PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI"

Transkripsi

1 PRODUKTIVITAS RUMPUT LAPANG DAN PALATABILITAS KULIT PISANG NANGKA (Musa paradisiaca L) UNTUK PAKAN TAMBAHAN PADA RUSA TIMOR (Cervus timorensis de Blainville) DI PENANGKARAN S U N A R N O SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2006

2 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Produktivitas Rumput Lapang dan Palatabilitas Kulit Pisang Nangka (Musa paradisiaca L) untuk Pakan Tambahan pada Rusa Timor (Cervus timorensis de Blainville) di Penangkaran, adalah karya saya sendiri dan belum pernah diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya penulis lain baik yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan, telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan pada bagian daftar pustaka dari tesis ini. Bogor, Mei 2006 S u n a r n o NRP: E

3 ABSTRACT SUNARNO. Grass Productivity and Nangka Banana's Peels (Musa paradisiaca L) Palatability as Additional Feed for Timor Deers (Cervus timorensis de Blainville) in Captivity. Under the Supervision of MACHMUD THOHARI and LIN NURIAH GINOGA. Feed is the most important factors which determines the success of the captive deer management. The availability of forage is important for deer in captivity. For ensuring the stock of grass, it should be calculated the grass productivity and the carrying capacity. In captive, The productivity of forage is important to support the daily need of deers. On the other side the availability of concentrate feed which is palatable is important to support the protein reguirement of timor deers. The objective of the research is to measure productivity of grass and the carrying capacity of the site and to know the palatability of banana peels as additional feed for timor deer. Five grass species were consumed by the deers in captive site as follows: Axonophus compresus (0,87), Imperata cylindrica (0,79), Andropogon acicularus (0,71), Cynodon dactylon (0,62) and Cyperus rotundus (0,29). According to the palatability level, the grass productivity during rainy seasons is 111,10 kg/ha/day and 55,50 kg/ha/day during dry seasons. The carrying capacity during rainy seasons is 21,3 deers/ha and 10,6 deers/ha in the dry seasons. It means that there were insufficient of food in both seasons. So that it is necesary to supply additional feed. A randomized block design was implemented for this experiment. The statistical analisys shows that giving additional feed with banana peels ingredient through F test gives significant affect (P<0,05) againts its palatability index. Additional feed with banana peels ingredient has higher palatability index (T1, T2, T3) compared to additional feed without banana peels ingridient (T0) with significant differences (P>0,05). However, the palatability index is decreasing as the use of banana peels ingridient increased (T2 and T3).

4 ABSTRAK SUNARNO. Produktivitas Rumput Lapang dan Palatabilitas Kulit Pisang Nangka (Musa paradisiaca L) untuk Pakan Tambahan pada Rusa Timor (Cervus timorensis de Blainville) di Penangkaran. Dibimbing oleh MACHMUD THOHARI and LIN NURIAH GINOGA. Pakan merupkan faktor yang paling berpengaruh terhadap keberhasilan dalam pengelolaan penangkaran rusa. Ketersediaan hijauan sangat penting bagi rusa di penangkaran. Untuk mengetahui ketersediaan pakan hijauan atau rumput maka perlu dihitung produktivitas rumput dan daya dukungnya. Di penangkaran, produktivitas hijauan sangat penting, untuk memenuhi kebutuhan pakan harian. Di lain pihak penggunaan pakan konsentrat penting untuk mendukung kebutuhan protein pada rusa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat produktivitas rumput dan daya dukungg lahan penggembalaan dan mengetahui palatabilitas kulit pisang nangka sebagai pakan tambahan pada rusa timor. Lima spesies rumput yang dimakan rusa di penangkaran adalah sebagai berikut: Axonophus compresus (0,87), Imperata cylindrica (0,79), Andropogon acicularus (0,71), Cynodon dactylon (0,62) and Cyperus rotundus (0,29). Dengan memperhatikan tingkat palatabilitas rumput, produktivitas rumput selama musim hujan adalah 111,10 kg/ha/hari dan selama musim kemarau adalah 55,50 kg/ha/hari. Daya dukung selama musim hujan adalah 21,3 ekor/ha dan selama musim kemarau adalah 10,6 ekor/ha. Ini berarti terjadi kekurangan ketersediaan pakan pada kedua musim. Oleh karena itu perlu pemberian pakan tambahan. Hasil analisis statistik dari uji coba pemberian pakan tambahan dengan campuran kulit pisang, melalui uji F dengan Rancangan Acak Kelompok, menunjukkan adanya pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap indeks palatabilitasnya. Pakan tambahan dengan campuran kulit pisang (T1, T2, T3) indeks palatabilitasnya lebih tinggi dibanding pakan tambahan tanpa kulit pisang (T0) dengan perbedaan yang nyata (P<0,05). Namun terjadi penurunan indeks palatabilitas sejalan dengan peningkatan penggunaan kulit pisang sebagai campuran pakan tambahan (pada T2 dan T3).

5 Hak cipta milik S u n a r n o, tahun 2006 Hak cipta dilindungi Dilarang mengutip dan memperbanyak tanpa izin tertulis dari Institut Pertanian Bogor, sebagian atau seluruhnya dalam bentuk apapun baik cetak, fotocopy, mikrofilm dan sebagainya.

6 PRODUKTIVITAS RUMPUT LAPANG DAN PALATABILITAS KULIT PISANG NANGKA (Musa paradisiaca L) UNTUK PAKAN TAMBAHAN PADA RUSA TIMOR (Cervus timorensis de Blainville) DI PENANGKARAN S U N A R N O Tesis Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Profesional pada Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan Sub Program Studi Konservasi Biodiversitas SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2006

7 Judul Tesis Nama : Produktivitas Rumput Lapang dan Palatabilitas Kulit Pisang Nangka (Musa paradisiaca L) untuk Pakan Tambahan pada Rusa Timor (Cervus timorensis de Blainville) di Penangkaran : S u n a r n o NRP : E Program Studi Sub Program Studi : Ilmu Pengetahuan Kehutanan : Konservasi Biodiversitas Disetujui Komisi Pembimbing Dr. Ir. A. Machmud Thohari, DEA. Ketua Ir. Lin Nuriah Ginoga, M.Si. Anggota Diketahui Ketua Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan Dekan Sekolah Pascasarjana Dr. Ir. Dede Hermawan, M.Sc. F Prof. Dr. Ir. Syafrida Manuwoto, M.Sc. Tanggal Ujian: 10 Mei 2006 Tanggal Lulus:

8 PRAKATA Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas rahmat dan karunianya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan tesis ini dengan judul Produktivitas Rumput Lapang dan Palatabilitas Kulit Pisang Nangka (Musa paradisiaca L) untuk Pakan Tambahan pada Rusa Timor (Cervus timorensis de Blainville) di Penangkaran. Penelitian dan penulisan tesis ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Profesional pada Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan, Sub Program Studi Konservasi Biodiversitas, Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Penghargaan dan ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada yang terhormat Bapak Dr. Ir. A. Machmud Thohari, DEA, selaku ketua komisi pembimbing dan yang terhormat Ibu Ir. Lin Nuriah Ginoga M.Si, selaku anggota komisi pembimbing, yang telah membimbing dan selalu memberi dorongan serta masukan kepada penulis mulai dari pembuatan proposal, pelaksanaan penelitian hingga penulisan tesis ini. Penghargaan dan ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Bapak Dr. Ir.Yanto Santosa, DEA. Selaku Ketua Sub Program Studi, Direktur Pendidikan Menengah Kejuruan Departemen Pendidikan Nasional di Jakarta yang telah memberi kesempatan dan membiayai penulis dalam menempuh pendidikan di Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Kepala Pusat Pengembangan Penataran Guru Pertanian yang telah memberi kesempatan kepada penulis untuk mengikuti pendidikan di Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Khusus untuk ayah (almarhum), ibu, istri dan anak-anak tercinta serta seluruh keluarga, ucapan terima kasih penulis sampaikan atas dorongan dan doa restunya. Penulis berharap semoga tesis ini bermanfaat bagi penulis dan bagi semua pihak, dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan.

9 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Batang, Jawa Tengah pada tanggal 07 Oktober Merupakan anak ke 6 dari 7 bersaudara, dari ayah Soeparman (Almarhum) dan Ibu Rochati Fatimah. Pendidikan Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas diselesaikan di Batang. Pada tahun 1983 penulis tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro dan lulus sebagai Sarjana Peternakan pada tahun Sejak tahun 1989 hingga tahun 1998 penulis bekerja di Industri Pakan Ternak, PT. Buana Superior Feedmill. Pada tahun 1998 sampai tahun 2001 penulis sempat berwiraswasta di bidang perikanan, budidaya ikan dengan sistim Jaring Apung di Bendungan Cirata Cianjur. Sejak tahun 2001 penulis diterima sebagai pegawai negeri sipil pada Pusat Pengembangan Penataran Guru Pertanian- Cianjur Departemen Pendidikan Nasional, sebagai Instruktor di bidang Peternakan. Pada tahun 2004, penulis mendapat bea siswa dari Departemen Pendidikan Nasional untuk melanjutkan pendidikan Pascasarjana pada Sub Program Studi Konservasi Biodiversitas, Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan, Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Penulis menikah dengan Emi Sri Wandaning Astuti, pada tahun 1991 dan dikaruniai tiga orang anak, yaitu Adhitama Narastyawan, Mahardhika Narastyawan dan Anggoro Rizky Narastyawan

10 DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... PENDAHULUAN Latar Belakang... Perumusan Masalah... Kerangka Pemikiran Penelitian... Tujuan... Manfaat... Hipotesis... TINJAUAN PUSTAKA Bio-Ekologi Rusa Timor (Cervus timorensis) Sistematika... Morfologi... Daerah Penyebaran... Habitat... Perilaku... Penangkaran Rusa Timor Landasan Kebijakan... Perijinan... Teknis Penangkaran... Palatabilitas Pakan... Produktivitas Hijauan dan Daya Dukung... Produktivitas Hijauan... Daya Dukung... KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN Sejarah Singkat PPPG Pertanian Cianjur... Letak Geografis... Sejarah Singkat Lokasi Penangkaran... Keadaan Penangkaran Rusa... METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat... Alat dan Bahan... Data yang Diukur... Prosedur Pengumpulan Data... Analisis Data... HASIL DAN PEMBAHASAN Keanekaragaman Jenis Rumput-Rumputan... vi viii ix

11 Palatabilitas Rumput... Produktivitas Rumput... Daya Dukung Lahan Penggembalaan... Kandungan Nutrisi Rumput... Palatabilitas Pakan Tambahan... Pengelolaan Pakan Tambahan... Kandungan Nutrisi Pakan Tambahan... KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan... Saran... DAFTAR PUSTAKA... LAMPIRAN

12 DAFTAR TABEL Halaman 1. Daerah penyebaran rusa timor (Cervus timorensis) di Indonesia Kandungan nutrisi dedak padi Kandungan nutrisi berbagai jenis kulit pisang mentah dan masak, hasil analisis proksimat (% bahan kering) Kandungan nutrisi umbi ubi jalar dan singkong Jenis-jenis pohon yang tumbuh di lokasi penangkaran Kandungan nutrisi bahan pakan yang digunakan dalam penelitian Komposisi pakan tambahan pada setiap perlakuan (% bahan kering) Penempatan perlakuan (T) dan kelompok waktu pengamatan (K) dalam percobaan Jenis rumput dan leguminosa yang ditemukan di lokasi penelitian Jenis rumput dan leguminosa yang ditemukan di lokasi penelitian serta indeks palatabilitasnya (IP) Rata-rata produktivitas rumput pada setiap petak contoh di lokasi penelitian (bahan segar) Kandungan nutrisi beberapa jenis rumput yang tumbuh di lokasi penelitian Rata-rata jumlah pakan tambahan dari setiap perlakuan yang dikonsumsi rusa per hari (kg bahan kering ) Indeks palatabilitas pakan tambahan dari setiap perlakuan pada rusa Hasil uji LSD indeks palatabilitas pakan tambahan Perbandingan antara kebutuhan pakan tambahan dan konsumsi pakan tambahan dari keempat perlakuan yang dicobakan Perhitungan konsumsi pakan tambahan dan kebutuhan pakan tambahan per tahun (kg bahan kering)... 58

13 18 Hasil perhitungan kandungan nutrisi pakan tambahan yang digunakan dalam penelitian... 59

14 DAFTAR GAMBAR Halaman 1. Kerangka pemikiran penelitian Prosedur perijinan penangkaran satwaliar dan tumbuhan alam berdasarkan SK Dirjen PHPA No. 07/Kpts/DJ-VI/ Kulit pisang nangka mentah (limbah dari pabrik keripik pisang) yang digunakan sebagai salah satu bahan pakan dalam penelitian Distribusi petak contoh pemanenan rumput pada lahan penggembalaan Petak contoh dipagar, supaya rumput tidak diganggu/dimakan rusa selama pengukuran produktivitas Bahan pakan tambahan sebelum dicacah Bahan pakan tambahan setelah dicacah Bahan-bahan pakan tambahan setelah dicampur Tempat pakan tambahan yang dilengkapi dengan papan bersilang agar pakan tidak mudah ditumpah oleh rusa Suasana rusa mengkonsumsi pakan tambahan Diagram batang jumlah pakan tambahan dari setiap perlakuan yang dikonsumsi rusa per hari untuk 15 ekor (kg bahan kering) Grafik indeks palatabilitas (IP) pakan tambahan dari setiap perlakuan pada rusa... 55

15 DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1. Denah lokasi penangkaran rusa PPPG Pertanian Cianjur Surat hasil analisis proksimat bahan pakan tambahan dan rumput Data palatabilitas rumput pada 20 petak contoh Data produktivitas rumput Konsumsi pakan tambahan (kg bahan kering) Indeks palatabilitas pakan tambahan (Nilai 0-1) Analisis statistik indeks palatabilitas pakan tambahan Perhitungan kandungan nutrisi pakan perlakuan... 89

16 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya yang dimiliki bangsa Indonesia pada hakekatnya mempunyai peran dan kedudukan yang sangat penting sebagai modal dasar bagi pembangunan nasional yang berkelanjutan. Oleh karena itu keberadaannya harus dikelola dengan baik serta dimanfaatkan secara lestari demi kesejahteraan bangsa Indonesia khususnya dan umat manusia pada umumnya, baik masa kini maupun masa mendatang. Sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya merupakan satu kesatuan sistem kehidupan yang saling tergantung dan saling mempengaruhi satu sama lainnya. Sehingga terjadinya kerusakan atau kepunahan pada salah satu komponen akan berakibat terganggunya ekosistem secara keseluruhan. Untuk menjaga sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya dari kerusakan dan agar dapat dimanfaatkan secara lestari, maka diperlukan upaya-upaya konservasi melalui tiga kegiatan yaitu (1) perlindungan sistem penyangga kehidupan (2) pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya (3) pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya (Thohari, 2005) Kegiatan konservasi, dalam pelaksanaannya dapat dilakukan melalui dua program, yaitu konservasi in situ, merupakan kegiatan konservasi yang dilaksanakan di habitatnya dan konservasi ex situ, merupakan kegiatan konservasi yang dilaksanakan di luar habitatnya. Salah satu bentuk konservasi ex situ adalah penangkaran. Penangkaran menjadi sangat penting karena memiliki dua fungsi utama, yaitu (1) fungsi ekologis (perlindungan dan pengawetan jenis dan plasma nutfah dalam menunjang peningkatan populasi alami melalui pemulihan populasi /restocking hasil pembiakan), (2) fungsi sosio ekonomi dan sosio budaya (pemanfaatan bagi kesejahteraan umat manusia) (Thohari, 2005). Rusa timor (Cervus timorensis), merupakan salah satu dari keanekaragaman hayati yang dimiliki bangsa Indonesia, yang kondisinya di alam mendapat tekanan demikian besar sebagai akibat kegiatan manusia, baik dalam bentuk perburuan liar maupun pengrusakan habitat. Rusa timor (Cervus timorensis) merupakan satwa liar yang daya adaptasinya sangat tinggi, mudah

17 2 dalam hal reproduksi serta mudah dalam penyediaan pakannya. Namun karena di alam terjadi pemanfaatan yang berlebihan, sehingga dikhawatirkan terjadi kepunahan, maka dengan Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999, rusa timor termasuk salah satu jenis satwa liar yang dilindungi. Di sisi lain, sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk, meningkat pula tuntutan kebutuhan penduduk yang salah satunya adalah kebutuhan protein hewani. Atas dasar itulah maka dalam rangka pemanfaatan sumberdaya alam hayati, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 404 / Kpts / DT. 210 / 6 / 2002, rusa dimasukkan sebagai salah satu jenis satwa liar yang potensial untuk dikembangkan sebagai hewan ternak. Pemanfaatan yang dapat dikembangkan adalah sebagai obyek rekreasi, karkas/dagingnya sebagai sumber protein hewani, ranggah keras sebagai barang hiasan, ranggah muda/velvet sebagai bahan obat-obatan dan kulitnya sebagai bahan baku industri kerajinan. Dalam rangka pengembangan pemanfaatan dan mencegah rusa timor dari kepunahan, maka dapat dilakukan dengan cara penangkaran. Penangkaran merupakan upaya pengembangbiakan yang bertujuan untuk memperbanyak populasinya dengan tetap memperhatikan kemurnian jenisnya, sehingga kelestarian populasi di alam dapat dipertahankan (Thohari, 1987). Pusat Pengembangan Penataran Guru (PPPG) Pertanian adalah Instansi di bawah Departemen Pendidikan Nasional yang bertugas dalam bidang peningkatan kualitas sumberdaya manusia bagi guru SMK Pertanian khususnya dan masyarakat luas pada umumnya melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan. Dalam rangka pengembangan materi diklat dan sebagai bentuk peranserta PPPG Pertanian dalam upaya pelestarian rusa timor serta pengembangan pemanfaatannya, maka salah satu langkah yang telah dilakukan dan tengah dikembangkan adalah kegiatan usaha penangkaran. Keberhasilan usaha penangkaran rusa salah satunya ditentukan oleh faktor pakan. Rusa termasuk golongan satwa ruminansia dengan pakan utama berupa hijauan/rumput, oleh karena itu ketersediaan rumput dalam suatu usaha penangkaran menjadi sangat penting. Penangkaran rusa dengan sistem pedok, kebutuhan rumput sebagai pakan utama disediakan dalam bentuk lahan penggembalaan dan rusa dibiarkan merumput sepanjang waktu.

18 3 Perumusan Masalah Permasalahan yang sering dihadapi dalam usaha penangkaran rusa adalah ketersediaan pakan baik kualitas maupun kuantitasnya. Agar kegiatan usaha penangkaran dapat berjalan dengan efisien maka faktor pakan harus mendapatkan perhatian yang sungguh-sungguh. Berkaitan dengan ketersediaan pakan, maka rumput sebagai pakan utama yang tumbuh di lahan penggembalaan perlu diketahui tingkat produktivitasnya. Dengan mengetahui tingkat produktivitasnya maka dapat diketahui jumlah pakan hijauan yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan pakan rusa yang ditangkarkan. Sebagaimana umumnya rumput di daerah tropis, rumput liar yang tumbuh di dalam lahan penggembalaan memiliki tingkat produktivitas dan kandungan nutrisi yang rendah. Rendahnya produktivitas menyebabkan adanya keterbatasan dalam penyediaan pakan. Untuk menanggulangi kekurangan pakan tersebut dapat dilakukan dengan cara pemberian pakan tambahan. Beberapa jenis bahan pakan tambahan antara lain umbi-umbian, sayur-sayuran, limbah industri dan limbah pertanian. Pemberian pakan tambahan hanya memperhatikan jumlah dan kandungan nutrisi saja belum cukup, tetapi juga perlu memperhatikan faktor palatabilitasnya. Palatabilitas merupakan aspek makan yang lebih menentukan dari pada nilai gizinya (McIlroy, 1964). Pemberian pakan tambahan hendaknya memanfaatkan keanekaragaman bahan pakan yang terdapat di lingkungan sekitar, sesuai dengan potensi wilayah masing-masing ditempat usaha penangkaran rusa dijalankan. Pemanfaatan bahan pakan tersebut merupakan upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap pakan hijauan yang tidak kontinyu sepanjang tahun sebagai akibat keterbatasan dalam tingkat produktivitasnya. Oleh karena itu penggunaan bahan pakan tambahan harus memperhatikan pada beberapa pertimbangan antara lain palatabilitas, mudah dalam memperolehnya, harga relatif murah, tersedia dalam jumlah yang cukup secara kontinyu sepanjang tahun serta nilai gizinya. Selama ini di lahan penggembalaan usaha penangkaran rusa milik PPPG Pertanian-Cianjur belum pernah dilakukan penghitungan produktivitas, sehingga belum dapat diketahui daya dukungnya. Pakan tambahan yang diberikan berupa dedak dengan campuran ubi kayu dan atau ubi jalar dengan komposisi yang

19 4 tidak standar, sehingga cenderung menyebabkan biaya pakan yang relatif tinggi. Sementara itu di daerah sekitar PPPG Pertanian banyak terdapat limbah industri pertanian, yang cukup potensial untuk dimanfaatkan sebagai bahan pakan rusa. Salah satu jenis limbah industri pertanian tersebut adalah kulit pisang nangka (limbah dari perusahaan keripik pisang). Selama ini kulit pisang nangka tersebut belum dimanfaatkan secara optimal dan hanya dibuang begitu saja. Dari kandungan nutrisinya kulit pisang sangat potensial untuk dimanfaatkan sebagai bahan pakan alternatif. Namun pemanfaatan kulit pisang sebagai pakan memiliki kendala karena adanya zat tanin yang dapat mengurangi palatabilitasnya. Kerangka Pemikiran Pakan merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha penangkaran. Mengingat bervariasinya jenis serta tingkat produktivitas rumput (sebagai pakan utama) yang tumbuh di dalam lahan penggembalaan, maka sebagai sumber pakan utama, hijauan yang tumbuh di lahan penggembalaan perlu diketahui produktivitas serta daya dukungnya. Dengan adanya keterbatasan dalam hal produktivitas hijauan, maka kekurangan pakan hijauan harus dipenuhi dengan cara pemberian pakan tambahan. Kulit pisang nangka, merupakan salah satu jenis limbah industri pertanian yang ketersediaannya cukup melimpah dan memiliki nilai gizi cukup tinggi, sehingga memungkinkan untuk mendukung penyediaan pakan bagi usaha penangkaran rusa. Pemanfaatan kulit pisang nangka sebagai salah satu bahan pakan untuk campuran pakan tambahan, berarti menambah keanekaragaman jenis bahan pakan yang dapat diberikan, diharapkan disatu sisi dapat meningkatkan daya guna limbah industri pertanian, mengurangi ketergantungan terhadap jenis bahan pakan yang lain serta dapat menghemat biaya pakan. Mengingat palatabilitas merupakan hal yang sangat penting, maka sebelum dimanfaatkan perlu dikaji tingkat palatabilitas pakan tambahan dengan campuran kulit pisang. Berdasarkan uraian, maka di lokasi penangkaran rusa timor, PPPG Pertanian Cianjur, perlu dilakukan studi tentang produktivitas hijauan pakan yang tumbuh di dalam lahan penggembalaan dan daya dukungnya serta tingkat palatabilitas pakan tambahan dengan tingkat campuran kulit pisang yang berbeda. Alur kerangka pemikiran penelitian dapat dilihat pada Gambar 1.

20 5 Teknis Penangkaran Lokasi, Perkandangan, Bibit, Reproduksi, Recording, Pakan Kesehatan, Pemanenan Pakan Utama hijauan/rumput Pakan Tambahan T0 T1 T2 T3 Ubi Jalar 5% Ubi Kayu 5% D. Padi 90% K. Pisang 0% Ubi Jalar 5% Ubi Kayu 5% D. Padi 80% K. Pisang 10% Ubi Jalar 5% Ubi Kayu 5% D. Padi 70% K. Pisang 20% Ubi Jalar 5% Ubi Kayu 5% D. Padi 60% K. Pisang 30% Palatabilitas, Produktivitas, Nilai Gizi Daya Dukung Palatabilitas Nilai Gizi Palatabilitas dan nilai Gizi Pakan Cukup PENANGKARAN RUSA Gambar 1 Kerangka pemikiran penelitian

21 6 Tujuan Tujuan penelitian ini adalah untuk: 1. Mengukur tingkat produktivitas rumput di lahan penggembalaan serta daya dukungnya. 2. Mengukur tingkat palatabilitas pakan tambahan dengan campuran kulit pisang nangka Manfaat Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang pentingnya produktivitas rumput yang tumbuh di lokasi penangkaran serta palatabilitas pakan tambahan yang terdiri atas campuran kulit pisang, dedak, ubi kayu dan ubi jalar, dalam mendukung usaha penangkaran rusa timor. Berdasarkan hal tersebut hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya tentang pakan rusa timor dan dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam kebijakan pengelolaan penangkaran rusa timor di PPPG Pertanian khususnya dan penangkaran rusa pada umumnya. Hipotesis Tingkat kandungan kulit pisang dalam campuran pakan tambahan berbanding terbalik dengan tingkat palatabilitasnya.

