REKAYASA MESIN PEMBUAT PELLET PUPUK DARI KOTORAN SAPI
|
|
|
- Liani Jayadi
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 REKAYASA MESIN PEMBUAT PELLET PUPUK DARI KOTORAN SAPI PROYEK AKHIR Diajukan untuk memenuhi persyaratan guna memperoleh gelar Ahli Madya (A.Md) Program Studi DIII Teknik Mesin Disusun oleh : Setyo Budi I PROGRAM DIPLOMA III MESIN PRODUKSI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 010 1
2 HALAMAN PERSETUJUAN REKAYASA MESIN PEMBUAT PELLET PUPUK DARI KOTORAN SAPI Disusun Oleh : Setyo Budi I Proyek Akhir ini telah disetujui untuk diajukan dihadapan Tim Penguji Tugas Akhir Program Studi D-III Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta Pembimbing I Pembimbing II
3 3 Zainal Arifin, ST., MT NIP Dr.Kuncoro Diharjo, ST, MT NIP HALAMAN PENGESAHAN REKAYASA MESIN PEMBUAT PELLET PUPUK DARI KOTORAN SAPI Disusun oleh : Setyo Budi I Telah dipertahankan dihadapan Tim Penguji Pendadaran Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret pada : Hari : jumat Tanggal : 9 Januari 010 Tim Penguji : 1. Zainal Arifin, ST., MT NIP (...). Dr. Kuncoro Diharjo, ST., MT NIP (...) 3. Dr. Techn. Suyitno, ST., MT NIP (...) 4. Heru Sukanto, ST,. MT NIP (...) Mengetahui, Ketua Program D-III Teknik Fakultas Teknik UNS Disahkan, Koordinator Proyek Akhir Fakultas Teknik
4 4 Zainal Arifin, ST, MT. Jaka Sulistya Budi, ST. NIP NIP HALAMAN MOTTO Terus berusaha mensyukuri segala pemberiannya, karena hanya orang yang bersyukur yang dapat merasakan kenikmatan hidup. Hidup adalah perjuangan untuk berubah menjadi lebih baik dan berguna bagi semua. Apa yang kita cita-citakan tidak akan terwujud tanpa disertai tekad dan usaha yang keras. PERSEMBAHAN Sebuah hasil karya yang kami buat demi menggapai sebuah cita-cita, yang ingin kupersembahkan kepada: Allah SWT, karena dengan rahmad serta hidayah-nya saya dapat melaksanakan `Tugas Akhir dengan baik serta dapat menyelesaikan laporan ini dengan lancar Kedua Orang Tua yang aku sayangi yang telah memberi dorongan moril maupun meteril serta semangat yang tinggi sehingga saya dapat menyelesaikan tugas akhir ini. Kakak ku yang aku sayangi, ayo kejar cita-citamu. D III Produksi dan Otomotif angkatan 006 yang masih tertinggal, semangat Bro!!! perjungan belum berakhir. Ade -ade angkatanku, Jangan pernah menyerah!!
5 5 ABSTRAKSI Setyo Budi, 010, REKAYASA MESIN PEMBUAT PELLET PUPUK DARI KOTORAN SAPI Diploma III Mesin Produksi, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret Surakarta. Pondok pesantren Abdurrahman Bin Auf yang terletak di klaten mempunyai pertenakan sapi yang cukup banyak. Sehingga menghasilkan kotoran yang banyak pula. Kotoran ini dikumpulkan dan digunakan untuk pembuatan biogas. Sisa kotoran hasil biogas dimanfaatkan untuk pembuatan pupuk pertanian. Proyek Akhir ini bertujuan untuk merencanakan, membuat, dan menguji mesin pembuat pellet untuk keperluan meningkatkan nilai ekonomi pupuk kotoran sapi. Metode dalam perancangan mesin ini adalah studi pustaka dan trial and error. Alat ini memiliki bagian utama yaitu power screw. Untuk menstransmisikan daya dari motor ke reducer kemudian ke poros menggunakan puli dan V-belt. Proses pembuatannya melalui beberapa tahapan yaitu pemotongan, pembubutan, pengelasan, pelubangan dan perakitan komponen. Dari hasil perancangan dan pembuatan mesin pembuat pellet didapatkan mesin dengan spesifikasi sebagai berikut: diameter power screw 7 mm, diameter tabung 80 mm, panjang tabung 580 mm, ukuran hopper 400 x 400 mm, ukuran lubang masukan 80 x 50 mm. Setelah dilakukan pengujian, mesin pembuat pellet ini dapat mencetak pellet dengan kapasitas ± 5,86 kg/jam.
6 6 KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah swt. yang memberikan limpahan rahmat, karunia dan hidayah-nya, sehingga laporan Proyek Akhir dengan judul REKAYASA MESIN PEMBUAT PELLET PUPUK DARI KOTORAN SAPI ini dapat terselesaikan dengan baik tanpa halangan suatu apapun. Laporan Proyek Akhir ini disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam mata kuliah Proyek Akhir dan merupakan syarat kelulusan bagi mahasiswa DIII Teknik Mesin Produksi Universitas Sebelas Maret Surakarta dalam memperoleh gelar Ahli Madya (A.Md) Dalam penulisan laporan ini penulis menyampaikan banyak terima kasih atas bantuan semua pihak, sehingga laporan ini dapat disusun. Dengan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada: 1. Allah SWT. yang selalu memberikan limpahan rahmat dan hidayah-nya.. Bapak dan Ibu di rumah atas segala bentuk dukungan dan doanya. 3. Bapak Zainal Arifin, ST, MT. selaku Ketua Program D-III Teknik Mesin Universitas Sebelas Maret Surakarta sekaligus pembimbing Proyek Akhir I. 4. Bapak Dr. Kuncoro Diharjo, ST, MT. selaku pembimbing Proyek Akhir II. 5. Bapak Wahyu Purwo Raharjo, ST. MT. selaku Pembimbing Akademik. 6. Rekan-rekan D III Produksi dan Otomotif angkatan Berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Penulis menyadari dalam penulisan laporan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu kritik, pendapat dan saran yang membangun dari pembaca sangat dinantikan. Semoga laporan ini dapat bermafaat bagi penulis pada khususnya dan bagi pembaca bagi pada umumnya, Amin. Surakarta, Januari 010 Penulis
7 7 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL......i HALAMAN PERSETUJUAN...ii HALAMAN PENGESAHAN...iii HALAMAN MOTTO... iv PERSEMBAHAN... v ABSTRAKSI... vi KATA PENGANTAR...vii DAFTAR ISI... 7 DAFTAR GAMBAR... x DAFTAR TABEL...xii DAFTAR NOTASI...xiii BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Perumusan Masalah Batasan Masalah Tujuan Proyek Akhir Manfaat Proyek Akhir Metode Pemecahan Masalah... 3 BAB II DASAR TEORI Puli dan Sabuk Pasak Reducer Poros Statika Pemilihan Mur dan Baut Bantalan Perhitungan Las... 17
8 8.9 Proses Permesinan BAB III ANALISA PERHITUNGAN Prinsip Kerja Menentukan Reducer dan Tegangan Sabuk Perencanaan Pasak Perencanaan Tension Puli Perencanaan Poros Diameter Poros Diameter Power Screw Perencanaan Rangka Perencanaan Mur dan Baut Baut pada Dudukan Motor Baut pada Dudukan Reducer Perencanaan Bantalan Perhitungan Las Menghitung Kapasitas Mesin BAB IV PROSES PRODUKSI Pembuatan Poros Pembuatan Lubang Membuat Rangka Hopper Proses Pengecatan Perakitan Estimasi Biaya Perawatan Mesin BAB V PENUTUP DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
9 9 DAFTAR GAMBAR Gambar.1. Panjang sabuk dan sudut kontak pada sabuk terbuka (Khurmi, 00)...5 Gambar.. Sketsa prinsip statika kesetimbangan (Popov, 1996)...11 Gambar.3. Sketsa gaya dalam (Popov, 1996)...11 Gambar.4. Sketsa reaksi tumpuan rol (Popov, 1996)...13 Gambar.5. Sketsa reaksi tumpuan sendi (Popov, 1996)...13 Gambar.6. Sketsa reaksi tumpuan jepit (Popov, 1996)...13 Gambar.7. Macam-macam bantalan gelinding (Sularso dan Suga, 1987)...16 Gambar 3.1. Rekayasa mesin pembuat pellet pupuk dari kotoran sapi...3 Gambar 3.. Penampang sabuk antara motor dengan reducer...7 Gambar 3.3. Penampang sabuk antara reducer dengan poros power screw...30 Gambar 3.4. Sketsa tension puli...34 Gambar 3.5. Pembebenan pada tension puli...34 Gambar 3.6. Diagram gaya geser...36 Gambar 3.7. Diagram momen lentur...36 Gambar 3.8. Skema pembebanan pada poros...38 Gambar 3.9. Pembebanan dan potongan pada poros...39 Gambar Diagram BMD...41 Gambar Konstruksi rangka...45 Gambar 3.1. pembebanan pada salah satu rangka...46 Gambar Diagram gaya geser (A - E - B)...48 Gambar Diagram momen lentur (A - E - B)...48 Gambar Diagram pembebanan pada batang (A - C)...50 Gambar Diagram SFD batang (A - C)...50 Gambar Diagram NFD batang (A-C)...50 Gambar Diagram BMD batang (A-C)...50
10 10 Gambar Baut pada dudukan motor...5 Gambar 3.0. Baut pada dudukan reducer...55 Gambar 3.1. Las pada rangka...59 Gambar 4.1. Poros Transmisi...6 Gambar 4.. Proses pencekaman poros...6 Gambar 4.3. Konstruksi rangka...70 Gambar 4.4. Hopper...71 Gambar 4.5. Prose pengecatan...7 Gambar 4.6. Perakitan...73 DAFTAR TABEL Tabel 3.1. Momen yang terjadi...40 Tabel 4.1. Kecepatan pahat HSS (mm/men)...63 Tabel 4.. Kecepatan pemakanan pahat (mm/rev)...63 Tabel 4.3. Daftar harga komponen mesin...74 Tabel 4.4. Daftar harga komponen cat...75 DAFTAR NOTASI A luas penampang (mm ). N putaran (rpm). d diameter (mm). F gaya (N). I jumlah langkah pemakanan. L panjang pembubutan (mm).
