BAB II LANDASAN TEORI
|
|
|
- Hamdani Yuwono
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Jaringan Distribusi Jaringan distribusi tenaga listrik merupakan semua bagian dari sistem tenaga listrik yang menghubungkan sumber daya besar dengan rangkaian pelayanan pada konsumen. Sumber daya besar adalah pusat-pusat pembangkit listrik dengan kapasitas daya yang dihasilkan dalam satuan MW. Pembangkit listrik ini digolongkan atas jenis-jenis tenaga yang digunakan, seperti pembangkit yang menggunakan tenaga air, bahan minyak bumi, batu bara, panas surya, tenaga angin dan lain-lain. Fungsi utama dari sistem distribusi adalah untuk menyalurkan energi listrik dari sumber daya ke pemakai atau konsumen. Baik buruknya suatu sistem distribusi dinilai dari bermacammacam faktor, diantaranya menyangkut hal-hal sebagai berikut : a. Kontinuitas pelayanan b. Efisiensi c. Fleksibilitas d. Regulasi tegangan e. Harga sistem Dari kelima hal diatas, masalah-masalah yang dihadapi dalam suatu sistem jaringan distribusi adalah bagaimana menyalurkan tenaga listrik ke konsumen dengan cara sebaik-baiknya untuk saat tertentu dan juga untuk masa yang akan datang. Pada sistem distribusi, harus memenuhi beberapa syarat sebagai berikut : 7
2 8 a. Gangguan terhadap pelayanan (interruption) tidak boleh terlalu sering b. Gangguan terhadap pelayanan pada suatu daerah tidak boleh terlalu lama c. Regulasi tegangan tidak terlalu besar d. Biaya system operasional harus serendah mungkin e. Harus fleksibel (mudah menyesuaikan diri dengan keadaan yang terjadi, seperti pada sistem perubahan beban yang tidak menelan biaya yang tinggi). Jaringan distribusi pada umumnya terdiri dari dua bagian, yaitu sebagai berikut : a. Jaringan Distribusi Primer Yaitu jaringan tenaga listrik yang menyalurkan daya listrik dari gardu induk sub tranmisi ke gardu distribusi. Jaringan ini merupakan jaringan tegangan menengah atau jaringan tegangan primer. b. Jaringan Distribusi Sekunder Yaitu jaringan tenaga listrik yang menyalurkan daya listrik dari gardu distribusi ke konsumen. Jaringan ini sering disebut jaringan tegangan rendah.
3 9 Gambar 2.1. Diagram Sistem Jaringan Distribusi Tenaga Listrik Tegangan rendah adalah tegangan dengan nilai di bawah 1 kv yang digunakan untuk penyaluran daya dari gardu distribusi menuju pelanggan tegangan rendah. Penyalurannya dilakukan dengan menggunakan sistem tiga fasa empat kawat yang dilengkapi netral. Indonesia sendiri menggunakan tegangan rendah 380/220V dimana tegangan 380V merupakan besar tegangan antar fasa dan tegangan 220V merupakan tegangan fasa-netral. Untuk Saluran Kabel Udara Tegangan Rendah (SKUTR) Kabel yang digunakan adalah jenis XLPE yang lebih dikenal dengan nama LVTC ( Low Voltage Twisted Cable). Jenis kabel ini direntangkan di antara tiang
4 10 penyangga. Bagian utama adalah tiang, kabel dan suspension Clamp Bracket, yang berfungsi untuk menahan kabel pada tiang. Kabel jenis ini sekarang banyak digunakan dalam pemasangan jaringan tingkat rendah baru karena dianggap kontruksi jenis ini lebih handal. Fungsi dari Jaringan tegangan rendah untuk menyalurkan tenaga listrik dari Gardu Distribusi ke Konsumen tegangan rendah. Seperti kita ketahui bahwa jaringan tegangan rendah ini berlaku juga untuk penerapan pada sambungan rumah penghantar di bawah tanah atau di atas tanah termasuk peralatannya mulai dari titik penyambungan tiang JTR sampai alat pembatas dan pengukur perencanaan sistem ini harus dilakukan secara sistematik dengan pendekatan yang didasarkan pada peramalan beban untuk memperoleh suatu pola pelayanan yang optimal Panel LVMDP Panel LVMDP (Low Voltage Main Distribution Panel) pada dunia industri biasanya sering disebut panel induk, terdapat dua masukan sumber yaitu PLN dan juga dari Genset. Keluaran dari panel LVMDP ini didistribusikan ke Distribution Panel (DP), kemudian didistribusikan kembali ke Sub Distribution Panel (SDP) setelah itu baru dihubungkan ke beban. Dahulu sebuah proses kontrol pada panel LVMDP dilakukan oleh seorang operator, kemudian berkembang meggunakan kontrol relay. Kebutuhan berkembang dari tahun ke tahun sehingga produk-produk otomasi dapat ditemukan. Pada panel LVMDP ini, untuk mendapatkan sistem otomasi maka dikelompokkan menjadi tiga panel, yaitu :
5 11 1. Panel Automatic Main Failur (AMF) 2. Panel Automatic Transfer Switch (ATS) 3. Panel Capacitor Bank Panel Automatic Main Failur (AMF) Panel AMF berfungsi untuk mengoperasionalkan (Start/Stop) Genset secara otomatis ataupun manual. Pada panel AMF terdapat module yang berfungsi menggantikan operator untuk memerintahkan Genset untuk beroperasi apabila supply utama dari PLN padam dan juga memerintahkan Genset untuk berhenti beroperasi apabila supply utama PLN kembali normal Panel Automatic Transfer Switch (ATS) Panel ATS berfungsi untuk memindahkan atau mentransfer beban dari supply utama PLN ke Genset pada saat PLN padam dan mengembalikan beban yang diambil alih Genset ke PLN, apabila supply PLN kembali normal. Untuk itu menganpa diperlikan panel ATS, agar semua pengontrol otomasi dapat terpenuhi Panel Capacitor Bank Panel Capacitor Bank berfungsi untuk memperbaiki faktor daya dari beban, karena pada umumnya beban-beban yang digunakan adalah beban induktif. Sebuah sumber listrik AC mengeluarkan energi listrik dalam bentuk energi aktif (dinyatakan dengan kw) dan energi reaktif
6 (dinyatakan dengan kvar). Penjumlahan secara vektor dari kedua data tersebut akan menghasilkan daya nyata (dinyatakan dengan kva) Koponen Panel Listrik Untuk lebih mengenal fungsi dari panel listrik telebih dahulu mengenal komponen- komponen panel listrik dan harus memahami fungsi dari bagian-bagaian listrik itu sendiri. Berikut beberapa komponen panel listrik beserta fungsinya : a. Kontaktor Kontaktor adalah saklar yang bekerja secara magnetik yaitu kontak yang bekerja apabila kumparan diberi energi listrik. Kontaktor magnetis sebagai alat yang digerakan secara magnetis untuk menyambung dan membuka rangkaian daya listrik. Kontaktor dirancang untuk menyambung dan membuka rangkaian daya listrik tanpa merusak. Beban-beban tersebut antara lain lampu, pemanas, transformator, kapasitor, dan motor listrik. Gambar 2.2. Konstruksi Kontaktor (
7 13 Sebuah kontaktor terdiri dari coil, beberapa kontak Normally Open (NO) dan beberapa Normally Close (NC). Pada saat satu kontaktor normal, NO akan membuka dan pada saat kontaktor bekerja, NO akan menutup. Sedangkan kontak NC sebaliknya yaitu ketika dalam keadaan normal kontak NC akan menutup dan dalam keadaan bekerja kontak NC akan membuka. Coil adalah lilitan yang ketika diberi tegangan akan terjadi magnetisasi dan menarik kontak-kontaknya sehingga terjadi perubahan atau bekerja. Kontaktor yang dioperasikan secara elektromagnetik adalah salah satu mekanisme yang paling bermanfaat yang pernah dirancang untuk penutupan dan pembukaan rangkaian listrik. Kontaktor termasuk jenis saklar motor yang digerakkan oleh magnet seperti yang telah dijelaskan di atas. Apabila jepitan a dan b kumparan magnet diberi tegangan, maka magnet akan menarik jangkar sehingga kontak-kontak bergerak yang berhubungan dengan jangkar tersebut ikut tertarik. Tegangan yang harus dipasangkan dapat tegangan bolak-balik (AC) maupun tegangan searah (DC), tergantung dari bagaimana magnet tersebut dirancangkan. Untuk beberapa keperluan digunakan juga kumparan arus (bukan tegangan), akan tetapi dari segi produksi lebih disukai kumparan tegangan karena besarnya tegangan umumnya sudah dinormalisasi. Menurut IEC (International Electrotechnical Commission) connector dari kontaktor diberi tanda-tanda seperti berikut : a, b : terminal coil kontaktor (connector dari magnetic coil) 1,3,5 : terminal kontak utama sebagai input (hubungan suplai dari rangkaian utama), 3 pole
8 14 2, 4, 6 : terminal kontak utama sebagai output (hubungan beban dari rangkaian utama) 13, 14 : kontak bantu Normally Open (NO) 21, 22 : kontak bantu Normally Closed (NC) 23, 24 : kontak bantu Normally Open (NO) 31, 32 : kontak bantu Normally Closed (NC) 33, 34 : kontak bantu Normally Open (NO) 41, 42 : kontak bantu Normally Closed (NC) Gambar 2.3. Penomoran Kontak-kontak Pada Kontaktor (Sumber : Edy.2011) b. Miniatur Circuit Breaker (MCB) Miniatur Circuit Breaker merupakan peralatan listrik yang digunakan untuk memutuskan rangkaian listrik bila terjadi gangguan beban lebih (over load) atau gangguan hubung singkat (short circuit).
