BAB II TINJAUAN PUSTAKA
|
|
|
- Teguh Budiman
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bisnis Retail Pemasaran ritel atau biasa disebut bisnis eceran dapat diartikan sebagai kegiatan menjual barang atau jasa kepada individu untuk keperluannya sendiri, keluarga atau rumah tangga. Menurut Handri Ma ruf (2005), para peritel menjual langsung barang atau jasa kepada konsumen. Tidak jauh berbeda dari pernyataan di atas, Kotler dan Amstrong (1999) juga mendefinisikan pemasaran retail sebagai semua kegiatan yang dilibatkan dalam penjualan barang atau jasa langsung ke konsumen akhir untuk penggunaan pribadi non-bisnis. Ritel merupakan mata rantai yang penting dalam proses distribusi barang dan merupakan mata rantai terakhir dalam suatu proses distribusi. Melalui ritel, suatu produk dapat bertemu langsung dengan penggunanya. Industri ritel didefinisikan sebagai industri yang menjual produk dan jasa pelayanan yang telah diberi nilai tambah untuk memenuhi kebutuhan pribadi, keluarga, kelompok atau pemakai akhir. Produk yang dijual adalah kebutuhan rumah tangga termasuk sembilan bahan pokok. Industri ritel di Indonesia saat ini semakin berkembang dengan semakin banyaknya pembangunan gerai-gerai baru di berbagai tempat. Kegairahan para pengusaha ritel untuk berlomba-lomba menanamkan investasi dalam pembangunan gerai-gerai baru tidaklah sulit untuk dipahami. Dengan 7
2 8 pertumbuhan ekonomi rata-rata diatas 3% sejak tahun 2000 dan menjadi alasan mereka bahwa ekonomi Indonesia bisa menguat kembali di masa mendatang Macam-Macam Gerai Retail Bisnis eceran atau retail dapat dibedakan dalam dua bentuk, yaitu retail dengan toko dan non-toko. Retail dengan toko atau toko eceran memiliki bermacam-macam bentuk, diantaranya adalah : 1. Toko khusus (specialty store) Toko ini menyediakan lini produk yang sempit dengan ragam barang yang cukup dalam untuk setiap lini. 2. Departement store Toko ini menjual beberapa lini produk. Biasanya pakaian, perabot rumah tangga, barang-barang rumah tangga dengan masing-masing lini dioperasikan sebagai suatu departemen yang terpisah yang dikelola oleh seorang bagian pembelian khusus. 3. Supermarket Toko dengan relatif besar berbiaya murah, bermarjin rendah, bervolume besar dan diciptakan untuk melayani berbagai kebutuhan konsumen. 4. Convenience store Toko dengan ukuran yang relatif kecil, berlokasi di daerah pemukiman, waktu operasional toko cukup lama dan menjual barang-barang yang perputarannya cukup tinggi namun dalam jumlah yang terbatas.
3 9 5. Superstore Toko yang ukurannya relatif besar yang ditujukan untuk memenuhi keseluruhan kebutuhan konsumen untuk bahan makanan dan bukan makanan. Termasuk di dalamnya supercenter, kombinasi supermarket dan toko diskon yang menyediakan barang-barang lintas jenis. Category killer dan hypermarket juga termasuk kategory superstore. 6. Toko diskon (discount store) Toko ini menjual barang dagangan standar dengan harga yang lebih rendah dengan menerima margin yang rendah dan menjual barang dengan jumlah yang banyak. Toko diskon yang sebenarnya menjual produk dengan harga rendah, sebagian menjual merek-merek nasional, bukan barang-barang inferior. 7. Retail off-price Toko yang menjual barang berkualitas tinggi. Barang yang dijual sering merupakan barang-barang sisa, stok lebih dan barang-barang yang produksinya kurang sempurna yang diperoleh dengan harga rendah dari harga standar dan menjualnya dengan harga yang lebih rendah dari toko eceran lainnya. 8. Factory Outlet Toko yang dimiliki oleh pabrik dan dijalankan oleh pabrik dan biasanya menjual barang-barang pabrik tersebut yang berlebih, tidak dilanjutkan produksinya atau barang-barang cacat. Biasanya harga yang ditawarkan tidak lebih dari lima puluh persen dibawah harga eceran.
4 Bauran Pemasaran Menurut Koetler, pemasaran adalah proses sosial dan manajerial yang dilakukan oleh sesorang atau kelompok untuk memperoleh yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan dan pertukaran produk dan nilai. Tujuan pemasaran harus berdasarkan keputusan sebelumnya mengenai pasar sasaran, penentuan posisi pasar dan bauran pemasaran, Pemasar menggunakan sejumlah peralatan untuk memperoleh tanggapan yang diinginkan target pasarnya. Peralatan tersebut adalah Bauran Pemasaran, McCarthy mengelompokkan bauran pemasaran tersebut dalam empat kelompok besar yang disingkat 4P, yaitu Produk, Price, Place dan Promotion (Suyanto, 2004: 16) Produk Produk terdiri dari ciri atau sifat, rancangan, pilihan, gaya, merek, dagang, kemasan, ukuran, pelayanan, jaminan, dan pengembalian, siklus hidup produk terdiri dari tahap perkenalan, tahap pertumbuhan, tahap dewasa, dan tahap penurunan. Produk dan pasar mempunyai siklus hidup yang menuntut perubahan strategi pemasaran sepanjang waktu. Setiap kebutuhan baru mengikuti siklus hidup permintaan yang menjalani tahap-tahap kebangkitan, pertumbuhan yang cepat, pertumbuhan yang makin lambat, kedewasaan dan penurunan Produk fisik atau berwujud membutuhkan kemasan agar tercipta manfaatmanfaat tertentu misalnya perlindungan, kemudahan, manfaat ekonomi dan promosi. Para pemasar sebaiknya mengembangkan suatu konsep pengemasan dan
5 11 kemudian mengujinya dari fungsi dan psikologi agar tercipa tujuan yang ingin diraih, serta sesuai dengan kebijaksanaan atau peraturan pemerintah. Kemasan harus menarik perhatian karena kemasan menggambarkan citra merek. Kemasan harus dapat memberikan informasi struktur produk, manfaat dan informasi tambahan sehingga mendorong konsumen untuk mencoba membeli mendorong untuk membeli ulang dan menyediakan cara pemakaian produk. Kemasan juga harus mempunyai daya tarik emosional (elegan, prestis, keceriaan, lucu, nostalgia dan sebagainya) Merek Setiap perusahaan hendaknya mengembangkan sendiri kebijakannya mengenai merek untuk suatu produk dalam lini yang sama. Merek merupakan kombinasi dari nama, kata dan simbol atau desain yang memberikan identitas produk, merek terdiri dari merek privat, merek perusahaan, merek khusus, merek lini dan merek kombinasi. Sehingga setiap perusahaan harus mengambil keputusan apakah produk perlu diberi merek privat (private brand), merek perusahaan (corporate brand), merek khusus (specific brand) atau merek kombinasi Harga Walaupun faktor-faktor bukan harga makin berperan penting dalam proses pemasaran modern, harga masih saja menjadi unsur yang penting dan sangat menantang dalam pasar yang ditandai dengan persaingan monopolistis atau
6 12 oligopoli. Di dalam proses penetapan harga jual suatu produk, perusahaan sering menerapkan strategi modifikasi terhadap harga dasarnya. Modifikasi pertama adalah harga per wilayah geografis, yang muncul karena masalah bagaimana menetapkan harga bagi konsumen yang letaknya jauh dari perusahaan penjual, Modifikasi kedua adalah potongan kuantitas, potongan fungsional, potongan musiman dan apa yang disebut dengan imbalan khusus, Modifikasi ketiga berupa harga promosi yang meliputi harga tumbal harga khusus dan potongan psikologis, Modifikasi keempat harga diskriminatif yaitu penetapan harga yang berbeda bagi konsumen yang bermacam-macam bentuk produk yang berbeda tempat yang berbeda dan waktu yang berbeda, Modifikasi kelima berupa menetapkan harga pada pembaruan produk asli yang dilindungi oleh hak paten untuk penerobosan pasar, Modifikasi terakhir terjadi pada bauran produk yang mencakup penetapan harga lini produk, produk opsional, produk yang saling menarik dan produk sampingan Promosi Promosi menurut Oesman meruapakan suatu komunikasi informasi penjual dan pembeli yang bertujuan untuk merubah sikap dan tingkah laku pembeli, yang sebelumnya tidak mengenal menjadi mengenal sehingga mejadi pembeli dan mengingat produk tersebut. sedangkan menurut Buchari promosi sejenis komunikasi yang memberi penjelasan dan meyakinkan calon konsumen mengenai barang dan jasa dengan tujuan untuk memperoleh perhatian, mendidik, mengingatkan dan meyakinkan calon konsumen. Promosi merupakan alat
7 13 komunikasi dan penyampaian pesan yang dilakukan baik oleh perusahaan maupun perantara dengan tujuan memberikan informasi mengenai produk yang bersifat memberitahu, membujuk, mengingatkan konsumen dan juga ada beberapa unsur yang disebut juga bauran promosi. Sehingga Philip Koetler menafsirkan bauran promosi meliputi Periklanan (advertising), Promosi Penjualan (sales promotion), Hubungan Masyarakat (public relation), Penjualan Personal (personal selling), Pemasaran Langsung (direct marketing) 2.3 Desain Layout Dekorasi Definisi Layout Layout merupakan tata letak yang dipakai untuk mengatur sebuah komposisi dalam sebuah desain, seperti huruf teks, garis, bidang, gambar, bentuk pada konteks tertentu (Susanto, 2011: 237). Melayout adalah salah satu proses atau tahapan kerja dalam desain, dapat dikatakan bahwa desain merupakan arsiteknya, sedangkan layout pekerjanya. Sehingga banyak orang mengatakan bahwa melayout itu sama dengan mendesain. Desain layout yang kita lihat di masa kini sebenarnya adalah hasil perjalanan dari proses eksplorasi kreatif manusia yang tiada henti dimasa lalu (Rustan, 2008: 1). Layout memiliki banyak sekali elemen yang mempunyai peran yang berbeda-beda dalam membangun keseluruham layout, untuk membuat layout yang optimal, berikut peran masingmasing elemen tersebut 1. Elemen Teks
8 14 Pada umumnya, semua karya desain grafis yang berfungsi sebagai media identitas misalnya kartu nama, kertas surat maupun media promosi seperti brosur, buku dan lain-lain yang dimana elemen teks ini meliputi: Judul, Deck, Bodytext, Subjudul, Caption dan lain sebagainya, karena suatu artikel biasanya diawali oleh beberapa kata singkat yang disebut judul, judul diberi ukuran besar untuk menarik perhatian pembaca dan membedakan dari elemen layout lainnya. Selain itu pemilihan font harus menarik perhatian, karena setiap huruf mempunyai dapat memberi kesan masing-masing. 2. Elemen Visual Yang termasuk dalam elemen visual adalah semua elemen bukan teks yang kelihatan dalam suatu layout. Karena bisa saja pada layout terkadang hanya ada elemen teksnya saja seperti dokumen-dokumen, kamus dan laini-lain tetapi juga sebaliknya ada yang menggunakan visual dan teks, elemen visual ini meliputi: foto, artwork, garis, kotak, infographic dan lainnya. Karena pada setiap elemen visual memiliki kesan aktual dan dapat dipercaya. Serta menyajikan informasi yang akurat, mengenai fakta-fakta dan data-data hasil dari penelitian. 3. Elemen Invisible Elemen ini merupakan elemen fondasi yang berfungsi sebagai acuan penempatan semua elemen layout, namun elemen ini nantinya tidak akan terlihat pada hasil produksi, tetapi elemen invisible ini akan bermanfaat sebagai salah satu pembentuk unity dari keseluruhan layout. Elemen ini terdiri dari margin dan grid yang memiliki fungsi masing-masing. Margin
9 15 menentukan jarak antara pinggir kertas dengan ruang yang akan ditempati oleh elemen-elemen layout, margin ini mencegah agar elemen ini tidak jauh ke pinggir halaman karena secara estetika kurang menguntungkan apalagi ketika dipercetakan agar terhindar dari potongan ketika sudah diproduksi. Grid sebagai alat bantu yang sangat bermanfaat dalam melayout untuk menentukan dimana kita harus meletakkan elemen layout yang mempertahankan konsistensi dan kesatuan layout, macam-macam jenis grid: coloumn grid, modular grid, manuscript grid, hierarchical grid. Coloumn grid bisa mengakomodir artikel atau rubrik yang berlainan dalam satu halaman. Modular grid berfungsi menambah estetika dan kerapihan pada desain layout secara keseluruhan. Manuscript grid jenis ini banyak ditemui pada buku-buku cerita fiksi, novel, company profile dan mannual report. Hierarchical grid jenis ini merupakan gabungan dari coloumn grid dan modular grid menyusun elemen-elemen yang mau ditonjolkan dengan penempatan yang lebih bebas jenis ini bisa dijumpai di web design Dekorasi Dekorasi berasal dari kata dalam bahasa inggris decorate yang berarti menghias sedangkan decoration disebutkan dalam sumber yang sama berati hiasan. (Echols, 2006: 169). Dari arti katanya, dapat diambil suatu pengertian bahwa dekorasi terkait dengan kegiatan hias-menghias atau suatu kegiatan yang bertujuan untuk memperindah sesuatu. Secara umum terkait dengan sesuatu yang menyangkut finishing (pengecatan, pelapisan), pengolahan permukaan, penataan
10 16 perabot dan pelapisan dinding, dekorasi merupakan elemen kunci dari sebuah desain interior atau ruang, dalam kegiatan perancangan dan mendesain ulang tata toko sesuai dengan konsep yang direncanakan atau dirancang. Seni dekorasi ini digunakan untuk menghias sesuatu agar tampak harmonis, yang termasuk seni dekorasi dua dimensi adalah 1. Motif hias Jenis hiasan yang digunakan sebagai hiasan-hiasan tertentu. Jenis-jenis bentuk motif hias antara lain adalah: a. Motif hiasan figuratif Contoh: manusia, benda-benda alam, fauna (alam binatang), benda-benda buatan manusia, flora (alam tumbuh-tumbuhan) Dalam penciptaan ragam hias ini dilakukan deportasi terhadap bentukbentuk asli dengan cara penyederhanaan dari motif aslinya, menstilir atau menggayakan, dan menggabungkan dengan bentuk lain sehingga menjadi motif baru. b. Motif hias non figuratif Motif yang menggambarkan sesuatu yang bebas. Seperti bentuk-bentuk lengkung, garis-garis lurus, goresan-goresan, titik-titik, bulatan-bulatan dan sebagainya. Selain jenis motif hias tersebut di atas masih banyak hal yang dapat di jadikan sebagai motif hiasan. Seperti pada benda-benda yang kita pakai sehari-hari. Contoh: hiasan yang terdapat pada piring, mangkok, teko, cangkir, taplak meja, kain, baju dan sebagainya.