11 11 l jarak (mm). M momen (kg.m). Me momen ekivalen (kg.m). N,n kecepatan putaran (rpm). P daya motor (watt). Z section modulus. r jari-jari (mm). v c kecepatan pemakanan (mm/rev). T torsi (N.m). Te torsi ekivalen (N.m). v kecepatan (m/s). σ tegangan tarik (N/mm ). τ tegangan geser (N/mm ). q sudut kontak (derajat). BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Berdasarkan peninjauan di lapangan pada Pondok Pesantren Abdurrahman Bin Auf yang memiliki luas lahan kurang lebih mencapai lima hektar mempunyai beberapa unit usaha, diantaranya peternakan ayam, dan peternakan sapi. Pondok Pesantren berkapasitas 10 orang santri ini memiliki sekitar 4000 ekor ayam dan 100 ekor sapi yang dipisahkan dalam empat kandang ayam dan dua kandang sapi. Dengan jumlah sapi mencapai 100 ekor, volume kotoran yang dihasilkan sekitar 360 kg/hari. Kotoran ini dikumpulkan dan digunakan untuk membuat biogas. Sisa kotoran setelah dibuat biogas digunakan untuk pupuk pertanian. Sebagian pupuk ini digunakan sendiri dan yang lain dijual. Penggunaan pupuk ini masih dalam bentuk serbuk. Sehingga menimbulkan beberapa masalah antara lain: pemerataan pupuk dalam bentuk ini
12 1 dirasa kurang begitu mudah dan berdebu. Permasalahan pemerataan dan berdebu ini dapat diatasi dengan mengolahnya menjadi pellet. Pembuatan pellet membutuhkan teknologi dan mesin-mesin tepat guna. Pembuatan pellet adalah proses mengkompresikan kotoran sapi berbentuk serbuk untuk menghasilkan pupuk yang berbentuk silindris. Pellet memberikan keuntungan: pupuk tidak berdebu, pemerataan pupuk lebih mudah sehingga akan meningkatkan nilai ekonomi pupuk. Beberapa keuntungan mesin inilah yang mendorong kami untuk membuat mesin pellet. 1.. Perumusan Masalah Melihat latar belakang yang ada, maka yang menjadi masalah adalah bagaimana merancang, membuat, dan mencoba Mesin Pembuat Pellet dari Kotoran Sapi Batasan Masalah Batasan masalah pada proyek akhir ini adalah: - Tidak menghitung thermo control, heater, dan kekerasan pellet Tujuan Proyek Akhir Tujuan dari proyek akhir ini adalah merancang, membuat, dan mencoba mesin pembuat pellet pupuk dari kotoran sapi dengan sistem kerja power screw Manfaat Proyek Akhir Proyek akhir ini mempunyai manfaat sebagai berikut : 1. Bagi mahasiswa - Mahasiswa dapat memperoleh pengetahuan tentang perencanaan, pembuatan, dan pengujian alat rekayasa mesin pellet dengan sistem kerja power screw. - Mahasiswa dapat menerapkan ilmu yang diperoleh selama kuliah khususnya dalam bidang mata kuliah kerja bangku dan plat,
13 13 permesinan, mekanika teknik, elektronika, elemen mesin serta mata kuliah lain yang mendukung dalam perencanaan mesin ini.. Bagi institusi - Mesin ini diharapkan dapat digunakan untuk penelitian lebih jauh mengenai proses pembuatan pellet pupuk dari kotoran sapi. 3. Bagi pondok pesantren Abdurrahman Bin Auf - Mempermudah penggunaan pupuk dari kotoran sapi. - Meningkatkan nilai jual pupuk dari kotoran sapi Metode Pemecahan Masalah Dalam penyusunan laporan ini penulis mengunakan beberepa metode untuk merancang mesin pellet antara lain: a. Studi pustaka. Yaitu data diperoleh dengan merujuk pada beberapa literatur sesuai dengan permasalahan yang dibahas. b. Perencanaan. Yaitu melakukan perencanaan dalam merancang mesin agar memperoleh hasil pellet yang dikehendaki. BAB II DASAR TEORI Untuk melakukan perhitungan pada komponen mesin ini diperlukan dasardasar perhitungan yang sudah menjadi standar internasional. Perhitungan ini akan memperkecil ketidaksesuaian (error factor) dari material maupun komponen mesin. Hal-hal yang berkaitan dengan perancangan mesin ini meliputi:.1. Puli dan Sabuk
14 14 Puli merupakan salah satu elemen dalam mesin pellet ini yang berfungsi sebagai alat untuk meneruskan daya dari satu poros ke poros yang lain dengan menggunakan sabuk. Puli dapat terbuat dari besi cor, baja cor, baja pres, atau aluminium. (Khurmi dan Gupta, 00) Sabuk berfungsi sebagai alat yang meneruskan daya dari satu poros ke poros yang lain melalui dua puli dengan kecepatan rotasi sama maupun berbeda. Tipe sabuk antara lain: sabuk flat, sabuk V, dan sabuk circular. Faktor-faktor dalam perencanaan sabuk (Khurmi dan Gupta, 00): 1. Perbandingan kecepatan Perbandingan antara kecepatan puli penggerak dengan puli pengikut ditulis dengan persamaan sebagai berikut (Khurmi dan Gupta, 00): N D 1 (.1) N 1 D dengan: D 1 D N 1 N Diameter puli penggerak (mm) Diameter puli pengikut (mm) Kecepatan puli penggerak (rpm) Kecepatan puli pengikut (rpm). Kecepatan linier sabuk Kecepatan linier sabuk dapat ditulis dengan matematis sebagai berikut (Khurmi dan Gupta, 00): p. d. N v (.) 60 dengan: v Kecepatan linier sabuk (m/s) d Diameter puli pengikut (mm) N Putaran puli pengikut (rpm)
15 15 3. Panjang Sabuk Panjang sabuk adalah panjang total dari sabuk yang digunakan untuk menghubungkan puli penggerak dengan puli pengikut. Gambar.1 Panjang sabuk dan sudut kontak pada sabuk terbuka (Khurmi dan Gupta, 00) Persamaan panjang total sabuk terbuka dapat ditulis sebagai berikut (Khurmi dan Gupta, 00) : æ ( r ö 1- r ) L p ( r + r + x+ ç 1 ) (.3) è x ø dengan: L Panjang total sabuk (mm) x Jarak titik pusat puli penggerak dengan puli pengikut (mm) r 1 Jari-jari puli kecil (mm) r Jari-jari puli besar (mm) 4. Perbandingan tegangan pada sisi kencang dan sisi kendor Persamaan perbandingan tegangan antara sisi kencang dengan sisi kendor dapat ditulis sebagai berikut (Khurmi dan Gupta, 00) : dengan: T,3log T T 1 T 1 m. q. cosecb (.4) Tegangan tight side sabuk (N) Tegangan slack side sabuk (N) µ Koefisien gesek
16 16 θ Sudut kontak (rad) β Sudut alur puli ( o ) 5. Sudut kerja puli ( α ) Persamaan sudut kerja puli dapat ditulis dengan persamaan sebagai berikut (Khurmi dan Gupta, 00): Sin α r 1 - r1 (untuk sabuk terbuka) (. 5) X Sudut kontak puli: p θ (180 α). rad (untuk sabuk tertutup) (.6) Kecepatan sabuk (v) Besarnya kecepatan sabuk dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut (Khurmi dan Gupta, 00): p. d. N v 60 dengan: v d N Kecepatan sabuk (m/s) Diameter sabuk (mm) Putaran sabuk (rpm) (.7) 7. Daya yang ditransmisikan oleh sabuk Persamaan daya yang dipindahkan oleh sabuk dapat ditulis dengan persamaan sebagai berikut (Khurmi dan Gupta, 00): P (T 1 -T ) x v n (.8) Dengan: P Daya yang dipindahkan oleh sabuk (W) T 1 T v Tegangan tight side sabuk (N) Tegangan slack side sabuk (N) Kecepatan sabuk (m/s)
17 17 n Banyak sabuk.. Pasak Pasak merupakan bagian dari elemen mesin yang dipakai untuk menetapkan bagian-bagian mesin seperti roda gigi, sprocket, puli, kopling, dll pada poros. Pasak terdiri beberapa bentuk antara lain (Khurmi dan Gupta, 00) : 1. Pasak setengah lingkaran. Pasak bulat 3. Pasak persegi panjang Mencari lebar pasak : d W 4 (.9) Mencari tebal pasak t 3.W (.10) Pengecekan terhadap tegangan geser pada pasak T l. W. t s d (.11) dimana : W d l t lebar pasak (mm) diameter poros (mm) panjang pasak (mm) tebal pasak (mm) t s tegangan geser (N/mm ) T torsi poros (N.mm).3. Reducer
18 18 Fungsi utama dari reducer adalah sebagai pereduksi putaran input dari motor listrik menjadi putaran yang diinginkan. Sesuai dengan perbandingan reducer yang digunakan pada mesin pembuat pellet ini, misalnya menggunakan reducer 1:60, artinya input reducer dari putaran motor 60 rpm maka poros output reducer menjadi 1 rpm. Adapun bagian dari reducer adalah roda gigi cacing berpasangan dengan roda gigi miring yang akan membentuk sudut Poros Poros merupakan bagian yang berputar, dimana terpasang elemen pemindah gaya, seperti roda gigi, bantalan dan lain-lain. Poros bisa menerima beban-beban tarikan, lenturan, tekan atau puntiran yang bekerja sendiri-sendiri maupun gabungan satu dengan yang lainnya. Kata poros mencakup beberapa variasi seperti shaft atau axle (as). Shaft merupakan poros yang berputar dimana akan menerima beban puntir, lenturan atau puntiran yang bekerja sendiri maupun secara gabungan. Sedangkan axle (as) merupakan poros yang diam atau berputar yang tidak menerima beban puntir (Khurmi dan Gupta, 00). Jenis poros yang lain (Sularso, 1987) adalah jenis poros transmisi. Poros ini akan mentransmisikan daya meliputi kopling, roda gigi, puli, sabuk, atau sproket rantai dan lain-lain. Poros jenis ini memperoleh beban puntir murni atau puntir dan lentur. Untuk merencanakan suatu poros maka perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut (Sularso dan Suga, 1987): 1. Kekuatan Poros. Suatu poros transmisi dapat mengalami beban puntir atau gabungan antara puntir dan lentur, juga ada poros yang mendapatkan beban tarik atau tekan. Oleh karena itu, suatu poros harus direncanakan hingga cukup kuat untuk menahan beban-beban di atas.. Kekakuan Poros. Meskipun suatu poros mempunyai kekuatan cukup tetapi jika lenturan puntirnya terlalu besar akan mengakibatkan ketidaktelitian atau getaran dan suara, karena itu di samping kekuatan poros, kekakuannya juga harus
19 19 diperhatikan dan disesuaikan dengan macam mesin yang akan dilayani poros tersebut. 3. Korosi. Baja tahan korosi dipilih untuk poros. Bila terjadi kontak fluida yang korosif maka perlu diadakan perlindungan terhadap poros supaya tidak terjadi korosi yang dapat menyebabkan kekuatan poros menjadi berkurang. 4. Bahan Poros. Poros untuk mesin biasanya dibuat dari baja batang yang ditarik dingin dan finishing, baja konstruksi mesin yang dihasilkan dari ingot yang di kill (baja yang dideoksidasikan dengan ferrosilikon dan dicor, kadar karbon terjamin). Meskipun demikian, bahan ini kelurusannya agak kurang tetap dan dapat mengalami deformasi karena tegangan yang kurang seimbang. Poros-poros untuk meneruskan putaran tinggi dan beban berat umumnya dibuat dari baja paduan dengan pengerasan kulit yang tahan terhadap keausan. Pertimbangan-pertimbangan yang digunakan untuk poros menggunakan persamaan sebagai berikut (Khurmi dan Gupta, 00): 1. Torsi (.1) T dengan : T P N 60. P. p. N. Torsi ekivalen T e M + (.13) Torsi maksimum yang terjadi (kg.m). Daya motor (W). Kecepatan putaran poros (rpm). T Diameter poros :
20 0 d 16. T 3 e p. t (.14) s Keterangan : T e T M Torsi ekivalen (kg.m). Torsi maksimum yang terjadi (kg.m). Momen maksimum yang terjadi (kg.m). t s Tegangan geser maksimum yang terjadi (kg/cm ). d Diameter poros (cm). 3. Momen ekivalen 1 M e [ M + M + T ] (.15) Diameter poros : 3. M d e 3 p. s (.16) b Keterangan : M e Momen ekivalen (kg.m). s b Tegangan tarik maksimum yang terjadi (kg/cm )..5. Statika Statika adalah ilmu yang mempelajari tentang statika dari suatu beban terhadap gaya-gaya dan juga beban yang mungkin ada pada bahan tersebut. Dalam ilmu statika keberadaan gaya-gaya yang mempengaruhi sistem menjadi suatu obyek tinjauan utama dan meliputi gaya luar dan gaya dalam. Gaya luar adalah gaya yang diakibatkan oleh beban yang berasal dari luar sistem yang pada umumnya menciptakan kestabilan konstruksi (Popov, 1996).
21 1 Beban Reaksi Reaksi Reaksi Gambar. Sketsa prinsip statika kesetimbangan (Popov, 1996) Jenis bebannya dibagi menjadi: 1. Beban dinamis adalah beban sementara dan dapat dipindahkan pada konstruksi.. Beban statis adalah beban yang tetap dan tidak dapat dipindahkan pada konstruksi. 3. Beban terpusat adalah beban yang bekerja pada suatu titik. 4. Beban terbagi adalah beban yang terbagi merata sama pada setiap satuan luas. 5. Beban terbagi variasi adalah beban yang tidak sama besarnya tiap satuan luas. 6. Beban momen adalah hasil gaya dengan jarak antara gaya dengan titik yang ditinjau. 7. Beban torsi adalah beban akibat puntiran. Beban (Gaya luar) Gaya dalam Reaksi (Gaya luar) Reaksi (Gaya luar) Reaksi (Gaya luar) Reaksi (Gaya luar) Gambar.3 Sketsa gaya dalam (Popov, 1996)
22 Gaya dalam dapat dibedakan menjadi : 1. Gaya normal (normal force) adalah gaya yang bekerja sejajar sumbu batang.. Gaya lintang/geser (shearing force) adalah gaya yang bekerja tegak lurus sumbu batang. 3. Momen lentur (bending momen). Persamaan kesetimbangannya adalah (Popov, 1996): - Σ F 0 atau Σ Fx 0 Σ Fy 0 (tidak ada gaya resultan yang bekerja pada suatu benda) - Σ M 0 atau Σ Mx 0 Σ My 0 (tidak ada resultan momen yang bekerja pada suatu benda) 4. Reaksi. Reaksi adalah gaya lawan yang timbul akibat adanya beban. Reaksi sendiri terdiri dari : 1. Momen. Momen (M) F x s (.17) di mana : M momen (N.mm). F gaya (N). s jarak (mm).. Torsi. 3. Gaya. Dalam ilmu statika, tumpuan dibagi atas: 1. Tumpuan roll/penghubung. Tumpuan ini dapat menahan gaya pada arah tegak lurus penumpu, biasanya penumpu ini disimbolkan dengan:
23 3 Reaksi Gambar.4 Sketsa reaksi tumpuan rol (Popov, 1996). Tumpuan sendi. Tumpuan ini dapat menahan gaya dalam segala arah Reaksi Reaksi Gambar.5 Sketsa reaksi tumpuan sendi (Popov, 1996) 3. Tumpuan jepit. Tumpuan ini dapat menahan gaya dalam segala arah dan dapat menahan momen. Momen Reaksi Reaksi Gambar.6 Sketsa reaksi tumpuan jepit (Popov, 1996) Diagram gaya dalam adalah diagram yang menggambarkan besarnya gaya dalam yang terjadi pada suatu konstruksi. Sedang macam-macam diagram gaya dalam itu sendiri adalah sebagai berikut :
24 4 1. Diagram gaya normal (NFD), diagram yang menggambarkan besarnya gaya normal yang terjadi pada suatu konstruksi.. Diagram gaya geser (SFD), diagram yang menggambarkan besarnya gaya geser yang terjadi pada suatu konstruksi. 3. Diagram moment (BMD), diagram yang menggambarkan besarnya momen lentur yang terjadi pada suatu konstruksi..6. Pemilihan Mur dan Baut Pemilihan mur dan baut merupakan pengikat yang sangat penting. Untuk mencegah kecelakaan, atau kerusakan pada mesin, pemilihan mur dan baut sebagai alat pengikat harus dilakukan secara teliti dan direncanakan dengan matang di lapangan. Tegangan maksium pada baut dihitung dengan persamaan di bawah ini (Khurmi dan Gupta, 00): σ maks (.18) F A F d p. 4 Bila tegangan yang terjadi lebih kecil dari tegangan geser dan tarik bahan, maka penggunaan mur-baut aman. Baut berbentuk panjang bulat berulir, mempunyai fungsi antara lain (Khurmi dan Gupta, 00): 1. Sebagai pengikat Baut sebagai pengikat dan pemasang yang banyak digunakan ialah ulir profil segitiga (dengan pengencangan searah putaran jarum jam). Baut pemasangan untuk bagian-bagian yang berputar dibuat ulir berlawanan dengan arah putaran dari bagian yang berputar, sehingga tidak akan terlepas pada saat berputar.
