BAB 2 LANDASAN TEORI

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB 2 LANDASAN TEORI"

Transkripsi

1 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Sistem Parkir Sistem parkir di Indonesia dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu sistem parkir di badan jalan (on-street parking) dan sistem parkir di dalam pelataran parkir (off-street parking). Pada sistem di dalam pelataran parkir dapat dibagi lagi menjadi dua jenis yaitu gedung parkir (parking building) dan parkir di bawah tanah (basement parking)[1] Komponen Sebuah Sistem Parkir Pada umumnya komponen-komponen yang terdapat pada sebuah sistem parkir seperti di atas yaitu petugas parkir, PC (personal computer) yang ditempatkan pada pos masuk dan pos keluar. Petugas parkir pada pos masuk bertugas untuk memasukkan data berupa nomor plat mobil ke dalam database pada PC dan memberikan tiket pada costumer. Sedangkan petugas parkir pada pos keluar bertugas untuk mengambil tiket dan uang parkir dari costumer. Dengan berkembangnya teknologi, sistem parkir juga mengalami perkembangan dengan memanfaatkan teknologi didalamnya. Sistem parkir dengan menggunakan teknologi yang mana dapat juga disebut TechnoParking[2] menggunakan komponen seperti barcode 7

2 8 reader, barcode card, ticket dispenser dan portal. Pada sistem TechnoParking, petugas parkir memasukkan nomor plat kendaraan ke dalam database kemudian tiket di-print dengan menggunakan ticket dispenser dan costumer menggambil tiket tersebut. Pada saat keluar, customer memberikan tiket kepada petugas parkir dan selanjutnya tiket di-scan dengan menggunakan barcode reader dan portal diangkat Issue pada Sistem Parkir Pada sistem parkir telah ada seperti sistem TechnoParking mempunyai keunggulan yaitu: Mengurangi tingkat kebocoran uang parkir. Pemeliharaan sistem yang mudah dan murah. Laporan administrasi transaksi parkir yang jelas dan akurat. Menggunakan komponen-komponen yang mudah diaplikasikan (user friendly). Keamanan yang lebih terjamin. Disamping itu, sistem parkir di atas juga mempunyai kekurangan yaitu : Jika jumlah kendaraan yang parkir banyak maka membingungkan customer untuk mencari slot parkir yang kosong (belum ada informasi slot parkir yang kosong). Oleh karena itu, pada penelitian ini dibuat sebuah sistem yang dapat membantu memberikan informasi mengenai letak dan kondisi slot parkir kepada petugas pos masuk.

3 Teknologi untuk Sistem Parkir Pada saat ini, teknologi yang telah digunakan didalam sistem parkir diantaranya seperti: Smart Card RF ID Webcam Loop Sensor Sensor Ultrasonic Sensor Metal Detector Pada penelitian ini, Mapping Parking System menggunakan Sensor PING Ultrasonic Sensor PING Ultrasonic Dalam Mapping Parking Sistem untuk melakukan pendeteksian mobil pada slot parkir digunakan PING))) TM Ultrasonic Distance Sensor(#28015). Sensor PING Ultrasonic yang digunakan adalah sensor dari perusahaan PARALLAX yang memiliki karakteristik sebagai berikut[3]: 1. Sumber catu daya yang dibutuhkan adalah 5 volt dan sumber arus 30 ma (minimum) dan 35 ma (maksimum). 2. Jarak objek yang dideteksi adalah 2cm (minimum) sampai dengan 300cm (maksimum). 3. Mempunyai 3 pin interface (power, ground, signal I/O atau SIG). 4. Input trigger-nya merupakan pulsa TTL positive, 2 µs min, 5 µs typ. 5. Pulsa Echo-nya merupakan pulsa TTL positive, 115 µs to 18.5 µs.

4 10 6. Hold off Echo-nya merupakan 350 µs dari kondisi falling dari pulsa trigger. 7. Frekuensi burst-nya 40 KHz (diatas kemampuan manusia untuk mendengar) untuk 200 µs. Skematik dari Sensor PING Ultrasonic adalah sebagai berikut : Gambar 2.1 Skematik Sensor PING Ultrasonic Untuk dapat membuat Sensor PING Ultrasonic melakukan pendeteksian jarak suatu objek maka dibutuhkan sinyal pulsa trigger selama 2 µs kemudian Sensor PING Ultrasonic akan memancarkan gelombang ultrasonik. Gelombang ultrasonik ini melalui udara dengan kecepatan kurang lebih 344 meter per detik, mengenai objek dan memantul kembali ke Sensor PING Ultrasonic. Sensor PING Ultrasonic akan mengeluarkan pulsa high pada pin SIG setelah memancarkan gelombang ultrasonik dan setelah terdeteksi sinyal pantul atau Echo maka Sensor PING Ultrasonic akan membuat pin SIG low. Lebar pulsa high ini sesuai dengan lama waktu gelombang ultrasonik untuk 2 kali jarak terhadap objek, sehingga dapat dibuat persamaan sebagai berikut ini : lebar pulsa waktu tempuh x 344 m/s Jarak objek = Pers. 1 2

5 11 Gambar berikut adalah cara kerja Sensor PING Ultrasonic: Gambar 2.2 Cara kerja Sensor PING Ultrasonic Gelombang Ultrasonik Gelombang ultrasonik adalah gelombang yang memiliki frekuensi diatas 20 KHz dan diluar jangkauan pendengaran manusia[4]. Sensor Ultrasonik bekerja berdasarkan prinsip pantulan gelombang suara, dimana sensor ini menghasilkan gelombang suara yang kemudian menangkapnya kembali dengan perbedaan waktu sebagai dasar penginderaanya. Perbedaan waktu antara gelombang suara yang dipancarkan dengan ditangkapnya kembali gelombang suara tersebut merupakan representasi jarak. Kecepatan rambat gelombang ultrasonik dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain adalah suhu, tekanan, kelembaban dan sinyal radio. Hal yang harus diperhatikan ketika menggunakan sensor ultrasonik terhadap suatu objek yaitu sebagai berikut : Bentuk dan ukuran objek Objek dengan ukuran yang lebih besar akan memantulkan lebih banyak gelombang dibandingkan dengan objek yang

6 12 berukuran kecil sehingga memberikan hasil yang lebih presisi. Bentuk suatu objek mempengaruhi banyaknya pantulan yang dipantulkan objek. Objek dengan bentuk bulat akan memantulkan gelombang ke segala arah sehingga pantulan yang ditangkap menjadi lemah. Objek dengan bentuk datar akan memantulkan gelombang dengan lebih baik. Jenis material Objek padat akan memantulkan gelombang lebih baik dibandingkan dengan objek cair. Objek padat yang terbuat dari besi atau baja akan memberikan pantulan (echo) yang lebih baik dibandingkan dengan objek padat terbuat dari kayu atau gabus. Hal ini terjadi karena objek padat yang terbuat dari kayu atau gabus sedikit-banyak akan menyerap gelombang yang mengenainya sebelum dipantulkan kembali. Pola permukaan Objek dengan permukaan datar, halus dan tegak lurus terhadap sinyal ultrasonik yang dipancarkan sensor akan memberikan pantulan (echo) yang lebih kuat daripada objek dengan permukaan tidak rata.

7 Microcontroller AT89S52 Microcontroller AT89S52 adalah sebuah microcontroller 8 bit yang merupakan keluarga dari microcontroller AT89S51 tetapi dengan kapasitas RAM dan ROM yang lebih besar dan juga memiliki timer tambahan[5]. Gambar 2.3 Block Diagram AT89S52

8 Fitur Atmel AT89S52 Microcontroller Fitur yang disediakan oleh AT89S52 yaitu sebagai berikut ini[5]: 1. 8 bit microcontroller dengan In-System Programmable (ISP) flash memory. 2. Single bit logic. 3. Pengalamatan program memory (ROM) sebesar 64 K. 4. Pengalamatan data memory (RAM) sebesar 64 K. 5. On chip ROM, dengan ukuran 8KB. 6. On chip RAM, dengan ukuran 256 Byte biderectional I/O (4 port) buah 16 bit timer/counter. 9. Saluran full duplex UART buah sumber interrupt Arsitektur Microcontroller AT89S52 Microcontroller AT89S52 di rancang dengan logika statis untuk operasi dengan frekuensi menurun sampai nol dan mendukung 2 mode piranti lunak hemat daya yang dapat dipilih. Mode idle menghentikan CPU tetapi memperbolehkan RAM, timer/counter, port serial dan sistem interrupt untuk tetap aktif. Mode power down menyimpan isi dari RAM tetapi menghentikan oscilator, men-disable fungsi chip lainnya sampai reset perangkat keras selanjutnya.

