PENGARUH EMOSI TERHADAP MEMORI
|
|
|
- Iwan Tan
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BULETIN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS GADJAH MADA VOLUME 16, NO. 2, ISSN: PENGARUH EMOSI TERHADAP MEMORI Martono dan Dicky Hastjarjo Universitas Gadjah Mada Abstract Cognition is usually described as a cold process, in contrast emotion is described as a hot process. However, the conventional pictures of both psychological phenomena are not accurate. This paper reviews the effects of emotion on memory in two major routes of research projects, namely mood congruent and mood state dependent. How to assess and manipulate participants mood in a psychological experiment are also discussed. Finally, the paper explicates four theories concerning the effects of emotion on memory. Keywords: memory, emotion, mood congruent, mood dependent, network theory, schema theory, resource allocation model, neuropsychology of memory. Seringkali orang berpendapat: Hati boleh panas, tapi kepala harus tetap dingin. Pendapat itu dapat dibenarkan sebab kalau hati panas akan membuat kepala panas maka akibatnya perilaku akan agresif, impulsif dan tak rasional. Namun demikian dalam Kenyataannya sehari hari terkadang emosi (hati) dapat mempengaruhi kognisi (kepala) orang. Wilayah penelitian itu dikenal dengan kognisi panas (Ellis & Hunt, 1993) yang mengukur pengaruh emosi terhadap kognisi dan memori. Ellis dan Hunt memperkirakan bahwa penelitian mengenai pengaruh keadaan emosi dengan kinerja memori mulai menjamur sekitar tahun 1975an. Wilayah penelitian ini sebenarnya mempunyai akar yang lebih lama namun mengalami kemandekan karena (a) kurangnya perhatian para psikolog kognitif. Para peneliti kognisi dan memori sibuk dengan pemahaman bagaimana bekerjanya proses dasar memori tanpa menghiraukan peran emosi, (b) belum adanya prosedur eksperimen yang dapat diterima untuk menghasilkan atau memanipulasi keadaan emosi di laboratorium. Baru ketika terdapat prosedur yang mampu memanipulasi keadaan emosi maka psikolog kognitif melakukan penelitian tentang efek emosi terhadap memori, (c) kenyataan bahwa konsep, teori dan metode di kedua bidang itu (emosi dan memori) terpisah satu sama lain meskipun kadang kadang ada usaha untuk menghubungkan keduanya (Ellis & Hunt, 1993, h. 332). Ellis dan Hunt (1993, h, 333) memberikan sejumlah alasan mengapa dewasa ini penting melakukan kajian mengenai pengaruh emosi pada memori (a) jelas bahwa keadaan emosi atau afeksi cukup berpengaruh pada kognisi, maka psikologi kognitif perlu mempelajari apa pengaruh dan bagaimana cara emosi mempengaruhi memori, (b) telah diketemukan cara menginduksi keadaan emosional sementara, sehingga manipulasi eksperimental emosi dapat dijadikan sebagai variabel independen. Misalnya, subjek dapat diinduksi kedalam keadaan emosi senang atau sedih dengan cara dihipnosis atau lewat induksi verbal. Ini artinya kemajuan metodologi memungkinkan dilakukannya penelitian 98 BULETIN PSIKOLOGI
2 PENGARUH EMOSI TERHADAP MEMORI pengaruh emosi terhadap memori, (c) diakuinya keterbatasan studi klinis tentang memori. Mayoritas penelitian tentang efek depresi terhadap memori dan kognisi memakai populasi pasien klinis. Namun kelemahannya adalah depresi hanya diukur tetapi tidak dimanipulasi langsung sehingga keyakinan mengenai efek depresi terhadap memori kurang tinggi, serta (d) penjelasan teoretis mengenai memori dan kognisi harus menjelaskan juga pengaruh keadaan afektif seperti stress, kecemasan, depresi dan sebagainya. Pengaruh emosi terhadap memori dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu (a) kesesuaian dengan suasana hati (moodcongruent) dan (b) ketergantungan pada kondisi suasana hati (mood state dependent) (Ellis & Hunt, 1993; Matlin, 1998). Kesesuaian Dengan Suasana Hati (Mood Congruent) Kesesuaian dengan suasana hati menggambarkan gejala bahwa orang lebih mampu mengingat informasi yang cocok dengan keadaan emosinya pada saat mereka mempelajari materi tersebut. Memori akan lebih baik kalau materi yang dipelajari cocok dengan suasana hati orang pada saat mempelajari materi itu. Sederhananya, seorang yang sedang senang cenderung lebih gampang mengingat materi yang bersifat menyenangkan daripada materi yang sedih, sebaliknya seorang yang sedang sedih cenderung lebih mampu mengingat materi yang sedih daripada materi yang menyenangkan. Teasdale & Russel (1983) dalam Anderson (h. 236) meminta subjek belajar satu daftar kata kata positif, netral, dan negatif dalam suasana hati normal. Kemudian mereka dites dalam situasi suasana hati senang dan sedih yang diciptakan peneliti. Hasilnya, subjek merecall lebih banyak kata yang cocok dengan suasana hati pada saat tes. Penelitian McDowall (1984) menemukan bahwa penderita depresi lebih mampu mengingat kembali kata kata sedih dibanding katakata riang. Eksperimen McDowal tersebut adalah sebagai berikut. Subjek eksperimen adalah 60 orang penderita depresi, 20 orang penderita gangguan psikologis namun bukan depresi, dan 20 orang staf rumah sakit. Stimulus eksperimen adalah 30 kata yang terdiri dari 12 kata yang menyenangkan (kiss, affectionate, embrace, lovely, love, beauy, elated, delightful, kind, happiness, friendly, dan joyful), 12 kata yang tidak menyenangkan (enemy, dejected, terror, ridicule, grieved, hate, misery, shame, deceive, distressed, lonely, dan failure), dan 6 kata netral. Stimulus berbentuk katakata tersebut ditayangkan di monitor satu persatu secara acak selama 3 detik setiap kata. Ada dua kondisi perlakuan, (a) kondisi instruksi free recall. Kelompok ini diminta melihat kata kata tadi dan mengingatnya sebab akan ada tes mengingat kembali (recall), (b) kondisi pengkategorisasian kata. Kelompok ini diperintah untuk melihat setiap kata dan membuat penilaian apakah kata itu menyenangkan atau tidak menyenangkan. Subjek dalam kelompok ini juga diminta mengingat kata kata tersebut untuk persiapan tes recall. Sesudah stimulus kata selesai disajikan maka subjek diminta melaporkan kembali kata kata yang telah disajikan. Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam kondisi free recall subjek penderita depresi secara signifikan melaporkan kembali lebih sedikit kata kata yang menyenangkan daripada kata kata yang tidak menyenangkan. Akan tetapi perbedaan ini tidak ada pada subjek depresi di kondisi pengkategorisasian (McDowall, 1984, h. 404). Ketergantungan Dengan Kondisi Suasana Hati (Mood State Dependent) Ketergantungan dengan suasana hati menggambarkan bahwa materi yang dipela BULETIN PSIKOLOGI 99
3 MARTONO & HASTJARJO jari dalam satu suasana hati tertentu akan diingat kembali (recall) atau dikenali lagi/ direkognisi (recognition) lebih baik ketika orang dites dalam keadaan emosi yang sama dengan suasana hati saat belajar (Ellis & Hunt, 1993). Apabila suasana hati sewaktu penyandian informasi cocok dengan suasana hati sewaktu mengingat kembali informasi tersebut, maka kinerja memori akan lebih baik. Sifat emosional materi tidak penting. Ketergantungan dengan suasana hati merupakan salah satu contoh kekhususan penyandian (encoding specificity): kemampuan mengingat kembali informasi (recall) akan lebih baik kalau konteks pengambilan kembali informasi (retrieval) sama dengan konteks penyandian (Matlin, 1998, h.140). Eich dan Metcalfe (1989, studi 1) meneliti pengaruh kesamaan suasana hati saat penyandian dengan saat mengingat kembali terhadap memori. Saat penyandian, subjek diminta mendengarkan musik (musik gembira atau sedih) dan menilai suasana hatinya. Subjek kemudian diperlihatkan serangkaian tiga kata (misal, precious metals: silver Gold). Dua hari kemudian saat mengingat kembali, subjek mendengarkan lagi musik sedih/ gembira dan menilai suasana hatinya. Jika suasana hatinya sudah sama dengan ketika saat penyandian, maka subjek diminta melakukan recall terhadap serangkaian tiga kata yang telah dilihatnya dua hari lalu. Hasilnya menunjukkan bahwa kemampuan melakukan recall akan lebih tinggi jika suasana hati sama antara saat penyandian dengan saat mengingat kembali. Mengukur dan memanipulasi suasana hati Penelitian pengaruh suasana hati terhadap memori dapat dilakukan dengan secara eksperimental memunculkan suasana hati maupun dengan mengukur suasana hati secara alamiah (Gerrads Hesse, Spies, & Hesse, 1994; Poon, 2001). Mengukur suasana hati secara alamiah misalnya dilakukan dengan mengukur suasana hati ketika hari sedang panas atau hujan, sesudah subjek lulus atau gagal ujian tengah semester, sesudah melihat tayangan pertandingan sepakbola di televisi yang menyenangkan atau membosankan, atau sesudah orang menonton film yang sedih atau gembira di gedung bioskop (Gerrads Hesse, Spies, & Hesse, 1994). Manipulasi suasana hati secara eksperimental dapat dilakukan dalam 5 cara (Gerrads Hesse, et.all, 1994), yaitu (a) secara bebas membangkitkan mental mengenai keadaan emosi. Hal ini berarti stimulus yang menghasilkan keadaan emosi yang dituju akan diaktifkan secara mental oleh subjek sendiri. Misalnya, subjek dalam keadaan dihipnosis, diminta mengingat kembali pertemuan pertemuan romantiknya yang sukses atau gagal. Contoh lain, subjek diminta membayangkan sebuah situasi yang membuat mereka merasa senang, sedih atau netral, (b) secara terpandu membangkitkan mental mengenai keadaan emosi. Stimulus yang dipakai untuk menghasilkan keadaan emosi tertentu itu adalah tehnik Velten, musik, atau film/ceritera. Stimulus itu akan diberikan kepada subjek bersama dengan perintah untuk mengembangkan kondisi emosi tertentu, (c) cara yang ketiga juga memberikan stimulus pembangkit emosi seperti tehnik Velten, musik, film/ceritera kepada subjek namun subjek tidak diminta mengembangkan emosi tertentu. Hal ini diasumsikan karena pemberian stimulus itu sendiri sudah otomatis mengembangkan emosi tertentu pada diri subjek. Penelitian Eich & Metcalfe (1989) memperdengarkan musik gembira (misal lagu Eine Kliene Nachtmusik atau Divertimento # 136 oleh Mozart) atau lagu musik sedih (misal Adagio in G Minor dari Albinoni atau Adagio pour Cordes dari Barber). Musik di putar berkalikali. Setiap lima menit subjek membuat penilaian terhadap suasana hatinya dengan 100 BULETIN PSIKOLOGI
4 PENGARUH EMOSI TERHADAP MEMORI memakai Affect Grid dari Russell et al., (d) pemaparan subjek dengan situasi yang mengaktifkan kebutuhan tertentu seperti kebutuhan berprestasi. Misalnya, subjek diberi umpan balik kinerjanya yang positif atau negatif tapi sebenarnya keliru untuk menghasilkan keadaan emosi tertentu, dan (e) memunculkan keadaan fisiologis yang berkaitan dengan emosi tertentu sehingga pada akhirnya akan menghasilkan keadaan emosi tersebut. Misalnya, suasana hati akan berubah jika orang diminta berwajah tersenyum atau mengerutkan dahi. Cek manipulasi perlu dilakukan untuk menentukan efektivitas manipulasi suasana hati. Ada tiga cara melakukan cek manipulasi suasana hati (a) mengobservasi perilaku subjek seperti kinerja psikomotor, kecepatan tugas, gerak isyarat dan ekspresi wajah, (b) mengukur variabel fisiologis seperti detak jantung atau tekanan darah sebagai indikator susasana hati, dan (c) kuesioner laporan diri mengenai suasana hati (Poon, 2001). Penjelasan teoretik pengaruh emosi terhadap memori Pengaruh emosi terhadap memori dapat dijelaskan dari 4 teori, yaitu (a) teori jaringan (network theory), teori skema (schema