BAB. III. URAIAN SEKTORAL
|
|
|
- Hendri Budi Hartono
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB. III. URAIAN SEKTORAL Salah satu cara untuk memahami publikasi Produk Domestik Regional Bruto adalah mengetahui masalah konsep dan definisi serta ruang lingkupnya yang memuat data dan informasi statistik. Selain pengetahuan tersebut juga diharapkan minat masyarakat untuk menekuni data-data statistik sehingga masyarakat bisa lebih menghargai terhadap data/informasi statistik. Untuk itu, pada bab ini akan diuraikan tentang ruang lingkup, metode penghitungan, sumber data baik terhadap PDRB atas dasar haraga berlaku maupun harga konstan. United Nation (UN) memberikan rekomendasi, secara makro perekonomian diklasifikasikan menjadi 9 sektor, yaitu: 1. Pertanian 2. Pertambangan dan Penggalian 3. Industri Pengolahan 4. Listrik, Gas Kota dan Air Bersih 5. Konstruksi/Bangunan 6. Perdagangan, Hotel & Restoran 7. Pengangkutan dan Komunikasi 8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 9. Jasa-jasa 15
2 3.1. PERTANIAN Tanaman Bahan Makanan Sub sektor ini mencakup tanaman padi, palawija, sayur-mayur dan buah buahan dan hasil-hasil ikutannya. Termasuk pula disini hasil hasil pengolahan secara sederhana, seperti beras tumbuk, gaplek dan pengeringan ikan. Data produksi diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Subang sedangkan data harga merupakan data yang dikumpulkan oleh Badan Pusat Statistik Kabupaten Subang. Nilai Tambah Bruto (NTB) atas dasar harga berlaku diperoleh dengan cara Pendekatan Produksi yaitu dengan mengalikan setiap jenis kuantum produksi dengan masing-masing harganya, kemudian hasilnya dikurangi biaya antara. Biaya antara diperoleh dari perkalian rasio biaya antara dengan nilai outputnya. Rasio biaya antara diperoleh dari hasil Survei Khusus Pendapatan Regional (SKPR) yang dilakukan oleh BPS. NTB atas dasar konstan 2000 dihitung secara Revaluasi Tanaman Perkebunan Sub sektor ini mencakup komoditi tanaman perkebunan yang diusahakan oleh rakyat dan perusahaan misalnya karet, kopra, kopi, kapok, teh, tebu, tembakau, cengkeh dan sebagainya, termasuk produksi ikutannya dan hasilhasil pengolahan sederhana. 16
3 Data produksi bersumber dari Dinas Perkebunan Kabupaten Subang dan data harga di kumpulkan oleh Badan Pusat Statistik Kabupaten Subang. Nilai tambah dihitung dengan pendekatan produksi, dengan mengurangi output dengan biaya antara. Dan biaya antara diperoleh dengan mengalikan rasio biaya antara dan output. Rasio tersebut diperoleh dari survei khusus. Penghitungan nilai tambah harga konstan tahun yang bersangkutan dilakukan dengan Revaluasi Peternakan Sub sektor Peternakan mencakup produksi ternak sapi, kerbau, kuda, kambing, domba, babi, unggas dan hasil hasil peternakan seperti kulit, telur dan susu. Yang dimaksud dengan produksi peternakan adalah jumlah ternak yang lahir dan penambahan berat ternak. Produksi peternakan dihitung berdasarkan perkiraan dengan menggunakan pendekatan sebagai berikut: Produksi = Jumlah Pemotongan + (Populasi Akhir Tahun Populasi Awal Tahun) + (Ternak Keluar Ternak Masuk) Data ternak yang dipotong, populasi ternak dan keluar masuk ternak diperoleh di Dinas Peternakan Kabupaten Subang, dan data harga ternak dikumpulkan oleh Badan Pusat Statistik Kabupaten Subang. 17
4 Nilai tambah dihitung dengan metode pendekatan produksi, yaitu mengalikan setiap jenis produksi ternak dengan masing-masing harganya, kemudian dikurangi dengan biaya antara. Biaya antara diperoleh dari hasil SKPR. NTB atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan cara Revaluasi Kehutanan Sub sektor ini mencakup komoditi kayu pertukangan, kayu bakar, arang, bambu, rotan, dll. Data Produksi dan harga diperoleh dari Perum Perhutani Kabupaten Subang dan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Subang. NTB atas dasar harga berlaku dihitung dengan cara pendekatan produksi yaitu dengan mengalikan produksi dari semua jenis komoditi dengan harganya, kemudian dikurangi dengan biaya antara. Biaya Antara diperoleh dari hasil SKPR. NTB atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan cara Revaluasi Perikanan Sub sektor perikanan mencakup produksi perikanan laut dan perikanan darat dan pengolahan sederhana (pengeringan dan penggaraman ikan). Produksi perikanan darat meliputi kegiatan budidaya kolam, tambak dan pengambilan hasil diperairan umum. Sumber data produksi dan nilainya berasal dari Dinas Perikanan Kabupaten Subang. Sama dengan subsektor yang lain, nilai tambah perikanan dihitung dengan pendekatan produksi, yaitu output dikurangi biaya antaranya. Biaya 18