9 15 (a) (b) Gambar 2.4. Konstruksi MCB (a) dan bagian-bagian MCB (b) ( Keterangan gambar (b) : 1. Tuas Operasi Strip 5. Bimetal 2. Aktuator Mekanis 6. Sekrup Kalibrasi 3. Kontak Bergerak 7.Kumparan Magnetis 4. Terminal 8. Ruang Busur Api MCB dilengkapi dengan pengaman thermal over load dan pengaman arus hubung singkat. Pengaman thermal over load ini menggunakan prinsip dasar kerja bimetal, sedangkan pengaman arus
10 hubung singkatnya menggunakan prinsip dasar kerja elektromagnetik yang ditunjukan pada gambar dibawah ini. 16 Gambar 2.5. Prinsip Kerja Thermis (Sumber : Edy.2011) Gambar 2.6. Prinsip Kerja Magnetis (Sumber : Edy.2011) Pengaman thermis berfungsi untuk mengamankan arus beban lebih sedangkan pengaman elektromagnetik berfungsi untuk mengamankan jika
11 terjadi hubung singkat. Disamping itu MCB juga mempunyai beberapa tipe karakteristik seperti yang tersebut dibawah ini : 17 a. MCB dengan tipe karakteristik L b. MCB dengan tipe karakleristik G c. MCB dengan tipe karakteristik K d. MCB dengan tipe karakteristik U MCB dengan tipe karakteristik L biasanya dipergunakan hanya untuk beban-beban penerangan saja. Sedangkan untuk tipe-tipe G, K, dan U biasanya dipergunakan untuk beban berupa motor-motor listrik. MCB dengan tipe karakteristik L mempunyai waktu pemutusan lebih lambat dibandingkan dengan tipe karakteristik G, K, dan U. c. Moulded Case Circuit Breaker (MCCB) Moulded Case Circuit Breaker merupakan alat pengaman yang dalam proses operasinya mempunyai dua fungsi yaitu sebagai pengaman yaitu pemutus sirkit tegangan menengah dan juga sebagai alat penghubung. MCCB banyak digunakan untuk memutuskan rangkaian listrik bila terjadi gangguan beban lebih (over load) atau gangguan hubung singkat (short circuit). MCCB dalam penggunaannya dapat disesuaikan dengan kondisi lapangan atau pengaman ini mempunyai kemampuan pemutusan yang dapat diatur sesuai dengan yang diinginkan.
12 18 Gambar 2.7. Konstruksi MCCB ( Dalam memilih circuit breaker hal-hal yang harus dipertimbangkan adalah : Karakteristik dari sistem dimana circuit breaker tersebut dipasang, yaitu dengan memperhatikan : Sistem tegangan Tegangan operasional dari circuit breaker harus lebih besar atau minimum sama dengan tegangan sistem. Frekuensi sistem Frekuensi pengenal dari circuit breaker harus sesuai dengan frekuensi sistem. Arus pengenal Arus pengenal dari circuit breaker harus disesuaikan dengan besarnya arus beban yang dilewatkan oleh kabel, dan harus lebih kecil dari arus ambang yang diijinkan lewat pada kabel.
13 19 Kapasitas pemutus Kapasitas pemutusan dari circuit breaker harus paling sedikit sama dengan arus hubung singkat prospektif yang mungkin akan terjadi pada suatu titik instalasi dimana circuit breaker tersebut dipasang. Jumlah pole dari circuit breaker. Jumlah pole dari circuit breaker sangat tergantung kepada sistem pembumian dari sistem. Kebutuhan akan kontinuitas pelayanan sumber daya listrik. Aturan-aturan dan standar proteksi yang berlaku seperti PUIL, SPLN dan IEC d. Thermal Overload Relay (TOR) Thermal Overload Relay atau relay beban lebih selalu dipasang seri dengan beban yang berfungsi sebagai pengaman beban lebih. Apabila terjadi kelebihan beban, hubungan singkat, atau gangguan lainnya yang mengakibatkan naiknya arus secara otomatis, relay ini akan bekerja memutuskan arus listrik dengan beban. Sehingga keamanan beban terjaga. Thermal overload relay memiliki kontak bantu NO dan NC. Kontak bantu NC dipergunakan sebagai pengontrol operasi dari kontaktor penghubung suplai daya ke kumparan motor. Apabila terjadi gangguan arus beban lebih pada saat motor beroperasi, maka kontak bantu NC akan membuka sehingga suplai daya akan terputus ke kontaktor dan akibatnya motor akan berhenti beroperasi.
14 20 Prinsip kerja dari suatu thermal overload relay adalah berdasarkan panas yang timbul karena adanya arus listrik yang mengalir melewati arus nominal motor. Energi panas tersebut akan diubah menjadi energi mekanik oleh logam bimetal. Akibatnya kontak NC akan terbuka sehingga operasi motor diamankan oleh pengaman TOR berhenti bekerja. Adapun kerja TOR ini tergantung kepada gangguan arus beban lebih yang terjadi dan lamanya gangguan berlangsung. Pada TOR terdapat selektor untuk memilih batasan nilai arus yang diinginkan yang biasanya disesuaikan dengan besar arus nominal beban yang akan dihubungkan. (a) (b) Gambar 2.8. Konstruksi TOR (a) dan Simbol Kontak-kontak TOR (b) ( e. Time Delay Relay (TDR) Time delay relay sering disebut juga relay timer atau relay penunda batas waktu banyak digunakan dalam instalasi motor terutama instalasi yang membutuhkan pengaturan waktu secara otomatis. Peralatan kontrol ini dapat dikombinasikan dengan peralatan kontrol lain, contohnya dengan MC (Magnetic Contactor), TOR (Themal Overload Relay).
15 21 Fungsi dari peralatan kontrol ini adalah sebagai pengatur waktu bagi peralatan yang dikendalikannya. Timer ini dimaksudkan untuk mengatur waktu hidup atau mati dari kontaktor atau untuk merubah sistem bintang ke segitiga dalam delay waktu tertentu. Timer dapat dibedakan dari cara kerjanya yaitu timer yang bekerja menggunakan induksi motor dan menggunakan rangkaian elektronik. Timer yang bekerja dengan prinsip induksi motor akan bekerja bila motor mendapat tegangan AC sehingga memutar gigi mekanis dan memarik serta menutup kontak secara mekanis dalam jangka waktu tertentu. Sedangkan relay yang menggunakan prinsip elektronik, terdiri dari rangkaian R dan C yang dihubungkan seri atau paralel. Bila tegangan sinyal telah mengisi penuh kapasitor, maka relay akan terhubung. Lamanya waktu tunda diatur berdasarkan besarnya pengisian kapasitor. Bagian input timer biasanya dinyatakan sebagai kumparan (coil) dan bagian outputnya sebagai kontak NO atau NC. Kumparan pada timer akan bekerja selama mendapat sumber arus. Apabila telah mencapai batas waktu yang diinginkan maka secara otomatis timer akan mengunci dan membuat kontak NO menjadi NC dan NC menjadi NO. Pada umumnya timer memiliki 8 buah kaki yang 2 diantaranya merupakan kaki coil sebagai contoh pada gambar di atas adalah TDR tipe H3BA dengan 8 kaki yaitu kaki 2 dan 7 adalah kaki coil, sedangkan kaki yang lain akan berpasangan NO dan NC, kaki 1 akan NC dengan kaki 4 dan NO dengan kaki 3. Sedangkan kaki 8 akan NC dengan kaki 5 dan NO dengan kaki 6. Kaki-kaki tersebut akan berbeda tergantung
16 dari jenis relay timer, seperti yang ditunjukkan pada gambar 2.8 (a) dan (b). 22 (a) (b) Gambar 2.9. Konstuksi TDR (a) dan Kontak-kontak TDR (b) ( f. Push Button Switch Push button switch merupakan saklar tekan yang berfungsi untuk menghubungkan atau memisahkan bagian-bagian dari suatu instalasi listrik satu sama lain (suatu sistem saklar tekan push button terdiri dari saklar tekan start, stop reset dan saklar tekan untuk emergency. Push button switch memiliki kontak NC (Normally Close) dan NO (Normally Open), yang mana bentuk fisik jenis push button switch dapat dilihat pada gambar dibawah ini. Gambar Konstruksi Push Button Switch (
17 23 Prinsip kerja push button swtich adalah apabila dalam keadaan normal tidak ditekan maka kontak tidak berubah, apabila ditekan maka kontak NC akan berfungsi sebagai stop (memberhentikan) dan kontak NO akan berfungsi sebagai start (menjalankan) biasanya digunakan pada sistem pengontrolan motor-motor induksi untuk menjalankan dan mematikan motor pada industri-industri. g. Lampu Indikator Lampu indikator berfungsi untuk memberi tanda bagi operator bahwa panel dalam keadaan kerja/bertegangan atau tidak. Warna merah sebagai tanda panel dalam keadaan kerja, maka harus hati-hati. Sedangkan warna hijau bahwa panel dalam keadaan ON arus mengalir kerangkaian beban listrik. Lampu indikator ini juga berfungsi sebagai tanda tegangan kerja 3 phasa, dengan warna lampu merah, kuning dan hijau. Gambar Konstruksi Lampu Indikator (
