INFEKSI JAMUR PROFUNDA
|
|
|
- Hamdani Hermawan
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BUKU AJAR Kepada Yth: Dipresentasikan pada : Hari/Tanggal : Jumat, 6 Desember 2013 Jam : 08:00 WITA INFEKSI JAMUR PROFUNDA (lanjutan bagian kedua) Diterjemahkan dari: Deep Fungal Infection Dalam Buku: Fitzpatrick s Dermatology In General Medicine edisi ke-8, 2012, bab 190, halaman Roderick J. Hay Oleh: Azhar Ramadan Nonci Pembimbing: dr. IGAA Dwi Karmila Sp.KK PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS I BAGIAN/SMF ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN FAKULTAS KEDOKTERAN UNUD/RS SANGLAH DENPASAR 2013
2 MIKOSIS SISTEMIK Sekilas Tentang Mikosis Sistemik Endemik dan Oportunistik Dalam menegakkan diagnosis, penting untuk menelusuri di mana pasien tinggal dan tempat yang dikunjungi. Sangat penting untuk mengetahui riwayat keadaan penyakit yang mendasari dan pengobatan pasien. Beberapa mikosis endemik dapat menyebabkan eritema nodusum (misalnya kokidioidomikosis) Biopsi kulit penting dalam menegakkan diagnosis. Kultur jamur yang positif harus diintepretasi dengan seksama dan hatihati, karena organisme yang diidentifikasi dapat dengan mudah berkolonisasi pada area tersebut. Pengobatan biasanya membutuhkan terapi yang lama dengan obat intravena seperti amfoterisin B, vorikonasol atau kaspofungin. Mikosis sitemik merupakan infeksi jamur dimana jalur awal masuk ke dalam tubuh biasanya pada suatu lokasi profunda seperti paru-paru, saluran pencernaan atau sinus paranasal. Infeksi jamur ini memiliki kapasitas untuk menyebar melalui aliran darah sehingga dapat menyebabkan suatu infeksi generalisata. Pada prinsipnya terdapat dua varian utama mikosis sistemik: (1) mikosis oportunistik dan (2) mikosis respiratori endemik. Tabel Mikosis Sistemik Oportunistik dan Faktor Predisposisi yang Mendasari Predisposisi Infeksi Neutropeni (apapun penyebabnya) defek fungsi netrofil Aspergillosis, kandidiasis orofaring dan/atau sistemik, mucormycosis, infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme yang jarang Limfopeni CD4 (misalnya AIDS) Kandidiasis orofaring, kriptokokosis, dan mikosis respiratori yang endemik seperti histoplasmosis, nokardiosis Diabetes Melitus Operasi Katup Jantung Operasi abdomen Mucormycosis Bervariasi, terutama Candida albicans dan non-albicans candida sp. Kandidiasis 1
3 Mikosis sistemik oportunistik yang sering ditemukan pada manusia adalah kandidiasis profunda/sistemik, aspergilosis dan zigomikosis sistemik. Mikosis ini menyerang pasien yang memiliki penyakit dasar yang berat seperti AIDS, atau dengan kondisi neutropenia yang terkait dengan keganasan, trasplantasi organ padat atau tindakan pembedahan yang luas. Dengan penggunaan kombinasi pengobatan antiretrovirus, tampak penurunan insiden mikosis sistemik pada pasien yang terinfeksi human immunodeficiency virus (HIV). Khusus pasien dengan neutropenia, kadang-kadang jamur-jamur lain juga dapat menyebabkan infeksi. Kondisi-kondisi dasar yang berbeda mempengaruhi berbagai mikosis yang berbeda pula dan suatu skema untuk hal ini ditunjukan pada tabel Secara umum, sebagian besar infeksi oportunistik ini jarang melibatkan kulit, meskipun infeksi dapat terjadi pada lingkungan dan cuaca apapun. Manifestasi klinis mikosis oportunistik juga beragam karena tergantung dari lokasi masuknya organisme dan penyakit dasarnya. Gambar Rute infeksi dan penyebaran ke kulit oleh mikosis (respiratori) endemik. CNS = Central Nervous System = sistem saraf pusat 2
4 Mikosis respiratori endemik antara lain adalah histoplasmosis (tipe klasik dan Afrika), blastomikosis, kokidioidomikosis, parakokidioidomikosis dan infeksi yang disebabkan oleh Penicillium marneffei. Manifestasi klinis dari jenis infeksi ini dipengaruhi oleh latar belakang kondisi pasien dan banyak terjadi pada pasien dengan kondisi imunodefisiensi terutama AIDS. Namun, manifestasi klinis ini memiliki pola klinis yang serupa pada semua jenis infeksi. Infeksi ini juga dapat menyerang individu yang sehat. Infeksi ini terjadi pada daerah endemik dengan batas area yang jelas yang ditentukan oleh faktor-faktor yang mendukung kelangsungan hidup organisme penyebab tersebut di lingkungan, seperti faktor iklim. Rute dari infeksi ini biasanya melalui paru-paru (Gambar 190-8). Dalam prakteknya, perbedaan antara mikosis oportunistik dan endemik tidak jelas, karena kedua kelompok infeksi ini cenderung terjadi pada pasien yang memiliki kerentanan. Hal ini terutama terjadi pada kasus kriptokokosis, yang menunjukkan gambaran klinis dan patologis dari dua jenis mikosis respiratori sistemik, tetapi sekarang sering terlihat pada pasien AIDS yang tidak diobati. HISTOPLASMOSIS Jamur dari genus dimorfik Histoplasma menyebabkan sejumlah infeksi yang berbeda pada hewan dan manusia. Mulai dari histoplasmosis kuda atau farcy kuda, yaitu suatu infeksi diseminata pada kuda yang disebabkan oleh Histoplasma farciminosum hingga dua jenis infeksi pada manusia yang dikenal sebagai: 1. Histoplasmosis klasik atau bentuk kecil. 2. Histoplasmosis Afrika. Masing-masing disebabkan oleh dua varian Histoplasma capsulatum: H. capsulatum var. capsulatum H. capsulatum var. duboisii. Keduanya dapat dibedakan karena pada fase ragi berbeda dalam ukuran, bentuk capsulatum bervariasi memproduksi sel-sel dengan diameter dari 2-5 µm dan bentuk duboisii memproduksi sel-sel dengan diameter dari µm. Perbedaan penting lainnya adalah pada epidemiologi dan manifestasi klinis. Juga terdapat perbedaan antigen minor yang jelas dalam serodiagnosis tetapi sama dalam fase miselium. Dua jenis infeksi pada manusia ini akan disebut sebagai histoplasmosis dan histoplasmosis Afrika karena nomenklatur ini paling banyak digunakan. 3