theory), dan model alokasi sumber (resource allocation model) (Ellis & Hunt, 1993), serta teori neuropsikologis (Ashby & Isen, 1999). Teori Jaringan Teori jaringan (Bower, 1981) menyatakan bahwa kondisi emosi direpresentasikan oleh node atau unsur memori semantik. Teori Bower adalah salah satu teori jaringan memori semantik yang menggambarkan setiap jenis emosi tertentu seperti senang, depresi, atau takut mempunyai sebuah node tertentu atau unit dalam memori yang menyatukankan aspek aspek lain dari emosi tersebut. Aspek aspek tersebut misalnya pola pembangkitan otonomis, peranan baku, dan perilaku ekspresif yang berkaitan dengan emosi tertentu itu. Sebuah node emosi yang aktif akan mengaktifkan node lain yang terkait dengan jaringan emosi itu sehingga mengaktifkan konsep konsep dan memorimemori yang sesuai (congruent) dengan emosi itu. Sebuah node emosi dapat diaktifkan secara fisiologis atau verbal (memanipulasi emosi) Skema Teori skema berpendapat bahwa orang dalam keadaan emosi tertentu akan mempunyai kerangka umum atau skema yang sesuai dengan emosi tersebut. Misalnya, seorang yang sedih akan mempunyai sebuah skema sedih atau depresif untuk mengorganisasikan informasi. Orang itu akan mempersepsi dan mengingat pengalaman negatifnya, episode sedihnya serta cenderung menafsirkan dunia lingkungannya dari perspektif negatif. Seseorang yang dalam keadaan sedih akan memiliki skema yang mendorongnya untuk mengambil kembali memori memori yang mengandung kesedihan. Teori skema ini dipelopori oleh Aaron T.Beck Model Alokasi Sumber Teori ini dipengaruhi oleh konsep alokasi sumber atau kapasitas dari teori perhatian. Teori alokasi sumber menjelaskan bahwa pengaruh emosi terhadap memori akan mempertimbangkan (a) peran emosi dalam meregulasi besarnya kapasitas yang dialokasikan ke tugas kognitif, dan (b) tuntutan terhadap kapasitas pemrosesan tugas kognitif itu sendiri. Teori alokasi sumber dikembangkan oleh Ellis dan Ashbrook. Mereka mengasumsikan bahwa sumber/kapasitas perhatian itu sangat terbatas untuk melaksa BULETIN PSIKOLOGI 101
5 MARTONO & HASTJARJO nakan tugas kognitif dan emosi akan mempengaruhi pengaturan alokasi sumber/kapasitas perhatian yang terbatas itu untuk melakukan tugasnya. Pengaruh emosi akan bersifat disruptif dengan mengurangi kapasitas yang tersedia dalam memproses informasi. Misalnya, depresi akan mengurangi kemampuan mengingat kembali informasi. Teori Neuropsikologis Ashby, Isen & Turken (1999) mengembangkan teori neuropsikologis mengenai pengaruh emosi terhadap kognisi. Teori ini menjelaskan bahwa seseorang dalam keadaan emosi netral akan memiliki cukup dopamin. Jika orang dalam keadaan emosi positif maka akan dibarengi dengan peningkatan dopamin dalam sistem mesokortikolimbik. Peningkatan dopamin akan mempengaruhi peningkatan kinerja berbagai tugas kognitif, termasuk memori. Pustaka Anderson, J. R. (1995). Learning and Memory: An integrated approach, 4 th Edition. John Wiley & Sons, Inc. New York: NY. Ashby, F. G., Isen, a. M., & Turken, A. U. (1999). A neuropsychological theory of positive affect and its influence on cognition. Psychological Review, 106, 3, Bower, A. (1981). Mood and memory. American Psychologist, 36, Eich, E & Metcalfe, J. (1989). Mood dependent memory for internal versus external events. Journal of experimental psychology: Learning, Memory, and Cognition, 15, 3, Ellis, H., & Hunt, R. R. (1993). Fundamentals of Cognitive Psychology, 5 th Edition. Wm C. Brown Communications, Inc, Dubuque: Iowa. Gerrads Hesse, Spies, & Hesse. (1994). Experimental inductions of emotional states and their effectiveness: A review. British Journal of Psychology, 85, Matlin, M. W. (1998). Cognition, 4 th Edition. Harcout Brace College Publisher: Fort Worth: Texas. McDowall, J. (1984). Recall of pleasant and unpleasant words in depressed subjects. Journal of Abnormal Psychology, 93, 4, Poon, J. M. L. (2001). Mood: A review of it s antecedents and consequences. International Journal of Organizational Theory & Behavior, 4, Sternberg, R. J. Cognitive Psychology. (2006), 4 th Edition. Harcourt Brace College Publisher, Fort Worth: TX. Riwayat hidup penulis: Martono adalah dosen Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta kelahiran Yogyakarta Pengampu mata kuliah Psikologi Kepribadian dan Metode Kuantitatif: survey, memperoleh gelar Drs (1983) dari Univeritas Gadjah Mada Yogyakarta. 102 BULETIN PSIKOLOGI
TEORI TEORI KELUPAAN
BULETIN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS GADJAH MADA VOLUME 16, NO. 2, 89 93 ISSN: 0854-7108 TEORI TEORI KELUPAAN Marnio Pudjono Fukultas Psikologi Universitas Gadjah Mada Abstract Forgetting is
Kognisi Sosial. (Berpikir mengenai dunia sosial)
Kognisi Sosial (Berpikir mengenai dunia sosial) adalah cara kita menginterpretasi, menganalisis, mengingat dan menggunakan informasi ttg dunia sosial. Bahasan ttg kognisi sosial meliputi: skema Heuristik
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam kehidupan sehari-hari, sering dijumpai sikap atau tingkah laku individu yang berbeda dalam merespon sesuatu yang sama. Hal tersebut disebabkan karena
SILABUS PSIKOLOGI KOGNITIF 2014
SILABUS PSIKOLOGI KOGNITIF 2014 I. IDENTITAS MATA KULIAH Nama Mata Kuliah : Psikologi Kognitif Jumlah SKS : 2 SKS Semester : III Program Studi : Psikologi/S1 Status Mata Kuliah : Mata Kuliah Dasar Prasyarat
Bab I Pendahuluan. Setiap individu memiliki berbagai gagasan-gagasan mengenai dirinya, dimana gagasan
Bab I Pendahuluan Latar Belakang Masalah Setiap individu memiliki berbagai gagasan-gagasan mengenai dirinya, dimana gagasan tersebut muncul sebagai bentuk keinginannya agar diterima oleh sosial dan masyarakat.