18 24 h. Penghantar Listrik Penghantar merupakan suatu benda yang berbentuk logam atau non logam yang bersifat konduktor atau dapat mengalirkan arus listrik dari satu titik ke titik yang lain. Penghantar dapat berupa kabel atau kawat penghantar. Konduktor yang baik adalah yang memiliki tahanan jenis yang kecil. Pada umumnya logam bersifat konduktif. Emas, perak, tembaga, alumunium, zink, besi berturut-turut memiliki tahanan jenis semakin besar. Jadi sebagai penghantar emas adalah sangat baik, tetapi karena sangat mahal harganya, maka secara ekonomis tembaga dan alumunium paling banyak digunakan. Kabel ialah penghantar logam yang dilindungi dengan isolasi. Bila jumlah penghantar logam lebih dari satu maka keseluruhan kabel yang berisolasi dilengkapi lagi dengan selubung pelindung. Contohnya kabel listrik yang dipakai di rumah. Bila kabel tersebut dikupas maka akan kelihatan sebuah selubung (biasanya berwarna putih) yang membungkus beberapa inti kabel yang terisolasi (2 atau 3 inti) dimana masing-masing inti memiliki warna isolasi yang berbeda. Sedangkan kawat penghantar ialah penghantar yang juga logam tetapi tidak diberi isolasi. Contohnya ialah kawat grounding pada instalasi penangkal petir atau kawat penghantar pada sistem transmisi listrik tegangan menengah dan tinggi milik PLN. Menurut PUIL 2000 (Persyaratan Umum Instalasi Listrik tahun 2000) dalam lampiran C menjelaskan mengenai tata nama (nomenklatur) kabel sebagai berikut :
19 25 Penghantar : N : NA : Terbuat dari tembaga Terbuat dari allumunium Isolasi : Y : 2Y : Isolasi dari PVC (Poli Vinil Chlorid) Isolasi dari XLPE (Cross Linkage polyethiline) Selubung Dalam : G : 2G : K : KL : Selubung dari karet Selubung dari karet butil Selubung dari timah hitam Selubung aluminium dengan permukaan licin KWK : Selubung dari XLPE (Cross Linkage polyethiline) Y : 2Y : Z : Selubung dari PVC Selubung dari polytelin Selubung dari pita seng Perisai : B : Perisai dari pita baja F : Perisai dari baja pipih L : Perisai dari jalinan kawat baja Q : Perisai dari kawat baja berlapis seng R : Perisai kawat baja bulat 1 lapis (RR 2 lapis) Z: Perisai dari kawat baja yang mempunyai bentuk huruf Z. Sepiral : D : Sepiral anti tekan
20 26 Gb : Sepiral dari pita baja Selubung Luar : A : Selubung dari Yute Y : Selubung dari PVC Bentuk penghantar kabel : se : Sektor Pejal sm : Sektor Serabut re : Bulat Pejal rm : Bulat Serabut Dalam instalasi listrik perumahan, paling tidak ada 3 jenis kabel listrik yang paling umum digunakan yaitu kabel jenis NYA, NYM dan NYY. Kabel NYA Merupakan kabel berisolasi PVC dan berinti kawat tunggal. Warna isolasinya ada beberapa macam yaitu merah, kuning, biru dan hitam. Jenisnya adalah kabel udara (tidak untuk ditanam dalam tanah). Karena isolasinya hanya satu lapis, maka mudah luka karena gesekan, gigitan tikus atau gencetan. Dalam pemasangannya, kabel jenis ini harus dimasukkan dalam suatu conduit kabel. Dibawah ini merupakan gambaran bentuk fisik dari kabel NYA yang ditunjukkan Gambar 2.11.
21 27 Gambar Konstruksi Kabel NYA ( Kabel NYM Kabel jenis ini mempunyai isolasi luar jenis PVC berwarna putih (cara mengenalinya bisa dengan melihat warna yang khas putih ini) dengan selubung karet di dalamnya dan berinti kawat tunggal yang jumlahnya antara 2 sampai 4 inti dan masing-masing inti mempunyai isolasi PVC dengan warna berbeda. Jadi seperti beberapa kabel NYA yang dijadikan satu dan ditambahkan isolasi putih dan selubung karet. Kabel ini relatif lebih kuat karena adanya isolasi PVC dan selubung karet. Pemasangannya pada instalasi listrik dalam rumah bisa tanpa conduit, kecuali dalam tembok sebaiknya menggunakan conduit. Kabel ini dirancang bukan untuk penggunaan di bagian luar (outdoor). Tetapi penggunaan conduit sebagai pelindung bisa juga dipertimbangkan bila ingin dipasang di luar ruangan. Dibawah ini merupakan gambaran bentuk fisik dari kabel NYM yang ditunjukkan Gambar 2.12.
22 28 Gambar Konstruksi Kabel NYM ( Kabel NYY Warna khas kabel ini adalah hitam dengan isolasi PVC ganda sehingga lebih kuat. Karena lebih kuat dari tekanan gencetan dan air, pemasangannya bisa untuk outdoor, termasuk ditanam dalam tanah. Kabel untuk lampu taman dan di luar rumah sebaiknya menggunakan kabel jenis ini. Dibawah ini merupakan gambaran bentuk fisik dari kabel NYY yang ditunjukkan Gambar Gambar Konstruksi Kabel NYY (
23 29 Busbar Busbar adalah penghantar arus listrik yang terbuat dari tembaga. Busbar memiliki fungsi yang sama dengan kabel. Tetapi kapasitas hantar arus busbar lebih besar daripada kabel. Untuk arus diatas 250 A maka disarankan untuk memakai busbar. Pemakaian busbar ini untuk mempermudah pemasangan sambungan komponen-komponen lainnya pada panel. Apabila arus 250 A ke atas dan menggunakan kabel maka pemasangannya akan lebih sulit untuk sambungan ke penghantar lainnya. Hal ini dikarenakan pada busbar pada tiap bagian penampangnya terdapat lubang-lubang yang dapat dijadikan tempat penghubung dengan penghantar lainnya. Berdasarkan standar pada PUIL. maka dalam penggimaan busbar untuk tiap fasanya diberi warna yang berbeda: merah untuk fasa R kuning untuk fasa S hitam untuk fasa T biru untuk fasa N Untuk mendapatkan ukuran busbar yang sesuai ditentukan berdasarkan arus yang mengalir pada busbar tersebut dan harus sesuai dengan standar yang berlaku pada pabrik pembuatnya. Arus listrik nominal yang mengalir dapat dicari dengan menggunakan rumus (C. Sankaran 133):
24 30...(2.1) maka arus busbarnya menjadi:...(2.2) Dimana : I = Arus (Ampre) P = Daya nyata (Watt) V = Tegangan antar fasa Tabel 2.1. Pembebanan Penghantar untuk Alumunium Penampang Persegi Arus Bolak-Balik Sumber : Persyaratan Umum Instalasi Listrik 2000, Jakarta: StandarisasiNasional, 2000, p.236 Badan
25 Tabel 2.2. Pembebanan Penghantar untuk Tembaga Penampang Persegi Arus Bolak-Balik 31 Sumber : Persyaratan Umum Instalasi Listrik 2000, Jakarta: Badan Standarisasi Nasional, 2000, p.236
26 Ingress Protection (IP) Ingress Protection atau disingkat dengan IP yang kemudian diikuti oleh dua angka dan terkadang diikuti juga oleh sebuah atau dua huruf tambahan. Sebagaimana didefinisikan dalam standar internasional IEC 60529, dimana IP rating tersebut mengklasifikasikan derajat atau tingkat perlindungan yang diberikan dari suatu peralatan listrik, dalam hal ini membahas mengenai IP pada enclosure panel listrik. Penulisan IP diikuti dengan dua digit angka yang mempunyai pengertian sebagai berikut : a. Angka pertama (proteksi terhadap benda padat) mempunyai pengertian : 0 : Tidak ada proteksi. 1 : Tidak dapat dimasuki benda lebih besar daripada 50 mm. 2 : Tidak dapat dimasuki benda lebih besar daripada 12 mm. 3 : Tidak dapat dimasuki benda lebih besar daripada 2.5 mm. 4 : Tidak dapat dimasuki benda lebih besar daripada 1 mm. 5 : Tidak dapat dimasuki debu. 6 : Sama sekali tidak dapat dimasuki debu. b. Angka kedua (proteksi terhadap benda cair) mempunyai pengertian : 0 : Tidak ada proteksi. 1 : Tidak dapat dimasuki oleh air yang menetes dari atas. 2 : Tidak dapat dimasuki air yang datang dari atas hingga 15 dari sumbu vertikal. 3 : Tidak dapat dimasuki air yang datang dari atas hingga 60 dari sumbu vertikal.
27 33 4 : Tidak dapat dimasuki air yang datang dari segala arah (tetapi tidak mutlak).. 5 : Tidak dapat dimasuki air yang disemprot (tekanan rendah) dari segala arah (tetapi tidak mutlak). 6 : Tidak dapat dimasuki air yang disemprot (tekanan tinggi) dari segala arah. 7 : Terlindungi dari rendaman air hingga 1 meter. 8 : Terlindungi dari rendaman air secara menyeluruh Forms From merupakan pemisah didalam panel dengan menggunakan pembatas atau partisi. Pembatas ini biasanya terbuat dari bahan sheet metal ataupun bahan polycarbonate. Form ini mempunyai beberapa jenis yaitu sebagai berikut : a. Form 1 From 1 mempunyai karakteristik sebagai berikut : Komponen dan busbar vertikal terpisah tetapi tidak untuk busbar horizontal. Antar komponen tidak ada pemisah atau pembatas. Pintu panel penuh. Dari karakteristik diatas maka dapat digambarkan seperti Gambar 2.15 dibawah ini.
