Penyakit jantung bawaan (PJB) merupakan

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Penyakit jantung bawaan (PJB) merupakan"

Transkripsi

1 Artikel Asli Perbedaan Kadar Malondialdehid Serum antara Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan Sianotik dan Nonsianotik Wiwin Winiar, Sri Endah Rahayuningsih, Cissy Sudjana Prawira Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Bandung Latar belakang. Penyakit jantung bawaan (PJB) masih merupakan masalah kesehatan global. Reperfusi, iskemia, dan hipoksemia kronik yang terjadi pada PJB memicu terjadi stres oksidatif. Malondialdehid telah lama digunakan sebagai penanda stres oksidatif. Tujuan. Melihat perbedaan kadar malondialdehid serum antara anak yang menderita PJB sianotik dan nonsianotik. Metode. Penelitian analitik komparatif potong lintang dilakukan pada Juni Desember 2012 di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung terhadap 20 penderita PJB sianotik dan 20 nonsianotik berusia 1 bulan 18 tahun. Kadar malondialdehid serum diperiksa dengan metode enzyme-linked immunosorbent assay. Perbedaan kadar malondialdehid serum antara kedua kelompok dianalisis dengan uji t tidak berpasangan dan perbedaan bermakna apabila p<0,05. Hasil. Malondialdehid serum rerata pada kelompok sianotik dan nonsianotik berturut-turut 3,545 pmol/ mg (interval kepercayaan (IK95%: 3,238 3,853) dan 3,875 pmol/mg (IK95%: 3,620 4,131); p=0,046. Perbedaan kadar malondialdehid serum tetap bermakna setelah disesuaikan dengan anemia (p=0,023), sedangkan setelah disesuaikan dengan saturasi oksigen dan hipertensi pulmonal menjadi tidak bermakna. Kesimpulan. Kadar malondialdehid serum penderita PJB sianotik lebih rendah dibandingkan dengan nonsianotik. Anemia dan hipoksemia meningkatkan kadar malondialdehid serum. Sari Pediatri 2014;16(1): Kata kunci: anak, malondialdehid, penyakit jantung bawaan Alamat korespondensi: Dr. Sri Endah Rahayuningsih, dr. SpA(K). Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/ Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin,Jl. Pasteur No. 38 Bandung 40163, Indonesia. No telepon: endah. [email protected] Penyakit jantung bawaan (PJB) merupakan penyebab tersering kelainan kongenital mayor dengan jumlah mencapai 28% dari seluruh kelainan kongenital dan diperkirakan terdapat 1,35 juta penderita PJB baru setiap tahunnya sehingga masih merupakan masalah kesehatan 47

2 global. 1,2 Reperfusi, iskemia, dan hipoksemia yang terjadi pada PJB meyebabkan pelepasan spesies oksigen reaktif (SOR) berlebihan sehingga terjadi stres oksidatif. 3 Stres oksidatif terjadi sebagai akibat ketidakseimbangan antara produksi SOR dan sistem pertahanan antioksidan. 4 Malondialdehid (MDA) merupakan penanda yang telah lama digunakan untuk menilai stres oksidatif. 4,5 Beberapa keadaan yang dapat meningkatkan stres oksidatif di antaranya anemia, hipoksia, gizi kurang, obesitas, hipertensi pulmonal, dan infeksi. 3,6-9 Penyakit jantung bawaan berdasarkan manifestasi klinisnya dibagi menjadi PJB sianotik dan nonsianotik. 10,11 Pada penderita PJB sianotik, terjadi hipoksia kronik yang menyebabkan penurunan kapasitas antioksidan. 3,7 Pada penderita PJB nonsianotik terjadi peningkatan aliran darah ke paru-paru yang menyebabkan hipertensi pulmonal, sedangkan aliran darah sistemik justru sebaliknya. 3,12-14 Penelitian ini dilakukan untuk melihat perbedaan stres oksidatif antara anak yang menderita PJB sianotik dan nonsianotik melalui pengukuran kadar malondialdehid serum. Metode Penelitian analitik komparatif dengan rancangan potong lintang dilakukan di poliklinik anak Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Kriteria inklusi sampel penelitian yaitu anak berusia 1 bulan sampai 18 tahun yang telah diketahui menderita penyakit jantung bawaan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisis, röntgen toraks, elektrokardiografi, ekokardiografi, dan orangtua menyetujui anaknya diikutsertakan dalam penelitian. Penderita PJB dengan kondisi yang menyebabkan peningkatan stres oksidatif seperti obesitas, lahir prematur, infeksi akut maupun kronik, serta sindrom kongenital dieksklusikan dari penelitian ini. Gizi kurang dan anemia dimasukkan ke dalam faktor perancu penelitian. Penderita selanjutnya dikelompokkan menjadi dua, yaitu kelompok PJB sianotik dan nonsianotik berdasarkan manifestasi klinisnya. Berdasarkan tingkat kepercayaan 95% dengan power test 80% didapatkan besar sampel 20 untuk masingmasing kelompok. Pengambilan sampel dilakukan secara berturut-turut pada penderita yang datang ke Poli Kardiologi Anak Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Status gizi dinilai dengan berat menurut tinggi badan (BB/TB) berdasarkan kriteria World Health Organization (WHO) child growth standard 2007 untuk subjek berusia 5 tahun dan menggunakan indeks massa tubuh menurut usia (IMT/U) berdasarkan WHO reference 2007 untuk subjek berusia >5 tahun. 15 Anemia ditegakkan berdasarkan kadar hemoglobin menurut usia (kriteria WHO). 16 Hipertensi pulmonal ditegakkan berdasar kan pemeriksaan ekokardiografi. Malondialdehid serum diperiksa dengan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Perbedaan kadar MDA serum antara kedua kelompok dianalisis dengan uji t tidak berpasangan dengan nilai p<0,05 menunjukkan perbedaan bermakna. Analisis kovariat dilakukan untuk menyesuaikan pengaruh perancu terhadap perbedaan kadar MDA serum. Analisis data menggunakan program SPSS for windows versi Penelitian mulai dilaksanakan setelah mendapat persetujuan Komite Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/RS Dr. Hasan Sadikin Bandung. Hasil Karakteristik subjek penelitian meliputi usia anak dan jenis kelamin tidak berbeda pada kedua kelompok (Tabel 1). Diagnosis terbanyak ditemukan pada kelompok PJB sianotik adalah tetralogi Fallot (TF), sedangkan pada PJB nonsianotik adalah defek septum ventrikel (DSV) (Tabel 2). Stres oksidatif dapat meningkat pada keadaan gizi kurang, hipoksemia, anemia, serta hipertensi pulmonal. Perbedaan status gizi, saturasi oksigen, anemia, serta hipertensi pulmonal tertera pada Tabel 3. Tabel 1. Karakteristik umum subjek Karakteristik subjek PJB sianotik Usia (bulan) Rerata (SB) 58,6 (53,2) Median 35 Rentang Jenis kelamin Laki-laki Perempuan 13 7 Keterangan: n: jumlah sampel, SB: simpang baku PJB nonsianotik 55,6 (52,7) 59,

