RELIABILITY TEST OF NEUROLOGICAL DISORDERS DEPRESSION INVENTORY FOR EPILEPSY (NDDI-E)INDONESIAN VERSION

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "RELIABILITY TEST OF NEUROLOGICAL DISORDERS DEPRESSION INVENTORY FOR EPILEPSY (NDDI-E)INDONESIAN VERSION"

Transkripsi

1 RELIABILITY TEST OF NEUROLOGICAL DISORDERS DEPRESSION INVENTORY FOR EPILEPSY (NDDI-E)INDONESIAN VERSION Matahelumual, RG*, Widyadharma, PE**, Anna, MG, Sinardja**, Purwa, Samatra, DPG** Department of Neurology, Faculty of Medicine, Udayana University Sanglah General Hospital Denpasar ABSTRACT Background: Depression among general hospitals patients are common, which could be much higher than generally assumed. Neurological Disorders Depression Inventory For Epilepsy (NDDI-E) is a tool to measure and identify depression in general hospital patients. NDDI-E had been used in many languages to assess depression with good results, but this parameter have never been translated into Indonesian language before. Objective: To measure Indonesian version of NDDI-E reliability as an instrument for screening depression in epilepsy patients in Sanglah General Hospital Denpasar. Methods: A cross-sectional study design. Every patients whose fulfill eligibility criteria interviewed by 2 phycicians, with 5 minutes interval using NDDI-E that had been translated in Indonesian language. Reliability, by means inter-rater agreement valuation and analyzed by using Kappa Cohen coefficient. Results: A total of 30 patients with epilepsy, which consist of 12 (40%) female and 18 (60%) male, with mean age 32,9+10,7 years. NDDI-E showed moderate inter-rater agreement valuation with kappa coefficient of Conclusion: Indonesian version of NDDI-E showed moderate inter-rater agreement. Keyword: NDDI-E, depression, realibility, epilepsy * Resident of Department of Neurology, Faculty of Medicine, Udayana University/Sanglah General Hospital Denpasar ** Lecturer of Department of Neurology, Faculty of Medicine, Udayana University/Sanglah General Hospital Denpasar

2 UJI RELIABILITAS NEUROLOGICAL DISORDERS DEPRESSION INVENTORY FOR EPILEPSY (NDDI-E) VERSI BAHASA INDONESIA Matahelumual RG*, Widyadharma, PE**, Anna, MG, Sinardja**, Purwa, Samatra, DPG** SMF Ilmu Penyakit Saraf, FK Universitas Udayana/RSUP Sanglah Denpasar ABSTRAK Latar Belakang: Depresi merupakan hal yang umum dijumpai pada pasien di Rumah Sakit, serta dapat terjadi lebih sering daripada asumsi umum. Neurological Disorders Depression Inventory For Epilepsy (NDDI-E) merupakan alat ukur yang dipergunakan untuk mengidentifikasi depresi khususnya pada pasien Rumah Sakit. NDDI-E sudah digunakan dalam beberapa bahasa untuk menilai depresi dengan hasil yang baik, tetapi terjemahan skala ini ke dalam bahasa Indonesia belum pernah dilakukan sebelumnya. Tujuan: Untuk menilai kesepakatan skala depresi NDDI-E dalam Bahasa Indonesia sebagai instrumen pemeriksaan yang reliabel atau dapat dipercaya untuk menyaring depresi pada pasien-pasien epilepsi di RSUP Sanglah Denpasar. Metode: Penelitian potong lintang. Setiap pasien yang memenuhi kriteria eligibilitas telah diwawancarai oleh 2 orang dokter, dalam selang waktu 5 menit. Setiap wawancara menggunakan skala NDDI- E yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Reliabilitas yang dimaksud adalah kesepakatan 2 pemeriksa dan dianalisis dengan menggunakan koefisien Kappa Cohen. Hasil: Penelitian ini melibatkan sebanyak 30 penyandang epilepsi terdiri dari 12 orang perempuan (40%) dan 18 orang laki-laki (60%) dengan usia rata-rata 32,9+10,7 tahun. Hasil dari kesepakatan antar pemeriksa (koefisien Kappa) NDDI-E yaitu sebesar 0,634. Kesimpulan: NDDI-E versi Bahasa Indonesia menunjukkan reliabilitas atau kesepakatan antar pemeriksa yang cukup baik. Kata kunci: NDDI-E, depresi, reliabilitas, epilepsi * Peserta PPDS-1 SMF Ilmu Penyakit Saraf FK Universitas Udayana/RSUP Sanglah Denpasar **Staf Pengajar SMF Ilmu Penyakit Saraf FK Universitas Udayana/RSUP Sanglah Denpasar

3 UJI RELIABILITAS NEUROLOGICAL DISORDERS DEPRESSION INVENTORY FOR EPILEPSY (NDDI-E) VERSI BAHASA INDONESIA Matahelumual RG*, Widyadharma, PE**, Anna, MG, Sinardja**, Purwa, Samatra, DPG** SMF Ilmu Penyakit Saraf, FK Universitas Udayana/RSUP Sanglah Denpasar PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Epilepsi adalah suatu keadaan yang ditandai oleh bangkitan epilepsi berulang, berselang lebih dari 24 jam yang timbul tanpa provokasi. 1 Epilepsi merupakan salah satu penyakit otak yang sering ditemukan. Data WHO menunjukan epilepsi menyerang 1% penduduk dunia. Epilepsi dapat terjadi pada siapa saja, tanpa batasan ras dan sosial ekonomi. 1,2 Angka kejadian epilepsi masih tinggi terutama di negara berkembang, mencapai 114 per penduduk pertahun. 3 Angka prevalensi penyandang epilepsi yang produktif berkisar antara 4-10 per 1000 penyandang epilepsi. 4 Epilepsi berpotensi untuk menimbulkan masalah sosio-ekonomi yang secara keseluruhan dapat menurunkan atau mengganggu kualitas hidup penyandang epilepsi. Problem psikososial pada epilepsi ditemukan lebih tinggi dibandingkan populasi umumnya. Problem terbanyak yang dilaporkan adalah adanya isolasi sosial, kurangnya percaya diri serta adanya kecemasan dan depresi. 5 Angka prevalensi depresi pada epilepsi bervariasi. Dari penelitian MJ Jackson.dkk (2005), didapatkan prevalensi depresi berkisar 50-55%. 6 Penyandang epilepsi memiliki resiko 5 sampai 10 kali lebih tinggi mengalami depresi dibandingkan dengan populasi pada umumnya. 7 Depresi pada epilepsi merupakan hal yang bisa menurunkan kualitas hidup pasien, meskipun frekuensi, keparahan dan variabel lain terkait kejang telah dikontrol. Hal ini dikarenakan, kondisi depresi sering dikaitkan dengan peningkatkan biaya perawatan kesehatan, peningkatan risiko percobaan bunuh disertai respon yang buruk terhadap farmakoterapi. 8,9 Depresi lebih sering pada pasien dengan epilepsi fokal dan epilepsi dengan kejang yang tidak terkontrol. 8 Penyandang epilepsi lobus temporal memiliki risiko terjadinya depresi yang lebih besar dibandingkan dengan epilepsi idiopatik pada umumnya. Depresi dapat langsung meningkatkan frekuensi kejang melalui mekanisme kurang tidur. 6 Depresi merupakan penyulit yang umum terjadi pada penyandang epilepsi namun jarang dievaluasi oleh klinisi. Pada dasarnya, klinisi harus dapat mengidentifikasi depresi pada epilepsi, apakah depresi ini sebagai komplikasi penyakit atau sebagai efek samping dari antiepilepsi. 7 DSM IV-TR (Diagnostic and statistical manual of mental disorders) mengklasifikasikan