PSIKOLOGI KOGNITIF (Diringkas oleh Hanna Widjaya Dosen PPS Unpad Bandung)
PSIKOLOGI KOGNITIF (Diringkas oleh Hanna Widjaya Dosen PPS Unpad Bandung) BUKU: COGNITION 3rd Ed. 1994 Margaret W. Matlin Harcourt Brace Publishers KOGNISI? Aktivitas Mental Melibatkan: Perolehan Penyimpanan
KOMPONEN SILABUS DAN SAP IDENTITAS DAN DESKRIPSI MATA KULIAH PSIKOLOGI UMUM (S2)
KOMPONEN SILABUS DAN SAP IDENTITAS DAN DESKRIPSI MATA KULIAH PSIKOLOGI UMUM (S2) TIM PENGAMPU: PROF. DR. CECE RAKHMAT, M.Pd. DR. RAHAYU GININTASASI, M.SI. PROGRAM STUDI PSIKOLOGI PENDIDIKAN SEKOLAH PASCASARJANA
PSIKOLOGI UMUM (SP501)
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) PSIKOLOGI UMUM (SP501) PROGRAM STUDI PSIKOLOGI PENDIDIKAN FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 1 RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER 1. Identitas Nama
Pengantar Biopsikologi
Modul ke: Pengantar Biopsikologi Fakultas PSIKOLOGI Ellen Prima, S.Psi., M.A. Program Studi PSIKOLOGI http://www.mercubuana.ac.id Apa yang Anda Ketahui tentang BIOPSIKOLOGI? NEURON Sel - sel yang menerima
Persepsi, Memori, Daya Bayang, Bahasa, Penyelesaian Masalah, Pemahaman/Penalaran, Pmbuatan Keputusan
PSIKOLOGI KOGNITIF BUKU: COGNITION 3rd Ed. 1994 Margaret W. Matlin Harcourt Brace Publishers KOGNISI? Aktivitas Mental Melibatkan: Perolehan Penyimpanan Pencarian Penggunaan Pengetahuan MATLIN Membicarakan:
KOGNISI SOSIAL. Pengertian, sumber kesalahan dalam kognisi sosial; Skema, jalan pintas mental; Afek dan kognisi. Sri Wahyuning Astuti, S.Psi.
Modul ke: KOGNISI SOSIAL Pengertian, sumber kesalahan dalam kognisi sosial; Skema, jalan pintas mental; Afek dan kognisi. Fakultas Psikologi Sri Wahyuning Astuti, S.Psi. M,Ikom Program Studi Psikologi
MODUL VII COGNITIVE THERAPY AARON BECK
www.mercubuana.ac.id MODUL VII COGNITIVE THERAPY AARON BECK Aaron Beck adalah psikiater Amerika yang merintis penelitian pada psikoterapi dan mengembangkan terapi kognitif. Ia dianggap sebagai bapak cognitive
BAB I PENDAHULUAN. awal, dimana memiliki tuntutan yang berbeda. Pada masa dewasa awal lebih
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Mahasiswa mengalami masa peralihan dari remaja akhir ke masa dewasa awal, dimana memiliki tuntutan yang berbeda. Pada masa dewasa awal lebih dituntut suatu
BAB I PENDAHULUAN. Pada era gobalisasi ini, perkembangan masyarakat di berbagai bidang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada era gobalisasi ini, perkembangan masyarakat di berbagai bidang semakin meningkat. Individu dituntut untuk semakin maju agar dapat mengikuti persaingan
NYERI DAN EFEK PLASEBO
NYERI DAN EFEK PLASEBO NYERI APA YANG DIMAKSUD DENGAN NYERI? Teori Nyeri terdahulu: Nyeri merupakan Sensasi Dideskripsikan sebagai berikut: 1. Kerusakan jaringan menyebabkan sensasi nyeri 2. Keterlibatan
MODUL PRAKTIKUM KOGNITIF CP3 CHAPTER : IMPLICIT & EXPLICIT MEMORY
MODUL PRAKTIKUM KOGNITIF CP3 CHAPTER : IMPLICIT & EXPLICIT MEMORY Disusun Oleh : Tim Penyusun Laboratorium Psikologi Universitas Gunadarma A. TEORI LABORATORIUM PSIKOLOGI UNIVERSITAS GUNADARMA 2012 Apakah
BAB I PENDAHULUAN. Dalam dua dasawarsa terakhir ini, perubahan yang terjadi dalam berbagai
BAB I PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Masalah Dalam dua dasawarsa terakhir ini, perubahan yang terjadi dalam berbagai sektor kehidupan semakin pesat, sebagai dampak dari faktor kemajuan di bidang teknologi
HUBUNGAN ACHIEVEMENT EMOTIONS DAN SELF-REGULATION MAHASISWA DALAM MENGERJAKAN SKRIPSI LIDYA KEMALA SARI PANJAITAN SURYA CAHYADI
HUBUNGAN ACHIEVEMENT EMOTIONS DAN SELF-REGULATION MAHASISWA DALAM MENGERJAKAN SKRIPSI LIDYA KEMALA SARI PANJAITAN SURYA CAHYADI ABSTRAK Pengerjaan skripsi adalah hal yang harus dilalui mahasiswa sebagai
PSIKOLOGI PENDIDIKAN
PSIKOLOGI PENDIDIKAN POKOK-POKOK BAHASAN Pengantar Gejala Jiwa dalam Pendidikan Perbedaan Individu dan Aplikasinya dalam pendidikan Masalah Belajar Masalah Pembelajaran Pengukuran dan Penilaian Diagnostik
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kehidupan sehari-hari manusia. Nevid (2005) berpendapat bahwa kecemasan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kecemasan adalah reaksi normal terhadap stressor yang membantu seorang individu untuk menghadapi situasi yang menuntut motivasi untuk mengatasinya, tetapi ketika
PENDAHULUAN. sebagai subjek yang menuntut ilmu di perguruan tinggi dituntut untuk mampu
PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Peraturan Republik Indonesia No. 30 tahun 1990 mahasiswa adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar di perguruan tinggi tertentu. Mahasiswa sebagai subjek yang menuntut
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Tardif (dalam Muhibbin Syah, 2003) yang dimaksud dengan cara
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Cara mengajar 2.1.1 Pengertian Cara mengajar Menurut Tardif (dalam Muhibbin Syah, 2003) yang dimaksud dengan cara mengajar adalah cara yang berisi prosedur baku untuk melaksanakan
BAB III METODE PENELITIAN. A. Identifikasi Variabel Penelitian. Adapun variabel-variabel dalam penelitian ini adalah:
