SEKTOR PERDAGANGAN, HOTEL DAN RESTORAN
|
|
|
- Hartono Tedja
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 SEKTOR PERDAGANGAN, HOTEL DAN RESTORAN Sektor perdagangan dalam Penghitungan Regional Income adalah semua balas jasa yang diterima oleh pedagang besar, pedagang eceran, rumah makan dan sebagainya. Adapun barang dagangan yang dimaksud ada yang berasal dari daerah sendiri maupun dari luar daerah Kabupaten Tegal. Sektor ini terdiri dari tiga sub sektor yaitu sub sektor perdagangan besar dan eceran, hotel, dan sub sektor restoran. Pada dasarnya kegiatan yang dicakup meliputi kegiatan perdagangan, penyediaan akomodasi/hotel, serta penjualan makanan dan minuman (seperti restoran, warung, kedai, pedagang keliling, dan sejenisnya). PERDAGANGAN Sub sektor perdagangan mencakup kegiatan membeli dan menjual barang, baik berupa barang baru maupun bekas, untuk tujuan penyaluran/pendistribusian tanpa merubah bentuk barang tersebut. Sub sektor perdagangan dibagi menjadi dua kelompok yaitu: (1) Perdagangan besar dan (2) Perdagangan eceran. Perdagangan besar mencakup kegiatan pembelian dan penjualan kembali barang baru atau bekas oleh pedagang dari PDRB KABUPATEN TEGAL
2 produsen atau importir ke pedagang besar lainnya, pedagang eceran perusahaan, dan lembaga tidak mencari untung. Sedangkan perdagangan eceran mencakup kegiatan pedagang yang umumnya melayani konsumen perorangan atau rumah tangga tanpa merubah bentuk, baik barang baru maupun barang bekas. Output/margin perdagangan merupakan selisih antara nilai jual dan nilai beli barang yang diperdagangkan setelah dikurangi dengan biaya angkutan yang dikeluarkan oleh pedagang. Sedangkan biaya antaranya adalah seluruh biaya yang digunakan untuk kepentingan usaha perdagangan seperti perlengkapan tulis menulis, bahan pengepak / pembungkus, rekening listrik, dan rekening telepon, serta biaya lainnya. Untuk penghitungan output dan nilai tambah subsektor perdagangan atas dasar harga berlaku diestimasi dengan menggunakan pendekatan produksi. Banyaknya perusahaan/tenaga kerja merupakan indikator produksi dan rata-rata output per indikator produksi sebagai indikator harganya. Perkalian antara banyaknya indikator produksi dengan rata-rata output per indikator produksi merupakan nilai produksi/output. PDRB KABUPATEN TEGAL
3 Nilai tambah bruto diperoleh dengan mengurangi output dengan biaya antaranya. Untuk mendapatkan nilai dasar harga konstan 2000 dipakai dengan cara deflasi, dimana indeks harga perdagangan besar dan indeks dasar harga konsumen sebagai deflatornya. RESTORAN DAN RUMAH MAKAN Kegiatan sub sektor restoran mencakup usaha penyediaan makanan dan minuman jadi yang pada umumnya dikonsumsi di tempat penjualan. Kegiatan-kegiatan yang termasuk dalam sub sektor ini seperti rumah makan, warung nasi, warung sate, warung kopi, catering, dan kantin. Penyediaan makanan dan minuman jadi serta usaha catering, pelayanan restoran kereta api dan kantin merupakan usaha sampingan, sejauh datanya dapat dipisahkan termasuk dalam sub sektor restoran. Nilai tambah bruto subsektor restoran baik di tempat tetap maupun tidak tetap (pedagang makanan keliling) diperoleh dengan pendekatan produksi. Indikator produksi yang digunakan adalah jumlah tenaga kerja, jumlah restoran, dan banyaknya pengunjung yang datang ke restoran. Sedangkan indicator harga yang digunakan adalah rata-rata output per tenaga kerja, rata-rata output per restoran dan rata-rata output per pengunjung. PDRB KABUPATEN TEGAL