9 15 Gambar 2.4 Arsitektur Microcontroller AT89S Konfigurasi Pin-pin Microcontroller AT89S52 Gambar 2.5 Konfigurasi Pin-pin Microcontroller AT89S52

10 16 Port 0 adalah port input/output bi-directional open drain 8 bit, ketika logika 1 dituliskan pada pin pada port 0, pin dapat digunakan sebagai masukkan hambatan tinggi, selain itu port 0 juga dapat dikonfigurasikan sebagai jalur data/alamat multiplexed order selama akses memori data dan program. Dalam mode ini port 0 memiliki pull-up internal. Port 0 juga menerima bytes kode selama pemrograman flash dan keluaran dari bytes kode selama verifikasi program. Selama verifikasi berlangsung dibutuhkan pull-up external. Port 1 adalah port input/output bi-directional 8 bit dengan pull-up internal. Buffer keluaran port 1 dapat menangani 4 masukkan TTL, ketika logika 1 dituliskan pada pin port 1, pin-pin tersebut dinaikkan menjadi high oleh pull-up internal sehingga dapat digunakan sebagai masukkan. Pin port 1 yang diturunkan secara eksternal menjadi low akan menimbulkan arus (I IL ) dikarenakan oleh pull-up internal. Pada port 1 juga menerima alamat bytes low order selama pemrograman dan verifikasi. Disamping itu, P1.0 dan P1.1 dapat dikonfigurasi menjadi timer/counter 2 masukkan penghitung eksternal (P1.0/T2) dan timer/counter 2 masukkan trigger (P1.1/T2EX). Port 2 adalah port input/output bi-directional 8 bit dengan pull-up internal. Buffer keluaran pada port 2 dapat menangani 4 input TTL, ketika logika 1 dituliskan pada pin port 2, pin-pin tersebut akan dinaikkan menjadi high oleh pull-up internal dan dapat digunakan sebagai masukkan. Port 2 mengeluarkan alamat byte high order selama pengambilan dari memori program eksternal yang menggunakan alamat

11 17 16 bit. Port 2 juga menerima bit alamat high order dan beberapa sinyal control selama pemrograman flash dan verifikasi. Port 3 adalah port input/output bi-directional 8 bit dengan pull-up internal. Buffer keluaran pada port 3 dapat menangani 4 input TTL, ketika logika 1 dituliskan pada pin port 3, pin-pin tersebut akan dinaikkan menjadi high oleh pull-up internal dan dapat digunakan sebagai masukkan. Pin ALE (Address Latch Enable) adalah pulse keluaran untuk latching low byte dari suatu alamat selama akses ke memori eksternal. Pin ini juga memberikan masukkan pulse program atau PROG selama pemrograman flash. Dalam pengoperasian normal, ALE mengeluarkan pulse secara tetap 1/6 dari nilai frekuensi oscilator dan dapat digunakan untuk tujuan clocking atau timing external. Satu pulse ALE dilewati setiap akses ke memori data eksternal. Pin Reset (RST) adalah masukkan untuk reset. Logika high pada pin ini terjadi selama 2 siklus instruksi oscilator bekerja ketika akan mereset device. Pin PSEN (Program Store Enable) adalah strobe baca ke memori program eksternal. Ketika microcontroller AT89S52 mengeksekusi kode dari memori program eksternal, PSEN diaktifkan 2 kali setiap siklus instruksi, kecuali pengaktifan 2 PSEN dilewati selama masing-masing akses ke memori data eksternal. Pin EA (External Access Enable) harus disambungkan ke GND (ground) dengan tujuan untuk meng-enable device agar dapat mengambil

12 18 kode dari memori program eksternal yang berlokasi dari 0000h sampai dengan FFFFh. Pin EA harus dihubungkan ke VCC untuk dapat melakukan eksekusi program internal. Pin ini juga menerima tegangan enable pemrograman sebesar 12 Volt (Vpp) selama pemrograman flash ketika pemrograman 12 Volt dipilih. Pin XTAL 1 adalah masukkan ke amplifier dengan inverting oscilator dan masukkan ke clock internal pada rangkaian operasi. Pin XTAL 2 adalah keluaran dari amplifier dengan inverting oscilator Organisasi Memori Microcontroller AT89S52 Microcontroller AT89S52 mengimplementasikan 256 byte dari onchip RAM. Sebagian dari memori tersebut yaitu sebesar 128 byte bagian atas mengerjakan ruang alamat paralel ke Special Function Register (SFR) sehingga 128 byte bagian atas memiliki alamat yang sama dengan ruang SFR tetapi secara fisik terpisah dari ruang SFR. Jika sebuah instruksi mengakses lokasi internal di atas alamat 7Fh, mode alamat yang digunakan dalam instruksi menunjukkan apakah CPU mengakses 128 byte bagian atas dari RAM atau ruang SFR. Ruang SFR di akses dengan instruksi yang menggunakan mode pengalamatan direct adderssing.

13 Timer pada Microcontroller AT89S52 Pada microcontroller AT89S52 terdapat tiga buah timer yakni timer 0, timer 1 dan timer 2. Kegunaan dari timer pada microcontroller AT89S52 yaitu sebagai berikut : Menghitung dan menyimpan nilai dari waktu diantara events. Menghitung jumlah dari events itu sendiri. Membangkitkan bandrates untuk port serial. Timer 0 dan timer 1 pada microcontroller AT89S52 memiliki fungsi yang sama secara esensial. Kedua timer tersebut terbagi dua SFR yakni TMOD dan TCON yang mengontrol timer. Berikut merupakan SFR yang berhubungan dengan timer pada microcontroller AT89S52: Table 2.1. SFR pada Timer SFR Deskripsi Address SFR TH0 Timer 0 high 8Ch TL0 Timer 0 low 8Ah TH1 Timer 1 high 8Dh TL1 Timer 1 low 8Bh TH2 Timer 2 high 8Eh TL2 Timer 2 low 8Fh TCON Kontrol timer 88h T2CON Kontrol timer 2 0C8h TMOD Mode timer 0C9h T2MOD Mode timer 2 89h Timer 2 merupakan timer 16 bit yang dapat beroperasi seperti penghitung events. Jenis operasi dipilih berdasarkan bit C/T2 dalam SFR T2CON. Timer 2 memiliki tiga mode operasi yakni capture, auto reload dan baudrate generator. Timer 2 terdiri dari dua buah 8 bit register yaitu TH2 dan TL2.

14 SFR TMOD SFR TMOD pada microcontroller AT89S52 digunakan untuk mengontrol mode timer (timer 0 dan timer 1) yang akan digunakan. Masing-masing bit dari SFR digunakan untuk memberikan informasi spesifik kepada microcontroller mengenai cara menjalankan timer. Terdapat 4 bit high (bit 4 s.d. bit 7) terhubung dengan timer 1 sedangkan 4 bit low (bit 0 s.d. bit 3) melakukan fungsi yang sama tetapi hanya digunakan untuk timer 0. Berikut merupakan alternatif pemilihan mode operasi: Table 2.2. Alternatif Mode Operasi Timer 0 dan Timer 1 TxM0 TxM1 Mode Timer Deskripsi Mode Timer 13 bit Timer 16 bit Timer 8 bit auto reload Mode timer split SFR TCON SFR TCON untuk timer 0 dan timer 1 terdapat pada alamat 88h sedangkan SFR T2CON untuk timer 2 terdapat pada alamat 0C8h. SFR TCON dapat dialamatkan secara bit. SFR TCON digunakan untuk mengkonfigurasi dan mengubah ketiga timer pada microcontroller AT89S52 untuk beroperasi. SFR mengendalikan apakah ketiga timer berjalan atau berhenti dan terdapat flag yang bertujuan untuk mengindikasikan bahwa masing-masing timer telah overflow. Berikut ini merupakan

15 21 timer control untuk masing-masing timer pada microcontroller AT89S52: Table 2.3. TCON pada Microcontroller AT89S52 Bit Nama Alamat Bit Fungsi Timer 7 TF1 8Fh Timer 1 overflow 1 6 TR1 8Eh Timer 1 dijalankan 1 5 TF0 8Dh Timer 0 overflow 0 4 TR0 8Ch Timer 0 dijalankan Komunikasi Serial Microcontroller AT89S52 Microcontroller AT89S52 memiliki kemampuan untuk berkomunikasi secara serial melalui pin RXD dan TXD. Satu hal yang perlu diingat tingkat tegangan komunikasi kedua pin serial menggunakan tingkat tegangan TTL. Pada perinsipnya, komunikasi serial adalah komunikasi dengan transmisi data yang dilakukan per-bit. interface serial hanya membutuhkan jalur yang sedikit (umumnya hanya 2 jalur) sehingga lebih menghemat pin jika dibandingkan dengan interface parallel. Komunikasi serial ada 2 macam, asynchronous serial dan synchonous serial. Synchonous serial adalah komunikasi serial dimana hanya ada satu pihak (penerima atau pengirim) yang menghasilkan clock dan mengirimkan clock tersebut bersama-sama dengan data. Contoh penggunaan synchonous serial terdapat pada transmisi data keyboard. Asynchonous serial adalah komunikasi dimana kedua pihak (pengirim atau penerima) masing-masing menghasilkan clock namun hanya data yang ditransmisikan, tanpa clock. Agar data yang dikirim

16 22 dengan data yang diterima, maka frekuensi clock pengirim dan penerima harus sama dan harus terdapat sinkronisasi. Setelah adanya sinkronisasi, pengirim akan mengirimkan datanya sesuai dengan frekuensi clock penerima. Contoh penggunaan asynchonous serial adalah pada universal asynchonous recevier transmitter (UART) yang digunakan pada serial port (COM) komputer. Microcontroller AT89S52 mendukung komunikasi serial secara asinkron, bahkan dari empat serial mode yang dimiliki microcontroller AT89S52 kompatibel dengan UART. Dalam komunikasi serial, perlu diperhatikan kecepatan transfer data atau disebut juga dengan baud rate. Untuk membangkitkan baud rate dapat digunakan timer 1 dengan mode 8 bit auto-reload maupun timer 2 dengan mode 16 bit auto-reload. Secara singkat komunikasi serial pada Microcontroller dapat diwakili dengan blok diagram sebagai berikut : Gambar 2.6 Blok Diagram Komunikasi Serial Microcontroller AT89S52