BAB III METODE PENELITIAN A. Identifikasi Variabel Penelitian Adapun variabel-variabel dalam penelitian ini adalah: 1. Variabel tergantung (dependent) : Kecemasan ibu hamil hipertensi 2. Variabel bebas
MODUL PRAKTIKUM KOGNITIF CP3 CHAPTER : IMPLICIT & EXPLICIT MEMORY. Disusun Oleh : Tim Penyusun Laboratorium Psikologi Universitas Gunadarma
MODUL PRAKTIKUM KOGNITIF CP3 CHAPTER : IMPLICIT & EXPLICIT MEMORY Disusun Oleh : Tim Penyusun Laboratorium Psikologi Universitas Gunadarma LABORATORIUM PSIKOLOGI UNIVERSITAS GUNADARMA 2013 TIM PENYUSUN
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Peneliti menganggap bahwa penelitian tentang kecerdasan emosional pada mahasiswa yang bekerja sangat penting, karena siapa pun dapat mengalami emosi, tak terkecuali
Abstrak. Kata kunci : Anxiety, attentional bias, emotional stroop task
Abstrak Penelitian ini merupakan studi eksperimental untuk meneliti hubungan antara anxiety dengan attentional bias. Ketika individu mengalami kecemasan, terdapat kemungkinan ia menjadi fokus terhadap
PERILAKU AGRESI REMAJA LAKI-LAKI TAHUN YANG MENGALAMI ADIKSI DAN TIDAK MENGALAMI ADIKSI ONLINE GAME VIOLENCE MUHAMMAD IRHAM RAMADHAN ABSTRAK
PERILAKU AGRESI REMAJA LAKI-LAKI 12-20 TAHUN YANG MENGALAMI ADIKSI DAN TIDAK MENGALAMI ADIKSI ONLINE GAME VIOLENCE MUHAMMAD IRHAM RAMADHAN ABSTRAK Online game yang mengandung unsur kekerasan merupakan
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER PROGRAM STUDI PSIKOLOGI. Issue/Revisi : A0 Tanggal : 27 November 2017
Issue/Revisi : A0 Tanggal : 27 November 2017 Mata Kuliah : Psikologi Industri dan Organisasi Kode MK :PSY 208 Rumpun MK :Mata Kuliah Wajib Semester :4 Dosen Pengampu : Yulius Fransisco Angkawijaya (sks)
BAB I PENDAHULUAN. permasalahan, persoalan-persoalan dalam kehidupan ini akan selalu. pula menurut Siswanto (2007; 47), kurangnya kedewasaan dan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Manusia hidup selalu dipenuhi oleh kebutuhan dan keinginan. Seringkali kebutuhan dan keinginan tersebut tidak dapat terpenuhi dengan segera. Selain itu
MUSIK DAN KONSELING: SEBUAH INOVASI DENGAN MENGINTEGRASIKAN SENI KREATIF DALAM KONSELING
Prosiding Seminar Bimbingan dan Konseling Vol. 1, No. 1, 2017, hlm. 395-401 Tersedia Online di http://pasca.um.ac.id/conferences/index.php/snbk ISSN 2579-9908 MUSIK DAN KONSELING: SEBUAH INOVASI DENGAN
BAB I PENDAHULUAN. yang paling kompleks membutuhkan ingatan. Salah satu aktivitas manusia yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Aktivitas keseharian manusia dimulai dari yang paling sederhana sampai yang paling kompleks membutuhkan ingatan. Salah satu aktivitas manusia yang melibatkan
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah salah satu bidang kehidupan yang dirasakan penting
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah salah satu bidang kehidupan yang dirasakan penting oleh setiap individu. Melalui pendidikan setiap individu akan memperoleh ilmu pengetahuan
PRINSIP- PRINSIP TEORI BEBAN KOGNITIF DALAM MERANCANG MEDIA PEMBELAJARAN MATEMATIKA
PRINSIP- PRINSIP TEORI BEBAN KOGNITIF DALAM MERANCANG MEDIA PEMBELAJARAN MATEMATIKA Vivin Nur Afidah Guru SMP Negeri 1 Lumajang email: [email protected] Abstrak: Media pembelajaran merupakan salah
BAB II TINJAUAN TEORI
BAB II TINJAUAN TEORI A. Teori 1. Kecemasan Situasi yang mengancam atau yang dapat menimbulkan stres dapat menimbulkan kecemasan pada diri individu. Atkinson, dkk (1999, p.212) menjelaskan kecemasan merupakan
ABSTRAK. i Universitas Kristen Maranatha
ABSTRAK Seiring dengan berkembangnya teknologi dan ilmu pengetahuan, perubahan masyarakat, pemahaman cara belajar, serta kemajuan media komunikasi dan informasi memberikan tantangan tersendiri bagi kegiatan
D E F I N I S I. U r s a M a j o r s y P S I K O L O G I
D E F I N I S I U r s a M a j o r s y P S I K O L O G I APAKAH PSIKOLOGI? PENGERTIAN P S I K O L O G I Mendefinisikan Psikologi hal yang tidak mudah cakupan permasalahan yang luas dan adanya perbedaan
PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA RPP (Psikologi Belajar dan Pemecahan Masalah) SAP
No. Dokumen Revisi : 00 Tgl. berlaku Hal 1 dari 10 SAP Nama Mata Kuliah : Psikologi Belajar dan Pemecahan Masalah Kode Mata Kuliah : PSI8204 SKS : 2 (dua) Dosen :. Program Studi : PSIKOLOGI Prasyarat :
MENINGKATKAN PENGEMBANGAN ASPEK EMOSI DALAM PROSES PEMBELAJARAN ANAK
MENINGKATKAN PENGEMBANGAN ASPEK EMOSI DALAM PROSES PEMBELAJARAN ANAK Makalah Disusun Dalam Acara Seminar Nasional Pengembangan Ilmu Pendidikan FIP UNY Pada hari Sabtu Tanggal 03 Maret 2007 di Aula Registrasi
1. PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG
1. PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Selama berabad-abad, manusia telah menikmati musik. Penemuan berbagai artifak di berbagai belahan dunia mengindikasikan bahwa manusia telah menikmati musik sejak zaman
Bentuk-bentuk Gejala Jiwa dan Implikasinya dalam Pendidikan
Bentuk-bentuk Gejala Jiwa dan Implikasinya dalam Pendidikan Psikologi Pendidikan Pengindraan (sensasi) dan Persepsi O Pengindraan atau sensasi adalah proses masuknya stimulus ke dalam alat indra manusia
