BAB I KONSEP DASAR AKUNTANSI BIAYA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB I KONSEP DASAR AKUNTANSI BIAYA"

Transkripsi

1 BAB I KONSEP DASAR AKUNTANSI BIAYA A. pengertian Biaya dan Akuntansi Biaya 1. Pengertian Biaya Pengertian baiya dalam arti sempit, biaya adalah sebagai pengorbanan sumber ekonomi untuk memperoleh aktiva. Jumlah yang dikorbankan tersebut secara tidak langsung disebut harga pokok dan dicatat pada neraca sebagai aktiva. Sedangkan pertain biaya dalam arti luas adalah pengorbanan sumber ekonomi yang diukur dalam satuan uang baik yang telah terjadi maupun yang akan terjadi untuk tujuan tertentu. Unsur-unsur biaya : 1. Biaya merupakan pengorbanan sumber ekonomi 2. Biaya dapat diukur dalam satuan uang 3. Biaya merupakan pengorbanan yang telah terjadi maupun akan terjadi 4. Biaya merupakan pengorbanan yang mempunyai tujuan tertentu 2. Pengertian Akuntansi Biaya Pada perusahaan industri tugas bagian akuntansi selain menyediakan informasi keuangan juga menyediakan informasi biaya produksi untuk kepentingan manajemen. Kegiatan perusahaan industri meliputi hal-hal sebagai berikut : a. Membeli bahan baku untuk sementara disimpan b. Mengolah bahan baku menjadi produk jadi. Dalam pengolahan bahan baku hinga produk selesai memerlukan jasa tenaga kerja c. Menyimpan sementara produk jadi d. Menjual produk jadi Proses pengolahan bahan baku menjadi produk jadi disebut proses produksi, sedangkan biayabiaya yang dikeluarkan untuk menjadi produk jadi disebut biaya produk barang jadi. Biaya produksi meliputi, biaya bahan baku; biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik (biaya lain-lain yang terjadi di pabrik). Biaya yang terjadi tersebut perlu dikumpulkan untuk menentukan harga pokok produksi melalui proses akuntansi yang disebut Akuntansi Biaya - 1

2 Jadi akuntansi biaya adalah proses pencatatan, penggolongan, peringkasan dan penyajian biaya-biaya pembuatan produk, penjualan produk atau peneyerahan jasa dengan cara-cara tertentu, serta penafsiran terhadap hasilnya. Akuntansi biaya dapat ditujukan untuk memnuhi pemakai di dalam perusahaan maupun pemakai di luar perusahaan. Sasaran akuntansi biaya adalah transaksi keuangan yang berhubungan dengan biaya secara umum dan tujuan akuntansi biaya menyediakan informasi biaya untuk kepentingan manajemen. B. Hubungan antara Akuntansi Biaya dengan Akuntansi Keuangan dan Akuntansi Manajemen. 1. Akuntansi Keuangan. Akuntnasi keuangan adalah akuntansi yang bertujuan menghasilkan informasi keuangan untuk kepentingan pihak luar. Yang dimaksud pihak luar adalah pihak-pihak diluar manajemen perusahaan. Informasi keuangan perusahaan disajikan dalam bentuk laporan keuangan yang mencakup neraca; laporan laba-rugi; laporan perubahan modal atau laporan laba yang ditahan serta laporan lainnya. Oleh karena itu laporan keuangan merupakan alat komunikasi bagi pihak luar perusahaan dengan kegiatan perusahaan. Dengan menganalisis neraca mereka akan mengetahui posisi keuangan perusahaan. Sedangkan laporan laba-rugi dapat diketahui hasil usaha dan perkembangan perusahaan. Laporan keuangan menyangkut kepentingan pihak ekstern perusahaan. Oleh karena itu transaksi yang menjadi obyek akuntansi keuangan adalah transaksi perusahaan yang sifatnya umum ( perubahan harta, utang dan modal perusahaan) 2. Akuntansi Manajemen. Akuntansi manajemen adalah akuntansi yang bertujuan menghasilkan informasi keuangan untuk pihak manajemen. Jenis informasi yang diperlukan manajem,en dalam banyak hal berbeda dengan informasi yang diperlukan pihak luar. Umumnya informasi untuk keperluan manajemen bersifat sangat mendalam dan tidak dipublikasikan kepada umum. Kegiatan akuntansi manajemen meliputi bidang-bidang sebagai berikut : a. Merancang system pengumpulan data b. Menyediakan data yang relevan dengan keputusan manjemen yang akan diambil c. Membantu manajemen dalam menentukan alternative (pilihan) tindakan - 2

3 d. Membantu manajemen dalam menenetukan alternative yang lebih baik untuk memecahkan suatu masalah. e. Membantu manajemen dalam merencanakan kegiatan di masa yang akan datang Kedua akuntansi tersebut mempunyai persamaan dan perbedaan yang antara lain : Perasamaan: 1. Keduanya merupakan pengolah informasi yang menghasilkan informasi keuangan. 2. Keduanya berfungsi sebagai penyedia informasi keuangan yang bermanfaat bagi yang berkepintingan Perbedaan : 1. Akuntansi keuangan terutama ditujukan untuk menyajikan informasi keuangan bagi pemakai di luar perusahaan, seperti pemegang saham, kreditur, pemerintah dl 2. Akuntansi manajemen ditujukan untuk menyediakan informasi keuangan bagi keperluan manajemen. Adapun akuntansi biaya mempunyai tujuan menghitung biaya produksi untuk menetapkan harga pokok produksi dan menyusun laporan biaya guna memenuhi keperluan manajemen, karena akuntansi biaya hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan para pemakai di dalam perusahaan, maka akuntansi biaya merupakan bagian dari akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen. C. Penggolongan Biaya. 1. Menurut obyek pengeluaran. a. Pembelian bahan baku disebut biaya bahan baku b. Pembayaran tenaga kerja disebut biaya tenaga kerja c. Pembayaran biaya-biaya lain yang terjadi di pabrik disebit biaya overhead pabrik 2. Atas dasar fungsi pokok dalam perusahaan a. Biaya produksi adalah biaya-biaya yang diperlukan untuk mengolah bahan baku menajdai produk jadi. b. Biaya administrasi dan umum adalah biaya dalam hubungannya dengan pengatu ran atau koordinasi kegiatan produksi c. Biaya penjualan/ pemasaran adalah biaya yang berhubungan dengan kegiatan pe masaran/ penjualan. 3. Hubungan biaya dengan suatu yang dibiayai - 3

4 a. Biaya bahan langsung adalah semua bahan untuk membentu suatu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan produk jadi b. Biaya tenga kerja langsung upah para pekerja yang secara langsung membuat pro duk dan jasanya dan langsung dihituing kedalam harga pkok produk. c. Biaya produksi tidak langsung adalah biaya selain bahan langsung dan tenaga ker ja langsung yang terjadi di pabrik, macam biaya ini disebut biaya overhead pabrik 4. Tingkah laku terhadap peubahan volume produksi a. Biaya tetap adalah biaya yang jumlahnya tetap dan tidak terpengaruh terhadap vo lume produksi b. Biaya variabel adalah biaya yang jumlahnya berubah sebanding dengan perubahan volume produksi. c. Biaya semi variabel adalah biaya yang jumlahnya berubah tidak sebanging dengan volume produksi. 5. Menurut waktu manfaat a. Pengeluaran modal (capital expenditure) adalah biaya yang dapat dinikmati lebih dari satu periode akuntansi atau satu tahun Pada saat terjadinya pengeluaran modal dicatat sebagai harga pokok aktiva dan di bebankan dalam tahun-tahun yang menikmati manfaat dengan mengalokasikan se bagian harga pkok aktiva tersebut sebagai penyusutan. b. Pengeluaran penghasilan (revenue expenditure) adalah biaya yang hanya mempu nyai manfaat dalam satu periode akuntansi dimana biaya tersebut terjadi. D. Tujuan Akuntansi Biaya. 1. Menyajikan informasi biaya untuk mengitung harga okok produksi 2. Menyajikan informasi biaya dalam rangka pengendalian 3. Menyajikan informasi biaya untuk membantu manajemen dalam pembuatan angga ran dan perencanaan laba. 4. Menyajikan informasi biaya untuk pengambilan keputusan E. Metode Pengumpulan Biaya 1. Cara memproduksi atas dasar pesanan. Pada perusahaan yang memproduksi atas dasar pesanan cara pengumpulan biaya produksi dengan menggunakan metode harga pokok pesanan, biaya produksi yang - 4

5 dikumpulkan untuk setiap jenis pesanan dan harga pokok persatuan yang dihutng dengan rumus Jumlah produksi settiap pesanan Harga Pokok per Satuan = Jumlah produk yang dipesan 2. Cara memproduksi atas dasar produksi masa Pada perusahaan yang memproduksi masa cara pengumpulan biaya produksi dengan menggunakan metode harga pokok proses. Dalam metode ini biaya produksi dikumpulkan selama periode tertentu. Sedangkan harga pokok per satuan produk yang dihasilkan pada periode tertentu dihutng dengan rumus : F. Sistimatika Akuntansi Biaya Perhitungan Biaya Produksi Harga pokok per satuan = Jumlah produksi selama satu periode Jumlah produk yang dihasilkan 1. Perhitungan biaya produksi sebelum proses produksi dilakukan, dalam menghitung biaya produksi sebelum proses produksi dilakukan biasanya biaya produksi ditetapkan berdaarkan pengeluaran yang telah lalu, kemudian diperhitungan kemungkinan yang akan terjadi pada masa yang akan datang, perhitungan ini dipergunakan untuk menentukan harga pokok produksi. 2. Perhitungan biaya setelah prose produksi selesai, perhitungan biaya produksi semacam inin dengan mendasarkan atas pencatatan biaya-biaya yang sesungguhnya terjadisehingga diperoleh jumlah biaya untuk produksi tertentu. Contoh : Perusahaan Gadjah Oleng dalam mengerjakan produk tertentu berdasarkan pengalaman ditetapakan biaya-biaya sebagai berikut : Biaya bahan baku Rp ,- Biaya tenaga kerja langsung Rp ,- Biaya overhead pabrik Rp ,- Jumlah biaya produksi Rp ,- Setelah produk selesai dikerjakan dipeoleh data biaya sebagai berikut : Biaya bahan baku Rp ,- Biaya tenaga kerja langsung Rp ,- Biaya overhead pabrik Rp ,- Jumlah biaya produksi Rp ,- - 5

6 Bab II PERHITUNGAN DAN PENCATATAN BIAYA PRODUKSI A. Pendahuluan. Dalam perusahaan industri terdapat tiga fungsi pokok yaitu fungsi produksi; pemasaran dan administrasi umum. Berdasarkan fungsi pokok dalam perusahaan, biaya digolongkan menjadi biaya produksi; biaya pemasaran dan biaya administrasi umum. Biaya produksi adalah biaya-biaya yang terjadi dalam hubungan dengan proses pengolahan bahan baku sampai pada produk jadi. Biaya produksi dikelompokkan menjadi biaya bahan baku; biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik. Komponen yang mencakup biaya produksi adalah : 1. Biaya bahan baku, bahan baku adalah bahan yang membentuk suatu kesatuan yang tak terpisahkan dari produk jadi dan merupakan biaya utama dalam proses pembuatan produk. Harga pokok bahan baku yang dikorbankan dan diolah dalam proses produksi disebut biaya bahan baku. 2. Biaya tenaga kerja adalah jasa sumber daya manusia yang dinilai dengan satuan uang, yang dikorbankan dalam usaha memperoleh pendapatan bagi karyawan. 3. Biaya Overhead Pabrik (BOP) adalah biaya produksi selain bahan baku dan biaya tenaga kerja, seperti : biaya listrik dan telepon, biaya perawatan mesin, biaya penyusutan mesin, biaya pelatihan dan sebagainya. B. Biaya Bahan Baku 1. Harga Pokok Bahan Baku yang Dibeli Dalam menentukan harga poko bahan baku yang dibeli dengan mendasarkan : a. Harga faktur b. Biaya angkut pembelian c. Biaya-biaya lain yang berhubungan untuk mendapatkan bahan baku tersebut Sementara potongan pembelian, jumlah ptongan pembelian diberlakukan sebagai pengurang harga pokok bahan baku yang dibeli. - 6

7 Mengenai baiaya angkut pembelian, dalam hal bahan baku yang dibeli hanya satu jenis tidak ada kesulitan dalam membebankan biaya angkut pembelian bahan baklu yang dibeli. Tetapi bila perusahaan membeli lebih dari satu jenis bahan baku maka perhitungan harga pokok bahan baku yang dibeli dengan mendasarkan : 1. Berdasarkan perbandingan kuantitas tiap jenis bahan baku, cara ini hanya dapat dilakukan apabila satuan bahan baku yang dibeli sama atau disamakan. Contoh : Perusahaan Medro membeli dua jenis bahan baku sebagai berikut : Bahan A Rp.800,- Rp ,- Bahan B Rp.700,- Rp ,- Jumlah kg Rp ,- Biaya angkut pembelian untuk ke dua jenis bahan baku tersebut Rp Jumlah ini dialokasikan pada bahan baku A dan B dengan perhitungan : Bahan A Bahan B = x Rp ,- = Rp = x Rp ,- = Rp Berdasarkan perbandingan harga faktur Bahan A = x Rp ,- = Rp , Bahan B = x Rp ,- = Rp , Perhitungan Harga Pokok Bahan Baku Yang dipakai 1. Biaya Bahan Baku, adalah harga pokok bahan baku yang dipakai dalam proses produksi. Perhitungan harga pokok bahan baku yang dipakai dalam proses produksi tergantung pada system pencatatan pencatatan persediaan dan metode penilaian persediaan bahan baku yang diterapkan. Terdapat dua system pencatatan persediaan yaitu system fisik dan system perfectual. Sementara metode penilaian bahan baku yang biasa digunakan adalah metode FIFO; LIFO dan Rata-rata tertimbang. Harga pokok bahan baku yang dipakai dalam proses produksi pada dasarnya adalah hasil kuantitas dengan harga satuan bahan baku yang dipakai. Penentuan kuantitas bahan baku - 7

8 tergantung pada system pencatatan dan penentuan harga satuannya tergantung pada metode penilaian persediaan yang digunakan. Contoh : Data bahan baku PT KAPILUX selama bulan Maret 2008 adalah sebagai berikut : Maret 1. Persediaan Rp.1.200,- Maret 10 Pembelian Rp ,- Maret 15 Pemakaian proses produksi kg Maret 23 Pembelian Rp ,- Maret 28 Pemakaian proses produksi kg Harga pokok bahan baku yang dipakai dapat dihitung dengan metode : 1. Metode FIFO (masuk pertama keluar pertama) Menurut metode FIFO bahan baku yang masuk pertama dianggap bahan baku yang pertama dipakai dalam proses produksi. Dari contoh diatas harga pokok bahan baku yang dipakai sebesar : Pemakaian pada tanggal 15 Maret sebanyak Kg adalah : 5000 Rp.1.200,- = Rp , Rp.1.000,- = Rp ,- Rp ,- Pemakaian pada tanggal 28 Maret sebanyak Kg : 3000 Rp.1.000,- = Rp , Rp.1.500,- = Rp ,- Rp ,- Biaya Bahan Baku Rp , 2. Metode LIFO ( Masuk Terakhir Keluar Pertama) Pada metode LIFO bahan baku yang masuk terakhir dianggap yang pertama kali dipakai dalam proses produksi. Contoh : Pemakaian pada tanggal 15 Maret Kg adalah : 8000 Rp ,- = Rp ,- - 8

9 2000 Rp ,- = Rp ,- Rp ,- Pemakaian pada tanggal 28 Januari Kg adalah 6000 Rp.1.500,- = Rp ,- Biaya Bahan Baku Rp ,- 3. Metode Rata-rata tertimbang Pada metode rata-rata tertimbang, harga pokok bahan baku yang dipakai dalam proses produksi adalah hasil kali kuantitas bahan baku yang dipakai dan harga pokok ratarata per unit. Dari contoh diatas harga pokok bahan baku yang dipakai adalah : Harga pokok rata-rata tiap Kg Rp.1.200,- = Rp , Rp.1.000,- = Rp , Rp.1.500,- = Rp , kg = Rp ,- Harga pokok rata-rata tiap kg = Rp ,- : kg = Rp.1.225,- Harga pokok pemakaian bahan baku adalah : = kg X Rp.1.225,- = Rp ,- 3. Pencatatan Biaya Bahan Baku Pencatatanbahan baku meliputi pencatan pemebelian dan pemakaian bahan baku dalam proses produksi. Sementara teknis pencatatannya tergantung sistem pemcatatatan persediaan yang diterapkan. sistem pencatatan dibedakan antara lain : a.pencatatan sistem Fisik, dalam pencatatan sistem fisik harga pokok bahan baku yang dipakai dalam proses produksi dihitung dan dicatat pada setiap periode, setelah lebih dulu dihitung harga pokok bahan baku pada akhir periode. Dengan demikian selama periode berjalan tidak ada pencatatan harga pokok bahan baku yang dipakai dalam proses produksi. Harga pokok bahan baku yang dipakai dalam proses produksi selama periode dapat dihitung dengan cara sebagai berikut : Pembelian bahan baku awal periode Rp.xx - 9

10 Harga pokok bahan baku yang dibeli Rp.xx (+) Hp. BB yang tersedia untuk dipakai Rp.xx Harga pokok bahanakhir Rp.xx (-) Hp. BB yang dipakai dalam proses Prod. Rp.xx 4. Prosedur Pencatatan Baya Bahan Baku 1. Transaksi pembelian bahan baku dicatat di (D) pada akun persediaan bahan baku dan (K) pada akun Hutang/ Kas. Bahan baku hanya berfungsi sebagai tempat mencatat harga pokok persediaan BB pada awal periode. Pada akhir periode, saldo akun persediaan BB dipindahkan pada akun BDP atau akun ikhtisar produksi. Dengan demikian, harga pokok BB yang tersedia untuk dipakai akan nampak disisi (D) akun BDP. Sementara akun persediaan BB dan akun pemebelaian BB menjadi nol 2. Harga pokok bahan baku pada akhir periode adalah dihitung secara fisik dicatat idsebelah (D) pada akun persediaan BB, dan (K) pada akun persediaan BDP. Sehubungan dengan pencatatan bahan diatas, saldo akun BDP menunjukkan harga pokok bahan baku yang dipakai dalam proses produksi (biaya bahan baku) selama periode yang bersankutan. Metode FIFO, LIFO atau rata-rata Dalam pencatatan sistim fisik, namapak harga pokok BB yang dipakai dalam proses produksi baru dapat ditentukan setelah Harga pokok BB akhir periode diketahui. Nilai persediaan BB pada akhir periode tergantung pada metode penilaian persediaan yang diterapkan, dalam artian menggunakan tertimbang Contoh metode penilaian persediaan FIFO PT. Kolang Kaling mempunyai data Bahan Baku untuk bulan Juli 2007 sebagai berikut : Juli 1, Persediaan Kg@ Rp Juli 5, Pembelian Kg@ Rp Juli 12, Pembelian Kg@ Rp Juli 31, Persediaan Kg Berdasarkan data BB diatas, Jurnal yang dibuat PT Kolang-Kaling Sbb: - 10

11 1. Jurnal untuk mencatat BB yang dibeli selama bulan Juli 2007 ( secara kolektif) sebagai berikut : Juli 31,Pembelian BB Rp (D) Hutang Dagang Rp (K) Jurnal yang dibuat pada akhir periode Juli 31, BDP Rp (D) Pembelian BB Rp (K) Untuk memindahkan akun Persediaan BB ke akun BDP sebagai berikut : Juli 31, BDP Rp (D) Persediaan BB Rp (K) 2. Jurnal untuk mencatat harga pokok persediaan BB akhir periode. Harga pokok persediaan 31 Juli 2007 sebanyak 1000 Kg, dihitung menerapkan FIFO, bahan baku yang dibeli dianggap yang lebih dulu dipakai dalam proses produksi, maka BB yang belum dipakai pada akhir periode sebanyak 1000 Kg terdiri : 6000 Rp1.400,- = Rp ,- ( Pembl.12 Juli) 4000 Rp.1.250,- = Rp ,- (Pembl 5 Juli) Rp ,- Jurnal tanggal 31 Juli 2007 sebagai berikut : Persediaan BBRp ,- (D) Barang Dalam Proses Rp ,- (K) - 11

12 Prosedur pecatatan biaya bahan baku ke dalam Buku Rekening Persediaan BB Barang Dalam Proses Pembelian BB Hutang Dagang Akun BDP pada bagan buku rekening menunjukkan saldo debit Rp ( ) jumlah tersebut menunjukkan bahwa biaya BB yang terjadi bulan Juli 2007 adalah sebesar = Pencatatan Sistem Perfectual Menurut pencatatan sistem perfectual, harga pokok bahan baku yang dibeli dan harga pokok bahan baku yang diproses dalam produksi dicatat dalam akun BDP (D) dan akun persediaan BB (K). Dengan demikian, metode penilaian persediaan diterapkan untuk menghitung harga pokok bahan baku yang diproses. Berikut contoh pencatatan sistem perfectual dengan metode FIFO, LIFO dan rata-rata tertimbang Data Persediaan BB PT Rebah Semangat selama bulan Juli 2007 adalah sebagai berikut : 1. Juli, persediaan Juli, pembelian Rp.4.550,- pembayaran n/ Juli, masuk dalam proses Kg. 1. Pencatatan sistem perfectual LIFO. Juli 5. Persediaan BB Rp (D) Hutang Dagang Rp (K) Harga pokok yang diproses 10 Juli Kg dihitung dengan metode FIFO sbb: - 12

13 6.500 Rp.4.250,- = Rp , Rp.4.550,- = Rp ,- Jumlah = Rp ,- 2. Pencatatan sistem perfectual LIFO Pencatatan transaksi pemeblian bahan baku dicatata sama dengan diatas. Sementara harga pokok bahan baku yang diproses seanyak Kg dihitung dengan metode LIFO sebagai berikut : Rp = Rp , Rp.4.250,- = Rp ,- Jumlah = Rp ,- Jumlah ini dicatata dalam akun BDP seperti pada contoh diatas. 3. Pencatatan sistem perfectual rata-rata tertimbang Perbedaan dengan pencatatan diatas, terletak pada perhitungan harga pokok bahan baku yang diproses dalam produksi. Harga pokok bahan yang yang diproses pada contoh diatas jika dihitung dengan metode rata-rata tertimbang sebagai beikut : Persediaan Rp ,- = Rp ,- Pembelian Rp ,- = Rp ,- Jumlah Kg =Rp ,- Harga pokok rata-rata tertimbang tiap Kg pada saat terjadi transaksipemakaian bahan baku dalam produksi adalah Rp = Rp.4.420, Hara pokok bahan baku yang masuk dalam proses produksi 10 Juli 2007 sebesar X = Dalam penerapan sistem Perfectual, baik transaksi pembelian maupun pemakaian bahan baku dicatat juga dalam kartu persediaan. Kartu ini disediakan untuk setiap jenis bahan baku dan berfungsi sebagai buku pembantu untuk persediaan bahan baku. contoh: Pencatatan bahan baku dalam kartu persediaan. Kartu persediaan bahan baku C-1 PT Wijaya bulan Oktober Oktober 1 Persediaan Rp.2.500,- Oktober 5 Pembelian Rp.3.000,- Oktober 8 Masuk dalam proses produksi Kg - 13