25 5. Sebagai pemindah tenaga Contoh ulir sebagian pemindah tenaga adalah dongkrak ulir, transportir mesin bubut, berbagai alat pengendali pada mesin-mesin. Batang ulir seperti ini disebut ulir tenaga (power screw). Tegangan geser maksimum pada baut t max p. 4 F d c. n (.19) Dimana : t max Tegangan geser maksimum (N/mm ) F dc r n Beban yang diterima (N) Diameter baut (mm) Jari-jari baut (mm) Jumlah baut.7. Bantalan Bantalan adalah suatu elemen mesin yang berfungsi untuk menumpu poros yang berbeban dan mengurangi gesekan pada poros, sehingga putaran poros dapat berlangsung secara halus. Pelumas digunakan untuk mengurangi panas yang dihasilkan dari gesekan tersebut. Secara garis besar bantalan dapat diklasifikasikan menjadi jenis yaitu (Sularso dan Suga, 1987): 1. Bantalan Luncur Pada bantalan ini terjadi gesekan antara poros dengan bantalan yang dapat menimbulkan panas yang besar sehingga untuk mengatasi hal tersebut diberikan lapisan pelumas antara poros dengan bantalan.. Bantalan Gelinding
26 6 Pada bantalan gelinding ini terjadi gesekan antara bagian yang berputar dengan bagian yang diam melalui elemen gelinding, sehingga gesekan yang terjadi menjadi lebih kecil. Berdasarkan arah beban terhadap poros bantalan dibagi menjadi 3 macam yaitu (Sularso dan Suga, 1987): a. Bantalan radial Pada bantalan ini arah beban adalah tegak lurus dengan sumbu poros. b. Bantalan aksial Pada bantalan ini arah beban adalah sejajar dengan sumbu poros. c. Bantalan gelinding khusus Bantalan ini dapat menumpu beban yang arahnya sejajar dan tegak lurus dengan sumbu poros. Gambar.7 Jenis-jenis bantalan gelinding (Sularso dan Suga, 1987).8. Perhitungan Las
27 7 Dalam proses pengelasan rangka, jenis las yang digunakan adalah las listrik DC dengan pertimbangan akan mendapatkan sambungan las yang kuat. Pada dasarnya instalasi pengelasan busur logam terdiri dari bagian bagian penting sebagai berikut (Kenyon dan Ginting, 1985): 1. Sumber daya, yang bisa berupa arus bolak balik (AC) atau arus searah (DC).. Kabel timbel las dan pemegang elektroda. 3. Kabel balik las (bukan timbel hubungan ke tanah) dan penjepit. 4. Hubungan ke tanah. Fungsi lapisan elektroda dapat diringkaskan sebagai berikut : 1. Menyediakan suatu perisai yang melindungi gas sekeliling busur api dan logam cair.. Membuat busur api stabil dan mudah dikontrol. 3. Mengisi kembali setiap kekurangan yang disebabkan oksidasi elemen elemen tertentu dari genangan las selama pengelasan dan menjamin las mempunyai sifat sifat mekanis yang memuaskan. 4. Menyediakan suatu terak pelindung yang juga menurunkan kecepatan pendinginan logam las dan dengan demikian menurunkan kerapuhan akibat pendinginan. 5. Membantu mengontrol (bersama sama dengan arus las) ukuran dan frekuensi tetesan logam cair. 6. Memungkinkan dipergunakannya posisi yang berbeda. Dalam las listrik, panas yang akan digunakan untuk mencairkan logam diperoleh dari busur listrik yang timbul antara benda kerja yang dilas dan kawat logam yang disebut elektroda. Elektroda ini terpasang pada pegangan atau holder las dan didekatkan pada benda kerja hingga busur listrik terjadi. Karena busur listrik itu, maka timbul panas dengan temperatur maksimal 3450 o C yang dapat mencairkan logam (Khurmi dan Gupta, 00). 1. Sambungan las
28 8 Ada beberapa jenis sambungan las, yaitu: Butt join Yaitu dimana kedua benda kerja yang dilas berada pada bidang yang sama. Lap join Yaitu dimana kedua benda kerja yang dilas berada pada bidang yang pararel. Edge join Yaitu dimana kedua benda kerja yang dilas berada pada bidang paparel, tetapi sambungan las dilakukan pada ujungnya. T- join Yaitu dimana kedua benda kerja yang dilas tegak lurus satu sama lain. Corner join Yaitu dimana kedua benda kerja yang dilas tegak lurus satu sama lain.. Memilih besarnya arus Besarnya arus listrik untuk pengelasan tergantung pada diameter elektroda dan jenis elektroda. Tipe atau jenis elektroda tersebut misalnya: E 6010, huruf E tersebut singkatan dari elektroda, 60 menyatakan kekuatan tarik terendah setelah dilaskan adalah kg/mm, angka 1 menyatakan posisi pengelasan segala posisi dan angka 0 untuk pengelasan datar dan horisontal. Angka keempat adalah menyatakan jenis selaput elektroda dan jenis arus. Besar arus listrik harus sesuai dengan elektroda, bila arus listrik terlalu kecil, maka: - Pengelasan sukar dilaksanakan. - Busur listrik tidak stabil. - Panas yang terjadi tidak cukup untuk melelehkan elektroda dan benda kerja. - Hasil pengelasan atau rigi-rigi las tidak rata dan penetrasi kurang dalam. Apabila arus terlalu besar maka:
29 9 - Elektroda mencair terlalu cepat. - Pengelasan atau rigi las menjadi lebih besar permukaannya dan penetrasi terlalu dalam. Tegangan yang terjadi pada sambungan las dapat dihitung dengan: σ F max A (.0) dimana: Fmax gaya maksimum pada sambungan las (kg) A luas penampang (cm ).9. Proses Permesinan Proses permesinan adalah waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan elemen-elemen mesin, yang meliputi proses kerja mesin dan waktu pemasangan. Pada umumnya mesin-mesin perkakas mempunyai bagian utama sebagai berikut (Rochim, 1993): Motor penggerak (sumber tenaga). 1. Kotak transmisi (roda-roda gigi pengatur putaran).. Pemegang benda kerja. 3. Pemegang pahat/alat potong. Macam-macam gerak yang terdapat pada mesin perkakas (Rochim, 1993): a. Gerak utama (gerak pengirisan). Adalah gerak yang menyebabkan mengirisnya alat pengiris pada benda kerja. Gerak utama dapat dibagi : Gerak utama berputar Misalnya pada mesin bubut, mesin frais, dan mesin drill. Mesin perkakas dengan gerak utama berputar biasanya mempunyai gerak pemakanan yang kontinyu. Gerak utama lurus
30 30 Misalnya pada mesin sekrap. Mesin perkakas dengan gerak utama lurus biasanya mempunyai gerak pemakanan yang periodik. b. Gerak pemakanan. Gerak yang memindahkan benda kerja atau alat iris tegak lurus pada gerak utama. c. Gerak penyetelan. Menyetel atau mengatur tebal tipisnya pemakanan, mengatur dalamnya pahat masuk dalam benda kerja. Adapun macam-macam mesin perkakas yang digunakan antar lain: Mesin bubut Prinsip kerja mesin mesin bubut adalah benda kerja yang berputar dan pahat yang menyayat baik memanjang maupun melintang. Benda kerja yang dapat dikerjakan pada mesin bubut adalah benda kerja yang silindris, sedangkan macam-macam pekerjaan yang dapat dikerjakan dengan mesin ini adalah antara lain (Scharkus dan jutz, 1996): - pembubutan memanjang dan melintang - pengeboran - pembubutan dalam atau memperbesar lubang - membubut ulir luar dan dalam Perhitungan waktu kerja mesin bubut adalah (Rochim, 1993): 1. Kecepatan pemotongan (v). v π.d.n (.1) dimana : D diameter banda kerja (mm). N kecepatan putaran (rpm).
31 31. Pemakanan memanjang waktu permesinan pada pemakanan memanjang adalah : n Vc.1000 p. d (.) T m L. I S n r. (. 3) Dimana : T m waktu permesinan memanjang (menit) L panjang pemakanan (mm) I jumlah pemakanan S pemakanan (mm/put) n putaran mesin (rpm) d diameter benda kerja (mm) v kecepatan pemakanan (m/mnt)` 3. Pada pembubutan melintang waktu permesinan yang dibutuhkan pada waktu pembubutan melitang adalah : T m L. I S n r. (.4) Mesin Bor Mesin bor digunakan untuk membuat lubang (driling) serta memperbesar lubang (boring) pada benda kerja. Jenis mesin bor adalah sebagai berikut (Banyumedia publishing, 003): 1. Mesin bor tembak
32 3. Mesin bor vertikal 3. Mesin bor horisontal Pahat bor memiliki dua sisi potong, proses pemotongan dilakukan dengan cara berputar. Putaran tersebut dapat disesuaikan atau diatur sesuai dengan bahan pahat bor dan bahan benda kerja yang dibor. Gerakan pemakanan pahat bor terhadap benda kerja dilakukan dengan menurunkan pahat hingga menyayat benda kerja. Waktu permesinan pada mesin bor adalah: T m n L Sr. n v.1000 p. d (.5) (.6) L l + 0,3. d (.7) Dimana: d Diameter pelubangan (mm) BAB III ANALISA PERHITUNGAN 3.1 Prinsip Kerja
33 33 Gambar 3.1 Rekayasa mesin pembuat pellet dari kotoran sapi Rekayasa Mesin Pembuat Pellet Sistem Pemasukan dengan power screw adalah sebuah alat dengan gerakan utama berputar. Gaya putar ini disebabkan karena adanya putaran dari motor listrik. Motor listrik dipasang pada kerangka dan diberi puli 1, kemudian dipasangkan belt yang berhubungan dengan puli yang terpasang pada input reducer. Lalu pada output reducer dipasang puli 3 yang terhubung dengan puli 4 melalui belt. Setelah motor listrik dihidupkan (dalam keadaan on), maka power screw akan ikut berputar. Adanya reducer akan mengakibatkan putaran power screw lebih lambat, tetapi menghasilkan tenaga yang lebih besar. Selama bekerja, poros power screw harus dapat berputar dengan
34 34 lancar dan gesekan yang kecil, untuk itu poros diberi buah bantalan agar seimbang dengan pelumasan yang cukup. Mesin pembuat pellet ini dilengkapi dengan pemanas yang bertujuan untuk mengeringkan kotoran sapi. Setelah heater panas, kemudian kotoran sapi dialirkan melalui Power Screw. kotoran sapi akan mengalami pemanasan dan pemadatan selama mengalir dalam power screw dan bergerak menuju nozzle. Setelah itu kotoran sapi akan keluar dalam bentuk pellet. Bagian-bagian utama dari Mesin Pembuat Pellet Sistem Pemasukan dengan power screw antara lain: a. Elemen yang berputar : puli, poros transmisi, sabuk. b. Elemen yang diam : bearing, barrel c. Penggerak : motor listrik. d. Bagian pendukung : rangka, reducer, dudukan, thermo control, heater dan lain-lain. Cara kerja Mesin Pembuat Pellet Sistem Pemasukan dengan Power Screw antara lain: 1. Memanasi barrel dengan heater dalam waktu ± 5 menit dengan suhu ± 150 C.. Setelah panas, kotoran sapi dimasukkan melalui hopper. 3. Stop kontak dihubungkan dengan listrik PLN kemudian saklar dinyalakan sehingga motor listrik berputar. 4. Poros transmisi ikut berputar dengan adanya sabuk dan puli yang saling menghubungkan. 5. Poros transmisi akan memutar power screw. 6. Kotoran sapi akan masuk dalam barrel menuju nozzle dan keluar berupa pellet. 3. Menentukan Reducer dan Tegangan Sabuk Direncanakan : Daya motor ½ hp ½ x 746 watt