5 antara diperoleh dari hasil SKPR. NTB atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan cara Revaluasi PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN Sektor ini diklasifikasikan dalam 3 Sub sektor yaitu Migas, Pertambangan tanpa migas dan Penggalian. Untuk Kabupaten Subang hanya 2 sub sektor yaitu Sektor Migas dan Penggalian Pertambangan Sub Sektor ini mencakup komoditi minyak mentah gas bumi, batubara, biji emas dan perak. NTB atas dasar harga berlaku diperoleh dengan cara pendekatan produksi, yaitu mengalikan produksi dengan harganya, kemudian dikurangi biaya antara yang diperoleh dari hasil survei yang dilakukan oleh BPS. NTB atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan cara Revaluasi Penggalian Sub Sektor ini mencakup kegiatan penggalian dan pengambilan segala jenis barang galian, misalnya batu kapur, pasir, batu-batuan, dsb NTB atas dasar harga berlaku dihitung dengan metode Pendekatan Produksi. NTB atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan menggunakan metode Deflasi, yaitu dengan membagi NTB harga berlaku dibagi Indeks Harga untuk barang-barang galian. 19
6 3.3. INDUSTRI PENGOLAHAN Sektor ini terdiri dari industri pengolahan minyak dan gas bumi serta industri bukan migas. - Industri Pengolahan Minyak dan Gas Bumi (Migas) Sub sektor ini mencakup kegiatan pengolahan, pengilangan minyak bumi dan gas alam misalnya: premium, minyak tanah, minyak diesel, avtur, avigas dan sebagainya. NTB atas dasar harga berlaku dihitung menggunakan Pendekatan Produksi yaitu nilai output dikurangi biaya antara. Nilai output dan biaya antara diperoleh dari hasil survei yang dilakukan BPS. NTB atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan menggunakan metode Deflasi, dengan Indeks Harga Hasil Pengilangan Minyak Bumi sebagai deflatornya. - Industri Pengolahan Bukan Migas Sub sektor ini mencakup industri besar dan sedang, industri kecil dan industri rumah tangga. Industri besar dan sedang mencakup perusahaan industri yang mempunyai jumlah tenaga kerja 20 orang atau lebih. Industri kecil dengan tenaga kerja 5 sampai 19 orang, dan industri rumah tangga dengan 1 sampai 4 orang. NTB atas dasar harga berlaku untuk industri besar dan sedang menggunakan Pendekatan Produksi yaitu nilai output dikurangi biaya antara. Nilai output dan biaya antara diperoleh dari Survei Tahunan Industri Besar dan Sedang yang setiap tahun dilakukan oleh BPS. Industri kecil dan rumah tangga estimasi berdasarkan indikator jumlah tenaga kerja dan rata-rata 20
7 output per tenaga kerja, yang bersumber dari Survei Industri Kecil dan Rumahtangga BPS. NTB atas dasar harga konstan 2000 dihitung menggunakan metoda Deflasi, dengan deflatornya Indeks Harga barangbarang industri LISTRIK, GAS dan AIR BERSIH Listrik Sub sektor ini mencakup kegiatan pembangkitan dan penyaluran tenaga listrik yang diselenggarakan oleh PLN dan non PLN. Sumber data produksi listrik dan nilai output diperoleh dari laporan PLN UPJ Subang, Pagaden dan Pamanukan dan survei non PLN. NTB atas dasar harga berlaku menggunakan metode Pendekatan Produksi yaitu nilai output dikurangi biaya antara. Nilai output diperoleh dari perkalian produksi listrik PLN dan Non PLN dengan tarif listrik. Biaya antara diperoleh dari perkalian rasio biaya antara dikalikan nilai outputnya. Ratio ini didapat dari hasil survei yang diselenggarakan oleh BPS. NTB atas dasar harga konstan 2000 diperoleh dengan menggunakan metode Revaluasi Air Bersih. Sub Sektor ini mencakup kegiatan pembersihan, pemurnian, dan proses kimiawi lainnya untuk menghasilkan air minum serta pendistribusian dan penyaluran baik melalui PAM dan bukan PAM. NTB atas dasar harga berlaku dihitung dengan Pendekatan Produksi yaitu nilai output dikurangi biaya antara. Nilai output dan biaya antara diperoleh 21
8 dari Survei air minum oleh BPS yang dilakukan setiap tahunnya. NTB atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan menggunakan metode Revaluasi SEKTOR BANGUNAN/KONSTRUKSI Sektor bangunan mencakup semua kegiatan pembangunan fisik konstruksi yaitu gedung, jalan, jembatan, terminal, irigasi, jaringan listrik, air minum, telepon dan sebagainya. Penghitungan nilai tambah dilakukan dengan pendekatan produsi, yaitu nilai output dikurangi biaya antara. Data nilai output dan biaya antara diperoleh dari Survei Perusahaan Konstruksi anggota AKI dan Non AKI, dilengkapi dengan kegiatan konstruksi yang dilakukan oleh perorangan (individu). NTB atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan menggunakan metode Deflasi dengan Indeks Harga barang bangunan sebagai deflatornya SEKTOR PERDAGANGAN, HOTEL DAN RESTORAN Perdagangan Besar dan Eceran Pedagangan besar mencakup kegiatan pengumpulan dan penjualan kembali barang baru atau bukan oleh pedagang dari produsen ke pedagang besar lainnya atau pedagang eceran. Pedagang eceran mencakup kegiatan perdagangan yang umumnya melayani konsumen perorangan atau rumah tangga, tanpa merubah sifat, baik barang baru atau barang bekas. Penghitungan nilai tambah bruto sub sektor perdagangan dihitung dengan cara pendekatan Metode Arus Barang (Commodity Flow). Output perdagangan dihitung berdasarkan besarnya margin perdagangan dari barang- 22