14 Tanggal Oktober 15 Pembelian Rp.3.200,- Oktober 20 Masuk dalam proses produksi Kg Dari mutasi persediaan BB C-1, dengan menggunakan metode FIFO sebagai berikut : Pemeblian Pemakaian Saldo Unit H/unit Jumlah Unit H/unit Jumlah Unit H/unit Jumlah 1-Oct Rp 2,500 Rp 45,000,000 5-Oct Rp 3,000 Rp 36,000, Rp 3,000 Rp 36,000,000 8-Oct Rp 2,500 Rp45,000,000 - Rp - Rp Rp 3,000 Rp 6,000, Rp 3,000 Rp 30,000, Oct Rp 3,200 Rp 32,000, Rp 3,000 Rp 30,000, Rp 3,200 Rp 32,000, Oct Rp 3,000 Rp30,000, Rp 3,200 Rp16,000, Rp 3,200 Rp 16,000,000 C. Biaya Tenaga Kerja Biaya tenaga kerja merupakan unsur utama yang digunakan untuk mengubah bahan baku menjadi produk jadi. Oleh karenanya, pemahaman terhadap elemen biaya tenaga kerja mutlah berdampak terhadap pembayaran gaji dan upah, oleh karena itu kebutuhan tenaga kerja harus disesuaikan dengan tingkat volume kegiatan. Untuk memahami biaya tenaga kerja ada beberapa hal yang perlu dibahas : 1. Pengertian biaya tenaga kerja 2. Daftar gaji dan upahuntuk dipahami. Hal ini sangat berguna euntuk efisiensi Perusahaan. Terutama untuk merekrut tenaga kerja akan 3. pembebanan gaji dan upah 4. Menerapkan tentang pencatatan biaya tenaga kerja Pengertian Biaya Tenaga Kerja Biaya tenaga kerja adalah jasa sumber daya manusia yang dinilai dengan satuan uang yang dikorbankan dalam usaha memeperoleh pendapatan. Gaji dan upah karyawan dihitung dari jumlah jam kerja dikalikan tariff upah setelah dikurangi potongan-potongan Penggolongan Tenaga Kerja 1. Penggolongan tenaga kerja menurut fungsi pokok dalam perusahaan. a. Tenaga kerja bagian produksi adalah tenaga kerja yang secara langsung atau tidak langsung terlibat dalam kegiatan produksi sehingga jasa yang diberikan kepada - 14

15 tenaga kerja bagian produksi akan dimasukkan unsur harga pokok produksi sebagai biaya tenaga kerja langsung atau tidak langsung yang berhubungan dengan pabrik. b. Tenaga kerja bagian pemasaran adalah tenaga kerja yang berhubungan dengan distribusi/ penjualan hasil produksi, sehingga jasa yang diberikan kepada tenaga kerja bagian pemasaran tidak termasuk unsur biaya produksi tetapi dimasukkan dalam unsur biaya penjualan. c. Tenaga kerja bagian Umum dan Administrasi adalah tenaga kerja yang berhubungan dengan kegiatan administrasi dan umum yang ada di kantor sehingga jasa yang diberikan kepada tenga kerja atau pegawai umum bagian administrasi termasuk kelompok biaya umum dan administrasi. 2. Penggolongan tenaga kerja menurut hubungannya dengan Produk. a. Tenaga kerja langsung adalah tenga kerja yang secara langsung menangani proses pengolahan bahan baku hinga produk jadi. b. Tenaga kerja tidak langsung adalah tenaga kerja yang secara tidak langsung menangani proses pengolahan bahan tetapi membantu atas peneyelesaian produk dalamperusahaan. 3. Penggolongan tenaga didik kerja menurut Pendidikan/ kemampuan. a. Tenaga kerja ter adalah tenaga kerja yang untuk menduduki profesinya kareana adanya pendidikan secara formal. b. Tenaga kerja terlatih adalah tenaga kerja yang untuk menduduki profesinya karena adanya ketrampilan yang diperoleh dari pendidikan non formal c. Tenaga kerja tidak terdidik adalah tenaga kerja yang tidak mempunyai keahlian khusus (baiasanya sebagai tenaga kasar) tenaga harian. Akuntansi Biaya Tenaga Kerja 1. Pencatatan dan Perhitungan waktu kerja, kegiatan pertama yang dilakukan dalam akuntansi tenaga kerja adalah menmcatat waktu kerja. Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh bagian personalia dengan dibuatkan kartu jam hadir bulanan atau dapat pula didasarkan pada satuan produkyang dihasilkan pekerja yang bersangkutan. - 15

16 Contoh : KARTU JAM KERJA Nama :.. Periode :.. Unit kerja :. Hari/Tanggal Jam Jam Jam Jam Jumlah Jam Jam Masuk Istirahat Kembali pulang jam reguler lembur Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu Jumlah Pencatatan dan perhitungan waktu/ jam kerja diatas dikirim ke bagian pembuatan daftar gaji sebagai dasar untuk penyusunan daftar gaji dan upah. 2. Perhitungan jumlah biaya tenaga kerja, dari perhitungan waktu kerja dapat dipakai dasar Contoh : untuk penyusunan daftar gaji, baik untuk tenaga kerja langsung maupun tidak langsung ataupun tenaga kerja bagian pemasaran, administrasi dan umum. No. Nama Jam Potongan Terif/ jam Gaji Kotor Kerja PPh. Ps.21 Pinjaman Gaji Bersih 1 Sukiman 50 Rp Rp Rp Rp Rp Sukimun 45 Rp Rp Rp Rp Rp Sukinah 49 Rp Rp Rp Rp Rp J u m l a h Rp Rp Rp Rp Pencatatan dan perhitungan waktu jam kerja tersebut dikirim ke bagian pembuatan daftar gaji, baik untuk tenaga kerja langsung maupun tenaga kerja tidak langsung, maupun tenaga kerja bagian pemasaran, administrasi dan umum. Daftar upah secara umum dapat dicatat dalam jurnal sebagai berikut : 1. Pada saat upah dan gaji ditetapkan/ diperhitungkan Gaji dan Upah Rp.xxxxx Utang PPh. Karyawan Rp.xxxxx - 16

17 Utang asuransi Rp.xxxxx Piutang Karyawan Rp.xxxxx Utang gaji dan upah Rp.xxxxx 2. Pada saat upah dan gaji dibayarkan. Utang gaji dan upah Rp.xxxxx Kas Rp.xxxxx 3. Pada saat PPh. karyawan dan asuransi tenaga kerja disetor ke kas Negara dan kantor asuransi. Utang gaji dan upah Rp.xxxxx Utang astek Rp.xxxxx Kas Rp.xxxxx Pembebanan Biaya Tenaga Kerja Jumlah gaji dan upah yang telah dihitungoleh petugas pembuat daftar gaji dan upah kemudian dialokasikan / dibebankan ke masing-masingjenis biaya, dengan mendebet masing-masing biaya dan mengkredit gaji dan upah dengan jurnal sebagai berikut : BDP- Biaya tenaga kerja langsung Rp.xxxxx Biaya Overhead Pabrik sesungguhnya Rp.xxxxx Biaya Pemasaran Rp.xxxxx Gaji dan Upah Rp.xxxxx Catatan : 1. Rekening BDP-biaya tenaga kerja langsung (D) untuk mencatat pembebanan gaji dan upah tenaga kerja yang langsung mengerjakan proses produksi. 2. Rekening BOP sesungguhnya untuk mencatat pembebanan gaji dan upah tenaga kerja tidak langsung menangani proses produksi, tetapi menagani proses produksi. 3. Rekening biaya pemasaran untuk mencatat alokasi/ pembebanan gaji dan upah tenaga kerja dibidang distribusi hasil produksi. - 17

18 4. Rekening biaya umum dan administrasi untuk mencatat pembebanan gaji dan upah tenaga kerja di bagian kantor (adm. Dan umum). D. Biaya Overhead Pabrik Biaya produksi tidak langsung atau Biaya overhead pabrik merupakan biaya produksi selain bahan baku dan biaya tenaga kerja tidak langsung. Dalam perhitungan harga pokok biaya overhead yang terjadi sangat sulit untuk dibebankan langsung kepada produk sehingga BOP yang dibebankan kepada produk biasanya atas dasar tarif BOP tunggal dan tarif BOP Departemen. Pembahasan ini antara lain : 1. Pengertian Biaya Overhead Pabrik 2. Tarif BOP tunggal dan BOP Departemen 3. Perhitungan selisih BOP 4. Penerapan pencatatan BOP ke dalam perhitungan harga pokok produksi A. Pengertian Biaya Overhead Pabrik Biaya Overhead Pabrik adalah biaya-biaya selain bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya tersebut antara lain : biaya bahan penolong; biaya tenaga kerja tidak langsung; penyusutan aktiva tetap pabrik; biaya sewa gedung; biaya listrik dan telepon; biaya pemeliharaan ; dan lain-lain. B. Jenis-jenis Biaya Overhead Pabrik. 1. Biaya bahan penolong, biaya bahan penolong adalah biaya bahan yang digunakan untuk membantu penyelesaian suatu produk yang jumlahnya relative kecil, sehingga biaya tersebutdigolongkan ke dalam biaya produksi tidak langsung. 2. Biaya tenga kerja tidak langsung, adalah biaya tenagakerja yang diberikan kepada pekerja yang tidak menagani secara langsung dalam proses produksi. 3. Biaya penyusutan aktiva tetap adalah biaya penyusustan atas biaya yang dipergunakan di pabrik untuk penyelesaian produk baik secara langsung maupun tidak tidak langsung. 4. Biaya reparasi dan pemeliharaan adalah biaya yang dikeluarkan untuk perbaikan perwatan mesin dan peralatan pabrik. 5. Biaya asuransi pabrik adalah biaya yang dikeluarkan untuk membagi risiko yang terjadi dalam proses produksi di pabrik. 6. Biaya jasa kepada pihak lain adalah biaya yang timbul karana penggunaan jasa kepada pihak lain salam penyelesaian dan kelancaran proses produksi - 18

19 7. Biaya-biaya lain yang sifatnya tidak langsung merupakan biaya yang berhubungan dengan proses produksi yaitu biaya yang dikeluarkan pada departemen pembantu. Macam-macam Biaya Overhead Pabrik. 1. Biaya Overhead Pabrik variabel adalah BOP yang jumlahnya berubah sesuai dengan perubahan volume produksi, sehingga BOP per unit tetap meskipun terdapat perubahan volume produksi. 2. Biaya Overhead Pabrik tetap adalah BOP yang jumlahnya tidak terpengaruh perubahan volume produksi, sehingga BOP per unit mengalami perubahan sebanding sebalaik dengan volume produksi. 3. Biaya Overhead Pabrik semi variabel adalah BOP yang jumlahnya berubah tidak sebanding dengan volume produksi, biaya ini mengandung unsur tetap dan variabel. C. Tarif Biaya Overhead Pabrik Dalam menentukan besarnaya biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada produk didasarkan atas tarif yang ditentukan dimuka. Besarnaya biaya overhead pabrik tidak berdasarkan BOP yang sesungguhnya. Penentuan Biaya Overhead Pabrik berdasarkan sifat biaya antara lain : 1. Biaya overhead pabrik yang terjadi tidak menetu/ tidak merata setiap waktu sehingga bila didasarkan atas biaya yang sesungguhnya terjadi akan mengakibatkan harga poko produksi lebih besar saat terjadi, pengeluaran harga pokok produk lebih rendah saat tidak terjadi pengeluaran BOP 2. Biaya overhead pabrik yang sifatnya tetap sehingga biala didasarkan atas biaya yang sesungguhnya terjadi akan mengakibatkan pembebanan biaya overhead yang mana biaya per unitnya akan berubah sesuaia dengan perubahan volume produksi setiap periode, maka pada saat volume produksi rendah biaya overhead per unit akan lebih besar dan sebaliknya. 3. Biaya Overhead Pabrik yang jumlahnya baru diketahui pada waktu-waktu tertentu sehingga perubahan BOP pada produk tertentu telah selesai akibatnya harga pokok produksi yang selesai pada pertengahan bulan tidak dibebani atas BOP yang belum diketahui jumlahnya. D. Langkah-langkah Menentukan Tarif Biaya Overhead Pabrik Tarif tunggal - 19

20 1. Menyusun anggaran Biaya overhead pabrik, dalam menyusun anggaran BOP yang harus diperhatikan tingkat produksi (kapasitas) yang digunakan sebagai dasar penaksiran jumlah anggaran BOP. Kapasitas tersebut adalah sebagai berikut : a. Kapasitas teoritis (kapasitas ideal) adalah kapasitas maksimum yang dapat dihasilkan oleh suatu departemen atau pabrik dalam kondisi yang sempurna tanpa adanya hambatan baik dari intern maupun ekstern perusahaan. b. Kapasitas praktis (kapasitas realistis) adalah kapistas yang dapat dicapai oleh departemen atau pabrik setelah diperhitungkan adanya hambatan-hambatan yang tidak dapat dihindarkan dari intern perusahaan. c. Kapasitas normal (kapasitas jangka panjang) adalah kapasitas yang dapat dicapai oleh departemen atau pabrik stelah dikurangi dengan hambatan-hambatan yang terjadi pada intern perusahaan untuk jangka panjang. d. Kapasitas jangka pendek, kapasitas jangka pendek merupakan kapasitas sesungguhnya yang diharapkan. Oleh karena itu, kapasitas jangka pendek merupakan kapasitas yang yang diharapkan dapat dicapai oleh departemen pada masa yang akan datang selama satu periode. Dalam praktek kapasitas yang dipakai sebagai dasar penyusunan anggaran BOP adalah kapasitas normal dan kapasitas sesungguhnya yang diharapkan. 2. Menentukan Dasar Pembebanan Biaya Overhead Pabrik kepada Produk Dasar Pembebanan Biaya Overhead Pabrik pada Produk sebagai berikut: a. Satuan Produksi b. Biaya bahan baku c. Biaya tenaga kerja langsung d. Jam tenaga kerja langsung e. Jam mesin 3. Menghitung Tarif Biaya Overhead Pabrik a. Atas dasar satuan produk, untuk menentukan tarif BOP atas dasar satuan produk dapat dihitung dengan cara membagi taksiran BOP dengan taksiran jumlah produk yang diahsilkan dan hasilnya tarif BOP per unit. Sedangkan pembebannya tarif BOP per unit dikalikan jumlah produk yang dihasilkan pada periode yang bersangkutan. - 20

21 Tarif BOP = Taksiran BOP = Tarif BOP per unit Taksiran Jumlah produk yang dihasilkan Contoh : Taksiran BOP pada satu periode Rp ,- dan taksiran produk yang dihasilkan pada periode yang bersangkutan unit dan produk yang dihasilkan pada periode yang bersangkutan unit. Tarif BOP = Rp unit = Rp.500,- BOP yang dibebankan pada produk = unit x Rp.500,- = Rp ,- b. Atas dasar Biaya bahan baku, adalah perbandingan antara taksiran BOP dalam satu periode dengan taksiran Biaya bahan baku pada periode yang bersangkutan Tarif BOP = Taksiran BOP x 100% =..% Taksiran Biaya Bahan Baku Pembebanan Biaya Overhead Pabrik prosentase BOP yang dianggarkan dari biaya bahan baku dikalikan dengan Biaya bahan baku yang terjadi pada periode yang bersangkutan. Contoh : Taksiran BOP dalam satu periode Rp ,- taksiran biaya bahan baku yang dipakai pada periode yang bersangkutan Rp ,- menurut catatan biaya bahan baku yang dikeluarkan pada periode yang bersangkutan Rp ,- Tarif BOP = x 100% = 12,5% BOP yang dibebankan pada produk = 12,5% x = Rp ,- c. Atas dasar biaya tenaga kerja langsung adalah perbandingan antara taksiran BOP dalam satu periode dengan taksiran biaya tenaga kerja langsung pada periode yang bersangkutan yang dinyatakan dalam prosentase. Pembebanan BOP prosentase anggaran biaya tenaga kerja langsung dikalikan dengan biaya tenaga kerja yang dikeluarkan pada periode yang bersangkutan. Tarif BOP = Taksiran BOP x 100% =..% Taksiran Biaya TKL - 21

22 Pembebanan Biaya Overhead Pabrik prosentase BOP yang dianggarkan dari biaya tenaga kerja langsung dikalikan dengan Biaya tenaga kerja yang terjadi pada periode yang bersangkutan Contoh : Taksiran BOP dalam satu periode Rp ,- taksiran biaya tenaga kerja pada periode yang bersangkutan Rp ,- menurut catatan biaya tenaga kerja yang dikeluarkan pada peride yang bersangkutan Rp ,- Tariff BOP = x 100% = 80% BOP yang dibebankan pada produk = 80% x = Rp ,- d. Atas dasar jam tenaga kerja langsung, bila tatif BOP didasarkan atas jam tenaga kerja langsung, maka tariff tersebut dihtung dengan cara membagi taksiran BOP dengan taksiran jam tenaga kerja langsung. Tarif BOP = Taksiran BOP = tarif jam kerja Taksiran jam kerja Pembebanan Biaya Overhead Pabrik prosentase BOP yang dianggarkan dari jam tenaga kerja dikalikan dengan jam tenaga kerja yang terjadi pada periode yang bersangkutan Contoh : Taksiran BOP dalam satu periode Rp ,- taksiran jam tenaga kerja pada periode yang bersangkutan 2500 jam menurut catatan jam tenaga kerja yang terjadi pada peride yang bersangkutan 2000 jam Tariff BOP = = Rp.400, BOP yang dibebankan pada produk = 2000 x Rp.400,- = Rp ,- e. Atas dasar jam kerja mesin, bila tatif BOP didasarkan atas jam a kerja mesin, maka tariff tersebut dihitung dengan cara membagi taksiran BOP dengan taksiran jam kerja mesin. Tarif BOP = Taksiran BOP = tarif jam kerja mesin Taksiran jam mesin - 22

23 Pembebanan Biaya Overhead Pabrik prosentase BOP yang dianggarkan dari jam tenaga kerja dikalikan dengan jam tenaga kerja yang terjadi pada periode yang bersangkutan Contoh : Taksiran BOP dalam satu periode Rp ,- taksiran jam mesin pada periode yang bersangkutan jam menurut catatan jam kerja mesin yang terjadi pada peride yang bersangkutan jam Tariff BOP = = Rp.250, BOP yang dibebankan pada produk = 3000 x Rp.250,- = Rp ,- Untuk menghitung analisis selisih BOP baik selisih anggaran maupun selisih kapasitas penentuan tariff BOP sering juga dibedakan atas tiga jenis yaitu : 1. Tarif BOP total adalah tariff BOP secara keseluruhan baik BOP Tetap maupun BOP variabel, rumus yang digunakan untuk menghitung BOP total adalah : Tarif BOP Total = Taksiran BOP Total Ukuran Kapasitas 2. Tarif BOP Tetap adalah tariff BOP yang tidak dipengaruhi oleh perubahan volume produksi, untuk menghitung tariff BOP ini dengan menggunakan 3. Rumus. Tarif BOP Tetap = Taksiran BOP Tetap Ukuran Kapasitas 4. Tarif BOP variabel adalah tariff BOP yang berubah sebanding dengan volume produksi. Untuk menghitung tariff ini dengan menggunakan rumus : Tarif BOP Variabel = Taksiran BOP Variabel Ukuran Kapasitas Contoh : Perusahaan Industri Maju menetapkan tariff BOP atas dasar jam tenaga kerja langsung sebagai berikut : Anggaran BOP tetap Rp ,- Anggaran BOP variabel Rp ,- Jumlah jam kerja langsung jam - 23

24 Hitung tarif BOP tetap dan tarif BOP variabel Jawab : Tarif BOP Tetap = = Rp.200, jam Tarif BOP Variabel = = Rp.300,- (+) jam Total Tarif BOP Rp.500,- 4. Tarif BOP Departemen Bila dalam pengolahan produksi suatu perusahaan menggunakan beberapa departemen produksi dan beberapa departemen pembantu, maka untuk menentukan tarif BOP per Departemen dilakukan langkah-langkah sebagai berikut : a. Menyusun anggaran Biaya Overhead Pabrik per Departemen. Untuk mengadakan penyusunan anggaran BOP per departemen terlebih dahulu harus mendistribusikan BOP tidak langsung ke Departemen yang menikmati manfaat biaya tersebut. Dasar pendistribusian BOP tidak langsung Departemen ke Departemen yang menikmati secara umum sebagai berikut : BOP Tidak Lansung Dasar Pendistribusian ke Departemen yang menikmati 1. Biaya listrik Pemakaian KWH Departemen yang bersankutan 2. Biaya penyusutan gedung Luas lantai Departemen yang bersangkutan 3. Biaya gaji pegawai Jumlah karyawan Departemen 4. Biaya Overhead lainnya Biaya lain Departemen yang bersangkutan - 24

25 Contoh : Peursahaan Teka Teki dalam menyusun anggaran BOP per Departemen terdapat data sebagai berikut : 1. Data Departemen yang menikmati BOP tidak langsung Departemen BOP langsung Luas lantai KWH Juml. Karyawan Produksi A Rp , Produksi B Rp , Pembantu X Rp , PembanttuY Rp , Data BOP tidak langsung Departemen Jenis Biaya Jumlah Dasar a. Biaya listrik Rp ,- Pemakaian KWH b. Biaya penyt.gedung Rp ,- Luas lantai c. Biaya gaji pegawai Rp ,- Jumlah karyawan Dari data diatas, pendistribusian BOP tidak langsung Departemen pada Departemen yang menikmati adalah sebagai berikut : Dep. yang Menikmati BOP Jumlah Dep.Produksi Dep.Pembantu A B X Y BOP langsung BOP tak langsung Biaya listrik Biya penyusutan gedung Biaya gaji pegawai Jumlah Keterangan : 1. Pendistribusian biaya listrik Rp ,- ke Departemen yang menikmati atas dasar pemakaian KWH Dep. Produksi A = x Rp , = Rp ,- Dep. Produksi B = x Rp ,- = Rp , Dep. Pembantu X = x Rp ,- = Rp ,

26 Dep. Pembantu Y = x Rp ,- = Rp , Pendistribusian biaya penyusutan gedung pabrik Rp ,- ke Departemen yang menikmati atas dasar luas lantai. Dep. Produksi A = x Rp ,- = Rp , Dep. Produksi B = x Rp ,- = Rp , Dep. Pembantu X = x Rp ,- = Rp , Dep. Pembantu Y = 500 x Rp ,- = Rp , Pendistribusian Biaya Gaji pegawai Rp ,- ke Departemen yang menikmati atas dasar jumlah karyawan. Dep. Produksi A = 25 x Rp ,- = Rp ,- 75 Dep. Produksi B = 20 x Rp ,- = Rp ,- 75 Dep. Pembantu X = 15 x Rp ,- = Rp ,- 75 Dep. Pembantu Y = 15 x Rp ,- = Rp ,- 75 b. Alokasi Biaya Overhead Pabrik Departemen Pembantu ke Departemen produksi Setelah diadakan pendistribusian BOP tidak langsung Departemen ke Departemen yang menikmati (baiki Departemen produksi maupun departemen pembantu). Selanjutnya mengalokasikan BOP Departemen Pembantu ke Departemen Produksi. Ada dua metode yang dapat dipakai untuk mengalokasikan BOP Departemen Pembantu ke Departemen Produksi antara lain : A. Metode Alokasi Langsung. - 26

27 Bila digunakan metode alokasi langsung, maka pembebanan BOP departemen pembantu dialokasikan langsung ke Departemen produksi yang menikmati. Biasanya metode ini diterapkan karena jasa departemen pembantu hanya dinikmati oleh departemen produksi, sehingga tidak dialokasikan ke departemen pembantu lainnya. Contoh : Suatu perusahaan industri dalam kegiatan produksi dilakukan melalui dua departemen produksi dan dua departemen pembantu Data anggaran BOP sebelum alokasi adalah sebagai berikut : Departemen Produksi A Rp ,- Departemen Produksi B Rp ,- Departemen Pembantu X Rp ,- Departemen Pembantu Y Rp ,- Dari data diatas alokasi BOP dari departemen pembantu ke departemen produksi bila digunakan metode alokasi langsung dengan ketentuan berikut : Departemen Pembantu Deptemen Produksi A B Departemen X Departemen Y 60% 30% 40% 70% Alokasi BOP Departemen Pembantu ke departemen Produksi dengan metode alokasi langsung adalah sebagai berikut : Keterangan Departemen Produksi Departemen Pembantu A B X Y BOP Dept.Sblm Alokasi Dep.Pembantu Dep.X(A.60%,B.40%) Dep.Y(A.30%,B.70%) ( ) - - ( ) BOP Dep. Produksi ssdh alokasidari Dep.pembantu Keterangan : 1. Alokasi BOP departemen pembantu X Rp ,-ke departemen A.60% dan Departemen B.40% - 27

