Oleh : Deden Rahmat Setiawan C

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Oleh : Deden Rahmat Setiawan C"

Transkripsi

1 KETAJAMAN PENGLIHATAN IKAN LAYUR (Trichiurus spp) HASIL TANGKAPAN PANCING RAWAI DI TELUK PALABUHANRATU SUKABUMI JAWA BARAT Oleh : Deden Rahmat Setiawan C PROGRAM STUDI PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006

2 PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul : KETAJAMAN PENGLIHATAN IKAN LAYUR (Trichiurus spp) HASIL TANGKAPAN PANCING RAWAI DI TELUK PALABUHANRATU SUKABUMI JAWA BARAT Adalah benar merupakan hasil karya saya sendiri dan belum pernah diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi manapun. Adapun semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini. Bogor, Januari 2006 Deden Rahmat Setiawan C

3 ABSTRAK DEDEN RAHMAT SETIAWAN. Ketajaman Penglihatan Ikan Layur (Trichiurus spp) Hasil Tangkapan Pancing Rawai di Teluk Palabuhanratu Sukabumi Jawa Barat. Dibimbing oleh WAZIR MAWARDI. Mata pada ikan merupakan salah satu indra yang sangat penting untung mencari makan dan menghindar dari pemangsa / predator atau dari kepungan alat tangkap. Pengkajian mengenai mata ikan akan memberikan informasi penting tentang bagaimana caranya agar ikan bisa ditangkap atau sebaliknya tidak bisa ditangkap karena belum memenuhi kriteria layak tangkap. Ketajaman penglihatan ikan adalah kemampuan ikan untuk melihat suatu objek pada garis lurus yang digambarkan dalam bentuk hubungan timbal balik yang diistilahkan dengan sudut pembeda terkecil (Minimum Separable Angle). Selanjutnya dengan ketajaman penglihatan dapat pula diketahui sudut tampak minimum (minimum visible angle) yang dapat diukur dengan cara memperhitungkan jarak dari sasaran penglihatan menggunakan metode tingkah laku ikan. (He, 1989 diacu oleh Geonita, 2004). Berdasarkan hasil analisis histologi yang dilakukan terhadap 5 ekor ikan layur diperoleh bahwa susunan sel reseptor pada ikan layur terdiri dari sel kon tunggal (single cone cell) dan sel kon ganda (twine cone cell). Kepadatan sel kon tertinggi ikan layur terletak pada bagian ventro-temporal retina mata, hal ini mengindikasikan bahwa arah penglihatan ikan layur ke arah depan naik (upper-fore). Ketajaman penglihatan ikan layur yang ditentukan berdasarkan nilai kepadatan sel kon berkisar antara 0,14-0,15 untuk ukuran panjang tubuh mm. Jarak pandang maksimum ikan layur dapat melihat objek pada pancing rawai dalam hal ini umpan, akan semakin meningkat seiring dengan bertambah besarnya ukuran tubuh ikan dan ukuran umpan atau objek yang dilihat. Jarak pandang maksimum ikan layur dalam melihat umpan berukuran 40 mm berkisar antara 6,006 6,623 meter; untuk ukuran umpan 50 mm berkisar antara 7,508-8,278 meter; untuk ukuran umpan 60 mm berkisar antara 9,009-9,933 meter; untuk ukuran umpan 70 mm berkisar antara 10,511-11,589 meter.

4 KETAJAMAN PENGLIHATAN IKAN LAYUR (Trichiurus spp) HASIL TANGKAPAN PANCING RAWAI DI TELUK PALABUHANRATU SUKABUMI JAWA BARAT Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor Oleh : DEDEN RAHMAT SETIAWAN C PROGRAM STUDI PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006

5 Judul Nama NRP SKRIPSI : KETAJAMAN PENGLIHATAN IKAN LAYUR (trichiurus spp) HASIL TANGKAPAN PANCING RAWAI DI TELUK PALABUHANRATU SUKABUMI JAWA BARAT : Deden Rahmat Setiawan : C Disetujui, Pembimbing Ir. Wazir Mawardi, M.Si NIP mengetahui, Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Dr. Ir. Kadarwan Soewardi NIP Tanggal Lulus : 15 Desember 2005

6 KATA PENGANTAR Skripsi mengenai Ketajaman Penglihatan Ikan Layur (Trichiurus spp) Hasil Tangkapan Pancing Rawai di Teluk Palabuhanratu Sukabumi Jawa Barat ini disusun berdasarkan penelitian yang telah dilakukan selama 30 hari mulai bulan Juli sampai Agustus 2005 yang di Palabuhanratu dan di Laboratorium Tingkah Laku Ikan, Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor. Pada Kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada : 1. Ir. Wazir Mawardi, M.Si, selaku komisi pembimbing yang telah memberikan arahan dan bimbingannya. 2. Dr. Ir. Gondo Puspito, M.Sc dan Dr. Ir. Sulaeman Martasuganda atas kesediaan meluangkan waktunya untuk menguji. 3. Pak Sarip dan seluruh kru SLK, Pak Ibong, Pak Adom sekeluarga, Pak Sakim sekeluarga, yang telah membantu penulis dalam pengambilan sampel penelitian. 4. Bapa Ukasah Somawiaya, Ema Epon Sopiah (Alm), Kakak-kakak dan Adik-adik atas semua bantuan, dorongan dan do anya. 5. Teman-teman seperjuangan, PSP 38, dan PPM Al-Ihya Darmaga, yang tidak bisa disebutkan satu persatu. 6. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan namanya satu persatu yang telah membantu penulis sehingga terselesaikannya penulisan skripsi ini. Penulis menyadari atas kekurangan skripsi ini, oleh karena itu saran dan kritik sangat penulis harapkan untuk kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkannya. Bogor, Januari 2006 Penulis

7 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Cianjur, pada tanggal 27 November 1981 dari pasangan Ukasah Somawijaya dan Epon Sopiah (Alm). Penulis adalah anak ke 6 dari sepuluh bersaudara. Pendidikan formal penulis diawali dari SDN Sukamulya III pada tahun , SMPN I Sukaluyu pada tahun , dan SMUN I Cianjur pada tahun Pada tahun 2001 penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui jalur UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri), pada Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Selain aktif di kampus, penulis juga aktif mengajar Matematika di beberapa sekolah swasta dan di beberapa Pusat bimbingan belajar di Bogor, seperti SMA Darussalam Darmaga, SMP Insan Kamil Kota Bogor dan MTs Sirojul Kamal Ciampea, bimbingan belajar Primagama, Nurul Ilmi dan Bintang Futura. Untuk menyelesaikan tugas akhir, penulis melakukan penelitian dan menyusun skripsi dengan judul Ketajaman Penglihatan Ikan Layur (Trichiurus spp) Hasil Tangkapan Pancing Rawai di Teluk Palabuhanratu Sukabumi Jawa Barat.

8 DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian TINJAUAN PUSTAKA Ikan Layur Pancing Rawai Indera Penglihatan Ikan Morfologi Mata Ikan Ketajaman Penglihatan Sumbu Penglihatan Jarak Pandang Maksimum METODOLOGI Waktu dan Tempat Bahan dan Alat Metode Pengumpulan Data Metode Penelitian Pengambilan Sampel Prosedur Histologi Metode Analisis Data Analisis Ketajaman Penglihatan Analisis Sumbu Penglihatan Analisis Jarak Pandang Maksimum KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN Keadaan Umum Palabuhanratu Kondisi Geografi, Letak dan Luas Wilayah Keadaan Iklim dan Musim Keadaan Umum Perikanan Laut Palabuhanratu i iii iv v

9 4.2.1 Total produksi dan nilai produksi ikan yang didaratkan di PPN Palabuhanratu Produksi dan Nilai Produksi Ikan Layur yang didaratkan di Palabuhanratu HASIL DAN PEMBAHASAN Ketajaman Penglihatan Sumbu Penglihatan Jarak Pandang Maksimum KESIMPULAN DAN SARAN DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN... 36

10 DAFTAR TABEL Halaman 1. Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian Perkembangan produksi dan nilai produksi perikanan laut di PPN Palabuhan ratu Produksi dan Nilai produksi ikan layur di PPN Palabuhanratu tahun Jarak pandang maksimum ikan layur terhadap umpan pancing rawai... 29

11 DAFTAR GAMBAR Halaman 1. Ikan Layur Struktur mata ikan Sembilan belas bagian retina mata ikan sampel sebelah kiri yang diamati sel konnya Diagram alir analisis histologi spesimen retina mata ikan Prosedur pengeringan dan penanaman retina ikan layur Prosedur pewarnaan Hematoxylene dan Eosin specimen retina mata ikan Skema perhitungan jarak pandang maksimum Bentuk mozaik sel kon tunggal dan sel kon ganda pada ikan layur Hubungan antara panjang total ikan dan diameter lensa mata ikan layur Hubungan antara panjang total ikan dan kepadatan sel kon ikan layur Hubungan antara panjang total ikan dan sudut pembeda terkecil Hubungan antara panjang total ikan dan ketajaman penglihatan ikan layur Hubungan antara panjang total ikan dan jarak pandang maksimum ikan layur Bentuk dan kepadatan sel kon pada setiap bagian retina mata ikan layur Peta kepadatan sel kon (Isodensity) dan sumbu penglihatan ikan layur... 33

12 DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1. Jumlah sel kon pada setiap bagian dari retina mata ikan Nilai sudut pembeda terkecil dan ketajaman penglihatan ikan layur Konstruksi alat tangkap pancing rawai Peta lokasi penelitian Alat-alat, bahan dan proses analisis histologi Unit penangkapan dan hasil tangkapan pancing rawai... 44

13 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ikan layur merupakan salahsatu jenis ikan komoditas ekspor yang diproduksi di teluk Palabuhanratu, Sukabumi Jawa Barat, di Palabuhanratu Jenis ikan ini banyak ditangkap dengan menggunakan pancing, seperti pancing rawai, pancing kotrek dan pancing ulur. Pancing-pancing tersebut selama ini dinilai belum efektif dan efisien untuk menangkap ikan layur, karena ikan-ikan layur kecil yang belum layak tangkap dan belum memenuhi standard ekspor masih tertangkap oleh alat ini, sehingga diperlukan suatu informasi tambahan untuk memperbaiki metode penangkapan ikan, sehingga operasi penangkapan ikan yang dilakukan bisa efektif dan efisien. Salah satu cara untuk memperbaiki metode penangkapan ikan yang digunakan adalah dengan mengetahui tingkah laku ikan, sebagaimana diungkapkan oleh Gunarso (1985), bahwa operasi penangkapan ikan sangat erat hubungannya dengan tingkah laku ikan, pengetahuan mengenai tingkah laku ikan dapat memperbaiki serta merubah alat maupun metode penangkapan yang memungkinkan untuk meningkatkan efisiensi penangkapan. Selanjutnya salah satu pengetahuan tentang tingkah laku ikan adalah pengetahuan mengenai ketajaman penglihatan ikan (visual acuity). Penelitian mengenai ketajaman penglihatan pada ikan telah dilakukan sebelumnya oleh Blaxter and Jones (1967) tentang perkembangan rertina dan respon retinomotor pada herring, Akiyama et al. (1994) tentang tingkah laku ikan terhadap pancing tonda (trolling line) yang diamati dengan menggunakan kamera bawah air, Alatas (2004) tentang Respon Ikan Tonkol (Euthynnus affinis) pada Pancing Tonda Menggunakan Umpan Tiruan, Geonita (2004) tentang Ketajaman Penglihatan Kakap Merah dalam Kaitannya dengan Proses Penangkapan menggunakan Pancing Ulur, dan Agustini (2005) tentang Ketajaman Penglihatan Ikan Gulamah (Argyrosomus amoyensis) Kaitannya Dengan Respon Penglihatan Terhadap Objek Jaring Arad.

