PT. VERENA MULTI FINANCE Tbk
|
|
|
- Iwan Djaja Darmadi
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 LAPORAN KEUANGAN UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2012 DAN 2011 SERTA TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2011 (AUDITAN)
2 DAFTAR ISI Halaman SURAT PERNYATAAN DIREKSI LAPORAN KEUANGAN Untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2012 dan 2011, serta tahun yang berakhir 31 Desember 2011 (Auditan) Laporan Posisi Keuangan 1 Laporan Laba Rugi Komprehensif 3 Laporan Perubahan Ekuitas 4 Laporan Arus Kas 5 Catatan atas Laporan Keuangan 6
3 LAPORAN POSISI KEUANGAN 30 SEPTEMBER 2012 DAN 31 DESEMBER 2011 (AUDITAN) ASET Catatan 30 September Desember 2011 Kas dan setara kas 3d,3f,5 Pihak berelasi 3c,30 7,301,255 1,793,579 Pihak ketiga 10,916, ,547,745 Jumlah 18,218, ,341,324 Piutang pembiayaan konsumen - setelah dikurangi pendapatan yang belum diakui dan cadangan kerugian penurunan nilai sebesar Rp ribu pada tanggal 30 Juni 2012 dan Rp ribu pada tanggal 31 Desember d,3g,3j,6 Pihak berelasi 3c,30-154,240 Pihak ketiga 1,301,500,864 1,136,760,669 Jumlah 1,301,500,864 1,136,914,909 Investasi Neto Sewa Pembiayaan - Pihak ketiga 3d,3h setelah ditambahkan nilai sisa terjamin 3j,7 dan dikurangi pendapatan yang belum diakui, simpanan jaminan dan cadangan kerugian penurunan nilai sebesar Rp ribu pada tanggal 30 Juni 2012 dan Rp ribu pada tanggal 31 Desember ,767,513 46,480,627 Investasi pada perusahaan asosiasi 3i,8 20,046,274 20,046,274 Piutang lain-lain Pihak berelasi 3c,3d,9,30 2,495,291 1,250,933 Pihak ketiga 296,838 34,153 Jumlah 2,792,129 1,285,086 Biaya dibayar di muka Pihak berelasi 3c,3k,10,30 219, ,346 Pihak ketiga 5,192,016 3,620,850 Jumlah 5,411,820 3,818,196 Aset pajak tangguhan 3r,28 4,453,646 4,694,817 Aset tetap - setelah dikurangi akumulasi penyusutan sebesar Rp ribu pada tanggal 30 Juni 2012 dan Rp ribu pada tanggal 31 Desember l,11 32,933,801 26,496,888 Aset lain-lain - bersih 3c,3n,12,30 114,201, ,950,606 JUMLAH ASET 1,756,325,756 1,521,028,727 Lihat catatan atas laporan keuangan yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan
4 LAPORAN POSISI KEUANGAN 30 SEPTEMBER 2012 DAN 31 DESEMBER 2011 (AUDITAN) LIABILITAS DAN EKUITAS LIABILITAS Catatan 30 September Desember 2011 Utang bank 3d,13 Pihak berelasi 3c,30 129,257,002 5,416,667 Pihak ketiga 718,061, ,907,588 Jumlah 847,318, ,324,255 Utang usaha kepada pihak ketiga 3d,14 14,470,793 23,079,957 Utang lain-lain 3d,15 Pihak berelasi 3c,30 17,595 9,931 Pihak ketiga 34,109,655 24,960,553 Jumlah 34,127,250 24,970,484 Biaya masih harus dibayar 3d,16 Pihak berelasi 3c,30 294,331 41,250 Pihak ketiga 8,845,714 12,504,519 Jumlah 9,140,045 12,545,769 Utang pajak 3r,17,28 3,145,278 1,856,295 Surat berharga yang diterbitkan - bersih 3d,18 633,425, ,634,218 Liabilitas imbalan pasca kerja 3q,19 6,349,199 5,110,115 JUMLAH LIABILITAS 1,547,976,489 1,335,521,093 EKUITAS Modal saham - nilai nominal Rp 100 per saham Modal dasar saham Modal ditempatkan dan disetor saham pada tanggal 30 Juni 2012 dan 31 Desember b,20 100,200, ,200,035 Tambahan modal disetor 20 (2,384,634) (2,384,634) Saldo laba 110,533,866 87,692,233 JUMLAH EKUITAS 208,349, ,507,634 JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 1,756,325,756 1,521,028,727 Lihat catatan atas laporan keuangan yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan
5 LAPORAN LABA RUGI KOMPREHENSIF UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2012 DAN 2011 Notes 30 September September 2011 PENDAPATAN 3o Pembiayaan konsumen 3c,3d,3h,21,30 158,761, ,286,798 Sewa Pembiayaan 3d,3g,22 18,698,356 13,218 Administrasi 23 16,338,506 10,212,650 Bunga 3c,30 1,091,685 2,734,663 Pendapatan penalti 24 15,788,669 13,184,315 Pendapatan lain-lain 3c,25,30 22,914,257 15,284,742 JUMLAH PENDAPATAN 233,593, ,716,386 BEBAN 3o Bunga dan pembiayaan lainnya 3c,3d,26,30 114,595,920 85,926,892 Tenaga kerja 37,121,671 30,995,210 Imbalan pasca kerja 3q,19 1,825,000 1,125,000 Umum dan administrasi 3c,27,30 26,432,219 20,865,310 Beban cadangan kerugian penurunan nilai/ beban piutang ragu-ragu 3j,6,7 12,316,601 3,157,173 Rugi penjualan jaminan yang dikuasakan kembali 3n 3,057,190 3,165,644 Beban lain-lain 7,291,955 2,691,498 JUMLAH BEBAN 202,640, ,926,727 LABA SEBELUM PAJAK 30,952,457 25,789,659 MANFAAT (BEBAN) PAJAK 3r,28 Pajak kini (7,869,653) (8,237,513) Pajak tangguhan (241,171) 1,452,733 JUMLAH BEBAN PAJAK (8,110,824) (6,784,780) LABA BERSIH TAHUN BERJALAN DAN JUMLAH LABA KOMPREHENSIF 22,841,633 19,004,879 LABA PER SAHAM DASAR 3s, (dalam Rupiah penuh) Lihat catatan atas laporan keuangan yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan
6 LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2012 DAN 2011 Modal Tambahan Catatan saham modal disetor Saldo laba Jumlah ekuitas Saldo per 1 Januari ,200,035 (2,384,634) 63,039, ,855,109 Penambahan modal disetor Laba komprehensif periode berjalan ,004,879 19,004,879 Saldo per 30 September ,200,035 (2,384,634) 82,044, ,859,988 Saldo per 1 Januari ,200,035 (2,384,634) 87,692, ,507,634 Penambahan modal disetor Laba komprehensif periode berjalan ,841,633 22,841,633 Saldo per 30 September ,200,035 (2,384,634) 110,533, ,349,267 Lihat catatan atas laporan keuangan yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan
7 LAPORAN ARUS KAS UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2012 DAN September September 2011 ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI Penerimaan pembiayaan konsumen 1,655,207,044 1,286,832,885 Penerimaan (pembayaran) utang lain-lain 2,181,898 (1,434,825) Penerimaan bunga 1,091,685 2,734,663 Pembayaran kas untuk: Pembayaran pembiayaan konsumen (1,812,788,565) (1,330,179,970) Pembayaran beban operasional (70,569,544) (42,488,059) Pembayaran bunga (112,537,824) (84,564,863) Pembayaran pajak penghasilan (6,050,605) (12,372,771) Kas Bersih Digunakan untuk Aktivitas Operasi (343,465,911) (181,472,940) ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI Hasil penjualan aset tetap 2,681,980 1,909,713 Perolehan aset tetap (12,940,299) (7,585,240) Kas Bersih Digunakan untuk Aktivitas Investasi (10,258,319) (5,675,527) ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN Penerimaan utang bank 673,668, ,828,039 Pembayaran utang bank (397,067,189) (605,748,012) Penerimaan penerbitan surat berharga - 500,000,000 Pembayaran biaya emisi surat berharga yang diterbitkan - (4,375,648) Pembayaran surat berharga yang diterbitkan (65,000,000) - Kas Bersih Diperoleh dari Aktivitas Pendanaan 211,600, ,704,379 KENAIKAN (PENURUNAN) BERSIH KAS DAN SETARA KAS (142,123,266) (7,444,088) KAS DAN SETARA KAS AWAL PERIODE 160,341,324 27,831,181 KAS DAN SETARA KAS AKHIR PERIODE 18,218,058 20,387,093 Informasi tambahan: Saldo kas yang dibatasi penggunaannya 1,050,533 2,987,971 Lihat catatan atas laporan keuangan yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan
8 PERIODE YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL TERSEBUT 1. UMUM a. Pendirian dan Informasi Umum PT. Verena Multi Finance Tbk (d/h PT. Verena Oto Finance Tbk) ( Perusahaan ) didirikan dengan nama PT Maxima Perdana Finance berdasarkan akta No. 43 tanggal 21 Juli 1993 dari Sri Nanning, S.H., notaris di Jakarta. Akta tersebut telah mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. C HT Th.93 tanggal 29 Oktober 1993 dan diumumkan dalam Lembaran Berita Negara Republik Indonesia No. 88 tanggal 4 November 1994, Tambahan No Berdasarkan akta No. 46 tanggal 14 Pebruari 2003 dari Eliwaty Tjitra, S.H., notaris di Jakarta, nama Perusahaan diubah menjadi PT. Victoria Finance Indonesia. Akta tersebut telah memperoleh persetujuan dari Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan surat keputusan No. C HT TH.2003 tanggal 21 Mei 2003 dan diumumkan dalam Lembaran Berita Negara Republik Indonesia No. 78 tanggal 30 September 2003 Tambahan No Selanjutnya, berdasarkan Akta No. 6 tanggal 11 Juni 2003 dari Herlien Widjaja, S.H., notaris di Jakarta, nama Perusahaan diubah menjadi PT. Verena Oto Finance. Perubahan ini telah memperoleh persetujuan dari Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. C HT TH.2003 tanggal 7 Juli 2003 dan diumumkan dalam Lembaran Berita Negara Republik Indonesia No. 87 tanggal 31 Oktober 2003 Tambahan No Berdasarkan akta Pernyataan Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan dan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa Perseroan Terbatas PT. Verena Oto Finance Tbk No. 33 tanggal 27 Agustus 2010 dari Fathiah Helmi, S.H., notaris di Jakarta, nama Perusahaan diubah menjadi PT. Verena Multi Finance Tbk. Perubahan ini telah mendapat persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia dan Menteri Keuangan Republik Indonesia, masing-masing dengan Surat Keputusan No. AHU AH Tahun 2010 tanggal 28 September 2010 dan No. KEP-654/KM.10/2010 tanggal 9 Desember Anggaran dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir adalah sebagaimana tercantum dalam akta Pernyataan Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan dan Rapat umum Pemegang Saham Luar Biasa Perseroan Terbatas Perusahaan No. 40 tanggal 14 Juni 2012 dari Fathiah Helmi, S.H., notaris di Jakarta, dalam rangka perubahan susunan direksi dan peningkatan modal dasar Perusahaan. Perubahan anggaran dasar tersebut masih dalam proses untuk mendapatkan persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia. Sesuai dengan pasal 3 anggaran dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan utama Perusahaan meliputi usaha pembiayaan dalam bentuk dana atau barang modal meliputi bidang sebagai berikut: a. Sewa guna usaha b. Anjak piutang c. Kartu kredit d. Pembiayaan konsumen. Perusahaan memperoleh izin usaha lembaga pembiayaan dari Menteri Keuangan Republik Indonesia dengan surat keputusan No.994/KMK.017/1993 tanggal 30 Desember Selanjutnya, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. KEP-161/KM.6/2004 tanggal 4 Mei 2004, izin usaha tersebut dinyatakan berlaku bagi Perusahaan. Saat ini, Perusahaan menjalankan usaha utamanya dibidang pembiayaan konsumen dan mempunyai 30 (tiga puluh) kantor cabang yang berlokasi di Banda Aceh, Bandung, Banjarmasin, Batu Ceper, Bekasi, Bogor, Depok, Kalimalang, Kelapa Gading, Makasar, Malang, Medan, Palembang, Pekan Baru, Radio Dalam, Tangerang, Samarinda, Semarang, Serang, Surabaya, Surakarta, Rantau Prapat dan Yogyakarta. Kantor pusat Perusahaan beralamat di Gedung Bank Panin, Lantai 3, Jalan Pecenongan No. 84, Jakarta Pusat
9 Perseroan sudah mengajukan permohonan persetujuan penutupan 7 (tujuh) cabang ke Menteri Keuangan Republik Indonesia c.q. Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Sesuai Surat Nomor 210/VMF/X/IX/12 tanggal 21 September 2012). Perusahaan tergabung dalam kelompok usaha (grup) Panin. Pemegang saham mayoritas Perusahaan adalah PT. Bank Pan Indonesia Tbk. Jumlah karyawan Perusahaan pada tanggal 30 September 2012 dan 31 Desember 2011 masing-masing sebanyak 874 karyawan dan 786 karyawan. Susunan Dewan Komisaris, Dewan Direksi dan Komite Audit Perusahaan pada tanggal 30 September 2012 dan 31 Desember 2011 adalah sebagai berikut: 30 September Desember 2011 Dewan Komisaris Presiden Komisaris Murniaty Santoso Murniaty Santoso Komisaris Gunawan Santoso Gunawan Santoso Komisaris Independen Iqbal Witjaksono Iqbal Witjaksono Dewan Direksi Direktur Utama Hadi Budiman Hadi Budiman Direktur Pemasaran Andreas Sudarto Samiadji Iman Santoso Iskandar Direktur Keuangan Andi Harjono Andi Harjono Komite Audit Ketua Iqbal Witjaksono Iqbal Witjaksono Anggota Alvin Pasmi Alvin Pasmi Ria Muljani Ria Muljani Ruang lingkup Direktur Utama mencakup bidang pengembangan sumber daya manusia, general affair, remunerasi dan banking relation. Sedangkan ruang lingkup Direktur Pemasaran mencakup bidang pencapaian target pembiayaan dan penagihan serta pengembangan bisnis dan Direktur Keuangan mencakup akuntansi dan keuangan, sistem informasi dan SOP dan operasional. Imbalan kerja jangka pendek Dewan Komisaris Perusahaan masing-masing sebesar Rp ribu, Rp ribu, dan Rp ribu untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2012 dan 2011 serta tahun yang berakhir 31 Desember Imbalan kerja jangka pendek Dewan Direksi Perusahaan masing-masing sebesar Rp ribu, Rp ribu, dan Rp ribu untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2012 dan 2011 serta tahun yang berakhir 31 Desember b. Penawaran Umum Efek Perusahaan Penawaran Umum Saham Pada tanggal 13 Juni 2008, Perusahaan memperoleh pernyataan efektif dari Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (BAPEPAM-LK) berdasarkan surat BAPEPAM- LK No. S-3825/BL/2008 untuk melakukan penawaran umum atas saham Perusahaan kepada masyarakat dengan nilai nominal per saham sebesar Rp 100 dan harga penawaran per saham sebesar Rp 100. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia pada tanggal 25 Juni Penawaran umum saham perdana ini disertai dengan penerbitan Waran Seri I (Catatan 20). Pada tanggal 30 September 2012 dan 31 Desember 2011 jumlah saham Perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia sebanyak lembar
10 Penawaran Umum Obligasi Pada tanggal 11 Maret 2011, Perusahaan memperoleh pernyataan efektif dari ketua BAPEPAM- LK berdasarkan surat BAPEPAM-LK No. S-2568/BL/2011 untuk melakukan penawaran obligasi Verena Multi Finance I tahun 2011 kepada masyarakat dengan jumlah pokok sebesar Rp 500 miliar. Pada tanggal 21 Maret 2011 seluruh obligasi tersebut telah dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia. 2. PENERAPAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN BARU DAN REVISI (PSAK) DAN INTERPRETASI STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN (ISAK) a. Standar yang berlaku efektif pada periode berjalan Berlaku efektif 2012 Dalam periode berjalan, Perusahaan telah menerapkan semua standar baru dan revisi serta interpretasi yang dikeluarkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan dari Ikatan Akuntan Indonesia yang relevan dengan operasinya dan efektif untuk periode akuntansi yang dimulai pada tanggal 1 Januari Penerapan ini tidak memiliki pengaruh yang signifikan atas jumlah yang dilaporkan dalam laporan keuangan, kecuali untuk pengungkapan tambahan atas instrumen keuangan yang diisyaratkan oleh PSAK 60, Instrumen Keuangan: Pengungkapan. Berlaku efektif 2011 Dalam periode berjalan, Perusahaan telah menerapkan semua standar baru dan revisi serta interpretasi yang dikeluarkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan dari Ikatan Akuntan Indonesia yang relevan dengan operasinya dan efektif untuk periode akuntansi yang dimulai pada tanggal 1 Januari Penerapan ini tidak memiliki pengaruh yang signifikan atas jumlah yang dilaporkan dalam laporan keuangan kecuali untuk pengungkapan tambahan atas Penyajian Laporan Keuangan yang diisyaratkan oleh PSAK 1 (revisi 2009): Penyajian Laporan Keuangan dan pengungkapan pihak-pihak berelasi yang diisyaratkan oleh PSAK 7 (revisi 2010): Pengungkapan Pihak-pihak Berelasi. b. PSAK dan ISAK telah diterbitkan tapi belum diterapkan Efektif untuk periode yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2013 adalah ISAK 21, Perjanjian Kontrak Real Estat Sampai dengan tanggal penerbitan laporan keuangan, manajemen sedang mengevaluasi dampak dari standar dan interpretasinya terhadap laporan keuangan. 3. KEBIJAKAN AKUNTANSI a. Pernyataan Kepatuhan Laporan keuangan Perusahaan telah disusun dan disajikan sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia
11 b. Penyajian Laporan Keuangan Dasar penyusunan laporan keuangan, kecuali untuk laporan arus kas, adalah dasar akrual. Mata uang pelaporan yang digunakan untuk penyusunan laporan keuangan adalah mata uang Rupiah (Rp) dan laporan keuangan tersebut disusun berdasarkan nilai historis, kecuali beberapa akun tertentu disusun berdasarkan pengukuran lain sebagaimana diuraikan dalam kebijakan akuntansi masing-masing akun tersebut. Laporan arus kas disusun dengan menggunakan metode langsung dengan mengelompokkan arus kas dalam aktivitas operasi, investasi dan pendanaan. c. Transaksi dengan Pihak-pihak Berelasi Pihak-pihak berelasi adalah orang atau entitas yang terkait dengan entitas pelapor. a) Orang atau anggota keluarga terdekat yang mempunyai relasi dengan entitas pelapor jika orang tersebut: 1) memiliki pengendalian atau pengendalian bersama atas entitas pelapor; 2) memiliki pengaruh signifikan atas entitas pelapor; atau 3) personil manajemen kunci entitas pelapor atau entitas induk entitas pelapor. b) Suatu entitas berelasi dengan entitas pelapor jika memenuhi salah satu hal berikut: 1) entitas dan entitas pelapor adalah anggota dari kelompok usaha yang sama (artinya entitas induk, entitas anak, dan entitas anak berikutnya terkait dengan entitas lain). 2) satu entitas adalah entitas asosiasi atau ventura bersama dari entitas lain (atau entitas asosiasi atau ventura bersama yang merupakan anggota suatu kelompok usaha, yang mana entitas lain tersebut adalah anggotanya). 3) kedua entitas tersebut adalah ventura bersama dari pihak ketiga yang sama. 4) satu entitas adalah ventura bersama dari entitas ketiga dan entitas yang lain adalah entitas asosiasi dari entitas ketiga. 5) entitas tersebut adalah suatu program imbalan pascakerja untuk imbalan kerja dari salah satu entitas pelapor atau entitas yang terkait dengan entitas pelapor. Jika entitas pelapor adalah entitas yang menyelenggarakan program tersebut, maka entitas sponsor juga berelasi dengan entitas pelapor. 6) entitas yang dikendalikan atau dikendalikan bersama oleh orang yang diidentifikasi dalam huruf a). 7) orang yang diidentifikasi dalam huruf a) 1) memiliki pengaruh signifikan atas entitas atau personil manajemen kunci entitas (atau entitas induk dari entitas). d. Instrumen Keuangan (i) Aset keuangan Seluruh aset keuangan diakui dan dihentikan pengakuannya pada tanggal diperdagangkan dimana pembelian dan penjualan aset keuangan berdasarkan kontrak yang mensyaratkan penyerahan aset keuangan dalam kurun waktu yang ditetapkan oleh kebiasaan pasar yang berlaku, dan awalnya diukur sebesar nilai wajar ditambah biaya transaksi, kecuali untuk aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi, yang awalnya diukur sebesar nilai wajar. Aset keuangan Perusahaan diklasifikasikan sebagai berikut: Nilai wajar melalui laba rugi Dimiliki hingga jatuh tempo Tersedia untuk dijual Pinjaman yang diberikan dan piutang
12 Aset keuangan diukur pada nilai wajar melalui laba rugi (FVTPL) Aset keuangan diklasifikasi dalam FVTPL, jika aset keuangan sebagai kelompok diperdagangkan atau pada saat pengakuan awal ditetapkan untuk diukur pada FVTPL. Aset keuangan diklasifikasikan sebagai diperdagangkan jika: diperoleh atau dimiliki terutama untuk tujuan dijual kembali dalam waktu dekat; merupakan bagian dari portfolio instrumen keuangan tertentu yang dikelola bersama dan terdapat bukti mengenai pola ambil untung dalam jangka pendek yang terkini ; atau merupakan derivatif, kecuali derivatif yang merupakan kontrak jaminan keuangan atau sebagai instrumen lindung nilai. Aset keuangan selain aset keuangan yang diperdagangkan, dapat ditetapkan sebagai FVTPL pada saat pengakuan awal, jika: penetapan tersebut mengeliminasi atau mengurangi secara signifikan ketidakkonsistenan pengukuran dan pengakuan yang dapat timbul; atau aset keuangan merupakan bagian dari kelompok aset keuangan atau liabilitas atau keduanya, yang dikelola dan kinerjanya berdasarkan nilai wajar, sesuai dengan dokumentasi manajemen risiko atau strategi investasi Perusahaan, dan informasi tentang kelompok tersebut disediakan secara internal kepada manajemen kunci; atau merupakan bagian dari kontrak yang mengandung satu atau lebih derivatif melekat, dan PSAK 55 (revisi 2006) memperbolehkan kontrak gabungan (aset atau liabilitas) ditetapkan sebagai FVTPL. Aset keuangan FVTPL disajikan sebesar nilai wajar, keuntungan atau kerugian yang timbul diakui dalam laporan laba rugi komprehensif. Keuntungan atau kerugian bersih yang diakui dalam laporan laba rugi komprehensif mencakup dividen atau bunga yang diperoleh dari aset keuangan. Aset keuangan yang dimiliki hingga jatuh tempo Aset keuangan diklasifikasikan sebagai investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo hanya jika investasi tersebut memiliki pembayaran yang tetap atau telah ditentukan dan jatuh temponya telah ditetapkan serta Perusahaan mempunyai intensi positif dan kemampuan untuk memiliki aset keuangan tersebut hingga jatuh tempo. Pada saat pengakuan awal, investasi dimiliki hingga jatuh tempo diukur pada nilai wajar ditambah dengan biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dengan perolehan aset keuangan. Setelah pengakuan awal, investasi dimiliki hingga jatuh tempo diukur dengan biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif dikurangi kerugian penurunan nilai yang ada. Aset keuangan yang tersedia untuk dijual Aset keuangan yang tidak diklasifikasikan sebagai dimiliki hingga jatuh tempo, diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi, atau pinjaman yang diberikan dan piutang diklasifikasikan sebagai tersedia untuk dijual. Pada saat pengakuan awal, aset keuangan tersedia untuk dijual diukur pada nilai wajar ditambah dengan biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dan selanjutnya diukur pada nilai wajar, dimana keuntungan atau kerugian pada perubahan pada nilai wajarnya dilaporkan pada komponen yang terpisah pada ekuitas sampai pada saat aset keuangan tersebut diselesaikan dan akumulasi keuntungan dan kerugian tersebut diakui pada laporan laba rugi komprehensif