28 34 Gambar Form 1 Keterangan : A : Incoming unit B : Main busbars C : Distributios busbars D : Outgoing unit E : Terminal F : Box panel listrik (min. IP2x) b. From 2a From 2a mempunyai karakteristik sebagai berikut : Komponen dan busbar vertikal ataupun horizontal terpisah Antar komponen tidak ada pemisah. Komponen dan terminal kabel terpisah. Terminal kabel dengan busbar tidak ada pemisah.
29 35 Pintu panel penuh. Dari karakteristik diatas maka dapat digambarkan seperti Gambar 2.16 dibawah ini. Keterangan : G : Partisi Gambar Form 2a c. Form 2b From 2b mempunyai karakteristik sebagai berikut : Komponen dan busbar vertikal terpisah. Komponen dan busbar horizontal terpisah. Atar komponen tidak ada pemisah. Terminal kabel dan komponen bisa dalam satu ruangan. Pintu panel penuh.
30 Dari karakteristik diatas maka dapat digambarkan seperti Gambar 2.17 dibawah ini. 36 Gambar Form 2b d. From 3a From 3a mempunyai karakteristik sebagai berikut : Komponen terpisah dari busbar horizontal dan vertikal. Masing-masing komponen terpisah dengan pintu masing-masing. Terminal kabel terpisah dari komponen. Masing-masing terminal kabel tidak ada pemisah. Busbar terpisah dari komponen. Terminal kabel dan busbar tidak ada pemisah. Dari karakteristik diatas maka dapat digambarkan seperti Gambar 2.18 dibawah ini.
31 37 Gambar Form 3a e. Form 3b From 3b mempunyai karakteristik sebagai berikut : Komponen terpisah dari busbar horizontal dan vertikal. Masing-masing komponen terpisah dengan pintu masing-masing. Terminal kabel terpisah dari komponen dan busbar. Masing-masing terminal kabel tidak ada pemisah. Busbar terpisah dari komponen dan terminal kabel. Dari karakteristik diatas maka dapat digambarkan seperti Gambar 2.19 dibawah ini.
32 38 Gambar Form 3b f. Form 4a From 4a mempunyai karakteristik sebagai berikut : Komponen terpisah dari busbar horizontal dan vertikal. Masing-masingg komponen terpisah dengan pintu masing-masing. Komponen dan terminal dalam satu kompartemen. Busbar terpisah dari komponen dan terminal kabel. Dari karakteristikk diatas maka dapat digambarkan seperti Gambar 2.20 dibawah ini.
33 39 Gambar Form 4a g. Form 4b From 4b mempunyai karakteristik sebagai berikut : Komponen terpisah dari busbar horizontal dan vertikal. Masing-masing komponen terpisah dengan pintu masing-masing. Komponen dan terminal kabel terpisah. Masing-masing terminal kabel terpisah dengan selungkup masing-masing. Busbar terpisah dari komponen dan terminal kabel. Dari karakteristik diatas maka dapat digambarkan seperti Gambar 2.21 dibawah ini.
34 40 Gambar Form 4b
35 Teori Listrik Dalam konduktor logam terdapat elektron-elektron yang bebas dan mudah untuk bergerak sedangkan pada konduktor elektrolit, muatan bebasnya berupa ion-ion positif dan negatif yang juga mudah bergerak. Bila dalam konduktor ada medan listrik, maka muatan muatan tersebut bergerak dan gerakan dari muatan-muatan ini yang dinamakan arus listrik. Arah arus listrik searah dengan gerakan muatan-muatan positif. Bila medan yang menyebabkan gerakan-gerakan muatan tersebut arahnya tetap akan dihasilkan arus bolak-balik secara harmonik yaitu arus bolak-balik (AC- Alternating Current) Hukum Ohm Hubungan antara tegangan, kuat arus dan hambatan dari suatu konduktor dapat diterangkan berdasarkan hukum OHM. Dalam suatu rantai aliran listrik, kuat arus berbanding lurus dengan beda potensial antara kedua ujung-ujungnya dan berbanding terbalik dengan besarnya hambatan kawat konduktor tersebut. Hambatan kawat konduktor biasanya dituliskan sebagai R. V i A V R B... (2.3)
36 42 Dimana : I VA - VB R = kuat arus = beda potensial titik A dan titik B = hambatan Besarnya hambatan dari suatu konduktor dinyatakan dalam R = A l.... (2.4) Dimana : R = Hambatan (Ω) l = Panjang konduktor (m) A = Luas penampang (m 2 ) = Hambat jenis atau resistivitas (Ωm) Dari hubungan diatas dapat disimpulkan bahwa : Hambatan berbanding lurus dengan panjang konduktor. Hambatan berbanding terbalik dengan luas penampang konduktor. Hambatan berbanding lurus dengan resistivitas atau hambat jenis dari konduktor tersebut. Harga dari hambat jenis/resistivitas anatara nol sampai tak terhingga. = 0 disebut sebagai penghantar sempurna (konduktor ideal). = ~ disebut penghantar jelek (isolator ideal). Hambatan suatu konduktor selain tergantung pada karakteristik dan geometrik benda juga tergantung pada temperatur. Sebenarnya lebih tepat dikatakan harga resistivitas suatu konduktor adalah tergantung pada temperatur.
37 Pengaruh Suhu Terhadap Penghantar Listrik Suhu sangat mempengaruhi penghantar listrik, karena semakin tinggi suhu pada penghantar, maka hambatan pada penghantar juga makin besar. Adanya koefisien suhu hambatan karena adanya pengaruh suhu terhadap listrik bahan ini disebabkan susunan atom-atom bahan. Bahan konduktor adalah bahan yang kutub atom-atomnya mudah teratur sesuai arus listrik yang melaluinya. Semakin teratur susunan atomatom bahan tersebut semakin baik sifat konduktornya. Susunan atomatom ini akan terganggu jika bahan dipanaskan. Semakin tinggi suhu bahan susunan atom-atomnya semakin teratur, sehingga hamabatan bahan semakin besar. Salah satu faktor luar atau eksternal yang sangat berpengaruh terhadap hambatan penghantar adalah suhu atau temperatur. Semakin tinggi temperatur suatu penghantar, semakin tinggi pula getaran elektron-elektron bebas dalam penghantar tersebut. Getaran elektronelektron bebas inilah yang akan menghambat jalannya muatan listrik (arus listrik) dalam penghantar tersebut. Adapun hambatan jenis penghantar (ρ) akan berubah seiring dengan perubahan temperatur. Semakin tinggi temperatur penghantar, hambatan jenisnya akan semakin tinggi, dan sebaliknya. Perubahan hambatan jenis ini selanjutnya akan diikuti oleh perubahan hambatan total (R) penghantar itu sendiri. Hal tersebut dapat di lihat dari persamaan di bawah ini : ΔR = R 0 ( 1 + α. ΔT )... (2.5)
38 44 ΔT = t - t 0 Dimana : ΔR = Perubahan hambatan terhadap T (Ω) R 0 = Hambatam awal (Ω) α = Koefisien suhu tahanan ΔT = Perubahan suhu ( o C) t = Suhu akhir ( o C) t 0 = Suhu awal ( o C) Jika hambatan semakin besar maka akan memepengaruhi besar arus listrik yang masuk dalam rangkaian, karena :... (2.6)
39 45 Tabel 2.3. Kofisien Suhu Tahanan Sumber : Permasalahan Panel LVMDP Permasalahan panel tegangan rendah sangat bervariatif dan perlu pengangan secara khusus dan periodik. Berikut beberapa permasalahan yang biasanya terjadi pada panel tegangan rendah Voltage Unbalance Voltage Unbalance artinya tegangan yang tersedia di ketiga phasenya tidak sama, ini dapat terjadi di sistem distribusi dimana saja. Ini dapat menimbulkan permasalahan serius pada motor dan peralatanperalatan listrik dengan sistem induksi tiga phase. Memang kondisi
40 46 balance secara sempurna tidak akan pernah tercapai, namun harus diminimalkan. Kondisi unbalance lebih sering disebabkan oleh variasi dari beban. Ketika beban satu phase dengan phase lain berbeda, maka saat itulah kondisi unbalance terjadi. Hal ini mungkin disebabkan oleh pendansi, type beban, atau jumlah beban berbeda satu phase dengan phase lain. Misal satu phase dengan beban motor satu phase, phase lain dengan heater dan satunya dengan beban lampu atau kapasitor. Berikut rumusan untuk menghitung persentase voltage unbalance Harmonisa Harmonisa adalah gelombang yang terdistorsi secara periodik yang terjadi pada gelombang tegangan, arus, atau daya terdiri dari gelombanggelombang sinus yang frekuensinya merupakan kelipatan bulat frekuensi sumber, sehingga bentuknya tidak sinusoidal. Peran harmonisa pada sistem tenaga listrik cukup besar, terutama pada alat-alat yang terdapat pada sistem tenaga. Harmonisa akan menimbulkan beberapa dampak seperti panas berlebih pada beberapa alat seperti generator dan transformator karena kecenderungan harmonisa mengalir ke tempat dengan impedansi yang lebih rendah. Terdapat dua jenis beban pada sistem ketenagalistirikan. Beban terdiri dari beban linier dan beban non linier. Beban disebut linier jika nilai arus berbanding secara linier dengan tegangan beban. Berarti bentuk gelombang arus akan sama dengan bentuk gelombang
41 47 tegangan. Beban disebut sebagai beban non linier jika bentuk gelombang arus tidak sama dengan bentuk gelombang tegangan (mengalami distorsi). Arus yang ditarik beban non linier tidak sinusoidal tetapi periodic. Bentuk gelombang tidak periodic tersebut dapat diuraikan berdasarkan komponen fundamental dan komponen harmonic. Beban non linier tersebut misalnya semi konduktor yang digunakan sebagai switching device. Beban non linier inilah yang berperan sebagai sumber harmonisa pada sistem kelistrikan. Harmonisa pada sistem tenaga listrik akan menyebabkan timbulnya rugi-rugi pada konduktor kabel atau kawat transmisi, generator sinkron, transformator, sistem proteksi, motor listrik dan peralatan listrik lainnya Arus Hubung Singkat (Short Circuit) Hubung singkat merupakan suatu hubungan abnormal pada impedansi yang relatif rendah terjadi secara kebetulan atau disengaja antara dua titik yang mempunyai potensial yang berbeda. Hubung singkat terjadi akibat dari faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal dari gangguan adalah rusaknya peralatan listrik. Faktor eksternal adalah antara lain cuaca buruk, seperti badai, hujan, dingin; bencana, seperti gempa bumi, angin ribut, kecelakaan kendaraan, runtuhnya pohon, petir, aktivitas konstruksi, ulah manusia, dan lain-lain. Sebagian besar gangguan terjadi karena cuaca buruk, yaitu hujan atau badai dan pohon.