3 Tidak ditemukan perbedaan status gizi antara kedua kelompok (p=0,723). Status gizi sebagian besar penderita normal (Tabel 3). Sebenarnya, sebagian besar subjek telah mengalami gangguan pertumbuhan linier (stunted/severely stunted) yang menunjukkan ada gangguan gizi kronik. Saturasi oksigen rerata pada PJB sianotik lebih rendah dibandingkan dengan PJB nonsianotik dengan nilai p<0,001. Keadaan anemia lebih banyak ditemukan pada kelompok PJB nonsianotik (p=0,043). Hipertensi pulmonal hanya ditemukan pada kelompok PJB nonsianotik dengan nilai p<0,001 (Tabel 3). Kadar MDA serum rerata PJB sianotik lebih rendah dibandingkan dengan nonsianotik dengan nilai p=0,046. Perbedaan kadar MDA antara kedua kelompok menjadi tidak bermakna setelah dilakukan penyesuaian terhadap saturasi oksigen dan hipertensi pulmonal. Perbedaan kadar MDA serum setelah disesuaikan terhadap anemia semakin bermakna (p=0,023) (Tabel 4). Tabel 2. Diagnosis penyakit jantung bawaan Jenis kelainan Sianotik Nonsianotik Atresia pulmonal + DAP 1 0 Atresia trikuspid + DSV 1 0 DAP 0 5 DSA 0 4 DSV 0 11 Hypoplastic left heart syndrome 1 0 Stenosis pulmonal 2 0 Tetralogi Fallot 14 0 Transposition great arteries (TGA) +DSV 1 0 Keterangan: DAP: duktus arteriosus persisten, DSA: defek septum atrium, DSV: defek septum ventrikel Tabel 3. Perbedaan status gizi, anemia, saturasi oksigen, dan hipertensi pulmonal antara kelompok PJB sianotik dan nonsianotik Karakteristik subjek Status gizi Normal Malnutrisi PJB sianotik 14 6 PJB nonsianotik 15 5 p 0,723 * Saturasi oksigen (%) Rerata (SB) 83,75 (4,459) 96,65 (2,059) <0,001 ** Rentang Anemia Ya 1 7 0,043*** Tidak Hipertensi pulmonal Ya 0 9 <0,001*** Tidak Keterangan: *) Uji Chi-kuadrat; **) Uji Mann-Whitney; ***) Uji Eksak Fisher 49

4 Tabel 4. Perbedaan kadar malondialdehid serum antara kelompok PJB sianotik dan nonsianotik sebelum dan sesudah disesuaikan MDA (pmol/mg) PJB sianotik PJB nonsianotik p Sebelum disesuaikan Rerata (SB) 3,545 (0,658) 3,875 (0,547) IK 95% 3,238 3,853 3,620 4,131 0,046* Rentang 2,40 4,64 2,40 4,88 Setelah disesuaikan dengan saturasi oksigen Rerata (SE) 3,555 (0,230) 3,866 (0,230) 0,461** IK 95% 3,089 4,021 3,400 4,322 Setelah disesuaikan dengan anemia Rerata (SE) 3,474 (0,136) 3,947 (0,136) 0,023** IK 95% 3,199 3,750 3,671 4,222 Setelah disesuaikan dengan hipertensi pulmonal Rerata (SE) 3,619 (0,139) 3,802 (0,139) 0,378** IK 95% 3,338 3,900 3,521 4,083 Keterangan: *) nilai p dihitung berdasarkan uji t tidak berpasangan. **) dihitung berdasarkan analisis kovariat. IK: interval kepercayaan. SE: standard error Pembahasan Pada penelitian ini, didapatkan perbedaan kadar MDA serum antara kedua kelompok dengan hasil lebih ren dah pada kelompok penderita PJB sianotik dibandingkan dengan PJB nonsianotik. Hasil tersebut menunjukkan tingkat stres oksidatif penderita PJB sianotik lebih rendah dibandingkan dengan nonsianotik. Penelitian Pirinccioglu dkk 17 terhadap MDA serum, protein carbonyl (PCO), reaktan fase akut, serta proinflamasi seperti interleukin (IL)-6 dan tumor necrosis factor (TNF)-α pada 15 penderita PJB sianotik, 28 PJB nonsianotik, serta 30 kontrol yang sehat menunjukkan kadar MDA serum penderita PJB sianotik lebih tinggi dibandingkan dengan nonsianotik. Penelitian Ercan dkk 3 menunjukkan kapasitas antioksidatif total, status oksidan total, serta indeks stres oksidatif secara signifikan lebih tinggi pada penderita PJB sianotik dibandingkan dengan nonsianotik. Hal tersebut disebabkan pada PJB sianotik hipoksia yang terjadi lebih berat sehingga terjadi pemakaian cadangan kapasitas antioksidan dan meningkatkan suseptibilitas terhadap stres oksidatif. 3 Penelitian lain, Rokicki dkk, 18 terhadap 41 neonatus dan bayi berusia <1 tahun (14 subjek dengan pirau dari kiri ke kanan, 9 subjek dengan PJB sianotik, serta 18 subjek kontrol yang sehat) melalui pemeriksaan aktivitas enzim antioksidan dalam darah (superoksid dismutase, katalase, dan glutation peroksidase), kadar antioksidan berberat molekul rendah, serta kadar MDA didapatkan hasil peningkatan kadar MDA pada kelompok PJB sianotik. Setelah dilakukan analisis kovariat terhadap faktor yang dapat memengaruhi kadar MDA serum, perbedaan kadar MDA serum pada kedua kelompok semakin bermakna setelah disesuaikan dengan anemia. Malondialdehid serum rerata pada kelompok sianotik setelah disesuaikan semakin kecil karena pada kelompok PJB sianotik sebagian besar subjek justru mengalami hemokonsentrasi. Pada kelompok nonsianotik, MDA serum rerata semakin meningkat setelah disesuaikan dengan anemia karena 7 dari 20 subjek mengalami anemia. Keadaan anemia dapat meningkatkan stres oksidatif sehingga dianggap sebagai faktor perancu pada penelitian. Pada anemia defisiensi besi, terjadi penurunan kapasitas antioksidan total, sedangkan peroksida total justru meningkat, akibatnya terjadi peningkatan stres oksidatif. 19 Penderita PJB sianotik biasanya memiliki kadar hemoglobin normal, meskipun terjadi anemia dan ini menjadi distorsi keadaan sebenarnya karena alasan tersebut penentuan diagnosis anemia pada penderita PJB sianotik tidak dapat hanya menggunakan parameter hemoglobin. 20 Saturasi oksigen pada kelompok PJB sianotik lebih rendah dibandingkan dengan PJB nonsianotik. Sianosis merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan warna kebiruan pada kulit dan mukosa sebagai akibat kadar hemoglobin tereduksi >5 g/100 ml dalam 50