9 barang yang diperdagangkan dan terdiri dari barang-barang hasil sektor pertanian, pertambangan dan penggalian, industri serta barang dari impor. NTB didapat dengan mengurangi nilai output dengan biaya antar. NTB atas dasar harga konstan didapatkan dengan cara yang sama seperti pada harga berlaku Hotel Sub sektor hotel mencakup kegiatan penyediaan akomodasi yang menggunakan sebagian atau seluruh bangunan sebagai tempat penginapan. Yang termasuk dalam akomodasi adalah hotel berbintang maupun tidak berbintang, serta tempat tinggal lainnya yang digunakan untuk menginap seperti losmen dan motel. yaitu output dikurangi biaya antara. Nilai output diperoleh dari perkalian jumlah malam kamar yang terjual dengan rata-rata tarif per malam kamar. Biaya antara diperoleh dari perkalian niai output dengan rasio biaya antara hasil SKPR. NTB atas dasar harga konstan 2000 menggunakan metode Ekstrapolasi, dimana Indeks Jumlah Malam Kamar yang terjual dipakai sebagai ekstrapolatornya Restoran Sub sektor ini mencakup kegiatan usaha penyediaan makanan dan minuman jadi yang pada umumnya dikonsumsi di tempat penjualan. Kegiatan yang termasuk di dalamnya seperti bar, kantin, rumah makan, warung nasi dll. 23
10 NTB atas dasar harga berlaku dihitung berdasarkan Pendekatan Produksi yaitu nilai output dikurangi biaya antara. Nilai output diperoleh dengan cara mengalikan pengeluaran makanan dan minuman perkapita selama setahun dengan jumlah penduduk pertengahan tahun. Biaya antara diperoleh dari perkalian nilai output dengan rasio biaya antara yang diperoleh dari SKPR. Pengeluaran makanan dan minuman perkapita diperoleh dari Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS). NTB atas dasar harga konstan 2000 dihitung berdasarkan metode Deflasi dengan kelompok makanan sebagai deflatornya SEKTOR PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI Sektor ini terdiri dari sub sektor angkutan rel, jalan raya, laut, sungai, danau dan penyebrangan, udara serta jasa penunjang angkutan Angkutan Rel Sub sektor ini mencakup kegiatan pengangkutan barang dan penumpang kereta api yang dikelola oleh perusahaan Kereta Api Indonesia (PT. KAI). yaitu output dikurangi biaya antara. Nilai output dan biaya antara diperoleh dari Laporan Keuangan PT. KAI. NTB atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan menggunakan metode Ekstrapolasi, sebagai ekstrapolatornya adalah Indeks Jumlah Penumpang dan Angkutan Barang 24
11 Angkutan Jalan Raya Sub sektor ini mencakup kegiatan pengangkutan barang dan penumpang dengan menggunakan alat angkut kebdaraan jalan raya (darat), baik bermotor maupun tidak bermotor. Termasuk kegiatan lainnya seperti sewa kendaraan (rental car), baik dengan atau tanpa pengemudi. NTB atas dasar berlaku dihitung dengan Pendekatan Produksi yaitu nilai output dikurangi biaya antara. Nilai output diperoleh dengan mengalikan jumlah kendaraan umum dengan rata-rata output per kendaraan. Biaya antara diperoleh dari perkalian rasio biaya antara dengan nilai outputnya. NTB atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan menggunakan metode Revaluasi Jasa Penunjang Angkutan Subsektor ini mencakup kegiatan yang bersifat menunjang dan memperlancar kegiatan pengangkutan terdiri dari jasa pelabuhan udara, laut, darat (terminal dan parkir), sungai, bongkar muat laut dan darat, keagenan penumpang, ekspedisi laut, jalan tol dal lain-lain. yaitu nilai output dikurangi biaya antara. Nilai output dan biaya antara diperoleh dari hasil SKPR. NTB atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan menggunakan metode Deflasi, sebagai deflatornya dipakai Indeks Harga Konsumen (IHK). 25