17 23 SCON atau yang lebih dikenal dengan Serial Condition merupakan kondisi logic dari bit yang digunakan dalam komunikasi serial dan dapat direperesentasikan sebagai berikut : Tabel 2.4. Struktur dari SCON (Serial Condition) SM0 SM1 SM2 REN TB8 RB8 TI RI Mode Operasi Microcontroller AT89S52 Microcontroller AT89S52 memiliki 4 mode komunikasi serial. Mode 0 berupa synchonous serial (shift register), sedangkan 3 mode yang laian berupa asynchonous serial (UART). Pada semua mode, pengiriman dilakukan jika ada intsruksi yang mengisi nilai register SBUF. Sedangkan pada saat penerimaan, data yang diterima akan disimpan pada register SBUF. Secara ringkas keempat mode kerja tersebut bisa dibedakan sebagai berikut: Mode 0, Mode ini bekerja secara sinkron, data serial dikirim dan diterima melalui kaki P3.0 (RxD), dan kaki P3.1 (TxD) dipakai untuk menyalurkan clock pendorong data serial yang dibangkitkan oleh microcontroller. Data dikirim atau diterima 8 bit sekaligus, dimulai dari bit yang bobotnya paling kecil (bit ke-0) dan diakhiri dengan bit yang bobotnya paling besar (bit ke-7). Kecepatan pengiriman data (baudrate) adalah sebagai berikut : 1 Baudrate = f osilator _ kristal Pers.2 12

18 24 Mode 1, Mode ini dan mode-mode berikutnya bekerja secara asinkron, data dikirim melalui kaki P3.1 (TxD), dan diterima melalui kaki P3.0 (RxD). Pada mode 1 data dikirim atau diterima 10 bit sekaligus, diawali dengan 1 bit start, disusul dengan 8 bit data yang di mulai dari bit yang bobotnya paling kecil (bit ke-0), diakhiri dengan 1 bit stop. Pada microcontroller AT89351 yang berfungsi sebagai penerima bit stop ditampung pada RB8 dalam register SCON. Kecepatan pengiriman data (baudrate) bisa diatur sebagai berikut : Using Timer 1 k FOSC Baud Rate = Pers (256 TH1) k FOSC TH1 = 256 Pers Baud Rate Nilai k tergantung pada bit SMOD (Register PCON) If SMOD = 0, then K = 1 If SMOD = 1, then K = 2 Double BaudRate Using Timer 2 o Jika Timer 2 diclock dari pin T2 (P1.0) Timer 2 overflow Rate Baud Rate = Pers.5 16 o Jika Timer 2 diclock dari internal Baud Fosc. Rate = Pers.6 32*(65536 ( RCAP2H, RCAP2L)) Fosc. RCAP2H, RCAP2L = Pers.7 32* Baud Rate

19 25 mode inilah yang umum dikenal sebagai UART (Universal Asynchronous Reciever/Transmitter) Mode 2, data dikirim/diterima 11 bit sekaligus, diawali dengan 1 bit start, disusul 8 bit data yang dimulai dari bit yang bobotnya paling kecil (bit 0), kemudian bit ke 9 yang bisa diatur lebih lanjut, diakhiri dengan 1 bit stop. Pada microcontroller AT89S51 yang berfungsi sebagai pengirim, bit 9 tersebut berasal dari bit TB8 dalam register SCON. Pada microcontroller AT89S52 yang berfungsi sebagai penerima, bit 9 ditampung pada bit RB8 dalam register SCON, sedangkan bit stop diabaikan tidak ditampung. Kecepatan pengiriman data (baudrate) adalah sebagai berikut : Jika menggunakan SMOD = 1, maka persamaannya adalah 1 Baudrate = f osilator _ kristal Pers.8 32 Jika menggunakan SMOD = 0, maka persamaannya adalah : 1 Baudrate = f osilator _ kristal Pers.9 64 Mode 3, Mode ini sama dengan mode 2, hanya saja kecepatan pengiriman data (baudrate) bisa diatur sesuai dengan keperluan, seperti halnya mode 1. Pada mode asinkron (mode 1, mode 2, mode 3), port serial microcontroller AT89S52 bekerja secara full duplex, artinya pada saat yang sama port serial ini bisa mengirim data sekaligus menerima data.

20 26 Register SBUF merupakan register penghubung port serial. Dalam keempat mode diatas, semua instruksi yang mengakibatkan perubahan isi SBUF akan mengakibatkan port serial mengirimkan data keluar dari microcontroller AT89S52. Agar port serial bisa menerima data, bit dalam register SCON harus bernilai 1. Pada mode 0, proses penerimaan data dimulai dengan intsruksi CLR RI, sedangkan dalam mode lainnya proses penerimaan data diawali oleh bit start yang bernilai 0. Data yang diterima port serial dari luar microcontroller AT89S52 diambil dengan instruksi MOV A,SBUF. Mengambil data dari SBUF dan menyimpan data ke SBUF sesungguhnya bekerja pada 2 register yang berlainan meskipun nama register-nya sama-sama SBUF. Mode komunikasi serial pada microcontroller AT89S52 dapat dihadirkan dalam bentuk tabel dibawah ini: Table 2.5. Mode Komunikasi Serial AT89S52 SM0 SM1 Mode Description BaudRate SHIFT REGISTER Fosc./ Bit UART Variable Bit UART F /64 OR F /32 osc. osc Bit UART Variable 2.4. Komunikasi RS-485 Komunikasi RS-485 dikembangkan ditahun 1983 dimana dengan teknik ini, komunikasi data dapat dilakukan pada jarak cukup jauh yaitu 1,2 Km. Selain dapat digunakan untuk jarak jauh teknik ini juga dapat digunakan untuk

21 27 menghubungkan 32 unit beban sekaligus hanya dengan menggunakan 2 (dua) buah kabel saja tanpa memerlukan referensi ground yang sama antara unit yang satu dengan unit lainnya[6] Arsitektur RS-485 Secara umum, RS-485 digunakan sebagai transceiver pada setiap titik dalam jaringan yang bekerja pada metode bi-directional half duplex, yaitu hanya menggunakan dua buah kabel pada jaringan multidrop. Aliran data dapat terjadi dua arah tetapi bergantian hanya terjadi satu aliran setiap saatnya. Agar kinerja jaringan dapat meningkat dengan jelas aliran data full duplex pada mode bi-directional, maka metode hubungan RS 485 harus menggunakan empat buah kabel jaringan. Berikut merupakan penyusun dari arsitektur dari RS-485: Balanced Line Driver Transmisi berimbang memungkinkan sepasang jalur sinyal mengirimkan suatu sinyal dengan kondisi logika tergantung pada jalur mana yang menghasilkan beda tegangan potensial beda tegangan potensial yang lebih besar dengan perbedaan tegangan antara +2 ~ +6 V yang terdapat pada terminal balanced line driver yang diaktifkan melalui sinyal Enable. Driver ini terhubung dengan ground, tetapi data biner tidak dapat dipengaruhi oleh sinyal ground tersebut.

22 Balanced Line Receiver Beda tegangan antara dua jalur sinyal masukan (A dan B) minimum sebesar ± 200 mv untuk menentukan kondisi logika dapat dideteksi oleh balanced line receiver dengan tegangan yang dapat diperbolehkan untuk atenuasi pada jalur transmisi berkisar 200mV ~ 6V Karakteristik RS-485 Pada tabel berikut akan menunjukkan perbandingan antara standar komunikasi RS 232 dan RS 485. Tabel 2.6. Perbandingan antara RS 232 dan RS 485 Karakteristik RS 232 RS 485 Mode operasi Single ended Differensial Metode hubungan Point to point Multidrop Aplikasi 1 transmitter 32 transmitter 1 receiver 32 receiver Modus komunikasi Full duplex Half duplex Transisi Tak seimbang Seimbang Data rate maksimal 20 Kbps pada 15 m 10 Mbps pada 12 m Jarak maksimal 15 m saat 20 Kbps 1220 m saat 100 Kbps Rentang data 0 +5V ~ +14 V Beda 2 V~ 6 V (A<B) Rentang data 1-5V ~ -14 V Beda 2 V ~ 6 V (A>B) Tegangan keluaran driver ( V ) ± 12-7 ~ +12 Tegangan masukan receiver (mv) Tahanan masukan receiver (ohm) ± 3000 ± 200 3K ~7K 12K

23 Komponen RS Saluran Komunikasi Multidrop Saluran komunikasi mutidrop menggunakan sepasang kabel yang panjangnya tidak lebih dari 4000 feet, pada kedua ujung saluran masing masing di pasang resistor 120 Ohm yang menghubungkan kedua kabel, seperti dilihat di rangkaian Gambar 3.8. Resistor tersebut dimaksud untuk mengurangi terjadinya gelombang pantul dalam saluran, yang sering terjadi pada transmisi dengan kecepatan tinggi. Selanjutnya pada saluran tersebut bias di pasangkan sebanyak banyaknya 32 chip MAX485 Multidrop RS-485 Tranceiver, pin A (pin 6) dari masing masing IC harus di hubungkan pada kabel pembentuk saluran yang sama, dan pin B (pin 7) dihubungkan ke kabel yang lain. Karena saluran dipakai bersama oleh banyak transceiver, agar Output Line Generator dari masing masing transceiver tidak berbenturan, dalam rangkaian saluran komunikasi multidrop ditentukan semua Output Line Generator harus dalam keadaan non-aktif (GE = 0, mengambang high impedance state), kecuali Line Generator dari transceiver yang berfungsi sebagai induk (Master) yang boleh aktif (GE = 1). Saat beroperasi Master secara bergilir menghubungi Slave, setelah itu Master menonaktifkan Line Generatornya, Slave yang terpanggil akan mengaktifkan Line Generatornya dan

24 30 mengirimkan informasi ke saluran kemudian Slave tersebut menonaktifkan kembali Line Generatornya lalu Master mengaktifkan Line Generator untuk menghubungi Slave yang lain. Dengan demikian Master berfungsi untuk mengendalikan saluran, dan komunikasi yang terjadi di saluran adalah komunikasi half-duple, yakni komunikasi dua arah secara bergantian. Pada saat pergantian aktivitas Line Generator Master dan Slave, suatu saat bisa terjadi semua Line Generator tidak aktif secara bersamaan, akibatnya saluran menjadi mengambang dan keadaan logika dari saluran tidak menentu. Untuk mencegah terjadinya hal tersebut, pada saluran ditambahkan 2 buah resistor masing masing bernilai 82 Ohm. Resistor yang terhubung ke pin A di hubungkan ke +5 Volt dan resistor yang terhubung ke B dihubungkan ke ground. Dengan cara tersebut jika semua Line Generator tidak aktif, maka bisa dipastikan saluaran dalam keadaan 1. Meskipun kerja dari Line Receiver tidak memerlukan ground, tapi untuk menjamin agar pertukaran sinyal antar transceiver bisa terjadi dengan baik, biasanya di samping sepasang kabel saluran multidrop ditambah lagi seutas kabel ground. Mengingat masing masing transceiver letaknya bisa berjauhan satu sama lain dan terhubung dengan satu daya dari