5 vena kutaneus. Keadaan tersebut disebabkan oleh penurunan saturasi darah arteri. Pada PJB nonsianotik yang disertai hipertensi pulmonal berat, juga dapat ditemukan sianosis. 11 Keadaan hipoksia menyebabkan peningkatan konsumsi antioksidan sehingga akan menyebabkan stres oksidatif. 3 Perbedaan kadar MDA serum kedua kelompok tidak berbeda setelah disesuaikan terhadap saturasi oksigen. Malondialdehid serum rerata kelompok PJB sianotik setelah disesuaikan dengan saturasi oksigen semakin meningkat karena hipoksemia yang terjadi lebih berat, ditandai dengan saturasi oksigen rerata jauh lebih rendah dibandingkan dengan PJB nonsianotik, sedangkan pada kelompok PJB nonsianotik MDA serum rerata lebih rendah setelah disesuaikan dengan saturasi oksigen. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan saturasi oksigen berpengaruh pada kadar MDA serum. Hipertensi pulmonal terjadi sebagai akibat peningkatan aliran darah ke paru-paru dan dapat ditemukan pada PJB sianotik dan PJB nonsianotik. 11 Pada penelitian ini, hipertensi pulmonal hanya ditemukan pada kelompok PJB nonsianotik karena hampir seluruh diagnosis subjek PJB sianotik tidak memungkinkan terjadi peningkatan aliran darah ke paru-paru. Perbedaan kadar MDA serum setelah disesuaikan dengan hipertensi pulmonal tidak bermakna. Perbedaan kadar MDA menjadi tidak bermakna karena pada kelompok PJB sianotik meskipun tidak didapatkan hipertensi pulmonal, hipoksemia yang terjadi jauh lebih berat sehingga terjadi peningkatan kadar MDA serum. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan stres oksidatif pada penderita PJB sianotik lebih tinggi dibandingkan dengan nonsianotik. Perbedaan hasil penelitian ini kemungkinan disebabkan penderita PJB nonsianotik yang datang ke RS Dr. Hasan Sadikin sebagian besar terdiagnosis pada usia anak lebih besar dan sebagian telah mengalami komplikasi akibat kelainan jantungnya. Hal tersebut berhubungan dengan minimnya sarana untuk deteksi dini PJB di sarana kesehatan, rendahnya tingkat pengetahuan tentang PJB, sebagian besar penderita berstatus sosioekonomi rendah sehingga penderita dibawa berobat setelah penyakit lanjut. Anemia menyebabkan kadar MDA serum pada kelompok PJB nonsianotik semakin meningkat. Keterbatasan penelitian ini, yaitu tidak dilakukan klasifikasi berat ringannya penyakit sehingga tidak dapat menilai pengaruh berat penyakit pada MDA, tidak menilai kadar MDA pada anak normal sebagai pembanding, serta tidak dilakukan analisis faktor eksogen yang memengaruhi kadar MDA serum, sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut dengan jumlah sampel yang lebih besar. Kesimpulan Kadar MDA serum pada penderita PJB sianotik lebih rendah dibandingkan dengan PJB nonsianotik. Anemia dan hipoksemia meningkatkan kadar MDA serum. Daftar pustaka 1. Dolk H, Loane M, Garne E. For the European Surveillance of Congenital Anomalies (EOROCAT) Working Group. Congenital heart defects in Europe: prevalence and perinatal mortality, 2000 to Circulation 2011;123: Van der Linde D, Konings EEM, Slager MA, Witsenburg M, Helbing WA, Takkenberg JJM. Birth prevalence of congenital heart disease worldwide: a systemic review and meta-analysis. J Am College Cardiol 2011;8: Ercan S, Cakmak A, Kosecik M, Erel O. The oxidative state of children with cyanotic and acyanotic congenital heart disease. Anadolu Kardiyol Derg 2009;9: Preiser JC. Oxidative stress. J Parenteral Enteral Nutr 2012;36: Rio DD, Stewart AJ, Pellegini N. A review of recent studies on malondialdehyde as toxic molecule and biological marker of oxidative stress. Nutr Metab Cardio Dis 2005;15: Melarcode P, Krishnamoorthy, Prabu N, Mohan DM, Sabitha N, Janakarajan VN. Role of oxidative stress and antioxidants in children with IDA. Int J Collaborative Res Intern Med Public Health 2010;2: Rogers SC, Said A, Corcuera D, McLaughlin D, Kell P, Doctor A. Hypoxia limits antioxidant capacity in red blood cells by altering glycolytic pathway dominance. Faseb J 2009;23: Bosnak M, Kelekçi S, Yel S, Koçyigit Y, Sen V, Ece A. Oxidative stress in marasmic children:relationships with leptin. Eur J Gen Med 2010;7: Mohn A, Catino M, Capanna R, Giannini C, Marcovecchio M, Chiarelli F. Increased oxidative stress in prepubertal peverely obese children: effect of a dietary 51

6 restriction-weight loss program. J Clin Endocrinol Metab 2005;90: Bernstein D. Congenital heart disease. Dalam: Kliegman RM, Behrman RE, Jenson HB, Stanton BF, penyunting. Nelson textbook of pediatrics. Edisi ke-18. Philadelphia: Elsevier; h Park MK, Troxler RG. Pediatric cardiology for practitioners. Edisi ke-4. New York: Mosby; Silberbach M, Hannon D. Presentation of congenital heart disease in the neonate and young infant. Pediatr Rev 2007;28: Grobe AC, Benavidez E, Oishi P, Azakie A, Fineman JR, Black SM. Increased oxidative stress in lambs with increased pulmonary blood flow and pulmonary hypertension: role of NADPH oxidase and endothelial NO synthase. Am J Physiol Lung Cell Mol Physiol 2006;290: Van Loon RLE, Roofthooft MTR, Berger RMF. Pulmonary arterial hypertension in children with congenital heart disease. PVRI Rev 2009;1: Grover Z, Ee L. Protein energy malnutrition. Pediatr Clin N Am 2009;56: WHO. Worldwide prevalence of anemia Geneva:WHO; Pirinccioglu AG, Alyan O, Kizil G, Kangin M, Beyazit N. Evaluation of oxidative stress in children with congenital heart defects. Pediatr Intern 2012;54: Rokicki W, Strzalkowski A, Klapcinska B, Danch A, Sobczak A. Antioxidant status in newborns and infants suffering from congenital heart defects. Wiad Lek 2003;56: Aslan M, Horoz M, Çelik H. Evaluation of oxidative status in iron deficiency anemia through total antioxidant capacity measured using an automated method. Turk J Hematol 2011;28: Amoozgar MS, Besharati A, Cheriki S. Undiagnosed anemia in pediatric patients with congenital heart diseases. Iran Cardiovasc Res J 2011;5:

BAB 1 PENDAHULUAN. pada pola penyakit. Beberapa penyakit non-infeksi, termasuk penyakit

BAB 1 PENDAHULUAN. pada pola penyakit. Beberapa penyakit non-infeksi, termasuk penyakit BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini angka kejadian beberapa penyakit non infeksi semakin meningkat, baik di negara maju maupun di negara berkembang. Perubahan gaya hidup dan perubahan tingkat

Lebih terperinci

Defek septum ventrikel (DSV) merupakan. Status gizi

Defek septum ventrikel (DSV) merupakan. Status gizi Artikel Asli Status gizi Sri Endah Rahayuningsih Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, RS Hasan Sadikin, Bandung Latar belakang. Defek septum ventrikel (DSV) adalah terdapatnya

Lebih terperinci

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Penyakit jantung bawaan (PJB) adalah suatu bentuk kelainan kardiovaskular

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Penyakit jantung bawaan (PJB) adalah suatu bentuk kelainan kardiovaskular BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Penyakit Jantung Bawaan Penyakit jantung bawaan (PJB) adalah suatu bentuk kelainan kardiovaskular yang dibawa sejak lahir dan terjadi karena kelainan perkembangan

Lebih terperinci

GAMBARAN FAKTOR RISIKO PENYAKIT JANTUNG BAWAAN PADA ANAK DI RSUP H. ADAM MALIK MEDAN. Oleh : BETTY ARNITASARI NABABAN

GAMBARAN FAKTOR RISIKO PENYAKIT JANTUNG BAWAAN PADA ANAK DI RSUP H. ADAM MALIK MEDAN. Oleh : BETTY ARNITASARI NABABAN GAMBARAN FAKTOR RISIKO PENYAKIT JANTUNG BAWAAN PADA ANAK DI RSUP H. ADAM MALIK MEDAN Oleh : BETTY ARNITASARI NABABAN 110100291 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2014 Gambaran Faktor

