BAB 23 PERBAIKAN IKLIM KETENAGAKERJAAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB 23 PERBAIKAN IKLIM KETENAGAKERJAAN"

Transkripsi

1 BAB 23 PERBAIKAN IKLIM KETENAGAKERJAAN Situasi ketenagakerjaan di Indonesia masih ditandai dengan tingginya tingkat pengangguran terbuka dan masih lambatnya daya serap tenaga kerja di lapangan kerja formal. Jumlah setengah pengangguran yang cukup besar juga mencerminkan lapangan kerja pada sektor yang digelutinya menjadi kurang produktif yang menyebabkan mereka berpendapatan rendah. Rendahnya produktivitas dan pendapatan menjadi sumber utama yang menyebabkan mereka sebagian besar berada di bawah garis kemiskinan (near poor). Untuk itu upaya menciptakan lapangan kerja baru menjadi prioritas utama pemerintah. Jalan terbaik untuk menggerakkan pertumbuhan ekonomi tidak lain adalah dengan meningkatkan iklim investasi dan memperbaiki daya saing Indonesia di pasar internasional, termasuk memperbaiki iklim ketenagakerjaan. I. PERMASALAHAN YANG DIHADAPI Kondisi ketenagakerjaan yang dihadapi dalam tahun 2006 masih mengalami banyak permasalahan. Jumlah pengangguran terbuka pada Februari 2006 mencapai 11,1 juta orang, atau bertambah sebanyak 250 ribu orang dibandingkan jumlah penganggur terbuka

2 pada Februari 2005 dengan tingkat pengangguran sebesar 10,3 persen. Dengan kondisi seperti ini, tingkat pengangguran terbuka meningkat menjadi 10,4 persen pada Februari 2006, seperti keadaan pada Februari 2005 sebesar 10,3 persen. Sementara itu, jumlah angkatan kerja pada Februari 2006 mencapai 106,3 juta orang, terdapat penambahan sekitar 500 ribu orang dibandingkan pada Februari 2005, sebesar 105,8 juta orang. Namun demikian, bila dibandingkan dengan bulan November 2005, tingkat pengangguran terbuka sudah menurun dari 11,2% pada bulan November 2005 menjadi 10,4% pada bulan Februari Pengangguran terbuka di Indonesia juga masih diwarnai oleh besarnya kelompok usia muda dan berpendidikan sangat rendah. Sampai dengan Februari tahun 2006 pengangguran terbuka pada kelompok usia muda (15 24 tahun) berjumlah 6,9 juta orang atau 61,8 persen dari jumlah pengangguran terbuka (11,1 juta orang). Sementara itu dari tingkat pendidikan yang ditamatkan sebagian besar berpendidikan Sekolah Tingkat Pertama (SMTP) ke bawah yaitu sebesar 6,4 juta orang atau 57,5 persen. Sebagian besar berada di daerah perkotaan yaitu sebesar 5,8 juta orang atau sekitar 52,4 persen. Namun demikian terdapat kecenderungan meningkatnya jumlah pengangguran terbuka di daerah perdesaan selama kurun waktu 3 tahun terakhir ini. Jika pada tahun 2004 jumlah pengangguran terbuka di daerah perdesaan sebesar 4,8 juta orang, maka pada tahun 2006 (bulan Februari) menjadi 5,3 juta orang. Hampir 50 persen pengangguran terbuka tersebut, berada di Pulau Jawa, yaitu di propinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur masing-masing sebesar 2,5 juta orang, 1,4 juta orang, dan 1,5 juta orang pada tahun Kondisi ini juga perlu mendapatkan perhatian yang serius mengingat daya dukung perekonomian dan sumber daya alam juga semakin terbatas di pulau Jawa. Di samping permasalahan pengangguran terbuka, pekerja yang bekerja kurang dari 35 jam per minggu juga masih menjadi permasalahan karena jumlahnya terus meningkat. Pada Agustus 2004 sebesar 29,8 persen meningkat menjadi 31,2 persen pada Februari 2005, dan 31,4 persen pada Februari Situasi ini mencerminkan lapangan kerja pada sektor yang digelutinya menjadi kurang produktif yang menyebabkan mereka juga berpendapatan rendah. Rendahnya 23-2

3 produktivitas dan pendapatan menjadi sumber utama yang menyebabkan mereka sebagian besar berada di bawah garis kemiskinan (near poor). Lapangan kerja formal yang sempat mengalami perkembangan kurang menggembirakan antara tahun , saat ini telah mulai menunjukkan peningkatan meskipun sangat sedikit. Tahun 2004, terdapat 28,4 juta atau 30,3 persen pekerja yang bekerja pada kegiatan ekonomi formal, telah meningkat menjadi 28,6 juta atau 30,2 persen pada Februari 2005 dan menjadi 28,8 juta orang atau 30,2 persen pada Februari Sedangkan lapangan kerja informal jumlahnya juga semakin meningkat dari tahun ke tahun. Jika pada tahun 2004 lapangan kerja informal sebanyak 65,3 juta orang atau 69,7 persen, maka pada bulan Februari 2005 telah mencapai 66,3 juta orang atau 69,8 persen. Kondisi pada Februari 2005 dengan Februari 2006 juga tidak banyak mengalami perubahan yang berarti. Ini menunjukkan bahwa sebagian besar lapangan kerja yang ada di Indonesia masih didominasi oleh lapangan kerja informal yang kurang produktif. Meskipun demikian lapangan kerja informal tetap menjadi tumpuan bagi sebagian besar penduduk untuk memperoleh mata pencahariannya. Sementara itu lapangan kerja formal yang semakin terbatas tidak mampu menyerap angkatan kerja yang jumlahnya terus bertambah. Ketimpangan pasar kerja yang digambarkan oleh masih besarnya pekerja informal menunjukkan bahwa perekonomian nasional masih belum mampu mengoptimalkan sumber daya yang ada bagi peningkatan produktivitas nasional. Besarnya jumlah pekerja informal juga menjadi perhatian khusus dalam upaya memenuhi kebutuhan dasar, seperti pangan, sandang, dan papan serta peningkatan kesejahteraan dan perlindungan sosial. Dari sisi kualitas tenaga kerja, tingkat pendidikan pekerja sebagian besar berada pada tingkat pendidikan Sekolah Dasar (SD) dan SD ke bawah, yaitu sebesar 52,9 juta orang atau hampir 60 persen dari jumlah pekerja pada Februari Lemahnya kemampuan yang dicerminkan dari rendahnya tingkat pendidikan pekerja Indonesia dirasakan sebagai salah satu hambatan utama bagi investor. Rendahnya keahlian ini akan mempersempit ruang bagi kebijakan untuk meningkatkan struktur produksinya. Kondisi ini dalam jangka 23-3

4 panjang tampaknya tidak banyak mengalami perubahan. Struktur pekerja ke depan masih akan didominasi oleh mereka yang berpendidikan rendah. Ketersediaan kondisi pekerja tersebut, menjadikan hambatan utama dalam upaya untuk meningkatkan daya saing nasional yang relatif masih tertinggal dibandingkan dengan beberapa negara terutama di kawasan Asia Tenggara. Berdasarkan peringkat daya saing dunia yang disusun oleh Institute for Management Development (IMD) dalam laporannya di World Competitiveness Yearbook 2006, Indonesia berada pada posisi ke 60 dari 61 negara. Dengan posisi ini Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan dengan sesama negara di kawasan Asia Tenggara seperti Singapura, Malaysia, Philipina, dan Thailand. Kondisi ini mencerminkan upaya untuk terus menerus memperbaiki sistem pendidikan dan pelatihan bagi pekerja yang berpendidikan rendah. Masih banyaknya peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang standardisasi dan sertifikasi profesi pada masingmasing sektor juga menimbulkan kerancuan pelaksanaan standardisasi dan sertifikasi profesi secara nasional. Pembentukan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) No. 23 Tahun 2004 dan pengukuhan Ketua dan Anggotanya pada tahun 2005 diharapkan dapat menjembatani perbedaan yang ada sehingga dapat terciptanya pengakuan dan komitmen bersama diantara stakeholder terhadap standardisasi dan sertifikasi tenaga kerja. Berkaitan dengan penyelenggaraan, penempatan, dan perlindungan tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri, Pemerintah terus menerus melakukan perbaikan dan penyempurnaan mekanisme penempatan. Aspek perlindungan TKI telah menjadi perhatian yang terus ditingkatkan agar TKI dapat merasa aman dan nyaman untuk bekerja di luar negeri. Selain itu perlindungan bagi TKI yang kembali dari bekerja ke luar negeri juga mendapatkan perhatian yang sungguhsungguh agar terhindar dari berbagai pungutan pada saat kepulangan TKI ke tanah air. Kerjasama bilateral antara Indonesia dengan negaranegara penerima TKI juga terus dikembangkan agar tercipta saling pengertian dan menguntungkan dikedua belah pihak. Meningkatnya tekanan biaya hidup yang dialami pekerja, menyebabkan tuntutan akan kenaikan upah minimum masih merupakan persoalan. Kenaikan upah minimum yang tinggi yang 23-4