4 gangguan depresi menjadi 4 tipe yaitu Mayor Depressive Disorders (MDD), Dysthymic disorders, Minor depression dan gangguan depresi yang tidak spesifik. 7 MDD adalah bentuk depresi yang paling sering didapati pada penyandang epilepsi. MDD memiliki gejala klinis yang mirip dengan gangguan distimik. Perbedaannya terletak pada beratnya penyakit, persistensi dan kronisitas dari penyakit, disertai dengan persamaan gejala lain seperti gangguan mood, depresi, anhedonia, perasaan tidak berguna, perasaan bersalah, penurunan kemampuan untuk berkonsentrasi, pikiran berulang tentang kematian, dan gejala neurovegetatif yaitu penambahan/penurunan berat badan, insomnia/hipersomnia, agitasi psikomotor, keterbelakangan dan kelelahan. Diagnosis MDD dipertimbangkan pada pasien dengan kekambuhan Mayor depressive episode (MDE) sekurang-kurangnya dua minggu dengan adanya salah satu gangguan mood, depresi atau anhedonia ditambah dengan 4 gejala yang dijelaskan diatas. 10 Gilliam.dkk membuat suatu kuesioner yang sederhana dan singkat untuk menskrining kejadian depresi pada penyandang epilepsi yaitu skala NDDI-E (Neurological Disorders Depression Inventory for Epilepsi atau Model Gangguan Depresi Neurologis Epilepsi). 7 Skala ini dapat membedakan gejala depresi sebagai akibat toksisitas obat atau efek gangguan kognitif dari epilepsi. 6 NDDI-E meliputi enam item yang dinilai dalam skala Likert (1=tidak pernah, 2=jarang, 3=kadang-kadang, 4=sering/selalu). Pasien dinyatakan menderita depresi apabila skor NDDI- E 16. Mengingat diagnosis depresi pada kasus epilepsi tidak semata ditentukan oleh instrument ini, maka penyandang epilepsi dengan nilai tes 16 disarankan untuk tetap dirujuk ke psikiater untuk dievaluasi lebih mendalam dan diberikan pengobatan yang sesuai. 6,11,12 Tujuan Penelitian Untuk menilai kesepakatan NDDI-E versi bahasa Indonesia sebagai instrumen pemeriksaan yang dapat dipercaya (reliable) dalam mengukur tingkat depresi pada penyandang epilepsi di RSUP Sanglah Denpasar. Manfaat Penelitian Bidang pengembangan ilmu: a. Bermanfaat bagi klinisi sebagai alat bantu untuk menapis kejadian depresi, pada penyandang epilepsi. b. Bermanfaat bagi para peneliti sebagai dasar untuk penelitian lebih lanjut. Bidang pengabdian masyarakat:

5 Bermanfaat bagi pasien dengan epilepsi untuk mengetahui secara dini ada tidaknya depresi sehingga dapat mendapatkan terapi lebih dini dan akurat serta meningkatkan kualitas hidup pasien. METODE PENELITIAN Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan rancangan cross-sectional untuk menghitung tingkat kesepakatan antara 2 orang pemeriksa (inter-rater reliability) dalam menilai adanya depresi pada penyandang epilepsi dengan menggunakan NDDI-E. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di poliklinik saraf RSUP Sanglah Denpasar pada bulan Juli sampai Agustus 2013 dengan menggunakan data primer dari jawaban kuesioner yang didapatkan dari hasil wawancara dengan sampel. Penentuan Sumber Data Penelitian Populasi Populasi Target Populasi target penelitian ini adalah seluruh penyandang epilepsi. Populasi Terjangkau Populasi terjangkau penelitian ini adalah penyandang epilepsi yang sedang rawat jalan di poliklinik saraf RSUP Sanglah periode Juli sampai Agustus Kriteria Sampel Kriteria inklusi : - Penyandang epilepsi idiopatik dengan kesadaran compos mentis. - Penyandang epilepsi dengan usia 18 tahun sampai usia 60 tahun. - Penyandang epilepsi yang mampu menulis dan membaca. - Penyandang epilepsi yang dapat mengerti dan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik. - Bersedia ikut serta dalam penelitian dan menandatangani informedconsent yang ada. Kriteria eksklusi antara lain : - Penyandang epilepsi dengan kelainan psikiatri. - Penyandang epilepsi dengan gangguan fungsi kognitif.

6 - Penyandang epilepsi dengan gangguan pendengaran. Sumber Sampel Sampel dalam penelitian ini adalah pasien dengan diagnosis epilepsi yang diambil datanya dengan diwawancarai oleh dua orang pemeriksa. Besar Sampel Jumlah sampel yang dibutuhkan dalam penelitian ini menggunakan ukuran sampel kecil (kurang dari 30 orang) yaitu sebanyak 30 orang. Teknik Pengambilan Sampel Sampel diambil dengan menggunakan data primer (jawaban kuesioner yang didapatkan dari hasil wawancara dengan sampel) penyandang epilepsi yang memenuhi kriteria inklusi. Alat dan Cara Pengumpulan Data Alat pengumpulan data pada penelitian ini berupa skala NDDI-E yang merupakan suatu alat yang digunakan untuk mengidentifikasi ada tidaknya depresi pada responden, dalam hal ini pada penyandang epilepsi. NDDI-E yang digunakan telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh seorang penerjemah (tabel 1). Tabel 1. Neurological Disorders Depression Inventory for Epilepsy (NDDI-E) Selalu/sering Kadang-kadang jarang Tidak pernah Segalanya merupakan perjuangan Tak satupun yang kukerjakan benar Merasa bersalah Aku lebih baik mati Frustasi Sukar mendapatkan kesenangan Cara pengumpulan data adalah dengan mengisi kuesioner skala NDDI-E sesuai jawaban penyandang epilepsi sebanyak 2 kali yang dilakukan secara terpisah dan bergantian oleh 2 orang pemeriksa dengan selang waktu kurang lebih 5 menit. Pemeriksa dalam hal ini adalah 2 orang residen PPDS-1 Bagian/SMF Ilmu Penyakit Saraf Fakultas Kedokteran Universitas

7 Udayana/RSUP Sanglah Denpasar yang selanjutnya disebut sebagai pemeriksa I dan II yang telah mendapatkan penjelasan tentang cara melakukan penilaian dengan kuesioner NDDI-E. Waktu yang diperlukan untuk setiap pemeriksaan lebih kurang 5 menit dan hasil penilaian pemeriksa pertama tidak diketahui oleh pemeriksa kedua dan begitu juga sebaliknya. Sebelum wawancara dilakukan, pemeriksa I menjelaskan mengenai tujuan dan cara pemeriksaan skala NDDI-E kepada pasien (penyandang epilepsi), dan meminta persetujuan, baik dari pasien sendiri maupun keluarganya. Kemudian pemeriksa I membacakan setiap pernyataan pada kuesioner dan meminta pasien memilih salah satu di antara empat pilihan jawaban yang paling sesuai dengan keadaan pasien saat itu, kemudian menuliskannya pada lembar kuesioner sesuai dengan jawaban pesien. Lima menit setelah wawancara pertama selesai, pemeriksa II mengulangi pengisian kuesioner seperti pemeriksa I dengan melakukan wawancara ulang terhadap pesien. Analisa Data Setelah data diperoleh, dilakukan analisis tingkat kesepakatan antara 2 pemeriksa berdasarkan pada statistik Kappa Cohen yang dihitung dengan mempergunakan program komputer SPSS Interpretasi koefisien kesepakatan Kappa Cohen, menggunakan petunjuk Landis dan Koch (1977) yaitu : K > 0,75 menunjukkan kesepakatan sangat baik, 0,4 K < 0,75 cukup baik, 0 K < 0,4 lemah HASIL Telah dilakukan penelitian uji reliabilitas skala NDDI-E pada bulan Juli sampai Agustus 2013 dengan wawancara dan pemeriksaan pada penyandang epilepsi di ruang rawat jalan poliklinik saraf RSUP Sanglah Denpasar. Sebanyak 30 orang penyandang epilepsi berumur antara 18 sampai 58 tahun diwawancara, dengan usia penyandang epilepsi terbanyak adalah 30 tahun sebanyak 3 orang (10%), dan rerata umur adalah 32,9+ 10,7 tahun. Penyandang epilepsi laki-laki sebanyak 18 orang (60%) dan perempuan 12 orang (40%). Hasil pemeriksaan EEG normal pada penyandang epilepsi sebanyak 27 orang (90%) dan yang abnormal 3 orang (10%). Tipe bangkitan yang paling banyak adalah tipe umum sebanyak 19 orang (63,3%), parsial kompleks 9 orang (30%), dan parsial sederhana 2 orang (6,7%). Penyandang epilepsi yang mendapat pengobatan OAE monoterapi sebanyak 26 orang (86,7%) dan yang politerapi 4 orang (13,3%). Penyandang epilepsi yang menderita depresi sebanyak 2 orang (6,7%), sisanya 28

8 orang (93,7%) tidak depresi. Karakteristik penyandang epilepsi pada penelitian uji reliabilitas NDDI-E (tabel 2). Tabel 2. Karakteristik Penderita Penelitian Uji Reliabilitas NDDI-E Variabel Kategori Jumlah Persen(%) Penyandang epilepsi (n) Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan EEG Normal 27 90,0 Abnormal 3 10,0 Tipe bangkitan Parsial Sederhana 2 6,7 Parsial Kompleks 9 30,0 umum 19 63,3 OAE Monoterapi 26 86,7 Politerapi 4 13,3 Setelah dilakukan wawancara oleh pemeriksa pertama, didapatkan sebanyak 4 orang (13,3%) penyandang epilepsi mengalami depresi, sedangkan sisanya, 26 orang (86,7%) penyandang epilepsi tidak mengalami depresi. Pemeriksa kedua mendapatkan 2 orang (6,7%) penyandang epilepsi mengalami depresi dan 28 orang (93,3%) penyandang epilepsi tidak mengalami depresi (tabel 3).