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. struktur jantung atau fungsi sirkulasi jantung yang dibawa dari lahir. 1

BAB I PENDAHULUAN. struktur jantung atau fungsi sirkulasi jantung yang dibawa dari lahir. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit jantung bawaan ( PJB ) adalah penyakit dengan kelainan pada struktur jantung atau fungsi sirkulasi jantung yang dibawa dari lahir. 1 PJB merupakan kelainan

Lebih terperinci

HASIL PENELITIAN PROFIL PASIEN PENYAKIT JANTUNG BAWAAN PADA ANAK DI RSUP HAJI ADAM MALIK TAHUN Oleh: ANGGIA ANGGRAENI

HASIL PENELITIAN PROFIL PASIEN PENYAKIT JANTUNG BAWAAN PADA ANAK DI RSUP HAJI ADAM MALIK TAHUN Oleh: ANGGIA ANGGRAENI HASIL PENELITIAN PROFIL PASIEN PENYAKIT JANTUNG BAWAAN PADA ANAK DI RSUP HAJI ADAM MALIK TAHUN 2012-2013 Oleh: ANGGIA ANGGRAENI 110100290 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2014 HASIL

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Sekitar 1% dari bayi lahir menderita kelainan jantung bawaan. Sebagian bayi lahir tanpa gejala dan gejala baru tampak pada masa kanak- kan

PENDAHULUAN Sekitar 1% dari bayi lahir menderita kelainan jantung bawaan. Sebagian bayi lahir tanpa gejala dan gejala baru tampak pada masa kanak- kan BAYI DENGAN RESIKO TINGGI: KELAINAN JANTUNG KONGENITAL OLEH. FARIDA LINDA SARI SIREGAR, M.Kep PENDAHULUAN Sekitar 1% dari bayi lahir menderita kelainan jantung bawaan. Sebagian bayi lahir tanpa gejala

Lebih terperinci

BAYI DENGAN RESIKO TINGGI: KELAINAN JANTUNG KONGENITAL. OLEH. FARIDA LINDA SARI SIREGAR, M.Kep

BAYI DENGAN RESIKO TINGGI: KELAINAN JANTUNG KONGENITAL. OLEH. FARIDA LINDA SARI SIREGAR, M.Kep BAYI DENGAN RESIKO TINGGI: KELAINAN JANTUNG KONGENITAL OLEH. FARIDA LINDA SARI SIREGAR, M.Kep PENDAHULUAN Sekitar 1% dari bayi lahir menderita kelainan jantung bawaan. Sebagian bayi lahir tanpa gejala

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. individu. Pemberian antibiotik seperti penisilin pada streptococcal faringitis turut

BAB I PENDAHULUAN. individu. Pemberian antibiotik seperti penisilin pada streptococcal faringitis turut BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Stenosis mitral adalah kondisi dimana terjadi hambatan aliran darah dari atrium kiri ke ventrikel kiri pada fase diastolik akibat penyempitan katup mitral. Stenosis

Lebih terperinci

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Penyakit jantung bawaan (PJB) adalah penyakit kardiovaskular yang terjadi

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Penyakit jantung bawaan (PJB) adalah penyakit kardiovaskular yang terjadi BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penyakit Jantung Bawaan Penyakit jantung bawaan (PJB) adalah penyakit kardiovaskular yang terjadi sejak lahir, dimana terjadi anomali perkembangan struktur kardiovaskular seperti

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Menurut American Heart Association (2015), Penyakit Jantung Bawaan

BAB I PENDAHULUAN. Menurut American Heart Association (2015), Penyakit Jantung Bawaan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Menurut American Heart Association (2015), Penyakit Jantung Bawaan (PJB) adalah penyakit dengan kelainan pada struktur jantung atau fungsi sirkulasi jantung

Lebih terperinci

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Penyakit Jantung Bawaan adalah kelainan struktural jantung atau pembuluh

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Penyakit Jantung Bawaan adalah kelainan struktural jantung atau pembuluh BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penyakit Jantung Bawaan Penyakit Jantung Bawaan adalah kelainan struktural jantung atau pembuluh darah besar intratorakal yang terjadi pada saat pembentukan sistem kardiovaskular

Lebih terperinci

Transposisi arteri besar (TAB) merupakan

Transposisi arteri besar (TAB) merupakan Artikel Asli Transposisi Arteri Besar: Anatomi, Klinik, Kelainan Penyerta, dan Tipe Sri Endah Rahayuningsih Departemen Ilmu Kesehatan Anak RS Dr. Hasan Sadikin Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. banyak ditemukan dengan insiden antara 8-10 kejadian setiap 1000 kelahiran

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. banyak ditemukan dengan insiden antara 8-10 kejadian setiap 1000 kelahiran BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Penyakit jantung bawaan (PJB) adalah suatu kelainan bawaan yang cukup banyak ditemukan dengan insiden antara 8-10 kejadian setiap 1000 kelahiran hidup. Angka

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. lebih dini pada usia bayi, atau bahkan saat masa neonatus, sedangkan

BAB 1 PENDAHULUAN. lebih dini pada usia bayi, atau bahkan saat masa neonatus, sedangkan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit Jantung Bawaan (PJB) adalah kelainan struktur dan fungsi pada jantung yang muncul pada saat kelahiran. (1) Di berbagai negara maju sebagian besar pasien PJB

Lebih terperinci

DAFTAR ISI II.4.2. Mekanisme perbaikan HRQoL pasien HAP dengan terapi sildenafil... II.4.3. Interaksi obat dan efek samping sildenafil...

DAFTAR ISI II.4.2. Mekanisme perbaikan HRQoL pasien HAP dengan terapi sildenafil... II.4.3. Interaksi obat dan efek samping sildenafil... DAFTAR ISI Halaman Judul... Halaman Pengesahan... Pernyataan... Kata Pengantar... Daftar Isi... Daftar Tabel... Daftar Gambar... Daftar Singkatan... Intisari... Abstract... i ii iii iv viii xi xii xiii

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. berlebihnya asupan nutrisi dibandingkan dengan kebutuhan tubuh sehingga

BAB 1 PENDAHULUAN. berlebihnya asupan nutrisi dibandingkan dengan kebutuhan tubuh sehingga BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Obesitas adalah kondisi berlebihnya berat badan akibat banyaknya lemak pada tubuh, yang umumnya ditimbun dalam jaringan subkutan (bawah kulit), di sekitar organ tubuh,

Lebih terperinci

Gambar 1. Atresia Pulmonal Sumber : (http://www.mayoclinic.org/images/pulmonary-valve-atresia-lg-enlg.jpg)

Gambar 1. Atresia Pulmonal Sumber : (http://www.mayoclinic.org/images/pulmonary-valve-atresia-lg-enlg.jpg) DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK FKUP RSHS BANDUNG TUGAS PENGAYAAN Oleh : Asri Rachmawati Pembimbing : dr. H. Armijn Firman, Sp.A Hari/Tanggal : September 2013 ATRESIA PULMONAL PENDAHULUAN Atresia pulmonal

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sirkulasi Janin dan Perubahan Setelah Lahir Tali pusat berisi satu vena dan dua arteri. Vena ini menyalurkan oksigen dan makanan dari plasenta ke janin. Sebaliknya, kedua arteri