42 Overheating Sebagian besar sistem kelistrikan industri dan komersial semakin lebih aman dan lebih dapat diandalkan. Laporan terbaru dari AS, menganalisis data dari tahun 2001, memperkirakan bahwa 8,7% dari kebakaran non-perumahan bangsa disebabkan oleh peralatan distribusi listrik. NETA Pemeliharaan Pengujian Spesifikasi dan NFPA standard 70B Rekomendasi Praktek untuk prosedur daftar Electrical Equipment Maintenance untuk menguji berbagai komponen sistem distribusi listrik. Pengujian thermographic ditutupi oleh ASTM E 1934 Standar Panduan untuk Memeriksa Peralatan Listrik dan Mekanikal dengan Infrared Thermography. Banyak pengujian yang bertujuan untuk mencegah kebakaran listrik juga kehandalan dan keamanan, sehingga program pengujian yang baik dapat memberikan semuanya. Bahkan, banyak perusahaan asuransi industri membutuhkan bukti program reguler pengujian listrik. Akar penyebab overheating pada sistem listrik biasanya dikarenakan oleh koneksi yang kendor, getaran atau stres termal yang berdampak pada koneksi dalam sistem distribusi tenaga listrik memburuk. Jika kondisi ini dibiarkan terus-menerus maka oksida akan membangun pada interface koneksi, menyebabkan resistensi meningkat. Pada akhirnya hal ini dapat mengakibatkan apa yang disebut koneksi bercahaya, yang dapat menghasilkan panas yang signifikan. Panas yang dihasilkan sangat terfokus dan dapat menyebabkan kegagalan isolasi atau kebakaran jika sumber bahan bakar yang mudah terbakar di dekatnya.
43 49 Ekstrim distorsi dan beban berat juga dapat menyebabkan overheating pada peralatan listrik, terutama dalam sistem distribusi yang lebih tua. Alat yang paling umum sebagai pengukuran untuk memeriksa overheating atau kecenderungan terhadap overheating yaitu Infrared Thermography Voltage Drop Voltage Drop atau jatuh tegangan merupakan besarnya tegangan yang hilang pada suatu penghantar. Jatuh tegangan berbanding lurus dengan panjang saluran dan beban serta berbanding terbalik dengan luas penampang penghantar. Besarnya jatuh tegangan dinyatakan dalam besaran Volt. Jatuh tegangan secara umum adalah tegangan yang digunakan pada beban. Jatuh tegangan ditimbulkan oleh arus yang mengalir melalui tahanan kawat. Jatuh tegangan V pada penghantar semakin besar jika arus I di dalam penghantar semakin besar dan jika tahanan penghantar R semakin besar pula. Jatuh tegangan pada sistem DC dapat dihitung dengan persamaan 4.1 dibawah ini. Vdc = [2 I Rc L] / (2.7) Dimana : Vdc = Jatuh Tegangan (Voltage Drop) Tegangan DC (V) I Rc L = Arus beban penuh atau arus nominal atau arus saat start (A) = Resistansi dc kabel (Ω / km) = Panjang kabel (m)
Percobaan 1 Hubungan Lampu Seri Paralel
Percobaan 1 Hubungan Lampu Seri Paralel A. Tujuan Mahasiswa mampu dan terampil melakukan pemasangan instalasi listrik secara seri, paralel, seri-paralel, star, dan delta. Mahasiswa mampu menganalisis rangkaian
Percobaan 6 Kendali 3 Motor 3 Fasa Bekerja Secara Berurutan dengan Menggunakan Timer Delay Relay (TDR)
Percobaan 6 Kendali 3 Motor 3 Fasa Bekerja Secara Berurutan dengan Menggunakan Timer Delay Relay (TDR) I. TUJUAN PRAKTIKUM 1. Mahasiswa mampu memasang dan menganalisis 2. Mahasiswa mampu membuat rangkaian
Percobaan 8 Kendali 1 Motor 3 Fasa Bekerja 2 Arah Putar dengan Menggunakan Timer Delay Relay (TDR)
Percobaan 8 Kendali 1 Motor 3 Fasa Bekerja 2 Arah Putar dengan Menggunakan Timer Delay Relay (TDR) I. TUJUAN PRAKTIKUM 1. Mahasiswa mampu memasang dan menganalisis 2. Mahasiswa mampu membuat rangkaian
Perlengkapan Pengendali Mesin Listrik
Perlengkapan Pengendali Mesin Listrik 1. Saklar Elektro Mekanik (KONTAKTOR MAGNET) Motor-motor listrik yang mempunyai daya besar harus dapat dioperasikan dengan momen kontak yang cepat agar tidak menimbulkan
BAB II TEORI DASAR. 2.1 Umum
BAB II TEORI DASAR 2.1 Umum Sistem distribusi listrik merupakan bagian dari sistem tenaga listrik. Sistem distribusi listrik bertujuan menyalurkan tenaga listrik dari sumber daya listrik atau pembangkit
BAB II LANDASAN TEORI
6 BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Umum Sistem distribusi listrik merupakan bagian dari sistem tenaga listrik. Sistem distribusi listrik bertujuan menyalurkan tenaga listrik dari sumber daya listrik atau pembangkit
BAB III CAPACITOR BANK. Daya Semu (S, VA, Volt Ampere) Daya Aktif (P, W, Watt) Daya Reaktif (Q, VAR, Volt Ampere Reactive)
15 BAB III CAPACITOR BANK 3.1 Panel Capacitor Bank Dalam sistem listrik arus AC/Arus Bolak Balik ada tiga jenis daya yang dikenal, khususnya untuk beban yang memiliki impedansi (Z), yaitu: Daya Semu (S,
Kegiatan Belajar 2 : Memahami cara mengoperasikan peralatan pengendali daya tengangan rendah
Kegiatan Belajar 2 : Memahami cara mengoperasikan peralatan pengendali daya tengangan rendah I. Capaian Pembelajaran *Peserta mampu memahami cara mengoperasikan peralatan pengendali daya tegangan rendah
BAB III PERENCANAAN INSTALASI SISTEM TENAGA LISTRIK
BAB III PERENCANAAN INSTALASI SISTEM TENAGA LISTRIK 3.1 Tahapan Perencanaan Instalasi Sistem Tenaga Listrik Tahapan dalam perencanaan instalasi sistem tenaga listrik pada sebuah bangunan kantor dibagi
4.3 Sistem Pengendalian Motor
4.3 Sistem Pengendalian Motor Tahapan mengoperasikan motor pada dasarnya dibagi menjadi 3 tahap, yaitu : - Mulai Jalan (starting) Untuk motor yang dayanya kurang dari 4 KW, pengoperasian motor dapat disambung
Percobaan 5 Kendali 3 Motor 3 Fasa Bekerja Secara Berurutan
Percobaan 5 Kendali 3 Motor 3 Fasa Bekerja Secara Berurutan I. TUJUAN PRAKTIKUM Mahasiswa mampu memasang dan menganalisis Mahasiswa mampu membuat rangkaian kendali untuk 3 motor induksi 3 fasa II. DASAR
Bahan Listrik. Bahan penghantar padat
Bahan Listrik Bahan penghantar padat Definisi Penghantar Penghantar ialah suatu benda yang berbentuk logam ataupun non logam yang dapat mengalirkan arus listrik dari satu titik ke titik lain. Penghantar
BAB II JARINGAN DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK. Pusat tenaga listrik umumnya terletak jauh dari pusat bebannya. Energi listrik
BAB II JARINGAN DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK 2.1. Umum Pusat tenaga listrik umumnya terletak jauh dari pusat bebannya. Energi listrik yang dihasilkan pusat pembangkitan disalurkan melalui jaringan transmisi.