4 Output restoran atas dasar harga berlaku diperoleh berdasarkan perkalian antara indikator produksi dengan indikator harga. Sedangkan nilai tambah brutonya dihitung berdasarkan perkalian rasio nilai tambah bruto dengan outputnya. Output dan nilai tambah bruto atas dasar harga konstan diperoleh dengan ekstrapolasi dengan indeks produksi sebagai ekstrapolatornya. HOTEL DAN AKOMODASI Meliputi usaha hotel, penginapan, yang di dalamnya termasuk hotel bintang, hotel melati, losmen, vila. Output dari sub sector hotel dan akomodasi diperoleh dari data jumlah tamu menginap dikalikan rata-rata harga. Nilai tambah bruto deperoleh dari mengurangi nilai output dengan biaya antara, dimana rasio biaya antara diperoleh dari survei khusus / SKPR. PDRB KABUPATEN TEGAL
5 NILAI TAMBAH BRUTO SEKTOR PERDAGANGAN, MENURUT HARGA BERLAKU 1 MARGASARI , , ,33 2 BUMIJAWA , , ,47 3 BOJONG , , ,83 4 BALAPULANG , , ,34 5 PAGERBARANG , , ,97 6 LEBAKSIU , , ,48 7 JATINEGARA , , ,61 8 KEDUNGBANTENG , , ,16 9 PANGKAH , , ,92 10 SLAWI , , ,50 11 DUKUHWARU , , ,09 12 ADIWERNA , , ,61 13 DUKUHTURI , , ,56 14 TALANG , , ,67 15 TARUB , , ,14 16 KRAMAT , , ,37 17 SURADADI , , ,94 18 WARUREJO , , ,50 KABUPATEN , , ,49 PDRB KABUPATEN TEGAL
6 NILAI TAMBAH BRUTO SEKTOR PERDAGANGAN, MENURUT HARGA KONSTAN 1 MARGASARI , , ,10 2 BUMIJAWA , , ,24 3 BOJONG , , ,15 4 BALAPULANG , , ,81 5 PAGERBARANG , , ,80 6 LEBAKSIU , , ,51 7 JATINEGARA , , ,26 8 KEDUNGBANTENG , , ,50 9 PANGKAH , , ,73 10 SLAWI , , ,17 11 DUKUHWARU , , ,45 12 ADIWERNA , , ,96 13 DUKUHTURI , , ,88 14 TALANG , , ,99 15 TARUB , , ,66 16 KRAMAT , , ,95 17 SURADADI , , ,09 18 WARUREJO , , ,86 KABUPATEN , , ,11 PDRB KABUPATEN TEGAL
7 KONSTRIBUSI SEKTOR PERDAGANGAN, MENURUT HARGA BERLAKU 1 MARGASARI 5,04 5,10 5,03 2 BUMIJAWA 3,71 3,72 3,92 3 BOJONG 5,86 5,94 5,95 4 BALAPULANG 5,17 5,16 4,91 5 PAGERBARANG 2,22 2,18 2,03 6 LEBAKSIU 5,06 5,06 5,12 7 JATINEGARA 3,56 3,57 3,33 8 KEDUNGBANTENG 1,83 1,81 1,78 9 PANGKAH 4,70 4,70 4,79 10 SLAWI 7,65 7,66 7,53 11 DUKUHWARU 3,42 3,38 3,31 12 ADIWERNA 13,50 13,68 14,11 13 DUKUHTURI 11,29 11,15 10,80 14 TALANG 6,58 6,57 6,58 15 TARUB 5,28 5,23 5,13 16 KRAMAT 8,44 8,47 9,13 17 SURADADI 3,99 3,95 4,02 18 WARUREJO 2,70 2,66 2,55 KABUPATEN 100,00 100,00 100,00 PDRB KABUPATEN TEGAL
8 KONSTRIBUSI SEKTOR PERDAGANGAN, MENURUT HARGA KONSTAN 1 MARGASARI 4,99 5,07 5,06 2 BUMIJAWA 3,69 3,64 3,69 3 BOJONG 5,77 5,73 5,76 4 BALAPULANG 5,17 5,14 5,00 5 PAGERBARANG 2,31 2,28 2,23 6 LEBAKSIU 5,00 4,96 4,98 7 JATINEGARA 3,68 3,77 3,72 8 KEDUNGBANTENG 1,88 1,88 1,87 9 PANGKAH 4,76 4,85 4,83 10 SLAWI 7,59 7,60 7,56 11 DUKUHWARU 3,49 3,49 3,45 12 ADIWERNA 13,51 13,62 13,81 13 DUKUHTURI 11,52 11,51 11,17 14 TALANG 6,48 6,44 6,45 15 TARUB 5,13 5,08 5,04 16 KRAMAT 8,37 8,38 8,82 17 SURADADI 3,95 3,91 3,96 18 WARUREJO 2,70 2,65 2,62 KABUPATEN 100,00 100,00 100,00 PDRB KABUPATEN TEGAL
9 PERTUMBUHAN SEKTOR PERDAGANGAN, MENURUT HARGA BERLAKU 1 MARGASARI 12,15 12,48 9,43 2 BUMIJAWA 10,45 11,14 16,96 3 BOJONG 11,30 12,41 11,27 4 BALAPULANG 11,94 10,72 5,58 5 PAGERBARANG 7,35 9,20 3,24 6 LEBAKSIU 10,39 11,04 12,31 7 JATINEGARA 10,78 11,26 3,61 8 KEDUNGBANTENG 9,40 10,14 8,62 9 PANGKAH 11,97 11,20 13,01 10 SLAWI 11,42 11,08 9,20 11 DUKUHWARU 7,39 9,84 8,81 12 ADIWERNA 11,56 12,53 14,52 13 DUKUHTURI 8,27 9,70 7,54 14 TALANG 11,23 10,78 11,23 15 TARUB 11,93 10,00 8,79 16 KRAMAT 11,60 11,43 19,68 17 SURADADI 9,78 10,01 12,89 18 WARUREJO 7,45 9,53 6,60 KABUPATEN 10,63 11,03 11,04 PDRB KABUPATEN TEGAL