12 Komunikasi Sub sektor komunikasi mencakup kegiatan jasa pos dan giro, telekomunikasi dan jasa penunjang komunikasi. Kegiatan jasa pos dan giro mencakup kegiatan pemberian jasa pada pihak lain seperti pengiriman surat, wesel dan paket yang diusahakan oleh Perusahaan Pos Indonesia dan perusahaan swasta lainnya. Kegiatan Telekomunikasi meliputi pemberian jasa kepada pihak lain seperti pengiriman berita melalui telegram, telepon, dan telex yang diusahakan oleh PT. Telkom, PT. Indosat, PT. Satelindo dan PT. Excelcomindo. Jasa penunjang komunikasi meliputi kegiatan yang menunjang komunikasi seperti warung telekomunikasi (wartel) dan telepon seluler (ponsel). NTB atas dasar harga berlaku dihitung berdasarkan Pendekatan Produksi yaitu nilai output dikurangi biaya antara. Nilai output kegiatan pos, giro dan komunikasi diperoleh dari Laporan Keuangan PT. Pos dan Giro, dan PT. Telkom. Data penunjngan komunikasi diperoleh dari hasil SKPR seperti wartel dan telepon seluler. NTB atas dasar harga konstan dihitung dengan menggunakan metode ektrapolasi. Ekstrapolatornya digunakan adalah jumlah surat yang dikirim untuk kegiatan pos dan giro serta jumlah pulsa untuk kegiatan telekomunikasi SEKTOR KEUANGAN, PERSEWAAN DAN JASA PERUSAHAAN Sektor ini terdiri dari sub sektor Bank, Lembaga Keuangan Lainnya, Sewa Bangunan dan Jasa Perusahaan. 26
13 Bank Sub sektor ini mencakup kegiatan bank sentral dan bank komersial yang memberikan jasa keuangan pada pihak lain, diantaranya menerima simpanan dalam bentuk giro dan deposito, memberikan kredit, baik kredit jangka pendek, menengah maupun panjang, mengirim uang, membeli dan menjual surat berharga, mendiskonto surat wesel/kertas dagang/surat hutang dan sejenisnya, menyewakan tempat menyimpan barang berharga dan sebagainya. yaitu nilai output dikurangi biaya antara. Nilai output dan biaya antara bersumber dari Laporan Keuangan Bank Indonesia. NTB atas dasar harga konstan tahun 2000 dihitung dengan menggunakan metode Deflasi dengan deflatornya Indeks Kurs Lembaga Keuangan Lainnya Sub sektor ini mrncakup kegiatan asuransi, dana pensiun, pegadaian, koperasi simpan pinjam, dan lembaga pembiayaan. Dalam sub sektor ini juga mencakup kegiatan valuta asing, pasar modal, leasing dan jasa penunjangnya misalnya pialang, penjamin emisi dan sebagainya. yaitu nilai output dikurangi biaya antara. Data output dan biaya antara diperoleh dari hasil SKPR. NTB atas dasar harga konstan tahun 2000 sama dengan sub sektor bank. 27
14 3.8.3.Sewa Bangunan Sub sektor ini mencakup semua kegiatan usaha persewaan bangunan dan tanah, baik yang menyangkut bangunan tempat tinggal maupun bukan tempat tinggal seperti perkantoran, pertokoan, apartemen serta usaha persewaan tanah persil. yaitu nilai output dikurangi biaya antara. Nilai output diperoleh dari perkalian antara pengeluaran rumahtangga untuk sewa rumah, kontrak rumah, sewa beli rumah dinas, perkiraan sewa rumah, pajak dan pemeliharaan rumah perkapita setahun yang bersumber dari hasil SUSENAS dengan jumlah penduduk pertengahan tahun. Nilai biaya antara diperoleh dari perkalian pengeluaran pemeliharaan rumah perkapita dengan jumlah penduduk pertengahan tahun. NTB atas dasar harga konstan tahun 2000 didapatkan dengan menggunakan metode Deflasi dan IHK perumahan sebagai deflatornya Jasa Perusahaan Sub sektor jasa perusahaan mencakup kegiatan pemberian jasa hukum (Advokat dan Notaris), Jasa akuntansi dan pembukuan, jasa pengolahan dan penyajian data, jasa bangunan/arsitek dan teknik, jasa periklanan dan riset pemasaran, jasa persewaan mesin dan peralatan dan sejenisnya. yaitu nilai output dikurangi biaya antara. Nilai output diperoleh dari perkalian jumlah perusahaan dengan rata-rata output per perusahaan hasil SKPR. Biaya antara diperoleh dengan mengalikan ratio biaya antara dengan nilai outputnya. 28
15 NTB atas dasar harga konstan tahun 2000 dihitung dengan menggunakan metode Revaluasi SEKTOR JASA JASA Sektor jasa-jasa dikelompokkan ke dalam dua sub sektor yaitu sub sektor Jasa Pemerintahan Umum dan Jasa Swasta Pemerintahan Umum Sub sektor ini mencakup kegiatan jasa yang dilaksanakan oleh pemerintah untuk kepentingan pemerintah dan masyarakat umum, seperti jasa pemerintahan umum, pertahanan dan keamanan dan sebagainya Swasta Sub sektor ini meliputi kegiatan jasa yang dilaksanakan pihak swasta, misalnya jasa sosial dan kemasyarakatan, jasa hiburan dan rekreasi, serta jasa perorangan dan rumahtangga Jasa Sosial Kemasayarakatan Sub sektor ini mencakup kegiatan jasa pendidikan, kesehatan, riset/penelitian, palang merah, panti asuhan, panti wreda, yayasan pemeliharaan anak cacat (YPAC), rumah ibadah dan sejenisnya yang dikelola swasta. yaitu output dikurangi biaya antara. Nilai output diperoleh dari hasil perkalian jumlah indikator produksi (jumlah murid, jumlah tempat tidur rumah sakit, jumlah dokter, jumlah panti asuhan dan sebagainya) dengan rata-rata output per masing-masing indikator dari hasil SKPR. Biaya antara diperoleh dari 29