13 Kerugian penurunan nilai dan keuntungan atau kerugian yang timbul akibat perubahan nilai tukar sebagai hasil dari perhitungan ulang biaya amortisasi pada mata uang moneter aset keuangan tersedia untuk dijual serta pendapatan bunga yang dihitung menggunakan metode suku bunga efektif diakui pada laporan laba rugi komprehensif. Pinjaman yang diberikan dan piutang Kas dan setara kas, piutang pembiayaan konsumen, pembiayaan refinancing dan piutang lain-lain dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif diklasifikasi sebagai pinjaman yang diberikan dan piutang. Pada saat pengakuan awal, pinjaman yang diberikan dan piutang diukur pada nilai wajar ditambah dengan biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dengan perolehan aset keuangan dan selanjutnya diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif dikurangi penurunan nilai. Bunga diakui dengan suku bunga efektif, kecuali piutang jangka pendek dimana pengakuan bunganya tidak material. Metode suku bunga efektif Metode suku bunga efektif adalah metode yang digunakan untuk menghitung biaya perolehan diamortisasi dari instrumen keuangan dan metode untuk mengalokasikan pendapatan bunga selama periode yang relevan. Suku bunga efektif adalah suku bunga yang secara tepat mendiskontokan estimasi penerimaan kas di masa datang (termasuk seluruh komisi dan bentuk lain yang dibayarkan dan diterima oleh para pihak dalam kontrak yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari suku bunga efektif, biaya transaksi dan premium dan diskonto lainnya) selama perkiraan umur instrumen keuangan, atau, jika lebih tepat, digunakan periode yang lebih singkat untuk memperoleh nilai tercatat bersih dari aset keuangan pada saat pengakuan awal. Perhitungan dari suku bunga efektif termasuk semua fee dan pembayaran atau penerimaan poin yang merupakan bagian integral dari suku bunga efektif. Biaya transaksi termasuk biaya incremental yang secara langsung berkaitan dengan akuisisi atas penerbitan aset atau liabilitas keuangan. Pendapatan diakui berdasarkan suku bunga efektif untuk instrumen keuangan selain dari instrumen keuangan FVTPL. Penurunan nilai aset keuangan Aset keuangan, selain aset keuangan FVTPL, dievaluasi terhadap indikator penurunan nilai pada setiap tanggal laporan posisi keuangan. Aset keuangan diturunkan nilainya jika terdapat bukti yang obyektif, sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal aset keuangan, dan peristiwa yang merugikan tersebut berdampak pada estimasi arus kas masa depan atas aset keuangan yang dapat diestimasi secara handal. Bukti obyektif penurunan nilai termasuk sebagai berikut: kesulitan keuangan signifikan yang dialami penerbit atau pihak peminjam; atau pelanggaran kontrak, seperti terjadinya wanprestasi atau tunggakan pembayaran pokok atau bunga; atau terdapat kemungkinan bahwa pihak peminjam akan dinyatakan pailit atau melakukan reorganisasi keuangan. Untuk aset keuangan selain yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi, Perusahaan pertama kali menentukan apakah terdapat bukti obyektif penurunan nilai secara individual atas aset keuangan yang signifikan secara individual, atau secara kolektif untuk aset keuangan yang tidak signifikan secara individual. Jika Perusahaan menentukan tidak terdapat bukti obyektif penurunan nilai atas aset keuangan yang dinilai secara individual, maka Perusahaan memasukkan aset tersebut ke dalam kelompok aset keuangan yang memiliki karakteristik risiko kredit yang sejenis dan menilai penurunan nilai kelompok tersebut secara kolektif
14 Cadangan kerugian penurunan nilai secara individual dihitung dengan menggunakan metode diskonto arus kas (discounted cash flows). Perhitungan nilai kini dari estimasi arus kas masa datang atas aset keuangan dengan agunan (collateralised financial asset) mencerminkan arus kas yang dapat dihasilkan dari pengambilalihan agunan dikurangi biaya-biaya untuk memperoleh dan menjual agunan, terlepas apakah pengambilalihan tersebut berpeluang terjadi atau tidak. Dalam melakukan penilaian secara kolektif, Perusahaan harus menghitung: Probability of default ( PD ) model ini menilai probabilitas konsumen gagal melakukan pembayaran kembali secara penuh dan tepat waktu. Recoverable amount didasarkan pada identifikasi arus kas masa datang dan estimasi nilai kini dari arus kas tersebut (discounted cash flow) Loss given default ( LGD ) Perusahaan mengestimasi kerugian ekonomis yang mungkin akan diderita Perusahaan apabila terjadi tunggakan fasilitas pembiayaan. LGD menggambarkan jumlah utang yang tidak dapat diperoleh kembali dan umumnya ditunjukkan dalam persentase dari exposure at default (EAD). Model Perhitungan LGD mempertimbangkan jenis peminjam, fasilitas dan mitigasi risiko,misalnya ketersediaan agunan. Loss identification period ( LIP ) - periode waktu antara terjadinya peristiwa yang merugikan dalam kelompok aset keuangan sampai bukti obyektif dapat diidentifikasi atas pembiayaan secara individual. Exposure at default ( EAD ) Perusahaan mengestimasi tingkat utilisasi yang diharapkan dari pembiayaan pada saat terjadi tunggakan. PD, LGD dan LIP diperoleh dari observasi data pembiayaan selama minimal tiga tahun. Cadangan kerugian penurunan nilai yang dinilai secara kolektif dilakukan dengan mengkalikan nilai baki debet pembiayaan pada posisi laporan dengan probability default (PD), loss identification period (LIP) dan loss given default (LGD). Perusahaan menggunakan model analisa statistik, yaitu flow rate method untuk penilaian penurunan nilai aset keuangan secara kolektif. Jumlah kerugian diukur sebagai selisih antara nilai tercatat aset keuangan dan nilai kini dari estimasi arus kas masa depan (tidak termasuk kerugian kredit di masa datang yang diharapkan tapi belum terjadi) yang didiskontokan menggunakan tingkat suku bunga efektif awal dari aset keuangan tersebut. Kerugian penurunan nilai diakui pada laporan laba rugi komprehensif dan nilai tercatat aset keuangan atau kelompok aset keuangan tersebut dikurangi dengan kerugian penurunan nilai yang terbentuk. Jika pada periode berikutnya jumlah penurunan nilai berkurang dan penurunan dapat dikaitkan secara obyektif pada peristiwa yang terjadi setelah penurunan nilai tersebut diakui (seperti meningkatnya peringkat kredit debitur atau penerbit), kerugian penurunan nilai yang sebelumnya diakui dipulihkan melalui laporan laba rugi komprehensif hingga nilai tercatat aset keuangan pada tanggal pemulihan penurunan nilai tidak melebihi biaya perolehan diamortisasi sebelum pengakuan kerugian penurunan nilai dilakukan. Pada saat kerugian penurunan nilai diakui, pendapatan bunga diakui berdasarkan nilai tercatat setelah kerugian penurunan nilai dengan menggunakan suku bunga yang digunakan untuk mendiskonto estimasi arus kas masa datang pada saat menghitung penurunan nilai. Penghentian pengakuan aset keuangan Perusahaan menghentikan pengakuan aset keuangan jika dan hanya jika hak kontraktual atas arus kas yang berasal dari aset berakhir, atau Perusahaan mentransfer aset keuangan dan secara substansial mentransfer seluruh risiko dan manfaat atas kepemilikan aset kepada entitas lain. Jika Perusahaan tidak mentransfer serta tidak memiliki secara substansial atas seluruh risiko dan manfaat kepemilikan serta masih mengendalikan aset yang ditransfer, maka Perusahaan mengakui keterlibatan berkelanjutan atas aset yang ditransfer dan liabilitas terkait sebesar jumlah yang mungkin harus dibayar. Jika Perusahaan memiliki secara substansial seluruh risiko dan manfaat kepemilikan aset keuangan yang ditransfer,
15 Perusahaan masih mengakui aset keuangan dan juga mengakui pinjaman yang dijamin sebesar pinjaman yang diterima. Reklasifikasi Aset Keuangan Perusahaan tidak diperkenankan untuk melakukan reklasifikasi aset keuangan dari atau ke kelompok aset keuangan diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi dan pinjaman yang diberikan dan piutang. Perusahaan hanya dapat melakukan reklasifikasi atas aset keuangan dari kelompok tersedia untuk dijual ke kelompok dimiliki hingga jatuh tempo (atau sebaliknya). Untuk aset keuangan dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo, reklasifikasi dalam jumlah yang lebih dari jumlah yang tidak signifikan maka sisa investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo harus direklasifikasikan menjadi investasi dalam kelompok tersedia untuk dijual (tainting rule). Apabila terdapat reklasifikasi dari klasifikasi dimiliki hingga jatuh tempo ke tersedia untuk dijual, maka aset keuangan tersebut akan dihitung nilai wajarnya dan selisih antara nilai wajar dan nilai tercatat harus dicatat pada ekuitas. (ii) Liabilitas keuangan dan ekuitas Klasifikasi sebagai liabilitas atau ekuitas Instrumen liabilitas dan ekuitas yang diterbitkan oleh Perusahaan diklasifikasi sesuai dengan substansi perjanjian kontraktual dan definisi liabilitas keuangan dan instrumen ekuitas. Instrumen ekuitas Instrumen ekuitas adalah setiap kontrak yang memberikan hak residual atas aset suatu entitas setelah dikurangi dengan liabilitasnya. Instrumen ekuitas diterbitkan oleh Perusahaan dan diakui pada saat hasilnya diterima, dikurangi dengan biaya penerbitan langsung. Liabilitas keuangan Perusahaan mengklasifikasikan liabilitas keuangan dalam kategori liabilitas keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi dan liabilitas keuangan yang diukur dengan biaya perolehan diamortisasi (FLAC). Liabilitas keuangan diukur pada nilai wajar melalui laba rugi (FVTPL) Liabilitas keuangan diklasifikasi dalam FVTPL, jika liabilitas keuangan sebagai kelompok diperdagangkan atau pada saat pengakuan awal ditetapkan untuk diukur pada FVTPL. Liabilitas keuangan diklasifikasikan sebagai diperdagangkan apabila: diperoleh atau dimiliki terutama untuk tujuan dibeli kembali dalam waktu dekat; atau merupakan bagian dari portfolio instrumen keuangan tertentu yang dikelola bersama dan terdapat bukti mengenai pola ambil untung dalam jangka pendek yang terkini; atau merupakan derivatif yang tidak ditetapkan dan tidak efektif sebagai instrumen lindung nilai. Liabilitas keuangan selain liabilitas keuangan yang diperdagangkan, dapat ditetapkan sebagai FVTPL pada saat pengakuan awal, jika: penetapan tersebut mengeliminasi atau mengurangi secara signifikan ketidak-konsistenan pengukuran dan pengakuan yang dapat timbul; atau liabilitas keuangan merupakan bagian dari kelompok liabilitas keuangan, yang dikelola dan kinerjanya berdasarkan nilai wajar, sesuai dengan dokumentasi manajemen risiko atau strategi investasi Perusahaan, dan informasi tentang kelompok tersebut disediakan secara internal kepada manajemen kunci; atau merupakan bagian dari kontrak yang mengandung satu atau lebih derivatif melekat, dan PSAK 55 (revisi 2006) memperbolehkan kontrak gabungan (aset atau liabilitas) ditetapkan sebagai FVTPL
16 Pada saat pengakuan awal, liabilitas keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi, diakui pada nilai wajarnya dikurangi dengan biaya transaksi diakui pada laporan laba rugi komprehensif. Pengukuran berikutnya dinilai pada nilai wajar. Keuntungan dan kerugian yang timbul pada liabilitas keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi diakui pada laporan laba rugi komprehensif. Liabilitas keuangan yang diukur pada biaya perolehan yang diamortisasi Pada saat pengakuan awal, liabilitas keuangan yang diukur pada biaya perolehan yang diamortisasi, diakui pada nilai wajarnya. Nilai wajar tersebut dikurangi biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dengan penerbitan liabilitas keuangan tersebut. Pengukuran selanjutnya diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif, dimana beban bunga diakui berdasarkan tingkat pengembalian yang efektif, kecuali untuk liabilitas jangka pendek dimana pengakuan bunganya tidak material. Selisih antara hasil emisi (setelah dikurangi biaya transaksi) dan penyelesaian atau pelunasan pinjaman diakui selama jangka waktu pinjaman. Penghentian pengakuan liabilitas keuangan Perusahaan menghentikan pengakuan liabilitas keuangan, jika dan hanya jika, liabilitas Perusahaan telah dilepaskan, dibatalkan atau kadaluarsa. (iii) Nilai wajar instrumen keuangan Nilai wajar adalah nilai yang digunakan untuk mempertukarkan suatu aset atau untuk menyelesaikan suatu liabilitas antara pihak-pihak yang memahami dan berkeinginan untuk melakukan transaksi secara wajar (arm s length transaction). Nilai wajar suatu aset atau liabilitas keuangan dapat diukur dengan menggunakan kuotasi di pasar aktif, yaitu jika harga yang dikuotasikan tersedia setiap waktu dan dapat diperoleh secara rutin dan harga tersebut mencerminkan transaksi pasar yang aktual dan rutin dalam suatu transaksi yang wajar. Dalam hal tidak terdapat pasar aktif untuk suatu aset atau liabilitas keuangan, maka Perusahaan menentukan nilai wajar dengan menggunakan teknik penilaian yang sesuai. Teknik penilaian meliputi penggunaan transaksi pasar terkini yang dilakukan secara wajar oleh pihak yang berkeinginan dan memahami, dan bilamana tersedia, peggunaan analisa arus kas yang didiskonto dan penggunaan nilai wajar terkini dari instrumen lain yang secara substansial sama. (iv) Saling Hapus antar Aset Keuangan dan Liabilitas Keuangan Aset keuangan dan liabilitas keuangan saling hapus dan nilai bersihnya disajikan dalam laporan posisi keuangan jika, dan hanya jika, Perusahaan: saat ini memiliki hak yang berkekuatan hukum untuk melakukan saling hapus atas jumlah yang telah diakui tersebut; dan berniat untuk menyelesaikan secara neto atau untuk merealisasikan aset dan menyelesaikan liabilitasnya secara simultan. e. Penggunaan Estimasi Penyusunan laporan keuangan sesuai dengan standar akuntansi keuangan di Indonesia mengharuskan manajemen membuat estimasi dan asumsi yang mempengaruhi jumlah aset dan liabilitas yang dilaporkan dan pengungkapan aset dan liabilitas kontinjensi pada tanggal laporan keuangan serta jumlah pendapatan dan beban selama periode pelaporan. Realisasi dapat berbeda dengan jumlah yang diestimasi
17 f. Kas dan Setara Kas Untuk tujuan penyajian arus kas, kas dan setara kas terdiri dari kas, bank dan semua investasi yang jatuh tempo dalam waktu tiga bulan atau kurang dari tanggal perolehannya dan yang tidak dijaminkan serta tidak dibatasi penggunaannya. g. Piutang Pembiayaan Konsumen Sejak 1 Januari 2010 Piutang pembiayaan konsumen dinyatakan sebesar nilai tercatat dikurangi dengan penurunan nilai. Nilai tercatat piutang pembiayaan konsumen sebesar jumlah bersih piutang setelah dikurangi dengan bagian yang dibiayai oleh bank-bank sehubungan dengan transaksi kerja sama pembiayaan bersama yang diamortisasi dengan menggunakan tingkat suku bunga efektif (Catatan 3d). Piutang yang tidak tertagih dihapuskan pada saat dinyatakan tidak tertagih oleh manajemen Perusahaan. Penerimaan dari piutang yang telah dihapusbukukan diakui sebagai pendapatan lain-lain pada saat diterima. Pada saat pengakuan awal, nilai wajar piutang pembiayaan konsumen adalah sebesar piutang pembiayaan konsumen ditambah dengan biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada piutang, seperti beban kepada dealer yang terkait langsung dengan pembiayaan konsumen. Beban tersebut diamortisasi dengan menggunakan tingkat suku bunga efektif selama jangka waktu pembiayaan. Pendapatan administrasi yang diperoleh dari konsumen pada saat perjanjian pembiayaan pertama kali ditandatangani, dibukukan sebagai pendapatan pada laba rugi periode berjalan Sebelum 1 Januari 2010 Piutang pembiayaan konsumen dinyatakan sebesar jumlah bersih piutang setelah dikurangi dengan bagian yang dibiayai oleh bank-bank sehubungan dengan transaksi kerja sama penerusan pinjaman dan pembiayaan bersama, pendapatan pembiayaan konsumen yang belum diakui dan penyisihan piutang ragu-ragu. Pendapatan pembiayaan konsumen yang belum diakui, yang merupakan selisih antara jumlah keseluruhan angsuran yang akan diterima dari konsumen dengan jumlah pokok pembiayaan, diakui sebagai pendapatan sesuai dengan jangka waktu perjanjian berdasarkan tingkat pengembalian berkala yang tetap dari piutang pembiayaan konsumen. Pendapatan administrasi yang diperoleh dari konsumen pada saat perjanjian pembiayaan pertama kali ditandatangani, dibukukan sebagai pendapatan pada laba rugi periode berjalan. Pelunasan sebelum masa berakhirnya perjanjian dianggap sebagai pembatalan kontrak dan laba atau rugi yang timbul diakui dalam tahun berjalan. Biaya kepada dealer yang terkait langsung dengan piutang pembiayaan konsumen ditangguhkan dan diamortisasi secara garis lurus selama 24 bulan. Untuk perjanjian kerjasama pembiayaan bersama konsumen tanpa jaminan (without recourse), Perusahaan hanya menyajikan porsi jumlah angsuran piutang yang dibiayai Perusahaan (pendekatan neto). Pendapatan pembiayaan konsumen disajikan setelah dikurangi dengan bagian yang merupakan hak bank-bank dalam rangka transaksi tersebut. Untuk pembiayaan bersama konsumen dengan jaminan (with recourse), piutang pembiayaan konsumen merupakan seluruh jumlah angsuran piutang dari pelanggan sedangkan bagian yang dibiayai oleh bank dicatat sebagai utang (pendekatan bruto). Bunga yang dikenakan kepada pelanggan dicatat sebagai bagian dari pendapatan pembiayaan konsumen, sedangkan bunga yang dikenakan bank dicatat sebagai beban bunga
18 h. Investasi Neto Sewa Pembiayaan Sewa diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan jika sewa tersebut mengalihkan secara substansial semua risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset. Sewa lainnya, yang tidak memenuhi kriteria tersebut, diklasifikasikan sebagai sewa operasi. Sebagai Lessor Dalam investasi neto sewa pembiayaan, aset berupa piutang sewa pembiayaan sebesar jumlah investasi neto sewa pembiayaan Perusahaan. Pengakuan pendapatan sewa pembiayaan dialokasikan pada periode akuntansi yang mencerminkan suatu tingkat pengembalian periodik yang konstan atas investasi bersih lessor. Pendapatan sewa dari sewa operasi diakui sebagai pendapatan dengan dasar garis lurus selama masa sewa. Biaya langsung awal yang terjadi dalam proses negosiasi dan pengaturan sewa operasi ditambahkan ke jumlah tercatat dari aset sewaan dan diakui dengan dasar garis lurus selama masa sewa. Sebagai Lessee Pembayaran sewa operasi diakui sebagai beban dengan dasar garis lurus (straight-line basis) selama masa sewa, kecuali terdapat dasar sistematis lain yang dapat lebih mencerminkan pola waktu dari manfaat aset yang dinikmati pengguna. Rental kontijen diakui sebagai beban di dalam periode terjadinya. Dalam hal insentif diperoleh dalam sewa operasi, insentif tersebut diakui sebagai liabilitas. Keseluruhan manfaat dari insentif diakui sebagai pengurangan dari biaya sewa dengan dasar garis lurus kecuali terdapat dasar sistematis lain yang lebih mencerminkan pola waktu dari manfaat yang dinikmati pengguna. i. Investasi pada entitas asosiasi Entitas asosiasi adalah suatu perusahaan dimana Perusahaan mempunyai pengaruh yang signifikan, namun tidak mempunyai pengendalian atau pengendalian bersama, melalui partisipasi dalam pengambilan keputusan atas kebijakan finansial dan operasional investee. Penghasilan dan aset dan liabilitas dari perusahaan asosiasi digabungkan dalam laporan keuangan dicatat dengan mengunakan metode ekuitas. Investasi pada entitas asosiasi dicatat di laporan posisi keuangan sebesar biaya perolehan dan selanjutnya disesuaikan untuk perubahan dalam bagian kepemilikan Perusahaan atas aset bersih entitas asosiasi yang terjadi setelah perolehan, dikurangi dengan penurunan nilai yang ditentukan untuk setiap investasi secara individu. Bagian Perusahaan atas kerugian entitas asosiasi yang melebihi nilai tercatat dari investasi tidak diakui kecuali jika Perusahaan mempunyai liabilitas atau melakukan pembayaran liabilitas entitas asosiasi yang dijaminnya, dalam hal demikian, tambahan kerugian diakui sebesar liabilitas atau pembayaran tersebut. j. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai Sejak 1 Januari 2010 Pada setiap tanggal laporan posisi keuangan Perusahaan mengevaluasi apakah terdapat bukti obyektif bahwa aset keuangan atau kelompok aset keuangan yang diklasifikasikan sebagai kelompok dimiliki hingga jatuh tempo, tersedia untuk dijual atau pinjaman yang diberikan dan piutang mengalami penurunan nilai, seperti yang dijelaskan pada Catatan 3d. Sebelum 1 Januari 2010 Cadangan kerugian penurunan nilai ditentukan berdasarkan hasil penelaahan berkala terhadap kolektibilitas piutang masing-masing pelanggan pada akhir periode, termasuk piutang dari perjanjian kerjasama pembiayaan konsumen yang dilakukan dengan jaminan (with recourse)