28 Dep. Produksi A = 60% x Rp ,- = Rp ,- Dep. Produksi B = 40% x Rp ,- = Rp ,- 2. Alokasi BOP Dep.Pembantu X Rp ,- ke Dep. A.30% dan Dep.B.70% Departemen A = 30% X Rp ,- Rp ,- Departemen B = 70% X Rp ,- Rp ,- B. Metode Alokasi Bertahap. Bila digunakan metode alokasi bertahap, maka perbedaan BOP Departemen Pembantuke departemen Produksi dilakukan secara bertahap. Hal ini disebabkan karena jasa departemen pembantu disamping dinikmati deparemen produksi juga dinikmati oleh deparemen pembantu lainnya, sedangkan pelaksanaannya alokasi bertahap bisa dilakukan dengan dua cara seperti yang dinikmati oleh departemen pembantu, alokasi tersebut adalahsebagai beikut : 1. Aloksi bertahap tidak timbale balik 2. Alokasi bertahap timbal balik Dalam alokasi bertahap timbal balik pelaksanaannya adalah departemen produksi A serta departemen produksi B, dan BOP departemen pembantu Y, setelah menrima alokasi dari departemen X akan dialokasikan ke departemen produksi A dan B. dalam hal bisa digambarkan sebagai berikut : Keterangan Departemen Pembantu Departemen Produksi X Y A B BOP Sebelum alokasi XXX XXY XXY XXX Dept X Dept Y XX XXX XY BOP Sesudah alokasi Nihil Nihil XXX XXX XX XX XX - 28

29 Contoh : Dari contoh diatas buatlah alokasi BOP dari departemen pembantu ke departemen produksi bila digunakan alokasi bertahap tidak timbale balik dengan ketentuan berikut : Keterangan Dep. Pembantu Departemen Produksi Y A B Departemen Pembantu X Departemen Pembantu Y sesudah alokasi dari Dept pembantu X 10% 50% 60% 40% 40% Jawab : Daftar alokasi BOP departemen pembantu ke departemen produksi dengan metode bertahap tidak timbale balik adalah sebagai berikut: Keterngan Departemen Pembantu Departemen Produksi X Y A B BOP sebelum alokasi BOP dari Departemen pembantu Departemen X (Y.10%;A.50%, B.40%) Departemen Y (A.60%; B.40%) ( ) ( ) BOP Departemen Produksi setelah alokasi dari Depart. pembnatu Perhitungan : 1. Alokasi BOP Departemen pembantu X Rp ,- ke dept.pembantu Y.10%; Dept.Prodoksi A.50%; Dept. PProduksi B. 40% Departemen Pembantu Y = 10% X Rp ,- Rp ,- Departemen Produksi A = 50% X Rp ,- Rp ,- Departemen Produksi B = 40% X Rp ,- Rp ,- - 29

30 2. Alokasi BOP Dep.Pembantu Y setelah menerinma alokasi dari Dep.Pembantu X (Rp ,- + Rp ,-) ke Dep.Prod. A.60% dan B.40% adalah ke Dep prod A= 60% X Rp ,- = Rp ,-, ke Dep. Prod. B = 40% X Rp ,- = Rp ,- C. Perhitungan Tarif BOP per Departemen. Setelah mengadakan alokasi BOP Departemen pemantu ke departemen produksi maka akan didapat anggaran BOP departemen produksi setelah alokasi. Sedangkan untuk menghitung tariff BOP departemen Produksi dapat dilakuakan dengan menggunakan Rumus tariff sebagai berikut : Tarif BOP Departemen Produksi setelah menerima alokasi dari Departemen Pemantu Dasar Pembebanan BOP Contoh : Pada contoh alokasi langsung diatas bila BOP dibebankan atas dasar jam tenaga kerja langsung dimana jam tenaga kerja langsung Departemen A adalah jam dan B adalah 5000 jam maka besarnya tariff BOP per departemen adalah : Departemen Produksi A = Rp ,- = Rp.531,- per jkl Departemen Produksi B = Rp = Rp.748,- per jkl D. Selisih Biaya Overhead Pabrik Sebagaimana telah disebutkan dimuka bahwa BOP dibebankan pada produk atas dasar tariff yang ditetapkan, jumlah pembebanan ini serng tidak sama dengan BOP yang sesungguhnya terjadi, maka akan timbul selisih BOP. Bila BOP yang sesungguhnya lebih besar dari BOP yang dibebankan, maka akan timbul selisih rugi yang dicatat pada rekening BOP kurang dibebankan dan sebaliknya bila BOP yang sesungguhnya lebih kecil dari BOP yang dibebankan, maka akan timbul selisih yang menguntungkan dan dicatata pada Rekening BOP lebih dibebankan. Untuk selanjutnya selisih BOP tersebut dapat diperlakukan sebagai rugi/laba atau dibebankan ke Harga Pokok Penjualan. Secara umum pencatatan Jurnal BOP yang dibebankan, BOP sesungguhnya dan selisih BOP adalah sebagai berikut : - 30

31 1. Jurnal pembanan BOP kepada produk BDP BOP BOP dibebankan Rp. xxx Rp.xxx 2. Jurnal pengumpulan BOP sesungguhnya : BOP sesungguhnya Rp.xxx Persediaan Bahan Pembantu Biaya Tenaga Kerja tidak langsung Penyusutan Gedung Pabrik Penyusutan Mesin Pabrik Rp.xxx Rp.xxx Rp.xxx Rp.xxx Apabila BOP tidak disebutkan secara rinci jurnalnya sebagai berikut : BOP Sesungguhnya Rp.xxx Macam-macam rekening yang harus di kredit Rp.xxx 3. Saat pencatatan selisih BOP : a. BOP lebih dibebankan BOP dibebankan Rp.xxx BOP sesungguhnya Rp.xxx BOP selisih dibebankan Rp.xxx b. BOP kurang dibebankan BOP Sesunggunya Rp.xxx BOP kurang dibebankan Rp.xxx BOP Dibebankan Rp.xxx 4. Jika selisih BOP dibebankan ke rekening Laba-rugi a. Jurnal BOP lebih dibebankan BOP lebih dibebankan Rp.xxx Laba-rugi b. Jurnal BOP kurang dibebankan Laba-rugi Rp.xxx BOP kurang dibebankan Rp.xxx Ep.xxx Apabila selisih BOP dibebankan ke Rekening Harga Pokok Penjualan : a. Jurnal selisih BOP dibebankan BOP lebih dibebankan Rp.xxx Harga Pokok Penjualan b. Jurnal BOP kurang dibebankan Harga Pokok Penjualan Rp.xxx BOP kurang dibebankan - 31 Rp.xxx Rp.xxx

32 Contoh : Suatu perusahaan industri pada periode tertentu memiliki data sebagai berikut : Taksiran BOP tetap Taksiran BOP variabel Jam mesin normal Jam mesin sesungguhnya BOP sesungguhnya Diminta : Jawab : jam jam Buat Jurnal yang diperlukan untuk mencatat BOP bila atas dasar jam mesin 1. Jurnal untuk mencatat pembebanan BOP : BDP-BOP BOP dibebankan Keterangan : Rp ,- Rp ,- Rp ,- Rp ,- Rp ,- Tariff BOP = = Rp.400,- per jam Jam mesin sesungguhnya terjadi jam BOP dibebankan = X Rp.400,- = Rp ,- 2. Jurnal untuk mengumpulkan BOP sesungguhnya : Macam-macam rekening di kredit 3. Jurnal untuk mencatat selisih BOP ; BOP dibebankan Rp ,- Rp ,- BOP sesungguhnya BOP sesungguhnya Rp ,- 4. Jurnal pembebanan selisih BOP kepada laba rugi : Laba-rugi BOP kurang dibebankan 5. Jurnal pembebanan selisih BOP kepada Harga Pokok Penjualan : Harga pokok penjualan BOP kurang dibebankan E. Analisis Selisih Biaya Overhead Pabrik - 32 BOP kurang dibebankan Rp ,- Rp ,- Rp ,- Rp ,- Rp ,- Rp ,-

33 Terjadinya selish Biaya Overhead Pabrik disebabkan adanya perbedaan antara BOP yang dibebankan dengan BOP sesungguhnya. Selisih BOP tersebut dapat dianalisis dengan menggunakan metode selisih anggaran dengan selisih kapasitas. 1. Selisih anggaran adalah selisih BOP dari perbedaan antara BOP yang sesungguhnya dengan taksiran biaya yang seharusnya dikeluarkan menurut anggaran. Selisih ini pada umumnya disebasbkan karena perubahan pada BOP variabel, sehingga selisih anggaran dapat dihitung dengan cara membandingkan antara jumlah BOP sesungguhnya dengan anggaran BOP pada kapasitas yang ditetapkan. Secara umum selisih anggaran dapat dihitung dengan rumus : BOP sesungguhnya Rp.xxxx BOP yang dianggarkan pada kapasitas sesungguhnya : BOP tetap Rp.xxxx BOP variabel (kapasitas sesunggunya X tarif) Rp.xxxx + Rp.xxxx Selisih anggaran Rp.xxxx 2. Selish kapasitas. Selisih kapasitas adalah selisih BOP dari perbedaan antara BOP tetap yang dianggarkan dengan BOP tetap yang dibebankan kepada produk. Secara umum selisih kapasitas dapat dihitung dengan rumus : BOP tetap yang dianggarkan Rp.xxxx BOP tetap yang dibebankan pada produk Rp.xxxx (-) (kapasitas sesungguhnya X tariff) Rp.xxxx (selisih kapasitas) - 33

34 BAGAIAN III HARGA POKOK PESANAN Pendahuluan : Salah satu metode pengumpulan biaya produksi adalah harga pokok pesanan, metode harga pokok ini banyak digunakan oleh perusahaan yang memproduksi lebih dari satu jenis produk sehingga produk yang dihasilkan sangat beragam baik dari segi mode, bentuk, ukuran maupun mutu tergantung bagaimana permintaan konsumen. Metode harga pokok pesanan merupakan metode perhitungan harga pokok setelah produk selesai dikerjakan. Pengumpulan biaya harga pokok tersebut untuk setiap jenis produk dicatat dalam kartu harga pokok pesanan. A. Pengertian, Ciri, dan Tujuan Harga Pokok Pesanan. Metode harga pesanan adalah suatu cara pengumpulan biaya produksi untuk pesanan tertentu. Harga pokok produk yang dihasilkan dihitung dengan cara membagi total biaya produksi untuk pesanan tersebut dengan jumlah satuan produk dalam pesanan yang bersangkutan. Tujuan pengumpulan biaya dalam metode harga pokok pesanan adalah untuk mengetahui harga pokok pesanan setiap barang jadi yang dipesan dan diserahkan ke pemesan. Pengumpulan dalam suatu perusahaan dipengaruhi oleh cirri-ciri kegiatan produksi suatu perusahaan. Perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan mengolah bahan baku menjadi produk jadi berdasarkan pesanan. Cirri-ciri Perusahaan yan gproduksinya berdasarkan pesanan adalah sebagai berikut : 1. Proses pengolahan produk terjadi terputus-putus. - 34

35 2. Produk yang dihasilkan sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan oleh pemesan 3. Produksi ditujukan untuk memenuhi pesanan dan bukan untuk memenhi persediaan di gudang. Ciri-ciri metode pengumpulan biaya produksi dalam harga pokok pesanan : 1. Digunakan jika perusahaan memproduksi berbagai macam produk sesuai dengan spesifikasi pemesan dan setiap jenis produk perlu dhitung harga pokoknya secara individual. 2. Biaya produksi harus dipisahkan menjadi dua golongan yaitu biaya produksi langsung dan biaya produksi tidak langsung. 3. Biaya produksi langsug terdiri dari biaya bahan baku langsung dan biaya tenaga kerja langsung biaya produksi tidal angsung disebut juga Biaya Overhead Pabrik yang diperhitungkan atau dibebankan kepada harga pokok pesanan. 4. Harga pokok per unit produk dihitung pada saat produk pesanan selesai dikerjakan dengan membagi jumlah biaya produksi yang dikeluarkan untuk pesaan tersebut dengan jumlah produk yang duhasilkan dalam pesanan yang bersangkutan. B. Cara Pembebanan Harga Pokok Pesanan Sesuai dengan cirri-ciri metode pengumpulan biaya produksi dalam harga pokok pesanan, maka komponen harga pokok pesanan dapat dikelompokkan dalam Biaya bahan baku, Biaya tenaga kerja dan Biaya Overhead Pabrik (BOP) Biaya produksi langsung (Biaya bahan bakudan Biaya tenaga kerja langsung) dibebankan pada pesanan berdasarkan baiaya yang sesungguhnya terjadi, sedangkan biaya produksi tidak langsung (BOP) dibebankan pada produk berdasarkan tariff yang ditentukan dimuka ( % ) dikalikan dengan biaya tenaga kerja langsung. Untuk menentukan harga pokok produksi berdasarkan pesanan, siklus akuntansinya dapat dikelompokkan dalam biaya bahan baku dan bahan penolong, biaya tenaga kerja, biaya overhead pabrik, produk selesai, produk dalam proses dan penjualan produk. 1. Pembelian dan Pemakaian Bahan Baku Akuntansi bahan baku dan bahan penolong meliputi pembelian dan pemakaian yang dijurnal sebagai berikut : Jurnal untuk mencatat pembelian bahan baku dan bahan penolong Persediaan bahan baku Rp.xxx - 35

36 Utang/ Kas Rp.xxx Jurnal untuk mencata pemakaian bahan baku BDP-Biaya bahan baku Rp.xxx Persediaan bahan baku Rp.xxx 2. Biaya Tenaga Kerja Akuntansi biaya tenaga kerja meliputi pemakaian tenaga kerja pembayaran dan pengalokasian biaya tenaga kerja. Jurnal untuk mencatat biaya tenaga kerja Gaji dan upah Rp.xxx Utang gaji dan upah Rp.xxx Pada saat pembayaran gaji dan upah Utang gaji dan Upah Rp.xxx Kas Rpxxx Pengalokasian Gaji dan Upah BDP Biaya TK langsung Rp.xxx BOP sesungguhnya Rp.xxx Biaya Pemasaran Rp.xxx Gaji dan upah Rp.xxx Penjelasan : 1. Rekening BDP-biaya tenaga kerja langsung digunakan untuk mencatat jumlah biaya tenaga kerja langsung pada departemen produksi. 2. BOP sesungguhnya digunakan untuk mencatat jumlah biaya tenaga kerja tidak langsung departemen produksi, seperti upah mandor, teknisi alat-alat prodiksi, petugas laboratorium, petugas kebersihan dibagian produksi dan lain-lain. 3. Biaya pemasaran untuk mencatat jumlah biaya tenaga kerja bagian pemasaran 4. Biaya administrasi dan umum untuk mencatat jumlah biaya tenaga kerja bagian kantor. - 36

37 III. Biaya Ovethead Pabrik (BOP) Pembebanan BOP ke harga pokok pesanan dihitung berdasarkan tarif yang ditentukan dimuka. Sedangkan BOP yang sesungguhnya dikeluarkan dan dicatat dalam rekening BOP sesungguhnya. Pada waktu penutupan buku perbedaan antara BOP yang dibebankan dengan BOP yang sesungguhnya dicatat dalam rekening selisih BOP. Selisih BOP ini ditutup ke rekening harga pokok penjualan atau rugi/laba sehingga akutansi BOP meliputi akutansi pembebanan BOP berdasarkan tariff, akutansi BOP yang sesungguhnya terjadi, penutupan rekening BOP, dan penutupan selisih BOP. a. Jurnal untuk mencatat Pembebanan BOP berdasarkan tarif yang ditentukan dimuka BDP-Biaya Overhead Pabrik Rp xx BOP yang dibebankan Rp xx b. Jurnal untuk mencatat BOP yang sesungguhnya terjadi BOP sesungguhnya Rp xx Berbagai rekening di kredit Rp xx c. Jurnal untuk menutup BOP Jika BOP yang sesungguhnya sama dengan BOP yang dibebankan (tidak terjadi selisih) BOP yang dibebankan Rp xx BOP sesungguhnya Rp xx d. Jika BOP yang sesungguhnya lebih besar dari BOP yang dibebankan (selisih rugi) BOP yang dibebankan Rp xx Selisih BOP Rp xx BOP sesungguhnya Rp xx e. Jika BOP yang sesungguhnya lebih kecil dari BOP yang dibebankan (Selisih laba) BOP yang dibebankan Rp xx Selisih BOP Rp xx BOP sesungguhnya Rp xx f. Jurnal untuk menutup selisih BOP - 37

38 1. Jika BOP yang sesungguhnya lebih besar dari BOP yang dibebankan (selisih rugi) Rugi-laba / harga pokok penjualan Rp xx Selisih BOP Rp xx 2. jika BOP yang sesungguhnya lebih kecil dari BOP yang dibebankan (selisih laba) Selisih BOP Rp xx Rugi-laba /harga pokok penjualan Rp xx IV. Produk Jadi (Selesai) Setelah pesanan selesai dikerjakan dipindahkan ke gudang oleh bagian produksi, harga pokok pesanan yang telah selesai diproduksi dapat dihitung dari informasi biaya yang dikumpulkan dalam kartu harga pokok pesanan yangbersangkutan dan dicatat dalam rekening persediaan produk jadi. Jurnal untuk mencatat produk jadi Persediaan produk Jadi Rp.xxx BDP Biaya bahan baku Rp.xxx BDP Biaya tenaga Kerja Rp.xxx BDP BOP Rp.xxx V. Produk Dalam Proses Pada akhir periode tertentu (terutama akhir bulan diadakan stock opname) inventarisasi baik bahan jadi maupun produk/ barang dalam proses, produk yang belum selesai tersebut dicatat dalam rekening persediaan Barang Dalam Proses. Jurnal Persediaan Barang Dalam Proses Persediaan Barang dalam Proses Rp.xxx BDP Biaya Bahan Baku Rp.xxx BDP Biaya Tenaga Kerja Rp.xxx BDP Biaya Overhead Pabrik Rp.xxx VI. Penjualan/ Penyerahan Produk Jadi Penjualan/ Penyerahan produk jadi kepada pemesan dicatat dalam rekening Penjualan sebesar nilai yang dijualnyadilakukan dengan mendebit rekening Harga Pokok Barang Jadi sehingga jurnal yang dibuat pada waktu penyerahan produk jadi adalah ; Kas/ Piutang Dagang Rp.xxx Penjualan Rp.xxx - 38

39 Harga Pokok Penjualan Rp.xxx Persediaan Barang Jadi Rp.xxx C. Rekening Kontrol dan Rekening Pembantu Rekening kontrol adalah rekening yang terdapat pada buku besar. Rekening tersebut diisi berdasarkan Jurnal, sedangkan rekening pembantu adalah rincian dari rekening kontrol dan diisi berdasarkan sumber dokumen / transaksi Contoh : Untuk memproduksi batako diperlukan bahan baku yang terdiri dari semen dan pasir, maka rekening kontrolnya adlah bahan baku, sedangkan rekening pembantunya adalah semen dan pasir. Dari uaraian tersebut dapat disimpulkan bahwa rekening pembantu merupakan bagian dari rekening control. Rekening buku besar disebut rekening control karenan fungsingya mengontrolo rekening pembantu. Jumlah nilai seluruh bahan baku yang digunakan (semen dan pasir) harus sama dengan jumlah yang ditulis pada buku bahan baku D. Kartu Harga Pokok Pesanan Dalam kartu harga pokok pesanan, kartu harga pokok mempunyai peranan yang penting, karena dalam kartu harga pokok itulah dicatat biaya produksi setiap pesanan secara rinci. Oleh karena itu kartu harga pokok pesanan berfungsi sebagai rekening pembantu. Contoh : Kartu Harga Pokok Pesanan - 39

40 PT YUYUKU JAKARTA KARTU HARGA POKOK PESANAN No. Pesanan : Pesanan : Jenis Porduksi : Sifat Pesanan : Tgl. Pesan : Jumlah : Tgl Selesai : Harga Jual : Biaya Bahan Baku (Rp.000) Biaya Tenaga Kerja (Rp000) Biaya Overhead Pabrik (Rp.000) Tgl No Keterangan Jumlah Tgl J.Kerja Jumlah Tgl Ds.Pembn. Tarif Jumlah 5/6 Kayu ukuran : D. Siklus Akuntansi Harga Pokok Pesanan Siklus akuntansi harga pokok pesanan merupakan aliran biaya produksi yang diawali dengan pencatatan pembelian bahan, pencatatan gaji dan upah, pembayaran gaji dan upah, Biaya Overhead Pabrik, pemakaian bahan dan pembebanan biaya produksi ke barang dalam proses, rekening persediaan produk jadi dan persediaan barang dalam proses yang berakhir pada penyerahan pesanan ke dalam rekening harga pokok pesanan. Siklus akuntansi harga pokok pesanan dapat digambarkan dalam bentuk rekening sebagai berikut : Kas/ Utang Persd. Bahan Baku BDP-Biaya BB Persd. Prod.Jadi - 40

41 Utang Gaji Gaji&Upah BDP-BTK BDP Berbagai Rek. BOP (S) BOP dibebankan BDP-BOP Contoh : CV TRI WINDU adalah perusahaan dalam bidang mebeuler memproduksi alat-alat rumah tangga serta alat-alat perabtoran berdasarkan pesanan. Pada bulan Desember 2008 mendapat pesanan dari FE-Unsera untuk membuat 100 set meja kuliah dengan harga setiap set sebesar Rp ,- untuk memproduksi pesanan tersebut : 1. Membeli bahan baku dan bahan penolong Bahan baku Kayu dengan ukuran : 4 cm x 6 cm x 300 cm 250 Rp ,- = Rp ,- 2 cm x 20 cm x 300 cm 200 Rp ,- = Rp ,- 2 cm x 3 cm x 300 cm 100 Rp.5.000,- = Rp ,- Triplex 25 Rp ,- = Rp ,- Cat 50 Rp ,- = Rp ,- Jumlah Bahan Baku Yang dibeli Rp ,- Bahan Penolong Paku 5 Rp ,- = Rp ,- Dempul 10 Rp.5000,- = Rp ,- Amplas 200 Rp.200,- = Rp ,- Jumlah Bahan Penolong yang dibeli Rp ,- Jumlah Bahan Baku dan Bahan Penolong yang dibeli Rp ,- Pemakaian Tenaga Kerja - 41

42 Upah langsung Rp ,- = Rp ,- Upah tidak langsung = Rp ,- Rp ,- Gaji karyawan bagian Adm. dan Umum = Rp ,- Jumlah Biaya Tenaga Kerja = Rp ,- Pembebanan BOP selain pemakaian bahan penolong dan biaya tenaga kerja tidak langsung. Biaya penyusutan mesin = Rp ,- Biaya penyusutan gedung = Rp ,- Biaya pemeliharaan mesin = Rp ,- Biaya pemeliharaan gedung = Rp ,- Jumlah = Rp ,- Diminta : 1. Jurnal untuk mencatat pembelian bahan baku dan bahan penolong 2. Kartu harga pokok, jika BOP yang dibebankan 60% dari biaya tenaga kerja langsung. 3. Jurnal untuk mencatat pemakaian / pembebanan bahan baku, bahan penolong, tenaga kerja dan BOP ke dalam BDP 4. Perhitungan harga pokok produk jadi dan jurnalnya 5. Jurnal penjualan produk jadi 6. Jurnal untuk menutup rekening BOP dan selisih BOP Jawab : 1. Jurnal untuk mencatat bahan baku dan bahan penolong Persediaan bahan baku Rp ,- Persediaan bahan penolong Rp ,- Utang dagang Rp ,- 2. Kartu Harga Pokok - 42

43 PT YUYUKU JAKARTA KARTU HARGA POKOK PESANAN No. Pesanan : Pesanan : FE-Unsera Jenis Porduksi : Meja kuliah Sifat Pesanan : Segera Tgl. Pesan : 24 Desember 2008 Jumlah : 100 set Tgl Selesai : 28 Februari 2009 Harga Jual : Rp ,- Biaya Bahan Baku (Rp.000) Biaya Tenaga Kerja (Rp000) Biaya Overhead Pabrik (Rp.000) Tgl No Keterangan Jumlah Tgl J.Kerja Jumlah Tgl Ds.Pembn. Tarif Jumlah 5/6 Kayu ukuran : 4x6x300=250 pt jam 2000 BTKL 60% x20x300=200 pt x3x300=100 pt 500 Triplex 25 lb 375 cat = 50 klg Jumlah Biaya Produksi Jurnal pemakaian/ pembebanan bahan, tenaga kerja dan BOP ke dalam BDP Pemakaian bahan baku BDP-Biaya Bahan Baku Rp ,- Persediaan Bahan Baku Rp ,- BOP sesungguhnya Rp ,- Persediaan Bahan Penolong Rp ,- Pemakaian Tenaga Kerja BDP-Biaya Tenaga Kerja Rp ,- BOP sesungguhnya Rp ,- Biaya adm&umum Rp ,- Gaji dan Upah Rp ,- Pemakaian BOP selain bahan penolong dan tenaga kerja tidak langsung BOP sesungguhnya Rp ,- Biaya penyusutan mesin Rp ,- Biaya penyusutan gedung Rp ,- - 43