25 31 instalasi jala-jala listrik yang berlainan sehingga antara transceiver satu dengan yang lainnya bisa mempunyai selisih potensial listrik yang cukup besar, untuk mencegah aliran arus besar yang bisa merusak transceiver, ground transceiver biasanya tidak dihubungkan langsung ke kabel ground, tapi dipasang resistor sebesar Ohm. Aplikasi jaringan multidrop yang sebenarnya dapat diimplementasikan oleh RS 485, dengan kemampuan dapat mengontrol hingga 32 transceiver (transmitter/driver and receiver) pada saat bus transmisi berimbang untuk tegangan differensial common mode (-7 V ~ +12 V) dengan baudrate hingga 100 Kbps dan jangkauan mencapai 4000 feet (1220m). Penggunaan RS 485 pada jaringan komunikasi multidrop adalah dengan menghubungkan satu PC sebagai server yang merupakan pusat pengatur jalannya komunikasi dan pemrosesan data, dengan beberapa peralatan lain sebagai slave yang masing masing dapat dialamati secara unik. Seluruh device dalam jaringan multidrop terintegrasi dengan penggunaan dua kabel (A dan B) secara bersama sama Terminasi pada RS 485 Sebagian besar jalur RS-485 membutuhkan transmisi akibat dari transisi yang cepat, data rate yang tinggi atau kabel yang panjang. Tujuan dari terminasi ini selain untuk

26 32 menghindari fenomena saluran transmisi, seperti reflection, digunakan juga untuk menyamakan impedansi dari saluran transmisi dan impedansi dari persambungan (node). Jika impedansinya tidak sama, sinyal yang ditransmisikan tidak sepenuhnya masuk ke receiver, dan ada bagian yang ada di refleksikan kembali kesaluran transmisi. Dengan menyamakan impedansi ini, maka efek reflection akan hilang. Kedua ujung dari kabel utama membutuhkan terminasi, berupa terminating resistor. Yang harus diperhatikan, terminating resistor harus ditempatkan di kedua ujung dari kabel, tidak pada tiap node. Besarnya resistor yang digunakan, harus sesuai dengan karakteristik impedansi dari media transmisi yang digunakan, umumnya antara 100Ω sampai 120Ω. Terdapat beberapa pilihan untuk melakukan terminasi pada RS 485, antara lain adalah sebagai berikut: No Termination No termination digunakan apabila kabel yang digunakan pendek (10m) dan data rate yang digunakan rendah 100 Kbps. Pada No termination kualitas sinyalnya terbatas. Parallel Terminasi parallel merupakan terminasi yang paling populer, yaitu dengan menghubungkan sebuah resistor secara parallel diantara pasangan konduktor yang berada

27 33 pada setiap ujung. Nilai dari resistor harus sama dengan karakteristik impedansi dari kabel dalam mode diferensial. Jika terminasi dengan cara ini dilakukan maka reflection tidak akan terjadi dan kemurnian dari sinyal yang digunakan sangat baik. RC Termination Terminasi RC digunakan untuk meminimalkan disipasi daya. Sebagai ganti dari sebuah resistor, digunakan sebuah resistor yang diserikan dengan sebuah kapasitor. Kapasitor akan tampak seperti hubungan singkat selama masa transisi, dan resistor akan menterminasi jalur tersebut. Saat kapasitor sedang mengisi (charging), kapasitor tersebut akan memblok arus DC loop dan menghadirkan load yang ringan terhadap jalur. Efek dari low pass membatasi RC termination untuk data rate yang rendah. Selain itu, kualitas sinyalnya juga terbatas. Fail safe Bias Fail safe bias merupakan pilihan terminasi yang paling populer dan terbaik. Ketika jaringan RS 485 dalam keadaan idle, semua RS-485 berada dalam kondisi receive. Dalam kondisi ini, driver tidak aktif, melainkan dalam kondisi tristate, maka kondisi dari jaringan juga tidak diketahui.

28 34 Kondisi tegangan sebesar 200mV antara B dan A merupakan kondisi yang aman untuk jaringan RS-485, sebab kondisi output dari receiver akan sama dengan kondisi sebelumnya. Untuk menjaga keadaan ini, dipasang hambatan bias (bias resistor) yang berupa resistor pull up dan resistor pull down. Perlu diperhatikan, untuk konfigurasi four wire multidrop network, hambatan bias harus dipasang di sisi receiver Stub pada RS 485 Menghubungkan sebuah node dengan kabel akan menimbulkan stub (sambungan pada kabel). oleh karena itu, setiap node akan mempunyai stub. Meminimalkan panjang dari stub akan meminimalkan masalah pada saluran transmisi. Standar dari waktu transisi sekitar 10nSec, maka stub harus lebih pendek dari nilai tersebut dan membuat stub sependek mungkin. Stub yang timbul ada 2 titik, yang pertama adalah antara hambatan terminasi dan node peralatan dibelakangnya, sedangkan yang kedua diantara kabel utama dan node yang berada diantara kabel. Stub yang panjang akan menyebabkan sebuah sinyal yang melalui stub tersebut akan terpantul kepada kabel utama setelah mengenai impedansi input dari peralatan

29 35 yang berada di ujung dari stub tersebut. Efek dari jaringan ini adalah penurunan dari kualitas sinyal Komunikasi RS-232 RS-232 merupakan standar komunikasi single ended[7], yang dikeluarkan oleh EIA sekitar tahun Sinyal RS-232 menggunakan transmisi tak berimbang (unbalanced transmissiion) yang mempunyai karakteristik, untuk tegangan diatas +3 Volt diterjemahkan sebagai logika low sedangkan untuk yang lebih kecil dari -3 Volt diterjemahkan sebagai logika high. Umumnya tegangan yang dipakai komputer pada port serial adalah +12 Volt (low) dan -12 Volt (high). RS-232 mempunyai kemampuan efektif pada single rate (kecepatan transfer) maksimum 20 Kbps dan jarak media transmisi maksimum 15 meter Tampilan pada GUI Tampilan yang digunakan dibuat dengan menggunakan program Microsoft Visual Basic 6.0 dimana tampilan yang diberikan sederhana, mudah dimengerti dan jelas bagi petugas parkir pos masuk. Tampilan yang dibuat mengacu pada 8 aturan emas (8 Golden Rule) mengenai perancangan display yang baik[8]. 8 aturan tersebut yaitu: 1. Strive for consistency 2. Enable frequent users to use shortcuts 3. Offer informative feedback 4. Design dialog to yield closure 5. Offer simple error handling

30 36 6. Permit easy reversal of actions 7. Support internal locus of control 8. Reduce short-term memory load

Mikrokontroler 89C51 Bagian II :

Mikrokontroler 89C51 Bagian II : Mikrokontroler 89C51 Bagian II : Mikrokontroler 89C51 Mikrokontroler 89C51 merupakan mikrokomputer CMOS 8 bit dengan 4 Kbytes Flash Programmable Memory. Arsitektur 89C51 ditunjukkan pada gambar 2. Accumulator

Lebih terperinci

4. Port Input/Output Mikrokontroler MCS-51

4. Port Input/Output Mikrokontroler MCS-51 4. Port Input/Output Mikrokontroler MCS-51 Mikrokontroler MCS-51 memiliki 2 jenis port input/output, yaitu port I/O parallel dan port I/O serial. Port I/O parallel sebanyak 4 buah dengan nama P0,P1,P2

Lebih terperinci

MIKROKONTROLER Arsitektur Mikrokontroler AT89S51

MIKROKONTROLER Arsitektur Mikrokontroler AT89S51 MIKROKONTROLER Arsitektur Mikrokontroler AT89S51 Ringkasan Pendahuluan Mikrokontroler Mikrokontroler = µp + Memori (RAM & ROM) + I/O Port + Programmable IC Mikrokontroler digunakan sebagai komponen pengendali

Lebih terperinci

Gambar Komunikasi serial dengan komputer

Gambar Komunikasi serial dengan komputer 1.6. Port Serial Umumnya orang selalu menganggap port seri pada MCS51 adalah UART yang bekerja secara asinkron, jarang yang menyadari port seri tersebut bisa pula bekerja secara sinkron, pada hal sebagai

Lebih terperinci

Gambar 3.1 Blok Diagram Port Serial RXD (P3.0) D SHIFT REGISTER. Clk. SBUF Receive Buffer Register (read only)

Gambar 3.1 Blok Diagram Port Serial RXD (P3.0) D SHIFT REGISTER. Clk. SBUF Receive Buffer Register (read only) 1. Operasi Serial Port mempunyai On Chip Serial Port yang dapat digunakan untuk komunikasi data serial secara Full Duplex sehingga Port Serial ini masih dapat menerima data pada saat proses pengiriman

Lebih terperinci

Pertemuan 10 Arsitektur Mikrokontroler 8051

Pertemuan 10 Arsitektur Mikrokontroler 8051 Pertemuan 10 Arsitektur Mikrokontroler 8051 Learning Outcomes Pada akhir pertemuan ini, diharapkan mahasiswa akan mampu : Menjelaskan arsitektur mikrokontroler 8051 Arsitektur Mikrokontroller 8051 Materi:

Lebih terperinci

PORT SERIAL MIKROKONTROLER ATMEL AT89C51

PORT SERIAL MIKROKONTROLER ATMEL AT89C51 Lab Elektronika Industri Mikrokontroler - 1 PORT SERIAL MIKROKONTROLER ATMEL AT89C51 I. FISIK AT89C51 Mikrokontroler AT89C51 umumnya mempunyai kemasan 40 pin seperti gambar berikut. AT89C51 telah dilengkapi

Lebih terperinci

Wireless Infrared Printer dengan DST-51 (Komunikasi Infra Merah dengan DST-51)

Wireless Infrared Printer dengan DST-51 (Komunikasi Infra Merah dengan DST-51) Wireless Infrared Printer dengan DST-5 (Komunikasi Infra Merah dengan DST-5) Komunikasi Infra Merah dilakukan dengan menggunakan dioda infra merah sebagai pemancar dan modul penerima infra merah sebagai

Lebih terperinci

Blok sistem mikrokontroler MCS-51 adalah sebagai berikut.

