PERHITUNGAN PENDAPATAN NASIONAL
|
|
|
- Handoko Hartono
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 PERHITUNGAN PENDAPATAN NASIONAL TIK: Setelah mengikuti mata kuliah ini mahasiswa memahami tentang variabelvariabel dalam ekonomi makro. TIU: Setelah mengikuti mata kuliah ini mahasiswa diharapkan mampu menganalisis pengaruh perubahan variabel ekonomi makro terhadap indikator perekonomian suatu bangsa. Sub Pembahasan: Komponen Produk Nasional Fungsi Konsumsi Tabungan Pembentukan Modal Pengeluaran Pemerintah Ekspor dan Impor Pendapatan yang Seimbang Pengaruh Angka Pelipat Relevansinya Buat Indonesia PERHITUNGAN PENDAPATAN NASIONAL Barang-barang dan jasa-jasa yang dihasilkan oleh suatu negara dapat dilihat dari 2 fihak: fihak pembeli, konsumen dan fihak penjual, produsen. Dari fihak pembeli pendapatan uang yang diterimanya dikeluarkan kembali untuk membeli barang-barang dan jasa-jasa. Pengeluaran ini adalah pengeluaran untuk konsumsi, disingkat C E. Pendapatan yang tidak dikeluarkan untuk konsumsi adalah tabungan, disingkat S. Dengan demikian pendapatan yang kemudian dikeluarkan lagi ini terdiri dari CE + S. Sebagai imbangannya dari fihak penjual, produsen, barang-barang yang dibuatnya terdiri dari barang-barang konsumsi, disingkat CP, dan barang-barang modal atau investasi, disingkat I. Barang-barang modal ini terdiri dari ; 1. gedung-gedung, rumah-rumah, pabrik-pabrik, jalan-jalan dan berbagai alat angkutan; Ace Partadiredja Halaman 14-1
2 2. mesin-mesin; 3. barang konsumsi persediaan, baik yang sudah jadi, setengah jadi (masih dajam proses), maupun bahan mentah. Dengan demikian dari segi produksi barang-barang ini terdiri dari : CP + I. Kalau kita gabungkan akan terlihat bahwa : PNB = CE + S PNB = CP + I Kalau CE = CP maka S = I atau tabungan sama dengan investasi. Apakah CE = CP? Bagaimana kalau yang diproduksikan, CP, lebih besar daripada yang dibeli, CE? Barang-barang konsumsi yang terlanjur dibuat tetapi tak dapat dijual akan tertumpuk di gudang, dan merupakan bagian dari persediaan barang jadi, masuk investasi. Dengan demikian CE = CP. Demikian pula apa bila CE lebih besar dari pada CP akan terjadi pengurasan persediaan barang jadi, I berubah menjadi CP dengan kata lain CP bertambah. Kecuali apabila persediaan barang jadi ini habis sama sekali maka gambarannya akan lain. Dengan demikian maka CE = CP pada setiap waktu. Kalau kita perluas lagi maka tabungan ini tidak hanya tabungan rumah tangga saja tetapi juga perusahaan dan pemerintah. Demikian pula investasi tidak hanya perusahaan saja tetapi juga pemerintah. Sedemikian besarnya peranan pemerintah ini sehingga disendirikan. Barang-barang yang dibeli pemerintah sebenarnya tidak hanya terdiri dari barang-barang konsumsi saja seperti alat-alat tulis, kendaraan, dan perabotan, tetapi juga barang-barang investasi seperti jalan-jalan raya, rumah-rumah dan gedung-gedung. Jadi seharusnya dipisahkan antara keduanya. Tetapi kebiasaan selalu menyatukan keduanya menjadi sektor tersendiri. Pengeluaran oleh pemerintah disingkat G, sedangkan penerimaan untuk membiayai pengeluaran ini dinamai penerimaan pemerintah, disingkat T. Dengan demikian jadilah: PNB = CE + S + T PNB = CP + I + G Akhirnya apabila diperluas lagi dengan perniagaan luar negeri, dimasukkanlah impor, M, dan ekspor, X. Dari segi produsen jadilah PNB = CP + I + I + G + (X M). Perbuatan barang-barang konsumsi, barang-barang modal, barangbarang untuk keperluan pemerintah, dan barang-barang yang diperdagangkan dengan luar negeri ini semua merupakan komponenkomponen dari PNB dan/atau PDB. Tingkah laku dan pergerakan keempat komponen inilah yang selalu diperhatikan oleh para ahli Ace Partadiredja Halaman 14-2
3 ekonomi. Naik turunnya komponen ini akan ikut mcnentukan naik turunnya Pendapatan nasional, berarti naik turunnya salah satu indikator kemakmuran negara, di samping indikator-indikator lain. Se-karang marilah kita lihat naik turunnya masing-masing komponen itu dalam Pendapatan Nasional Indonesia sebagai pada gambar 8. : Pada gambar tersebut terlihat naik turunnya masing-masing komponen Pendapatan Nasional. Apabila seluruh komponen itu naik Ace Partadiredja Halaman 14-3
4 maka naik pula Pendapatan Nasional. Apabila seluruh komponen itu turun, akan turun pula Pendapatan Nasional. Apabila sebagian komponen naik dan sebagian lagi turun hasil akhirnya tergantung pada besarnya kenaikan dan penurunan komponen yang naik atau turun tersebut, atau dengan kata lain tergantung pada perimbangan kekuatan masing-masing komponen. Uraian tersebut barulah pada tingkat elementer saja. Tidak semudah itu menentukan tingkat Pendapatan Nasional itu. Pada tingkat yang lebih lanjut akan dikenal lagi apa yang dinamai "aggregate supply" dan "aggregate demand" atau penawaran keseluruhan dan permintaan keseluruhan. Pendapatan Nasional ditentukan oleh interaksi antara permintaan keseluruhan dan penawaran keseluruhan. Untuk tahap sekarang ini baiklah diaklmi sampai tingkat permulaan ini. Selanjutnya marilah kita bahas masing-masing komponen ini satu per satu. FUNGSI KONSUMSI Salah satu komponen Pendapatan Nasional adalah konsumsi. Fungsi konsumsi adalah sebuah fungsi yang menghubungkan laju pengeluaran konsumsi dengan tingkat Produksi Nasional atau Pendapatan Nasional. Di duga bahwa dengan bertambahnya Pendapatan Nasional akan bertambah pula jumlah konsumsi. Pengalaman sehari-hari memberi kesan demikian, apabila pendapatan kita bertambah maka pengeluaran konsumsi juga bertambah. Tentu saja pertambahan pengeluaran konsumsi ini tidak sebanyak pertambahan pendapatan, artinya tambahan pendapatan ini tidak atau belum tentu dihabiskan semua untuk konsumsi kecuali untuk orang-orang yang berpenghasilan rendah. Kalau kita belum mengalaminya sendiri mungkin sudah pernah melihat orang lain yang sudah mengalaminya. Di negara-negara lain sudah banyak penelitian-penelitian belanja keluarga. Penelitian ini memperlihatkan bagaimana belanja konsumsi ini berubah-ubah sesuai dengan naik turunnya pendapatan keluarga. Penelitian yang sudah ada di Indonesia adalah perubahan proporsi belanja makanan dan bukan makanan dari seluruh jumlah uang yang dibelanjakan. Selanjutnya dari angka-angka Pendapatan Nasional juga kita dapat memperoleh gambaran perubahan konsumsi ini. Tabel berikut memperlihatkan besarnya konsumsi setiap tahun dihubungkan dengan tingkat Pendapatan Nasional. Dengan naiknya Pendapatan Nasional atau Produk Nasional, naik pula pengeluaran konsumsi. Karena alasan-alasan itulah maka fungsi konsumsi dituliskan sebagai: C = f(y) dimana C adalah besarnya belanja konsumsi setahun, dan Y adalah Pendapatan Nasional atau Produk Nasional. Ace Partadiredja Halaman 14-4
5 Tambahan dan pengurangan konsumsi ini dinamai "hasrat batas untuk mengkonsumsi atau marginal propensity to consume, MPC, yang secara matematik ditulis sebagai, di mana ΔC adalah perubahan besarnya konsumsi dan ΔY perubahan Pendapatan Nasional. Fungsi konsumsi itu sering dituliskan sebagai suatu fungsi linier, yaitu : C = a + by di mana a dan b adalah konstan. Apabila Y = 0 maka besarnya konsumsi adalah a, b merupakan lereng fungsi. Dengan demikian maka: 0 < ΔC ΔY = b < 1 yaitu bahwa hasrat batas untuk mengkonsumsi adalah sebuah pecahan positif, misalnya 0,8 yang berarti setiap pertambahan pendapatan sebanyak Rp ,00 akan berakibat kenaikan konsumsi Rp ,00. Lain daripada itu meskipun ada kelompok masyarakat yang tidak berpenghasilan sama sekali, Y = 0, tetapi mereka harus makan dan berpakaian. Karena itu untuk Y = 0, a > 0. Tentu saja kelompok yang tidak berpenghasilan ini tidak dapat terus menerus mengkonsumsi, suatu saat mereka juga harus berproduksi. Ace Partadiredja Halaman 14-5