9 Tabel 3. Tabulasi Silang Subskala Depresi Pemeriksa I dan II Pemeriksa I Tidak depresi Pemeriksa II Tidak depresi Depresi Total Depresi Total Berdasarkan tabulasi silang yang sudah dilakukan didapatkan nilai koefisien Kappa 0,634 dengan kemaknaan <0,001 (tabel 4). Tabel 4. Nilai Kesepakatan 2 Pemeriksa Skala NDDI E p Kappa Depresi <0,001 0,634 Berdasarkan interpretasi koefisien kesepakatan Kappa Cohen, menggunakan petunjuk Landis dan Koch (1977), NDDI-E versi bahasa Indonesia memiliki nilai kesepakatan cukup baik (0,4 K < 0,75). Pembahasan Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat reliabilitas skala NDDI-E sebagai alat skrining untuk menentukan adanya depresi pada penyandang epilepsi, yang sedang rawat jalan di poliklinik RSUP Sanglah. Alat skrining ini belum pernah diterapkan di Indonesia, sehingga perlu dilakukan uji reliabilitas dalam versi bahasa Indonesia. Dari penelitian uji reliabilitas NDDI-E dalam bahasa Inggris, ditetapkan nilai cut off 16 sebagai depresi dan nilai<16 tidak. Penelitian uji reliabilitas NDDI-E dalam bahasa Indonesia menunjukkan bahwa nilai koefisien Kappa Cohen pada NDDI-E adalah 0,634 (p<0,001) dengan interpretasi nilai kesepakatan cukup baik. Dalam penelitian ini masih terdapat beberapa kemungkinan bias yang dapat mempengaruhi hasil penilaian, yaitu bias pemeriksa, responden dan instrumen. Bias pemeriksa misalnya keterampilan berkomunikasi, keterbatasan waktu, dan kelelahan fisik. Bias responden misalnya keterbatasan waktu dan kejenuhan karena karena harus menunggu untuk pemeriksaan kedua atau harus mengulang pemeriksaan yang sama. Sedangkan jenis pertanyaan yang kurang

10 spesifik disebabkan skala ini belum diterjemahkan secara resmi dan baku ke dalam bahasa Indonesia, sehingga dapat menimbulkan interpretasi yang berbeda pada pesien dan menjadi bias instrumen. Hal-hal ini akan menyebabkan nilai kesepakatan dua pemeriksa menjadi lemah. Berbagai usaha telah dilakukan untuk dapat mengurangi bias seoptimal mungkin. Bias pada pemeriksa dikurangi dengan cara penjelasan berulang terlebih dahulu dan diskusi mengenai kesulitan-kesulitan yang dijumpai saat pemeriksaan. Pembatasan jumlah responden yang diperiksa agar pemeriksa tidak mengalami kelelahan. Penjelasan maksud dan tujuan penelitian kepada responden juga akan mengurangi bias. Bias instrumen dapat dikurangi dengan menterjemahkan skala NDDI-E ke dalam bahasa Indonesia oleh ahli bahasa Indonesia dan Inggris, kemudian diterjemahkan kembali skala NDDI-E dalam bahasa Indonesia ke bahasa aslinya, yaitu bahasa Inggris oleh penerjemah yang berbeda, dan dibandingkan dengan skala NDDI-E aslinya. Apabila terdapat perbedaan, kata-kata dalam skala NDDI-E versi bahasa Indonesia dapat diperbaiki sehingga pernyataan-pernyataan di dalam skala NDDI-E versi bahasa Indonesia menyerupai bahasa aslinya tanpa mengurangi makna dalam bahasa Indonesia. SIMPULAN Penelitian dengan rancangan cross-sectional ini menunjukkan reliabilitas NDDI-E dalam bahasa Indonesia dengan tingkat kesepakatan antar dua orang pemeriksa (inter-rater agreement) menunjukkan kesepakatan yang cukup baik, sehingga NDDI-E inidapat digunakan sebagai instrumen pemeriksaan yang reliable atau dapat dipercaya.

11 Daftar Pustaka 1. Kelompok Studi Epilepsi PERDOSSI. Pedoman Tatalaksana Epilepsi. Edisi keempat; Engel J, Pedley TA. Introduction: What is Epilepsy. In Engel J, Pedley TA.Epilepsy a Comprehensive Textbook 2 nd Ed. Vol one. Lippincott Williams & Wilkins. USA;2008; Benerjee PN, Hauser WA. Incidence and Prevalence. In Engel J, Pedley TA. Epilepsy A Comprehensive Textbook 2 nd Ed. Vol one. Lippincott Williams & Wilkins. USA;2008; Beghi, Sander JW. The Natural History and Prognosis of Epilepsy. In Engel J, Pedley TA. Epilepsy A Comprehensive Textbook 2 nd Ed. Vol one. Lippincott Williams & Wilkins. USA;2008; Austin JK, De Boer HM, Shafer PO. Disruptions in social functioning and services facilitating adjusment for the child and adult. In:Engel J Jr, Pedley TA (eds).epilepsy:a Comprehensive Textbook 2 nd ed. Vol 3.Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; MJ Jackson, D Turkington. Depression and anxiety in Epilepsy. J Neurol Neurosurg Psychiatry 2005;76(Suppl I):i45-i47.doi: /jnnp Gilliam FG, Barry JJ, Hermann BP, Meador KJ, Vahle V, Kanner AM. Rapid detection of major depression in epilepsy: a multicentre study. Lancet Neurol 2006;5(5): Daniela Di Capua, Maria Eugenia Garcia-Garcia, Abilio Reig-Ferrer, Manuel Fuentes- Ferrer, Rafael Toledano, Antonio Gil-Nagel, Sara Garcia-Ptaceck, Monica Kurtis Andres M. Kanner e, Irene Garcia-Morales. Journal Validation of the Spanish version of the Neurological Disorders Depression Inventory for Epilepsy (NDDI-E); Christensen J, Vestergaard M, Mortensen PB, Sidenius P, Agerbo E. Epilepsy and risk of suicide: a population-based case control study. Lancet Neurol 2007;6(8). 10. Jones JE, Herman BP, Berry JJ, Gilliam F, Kanner AM, Meador KJ. Clinical assessment of Axis I psychiatric morbidity in chronic epilepsy: a multicenter investigation. J Neuropsychiatry Clin Neurosci. 2005;17: Kanner AM. Depression in epilepsy: prevalence, clinical semiology, pathogenic mechanisms and treatment. Biol Psychiatry. 2003;54:

12 12. David E.Friedman, MD, Doris H.Kung, DO, Joseph S.Kass, MD, JD. Systematic Screening in a Busy Clinical Setting Improves Identification of Depression in People with Epilepsy;2008.

I. PENDAHULUAN. otak (Dipiro et.al, 2005). Epilepsi dapat dialami oleh setiap orang baik laki-laki

I. PENDAHULUAN. otak (Dipiro et.al, 2005). Epilepsi dapat dialami oleh setiap orang baik laki-laki I. PENDAHULUAN Epilepsi adalah terganggunya aktivitas listrik di otak yang disebabkan oleh beberapa etiologi diantaranya cedera otak, keracunan, stroke, infeksi, dan tumor otak (Dipiro et.al, 2005). Epilepsi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Epilepsi merupakan salah satu penyakit otak yang sering ditemukan di dunia. Data World Health Organization (WHO) menunjukkan epilepsi menyerang 70 juta dari penduduk

Lebih terperinci

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. gejala klinik yang manifestasinya bisa berbeda beda pada masing

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. gejala klinik yang manifestasinya bisa berbeda beda pada masing BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Gangguan Depresif Mayor Depresi merupakan suatu sindrom yang ditandai dengan sejumlah gejala klinik yang manifestasinya bisa berbeda beda pada masing masing individu. Diagnostic

Lebih terperinci

ANGKA KEJADIAN GANGGUAN CEMAS DAN INSOMNIA PADA LANSIA DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA WANA SERAYA DENPASAR BALI TAHUN 2013