11 Prinsip-Prinsip Desain Untuk menghasilkan desain yang berkualitas diperlukan pertimbanganpertimbangan yang cerdas dalam mengorganisasikan elemen-elemen grafis sesuai dengan prinsip-prinsip desain secara tepat dengan memperhatikan keterbatasan bahan. Untuk itulah diperlukan kreativitas untuk menghasilkan desain yang kreatif. Berikut ini adalah prinsip-prinsip desain menurut McElroy adalah: 1. Keseimbangan, artinya halaman atau penataan harus tampil seimbang dan harmonis. 2. Penekanan, memberikan pengertian bahwa tidak semua unsur grafis adalah sama pentingnya dan perhatian pembaca harus difokuskan pada titik fokus. 3. Irama, artinya pola yang diciptakan dengan mengulangi dan membuat variasi dari unsur grafis yang ada dan menggunakan ruangan diantaranya untuk memberikan kesan gerak. 4. Kesatuan, mengandung pengertian semua bagian dan unsur grafis bersatu padu dan serasi sehingga pembaca memahaminya sebagai suatu kesatuan, desain yang efektif menerangkan prinsip variasi dalam kontinuitas. 2.4 Visual Merchandise Visual Merchandising adalah sarana untuk menunjukkan barang yang akan kita jual dengan konsep yang terbaik untuk tujuan menarik konsumen agar terjadi transaksi perdagngan. Terkadang kita pernah jalan-jalan ke pusat perbelanjaan atau Mall, seringkali kita melihat karyawan atau karyawati sebuah counter sebuah toko itu hanya duduk termangu sendiri dan kelihatan membosankan karena tidak
12 18 adanya konsumen yang hanya sekedar melihat-lihat barang yang akan mereka jual. Hal ini bisa disebabkan oleh sistem penataan visual merchandising dan display yang tidak tertata dengan baik. Sehingga konsumen sendiri merasa bosan dan enggan untuk sekedar mampir apalagi untuk melihat-lihat. Visual Merchandising juga sudah mulai digunakan sebagai media untuk menawarkan produk. Definisi menurut Deina Nurrakhmah seorang perancangan visual merchandising Sanabel Comp. jakarta Merchandising dalam arti harfiah berarti perdagangan. Bila dikaitkan dengan bidang desain komunikasi visual, merchandising mengarah pada visual merchandising dan memiliki definisi singkat sebagai metode display produk. Visual Merchandising adalah menciptakan pemajangan visual dan mengatur berbagai macam barang dalam toko atau ruang untuk meningkatkan kesan tata ruang dan mempresentasikan barang tersebut sehingga meningkatkan perdagangan dan penjualan. Selain ini itu definisi visual merchandising menurut S.Parman seorang konseptor total mikro merchandising dalam situsnya Merchandising berasal dari kata merchandise berarti barang yang diperdagangkan, dengan demikian merchandise dapat didefinisikan sebagai seni dan ilmu pengelolaan merchandise sehingga dalam distribusi merchandise tersebut tercapai, produk yang tepat, waktu yang tepat, tempat yang tepat, harga yang tepat, kualitas dan kuantitas yang tepat.
13 19 Gambar 2.1 Visual Merchandising Sumber: Ada beberapa tujuan utama dari visual merchandising dan display yakni: Sebagai tempat promosi untuk menunjukkan isi dan image toko. Memperkenalkan trend barang saat ini. Untuk menunjukkan harga dalam kisaran. Untuk menunjukkan tingkat tau golongan orang. Dalam hal ini cakupan pada visual merchandising dan display adalah: Menjual dengan memperlihatkan barang dan promosi. Memperkenalkan dan menjelaskan barang baru. Untuk menjawab pertanyaan dan pemakaian barang yang akan diperdagangkan dan aksesoris dalam trend fashion. Untuk menarik konsumen ke dalam toko. Untuk membuat konsumen berhenti sejenak walau hanya sekedar melihatlihat barang yang ada dalam display.
14 20 Untuk menunjukkan, promosi dan memperlihatkan visual image toko Teknik-Teknik Visual Merchandising Forward facing memajukan atau mendorong posisi produk dari dalam rak display ke bagian depan atau ke posisi terdepan dari rak, ini dilakukan agar produk terlihat tidak kosong, walaupun kedalaman stoknya telah berkurang. Front facing membalikkan posisi label produk bagian belakang ke posisi mengahadap ke depan. Label produk bagian depan tampil menghadap ke depan, sedangkan label produk bagian belakang menghadap ke belakang. Grouping adalah teknik merchandising dalam melakukan pengelompokan suatu produk. Produk dapat dikelompokkan berdasarkan kategori produk, pasangan produk, jenis produk, ukuran produk, jenis kemasan produk, pasangan produk, kode warna, segmentasi harga dan yang lainnya. Type Grouping pengelompokan produk berdasarkan tipe produk. Misalnya Men, Youth Boy, Children, Girl, Bag dan lain-lain guna memudahkan customer memilih dan memilah barang yang akan di beli. Pair Grouping pengelompokan berdasarkan pasangan produk misalnya pakaian dengan celana ataupun, teknik ini berfungsi untuk memfokuskan customer dalam memilih brand yang diinginkan. Position merupakan teknik dengan memperhatikan faktor posisi ketinggian suatu tempat display, teknik ini guna mengatur posisi jarak barang yang akan di display karena dapat mempengaruhi tingkat selling produk.
15 21 Pattern merupakan upaya menciptakan pola display. Pola display ini harus direncanakan baik pada regular shelf, end gondola maupun special display antara lain jumlah kapasitas facing yang tersedia, produk yang ditonjolkan tingkat selling out, merek produk, jenis ukuran produk, aktivitas promosi dan tingkat profitabilitas produk. Penyusunan pola display ini dapat dilakukan secara manual dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang disebutkan sebelumnya, ataupun dilakukan secara computerized dengan program space management (pembuatan planogram). Space management yang umumnya telah diterapkan di modern retail outlet ini sangat mempermudah, mempercepat pembuatan pola merchandising yang lebih akurat dan lebih efektif. Hanya menginput data mengenai selling out produk berbagai merek, ukuran dimensi produk, profitabilitas produk, dengan sendirinya komputer akan mengolah data tersebut menjadi planogram. Penyusunan pola merchandising yang baik dan tepat tentunya akan memaksimalkan peningkatan selling out dan profitabilitas bagi perusahaan maupun retail outlet. Ada dua macam pola display: Pola display vertikal (satu jenis produk atau satu brand disusun mengikuti pola vertikal atau memanjang kebawah) pola ini bisa diaplikasikan baik di end gondola, regular shelfing maupun special display. Pola display horizontal (satu jenis produk atau satu brand disusun mmengikuti pola horizontal atau melebar ke samping) pola ini bisa diaplikasikan baik di end gondola, regular shelfing maupun special display.
16 22 Gambar 2.2 Teknik-Teknik Visual Merchandising Sumber: Dokumentasi Penulis Gambar 2.3 Teknik-Teknik Visual Merchandising Sumber: Dokumentasi Penulis
17 Elemen Desain Visual Merchandising Setiap elemen desain grafis mempunyai sifat yang berbeda. Masingmasing sifat dari elemen perlu dipelajari sehingga untuk menggabungkang sekian banyak elemen menjadi bentuk yang serasi diperlukan pemahaman sifat atas setiap eleman menurut pujiriyanto (2005: 87), elemen-elemen tersebut antara lain: 1. Garis, suatu elemen desain grafis yang terdiri dari unsur titik yang memiliki peran untuk mendukung keindahan, keseimbangan, dan harmoni. Setiap bentuk garis yang berbeda memiliki karakter yang berbeda. 2. Bentuk, merupakan suatu wujud yang menempati ruang yang biasanya mempunyai dimensi dua atau tiga. Suatu bentuk dapat dibuat beraturan atau sebaliknya. 3. Tekstur, merupakan keadaan atau gambaran yang menyangkut sifat dan kualitas fisik permukaan suatu benda, seperti kusam, mengkilap, kasar, halus yang dapat diaplikasikan ke dalam desain. 4. Ruang, merupakan sesuatu yang terkait dengan tingkat kedalaman sehingga memberikan kesan jauh, dekat, tinggi dan rendah. Hubungan antar ruang merupakan bagian dari perencanaan desain, apakah berupa jarak antar huruf atau huruf dengan gambar Seni dari Visual Merchandising Sektor ritel saat ini penuh sesak karena banyaknya pemain baru yang masuk per harinya. Keadaan tersebut sebetulnya tidak membuat pasar menjadi lebih besar, melainkan pasar dituntut untuk lebih cerdas atau smart. Maklum.
18 24 umumnya konsumen sudah lebih sadar akan hal-hal yang baru..konsumen yang loyal misal terhadap satu toko saat ini terbilang sudah tidak ada lagi. Kostumer harus dibujuk, diterima dengan ramah, dijamu dan dilayani agar mau datang ke toko. Lebih dari itu, yang dbutuhkan dan sedang menjadi tren saat ini adalah toko yang unik dan terbilang menpunyai ciri lain dari yang lain (Visual Merchandising). Konsep ini sedang banyak peminatnya dan tergolong mampu menyedot perhatian banyak pengunjung. Visual Merchandising adalah kombinasi tanpa batas dari beberapa element seperti warna, tekstur, aroma, pencahayaan, rhytym dan konsep tata suara. Visual Merchandising adalah presentasi dari sebuah barang yang baik. Visual Merchandising merupakan titik pusat warna, aksesoris dan mempunyai sifat menjelaskan. Visual Merchandising saat ini tidak lagi hanya sekedar bagaimana membuat barang agar terlihat atraktif untuk kostumer. Lebih dari itu harus mempu menjual melalui suatu media yang bisa dilihat (visual). Visual Merchandising juga merupakan suatu cara bagi ritel untuk berkata dan mewakili mereka. Jadi maknanya lebih dari sekedar mempertunjukkan barang melainkan tujuan akhirnya adalah bagaimana agar barang tersebut laku dijual. Display harusnya bisa sangat menggoda pembelanja uutuk membelinya. Display adalah alah satu penarik perhatian seperti halnya sebuah gambar.display tujuannya adalah untuk memperoleh perhatian pembelanja lewat image dan gaya.
19 25 Sehingga pembelanja diharapkan membuat suatu statement dengan barang tersebut Agar Visual Merchandising Efektif 1. Colour Colour atau Warna adalah sangat efektif bagi sebuah display. Diibaratkan seperti jiwa dalam sebuah badan. Display yang mempunyai warna dan terkoordinir dengan baik akan membuat sesuatu yang lain bagi barang dagangan. Skema warna bisa dibuat silih bergati, mulai dari monokrmatik, anologous, komplementer dan ke netral. 2. Repetition Repetition adalah sebuah tema atau sebuah konsep yang mampu memberikan dampak kepada barang dagangan agar terlihat menarik. 3. Scale Adalah suatu ukuran yang terhubung secara abnormal atau yang kerap berubah sekejap/saat tertentu untuk mencuri perhatian pengunjung 4. Contrast Contrast dapat diciptakan dengan bantuan pencahayaan dan warna untuk menarik mata pengunjung 5. Humour, surprise and shick Element ini bersifar lucu dan sangat surelasistik. Shock atau yang sifatnya goncangan penggunaanya harus berhati-hati dan tidak boleh sembarangan, agar tidak menyinggung dan mengganggu pengunjung atau penonton.