THERMAL OVERLOAD RELAY (TOR/TOL)
Thermal Over Load Relay (TOR/TOL) 1. Thermal Over Load Relay (TOR/TOL) Instalasi motor listrik membutuhkan pengaman beban lebih dengan tujuan menjaga dan melindungi motor listrik dari gangguan beban lebih
Pengenalan Simbol-sismbol Komponen Rangkaian Kendali
7a 1. 8 Tambahan (Suplemen) Pengenalan Simbol-sismbol Komponen Rangkaian Kendali Pada industri modern saat ini control atau pengendali suatu system sangatlah diperlukan untuk lancarnya proses produksi
BAB III LANDASAN TEORI
3.1 Sistem Kerja Panel Kontrol Lift BAB III LANDASAN TEORI Gambar 3.1 Lift Barang Pada lift terdapat 2 panel dimana satu panel adalah main panel yang berisi kontrol main supaly dan control untuk pergerakan
BAB II TRANSFORMATOR DAYA DAN PENGUBAH SADAPAN BERBEBAN. Tenaga listrik dibangkitkan dipusat pusat listrik (power station) seperti
6 BAB II TRANSFORMATOR DAYA DAN PENGUBAH SADAPAN BERBEBAN 2.1 Sistem Tenaga Listrik Tenaga listrik dibangkitkan dipusat pusat listrik (power station) seperti PLTA, PLTU, PLTD, PLTP dan PLTGU kemudian disalurkan
HANDOUT KENDALI MESIN LISTRIK
HANDOUT KENDALI MESIN LISTRIK OLEH: DRS. SUKIR, M.T JURUSAN PT ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA A. Dasar Sistem Pengendali Elektromagnetik. Materi dasar sistem pengendali elektromagnetik
DASAR KONTROL KONVENSIONAL KONTAKTOR
SMK NEGERI 2 KOTA PROBOLINGGO TEKNIK KETENAGALISTRIKAN Kelas XI DASAR KONTROL KONVENSIONAL Buku Pegangan Siswa REVISI 03 BUKU PEGANGAN SISWA (BPS) Disusun : TOTOK NUR ALIF,S.Pd.,ST NIP. 19720101 200312
TUGAS MAKALAH INSTALASI LISTRIK
TUGAS MAKALAH INSTALASI LISTRIK Oleh: FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK ELEKTRO PRODI S1 PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS NEGERI MALANG Oktober 2017 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Seiring jaman
BAB II LANDASAN TEORI
5 BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Teori Dasar MCB MCB (Miniature Circuit Breaker) atau pemutus tenaga berfungsi untuk memutuskan suatu rangkaian apabila ada arus yamg mengalir dalam rangkaian atau beban listrik
DTG1I1. Bengkel Instalasi Catu Daya dan Perangkat Pendukung KWH METER DAN ACPDB. By Dwi Andi Nurmantris
DTG1I1 Bengkel Instalasi Catu Daya dan Perangkat Pendukung KWH METER DAN ACPDB By Dwi Andi Nurmantris OUTLINE 1. KWH Meter 2. ACPDB TUGAS 1. Jelaskan tentang perangkat dan Instalasi Listrik di rumah-rumah!
BAB II LANDASAN TEORI
6 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Umum Untuk menjaga agar faktor daya sebisa mungkin mendekati 100 %, umumnya perusahaan menempatkan kapasitor shunt pada tempat yang bervariasi seperti pada rel rel baik tingkat
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Instalasi Listrik Instalasi listrik adalah saluran listrik beserta gawai maupun peralatan yang terpasang baik di dalam maupun diluar bangunan untuk menyalurkan arus
Apa itu Kontaktor? KONTAKTOR MAGNETIK / MAGNETIC CONTACTOR (MC) 11Jul. pengertian kontaktor magnetik Pengertian Magnetic Contactor
pengertian kontaktor magnetik Pengertian Magnetic Contactor Apa itu Kontaktor? Kontaktor (Magnetic Contactor) yaitu peralatan listrik yang bekerja berdasarkan prinsip induksi elektromagnetik Pada kontaktor
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Umum Perencanaan instalasi listrik membutuhkan analisis yang terus-menerus dan komprehensip untuk menilai keberhasilan sistem dan untuk menentukan kefektifan dalam pengembangan
Percobaan 3 Kendali Motor 3 Fasa 2 Arah Putar
Percobaan 3 Kendali Motor 3 Fasa 2 Arah Putar A. Tujuan Mahasiswa mampu dan terampil melakukan instalasi motor listrik menggunakan kontaktor sebagai pengunci. Mahasiswa mampu dan terampil melakukan instalasi
BAB III LANDASAN TEORI
BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Sistem Distribusi Tenaga Listrik Sistem Tenaga Listrik adalah sistem penyediaan tenaga listrik yang terdiri dari beberapa pembangkit atau pusat listrik terhubung satu dengan
BAB II PEMBAHASAN. Makin besar suatu sistem kelistrikan, maka makin besar pula peralatan proteksi
BAB II PEMBAHASAN II.1. Gambaran Masalah Penggunaan proteksi dalam bidang kelistrikan mencakup segi yang luas. Makin besar suatu sistem kelistrikan, maka makin besar pula peralatan proteksi yang digunakan.
CONTOH SOAL TEORI KEJURUAN KOMPETENSI KEAHLIAN : TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK
CONTOH SOAL TEORI KEJURUAN KOMPETENSI KEAHLIAN : TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK Pilih salah satu jawaban yang paling tepat dengan memberi tanda silang ( X ) pada huruf A, B, C, D atau E pada lembar jawaban
KOMPONEN INSTALASI LISTRIK
KOMPONEN INSTALASI LISTRIK HASBULLAH, S.PD, MT TEKNIK ELEKTRO FPTK UPI 2009 KOMPONEN INSTALASI LISTRIK Komponen instalasi listrik merupakan perlengkapan yang paling pokok dalam suatu rangkaian instalasi
BAB III LANDASAN TEORI
15 BAB III LANDASAN TEORI Tenaga listrik dibangkitkan dalam Pusat-pusat Listrik seperti PLTA, PLTU, PLTG, PLTP dan PLTD kemudian disalurkan melalui saluran transmisi yang sebelumnya terlebih dahulu dinaikkan
BAB II LANDASAN TEORI. Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL). b. Letak titik sumber (pembangkit) dengan titik beban tidak selalu berdekatan.
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Dasar Distribusi Dan Instalasi Secara sederhana Sistem Distribusi Tenaga Listrik dapat diartikan sebagai sistem sarana penyampaian tenaga listrik dari sumber ke pusat
BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN
BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengumpulan Data Dari hasil data yang di peroleh saat melakukan penelitian di dapat seperti pada table berikut ini. Tabel 4.1 Hasil penelitian Tahanan (ohm) Titik A Titik
BAB II DASAR TEORI. Iwan Setiawan, Wagiman, Supardi dalam tulisannya Penentuan Perpindahan
5 BAB II DASAR TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka Iwan Setiawan, Wagiman, Supardi dalam tulisannya Penentuan Perpindahan Sakelar Elektromagnetik dari Y ke Motor Listrik Induksi 3 Fasa pada prosiding seminar pengelolaan
BAB III PERANCANGAN DIAGRAM SATU GARIS RENCANA SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK
BAB III PERANCANGAN DIAGRAM SATU GARIS RENCANA SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK 3.1 TAHAP PERANCANGAN DISTRIBUSI KELISTRIKAN Tahapan dalam perancangan sistem distribusi kelistrikan di bangunan bertingkat
SMK Negeri 2 KOTA PROBOLINGGO TEKNIK KETENAGALISTRIKAN MENGENAL SISTEM PENGENDALI KONTAKTOR
SMK Negeri 2 KOTA PROBOLINGGO TEKNIK KETENAGALISTRIKAN MENGENAL SISTEM PENGENDALI KONTAKTOR 2009/2010 http://www.totoktpfl.wordpress.com Page 1 of 39 Disusun : TOTOK NUR ALIF, S.Pd, ST NIP. 19720101 200312
BAB III PENGASUTAN MOTOR INDUKSI
BAB III PENGASUTAN MOTOR INDUKSI 3.1 Umum Masalah pengasutan motor induksi yang umum menjadi perhatian adalah pada motor-motor induksi tiga phasa yang memiliki kapasitas yang besar. Pada waktu mengasut
PENGENALAN TEKNIK PENGENDALI ALAT LISTRIK INDUSTRI
PENGENALAN TEKNIK PENGENDALI ALAT LISTRIK INDUSTRI 1. Saklar magnet (Kontaktor) Kontaktor adalah sejenis saklar atau kontak yang bekerja dengan bantuan daya magnet listrik dan mampu melayani arus beban
BAB II JARINGAN DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK
2.1 Umum BAB II JARINGAN DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK Kehidupan moderen salah satu cirinya adalah pemakaian energi listrik yang besar. Besarnya pemakaian energi listrik itu disebabkan karena banyak dan beraneka
BAB II DASAR-DASAR PERENCANAAN INSTALASI PENERANGAN
BAB II DASARDASAR PERENCANAAN INSTALASI PENERANGAN II.. Syaratsyarat Umum Dalam melakukan perencanaan suatu instalasi baik itu instalasi rumah tinggal, kantorkantor, pabrikpabrik ataupun alatalat transport,
BAB II DASAR TEORI. a. Pusat pusat pembangkit tenaga listrik, merupakan tempat dimana. ke gardu induk yang lain dengan jarak yang jauh.
BAB II DASAR TEORI 2.1. Sistem Jaringan Distribusi Pada dasarnya dalam sistem tenaga listrik, dikenal 3 (tiga) bagian utama seperti pada gambar 2.1 yaitu : a. Pusat pusat pembangkit tenaga listrik, merupakan
BAB I. PRINSIP KERJA SISTEM KENDALI ELEKTROMAGNETIK Pada bab ini akan membahas prinsip kerja sistem pengendali elektromagnetik yang meliputi :
BAB I PRINSIP KERJA SISTEM KENDALI ELEKTROMAGNETIK Pada bab ini akan membahas prinsip kerja sistem pengendali elektromagnetik yang meliputi : A. Tahapan pengendalian motor listrik pada sistem kendali elektromagnetik
MAKALAH. TIMER / TDR (Time Delay Relay)
MAKALAH TIMER / TDR (Time Delay Relay) DISUSUN OLEH : MUH. HAEKAL SETO NUGROHO 5115116360 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA 2014 Latar Belakang Dalam dunia
BAB III KEBUTUHAN GENSET
BAB III KEBUTUHAN GENSET 3.1 SUMBER DAYA LISTRIK Untuk mensuplai seluruh kebutuhan daya listrik pada bangunan ini maka direncanakan sumber daya listrik dari : A. Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) B.
