PENYUSUNAN BASIS DATA POHON KEBUN RAYA BOGOR DENGAN VISUALISASI KOMPUTER

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PENYUSUNAN BASIS DATA POHON KEBUN RAYA BOGOR DENGAN VISUALISASI KOMPUTER"

Transkripsi

1 PENYUSUNAN BASIS DATA POHON KEBUN RAYA BOGOR DENGAN VISUALISASI KOMPUTER 88 ZAENAL ARIFIN A PROGRAM STUDI ARSITEKTUR LANSKAP FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

2 PENYUSUNAN BASIS DATA POHON KEBUN RAYA BOGOR DENGAN VISUALISASI KOMPUTER 89 Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor ZAENAL ARIFIN A PROGRAM STUDI ARSITEKTUR LANSKAP FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

3 90 RINGKASAN ZAENAL ARIFIN. Penyusunan Basis Data Pohon Kebun Raya Bogor dengan Visualisasi Komputer. (Dibimbing oleh BAMBANG SULISTYANTARA). Potensi yang dimiliki Kebun Raya Bogor belum sepenuhnya termanfaatkan secara optimal. Hal ini disebabkan masih kurangnya data dan informasi mengenai jenis tanaman terutama pohon seperti sifat, karakteristik serta syarat tumbuhnya, maka perlu dilakukan penyempurnaan baik berupa pengembangan materi maupun penyajian basis data (katalog). Di sisi lain, pengetahuan mengenai data dan informasi mengenai pohon yang akan digunakan merupakan hal mendasar dalam bidang arsitektur lanskap yang mencakup perencanaan, perancangan, maupun pengelolaan suatu lanskap. Melihat kondisi demikian, maka perlu dilakukan penyusunan basis data pohon Kebun Raya Bogor yang lebih lengkap menghimpun informasi mengenai pohon, terorganisir, komunikatif, dan aplikatif terutama dalam bidang arsitektur lanskap. Penelitian ini merupakan pengembangan dari penelitian sebelumnya oleh Rukmono (2004) dan Arimbi (2004), dimana penelitian ini bertujuan untuk menyusun sekaligus melengkapi basis data pohon Kebun Raya Bogor untuk aplikasi dalam bidang arsitektur lanskap. Penyusunan basis data ini berbasis komputer dengan mengunakan perangkat lunak FileMaker Pro 7. Metode studi penyusunan basis data pohon Kebun Raya Bogor mencakup (1) tahap studi pustaka mengenai identifikasi dan klasifikasi pohon, (2) tahap pengambilan dan pengumpulan data dan informasi pohon (survey), (3) tahap penentuan rancangan (struktur) basis data (penentuan data input yang akan dihimpun dalam basis data, dan proses membangun basis data dengan menggunakan FileMaker Pro 7), (4) tahap pemasukan data dan pengelolaan basis data, dan (5) tahap pembahasan dan analisa. Obyek dalam studi ini berupa pohon koleksi Kebun Raya Bogor. Basis data pohon ini disusun dan dirancang untuk menampilkan data dan informasi mengenai jenis pohon koleksi Kebun Raya Bogor, baik berdasarkan klasifikasi botani-lanskap maupun klasifikasi umum; serta menyediakan kemudahan dalam mencari dan menentukan jenis pohon yang sesuai dengan kriteria yang diharapkan. Basis data pohon ini disusun dan dirancang dengan menggunakan perangkat lunak FileMaker Pro 7. Data (obyek) dalam basis data ini berupa pohon yang dikelompokkan berdasarkan pengklasifikasian secara botani pada takson tingkat familia. Data yang dimasukkan meliputi foto dan data atribut. Data foto mencakup foto pohon secara keseluruhan, foto buah, foto bunga, foto daun, foto batang, dan foto akar. Data atribut berupa informasi mengenai deskripsi dan klasifikasi jenis pohon, yang mencakup klasifikasi botani-lanskap dan klasifikasi umum. Klasifikasi botani-lanskap dikelompokkan berdasarkan klasifikasi menurut ilmu botani (taksonomi tumbuhan) dan klasifikasi menurut ilmu arsitektur lanskap (ekologi/hortikultura). Klasifikasi botani-lanskap mencakup sifat morfologi, karakteristik, sifat ekologi, dan fungsi pohon. Sedangkan klasifikasi umum dikelompokkan berdasarkan klasifikasi yang lebih umum dikenal oleh masyarakat. Klasifikasi umum mencakup daya tarik estetis, manfaat/penggunaan, dan lingkungan tumbuh. Basis data dalam studi ini menghimpun 59 famili pohon yang tercakup dalam 136 vak di Kebun Raya Bogor. Jumlah pohon tersebut mencakup 388 spesies pohon dan belum dapat mewakili keseluruhan spesies pohon koleksi