35 35 Putaran motor (N 1 ) 373 watt 140 rpm Diameter 4 buah puli sama yaitu 101,6 mm Jarak puli 1dan Jarak puli 3 dan 4 1. Menentukan reducer 45 mm 60 mm Dari pengamatan mesin-mesin yang ada, putaran power screw yang baik untuk menghasilkan pellet yaitu antara 0 40 rpm. Untuk mendapatkan putaran power screw yang sesuai maka dipilih reducer dengan perbandingan 1 : 60, sehingga didapat putaran 3,66 rpm.. Tegangan sabuk antara motor dengan reducer a. Sudut singgung puli 1 dan : Sin α Sin α 0 α 0 r - r1 X 1 50,8-50,8 45 p θ (180 - a ) rad 180 3,14 (180 - (0) 180 rad 3,14 rad b. Panjang sabuk antara puli 1 dengan puli ( L 1 ) L 1 p (r 1 +r ) + X 1 + ( ) 1 r r - X 1 50,8-50,8 3.14(50,8+50,8 ) + x 45 + ( ) , ,04 mm
36 36 0,809 m Dari panjang sabuk diatas maka dipilih sabuk tipe A (lampiran ) c. Kecepatan linear puli 1 dan : v D1. N1 60 3,14.101, ,3 mm/s 7,55 m/s d. Sudut kontak puli β 34º atau β 17º Cosec β 1/sin 17º 1/0,9 æ T1,3 log ö ç è T ø æ T1,3 log ö ç è T ø æ T1,3 log ö ç è T ø µ.θ.cosecβ 0,3.3,14.cosec17º 3,4 log log æ T ç è T 1 æ T ç è T 1 ö ø ö ø 3,4,3 1,408 æ T ç è T 1 ö ø 5,6 e. Luas penampang
37 37 Gambar 3. Penampang sabuk antara motor dengan reducer Tan 17º 8 x x 8. 0,3,4 mm a b x 13.,4 8, mm A a+ b. t 13+ 8, x8 84,8 mm f. Massa belt per meter m A. L. ρ g. Gaya centrifugal sabuk 84,8x ,096 kg/m
38 38 T c m.v 1 0,096.( 7,55) 0,7 N h. Tegangan maksimum sabuk T stress.area σ.a Teg ijin sabuk 7 N/mm 7. 84,8 593,6 N T 1 T T c 593,6 0,7 59,88 N T T 1 5,6 59,88 5,6 3,14 N Jadi gaya tarik total dua buah sabuk adalah sebesar : (T 1 + T ) T 1 + T (59,88 N + 3,14 N) 13,04 N 3. Tegangan sabuk antara reducer dengan poros power screw a. Sudut singgung puli 3 dan 4 : Sin α 0 α 0 r4 - r X 3 50,8-50,8 60 p θ (180 a ) x 180
39 39 3,14 (180 (0) 180 3,14 rad b. Panjang sabuk puli 3 dan puli 4 (L ) : L p ( ) 3 r4 (r 3 +r 4 )+X + r - X 3.14 (50,8+50,8 ) + x 60 + ( 50,8-50,8 ) 319, ,04 mm 1,559 m 60 Dari panjang sabuk diatas maka dipilih sabuk tipe A (lampiran ) c. Kecepatan linear puli 3 dan 4 : v 3 3 x N3,14 x D 60 3,14 x101,6 x3, ,80 mm/s 0,158 m/s d. Sudut kontak puli β 34º atau β 17º Cosec β 1/sin 17º 1/0,9 æ T1,3 log ö ç è T ø æ T1,3 log ö ç è T ø æ T1,3 log ö ç è T ø µ.θ.cosecβ 0,3.3,14.cosec17º 3,4 log æ T ç è T 1 ö ø 3,4,3
40 40 log æ T ç è T 1 ö ø 1,408 æ T ç è T 1 ö ø 5,6 e. Luas penampang Gambar 3.3 Penampang sabuk antara reducer dengan poros power screw Tan 17º 8 x x 8. 0,3,4 mm a b x 13.,4 8, mm A a+ b. t 13+ 8, x8
41 41 84,8 mm f. Massa belt per meter m A. L. ρ 84,8x ,096 kg/m g. Gaya centrifugal sabuk T c m.v 0,096.( 0,158) 0,0015 N h. Tegangan maksimum sabuk T stress.area σ.a Teg ijin sabuk 7 N/mm 7. 84,8 593,6 N T 1 T T c 593,6 0, ,59 N T T 1 5,6 593,59 5,6 3,16 N Jadi gaya tarik sabuk total dua buah puli adalah sebesar : ( T 1 + T ) T 1 + T (593,59 N + 3,16 N) 133,5 N 3.3 Perencanaan Pasak
42 4 Pasak digunakan untuk menetapkan bagian mesin berupa puli yang terpasang pada poros. Bahan pasak terbuat dari ST 37 dari lampiran 4 kekuatan bahan diketahui kekuatan geser sebesar τ 40 N/mm. Diketahui : d poros 0 mm N P 1. lebar pasak (w) 4 d 3,66 rpm 373 Watt mm. Tinggi pasak (t ) 3. w ,34 mm 3. Torsi yang terjadi pada pasak T P p. N p.3, ,57 Nmm 4. Panjang pasak berdasarkan tegangan geser ijin bahan pasak T t w. l. Sf. d ,57 5. l. 30. l l 1196, ,53 mm 5. Panjang pasak berdasarkan tegangan desak ijin bahan pasak
43 43 T l. t s d.. Sf ,57 l.. 46, ,57 l 95 l 1, mm Secara teoritis didapatkan panjang pasak adalah 1, mm (dipilih l yang paling besar), namun secara umum panjang pasak untuk ukuran w 5 mm dan t 3,34 mm, dari lampiran 5 tentang dimensi pasak diperoleh panjang pasak l 0 mm, w 5 mm dan t 5 mm. 6. Gaya di tumpu pasak T F r 1196, ,657 N 7. Tegangan geser pada pasak F τ s w. l 119, Tegangan geser ijin pasak 11,9 N/ mm τ t t Sf ,15 N/ mm Jadi tegangan τ s < τ t maka pasak aman digunakan. 3.4 Perencanaan Tension Puli
44 44 Berikut tension puli yang ada pada mesin pembuat pellet: Gambar 3.4 Sketsa tension puli Diketahui tegangan dua buah sabuk sisi kendor (t ). 3,16 46,3 N Pembebanan yang terjadi pada batang tension puli adalah : Gambar 3.5 Pembebanan pada tension puli Fx R Bx 0 Fy R Ay 46,3 + R By 0 R Ay + R By 46,3 N
45 45 M A ,3 - R By R By 694, ,58 N R Ay 46,3 11,58 34,74 N Persamaan gaya dalam Nx 0 Vx 34,74 N Mx 34,74. x Titik A x 0 M A 0 Titik C x 15 M C 34,74 15 Mc 51,1 N Persamaan gaya dalam Nx 0 Vx - 11,58 N Mx 11,58. x
46 46 Titik B x 0 M B 0 Titik C x 45 Mc 11, ,1 N Diagram gaya geser (SFD) Gambar 3.6 Diagram gaya geser Diagram momen lentur (BMD) Gambar 3.7 Diagram momen lentur Pada kontruksi tension puli untuk mesin pembuat pellet ini digunakan baja silinder (ST-37) dengan diameter 1 mm dan pusat titik berat Y 6mm. Sehingga dari data yang ada dapat ditentukan : 1. Momen inersia I p. r p ,38 mm 4. Tegangan tarik yang terjadi
47 47 s max M. y I 51, ,38 3,07 N/mm 3. Tegangan tarik ijin bahan s s b Sf ,5 N/mm Sehingga didapat s max < s b ( aman digunakan ) 3.5 Perencanaan Poros Diameter Poros Analisa berat puli terdiri dari gaya tarik total dua buah sabuk ( T 1 + T ) yang menghubungkan reducer dengan poros ditambah dengan berat material puli itu sendiri. Secara matematis sebagai berikut : W puli 5 N ( T 1 + T ) 133,5 N W total W puli + ( T 1 + T ) ,5 138,5 N
48 48 Gambar 3.8 Skema pembebanan pada poros Kesetimbangan : S F H 0 S F V 0 R BV + R CV 138,5 + (50 x 0,58) R BV + R CV 167,5 N..... (3.1) S M B 0 0,06 R CV + (0,05 138,5) (( 0,06 + 0,9) 50 0,58) 0,06 R CV + 61,95 0, ,58 0,06 R CV 9,164 61,95 R CV Persamaan 3.1 dan 3. disubstitusikan : R BV + R CV 167,5 N R BV + (-09,6) 167,5 N R BV -09,6 N.(3.) 396,76 N (Harga negatif menunjukan tanda arah anak panah terbalik pada R CV )
49 49 Sehingga gambar menjadi : Gambar 3.9 Pembebanan dan potongan pada poros Potongan yang dianalisa : potongan x-x kiri ( A-B ) 138,5 N M x N x X V X Sehingga : Mx -138,5. X
50 50 Potongan y-y kiri ( B-C ) 138,5 N M x N x 0,05m 396,76 N X V x Sehingga : Mx -138,5.X + (396,76) (X 0,05) Potongan y-y kanan ( C-D ) 50 N N x M x V x Sehingga : Mx -50. X.X/ X Tabel 3.1 Momen yang terjadi Nilai X BMD Potongan Titik m Nm x x y y z z A B C 0 0,05 0, ,95-8,41 B C D 0,05 0, ,95-8,41 0
51 51 Diagran BMD Gambar 3.10 Diagram BMD Diketahui - Bahan ST 4 - Tegangan tarik (σt) 40 N/mm - Tegangan geser (τ) 50 N/mm - Momen maksimal poros ( M ) 61,95 Nm 6195 Nmm (pada titik C) Torsi pada poros ( T ) T 60. P. p. N 60.37,85. 3,14. 3, ,64 150,5 Nm
52 5 Dari tabel 14. (Khurmi, R.S., 00, hal:474) mengenai poros berputar dengan beban kontinyu dan tetap diperoleh : Faktor keamanan momen ( Km ) 1,5 Faktor keamanan torsi ( Kt ) 1 Sehingga torsi ekuivalen dapat dicari dengan rumus : Diameter poros dengan Torsi ekivalen ( Te ) : Te ( k. M ) ( k. T ) Te d 3 m + ( 1,5.61,95) + ( 1.150, 5) 868, , , ,856 Nm Nmm p 16 Te. 16 p.t s. t s. d , , , 7 15,33 mm Diameter poros berdasar Te ( d) 15,33 mm Diameter poros dengan momen ekivalen ( Me ) : 3 1 é + T Me ( k. ) + (. ) (. ) m M km M kt êë ú û 1 é + t ( 1,5.61,95) + ( 1,5.61,95) ( 1.150,5) êë ú û [ + 868,08 650,5] 1 + ( 9,88) 30,763 Nm Nmm ù ù
53 53 Me d 3 p. 3 s t t. d Me.3 p.s , ,8 5599,34 d , 34 17,75 mm Diameter poros berdasarkan Me adalah 17,75 mm Sehingga dipilih diameter poros 0 mm 3.5. Diameter Power Screw Panjang ulir 0,58 m,83 inch Diameter poros (d) 0,0 m 0,78 inch Modulus elastisitas baja (m ) Jarak pitch (p) 0,05 m 1,97 inch Massa poros (m) 4 kg ( ditimbang ) Percepatan gravitasi(g) 9,81 m/s p Momen inersia polar (Ip) x d 4 3 p x 0, ,036 inch 4
54 54 Berat poros (W 1 ) Berat ulir total (W ) m x g 4 x 9,81 3,4 N 8,8 lbf W x L p Lendutan poros 8,8 1,97 x,83 10,1 lbf 3 5xW xl 384xIpxm 3 5x10,1x,83 384x0,036x ,14 inch 3,56 mm Untuk menghindari gesekan antara tabung q 80 mm dengan ulir karena lendutan maka diameter power screw dibuat 7 mm. 3.6 Perencanaan Rangka Dalam perancangan alat ini, dibutuhkan sebuah komponen yang mampu menopang berbagai komponen lain, yaitu rangka. Rangka mesin pembuat pellet ini mempunyai beberapa fungsi yang penting, antara lain: 1. Tempat untuk menopang barrel.. Tempat menopang hopper. 3. Tempat menopang power screw. 4. Tempat menopang motor, reducer, dan komponen lainnya. Adapun rangka dari mesin ini disusun dari batang-batang baja profil L yang harus mempunyai kekuatan menopang komponen mesin tersebut, serta kuat
55 55 menahan getaran dari mesin tersebut. Selain itu, kerangka tersebut harus mempunyai ketahanan yang baik. Dari perancangan rangka tersebut, diperoleh gambar rangka: Keterangan : Gambar 3.11 Konstruksi rangka Pembebanan yang terjadi pada rangka adalah : Berat puli Berat hopper, poros, power screw, dan barrel : 5 N : 95 N Berat kotoran sapi maksimal ( hopper dan barrel ) : 140 N Berat keseluruhan yang diterima dua buah rangka : 40 N
56 56 Pembebanan ditopang oleh dua rangka maka pembebanan pada salah satu rangka adalah : 10 N Gambar 3.1 Pembebanan pada salah satu rangka
57 57 M A 0 P.8,5 R BV ,5 R BV.17 0 Rbv N 17 M B 0 Rav.17 P.8,5 0 R AV Momen lentur di titik E M E R AV.x 60.8,5 510 Nmm
58 58 Diagram gaya geser (SFD) Gambar 3.13 Diagram gaya geser ( A - E B ) Diagram momen lentur Gambar 3.14 Diagram momen lentur ( A - E B ) α 18 β 7 F Rav Cosa 60 0,95 63,15 N
59 59 Rah F.sina 63,15.0,31 19,57 N Dimana F F Rcv cosa.f 0,95.63,15 59,99 Rch F.cosβ 63,15.0,31 19,57 F 1 Rav.cosβ 60.0,31 18,6 N F Rav.cosα 60.0,95 57 N M C F.x 18, Nmm
60 60 Gambar.3.15 Diagram pembebanan pada batang A-C Gambar.3.16 SFD batang A-C Gambar.3.17 NFD batang A-C Gambar.3.18 BMD batang A-C