19 Piutang yang tidak tertagih dihapuskan pada saat dinyatakan tidak tertagih oleh manajemen Perusahaan. Penerimaan dari piutang yang telah dihapusbukukan diakui sebagai pendapatan lain-lain dalam periode berjalan. k. Biaya Dibayar di Muka Biaya dibayar di muka diamortisasi selama manfaat masing-masing biaya dengan menggunakan metode garis lurus. l. Aset Tetap Pemilikan Langsung Aset tetap yang dimiliki untuk digunakan dalam penyediaan jasa atau tujuan administratif dinyatakan berdasarkan biaya perolehan setelah dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi penurunan nilai. Penyusutan diakui sebagai penghapusan biaya perolehan aset dikurangi nilai residu dengan menggunakan metode garis lurus berdasarkan taksiran masa manfaat ekonomis aset tetap sebagai berikut: Tahun Bangunan 20 Prasarana 4 Kendaraan 4-8 Perabot dan peralatan kantor 4-8 Komputer 4 Masa manfaat ekonomis, nilai residu dan metode penyusutan direview setiap akhir periode dan pengaruh dari setiap perubahan estimasi tersebut berlaku prospektif. Bila nilai tercatat suatu aset melebihi taksiran jumlah yang dapat diperoleh kembali (estimated recoverable amount), maka nilai tercatat tersebut diturunkan ke jumlah yang dapat diperoleh kembali tersebut, yang ditentukan sebagai nilai tertinggi antara nilai jual neto dan nilai pakai. Tanah dinyatakan berdasarkan biaya perolehan dan tidak disusutkan. Beban pemeliharaan dan perbaikan dibebankan pada laporan laba rugi komprehensif pada saat terjadinya. Biaya-biaya lain yang terjadi selanjutnya yang timbul untuk menambah, mengganti atau memperbaiki aset tetap dicatat sebagai biaya perolehan aset jika dan hanya jika besar kemungkinan manfaat ekonomis di masa depan berkenaan dengan aset tersebut akan mengalir ke entitas dan biaya perolehan aset dapat diukur secara andal. Aset tetap yang sudah tidak digunakan lagi atau yang dijual dikeluarkan dari kelompok aset tetap berikut akumulasi penyusutannya. Keuntungan atau kerugian dari penjualan aset tetap tersebut dibukukan dalam laporan laba rugi komprehensif pada periode yang bersangkutan. m. Aset Tetap yang belum Digunakan Aset tetap yang belum digunakan dinyatakan sebesar nilai tercatat, yaitu biaya perolehan setelah dikurangi dengan akumulasi penyusutan. n. Jaminan yang dikuasakan kembali Jaminan yang dikuasakan kembali dinyatakan berdasarkan nilai terendah antara nilai tercatat piutang pembiayaan konsumen terkait atau nilai realisasi bersih pada saat jaminan dikuasakan kembali. Selisih antara nilai realisasi bersih dari jaminan yang dikuasakan kembali dengan saldo piutang pembiayaan konsumen yang tidak tertagih dikreditkan atau dibebankan pada operasi periode yang bersangkutan. Pada akhir periode, jaminan yang dikuasakan kembali ditelaah kembali, apabila terdapat penurunan nilai dari jaminan yang dikuasakan kembali, maka nilai jaminan yang dikuasakan kembali tersebut akan disesuaikan. Pada saat jaminan yang
20 dikuasakan kembali dijual, nilai tercatatnya dihapuskan dan keuntungan atau kerugian dikreditkan atau dibebankan pada operasi periode yang bersangkutan. Konsumen memberi kuasa kepada Perusahaan untuk menjual jaminan yang dikuasakan kembali ataupun melakukan tindakan lainnya dalam upaya penyelesaian piutang pembiayaan konsumen bila terjadi wanprestasi terhadap perjanjian. Pada saat jaminan yang dikuasakan kembali dijual, nilai tercatatnya dikeluarkan dari akun yang bersangkutan. Konsumen berhak atau berkewajiban atas selisih lebih atau kurang antara nilai penjualan jaminan yang dikuasakan kembali dengan saldo piutang pembiayaan. Jika terjadi selisih kurang dan Perusahaan tidak menerima penggantian dari konsumen, kerugian yang terjadi dibukukan dalam operasi periode berjalan. o. Pengakuan Pendapatan dan Beban Sejak 1 Januari 2010 Pendapatan pembiayaan konsumen, pendapatan sewa pembiayaan, pendapatan bunga dan beban bunga diakui secara akrual menggunakan metode suku bunga efektif (Catatan 3d). Penerimaan yang berhubungan dengan piutang yang mengalami penurunan nilai langsung mengurangi nilai tercatat piutang. Pendapatan pembiayaan konsumen dan pendapatan sewa pembiayaan dari piutang yang mengalami penurunan nilai dihitung menggunakan suku bunga efektif atas dasar nilai piutang setelah memperhitungkan penurunan nilai. Beban bunga dari liabilitas keuangan, diakui sebagai beban pada laporan laba rugi komprehensif. Beban provisi sehubungan dengan pinjaman yang diterima diamortisasi dengan metode suku bunga efektif dan dibukukan sebagai bagian dari beban bunga dan beban pembiayaan lainnya. Sebelum 1 Januari 2010 Perusahaan mengakui pendapatan pembiayaan konsumen seperti yang dijelaskan pada Catatan 3g. Pada saat piutang pembiayaan konsumen dinyatakan non-performing loan, Perusahaan menghentikan pengakuan pendapatan bunganya. Pada saat realisasi penerimaan hasil tagihan piutang non-performing loan tersebut, diutamakan untuk melunasi pokok piutang dan sisanya diakui sebagai pendapatan pembiayaan konsumen (bila ada). Pendapatan bunga diakui atas dasar proporsi waktu dan tingkat bunga berlaku. Beban bunga pinjaman diakui atas dasar proporsi waktu dan tingkat bunga berlaku. Beban lainnya diakui pada saat terjadinya atau sesuai dengan masa manfaatnya (metode akrual). Beban provisi sehubungan dengan pinjaman yang diterima diamortisasi dengan metode garis lurus dan dibukukan sebagai bagian dari beban bunga dan beban pembiayaan lainnya. Pendapatan dan beban lainnya Pendapatan administrasi diakui pada saat perjanjian pembiayaan konsumen ditandatangani. Pendapatan penalti diakui pada saat denda keterlambatan dan pinalti diterima. Pendapatan selisih premi asuransi diakui sebagai pendapatan ditangguhkan pada akhir bulan dan akan diamortisasi selama 24 bulan. Beban lainnya diakui pada saat terjadinya atau sesuai dengan masa manfaatnya (metode akrual)
21 p. Provisi Provisi diakui ketika Perusahaan memiliki kewajiban kini (baik bersifat hukum maupun konstruktif) sebagai akibat peristiwa masa lalu, kemungkinan besar Perusahaan diharuskan menyelesaikan kewajiban dan estimasi andal mengenai jumlah kewajiban tersebut dapat dibuat. Jumlah yang diakui sebagai provisi merupakan estimasi terbaik dari pertimbangan yang diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban kini pada akhir periode pelaporan, dengan mempertimbangkan risiko dan ketidakpastian yang meliputi kewajibannya. Apabila suatu provisi diukur menggunakan arus kas yang diperkirakan untuk menyelesaikan kewajiban kini, maka nilai tercatatnya adalah nilai kini dari arus kas. Ketika beberapa atau seluruh manfaat ekonomi untuk penyelesaian provisi yang diharapkan dapat dipulihkan dari pihak ketiga, piutang diakui sebagai aset apabila terdapat kepastian bahwa penggantian akan diterima dan jumlah piutang dapat diukur secara handal. q. Imbalan Pasca Kerja Perusahaan memberikan imbalan pasca kerja imbalan pasti untuk karyawan sesuai dengan Undang-undang Ketenagakerjaan No. 13/2003. Tidak terdapat pendanaan yang disisihkan oleh Perusahaan sehubungan dengan imbalan pasca kerja ini. Perhitungan imbalan pasca kerja menggunakan metode Projected Unit Credit. Akumulasi keuntungan dan kerugian aktuarial bersih yang belum diakui yang melebihi 10% dari nilai kini liabilitas imbalan pasti diakui dengan metode garis lurus selama rata-rata sisa masa kerja yang diperkirakan dari para pekerja dalam program tersebut. Biaya jasa lalu dibebankan langsung apabila imbalan tersebut menjadi hak atau vested dan sebaliknya akan diakui sebagai beban dengan metode garis lurus selama periode rata-rata sampai imbalan tersebut menjadi vested. Jumlah yang diakui sebagai liabilitas imbalan pasti di laporan posisi keuangan merupakan nilai kini liabilitas imbalan pasti disesuaikan dengan keuntungan dan kerugian aktuarial yang belum diakui, biaya jasa lalu yang belum diakui dan nilai wajar aset program. r. Pajak Penghasilan Beban pajak kini ditentukan berdasarkan laba kena pajak dalam periode yang bersangkutan yang dihitung berdasarkan tarif pajak yang berlaku. Aset dan liabilitas pajak tangguhan diakui atas konsekuensi pajak periode mendatang yang timbul dari perbedaan jumlah tercatat aset dan liabilitas menurut laporan keuangan dengan dasar pengenaan pajak aset dan liabilitas. Liabilitas pajak tangguhan diakui untuk semua perbedaan temporer kena pajak dan aset pajak tangguhan diakui untuk semua perbedaan temporer yang boleh dikurangkan, sepanjang besar kemungkinan dapat dimanfaatkan untuk mengurangi laba kena pajak pada masa datang. Aset dan liabilitas pajak tangguhan diukur dengan menggunakan tarif pajak yang diekspektasikan berlaku dalam periode ketika liabilitas diselesaikan atau aset dipulihkan dengan tarif pajak (dan peraturan pajak) yang telah berlaku atau secara substantif telah berlaku pada akhir periode pelaporan. Pengukuran aset dan liabilitas pajak tangguhan mencerminkan konsekuensi pajak yang sesuai dengan cara Perusahaan ekspektasikan, pada akhir periode pelaporan, untuk memulihkan atau menyelesaikan jumlah tecatat aset dan liabilitasnya. Jumlah tercatat aset pajak tangguhan dikaji ulang pada akhir periode pelaporan dan dikurangi jumlah tercatatnya jika kemungkinan besar laba kena pajak tidak lagi tersedia dalam jumlah yang memadai untuk mengkompensasikan sebagian atau seluruh aset pajak tangguhan tersebut. Aset dan liabilitas pajak tangguhan saling hapus ketika entitas memiliki hak yang dapat dipaksakan secara hukum untuk melakukan saling hapus aset pajak kini terhadap liabilitas pajak kini dan ketika aset pajak tangguhan dan liabilitas pajak tangguhan terkait dengan pajak
22 penghasilan yang dikenakan oleh otoritas perpajakan yang sama serta Perusahaan yang berbeda yang bermaksud untuk memulihkan aset dan liabilitas pajak kini dengan dasar neto. Pajak kini dan pajak tangguhan diakui sebagai beban atau penghasilan dalam laba atau rugi, kecuali sepanjang pajak penghasilan yang berasal dari transaksi atau kejadian yang diakui, diluar laba atau rugi (baik dalam pendapatan komprehensif lain maupun secara langsung di ekuitas), dalam hal tersebut pajak juga diakui di luar laba atau rugi. s. Laba per Saham Laba per saham dasar dihitung dengan membagi laba bersih residual dengan jumlah rata-rata tertimbang saham yang beredar pada periode yang bersangkutan. Laba per saham dilusian dihitung dengan membagi laba bersih residual dengan jumlah rata-rata tertimbang saham biasa yang telah disesuaikan dengan dampak dari semua efek berpotensi saham biasa yang dilutif. t. Informasi Segmen Efektif 1 Januari 2011, PSAK 5 (Revisi 2009) mengharuskan segmen operasi diidentifikasi berdasarkan laporan internal mengenai komponen dari Perusahaan yang secara regular direview oleh pengambil keputusan operasional dalam rangka mengalokasikan sumber daya dan menilai kinerja segmen operasi. Sebaliknya, standar sebelumnya mengharuskan Perusahaan mengidentifikasi dua segmen (bisnis dan geografis), menggunakan pendekatan risiko dan pengembalian. Informasi segmen disusun sesuai dengan kebijakan akuntansi yang dianut dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan. Bentuk pelaporan segmen adalah segmen geografis. Segmen geografis adalah komponen Perusahaan yang dapat dibedakan dalam menghasilkan produk atau jasa pada lingkungan (wilayah) ekonomi tertentu dan komponen itu memiliki risiko dan imbalan yang berbeda dengan risiko dan imbalan pada komponen yang beroperasi pada lingkungan (wilayah) ekonomi lain. Aset dan liabilitas yang digunakan bersama dalam satu segmen atau lebih dialokasikan kepada setiap segmen jika, dan hanya jika, pendapatan dan beban yang terkait dengan aset tersebut juga dialokasikan kepada segmen-segmen tersebut. Perusahaan tidak menyajikan informasi segmen berdasarkan usaha, karena kegiatan utama Perusahaan adalah pembiayaan konsumen. 4. PERTIMBANGAN KRITIS AKUNTANSI DAN ESTIMASI AKUNTANSI YANG SIGNIFIKAN Pertimbangan Kritis dalam Penerapan Kebijakan Akuntansi Dalam proses penerapan kebijakan akuntansi yang dijelaskan dalam Catatan 3, tidak terdapat pertimbangan kritis yang memiliki dampak signifikan pada jumlah yang diakui dalam laporan keuangan, selain dari penyajian perkiraan yang diatur di bawah ini. Sumber Estimasi Ketidakpastian Asumsi utama mengenai masa depan dan sumber estimasi lainnya pada akhir periode pelaporan, yang memiliki risiko signifikan yang mengakibatkan penyesuaian material terhadap jumlah tercatat aset dan liabilitas dalam periode pelaporan berikutnya dijelaskan dibawah ini:
23 Cadangan kerugian penurunan nilai aset keuangan Pada setiap tanggal laporan posisi keuangan, Perusahaan mengevaluasi apakah terdapat bukti obyektif bahwa aset keuangan mengalami penurunan nilai. Suatu aset keuangan dinyatakan mengalami penurunan nilai bila ada bukti obyektif terjadinya peristiwa yang berdampak pada estimasi arus kas atas aset keuangan. Bukti tersebut meliputi data yang dapat diobservasi yang menunjukkan bahwa telah terjadi peristiwa yang merugikan dalam status pembayaran debitur atau kondisi ekonomi nasional atau lokal yang berkorelasi dengan kelalaian membayar piutang. Kerugian penurunan nilai adalah selisih antara nilai tercatat dan nilai kini dari estimasi arus kas masa depan dan realisasi agunan pada tingkat suku bunga efektif awal dari aset keuangan tersebut. Penyisihan penurunan nilai akan dibentuk untuk mengakui kerugian penurunan nilai yang terjadi dalam portofolio aset keuangan. Manajemen menggunakan perkiraan berdasarkan pengalaman kerugian historis untuk aset dengan karakteristik risiko kredit dan bukti obyektif adanya penurunan nilai yang serupa dengan yang ada dalam portofolio pada saat penjadwalan arus kas masa depan. Perusahaan melakukan penilaian terhadap penurunan nilai dalam dua cara, yaitu: a. Individual, dilakukan untuk jumlah aset keuangan yang melebihi ambang batas (threshold) tertentu dan aset keuangan yang memiliki bukti obyektif penurunan nilai yang telah teridentifikasi secara terpisah pada tanggal laporan posisi keuangan. Kerugian penurunan nilai adalah selisih antara nilai tercatat dan nilai kini dari estimasi terbaik atas arus kas masa depan dan realisasi agunan pada tingkat suku bunga efektif awal dari aset keuangan tersebut. Estimasi ini dilakukan dengan mempertimbangkan kapasitas utang dan fleksibilitas keuangan debitur, kualitas pendapatan debitur, jumlah dan sumber arus kas, industri di mana debitur beroperasi dan nilai realisasi agunan. Estimasi jumlah dan waktu pemulihan masa depan akan membutuhkan banyak pertimbangan. Jumlah penerimaan tergantung pada kinerja debitur pada masa mendatang dan nilai agunan, keduanya akan dipengaruhi oleh kondisi ekonomi di masa depan, di samping itu agunan mungkin tidak mudah dijual. Nilai aktual arus kas masa depan dan tanggal penerimaan mungkin berbeda dari estimasi tersebut dan akibatnya kerugian aktual yang terjadi mungkin berbeda dengan yang diakui dalam laporan keuangan. b. Kolektif, dilakukan untuk jumlah aset keuangan yang tidak melebihi ambang batas (threshold) tertentu, tidak memiliki bukti obyektif penurunan nilai dan aset keuangan yang memiliki bukti obyektif penurunan nilai, namun belum diidentifikasi secara terpisah pada tanggal laporan posisi keuangan. Pembentukan kerugian penurunan nilai dilakukan secara kolektif dengan antara lain memperhitungkan jumlah dan lamanya tunggakan, agunan dan pengalaman kerugian masa lalu. Faktor paling penting dalam pembentukan cadangan adalah probability of default dan loss given default. Kualitas aset keuangan pada masa mendatang dipengaruhi oleh ketidakpastian yang dapat menyebabkan kerugian aktual aset keuangan dapat berbeda secara material dari cadangan kerugian penurunan nilai yang telah dibentuk. Ketidakpastian ini termasuk lingkungan ekonomi, suku bunga dan pengaruhnya terhadap pembelanjaan debitur, tingkat pengangguran dan perilaku pembayaran. Metodologi dan asumsi yang digunakan dalam penurunan nilai individual dan kolektif ini akan ditelaah secara berkala untuk mengurangi perbedaan antara estimasi kerugian dan kerugian aktual. Taksiran Masa Manfaat Ekonomis Aset Tetap Masa manfaat setiap aset tetap Perusahaan ditentukan berdasarkan kegunaan yang diharapkan dari penggunaan aset tersebut. Estimasi ini ditentukan berdasarkan evaluasi teknis internal dan pengalaman atas aset sejenis. Masa manfaat setiap aset direview secara periodik dan disesuaikan apabila prakiraan berbeda dengan estimasi sebelumnya karena keausan, keusangan teknis dan komersial, hukum atau keterbatasan lainnya atas pemakaian aset. Namun terdapat kemungkinan bahwa hasil operasi dimasa mendatang dapat dipengaruhi secara signifikan oleh perubahan atas jumlah serta periode pencatatan biaya yang diakibatkan karena perubahan faktor yang disebutkan di atas. Nilai tercatat aset tetap diungkapkan dalam Catatan
24 Pajak Penghasilan Berdasarkan Undang-Undang Perpajakan Indonesia, Perusahaan melaporkan pajak berdasarkan sistem self-assessment. Fiskus dapat menetapkan atau mengubah pajak-pajak tersebut dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan peraturan yang berlaku. Perusahaan memiliki eksposur terhadap pajak penghasilan karena terkait pertimbangan yang signifikan dalam menetapkan provisi pajak penghasilan Perusahaan. Terdapat transaksi dan perhitungan tertentu yang penetapan akhir pajaknya tidak pasti selama kegiatan usaha normal. Perusahaan mengakui liabilitas atas masalah pajak yang diharapkan berdasarkan estimasi tambahan pajak yang jatuh tempo. Bila hasil final pajak atas masalah-masalah ini berbeda dengan jumlah yang telah diakui, perbedaan tersebut akan berpengaruh pada pajak penghasilan pada periode dimana penetapan terjadi. Jumlah tercatat pajak penghasilan dan utang pajak penghasilan diungkapkan dalam Catatan 17 dan KAS DAN SETARA KAS Kas dan setara kas diklasifikasi dalam kelompok pinjaman yang diberikan dan piutang. Nilai wajar dari kas dan setara kas adalah sebesar nilai tercatatnya. 30 September Desember 2011 Kas 2,470,773 2,292,817 Bank Pihak berelasi Bank Pan Indonesia 7,301,255 1,793,579 Pihak ketiga Bank Central Asia 6,274,197 6,267,259 Bank Rakyat Indonesia (Persero) 684, ,266 Bank Mandiri 644,352 - Bank BTPN - 23,214,599 Lainnya 842,921 1,109,804 Jumlah Bank 15,747,285 33,048,507 Deposito berjangka Pihak ketiga Bank Victoria International - 75,000,000 Bank Mutiara - 50,000,000 Jumlah Deposito Berjangka - 125,000,000 Jumlah Kas dan Setara Kas 18,218, ,341,324 Tingkat bunga efektif per tahun Deposito berjangka 6.75% - 7,00% 5,75% - 9,25% Pada tanggal 31 Desember 2011 jangka waktu deposito berjangka adalah satu bulan
25 6. PIUTANG PEMBIAYAAN KONSUMEN BERSIH Pinjaman pembiayaan konsumen dalam mata uang Rupiah dan dikategorikan sebagai pinjaman yang diberikan dan piutang, diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif. Piutang pembiayaan konsumen memiliki suku bunga tetap, sehingga Perusahaan terpapar risiko suku bunga atas nilai wajar (fair value interest rate risk). Estimasi nilai wajar piutang pembiayaan konsumen dengan suku bunga tetap tanpa kuotasi harga di pasar ditentukan dengan mendiskontokan estimasi arus kas masa datang menggunakan suku bunga untuk piutang baru dengan jangka waktu yang serupa. Nilai wajar dari aset keuangan ini pada tanggal 30 September 2012 dan 31 Desember 2011 masing-masing adalah sebesar Rp ribu dan Rp ribu (Catatan 33). 30 September 2012 Nilai Tercatat Dinilai Dinilai Jumlah / secara kolektif secara individual Total Piutang pembiayaan konsumen Pembiayaan sendiri Pihak ketiga 1,477,696, ,216,923 1,578,913,116 Pendapatan pembiayaan konsumen yang belum diakui Pembiayaan sendiri Pihak ketiga 236,694,091 16,713, ,407,400 Jumlah 1,241,002,102 84,503,614 1,325,505,716 Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (23,874,232) (130,620) (24,004,852) Bersih 1,217,127,870 84,372,994 1,301,500,864 Suku bunga efektif per tahun - Rupiah 13,00% - 19,00%
26 31 Desember 2011 Nilai Tercatat Dinilai Dinilai Jumlah / secara kolektif secara individual Total Piutang pembiayaan konsumen Pembiayaan sendiri Pihak berelasi 166, ,006 Pihak ketiga 1,240,869, ,961,037 1,380,830,476 Subjumlah 1,241,035, ,961,037 1,380,996,482 Pendapatan pembiayaan konsumen yang belum diakui Pembiayaan sendiri Pihak berelasi 11,766-11,766 Pihak ketiga 196,343,405 23,306, ,649,919 Subjumlah 196,355,171 23,306, ,661,685 Jumlah 1,044,680, ,654,523 1,161,334,797 Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (23,837,656) (582,232) (24,419,888) Bersih 1,020,842, ,072,291 1,136,914,909 Suku bunga efektif per tahun - Rupiah 13,00% - 18,00% Jumlah angsuran pembiayaan konsumen sesuai dengan jatuh temponya adalah sebagai berikut: 30 September Desember 2011 Telah jatuh tempo 21,220,334 17,650,598 Satu tahun berikutnya 753,218, ,421,224 Dua tahun berikutnya 510,224, ,490,902 Tiga tahun berikutnya atau lebih 294,249, ,433,758 Jumlah 1,578,913,116 1,380,996,482 Jangka waktu pembiayaan adalah 1-4 tahun. Perusahaan menggunakan piutang pembiayaan konsumen sebagai jaminan utang bank (Catatan 13) dan surat berharga yang diterbitkan (Catatan 18). Jumlah piutang pembiayaan konsumen yang dijaminkan pada tanggal 30 September 2012 dan 31 Desember 2011 masingmasing adalah sebagai berikut:
27 30 September Desember 2011 Bank Bank Negara Indonesia (Persero) 472,496, ,879,597 Bank Permata 117,553,167 - Bank Pan Indonesia 86,327,485 32,886,006 Bank Resona Perdania 41,652,162 87,444,928 Bank ICBC 15,629,751 23,538,667 Bank Sinarmas 18,159,649 1,120,576 Bank Victoria International - 6,544,385 Surat Berharga yang diterbitkan - bersih Obligasi Verena Multifinance I 437,044, ,538,558 Medium Term Notes I 163,987,500 48,353,615 Jumlah 1,352,850,313 1,180,306,332 Piutang pembiayaan konsumen dijamin dengan kendaraan bermotor yang dibiayai Perusahaan beserta Bukti Pemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB) dari kendaraan yang bersangkutan. Piutang pembiayaan konsumen untuk komputer dan alat lainnya dijamin dengan barang-barang yang dibiayai. Seluruh transaksi pembiayaan konsumen dilakukan dengan pihak ketiga, kecuali untuk pembiayaan konsumen atas komputer dan alat lainnya yang sebagian diberikan kepada pihak berelasi masing-masing sebesar nihil dan Rp ribu pada tanggal 30 September 2012 dan 31 Desember Kualitas piutang pembiayaan konsumen pada tanggal 30 September 2012 dan 31 Desember 2011 adalah sebagai berikut: 30 September Desember 2011 Tidak mengalami penurunan nilai 1,411,996,895 1,247,718,491 Mengalami penurunan nilai 166,916, ,277,991 Jumlah 1,578,913,116 1,380,996,482 Mutasi cadangan kerugian penurunan nilai untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2012 dan tahun yang berakhir 31 Desember 2011 adalah sebagai berikut: 30 September Desember 2011 Saldo awal tahun 24,419,888 15,741,174 Penyisihan (pemulihan) tahun berjalan Individual (451,612) 245,385 Kolektif 11,293,376 10,895,551 Akrual bunga pada piutang yang mengalami penurunan nilai (786,127) (833,733) Penghapusan (10,470,673) (1,628,489) Saldo akhir periode 24,004,852 24,419,888 Manajemen berpendapat bahwa cadangan kerugian penurunan nilai dan agunan yang diterima dari nasabah telah memadai untuk menutup kemungkinan kerugian atas tidak tertagihnya piutang 7. INVESTASI NETO SEWA PEMBIAYAAN Investasi neto sewa pembiayaan memiliki suku bunga tetap maupun mengambang, sehingga Perusahaan terpapar risiko suku bunga atas nilai wajar (fair value interest rate risk) dan risiko suku bunga atas arus kas (cash flow interest rate risk)