5 HISTOPLASMOSIS KLASIK / BENTUK KECIL / HISTOPLASMOSIS CAPSULATI. Histoplasmosis terjadi akibat infeksi jamur dimorfik H. capsulatum var. capsulatum. Telah dijelaskan juga suatu kondisi seksual jamur ini yaitu Ajellomyces capsulatus. Infeksi dimulai sebagai suatu infeksi paru yang pada sebagian besar individu bersifat asimtomatik dan dapat sembuh spontan, satusatunya bukti dari paparan adalah hasil tes reaksi kulit intradermal positif terhadap ekstrak antigen jamur, histoplasmin. Namun, selain itu terdapat gejala penyakit berupa infeksi pernapasan dan histoplasmosis paru akut atau kronis, serta infeksi diseminata yang dapat menyebar mengenai kulit atau membran mukosa. Inokulasi langsung ke dalam kulit dapat terjadi sebagai akibat dari kecerobohan saat melakukan tindakan pemeriksaan laboratorium. Epidemiologi. Histoplasmosis dapat terjadi di banyak negara mulai dari Amerika sampai Afrika, India, dan Timur Jauh. Di Amerika Serikat, penyakit ini endemik di Mississippi dan lembah sungai Ohio, dimana sering lebih dari 80 % dari populasi mungkin telah mengalami infeksi asimtomatis. Insiden pajanan biasanya rendah pada semua daerah endemik yang lain, meskipun insiden yang tinggi juga ditemukan di Amerika Selatan dan beberapa pulau Karibia. Histoplasmosis tidak ditemukan di Eropa. H. capsulatum merupakan organisme lingkungan yang dapat diisolasi dari tanah, terutama pada tanah yang terkontaminasi dengan kotoran burung dan kelelawar. Penyakit ini biasanya diperoleh pasien melalui inhalasi terhadap spora, dan keadaan infeksi pernafasan dapat terjadi pada orang yang terpajan lingkungan sarat spora ketika menjelajahi gua atau saat membersihkan tempat yang sangat terkontaminasi dengan kotoran burung, tempat hinggapnya burung-burung seperti ranting pohon dan bangunan tua yang telah rusak. Meskipun setiap orang dapat mengalami histoplasmosis melalui hirupan melalui udara, hal ini menyebabkan suatu infeksi diseminata, khusus pada pasien-pasien dengan penyakit yang mempengaruhi kapasitas imun seluler seperti penyakit AIDS atau limfoma. 4
6 Temuan Klinis. Spektrum histoplasmosis terdiri dari infeksi asimtomatis serta infeksi dengan gejala ringan dan berbagai tipe diseminata yang menyebar secara progresif dengan variasi penyebaran melalui aliran darah hingga ke beberapa organ. Lesi kulit dapat terjadi sebagai akibat dari pembentukan kompleks imun pada infeksi primer (eritema multiforme) atau dari penyebaran langsung setelah diseminasi dari paruparu. Walupun jarang, infeksi dapat terjadi pada lokasi inokulasi ke dalam kulit. Sesuai dengan definisinya, histoplasmosis bentuk asimtomatik tanpa disertai adanya tanda-tanda atau keluhan, tetapi mereka yang terpajan biasanya memiliki hasil tes kulit histoplasmin yang positif. Persentase reaksi tes kulit di masyarakat menunjukkan kemungkinan pajanan, dan di daerah endemik ini bisa berkisar dari 5 % - 90 %. Kadang-kadang, nodul paru asimtomatik yang diangkat pada tindakan eksplorasi bedah atau otopsi didapatkan mengandung histoplasma. Histoplasmosis Paru Akut. Pada histoplasmosis paru akut, pasien sering terpajan oleh spora dalam jumlah yang banyak seperti dapat ditemui di sebuah gua atau pada saat setelah membersihkan daerah yang banyak burung. Pasien yang disertai dengan keluhan batuk, nyeri dada dan demam, sering disertai nyeri sendi dan eritema ruam toksik, eritema multiforme, atau eritema nodosum. Ruam kulit ini tidak umum, terjadi pada kurang dari 15 % dari pasien, tetapi kondisi ini mungkin dipicu oleh suatu pengobatan infeksi akut. Pada foto toraks, sering tampak bintik menyebar yang mungkin dapat menjadi kalsifikasi. Histoplasmosis Paru Kronis. Histoplasmosis paru kronis biasanya terjadi pada orang dewasa dan terjadi dengan disertai konsolidasi dan kavitasi paru yang sangat mirip dengan tuberkulosis. Tidak tampak adanya keterlibatan kulit. Histoplasmosis Diseminata Progresif Akut. Pada pasien dengan histoplasmosis diseminata akut, terdapat penyebaran luas ke organ lain seperti hepar dan lien, sistem limforetikuler, dan sumsum tulang. Pasien mengalami penurunan berat badan yang progresif dan demam. Bentuk ini merupakan jenis yang paling sering terjadi pada pasien AIDS yang tidak diobati 5
7 yang sering mengalami kelainan lesi kulit sebagai suatu manifestasi dari infeksi diseminata (Gambar 190-9). Terdapat lesi papul, nodul kecil, atau lesi keci yang menyerupai moluskum yang kemudian dapat berkembang menjadi ulkus dangkal. Lesi kulit ini lebih sering terjadi pada pasien dengan HIV positif dibandingkan dengan histoplasmosis diseminata pada orang lain tanpa HIV. Pada infeksi ini juga dapat terjadi infiltrasi mikronodular paru yang difus. Pasien mengalami penurunan berat badan yang progresif, demam, anemia, dan hepatosplenomegali. Perbedaan antara histoplasmosis diseminata akut dan kronik bersifat artifisial karena kondisi ini hanya menunjukkan perbedaan kebiasaan yang ekstrem, dengan progresi yang terjadi lebih dari beberapa bulan pada bentuk yang akut, dan lebih dari beberapa tahun pada bentuk yang kronik. Bentuk intermediet dapat mengenai organ-organ lain seperti selaput otak dan jantung. Gambar Histoplasmosis, diseminata. Papul-papul keratotik eritematosa yang multipel dan plak-plak kecil yang menyerupai pola psoriasis gutata terlihat pada dada dan lengan seorang laki-laki dengan penyakit HIV yang lanjut. Histoplasmosis Diseminata Progresif Kronik. Histoplasmosis diseminata kronik dapat terlihat berbulan-bulan atau bertahuntahun setelah pasien meninggalkan area endemik. Gambaran klinis yang paling sering didapatkan adalah ulkus oral atau faring dan insufisiensi adrenal (penyakit addison) karena infiltrasi adrenal. Ulkus-ulkus pada mulut biasanya lebar, ireguler, dan persisten dan dapat mengenai lidah begitu juga dengan mukosa pipi. Pasien dapat terlihat sehat, namun penting untuk ditelusuri adanya infeksi di tempat lain (misalnya dengan CT Scan abdomen). Infeksi adrenal harus dapat disingkirkan. 6