5 terjadi akhir-akhir ini di seluruh Indonesia disebabkan oleh sejumlah kelemahan dalam proses penetapan upah minimum diantaranya, ketergantungan yang besar terhadap indeks kebutuhan hidup minimum. Disadari bahwa sejak diberlakukannya otonomi daerah, penetapan indeks masih belum tepat dan masih diperlukan kehatihatian karena belum adanya pedoman mengenai bagaimana menggunakan kriteria lain dalam penetapan upah minimum, serta rendahnya partisipasi para stakeholder utamanya dalam poses penetapan upah. Besarnya potensi perbedaan pendapat serta timbulnya perselisihan antara pemberi kerja dan penerima kerja dalam kerangka hubungan industrial juga menjadi perhatian utama. Terjadinya konflik dan penolakan dari serikat pekerja terhadap rencana revisi Undang- Undang (UU) Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan menjadi salah satu contoh belum adanya persamaan pendapat. Di samping itu, perselisihan hubungan industrial yang mengakibatkan pertentangan antara pemberi kerja dengan penerima kerja karena sering terjadinya perselisihan mengenai hak, kepentingan, pemutusan hubungan kerja, dan perselisihan antar serikat pekerja/serikat buruh dalam satu perusahaan kecenderungannya semakin meningkat. Dengan jumlah pengangguran yang demikian besar dan terus meningkat, sebagian besar bekerja pada lapangan kerja informal, sebagian besar memiliki tingkat pendidikan rendah, serta umumnya masih berusia muda, maka upaya perumusan kebijakan untuk memperluas kesempatan kerja yang telah ditempuh dalam tahun 2005 terus dilanjutkan dan harus diutamakan di tahun Penciptaan pasar kerja yang lebih luwes akan mendorong perluasan kesempatan kerja pada industri padat pekerja. Dengan besarnya jumlah angkatan kerja di Indonesia, industri padat pekerja sangat dibutuhkan. Kebijakan pasar kerja yang dibuat harus mempermudah orang untuk melakukan kegiatan ekonomi termasuk kemudahan bagi tenaga kerja untuk dapat berpindah pekerjaan dari pekerjaan yang kurang produktif ke pekerjaan yang lebih tinggi produktivitasnya. Pemecahan permasalahan ketenagakerjaan masih menghadapi tantangan cukup berat. Terdapat sekurang-kurangnya 5 (lima) tantangan utama dalam memperbaiki iklim ketenagakerjaan pada tahun 2006, yaitu: 23-5

6 1) Melanjutkan kebijakan penciptaan pasar kerja yang lebih luwes. 2) Menyempurnakan pola hubungan industrial agar tercipta hubungan industrial yang harmonis, adil, terbuka, dan demokratis. 3) Menyempurnakan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja. 4) Melanjutkan penyempurnaan mekanisme penempatan dan perlindungan tenaga kerja ke luar negeri. 5) Melanjutkan penyempurnaan berbagai upaya penciptaan kesempatan kerja yang dilakukan oleh Pemerintah. II. LANGKAH-LANGKAH KEBIJAKAN DAN HASIL-HASIL YANG DICAPAI Dengan memperhatikan permasalahan tersebut di atas, Pemerintah terus berupaya mendorong terciptanya lapangan kerja ke arah industri padat pekerja, industri menengah dan kecil, serta industri yang berorientasi ekspor. Untuk itu perbaikan iklim ketenagakerjaan melalui penerapan kebijakan pasar kerja yang luwes terus dilanjutkan. Kebijakan pasar kerja yang luwes akan mendorong kesempatan kerja pada industri padat pekerja dengan tetap mempertimbangkan perlindungan tenaga kerja tanpa menghambat upaya pertumbuhan kesempatan kerja. Berkaitan dengan itu, diupayakan untuk memperkuat hubungan antara pemberi kerja dan pekerja dalam rangka menciptakan hubungan industrial yang harmonis, menyempurnakan penyelenggaraan pelatihan kerja serta meningkatkan kompetensi melalui sertifikasi tenaga kerja, menyempurnakan mekanisme penempatan dan perlindungan TKI ke luar negeri, dan menyempurnakan berbagai upaya penciptaan kesempatan kerja yang dilakukan oleh Pemerintah. Adapun langkah-langkah kebijakan ini ditempuh dengan: Pertama, menciptakan dan memperluas kesempatan kerja, yang terdiri atas (1) menyempurnakan aturan main yang berkaitan dengan rekrutmen dan outsourcing, pengupahan, pemutusan hubungan kerja (PHK), dan perlindungan pekerja yang berlebihan; (2) melanjutkan 23-6

7 penyempurnaan kegiatan pendukung pasar kerja dalam rangka mempertemukan pengguna dan pencari kerja, termasuk mendorong terbentuknya informasi pasar kerja dan bursa kerja; (3) menyempurnakan berbagai program yang berkaitan dengan kebijakan migrasi tenaga kerja; (4) menyempurnakan penyelenggaraan penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri sesuai dengan amanat UU No. 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan TKI di luar negeri; (5) memberikan fasilitasi dan dukugan yang diperlukan agar pekerja informal secara bertahap dapat berpindah ke lapangan kerja formal; (6) menyempurnakan dan memperbaharui program-program perluasan kesempatan kerja yang dilakukan oleh Pemerintah; dan (7) mengkoordinasikan penyusunan rencana tenaga kerja dan informasi pasar kerja. Kedua, meningkatkan kualitas dan produktivitas tenaga kerja, yang terdiri atas (1) melaksanakan program-program pelatihan kerja berbasis kompetensi (competency based training) dalam rangka peningkatan kualitas dan daya saing tenaga kerja; (2) mengembangkan standar kompetensi kerja dan sistem sertifikasi kompetensi tenaga kerja; (3) memperkuat kelembagaan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP); (4) memfasilitasi pelaksanaan uji kompetensi yang terbuka bagi tenaga kerja; (5) meningkatkan profesionalisme tenaga kepelatihan dan instruktur pelatihan kerja; dan (6) meningkatkan sarana dan prasarana lembaga pelatihan kerja, baik Pemerintah, swasta, maupun perusahaan termasuk meningkatkan relevansi dan kualitas lembaga pelatihan kerja. Ketiga, memberikan perlindungan dan mengembangkan lembaga tenaga kerja, yang terdiri atas (1) melaksanakan UU No. 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial; (2) memberikan pemahaman dan penyamaan persepsi atas peraturan/kebijakan ketenagakerjaan; (3) mendorong penyelesaian secara bipartit, yaitu negosiasi langsung antara pekerja atau serikat pekerja dengan pengusaha; (4) meningkatkan pengawasan, perlindungan dan penegakkan hukum terhadap aturan yang berlaku; (5) menyelesaikan permasalahan industrial secara adil, konsisten, dan transparan; (6) menyusun, mengembangkan, dan menyebarluaskan standard dan pedoman keselamatan dan kesehatan kerja (K3), hygiene perusahaan, dan lingkungan kerja; (7) melaksanakan rencana aksi 23-7