Blok sistem mikrokontroler MCS-51 adalah sebagai berikut. Arsitektur mikrokontroler MCS-51 diotaki oleh CPU 8 bit yang terhubung melalui satu jalur bus dengan memori penyimpanan berupa RAM dan ROM serta jalur I/O berupa port bit I/O dan port serial. Selain itu

Lebih terperinci

PANDUAN DASAR MIKROKONTROLER KELUARGA MCS-51

PANDUAN DASAR MIKROKONTROLER KELUARGA MCS-51 PANDUAN DASAR MIKROKONTROLER KELUARGA MCS-51 PANDUAN DASAR MIKROKONTROLER KELUARGA MCS-51 Danny Christanto, S.T. Kris Pusporini, S.T., M.T. 2004, Innovative Electronics Hak Cipta dilindungi undang-undang

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Dalam merancang sebuah peralatan yang cerdas, diperlukan suatu

BAB II LANDASAN TEORI. Dalam merancang sebuah peralatan yang cerdas, diperlukan suatu BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Perangkat Keras Dalam merancang sebuah peralatan yang cerdas, diperlukan suatu perangkat keras (hardware) yang dapat mengolah data, menghitung, mengingat dan mengambil pilihan.

Lebih terperinci

ARSITEKTUR MIKROKONTROLER AT89C51/52/55

ARSITEKTUR MIKROKONTROLER AT89C51/52/55 ARSITEKTUR MIKROKONTROLER AT89C51/52/55 A. Pendahuluan Mikrokontroler merupakan lompatan teknologi mikroprosesor dan mikrokomputer. Mikrokontroler diciptakan tidak semata-mata hanya memenuhi kebutuhan

Lebih terperinci

MIKROKONTROLER AT89S52

MIKROKONTROLER AT89S52 MIKROKONTROLER AT89S52 Mikrokontroler adalah mikroprosessor yang dirancang khusus untuk aplikasi kontrol, dan dilengkapi dengan ROM, RAM dan fasilitas I/O pada satu chip. AT89S52 adalah salah satu anggota

Lebih terperinci

TKC210 - Teknik Interface dan Peripheral. Eko Didik Widianto

TKC210 - Teknik Interface dan Peripheral. Eko Didik Widianto TKC210 - Teknik Interface dan Peripheral Eko Didik Sistem Komputer - Universitas Diponegoro Review Kuliah Pembahasan tentang: Referensi: mikrokontroler (AT89S51) mikrokontroler (ATMega32A) Sumber daya

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Mikrokontroler, sebagai suatu terobosan teknologi mikrokontroler dan

BAB 2 LANDASAN TEORI. Mikrokontroler, sebagai suatu terobosan teknologi mikrokontroler dan BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Sistem Minimum Mikrokontroler AT89S51 Mikrokontroler, sebagai suatu terobosan teknologi mikrokontroler dan mikrokomputer, hadir memenuhi kebutuhan pasar (market need) dan teknologi

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN PERANGKAT KERAS

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN PERANGKAT KERAS BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN PERANGKAT KERAS 3.1. Pendahuluan Perangkat pengolah sinyal yang dikembangkan pada tugas sarjana ini dirancang dengan tiga kanal masukan. Pada perangkat pengolah sinyal

Lebih terperinci

BAB 3 PERANCANGAN SISTEM. pada sistem pengendali lampu telah dijelaskan pada bab 2. Pada bab ini akan dijelaskan

BAB 3 PERANCANGAN SISTEM. pada sistem pengendali lampu telah dijelaskan pada bab 2. Pada bab ini akan dijelaskan BAB 3 PERANCANGAN SISTEM Konsep dasar mengendalikan lampu dan komponen komponen yang digunakan pada sistem pengendali lampu telah dijelaskan pada bab 2. Pada bab ini akan dijelaskan perancangan sistem

Lebih terperinci

DT-51 Application Note

DT-51 Application Note DT-51 Application Note AN73 Pengukur Jarak dengan Gelombang Ultrasonik Oleh: Tim IE Aplikasi ini membahas perencanaan dan pembuatan alat untuk mengukur jarak sebuah benda solid dengan cukup presisi dan

Lebih terperinci

BAB II TEORI DASAR 2.1 Pendahuluan 2.2 Sensor Clamp Putaran Mesin

BAB II TEORI DASAR 2.1 Pendahuluan 2.2 Sensor Clamp Putaran Mesin 4 BAB II TEORI DASAR 2.1 Pendahuluan Pada bab ini akan dijelaskan mengenai teori-teori mengenai perangkatperangkat pendukung baik perangkat keras dan perangkat lunak yang akan dipergunakan sebagai pengukuran

Lebih terperinci

BAB III RANCANG BANGUN SISTEM KARAKTERISASI LED. Rancangan sistem karakterisasi LED diperlihatkan pada blok diagram Gambar

BAB III RANCANG BANGUN SISTEM KARAKTERISASI LED. Rancangan sistem karakterisasi LED diperlihatkan pada blok diagram Gambar BAB III RANCANG BANGUN SISTEM KARAKTERISASI LED 3.1. Rancang Bangun Perangkat Keras Rancangan sistem karakterisasi LED diperlihatkan pada blok diagram Gambar 3.1. Sistem ini terdiri dari komputer, antarmuka

Lebih terperinci

Tabel 1. Karakteristik IC TTL dan CMOS

Tabel 1. Karakteristik IC TTL dan CMOS BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. IC Digital TTL dan CMOS Berdasarkan teknologi pembuatannya, IC digital dibedakan menjadi dua jenis, yaitu TTL (Transistor-Transistor Logic) dan CMOS (Complementary Metal Oxide

Lebih terperinci

Perancangan Serial Stepper

Perancangan Serial Stepper Perancangan Serial Stepper ini : Blok diagram dari rangakaian yang dirancang tampak pada gambar dibawah Komputer Antar Muka Peralatan luar Komputer Komputer berfungsi untuk mengendalikan peralatan luar,

Lebih terperinci

AT89S52 8kByte In-System Programmable Mikrokontroler

AT89S52 8kByte In-System Programmable Mikrokontroler Lab Elektronika Industri Mikrokontroler 1 AT89S52 8kByte In-System Programmable Mikrokontroler I. Fitur AT89S52 Kompatibel dengan produk MCS51 Intel 8kByte Flah Memori dengan In-System Programmable (ISP)

Lebih terperinci

Tabel Perbandingan ROM dan RAM pada beberapa seri ATMEL

Tabel Perbandingan ROM dan RAM pada beberapa seri ATMEL Pendahuluan Mikroprosessor 8051 (Struktur dan Organisasi Memori, SFR ) Tabel Perbandingan ROM dan RAM pada beberapa seri ATMEL A. Organisasi Memori Mikroprosesor 8051 Pada mikrokontroler keluarga MCS51

Lebih terperinci

Pendahuluan Mikrokontroler 8051

Pendahuluan Mikrokontroler 8051 Pendahuluan Mikrokontroler 8051 Pokok Bahasan: 1. Mikrokontroler 8051 Arsitektur (Architecture) Timers/Counters Interrupts Komunikasi Serial (Serial Communication) Tujuan Belajar: Setelah mempelajari dalam

Lebih terperinci

Organisasi Sistem Komputer. Port Serial

Organisasi Sistem Komputer. Port Serial Organisasi Sistem Komputer Port Serial Ditulis Oleh : Ria Anggraeni (10060204004) Taufik Saleh (10060207002) Fenny Maslia U (10060204006) Gita Rakhmalia (10060204015) Universitas Islam Bandung 2008 Pada

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN SISTEM. 3.1 Pengantar Perancangan Sistem Pengendalian Lampu Pada Lapangan Bulu

BAB III PERANCANGAN SISTEM. 3.1 Pengantar Perancangan Sistem Pengendalian Lampu Pada Lapangan Bulu BAB III PERANCANGAN SISTEM 3.1 Pengantar Perancangan Sistem Pengendalian Lampu Pada Lapangan Bulu Tangkis Indoor Pada lapangan bulu tangkis, penyewa yang menggunakan lapangan harus mendatangi operator

Lebih terperinci

Perangcangan Komunikasi Data Multripoint Standar TIA/EIA-485 Oleh : Danny Kurnianto,S.T.,M.Eng

Perangcangan Komunikasi Data Multripoint Standar TIA/EIA-485 Oleh : Danny Kurnianto,S.T.,M.Eng Perangcangan Komunikasi Data Multripoint Standar TIA/EIA-485 Oleh : Danny Kurnianto,S.T.,M.Eng 1. Pendahuluan Transmisi data antara komponen-komponen sistem komputer dan perangkatperangkat lain pada jarak

Lebih terperinci

MICROCONTROLER AVR AT MEGA 8535

MICROCONTROLER AVR AT MEGA 8535 MICROCONTROLER AVR AT MEGA 8535 Dwisnanto Putro, S.T., M.Eng. MIKROKONTROLER AVR Jenis Mikrokontroler AVR dan spesifikasinya Flash adalah suatu jenis Read Only Memory yang biasanya diisi dengan program

Lebih terperinci

I/O dan Struktur Memori

I/O dan Struktur Memori I/O dan Struktur Memori Mikrokontroler 89C51 adalah mikrokontroler dengan arsitektur MCS51 seperti 8031 dengan memori Flash PEROM (Programmable and Erasable Read Only Memory) DESKRIPSI PIN Nomor Pin Nama

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 REMOTE TV Remote TV adalah suatu pengontrol, yang fungsinya untuk merubah dan meng-set TV yang dapat digunakan untuk merubah saluran TV seperti ingin melihat saluran ( RCTI,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Pada pengerjaan tugas akhir ini metode penelitian yang dilakukan yaitu. dengan penelitian yang dilakukan.