4 Kebun Raya Bogor, yang jumlahnya mencapai 1800 spesies pohon. Hal ini disebabkan penghimpunan data dicukupkan/terbatas untuk keperluan studi. Berdasar program basis data yang telah tersusun ini, selanjutnya dapat dilakukan entry data keseluruhan famili/spesies pohon koleksi Kebun Raya Bogor. Perancangan struktur basis data merupakan tahap awal dalam penyusunan basis data pohon. Pada proses ini dilakukan penentuan data input yang akan dihimpun dalam basis data. Struktur basis data menentukan jenis table, field, tipe data yang akan dimasukkan (data type), hubungan (relationship) antara tabel-tabel tersebut, dan value list. Table dan field dibuat berdasarkan pengklasifikasian yang telah dilakukan dan jenis data yang akan dimasukkan ke dalam basis data. Perancangan tampilan basis data merupakan tahap selanjutnya dalam penyusunan basis data pohon dengan visualisasi komputer. Pada proses ini dilakukan penentuan tampilan basis data (user interface) yang akan menampilkan data dan informasi basis data, sehingga memudahkan pengguna untuk mengakses dan menggunakannya. Langkah-langkah dalam perancangan tampilan basis data meliputi penentuan tipe form layout, layout field, button, specify button, hubungan (relationship) antar layout dan elemen desain layout. Hubungan (relationship) antar data/field/layout dibuat berdasarkan pengklasifikasian yang telah dilakukan. Data masukan pada basis data pohon ini berupa data teks, data gambar, data teks pilihan (value list), dan data opsional sesuai dengan klasifikasi yang telah dilakukan sehingga pengisian data menggunakan field entry data berbentuk edit box (tipe data text), edit box (tipe data container), pop-up list, dan checkbox set. Field entry data berbentuk edit box (tipe data text) digunakan pada fieldfield deskripsi umum pohon. Field entry data berbentuk edit box (tipe data container) digunakan pada field Foto Pohon, Foto Buah, Foto Bunga, Foto Batang, Foto Akar. Field entry data berbentuk pop-up list digunakan pada fieldfield Sifat Morfologi, Karakteristik, dan Sifat Ekologi. Sedangkan Field entry data berbentuk checkbox set digunakan pada field-field Fungsi, Daya Tarik Estetis, Manfaat/Penggunaan, dan Lingkungan Tumbuh. Basis data pohon ini menggunakan dua mode tampilan informasi, yaitu browse mode dan find mode (mode pencarian). Browse mode digunakan untuk pendataan dan untuk menampilkan data dan informasi pohon; sedangkan find mode digunakan untuk mencari data dan informasi pohon. Informasi pada basis data pohon ini dikelompokkan berdasarkan klasifikasi botani-lanskap dan klasifikasi umum, yang ditampilkan dalam dua pilihan tampilan (view as form dan view as table). Account pengguna basis data pohon ini terbagi menjadi dua, yaitu Admin Account dan Guest Account. Admin Account digunakan untuk melakukan proses editing dan updating baik basis data maupun tampilan pengguna, dan disertai dengan password. Sedangkan Guest Account digunakan bagi pengguna umum untuk sekedar memperoleh dan mencari data dan informasi mengenai pohon, dan tanpa fungsi editing dan updating. Basis data pohon Kebun Raya Bogor untuk aplikasi dalam bidang arsitektur lanskap, yang menarik sekaligus user friendly telah berhasil disusun dan dirancang dengan memanfaatkan perangkat lunak FileMaker Pro 7. Basis data ini mencakup data dan informasi mengenai jenis pohon koleksi Kebun Raya Bogor, yang diklasifikasikan berdasarkan klasifikasi botani-lanskap dan klasifikasi umum; serta menyediakan kemudahan dalam mencari dan menentukan jenis pohon yang sesuai dengan kriteria yang diharapkan. 91