BAB I PENDAHULUAN. lancar dan berhasil tanpa mengalami kesulitan, namun di sisi lain tidak sedikit
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Guru dihadapkan pada karakterisktik siswa yang beraneka ragam dalam kegiatan pembelajaran. Ada siswa yang dapat menempuh kegiatan belajar secara lancar dan
Pengenalan Konsep Kognitif 1
Pengenalan Konsep Kognitif 1 Kognisi merupakan aktivitas mental pengetahuan, yang melibatkan perolehan, penyimpanan, pencarian, dan penggunaan. Menurut Matlin, kognisi membicarakan tentang proses-proses
BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1 Landaan Teori 2.1.1 Pengertian Belajar BAB II KAJIAN PUSTAKA Secara umum belajar dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku, akibat interaksi individu dengan lingkungan. Hamalik (2005:27) menyimpulkan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Tidak setiap anak atau remaja beruntung dalam menjalani hidupnya.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tidak setiap anak atau remaja beruntung dalam menjalani hidupnya. Beberapa anak dihadapkan pada pilihan bahwa anak harus berpisah dari keluarganya karena sesuatu
BAB I PENDAHULUAN. Setiap orang cenderung pernah merasakan kecemasan pada saat-saat
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap orang cenderung pernah merasakan kecemasan pada saat-saat tertentu, dan dengan tingkat yang berbeda-beda. Kecemasan merupakan salah satu bentuk emosi
BAB I PENDAHULUAN. Di dalam dunia pendidikan formal, para siswa diwajibkan untuk mengikuti
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG MASALAH Di dalam dunia pendidikan formal, para siswa diwajibkan untuk mengikuti berbagai mata pelajaran yang telah ditentukan dalam kurikulum sekolah. Ada mata pelajaran
BAB I PENDAHULUAN. Perguruan Tinggi merupakan salah satu jenjang yang penting dalam
BAB I PENDAHULUAN 1. 1. LATAR BELAKANG MASALAH Perguruan Tinggi merupakan salah satu jenjang yang penting dalam pendidikan. Perguruan Tinggi diadakan dengan tujuan untuk mempersiapkan peserta didik menjadi
BAB I PENDAHULUAN. Sebagaimana pernyataan yang diungkap oleh Spencer (1993) bahwa self. dalam hidup manusia membutuhkan kepercayaan diri, namun
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kepercayaan diri merupakan salah satu unsur kepribadian yang memegang peranan penting bagi kehidupan manusia. Banyak ahli mengakui bahwa kepercayaan diri merupakan
Deskripsi Mata Kuliah Psikologi Perkemb 1: Psikologi perkembangan menjabarkan tentang perkembangan manusia, meliputi perkembangan fisik, perkembangan
Deskripsi Mata Kuliah Psikologi Perkemb 1: Psikologi perkembangan menjabarkan tentang perkembangan manusia, meliputi perkembangan fisik, perkembangan kognitif, perkembangan sosial, dan perkembangan emosional
PENGARUH FREKUENSI PEMBERIAN TES TERHADAP MEMORI JANGKA PANJANG BACAAN PADA SISWA SMA. Santi Jayani 1 Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada
JURNAL PSIKOLOGI VOLUME 6, NO.2, AGUSTUS 2011: 430 441 PENGARUH FREKUENSI PEMBERIAN TES TERHADAP MEMORI JANGKA PANJANG BACAAN PADA SISWA SMA Santi Jayani 1 Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada Thomas
PENDAHULUAN (MATERI) Pengertian Psikologi Pendakatan dalam Psikologi: Sub disiplin Psikologi Bidang terapan Psikologi
PENDAHULUAN (MATERI) Pengertian Psikologi Pendakatan dalam Psikologi: Pendekatan Biologi-saraf Pendekatan Perilaku Pendekatan Kognitif Pendekatan Psikoanalitik Pendekatan Phenomenologi Sub disiplin Psikologi
Mata Kuliah Biopsychology Kode Mata Kuliah PSY 103 Program Studi Psikologi Penyusun Gita Soerjoatmodjo SKS 2 SKS Kelompok Mata Kuliah Mayor
Issue/Revisi A0 Tanggal Berlaku 21 September 2015 Untuk Tahun Akademik 2015/2016 Masa Berlaku 4 (empat) tahun Jumlah Halaman 6 (enam) halaman RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER Mata Kuliah Biopsychology Kode
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Dukungan Sosial 2.1.1 Pengertian Dukungan Sosial (Uchino, 2004 dalam Sarafino, 2011: 81). Berdasarkan definisi di atas, dijelaskan bahwa dukungan sosial adalah penerimaan seseorang
PENGARUH PREFERENSI MUSIK TERHADAP PERFORMA KERJA MENTAL
PENGARUH PREFERENSI MUSIK TERHADAP PERFORMA KERJA MENTAL Debora Anne Yang Aysia 1) dan Herry Christian Palit 2) 1) Program Studi Teknik Industri, Universitas Kristen Petra, Jl. Siwalankerto 121-131, Surabaya,
GAMBARAN COPING STRESS MAHASISWA BK DALAM MENGIKUTI PERKULIAHAN DI UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
13 GAMBARAN COPING STRESS MAHASISWA BK DALAM MENGIKUTI PERKULIAHAN DI UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA Anies Andriyati Devi 1 Dra.Retty Filiani 2 Dra.Wirda Hanim, M.Psi 3 Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk
BAB I PENDAHULUAN. semakin menyadari pentingnya mendapatkan pendidikan setinggi mungkin. Salah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan jaman yang semakin maju menuntut masyarakat untuk semakin menyadari pentingnya mendapatkan pendidikan setinggi mungkin. Salah satu tujuan seseorang