22 7 TINJAUAN PUSTAKA Bio-Ekologi Rusa Timor (Cervus timorensis) Sistematika Menurut Schroder (1976), rusa merupakan satwa yang termasuk anggota Phillum Chordata, Sub Phillum Vertebrata, Klas Mamalia, Ordo Artiodactyla, Sub Ordo Ruminansia dan Famili Cervidae. Famili Cervidae terbagi menjadi 6 Sub Famili, yaitu Rangiferinae, Alcinae, Hydropotinae, Odocoilinae, Cervinae dan Muntiacinae. Dua Sub Famili yang disebut terakhir merupakan Sub Famili yang terdapat di Indonesia. Sub Famili Cervinae terbagi menjadi dua Genus yaitu Genus Cervus dan Genus Axis. Genus Cervus terdiri dari dua species yaitu Cervus timorensis (rusa timor) dan Cervus unicolor (rusa sambar), sedangkan Genus Axis adalah Axis kuhlii. Genus dari Sub Famili Muntiacinae adalah Muntiacus terdiri dari dua spesies, yaitu Muntiacus muntjak (kijang) dan Muntiacus atherodes (kijang kuning). Saat ini rusa timor yang ada di Indonesia dikenal ada 8 sub spesies, yaitu (1) C. t. russa Muller & Schlegal, 1839, (2) C. t. laronesiotis nov, (3) C. t. renschi Sody, 1932, (4) C. t. timorensis Blainville, 1822, (5) C. t. macassarius Heude, 1896, (6) C. t. djongga nov, (7) C. t. molucentis Quoi et Gaimard, 1830 dan (8) C. t. floresiensis Heude, Morfologi Menurut Semiadi dan Nugraha (2004), rusa timor merupakan rusa tropis terbesar kedua setelah rusa sambar. Dibandingkan dengan rusa tropis Indonesia lainnya, rusa timor memiliki banyak keunikan yaitu sebagai kelompok rusa yang mempunyai banyak anak jenis (sub spesies), sebagai rusa dengan nama daerah yang cukup beragam dan sebagai rusa yang paling luas tersebar di luar negeri. Dikatakan juga bahwa pemberian nama lokal yang cukup beragam ini tergantung pada daerah asalnya. Di pulau Jawa dikenal sebagai rusa jawa, di pulau Timor dikenal sebagai rusa timor, di Sulawesi dikenal dengan nama rusa jonga dan di kepulauan Maluku dikenal sebagai rusa maluku. Namun nama yang paling umum dipakai dalam bahasa Indonesia adalah rusa timor.

23 8 Menurut Perum Perhutani dan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (1991), rusa timor dewasa memiliki panjang badan dengan kepala kira-kira cm, panjang ekor cm, tinggi bahu dapat mencapai 100 cm untuk rusa betina dan 110 cm rusa jantan, sedangkan bobot badannya dapat mencapai 100 kg. Dradjat (2002), mengatakan bahwa rusa timor memiliki warna bulu coklat dengan warna bagian bawah perut dan ekor berwarna putih. Berat badan rusa jantan dapat mencapai kg dan berat badan rusa betina adalah kg. Menurut Semiadi dan Nugraha (2004), rusa timor memiliki warna bulu yang bervariasi antara coklat kemerahan hingga abu-abu kecoklatan. Berat badan bervariasi antara kg, tergantung pada anak jenisnya (sub spesiesnya). Dikatakan juga bahwa setelah melalui seleksi dan sistem pemeliharaan yang optimal di tingkat peternakan, rusa timor yang diimpor dari Kaledonia Baru ke Malaysia mampu mencapai berat badan kg pada yang jantan dan kg pada yang betina. Menurut Dradjat (2002), untuk membedakan rusa jantan dan rusa betina, ciri utamanya adalah rusa jantan memiliki ranggah sedangkan rusa betina tidak memiliki ranggah, ranggah tumbuh pertama kali pada umur 8 bulan. Rusa dewasa memiliki ranggah yang bercabang tiga, dengan ujung-ujungnya yang runcing, kasar dan beralur memanjang dari pangkal hingga ke ujung ranggah. Panjang ranggah rata-rata cm, tapi ada yang mencapai 111,5 cm (Perum Perhutani dan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, 1991). Daerah Penyebaran Rusa timor yang dikenal di Indonesia terdiri atas 8 sub spesies, memiliki daerah penyebaran yang luas, serta nama lokal yang cukup beragam tergantung daerah habitatnya berada. Penyebarannya hampir di seluruh wilayah Indonesia. Di Kalimantan, Irian dan Kepulauan Maluku, Rusa Timor merupakan rusa yang diintroduksikan. Pada tahun 1680, diintroduksikan dari Jawa ke Kalimantan, sedangkan pada tahun , diintroduksikan dari Halmahera ke Irian dan pada tahun 1855, diintroduksikan dari pulau Seram ke Pulau Aru (Perum Perhutani dan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (1991). Daerah penyebaran rusa timor di Indonesia, tertera pada Tabel 1.

24 9 Tabel 1 Daerah penyebaran rusa timor (Cervus timorensis) di Indonesia No Sub spesies Daerah penyebaran 1. C. t. Timorensis Timor, roti, Alor, Pantar, Semau, P. Rusa dan P. Kambing. 2. C. t. Russa Jawa, Kalimantan Selatan, Sulawesi dan Ambon (Introduksi) 3. C. t. laronesiotes P. Peucang (Ujung Kulon). 4. C. t. Renschi Bali 5. C. t. Floresiensis Lombok, Sumbawa, Rinca, Komodo, Flores, Adonare, Solor dan Sumba. 6. C. t. macassaricus Sulawesi, Bangai dan Selayar 7. C. t. Jonga Muna dan Buton 8. C. t. moluccensis Sula, Ternate, Mareh, Sumber: Perum Perhutani dan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (1991) Menurut Semiadi dan Nugraha (2004), pada jaman penjajahan Belanda, rusa timor banyak disebar ke luar habitat aslinya. Disamping diintroduksikan ke pulau Papua dan pulau-pulau kecil di Indonesia bagian timur, rusa timor juga dikirim ke luar negeri, diantaranya ke Australia ( ), Brasil (akhir abad ke 19), Kepulauan Komoro (1870), Madagaskar (1928), Selandia Baru (1907; melalui negara Kaledonia Baru), Mauritius (1639), Kaledonia Baru (1870), Kepulauan Reunion (abad 17), Papua New Guinea (1990), Malaysia (1985) dan Thailand (1990). Kenyataan ini menjadikan rusa timor merupakan rusa yang paling luas tersebar di luar negeri. Dikatakan juga bahwa di habitat baru tersebut, sebagian besar rusa timor dapat berkembang sangat baik, bahkan mampu menjadi tulang punggung industri peternakan rusa asal daerah tropis. Habitat Menurut Alikodra (2002), habitat adalah kawasan yang terdiri atas komponen fisik dan biotik yang merupakan satu kesatuan dan dipergunakan sebagai tempat hidup serta berkembangbiak bagi satwaliar. Dikatakan pula bahwa satwa liar menempati habitat sesuai dengan lingkungan yang diperlukan untuk mendukung kehidupannya. Habitat bagi satu jenis belum tentu sesuai untuk jenis yang lain, setiap jenis satwaliar menghendaki kondisi habitat yang berbeda-beda.

25 10 Habitat rusa timor berupa hutan, dataran terbuka serta padang rumput dan savanna. Rusa timor diketemukan di dataran rendah hingga pada ketinggian 2600 m di atas permukaan laut (Schroder, 1976). Padang rumput dan daerah terbuka merupakan tempat mencari makan, hutan serta semak belukar merupakan tempat berlindung. Rusa di habitat alami memerlukan tempat berlindung untuk berteduh dari panas dan hujan, untuk melindungi diri dari predator serta untuk istirahat dan tidur. Dibanding jenis rusa yang lain, rusa timor lebih mampu beradaptasi di daerah kering, karena ketergantungan terhadap ketersediaan air relatif lebih kecil. Dengan kemampuan adaptasi yang baik rusa timor mampu berkembangbiak dengan baik di daerah-daerah yang bukan habitat aslinya. Perilaku 1. Perilaku Berkelompok Rusa timor umumnya hidup berkelompok antara 3-4 ekor sampai 20 ekor, namun jika berada di padang penggembalaan terkadang dapat membentuk kelompok besar sampai jumlah ekor. Kelompok rusa timor sering terdiri atas induk dan anak baik yang masih kecil maupun yang sudah remaja, serta rusarusa muda. Menjelang musim kawin rusa jantan berangsur-angsur mendekati kelompok rusa betina (Perum Perhutani dan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, 1991). Di dalam kelompok rusa timor biasanya dijumpai dua pemimpin. Dalam keadaan normal pemimpin kelompok adalah rusa jantan dewasa, biasanya memimpin kelompoknya dalam rangka perpindahan tempat untuk mencari makan dan penjelajahan wilayah secara periodik. Dalam keadaan darurat atau menghadapi ancaman bahaya, pemimpin kelompok akan diambil alih oleh induk. Dalam keadaan terdesak induk lebih bertanggung jawab terhadap kelompoknya, sedangkan pejantan umumnya panik dan menyelamatkan diri masing-masing. meninggalkan kelompoknya (Perum Perhutani dan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, 1991). 2. Perilaku Makan Rusa adalah satwa yang aktif baik siang maupun malam hari. Namun untuk rusa timor lebih aktif pada siang hari. Meskipun bukan satwa nocturnal,

26 11 rusa timor mampu berubah sifat menjadi nocturnal dalam proses adaptasinya (Perum Perhutani dan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, 1991). Aktivitas harian rusa meliputi perjalanan dari dan ke tempat mencari makanan dan air, makan serta beristirahat. Sebagaimana herbivora pada umumnya, rusa menghabiskan waktu berjam-jam untuk makan dan diselingi perjalananperjalanan pendek untuk beristirahat maupun menuju ke tempat air. Rusa digolongkan sebagai intermediate feeders, yaitu satwa pemakan tumbuhan jenis semak (browser) dan rerumputan (grazer). Bagian tumbuhan yang dapat dimakan rusa antara lain dedaunan, batang atau ranting yang lunak, rumput, umbi-umbian dan buah-buahan (Ever, 2001) dalam Feriyanto (2002). Aktivitas makan dimulai ketika rusa menemukan makanan dan memakannya sampai berhenti melakukan aktivitas tersebut. Kegiatan makan dapat dilakukan bersama-sama dengan pergerakan dari satu tempat ke tempat lainnya. Untuk aktivitas makan, rusa timor lebih banyak menghabiskan waktunya pada pagi dan sore hari. Sedangkan siang hari cenderung mencari perlindungan dari teriknya sinar matahari, beristirahat sambil memamah biak. Pada malam hari aktivitas makan juga berlangsung, tetapi tidak begitu aktif (Perum Perhutani dan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, 1991). Menurut Tanudimadja dan Kusumamihardja (1985), hewan ruminansia memiliki pola merumput yang berkorelasi dengan tidak adanya gigi seri bagian atas. Rumput dililit dengan lidah dan akhirnya tergigit antara gigi seri bagian bawah dan rahang atas, kemudian kepala disentakkan ke depan sehingga rumput terpotong. Dikatakan juga bahwa setelah makan biasanya akan berbaring dan berulang-ulang mengeluarkan rumput dari lambungnya ke rongga mulut, kemudian dikunyah dan ditelan lagi. Penangkaran Rusa Timor Landasan Kebijakan Penangkaran adalah suatu kegiatan untuk mengembangbiakkan jenis-jenis satwa liar dan tumbuhan alam, bertujuan untuk memperbanyak populasinya dengan mempertahankan kemurnian jenisnya, sehingga kelestarian populasi di alam dapat dipertahankan (Thohari, 1987).

27 12 Peraturan perundangan yang menjadi dasar kebijakan dalam kegiatan penangkaran satwa liar umumnya dan penangkaran rusa timor khususnya adalah : 1. Undang-Undang No. 5 tahun 1990, tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya 2. Undang-Undang No. 4 tahun 1994, tentang Keanekaragaman Hayati 3. Undang-Undang No. 23 tahun 1997, tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup 4. Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1999 tentang AMDAL 5. Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 86/Kpts/II/1983, yang mengatur tentang pemberian ijin menangkap/mengambil, memiliki, memelihara dan mengangkut baik di dalam negeri maupun ke luar negeri satwa liar dan tumbuhan alam. 6. Peraturan Pemerintah N0. 7 tahun 1999, tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. 7. Peraturan Pemerintah No. 8 tahun 1999, tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa 8. Undang-Undang No. 41 tahun 1999, tentang Kehutanan Perijinan Berdasarkan SK Dirjen PHPA No. 07/Kpts/DJ-VI/1988, tentang Penangkaran Satwaliar dan Tumbuhan Alam, maka untuk memperoleh Surat Ijin Usaha Penangkaran Satwaliar dan Tumbuhan Alam adalah sebagai berikut: 1. Pengajuan permohonan ke Dirjen PHPA dengan tembusan ke Kanwil Kehutanan Propinsi dan BKSDA, dengan melampirkan SIUP (Surat Ijin Usaha Perdagangan dan SITU (Surat Ijin Tempat Usaha) dari Departemen Perdagangan dan Berita Acara Pemeriksaan Persiapan Teknis Penangkaran. 2. Pemeriksaan oleh Kanwil Kehutanan dan BKSDA Propinsi Dati I. 3. Berdasarkan lampiran, maka dikeluarkan rekomendasi penangkaran dari Kanwil Kehutanan ke Dirjen PHPA. 4. Dirjen PHPA mengeluarkan ijin usaha penangkaran yang berlaku selama maksimum 5 tahun untuk usaha non komersial dan 10 tahun untuk usaha komersial dan dapat diperpanjang setelah habis masa berlakunya.

28 13 Secara lengkap alur prosedur perijinan penangkaran satwa liar dan tumbuhan alam dapat dilihat pada Gambar 2. PEMOHON (Perorangan, Badan Usaha, Koperasi, Lembaga Ilmiah, Lembaga Konservasi) NON KOMERSIAL Dilampiri dengan: 1. Surat tidak keberatan dari lurah setempat 2. SIUP 3. Berita acara pemeriksaan dari Balai/Sub Balai KSDA 4. Akta Pendirian Perusahaan KOMERSIAL Dilampiri dengan: 1. SIUP dan SITU 2. Berita acara pemeriksaan dari Balai/Sub Balai KSDA 3. Akta Pendirian Perusahaan Kepala Kantor Wilayah DEPHUTBUN Direktur Jenderal PHPA Ijin Usaha Penangkaran Non Komersial Ijin Usaha Penangkaran Komersial Gambar 2 Prosedur perijinan penangkaran satwaliar dan tumbuhan alam berdasarkan SK Dirjen PHPA No. 07/Kpts/DJ-VI/1988 Teknis Penangkaran 1. Adaptasi Secara alami rusa timor dikenal sebagai satwa yang memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi. Rusa ini mudah menyesuaikan diri terhadap lingkungan baru, dilingkungan yang banyak terdapat aktivitas manusia, bahkan di lingkungan dengan kondisi pakan jelek sekalipun (Perum Perhutani dan Fakultas Kehutanan IPB, 1991). Sedangkan menurut Vos (1982), rusa dapat cepat beradaptasi dengan kehadiran manusia dengan perlengkapannya ketika mereka tertarik dengan bahan makanan yang cocok. Namun demikian agar dapat

29 14 diperoleh manfaat yang optimal perlu dilakukan penanganan dan latihan yang baik dan teratur untuk mencegah kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan seperti stres, penyakit dan kematian. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mempermudah penanganan rusa yang baru masuk ke tempat penangkaran adalah dengan cara menempatkan rusa pada kandang yang gelap dan relatif tidak luas/ di kandang karantina. Pengadaptasian ini dilakukan selama 1-2 minggu. Disamping itu untuk membiasakan rusa terhadap penggiringan dapat dilakukan dengan melatih secara teratur dalam waktu tertentu dengan memperlihatkan tanda-tanda tertentu, seperti bendera atau suara (Perum Perhutani dan Fakultas Kehutanan IPB, 1991) 2. Perkembangbiakan Menurut Schroder (1976), rusa timor betina mencapai dewasa kelamin umur 7-9 bulan. Umur berbiak pertama (minimum breeding age) bulan dan umur tertua dapat berkembangbiak (maximum breeding age) adalah tahun. Lama menyusui anak 2-3 bulan dan yang paling lama 5 bulan. Rusa jantan mulai pubertas pada umur 9-15 bulan dan menjadi fertil pada umur 16 bulan. Dalam usaha penangkaran, aspek perkembangbiakan memegang peranan penting, karena pada dasarnya keberhasilan penangkaran sangat ditentukan oleh keberhasilan reproduksinya. Menurut Perum Perhutani dan Fakultas Kehutanan IPB (1991), ada tiga cara pengembangbiakan rusa di penangkaran, yaitu: a. Secara alamiah, Membiarkan rusa kawin dan berkembangbiak tanpa campur tangan manusia. Menurut Semiadi dan Nugraha (2004), imbangan kelamin untuk rusa tropis adalah 1 : 6-10, tetapi pada pemeliharaan yang lebih intensif dapat digunakan imbangan kelamin 1 : 20. b. Secara semi alamiah Sistem perkawinan rusa diatur oleh manusia, antara lain dengan mengatur nisbah kelamin individu jantan dan individu betina selama musim kawin, atau dengan cara merangsang birahi rusa betina melalui pemberian preparat hormon reproduksi, misalnya hormon prostaglandin. Pada sistem ini rusa dikelompokkan menurut kelas umur dan jenis

30 15 kelamin, masing- masing diletakkan dalam pedok terpisah. Jantan dewasa dicampur dengan betina dewasa hanya selama musim kawin saja. c. Secara inseminasi buatan Sistem perkawinan rusa yang tidak banyak memerlukan rusa jantan yang dipelihara, hanya beberapa pejantan yang memiliki kualitas sangat baik sebagai pemacek saja yang dipelihara. Rusa pejantan selanjutnya ditampung semennya, kemudian dengan perlakuan tertentu dapat dilakukan inseminasi buatan atau AI (Artificial Insemination). Sistem perkawinan secara buatan pada rusa diawali pada tahun 1980 untuk kepentingan penelitian. Kemudian berkembang secara luas sejalan dengan perkembangan industri pembibitan rusa. Saat ini kegiatan Inseminasi Buatan pada rusa di Indonesiaa masih sebatas untuk tujuan penelitian. 3. Perkandangan Semiadi dan Nugraha (2004) mengatakan bahwa, penangkaran rusa skala besar dengan tujuan pemeliharaan sudah diarahkan pada usaha penangkaran secara komersial, maka pemeliharaan dapat diterapkan dengan sistem pedok, yaitu dengan cara dilepas atau ditempatkan pada suatu lahan terbuka dengan luasan tertentu yang hanya dibatasi dengan pagar keliling. Mengingat pedok bukan hanya berfungsi sebagai kandang, tetapi juga sebagai tempat mencari makan,maka dalam pedok harus tersedia padang penggembalaan sebagai sumber pakan hijauan dan rusa diberi kebebasan untuk merumput sepanjang waktu. Selanjutnya dikatakan bahwa dalam penangkaran sistem pedok ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain: a. Lokasi Pedok Penentuan lokasi pedok memegang peranan penting demi kelancaran aktifitas yang berkaitan dengan kegiatan penangkaran. Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah: - Tempat tinggal, untuk penjagaan keamanan dan pengawasan yang intensif kegiatan penangkaran - Akses jalan untuk mempermudah transportasi baik masuk maupun keluar lokasi penangkaran.

31 16 - Topografi Rusa lebih menyukai topografi yang berbukit dengan variasi topografi lainnya. Akan tetapi pembuatan pedok pada lokasi yang topografinya berbukit biayanya relatif lebih mahal dibanding dengan pembuatan pedok di tempat yang datar. - Ada naungan Rusa menyenangi daerah yang memiliki naungan. Naungan bisa berupa naungan alami maupun naungan buatan. Naungan alami berupa semak dan pohon yang tumbuh di dalam pedok atau pohon yang ditanam dibalik pagar. Naungan ini berfungsi untuk berlindung pada saat induk melahirkan dan berlindung dari sinar matahari pada saat beristirahat. - Ada sumber air Mengingat pentingnya air bagi kehidupan maka pedok harus ditempatkan pada lokasi yang memiliki sumber air b. Bentuk Pedok Bentuk pedok perlu disesuaikan dengan kondisi topografi. Pedok yang bentuknya memanjang akan mempermudah dalam hal penggiringan, sedangkan pedok berbentuk persegi akan mengurangi rusa bergerombol pada satu sisi, sehingga mengurangi terjadinya erosi atau kerusakan lahan penggembalaan. c. Luasan Pedok Penentuan luas pedok harus mempertimbangkan rencana pengelompokan serta jumlah rusa yang ditangkarkan. Pembuatan pedok yang ideal ukurannya 1,5-2 ha. Bahkan ada pedok berukuran kecil yaitu antara m². Secara garis besar, kepadatan rusa di padang rumput adalah ekor/hektar untuk rusa dewasa atau ekor/hektar untuk rusa remaja (< 2 tahun). d. Pintu dan Jalan/Gang Pedok Setiap pedok harus dihubungkan dengan pintu untuk menuju ke pedok yang lain atau gang (raceway). Gang disini adalah jalan dengan 2-2,5 m yang berfungsi untuk menghubungkan pedok satu dengan pedok lainnya.

32 17 e. Pagar Pagar berfungsi sebagai pembatas antar pedok atau sebagai pembatas atara pedok dengan areal di luar penangkaran. Bahan pagar terbuat dari kawat campuran baja dengn diameter 2.5 mm atau menggunakan kawat harmonika diameter 3,5 mm, tinggi pagar 2,0 m dan tiang pancang dibuat setiap jarak 2 m. f. Jenis dan Jumlah Pedok Jenis dan jumlah pedok dapat dikembangkan sesuai dengan peruntukannya antara lain pedok karantina, pedok induk, pedok jantan pedok anak dan pedok terminal. Jumlah pedok dalam suatu penangkaran rusa sangat berpengaruh terhadap efisiensi manajemen penggembalaan (Tuckwell, 1998). 4. Padang Rumput dan Kebun Rumput Usaha penangkaran rusa tidak terlepas dari penyediaan rumput sebagai pakan utama. Penyediaan rumput dapat berasal dari padang rumput/padang penggembalaan. Dengan padang penggembalaan rusa diberi kebebasan untuk merumput sepanjang waktu. Menurut Smith (1971) dalam Perum Perhutani dan Fakultas Kehutanan IPB (1991), padang rumput adalah suatu lahan yang didominasi oleh berbagai tipe tumbuhan terutama oleh jenis rumput-rumputan dan tumbuhan herba lainnya. Dikatakan juga bahwa padang rumput merupakan sumber pakan hijauan yang utama bagi satwa herbivora. Beberapa jenis rumput dan kacang-kacangan padang penggembalaan di daerah tropis antara lain Axonopus compressus (rumput pahit), Brachiaria brizantha (signal grass), Paspalum dilatatum (rumput australia), Brachiaria mutica (rumput kolonjono), Digitaria decumbes (rumput pangola), Cynodon dactylon (rumput kawat), Calopogonium mucunoides (kalopo) dan Centrosema pubescens (centro) (McIlroy, 1964). Selain padang penggembalaan sumber pakan hijauan dapat berasal dari kebun rumput. Kebun rumput digunakan untuk melengkapi kekurangan rumput yang terdapat di padang penggembalaan. Selain itu juga merupakan salah satu

33 18 cara untuk mengurangi tekanan penggembalaan padang rumput, karena jumlah satwa yang berlebih atau karena musim kemarau (McIlroy, 1964). Beberapa jenis rumput potong unggul yang biasa di tanam di kebun rumput antara lain Pennisetum purpureum (rumput gajah), Panicum maximum (rumput benggala), Setaria sphacelata (rumput padi), Eechaena mexicana (rumput mexico) (Semiadi dan Nugraha, 2004). 5. Pakan Rusa Menurut Alikodra (2002), semua organisme memerlukan sumber energi. Satwaliar dalam memperoleh energi memerlukan perantara organisme lain sesuai dengan posisinya dalam rantai makanan. Satwaliar yang makanannya beranekaragam akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungannya. Satwaliar memerlukan energi untuk proses-proses metabolisme dasar dan tambahan kalori untuk melakukan aktivitas hariannya. Dikatakan juga bahwa kebutuhan energi untuk metabolisme dasar erat hubungannya dengan luas permukaan tubuh yang merupakan fungsi dari berat badannya. a. Jenis Bahan Pakan Menurut Dradjat (2002), rusa merupakan ruminansia dengan cara makan grazing (makan rumput), browsing (makan daun-daunan semak di hutan), makan biji-bijian dan makan jamur. Dikatakan juga bahwa di penangkaran pakan rusa lebih bervariasi, pakan yang biasa disukai sapi, domba dan kambing tentu disukai rusa, disamping itu rusa makan bibi-bijian, pelet, jagung, kentang dan buahbuahan. Secara alami kesukaan rusa terhadap jenis pakan berbeda-beda tergantung jenis rusanya. Rusa timor lebih dominan mengkonsumsi rumputrumputan, hal ini karena dipengaruhi habitat asli rusa timor yang berupa padang savanna. Terlepas apa yang menjadi pakan utamanya, rusa timor hampir menyukai segala jenis hijauan dan pakan tambahan. Oleh karena itu rusa timor dikenal sebagai rusa yang mudah dalam hal penyediaan pakannya, serta mampu beradaptasi dengan mudah apabila terjadi perubahan pakan (Semiadi dan Nugraha, 2004). Persediaan pakan rusa banyak terdapat di padang rumput yang dikenal dengan nama padang penggembalaan atau grazing area (Schroder, 1976). Jenis

34 19 rumput untuk padang penggembalaan dengan sendirinya merupakan jenis yang disukai rusa, cepat tumbuh, tahan terhadap injakan rusa, tahan api dan tahan kekeringan. Dalam suatu padang penggembalaan tidak semua jenis rumput memiliki sifat-sifat seperti di atas, kecuali padang penggembalaan buatan, memang telah dipilih jenis-jenis rumput yang memenuhi persyaratan tersebut (Alikodra, 1979). Prasetyonohadi (1986) menyatakan bahwa di Pulau Moyo, rumput yang disukai rusa adalah Paspalum longifolium, Imperata cylindrica, Eragrostis sp, Cenchrus brownii, Paspalum sp, Cyperus rotundus dan Cynodon dactylon. Menurut Semiadi dan Nugraha (2004), dalam usaha penangkaran, meskipun rusa menyukai segala bentuk hijauan, namun akan lebih baik apabila rusa diberi pakan hijauan berupa rumput dan leguminosa unggul. Beberapa jenis rumput unggul antara lain Pennisetum purpureum, Panicum maximum, Setaria sphacelata, Brachiaria brizantha, Paspalum dilatatum, Brachiaria mutica, sedangkan beberapa jenis leguminosa unggul antara lain Stylosanthes guyanensis dan Leucaena leucocephala. Dikatakan juga bahwa selain pakan hijauan sebagai tambahannya dapat diberikan konsentrat, sayur-sayuran, umbi-umbian atau limbah pertanian dan limbah industri. Menurut Vos (1982), jenis-jenis pakan tambahan untuk rusa antara lain oats (sejenis gandum), wijen, biji bunga matahari, kentang dan umbi-umbian lainnya. Bahan pakan tersebut merupakan bahan pakan sebagai sumber energi dan merupakan bahan pakan tambahan yang sesuai/cocok. Pada umumnya pakan tambahan diberikan dalam bentuk campuran. a. 1. Dedak Padi. Dedak padi merupakan salah satu jenis limbah pertanian yang potensial untuk pakan ternak. Menurut Direktorat Bina Produksi dan Fakultas Peternakan IPB (1985), dedak padi merupakan hasil samping dari proses penggilingan atau penumbukan padi. Dikatakan juga bahwa dari proses penggilingan padi/gabah, biasanya diperoleh dedak sekitar 4% dari total padi/gabah yang digiling. Dari hasil penelitian, dedak memiliki komposisi kimia yang bervariasi, hal ini dimungkinkan karena perbedaan varietas, perbedaan asal tanaman dan cara penggilingan.