28 30 September 2012 Nilai Tercatat Dinilai Dinilai secara kolektif secara individual Jumlah Pihak ketiga Piutang sewa pembiayaan 120,601, ,831, ,433,786 Nilai sisa terjamin 36,788,103 85,302, ,090,838 Pendapatan sewa pembiayaan yang belum diakui (18,526,175) (32,737,029) (51,263,204) Simpanan jaminan (36,788,103) (85,302,735) (122,090,838) Jumlah 102,075, ,094, ,170,582 Penyisihan piutang ragu-ragu sewa pembiayaan (1,396,859) (6,210) (1,403,069) 100,678, ,088, ,767,513 Suku bunga efektif per tahun - Rupiah 15,00% - 18,00 % 31 Desember 2011 Nilai Tercatat Dinilai Dinilai secara kolektif secara individual Jumlah Pihak ketiga Piutang sewa pembiayaan - 56,709,629 56,709,629 Nilai sisa terjamin - 20,024,715 20,024,715 Pendapatan sewa pembiayaan yang belum diakui - (10,229,002) (10,229,002) Simpanan jaminan - (20,024,715) (20,024,715) Jumlah - 46,480,627 46,480,627 Suku bunga efektif per tahun - Rupiah 15,00% - 20,00 % Estimasi nilai wajar investasi neto sewa pembiayaan dengan suku bunga tetap tanpa kuotasi harga di pasar ditentukan dengan mendiskontokan estimasi arus kas masa datang menggunakan suku bunga untuk piutang baru dengan jangka waktu yang serupa. Nilai wajar dari aset keuangan ini pada tanggal 30 September 2012 dan 31 Desember 2011 masing-masing adalah sebesar Rp ribu dan Rp ribu. Jumlah angsuran sewa pembiayaan sesuai dengan jatuh temponya adalah sebagai berikut: 30 September Desember 2011 Pihak ketiga Telah jatuh tempo 585,006 - Satu tahun berikutnya 148,111,222 26,704,569 Dua tahun berikutnya 108,549,492 19,349,164 Tiga tahun berikutnya 52,188,066 10,655,896 Jumlah 309,433,786 56,709,629 Kisaran jangka waktu pembiayaan adalah 3 tahun
29 Perusahaan menggunakan piutang sewa pembiayaan sebagai jaminan utang bank (Catatan 13) dan surat berharga yang diterbitkan (Catatan 18). Jumlah yang dijaminkan pada tanggal 30 September 2012 dan 31 Desember 2011 masing-masing adalah sebagai berikut: 30 September Desember 2011 Bank Bank Resona Perdania 49,672,505 - Bank Pan Indonesia 51,590,042 - Bank Sinarmas 2,557,141 - Bank Permata 16,291,032 - Surat Berharga yang diterbitkan - bersih Obligasi Verena Multifinance I - - Medium Term Notes I 36,670,904 2,006,455 Jumlah 156,781,624 2,006,455 Biaya-biaya yang timbul, seperti premi asuransi, bea materai dan biaya terkait lainnya sehubungan dengan perolehan aset sewa pembiayaan, dibebankan kepada konsumen. Kualitas piutang sewa pembiayaan pada tanggal 30 September 2012 dan 31 Desember 2011 adalah sebagai berikut: 30 September Desember 2011 Tidak mengalami penurunan nilai 296,712,948 56,709,629 Mengalami penurunan nilai 12,720,838 - Jumlah 309,433,786 56,709,629 Mutasi cadangan kerugian penurunan nilai untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2012 adalah sebagai berikut: 30 September 2012 Saldo awal tahun - Penyisihan (pemulihan) tahun berjalan Individual 6,210 Kolektif 1,426,216 Akrual bunga pada piutang yang mengalami penurunan nilai (29,357) Penghapusan - Saldo akhir tahun 1,403,069 Manajemen berpendapat bahwa cadangan kerugian penurunan nilai dan agunan yang diterima dari nasabah telah memadai untuk menutup kemungkinan kerugian atas tidak tertagihnya investasi sewa pembiayaan
30 Simpanan Jaminan Pada saat perjanjian sewa pembiayaan dimulai, penyewa pembiayaan (lessee) memberikan simpanan jaminan yang akan digunakan sebagai pembayaran atas pembelian dari aset sewa pembiayaan pada akhir masa sewa, bila hak opsi dilaksanakan penyewa pembiayaan. Apabila hak opsi tidak dilaksanakan, simpanan jaminan tersebut akan dikembalikan kepada penyewa pembiayaan (lessee) pada akhir masa sewa pembiayaan. Pada tanggal 30 September 2012 dan 31 Desember 2011, nilai sisa terjamin adalah sebesar simpanan jaminan. 8. INVESTASI PADA ENTITAS ASOSIASI Pada tanggal 28 Juli 2010, Perusahaan membentuk joint venture dengan perusahaan Jepang (IBJ Leasing Co. Ltd.,) untuk membentuk perusahaan sewa pembiayaan korporasi, PT IBJ Verena Finance yang berdomisili di Jakarta. Nilai joint venture tersebut sebesar Rp 100 miliar atau setara dengan saham. Perusahaan telah mengambil bagian dan menyetor penuh sebesar Rp 20 miliar atau 20% kepemilikan serta membukukan penyertaan yang dipertanggung jawabkan dengan menggunakan metode ekuitas. Mutasi investasi dengan metode ekuitas adalah sebagai berikut: 30 September Desember 2011 Saldo awal 20,046,274 20,087,556 Bagian laba bersih entitas asosiasi - (41,282) Saldo akhir 20,046,274 20,046, PIUTANG LAIN-LAIN Piutang lain-lain diklasifikasikan sebagai pinjaman yang diberikan dan piutang dan diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif. Nilai wajar dari piutang lain-lain adalah nilai tercatatnya. Piutang lain-lain kepada pihak berelasi Akun ini merupakan pinjaman dengan bunga yang diberikan kepada karyawan dengan tingkat bunga berkisar antara 10,85% - 17,52% per tahun, jangka waktu pinjaman adalah 1 sampai dengan 8 tahun dengan sisa umur sampai dengan jatuh tempo adalah lebih dari 1 sampai dengan 4 tahun. Pada tanggal 1 Januari 2010, Perusahaan mengakui perbedaan nilai wajar atas piutang lain-lain yang memiliki suku bunga lebih rendah dari suku bunga pasar sebesar Rp ribu ke laporan laba rugi komprehensif. Nilai wajar dari piutang lain-lain kepada pihak berelasi ditentukan dengan mendiskontokan estimasi arus kas masa datang menggunakan suku bunga saat ini. Piutang lain - lain kepada pihak ketiga Akun ini terutama merupakan piutang dari perusahaan asuransi sehubungan dengan klaim atas kerugian dari kendaraan bermotor yang dibiayai oleh Perusahaan
31 10. BIAYA DIBAYAR DI MUKA 30 September Desember 2011 Sewa Pihak berelasi 219, ,346 Pihak ketiga 4,014,933 3,141,167 Asuransi dan lain-lain Pihak berelasi - - Pihak ketiga 1,177, ,683 Jumlah 5,411,820 3,818, ASET TETAP 1 Januari 30 September 2012 Penambahan Pengurangan 2012 Biaya perolehan Pemilikan langsung Tanah 4,881,256 1,379,167 6,260,423 Bangunan 3,544,226 1,138,418 4,682,644 Prasarana 10,475, ,160 10,926,244 Kendaraan 15,516,303 8,363,558 3,912,391 19,967,470 Perabot dan peralatan kantor 6,087, , ,876 6,159,073 Komputer 9,080,220 1,120, ,057 9,501,919 Jumlah 49,584,797 12,940,300 5,027,324 57,497,773 Akumulasi penyusutan Pemilikan langsung Bangunan 280, , ,133 Prasarana 7,359, ,238 8,187,415 Kendaraan 4,537,083 1,644,724 1,393,148 4,788,659 Perabot dan peralatan kantor 4,092, , ,903 4,275,239 Komputer 6,818, , ,486 6,866,526 Jumlah 23,087,909 3,964,600 2,488,537 24,563,972 Jumlah Tercatat 26,496,888 32,933,
32 1 Januari 31 Desember 2011 Penambahan Pengurangan Reklasifikasi 2011 Biaya perolehan Pemilikan langsung Tanah 4,881, ,881,256 Bangunan 3,544, ,544,226 Prasarana 8,120,656 2,354, ,475,084 Kendaraan 15,220,626 6,252,321 5,956,644-15,516,303 Perabot dan peralatan kantor 5,260, ,156 6,125 (36,501) 6,087,708 Komputer 7,612,119 1,431,600-36,501 9,080,220 Jumlah 44,639,061 10,908,505 5,962,769-49,584,797 Akumulasi penyusutan Pemilikan langsung Bangunan 103, , ,584 Prasarana 6,578, , ,359,177 Kendaraan 6,122,125 1,930,188 3,515,230-4,537,083 Perabot dan peralatan kantor 3,463, ,384 3,739 (24,273) 4,092,909 Komputer 5,897, ,223-24,273 6,818,156 Jumlah 22,165,386 4,441,492 3,518,969-23,087,909 Jumlah Tercatat 22,473,675 26,496,888 Keuntungan (kerugian) penjualan aset tetap untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2012 dan 2011 dan tahun yang berakhir 31 Desember 2011 adalah sebagai berikut: 30 September September Desember 2011 Jumlah tercatat 2,538,787 1,795,657 2,443,800 Harga jual 2,681,981 1,909,713 2,593,235 Keuntungan (kerugian) penjualan aset tetap 143, , ,435 Beb an penyusutan adalah sebesar Rp ribu, Rp ribu, dan Rp ribu masing-masing untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2012 dan 2011 dan tahun yang berakhir 31 Desember Perusahaan memiliki sebidang tanah dan bangunan di Jl. Pecenongan Raya No. 72 Blok A-3 dan Blok A-3A dengan hak legal berupa Sertifikat Hak Guna Bangunan yang berjangka waktu dua puluh tahun dan akan jatuh tempo sampai dengan 11 Nopember Manajemen berpendapat tidak terdapat masalah dengan perpanjangan hak atas tanah karena tanah diperoleh secara sah dan didukung dengan bukti pemilikan yang memadai. Pada periode 2012 Perusahaan membeli sebidang tanah dan bangunan di Jl. Pintu Air II No. 24A dengan hak legal berupa sertifikat Hak Guna Bangunan No. 2582, yang berjangka waktu 30 tahun dan akan jatuh tempo 6 Pebruari Manajemen berpendapat bahwa nilai tercatat aset tetap lebih rendah daripada nilai yang dapat dipulihkan, oleh karena itu tidak dibentuk penurunan nilai aset tetap. Pada tanggal 30 September 2012 dan 31 Desember 2011, kecuali tanah, aset tetap telah diasuransikan terhadap risiko kebakaran, kecurian dan risiko lainnya kepada PT Asuransi Multi Artha Guna (pihak berelasi), PT Asuransi Sinar Mas, PT Asuransi Wahana Tata, PT Asuransi Central Asia, PT Asuransi Tri Pakarta, PT Asuransi Allianz Utama Indonesia dan PT Asuransi Raksa Pratikara dengan jumlah pertanggungan masing-masing sebesar Rp ribu, dan Rp ribu. Manajemen berpendapat bahwa nilai pertanggungan tersebut cukup untuk menutupi kemungkinan kerugian atas aset yang ditanggungkan
33 12. ASET LAIN-LAIN 30 September Desember 2011 Pembiayaan refinancing - setelah dikurangi pendapatan yang belum diakui dan cadangan kerugian penurunan nilai sebesar Rp ribu pada tanggal 30 September 2012, Rp ribu pada tanggal 31 Desember ,923,968 79,571,345 Jaminan yang dikuasakan kembali - setelah dikurangi penyisihan penurunan nilai sebesar Rp ribu pada tanggal 30 September 2012, Rp ribu pada tanggal 31 Desember ,122,833 19,744,113 Beban ditangguhkan - bersih 19,890,674 13,566,016 Lain-lain 15,264,176 8,069,132 Jumlah 114,201, ,950,606 Pembiayaan refinancing Merupakan pembiayaan yang diberikan oleh Perusahaan kepada konsumen dalam bentuk refinancing. Manajemen berpendapat bahwa cadangan kerugian penurunan nilai dan agunan yang diterima dari pembiayaan refinancing telah memadai untuk menutupi kemungkinan kerugian atas aset tersebut. Nilai wajar dari aset keuangan ini pada tanggal 30 September 2012 dan 31 Desember 2011 masingmasing adalah sebesar Rp ribu dan Rp (Catatan 33). Jaminan yang dikuasakan kembali Jaminan yang dikuasakan kembali merupakan jaminan piutang pembiayaan konsumen berupa kendaraan yang telah diambil alih oleh Perusahaan. Manajemen berpendapat bahwa penyisihan penurunan nilai jaminan yang dikuasakan kembali cukup untuk menutupi kemungkinan kerugian atas aset tersebut. Beban ditangguhkan Beban ditangguhkan merupakan beban insentif kepada dealer dan beban atas jasa provisi utang bank yang berasal dari pembiayaan konsumen without recourse, yang ditangguhkan dan diamortisasi dengan menggunakan suku bunga efektif selama jangka waktu pembiayaan. Beban amortisasi atas beban ditangguhkan untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2012 dan 2011 dan tahun yang berakhir 31 Desember 2011 masing-masing sebesar Rp ribu, Rp ribu, dan Rp ribu. Lain-lain Lain-lain terdiri dari kas yang dibatasi penggunaannya untuk penempatan dana pada bank sebagai rekening amanat (escrow account) sehubungan dengan transaksi penerusan pinjaman (channeling) dan uang muka lain-lain
34 13. UTANG BANK 30 September Desember 2011 Pihak berelasi Bank Pan Indonesia 129,257,002 5,416,667 Pihak ketiga Bank Negara Indonesia (Persero) 470,304, ,385,622 Bank Resona Perdania 81,826,827 67,202,522 Bank ICBC 13,819,444 21,319,444 Bank Sinarmas 18,869,201 1,000,000 Bank Permata 133,241,625 - Jumlah 847,318, ,324,255 Utang bank diklasifikasikan dalam kelompok liabilitas keuangan yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif. Utang bank memiliki suku bunga tetap maupun mengambang, sehingga Perusahaan terpapar risiko suku bunga atas nilai wajar (fair value interest rate risk) dan risiko suku bunga atas arus kas (cash flow interest rate risk). Suku bunga utang bank untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2012 dan tahun yang berakhir 31 Desember 2011 masing-masing sebesar 9,50%- 12,00% per tahun dan 10,75% - 12,00% per tahun. Nilai wajar utang bank dengan bunga mengambang ditentukan berdasarkan kuotasi harga di pasar. Estimasi nilai wajar dari utang bank dengan bunga tetap tanpa kuotasi harga di pasar didasarkan pada diskonto arus kas menggunakan suku bunga untuk utang baru dengan jangka waktu yang serupa. Pada tanggal 30 September 2012 dan 31 Desember, nilai wajar dari utang bank masingmasing sebesar Rp ribu dan Rp (Catatan 33). Bank Pan Indonesia Pada tanggal 30 Nopember 2010, Perusahaan mengadakan perjanjian fasilitas pinjaman tetap dan fasilitas pinjaman cerukan dengan Bank Pan Indonesia (Panin) masing-masing sebesar Rp 75 miliar dan Rp 25 miliar. Fasilitas ini dikenakan suku bunga masing-masing sebesar 9,00% - 10,50% dan 11,00% untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2012 dan tahun yang berakhir 31 Desember Fasilitas ini dijamin dengan piutang pembiayaan konsumen dan sewa pembiayaan Perusahaan sebesar 100% dari saldo fasilitas pinjaman (Catatan 6 dan 7). Pada tanggal 30 September 2012 dan 31 Desember 2011 saldo fasilitas pinjaman tetap masing-masing sebesar Rp ribu dan Rp ribu, sementara saldo fasilitas pinjaman cerukan pada tanggal 30 September 2012 dan 31 Desember 2011 adalah dan nihil. Fasilitas pinjaman tetap akan jatuh tempo pada tanggal 30 Mei Sedangkan fasilitas pinjaman cerukan yang jatuh tempo pada tanggal 30 Nopember 2011 telah diperpanjang sampai dengan 30 Nopember Bank Negara Indonesia (Persero) (BNI) Pada tanggal 22 Maret 2005 dan 12 Juni 2007, Perusahaan memperoleh fasilitas kredit channeling with recourse masing-masing sebesar Rp 50 miliar dan Rp 500 miliar, di luar kredit konsumen kemitraan pola channeling without recourse sebesar Rp 100 miliar (Catatan 34). Fasilitas ini dikenakan suku bunga tahunan berkisar antara 9,50% - 12,75% dan 12,00% - 17,00% masingmasing untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2012 dan tahun yang berakhir 31 Desember Pinjaman ini dijamin dengan piutang pembiayaan konsumen Perusahaan sebesar 100% dari saldo fasilitas pinjaman (Catatan 6). Perjanjian kerjasama ini telah diubah beberapa kali sehubungan dengan perpanjangan atas fasilitas pinjaman tersebut, yaitu pada tanggal 23 Desember 2010 fasilitas kredit yang diperoleh berubah menjadi fasilitas kredit modal kerja sebesar Rp 530 miliar dan jangka waktu penarikan pinjaman sampai dengan tanggal 15 Januari Kemudian jangka waktu penarikan pinjaman ini terakhir diperpanjang sampai dengan tanggal 15 Juli 2012 dan sedang dalam proses perpanjangan. Fasilitas ini akan jatuh tempo dalam 48 bulan sejak pencairan kredit
35 Berdasarkan perjanjian kerjasama pembiayaan tersebut, Perusahaan setuju untuk membuka rekening amanat (escrow account) pada BNI, dengan saldo sejumlah Rp ribu dan Rp ribu masing-masing pada tanggal 30 September 2012 dan 31 Desember 2011 dan disajikan sebagai Kas yang Dibatasi Penggunaannya sebagai bagian dari akun Aset Lain-lain (Catatan 12). Sebagaimana tercantum dalam perjanjian kerjasama pembiayaan, Perusahaan bertanggung jawab untuk, antara lain, melakukan penagihan, serta memelihara pencatatan dan penyimpanan dokumen-dokumen. Sebagai imbalannya, Perusahaan diperbolehkan untuk membebankan suku bunga tertentu kepada pelanggan melebihi suku bunga yang dibayarkan kepada BNI. Berdasarkan perjanjian kerjasama pembiayaan tersebut, Perusahaan akan menanggung seluruh risiko kerugian yang terkait dengan pembiayaan yang diberikan sesuai dengan perjanjian tersebut dan membukukan piutang pembiayaan konsumen tersebut pada laporan keuangan Perusahaan. Bank Permata Pada tanggal 21 Desember 2011, Perusahaan memperoleh fasilitas kredit kemitraan konsumen channeling sebesar Rp 100 miliar. Suku bunga yang dikenakan adalah sebesar 10,50% per tahun. Pada tanggal 30 September 2012 dan 31 Desember 2011, saldo fasilitas kredit konsumen kemitraan channeling masing-masing sebesar Rp ribu dan nihil. Fasilitas ini dijamin dengan piutang pembiayaan konsumen dan investasi neto sewa pembiayaan Perusahaan sebesar 100% dari saldo pinjaman (Catatan 6 dan 7), dan akan jatuh tempo pada tanggal 21 Desember Pada tanggal 21 Desember 2011, Perusahaan juga memperoleh fasilitas pinjaman tetap dari Bank Permata sebesar Rp 50 miliar suku bunga yang dikenakan adalah sebesar 10,00% - 10,05% per tahun. Pada tanggal 30 September 2012 dan 31 Desember 2011, fasilitas pinjaman tetap masingmasing adalah sebesar Rp ribu dan nihil. Fasilitas ini dijamin dengan piutang pembiayaan konsumen dan sewa pembiayaan Perusahaan sebesar 100% dari saldo pinjaman (Catatan 6 dan 7) dan akan jatuh tempo pada tanggal 21 Desember Perjanjian pinjaman di atas mencakup persyaratan tertentu yang harus dipenuhi Perusahaan. Pada tanggal 30 September 2012 dan 31 Desember 2011, Perusahaan telah memenuhi batasan-batasan yang diwajibkan dalam perjanjian-perjanjian di atas. Bank Resona Perdania Pada tanggal 4 Februari 2008, Perusahaan mengadakan perjanjian kredit dengan Bank Resona Perdania dengan jumlah maksimum fasilitas pinjaman sejumlah Rp 50 miliar. Fasilitas ini dikenakan suku bunga tahunan sebesar 3,75% di atas suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) pada saat penandatanganan perjanjian, dan dijamin dengan piutang pembiayaan konsumen Perusahaan kepada pihak ketiga minimal sebesar 100% dari saldo fasilitas pinjaman (Catatan 6). Fasilitas ini akan digunakan untuk mendanai transaksi pembiayaan Perusahaan dengan pelanggan dan akan jatuh tempo pada tanggal 25 Maret Pada tahun 2011 fasilitas ini telah dilunasi oleh Perusahaan. Pada tanggal 27 Oktober 2009, Perusahaan memperoleh tambahan fasilitas pinjaman sejumlah Rp 25 miliar. Fasilitas ini dikenakan suku bunga tahunan sebesar 5% di atas Cost of Loanable Fund (COLF), dan dijamin dengan piutang pembiayaan konsumen Perusahaan kepada pihak ketiga minimal sebesar 110% dari saldo fasilitas pinjaman (Catatan 6). Fasilitas ini akan digunakan untuk mendanai transaksi pembiayaan Perusahaan dengan pelanggan dan akan jatuh tempo pada tanggal 22 Oktober Pada tanggal 27 Januari 2010, Perusahaan memperoleh tambahan fasilitas pinjaman sejumlah Rp 25 miliar. Fasilitas ini dikenakan suku bunga tahunan sebesar 5% di atas Cost of Loanable Fund (COLF), dan dijamin dengan piutang pembiayaan konsumen Perusahaan kepada pihak ketiga minimal sebesar 110% dari saldo fasilitas pinjaman (Catatan 6). Fasilitas ini akan digunakan untuk mendanai transaksi pembiayaan Perusahaan dengan pelanggan dan akan jatuh tempo pada tanggal 31 Januari
36 Kemudian pada tanggal 24 Juni 2010 dan 26 Agustus 2010, Perusahaan memperoleh tambahan fasilitas pinjaman masing-masing sejumlah Rp 25 miliar dan Rp 18,5 miliar. Fasilitas ini dikenakan suku bunga tahunan sebesar 5% di atas Cost of Loanable Fund (COLF), dan dijamin dengan piutang pembiayaan konsumen Perusahaan kepada pihak ketiga minimal sebesar 110% dari saldo fasilitas pinjaman (Catatan 6). Fasilitas ini akan digunakan untuk mendanai transaksi pembiayaan Perusahaan dengan pelanggan dan akan jatuh tempo masing-masing pada tanggal 23 Juni 2013 dan 27 Agustus Pada tanggal 22 Desember 2010, Perusahaan memperoleh tambahan fasilitas pinjaman sejumlah Rp 50 miliar. Fasilitas ini dikenakan suku bunga tahunan sebesar 5% di atas Cost of Loanable Fund (COLF), dan dijamin dengan piutang Perusahaan kepada pihak ketiga minimal sebesar 110% dari saldo fasilitas pinjaman (Catatan 6). Fasilitas ini akan digunakan untuk mendanai transaksi pembiayaan Perusahaan dengan pelanggan dan akan jatuh tempo pada tanggal 28 Pebruari Bank Sinarmas (Sinarmas) Pada tanggal 20 Maret 2010 Perusahaan menandatangani perjanjian fasilitas pinjaman (demand loan revolving) sejumlah Rp 70 miliar dengan tingkat suku bunga tahunan sebesar 13,00% dan jatuh tempo pada tanggal 20 Maret Fasilitas ini dijamin dengan piutang pembiayaan konsumen Perusahaan sebesar 110% dari saldo pinjaman (Catatan 6). Pada tahun 2011, pinjaman ini telah dilunasi oleh Perusahaan. Pada tanggal 8 Maret 2011, Perusahaan dan Sinarmas merubah perjanjian fasilitas demand loan tersebut menjadi fasilitas term loan dengan jumlah maksimum fasilitas pinjaman sebesar Rp 100 miliar dengan tingkat suku bunga tahunan sebesar 13,00% dan akan jatuh tempo dalam 36 bulan sejak pencairan kredit. Fasilitas ini dijamin dengan piutang pembiayaan konsumen dan sewa pembiayaan Perusahaan sebesar 110% dari saldo pinjaman (Catatan 6 dan 7). Bank ICBC Indonesia Pada tanggal 10 Januari 2011, Perusahaan mengadakan perjanjian kredit dengan Bank ICBC dengan jumlah maksimum fasilitas pinjaman sejumlah Rp 25 miliar. Pinjaman ini dikenakan suku bunga mengambang sebesar 11,50% per tahun dan jangka waktu perjanjian kredit adalah 36 bulan sejak tanggal pencairan dana. Pinjaman ini dijamin dengan piutang pembiayaan konsumen Perusahaan kepada pihak ketiga minimal sebesar 110% dari saldo fasilitas pinjaman (Catatan 6). Bank Victoria International (Victoria) Cerukan Perusahaan mengadakan beberapa kali perubahan perjanjian pinjaman untuk meningkatkan jumlah maksimum fasilitas pinjaman cerukan sampai menjadi Rp 7,5 miliar. Berdasarkan perubahan perjanjian pinjaman tanggal 10 Maret 2009, jangka waktu pinjaman diperpanjang sampai dengan tanggal 9 Mei 2010 dan penurunan jumlah fasilitas pinjaman cerukan dari Rp 7,5 miliar menjadi Rp 5 miliar. Pada tanggal 13 April 2010, jangka waktu kembali diperpanjang sampai dengan tanggal 9 Mei 2012 dan tidak diperpanjang lagi. Pada tanggal 31 Desember 2011 saldo fasilitas cerukan nihil. Berdasarkan perjanjian pinjaman, Perusahaan setuju untuk membuka rekening amanat (escrow account) di Victoria. Pada tanggal 30 September 2012 dan 31 Desember 2011, saldo rekening amanat masing-masing sebesar Rp ribu dan Rp ribu sebagai Kas yang Dibatasi Penggunaannya pada Akun Aset Lain-lain (Catatan 12). Fasilitas ini dikenakan suku bunga tahunan sebesar 13,00% dan 13,50% untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2012 dan 13,50% untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2011, dan dijamin dengan piutang pembiayaan konsumen Perusahaan sebesar 120% dari saldo fasilitas pinjaman (Catatan 6)