ANGKA KEJADIAN GANGGUAN CEMAS DAN INSOMNIA PADA LANSIA DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA WANA SERAYA DENPASAR BALI TAHUN 2013 ANGKA KEJADIAN GANGGUAN CEMAS DAN INSOMNIA PADA LANSIA DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA WANA SERAYA DENPASAR BALI TAHUN 03 I Dewa Ayu Aninda Vikhanti, I Gusti Ayu Indah Ardani Mahasiswa Program Studi Pendidikan

Lebih terperinci

HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU TENTANG FAKTOR RISIKO PENYAKIT SEREBROVASKULAR TERHADAP KEJADIAN STROKE ISKEMIK ARTIKEL KARYA TULIS ILMIAH

HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU TENTANG FAKTOR RISIKO PENYAKIT SEREBROVASKULAR TERHADAP KEJADIAN STROKE ISKEMIK ARTIKEL KARYA TULIS ILMIAH HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU TENTANG FAKTOR RISIKO PENYAKIT SEREBROVASKULAR TERHADAP KEJADIAN STROKE ISKEMIK ASSOCIATION BETWEEN KNOWLEDGE, ATTITUDE AND BEHAVIOUR ABOUT RISK FACTOR OF CEREBROVASKULAR

Lebih terperinci

PREVALENSI TERJADINYA TUBERKULOSIS PADA PASIEN DIABETES MELLITUS (DI RSUP DR.KARIADI SEMARANG) LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH

PREVALENSI TERJADINYA TUBERKULOSIS PADA PASIEN DIABETES MELLITUS (DI RSUP DR.KARIADI SEMARANG) LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH PREVALENSI TERJADINYA TUBERKULOSIS PADA PASIEN DIABETES MELLITUS (DI RSUP DR.KARIADI SEMARANG) LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH Diajukan sebagai persyaratan guna mencapai gelar sarjana strata-1 kedokteran

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Epilepsi merupakan salah satu penyakit pada otak tersering mencapai 50 juta

BAB 1 PENDAHULUAN. Epilepsi merupakan salah satu penyakit pada otak tersering mencapai 50 juta BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Epilepsi merupakan salah satu penyakit pada otak tersering mencapai 50 juta individu di dunia (WHO, 2005a). Epilepsi di wilayah Asia Tenggara berkisar 1% dari populasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kejang merupakan masalah neurologi yang paling sering kita jumpai pada

BAB I PENDAHULUAN. Kejang merupakan masalah neurologi yang paling sering kita jumpai pada BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Kejang merupakan masalah neurologi yang paling sering kita jumpai pada anak, dan biasanya kejang sudah dimulai sejak usia bayi dan anak-anak. Kejang pada

Lebih terperinci

Putu Arysta Dewi, 1 dr. I Gusti Ayu Indah Ardani, SpKJ 2

Putu Arysta Dewi, 1 dr. I Gusti Ayu Indah Ardani, SpKJ 2 Angka Kejadian serta Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Gangguan tidur (Insomnia) Pada Lansia di Panti Sosial Tresna Werda Wana Seraya Denpasar Bali Tahun 2013 Putu Arysta Dewi, 1 dr. I Gusti Ayu Indah Ardani,

Lebih terperinci

LAMPIRAN. Depresi. Teori Interpersonal Depresi

LAMPIRAN. Depresi. Teori Interpersonal Depresi LAMPIRAN Depresi Teori depresi dalam ilmu psikologi, banyak aliran yang menjelaskannya secara berbeda.teori psikologi tentang depresi adalah penjelasan predisposisi depresi ditinjau dari sudut pandang

Lebih terperinci

Karakteristik Demografi Pasien Depresi di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar Bali Periode

Karakteristik Demografi Pasien Depresi di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar Bali Periode Karakteristik Demografi Pasien Depresi di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar Bali Periode 2011-2013 Nyoman Ari Yoga Wirawan Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Lebih terperinci

PERBEDAAN PREVALENSI DEPRESI PADA KO-ASISTEN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA DAN KO-ASISTEN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS WARMADEWA

PERBEDAAN PREVALENSI DEPRESI PADA KO-ASISTEN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA DAN KO-ASISTEN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS WARMADEWA PERBEDAAN PREVALENSI DEPRESI PADA KO-ASISTEN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA DAN KO-ASISTEN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS WARMADEWA Luh Made Mustikayanthi Devi 1, Ni Ketut Sri Diniari 2 1 Program

Lebih terperinci

PENDAHULUAN ARTIKEL PENELITIAN. Aretha Aprillya Kusumadjaja 1, I Gusti Ayu Indah Ardani 2

PENDAHULUAN ARTIKEL PENELITIAN. Aretha Aprillya Kusumadjaja 1, I Gusti Ayu Indah Ardani 2 Aretha Aprillya Kusumadjaja, I Gusti Ayu Indah Ardani (Skrining E-JURNAL Depresi pada MEDIKA, Ibu dengan VOL. 6 Anak NO. 11, Tuna NOVEMBER, Grahita...) 2017 : 103-107 ISSN: 2303-1395 Skrining Depresi pada

Lebih terperinci

ABSTRAK TINGKAT DEPRESI POSTPARTUM PADA IBU MENYUSUI DI PUSKESMAS DENPASAR TIMUR I

ABSTRAK TINGKAT DEPRESI POSTPARTUM PADA IBU MENYUSUI DI PUSKESMAS DENPASAR TIMUR I DAFTAR ISI SAMPUL DEPAN... i SAMPUL DALAM... ii PERSETUJUAN PEMBIMBING... iii PENETAPAN PANITIA PENGUJI... iv PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN... v KATA PENGANTAR... vi ABSTRAK... vii ABSTRACT... viii RINGKASAN...

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Gangguan tidur dijumpai 25% pada populasi anak yang sehat, 1-5%

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Gangguan tidur dijumpai 25% pada populasi anak yang sehat, 1-5% BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gangguan tidur dijumpai 25% pada populasi anak yang sehat, 1-5% diantaranya adalah gangguan kesulitan bernapas saat tidur (obstructive sleep apneu syndrome: OSAS) (Owens,

Lebih terperinci

PREDIKTOR KEJADIAN KEJANG PASCAOPERASI BEDAH EPILEPSI LOBUS TEMPORAL PADA PENDERITA EPILEPSI LOBUS TEMPORAL JURNAL MEDIA MEDIKA MUDA

PREDIKTOR KEJADIAN KEJANG PASCAOPERASI BEDAH EPILEPSI LOBUS TEMPORAL PADA PENDERITA EPILEPSI LOBUS TEMPORAL JURNAL MEDIA MEDIKA MUDA PREDIKTOR KEJADIAN KEJANG PASCAOPERASI BEDAH EPILEPSI LOBUS TEMPORAL PADA PENDERITA EPILEPSI LOBUS TEMPORAL JURNAL MEDIA MEDIKA MUDA Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai derajat sarjana

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN Desain Penelitian Desain yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode potong lintang (cross-sectional).

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN Desain Penelitian Desain yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode potong lintang (cross-sectional). BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Desain Penelitian Desain yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode potong lintang (cross-sectional). 3.2. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilakukan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional. Dalam penelitian

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional. Dalam penelitian BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional. Dalam penelitian cross sectional digunakan pendekatan transversal, dimana observasi terhadap variabel

Lebih terperinci

Hubungan di antara merokok dengan tingkat kecemasan di kalangan mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada 2014

Hubungan di antara merokok dengan tingkat kecemasan di kalangan mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada 2014 Hubungan di antara merokok dengan tingkat kecemasan di kalangan mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada 2014 Muhammad Alif Hilmi*, Carla Raymondalexas Marchira**, Budi Pratiti**. *Mahasiswa Fakultas

Lebih terperinci

Udayana/Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah, Denpasar.