35 20 Menurut Andini dan Suharni (1997), berdasarkan kualitasnya dedak padi dibedakan menjadi 4 macam yaitu (1) Dedak kasar, yaitu dedak yang tersusun atas pecahan kulit gabah (sekam) dan sedikit tercampur pecahan beras, memiliki kandungan protein serta daya cerna yang sangat rendah. (2) Dedak halus kampung,yaitu dedak yang berasal dari hasil samping penumbukan padi secara tradisional yang tersusun atas pecahan kulit gabah (sekam), kulit ari dan pecahan beras. (3) Dedak halus pabrik, yaitu hasil ikutan penggilingan padi untuk memperopeh asah, banyak beras mengandung protein dan vitamin B1. (4) Bekatul, yaitu hasil ikutan penggilingan padi yang masih banyak mengandung pecahan-pecahan beras yang halus (menir). Kandungan nutrisi dari keempat jenis dedak tertera pada Tabel 2. Tabel 2 Kandungan nutrisi dedak padi* No Nutrisi Dedak kasar Jenis dedak Dedak halus kampung Dedak halus pabrik Bekatul 1 Bahan kering (%) 86,0 86,0 86,0 86,0 2 Protein kasar (% BK) 7,6 9,9 13,8 14,0 3 Serat kasar (% BK) 27,8 19,8 11,6 6,0 4 Lemak kasar (% BK) 3,7 4,9 14,1 12,4 5 BETN (% BK) 44,6 50,8 48,7 58,6 6 Abu (% BK) 16,3 14,6 11,8 9,0 * Sumber: Andini dan Suharni (1997) Pemanfaatan dedak padi sebagai bahan pakan ternak telah lama digunakan baik untuk ternak unggas, ruminansia maupun jenis ternak lainnya. Hasil survei menunjukkan bahwa penggunaan dedak padi di dalam pakan unggas dapat mencapai %, untuk ternak babi 9-100%, untuk ternak sapi potong % dan sapi perah 20-96% (Direktorat Bina Produksi dan Fakultas Peternakan IPB, 1985). Selain untuk jenis-jenis ternak di atas, dedak padi juga telah dimanfaatkan sebagai salah satu bahan pakan tambahan dalam usaha

36 21 penangkaran rusa. Rusa timor di penangkaran milik Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Kupang, selain hijauan sebagai pakan utamanya, juga diberi pakan tambahan berupa dedak padi sebanyak 0,5 kg per ekor dengan frekuensi pemberian 1-3 kali per minggu (Takandjandji dan Garsetiasih, 2002). Demikian juga rusa di penangkaran milik PT. Perhutani KPH Bogor, Jawa Barat, pakan tambahan yang diberikan salah satunya adalah dedak padi (PT. Perhutani KPH Bogor, 2002). a. 2. Kulit Pisang. Menurut Kartasaputra (1988) dalam Subur (1992), tanaman pisang merupakan tanaman herba raksasa dengan tinggi mencapai 3,5-7,5 m atau lebih. Tumbuh tersebar dari daerah Afrika Barat sampai Pasifik atau banyak tumbuh di daerah dataran rendah tropis basah dengan ketinggian sampai 1000 m di atas permukaan laut dengan suhu optimal 27 dan curah hujan tahunan rata-rata mm. Ochse et al (1961) dalam Robetson (1993), mengklasifikasikan pisang menjadi 2 (dua) bagian besar, yaitu a) Pisang yang dapat dimakan langsung (banana), terdiri atas dua varietas, yaitu (1) Musa paradisiaca var sapientum (L) Kuntze (M. sapientum var paradisica Baker), (2) Musa nana Lour (M. chinensis Sweet, M. cavendishii Lamb). b) Pisang yang umumnya dimakan setelah dimasak dahulu (plantain), yaitu Musa paradisica l. Berbagai jenis pisang yang ada ini disebabkan karena evolusi dan penyerbukan silang yang telah berlangsung bertahuntahun. Pisang-pisang yang ada sekarang, dahulu berasal dari pisang liar dan berbiji yaitu Musa acuminata dan Musa balbisiana (Valmayor et al, 1991) dalam Robetson (1993). Jachja (1991) dalam Subur (1992) menyatakan bahwa secara keseluruhan tanaman pisang terdiri atas: bonggol 19,22%, batang 58,59%, daun 3,63% dan buah 18,56%. Dari 18,56% berupa buah tersebut 1/3 (sepertiga) nya adalah kulit, merupakan bahan buangan (limbah buah pisang) yang pada umumnya belum dimanfaatkan secara nyata, hanya

37 22 dibuang sebagai limbah. Padahal kandungan nutrisi kulit pisang cukup berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak. Kandungan nutrisi berbagai jenis kulit pisang dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3 Kandungan nutrisi berbagai jenis kulit pisang (mentah dan masak), hasil analisis proksimat (% bahan kering)* Jenis kulit pisang Ambon (mentah) (masak) Batu Mas (mentah) (masak) (mentah) (masak) Nangka (mentah) (masak) Uli (mentah) (masak) Kandungan nutrisi BK Abu PK LK SK BETN 10,85 12,24 9,40 10,00 14,22 18,72 10,80 11,01 13,75 14,37 13,85 17,43 10,64 15,22 14,72 17,37 9,84 17,17 13,14 14,30 6,43 8,71 4,51 6,41 5,27 8,66 7,00 7,84 8,83 9,68 7,68 7,66 10,65 10,38 3,84 5,75 3,51 3,45 2,69 5,65 11,56 12,42 20,64 24,78 9,91 18,52 7,85 12,14 7,36 12,22 60,48 53,78 53,56 43,21 66,26 49,70 71,80 57,40 67,98 58,19 * Sumber: Robetson (1993) Munadjim (1988) dalam Subur (1992), menyatakan bahwa kulit pisang dapat dimanfaatkan sebagai pakan kambing, babi, sapi, kelinci, kuda dan yang lainnya. Dikatakan juga bahwa sebelum diberikan kepada ternak kulit pisang perlu dipotong-potong/dicacah menjadi ukuran kecil, kemudian dicampur dedak atau bahan pakan yang lain. Pencampuran ini bertujuan untuk melengkapi kandungan nutrisi yang dibutuhkan, dan pemotongan/pencacahan kulit pisang bertujuan agar pencampuran dapat merata/homogen. Pemanfaatan kulit pisang sebagai bahan pakan ternak merupakan bentuk pendayagunaan salah satu jenis limbah industri pertanian dan merupakan keanekaragaman penyediaan bahan pakan. Namun demikian jumlah limbah kulit pisang tidak semuanya efektif sebagai limbah yang berpotensi untuk dimanfaatkan, mengingat kulit buah pisang tersebut berasal dari beberapa daerah penghasil buah pisang dan perbedaan cara konsumen dalam memanfaatkan buah pisang (Parakkasi, 1990).

38 23 Potensi limbah kulit pisang ini lebih jelas jumlahnya dapat diperoleh dari industri pengolahan pisang, diantaranya industri sale dan industri keripik pisang (Jachja et al., 1991) dalam Subur (1992). Disamping memiliki kandungn nutrisi yang tinggi, pemanfaatan kulit pisang sebagai pakan ternak memiliki kelemahan. Chicco dan Shultz (1977) dalam Robetson (1993), menyatakan bahwa didalam kulit pisang terdapat senyawa tanin yang dapat mengurangi palatabilitasnya. Dikatakan pula bahwa tanin dalam kulit pisang akan berkurang dengan masaknya buah pisang tersebut. Widodo (2005), menyatakan bahwa senyawa tanin dalam pakan menyebabkan ternak kurang menyukainya karena rasa sepat yang disebabkan adanya interaksi tanin dengan protein saliva, sehingga mempengaruhi konsumsi pakannya. a. 3. Ubi Jalar. Menurut Rubatzky (1995) dalam Sunarwati (2001), ubi jalar (Ipomea batatas) berasal dari daerah tropika Amerika, di wilayah yang meliputi Panama, bagian Utara Amerika Selatan dan Hindia Barat. Ubi jalar dapat tumbuh baik di dataran rendah maupun dataran tinggi sampai ketinggian 2500 m di atas permukaan laut (Kay, 1973) dalam Sunarwati (2001). Indonesia merupakan penghasil ubi jalar terbesar kedua setelah China, dengan produksi nasional 1,8 juta ton per tahun 1995 (Rubatzky, 1995) dalam Sunarwati (2001), dengan produksi rata-rata di tingkat petani Indonesia sekitar 9 ton umbi segar per hektar, sedangkan dari usaha tani intensif sebesar 30 ton umbi segar per tahun (Nasri dan Zulkifli, 1995) dalam Sunarwati (2001). Ubi jalar disamping sebagai tanaman pangan, juga dapat digunakan sebagai pakan ternak dan pemanfaatannya tidak terbatas pada daunnya saja tetapi juga umbinya. Pemanfaatan umbi ubi jalar sebagai pakan ternak biasanya sebagai pakan tambahan yang pemberiannya dicampur dengan bahan pakan yang lain (Dewan Redaksi Bhratara, 1994). Sunarwati (2001) menyatakan bahwa sebelum diberikan ke ternak umbi ubi jalar dipotong-potong dahulu, sedangkan daunnya dapat diberikan langsung. Pemanfaatan umbi ubi jalar sebagai bahan pakan juga telah dilakukan di

39 24 tempat penangkaran rusa. Salah satu penangkaran rusa yang memberikan pakan tambahan berupa umbi ubi jalar adalah panangkaran rusa milik PT Perhutan KPH. Bogor, Jawa Barat (PT Perhutani KPH Bogor, 2002). Berdasarkan kandungan nutrisinya, ubi jalar memiliki keunggulan. Walaupun kandungan protein relatif rendah, namun kualitasnya tinggi, yaitu 2/3 (dua per tiga) dari kandungan proteinnya terdiri dari protein globulin yang banyak mengandung asam amino esensial (Onwueme, 1978) dalam Rahmatiillah (2005). a. 4. Singkong. Singkong atau ubi kayu termasuk jenis tanaman yang dapat tumbuh di daerah-daerah subur maupun kurang subur, pada ketinggian meter di atas permukaan laut, dengan curah hujan berkisar antara mm dan suhu optimum C (Grace, 1977) dalam Purwani (1992). Singkong disamping sebagai bahan makanan manusia juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak. Pemanfaatan singkong sebagai pakan dapat dilakukan secara langsung maupun dalam bentuk limbahnya. Menurut Coursey dan Holiday (1974) dalam Purwani (1992), bahwa kandungan BETN ubi kayu lebih tinggi, namun kandungan protein kasar dan ekstrak eternya lebih rendah. Dikatakan juga bahwa defisiensi protein dapat diatasi dengan cara mencampurnya dengan bahan pakan sumber protein. Kandungan nutrisi umbi ubi jalar dan singkong, tertera pada Tabel 4. Tabel 4 Kandungan nutrisi umbi ubi jalar dan singkong * No Nutrisi Ubi Jalar Singkong 1 Bahan kering (%) 25,0 30,0 2 Protein kasar (% BK) 4,8 3,3 3 Serat kasar (% BK) 6,0 5,4 4 Ekstrak eter (Lemak) (% BK) 2,0 0,7 5 BETN (% BK) 83,2 87,3 6 Abu (% BK) 4,2 3,3 Sumber: Andiani dan Suharni (1997)

40 25 Penggunaan ketela pohon sebagai bahan pakan perlu kehati-hatian, karena ada varietas-varietas tertentu yang mengandung asam sianida (HCN) yang dapat menyebabkan keracunan pada ternak yang mengkonsumsinya (Andini dan Suharni, 1997). Namun untuk kelompok hewan ruminansia mampu mentolerir asam sianida yang masuk ke dalam tubuhnya sampai mg per kg bobot badannya, hal ini karena melalui proses pencernaan yang terjadi di dalam rumennya, mampu menetralisir asam sianida tersebut. (Arora, 1983). b. Kebutuhan Pakan dan Nutrisi Kebutuhan pakan dapat diartikan sebagai kebutuhan akan kalori setiap hari. Energi sangat diperlukan untuk hidup dan pertumbuhan, menggantikan bagian-bagian tubuh yang rusak dan untuk reproduksi. Rusa membutuhkan kalori berkisar antara kalori setiap harinya (Dasman, 1964) dalam (Hasiholan, 1995). Menurut Sutrisno (1930) yang dikutip oleh Hasiholan (1995), rusa dewasa di pulau Timor membutuhkan pakan 5,7 kg (bahan segar) per ekor per hari. Hasil penelitian Hasiholan (1995), menunjukkan bahwa rata-rata konsumsi pakan harian rusa dewasa di tempat penangkaran, Balai Penelitian Kehutanan Kupang adalah 5,2 kg (bahan segar) setara dengan 0,55 kg (bahan kering). Teddy (1998) menyatakan, bahwa konsumsi makan harian rusa dewasa di penangkaran Perum Perhutani, Jonggol, Jawa Barat adalah 5,88 kg (bahan segar). Menurut Anggorodi (1979), bahan pakan harus dapat menyediakan zat makanan yang berguna untuk membangun, menggantikan bagian-bagian sel tubuh dan menciptakan hasil- hasil produksi serta memberikan energi untuk prosesproses tersebut. Zat makanan atau nutrisi adalah penyusun atau group penyusun bahan makanan yang umumnya mempunyai kombinasi kimia yang serupa atau sama yang diperlukan oleh makhluk hidup. Nutrisi yang dimaksud adalah protein, karbohidrat, lemak, mineral, dan vitamin (Parakkasi, 1990). Menurut Semiadi dan Nugraha (2004), secara garis besar pada setiap jenis pakan nutrisi yang terkandung dapat dikelompokkan menjadi air, protein, lemak, energi mineral serta vitamin. Air, protein, lemak dan energi disebut sebagai nutrisi makro karena tingkat kebutuhannya yang besar, sedangkan yang lain disebut

41 26 sebagai nutrisi mikro karena tingkat kebutuhannya yang relatif lebih kecil. Dikatakan juga bahwa dalam pengutaraan kebutuhan nutrisi, nilai kebutuhan ditampilkan dalam unit bahan kering (BK) atau Dry Matter (DM), yaitu kondisi dimana kandungan air telah dihilangkan sama sekali (sekitar 95-97%) lewat pemanasan. Pengutaraan dengan cara demikian sangat tepat, mengingat unsur air dalam setiap bahan pakan sangat bervariasi. Air merupakan komponen yang sangat penting dan dibutuhkan oleh semua makhluk hidup. Di dalam tubuh air mempunyai fungsi antara lain untuk mengontrol suhu tubuh, mengangkut dan melarutkan zat nutrisi, membantu proses reaksi kimiawi dalam tubuh (metabolisme) dan sebagai pelumas diantara persendian (Semiadi dan Nugraha, 2004). Protein deperlukan oleh setiap bentuk kehidupan, karena protein merupakan struktur dasar pembentuk semua jaringan tubuh yang terdiri dari jaringan otot, tulang, syaraf, kulit, sel darah, rambut, kuku dan ranggah. Protein merupakan suatu bahan organik komplek yang tersusun atas asam amino. Asam amino merupakan asam organik yang mengandung satu atau lebih gugus amino (NH2). Asam amino dibedakan menjadi 2 macam yaitu asam amino esensial (utama) dan asam amino non esensial (sekunder). Asam amino esensial sangat dibutuhkan dan tidak dapat disintesa oleh tubuh hewan, sehingga harus disediakan dari pakan, sedangkan asam amino non esensial dapat dibentuk dari asam amino yang lainnya oleh tubuh hewan, sehingga keberadaannya dalam pakan tidak terlalu dikhawatirkan (Semiadi dan Nugraha, 2004). Rusa timor yang digembalakan di padang penggembalaan berkualitas rendah dengan kandungan protein sekitar g/kg BK dan gros energi kilo joule/ kg BK, menyebabkan kehilangan bobot badan 5% dari bobot badan awal, sedangkan pada padang penggembalaan yang mengandung protein g/kg BK dan gros energi kilo joule/kg BK dapat memberikan kenaikan bobot badan 10% dari bobot badan awal (Semiadi dan Nugraha, 2004). Lemak merupakan hasil dari penimbunan kelebihan energi. Disamping berfungsi sebagai cadangan energi, lemak berfungsi sebagai pelarut beberapa jenis vitamin yang hanya dapat larut dalam lemak. Lemak mengandung nilai kalori 2,25 lebih tinggi dari kelompok karbohidrat. Jika terjadi kelebihan energi, maka

42 27 pertama kali akan ditimbun di daerah alat pencernaan dan ginjal. Jika kelebihan lemak terus berlangsung maka berikutnya akan ditimbun diantara jaringan otot/daging (inter muscular fat), di bawah kulit (sub cutan fat), atau di bawah daging (intra muscular fat) (Semiadi dan Nugraha, 2004). Energi, dibutuhkan satwa untuk menjalankan semua proses metabolisme, pergerakan otot dan pembentukan jaringan baru. Dalam pembagiannya, energi dibedakan menjadi 4 kategori: (1) gross energy (gros energi), yaitu total kandungan energi yang ada di dalam suatu bahan pakan. (2) Digestible energy (Energi tercerna), yaitu bagian dari gross dikurangi dengan nilai energi yang terkandung dalam kotoran, (3) metabolisable energy (energi metabolic), yaitu bagian dari energi yang tersisa setelah energi tercerna dikurangi energi yang terkandung dalam urine dan gas metan. Energi inilah yang sebenarnya digunakan untuk berbagai aktivitas, tumbuh, menjadi gemuk, untuk perkembangan anak di dalam kandungan, serta produksi susu, (4) net energy, yaitu bagian dari energi metabolic yang digunakan untuk pertumbuhan dan produksi yang lebih tinggi lagi, bilamana energi yang tersisa sebagai energi metabolic masih cukup banyak (Kartadisastra, 1997) dan (Semiadi dan Nugraha 2004). Mineral, merupakan unsur anorganik yang umumnya dibutuhkan dalam jumlah kecil dibandingkan kebutuhan protein, lemak maupun air. Dalam jaringan tubuh mineral berfungsi sebagai pembentuk tulang, gigi, rambut, kuku dan ranggah, serta untuk pembentukan jaringan lunak dan sel darah merah. Mineral juga berfungsi sebagai penyeimbang tekanan osmosis cairan tubuh melalui bentuk ion-ionnya, berperan dalam pembentukan enzim dan hormon, serta sebagai komponen suatu vitamin (Semiadi dan Nugraha, 2004). Vitamin merupakan senyawa organik yang dibutuhkan untuk pertumbuhan normal dan kehidupan. Sesuai dengan sifat pelarutannya, vitamin dibedakan menjadi 2 golongan, yaitu vitamin yang larut dalam lemak (vitamin A, D, E dan K), dan sisanya adalah vitamin yang larut dalam air (Anggorodi, 1979). Kebutuhan vitamin secara alami banyak diperoleh dari tumbuhan atau buahbuahan yang masih segar, namun pemberian tambahan vitamin masih dimungkinkan terutama pada rusa yang sakit, dengan cara dicampur dengan pakan, air minum maupun melalui suntikan (Semiadi dan Nugraha, 2004).

43 28 Palatabilitas Pakan Menurut Ivins (1952) dalam McIlroy (1964), palatabilitas adalah hasil keseluruhan faktor-faktor yang menentukan suatu makanan sampai pada tingkat menarik bagi satwa, dengan demikian palatabilitas dapat dianggap sebagai penghubung antara rumput dengan satwa yang merumput dan beberapa ahli menganggap bahwa palatabilitas merupakan suatu aspek makan yang lebih menentukan dari pada nilai gizi makanan. Selanjutnya dikatakan bahwa sering kali dibuktikan sapi lebih menyukai rumput asli dari pada rumput hasil seleksi, meskipun produktivitas dan nilai gizi rumput asli lebih rendah. Menurut Trippensee (1948) dalam Prasetyonohadi (1986), palatabilitas pakan hijauan di suatu padang penggembalaan dapat diketahui dengan cara melakukan pengamatan pada petak-petak contoh berukuran 1m x 1m (1m²). Jenis-jenis rumput yang terdapat di setiap petak contoh dicatat. Disamping itu juga diamati dan dicatat jenis-jenis rumput bekas direnggut/dimakan rusa pada setiap petak contoh. Selanjutnya jumlah petak contoh diketemukannya spesies tertentu bekas dimakan rusa dibagi dengan seluruh jumlah petak contoh terdapatnya spesies tersebut diperoleh nilai indeks palatabilitas (IP). Hasil penelitian Prasetyonohadi (1986) menunjukkan bahwa diantara jenis-jenis rumput yang tumbuh di padang rumput Suaka Margasatwa Pulau Moyo ada 7 jenis yang dimakan rusa dengan tingkat palatabilitas yang berbeda, yaitu Paspalum longifolium (0,98 ), Imperata cylindrica (0,86), Eragrostis sp (0,85), Cenchrus brawnii (0,75), Paspalum sp (0,50 ), Ciperus rotundus (0,25 ) dan Cynodon dactylon (0,20). Hasil penelitian Hasiholan (1995), diantara jenisjenis rumput yang tumbuh di Taman Buru Pulau Ndana ada 3 jenis yang dimakan rusa dengan tingkat palatabilitas sebagai berikut: Digitaria sanguinalis (0,97), Panicum sp (0,95) dan Fimbristylis annua (0,1). Menurut Arora (1983), jika suatu pakan tertentu kurang palatabilitasnya dibandingkan dengan pakan yang lain, akan membatasi konsumsinya. (Kartadisastra,1997) menyatakan bahw palatabilitas merupakan sifat performansi bahan-bahan pakan sebagai akibat dari keadaan fisik dan kimiawi yang dimiliki bahan-bahan pakan yang dicerminkan oleh organoleptiknya seperti kenampakan, bau, rasa (hambar, asin, manis, pahit), tekstur dan temperaturnya, hal inilah yang

44 29 menumbuhkan daya tarik dan merangsang satwa untuk mengkonsumsinya. Parakkasi (1999), menyatakan bahwa tingkat konsumsi suatu pakan dapat pula disamakan dengan palatabilitas atau menggambarkan palatabilitas. Dikatakan juga bahwa tingkat konsumsi (Voluntary Feed Intake /VFI) adalah jumlah pakan yang terkonsumsi oleh hewan bila pakan tersebut diberikan secara ad libitum. Produktivitas Hijauan dan Daya Dukung Produktivitas Hijauan. Menurut McIlroy (1964), padang rumput merupakan sumber hijauan makanan ternak, baik bagi ternak domestik/piaraan maupun yang liar, sehingga pada umumnya oleh para peternak sedapat mungkin dijaga dengan tujuan agar keadaannya sejauh mungkin tetap produktif. Dikatakan juga bahwa produktivitas suatu padang rumput di berbagai tempat berbeda-beda, karena dipengaruhi banyak faktor, antara lain: a) Persistensi (daya tahan), yaitu kemampuan bertahan untuk hidup dan berkembangbiak secara vegetatif. b) Agresivitas (daya saing), yaitu kemampuan memenangkan persaingan dengan spesies-spesies lain yang tumbuh bersama. c) Kemampuan tumbuh kembali setelah injakan dan penggembalaan berat. d) Sifat tahan kering dan tahan dingin. e) Penyebaran produksi musiman. f) Kemampuan menghasilkan biji yang dapat tumbuh dengan baik atau dapat dikembangkan secara vegetatif dengan murah. g) Kesuburan tanah. h) Keadaan iklim. Hasiholan (1995), menyatakan bahwa produktivitas rumput di Taman Buru Pulau Ndana pada musim kemarau adalah 6,9 kg /ha/hari dan pada musim hujan 13,8 kg/ha/hari (bahan segar). Sedangkan produktivitas rumput lahan penggembalaan penangkaran rusa Perum Perhutani KPH Bogor di Jonggol pada musim hujan adalah 49,53 kg/ha/hari dan pada musim kemarau adalah 24,76 kg/ha/hari. (Teddy, 1998).