14 Penelitian tersebut telah banyak memberikan informasi yang menarik untuk dikaji lebih lanjut. Berdasarkan permasalahan tersebut maka ketajaman penglihatan pada ikan perlu dikaji secara mendalam. Proses penangkapan dan tingkah laku ikan yang dipengaruhi oleh ketajaman penglihatan untuk jenis ikan laut akan memberikan informasi penting untuk kegiatan penelitian dan pengembangan alat tangkap. 1.2 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk : 1. Memprediksi ketajaman penglihatan dan arah penglihatan ikan layur (Trichiurus spp) hasil tangkapan pancing rawai. 2. Memprediksi jarak pandang maksimum ikan layur (Trichiurus spp) berbagai ukuran terhadap perbedaan ukuran umpan yang digunakan oleh nelayan Palabuhanratu 1.3 Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk : 1. Memberikan informasi tentang daya penglihatan ikan layur (Trichiurus spp). 2. Memberikan informasi tentang ukuran umpan yang efektif untuk menangkap ikan layur (Trichiurus spp) yang layak tangkap

15 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ikan Layur Klasifikasi ikan Layur menurut Saanin (1984) : Filum : Chordata Sub filum : Vertebrata Kelas : pisces Sub kelas : Teleostei Ordo : Percomorphii Sub Ordo : Scombroidea Famili : Trichiuridae Genus : Trichiurus Spesies : Trichiurus spp Gambar 1 Ikan Layur (Trichiurus spp) Sumber : ( Layur mempunyai badan sangat panjang, pipih seperti pita terutama ujung belakangnya, mulut lebar dan kedua rahangnya bergigi kuat dan tajam rahang bawah lebih panjang dari rahang atasnya. Sirip panjang mulai dari atas kepala sampai akhir badan berjari-jari lemah Sirip dubur tumbuh kurang sempurna, berjari-jari lemah berupa deretan duri-duri kecil. Garis rusuk terletak jauh di bawah badan,

16 tanpa sirip perut. Badan dapat mencapai cm. (Direktorat Jendral Perikanan,1979). Ikan layur umumnya hidup diperairan pantai yang dalam dengan dasar lumpur. Jenis ikan ini biasanya muncul ke permukaan pada waktu senja atau sore hari. Ikan ini termasuk ikan buas yang memangsa ikan-ikan kecil lainnya. (Araga et al.,1975). Matsuda et al., Diacu oleh Imron (1999) menambahkan walaupun ikan layur ini termasuk jenis ikan demersal, namun jenis ikan ini biasanya muncul ke permukaan pada waktu senja. Menurut Fischer (1974) diacu dalam Anita (2003) Ikan layur terdapat sampai pada kedalaman kurang lebih 100 meter, namun banyak dijumpai di perairan yang lebih dangkal hingga memasuki daerah estuaria bahkan diperairan yang sangat dangkal sekalipun. Ikan ini termasuk kedalam kelompok ikan demersal dan digolongkan kedalam ikan pemangsa (carnivora) dengan mangsanya berupa ikanikan kecil, udang-udangan (crustacea) dan berbagai jenis cumi-cumi (Dwiponggo et al.,1991). Daerah penyebaran layur berada di perairan pantai seluruh Indonesia ke utara meliputi perairan Teluk Benggala, Teluk Siam, sepanjang pantai Laut Cina Selatan, Philipina, ke selatan meliputi pantai utara Australia (Ayodhyoa dan Diniah, 1989). Selain itu juga pada beberapa muara sungai di Sumatra umumnya dijumpai pula jenis layur yang berukuran lebih kecil seperti Trichiurus glossodon dan Trichiurus savala. Ikan layur merupakan ikan yang biasa dikonsumsi, biasa ditangkap dengan menggunakan pancing ataupun dengan menggunakan perangkap seperti bubu, sero dan jermal serta dapat pula ditangkap dengan menggunakan trawl (Araga et.l.,1975). Belum banyak diketahui masa-masa pemijahannya, hanya saja untuk jenis layur yang ada di selatan Jepang (Trichiurus lepturus), mulai diketahui bahwa ikan ini memijah dan telurnya menetas pada musim semi (saat suhu berangsur hangat). Jenis ikan ini sangat sukar dipertahankan hidup dalam penampungan (Nontji, 1987) diacu dalam Anita (2003). Menurut Dwiponggo et al., (1991), ikan layur termasuk kedalam ikan komersil nomor dua yang tersebar diseluruh perairan Indonesia. Pengelompokan sumberdaya

17 ikan demersal yang menggambarkan penyebaran dan komposisi menurut nilai ekonomis adalah sebagi berikut : 1. Kelompok komersial utama yang terdiri dari ikan bambangan (Lutjanus spp), Bawal putih (Pampus spp), kerapu (Serranidae), manyung (Arridae), kuwee (Carangoides spp), nimei (Hradontidae), jenaha (Lutjanus johni). 2. Kelompok komersial kedua yang terdiri dari ikan layur (Trichiurus spp), bawal hitam (Formioniger), kurisi (Nemipterus sp), beronang (Siganus spp), gerot-gerot (Pomadsys spp), kuro (Therapon spp), Pari (Dasyatis spp), ketang-ketang (drepanidae), dan cucut (Shark). 3. Kelompok komersial ketiga yaitu ikan beloso (Synodontidae), mata merah (Priacanthus spp), pepetek (Leiognathidae), kuniran (Mulidae), besot (Sillago spp), gabus laut (Rachycentron spp) dan sidat (Anguilla spp). 4. Kelompok ikan campuran yaitu jenis-jenis ikan lidah (Cynoglossidae), sebelah (Psettoidae), kapas-kapas (Gerreidae), srinding (Apogonide) dan berbagai jenis ikan lain dengan kontribusi hasil tangkapan yang relatif lebih rendah. 2.2 Pancing Rawai Penangkapan ikan layur di teluk Palabuhanratu dilakukan dengan menggunakan pancing ulur dan pancing rawai atau nelayan setempat menyebutnya rawai layur. Walaupun ada juga yang tertangkap dengan alat tangkap lain selain pancing, seperti sero, jermal dan bubu, namun kebanyakan ikan layur tertangkap dengan pancing rawai. Pancing rawai dasar adalah tipe rawai yang dipakai untuk menangkap ikan yang hidup didasar perairan. Bentuk pancing ini agak berbeda dengan rawai tuna yang fungsinya untuk menangkap ikan-ikan dasar, disamping itu bahan-bahan yang digunakan agak berbeda, demikian pula cara pengoperasiannya (Subani dan Barus, 1998). Menurut Sadhori (1984), pancing rawai (rawai layur) termasuk kedalam kelompok rawai pertengahan (midwater longline) dan rawai dasar(horizontal longline).

18 Nelayan Palabuhanratu umumnya menangkap ikan layur menggunakan pancing rawai dasar konvensional yang biasa disebut pancing rawe yaitu suatu tipe rawai dasar konvensional dalam ukuran kecil. (Subani dan Barus, 1998). Seperti halnya rawai-rawai lain, pancing rawai ini juga terdiri dari komponen utama yaitu : tali utama (main line), tali cabang (branch line), mata pancing (hook), tali penarik (hauling line), pelampung (float) dan pemberat (sinker). Anita (2003) menyatakan untuk rawai layur umumnya diikatkan dua buah pemberat dan pelampung. Pemberat terbuat dari bahan kayu yang masing-masing diikatkan dengan batu. Fungsi pemberat selain memberikan gaya berat pada tali rawai agar tenggelam, juga berfungsi sebagai jangkar agar perahu tidak hanyut terbawa arus pada saat pengoperasian alat tangkap. Sedangkan pelampung selain berfungsi sebagai penahan pancing rawai agar tidak tenggelam, juga berfungsi untuk mengetahui posisi pancing rawai setelah sekian lama di rendam, selain itu juga pelampung berfungsi untuk menghasilkan rentangan yang sempurna. Tali pelampung adalah tali yang menghubungkan antara pelampung yang terdapat di permukaan perairan dengan pemberat yang tenggelam di dasar perairan dan diikatkan dikedua ujung kaki utama pancing rawai, ikatan ini tidak permanen, dan terbuat dari tali tambang yang berdiameter 6 mm dengan panjang total berkisar antara meter. 2.3 Indera Penglihatan Ikan Morfologi Mata Ikan Indra penglihatan pada sebagian besar jenis ikan ekonomis penting merupakan indera utama yang memungkinkan mereka untuk menyesuaikan pola tingkah lakunya terhadap keadaan lingkungan. Indera penglihatan ikan akan mempunyai sifat khas oleh adanya berbagai faktor seperti jarak penglihatan yang terbatas, kisaran dari cakupan penglihatan, warna yang jelas, kekontrasan dan kemampuan membedakan objek yang bergerak (Gunarso, 1985). Selanjutnya Nomura (1981), menambahkan di dalam perairan penglihatan ikan tidak baik karena kurang fokus. Hal ini karena lensa matanya yang bulat dan juga karena densitas air serta lumpur. Penglihatan ikan

19 bergantung pada tranparansi, dengan kata lain penglihatan ikan dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Pada dasarnya fungsi penglihatan pada ikan hampir sama dengan fungsi penglihatan pada manusia, perbedaannya adalah letak mata ikan berada di kedua sisi kepala dan tidak di bagian depan kepalanya. Ikan memiliki keuntungan yang tidak dimiliki oleh binatang penghuni daratan, yaitu dapat melihat ke beberapa jurusan sekaligus. Benda yang terlihat oleh setiap mata dicatat di dalam otak pada sisi yang berlawanan, artinya benda-benda yang di sebelah kanan dicatat oleh otak sebelah kiri dan benda di sebelah kiri dicatat oleh otak sebelah kanan (Syandri, 1988). Matsuoka (1999) berpendapat bahwa mata ikan tidak memiliki kelopak mata tetapi untuk beberapa ikan memiliki adipose mata yang berfungsi untuk melindungi mata. Lensa mata terletak secara dorsal terhadap ligament suspensory dan secara ventral terhadap refraktor lentis (Gambar 2). Gambar 2 Struktur Mata Ikan (Ali dan Anctil, 1976) Retina mata ikan pada umumnya terdiri dari 3 tipe pada lapisan indera penglihatannya (visual cell layer), yaitu sel kon tunggal (single cone), sel kon ganda

20 (twin cone) dan sel rod. Sel kon merupakan reseptor penglihatan untuk colour vision dan ketajaman penglihatan (visual acuity), sedangkan sel rod hanya sensitif terhadap terang (Matsuoka, 1999). Selanjutnya Gunarso (1985) mengatakan bahwa ada perbedaan morfologi antara sel kon dan sel rod, sel rod mempunyai segmen luar yang panjang sedangkan sel kon lebih pendek. Ikan yang memiliki pengikat sel kon yang sangat mencolok pada bagian dorsal retina mata, berarti ikan tersebut mempunyai keistimewaan untuk melihat ke arah bawah. Jenis-jenis ikan dasar atau jenis ikan yang hampir sepanjang hidupnya tinggal di daerah yang hampir tidak dicapai lagi oleh cahaya matahari umumnya hanya memiliki sel rod saja Ketajaman Penglihatan Ikan Ketajaman penglihatan ikan adalah kemampuan ikan untuk melihat suatu objek pada garis lurus yang digambarkan dalam bentuk hubungan timbal balik yang diistilahkan dengan sudut pembeda terkecil (Minimum Separable Angle). Dijelaskan pula bahwa sudut tampak minimum (minimum visible angle) dapat diukur dengan cara memperhitungkan jarak dari sasaran penglihatan menggunakan metode tingkah laku ikan. (He, 1989 diacu oleh Geonita, 2004). Sedangkan Menurut Muntz diacu dalam Purbayanto (1999), ketajaman penglihatan pada hewan merupakan pengukuran secara terperinci/detail dari kekuatan daerah pandangan. Hal tersebut diperlihatkan sebagai sudut pembeda terkecil (minimum separable angle) untuk membedakan dua sasaran penglihatan yang terdekat, yang dapat diukur melalui pengujian histologi. Ketajaman penglihatan tergantung pada dua faktor, yaitu pemisahan kekuatan dari lensa mata dan retina dimana kekuatan lensa menjadi semakin besar jika mempunyai fokus yang panjang. Kemampuan melihat objek di bagian retina mata tergantung pada kepadatan jumlah sel penglihatan (Blaxter dan Jones, 1980 diacu dalam Geonita, 2004). Kepadatan sel kon akan tetap selama ikan hidup, dimana perubahan kekuatannya akan meningkat sejalan dengan pertumbuhan lensanya. Daya penglihatan akan semakin tajam apabila hubungan antara panjang fokus lensa lebih tinggi daripada kepadatan sel konnya (Tamura, 1957 diacu dalam Fitri, 2002).

21 He (1989) diacu oleh Geonita (2004), berpendapat bahwa makin bertambahnya panjang tubuh ikan, maka akan semakin tinggi ketajaman penglihatannya dengan nilai sudut pembeda terkecil yang semakin kecil. Selanjutnya menurut Purbayanto (1999) diameter lensa mata ikan akan meningkat dengan bertambah panjangnya ukuran tubuh ikan, sementara itu kepadatan sel kon akan cenderung menurun dengan bertambah panjangnya tubuh ikan. Zhang dan Arimoto (1993) mengatakan ikan yang berukuran besar memiliki ketajaman penglihatan yang lebih tinggi dibandingkan ikan yang berukuran kecil, hal ini menunjukkan kemampuan yang sangat baik dari ikan tersebut dalam melihat dan membedakan objek yang berukuran kecil dan pada jarak yang lebih jauh Sumbu Penglihatan Ikan Tamura (1957) menyatakan bahwa Sumbu penglihatan (visual axis) diidentifikasi untuk mengetahui kebiasaan ikan dalam melihat makanan atau objek lain. Sumbu penglihatan diperoleh setelah nilai kepadatan sel kon tiap bagian retina mata diketahui, dengan cara menarik garis lurus dari bagian retina yang memiliki nilai kepadatan sel kon tertinggi menuju pusat lensa mata. Tamura (1957) diacu dalam Fitri (2002) berpendapat bahwa sumbu penglihatan ditentukan dengan cara mengetahui kepadatan sel kon yang biasanya terletak pada daerah dorso-temporal, temporal dan ventro-temporal di retina mata ikan. Bidang penglihatan yang dihasilkan dengan menarik garis lurus dari bagian retina menuju ke titik lensa mata, biasanya menghadap arah depan menurun (lower-fore), arah depan (fore), dan arah depan-naik (upper-fore). Daerah retina yang memiliki kepadatan sel kon tertinggi pada bagian dorsotemporal dengan perubahan arah pada diopter ke arah depan menurun (lower-fore), maka sumbu penglihatan juga akan ke arah depan menurun pada sudut 20. Jika kepadatan tertinggi sel kon di bagian ventro-temporal, maka perubahan arah pada diopter ke arah depan-naik (upper-fore) dan sumbu penglihatan juga akan ke arah depan-naik (upper-fore) pada sudut 30 (Tamura, 1957 diacu dalam Fitri, 2002).