6 Untuk fungsi konsumsi yang linier kita dapat menggambarkannya sebagai berikut : Fungsi konsumsi seperti itu amat bermanfaat untuk analisa penentuan Pendapatan Nasio-nal, karena itu hendaknya difahami benar-benar. TABUNGAN Tabungan berarti pendapatan yang tidak dibelanjakan untuk keperluan konsumsi. Tabungan ini bukan suatu konsep sisa, setelah semua keperluan konsumsi dipenuhi meskipun dalam jumlah memang berarti demikian melainkan suatu pilihan antara membelanjakannya atau tidak. Orang-orang yang kaya akan dengan mudah menyisihkan sebagian pendapatannya untuk tabungan. Tetapi bagi orang miskin mungkin semua pendapatannya dihabiskan untuk konsumsi. Atau mungkin pula malah pengeluarannya lebih besar daripada penerimaannya alias berhutang. Keadaan ini dinamai tabungan negatif atau dissaving. Seseorang dapat mempunyai tabungan negatif pada suatu saat tertentu, tetapi tidak dapat terus menerus berhutang. Karena untuk kelompok miskin itu semua pendapatan dibelanja kan, maka dalam analisa belanja keluarga pengeluaran ini sering dipakai sebagai pengganti pendapatan. Dengan kata lain untuk angkaangka pendapatan digunakan angka-angka pengeluaran. Penggantian ini hanya tepat, untuk golongan berpendapatan rendah, untuk golongan berpendapatan tinggi pendapatan tidak sama dengan pengeluaran karena ada sebagian yang ditabung. Ace Partadiredja Halaman 14-6
7 Tingkah laku tabungan ini diduga berhubungan erat dengan suku bunga dan Pendapatan Nasional. Tetapi belum teruji benar. Dilukiskan secara matematik tabungan ini ada-lah sebagai berikut: S = f ( r, Y) di mana S adalah tabungan, r suku bunga dan Y Pendapatan Nasional. Perubahan tabungan akibat perubahan Pendapatan Nasional dinamai "hasrat batas untuk menabung" atau marginal propensity to save, MPS. Apabila pendapatan bertambah sebagian digunakan untuk konsumsi sebagian lagi ditabung. Dengan demikian 0 < ΔS ΔY < 1 dengan Δs sebagai perubahan tabungan dan Δy perubahan pendapatan. Jadi dihubungkan dengan tambahan konsumsi ΔC ΔY + ΔC ΔY = 1 Digambarkan dalam bentuk grafik tabungan itu adalah sebagai berikut : Untuk kelompok yang berpendapatan rendah, di sebelah kiri titik potong garis S dengan sumbu Y, tabungan besarnya negatif, di sebelah Ace Partadiredja Halaman 14-7
8 kanannya tabungan positif. PEMBENTUKAN MODAL Investasi atau pembentukan modal adalah tambahan pada barang-barang modal, investasi netto adalah tambahan modal dikurangi penyusutan barang-barang modal atau konsumsi modal. Pembentukan modal ini dimungkinkan karena masyarakat tidak mengkonsumsi semua barang yang diproduksi, atau tidak semua barang yang dihasilkan itu berwujud barang konsumsi. Kita ingat bahwa tidak semua pendapatan itu dibelanjakan untuk keperluan konsumsi, melainkan sebagian ditabung. Untuk investasi ini diperlukan tabungan. Tabungan dan investasi ini tidak dikerjakan oleh orang yang sama, tabungan oleh Rumah Tangga dan Perusahaan, sedang investasi oleh sektor Perusahaan. Sebagian investasi dibiayai oleh tabungan perusahaan itu sendiri, tetapi sebagian lagi bahkan mungkin sebagian besar, dibiayai oleh tabungan Rumah Tangga lewat pinjaman dari Bank. Faktor-faktor yang menentukan tinggi rendahnya investasi ini banyak sekali: Pertama, Pendapatan Nasional. Makin tinggi Pendapatan Nasional makin tinggi pula pengeluaran konsumsi. Pengeluaran konsumsi yang makin tinggi memerlukan produksi barang-barang konsumsi yang lebih banyak. Produksi barang-barang konsumsi yang lebih banyak memerlukan barang-barang modal yang lebih banyak pula. Lain daripada itu kenaikan Pendapatan Nasional akan membangkitkan harapan (expectation) pengusaha untuk memperoleh untung dari kenaikan volume usaha. Harapan ini pula yang mendorong pengusaha untuk menambah modal. Harapan pengusaha akan kenaikan kegiatan perekonomian inilah yang merupakan faktor dinamis yang sukar diramalkan dan karena itu amat mudah berubah. Investasi yang dirangsang oleh pertambahan Pendapatan Nasional ini dinamai investasi yang dirangsang atau induced investment; sedang investasi yang tidak ditentukan oleh Pendapatan Nasional, melainkan faktor lain yang mempengaruhi harapan pengusaha dinamai investasi yang otonom atau autonomous investment. Seringkali harapan ini dihubungkan dengan suku bunga. Apabila harapan keuntungan misalnya 24 % dari investasi lebih tinggi daripada bunga investasi misalnya 10% maka pengusaha akan berani memperluas usahanya dengan menambah modal. Terlihat di sini bahwa harapan itu dikuantifikasi. Dirumuskan dalam bentuk fungsi, investasi itu adalah sebagai berikut: I = f (r, Y) di mana I adalah investasi; selanjutnya Ace Partadiredja Halaman 14-8
9 ΔI ΔY > 0 kenaikan pendapatan disertai dengan kenaikan investasi, dan ΔI Δr < 0 kenaikan bunga disertai dengan penurunan investasi dan sebaliknya. Hubungan antara bunga dengan investasi ini sebenarnya belum teruji benar, masih dugaan atau hipotesa. Hubungan antara investasi dengan pendapatan Nasional terlihat pada tabel berikut: Dari tabel 5.2. tersebut terlihat bahwa dengan naiknya Pendapatan Nasional naik pula investasi, jadi nampak seperti investasi yang terangsang oleh Pendapatan Nasional. Tetapi siapa tahu bahwa di dalamnya termasuk pula investasi yang otonom. Kedua macam investasi ini bila digambarkan akan terlihat sebagai berikut: di mana I adalah investasi yang otonom tidak tergantung pada Pendapatan Nasional dan I adalah investasi yang terangsang yang naik turun bersama Pendapatan Nasional. Ace Partadiredja Halaman 14-9
10 PENGELUARAN PEMERINTAH Pengeluaran pemerintah sebagai suatu komponen yang makin besar ditentukan oleh atau fungsi dari politik pemerintah sendiri. Politik pemerintah hampir semata-mata terletak di luar bidang ekonomi. Karena itu pengeluaran pemerintah ini diramalkan dari tindak tanduk pemerintah sendiri. EKSPOR DAN IMPOR Besarnya ekspor sebagian ditentukan oleh permintaan luar negeri dan sebagian lagi oleh keadaan di dalam negeri seperti tingkat harga dibandingkan dengan barang yang sama dari negeri lain, hubungan dagang dan politik, politik perniagaan luar negeri, mutu barang, dan perangsang-perangsang ekspor. Demikian pula besarnya impor dari luar negeri. PENDAPATAN YANG SEIMBANG Di negara-negara yang sudah maju perhatian ahli-ahli ekonomi tertuju pada konsep Pendapatan Nasional yang seimbang (equilibrium income). Pendapatan Nasional yang seimbang adalah suatu tingkat Pendapatan Nasional yang setiap kali ada gangguan akan kembali ke arah tingkat itu. Kalau misalnya Rp milyar adalah tingkat pendapatan yang seimbang, setiap kali ada gangguan yang mengakibatkan pendapatan ini naik atau turun, akhirnya pendapatan ini akan kembali ke tingkat yang seimbang ini. Adanya pendapatan yang seimbang ini disebabkan oleh berimbangnya kekuatan-kekuatan konsumen yang membelanjakan Ace Partadiredja Halaman 14-10