45 30 Castle, (1955) dalam McIlroy (1964) mengatakan bahwa produktivitas padang rumput dapat dihitung dengan cara pemotongan hijauan dari suatu luasan padang rumput sebagai cuplikan (sample), menimbangnya dan kemudian dihitung produksi per unit luas padang rumput bersangkutan. Dikatakan juga bahwa untuk mengetahui kuantitas dan kualitas nya, maka sebagian rumput yang dipotong dianalisa untuk mengetahui berapa banyak tersedia bahan kering, protein kasar dan sebagainya yang dapat disajikan dalam penggembalaan. Samford (1960) dalam McIlroy (1964) menyataka bahwa dalam melakukan pendugaan produksi, terdapat beberapa sumber-sumber kesalahan, yaitu: a) Variasi produksi antar petak b) Kesalahan acak (random sampling) dalam menduga produksi c) Kesalahan acak dalam menduga sisa hijauan yang tidak dimakan. d) Kesalahan dalam pemotongan, penimbangan dan sebagainya sehingga menyebabkan bias dalam pendugaan produksi dan sisa. Namun penghitungan produktivitas rumput dengan teknik pemotongan hijauan adalah cepat dan mudah serta mampu memberikan keterangan-keterangan yang berfaedah bilamana proses pengambilan cuplikan telah distandardisasikan secara tepat. Menurut Susetyo (1980), produktivitas rumput per tahun per satuan luas tertentu merupakan panen kumulatif yang dihasilkan dari beberapa kali pemotongan, yaitu produksi pada musim hujan dan produksi pada musim kemarau yang jumlahnya ½ dari produksi pada musim hujan. Daya Dukung Secara umum, suatu wilayah dapat menampung sejumlah satwaliar sesuai dengan daya dukungnya. Pada jumlah satwa yang masih sedikit, besarnya populasi relatif kecil dan persaingan diantara individupun sangat kecil. Besarnya populasi ini akan berkembang terus sehingga persaingan diantara anggotanya semakin ketat, pada akhirnya akan dicapai suatu keadaan dimana besarnya populasi tidak akan bertambah lagi. Keadaan ini dikenal sebagai batas daya dukung kawasan (Alikodra, 2002). Menurut Wiersum (1973) dalam Hasiholan (1995), pengertian daya dukung adalah banyaknya satwa yang dapat ditampung di suatu areal pada situasi dan kondisi tertentu. Dasman (1964) dalam Hasiholan (1995) mengatakan bahwa

46 31 habitat hanya dapat menampung jumlah satwa pada suatu batas tertentu, sehingga daya dukung menyatakan fungsi dari habitat. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk menilai daya dukung kuantitatif suatu habitat adalah berdasarkan potensi makanannya (Alikodra, 2002). Menurut Susetyo (1980), daya dukung diketahui dengan jalan membagi produksi rumput/hijauan per hari dengan kebutuhan rumput/hijauan per ekor per hari, akan tetapi tidak semua hijauan tersebut tersedia bagi satwa, sebagian tanaman harus ada yang ditinggalkan untuk menjamin pertumbuhan kembali. Sebagian tanaman yang dapat dimakan/tersedia untuk satwa tersebut dinamakan proper use. Selanjutnya dikatakan bahwa factor yang paling berpengaruh terhadap proper use suatu padang penggembalaan adalah keadaan topografi lapangan, karena hal ini sangat membatasi ruang gerak satwa. Proper use lapangan datar dan bergelombang (dengan kemiringan 0º-5º) adalah 60%-70%, pada lapangan bergelombang dan berbukit (kemiringan 5º-23º) adalah 40%-45%, dan pada lapangan berbukit sampai curam (kemiringan lebih dari 23º) proper use nya adalah 25%-30%.

47 32 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN Sejarah Singkat PPPG Pertanian. Pusat Pengembangan Penataran Guru (PPPG) Pertanian atau VEDCA (Vocational Education Development Center for Agriculture) adalah lembaga pemerintah di bawah naungan Departemen Pendidikan Nasional, yang merupakan unit pelaksana teknis (UPT) dalam bidang pendidikan dan pelatihan. PPPG Pertanian mulai dirintis pada tahun 1989 melalui dana APBN dan bantuan luar negeri khususnya ADB (Asian Development Bank). Ditetapkan secara resmi berdasarkan SK MENDIKBUD RI No. 0529/0/1990, tanggal 14 Agustus 1990 dan diresmikan pada tanggal 09 Maret 1991 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan waktu itu, Prof. Dr. Fuad Hasan. Sebagai lembaga pengembangan diklat, PPPG Pertanian berperan dalam peningkatan kualitas sumberdaya manusia di bidang pertanian bagi guru SMK Pertanian khususnya dan masyarakat pada umumnya, secara umum memiliki tugas pokok dan fungsi sebagai berikut: 1. Menjadi lembaga pemikir (think thank) bagi Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan, dalam pengembangan pendidikan menengah kejuruan pertanian. 2. Menjadi lembaga pelayan, pembina dan pembimbing dalam peningkatan mutu lembaga pelaksana pendidikan. 3. Sebagai pelaksana dan pengembang program pendidikan dan latihan dalam bidang kejuruan pertanian. 4. Mengembangkan lembaga VEDCA agar mampu melaksanakan peran fungsi dan tugas di atas, sesuai atau relevan dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta tuntutan masyarakat. 5. Melakukan kerjasama dalam dunia usaha atau dunia industri dan departemen terkait dalam rangka turut meningkatkan kemampuan sumberdaya manusia Indonesia melalui penataran magang, kerja proyek serta menumbuhkan dan mengembangkan unit produksi.

48 33 Letak Geografis PPPG Pertanian terletak di jalan raya jangari Km. 14 (dari arah kota Cianjur). Secara administrasi pemerintahan termasuk wilayah Desa Sukajadi Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur Jawa Barat. Menempati areal seluas ± 54,4 ha, terletak pada ketinggian 280 di atas permukaan laut. Suhu udara berkisar antara C, dengan curah hujan mm per tahun. Peta lokasi tertera pada Lampiran 1. Sejarah Singkat Lokasi Penangkaran Informasi tertulis tentang sejarah singkat lokasi penangkaran tidak ada. Sejarah singkat pemanfaatan lokasi penangkaran rusa diperoleh berdasarkan hasil wawancara antara penulis dengan Bapak Amang Suryana, salah seorang karyawan PPPG Pertanian juga sebagai penduduk setempat yang telah bekerja sejak pembangunan proyek kantor PPPG Pertanian dan akhirnya menjadi karyawan PPPG Pertanian. Berdasarkan hasil wawancara, lahan lokasi penangkaran rusa milik PPPG Pertanian Cianjur, awalnya sekitar tahun 1975 sampai dengan tahun 1989 merupakan lahan kebun jeruk siem (Citrus nabilis Var microrpa) seluas + 5 (lima) hektar. Pada saat pembangunan Kantor PPPG Pertanian tahun 1989, tanaman pohon jeruk diganti dengan tanaman pohon rambutan (Naphaleum lappaceum). Tahun 2004, pada saat dirintis uji coba penangkaran rusa Kepala PPPG Pertanian Cianjur mengijinkan di lahan kebun rambutan tersebut juga sebagai lokasi penangkaran rusa, yang letaknya di depan kantor dengan pertimbangan bahwa salah satu tujuan penangkaran rusa tersebut adalah untuk mendukung keindahan lingkungan kantor PPPG Pertanian Cianjur. Pada saat pembuatan kandang/pedok, tanaman rambutan tetap dipertahankan, karena disamping sebagai tanaman buah-buahan juga dimanfaatkan sebagai naungan (shelter) untuk rusa yang ditangkarkan. Keadaan Penangkaran Rusa Unit Ujicoba Penangkaran Rusa milik PPPG Pertanian, berada di bawah tanggung jawab Departemen Peternakan PPPG Pertanian. Penangkaran dilakukan dengan sistem pedok. Pedok terletak di depan kantor sisi sebelah kiri, seluruhnya

49 34 menempati areal seluas ± m². Rusa yang ditangkarkan ada 2 jenis, yaitu rusa timor (Cervus timorensis) dan rusa totol (Axis axis). Denah lokasi tertera pada Lampiran 1. Unit ujicoba penangkaran rusa ini dirintis pada awal tahun Tahap pertama pada bulan Maret 2004, dibangun pedok seluas ± 5400 m² dan ditangkarkan rusa timor sebanyak 7 ekor (2 jantan dan 5 betina). Bibit rusa berasal dari penangkaran rusa milik PT Perhutani KPH Bogor Jawa Barat. Pada awal tahun 2005 dilakukan pembuatan pedok tahap kedua, seluas ± 2000 m², untuk penangkaran rusa totol. Bibit rusa totol merupakan bantuan dari Istana Presiden Bogor, sebanyak 15 ekor (7 ekor jantan dan 8 ekor betina). Pada akhir tahun 2005 dilakukan pembuatan pedok tahap ketiga seluas ± 5500 m². Saat ini pemanfaatan pedok tersebut adalah 5400 m² untuk rusa timor dan 7500 m² untuk rusa totol. Pada penelitian ini yang menjadi obyek penelitian adalah penangkaran rusa timor dengan luas pedok 5400 m². Pagar pedok terbuat dari pagar besi BRC berdiameter 0,6-0,7 cm, tinggi 190 cm. Tiang pagar terbuat dari pipa air dengan diameter 2 inci. Di dalam lahan pedok penangkaran dilengkapi dengan gudang dan ruang pengawasan seluas 17,5 m² (3,5 m x 5 m), kandang karantina 100 m² (10 m x 10 m) dan tempat pakan/tempat minum. Di dalam lahan pedok penangkaran juga terdapat beberapa jenis pohon yang berfungsi sebagai naungan (shelter). Khusus pohon rambutan, untuk menghindari kerusakan akibat aktivitas rusa mengasah ranggah, setiap pohon dipagar keliling berbentuk lingkaran. Jenis-jenis pohon tersebut tertera pada Tabel 5. Tabel 5 Jenis-jenis pohon yang tumbuh di lokasi penangkaran No Nama pohon Nama lokal Nama ilmiah Jumlah 1 Beringin Ficus benjamina 1 2 Lengkeng Naphaleum longan 4 3 Rambutan Naphaleum lappaceum 67 4 Palem Raja Roystonea regia 8 5 Jambu Biji Psidium guajava, Linn 1

50 35 METODOLOGI PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan selama ± 3,5 bulan, mulai bulan September 2005 sampai dengan bulan Desember 2005, di lokasi penangkaran rusa milik Pusat Pengembangan Penataran Guru (PPPG) Pertanian Cianjur. Pengukuran terhadap produktivitas hijauan pakan yang tumbuh di lahan penggembalaan dilakukan pada tanggal 11 Oktober-10 Desember Sedangkan percobaan palatabilitas pakan tambahan dilakukan pada tanggal 1 September-17 Desember Denah lokasi penelitian pada Lampiran 1. Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas meteran, gunting, kalkulator, timbangan (triple beam balance merek OHAUS, kapasitas 2610 g dengan kepekaan 1 g), dan kamera digital. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah bambu, kantong plastik, ember plastik, alat tulis, rusa timor (Cervus timorensis) sebanyak 15 ekor yang terdiri atas 8 ekor betina (5 ekor dewasa, 1 ekor remaja dan 2 ekor anak) dan 7 ekor jantan (2 ekor dewasa, 2 ekor remaja dan 3 ekor anak), rumput yang tumbuh di dalam lokasi penangkaran, bahan pakan tambahan yang terdiri dari dedak padi (berasal dari pabrik penggilingan padi jalan raya Gunteng Desa Bojong Kecamatan Karangtengah), ubi jalar (berasal dari daerah sentra ubi jalar, Desa Sahbandar, Kecamatan Karangtengah), ubi kayu (berasal dari daerah pertanian Cikangkung, Desa Sukajadi, Kecamatan Karangtengah) dan kulit pisang nangka yang masih mentah (berasal dari perusahaan keripik pisang Sari Udang Jaya, Desa Mekar Galih, Kecamatan Cikalong Kulon, Cianjur). Data yang Diukur Palatabilitas Pakan Hijauan di Lahan Penggembalaan Palatabilitas pakan hijauan diketahui dengan pendekatan pengamatan adanya bekas renggutan/gigitan rusa terhadap jenis-jenis pakan hijauan pada petak-petak contoh di lahan penggembalaan. Data tersebut terdiri atas:

51 36 a. Jenis- jenis hijauan pakan yang diketemukan di dalam petak contoh b. Bekas renggutan rusa yang diketemukan pada jenis-jenis hijauan pakan pada petak-petak contoh. Gambar 3 Kulit pisang nangka mentah (limbah dari pabrik keripik pisang) yang digunakan sebagai salah satu bahan pakan dalam penelitian. Produktivitas Hijauan dan Daya Dukung Produktivitas hijauan yang tumbuh di dalam lokasi penangkaran (pedok) dihitung dengan cara pemotongan rumput pada petak-petak contoh berukuran 1m x 1m. Dari data produktivitas selanjutnya dapat dihitung daya dukungnya. Untuk menghitung produktivitas rumput dan daya dukung, maka data yang dikumpulkan terdiri atas: a. Luas lahan penggembalaan b. Curah hujan c. Berat massa rumput yang dipotong d. Kandungan nutrisi hijauan Palatabilitas Pakan Tambahan Pengukuran tingkat palatabilitas pakan tambahan dilakukan dengan pendekatan jumlah pakan yang dikonsumsi. Untuk menghitung tingkat palatabilitas pakan tambahan, maka data yang dikumpulkan meliputi : a. Kandungan nutrisi bahan pakan b. Jumlah pakan yang diberikan,

52 37 c. Jumlah pakan sisa d. Jumlah pakan yang dikonsumsi. Bahan pakan tambahan terdiri atas ubi jalar, ubi kayu (singkong), kulit pisang nangka (mentah) dan dedak padi. Untuk mengetahui kandungan nutrisi bahan pakan, sebelum pelaksanaan percobaan dilakukan analisis proksimat terhadap bahan-bahan pakan tersebut. Analisis proksimat dilakukan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. Data kandungan nutrisi bahan pakan tertera pada Tabel 6. Surat hasil analisis proksimat bahan pakan tambahan, tertera pada Lampiran 2. Tabel 6 Kandungan nutrisi bahan pakan yang digunakan dalam penelitian Bahan pakan Air Bahan kering Prot. kasar Kandungan nutrisi BETN Serat kasar Lemak kasar % ---- % bahan kering ---- Abu Ubi jalar 65,88 34,12 3,05 90,79 2,58 0,65 2,93 Singkong 66,88 33,12 5,10 89,77 2,05 1,36 1,72 Kulit pisang 76,57 23,43 6,49 64,53 17,29 0,85 10,84 Dedak 13,61 86,39 10,74 38,44 23,22 11,85 15,75 Sumber: Hasil analisis proksimat di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor Prosedur Pengumpulan Data Palatabilitas Hijauan Pakan Untuk mengamati palatabilitas hijauan pakan yang tumbuh di lahan penggembalaan, digunakan petak-petak contoh berukuran 1m x 1m = 1 m² sebanyak 20 buah. Jenis-jenis rumput yang terdapat di setiap petak contoh dicatat. Disamping itu juga diamati dan dicatat jenis-jenis rumput yang bekas dimakan rusa pada setiap petak contoh. Menurut Trippensee (1948) dalam Prasetyonohadi (1986), besarnya palatabilitas (tingkat kesukaan) terhadap hijauan pakan dihitung dengan rumus sebagai berikut:

53 38 P = X Y P = Palatabilitas (tingkat kesukaan yang nilainya berkisar antara 0-1). X = Jumlah petak contoh ditemukan spesies X dan dimakan rusa. Y = Jumlah seluruh petak contoh terdapatnya spesies X Produktivitas Hijauan Pakan. Pengukuran produktivitas hijauan pakan yang tumbuh di lahan penggembalaan dilakukan dengan cara pemanenan hijauan pakan pada suatu petak contoh. Prosedurnya sebagai berikut: a. Petak contoh berjumlah 12 buah, masing-masing berukuran 1 x 1 m². b. Penempatan petak contoh dilakukan secara sistematis, disesuaikan dengan luas lahan. Dimulai dari titik pertama yang sudah ditentukan (berada pada posisi paling dekat dengan pagar kandang). c. Petak contoh selanjutnya terbagi menjadi tiga baris, setiap baris terdiri atas 4 petak contoh. Masing-masing petak contoh berjarak 16 m. Distribusi ke 12 petak contoh tertera pada Gambar 4. d. Setiap petak contoh dipagar dengan bambu, dengan tujuan agar hijauan yang ada di dalamnya tidak diganggu atau dimakan rusa dan dapat tumbuh kembali untuk dipotong pada waktu berikutnya. U * * * * * * * * * * * * Gambar 4 Distribusi petak contoh pemanenan rumput pada lahan penggembalaan

54 39 Gambar 5 Petak contoh dipagar, supaya rumput tidak diganggu/ dimakan rusa selama pengukuran produktivitas e. Rumput di dalam petak contoh dipotong pada batas permukaan tanah dan diidentifikasi setiap jenisnya. Rumput dibiarkan tumbuh kembali. f. Rumput di dalam petak contoh dipotong kembali sampai 3 kali untuk mengetahui produktivitasnya. Selang waktu setiap pemotongan 20 hari. g. Rumput hasil pemotongan dipisahkan setiap jenisnya dan dimasukkan ke dalam kantong plastik yang berbeda. Kantong plastik diberi label (nomor petak contoh dan jenis rumput). h. Setiap jenis rumput dari setiap petak contoh selanjutnya ditimbang. Penimbangan menggunakan timbangan triple beam (triple beam balance), dengan kapasitas timbang 2610 g, dengan kepekaan 1 g. i. Data yang telah diperoleh selanjutnya dicatat pada tally sheet. Palatabilitas Pakan Tambahan Percobaan palatabilitas pakan tambahan ini menggunakan rancangan acak kelompok dengan 4 perlakuan. Setiap pakan perlakuan menggunakan kulit pisang dengan persentase yang berbeda. Kulit pisang yang digunakan dalam penelitian ini adalah kulit pisang nangka (mentah), yang merupakan limbah industri keripik pisang. Komposisi masing masing campuran pakan (perlakuan) didasarkan pada kandungan bahan keringnya, tertera pada Tabel 7.

55 40 Tabel 7 Komposisi pakan tambahan pada setiap perlakuan (% bahan kering) No Bahan Perlakuan pakan T 0 T 1 T 2 T Ubi jalar Singkong Dedak Kulit pisang Masing-masing perlakuan (T) terdiri atas 3 kelompok waktu pengamatan (K), artinya setiap perlakuan diberikan dalam 3 kelompok waktu pengamatan yang berbeda. Setiap kelompok waktu pengamatan dari setiap perlakuan, dilakukan selama 9 hari (3 hari untuk penyesuaian rusa terhadap pakan perlakuan dan 6 hari untuk pengambilan data), sehingga secara keseluruhan membutuhkan waktu 108 hari (4 perlakuan x 3 kelompok waktu pengamatan x 9 hari). Penempatan setiap kelompok waktu pengamatan dari setiap perlakuan dilakukan secara acak, dapat dilihat pada Tabel 8. Tabel 8 Penempatan perlakuan (T) dan kelompok waktu pengamatan (K) dalam percobaan Kelompok waktu pengamatan I II III Pelaksanaan Perlakuan (9 hari ke) T 0 T 1 T 2 T T1 K T0 K T3 K T2 K1-5 - T1 K T3 K T2 K2-8 T0 K T3 K3 10 T0 K T2 K T1 K3 - -

56 41 Prosedur pelaksanaan percobaan untuk memperoleh data dilakukan sebagai berikut: 1. Jumlah pakan tambahan yang diberikan, dalam perbandingan bahan kering. 2. Pemberian pakan tambahan dilakukan secara ad libitum 3. Pemberian pakan tambahan dilakukan 2 (dua) kali sehari yaitu: Pagi (jam 08.00) = 0,5 bagian dari jumlah pemberian per hari Siang (jam 12.00) = 0,5 bagian dari jumlah pemberian per hari 4. Sebelum diberikan, bahan pakan yang terdiri dari kulit pisang, ubi jalar dan ketela pohon dicacah dengan ukuran sekitar < 2 cm, Singkong/Ubi Kayu Kulit pisang nangka Ubi jalar Gambar 6 Bahan pakan tambahan sebelum dicacah Singkong/Ubi Kayu Kulit pisang nangka Ubi jalar Gambar 7 Bahan pakan tambahan setelah dicacah 5. Bahan pakan ditimbang sesuai dengan komposisi setiap pakan perlakuan, kemudian dicampur sampai rata, dimasukkan ke dalam tempat pakan dan siap untuk diberikan.

57 42 Gambar 8 Bahan-bahan pakan tambahan setelah dicampur 6. Untuk menghindari resiko pakan tambahan ditumpahkan rusa, maka tempat pakan tambahan (ember) dimodifikasi dengan diberi papan bersilang yang ditempelkan pada bagian bawah tempat pakan. Gambar 9 Tempat pakan tambahan yang dilengkapi dengan papan bersilang agar pakan tidak mudah ditumpah oleh rusa 7. Untuk meminimalkan kemungkinan diantara rusa berebut pakan, maka pakan perlakuan ditempatkan pada 8 buah tempat pakan. 8. Sisa pakan diambil setelah 4 jam dari waktu pemberian pakan dan ditimbang. 9. Jumlah pakan yang dikonsumsi diperoleh dari selisih antara pakan yang disediakan dengan pakan yang tersisa.

58 43 Gambar 10 Suasana rusa mengkonsumsi pakan tambahan 10. Jumlah pakan yang dikonsumsi dibagi dengan jumlah pakan yang diberikan, diperoleh nilai indeks palatabilitas (IP). Jumlah pakan yang dikonsumsi I P = Jumlah pakan yang diberikan 11. Nilai indeks palatabilitas berkisar antara Data jumlah pakan yang dikonsumsi dan perhitungan indek palatabilitas dari setiap perlakuan dicatat pada tally sheet. Analisis Data Palatabilitas Hijauan Pakan Palatabilitas masing-masing jenis hijauan pakan yang tumbuh di lahan penggembalaan ditunjukkan dengan nilai antara 0-1. Jenis hijauan pakan yang paling disukai nilai palatabilitasnya mendekati 1 dan hijauan pakan yang paling tidak disukai nilai palatabilitasnya mendekati 0. Dengan nilai palatabilitas ini dapat diketahui jenis-jenis hijauan pakan yang disukai rusa sebagai sumber pakan hijauan dan selanjutnya digunakan sebagai dasar perhitungan produktivitas hijauan pakan. Produktivitas Hijauan Pakan Perhitungan produktivitas hijauan pakan yang tumbuh di dalam lahan penggembalaan digunakan rumus (Alikodra, 2002):

59 44 P L = p l P = Produksi rumput seluruh areal pedok L = Luas pedok p = Produksi rumput seluruh petak contoh l = Luas seluruh petak contoh. Produktivitas hijauan pakan pada musim hujan adalah 2 x produktivitas pada musim kemarau (Susetyo, 1980). Dengan pendekatan jumlah bulan musim hujan dan jumlah bulan musim kemarau dalam satu tahunnya dapat diketahui produktivitas per tahun. Berdasarkan hasil analisis kandungan bahan kering, produktivitas dapat dikonversikan ke dalam bentuk bahan kering. Daya Dukung Daya dukung lokasi penangkaran (pedok) dihitung dengan pendekatan ketersediaan pakan. Berdasarkan hasil perhitungan produktivitas hijauan pakan per hari, asumsi jumlah kebutuhan pakan rusa per ekor per hari dan proper use factor, maka daya dukungnya dapat dihitung dengan menggunakan rumus: Daya Dukung = Produksi hijauan per hari x luas lahan Kebutuhan makan satwa per ekor per hari Palatabilitas Pakan Tambahan Data jumlah pakan tambahan yang dikonsumsi untuk masing-masing perlakuan dirangkum dalam bentuk tabulasi. Selanjutnya dengan melakukan pembagian antara jumlah pakan tambahan yang dikonsumsi dengan jumlah pakan tambahan yang diberikan dapat diperoleh angka indek palatabilitas pakan tambahan. Untuk mengetahui pengaruh penambahan kulit pisang nangka terhadap palatabilitas pakan tambahan dari setiap perlakuan, data dianalisis dengan analisis sidik ragam atau Analisis of Varian (ANOVA). Selanjutnya untuk mengetahui perlakuan mana yang berpengaruh nyata dilakukan uji LSD (Least Significant Difference) pada taraf kepercayaan 95% (Johnson and Bhattacharyya, 1992).