44 Biaya pemeliharaan mesin Rp ,- Pembebanan BOP ke dalam BDP BDP-BOP BOP yang dibebankan Rp Perhitungan Harga Pokok Produk jadi dan Jurnalnya Perhitungan Harga Pokok Produk Biaya Bahan Baku Biaya pemeliharaan gedung Rp ,- Rp ,- Rp ,- Biaya Tenaga Kerja Langsung Rp ,- Jumlah Biaya Overhead Pabrik Rp ,- Rp ,- Jurnal untuk mencatat Produk jadi Persediaan Produk Jadi Rp ,- BOP BBB Rp ,- BDP BTKL Rp ,- BDP BOP Rp ,- Penjeleasan : BOP yang dibebankan 60% x Rp ,- 5. Jurnal Penjualan/ Penyerahan Produk Jadi Piutang Dagang Rp ,- Penjualan Rp ,- Harga Pokok Penjualan Rp ,- Persediaan produk Jadi Rp ,- 6. Jurnal menutup rekening BOP dan selisih BOP BOP yang dibebankan Rp ,- Selisih BOP Rp ,- BOP sesungguhnya Rp ,- Jurnal untuk menutup rekening BOP Selisih BOP Rp ,- Harga Pokok Penjualan Rp ,- Rp ,- - 44

45 BOP yang sesungguhnya a. Bahan penolong Rp ,- b. Biaya TK tidak langsung Rp ,- c. BOP yang lain Rp ,- Rp ,- Selisih BOP Rp ,- BAGIAN IV METODE HARGA POKOK PROSES A. Pengertian Metode Harga Pokok Proses Metode harga pokok proses adalah metode penentuan harga pokok produk dengan cara mengumpulkan biaya produksi yang terjadi selama satu periode, kemudian dibagi sama rata dengan jumlah produk yang dihasilkan pada periode yang bersangkutan. Metode harga pokok proses biasanya dipakai oleh perusahaan industri yang memproduksi secara masal dan terus menerus. B. Perbedaan Harga Pokok Proses dengan Harga Pesanan Metode harga pokok proses berbeda dengan harga pokok pesanan. Perbedaan tersebut antara lain berdasarkan pengumpulan biaya produksi, menghitung harga pokok per satuan, penggolongan biaya produksi dan cara membebankan Biaya Overhead Pabrik. 1. Pengumpulan Biaya Produksi. - 45

46 Berdasarkan pengumpulan biaya produksi perbedaan harga poko pesanan dan harga poko proses adalah apabila menurut metode harga pokoko pesanan biaya produksi dikumpulkan berdasarkan pesanan, sedang harga pokok proses biaya produksi dikumpulkan di setiap departemen produksi selam satu periode. 2. Menghitung Harga Pokok per satuan Pada harga pokok proses per satuan dihitung dengan cara membagi jumlah biaya produksi yang telah dikeluarkan dalam satu periode tertentu. Rumus Mnehitung HP Per Satuan : Jumlah Biaya Produksi yang telah dikeluarkan Jumlah Produk yang dihasilkan pada periode yang bersangkutan Contoh : PT AIR MANCUR yang bergerak dalam bidang Jamu tradisional berpusat di Wonogiri selama bulan Januari 2009 telah mengeluarkan biaya produksi sebagai berikut : Rincian biaya : Biaya bahan baku Rp ,- Biaya tenaga kerja Biaya bahan penolong Rp ,- Rp ,- Biaya overhead pabrik Rp ,- Rp ,- Produk yang dihasilkan selama bulan Januari 2009 sebanyak 8000 bungkus, harga pokok setiap bungkusnya adalah : Rp = Rp.500, Penggolongan Biaya Produksi Di dalam metode harga pokok pesanan biaya produksi digolongkan menjadi biaya produksi langsung, biaya produksi tidak langsung dan biaya overhead pabrik. Sedangkan pada harga pkpk proses biaya produksi digolongkan menjadi biaya bahan, biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik a. Biaya Bahan, biaya bahan dibedakan atas biaya bahan baku dan biaya bahan penolong. Pada metode harga pokok proses biaya bahan penolong tidak dikelompokan kedalam Biaya Overhead Pabrik tetapi merupakan kelompok biaya tersendiri atau dikelompokan kealam biaya bahan baku. - 46

47 b. Biaya Tenaga Kerja, biaya tenaga kerja merupakan gabungan antara boaia tenaga kerja langsung dan biaya tenaga kerja tidak langsung. Kedua biaya tersebut dalam metode harga pokok proses digolongkan kedalam biaya tenaga kerja. Perbedaan antara biaya produksi langsung dan biaya produksi tidak langsung sering tidak dibedakan terutama perusahaan yang hanya memproduksi hanya satu macam produk c. Biaya Overhead Pabrik, dalam metode harga pokok proses yang termasuk biaya produksi tidak langsung ( BOP ) adalah baiaya tenaga listrik, biaya asuransi gedung dan mesin pabrik, biaya reparasi dan pemeliharaan mesin dan biaya penyusutan gedung dan mesin pabrik. C. Ciri-ciri Perusahaan Industri yang Menerapkan Metode Harga Pokok Proses Ciri-ciri metode harga poko proses berdasarkan proses produksi 1. Proses produksi dilakukan secara terus menerus 2. produk yang dihasilkan merupakan produk standar (homogin) artinya mempunyai bentuk kualitas dan ukuran yang samaserta sudah ditentukan oleh perusahaan. 3. Tujuan produksi untuk mengisi persediaan dan buakan karena pesanan. Cirri-ciri metode harga pokok proses berdasarkan proses pengumpulan biaya. 1. Biaya produksi dikumpulkan pada setiap periode tertentu dan dicatat pada rekening Barang Dalam proses. 2. Harga pokok produk per satuan dihitung pada setiap akhir periode dengan rumus yang telah disebutkan diatas. 3. Bila produk dioleah melalui lebih dari satu departemen, maka harga pokok produk pada departemen sebelumnya akan menambah harga pokok produk pada departemen selanjutnya sampai dengan produk jadi. 4. Laporan harga pokok produksi dipakai untuk menghitung biaya produksi per satuan. D. Pencatan Penggolongan Biaya pada Metode Harga Pokok Proses. 1. Biaya Bahan, biaya bahan terdiri atas bahan baku dan bahan penolong maka pengakuannya sebagaui berikut : Pada saat barang tersebut dibeli maka dicatat dalam Jurnal : Persediaan Bahan Baku Rp.xxx Persediaan Bahan Penolong Rp.xxx Kas/ Utang Rp.xxx - 47

48 Pada saat bahan dipakai dalam proses produksi dicatat dalam Jurnal: Barang Dalam Proses Bahan Baku Rp.xxx Persediaan Bahan Baku Rp.xxx ( Mencatat pemakaian bahan penolong ) Barang dalam Proses Biaya bahan penolong Rp.xxx Persediaan bahan penolong Rp.xxx 2. Biaya tenaga Kerja, baiaya tenaga kerja terdiri atas biaya tenaga kerja langsung dan biaya tenaga kerja tidak langsung. Pemakaian biaya tenaga kerja dapat diketahui dari daftar gaji dan upah. Jurnal untuk mencatat gaji dan upah Gaji dan uapah Rpxxx Utang Gaji dan Upah Rp.xxx Kemudian setiap akhir periode akuntansi gaji dan upah yang telah terjadi harus dibebankan kepada produk Jurnal untuk mencatat gaji dan upah yang dibebankan pada produk Barang Dalam Proses Biaya tenaga kerja Rp.xxx Gaji dan Upah Rp.xxx 3. Biaya Overhead Pabrik. Semua biaya produksi selain biaya bahan dan biaya tenaga kerja disebut Biaya Overhead Pabrik ( BOP ). Jika perusahaan hanya memproduksi satu jenis produk, maka BOP yang dibebankan kepada produk berdasarkan jumlah pengeluaran BOP yang sesungguhnya. Jurnal untuk mencatat Biaya Overhead Pabrik BOP sesungguhnya Rp.xxx Berbagai rekening di Kredit Rp.xxx ( Jika jenis BOP tidak disebutkan satu per satu ) Tetapi jika jenis BOP diketahui misalnya biaya perlengkan pabrik, biaya listrik, biaya penyusutan mesin pabrik dan sebagainya, maka harus dicatat setiap biaya yang terjadi. Jurnal untuk mencatat BOP pada berbagai macam biaya tidak langsung BOP sesungguhnya Rp.xxx - 48

49 Biaya Perlengkapan Pabrik Rp.xxx Biaya listrik Rp.xxx Biaya penyusutan mesin Rp.xxx Rekening BOP lainnya Rp.xxx Jurnal untuk mencatat BOP yang dibebankan kepada produk BDP Biaya Overhead Pabrik Rp.xxx BOP sesungguhnya Rp.xxx Bila produk selesai pada suatu periode tertentu, maka produk selesai harus dipindahkan ke rekening Persediaan Barang Jadi sejumlah harga pokoknya. Jurnal untuk mencatat pemindahan rekening produk selesai ke rekekning produk jadi. Persediaan Produk Jadi Rp.xxx BDP Biaya Bahan Baku Rp.xxx BDP Biaya Bahan Penolong Rp.xxx BDP Biaya Tenaga Kerja Rp.xxx BDP Biaya Overhead Pabrik Rp.xxx Tetapi jika akhir periode tertentu ternyata masih ada produk yang belum selesai dikerjakan, maka produk tersebut akan menjadi persediaan akhir Barang dalam Proses. Jurnal untuk mencatat persediaan akhir Barang dalam Proses Persediaan Barang Dalam Proses Rp.xxx BDP Biaya Bahan Baku Rp.xxx BDP Biaya Bahan Penolong Rp.xxx BDP Biaya Tenaga Kerja Rp.xxx BDP Biaya Overhead Pabrik Rp.xxx Laporan Harga Pokok Produksi dengan contoh Perhitungan Harga Pokok Proses, produk yang diolah melalui satu departemen tanpa Barang Dalam Proses Awal. Pada umumnya Perusahaan yang memproduksi barang pada akhir periode tertentu sebagian produknya ada yang sudah selesai menjadi produk jadi dan ada yang masih belum selesai yang merupakan Barang Dalam Dalam Proses. Persediaan Barang Dalam Proses akhir dicatata pada biaya yang sesungguhnya melekat pada produk tersebut. Baik produk jadi maupun produk dalam proses pada akhir periode harus diketahui harga pokoknya. Untuk keperluan ini harus dibuat laporan harga pokok produk dengan urutan sebagai berikut : - 49

50 1. Data Produksi Untuk memahamidata produksi konsep input = output artinya jumlah produk yang akan diolah harus sama dengan jumlah produk yang dihasilkan. Pada umumnya input berupa : Persediaan BDP (awal) Produk masuk proses Sedangkan output terdiri atas :. Unit. Unit Produk selesai ditransfer ke departemen berikutnya Persediaan BDP akhir Unit unit Untuk jelasnya bagan data produksi akan terlihat se[erti berikut : Persediaan Barang Dalam Proses awal unit Produk masuk dalam proses unit + Produk selesai Jumlah produk dalam proses unit Persediaan produk dalam proses akhir unit + Jumlah produk 2. Data Biaya per Unit unit unit Dalam menentukan biaya per satuan produk perlu diperhartikan unit ekuivalensi produk karena untuk menentukan harga pokok per satuan atau per unit dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Total Biaya setiap unsur Harga Pokok Harga Pokok per Unit = Produk ekuivalen setiap unsur Harga Pokok Atau Total Biaya Bahan Baku Harga Pokok per Unit = Produk ekuivalen Bahan Baku Kemudian biaya per unit setiap unsur dijumlahkan. Rumus tersebut berlaku pula untuk harga pokok lainnya ( BTK dan BOP ). Untuk jelasnya perhatikan bagan sebagai berikut : Jenis Biaya Jumlah Biaya Unit Ekuivalen Biaya per unit - 50

51 : 3 Bahan Baku Bahan Penolong Biaya Tenaga Kerja Biaya Overhead Pabrik Rp.xxx Rp.xxx Rp.xxx Rp.xxx.. unit.. unit.. unit.. unit Rp.xxx Rp.xxx Rp.xxx Rp.xxx Jumlah Rp.xxx Rp.xxx Dalam laporan harga pokok produksi untuk data biaya, dapat dilaporkan dengan bagan sebagai berikut : Jenis Biaya Total Biaya Biaya per unit Bahan Baku Bahan Penolong Biaya Tenaga Kerja Biaya Overhead Pabrik Rp.xxx Rp.xxx Rp.xxx Rp.xxx Rp.xxx Rp.xxx Rp.xxx Rp.xxx Jumlah Rp.xxx Rp.xxx Dengan demikian, lajur 3 ( produk ekuivalen ) tidak perlu ditampilkan dalam laporan harga pokok produksi. Dari konsep perhitungan harga pokok per satuan tersebut kiranya perlu diperhatikan tentang Perhitungan unit ekuivalen masing-masing unsur harga pokok. Pada dasarnya dalam perhgitungan unit ekuivalen produk dapat dikelompokkan sebagai berikut : 1. Bila tidak terdapat BDP awal Apabila tidak terdapat BDP awal, unit ekuivalenb dihitung dengan Rumus : Produk Jadi + Tingkat Penyelesaian BDP ( akhir ) 3. Bila Terdapat BDP awalapabila terdapat persediaan BDP awal perlu diperhatikan metode yang dipakai yaitu metode FIFO dan metode Rata-rata. Jika yang digunakan metode FIFO. 4. Perhitungan unit ekuivalen dapat dilakukan dengan dua rumus ; Produk Jadi+Tingkat Penyelesaian BDP akhir Timgkat Penyelesaian BDP awal Atau Prod.Jadi Periode Berjalan + Tingkat Penyelesaian BDP akhir + BDP awal dengan tingkat penyelesaian yang belum selesai. Catatan : Produk jadi pada periode berjalan berasal produk jadi keseluruhan dikurangi produk awal proses. - 51

52 Bila digunakan metode rata-rata, unit ekuivalen dapat dihitung dengan rumus ; Produk Jadi + tingkat Penyelesaian Produk dalam Proses akhir 3. Perhitungan Biaya Setelah biaya per satuan dihitung dan harga pokok produk jadi dtransfer ke gudang, maka produk dalam proses akhir dihitung sebagai berikut : Harga pokok produk jadi.. unit x Jumlah biaya per unit Harga Pokok Barang Dalam Proses ; Biaya Bahan Baku +. Unit x.% x Rp.xxx (per unit) Bahan Penolong + unit x % x Rp.xxx (per unit) Biaya Tenaga Kerja + unit x..% x Rp.xxx (per unit) Rp.xxx Rp.xxx Rp.xxx Biaya Overhead Pabrik + unit x % x Rp.xxx (per unit) Rp.xxx + Contoh : Jumlah Biaya Produksi Rp. xxx Rp.xxx + Rp.xxx PT BINUANGEN mengolah produknya secara masal dan dalam menghitung harga pokok produknya dengan mengunakan metode harga pokok proses. Data biaya produksi selama bulan juni 2005 sebagai berikut : Biaya bahan baku Rp ,- Biaya bahan penolong Rp ,- Biaya tenaga kerja Rp ,- Biaya overhead pabrik Rp ,- + Rp ,- Jumlah produk masuk dalam proses unit Jumlah produk jadi ditransfer ke gudang 2000 unit. Jumlah produk dalam proses akhir dengan tingkat penyelesaian Bahan baku dan Bahan penolong sebesar 100%. Biaya tenga kerja 50% dan BOP 40% sebanyak 500 unit. Diminta : 1. Membuat perhitungan biaya produksi per unit untuk bulan Juni Membuat laporan harga pokok produksi bulan Juni Membuat Jurnal untuk mencatat biaya produksi selama bulan Juni

53 Jawab : 1. Perhitungan biaya produksi per satuan selama bulan Juni 2005 (Rp) Jenis Biaya Jml. Biaya Unit Ekuivalen Unit Cost Bahan Baku Bahan Penolong Tenaga Kerja Overhead Pabrik , , , , %x500 = %x500 = %x500 = %x500 = ,- 200,- 1000, ,- Jumlah ,- Total Unit Cost 3.100,- Perhitungan harga pokok produk jadi yang ditransfer ke gudang dan Harga pokok produk dalam proses akhir periode : Harga pokok produk Jadi = 2000 x Rp.3.100,- Rp ,- Harga pokok produk dalam proses akhir periode Biaya bahan baku = 100% x 500 x Rp.400 = Rp ,- Biaya bahan penolong = 100% x 500 x Rp.200 = Rp ,- Biaya tenaga kerja = 50% x 500 x Rp = Rp ,- Biaya Overhead Pabrik = 40% x 500 x Rp = Rp ,- + Rp ,- Jumlah Biaya Produksi Rp Laporan Harga Pokok Produksi bulan Juni 2005 PT BINUANGEN LAPORAN HARGA POKOK PRODUKSI Periode Juni 2005 Data Produksi Jumlah Produk masuk DalamProses unit Produk selesai ditranfer ke gudang unit Produk dalam proses akhir pada tingkat Penyelesaian (BB, BP 100%, BTK 50%, BOP 40%) 500 unit unit (-) 0 Biaya yang dibebankan dalam bulan Juni 2005 (Rp) Jenis Biaya Juml. Biaya Biaya per unit Bahan Baku Bahan Penolong Tenaga kerja Overad pabrik Perhitungan Biaya , , , ,- 400,- 200, , ,- Jumlah , ,- Harga pokok produk jadi yang ditransfer ke Gudang (2.000 x Rp.3.100,-) Rp ,- - 53

54 Harga pokok produk dalam proses akhir : Bahan baku Rp ,- Bahan penolong Rp ,- Tenaga kerja Rp ,- Overhead pabrik Rp ,- + Rp ,- Jumlah Biaya Produksi yang dibebankan Rp ,- 3. Jurnal untuk mencatat biaya produksi selama bulan Juni Jurnal untuk mencatat pemakaian bahan baku. Barang Dalam Proses Rp ,- Persediaan bahan baku Rp ,- 2. BDP Bahan penolong Rp ,- Persediaan bahan penolong Rp ,- 3. Jurnal untuk mencatat biaya tenaga kerja BDP Biaya tenaga kerja Rp ,- Gaji dan upah Rp ,- 4. Jurnal untuk mencata biaya overhead pabrik BDP BOP Rp ,- BOP sesungguhnya Rp ,- 5. Jurnal untuk mencatat harga pokok produk jadi yang ditranfer ke gudang Persediaan Produk Jadi Rp ,- BDP-BB (2000 x Rp.400,-) Rp ,- BDP - BP (2000 x Rp.200,-) Rp ,- BDP BTK (2000 x Rp.1000,-) Rp ,- BDP BOP (2000 x Rp.1.500,-) Rp ,- 6. Jurnal untuk mencata harga pokok produk masuk dalam proses Persediaan produk dalam proses Rp ,- BDP Biaya bahan baku Rp ,- BDP Biaya bahan penolong Rp ,- BDP Biaya tenaga kerja Rp ,- BDP Biaya overhead Rp ,- - 54

55 E. Metode Harga Pokok Proses, Produk Diolah Melalui Lebih Dari Satu Departemen Tanpa Barang Dalam Proses Awal. Jika produk diolah melalui lebih dari satu departemen, maka perhitungan biaya produksi per satuan produk yang dihasilkan oleh departemen setelah departemen pertama adalah merupakan perhitungan yang bersifat komulatif, sebab harga pokok produksi departemen sebelumnya akan menambah harga pokok pada departemen berikutnya. Untuk menentukan harga pokok produk setelah departemen pertama terdiri atas biaya-biaya sebagai berikut : 1. Biaya produksi yang dibawa dari departemen sebelumnya 2. Biaya produksi yang ditambahkan pada departemen produksi setelah deparemen produksi sebelumnya.. Contoh : PT YAMONAH adalah perusahaan industri yang mengolah produknya melalui dua departemen produksi dan dalam menentukan harga pokok produk menerapkan metode harga pokok proses. Data yang diperoleh dari bagian produksi selama bualan Agustus 2008 adalah sebagai berikut : Departemen I Departemen II Jumlah produk masuk dalam proses unit - Produk selesai dikirim ke Dept II unit Produk selasai dikirim ke gudang unit Produk Dalam proses akhir unit unit Biaya yang dikeluarkan selama bualan Agustus 2008 Biaya bahan baku Rp ,- Rp. 0 Biaya tenaga kerja Rp ,- Rp ,- Biaya overhead pabrik Rp ,- Rp ,- Tingkat penyelesaian produk dalam proses akhir Biaya bahan baku 100% - Biaya konversi 60% 45% Diminta : 1. Perhitungan biaya produksi 2. Laporan harga pokok produksi bulan agustus

56 3. Jurnal untuk mencatat transaksi selama bulan agustus Bagan alur biaya produksi departemen I Jawab : 1. Untuk mengetahui harga pokok produk selesai departemen I ditranfer ke departemen II dan juga harga pokok produk dalam proses akhir departemen I pada akhir agustus 2005, maka harus dihitung dahulu biaya per init yang telah dikeluarkan oleh departemen I sebagai berikut : Data Biaya Produksi (Rp.) Jenis Biaya Jml. Biaya Unit Ekuivalen Biaya/unit Bahan Baku Tenaga Kerja Overhead Pabrik , , , % x 2000 = % x 2000 = % x 2000 = ,- 700,- 750,- J u m l a h , ,- Setelah biaya per unit dihitung, maka harga pokok produk selesai di departemen I yang di transfer ke departemen II dan harga pokok persediaan produk dalam proses akhir bulan Agustus 2005 di departemen I dapat dihitung : Harga pokok produk selesai ditransfer ke departemen II x Rp.1.950,- Rp ,- Harga pokok persediaan produk dalam proses akhir : Biaya bahan baku = 100% x 2000 x Rp.500,- = Rp ,- Biaya tenaga kerja = 60% x 2000 x Rp.700,- = Rp ,- Biaya overhead pabrik = 60% x 2000 x Rp.700,-= Rp ,- + Jumlah biaya produksi departemen I Rp ,- Rp ,- 2. Laporan harga pokok produksi departemen I PT YAMONAH LAPORAN HARGA POKOK PRODUKSI DEPARTEMEN I Periode Agustus 2005 Data Produksi: - 56

57 Produk masuk dalam proses Produk selselesai ditransfer ke departemen II unit Produk dalam proses akhir unit unit unit - Biaya produksi (Rp) yang dibebankan di departemen I selama bulan Agustus 2005 Jenis Biaya Jumlah Unit cost Bahan baku Tenaga kerja Overhead pabrik , , ,- 500,- 700,- 750,- Jumlah , ,- 0 Perhitungan biaya Harga pokok produk jadi yang ditransfer Ke deparetemen II = x Rp.1.950,- Rp ,- Harga pokok persediaan produk dalam proses akhir : Biaya bahan baku = 100% x 2000 x Rp.500,- = Rp ,- Biaya tenaga kerja = 60% x 2000 x Rp.700,- = Rp ,- Biaya overhead pabrik = 60% x 2000 x Rp.700,- = Rp ,- + Jumlah biaya produksi departemen I Rp ,- Rp ,- 3. Jurnal untuk mencatat biaya produksi departemen I Jurnal untuk mencatat biaya bahan baku BDP Biaya BB Dept. I Rp ,- Persediaan BB Rp ,- Jurnal untuk mencatat baiaya tenaga kerja BDP BTK Dept. I Rp ,- Gaji dan upah Rp ,- Jurnal untuk mencata Biaya overhead pabrik BDP BOP Dept I Rp ,- BOP sesungguhnya Rp ,- Jurnal untuk mencatat harga pokok produk jadi yang ditransfer 0leh departemen I ke departemen II - 57