20 26 6. Rhytym and motion Rhytym and motion adalah sesuatu yang selalu berpindah, bergerak sesuai kehendak atau bahkan juga bersifat statis untuk mencoba menarik perhaian penonton. Rhytym yang bergeraknya diam-diam dan dipajang langsung di produk yang dipertunjukkan biasanya mampu menarik mata pengunjung terhadap produk tersebut. 7. Aroma Kita pada umumnya mempunyai pengalaman berhubungan dengan aroma yang berbeda dan bervariasi dari individu ke yang individu. Menghirup bau harum seakan-akan berada di dunia yang lain dan terasa membuat selalu rindu untuk kembali, segar, romantis dan trendy. 8. Props and lighting Penyangga dan pencahayaan yang baik dan efektif biasanya akan memancing ingin tahu penonton terhadap apa yang ada di display. Cahaya dapat menarik perhatian dan mengajak mata penonton untuk melihat produk yang terdapat di display. 2.6 Prinsip-Prinsip Desain Untuk menghasilkan desain yang berkualitas diperlukan pertimbanganpertimbangan yang cerdas dalam mengorganisasikan elemen-elemen grafis sesuai dengan prinsip-prinsip desain secara tepat dengan memperhatikan keterbatasan bahan. Untuk itulah diperlukan kreativitas untuk menghasilkan desain yang kreatif. Berikut ini adalah prinsip-prinsip desain menurut McElroy adalah:
21 27 1. Keseimbangan, artinya halaman atau penataan harus tampil seimbang dan harmonis. 2. Penekanan, memberikan pengertian bahwa tidak semua unsur grafis adalah sama pentingnya dan perhatian pembaca harus difokuskan pada titik fokus. 3. Irama, artinya pola yang diciptakan dengan mengulangi dan membuat variasi dari unsur grafis yang ada dan menggunakan ruangan diantaranya untuk memberikan kesan gerak. 4. Kesatuan, mengandung pengertian semua bagian dan unsur grafis bersatu padu dan serasi sehingga pembaca memahaminya sebagai suatu kesatuan, desain yang efektif menerangkan prinsip variasi dalam kontinuitas. Setelah mengetahui prinsip-prinsip desain grafis dalam proses pembuatan visual merchandising, terdapat juga langkah atau tahapan yang harus dilakukan untuk membuat visual merchandising Layout Layout merupakan tata letak yang dipakai untuk mengatur sebuah komposisi dalam sebuah desain, seperti huruf teks, garis, bidang, gambar, bentuk pada konteks tertentu (Susanto, 2011: 237). Melayout adalah salah satu proses atau tahapan kerja dalam desain, dapat dikatakan bahwa desain merupakan arsiteknya, sedangkan layout pekerjanya. Sehingga banyak orang mengatakan bahwa melayout itu sama dengan mendesain. Desain layout yang kita lihat di masa kini sebenarnya adalah hasil perjalanan dari proses eksplorasi kreatif manusia yang tiada henti dimasa lalu (Rustan, 2008: 1).
22 28 Layout pada perancangan desain pesta bola meliputi berbagai aspek dalam layout ini mulai bentukan, warna, proporsi, keseimbangan, irama dan lain sebagainya setelah proses produksi desain yang dibuat dan direncanakan dengan tema tujuannya untuk mengetahui bahwa layout ini nantinya layak jual tidak atau bisanya sering disebut dalam bidang retail toko adalah meningkat atau tidak penjualan produk di toko Point of Interest Teknik ini biasanya dilakukan pada teknik fotografi tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa point of interest ini bisa digunakan dalam desain layout tema Ramadhan, teknik ini akan menarik pengunjung untuk karena bersifat menarik perhatian untuk dipandang, teknik ini menonjolkan gambar atau bentuk atau sebuah titik focus tanpa menggunakan teknik ini orang akan dengan mudahnya mengabaikan gambar atau bentuk yang ditampilkan. Maka dalam perancangan desain layout Ramadhan nanti akan menciptakan bentukan-bentuk sebagai hiasan selain itu untuk menonjolkan point of interest ditampilkan mannequin yang memakai busana muslim karena menyesuaikan tema yang sedang berlangsung nanti ditampilkan juga hiasanhiasan khas Ramadhan. Untuk mendukung tampilan yang ada di beberapa area tersebut meliputi show window, center point dan lain sebagainya.
23 Warna Menurut Darmaprawira warna untuk pakaian harus diatur seimbang dengan pembagian badan pemakaiannya, kesan warna untuk pakaian akan baik dan menyenangkan bila warna cocok bagi orang yang memakainya, cocok suasananya dan cocok situasinya. Penekanan atau aksen warna untuk pakaian bisa dilakukan apabila ingin menonjolkan salah satu bagian dari bajunya yang paling menarik. Selain itu keselarasan warna pada desain pakaian bergantung kepada hubungannya dengan prinsip lain sehingga akan merupaka kesatuan dengan seluruh kostum (Darmaprawira, 2002: 146). Maka yang digunakan dalam perancangan desain layout Ramadhan ini lebih kepada warna pakaian yang ditonjolkan, dimana warna yang dipakai oleh mannequin (patung manusia) menampilkan warna-warna dasar serta pastel khas Ramadhan untuk memberi kesan bahwa toko ini juga berpartisipasi dalam peringatan, persiapan, dan menyambut hari raya bulan suci Ramadhan, selain itu elemen-elemen yang ditampilkan juga warna yang berkaitan dengan Ramadhan seperti kuning emas, oranye, hijau dan lainnya tentunya hati-hati dalam menampilkan warna karena warna-warna ini cenderung bertabrakan sehingga digunakan dan dikombinasikan dengan sebaik-baiknya.
24 30 Gambar 2.4 Warna Pada Tema Ramadhan Proporsi Proporsi disini adanya hubungan yang proporsional antara satu bagian dengan bagian lainnya dalam menyusun suatu desain, nantinya dalam penciptaan sebuah elemen atau desain harus memperhatikan proporsi ukuran suatu bidang atau obyek misalnya dalam sketsa gambar maupun desain layout yang sudah di tata sehingga tidak terjadi berat sebelah, berat sebelah disini bidang yang ditata tersebut mempengaruhi arah pandang dari konsumen atau pengunjung sehingga konsumen membeli produk tersebut. dalam membagi suatu bidang menjadi dua bagian yang sama, hendakya pusat perhatian tidak diletakkan ditengah-tengah, tetapi agak digeser ke tepi, yang dimaksudkan disini adalah mannequin yang mengenakan produk toko, mannequin juga mewakili produk display dengan produk yang ada didalam toko Kesatuan Kesatuan disini dijelaskan bahwa suatu karya seni terdiri dari unsur-unsur yang membentuknya, dalam suatu desain terdiri dari garis, bidang, warna dan
25 31 tekstur, setiap unsur akan saling mendukung unsur lainnya, saling melengkapi dan saling mengisi bentuk suatu kesatuan dalam mendesain layout, karena suatu desain layout dapat tampil secara menarik sehingga bila nanti diaplikasikan ke show window, center point maupun yang lainnya bentukan bidang berkaitan dengan tema yang sedang berlangsung misalnya dalam elemen-elemen atau bentukan seperti kubah yang terbuat dari sterofoam, lalu lampu lentera yang diletakan sebagai pemanis di lantai show window, ornamen-ornamen khas Ramadhan yang digantung, pelengkap lain seperti sofa serta background yang bermotif ornament khas Ramadhan. Gambar 2.5 Simbol Kesatuan
26 Keseimbangan Keseimbangan dalam perancangan desain layout ini yang juga perlu diperhatikan adalah kepekaan estetis dan keseimbangan dari unsur-unsur desain, sehingga unsur-unsur yang berbeda pun dapat dipertentangkan dan akan menghasilkan keseimbangan yang baik karena setiap unsur itu dapat mengungkapkan maksud yang sama denga tema yang sedang dirancang misalnya dalam perancangan desain layout ini terkesan elegan, secara teknis prinsip keseimbangan dapat dicapai dengan berbagai kemungkinan pertma simetri, merupakan prinsip keseimbangan yang paling sederhana, yaitu kesamaan bentuk, rupa maupun jarak yang persis sama antara bagian yang satu dengan yang lainnya. Asimetri, merupakan prinsip keseimbangan yang agak kompleks dan memerlukan kepekaan estetis untuk memahaminya, keseimbangan asimetris ini dapat terjadi karena bentuk, warna dan sebagainya. Keseimbangan karena kesan tertentu adalah prinsip keseimbangan yang lebih kompleks lagi pemahamannya mutlak memerlukan kepekaan estetis yang baik. Keseimbangan ini dapat dicapai dengan memperbandingkan kesan tertentu yang dihasilkan oleh garis, bidang, tekstur dan sebagainya. Gambar 2.7 Contoh Keseimbangan Warna dan Bentuk
27 33 Gambar 2.8 Keseimbangan Simetri dan Asimetri Irama Dalam perancangan layout desain pesta bola, khususnya dalam suatu desain pada umumnya, irama dibentuk melalui pengulangan (repetition) dan gerakana (movement) dari unsur-unsur desain yang bersifat visual misalnya gambar atau bentu yang sama pada jarak tertentu secara teratur, ada juga pengulangan warna dan bentuk pada kain batik misalnya, karena irama memegang peranan yang cukup penting alam komposisi suatu karya seni, karena keberhasilan penyajian irama secara baik akan menjadikan karya seni tersebut hidup sebaliknya dalam menyajikan irama akan menyebabkan karya seni tersebut monoton dan cepat membosankan.
28 34 Gambar 2.9 Irama Gambar atau Bentuk Dengan Pengulangan Sumber: Dokumentasi Olahan Penulis 2.7 Proses Tahapan Visual Merchandising Proses ini merupakan perumusan dan penulisan dari pesan visual yang akan disampaikan serta ditampilkan melalui karya desain grafis. Dalam tahap ini seorang desainer biasanya melakukan tiga tahap menurut Kusrianto (2007: 72) yaitu: 1. Sketch (thumbnails) Merupakan pembuatan hasil akhir dari karya desain yang dilakukan dengan cara mencorat-coret seperti yang ada dipikiran secara kasar. Biasanya karya desain dalam bentuk ini di buat kecil sebagai miniatur dari hasil akhir. 2. Rough
29 35 Merupakan perbaikan dari thumbnail. Pada tahap ini, semua elemen-elemen desain grafis dibuat serupa walaupun tidak sama persis. Baik ilustrasi maupun gambar, warna yang digunakan, jenis, corak dan ukuran huruf cetak yang akan ditempatkan mewakili hasil akhir yang akan dicetak. Kadang-kadang rough juga dibuat beberapa buah untuk dijadikan alternatif komperehensif. Pada tahap ini dperlukan kemampuan untuk dapat menuliskan jenis huruf cetak yang dipilih. Kemampuan itu digunakan pada pembuatan judul yang harus dibuat mirip dengan jenis huruf cetak yang akan dipilih. 3. Komperehensif Berdasarkan rough maka dibuatlah desain komperehensif sudah lama denga apa yang akan diproduksi nanti. 2.8 Unsur-Unsur Visual Merchandise Daya tarik visual mengacu pada penampilan visual merchandising yang mencakup unsur-unsur grafis antara lain warna, bentuk, merek, ilustrasi, huruf dan tat letak. Semua unsur-unsur grafis tersebut dikombinasikan untuk menciptakan sesuatu kesan yang memberi daya tarik secara optimal. Daya tarik visual sendiri berhubungan dengan faktor emosi dan psikologis yang terletak pada pikiran bawah sadar manusia. Desain yang baik harus mampu mempengaruhi konsumen untuk memberikan respon positif tanpa disadarinya. Sering terjadi konsumen membeli produk yang tidak lebih baik dibanding produk yang lain walaupun harga lebih mahal. Dalam hal ini dapat dipastikan bahwa terdapat daya tarik tertentu yang mempengaruhi konsumen tanpa disadarinya antara lain:
30 36 1. Warna Konsumen melihat warna jauh lebih cepat daripada melihat bentu atau rupa. Warnalah yang akan pertaman kali menarik perhatian. Pada dasarnya warna adalah suatu mutu cahaya yang dipantulkan deri sebuah objek semata sehingga dapat mengubah persepsi manusia. Warna dibagi menjadi kategori, terang (muda), sedang, gelap. Warna dengan daya pantul tinggi akan lebih terlihat dari jarak jauh karena memiliki daya tarik dan dampak yang lebih besar. Selain unsur keterlihatan, dipertimbagkan juga faktor kekontrasan terhadap warna-warna pendukung lainnya. 2. Ilustrasi Merupakan salah satu unsur penting yang sering digunakan dalam komunikasi sebuah desain karena dianggap bahasa universal yang dapat menembus rintangan yang ditimbulkan oleh perbedaan bahasa kata-kata ilustrasi, termasuk fotografi dapat mengungkapkan suatu hal secara lebih efektif dari pada teks. 3. Tipografi Teks pada desain visual merchandising merupakan pesan kata-kata, digunakan untuk menjelaskan produk yang ditawarkan sekaligus mengarahkan sedemikian rupa agar konsumen bersikap dan bertindak sesuai dengan marketing obyektif.
31 37 4. Tata Letak Adalah meramu semua unsur grafis, meliputi warna, ilustrasi, dan tipografi menjadi suatu kesatuan yang disusun dan ditempatkan pada desain visual merchandising yang utuh dan terpadu. Gambar 2.10 Unsur-Unsur Visual Merchandise Sumber: Dokumentasi Olahan Penulis Gambar 2.11 Unsur-Unsur Visual Merchandise Sumber:
32 38 Gambar 2.12 Unsur-Unsur Visual Merchandise Sumber: Sales Promotion Jenis-Jenis Sales Promotion Point of purchase display di counter, lantai atau jendela display yang memungkinkan para peritel mengingatkan para pelanggan dan menstimulasi belanja impulsif. Kadangkala display disiapkan oleh para pemasok atau produsen. Kontes, para pelanggan berkompetisi untuk memperebutkan hadiah yang disediakan dengan cara memenangkan permainan (game). Kupon, peritel mengiklankan diskon khusus bagi para pembeli yang memanfaatkan kupon yang diiklankan (biasanya dalam koran, tapi juga bisa dari tempat yang disediakan dalam konter belanja). Para pembeli kemudian membawa kupon itu untuk dipakai berbelanja di gerai ritel yang bersangkutan dan mendapatkan diskon.