60 45 HASIL DAN PEMBAHASAN Keanekaragaman Jenis Rumput-Rumputan Lokasi penangkaran rusa timor milik PPPG Pertanian Cianjur merupakan lahan yang didominasi oleh rumput-rumputan, meskipun terdapat juga jenis-jenis tumbuhan lain. Di lahan penangkaran tersebut termasuk miskin keanekaragaman rumputnya, hal ini karena lahan sebelumnya telah dimanfaatkan sejak lama sebagai lahan kebun jeruk. Jenis rumput-rumputan yang ditemukan dalam inventarisasi tertera pada Tabel 9. Tabel 9 Jenis rumput dan leguminosa yang ditemukan di lokasi penelitian* No Jenis Terdapat dalam Frekuensi Frekuensi Relatif (%) 1 Axonophus compresus 16 petak 0,80 20,51 2 Imperata cylindrica 14 petak 0,70 17,95 3 Andropogon acicularus 17 petak 0,85 21,79 4 Cynodon dactylon 13 petak 0,65 16,67 5 Cyperus rotundus 7 petak 0,35 8,97 6 Erogrostis sp 2 petak 0,10 2,56 7 Calopogonium mucunoides 2 petak 0,10 2,56 8 Centrocema pubescens 2 petak 0,10 2,56 9 Blumea chinensis 5 petak 0,25 6,40 J u m l a h 3,90 100,00 * Keterangan: Jumlah petak contoh 20 buah Rendahnya keanekaragaman jenis-jenis rumput ini dikarenakan adanya kegiatan pengelolaan kebun jeruk yang intensif baik dalam bentuk pengolahan tanah maupun pemberantasan tanaman liar dengan menggunakan herbisida. Hal ini sesuai dengan pendapat Suhardi (2005), bahwa dalam bercocok tanam, rumput-rumputan merupakan tumbuhan liar yang dapat mengakibatkan kerugian besar bagi tanaman yang dibudidayakan, karena merupakan saingan yang berat

61 46 bagi tanaman budidaya dalam hal mendapatkan air dan unsur-unsur makanan serta bentuk persaingan lainnya, sehingga dapat menyebabkan tanaman budidaya menjadi terdesak dan bahkan mati. Dikatakan juga bahwa upaya pemberantasan tumbuhan liar dapat dilakukan antara lain dengan cara pengolahan tanah, pemupukan dan penggunaan bibit uggul serta dengan cara penggunaan herbisida. Jenis-jenis rumput yang ditemukan di lahan penggembalaan tersebut lebih sedikit jika dibandingkan dengan hasil penelitian Teddy (1995) di lokasi penangkaran rusa PT. Perhutani KPH Bogor yang terletak di daerah Cariu, Jonggol, yang mencapai 13 jenis. Lebih sedikit jika dibandingkan dengan hasil penelitian Prasetyonohadi (1986) di padang rumput Suaka Margasatwa Pulau Moyo, yang mencapai 33 jenis dan jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan hasil penelitian Sumanto (2006) di penangkaran rusa kampus IPB-Darmaga, Bogor, yang mencapai 65 jenis. Namun jenis-jenis tersebut ada kesamaan dengan jenis-jenis yang ditemukan di lokasi penangkaran PT. Perhutani KPH Bogor, seperti Axonophus compresus, Cyperus rotundus, Centrocema pubescens dan Blumea chinensis. Sedangkan jenis-jenis yang sama dengan yang ditemukan di padang rumput Suaka Margasatwa Pulau Moyo antara lain Axonophus compresus, Cynodon dactylon, Imperata cylindrica, Cyperus rotundus dan Eragrostis sp. Sedangkan jenis-jenis yang sama dengan yang ditemukan di penangkaran rusa kampus IPB- Darmaga Bogor, adalah Andropogon acicularus, Axonophus compresus, Cynodon dactylon, Imperata cylindrica, Cyperus rotundus, Eragrostis sp, Calopogonium mucunoides, Centrocema pubescens dan Blumea chinensis Dominasi jenis dilihat dari frekuensi relatifnya yaitu Andropogon acicularus (21,79%), Axonophus compresus (20,51%), Cynodon dactylon (16,67%), Imperata cylindrica (17,95%), Cyperus rotundus (8,97%), Eragrostis sp (2,56%), Calopogonium mucunoides (2,56%), Centrocema pubescens (2,56%) dan Blumea chinensis (6,40%). Hal ini berbeda dengan hasil penelitian Prasetyonohadi (1986), bahwa berdasarkan frekuensi relatifnya, dominasi jenis rumput-rumputan di padang rumput suaka margasatwa Pulau Moyo dari yang tertinggi sampai yang tersendah adalah Paspalum longifolium (13,69%), Tephrosia noctilfora (10,08%), Eupatorium odoratum (9,7%),

62 47 Euphorbia hirta (5,51), Phillanthus urinaria (4,56), Jussieua linifolia (4,18), Paspalum sp (3,99) dan Imperata sylindrica (3,99%). Palatabilitas Rumput Diantara jenis rumput-rumputan yang diketemukan dari 20 buah petak contoh yang diletakkan secara acak, hanya 5 jenis yang diketahui ada bekas dimakan rusa. Lima jenis rumput tersebut memiliki indeks palatabilitas berbedabeda. Secara berurutan indeks palatabilitas jenis rumput tersebut dari yang terbesar sampai yang terkecil Lampiran 3. tertera pada Tabel 10. Data lengkap tertera pada Tabel 10 Jenis rumput dan leguminosa yang ditemukan di lokasi penelitian serta indeks palatabilitasnya (IP) No Jenis Terdapat dalam Tanda-tanda dimakan rusa terdapat pada petak nomor 1 Axonophus compresus 16 petak 1,3,5,6,8,9,11,12,14, 15,16,17,18, 20 (14 petak) 2 Imperata cylindrica 14 petak 1,2,3,6,12,14,15,16, 17,19,20 (11 petak) 3 Andropogon acicularus 17 petak 2,4,6,7,8,9,10,11,13, 16,18,20 (12 petak) 4 Cynodon dactylon 13 petak 3,4,7,10,12,13,18,19 (8 petak) 5 Cyperus rotundus 7 petak 4 dan 15 (2 petak) 6 Eragrostis sp 2 petak Calopogonium mucunoides 2 petak Centrocema pubescens 2 petak Blumea chinensis 5 petak - - Keterangan: Jumlah petak contoh 20 buah. I P 0,875 0,786 0,706 0,615 0,286 Berdasarkan data indeks palatabilitas yang tercantum pada Tabel 10 dapat diketahui bahwa tidak semua jenis hijauan yang tumbuh di lahan penggembalaan

63 48 disukai rusa. Jenis rumput dengan indeks palatabilitas tertinggi berarti merupakan jenis yang paling disukai rusa dan jenis rumput dengan indeks palatabilitas rendah berarti merupakan jenis yang paling tidak disukai rusa. Pada Tabel 10 menunjukkan bahwa secara berurutan jenis rumput yang paling disukai sampai yang paling tidak disukai adalah Axonophus compresus, Imperata cylindrica, Andropogon acicularus, Cynodon dactylon dan Cyperus rotundus. Produktivitas Rumput Pengukuran produktivitas rumput sebanyak 3 periode pemanenan/ pemotongan, yang dilakukan dalam bulan Oktober-Desember 2005, pada saat itu di lokasi penelitian tengah berlangsung musim hujan. Berat basah rumput hasil pemotongan I adalah 271,07 g, pemotongan II 277,33 g dan pemotongan III 324,58 g, sehingga rata-rata produktivitas seluruh jenis rumput untuk 3 periode pemotongan adalah 14,55 g/m²/hari atau 145,50 kg/ha/hari. Data produktivitas rumput tertera pada Tabel 11, sedangkan data produktivitas setiap pemanenan/pemotongan secara lengkap tertera pada Lampiran 4. Hasil perhitungan produktivitas rumput ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan hasil penelitian Teddy (1998) di lokasi penangkaran rusa di daerah Jonggol milik Perum Perhutani Kabupaten Bogor, yaitu 49,53 kg/ha/hari. Juga lebih tiggi jika dibandingkan dengan hasil penelitian Hasiholan (1995) di padang rumput Taman Buru pulau Ndana, yaitu 13,8 kg/ha/hari. Perbedaan ini mungkin karena kondisi tanah di lokasi penangkaran rusa PPPG Pertanian- Cianjur lebih subur jika dibandingkan dengan kondisi tanah di lokasi penangkaran rusa di Jonggol maupun di padang rumput Taman Buru Pulau Ndana. Hal ini sesuai dengan pendapat McIlroy (1964), bahwa Produktivitas rumput di berbagai tempat berbeda-beda dan dipengaruhi oleh banyak faktor yaitu: a. Persistensi (daya tahan), yaitu kemampuan bertahan untuk hidup dan berkembang biak secara vegetataif b. Agresivitas (daya saing), yaitu kemampuan memenangkan persaingan dengan species-species lain yang tumbuh bersama; c. Kemampuan tumbuh kembali setelah injakan dan penggembalaan berat; d. Sifat tahan kering dan tahan dingin;

64 49 e. Penyebaran produksi musiman; f. Kemampuan menghasilkan biji yang dapat tumbuh dengan baik atau dapat dikembangkan secara vegetatif dengan mudah; g. Kesuburan tanah (terutama kandungan nitrogen); h. Iklim. Tabel 11 Rata-rata produktivitas rumput pada setiap petak contoh di lokasi penelitian (bahan segar) Nomor petak contoh Tanpa indeks palatabilitas Produksi rumput g /m² / 20 hari Dengan indeks palatabilitas 1 379,67 292, ,00 116, ,33 148, ,67 139, ,00 488, ,67 387, ,00 186, ,00 103, ,00 133, ,67 194, ,01 216, ,00 258,18 Jumlah 3.492, ,26 Rata-rata 291,00 222,19 Rata-rata g /m² /hari 14,55 11,11 Dengan mempertimbangkan indeks palatabilitas masing-masing jenis rumput, maka produktivitas rumput di lahan penggembalaan, lokasi penangkaran rusa PPPG Pertanian, Cianjur adalah 11,11 g/m²/hari atau 111,10 kg/ha/hari. Rata-rata kandungan bahan kering beberapa jenis rumput yang tumbuh di lahan penggembalaan adalah 23,71% (Lampiran 2). Berdasarkan kandungan bahan kering tersebut, produktivitas rumput dapat dikonversikan kedalam bentuk bahan kering yaitu: 23,71% x 11,11 g/m²/hari = 2,63 g/m²/hari atau 26,30 kg/ha/hari.

65 50 Data produktivitas rumput dengan mempertimbangkan faktor indeks palatabilitas selanjutnya dijadikan dasar perhitungan untuk mengetahui produksi rumput di lahan penggembalaan dan daya dukungnya. Menurut Susetyo (1980), produktivitas hijauan pada musim hujan dua kali produktivitas hijauan pada musim kemarau. Pengukuran produktivitas rumput di lahan penggembalaan, lokasi penangkaran rusa PPPG Pertanian Cianjur dilakukan pada saat musim hujan. Berdasarkan asumsi tersebut, maka produktivitas rumput pada musim kemarau adalah ½ x produktivitas musim hujan = ½ x 11,11 g/m²/har = 5,55 g/m²/hari atau 55,55 kg/ha/hari (bahan segar) Luas lahan penggembalaan seluruhnya m². Di dalamnya dilengkapi dengan gudang dan ruang pengawasan seluas 17,5 m² (3,5 m x 5 m), kandang karantina 100 m² (10 m x 10 m). Khusus pohon rambutan, untuk menghindari kerusakan akibat aktivitas rusa mengasah ranggah, setiap pohon dipagar keliling berbentuk lingkaran dengan diameter ± 2 m. Jadi lahan yang dipagari untuk setiap pohon rambutan adalah 3,14 m dan untuk 67 pohon mencapai 210, 38 m². Dengan adanya pemanfaatan lahan pedok penangkaran untuk gudang, kandang karantina dan pemagaran pohon rambutan, maka luas lahan untuk penggembalaan berkurang menjadi: 5400 m² -17,5 m²-100 m²-210,38 m² = 5072,12 m². Sehingga produksi rumput di lahan penggembalaan tersebut adalah: 1. Produksi pada musim hujan: a. Dalam bentuk bahan segar: 11,11 g/m²/hari x 5072,12 m² = ,25 g/hari atau 56,3 kg/hari b. Dalam bentuk bahan kering: 23,71% x 56,3 kg/hari = 13,3 kg/hari 2. Produksi pada musim kemarau: a. Dalam bentuk bahan segar: 5,55 g/m²/hari x 5072,12 m² = ,27 g/hari atau 28,1 kg/hari b. Dalam bentuk bahan kering 23,71% x 28,1 kg/hari = 6,7 kg/hari Berdasarkan data curah hujan 9 tahun terakhir (tahun ), yang diperoleh dari Dinas Pengelola Sumberdaya Air dan Pertambangan Kabupaten

66 51 Cianjur, pada lokasi penelitian yang terletak di Desa Sukajadi Kecamatan Karangtengah Kabupaten Cianjur, rata-rata musim hujan berlangsung selama 7,8 bulan dan musim kemarau berlangsung selama 4,2 bulan untuk setiap tahunnya. Dengan pendekatan jumlah bulan musim hujan dan jumlah bulan musim kemarau tersebut, produksi rumput di lahan penggembalaan, lokasi penangkaran PPPG Pertanian-Cianjur selama satu tahun adalah: 1. Dalam bentuk bahan segar = (7,8 bulan x 30 hari x 56,3 kg/hari) + (4,2 bulan x 30 hari x 28,1 kg/hari) = ,2 kg ,6 kg = ,8 kg 2. Dalam bentuk bahan kering 23,71% x ,8 kg = 3.963,1 kg Daya Dukung Lahan Penggembalaan Menurut Wiersum (1973) yang dikutip oleh Hasiholan (1995), daya dukung adalah banyaknya satwa yang dapat ditampung di suatu areal pada situasi dan kondisi tertentu. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk menilai daya dukung kuantitatif suatu habitat adalah berdasarkan potensi makanannya (Alikodra, 2002). Hijauan pakan yang tumbuh di suatu padang penggembalaan merupakan salah satu komponen habitat yang berfungsi sebagai sumber pakan hijauan bagi satwa. Menurut Susetyo (1980), hijauan pakan tersebut tidak seluruhnya tersedia bagi satwa, tetapi ada sebagian yang ditinggalkan untuk menjamin pertumbuhan kembali. Jumlah hijauan yang tersedia untuk pakan satwa tersebut dinamakan proper use. Kondisi lokasi penangkaran rusa PPPG Pertanian Cianjur adalah datar, sehingga semua rumput di lahan penggembalaan tersebut dapat diakses (direnggut/dimakan rusa), sehingga dalam perhitungan daya dukung tidak perlu ada faktor koreksi lagi selain indeks palatabilitasnya. Untuk mengetahui nilai daya dukung lahan penggembalaan, selain produktivitas hijauan juga perlu diketahui jumlah kebutuhan pakan rusa per ekor per hari. Kebutuhan pakan rusa per ekor per hari menggunakan hasil penelitian Hasiholan (1995), yang menyatakan bahwa kebutuhan pakan rusa dewasa adalah 5200 g/ekor/hari (bahan segar). Berdasarkan data tersebut di atas, maka

67 52 daya dukung lahan penggembalaan lokasi penangkaran rusa PPPG Pertanian- Cianjur adalah sebagai berikut: 1. Daya dukung pada musim hujan 11,11 g/m²/hari x 5072,12 m² 5200 g/ekor/hari = 10,8 ekor 2. Daya dukung pada musim kemarau 5,55 g/m²/hari x 5072,12 m² 5200 g/ekor/hari = 5,4 ekor Berdasarkan hasil perhitungan, diketahui bahwa lahan penggembalaan di lokasi penangkaran rusa PPPG Pertanian, Cianjur dengan populasi rusa sebanyak 15 ekor, telah melampaui daya dukungnya, yaitu pada musim hujan 4,2 ekor dan pada musim kemarau 9,6 ekor. Hal ini berarti terjadi kekurangan ketersediaan pakan. Menurut Hasiholan (1995), kebutuhan pakan rusa timor dewasa adalah 5,20 kg/ekor/hari (bahan segar). Rata-rata kandungan bahan kering rumput adalah 23,71%, maka kekurangan ketersediaan pakan adalah: 1. Pada musim hujan: 5,2 kg x 4,2 ekor = 21,8 kg/hari (bahan segar) atau 23,71% x 21,8 kg/hari = 5,2 kg/hari (bahan kering) Selama musim hujan berlangsung (sekitar 7,8 bulan), ketersediaan pakan adalah: kekurangan 21,8 kg x 7,8 bulan x 30 hari = 5.101,2 kg (bahan segar) atau 23,71% x 5.101,2 kg = 1.209,5 kg (bahan kering). 2. Pada musim kemarau 5,2 kg x 9,6 ekor = 49,9 kg/hari (bahan segar) atau 23,71% x 49,9 kg/hari = 11,8 kg/hari (bahan kering) Selama musim kemarau berlangsung (sekitar 4,2 bulan), ketersediaan pakan adalah: kekurangan 49,9 kg x 4,2 bulan x 30 hari = 6.287,4 kg (bahan segar) atau 23,71% x 6.287,4 = 1.490,7 kg (bahan kering).

68 53 Sehingga untuk waktu 1 (satu) tahun (musim hujan dan musim kemarau), kekurangan ketersediaan pakan sebanyak : 5.101,2 kg ,4 kg = ,6 kg (bahan segar) atau 1.209,5 kg ,7 kg = 2.700,2 kg (bahan kering). Kandungan Nutrisi Rumput Berdasarkan hasil analisis proksimat kandungan nutrisi beberapa jenis rumput yang tumbuh di lahan penggembalaan lokasi penangkaran rusa PPPG Pertanian-Cianjur adalah sebagai berikut: Tabel 12 Kandungan nutrisi beberapa jenis rumput yang tumbuh di lokasi penelitian* Kandungan nutrisi Jenis rumput Prot. Serat BK Abu kasar kasar Lemak BETN % % bahan kering Imperata cylindrica 22,79 12,06 12,81 33,70 1,76 39,67 Andropogon acicularus 31,68 12,25 9,75 38,89 0,25 38,86 Cynodon dactylon 22,59 9,56 10,49 34,62 1,06 44,27 Axonophus compresus 17,80 10,62 12,98 30,22 3,54 42,64 Sumber: Hasil analisis proksimat di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, 2006 Dari data tersebut di atas dapat diketahui bahwa kandungan nutrisi rumput yang tumbuh di lahan penggembalaan lokasi penangkaran rusa PPPG Pertanian Cianjur lebih baik (kandungan protein lebih tinggi dan kandungan serat kasar lebih rendah) dari hasil penelitian Hasiholan (1995), yang menyatakan bahwa rata-rata kandungan nutrisi makanan rusa adalah sebagai berikut: Abu 6,74%, protein 6,97%, serat kasar 40,06%, lemak 2,53% dan BETN 43,69%. Palatabilitas Pakan Tambahan Data jumlah pakan tambahan yang dikonsumsi (dalam bentuk bahan kering) untuk masing-masing perlakuan dari setiap kelompok waktu pengamatan tertera pada Lampiran 5. Hasil perhitungan rata-rata jumlah bahan kering yang dikonsumsi untuk masing masing perlakuan tertera pada Tabel 13.

69 54 Tabel 13 Rata-rata jumlah pakan tambahan dari setiap perlakuan yang dikonsumsi rusa per hari (kg bahan kering)* Perlakuan Ulangan waktu pengamatan Jumlah Rata-rata T0 4,975 5,187 5,293 15,455 5,152 T1 6,524 6,862 6,930 20,316 6,772 T2 6,278 6,494 6,744 19,516 6,505 T3 5,641 6,176 6,270 18,087 6,029 Jumlah 23,418 24,719 25,237 Rata-rata 5,854 6,180 6,309 Catatan : Jumlah konsumsi untuk 15 ekor rusa. Konsumsi Pakan Perlakuan (BK) Konsumsi Pakan (kg) 8,000 6,000 4,000 2, ,772 6,505 6,029 5,152 T0 T1 T2 T3 Perlakuan Gambar 11 Diagram batang jumlah pakan tambahan dari setiap perlakuan yang dikonsumsi rusa per hari untuk 15 ekor (kg bahan kering) Tabel 13 dan Gambar 11 menunjukkan bahwa rata-rata jumlah bahan kering pakan tambahan yang dikonsumsi per hari adalah T0 (5,152), T1 (6,772), T2 (6,505) dan T3 (6,029). Jumlah bahan kering pakan tambahan yang dikonsumsi tersebut selanjutnya dibagi dengan jumlah bahan kering pakan tambahan yang diberikan (untuk 15 ekor rusa) yaitu 9,9 kg, sehingga diperoleh angka indeks palatabilitas yang nilainya berkisar antara 0-1. Data indeks palatabilitas untuk masing-masing perlakuan dari setiap kelompok waktu pengamatan tertera pada Lampiran 6 dan rata-rata indeks palatabilitas pakan tambahan untuk masing-masing perlakuan tertera pada Tabel 14.

70 55 Tabel 14 Ideks palatabilitas pakan tambahan dari setiap perlakuan pada rusa Perlakuan Kelompok waktu pengamatan Jumlah Rata-rata T0 0,502 0,524 0,535 1,561 0,520 T1 0,659 0,693 0,7 2,052 0,684 T2 0,634 0,656 0,682 1,971 0,657 T3 0,570 0,624 0,633 1,827 0,609 Jumlah 2,365 2,497 2,549 Rata-rata 0,591 0,624 0,637 Indek Palatabilitas T0 T1 T2 T3 Perlakuan Gambar 12 Grafik indeks palatabilitas (I P) perlakuan pada rusa pakan tambahan dari setiap Tabel 14 dan Gambar 12 menunjukkan bahwa rata-rata indeks palatabilitas pakan tambahan (perlakuan) mulai yang terendah adalah T0 (0,520), T3 (0,609), T2 (0,657) dan yang tertinggi adalah T1 (0,684). Dari nilai indeks palatabilitas tersebut dapat diketahui bahwa pakan tambahan yang paling disukai adalah T1 (dengan campuran kulit pisang nangka 10%), kemudian T2 (kulit pisang 20%), T3 (kulit pisang 30%) dan T0 (tanpa kulit pisang). Hasil analisis statistik melalui uji F, menunjukan bahwa pengaruh perlakuan terhadap indeks palatabilitas pakan tambahan berbeda nyata (significant) (P<0,05), sedangkan pengaruh kelompok waktu pengamatan terhadap indeks palatabilitas tidak berbeda nyata (non significant). Perhitungan analisis statistik tertera pada Lampiran 7.

71 56 Hasil uji Least Significant Difference (LSD) menunjukkan bahwa indeks palatabilitas pakan tambahan T1 lebih tinggi dibanding T0, dengan perbedaan yang nyata (significant). Demikian juga indeks palatabilitas T2 terhadap T0 dan T3 terhadap T0. Indeks palatabilitas T3 lebih rendah dibanding T1 dengan tingkat perbedaan yang nyata. Sedangkan Indeks palatabilitas T3 lebih rendah dibanding T2, demikian juga indeks palatabilitas T2 terhadap T1, dengan perbedaan yang tidak nyata (non significant). Hasil Uji LSD tertera pada Tabel 15. Tabel 15 Hasil uji LSD indeks palatabilitas pakan tambahan. Perlakuan Rata-rata Selisih dengan T0 T1 T2 T0 0,520 T1 0,684 0,164* T2 0,657 0,137* 0,027 T3 0,609 0,089* 0,075* 0,048 Menurut Kartadisastra (1997), palatabilitas pakan dipengruhi oleh sifat fisik dan kimiawi pakan, yang dicerminkan oleh organoleptiknya antara lain kenampakan, bau, rasa (hambar, manis, asin, pahit), dan teksturnya. Palatabilitas pakan tambahan tanpa campuran kulit pisang (T0) lebih rendah dari pada palatabilitas pakan tambahan yang menggunakan kulit pisang, hal ini karena pada perlakuan T0 penggunaan dedak paling tinggi yaitu 90%, sedangkan perlakuan T1 80%, T2 70% dan T3 60% dari total komposisi pakan (Tabel 8). Sementara jenis dedaknya berdasarkan hasil analisis proksimat (Tabel 7), memiliki kandungan serat kasar yang tinggi (23,22%), sehingga pakan perlakuan T0 memiliki kandungan serat kasar yang paling tinggi yaitu 21,129% dibanding dengan pakan perlakuan T1 20,536%, T2 19,943% dan T3 19,350%. Hal ini menyebabkan indeks palatabilitasnya paling rendah. Kecenderungan menurunnya indeks palatabilitas pada T2 dan T3 karena adanya pengaruh senyawa tanin yang terkandung di dalam kulit pisang yang digunakan sebagai campuran pakan tambahan (T1, T2, dan T3). Hal ini sesuai dengan pendapat Chicco dan Shultz (1977) dalam Robetson (1993), bahwa adanya tanin dalam kulit pisang mengurangi palatabilitasnya. Semakin banyak penggunaan kulit pisang nangka (mentah) sebagai campuran pakan tambahan semakin tinggi pula kandungan senyawa tanin dalam

72 57 pakan tambahan tersebut, sehingga semakin rendah palatabilitasnya. Kandungan tanin dalam pakan menyebabkan ternak kurang menyukainya karena rasa sepat yang disebabkan adanya interaksi tanin dengan protein saliva, sehingga mempengaruhi konsumsi pakannya (Widodo, 2005). Pengelolaan Pakan Tambahan Salah satu permasalahan yang sering dihadapi dalam usaha penangkaran rusa adalah ketersediaan pakan. Rusa merupakan hewan ruminansia dan pakan hijauan adalah pakan utamanya. Pakan adalah faktor penting untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan rusa (Takandjandji dan Garsetiasih, 2002). Keterbatasan tingkat produktivitas hijauan pakan, berarti terbatas pula ketersediaan hijauan pakan sebagai sumber pakan utama rusa. Untuk menjamin pertumbuhan dan perkembangbiakan rusa yang ditangkarkan, maka kekurangan ketersediaan pakan hijauan harus dipenuhi, salah satunya dengan cara pemberian pakan tambahan. Pakan tambahan yang dapat diberikan antara lain berupa konsentrat, sayur-sayuran, ubi-ubian atau limbah pertanian dan limbah industri (Semiadi dan Nugroho, 2004). Namun demikian untuk mendapatkan bahan pakan tambahan yang ekonomis, tinggi kandungan gizinya, tersedia dalam jumlah yang cukup dan mudah dalam pengadaannya, maka perlu memanfaatkan potensi lokal yang ada. Berdasarkan hasil perhitungan daya dukung, lahan penggembalaan lokasi penangkaran rusa PPPG Pertanian-Cianjur, telah melampaui daya dukungnya, yang berarti terjadi kekurangan ketersediaan pakan. Kekurangan ketersediaan pakan hijauan per hari (untuk 15 ekor rusa) pada musim hujan mencapai 5,2 kg (bahan kering), sehingga untuk musim hujan rata-rata konsumsi pakan tambahan per hari dari setiap perlakuan telah dapat memenuhi kekurangan ketersediaan pakan hijauan tersebut kecuali perlakuan T0, sebagaimana tertera pada Tabel 16. Kekurangan ketersediaan pakan hijauan per hari (untuk 15 ekor rusa) pada musim kemarau, mencapai 11,8 kg (bahan kering), sehingga untuk musim kemarau rata-rata konsumsi pakan tambahan per hari belum dapat memenuhi kekurangan ketersediaan pakan hijauan, hal ini karena tingkat produktivitas rumput pada musim kemarau ½ dari produktivitas pada musim hujan, sehingga ketersediaan pakan hijauan pada musim kemarau lebih rendah,