58 Jurnal untuk mencatat harga pokok produk yang masih dalam proses akhir pada departemen I Persediaan Barang dalam proses akhir departemen I BDP BB departemen I BDP BB department II Rp ,- BDP BB departemen I ( x Rp.500,-) BDP BTK departemen I ( x Rp.700,-) BDP BOP departemen I ( x Rp.750,-) Rp ,- Rp ,- Rp ,- Rp ,- Rp ,- BDP BTK departemen I Rp ,- BDP BOP departemen I Rp ,- 4. Alur Biaya Produksi (000) Persd. BB BDP-BB Dept.I BDP-BB Dept.II Gaji dan Upah BDP - BTK Biaya Overhead BDP BOP Persd. Barang Dalam Proses Perhitungan harga pokok produk departermen II Produk jadi yang ditransfer dari departemen I ke departemen II adalah unit telah membawa jumlah biaya produksi dari departemen I sebesar Rp ,- Untuk mengolah produk yang diterima dari departemen I ternyata di departemen II perlu biaya tambahan yang berupa biaya tenaga kerja sebesar Rp ,- dana biaya overhead pabrik Rp ,- produk yang diolah di departemen II unit teteapi yang menjadi produk selesai dan transfer ke gudang unit sedang yang unit masih dalam proses pada akhir periode akuntansi dengan tingkat penyelesasian biaya konversi 45%. - 58

59 Perhitungan biaya yang ditambahkan di departemen II sebagai berikut : Jenis Biaya Jml. Biaya Unit Ekuivalen Biaya/unit Tenaga Kerja Overhead Pabrik , , % x 1000 = % x 1000 = ,- 900,- J u m l a h , ,- Harga pokok produk jadi di departemen II sebagai berikut : Harga pokok produk dari departemen I = x Rp.1.950,- Biaya yang ditambahkan di deparemen II = x Rp.1.700,- Harga pokok produk jadi yang ditransfer ke gudang Harga Pokok Produk dalam proses akhir : Harga pokok dari departemen I = 2.000,- x Rp.1.950,- Biaya yang ditambahkan di departemn II Biaya tenaga kerja = 45% x x Rp.800,- Rp ,- = Rp ,- = Rp ,- = Rp ,- = Rp ,- Biaya overhead pabrik = 45% x x Rp.900,- Rp ,- + Rp ,- + Perhitungan harga pokok per unit Departemen II Hp.Produk Dept I (20.000) Biaya yang ditambah di departemen II Biaya tenaga kerja Biaya overhead pabrik Harga Pokok Produk Dalam Proses Akhir Rp ,- Jenis Biaya Jml. Biaya Biaya per unit , , , ,- 800,- 900,- Jumlah biaya yang ditambah di departemen II , ,- Jumlah biaya prod. komulatif di departemen , ,- Perhitungan biaya : Harga pokok produk jadi yang ditransfer ke gudang = x Rp.3.650,- = Rp ,- Harga pokok persediaan produk dalam proses akhir Harga pokok dari departemen I = x Rp.1.950,- Rp ,- Biaya yang ditambahkan di departemen II Biaya tenaga kerja Rp ,- Biaya overhead pabrik Rp ,- Rp ,- Jumlah biaya komulatif yang dibebankan di departemen II Rp ,- PT YAMONAH LAPORAN HARGA POKOK PRODUKSI DEPARTEMEN II Periode Agustus 2005 Data Produksi: - 59

60 Produk masuk dalam proses Produk yang diterima dari departemen I unit Produk dalam proses akhir unit unit unit - 0 Biaya yang dibebankan Departemen II selama bualan Agustus 2005 Jenis Biaya Jml. Biaya Biaya per unit , ,- Hp.Produk Dept I (20.000) Biaya yang ditambah di departemen II Biaya tenaga kerja Biaya overhead pabrik , ,- 800,- 900,- Jumlah biaya yang ditambah di departemen II , ,- Jumlah biaya prod. komulatif di departemen , ,- Perhitungan biaya : Harga pokok produk jadi yang ditransfer ke gudang = x Rp.3.650,- = Rp ,- Harga pokok persediaan produk dalam proses akhir Harga pokok dari departemen I = x Rp.1.950,- Rp ,- Biaya yang ditambahkan di departemen II Biaya tenaga kerja Rp ,- Biaya overhead pabrik Rp ,- Rp ,- Jumlah biaya komulatif yang dibebankan di departemen II Rp ,- Jurnal untuk mencatat biaya produksi pada departemen II berdasarkan informasi yang disajikan dalam laporanharga pokok produksi departemen II, maka biaya yang terjadi dalam departemen II dicatata dalam jurnal sebagai berikut : Jurnal untuk mencatat penerimaan produk dari departemen I BDP Biaya bahan baku departemen II Rp ,- BDP Biaya bahan baku departemen I Rp ,- BDP Biaya tenaga kerja departemen I Rp ,- BDP Biaya overhead pabrik departemen I Rp ,- Jurnal untuk mencatat biaya tenaga kerja. BDP Biaya tenaga kerja departemen II Rp ,- - 60

61 Gaji dan upah BOP sesungguhnya Jurnal untuk mencata produk jadi yang ditransfer ke gudang Persediaan produk jadi Rp ,- Rp ,- Rp ,- BDP Biaya overhead pabrik departemen II Rp ,- BDP Biaya TK departemen II ( x Rp.800,-) BDP BOP departemen II ( x Rp.900,-) Jurnal untuk mencatat harga pokok produk dalam proses akhir Persediaan produk dalam proses BDP Biaya BB departemen II Rp ,- Rp ,- Rp ,- BDP Biaya TK departemen II Rp ,- BDP Biaya overhead departemen IIRp ,- BDP Biaya BB departemen II ( x Rp1.950,-) Rp ,- Rp ,- Catatan : Jiaka menggunakan rekening transfer departemen, maka jurnal untuk produk jadi dan barang dalam proses adalah : 1. Jurnal produk jadi Persediaan produk jadi Rp ,- Transfer departemen I ( x Rp.1.950,-) Rp ,- BDP BTK departemen II ( x Rp.800,-) Rp ,- BDP BOP departemn II ( x Rp.900,-) Rp ,- 2. Jurnal untuk mencatat produk dalam proses akhir Persediaan barang dalam proses Rp ,- Trsnsfer deparetemen I (1.000 x 1.950) Rp ,- BDP BTK dept. II (1.000 x 45% x 800) Rp ,- BDP BOP dept II (1.000 x 45% x 900) Rp ,- F. Metode Harga Pokok Proses Biala Terdapat Barang Dalam Proses Awal Pada perusahaan industri yang menerapkan metode harga pkok proses sering menemui beberapa masalah, masalah tersebut antara lain disebabkan karena adanya hal-hal sebagai berikut : 1. Persediaan awal produk dalam proses 2. produk hilang pada waktu proses produksi 3. produk ada yang rusak dan dicatat pada waktu proses produksi 4. Penambahan bahan baku stelah departemen pertama - 61

62 Bila pada akhir periode akuntansi ada sebagian produk yang belum selesai, maka produk tersebut akan merupakan persediaan awal produk dalam proses pada periode berikutnya. Persediaan produk dalam proses ini telah mempunyai harga pokok per satuan yang berasal dari periode sebelumnya, yang mungkin berbeda dengan harga poko per satuan pada periode berikutnya. Dengan demikian, akan menimbulkan masalah dalam perhitungan harga pokok produk jadi yang ditransfer ke gudang maupun harga poko produk dalam proses akhir pada periode tersebut. Untuk mengatasi maalah tersebut, maka penentuan harga pokok dapat dilakukan dengan dua metode yaitu harga poko rata-rata (Average Costing Method) dan metode FIFO. 1. Metode Rata-rata (Average Cost) Dalam metode rata-rata harga pokok persediaan produk dalam proses awal ditambhakan kepada biaya produksi sekarang dan jumlahnya dibagi dengan unit ekuivalen produk sehingga ketemu harga pokok rata-rata. Contoh : PT SEGAR MENGI memproduksi satu jenis produk melalui satu departemen produksi, selama bualan September 2005 telah melakukan kegiatan sebagai berikut: Persediaan produk dalam proses awal memiliki tingkat penyelesaian bahan baku dan bahan penolong 100% dan biaya konversi 60% 300 unit Produk masuk dalam proses bulan September unit Produk selesai ditransfer ke gudang unit Produk dalam proses akhir dengan tingkat penyelesaian bahan baku dan bahan penolong 100% dan biaya konversi 75% 200 unit Data biaya : Harga pokok produk dalam proses awal periode : Bahan baku Rp ,- Bahan penolong Rp ,- Tenaga kerja Rp ,- Overhead pabrik Rp ,- Jumlah Rp ,- Biaya produksi yang terjadi selama bulan September 2005 adalah Bahan baku Rp ,- - 62

63 Bahan baku Bahanpenolong Tenaga kerja Overhead pabrik Bahan penolong Rp ,- Tenaga kerja Rp ,- Overhead pabrik Rp ,- Jumlah Rp ,- Dengan menggunakan metode harga pokok rata-rata, maka perhitungan harga pokok (Rp) sebagai berikut : Jenis Biaya Unit Ekuivalen HP. BOP awal B. bln. Sept 05 Total Biaya Hp/unit %x200 = , , , %x200 = , , , %x200 = , , , %x200 = , , ,- 350,- 220,- 365,- 295,- Jumlah , , , ,- Harga pokok produk jadi yang ditransfer ke gudang = x Rp.1.230,- = Rp ,- Harga pokok persediaan produk dalam proses akhir Bahan baku 100% x 200 x Rp.350,- Rp ,- Bahan peonolong 100% x 200 x Rp.220,- Rp ,- Biaya tenaga kerja 75% x 200 x Rp.365,- Rp ,- Biaya overhead pabrik 75% x 200 x Rp.295,- Rp ,- = Rp ,- Jumlah biaya produksi bulan September 2005 Rp ,- Data Produksi: PT SEGAR MENGI LAPORAN HARGA POKOK PRODUKSI Periode September 2005 Produk masuk dalam proses tingkat penyelesaian Bahan baku dan bahan penolong 100% dan biaya knversi 75% 300 unit Produk masuk dalam proses unit Jumlah produksi bulan September Produk jadi yang ditransfer ke gudang Produk dalam proses akhir dengan Tk penyelesaian unit Bahan baku dan bahan penolong 100%, B. konversi 200 unit Perhitungan Biaya (Rp) selama bualan September unit unit 0 Jenis Biaya Jml. Biaya HP per unit - 63

64 Biaya yang dibebankan bulan September 2005 Biaya yang yang melekat pada BDP awal Biaya bahan baku Biaya bahan penolong Biaya tenaga kerja Biaya overhead pabrik , , , ,- Jumlah ,- Biaya yang dikeluarkan bualan September 2005 Biaya bahan baku Biaya bahan penolong Biaya tenaga kerja Biaya overhead pabrik , , , ,- 350,- 220,- 365,- 295,- Jumlah biaya produksi , ,- Perhitungan biaya : Harga pokok produk jadi yang ditransfer ke Gudang = x Rp.1.230,- = Rp ,- Harga pokok persediaan produk dalam proses akhir Biaya bahan baku Rp ,- Biaya bahan penolong Rp ,- Biaya tenaga kerja Rp ,- Biaya overhead pabrik Rp ,- Rp ,- Jumlah biaya produksi yang dibebankan Rp ,- Metode harga pokok proses, bila harga pokok produksi memakai metode rata-rata, produk diolah melalui lebih dari satu departemen dan terdapat persediaan awal produk dalam proses. Contoh : Perusahaan MEKEH-MEKEH meproduksi produknya melalui dua departemen produksi yaitu Departemen produksi A dan Departemen Produksi B. data biaya dan data produksi selama bulan - 64 Departemen B kg kg kg kg Okrtober 2009 pada kedua departemen produksi tersebut adalah : Data Produksi Departemen A Produk dalam proses awal pada tingkat penyelesaian BBB 100%, BK 40% 2000 kg Produk dalam proses awal dengan tingkat penyelesaian BTK 30%, BTK 60% Produk masuk proses kg Produk ditransfer ke departemen B kg Produk yang diterima dari departemen A Produk jadi ditransfer ke Gudang Produk dalam proses akhir dengan tingkat penyelesaian BBB 100%, BK 40%, kg BTK 40%, BOP 75% Harga pokok produk dalam proses awal Harga pokok produk dari departemen A Biaya bahan baku Rp ,- Biaya tenaga kerja Rp ,- Biaya overhead pabrik Rp ,- Rp ,- - Rp ,- Rp ,-

65 Biaya produksi dalam bulan oktober 2009 Biaya bahan baku Biaya tenaga kerja Biaya overhead pabrik Rp ,- Rp ,- Rp ,- - Rp ,- Rp ,- Dari data diatas untuk bisa menghitung harga pokok produk jadi harus dibuat perhitungan biaya pada departemen A terlebih dahulu. Pada departemen A biaya produksi yang harus diperhitungkan adalah biaya yang melekat pada produk dalam proses awal dan biaya yang dikeluarkan oleh departemen A pada bulan Oktober Biaya yang melekat pada produk dalam proses awal adalah biaya yang berasal dari periode sebelumnya sehingga peritungan biaya tampak sebagai berikut : Jenis Biaya Biaya yang melekat Biaya yang ditam Jumlah Biaya Unit cost pada produk bahkan bln Unit ekuivalen dalam Okt.09 ( 2+3) (4:5) proses awal %x3000 = Bahan baku Rp 500,000 Rp 5,000,000 Rp 5,500, Rp 250 Biaya tenaga Kerja Rp 660,000 Rp 6,060,000 Rp 6,720, %x3000 = Rp 300 Biaya Overhead Rp 525,000 Rp 5,000,000 Rp 5,525, %x3000 = Rp 275 Total Rp 1,685,000 Rp 16,060,000 Rp 17,745,000 Rp 825 Harga pokok produk jadi yang ditransfer ke Departemen B Harga pokok persediaan produk dalam proses akhir : Biaya bahan baku 100% x x Rp.250,- Biaya tenaga kerja 40% x x Rp.300,- Biya overhead pabrik 40% x x Rp.275,- Jumlah biaya porduksi yang dibebanklan ke Departen A = x Rp = Rp ,- Rp ,- Rp ,- Rp ,- Rp ,- Rp ,- Dari perhitungan tersebut bila disajikan dalam bentuk laporan harga pokok produksi tempak sebagai berikut : Data produksi : PERUSAHAAN MEKEH-MEKEH Laporan Harga Pokok Produksi Departemen A Periode Oktober 2009 Produk dalam proses awal kg Produk masuk proses kg - 65

66 Jumlah produksi bulan oktober 2009 Produk ditransfer ke departemen B kg kg Produk dalam proses akhir bulan oktober kg Jumlah produk yang dihasilkan Biaya yang dibebankan dalam departemen A kg Jenis Biaya Total Biaya H. Pokok/Kg Biaya Bahan baku Biaya Tenaga kerja Biaya Overhead Pabrik Rp ,- Rp ,- Rp ,- Rp.250,- Rp.300,- Rp.275,- Jumlah biaya yang dibebankan Dep.A Rp ,- Rp.825,- Perhitungan biaya : Harga pokok produk jadi Departemen B Harga pokok produk jadi yang ditransfer ke Departemen B x Rp.825,- Rp ,- Harga pokok produk dalam proses akhir Bahan baku Rp ,- Biaya tenaga kerja Rp ,- Biaya overhead pabrik Rp ,- Rp ,- Jumlah biaya yang dibebankan dalam departemen A Rp ,- Perhitungan biaya produksi pada departemen B Harga pokok produk dalam proses akhir Biaya bahan baku Biaya tenaga kerja x Rp.825,- Rp ,- Rp ,- Rp ,- Jumlah biaya yang dibebankan dalam department A Perhitungan biaya produksi di departemen B Biaya overhead pabrik Rp ,- Rp ,- Rp ,- Perlu diingat bahwa harga pokok produk yang dihasilkan oleh departemen B adalah harga pokok yang besifat komulatif yaitu merupakan penjumlahan harga pokok produk yang berasal dari departemen A ditambah harga pokok dari departemen B sendiri kemudian dihitung harga ratarata untuk setiap satuan produk. Perhitungan harga pokok per satuan produk yang berasal dari departemen sebelumnya. Hp.Produk dalam proses awal Hp.Produk yang di dari dept sebelumnya + transfer dept Sblm Hp. Produk dari Dept. sebelumnya = - 66

67 Produk dalam proses awal + Produk yang ditrans Fer dept sblm Perhitungan harga pokok per satuan yang ditambahkan dalam departemen setelah departemen pertama. 1. Biaya B Baku per unit = Biaya BB yang melekat pada Biaya BB yang ditambah Produk dalam proses awal + dalam periode berjalan Unit ekuivalen biaya bahan baku Biaya TK yang melekat Biaya TK yang ditambah Produk dalm proses awal + kan pada periode berjalan 2. biaya tenaga kerja per unit = Unit ekuivalen biaya Biaya tenaga kerja 3. B O P per unit = Biaya BB yang melekat pada Biaya BB yang ditambah Produk dalam proses awal + dalam periode berjalan Unit ekuivalen biaya Biaya tenaga kerja Dari contoh diatas bila dihitung biaya produksi per unit dalam departemen B adalah sebagai berikut : Jenis Biaya Biaya yang melekat Biaya yang ditam Jumlah Biaya Unit cost pada produk dalam bahkan bln Okt.09 ( 2+3) Unit ekuivalen (4:5) proses awal HPP dari Dep.A Rp 3,025,000 Rp 15,675,000 Rp 18,700, %x3000 = Rp 850 Biaya tenaga Kerja Rp 1,980,000 Rp 16,210,000 Rp 18,190, %x1000 = Rp 850 Biaya Overhead Rp 2,325,000 Rp 19,425,000 Rp 21,750, %x1000 = Rp 1,000 Total Rp 58,640,000 Rp 2,700 Perhitungan biaya Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke gudang x Rp.2.700,- Rp ,- Harga pokok produk dalam proses Harga pokok yang berasal dari Dept. A = 1000x Rp.850,- = Rp ,- Tambahan biaya Departemen B Biaya tenaga kerja = 40% x 1000 x Rp.850,- Rp ,- - 67

68 Biaya overhead pabrik = 75% x 1000 x Rp.1.000,- Rp ,- Rp ,- Jumlah biaya yang dibebankan di Departemen B Rp ,- Data produksi : PERUSAHAAN MEKEH-MEKEH Laporan Harga Pokok Produksi Departemen B Periode Oktober 2009 Produk dalam proses awal kg Produk diterima dari Depatermaen A Jumlah produk dalam proses Produk ditransfer ke Gudang kg kg Produk dalam proses akhir kg Jumlah produk yang dihasilkan Biaya yang dibebankan dalam departemen B kg kg Jenis Biaya Total Biaya H. Pokok/Kg Rp ,- Rp. 850,- Biaya produk dari departemen A Biaya yang ditambahkan di Depratemen B Biaya Tenaga kerja Biaya Overhead Pabrik Rp ,- Rp. 850,- Rp ,- Rp.1.000,- Jumlah biaya yang dibebankan Dep.B Rp ,- Rp.2.700,- Perhitungan biaya : Harga pokok produk jadi Departemen B Harga pokok produk jadi yang ditransfer ke Departemen B x Rp.825,- Rp ,- Harga pokok produk dalam proses akhir Bahan baku Rp ,- Biaya tenaga kerja Rp ,- Biaya overhead pabrik Rp ,- Rp ,- Jumlah biaya yang dibebankan dalam departemen A Rp ,- Harga pokok produk jadi yang ditransfer ke Gudang Harga pokok produk dalam proses akhir HP.Produk dari Dept A =1000xRp.850,- Biaya yang ditambahkan di Departemn B x Rp.2.700,- Rp ,- Rp ,- 0-68

69 Biaya tenaga kerja Rp ,- Biaya overhead pabrik Rp ,- Rp ,- Jumlah biaya yang dibebankan dalam department B Rp ,- BAB V HARGA POKOK BERSAMA DAN HARGA POKOK PRODUK SAMPINGAN Pendahuluan Metode harga pokok bersama pada dasarnya sama dengan harga pokok proses, yaitu harga pokok yang baru diketahui steleh proses produksi. Pada harga pokok bersama penelusuran biaya produksi sangat sulit untuk diketahui, karena dari suatu proses produksi dengan bahan baku dan factor produksi yang sama dihasilkan beberapa jenis produk yang berbeda. Contoh alur produksi : Input BB BTK BOP Proses Produksi Ouput Produk A Produk B Produk C Proses lebih lanjut Dalam pemrosesan lebih lanjut produk yang telah dihasilkan pada proses produksi bersama kadang kadang perlu pengolahan lebih lanjut, karena produk yang dihasilkan tersebut memililiki nilai jual yang relative kecil. Dengan diolahnya produk tersebut akan terjadi penambahan biaya sehingga harga prokok produk tersebut juga meningkat. Contoh pada industri minyak kacang. Ampas kacang akan diolah lebih lanjut untuk menjadi oncom. - 69

70 Perhitungan harga pokok produk tersebut, penetapan besarnya bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrikyang melekat produk A, B dan C sulit untuk ditelusuri, sehingga penetapan harga pokok produk tersebut harus menggunakan beberapa metode dengan asumsi dan dasar pembebanan yang berbeda. Berhubungan dengan kasus diatas, akan dibahas hal-hal berikut : 1. Pengertian biaya bersama. 2. Akuntansi produk bersama 3. Akuntansi produk sampingan 4. Penerapan perhitungan harga pokok bersama dan produk sampingan I. Pengertian Produk Bersama dan Sampingan Dalam perusahaan industri sering dujumpai terjadinya kegiatan proses produksi dari satu jenis bahan baku yang secara serentak menghasilkan beberapa jenis produk. Jika terjadi hal demikian, produk yang dihasilkan tersebut dinamakan produk bersama ( Joint product) atau sebagai produk sampingan (By Product) Contoh. Industri penggilingan padi mengolah gabah menjadi beras, menir, bekatul,dedak dan sekam. Pertamina mengolah minyak mentah menjadi premix, bensin, solar, aspal dansebagainya. Suatu industri yang mengolah bahan baku yang sama, tetapi menghasilkan beberapa jenis produk akan menimbulkan suatu masalah yaitu bagaimana cara mengalokasikan (membebankan) biaya bersama kepada setiap jenis produk yang dihasilkan secara bersama. Hal ini dikarenakan alokasi biaya bersama untuk kepentingan penentuan harga pokokpersediaan dan penentuan laba. Disamping itu dari hasil produksi tersebut dapat dilihat mana yang termasuk produk bersama dan mana yang termasuk produk sampingan 1. Produk bersama Produk bersama adalah dua produk atau lebih yang diproduksi scara serentak dalam serangkaian proses produksi. Beberapa macam produk tersebut biasanya mempunyai nilai jual yanh relative sama. Ciri-ciri produk bersama antara lain : - 70

71 a. Produk bersama diolah dan dihasilkan secara serantak, jika produk yang satu bertambah maka produk yang lain ikut bertambah. b. Mempunyai nilai jual yang relative sama c. Pada waktu terjadi titik pisah dalam proses produksi stiap jenis produk memperlihatkan identitas yang sama d. Produk bersama merupakan tujuan utama dari kegiatan produksi e. Produk tidak dapat menghindarkan diri jika hanya menghasilkan satu jenis produk bersama. 2. Produk Sampingan Produk sampingan adalah produk yang dihasilkan secara serentak dengan produk bersama dalam serangkaian proses produksi, tetapi produk sampingan mempunyai nilai jual lebih rendah dari pada produk bersama. Dari pengertian tersebut, maka untuk membedakan antara produk bersama dengan produk sampingan dasarnya adalah nilai jual. Produk sampingan terdiri atas dua produk antara lain : i. Produk sampingan setelah terpisah dari produk bersama tanpa diolah lebih lanjut dan laku terjual. ii. Produk sampingan setelah terpisah dari produk bersama dengan melalui pengolahan lebih lanjut baru laku dijual II. Akuntansi Produk Bersama Mengingat produk bersama diolah dari bahan baku yang sama dan secara serentak maka biaya yang timbul dalam pengolahan produksi bersama disebut sebagai biaya bersama. Jadi biaya bersama adalah biaya-biaya yang terjadi sejak mengolah bahan baku sampai dengan masing-masing produk bersama memperlihatkan identitasnyamenjadi produk jadi. Biaya bersama tidak sama dengan biaya bergabung. Sedang biaya bergabung adalah biaya untuk memproduksi beberapa macamproduk secara terpisah, tetapi dilakukan pada waktu yang sama dan fasilitas yang sama menghasilkan barang. Contoh perusahaan textile dan perusahaan garment. Biaya bersama sulit ditelusuri melekatnya pada produk sehinggabila dbagikan secara tegas kepada produk tidak bisa. Oleh karena itu untuk mengalokasikan kepada produk digunakan metode harga jual relatif, satuan fisik, rata-rata biaya per unit dan rata-rata tertimbang. - 71