11 pendapatannya dengan produsen yang menghasilkan barang-barang dan jasa-jasa. Kita ketahui bahwa dari segi konsumen yang membelanjakan pendapatannya, pendapatan itu dapat dikeluarkan untuk membeli barangbarang konsumsi atau ditabung. Jadi: Y = CE + S dengan CE adalah konsumsi yang ditentukan oleh pendapatan, dan S adalah tabungan yang juga ditentukan oleh pendapatan. Dari segi produsen barang-barang yang dihasilkan terdiri dari barang-barang konsumsi dan barang-barang investasi. Jadi: Y = CP + I dengan Cp adalah jumlah barang-barang konsumsi yang dihasilkan, dan I adalah barang-barang modal. Perekonomian akan mengalami suatu keseimbangan apabila jumlah barang-barang konsumsi yang benar-benar dihasilkan sama dengan jumlah yang ingin dibeli oleh konsumen. Apabila ini terjadi, maka jumlah uang yang ditabung akan sama dengan investasi, dan tidak akan ada kelebihan tabungan. Kalau CP > CE, sejumlah barangbarang konsumsi tidak akan terjual, dan tabungan akan lebih banyak daripada investasi; dengan kata lain akan ada kelebihan tabungan. Penjualan akan lebih kecil daripada yang diduga pengusaha dan persediaan barang-barang yang sebenarnya tidak diinginkan akan makin bertumpuk. Jadi pedagang akan mengurangi pesanannya, pengusaha produsen akan mengurangi produksinya, dan Pendapatan Nasional akan menciut kembali. Penciutan ini akan mengurangi tabungan dan investasi bersama-sama sehingga keduanya akan sama kembali, asalkan tabungan berkurang lebih cepat daripada investasi. Dengan demikian keseimbangan akan tercapai kembali di mana jumlah barang-barang konsumsi yang diproduksikan sama dengan jumlah yang dibeli konsumen dan Pendapatan Nasional tidak akan berubah lagi. Sebaliknya apabila Cp < CE; penjualan barang-barang akan lebih cepat dari dugaan semula, persediaan barang-barang akan berkurang. Pedagang akan memesan barang-barang lebih banyak, produsen akan menghasilkan barang-barang lebih banyak, dan Pendapatan Nasional akan naik menuju ke tingkat yang seimbang. Kembali tabungan akan sama dengan investasi. Dengan demikian jelas bahwa tidak akan terjadi pengembangan atau penciutan Pendapatan Nasional kalau Cp = CE?. Kalau Cp = CE, maka I = S. Kesimpulannya adalah bahwa bila terjadi kesamaan antara S dan I maka, keseimbangan perekoriomian tercapai. Digambarkan dengan grafik keseimbangan itu mempunyai bentuk seperti : Ace Partadiredja Halaman 14-11
12 Pada gambar tersebut Y adalah tingkat Pendapatan Nasional yang seimbang. Setiap kali ada gerakan yang membuat S dan I tidak sama sehingga merubah Y maka terjadi serentetan gerakan yang menuju ke titik keseimbangan. Perlu dikemukakan bahwa meskipun pendapatan yang seimbang ini sudah tercapai dalam masyarakat, belum tentu semua karyawan terkerjakan dan semua mesin beserta pabrik-pabrik terpakai penuh. Dengan kata lain mungkin saja pada tingkat Pendapatan Nasional yang seimbang ini terdapat pengangguran alat-alat dan manusia, yang berarti pendapatan itu masih dapat ditingkatkan, dengan menaikkan investasi, konsumsi atau cara lain. Pada gambar di atas mungkin sekali pendapatan yang seimbang terletak pada Y sedangkan pendapatan dengan penggunaan alat-alat dan orangorang pada kapasitas penuh adalah pada P. Pendapatan seimbang pada kapasitas penuh dan kurang dari penuh ini merupakan bahan pertikaian yang ramai antara para ahli ekonomi klassik dengan ahli ekonomi Keynesian, sebagaimana dapat kita ikuti dalam sejarah pemikiran ekonomi dari zaman ke zaman. Keseimbangan pendapatan ini dapat juga diterangkan dengan menggunakan fungsi-fungsi konsumsi, investasi, dan pengeluaran pemerintah dengan hasil yang sama. Ace Partadiredja Halaman 14-12
13 Pada gambar 13 garis diagonal 45 adalah garis yang menunjukkan Y = C + I + G. Setiap titik yang terletak di luar garis ini berarti C + I + G, yang lebih besar atau lebih kecil daripada Y. Sedang garis C + I + G menunjukkan jumlah-jumlah konsumsi, investasi, dan pengeluaran pemerintah yang direncanakan untuk berbagai tingkat Y. Pada titik pertemuan antara C + I + G dengan Y Pendapatan Nasional akan seimbang, setiap ada gerakan yang merubah hingga Pendapatan Nasional bergoyang naik atau turun, maka Pendapatan Nasional ini akan kembali ke titik keseimbangan, asalkan besarnya konsumsi, investasi, dan pengeluaran pemerintah yang direncanakan tidak berubah, atau dengan kata lain asalkan garisgaris C, I dan G tidak berubah. Pada tingkat pelajaran yang lebih lanjut akan diketahui bahwa garis 45 ini adalah "aggregate supply" dan garis C, I dan G ditambah dengan kegiatan ekspor dan impor (X - M) adalah "aggregate demand". PENGARUH ANGKA PELIPAT Sudah diterangkan bahwa Pendapatan Nasional yang seimbang ini akan tercapai selama konsumsi, investasi, dan pengeluaran pemerintah (ekspor dan impor juga termasuk apabila ada perniagaan luar negeri) tidak berubah. Bagaimana jadinya apabila komponen-komponen ini berubah? Pendapatan yang seimbang juga akan berubah. Apabila salah satu komponennya naik, maka Pendapatan Nasional yang seimbang juga akan naik, tetapi dengan jumlah yang lebih besar berlipat-lipat kali. Ace Partadiredja Halaman 14-13
14 Angka untuk melipat pertambahan ini dinamai pelipat (multiplier). Apabila pemerintah menaikkan investasi sebanyak Rp 100 juta terus menerus setiap saat (mungkin di Indonesia ini misalnya setiap tahun) maka Pendapatan Nasional akhirnya akan bertambah empat kali lipat, yaitu sebanyak Rp 400 juta. Demikian juga apabila konsumsi dan pengeluaran pemerintah itu naik. Pada gambar 14 kita umpamakan pendapatan yang seimbang terletak pada Y, dengan rencana konsumsi, investasi, dan pengeluaran pemerintah setinggi C + I + G. Dengan suatu program pembangunan kalangan swasta menambah investasi, atau pemerintah menaikkan pengeluarannya terus menerus hingga dari C + I + G naik ke C' + I' + G' sebanyak jarak AB pada gambar 14. Kita lihat bahwa Y telah naik dari Y ke Y' yang besarnya berlipat kali AB. Kenaikan pendapatan akibat kenaikan konsumsi atau investasi, atau pengeluaran pemerintah ini tergantung pada lereng garis C + I + G. Makin curam lereng itu makin besar pelipatnya. Cobalah melukis sendiri! Kita mengetahui bahwa lereng ini adalah hasrat batas untuk mengkonsumsi, MPC yang sama dengan lereng garis investasi dan garis pengeluaran pemerintah, apabila besarnya tidak berubah pada berbagai titik Y. MPC ini berupa suatu pecahan misalnya 0,75, berarti setiap pertambahan Y sebanyak Rp akan (direncanakan) menaikkan konsumsi sebanyak Rp Apabila MPC = 0,75 maka MPS, hasrat batas untuk menabung adalah 1 0,75 = 0,25. Apabila swasta atau pemerintah menaikkan pengeluaran sebanyak Rp maka penerima pendapatan tambahan ini akan membelanjakannya lagi sebanyak Rp , dan penerima yang Rp ini akan membelanjakannya sebanyak 0,75 x Rp = Rp dan demikian seterusnya. Apabila terjadi terus menerus maka jumlah pendapatan dari mula sampai akhir adalah 4 x Rp = Rp Angka 4 sebagai pelipat ini berasal dari: 1 1 MPC = 1 MPS Jadi pelipat itu adalah kebalikan dari MPS. Makin kecil MPS makin besar angka pelipat ini. Pada tingkat yang lebih lanjut akan dipelajari perbedaan antara kenaikan pengeluaran yang hanya satu kali saja dan kenaikan pengeluaran yang terus menerus. Yang dimaksud dengan kenaikan pengeluaran satu kali ini adalah kenaikan yang hanya terjadi sekali dan untuk selanjutnya kembali ke jumlah asal, misalnya asalnya pengeluaran itu Rp 1 juta lalu naik menjadi Rp , tetapi hanya satu kali saja, untuk selanjutnya kembali pada Rpl juta. Sedang yang dimaksud dengan kenaikan terus menerus adalah bahwa yang Rp ini terus dipertahankan. Untuk pengeluaran yang satu kali pelipat ini berlaku untuk kenaikan pendapatan dari saat dimulainya pengeluaran itu sampai dengan selesainya proses pertambahan pendapatan dalam masyarakat. Sedang untuk pengeluaran yang terus menerus pelipat ini dimaksudkan untuk saat yang terakhir saja ketika pendapatan sudah naik sebanyak 4 Ace Partadiredja Halaman 14-14
15 kali lipat. Yang dimaksud dengan saat di sini tidaklah pasti, mungkin satu tahun, enam bulan, lima tahun, dan sebagainya, tergantung pada kecepatan anggota masyarakat itu untuk membelanjakan kembali pendapatan yang diterimanya. Makin cepat pendapatan yang diterimanya itu dibelanjakan kembali makin pendek waktu yang diperlukan untuk menaikkan pendapatan, dan makin lama orang memegang uang makin lama pula kenaikan pendapatan seimbang yang baru akan tercapai. Bagaimanapun juga proses menerima pendapatan dan mengeluarkannya kembali makan waktu tertentu, sehingga untuk mencapai Pendapatan Nasional seimbang yang baru juga makan waktu. Konsep pelipat atau multiplier ini mempunyai implikasi yang penting bagi kebijaksanaan negara. Setiap kali pemerintah mengeluarkan uang untuk konsumsi (kertas tulis, alat-alat kantor), investasi (dam, jaringan irigasi, jalan raya, bangunan) maka pendapatan masyarakat akan bertambah berlipat ganda. Misalnya pemerintah mengeluarkan uang untuk program subsidi desa sebanyak Rp ,00 per tahun maka pendapatan masyarakat akan naik beberapa kali asalkan syaratnya terpenuhi. Tidak hanya pendapatan pembuat bata merah, pedagang pasir dan batu saja yang naik, tetapi mungkin juga pedagang pakaian, radio, sepeda dan lain-lain yang menerima pendapatan dari, penerima yang pertama. Harus diingat bahwa kenaikan pendapatan yang berlipat ganda besarnya disbanding dengan pertambahan semula hanya terjadi bila syaratsyaratnya terpenuhi. Pertama, apabila penerima pendapatan ini Ace Partadiredja Halaman 14-15