8 nasional (RAN) penghapusan bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak; dan (8) memberikan perlindungan kepada pekerja. Dalam rangka perluasan dan pengembangan kesempatan kerja, dilakukan: 1) Penyempurnaan berbagai peraturan dan kebijakan ketenagakerjaan dalam rangka mendukung perbaikan iklim investasi, antara lain dilaksanakan melalui dialog tripartit antara pengusaha, serikat pekerja dan Pemerintah). 2) Penyempurnaan mendasar berbagai program perluasan kesempatan kerja yang dilakukan oleh Pemerintah. 3) Penyelenggaraan pameran bursa kerja (Job Fair 2005) yang melibatkan 203 perusahaan dengan jumlah lowongan/jabatan yang tersedia sebanyak lowongan/jabatan dengan jumlah pencari kerja yang datang dalam pameran tersebut sebanyak orang, dan pelaksanaan Job Fair sampai bulan Juni 2006 yang diikuti oleh 78 perusahaan dengan jumlah pencari kerja sebanyak orang, serta pengembangan bursa kerja on line dan informasi pasar kerja di 10 provinsi (36 lokasi). 4) Penyederhanaan prosedur pemberian visa dan ijin tinggal bagi tenaga kerja asing (TKA) di Indonesia melalui penerbitan ijin mempekerjakan tenaga kerja asing (IMTA) oleh Depnakertrans sesuai Permenakertrans Nomor: PER-07/MEN/III/2006 dengan mempercepat proses pemberian IMTA dari sebelumnya 7 hari kerja menjadi 4 hari kerja; dan penyempurnaan penerbitan kartu ijin tinggal terbatas (KITAS) sesuai Peraturan Pemerintah Nomor: 38/2005 yang memuat ketentuan pemberian ijin tinggal terbatas dari 1 tahun menjadi paling lama 2 tahun dan dapat diperpanjang paling banyak dua kali berturut-turut. 5) Pemberian ijin mempekerjakan TKA yang terdiri dari ijin yang diterbitkan sebanyak TKA, dan ijin yang masih berlaku sebanyak TKA. 6) Penyempurnaan mekanisme penempatan dan perlindungan TKI antara lain melalui penyederhanaan birokrasi pelayanan 23-8

9 penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri, yang semula dari 21 tahap menjadi 11 tahap. 7) Penempatan TKI ke luar negeri dari tahun 2005 sampai dengan Juni 2006 sebanyak orang yang diperkirakan mampu memberikan remitansi sebesar US$ 4,73 miliar. 8) Pelaksanaan pembinaan bagi TKI purna, antara lain melalui bimbingan wirausaha baru, pengembangan usaha dan pendampingan serta membangun akses kredit usaha kecil dan menengah (UKM) dari perbankan dan akses terhadap programprogram instansi pemerintah lainnya. 9) Penempatan tenaga kerja antar kerja antar daerah (AKAD) dan antar kerja lokal (AKL) sebanyak orang; penempatan tenaga kerja antar kerja khusus (AKSUS) sebanyak 885 orang. 10) Uji coba pemberdayaan tenaga kerja melalui pola subsidi yang bertujuan untuk menyusun model alternatif pembinaan terhadap penganggur dalam rangka mendorong terbentuknya wirausahawan baru yang mandiri dan memperkuat usaha kecil dalam rangka pemberdayaan masyarakat miskin yang diikuti oleh 300 orang peserta. 11) Melakukan sosialisasi berbagai kegiatan yang ditujukan untuk mengurangi pengangguran, dipusatkan di Kabupaten Garut, Jawa Barat, melalui kegiatan program aksi padat karya, tenaga kerja mandiri (TKM), tenaga kerja sukarela (TKS), dan teknologi tepat guna (TTG) di 57 kabupaten/kota di 20 provinsi. 12) Pemberdayaan tenaga kerja antara lain melalui kegiatan tenaga kerja pemuda mandiri professional (TKPMP) sebanyak 780 orang, pemberdayaan TKS sebanyak orang, pemberdayaan TKM sebanyak 852 orang, pemberdayaan wirausaha baru (WUB) sebanyak orang, dan pemberdayaan TTG sebanyak orang, pemberdayaan usaha ekonomi produktif yang menyerap tenaga kerja sebanyak 610 orang, di samping itu dilaksanakan perluasan kerja sistem padat karya produktif bagi penganggur dan setengah penganggur sebanyak orang atau hari orang kerja (HOK). 23-9

10 Dalam rangka meningkatkan kualitas dan produktivitas tenaga kerja dilakukan (1) pengembangan dan penetapan standar kompetensi kerja melalui kegiatan penyusunan standar kompetensi kerja sebanyak 23 Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI); (2) pembentukan asosiasi profesi sebanyak 38 asosiasi dan lembaga sertifikasi profesi (LSP) sebanyak 13 lembaga, termasuk pemberian lisensi kepada 8 (delapan) LSP sebagai pelaksana uji kompetensi tenaga kerja; (3) percepatan proses sertifikasi dengan diterbitkannya Surat Keputusan Ketua BNSP Nomor: KEP.18/BNSP/IV/2006 tentang Batas Waktu Sertifikasi Kompetensi Tenaga Kerja dan Lisensi LSP; (4) percepatan proses akreditasi dengan diterbitkannya Surat Keputusan Lembaga Akreditasi Lembaga Pelatihan Kerja (LA-LPK) Nomor: KEP.07/LA-LPK/IV/2006 tentang Pedoman Umum Akreditasi Lembaga Pelatihan Kerja; (5) terbentuknya Lembaga Produktivitas Nasional (LPN) dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2005; (6) promosi produktivitas melalui multy country supporting program tentang productivity improvement for government services dan promosi produktivitas melalui berbagai media, baik cetak maupun elektronik; (7) pemetaan lembaga pelatihan dan produktivitas di seluruh Indonesia pada 162 Balai Latihan Kerja/Loka Latihan Kerja/Balai Besar (BLK/KLK/BB), 18 Balai Pelayanan Produktivitas Daerah (BPPD), dan 6 Balai Latihan Transmigrasi; (8) pelatihan institusional bagi orang dan pelatihan non institusional (Mobile Training Unit) bagi orang di BLK; (9) pemagangan di dalam negeri sebanyak orang dan pemagangan di luar negeri, terutama di negara Jepang sebanyak orang; (10) pelatihan teknisi sebanyak orang; (11) peningkatan profesionalisme instruktur dan tenaga kepelatihan sebanyak 214 orang; (12) pelatihan peningkatan produktivitas sebanyak orang dan pengembangan kelembagaan produktivitas sebanyak orang; (13) pencanangan klinik pelatihan keliling dalam rangka rehabilitasi dan rekonstruksi pascagempa di provinsi D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah sebanyak 100 paket pelatihan dan akan menghasilkan tenaga kerja terampil di bidang bangunan sebanyak orang; dan (14) peningkatan sarana dan prasarana di beberapa BLK untuk memperkuat pelaksanaan pelatihan berbasis kompetensi. Dalam rangka memberikan perlindungan pekerja serta mengembangkan dan memperkuat lembaga tenaga kerja dilakukan (1) 23-10

11 peningkatan intensitas dialog sosial, baik melalui forum tripartit maupun bipartit; (2) penyederhanaan proses pengesahan peraturan perusahaan dari sebelumnya memerlukan waktu 14 hari kerja menjadi 7 hari kerja dan proses pendaftaran perjanjian kerja bersama (PKB) dari sebelumnya memerlukan waktu 7 hari kerja menjadi 6 hari kerja dalam rangka upaya pelaksanaan INPRES Nomor 3 Tahun 2006 tentang Paket Kebijakan Perbaikan Iklim Investasi bidang ketenagakerjaan; (3) mendorong penyelesaian berbagai perselisihan antara pengusaha dan serikat pekerja melalui forum bipartit; (4) reformasi di bidang hubungan industrial, khususnya dalam penyelesaian perselisihan hubungan industrial melalui pemberlakuan Undang-Undang No. 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial (PPHI) dan pembangunan pengadilan hubungan industrial serta perangkat operasionalnya; (5) penyelesaian kasus PHI sebanyak 263 kasus; (6) penanganan kasus pemogokan kerja sebanyak kasus; (7) seleksi dan pembekalan hakim adhoc sebanyak 55 orang, mediator sebanyak 973 orang, konsiliator sebanyak 122 orang, dan arbiter sebanyak 39 orang, serta pembekalan hakim karir sebanyak 100 orang; (8) penambahan personil pengawas ketenagakerjaan sebanyak 523 orang melalui diklat klasikal dan diklat jarak jauh dalam rangka peningkatan pengawasan, perlindungan dan penegakkan hukum; (9) pembinaan lembaga keselamatan dan kesehatan kerja (lembaga K3) di 134 perusahaan; (10) sertifikasi kompetensi personil keselamatan dan kesehatan kerja sebanyak orang; (11) pelaksanaan rencana aksi nasional (RAN) penghapusan bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak, antara lain dengan menggalang kepedulian para pemangku kepentingan dan penetapan zona bebas pekerja anak di Kabupaten Kutai Kartanegara sebagai pilot ; (12) pembinaan syarat-syarat kerja dan peningkatan kesejahteraan pekerja; (13) kepesertaan pekerja pada jaminan sosial tenaga kerja (jamsostek) sampai dengan bulan Juni 2006 sebanyak orang di perusahaan; dan (14) penetapan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 24/MEN/VI/2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja yang Melakukan Pekerjaan di Luar Hubungan Kerja