Udayana/Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah, Denpasar. Angka Kejadian serta Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Gangguan Tidur (Insomnia) Pada Lansia di Panti Sosial Tresna Werda Wana Seraya Denpasar Bali Tahun 2013 Putu Arysta Dewi 1, I Gusti Ayu Indah Ardani

Lebih terperinci

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. dapat dicegah dan diobati, ditandai oleh hambatan aliran udara yang tidak

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. dapat dicegah dan diobati, ditandai oleh hambatan aliran udara yang tidak BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) adalah penyakit paru yang dapat dicegah dan diobati, ditandai oleh hambatan aliran udara yang tidak

Lebih terperinci

GAMBARAN NYERI KEPALA PERI IKTAL PADA PENDERITA EPILEPSI YANG. BEROBAT DI POLIKLINIK SARAF RS. DR. M. DJAMIL PADANG Meiti Frida

GAMBARAN NYERI KEPALA PERI IKTAL PADA PENDERITA EPILEPSI YANG. BEROBAT DI POLIKLINIK SARAF RS. DR. M. DJAMIL PADANG Meiti Frida GAMBARAN NYERI KEPALA PERI IKTAL PADA PENDERITA EPILEPSI YANG ABSTRAK BEROBAT DI POLIKLINIK SARAF RS. DR. M. DJAMIL PADANG Meiti Frida LATAR BELAKANG Epilepsi seringkali disertai oleh penyakit yang menjadi

Lebih terperinci

PENGARUH FAKTOR RISIKO TERHADAP FUNGSI PENDENGARAN BAYI BARU LAHIR BERDASARKAN PEMERIKSAAN DISTORTION PRODUCT OAE

PENGARUH FAKTOR RISIKO TERHADAP FUNGSI PENDENGARAN BAYI BARU LAHIR BERDASARKAN PEMERIKSAAN DISTORTION PRODUCT OAE PENGARUH FAKTOR RISIKO TERHADAP FUNGSI PENDENGARAN BAYI BARU LAHIR BERDASARKAN PEMERIKSAAN DISTORTION PRODUCT OAE Oleh : Andi Dwi Saputra Pembimbing: Dr. Luh Made Ratnawati, Sp.THT Dr. Made Tjekeg, Sp.THT

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Congestive Heart Failure (CHF) atau gagal jantung merupakan salah

BAB I PENDAHULUAN. Congestive Heart Failure (CHF) atau gagal jantung merupakan salah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Congestive Heart Failure (CHF) atau gagal jantung merupakan salah satu diagnosis kardiovaskular yang paling cepat meningkat jumlahnya (Schilling, 2014). Di dunia,

Lebih terperinci

PENGARUH TERAPI MUSIK DANGDUT RITME CEPAT TERHADAP PERBEDAAN TINGKAT DEPRESI PADA PASIEN DEPRESI DI RUMAH SAKIT JIWA DAERAH SURAKARTA

PENGARUH TERAPI MUSIK DANGDUT RITME CEPAT TERHADAP PERBEDAAN TINGKAT DEPRESI PADA PASIEN DEPRESI DI RUMAH SAKIT JIWA DAERAH SURAKARTA PENGARUH TERAPI MUSIK DANGDUT RITME CEPAT TERHADAP PERBEDAAN TINGKAT DEPRESI PADA PASIEN DEPRESI DI RUMAH SAKIT JIWA DAERAH SURAKARTA Erika Dewi Noorratri 1, Wahyuni 2 1,2 Stikes Aisyiyah Surakarta Jl.

Lebih terperinci

BAB III METODA PENELITIAN A. JENIS DAN RANCANGAN PENELITIAN. Rancangan penelitian ini adalah discriptive correlation, yaitu

BAB III METODA PENELITIAN A. JENIS DAN RANCANGAN PENELITIAN. Rancangan penelitian ini adalah discriptive correlation, yaitu 38 BAB III METODA PENELITIAN A. JENIS DAN RANCANGAN PENELITIAN Rancangan penelitian ini adalah discriptive correlation, yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengungkapkan hubungan korelatif antara variabel

Lebih terperinci

SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana Kedokteran

SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana Kedokteran HUBUNGAN KECEMASAN DENGAN TENSION-TYPE HEADACHE DI POLIKLINIK SARAF RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana Kedokteran Diajukan Oleh: Fardhika J500110019

Lebih terperinci

ABSTRAK GAMBARAN KARAKTERISTIK MIGRAIN DI RUMAH SAKIT UMUM PENDIDIKAN (RSUP) DR. HASAN SADIKIN BANDUNG PERIODE JANUARI 2010 JUNI 2012

ABSTRAK GAMBARAN KARAKTERISTIK MIGRAIN DI RUMAH SAKIT UMUM PENDIDIKAN (RSUP) DR. HASAN SADIKIN BANDUNG PERIODE JANUARI 2010 JUNI 2012 ABSTRAK GAMBARAN KARAKTERISTIK MIGRAIN DI RUMAH SAKIT UMUM PENDIDIKAN (RSUP) DR. HASAN SADIKIN BANDUNG PERIODE JANUARI 2010 JUNI 2012 Dwi Nur Pratiwi Sunardi. 2013. Pembimbing I : Dedeh Supantini, dr.,

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA PERILAKU OBSESIF KOMPULSIF DAN DEPRESI PADA MAHASISWA PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

HUBUNGAN ANTARA PERILAKU OBSESIF KOMPULSIF DAN DEPRESI PADA MAHASISWA PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA digilib.uns.ac.id HUBUNGAN ANTARA PERILAKU OBSESIF KOMPULSIF DAN DEPRESI PADA MAHASISWA PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA SKRIPSI Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penyakit tanpa mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif. 1

BAB I PENDAHULUAN. penyakit tanpa mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kemajuan pembangunan nasional memberikan dampak perubahan pada sistem kesehatan Indonesia ke dalam era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Layanan kesehatan tingkat

Lebih terperinci

PREVALENSI NEFROPATI PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE II YANG DIRAWAT INAP DAN RAWAT JALAN DI SUB BAGIAN ENDOKRINOLOGI PENYAKIT DALAM, RSUP H

PREVALENSI NEFROPATI PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE II YANG DIRAWAT INAP DAN RAWAT JALAN DI SUB BAGIAN ENDOKRINOLOGI PENYAKIT DALAM, RSUP H PREVALENSI NEFROPATI PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE II YANG DIRAWAT INAP DAN RAWAT JALAN DI SUB BAGIAN ENDOKRINOLOGI PENYAKIT DALAM, RSUP H. ADAM MALIK, MEDAN PADA TAHUN 2009 Oleh: LIEW KOK LEONG

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Saat ini, penduduk dunia diperkirakan berjumlah sekitar 7 milyar,

BAB I PENDAHULUAN. Saat ini, penduduk dunia diperkirakan berjumlah sekitar 7 milyar, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Saat ini, penduduk dunia diperkirakan berjumlah sekitar 7 milyar, meningkat dari sekitar 6.5 milyar di tahun 2006. Peningkatan jumlah penduduk tersebut diikuti dengan

Lebih terperinci

PENGARUH PENYULUHAN TENTANG PENYAKIT EPILEPSI ANAK TERHADAP PENGETAHUAN MASYARAKAT UMUM LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH

PENGARUH PENYULUHAN TENTANG PENYAKIT EPILEPSI ANAK TERHADAP PENGETAHUAN MASYARAKAT UMUM LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH PENGARUH PENYULUHAN TENTANG PENYAKIT EPILEPSI ANAK TERHADAP PENGETAHUAN MASYARAKAT UMUM LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH Diajukan sebagai syarat untuk mengikuti ujian akhir Karya Tulis Ilmiah mahasiswa

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK DAN VARIASI DIAGNOSIS KUNJUNGAN PASIEN DI POLIKLINIK JIWA RSUP SANGLAH

KARAKTERISTIK DAN VARIASI DIAGNOSIS KUNJUNGAN PASIEN DI POLIKLINIK JIWA RSUP SANGLAH KARAKTERISTIK DAN VARIASI DIAGNOSIS KUNJUNGAN PASIEN DI POLIKLINIK JIWA RSUP SANGLAH Oleh: Wangi Niko Yuandika Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Abstrak Di negara berkembang seperti di Indonesia

Lebih terperinci

LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH. Diajukan sebagai syarat untuk mengikuti ujian hasil Karya Tulis Ilmiah mahasiswa program strata-1 kedokteran umum

LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH. Diajukan sebagai syarat untuk mengikuti ujian hasil Karya Tulis Ilmiah mahasiswa program strata-1 kedokteran umum GAMBARAN DAN HUBUNGAN TINGKAT DEPRESI DENGAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PADA PASIEN RAWAT JALAN PUSKESMAS (Studi Deskriptif Analitik di Puskesmas Halmahera Semarang) LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH

Lebih terperinci

ABSTRAK GAMBARAN PENYAKIT DIABETES MELITUS PADA ORANG DEWASA YANG DIRAWAT INAP DIRUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE JANUARI DESEMBER 2014

ABSTRAK GAMBARAN PENYAKIT DIABETES MELITUS PADA ORANG DEWASA YANG DIRAWAT INAP DIRUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE JANUARI DESEMBER 2014 ABSTRAK GAMBARAN PENYAKIT DIABETES MELITUS PADA ORANG DEWASA YANG DIRAWAT INAP DIRUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE Evan Anggalimanto, 2015 Pembimbing 1 : Dani, dr., M.Kes Pembimbing 2 : dr Rokihyati.Sp.P.D

Lebih terperinci

Artikel Penelitian. Abstrak. Abstract. Vivit Erdina Yunita, 1 Afdal, 2 Iskandar Syarif 3