22 2.3.4 Jarak Pandang Maksimum Jarak pandang maksimum adalah kemampuan ikan untuk melihat suatu objek benda secara jelas pada jarak tertentu. Kemampuan ini dalam penerapannya digunakan untuk mengetahui kemungkinan pelolosan ikan dari suatu alat tangkap yang sedang dioperasikan (Zhang dan Arimoto, 1993). Untuk mengetahui kemampuan jarak pandang maksimum ikan, terlebih dahulu perlu diketahui nilai sudut pembeda terkecil (minimum separable angle) dalam satuan menit. Asumsi yang digunakan dalam perhitungan adalah keadaan perairan jernih (clear water) dan tingkat pencahayaan dalam keadaan terang (ideal light condition). Menurut Zhang dan Arimoto (1993), kemampuan jarak pandang maksimum ikan akan bertambah seiring dengan bertambahnya ukuran panjang tubuh ikan. Selanjutnya jarak pandang maksimum dapat diketahui melalui hubungan antara kepadatan sel penglihatan (visual cell density) dan sudut penglihatan (visual angle), dimana ikan dapat membedakan dua buah benda yang berbeda.

23 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan dalam dua tahap, tahap pertama pengambilan sampel mata ikan layur (Trichiurus spp) hasil tangkapan pancing rawai di perairan teluk Palabuhanratu Jawa Barat pada bulan Juli Tahap kedua melakukan analisis histologi sampel mata ikan pada bulan Agustus 2005 yang bertempat di Laboratorium Tingkah Laku Ikan (TLI), Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. 3.2 Bahan dan Alat Bahan dan alat ang digunakan selama penelitian secara singkat disajikan dalam Tabel 1. Tabel 1. Alat dan Bahan yang digunakan dalam penelitian No Alat dan Bahan Kegunaan 1 Alat bedah Membelah mata ikan sampel 2 Jangka sorong Mengukur diameter lensa mata ikan sampel 3 Meteran Mengukur panjang tubuh ikan sampel 4 Pancing Rawai Menangkap ikan 5 Larutan Bouin s Fiksasi 6 Botol sampel Penyimpanan sampel sebelum dianalisis 7 Kamera Dokumentasi 8 Aqudes Pelarut 9 Alkohol (75%,80%,85%,95%,100%) Pengeringan (Dehidration) 10 Larutan Xylol Penjernihan (Clearing) 11 Mesin histoembeder Perendaman spesimen dengan parafin pada proses infiltrasi sampai embeding 12 Cetakan terbuat dari kertas karton Membuat blok parafin saat proses

24 Tabel 1. Lanjutan berukuran 2 cm 3 embeding 13 Parafin Infiltrasi (Infiltration) 14 Haematoxyline dan Eosin Pewarna 15 Object glass. Tempat melekatkan spesimen retina mata yang telah disayat 16 Micro cover glass Penutup preparat 17 Parafin Memblok spesimen 18 Mikrotom Menyayat retina mata ikan 19 Pink tisu dan kasat embeding Membungkus preparat dalam larutan 20 Perekat antellan Merekatkan cover glass pada object glass. 21 Staining box Tempat melakukan proses pewarnaan 22 mikroskop Melihat susunan sel kon pada retina mata. 23 Alat tulis Mencatat data-data yang diperlukan. 3.3 Metode Pengumpulan Data Data yang diambil terdiri atas data ukuran panjang tubuh serta diameter mata ikan sampel. Data mengenai jumlah sel kon yang terdapat pada setiap bagian retina mata ikan dari masing-masing sampel mata ikan diperoleh melalui prosedur histologi. data tersebut selanjutnya digunakan untuk mengetahui ketajaman penglihatan, sumbu penglihatan dan jarak pandang maksimum. 3.4 Metode Penelitian Pengambilan sampel Sebanyak 5 ekor ikan layur di jadikan objek dalam penelitian ini. Ikan yang dijadikan sampel merupakan ikan segar yang masih dalam keadaan hidup dan baru saja tertangkap, kemudian diukur panjang total, panjang baku dan beratnya. Proses penangkapan ikan tersebut dilakukan pada pagi hari. Sampel ikan tersebut kemudian dipotong bagian kepalanya untuk diambil matanya dan di simpan dalam wadah yang

25 telah diisi larutan Fiksatif yaitu larutan Bouin s yang terdiri dari campuran Formalin, asam Fikrat dan asam asetat dengan perbandingan 75 ml : 25 ml : 5 ml, selama 1-2 hari. Analisis retina mata ikan dilakukan di laboratorium dengan menggunakan prosedur histilogi melalui pemotongan retina mata ikan secara tangensial dengan ketebalan 4 µm sehingga dapat diamati dibawah mikroskop Prosedur Histologi Spesimen mata ikan di belah, dibersihkan dan kemudian diukur diameter lensa serta diambil retinanya. Setelah diketahui posisi optic left dari mata ikan, maka dapat ditentukan bagian dorsal, ventral, nasal, dan temporal dari mata ikan tersebut. Spesimen retina selanjutnya dipotong ke dalam 19 bagian (Gambar 3) untuk dua sampel mata ikan (ukuran panjang dan lingkar tubuh berbeda). Sampel selanjutnya ditetapkan berdasarkan titik sampel dengan jumlah sel kon terpadat saja sehingga diperoleh preparat jaringan retina yang siap diamati dibawah mikroskop. Prosedur histologi sebagaimana dijelaskan oleh Purbayanto (1999), dapat dilihat pada Gambar 4,5 dan 6. Dorsal Dorso-temporal Nasal Temporal 18 Optic left 19 Ventral 8 9 Ventro-temporal Gambar 3 Sembilan belas bagian retina mata ikan sampel sebelah kiri yang diamati sebaran sel konnya

26 Sampel Mata Larutan Bouin s Pengeringan Memblok spesimen Penanaman Spesimen pada lilin Penyayatan retina Pewarnaan Pemasangan kaca penutup preparat Pengamatan melalui mikroskop Gambar 4 Diagram Alir Analisis Histologi Spesimen Retina Mata Ikan

27 Sampel mata Alkohol 70% Alkohol 80% Satu hari 30 menit Larutan Bouin s Alkohol 85% Alkohol 90% 30 menit 30 menit Pengeringan Alkohol 95% Alkohol murni I 100% 30 menit 30 menit Alkohol murni II 100% 30 menit Xylene I 30 menit Xylene II 30 menit Paraffin I 60% 45 menit Penanaman spesimen Paraffin II 60% Paraffin III 60% 45 menit 45 menit Memblok spesimen Paraffin IV 60% 45 menit Gambar 5 Prosedur pengeringan dan penanaman spesimen retina ikan layur (Trichiurus spp) pada paraffin

28 Penanaman spesimen Retina mata ikan Penyayatan Pewarnaan Penutupan preparat dengan gelas penutup Pengamatan Xylene I Xylene II Xylene III Alkohol murni I 100% Alkohol murni II 100% Alkohol 95% Alkohol 95% Alkohol 95% Cuci dengan air Hemetoxylen Air mengalir Eosin Cuci dengan air Alkohol 70% Alkohol 80% Alkohol 90% Alkohol I 100% Alkohol II 100% Xylene I Xylene II Xylene III 10 menit 10 menit 10 menit 10 menit 10 menit 10 menit 10 menit 2-3 menit 15 menit 10 menit 10 menit menit 1-2 menit 2-3 menit 2-3 menit 2-3 menit 2-3 menit 2-3 menit 10 menit 10 menit 10 menit Gambar 6 Prosedur Pewarnaan Hematoxylene dan Eosin spesimen retina mata ikan layur

29 3.5 Metode Analisis Data Analisis ketajaman penglihatan Untuk menghitung ketajaman penglihatan (visual aquity) terlebih dahulu dihitung nilai sudut pembeda terkecil (minimum separable angle, MSA) dengan rumus sebagai berikut (Tamura, 1957 diacu oleh Purbayanto, 1999) : α rad = F n ( 1 0,25) dimana : á rad F : sudut pembeda terkecil (menit); : jarak fokus (berdasarkan formula Matthiensson s F = 2,55x r); 0,25 : nilai penyusutan spesimen mata akibat proses histologi; dan n : kepadatan sel kon tertinggi per luasan 0.1 mm 2 yang merupakan hasil pengamatan di bawah mikroskop. Ketajaman penglihatan (visual aquity) merupakan kebalikan dari nilai sudut pembeda terkecil yang dikonversi dengan rumus sebagai berikut (Shiobara et al.1999) 180 VA = (á rad x x 60) -1 π Analisis sumbu penglihatan Sumbu penglihatan (visual axis) diidentifikasi untuk mengetahui kebiasaan ikan dalam melihat makanan atau objek yamg lain (Blaxter, 1980 diacu oleh Geonita, 2004). Sumbu penglihatan diperoleh setelah nilai kepadatan sel kon tiap bagian dari retina mata diketahui yaitu dengan cara menarik garis lurus dari bagian retina yang memiliki nilai kepadatan sel kon tertinggi menuju titik pusat lensa mata (Tamura, 1957 diacu oleh Fitri, 2002).

30 3.5.3 Analisis jarak pandang maksimum Jarak pandang maksimum adalah kemampuan ikan untuk melihat objek pada jarak terjauh berdasarkan nilai ketajaman penglihatan yang dimilikinya (Zhang dan Arimoto, 1993). Perhitungan jarak pandang maksimum ikan dapat dilakukan dengan asumsi sebagai berikut : (1) Kondisi perairan cerah (clear water condition); (2) Kemampuan penglihatan (α ) yang digunakan adalah dalam satuan menit; (3) Objek penglihatan dalam bentuk noktah dan dinyatakan dalam ukuran diameter objek (point aquity). Mata ikan a d F D Gambar 7 Skema perhitungan jarak pandang maksimum dimana : D : jarak pandang maksimum (meter) ; d : diameter objek (mm) ; α : sudut pembeda terkecil (menit) ; dan F : jarak titik fokus Adapun jarak pandang maksimum (maximum sighting distance, ) dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut : tan (0,5) α = (0,5)d D

31 D = dimana : D : jarak pandang maksimum (meter) α : sudut pembeda terkecil (menit) d : diameter objek pandang (mm) (0,5)dd tan( 0,5)α

32 4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Keadaan Umum Palabuhanratu Kondisi Geografi, Letak dan Luas Wilayah Secara Geografis Kecamatan Palabuhanratu terletak diantara koordinat BT dan LS. Kecamatan Palabuhanratu berjarak sekitar 1 km dari kabupaten Sukabumi. Luas wilayah Kecamatan Palabuhanratu sekitar ,07 Ha atau sekitar 6,59 % dari total luas kabupaten Sukabumi yang mencapai ,54 Ha.(Hermawati,2005) Kecamatan Palabuhanratu memiliki satu kelurahan, yaitu Kelurahan Palabuhanratu, dan tiga belas desa, yaitu Desa Citepus, Buniwangi, Citarik, Cikadu, Tonjong, Loji, Cibodas, Mekarasih, Cidadap, Kertajaya, Cihaur, Cibuntu, Pasir suren. Kecamatan Palabuhanratu dibatasi oleh : Sebelah utara : Kecamatan Cikidang Sebelah selatan : Kecamatan Ciemas Sebelah timur : Kecamatan Warung kiara Sebelah barat : Samudera Indonesia Keadaan Iklim dan Musim Musim penangkapan ikan berdasarkan jumlah hasil tangkapan di daerah Palabuhanratu dibagi menjadi tiga musim, yaitu musim banyak ikan (Juni- September), musim sedang (Maret-Mei dan Oktober-November) dan musim kurang ikan (Desember-Februari).(Tampubolon (1990) diacu dalam Hermawati (2005)). Hampir sebagian besar nelayan di Palabuhanratu melakukan operasi penangkapan ikan di setiap musim pada sepanjang tahun. Berdasarkan hasil wawancara dengan nelayan setempat, terdapat empat periode musim penagkapan ikan, yaitu musim barat (Desember-Februari), musim timur (Juni-Agustus) dan dua periode musim peralihan (pancaroba) yang dikenal dengan musim liwung, yang terdiri dari musim utara atau musim peralihan awal tahun (Maret- Mei) merupakan musim peralihan dari musim berat ke musim timur serta musim selatan atau musim

33 peralihan akhir tahun (September November) yang merupakan musim peralihan dari musim timur ke musim barat. Periode musim barat merupakan musim hujan, dimana kondisi perairan relatif buruk. Hal ini ditandai dengan besarnya ombak yang ada di perairan Palabuhanratu, sehinga menyebabkan sebagian besar nelayan tidak melaut. Kondisi ini dimanfaatkan oleh sebagian nelayan untuk kegiatan lain, seperti memperbaiki kapal/perahu, memperbaiki alat tangkap atau usaha dibidang lain. Periode musim timur merupakan musim kemarau dimana kondisi perairan relatif lebih tenang. Pada kondisi ini nelayan banyak turun ke laut dan melakukan operasi penangkapan ikan, sehingga selama periode ini hasil tangkapan ikan cukup tinggi akibat dari jumlah upaya penangkapan ikan yang tinggi. Pada musim peralihan (awal tahun atau akhir tahun) kondisi perairan umumnya tidak menentu sehingga menyebabkan jumlah hasil tangkapan tidak menentu akibat berfluktuasinya jumlah upaya penangkapan. 4.2 Keadaan Umum Perikanan Laut Palabuhanratu Total produksi dan nilai produksi ikan yang didaratkan di PPN Palabuhanratu Produksi ikan adalah banyaknya jumlah hasil tangkapan ikan yang didaratkan di suatu tempat pendaratan ikan sedangkan nilai produksi ikan adalah nilai yang diberikan terhadap jumlah hasil tangkapan (satuan rupiah). Produksi ikan dan nilai produksi ikan yang didaratkan di PPN Palabuhanratu dapat dilihat pada tabel berikut :