16 membelanjakan kembali uang yang diterimanya. Kalau mereka menahannya, berhenti pulalah proses pengembangan pendapatan ini, sekurang-kurangnya diperlambat waktunya. Kedua, apabila uang yang diterima ini dibelanjakan pada barang buatan dalam negeri. Kalau dibelanjakan pada barang luar negeri, proses penambahan pendapatannya akan terjadi di luar negeri pula. Proses pemindahan ke luar negeri inilah yang dalam literatur ekonomi disebut kebocoran (leakage), Jadi agar proses pelipat gandaan pendapatan ini terjadi di dalam negeri tidak boleh ada kebocoran. Tetapi untuk negara yang terbuka, artinya yang mempunyai hubungan dagang dengan luar negeri kebocoran ini tidak dapat dan tidak perlu dihindarkan. Seorang pegawai yang menerima kenaikan gaji mungkin menggunakannya untuk membeli lemari es buatan Jepang, sehingga yang untung adalah pengusaha lemari es di Jepang. Demikian pula sebaliknya pengusaha di Jepang yang memperoleh pendapatan tambahan karena usahanya maju akan membeli jagung hasil produksi petani Indonesia, mudah-mudahan petani Indonesia untung. Ketiga, proporsi tambahan pendapatan yang dibelanjakan kembali tidak berubah, misalnya tetap sebanyak 0,75. Kalau proporsinya ini mengecil akan mengecil pula pelipatnya dan akan kecil pula tambahan pendapatan dari itu. Nampaknya proporsi pendapatan yang dibelanjakan kembali ini berbeda-beda untuk tiap keluarga. Bagi keluargakeluarga miskin sebagian besar atau seluruh pendapatannya ini akan dibelanjakan kembali. Tetapi bagi golongan kaya sebagian pendapatannya akan ditabung. Dari sini dapat ditarik pelajaran bahwa anggaran yang dikeluarkan bagi golongan miskin akan mempunyai efek pelipat yang lebih besar daripada yang dikeluarkan bagi golongan kaya. RELEVANSINYA BUAT INDONESIA Analisa pendapatan yang seimbang dan hubungannya dengan pengangguran dan pengerjaan (employment) mendapat perhatian sarjana ekonomi negara-negara maju. Mereka tertarik pada stabilitas perekonomian. Untuk mengetahui perekonomian yang stabil ini mereka mencari faktorfaktor apa yang kiranya akan mengganggu. Lain dari itu perhatian mereka tertuju juga pada pengangguran dan pengerjaan. Apakah pendapatan yang seimbang ini lebih rendah dari pendapatan pada pengerjaan penuh (full employment) ataukah malah sudah melampauinya, yang akan berarti inflasi. Pengangguran dan inflasi merupakan hantu yang menakutkan bagi mereka. Tetapi ternyata bahwa pada saat ini dua hantu ini telah menjelma di beberapa negara yang sudah maju. Perekonomian mengalami stagnasi dan inflasi melanda dengan hebat, inilah yang dinamai keadaan stagflasi (stagflation). Di Indonesia yang disebut menganggur itu tidak sama dengan negara-negara maju. Kalau di negara maju orang yang menganggur itu benar-benar tidak mempunyai pekerjaan dan tidak ada sanak keluarga yang sudi menampung; di Indonesia orang yang disebut menganggur itu masih mempunyai pekerjaan meskipun hanya sekedar memungut Ace Partadiredja Halaman 14-16
17 puntung rokok atau membantu di sawah dan ladang. Sanak keluarga mereka juga masih bersedia menampung meskipun sama-sama melarat berkat sistem sosial Indonesia. Sarjana ekonomi di negara-negara yang berkembang tidak hanya tertarik pada Pendapatan Nasional yang seimbang tetapi juga dan terlebihlebih lagi pada pertumbuhan ekonomi. Sekali sudah memperhatikan pertumbuhan ekonomi faktor non-ekonomis yang biasanya tidak diperhatikan itu dimasukkan ke dalam pertimbangannya. Karena itu ahliahli ekonomi di negara-negara berkembang sangat memperhatikan ekonomika pembangunan. Pembahasan mengenai pendapatan yang seimbang perlu untuk mengetahui pemikiran orang-orang di dunia maju beserta masalahnya dan juga untuk kegiatan akademis sarjana-sarjana ekonomi. Di dunia maju sendiri sesuatu teori tidak berlangsung selamanya, suatu waktu akan ditumbangkan orang dan dibangun teori baru untuk kemudian bernasib sama pula. Begitulah ihnu mengalami kemajuannya. Ace Partadiredja Halaman 14-17
18 LATIHAN 1. "Pendapatan Nasional mempunyai pengaruh yang lebih besar atas investasi daripada tingkat bunga." Berilah penjelasan! 2. Pengeluara pemerintah ditentukan oleh faktor-faktor politik, tetapirumus yang ham-pir lengkap adalah: Y = C + S + G dengan demikian apakah + = 1 masih berlaku? 3. Apakah keuntungan perusahaan tahun ini dapat digunakan untuk meramalkan tingkat investasi di masa yang akan datang? 4. Apa yang terjadi bila CE < CP? 5. Terangkan pentingnya konsep "hasrat batas untuk mengkonsumsi" dan "hasrat batas untuk menabung. 6. Dalam analisa diketahui bahwa dalam keadaan keseimbangan pendapatan S = I dan Y = C + I. Buktikanlah bahwa keduanya menunjukkan kondisiyang sama!. 7. Apabila pendapatan naik dengan Rp 100 juta konsumsi yang direncanakan juga naik dengan Rp 80 juta. Umpamakan fungsi konsumsi linier, berapakah pendapatan seimbang baru apabila konsumsi turun Rp 80 juta? Berapakah pelipatnya? 8. Umpamakan C = ,8 Y I = 10 G = 20 dan pendapatan yang seimbang adalah : Y = C + I + G. Kalau pendapatan seimbang pada pengerjaan penuh (full employment) terletak pada Y = 400, berapakah pemerintah harus menambah/mengurangi pengeluarannya? Umpamakan pelipat pengeluaran pemerintah sama dengan pelipat konsumsi. 9. Kalau b merupakan lereng fungsi konsumsi, berapakah pelipat konsumsi k? Apakah pengaruh perubahan hasrat batas untuk mengkonsumsi (MPC) atas k? 10. Umpamakan C = ,6 (Y - T) di mana T = pajak I = 10 G = 20 keseimbangan terletak pada Y = C(Y - T) + I + G. Apabila T = 12 berapakah Y? 11. Ceriterakanlah mekanisme kerja pelipat dengan memakai contoh angkaangka!. Ace Partadiredja Halaman 14-18
FUNGSI KONSUMSI, TABUNGAN, PENDAPATAN NASIONAL
FUNGSI KONSUMSI, TABUNGAN, PENDAPATAN NASIONAL 6.1 Pendahuluan Dalam ekonomi makro, pengeluaran seseorang yang digunakan untuk konsumsi dipengaruhi oleh tingkat pendapatannya. Konsumsi akan semakain tinggi
KESEIMBANGAN EKONOMI Melihat lebih mendalam keseimbangan Pendapatan Nasional yang ditentukan oleh Pengeluaran Agregat ( Pendekatan Keynesian )
KESEIMBANGAN EKONOMI Melihat lebih mendalam keseimbangan Pendapatan Nasional yang ditentukan oleh Pengeluaran Agregat ( Pendekatan Keynesian ) PREPARED BY : S. K.TOMASOA, SE.,M.Si. Keseimbangan Ekonomi
Pengeluaran Agregat yang direncanakan (AE) dan Ekuilibrium Output
Pengeluaran Agregat yang direncanakan (AE) dan Ekuilibrium Output 1. Model Arus Lingkar Pendapatan (The Circular Flow of Income model) 2. Pengeluaran Agregate yang direncanakan (Agregate Expenditure, AE)
Model Keseimbangan Pengeluaran Dua Sektor
4. Model Keseimbangan Pengeluaran Dua Sektor Mengapa Anda Perlu Tahu Ketika seseorang bekerja pada perusahaan atau pemerintah maka dia akan mendapatkan gaji. Tentu, gaji yang didapatkan perlu dipotong
BAB 2. Keseimbangan Perekonomian Dua Sektor (Tertutup Sederhana)
BAB 2 Keseimbangan Perekonomian Dua Sektor (Tertutup Sederhana) Perekonomian tertutup merupakan perekonomian yang tidak mengenal hubungan ekonomi dengan negara lain (seperti ekspor, transaksi impor, transaksi
KONSUMSI DAN INVESTASI. Oleh : AGUS ARWANI, SE, M.Ag.