10 PERTUMBUHAN SEKTOR PERDAGANGAN, MENURUT HARGA KONSTAN 1 MARGASARI 6,29 8,04 5,19 2 BUMIJAWA 4,92 4,86 7,07 3 BOJONG 4,51 5,59 6,07 4 BALAPULANG 6,73 5,87 2,43 5 PAGERBARANG 6,96 5,18 3,10 6 LEBAKSIU 3,89 5,66 5,81 7 JATINEGARA 9,16 9,06 3,83 8 KEDUNGBANTENG 7,43 6,44 4,88 9 PANGKAH 8,31 8,47 4,99 10 SLAWI 5,53 6,62 4,79 11 DUKUHWARU 5,11 6,15 4,36 12 ADIWERNA 6,44 7,29 6,93 13 DUKUHTURI 5,18 6,35 2,34 14 TALANG 4,44 5,69 5,58 15 TARUB 3,67 5,49 4,59 16 KRAMAT 5,71 6,46 11,10 17 SURADADI 4,01 5,45 6,80 18 WARUREJO 2,91 4,64 4,08 KABUPATEN 5,57 6,43 5,46 PDRB KABUPATEN TEGAL
SEKTOR BANGUNAN PDRB KABUPATEN TEGAL
SEKTOR BANGUNAN Sektor Bangunan mencakup kegiatan konstruksi di wilayah Kabupaten Tegal yang dilakukan baik oleh kontraktor umum, yaitu perusahaan yang melakukan pekerjaan konstruksi untuk pihak lain,
MAKRO EKONOMI KABUPATEN TEGAL
SEKTOR BANGUNAN Sektor Bangunan mencakup kegiatan konstruksi di wilayah Kabupaten Tegal yang dilakukan baik oleh kontraktor umum, yaitu perusahaan yang melakukan pekerjaan konstruksi untuk pihak lain,
SEKTOR ANGKUTAN DAN KOMUNIKASI
SEKTOR ANGKUTAN DAN KOMUNIKASI Sektor ini mencakup kegiatan pengangkutan barang dan penumpang, jasa penunjang angkutan dan komunikasi. Pengangkutan meliputi kegiatan pemindahan penumpang dan atau barang
SEKTOR PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN
SEKTOR PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN Di wilayah Kabupaten Tegal sektor penggalian pada umumnya adalah penggalian yang dilakukan oleh pengusaha golongan C seluruhnya. Komoditi yang digali antara lain : pasir,
SEKTOR KEUANGAN. 8.1 LEMBAGA KEUANGAN (Bank dan bukan bank)
SEKTOR KEUANGAN 8.1 LEMBAGA KEUANGAN (Bank dan bukan bank) 8.1.1 PERBANKAN Perbankan adalah suatu kegiatan pemberian pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan kegiatan operasional Bank yang antara lain
SEKTOR PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN
SEKTOR PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN Di wilayah Kabupaten Tegal sektor penggalian pada umumnya adalah penggalian yang dilakukan oleh pengusaha golongan C seluruhnya. Komoditi yang digali antara lain : pasir,
BAB IX KEUANGAN. Kabupaten Tegal Dalam Angka
BAB IX KEUANGAN Pembangunan Keuangan Daerah diarahkan pada peningkatan kemampuan dan daya guna keseluruhan tatanan, kelembagaan dan kebijaksanaan keuangan dalam menunjang keseimbangan pembangunan. Peningkatan
INDIKATOR MAKRO EKONOMI KABUPATEN TEGAL
III. EKONOMI MAKRO KABUPATEN TEGAL TAHUN 2013 Pembangunan ekonomi merupakan suatu hal mendasar suatu daerah dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pembangunan ekonomi itu sendiri pada dasarnya
Tabel 2.6. Jumlah dan Kepadatan Penduduk Per Kecamatan di Kabupaten Tegal Pada Tahun 2013
Tabel 2.6. Jumlah dan Kepadatan Penduduk Per Kecamatan di Kabupaten Tegal Pada Tahun 2013 Kepadatan Kecamatan Luas Wilayah Jumlah Penduduk ( Km 2 ) Penduduk (Jiwa) ( Jiwa/Km 2 ) 010. Margasari 86,83 95.150
BAB VI INDUSTRI, LISTRIK DAN AIR MINUM