33 39 Frequent shopper program, program pelanggan setia jadi para pelanggan diberi poin atau diskon berdasarkan banyaknya belanja mereka. Jika dalam bentuk poin, poin itu dikumpulkan hingga mencapai jumlah tertentu yang kemudian dapat ditukarkan dengan barang. Hadiah langsung, hampir sama dengan frequent shopper program yang berupa poin, yaitu jumlah belanja menjadi faktor untuk memperoleh hadiah. Bedanya adalah hadiah diberikan langsung tanpa menunggu jumlah poin tertentu. Samples, adalah contoh produk yang diberikan secara cuma-cuma yang tujuannya adalah memberikan gambaran baik dalam manfaat, rupa ataupun dari produk yang dipromosikan. Jika berupa makanan, contoh diberikan dalam potongan-potongan kecil untuk sekali suap yang diberikan dalam gerai. Jika berupa barang keperluan pribadi seperti sampo, maka contoh dibuatkan dalam sachet kecil sekali pakai dan dibagikan kepada orang-orang baik dalam suatu gerai atau di tempat yang menjadi pusat keramaian orang. Demonstrasi, tujuan demonstrasi sama dengan tujuan sample, yaitu memberikan gambaran atau contoh dari produk atau jasa yang dijual. Jika produk berupa alat masak, demonstrasinya adalah peragaan cara menggunakan alat itu di depan suatu audience. Special event, untuk bisnis retail, acara khusus adalah alat sales promotion yang berupa fashion show, kegiatan dalam hiburan itu semua menyesuaikan tema yang sedang berlangsung karena sebuah konsep dari tema yang sedang berlangsung itu juga mempengaruhi konsumen untuk datang ke toko.
34 40 Show Window, jendela atau tampilan yang ada pada bagian depan toko yang dapat dilihat orang saat melewati toko, biasanya untuk memamerkan barang dagangan yang akan dijual di dalam toko tersebut (Dictionary, 2006). Menurut Raikuyo show window yang ada pada department store mewakili pandangan dari masyarakat terhadap suatu toko. Materi ungkapan seni dari bingkai show window memberitahukan betapa pihak manajemen toko mengakui fungsi dan posisi tempat show window di dalam strategi manajemen toko. Window display atau peragaan barang di jendela toko pada setiap show window, mannequin atau patung peragaan mempunyai daya tarik, bercerita, komposisi, berkumpul, menggunakan props berupa barang dagangan membuat pengunjung berhenti sejenak, melihat dan tertarik untuk masuk ke dalam toko. Gambar 2.13 Layout Dekorasi Show Window Sumber: Dokumentasi olahan penulis
35 Bulan Ramadhan Final Piala Dunia, pesta demokrasi Indonesia, dan hari raya Idul Fitri 1435 H merupakan tiga event yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Indonesia pada Juli lalu. Event pertama adalah Piala dunia yang berlangsung selama satu bulan. Event yang diadakan setiap empat tahun ini menyedot perhatian seluruh dunia. Terlihat antusiasme masyarakat Indonesia dan masyarakat seluruh dunia mengikuti setia setiap pertandingan dalam Piala Dunia 2014 yang berlangsung di Brasil. Jika kita perhatikan, perilaku masyarakat ini dimanfaatkan dengan baik oleh pemilik usaha kafe maupun produsen yang menyajikan hiburan nonton bareng Piala Dunia. Sementara perusahaan lain seperti produsen makanan dan minuman, memanfaatkan musim Piala Dunia dengan berbagai promo hadiah. Event penting kedua bagi masyarakat Indonesia yaitu Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden periode tahun , yang berlangsung 9 Juli lalu. Dalam Pilpres kali ini hanya ada dua calon presiden dan wakil presiden, yaitu Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Gejolak antusiasme dan persaingan antara kedua kubu pendukung sangat terasa di tengah masyarakat. Hasil Pilpres menandakan perubahan perilaku masyarakat, generasi saat ini semakin kritis mengenai masa depan mereka. Dihadapkan pada dua pilihan besar yang akan menentukan nasib bangsa Indonesia, masyarakat mulai menelaah sepak terjang kedua capres dan cawapres, baik dalam bidang hukum, politik, ekonomi, kesejahteraan rakyat, serta prestasi-prestasi yang pernah mereka ukir.
36 42 Melalui media debat capres dan cawapres di televisi, masyarakat kembali diajak untuk melihat dan mempertimbangkan pilihannya. Event penting ketiga yang ditunggu-tunggu mayoritas masyarakat Indonesia adalah hari raya Idul Fitri 1435 Hijriah. Sebelum merayakan Lebaran yang jatuh pada akhir Juli 2014, pemeluk agama Islam di Indonesia melaksanakan ibadah puasa pada bulan Ramadhan selama satu bulan. Ramadhan merupakan saat yang paling dinanti oleh umat muslim di dunia dan mempengaruhi perilaku masyarakat secara individu maupun sosial Perilaku Konsumen di Bulan Ramadhan Mayoritas konsumen Indonesia akan menjalankan ibadah puasa selama bulan suci Ramadan. Tapi, itu tidak berarti mereka akan berbelanja lebih sedikit makanan dan minuman. Data Nielsen Homepanel menunjukkan bahwa selama bulan puasa pada tahun 2010, justru belanja yang dilakukan oleh konsumen kelas bawah meningkat 30% pada setiap kunjungan mereka selama bulan puasa dibandingkan pada bulan-bulan biasa. Kenaikan juga terjadi pada konsumen kelas menengah (16%) dan kelas atas (13%). Produsen akan mengalami pertumbuhan yang sehat pada nilai penjualan barang konsumen karena bulan puasa selalu mendorong konsumen untuk berbelanja lebih banyak. Nielsen Retail Audit mencatat pertumbuhan 9,2% pada penjualan barang konsumen di bulan Ramadan 2010 dibandingkan tahun 2009, pertumbuhan yang sedikit lebih cepat, dibandingkan 7,7% pada tahun 2009, kata Venu Madhav, Executive Director Client Leadership Nielsen Indonesia.
37 43 Pertumbuhan penjualan barang konsumen selama bulan Ramadan tahun 2010 didorong oleh peningkatan pengeluaran rumah tangga kelas menengah. Data Nielsen menunjukkan bahwa pengeluaran kelas menengah selama bulan puasa tahun 2009 meningkat 3,7% jika dibandingkan pengeluaran tahun Tetapi tahun lalu, Nielsen mencatat pertumbuhan sebanyak 13% dari belanja tahun 2009 mencapai Rp per rumah tangga selama bulan Agustus dan September Apa yang konsumen beli (lebih) selama bulan meriah umat Islam? Bulan Ramadan adalah momen yang paling ditunggu-tunggu oleh seluruh umat Muslim di dunia. Hari besar perayaan ini kerap ditandai dengan meningkatnya konsumsi belanja konsumen, khususnya untuk makanan. Untuk konsumen Indonesia, bulan Ramadan berarti saatnya untuk menghibur dan menjalin hubungan baik dengan teman, atau lebih dikenal sebagai silaturahmi. Karena tradisi tersebut, beberapa kategori seperti biskuit, soft drink, margarin, dan sirop mengalami pertumbuhan yang kuat selama periode ini, ujar Madhav. Berikut adalah jenis produk makanan FMCG (fast moving consumer goods) dari berbagai kategori utama di bulan puasa. Yang pertama adalah biskuit assorted yang digunakan sebagai hadiah untuk orang lain dan juga sebagai kudapan untuk menyambut tamu selama waktu berbuka puasa dan acara silaturahmi. Untuk kategori biskuit, kenaikan nilai penjualannya sebesar 11 kali lebih banyak selama bulan Ramadan pada tahun 2010 dibanding dengan bulanbulan biasa. Nielsen Homepanel menunjukkan bahwa lebih banyak konsumen
38 44 membeli produk ini dengan penetrasi mencapai 11% selama bulan Ramadan, dibandingkan 0,7% penetrasi di bulan biasa. Kenaikan juga terjadi di kategori wafer, yakni mengalami pertumbuhan sebesar 25% yang didorong oleh peningkatan volume pembeli. Kategori soft drink juga mengalami pertumbuhan penjualan yang pesat, terlihat jelas dengan adanya kenaikan penjualan pada minuman kemasan botol plastik besar sejumlah tiga kali lipat selama bulan puasa. Penjualan minuman ringan ini didorong oleh peningkatan penetrasi dan pembelian dari kelas atas dan menengah. Lain halnya dengan penjualan margarin dan sirop yang pada bulan puasa tahun 2010 lalu mengalami pertumbuhan yang lebih lambat jika dibandingkan kategori lain. Data Nielsen menunjukkan bahwa dibanding dengan bulan puasa pada tahun 2009, kedua kategori di atas hanya tumbuh satu digit: margarin (7%) dan sirop (1%). Menariknya, penjualan sebelum bulan puasa (Januari Agustus 2009 vs 2010) tumbuh 36% untuk margarin dan 37% untuk sirop. Hal ini mengindikasikan bahwa konsumen membeli barang-barang sebelum bulan puasa baik untuk persediaan atau untuk persiapan pada masa puasa. Sementara, kategori non-fmcg yang mengalami pertumbuhan selama bulan puasa adalah pakaian dan peralatan elektronik. Analisis Nielsen menunjukkan bahwa kedua kategori mengalami pertumbuhan dua digit, masingmasing mencapai angka 15.9% dan 17.11% pada bulan puasa tahun 2010.
39 45 Sebagian besar konsumen membeli produk untuk hadiah dan menghibur orang lain. Mereka juga membeli produk yang lebih nyaman dan memudahkan diri mereka sendiri. Nielsen melihat peningkatan penjualan makanan beku selama bulan puasa. Kategori seperti sosis dan bakso (+34%), ikan kalengan dan daging (119%), dan nugget (+49%) juga mengalami pertumbuhan selama bulan Ramadan. Produk-produk ini membantu konsumen dalam menyiapkan makanan yang cepat disajikan, terutama saat sahur dan waktu lain ketika pembantu rumah tangga tidak ada atau pulang kampung, kata Madhav. Dari hasil survei yang didapat, konsumen kelas menengah dan bawah merayakan bulan puasa dengan membeli lebih banyak produk FMCG, sementara konsumen kelas atas membelanjakan uang mereka lebih banyak untuk pakaian dan peralatan rumah. Penjualan peralatan rumah tangga selama bulan puasa 2010 meningkat sebesar 25% dibandingkan bulan biasa, lanjut Madhav. Gambar 2.14 Masyarakat di Bulan Ramadhan Sumber:
40 Fashion Aspek fashion semakin menyentuh kehidupan sehari-hari setiap orang. Fashion mempengaruhi apa yang kita kenakan, kita makan, bagaimana kita hidup dan bagaimana kita memandang diri sendiri. Fashion juga memicu pasar dunia untuk terus berkembang produsen untuk berproduksi, pemasar untuk menjual konsumen untuk membeli. Cara berpakaian yang mengikuti fashion juga memperlihatkan kepribadian dan idealisme kita. Fashion sekarang ini adalah bisnis yang cukup besar dan mengunutungkan. Seperti dikatakan oleh Jacky Mussry, partner atau Kepala Divisi Consulting dsn Research MarkPlus dan CO, bahwa gejala ramai-ramainya berbagai produk mengarah ke fashion muncul tatkala konsumen makin ingin diakui jati diri sebagai suatu pribadi. Karena itu, mereka sengaja membentuk identitasnya sendiri dan kemudian bersatu dengan kelompok yang selaras dengannya. Inilah kebanggaan seseorang jika bisa masuk ke dalam apa yang sedang menjadi kecendrungan umum, karena termasuk fashionable alias modern karena selalu mengikuti mode (2014). Sedangkan desain adalah versi spesifik dari gaya. Contoh rok yang menjadi gaya berpakaian wanita, namun memiliki desain yang berbeda-beda seperti A-line, high waist (pinggang tinggi), rok mini dan lain-lain biasanya produsen pakaian membuat beberapa variasi desain dari gaya yang sedang digemari saat itu agar konsumen punya banyak pilihan, fashion dapat dikategorikan berdasarkan di kelompok mana mereka terlihat high fashion mengacu pada desain dan gaya yang diterima oleh kelompok fashion leaders yang
41 47 eksekutif, yaitu konsumen-konsumen yang elit dan mereka yang paling pertama mengadaptasi perubahan fashion. Gaya yang termasuk high fashion biasanya diperkenalkan, dibuat dan dijual dalam jumlah yang terbatas dan relatif mahal kepada socialities, artis, selebritis dan fashion innovators. Sedangkan mass fashion atau volume fashion mengacu pada gaya dan desain yang diterima publik lebih luas. Jenis fashion ini biasanya diproduksi dan dijual dalam jumlah banyak dengan harga murah sampai sedang. Gambar 2.15 Fashion Trend 2014 Sumber: Busana Busana dalam arti umum adalah bahan tekstil atau bahan lainnya yang sudah dijahit dipakai atau disampirkan untuk penutup tubuh seseorang. Sebagai contoh yaitu kebaya dan kain panjang atau sarung, blus, blazer, celana, kemeja, singlet. Dalam pengertian lebih luas sesuai dengan perkembangan peradaban
42 48 manusia, khususnya bidang busana termasuk ke dalamnya aspek-aspek yang menyertainya sebagai perlengkapan pakaian itu sendiri, baik dalam kelompok milineris maupun aksesoris Dari arti sempit busana dapat diartikan bahan tekstil yang disampirkan atau dijahit dahulu dipakai untuk penutup tubuh seseorang yang langsung menutup kulit ataupun yang tidak langsung menutup kulit seperti sarung atau kain dan kebaya pengertian busana dalam arti luas adalah semua yang kita pakain mulai dari kepala sampai dengan ujung kaki yang menampilkan keindahan meliputi: a) Yang bersifat pokok seperti: kebaya dan kain panjang, sarung, rok, blus, blazer, kemeja, piyama dan lainnya. b) Yang bersifat pelengkap seperti: alas kaki, tas, topi, kerudung, payung, ikat pinggang dalam istilah asing disebut millinieris. c) Yang bersifat menambah seperti: pita rambut, jepit hias, penjepit dasi, jam tangan, kacamata, kalung, liontin, bros dalam istilah asing disebut accessoris Lingkup Busana Manusia yang beradab, dalam kehidupannya tidak dapat melepaskan diri dari busana. Busana berarti sebagai salah satu kebutuhan manusia yang setiap hari diperlukan sebagai alat penunjang untuk berkomunikasi dengan orang lain. Busana dalam lingkup pendidikan kesejahteraan keluarga, merupakan satu diantara lingkup yang lainnya, yang didalamnya mencakup ilmu, seni dan keterampilan.