KONSUMSI DAN INVESTASI Oleh : AGUS ARWANI, SE, M.Ag. MEMAHAMI KONSUMSI DAN TABUNGAN Konsumsi Tabungan Fungsi Konsumsi APC MPC Garis 45 0 Fungsi Tabungan APS Grafis Matematis Grafis Matematis Komponen Pendapatan
Pertanyaan: Isi semua kolom tersebut (sertakan perhitungannya di bawah tabel)
Tugas PIE Makro 1. Diketahui: C = 50 + 0,8 Yd S = - 50 + 0,2 Yd I = 40 Pendapatan Nasional Konsumsi RT Tabungan RT Investasi Pengeluaran Agregat 0 150 200 450 600 750 Pertanyaan: Isi semua kolom tersebut
IV. FUNGSI PENDAPATAN (Penerapan Fungsi Linear dalam Teori Ekonomi Makro)
IV. FUNGSI PENDAPATAN (Penerapan Fungsi Linear dalam Teori Ekonomi Makro) Yang dimaksud fungsi pendapatan disini adalah Pendapatan Nasional (Y) yaitu pendapatan masyarakat suatu negara secara keseluruhan
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Kebutuhan manusia selalu berkembang sejalan dengan tuntutan zaman, tidak
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kebutuhan manusia selalu berkembang sejalan dengan tuntutan zaman, tidak sekedar memenuhi kebutuhan hayati saja, namun juga menyangkut kebutuhan lainnya seperti
Kerangka IS-LM. Sebuah Pengantar untuk Keseimbangan Permintaan Agregat (AD)
7. Kerangka IS-LM Sebuah Pengantar untuk Keseimbangan Permintaan Agregat (AD) Mengapa Anda Perlu Tahu Pembahasan model keseimbangan silang Keyness mengasumsikan bahwa tingkat suku bersifat eksogen dalam
PERPUTARAN DALAM PEREKONOMIAN
PERPUTARAN DALAM PEREKONOMIAN TIK: Setelah mengikuti mata kuliah ini mahasiswa memahami tentang kapasitas dan pengukuran produksi nasional. TIU: Setelah mengikuti mata kuliah ini mahasiswa diharapkan mampu
Pertemuan ke-4 KONSUMSI DAN INVESTASI
1 Pertemuan ke-4 KONSUMSI DAN INVESTASI Tujuan Instruksi Khusus: Mahasiswa dapat memahami hubungan nilai variable permintaan agregat (keynessian), pendapatan nasional keseimbangan dan sistem keuangan.
Consumption - Saving - Investment
Consumption - Saving - Investment 1 Unsur yang mempengaruhi turun naiknya tingkat pendapatan nasional : Consumption atau Konsumsi (C) Saving atau Tabungan (S) Investment atau Investasi (I) 2 Pendapat mengenai
1. Pengertian dan fungsi ekonomi, 2. MAKRO. 3. MIKRO
Silabus: 1. Pengertian dan fungsi ekonomi, 2. MAKRO. 3. MIKRO Peran pemerintah dalam bidang ekonomi. Organisasi Bisnis dan Keuangan Produksi dan Pendapatan Nasional. Uang dan Lembaga Keuangan Bank Indonesia.
KONSUMSI, DAN TABUNGAN, DAN INVESTASI
KONSUMSI, DAN TABUNGAN, DAN INVESTASI A. PENDAHULUAN Pendapatan (Income) adalah jumlah balas jasa yang diterima pemilik faktor produksi selama 1 tahun. Pendapatan disimbolkan dengan (Y). Konsumsi (Consumption)
BAB I PENDAHULUAN. makroekonomi. Pengeluaran konsumsi seseorang adalah bagian dari. pendapatannya yang di belanjakan. Apabila pengeluaran pengeluaran
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pengeluaran konsumsi masyarakat merupakan salah satu variabel makroekonomi. Pengeluaran konsumsi seseorang adalah bagian dari pendapatannya yang di belanjakan.
Prof. Dr. Almasdi Syahza, SE., MP Peneliti dan Pengamat Ekonomi Pedesaan Blog:
Pokok Bahasan 3 PENENTUAN KEGIATAN EKONOMI Dosen Pengampu: Prof. Dr. H. Almasdi Syahza, SE., MP Email: [email protected]; [email protected] Guru Besar Universitas Riau Pandangan Klasik, Keynes
Model Keseimbangan Pengeluaran dengan Campur Tangan Pemerintah
5. Model Keseimbangan Pengeluaran dengan Campur Tangan Pemerintah Mengapa Anda Perlu Tahu Kita tulis kembali krisis yang melanda Indonesia tahun 1997 sebagai momentum memasukkan peran pemerintah dalam
BAB 2 Ilmu Ekonomi Makro
BAB 2 Ilmu Ekonomi Makro Satuan Acara Perkuliahan 2 Tujuan kegiatan belajar ini adalah untuk membahas : Akar Ilmu Ekonomi Makro Definisi Ekonomi Makro Perbedaan ekonomi makro dan ekonomi mikro Permasalahan
BAB 3 KESEIMBANGAN PEREKONOMIAN TIGA SEKTOR (TERTUTUP)
BAB 3 KESEIMBANGAN PEREKONOMIAN TIGA SEKTOR (TERTUTUP) 3.1 Aliran Pendapatan dan Syarat Keseimbangan Perekonomian tiga sektor diartikan sebagai perekonomian yang terdiri dari sektor rumah tangga, perusahaan
digambarkan sebagai berikut: C/S
FUNGSI KONSUMSI, FUNGSI TABUNGAN DAN PENDAPATAN NASIONAL Seorang ahli dalam bidang ekonomi bernama Keyness, mempunyai pendapat bahwa pengeluaran seseorang untuk konsumsi dipengaruhi oleh pendapatannya.