Artikel Penelitian. Abstrak. Abstract.  Vivit Erdina Yunita, 1 Afdal, 2 Iskandar Syarif 3 705 Artikel Penelitian Gambaran Faktor yang Berhubungan dengan Timbulnya Kejang Demam Berulang pada Pasien yang Berobat di Poliklinik Anak RS. DR. M. Djamil Padang Periode Januari 2010 Desember 2012 Vivit

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. suram, pesimistis, ragu-ragu, gangguan memori, dan konsentrasi buruk. 1

BAB I PENDAHULUAN. suram, pesimistis, ragu-ragu, gangguan memori, dan konsentrasi buruk. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Depresi merupakan gangguan mood yang ditandai dengan penderita terlihat sedih, murung, kehilangan semangat, mengalami distorsi kognitif misalnya kepercayaan diri yang

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan desain penelitian deskriptif korelatif yaitu untuk

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan desain penelitian deskriptif korelatif yaitu untuk BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain penelitian deskriptif korelatif yaitu untuk menggambarkan hubungan antara

Lebih terperinci

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. belah lintang (cross sectional) untuk mengetahui korelasi antara faktor-faktor

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. belah lintang (cross sectional) untuk mengetahui korelasi antara faktor-faktor BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian observasional, dengan rancangan belah lintang (cross sectional) untuk mengetahui korelasi antara faktor-faktor yang

Lebih terperinci

ABSTRAK KARAKTERISTIK PASIEN SINUSITIS DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH DENPASAR PADA APRIL 2015 SAMPAI APRIL 2016 Sinusitis yang merupakan salah

ABSTRAK KARAKTERISTIK PASIEN SINUSITIS DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH DENPASAR PADA APRIL 2015 SAMPAI APRIL 2016 Sinusitis yang merupakan salah ABSTRAK KARAKTERISTIK PASIEN SINUSITIS DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH DENPASAR PADA APRIL 2015 SAMPAI APRIL 2016 Sinusitis yang merupakan salah satu penyakit THT, Sinusitis adalah peradangan pada membran

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Kerangka Konsep Kerangka konsep pada penelitian ini menggambarkan perbedaan pengaruh musik klasik Mozart dan instrumental modern Kitaro terhadap tingkat kecemasan ibu hamil

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. dengan rancangan penelitian cross sectional untuk menentukan

BAB III METODE PENELITIAN. dengan rancangan penelitian cross sectional untuk menentukan 36 BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi noneksperimental dengan rancangan penelitian cross sectional untuk menentukan hubungan

Lebih terperinci

Artikel Penelitian Majalah Kesehatan Pharmamedika 2013, Vol 5 No. 1 15

Artikel Penelitian Majalah Kesehatan Pharmamedika 2013, Vol 5 No. 1 15 Artikel Penelitian Majalah Kesehatan Pharmamedika 2013, Vol 5 No. 1 15 Usia Onset Pertama Penderita Skizofrenik Pada Laki Laki dan Yang Berobat Ke Badan Layanan Umum Daerah Rumah Sakit Jiwa Propinsi Sumatera

Lebih terperinci

ABSTRAK PERILAKU BUNUH DIRI PADA KLIEN TERAPI METADON DI PTRM SANDAT RSUP SANGLAH

ABSTRAK PERILAKU BUNUH DIRI PADA KLIEN TERAPI METADON DI PTRM SANDAT RSUP SANGLAH ABSTRAK PERILAKU BUNUH DIRI PADA KLIEN TERAPI METADON DI PTRM SANDAT RSUP SANGLAH Latar Belakang: Perilaku bunuh diri yang dimaksud adalah ide bunuh diri dan percobaan bunuh diri. Intinya perilaku bunuh

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 60 bulan disertai suhu tubuh 38 C (100,4 F) atau lebih yang tidak. (SFSs) merupakan serangan kejang yang bersifat tonic-clonic di

BAB 1 PENDAHULUAN. 60 bulan disertai suhu tubuh 38 C (100,4 F) atau lebih yang tidak. (SFSs) merupakan serangan kejang yang bersifat tonic-clonic di BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kejang demam atau febrile seizure (FS) merupakan kejang yang terjadi pada anak dengan rentang umur 6 sampai dengan 60 bulan disertai suhu tubuh 38 C (100,4

Lebih terperinci

Psikoterapi Singkat Pada Pasien Dengan Kondisi Medis Umum

Psikoterapi Singkat Pada Pasien Dengan Kondisi Medis Umum Psikoterapi Singkat Pada Pasien Dengan Kondisi Medis Umum Andri Bagian Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA) [email protected] PENDAHULUAN Psikoterapi adalah bagian yang

Lebih terperinci

BAB 1. PENDAHULUAN. mood, khususnya gangguan ansietas. 1

BAB 1. PENDAHULUAN. mood, khususnya gangguan ansietas. 1 BAB 1. PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Gangguan ansietas dan depresi biasa terjadi pada semua daerah di seluruh dunia. Penyakit kronis meningkatkan morbiditas dengan gangguan perasaan dan/atau gangguan

Lebih terperinci

ABSTRAK. Kata kunci : dental anxiety, dewasa muda, ekstraksi gigi

ABSTRAK. Kata kunci : dental anxiety, dewasa muda, ekstraksi gigi ABSTRAK Skipsi ini berisi tentang gambaran dental anxiety pada dewasa muda yang akan dilakukan ekstraksi gigi di Rumah Sakit Immanuel Bandung. Sasaran yang menjadi kajian adalah pasien dewasa muda yang

Lebih terperinci

Abstract ASSOCIATION OF ATRIAL FIBRILLATION AND ISCHEMIC STROKE ANALYSIS FROM RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTA

Abstract ASSOCIATION OF ATRIAL FIBRILLATION AND ISCHEMIC STROKE ANALYSIS FROM RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTA Abstract ASSOCIATION OF ATRIAL FIBRILLATION AND ISCHEMIC STROKE ANALYSIS FROM RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTA Arya Widyatama 1, Imam Rusdi 2, Abdul Gofir 2 1 Student of Medical Doctor, Faculty of Medicine,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Prevalensi depresi di dunia diperkirakan 5-10% per tahun dan life time prevalence

BAB I PENDAHULUAN. Prevalensi depresi di dunia diperkirakan 5-10% per tahun dan life time prevalence BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Istilah depresi kini sudah tidak asing lagi bagi masyarakat karena dapat menyerang seluruh usia dan lapisan masyarakat. Depresi merupakan gangguan suasana perasaan

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA KADAR HBA1C DENGAN KADAR TRIGLISERIDA PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 LAPORAN AKHIR HASIL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH

HUBUNGAN ANTARA KADAR HBA1C DENGAN KADAR TRIGLISERIDA PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 LAPORAN AKHIR HASIL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH HUBUNGAN ANTARA KADAR HBA1C DENGAN KADAR TRIGLISERIDA PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 LAPORAN AKHIR HASIL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai derajat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tingginya prevalensi malnutrisi pada pasien di rumah sakit masih menjadi

BAB I PENDAHULUAN. Tingginya prevalensi malnutrisi pada pasien di rumah sakit masih menjadi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tingginya prevalensi malnutrisi pada pasien di rumah sakit masih menjadi perhatian, baik di negara maju maupun negara berkembang. Menurut Barker (2011), malnutrisi

Lebih terperinci

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Gangguan bipolar dulunya dikenal sebagai gangguan manik

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Gangguan bipolar dulunya dikenal sebagai gangguan manik BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA Gangguan bipolar dulunya dikenal sebagai gangguan manik depresif, yaitu gangguan kronik dari regulasi mood yang dihasilkan pada episode depresi dan mania. Gejala psikotik mungkin

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian adalah Eksperimen Kuasi Pretest-Posttest Design.