43 49 Dari definisi tentang home economics atau ilmu keluarga, didalamnya tercakup clothing yang dapat diartikan secara luas, yaitu semua kebutuhan untuk penutup tubuh atau yang disebut pakaian atau busana. Berbicara sandang berarti berbicara tentang bahan yang dipergunakan untuk menjadi busana, sedangkan busana yaitu yang sudah siap untuk dipergunakan. Dalam ilmu kesejahteraan keluarga berkaitan dengan pemilihan dan penyediaan busana. Untuk pemilihan dan penyediaan busana akan berkaitan dengan ilmu, seni dan keterampilan. Lingkup bidang busana, secara lebih luas tidak hanya berbicara tentang yang berkaitan dengan busana yang dipergunakan seseorang untuk penutup tubuhnya, tetapi termasuk segala sesuatu yang terkait dengan kain, benang, bahan pelengkap busana. Yang termasuk di dalam lingkup ini, yaitu dasar desain lenan rumah tangga, berbagai jenis lenan rumah tangga dengan berbagai hiasan (sulaman, bordir, aplikasi, penerapan payet, mute, sablon, batik, jumputan, dan sebagainya), pengetahuan dan praktek pembuatan hiasan dinding dengan berbagai hiasan seperti berbagai sulaman tangan dan bordir Kajian Busana Busana ditinjau dari kehidupan masyarakat akan memberikan gambaran tentang tingkatan sosial ekonomi. Disamping itu, busana pun akan menunjukkan tingkatan budaya masyarakat. Berbicara mode (fashion) berkaitan dengan selera individu, masyarakat yang akan dipengaruhi oleh lingkungan budaya tertentu, khususnya selera dalam mode busana.
44 50 Kebutuhan akan busana pada individu atau sekelompok orang akan ditentukan oleh aktivitas yang dilakukan, perhatian akan berbusana, kondisi ekonomi, dan semakin kuatnya perkembangan mode busana, serta perkembangan teknologi. Menurut.Koentjaraningrat teknologi merupakan salah satu unsur dari 7 unsur kebudayaan yang universal, yaitu : (1) sistem religi dan upacara keagamaan, (2) sistem dan organisasi kemasyarakatan, (3) sistem pengetahuan, (4) bahasa, (5) kesenian, (6) sistem dan pencaharian hidup, serta (7) sistem teknologi dan peralatan. Dengan perkembangan teknologi salah satunya akan mempunyai dampak pada hasil teknologi tekstil. Perkembangan teknologi berkaitan dengan busana, yaitu teknologi pembuatan tekstil, yang akan mempunyai dampak pada perkembangan busana. Soerjono Soekanto mengungkapkan, teknologi tersebut pada hakikatnya meliputi paling sedikit tujuh unsur, yaitu : (1) alat-alat produktif, (2) senjata, (3) wadah, (4) makanan dan minuman, (5) pakaian dan perhiasan, (6) tempat berlindung dan perumahan, serta (7) alat-alat transportasi. Menurut Soerjono Soekanto,SH,MA. tersebut di atas pakaian (busana) merupakan salah satu unsur dari teknologi. Untuk terealisasi adanya bahan untuk busana diperlukan teknologi pembuatan tekstil. Dalam studi mengenai difusi, tokoh utama aliran difusi dari Amerika Serikat Frans Boas ( ) mengemukakan konsep tentang marginal survival. Konsep mengenai marginal survival itu merupakan benih bagi berkembangnya konsep mengenai Cultural Area yang dilakukan oleh Clark Wisaler ( ).
45 51 Perhatian terhadap pakaian/busana sudah ada sejak lama, bahkan sejajar dengan kebudayaan dalam unsur kebendaan dan yang abstrak yang lain seperti alat-alat pertanian dan alat-alat transport, sistem organisasi, sistem perekonomian. Dari sejak itu pula orang-orang dulu sudah mengerjakan pekerjaan tenun, yang berarti teknologi pembuatan tekstil sudah dilakukan sejak empat ribu tahun yang lalu, yang secara bertahap teknologi pembuatan tekstil atau kain, bahan pakaian/busana berkembang. Dari teknologi tekstil yang sudah cukup berkembang menghasilkan berbagai produk bahan busana yang beragam dalam jenis dan sifat kain, warna, corak atau motif kain. Produk teknologi tekstil akan mendorong munculnya berbagai model busana yang dibutuhkan oleh individu atau kelompok masyarakat tertentu dalam lingkungan tertentu. Dari teknologi yang berkaitan dengan busana, akan muncul, berkembang berbagai usaha bidang busana, seperti garment, konfeksi, sanggar busana, atelier, butik, modiste. Ditinjau dari segi agama, busana juga terkait dengan kehidupan beragama, seperti dalam ritual-ritual keagamaan. Dalam agama Islam untuk kaum hawa atau perempuan menggunakan busana muslimah. Bahkan mengenai busana muslimah ini berkembang studi busana muslimah, pendidikan (formal dan nonformal) busana muslimah, pelatihan busana muslimah, modiste busana muslimah, tailor dan atelier busana muslimah, perancang (designer) busana muslimah, butik busana muslimah, toko busana muslimah, fashion show busana muslimah.
46 Keberadaan dan Kegunaan Busana Busana dalam kehidupan manusia pada umumnya tidak dapat dilepaskan dari manusia sebagai makhluk yang berbudaya, yang realitanya selalu berkembang dari suatu periode ke periode berikutnya. Kebudayaan bersifat akumulatif, artinya makin lama bertambah kaya, karena manusia pemikirannya tambah berkembang, bertambah maju, sehingga relatif banyak menghasilkan sesuatu yang berguna yang dapat dimanfaatkan oleh manusia yang lainnya. Menurut Prof.Drs.Harsojo, karena sifat-sifat dan kemampuan manusia diberi sebutan berbagai macam yaitu manusia sebagai homo sapiens (makhluk biologis yang dapat berpikir), sebagai homo faber (makhluk yang pandai membuat alat dan mempergunakannya), sebagai homo loquens (makhluk yang dapat berbicara untuk mengadakan komunikasi sosial), sebagai homo socialis (makhluk yang dapat hidup bermasyarakat), sebagai homo economicus (makhluk yang dapat mengorganisasikan segenap usahanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya), sebagai homo religiousus (makhluk yang berpikir mengenai tempatnya di dunia dan menyadari akan adanya kekuatan gaib yang lebih tinggi), sebagai homo delegans (makhluk yang tidak selalu mengerjakan sendiri pekerjaannya, tetapi mampu menyerahkan tugas kepada yang lain), sebagai homo legatus (makhluk yang diwariskan kebudayaannya kepada generasi berikutnya). Dalam kaitan manusia sebagai makhluk homo sapiens dan homo faber berkenaan dengan keberadaan busana, manusia dengan hasil pemikiran dan keterampilannya telah berupaya membuat busana pada periode tertentu. Apabila dilihat dari perkembangan busana dari awal sampai sekarang, busana berkembang
47 53 dari mulai yang paling sederhana, seperti dari daun-daun, kulit pohon kayu, kulit binatang yang diproses dengan alat yang sangat sederhana yang ada pada saat itu, atau dari kulit binatang, kulit kerang yang diuntai, yang saat itu belum ada pemikiran membuat kain dengan ditenun atau dirajut. Selanjutnya, manusia sebagai makhluk homo faber ini terus menyempurnakan busana yang sangat primitif, sederhana, dengan membuat busana atau bahan busana dari serat pohon atau bulu binatang yang diproses sedemikian rupa, misalnya dengan membuat alat tenun sederhana dan menenunnya menjadi kain. Kain itu kemudian dibuat busana dengan model yang sangat sederhana, sesuai dengan hasil pemikiran dan peralatan yang tersedia saat itu. Dengan hasil pemikiran manusia yang terus berkembang, ilmu pengetahuan dan teknologi juga lebih maju lagi, maka pembuatan busana pun mempergunakan alat teknologi yang lebih canggih lagi, sehingga manusia juga telah dapat membuat busana yang lebih bervariasi. Kemajuan ini disebabkan manusia dikaji dari antropologi sebagai makhluk biologis dan sebagai makhluk yang berpikir atau disebut homo sapiens. Dari makhluk yang berpikir ini manusia salah satunya dapat membuat busana dengan alat-alat yang tersedia pada zamannya masing-masing, sehingga model busana berkembang dari mulai zaman prasejarah sampai dengan zaman modern sekarang ini. Makhluk yang pandai membuat dengan mempergunakan alat ini (homo faber) dapat memunculkan keberadaan busana untuk memenuhi kebutuhan manusia menutup badannya.
48 54 Kebutuhan busana di zaman primitif, di zaman prasejarah dan di zaman modern yang penuh dengan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (ipteks) tentu berbeda sesuai dengan kondisi alam dan manusia pada masanya. Busana sebagai kebutuhan manusia dapat diklasifikasikan sebagai kebutuhankebutuhan primer, sekunder, dan tertier. Sesuai dengan kebutuhan ini, pada awalnya sangat tergantung dari alam maka fokus kegunaan busana dapat dikatakan merata, dalam arti untuk menutup aurat, melindungi badan agar tetap sehat, dan untuk penampilan yang serasi. Sesuai dengan perkembangan zaman, perkembangan budaya yang datang dari perkembangan hasil pemikiran manusia yang di antaranya menghasilkan teknologi yang lebih tinggi, maka saat ini busana bukan hanya menutup aurat, melindungi kesehatan, tetapi sudah menambah fokus perhatiannya pada penampilannya, yang dengan kata lain orang telah memperhatikan tentang keserasian dari berbusana itu. Semua itu dipikirkan karena pada hakekatnya kegunaan busana sudah lebih meluas, yang tadinya hanya menutup aurat dan memelihara kesehatan, menjadi bertambah kegunaannya, yaitu dengan berbusana untuk tampil serasi, menjadi lebih cantik atau lebih tampan atau minimal kelihatan serasi Fungsi Busana a. Busana Sebagai Alat Pembanding Mempertahankan diri dari berbagai tantangan alam, misalnya dari angin, panas, hujan, sengatan binatang dan sebagainya. Salah satu yang dapat dijadikan alat
49 55 untuk dapat melindungi badan agar tetap sehat yaitu busana, apabila bahan, model, warna sesuai dengan iklim atau cuaca, kondisi lingkungan di mana busana itu dipergunakan. Dapat dicontohkan untuk daerah yang beriklim panas, kita harus dapat memilih bahan, warna, model yang tidak menyebabkan kita lebih kepanasan, misalnya dipilih bahan dari katun (batik, poplin, voile), model dengan kerah yang tidak menutup leher, lengan pendek dan warna yang muda. Dari segi keamanan diri, manusia melindungi dirinya dengan pakaian besi (di zaman Yunani dan Romawi), pakaian rompi anti peluru (digunakan oleh para kepala negara/pemerintahan dan para detektif), topi baja (helm baja) dipergunakan oleh para serdadu di medan perang. b. Busana Sebagai Alat Penunjang Komunikasi Seperti kita ketahui dalam komunikasi terdapat pernyataan antar manusia. Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan (message) dari komunikator (communicator) kepada komunikan (communicant). Pada umumnya, salah satu yang dipakai pada waktu berkomunikasi itu adalah busana. Dengan demikian, busana dapat dikatakan sebagai salah satu alat penunjang yang dipergunakan dalam berkomunikasi. Agar busana dapat menjadi alat penunjang yang memadai dalam berkomunikasi.