61 61 Pada kontruksi rangka untuk mesin pembuat pellet ini digunakan baja profil L ISA 00 (40 mm x 40 mm x 3 mm) dengan momen inersia (I) 3,53x10 4 mm 4 dan pusat titik berat (Y) 10,9 mm. Dan dari hasil perhitungan, dapat diketahui besar momen maksimum dari rangka tersebut adalah 1488 Nmm. Sehingga dari data tersebut akan ditentukan : 4. Tegangan tarik yang terjadi s max M. y I ,9 4 3, ,45 N/mm 5. Tegangan tarik ijin bahan s s b Sf ,5 N/mm Sehingga didapat s max < s b ( rangka aman digunakan ) 3.7 Perencanaan Mur Dan Baut Dalam perencanaan mesin reactor pirolisis dengan tenaga motor ini mur dan baut digunakan untuk merangkai bebebrapa elemen mesin dianrtaranya : 1. Baut pada dudukan rangka motor, untuk mengunci posisi motor.. Baut pada dudukan rangka reducer, untuk mengunci posisi reducer Baut pada dudukan motor Baut yang digunakan adalah M1 sebanyak 4 buah, yang terbuat dari baja ST 37. dari lampiran diketahui mengenai baut M1 antara lain sebagai berikut : 1. Diameter mayor (d) 1 mm. Diameter minor (dc) 9,85 mm 3. Tegangan tarik (s ) 370 N/mm
62 6 4. Tegangan geser (t ) 40 N/mm 5. Faktor keamanan ( sf ) 8 6. W (T 1 + T ) (59,88 N + 3,14 N) 13,04 N a. Tegangan tarik ijin (s t ) s s t sf Gambar 3.19 Baut pada dudukan motor 46,5 N /mm b. Tegangan geser ijin (t t ) t t t sf 40 8
63 63 30 N /mm c. Beban geser langsung yang diterima baut Ws n W 13, N d. Beban tarik yang terjadi akibat gaya tarik sabuk, beban tarik maksimal terjadi pada baut 3 dan 4. W t W. L. L ( L + L ) 1 ( + 14 ) 13, , ,1 N e. Diasumsikan beban tarik dan geser yang diterima baut ekivalen 1 - Beban tarik ekivalen W te [ W t + Wt + 4W s ] 1 [ 431,1+ 431, ] 591,55 N 1 - Beban geser ekivalen W se [ W t + 4W s ] 1 [ 431, ] 375,96 N f. Tegangan tarik ( s baut ) dan tegangan geser ( t baut ) yang terjadi pada baut - Tegangan tarik s baut W te p. 4 dc
64 64 591,55 p.9, ,75 N/mm Tegangan tarik pada baut s baut < tegangan tarik ijin s t maka baut aman - Tegangan geser t baut W se p. 4 d 375,96 p.1 4 3,3 N/mm Tegangan geser pada baut t baut < tegangan geser ijin t t maka baut aman 3.7. Baut pada dudukan reducer Baut yang digunakan adalah M1 sebanyak 4 buah, yang terbuat dari baja ST 37. dari lampiran diketahui mengenai baut M1 antara lain sebagai berikut : 1. Diameter mayor (d) 1 mm. Diameter minor (dc) 9,858 mm 3. Tegangan tarik (s ) 370 N/mm 4. Tegangan geser (t ) 40 N/mm 5. Faktor keamanan ( sf ) 8 6. W (T 1 + T ) (59,88 N + 3,14 N) 13,04 N
65 65 Gambar 3.0 Baut pada dudukan reducer Kekuatan baut berdasarkan perhitungan tegangan tarik a. Tegangan tarik ijin (s t ) s s t sf ,5 N /mm b. Tegangan geser ijin (t t ) t t t sf N /mm c. Beban geser langsung yang diterima baut Ws n W
66 66 13, N d. Beban tarik yang terjadi akibat gaya tarik sabuk, beban tarik maksimal terjadi pada baut 3 dan 4. W t W. L. L ( L + L ) 1 13,04.13,.9,5 1,5 + 9,5 ( ) , ,1 N e. Diasumsikan beban tarik dan geser yang diterima baut ekivalen 1 - Beban tarik ekivalen W te [ W t + Wt + 4W s ] 1 [ 835,1+ 835, ] 936,4 N 1 - Beban geser ekivalen W se [ W t + 4W s ] 1 [ 835, ] 518,86 N f. Tegangan tarik ( s baut ) dan tegangan geser ( t baut ) yang terjadi pada baut a. Tegangan tarik s baut W te p. 4 dc 936,4 p.9, ,7 N /mm Tegangan tarik pada baut s baut < tegangan tarik ijin s t maka baut aman
67 67 b. Tegangan geser t baut W se p. 4 d 518,86 p.1 4 4,59 N /mm Tegangan geser pada baut t baut < tegangan geser ijin t t maka baut aman. 3.8 Perencanaan Bantalan Perencanaan bantalan pada mesin pembuat pellet ini berfungsi untuk menyangga poros power screw, maka diperlukan analisa bantalan yang sesuai Diketahui : 1. Nomor bantalan yang digunakan 04. Beban dasar static (Co) 6550 N 3. Beban dinamik (C) N 4. Kecepatan putar (N) 3,66 rpm Bantalan B Beban radial (W R ) Sama dengan R BV 3081,9 N Beban radial ekivalen (W e ) - Beban radial ekivalen statis (W e ) Faktor radial (X) 0,6 Faktor aksial (Y) 0,5 Faktor keamanan (K S ) 1 Beban aksial (W A ) 0 W e ( X. W R + Y. W A ). K S ( 0, ,9 + 0,5. 0 ) ,15 N - Beban radial ekivalen dinamis (W e ) Faktor radial (X) 1 Faktor aksial (Y) 0 Faktor keamanan (K S ) 1
68 68 Faktor putaran (V) 1 ( semua jenis bantalan ) Beban aksial (W A ) 0 W e ( X. V. W R + Y. W A ). K S ( , ) ,9 N Jadi bantalan yang digunakan aman karena W e < N Bantalan C Beban radial (W R ) Sama dengan R CV 1814,4 N Beban radial ekivalen (W e ) - Beban radial ekivalen statis (W e ) Faktor radial (X) 0,6 Faktor aksial (Y) 0,5 Faktor keamanan (K S ) 1 Beban aksial (W A ) 0 W e ( X. W R + Y. W A ). K S ( 0, ,4 + 0,5. 0 ) ,65 N - Beban radial ekivalen dinamis (W e ) Faktor radial (X) 1 Faktor aksial (Y) 0 Faktor keamanan (K S ) 1 Faktor putaran (V) 1 ( semua jenis bantalan ) Beban aksial (W A ) 0 W e ( X. V. W R + Y. W A ). K S ( , ) ,4 N Jadi bantalan yang digunakan aman karena W e < N
69 Perhitungan Las Sambungan las yang dilakukan adalah sambungan las jenis sudut (fillet) dan las temu (butt) Sambungan pada rangka utama menggunakan baja profil L (40 mm x 40 mm x 3 mm) Gambar 3.1 Las pada rangka Dari data diketahui : h t l b W 3 mm 3 mm 40 mm 37 mm 1 kg Tegangan geser ijin pada pengelasan ( t s ) 350 kg/cm Tegangan geser pada sambungan las t s W 0,707hl
70 70 t s t s 1 0, ,84 t s 0,14 kg/mm 14 kg /cm Section modulus æ 4l. b+ b Z t ö ç è 6 ø æ ö ç è 6 ø ,5 mm 3 Tegangan lengkung s b W.l Z ,5 0,13 kg /mm 13 kg /cm
71 71 Tegangan geser maxsimum 1 t max s b + ( t ) s 4 s (14) 1. 30,87 15,43 kg/cm t s max < t s ijin ( aman ) 3.10 Menghitung Kapasitas Mesin Dari percobaan yang telah dilakukan dalam waktu 10 menit mesin ini menghasilkan 8,81 kg, sehingga kapasitas mesin dalam satu jam adalah : 60 x 8,81 5,8 kg/jam 10 BAB IV PROSES PRODUKSI 4.1. Pembuatan Poros Didapat dari perencanaan di atas poros mesin pembuat pellet memiliki panjang (L) 70 mm, diameter (d) sebesar 0 mm, dan Bahan dari jenis baja ST-4. f 0 mm 70 mm
72 7 Gambar 4.1 Poros transmisi Pengerjaan poros sepanjang ( Li ) 70 mm diameter (di) 0 mm bahan poros ST 4. Bahan dibubut dari diameter mula mula (do) 5 mm, menjadi dimeter 0 mm dengan panjang (L 1 ) 70 mm. Center Pahat bubut Gambar 4. Proses pencekaman poros Proses kerja setelah dilakukan persiapan di atas adalah sebagai berikut. Bahan yang dipergunakan sebagai poros adalah baja ST 4 dengan kekuatan tarik sebesar 4 kg/mm. Poros dibubut dengan mesin bubut. Kecepatan pemakanan disesuaikan dengan benda kerja. Beberapa hal yang perlu dipersiapkan dalam proses pembubutan adalah : 1. Alat ukur seperti jangka sorong.. Dial indicator untuk menentukan titik pusat. 3. Pahat yang digunakan adalah pahat HSS untuk baja dengan kecepatan tinggi. 4. Kunci kunci untuk penyetelan chuck dan pahat. 5. Penitik. 6. Center drill. 7. Gerinda untuk mengasah pahat. Tabel 4.1 Kecepatan pahat HSS (mm/men) Bahan benda kerja Bubut kasar Bubut halus Bubut ulir Baja mesin Baja perkakas 1 7 9
73 73 Besi tuang Perunggu alumunium (Marsyahyo, 003) Tabel 4. Kecepatan pemakanan pahat (mm/rev) Bahan benda kerja Bubut kasar Bubut halus Baja mesin 0,5 0,50 0,07 0,5 Besi tuang 0,5 0,50 0,07 0,5 Baja perkakas 0,40 0,65 0,13 0,30 Perunggu 0,40 0,65 0,07 0,5 (Marsyahyo, 003) Langkah-langkah pembubutan: 1. Proses pertama yakni pemasangan pahat, pahat dipasang secara benar dengan pengaturan letak ketinggian supaya center dengan bantuan kepala lepas pada bagian mesin bubut.. Pemasangan bahan poros pada chuck kepala tetap, dengan bantuan dial indicator kita dapat menentukan letak center yang tepat pada benda kerja, dibuat lubang kecil pada center sebagai pegangan kepala lepas. 3. Membubut benda kerja sampai ukuran yang diinginkan. 4. Setelah itu benda kerja yang sudah jadi dilepas. - Waktu Permesinan Bahan poros dari ST.4 (d o ) 5 mm (d 1 ) 0 mm (L o ) 730 mm (L 1 ) 70 mm v c Sr 7 mm/menit (HSS dengan σ < 45 kg/mm) 0,5 mm/put Waktu permesinan dengan mesin bubut, putaran yang terjadi :
74 74 n v c.1000 p. d p.0 49,93 rpm Putaran yang digunakan adalah 300 rpm (lampiran 9) Pembubutan muka a. Waktu pembubutan muka : Tm Pembubutan muka ini dilakukan dengan menggunakan pahat potong sehingga jumlah pemakanan sekali r o I.. Sr n Tm 1,5.1 0, ,16 menit Waktu setting (ts) 15 menit Waktu pengukuran (tu) 5 menit Waktu total Tm + ts + tu 0, ,16 menit b. Pembubutan memanjang Pemakanan dari ø 5 x 730 mm menjadi ø0 x 70 Tm L 1. I Sr. n Dimana: t 1 mm I I d 0 -. t d
75 75,5 3 kali pemakanan Tm , ,8 menit Waktu setting (ts) Waktu pengukuran (tu) 15 menit 5 menit Waktu total Tm + ts + tu 8, ,8 menit Total waktu pembubutan keseluruhan : 0, ,8 68,96 menit 4.. Pembuatan Lubang 1. Lubang untuk Dudukan Barrel Proses pengeboran untuk landasan dudukan rumah bearing 1 mm dengan menggunakan mata bor, diameter 5 mm dan 1 mm. Landasan dudukan baja ST 37. Sebelum proses pengeboran, terlebih dahulu pastikan mata bor tidak dalam keadaan tumpul, agar tajam perlu diasah menggunakan gerinda. Waktu pengeboran 1 mm dengan mata bor 5 mm : Putaran (n) 150 rpm. Sr 0,1 Kedalaman 3 mm. Waktu untuk sekali pengeboran : 0,3. d+ l Tm Sr. n
76 76 0, , ,3 menit Pengeboran dilakukan di titik, sehingga waktu pengeboran : x 0,3 0,6 menit Waktu setting 5 menit Waktu total pengeboran untuk mata bor 5 mm adalah 0, ,6 menit. Waktu pengeboran 1 mm dengan mata bor 1 mm : putaran (n) 150 rpm. Sr 0,18 Kedalaman(l) 3 mm. Waktu untuk sekali pengeboran : Tm 0,3. d+ l Sr. n 0, , ,4 menit Pengeboran dilakukan di titik, sehingga waktu pengeboran x 0,4 0,48 menit Waktu setting 5 menit Waktu pengeboran untuk mata bor 1 mm adalah 0, ,48 menit. Waktu total pengeboran untuk pengeboran lubang dudukan bearing adalah 11,08 menit. Lubang untuk Dudukan Motor Listrik Proses pengeboran untuk landasan dudukan motor 1 mm dengan menggunakan mata bor, diameter 5 mm dan 1 mm dua tahap. Landasan dudukan baja ST 37. Sebelum proses pengeboran, terlebih dahulu pastikan mata bor tidak dalam keadaan tumpul, agar tajam diasah menggunakan gerinda.
77 77 Waktu pengeboran 1 mm dengan mata bor 5 mm : Ptaran (n) 150 rpm. Sr 0,1 Kedalaman 3 mm. Waktu untuk sekali pengeboran : Tm 0,3. d+ l Sr. n 0, , ,3 menit Pengeboran dilakukan di 4 titik, sehingga waktu pengeboran : 4 x 0,3 1, menit Waktu setting 5 menit Waktu pengeboran untuk mata bor 5 mm adalah 1, + 5 6, menit. Waktu pengeboran 1 mm dengan mata bor 1 mm : Putaran (n) 150 rpm. Sr 0,18 Kedalaman(l) 3 mm. Waktu untuk sekali pengeboran : Tm 0,3. d+ l Sr. n 0, , ,4 menit Pengeboran dilakukan di 4 titik, sehingga waktu pengeboran : 4 x 0,4 0,97 menit Waktu setting 5 menit Waktu pengeboran untuk mata bor 1 mm adalah 0, ,97 menit.