12 III. TINDAK LANJUT YANG DIPERLUKAN Upaya perbaikan iklim ketenagakerjaan yang telah dilaksanakan melalui penerapan kebijakan pasar kerja yang luwes terus dilanjutkan agar tercipta kesempatan kerja formal seluas-luasnya. Penerapan kebijakan ini perlu dukungan dan upaya dari berbagai pihak, baik pemerintah, dunia usaha/pengusaha, serikat pekerja, maupun masyarakat luas. Dukungan dan upaya dari berbagai pihak tersebut diharapkan dapat mendorong terwujudnya iklim usaha antara lain dengan memperbaiki kebijakan iklim investasi. Kebijakan ini diharapkan dapat mempercepat perkembangan sektor riil dan peningkatan ekspor. Oleh karena itu, prioritas peningkatan kesempatan kerja, investasi dan ekspor dalam Rencana Kerja Pemerintah mendatang akan tetap menjadi salah satu prioritas pembangunan nasional. Sasaran pembangunan yang akan dicapai dalam prioritas tersebut antara lain adalah menurunnya angka pengangguran terbuka, meningkatnya investasi, tumbuhnya industri pengolahan, dan meningkatnya ekspor. Untuk itu, upaya perbaikan iklim investasi dan berusaha yang antara lain ditempuh melalui penyempurnaan peraturan perundang-undangan penanaman modal dan penyederhanaan prosedur dan peningkatan pelayanan penanaman modal, baik di tingkat pusat maupun daerah terus dilanjutkan. Di samping itu, juga terus diupayakan peningkatan ekspor non migas, perluasan negara tujuan dan produk ekspor serta upaya untuk mempercepat tumbuh dan berkembangnya sektor riil melalui peningkatan produktivitas dan akses (UKM) kepada sumberdaya produktif. Agar rencana kerja Pemerintah mendatang dapat terselenggara dengan baik sesuai dengan prioritas pembangunan nasional maka kebijakan yang akan ditempuh adalah: (1) melanjutkan kebijakan penciptaan pasar kerja yang lebih luwes; (2) meningkatkan kualitas tenaga kerja melalui pelatihan berbasis kompetensi; (3) mendorong terciptanya hubungan industrial yang harmonis dengan dukungan institusi dan mekanisme penyelesaian hubungan industrial yang cepat, adil, dan murah; (4) mengupayakan agar upah pekerja merupakan hasil perundingan bipartit; (5) memperbaiki iklim investasi dan berusaha; (6) melanjutkan kebijakan untuk mengurangi biaya transaksi dan praktik ekonomi biaya tinggi; (7) meningkatkan ekspor 23-12

13 non migas, memperluas negara tujuan dan produk ekspor; (8) meningkatkan intensitas pariwisata; (9) meningkatkan produktivitas dan akses UKM kepada sumberdaya produktif; (10) mempercepat pelaksanaan reformasi birokrasi; (11) melanjutkan kebijakan untuk meningkatkan kepastian berusaha dan kepastian hukum bagi dunia usaha, termasuk UKM; (12) mengembangkan diversifikasi ekonomi dan infrastruktur perdesaan; dan (13) mempercepat pembangunan infrastruktur

BAB 22 PERBAIKAN IKLIM KETENAGAKERJAAN

BAB 22 PERBAIKAN IKLIM KETENAGAKERJAAN BAB 22 PERBAIKAN IKLIM KETENAGAKERJAAN A. KONDISI UMUM Perkembangan ekonomi Indonesia telah menunjukkan kemajuan diberbagai bidang pembangunan. Tetapi kemajuan ini masih belum dapat menangani masalah pengangguran

Lebih terperinci

BAB 23 PERBAIKAN IKLIM KETENAGAKERJAAN

BAB 23 PERBAIKAN IKLIM KETENAGAKERJAAN BAB 23 PERBAIKAN IKLIM KETENAGAKERJAAN Meningkatnya tingkat pengangguran terbuka yang mencapai 9,5 persen berpotensi menimbulkan berbagai permasalahan sosial. Kerja merupakan fitrah manusia yang asasi.

Lebih terperinci

Perluasan Lapangan Kerja

Perluasan Lapangan Kerja VII Perluasan Lapangan Kerja Perluasan lapangan kerja untuk menciptakan lapangan kerja dalam jumlah dan mutu yang makin meningkat, merupakan sebuah keniscayaan untuk menyerap angkatan kerja baru yang terus

Lebih terperinci

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA SALINAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 62 TAHUN 2015 TENTANG RINCIAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

SUB BIDANG SUB SUB BIDANG RINCIAN URUSAN DAERAH 1. Ketenagakerjaan. 4. Pembentukan kelembagaan SKPD bidang ketenagakerjaan di daerah.

SUB BIDANG SUB SUB BIDANG RINCIAN URUSAN DAERAH 1. Ketenagakerjaan. 4. Pembentukan kelembagaan SKPD bidang ketenagakerjaan di daerah. - 62-14. BIDANG KETENAGAKERJAAN DAN KETRANSMIGRASIAN 1. Ketenagakerjaan 1. Kebijakan, Perencanaan, Pembinaan, dan Pengawasan 1. Pelaksanaan kebijakan pusat dan provinsi, penetapan kebijakan daerah dan

Lebih terperinci

LAMPIRAN XIV PERATURAN DAERAH KOTA BATAM NOMOR : Tahun 2010 TANGGAL : Januari 2010

LAMPIRAN XIV PERATURAN DAERAH KOTA BATAM NOMOR : Tahun 2010 TANGGAL : Januari 2010 LAMPIRAN XIV PERATURAN DAERAH KOTA BATAM NOMOR : Tahun 2010 TANGGAL : Januari 2010 N. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG KETENAGAKERJAAN DAN KETRANSMIGRASIAN SUB BIDANG SUB SUB BIDANG URUSAN 1. Ketenagakerjaan

Lebih terperinci

2. Pembinaan (pengawasan, pengendalian, monitoring, evaluasi, dan pelaporan) penyelenggaraan urusan pemerintahan bidang ketenagakerjaan skala daerah.

2. Pembinaan (pengawasan, pengendalian, monitoring, evaluasi, dan pelaporan) penyelenggaraan urusan pemerintahan bidang ketenagakerjaan skala daerah. L. BIDANG KETENAGAKERJAAN SUB BIDANG SUB SUB BIDANG URAIAN 1 2 3 Ketenagakerjaan 1. Kebijakan, Perencanaan, Pembinaan, dan Pengawasan 2. Pembinaan Sumber Daya Manusia (SDM) Aparatur 3. Pembinaan Pelatihan

Lebih terperinci

N. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG KETENAGAKERJAAN DAN KETRANSMIGRASIAN

N. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG KETENAGAKERJAAN DAN KETRANSMIGRASIAN - 67 - N. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG KETENAGAKERJAAN DAN KETRANSMIGRASIAN SUB BIDANG 1. Ketenagakerjaan 1. Kebijakan, Perencanaan, Pembinaan, dan Pengawasan 2. Pembinaan Sumber Daya Manusia (SDM)

Lebih terperinci

Ketenagakerjaan. ketenagakerjaan.