16 perkalian rasio biaya antara dengan nilai outputnya. NTB atas dasar harga konstan tahun 2000 menggunakan metode Revaluasi, yaitu perkalian jumlah masing-masing indikator dengan rata-rata output pada tahun Jasa Hiburan dan Rekreasi Sub sektor ini mencakup kegiatan jasa bioskop, kebun binatang, taman hiburan, pub, bar, karaoke, diskotik, kolam renang, dan kegiatan hiburan lainnya. yaitu output dikurangi biaya antara. Nilai output diperoleh dari hasil perkalian jumlah pengunjung/penonton dengan rata-rata tarif penonton per pengunjung/penonton hasil SKPR. Biaya antara diperoleh dari perkalian ratio biaya antara dengan nilai outputnya. NTB atas dasar harga konstan tahun 2000 menggunakan metode Revaluasi atau sama dengan sub sektor jasa sosial kemasyarakatan Jasa Perorangan dan Rumah Tangga Sub sektor ini mencakup kegiatan yang pada umumnya melayani perorangan dan rumah tangga misalnya jasa reparasi, pembantu rumah tangga, tukang cukur, tukang jahit, semir sepatu dan sejenisnya. yaitu output dikurangi biaya antara. Nilai output diperoleh dari hasil perkalian jumlah masing-masing jenis kegiatan usaha jasa perorangan dan rumah tangga dengan rata-rata output per masing-masing jenis kegiatan tersebut. Biaya antara diperoleh dari perkalian rasio biaya antara dengan nilai outputnya. NTB atas dasar harga konstan tahun 2000 dihitung menggunakan metode Revaluasi. 30
PENDAHULUAN Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Tahun 2010
BAB 1 PENDAHULUAN Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Tahun 2010 1.1. Latar Belakang Latar Belakang Pembangunan pada dasarnya ditujukan agar tercipta kondisi sosial ekonomi masyarakat yang lebih baik.
BAB II URAIAN SEKTORAL. definisi dari masing-masing sektor dan sub sektor, sumber data, dan cara
BAB II URAIAN SEKTORAL Uraian sektoral yang disajikan pada bab ini mencakup ruang lingkup dan definisi dari masing-masing sektor dan sub sektor, sumber data, dan cara penghitungan nilai tambah bruto atas
III. METODE PENELITIAN
38 III. METODE PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan memilih lokasi Kota Cirebon. Hal tersebut karena Kota Cirebon merupakan salah satu kota tujuan wisata di Jawa
III. METODE PENELITIAN
29 III. METODE PENELITIAN 3.1. Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian adalah data sekunder berupa Tabel Input-Output Indonesia tahun 2008 yang diklasifikasikan menjadi 10 sektor dan
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KOTA JAYAPURA 2010/2011. Gross Regional Domestic Product Of Jayapura Municipality
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KOTA JAYAPURA Gross Regional Domestic Product Of Jayapura Municipality 2010/2011 PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KOTA JAYAPURA Gross Regional Domestic Product of Jayapura
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN MINAHASA UTARA MENURUT LAPANGAN USAHA
PDRB PDRB PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN MINAHASA UTARA MENURUT LAPANGAN USAHA 2000-2006 ISSN : - No Publikasi : 71020.0702 Katalog BPS : 9203.7102 Ukuran Buku Jumlah Halaman : 21 cm X 28 cm
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO (PDRB) KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW TAHUN
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO (PDRB) KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW TAHUN 2002-2010 Katalog BPS : 9302008.7101 ISSN 0215 6432 Ukuran Buku : 16,5 Cm X 21,5 Cm Jumlah Halaman : ix + 115 Halaman Naskah : Badan
METODE PENELITIAN. 3.1 Jenis dan Sumber Data. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yaitu
III. METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yaitu data Tabel Input-Output Propinsi Kalimantan Timur tahun 2009 klasifikasi lima puluh
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN YAHUKIMO, TAHUN 2013
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN YAHUKIMO, TAHUN 2013 PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN YAHUKIMO, TAHUN 2013 Nomor Katalog : 9302001.9416 Ukuran Buku : 14,80 cm x 21,00 cm Jumlah Halaman
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan indikator ekonomi makro yang dapat digunakan untuk melihat tingkat keberhasilan pembangunan ekonomi suatu daerah. Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Majalengka
M E T A D A T A. INFORMASI DASAR 1 Nama Data : Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 2 Penyelenggara Statistik
M E T A D A T A INFORMASI DASAR 1 Nama Data : Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 2 Penyelenggara Statistik : Departemen Statistik Ekonomi dan Moneter, Bank Indonesia 3 Alamat : Jl. M.H. Thamrin No.