34 Tabel 2 Perkembangan produksi dan nilai produksi perikanan laut di PPN Palabuhanratu ( ) No Tahun Pendaratan ikan Fluktuasi (%) Produksi (Kg) Nilai Produksi (Rp) Produksi (%) Nilai (%) ,83 2, ,84-5, ,10 7, ,39 2, ,10 53, ,42-35, ,4 24, ,56 106, ,,4 54,50 Jumlah Rata-rata Sumber : Statistik Perikanan PPN Palabuhanratu ( ) Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa produksi ikan tertinggi terjadi pada tahun 1999 yaitu sebesar Kg. Hal ini dikarenakan pada tahun tersebut musim ikan cukup bagus, banyak nelayan yang mendaratkan ikannya, dan banyak kapal yang mendaratkan hasil tangkapannya di Palabuhanratu Produksi dan Nilai Produksi Ikan Layur yang didaratkan di Palabuhanratu Tabel 3 Produksi dan Nilai Produksi Ikan Layur di PPN Palabuhanratu tahun No Tahun Pendaratan ikan Fluktuasi (%) Produksi (Kg) Nilai Produksi (Rp) Produksi (%) Nilai (%) ,48 491, ,70 175, ,65 13, ,91 219, ,38 81, ,50-7, ,91 169, ,90 94, ,78 90,45 Sumber : Statistik Perikanan PPN Palabuhanratu ( )

35 Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa produksi ikan layur terbesar yang didaratkan di PPN Palabuhanratu selama 10 tahun ( ) adalah pada tahun 1999 dengan produksi sebesar Kg, dengan nilai produksi sebesar Rp

36 5. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Ketajaman Penglihatan Ikan Layur Hasil analisis histologi retina mata ikan Layur memperlihatkan susunan sel reseptor yang terdiri dari sel kon tunggal (single cone cell) dan sel kon ganda (twine cone cell) dengan posisi sel kon tunggal dikelilingi 4 buah sel kon ganda membentuk susunan mozaik. (Gambar 8 ) single cone cell single cone cell twine cone cell twine cone cell 0 0,05 0,1 mm Gambar 8 Bentuk mozaik sel kon tunggal dan sel kon ganda pada ikan Layur Pada umumnya retina mata ikan terdiri dari 3 tipe pada lapisan indra penglihatannya (visual cell layer), yaitu sel kon tunggal (single cone cell), sel kon ganda (twine cone cell) dan sel rod. Sel kon tunggal dan sel kon ganda pada ikan layur sebagaimana pada ikan-ikan pada umumnya, merupakan sel reseptor penglihatan. dimana sel kon ganda tersusun dari kombinasi sel kon tunggal. Sehingga sel kon ganda mempunyai kemampuan lebih sensitif terhadap cahaya dibandingkan dengan sel kon tunggal, sedangkan sel rod umumnya hanya dimiliki oleh ikan dasar yang selama hidupnya tidak pernah terkena sinar matahari. Dilihat dari susunan sel sebagaimana tercantum pada Gambar 8 ikan layur dapat dikelompokan kedalam jenis ikan yang aktif memburu mangsa dengan menggunakan indra penglihatannya, sebagaimana disebutkan oleh Dwiponggo et al.,

37 (1991) bahwa ikan layur merupakan ikan pemangsa ikan-ikan kecil. Kemampuan ikan untuk melihat objek pada jarak tertentu dapat diketahui melalui nilai ketajaman penglihatan (visual acuity), dimana ketajaman penglihatan tersebut dipengaruhi oleh diameter lensa dan kepadatan sel kon pada retina. Apabila dihubungkan dengan panjang ikan, diameter lensa akan berbanding lurus dengan panjang ikan, dalam artian semakin panjang tubuh ikan maka ukuran diameter lensanya akan semakin besar pula, sebagaimana terlihat pada Gambar 9. Sedangkan kepadatan sel kon akan berbanding terbalik dengan panjang tubuh ikan, dalam artian semakin panjang tubuh ikan maka kepadatan sel kon ikan akan berkurang seperti terlihat pada Gambar Diameter lensa (mm y = x r = Panjang Total (mm) Gambar 9 Hubungan antara panjang tubuh ikan dengan diameter lensa ikan layur Dari gambar diatas dapat kita simpulkan bahwa terdapat hubungan linier antara panjang tubuh ikan dengan diameter lensa mata ikan layur, sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh Purbayanto (1999) bahwa diameter lensa mata ikan akan meningkat seiring dengan bertambah panjangnya ukuran tubuh ikan. Ikan layur yang berukuran 650 mm memiliki diameter lensa 6,15 mm, sedangkan ikan yang berukuran panjang total 850 mm memiliki diameter lensa 9,15 mm. Dari persamaan diatas didapatkan nilai regresi linear sebasar 0,9968 yang menunjukan hubungan panjang tubuh dengan diameter lensa mata ikan sangat erat, dimana setiap kenaikan satu satuan dari panjang total dapat menjelaskan perubahan diameter lensa mata sebesar 99%, dan dapat

38 dikatakan pula dengan semakin besar diameter lensa maka ketajaman penglihatannya akan semakin baik. 250 Kepadatan sel kon (per 0.1mm2) y = x r = Panjang total (mm) Gambar 10 Hubungan antara panjang total dan kepadatan sel kon (per 0.1 mm 2 ) ikan layur Gambar diatas memperlihatkan bahwa adanya hubungan linier antara panjang total dengan kepadatan sel kon, semakin panjang ukuran tubuh ikan maka kepadatan sel kon akan berkurang, hal ini dikarenakan sel kon tersebut membesar seiring dengan pertumbuhan badan ikan sehingga semakin tumbuh ikan maka kepadatan selnya akan semakin menurun. Kepadatan sel kon tertinggi terletak pada daerah ventro temporal, yaitu sebesar 126 sel/0,1mm 2 untuk ikan dengan panjang total 850 mm dan 226 sel/0,1 mm 2 untuk ikan berukuran panjang total 650 mm, dengan nilai regresi linier sebesar 0,9860 yang menunjukan hubungan panjang total dengan kepadatan sel kon sangat erat, dimana setiap kenaikan satu satuan dari panjang total dapat menjelaskan perubahan diameter lensa mata sebesar 98%, dan dapat dikatakan pula dengan semakin berkurangnya kepadatan sel kon ikan maka ketajaman penglihatannya akan semakin baik. Setelah mengetahui diameter lensa dan kepadatan sel kon, selanjutnya dapat ditentukan nilai sudut pembeda terkecil (á) dan ketajaman penglihatan ikan.hubungan linier antara panjang total dengan sudut pembeda terkecil (á) ikan Layur dapat dilihat pada Gambar 11, serta hubungan linier antara panjang total dengan ketajaman penglihatan ikan layur dapat dilihat pada Gambar 12.

39 sudut pembeda terkecil (menit) y = x r = Panjang total (mm) Gambar 11 Hubungan antara panjang total dan sudut pembeda terkecil (menit) ikan layur Gambar diatas menunjukan hubungan linier antara panjang total dengan sudut pembeda terkecil ikan layur. Dimana semakin panjang ukuran tubuh ikan maka sudut pembeda terkecilnya akan semakin turun. Ikan dengan ukuran panjang total 650 mm memiliki nilai sudut pembeda terkecil sebesar 7,29 menit dan ikan dengan ukuran panjang total 850 mm memiliki sudut pembeda terkecil sebesar 6,59 menit. Nilai regresi r sebesar yang berarti antar panjang total tubuh ikan layur dengan sudut pembeda terkecil memiliki hubungan yang sangat erat, dan dapat diktakan pula bahwa setiap kenaikan satu satuan dari panjang total dapat menjelaskan nilai sudut pembeda terkecil sebesar 92%. Semakin kecil nilai sudut pembeda terkecil maka penglihatan ikan terhadap suatu objek akan semakin tajam Ketajaman penlihatan y = 8E-05x r = Panjang total (mm) Gambar 12 Hubungan antara panjang total dan ketajaman penglihatan ikan layur

40 Hubungan linier antara panjang total ikan dan ketajaman penglihatan ikan layur dapat dilihat pada Gambar 12. Gambar tersebut menunjukan bahwa semakin panjang ukuran tubuh ikan maka ketajaman penglihatannya pun akan semakin meningkat. Ikan yang berukuran panjang 650 mm memilki nilai ketajaman penglihatan sebesar 0,14, sedangkan ikan yang berukuran 850 mm memiliki nilai ketajaman penglihatan sebesar 0,15. nilai regresi linier didapatkan sebesar 0,9319 yang berarti adanya hubungan yang sangat erat antara panjang total ikan dengan ketajaman penglihatan ikan layur. Dari persamaan diatas juga dapat dikatakan bahwa setiap kenaikan satu satuan dari ukuran panjang total dapat menjelaskan nilai ketajaman penglihatan sebesar 93%. Nilai ketajaman penglihatan ikan layur yang semakin tinggi ini berhubungan erat dengan nilai sudut pembeda terkecil yang semakin menurun, seiring dengan bertambah panjangnya ukuran tubuh ikan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin besar ukuran ikan maka ketajaman penglihatannya akan semakin meningkat. Namun karena terbatasnya jumlah sampel ikan yang diamati batas maksimum nilai ketajaman penglihatan ikan layur belum dapat ditentukan. Nilai ketajaman penglihatan ikan layur ini cukup baik, walaupun ikan layur ini umumnya hidup di perairan pantai yang dalam dengan dasar lumpur, namun ikan ini biasanya muncul ke permukaan pada waktu senja atau sore hari, sebagaimana disebutkan oleh Araga et al., (1975). Agustini (2005) dalam penelitiannya menyebutkan nilai ketajaman penglihatan ikan gulamah yang merupakan ikan demersal berkisar antara 0,8 0,10 untuk ukuran mm selain itu Geonita (2004) juga menyebutkan nilai ketajaman penglihatan ikan kakap merah (Lutjanus malabaricus) yang juga termasuk ikan demersal, berkisar antara 0,08 0,13 untuk kisaran panjang ikan antara mm. Hal ini menunjukan bahwa kondisi perairan yang gelap dan kurang mendapatkan cahaya akan berpengaruh terhadap daya penglihatan ikan-ikan yang berada jauh dari permukaan air. Berbeda dengan ikan-ikan yang pelagis sebagaimana dinyatakan oleh Alatas (2004) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa ketajaman penglihatan ikan Tongkol (Euthynnus affinis) berkisar antara 0,14 0,19 untuk ukuran ikan mm. Besarnya

41 ukuran ikan dan kondisi perairan yang cukup terang menyebabkan ikan tersebut mempunyai ketajaman penglihatan yang cukup baik. 5.2 Sumbu penglihatan (Visual Axis) Berdasarkan hasil analisis histologi ternyata ikan layur memiliki kepadatan sel kon terbesar di bagian ventro-temporal (Gambar 14 ). Dengan menarik garis lurus melalui pusat lensa mata maka terlihat bahwa sumbu penglihatan ikan layur adalah kearah depan-naik (upper-fore) (Gambar 15 ). Kepadatan terbesar sel kon dibagian ventro-temporal akan menyebabkan perubahan arah pada diopter kearah depan-naik (upper-fore) pada sudut 45 o. Sumbu penglihatan atau arah pandang yang dimiliki oleh ikan layur menunjukan pola makan dan pola hidup dari ikan tersebut. Makanan ikan layur ini berupa ikanikan kecil, udang-udangan (crustacea) dan berbagai jenis cumi-cumi (Dwiponggo et al.,1991). Hal ini menunjukan bahwa ikan layur merupakan ikan yang aktif memburu mangsanya. Sebagaimana dinyatakan oleh Tamura (1957) bahwa jenis ikan yang memperoleh makanannya dengan terlebih dulu memburu mangsanya maka pada umumnya mereka mempunyai pengkonsentrasian sel kon pada bagian temporal atau ventro-temporal retinanya. 5.3 Jarak Pandang Maksimum Jarak pandang maksimum ikan layur dapat diketahui setelah nilai sudut pembeda terkecil diketahui. Objek yang dilihat adalah umpan yang terbuat dari potongan daging ikan layur dengan ukuran yang bervariasi antara mm. Tabel 4 dan Gambar 13 memperlihatkan kemampuan jarak pandang maksimum ikan layur yang mempunyai ukuran panjang total mm dalam melihat objek. Tabel 4 Jarak pandang maksimum ikan layur terhadap umpan pancing rawai Panjang total Jarak pandang maksimum (m) 40 mm 50 mm 60 mm 70 mm

42 Jarak pandang maksimum ikan layur terhadap umpan yang ada pada pancing rawai akan semakin meningkat dengan semakin besarnya ukuran umpan yang dilihat, serta semakin meningkat pula dengan besarnya ukuran panjang total tubuh ikan. Artinya, dengan ukuran panjang total tubuh yang semakin besar maka kemampuan ikan layur untuk mendeteksi adanya benda dihadapannya akan semakin jauh, sehingga dari jarak jauh ikan tersebut sudah dapat mendeteksi/melihat umpan. Jarak Pandang Maksim Ukuran umpan 40 mm 50 mm 60 mm 70 mm Panjang total (mm) Gambar 13 Hubungan antara panjang total dengan jarak pandang maksimum ikan layur Grafik dan tabel diatas dapat memberikan informasi bahwa jarak pandang maksimum dari ikan layur dengan perbedaan ukuran panang total tidak berbeda jauh. Ikan layur dengan ukuran panjang total antara mm memiliki kisaran jarak pandang maksimum antara meter. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa proses penangkapan ikan layur dengan menggunakan rawai layur dilakukan pada pagi hari, meskipun banyak juga nelayan yang menangkap layur pada malam hari namun dengan alat tangkap yang berbeda yaitu pancing ulur. Untuk itu hasil penelitian ini dapat memberikan informasi bagi kegiatan penangkapan maupun kegiatan wisata bahari atau olahraga memancing, dimana ukuran ikan layur yang akan ditangkap dapat diupayakan dengan memperhatikan ukuran umpan yang digunakan. Selain itu dengan memperhatikan ukuran umpan juga diharapkan ikan layur yang berukuran kecil dan belum layak

43 untuk ditangkap tidak tertangkap, dengan begitu maka sumberdaya ikan layur dapat terjaga kelestariannya sebagaimana yang kita harapkan.