Ketenagakerjaan. ketenagakerjaan. L. BIDANG KETENAGAKERJAAN SUB BIDANG SUB SUB BIDANG URAIAN 1 2 3 Ketenagakerjaan 1. Kebijakan, Perencanaan, Pembinaan, dan Pengawasan 2. Pembinaan Sumber Daya Manusia (SDM) Aparatur 3. Pembinaan Pelatihan

Lebih terperinci

Anggaran Setelah Perubahan. Jumlah. Modal

Anggaran Setelah Perubahan. Jumlah. Modal LAMPIRAN I.3 : PEMERINTAH DAERAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA REKAPITULASI REALISASI ANGGARAN BELANJA DAERAH MENURUT URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH, ORGANISASI, PROGRAM DAN KEGIATAN TAHUN ANGGARAN 2014 Halaman

Lebih terperinci

provinsi. provinsi. 3. Penanggungjawab. penyelenggaraan urusan pemerintahan bidang. provinsi. ketenagakerjaan skala

provinsi. provinsi. 3. Penanggungjawab. penyelenggaraan urusan pemerintahan bidang. provinsi. ketenagakerjaan skala - 297 - N. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG KETENAGAKERJAAN DAN KETRANSMIGRASIAN SUB BIDANG SUB SUB BIDANG PEMERINTAH 1. Ketenagakerjaan 1. Kebijakan, Perencanaan, Pembinaan, dan Pengawasan 1. Penetapan

Lebih terperinci

WALIKOTA SURABAYA PROVINSI JAWA TIMUR

WALIKOTA SURABAYA PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN WALIKOTA SURABAYA PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN WALIKOTA SURABAYA NOMOR 54 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, URAIAN TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS TENAGA KERJA KOTA SURABAYA

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM DINAS TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI PROVINSI JAWA TENGAH

BAB II GAMBARAN UMUM DINAS TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI PROVINSI JAWA TENGAH BAB II GAMBARAN UMUM DINAS TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI PROVINSI JAWA TENGAH 2.1 Sejarah Dinas Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Provinsi Jawa Tengah disingkat Disnakertrans Prov. Jateng merupakan organisasi

Lebih terperinci

U R A I A N JUMLAH PENDAPATAN 4,595,130, BELANJA BELANJA TIDAK LANGSUNG 56,014,733, BELANJA LANGSUNG 61,151,826,750.00

U R A I A N JUMLAH PENDAPATAN 4,595,130, BELANJA BELANJA TIDAK LANGSUNG 56,014,733, BELANJA LANGSUNG 61,151,826,750.00 Urusan Pemerintahan Organisasi : : 1.1 URUSAN WAJIB Ketenagakerjaan dan Transmigrasi 1.1.01 Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi KODE 00 00 PENDAPATAN DAERAH 00 00 1 PENDAPATAN ASLI DAERAH,595,130,000.00

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. 2.1 Sejarah Umum Dinas Tenaga Kerja Kota Surabaya

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. 2.1 Sejarah Umum Dinas Tenaga Kerja Kota Surabaya 5 BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1 Sejarah Umum Dinas Tenaga Kerja Kota Surabaya Pada awal pemerintahan Republik Indonesia, ketika Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) menetapkan jumlah kementerian

Lebih terperinci

MATRIKS RENCANA STRATEGIS DINAS TENAGA KERJA, TRANSMIGRASI DAN KEPENDUDUKAN PROV. JAWA TIMUR TAHUN

MATRIKS RENCANA STRATEGIS DINAS TENAGA KERJA, TRANSMIGRASI DAN KEPENDUDUKAN PROV. JAWA TIMUR TAHUN MATRIKS RENCANA STRATEGIS DINAS TENAGA KERJA, TRANSMIGRASI DAN KEPENDUDUKAN PROV. JAWA TIMUR TAHUN 20 - VISI : Terwujudnya tenaga kerja yang berdaya saing dan harmonis, masyarakat transmigrasi yang mandiri,

Lebih terperinci

BUPATI MADIUN SALINAN PERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 39 TAHUN 2008 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI BUPATI MADIUN,

BUPATI MADIUN SALINAN PERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 39 TAHUN 2008 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI BUPATI MADIUN, BUPATI MADIUN SALINAN PERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 39 TAHUN 2008 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI BUPATI MADIUN, Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanaan ketentuan

Lebih terperinci

TANGGAPAN UNTUK PROFIL PEKERJAAN YANG LAYAK INDONESIA

TANGGAPAN UNTUK PROFIL PEKERJAAN YANG LAYAK INDONESIA TANGGAPAN UNTUK PROFIL PEKERJAAN YANG LAYAK INDONESIA Ir. Djuharsa M.D, MM KEPALA BADAN LITBANG DAN INFOMASI A G E N D A I. PROFIL PEKERJAAN LAYAK INDONESIA II. PERBANDINGAN RTKN DAN PROFIL DW INDONESIA

Lebih terperinci

MATRIKS RENCANA STRATEGIS DINAS TENAGA KERJA, TRANSMIGRASI DAN KEPENDUDUKAN PROV. JAWA TIMUR TAHUN

MATRIKS RENCANA STRATEGIS DINAS TENAGA KERJA, TRANSMIGRASI DAN KEPENDUDUKAN PROV. JAWA TIMUR TAHUN MATRIKS RENCANA STRATEGIS DINAS TENAGA KERJA, TRANSMIGRASI DAN KEPENDUDUKAN PROV. JAWA TIMUR TAHUN 2009-2014 VISI : Terwujudnya ketenagakerjaan, ketransmigrasian dan kependudukan yang maju, berdaya saing,

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KOTA SEMARANG PERATURAN WALIKOTA SEMARANG TAHUN 2008 NOMOR 27 NOMOR 27 TAHUN 2008

BERITA DAERAH KOTA SEMARANG PERATURAN WALIKOTA SEMARANG TAHUN 2008 NOMOR 27 NOMOR 27 TAHUN 2008 BERITA DAERAH KOTA SEMARANG TAHUN 2008 NOMOR 27 PERATURAN WALIKOTA SEMARANG NOMOR 27 TAHUN 2008 TENTANG PENJABARAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI KOTA SEMARANG Menimbang : a. DENGAN

Lebih terperinci

I. PROFIL DINAS TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TAHUN 2015

I. PROFIL DINAS TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TAHUN 2015 I. PROFIL DINAS TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TAHUN 2015 A. SEJARAH INSTANSI Disnakertrans DIY Dinas Tenaga Kerja Provinsi DIY yang disingkat DTK diatur dalam Peraturan Pemerintah

Lebih terperinci

BAB VI KETENTUAN PENUTUP Pasal 25

BAB VI KETENTUAN PENUTUP Pasal 25 BAB VI KETENTUAN PENUTUP Pasal 25 Dengan berlakunya Peraturan Bupati ini, maka Peraturan Bupati Pulang Pisau Nomor 25 Tahun 2011 tentang Uraian Tugas dan Fungsi Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Kabupaten

Lebih terperinci

KEPALA SUB BAGIAN UMUM, KEUANGAN, DAN ASET

KEPALA SUB BAGIAN UMUM, KEUANGAN, DAN ASET INDIKATOR KINERJA INDIVIDU (IKI) KEPALA SUB BAGIAN UMUM, KEUANGAN, DAN ASET Instansi : DINAS TENAGA KERJA KABUPATEN JOMBANG Tujuan : 1. Memperluas kesempatan kerja dan meningkatkan pelayanan penempatan

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI TANGERANG NOMOR 45 TAHUN 2011 TENTANG

PERATURAN BUPATI TANGERANG NOMOR 45 TAHUN 2011 TENTANG 1 PERATURAN BUPATI TANGERANG NOMOR 45 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN BUPATI TANGERANG NOMOR 42 TAHUN 2010 RINCIAN TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA DINAS TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI KABUPATEN

Lebih terperinci

2. Meningkatnya Hubungan Industrial yang Harmonis; 3. Menurunnya Persentase Penduduk Miskin.

2. Meningkatnya Hubungan Industrial yang Harmonis; 3. Menurunnya Persentase Penduduk Miskin. BAB IV TUJUAN, SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN 4.1 Tujuan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Timur Tujuan dan sasaran adalah tahap perumusan sasaran strategis yang menunjukkan tingkat prioritas

Lebih terperinci

DAFTAR PERATURAN PELAKSANAAN DARI UU NO. 13 TAHUN 2003 DAN PERATURAN KETENAGAKERJAAN YANG LAIN

DAFTAR PERATURAN PELAKSANAAN DARI UU NO. 13 TAHUN 2003 DAN PERATURAN KETENAGAKERJAAN YANG LAIN A. KEPUTUSAN MENTERI PERATURAN PELAKSANAAN UU NO.13/2003: 1 KEP. 223 /MEN/2003 Tentang Jabatan-jabatan di Lembaga Pendidikan yang Dikecualikan dari Kewajiban Membayar Kompensasi. 2 KEP. 224 /MEN/2003 Tentang