78 78 Waktu total pengeboran untuk pengeboran lubang dudukan motor listrik adalah 1,17 menit 3. Lubang untuk Dudukan Reducer Proses pengeboran untuk landasan dudukan reducer 1 mm dengan menggunakan mata bor, diameter 5 mm dan 1 mm dua tahap. Landasan dudukan baja ST 37. Sebelum proses pengeboran, terlebih dahulu pastikan mata bor tidak dalam keadaan tumpul, agar tajam diasah menggunakan gerinda. Waktu pengeboran 1 mm dengan mata bor 5 mm : Putaran (n) 150 rpm. Sr 0,1 Kedalaman 3 mm. Waktu untuk sekali pengeboran : Tm 0,3. d+ l Sr. n 0, , ,3 menit Pengeboran dilakukan di 4 titik, sehingga waktu pengeboran : 4 x 0,3 1, menit Waktu setting 5 menit Waktu pengeboran untuk mata bor 5 mm adalah 1, + 5 6, menit. Waktu pengeboran 1 mm dengan mata bor 1 mm : Putaran (n) 150 rpm. Sr 0,18 Kedalaman(l) 3 mm. Waktu untuk sekali pengeboran : Tm 0,3. d+ l Sr. n 0, ,18.150
79 79 0,4 menit Pengeboran dilakukan di 4 titik, sehingga waktu pengeboran : 4 x 0,4 0,97 menit Waktu setting 5 menit Waktu pengeboran untuk mata bor 5 mm adalah 0, ,97 menit. Waktu total pengeboran untuk pengeboran lubang dudukan reducer 1,17 menit. Jadi waktu pengeboran total untuk semua dudukan adalah : 11,08 + 1,17 + 1,17 35,4 menit 4.3. Membuat Rangka Bahan yang digunakan adalah : Besi kanal siku 40 x 40 x 3
80 80 Gambar 4.3 Konstruksi rangka Langkah Pembuatan Untuk tiang mesin: Potong besi kanal siku 40 x 40 x 3 sepanjang 80 cm sebanyak 6 buah. Untuk landasan barrel: Potong besi kanal siku 40 x 40 x 3 sepanjang 17 cm sebanyak buah. Untuk landasan motor dan reducer : Potong besi kanal siku 40 x 40 x 3 sepanjang 5. cm sebanyak buah Potong besi kanal siku 40 x 40 x 3 sepanjang 50 cm sebanyak buah 4.4. Hopper
81 81 Bahan yang digunakan lembaran plat baja dengan tebal 1 mm, ukuran permukaan muka 400 mm, dan permukaan alas 50 Langkah Pembuatan Gambar 4.4 hopper 1. Membuat pola gambar pada plat sesuai ukuran. Memotong plat pada pola dengan gunting plat 3. Mengelas dengan las asitiline. 4. Finishing dengan digerinda 4.5. Proses Pengecatan Langkah pengerjaan dalam proses pengecatan yaitu : 1. Membersihkan seluruh permukaan benda dengan amplas dan air untuk menghilangkan korosi.
82 8. Pengamplasan dilakukan beberapa kali sampai permukaan benda luar dan dalam benar-benar bersih dari korosi. 3. Memberikan cat dasar atau poxi keseluruh bagian yang akan dicat. 4. Mengamplas kembali permukaan yang telah diberi cat dasar (poxi) sampai benar-benar halus dan rata sebelum dilakukan pengecatan. 5. Melakukan pengecatan warna. Gambar 4.5 Proses pengecatan 4.6. Perakitan Perakitan merupakan tahap terakhir dalam proses perancangan dan pembuatan suatu mesin atau alat, dimana suatu cara atau tindakan untuk menempatkan dan memasang bagian-bagian dari suatu mesin yang digabung dari satu kesatuan menurut pasangannya, sehingga akan menjadi perakitan mesin yang siap digunakan sesuai dengan fungsi yang direncanakan. Sebelum melakukan perakitan hendaknya memperhatikan beberapa hal sebagai berikut : 1. Komponen-komponen yang akan dirakit, telah selesai dikerjakan dan telah siap ukuran sesuai perencanaan.. Komponen-komponen standart siap pakai ataupun dipasangkan. 3. Mengetahui jumlah yang akan dirakit dan mengetahui cara pemasangannya. 4. Mengetahui tempat dan urutan pemasangan dari masing-masing komponen yang tersedia. 5. Menyiapkan semua alat-alat bantu untuk proses perakitan. Komponen- komponen dari mesin ini adalah : a. Rangka. b. Barrel
83 83 c. Power screw d. Hopper e. Motor listrik f. Reducer g. Puli h. Sabuk i. Mur dan baut j. Bantalan k. Nozzle Langkah-langkah perakitan : 1. Memasang barrel, Hopper pada rangka bagian atas dan mengikatnya dengan baut pada dudukannya.. Memasang reducer pada dudukannya. 3. Memasang sabuk antara reducer, dan poros power screw. 4. Memasang motor pada dudukannya dan menghubungkan sabuk antara motor dan reducer. 5. Mesin pembuat pellet siap digunakan. Gambar 4.6 Perakitan 4.7. Estimasi Biaya 1. Komponen Mesin Tabel 4.3 Daftar harga komponen mesin No Komponen Jumlah Harga satuan Total harga 1. Hopper, power screw, barrel 1 Rp Rp
84 Nozzle 1 Rp Rp Reducer 1/60 Besi siku 40x40x3 mm Motor listrik ½ hp 1 10meter 1 Rp Rp Rp Rp Rp Rp Mur dan baut M1x1.5 0 Rp Rp Mur dan baut M 8 x1.5 6 Rp Rp Puli 4 Rp Rp V belt tipe A 4 Rp Rp Elektroda AWS 15 Rp Rp Heater 1 Rp Rp Thermo control 1 Rp Rp Plat seng 0,3 mm 3meter Rp Rp Kabel 5meter Rp Rp Steker Rp Rp Saklar Rp Rp Jumlah Rp Komponen Cat Tabel 4.4 Daftar harga komponen cat No Komponen Jumlah Harga satuan Total harga 1. Amplas 1000 Rp..000/lembar Rp
85 85. Amplas 400 Rp..000/lembar Rp Thiner ND 1 Rp /liter Rp Dempul San Polac 1 Rp /kaleng Rp Cat Hamertone 1 Rp /kaleng Rp Kuas 1 Rp Rp Jumlah Rp Biaya total pembuatan mesin pellet. Komponen mesin Rp Komponen cat Rp Biaya lain-lain Rp Total Rp Perawatan Mesin Perawatan merupakan suatu kegiatan atau pekerjaan yang dilakukan terhadap suatu alat, mesin atau sistem yang mempunyai tujuan antara lain :
86 86 1. Mencegah terjadinya kerusakan mesin pada saat dibutuhkan atau beroperasi.. Memperpanjang umur mesin. 3. Mengurangi kerusakan-kerusakan yang tidak di harapkan. Perawatan yang baik dilakukan pada sebuah alat atau mesin adalah melakukan tahapan-tahapan perawatan. Hal ini berarti menggunakan sebuah siklus penjadwalan perawatan, yaitu : 1. Inspeksi (pemeriksaan).. Perbaikan kecil (small repair). 3. Perbaikan total atau bongkar mesin (complete over houle). Seperti pada industri manufaktur pada umumnya apabila tahap-tahap di atas terjadwal dan dilaksanakan dengan tertib, maka untuk prestasi tertinggi dan efektifitas mesin dapat tercapai dengan maksimal. Dalam mesin ini secara terperinci perawatan dapat dilakukan dengan meliputi : 1. Rangka dan baut. Hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan perawatan antara lain : Melakukan pembersihan terutama setelah penggunaan mesin. Melakukan pemeriksaan terhadap sambungan-sambungan las secara rutin. Memeriksa baut-baut harus selalu dalam keadaan kencang dan kuat. Mencegah terjadinya karat dan korosi pada baut.. Motor listrik. Hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan perawatan antara lain : Melakukan pembersihan terutama setelah penggunaan mesin. Melakukan pemeriksaan pada kabel sumber arus. Melakukan pelumasan pada bearing.
87 87 BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan Dari hasil pembuatan rekayasa mesin pembuat pellet dari kotoran sapi sistem pemasukan dengan power screw ini dapat disimpulkan sebagai berikut : - Kapasitas maksimal hopper adalah 14 Kg. - Kapasitas mesin pellet adalah ±5,86 kg/jam. - Total biaya untuk pembuatan 1 unit mesin ini adalah ± Rp ,- 5.. Saran - Perawatan dilakukan secara berkala. - Membersihkan sisa-sisa kotoran sapi yang menempel pada barrel dan power screw dengan air setelah menggunakan mesin. - Memanaskan heater terlebih dahulu sebelum mesin digunakan. DAFTAR PUSTAKA Kenyon dan Ginting Dasar-dasar Pengelasan. Jakarta: Erlangga. Khurmi, R. S dan Gupta, J. K. 00. Machine Design.Ram Nagar-New Delhi: SC Had & Company LTD. Marsyahyo, Eko Mesin Perkakas Pemotongan Logam. Malang: Banyumedia,. Popov Mekanika Teknik. Jakarta: Erlangga. Sularso dan Suga K Dasar dan Pemilihan Elemen Mesin. Jakarta: Pradnya Paramitha. Scharkus dan Jutz Westermann Tables for the Metal Trade. New Delhi: Wiley Eastern Limited. Shinger, Ferdinand L kekuatan bahan. Jakarta: Erlangga.