Lebih terperinci

Pengamatan menunjukkan bahwa pasien PJB

Pengamatan menunjukkan bahwa pasien PJB Sari Pediatri, Sari Vol. Pediatri, 8, No. Vol. 2, September 8, No. 2, 2006: September 154-2006 158 Beberapa Faktor yang Berhubungan dengan Episode Infeksi Saluran Pernapasan Akut pada Anak dengan Penyakit

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. disebabkan adanya penyempitan pada katup mitral (Rilantono, 2012). Kelainan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. disebabkan adanya penyempitan pada katup mitral (Rilantono, 2012). Kelainan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Stenosis mitral adalah penyakit kelainan katup jantung yang menyebabkan terlambatnya aliran darah dari atrium kiri menuju ventrikel kiri pada fase diastolik disebabkan

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Berdasarkan patogenesisnya, Effendi (2006) dalam Neonatologi IDAI (2008) membedakan kelainan kongenital sebagai berikut:

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Berdasarkan patogenesisnya, Effendi (2006) dalam Neonatologi IDAI (2008) membedakan kelainan kongenital sebagai berikut: BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kelainan Bawaan 2.1.1. Definisi Kelainan kongenital atau bawaan adalah kelainan yang sudah ada sejak lahir yang dapat disebabkan oleh faktor genetik maupun non genetik. Ilmu

Lebih terperinci

Nurcholid Umam Kurniawan

Nurcholid Umam Kurniawan Nurcholid Umam Kurniawan CHANGES IN CIRCULATIONAFTER BIRTH Shift of blood flow for gasexchange from placenta to the lungs 1.Interruption of the umbilical cord Increase of SVR Closure of ductusvenosus

Lebih terperinci

What should be evaluated by echocardiography in patients after Tetralogy Fallotsurgery

What should be evaluated by echocardiography in patients after Tetralogy Fallotsurgery What should be evaluated by echocardiography in patients after Tetralogy Fallotsurgery Sri EndahRahayuningsih MD, PhD Pediatric Department HasanSadikin General Hospital Faculty of Medicine Padjadjaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Indonesia memiliki Angka Kematian Ibu (AKI) yang. tertinggi bila dibandingkan dengan negara-negara ASEAN

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Indonesia memiliki Angka Kematian Ibu (AKI) yang. tertinggi bila dibandingkan dengan negara-negara ASEAN 1 BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Indonesia memiliki Angka Kematian Ibu (AKI) yang tertinggi bila dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia

Lebih terperinci

ABSTRAK... 1 ABSTRACT

ABSTRAK... 1 ABSTRACT DAFTAR ISI ABSTRAK... 1 ABSTRACT... ii KATA PENGANTAR... iii DAFTAR ISI... v DAFTAR TABEL... vii DAFTAR GAMBAR... viii DAFTAR SINGKATAN... ix DAFTAR LAMPIRAN... xi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. inklusi penelitian. Subyek penelitian ini terdiri dari kelompok kasus dan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. inklusi penelitian. Subyek penelitian ini terdiri dari kelompok kasus dan BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Penelitian dilaksanakan pada 36 pasien yang memenuhi kriteria inklusi penelitian. Subyek penelitian ini terdiri dari kelompok kasus dan kelompok

Lebih terperinci

Weight Gain after Transcatheter Patent Ductus Arteriosus Closure

Weight Gain after Transcatheter Patent Ductus Arteriosus Closure Pertambahan Berat Badan Pasca Penutupan Patent Duktus Arteriosus secara Transkateter Dewi Hartaty, Noormanto, Ekawaty Lutfia Haksari Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada/RSUP

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berfungsi penuh sejak janin berada dalam rahim(kira-kira pada. gestasi minggu ke-8). Tanpa adanya jantung yang berdenyut dan

BAB I PENDAHULUAN. berfungsi penuh sejak janin berada dalam rahim(kira-kira pada. gestasi minggu ke-8). Tanpa adanya jantung yang berdenyut dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sistem kardiovaskular adalah sistem organ pertama yang berfungsi penuh sejak janin berada dalam rahim(kira-kira pada gestasi minggu ke-8). Tanpa adanya jantung yang

Lebih terperinci

Dr. Prastowo Sidi Pramono, Sp.A

Dr. Prastowo Sidi Pramono, Sp.A Dr. Prastowo Sidi Pramono, Sp.A PENYAKIT JANTUNG BAWAAN Penyakit jantung yang dibawa dari lahir kelainan pada struktur jantung atau fungsi sirkulasi jantung yang dibawa dari lahir akibat gangguan atau

Lebih terperinci

Tatalaksana Penyakit Jantung Bawaan

Tatalaksana Penyakit Jantung Bawaan Sari Petunjuk Pediatri, Vol. Praktis 2, No. 3, Desember 2000 Sari Pediatri, Vol. 2, No. 3, Desember 2000: 155-162 Tatalaksana Penyakit Jantung Bawaan Mulyadi M. Djer, Bambang Madiyono Penyakit jantung

Lebih terperinci

BAB 4 METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah Bagian Ilmu Kesehatan Anak

BAB 4 METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah Bagian Ilmu Kesehatan Anak BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1. Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah Bagian Ilmu Kesehatan Anak khususnya penyakit Infeksi dan Penyakit Tropik dan Bagian Mikrobiologi Klinik RSUP dr.kariadi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Tempat penelitian ini dilakukan adalah RSUP Dr. Kariadi Semarang.

BAB III METODE PENELITIAN. Tempat penelitian ini dilakukan adalah RSUP Dr. Kariadi Semarang. 18 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Ruang Lingkup Penelitian respirologi. Ruang lingkup penelitian ini adalah ilmu kesehatan anak, sub ilmu 3.2 Tempat dan Waktu Penelitian Tempat penelitian ini dilakukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jantung adalah organ yang sangat vital bagi manusia, jantung merupakan pompa muskular yang menggerakan darah untuk membawa nutrien dan gas ke semua sel, jaringan, organ

Lebih terperinci

Penyakit jantung bawaan (PJB) merupakan

Penyakit jantung bawaan (PJB) merupakan Artikel Asli Profil Penyakit Jantung Bawaan di Instalasi Rawat Inap Anak RSUP Dr.M.Djamil Padang Januari 008 Februari 011 Didik Hariyanto Bagian Ilmu Kesahatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Andalas/RSUP

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian adalah ilmu penyakit saraf.

BAB III METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian adalah ilmu penyakit saraf. 35 BAB III METODE PENELITIAN III.1. Ruang lingkup penelitian Ruang lingkup penelitian adalah ilmu penyakit saraf. III.2. Jenis dan rancangan penelitian Jenis penelitian ini merupakan penelitian observasional

Lebih terperinci

BAB III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan uji klinis dengan metode Quasi Experimental dan

BAB III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan uji klinis dengan metode Quasi Experimental dan BAB III. METODE PENELITIAN A. RANCANGAN PENELITIAN Penelitian ini merupakan uji klinis dengan metode Quasi Experimental dan menggunakan Pretest and posttest design pada kelompok intervensi dan kontrol.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pasien dewasa dengan penyakit jantung bawaan menunjukkan insidensi

BAB I PENDAHULUAN. Pasien dewasa dengan penyakit jantung bawaan menunjukkan insidensi 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pasien dewasa dengan penyakit jantung bawaan menunjukkan insidensi yang meningkat. Secara umum sekitar 5 10% dari pasien tersebut berkembang menjadi Hipertensi Arteri