Lebih terperinci

Pelaksanaan Green Jobs di Indonesia

Pelaksanaan Green Jobs di Indonesia Pelaksanaan Green Jobs di Indonesia Maruli A. Hasoloan Ses. Badan Penelitian Pengembangan & Informasi Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi The National Conference on Green Jobs the Way Forward Jakarta,

Lebih terperinci

BAB II PROFIL PERUSAHAAN

BAB II PROFIL PERUSAHAAN BAB II PROFIL PERUSAHAAN 2.1. Sejarah Singkat Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jawa Barat Sebagai perwujudan dari pelaksanaan otonomi daerah terbentuk Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa

Lebih terperinci

BUPATI MALANG PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN MALANG NOMOR 8 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN KETENAGAKERJAAN

BUPATI MALANG PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN MALANG NOMOR 8 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN KETENAGAKERJAAN BUPATI MALANG PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN MALANG NOMOR 8 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN KETENAGAKERJAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MALANG, Menimbang : a. bahwa dalam

Lebih terperinci

BAB II PERENCANAAN KINERJA

BAB II PERENCANAAN KINERJA BAB II PERENCANAAN KINERJA 2.1. VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN DAN INDIKATOR KINERJA DISNAKERTRANSDUK PROV. JAWA TIMUR Untuk mewujudkan agenda dan prioritas pembangunan di Jawa Timur berdasarkan visi, misi

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 79 TAHUN 2016 TENTANG

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 79 TAHUN 2016 TENTANG GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 79 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, URAIAN TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI PROVINSI JAWA TIMUR

Lebih terperinci

BUPATI PURWOREJO PERATURAN BUPATI PURWOREJO NOMOR : 85 TAHUN 2013 TENTANG

BUPATI PURWOREJO PERATURAN BUPATI PURWOREJO NOMOR : 85 TAHUN 2013 TENTANG BUPATI PURWOREJO PERATURAN BUPATI PURWOREJO NOMOR : 85 TAHUN 2013 TENTANG PENJABARAN TUGAS POKOK, FUNGSI DAN TATA KERJA DINAS SOSIAL, TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI KABUPATEN PURWOREJO DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

WALIKOTA MADIUN PERATURAN WALIKOTA MADIUN NOMOR 37 TAHUN 2008 TENTANG RINCIAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS TENAGA KERJA DAN SOSIAL WALIKOTA MADIUN,

WALIKOTA MADIUN PERATURAN WALIKOTA MADIUN NOMOR 37 TAHUN 2008 TENTANG RINCIAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS TENAGA KERJA DAN SOSIAL WALIKOTA MADIUN, WALIKOTA MADIUN PERATURAN WALIKOTA MADIUN NOMOR 37 TAHUN 2008 TENTANG RINCIAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS TENAGA KERJA DAN SOSIAL WALIKOTA MADIUN, Menimbang : a. bahwa sebagai tindak lanjut ketentuan Pasal

Lebih terperinci

BAB II PERENCANAAN KINERJA

BAB II PERENCANAAN KINERJA BAB II PERENCANAAN KINERJA 2.1. VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN DAN INDIKATOR KINERJA DISNAKERTRANSDUK PROV. JAWA TIMUR Untuk mewujudkan agenda dan prioritas pembangunan di Jawa Timur berdasarkan visi, misi

Lebih terperinci

PENETAPAN KINERJA TAHUN 2014 DINAS TENAGA KERJA, TRANSMIGRASI DAN KEPENDUDUKAN PROVINSI JAWA TIMUR

PENETAPAN KINERJA TAHUN 2014 DINAS TENAGA KERJA, TRANSMIGRASI DAN KEPENDUDUKAN PROVINSI JAWA TIMUR PENETAPAN KINERJA TAHUN 2014 DINAS TENAGA KERJA, TRANSMIGRASI DAN KEPENDUDUKAN PROVINSI JAWA TIMUR NO. SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN PROGRAM/KEGIATAN 1. Program Peningkatan

Lebih terperinci

URAIAN TUGAS DAN FUNGSI SESUAI PERATURAN GUBERNUR PAPUA NOMOR 60 TAHUN 2016 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS TENAGA KERJA PROVINSI PAPUA.

URAIAN TUGAS DAN FUNGSI SESUAI PERATURAN GUBERNUR PAPUA NOMOR 60 TAHUN 2016 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS TENAGA KERJA PROVINSI PAPUA. URAIAN TUGAS DAN FUNGSI SESUAI PERATURAN GUBERNUR PAPUA NOMOR 60 TAHUN 2016 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS TENAGA KERJA PROVINSI PAPUA. Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Tenaga Kerja berperan menyelenggarakan

Lebih terperinci

BAB IV P E N U T U P

BAB IV P E N U T U P BAB IV P E N U T U P IV.1. KESIMPULAN Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) disusun sebagai bentuk pertanggungjawaban Pemerintah Provinsi Jawa Timur berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan

Lebih terperinci

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI. 3.1 Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI. 3.1 Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI 3.1 Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan Dinas Tenaga Kerja Permasalahan pembangunan daerah merupakan gap expectation

Lebih terperinci

PENETAPAN KINERJA TAHUN 2014 DINAS TENAGA KERJA, TRANSMIGRASI DAN KEPENDUDUKAN PROVINSI JAWA TIMUR

PENETAPAN KINERJA TAHUN 2014 DINAS TENAGA KERJA, TRANSMIGRASI DAN KEPENDUDUKAN PROVINSI JAWA TIMUR PENETAPAN KINERJA TAHUN 2014 DINAS TENAGA KERJA, TRANSMIGRASI DAN KEPENDUDUKAN PROVINSI JAWA TIMUR NO. SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN PROGRAM/KEGIATAN 1. Program Peningkatan

Lebih terperinci

BUPATI PASURUAN PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASURUAN NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG PELATIHAN KERJA DAN PRODUKTIVITAS

BUPATI PASURUAN PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASURUAN NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG PELATIHAN KERJA DAN PRODUKTIVITAS Menimbang BUPATI PASURUAN PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASURUAN NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG PELATIHAN KERJA DAN PRODUKTIVITAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PASURUAN, : a. bahwa

Lebih terperinci

TUGAS DAN FUNGSI DINAS KETENAGAKERJAAN DAN TRANSMIGRASI

TUGAS DAN FUNGSI DINAS KETENAGAKERJAAN DAN TRANSMIGRASI TUGAS DAN FUNGSI DINAS KETENAGAKERJAAN DAN TRANSMIGRASI (Berdasarkan Peraturan Bupati Sigi Nomor 28 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja Perangkat Daerah)

Lebih terperinci

Bismillahirrohmannirrohiim Assalamu alaikum Wr.Wb. Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua,

Bismillahirrohmannirrohiim Assalamu alaikum Wr.Wb. Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua, Sambutan Pembukaan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Pada Sustainable Development Goals (SDGs) Conference Indonesia s Agenda for SDGs toward Decent Work for All Hotel Borobudur Jakarta, 17 Februari

Lebih terperinci

Tabel IV.B.12.1 Program dan Realisasi Anggaran Urusan Ketenagakerjaan tahun 2010

Tabel IV.B.12.1 Program dan Realisasi Anggaran Urusan Ketenagakerjaan tahun 2010 12. URUSAN KETENAGAKERJAAN Pembangunan bidang ketenagakerjaan dewasa ini masih menghadapi berbagai permasalahan antara lain tingginya tingkat pengangguran, terbatasnya penciptaan dan perluasan kesempatan

Lebih terperinci

WALI KOTA BANDUNG PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR 4 TAHUN 2018 TENTANG PENYELENGGARAAN KETENAGAKERJAAN

WALI KOTA BANDUNG PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR 4 TAHUN 2018 TENTANG PENYELENGGARAAN KETENAGAKERJAAN 1 SALINAN WALI KOTA BANDUNG PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR 4 TAHUN 2018 TENTANG PENYELENGGARAAN KETENAGAKERJAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALI KOTA BANDUNG, Menimbang :

Lebih terperinci

BUPATI LUMAJANG PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI LUMAJANG PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN BUPATI LUMAJANG PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI LUMAJANG NOMOR 73 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, URAIAN TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS TENAGA KERJA DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN STRATEGIS DAN KEBIJAKAN. pembangunannya adalah mereka kelompok masyarakat yang belum bekerja

