TINJAUAN PUSTAKA Karakteristik E. coli
|
|
|
- Sucianty Pranoto
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 TINJAUAN PUSTAKA Karakteristik E. coli E. coli bersifat patogen karena dapat menyebabkan infeksi pada manusia dan hewan. Seorang bakteriolog yaitu Theodor Escherich, pertama kali mengidentifikasi E. coli tahun 1885 dari babi yang menderita enteritis. Enteritis merupakan peradangan usus yang bisa menyebabkan sakit perut, mual, muntah, dan diare baik manusia maupun hewan. E. coli merupakan bakteri yang bisa hidup pada lingkungan yang berbeda. Bakteri ini dapat ditemukan di tanah, air, tanaman, hewan, dan manusia (Berg 24; Bhunia 28; Manning 21). Genus Eschericia merupakan bakteri berbentuk batang (1x4 µm), motil, dan mesofilik. Bakteri ini sering ditemukan di dalam pencernaan manusia, hewan berdarah panas, dan burung (Ray 24; Duffy 26; Bhunia 28). Spesies terpenting dari genus Eschericia ialah E. coli (Ray 24; Adams dan Moss 28). E. Coli merupakan famili Enterobacteriaceae yang termasuk bakteri enterik. Bakteri enterik ialah bakteri yang bisa bertahan di dalam saluran pencernaan termasuk sruktur saluran pencernaan rongga mulut, esofagus, lambung, usus, rektum, dan anus. E. coli bisa hidup sebagai bakteri aerob maupun bakteri anaerob. Oleh karena itu, E. coli dikategorikan sebagai anaerob fakultatif (Manning 21). E. coli merupakan bakteri Gram negatif dan tidak berbentuk spora. E. coli bersifat katalase positif, oksidasi negatif, dan fermentatif. E. coli termasuk bakteri mesofilik dengan suhu pertumbuhannya dari 7 ºC sampai 5 ºC dan suhu optimum sekitar 37 ºC (Adams dan Moss 28). E. coli dapat tumbuh pada ph 4-9 dengan aktivitas air.935. Laju pertumbuhan E. coli yaitu 25 jam/generasi pada suhu 8 ºC (Forsythe 2). E. coli dapat dibedakan dengan Enterobacteriaceae lainnya berdasarkan uji gula-gula dan uji biokimia. Secara sederhana uji-uji untuk grup penting ini disebut dengan indole, methyl red, Voges-Proskeur, citrate atau disingkat IMViC (Adams dan Moss 28). Hasil uji gula-gula famili Enterobacteriaceae diperlihatkan dalam Tabel 1.
2 5 Tabel 1 Hasil uji IMViC famili Enterobacteriaceae (Adams dan Moss 28) Bakteri Indole Methyl Red Voges Proskeur Citrate E. coli Salmonella Typhimurium Citrobacter freundii Klebsiella pneumonia Enterobacter aerogens Meskipun E. coli termasuk flora normal, namun terdapat banyak galur patogen yang bisa menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan. Ada enam grup E. coli patogen yang telah diidentifikasi. Masing-masing grup memiliki virulensi dan mekanisme patogenik yang berbeda serta inang yang spesifik (Duffy 26). Galur E. coli yang menyerang manusia diklasifikasikan ke dalam enam grup yaitu enteropathogenic E. coli (EPEC), enterotoxigenic E. coli (ETEC), enterohemorrhagic E. coli (EHEC), enteroinvasive E. coli (EIEC), diffuseadhering E. coli (DAEC), dan enteroaggregative E. coli (EAEC) (Duffy 26; Meng dan Schroeder 27; Bhunia 28; Laury et al. 29; Manning 21). Pembagian grup utama dari E. coli berdasarkan mekanisme infeksi dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2 Perbedaan mekanisme infeksi grup E. coli (Beauchamp dan Sofos 21) Pathotypes Tempat perlekatan Potensi invasi Enteropathogenic E. coli (EPEC) Usus halus Sedang Enterotoxigenic E. coli (ETEC) Usus halus Tidak ada Enteroinvasive E. coli (EIEC) Usus besar (kolon) Tinggi Enteroaggregative E. coli (EAggEC) Usus halus dan usus besar Tidak ada Enterohaemorrhagic E. coli (EHEC) Usus besar (kolon) Sedang EPEC merupakan grup E. coli yang pertama kali dikenal sebagai agen penyebab penyakit diare pada manusia. ETEC dikenal sebagai agen penyebab diare pada tahun 196. Pada manusia, ETEC bisa berkoloni di usus halus dan memproduksi panas stabil (heat stable) dan panas labil (heat labile) toksin. ETEC dapat tumbuh pada suhu di bawah 4 ºC. EHEC merupakan grup E. coli penyebab
3 penyakit yang dikarakteristik dengan adanya diare berdarah (Manning 21). Karakteristik foodborne illness dari E. coli diperlihatkan dalam Tabel 3. 6 Tabel 3 Karakteristik foodborne illness (Marriot 1997) Agen Simptom Makanan terkait Tindakan preventif Enterohemmorhagic E. coli O 157 :H 7 HC, HUS 5-1% laju mortalitas akut, nyeri abdominal, muntah, anemia, trombositopenia, kerusakan ginjal akut, urin berdarah, dan pankreatitis. Daging sapi giling, produk susu, daging sapi mentah air, jus apel, dan mayonnaise. Pemelihaaraan sanitasi, iradiasi, memasak pada 65 ºC (149 ºF). Menurut Beutin et al. (1993) yang dikutip oleh Suardana et al. (27), salah satu galur EHEC yang bersifat zoonotik adalah serotipe O 157 :H 7. Rentang pertumbuhan E. coli O 157 :H 7 antara 7-45 ºC, dengan suhu optimum kira-kira 37 ºC (Fernandes 29). EHEC termasuk Shigatoxin E. coli, dikenal sebagai verocytotoxin E. coli (VTEC). Hewan seperti sapi, kambing, domba, ayam, babi, anjing, dan kucing bisa membawa jenis STEC/VTEC di dalam intestinal dan bersifat patogenik pada manusia (WHO 211; ECDC 211). EHEC dilaporkan sebagai penyebab penyakit yang serius pada manusia dengan tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi terutama pada anak-anak di Amerika Serikat. Gejala klinis yang dapat diamati adalah diare biasa sampai berdarah, hemorrhagic colitis (HC), dan hemolytic uremic syndrome (HUS). HUS menyebabkan 5-1% kematian dan menimbulkan kerusakan yang nyata pada saluran ginjal pasien (WHO 211; ECDC 211). Cemaran E. coli pada Daging Menurut SNI 2897 (28) definisi daging adalah bagian otot skeletal dari karkas ternak atau hewan yang aman, layak, dan lazim dikonsumsi oleh manusia dapat berupa daging segar, daging segar dingin, atau daging beku. Definisi cemaran mikroba ialah kontaminan jasad renik atau mikroba pada daging, telur, dan susu, serta hasil olahannya yang dapat merusak produk atau membahayakan kesehatan manusia.