8 Histoplasmosis Kutaneus Primer. Histoplasmosis kutaneus primer jarang ditemukan dan terjadi setelah inokulasi dari organisme ke kulit, misalnya setelah kecelakaan laboratorium atau infeksi didapat dari ruangan postmortem. Lesi primer berupa nodul atau ulkus yang berindurasi, dan sering didapatkan limfadenopati lokal. Diagnosis Banding. Organisme ini mempunyai ukuran yang sama dengan sejumlah organisme lain yang menyebabkan mikosis profunda seperti P. Marnaffei dan bentuk kecil dari Blastomyces dan Cryptococcus (lihat pemeriksaan laboratorium). Organisme ini juga mempunyai ukuran yang sama dengan Leishmania sp., dan pada daerah tropis, penyakit kala-azar merupakan diagnosis banding yang penting. Temuan ini menegaskan pentingnya melakukan pemeriksaan laboratorium yang sesuai untuk mengkonfirmasi diagnosis. Pemeriksaan Laboratorium. Diagnosis histoplasmosis ditegakkan dengan mengidentifikasi sel menyerupai ragi intraseluler yang kecil dari histoplasma di sputum, darah perifer, sumsum tulang dan spesimen biopsi. Histoplasma harus dibedakan dari P. Marneffei karena kedua organisme mempunyai ukuran yang sama, meskipun P. Marneffei memperlihatkan bentukan septa yang khas. Identitas dari organisme harus dikonfirmasi dengan kultur, organisme tersebut tumbuh sebagai sebuah mold pada temperatur ruangan. Koloni yang putih seperti kapas terbentuk pada temperatur ruangan di agar glukosa sabouraud untuk menghasilkan 2 tipe spora, yang lebih lebar (8-15µm), bulat, makrokonidia tuberkulatum tipikal; mikrokonidia yang lebih kecil yang menular. Untuk mengidentifikasi secara pasti dengan melakukan pemeriksaan DNA dimana harus didapatkan RNA ribosomal. Kultur pada fase miselial dari H. capsulatum sangat infeksius, dan laboratorium yang menerima spesimen itu harus diperingatkan tentang diagnosis yang dicurigai. Tes kulit intradermal histoplasmin merupakan alat epidemiologik, namun tidak membantu dalam mendiagnosis. Pada pasien histoplasmosis diseminata, tes tersebut sering negatif. Sebaliknya pemeriksaan serologi sering berguna untuk diagnosis. Adanya peningkatan titer fiksasi komplemen mengindikasikan 7
9 penyebaran. Deteksi presipitin melalui imunodifusi juga berguna karena adanya antibodi spesifik terhadap antigen H dan M berkorelasi dengan infeksi aktif atau infeksi yang baru terjadi. Perkembangan baru, terutama yang berguna pada pasien AIDS, adalah ditemukannya pemeriksaan tes serologik untuk mendeteksi antigen histoplasma pada sirkulasi. Pada potongan histopatologik, H. capsulatum merupakan parasit intrasel sering terlihat dalam makrofag. Sel tersebut lebih kecil (diameter 2-4µm) dan berbentuk oval dengan buds/pucuk kecil (Gambar ). Bentuk miselial jarang terlihat pada jaringan. Gambar Histoplasmosis, diseminata. Spesimen biopsi lesi memperlihatkan makrofag-makrofag dermis yang penuh sesak dengan lusinan bentuk ragi yang tipis dari Histoplasma capsulatum (panah). HISTOPLASMOSIS AFRIKA (HISTOPLASMOSIS BENTUK BESAR atau HISTOPLASMOSIS DUBOISII). Histoplasmosis Afrika merupakan infeksi yang sporadik dan jarang pada pasienpasien AIDS. Infeksi ini ditemukan mulai dari daerah selatan sahara dan sebelah utara Sungai Zambezi di Afrika. Infeksi yang terdapat di luar Afrika berasal dari Afrika. Lokasi yang paling sering terkena secara klinis adalah kulit dan tulang, meskipun limfonodi dan organ lain, termasuk paru-paru, dapat terkena. Lesi kulit bervariasi mulai dari bentuk papul kecil yang menyerupai moluskum kontagiosum sampai abses dingin, sinus yang mengeluarkan cairan, atau ulkus. Masih belum jelas diketahui apakah terdapat bentuk asimtomatis dari histoplasmosis afrika seperti yang didapatkan pada histoplasmosis klasik. Diagnosis dikonfirmasi dengan kultur dan mikroskopis (mikroskopi langsung atau histopatologi). 8
10 Organisme H. capsulatum var. duboisii berbeda dengan bentuk capsulatum yang ukurannya lebih kecil. Organisme ini biasanya mempunyai diameter 10-15µm, sekilas seperti buah pir, dan berkelompok dalam sel giant. Serologi histoplasma, menggunakan tes konvensional, sering memberi hasil negatif pada histoplasmosis Afrika. Terapi. Pilihan pengobatan untuk histoplasmosis tergantung dari tingkat beratnya penyakit. Pada pasien dengan beberapa bentuk diseminata atau bentuk terlokalisir, itrakonazol oral ( mg perhari) sangat efektif. Obat ini juga digunakan untuk pengobatan supresi jangka panjang pasien AIDS setelah pengobatan primer baik dengan itrakonazol atau amfoterisisn B. Apabila didapatkan hitung CD4 tidak menurun pada pasien yang sedang dalam pengobatan Highly Active Anti- Retroviral Therapy (HAART), maka pengobatan supresif dapat dihentikan. Pada penyakit AIDS, beberapa pasien mendapatkan pengobatan untuk histoplasmosis, sebuah immune reconstitution syndrome dilaporkan setelah memulai terapi HAART dengan gejala obstruksi intestinal, uveitis dan artralgia. Pemberian amfoterisin B intravena (sampai dengan 1 mg/kg perhari) diberikan pada pasien yang mengalami infeksi yang menyebar luas dan berat dan merupakan terapi alternatif yang utama. Ketokonazol dan itrakonazol juga efektif pada banyak kasus. Pada histoplasmosis Afrika, itrakonazol juga merupakan terapi pilihan, tetapi sekali lagi, pada kasus yang berat, amfoterisin B merupakan pilihan. BLASTOMIKOSIS (BLASTOMIKOSIS AMERIKA UTARA). Blastomikosis adalah mikosis kronik yang disebabkan oleh patogen dimorfik Blastomyces dermatitidis. Tempat utamanya pada paru-paru tetapi bentuk infeksi yang diseminata dapat mengenai kulit, tulang, CNS dan tempat-tempat lain. Epidemiologi. Blastomikosis ditemukan di Amerika Utara dan Kanada. Sebagian besar kasus diperkirakan berasal dari Regio Great Lakes dan Amerika Serikat bagian selatan. Blastomikosis juga terjadi secara sporadik di Afrika, dengan jumlah kasus yang paling besar berasal dari Zimbabwe, dan kasus ini juga telah dilaporkan dari Timur Tengah dan India. 9