44 Dorsal Dorsal Nasal Temporal Nasal Ventral Ventro-temporal Temporal 32 Ventral Gambar 14 Bentuk dan kepadatan sel kon pada setiap bagian retina mata ikan layur Ventro-temporal

45 Panjang Total : 700 mm D Panjang Total :650 mm D 115 N V T Daerah dengan kepadatan sel kon tertinggi N V T Daerah dengan kepadatan sel kon tertinggi Sumbu penglihatan 33 Gambar 15 Peta kepadatan sel kon (Isodensity) dan sumbu penglihatan ikan layur

46 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut : 1. Ketajaman penglihatan ikan layur semakin meningkat seiring dengan bertambahnya ukuran panjang tubuh ikan, yaitu berkisar antara 0,14-0,15 untuk ukuran panjang tubuh mm. 2. Kepadatan sel kon tertinggi ikan layur terletak pada bagian ventro-temporal retina mata. Hal ini mengindikasikan bahwa arah penglihatan ikan layur ke arah depan naik (upper-fore). 3. Jarak pandang maksimum ikan layur dapat melihat objek pada pancing rawai dalam hal ini umpan, akan semakin meningkat seiring dengan bertambah besarnya ukuran tubuh ikan dan ukuran umpan atau objek yang dilihat. Diprediksi Jarak pandang maksimum ikan layur dalam melihat umpan berukuran 40 mm berkisar antara 6,006 6,623 meter; untuk ukuran umpan 50 mm berkisar antara 7,508-8,278 meter; untuk ukuran umpan 60 mm berkisar antara 9,009-9,933 meter; untuk ukuran umpan 70 mm berkisar antara 10,511-11,589 meter. 6.2 Saran Keterbatasan jumlah sampel ikan yang di gunakan dalam penelitian ini menyebabkan belum diketahuinya nilai ketajaman penglihatan optimum pada ikan layur, sehingga diperlukan penelitian lanjutan dengan sampel yang lebih banyak dan lebih bervariasi ukurannya, untuk menentukan visual acuity optimum ikan layur.

47 DAFTAR PUSTAKA Agustini, W Ketajaman Penglihatan Ikan Gulamah (Argyrosomus amoyensis) Kaitannya Dengan Respon Penglihatan Terhadap Objek Jaring Arad (Skripsi). Bogor. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. 52 hal. Alatas, U Analisis Hasil Tangkapan dan Respon Ikan Tonkol (Euthynnus affinis) pada Pancing Tonda Menggunakan Umpan Tiruan (Thesis). Bogor. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. 57 hal. Ali, M.A dan M. Anctil Retinas of Fishes an tlas. Springer-Verlag-Berlin. P : 267. Anita Produksi Layur (Trichiurus sp) di PPN Palabuhanratu Untuk Tujuan Ekspor (Skripsi). Bogor. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. 82 hal. Araga, C. ; H. Masuda dan T. Yossihono Costal Fishes of Southern Japan. Tokai University Press Shinjuku. Tokyo. Japan Ayodhyoa Dan Diniah Handbook Perikanan Indonesia. Diktat Kuliah (Tidak dipublikasikan). Bogor. Fakultas Perikanan. Hal: 39. Blaxter, J.H.S and M.P Jones Vision and The Feeding Of Fishes in Fish Behaviour and It s Use In The Capture and Culture of Fishes. Roceeding in The Conference on The Physiology and Behavioral Manipulation Of Food As Production and Management, Manila. p: Direktorat Jendral Perikanan Buku Pedoman Pengembangan Sumberdaya Perikanan Laut. Bagian I (Jenis dan ekonomi penting). Jakarta. Direktorat Jenderal Perikanan Spesifikasi Teknis Kapal dan Alat Penangkapan Ikan Laut dan Perairan Umum. Direktorat Bina Produksi, Direktorat jenderal Perikanan. Departemen Pertanian. Jakarta. 75 hal. Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap Departemen Kelautan dan Perikanan. [25 Juni 2005] Dwiponggo, M.Badrudin, D. Nogroho dan Sriyono Potensi dan pengembangan sumberdaya demersal. Direktorat Jendral Perikanan. Puslitbang Perikanan. P3O-LIPI, Jakarta. Fitri, A.D.P Ketajaman Penglihatan Ikan Juwi (Anodontostoma chacunda) dan Aplikasinya pada Proses Penangkapan Pukat Cincin Mini (Thesis. Bogor. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. 88 hal. Geonita, G Ketajaman Penglihatan Kakap Merah dalam Kaitannya dengan Proses Penangkapan menggunakan Pancing Ulur (Skripsi). Bogor. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. 41 hal.

48 Gunarso, W Tingkah Laku Ikan dalam Hubungannya dengan Alat, Metoda dan Taktik Penangkapan. Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan, Institut Pertanian Bogor. Bogor. Hermawati, Y Analisis Komoditas Unggulan Perikanan Laut dan Unit Penangkapan Ikan di Palabuhanratu, Jawa Barat (Skripsi). Bogor. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. 72 hal. Imron, M.F Pengaruh Kedalaman Posisi Mata Pancing Terhadap Hasil Tangkapan Ikan Layur (Trichiurus Savala) dalam Uji Coba Pancing Ulur di Perairan Palabuhanratu, Sukabumi. 5 hal. Matsuoka, M Histological Characteristics and Development of the Retina in the Japanese Sardine (Sardinops malanostictus). Fisheries Science, 65 (2): Muntz, W.R.A Comparative Aspects In Behavioral Studies Of Vertebrate Vision, in Cmparative Pshysiology. Academic Press, New York. p: Nicol, J.A.C The Eyes Of Fishes. Clarendon Press. Oxford. p: 308. Nomura, M Fishing Technique (II). Japan International Cooperation Agency Tokyo. Tokyo. 206 p. Nomura, M Fishing Technique (IV). Japan International Cooperation Agency Tokyo. Tokyo. Purbayanto, A Behavioral Studies for Improving Survival of Fish in Mesh Selectivity of Sweeping Trammel Net. Ph.D thesis, Graduate School of Fisheries, Tokyo University of Fisheries. Tokyo. Saanin, H Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Volume I dan II. Bina Cipta, Bandung. Sadhori, N Teknik Penangkapan Ikan. Penerbit Angkasa, Bandung. Subani, W dan H.R Barus Alat Penangkapan Ikan dan Udang di Indonesia. Edisi Khusus Jurnal Penelitian Perikanan Laut. No. 05 Balai Penelitian Perikanan Laut. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. Jakarta. Syandri, H Tingkah Laku Ikan. Padang : Universitas Bung Hatta. Fakultas Perikanan. Hal Tamura, T A Study of Visual Perception in Fish, Especially on Resolving Power and Accomodation. Bulletin of The Japanese Society of Scientific Fisheries. Vol 22, No. 9. Fisheries Institute, Faculty of Agriculture, Japan. p: Zhang, X. M., and T. Arimoto Visual Physiology of Walleye Pollock (Theragra chalcogramma) in Relation to Capture by Trawl Nets. ICES Marine Science Symposium. p :

49

50 Lampiran 1. Jumlah sel kon pada setiap bagian dari retina mata ikan layur 1kan 1. Panjang total = 650 mm; Panjang baku = 600 mm; Diameter lensa = 6,15 mm 1kan 2. Panjang total = 700 mm; Panjang baku = 650 mm; Diameter lensa = 6,85 mm Bagian Jumlah sel kon Bagian Jumlah sel kon Dorsal Dorso-temporal Nasal Temporal 18 Optic left 19 Ventral 8 9 Ventro-temporal

51 1kan 3. Panjang total = 750 mm; Panjang baku = 700 mm; Diameter lensa = 7,85mm 1kan 4. Panjang total = 800 mm; Panjang baku = 750 mm; Diameter lensa = 8,45mm Bagian Jumlah sel kon Bagian Jumlah sel kon kan 5. Panjang total = 850 mm; Panjang baku = 800 mm; Diameter lensa = 9,15mm Bagian Jumlah sel kon Dorsal Dorso-temporal Nasal Temporal 18 Optic left 19 Ventral 8 9 Ventro-temporal

52 Lampiran 2. Nilai sudut pembeda terkecil dan ketajaman penglihatan ikan layur No Panjang Total Kepadatan sel kon Diameter lensa Fokus lensa Sudut pembeda terkecil Ketajaman (mm) (per 0.1 mm 2 ) (mm) (mm) (menit) * penglihatan ** * = α rad = 1 F n ( 1 0,25) ** = VA = (α rad ) -1 π

53 Lampiran 3. Konstruksi alat tangkap pancing rawai m m m 10 m Dasar perairan 2 3 Keterangan : 1. Pelampung 7. Kawat (Barlen) 2. Swivel 8. Kail (No 9) 3. Snap 4. Pemberat 5. Main line 6. Branch line 41

54 Lampiran 4 Peta daerah penelitian 7.00 o LS U Lokasi penelitian 7.10 o LS o BT o BT

55 Lampiran 5. Alat-alat, bahan dan proses analisis histologi Vial Evendorf Kain kasa pembungkus potangan retina Mikrotom Mesin histoembedder Proses infiltrasi Proses dehidrasi dan clearing

56 Lampiran 6. Unit penangkapan dan hasil tangkapan pancing rawai Perahu jukung Ikan layur

57

KETAJAMAN PENGLIHATAN KAKAP MERAH DALAM KAITANNYA DENGAN PROSES PENANGKAPAN MENGGUNAKAN PANCING ULUR

KETAJAMAN PENGLIHATAN KAKAP MERAH DALAM KAITANNYA DENGAN PROSES PENANGKAPAN MENGGUNAKAN PANCING ULUR KETAJAMAN PENGLIHATAN KAKAP MERAH DALAM KAITANNYA DENGAN PROSES PENANGKAPAN MENGGUNAKAN PANCING ULUR GENNY GEONITA SKRIPSI. ' PROGRAM STUD1 PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN DEPARTEMEN PEMANFAATAN SUMBERDAYA

Lebih terperinci

3 ORGAN PENGLIHATAN KERAPU

3 ORGAN PENGLIHATAN KERAPU 3 ORGAN PENGLIHATAN KERAPU 3.1 Pendahuluan Mata ikan berkembang dengan sangat baik sesuai dengan kebutuhan lingkungannya. Beberapa diantaranya memiliki kemampuan melihat ke arah permukaan air ataupun ke

Lebih terperinci

FISIOLOGI ORGAN PENGLIHATAN IKAN BERONANG DAN KAKAP BERDASARKAN JUMLAH DAN SUSUNAN SEL RESEPTOR CONE DAN ROD. Aristi Dian Purnama Fitri dan Asriyanto

FISIOLOGI ORGAN PENGLIHATAN IKAN BERONANG DAN KAKAP BERDASARKAN JUMLAH DAN SUSUNAN SEL RESEPTOR CONE DAN ROD. Aristi Dian Purnama Fitri dan Asriyanto FISIOLOGI ORGAN PENGLIHATAN IKAN BERONANG DAN KAKAP BERDASARKAN JUMLAH DAN SUSUNAN SEL RESEPTOR CONE DAN ROD Aristi Dian Purnama Fitri dan Asriyanto PS. Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, FPIK-UNDIP ABSTRAK

Lebih terperinci

Marine Fisheries ISSN Vol. 2, No. 1, Mei 2011 Hal: 29-38

Marine Fisheries ISSN Vol. 2, No. 1, Mei 2011 Hal: 29-38 Marine Fisheries ISSN 2087-4235 Vol. 2, No. 1, Mei 2011 Hal: 29-38 ANALISIS INDRA PENGLIHATAN IKAN KERAPU MACAN (EPINEPHELUS FUSCOGUTTATUS) DAN HUBUNGANNYA DALAM MERESPONS UMPAN (Visual Analysis of grouper

Lebih terperinci

PENGARUH PENGGUNAAN MATA PANCING GANDA PADA RAWAI TEGAK TERHADAP HASIL TANGKAPAN LAYUR

PENGARUH PENGGUNAAN MATA PANCING GANDA PADA RAWAI TEGAK TERHADAP HASIL TANGKAPAN LAYUR Pengaruh Penggunaan Mata Pancing.. terhadap Hasil Tangkapan Layur (Anggawangsa, R.F., et al.) PENGARUH PENGGUNAAN MATA PANCNG GANDA PADA RAWA TEGAK TERHADAP HASL TANGKAPAN LAYUR ABSTRAK Regi Fiji Anggawangsa

Lebih terperinci

6 PEMBAHASAN 6.1 Pemilihan Warna yang Tepat pada Leadernet

6 PEMBAHASAN 6.1 Pemilihan Warna yang Tepat pada Leadernet 114 6 PEMBAHASAN 6.1 Pemilihan Warna yang Tepat pada Leadernet Berdasarkan hasil penelitian pada Bab 5, leadernet berwarna kuning lebih efektif daripada leadernet berwarna hijau dalam menggiring ikan.