D a f t a r I s i. iii DAFTAR ISI. 2.8 Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 2.9 Sektor Jasa-Jasa 85
D a f t a r I s i Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Grafik Daftar Tabel DAFTAR ISI Daftar Tabel Pokok Produk Domestik Regional Bruto Kota Samarinda Tahun 2009-2011 BAB I PENDAHULUAN 1 1.1. Umum 1 1.2. Konsep
III. METODOLOGI PENELITIAN. tujuan penelitian. Wilayah yang akan dibandingkan dalam penelitian ini
III. METODOLOGI PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan definisi operasional dalam penelitian ini mencakup semua pengertian yang digunakan dalam memperoleh dan menganalisis
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN LAMONGAN TAHUN 2011
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN LAMONGAN TAHUN 2011 Katalog BPS : 9302008.3524 Ukuran Buku Jumlah Halaman : 21,5 x 27,9 cm : 93 + v Naskah dan Penyunting : Seksi Neraca Wilayah dan Analisis Statistik
Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Trenggalek Menurut Lapangan Usaha
KATALOG BPS: 9202.3503 ht tp :// tre ng ga le kk ab.b ps.g o. id Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Trenggalek Menurut Lapangan Usaha 2008-2012 Badan Pusat Statistik Kabupaten Trenggalek Statistics
M E T A D A T A INFORMASI DASAR. 1 Nama Data : Produk Domestik Bruto (PDB) 2 Penyelenggara. Departemen Statistik Ekonomi dan Moneter, : Statistik
M E T A D A T A INFORMASI DASAR 1 Nama Data : Produk Domestik Bruto (PDB) 2 Penyelenggara Departemen Statistik Ekonomi dan Moneter, : Statistik Bank Indonesia 3 Alamat : Jl. M.H. Thamrin No. 2 Jakarta
DRB menurut penggunaan menggambarkan penggunaan barang. dan jasa yang diproduksi oleh berbagai sektor dalam masyarakat.
BAB II METODOLOGI P DRB menurut penggunaan menggambarkan penggunaan barang dan jasa yang diproduksi oleh berbagai sektor dalam masyarakat. Penggunaan PDRB tersebut secara garis besar ada dua macam yaitu
Tabel-Tabel Pokok TABEL-TABEL POKOK. Analisis Pertumbuhan Ekonomi Kab. Lamandau Tahun 2013 / 2014 81
TABEL-TABEL POKOK Analisis Pertumbuhan Ekonomi Kab. Lamandau Tahun 2013 / 2014 81 Tabel 1. Tabel-Tabel Pokok Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Lamandau Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan
PDRB. Menurut Kecamatan Di Kota Bandung Tahun Produk Domestik Regional Bruto. Katalog BPS :
Katalog BPS : 9205.3273 Produk Domestik Regional Bruto PDRB Menurut Kecamatan Di Kota Bandung Tahun 2011-2012 Kerjasama : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Bandung Dengan Badan Pusat Statistik
Katalog BPS :
ht o. id.g bp s ta. ko ok ep.d w w w :// tp Katalog BPS : 9302003.3276 PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO LAPANGAN USAHA KOTA DEPOK 2013 PDRB LAPANGAN USAHA KOTA DEPOK 2013 No. Publikasi / Publication Number
II. RUANG LINGKUP DAN METODE PENGHITUNGAN. 2.1 Ruang Lingkup Penghitungan Pendapatan Regional
II. RUANG LINGKUP DAN METODE PENGHITUNGAN 2.1 Ruang Lingkup Penghitungan Pendapatan Regional Dalam penerbitan buku tahun 2013 ruang lingkup penghitungan meliputi 9 sektor ekonomi, meliputi: 1. Sektor Pertanian
BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. 2.1 Produk Domestik regional Bruto Kota Medan. Pembangunan ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah Daerah Sumatera Utara
BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 2.1 Produk Domestik regional Bruto Kota Medan Pembangunan ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah Daerah Sumatera Utara adalah serangkaian usaha kebijaksanaan yang bertujuan untuk
P D R B KABUPATEN KERINCI MENURUT LAPANGAN USAHA
P D R B KABUPATEN KERINCI MENURUT LAPANGAN USAHA 2008-2012 PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO (PDRB) KABUPATEN KERINCI TAHUN 2008-2012 MENURUT LAPANGAN USAHA ISSN : No. Publikasi : 15015.1306 Katalog BPS :
V. DESKRIPSI PROVINSI ACEH Keadaan Geografis dan Wilayah Administrasi
V. DESKRIPSI PROVINSI ACEH 5.1. Keadaan Geografis dan Wilayah Administrasi Daerah Aceh terletak di kawasan paling ujung dari bagian utara Pulau Sumatera dengan luas areal 58.357.63 km 2. Letak geografis
KATA PENGANTAR. Lubuklinggau, September 2014 WALIKOTA LUBUKLINGGAU H. SN. PRANA PUTRA SOHE
KATA PENGANTAR Buku Indikator Ekonomi Kota Lubuklinggau ini dirancang khusus bagi para pelajar, mahasiswa, akademisi, birokrat, dan masyarakat luas yang memerlukan data dan informasi dibidang perekonomian
Produk Domestik Regional Bruto Kota Probolinggo Menurut Lapangan Usaha
Katalog BPS : 9302013.3574 Produk Domestik Regional Bruto Kota Probolinggo Menurut Lapangan Usaha 2008-2012 Katalog BPS : 9302013.3574 TAHUN 2013 PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KOTA PROBOLINGGO 2008-2012
Produk Domestik Bruto (PDB)
Produk Domestik Bruto (PDB) Gross Domestic Product (GDP) Jumlah nilai produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh unitunit produksi di dalam batas wilayah suatu negara (domestik) selama satu tahun.