11 Diperkirakan bahwa habitat alami Blastomyces berhubungan dengan serbuk-serbuk kayu dan berada dekat dengan sungai atau danau atau pada daerahdaerah yang mengalami banjir secara periodik. Walaupun demikian, sulit untuk mengisolasi bentuk Blastomyces dari lingkungan alami. Blastomikosis juga dapat mengenai binatang-binatang peliharaan seperti anjing. Manifestasi Klinik. Seperti histoplasmosis, terdapat juga bentuk infeksi subklinis; prevalensinya tidak dapat diterangkan secara mendetail disebabkan oleh karena kelangkaan antigen Blastomyces untuk tes kulit (skin test) dan perluasan reaksi silang antigen dengan jamur seperti Histoplasma. Blastomikosis kulit primer umumnya sangat jarang dan menyertai trauma pada kulit dan diikuti oleh masuknya jamur, sebagai contoh, pada pekerja laboratorium atau ahli patologi. Setelah inokulasi, dalam 1-2 minggu terlihat daerah eritema, dengan indurasi dan ulkus yang disertai limfangitis dan limfadenopati. Secara klinis blastomikosis paru sangat mirip dengan tuberkulosis paru. Bisa tanpa gejala atau ada demam yang ringan, nyeri dada, batuk dan hemoptosis namun tidak seperti histoplasmosis, blastomikosis sering terjadi bersamaan dengan penyakit diseminata. Lesi-lesi kulit merupakan gambaran yang sering didapatkan pada blastomikosis diseminata. Lesi kulit sering simetris dan biasanya mengenai wajah dan ekstremitas. Lesi awalnya adalah papul atau nodus yang dapat mengalami ulserasi dan mengeluarkan nanah. Sejalan dengan waktu, lesi ini meluas membentuk lesi hiperkeratotik, sering dengan ulserasi dan/atau parut di bagian tengah. (Gambar dan ). Lesi pada mulut jarang terlihat. Lesi kulit multipel sering ditemukan pada infeksi diseminata. Pasien-pasien lain dapat menunjukkan nodul dan abses, pada beberapa pasien muncul lesi yang memiliki morfologi berbeda-beda. Blastomikosis yang melibatkan kulit dan tulang frekuensinya lebih tinggi pada pasien-pasien di Afrika. Meskipun blastomikosis dapat mengenai setiap organ, tempat-tempat lain yang sering diserang meliputi tulang, epididimis dan kelenjar adrenal. Jarang terjadi penyebaran secara cepat dengan melibatkan multipel organ dan B. dermatitidis dapat mengakibatkan Adult Respiratory Distress Syndrome (ARDS). Lesi-lesi kulit pada penyakit diseminata yang menyebar luas biasanya 10
12 berupa papul, abses dan ulkus kecil. Blastomikosis yang menyebar luas terjadi pada pasien AIDS, tetapi ini sangat jarang. Gambar Blastomikosis. Plak yang mengalami peradangan dengan ulserasi menyerupai piderma gangrenosum Gambar Blastomikosis Plak verukosa kronik pada pipi. Diagnosis Banding. Granuloma kulit kronik harus dibedakan dengan bentuk yang disebabkan oleh tuberkulosis, mikosis profunda lain, kanker kulit non melanoma, pioderma gangrenosum dan reaksi-reaksi obat yang disebabkan bromida dan iodida. Pemeriksaan Laboratorium. Jamur dapat ditemukan dengan pemeriksaan KOH dari pus, kerokan kulit atau sputum, berupa sel yang berbentuk seperti bola (spherical) refraktil dan berdinding tebal dengan broad-based buds (Gambar ). Gambar Preparat langsung potassium hydroxide (KOH) dari Blastomyces (tanda panah merah) 11
13 Pada kultur, jamur tumbuh seperti jamur miselial dalam suhu ruangan, menghasilkan konidia yang kecil, bulat, seperti buah pear. Pada temperatur lebih tinggi [37 0 C (98,6 0 F)] dan enriched media menghasilkan bentuk ragi (yeast) dengan kuncup (buds) yang khas. Pemeriksaan molekular akan menkonfirmasi identitas organisme. Pada potongan jaringan organisme yang tipikal dengan buds yang lebar dapat ditemukan, walaupun perlu melihat beberapa lapangan pandang untuk menemukan sel-sel yang khas. Sel-sel ini sering ditemukan pada sel raksasa (giants cell) atau dikelilingi banyak neutrofil (Gambar ). Gambar Blastomikosis. Spesimen biopsi dari lesi menunjukkan bentukan budding yeast (pewarnaan dengan Gomori Methenamine Silver). Adanya antibodi terhadap B.dermatitidis sering ditemukan dalam serum pasienpasien yang terinfeksi dan garis precipitin yang karakteristik, pita E, sering ditemukan dalam proporsi yang tinggi pada kasus yang telah terbukti; bisa juga dilakukan pemeriksaan enzim-linked immunosorbent assay untuk blastomikosis. Terdapat juga suatu sistem deteksi antigen yang paling akurat dalam sampel urin. Terapi. Pengobatannya sama dengan yang digunakan pada histoplasmosis, itrakonazol ( mg perhari) digunakan pada infeksi yang kurang berat atau pada penyebaran lokal. Pengobatan biasanya diberikan paling sedikit 6 bulan. Pengamatan diperlukan karena penyakit ini dapat kambuh kembali, khususnya pada tempat-tempat infeksi bagian dalam atau pada pasien dengan imunosupresi. Amfoterisin B (sampai dengan 1mg/kg perhari) umumnya digunakan untuk pengobatan blastomikosis diseminata dengan penyebaran yang luas. 12
14 13
BLASTOMYCES DERMATITIDIS ABSTRAK
NAMA : TRESA NIM : 078114005 BLASTOMYCES DERMATITIDIS ABSTRAK Blastomyces dermatitidis adalah jamur dimorfik termal yang tumbuh sebagai mold dalam biakan, menghasilkan hifa hyalin bersepta dan bercabang
COCCIDIOIDES IMMITIS
COCCIDIOIDES IMMITIS Abstrak Coccidioides Immitis adalah suatu jamur. Biasanya terdapat di tanah, sehingga disebut jamur tanah. Jamur ini bersifat endemik dan dapat menyebabkan koksidioidomikosis. Infeksi
BAB I PENDAHULUAN. pernapasan yang membuat pasien datang berobat ke dokter. (Rab, 2010) Batuk
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Batuk merupakan salah satu keluhan utama pada kelainan saluran pernapasan yang membuat pasien datang berobat ke dokter. (Rab, 2010) Batuk merupakan mekanisme refleks
PATOFISIOLOGI, DIAGNOSIS, DAN KLASIFIKASI TUBERKULOSIS. Retno Asti Werdhani Dept. Ilmu Kedokteran Komunitas, Okupasi, dan Keluarga FKUI
PATOFISIOLOGI, DIAGNOSIS, DAN KLASIFIKASI TUBERKULOSIS Retno Asti Werdhani Dept. Ilmu Kedokteran Komunitas, Okupasi, dan Keluarga FKUI TUBERKULOSIS DAN KEJADIANNYA Jumlah pasien TB di Indonesia merupakan
BAB 2 PENGENALAN HIV/AIDS. Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala
BAB 2 PENGENALAN HIV/AIDS Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh virus yang disebut Human Immunodeficiency Virus (HIV). 10,11 Virus ini akan
BAB I PENDAHULUAN. oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis sebagian besar bakteri ini menyerang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Penyakit Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis sebagian besar bakteri ini menyerang bagian paru, namun tak
(Cryptococcus neoformans)
INFEKSI JAMUR PADA SUSUNAN SARAF PUSAT (Cryptococcus neoformans) Cryptococcus neofarmans adalah jamur seperti ragi (yeast like fungus) yang ada dimanamana di seluruh dunia. Jamur ini menyebabkan penyakit
bahan yang diperoleh adalah tetap dalam isopropil alkohol dan udara kering menengah diikuti oleh budidaya pada Sabouraud agar.