50 Busana Sebagai Alat Memperindah Pada dasarnya bahwa manusia adalah mahluk yang senang pada sesuatu yang serasi, bagus dan indah. Dapat dikatakan bahwa manusia membutuhkan sesuatu yang indah atau senang melihat yang indah. Sebelum manusia mempergunakan bahan tekstil, manusia melumuri badannya dengan lumpur berwarna, menghias badannya dengan tattoo atau menutup badannya dengan rantai dari kerang, manik-manik, daun-daunan, kulit kayu yang dipukul-pukul. Selain dari pada itu mereka melubangi telinga atau hidungnya untuk menggantungkan perhiasan, menata rambut, kuku dan ber-make up. Semuanya itu bermaksud supaya lebih baik, cantik atau indah. Setelah lebih berkembang pemikirannya, manusia mulai belajar menenun sehingga dapat menghasilkan bahan pakaian yang dinamakan tekstil. Dengan makin meningkatnya produksi tekstil pada setiap waktu, setiap orang dapat mempergunakannya dengan leluasa. Sebagai orang yang belajar Ilmu Kesejahteraan Keluarga khususnya dan mempergunakan bahan umumnya diharapkan dapat memanfaatkannya semaksimal mungkin, sehingga bahan tekstil atau busana ini dapat betul-betul berfungsi untuk dirinya. Supaya busana ini dapat berfungsi untuk keindahan kalau seseorang terampil memilih warna, corak, dan model yang disesuaikan dengan pemakai, sehingga dengan busana itu dapat : 1) Menutupi kekurangan pada tubuh seseorang Busana dapat berfungsi untuk menutupi kekurangan pada tubuhnya seperti orang yang gemuk agar tampak langsing perlu memilih model atau corak yang banyak menggunakan garis vertikal. Misalnya contoh gambar berikut ini.
51 57 Contoh lain bahu yang terlalu miring, dapat diperbaiki melalui busana yaitu dengan memakai bantalan bahu; pinggang yang terlalu atas (badan atas terlalu pendek) pilihlah model bebe tanpa sambungan pinggang tetapi bebe dengan model bawah pinggang; panggul yang terlalu besar, pilihlah model rok yang tidak berkerut, lipit yang tidak terlalu banyak dan dijahit sampai di panggul, misalnya rok lipit hadap, rok lipit sungkup, rok suai. 2) Membuat seseorang lebih cantik, tampan Dengan pemilihan warna/corak, model yang sesuai dengan pemakai, juga perlengkapan busana yang sesuai dengan busananya, kesempatan pemakaian akan menambah seseorang lebih menarik, cantik atau tampan. Orang yang tadinya tidak tahu berbusana yang rapi, serasi kemudian dia sekarang punya pengetahuan dan mau mengaplikasikannya pada dirinya, maka seseorang itu dapat kelihatan lebih menarik cara berbusananya atau penampilannya dari pada biasanya Konsep Busana Muslim Pakaian Tertutup Pakaian tertutup bukanlah monopoli masyarakat Arab, dan bukan pula berasal dari budaya mereka., bahkan menurut ulama dan filosof besar Iran kontemporer. Murthadha Muthahari, pakaian tertutup telah dikenal di kalangan bangsa-bangsa kuno dan lebih melekat pada orang-orang Sassan Iran, dibandingkan ditempat-tempat lain.pakaian tertutup muncul jauh sebelum datangnya Islam. Di India dan Iran lebih keras tuntutannya daripada yang diajarkan Islam.
52 58 Pakar lain menambahkan bahwa orang-orang Arab meniru orang Persia yang mengikuti agama Zardasyt dan yang menilai wanita sebagai makhluk tak suci, dan karena itu mereka diharuskan menutup mulut dan hidung mereka dengan sesuatu agar napas mereka tidak mengotori api suci yang merupakan sembahan agama Persia lama. Orang-orang Arab juga meniru masyarakat Byzantiun (Romawi) yang memingit wanita di rumah, dan ini bersumber dari masyarakat yunani kuno yang ketika itu membagi rumah-rumah mereka menjadi dua bagian, masing-masing berdiri sendiri. Satu untuk pria dan satu untuk wanita. Di dalam masyarakat Arab, tradisi ini menjadi sangat kukuh pada saat pemerintah Dinasti Umawiyah, tepatnya pada masa pemerintahan Al-Walid II (ibn Yazid 125H/747M) di mana penguasa ini menetapkan adanya bagian khusuds buat wanita di rumah-rumah. Sedangkan menurut syariahonline.com, jika mau bicara tentang pakaian wanita muslimah yang ideal dan memenuhi seluruh persyaratan, maka sebagaimana yang disepakati oleh jumhur ulama bahwa aurat wanita itu adalah seluruh tubuh kecuali muka dan tapak tangan. Artinya, keseluruh tubuh itu wajib ditutup dengan pakaian kecuali bagian muka dan tapak tangan saja. Sedangkan model pakaian, warna, motif, corak atau stylenya diserahkan kepada masingmasing budaya dan kebiasaan. Asalkan kesemuanya itu memenuhi syarat standar busana muslimah. Benar-benar menutup dan tidak ada yang dibuka atau dibelah sedemikian rupa sehingga bisa memperlihatkan aurat Itu adalah standar ideal busana muslimah yang bila semua itu terpenuhi, maka sudah cukup. Adapun masalah
53 59 jilbab gaul yang sekarang jadi mode, bisa kita lihat dari dua arah yang berbeda. Arah yang pertama, bila kita melihat dari arah ideal. Maka jilbab mode itu jelas masih belum memenuhi semua persyaratan. Misalnya soal ketatnya pakaian itu sehingga tetap membentuk lekuk tubuh. Atau belahan-belahan tertentu yang masih juga memperlihatkan bagian aurat. Juga masalah menyerupai pakaian lakilaki dan seterusnya. Bila kita nilai dari arah ideal atau tidak, maka jilbab gaul itu tidak bisa dikatakan ideal alias tidak memenuhi syarat busana muslimah. Yang yang kedua, kita memandang dari arah pakaian trendi di kalangan remaja gaul saat ini yang sedemikian seronok, terbuka, seksi dan cenderung liar dan amoral. Kita bisa mengatakan bahwa pakaian mereka itu sama saja dengan bukan pakaian, karena aurat yang terlihat bukan hanya sebagian, tapi justru sebagian besar. Jadi pakaian mereka itu bukan setengah telanjang tapi 2/3 telanjang atau 4/5 telanjang. Bila dari kalangan mereka ini ada yang mulai sadar dan ingin kembali kepada Islam lalu mulai coba-coba menggunakan busana muslimah meski belum memenuhi standar ideal, maka kita perlu memberi support atau dukungan. Tentu saja dukungan ini sifatnya sementara, karena biar bagaimana pun pakaian idealnya belum terpenuhi. Tapi support dan dukungan tetap dibutuhkan agar mereka sedikit demi sedikit bisa beradaptasi dengan busana muslimah. Karena kalau mau dibandingkan, biar bagaimana pun jilbal gaul itu tetap lebih baik dari pada baju minim yang mengubar nafsu itu. Yang diperlukan adalah pendekatan dakwah yang baik dan simpatik kepada mereka agar keinginan baik mereka itu bisa dihargai lebih dahulu. Sambil perlahan-lahan kita mencoba
54 60 menanamkan makna dan hakikat ajaran Islam secara lebih intensif dan mengena. Nanti pada akhirnya, bila penanaman itu mulai menghasilkan buah, mereka snediri yang akan mengganti jilbab gaulnya dengan busana muslimah yang ideal. Sementara pakar menyebut beberapa alasan yang diduga oleh sementara orang yang mengakibatkan adanya keharusan bagi wanita memakai pakaian tertutup : 1. Alasan filosofis yang berpusat pada kecenderungan kearah kerahiban dan perjuangan melawan kenikmatan dalam rangka melawan nafsu manusiawi. Muthahari menduga bahwa sumber utama pemikiran ini adalah India. Wanita adalah bentuk tertinggi kesenangan, sehingga jika laki-laki diberi kesempatan berkumpul bebas dengan wanita maka perhatian dan kegiatan laki-laki hanya akan tertuju ke arah sana, sehingga kegiatan positif akan sangat berkurang dan masyarakat tidak akan mengalami kemajuan. Dari sini manusia harus berjuang menguasai dirinya guna menolak kesenangan-kesenangan seksual. Alasan diatas ditolak oleh Muthahari walaupun boleh jadi ada benarnya, namun yang pasti, ditetapkannya oleh agama Islam bentuk pakaian tertutup bukanlah faktor-faktor tersebut yang menjadi penyebabnya. Ini karena Islam tidak mengenal kerahiban. 2. Alasan keamanan. Pada masa lalu yang kuat sering kali merampas bukan saja harta benda orang lain, tetapi juga istrinya. Alasan ini pun bukan menjadi pertimbangan Islam, ketika menetapkan batas-batas yang boleh dilihat dari sosok perempuan. 3. Alasan ekonomi. Mereka menduga bahwa laki-laki mengeksploitasi wanita dengan menugaskan mereka melakukan aneka aktifitas untuk kepentingan laki-
55 61 laki. Pandanganini jelas bukan alasan Islam menetapkan pakian tertentu atau menganjurkan pembagian kerja yakni pria diluar rumah dan wanita di dalam rumah. Dalam pandangan Islam istri berhak memperoleh segala kebutuhannya dari suaminya. Gambar 2.16 Busana Muslim Sumber: us.images.detik.com Pakaian Menurut Agama Islam Apa yang dilakukan oleh nenek moyang kita itu, dinilai sebagai awal usaha manusia menutupi berbagai kekuragannya, menghindardari apa yang dinilai buruk atau tidak disenangi serta upaya memperbaiki penampilan dan keadaansesuai dengan imajinasi dan khayal mereka. Itulah langkah awal manusia
56 62 menciptakan peradaban. Allah mengilhami hal tersebut dalam benak manusia pertama juntuk kemudian diwariskan kepada anak cucunya. Jika demikian berpakaian atau menutup aurat adalah alamat bukan awal dari lahirnya peradaban manusia. Upaya mereka berpakaian rapi, menutup aurat itu, juga mengisyaratkan bahwa berpakaian rapi sebagaimana dikehendaki agama dapat memberi rasa tenang dalam jiwa pemakainya. Ketenangan batin merupakan salah satu dampak yang dikehendaki oleh agama. Menurut Syarif Arbi, pakaian menurut konsep Islam itu ada dua Jenis yaitu: 1. Pakaian Jasmani, berwujud busana 2. Pakaian Rohani, berwujud taqwa Di dalam konsep Islam pakaian Jasmani penting, pakaian Rohani jauh lebih penting, justru pakaian jasmani mendukung pakaian rohani dan sebaliknya, pakaian rohani akan nampak pada pakaian jasmani. Dan keduanya saling mendukung dan tak dapat dipisahkan. Di samping pakaian lahir Al-Qur an juga menyatakan bahwa ada yang dinamai libas at-taqwa dzalika Khair (pakaian takwa dan itu yang lebih baik). Apalah artinya keindahan lahir, kalau tidak disertai keindahan batin. Pakaian Takwa menutupi hal-hal yang dapat memalukan dan memperburuk penampilan manusia jika ia terbuka. Keterbukaan aurat jasmani dan rohani dapat menimbulkan rasa perih dan malu yang dirasakan, bila aurat rohani terbuka, jauh lebih besar daripada keterbukaan aurat jasmani, baik di dunia terlebih di Akhirat.
BAB I PENDAHULUAN. konsumen itu untuk mempromosikan produk perusahaan.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam sebuah perusahaan atau industri ritel yang bergerak di bidang busana, keberadaan suatu desain mempunyai peranan yang sangat penting dalam urusan penjualan produk,
BAB III METODE PERANCANGAN
BAB III METODE PERANCANGAN 3.1 Metodologi Dalam laporan ini, penulis mengemukakan beberapa kegiatan yang dilakukan terkait dengan Perancangan Desain Layout Dekorasi Matahari Plaza Surabaya Tema Pesta Bola
BAB V IMPLEMENTASI KARYA
BAB V IMPLEMENTASI KARYA 5.1 Rough Show Window Gambar 5.1 Rough Show Window Dalam rough show window ada beberapa elemen yang dihadirkan dan dibuat terdiri dari bola, gawang, dan bendera negara-negara sepak
BAB V IMPLEMENTASI KARYA
BAB V IMPLEMENTASI KARYA 5.1 Rough Show Window Gambar 5.1 Rough Show Window Dalam rough show window ada beberapa property yang dimasukan dan dibuat, yaitu terdiri dari ornamen-ornamen, lentera, hiasan-hiasan
BAB II URAIAN TEORITIS. Display Dalam Meningkatkan Minat Beli Konsumen Pada Batik Kemukten.
BAB II URAIAN TEORITIS A. Peneliti Terdahulu Handayani Srimurni (2007) skripsi berjudul Peranan Kebijakan Display Dalam Meningkatkan Minat Beli Konsumen Pada Batik Kemukten. Tujuan penelitian ini adalah
I. PENDAHULUAN. Perkembangan jaman yang semakin modern menyebabkan banyaknya. pembangunan toko ritel yang berkonsep swalayan. Beberapa tahun terakhir,
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan jaman yang semakin modern menyebabkan banyaknya pembangunan toko ritel yang berkonsep swalayan. Beberapa tahun terakhir, toko berkonsep swalayan banyak bermunculan,
KARYA ILMIAH STRATEGI MARKETING DENGAN SETTING LAY-OUT
KARYA ILMIAH STRATEGI MARKETING DENGAN SETTING LAY-OUT Dosen pengampu: M. Suyanto, Prof. Dr, M.M. Disusun Oleh: Nama : Suya darma Nim : 09.11.2705 Kelas : 09-S1TI-02 STMIK AMIKOM YOGYAKARTA 2012 STRATEGI
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian (Info Bisnis, Maret 2007:30 (www.about;retail 8/10/2009).