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan ekonomi yang terpadu merupakan segala bentuk upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara ekonomi yang ditunjang oleh kegiatan non ekonomi.
Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Trenggalek Menurut Lapangan Usaha
KATALOG BPS: 9202.3503 KABUPATEN TRENGGALEK Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Trenggalek Menurut Lapangan Usaha 2006-2010 Gross Regional Domestic Product Of Trenggalek Regency By Industrial Origin
I. PENDAHULUAN. perkembangan suatu perekonomian dari suatu periode ke periode. berikutnya. Dari satu periode ke periode lainnya kemampuan suatu negara
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi merupakan masalah perekonomian suatu negara dalam jangka panjang. Pertumbuhan ekonomi mengukur prestasi dari perkembangan suatu perekonomian dari
(1.42) (1.45) I II III IV I II III IV I II III IV I II * 2012** 2013***
8 6 4 2 5.99 6.29 6.81 6.45 6.52 6.49 6.50 6.29 6.36 6.16 5.81 6.11 6.035.81 3.40 2.69 2.04 2.76 3.37 1.70 1.50 2.82 3.18 1.42 2.61 0-2 (1.42) (1.42) (1.45) I II III IV I II III IV I II III IV I II 2010
10. PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO ( PDRB )
10. PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO ( PDRB ) Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menurut Lapangan Usaha memberikan gambaran tentang nilai tambah yang dibentuk dalam suatu daerah sebagai akibat dari adanya
BAB 2 LANDASAN TEORI. Peramalan adalah kegiatan mengestimasi apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang.
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Peramalan Peramalan adalah kegiatan mengestimasi apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Sedangkan ramalan adalah situasi atau kondisi yang akan diperkirakan
Keterangan * 2011 ** 2012 ***
Keterangan 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 * 2011 ** 2012 *** Produk Domestik Bruto (%, yoy) 3.64 4.50 4.78 5.03 5.69 5.50 6.35 6.01 4.63 6.22 6.49 6.23 Produk Nasional Bruto (%, yoy)
GROWTH (%) SHARE (%) JENIS PENGELUARAN 2011** 2012*** Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.
Keterangan 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 * 2011 ** 2012 *** Produk Domestik Bruto (%, yoy) 3.64 4.50 4.78 5.03 5.69 5.50 6.35 6.01 4.63 6.22 6.49 6.23 Produk Nasional Bruto (%, yoy)
PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI BENGKULU TAHUN 2016
BPS PROVINSI BENGKULU No. 10/02/17/XI, 6 Februari 2017 PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI BENGKULU TAHUN 2016 EKONOMI BENGKULU TUMBUH 5,30 PERSEN, MENINGKAT DIBANDINGKAN TAHUN 2015 Perekonomian Provinsi Bengkulu
BERITA RESMI STATISTIK
BERITA RESMI STATISTIK BPS PROVINSI JAWA TIMUR No. 32/05/35/Th. XI, 6 Mei 2013 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TIMUR TRIWULAN I-2013 Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur Triwulan I Tahun 2013 (y-on-y) mencapai 6,62
SEKTOR PERDAGANGAN, HOTEL DAN RESTORAN
SEKTOR PERDAGANGAN, HOTEL DAN RESTORAN Sektor perdagangan dalam Penghitungan Regional Income adalah semua balas jasa yang diterima oleh pedagang besar, pedagang eceran, rumah makan dan sebagainya. Adapun
V. SIMPULAN DAN SARAN. 1. Hasil analisis Tipologi Klassen menunjukkan bahwa:
V. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan Berdasarkan hasil perhitungan dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Hasil analisis Tipologi Klassen menunjukkan bahwa: a. Sektor ekonomi Kota Bandar Lampung
KLASIFIKASI BAKU LAPANGAN USAHA INDONESIA 1997
KLASIFIKASI BAKU LAPANGAN USAHA INDONESIA 1997 KODE KETERANGAN 000 KEGIATAN YANG BELUM JELAS BATASANNYA 011 PERTANIAN TANAMAN PANGAN, TANAMAN PERKEBUNAN, DAN HORTIKULTURA 012 PETERNAKAN 013 KOMBINASI PERTANIAN