Kehadiran Candida sebagai anggota flora komensal mempersulit diskriminasi keadaan normal dari infeksi. Sangat penting bahwa kedua temuan klinis dan laboratorium Data (Tabel 3) yang seimbang untuk sampai
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan dapat mengenai berbagai organ tubuh. Penyakit tuberkulosis terdapat
Task Reading: ASBES TOSIS
Task Reading: ASBES TOSIS Pendahuluan Asbestosis merupakan menghirup serat asbes. gangguan pernapasan disebabkan oleh Asbes atau Asbestos adalah bentuk serat mineral silika tahan terhadap asam kuat, serta
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Infeksi Menular Seksual (IMS) atau Sexually Transmited Infections (STIs) adalah penyakit yang didapatkan seseorang karena melakukan hubungan seksual dengan orang yang
Sarkoidosis DEFINISI PENYEBAB
Sarkoidosis DEFINISI Sarkoidosis adalah suatu penyakit peradangan yang ditandai dengan terbentuknya granuloma pada kelenjar getah bening, paru-paru, hati, mata, kulit dan jaringan lainnya. Granuloma merupakan
INFORMASI TENTANG HIV/AIDS
INFORMASI TENTANG HIV/AIDS Ints.PKRS ( Promosi Kesehatan Rumah Sakit ) RSUP H.ADAM MALIK MEDAN & TIM PUSYANSUS HIV/AIDS? HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan
PENGGOLONGAN OBAT ANTIFUNGI
PENGGOLONGAN OBAT ANTIFUNGI GOLONGAN AZOL 1. KETOKONAZOL Spektrum luas efektif terhadap Blastomyces dermatitidis, Candida species, Coccidiodes immitis, Histoplasma capsulatum, Malasezzia furfur, Paracoccidiodes
BAB I PENDAHULUAN. Infeksi Human Immunodeficiency Virus(HIV) dan penyakitacquired Immuno
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Infeksi Human Immunodeficiency Virus(HIV) dan penyakitacquired Immuno Deficiency Syndrome(AIDS) saat ini telah menjadi masalah kesehatan global. Selama kurun
I. PENDAHULUAN. disebabkan oleh mikroorganisme Salmonella enterica serotipe typhi yang
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Demam tifoid akut merupakan penyakit infeksi akut bersifat sistemik yang disebabkan oleh mikroorganisme Salmonella enterica serotipe typhi yang dikenal dengan Salmonella
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. LANDASAN TEORI Tuberkulosis A.1 Definisi Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini ditemukan pertama kali oleh Robert
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Blastocystis hominis 2.1.1 Epidemiologi Blastocystis hominis merupakan protozoa yang sering ditemukan di sampel feses manusia, baik pada pasien yang simtomatik maupun pasien
I. PENDAHULUAN. Demam tifoid merupakan masalah kesehatan yang penting di negara-negara
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Demam tifoid merupakan masalah kesehatan yang penting di negara-negara berkembang, salah satunya di Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Salmonella enterica
FORM UNTUK JURNAL ONLINE. : Pemeriksaan Penunjang Laboratorium Pada Infeksi Jamur Subkutan
: : Pemeriksaan Penunjang Laboratorium Pada Infeksi Jamur Subkutan : infeksi jamur subkutan adalah infeksi jamur yang secara langsung masuk ke dalam dermis atau jaringan subkutan melalui suatu trauma.
Jika tidak terjadi komplikasi, penyembuhan memakan waktu 2 5 hari dimana pasien sembuh dalam 1 minggu.
Virus Influenza menempati ranking pertama untuk penyakit infeksi. Pada tahun 1918 1919 perkiraan sekitar 21 juta orang meninggal terkena suatu pandemik influenza. Influenza terbagi 3 berdasarkan typenya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus RNA berpilin tunggal. HIV menginfeksi dan membunuh helper (CD4) T lymphocytes. Sel-sel lainnya yang mempunyai protein
Invasive Aspergillus Stomatitis in Patients with Acute Leukemia: Report of 12 Cases
Invasive Aspergillus Stomatitis in Patients with Acute Leukemia: Report of 12 Cases Abstrak Reprints or correspondence: Dr. Yoshinari Myoken, Dept. of Oral Surgery, Hiroshima Red-Cross Atomic Bomb Survivors
TATALAKSANA SKISTOSOMIASIS. No. Dokumen. : No. Revisi : Tanggal Terbit. Halaman :
Revisi Halaman 1. Pengertian Skistosoma adalah salah satu penyakit infeksi parasit yang disebabkan oleh cacing trematoda dari genus schistosoma (blood fluke). 2. Tujuan Prosedur ini sebagai acuan dalam
BAB 1 PENDAHULUAN. Acquired Immune Deficiency Syndrom (AIDS) dapat diartikan sebagai
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Acquired Immune Deficiency Syndrom (AIDS) dapat diartikan sebagai kumpulan gejala atau penyakit yang disebabkan oleh menurunnya kekebalan tubuh akibat infeksi oleh
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN. SISTEM IMUNITAS
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN. SISTEM IMUNITAS Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan Sistem Immunitas Niken Andalasari Sistem Imunitas Sistem imun atau sistem kekebalan tubuh
BAB I PENDAHULUAN. Istilah onikomikosis merupakan suatu istilah yang merujuk pada semua
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Istilah onikomikosis merupakan suatu istilah yang merujuk pada semua kelompok infeksi jamur yang mengenai kuku, baik itu merupakan infeksi primer ataupun infeksi sekunder
BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh Salmonella typhi (S.typhi), bersifat endemis, dan masih
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Demam tifoid merupakan penyakit infeksi tropik sistemik, yang disebabkan oleh Salmonella typhi (S.typhi), bersifat endemis, dan masih merupakan masalah kesehatan masyarakat
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Demam tifoid merupakan suatu penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh Salmonella typhi yang masih dijumpai secara luas di berbagai negara berkembang yang terutama
BAB 1 PENDAHULUAN. Sel Cluster of differentiation 4 (CD4) adalah semacam sel darah putih
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Sel Cluster of differentiation 4 (CD4) adalah semacam sel darah putih atau limfosit. Sel tersebut adalah bagian terpenting dari sistem kekebalan tubuh, Sel ini juga
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kanker atau karsinoma merupakan istilah untuk pertumbuhan sel abnormal dengan kecepatan pertumbuhan melebihi normal dan tidak terkontrol. (World Health Organization,
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Gambaran Umum HIV/AIDS HIV merupakan virus yang menyebabkan infeksi HIV (AIDSinfo, 2012). HIV termasuk famili Retroviridae dan memiliki genome single stranded RNA. Sejauh ini
Kanker Paru-Paru. (Terima kasih kepada Dr SH LO, Konsultan, Departemen Onkologi Klinis, Rumah Sakit Tuen Mun, Cluster Barat New Territories) 26/9
Kanker Paru-Paru Kanker paru-paru merupakan kanker pembunuh nomor satu di Hong Kong. Ada lebih dari 4.000 kasus baru kanker paru-paru dan sekitar 3.600 kematian yang diakibatkan oleh penyakit ini setiap
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus ribonucleic acid (RNA) yang termasuk family retroviridae dan genus lentivirus yang menyebabkan penurunan imunitas tubuh.