BAB III METODE PENELITIAN. Pada pengerjaan tugas akhir ini metode penelitian yang dilakukan yaitu. dengan penelitian yang dilakukan. BAB III METODE PENELITIAN 3.1. METODE PENELITIAN Pada pengerjaan tugas akhir ini metode penelitian yang dilakukan yaitu sebagai berikut : Studi literatur, yaitu dengan mempelajari beberapa referensi yang

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 PIR (Passive Infrared) Keadaan ruangan dengan perubahan temperatur pada manusia dalam suatu ruangan menjadi nilai awal (set point) yang menjadi acuan dalam sistem pengontrolan.

Lebih terperinci

BAB III DESKRIPSI DAN PERANCANGAN SISTEM

BAB III DESKRIPSI DAN PERANCANGAN SISTEM BAB III DESKRIPSI DAN PERANCANGAN SISTEM 3.1. DESKRIPSI KERJA SISTEM Gambar 3.1. Blok diagram sistem Satelit-satelit GPS akan mengirimkan sinyal-sinyal secara kontinyu setiap detiknya. GPS receiver akan

Lebih terperinci

Percobaan 6. SERIAL INTERFACE Menggunakan DT-51 MinSys

Percobaan 6. SERIAL INTERFACE Menggunakan DT-51 MinSys Percobaan 6 SERIAL INTERFACE Menggunakan DT-51 MinSys Membuat aplikasi serial interface untuk komuniksi secara serial melalui pin RXD dan TXD pada MCS-51. Membuat program menggunakan serial port (DB9)

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Definisi PLC menurut National Electrical Manufacturing Association (NEMA)

BAB II LANDASAN TEORI. Definisi PLC menurut National Electrical Manufacturing Association (NEMA) BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Programmable Logic Controller (PLC) Definisi PLC menurut National Electrical Manufacturing Association (NEMA) adalah perangkat elektronik digital yang memakai programmable memory

Lebih terperinci

Lab Elektronika Industri Mikrokontroler - 1 AT89C1051

Lab Elektronika Industri Mikrokontroler - 1 AT89C1051 Lab Elektronika Industri Mikrokontroler - 1 AT89C1051 I. FITUR AT89C1051 Kompatibel dengan produk MCS51 1k byte program flash ROM yang dapa diprogram ulang hingga 1000 kali Tegangan operasi 2.7 volt hingga

Lebih terperinci

BAB II KONSEP DASAR PERANCANGAN

BAB II KONSEP DASAR PERANCANGAN BAB II KONSEP DASAR PERANCANGAN Pada bab ini akan dijelaskan konsep dasar sistem keamanan rumah nirkabel berbasis mikrokontroler menggunakan modul Xbee Pro. Konsep dasar sistem ini terdiri dari gambaran

Lebih terperinci

BAB III TEORI PENUNJANG. Microcontroller adalah sebuah sistem fungsional dalam sebuah chip. Di

BAB III TEORI PENUNJANG. Microcontroller adalah sebuah sistem fungsional dalam sebuah chip. Di BAB III TEORI PENUNJANG 3.1. Microcontroller ATmega8 Microcontroller adalah sebuah sistem fungsional dalam sebuah chip. Di dalamnya terkandung sebuah inti proccesor, memori (sejumlah kecil RAM, memori

Lebih terperinci

REGISTER-REGISTER Oleh : Sumarna, Jurdik Fisika, FMIPA, UNY

REGISTER-REGISTER Oleh : Sumarna, Jurdik Fisika, FMIPA, UNY REGISTER-REGISTER 8051 Oleh : Sumarna, Jurdik Fisika, FMIPA, UNY E-mail : [email protected] 1. PC (Program Counter) PC dengan ukuran 16 bit menentukan lokasi berikutnya yang akan dieksekusi (dijalankan).

Lebih terperinci

PERTEMUAN. KOMUNIKASI MIKROKONTROLER 89C51 DENGAN KOMPUTER (Lanjutan)

PERTEMUAN. KOMUNIKASI MIKROKONTROLER 89C51 DENGAN KOMPUTER (Lanjutan) PERTEMUAN KOMUNIKASI MIKROKONTROLER 89C51 DENGAN KOMPUTER (Lanjutan) Pendahuluan KOMUNIKASI MIKROKONTROLER 89C51 Perpindahan data yang melibatkan internal memory atau eksternal memory yang sudah dibahas

Lebih terperinci

Replika Sistem Atap Otomatis Untuk Pelindung Benda Terhadap Hujan Berbasis Mikrokontroler AT89S52

Replika Sistem Atap Otomatis Untuk Pelindung Benda Terhadap Hujan Berbasis Mikrokontroler AT89S52 Replika Sistem Atap Otomatis Untuk Pelindung Benda Terhadap Hujan Berbasis Mikrokontroler AT89S52 MUHAMAD SULEMAN Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi, Universitas Gunadarma [email protected]

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN STAND ALONE RFID READER. Dalam penelitian ini, perancangan sistem meliputi :

BAB III PERANCANGAN STAND ALONE RFID READER. Dalam penelitian ini, perancangan sistem meliputi : BAB III PERANCANGAN STAND ALONE RFID READER 3.1 Perancangan Sistem Dalam penelitian ini, perancangan sistem meliputi : a. perancangan perangkat keras (hardware) dengan membuat reader RFID yang stand alone

Lebih terperinci

BAB III STUDI KOMPONEN. tugas akhir ini, termasuk fungsi beserta alasan dalam pemilihan komponen. 2. Sudah memiliki Kecepatan kerja yang cepat

BAB III STUDI KOMPONEN. tugas akhir ini, termasuk fungsi beserta alasan dalam pemilihan komponen. 2. Sudah memiliki Kecepatan kerja yang cepat BAB III STUDI KOMPONEN Bab ini menjelaskan mengenai komponen apa saja yang digunakan dalam tugas akhir ini, termasuk fungsi beserta alasan dalam pemilihan komponen. 3.1 Mikrokontroler Perancangan sistem

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Sensor TGS 2610 merupakan sensor yang umum digunakan untuk mendeteksi adanya

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Sensor TGS 2610 merupakan sensor yang umum digunakan untuk mendeteksi adanya 10 BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 2.1 Sensor TGS 2610 2.1.1 Gambaran umum Sensor TGS 2610 merupakan sensor yang umum digunakan untuk mendeteksi adanya kebocoran gas. Sensor ini merupakan suatu semikonduktor oksida-logam,

Lebih terperinci

BAB 3 PERANCANGAN SISTEM

BAB 3 PERANCANGAN SISTEM BAB 3 PERANCANGAN SISTEM Pada bab ini akan dijelaskan secara umum perancangan sistem pengingat pada kartu antrian dengan memanfaatkan gelombang radio, yang terdiri dari beberapa bagian yaitu blok diagram

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI. digunakan seperti MCS51 adalah pada AVR tidak perlu menggunakan oscillator

BAB III LANDASAN TEORI. digunakan seperti MCS51 adalah pada AVR tidak perlu menggunakan oscillator BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Microcontroller Atmega 8 AVR merupakan salah satu jenis mikrokontroler yang di dalamnya terdapat berbagai macam fungsi. Perbedaannya pada mikro yang pada umumnya digunakan seperti

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. ABSTRAK... i KATA PENGANTAR... ii DAFTAR ISI... iv DAFTAR GAMBAR... vii DAFTAR TABEL... x DAFTAR LAMPIRAN... xi

DAFTAR ISI. ABSTRAK... i KATA PENGANTAR... ii DAFTAR ISI... iv DAFTAR GAMBAR... vii DAFTAR TABEL... x DAFTAR LAMPIRAN... xi DAFTAR ISI ABSTRAK... i KATA PENGANTAR... ii DAFTAR ISI... iv DAFTAR GAMBAR... vii DAFTAR TABEL... x DAFTAR LAMPIRAN... xi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah... 1 1.2 Identifikasi Masalah...