4 7 Pangan asal hewan (daging, susu, telur) dan olahannya merupakan media yang sangat baik bagi pertumbuhan mikroba dan menjadikannya sebagai bahan pangan yang mudah rusak. Foodborne illness adalah penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme patogen yang mencemari makanan, seperti Salmonella, Staphylococcus aureus, E. coli, Clostridium botulinum, dan Campylobacter sp. (Adiningsih 29). E. coli termasuk ke dalam agen patogen dari foodborne illness karena beberapa galur E. coli bersifat patogenik pada manusia dan hewan (Ray 24). Sumber pencemaran E. coli pada daging unggas ialah proses selama pemotongan yang kontak dengan feses (Bhunia 28). E. coli telah digunakan dalam produk unggas untuk menilai keamanan mikrobiologis, kondisi sanitasi selama pengolahan, dan menjaga kualitas produk kesehatan masyarakat di seluruh dunia (Álvarez-Astorga et al. 22). E. coli O 157 :H 7 adalah foodborne illness yang berhubungan dengan berbagai produk makanan seperti daging, sayur-sayuran, buah-buahan, dan makanan lain (Niemira 27). Adapun cara pencemarannya adalah melalui tangan, proses eviserasi, pencemaran tidak langsung melalui polusi air, dan pengemasan produk (Forsythe 2). Berdasarkan hasil penelitian Setiowati dan Mardiastuty (29) memperlihatkan cemaran E. coli pada daging ayam di DKI Jakarta. Hasil penelitiannya dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4 Hasil uji E. coli untuk daging ayam di DKI Jakarta tahun (Setiowati dan Mardiastuty 29) Tahun Jumlah sampel E. coli < SNI > SNI Total sampel (72%) 334 (28%)
5 8 Prevalensi E. coli pada Beberapa Negara EHEC dengan serotipe utamanya E. coli O 157 :H 7, dilaporkan sebagai wabah foodborne illness pada tahun Bakteri ini umumnya tinggal di usus hewan khususnya sapi, tanpa menimbulkan gejala penyakit. Bakteri ini juga dapat diisolasi dari feses ayam, kambing, domba, babi, anjing, dan kucing. EHEC biasanya berkaitan dengan konsumsi daging, buah, sayuran yang tercemar khususnya di negara berkembang. Pangan asal hewan yang sering terkait dengan wabah EHEC di Amerika Serikat, Eropa, dan Kanada adalah daging sapi giling (ground beef), daging ayam, daging domba, dan susu segar maupun mentah (Duffy et al. 26). Menurut Ogden (27), patogenik alami E. coli O 157 :H 7 dilaporkan pertama kali oleh Riley et al. (1983). E. coli menyebabkan penyakit gastrointestinal seperti nyeri abdominal. Pada awalnya diare kemudian diikuti dengan diare berdarah dan demam. Pada dasawarsa berikutnya, gejala ini menjadi umum dalam dunia kesehatan masyarakat, sehingga E. coli O 157 :H 7 menjadi foodborne illness. Kunci patogenitas dari E. coli O 157 :H 7 dan EHEC lainnya adalah bisa menempel pada dinding saluran pencernaan dan menghasilkan verotoksin. Salah satu faktor penting yang berkontribusi dalam foodborne illness yang baru muncul (emerging) adalah peningkatan perjalanan (travel), khususnya perjalanan internasional. Setiap orang yang datang atau kembali dari suatu negara bisa membawa foodborne illness baru ke negara lain yang tidak mengenal sebelumnya. Salah satu contohnya yang berhubungan dengan diare perjalanan adalah E. coli. Faktor penting lainnya ialah perubahan dalam kebiasaan makan. Pilihan makanan seperti konsumsi susu mentah dan hamburger yang kurang masak memicu pertumbuhan yang baik bagi E. coli O 157 :H 7, sehingga menyebabkan penyebaran foodborne illness (Ray 24). Penelitian menunjukkan infeksi E. coli telah ditemukan sejak tahun 199. Berikut laporan dari Center for Disease Control and Prevention (CDC) diperlihatkan dalam Tabel 5.
6 9 Tabel 5 Infeksi E. coli O 157 :H 7 dilaporkan oleh Center for Disease Control and Prevention (CDC) (Manning 21) Tahun Lokasi Jumlah orang yang diinfeksi Diare HUS Meninggal 199 Dakota Bagian Utara Montana Ilinois Michigan dan Virginia Alpine Georgia Wisconsin Washington Washington Oregon Washington Carolina Bagian Utara Tidak diketahui Tidak diketahui Tidak diketahui Tidak diketahui 69 9 HUS= hemolytic uremic syndrome Infeksi E. coli O 157 :H 7 patogen pada manusia telah menyebabkan 16 kasus penyakit melalui makanan (foodborne illness) dan 9 orang meninggal per tahun di Amerika Serikat (AS). Kejadian wabah tunggal pada tahun 1993 di AS telah menyebabkan 7 orang menderita sakit dan empat orang meninggal (Sartika et al. 25). EHEC dikenal sebagai agen penyebab diare dan menjadi masalah kesehatan masyarakat. Infeksi EHEC sering terjadi pada anak-anak berkaitan dengan penyakit HUS. Gambaran dari HUS dicirikan dengan gagal ginjal akut, trombositopenia, dan anemia hemolisis (Olsson dan Kaijser 25). E. coli juga memproduksi toksin yang disebut Shiga toxin Eschericia coli (STEC). STEC merupakan foodborne zoonosis karena dapat menyebabkan penyakit dan berpotensi fatal HUS (Coombes et al. 211).
7 1 Beberapa negara di Eropa dihebohkan dengan wabah foodborne illness yang disebabkan oleh bakteri E. coli. Wabah E. coli yang melanda Benua Eropa telah menyebabkan 22 orang tewas dan 23 orang sakit di Benua Eropa. Bakteri E. coli diduga berasal dari perkebunan organik tanaman tauge di Jerman. Tanaman tauge organik ini dikembangkan di wilayah Jerman Utara dan diduga penyebab berkembangnya wabah E. coli di Eropa (Anonim 211). Jumlah kasus HUS di Jerman ditunjukkan pada Tabel 6. Tabel 6 Kasus HUS dan penderita HUS dengan onset diare sejak 2 Mei 211 di Jerman (Frank et al. 211) Negara bagian Jumlah kasus HUS dan penderita HUS Jumlah kejadian (per 1 populasi) Hamburg Bremen Schleswig-Holstein Mecklenburg-Vorpommern 1.61 Hesse Saarland 5.49 Lower Saxony North Rhine-Westphalia Berlin 3.9 Baden-Wurttemberg 8.7 Bavaria 5.4 Thuringia 1.4 Rhineland-Palatinate 1.2 Brandenburg. Saxony. Saxony-Anhalt. Total Pada tahun 211 Eropa menghadapi wabah bakteri E. coli yang telah menyebabkan lebih dari 16 orang sakit dan 18 orang meninggal di Jerman. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, patogen penyebab wabah ini adalah galur baru E. coli yang belum pernah dikenal oleh ilmuwan. Penelitian awal
8 11 terhadap analisis genetik menunjukkan, galur bakteri ini merupakan bentuk mutan dari dua bakteri (EAEC) dan EHEC. Menurut WHO kasus-kasus yang terjadi akibat E. coli telah dilaporkan pada beberapa negara di Eropa meliputi Austria, Denmark, Jerman, Belanda, Norwegia, Spanyol, Swedia, Swiss, dan Inggris. Total yang terinfeksi HUS dan EHEC pada beberapa negara dilaporkan pada Tabel 7. Tabel 7 Total kasus dan kematian infeksi EHEC dan HUS pada tahun 211 di beberapa negara (WHO 211) Negara HUS EHEC Kasus Meninggal Kasus Meninggal Austria 1 3 Kanada 1 Republik Ceko 1 Denmark 8 12 Perancis 2 Jerman Yunani 1 Luksemburg 1 Belanda 4 4 Norwegia 1 Polandia 2 Spanyol 1 1 Swedia Swiss 5 Inggris 3 2 Amerika Serikat 3 1 Total Wabah E. coli yang terjadi di Eropa merupakan kejadian ketiga terbesar dan paling banyak menyebabkan korban jiwa. Mayoritas kasus mengenai orang di Jerman dan orang-orang yang berpergian ke Jerman Utara. Sebelumnya dilaporkan dua orang meninggal dan 9 orang sakit pada wabah di Jepang tahun Sementara itu, pada tahun 2 di Kanada dilaporkan 7 orang meninggal karena wabah E. coli (Anna dan Chandra 211).