Mengapa Kita Batuk? Mengapa Kita Batuk ~ 1
Mengapa Kita Batuk? Batuk adalah refleks fisiologis. Artinya, ini adalah refleks yang normal. Sebenarnya batuk ini berfungsi untuk membersihkan tenggorokan dan saluran napas. Atau dengan kata lain refleks
BAB 1 PENDAHULUAN. mukosa rongga mulut. Beberapa merupakan penyakit infeksius seperti sifilis,
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sejumlah penyakit penting dan serius dapat bermanifestasi sebagai ulser di mukosa rongga mulut. Beberapa merupakan penyakit infeksius seperti sifilis, tuberkulosis,
Limfoma. Lymphoma / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved
Limfoma Limfoma merupakan kanker pada sistem limfatik. Penyakit ini merupakan kelompok penyakit heterogen dan bisa diklasifikasikan menjadi dua jenis utama: Limfoma Hodgkin dan limfoma Non-Hodgkin. Limfoma
CATATAN SINGKAT IMUNOLOGI
CATATAN SINGKAT IMUNOLOGI [email protected] Apakah imunologi itu? Imunologi adalah ilmu yang mempelajari sistem imun. Sistem imun dipunyai oleh berbagai organisme, namun pada tulisan ini sistem
Pemeriksaan PCR dalam Diagnosis Pneumonia
Pemeriksaan PCR dalam Diagnosis Pneumonia Anna Rozaliyani,*, ** Budhi Antariksa,* Dianiati K.S.,* Retno Wahyuningsih** Real-Time PCR Assay in the Diagnosis of Pneumonia ABSTRACT Pneumocystis P. jiroveci
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Mycobacterium tuberculosis dan menular secara langsung. Mycobacterium
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Etiologi dan Patogenesis Tuberkulosis Paru Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dan menular secara langsung. Mycobacterium
FORM UNTUK JURNAL ONLINE. : Keberhasilan Terapi Tingtura Podofilin 25% Pada Pasien AIDS Dengan. Giant Condyloma Acuminatum
: : Keberhasilan Terapi Tingtura Podofilin 25% Pada Pasien AIDS Dengan Giant Condyloma Acuminatum Tanggal kegiatan : 23 Maret 2010 : GCA merupakan proliferasi jinak berukuran besar pada kulit dan mukosa
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kelenjar getah bening merupakan bagian dari sistem pertahanan tubuh kita. Tubuh memiliki kurang lebih 600 kelenjar getah bening, namun pada orang sehat yang normal
E. coli memiliki bentuk trofozoit dan kista. Trofozoit ditandai dengan ciri-ciri morfologi berikut: 1. bentuk ameboid, ukuran μm 2.
PROTOZOA Entamoeba coli E. coli memiliki bentuk trofozoit dan kista. Trofozoit ditandai dengan ciri-ciri morfologi berikut: 1. bentuk ameboid, ukuran 15-50 μm 2. sitoplasma mengandung banyak vakuola yang
Manifestasi Infeksi HIV-AIDS Di Mulut. goeno subagyo
Manifestasi Infeksi HIV-AIDS Di Mulut goeno subagyo Jejak-jejak HIV-AIDS di mulut Mulut adalah organ yang unik Mikroorganisme penghuni nya banyak; flora normal dan patogen Lesi mulut dijumpai pada hampir
JOURNAL READING Imaging of pneumonia: trends and algorithms. Levi Aulia Rachman
JOURNAL READING Imaging of pneumonia: trends and algorithms Levi Aulia Rachman 1410.2210.27.115 Abstrak Pneumonia merupakan salah satu penyakit menular utama yang menyebabkan angka morbiditas dan mortalitas
BAB 1 PENDAHULUAN. HIV merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi Human
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang HIV merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi Human Immunodeficiency Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Infeksi HIV dapat menyebabkan penderita
BAB 1 PENDAHULUAN. pakar yang dipublikasikan di European Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sinusitis adalah peradangan pada salah satu atau lebih mukosa sinus paranasal. Sinusitis juga dapat disebut rinosinusitis, menurut hasil beberapa diskusi pakar yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Stroke adalah salah satu penyakit yang sampai saat ini masih menjadi masalah serius di dunia kesehatan. Stroke merupakan penyakit pembunuh nomor dua di dunia,
BAB 1 PENDAHULUAN. berkembang di daerah beriklim tropis, termasuk di Indonesia. Candida dapat
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Candida adalah salah satu jenis jamur yang banyak tumbuh dan berkembang di daerah beriklim tropis, termasuk di Indonesia. Candida dapat ditemukan di tanah, buah-buahan,
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA. Salmonella sp. yang terdiri dari S. typhi, S. paratyphi A, B dan C
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Salmonella sp. 2.1.1 Klasifikasi Salmonella sp. yang terdiri dari S. typhi, S. paratyphi A, B dan C termasuk famili Enterobacteriaceae, ordo Eubacteriales, kelas Schizomycetes
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. patofisiologi, imunologi, dan genetik asma. Akan tetapi mekanisme yang mendasari
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Asma Dari waktu ke waktu, definisi asma mengalami perubahan beberapa kali karena perkembangan dari ilmu pengetahuan beserta pemahaman mengenai patologi, patofisiologi,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Demam tifoid merupakan penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan oleh Salmonella thypi (S thypi). Pada masa inkubasi gejala awal penyakit tidak tampak, kemudian
BAB II TINJUAN PUSTAKA
BAB II TINJUAN PUSTAKA 2.1 Hepatitis B 2.1.1 Definisi Virus hepatitis adalah gangguan hati yang paling umum dan merupakan masalah kesehatan masyarakat di dunia.(krasteya et al, 2008) Hepatitis B adalah
TETAP SEHAT! PANDUAN UNTUK PASIEN DAN KELUARGA
IMUNODEFISIENSI PRIMER TETAP SEHAT! PANDUAN UNTUK PASIEN DAN KELUARGA TETAP SEHAT! PANDUAN UNTUK PASIEN DAN KELUARGA 1 IMUNODEFISIENSI PRIMER Imunodefisiensi primer Tetap sehat! Panduan untuk pasien dan
Penemuan PasienTB. EPPIT 11 Departemen Mikrobiologi FK USU
Penemuan PasienTB EPPIT 11 Departemen Mikrobiologi FK USU 1 Tatalaksana Pasien Tuberkulosis Penatalaksanaan TB meliputi: 1. Penemuan pasien (langkah pertama) 2. pengobatan yang dikelola menggunakan strategi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Demam tifoid termasuk dalam 10 besar masalah kesehatan di negara berkembang dengan prevalensi 91% pada pasien anak (Pudjiadi et al., 2009). Demam tifoid merupakan penyakit
ABSTRAK PROFIL PIODERMA PADA ANAK USIA 0-14 TAHUN DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH DENPASAR PERIODE JUNI JUNI 2016