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN SISTEM

BAB III PERANCANGAN SISTEM III PERNCNGN SISTEM Pada bab ini akan dibahas tentang diagram blok sistem yang menjelaskan tentang prinsip kerja alat dan program serta membahas perancangan sistem alat yang meliputi perangkat keras dan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Jantung dalam terminologi sederhana, merupakan sebuah pompa yang terbuat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Jantung dalam terminologi sederhana, merupakan sebuah pompa yang terbuat BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Jantung Jantung dalam terminologi sederhana, merupakan sebuah pompa yang terbuat dari otot. Jantung merupakan salah satu organ terpenting dalam tubuh manusia yang berperan dalam

Lebih terperinci

BAB II TEORI DASAR. peralatan input / output ( I / O ) pendukung di dalamnya. Suatu sistem mikroprosesor

BAB II TEORI DASAR. peralatan input / output ( I / O ) pendukung di dalamnya. Suatu sistem mikroprosesor BAB II TEORI DASAR 2. 1 Sistem Mikrokontroler AT89S52 Mikrokontroller adalah suatu perangkat keras yang memiliki memori dan peralatan input / output ( I / O ) pendukung di dalamnya. Suatu sistem mikroprosesor

Lebih terperinci

TIMER DAN COUNTER MIKROKONTROLER ATMEL

TIMER DAN COUNTER MIKROKONTROLER ATMEL Lab Elektronika Industri Mikrokontroler - 1 TIMER DAN COUNTER MIKROKONTROLER ATMEL I. TIMER DAN COUNTER Timer atau counter pada dasarnya adalah sebuah pencacah. Pencacah itu bisa dipakai sebagai pewaktu

Lebih terperinci

Sumber Clock, Reset dan Antarmuka RAM

Sumber Clock, Reset dan Antarmuka RAM ,, Antarmuka RAM TSK304 - Teknik Interface dan Peripheral Eko Didik Teknik Sistem Komputer - Universitas Diponegoro Review Kuliah, Pembahasan tentang antarmuka di mikrokontroler 8051 (AT89S51) Sumber clock

Lebih terperinci

Konsep dan Cara Kerja Port I/O

Konsep dan Cara Kerja Port I/O Konsep dan Cara Kerja Port I/O Pertemuan 3 Algoritma dan Pemrograman 2A Jurusan Sistem Komputer Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi Universitas Gunadarma 2015 Parallel Port Programming Port

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN SISTEM

BAB III PERANCANGAN SISTEM BAB III PERANCANGAN SISTEM 3.1 Pengertian Umum Sistem yang dirancang adalah sistem yang berbasiskan mikrokontroller dengan menggunakan smart card yang diaplikasikan pada Stasiun Kereta Api sebagai tanda

Lebih terperinci

PERTEMUAN PERANGKAT KERAS MIKROKONTROLER

PERTEMUAN PERANGKAT KERAS MIKROKONTROLER PERTEMUAN PERANGKAT KERAS MIKROKONTROLER Pendahuluan Pada dasarnya mikrokontroler bukanlah ilmu pengetahuan yang baru, tetapi adalah hasil pengembang dalam teknologi elektronika. Jika dasar pengetahuan

Lebih terperinci

DESIGN INTERFACE PADA AT89S52 8k Byte In-System Programmable 8bit Mikrokontroler

DESIGN INTERFACE PADA AT89S52 8k Byte In-System Programmable 8bit Mikrokontroler Lab Elektronika Industri Mikrokontroler 1 DESIGN INTERFACE PADA AT89S52 8k Byte In-System Programmable 8bit Mikrokontroler I. FITUR UTAMA Perancangan interface terkait dengan fasilitas port yand ada pada

Lebih terperinci

BAB II. PENJELASAN MENGENAI System-on-a-Chip (SoC) C8051F Pengenalan Mikrokontroler

BAB II. PENJELASAN MENGENAI System-on-a-Chip (SoC) C8051F Pengenalan Mikrokontroler BAB II PENJELASAN MENGENAI System-on-a-Chip (SoC) C8051F005 2.1 Pengenalan Mikrokontroler Mikroprosesor adalah sebuah proses komputer pada sebuah IC (Intergrated Circuit) yang di dalamnya terdapat aritmatika,

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Timbangan Timbangan adalah alat yang dipakai melakukan pengukuran berat suatu benda. Timbangan dikategorikan kedalam sistem mekanik dan juga elektronik. Timbangan adalah suatu

Lebih terperinci

BAB III PERENCANAAN DAN REALISASI

BAB III PERENCANAAN DAN REALISASI BAB III PERENCANAAN DAN REALISASI 3.1 PERANCANGAN UMUM SISTEM Metode untuk pelaksanaan Program dimulai dengan mempelajari system pengukuran tangki air yang akan digunakan. Dari sini dikembangkan apa saja

Lebih terperinci

DT-SENSE. UltraSonic Ranger (USR)

DT-SENSE. UltraSonic Ranger (USR) DT-SENSE UltraSonic Ranger (USR) Trademarks & Copyright AT, IBM, and PC are trademarks of International Business Machines Corp. Windows is a registered trademark of Microsoft Corporation. MCS-51 is a registered

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN SISTEM

BAB III PERANCANGAN SISTEM BAB III PERANCANGAN SISTEM Didalam merancang sistem yang akan dibuat ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelumnya, pertama-tama mengetahui prinsip kerja secara umum dari sistem yang akan dibuat

Lebih terperinci

BAB 3 PERANCANGAN SISTEM. indoor yang digunakan untuk memetakan letak slot parkir dan memberitahukan

BAB 3 PERANCANGAN SISTEM. indoor yang digunakan untuk memetakan letak slot parkir dan memberitahukan BAB 3 PERANCANGAN SISTEM 3.1. Pengertian Umum Mapping Parking System merupakan suatu sistem pada bangunan area parkir indoor yang digunakan untuk memetakan letak slot parkir dan memberitahukan kondisi

Lebih terperinci

Sistem Minimum Mikrokontroler. TTH2D3 Mikroprosesor

Sistem Minimum Mikrokontroler. TTH2D3 Mikroprosesor Sistem Minimum Mikrokontroler TTH2D3 Mikroprosesor MIKROKONTROLER AVR Mikrokontroler AVR merupakan salah satu jenis arsitektur mikrokontroler yang menjadi andalan Atmel. Arsitektur ini dirancang memiliki

Lebih terperinci

KENDALI LENGAN ROBOT MENGGUNAKAN MIKROKONTROLLER AT89S51

KENDALI LENGAN ROBOT MENGGUNAKAN MIKROKONTROLLER AT89S51 KENDALI LENGAN ROBOT MENGGUNAKAN MIKROKONTROLLER AT89S51 Eko Patra Teguh Wibowo Departemen Elektronika, Akademi Angkatan Udara Jalan Laksda Adi Sutjipto Yogyakarta [email protected] ABSTRACT A robot

Lebih terperinci

JURNAL RISET FISIKA EDUKASI DAN SAINS

JURNAL RISET FISIKA EDUKASI DAN SAINS JURNAL RISET FISIKA EDUKASI DAN SAINS Education and Science Physics Journal ISSN : 247-3563 JRFES Vol 1, No 2 (215) 92-98 http://ejournal.stkip-pgri-sumbar.ac.id/index.php/jrfes RANCANG BANGUN ALAT UKUR

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN SISTEM

BAB III PERANCANGAN SISTEM 31 BAB III PERANCANGAN SISTEM 3.1 Diagram Blok Air ditampung pada wadah yang nantinya akan dialirkan dengan menggunakan pompa. Pompa akan menglirkan air melalui saluran penghubung yang dibuat sedemikian

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI PERANGKAT KERAS DAN PERANGKAT LUNAK SISTEM. Dari diagram sistem dapat diuraikan metode kerja sistem secara global.

BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI PERANGKAT KERAS DAN PERANGKAT LUNAK SISTEM. Dari diagram sistem dapat diuraikan metode kerja sistem secara global. BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI PERANGKAT KERAS DAN PERANGKAT LUNAK SISTEM 3.1 Perancangan Perangkat Keras 3.1.1 Blok Diagram Dari diagram sistem dapat diuraikan metode kerja sistem secara global. Gambar

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Mikrokontroller, sebagai suatu terobosan teknologi mikrokontroler dan microkomputer,

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Mikrokontroller, sebagai suatu terobosan teknologi mikrokontroler dan microkomputer, BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 2.1.Hardware 2.1.1 Mikrokontroler AT89S51 Mikrokontroller, sebagai suatu terobosan teknologi mikrokontroler dan microkomputer, hadir memenuhi kebutuhan pasar (market need) dan teknologi

Lebih terperinci

ORGANISASI MEMORI MIKROKONTROLER MCS-51. Yoyo Somantri dan Erik Haritman Dosen Jurusan Pendidikan Teknik Elektro FPTK Universitas Pendidikan Indonesia

ORGANISASI MEMORI MIKROKONTROLER MCS-51. Yoyo Somantri dan Erik Haritman Dosen Jurusan Pendidikan Teknik Elektro FPTK Universitas Pendidikan Indonesia ORGANISASI MEMORI MIKROKONTROLER MCS-51 Yoyo Somantri dan Erik Haritman Dosen Jurusan Pendidikan Teknik Elektro FPTK Universitas Pendidikan Indonesia Pendahuluan Dalam bab ini akan dibahas tujuan perkuliahan,

Lebih terperinci

Timer Counter. D3 Telekomunikasi.