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Distributed Generation Distributed Generation adalah sebuah pembangkit tenaga listrik yang bertujuan menyediakan sebuah sumber daya aktif yang terhubung langsung dengan jaringan
STANDAR KONSTRUKSI GARDU DISTRIBUSI DAN KUBIKEL TM 20 KV
STANDAR KONSTRUKSI GARDU DISTRIBUSI DAN KUBIKEL TM 20 KV JENIS GARDU 1. Gardu Portal Gardu Distribusi Tenaga Listrik Tipe Terbuka ( Out-door ), dengan memakai DISTRIBUSI kontruksi dua tiang atau lebih
BAB IV PEMILIHAN KOMPONEN DAN PENGUJIAN ALAT
BAB IV PEMILIHAN KOMPONEN DAN PENGUJIAN ALAT Pada bab sebelumnya telah diuraikan konsep rancangan dan beberapa teori yang berhubungan dengan rancangan ACOS (Automatic Change Over Switch) pada AC (Air Conditioning)
JENIS SERTA KEGUNAAN KONTAKTOR MAGNET
JENIS SERTA KEGUNAAN KONTAKTOR MAGNET http://erick-son1.blogspot.com/2009/10/mengoperasikan-motor-3-fasa-dengan.html JENIS DAN KEGUNAAN KONTAKTOR MAGNET Sistem pengontrolan motor listrik semi otomatis
APLIKASI KONTAKTOR MAGNETIK
APLIKASI KONTAKTOR MAGNETIK CONTOH PANEL KENDALI MOTOR KONTAKTOR MAGNETIK DC (RELE) KONTAKTOR MAGNETIK AC TOMBOL TEKAN DAN RELE RANGKAIAN KONTAKTOR MAGNETIK APLIKASI KONTAKTOR MAGNETIK UNTUK PENGENDALIAN
BAB IV ANALISA DAN PERENCANAAN SISTEM INSTALASI LISTRIK
57 BAB IV ANALISA DAN PERENCANAAN SISTEM INSTALASI LISTRIK 4.1. Sistem Instalasi Listrik Sistem instalasi listrik di gedung perkantoran Talavera Suite menggunakan sistem radial. Sumber utama untuk suplai
Hilman Herdiana Mahasiswa Diploma 3 Program Studi Teknik Listrik Jurusan Teknik Elektro Politeknik Negeri Bandung ABSTRAK
RANCANG BANGUN PENGASUTAN LANGSUNG DOUBLE SPEED FORWARD REVERSE MOTOR INDUKSI 3 FASA BERBASIS PLC OMRON CP1L-20DR-A Hilman Herdiana Mahasiswa Diploma 3 Program Studi Teknik Listrik Jurusan Teknik Elektro
III PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
III PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 3.1. Umum Berdasarkan standard operasi PT. PLN (Persero), setiap pelanggan energi listrik dengan daya kontrak di atas 197 kva dilayani melalui jaringan tegangan menengah
BAB II LANDASAN TEORI ANALISA HUBUNG SINGKAT DAN MOTOR STARTING
BAB II LANDASAN TEORI ANALISA HUBUNG SINGKAT DAN MOTOR STARTING 2.1 Jenis Gangguan Hubung Singkat Ada beberapa jenis gangguan hubung singkat dalam sistem tenaga listrik antara lain hubung singkat 3 phasa,
BAB IV PERAKITAN DAN PENGUJIAN PANEL AUTOMATIC TRANSFER SWITCH (ATS) DAN AUTOMATIC MAIN FAILURE (AMF)
BAB IV PERAKITAN DAN PENGUJIAN PANEL AUTOMATIC TRANSFER SWITCH (ATS) DAN AUTOMATIC MAIN FAILURE (AMF) 4.1 Komponen-komponen Panel ATS dan AMF 4.1.1 Komponen Kontrol Relay Relay adalah alat yang dioperasikan
DASAR KONTROL ELEKTROMAGNETIK
SMK Negeri 2 Kota Probolinggo TEKNIK KETENAGALISTRIKAN DASAR KONTROL ELEKTROMAGNETIK KELAS XI REVISI 5 BUKU PANDUAN SISWA IDENTITAS PEMILIK BUKU : NAMA KELAS No ABSEN Alamat No HP Motto :. : XI Listrik..
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Proses Penyaluran Tenaga Listrik Ke Konsumen Didalam dunia kelistrikan sering timbul persoalan teknis, dimana tenaga listrik dibangkitkan pada tempat-tempat tertentu, sedangkan
PERBAIKAN REGULASI TEGANGAN
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER PERBAIKAN REGULASI TEGANGAN Distribusi Tenaga Listrik Ahmad Afif Fahmi 2209 100 130 2011 REGULASI TEGANGAN Dalam Penyediaan
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Transformator Tenaga Transformator tenaga adalah merupakan suatu peralatan listrik statis yang berfungsi untuk menyalurkan tenaga / daya listrik arus bolak-balik dari tegangan
BAB I KOMPONEN DAN RANGKAIAN LATCH/PENGUNCI
BAB I KOMPONEN DAN RANGKAIAN LATCH/PENGUNCI 1. Tujuan Percobaan Mengetahui Dan Memahami Cara Kerja Komponen yang Menyusun Rangkaian Pengunci (Latch): Push Button, Relay, Kontaktor. Membuat Aplikasi Rangkaian
BAB II LANDASAN TEORI. melakukan kerja atau usaha. Daya memiliki satuan Watt, yang merupakan
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Daya Daya adalah energi yang dikeluarkan untuk melakukan usaha. Dalam sistem tenaga listrik, daya merupakan jumlah energi yang digunakan untuk melakukan kerja atau
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Daya 2.1.1 Pengertian Daya Daya adalah energi yang dikeluarkan untuk melakukan usaha. Dalam sistem tenaga listrik, daya merupakan jumlah energi yang digunakan untuk melakukan
atau pengaman pada pelanggan.
16 b. Jaringan Distribusi Sekunder Jaringan distribusi sekunder terletak pada sisi sekunder trafo distribusi, yaitu antara titik sekunder dengan titik cabang menuju beban (Lihat Gambar 2.1). Sistem distribusi
Starter Dua Speed Untuk Motor dengan Lilitan Terpisah. (Separate Winding)
Starter Dua Speed Untuk Motor dengan Lilitan Terpisah (Separate Winding) 1. Tujuan 1.1 Mengidentifikasi terminal motor dua kecepatan dua lilitan terpisah (separate winding) 1.2 Menjelaskan tujuan dan fungsi
BAB II JARINGAN DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK. karena terdiri atas komponen peralatan atau mesin listrik seperti generator,
BAB II JARINGAN DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK II.1. Sistem Tenaga Listrik Struktur tenaga listrik atau sistem tenaga listrik sangat besar dan kompleks karena terdiri atas komponen peralatan atau mesin listrik
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI Dibagian ini akan dibahas tentang fungsi Automatic Transfer Switch dan Automatic Mains Failure merupakan suatu bentuk sistem control energy listrik yang berfungsi untuk memastikan
Oleh Maryono SMK Negeri 3 Yogyakarta
Oleh Maryono SMK Negeri 3 Yogyakarta - Circuit Breaker (CB) 1. MCB (Miniatur Circuit Breaker) 2. MCCB (Mold Case Circuit Breaker) 3. NFB (No Fuse Circuit Breaker) 4. ACB (Air Circuit Breaker) 5. OCB (Oil
L/O/G/O RINCIAN PERALATAN GARDU INDUK
L/O/G/O RINCIAN PERALATAN GARDU INDUK Disusun Oleh : Syaifuddin Z SWITCHYARD PERALATAN GARDU INDUK LIGHTNING ARRESTER WAVE TRAP / LINE TRAP CURRENT TRANSFORMER POTENTIAL TRANSFORMER DISCONNECTING SWITCH
BAB IV PERHITUNGAN DAN ANALISA
BAB V PERHTUNGAN DAN ANALSA 4.1 Sistem nstalasi Listrik Sistem instalasi listrik di gedung perkantoran Dinas Teknis Kuningan menggunakan sistem radial. Sumber utama untuk suplai listrik berasal dari PLN.
Jenis Bahan Konduktor
Jenis Bahan Konduktor Bahan bahan yang dipakai untuk konduktor harus memenuhi persyaratan persyaratan sebagai berikut: 1. Konduktifitasnya cukup baik. 2. Kekuatan mekanisnya (kekuatan tarik) cukup tinggi.
A. SALURAN TRANSMISI. Kategori saluran transmisi berdasarkan pemasangan
A. SALURAN TRANSMISI Kategori saluran transmisi berdasarkan pemasangan Berdasarkan pemasangannya, saluran transmisi dibagi menjadi dua kategori, yaitu: 1. saluran udara (overhead lines); saluran transmisi
BAB IX. PROTEKSI TEGANGAN LEBIH, ARUS BOCOR DAN SURJA HUBUNG (TRANSIENT)
BAB IX. PROTEKSI TEGANGAN LEBIH, ARUS BOCOR DAN SURJA HUBUNG (TRANSIENT) 9.1. PROTEKSI TEGANGAN LEBIH/ KURANG 9.1.1 Pendahuluan. Relai tegangan lebih [ Over Voltage Relay ] bekerjanya berdasarkan kenaikan
BAB 2 KLASIFIKASI JARINGAN DISTRIBUSI
KLASIFIKASI JARINGAN DISTRIBUSI 11 BAB 2 KLASIFIKASI JARINGAN DISTRIBUSI A. Pendahuluan Sistem jaringan distribusi tenaga listrik dapat diklasifikasikan dari berbagai segi, antara lain adalah : 1. Berdasarkan
ANALISIS PENYEBAB KEGAGALAN KERJA SISTEM PROTEKSI PADA GARDU AB
ANALISIS PENYEBAB KEGAGALAN KERJA SISTEM PROTEKSI PADA GARDU AB 252 Oleh Vigor Zius Muarayadi (41413110039) Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Mercu Buana Sistem proteksi jaringan tenaga
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. induk agar keandalan sistem daya terpenuhi untuk pengoperasian alat-alat.