ABSTRAK PROFIL PIODERMA PADA ANAK USIA 0-14 TAHUN DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH DENPASAR PERIODE JUNI 2015- JUNI 2016 Pioderma merupakan infeksi kulit yang disebabkan oleh kuman staphylococcus, streptococcus,
Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Bab 8 Anak menderita HIV/Aids. Catatan untuk fasilitator. Ringkasan Kasus:
Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit Bab 8 Anak menderita HIV/Aids Catatan untuk fasilitator Ringkasan Kasus: Krishna adalah seorang bayi laki-laki berusia 8 bulan yang dibawa ke Rumah Sakit dari sebuah
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Rinosinusitis kronis merupakan inflamasi kronis. pada mukosa hidung dan sinus paranasal yang berlangsung
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Rinosinusitis kronis merupakan inflamasi kronis pada mukosa hidung dan sinus paranasal yang berlangsung selama minimal 12 minggu berturut-turut. Rinosinusitis kronis
BAB I PENDAHULUAN. Amerika Selatan dan 900/ /tahun di Asia (Soedarmo, et al., 2008).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Demam tifoid masih menjadi masalah kesehatan global bagi masyarakat dunia, terutama di negara yang sedang berkembang. Besarnya angka pasti pada kasus demam tifoid di
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Organisasi kesehatan dunia, WHO, baru-baru ini membunyikan tanda bahaya untuk mewaspadai serangan berbagai penyakit infeksi. Pada tahun-tahun terakhir ini, wabah penyakit
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus ribonucleic acid (RNA) yang termasuk family retroviridae dan genus lentivirus yang menyebabkan penurunan imunitas tubuh.
II. TINJAUAN PUSTAKA. penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Berdasarkan penelitian
10 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengetahuan Pengetahuan merupakan hasil tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap sesuatu. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus penyebab sekumpulan gejala akibat hilangnya kekebalan tubuh yang disebut Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS).
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kebiasaan mengadakan hubungan seksual bebas mungkin dapat dianggap sebagai
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pola perilaku seksual Kebiasaan mengadakan hubungan seksual bebas mungkin dapat dianggap sebagai suatu bentuk kenakalan. Hubungan bebas diartikan sebagai hubungan seksual yang
PENGANTAR KESEHATAN. DR.dr.BM.Wara K,MS Klinik Terapi Fisik FIK UNY. Ilmu Kesehatan pada dasarnya mempelajari cara memelihara dan
PENGANTAR KESEHATAN DR.dr.BM.Wara K,MS Klinik Terapi Fisik FIK UNY PENGANTAR Ilmu Kesehatan pada dasarnya mempelajari cara memelihara dan meningkatkan kesehatan, cara mencegah penyakit, cara menyembuhkan
BAB I PENDAHULUAN. masih menjadi masalah kesehatan global bagi masyarakat dunia. Angka kejadian
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Demam tifoid adalah penyakit sistemik akut pada saluran pencernaan yang masih menjadi masalah kesehatan global bagi masyarakat dunia. Angka kejadian demam tifoid di
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU PADA PENDERITA DIABETES MELITUS DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT (BBKPM) SURAKARTA
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU PADA PENDERITA DIABETES MELITUS DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT (BBKPM) SURAKARTA PUBLIKASI SKRIPSI Diajukan Oleh : DINA MALIANA J 500
INFORMASI TENTANG HIV/ AIDS. Divisi Tropik Infeksi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK USU
INFORMASI TENTANG HIV/ AIDS TAMBAR KEMBAREN Divisi Tropik Infeksi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK USU 1 PENGENALAN HIV(Human Immunodeficiency Virus) ad alah virus yang menyerang SISTEM KEKEBALAN tubuh
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV)/ Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) telah menjadi masalah yang serius bagi dunia kesehatan. Menurut data World Health
Materi Penyuluhan Konsep Tuberkulosis Paru
1.1 Pengertian Materi Penyuluhan Konsep Tuberkulosis Paru Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksi kronis
BAB I PENDAHULUAN. tuberculosis. Mycobacterium tuberculosis adalah bakteri penyebab. yang penting di dunia sehingga pada tahun 1992 World Health
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi Mycobacterium tuberculosis. Mycobacterium tuberculosis adalah bakteri penyebab tuberkulosis. Tuberkulosis
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Jamur pada Mulut Jamur pada mulut merupakan ragi yang tumbuh di dalam rongga mulut, dan dapat berubah menjadi patogen dalam kondisi-kondisi tertentu. Faktor yang dapat mempengaruh
Penelitian Komparatif mengenai Karakteristik Mikrobiologi Angular. Cheilitis pada Pasien HIV Seropositif dan HIV Seronegatif dari India
Penelitian Komparatif mengenai Karakteristik Mikrobiologi Angular Cheilitis pada Pasien HIV Seropositif dan HIV Seronegatif dari India Selatan Abstrak Tujuan: Penelitian ini didesain untuk membandingkan
Leukemia. Leukemia / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved
Leukemia Leukemia merupakan kanker yang terjadi pada sumsum tulang dan sel-sel darah putih. Leukemia merupakan salah satu dari sepuluh kanker pembunuh teratas di Hong Kong, dengan sekitar 400 kasus baru
BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan utama di dunia terutama negara berkembang. Munculnya epidemik Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immunodeficiency
tudi Epidemiologi Penyakit Tuberculosis pada Populasi Sapi di Peternakan
tudi Epidemiologi Penyakit Tuberculosis pada Populasi Sapi di Peternakan Novryzal Dian Abadi Ade Margani Ferriyanto Dian K M. Amriyan N Ovilia Zabitha Uswatun Hasanah Widya Alif S Tri Cahyo D. Yessy Puspitasari
II. TINJAUAN PUSTAKA. Ukuran dari bakteri ini cukup kecil yaitu 0,5-4 mikron x 0,3-0,6 mikron
10 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tuberkulosis Paru 2.1.1 Etiologi Penyebab dari penyakit ini adalah bakteri Mycobacterium tuberculois. Ukuran dari bakteri ini cukup kecil yaitu 0,5-4 mikron x 0,3-0,6 mikron
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1. Atopi, atopic march dan imunoglobulin E pada penyakit alergi