Lebih terperinci

4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Keadaan Umum Lokasi Penelitian Perairan Palabuhanratu terletak di sebelah selatan Jawa Barat, daerah ini merupakan salah satu daerah perikanan yang potensial di Jawa

Lebih terperinci

UJICOBA BEBERAPA WARNA UMPAN TIRUAN PADA PENANGKAPAN IKAN DENGAN HUHATE DI PERAIRAN BONE-BONE, KOTA BAU-BAU, SULAWESI TENGGARA HENDRAWAN SYAFRIE

UJICOBA BEBERAPA WARNA UMPAN TIRUAN PADA PENANGKAPAN IKAN DENGAN HUHATE DI PERAIRAN BONE-BONE, KOTA BAU-BAU, SULAWESI TENGGARA HENDRAWAN SYAFRIE UJICOBA BEBERAPA WARNA UMPAN TIRUAN PADA PENANGKAPAN IKAN DENGAN HUHATE DI PERAIRAN BONE-BONE, KOTA BAU-BAU, SULAWESI TENGGARA HENDRAWAN SYAFRIE SKRIPSI DEPARTEMEN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN FAKULTAS

Lebih terperinci

4 METODOLOGI B C. Keterangan: Gambar 4 Bahan penyusun small bottom setnet. A = jaring B = pelampung C = desain

4 METODOLOGI B C. Keterangan: Gambar 4 Bahan penyusun small bottom setnet. A = jaring B = pelampung C = desain 45 4 METODOLOGI 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian terletak di Kawasan Konservasi Laut, tepatnya di Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu, Kabupaten Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Penelitian

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Mata pada ikan merupakan salah satu indera yang sangat penting untuk

I. PENDAHULUAN. Mata pada ikan merupakan salah satu indera yang sangat penting untuk . PENDAHULUAN.. Latar Belakang Mata pada ikan merupakan salah satu indera yang sangat penting untuk mencari makan dan menghindar dari pemangsalpredator atau kepungan alat tangkap. Ketajaman penglihatan

Lebih terperinci

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN. 4.1 Keadaan Umum Daerah Kabupaten Sukabumi

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN. 4.1 Keadaan Umum Daerah Kabupaten Sukabumi 4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1 Keadaan Umum Daerah Kabupaten Sukabumi 4.1.1 Letak geografis Kabupaten Sukabumi terletak di Provinsi Jawa Barat. Secara geografis terletak diantara 6 0 57-7 0 25 Lintang

Lebih terperinci

STUDI BIOLOGI REPRODUKSI IKAN LAYUR (Superfamili Trichiuroidea) DI PERAIRAN PALABUHANRATU, KABUPATEN SUKABUMI, JAWA BARAT DEVI VIANIKA SRI AMBARWATI

STUDI BIOLOGI REPRODUKSI IKAN LAYUR (Superfamili Trichiuroidea) DI PERAIRAN PALABUHANRATU, KABUPATEN SUKABUMI, JAWA BARAT DEVI VIANIKA SRI AMBARWATI STUDI BIOLOGI REPRODUKSI IKAN LAYUR (Superfamili Trichiuroidea) DI PERAIRAN PALABUHANRATU, KABUPATEN SUKABUMI, JAWA BARAT DEVI VIANIKA SRI AMBARWATI SKRIPSI DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS

Lebih terperinci

PENDUGAAN STOK IKAN LAYUR

PENDUGAAN STOK IKAN LAYUR 1 PENDUGAAN STOK IKAN LAYUR (Trichiurus sp.) DI PERAIRAN TELUK PALABUHANRATU, KABUPATEN SUKABUMI, PROPINSI JAWA BARAT Adnan Sharif, Silfia Syakila, Widya Dharma Lubayasari Departemen Manajemen Sumberdaya

Lebih terperinci

PERBANDINGAN HASIL TANGKAPAN RAJUNGAN DENGAN MENGGUNAKAN DUA KONSTRUKSI BUBU LIPAT YANG BERBEDA DI KABUPATEN TANGERANG

PERBANDINGAN HASIL TANGKAPAN RAJUNGAN DENGAN MENGGUNAKAN DUA KONSTRUKSI BUBU LIPAT YANG BERBEDA DI KABUPATEN TANGERANG PERBANDINGAN HASIL TANGKAPAN RAJUNGAN DENGAN MENGGUNAKAN DUA KONSTRUKSI BUBU LIPAT YANG BERBEDA DI KABUPATEN TANGERANG Oleh: DONNA NP BUTARBUTAR C05400027 PROGRAM STUDI PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN

Lebih terperinci

V. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Teluk Pelabuhanratu Kabupaten Sukabumi, merupakan salah satu daerah

V. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Teluk Pelabuhanratu Kabupaten Sukabumi, merupakan salah satu daerah V. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1. Keadaan Daerah Penelitian 5.1.1. Letak Geografis Teluk Pelabuhanratu Kabupaten Sukabumi, merupakan salah satu daerah perikanan potensial di perairan selatan Jawa

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Jenis Hasil Tangkapan Hasil tangkapan pancing ulur selama penelitian terdiri dari 11 famili, 12 genus dengan total 14 jenis ikan yang tertangkap (Lampiran 6). Sebanyak 6

Lebih terperinci

Jurnal Perikanan (J. Fish. Sci.) VIII (2): ISSN:

Jurnal Perikanan (J. Fish. Sci.) VIII (2): ISSN: 229 Jurnal Perikanan (J. Fish. Sci.) VIII (2): 229-238 ISSN: 0853-6384 Full Paper FISIOLOGI PENGLIHATAN IKAN SELAR (Selar crumenophthalmus) DAN APLIKASINYA DALAM PROSES PENANGKAPAN IKAN DENGAN MINI PURSE

Lebih terperinci

Hubungan Ketajaman Penglihatan dan Jarak Pandang Maksimum Penglihatan Pada Ikan Kerapu Lumpur (Ephinephelus tauvina)

Hubungan Ketajaman Penglihatan dan Jarak Pandang Maksimum Penglihatan Pada Ikan Kerapu Lumpur (Ephinephelus tauvina) ISSN 0853-7291 Hubungan Ketajaman Penglihatan dan Jarak Pandang Maksimum Penglihatan Pada Ikan Kerapu Lumpur (Ephinephelus tauvina) Aristi Dian Purnama Fitri Laboratorium Teknologi Penangkapan Ikan, Program

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Keadaan Umum Tempat Penelitian Palabuhnratu merupakan daerah pesisir di selatan Kabupaten Sukabumi yang sekaligus menjadi ibukota Kabupaten Sukabumi. Palabuhanratu terkenal

Lebih terperinci

BEBERAPA JENIS PANCING (HANDLINE) IKAN PELAGIS BESAR YANG DIGUNAKAN NELAYAN DI PPI HAMADI (JAYAPURA)

BEBERAPA JENIS PANCING (HANDLINE) IKAN PELAGIS BESAR YANG DIGUNAKAN NELAYAN DI PPI HAMADI (JAYAPURA) Tersedia online di: http://ejournal-balitbang.kkp.go.id/index.php/btl e-mail:[email protected] BULETINTEKNIKLITKAYASA Volume 15 Nomor 2 Desember 2017 e-issn: 2541-2450 BEBERAPA JENIS PANCING

Lebih terperinci

6 PEMBAHASAN 6.1 Daerah Penangkapan Ikan berdasarkan Jalur Jalur Penangkapan Ikan

6 PEMBAHASAN 6.1 Daerah Penangkapan Ikan berdasarkan Jalur Jalur Penangkapan Ikan 6 PEMBAHASAN 6.1 Daerah Penangkapan Ikan berdasarkan Jalur Jalur Penangkapan Ikan Daerah penangkapan ikan kakap (Lutjanus sp.) oleh nelayan di Kabupaten Kupang tersebar diberbagai lokasi jalur penangkapan.

Lebih terperinci

bio.unsoed.ac.id III. METODE PENELITIAN A. Materi 1. Materi Penelitian

bio.unsoed.ac.id III. METODE PENELITIAN A. Materi 1. Materi Penelitian III. METODE PENELITIAN A. Materi 1. Materi Penelitian Materi penelitian berupa benih ikan nilem (Osteochilus hasselti C.V.) berumur 1, 2, 3, dan 4 bulan hasil kejut panas pada menit ke 25, 27 atau 29 setelah

Lebih terperinci

TEKNIK PENGOPERASIAN PANCING TENGGIRI DENGAN MENGGUNAKAN ALAT BANTU CAHAYA

TEKNIK PENGOPERASIAN PANCING TENGGIRI DENGAN MENGGUNAKAN ALAT BANTU CAHAYA TEKNIK PENGOPERASIAN PANCING TENGGIRI DENGAN MENGGUNAKAN ALAT BANTU CAHAYA Agus Salim Teknisi Litkayasa pada Balai Riset Perikanan Laut, Muara Baru-Jakarta Teregistrasi I tanggal: 29 Mei 2008; Diterima

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian 3.1.1. Tempat dan waktu pengambilan sampel Sampel diambil di Pantai Timur Surabaya, tepatnya di sebelah Timur Jembatan Suramadu (Gambar 3.1).

Lebih terperinci

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Letak Georafis dan Topografi Palabuhanratu merupakan salah satu kecamatan yang terdapat di wilayah Kabupaten Sukabumi. Secara geografis, Kabupaten Sukabumi terletak

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 24 III. METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Pengambilan sampel ikan tuna mata besar dilakukan pada bulan Maret hingga bulan Oktober 2008 di perairan Samudera Hindia sebelah selatan Jawa

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. mata jaring ke arah panjang atau ke arah horizontal (mesh length) jauh lebih

TINJAUAN PUSTAKA. mata jaring ke arah panjang atau ke arah horizontal (mesh length) jauh lebih TINJAUAN PUSTAKA Alat Tangkap Jaring Insang (Gill net) Jaring insang (gill net) yang umum berlaku di Indonesia adalah salah satu jenis alat penangkapan ikan dari bahan jaring yang bentuknya empat persegi

Lebih terperinci

5 HASIL TANGKAPAN DIDARATKAN DI PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA PALABUHANRATU

5 HASIL TANGKAPAN DIDARATKAN DI PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA PALABUHANRATU 5 HASIL TANGKAPAN DIDARATKAN DI PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA PALABUHANRATU 5.1 Jenis dan Volume Produksi serta Ukuran Hasil Tangkapan 1) Jenis dan Volume Produksi Hasil Tangkapan Pada tahun 2006, jenis

Lebih terperinci

4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Keadaan Umum Kabupaten Sukabumi Secara geografis wilayah Kabupaten Sukabumi terletak di antara 6 o 57-7 o 25 Lintang Selatan dan 106 o 49-107 o 00 Bujur Timur dan mempunyai

Lebih terperinci

BAB III BAHAN DAN METODE

BAB III BAHAN DAN METODE BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan pada bulan Maret-Mei 2013. Pengambilan sampel ikan mas berasal dari ikan hasil budidaya dalam keramba jaring apung

Lebih terperinci

ANALISIS INDERA PENGLIHATAN IKAN KERAPU MACAN (Epinephelus fuscoguttatus) DAN HUBUNGANNYA DALAM MERESPON UMPAN DEBBY SOFIANILA SARI NATSIR SKRIPSI

ANALISIS INDERA PENGLIHATAN IKAN KERAPU MACAN (Epinephelus fuscoguttatus) DAN HUBUNGANNYA DALAM MERESPON UMPAN DEBBY SOFIANILA SARI NATSIR SKRIPSI ANALISIS INDERA PENGLIHATAN IKAN KERAPU MACAN (Epinephelus fuscoguttatus) DAN HUBUNGANNYA DALAM MERESPON UMPAN DEBBY SOFIANILA SARI NATSIR SKRIPSI DEPARTEMEN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN

Lebih terperinci

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

5 HASIL DAN PEMBAHASAN 31 5 HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 cahaya Menurut Cayless dan Marsden (1983), iluminasi atau intensitas penerangan adalah nilai pancaran cahaya yang jatuh pada suatu bidang permukaan. cahaya dipengaruhi oleh

Lebih terperinci

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 21 4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Keadaan Umum Daerah Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu terletak di Kecamatan Palabuhanratu yang

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA Penangkapan Ikan. Ayodhyoa (1981) mengatakan bahwa penangkapan ikan adalah suatu usaha

II. TINJAUAN PUSTAKA Penangkapan Ikan. Ayodhyoa (1981) mengatakan bahwa penangkapan ikan adalah suatu usaha II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penangkapan Ikan Ayodhyoa (1981) mengatakan bahwa penangkapan ikan adalah suatu usaha manusia untuk menghasilkan ikan dan organisme lainnya di perairan, keberhasilan usaha penangkapan

Lebih terperinci

ANALISIS HASIL TANGKAPAN UTAMA DAN SAMPINGAN PADA ALAT TANGKAP DOGOL DI GEBANG MEKAR, KABUPATEN CIREBON, JAWA BARAT ISTRIANA RACHMAWATI