BAB VI INDUSTRI, LISTRIK DAN AIR MINUM A. INDUSTRI Kepercayaan diri sektor sub sektor Industri Besar/Sedang di Kabupaten Tegal mulai bangkit semenjak 1999 setelah terjadinya krisis ekonomi pada pertengahan
BAB III PENDUDUK DAN TENAGA KERJA A. PENDUDUK
A. PENDUDUK BAB III PENDUDUK DAN TENAGA KERJA Jumlah penduduk Kabupaten Tegal tahun 2009 mencapai 1.420.760 jiwa. Kecamatan yang berpenduduk paling banyak adalah Adiwerna yaitu 118.824 jiwa dan yang paling
RINCIAN APBD MENURUT URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH, ORGANISASI, PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN
Lampiran III Peraturan Daerah Nomor Tanggal : : 15 29 December 2016 PEMERINTAH KABUPATEN TEGAL RINCIAN APBD MENURUT URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH, ORGANISASI, PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN TAHUN ANGGARAN
BAB I GEOGRAFI. Kabupaten Tegal Dalam Angka
BAB I GEOGRAFI A. LETAK GEOGRAFI Kabupaten Tegal merupakan salah satu daerah kabupaten di Propinsi Jawa Tengah dengan Ibukota Slawi. Terletak antara 108 57'6 s/d 109 21'30 Bujur Timur dan 6 50'41" s/d
7.6 Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Kawasan
7.6 Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Kawasan 1. Rencana Sistem Pusat Kegiatan Wilayah pengembangan dan kawasan pengembangan dalam struktur tata ruang Kabupaten Tegal ditentukan berdasarkan efisiensi
Sapusapuan 1% Furniture Rotaan 0% Wooden Cable 4% Komponen 13% Benang Tenun. Perabot Kayu. Furniture. Kayu 51% 17% BAB VII PERDAGANGAN A.
A. PERDAGANGAN BAB VII PERDAGANGAN Pembangunan di Sektor Perdagangan diarahkan pada terciptanya sistem perdagangan yang makin efisien dan efektif, mampu memperluas pasar serta dapat membentuk harga yang
BAB III PROFIL PEREKONOMIAN KECAMATAN ADIWERNA TAHUN 2006
BAB III PROFIL PEREKONOMIAN KECAMATAN ADIWERNA TAHUN 2006 3.1 Gambaran Umum Kecamatan Adiwerna merupakan suatu daerah dengan potensi ekonomi yang strategis mengingat posisi geografis terletak pada pertemuan
KABUPATEN TEGAL. Data Agregat per Kecamatan KABUPATEN TEGAL
KABUPATEN TEGAL Data Agregat per Kecamatan KABUPATEN TEGAL Sekapur Sirih Sebagai pengemban amanat Undang-undang Nomor 16 Tahun 1997 tentang Statistik dan sejalan dengan rekomendasi Perserikatan Bangsa-Bangsa
PROFIL SANITASI SAAT INI
BAB II PROFIL SANITASI SAAT INI Tinjauan : Tidak ada narasi yang menjelaskan tabel tabel, Data dasar kemajuan SSK sebelum pemutakhiran belum ada ( Air Limbah, Sampah dan Drainase), Tabel kondisi sarana
BAB IV SOSIAL BUDAYA A. PENDIDIKAN
A. PENDIDIKAN BAB IV SOSIAL BUDAYA Pendidikan merupakan salah satu unsur terpenting dalam pembangunan, karena dengan pendidikan masyarakat akan semakin cerdas yang selanjutnya akan membentuk Sumber Daya
RENCANA KERJA DAN ANGGARAN SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH
RENCANA KERJA DAN ANGGARAN SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH PEMERINTAH KABUPATEN TEGAL Anggaran : 205 Formulir RKA SKPD 2.2 Urusan Pemerintahan :. 03 Urusan Wajib Pekerjaan Umum Organisasi :. 03. 0 Dinas
BAB IV SOSIAL BUDAYA A. PENDIDIKAN
A. PENDIDIKAN BAB IV SOSIAL BUDAYA Pendidikan merupakan salah satu unsur terpenting dalam pembangunan, karena dengan pendidikan masyarakat akan semakin cerdas yang selanjutnya akan membentuk Sumber Daya
Lampiran 1. Perhitungan nilai IR (incident rate per kecamatan) = x = 61, karena nilai IR Kecamatan Adiwerna > 55 per 100.