37 14. UTANG USAHA KEPADA PIHAK KETIGA Utang usaha diklasifisikasikan dalam kelompok liabilitas keuangan yang diukur pada biaya perolehan yang diamortisasi, merupakan utang kepada dealer kendaraan bermotor (pihak ketiga), vendor mesin dan alat berat sehubungan dengan kegiatan pembiayaan konsumen dan sewa pembiayaan yang tidak memiliki suku bunga dan berjangka pendek. Nilai wajar dari utang usaha adalah nilai tercatatnya. 15. UTANG LAIN-LAIN 30 September Desember 2011 Pembayaran diterima di muka dari pelanggan 10,198,975 9,985,127 Pendapatan ditangguhkan 15,905,369 8,855,844 Utang asuransi Pihak berelasi 17,595 9,931 Pihak ketiga 4,283,941 3,117,022 Utang apresiasi dealer 843, ,541 Lain-lain 2,877,780 2,357,019 Jumlah 34,127,250 24,970,484 Pembayaran diterima di muka dari pelanggan, utang asuransi dan utang apresiasi dealer diklasifikasikan dalam kelompok liabilitas keuangan yang diukur pada biaya perolehan yang diamortisasi. Nilai wajar dari liabilitas keuangan ini adalah nilai tercatatnya. Utang asuransi merupakan premi asuransi atas kendaraan, mesin dan alat berat yang dibiayai oleh Perusahaan dalam transaksi pembiayaan konsumen dan sewa pembiayaan yang belum dibayarkan kepada perusahaan asuransi. 16. BIAYA MASIH HARUS DIBAYAR 30 September Desember 2011 Rp Rp Bonus dan THR 3,197,481 3,778,108 Jasa profesional 560,000 3,560,033 Bunga atas surat berharga yang diterbitkan 2,708,403 2,931,389 Bunga atas utang bank Pihak berelasi 294,331 41,250 Pihak ketiga 2,087,163 1,887,803 Telepon, internet dan listrik 278, ,742 Lain-lain 13,920 62,444 Jumlah 9,140,045 12,545,769 Bunga atas surat berharga yang diterbitkan dan utang bank diklasifikasikan dalam kelompok liabilitas keuangan yang diukur pada biaya perolehan yang diamortisasi. Nilai wajar dari bunga atas surat berharga dan utang bank adalah nilai tercatatnya
38 17. UTANG PAJAK 30 September Desember 2011 Pajak penghasilan badan (pajak kini) - Catatan 28 2,080,181 21,992 Pajak penghasilan Pasal , ,237 Pasal 23 22,442 34,808 Pasal , ,444 Pasal 4 (2) 48,535 33,814 Jumlah 3,145,278 1,856, SURAT BERHARGA YANG DITERBITKAN Surat berharga yang diterbitkan diklasifikasikan dalam kategori liabilitas keuangan yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi menggunakan metode suku bunga efektif. Nilai wajar dari surat berharga yang diterbitkan dihitung menggunakan harga pasar. Pada tanggal 30 September 2012 dan 31 Desember 2011, nilai wajar dari surat berharga yang diterbitkan adalah sebesar Rp ribu dan Rp ribu (Catatan 33). Surat berharga yang diterbitkan memiliki suku bunga tetap, sehingga Perusahaan terpapar risiko suku bunga atas nilai wajar (fair value interest rate risk). Suku bunga untuk surat berharga yang diterbitkan ini pada periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2012 dan tahun yang berakhir 31 Desember 2011 masing-masing 10,88% dan 10,82% per tahun. Perusahaan tidak memiliki tunggakan pembayaran pokok, bunga maupun pelanggaran lainnya berkaitan dengan surat berharga tersebut selama periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2012 dan tahun yang berakhir 31 Desember Surat berharga yang diterbitkan oleh Perusahaan adalah sebagai berikut : 30 September Desember 2011 Rp Rp Nilai nominal Medium Term Notes I Verena Multi Finance Tahun ,000, ,000,000 Obligasi Verena Multifinance I Tahun 2011 Seri A - 65,000,000 Seri B 135,000, ,000,000 Seri C 300,000, ,000,000 Obligasi yang beredar 635,000, ,000,000 Emisi surat berharga yang belum diamortisasi (1,574,482) (3,365,782) Bersih 633,425, ,634,218 Medium Term Notes I Verena Multi Finance Tahun 2011 (MTN) Pada tanggal 14 Desember 2011, Perusahaan menerbitkan MTN dengan tingkat bunga tetap sebesar 11,00% per tahun dengan jumlah pokok sebesar Rp ribu. Penerbitan ini dilakukan dengan cara penawaran penempatan terbatas dan akan jatuh tempo pada tanggal 15 Desember Surat utang jangka menengah ini dijamin dengan jaminan fidusia berupa piutang pembiayaan konsumen dan sewa guna usaha yang dimiliki Perusahaan dengan jumlah jaminan sebesar Rp 50 miliar pada tanggal ditandatanganinya perjanjian, minimal menjadi Rp 125 miliar selambat
39 lambatnya 1 (satu) bulan sejak tanggal penerbitan MTN, menjadi Rp 200 miliar atau 100% dari nilai pokok MTN selambat-lambatnya 2 (dua) bulan sejak tanggal penerbitan MTN (Catatan 6 dan 7). Perusahaan wajib menambah jaminan jika hasil pemeringkatan dari Pefindo mengalami penurunan, dengan perincian sebagai berikut: Peringkat id A- id BBB+ id BBB Jaminan 110% dari jumlah pokok MTN 120% dari jumlah pokok MTN 125% dari jumlah pokok MTN Pembayaran kupon pertama dilakukan pada tanggal 15 Maret 2012 dan pembayaran bunga terakhir dilakukan pada tanggal 15 Desember Berdasarkan surat PT Pefindo No. 1550A/PEF-Dir/IX/2012 tanggal 24 September 2012, peringkat MTN I adalah ida (Single A) untuk periode 24 September 2012 sampai dengan 1 September Wali amanat untuk penerbitan MTN ini adalah Bank Sinarmas. Perusahaan telah memenuhi semua pembatasan yang diwajibkan serta pembayaran bunga dan nominal MTN melalui KSEI sesuai jadwal. Obligasi Verena Multi Finance I Tahun 2011 Merupakan obligasi nilai nominal Rp 500 miliar sebesar dengan tingkat bunga tetap yang ditawarkan dengan nilai 100% dari jumlah pokok obligasi dan terdiri dari: Seri A dengan jumlah pokok sebesar Rp 65 miliar berjangka waktu 370 (tiga ratus tujuh puluh) hari kalender dengan tingkat suku bunga tetap sebesar 9,50% per tahun, jatuh tempo pada tanggal 22 Maret Seri B dengan jumlah pokok sebesar Rp 135 miliar berjangka waktu 24 (dua puluh empat) bulan dengan tingkat suku bunga tetap sebesar 10,50% per tahun, akan jatuh tempo pada tanggal 18 Maret Seri C dengan jumlah pokok sebesar Rp 300 miliar berjangka waktu 36 (tiga puluh enam) bulan dengan tingkat suku bunga tetap sebesar 11,25% per tahun, akan jatuh tempo pada tanggal 18 Maret Pembayaran kupon pertama dilakukan pada tanggal 18 Juni 2011 dan pembayaran bunga terakhir dilakukan pada tanggal 18 Maret 2012 untuk Seri A, tanggal 18 Maret 2013 untuk Seri B dan tanggal 18 Maret 2014 untuk Seri C. Obligasi ini dijamin dengan jaminan fidusia berupa piutang yang dimiliki Perusahaan sebesar Rp 50 miliar pada tanggal emisi, menjadi sekurang-kurangnya Rp 200 miliar selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sejak tanggal emisi, menjadi sekurang-kurangnya Rp 350 miliar selambat-lambatnya 2 (dua) bulan sejak tanggal emisi dan menjadi sekurang-kurangnya Rp 500 miliar selambatlambatnya 3 (tiga) bulan sejak tanggal emisi (Catatan 6). Wali amanat untuk penerbitan obligasi ini adalah Bank Mandiri Tbk. Perusahaan telah memenuhi semua pembatasan yang diwajibkan serta pembayaran bunga dan nominal obligasi melalui KSEI sesuai jadwal. Berdasarkan surat No.1549/PEF-Dir/IX/2012 tanggal 24 September 2012 dari Pefindo, peringkat obligasi Seri B dan C adalah ida (Single A) untuk periode 24 September 2012 sampai dengan 1 September
40 19. LIABILITAS IMBALAN PASCA KERJA Perusahaan membukukan imbalan pasca kerja imbalan pasti untuk karyawan sesuai dengan Undang-Undang Ketenagakerjaan No. 13/2003. Imbalan kerja karyawan tersebut tidak didanai. 20. MODAL SAHAM Berdasarkan laporan Biro Administrasi Efek, rincian pemegang saham Perusahaan pada tanggal 30 September 2012 dan 31 Desember 2011 adalah sebagai berikut: Nama pemegang saham 30 September 2012 Jumlah Persentase Jumlah saham pemilikan modal PT Bank Pan Indonesia Tbk 429,529, % 42,952,960 PT Verena Kapital 243,965, % 24,396,504 Murniaty Santoso 97,586, % 9,758,602 Masyarakat (masing-masing di bawah 5%) 230,919, % 23,091,970 Jumlah 1,002,000, % 100,200,035 Nama pemegang saham 31 Desember 2011 Jumlah Persentase Jumlah saham pemilikan modal PT Bank Pan Indonesia Tbk 429,529, % 42,952,960 PT Verena Kapital 406,608, % 40,660,840 Masyarakat (masing-masing di bawah 5%) 165,862, % 16,586,235 Jumlah 1,002,000, % 100,200,035 Berdasarkan Pernyataan Keputusan Bersama Para Pemegang Saham yang telah diaktakan dalam akta notaris Fathiah Helmi, S.H., No. 81 tanggal 30 Mei 2008, para pemegang saham menegaskan kembali penerbitan 460 juta saham baru yang disertai dengan 46 juta Waran Seri I yang ditawarkan kepada masyarakat melalui Penawaran Umum Saham Perdana. Pada tanggal 13 Juni 2008, Perusahaan memperoleh pernyataan efektif dari Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (BAPEPAM-LK) untuk melakukan penawaran umum berdasarkan Surat BAPEPAM-LK No. S-3825/BL/2008. Saham Perusahaan telah dicatatkan di Bursa Efek Indonesia pada tanggal 25 Juni Jumlah waran yang beredar pada tanggal 31 Desember 2008 adalah sebanyak Waran Seri I yang diterbitkan melalui Penawaran Umum Saham Perdana. Masa berlaku Waran Seri I adalah sejak tanggal 30 Desember 2008 dan berakhir tanggal 24 Juni 2010, dengan harga pelaksanaan sebesar Rp 110 per saham. Jumlah waran yang dikonversi menjadi saham untuk tahun-tahun yang berakhir 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sejumlah 332 waran dan 20 waran. Berdasarkan pernyataan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan dan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa yang telah diaktakan dalam akta notaris Fathiah Helmi, S.H., No. 40 tanggal 14 Juni 2012, para pemegang saham menyetujui peningkatan modal dasar Perusahaan, yaitu dari sebesar Rp 200 miliar yang terbagi atas 2 miliar saham, menjadi sebesar Rp 400 miliar yang terbagi atas 4 miliar saham. Perubahan tersebut masih dalam proses untuk mendapatkan persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
41 Tambahan modal disetor terutama merupakan biaya emisi saham sehubungan dengan penawaran saham umum perdana Perusahaan pada tahun PENDAPATAN PEMBIAYAAN KONSUMEN Akun ini merupakan realisasi pendapatan dari pembiayaan konsumen dengan rincian sebagai berikut: (Sembilan bulan) (Sembilan bulan) With recourse Pembiayaan sendiri 137,618, ,304,442 Pendapatan channeling 21,143,074 20,982,356 Jumlah 158,761, ,286,798 Untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2012 dan 2011, amortisasi biaya transaksi yang diakui sebagai pengurang dari pendapatan pembiayaan konsumen masing-masing adalah sebesar Rp ribu dan Rp ribu serta pendapatan yang diperoleh dari piutang pembiayaan konsumen yang mengalami penurunan nilai masing-masing adalah sebesar Rp ribu dan Rp ribu. Pendapatan pembiayaan konsumen merupakan pendapatan dari transaksi pembiayaan konsumen kepada pihak ketiga dan transaksi penerusan pinjaman (channeling) dengan bank. Pendapatan pembiayaan konsumen yang berasal dari pihak berelasi masing-masing adalah sebesar Rp ribu dan Rp ribu untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2012 dan Pada tahun 2012 dan 2011 tidak ada transaksi kepada satu pihak yang jumlah pendapatannya melebihi 10% dari pendapatan pembiayaan konsumen. 22. PENDAPATAN SEWA PEMBIAYAAN Pendapatan sewa pembiayaan merupakan pendapatan yang diperoleh dari transaksi sewa pembiayaan atas alat-alat berat, peralatan dan mesin-mesin produksi. Pendapatan sewa pembiayaan diperoleh dari investasi neto sewa pembiayaan yang berasal dari pihak ketiga masingmasing sebesar Rp ribu dan Rp untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2012 dan PENDAPATAN ADMINISTRASI Akun ini merupakan pendapatan yang diterima Perusahaan dari jasa administrasi kepada pelanggan dan pengurusan dokumen-dokumen pelanggan. 24. PENDAPATAN PENALTI (Sembilan bulan) (Sembilan bulan) Penalti pelunasan dipercepat 9,790,768 5,057,164 Penalti keterlambatan pelunasan angsuran 5,997,901 8,127,151 Jumlah 15,788,669 13,184,
42 25. PENDAPATAN LAIN-LAIN (Sembilan bulan) (Sembilan bulan) Pendapatan selisih premi asuransi Pihak berelasi 15,695 63,277 Pihak ketiga 19,811,849 13,471,963 Lain-lain 3,086,713 1,749,502 Jumlah 22,914,257 15,284,742 Pendapatan selisih premi asuransi merupakan pendapatan yang diterima Perusahaan dari selisih antara premi asuransi yang dibebankan oleh Perusahaan kepada pelanggan dengan jumlah aktual yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi 26. BEBAN BUNGA DAN PEMBIAYAAN LAINNYA (Sembilan bulan) (Sembilan bulan) Beban bunga atas utang bank Pihak berelasi 4,394, ,923 Pihak ketiga 53,031,749 52,999,973 Beban bunga atas Surat berharga yang diterbitkan 55,641,578 30,538,916 Provisi dan administrasi bank 1,528,086 1,406,080 Jumlah 114,595,920 85,926, BEBAN UMUM DAN ADMINISTRASI (Sembilan bulan) (Sembilan bulan) Penyusutan (Catatan 11) 3,964,599 3,303,113 Honorarium 3,601,568 2,122,014 Sewa 3,259,360 2,689,693 Pajak dan perijinan 3,061,050 2,015,957 Perjalanan dinas 2,960,891 2,468,084 Telepon, telex dan benda pos 2,035,329 1,999,724 Representasi 2,020,168 1,323,420 Peralatan dan perlengkapan kantor 1,403,458 1,257,331 Iklan dan promosi 764, ,961 Prasarana 719, ,295 Keamanan 592, ,866 Perbaikan dan pemeliharaan 377, ,312 Pendidikan dan pelatihan 341, ,806 Asuransi 136, ,740 Lain-lain 1,192, ,994 Jumlah 26,432,219 20,865,310 Beban umum dan administrasi termasuk beban sewa yang dibayarkan kepada pihak berelasi sebesar Rp ribu dan Rp ribu masing-masing untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2012 dan Beban asuransi yang dibayarkan kepada pihak berelasi masing-masing sebesar nihil untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2012 dan 2011 (Catatan 10 dan 30)
43 28. PAJAK PENGHASILAN Beban (manfaat) pajak Perusahaan terdiri dari: (Sembilan bulan) (Sembilan bulan) Pajak kini 7,869,653 8,237,513 Pajak tangguhan 241,171 (1,452,733) Jumlah 8,110,824 6,784,780 Pajak kini Rekonsiliasi antara laba sebelum pajak menurut laporan laba rugi komprehensif dengan laba kena pajak adalah sebagai berikut: (Sembilan bulan) (Sembilan bulan) Laba sebelum pajak menurut laporan laba rugi komprehensif 30,952,457 25,789,659 Perbedaan temporer: Bonus (580,626) (1,023,007) Beban penurunan nilai jaminan yang dikuasakan kembali (3,402,067) 5,857,142 Beban imbalan pasca kerja 1,239, ,483 Biaya emisi penerbitan surat berharga 1,778,925 - Pemulihan piutang ragu-ragu - - Jumlah (964,684) 5,807,618 Beban (manfaat) yang tidak dapat diperhitungkan menurut fiskal Penyusutan aset tetap 495, ,154 Sumbangan dan beban hubungan masyarakat 3,180 3,270 Pendapatan bunga yang sudah dikenakan pajak final (1,091,685) (719,723) Lainnya 2,083,760 1,465,074 Jumlah 1,490,838 1,352,775 Laba kena pajak Perusahaan 31,478,611 32,950,
44 Perhitungan beban dan utang pajak kini adalah sebagai berikut: (Sembilan bulan) (Sembilan bulan) Beban pajak kini 25 % x Rp ribu tahun ,869,653 8,237,513 Rp ribu tahun Jumlah 7,869,653 8,237,513 Dikurangi pajak dibayar di muka Pasal 25 (5,789,472) (6,929,355) Utang pajak kini (Catatan 17) 2,080,181 1,308,158 Laba kena pajak dan pajak penghasilan Perusahaan tahun 2011 sudah sesuai dengan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan yang disampaikan ke Kantor Pelayanan Pajak. Pajak Tangguhan Rincian aset pajak tangguhan - bersih Perusahaan adalah sebagai berikut: Penyisihan dan penghapusan Dikreditkan (dibebankan) ke laporan 1 Januari laba rugi 30 September 2012 komprehensif 2012 piutang ragu-ragu Bonus 944,527 (145,156) 799,371 Liabilitas imbalan pasca kerja 1,277, ,771 1,587,300 Penyisihan penurunan nilai jaminan yang dikuasakan kembali 3,314,207 (850,517) 2,463,690 Biaya emisi atas surat berharga yang diterbitkan (841,446) 444,731 (396,715) Jumlah Aset Pajak Tangguhan 4,694,817 (241,171) 4,453,646 Dikreditkan (dibebankan) ke laporan 1 Januari laba rugi 30 September 2011 komprehensif 2011 Penyisihan dan penghapusan piutang ragu-ragu Bonus 1,087,779 (255,752) 832,027 Liabilitas imbalan pasca kerja 861, ,200 1,105,228 Penyisihan penurunan nilai jaminan yang dikuasakan kembali 1,051,417 1,464,285 2,515,702 Jumlah Aset Pajak Tangguhan 3,000,224 1,452,733 4,452,957 Berdasarkan Undang-Undang Pajak Penghasilan No. 36 tahun 2008 pengganti UU pajak No. 7/1983, tarif pajak badan adalah sebesar 28% yang berlaku efektif 1 Januari 2009 dan sebesar 25% yang berlaku efektif 1 Januari Aset dan liabilitas pajak tangguhan disesuaikan dengan
45 tarif pajak yang berlaku pada periode ketika aset direalisasikan dan liabilitas diselesaikan berdasarkan tarif pajak yang akan ditetapkan. Rekonsiliasi antara beban pajak dan hasil perkalian laba akuntansi sebelum pajak dengan tarif pajak efekif yang berlaku adalah sebagai berikut: (Sembilan bulan) (Sembilan bulan) Laba sebelum pajak menurut laporan laba rugi komprehensif 30,952,457 25,789,659 Tarif pajak yang berlaku 7,738,114 6,447,415 Pengaruh pajak atas manfaat yang tidak dapat diperhitungkan menurut fiskal 372, ,365 Beban pajak 8,110,824 6,784, LABA PER SAHAM Berikut ini adalah data yang digunakan untuk perhitungan laba per saham dasar: Laba bersih (Sembilan bulan) (Sembilan bulan) Laba bersih untuk perhitungan laba per saham dasar dan dilusian: Laba bersih 22,841,633 19,004,879 Jumlah saham (dalam angka penuh) Lembar Lembar Jumlah rata-rata tertimbang saham biasa untuk perhitungan laba per saham dasar 1,002,000,352 1,002,000,352 Perusahaan tidak menghitung laba per saham dilusian untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2012 dan 2011, karena Perusahaan tidak mempunyai efek berpotensi saham biasa pada tanggal laporan posisi keuangan, sedangkan pada tahun 2009 efek berpotensi saham biasa Perusahaan pada tanggal laporan posisi keuangan bersifat antidilutif, karena harga pelaksanaan waran lebih tinggi dari harga saham Perusahaan di pasar modal. 30. SIFAT DAN TRANSAKSI PIHAK BERELASI Sifat Pihak Berelasi Pihak-pihak yang berelasi adalah perusahaan yang mempunyai keterkaitan kepemilikan atau kepengurusan secara langsung maupun tidak langsung dengan Perusahaan. Perusahaan-perusahaan yang berelasi adalah PT Bank Pan Indonesia Tbk., PT Asuransi Multi Artha Guna Tbk., dan PT IBJ Verena Finance
46 Transaksi-transaksi dengan Pihak Berelasi Dalam kegiatan usahanya, Perusahaan melakukan transaksi tertentu dengan pihak berelasi. Transaksi-transaksi tersebut meliputi antara lain: Penempatan dana kepada Bank Pan Indonesia (Panin) dalam bentuk giro dan penerimaan bunga (Catatan 5). Memberikan fasilitas pinjaman kepada karyawan yang dibebani bunga sebesar 10,85% - 17,52% per tahun dengan jangka waktu 1-8 tahun (Catatan 9 dan 25). Selain itu, pada tahun 2011 Perusahaan juga memberikan fasilitas pinjaman pembiayaan kepada karyawan untuk komputer dan alat lainnya (Catatan 6 dan 21). Sewa gedung dari Bank Pan Indonesia dengan jangka waktu 3 bulan masing-masing sebesar Rp ribu untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2012 dan (Catatan 10 dan 27). Pada tahun 2012 dan 2011, Perusahaan mengadakan perjanjian kerjasama dengan PT Asuransi Multi Artha Guna Tbk untuk melindungi kendaraan bermotor yang dibiayai oleh Perusahaan, antara lain dari risiko kehilangan dan kerusakan (Catatan 11, 15 dan 27). Perusahaan memperoleh fasilitas kredit dari Panin (Catatan 13 dan 26). Beban bunga yang masih harus dibayar atas fasilitas tersebut sebesar Rp ribu dan Rp ribu masing-masing untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2012 dan 2011 (Catatan 16). Perusahaan setuju membuka rekening amanat (escrow account) pada Panin (Catatan 12 dan 34a). Persentase kas dan setara kas, piutang pembiayaan konsumen, piutang lain-lain, biaya dibayar di muka dan aset lain-lain bersih dari pihak berelasi terhadap jumlah aset adalah sebagai berikut: 30 September Desember 2011 % % Kas dan setara kas Piutang pembiayaan konsumen Piutang lain-lain Biaya dibayar di muka Aset lain-lain-bersih Jumlah Persentase utang bank, biaya masih harus dibayar dan utang lain-lain dari pihak berelasi terhadap jumlah liabilitas adalah sebagai berikut: 30 September Desember 2011 % % Utang bank Biaya masih harus dibayar Utang lain-lain Jumlah Persentase pendapatan pembiayaan konsumen, pendapatan bunga dan pendapatan lain-lain, dari pihak berelasi terhadap jumlah pendapatan adalah sebagai berikut:
47 (Sembilan bulan) (Sembilan bulan) % % Pendapatan pembiayaan konsumen Pendapatan bunga Pendapatan lain-lain Jumlah Persentase beban bunga dan pembiayaan lainnya, serta beban umum dan administrasi dari pihak berelasi terhadap jumlah beban adalah sebagai berikut: (Sembilan bulan) (Sembilan bulan) % % Bunga dan pembiayaan lainnya Beban umum dan administrasi Jumlah INFORMASI SEGMEN Perusahaan bergerak dalam bidang usaha pembiayaan dengan aktivitas utama pembiayaan konsumen. Organisasi Perusahaan tidak dikelompokkan per masing-masing segmen usaha, sehingga informasi segmen yang tersedia pada pendapatan, beban dan aset berhubungan langsung dengan aktivitas utama. Perusahaan tidak mempunyai dasar memadai untuk mengalokasikan pendapatan, beban dan aset lainnya ke masing-masing segmen. Informasi segmen geografis Perusahaan adalah sebagai berikut:
48 30 September 2012 Luar Jabotabek Jabotabek Jumlah PENDAPATAN Pendapatan segmen Pendapatan pembiayaan konsumen 77,503,869 81,257, ,761,540 Investasi neto sewa pembiayaan 8,794,690 9,903,665 18,698,355 Pendapatan administrasi 8,552,160 7,786,346 16,338,506 Jumlah pendapatan segmen 94,850,719 98,947, ,798,401 Beban segmen Beban bunga dan pembiayaan lainnya 53,400,222 61,195, ,595,920 Rugi penjualan jaminan yang dikuasakan kembali 2,594,917 7,754,229 10,349,146 Beban cadangan kerugian penurunan nilai 4,686,572 7,630,029 12,316,601 Jumlah beban segmen 60,681,711 76,579, ,261,667 Hasil segmen 34,169,009 22,367,726 56,536,735 Pendapatan tidak dapat dialokasikan 39,794,612 Beban tidak dapat dialokasikan (65,378,890) Laba sebelum pajak 30,952,457 Beban pajak (8,110,824) Laba bersih 22,841,633 ASET Aset segmen 768,644, ,670,392 1,637,315,178 Aset tidak dapat dialokasikan 119,010,578 Jumlah aset 1,756,325,756 LIABILITAS Liabilitas segmen 285,514, ,199, ,714,015 Liabilitas tidak dapat dialokasikan 958,262,474 Jumlah liabilitas 1,547,976,
49 30 September 2011 Luar Jabotabek Jabotabek Jumlah PENDAPATAN Pendapatan segmen Pendapatan pembiayaan konsumen 58,540,198 73,746, ,286,798 Investasi neto sewa pembiayaan 13,218-13,218 Pendapatan administrasi 5,525,495 4,687,155 10,212,650 Jumlah pendapatan segmen 64,078,911 78,433, ,512,666 Beban segmen Beban bunga dan pembiayaan lainnya 34,115,728 51,764,342 85,880,070 Rugi penjualan jaminan yang dikuasakan kembali 1,070,160 4,786,982 5,857,142 Beban cadangan kerugian penurunan nilai 2,163, ,954 3,157,173 Jumlah beban segmen 37,349,107 57,545,278 94,894,385 Hasil segmen 26,729,806 20,888,475 47,618,281 Pendapatan tidak dapat dialokasikan 31,203,720 Beban tidak dapat dialokasikan (53,032,342) Laba sebelum pajak 25,789,659 Beban pajak (6,784,780) Laba bersih 19,004, Desember 2011 ASET Aset segmen 540,279, ,860,357 1,203,139,648 Aset tidak dapat dialokasikan 317,889,079 Jumlah aset 1,521,028,727 LIABILITAS Liabilitas segmen 339,923, ,698, ,622,387 Liabilitas tidak dapat dialokasikan 723,898,706 Jumlah liabilitas 1,335,521,
50 32. JATUH TEMPO ASET DAN LIABILITAS KEUANGAN Analisa jatuh tempo aset dan liabilitas menurut kelompok jatuh temponya berdasarkan periode yang tersisa, terhitung sejak tanggal 30 September 2012 sampai dengan tanggal jatuh tempo adalah sebagai berikut: 30 September 2012 Sampai dengan > 1 bulan s.d > 3 bulan s.d > 1 tahun s.d Lainnya 1 bulan 3 bulan 12 bulan 5 tahun > 5 tahun Jumlah Aset Tanpa suku bunga: Kas dan setara kas - 2,470, ,470,773 Investasi pada entitas asosiasi ,046,273 20,046,273 Piutang lain-lain kepada pihak ketiga , ,837 Biaya dibayar dimuka - 13, ,894 1,625,290 3,512,716-5,411,820 Aset pajak tangguhan 4,453, ,453,646 Aset tetap - bersih 32,933, ,933,801 Aset lain-lain - bersih - 89,297 1,852,519 16,955,558 20,329,778-39,227,152 Suku bunga variabel Kas dan setara kas - 15,747, ,747,285 Kas yang Dibatasi Penggunaannya - 1,050, ,050,533 Suku bunga tetap Piutang pembiayaan konsumen - 84,303, ,945, ,948, ,308,642-1,325,505,717 Dikurangi: cadangan kerugian penurunan nilai (24,004,852) (24,004,852) Investasi neto sewa pembiayaan - 13,426,633 21,716,655 90,965, ,061, ,170,582 Dikurangi: cadangan kerugian penurunan nilai (1,403,069) (1,403,069) Piutang lain-lain kepada pihak berelasi - 3,924 1, ,082 2,359,857-2,495,290 Aset lain-lain - pembiayaan refinancing - bersih - 4,941,249 6,373,598 25,514,407 37,094,714 73,923,968 Jumlah 11,979, ,047, ,446, ,139, ,667,075 20,046,273 1,756,325,756 Liabilitas Tanpa suku bunga: Utang usaha - 14,470, ,470,793 Utang lain-lain - 2,877,780 11,042,564 4,301,536 15,905,369-34,127,249 Biaya masih harus dibayar - 2,674,161 2,708,403 3,757, ,140,045 Utang pajak - 1,065,098-2,080, ,145,279 Liabilitas imbalan pasca kerja ,349,199 6,349,199 Suku bunga variabel: Utang bank - 25,462,282 11,589,922 44,526,184 52,194, ,772,474 Suku bunga tetap: Utang bank - 29,761,658 58,944, ,939, ,900, ,545,932 Surat berharga yang diterbitkan - bersih ,000, ,425, ,425,518 Jumlah - 76,311,772 84,285, ,604, ,425,491-1,547,976,489 Selisih 11,979,526 45,735,560 61,160, ,534,806 (83,758,416) 20,046, ,349,267 Analisa jatuh tempo aset dan liabilitas menurut kelompok jatuh temponya berdasarkan periode yang tersisa, terhitung sejak tanggal 31 Desember 2011 sampai dengan tanggal jatuh tempo adalah sebagai berikut:
51 31 Desember 2011 Sampai dengan > 1 bulan s.d > 3 bulan s.d > 1 tahun s.d Lainnya 1 bulan 3 bulan 12 bulan 5 tahun > 5 tahun Jumlah Aset Tanpa suku bunga: Kas dan setara kas - 2,292, ,292,817 Investasi pada entitas asosiasi ,046,274 20,046,274 Piutang lain-lain kepada pihak ketiga , ,153 Biaya dibayar dimuka ,346 3,620, ,818,196 Aset pajak tangguhan 4,694, ,694,817 Aset tetap - bersih 26,496, ,496,888 Aset lain-lain - bersih - 19,223-24,246,039 13,456,480-37,721,742 Suku bunga variabel Kas dan setara kas - 33,048, ,048,507 Kas yang Dibatasi Penggunaannya 3,657, ,657,519 Suku bunga tetap Kas dan setara kas - 125,000, ,000,000 Piutang pembiayaan konsumen - 78,071, ,837, ,799, ,626,856-1,161,334,797 Dikurangi: cadangan kerugian penurunan nilai (24,419,888) (24,419,888) Investasi neto sewa pembiayaan - 1,306,549 3,506,532 16,976,418 24,691,128-46,480,627 Piutang lain-lain kepada pihak berelasi - 18,997 29, , ,783-1,250,933 Aset lain-lain - pembiayaan refinancing - bersih - 5,000,490 7,227,266 28,681,668 38,661,921-79,571,345 Jumlah 10,429, ,757, ,831, ,606, ,357,168 20,046,274 1,521,028,727 Liabilitas Tanpa suku bunga: Utang usaha - 23,079, ,079,957 Utang lain-lain - 179,977 12,162,169 3,772,494 8,855,844-24,970,484 Biaya masih harus dibayar - 8,767,661 3,778, ,545,769 Utang pajak - 1,856, ,856,295 Liabilitas imbalan pasca kerja 5,110, ,110,115 Suku bunga variabel: Utang bank ,944,887 82,577,079-89,521,966 Suku bunga tetap: Utang bank - 21,012,197 41,653, ,094, ,041, ,802,289 Surat berharga yang diterbitkan - bersih ,951, ,682, ,634,218 Jumlah 5,110,115 54,896, ,545, ,812, ,157,124-1,335,521,093 Selisih 5,319, ,861,819 1,286, ,793,747 (369,799,956) 20,046, ,507, KLASIFIKASI DAN NILAI WAJAR ATAS ASET DAN LIABILITAS KEUANGAN Tabel di bawah ini menunjukkan nilai tercatat dan nilai wajar dari aset dan liabilitas keuangan pada tanggal 30 September 2012 dan 31 Desember 2011 :
52 30 September 2012 Pinjaman yang Biaya perolehan diberikan dan diamortisasi piutang lainnya Nilai tercatat Nilai wajar Aset Keuangan Kas dan setara kas 18,218,058-18,218,058 18,218,058 Kas yang dibatasi penggunaannya 1,050,533-1,050,533 1,050,533 Piutang pembiayaan konsumen - bersih 1,301,500,864-1,301,500,864 1,839,331,540 Piutang lain-lain 2,792,128-2,792,128 2,792,128 Pembiayaan refinancing - bersih 73,923,968-73,923,968 77,341,231 Jumlah 1,397,485,551-1,397,485,551 1,938,733,490 Liabilitas Keuangan Utang usaha - 14,470,793 14,470,793 14,470,793 Utang bank - 847,318, ,318, ,552,600 Utang lain-lain - 15,344,101 15,344,101 15,344,101 Biaya masih harus dibayar - 5,089,897 5,089,897 5,089,897 Surat berharga yang diterbitkan - bersih - 633,425, ,425, ,000,000 Jumlah - 1,515,648,715 1,515,648,715 1,521,457, Desember 2011 Pinjaman yang Biaya perolehan diberikan dan diamortisasi piutang lainnya Nilai tercatat Nilai wajar Aset Keuangan Kas dan setara kas 160,341, ,341, ,341,324 Kas yang dibatasi penggunaannya 3,657,519-3,657,519 3,657,519 Piutang pembiayaan konsumen - bersih 1,136,914,909-1,136,914,909 1,138,508,641 Piutang lain-lain 1,285,086-1,285,086 1,285,086 Pembiayaan refinancing - bersih 79,571,345-79,571,345 79,684,454 Jumlah 1,381,770,183-1,381,770,183 1,383,477,024 Liabilitas Keuangan Utang usaha - 23,079,957 23,079,957 23,079,957 Utang bank - 571,324, ,324, ,232,314 Utang lain-lain - 14,724,083 14,724,083 14,724,083 Biaya masih harus dibayar - 4,860,442 4,860,442 4,860,442 Surat berharga yang diterbitkan - bersih - 696,634, ,634, ,715,397 Jumlah - 1,310,622,955 1,310,622,955 1,305,612, IKATAN DAN PERJANJIAN SIGNIFIKAN a. Pada tanggal 28 Oktober 2003, Perusahaan mengadakan perjanjian kerjasama pembiayaan dengan Bank Pan Indonesia (Panin) dengan jumlah maksimum fasilitas sejumlah Rp 25 miliar. Sebagaimana tercantum dalam perjanjian kerjasama pembiayaan tersebut, Perusahaan bertanggung jawab untuk, antara lain, melakukan penagihan, serta memelihara pencatatan dan penyimpanan dokumen-dokumen. Sebagai imbalannya, Perusahaan diperbolehkan untuk membebankan suku bunga tertentu kepada pelanggan melebihi suku bunga yang dibayarkan kepada Panin. Perjanjian kerjasama pembiayaan ini dilakukan dengan dasar without recourse. Jumlah maksimum fasilitas telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir dengan perjanjian dimana jumlah maksimum fasilitas menjadi Rp 1 triliun, jangka waktu perjanjian kredit sampai dengan 28 Oktober Pada tanggal 30 September 2012 dan 31 Desember 2011, saldo fasilitas adalah masing-masing sebesar Rp ribu dan Rp ribu
53 Berdasarkan perjanjian kerjasama pembiayaan tersebut, Perusahaan setuju untuk membuka rekening amanat (escrow account) pada Panin dengan saldo sebesar Rp ribu dan Rp ribu masing-masing pada tanggal 30 September 2012 dan 31 Desember 2011 serta disajikan sebagai kas yang dibatasi penggunaannya sebagai bagian dari akun Aset Lain-lain (Catatan 12). Pinjaman ini dijamin dengan Bukti Pemilikan Kendaraan Bermotor yang dibiayai oleh Panin. b. Pada tanggal 10 Desember 2004, Perusahaan memperoleh fasilitas kredit konsumen kemitraan pola channeling dari Bank Negara Indonesia (Persero) (BNI) dengan jumlah maksimum fasilitas sejumlah Rp 100 miliar yang akan digunakan untuk mendanai transaksi pembiayaan Perusahaan dengan pelanggan. Sebagaimana tercantum dalam perjanjian kerjasama pembiayaan tersebut, Perusahaan bertanggung jawab untuk, antara lain, melakukan penagihan, serta memelihara pencatatan dan penyimpanan dokumen-dokumen. Sebagai imbalannya, Perusahaan diperbolehkan untuk membebankan suku bunga tertentu kepada pelanggan melebihi suku bunga yang dibayarkan kepada BNI. Perjanjian kerjasama pembiayaan ini dilakukan dengan dasar without recourse. Berdasarkan perjanjian kerjasama pembiayaan tersebut, Perusahaan setuju untuk membuka rekening amanat (escrow account) pada BNI, dengan saldo sejumlah Rp ribu, dan Rp ribu pada tanggal 30 September 2012 dan 31 Desember 2011 dan disajikan sebagai Kas yang Dibatasi Penggunaannya sebagai bagian dari akun Aset Lain-lain (Catatan 12). Pinjaman ini dijamin dengan Bukti Pemilikan Kendaraan Bermotor yang dibiayai oleh BNI. c. Pada tanggal 21 Agustus 2009, Perusahaan memperoleh fasilitas kredit konsumen kemitraan pola channeling dari Bank Rakyat Indonesia (Persero) (BRI) dengan jumlah maksimum fasilitas sebesar Rp 50 miliar yang akan digunakan untuk mendanai transaksi pembiayaan Perusahaan dengan pelanggan. Jangka waktu perjanjian kredit adalah 12 bulan sejak penandatanganan amandemen perjanjian kredit. Sebagaimana tercantum dalam perjanjian kerjasama pembiayaan tersebut, Perusahaan bertanggung jawab untuk, antara lain, melakukan penagihan, serta memelihara pencatatan dan penyimpanan dokumen-dokumen. Sebagai imbalannya, Perusahaan diperbolehkan untuk membebankan suku bunga tertentu kepada pelanggan melebihi suku bunga yang dibayarkan kepada BRI. Perjanjian kerjasama pembiayaan ini dilakukan dengan dasar without recourse. Pada tanggal 28 Oktober 2010, Perusahaan melakukan perpanjangan perjanjian kerjasama dengan Bank BRI dengan jangka waktu 24 (dua puluh empat) bulan terhitung sejak berakhirnya perjanjian awal dan penambahan plafond menjadi sebesar Rp 145 miliar yang terdiri dari Rp 45 miliar sisa fasilitas channeling lama dan Rp 100 miliar fasilitas channeling baru. Fasilitas channeling sebesar Rp 45 miliar akan jatuh tempo pada tanggal 21 Agustus 2012, sementara fasilitas channeling sebesar Rp 100 miliar akan jatuh tempo pada tanggal 28 Oktober Berdasarkan perjanjian kerjasama pembiayaan tersebut, Perusahaan setuju untuk membuka rekening amanat (escrow account) pada BRI, dengan saldo sejumlah Rp ribu dan Rp ribu pada tanggal 30 September 2012 dan 31 Desember 2011 dan disajikan sebagai Kas yang Dibatasi Penggunaannya sebagai bagian dari akun Aset Lain-lain (Catatan 12). Saldo fasilitas yang telah disalurkan sebesar Rp ribu dan Rp ribu masing-masing pada tanggal 30 September 2012 dan 31 Desember Pinjaman ini dijamin dengan Bukti Pemilikan Kendaraan Bermotor yang dibiayai oleh BRI. d. Pada tanggal 4 Nopember 2010, Perusahaan memperoleh fasilitas pinjaman revolving dari Bank CIMB Niaga sebesar Rp 50 miliar. Jangka waktu pinjaman adalah selama 24 bulan sejak ditandatanganinya perjanjian kredit. Suku bunga yang dikenakan adalah sebesar 12,75% per
54 tahun. Pinjaman ini dijamin dengan piutang pembiayaan konsumen sebesar 111% dan 125%, masing-masing untuk objek pembiayaan dalam kondisi baru dan untuk objek pembiayaan dalam kondisi bekas, dari saldo fasilitas pinjaman. Hingga 30 September 2012, Perusahaan belum menggunakan fasilitas pinjaman ini. e. Pada tanggal 29 Nopember 2010, Perusahaan memperoleh fasilitas pembiayaan murabahah dari Bank Panin Syariah sebesar Rp 50 miliar. Nisbah yang dikenakan adalah sebesar 11,5% per tahun. Pinjaman ini dijamin oleh Bukti Pemilikan Kendaraan Bermotor yang dibiayai dari konsumen dan akan berlaku selama 39 bulan sejak ditandatanganinya perjanjian kredit termasuk didalamnya masa kelonggaran tarik selama 3 bulan. Hingga 30 September 2012, Perusahaan belum menggunakan fasilitas pinjaman ini. f. Pada tanggal 30 Nopember 2010, Perusahaan mengadakan perjanjian jual beli piutang dengan Bank Victoria International (Victoria) dengan jumlah maksimum harga jual beli piutang senilai Rp 100 miliar. Jangka waktu penyediaan plafond jual beli piutang adalah 12 bulan terhitung sejak ditandatanganinya perjanjian ini. Jangka waktu jual beli piutang sesuai dengan jangka waktu perjanjan masing-masing debitur atau maksimal sisa jangka waktu kredit adalah 3 tahun. Pada berbagai tanggal pada periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2012 dan tahun yang berakhir 31 Desember 2011, Perusahaan menjual sebagian piutang pembiayaan konsumen sebesar nilai pokok piutang kepada Victoria masing-masing sejumlah Rp ribu dan Rp ribu. g. Pada tanggal 8 Desember 2010, Perusahaan memperoleh fasilitas kredit kerjasama penyaluran pembiayaan untuk pembelian kendaraan bermotor dari Bank DKI dengan jumlah maksimum fasilitas sebesar Rp 100 miliar yang akan digunakan untuk mendanai transaksi pembiayaan konsumen dengan Perusahaan. Jangka waktu perjanjian kerjasama ini adalah 42 (empat puluh dua) bulan sejak penandatanganan perjanjian ini. Pinjaman ini dijamin dengan Bukti Pemilikan Kendaraan Bermotor yang dibiayai oleh Bank DKI. Pada tanggal 8 Agustus 2012, pinjaman tersebut telah dilunasi seluruhnya oleh Perusahaan. Saldo fasilitas yang telah disalurkan Rp ribu pada tanggal 31 Desember h. Perusahaan mengadakan perjanjian kerjasama dengan beberapa perusahaan asuransi untuk melindungi kendaraan bermotor, mesin dan alat berat yang dibiayai oleh Perusahaan, antara lain dari risiko kehilangan, kerusakan dan kebakaran. 35. TRANSAKSI NON KAS Perusahaan melakukan transaksi investasi yang tidak mempengaruhi kas dan setara kas dan tidak termasuk dalam laporan arus kas dengan rincian sebagai berikut: (Sembilan bulan) (Satu tahun) Penambahan aset tetap dari: aset tetap yang belum digunakan - - Reklasifikasi pada aset tetap - 36,
55 36. MANAJEMEN RISIKO Perusahaan memiliki eksposur terhadap risiko-risiko atas instrumen keuangan sebagai berikut : Risiko modal Risiko pasar Risiko kredit Risiko likuiditas Risiko operasional Kerangka Manajemen Risiko Kebijakan manajemen risiko Perusahaan adalah kebijakan yang disusun untuk memenuhi perkembangan yang pesat dalam industri jasa pembiayaan termasuk dalam kaitan pengembangan manajemen risiko secara terkonsolidasi dengan Bank Panin sebagai entitas induk perusahaan (parent company) yang bergerak dalam bidang jasa perbankan. Perusahaan menyadari bahwa pengelolaan kegiatan pembiayaan yang sehat dan berlandaskan tata kelola yang baik membutuhkan penerapan manajemen risiko meliputi proses identifikasi, pengukuran, monitoring dan pengendalian risiko. Dalam penerapan manajemen risiko tersebut Perusahaan menyadari bahwa peran aktif Dewan Komisaris, Dewan Direksi dan Senior Manajemen sangat menentukan efektivitas manajemen risiko. Kebijakan manajemen risiko merupakan salah satu upaya Manajemen Perusahaan untuk menjamin adanya landasan yang kuat bagi pelaksanaan kegiatan operasional Perusahaan sehingga kegiatan operasional dapat berjalan dalam limit risiko yang terukur untuk mencapai target peningkatan shareholder value. Tujuan penerapan kebijakan manajemen risiko adalah: Untuk memastikan bahwa seluruh kegiatan bisnis dan kegiatan pendukung dalam operasional Perusahaan telah memperhitungkan seluruh potensi risiko yang mungkin timbul, baik dalam bentuk risiko modal, risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas maupun risiko operasional. Untuk melakukan fungsi kontrol dan pengelolaan terhadap seluruh risiko yang melekat pada aktivitas bisnis dalam batas-batas toleransi risiko Perusahaan yang telah ditetapkan. Untuk mengoptimalkan penggunaan modal Perusahaan. Untuk memastikan kepatuhan terhadap seluruh peraturan yang relevan, antara lain peraturan Bank Indonesia, Departemen Keuangan dan otoritas lain. Untuk meningkatkan shareholder value dalam jangka panjang. Dalam penerapan manajemen risiko, Perusahaan menyadari pentingnya untuk memiliki sebuah mekanisme yang memadai dalam mengakomodasi risiko-risiko yang dihadapi oleh Perusahaan. Perusahaan memiliki mekanisme yang bertumpu pada 4 (empat) pilar manajemen risiko, yang dapat diuraikan sebagai berikut : Pilar 1: Pengawasan Aktif Dewan Komisaris dan Direksi Pengawasan aktif tersebut tercermin sejak perencanaan bisnis tahunan, yang mencakup : Menyetujui dan melakukan evaluasi kebijakan manajemen risiko secara berkala; Melakukan evaluasi dan menyetujui aktivitas yang memerlukan persetujuan dari Dewan Komisaris atau Direksi; Menetapkan kebijakan dan strategi manajemen risiko termasuk penetapan otoritas dalam pemberian batasan serta tinjauan atas kualitas portofolio secara berkala; Terdapatnya Komite Audit dan Manajemen Risiko sebagai organ Dewan Komisaris dalam melaksanakan fungsi pengawasannya; Membentuk komite yang terkait dengan penerapan manajemen risiko, yaitu Komite Manajemen Risiko
56 Pilar 2: Kebijakan dan Penerapan Batasan Perusahaan menyusun kebijakan-kebijakan terkait manajemen risiko yang diperiksa secara berkala dan selalu disesuaikan dengan keadaan usaha terkini. Kebijakan tersebut diterjemahkan ke dalam Standar Operasional Prosedur dan Memo Internal yang disosialisasikan kepada seluruh karyawan. Perusahaan juga memiliki kebijakan-kebijakan mengenai batasan persetujuan/otorisasi untuk transaksi kredit maupun yang bukan transaksi kredit. Pilar 3: Identifikasi, Pengukuran, Pengawasan dan Sistem Informasi Manajemen Perusahaan memiliki perangkat untuk mengidentifikasi, mengukur dan mengawasi risiko terutama risiko kredit dan risiko operasional melalui mekanisme pelaporan dan sistem informasi manajemen yang ada serta melalui pertemuan berkala Komite Audit dan Manajemen Risiko Perusahaan. Selain itu, sistem teknologi informasi utama Perusahaan mampu menyediakan data/informasi secara cepat, akurat dan real time online kepada pihak Manajemen. Pilar 4: Pengendalian Internal Perusahaan memiliki Divisi Audit Internal yang secara independen melaporkan proses dan hasil pemeriksaannya kepada Dewan Komisaris dan Direktur Utama. Akuntabilitas dari Divisi Audit Internal mencakup: Menyediakan penilaian atas kecukupan dan efektifitas dari semua proses yang ada di dalam Perusahaan; Melaporkan masalah-masalah penting yang terkait dengan proses pengendalian aktivitasaktivitas di dalam Perusahaan termasuk perbaikan yang potensial terhadap proses-proses tersebut; Koordinasi dengan fungsi pengendali dan pengawasan lainnya (manajemen risiko, kepatuhan, hukum dan audit eksternal). Risiko modal Perusahaan mengelola risiko modal untuk memastikan bahwa mereka akan mampu untuk melanjutkan keberlangsungan hidup, selain memaksimalkan keuntungan para pemegang saham melalui optimalisasi saldo utang dan ekuitas. Struktur modal Perusahaan terdiri dari pinjaman, dalam hal ini utang bank dan surat berharga yang diterbitkan (Catatan 13 dan 18) dan ekuitas yang terdiri dari modal ditempatkan dan disetor, tambahan modal disetor dan saldo laba (Catatan 20) dikurangi dengan nilai investasi pada entitas asosiasi (Catatan 8). Dewan Direksi Perusahaan secara berkala melakukan penelaahan atas struktur pemodalan Perusahaan. Sebagai bagian dari review ini, Dewan Direksi mempertimbangkan biaya permodalan dan risiko yang berhubungan. Gearing ratio yang dihitung berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No. 84/PMK.012/2006 tanggal 29 September 2006 pada tanggal 30 September 2012 dan 31 Desember 2011 adalah sebagai berikut: 30 September Desember 2011 Pinjaman 1,480,743,924 1,267,958,473 Modal 188,302, ,461,360 Gearing ratio % %