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN STRATEGIS DAN KEBIJAKAN. pembangunannya adalah mereka kelompok masyarakat yang belum bekerja BAB IV VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN STRATEGIS DAN KEBIJAKAN 4.1 Visi dan Misi Dinas Tenaga Kerja Dalam bidang ketenagakerjaan sebagai subjek dan objek pembangunannya adalah mereka kelompok masyarakat

Lebih terperinci

BAB II PROFIL INSTANSI. A. Sejarah Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Medan

BAB II PROFIL INSTANSI. A. Sejarah Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Medan BAB II PROFIL INSTANSI A. Sejarah Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Medan Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Medan dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 3 Tahun 2009 tentang Pembentukan

Lebih terperinci

WALIKOTA DEPOK PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN WALIKOTA DEPOK NOMOR 103 TAHUN 2016 TENTANG

WALIKOTA DEPOK PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN WALIKOTA DEPOK NOMOR 103 TAHUN 2016 TENTANG SALINAN WALIKOTA DEPOK PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN WALIKOTA DEPOK NOMOR 103 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS TENAGA KERJA Menimbang Mengingat

Lebih terperinci

GUBERNUR PAPUA PERATURAN GUBERNUR PAPUA NOMOR 44 TAHUN 2015 TENTANG URAIAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS TENAGA KERJA DAN KEPENDUDUKAN PROVINSI PAPUA

GUBERNUR PAPUA PERATURAN GUBERNUR PAPUA NOMOR 44 TAHUN 2015 TENTANG URAIAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS TENAGA KERJA DAN KEPENDUDUKAN PROVINSI PAPUA GUBERNUR PAPUA PERATURAN GUBERNUR PAPUA NOMOR 44 TAHUN 2015 TENTANG URAIAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS TENAGA KERJA DAN KEPENDUDUKAN PROVINSI PAPUA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR PAPUA, Menimbang

Lebih terperinci

BAB IV TANGGUNGJAWAB NEGARA DALAM UPAYA PEMENUHAN PENGHIDUPAN YANG LAYAK BERDASARKAN PASAL 27 AYAT (2) UNDANG-UNDANG DASAR 1945

BAB IV TANGGUNGJAWAB NEGARA DALAM UPAYA PEMENUHAN PENGHIDUPAN YANG LAYAK BERDASARKAN PASAL 27 AYAT (2) UNDANG-UNDANG DASAR 1945 BAB IV TANGGUNGJAWAB NEGARA DALAM UPAYA PEMENUHAN PENGHIDUPAN YANG LAYAK BERDASARKAN PASAL 27 AYAT (2) UNDANG-UNDANG DASAR 1945 A. Pelaksanaan Ketentuan Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 Di Dalam

Lebih terperinci

BUPATI MADIUN SALINAN PERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS SOSIAL, TENAGA KERJA, DAN TRANSMIGRASI

BUPATI MADIUN SALINAN PERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS SOSIAL, TENAGA KERJA, DAN TRANSMIGRASI BUPATI MADIUN SALINAN PERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS SOSIAL, TENAGA KERJA, DAN TRANSMIGRASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MADIUN, Menimbang

Lebih terperinci

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN STRATEGI DAN KEBIJAKAN

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN STRATEGI DAN KEBIJAKAN BAB IV VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN STRATEGI DAN KEBIJAKAN 4.1. Visi dan Misi SKPD Dengan mempertimbangkan visi Kepala Daerah serta guna mengatasi permasalahan sosial, ketenagakerjaan dan ketransmigrasian,

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM INSTANSI. 2.1 Sejarah Berdirinya Dinas Tenaga Kerja Kota Surabaya

BAB II GAMBARAN UMUM INSTANSI. 2.1 Sejarah Berdirinya Dinas Tenaga Kerja Kota Surabaya BAB II GAMBARAN UMUM INSTANSI 2.1 Sejarah Berdirinya Dinas Tenaga Kerja Kota Surabaya Pada awal pemerintahan Republik Indonesia, ketika Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) menetapkan jumlah

Lebih terperinci

PROGRAM/ KEGIATAN DINAS TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI PROV. NTB. Seleksi Daerah Calon Kompetitor Indonesia Skills competition.

PROGRAM/ KEGIATAN DINAS TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI PROV. NTB. Seleksi Daerah Calon Kompetitor Indonesia Skills competition. SKPD : DINAS TENAGA DAN TRANSMIGRASI PROV. NTB DANA : APBD TAHUN : 2017 PROGRAM/ KEGIATAN DINAS TENAGA DAN TRANSMIGRASI PROV. NTB NO. SASARAN KEGIATAN PROGRAM UNIT 1 Meningkatnya Pelayanan Program Peningkatan

Lebih terperinci

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN. 4.1 Visi dan Misi Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Timur

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN. 4.1 Visi dan Misi Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Timur BAB IV VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN 4.1 Visi dan Misi Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Timur Visi merupakan gambaran arah pembangunan atau kondisi

Lebih terperinci

- 1 - BUPATI BADUNG PROVINSI BALI PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 8 TAHUN 2014 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN KETENAGAKERJAAN

- 1 - BUPATI BADUNG PROVINSI BALI PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 8 TAHUN 2014 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN KETENAGAKERJAAN - 1 - BUPATI BADUNG PROVINSI BALI PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 8 TAHUN 2014 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN KETENAGAKERJAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BADUNG, Menimbang : a.

Lebih terperinci

BAB. V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN, PENDANAAN INDIKATIF. kependudukan diwujudkan melalui 6 (enam) program prioritas utama

BAB. V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN, PENDANAAN INDIKATIF. kependudukan diwujudkan melalui 6 (enam) program prioritas utama BAB. V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN, PENDANAAN INDIKATIF A. RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN Pelaksanaan pembangunan ketenagakerjaan, ketransmigrasian dan kependudukan diwujudkan melalui 6 (enam) program prioritas

Lebih terperinci

PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2015 DINAS TENAGA KERJA DAN MOBILITAS PENDUDUK ACEH

PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2015 DINAS TENAGA KERJA DAN MOBILITAS PENDUDUK ACEH PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2015 DINAS TENAGA KERJA DAN MOBILITAS PENDUDUK ACEH No. Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target 1 2 3 4 1 Meningkatnya tenaga kerja yang memiliki 1 Peningkatan lulusan pelatihan

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI KUNINGAN NOMOR 46 TAHUN 2016 TENTANG

PERATURAN BUPATI KUNINGAN NOMOR 46 TAHUN 2016 TENTANG PERATURAN BUPATI KUNINGAN NOMOR 46 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS POKOK, FUNGSI DAN URAIAN TUGAS, SERTA TATA KERJA DINAS TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI KABUPATEN KUNINGAN DENGAN

Lebih terperinci

Profil Pekerjaan yang Layak INDONESIA

Profil Pekerjaan yang Layak INDONESIA Profil Pekerjaan yang Layak INDONESIA Ringkasan Selama 15 tahun terakhir, Indonesia mengalami perubahan sosial dan politik luar biasa yang telah membentuk latar belakang bagi pekerjaan layak di negeri

Lebih terperinci

BAB II PROGRAM KERJA. Dinas Tenaga Kerja merupakan instansi teknis yang melaksanakan salah

BAB II PROGRAM KERJA. Dinas Tenaga Kerja merupakan instansi teknis yang melaksanakan salah BAB II PROGRAM KERJA 2.1 Visi dan Misi Dinas Tenaga Kerja merupakan instansi teknis yang melaksanakan salah satu urusan rumah tangga Daerah dibidang ketenagakerjaan dan ketransmigrasian, dengan kewenangannya

Lebih terperinci

BAB VI SASARAN, INISITIF STRATEJIK DAN PROGRAM PEMBANGUNAN KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM

BAB VI SASARAN, INISITIF STRATEJIK DAN PROGRAM PEMBANGUNAN KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM BAB VI SASARAN, INISITIF STRATEJIK DAN PROGRAM PEMBANGUNAN KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM A. SASARAN STRATEJIK yang ditetapkan Koperasi dan UKM selama periode tahun 2005-2009 disusun berdasarkan berbagai

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Keputusan migrasi didasarkan pada perbandingan untung rugi yang berkaitan

I. PENDAHULUAN. Keputusan migrasi didasarkan pada perbandingan untung rugi yang berkaitan 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Migrasi merupakan perpindahan orang dari daerah asal ke daerah tujuan. Keputusan migrasi didasarkan pada perbandingan untung rugi yang berkaitan dengan kedua daerah