Lampiran 1 Perhitungan nilai IR (incident rate per kecamatan) 1. IR Adiwerna = JKD = 79 128968 x100.000 = 61, karena nilai IR Kecamatan Adiwerna > 55 per 100.000 penduduk, maka digolongkan sebagai daerah
Banyaknya Perkara yang Diterima Pengadilan Negeri Kabupaten Tegal Tahun Kantor Pengadilan Negeri Kabupaten Tegal. Perkara Yang Diterima
Pidana Biasa Sumir Ringan Ekonomi Pelanggaran Gugatan Permohonan Tabel 4.9.2 Banyaknya Perkara yang Diterima Pengadilan Negeri Kabupaten Tegal Tahun 2007 Kejahatan Perkara Yang Diterima Jumlah ( 1 ) (
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan ekonomi yang terpadu merupakan segala bentuk upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara ekonomi yang ditunjang oleh kegiatan non ekonomi.
Tabel 2.2. Tingkat Produksi Pertanian di Kabupaten Tegal
kentang, kubis, tomat, wortel, bawang merah dan cabe merah. Kondisi budidaya hortikultura di kawasan Tegal bagian Selatan walaupun telah mempunyai tujuan pemasaran yang jelas, tetapi masih dirasakan belum
ANALISIS SEKTOR BASIS DAN STRATEGI PENGEMBANGAN POTENSI EKONOMI DAERAH DI KABUPATEN TEGAL
ANALISIS SEKTOR BASIS DAN STRATEGI PENGEMBANGAN POTENSI EKONOMI DAERAH DI KABUPATEN TEGAL SKRIPSI Untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Universitas Negeri Semarang Oleh Mushoffa NIM 3353403523 FAKULTAS
BAB I PENDAHULUAN. Partisipasi Masyarakat Dalam..., Faizal Utomo, FKIP, UMP, 2016
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Wilayah Indonesia terletak di daerah iklim tropis dengan dua musim yaitu panas dan hujan dengan ciri-ciri adanya perubahan cuaca, suhu dan arah angin yang cukup ekstrim.
BAB V PERTANIAN. Kabupaten Tegal Dalam Angka
BAB V PERTANIAN A. PERTANIAN TANAMAN PANGAN Pembangunan di Sektor Pertanian khususnya Pertanian Tanaman Pangan dari tahun ke tahun terus ditingkatkan untuk dapat memelihara kemantapan swasembada pangan,
Metodologi Pengertian Produk Domestik Regional Bruto Beberapa Pendekatan Penyusunan PDRB
BAB II METODOLOGI 2.1. Pengertian Produk Domestik Regional Bruto roduk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan jumlah nilai produk barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit produksi di dalam
BAB. III. URAIAN SEKTORAL
BAB. III. URAIAN SEKTORAL Salah satu cara untuk memahami publikasi Produk Domestik Regional Bruto adalah mengetahui masalah konsep dan definisi serta ruang lingkupnya yang memuat data dan informasi statistik.