Jenis-Jenis Inflasi. Berdasarkan Tingkat Keparahan;
INFLASI Pengertian Inflasi Inflasi adalah suatu keadaan perekonomian dimana harga-harga secara umum mengalami kenaikan dan kenaikan harga itu berlangsung dalam jangka panjang. Inflasi secara umum terjadi
BAB II LANDASAN TEORI. ekonomi sendiri berasal dari kata Yunani οἶκος (oikos) yang berarti keluarga,
6 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Ekonomi dan Pertumnbuhan Ekonomi Sebuah Ekonomi adalah sistem aktivitas manusia yang berhubungan dengan produksi, distribusi, pertukaran, dan konsumsi barang dan jasa. Kata
BAB I PENDAHULUAN. masyarakat dan meningkatnya tingkat kemiskinan. suatu negara. Gambar 1.1 dibawah ini menunjukkan tingkat inflasi yang terjadi di
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Inflasi merupakan salah satu indikator penting dalam perekonomian yang tidak bisa diabaikan, karena dapat mengakibatkan dampak yang sangat luas baik terhadap
PENGANGGURAN, INFLASI & KEBIJAKAN PEMERINTAH
BAB 10 PENGANGGURAN, INFLASI & KEBIJAKAN PEMERINTAH KELOMPOK 9 DICKY 21216349 EZHA 21216363 NAUFAL 21216351 PENGANGGURAN PENGERTIAN PENGANGGURAN Pengangguran adalah keadaan tanpa pekerjaan yang dihadapi
BAB I PENDAHULUAN. menghambat usaha untuk memobilisasi tabungan.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam perekonomian suatu Negara, tabungan dan investasi merupakan salah satu indikator yang dapat menentukan tingkat pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi
SIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN
273 VII. SIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN 7.1. Simpulan Berdasarkan hasil analisis deskripsi, estimasi, dan simulasi peramalan dampak kebijakan subsidi harga BBM terhadap kinerja perekonomian, kemiskinan,
Skedul Konsumsi Atau Daftar. Konsumsi
PERILAKU KONSUMSI FUNGSI KONSUMSI Skedul Konsumsi Atau Daftar Pendapat an pribadi setelah pajak (GDP = DI) Konsumsi Konsumsi ( C ) Tabungan (saving /dissaving) ( S ) 370 375-5 390 390 0 410 405 5 430 420
BAB I PENDAHULUAN. perlindungan, hiburan dan kebutuhan hidup lainnya. Untuk memenuhi kebutuhan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Manusia selama hidupnya selalu melakukan kegiatan dalam memenuhi kebutuhannya, baik berupa kebutuhan akan makanan, pakaian, tempat perlindungan, hiburan dan kebutuhan
Pembahasan Soal UTS PTE Makro 2016/2017
Pembahasan Soal UTS PTE Makro 2016/2017 1. Ekonomi makro adalah cabang dari ilmu ekonomi yang membahas? : C. Perekonomian secara agregatif Alasan : Teori Ekonomi Makro adalah suatu cabang ilmu ekonomi
ANALISA PENDAPATAN NASIONAL
ANALISA PENDAPATAN NASIONAL Keadaan ekonomi yang diharapkan oleh suatu negara:. Tingkat kesempatan kerja (KK) yang tinggi 2. Peningkatan kapasitas produksi nasional yang tinggi 3. Tingkat pendapatan nasional
PENDAPATAN NASIONAL PENDAPATAN N A S I O N A L: W A KTU KE W A KTU D A E R A H
PENDAPATAN NASIONAL MANFAAT PERHITUNGAN D A N A N A LISA PENDAPATAN N A S I O N A L: 1. MENGETAHUI D A N MENELAAH S TRUKTUR S I S TEM PEREKONOMIAN 2. MEMBANDINGKAN PEREKONOMIAN D A R I W A KTU KE W A KTU
PENDAPATAN NASIONAL A. ARUS PERPUTARAN EKONOMI B. PENDAPATAN NASIONAL C. CARA MENGHITUNG GNP D. SEKTOR-SEKTOR GNP E. UNSUR GNP F.
PENDAPATAN NASIONAL A. ARUS PERPUTARAN EKONOMI B. PENDAPATAN NASIONAL C. CARA MENGHITUNG GNP D. SEKTOR-SEKTOR GNP E. UNSUR GNP F. PENGGUNAAN GNP G. MANFAAT PENDAPATAN NASIONAL A. ARUS PERPUTARAN EKONOMI
Materi UTS Matematika Ekonomi dan Bisnis
Materi UTS Matematika Ekonomi dan Bisnis 1. Fungsi permintaan, fungsi penawaran dan keseimbangan pasar sebelum dan sesudah pajak 2. Fungsi Biaya, Fungsi Penerimaann dan Analisis Pulang Pokok. 3. Fungsi
SKEDUL KONSUMSI ATAU DAFTAR. KONSUMSI
SKEDUL KONSUMSI ATAU DAFTAR. KONSUMSI PERILAKU KONSUMSI FUNGSI KONSUMSI Skedul Konsumsi Atau Daftar Konsumsi Pendapat an pribadi setelah pajak (GDP = DI) Konsumsi (C) Tabungan (saving /dissaving) (S) 370
PANDANGAN AHLI EKONOMI KLASIK
PANDANGAN AHLI EKONOMI KLASIK Pandangan ini didasarkan kepada keyakinan bahwa di dalam perekonomian tidak akan terdapat kekurangan permintaan Hal tersebut berdasarkan pandangan Jean Baptise Say (1767-1832)
Permintaan Agregat dalam Perekonomian Tertutup: Perilaku Pasar Barang dan Pasar Uang
Modul 1 Permintaan Agregat dalam Perekonomian Tertutup: Perilaku Pasar Barang dan Pasar Uang Arief Ramayandi, S.E., MecDev., Ph.D. Ari Tjahjawandita, S.E., M.Si. M PENDAHULUAN odul ini akan menjelaskan
BAB II KAJIAN PUSTAKA. materi tersebut disampaikan secara berurutan, sebagai berikut.
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori Dalam bab landasan teori ini di bahas tentang teori Produk Domestik Regional Bruto, PDRB per kapita, pengeluaran pemerintah dan inflasi. Penyajian materi tersebut
Modul ke: Pendahuluan. Fakultas FAK. EKONOMI & BISNIS. Cecep W. Program Studi. S-1 Manajemen.
Modul ke: Pendahuluan Fakultas FAK. EKONOMI & BISNIS Cecep W Program Studi S-1 Manajemen www.mercubuana.ac.id Materi 1 Kontrak Perkuliahan Tujuan Ruang Lingkup Mengapa orang perlu mempelajari Ilmu Ekonomi?
3/26/2010 Created by Navik istikomah, SE, MSi
Yang dimaksud dengan perekonomian dua sektor adalah perekonomian yang terdiri dari sektor rumah tangga dan perusahaan Hubungan antara konsumsi dan pendapatan Pada saat pendapatan rendah, rumah tangga mengorek
08. Tabel biaya dan produksi suatu barang sebagai berikut : Jumlah produksi Biaya tetap Biaya variabel Biaya total 4000 unit 5000 unit 6000 unit
EKONOMI KHUSUS 01. Dalam rangka menjaga kestabilan arus uang dan arus barang dalam perekonomian, bank sentral dapat melakukan penjualan dan pembelian surat-surat berharga di bursa efek. Kebijaksanaan bank
BAB I PENDAHULUAN. negara. Inflasi itu sendiri yaitu kecenderungan dari harga-harga untuk menaik
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Inflasi merupakan fenomena ekonomi yang sangat ditakuti oleh semua negara. Inflasi itu sendiri yaitu kecenderungan dari harga-harga untuk menaik secara umum
BAB II PENDAPATAN NASIONAL
BAB II PENDAPATAN NASIONAL A. PENGERTIAN Pendapatan nasional merupakan salah satu indikator keadaan ekonomi suatu negara. Terdapat beberapa istilah dalam produksi nasional antara lain : a. GNP ( Gross
KESEIMBANGAN AGREGAT DEMAND AGREGAT SUPPLY
KESEIMBANGAN AGREGAT DEMAND AGREGAT SUPPLY L Suparto LM,.M.Si AGREGAT DEMAND-AGREGAT SUPPLY Dengan memperkenalkan peranan uang dalam perekonomian, dan menerangkan teori Keynes yang menyatakan bahwa tingkat
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Teori Makroekonomi Makroekonomi adalah teori dasar kedua dalam ilmu ekonomi, setelah mikroekonomi. Teori mikroekonomi menganalisis mengenai kegiatan di dalam perekonomian dengan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Perkembangan perekonomian dalam suatu negara dipengaruhi oleh tingkat inflasi. Inflasi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan perekonomian dalam suatu negara dipengaruhi oleh tingkat inflasi. Inflasi merupakan salah satu indikator ekonomi yang penting bagi suatu negara khususnya
BAB I PENDAHULUAN. Sedangkan jasa meliputi barang-barang tidak kasat mata, seperti potong. rambut, layanan kesehatan, dan pendidikan (Mankiw, 2012).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Konsumsi (consumption) adalah pembelanjaan rumah tangga untuk barang dan jasa. barang meliputi pembelanjaan rumah tangga untuk barang awet, seperti mobil dan
TEORI KONSUMSI DAN TEORI INVESTASI. Oleh Ruly Wiliandri, SE., MM
TEORI KONSUMSI DAN TEORI INVESTASI Oleh Ruly Wiliandri, SE., MM Teori dlm ekonomi: 1. Teori klasik a. Keinginan masyarakat untuk menabung dan keinginan pengusaha untuk meminjam dana modal untuk investasi
Xpedia Ekonomi. Makroekonomi
Xpedia Ekonomi Makroekonomi Doc. Name: XPEKO0399 Doc. Version : 2012-08 halaman 1 01. Pengangguran friksional / frictional unemployment ialah... (A) diasosiasikan dengan penurunan umum di dalam ekonomi
ekonomi Kelas X PELAKU KEGIATAN EKONOMI KTSP & K-13 A. RUMAH TANGGA KELUARGA a. Peran Rumah Tangga Keluarga Tujuan Pembelajaran
KTSP & K-13 Kelas X ekonomi PELAKU KEGIATAN EKONOMI Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan mampu menjelaskan rumah tangga keluarga, rumah tangga produsen, rumah tangga pemerintah,
V. HASIL ANALISIS SISTEM NERACA SOSIAL EKONOMI DI KABUPATEN MUSI RAWAS TAHUN 2010
65 V. HASIL ANALISIS SISTEM NERACA SOSIAL EKONOMI DI KABUPATEN MUSI RAWAS TAHUN 2010 5.1. Gambaran Umum dan Hasil dari Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) Kabupaten Musi Rawas Tahun 2010 Pada bab ini dijelaskan
Teori dlm ekonomi: 1. Teori klasik Keinginan masyarakat untuk menabung dan keinginan pengusaha untuk meminjam dana modal untuk investasi ditentukan
Teori dlm ekonomi: 1. Teori klasik Keinginan masyarakat untuk menabung dan keinginan pengusaha untuk meminjam dana modal untuk investasi ditentukan suku bunga. Makin tinggi tingkat bunga maka makin tinggi
KURVA PERMINTAAN AGREGAT (AGGREGATE DEMAND AD) PADA DIAGRAM AD AS (AGGREGATE SUPPLY - PENAWARAN AGREGAT) BERDASARKAN FUNGSI DARI SETIAP KOMPONEN AD
Bahan 4a - Kurva Permintaan Agregat Pada Diagram AD-A KURVA PERMINTAAN AGREGAT (AGGREGATE DEMAND AD) PADA DIAGRAM AD A (AGGREGATE UPPLY - PENAWARAN AGREGAT) BERDAARKAN FUNGI DARI ETIAP KOMPONEN AD I. BERDAARKAN
Pengantar Ekonomi Pembangunan. Unsur-unsur Pokok dalam Kebijakan Pembangunan
Pengantar Ekonomi Pembangunan Unsur-unsur Pokok dalam Kebijakan Pembangunan Putri Irene Kanny [email protected] Sub Pokok bahasan pertemuan ke-7 z Pandangan Pokok Analisis Mikroekonomi
BAB II TINJAUAN TEORI. landasan teori yang digunakan dalam penelitian yaitu mengenai variabel-variabel
BAB II TINJAUAN TEORI Bab ini membahas mengenai studi empiris dari penelitian sebelumnya dan landasan teori yang digunakan dalam penelitian yaitu mengenai variabel-variabel dalam kebijakan moneter dan
Pokok Bahasan 4 KESEIMBANGAN PENDAPATAN NASIONAL 3 SEKTOR. Dosen Pengampu: Retno Budi Lestari, SE, M.Si
Pokok Bahasan 4 KESEIMBANGAN PENDAPATAN NASIONAL 3 SEKTOR Dosen Pengampu: Retno Budi Lestari, SE, M.Si Adanya campur tangan pemerintah menimbulkan 2 perubahan penting 1. Pungutan pajak yg dilakukan oleh
Perekonomian Terbuka
Perekonomian Terbuka Perekonomian Terbuka Perekonomian empat sektor (perekonomian terbuka) adalah suatu perekonomian yang didalamnya sudah terdapat perdagangan luar negeri (ekpor-impor). Pengeluaran agregat
Makro ekonomi adalah Makro artinya besar, analisis makro ekonomi merupakan analisis keseluruhan kegiatan perekonomian. Bersifat global dan tidak
TEORI EKONOMI MAKRO Makro ekonomi adalah Makro artinya besar, analisis makro ekonomi merupakan analisis keseluruhan kegiatan perekonomian. Bersifat global dan tidak memperhatikan kegiatan ekonomi yang
MATEMATIKA EKONOMI DAN BISNIS. Nuryanto.ST.,MT
MATEMATIKA EKONOMI DAN BISNIS Penggunaan Fungsi dalam Ekonomi Matematika adalah suatu alat untuk menyederhanakan penyajian dan pemahaman suatu masalah. Dengan menggunakan bahasa matematika, penyajian suatu
Arus Lingkar Pendapatan dalam Perekonomian
Arus Lingkar Pendapatan dalam Perekonomian Putri Irene Kanny Thursday, April 28, 2016 Pokok bahasan pertemuan ke-4 Arus lingkar pendapatan dalam perekonomian tertutup dua sektor Arus lingkar pendapatan
Pengantar Ekonomi Makro. Oleh Ruly Wiliandri, SE., MM
Pengantar Ekonomi Makro Oleh Ruly Wiliandri, SE., MM Pengertian Ilmu Ekonomi Adalah studi mengenai cara-cara yang ditempuh oleh masyarakat untuk menggunakan sumber daya yang langka guna memproduksi komoditas
BAB I PENDAHULUAN. suatu negara. Begitu juga dengan investasi yang merupakan langkah awal
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Mekanisme penanaman modal merupakan langkah awal kegiatan produksi suatu negara. Begitu juga dengan investasi yang merupakan langkah awal kegiatan pembangunan ekonomi.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Konsumsi adalah pembelanjaan atas barang-barang dan jasa-jasa yang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Konsumsi dan Fungsi Konsumsi Konsumsi adalah pembelanjaan atas barang-barang dan jasa-jasa yang dilakukan oleh rumah tangga dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan. Barangbarang
KONSUMSI DAN TABUNGAN
Minggu ke 4 dan 5 KONSUMSI DAN TABUNGAN ISTIQLALIYAH MUFLIKHATI 8 dan 5 Maret 03 LEARNING OUTCOME Setelah mengikuti topik bahasan ini, mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan model konsumsi dan tabungan,
Kebijakan Makro Ekonomi
EKONOMI MAKRO PENJELASAN Memberikan gambaran bagaimana suatu perekonomian berfungsi dan menjalankan kegiatannya Menerangkan bagaimana suatu masyarakat yang memiliki faktor produksiyang terbatas, tetapi
MAKRO EKONOMI. Agung Mustofa Sri Retno Wahyuni Vicha Ratih D. Yoga Purohmana Jasa
MAKRO EKONOMI Agung Mustofa Sri Retno Wahyuni Vicha Ratih D. Yoga Purohmana Jasa Penentuan Kegiatan Ekonomi Berdasarkan Teori Pandangan Klasik Pandangan Keynes Pendekatan Masa Kini Pandangan Ahli Ekonomi
Fungsi Konsumsi Keynes
Teori ini muncul setelah terjadi great depression tahun 1929-1930. Teori Konsumsi dikenalkan oleh Jhon Maynard Keynes. Sedangkan kelompok Klasik tidak pernah memikirkan dan mengeluarkan teori konsumsi.
BAB I PENDAHULUAN. fenomena yang relatif baru bagi perekonomian Indonesia. perekonomian suatu Negara. Pertumbuhan ekonomi juga diartikan sebagai
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan perekonomian dunia dewasa ini ditandai dengan semakin terintegrasinya perekonomian antar negara. Indonesia mengikuti perkembangan tersebut melalui serangkaian
Antiremed Kelas 10 Ekonomi
Antiremed Kelas 10 Ekonomi Pendapatan Nasional - Soal Halaman 1 01. Pada metode pendapatan, besar pendapatan nasional suatu negara akan sama dengan (A) jumlah produksi ditambah upah (B) jumlah investasi
Ekonomi. untuk SMA/MA Kelas XI Semester 1. Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial. Inung Oni Setiadi Irim Rismi Hastyorini. Dibuat oleh:
Ekonomi untuk SMA/MA Kelas XI Semester 1 Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial Dibuat oleh: Inung Oni Setiadi Irim Rismi Hastyorini Disclaimer Powerpoint pembelajaran ini dibuat sebagai alternatif guna membantu Bapak/Ibu
BAB 1 PENDAHULUAN. manusia. Melalui hal ini Indonesia diharapkan dapat bersaing dengan Negara-negara lain di
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia adalah salah satu negara yang cukup baik dibidang sumber daya alam dan sumber daya manusia. Melalui hal ini Indonesia diharapkan dapat bersaing dengan Negara-negara
Capaian Pembelajaran Mata Kegiatan: Peserta PPG kompeten dalam menganalisis Pendapatan Nasional.