88 88
89 89
BAB II DASAR TEORI. c) Untuk mencari torsi dapat dirumuskan sebagai berikut:
BAB II DASAR TEORI 2.1 Daya Penggerak Secara umum daya diartikan sebagai suatu kemampuan yang dibutuhkan untuk melakukan sebuah kerja, yang dinyatakan dalam satuan Watt ataupun HP. Penentuan besar daya
REKAYASA MIXER PEMBUAT PUPUK ORGANIK LIMBAH KOTORAN SAPI
HALAMAN PERSETUJUAN REKAYASA MIXER PEMBUAT PUPUK ORGANIK LIMBAH KOTORAN SAPI Disusun Oleh : FAISYAL ANDRI AMRULLAH I 810605 Proyek Akhir ini telah disetujui untuk diajukan dihadapan Tim Penguji Tugas Akhir
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Statika rangka Dalam konstruksi rangka terdapat gaya-gaya yang bekerja pada rangka tersebut. Dalam ilmu statika keberadaan gaya-gaya yang mempengaruhi sistem menjadi suatu obyek
REKAYASA MIXER PEMBUAT PUPUK ORGANIK LIMBAH KOTORAN SAPI
50 REKAYASA MIXER PEMBUAT PUPUK ORGANIK LIMBAH KOTORAN SAPI PROYEK AKHIR Diajukan untuk memenuhi persyaratan guna memperoleh gelar Ahli Madya (A.Md) Program Studi DIII Teknik Mesin Disusun oleh : JOKO
RANCANG BANGUN MESIN POLES POROS ENGKOL PROYEK AKHIR
RANCANG BANGUN MESIN POLES POROS ENGKOL PROYEK AKHIR Diajukan untuk memenuhi persyaratan guna Memperoleh gelar Ahli Madya (A.Md) Program Studi DIII Teknik Mesin Disusun oleh: SUPRIYADI I8612046 PROGRAM
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR 3.1 Flowchart Perencanaan Pembuatan Mesin Pemotong Umbi Proses Perancangan mesin pemotong umbi seperti yang terlihat pada gambar 3.1 berikut ini: Mulai mm Studi Literatur
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR 3.1 Diagram Alir Proses Perancangan Proses perancangan mesin peniris minyak pada kacang seperti terlihat pada gambar 3.1 berikut ini: Mulai Studi Literatur Gambar Sketsa
BAB II DASAR TEORI. Mesin perajang singkong dengan penggerak motor listrik 0,5 Hp mempunyai
BAB II DASAR TEORI 2.1. Prinsip Kerja Mesin Perajang Singkong. Mesin perajang singkong dengan penggerak motor listrik 0,5 Hp mempunyai beberapa komponen, diantaranya adalah piringan, pisau pengiris, poros,
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR 3.1 Diagram Alur Proses Perencanaan Proses perencanaan mesin modifikasi camshaft ditunjukkan pada diagram alur pada Gambar 3.1: Mulai Pengamatan dan pengumpulan data Perencanaan
BAB II DASAR TEORI. 2.1 Konsep Perencanaan Sistem Transmisi Motor
BAB II DASAR TEORI 2.1 Konsep Perencanaan Sistem Transmisi Pada perancangan suatu kontruksi hendaknya mempunyai suatu konsep perencanaan. Untuk itu konsep perencanaan ini akan membahas dasar-dasar teori
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR 3.1 Skema Dan Prinsip Kerja Alat Prinsip kerja mesin pemotong krupuk rambak kulit ini adalah sumber tenaga motor listrik ditransmisikan kepulley 2 dan memutar pulley 3 dengan
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR 3.1 Diagram Aliran Diagram aliran merupakan suatu gambaran dasar yang digunakan dasar dalam bertindak. Seperti pada proses perencanaan diperlukan suatu diagram alir yang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI 2.1. TINJAUAN PUSTAKA Potato peeler atau alat pengupas kulit kentang adalah alat bantu yang digunakan untuk mengupas kulit kentang, alat pengupas kulit kentang yang
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Proses Produksi Proses produksi adalah tahap-tahap yang harus dilewati dalam memproduksi barang atau jasa. Ada proses produksi membutuhkan waktu yang lama, misalnya
BAB II DASAR TEORI. Gambar 2.1 Tumpuan Rol
BAB II DASAR TEORI 2.1 Pengertian Rangka Rangka adalah struktur datar yang terdiri dari sejumlah batang-batang yang disambung-sambung satu dengan yang lain pada ujungnya, sehingga membentuk suatu rangka
RANCANG BANGUN MESIN PENGIRIS BAWANG ( TRANSMISI )
RANCANG BANGUN MESIN PENGIRIS BAWANG ( TRANSMISI ) PROYEK AKHIR Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya Disusun Oleh : TRIANTO NIM I 8111039 PROGRAM DIPLOMA TIGA TEKNIK MESIN
BAB III. Metode Rancang Bangun
BAB III Metode Rancang Bangun 3.1 Diagram Alir Metode Rancang Bangun MULAI PENGUMPULAN DATA : DESAIN PEMILIHAN BAHAN PERHITUNGAN RANCANG BANGUN PROSES PERMESINAN (FABRIKASI) PERAKITAN PENGUJIAN ALAT HASIL
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Mesin Pan Granulator Mesin Pan Granulator adalah alat yang digunakan untuk membantu petani membuat pupuk berbentuk butiran butiran. Pupuk organik curah yang akan
BAB II DASAR TEORI P =...(2.1)
4 BAB II DASAR TEORI 2.1 Motor Motor adalah suatu komponen utama dari sebuah kontruksi permesinan yang berfungsi sebagai penggerak. Gerakan yang dihasilkan oleh motor adalah sebuah putaran poros. Komponen
BAB II DASAR TEORI 2.1 Konsep Perencanaan 2.2 Motor 2.3 Reducer
BAB II DASAR TEORI 2.1 Konsep Perencanaan Konsep perencanaan komponen yang diperhitungkan sebagai berikut: a. Motor b. Reducer c. Daya d. Puli e. Sabuk V 2.2 Motor Motor adalah komponen dalam sebuah kontruksi
RANCANG BANGUN MESIN EXSTRACTOR CASSAVA
RANCANG BANGUN MESIN EXSTRACTOR CASSAVA PROYEK AKHIR Diajukan untuk memenuhi persyaratan guna memperoleh gelar Ahli Madya (A.Md) Program Studi DIII Teknik Mesin Disusun oleh : ANDY AHMAT FAUZI I 8106003
RANCANG BANGUN MESIN COPY CAMSHAFT (SISTEM RANGKA)
RANCANG BANGUN MESIN COPY CAMSHAFT (SISTEM RANGKA) PROYEK AKHIR Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ahli Madya Oleh: AFRIKO JADI PRAYOGA PUTRA PRATAMA NIM I8613002 PROGRAM DIPLOMA
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR 3.1 Perencanaan Rangka Mesin Peniris Minyak Proses pembuatan mesin peniris minyak dilakukan mulai dari proses perancangan hingga finishing. Mesin peniris minyak dirancang
BAB II DASAR TEORI 2.1. Prinsip kerja Mesin Penghancur Kedelai 2.2. Gerenda Penghancur Dan Alur
BAB II DASAR TEORI 2.1. Prinsip kerja Mesin Penghancur Kedelai Mesin penghancur kedelai dengan penggerak motor listrik 0,5 Hp, mengapa lebih memilih memekai motor listrik 0,5 Hp karena industri yang di
BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN
BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN 4.1 Proses Pengerjaan Proses pengerjaan adalah suatu tahap untuk membuat komponen-komponen pada mesin press serbuk kayu. Pengerjaan dominan dalam pembuatan komponen tersebut
RANCANG BANGUN MESIN PENGIRIS BAWANG BAGIAN PERHITUNGAN RANGKA
RANCANG BANGUN MESIN PENGIRIS BAWANG BAGIAN PERHITUNGAN RANGKA PROYEK AKHIR Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ahli Madya Disusun oleh : EKO SULISTIYONO NIM. I 8111022 PROGRAM DIPLOMA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian pengelasan secara umum a. Pengelasan Menurut Harsono,1991 Pengelasan adalah ikatan metalurgi pada sambungan logam paduan yang dilakukan dalam keadaan lumer atau cair.
RANCANG BANGUN MESIN PENIRIS MINYAK (SISTEM TRANSMISI )
RANCANG BANGUN MESIN PENIRIS MINYAK (SISTEM TRANSMISI ) PROYEK AKHIR Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ahli Madya Oleh: MUHAMMAD HUSNAN EFENDI NIM I8613023 PROGRAM DIPLOMA III TEKNIK
BAB III PERANCANGAN DAN PERHITUNGAN
BAB III PERANCANGAN DAN PERHITUNGAN 3.1 Diagram Alir Proses Perancangan Proses perancangan konstruksi mesin pengupas serabut kelapa ini terlihat pada Gambar 3.1. Mulai Survei alat yang sudah ada dipasaran
BAB III PROSES PERANCANGAN DAN GAMBAR
BAB III PROSES PERANCANGAN DAN GAMBAR 31Skema dan Prinsip kerja Prinsip kerja mesin penggiling serbuk jamu ini adalah sumber tenaga motor listrik di transmisikan ke diskmill menggunakan dan pulley dan
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Pengertian Proses Produksi Proses produksi adalah tahap-tahap yang harus dilewati dalam memproduksi barang atau jasa. Sedangkan pengertian produksi adalah suatu kegiatan untuk
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR 3.1 Diagram Alir Proses Perencanaan Proses perencanaan mesin pembuat es krim dari awal sampai akhir ditunjukan seperti Gambar 3.1. Mulai Studi Literatur Gambar Sketsa Perhitungan
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Serabut Kelapa Sebagai Negara kepulauan dan berada di daerah tropis dan kondisi agroklimat yang mendukung, Indonesia merupakan Negara penghasil kelapa terbesar di dunia. Menurut
BAB IV PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Perencanaan Tabung Luar Dan Tabung Dalam a. Perencanaan Tabung Dalam Direncanakan tabung bagian dalam memiliki tebal stainles steel 0,6, perencenaan tabung pengupas
BAB IV PROSES, HASIL, DAN PEMBAHASAN. panjang 750x lebar 750x tinggi 800 mm. mempermudah proses perbaikan mesin.
BAB IV PROSES, HASIL, DAN PEMBAHASAN A. Desain Mesin Desain konstruksi Mesin pengaduk reaktor biogas untuk mencampurkan material biogas dengan air sehingga dapat bercampur secara maksimal. Dalam proses
MESIN PENGAYAK PASIR (RANGKA)
MESIN PENGAYAK PASIR (RANGKA) PROYEK AKHIR Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ahli Madya Oleh: RAHMAD WAHYU NUGROHO NIM I8613029 PROGRAM DIPLOMA TIGA TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK
RANCANG BANGUN MESIN EXSTRACTOR CASSAVA
RANCANG BANGUN MESIN EXSTRACTOR CASSAVA PROYEK AKHIR Diajukan untuk memenuhi persyaratan guna memperoleh gelar Ahli Madya (A.Md) Program Studi DIII Teknik Mesin Disusun oleh : ARIYANTO I8106019 PROGRAM
2.1 Pengertian Umum Mesin Pemipil Jagung. 2.2 Prinsip Kerja Mesin Pemipil Jagung BAB II DASAR TEORI
BAB II DASAR TEORI 2.1 Pengertian Umum Mesin Pemipil Jagung Mesin pemipil jagung merupakan mesin yang berfungsi sebagai perontok dan pemisah antara biji jagung dengan tongkol dalam jumlah yang banyak dan
BAB IV PROSES PENGERJAAN DAN PENGUJIAN
BAB IV PROSES PENGERJAAN DAN PENGUJIAN Pada bab ini akan dibahas mengenai pembuatan dan pengujian alat yang selanjutnya akan di analisa, hal ini dimaksudkan untuk memperoleh data yang dibutuhkan dan untuk
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambar 14. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambar mesin sortasi buah manggis hasil rancangan dapat dilihat dalam Bak penampung mutu super Bak penampung mutu 1 Unit pengolahan citra Mangkuk dan sistem transportasi
BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN
BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN 4.1. Proses Pembuatan Proses pembuatan adalah tahap-tahap yang dilakukan untuk mencapai suatu hasil. Dalam proses pembuatan ini dijelaskan bagaimana proses bahan-bahanyang
BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN
BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN 4.1. Proses Pembuatan Proses pembuatan adalah tahap-tahap yang dilakukan untuk mencapai suatu hasil. Dalam proses pembuatan ini dijelaskan bagaimana proses bahan-bahanyang
BAB IV PERHITUNGAN DAN PERANCANGAN ALAT. Data motor yang digunakan pada mesin pelipat kertas adalah:
BAB IV PERHITUNGAN DAN PERANCANGAN ALAT 4.1 Perhitungan Rencana Pemilihan Motor 4.1.1 Data motor Data motor yang digunakan pada mesin pelipat kertas adalah: Merek Model Volt Putaran Daya : Multi Pro :
BAB III PERANCANGAN DAN PERHITUNGAN
BAB III PERANCANGAN DAN PERHITUNGAN 3.1 Diagram Alir Proses Perancangan Gambar 3.1 : Proses perancangan sand filter rotary machine seperti terlihat pada Mulai Studi Literatur Gambar Sketsa Perhitungan
RANCANG BANGUN MESIN PENCACAH RUMPUT GAJAH (PULI DAN SABUK) PROYEK AKHIR Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ahli Madya
RANCANG BANGUN MESIN PENCACAH RUMPUT GAJAH (PULI DAN SABUK) PROYEK AKHIR Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ahli Madya Oleh: ERICK SEPTA WAHYUDI NIM. I8612018 PROGRAM DIPLOMA TIGA
BAB III PERANCANGAN DAN PERHITUNGAN
19 BAB III PERANCANGAN DAN PERHITUNGAN 31 Diagram Alur Proses Perancangan Proses perancangan mesin pengupas serabut kelapa seperti terlihat pada diagram alir berikut ini: Mulai Pengamatan dan Pengumpulan
RANCANG BANGUN BAGIAN RANGKA PADA MESIN PERONTOK PADI PROYEK AKHIR
RANCANG BANGUN BAGIAN RANGKA PADA MESIN PERONTOK PADI PROYEK AKHIR Diajukan untuk memenuhi persyaratan guna Memperoleh gelar Ahli Madya (A.Md) Program Studi DIII Teknik Mesin Disusun oleh: BOB ADAM I8612014
RANCANG BANGUN MESIN PRESS SERBUK KAYU (RANGKA)
RANCANG BANGUN MESIN PRESS SERBUK KAYU (RANGKA) PROYEK AKHIR Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ahli Madya (A. Md) Disusun oleh: WAHYU TRI ARDHIYANTO NIM. I 8613038 PROGRAM DIPLOMA
BAB II DASAR TEORI Sistem Transmisi
BAB II DASAR TEORI Dasar teori yang digunakan untuk pembuatan mesin pemotong kerupuk rambak kulit adalah sistem transmisi. Berikut ini adalah pengertian-pengertian dari suatu sistem transmisi dan penjelasannya.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Analisis Perhitungan Sebelum mendesain mesin pemotong kerupuk hal utama yang harus diketahui adalah mencari tegangan geser kerupuk yang akan dipotong. Percobaan yang dilakukan
BAB II DASAR TEORI 2.1. Sistem Transmisi Motor Listrik
BAB II DASAR TEORI 2.1. Sistem Transmisi Transmisi bertujuan untuk meneruskan daya dari sumber daya ke sumber daya lain, sehingga mesin pemakai daya tersebut bekerja menurut kebutuhan yang diinginkan.