II. RUANG LINGKUP DAN METODE PENGHITUNGAN. 2.1 Ruang Lingkup Penghitungan Pendapatan Regional
II. RUANG LINGKUP DAN METODE PENGHITUNGAN 2.1 Ruang Lingkup Penghitungan Pendapatan Regional Dalam penerbitan buku Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Tegal Tahun 2012 ruang lingkup penghitungan meliputi
RINCIAN APBD MENURUT URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH, ORGANISASI, PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN
Lampiran III Peraturan Daerah Nomor Tanggal : : 15 29 December 2016 PEMERINTAH KABUPATEN TEGAL RINCIAN APBD MENURUT URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH, ORGANISASI, PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN TAHUN ANGGARAN
PENDAHULUAN Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Tahun 2010
BAB 1 PENDAHULUAN Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Tahun 2010 1.1. Latar Belakang Latar Belakang Pembangunan pada dasarnya ditujukan agar tercipta kondisi sosial ekonomi masyarakat yang lebih baik.
BAB II PEMERINTAHAN. Kabupaten Tegal Dalam Angka
BAB II PEMERINTAHAN A. PEMBAGIAN WILAYAH ADMINISTRASI Kabupaten Tegal mempunyai wilayah administrsi yang terdiri atas 18 Kecamatan, 281 Desa dan 6 Kelurahan. Dasar hukum pembagian wilyah administrasi tersebut
INDIKATOR MAKROEKONOMI KABUPATEN PAKPAK BHARAT
L A P O R A N K A J I A N INDIKATOR MAKROEKONOMI KABUPATEN PAKPAK BHARAT K E R J A S A M A P R O D I P E R E N C A N A A N W I L A Y A H S E K O L A H P A S C A S A R A J A N A U N I V E R S I T A S S
KABUPATEN TEGAL CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN TAHUN ANGGARAN 2014 (audited) ( Audited)
Untuk tahun-tahun yang berakhir LAMPIRAN pada IV tanggal : RAPERDA 31 Desember KABUPATEN dan 2013 TEGAL NOMOR : 6 Tahun 2013 TANGGAL : 15 Agustus 2013 KABUPATEN TEGAL TAHUN ANGGARAN (audited) ( Audited)
RENCANA KERJA DAN ANGGARAN SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH
RENCANA KERJA DAN ANGGARAN SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH PEMERINTAH KABUPATEN TEGAL Anggaran : 205 Formulir RKA SKPD 2.2 Urusan Pemerintahan :. 02 Urusan Wajib Organisasi :. 02. 0 Sub Unit Organisasi :.
DOKUMEN PELAKSANAAN PERUBAHAN ANGGARAN SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH. PEMERINTAH KABUPATEN TEGAL Tahun Anggaran 2014
DOKUMEN PELAKSANAAN ANGGARAN SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH Formulir DPPA SKPD 2.2 PEMERINTAH KABUPATEN TEGAL Tahun Anggaran 2014 Urusan Pemerintahan : 1 Urusan Wajib Bidang Pemerintahan : 1. 02 Kesehatan
M E T A D A T A. INFORMASI DASAR 1 Nama Data : Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 2 Penyelenggara Statistik
M E T A D A T A INFORMASI DASAR 1 Nama Data : Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 2 Penyelenggara Statistik : Departemen Statistik Ekonomi dan Moneter, Bank Indonesia 3 Alamat : Jl. M.H. Thamrin No.