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Atopi, atopic march dan imunoglobulin E pada penyakit alergi Istilah atopi berasal dari bahasa Yunani yaitu atopos yang berarti out of place atau di luar dari tempatnya, dan
Anjing Anda Demam, Malas Bergerak dan Cepat Haus? Waspadai Leptospirosis
Anjing Anda Demam, Malas Bergerak dan Cepat Haus? Waspadai Leptospirosis Leptospirosis adalah penyakit berbahaya yang diakibatkan oleh bakteri Leptospira interrogans sensu lato. Penyakit ini dapat menyerang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Demam tifoid merupakan infeksi bakteri sistemik yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi yang dijumpai di berbagai negara berkembang terutama di daerah tropis
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. SIMTOM ANSIETAS Ansietas dialami oleh setiap orang pada suatu waktu dalam kehidupannya. Ansietas adalah suatu keadaan psikologis dan fisiologis yang dicirikan dengan komponen
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Rongga mulut merupakan gambaran dari kesehatan seluruh tubuh, karena
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rongga mulut merupakan gambaran dari kesehatan seluruh tubuh, karena beberapa penyakit sistemik dapat bermanifestasi ke rongga mulut (Mays dkk., 2012). Stomatitis aftosa
Cryptococcus Neoformans
Nama : monica mayan permata Nim : 078114102 Kelas : c Cryptococcus Neoformans Abstraksi Penyakit infeksi masih tetap merupakan problem utama kesehatan di Indonesia. Penyakit infeksi jamur selama ini masih
BAB I PENDAHULUAN. Hepatitis merupakan penyakit inflamasi dan nekrosis dari sel-sel hati yang dapat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hepatitis merupakan penyakit inflamasi dan nekrosis dari sel-sel hati yang dapat disebabkan oleh infeksi virus. Telah ditemukan lima kategori virus yang menjadi agen
ASPERGILLUS FUMIGATUS
ASPERGILLUS FUMIGATUS Taxonomy Superkingdom : Eukaryota Kingdom : Fungi Phylum : Ascomycota Subphylum : Pezizomycotina Class : Eurotiomycetes Order : Eurotiales Family : Trichocomaceae Genus : Aspergillus
Hasil. Kesimpulan. Kata kunci : Obat-obatan kausatif, kortikosteroid, India, SCORTEN Skor, Stevens - Johnson sindrom, Nekrolisis epidermal
LATAR BELAKANG Stevens - Johnson sindrom (SJS) dan Nekrolisis epidermal (TEN) adalah reaksi obat kulit parah yang langka. Tidak ada data epidemiologi skala besar tersedia untuk penyakit ini di India. Tujuan
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kanker kepala dan leher merupakan salah satu tumor ganas yang banyak
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kanker kepala dan leher merupakan salah satu tumor ganas yang banyak terjadi didunia dan meliputi sekitar 2,8% kasus keganasan (Jemal dkk., 2006). Kanker kepala
BAB 1 PENDAHULUAN. Anemia hemolitik autoimun atau Auto Immune Hemolytic Anemia (AIHA)
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Anemia hemolitik autoimun atau Auto Immune Hemolytic Anemia (AIHA) merupakan salah satu penyakit di bidang hematologi yang terjadi akibat reaksi autoimun. AIHA termasuk
BAB 1 PENDAHULUAN. keberadaannya sejak abad 19 (Lawson, 1989). Flora konjungtiva merupakan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Adanya mikroorganisme yang normal pada konjungtiva manusia telah diketahui keberadaannya sejak abad 19 (Lawson, 1989). Flora konjungtiva merupakan populasi mikroorganisme
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. yang muncul membingungkan (Axelsson et al., 1978). Kebingungan ini tampaknya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Banyak kendala yang sering dijumpai dalam menentukan diagnosis peradangan sinus paranasal. Gejala dan tandanya sangat mirip dengan gejala dan tanda akibat infeksi saluran
BAB 1 PENDAHULUAN. Massa regio colli atau massa pada leher merupakan temuan klinis yang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Massa regio colli atau massa pada leher merupakan temuan klinis yang sering, insidennya masih belum diketahui dengan pasti. Massa pada leher dapat terjadi pada semua
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Turi (Sesbania grandiflora L) Turi dengan nama latin Sesbania grandiflora L atau Agati grandiflora Devs. Termasuk ke dalam famili tumbuhan Papilianoceae (Maharani, 2010). Terdapat
BAB I PENDAHULUAN. Kanker kulit terbagi 2 kelompok yaitu melanoma dan kelompok non
15 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kanker kulit terbagi 2 kelompok yaitu melanoma dan kelompok non melanoma. Kelompok non melanoma dibedakan atas karsinoma sel basal (KSB), karsinoma sel skuamosa
BAB I PENDAHULUAN. sesak nafas, badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun, malaise,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Gejala utama adalah batuk selama 2 minggu atau lebih, batuk disertai
: Vibrio vulnificus. Klasifikasi
Vibrio vulnificus Vibrio vulnificus merupakan bakteri yang relatif baru dalam identifikasinya sebagai bakteri yang patogen bagi manusia. Bakteri ini ditemukan sebagai patogen di tiram pada tahun1976 dan
BAB 1 PENDAHULUAN. Tuberkulosis (TB) masih menjadi penyebab kesakitan dan kematian yang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tuberkulosis (TB) masih menjadi penyebab kesakitan dan kematian yang utama khususnya di negara-negara berkembang. 1 Karena itu TB masih merupakan masalah kesehatan
BAB 1 PENDAHULUAN. yang menyebabkan infeksi karena jamur banyak ditemukan (Nasution, 2005).
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan daerah tropis dengan suhu dan kelembaban tinggi yang menyebabkan infeksi karena jamur banyak ditemukan (Nasution, 2005). Insiden penyakit infeksi
Tema Lomba Infografis Community TB HIV Care Aisyiyah 2016
Tema Lomba Infografis Community TB HIV Care Aisyiyah 2016 TEMA 1 : Tuberkulosis (TB) A. Apa itu TB? TB atau Tuberkulosis adalah Penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium Tuberkulosis. Kuman
BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang Masalah. Streptococcus sanguis merupakan bakteri kokus gram positif dan ditemukan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah merupakan bakteri kokus gram positif dan ditemukan pada rongga mulut manusia yang sehat. Bakteri ini banyak ditemukan pada plak dan karies gigi, serta pada