57 Risiko Pasar Risiko pasar merupakan risiko yang terutama disebabkan karena perubahan tingkat bunga, nilai tukar mata uang Rupiah, harga komoditas dan harga modal atau pinjaman, yang dapat membawa risiko bagi Perusahaan. Dalam perencanaan usaha Perusahaan, risiko pasar yang memiliki dampak langsung kepada Perusahaan adalah dalam hal pengelolaan tingkat bunga. Untuk mengatasi perubahan suku bunga dan mata uang serta menutup suku bunga yang dikenakan kepada konsumen, Perusahaan dalam perjanjian kerjasama dengan pihak Bank memperoleh tingkat suku bunga (cost of fund) yang menggunakan suku bunga tetap (fixed rate), dengan jangka waktu yang sama untuk pembiayaan yang diberikan dan pinjaman dari bank, dan dengan menggunakan pinjaman dalam mata uang Rupiah. Hal ini untuk mencegah risiko yang berpotensi memberikan dampak negatif terhadap kinerja keuangan Perusahaan. Dengan pola aktivitas usaha yang dijalankan Perusahaan saat ini, risiko pasar Perusahaan adalah minimal. Perusahaan tidak mempunyai kegiatan usaha pembiayaan konsumen dalam bentuk maupun menggunakan mata uang asing. Tabel berikut menggambarkan rincian aset dan liabilitas keuangan Perusahaan yang dikelompokkan menurut mana yang lebih awal antara tanggal repricing atau tanggal jatuh tempo kontraktual untuk melihat dampak perubahan tingkat suku bunga: 30 September Suku bunga variabel Suku bunga tetap Sampai dengan Sampai dengan 1 bulan >1-12 bulan >1-5 tahun 1 bulan >1-12 bulan >1-5 tahun Jumlah Rp 000 Rp 000 Rp 000 Rp 000 Rp 000 Rp 000 Rp 000 Aset keuangan Kas dan setara kas 15,747, ,747,285 Piutang pembiayaan konsumen ,303, ,893, ,308,642 1,325,505,716 Investasi neto sewa pembiayaan ,426, ,682, ,061, ,170,580 Piutang lain-lain kepada pihak berelasi , ,509 2,359,858 2,495,291 Aset lain-lain - kas yang dibatasi penggunaannya 3,657, ,657,519 Aset lain-lain - pembiayaan refinancing ,941,249 31,888,005 37,094,714 73,923,968 Jumlah 19,404, ,675, ,595, ,824,581 1,679,500,359 Liabilitas keuangan Utang bank 25,462,282 56,116,106 52,194,086 29,761, ,883, ,900, ,318,406 Surat berharga yang diterbitkan-bersih ,000, ,425, ,425,518 Jumlah - 56,116,106 52,194,086 29,761, ,883, ,326,036 1,480,743,924 Jumlah 19,404,804 (56,116,106) (52,194,086) 72,913, ,711,694 (39,501,455) 198,756,
58 31 Desember 2011 Suku bunga variabel Suku bunga tetap Sampai dengan Sampai dengan 1 bulan >1-12 bulan >1-5 tahun 1 bulan >1-12 bulan >1-5 tahun Jumlah Rp 000 Rp 000 Rp 000 Rp 000 Rp 000 Rp 000 Rp 000 Aset keuangan Kas dan setara kas 33,048, ,000, ,048,507 Piutang pembiayaan konsumen ,071, ,636, ,626,856 1,161,334,797 Investasi neto sewa pembiayaan ,306,549 20,482,950 24,691,128 46,480,627 Piutang lain-lain kepada pihak berelasi , , ,783 1,250,933 Aset lain-lain - kas yang dibatasi penggunaannya 3,657, ,657,519 Aset lain-lain - pembiayaan refinancing ,089,731 36,549,780 39,351,897 80,991,408 Jumlah 36,706, ,486, ,980, ,590,664 1,451,763,791 Liabilitas keuangan Utang bank - 6,944,887 82,577,079 21,012, ,748, ,041, ,324,255 Surat berharga yang diterbitkan-bersih ,951, ,682, ,634,218 Jumlah - 6,944,887 82,577,079 21,012, ,700, ,724,201 1,267,958,473 Jumlah 36,706,026 (6,944,887) (82,577,079) 188,474, ,280,392 (291,133,537) 183,805,318 Perusahaan terpapar risiko suku bunga yang tidak signifikan karena piutang pembiayaan konsumen, investasi neto sewa pembiayaan, aset lain-lain pembiayaan tunai, utang jangka panjang, surat berharga yang diterbitkan dan sebagian besar utang bank memiliki suku bunga tetap. Aset dan liabilitas keuangan Perusahaan yang terpapar risiko suku bunga atas nilai wajar dan risiko suku bunga atas arus kas dijelaskan dalam Catatan 6, 7, 12, 13 dan 18. Analisis sensitivitas Untuk utang bank suku bunga mengambang, analisis sensitivitas disusun dengan asumsi jumlah utang bank terutang pada tanggal laporan posisi keuangan adalah yang terutang untuk sepanjang tahun. Perubahan dari 100 basis poin suku bunga pada tanggal laporan keuangan akan meningkatkan atau menurunkan laba sebelum pajak untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2012 dan tahun yang berakhir 31 Desember 2011 masing-masing sebesar Rp ribu dan Rp ribu. Analisis ini mengasumsikan bahwa semua variabel lainnya tetap konstan. Perubahan terutama disebabkan oleh tingkat suku bunga pinjaman variabel. Untuk modal kerja, utang dan pinjaman investasi, Perusahaan berusaha dengan mengurangi risiko tingkat suku bunganya dengan cara mendapatkan struktur pinjaman dengan suku bunga kompetitif. Risiko Kredit Risiko kredit merupakan risiko utama karena Perusahaan bergerak dalam bidang pembiayaan konsumen, oleh karenanya Perusahaan menerapkan prinsip kehati-hatian. Prinsip Benar dari Awal yang diterapkan oleh Perusahaan merupakan pencerminan dari sikap kehati-hatian ini. Perusahaan menerapkan proses pemberian kredit yang ketat, antara lain survei calon konsumen, verifikasi data konsumen, dan persyaratan uang muka sesuai risiko konsumen. Prinsip 5C sudah merupakan standar dalam setiap analisa kelayakan konsumen. Juga pemilihan dan analisa Dealer/Showroom merupakan kesatuan dari analisa persetujuan proses pemberian kredit. Analisa calon Konsumen dan pemantauan Konsumen secara menyeluruh, Perusahaan menggunakan jasa survei eksternal untuk validasi informasi calon konsumen dan survei yang telah dilakukan oleh marketing (CMO) tanpa mengurangi kecepatan dalam mengambil keputusan persetujuan pembiayaan. Perusahaan pun melakukan pemantauan karakteristik pembayaran angsuran dari konsumen, status jaminan dan kondisi-kondisi yang dapat mempengaruhi sumber penghasilan konsumen sehingga konsumen yang akan bermasalah dapat diantisipasi lebih awal. Untuk setiap kategori aset keuangan, Perusahaan harus mengungkapkan eksposur maksimum terhadap risiko kredit dan analisa konsentrasi risiko kredit
59 I. Eksposur maksimum terhadap risiko kredit Eksposur Perusahaan terhadap risiko kredit hampir seluruhnya berasal dari piutang pembiayaan konsumen, dimana eksposur maksimum terhadap risiko kredit sama dengan nilai tercatat. II. Analisis konsentrasi risiko kredit Konsentrasi risiko kredit timbul ketika sejumlah konsumen bergerak dalam aktivitas usaha yang sama atau aktivitas dalam wilayah geografis yang sama, atau ketika mereka memiliki karakteristik yang sejenis yang akan menyebabkan kemampuan untuk memenuhi liabilitas kontraktualnya sama-sama dipengaruhi oleh perubahan kondisi ekonomi atau yang lainnya. Perusahaan bergerak di bidang usaha pembiayaan konsumen yang pelanggannya mayoritas adalah Individu dan tidak terkonsentrasi pada wilayah geografis tertentu. Walaupun mayoritas pembiayaan yang diberikan adalah untuk individu, namun proses pemberian kredit yang dijalankan sangat ketat, mulai dari survei calon konsumen, verifikasi data konsumen serta pemberian uang muka sesuai risiko konsumen, sehingga risiko yang mungkin timbul dapat dikendalikan dengan baik. Tabel berikut menggambarkan jumlah risiko kredit dan konsentrasi risiko atas piutang pembiayaan konsumen dan investasi neto sewa pembiayaan yang dimiliki Perusahaan: 30 September Desember 2011 Piutang pembiayaan konsumen Korporasi 41,213,999 54,042,201 Individu 1,537,699,117 1,326,954,281 Subjumlah 1,578,913,116 1,380,996,482 Investasi neto sewa pembiayaan Korporasi 224,806,876 40,748,536 Individu 84,626,910 15,961,093 Subjumlah 309,433,786 56,709,629 Jumlah 1,888,346,902 1,437,706,111 Risiko Likuiditas Risiko likuiditas merupakan risiko yang mana Perusahaan tidak memiliki sumber keuangan yang mencukupi untuk memenuhi liabilitasnya yang telah jatuh tempo. Risiko tersebut dapat diatasi oleh Perusahaan karena dalam pemberian fasilitas pembiayaan konsumen, selain menggunakan dana sendiri, Perusahaan juga membina kerjasama dengan beberapa bank nasional dan bank pemerintah maupun bank asing dalam bentuk fasilitas penerusan pinjaman untuk pembiayaan (channeling) maupun demand loan dan term loan. Dalam hal ini Perusahaan mengharuskan limit fasilitas pinjaman yang didapatkan minimal 110% dari total kebutuhan dana untuk aktivitas pembiayaan. Saldo kas setiap hari cukup untuk minimal menutupi kebutuhan dana pembiayaan satu hari. Perusahaan juga mempunyai fasilitas Pinjaman Rekening Koran yang dapat ditarik setiap waktu dengan limit minimal menutup kebutuhan dana 5 hari kerja. Tabel berikut merupakan rincian sisa jatuh tempo kontrak untuk liabilitas keuangan non-derivatif dengan periode pembayaran yang disepakati milik Perusahaan. Tabel telah disusun berdasarkan arus kas tidak terdiskonto dari liabilitas keuangan berdasarkan tanggal awal di mana Perusahaan harus melakukan pembayaran. Tabel ini mencakup arus kas bunga dan pokok. Apabila arus kas bunga menggunakan tingkat bunga mengambang, maka jumlah terdiskonto berasal dari kurva suku bunga pada akhir periode pelaporan. Jatuh tempo kontrak didasarkan pada tanggal awal di mana Perusahaan melakukan pembayaran
60 30 September 2011 Sampai dengan 1 bulan 1-3 bulan >3-12 bulan >1-5 tahun Jumlah Tanpa suku bunga Utang usaha 14,470, ,470,793 Utang lain-lain - 11,042,565 4,301,536-15,344,101 Biaya yang masih harus dibayar 2,381,494 2,708, ,089,897 Suku bunga variabel Utang bank 25,462,282 11,589,922 44,526,184 52,194, ,772,474 Suku bunga tetap Utang bank 29,761,658 58,944, ,939, ,900, ,545,932 Surat berharga yang diterbitkan - bersih ,000, ,425, ,425,518 Jumlah 72,076,227 84,285, ,766, ,520,122 1,515,648,715 Tabel berikut ini menyajikan rincian sisa jatuh tempo kontrak liabilitas keuangan Perusahaan yang disusun berdasarkan arus kas terdiskonto dari liabilitas keuangan: 31 Desember 2011 Sampai dengan 1 bulan 1-3 bulan >3-12 bulan >1-5 tahun Jumlah Tanpa suku bunga Utang usaha 23,079, ,079,957 Utang lain-lain 966,462 9,985,127 3,772,494-14,724,083 Biaya yang masih harus dibayar 1,929,053 2,931, ,860,442 Suku bunga variabel Utang bank - - 6,944,887 82,577,079 89,521,966 Suku bunga tetap Utang bank 21,012,197 41,653, ,094, ,041, ,802,289 Surat berharga yang diterbitkan - bersih - 64,951, ,682, ,634,218 Jumlah 46,987, ,521, ,812, ,301,280 1,310,622,955 Risiko Operasional Risiko operasional bisa disebabkan oleh beberapa hal seperti kekurangan dan kegagalan proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem maupun hal-hal lain yang dapat berdampak pada operasional Perusahaan. Untuk mencegah timbulnya risiko operasional, Perusahaan melakukan beberapa hal: Pengertian yang jelas oleh semua lini yang terkait terhadap risiko yang melekat pada setiap tahapan proses kegiatan operasional yang berhubungan terutama dengan persetujuan dan pencairan pembiayaan, pelayanan konsumen, pencatatan pembukuan dan penyusunan laporan. Pembagian tugas yang jelas dan terpisah antara pelaksana dan kontrol. Sebagai pelaksana, aktivitas yang dikerjakan berdasarkan Standard Operating Procedures (SOP) baku Perusahaan, sedangkan fungsi kontrol memastikan aktivitas sudah memenuhi persyaratan yang digariskan oleh SOP. Perusahaan menggunakan Sistem Teknologi Informasi dari perusahaan terkemuka Sigma agar kelangsungan dan kelancaran pengoperasian sistem dapat terjamin. Perusahaan sudah
61 menerapkan sistem on-line dan real time sehingga dengan demikian pihak manajemen dapat memonitor seluruh aktivitas operasional secara langsung, dan dengan cepat dapat mengambil keputusan strategis dan tepat untuk memitigasi kemungkinan risiko yang terjadi akibat kelalaian, tidak berfungsinya sistem, maupun penyimpangan dari pelaksanaan SOP dan/atau kebijakan Perusahaan. Perusahaan juga sudah menerapkan Risk Control Self Assessment (RCSA) terhadap unit kerja terkait dan melakukan tinjauan dan evaluasi periodik terhadap kebijakan-kebijakan dan SOP secara rutin. Perusahaan senantiasa mengembangkan kemampuan dan pengetahuan karyawannya dengan berbagai pelatihan melalui VLC (Verena Learning Centre) agar dapat menekan seminimal mungkin frekuensi kesalahan manusia dan sistem operasional dan dampak kerugian finansial yang diakibatkan oleh hal tersebut. 37. PERISTIWA PENTING SETELAH TANGGAL LAPORAN POSISI KEUANGAN Tidak terdapat transaksi atau peristiwa setelah tanggal 30 September 2012 yang dapat mempengaruhi Laporan Posisi Keuangan secara signifikan. 38. TANGGUNG JAWAB MANAJEMEN DAN PERSETUJUAN LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN Penyusunan dan penyajian wajar laporan keuangan pada halaman 2 sampai dengan 60 merupakan tanggung jawab manajemen, dan telah disetujui oleh Direksi Perusahaan untuk diterbitkan pada tanggal 23 Oktober
PT. VERENA MULTI FINANCE Tbk
LAPORAN KEUANGAN UNTUK PERIODE ENAM BULAN YANG BERAKHIR 30 JUNI 2012 DAN 2011 SERTA TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2011 (AUDITAN) DAFTAR ISI Halaman SURAT PERNYATAAN DIREKSI LAPORAN KEUANGAN Untuk periode
PT. VERENA MULTI FINANCE Tbk
LAPORAN KEUANGAN UNTUK PERIODE ENAM BULAN YANG BERAKHIR 30 JUNI 2014 DAN 2013 SERTA TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2013 (AUDITAN) DAFTAR ISI Halaman SURAT PERNYATAAN DIREKSI LAPORAN KEUANGAN Untuk periode
PT. VERENA MULTI FINANCE Tbk
LAPORAN KEUANGAN UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR 31 MARET 2018 DAN 2017 DAN TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2017 (31 MARET 2018 DAN 2017 TIDAK DIAUDIT) DAFTAR ISI Halaman SURAT PERNYATAAN DIREKSI
PT BII FINANCE CENTER
LAPORAN KEUANGAN UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR DAN LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN DAFTAR ISI Halaman SURAT PERNYATAAN DIREKSI LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN 1 LAPORAN KEUANGAN Pada tanggal 31 Desember 2011,
PT PENYELENGGARA PROGRAM PERLINDUNGAN INVESTOR EFEK INDONESIA
Daftar Isi Halaman Laporan Auditor Independen Laporan Keuangan Untuk Periode yang Dimulai dari 18 Desember 2012 (Tanggal Pendirian) sampai dengan 31 Desember 2012 Laporan Posisi Keuangan 1 Laporan Laba
Susunan Dewan Komisaris dan Direksi serta Komite Audit Perusahaan pada tanggal 31 Maret 2014 dan 31 Desember 2013 adalah sebagai berikut:
31 MARET 2014 (TIDAK DAN 31 DESEMBER 2013 ( SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL 31 MARET 2014 (TIDAK DAN 31 MARET 2013 (TIDAK 1. UMUM a. Pendirian dan Informasi Umum PT. Clipan Finance
PT STAR PETROCHEM Tbk DAN ENTITAS ANAK Laporan Keuangan Konsolidasian 30 September 2015 (Tidak Diaudit) dan 31 Desember 2014 (Diaudit) Serta Untuk
PT STAR PETROCHEM Tbk DAN ENTITAS ANAK Laporan Keuangan Konsolidasian 30 September 2015 (Tidak Diaudit) dan 31 Desember 2014 (Diaudit) Serta Untuk Periode Sembilan Bulan Yang Berakhir Pada Tanggal 30 September
PT STAR PETROCHEM Tbk DAN ENTITAS ANAK Laporan Keuangan Konsolidasian 30 September 2014 (Tidak Diaudit) dan 31 Desember 2013 (Diaudit) Serta Untuk
PT STAR PETROCHEM Tbk DAN ENTITAS ANAK Laporan Keuangan Konsolidasian 30 September 2014 (Tidak Diaudit) dan 31 Desember 2013 (Diaudit) Serta Untuk Periode Sembilan Bulan Yang Berakhir Pada Tanggal 30 September
PT VICTORIA INSURANCE
` PT VICTORIA INSURANCE Laporan Keuangan 30 September 2015 (Tidak Diaudit), 31 December2014 Dan Periode Sembilan Bulan yang Berakhir pada Tanggal-tanggal 30 September 2015 dan 2014 (Tidak Diaudit) LAPORAN
PT STAR PETROCHEM Tbk DAN ENTITAS ANAK Laporan Keuangan Konsolidasian 31 Maret 2015 (Tidak Diaudit) dan 31 Desember 2014 (Diaudit) Serta Untuk
PT STAR PETROCHEM Tbk DAN ENTITAS ANAK Laporan Keuangan Konsolidasian 31 Maret 2015 (Tidak Diaudit) dan 31 Desember 2014 (Diaudit) Serta Untuk Periode Tiga Bulan Yang Berakhir Pada Tanggal 31 Maret 2015
PT STAR PETROCHEM Tbk DAN ENTITAS ANAK Laporan Keuangan Konsolidasian Untuk Tahun Yang Berakhir 31 Desember 2015 dan 2014 Beserta LAPORAN AUDITOR
PT STAR PETROCHEM Tbk DAN ENTITAS ANAK Laporan Keuangan Konsolidasian Untuk Tahun Yang Berakhir 31 Desember 2015 dan 2014 Beserta LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN DAFTAR ISI Halaman I. SURAT PERNYATAAN DIREKSI
PT STAR PETROCHEM Tbk DAN ENTITAS ANAK Laporan Keuangan Konsolidasian 31 Maret 2016 (Tidak Diaudit) dan 31 Desember 2015 (Diaudit) Serta Untuk
PT STAR PETROCHEM Tbk DAN ENTITAS ANAK Laporan Keuangan Konsolidasian 31 Maret 2016 (Tidak Diaudit) dan 31 Desember 2015 (Diaudit) Serta Untuk Periode Tiga Bulan Yang Berakhir Pada Tanggal 31 Maret 2016
PT. CLIPAN FINANCE INDONESIA Tbk
PT. CLIPAN FINANCE INDONESIA Tbk LAPORAN KEUANGAN UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR 31 MARET 2011 DAN 2010 DAN TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2010, 2009 DAN 2008 DAN LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN
PT STAR PETROCHEM Tbk DAN ENTITAS ANAK Laporan Keuangan Konsolidasian Untuk Tahun Yang Berakhir 31 Desember 2014 dan 2013 Beserta LAPORAN AUDITOR
PT STAR PETROCHEM Tbk DAN ENTITAS ANAK Laporan Keuangan Konsolidasian Untuk Tahun Yang Berakhir 31 Desember 2014 dan 2013 Beserta LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN DAFTAR ISI Halaman I. SURAT PERNYATAAN DIREKSI
PT EVERGREEN INVESCO Tbk DAN ENTITAS ANAK. Laporan Keuangan Konsolidasian
PT EVERGREEN INVESCO Tbk DAN ENTITAS ANAK Laporan Keuangan Konsolidasian 30 Juni 2015 dan 31 Desember 2014 Serta Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Tanggal 30 Juni 2015 dan 2014 DAFTAR ISI Halaman
PT STAR PETROCHEM Tbk DAN ENTITAS ANAK Laporan Keuangan Konsolidasian 31 Maret 2014 (Tidak Diaudit) dan 31 Desember 2013 (Diaudit) Serta Untuk
PT STAR PETROCHEM Tbk DAN ENTITAS ANAK Laporan Keuangan Konsolidasian 31 Maret 2014 (Tidak Diaudit) dan 31 Desember 2013 (Diaudit) Serta Untuk Periode Tiga Bulan Yang Berakhir Pada Tanggal 31 Maret 2014
LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN PT EVERGREEN INVESCO Tbk DAN ENTITAS ANAK
LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN PT EVERGREEN INVESCO Tbk DAN ENTITAS ANAK 30 September 2014 Dan 31 Desember 2013 Serta Untuk Periode-Periode Sembilan Bulan Yang Berakhir Pada Tanggal 30 September 2014 dan
PT STAR PETROCHEM Tbk DAN ENTITAS ANAK Laporan Keuangan Konsolidasian 30 September 2013 (Tidak Diaudit) dan 31 Desember 2012 (Diaudit) Serta Untuk
PT STAR PETROCHEM Tbk DAN ENTITAS ANAK Laporan Keuangan Konsolidasian 30 September 2013 (Tidak Diaudit) dan 31 Desember 2012 (Diaudit) Serta Untuk Periode Sembilan Bulan Yang Berakhir Pada Tanggal 30 September
PT PELAYARAN BAHTERA ADHIGUNA DAN ENTITAS ANAK LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN 31 DESEMBER 2014
PT PELAYARAN BAHTERA ADHIGUNA DAN ENTITAS ANAK LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN PT PELAYARAN BAHTERA ADHIGUNA DAN ENTITAS ANAK Lampiran 1/1 LAPORAN POSISI KEUANGAN KONSOLIDASIAN ASET 31 Desember 31 Desember
P.T. BANK BUMI ARTA Tbk. LAPORAN KEUANGAN PER 30 JUNI 2015
P.T. BANK BUMI ARTA Tbk. LAPORAN KEUANGAN PER 30 JUNI 2015 BANK BUMI ARTA SURAT PERNYATAAN DIREKSI TENTANG TANGGI.ING JA\MAB ATAS LAPORAN KEUANGAN TINTUK'TANGGAL YANG BERAKHIR 30 JTINI 2015 DAN 31 DESEMBER
PT YULIE SEKURINDO Tbk LAPORAN KEUANGAN (TIDAK DIAUDIT) 30 SEPTEMBER 2016 DAN 30 SEPTEMBER 2015 (MATA UANG RUPIAH)
PT YULIE SEKURINDO Tbk LAPORAN KEUANGAN (TIDAK DIAUDIT) 30 SEPTEMBER 2016 DAN 30 SEPTEMBER 2015 (MATA UANG RUPIAH) PT YULIE SEKURINDO Tbk LAPORAN KEUANGAN 30 SEPTEMBER 2016 DAN 30 SEPTEMBER 2015 Daftar
PT. NUSANTARA INTI CORPORA, Tbk
PT. NUSANTARA INTI CORPORA, Tbk LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN Periode Sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2013 (UnAudited) dan tahun yang berakhir 31 Desember 2012 (Audited) dan Laporan
PT CLIPAN FINANCE INDONESIA Tbk
LAPORAN KEUANGAN INTERIM UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR 31 MARET 2012 (TIDAK DIAUDIT) DAN 2011 (DIAUDIT) SERTA TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2011 (DIAUDIT) PT. CLIPAN FINANCE INDONESIA Tbk DAFTAR
PT. NUSANTARA INTI CORPORA, Tbk
PT. NUSANTARA INTI CORPORA, Tbk LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN Periode Tiga bulan yang berakhir pada tanggal 31 Maret 2014 (UnAudited) dan tahun yang berakhir 31 Desember 2013 (Audited) dan Laporan Keuangan
PT. PRIMARINDO ASIA INFRASTRUCTURE, Tbk. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN PER 30 JUNI 2014 DAN 31 DESEMBER 2013
1. UMUM a. Pendirian dan Informasi Umum PT. Primarindo Asia Infrastructure, Tbk. (Perusahaan) didirikan di Bandung berdasarkan Akta No. 7 tanggal 1 Juli 1988 dan Notaris Nany Sukarja, S. H. Akta Pendirian
Daftar Isi. Laporan Posisi Keuangan Konsolidasian 1-3. Laporan Laba Rugi dan Penghasilan Komprehensif Lain Konsolidasian 4
LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN DENGAN LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN TANGGAL 31 DESEMBER 2017 DAN UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL TERSEBUT Daftar Isi Halaman Surat Pernyataan Direksi Laporan Auditor
PT LIONMESH PRIMA Tbk LAPORAN KEUANGAN TANGGAL 31 DESEMBER 2015 SERTA TAHUN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL TERSEBUT DAN LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN PT LIONMESH PRIMA Tbk LAPORAN KEUANGAN TANGGAL 31 DESEMBER
PT GOLDEN RETAILINDO Tbk. Laporan Keuangan Untuk Tahun Yang Berakhir Pada Tanggal-tanggal 31 Desember 2012 Dan 2011 Dan Laporan Auditor Independen
Laporan Keuangan Dan Laporan Auditor Independen LAPORAN KEUANGAN Dan Laporan Auditor Independen Daftar Isi Laporan Auditor Independen Halaman Laporan Posisi Keuangan... 1-2 Laporan Laba Rugi Komprehensif...