Timer Counter. D3 Telekomunikasi. Timer Counter D3 Telekomunikasi Timer Pada dasarnya timer dan counter merupakan sistem yang sama-sama menambahkan diri hingga overflow. Timer memanfaatkan frekuensi osilator untuk bertambah tiap machine

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI. Pada tugas akhir ini akan dibuat sebuah perangkat keras PLC dengan fasilitas

BAB III PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI. Pada tugas akhir ini akan dibuat sebuah perangkat keras PLC dengan fasilitas BB III PERNCNGN DN IMPLEMENTSI Pada tugas akhir ini akan dibuat sebuah perangkat keras PLC dengan fasilitas minimun beserta perangkat lunak sistem operasinya yang ditanamkan pada mikrokontroler sehingga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Teknologi adalah suatu sistim yang di ciptakan dan dikembangkan untuk membantu atau mempermudah pekerjaan secara langsung atau pun secara tidak langsung baik kantor,

Lebih terperinci

TAKARIR. Akumulator Register yang digunakan untuk menyimpan semua proses aritmatika. Assembler Bahasa pemrograman mikrokontroler MCS-51

TAKARIR. Akumulator Register yang digunakan untuk menyimpan semua proses aritmatika. Assembler Bahasa pemrograman mikrokontroler MCS-51 TAKARIR Akumulator Register yang digunakan untuk menyimpan semua proses aritmatika Assembler Bahasa pemrograman mikrokontroler MCS-51 Assembly Listing Hasil dari proses assembly dalam rupa campuran dari

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Perangkat Keras (Hardware)

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Perangkat Keras (Hardware) BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software). Perangkat keras yang dihasilkan berupa modul atau alat pendeteksi

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Mikrokontroler AT89S51 hanya memerlukan tambahan 3 kapasitor, 1 resistor dan 1

BAB 2 LANDASAN TEORI. Mikrokontroler AT89S51 hanya memerlukan tambahan 3 kapasitor, 1 resistor dan 1 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Defenisi AT89S51 Mikrokontroler AT89S51 hanya memerlukan tambahan 3 kapasitor, 1 resistor dan 1 kristal serta catu daya 5 Volt. Kapasitor 10 mikro-farad dan resistor 10 Kilo Ohm

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN ALAT. Gambar 3.1 Diagram Blok Pengukur Kecepatan

BAB III PERANCANGAN ALAT. Gambar 3.1 Diagram Blok Pengukur Kecepatan BAB III PERANCANGAN ALAT 3.1 PERANCANGAN PERANGKAT KERAS Setelah mempelajari teori yang menunjang dalam pembuatan alat, maka langkah berikutnya adalah membuat suatu rancangan dengan tujuan untuk mempermudah

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Mikrokontroler AT89S52 termasuk kedalam keluarga MCS-51 merupakan suatu. dua macam memori yang sifatnya berbeda yaitu:

BAB 2 LANDASAN TEORI. Mikrokontroler AT89S52 termasuk kedalam keluarga MCS-51 merupakan suatu. dua macam memori yang sifatnya berbeda yaitu: BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Perangkat Keras 2.1.1 Mikrokontroler AT89S52 Mikrokontroler AT89S52 termasuk kedalam keluarga MCS-51 merupakan suatu mikrokomputer CMOS 8 bit dengan daya rendah, kemampuan tinggi,

Lebih terperinci

PERTEMUAN TIMER & COUNTER MIKROKONTROLER 89C51

PERTEMUAN TIMER & COUNTER MIKROKONTROLER 89C51 PERTEMUAN TIMER & COUNTER MIKROKONTROLER 89C51 Pemakaian Timer TIMMER MIKROKONTROLER 89C51 Timer atau pewaktu dan counter atau pencacah adalah jenis pengatur waktu didalam mikrokontroler. Didalam mikrokontroler

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI 6 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Perangkat Keras 2.1.1 Bahasa Assembly MCS-51 Bahasa yang digunakan untuk memprogram IC mikrokontroler AT89S51 adalah bahasa assembly untuk MCS-51. angka 51 merupakan jumlah instruksi

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEOI Simulator ECG adalah sinyal tiruan aktifitas jantung yang banyak digunakan baik oleh tenaga medis maupun teknisi lainya yang berkaitan dengan penggunaan alat perekam aktifitas listrik

Lebih terperinci

4. Osilator internal dan rangkaian pewaktu. 5. Dua buah timer/counter 16 bit 6. Lima buah jalur interupsi ( 2 buah interupsi eksternal dan 3 interupsi

4. Osilator internal dan rangkaian pewaktu. 5. Dua buah timer/counter 16 bit 6. Lima buah jalur interupsi ( 2 buah interupsi eksternal dan 3 interupsi PENGUKUR TINGGI BADAN DIGITAL DENGAN SENSOR ULTRASONIK BERBASIS MIKROKONTROLER AT89S51 ABSTRAKSI Rangkaian Pengukur Tinggi Badan Digital Dengan Sensor Ultrasonik Berbasis Mikrokontroler AT8951 ini, merupakan

Lebih terperinci

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA DATA

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA DATA BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA DATA Pada bab ini akan dibahas tentang pengujian dan pengoperasian Sistem Pemantau Ketinggian Air Cooling Tower di PT. Dynaplast. Pengujian dan pengoperasian ini dilakukan

Lebih terperinci

BAB III PERENCANAAN DAN REALISASI

BAB III PERENCANAAN DAN REALISASI BAB III PERENCANAAN DAN REALISASI 3.1 Perancangan Blok Diaram Metode untuk pelaksanaan Program dimulai dengan mempelajari sistem pendeteksi kebocoran gas pada rumah yang akan digunakan. Dari sini dikembangkan

Lebih terperinci

BAB 3 PERANCANGAN SISTEM

BAB 3 PERANCANGAN SISTEM BAB 3 PERANCANGAN SISTEM Perancangan sistem pada timbangan digital sebagai penentuan pengangkatan beban oleh lengan robot berbasiskan sensor tekanan (Strain Gauge) dibagi menjadi dua bagian yaitu perancangan

Lebih terperinci

BAB 3 PERANCANGAN SISTEM. ruangan yang menggunakan led matrix dan sensor PING))). Led matrix berfungsi

BAB 3 PERANCANGAN SISTEM. ruangan yang menggunakan led matrix dan sensor PING))). Led matrix berfungsi BAB 3 PERANCANGAN SISTEM 3.1 Pengertian Umum Perancangan Media Penyampaian Informasi Otomatis Dengan LED Matrix Berbasis Arduino adalah suatu sistem media penyampaian informasi di dalam ruangan yang menggunakan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI Pada bab ini akan dibahas dasar teori yang berhubungan dengan perancangan skripsi antara lain fungsi dari function generator, osilator, MAX038, rangkaian operasional amplifier, Mikrokontroler

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI Bab ini membahasa tentang teori-teori yang di gunakan dalam pengukuran ketinggian air cooling tower dengan menggunakan sensor ultrasonic, dimana sebelumnya pengukuran ketinggian air

Lebih terperinci

MICROCONTROLER AVR AT MEGA 8535

MICROCONTROLER AVR AT MEGA 8535 MICROCONTROLER AVR AT MEGA 8535 Dwisnanto Putro, S.T., M.Eng. MIKROKONTROLER AVR Mikrokontroler AVR merupakan salah satu jenis arsitektur mikrokontroler yang menjadi andalan Atmel. Arsitektur ini dirancang

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Mikrokontroller AT89C51 Meskipun termasuk tua, keluarga mikrokontroler MCS51 adalah mikrokontroler yang paling populer saat ini. Keluarga ini diawali oleh Intel yang mengenalkan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Dengan perkembangan terakhir, yaitu generasi AVR (Alf and Vegard s Risc

BAB 2 LANDASAN TEORI. Dengan perkembangan terakhir, yaitu generasi AVR (Alf and Vegard s Risc BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Mikrokontroller Dengan perkembangan terakhir, yaitu generasi AVR (Alf and Vegard s Risc processor), para desainer sistem elektronika telah diberi suatu teknologi yang memiliki

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN SISTEM KONTROL LAMPU OTOMATIS BERBASIS WEB

RANCANG BANGUN SISTEM KONTROL LAMPU OTOMATIS BERBASIS WEB RANCANG BANGUN SISTEM KONTROL LAMPU OTOMATIS BERBASIS WEB Leonardho Oscar Bimantoro, Slamet Winardi, Made Kamisutara Program Studi Sistem Komputer Fakultas Ilmu Komputer Universitas Narotama [email protected]

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. [10]. Dengan pengujian hanya terbatas pada remaja dan didapatkan hasil rata-rata

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. [10]. Dengan pengujian hanya terbatas pada remaja dan didapatkan hasil rata-rata BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu Sebelumnya pernah dilakukan penelitian terkait dengan alat uji kekuatan gigit oleh Noviyani Agus dari Poltekkes Surabaya pada tahun 2006 dengan judul penelitian

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN SISTEM

BAB III PERANCANGAN SISTEM BAB III PERANCANGAN SISTEM Bab ini akan membahas tentang perancangan sistem deteksi keberhasilan software QuickMark untuk mendeteksi QRCode pada objek yang bergerak di conveyor. Garis besar pengukuran

Lebih terperinci

Gambar 1.1. Diagram blok mikrokontroller 8051

Gambar 1.1. Diagram blok mikrokontroller 8051 1.1. Organisasi Memori Semua divais 8051 mempunyai ruang alamat yang terpisah untuk memori program dan memori data, seperti yang ditunjukkan pada gambar1.1. dan gambar 1.2. Pemisahan secara logika dari

Lebih terperinci

BAB III ANALISA DAN CARA KERJA RANGKAIAN

BAB III ANALISA DAN CARA KERJA RANGKAIAN BAB III ANALISA DAN CARA KERJA RANGKAIAN 3.1 Analisa Rangkaian Secara Blok Diagram Pada rangkaian yang penulis buat berdasarkan cara kerja rangkaian secara keseluruhan penulis membagi rangkaian menjadi

Lebih terperinci

DETEKTOR JARAK DENGAN SENSOR ULTRASONIK BERBASIS MIKROKONTROLER

DETEKTOR JARAK DENGAN SENSOR ULTRASONIK BERBASIS MIKROKONTROLER DETEKTOR JARAK DENGAN SENSOR ULTRASONIK BERBASIS MIKROKONTROLER Kiki Prawiroredjo & Nyssa Asteria* Dosen Jurusan Teknik Elektro-FTI, Universitas Trisakti Abstract A Distance Detector is a circuit that

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perangkat Keras 2.1.1. Mikrokontroler AT89S51 Mikrokontroler merupakan suatu komponen elektronika yang di dalamnya terdapat rangkaian mikroprosesor, memori (RAM atau ROM) dan

Lebih terperinci

UNIVERSITAS BINA NUSANTARA MAPPING PARKING SYSTEM

UNIVERSITAS BINA NUSANTARA MAPPING PARKING SYSTEM UNIVERSITAS BINA NUSANTARA Jurusan Sistem Komputer Program Studi Robotika dan Otomasi Skripsi Sarjana Komputer Semester Ganjil 2007/2008 MAPPING PARKING SYSTEM Dicko Laksono (0800783071) Parmanto (0800777094)

Lebih terperinci