72 1. Metode Nilai Jual Relatif. Dalam metode nilai jual relatif dasar pembebanan biaya bersama pada setiap jenis produk yang dihasilkan adalah harga jual setiap jenis produk yang bersangkutan. Jika salah satu jenis produk dapat dijual dengan harga yang lebih tinggi dari produk yang lainnya, maka produk tersebut akan mendapatkan alokasi biaya bersama yang lebih tinggi dari produk lainnya. Dasar pemikiran metode ini adalah harga jual suatu produk yang merupakan perwujudan biaya yang dikeluarkan dalam mengolah produk. Alokasi Juml. nilai jual setiap produk Biaya Bersama setiap = x Juml. Biaya bersama Jenis produksi Juml. nilai jual semua jenis produk Menurut nilai jual relatif pada saat terjadi titik pisah ada dua kemungkinan yaitu produk langsung dapat diketahui nilai jualnya dan produk tidak langsung dapat diketahui nilai jualnya. a. Pada waktu titik pisah produk diketahui nilai jualnya Contoh : Biaya bersama yang dikeluarkan Perusahaan selama periode akuntansi Rp ,- biaya bersama tersebut dapat menghasilkan produk : Produk A unit Produk B unit Produk C unit Pada waktu titik pisah harga jual, Produk A Rp.1.000,-, Produk B Rp.750,-, Produk C Rp.600,- Diminta ; 1. Buat alokasi biaya bersama dan hitung harga pokok per unit setiap jenis produk 2. Hitung berapa % laba kotor setiap jenis produk jika produk A dapat terjual 9000 unit Produk B unit dan Produk C unit Jawab : 1. Menghitung alokasi biaya bersama Jenis Juml Harga/Unit Jml Harga Produk unit Jual Relatif Alokasi Biaya Bersama HP/unit x 2 4 4:1 A 10,000 1,000 10,000, X =

73 B 2, ,500,000 C 7, ,200, X = X = Menghitung laba kotor masing-masing produk Produk A B C Jumlah Unit yang dijual 9,000 7,500 5,000 21,500 Hasil penjualan (Rp) 9,000,000 5,625,000 3,000,000 17,625,000 HP.Penjualan (Rp) 4,500,000 2,812,500 1,500,000 8,812,500 Laba Kotor 4,500,000 2,812,500 1,500,000 8,812,500 % Laba kotor 50% 50% 50% 50% Hasil penjualan Produk A = 9000 x Rp.1000,- = Rp ,- Produk B = x Rp.750,- = Rp ,- Produk C = x Rp.600,- = Rp ,- Harga pokok penjualan Produk A = 9000 x Rp.500,- = Rp ,- Produk B = x Rp.375,- = Rp ,- Produk C = x Rp.300,- = Rp ,- Laba kotor Produk A Hasil penjualan = Rp ,- Harga pokok penjualan = Rp ,- (-) Laba kotor Rp ,- - 73

74 Produk B Hasil penjualan = Rp ,- Harga pokok penjualan = Rp ,- (-) Laba kotor Rp ,- Produk C Hasil penjualan = Rp ,- Harga pokok penjualan = Rp ,- (-) Laba kotor Rp ,- % Laba kotor Produk A = x 100% = 50% Produk B = x 100% = 50% Produk C = x 100% = 50% b. Pada titik pisah produk tidak diketahui nilai jualnya Produk bersama pada saat terjadi titik pisah belum bisa diketahui harga jualnya. Produk bersama tersebut baru bisa diketahui harga jual relatifnya bila diolah lebih lanjut samapai produk bersama tersebut siap untuk dijual. Yang dimaksud harga jual hipotesis adalah harga jual produk setelah diolah lebih lanjud sampai produk siap dijual dikurangi biaya pengolahan setelah titik pisah. Contoh : Biaya bersama selama satu periode akuntansi yang telah dikeluarkan oleh PT berama sebesar Rp ,-. Biaya bersama tersebut menghasilkan produk bersama unit yang terdiri atas tiga produk berikut : Produk A unit Produk B unit Produk C unit Setelah titik pisah produk tersebut diolah lebih lanjut dengan biaya tamabahan Produk A Rp.300,-/unit, Produk B Rp.400,-/unit, Produk C tidak perlu diolah lebih lanjut. Harga jual produk tersebutmasing-masing Produk A Rp.1.200,- Produk B Rp.950,- dan Produk C Rp.800,- Diminta : - 74

75 1. Hitung harga pokok per unit setiap jenis produk 2. Buat alokasi biaya bersama untuk setiap jenis produk Jawab : 1. Harga pokok per unit setiap jenis produk Produk A = x Rp.1,- = Rp.450, Biaya pengolahan lebih lanjut = Rp.300,- Rp.750,- Produk B = x Rp.1,- = Rp.275, Harga Pokok per unit Produk Harga Biaya Harga Jenis per Pengl jual Jml.output Hara jual Alokasi Biaya Bersama Produk unit lebih lanj. hipotesis (unit) hipotesis x 4 6 A 1, ,000 4,500,000 B ,000 3,300,000 C ,000 5,600, x = x = x = Metode Satuan Fisik Menurut metode satuan fisik biaya bersama dialokasikan kepada setiap produk berdasarkan perbandingan kuantitas bahan yang dipakai oleh setiap produk. Kuantitas bahan yang harus dinyatakan dengan satuan ukuran dan berat yang yang sama, apabila ukurannya berbeda harus disamakan terlebih dahulu. Demikian pula produk yang dihasilkan juga harus dapat dinyatakan dengan ukuran yang sama. Contoh : PT AJI MUMPUNG dalam satu periode akuntansi menghasilkan produk bersama berupa : Produk E = unit Produk F = unit Produk G = unit Bahan yang dipakai untuk Produk E = unit Produk F = unit Produk G = unit Biaya bersama yang terjadi selama periode akuntansi sebesar Rp ,- Diminta : Buat alokasi biaya bersama dan hitung harga pokok per unit untuk setiap produk : Jawab : Jenis Output Pemakaian % Pemakaian bahan Produk unit bahan (Kg) (%) Alokasi Biaya Bersama (Rp) HP/unit (Rp) - 75

76 A 4,000 2,700 B 5,000 3, x 100% = 27% 27 x = x 100% = 36%% 36 x = x 100% = 37% 37 x = C 3,500 3, Jumlah 10, % 1, , , Metode rata-rata biaya bersama. Metode ini dapat digunakan oleh perusahaan bila produk bersama yang dihasilkan dapat diukur dalam satuan yang sama, walaupun kwalitasnya berbeda. Harga pokok masing-masing produk dihitung sesuai proporsi jumlah produksi. Jadi harga pokok setiap produk dapat dihitung dengan rumus : Harga pokok setiap senis produk = Jumlahproduk dikalikan dengan harga pokok produk rata-rata per satuan Harga pokok setiap satuan = Jumlah biaya bersama yang dibebankan dibagi jumlah seluruh Produk Contoh : Perusahaan Textil Atmatex dalam satu periode akuntansi menghasilkan produk bersama sebagai berikut : Textil No.1 Textil No.2 Textile No yard yard yard Biaya bersama yang telah dikeluarkan untuk membuat textile tersebut Rp Diminta : Membuat alokasi biaya bersama sehingga setiap jenis produk bersana dapat diketahui harga pokoknya. Jawab : Jumlah biaya bersama Jumlah seluruh produk Rp , yard Harga pokok per unit = = Rp.2.750, Tabel harga pokok tiap jenis produk : No. Jml (Yard ) Hp.Unit Total Harga 01 1,000 Rp 2,750 Rp 2,750,000-76

77 02 1,500 Rp 2,750 Rp 4,125, ,750 Rp 2,750 Rp 4,812,500 Total 4,250 Rp 11,687, Metode Rata-rata tertimbang Dalam metode rata-rata tertimbang setiap jenis produk yang dihasilkan secara bersama ditentukan dahulu angka penimbangnya (bobot) Dasar untuk menentukan angka penimbangan (bobot) diantaranya : 1. Jumlah bahan yang dipakai 2. Tingkat kesulitan dalam membuat produk 3. Kuantitas tenaga kerja yang diperlukan 4. Waktu yang diperlukan dan harga jual masing-masing produk. Bila setiap jenis produk sudah ditentukan angka penimbangnya kemudian dikalikan kuantitas setiap jenis produk, hasilnya baru dipakai dasar alokasi Contoh : Biaya bersama yang dikeluarkan selama periode akuntansi Rp ,- Produk bersama yang dihasilkan : Jenis Produk Unit Produk Angka Penimbang Yang dihasilkan Berdasarkan Tingkat Kesulitan A 50,000 4 B 60,000 3 C 40,000 1 Diminta : Membuat alokasi biaya bersama dan hitung harga pokok per unit untuk setiap jenis produk. Jawab : Harga pokok masing-masing jenis produk dapat dihitung dengan cara berikut, diketahui biaya bersama sebesar Rp ,- Jenis Produk Produk Yang dihasilkan Angka Penimbang Jumlah Alokasi Biaya Bersama A 50,000 4 Rp 200, / X Rp 8,000,000 B 60,000 3 Rp 180, / X Rp 7,200,000 C 40,000 1 Rp 40, / X Rp 1,600,000 TOTAL Rp 420,000 Rp 16,800,000-77

78 III.Akuntansi Produk Sampingan Pada akuntansi produk bersama telah dibahas bagaimana cara mengalokasikan biaya bersama ke setiap produk jenis bersama yang dihasilkan. Dalam pembahasan produk sampingan akan dikemukakan bagaimana cara memperlakukan hasil penjualan produk sampingan, mengingat produk sampingan tersebut nilainya relatif murah dari pada produk utama. Alokasi produk bersaba kepada produk sampingan kadang-kadang tidak perlu. Oleh karena itu, akuntansi produk sampingan dapat digolongkan menjadi dua golongan yaitu metode tanpa harga pokok dan metode harga pokok. 1. Metode Tanpa Harga Pokok Metode tanpa harga pokok adalah metode yang hanya mencatat hasil penjualan produk sampingan tanpa mengalokasikan biaya bersma kepada produk sampingan sehingga produk sampngan tidak mempunyai harga pokok. Hasil penjualan produk sampingan dapat diperlukan sebagai : a. Pendapatan diluar usaha b. Tamabahan pendapatan terhadap hasil penjualan produk bersama c. Pengurang harga pokok penjualan d. Pengurang jumlah biaya produksi Contoh : Perusahaan dalam satu periode akuntansi telah menghasilkan beberapa produk sebagai berikut : a. Produk utama sebanyak unit Produk sampingan sebanyak unit Produk utama yang lakun terjual Rp.1.000,- dan harga pokok produk utama Rp.625,-/ unit. Produk sampingan dijual laku Rp ,- Jumlah biaya produksi sebesar Rp ,- Biaya pemasaran produk utama Rp ,- Biaya administrasi dan umum Rp ,- Diminta : Membuat laporan laba-rugi berdasarkan empat prinsip diatas. - 78

79 Jawab : a. Penggunaan Prinsip Pendapatan di luar Usaha Dalam prinsip pendapatan hasil penjualan produk sampingan diperlakukan sebagai pendapatan di luar usaha. Bentuk laporan yang menggunakan prinsip tersebut diuraikan dalam laporan laba-rugi kelompok pendapatan diluar usaha. Bentuk laporan laba-rugi dengan mnggunakan prinsip pendapatan diluar usaha. H asil penjualan produk utama ( x Rp.1.000,-) Harga pokok penjualan Jumlah biaya produksi Persediaan produk jadi akhir (5.000 x Rp.625,-) Rp ,- (-) Harga pokok penjualan Biaya operasi : Biaya pemasaran Rp ,- Rp ,- Rp ,- Laba Kotor Rp ,- Rp.2, , Biaya administrasi dan umum Rp ,- (+) Jumlah biaya operasi Rp ,- Laba bersih Usaha Rp ,- Hasil penjualan produk sampingan Rp ,- Laba bersih seblum pajak (EBT) Rp ,- b. Penggunaan Prinsip Tambahan Pendapatan Pada prinsip tambahan pendapatan untuk mendapatkan laba kotordapat diperoleh dari pendapatan penjualan semua produk baik produk utama maupun produk sampingan dikurangi biaya produksi. Dalam hal ini hasil penjualan produk sampingan diperlakukan sebagai tambahan pendapatan terhadap penjualan produk utama. Bentuk laporan laba-rugi dengan menggunakan prinsip tamabahan pendapatan : Penjualan : Produk utama Rp ,- Produk sampingan Rp ,- Jumlah penjualan Rp ,- Harga pokok penjualan Jumlah biaya produksi Rp ,- Persediaan produk jadi akhir (5.000 x Rp.625,-) Rp ,- (-) Harga pokok penjualan Rp ,- - 79

80 Laba Kotor Rp ,- Biaya operasi : Biaya pemasaran Rp.2, , Biaya administrasi dan umum Rp ,- (+) Jumlah biaya operasi Rp ,- Laba bersih Usaha Rp ,- Hasil penjualan produk sampingan Rp ,- Laba bersih seblum pajak (EBT) Rp ,- c. Penggunaan Prinsip Pengurangan Harga Pokok Penjualan Dalam prinsip pengurangan harga pokok penjualan, penjualan produk sampingan diperlukan sebagai pengurang harga pokok penjualan. Oleh karena itu untuk mendapatkan laba kotor diperoleh dengan cara mengurangi hasil penjualan produk sampingan dengan harga pokok penjualan. Bentuk laporan laba-rugi dengan menggunakan prinsip pengurangan harga pokok penjualan : Hasil penjualan produk utama ( x Rp.1.000,-) Harga pokok penjualan Jumlah biaya produksi Persediaan produk jadi akhir (5.000 x Rp.625,-) Rp ,- (-) Harga pokok penjualan Penjualan produk sampingan Rp ,- (-) Biaya operasi : Biaya pemasaran Rp ,- Rp ,- Rp ,- Rp ,- Laba Kotor Rp ,- Rp.2, , Biaya administrasi dan umum Rp ,- (+) Jumlah biaya operasi Rp ,- Laba bersih seblum pajak (EBT) Rp ,- d. Penggunaan Prinsip Pengurangan Jumlah Biaya Produksi Dalam prinsip pengurangan jumlah biaya produksi hasil penjualan produk sampingan diperlakukan sebagai pengurang jumlah biaya produksi. Untuk membuat laporan laba-rugi pada metode tersebut, yang pertama dilakukan adalah pengurangan dari jumlah biaya produksi untuk mendapatkan produk sampingan, sehingga biaya produksi turun dari Rp ,- menjadi Rp ,- - 80

81 Hal tersebut berpengaruh terhadap harga pokok per unit produk utama turun dari Rp.625,- menjadi Rp.608,33 ( : ), maka nilai persediaan akhir produk utama adalah Rp ,- (5.000 x Rp.608,33) Bentuk laporan laba-rugi sebagai berikut : H asil penjualan produk utama ( x Rp.1.000,-) Rp ,- Hasil penjualan produk utama ( x Rp.1.000,-) Rp ,- Harga pokok penjualan Jumlah biaya produksi Rp ,- Hasil penjualan produk sampingan Rp ,- Rp ,- Persediaan produk jadi akhir (5.000 x Rp.608,33)Rp ,- (-) Harga pokok penjualan Rp ,- Laba Kotor Rp ,- Biaya operasi : Biaya pemasaran Rp.2, , Biaya administrasi dan umum Rp ,- (+) Jumlah biaya operasi Rp ,- Laba bersih Usaha Rp ,- Hasil penjualan produk sampingan Rp ,- Laba bersih seblum pajak (EBT) Rp ,- Pada umumnya perusahaan menggunakan prinsip tanpa harga pokok karena : 1. Nilai produk sampingan tidak begitu penting 2. Produk sampingan saat terpisah dari produk utama tidak jelas 3. Penggunaan prinsip yang telah teliti memerlukan biaya yang tidak sebanding dengan manfaatnya. 4. Apabila harga pokok produk sampingan dibebankan kepada produk utama, maka perbedaannya tidak begitu tampak. Akan tetapi, dengan mengunakan prinsip metode tersebut, juga terdapat beberapa kelemahan : 1. Karena tidak ada harga pokok, maka sulit dikontrol dan menimbulkan peluang yang kurang baik. - 81

82 2. Produk sampingan setelah selesai diproduksi tidak dilakukan pencatatan dan baru diadakan pencatatan pada saat penjualan, jika penjualan tidak sama dengan waktu produk sampingan diproduksi, maka akan mengakibatkan penghasilan dan biaya yang tidak seimbang pada akhir peiode. 3. Sulit untuk menentukan nilai persediaan produk sampingan pada akhir periode. Selain keempat metode diatas masih ada metode lain yaitu metode nilai pasar. Metode nilai pasar sebenarnya sama dengan metode pengurangan jumlah biaya produksi. Perbedaanya 3. Metode Harga Pokok Produk Sampingan Meteode harga pkokok adalah metode yang mengalokasikan biaya bersama kepada produk sampingan, sehingga produk sampingan mempunyai harga pokok. Metode harga pokok biasanya diterapkan oleh perusahaan yang produk sampingannya dipakai didalam pabrik sebagai bahan baku atau bahan penolong. Harga pokok produk sampingan yang berlaku di pasar, harga pokok produk ini kemudian dikreditkan pada perkiraan BDP untuk bahan baku. Dengan demikian biaya produksi (bahan baku) berkurang, hal ini mengakibatkan harga pokok per unit persediaan akhir produk utama mejadi lebih rendah. Contoh : Peruahaan TAHU dalam bulan september 2005 menghasilkan 2000 unit produk utama. Biaya produksi yang telah dikeluarkan Rp ,-. Produk utama tersebut bahan bakunya adalah produk sampingan dengan nilai pengganti Rp ,- Produk utama terjual Rp.450.,- Biaya penjualan Rp ,- Biaya administrasi dan umum Rp ,- Persediaan akhir produk utama 200 unit Diminta : Membuat laporan laba-rugi bulan september 2005 Jawab : Penjualan produk utama x Rp.450,- Rp ,- Harga pokok penjualan : Biaya produksi Rp ,- Biaya pengganti produk sampingan Rp ,- (+) Rp ,- Persediaan produk akhir produk utama = x 200 Rp , Harga Pokok Penjualan Rp ,- (-) - 82

83 Laba kotor Rp ,- Biaya Operasi: Biaya penjualan Rp ,- Biaya administrasi dan umum Rp ,- Jumlah Biaya Operasi Rp ,- (-) Laba bersih sbelum pajak Rp ,- - 83

84 A. Pendahuluan. BAB VI PERHITUNGAN BIAYA STANDAR DAN ANALISIS SELISIH Biaya standar adalah biaya-biaya yang ditetapkan terlebih dahulu untuk memproduksi satu unit produksi selama periode tertentu dimasa yang akan datang. Biaya standar mempunyai dua komponen : Biaya dan Standar. Standar menyerupai norma dan segala hal yang dianggap normal pada umumnya dapat diterima sebagai standar. Sebagai contoh perusahaan mebuler dalam membuat meja terdapat tolok ukur secara kuantitas maupun kualitas yang mana standar ini akan dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan pasar. Standar dapat ditunjukkan sebagai norma dalam satuan ukuran tertentu seperti jumlah produk dalam unti, waktu kerja yang dieprlukan dan persentase kapasitas pabrik yang diperguanakan. Dalam Perusahaan, standar dapat dugunakan untuk jangka waktu yang lama. Perubahan standar dilakukan apabila metode produksi atau produksinya sendiri sydah ketinggalan atau tidak dibutuhkan lagi. B. Keguanaan Biaya Standar Sistem biaya standar membantu perencanaan dan pengendalian operasional serta memberi gambaran manajerial terhadap tingkat biaya dan laba. Biaya standar dapat digunakan sebagai : 1. Menetapkan anggaran 2. Mengendalikan biaya, motivasi dan mengukur efisiensi 3. Memperbesar kemungkinan pengurangan biaya 4. Menyederhanakan prosedur penetapan biaya dan mempercepat penyajian laporan penyajian biaya. 5. Membebankan biaya ke persediaan bahan, barang dalam proses dan produk jadi 6. Memberikan dasar untuk penetapan tender dan kontrak dan menetapakan harga jual. Standar berlaku sebagai tolok ukur yang mengarahkan perhatian pada variasi-variasi biaya, para pimpinan dan penyelia perusahaan menjadi sadar akan pentingnya biaya, jika mereka - 84

85 tahu akibat akibatnya. Kesadaran akan pentingnya biaya ini cenderung mendorong untuk lebih berhemat dan meningkatkan efisiensi pada semua tahapan perusahaan. Penggunaan biaya standar untuik keperluan akauntansi akan menyederhanakan prosedur perhitungan biaya, dengan mengurangi biaya pencatatan dan administrasi. Sistem biaya standar yang lengkap biasanya selalu disertai dengan standar operasi perusahaan. Produksi standar yang mengharuskan adanya standar jumlah produk dan kegiatan pekerja yang spesifik dipersiapkan sebelum produksi dimulai. Permintaan bahan, kartu jam kerja dan kartu operasi juga dapat dipersiapkan sebelum produksi dimulai, sehingg biaya standar dapat dirangkaikan. Apabila ada pesanan yang masuk ke perusahaan, maka jumlah permintaan bahan, proses pengolahan dan biaya bisa langsung diterapkan. Semakin standar proses produksi semakin sederhana proses pencatatannya. Laporan-laporan dapat disusun secara sistimatis untuk penyajian informasi yang lengkap mengenai standar, biaya yang sebenarnya terjadi dan berbagai selisih (variance). Arsip biaya standar yang lengkap untuk setiap bagian dan operasi perusahaan akan menyederhanakan cara pembebanan biaya ke persediaan bahan baku, barang dalam proses dan produk jadi. Penggunaan biaya standar menstabilakan pengaruh dari biaya-biaya bahan. Upaya untuk mengajukan tender, memenangkan kontrak dan menetapkan harga jual akan sangat dipermudah dengan adanya biaya standar yang andal dan pengkajian biaya standar secara kontinyu. C. Perbandingan Anggaran dengan Standar Anggaran adalah satu metode untuk mendapatkan informasi yang andal dan langsung berkaitan dengan biaya operasi dan pengendalian Perusahaan. Bila anggaran pabrikasi disusun berdasarkan standar bahan, upsh pekerja dan overhead pabrik, maka terciptalah suatu sarana yang mantap untuk pengendalian dan pengurangan biaya. Standar bisa dikatakan sebagai hal yang mutlak perlu dalam penyusunan anggaran. Standar dan anggaran mempunyai tujuan yang sama yaitu pengendalian manajerial sehingga kerap kali dirasakan keduanya sama dan tidak dapat berfungsi sendiri-sendiri. Pendapat ini didukung oleh kenyataan keduanya menggunakan biaya yang ditetapkan dimuka untuk - 85

86 periode mendatang. Hal ini memungkinkan dilakukannya pengendalian manajerial dengan melakukan perbandingan antara biaya yang sebenarnya terjadi dengan biaya standar. Perbedaan pokok antara anggaran dengan biaya standar terletak pada ruang lingkupnya. Anggaran yang merupakan ikhtisar dari biaya yang diperkirakan, berlaku sebagai patokan untuk mengarahkan perusahaan agar bergerak sesuai dengan arah yang sudah ditentukan. Biaya standar tidak menyatakan biaya yang akan terjadi tetapi menekankan pada seberapa besar biaya itu nantinya, jika pretasi kerja tercapai. Anggaran menekankan volume bisnis dan tingkat biaya yang harus diupayakan apabila perusahaan ingin beroperasi seperti yang diharapkan. Sedangkan standar menekankan pada tingkat pengurangan biaya yang harus diusahakan. Apabila biaya dapat diturunkan pada tingkat tertentu, laba akan meningkat. D. Biaya Standar dan Selisih Penetapan biaya standar didasarkan fisik yang biasa digunakan adalah : 1. Standar dasar (Basic Standat) 2. Standar yang berlaku (Current Standart) Standar dasar adalah tolok ukur yang digunakan sebagai patokan pembanding untuk orientasi kerja yang diharapkan dan yang sesungguhnya. Standar yang berlaku terdapat tigenis : Standar yang sebenarnya diaharapkan yaitu standar yang ditetapkan untuk tingkat operasi dan efisiensi yang diharapkan akan terjadi. Standar ini merupakan estimasi yang wajar dari hasil yang sebenarnya. Standar normal yaitu standar yang untuk tingkat operasi dan efisiensi yang normal, yang dimaksud untuk tingkat operasi dan efisiensi yang normal, maksudnya sebagai tantangan yang bisa dicapai. Standar teoritis yaitu standar yang ditetapkan untuk tingkat operasi dan efisiensi yang ideal atau maksimum. Standar ini merupakan sasaran dan bukan sebagai orientasi kerja yang harus dicapai pada saat ini. Biaya ban dan upah tenaga kerja dihitung berdasarkan kondisi saat ini, dengan memperhatikan kemungkinan perubahan harga bahan dan tarif upah serta pengaruh efisiensi yang diharapkan. Biaya overhead didasrkan pada kondisi efisiensi dan volume normal. - 86