BAB III METODE PENELITIAN. (2013) adalah sebuah metode penelitian yang digunakan untuk mencari
BAB III METODE PENELITIAN A. Variabel dan Definisi Operasional 1. Variabel Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode penelitian eksperimen. Metode penelitian eksperimen menurut
PSIKOLOGI PENDIDIKAN. Sugihartono, M.Pd dan Tim
PSIKOLOGI PENDIDIKAN Oleh: Sugihartono, M.Pd dan Tim [email protected] PENGANTAR Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia, baik sebagai individu maupun dalam hubungannya
BAB I PENDAHULUAN. dikarenakan pengeluaran cairan lebih besar daripada pemasukan. (Almatsier, 2009). Dehidrasi dapat terjadi tanpa disadari di saat
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dehidrasi merupakan ketidakseimbangan cairan tubuh dikarenakan pengeluaran cairan lebih besar daripada pemasukan (Almatsier, 2009). Dehidrasi dapat terjadi tanpa disadari
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia Pemerintah telah menerapkan kurikulum pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan di dunia pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Menopause merupakan masa berhentinya menstruasi yang terjadi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menopause merupakan masa berhentinya menstruasi yang terjadi pada perempuan dengan rentang usia 48 sampai 55 tahun. Masa ini sangat kompleks bagi perempuan karena berkaitan
antara stimulus dan respon. Menurut Pavlov respon dari seseorang tergantung
Teori teori Behaviorisme 1. Classical Conditioning, Ivan Pavlov (1849 1936) Pavlov adalah seorang psikolog dari Rusia yang menemukan hubungan antara stimulus dan respon. Menurut Pavlov respon dari seseorang
PSIKOLOGI SOSIAL 1 MODUL PERKULIAHAN. Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh 05
MODUL PERKULIAHAN PSIKOLOGI SOSIAL 1 Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh Psikologi Psikologi 05 MK10230 Irfan Aulia, M.Psi. Psi Abstract Kognisi Sosial Pengertian, sumber kesalahan dalam
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Ela Nurlaela Sari, 2013
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Masa remaja merupakan masa dimana setiap individu mengalami perubahan yang drastis baik secara fisik, psikologis, maupun lingkup sosialnya dari anak usia
Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan dan Sasaran Belajar Cara Pengajaran. Minggu ke. Media Tugas Referensi. Tatap muka OHP Munandar, Miner
TIU : Agar mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan prinsip-prinsip psikologi dalam, sebagai dasar penanganan masalah-masalah melalui pendekatan psikologi 1 Penerapan psikologi da lam giatan industri dan
BAB I PENDAHULUAN. ditandai dengan perasaan tegang, pikiran khawatir dan. perubahan fisik seperti meningkatnya tekanan darah.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang masalah Kazdin (2000) dalam American Psychological Association mengatakan kecemasan merupakan emosi yang ditandai dengan perasaan tegang, pikiran khawatir dan perubahan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kecemasan dapat dialami oleh para siswa, terutama jika dalam
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kecemasan dapat dialami oleh para siswa, terutama jika dalam suatu sekolah terjadi proses belajar mengajar yang kurang menyenangkan. Salah satu bentuk kecemasan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pendidikan merupakan sarana untuk belajar bagi setiap individu dengan mengembangkan dan mengasah keterampilan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pendidikan merupakan sarana untuk belajar bagi setiap individu dengan mengembangkan dan mengasah keterampilan yang dimilikinya melalui Perguruan Tinggi. Perguruan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masa remaja merupakan masa peralihan dari usia anak-anak ke usia dewasa.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masa remaja merupakan masa peralihan dari usia anak-anak ke usia dewasa. Di masa ini, remaja mulai mengenal dan tertarik dengan lawan jenis sehingga remaja
BAB I PENDAHULUAN. siswa, serta memberikan sikap-sikap atau emosional yang seimbang.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan salah satu sarana pembelajaran anak usia belajar. Pembelajaran merupakan proses pengelolaan lingkungan seseorang yang dengan sengaja dilakukan
BAB 2 LANDASAN TEORI. Teori yang akan dibahas dalam bab ini adalah teori mengenai self-efficacy dan
BAB 2 LANDASAN TEORI Teori yang akan dibahas dalam bab ini adalah teori mengenai self-efficacy dan prestasi belajar. 2.1 Self-Efficacy 2.1.1 Definisi self-efficacy Bandura (1997) mendefinisikan self-efficacy
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Mahasiswa merupakan sebutan bagi seseorang yang sedang menempuh perguruan tinggi. Masa perguruan tinggi dengan masa SMA sangatlah berbeda, saat duduk dibangku perguruan
SATUAN ACARA PERKULIAHAN-FAKULTAS PSIKOLOGI- UNIVERSITAS GUNADARMA MATA KULIAH : PSIKOLOGI UMUM 2 * KODE MATAKULIAH / SKS = MKK / 3 SKS