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA Tbk
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA Tbk LAPORAN KEUANGAN TANGGAL 30 JUNI 2013 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2012 (DIAUDIT) SERTA UNTUK PERIODE ENAM BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL (MATA UANG RUPIAH INDONESIA)
PT EVERGREEN INVESCO Tbk DAN ENTITAS ANAK
PT EVERGREEN INVESCO Tbk DAN ENTITAS ANAK LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL 30 SEPTEMBER 2016 DAFTAR ISI Halaman Surat Pernyataan Direksi Laporan Posisi
PT SEKAWAN INTIPRATAMA Tbk DAN ENTITAS ANAK
PT SEKAWAN INTIPRATAMA Tbk DAN ENTITAS ANAK LAPORAN KEUANGAN INTERIM KONSOLIDASIAN 30 JUNI 2014 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2013 (DIAUDIT) DAN (Mata Uang Rupiah) Approved by: PT SEKAWAN INTIPRATAMA
PT ALKINDO NARATAMA TBK
ARSYAD & REKAN KANTOR AKUNTAN PUBLIK PT ALKINDO NARATAMA TBK LAPORAN KEUANGAN INTERIM BESERTA LAPORAN AKUNTAN INDEPENDEN 30 SEPTEMBER 2011 (DIREVIEW), 31 DESEMBER 2010 (DIAUDIT) DAN UNTUK SEMBILAN BULAN
PT TRUST FINANCE INDONESIA Tbk LAPORAN POSISI KEUANGAN 31 Maret 2018 dan 31 Desember 2017 (Disajikan dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain)
LAPORAN POSISI KEUANGAN 31 Maret 2018 dan 31 Desember 2017 ASET Catatan Kas dan Setara Kas 2d, 2e, 4 13.621.814.172 18.083.381.861 Piutang Pembiayaan Investasi Pihak ketiga Setelah dikurangi pendapatan
PT LIONMESH PRIMA Tbk LAPORAN KEUANGAN TANGGAL 31 DESEMBER 2017 SERTA TAHUN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL TERSEBUT DAN LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN
LAPORAN KEUANGAN TANGGAL 31 DESEMBER 2017 SERTA TAHUN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL TERSEBUT DAN LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN LAPORAN KEUANGAN TANGGAL 31 DESEMBER 2017 SERTA TAHUN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL
PT. NUSANTARA INTI CORPORA TBK DAN ENTITAS ANAK. LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2013 dan 2012
PT. NUSANTARA INTI CORPORA TBK DAN ENTITAS ANAK LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2013 dan 2012 Beserta LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN DAFTAR ISI Halaman Surat
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA Tbk
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA Tbk LAPORAN KEUANGAN TANGGAL 30 JUNI 2015 (TIDAK DIAUDIT), 31 DESEMBER 2014 (DIAUDIT) DAN 1 JANUARI 2014/31 DESEMBER 2013 (DIAUDIT) SERTA UNTUK PERIODE ENAM BULAN YANG BERAKHIR
PT SEKAWAN INTIPRATAMA Tbk DAN ENTITAS ANAK
PT SEKAWAN INTIPRATAMA Tbk DAN ENTITAS ANAK LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN 31 MARET 2013 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2012 (DIAUDIT) DAN (Mata Uang Rupiah) PT SEKAWAN INTIPRATAMA Tbk DAN ENTITAS ANAK
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA Tbk
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA Tbk LAPORAN KEUANGAN TANGGAL 30 JUNI 2014 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2013 (DIAUDIT) SERTA UNTUK PERIODE ENAM BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL (MATA UANG RUPIAH INDONESIA)
PT SKYBEE Tbk DAN ENTITAS ANAK
PT SKYBEE Tbk DAN ENTITAS ANAK Laporan Keuangan Konsolidasian (tidak diaudit) 30 September 2017 dan 31 Desember 2016 dan untuk sembilan bulan yang berakhir pada tanggal tanggal 30 September 2017 dan 2016
JUMLAH ASET Lihat catatan atas laporan keuangan yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan.
PT. CLIPAN FINANCE INDONESIA Tbk LAPORAN POSISI KEUANGAN 30 JUNI 2012 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2011 (DIAUDIT) ASET Tidak Diaudit Diaudit 30 Juni 31 Desember Catatan 2012 2011 Kas dan setara kas
P.T. BANK BUMI ARTA Tbk. LAPORAN KEUANGAN PER 31 MARET 2015
P.T. BANK BUMI ARTA Tbk. LAPORAN KEUANGAN PER 31 MARET 2015 P.T. BANK BUMI ARTA Tbk DAFTAR ISI Halaman SURAT PERNYATAAN DIREKSI LAPORAN KEUANGAN Pada tanggal 31 Maret 2015 Laporan Posisi Keuangan 1 Laporan
PT LIONMESH PRIMA Tbk
LAPORAN KEUANGAN TANGGAL 30 JUNI 2016 ( TIDAK DIAUDIT ) (MATA UANG INDONESIA) LAPORAN KEUANGAN TANGGAL 30 JUNI 2016 ( TIDAK DIAUDIT ) Daftar Isi Halaman Laporan Posisi Keuangan... 1-2 Laporan Laba Rugi
PT SURABAYA AGUNG INDUSTRI PULP & KERTAS Tbk
Laporan Keuangan Tanggal 31 Maret 2013 Dan 31 Desember 2012 Serta Untuk Periode Tiga Bulan Yang Berakhir Pada Tanggal 31 Maret 2013 Dengan Angka Perbandingan Untuk Periode Tiga Bulan Yang Berakhir (Mata
PT YULIE SEKURINDO TBK LAPORAN KEUANGAN TANGGAL 31 DESEMBER 2015 BESERTA LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN (MATA UANG RUPIAH INDONESIA)
LAPORAN KEUANGAN TANGGAL BESERTA LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN (MATA UANG RUPIAH INDONESIA) LAPORAN KEUANGAN TANGGAL BESERTA LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN DAFTAR ISI Halaman Pernyataan Direksi dan Dewan Komisaris
PT SKYBEE Tbk DAN ENTITAS ANAK
PT SKYBEE Tbk DAN ENTITAS ANAK Laporan Keuangan Konsolidasian (tidak diaudit) 30 Juni 2017 dan 31 Desember 2016 dan untuk enam bulan yang berakhir pada tanggal tanggal 30 Juni 2017 dan 2016 LAPORAN KEUANGAN
PT. NUSANTARA INTI CORPORA, Tbk
PT. NUSANTARA INTI CORPORA, Tbk LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN Periode Tiga bulan yang berakhir pada tanggal 31 Maret 2013 (UnAudited) dan tahun yang berakhir 31 Desember 2012 (Audited) dan Laporan Keuangan
PT LIONMESH PRIMA Tbk
LAPORAN KEUANGAN PERIODE YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL 30 JUNI 2013 DAN 2012 (TIDAK DIAUDIT) (MATA UANG INDONESIA) LAPORAN KEUANGAN PERIODE YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL 30 JUNI 2013 DAN 2012
PT SEKAWAN INTIPRATAMA Tbk DAN ENTITAS ANAK
PT SEKAWAN INTIPRATAMA Tbk DAN ENTITAS ANAK LAPORAN KEUANGAN INTERIM KONSOLIDASIAN 30 JUNI 2012 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2011 (DIAUDIT) DAN (Mata Uang Rupiah) PT SEKAWAN INTIPRATAMA Tbk DAN ENTITAS
PT VICTORIA INSURANCE Tbk
Laporan Keuangan 31 Maret 2016 (Tidak Diaudit), 31 Desember 2015 (Audit), Dan periode Tiga Bulan yang Berakhir pada Tanggal-tanggal LAPORAN KEUANGAN DAFTAR ISI Halaman Surat Pernyataan Direksi Laporan
PT GREENWOOD SEJAHTERA Tbk DAN ENTITAS ANAK
LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN DAN INFORMASI TAMBAHAN KONSOLIDASIAN Dengan Angka Perbandingan Untuk Periode Tiga Bulan yang Berakhir 31 Maret 2014 (Tidak Diaudit) SURAT PERNYATAAN DIREKSI LAPORAN KEUANGAN
Jumlah aset lancar
LAPORAN POSISI KEUANGAN KONSOLIDASIAN 30 SEPTEMBER 2015, 31 DESEMBER 2014 DAN 2013 Catatan 30 September 2015 31 Desember 2014* 31 Desember 2013* ASET ASET LANCAR Kas dan bank 5, 22 3.290.851.940 3.950.247.926
P.T. VICTORIA INSURANCE DAFTAR ISI LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN 1
DAFTAR ISI Halaman SURAT PERNYATAAN MANAJEMEN LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN 1 LAPORAN KEUANGAN Pada tanggal 31 Desember 2012, 2011 dan 2010 serta untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal tersebut Laporan
PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk
PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk Laporan Keuangan Pada Tanggal 31 Maret 2013 (tidak diaudit) dan 31 Desember 2012 (diaudit) Serta Periode Tiga Bulan yang Berakhir 31 Maret 2013 dan 31 Maret 2013 (tidak
PT YULIE SEKURINDO Tbk LAPORAN KEUANGAN (TIDAK DIAUDIT) 31 MARET 2013 DAN 31 MARET 2012 (MATA UANG INDONESIA)
PT YULIE SEKURINDO Tbk LAPORAN KEUANGAN (TIDAK DIAUDIT) 31 MARET 2013 DAN 31 MARET 2012 (MATA UANG INDONESIA) PT YULIE SEKURINDO Tbk LAPORAN KEUANGAN 31 MARET 2013 DAN 31 MARET 2012 Daftar Isi Halaman
LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN
LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN Laporan No. AR/L-099/12 Pemegang Saham, Dewan Komisaris dan Direksi PT Sidomulyo Selaras Tbk Kami telah mengaudit laporan posisi keuangan konsolidasian PT Sidomulyo Selaras Tbk
PT. NUSANTARA INTI CORPORA TBK DAN ENTITAS ANAK
PT. NUSANTARA INTI CORPORA TBK DAN ENTITAS ANAK LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN Untuk periode tiga bulan yang berakhir pada tanggal 31 Maret 2017 Dan untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2016 (Audited)
PT BATAVIA PROSPERINDO FINANCE Tbk
L A P O R A N K E U A N G A N UNTUK PERIODE TIGA BULANAN YANG BERAKHIR (TIDAK DIAUDIT) DAN (AUDIT) L A P O R A N K E U A N G A N UNTUK (TIDAK DIAUDIT) DAN (AUDIT) D A F T A R I S I Pernyataan Direksi Ekshibit
LAPORAN POSISI KEUANGAN ASET Catatan ASET LANCAR Kas dan setara kas 2e,2h,4 3.481.123.418 22.905.396.860 Dana yang dibatasi penggunaannya 2e,2i,5 38.299.113.429 43.658.804.298 Piutang usaha 2e,6 Pihak
PT. NUSANTARA INTI CORPORA, Tbk
PT. NUSANTARA INTI CORPORA, Tbk LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN Periode Tiga bulan yang berakhir pada tanggal 31 Maret 2016 (UnAudited) dan tahun yang berakhir 31 Desember 2015 (Audited) dan Laporan Keuangan
PT MITRA INVESTINDO Tbk
LAPORAN KEUANGAN 30 JUNI 2013 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2012 (AUDITAN) SERTA PERIODE ENAM BULAN YANG BERAKHIR (TIDAK DIAUDIT) DAFTAR ISI Halaman SURAT PERNYATAAN DIREKSI LAPORAN POSISI KEUANGAN PER
Revisi PT MITRA INVESTINDO Tbk
Revisi PT MITRA INVESTINDO Tbk LAPORAN KEUANGAN 31 MARET 2012 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2011 (AUDITAN) SERTA PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR (TIDAK DIAUDIT) DAFTAR ISI Halaman SURAT PERNYATAAN DIREKSI
LAPORAN TAHUNAN ANNUAL REPORT
LAPORAN TAHUNAN ANNUAL REPORT 2013 PT LIONMESH PRIMA Tbk LAPORAN KEUANGAN TANGGAL 31 DESEMBER 2013 SERTA UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL TERSEBUT DAN LAPORAN
PT VICTORIA INSURANCE LAPORAN KEUANGAN 31 DESEMBER 2014 BESERTA LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN DAFTAR ISI. Laporan Posisi Keuangan...
LAPORAN KEUANGAN 31 DESEMBER 2014 BESERTA LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN DAFTAR ISI Halaman Surat Pernyataan Direksi Laporan Auditor Independen Laporan Posisi Keuangan... 1-2 Laporan Laba Rugi Komprehensif...
PT. NUSANTARA INTI CORPORA TBK DAN ENTITAS ANAK
PT. NUSANTARA INTI CORPORA TBK DAN ENTITAS ANAK LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN Untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2016 Dan untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2015 (Audited)
Laporan keuangan konsolidasian untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2016 dan Beserta Laporan Auditor Independen
PT. NUSANTARA INTI CORPORA Tbk DAN ENTITAS ANAK Laporan keuangan konsolidasian untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2016 dan 2015 Beserta Laporan Auditor Independen DAFTAR ISI Halaman I.
PT NUSANTARA INTI CORPORA TBK DAN ENTITAS ANAK
Laporan Keuangan Konsolidasian PT NUSANTARA INTI CORPORA TBK DAN ENTITAS ANAK 30 Juni 2013 (Tidak Diaudit) dan 31 Desember 2012 (Audit) Serta untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni
DAFTAR ISI. Laporan Posisi Keuangan Konsolidasian Laporan Laba Rugi Dan Penghasilan Komprehensif Lain Konsolidasian... 3
DAFTAR ISI Halaman Surat Pernyataan Direksi Laporan Auditor Independen Laporan Keuangan Laporan Posisi Keuangan Konsolidasian... 1-2 Laporan Laba Rugi Dan Penghasilan Komprehensif Lain Konsolidasian...
DAFTAR ISI. Laporan Posisi Keuangan Konsolidasian Laporan Laba Rugi Dan Penghasilan Komprehensif Lain Konsolidasian... 3
DAFTAR ISI Halaman Surat Pernyataan Direksi Laporan Auditor Independen Laporan Keuangan Laporan Posisi Keuangan Konsolidasian... 1-2 Laporan Laba Rugi Dan Penghasilan Komprehensif Lain Konsolidasian...
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir 30 Juni 2014 (tidak diaudit) dan 30 Juni 2013 (tidak diaudit)
Laporan Keuangan Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir 30 Juni 2014 (tidak diaudit) dan 30 Juni 2013 (tidak diaudit) dan Posisi Keuangan per 30 Juni 2014 (tidak diaudit) dan 31 Desember 2013 (diaudit)
PT YULIE SEKURINDO Tbk LAPORAN KEUANGAN (TIDAK DIAUDIT) 30 JUNI 2016 DAN 30 JUNI 2015 (MATA UANG RUPIAH)
PT YULIE SEKURINDO Tbk LAPORAN KEUANGAN (TIDAK DIAUDIT) 30 JUNI 2016 DAN 30 JUNI 2015 (MATA UANG RUPIAH) PT YULIE SEKURINDO Tbk LAPORAN KEUANGAN 30 JUNI 2016 DAN 30 JUNI 2015 Daftar Isi Halaman Laporan
PT HARTADINATA ABADI, Tbk LAPORAN KEUANGAN. Untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2017 dan 2016 (Tidak diaudit)
PT HARTADINATA ABADI, Tbk LAPORAN KEUANGAN Untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2017 dan 2016 (Tidak diaudit) serta tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2016 (Audit)
PT YULIE SEKURINDO Tbk LAPORAN KEUANGAN (TIDAK DIAUDIT) 30 SEPTEMBER 2011 DAN 30 SEPTEMBER 2010 (MATA UANG INDONESIA)
PT YULIE SEKURINDO Tbk LAPORAN KEUANGAN (TIDAK DIAUDIT) 30 SEPTEMBER 2011 DAN 30 SEPTEMBER 2010 (MATA UANG INDONESIA) PT YULIE SEKURINDO Tbk LAPORAN KEUANGAN 30 SEPTEMBER 2011 DAN 30 SEPTEMBER 2010 Daftar
PT. EVERGREEN CAPITAL. Laporan Keuangan Untuk Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2012 dan 2011 beserta. Laporan Auditor Independen
PT. EVERGREEN CAPITAL Laporan Keuangan Untuk Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2012 dan 2011 beserta Laporan Auditor Independen Daftar Isi Halaman I II II Surat Pernyataan Direksi Laporan Auditor
PT BANK MNC INTERNASIONAL TBK LAPORAN KEUANGAN PER 31 MARET 2017 ( UNAUDITED) DAN 31 DESEMBER 2016 (AUDITED)
PT BANK MNC INTERNASIONAL TBK LAPORAN KEUANGAN PER 31 MARET 2017 ( UNAUDITED) DAN 31 DESEMBER 2016 (AUDITED) PT BANK MNC INTERNASIONAL TBK LAPORAN KEUANGAN PER 31 MARET 2017 ( UNAUDITED) DAN 31 DESEMBER
PT AKBAR INDO MAKMUR STIMEC, Tbk
LAPORAN KEUANGAN PER 31 MARET 2012 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2011 (DIAUDIT) SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR 31 MARET 2012 DAN 2011 (TIDAK DIAUDIT) LAPORAN KEUANGAN PER 31 MARET 2012
PT BANK MNC INTERNASIONAL TBK
PT BANK MNC INTERNASIONAL TBK LAPORAN KEUANGAN 31 MARET 2018 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2017 (DIAUDIT) SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL 31 MARET 2018 DAN 2017 PT BANK MNC
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
LAPORAN KEUANGAN TANGGAL 30 JUNI 2017 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2016 (DIAUDIT) SERTA UNTUK PERIODE ENAM BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL (MATA UANG RUPIAH INDONESIA) LAPORAN KEUANGAN TANGGAL
PT. PUSAKO TARINKA, Tbk
PT. PUSAKO TARINKA, Tbk LAPORAN KEUANGAN INTERIM 6 (ENAM) BULANAN Untuk Tahun-Tahun Yang Berakhir Pada Tanggal 30 Juni 2012 dan 2011 DAFTAR ISI Halaman 1. Laporan Posisi Keuangan Interim 30 Juni 2012
LAPORAN KEUANGAN. 30 Juni 2016 dan PT. SARANACENTRAL BAJATAMA, Tbk. Jalan P. Jayakarta No. 55 Mangga Dua Selatan Sawah Besar Jakarta Pusat
PT. SARANACENTRAL BAJATAMA, Tbk LAPORAN KEUANGAN PT. SARANACENTRAL BAJATAMA, Tbk 30 Juni 2016 dan 2015 PT. SARANACENTRAL BAJATAMA, Tbk Jalan P. Jayakarta No. 55 Mangga Dua Selatan Sawah Besar Jakarta Pusat
Susunan Dewan Komisaris dan Direksi Perusahaan pada tanggal 30 September 2011 dan 31 Desember 2010 adalah sebagai berikut: Tahun 2011 Tahun 2010
1. UMUM a. Pendirian dan Informasi Umum PT. Primarindo Asia Infrastructure, Tbk. (Perusahaan) didirikan di Bandung berdasarkan Akta No. 7 tanggal 1 Juli 1988 dan Notaris Nany Sukarja, S. H. Akta Pendirian
PT LIONMESH PRIMA Tbk LAPORAN KEUANGAN TANGGAL 31 DESEMBER 2016 SERTA TAHUN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL TERSEBUT DAN LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN
LAPORAN KEUANGAN TANGGAL 31 DESEMBER 2016 SERTA TAHUN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL TERSEBUT DAN LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN LAPORAN KEUANGAN TANGGAL 31 DESEMBER 2016 SERTA TAHUN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL