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Era globalisasi menjanjikan suatu peluang dan tantangan bisnis baru bagi perusahaan yang beroperasi di Indonesia. Di satu sisi, era globalisasi memperluas
JENIS BARANG YANG DIJUAL
JENIS BARANG YANG DIJUAL Jenis Barang Yang Dijual Oleh Suciati S.Pd., M.Ds Prodi Pendidikan tata Busana JPKK FPTK UPI Barang yang dijual pada umumnya dapat dikategorikan sebagai : Jenis Barang Pengertian
BAB IV KONSEP PENATAAN DISPLAY INOVASI BUSANA ETNIK
BAB IV KONSEP PENATAAN DISPLAY INOVASI BUSANA ETNIK A. Konsep Dasar Penataan Display Penataan berasal dari kata bahasa Inggris display yang artinya mempertunjukkan, memamerkan, atau memperagakan sesuatu
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
12 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Bauran Pemasaran Marketing Mix merupakan kombinasi variabel atau kegiatan yang merupakan inti dari sistem pemasaran, variabel yang dapat dikendalikan oleh perusahaan
DESAIN INTERIOR I PERANCANGAN RUANG PENJUALAN D W I R E T N O S A., M. S N
DESAIN INTERIOR I PERANCANGAN RUANG PENJUALAN D W I R E T N O S A., M. S N PENTINGNYA PERANCANGAN TOKO Desain interior yang menunjang menjadi sangat penting bahkan dapat menjadi keunggulan kompetitif bagi
BAB I PENDAHULUAN. pengertian atmosfer toko adalah gambaran suasana keseluruhan dari sebuah toko yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Kata atmosphere, berasal dari bahasa Inggris yang berarti suasana. Secara umum, pengertian atmosfer toko adalah gambaran suasana keseluruhan dari sebuah
I. PENDAHULUAN. Pakaian merupakan kebutuhan dasar yang memiliki beragam. makna bagi manusia. Pakaian tidak hanya berfungsi sebagai pelindung
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pakaian merupakan kebutuhan dasar yang memiliki beragam makna bagi manusia. Pakaian tidak hanya berfungsi sebagai pelindung tubuh, tetapi juga berfungsi sebagai identitas
Jenis Barang Yang Dijual
Jenis Barang Yang Dijual Oleh Suciati S.Pd., M.Ds Prodi Pendidikan tata Busana JPKK FPTK UPI Barang yang dijual pada umumnya dapat dikategorikan sebagai : Jenis Barang Pengertian Contoh Demand goods Barang-barang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permasalahan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permasalahan Perkembangan ritel di Indonesia semakin meningkat baik di kotakota besar maupun di daerah sehingga mengakibatkan persaingan dalam industri ini semakin
BAB I PENDAHULUAN. Di era globalisasi saat ini yang diiringi dengan pertumbuhan ekonomi, memaksa
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di era globalisasi saat ini yang diiringi dengan pertumbuhan ekonomi, memaksa banyak pengusaha membuka bisnis ritel di berbagai pusat perbelanjaan. Tak dapat dipungkiri
I. PENDAHULUAN. Dewasa ini perkembangan dunia bisnis semakin pesat, ditandai dengan makin
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dewasa ini perkembangan dunia bisnis semakin pesat, ditandai dengan makin besarnya antusiasme dan agresifitas para pelaku bisnis baik di sektor industri, jasa,
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS. Pengertian Retail menurut Hendri Ma ruf (2005:7) yaitu, kegiatan usaha
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Pengertian Retail (Eceran) Pengertian Retail menurut Hendri Ma ruf (2005:7) yaitu, kegiatan usaha menjual barang atau jasa
Bab II TINJAUAN PUSTAKA. Bab ini membahas mengenai teori-teori yang mendukung dalam konteks
Bab II TINJAUAN PUSTAKA Bab ini membahas mengenai teori-teori yang mendukung dalam konteks penelitian ini, meliputi perilaku konsumen, motivasi konsumen, loyalitas konsumen, produk, bauran pemasaran, merek
BAB I PENDAHULUAN. untuk tetap menggunakan produk yang dihasilkan perusahaan tersebut. berusaha menyebarkan informasi, mempengaruhi/membujuk, dan/atau
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Pemasaran merupakan suatu proses dan manajerial yang membuat individu atau kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan
BAB 4 KONSEP DESAIN. Orangeseed Design, desain dapat menjadi dan melakukan segala hal. Desain adalah
BAB 4 KONSEP DESAIN 4.1 Landasan Teori Desain Grafis Menurut kutipan yang diambil dari buku Bringing Graphic Design In-House, Orangeseed Design, desain dapat menjadi dan melakukan segala hal. Desain adalah
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
10 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penjualan Eceran 2.1.1 Pengertian penjualan eceran Penjualan eceran adalah suatu kegiatan menjual barang dan jasa kepada konsumen akhir. Ini merupakan mata rantai terakhir
BAB I PENDAHULUAN. komposisi produk buku dengan Focal Point meliputi 68 persen buku dan 32
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Masalah Perkembangan ekonomi Indonesia di sektor ritel semakin meningkat. Hal ini terjadi karena pengusaha, baik dari dalam maupun luar negeri yang terus menerus melakukan
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 TEORI DASAR / TEORI UMUM 2.1.1 DEFINISI PUBLIC RELATIONS Hubungan masyarakat ( humas ) atau yang lebih dikenal dengan istilah Public Relation merupakan serangkaian kegiatan untuk
BAB I PENDAHULUAN. Peningkatan taraf hidup dan gaya hidup masyarakat yang sangat beragam
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Peningkatan taraf hidup dan gaya hidup masyarakat yang sangat beragam sekarang ini, membuat perusahaan harus dapat menciptakan produk yang kreatif serta inovatif
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI A. Landasan Teori 1. Pengertian Bauran Pemasaran Bauran pemasaran menurut Kotler, (2002 :18) adalah Seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk terus-menerus mencapai
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Semakin berkembangnya zaman di era modern kebutuhan akan dunia fashion
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Semakin berkembangnya zaman di era modern kebutuhan akan dunia fashion kini merambah begitu besar. Para pelaku bisnis dan perancang busana berlombalomba untuk menciptakan
BAB I PENDAHULUAN. dibidang ini, semakin banyak pula pesaing yang dihadapi. Pada zaman sekarang ini
BAB I PENDAHULUAN - 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Seiring dengan perkembangan zaman kebutuhan manusia telah dan akan semakin kompleks. Kebutuhan manusia yang mendasar atau disebut dengan
BAB I PENDAHULUAN. inovasi desainer muda yang semakin potensial, tingkat perekonomian yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dunia fashion di Indonesia bisa dikatakan berkembang sangat pesat dalam beberapa dekade terakhir. Hal ini didukung berbagai segi baik kreativitas dan inovasi
BAB I PENDAHULUAN. dan dampaknya bagi perusahaan adalah semakin beragam pilihan jenis media
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kehadiran berbagai media saat ini, baik cetak maupun elektronik semakin memperlihatkan persaingan yang ketat di Indonesia. Arah media semakin bersaing dan dampaknya
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Definisi Marketing 2.1.1 Barang Konsumsi Barang Konsumsi (consumer goods) adalah produk yang ditujukan untuk pengguna akhir. Dasar klasifikasi barang konsumsi yang biasa digunakan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, sosial budaya, dan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik memberikan pengaruh terhadap perilaku konsumen. Pengaruh tersebut
BAB I PENDAHULUAN. merupakan suatu kondisi yang harus dihadapi oleh perusahaan-perusahaan baik
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Salah satu tujuan pemasaran oleh perusahaan adalah mempengaruhi konsumen agar membeli produk yang ditawarkannya. Persaingan dalam dunia usaha merupakan suatu
BAB I PENDAHULUAN. henti-hentinya bagi perusahaan-perusahaan yang berperan di dalamnya. Banyaknya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat saat ini, dapat dilihat bahwa sektor dunia usaha saat ini telah menjadi suatu arena persaingan yang sengit dan tidak
BAB I PENDAHULUAN. Hal ini seringkali disebabkan oleh keseragaman target market yang dimiliki bisnis
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berkembangnya bisnis kafe dewasa ini, telah menyebabkan semakin tinggi tingkat persaingan dalam memperebutkan dan mempertahankan konsumennya. Hal ini seringkali disebabkan
BAB 1 PENDAHULUAN. Dalam perkembangan dunia usaha yang sangat kompetitif menuntut perusahaan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Dalam perkembangan dunia usaha yang sangat kompetitif menuntut perusahaan untuk merancang dan mengaplikasikan strategi pemasaran seakurat mungkin dalam
BAB I PENDAHULUAN Sejarah PT Carrefour di Indonesia
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Gambaran Umum Objek Penelitian Kecenderungan impulse buying merupakan fenomena yang sering terjadi di masyarakat. Menurut Ma ruf dalam penelitian Divianto (2013 : 4) menyatakan bahwa
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pemasaran Pemasaran adalah proses sosial dan manajerial dengan proses itu individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan,
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis menyimpulkan inti permasalahan yang dihadapi, sebagai berikut :.
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Fashion, sepintas adalah mengenai pakaian atau busana. Jika kita berbicara tentang pakaian, hal tersebut merupakan sesuatu yang sangat dekat dengan diri kita.
STRATEGI PERANCANGAN DAN KONSEP VISUAL. III.1.1 Pendekatan komunikasi (pendekatan visual dan verbal)
BAB III STRATEGI PERANCANGAN DAN KONSEP VISUAL III.1 Strategi Perancangan Strategi perancangan terdiri dari dua kata yaitu strategi dan perancangan, yang masing-masing kata mempunyai pengertian tersendiri.
Pemasaran Ritel. Sessi
Pemasaran Ritel Sessi Store Layout, Design, and Visual Merchandising Layout Toko, Desain dan Display Produk KUWAT RIYANTO, SE, M.M. 081319434370 [email protected] http://kuwatriy.wordpress.com Store
BAGIAN 5 DASAR PERANCANGAN DESAIN KOMUNIKASI VISUAL
BAGIAN 5 DASAR PERANCANGAN DESAIN KOMUNIKASI VISUAL Pada bagian ini akan dibahas secara lebih mendalam hal-hal yang berkaitan dengan dasar perancangan media iklan dan komunikasi visual, yang meliputi;
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan Pada era globalisasi saat ini, bisnis ritel telah memiliki kemajuan dengan pesat dan persaingan antara peritel juga telah terjadi. Banyak pihak yang memperoleh
BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi di Indonesia saat ini belum juga menunjukkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pembangunan ekonomi di Indonesia saat ini belum juga menunjukkan kemajuan yang lebih baik dalam usaha pemulihan keadaan perekonomian saat ini. Hal ini mengakibatkan
BAB I PENDAHULUAN. Industri ritel merupakan salah satu industri yang strategis di Indonesia.