9 12 Salah satu dampak infeksi E. coli terhadap kesehatan masyarakat yaitu adanya kejadian wabah hemorrhagic colitis (HC) dan hemolytic uremic syndrome (HUS) di Washington, Idaho, Kalifornia, dan Nevada antara 15 November 1992 dan 28 Februari Serotipe E. coli dari Washington sendiri adalah O 157 :H 7 yang berhasil diisolasi dari 447 kasus dan diketahui tiga anak meninggal. Terdapat 14 orang positif terinfeksi E. coli O 157 :H 7, empat orang dirawat di rumah sakit, dan satu anak meninggal di Idaho, sedangkan di Nevada terdapat 58 kasus yang dapat didiagnosa, sembilan orang dirawat di rumah sakit, dan tiga orang berkembang menjadi HUS. Penyelidikan terhadap wabah regional ini diduga erat kaitannya dengan konsumsi hamburger di restoran siap santap, kemungkinan dagingnya dipasok dari RPH yang tercemar oleh E. coli O 157 :H 7 (Sartika et al. 25). Masalah utama kesehatan di Thailand yaitu diare. Di negara tersebut kirakira lebih dari 12 kasus keracunan makanan dilaporkan setiap tahun. Salmonella, Listeria monocytogenes, Shigella, Vibrio parahaemolyticus dan E. coli biasanya sebagai agen bakteri yang terlibat dalam foodborne illness (Minami et al. 21). Prevalensi foodborne illness di Thailand diperlihatkan dalam Tabel 8. Tabel 8 Prevalensi foodborne illness di supermarket dan pasar terbuka di Thailand (Minami et al. 21) Sampel Isolat Supermarket Prevalensi (%) Pasar terbuka (%) Prevalensi (%) Sapi Listeria monocytogenes 2/68 3 /4 E. coli /46 /33 Salmonella 6/25 24 /4 Ayam Listeria monocytogenes 1/28 4 5/81 6 E. coli /17 /44 Salmonella 4/ /27 48 Babi Listeria monocytogenes 14/ /36 3 E. coli /24 /22 Salmonella 2/17 12 /13
10 13 Pencegahan dan Pengendalian E. coli pada Daging Daging, ikan, dan makanan mentah lainnya mudah mengalami pencemaran silang dari bahan makanan lain. Cuci tangan setelah memegang makanan, peralatan, dan permukaan secara menyeluruh sebelum kontak dengan makanan lain khususnya yang telah dimasak dan siap untuk disajikan dapat mengurangi terjadinya pencemaran silang, serta cuci semua peralatan yang digunakan dengan air panas dan air biasa (Marwaha 27). Pencemaran merupakan keberadaan sesuatu organisme atau zat yang berbahaya atau tidak diharapkan dalam makanan atau minuman yang akan berisiko menimbulkan penyakit atau perasaan tidak nyaman atau kerusakan makanan. Pencemaran silang adalah perpindahan bakteri berbahaya atau pembusuk dari suatu makanan atau tempat ke makanan lainnya. Pencemaran silang ini bisa dari karkas ayam ke sayur-sayuran atau buah-buahan maupun sebaliknya (Meggitt 23). Pencemaran mikroba terhadap makanan dapat terjadi melalui tangan, talenan, pisau, alat masak lainnya, dan lingkungan. Tercemarnya makanan juga dapat disebabkan oleh kontak antara makanan dengan permukaan, pakaian, dan handuk. Pencemaran silang sering terjadi ketika makanan mentah bersentuhan dengan makanan yang mempunyai risiko tinggi (pencemaran langsung), cairan dari makanan mentah yang kontak dengan makanan yang mempunyai risiko tinggi atau pencemaran tidak langsung, bakteri yang terbawa oleh tangan atau peralatan dari makanan mentah ke makanan yang mempunyai risiko tinggi atau kontaminasi tidak langsung (Meggitt 23). Menurut Marwaha (27) keamanan pangan tidak hanya menyangkut kebersihan tetapi juga termasuk semua praktik yang terlibat dalam: a. Menjaga makanan dari risiko pencemaran, termasuk bahaya bakteri, racun, dan benda asing; b. Mencegah beberapa bakteri hadir berlipatganda di dalam makanan sampai tingkat menyebabkan keracunan makanan dan kecacatan makanan; dan c. Menghancurkan bahaya bakteri di dalam makanan dengan cara memasak. Tindakan pencegahan dan pengendalian E. coli pada bahan pangan yang dianjurkan antara lain penerapan praktik yang baik dalam pengolahan pangan
11 14 seperti good hygienic practice (GHP); jaminan keamanan pangan berbasis hazard analysis control point (HACCP); mencegah pencemaran silang dengan makanan lain; mengendalikan rodensia, insekta, dan burung; mencuci tangan sebelum dan sesudah mengolah bahan pangan (Buncic 26). Menurut Center for Food Security and Public Health (CFSPH), E. coli bisa diinaktifkan dengan beberapa jenis desinfektan termasuk 1% sodium hipoklorit, etanol 7%, fenol atau iodin, glutaraldehid, dan formaldehid (CFSPH 29). Organisme ini dapat diinaktifkan dengan pemanasan basah 121 ºC selama 15 menit atau pemanasan kering 17 ºC selama 1 jam. Makanan dapat diselamatkan dengan memasak pada suhu minimal 71 ºC. Selain itu, radiasi ionisasi atau pengobatan kimia dengan sodium hipoklorit bisa mengurangi atau mengeliminasi bakteri pada produk makanan. E. coli termasuk bakteri gram negatif yang hidup pada usus besar manusia, sehingga bakteri ini disebut sebagai flora normal. Jika bakteri ini memasuki saluran pencernaan dari bahan makanan seperti bahan asal hewan dan produk olahannya dapat menyebabkan diare akut atau gastroenteritis. Namun dengan proses pemasakan yang sempurna E. coli dapat musnah karena mikroba ini bersifat sensitif terhadap panas pada suhu 6 ºC selama 3 menit (Setiowati dan Mardiastuty 29). E. coli adalah agen patogen yang menyebabkan perjangkitan penyakit HC dan HUS. Patogen ini ditemukan di dalam produk susu, air, jus apel, mayonaise, dan daging sapi mentah. Feses sapi bisa berisi bakteri ini dan bisa mencemari daging selama pengolaham. Pentingnya pemantauan dan pengendalian prosedur penyembelihan dan proses pengolahan daging untuk mencegah pertumbuhan bakteri ini. Daging sapi seharusnya dimasak pada suhu internal 7 ºC (178 ºF) untuk menghancurkan patogen ini. Sebuah program sanitasi penting untuk mengurangi foodborne illness dari bakteri ini (Marriott 1997). Langkah sederhana yang direkomendasikan ketika menyiapkan daging agar sehat dan bersih ialah pertama kali cuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan setelah menyiapkan daging. Setelah memotong dan menyiapkan daging, mencuci papan pemotongan, permukaan timbangan, piring, alat perkakas di dalam air sabun sebelum digunakan kembali untuk mencegah terjadinya pencemaran silang.