ANALISIS HASIL TANGKAPAN UTAMA DAN SAMPINGAN PADA ALAT TANGKAP DOGOL DI GEBANG MEKAR, KABUPATEN CIREBON, JAWA BARAT ISTRIANA RACHMAWATI ANALISIS HASIL TANGKAPAN UTAMA DAN SAMPINGAN PADA ALAT TANGKAP DOGOL DI GEBANG MEKAR, KABUPATEN CIREBON, JAWA BARAT ISTRIANA RACHMAWATI DEPARTEMEN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN DAN

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM HISTOTEKNIK Disusun oleh: Jekson Martiar Siahaan

LAPORAN PRAKTIKUM HISTOTEKNIK Disusun oleh: Jekson Martiar Siahaan LAPORAN PRAKTIKUM HISTOTEKNIK Disusun oleh: Jekson Martiar Siahaan I. Tujuan: 1. Mahasiswa mampu memahami dan melakukan teknik teknik histoteknik yang digunakan dalam pembuatan preparat jaringan 2. Mahasiswa

Lebih terperinci

5 KONDISI PERIKANAN TANGKAP KABUPATEN CIANJUR

5 KONDISI PERIKANAN TANGKAP KABUPATEN CIANJUR 5 KONDISI PERIKANAN TANGKAP KABUPATEN CIANJUR 5.1 Sumberdaya Ikan Sumberdaya ikan (SDI) digolongkan oleh Mallawa (2006) ke dalam dua kategori, yaitu SDI konsumsi dan SDI non konsumsi. Sumberdaya ikan konsumsi

Lebih terperinci

ABSTRAK. Kata kunci: Jumlah tangkapan; struktur ukuran; jenis umpan; ikan demersal dan rawai dasar

ABSTRAK. Kata kunci: Jumlah tangkapan; struktur ukuran; jenis umpan; ikan demersal dan rawai dasar RESPON IKAN DEMERSAL DENGAN JENIS UMPAN BERBEDA TERHADAP HASIL TANGKAPAN PADA PERIKANAN RAWAI DASAR Wayan Kantun 1), Harianti 1) dan Sahrul Harijo 2) 1) Sekolah Tinggi Teknologi Kelautan (STITEK) Balik

Lebih terperinci

PENGARUH ARUS LISTRIK TERHADAP WAKTU PINGSAN DAN PULIH IKAN PATIN IRVAN HIDAYAT SKRIPSI

PENGARUH ARUS LISTRIK TERHADAP WAKTU PINGSAN DAN PULIH IKAN PATIN IRVAN HIDAYAT SKRIPSI i PENGARUH ARUS LISTRIK TERHADAP WAKTU PINGSAN DAN PULIH IKAN PATIN IRVAN HIDAYAT SKRIPSI DEPARTEMEN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

Lebih terperinci

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN 27 4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1 Keadaan Umum Daerah Penelitian 4.1.1 Letak geografis Kabupaten Sukabumi berada di wilayah Propinsi Jawa Barat, secara geografis terletak di antara 6 0.57`- 7 0.25`

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Jaring Arad Jaring arad (mini trawl) adalah jaring yang berbentuk kerucut yang tertutup ke arah ujung kantong dan melebar ke arah depan dengan adanya sayap. Bagian-bagiannya

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Zoologi Jurusan Biologi FMIPA

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Zoologi Jurusan Biologi FMIPA 15 III. METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Zoologi Jurusan Biologi FMIPA Universitas Lampung untuk pemeliharaan dan pemberian perlakuan pada

Lebih terperinci

Lampiran 1 Skema Prosedur Pembuatan Preparat Histologi Skema langkah-langkah pengujian histologi secara garis besar adalah sebagai berikut:

Lampiran 1 Skema Prosedur Pembuatan Preparat Histologi Skema langkah-langkah pengujian histologi secara garis besar adalah sebagai berikut: 79 Lampiran 1 Skema Prosedur Pembuatan Preparat Histologi Skema langkah-langkah pengujian histologi secara garis besar adalah sebagai berikut: Pengambilan Organ Fiksasi Pemotongan Organ Washing Dehidrasi

Lebih terperinci

II. METODE PENELITIAN

II. METODE PENELITIAN II. METODE PENELITIAN A. Materi dan Deskripsi Lokasi 1. Bahan Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian adalah daun jambu air (Syzygium aqueum). Kemikalia yang digunakan yaitu larutan alkohol 96%, ethanol,

Lebih terperinci

Nama, Spesifikasi dan Kegunaan Bahan Penelitian No. Nama Bahan Spesifikasi Kegunaan 1. Larva ikan nilem hasil kejut panas

Nama, Spesifikasi dan Kegunaan Bahan Penelitian No. Nama Bahan Spesifikasi Kegunaan 1. Larva ikan nilem hasil kejut panas Lampiran 1. Spesifikasi Bahan Nama, Spesifikasi dan Kegunaan Bahan Penelitian No. Nama Bahan Spesifikasi Kegunaan 1. Larva ikan nilem hasil kejut panas Berumur 30, 60, 90, dan 120 hari Hewan uji 2. Pakan

Lebih terperinci

II. METODE PENELITIAN

II. METODE PENELITIAN II. METODE PENELITIAN A. Materi dan Deskripsi Lokasi 1. Bahan Bahan yang diperlukan dalam penelitian ini adalah daun 10 kultivar kacang tanah ( kultivar Bima, Hypoma1, Hypoma2, Kancil, Kelinci, Talam,

Lebih terperinci

Lampiran 1 Prosedur Pembuatan Preparat Histologi

Lampiran 1 Prosedur Pembuatan Preparat Histologi LAMPIRAN 38 Lampiran 1 Prosedur Pembuatan Preparat Histologi Pembuatan preparat histologi terdiri dari beberapa proses yaitu dehidrasi (penarikan air dalam jaringan) dengan alkohol konsentrasi bertingkat,

Lebih terperinci

KELOMPOK SASARAN. 1. Nelayan-nelayan yang telah mempunyai pengalaman dan keterampilan dalam pengoperasian jaring trammel.

KELOMPOK SASARAN. 1. Nelayan-nelayan yang telah mempunyai pengalaman dan keterampilan dalam pengoperasian jaring trammel. JARING TRAMMEL Trammel net (Jaring trammel) merupakan salah satu jenis alat tangkap ikan yang banyak digunakan oleh nelayan terutama sejak pukat harimau dilarang penggunaannya. Di kalangan nelayan, trammel

Lebih terperinci

5 PEMBAHASAN 5.1 Komposisi Hasil Tangkapan

5 PEMBAHASAN 5.1 Komposisi Hasil Tangkapan 50 5 PEMBAHASAN 5.1 Komposisi Hasil Tangkapan Kegiatan penangkapan ikan oleh nelayan bubu di Kecamatan Mempawah Hilir, Kabupaten Pontianak ditujukan untuk menangkap ikan kakap merah (Lutjanus sanguineus),

Lebih terperinci

bio.unsoed.ac.id MATERI DAN METODE PENELITIAN

bio.unsoed.ac.id MATERI DAN METODE PENELITIAN III. MATERI DAN METODE PENELITIAN A. Materi, Lokasi, dan Waktu Penelitian 1. Materi Penelitian 1.1 Bahan Bahan yang digunakan antara lain daun salak [Salacca zalacca (Gaertn.) Voss] kultivar Kedung Paruk,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. dan 1 kontrol terhadap ikan nila (O. niloticus). bulan, berukuran 4-7 cm, dan berat gram.

BAB III METODE PENELITIAN. dan 1 kontrol terhadap ikan nila (O. niloticus). bulan, berukuran 4-7 cm, dan berat gram. BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen menggunakan 1 faktor, yaitu perlakuan limbah cair nata de coco yang terdiri atas 5 variasi kadar dan 1 kontrol

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Zoologi Biologi FMIPA. Universitas Lampung untuk pemeliharaan, pemberian perlakuan, dan

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Zoologi Biologi FMIPA. Universitas Lampung untuk pemeliharaan, pemberian perlakuan, dan 16 III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Zoologi Biologi FMIPA Universitas Lampung untuk pemeliharaan, pemberian perlakuan, dan pengamatan. Proses

Lebih terperinci

4 KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

4 KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN 4 KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1 Keadaan Umum Kabupaten Sukabumi 4.1.1 Letak geografis Kabupaten Sukabumi berada di wilayah Provinsi Jawa Barat dengan jarak tempuh 96 km dari Kota Bandung dan 119 km

Lebih terperinci

2014, No Republik Indonesia Nomor 4433), sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 (Lembaran Negara Republik Indonesia T

2014, No Republik Indonesia Nomor 4433), sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 (Lembaran Negara Republik Indonesia T No.714, 2014 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMEN KP. Larangan. Pengeluaran. Ikan. Ke Luar. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21/PERMEN-KP/2014 TENTANG LARANGAN

Lebih terperinci

SAMBUTAN. Jakarta, Nopember Kepala Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan

SAMBUTAN. Jakarta, Nopember Kepala Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan SAMBUTAN Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan hidayahnya serta kerja keras penyusun telah berhasil menyusun Materi Penyuluhan yang akan digunakan bagi

Lebih terperinci

PROPORSI HASIL TANGKAP SAMPINGAN JARING ARAD (MINI TRAWL) YANG BERBASIS DI PESISIR UTARA, KOTA CIREBON. Oleh: Asep Khaerudin C

PROPORSI HASIL TANGKAP SAMPINGAN JARING ARAD (MINI TRAWL) YANG BERBASIS DI PESISIR UTARA, KOTA CIREBON. Oleh: Asep Khaerudin C PROPORSI HASIL TANGKAP SAMPINGAN JARING ARAD (MINI TRAWL) YANG BERBASIS DI PESISIR UTARA, KOTA CIREBON Oleh: Asep Khaerudin C54102009 PROGRAM STUDI PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN DAN

Lebih terperinci

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi dan Klasifikasi Unit Penangkapan Ikan Alat tangkap jaring insang hanyut

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi dan Klasifikasi Unit Penangkapan Ikan Alat tangkap jaring insang hanyut 4 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi dan Klasifikasi Unit Penangkapan Ikan Menurut Martasuganda (2002) jaring insang (gillnet) adalah jenis alat penangkap ikan dari bahan jaring yang bentuknya empat persegi

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM HISTOTEKNIK DASAR

LAPORAN PRAKTIKUM HISTOTEKNIK DASAR LAPORAN PRAKTIKUM HISTOTEKNIK DASAR Disusun Oleh: Nama : Juwita NIM : 127008003 Tanggal Praktikum: 22 September 2012 Tujuan praktikum: 1. Agar praktikan memahami dan mampu melaksanakan Tissue Processing.

Lebih terperinci

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 27 4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Keadaan Geografis, Topografis dan Luas Wilayah Kabupaten Ciamis merupakan salah satu kota yang berada di selatan pulau Jawa Barat, yang jaraknya dari ibu kota Propinsi

Lebih terperinci

BAB III BAHAN DAN METODE

BAB III BAHAN DAN METODE BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian dilaksanakan di lapangan dan di laboratoirum. Pengambilan sampel ikan bertempat di DAS Citarum bagian hulu dengan 4 stasiun yang telah ditentukan.

Lebih terperinci

2. TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 2. Ikan layur (Trichiurus lepturus) (Sumber :

2. TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 2. Ikan layur (Trichiurus lepturus) (Sumber : 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ikan Layur (Tricihurus lepturus) Layur (Trichiurus spp.) merupakan ikan laut yang mudah dikenal dari bentuknya yang panjang dan ramping. Ikan ini tersebar di banyak perairan dunia.

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN A. Materi, Lokasi dan Waktu Penelitian 1. Materi Alat dan bahan tercantum dalam Lampiran 1. 2. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Struktur dan Perkembangan

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Keadaan Umum Perairan Teluk Jakarta Perairan Teluk Jakarta merupakan sebuah teluk di perairan Laut Jawa yang terletak di sebelah utara provinsi DKI Jakarta, Indonesia. Terletak

Lebih terperinci

Karya sederhana ini kupersembahkan kepada kedua orang tziaku sebagai ungkapan terima kasih yang tak terhingga atas segala pengorbanannya demi

Karya sederhana ini kupersembahkan kepada kedua orang tziaku sebagai ungkapan terima kasih yang tak terhingga atas segala pengorbanannya demi Karya sederhana ini kupersembahkan kepada kedua orang tziaku sebagai ungkapan terima kasih yang tak terhingga atas segala pengorbanannya demi keberhasilankzr ggpj, PENGARUH KEDALAMAN POSISI MATA PANCING

Lebih terperinci

II. BAHAN DAN METODE 2. 1 Rancangan penelitian 2.2 Persiapan wadah 2.3 Penyediaan larva ikan patin

II. BAHAN DAN METODE 2. 1 Rancangan penelitian 2.2 Persiapan wadah 2.3 Penyediaan larva ikan patin II. BAHAN DAN METODE 2. 1 Rancangan penelitian Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 5 kali ulangan. Rancangan perlakuan yang diberikan pada larva ikan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Keadaan Umum Kota Cirebon Kota Cirebon merupakan kota yang berada di wilayah timur Jawa Barat dan terletak pada jalur transportasi Jawa Barat dan Jawa Tengah. Kota Cirebon secara

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus - Oktober 2013 di Balai Besar

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus - Oktober 2013 di Balai Besar III. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus - Oktober 2013 di Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung tepatnya di Laboratorium Pembenihan Kuda