TIU : Agar mahasiswa mampu memahami beberapa teori tentang sikap, motivasi, dan emosi, proses berpikir dan faktor-faktor yang mempengaruhi, serta abnormalitas (penyimpangan) perilaku Mingg u ke Pokok Bahasan
Hubungan antara Social Support dengan Self Esteem pada Andikpas di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Bandung
Prosiding Psikologi ISSN: 2460-6448 Hubungan antara Social Support dengan Self Esteem pada Andikpas di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Bandung 1 Haunan Nur Husnina, 2 Suci Nugraha 1,2 Fakultas
TEORI SOSIAL KOGNITIF BANDURA
TEORI SOSIAL KOGNITIF BANDURA Biografi Albert Bandura Tokoh ini dilahirkan pada tahun 1925 di Alberta, Canada. Albert menempuh pendidikan perguruan tinggi di bidang psikologi klinis di Universitas Iowa
BAB I PENDAHULUAN. berhubungan dengan bidang keilmuan yang diambilnya. (Djarwanto, 1990)
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Skripsi bertujuan agar mahasiswa mampu menyusun dan menulis suatu karya ilmiah, sesuai dengan bidang ilmunya. Mahasiswa yang mampu menulis skripsi dianggap
BAB V PEMBAHASAN. Bandura 1997 mengungkapkan bahwa self efficacy membuat individu untuk
BAB V PEMBAHASAN A. Analisis Data Univariat Usia responden merupakan salah satu karakteristik responden yang berkaitan dengan pengalaman dan daya berpikir seseorang, Semakin bertambah umur seseorang cenderung
Modul ke: Psikologi Sosial I PERSEPSI SOSIAL. Fakultas Psikologi. Intan Savitri,S.P., M.Si. Program Studi Psikologi
Modul ke: 06 Setiawati Fakultas Psikologi Psikologi Sosial I PERSEPSI SOSIAL Intan Savitri,S.P., M.Si. Program Studi Psikologi Kompetensi Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan pengertian, proses serta
HUBUNGAN ANTARA EFIKASI DIRI DENGAN KECEMASAN MENGHADAPI UJIAN SBMPTN NASKAH PUBLIKASI
HUBUNGAN ANTARA EFIKASI DIRI DENGAN KECEMASAN MENGHADAPI UJIAN SBMPTN NASKAH PUBLIKASI Diajukan Oleh : AFIFAH MIFTACHUL JANNAH F100110087 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2015 HUBUNGAN
Keterkaitan Antara Kognitif Dengan Regulasi Emosi
Keterkaitan Antara Kognitif Dengan Regulasi Emosi HANGGARA BUDI UTOMO Early Childhood Education Department, University of Nusantara PGRI Kediri, East Java Indonesia Student of Psychology Doctoral degree
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. yang sangat luar biasa, karena anak akan menjadi generasi penerus dalam keluarga.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Memiliki anak yang sehat dan memiliki tumbuh kembang yang baik merupakan dambaan bagi setiap pasangan suami istri yang telah menikah. Anak merupakan berkah yang sangat
BAB I PENDAHULUAN. hal yang tidak dipahami kemudian dilihat, diamati hingga membuat seseorang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan menjadi salah satu hal yang penting bagi setiap manusia. Melalui pendidikan seseorang dapat belajar mengenai banyak hal, mulai dari hal yang tidak
STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF
STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF A. Konsep Strategi Pembelajaran Kooperatif (SPK) Strategi Pembelajaran Kooperatif (SPK) merupakan rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok
Keefektifan Teknik Mnemonic untuk Meningkatkan Memori Jangka Panjang dalam Pembelajaran Biologi pada Siswa Kelas VIII SMP Al-Islam 1 Surakarta
Keefektifan Teknik Mnemonic untuk Meningkatkan Memori Jangka Panjang dalam Pembelajaran Biologi pada Siswa Kelas VIII SMP Al-Islam 1 Surakarta The Effectivity of Mnemonic Technique to Improve Long Term
PENELITIAN PENGARUH TERAPI MUSIK RELIGI TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERASI DI RUANG BEDAH RSUP. DR. M. DJAMIL PADANG TAHUN 2012
PENELITIAN PENGARUH TERAPI MUSIK RELIGI TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERASI DI RUANG BEDAH RSUP. DR. M. DJAMIL PADANG TAHUN 2012 Penelitian Keperawatan Jiwa SITI FATIMAH ZUCHRA BP. 1010324031
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bagi bangsa Indonesia, pendidikan adalah hal yang sangat penting. Cita-cita untuk
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bagi bangsa Indonesia, pendidikan adalah hal yang sangat penting. Cita-cita untuk menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang terdidik bahkan telah tercetus
BAB I PENDAHULUAN. mensosialisasikannya sejak Juli 2005 (www.dbeusaid.org/publications/index.cfm?fuseaction=throwpub&id..).
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam rangka memasuki era globalisasi, remaja sebagai generasi penerus bangsa diharapkan dapat meneruskan pembangunan di Indonesia. Upaya yang dilakukan pemerintah
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS)
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) KBPP36106 PSIKOLOGI SOSIAL Disusun oleh: Rina Mariana, S.Psi, M.M PROGRAM STUDI S1 PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS PUTRA INDONESIA YPTK LEMBAR PENGESAHAN Rencana
The Social Learning Theory of Julian B. Rotter
The Social Learning Theory of Julian B. Rotter Biography Julian Rotter Rotter lulus dari Brooklyn College pada tahun 1937 dan mengambil graduate work dalam psikologi di University of Iowa dan Indiana University;