73 58 berarti kekurangan ketersediaan pakan hijauan pada musim kemarau lebih tinggi dibanding pada musim hujan, sebagaimana tertera pada Tabel 16. Tabel 16 Perbandingan antara kebutuhan pakan tambahan dan konsumsi pakan tambahan dari keempat perlakuan yang dicobakan. Jenis Pakan Konsumsi (kg/hari) Musim hujan Musim kemarau Kebutuhan (kg/hari) + / - (kg/hari) Kebutuhan (kg/hari) + / - (kg/hari) T0 5,152 5,2-0,05 11,8-6,65 T1 6,772 5,2 + 1,57 11,8-5,03 T2 6,505 5,2 + 1,30 11,8-5,29 T3 6,029 5,2 + 0,83 11,8-5,77 Keterangan : + = lebih = kurang Kekurangan ketersediaan pakan hijauan selama 1 (satu) tahun mencapai 2.700,2 kg (bahan kering). Perhitungan konsumsi pakan tambahan setiap perlakuan selama satu tahun belum dapat memenuhi kekurangan ketersediaan pakan hijauan selama 1 (satu) tahun tersebut, hal ini karena produktivitas rumput pada musim kemarau ½ dari produktivitas pada musim hujan, sehingga secara keseluruhan mempengaruhi ketersediaan pakan hijauan selama 1 (satu) tahun. Perhitungannya tertera pada Tabel 17. Tabel 17 Perhitungan konsumsi pakan tambahan dan kebutuhan pakan tambahan per tahun (kg bahan kering). Jenis Konsumsi pakan per tahun Kebutuhan pakan Kekurangan No Pakan (kg) per tahun (kg) (kg) 1 T0 5,152 x 360 hari = 1.854, ,2 845,5 2 T1 6,772 x 360 hari = 2.437, ,2 262,3 3 T2 6,505 x 360 hari = 2.341, ,2 358,4 4 T3 6,029 x 360 hari = 2.170, ,2 529,8 Kandungan Nutrisi Pakan Tambahan Berdasarkan hasil analisis proksimat bahan pakan tambahan yang tertera pada Tabel 6 dan komposisi pakan tambahan masing-masing perlakuan yang tertera pada Tabel 7, maka kandungan nutrisi pakan tambahan dapat dihitung sebagaimana tertera pada Tabel 18. Perhitungannya tertera pada Lampiran 8

74 59 Tabel 18 Hasil perhitungan kandungan nutrisi pakan tambahan yang digunakan dalam penelitian. Kandungan nutrisi Perlakuan Air Bahan kering Prot. kasar BETN Serat kasar Lemak kasar Abu % % bahan kering T0 25,84 74,16 10,073 43,615 21,129 10,765 14,407 T1 39,45 60,55 9,648 46,225 20,536 9,665 13,916 T2 49,23 50,77 9,223 48,835 19,943 8,567 13,425 T3 56,00 44,00 8,798 51,445 19,350 7,465 12,934 Pada Tabel 18 dapat diketahui bahwa kandungan nutrisi ke 4 macam campuran pakan tambahan juga lebih baik dari pada hasil penelitian Hasiholan (1995) yang menyatakan bahwa kandungan nutrisi yang terdapat dalam pakan rusa adalah Abu 6,74%, protein 6,97%, serat kasar 40,06%, lemak 2,53% dan BETN 43,69%. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ke 4 macam campuran pakan tambahan tersebut dari kandungan nutrisi layak untuk memenuhi kekurangan ketersediaan pakan hijauan (rumput). Dilihat dari kandungan protein, pakan tambahan memiliki kandungan protein kasar dari yang tertinggi sampai yang terendah adalah T0 (10,073), T1 (9,648), T2 (9,223) dan T3 (8,798). Kandungan protein ke empat macam pakan tambahan tersebut telah sesuai dengan kebutuhan protein pada rusa. Hal ini sesuai dengan pendapat Wiryosuhanto dan Jacoeb (1994) yang dikutip Teddy (1998), bahwa kandungan protein sekitar 8% adalah baik untuk kebutuhan konsumsi rusa. Demikian juga dikatakan Semiadi dan Nugraha (2004), bahwa pakan dengan kandungan protein kasar gram per kg (bahan kering), sudah dapat meningkatkan pertambahan bobot badan sekitar 10% dari bobot awalnya.

75 60 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian ini adalah: 1. Produksi rumput lahan penggembalaan (seluas 5072,12 m²) di penangkaran rusa PPPG Pertanian-Cianjur pada musim hujan 56,3 kg/hari dan produksi pada musim kemarau 28,1 kg/hari. 2. Produksi rumput tersebut tidak mampu memenuhi kebutuhan pakan bagi seluruh rusa yang ada di penangkaran. Jumlah rusa pada saat ini 15 ekor, telah melampaui daya dukungnya, yaitu pada musim hujan 4,2 ekor dan musim kemarau 9,6 ekor. Dengan demikian terjadi kekurangan ketersediaan pakan, pada musim hujan 21,8 kg/hari (bahan segar) atau 5,2 kg/hari (bahan kering) dan pada musim kemarau 49,9 kg/hari (bahan segar) atau 11,8 kg/hari (bahan kering), maka pemberian pakan tambahan adalah tepat dan perlu untuk menjamin pertumbuhan dan perkembangbiakan rusa yang ditangkarkan. 3. Palatabilitas pakan tambahan dengan campuran kulit pisang nangka lebih tinggi dari pada pakan tambahan tanpa campuran kulit pisang, namun indeks palatabilitas semakin rendah sejalan dengan peningkatan penggunaan kulit pisang sebagai campuran pakan tambahan. Saran 1. Untuk memenuhi kekurangan pakan hijauan maka langkah-langkah yang dapat diambil antara lain: a. Meningkatkan produktivitas hijauan pakan yang tumbuh di lahan penggembalaan dengan cara mengganti tanaman rumput alam dengan rumput budidaya, yang memiliki keunggulan dalam hal produksi dan tahan injakan, misalnya Brachiaria brizantha dan Brachiaria ruziziensis. b. Menambah luasan pedok, sekaligus direncanakan penerapan sistem penggembalaan bergilir untuk menjamin rumput berproduksi secara optimal.

76 61 c. Membangun kebun rumput di luar lokasi penangkaran dengan jenis-jenis rumput unggul, misalnya Pennisetum purpureum, Pannicum maximum atau Setaria sphacelata d. Pemberian pakan tambahan dengan memanfaatkan potensi lokal, artinya memanfaatkan bahan-bahan pakan yang memang tersedia secara kontinyu di sekitar lokasi penangkaran. 2. Sebagai salah satu jenis limbah, kulit pisang cukup potensial untuk digunakan sebagai campuran dalam pemberian pakan tambahan. Agar lebih optimal dalam penggunaannya perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang pengolahan kulit pisang untuk peningkatan nilai gizinya, kandungan tanin, serta sejauh mana dapat memberikan pengaruh dalam bentuk penampilan produksinya. 3. Untuk kepentingan informasi dan pengembangan ilmu pengetahuan, hendaknya PPPG Pertanian-Cianjur membuat sejarah singkat tentang PPPG Pertanian-Cianjur secara umum termasuk keberadaan penangkaran rusa.

77 62 DAFTAR PUSTAKA Alikodra, H. S., Pengelolaan Satwaliar (Jilid 1). Yayasan Penerbit Fakultas Kehutanan IPB. Bogor. Andiani A. L. dan Suharni S., Hijauan dan Bahan Pakan dalam Budidaya Ternak Kecil (Modul Kuliah). Universitas Terbuka. Jakarta. Anggorodi, R Ilmu Makanan Ternak Umum. PT Gramedia. Jakarta. Arora, S. P., Microbial Digestion in Ruminants. By Indian Council of Agricultural Research, New Delhi. (Terjemahan). Murwani, R., Pencernaan Microba pada Ruminansia. Gajah Mada University Press. Yogyakarta. Dewan Redaksi Bhratara, Peternakan Hewan Menyusui. Penerbit Bhratara. Jakarta. Direktorat Bina Produksi Peternakan dan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, (1985). Laporan Inventarisasi Potensi dan Pemanfaatan Limbah Industri Pertanian. Proyek Pembinaan Peternakan Pusat. Dradjat, A. S Satwa Harapan. Budidaya Rusa. Mataram Universityu Press. Mataram. Nusa Tenggara Barat. Hasiholan, W Daya Dukung Habitat dan Penentuan Target Pemanenan Satwa Buru (Cervus timorensis de Blainville) Di Taman Buru Pulau Ndana. Tesis. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. (Tidak diterbitkan). Johnson R.A. dan Bhattacharyya G.K Statistic Principles and Methods. Second Edition. John Wiley & Sons. Inc. New York. Kartadisastra, H.R., Penyediaan & Pengelolaan, Pakan Ternak Ruminansia (Sapi, Kerbau, Domba dan Kambing). Penerbit Kanisius. Yogyakarta. McIlroy. R. C., An Intruduction to Tropical Grassland Husbandry. Oxford Univ. Press. (Terjemahan) Susetyo, et al, Pengantar Budidaya Padang Rumput Tropika. Paradnya Paramita. Jakarta. Parakkasi, A., Ilmu Gizi dan Makanan Ternak Monogastrik. Penerbit ANGKASA. Bandung. Parakkasi, A., Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminansia. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta. Perum Perhutani dan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor Studi Kelayakan dan Perancangan Tapak. Penangkaran Rusa di

78 63 BKPH Jonggol, KPH Bogor, Perum Perhutani Unit III Jawa Barat. Kerjasama antara Direksi Perum Perhutani dengan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Bogor. (Tidak Diterbitkan). Perum Perhutani KPH Bogor, Penangkaran Rusa di BKPH Jonggol KPB Bogor. Perum Perhutani. KPH Bogor. (Tidak Diterbitkan). Prasetyonohadi, D Telaah Tentang Daya Dukung Padang Rumput Di Suaka Margasatwa Pulau Moyo Sebagai Habitat Rusa (Cervus timorensis de Blainville). Skripsi Sarjana. Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. (Tidak diterbitkan). Purwani, L Pengaruh Pemakaian Biomasa Ubi Kayu dalam Dua Macam Bentuk Ransum Terhadap Performans Ayam Broiler Betina. (Karya Ilmiah). Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. (Tidak Diterbitkan) Rahmatillah, I., Sifat Fisik Daging Kelinci Lepas Sapih yang Diberi Ransum pelet Ubi Jalar dengan Penambahan Urea dan DL-Methionin. (Skripsi). Departemen Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Robetson, E., Evaluasi Nutrisi, Korelasi Vegetatif, dan Kemungkinan Kulit Pisang Sebagai Makanan Ternak Ruminansia Menggunakan Teknik In Vitro dan In Situ. Karya Ilmiah. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Semiadi, G. dan T. P. Nugraha., Panduan Pemeliharaan Rusa Pusat Penelitian Biologi. LIPI. Bogor Tropis. Subur, R., Uji Nilai Nutrisi Dengan Teknik In Vitro dan In Situ Terhadap Silase Limbah Kulit Buah Pisang (Musa sp). Karya Ilmiah. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. (Tidak Diterbitkan). Suhardi Dasar-Dasar Bercocok Tanam. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. Sumanto Perencanaan Penangkaran Rusa Timor (Cevus timorensis de Blainville) dengan Sistem Farming: Studi Kasus di Penangkaran Rusa Kampus IPB Darmaga. Sunarwati, I. A. T., Pengaruh Pemberian Pellet Ubi Jalar (Ipomea batatas (L.) Lam) Terhadap Performans Kelinci Persilangan Lepas Sapih. (Skripsi). Jurusan Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Susetyo, B., Padang Penggembalaan. Suatu Pengantar Pada Kuliah Pengelolaan Pastura dan Padang Rumput. Departemen Ilmu Makanan Ternak. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

79 64 Takandjandji, M. dan R. Garsetiasih, Pengembangan Penangkaran Rusa Timor (Cervus timorensis) dan Permasalahannya di Nusa Tenggara Timur. Proseding Seminar Nasional Bioekoligi dan Konservasi Ungulata. PSIH- IPB; Puslit-Biologi; LIPI; Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam, Dephut, Bogor. Teddy Analisis Faktor Faktor Penentu Keberhasilan Usaha Penangkaran Rusa: Studi Kasus Di Penangkaran Rusa Perum Perhutani. Tesis. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Thohari, M Upaya Penangkaran Satwa Liar. Media Konservasi (Volume 1, no 3, April 1987). Buletin Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan. Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Bogor. Hal Thohari, M Manajemen dan Teknologi Konservasi Eksitu Satwaliar. (Materi Kuliah). Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Bogor. Tuckwell C Pasture Assessment and Grazing Management. (Deer Industry Manual). Rural Industries Research and Development Corporation & Deer Products and Development Company. Barton Act. Vos D. A Deer Frming. Guidelines on Practical Aspects. The Wildlife and Forest Conservation Branch Forest Resources Division. Food and Agriculture Organization of The Unitet Nations. Rome. Widodo W Tanaman Beracun dalam Kehidupan Ternak. U M M Press. Malang. Yerex, D. and I. Spiers, Modern Deer Farm Management. Printed by GP Books. Wellington, New Zealand.

80 Lampiran 1 Denah lokasi penangkaran rusa PPPG Pertanian Cianjur LOKASI PENANGKARAN RUSA TIMOR 80 m x 67,5 m (5400 m²) 65

81 LAMPIRAN 2 SURAT KETERANGAN HASIL ANALISIS PROKSIMAT BAHAN PAKAN TAMBAHAN DARI FAKULTAS PETERNAKAN, IPB BOGOR. 66

82 67

83 Lampiran 3 Data indeks palatabilitas hijauan pakan rusa (rumput) pada 20 buah petak contoh No Nama lokal Jenis hijauan Nama ilmiah Terdapat dalam Bekas dimakan rusa (pada petak contoh nomor) Indeks palatabilitas Frekuensi Frekuensi relatif 1 Pahit Axonophus compresus 16 petak (1, 3, 5, 6, 8, 9, 11, 12, 14, 15, 16,17, 18, 20) 14 petak 2 Alang-alang Imperata cylindrica 14 petak (1, 2, 3, 6, 12, 14, 15, 16, 17, 19, 20) 11 Petak 3 Dom-doman Andropogon acicularus 17 petak (2, 4, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 13, 16, 18, 20) 12 petak 4 Kakawatan Cynodon dactylon 13 petak (3, 4, 7, 10, 12, 13, 18, 19) 8 petak 5 Teki Cyperus rotundus 7 petak (4, 15) 2 petak 0,875 0,80 20,51 0,786 0,70 17,95 0,706 0,85 21,79 0,615 0,65 16,67 0,286 0,35 8,97 6 Jampang merak Eragrostis sp 2 petak - 0 0,10 2,56 7 Kalotrok Calopogonium mucunoides 2 petak - 0 0,10 2,56 8 Kakacangan Centrocema pubescens 2 petak - 0 0,10 2,56 9 Babandotan Blumea chinensis 5 petak - 0 0,25 6,40 J u m l a h 3,90 68

84 Keterangan: 1. Perhitungan Indek palatabilitas : Indek Palatabilitas (IP) = Jumlah petak contoh diketemukannya spesies tertentu dan ada bekas dimakan rusa Jumlah petak contoh diketemukannya spesies tersebut 2. Frekuensi Frekuensi = Jumlah petak contoh diketemukannya spesies tertentu Jumlah seluruh petak contoh 3. Frekuensi Relatif Frekuensi Relatif = Frekuensi spesies tertentu Jumlah frekuensi seluruh spesies 69

85 Lampiran 4. Data produktivitas rumput No Jenis hijauan Hasil pemotongan setiap 20 hari (g) Petak Nama lokal Nama ilmiah I II III Rata-rata (IP) Indeks Palatabilitas Rata-rata x IP Pahit Axonophus compresus ,67 0, ,836 Alang-alang Imperata cylindrica ,00 0,786 94,320 Dom-doman Andropogon acicularus ,67 0,706 52,011 Teki Cyperus rotundus ,33 0,286 7,816 Sub jumlah ,67 292,983 Pahit Axonophus compresus ,00 0,875 44,625 Alang-alang Imperata cylindrica ,33 0,786 33,271 Kakawatan Cynodon dactylon Pers ,67 0,615 15,785 Dom-doman Andropogon acicularus ,00 0,706 22,592 Sub jumlah ,00 116,273 Pahit Axonophus compresus ,00 0,875 57,750 Alang-alang Imperata cylindrica ,00 0,786 46,374 Kakawatan Cynodon dactylon Pers ,00 0,615 19,68 Dom-doman Andropogon acicularus ,33 0,706 24,237 Sub jumlah ,33 148,041 70

86 No Jenis hijauan Hasil pemotongan setiap 20 hari (g) Petak Nama lokal Nama Latin I II III Rata-rata (IP) Indeks palatabilitas Rata-rata x IP Teki Cyperus rotundus ,67 0,286 9,916 Pahitan Axonophus compresus ,67 0,875 73,211 Kakawatan Cynodon dactylon Pers ,00 0,615 23,985 Dom-doman Andropogon acicularus ,33 0,706 32,709 Sub jumlah ,67 139,821 Pahitan Axonophus compresus ,33 0, ,164 Alang-alang Imperata cylindrica ,67 0, ,147 Kakawatan Cynodon dactylon Pers ,00 0,615 65,805 Dom-doman Andropogon acicularus ,00 0,706 84,014 Sub jumlah ,00 488,130 Pahitan Axonophus compresus ,67 0, ,961 Alang-alang Imperata cylindrica ,33 0, ,513 Kakawatan Cynodon dactylon Pers ,67 0,615 50,842 Dom-doman Andropogon acicularus ,00 0,706 74,836 Sub jumlah ,67 387,152 71

87 No Jenis hijauan Hasil pemotongan setiap 20 hari (g) Petak Nama lokal Nama ilmiah I II III Rata-rata (IP) Indeks palatabilitas Rata-rata x IP Pahitan Axonophus compresus ,33 0,875 91,289 Alang-alang Imperata cylindrica ,00 0,786 63,666 Kakawatan Cynodon dactylon Pers ,67 0,615 31,777 Sub jumlah ,00 186,732 Teki Cyperus rotundus ,33 0,286 7,244 Pahitan Axonophus compresus ,00 0,875 35,875 Alang-alang Imperata cylindrica ,00 0,786 42,444 Dom-doman Andropogon acicularus ,67 0,706 18,123 Sub jumlah ,00 103,686 Pahitan Axonophus compresus ,67 0,875 54,836 Teki Cyperus rotundus ,00 0,286 6,006 Alang-alang Imperata cylindrica ,33 0,786 37,201 Kakawatan Cynodon dactylon Pers ,00 0,615 14,145 Dom-doman Andropogon acicularus ,00 0,706 21,180 Sub jumlah ,00 133,368 72

88 No Jenis hijauan Hasil pemotongan setiap 20 hari (g) Petak Nama lokal Nama ilmiah I II III Rata-rata (IP) Indek palatabilitas Rata-rata x IP Pahitan Axonophus compresus ,67 0,875 77,586 Alang-alang Imperata cylindrica ,00 0,786 55,806 Kakawatan Cynodon dactylon Pers ,33 0,615 22,958 Dom-doman Andropogon acicularus ,67 0,706 37,891 Sub jumlah ,67 194,241 Pahitan Axonophus compresus ,67 0,875 88,961 Alang-alang Imperata cylindrica ,67 0,786 61,835 Kakawatan Cynodon dactylon Pers ,67 0,615 25,627 Dom-doman Andropogon acicularus ,00 0,706 40,242 Sub jumlah ,01 216,665 Pahitan Axonophus compresus ,67 0,875 83,711 Alang-alang Imperata cylindrica ,33 0,786 83,575 Kakawatan Cynodon dactylon Pers ,33 0,615 34,643 Dom-doman Andropogon acicularus ,67 0,706 56,247 Sub jumlah ,00 258,176 Jumlah , ,317 Rata-rata 271,08 277,33 324,58 291,00 222,110 73

89 Lampiran 5 Konsumsi pakan tambahan (Kg bahan kering)* Perlakuan Kelompok waktu pengamatan Pencatatan data (hari ke ) Jumlah Rata rata T0 T1 T2 T3 K1 K2 K3 K1 K2 K3 K1 K2 K3 K1 K2 K3 4,495 5,019 5,931 5,089 5,019 4,297 29,850 4,975 4,712 5,237 5,207 4,524 6,138 5,306 31,124 5,187 4,812 5,287 6,257 5,415 5,346 4,633 31,759 5,293 6,405 7,049 6,168 6,554 7,029 5,940 39,145 6,524 7,207 6,673 6,682 6,772 6,504 7,336 41,174 6,862 6,910 7,376 6,742 7,128 7,009 6,415 41,580 6,930 6,534 5,980 6,247 5,792 6,356 6,752 37,661 6,278 6,405 6,227 6,772 6,989 6,712 5,861 38,966 6,494 6,405 6,527 6,871 7,088 6,722 6,851 40,461 6,744 5,890 5,455 6,271 5,485 6,039 4,762 33,848 5,641 6,574 5,821 6,366 5,702 5,831 6,762 37,056 6,176 6,405 6,049 5,801 6,386 6,296 6,682 37,619 6,270 Catatan: * Konsumsi untuk 15 ekor rusa. 74

90 Lampiran 6 Indeks palatabilitas pakan tambahan ( Nilai = 0 1) Perlakuan Kelompok Waktu Pengamatan Pencatatan data (hari ke ) Jumlah Rata rata T0 T1 T2 T3 K1 K2 K3 K1 K2 K3 K1 K2 K3 K1 K2 K3 0,545 0,504 0,599 0,514 0,507 0,434 3,012 0,502 0,476 0,529 0,526 0,457 0,620 0,536 3,144 0,524 0,487 0,534 0,632 0,547 0,540 0,468 3,208 0,535 0,647 0,712 0,623 0,662 0,710 0,600 3,954 0,659 0,728 0,674 0,675 0,684 0,657 0,741 4,159 0,693 0,698 0,745 0,681 0,720 0,708 0,648 4,200 0,700 0,660 0,604 0,631 0,585 0,642 0,682 3,804 0,634 0,647 0,629 0,684 0,706 0,678 0,,592 3,936 0,656 0,647 0,659 0,694 0,716 0,679 0,692 4,087 0,681 0,595 0,551 0,628 0,554 0,610 0,481 3,419 0,570 0,664 0,588 0,643 0,576 0,589 0,683 3,743 0,624 0,647 0,611 0,586 0,645 0,636 0,675 3,800 0,633 75

91 76 Lampiran 7 Analisis statistik indeks palatabilitas pakan tambahan Perlakuan Kelompok waktu pengamatan Yi Rata rata T0 0,502 0,524 0,535 1,561 0,520 T1 0,659 0,693 0,700 2,052 0,684 T2 0,634 0,656 0,681 1,971 0,657 T3 0,570 0,624 0,633 1,827 0,609 Jumlah 2,365 2,497 2,549 7,411 FK = 7,411² 54, = 12 = 4,5769 JKT = (0,502² + 0,524² + 0,535² ,663² ) 4,5769 = 0,0555 4,6324-4,5769 JKP = (1,561² + 2,052 ² + 1,971² + 1,827 ²) 3-4, ,8702 = - 4, = 0,0465 JKK = (2,365² + 2,497² + 2,549²) 4-4,5769 = 18, ,5769 = 0,0045 JKG = 0,0555-0,0465-0,0045 = 0,0045 TABEL ANOVA

92 77 Sumber db JK KT F hitung F tabel (0,05) Perlakuan 3 0,0465 0, ,6667 4,76 Waktu 2 0,0045 0,0022 2,9333 5,14 Pengamatan Galat 6 0,0045 0,00075 Total 12 0,0555 Karena F hitung pada perlakuan > F tabel, maka H 0 ditolak, artinya minimal ada satu perlakuan yang berpengaruh nyata (significant) terhadap palatabilitas pakan tambahan, pada a = 0,05. Sedangkan F hitung pada kelompok waktu pengamatan < F tabel, maka H 0 diterima, artinya kelompok waktu pengamatan tidak berpengaruh nyata terhadap palatabilitas pakan tambahan, pada a = 0,05. Untuk mengetahui perlakuan mana yang berpengaruh nyata terhadap indek palatabilitas pakan tambahan, maka dilakukan uji LSD. UJI LSD t = t a / 2 ; (dbg). v 2 KTG b = 0,025 ; 6. v 2 x 0,00075 = 2,447 x 0, = 0,0548 a. Y1. - Y2. = 0,520-0,684 = 0,164 * > LSD

93 78 b. Y1. - Y3. = 0,520-0,657 = 0,137 * > LSD c. Y1. - Y4. = 0,520-0,609 = 0,089 * > LSD d. Y2. - Y3. = 0,684-0,657 = 0,027 < LSD e. Y2. - Y4. = 0,684-0,609 = 0,075 * > LSD e. Y3. - Y4. = 0,657-0,609 = 0,048 < LSD

94 79 Lampiran 8 Perhitungan kandungan nutrisi pakan tambahan T 0 Protein 1. Dedak : 10,74/100 x 0,594/0,660 x 100% = 9,666% 2. Singkong/Ubi Kayu : 5,10/100 x 0,033/0,660 x 100% = 0,255% 3. Ubi Jalar : 3,05/100 x 0,033/0,660 x 100% = 0,152% Jumlah = 10,073% + Bahan Ekstrak Tiada N (BETN) 1. Dedak : 38,43/100 x 0,594/0,660 x 100% = 34,587% 2. Singkong/Ubi Kayu : 89,77/100 x 0,033/0,660 x 100% = 4,488% 3. Ubi Jalar : 90,80/100 x 0,033/0,660 x 100% = 4,540% Jumlah = 43,615% + Serat Kasar (SK) 1. Dedak : 23,22/100 x 0,594/0,660 x 100% = 20,898% 2. Singkong/Ubi Kayu : 2,05/100 x 0,033/0,660 x 100% = 0,102% 3. Ubi Jalar : 2,58/100 x 0,033/0,660 x 100% = 0,129% Jumlah = 21,129% + Lemak Kasar (SK) 1. Dedak : 11,85/100 x 0,594/0,660 x 100% = 10,665% 2. Singkong/Ubi Kayu : 1,36/100 x 0,033/0,600 x 100% = 0,068% 3. Ubi Jalar : 0,64/100 x 0,033/0,660 x 100% = 0,032% Jumlah = 10,765% + Abu 1. Dedak : 15,75/100 x 0,594/0,660 x 100% = 14,175% 2. Singkong/Ubi Kayu : 1,72/100 x 0,033/0,660 x 100% = 0,086% 3. Ubi Jalar : 2,93/100 x 0,033/0,660 x 100% = 0,146% Jumlah = 14,407% +

