sehingga masyarakat dihadapkan pada banyak
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian merupakan suatu kegiatan ilmiah yang ditempuh melalui
BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Penelitian merupakan suatu kegiatan ilmiah yang ditempuh melalui serangkaian proses yang panjang. Metode penelitian adalah prosedur yang dilakukan
BAB I PENDAHULUAN. sedangkan semiotik lazim dipakai oleh ilmuwan Amerika. Istilah tersebut
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Semiotik atau semiologi merupakan terminologi yang merujuk pada ilmu yang sama. Istilah semiologi lebih banyak digunakan di Eropa sedangkan semiotik lazim dipakai oleh
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Teori Semiotika Pragmatik (Charles Sanders Pierce)
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Tinjauan Pustaka 2.1. Teori Semiotika Pragmatik (Charles Sanders Pierce) Istilah Semiotik yang dikemukakan pada akhir abad ke-19 oleh filsuf aliran pragmatik Amerika, Charles
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
41 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tipe Penelitian Penelitian ini bersifat Interpretatif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif interpretatif yaitu suatu metode yang memfokuskan
BAB I PENDAHULUAN. manusia dapat saling berinteraksi. Manusia sebagai animal symbolicium,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa pada prinsipnya merupakan alat komunikasi. Melalui bahasa manusia dapat saling berinteraksi. Manusia sebagai animal symbolicium, merupakan makhuk yang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Untuk mendukung seluruh data-data yang terkumpul pada saat penelitian dan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kepustakaan Yang Relevan Untuk mendukung seluruh data-data yang terkumpul pada saat penelitian dan sebagai acuan dalam penelitian, maka peneliti merasa perlu melakukan serangkaian
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. informasi/data yang ingin kita teliti. Tinjauan adalah hasil meninjau, pandangan,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kajian Pustaka yang Relevan Kepustakaan yang relevan atau sering juga disebut tinjauan pustaka ialah salah satu cara untuk mendapatkan referensi yang lebih tepat dan sempurna
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dewasa ini seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi maka pesat juga perkembangan dalam dunia mode dan fashion. Munculnya subculture seperti aliran Punk, Hippies,
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Metode merupakan alat pemecah masalah, mencapai suatu tujuan atau untuk mendapatkan sebuah penyelesaian. Dalam metode terkandung teknik yakni
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Sifat Penelitian Penelitian yang dipakai oleh peneliti adalah penelitian yang bersifat Kualitatif. Metode ini adalah meneliti sekelompok manusia, suatu objek, suatu kondisi,
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Paradigma Paradigma berpikir dalam penelitian ini adalah paradigma konstruktivisme yang memandang bahwa kehidupan sosial bukanlah sebuah realita yang natural akan tetapi hasil
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Sifat Penelitian Sifat penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif yaitu Pendekatan ini diarahkan pada latar belakang dan individu tersebut secara
BAB I PENDAHULUAN. hal yang dikomunikasikan yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Komunikasi merupakan kebutuhan manusia yang sangat penting. Komunikasi dibutuhkan untuk memperoleh atau member informasi dari atau kepada orang lain. Kebutuhan
BAB I PENDAHULUAN. kreativitas imajinatif. Secara garis besar dibedakan atas sastra lisan dan tulisan, lama
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Karya sastra adalah berbagai bentuk tulisan, karangan, gubahan, yang didominasi oleh aspek-aspek estetis. Ciri utama yang lain karya sastra adalah kreativitas imajinatif.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Paradigma dalam penelitian perjalanan spiritual keimanan tokoh utama
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Paradigma Paradigma dalam penelitian perjalanan spiritual keimanan tokoh utama Mada dalam film Haji Backpacker ini, penulis menggunakan paradigma konstruktivisme. Teori
11ILMU. Modul Perkuliahan XI. Metode Penelitian Kualitatif. Metode Analisis Semiotik. Ponco Budi Sulistyo., S.Sos., M.Comm KOMUNIKASI.