PENDAPATAN NASIONAL Capaian Pembelajaran Mata Kegiatan: Peserta PPG kompeten dalam menganalisis Pendapatan Nasional. Pokok-pokok Materi: 1. Konsep Pendapatan Nasional 2. Komponen Pendapatan Nasional 3.
PERTEMUAN 5 dan 6 PERTUMBUHAN EKONOMI DAN PERUBAHAN STRUKTUR EKONOMI
PERTEMUAN 5 dan 6 PERTUMBUHAN EKONOMI DAN PERUBAHAN STRUKTUR EKONOMI Pendahuluan Pembangunan ekonomi merupakan salah satu bagian penting dari pembangunan nasional dengan tujuan utama untuk meningkatkan
BAB I PENDAHULUAN. dilihat dari pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi merupakan cerminan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan ekonomi adalah suatu proses kenaikan pendapatan total dan pendapatan perkapita dengan memperhitungkan adanya pertambahan penduduk disertai dengan perubahan
BAB I PENDAHULUAN. oleh rumahtangga atas barang-barang akhir dan jasa-jasa dengan tujuan untuk
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pada umumnya bahwa sebagian besar dari pendapatan yang diterima masyarakat akan dibelanjakan kembali untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya. Pengeluaran
Keseimbangan Empat Sektor
Keseimbangan Empat Sektor Dalam keseimbangan empat sektor diperkenalkan dua dual. Dua hai yang dimaksud adalah campur pemerintah dalam perekonomian (membicarakan perekonomian 3 sektor), dan hubungan ekonomi
PENGUKURAN PENDAPATAN NASIONAL. Minggu 3
PENGUKURAN PENDAPATAN NASIONAL Minggu 3 Pendahuluan Pendapatan nasional adalah total produksi barang/jasa yang dihasilkan oleh masyarakat di suatu negara. Istilah yang umum digunakan adalah GDP/GNP atau
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan estimasi yang telah dilakukan maka diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Hasil uji Impulse Response Function menunjukkan variabel nilai
Pengantar Ekonomi Makro
PROGRAM STUDI AKUNTANSI PERPAJAKAN Pengantar Ekonomi Makro Matakuliah : Pengantar Ilmu Ekonomi Pengajar : Dany Juhandi, S.P, M.Sc Amelira Haris Nasution, S.P, M.Si Semester : I Pertemuan : 8 Pokok Bahasan
BAB I PENDAHULUAN. 2. untuk mencapai tingkat kestabilan harga secara mantap. 3. untuk mengatasi masalah pengangguran.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan jangka panjang yang dilaksanakan di Indonesia bertujuan untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur dengan mengacu pada Trilogi Pembangunan (Rochmat Soemitro,
Pengantar Ekonomi Makro. Oleh Ruly Wiliandri, SE., MM
Pengantar Ekonomi Makro Oleh Ruly Wiliandri, SE., MM Materi Perkuliahan: 1. Ruang Lingkup Analisis Makroekonomi (Konsep dasar ekonomi makro) 2. Aliran kegiatan perekonomian (aliran sirkular atau circular
BAB I PENDAHULUAN. mengatur masuk dan keluarnya perusahaan dari sebuah indutri, standar mutu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam suatu Negara, pemerintah mempunyai berbagai kekuasaan untuk mengatur masuk dan keluarnya perusahaan dari sebuah indutri, standar mutu produk, menetapkan
1. Pertambahan penduduk 2. Perkembangan perekonomian 3. Keterbatasan SDA
SOAL TRYOUT UJIAN NASIONAL SMA TAHUN PELAJARAN 2006/ 2007 Mata Pelajaran : Ekonomi Kelas/ Program : XII / IPS W a k t u : 120 Menit Penyusun : Tim Ekonomi DKI Jakarta P a k e t : A 1. Di bawah ini adalah
LAPORAN REALISASI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH
PEMERINTAH KOTA TEGAL LAPORAN REALISASI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 2014 DAN 2013 NO. URUT URAIAN ANGGARAN 2014 REALISASI 2014 (%) REALISASI
Pengantar Ekonomi Mikro. Modul ke: 7FEB. Review Bab 1-6. Fakultas. Febrina Mahliza, SE, M.Si. Program Studi Manajemen
Pengantar Ekonomi Mikro Modul ke: Review Bab 1-6 Fakultas 7FEB Febrina Mahliza, SE, M.Si Program Studi Manajemen www.mercubuana.ac.id Masalah Ekonomi dan Kebutuhan Membuat Pilihan Kelangkaan (scarcity)
BAB I PENDAHULUAN. dihindarkan. Hal ini disebabkan karena pemerintah merupakan salah satu pelaku
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam perekonomian tiga sektor, campur tangan pemerintah tidak dapat dihindarkan. Hal ini disebabkan karena pemerintah merupakan salah satu pelaku ekonomi (rumah tangga
Pengantar Ekonomi Mikro PERENCANAAN DAN MEKANISME HARGA & PERMINTAAN PASAR & PERILAKU KONSUMEN.
Modul ke: Pengantar Ekonomi Mikro PERENCANAAN DAN MEKANISME HARGA & PERMINTAAN PASAR & PERILAKU KONSUMEN. Fakultas FEB MANAJEMEN Irwan Mangara Harahap, SE, MSi. Program Studi Manajemen Mekanisme harga
OME File/UN/Soal dan Pembahasan Ekonomi
1. Perhatikan masalah-masalah yang berkaitan dengan produksi barang: 1. Dimana barang akan diproduksi 2. Untuk siapa barang diproduksi 3. Bagaimana cara memproduksi barang 4. Barang atau jasa apa yang
PERTEMUAN III ASPEK EKONOMI, POLITIK,
Manajemen Proyek PERTEMUAN III ASPEK EKONOMI, POLITIK, SOSIAL DAN BUDAYA Aspek Politik UMUMNYA ASPEK POLITIK YANG BERKAIT DENGAN MANAJEMEN PROYEK ADALAH : A. STABILITAS POLITIK B. ARAH KEBIJAKAN PEMERINTAH
BAB I PENDAHULUAN. konsisten, perekonomian dibangun atas dasar prinsip lebih besar pasak dari pada
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Utang luar negeri yang selama ini menjadi beban utang yang menumpuk yang dalam waktu relatif singkat selama 2 tahun terakhir sejak terjadinya krisis adalah
Universitas Sumatera Utara
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan nasional merupakan upaya pembangunan yang berkesinambungan, meliputi seluruh kehidupan masyarakat, bangsa dan negara untuk melaksanakan tugas mewujudkan
Pendapatan Nasional dan Perhitungannya. Oleh Ruly Wiliandri, SE., MM
Pendapatan Nasional dan Perhitungannya Oleh Ruly Wiliandri, SE., MM Pendapatan Nasional Pengertian Pendapatan Nasional dapat ditinjau dari sudut pandang berikut: 1. Produk Domestik Bruto (PDB) atau Gross
PEMBAHASAN UTS GENAP 2015/2016 TEORI EKONOMI MAKRO 1
PEMBAHASAN UTS GENAP 2015/2016 TEORI EKONOMI MAKRO 1 1. Para ekonom menggunakan beberapa variabel makroekonomi untuk mengukur prestasi seuah perekonomian. Tiga variable yang utama adalah real GDP, inflation
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Perbankan khususnya bank umum merupakan inti dari sistem
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perbankan khususnya bank umum merupakan inti dari sistem keuangan setiap negara. Bank merupakan lembaga keuangan yang menjadi tempat bagi perusahaan, badan pemerintah,
Kebutuhan manusia relatif tidak terbatas. Sumber daya tersedia secara terbatas. Masing-masing sumber daya mempunyai beberapa alternatif penggunaan.
EKONOMI MAKRO Lingkup Ekonomi Makro Ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia di dalam memenuhi kebutuhannya yang relatif tidak terbatas dengan menggunakan sumber daya yang terbatas dan
I. ILMU EKONOMI. Apakah Ilmu Ekonomi Itu?
I. ILMU EKONOMI Apakah Ilmu Ekonomi Itu? Di dalam kehidupan sehari-hari, mungkin kita selalu berpikir untuk membeli barang-barang yang sangat kita butuhkan. Jika masih ada sisa mungkin kita bisa membeli
5.1. KINERJA KEUANGAN MASA LALU
BAB V ANALISIS APBD 5.1. KINERJA KEUANGAN MASA LALU 5.1.1. Kinerja Pelaksanaan APBD Keuangan daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah terkait penyelenggaraan pemerintahan yang dapat dinilai dengan