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROPINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 6 TAHUN 2004 TENTANG KETENAGAKERJAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH PROPINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 6 TAHUN 2004 TENTANG KETENAGAKERJAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH PROPINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 6 TAHUN 2004 TENTANG KETENAGAKERJAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR PROPINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA, Menimbang: a. bahwa

Lebih terperinci

BUPATI CIAMIS PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI CIAMIS NOMOR 45 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI CIAMIS PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI CIAMIS NOMOR 45 TAHUN 2016 TENTANG BUPATI CIAMIS PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI CIAMIS NOMOR 45 TAHUN 2016 TENTANG TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA UNSUR ORGANISASI DINAS TENAGA KERJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI CIAMIS, Menimbang

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TIMUR,

GUBERNUR JAWA TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TIMUR, GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 19 TAHUN 2017 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 8 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN KETENAGAKERJAAN DENGAN

Lebih terperinci

WALIKOTA PEKANBARU PROVINSI RIAU

WALIKOTA PEKANBARU PROVINSI RIAU WALIKOTA PEKANBARU PROVINSI RIAU PERATURAN WALIKOTA PEKANBARU NOMOR 99 TAHUN 2016 T E N T A N G KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS TENAGA KERJA KOTA PEKANBARU DENGAN

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TANGERANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANGERANG NOMOR 14 TAHUN 2001 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TANGERANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANGERANG NOMOR 14 TAHUN 2001 TENTANG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TANGERANG Nomor 14 Tahun 2001 Seri E PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANGERANG NOMOR 14 TAHUN 2001 TENTANG PELAYANAN KETENAGAKERJAAN BIDANG PENEMPATAN DAN PELATIHAN TENAGA KERJA DENGAN

Lebih terperinci

WALIKOTA SURAKARTA PERATURAN WALIKOTA SURAKARTA NOMOR 13 TAHUN 2008 TENTANG

WALIKOTA SURAKARTA PERATURAN WALIKOTA SURAKARTA NOMOR 13 TAHUN 2008 TENTANG WALIKOTA SURAKARTA PERATURAN WALIKOTA SURAKARTA NOMOR 13 TAHUN 2008 TENTANG PENJABARAN TUGAS POKOK, FUNGSI DAN TATA KERJA DINAS SOSIAL, TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI KOTA SURAKARTA DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

SALINAN. jdih.bulelengkab.go.id

SALINAN. jdih.bulelengkab.go.id SALINAN BUPATI BULELENG PROVINSI BALI PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULELENG NOMOR 8 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN KETENAGAKERJAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BULELENG, Menimbang: a. bahwa

Lebih terperinci

Terwujudnya Masyarakat Tenaga Kerja Kabupaten Bandung yang Mandiri, Produktif, Profesional dan Berdaya Saing

Terwujudnya Masyarakat Tenaga Kerja Kabupaten Bandung yang Mandiri, Produktif, Profesional dan Berdaya Saing BAB II PROGRAM KERJA 2.1 Visi dan Misi Dinas Tenaga Kerja merupakan instansi teknis yang melaksanakan salah satu urusan rumah tangga Daerah dibidang ketenagakerjaan dan ketransmigrasian, dengan kewenangannya

Lebih terperinci

BUPATI TANGERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN BUPATI TANGERANG NOMOR 103 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI TANGERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN BUPATI TANGERANG NOMOR 103 TAHUN 2016 TENTANG BUPATI TANGERANG PROVINSI BANTEN Menimbang PERATURAN BUPATI TANGERANG NOMOR 103 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS TENAGA KERJA KABUPATEN TANGERANG DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI TOLITOLI NOMOR 23 TAHUN

PERATURAN BUPATI TOLITOLI NOMOR 23 TAHUN SALINAN BUPATI TOLITOLI PERATURAN BUPATI TOLITOLI NOMOR 23 TAHUN 2015 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI KABUPATEN TOLITOLI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TOLITOLI,

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1 Deskripsi Singkat Perusahaan Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Kependudukan (DISNAKERTRANSDUK) Provinsi Jawa Timur terdiri dari beberapa bagian, salah satunya adalah

Lebih terperinci

PROFIL DINAS TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI

PROFIL DINAS TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI PROFIL DINAS TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI GAMBARAN UMUM Sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Karawang Nomor 9 Tahun 2011, tentang Pembentukan Sekretariat Daerah, Sekretariat DPRD, Dinas Daerah, Lembaga

Lebih terperinci

Walikota Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat

Walikota Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat Walikota Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat PERATURAN WALIKOTA TASIKMALAYA NOMOR 61 TAHUN 2016 Menimbang TENTANG TUGAS POKOK DAN RINCIAN TUGAS UNIT DINAS TENAGA KERJA KOTA TASIKMALAYA DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

Darmawansyah, ST, M.Si /

Darmawansyah, ST, M.Si / Darmawansyah, ST, M.Si 08180676099 / 085213401980 [email protected] PROFIL SDM INDONESIA FEB 2015 5,46 juta penganggur menjadi prioritas untuk ditingkatkan kompetensinya Sumber : diolah dari berita

Lebih terperinci

BAB II EVALUASI PELAKSANAAN RENJA SKPD TAHUN LALU. 2.1 Evaluasi Pelaksanaan Renja SKPD Tahun Lalu dan Capaian Renstra

BAB II EVALUASI PELAKSANAAN RENJA SKPD TAHUN LALU. 2.1 Evaluasi Pelaksanaan Renja SKPD Tahun Lalu dan Capaian Renstra BAB II EVALUASI PELAKSANAAN RENJA SKPD TAHUN LALU 2.1 Evaluasi Pelaksanaan Renja SKPD Tahun Lalu dan Capaian Renstra SKPD Sebagaimana amanat Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 Tentang Pelaksanaan

Lebih terperinci

WALIKOTA PAREPARE PERATURAN WALIKOTA PAREPARE NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG TUGAS POKOK, FUNGSI DAN RINCIAN TUGAS DINAS TENAGA KERJA

WALIKOTA PAREPARE PERATURAN WALIKOTA PAREPARE NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG TUGAS POKOK, FUNGSI DAN RINCIAN TUGAS DINAS TENAGA KERJA WALIKOTA PAREPARE PERATURAN WALIKOTA PAREPARE NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG TUGAS POKOK, FUNGSI DAN RINCIAN TUGAS DINAS TENAGA KERJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PAREPARE, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

URUSAN WAJIB KETENAGAKERJAAN

URUSAN WAJIB KETENAGAKERJAAN 4.1.14 URUSAN WAJIB KETENAGAKERJAAN 4.1.14.1 KONDISI UMUM Pembangunan ketenagakerjaan mempunyai banyak dimensi dan keterkaitan dengan berbagai pihak yaitu antara Pemerintah, pengusaha dan pekerja atau

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 457 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN PENGUKURAN INDEKS PEMBANGUNAN KETENAGAKERJAAN

KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 457 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN PENGUKURAN INDEKS PEMBANGUNAN KETENAGAKERJAAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 457 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN PENGUKURAN INDEKS PEMBANGUNAN KETENAGAKERJAAN

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN KEBUMEN DINAS TENAGA KERJA DAN KOPERASI, USAHA KECIL DAN MENENGAH Jl. Cendrawasih No. 28 Telp./ Fax. (0287)

PEMERINTAH KABUPATEN KEBUMEN DINAS TENAGA KERJA DAN KOPERASI, USAHA KECIL DAN MENENGAH Jl. Cendrawasih No. 28 Telp./ Fax. (0287) PEMERINTAH KABUPATEN KEBUMEN DINAS TENAGA KERJA DAN KOPERASI, USAHA KECIL DAN MENENGAH Jl. Cendrawasih No. 28 Telp./ Fax. (0287) 381462 Email : [email protected] KEBUMEN 54313 Pendahuluan;

Lebih terperinci

-1- GUBERNUR ACEH PERATURAN GUBERNUR ACEH NOMOR 112 TAHUN 2016 TENTANG

-1- GUBERNUR ACEH PERATURAN GUBERNUR ACEH NOMOR 112 TAHUN 2016 TENTANG -1- GUBERNUR ACEH PERATURAN GUBERNUR ACEH NOMOR 112 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA DINAS TENAGA KERJA DAN MOBILITAS PENDUDUK ACEH DENGAN RAHMAT ALLAH YANG

Lebih terperinci