12 15 Daging mentah seharusnya tidak pernah dicampur dengan makanan lain serta daging seharusnya dimasak secara keseluruhan sampai matang (Manning 21). Menurut Raharjo (23) yang dikutip dalam Wijanarko (28) konsep hazard analysis critical control point (HACCP) mempunyai peranan sangat strategis untuk menjamin keamanan produk pangan yang dihasilkan industri pangan sebagai acuan dalam pengelolaan keamanan pangan di seluruh dunia. Berdasarkan hasil penelitian, bakteri E. coli dan Staphylococcus aureus banyak ditemukannya pada sampel makanan, sehingga perlu pengecekan kebersihan dan sanitasi pada usaha jasa boga (catering). Mikroba-mikroba yang ada dalam daging, susu, dan telur tidak bisa dihindari keberadaannya lewat pencemaran sekunder pada saat penanganan sejak panen sampai meja makan. Dengan adanya pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) pasteurisasi, sterilisasi, iradiasi, dan perlakuan antimikroba dapat mengurangi risiko adanya bakteri patogen dalam bahan pangan. Pemanfaatan tekanan tinggi dengan suhu tinggi (high pressure) dengan kombinasi suhu yang lebih rendah (dari 1 ºC) telah mampu mengeliminasi mikroba-mikroba berbahaya disamping dapat menghindari kerusakan gizi karena perlakuan panas tinggi. Bakteri patogen yang harus diwaspadai dalam bahan pangan adalah E. coli O 157 :H 7, Bacillus cereus, Listeria monocytogenes, Yersinia enterolitica, Salmonella spp, dan Campylobacter jejuni (Bintoro 29). WHO (21) menyatakan lima kunci untuk keamanan pangan adalah: 1. Menjaga kebersihan a. Mencuci tangan sebelum mengolah pangan dan sesering mungkin selama pengolahan pangan; b. Mencuci tangan sesudah dari toilet; c. Mencuci dan melakukan sanitasi seluruh permukaan yang kontak dengan pangan dan alat untuk pengolahan pangan; dan d. Menjaga area dapur dan pangan dari serangga hama dan hewan lainnya. 2. Memisahkan pangan mentah dari pangan matang a. Memisahkan daging sapi, daging unggas, dan pangan hasil laut dari pangan lain;
13 16 b. Menggunakan peralatan yag terpisah seperti pisau dan talenan untuk mengolah pangan mentah; dan c. Menyimpan pangan dalam wadah untuk menghindari kontak antara pangan mentah dan pangan matang. 3. Menjaga pangan pada suhu aman a. Jangan membiarkan pangan matang pada suhu ruang lebih dari 2 jam; b. Menyimpan segera semua pangan yang cepat rusak dalam lemari pendingin (sebaiknya disimpan di bawah 5 ºC); c. Mempertahankan suhu pangan lebih dari 6 ºC sebelum disajikan; d. Jangan menyimpan pangan terlalu lama dalam lemari pendingin; dan e. Jangan membiarkan pangan beku mencair pada suhu ruang. 4. Menggunakan air dan bahan baku yang aman a. Menggunakan air yang aman atau beri perlakuan agar air aman; b. Memilih pangan segar dan bermutu; c. Memilih cara pengolahan yang menghasilkan pangan aman; dan d. Jangan mengkonsumsi pangan yang sudah kadaluwarsa. 5. Memasak dengan benar a. Memasak pangan dengan benar terutama daging sapi, daging unggas; b. Merebus pangan sampai mendidih; dan c. Memanaskan kembali pangan secara benar. Pengujian Jumlah E. coli dengan Metode Chromogenic Media chromocult coliform agar (CCA) digunakan sebagai media selektif diferensial untuk pengujian E. coli dan koliform. Media CCA terdiri dari cromogenic Salmon-GAL. Gram positif dan beberapa Gram negatif dihambat oleh Tergitol 7. Pada CCA, koloni bukan E. coli fecal koliform (Klebsiella, Enterobacter, dan Citrobacter) diidentifikasi dengan produksi warna merah muda sampai merah dari pembelahan substrat Salmon GAL oleh β-d-glucuronidase. Sementara itu, koloni E. coli dapat dideteksi dengan warna biru atau ungu yang diproduksi dari pembelahan X-glucuronide oleh β-d-glucuronidase (Manafi 2).
14 17 Chromocult agar merupakan media efektif pengganti Mac Conkey agar dalam mempelajari feses manusia dan bermanfaat untuk membedakan E. coli dari koliform lain. Pengujian yang telah dilakukan menggunakan Chromocult agar medium adalah untuk mengisolasi dan menghitung Enterobacteriaceae dari sampel feses manusia. Media ini menunjukkan efektivitas dalam identifikasi E. coli dan koliform di dalam feses tanpa dibutuhkan uji biokimia pendamping untuk konfirmasi (Finney et al. 23). Prinsip uji dengan menggunakan media Chromocult yaitu mendeteksi aktivitas β-glucuronidase biasanya digunakan untuk membedakan bakteri E. coli dengan bakteri koliform lainnya. Bakteri E. coli mempunyai uida gene yang akan melakukan encoded pada enzim β-glucuronidase sedangkan pada bakteri koliform memiliki lacz gen sehingga melakukan encoded pada enzim β-galactosidase (Bridson 26). Akibatnya E. coli akan menghasilkan warna ungu karena dapat mengikat semua chromogen, sedangkan koliform menghasilkan warna merah muda karena hanya mengikat chromogen galactosida. Karakteristik Pasar Sehat Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 519/Menkes/SK/VI/28, kesehatan suatu populasi masyarakat ditentukan oleh ketersediaan layanan masyarakat, salah satu contohnya ialah pasar tradisional. Pasar tradisional merupakan sarana penting untuk pemenuhan kebutuhan hidup, bagi kalangan masyarakat menengah ke bawah. Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli ditandai dengan adanya transaksi penjual pembeli secara langsung serta proses tawar-menawar. Bangunan pada pasar tradisional biasanya terdiri dari kios-kios atau gerai, los, dan dasaran terbuka yang dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola pasar. Kebanyakan menjual kebutuhan sehari-hari seperti bahan-bahan makanan berupa ikan, buah, sayur-sayuran, telur, daging, kain, pakaian barang elektronik, jasa dan lain-lain. Pasar memiliki arti penting bagi masyarakat sebagai penyedia pangan yang aman. Pasar juga dapat berpotensi sebagai penularan/penyebaran penyakit antar tempat, hewan, dan manusia. Definisi pasar sehat menurut Keputusan Menteri
15 18 Kesehatan Nomor 519/Menkes/SK/VI/28 ialah kondisi pasar bersih, nyaman, aman, dan sehat melalui kerjasama seluruh stakeholder terkait dalam menyediakan pangan yang aman dan bergizi bagi masyarakat. Persyaratan kesehatan lingkungan pasar dari aspek bangunan (tempat penjualan bahan pangan basah) telah diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 519/Menkes/SK/VI/28 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat. Persyaratan tempat penjualan bahan pangan basah menurut Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat yaitu: a. Mempunyai meja tempat penjualan dengan permukaan yang rata dengan kemiringan cukup sehingga tidak menimbulkan genangan air dan tersedia lubang pembuangan air. Setiap sisi memiliki sekat pembatas dan mudah dibersihkan dengan tinggi minimal 6 cm dari lantai dan terbuat dari bahan tahan karat dan bukan dari kayu; b. Penyajian karkas harus digantung; c. Alas pemotong (talenan) tidak terbuat dari bahan kayu, tidak mengandung bahan beracun, kedap air, dan mudah dibersihkan; d. Pisau untuk memotong bahan mentah harus berbeda dan tidak berkarat e. Tersedia tempat penyimpanan bahan pangan seperti seperti: ikan dan daging menggunakan rantai dingin (chold chain) atau suhu rendah (4-1 ºC); f. Tersedia tempat untuk pencucian bahan pangan dan peralatan; g. Tersedia tempat cuci tangan yang dilengkapi dengan sabun dan air yang mengalir; h. Saluran pembuangan limbah tertutup dengan kemiringan sesuai ketentuan yang berlaku sehingga memudahkan aliran limbah serta tidak melewati area penjualan; i. Tersedia tempat sampah kering dan basah, kedap air, tertutup dan mudah diangkat; dan j. Tempat penjualan bebas vektor penular penyakit dan tempat perindukannya, seperti lalat, kecoa, tikus, dan nyamuk. Aspek pencahayaan pasar sehat menurut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 519/Menkes/SK/VI/28 ialah intensitas pencahayaan setiap ruangan harus cukup untuk melakukan pekerjaan pengelolaan bahan makanan secara
16 19 efektif, kegiatan pembersihan makanan, dan pencahayaan cukup terang agar dapat melihat barang dengan jelas minimal 1 luks. Sanitasi air bersih harus tersedia dengan jumlah yang cukup setiap hari secara berkesinambungan, minimal 4 liter per pedagang. Kualitas air bersih yang tersedia harus memenuhi persyaratan, tersedia tendon air yang menjamin kesinambungan ketersedian air, dan dilengkapi dengan kran yang tidak bocor, jarak sumber air bersih dengan pembuangan limbah minimal 1 m serta kualitas air bersih diperiksa 6 bulan sekali. Setiap kios harus tersedia tempat sampah basah dan kering. Tempat sampah harus terbuat dari bahan kedap air, tidak mudah berkarat, kuat, tertutup, dan mudah dibersihkan. Terdapat juga tempat pembuangan sampah sementara (TPS) yang mudah dijangkau oleh petugas pengangkut sampah dan tidak menjadi tempat perindukan vektor penular penyakit.