Lebih terperinci

PENYAKIT JANTUNG BAWAAN (PJB) MERUPAKAN

PENYAKIT JANTUNG BAWAAN (PJB) MERUPAKAN PENYAKIT JANTUNG BAWAAN (PJB) MERUPAKAN Artikel Asli Profil Penyakit Jantung Bawaan di Instalasi Rawat Inap Anak RSUP Dr.M.Djamil Padang Januari 2008 Februari 2011 Didik Hariyanto Bagian Ilmu Kesahatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Penyebab stenosis mitral paling sering adalah demam rematik, kemudian dapat

BAB I PENDAHULUAN. Penyebab stenosis mitral paling sering adalah demam rematik, kemudian dapat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Stenosis mitral adalah kondisi dimana terjadi hambatan aliran darah dari atrium kiri ke ventrikel kiri pada fase diastolik akibat penyempitan katup mitral. 1 Penyebab

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Indonesia

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Indonesia 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Telah diketahui bahwa ketinggian menimbulkan stress pada berbagai sistem organ manusia. Tekanan atmosfer menurun pada ketinggian, sehingga terjadi penurunan tekanan

Lebih terperinci

Faktor-faktor yang Berkorelasi dengan Status Nutrisi pada Pasien Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD)

Faktor-faktor yang Berkorelasi dengan Status Nutrisi pada Pasien Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) LAPORAN PENELITIAN Faktor-faktor yang Berkorelasi dengan Status Nutrisi pada Pasien Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) Mira Yulianti 1, Suhardjono 2, Triyani Kresnawan 3, Kuntjoro Harimurti

Lebih terperinci

Tetralogi Fallot (TF) merupakan penyakit

Tetralogi Fallot (TF) merupakan penyakit Artikel Asli Korelasi Kadar Hemoglobin dengan Kadar Vascular Endothelial Growth Factor Plasma pada Tetralogi Fallot Vidi Permatagalih, Sri Endah Rahayuningsih, Nanan Sekarwana Departemen Ilmu Kesehatan

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUN PUSTAKA BAB 2 TINJAUN PUSTAKA 2.1 Definisi Penyakit Jantung Bawaan (PJB) adalah penyakit dengan kelainan pada struktur jantung atau fungsi sirkulasi jantung yang dibawa dari lahir yang terjadi akibat adanya gangguan

Lebih terperinci

Nurcholid Umam Kurniawan

Nurcholid Umam Kurniawan Nurcholid Umam Kurniawan CHANGES IN CIRCULATIONAFTER BIRTH Shift of blood flow for gasexchange from placenta to the lungs 1.Interruption of the umbilical cord Increase of SVR Closure of ductusvenosus

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Abortus adalah berakhirnya kehamilan sebelum usia 20 minggu kehamilan atau berat janin kurang dari 500 gram (Cunningham et al., 2005). Abortus adalah komplikasi umum

Lebih terperinci

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Anemia adalah berkurangnya volume sel darah merah atau menurunnya

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Anemia adalah berkurangnya volume sel darah merah atau menurunnya BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Anemia Anemia adalah berkurangnya volume sel darah merah atau menurunnya konsentrasi hemoglobin di bawah nilai normal sesuai usia dan jenis kelamin. 8,9 Sedangkan literatur

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. serum terhadap kejadian acute coronary syndrome (ACS) telah dilakukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. serum terhadap kejadian acute coronary syndrome (ACS) telah dilakukan BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Gambaran Hasil Penelitian Pelaksanaan penelitian tentang hubungan antara kadar asam urat serum terhadap kejadian acute coronary syndrome (ACS) telah dilakukan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Penelitian dilakukan di ruang perawatan anak RSUD Dr Moewardi Surakarta. Waktu penelitian dilakukan pada bulan Maret- September 2015 dengan jumlah

Lebih terperinci

Hubungan penyakit jantung bawaan pada anak dengan status pendidikan orang tua

Hubungan penyakit jantung bawaan pada anak dengan status pendidikan orang tua Jurnal e-clinic (ecl), Volume 4, Nomor 2, Juli-Desember 2016 Hubungan penyakit jantung bawaan pada anak dengan status pendidikan orang tua 1 Kimberly Munaiseche 2 Rocky Wilar 2 Erling D. Kaunang 1 Kandidat

Lebih terperinci

Perbedaan Kecepatan Kesembuhan Anak Gizi Buruk yang Diberi Modisco Susu Formula dan Modisco Susu Formula Elemental Di RSU dr.

Perbedaan Kecepatan Kesembuhan Anak Gizi Buruk yang Diberi Modisco Susu Formula dan Modisco Susu Formula Elemental Di RSU dr. Sari Pediatri, Sari Vol. Pediatri, 8, No. Vol. 3, Desember 8, No. 3, 2006: Desember 226-2006 230 Perbedaan Kecepatan Kesembuhan Anak Gizi Buruk yang Diberi Modisco Susu Formula dan Modisco Susu Formula

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN 24 BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Fisiologi dan ilmu penyakit dalam 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian RW X, Kelurahan Padangsari, Kecamatan Banyumanik, Semarang pada bulan Januari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang Penelitian. Anemia defisiensi besi (ADB) masih menjadi. permasalahan kesehatan saat ini dan merupakan jenis

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang Penelitian. Anemia defisiensi besi (ADB) masih menjadi. permasalahan kesehatan saat ini dan merupakan jenis 1 BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penelitian Anemia defisiensi besi (ADB) masih menjadi permasalahan kesehatan saat ini dan merupakan jenis malnutrisi dengan prevalensi tertinggi di dunia sehingga

Lebih terperinci

ABSTRAK PERBANDINGAN STATUS ANTIOKSIDAN TOTAL ANTARA ABORTUS SPONTAN DAN KEHAMILAN NORMAL. Alfonsus Zeus Suryawan, 2016.

ABSTRAK PERBANDINGAN STATUS ANTIOKSIDAN TOTAL ANTARA ABORTUS SPONTAN DAN KEHAMILAN NORMAL. Alfonsus Zeus Suryawan, 2016. ABSTRAK PERBANDINGAN STATUS ANTIOKSIDAN TOTAL ANTARA ABORTUS SPONTAN DAN KEHAMILAN NORMAL Alfonsus Zeus Suryawan, 2016. Pembimbing 1 : Dr. Aloysius Suryawan, dr.,sp.og-k Pembimbing 2 : Dr. Teresa Liliana

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Subyek Penelitian Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan penurunan kadar HsCRP dan tekanan darah antara pemberian

Lebih terperinci

1 Universitas Kristen Maranatha

1 Universitas Kristen Maranatha BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Thalassemia adalah penyakit kelainan darah yang diturunkan secara herediter. Centre of Disease Control (CDC) melaporkan bahwa thalassemia sering dijumpai pada populasi

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA STATUS ANEMIA IBU HAMIL TRIMESTER III DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS HALMAHERA, SEMARANG

HUBUNGAN ANTARA STATUS ANEMIA IBU HAMIL TRIMESTER III DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS HALMAHERA, SEMARANG HUBUNGAN ANTARA STATUS ANEMIA IBU HAMIL TRIMESTER III DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS HALMAHERA, SEMARANG Hillary Meita Audrey 1, Aryu Candra 2 1 Mahasiswa Program Pendidikan

Lebih terperinci

Hubungan Karakteristik Pasien Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Kejadian Dengue Syok Sindrom (DSS) pada Anak

Hubungan Karakteristik Pasien Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Kejadian Dengue Syok Sindrom (DSS) pada Anak Prosiding Pendidikan Dokter ISSN: 2460-657X Hubungan Karakteristik Pasien Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Kejadian Dengue Sindrom (DSS) pada Anak 1 Ryanka R, 2 Trusda SAD, 3 Yuniarti L 1 Pedidikan Dokter,