ANALISIS SEKTORAL PDRB KABUPATEN SUMENEP TAHUN 2011
ANALISIS SEKTORAL PDRB KABUPATEN SUMENEP TAHUN 2011 Kerjasama : BADAN PUSAT STATISTIK KAB. SUMENEP DAN BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KAB. SUMENEP ANALISIS SEKTORAL PDRB KABUPATEN SUMENEP TAHUN 2011
BAB. IV KONDISI PEREKONOMIAN KAB. SUBANG TAHUN 2012
BAB. IV KONDISI PEREKONOMIAN KAB. SUBANG TAHUN 2012 4.1.Gambaran Umum Geliat pembangunan di Kabupaten Subang terus berkembang di semua sektor. Kemudahan investor dalam menanamkan modalnya di Kabupaten
Grafik 1 Laju dan Sumber Pertumbuhan PDRB Jawa Timur q-to-q Triwulan IV (persen)
BERITA RESMI STATISTIK BPS PROVINSI JAWA TIMUR No. 13/02/35/Th. XII, 5 Februari 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TIMUR I. PERTUMBUHAN DAN STRUKTUR EKONOMI MENURUT LAPANGAN USAHA Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur
BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR. Katalog BPS :
BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Katalog BPS : 9302008.53 KINERJA PEREKONOMIAN NUSA TENGGARA TIMUR 2013 KINERJA PEREKONOMIAN NUSA TENGGARA TIMUR 2013 Anggota Tim Penyusun : Pengarah :
BAB. IV KONDISI PEREKONOMIAN KAB.SUBANG TAHUN 2013
BAB. IV KONDISI PEREKONOMIAN KAB.SUBANG TAHUN 2013 4.1.Gambaran Umum Geliat pembangunan di Kabupaten Subang terus berkembang di semua sektor. Kemudahan investor dalam menanamkan modalnya di Kabupaten Subang
PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 65 TAHUN 2001 TENTANG PAJAK DAERAH
PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 65 TAHUN 2001 TENTANG PAJAK DAERAH UMUM Dengan ditetapkannya Undang-undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Undangundang Nomor 18
M E T A D A T A INFORMASI DASAR
M E T A D A T A INFORMASI DASAR 1 Nama Data : Produk Domestik Bruto (PDB) 2 Penyelenggara Statistik Departemen Statistik : Bank Indonesia 3 Alamat : Jl. M.H. Thamrin No. 2 Jakarta 4 Contact : Divisi Statistik
Katalog BPS : Badan Pusat Statistik Kab. Tapanuli Tengah Jl. N. Daulay, Pandan Telp. (0631)
Katalog BPS : 930203.1204 Badan Pusat Statistik Kab. Tapanuli Tengah Jl. N. Daulay, Pandan Telp. (0631) 371082 KATA PENGANTAR Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, Badan Pusat Statistik Kabupaten
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. Sektor unggulan di Kota Dumai diidentifikasi dengan menggunakan
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Sektor unggulan di Kota Dumai diidentifikasi dengan menggunakan beberapa alat analisis, yaitu analisis Location Quetiont (LQ), analisis MRP serta Indeks Komposit. Kemudian untuk
PERKEMBANGAN INDEKS HARGA PERDAGANGAN BESAR
BADAN PUSAT STATISTIK BADAN PUSAT STATISTIK No. 76/12/Th. XII, 1 Desember PERKEMBANGAN INDEKS HARGA PERDAGANGAN BESAR OKTOBER HARGA GROSIR TURUN 0,07 PERSEN Pada bulan Oktober Indeks harga grosir/agen
BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR. KATALOG BPS :
BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR. KATALOG BPS : Katalog BPS : 9302008.53 BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR KINERJA PEREKONOMIAN NUSA TENGGARA TIMUR 2013 KINERJA PEREKONOMIAN
COVER DALAM Indikator Ekonomi Kota Ternate 2015 i
COVER DALAM Indikator Ekonomi Kota Ternate 2015 i ii Indikator Ekonomi Kota Ternate 2015 INDIKATOR EKONOMI KOTA TERNATE 2015 No. Katalog : 9201001.8271 No. Publikasi : 82715.1502 Ukuran Buku : 15,5 cm
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO ACEH TAMIANG
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO ACEH TAMIANG 2008 2011 NOMOR KATALOG : 9302008.1114 UKURAN BUKU JUMLAH HALAMAN : 21,00 X 28,50 CM : 78 HALAMAN + XIII NASKAH : - SUB BAGIAN TATA USAHA - SEKSI STATISTIK SOSIAL