BAB I PENDAHULUAN. komoditas ternak yang memiliki potensi cukup besar sebagai penghasil daging
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sapi merupakan hewan berdarah panas yang berasal dari famili Bovidae. Sapi banyak dipelihara sebagai hewan ternak. Ternak sapi merupakan salah satu komoditas ternak
BAB I PENDAHULUAN. ditularkan kepada manusia melalui makanan (Suardana dan Swacita, 2009).
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Foodborne disease adalah penyakit yang ditularkan lewat makanan, dengan ciri berupa gangguan pada saluran pencernaan dengan gejala umum sakit perut, diare dan atau
BAB I PENDAHULUAN. daging bagi masyarakat (BSN, 2008). Daging sapi sebagai protein hewani adalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sapi Bali merupakan salah satu dari beberapa bangsa sapi potong asli Indonesia yang memegang peranan cukup penting dalam penyediaan kebutuhan daging bagi masyarakat
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Tempat Penjualan Daging Ayam Sampel daging ayam yang diteliti diperoleh dari pasar-pasar di Kota Tangerang Selatan. Selama pengambilan kuisioner terdapat 24 pedagang
BAB 1 PENDAHULUAN. Derajat kesehatan masyarakat merupakan salah satu indikator harapan hidup
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Derajat kesehatan masyarakat merupakan salah satu indikator harapan hidup manusia yang harus dicapai, untuk itu diperlukan upaya-upaya dalam mengatasi masalah kesehatan
TINJAUAN PUSTAKA. xvii
xvii TINJAUAN PUSTAKA Daging Ayam Karkas ayam adalah bobot tubuh ayam setelah dipotong dikurangi kepala, kaki, darah, bulu serta organ dalam. Persentase bagian yang dipisahkan sebelum menjadi karkas adalah
HASIL DAN PEMBAHASAN
xxix HASIL DAN PEMBAHASAN Sampel daging ayam beku yang diambil sebagai bahan penelitian berasal dari daerah DKI Jakarta sebanyak 16 sampel, 11 sampel dari Bekasi, 8 sampel dari Bogor, dan 18 sampel dari
BAB I PENDAHULUAN. dan telah lama dimanfaatkan sebagai sumber protein yang cukup penting bagi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Susu merupakan salah satu bahan alami yang mempunyai nilai gizi tinggi dan telah lama dimanfaatkan sebagai sumber protein yang cukup penting bagi manusia. Pada umumnya
HASIL DAN PEMBAHASAN
25 HASIL DAN PEMBAHASAN Sampel susu berasal dari 5 kabupaten yaitu Bogor, Bandung, Cianjur, Sumedang dan Tasikmalaya. Lima sampel kandang diambil dari setiap kabupaten sehingga jumlah keseluruhan sampel
BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Makanan merupakan kebutuhan hidup manusia yang paling mendasar karena makanan adalah sumber energi manusia. Makanan yang dikonsumsi manusia mempunyai banyak jenis dan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tomat dapat dijadikan sebagai bahan dasar kosmetik atau obat-obatan. Selain
4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tanaman Tomat Tanaman tomat merupakan komoditas yang multiguna. Tidak hanya berfungsi sebagai sayuran dan buah saja, tomat juga sering dijadikan pelengkap bumbu, minuman
TINJAUAN PUSTAKA Foodborne Disease
TINJAUAN PUSTAKA Foodborne Disease Foodborne disease adalah suatu penyakit ditimbulkan akibat mengonsumsi makanan atau minuman yang tercemar. Foodborne disease disebabkan oleh berbagai macam mikroorganisme
Faktor yang mempengaruhi keracunan makanan. Kontaminasi Pertumbuhan Daya hidup
Marselinus Laga Nur Faktor yang mempengaruhi keracunan makanan Kontaminasi Pertumbuhan Daya hidup Bacilus cereus Gram-positif Aerobik membentuk endospora Tahan terhadap panas kering dan disinfektan kimia
BAB I PENDAHULUAN. Sapi bali merupakan salah satu bangsa sapi asli Indonesia dan keturunan asli
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sapi bali merupakan salah satu bangsa sapi asli Indonesia dan keturunan asli banteng dan telah mengalami proses domestikasi. Sapi bali telah tersebar di seluruh wilayah
KERACUNAN PANGAN AKIBAT BAKTERI PATOGEN
KERACUNAN PANGAN AKIBAT BAKTERI PATOGEN Pangan merupakan kebutuhan esensial bagi setiap manusia untuk pertumbuhan maupun mempertahankan hidup. Namun, dapat pula timbul penyakit yang disebabkan oleh pangan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Taksonomi Escherichia coli adalah sebagai berikut:
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Escherichia coli Taksonomi Escherichia coli adalah sebagai berikut: Kingdom Filum Kelas Ordo Familia Genus : Bacteria : Proteobacteria : Gamma Proteobacteria : Enterobacteriales
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sapi adalah hewan ternak yang merupakan famili Bovidae dari subfamili
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sapi Sapi adalah hewan ternak yang merupakan famili Bovidae dari subfamili Bovinae. Sapi banyak dimanfaatkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bangsa ( breed) sapi
BAB I PENDAHULUAN. oleh manusia. Sumber protein tersebut dapat berasal dari daging sapi,
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Daging merupakan salah satu sumber protein yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Sumber protein tersebut dapat berasal dari daging sapi, kerbau, kuda, domba, kambing,
TINJAUAN PUSTAKA. melindungi kebersihan tangan. Sanitasi adalah upaya kesehatan dengan cara
TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Higienis dan Sanitasi Higienis adalah upaya kesehatan dengan cara memelihara dan melindungi kebersihan subjeknya seperti mencuci tangan dengan air bersih dan sabun untuk melindungi
BAB I PENDAHULUAN. Pengembangan keberhasilan program sanitasi makanan dan minuman
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang. Pengembangan keberhasilan program sanitasi makanan dan minuman diperlukan peraturan dalam memproses makanan dan pencegahan terjadinya food borne disease. Selain itu
BAB I PENDAHULUAN. Escherichia coli O157:H7 merupakan salah satu enterohaemorrhagic
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Escherichia coli O157:H7 merupakan salah satu enterohaemorrhagic Escherichia coli atau disebut EHEC yang dapat menyebabkan kematian pada manusia (Andriani, 2005; Todar,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pencernaan manusia dan hewan. Bakteri Coliform digunakan sebagai indikator
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Coliform 1. Pengertian Coliform Coliform merupakan golongan bakteri intestinal yang hidup dalam saluran pencernaan manusia dan hewan. Bakteri Coliform digunakan sebagai indikator
TINJAUAN PUSTAKA Kepentingan Higiene dan Sanitasi
4 TINJAUAN PUSTAKA Kepentingan Higiene dan Sanitasi Higiene berasal dari bahasa Yunani yang artinya sehat atau baik untuk kesehatan. Tujuan higiene adalah untuk menjamin agar daging tetap aman dan layak
BAB 1 PENDAHULUAN. bila dikonsumsi akan menyebabkan penyakit bawaan makanan atau foodborne
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebersihan makanan dan minuman sangatlah penting karena berkaitan dengan kondisi tubuh manusia. Apabila makanan dan minuman yang dikonsumsi tidak terjaga kebersihannya
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. masyarakat, baik di perkotaan maupun di pedesaan. Makanan jajanan (street food)
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Makanan jajanan sudah menjadi bagian yang penting dalam kehidupan masyarakat, baik di perkotaan maupun di pedesaan. Makanan jajanan (street food) adalah makanan dan
BAB II TUJUAN PUSTAKA. jalan seperti es dawet, es kelapa muda, dan es rumput laut. Pecemaran oleh
BAB II TUJUAN PUSTAKA A. ES JUS Es Jus merupakan salah satu bentuk minuman ringan yang dapat langsung diminum sebagai pelepas dahaga. Es Jus terbuat dari beberapa bahan antara lain es batu,buah,,sirup,