D a f t a r I s i. iii DAFTAR ISI. 2.8 Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 2.9 Sektor Jasa-Jasa 85
D a f t a r I s i Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Grafik Daftar Tabel DAFTAR ISI Daftar Tabel Pokok Produk Domestik Regional Bruto Kota Samarinda Tahun 2009-2011 BAB I PENDAHULUAN 1 1.1. Umum 1 1.2. Konsep
Katalog BPS :
Katalog BPS : 9902008.3373 PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KOTA SALATIGA TAHUN 2011 KATA PENGANTAR Puji syukur ke hadirat Allah SWT, atas terbitnya publikasi Produk Domestik Regional Bruto Kota Salatiga
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KOTA JAYAPURA 2010/2011. Gross Regional Domestic Product Of Jayapura Municipality
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KOTA JAYAPURA Gross Regional Domestic Product Of Jayapura Municipality 2010/2011 PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KOTA JAYAPURA Gross Regional Domestic Product of Jayapura
II. RUANG LINGKUP DAN METODE PENGHITUNGAN. 2.1 Ruang Lingkup Penghitungan Pendapatan Regional
II. RUANG LINGKUP DAN METODE PENGHITUNGAN 2.1 Ruang Lingkup Penghitungan Pendapatan Regional Dalam penerbitan buku tahun 2013 ruang lingkup penghitungan meliputi 9 sektor ekonomi, meliputi: 1. Sektor Pertanian
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO
TINJAUAN PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2014 MENURUT LAPANGAN USAHA Tinjauan Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Semarang Tahun 2014 i ii Tinjauan Produk Domestik Regional
BAB II URAIAN SEKTORAL. definisi dari masing-masing sektor dan sub sektor, sumber data, dan cara
BAB II URAIAN SEKTORAL Uraian sektoral yang disajikan pada bab ini mencakup ruang lingkup dan definisi dari masing-masing sektor dan sub sektor, sumber data, dan cara penghitungan nilai tambah bruto atas
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO
TINJAUAN PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2015 MENURUT LAPANGAN USAHA Tinjauan Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Semarang Tahun 2015 i SAMBUTAN KEPALA BAPPEDA Puji syukur
BAB II METODOLOGI 2.1. PENGERTIAN PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO. dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit produksi di dalam suatu
BAB II METODOLOGI 2.1. PENGERTIAN PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO Produk Domestik Regional Bruto merupakan jumlah nilai produk barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit produksi di dalam suatu
BAB I PENDAHULUAN. yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Menurut Todaro dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang. Pembangunan ekononomi merupakan serangkaian usaha dan kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Menurut Todaro dan Smith (2006) pembangunan
4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN
4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1 Kabupaten Serang 4.1.1 Letak geografis dan kondisi perairan pesisir Pasauran Serang Secara geografis Kabupaten Serang terletak pada koordinassi 5 5 6 21 LS dan 105
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. pendapatan rata-rata masyarakat pada wilayah tersebut. Dalam menghitung
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep dan Definsi Pendapatan regional adalah tingkat (besarnya) pendapatan masyarakat pada wilayah analisis. Tingkat pendapatan dapat diukur dari total pendapatan wilayah maupun
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN PIDIE JAYA (Menurut Lapangan Usaha)
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN PIDIE JAYA (Menurut Lapangan Usaha) 2005-2008 Nomor Katalog BPS : 9205.11.18 Ukuran Buku Jumlah Halaman : 20 cm x 27 cm : vii + 64 Lembar Naskah : Seksi Neraca
BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. 2.1 Produk Domestik Regional Bruto
18 BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 2.1 Produk Domestik Regional Bruto Dalam menghitung pendapatan regional, dipakai konsep domestik. Berarti seluruh nilai tambah yang ditimbulkan oleh berbagai sektor atau lapangan
DRB menurut penggunaan menggambarkan penggunaan barang. dan jasa yang diproduksi oleh berbagai sektor dalam masyarakat.
BAB II METODOLOGI P DRB menurut penggunaan menggambarkan penggunaan barang dan jasa yang diproduksi oleh berbagai sektor dalam masyarakat. Penggunaan PDRB tersebut secara garis besar ada dua macam yaitu
BAB II KONSEP, DEFINISI DAN METODOLOGI
BAB II KONSEP, DEFINISI DAN METODOLOGI 1. KONSEP DAN DEFINISI Konsep-konsep yang digunakan dalam penghitungan Produk Regional Bruto (PDRB) adalah sebagai berikut : Domestik A. PRODUK DOMESTIK REGIONAL
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN PIDIE JAYA (Menurut Lapangan Usaha) 2006 2009 Nomor Katalog BPS : 9302008.1118 Ukuran Buku Jumlah Halaman : 20 cm x 27 cm : vi + 60 Lembar Naskah : Seksi Neraca
Kata Kunci: Rencana Induk, Sistem Penyediaan Air minum, Kabupaten Tegal
RENCANA INDUK SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM KABUPATEN TEGAL Mohammad Rizky NA 1), Irawan Wisnu Wardana 2), Dwi Siwi Handayani 2) Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Diponegoro JL.
PENDAHULUAN A. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sektor pertanian merupakan sektor yang masih memegang peranan dalam peningkatan perekonomian nasional. Selain itu, sebagian besar penduduk Indonesia masih menggantungkan
BAB 2 LANDASAN TEORI. Peramalan adalah kegiatan mengestimasi apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang.