95 80 T 1 Protein 1. Dedak : 10,74/100 x 0,528/0,660 x 100% = 8,592% 2. Singkong/Ubi Kayu : 5,10/100 x 0,033/0,660 x 100% = 0,255% 3. Ubi Jalar : 3,05/100 x 0,033/0,660 x 100% = 0,152% 4. Kulit Pisang : 6,49/100 x 0,066/0,660 x 100% = 0,649% Jumlah = 9,648% + Bahan Ekstrak Tiada N (BETN) 1. Dedak : 38,43/100 x 0,528/0,660 x 100% = 30,744% 2. Singkong/Ubi Kayu : 89,77/100 x 0,033/0,660 x 100% = 4,488% 3. Ubi Jalar : 90,80/100 x 0,033/0,660 x 100% = 4,540% 4. Kulit Pisang : 64,53/100 x 0,066/0,660 x 100% = 6,453% Jumlah = 46,225% + Serat Kasar (SK) 1. Dedak : 23,22/100 x 0,528/0,660 x 100% = 18,576% 2. Singkong/Ubi Kayu : 2,05/100 x 0,033/0,660 x 100% = 0,102% 3. Ubi Jalar : 2,58/100 x 0,033/0,660 x 100% = 0,129% 4. Kulit Pisang : 17,29/100 x 0,066/0,660 x 100% = 1,729% Jumlah = 20,536% + Lemak Kasar (SK) 1. Dedak : 11,85/100 x 0,528/0,660 x 100% = 9,480% 2. Singkong/Ubi Kayu : 1,36/100 x 0,033/0,600 x 100% = 0,068% 3. Ubi Jalar : 0,64/100 x 0,033/0,660 x 100% = 0,032% 4. Kulit Pisang : 0,85/100 x 0,066/0,660 x 100% = 0,085% Jumlah = 9,665% + Abu 1. Dedak : 15,75/100 x 0,528/0,660 x 100% = 12,600% 2. Singkong/Ubi Kayu : 1,72/100 x 0,033/0,660 x 100% = 0,086% 3. Ubi Jalar : 2,93/100 x 0,033/0,660 x 100% = 0,146% 4. Kulit Pisang : 10,84/100 x 0,066/0,660 x 100% = 1,084% Jumlah = 13,916% +

96 81 T 2 Protein 1. Dedak : 10,74/100 x 0,462/0,660 x 100% = 7,518% 2. Singkong/Ubi Kayu : 5,10/100 x 0,033/0,660 x 100% = 0,255% 3. Ubi Jalar : 3,05/100 x 0,033/0,660 x 100% = 0,152% 4. Kulit Pisang : 6,49/100 x 0,132/0,660 x 100% = 1,298% Jumlah = 9,223% + Bahan Ekstrak Tiada N (BETN) 1. Dedak : 38,43/100 x 0,462/0,660 x 100% = 26,901% 2. Singkong/Ubi Kayu : 89,77/100 x 0,033/0,660 x 100% = 4,488% 3. Ubi Jalar : 90,80/100 x 0,033/0,660 x 100% = 4,540% 4. Kulit Pisang : 64,53/100 x 0,132/0,660 x 100% = 12,906% Jumlah = 48,835% + Serat Kasar (SK) 1. Dedak : 23,22/100 x 0,462/0,660 x 100% = 16,254% 2. Singkong/Ubi Kayu : 2,05/100 x 0,033/0,660 x 100% = 0,102% 3. Ubi Jalar : 2,58/100 x 0,033/0,660 x 100% = 0,129% 4. Kulit Pisang : 17,29/100 x 0,132/0,660 x 100% = 3,458% Jumlah = 19,943% + Lemak Kasar (SK) 1. Dedak : 11,85/100 x 0,462/0,660 x 100% = 8,295% 2. Singkong/Ubi Kayu : 1,36/100 x 0,033/0,600 x 100% = 0,068% 3. Ubi Jalar : 0,64/100 x 0,033/0,660 x 100% = 0,032% 4. Kulit Pisang : 0,85/100 x 0,132/0,660 x 100% = 0,172% Jumlah = 8,567% + Abu 1. Dedak : 15,75/100 x 0,462/0,660 x 100% = 11,025% 2. Singkong/Ubi Kayu : 1,72/100 x 0,033/0,660 x 100% = 0,086% 3. Ubi Jalar : 2,93/100 x 0,033/0,660 x 100% = 0,146% 4. Kulit Pisang : 10,84/100 x 0,132/0,660 x 100% = 2,168% Jumlah = 13,425% +

97 82 T 3 Protein 1. Dedak : 10,74/100 x 0,396/0,660 x 100% = 6,444% 2. Singkong/Ubi Kayu : 5,10/100 x 0,033/0,660 x 100% = 0,255% 3. Ubi Jalar : 3,05/100 x 0,033/0,660 x 100% = 0,152% 4. Kulit Pisang : 6,49/100 x 0,198/0,660 x 100% = 1,947% Jumlah = 8,798% + Bahan Ekstrak Tiada N (BETN) 1. Dedak : 38,43/100 x 0,396/0,660 x 100% = 23,058% 2. Singkong/Ubi Kayu : 89,77/100 x 0,033/0,660 x 100% = 4,488% 3. Ubi Jalar : 90,80/100 x 0,033/0,660 x 100% = 4,540% 4. Kulit Pisang : 64,53/100 x 0,198/0,660 x 100% = 19,359% Jumlah = 51,445% + Serat Kasar (SK) 1. Dedak : 23,22/100 x 0,396/0,660 x 100% = 13,932% 2. Singkong/Ubi Kayu : 2,05/100 x 0,033/0,660 x 100% = 0,102% 3. Ubi Jalar : 2,58/100 x 0,033/0,660 x 100% = 0,129% 4. Kulit Pisang : 17,29/100 x 0,198/0,660 x 100% = 5,187% Jumlah = 19,350% + Lemak Kasar (SK) 1. Dedak : 11,85/100 x 0,396/0,660 x 100% = 7,110% 2. Singkong/Ubi Kayu : 1,36/100 x 0,033/0,600 x 100% = 0,068% 3. Ubi Jalar : 0,64/100 x 0,033/0,660 x 100% = 0,032% 4. Kulit Pisang : 0,85/100 x 0,198/0,660 x 100% = 0,255% Jumlah = 7,465% + Abu 1. Dedak : 15,75/100 x 0,396/0,660 x 100% = 9,450% 2. Singkong/Ubi Kayu : 1,72/100 x 0,033/0,660 x 100% = 0,086% 3. Ubi Jalar : 2,93/100 x 0,033/0,660 x 100% = 0,146% 4. Kulit Pisang : 10,84/100 x 0,198/0,660 x 100% = 3,252% Jumlah = 12,934% +

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI PRODUKTIVITAS RUMPUT LAPANG DAN PALATABILITAS KULIT PISANG NANGKA (Musa paradisiaca L) UNTUK PAKAN TAMBAHAN PADA RUSA TIMOR (Cervus timorensis de Blainville) DI PENANGKARAN S U N A R N O SEKOLAH PASCASARJANA

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Artiodactyla, Anak Bangsa (Subordo) Ruminansia dan Suku (Family)

II. TINJAUAN PUSTAKA. Artiodactyla, Anak Bangsa (Subordo) Ruminansia dan Suku (Family) II. TINJAUAN PUSTAKA A. Jenis Rusa Rusa merupakan salah satu jenis satwa yang termasuk dalam Bangsa (Ordo) Artiodactyla, Anak Bangsa (Subordo) Ruminansia dan Suku (Family) Cervidae. Suku Cervidae terbagi

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA A. Bio-Ekologi Rusa Timor 1. Taksonomi Menurut Schroder (1976), rusa timor (Cervus timorensis) diklasifikasikan ke dalam : Phylum Chordata, Sub phylum Vertebrata, Class Mammalia, Ordo

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rusa timor (Rusa timorensis Blainville 1822) merupakan salah satu jenis satwa liar yang hidup tersebar pada beberapa wilayah di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa sampai

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kambing Boer berasal dari Afrika Selatan, yang merupakan hasil persilangan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kambing Boer berasal dari Afrika Selatan, yang merupakan hasil persilangan 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kambing Boer Jawa (Borja) Kambing Boer berasal dari Afrika Selatan, yang merupakan hasil persilangan antara kambing Afrika lokal tipe kaki panjang dengan kambing yang berasal

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Rusa termasuk ke dalam genus Cervus spp yang keberadaannya sudah tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa mengingat Undang-

I. PENDAHULUAN. Rusa termasuk ke dalam genus Cervus spp yang keberadaannya sudah tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa mengingat Undang- I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Rusa termasuk ke dalam genus Cervus spp yang keberadaannya sudah langka. Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999 tentang pengawetan jenis

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. di beberapa tipe habitat. Bermacam-macam jenis satwa liar ini merupakan. salah satu diantaranya adalah kepentingan ekologis.

I. PENDAHULUAN. di beberapa tipe habitat. Bermacam-macam jenis satwa liar ini merupakan. salah satu diantaranya adalah kepentingan ekologis. I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia memiliki keanekaragaman jenis satwa liar yang tinggi,dan tersebar di beberapa tipe habitat. Bermacam-macam jenis satwa liar ini merupakan sumberdaya alam yang

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 24 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Nilai Gizi Pakan Gizi pakan rusa yang telah dianalisis mengandung komposisi kimia yang berbeda-beda dalam unsur bahan kering, abu, protein kasar, serat kasar, lemak kasar

Lebih terperinci

JENIS PAKAN. 1) Hijauan Segar

JENIS PAKAN. 1) Hijauan Segar JENIS PAKAN 1) Hijauan Segar Hijauan segar adalah semua bahan pakan yang diberikan kepada ternakdalam bentuk segar, baik yang dipotong terlebih dahulu (oleh manusia) maupun yang tidak (disengut langsung

Lebih terperinci

TINGKAH LAKU MAKAN RUSA SAMBAR (Cervus unicolor) DALAM KONSERVASI EX-SITU DI KEBUN BINATANG SURABAYA

TINGKAH LAKU MAKAN RUSA SAMBAR (Cervus unicolor) DALAM KONSERVASI EX-SITU DI KEBUN BINATANG SURABAYA TINGKAH LAKU MAKAN RUSA SAMBAR (Cervus unicolor) DALAM KONSERVASI EX-SITU DI KEBUN BINATANG SURABAYA VINA SITA NRP.1508 100 033 JURUSAN BIOLOGI Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Kebutuhan daging sapi setiap tahun selalu meningkat, sementara itu pemenuhan

I. PENDAHULUAN. Kebutuhan daging sapi setiap tahun selalu meningkat, sementara itu pemenuhan 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kebutuhan daging sapi setiap tahun selalu meningkat, sementara itu pemenuhan kebutuhan daging sapi lebih rendah dibandingkan dengan kebutuhan daging sapi. Ternak sapi,

Lebih terperinci

TERNAK KELINCI. Jenis kelinci budidaya

TERNAK KELINCI. Jenis kelinci budidaya TERNAK KELINCI Peluang usaha ternak kelinci cukup menjanjikan karena kelinci termasuk hewan yang gampang dijinakkan, mudah beradaptasi dan cepat berkembangbiak. Secara umum terdapat dua kelompok kelinci,

Lebih terperinci

POTENSI DAN PELUANG PENGEMBANGAN TERNAK SAPI DI LAHAN PERKEBUNAN SUMATERA SELATAN

POTENSI DAN PELUANG PENGEMBANGAN TERNAK SAPI DI LAHAN PERKEBUNAN SUMATERA SELATAN Lokakarya Pengembangan Sistem Integrasi Kelapa SawitSapi POTENSI DAN PELUANG PENGEMBANGAN TERNAK SAPI DI LAHAN PERKEBUNAN SUMATERA SELATAN ABDULLAH BAMUALIM dan SUBOWO G. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian

Lebih terperinci

EVALUASI PENANGKARAN RUSA CERVUS TIMORENSIS DI PULAU JAWA. (The Backyard Evaluasion of Species Cervus timorensis in Java Island )

EVALUASI PENANGKARAN RUSA CERVUS TIMORENSIS DI PULAU JAWA. (The Backyard Evaluasion of Species Cervus timorensis in Java Island ) EVALUASI PENANGKARAN RUSA CERVUS TIMORENSIS DI PULAU JAWA (The Backyard Evaluasion of Species Cervus timorensis in Java Island ) S. I. Santoso dan Zainal Fanani Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro

Lebih terperinci

TANAMAN STYLO (Stylosanthes guianensis) SEBAGAI PAKAN TERNAK RUMINANSIA

TANAMAN STYLO (Stylosanthes guianensis) SEBAGAI PAKAN TERNAK RUMINANSIA TANAMAN STYLO (Stylosanthes guianensis) SEBAGAI PAKAN TERNAK RUMINANSIA TANAMAN Leguminosa Styloshanthes guianensis (Stylo) merupakan salahsatu tanaman pakan yang telah beradaptasi baik dan tersebar di

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Rusa merupakan salah satu sumber daya genetik yang ada di Negara Indonesia.

I. PENDAHULUAN. Rusa merupakan salah satu sumber daya genetik yang ada di Negara Indonesia. 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rusa merupakan salah satu sumber daya genetik yang ada di Negara Indonesia. Rusa di Indonesia terdiri dari empat spesies rusa endemik yaitu: rusa sambar (Cervus unicolor),

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Sapi Perah Sapi Friesian Holstein (FH) Produktivitas Sapi Perah

TINJAUAN PUSTAKA Sapi Perah Sapi Friesian Holstein (FH) Produktivitas Sapi Perah TINJAUAN PUSTAKA Sapi Perah Pemeliharaan sapi perah bertujuan utama untuk memperoleh produksi susu yang tinggi dan efisien pakan yang baik serta mendapatkan hasil samping berupa anak. Peningkatan produksi

Lebih terperinci

Evaluasi Plasma Nutfah Rusa Totol (Axis axis) di Halaman Istana Bogor

Evaluasi Plasma Nutfah Rusa Totol (Axis axis) di Halaman Istana Bogor Evaluasi Plasma Nutfah Rusa Totol (Axis axis) di Halaman Istana Bogor R. Garsetiasih 1 dan Nina Herlina 2 1 Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam, Bogor 2 Sekretariat Jenderal Departemen

Lebih terperinci

Ketersediaan pakan khususnya pakan hijauan masih merupakan kendala. yang dihadapi oleh para peternak khususnya pada musim kemarau.

Ketersediaan pakan khususnya pakan hijauan masih merupakan kendala. yang dihadapi oleh para peternak khususnya pada musim kemarau. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ketersediaan pakan khususnya pakan hijauan masih merupakan kendala yang dihadapi oleh para peternak khususnya pada musim kemarau. Pemanfaatan lahan-lahan yang kurang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. tumbuhan tersebut. Suatu komunitas tumbuhan dikatakan mempunyai

I. PENDAHULUAN. tumbuhan tersebut. Suatu komunitas tumbuhan dikatakan mempunyai 1 I. PENDAHULUAN Keanekaragaman tumbuhan menggambarkan jumlah spesies tumbuhan yang menyusun suatu komunitas serta merupakan nilai yang menyatakan besarnya jumlah tumbuhan tersebut. Suatu komunitas tumbuhan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Burung tekukur merupakan burung yang banyak ditemukan di kawasan yang

II. TINJAUAN PUSTAKA. Burung tekukur merupakan burung yang banyak ditemukan di kawasan yang 8 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Burung Tekukur Burung tekukur merupakan burung yang banyak ditemukan di kawasan yang terbentang dari India dan Sri Lanka di Asia Selatan Tropika hingga ke China Selatan dan Asia

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Organisasi merupakan suatu gabungan dari orang-orang yang bekerja sama

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Organisasi merupakan suatu gabungan dari orang-orang yang bekerja sama 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Organisasi Organisasi merupakan suatu gabungan dari orang-orang yang bekerja sama dalam suatu pembagian kerja untuk mencapai tujuan bersama (Moekijat, 1990). Fungsi struktur

Lebih terperinci

Cara pengeringan. Cara pengeringan akan menentukan kualitas hay dan biaya yang diperlukan.

Cara pengeringan. Cara pengeringan akan menentukan kualitas hay dan biaya yang diperlukan. Cara pengeringan Cara pengeringan akan menentukan kualitas hay dan biaya yang diperlukan. Prinsip pengeringan adalah CEPAT agar penurunan kualitas dapat ditekan. Cara pengeringan 1. Sinar matahari. Untuk

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Rusa Timor Taksonomi dan Morfologi

II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Rusa Timor Taksonomi dan Morfologi II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Rusa Timor 2.1.1 Taksonomi dan Morfologi Rusa timor yang dikenal juga dengan nama rusa jawa, secara taksonomi termasuk dalam Kingdom Animalia, Phylum Chordata, Sub Phyllum Vertebrata,

Lebih terperinci

SILASE TONGKOL JAGUNG UNTUK PAKAN TERNAK RUMINANSIA

SILASE TONGKOL JAGUNG UNTUK PAKAN TERNAK RUMINANSIA AgroinovasI SILASE TONGKOL JAGUNG UNTUK PAKAN TERNAK RUMINANSIA Ternak ruminansia seperti kambing, domba, sapi, kerbau dan rusa dan lain-lain mempunyai keistimewaan dibanding ternak non ruminansia yaitu

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia memiliki Indeks Keanekaragaman Hayati(Biodiversity Index) tertinggi dengan 17% spesies burung dari total burung di dunia (Paine 1997). Sekitar 1598 spesies burung ada

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Provinsi Lampung adalah provinsi yang memiliki luas wilayah ,50 km 2

I. PENDAHULUAN. Provinsi Lampung adalah provinsi yang memiliki luas wilayah ,50 km 2 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Provinsi Lampung adalah provinsi yang memiliki luas wilayah 35.376,50 km 2 yang terdiri dari areal pemukiman, areal pertanian, perkebunan dan areal hutan yang

Lebih terperinci

BAB II RUSA TIMOR SATWA LIAR KHAS INDONESIA YANG DILINDUNGI

BAB II RUSA TIMOR SATWA LIAR KHAS INDONESIA YANG DILINDUNGI BAB II RUSA TIMOR SATWA LIAR KHAS INDONESIA YANG DILINDUNGI II.1 Pengertian Satwa Liar Di Indonesia terdapat banyak jenis satwa liar. Satwa liar adalah semua jenis satwa yang memiliki sifat-sifat liar

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. sapi yang meningkat ini tidak diimbangi oleh peningkatan produksi daging sapi

I. PENDAHULUAN. sapi yang meningkat ini tidak diimbangi oleh peningkatan produksi daging sapi I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kebutuhan konsumsi daging sapi penduduk Indonesia cenderung terus meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk Indonesia dan kesadaran masyarakat akan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. lokal adalah sapi potong yang asalnya dari luar Indonesia tetapi sudah

TINJAUAN PUSTAKA. lokal adalah sapi potong yang asalnya dari luar Indonesia tetapi sudah II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sapi Lokal di Indonesia Menurut Hardjosubroto (1994) bahwa sapi potong asli indonesia adalah sapi-sapi potong yang sejak dulu sudah terdapat di Indonesia, sedangkan sapi lokal

Lebih terperinci

PEMANFAATAN LIMBAH PASAR SEBAGAI PAKAN RUMINANSIA SAPI DAN KAMBING DI DKI JAKARTA

PEMANFAATAN LIMBAH PASAR SEBAGAI PAKAN RUMINANSIA SAPI DAN KAMBING DI DKI JAKARTA PEMANFAATAN LIMBAH PASAR SEBAGAI PAKAN RUMINANSIA SAPI DAN KAMBING DI DKI JAKARTA DKI Jakarta merupakan wilayah terpadat penduduknya di Indonesia dengan kepadatan penduduk mencapai 13,7 ribu/km2 pada tahun

Lebih terperinci

KARYA TULIS ILMIAH PENGOLAHAN LIMBAH KAKAO MENJADI BAHAN PAKAN TERNAK

KARYA TULIS ILMIAH PENGOLAHAN LIMBAH KAKAO MENJADI BAHAN PAKAN TERNAK KARYA TULIS ILMIAH PENGOLAHAN LIMBAH KAKAO MENJADI BAHAN PAKAN TERNAK Karya tulis ilmiah ini dibuat untuk memenuhi salah satu mata kuliah yaitu Pendidikan Bahasa Indonesia dari Dosen : Rika Widiawati,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kuda memegang peranan yang penting dalam kehidupan manusia sehari-hari.

BAB I PENDAHULUAN. Kuda memegang peranan yang penting dalam kehidupan manusia sehari-hari. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kuda memegang peranan yang penting dalam kehidupan manusia sehari-hari. Terdapat lima (5) macam hubungan yang penting antar a kuda dengan manusia yaitu: 1) Daging

Lebih terperinci

PROSPEK DAN KENDALA PENGEMBANGAN PENANGKARAN RUSA SAMBAR (Cervus unicolor brookei) Oleh: Tri Atmoko 11 RINGKASAN

PROSPEK DAN KENDALA PENGEMBANGAN PENANGKARAN RUSA SAMBAR (Cervus unicolor brookei) Oleh: Tri Atmoko 11 RINGKASAN PROSPEK DAN KENDALA PENGEMBANGAN PENANGKARAN RUSA SAMBAR (Cervus unicolor brookei) Oleh: Tri Atmoko 11 RINGKASAN Rusa sambar adalah salah satu rusa yang penyebarannya ada di Indonesia. Rusa mempunyai potensi

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. memadai, ditambah dengan diberlakukannya pasar bebas. Membanjirnya susu

PENDAHULUAN. memadai, ditambah dengan diberlakukannya pasar bebas. Membanjirnya susu I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sapi perah mempunyai potensi yang sangat besar untuk dikembangkan di Indonesia, dikarenakan kebutuhan akan susu domestik dari tahun ke tahun terus meningkat seiring dengan

Lebih terperinci

RUMPUT DAN LEGUM Sebagai Hijauan Makanan Ternak

RUMPUT DAN LEGUM Sebagai Hijauan Makanan Ternak RUMPUT DAN LEGUM Sebagai Hijauan Makanan Ternak Penulis: Dr. Endang Dwi Purbajanti, M.S. Edisi Pertama Cetakan Pertama, 2013 Hak Cipta 2013 pada penulis, Hak Cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak

Lebih terperinci

II KAJIAN KEPUSTAKAAN. karena karakteristiknya, seperti tingkat pertumbuhan cepat dan kualitas daging cukup

II KAJIAN KEPUSTAKAAN. karena karakteristiknya, seperti tingkat pertumbuhan cepat dan kualitas daging cukup II KAJIAN KEPUSTAKAAN 2.1 Sapi Potong Sapi potong adalah jenis sapi yang khusus dipelihara untuk digemukkan karena karakteristiknya, seperti tingkat pertumbuhan cepat dan kualitas daging cukup baik. Sapi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. yang memiliki potensi hijauan hasil limbah pertanian seperti padi, singkong, dan

I. PENDAHULUAN. yang memiliki potensi hijauan hasil limbah pertanian seperti padi, singkong, dan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kabupaten Lampung Timur merupakan salah satu daerah di provinsi Lampung yang memiliki potensi hijauan hasil limbah pertanian seperti padi, singkong, dan jagung, sehingga

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. rendah adalah masalah yang krusial dialami Indonesia saat ini. Catatan Direktorat

PENDAHULUAN. rendah adalah masalah yang krusial dialami Indonesia saat ini. Catatan Direktorat I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Populasi sapi perah yang sedikit, produktivitas dan kualitas susu sapi yang rendah adalah masalah yang krusial dialami Indonesia saat ini. Catatan Direktorat Jenderal Peternakan

Lebih terperinci

PRAKTIKUM III PENGENALAN BAHAN PAKAN TERNAK (FEEDS STUFF)

PRAKTIKUM III PENGENALAN BAHAN PAKAN TERNAK (FEEDS STUFF) 3.1 Landasan Teori PRAKTIKUM III PENGENALAN BAHAN PAKAN TERNAK (FEEDS STUFF) Berbagai ragam bahan makanan ternak telah dikenal dan dipergunakan sebagai bahan penyusun Pakan untuk memenuhi kebutuhan ternak

Lebih terperinci

BERTEMPAT DI GEREJA HKBP MARTAHAN KECAMATAN SIMANINDO KABUPATEN SAMOSIR Oleh: Mangonar Lumbantoruan

BERTEMPAT DI GEREJA HKBP MARTAHAN KECAMATAN SIMANINDO KABUPATEN SAMOSIR Oleh: Mangonar Lumbantoruan LAPORAN PENYULUHAN DALAM RANGKA MERESPON SERANGAN WABAH PENYAKIT NGOROK (Septicae epizootica/se) PADA TERNAK KERBAU DI KABUPATEN SAMOSIR BERTEMPAT DI GEREJA HKBP MARTAHAN KECAMATAN SIMANINDO KABUPATEN

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. pedesaan salah satunya usaha ternak sapi potong. Sebagian besar sapi potong

I PENDAHULUAN. pedesaan salah satunya usaha ternak sapi potong. Sebagian besar sapi potong I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masyarakat pedesaan pada umumnya bermatapencaharian sebagai petani, selain usaha pertaniannya, usaha peternakan pun banyak dikelola oleh masyarakat pedesaan salah satunya

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Keberhasilan usaha ternak sapi bergantung pada tiga unsur yaitu bibit, pakan, dan

PENDAHULUAN. Keberhasilan usaha ternak sapi bergantung pada tiga unsur yaitu bibit, pakan, dan PENDAHULUAN Latar Belakang Peternakan di Indonesia sejak zaman kemerdekaan sampai saat ini sudah semakin berkembang dan telah mencapai kemajuan yang cukup pesat. Sebenarnya, perkembangan kearah komersial

Lebih terperinci

Feed Wafer dan Feed Burger. Ditulis oleh Mukarom Salasa Selasa, 18 Oktober :04 - Update Terakhir Selasa, 18 Oktober :46

Feed Wafer dan Feed Burger. Ditulis oleh Mukarom Salasa Selasa, 18 Oktober :04 - Update Terakhir Selasa, 18 Oktober :46 Pakan mempunyai peranan yang sangat penting didalam kehidupan ternak. Kita ketahui bahwa biaya pakan merupakan biaya terbesar dari total biaya produksi yaitu mencapai 70-80 %. Kelemahan sistem produksi

Lebih terperinci

V. PROFIL PETERNAK SAPI DESA SRIGADING. responden memberikan gambaran secara umum tentang keadaan dan latar

V. PROFIL PETERNAK SAPI DESA SRIGADING. responden memberikan gambaran secara umum tentang keadaan dan latar V. PROFIL PETERNAK SAPI DESA SRIGADING A. Karakteristik Responden Responden dalam penelitian ini adalah peternak yang mengusahakan anakan ternak sapi dengan jumlah kepemilikan sapi betina minimal 2 ekor.