Modul ke: Modul Perkuliahan XI Metode Penelitian Kualitatif Metode Analisis Semiotik Fakultas 11ILMU KOMUNIKASI Ponco Budi Sulistyo., S.Sos., M.Comm Program Studi Public Relations Judul Sub Bahasan Pendekatan
BAB III METODE PENELITIAN
23 BAB III METODE PENELITIAN Metode penelitian merupakan alat yang digunakan dalam mengumpulkan data dan menganalisis masalah penelitian yaitu mengenai kebebasan intelektual di perpustakaan yang dipertentangkan
SEMIOTIKA #2. C.S. Pierce
SEMIOTIKA #2 C.S. Pierce REVIEW - SAUSSURE - TANDA (SIGN) PENANDA (SIGNIFIER) PETANDA (SIGNIFIED) SEMIOTIKA PIERCE SEMIOTIK ilmu memadukan entitas yang disebut sebagai representamen dengan entitas lain
BAB I PENDAHULUAN. selalu berinovasi dan memenuhi perkembangan kebutuhan konsumen tersebut. Bukan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Perusahaan harus dapat menganalisis peluang dan tantangan pada masa yang akan datang. Dengan melihat tantangan tersebut, Perusahaan dituntut untuk mampu
Semiotik Pragmatik C.S.Peirce dan Kajian Budaya
Semiotik Pragmatik C.S.Peirce dan Kajian Budaya Tommy Christomy, PhD Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UNIVERSITAS INDONESIA Email: [email protected] Semiotik C.S. Peirce dan Kajian Budaya 1. Pengantar
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Paradigma Penelitian Paradigma merupakan pola atau model tentang bagaimana sesuatu distruktur (bagian dan hubungannya atau bagaimana bagian-bagian berfungsi (perilaku
PERANCANGAN SIGN-SYSTEM PERPUSTAKAAN SEBAGAI MEDIA PENUNJANG AKTIVITAS BELAJAR MANDIRI DI PERGURUAN TINGGI
PERANCANGAN SIGN-SYSTEM PERPUSTAKAAN SEBAGAI MEDIA PENUNJANG AKTIVITAS BELAJAR MANDIRI DI PERGURUAN TINGGI Lalita Gilang Program Studi Magister Desain-Institut Teknologi Bandung Jl. Ganesha no.10 Bandung
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Paradigma Paradigma penelitian ini menggunakan pendekatan kritis melalui metode kualitatif yang menggambarkan dan menginterpretasikan tentang suatu situasi, peristiwa,
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar BelakangPenelitian. Manusia dalam kesehariannya selalu menggunakan bahasa. Dengan bahasa,
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar BelakangPenelitian Manusia dalam kesehariannya selalu menggunakan bahasa. Dengan bahasa, manusia dapat saling menyapa dengan manusia lain serta mengungkapkan perasaan dan gagasannya.
BAB III METODE PENELITIAN. dikarenakan peneliti berusaha menguraikan makna teks dan gambar dalam
BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian. Pendekatan penelitian, peneliti menggunakan paradigma kritis. Hal ini dikarenakan peneliti berusaha menguraikan makna teks dan gambar dalam
BAB III METODE PENELITIAN. Pada penelitian ini peneliti menggunakan paradigma konstruktivis dengan
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Paradigma Pada penelitian ini peneliti menggunakan paradigma konstruktivis dengan pendekatan kualitatif. Paradigma konstruktivis adalah pandangan bahwa bahasa tidak hanya
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini bersifat interpretatif dengan menggunakan pendekatan kualitatif.
33 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Tipe Penelitian Penelitian ini bersifat interpretatif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif interpretatif yaitu suatu metode yang memfokuskan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1.Jenis danpendekatan Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif,penelitian dilakukan dengan melihat konteks permasalahan secara utuh, dengan fokus penelitian
BAB III METODE PENELITIAN. penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif adalah karena penelitian ini
BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Semiotika adalah ilmu yang mempelajari sederetan luar objek-objek, peristiwa-peristiwa seluruh kebudayaan sebagai tanda. Alasan mengapa penelitian
BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2007:588), konsep adalah
BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2007:588), konsep adalah gambaran mental dari suatu objek, proses atau apapun yang ada di luar
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
37 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Paradigma Penelitian Dalam hal ini penulis ingin mengetahui bagaimana nilai pendidikan pada film Batas. Dalam paradigma ini saya menggunakan deskriptif dengan pendekatan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Objek kajian dalam penelitian ini adalah topeng dari grup band Slipknot.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Objek kajian dalam penelitian ini adalah topeng dari grup band Slipknot. Untuk mempermudah penelitian, maka objek kajian tersebut akan ditelisik dan dianalisis
BAB III METODE PENELITIAN. dilakukan oleh seseorang untuk mendapatkan data atau pun informasi untuk. syair lagu Insya Allah (Maherzain Feat Fadly).
BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Penelitian merupakan suatu kegiatan ilmiah yang ditempuh melalui serangkaian proses yang panjang. Metode penelitian adalah prosedur yang dilakukan
SEMIOTIKA ALQURAN YANG MEMBEBASKAN
SEMIOTIKA ALQURAN YANG MEMBEBASKAN Mu adz Fahmi 1 Semiotika Alquran yang Membebaskan Tafsir klasik konvensional seringkali dinilai hegemonik, mendominasi, anti-konteks, status-quois, mengkungkung kebebasan,
BAB II KAJIAN TEORI. Penelitian mengenai makna simbol dalam sastra lisan telah banyak
BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Kajian yang Relevan Sebelumnya Penelitian mengenai makna simbol dalam sastra lisan telah banyak dilakukan antara lain sebagai berikut: 1. Penelitian yang dilakukan oleh Ratna Dewi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah salah satu tonggak utama pembangun bangsa. Bangsa yang maju adalah bangsa yang mengedepankan pendidikan bagi warga negaranya, karena dengan
TUGAS MATA KULIAH FILSAFAT ILMU (SIMBOL DAN BAHASA)
TUGAS MATA KULIAH FILSAFAT ILMU (SIMBOL DAN BAHASA) Disusun oleh: Kelompok 4 Nur Amalia Hildaini 16706251037 Eka Fransiska Agustin 16706251011 Afitri Rahma Wati 16706251009 Binti Aisiah Daning S 16706251020
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. pendukung sehingga akan terlihat dengan jelas makna dari iklan tersebut.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Paradigma Penelitian Peneliti menggunakan paradigma penelitian konstruktivis. Iklan Provider 3 (tri) versi jadi dewasa itu menyenangkan tapi susah dijalanin akan dibedah
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Tipe Penelitian Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisa semiologi komunikasi. Sebagai sebuah penelitian deskriptif, penelitian
BAB 1 PENDAHULUAN. film memiliki realitas yang kuat salah satunya menceritakan tentang realitas
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Konteks Penelitian Film adalah suatu media komunikasi massa yang sangat penting untuk mengkomunikasikan tentang suatu realita yang terjadi dalam kehidupan seharihari, film memiliki
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Paradigma Paradigma penelitian kualitatif melalui proses induktif, yaitu berangkat dari konsep khusus ke umum, konseptualisasi, kategori, dan deskripsi yang dikembangkan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
38 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Paradigma Penelitian pada hakikatnya merupakan suatu upaya untuk menemukan kebenaran atau untuk lebih membenarkan kebenaran. Usaha untuk mengejar kebenaran dilakukan
BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. Dalam suatu penelitian ini penulis mempunyai beberapa konsep yang
BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Dalam suatu penelitian ini penulis mempunyai beberapa konsep yang mendukung penelitian ini. Menurut KBBI (2002: 588) konsep itu sendiri adalah
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Paradigma Berdasarkan tujuan penelitian yang penulis tetapkan, yaitu bagaimana komunikasi narsisme agnezmo direpresentasikan dalam akun instagram @Agnezmo. Maka penelitian
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN Pada bab ketiga dari rangkaian lima bab penulisan tesis ini akan diuraikan mengenai metode penelitian. Adapun dalam metode penelitian ini berisi tentang jenis penelitian, data
BAB III METEDOLOGI PENELITIAN. & Knipe, 2006 ) menyatakan bahwa paradigma adalah kumpulan longgar dari
BAB III METEDOLOGI PENELITIAN 3.1 Paradigma Menurut Harmon ( dalam Moleong, 2004: 49 ), Paradigma adalah cara mendasar untuk persepsi berfikir, menilai dan melakukan yang berkaitan dengan sesuatu yang
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian yang dilakukan merupakan jenis penelitian deskriptif, dimana
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Sifat Penelitian Penelitian yang dilakukan merupakan jenis penelitian deskriptif, dimana peneliti hanyalah memaparkan situasi atau peristiwa. Penelitian ini tidak mencari
Semiotika, Tanda dan Makna
Modul 9 Semiotika, Tanda dan Makna Tujuan Instruksional Khusus: Mahasiswa diharapkan dapat mengerti dan memahami jenis-jenis semiotika. 8.3. Saussure: Organisasi Tanda Menurut Saussure, ada dua cara pengoganisasian
BAB III METODE PENELITIAN. A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Setelah memperoleh sedikit gambaran tentang kerangka berpikir ilmiah, kita memasuki pemahaman lebih lanjut mengenai metode penelitian ilmiah.43
PERBEDAAN TEORI LINGUISTIK FERDINAND DE SAUSSURE DAN NOAM CHOMSKY. Abdullah Hasibuan 1. Abstrak
PERBEDAAN TEORI LINGUISTIK FERDINAND DE SAUSSURE DAN NOAM CHOMSKY Abdullah Hasibuan 1 Abstrak Linguistik merupakan suatu ilmu yang bahasa secara ilmiah atau ilmu tentang bahasa. Kata Linguistik berasal
BAB 1 PENDAHULUAN. Setiap manusia berkomunikasi menggunakan bahasa. Bahasa yang digunakan
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Suatu kehidupan masyarakat sehari-hari komunikasi sangat penting digunakan untuk berinteraksi antar manusia di dalam lingkungan masyarakat. Setiap manusia