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Peramalan Peramalan adalah kegiatan mengestimasi apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Sedangkan ramalan adalah situasi atau kondisi yang akan diperkirakan
PROFIL KESEHATAN KABUPATEN TEGAL TAHUN 2013
PROFIL KESEHATAN KABUPATEN TEGAL TAHUN 2013 DINAS KESEHATAN KABUPATEN TEGAL 2014 i Buku ini diterbitkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal Jalan dr. Sutomo No. 1 C, Slawi Telepon no: 0283-491644 Fax
PEMERINTAH KABUPATEN TEGAL PERATURAN DAERAH RTRW KABUPATEN TEGAL TAHUN
PEMERINTAH KABUPATEN TEGAL PERATURAN DAERAH RTRW KABUPATEN TEGAL TAHUN 2012-2032 PEMERINTAH KABUPATEN TEGAL PERATURAN DAERAH KABUPATEN TEGAL NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO ACEH TAMIANG
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO ACEH TAMIANG 2008 2011 NOMOR KATALOG : 9302008.1114 UKURAN BUKU JUMLAH HALAMAN : 21,00 X 28,50 CM : 78 HALAMAN + XIII NASKAH : - SUB BAGIAN TATA USAHA - SEKSI STATISTIK SOSIAL
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN MINAHASA UTARA MENURUT LAPANGAN USAHA
PDRB PDRB PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN MINAHASA UTARA MENURUT LAPANGAN USAHA 2000-2006 ISSN : - No Publikasi : 71020.0702 Katalog BPS : 9203.7102 Ukuran Buku Jumlah Halaman : 21 cm X 28 cm
BAB II TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS
A. Penelitian Terdahulu BAB II TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS Sejumlah peneltian terdahulu diambil untuk memperkuat penelitian ini dan sekaligus sebagai acuan dalam penelitian ini. Adapun penelitian tersebut
PERKEMBANGAN PRODUK DOMESTIK BRUTO
PERKEMBANGAN PRODUK DOMESTIK BRUTO Triwulan II-29 Perekonomian Indonesia secara tahunan (yoy) pada triwulan II- 29 tumbuh 4,%, lebih rendah dari pertumbuhan triwulan sebelumnya (4,4%). Sementara itu, perekonomian
Tabel PDRB Atas Dasar Harga Berlaku dan Atas Dasar Harga Konstan 2000 di Kecamatan Ngadirejo Tahun (Juta Rupiah)
3.14. KECAMATAN NGADIREJO 3.14.1. PDRB Kecamatan Ngadirejo Besarnya Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kecamatan Ngadirejo selama lima tahun terakhir dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 3.14.1
PENGUMUMAN PENETAPAN PENYEDIA JASA HASIL PENGADAAN LANGSUNG NOMOR : 602.1/09/PPJK/BM/VIII/2014
PEMERINTAH KABUPATEN TEGAL DINAS PEKERJAAN UMUM PEJABAT PENGADAAN KEGIATAN PEMBANGUNAN DAN PENINGKATAN JALAN KAB. TEGAL TAHUN ANGGARAN 2014 Alamat : Jl. Cut Nyak Dien Telp. (0283) 6197673-6197503 Slawi
PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH
PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH No. 06/05/72/Thn XIV, 25 Mei 2011 PEREKONOMIAN SULAWESI TENGAH TRIWULAN I TAHUN 2011 MENGALAMI KONTRAKSI/TUMBUH MINUS 3,71 PERSEN Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah
PENGUMUMAN RENCANA UMUM PENGADAAN BARANG DAN JASA DINAS KESEHATAN KABUPATEN TEGAL
PENGUMUMAN RENCANA UMUM PENGADAAN BARANG DAN JASA DINAS KESEHATAN KABUPATEN TEGAL : Djuwani EK, SH,M.Kes : Dinas Kesehatan : Dedi Sutanto, SKM, M.Kes & Akhmad Bukhori, SKM, M.Kes NO KEGIATAN NAMA PAKET
BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH
BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH 2.1. Aspek Geografis dan Demografis Kabupaten Tegal 2.1.1. Karakteristik Lokasi dan Wilayah 2.1.1.1. Luas Wilayah Kabupaten Tegal merupakan salah satu kabupaten di wilayah
PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH TRIWULAN I TAHUN 2012
No. 27/05/72/Thn XV, 7 Mei 2012 PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH TRIWULAN I TAHUN 2012 Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah yang diukur dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan
METODOLOGI. dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit produksi di dalam suatu
II. METODOLOGI 2.1. Pengertian Produk Domestik Regional Bruto Produk Domestik Regional Bruto merupakan jumlah nilai produk barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit produksi di dalam suatu