Lebih terperinci

PELUANG EKSPOR TUNA SEGAR DARI PPI PUGER (TINJAUAN ASPEK KUALITAS DAN AKSESIBILITAS PASAR) AGUSTIN ROSS SKRIPSI

PELUANG EKSPOR TUNA SEGAR DARI PPI PUGER (TINJAUAN ASPEK KUALITAS DAN AKSESIBILITAS PASAR) AGUSTIN ROSS SKRIPSI PELUANG EKSPOR TUNA SEGAR DARI PPI PUGER (TINJAUAN ASPEK KUALITAS DAN AKSESIBILITAS PASAR) AGUSTIN ROSS SKRIPSI DEPARTEMEN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT

Lebih terperinci

Sumber : Wiryawan (2009) Gambar 9 Peta Teluk Jakarta

Sumber : Wiryawan (2009) Gambar 9 Peta Teluk Jakarta 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Keadaan Umum Teluk Jakarta Secara geografis Teluk Jakarta (Gambar 9) terletak pada 5 o 55 30-6 o 07 00 Lintang Selatan dan 106 o 42 30-106 o 59 30 Bujur Timur. Batasan di sebelah

Lebih terperinci

Laporan Praktikum Histotehnik. Oleh: Lucia Aktalina. Jum at, 14 September WIB

Laporan Praktikum Histotehnik. Oleh: Lucia Aktalina. Jum at, 14 September WIB Laporan Praktikum Histotehnik Oleh: Lucia Aktalina Jum at, 14 September 2012 14.00 17.00 WIB Tujuan Praktikum: Melihat demo tehnik-tehnik Histotehnik,mulai dari pemotongan jaringan organ tikus sampai bloking,

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN A. Materi Alat dan Bahan Materi yang digunakan dalam penelitian yaitu sampel daun jambu semarang Buah Pink, Hijau Bulat, Unsoed, Merah Lebar', Kaget Merah, Camplong Putih, Irung

Lebih terperinci

BAB III BAHAN DAN METODE

BAB III BAHAN DAN METODE BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian penangkapan ikan dengan menggunakan jaring arad yang telah dilakukan di perairan pantai Cirebon, daerah Kecamatan Gebang, Jawa Barat

Lebih terperinci

5 PEMBAHASAN 5.1 Komposisi Hasil Tangkapan

5 PEMBAHASAN 5.1 Komposisi Hasil Tangkapan 5 PEMBAHASAN 5.1 Komposisi Hasil Tangkapan Hasil tangkapan yang diperoleh selama penelitian menunjukan bahwa sumberdaya ikan di perairan Tanjung Kerawang cukup beragam baik jenis maupun ukuran ikan yang

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. dimana pada daerah ini terjadi pergerakan massa air ke atas

TINJAUAN PUSTAKA. dimana pada daerah ini terjadi pergerakan massa air ke atas TINJAUAN PUSTAKA Tinjauan Pustaka Wilayah laut Indonesia kaya akan ikan, lagi pula sebagian besar merupakan dangkalan. Daerah dangkalan merupakan daerah yang kaya akan ikan sebab di daerah dangkalan sinar

Lebih terperinci

2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Analisis Komparasi

2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Analisis Komparasi 6 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Analisis Komparasi Kabupaten Klungkung, kecamatan Nusa Penida terdapat 16 desa yang mempunyai potensi baik sekali untuk dikembangkan, terutama nusa Lembongan dan Jungutbatu. Kabupaten

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Klasifikasi dan Struktur Morfologis Klasifikasi

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Klasifikasi dan Struktur Morfologis Klasifikasi 4 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Klasifikasi dan Struktur Morfologis 2.1.1. Klasifikasi Ikan kembung perempuan (Rastrelliger brachysoma) (Gambar 1) merupakan salah satu ikan pelagis kecil yang sangat potensial

Lebih terperinci

TEKNIK PENANGKAPAN IKAN SIDAT DENGAN MENGGUNAKAN BUBU DI DAERAH ALIRAN SUNGAI POSO SULAWESI TENGAH

TEKNIK PENANGKAPAN IKAN SIDAT DENGAN MENGGUNAKAN BUBU DI DAERAH ALIRAN SUNGAI POSO SULAWESI TENGAH Teknik Penangkapan Ikan Sidat..di Daerah Aliran Sungai Poso Sulawesi Tengah (Muryanto, T & D. Sumarno) TEKNIK PENANGKAPAN IKAN SIDAT DENGAN MENGGUNAKAN BUBU DI DAERAH ALIRAN SUNGAI POSO SULAWESI TENGAH

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM PERAIRAN SELAT BALI

V. GAMBARAN UMUM PERAIRAN SELAT BALI V. GAMBARAN UMUM PERAIRAN SELAT BALI Perairan Selat Bali merupakan perairan yang menghubungkan Laut Flores dan Selat Madura di Utara dan Samudera Hindia di Selatan. Mulut selat sebelah Utara sangat sempit

Lebih terperinci

PENGGUNAAN CELAH PELOLOSAN PADA BUBU TAMBUN TERHADAP HASIL TANGKAPAN KERAPU KOKO DI PULAU PANGGANG, KEPULAUAN SERIBU DIDIN KOMARUDIN

PENGGUNAAN CELAH PELOLOSAN PADA BUBU TAMBUN TERHADAP HASIL TANGKAPAN KERAPU KOKO DI PULAU PANGGANG, KEPULAUAN SERIBU DIDIN KOMARUDIN PENGGUNAAN CELAH PELOLOSAN PADA BUBU TAMBUN TERHADAP HASIL TANGKAPAN KERAPU KOKO DI PULAU PANGGANG, KEPULAUAN SERIBU DIDIN KOMARUDIN MAYOR TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN PERIKANAN TANGKAP DEPARTEMEN PEMANFAATAN

Lebih terperinci

TUGAS: RINGKASAN EKSEKUTIF Nama: Yuniar Ardianti

TUGAS: RINGKASAN EKSEKUTIF Nama: Yuniar Ardianti TUGAS: RINGKASAN EKSEKUTIF Nama: Yuniar Ardianti Sebuah lagu berjudul Nenek moyangku seorang pelaut membuat saya teringat akan kekayaan laut Indonesia. Tapi beberapa waktu lalu, beberapa nelayan Kepulauan

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permintaan ikan yang meningkat memiliki makna positif bagi pengembangan perikanan, terlebih bagi negara kepulauan seperti Indonesia yang memiliki potensi perairan yang

Lebih terperinci

KAJIAN POLA PERTUMBUHAN DAN CIRI MORFOMETRIK-MERISTIK BEBERAPA SPESIES IKAN LAYUR

KAJIAN POLA PERTUMBUHAN DAN CIRI MORFOMETRIK-MERISTIK BEBERAPA SPESIES IKAN LAYUR KAJIAN POLA PERTUMBUHAN DAN CIRI MORFOMETRIK-MERISTIK BEBERAPA SPESIES IKAN LAYUR (Superfamili Trichiuroidea) DI PERAIRAN PALABUHANRATU, SUKABUMI, JAWA BARAT Oleh : IRWAN NUR WIDIYANTO C24104077 SKRIPSI

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN. Lampung untuk pemeliharaan dan pemberian perlakuan pada mencit dan

METODOLOGI PENELITIAN. Lampung untuk pemeliharaan dan pemberian perlakuan pada mencit dan III. METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Zoologi Biologi FMIPA Universitas Lampung untuk pemeliharaan dan pemberian perlakuan pada mencit dan

Lebih terperinci

5 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

5 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Keadaan Umum Kota Serang Kota Serang adalah ibukota Provinsi Banten yang berjarak kurang lebih 70 km dari Jakarta. Suhu udara rata-rata di Kota Serang pada tahun 2009

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Budidaya laut (marinecultur) merupakan bagian dari sektor kelautan dan perikanan yang mempunyai kontribusi penting dalam memenuhi target produksi perikanan. Walaupun

Lebih terperinci

ANALISIS KOMPOSISI HASIL TANGKAPAN RAWAI (LONG LINE) PAGI DAN SIANG HARI DI PERAIRAN TELUK PAMBANG KECAMATAN BANTAN KABUPATEN BENGKALIS PROVINSI RIAU

ANALISIS KOMPOSISI HASIL TANGKAPAN RAWAI (LONG LINE) PAGI DAN SIANG HARI DI PERAIRAN TELUK PAMBANG KECAMATAN BANTAN KABUPATEN BENGKALIS PROVINSI RIAU 1 ANALISIS KOMPOSISI HASIL TANGKAPAN RAWAI (LONG LINE) PAGI DAN SIANG HARI DI PERAIRAN TELUK PAMBANG KECAMATAN BANTAN KABUPATEN BENGKALIS PROVINSI RIAU Oleh Nurlela yanti 1), Eryan Huri 2), Bustari 2)

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Distribusi SPL Dari pengamatan pola sebaran suhu permukaan laut di sepanjang perairan Selat Sunda yang di analisis dari data penginderaan jauh satelit modis terlihat ada pembagian

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1. Jumlah Armada Penangkapan Ikan Cirebon Tahun Tahun Jumlah Motor

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1. Jumlah Armada Penangkapan Ikan Cirebon Tahun Tahun Jumlah Motor BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Keadaan Umum Perikanan Tangkap di Cirebon Armada penangkapan ikan di kota Cirebon terdiri dari motor tempel dan kapal motor. Jumlah armada penangkapan ikan dikota Cirebon

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Zoologi Jurusan Biologi FMIPA

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Zoologi Jurusan Biologi FMIPA 19 III. METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Zoologi Jurusan Biologi FMIPA Universitas Lampung untuk pemeliharaan dan pemberian perlakuan pada

Lebih terperinci

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Letak Geografis dan Luas Wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung secara geografis terletak pada 104 0 50 sampai 109 0 30 Bujur Timur dan 0 0 50 sampai 4 0 10 Lintang

Lebih terperinci

UJI TAHANAN GERAK MODEL PERAHU KATIR PALABUHANRATU GALIH ARIEF SAKSONO SKRIPSI

UJI TAHANAN GERAK MODEL PERAHU KATIR PALABUHANRATU GALIH ARIEF SAKSONO SKRIPSI UJI TAHANAN GERAK MODEL PERAHU KATIR PALABUHANRATU GALIH ARIEF SAKSONO SKRIPSI DEPARTEMEN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009 PERNYATAAN

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 17 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Keadaan Umum Perairan Teluk Jakarta Pesisir Teluk Jakarta terletak di Pantai Utara Jakarta dibatasi oleh garis bujur 106⁰33 00 BT hingga 107⁰03 00 BT dan garis lintang 5⁰48

Lebih terperinci

TEKNIK PENANGKAPAN IKAN PELAGIS BESAR MEMAKAI ALAT TANGKAP FUNAI (MINI POLE AND LINE) DI KWANDANG, KABUPATEN GORONTALO

TEKNIK PENANGKAPAN IKAN PELAGIS BESAR MEMAKAI ALAT TANGKAP FUNAI (MINI POLE AND LINE) DI KWANDANG, KABUPATEN GORONTALO Teknik Penangkapan Ikan Pelagis Besar... di Kwandang, Kabupaten Gorontalo (Rahmat, E.) TEKNIK PENANGKAPAN IKAN PELAGIS BESAR MEMAKAI ALAT TANGKAP FUNAI (MINI POLE AND LINE) DI KWANDANG, KABUPATEN GORONTALO

Lebih terperinci

GAMBARAN HISTOLOGIS TESTIS MUDA DAN DEWASA PADA IKAN MAS Cyprinus carpio.l RAHMAT HIDAYAT SKRIPSI

GAMBARAN HISTOLOGIS TESTIS MUDA DAN DEWASA PADA IKAN MAS Cyprinus carpio.l RAHMAT HIDAYAT SKRIPSI GAMBARAN HISTOLOGIS TESTIS MUDA DAN DEWASA PADA IKAN MAS Cyprinus carpio.l RAHMAT HIDAYAT SKRIPSI PROGRAM STUDI TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN AKUAKULTUR DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU

Lebih terperinci

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Iluminasi cahaya Cahaya pada pengoperasian bagan berfungsi sebagai pengumpul ikan. Cahaya yang diperlukan memiliki beberapa karakteristik, yaitu iluminasi yang tinggi, arah pancaran

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM. : Histoteknik : Selly Oktaria Tanggal Praktikum : 14 September 2012

LAPORAN PRAKTIKUM. : Histoteknik : Selly Oktaria Tanggal Praktikum : 14 September 2012 LAPORAN PRAKTIKUM Judul : Histoteknik Nama : Selly Oktaria Tanggal Praktikum : 14 September 2012 Tujuan Praktikum : 1. Melihat demonstrasi pembuatan preparat histology mulai dari fiksasi jaringan hingga

Lebih terperinci

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Keadaan Daerah Penelitian Kabupaten Kupang merupakan kabupaten yang paling selatan di negara Republik Indonesia. Kabupaten ini memiliki 27 buah pulau, dan 19 buah pulau

Lebih terperinci

Lampiran 1. Rumus konversi dalam pembuatan media

Lampiran 1. Rumus konversi dalam pembuatan media LAMPIRAN 27 Lampiran 1. Rumus konversi dalam pembuatan media Keterangan : V 1 = Volume air media ke-1 V 2 = Volume air media ke-2 M 1 = Konsentrasi ph media ke-1 = Konsentrasi ph media ke-2 M 2 HCl yang

Lebih terperinci

3. METODE PENELITIAN

3. METODE PENELITIAN 13 3. METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di perairan Cirebon yang merupakan wilayah penangkapan kerang darah. Lokasi pengambilan contoh dilakukan pada dua lokasi yang

Lebih terperinci