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian adalah Eksperimen Kuasi Pretest-Posttest Design. BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian 1. Jenis Penelitian Jenis penelitian adalah Eksperimen Kuasi Pretest-Posttest Design. 2. Rancangan Penelitian Kriteria Inklusi Populasi Subyek

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Artritis reumatoid (AR) merupakan suatu penyakit inflamasi kronik yang ditandai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Artritis reumatoid (AR) merupakan suatu penyakit inflamasi kronik yang ditandai BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Artritis reumatoid (AR) merupakan suatu penyakit inflamasi kronik yang ditandai dengan peradangan pada sinovium, terutama sendi sendi kecil dan seringkali

Lebih terperinci

PERBEDAAN TINGKAT DEPRESI ANTARA LANSIA YANG TINGGAL DI PANTI WREDHA DHARMA BHAKTI DAN YANG BERSAMA KELUARGA DI KELURAHAN PAJANG

PERBEDAAN TINGKAT DEPRESI ANTARA LANSIA YANG TINGGAL DI PANTI WREDHA DHARMA BHAKTI DAN YANG BERSAMA KELUARGA DI KELURAHAN PAJANG PERBEDAAN TINGKAT DEPRESI ANTARA LANSIA YANG TINGGAL DI PANTI WREDHA DHARMA BHAKTI DAN YANG BERSAMA KELUARGA DI KELURAHAN PAJANG SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana Kedokteran

Lebih terperinci

ABSTRAK GAMBARAN PENYAKIT STROKE DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE 1 JANUARI DESEMBER 2009

ABSTRAK GAMBARAN PENYAKIT STROKE DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE 1 JANUARI DESEMBER 2009 ABSTRAK GAMBARAN PENYAKIT STROKE DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE 1 JANUARI 2009-31 DESEMBER 2009 Muhammad Randy, 2010 Pembimbing I : Sri Nadya J. Saanin, dr., M.Kes. Pembimbing II : DR. Felix Kasim,

Lebih terperinci

PROFIL PENYANDANG EPILEPSI DI POLIKLINIK SARAF RSUP PROF. DR. R.D. KANDOU MANADO PERIODE JUNI 2013 MEI 2014

PROFIL PENYANDANG EPILEPSI DI POLIKLINIK SARAF RSUP PROF. DR. R.D. KANDOU MANADO PERIODE JUNI 2013 MEI 2014 PROFIL PENYANDANG EPILEPSI DI POLIKLINIK SARAF RSUP PROF. DR. R.D. KANDOU MANADO PERIODE JUNI 2013 MEI 2014 1 Rhiza Khasanah 2 Corry N. Mahama 2 Theresia Runtuwene 1 Kandidat Skripsi Fakultas Kedokteran

Lebih terperinci

INSOMNIA DAN DIAGNOSIS PSIKIATRI PADA PASIEN DI INSTALASI RAWAT DARURAT (IRD) RSUP SANGLAH

INSOMNIA DAN DIAGNOSIS PSIKIATRI PADA PASIEN DI INSTALASI RAWAT DARURAT (IRD) RSUP SANGLAH INSOMNIA DAN DIAGNOSIS PSIKIATRI PADA PASIEN DI INSTALASI RAWAT DARURAT (IRD) RSUP SANGLAH *Alfa Matrika Sapta Dewanti, **Ni Ketut Sri Diniari *Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran Universitas

Lebih terperinci

5.2 Distribusi Pasien Tumor Tulang Berdasarkan Kelompok Usia dan Jenis Kelamin Distribusi Pasien Tumor Tulang Berdasarkan Lokasi

5.2 Distribusi Pasien Tumor Tulang Berdasarkan Kelompok Usia dan Jenis Kelamin Distribusi Pasien Tumor Tulang Berdasarkan Lokasi DAFTAR ISI Halaman COVER... i LEMBAR PENGESAHAN... ii DAFTAR ISI... iii ABSTRAK... v ABSTRACT... vi BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Rumusan Masalah... 2 1.3 Tujuan Penelitian... 4 1.3.1

Lebih terperinci

HUBUNGAN LAMANYA MENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 TERHADAP TINGKAT DEPRESI PADA PASIEN POLI PENYAKIT DALAM RSD Dr.

HUBUNGAN LAMANYA MENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 TERHADAP TINGKAT DEPRESI PADA PASIEN POLI PENYAKIT DALAM RSD Dr. HUBUNGAN LAMANYA MENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 TERHADAP TINGKAT DEPRESI PADA PASIEN POLI PENYAKIT DALAM RSD Dr. SOEBANDI JEMBER SKRIPSI Oleh Amalia Firdaus NIM 102010101014 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS

Lebih terperinci

Oleh: KHAIRUN NISA BINTI SALEH FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN Universitas Sumatera Utara

Oleh: KHAIRUN NISA BINTI SALEH FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN Universitas Sumatera Utara PREVALENSI PENDERITA PENYAKIT PARU OBSTRUKSI KRONIS DENGAN RIWAYAT MEROKOK DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK (RSUP HAM) MEDAN PERIODE JANUARI 2009 DESEMBER 2009 Oleh: KHAIRUN NISA BINTI SALEH 070100443

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN. Desain penelitian : prospektif dengan pembanding internal. U1n. U2n

BAB 3 METODE PENELITIAN. Desain penelitian : prospektif dengan pembanding internal. U1n. U2n BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1. Rancang Bangun Penelitian Jenis penelitian : observasional Desain penelitian : prospektif dengan pembanding internal Sembuh P N M1 U1n mg I mg II mg III mg IV mg V mg VI Tidak

Lebih terperinci

iii Universitas Kristen Maranatha

iii Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui hubungan antara grit dan IPK pada mahasiswa Kurikulum Berbasis KKNI angkatan 2013 di Universitas X di Kota Bandung. Subjek dalam penelitian ini adalah

Lebih terperinci

KARYA TULIS ILMIAH. Oleh: APRILIA PRAFITA SARI ROITONA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA. Universitas Sumatera Utara

KARYA TULIS ILMIAH. Oleh: APRILIA PRAFITA SARI ROITONA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA. Universitas Sumatera Utara 1 HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DENGAN TINGKAT PENGETAHUAN WANITA USIA 20-50 TAHUN TENTANG SADARI SEBAGAI SALAH SATU DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA DI KELURAHAN TANJUNG REJO MEDAN KARYA TULIS ILMIAH Oleh:

Lebih terperinci

BEDA PERSEPSI DOKTER PUSKESMAS INTEGRASI DAN NON INTEGRASI DI KABUPATEN KLATEN TERHADAP PENDERITA SKIZOFRENIA

BEDA PERSEPSI DOKTER PUSKESMAS INTEGRASI DAN NON INTEGRASI DI KABUPATEN KLATEN TERHADAP PENDERITA SKIZOFRENIA BEDA PERSEPSI DOKTER INTEGRASI DAN NON INTEGRASI DI KABUPATEN KLATEN TERHADAP PENDERITA SKIZOFRENIA DIFFERENT PERCEPTION BETWEEN INTEGRATION AND NON-INTEGRATION PRIMARY CARE DOCTOR IN KLATEN REGENCY TOWARDS

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Dalam, Sub Bagian Gastroenterohepatologi.

BAB IV METODE PENELITIAN. Dalam, Sub Bagian Gastroenterohepatologi. BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini mencakup bidang Ilmu Kedokteran khususnya Ilmu Penyakit Dalam, Sub Bagian Gastroenterohepatologi. 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian 4.2.1

Lebih terperinci

EPIDEMIOLOGI MANIFESTASI KLINIS

EPIDEMIOLOGI MANIFESTASI KLINIS DEFINISI Gangguan Bipolar dikenal juga dengan gangguan manik depresi, yaitu gangguan pada fungsi otak yang menyebabkan perubahan yang tidak biasa pada suasana perasaan, dan proses berfikir. Disebut Bipolar

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA KECEMASAN DENGAN SINDROM PREMENSTRUASI PADA MAHASISWI PROGRAM STUDI KEDOKTERAN ANGKATAN 2014 FAKULTAS KEDOKTERAN UNS SKRIPSI

HUBUNGAN ANTARA KECEMASAN DENGAN SINDROM PREMENSTRUASI PADA MAHASISWI PROGRAM STUDI KEDOKTERAN ANGKATAN 2014 FAKULTAS KEDOKTERAN UNS SKRIPSI HUBUNGAN ANTARA KECEMASAN DENGAN SINDROM PREMENSTRUASI PADA MAHASISWI PROGRAM STUDI KEDOKTERAN ANGKATAN 2014 FAKULTAS KEDOKTERAN UNS SKRIPSI Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi noneksperimental

BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi noneksperimental BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi noneksperimental dengan rancangan penelitian cross sectional study. Dalam arti kata luas,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah penelitian di bidang Ilmu Kedokteran Jiwa.