BAB I PENGANTAR. alami Salmonella sp adalah di usus manusia dan hewan, sedangkan air dan
BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Bakteri Salmonella sp merupakan mikrobia pathogen penyebab sakit perut yang dapat menyebabkan kematian, yang disebut sebagai Salmonellosis. Habitat alami Salmonella sp
BAKTERI PENCEMAR MAKANAN. Modul 3
BAKTERI PENCEMAR MAKANAN Modul 3 PENDAHULUAN Di negara maju 60% kasus keracunan makanan akibat Penanganan makanan yg tidak baik Kontaminasi makanan di tempat penjualan Di negara berkembang tidak ada data
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kecamatan Kuta Selatan terletak di selatan Kabupaten Badung tepatnya pada 8º
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kondisi Geografis Kecamatan Kuta Selatan Kecamatan Kuta Selatan terletak di selatan Kabupaten Badung tepatnya pada 8º46 58.7 LS dan 115º05 00-115º10 41.3 BT, berada pada ketinggian
BAB I PENDAHULUAN. Susu merupakan salah satu sumber protein yang baik dikonsumsi oleh
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Susu merupakan salah satu sumber protein yang baik dikonsumsi oleh manusia, baik dalam bentuk segar maupun sudah diproses dalam bentuk produk. Susu adalah bahan pangan
BAB I PENDAHULUAN. Escherichia coli yang merupakan salah satu bakteri patogen. Strain E. coli yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit ginjal dan usus pada manusia sangat erat kaitanya dengan bakteri Escherichia coli yang merupakan salah satu bakteri patogen. Strain E. coli yang bersifat zoonosis
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Coliform adalah bakteri gram negatif berbentuk batang bersifat anaerob
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Coliform Coliform adalah bakteri gram negatif berbentuk batang bersifat anaerob atau fakultatif anaerob, tidak membentuk spora, dan dapat memfermentasi laktosa untuk menghasilkan
PENDAHULUAN Latar Belakang
1 PENDAHULUAN Latar Belakang Balai Besar Karantina Pertanian Soekarno-Hatta (BBKPSH) merupakan unit pelaksana teknis (UPT) lingkup Badan Karantina Pertanian yang berkedudukan di Bandara Udara Internasional
B. Bangunan 1. Umum Bangunan harus dibuat sesuai dengan peraturan perundangundangan
Syarat kesehatan yang mengacu pada Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 519/MENKES/SK/VI/2008 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat: A. Lokasi 1. Lokasi sesuai dengan Rencana Umum
Palembang Zuhri, Tangerang Christiyanto, 2002
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Makanan merupakan kebutuhan dasar manusia untuk melanjutkan kehidupan. Makanan yang dikonsumsi dapat berasal dari kafe, restoran, kantin, dan industri katering yang sudah
TINJAUAN PUSTAKA. (a) (b) (c) (d) Gambar 1. Lactobacillus plantarum 1A5 (a), 1B1 (b), 2B2 (c), dan 2C12 (d) Sumber : Firmansyah (2009)
TINJAUAN PUSTAKA Lactobacillus plantarum Bakteri L. plantarum termasuk bakteri dalam filum Firmicutes, Ordo Lactobacillales, famili Lactobacillaceae, dan genus Lactobacillus. Lactobacillus dicirikan dengan
BAB I PENDAHULUAN. pembelahan daging ayam untuk mengeluarkan jeroan, dan proses pengeluaran
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sumber kontaminasi bakteri pada daging ayam dapat berasal dari lingkungan sekitar pemotongan (rumah potong hewan), proses pemotongan daging ayam (perendaman
BAB I PENDAHULUAN. Letak geografis Kecamatan Kuta Selatan berada di ketinggian sekitar 0-28 meter di
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Letak geografis Kecamatan Kuta Selatan berada di ketinggian sekitar 0-28 meter di atas permukaan laut. Kecamatan Kuta Selatan sejak tahun 2013 masih mempunyai beberapa
BAB I PENDAHULUAN. Makanan adalah salah satu kebutuhan dasar manusia dan merupakan hak
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Makanan adalah salah satu kebutuhan dasar manusia dan merupakan hak asasi setiap orang untuk keberlangsungan hidupnya. Makanan adalah unsur terpenting dalam menentukan
TINJAUAN PUSTAKA. Pemerintah, 2004). Sumber pangan yang berasal dari sumber nabati ataupun
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Keamanan Pangan Asal Hewan Keamanan pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan guna mencegah pangan dari cemaran biologi, kimia dan benda lainnya yang dapat mengganggu, merugikan
TINJAUAN PUSTAKA Bakteri Asam Laktat
TINJAUAN PUSTAKA Bakteri Asam Laktat Sifat yang terpenting dari bakteri asam laktat adalah memiliki kemampuan untuk memfermentasi gula menjadi asam laktat. Berdasarkan tipe fermentasi, bakteri asam laktat
HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Pedagang Daging
HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Pedagang Daging Sampel daging sapi dan ayam diperoleh dari pasar-pasar tradisional di 12 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat. Sebagian besar pedagang daging sapi (54.2%)
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang World Health Organization atau WHO (2006), mendefinisikan foodborne disease sebagai istilah umum untuk menggambarkan penyakit yang disebabkan oleh makanan dan minuman
BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1996
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu,
MIKROORGANISME PATOGEN. Prepare by Siti Aminah Kuliah 2. Prinsip Sanitasi Makanan
MIKROORGANISME PATOGEN Prepare by Siti Aminah Kuliah 2. Prinsip Sanitasi Makanan Sub Pokok Bahasan Definisi mikroorganisem pathogen Infeksi dan intoksikasi Jenis-jenis mikroorganisme pathogen dalam makanan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pencernaan pada manusia. Bakteri Escherichia coli pertama kali ditemukan oleh Theodor
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bakteri Escherichia coli O157:H7 Escherichia coli dikenal sebagai salah satu bakteri yang menyebabkan gangguan pencernaan pada manusia. Bakteri Escherichia coli pertama kali
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. manusia dan juga hewan berdarah panas. Kelompok bakteri Coliform diantaranya
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Coliform 1. Pengertian Coliform Coliform merupakan bakteri yang memiliki habitat normal di usus manusia dan juga hewan berdarah panas. Kelompok bakteri Coliform diantaranya Escherechia,
BAB I PENDAHULUAN. Nilai konsumsi tahu tersebut lebih besar bila dibandingkan dengan konsumsi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Tahu merupakan makanan yang biasa dikonsumsi bukan hanya oleh masyarakat Indonesia tetapi juga masyarakat Asia lainnya. Masyarakat Indonesia sudah sangat lama mengkonsumsi
BAB I PENDAHULUAN. Bakteri Escherichia coli merupakan bakteri yang umum menghuni usus
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Bakteri Escherichia coli merupakan bakteri yang umum menghuni usus hewan dan manusia dengan ratusan strain yang berbeda, baik yang berbahaya maupun yang
MIKROORGANISME DALAM PENGEMAS ASEPTIK PENGENDALIAN MUTU MIKROORGANISME PANGAN KULIAH MIKROBIOLOGI PANGAN PERTEMUAN KE-12
MIKROORGANISME DALAM PENGEMAS ASEPTIK PENGENDALIAN MUTU MIKROORGANISME PANGAN KULIAH MIKROBIOLOGI PANGAN PERTEMUAN KE-12 MIKROORGANISME MAKANAN DAN KEMASAN Bahan pangan mempunyai mikroflora spesifik yang
I. PENDAHULUAN. Penyakit yang ditularkan melalui makanan (foodborne disease) merupakan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit yang ditularkan melalui makanan (foodborne disease) merupakan permasalahan kesehatan masyarakat yang banyak dijumpai dan penyebab signifikan menurunnya produktivitas
BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN A.
BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Makanan merupakan salah satu kebutuhan pokok yang diperlukan manusia untuk pertumbuhan dan perkembangan badan. Makanan yang dikonsumsi harus aman dan
TINJAUAN PUSTAKA Susu
3 Susu TINJAUAN PUSTAKA Susu adalah sekresi yang dihasilkan mammae atau ambing hewan mamalia termasuk manusia dan merupakan makanan pertama bagi bayi manusia dan hewan sejak dilahirkan (Lukman et al. 2009).
BAB 1 PENDAHULUAN. Es batu merupakan air yang dibekukan dan biasanya dijadikan komponen
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Es batu merupakan air yang dibekukan dan biasanya dijadikan komponen pelengkap minuman (Hadi, 2014). Es batu termasuk produk yang penting dalam berbagai bidang usaha
Morfologi dan Taksonomi Escherichia coli
Morfologi dan Taksonomi Escherichia coli Bakteri ini termasuk flora normal tubuh yang berbentuk batang pendek (kokobasil) berukuran 0,4-0,7 μm x 1,4 μm. Bersifat Gram negatif. E. coli memiliki 150 tipe
BAB I PENDAHULUAN. media pertumbuhan mikroorganisme. Daging (segar) juga mengandung enzim-enzim
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Daging adalah salah satu pangan asal hewan yang mengandung zat gizi yang sangat baik untuk kesehatan dan pertumbuhan manusia, serta sangat baik sebagai media pertumbuhan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Escherichia coli BAB II TINJAUAN PUSTAKA Escherichia coli merupakan bakteri komensal yang dapat bersifat patogen, bertindak sebagai penyebab utama morbiditas dan mortalitas diseluruh dunia (Tenailon
BAB 1 PENDAHULUAN. kelebihan berat badan, anemia, dan sebagainya (Rahal et al., 2014). Sayuran
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sayuran merupakan sumber vitamin, mineral, air, protein, lemak, serat, dan asam amino yang paling mudah didapatkan dengan harga terjangkau. Mengkonsumsi sayuran hijau
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Makanan dan minuman merupakan kebutuhan primer bagi manusia sebagai penghasil energi yang digunakan tubuh dalam melakukan aktivitas demi kelangsungan hidupnya. Ada berbagai jenis
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
DAFTAR PUSTAKA... 70 LAMPIRAN DAFTAR TABEL Tabel 2.1. komposisi Kimia Daging Tanpa Lemak (%)... 12 Tabel 2.2. Masa Simpan Daging Dalam Freezer... 13 Tabel 2.3. Batas Maksimum Cemaran Mikroba Pada Pangan...
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Makanan Makanan diperlukan untuk kehidupan karena makanan merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia. Makanan berfungsi untuk memelihara proses tubuh dalam
I. PENDAHULUAN. Infeksi dan kontaminasi yang disebabkan oleh Salmonella sp. ditemukan hampir di. Infeksi bakteri ini pada hewan atau manusia dapat
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Infeksi dan kontaminasi yang disebabkan oleh Salmonella sp. ditemukan hampir di seluruh belahan dunia. Infeksi bakteri ini pada hewan atau manusia dapat
I. PENDAHULUAN. yang dapat menyebabkan kematian, yang disebut sebagai salmonellosis. Habitat
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bakteri Salmonella sp merupakan mikrobia patogen penyebab sakit perut yang dapat menyebabkan kematian, yang disebut sebagai salmonellosis. Habitat alami Salmonella sp adalah
PENDAHULUAN Latar Belakang
PENDAHULUAN Latar Belakang Air susu ibu merupakan makanan terbaik bagi bayi jika ditinjau dari, komposisi zat gizinya, dimana zat gizi yang terdapat dalam air susu ibu ini sangat kompleks, tetapi ketersediaan
Analisa Mikroorganisme
19 Analisa Mikroorganisme Pemeriksaan awal terhadap 36 sampel daging ayam dan 24 sampel daging sapi adalah pemeriksaan jumlah mikroorganisme. Hasil yang diperoleh untuk rataan jumlah mikroorganisme daging
BAB I PENDAHULUAN. produktifitas manusia merupakan faktor yang mendukung nilai ekonomi dalam
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Makanan dan minuman merupakan bahan pokok yang penting dalam kehidupan manusia. Sebagai salah satu kebutuhan pokok, makanan dan minuman dibutuhkan manusia untuk hidup,
Pangan dengan potensi bahaya. Bahan Pangan Apa yang Mudah Terkontaminasi? BERBAGAI JENIS BAHAYA SERTA CARA PENGENDALIANNYA
BERBAGAI JENIS BAHAYA SERTA CARA PENGENDALIANNYA AMANKAN PANGAN dan BEBASKAN PRODUK dari BAHAN BERBAHAYA BAHAYA BIOLOGIS BAHAYA FISIK BAHAYA KIMIA BEBAS BAHAYA Mengapa Keamanan Pangan Penting? Melindungi
BERBAGAI JENIS BAHAYA SERTA CARA PENGENDALIANNYA
BERBAGAI JENIS BAHAYA SERTA CARA PENGENDALIANNYA BAHAYA BIOLOGIS BAHAYA KIMIA AMANKAN PANGAN dan BEBASKAN PRODUK dari BAHAN BERBAHAYA BAHAYA FISIK BEBAS BAHAYA Mengapa Keamanan Pangan Penting? Melindungi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kecamatan Abiansemal adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Badung
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kondisi Geografis Kecamatan Abiansemal adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Badung Utara, berbatasan dengan Kecamatan Petang disebelah Utara, Kabupaten Gianyar disebelah
Sumber penularan penyakit. Penerima. Diagram Penularan Penyakit
BAB 2 PENYAKIT BAWAAN MAKANAN (FOOD BORNE DISEASE) Sumber penularan penyakit orang sakit binatang / insekta tanaman beracun parasit Penerima manusia hewan Penyebaran penyakit tergantung pada kontak langsung
LAMPIRAN 1 KUESIONER PENJAMAH MAKANAN DI RUMAH MAKAN
LAMPIRAN 58 LAMPIRAN 1 KUESIONER PENJAMAH MAKANAN DI RUMAH MAKAN KARAKTERISTIK SAMPEL Responden adalah penjamah makanan di rumah makan Jumlah responden adalah seluruh penjamah makanan di rumah makan Lembar
BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang. untuk memenuhi hampir semua keperluan zat-zat gizi manusia. Kandungan yang
1 BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Susu dan produk olahannya merupakan pangan asal hewan yang kaya akan zat gizi, seperti protein, lemak, laktosa, mineral dan vitamin yang dibutuhkan untuk memenuhi hampir
I. PENDAHULUAN. Escherichia coli adalah bakteri yang merupakan bagian dari mikroflora yang
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Escherichia coli adalah bakteri yang merupakan bagian dari mikroflora yang secara normal ada dalam saluran pencernaan manusia dan hewan berdarah panas. E. coli termasuk
BAB I PENDAHULUAN. adanya makanan maka manusia tidak dapat melangsungkan hidupnya. Makanan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Makanan merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia. Tanpa adanya makanan maka manusia tidak dapat melangsungkan hidupnya. Makanan berfungsi untuk
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA. dikenal orang karena lalat ini biasanya hidup berasosiasi dengan manusia.