RANCANG BANGUN MESIN PENGHANCUR BONGGOL JAGUNG UNTUK CAMPURAN PAKAN TERNAK SAPI KAPASITAS PRODUKSI 30 kg/jam
RANCANG BANGUN MESIN PENGHANCUR BONGGOL JAGUNG UNTUK CAMPURAN PAKAN TERNAK SAPI KAPASITAS PRODUKSI 30 kg/jam LAPORAN AKHIR Diajukan untuk Memenuhi Syarat Menyelesaikan Pendidikan Diploma III Jurusan Teknik
BAB II DASAR TEORI. 2.1 Pengertian rangka
BAB II DASAR TEORI 2.1 Pengertian rangka Rangka adalah struktur datar yang terdiri dari sejumlah batang-batang yang disambung-sambung satu dengan yang lain pada ujungnya, sehingga membentuk suatu rangka
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Cara Kerja Alat Cara kerja Mesin pemisah minyak dengan sistem gaya putar yang di control oleh waktu, mula-mula makanan yang sudah digoreng di masukan ke dalam lubang bagian
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR
A III PERENCANAAN DAN GAMAR 3.1 Diagram Alir Proses Perancangan Diagram alir adalah suatu gambaran utama yang dipergunakan untuk dasar dalam bertindak. Seperti halnya pada perancangan diperlukan suatu
RANCANG BANGUN MESIN PEMBUAT ES KRIM (BAGIAN SISTEM TRANSMISI) PROYEK AKHIR
RANCANG BANGUN MESIN PEMBUAT ES KRIM (BAGIAN SISTEM TRANSMISI) PROYEK AKHIR Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ahli Madya Disusun oleh: MUH ARIES SETYAWAN NIM. I8113022 PROGRAM DIPLOMA
BAB II PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH. harus mempunyai sebuah perencanaan yang matang. Perencanaan tersebut
BAB II PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH Proses pembuatan rangka pada mesin pemipih dan pemotong adonan mie harus mempunyai sebuah perencanaan yang matang. Perencanaan tersebut meliputi gambar kerja, bahan,
BAB II DASAR TEORI. 2.1 Prinsip Dasar Mesin Pencacah Rumput
BAB II DASAR TEORI 2.1 Prinsip Dasar Mesin Pencacah Rumput Mesin ini merupakan mesin serbaguna untuk perajang hijauan, khususnya digunakan untuk merajang rumput pakan ternak. Pencacahan ini dimaksudkan
A. Dasar-dasar Pemilihan Bahan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Dasar-dasar Pemilihan Bahan Di dalam merencanakan suatu alat perlu sekali memperhitungkan dan memilih bahan-bahan yang akan digunakan, apakah bahan tersebut sudah sesuai dengan
MESIN PERUNCING TUSUK SATE
MESIN PERUNCING TUSUK SATE NASKAH PUBLIKASI Disusun : SIGIT SAPUTRA NIM : D.00.06.0048 JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 013 MESIN PERUNCING TUSUK SATE Sigit Saputra,
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR 3.1 Skema Dan Prinsip Kerja Alat Prinsip kerja mesin pencacah rumput ini adalah sumber tenaga motor listrik di transmisikan ke poros melalui pulley dan v-belt. Sehingga pisau
RANCANG BANGUN MESIN ROL STRIP PLAT (RANGKA) PROYEK AKHIR
RANCANG BANGUN MESIN ROL STRIP PLAT (RANGKA) PROYEK AKHIR Diajukan untuk memenuhi persyaratan guna Memperoleh gelar Ahli Madya (A.Md) Program Studi D III Teknik Mesin Disusun oleh : YUSUF ABDURROCHMAN
RANCANG BANGUN BAGIAN PENGADUK PADA MESIN PENCETAK PAKAN PELLET IKAN
RANCANG BANGUN BAGIAN PENGADUK PADA MESIN PENCETAK PAKAN PELLET IKAN PROYEK AKHIR Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ahli Madya (A. Md) Oleh : MUHAMMAD HASYIM S NIM. I 8612034 PROGRAM
RANCANG BANGUN ALAT UJI JOMINY MENURUT ASTM A255
RANCANG BANGUN ALAT UJI JOMINY MENURUT ASTM A255 PROYEK AKHIR Diajukan untuk memenuhi persyaratan guna memperoleh gelar Ahli Madya (A.Md) Program Studi DIII Teknik Mesin Disusun oleh: AHMAD SABEKTI I 8
BAB II LANDASAN TEORI. khususnya permesinan pengolahan makanan ringan seperti mesin pengiris ubi sangat
BAB II LANDASAN TEORI.. Pengertian Umum Kebutuhan peralatan atau mesin yang menggunakan teknologi tepat guna khususnya permesinan pengolahan makanan ringan seperti mesin pengiris ubi sangat diperlukan,
RANCANG BANGUN MESIN PEMOTONG KERUPUK RAMBAK KULIT (SISTEM TRANSMISI)
RANCANG BANGUN MESIN PEMOTONG KERUPUK RAMBAK KULIT (SISTEM TRANSMISI) PROYEK AKHIR Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ahli Madya Oleh: BUDDHI PUTRANTA NIM I8613006 PROGRAM DIPLOMA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. perancangan yaitu tahap identifikasi kebutuhan, perumusan masalah, sintetis, analisis,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.1 Perancangan Mesin Pemisah Biji Buah Sirsak Proses pembuatan mesin pemisah biji buah sirsak melalui beberapa tahapan perancangan yaitu tahap identifikasi kebutuhan, perumusan masalah,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Mesin Gerinda Batu Akik Sebagian pengrajin batu akik menggunakan mesin gerinda untuk membentuk batu akik dengan sistem manual. Batu gerinda diputar dengan menggunakan
Mulai. Studi Literatur. Gambar Sketsa. Perhitungan. Gambar 2D dan 3D. Pembelian Komponen Dan Peralatan. Proses Pembuatan.
BAB III PERANCANGAN DAN GAMBAR 3.1 Diagram Alur Proses Perancangan Proses perancangan mesin pemipil jagung seperti terlihat pada Gambar 3.1 seperti berikut: Mulai Studi Literatur Gambar Sketsa Perhitungan
PERANCANGAN PALANG PARKIR OTOMATIS MODEL TEKUK 180 DERAJAT
PERANCANGAN PALANG PARKIR OTOMATIS MODEL TEKUK 180 DERAJAT PROYEK AKHIR Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ahli Madya Disusun oleh : JOURDAN ADBEL PICARRIO PURNOMO NIM. I 8111030
RANCANG BANGUN MESIN PENIRIS MINYAK PADA ABON SAPI
RANCANG BANGUN MESIN PENIRIS MINYAK PADA ABON SAPI PROYEK AKHIR Diajukan untuk memenuhi persyaratan guna Memperoleh gelar Ahli Madya (A.Md) Disusun Oleh : DANANG SATRIO I8110013 PROGRAM DIPLOMA III TEKNIK
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.. Gambaran Umum Mesin pemarut adalah suatu alat yang digunakan untuk membantu atau serta mempermudah pekerjaan manusia dalam hal pemarutan. Sumber tenaga utama mesin pemarut adalah
PROGRAM DIPLOMA III TEKNIK MESIN OTOMOTIF FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA commit 2016 to user
RANCANG BANGUN MESIN DOWEL UNTUK PEMBUATAN KAYU SILINDER DENGAN DIAMETER 10 SAMPAI 20 MM UNTUK INDUSTRI GAGANG SAPU DAN SANGKAR BURUNG ( Proses Produksi ) PROYEK AKHIR Diajukan untuk memenuhi persyaratan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pandangan Umum 2.1.1 Definisi Paving-Block Paving-block merupakan produk bahan bangunan dari semen yang digunakan sebagai salah satu alternatif penutup atau pengerasan permukaan
RANCANG (BAGIAN. commit to user. Diajukan. Ahli Madya
RANCANG BANGUN MESIN PEMBELAH BAMBU (BAGIAN PROSES PRODUKSI) PROYEK AKHIR Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ahli Madya Oleh : WAHYU PRASETYA NIM I 8112045 PROGRAM DIPLOMA TIGA TEKNIK
BAB II DASAR TEORI 2.1 Pengertian Umum Mesin Perontok Padi 2.2 Rangka
BAB II DASAR TEORI 2.1 Pengertian Umum Mesin Perontok Padi Mesin perontok padi adalah suatu mesin yang digunakan untuk mempermudah pekerjaan manusia untuk memisahkan antara jerami dengan bulir padi atau
RANGKA SEPEDA MOTOR LISTRIK GENERASI II
RANGKA SEPEDA MOTOR LISTRIK GENERASI II PROYEK AKHIR Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ahli Madya Disusun oleh : ADHIMAS BAGUS PAMUNGKAS NIM. I 8611002 PROGRAM STUDI DIPLOMA III
RANCANG BANGUN BAGIAN RANGKA MESIN PENEPUNG SINGKONG
RANCANG BANGUN BAGIAN RANGKA MESIN PENEPUNG SINGKONG PROYEK AKHIR Diajukan untuk memenuhi persyaratan guna Memperoleh gelar Ahli Madya (A.Md) Program Studi DIII Teknik Mesin Disusun oleh: HADIS SANJAYANTO
BAB III PERENCANAAN DAN PERHITUNGAN
BAB III PERENCANAAN DAN PERHITUNGAN 3.1. Diagram Alur Perencanaan Proses perencanaan pembuatan mesin pengupas serabut kelapa dapat dilihat pada diagram alur di bawah ini. Gambar 3.1. Diagram alur perencanaan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kajian Singkat Alat Alat pembuat mie merupakan alat yang berfungsi menekan campuran tepung, telur dan bahan-bahan pembuatan mie yang telah dicampur menjadi adonan basah kemudian
RANCANG BANGUN MESIN PEMECAH BIJI KEMIRI DENGAN SISTEM BENTUR
RANCANG BANGUN MESIN PEMECAH BIJI KEMIRI DENGAN SISTEM BENTUR Sumardi 1* Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Lhokseumawe Jl. Banda Aceh Medan Km. 280 Buketrata Lhokseumawe 24301 Email: [email protected]
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR 3.1 Flow Chart Pembuatan Mesin Pemotong Umbi Mulai Studi Literatur Perencanaan dan Desain Perhitungan Penentuan dan Pembelian Komponen Proses Pengerjaan Proses Perakitan
RANCANG BAGUN MESIN PENANAM PADI (BAGIAN PROSES PRODUKSI) PROYEK AKHIR
RANCANG BAGUN MESIN PENANAM PADI (BAGIAN PROSES PRODUKSI) PROYEK AKHIR Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ahli Madya Program Studi D-III Teknik Mesin Produksi Oleh : ARIS DWI PURNOMO
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. digunakan untuk mencacah akan menghasikan serpihan. Alat pencacah ini
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi Alat Pencacah plastik Alat pencacah plastik polipropelen ( PP ) merupakan suatu alat yang digunakan untuk mencacah akan menghasikan serpihan. Alat pencacah ini memiliki
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Poros Poros merupakan bagian yang terpenting dari suatu mesin. Hampir semua mesin meneruskan tenaga dan putarannya melalui poros. Setiap elemen mesin yang berputar, seperti roda
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR 3.1 Diagram Alir Proses Perancangan Berikut proses perancangan alat pencacah rumput gajah seperti terlihat pada diagram alir: Mulai Pengamatan dan Pengumpulan Perencanaan
BAB III PERENCAAN DAN GAMBAR
BAB III PERENCAAN DAN GAMBAR 3.1 Diagram Alur Perencanaan Proses perancangan alat pencacah rumput gajah seperti terlihat pada diagram alir berikut ini: Mulai Pengamatan dan Pengumpulan Perencanaan Menggambar
BAB IV PROSES PEMBUATAN DAN PENGUJIAN
BAB IV PROSES PEMBUATAN DAN PENGUJIAN 4.1 Proses Pengerjaan Proses pengerjaan adalah suatu tahap untuk membuat komponen-komponen pada mesin pengayak pasir. Komponen komponen yang akan dibuat adalah komponen
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR 3.1 Skema dan Prinsip Kerja Alat Prinsip kerja mesin spin coating adalah sumber tenaga motor listrik ditransmisikan ke poros hollow melalui pulley dan v-belt untuk mendapatkan
BAB II TEORI DASAR. BAB II. Teori Dasar
BAB II TEORI DASAR Perencanaan elemen mesin yang digunakan dalam peralatan pembuat minyak jarak pagar dihitung berdasarkan teori-teori yang diperoleh dibangku perkuliahan dan buku-buku literatur yang ada.
RANCANG BANGUN BAGIAN RANGKA PADA MESIN CHASSIS ENGGINE TEST BED
RANCANG BANGUN BAGIAN RANGKA PADA MESIN CHASSIS ENGGINE TEST BED PROYEK AKHIR Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ahli Madya Oleh: BOWO TRIYANTO NIM. I8612015 PROGRAM DIPLOMA TIGA
BAB IV PROSES PRODUKSI
BAB IV PROSES PRODUKSI 4.1 Proses Pengerjaan Proses pengerjaan adalah suatu tahap untuk membuat komponen-komponen pada mesin pemotong kerupuk rambak kulit. Pengerjaan paling dominan dalam pembuatan komponen
BAB IV PERENCANAAN PERANCANGAN
95 BAB IV PERENCANAAN PERANCANGAN 4.1 PERENCANAAN CUTTER 4.1.1 Gaya Pemotongan Bagian ini merupakan tempat terjadinya pemotongan asbes. Dalam hal ini yang menjadi perhatian adalah bagaimana agar asbes
PEMBUATAN ALAT PRAKTIKUM PERAWATAN KOMPRESOR TORAK GANDA
digilib.uns.ac.id PEMBUATAN ALAT PRAKTIKUM PERAWATAN KOMPRESOR TORAK GANDA PROYEK AKHIR Diajukan untuk memenuhi persyaratan guna memperoleh gelar Ahli Madya (A.Md) Program Studi DIII Teknik Mesin Disusun
RANCANG BANGUN BAGIAN TRANSMISI MESIN KATROL ELEKTRIK (PULI DAN SABUK)
RANCANG BANGUN BAGIAN TRANSMISI MESIN KATROL ELEKTRIK (PULI DAN SABUK) PROYEK AKHIR Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ahli Madya Disusun oleh : LAKSANA RAHADIAN SETIADI NIM. I8612030
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN Dari konsep yang telah dikembangkan, kemudian dilakukan perhitungan pada komponen komponen yang dianggap kritis sebagai berikut: Tiang penahan beban maksimum 100Kg, sambungan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Dasar-dasar Pemilihan Bahan Setiap perencanaan rancang bangun memerlukan pertimbanganpertimbangan bahan agar bahan yang digunakan sesuai dengan yang direncanakan. Hal-hal penting
IV. PENDEKATAN DESAIN
IV. PENDEKATAN DESAIN A. Kriteria Desain Alat pengupas kulit ari kacang tanah ini dirancang untuk memudahkan pengupasan kulit ari kacang tanah. Seperti yang telah diketahui sebelumnya bahwa proses pengupasan
c = b - 2x = ,75 = 7,5 mm A = luas penampang v-belt A = b c t = 82 mm 2 = 0, m 2
c = b - 2x = 13 2. 2,75 = 7,5 mm A = luas penampang v-belt A = b c t = mm mm = 82 mm 2 = 0,000082 m 2 g) Massa sabuk per meter. Massa belt per meter dihitung dengan rumus. M = area panjang density = 0,000082