Lebih terperinci

Baku rujukan pertumbuhan merupakan alat

Baku rujukan pertumbuhan merupakan alat Artikel Asli Perbandingan Baku Rujukan World Health Organization Child Growth Standards (WCGS) dan National Center For Health Statistics (NCHS)/WHO: Implikasinya pada Diagnosis Tuberkulosis Anak Balita

Lebih terperinci

Hubungan Usia Ibu dan Paritas dengan Tingkat Kejadian BBLR di Wilayah Kerja Puskesmas Plered, Kecamatan Plered Kabupaten Purwakarta Tahun 2014

Hubungan Usia Ibu dan Paritas dengan Tingkat Kejadian BBLR di Wilayah Kerja Puskesmas Plered, Kecamatan Plered Kabupaten Purwakarta Tahun 2014 Prosiding Pendidikan Dokter ISSN: 2460-657X Hubungan Usia Ibu dan Paritas dengan Tingkat Kejadian BBLR di Wilayah Kerja Puskesmas Plered, Kecamatan Plered Kabupaten Purwakarta Tahun 2014 1 Rangga S Pamungkas,

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah di bidang Ilmu Kardiologi dan

BAB IV METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah di bidang Ilmu Kardiologi dan BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang lingkup penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah di bidang Ilmu Kardiologi dan Kedokteran Vaskuler. 4.2 Tempat dan waktu penelitian Penelitian dilakukan di Instalasi

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan April 2016 di Instalasi Rawat Jalan Poliklinik Penyakit Dalam RSUD Dr. Moewardi Surakarta. B. Jenis Penelitian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sehubungan dengan besarnya jumlah penderita kehilangan darah akibat

BAB I PENDAHULUAN. Sehubungan dengan besarnya jumlah penderita kehilangan darah akibat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sehubungan dengan besarnya jumlah penderita kehilangan darah akibat trauma, operasi, syok, dan tidak berfungsinya organ pembentuk sel darah merah maka tranfusi darah

Lebih terperinci

Hubungan Albumin Serum Awal Perawatan dengan Perbaikan Klinis Infeksi Ulkus Kaki Diabetik di Rumah Sakit di Jakarta

Hubungan Albumin Serum Awal Perawatan dengan Perbaikan Klinis Infeksi Ulkus Kaki Diabetik di Rumah Sakit di Jakarta LAPORAN PENELITIAN Hubungan Albumin Serum Awal Perawatan dengan Perbaikan Klinis Infeksi Ulkus Kaki Diabetik di Rumah Sakit di Jakarta Hendra Dwi Kurniawan 1, Em Yunir 2, Pringgodigdo Nugroho 3 1 Departemen

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. kemajuan kesehatan suatu negara. Menurunkan angka kematian bayi dari 34

BAB 1 PENDAHULUAN. kemajuan kesehatan suatu negara. Menurunkan angka kematian bayi dari 34 1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BBLR adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2.500 gram dan merupakan penyumbang tertinggi angka kematian perinatal dan neonatal. Kematian neonatus

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dunia dan menyebabkan angka kematian yang tinggi. Penyakit ini

BAB I PENDAHULUAN. dunia dan menyebabkan angka kematian yang tinggi. Penyakit ini BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit tertua yang menginfeksi manusia. Penyakit ini menjadi masalah kesehatan di seluruh dunia dan menyebabkan angka kematian

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN. Ruang lingkup keilmuan penelitian ini mencakup bidang Ilmu Patologi

BAB 3 METODE PENELITIAN. Ruang lingkup keilmuan penelitian ini mencakup bidang Ilmu Patologi BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup keilmuan penelitian ini mencakup bidang Ilmu Patologi Klinik, dan Ilmu Gizi Klinik. 3.2 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan

Lebih terperinci

MODUL GLOMERULONEFRITIS AKUT

MODUL GLOMERULONEFRITIS AKUT TEAM BASED LEARNING MODUL GLOMERULONEFRITIS AKUT Diberikan pada Mahasiswa Semester IV Fakultas Kedokteran Unhas DISUSUN OLEH : Prof. Dr. dr. Syarifuddin Rauf, SpA(K) Prof. dr. Husein Albar, SpA(K) dr.jusli

Lebih terperinci

DAFTAR PUSTAKA. Abdulla, R., Blew, G. A. & Holterman, M. J., Pediatric Cardiology. New York: Springer Verlag.

DAFTAR PUSTAKA. Abdulla, R., Blew, G. A. & Holterman, M. J., Pediatric Cardiology. New York: Springer Verlag. 41 DAFTAR PUSTAKA Abdulla, R., Blew, G. A. & Holterman, M. J., 2004. Pediatric Cardiology. New York: Springer Verlag. Anon., 2007. Penyakit Jantung Kongenital. In: Buku Ajar Pediatri Rudolph. 20 ed. Jakarta:

Lebih terperinci

Hubungan Kadar Gula Darah dengan Glukosuria pada Pasien Diabetes Mellitus di RSUD Al-Ihsan Periode Januari Desember 2014

Hubungan Kadar Gula Darah dengan Glukosuria pada Pasien Diabetes Mellitus di RSUD Al-Ihsan Periode Januari Desember 2014 Prosiding Pendidikan Dokter ISSN: 2460-657X Hubungan Kadar Gula Darah dengan Glukosuria pada Pasien Diabetes Mellitus di RSUD Al-Ihsan Periode Januari Desember 2014 1 Arbi Rahmatullah, 2 Ieva B. Akbar,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kebiasaan merokok dapat menyebabkan timbulnya berbagai macam

BAB I PENDAHULUAN. Kebiasaan merokok dapat menyebabkan timbulnya berbagai macam BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kebiasaan merokok dapat menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit seperti kanker paru dan tumor ganas lainnya, penyakit paru obstruksi kronis (PPOK), dan kardiovaskular.

Lebih terperinci

DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA PENYAKIT JANTUNG BAWAAN

DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA PENYAKIT JANTUNG BAWAAN DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA PENYAKIT JANTUNG BAWAAN Dr. Poppy S. Roebiono, SpJP. Bagian Kardiologi dan Kedokteran Vaskuler FKUI Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, Jakarta Penyakit jantung bawaan (PJB)

Lebih terperinci

RENCANA PROGRAM KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS) Mata Kuliah: Ilmu Kesehatan Anak (IKA)

RENCANA PROGRAM KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS) Mata Kuliah: Ilmu Kesehatan Anak (IKA) RENCANA PROGRAM KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS) Mata Kuliah: Ilmu Kesehatan Anak (IKA) FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS GADJAH MADA 2003 1. Nama Matakuliah : Ilmu Kesehatan Anak 2. Kode/SKS : 4 SKS

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Ilmu Kesehatan Anak, imunologi, dan mikrobiologi RSUP dr.kariadi Semarang

BAB IV METODE PENELITIAN. Ilmu Kesehatan Anak, imunologi, dan mikrobiologi RSUP dr.kariadi Semarang BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Ilmu Kesehatan Anak, imunologi, dan mikrobiologi RSUP dr.kariadi Semarang 4.2 Rancangan, Jenis dan Desain penelitian Penelitian menggunakan rancangan/metoda

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Jantung merupakan suatu organ yang berfungsi memompa darah ke

BAB 1 PENDAHULUAN. Jantung merupakan suatu organ yang berfungsi memompa darah ke BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Jantung merupakan suatu organ yang berfungsi memompa darah ke seluruh jaringan tubuh serta menarik darah kembali ke jantung. Ketidakmampuan jantung melakukan fungsinya

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian observasional analitik dan dengan pendekatan cross sectional. Sakit Umum Daerah Dr.Moewardi Kota Surakarta.