87 Standar harus ditetapkan untuk periode tertentu agar efektif dalam pengendalian dan menganalisis biaya. Lazimnya standar dihitung untuk jangka waktu satu semester atau satu tahun bahkan ada kalanya digunakan untuk waktu yang lebih panjang. Walaupun standar telah ditetapkan, juga perlu menyediakan kartu biaya standar yang tepat yang memperlihatkan Pos-pos biaya untuk setiap unsur biaya itu sendiri baik biaya bahan, biaya tenaga kerja maupun biaya overhead. Biaya sebenarnya (actual cost) untuk bahan baku, tenaga kerja langsung dan overhead pabrik untuk setiap departemen produksi dibandingkan dengan biaya standar untuk masingmasing biaya. Dari perbandingan ini dianalisis dan diidentifikasi sebagai selisih untuk masing-masing biaya. Apabila biaya sebenarnya melebihi biaya standar, maka selisih biaya ani tidak menguntungkan/ rugi karena hal ini akan mengurangi laba. Sebaliknya apabila biaya standar melebihi biaya sebenarnnya maka selisih biayanya disebut menguntungkan karena hal ini akan memperbesar laba. Namun, berbagai analisis tersebut tidak berakhir dengan pengidentifikasian saja. Selisih yang menjadi pertanyaan, bukan jawabannya. Alasan terjadinya selisih harus ditentukan dan tindakan manajemen yang tepat harus diambil agar dapat dilakukan pengendalian biaya yang dikehendaki. E. Satandar Biaya Bahan Terdapat dua jenis standar yang harus disusun untuk biaya bahan : 1. Standar harga bahan 2. Standar kuantitas bahan Standar dan Selisih Harga bahan digunakan untuk : 1. Menguji operasi kerja departemen pembelian dan pengaruh berbagai faktor internal dan eksternal. 2. Mengukur dari naik-turunnya harga terhadap laba perusahaan. Penentuan harga atau biaya yang akan digunakan sebagai biaya standar seringkali sulit, karena harga yang digunakan lebih banyak digunakan oleh faktor-faktor eksternal, bukan oleh manajemen Perusahaan. Harga yang dipilih harus mencerminkan harga dasar yang berlaku dan umumnya digunakan sepanjang periode fiscal yang akan datang - 87

88 Apabila harga sebenarnya lebih besar atau lebih kecil dari harga standar, timbullah selisih harga. Naik-turunnya harga yang terjadi selama tahun berjalan dicatat dalam rekening selisih harga bahan. Harga standar diperbaiki pada saat dilakukan pemeriksaan persediaan atau biala terdapat perubahan besar dalam pasar bahan baku atau suku cadang yang sangat diperlukan. Contoh : Perushaan menetapkan standar bahan untuk produksnya sebagai berikut : Satandar bahan per unit 2 Rp.250,- Pembelian bahan 5000 Rp.247,- Pemakaian bahan sesungguhnya kg Unit yang dihasilkan unit Standar kuantitas/ pemakaian bahan...? Diminta : hitung selisih harga bahan Rumus : Standar pemakaian bahan = standar bahan x unit yang dihasilkan Unit yang diahsilakan per unit Untuk selisih harga bahan bisa dihitung pada saat pembelian maupun pemakaian bahan dalam proses produksi. Selisih harga pembelian = (HSb HSt) x KBB Selisih harga pemakaian = (HSb HSt) x KBp Keterangan : HSb = Harga sebenarnya KBB = Kuantitas Bahan yang dibeli HSt = Harga standar KBp = Kuantitas Bahan yang Dipakai Standar pemakaian bahan = 2 kg x unit = kg a) Selisih harga pembelian = (Rp.247 Rp.250) x kg = Rp ,- (L) b) Selisih harga pemakaian = Rp.247 Rp.250) x kg = Rp ,- (L) 2. Standar dan selisih kuantitas bahan Satandar kuantitas = Standar pemakaian Selisih kapasitas ini menunjukkan spesifikasi dasar mengenai jenis, kuantitas dan kuantitas bahan yang diperlukan. - 88

89 Selsisih kuantitas bahan dihutng dengan membandingkan kuantitas standard an dihitung dengan biaya standar. Rumus : Selisih Kuantitas Bahan = (KBSb KBSt) x HSt Keterangan : KBSb = kuantitas bahan sebenarnya KBSt = kuantitas bahan standar HSt = harga standar Selisih kuantitas bahan = (3.550 kg kg) x Rp.250,- = Rp ,- (R) Selisih hasil bahan : Selisih harga bahan = Rp ,- (L) Selisih kuantitas bahan = Rp ,-(R) Selisih hasil bahan = Rp ,- (L) F. Standar Biaya Tenaga Kerja Utnuk biaya standar tenaga kerja, terdapat dua jenis standar yang harus ditetapkan terlebih dahulu : 1. Standar tarif upah 2. Standar efisiensi tenaga kerja Standar dan Selisih Tarif Upah. Standar tenaga kerja umumnya ditetapkan berdasarkan tari upah yang merupakan hasil perundingan kolektif untuk menetapkan upah per jam, tarif upah per unit dan bonus maupun insentif yang akan deberikan. Apabila tidak ada sarekat pekerja, tarif upah dihitung berdasarkan tarif pendapatan yang ditentukan melalui persetujuan antara pekerja dengan departemen personalia. Oleh karena tarif upah umumnya didasarkan pada persetujuan bersama, maka selisish tarif upah tenaga kerja jarang terjadi. Walaupun ada hal ini disebabkan oleh adanya hal-hal luar biasa dalam pabrik yang sifatnya jangka pendek. Contoh : Perushaan menetapkan standar bahan untuk produksnya sebagai berikut : Tarif upah per unit 3 Rp.250,- Jam kerja sesungguhnya Rp.950,- Unit yang dihasilkan 530 unit Jam kerja standa...? - 89

90 Diminta : selisih tarif upah tenaga kerja Rumus : Standar pemakaian bahan = jam keja standar x unit yang dihasilkan Unit yang diahsilakan per unit Selisih tarif upah = (TUSb TUSt) x JKSb Keterangan : TUSb = tarif upah sebenarnya TUSt = tarif upah standar JKSb = jam kerja sesungguhnya Jam kerja untuk unit yang dihasilkan = 3 jam x 530 unit = unit Selisih tarif upah = (Rp.950 Rp.900) x jam = Rp ,- (R) Standar dan Selisih Efisiensi Tenaga Kerja Standar efisiensi tenaga kerja ini biasanya ditetapkan oleh para insinyur dengan menggunakan telaah waktu dan gerak. Telaah ini didasarkan pada pelaksanaan kerja sesungguhnya oleh pekerja atau sekelompok pekerja yang memiliki ketrampilan rata-rata yang sama, ketika melaksanakan pekerjaan yang normal atau pekerja yang menggunakan mesin pada kodisi normal. Sementara penetapan standar waktu memerlukan telaah terinci sehubungan dengan operasi pabrik. Standar waktu ini memliki keguanaan terbatas, apabila waktu operasi sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor diluar kendali manajemen ataupun output yang menggunakan banyak mesin, sangat ditentukan oleh waktu dan kecepatan mesin dibandingkan dengan jam kerja yang tersedia. Selisih efisiensi tenaga kerja dihitung pada akhir setiap periode (harian, mingguan atau bulanan) dengan membandingkan jam kerja sebenarnya terhadap jam kerja standar yang telah ditetapkan, yang keduanya dihitung berdasarkan tarif upah standar per jam kerja. Angka jam kerja standar dihitung dengan mengalikan jumlah jam kerja standar untuk menghasilkan satu init barang dengan jumlah unit sebenarnya yang daihasilkan. Rumus : Selisih efisiensi tenaga kerja = (JKSb JKSt) x TUSt Keterangan : JKSb = jam kerja sebenarnya JKSt = jam kerja standar TUSt = tarif upah standar Selish efisiensi tenaga kerja = (1.880 jam jam) x Rp.900 = Rp ,- - 90

91 Selisih hasil tenaga kerja : 1. Selisih tarif upah Rp ,- (R) 2. Selisih efisiensi tenaga kerja Rp ,- (R) Selisih hasil tenaga kerja Rp ,- (R) G. Standar Biaya Overvead Pabrik (BOP) Terdapat dua jenis anggaran yang dapat digunakan sebagai dasar untuk menetapkan tarif BOP, yaitu anggaran BOP anggaran fleksibel. Anggaran BOP menunjukkan jumlah anggaran untuk tingkat kegiatan tertentu yang ditetapkan terlebih dahulu, sedangkan anggaran fleksibel menyediakan jumlah anggaran untuk berbagai tingkat kegiatan. Kerdua jenis anggaran tersebut ditujukan untuk mengendalikan BOP. Pengendalian ini akan berhasil apabila biaya sebenarnya masih berada pada rentang anggaran yang ditetapkan. Batas maksimal dari rentang anggaran tersebut adalah jumlah yang ditetapkan dalam anggaran fleksibel, namun untuk menentukan biaya atas pekerjaan atau produk perlu ditetepakan tarif BOP normal yang didasarkan pada taksiran BOP kapasitas normal. Pengaruh volume produksi terhadap BOP per unit dapat digambarkan seagai berikut : Volume produksi (unit) Biaya overhead pabrik : Tetap Rp Rp Rp Variabel Rp Rp Rp Jumlah Rp Rp Rp BOP per unit : Tetap Rp Rp Rp Variabel Rp. 750 Rp. 666,67 Rp. 600 Jumlah Rp Rp ,67 Rp Pola dasar perilaku biaya overhead pabrik, untuk BOP tetap jumlahnya tidak dipengaruhi oleh vulume produksi sedangkan biaya per unit (unit cost) berubah artinya semakin besar volume produksi maka biaya per unit akan semakin rendah, sedangkan BOP variabel jumlahnya akan dipengaruhi oleh perubahan volume produksi artinya besarnya biaya overhead ini akan berjalan sebanding dengan beasarnya volume produksi akan tetapi biaya per unit tetap dalam renatang yang relevan. H. - 91

MODUL I AKUNTANSI BIAYA BAHAN BAKU

MODUL I AKUNTANSI BIAYA BAHAN BAKU MODUL I AKUNTANSI BIAYA BAHAN BAKU A. TUJUAN Setelah melakukan kegiatan praktikum Akuntansi Biaya Bahan Baku, maka mahasiswa di harapkan dapat mengetahui dan memahami akuntansi kos untuk bahan baku B.

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II BAHAN RUJUKAN BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Akuntansi Biaya Akuntansi secara garis besar dapat dibagi menjadi dua tipe, yaitu akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen. Akuntansi biaya bukan merupakan tipe akuntansi tersendiri

Lebih terperinci

METODE HARGA POKOK PESANAN

METODE HARGA POKOK PESANAN 1 METODE HARGA POKOK PESANAN Metode Harga Pokok Pesanan (Job Order Cost Method) adalah metode pengumpulan harga pokok produk dimana biaya dikumpulkan untuk setiap pesanan atau kontrak atau jasa secara

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Akuntansi Biaya Akuntansi biaya merupakan salah satu pengkhususan dalam akuntansi, sama halnya dengan akuntansi keuangan, akuntansi pemerintahan, akuntansi pajak, dan sebagainya.

Lebih terperinci

langsung Biaya Tenaga kerja

langsung Biaya Tenaga kerja SIKLUS PEMBUATAN PRODUK SIKLUS AKUNTANSI BIAYA Pembelian dan Penyimpanan Penentuan harga Pokok bahan baku Yang dibeli Pengolahan Menjadi Produk jadi langsung Biaya Tenaga kerja Penentuan Harga pokok Yang

Lebih terperinci

Biaya Overhead Pabrik

Biaya Overhead Pabrik Dosen: Christian Ramos K COST ACCOUNTING (Akuntansi Biaya) Biaya Overhead Pabrik REFERENSI: Hongren, Charles T., Cost Accounting, Prentice Hall (BOOK) Vanderbeck, Principles of Cost Accounting, Cengage

Lebih terperinci

SISTEM BIAYA TAKSIRAN A. PENGERTIAN DAN TUJUAN SISTEM BIAYA TAKSIRAN Pengertian Sistem Biaya Taksiran Sistem biaya taksiran adalah salah satu harga

SISTEM BIAYA TAKSIRAN A. PENGERTIAN DAN TUJUAN SISTEM BIAYA TAKSIRAN Pengertian Sistem Biaya Taksiran Sistem biaya taksiran adalah salah satu harga SISTEM BIAYA TAKSIRAN A. PENGERTIAN DAN TUJUAN SISTEM BIAYA TAKSIRAN Pengertian Sistem Biaya Taksiran Sistem biaya taksiran adalah salah satu harga pokok yang ditentukan di muka untuk mengolah produk atau

Lebih terperinci

Jurusan Akuntansi Unika Soegijapranata

Jurusan Akuntansi Unika Soegijapranata Jurusan Akuntansi Unika Soegijapranata PENGERTIAN BIAYA OVERHEAD PABRIK Biaya overhead pabrik adalah biaya bahan, tenaga kerja, dan fasilitas produksi lainnya, selain biaya bahan baku dan biaya tenaga

Lebih terperinci

METODE HARGA POKOK PESANAN (FULL COSTING) A K U N T A N S I B I A Y A T I P F T P UB

METODE HARGA POKOK PESANAN (FULL COSTING) A K U N T A N S I B I A Y A T I P F T P UB METODE HARGA POKOK PESANAN (FULL COSTING) A K U N T A N S I B I A Y A T I P F T P UB Pembebanan Biaya ke Produk 2 Obyek Biaya Biaya Langsung Biaya Bahan Biaya Tenaga Kerja PRODUK Biaya tdk Langsung Biaya

Lebih terperinci

Latihan Soal Akuntansi Biaya & Praktek (1)

Latihan Soal Akuntansi Biaya & Praktek (1) Latihan Soal Akuntansi Biaya & Praktek (1) Pertemuan 1 1. Manakah yang termasuk jenis biaya jika digolongkan berdasarkan Tendensi Perubahannya terhadap Kegiatan atau Volume.. a. Biaya Pemasaran b. Biaya

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN. Akuntansi biaya melengkapi manajemen dengan perangkat akuntansi untuk

BAB II BAHAN RUJUKAN. Akuntansi biaya melengkapi manajemen dengan perangkat akuntansi untuk BAB II BAHAN RUJUKAN 2.2 Akuntansi Biaya Akuntansi biaya melengkapi manajemen dengan perangkat akuntansi untuk kegiatan perencanaan dan pengendalian, perbaikan mutu dan efisiensi, serta membuat baik keputusan

Lebih terperinci

BAB II HARGA POKOK PRODUKSI

BAB II HARGA POKOK PRODUKSI BAB II HARGA POKOK PRODUKSI Bab ini berisi teori yang akan digunakan sebagai dasar melakukan analisis data. Mencakup pengertian dan penggolongan biaya serta teori yang berkaitan dengan penentuan harga

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORITIS. A. Pengertian dan Fungsi Akuntansi Biaya. 1. Pengertian Akuntansi Biaya

BAB II LANDASAN TEORITIS. A. Pengertian dan Fungsi Akuntansi Biaya. 1. Pengertian Akuntansi Biaya BAB II LANDASAN TEORITIS A. Pengertian dan Fungsi Akuntansi Biaya 1. Pengertian Akuntansi Biaya Akuntansi berkaitan dengan hal pengukuran, pencatatan dan pelaporan informasi keuangan kepada pihak-pihak

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI 5 BAB II LANDASAN TEORI A. Pengertian Akuntani Biaya 1. Pengertian biaya Biaya merupakan salah satu faktor penting yang harus diperhatikan dalam proses produksi dalam satu perusahaan manufaktur. Terdapat

Lebih terperinci

SIKLUS KEGIATAN PERUSAHAAN MANUFAKTUR

SIKLUS KEGIATAN PERUSAHAAN MANUFAKTUR METODE HARGA POKOK PESANAN-FULL COSTING Disajikan oleh: Nur Hasanah, SE, MSc SIKLUS KEGIATAN PERUSAHAAN MANUFAKTUR PEMBELIAN DAN PENYIMPANAN BAHAN BAKU PENGOLAHAN BAHAN BAKU MENJADI PRODUK JADI PENYIMPANAN

Lebih terperinci

Ada 2 metode yang umum digunakan dalam akumulasi biaya, yaitu : 1. Metode Akumulasi Biaya Pesanan. 2. Metode Akumulasi Biaya Proses.

Ada 2 metode yang umum digunakan dalam akumulasi biaya, yaitu : 1. Metode Akumulasi Biaya Pesanan. 2. Metode Akumulasi Biaya Proses. MEET 4 BIAYA BAHAN Masalah yang dihadapi manajemen yang berhubungan dengan bahan adalah keterlambatan tersedianya bahan akan mempengaruhi kelancaran kegiatan produksi. Sedangkan persediaan bahan yang terlalu

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian dan Tujuan Akuntansi Biaya 2.1.1 Pengertian Akuntansi Biaya Akuntansi biaya mengukur dan melaporkan setiap informasi keuangan dan non keuangan yang terkait dengan

Lebih terperinci

BAB II BIAYA PRODUKSI PADA CV. FILADELFIA PLASINDO SURAKARTA

BAB II BIAYA PRODUKSI PADA CV. FILADELFIA PLASINDO SURAKARTA BAB II BIAYA PRODUKSI PADA CV. FILADELFIA PLASINDO SURAKARTA Manajemen dalam menjalankan tugasnya harus mempunyai keahlian serta kemampuan untuk memanfaatkan setiap faktor produksi yang ada. Salah satu

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Dari definisi biaya tersebut mengandung empat unsur penting biaya yaitu: 1. Pengorbanan sumber-sumber ekonomi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Dari definisi biaya tersebut mengandung empat unsur penting biaya yaitu: 1. Pengorbanan sumber-sumber ekonomi. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Pengertian Biaya Pengertian biaya menurut Supriyono (1999:252) adalah pengorbanan sumbersumber ekonomi yang sudah terjadi atau akan terjadi yang dinyatakan

Lebih terperinci

BAB VI METODE HARGA POKOK PROSES

BAB VI METODE HARGA POKOK PROSES BAB VI METODE HARGA POKOK PROSES Pengumpulan biaya produksi tergantung karakteristik perusahaan dalam melakukan proses produksi : Perusahaan yang berproduksi atas dasar pesanan : pengumpulan biaya produksi

Lebih terperinci

COST ACCOUNTING MATERI-12 SISTEM BIAYA TAKSIRAN

COST ACCOUNTING MATERI-12 SISTEM BIAYA TAKSIRAN Novera KM COST ACCOUNTING MATERI-12 SISTEM BIAYA TAKSIRAN UNIVERSITAS ESA UNGGUL JAKARTA SISTEM BIAYA TAKSIRAN Adalah sistem akuntansi biaya produksi yang menggunakan suatu bentuk biaya-biaya yang ditentukan

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN. 2.1 Akuntansi Biaya

BAB II BAHAN RUJUKAN. 2.1 Akuntansi Biaya BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Akuntansi Biaya Akuntansi biaya melengkapi manajemen menggunakan perangkat akuntansi untuk kegiatan perencanaan dan pengendalian, perbaikan mutu dan efisiensi serta membuat keputusan

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II BAHAN RUJUKAN 7 BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Akuntansi Biaya Akuntansi biaya melengkapi manajemen menggunakan perangkat akuntansi untuk kegiatan perencanaan dan pengendalian, perbaikan mutu dan efisiensi serta membuat keputusan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1 Pengertian dan Tujuan Akuntansi Biaya 1 Pengertian Akuntansi Biaya Akuntansi biaya merupakan bagian akuntansi yang mencatat berbagai macam biaya, mengelompokkan, mengalokasikannya

Lebih terperinci

Biaya Overhead Pabrik

Biaya Overhead Pabrik Dosen: Christian Ramos K COST ACCOUNTING (Akuntansi Biaya) Biaya Overhead Pabrik REFERENSI: Hongren, Charles T., Cost Accounting, Prentice Hall (BOOK) Vanderbeck, Principles of Cost Accounting, Cengage

Lebih terperinci

METODE HARGA POKOK PESANAN FULL COSTING. AKUNTANSI BIAYA EKA DEWI NURJAYANTI, S.P., M.Si

METODE HARGA POKOK PESANAN FULL COSTING. AKUNTANSI BIAYA EKA DEWI NURJAYANTI, S.P., M.Si METODE HARGA POKOK PESANAN FULL COSTING AKUNTANSI BIAYA EKA DEWI NURJAYANTI, S.P., M.Si SIKLUS AKUNTANSI Siklus akuntansi biaya dalam perusahaan dipengaruhi oleh siklus kegiatan usaha perusahaan tsb. Perusahaan

Lebih terperinci

Clara Susilawati, MSi

Clara Susilawati, MSi Clara Susilawati, MSi Bahan baku (direct material) adalah bahan yang digunakan untuk membuat produk jadi dan dapat diidentifikasi secara fisik ke produk. Bahan baku merupakan bagian integral dari produk

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II BAHAN RUJUKAN BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Akuntansi Biaya 2.2.1 Pengertian Akuntansi Biaya Akuntansi sebagai salah satu ilmu terapan mempunyai dua tipe, yaitu akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen. Salah satu yang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 pasal 1 ayat 1, 2,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 pasal 1 ayat 1, 2, BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah 2.1.1 Pengertian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 pasal 1 ayat 1, 2, dan 3 Tahun 2008 tentang

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Sistem Informasi Sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau untuk

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Akuntansi Biaya Akuntansi biaya merupakan bagian dari akuntansi keuangan yang membahas mengenai penentuan harga pokok produk. Akuntansi biaya secara khusus berkaitan dengan

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN Pengertian Akuntansi Biaya. Menurut Mulyadi (2009:7) mendefinisikan akuntansi biaya sebagai. berikut:

BAB II BAHAN RUJUKAN Pengertian Akuntansi Biaya. Menurut Mulyadi (2009:7) mendefinisikan akuntansi biaya sebagai. berikut: BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Akuntansi Biaya Akuntansi biaya melengkapi manajemen menggunakan perangkat akuntansi untuk kegiatam perencanaan dan pengendalian, perbaikan mutu dan efisiensi serta membuat keputusan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Akuntansi Biaya Akuntansi biaya menyediakan informasi biaya yang akan digunakan untuk membantu menetapkan harga pokok produksi suatu perusahaan. Akuntansi biaya mengukur

Lebih terperinci

AKUNTANSI BIAYA KA2083. Modul Praktek. Hanya dipergunakan di lingkungan Fakultas Ilmu Terapan

AKUNTANSI BIAYA KA2083. Modul Praktek. Hanya dipergunakan di lingkungan Fakultas Ilmu Terapan AKUNTANSI BIAYA KA2083 Modul Praktek Hanya dipergunakan di lingkungan Fakultas Ilmu Terapan Program Studi D3 Komputerisasi Akuntansi Fakultas Ilmu Terapan Universitas Telkom Daftar Penyusun Daftar Penyusun

Lebih terperinci

BIAYA OVERHEAD PABRIK

BIAYA OVERHEAD PABRIK Pert 14 BIAYA OVERHEAD PABRIK T E A M T E A C H I N G U N I V E R S I T A S I S L A M M A L A N G 2016 Biaya overhead pabrik adalah biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI 5 BAB II LANDASAN TEORI A. Akuntansi Biaya dan Pengertian Biaya 1. Pengertian Akuntansi Biaya Akuntansi biaya adalah proses pencatatan, penggolongan, peringkasan dan penyajian biaya pembuatan dan penjualan

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II BAHAN RUJUKAN BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Akuntansi Biaya Di masa lalu, akuntansi biaya secara luas dianggap sebagai cara perhitungan nilai persediaan yang dilaporkan di neraca dan harga pokok penjualan yang disajikan