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Distribusi daya Beban yang mendapat suplai daya dari PLN dengan tegangan 20 kv, 50 Hz yang diturunkan melalui tranformator dengan kapasitas 250 kva, 50 Hz yang didistribusikan
RANCANG BANGUN SIMULAOTOR PENGASUTAN LANGSUNG DOUBLE SPEED MOTOR INDUKSI 3 FASA BERBASIS PLC OMRON CP1L-20 DR-A
RANCANG BANGUN SIMULAOTOR PENGASUTAN LANGSUNG DOUBLE SPEED MOTOR INDUKSI 3 FASA BERBASIS PLC OMRON CP1L-20 DR-A Ikhsan Sodik Mahasiswa Diploma 3 Program Studi Teknik Listrik Jurusan Teknik Elektro Politeknik
BAB II DISTRIBUSI ENERGI LISTRIK
BAB II DISTRIBUSI ENERGI LISTRIK 2.1 GEDUNG PENCAKAR LANGIT (SKYSCRAPER BUILDING)) Perkembangan kepadatan penduduk di suatu tempat memang memerlukan banyak tempat untuk beraktifitas. Dan secara logika
BAB IV DESIGN SISTEM PROTEKSI MOTOR CONTROL CENTER (MCC) PADA WATER TREATMENT PLANT (WTP) Sistem Kelistrikan di PT. Krakatau Steel Cilegon
BAB IV DESIGN SISTEM PROTEKSI MOTOR CONTROL CENTER (MCC) PADA WATER TREATMENT PLANT (WTP) 3 4.1 Sistem Kelistrikan di PT. Krakatau Steel Cilegon Untuk menjalankan operasi produksi pada PT. Krakatau Steel
BAB III KARAKTERISTIK SENSOR LDR
BAB III KARAKTERISTIK SENSOR LDR 3.1 Prinsip Kerja Sensor LDR LDR (Light Dependent Resistor) adalah suatu komponen elektronik yang resistansinya berubah ubah tergantung pada intensitas cahaya. Jika intensitas
IDENTITAS PEMILIK BUKU : Foto 4 x 6
IDENTITAS PEMILIK BUKU : NAMA KELAS No ABSEN Alamat No HP Motto :. : XI Listrik.. :.. : : 08. : Foto 4 x 6 BUKU PANDUAN SISWA (BPS) Disusun : TOTOK NUR ALIF,S.Pd.,ST NIP. 19720101 200312 1 011 PROFESIONAL
MENGENAL ALAT UKUR. Amper meter adalah alat untuk mengukur besarnya arus listrik yang mengalir dalam penghantar ( kawat )
MENGENAL ALAT UKUR AMPER METER Amper meter adalah alat untuk mengukur besarnya arus listrik yang mengalir dalam penghantar ( kawat ) Arus = I satuannya Amper ( A ) Cara menggunakannya yaitu dengan disambung
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Dasar-Dasar Sistem Proteksi 1 Sistem proteksi adalah pengaman listrik pada sistem tenaga listrik yang terpasang pada : sistem distribusi tenaga listrik, trafo tenaga, transmisi
TM - 2 LISTRIK. Pengertian Listrik
TM - 2 LISTRIK Pengertian Listrik Kelistrikan adalah sifat benda yang muncul dari adanya muatan listrik. Listrik, dapat juga diartikan sebagai berikut: - Listrik adalah kondisi dari partikel sub-atomik
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Kontaktor Kontaktor merupakan komponen listrik yang berfungsi untuk menyambungkan atau memutuskan arus listrik AC. Kontaktor atau sering juga disebut dengan istilah relay. Prinsip
BAB IV OPTIMALISASI BEBAN PADA GARDU TRAFO DISTRIBUSI
BAB IV OPTIMALISASI BEBAN PADA GARDU TRAFO DISTRIBUSI 4.1 UMUM Proses distribusi adalah kegiatan penyaluran dan membagi energi listrik dari pembangkit ke tingkat konsumen. Jika proses distribusi buruk
SISTEM PROTEKSI PADA MOTOR INDUKSI 3 PHASE 200 KW SEBAGAI PENGGERAK POMPA HYDRAN (ELECTRIC FIRE PUMP) SURYA DARMA
SISTEM PROTEKSI PADA MOTOR INDUKSI 3 PHASE 200 KW SEBAGAI PENGGERAK POMPA HYDRAN (ELECTRIC FIRE PUMP) SURYA DARMA Dosen Tetap Yayasan Pada Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Palembang
PUSPA LITA DESTIANI,2014
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Sistem yang digunakan di PT. PERTAMINA (Persero) RU VI Balongan yaitu sistem pembangkit tenaga listrik terisolir. Sistem Pembangkit Terisolir merupakan
BAB II KARAKTERISTIK PEMUTUS TENAGA
BAB II KARAKTERISTIK PEMUTUS TENAGA 2.1 Fungsi Pemutus Tenaga Pemutus tenaga (PMT) adalah saklar yang dapat digunakan untuk menghubungkan atau memutuskan arus atau daya listrik sesuai dengan ratingnya.
TI-3222: Otomasi Sistem Produksi
TI-: Otomasi Sistem Produksi Hasil Pembelajaran Umum ahasiwa mampu untuk melakukan proses perancangan sistem otomasi, sistem mesin NC, serta merancang dan mengimplementasikan sistem kontrol logika. Diagram
BAB II MOTOR INDUKSI SATU PHASA. Motor induksi adalah motor listrik arus bolak-balik (ac) yang putaran
BAB II MOTOR INDUKSI SATU PHASA II1 Umum Motor induksi adalah motor listrik arus bolak-balik (ac) yang putaran rotornya tidak sama dengan putaran medan stator, dengan kata lain putaran rotor dengan putaran
2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Saluran Transmisi Saluran transmisi merupakan bagian dari sistem tenaga listrik yang berperan menyalurkan daya listrik dari pusat-pusat pembangkit listrik ke gardu induk.
BAB III PERENCANAAN POMPA
35 BAB III PERENCANAAN POMPA 3.1 Pemilihan Pompa PT. Wira Putra adalah salah satu perusahaan yang bergerak dibidang penyediaan gedung khususnya untuk pabrik-pabrik home industri. Pada pengambilan data
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Relai Proteksi Relai proteksi atau relai pengaman adalah susunan peralatan yang berfungsi untuk mendeteksi atau merasakan adanya gangguan atau mulai merasakan adanya ketidak
Listrik Dinamis FIS 1 A. PENDAHULUAN. ρ = ρ o (1 + αδt) B. HUKUM OHM C. NILAI TAHANAN RESISTOR LISTRIK DINAMIS. materi78.co.nr. c.
Listrik Dinamis A. PENDAHULUAN Listrik bergerak dalam bentuk arus listrik. Arus listrik adalah gerakan muatan-muatan listrik berupa gerakan elektron dalam suatu rangkaian listrik dalam waktu tertentu karena
LISTRIK DINAMIS FIS 1 A. PENDAHULUAN B. HUKUM OHM. ρ = ρ o (1 + αδt) C. NILAI TAHANAN RESISTOR
A. PENDAHULUAN Listrik bergerak dalam bentuk arus listrik. Arus listrik adalah gerakan muatan-muatan listrik berupa gerakan elektron dalam suatu rangkaian listrik dalam waktu tertentu karena adanya tegangan
Arti Pole dan Throw pada Relay
Pengertian Relay Relay adalah komponen elektronika berupa saklar atau switch yang dioperasikan menggunakan listrik. Relay juga biasa disebut sebagai komponen elektromekanikal yang terdiri dari dua bagian
TI3105 Otomasi Sistem Produksi
TI105 Otomasi Sistem Produksi Diagram Elektrik Laboratorium Sistem Produksi Prodi. Teknik Industri @01 Umum Hasil Pembelajaran ahasiwa mampu untuk melakukan proses perancangan sistem otomasi, sistem mesin
BAB III ALAT PENGUKUR DAN PEMBATAS (APP)
BAB III ALAT PENGUKUR DAN PEMBATAS (APP) 3.1 Alat Ukur Listrik Besaran listrik seperti arus, tegangan, daya dan lain sebagainya tidak dapat secara langsung kita tanggapi dengan panca indra kita. Untuk
Tabel 4.1. Komponen dan Simbol-Simbol dalam Kelistrikan. No Nama Simbol Keterangan Meter analog. 1 Baterai Sumber arus
BAB 4 RANGKAIAN LISTRIK DAN PERBAIKANNYA 4.1. Pendahuluan Rangkaian listrik merupakan satu sistem yang terdiri dari beberapa komponen kelistrikan dan kabel-kabel penghantar yang menghubungkan satu komponen
DAYA LISTRIK ARUS BOLAK BALIK
DAYA LISTRIK ARUS BOLAK BALIK DASAR TEORI Daya listrik didefinisikan sebagai laju hantaran energi listrik dalam rangkaian listrik. Satuan SI daya listrik adalah watt. Arus listrik yang mengalir dalam rangkaian