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian observasional analitik dan dengan pendekatan cross sectional. Sakit Umum Daerah Dr.Moewardi Kota Surakarta. BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini bersifat non-eksperimental dengan rancangan penelitian observasional analitik dan dengan pendekatan cross sectional. B. Lokasi Penelitian

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang lingkup penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah Ilmu Kesehatan Anak khususnya bidang kardiologi dan bidang nutrisi. 4.2 Tempat dan waktu penelitian Penelitian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (BBLR) adalah salah satu dari penyebab utama kematian pada neonates

BAB I PENDAHULUAN. (BBLR) adalah salah satu dari penyebab utama kematian pada neonates BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Berat badan (BB) adalah salah satu indikator kesehatan pada bayi baru lahir. BB lahir menjadi begitu penting dikarenakan bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah salah

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian belah lintang (Cross Sectional) dimana

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian belah lintang (Cross Sectional) dimana 39 BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian belah lintang (Cross Sectional) dimana dimana antara variabel bebas dan terikat diukur pada waktu yang bersamaan.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah 1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah World health organization ( WHO ) telah mengumumkan bahwa prevalensi diabetes mellitus ( DM) akan meningkat di seluruh dunia pada millenium ketiga ini, termasuk

Lebih terperinci

Pengaruh Pemberian Air Susu Ibu Terhadap Kadar Glukosa Darah pada Bayi Cukup Bulan

Pengaruh Pemberian Air Susu Ibu Terhadap Kadar Glukosa Darah pada Bayi Cukup Bulan Sari Pediatri, Sari Vol. Pediatri, 8, No. 4, Vol. Maret 8, No. 2007: 4, Maret 276-2007 281 Pengaruh Pemberian Air Susu Ibu Terhadap Kadar Glukosa Darah pada Bayi Cukup Bulan Tanty Febriany T, Djauhariah

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. masyarakat adalah Angka Kematian Bayi (AKB). Menurut data World

BAB 1 PENDAHULUAN. masyarakat adalah Angka Kematian Bayi (AKB). Menurut data World BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu indikator untuk mengetahui derajat kesehatan masyarakat adalah Angka Kematian Bayi (AKB). Menurut data World Health Organization (WHO) AKB di dunia terus

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam kehidupan, manusia amat tergantung kepada alam sekeliling. Yang

BAB I PENDAHULUAN. Dalam kehidupan, manusia amat tergantung kepada alam sekeliling. Yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam kehidupan, manusia amat tergantung kepada alam sekeliling. Yang paling mendasar manusia memerlukan oksigen, air serta sumber bahan makanan yang disediakan alam.

Lebih terperinci

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL... i

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL... i DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL... i LEMBAR PENGESAHAN...ii SURAT PERNYATAAN... iii PERNYATAAN... iv PRAKATA... v DAFTAR ISI... xii DAFTAR TABEL... xiiii DAFTAR GAMBAR... xiv DAFTAR SINGKATAN... xvii

Lebih terperinci

PERBEDAAN PERKEMBANGAN PADA ANAK DENGAN PENYAKIT JANTUNG BAWAAN SIANOTIK DAN NON-SIANOTIK LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH

PERBEDAAN PERKEMBANGAN PADA ANAK DENGAN PENYAKIT JANTUNG BAWAAN SIANOTIK DAN NON-SIANOTIK LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH PERBEDAAN PERKEMBANGAN PADA ANAK DENGAN PENYAKIT JANTUNG BAWAAN SIANOTIK DAN NON-SIANOTIK LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH Diajukan sebagai syarat untuk mengikuti ujian hasil Karya Tulis Ilmiah mahasiswa

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. menggunakan uji Chi Square atau Fisher Exact jika jumlah sel tidak. memenuhi (Sastroasmoro dan Ismael, 2011).

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. menggunakan uji Chi Square atau Fisher Exact jika jumlah sel tidak. memenuhi (Sastroasmoro dan Ismael, 2011). BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Hasil penelitian terdiri atas analisis deskriptif dan analisis data secara statistik, yaitu karakteristik dasar dan hasil analisis antar variabel

Lebih terperinci

PERBEDAAN KEJADIAN ISPA PADA ANAK DENGAN PENYAKIT JANTUNG BAWAAN SIANOTIK DAN ASIANOTIK JURNAL MEDIA MEDIKA MUDA

PERBEDAAN KEJADIAN ISPA PADA ANAK DENGAN PENYAKIT JANTUNG BAWAAN SIANOTIK DAN ASIANOTIK JURNAL MEDIA MEDIKA MUDA PERBEDAAN KEJADIAN ISPA PADA ANAK DENGAN PENYAKIT JANTUNG BAWAAN SIANOTIK DAN ASIANOTIK JURNAL MEDIA MEDIKA MUDA Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai derajatsarjana strata-1 Kedokteran

Lebih terperinci

Perbedaan Kadar Hemoglobin yang Berolahraga Futsal dan Tidak Berolahraga. Jl. Hariangbangga No.20 Bandung

Perbedaan Kadar Hemoglobin yang Berolahraga Futsal dan Tidak Berolahraga. Jl. Hariangbangga No.20 Bandung Prosiding Pendidikan Dokter ISSN: 2460-657X Perbedaan Kadar Hemoglobin yang Berolahraga Futsal dan Tidak Berolahraga Bayu Ewangga 1, Ieva B. Akbar 2, Rika Nilapsari 3 1 Pedidikan Dokter, Fakultas Kedokteran,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dunia sekarang mengalami penderitaan akibat dampak epidemik dari berbagai penyakit penyakit akut dan kronik yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Penyakit penyakit

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil penelitian 1. Karakteristik dasar subyek penelitian Penelitian dilakukan sejak 22 Juni 2016 sampai 1 Agustus 2016 di Puskesmas Pandak I Bantul. Sampel penelitian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sepsis merupakan salah satu masalah kesehatan utama penyebab kesakitan

BAB I PENDAHULUAN. Sepsis merupakan salah satu masalah kesehatan utama penyebab kesakitan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Sepsis merupakan salah satu masalah kesehatan utama penyebab kesakitan dan kematian pada anak. 1,2 Watson dan kawan-kawan (dkk) (2003) di Amerika Serikat mendapatkan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. struktur jantung atau fungsi sirkulasi jantung yang dibawa dari lahir. 1 Insidens

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. struktur jantung atau fungsi sirkulasi jantung yang dibawa dari lahir. 1 Insidens BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penyakit Jantung Bawaan Penyakit jantung bawaan ( PJB ) adalah penyakit dengan kelainan pada struktur jantung atau fungsi sirkulasi jantung yang dibawa dari lahir. 1 Insidens

Lebih terperinci

Salah satu fungsi utama sistem endokrin adalah

Salah satu fungsi utama sistem endokrin adalah Sari Pediatri, Vol. 7, No. 4, Maret 006 Sari Pediatri, Vol. 7, No. 4, Maret 006: 83-87 Gambaran Kunjungan Pasien Rawat Jalan Endokrinologi Anak dan Remaja FK USU / RS. H. Adam Malik Medan, Tahun 000-004

Lebih terperinci