Lebih terperinci

BAB VIII AKUNTANSI BIAYA OVERHEAD PABRIK

BAB VIII AKUNTANSI BIAYA OVERHEAD PABRIK SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2016 MATA PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN AKUNTANSI BAB VIII AKUNTANSI BIAYA OVERHEAD PABRIK Drs. Heri Yanto, MBA, PhD Niswah Baroroh, SE, M.Si Kuat Waluyojati, SE, M.Si KEMENTERIAN

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II BAHAN RUJUKAN BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Pengertian dan Tujuan Akuntansi Biaya Akuntansi merupakan bagian dari dua tipe akuntansi yaitu akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen. Akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen

Lebih terperinci

PENGERTIAN AKUNTANSI BIAYA

PENGERTIAN AKUNTANSI BIAYA Akuntansi Biaya?? PENGERTIAN AKUNTANSI BIAYA Akuntansi yang membicarakan tentang penentuan harga pokok dari suatu barang yang diproduksi oleh perusahaan dalam rangka memenuhi pesanan ataupun mengisi persediaan

Lebih terperinci

BIAYA OVERHEAD PABRIK

BIAYA OVERHEAD PABRIK BIAYA OVERHEAD PABRIK Biaya overhead pabrik pada umumnya dikategorikan sebagai biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Apabila suatu perusahaan juga memiliki departemen-departemen

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Akuntansi Biaya 2.1.1 Pengertian Akuntansi Biaya Ada beberapa penafsiran mengenai pengertian Akuntansi Biaya seperti yang dikemukakan oleh : Menurut Mulyadi (2005:7) dalam bukunya

Lebih terperinci

MENGELOLA ADMINISTRASI GAJI DAN UPAH

MENGELOLA ADMINISTRASI GAJI DAN UPAH MENGELOLA ADMINISTRASI GAJI DAN UPAH I. MENYIAPKAN PENGELOLAAN ADMINSTRASI GAJI DAN UPAH A. Pengertian Gaji dan Upah Kompensasi adalah imbalan jasa yang diberikan secara teratur dan dalam jumlah tertentu

Lebih terperinci

AKUNTANSI MANAJEMEN PREPARED BY YULI KURNIAWATI

AKUNTANSI MANAJEMEN PREPARED BY YULI KURNIAWATI AKUNTANSI MANAJEMEN PREPARED BY YULI KURNIAWATI Harga pokok produksi Jumlah biaya yang dikeluarkan untuk memproses bahan baku menjadi barang jadi dalam periode tertentu Pengorbanan sumber ekonomi dalam

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORITIS

BAB II LANDASAN TEORITIS BAB II LANDASAN TEORITIS A. Pengertian Akuntansi dan Akuntansi Biaya l. Pengertian Akuntansi Pengertian akuntansi secara teoritis menurut Skausen dan Hongren (2001:6) adalah "proses pencatatan, penggolongan,

Lebih terperinci

METODE HARGA POKOK PESANAN

METODE HARGA POKOK PESANAN METODE HARGA POKOK PESANAN A. TUJUAN 1. Mengetahui karakteristik perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan 2. Melakukan akumulasi biaya berdasarkan pesanan 3. Membuat ayat jurnal akuntansi biaya

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Biaya dan Pengklasifikasian Biaya 2.1.1 Pengertian Biaya Biaya berkaitan dengan semua tipe organisasi baik organisasi bisnis, non bisnis, manufaktur, dagang dan jasa. Dalam

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II BAHAN RUJUKAN 5 BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Akuntansi Biaya Akuntansi secara garis besar dapat dibagi menjadi dua tipe yaitu tipe akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen. Akuntansi keuangan bukan merupakan tipe akuntansi

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II BAHAN RUJUKAN BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Akuntansi Biaya Akuntansi biaya melengkapi manajemen menggunakan perangkat akuntansi untuk kegiatan perencanaan dan pengendalian, perbaikan mutu dan efisiensi serta membuat keputusan

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II BAHAN RUJUKAN BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Akuntansi Biaya Akuntansi biaya merupakan salah satu pengkhususan dalam akuntansi, sama hal nya dengan akuntansi keuangan, akuntansi pemerintahan, akuntansi pajak, dan sebagainya.

Lebih terperinci

Adalah bahan yang membentuk bagian menyeluruh produk jadi

Adalah bahan yang membentuk bagian menyeluruh produk jadi Biaya bahan baku 2 BIAYA BAHAN BAKU Adalah bahan yang membentuk bagian menyeluruh produk jadi 1. Elemen Biaya yang Membentuk Harga Bahan Baku yang Dibeli 2. Perencanaan dan Pengendalian Bahan 3. Penentuan

Lebih terperinci

PELATIHAN PENCATATAN KEUANGAN UNTUK USAHA KECIL

PELATIHAN PENCATATAN KEUANGAN UNTUK USAHA KECIL PELATIHAN PENCATATAN KEUANGAN UNTUK USAHA KECIL Oleh: Amanita Novi Yushita, SE. [email protected] * Makalah ini disampaikan pada Program Pengabdian pada Masyarakat Optimalisasi Pengelolaan Usaha Kerajinan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian dan Klasifikasi Biaya 2.1.1 Pengertian Biaya Biaya salah satu bagian atau unsure dari harga dan juga unsur yang paling pokok dalam akuntansi biaya, untuk itu perlu

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian dan Tujuan Akuntansi Biaya 2.1.1 Pengertian Akuntansi Biaya Akuntansi biaya merupakan hal yang paling penting bagi manajemen perusahaan sebagai basis data biaya untuk

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Menurut Mulyadi ada empat unsur pokok dalam definisi biaya tersebut yaitu :

BAB II LANDASAN TEORI. Menurut Mulyadi ada empat unsur pokok dalam definisi biaya tersebut yaitu : BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Akuntansi Biaya Pengertian biaya yang dikemukakan oleh Mulyadi, dalam bukunya akuntansi Biaya ialah sebagai berikut : - Biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi, yang

Lebih terperinci

ANGGARAN KOMPREHENSIF

ANGGARAN KOMPREHENSIF ANGGARAN KOMPREHENSIF Muniya Alteza Konsep Komprehensif Pengertian: yang disusun secara lengkap sebagai alat bantu manajemen dalam mengembangkan perencanaan terpadu di seluruh kegiatan perusahaan. Persyaratan

Lebih terperinci

Definisi akuntansi biaya dikemukakan oleh Supriyono (2011:12) sebagai

Definisi akuntansi biaya dikemukakan oleh Supriyono (2011:12) sebagai BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Akuntansi Biaya Akuntansi secara garis besar dapat dibagi menjadi dua tipe yaitu akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen.akuntansi biaya bukan merupakan tipe akuntansi tersendiri

Lebih terperinci

PENETAPAN HARGA POKO PRODUKSI MINYAK KELAPA SAWIT PADA PT. PAYA PINANG GROUP TEBING TINGGI. Sri Wangi Sitepu, S.Pd, M.Si

PENETAPAN HARGA POKO PRODUKSI MINYAK KELAPA SAWIT PADA PT. PAYA PINANG GROUP TEBING TINGGI. Sri Wangi Sitepu, S.Pd, M.Si PENETAPAN HARGA POKO PRODUKSI MINYAK KELAPA SAWIT PADA PT. PAYA PINANG GROUP TEBING TINGGI Sri Wangi Sitepu, S.Pd, M.Si ABSTRAK Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui metode yang digunakan

Lebih terperinci

HARGA POKOK PRODUKSI

HARGA POKOK PRODUKSI HARGA POKOK PRODUKSI Suatu perusahaan perlu menetukan harga pokok bagi produksi yang dihasilkan, karena harga pokok itu merupakan salah satu faktor yang ikut mempengaruhi penentuan harga jual dasar penentuan

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II BAHAN RUJUKAN BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Akuntansi Biaya Akuntansi secara garis besar dapat dibagi menjadi dua tipe yaitu tipe keuangan dan akuntansi manajemen. Akuntansi biaya bukan merupakan tipe akuntansi tersendiri

Lebih terperinci

AKUNTANSI BIAYA OVERHEAD PABRIK Anggaran,Aktual Dan Pembebanan

AKUNTANSI BIAYA OVERHEAD PABRIK Anggaran,Aktual Dan Pembebanan Modul ke: 12Fakultas Elok Ekonomi & Bisnis AKUNTANSI BIAYA OVERHEAD PABRIK Anggaran,Aktual Dan Pembebanan Kurniawati, SE, M.Ak Program Studi Manajemen MENURUT SIFATNYA Biaya bahan penolong Biaya reparasi

Lebih terperinci

Modul ke: AKUNTANSI BIAYA SISTEM BIAYA DAN AKUMULASI BIAYA. Fakultas EKONOMI VENY, SE.MM. Program Studi AKUNTANSI.

Modul ke: AKUNTANSI BIAYA SISTEM BIAYA DAN AKUMULASI BIAYA. Fakultas EKONOMI VENY, SE.MM. Program Studi AKUNTANSI. Modul ke: AKUNTANSI BIAYA SISTEM BIAYA DAN AKUMULASI BIAYA Fakultas EKONOMI VENY, SE.MM Program Studi AKUNTANSI www.mercubuana.ac.id Bagian Isi Modul Modul menjelaskan arus biaya dalam perusahaan manufaktur,

Lebih terperinci

Penelitian ini dilakukan di PT. Perkebunan Nusantara VIII di Jln. Sindang

Penelitian ini dilakukan di PT. Perkebunan Nusantara VIII di Jln. Sindang Penelitian ini dilakukan di PT. Perkebunan Nusantara VIII di Jln. Sindang Sirna No.4 Bandung 40135 dan kerja praktik ini dilaksanakan pada bulan Juni- Juli tahun 2006. BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1. Akuntansi

Lebih terperinci

AKUNTANSI BIAYA PERHITUNGAN BIAYA BERDASARKAN PESANAN JOB ORDER COSTING (BAB 5) VENY, SE.MM. Modul ke: Fakultas EKONOMI. Program Studi AKUNTANSI

AKUNTANSI BIAYA PERHITUNGAN BIAYA BERDASARKAN PESANAN JOB ORDER COSTING (BAB 5) VENY, SE.MM. Modul ke: Fakultas EKONOMI. Program Studi AKUNTANSI Modul ke: AKUNTANSI BIAYA PERHITUNGAN BIAYA BERDASARKAN PESANAN JOB ORDER COSTING (BAB 5) Fakultas EKONOMI VENY, SE.MM Program Studi AKUNTANSI www.mercubuana.ac.id Bagian Isi Modul Modul berisi materi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian dan Tujuan Akuntansi Biaya 2.1.1 Pengertian Akuntansi Biaya Akuntansi biaya memberikan informasi biaya yang akan digunakan untuk membantu menetapkan harga pokok produksi

Lebih terperinci

AN A A N L A I L SA S A B I B AY A A Y A Yup Y i up e i,, M. M K. om 9/27/2014 1

AN A A N L A I L SA S A B I B AY A A Y A Yup Y i up e i,, M. M K. om 9/27/2014 1 ANALISA BIAYA Yupie, M.Kom 9/27/2014 1 Istilah biaya erat kaitannya dengan akuntansi atau muncul dalam laporan keuangan yang dihasilkan perusahaan secara periodik. Definisi Akuntansi Dari Sudut Pemakai

Lebih terperinci

JOB-ORDER COSTING (BIAYA BERDASARKAN PESANAN)

JOB-ORDER COSTING (BIAYA BERDASARKAN PESANAN) JOB-ORDER COSTING (BIAYA BERDASARKAN PESANAN) 1. Konsep Dasar Job-Order Costing & Process Costing 2. Perbedaan Job-Order Costing & Process Costing 3. Arus Biaya dalam Perhitungan Job-Order Costing Muniya

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian dan Klasifikasi Biaya 2.1.1 Pengertian Biaya Biaya salah satu bagian atau unsur dari harga pokok dan juga unsur yang paling pokok dalam akuntansi biaya, untuk itu

Lebih terperinci

SISTEM HARGA POKOK STANDAR

SISTEM HARGA POKOK STANDAR SISTEM HARGA POKOK STANDAR I. BIAYA STANDAR UNTUK BAHAN BAKU DAN TENAGA KERJA LANGSUNG Biaya Standar untuk Bahan Baku dan Tenaga Kerja Langsung mencakup beberapa hal seperti dibawah ini : a. BIAYA STANDAR

Lebih terperinci

MODUL PRAKTIKUM AKUNTANSI BIAYA

MODUL PRAKTIKUM AKUNTANSI BIAYA MODUL PRAKTIKUM AKUNTANSI BIAYA LABORATORIUM KOMPUTER FAKULTAS ILMU KOMPUTER UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2016 Universitas Sriwijaya Fakultas Ilmu Komputer Laboratorium LEMBAR PENGESAHAN MODUL PRAKTIKUM SISTEM

Lebih terperinci

AKUNTANSI UNTUK PERUSAHAAN DAGANG ARMINI NINGSIH POLITEKNIK NEGERI SAMARIDA

AKUNTANSI UNTUK PERUSAHAAN DAGANG ARMINI NINGSIH POLITEKNIK NEGERI SAMARIDA AKUNTANSI UNTUK PERUSAHAAN DAGANG ARMINI NINGSIH POLITEKNIK NEGERI SAMARIDA PADA AKHIR PERTEMUAN INI MAHASISWA DIHARAPKAN MAMPU : 1. Menguraikan dan menggambarkan akuntansi untuk transaksi barang dagangan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. dengan akuntansi secara umum sebagai berikut : organisasi kepada para pengguna yang berkepentingan.

BAB II LANDASAN TEORI. dengan akuntansi secara umum sebagai berikut : organisasi kepada para pengguna yang berkepentingan. BAB II LANDASAN TEORI A. Akuntansi Biaya 1. Pengertian Akuntansi Biaya Sebelum mengurai lebih jauh tentang biaya overhead pabrik dan harga pokok penjualan, penulis ingin menjelaskan pengertian akuntansi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Biaya Informasi biaya sangat bermanfaat bagi manajemen perusahaan. Diantaranya adalah untuk menghitung harga pokok produksi, membantu manajemen dalam fungsi perencanaan dan

Lebih terperinci

AKUNTANSI & LINGKUNGANNYA. Dasar Akuntansi 1

AKUNTANSI & LINGKUNGANNYA. Dasar Akuntansi 1 AKUNTANSI & LINGKUNGANNYA Dasar Akuntansi 1 1 Definisi Akuntansi; Dari sudut Pemakai: Suatu disiplin yang menyediakan informasi yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan secara efisien dan mengevaluasi

Lebih terperinci

Analisa Biaya Pemasaran

Analisa Biaya Pemasaran Analisa Biaya Pemasaran Kemajuan teknologi dalam berproduksi mengakibatkan jumlah produk dapat dihasilkan secara besar-besaran dan dapat menekan biaya produksi satuan serendah mungkin. Permasalahan yang

Lebih terperinci

1. Sistem insentif yang berdasarkan satuan hasil adalah: a. Sistem Taylor d. Berdasarkan Jam Kerja b. Sistem Rowan e. b & c benar c.

1. Sistem insentif yang berdasarkan satuan hasil adalah: a. Sistem Taylor d. Berdasarkan Jam Kerja b. Sistem Rowan e. b & c benar c. 1. Sistem insentif yang berdasarkan satuan hasil adalah: a. Sistem Taylor d. Berdasarkan Jam Kerja b. Sistem Rowan e. b & c benar c. Sistem Halsey 2. Rumus untuk mencari upah berdasarkan sistem premi Rowan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pada bab ini, penulis akan menguraikan teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli yang akan digunakan sebagai landasan dalam menganalisa permasalahan yang ada diperusahaan PT

Lebih terperinci

BAB II KERANGKA TEORI

BAB II KERANGKA TEORI BAB II KERANGKA TEORI 2.1 Pengertian dan Penggolongan Biaya 2.1.1 Pengertian Biaya Biaya berkaitan dengan semua tipe organisasi bisnis, non-bisnis, manufaktur, eceran dan jasa. Umumnya, berbagai macam

Lebih terperinci

STRUKTUR PEMETAAN PROGRAM DIKLAT MASUKAN DU/DI KURIKULUM IMPLEMENTASI SPEKTRUM AKUNTANSI SMK 2009

STRUKTUR PEMETAAN PROGRAM DIKLAT MASUKAN DU/DI KURIKULUM IMPLEMENTASI SPEKTRUM AKUNTANSI SMK 2009 1 STRUKTUR PEMETAAN PROGRAM DIKLAT KOMPETENSI KEJURUAN STANDAR KOMPETENSI (SK) JAM I II III IV V VI KET 1 Mengelola Dokumen Transaksi 45 2 2 Memproses Dokumen Dana Kas Kecil 45 2 3 Memproses Dokumen Dana

Lebih terperinci

2.1.2 Tujuan Akuntansi Biaya Menurut Mulyadi (2007:7) akuntansi biaya mempunyai tiga tujuan pokok yaitu:

2.1.2 Tujuan Akuntansi Biaya Menurut Mulyadi (2007:7) akuntansi biaya mempunyai tiga tujuan pokok yaitu: 8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian dan Tujuan Akuntansi Biaya 2.1.1 Pengertian Akuntansi Biaya Akuntansi biaya merupakan hal yang paling penting bagi manajemen perusahaan sebagai basis data biaya

Lebih terperinci

langsung dan biaya overhead pabrik.

langsung dan biaya overhead pabrik. BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1.Landasan Teori 2.1.1.Pengertian Biaya Menurut Supriyono ( 2000 : 16 ) Biaya adalah harga perolehan yang dikorbankan atau digunakan dalam rangka memperoleh penghasilan dan akan

Lebih terperinci

Bab XII Proses Transaksi Akuntansi

Bab XII Proses Transaksi Akuntansi Bab XII Proses Transaksi Akuntansi Sinopsis: Bab ini menyediakan pengetahuan dan keterampilan tentang akuntansi dasar; beberapa konsep mengenai keuangan dan akuntansi seperti cek, giro, bilyet, cek perjalanan,

Lebih terperinci

HARGA POKOK TAKSIRAN

HARGA POKOK TAKSIRAN HARGA POKOK TAKSIRAN Adalah Harga pokok yang ditentukan di muka sebelum proses produksi berjalan berdasarkan taksiran. Harga pokok taksiran mempunyai beberapa sifat yaitu : 1. Ditentukan sebelum proses

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Akuntansi Biaya Menurut Mulyadi (2010:7) Akuntansi Biaya ialah proses pencatatan, penggolongan, peringkasan dan penyajian biaya pembuatan dan penjualan produk jasa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A;Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A;Latar Belakang 1 1 BAB I PENDAHULUAN A;Latar Belakang Akuntansi biaya adalah akuntansi yang membicarakan tentang penentuan harga pokok (costs) dari sesuatu produk yang diproduksi (atau dijual di pasar) baik untuk memenuhi

Lebih terperinci

HARGA POKOK PROSES. Kasus:

HARGA POKOK PROSES. Kasus: 1 Kasus: HARGA POKOK PROSES A. Informasi Umum Perusahaan Sejak tanggal 1 Januari 2013, Tuan Akbar mendirikan sebuah perusahaan genting Mutiara Indah yang berlokasi di Magelang, Sendangadi, Mlati, Sleman.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Konsep Biaya Biaya merupakan salah satu komponen yang sangat penting karena biaya sangat berpengaruh dalam mendukung kemajuan suatu perusahaan dalam melaksanakan aktifitas

Lebih terperinci

BAB I HARGA POKOK PRODUKSI

BAB I HARGA POKOK PRODUKSI BAB I HARGA POKOK PRODUKSI A. Definisi Harga Pokok Produksi Harga Pokok Produksi adalah penjumlahan seluruh pengorbanan sumber ekonomi yang digunakan dalam pengolahan bahan baku menjadi produk. Suatu perusahaan

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II BAHAN RUJUKAN BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Akuntansi Biaya 2.1.1 Pengertian Akuntansi Biaya berikut : Menurut Mulyadi (2000: 6) pengertian Akuntansi Biaya adalah sebagai Akuntansi biaya adalah proses pencatatan, penggolongan,

Lebih terperinci

AKUNTANSI BIAYA BAHAN BAKU. Akuntansi Biaya TIP FTP UB Mas ud Effendi

AKUNTANSI BIAYA BAHAN BAKU. Akuntansi Biaya TIP FTP UB Mas ud Effendi AKUNTANSI BIAYA BAHAN BAKU Akuntansi Biaya TIP FTP UB Mas ud Effendi Bahasan Konsep Bahan Baku dalam Akuntansi Biaya Pembelian Bahan Baku Harga Pokok Pembelian Bahan Baku Penentuan Harga Pokok Bahan Baku

Lebih terperinci

Gaji merupakan pembayaran kepada tenaga kerja/karyawan yg didasarkan pada rentang waktu seperti gaji mingguan, bulanan dan lain sebagainya.

Gaji merupakan pembayaran kepada tenaga kerja/karyawan yg didasarkan pada rentang waktu seperti gaji mingguan, bulanan dan lain sebagainya. Biaya Tenaga kerja didefinisikan sebagai pembayaran-pembayaran kepada pada pekerja yang didasarkan pada jam kerja atau dasar unit yang diproduksi. Istilah yang digunakan utk biaya tenaga kerja ini adalah

Lebih terperinci

AKUNTANSI KEWAJIBAN LANCAR DAN PENGGAJIAN

AKUNTANSI KEWAJIBAN LANCAR DAN PENGGAJIAN AKUNTANSI KEWAJIBAN LANCAR DAN PENGGAJIAN Kewajiban adalah salah satu elemen dalam persamaan akuntansi Beberapa jenis kewajiban telah kita kenal pada industri jasa maupun industri dagang yang telah kita

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 10 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian dan Tujuan Akuntansi Biaya 2.1.1 Pengertian Akuntansi Biaya Secara garis besar bahwa akuntansi dapat diartikan sebagai pencatatan, penggolongan, peringkasan, dan

Lebih terperinci

IV. PENYESUAIAN. Universitas Gadjah Mada

IV. PENYESUAIAN. Universitas Gadjah Mada IV. PENYESUAIAN mencatat (menjurnal dan mengakunkan) data-data transaksi akhir tahun sehingga jumlah yang terdapat dalam tiap rekening sesuai dengan kenyataannya. Manfaat penyesuaian: 1. Kepraktisan Jika

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Peneliti Terdahulu Hasil penelitian Rahayu (2015) tentang Analisis Pembebanan Biaya Overhead Pabrik terhadap Harga Jual Produk pada UKM di Wilayah Sukabumi yaitu perusahaan

Lebih terperinci

SIKLUS AKUNTANSI PERUSAHAAN JASA

SIKLUS AKUNTANSI PERUSAHAAN JASA SIKLUS AKUNTANSI PERUSAHAAN JASA Siklus Akuntansi Transaksi Bukti Transaksi Jurnal Buku Besar Laporan Keuangan Posting Salah satu aktivitas di dalam siklus akuntansi yang cukup menyita waktu dan tenaga

Lebih terperinci

AKUNTANSI BIAYA. Lukita Tri Permata, SE., M.SI, Ak, CA

AKUNTANSI BIAYA. Lukita Tri Permata, SE., M.SI, Ak, CA AKUNTANSI BIAYA BAGIAN III SISTEM ADMINISTRASI PABRIK DAN AKUMULASI BIAYA Lukita Tri Permata, SE., M.SI, Ak, CA ARUS BIAYA PERUSAHAAN PABRIKASI a. Tahap pencatatan dan klasifikasi biaya b. Tahap pengelompokkan

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II BAHAN RUJUKAN BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Tinjauan Umum Akuntansi Biaya Akuntansi dalam suatu organisasi atau perusahaan dapat dibagi menjadi dua tipe, yaitu akuntansi keuangan (financial accounting) dan akuntansi manajemen

Lebih terperinci

BAB 6 ANGGARAN BIAYA OVERHEAD PABRIK

BAB 6 ANGGARAN BIAYA OVERHEAD PABRIK Penganggaran Perusahaan 95 BAB 6 ANGGARAN BIAYA OERHEAD PABRIK A. Penggolongan Biaya Overhead Pabrik Biaya overhead pabrik dapat digolongkan menjadi 3 yaitu: 1. Penggolongan biaya overhead menurut sifatnya.

Lebih terperinci

= $ = $9 = $4 = 50% = $3

= $ = $9 = $4 = 50% = $3 BERBAGAI TARIF OVERHEAD L124 Nazareth Company mengestimasikan biaya overhead sebesar $225.000 untuk tahun depan. Estimasi unit yang akan diproduksi adalah sebesar 25.000 unit, dengan biaya bahan baku sebesar

Lebih terperinci