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Lalat Rumah (Musca domestica) Lalat rumah (M. domestica) merupakan lalat yang paling umum dikenal orang karena lalat ini biasanya hidup berasosiasi dengan manusia. M. domestica
BAB 1 PENDAHULUAN. adanya mikroorganisme patogen pada makanan dan minuman sehingga bisa
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Makanan dan minuman merupakan kebutuhan pokok bagi manusia. Makanan dan minuman selain berfungsi dalam mendukung kesehatan juga bisa menjadi sumber penyakit bagi manusia.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Agustine(2008) kerang hijau (green mussels) diklasifikasikan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kerang Hijau (Perna viridis) 1. Klasifikasi Menurut Agustine(2008) kerang hijau (green mussels) diklasifikasikan sebagai berikut : Kingdom : Animalia Phylum : Mollusca Class
COXIELLA BURNETII OLEH : YUNITA DWI WULANSARI ( )
COXIELLA BURNETII OLEH : YUNITA DWI WULANSARI (078114113) KLASIFIKASI ILMIAH Kingdom : Bacteria Phylum : Proteobacteria Class : Gamma Proteobacteria Order : Legionellales Family : Coxiellaceae Genus :
Bahan pada pembuatan sutra buatan, zat pewarna, cermin kaca dan bahan peledak. Bahan pembuatan pupuk dalam bentuk urea.
Langkah 3 Penggunaan formalin: Pembunuh kuman sehingga dimanfaatkan untuk pembersih: lantai, kapal, gudang, pakaian. Pembasmi lalat dan berbagai serangga lain. Bahan pada pembuatan sutra buatan, zat pewarna,
I. PENDAHULUAN. dan semua produk hasil pengolahan jaringan yang dapat dimakan dan tidak
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Daging adalah semua jaringan hewan, baik yang berupa daging dari karkas, organ, dan semua produk hasil pengolahan jaringan yang dapat dimakan dan tidak menimbulkan gangguan
BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Letusan penyakit akibat pangan (food borne diseases) dan kejadiankejadian
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dewasa ini masalah keamanan pangan sudah merupakan masalah global, sehingga mendapat perhatian utama dalam penetapan kebijakan kesehatan masyarakat. Letusan penyakit
26 Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 53/M-DAG/PER/12/2008 tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, P
HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Tempat Penjualan Daging Ayam Tiga pasar tradisional di Kota Tangerang Selatan menjadi lokasi pengambilan sampel daging ayam, yaitu Pasar Modern, Pasar Bukit, dan Pasar
ANALISIS COLIFORM PADA MINUMAN ES DAWET YANG DIJUAL DI MALIOBORO YOGYAKARTA
ANALISIS COLIFORM PADA MINUMAN ES DAWET YANG DIJUAL DI MALIOBORO YOGYAKARTA Siti Fatimah1, Yuliana Prasetyaningsih2, Meditamaya Fitriani Intan Sari 3 1,2,3 Prodi D3 Analis Kesehatan STIKes Guna Bangsa
TINJAUAN PUSTAKA. 18,20 Lemak (g) 25,00 Kalsium (mg) 14,00 Fosfor (mg) 200,00 Besi (mg) 1,50 Vitamin B1 (mg) 0,08 Air (g) 55,90 Kalori (kkal)
TINJAUAN PUSTAKA Karkas Ayam Pedaging Ayam dibagi menjadi 2 tipe yaitu ayam petelur dan ayam pedaging. Ayam petelur adalah ayam yang dimanfaatkan untuk diambil telurnya sedangkan ayam pedaging adalah ayam
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Coliform adalah bakteri yang termasuk dalam famili Enterobactericeae,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bakteri Coliform Coliform adalah bakteri yang termasuk dalam famili Enterobactericeae, dan terdiri dari empat genus yaitu: Citrobacter, Enterobacter, Escherichia dan Klebsiella.
Keberadaan mikroorganisme patogen pada makanan umumnya tidak menyebabkan perubahan fisik
Prerequisite Program #7 Pencegahan Kontaminasi Silang Pencegahan, pengendalian, deteksi kontaminasi; kontaminasi mikrobiologik, fisik, dan kimiawi Bahaya biologis: cacing, protozos, bakteri, cendawan/fungi
BAB 1 : PENDAHULUAN. aman dalam arti tidak mengandung mikroorganisme dan bahan-bahan lain yang
BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Makanan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia, sebab makanan yang kita makan bukan saja harus memenuhi gizi tetapi harus juga aman dalam
I. PENDAHULUAN. diolah maupun yang tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan atau
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari hayati dan air, baik yang diolah maupun yang tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menjaga kebersihan tangan merupakan salah satu cara untuk mencegah penyebaran infeksi melalui jalan fecal-oral, seperti diare. Diare didefinisikan sebagai buang air
sebagai vector/ agen penyakit yang ditularkan melalui makanan (food and milk
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal.
STUDI KANDUNGAN BAKTERI Salmonella sp. PADA MINUMAN SUSU TELUR MADU JAHE (STMJ) DI TAMAN KOTA DAMAY KECAMATAN KOTA SELATAN KOTA GORONTALO TAHUN 2012
1 Summary STUDI KANDUNGAN BAKTERI Salmonella sp. PADA MINUMAN SUSU TELUR MADU JAHE (STMJ) DI TAMAN KOTA DAMAY KECAMATAN KOTA SELATAN KOTA GORONTALO TAHUN 2012 TRI ASTUTI NIM 811408115 Program Studi Kesehatan
LEMBAR PENILAIAN PASAR SETONOBETEK SESUAI KEPMENKES RI NO. 519/MENKES/SK/VI/2008 YANG TELAH DIMODIFIKASI
LEMBAR PENILAIAN PASAR SETONOBETEK SESUAI KEPMENKES RI NO. 9/MENKES/SK/VI/ YANG TELAH DIMODIFIKASI NO. a. b. - VARIABEL UPAYA BANGUNAN PASAR Penataan ruang dagang Tempat penjualan bahan pangan dan makanan
BAB 1 PENDAHULUAN. akan dikonsumsi akan semakin besar. Tujuan mengkonsumsi makanan bukan lagi
15 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pangan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang penting. Semakin maju suatu bangsa, tuntutan dan perhatian terhadap kualitas pangan yang akan dikonsumsi