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Industri ritel merupakan salah satu industri yang strategis di Indonesia. Industri ini merupakan sektor kedua terbesar dalam hal penyerapan tenaga kerja,
BAB I PENDAHULUAN. pembelian dan mengkonsumsi. Untuk memenuhi ketiga aktivitas tersebut, terjangkau terutama bagi masyarakat berpenghasilan sedang.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Aktivitas konsumen terdiri dari tiga kegiatan, yaitu: berbelanja, melakukan pembelian dan mengkonsumsi. Untuk memenuhi ketiga aktivitas tersebut, konsumen
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada saat ini, pusat-pusat perbelanjaan mulai menjamur di Indonesia khususnya di kota-kota besar seperti Surabaya. Berdirinya pusat-pusat perbelanjaan di sekitar
BAB I PENDAHULUAN. menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk dan jasa yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemasaran adalah proses sosial yang dengan proses itu individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara
BAB I PENDAHULUAN. jumlah ritel di Indonesia tahun sebesar 16% dari toko menjadi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Industri ritel berkembang sangat pesat di Indonesia terlebih sejak dibukanya peraturan yang memperbolehkan ritel asing memasuki pasar di Indonesia. Menurut hasil survey
BENTUK- BENTUK PROMOSI
BENTUK- BENTUK PROMOSI Promosi merupakan kegiatan perusahaan mengkomunikasikan produknya kepada konsumen. Komunikasi ini bisa dilakukan dengan cara advertising atau periklanan, direct marketing atau pemasaran
Struktur Dasar Bisnis Ritel
Struktur Dasar Bisnis Ritel Pemasaran adalah kegiatan memasarkan barang atau jasa secara umum kepada masyarakat dan secara khusus kepada pembeli potensial. Pedagang Besar dan Pedagang Eceran dalam proses
Keindahan Desain Kalung Padu Padan Busana. Yulia Ardiani (Staff Teknologi Komunikasi dan Informasi Institut Seni Indonesia Denpasar) Abstrak
Keindahan Desain Kalung Padu Padan Busana Yulia Ardiani (Staff Teknologi Komunikasi dan Informasi Institut Seni Indonesia Denpasar) Abstrak Pemakaian busana kini telah menjadi trend di dunia remaja, dengan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah 1.1.1 Latar Belakang Wallpaper adalah sejenis bahan yang digunakan untuk melapisi dan menghias dinding untuk kebutuhan interior rumah, kantor, atau fungsi bangunan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pemasaran adalah fungsi organisasi dan seperangkat proses untuk menciptakan,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Pemasaran Menurut Kotler dan Keller (2009:6) : Pemasaran adalah fungsi organisasi dan seperangkat proses untuk menciptakan, mengkomunikasikan, dan menyerahkan nilai
KEWIRAUSAHAAN-II MERANCANG STRATEGI PEMASARAN. Oloan Situmorang, ST, MM. Modul ke: Fakultas Ekonomi Bisnis. Program Studi Manajemen
KEWIRAUSAHAAN-II Modul ke: 10 Fakultas Ekonomi Bisnis MERANCANG STRATEGI PEMASARAN Oloan Situmorang, ST, MM Program Studi Manajemen http://mercubuana.ac.id Pokok Bahasan 1. Makna pemasaran 2. Pengenalan
STRATEGI PROMOSI PERUSAHAAN
STRATEGI PROMOSI PERUSAHAAN Serangkaian tindakan dan keputusan mendasar yang dibuat oleh manajemen puncak dan diimplementasikan oleh seluruh jajaran organisasi dalam rangka mencapai tujuan organisasi Strategi
BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan dan keberadaan industri dagang khususnya pada sektor ritel
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Perkembangan dan keberadaan industri dagang khususnya pada sektor ritel atau eceran di Indonesia telah memperlihatkan bahwa industri pada sektor ini memberikan
BAB I PENDAHULUAN. Usaha bisnis ritel di kota Padang mengalami perkembangan yang cukup
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Usaha bisnis ritel di kota Padang mengalami perkembangan yang cukup pesat pada beberapa tahun terakhir ini dengan berbagai macam bentuk dan jenisnya. Hal ini
BAB IV ANALISIS DATA. A. Strategi Pemasaran Home Industry Manik-manik Beads Flower. Pemasaran merupakan unsur yang sangat penting dalam suatu industri
BAB IV ANALISIS DATA A. Strategi Pemasaran Home Industry Manik-manik Beads Flower Pemasaran merupakan unsur yang sangat penting dalam suatu industri besar maupun kecil. Pemasaran bertujuan untuk mempromosikan
BAB I PENDAHULUAN. mengalami perkembangan yang cukup positif. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Industri ritel merupakan salah satu dari sekian banyak industri yang mengalami perkembangan yang cukup positif. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo)
ESTETIKA BENTUK SEBAGAI PENDEKATAN SEMIOTIKA PADA PENELITIAN ARSITEKTUR
ESTETIKA BENTUK SEBAGAI PENDEKATAN SEMIOTIKA PADA PENELITIAN ARSITEKTUR Jolanda Srisusana Atmadjaja Jurusan Arsitektur FTSP Universitas Gunadarma ABSTRAK Penelitian karya arsitektur dapat dilakukan melalui
BAB IV KONSEP PERANCANGAN
BAB IV KONSEP PERANCANGAN A. Ide/Gagasan Perancangan 1. Ide/Gagasan Benyamin s Days merupakan acara sederhana yang didedikasikan untuk Alm. Benyamin Sueb sebagai wujud penghargaan kami terhadap Alm. Benyamin
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perilaku Konsumen Istilah perilaku erat hubungannya dengan permasalahan manusia. Perilaku konsumen adalah tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi, dan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Promosi 2.1.1 Pengertian Promosi Menurut Hasan (2009:10), promosi adalah fungsi pemasaran yang fokus untuk mengkomunikasikan program-program pemasaran secara persuasive kepada
BAB III KONSEP, PROSES PERANCANGAN DAN VISUALISASI KARYA
BAB III KONSEP, PROSES PERANCANGAN DAN VISUALISASI KARYA 3.1. Konsep Perancangan 3.1.1. Tujuan Perancangan Tujuan perancangan ini adalah didapatkannya tampilan logo baru dan brand identity yang baik dan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Semakin ketatnya kondisi persaingan yang ada menuntut setiap perusahaan untuk mampu mempertahankan usahanya. Hal ini merupakan suatu peluang dan tantangan bisnis
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Promosi Promosi merupakan salah satu elemen yang penting dalam bauran pemasaran, dengan kegiatan promosi perusahaan dapat memperkenalkan suatu produk atau jasa kepada konsumen,
BAB V KONSEP PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1 Konsep Dasar Perancangan Konsep dasar desain kemasan toko cemilan Abang None adalah dengan membuat packaging untuk produk makanan khas betawi cemilan Abang None yang terlanjur
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN. mengenai produk dan membujuk terhadap keputusan pembelian kepada para pembeli di
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Promosi 2.1.1.1 Pengertian Promosi Promosi digunakan untuk menginformasikan atau memberitahu kepada orang mengenai produk dan membujuk
BAB V KESIMPULAN. loyalitas pelanggan untuk restoran dengan konsep swalayan dengan dukungan
BAB V KESIMPULAN 5.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa pengaruh pengalaman merek, kepribadian merek, kepuasan pelanggan, dan loyalitas pelanggan untuk restoran
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Memiliki pelanggan yang loyal adalah tujuan akhir dari semua bisnis
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Memiliki pelanggan yang loyal adalah tujuan akhir dari semua bisnis yang ada, tetapi kebanyakan perusahaan tidak menyadarinya. Demi tercapainya tujuan tersebut
BAB I PENDAHULUAN. memberikan keuntungan dan menghidupi banyak orang. Pada saat krisis UKDW
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bisnis ritel, merupakan bisnis yang menjanjikan karena dapat memberikan keuntungan dan menghidupi banyak orang. Pada saat krisis ekonomi melanda Indonesia di akhir
BAB III METODE PERANCANGAN
BAB III METODE PERANCANGAN Metodologi perancangan yang di gunakan selama kerja praktek di CV. Rombongku adalah : 3.1 Metodologi Dalam kerja praktek ini, penulis berusaha menemukan permasalahan yang ada
BAB I PENDAHULUAN. ekonomi Indonesia. Menurut Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU),
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Industri ritel merupakan industri yang strategis bagi perkembangan ekonomi Indonesia. Menurut Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Industri ini merupakan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pengelolaan barang dagangan (merchandising), penetapan harga, pengelolaan
8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bauran Pemasaran ritel (Retail Marketing Mix) Amir (2004) menyatakan bauran pemasaran ritel biasanya terdiri dari pengelolaan barang dagangan (merchandising), penetapan harga,
BAB II LANDASAN TEORI. mengoptimalkan kinerja pemasran untuk mencapai tujuan utama perusahaan, dipengaruhi oleh kegiatan pemasaran yang dilakukan.
BAB II LANDASAN TEORI A. Pengertian Pemasaran Pemasaran merupakan bagian terpenting yang harus dilakukan oleh suatu perusahaan, karena untuk terus mempertahankan, berkembang, dan mendapatkan keuntungan.
6 Kiat Sukses Melakukan Promosi di Bulan Ramadhan
i i DAFTAR ISI Hal. 2 Perilaku Konsumen selama Bulan Ramadhan Hal. 6 Kapan Waktu yang Tepat Melakukan Promosi Online? Hal. 8 Bagaimana Cara Membuat Konten Promosi Ramadhan? Hal. 12 Apa Saja yang Bisa Dipromosikan?
BAB I PENDAHULUAN. dilihat dari bertumbuhnya bisnis-bisnis ritel modern yang bergerak dipusat-pusat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Persaingan bisnis ritel di Indonesia semakin pesat dan ketat yang dapat dilihat dari bertumbuhnya bisnis-bisnis ritel modern yang bergerak dipusat-pusat perbelanjaan.
BAB I PENDAHULUAN. adanya pertumbuhan dan kemajuan ekonomi. Seiring dengan majunya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dunia usaha di Indonesia saat ini sedang berkembang pesat dengan adanya pertumbuhan dan kemajuan ekonomi. Seiring dengan majunya pertumbuhan ekonomi Indonesia
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pertumbuhan perekonomian dan perkembangan zaman khususnya
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pertumbuhan perekonomian dan perkembangan zaman khususnya Indonesia telah semakin modern, berdampak pada pergeseran budaya berbelanja masyarakat di Indonesia.
BAB I PENDAHULUAN. menjadi kunci utama dalam memenangkan persaingan. harus mengkaji sikap konsumen terhadap produk yang dihasilkan dan
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG PENELITIAN Perkembangan dunia usaha saat ini mengalami kemajuan yang cukup pesat sehingga tingkat persaingan semakin ketat. Tingkat perkembangan industri yang menghasilkan
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN Pengertian Manajemen Pemasaran. mendefinisikan manajemen pemasaran sebagai berikut:
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Manajemen Pemasaran 2.1.1.1 Pengertian Manajemen Pemasaran Menurut Kotler yang dikutip oleh Benyamin Molan (2007:6), mendefinisikan
BAB I PENDAHULUAN. berlomba untuk merebut dan mempertahankan pangsa pasarnya. Berbagai jenis
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Persaingan bisnis di era globalisasi ini telah membuat berbagai perusahaan berlomba untuk merebut dan mempertahankan pangsa pasarnya. Berbagai jenis barang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada jaman sekarang ini, perdagangan semakin bebas di era globalisasi seperti ini. Hal tersebut memacu banyak produsen dari berbagai sektor baik industri atau pun jasa
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan Bisnis waralaba telah berkembang dengan pesat pada saat ini. Hal tersebut memberikan pengaruh besar bagi perekonomian negara dan terlebih lagi dengan semakin
BAB 4 KONSEP DESAIN. 4.1 Landasan Teori Teori Publikasi
16 BAB 4 KONSEP DESAIN 4.1 Landasan Teori 4.1.1 Teori Publikasi Timothy Samara (2005:10) menyatakan publikasi merupakan sebuah perluasan aplikasi dari dua unsur yaitu teks dan gambar. Perluasan aplikasi
BAB I PENDAHULUAN. Perubahan teknologi yang begitu dinamis dan perkembangan dunia bisnis
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perubahan teknologi yang begitu dinamis dan perkembangan dunia bisnis yang semakin pesat telah memunculkan banyaknya pesaing-pesaing di dunia perekonomian. Para pesaing
BAB I PENDAHULUAN. peritel tetap agresif melakukan ekspansi yang memperbaiki distribusi dan juga
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pertumbuhan industri modern ritel dewasa ini semakin pesat, baik pemain lokal maupun asing semakin agresif bermain dalam pasar yang empuk tersebut. Prospek
BAB I PENDAHULUAN. para pelaku usaha ritel modern telah memberi warna tersendiri bagi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan industri ritel Indonesia kini semakin semarak. Kehadiran para pelaku usaha ritel modern telah memberi warna tersendiri bagi perkembangan industri ritel
BAB I PENDAHULUAN. sebagai distribusi dan saluran terakhir dari distribusi adalah pengecer (retailer).
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LatarBelakang Pada era globalisasi sekarang ini industri sedang berkembang cukup pesat terutama industri di bidang retail. Produsen yang memproduksi barang tidak hanya memperhatikan
BAB I PENDAHULUAN. secara langsung ke konsumen akhir untuk keperluan konsumsi pribadi dan/atau
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perdagangan eceran (retailing) adalah perpenjualan barang atau jasa secara langsung ke konsumen akhir untuk keperluan konsumsi pribadi dan/atau keluarga. Salah
BAB I PENDAHULUAN. Termasuk dalam bidang ritel yang saat ini tumbuh dan berkembang pesat seiring
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Persaingan dunia usaha di Indonesia semakin ketat, setiap perusahaan bersaing untuk menarik pelanggan dan mempertahankan eksistensinya di pasar. Termasuk
Pengembangan Marketing Mix untuk Mendukung Kinerja Pemasaran UKM
MAKALAH KEGIATAN PPM Pengembangan Marketing Mix untuk Mendukung Kinerja Pemasaran UKM Oleh: Muniya Alteza, M.Si 1 Disampaikan pada Pelatihan Pengelolaan Usaha bagi UKM di Desa Sriharjo, Bantul Dalam Rangka
LANDASAN TEORI. memberikan informasi mengenai barang atau jasa dalam kaitannya dengan. memuaskan kebutuhan dan keinginan manusia.
II. LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Pemasaran Pemasaran adalah proses penyusunan komunikasi terpadu yang bertujuan untuk memberikan informasi mengenai barang atau jasa dalam kaitannya dengan memuaskan kebutuhan
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bisnis ritel adalah bisnis yang memiliki kemungkinan yang sangat besar untuk mendapatkan keuntungan yang lebih dan juga merupakan bisnis yang memiliki banyak peluang
BAB I PENDAHULUAN. yang ingin berbelanja dengan mudah dan nyaman. Meningkatnya retail modern
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada era modern sekarang ini, keberadaan pasar tradisional mulai tergeser dimana masyarakat cenderung lebih memilih berbelanja di ritel modern. Perkembangan bisnis
PENGARUH BAURAN PROMOSI PENJUALAN TERHADAP HASIL PENJUALAN PAKAIAN PADA SUPERMARKET SRIKANDI KECAMATAN KEDUNGGALAR KABUPATEN NGAWI
33 PENGARUH BAURAN PROMOSI PENJUALAN TERHADAP HASIL PENJUALAN PAKAIAN PADA SUPERMARKET SRIKANDI KECAMATAN KEDUNGGALAR KABUPATEN NGAWI Oleh : H. R U S T A M Universitas Soerjo Ngawi ABSTRACT Bauran promosi