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. lingkungannya (Alikodra, 2002). Tingkah laku hewan adalah ekspresi hewan yang

II. TINJAUAN PUSTAKA. lingkungannya (Alikodra, 2002). Tingkah laku hewan adalah ekspresi hewan yang 7 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Perilaku Rusa Sambar Perilaku satwa liar merupakan gerak gerik satwa liar untuk memenuhi rangsangan dalam tubuhnya dengan memanfaatkan rangsangan yang diperoleh dari lingkungannya

Lebih terperinci

JURNAL INFO ISSN : TEKNOLOGI TEPAT GUNA UNTUK MENCUKUPI KONTINUITAS KEBUTUHAN PAKAN DI KTT MURIA SARI

JURNAL INFO ISSN : TEKNOLOGI TEPAT GUNA UNTUK MENCUKUPI KONTINUITAS KEBUTUHAN PAKAN DI KTT MURIA SARI TEKNOLOGI TEPAT GUNA UNTUK MENCUKUPI KONTINUITAS KEBUTUHAN PAKAN DI KTT MURIA SARI M. Christiyanto dan Surahmanto Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro Email korespondensi: [email protected]

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sapi perah merupakan salah satu jenis sapi yang dapat mengubah pakan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sapi perah merupakan salah satu jenis sapi yang dapat mengubah pakan 2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sapi Perah Sapi perah merupakan salah satu jenis sapi yang dapat mengubah pakan yang dikonsumsi menjadi susu sebagai produk utamanya baik untuk diberikan kepada anaknya maupun

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Nama Desa Sukoharjo berasal dari tokoh di Kecamatan Sukoharjo pada saat itu,

II. TINJAUAN PUSTAKA. Nama Desa Sukoharjo berasal dari tokoh di Kecamatan Sukoharjo pada saat itu, 5 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Gambaran Umum Desa Sukoharjo II I. Deskripsi Desa Sukoharjo II Nama Desa Sukoharjo berasal dari tokoh di Kecamatan Sukoharjo pada saat itu, yaitu Suharjo dan Sukoharjo. Desa Sukoharjo

Lebih terperinci

Pemanfaatan Dedak Padi sebagai Pakan Tambahan Rusa

Pemanfaatan Dedak Padi sebagai Pakan Tambahan Rusa Pemanfaatan Dedak Padi sebagai Pakan Tambahan Rusa R. Garsetiasih, N.M. Heriyanto, dan Jaya Atmaja Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam, Bogor ABSTRACT The experiment was conducted to study growth of deer

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. keberhasilan usaha pengembangan peternakan disamping faktor bibit dan

TINJAUAN PUSTAKA. keberhasilan usaha pengembangan peternakan disamping faktor bibit dan TINJAUAN PUSTAKA Sumberdaya Pakan Pakan adalah bahan makanan tunggal atau campuran, baik yang diolah maupun yang tidak diolah, yang diberikan kepada hewan untuk kelangsungan hidup, berproduksi, dan berkembang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Taksonomi Burung jalak bali oleh masyarakat Bali disebut dinamakan dengan curik putih atau curik bali, sedangkan dalam istilah asing disebut dengan white starling, white mynah,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 1998 TENTANG KAWASAN SUAKA ALAM DAN KAWASAN PELESTARIAN ALAM PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 1998 TENTANG KAWASAN SUAKA ALAM DAN KAWASAN PELESTARIAN ALAM PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 1998 TENTANG KAWASAN SUAKA ALAM DAN KAWASAN PELESTARIAN ALAM PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PEMANFAATAN JENIS TUMBUHAN DAN SATWA LIAR

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PEMANFAATAN JENIS TUMBUHAN DAN SATWA LIAR PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PEMANFAATAN JENIS TUMBUHAN DAN SATWA LIAR U M U M Bangsa Indonesia dikaruniai oleh Tuhan Yang Maha Esa kekayaan berupa

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. kontribusi positif terhadap pertumbuhan Produk Domestik Bruto Indonesia.

I. PENDAHULUAN. kontribusi positif terhadap pertumbuhan Produk Domestik Bruto Indonesia. I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Peternakan sebagai salah satu sub dari sektor pertanian masih memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan Produk Domestik Bruto Indonesia. Kontribusi peningkatan

Lebih terperinci

Tabel 4.1. Zona agroklimat di Indonesia menurut Oldeman

Tabel 4.1. Zona agroklimat di Indonesia menurut Oldeman IV. Faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan HPT Jenis, produksi dan mutu hasil suatu tumbuhan yang dapat hidup di suatu daerah dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu: Iklim Tanah Spesies Pengelolaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia sebagai negara tropis memiliki keanekaragaman jenis satwa,

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia sebagai negara tropis memiliki keanekaragaman jenis satwa, BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Indonesia sebagai negara tropis memiliki keanekaragaman jenis satwa, sebagian diantaranya dikategorikan langka, tetapi masih mempunyai potensi untuk ditangkarkan, baik

Lebih terperinci

PENANAMAN Untuk dapat meningkatkan produksi hijauan yang optimal dan berkualitas, maka perlu diperhatikan dalam budidaya tanaman. Ada beberapa hal yan

PENANAMAN Untuk dapat meningkatkan produksi hijauan yang optimal dan berkualitas, maka perlu diperhatikan dalam budidaya tanaman. Ada beberapa hal yan Lokakarya Fungsional Non Peneliri 1997 PENGEMBANGAN TANAMAN ARACHIS SEBAGAI BAHAN PAKAN TERNAK Hadi Budiman', Syamsimar D. 1, dan Suryana 2 ' Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Jalan Raya Pajajaran

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sapi Madura merupakan hasil persilangan antara sapi Bali (Bos sondaicus)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sapi Madura merupakan hasil persilangan antara sapi Bali (Bos sondaicus) 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penampilan Produksi Sapi Madura Sapi Madura merupakan hasil persilangan antara sapi Bali (Bos sondaicus) dengan sapi PO maupun sapi Brahman, turunan dari Bos indicus. Sapi

Lebih terperinci

METODE. Materi 10,76 12,09 3,19 20,90 53,16

METODE. Materi 10,76 12,09 3,19 20,90 53,16 METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Nutrisi Ternak Daging dan Kerja Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. Pemeliharaan ternak percobaan dilakukan dari bulan

Lebih terperinci

Identifikasi Hijauan Makanan Ternak (HMT) Lokal mendukung Pengembangan Sapi Potong di Sulawesi Selatan

Identifikasi Hijauan Makanan Ternak (HMT) Lokal mendukung Pengembangan Sapi Potong di Sulawesi Selatan Identifikasi Hijauan Makanan Ternak (HMT) Lokal mendukung Pengembangan Sapi Potong di Sulawesi Selatan Nurlina Saking dan Novia Qomariyah Disampaikan Dalam Rangka Seminar Nasional Teknologi Peternakan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kebutuhan produksi protein hewani untuk masyarakat Indonesia selalu meningkat dari tahun ke tahun yang disebabkan oleh peningkatan penduduk, maupun tingkat kesejahteraan

Lebih terperinci

SAMPAH POTENSI PAKAN TERNAK YANG MELIMPAH. Oleh: Dwi Lestari Ningrum, SPt

SAMPAH POTENSI PAKAN TERNAK YANG MELIMPAH. Oleh: Dwi Lestari Ningrum, SPt SAMPAH POTENSI PAKAN TERNAK YANG MELIMPAH Oleh: Dwi Lestari Ningrum, SPt Sampah merupakan limbah yang mempunyai banyak dampak pada manusia dan lingkungan antara lain kesehatan, lingkungan, dan sosial ekonomi.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pembangunan sektor peternakan merupakan bagian integral dari. pembangunan pertanian dan pembangunan nasional. Sektor peternakan di

I. PENDAHULUAN. Pembangunan sektor peternakan merupakan bagian integral dari. pembangunan pertanian dan pembangunan nasional. Sektor peternakan di I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan sektor peternakan merupakan bagian integral dari pembangunan pertanian dan pembangunan nasional. Sektor peternakan di beberapa daerah di Indonesia telah memberikan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Tabel 1. Kandungan Nutrien Daging pada Beberapa Ternak (per 100 gram daging) Protein (g) 21 19, ,5

TINJAUAN PUSTAKA. Tabel 1. Kandungan Nutrien Daging pada Beberapa Ternak (per 100 gram daging) Protein (g) 21 19, ,5 TINJAUAN PUSTAKA Kelinci Kelinci domestik (Oryctolagus cuniculus) merupakan keturunan dari kelinci liar Eropa yang berasal dari negara sekitar Laut Mediterania dan dibawa ke Inggris pada awal abad 12 (NRC,

Lebih terperinci

EFISIENSI PAKAN KOMPLIT DENGAN LEVEL AMPAS TEBU YANG BERBEDA PADA KAMBING LOKAL SKRIPSI. Oleh FERINDRA FAJAR SAPUTRA

EFISIENSI PAKAN KOMPLIT DENGAN LEVEL AMPAS TEBU YANG BERBEDA PADA KAMBING LOKAL SKRIPSI. Oleh FERINDRA FAJAR SAPUTRA 1 EFISIENSI PAKAN KOMPLIT DENGAN LEVEL AMPAS TEBU YANG BERBEDA PADA KAMBING LOKAL SKRIPSI Oleh FERINDRA FAJAR SAPUTRA FAKULTAS PETERNAKAN DAN PERTANIAN UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2013 2 EFISIENSI

Lebih terperinci

1. Jenis-jenis Sapi Potong. Beberapa jenis sapi yang digunakan untuk bakalan dalam usaha penggemukan sapi potong di Indonesia adalah :

1. Jenis-jenis Sapi Potong. Beberapa jenis sapi yang digunakan untuk bakalan dalam usaha penggemukan sapi potong di Indonesia adalah : BUDIDAYA SAPI POTONG I. Pendahuluan. Usaha peternakan sapi potong mayoritas masih dengan pola tradisional dan skala usaha sambilan. Hal ini disebabkan oleh besarnya investasi jika dilakukan secara besar

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. produksi yang dihasilkan oleh peternak rakyat rendah. Peternakan dan Kesehatan Hewan (2012), produksi susu dalam negeri hanya

PENDAHULUAN. produksi yang dihasilkan oleh peternak rakyat rendah. Peternakan dan Kesehatan Hewan (2012), produksi susu dalam negeri hanya 1 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peternakan sapi perah di Indonesia, 90% merupakan peternakan sapi perah rakyat dengan kepemilikan kecil dan pengelolaan usaha yang masih tradisional. Pemeliharaan yang

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian Unit Pendidikan, Penelitian dan Peternakan Jonggol (UP3J) merupakan areal peternakan domba milik Institut Pertanian Bogor (IPB) yang terletak di desa Singasari

Lebih terperinci

: PENGGEMUKAN SAPI DI INDONESIA

: PENGGEMUKAN SAPI DI INDONESIA Tatap muka ke 6 POKOK BAHASAN : PENGGEMUKAN SAPI DI INDONESIA Tujuan Instruksional Umum : Mengetahui program penggemukan dan cara penggemukan sapi potong di Indonesia. Tujuan Instruksional Khusus : Mengetahui

Lebih terperinci

PENGANTAR. Latar Belakang. Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki potensi yang sangat besar

PENGANTAR. Latar Belakang. Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki potensi yang sangat besar PENGANTAR Latar Belakang Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki potensi yang sangat besar dalam pengembangan sektor peternakan dalam rangka mendukung upaya pemerintah dalam program pemenuhan kebutuhan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Plasma nutfah ternak mempunyai peranan penting dalam memenuhi kebutuhan pangan dan kesejahteraan bagi masyarakat dan lingkungannya. Sebagai negara tropis Indonesia memiliki

Lebih terperinci

HIJAUAN GLIRICIDIA SEBAGAI PAKAN TERNAK RUMINANSIA

HIJAUAN GLIRICIDIA SEBAGAI PAKAN TERNAK RUMINANSIA HIJAUAN GLIRICIDIA SEBAGAI PAKAN TERNAK RUMINANSIA I Wayan Mathius Balai Penelitian Ternak, Bogor PENDAHULUAN Penyediaan pakan yang berkesinambungan dalam artian jumlah yang cukup clan kualitas yang baik

Lebih terperinci

JENIS DAN KARAKTER JANGKRIK Jangkrik di Indonesia tercatat ada 123 jenis yang tersebar di pelosok daerah. Namun hanya dua jenis saja yang umum dibudid

JENIS DAN KARAKTER JANGKRIK Jangkrik di Indonesia tercatat ada 123 jenis yang tersebar di pelosok daerah. Namun hanya dua jenis saja yang umum dibudid RUANG LINGKUP BUDIDAYA PEMELIHARAAN JANGKRIK KALUNG KUNING A. UDJIANTO Balai Penelitian Ternak, Po Box 221, Ciawi Bogor RINGKASAN Komoditas jangkrik ini dapat memberikan tambahan penghasilan disamping

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. kebutuhan zat makanan ternak selama 24 jam. Ransum menjadi sangat penting

PENDAHULUAN. kebutuhan zat makanan ternak selama 24 jam. Ransum menjadi sangat penting 1 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ransum merupakan campuran bahan pakan yang disusun untuk memenuhi kebutuhan zat makanan ternak selama 24 jam. Ransum menjadi sangat penting dalam pemeliharaan ternak,

Lebih terperinci

Lingkup Kegiatan Adapun ruang lingkup dari kegiatan ini yaitu :

Lingkup Kegiatan Adapun ruang lingkup dari kegiatan ini yaitu : PROJECT DIGEST NAMA CLUSTER : Ternak Sapi JUDUL KEGIATAN : DISEMINASI INOVASI TEKNOLOGI pembibitan menghasilkan sapi bakalan super (bobot lahir > 12 kg DI LOKASI PRIMA TANI KABUPATEN TTU PENANGGUNG JAWAB

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan,

I. PENDAHULUAN. yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Taman hutan raya merupakan kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi tumbuhan dan atau satwa yang alami atau buatan, jenis asli dan atau bukan asli, yang dimanfaatkan

Lebih terperinci

TINGKAT ADOPSI TEKNOLOGI HIJAUAN PAKAN TERNAK DI DESA MARENU, TAPANULI SELATAN

TINGKAT ADOPSI TEKNOLOGI HIJAUAN PAKAN TERNAK DI DESA MARENU, TAPANULI SELATAN TINGKAT ADOPSI TEKNOLOGI HIJAUAN PAKAN TERNAK DI DESA MARENU, TAPANULI SELATAN RIJANTO HUTASOIT Loka Penelitan Kambing Potong, P.O. Box 1 Galang, Medan RINGKASAN Untuk pengujian terhadap tingkat adopsi

Lebih terperinci

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pegaruh Perlakuan terhadap Produksi Hijauan (Bahan Segar)

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pegaruh Perlakuan terhadap Produksi Hijauan (Bahan Segar) IV HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Pegaruh Perlakuan terhadap Produksi Hijauan (Bahan Segar) Produksi hijauan segar merupakan banyaknya hasil hijauan yang diperoleh setelah pemanenan terdiri dari rumput

Lebih terperinci

EFEK PERENDAMAN POLS DALAM URIN SAPI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI RUMPUT BENGGALA (Panicum maximum) DAN RUMPUT GAJAH (Pennisetum purpureum)

EFEK PERENDAMAN POLS DALAM URIN SAPI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI RUMPUT BENGGALA (Panicum maximum) DAN RUMPUT GAJAH (Pennisetum purpureum) EFEK PERENDAMAN POLS DALAM URIN SAPI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI RUMPUT BENGGALA (Panicum maximum) DAN RUMPUT GAJAH (Pennisetum purpureum) SKRIPSI RUTH CAROLINA PANJAITAN 060306015 DEPARTEMEN PETERNAKAN

Lebih terperinci

Ditulis oleh Mukarom Salasa Minggu, 19 September :41 - Update Terakhir Minggu, 19 September :39

Ditulis oleh Mukarom Salasa Minggu, 19 September :41 - Update Terakhir Minggu, 19 September :39 Ketersediaan sumber pakan hijauan masih menjadi permasalahan utama di tingkat peternak ruminansia. Pada musim kemarau tiba mereka terpaksa harus menjual dengan harga murah untuk mengatasi terbatasnya hijauan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Kehidupan di dunia tidak terlepas dari perubahan-perubahan suatu lingkungan.

I. PENDAHULUAN. Kehidupan di dunia tidak terlepas dari perubahan-perubahan suatu lingkungan. 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kehidupan di dunia tidak terlepas dari perubahan-perubahan suatu lingkungan. Lingkungan fisik, lingkungan biologis serta lingkungan sosial manusia akan selalu berubah

Lebih terperinci

POTENSI DAN PELUANG PENGEMBANGAN TERNAK KERBAU DI KALIMANTAN SELATAN

POTENSI DAN PELUANG PENGEMBANGAN TERNAK KERBAU DI KALIMANTAN SELATAN POTENSI DAN PELUANG PENGEMBANGAN TERNAK KERBAU DI KALIMANTAN SELATAN AKHMAD HAMDAN dan ENI SITI ROHAENI BPTP Kalimantan Selatan ABSTRAK Kerbau merupakan salah satu ternak ruminansia yang memiliki potensi

Lebih terperinci

lagomorpha. Ordo ini dibedakan menjadi dua famili, yakni Ochtonidae (jenis

lagomorpha. Ordo ini dibedakan menjadi dua famili, yakni Ochtonidae (jenis BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sejarah kelinci Menurut Kartadisatra (2011) kelinci merupakan hewan mamalia dari family Leporidae yang dapat ditemukan di banyak bagian permukaan bumi. Dulunya, hewan ini adalah

Lebih terperinci

KEANEKARAGAMAN JENIS BURUNG DI BERBAGAI TIPE DAERAH TEPI (EDGES) TAMAN HUTAN RAYA SULTAN SYARIF HASYIM PROPINSI RIAU DEFRI YOZA

KEANEKARAGAMAN JENIS BURUNG DI BERBAGAI TIPE DAERAH TEPI (EDGES) TAMAN HUTAN RAYA SULTAN SYARIF HASYIM PROPINSI RIAU DEFRI YOZA KEANEKARAGAMAN JENIS BURUNG DI BERBAGAI TIPE DAERAH TEPI (EDGES) TAMAN HUTAN RAYA SULTAN SYARIF HASYIM PROPINSI RIAU DEFRI YOZA SEKOLAH PASCA SARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2006 PERNYATAAN MENGENAI

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. (BBPTU-HPT) Baturraden merupakan pusat pembibitan sapi perah nasional yang

HASIL DAN PEMBAHASAN. (BBPTU-HPT) Baturraden merupakan pusat pembibitan sapi perah nasional yang IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Keadaan Umum BBPTU-HPT Baturraden Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BBPTU-HPT) Baturraden merupakan pusat pembibitan sapi perah nasional yang ada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengandung protein dan zat-zat lainnya seperti lemak, mineral, vitamin yang

BAB I PENDAHULUAN. mengandung protein dan zat-zat lainnya seperti lemak, mineral, vitamin yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Daging ayam merupakan salah satu daging yang memegang peranan cukup penting dalam pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, karena banyak mengandung protein dan zat-zat

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1999 TENTANG PENGAWETAN JENIS TUMBUHAN DAN SATWA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1999 TENTANG PENGAWETAN JENIS TUMBUHAN DAN SATWA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1999 TENTANG PENGAWETAN JENIS TUMBUHAN DAN SATWA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa tumbuhan dan satwa adalah bagian dari sumber daya

Lebih terperinci

PENENTUAN KUOTA PEMANENAN LESTARI RUSA TIMOR (Rusa timorensis, de Blainville, 1822) RIZKI KURNIA TOHIR E

PENENTUAN KUOTA PEMANENAN LESTARI RUSA TIMOR (Rusa timorensis, de Blainville, 1822) RIZKI KURNIA TOHIR E PENENTUAN KUOTA PEMANENAN LESTARI RUSA TIMOR (Rusa timorensis, de Blainville, 1822) RIZKI KURNIA TOHIR E34120028 PROGRAM KONSERVASI BIODIVERSITAS TROPIKA SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2016

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. lokal adalah salah satu unggas air yang telah lama di domestikasi, dan

I PENDAHULUAN. lokal adalah salah satu unggas air yang telah lama di domestikasi, dan I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ternak unggas penghasil telur, daging dan sebagai binatang kesayangan dibedakan menjadi unggas darat dan unggas air. Dari berbagai macam jenis unggas air yang ada di Indonesia,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. besar untuk dikembangkan, sapi ini adalah keturunan Banteng (Bos sundaicus)

I. PENDAHULUAN. besar untuk dikembangkan, sapi ini adalah keturunan Banteng (Bos sundaicus) I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sapi Bali adalah salah satu bangsa sapi murni yang mempunyai potensi besar untuk dikembangkan, sapi ini adalah keturunan Banteng (Bos sundaicus) dan mempunyai bentuk

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Tapir asia dapat ditemukan dalam habitat alaminya di bagian selatan Burma, Peninsula Melayu, Asia Tenggara dan Sumatra. Berdasarkan Tapir International Studbook, saat ini keberadaan

Lebih terperinci

KESUBURAN TANAH Jangan terlalu Kesuburan fisik: miring * Struktur tanah * Kedalaman Kesuburan kimia: * Unsur hara yang Tersedia dalam Tanah

KESUBURAN TANAH Jangan terlalu Kesuburan fisik: miring * Struktur tanah * Kedalaman Kesuburan kimia: * Unsur hara yang Tersedia dalam Tanah POKOK-POKOK TATALAKSANA DALAM PENYEDIAAN HIJAUAN MAKANAN TERNAK Oleh : Siti Rochani, SPt. MM Sudah kita ketahui bersama bahwa keberhasilan suatu peternakan tidak lepas dari efisiensi kualitas dan kuantitas

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kelinci adalah salah satu ternak penghasil daging yang dapat dijadikan sumber protein hewani di Indonesia. Sampai saat ini masih sangat sedikit peternak yang mengembangkan

Lebih terperinci

ANALISIS HASIL USAHA TERNAK SAPI DESA SRIGADING. seperti (kandang, peralatan, bibit, perawatan, pakan, pengobatan, dan tenaga

ANALISIS HASIL USAHA TERNAK SAPI DESA SRIGADING. seperti (kandang, peralatan, bibit, perawatan, pakan, pengobatan, dan tenaga VI. ANALISIS HASIL USAHA TERNAK SAPI DESA SRIGADING A. Ketersediaan Input Dalam mengusahakan ternak sapi ada beberapa input yang harus dipenuhi seperti (kandang, peralatan, bibit, perawatan, pakan, pengobatan,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. kontinuitasnya terjamin, karena hampir 90% pakan ternak ruminansia berasal dari

I. PENDAHULUAN. kontinuitasnya terjamin, karena hampir 90% pakan ternak ruminansia berasal dari I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu faktor penting dalam peningkatan produktivitas ternak ruminansia adalah ketersediaan pakan yang berkualitas, kuantitas, serta kontinuitasnya terjamin, karena

Lebih terperinci

Diharapkan dengan diketahuinya media yang sesuai, pembuatan dan pemanfaatan silase bisa disebarluaskan sehingga dapat menunjang persediaan hijauan yan

Diharapkan dengan diketahuinya media yang sesuai, pembuatan dan pemanfaatan silase bisa disebarluaskan sehingga dapat menunjang persediaan hijauan yan SILASE TANAMAN JAGUNG SEBAGAI PENGEMBANGAN SUMBER PAKAN TERNAK BAMBANG KUSHARTONO DAN NANI IRIANI Balai Penelitian Ternak Po Box 221 Bogor 16002 RINGKASAN Pengembangan silase tanaman jagung sebagai alternatif

Lebih terperinci

Daya Cerna Jagung dan Rumput sebagai Pakan Rusa (Cervus Timorensis)

Daya Cerna Jagung dan Rumput sebagai Pakan Rusa (Cervus Timorensis) Daya Cerna Jagung dan Rumput sebagai Pakan Rusa (Cervus Timorensis) R. Garsetiasih Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam, Bogor 88 ABSTRACT The experiment was done on two couples

Lebih terperinci

Budidaya dan Pakan Ayam Buras. Oleh : Supriadi Loka Pengkajian Teknologi Pertanian Kepulauan Riau.

Budidaya dan Pakan Ayam Buras. Oleh : Supriadi Loka Pengkajian Teknologi Pertanian Kepulauan Riau. Budidaya dan Pakan Ayam Buras Oleh : Supriadi Loka Pengkajian Teknologi Pertanian Kepulauan Riau. PENDAHULUAN Ayam kampung atau ayam bukan ras (BURAS) sudah banyak dipelihara masyarakat khususnya masyarakat

Lebih terperinci