BAB III METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah penelitian di bidang Ilmu Kedokteran Jiwa. BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Ruang lingkup penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah penelitian di bidang Ilmu Kedokteran Jiwa. 3.2 Tempat dan waktu penelitian 1) Tempat penelitian : Poli Rawat Jalan

Lebih terperinci

Gangguan Mood/Suasana Perasaan

Gangguan Mood/Suasana Perasaan Gangguan Mood/Suasana Perasaan Definisi: Merupakan kelompok gangguan yang melibatkan gangguan berat dan berlangsung lama dalam emosionalitas, yang berkisar dari kegirangan sampai depresi berat Major depressive

Lebih terperinci

SKRIPSI HUBUNGAN TERAPEUTIK PERAWAT-PASIEN TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERASI DI IRNA C RSUP SANGLAH DENPASAR

SKRIPSI HUBUNGAN TERAPEUTIK PERAWAT-PASIEN TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERASI DI IRNA C RSUP SANGLAH DENPASAR SKRIPSI HUBUNGAN TERAPEUTIK PERAWAT-PASIEN TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERASI DI IRNA C RSUP SANGLAH DENPASAR OLEH: NI MADE ARTINI NIM. 1302115010 PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN

Lebih terperinci

ABSTRAK GAMBARAN GANGGUAN JIWA DENGAN MENGGUNAKAN METODE PENYARINGAN MEODE 2 MENIT

ABSTRAK GAMBARAN GANGGUAN JIWA DENGAN MENGGUNAKAN METODE PENYARINGAN MEODE 2 MENIT ABSTRAK GAMBARAN GANGGUAN JIWA DENGAN MENGGUNAKAN METODE PENYARINGAN MEODE 2 MENIT (M2M) DI KLINIK X Bony Yudistira, 2015 Pembimbing I : Ade Kurnia Surawijaya, dr., SpKJ. Pembimbing II: Cindra Paskaria

Lebih terperinci

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Balita di Kelurahan Baros Wilayah Kerja Puskesmas Baros Kota Sukabumi

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Balita di Kelurahan Baros Wilayah Kerja Puskesmas Baros Kota Sukabumi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Balita di Kelurahan Baros Wilayah Kerja Puskesmas Baros Kota Sukabumi Siti Hardianti, Sri Janatri [email protected] Abstrak Periode penting dalam tumbuh

Lebih terperinci

ABSTRAK GAMBARAN KARAKTERISTIK PASIEN RAWAT INAP DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE 1 JANUARI DESEMBER 2012

ABSTRAK GAMBARAN KARAKTERISTIK PASIEN RAWAT INAP DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE 1 JANUARI DESEMBER 2012 ABSTRAK GAMBARAN KARAKTERISTIK PASIEN RAWAT INAP DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE 1 JANUARI 2012-31 DESEMBER 2012 Erfina Saumiandiani, 2013 : Pembimbing I : dr. Dani,M.Kes.

Lebih terperinci

ABSTRAK PREVALENSI DIABETES MELITUS TIPE 2 DENGAN HIPERTENSI DI RSUP SANGLAH DENPASAR TAHUN 2015

ABSTRAK PREVALENSI DIABETES MELITUS TIPE 2 DENGAN HIPERTENSI DI RSUP SANGLAH DENPASAR TAHUN 2015 ABSTRAK PREVALENSI DIABETES MELITUS TIPE 2 DENGAN HIPERTENSI DI RSUP SANGLAH DENPASAR TAHUN 2015 Diabetes melitus tipe 2 didefinisikan sebagai sekumpulan penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemik

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Rancangan penelitian ini menggunakan studi analitik untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas yaitu tingkat pengetahuan dan variabel terikat yaitu praktik

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 30 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup disiplin ilmu dari penelitian ini adalah ilmu kedokteran, khususnya Ilmu Psikiatri dan Ilmu Penyakit Dalam. 3.2 Tempat dan Waktu

Lebih terperinci

PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN ANTARA SISWA KELAS VIII SMP NAWA KARTIKA ISLAMIC BOARDING SCHOOL DENGAN SMP NEGERI 1 WONOGIRI SKRIPSI

PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN ANTARA SISWA KELAS VIII SMP NAWA KARTIKA ISLAMIC BOARDING SCHOOL DENGAN SMP NEGERI 1 WONOGIRI SKRIPSI PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN ANTARA SISWA KELAS VIII SMP NAWA KARTIKA ISLAMIC BOARDING SCHOOL DENGAN SMP NEGERI 1 WONOGIRI SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Sarjana Kedokteran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dibandingkan populasi anak sehat (Witt et al., 2003). Pasien dengan penyakit

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dibandingkan populasi anak sehat (Witt et al., 2003). Pasien dengan penyakit 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Anak dengan penyakit kronis lebih rentan mengalami gangguan psikososial dibandingkan populasi anak sehat (Witt et al., 2003). Pasien dengan penyakit neurologi seperti

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Universitas Diponegoro Tembalang dan Lapangan Basket Pleburan, Semarang.

BAB IV METODE PENELITIAN. Universitas Diponegoro Tembalang dan Lapangan Basket Pleburan, Semarang. BAB IV METODE PENELITIAN 4.1. Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah Ilmu Fisiologi dan Ilmu Kedokteran Olahraga. 4.2. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan

Lebih terperinci

Jurnal Farmasi Andalas Vol 1 (1) April 2013 ISSN :

Jurnal Farmasi Andalas Vol 1 (1) April 2013 ISSN : Jurnal Farmasi Andalas Vol 1 (1) April 2013 ISSN : 2302-8254 Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Pasien HIV/AIDS di Poliklinik Khusus Rawat Jalan Bagian Penyakit Dalam RSUP dr. M. Djamil Padang

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Sampel Penelitian Lokasi dalam penelitian ini yaitu Poliklinik Obstetri dan Ginekologi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Hal ini didasari oleh beberapa pertimbangan

Lebih terperinci

PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN DAN DEPRESI PADA MAHASISWA SISTEM PERKULIAHAN TRADISIONAL DENGAN SISTEM PERKULIAHAN TERINTEGRASI

PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN DAN DEPRESI PADA MAHASISWA SISTEM PERKULIAHAN TRADISIONAL DENGAN SISTEM PERKULIAHAN TERINTEGRASI PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN DAN DEPRESI PADA MAHASISWA SISTEM PERKULIAHAN TRADISIONAL DENGAN SISTEM PERKULIAHAN TERINTEGRASI Sarah Damayanti R.P. Marbun 1, Titis Hadiati 2, Widodo Sarjana 2 1 Mahasiswa

Lebih terperinci

Abstrak. Gambaran Tingkat Kecemasan Pada Mahasiswa Semester Satu di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha Tahun 2014.

Abstrak. Gambaran Tingkat Kecemasan Pada Mahasiswa Semester Satu di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha Tahun 2014. Abstrak Gambaran Tingkat Kecemasan Pada Mahasiswa Semester Satu di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha Tahun 2014. Triadi Arif Maulana, 2015. Pembimbing I : dr. Stella Tinia Hasianna, M.Kes.

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini meliputi bidang ilmu kesehatan jiwa.

BAB III METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini meliputi bidang ilmu kesehatan jiwa. 30 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini meliputi bidang ilmu kesehatan jiwa. 3.2 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April-Mei

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. disertai suatu perubahan pada keseluruhan tingkat aktivitas. 1. Gangguan afektif bipolar adalah salah satu gangguan mood yang

BAB 1 PENDAHULUAN. disertai suatu perubahan pada keseluruhan tingkat aktivitas. 1. Gangguan afektif bipolar adalah salah satu gangguan mood yang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Gangguan mood merupakan perubahan suasana perasaan (mood) atau afek, umumnya mengarah ke depresi, atau ke arah elasi (suasana perasaan yang meningkat) yang

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Desain yang digunakan pada penelitian ini adalah Correlational Penelitian ini

BAB III METODE PENELITIAN. Desain yang digunakan pada penelitian ini adalah Correlational Penelitian ini BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Desain yang digunakan pada penelitian ini adalah Correlational Penelitian ini bertujuan untuk menarik suatu kesimpulan, menguraikan dan menganalisa suatu

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. A. Jenis Penelitian dan Metode Penelitian. Demak, sedangkan pendekatan yang digunakan adalah cross sectional

BAB III METODE PENELITIAN. A. Jenis Penelitian dan Metode Penelitian. Demak, sedangkan pendekatan yang digunakan adalah cross sectional BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian dan Metode Penelitian Jenis penelitian ini merupakan kuantitatif. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasi study yang bertujuan untuk mengetahui

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENILITIAN. Ilmu Penyakit Dalam, Ilmu Penyakit Saraf, dan Ilmu Penyakit Jiwa.

BAB IV METODE PENILITIAN. Ilmu Penyakit Dalam, Ilmu Penyakit Saraf, dan Ilmu Penyakit Jiwa. BAB IV METODE PENILITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Ilmu Penyakit Dalam, Ilmu Penyakit Saraf, dan Ilmu Penyakit Jiwa. 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian Klinik VCT RSUP dr. Kariadi Semarang pada bulan Maret-Juni2015.

Lebih terperinci