5 92 LEMBAR PENGESAHAN Judul Penelitian Nama Mahasiswa NRP : PENYUSUNAN BASIS DATA POHON KEBUN RAYA BOGOR DENGAN VISUALISASI KOMPUTER : Zaenal Arifin : A Menyetujui, Dosen Pembimbing Dr. Ir. Bambang Sulistyantara, MAgr NIP Mengetahui, Dekan Fakultas Pertanian Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, MAgr NIP Tanggal Lulus :

6 93 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Kabupaten Klaten, Propinsi Jawa Tengah pada tanggal 1 Juli Penulis merupakan anak pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Bapak Surachman dan Ibu Suparni. Penulis menempuh pendidikan di TK Negeri Pembina Kotaraja Jayapura ( ), lalu melanjutkan pendidikan di SD Negeri Inpres Kotaraja Jayapura (lulus tahun 1996), kemudian meneruskan pendidikan tingkat menengah di SLTPN 5 Jayapura (lulus tahun 1999), dan SMA Muhammadiyah 1 Klaten (lulus tahun 2002). Tahun 2002 penulis diterima di IPB melalui jalur USMI pada Program Studi Arsitektur Lanskap, Departemen Arsitektur lanskap, Fakultas Pertanian. Penulis aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan dan kepanitiaan. Tahun sebagai anggota Divisi Pemasaran pada UKM Gema Almamater, tahun menjadi ketua Divisi Kesekretariatan Himpunan Mahasiwa Arsitektur Lanskap, tahun menjadi ketua Divisi Kemahasiswaan OMDA Klaten. Penulis juga aktif bertindak sebagai Asisten Dosen untuk Mata Kuliah Hortikultura Lanskap 2005/2006 dan 2006/2007.

7 94 KATA PENGANTAR Syukur alhamdulillah penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan anugerah potensi dan bimbingan hidayah-nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini dengan baik. Ucapan terima kasih penulis ucapkan kepada Dr. Ir. Bambang Sulistyantara, MAgr yang telah memberikan saran dan bimbingan, Ibu Mita dan Bapak Suhendar yang telah membantu dalam persiapan pengambilan data, serta kepada seluruh rekan yang telah memberikan masukan dan motivasi dalam penyelesaian penelitian ini. Penelitian Penyusunan Basis Data Pohon Kebun Raya Bogor dengan Visualisasi Komputer terdorong oleh keinginan untuk dapat mempermudah pengguna, baik Pengelola Kebun Raya Bogor, arsitek lanskap maupun masyarakat umum dalam memperoleh data dan informasi mengenai jenis pohon sesuai kriteria yang diharapkan. Semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Bogor, Januari 2008 Penulis

8 95 DAFTAR ISI Halaman PENDAHULUAN... 1 Latar Belakang... 1 Tujuan... 2 Manfaat... 2 Kerangka Pikir... 2 TINJAUAN PUSTAKA... 4 Tanaman Lanskap... 4 Klasifikasi Tanaman (Pohon)... 4 Taksonomi dan Tata Nama... 4 Klasifikasi Botani-Lanskap... 5 Klasifikasi Umum... 7 Database dan Relational Database Management System (RDBMS). 8 Perangkat Lunak FileMaker Pro KONDISI UMUM KEBUN RAYA BOGOR Kebun Raya Bogor Sejarah Kebun Raya Bogor Katalog Kebun Raya Bogor Pengelompokan Lokasi Koleksi METODOLOGI Lokasi dan Waktu Bahan dan Alat Metode Studi Klasifikasi Obyek Klasifikasi Botani-Lanskap Klasifikasi Umum Identifikasi Klasifikasi Obyek Identifikasi Klasifikasi Botani-Lanskap Identifikasi Klasifikasi Umum Penyajian Basis Data BASIS DATA Struktur Basis Data Merancang Struktur Basis Data dalam FileMaker Pro Penentuan Table, Field, Relationship, dan Value List Tampilan Basis Data (Graphical User Interface) Merancang Tampilan Basis Data dalam FileMaker Pro Pemasukan Data Basis Data Pohon dalam FileMaker Pro Penggunaan Basis Data Pohon Pengaturan Account Pengguna Prosedur penginstallan dan penggunaan Basis Data Pohon PEMBAHASAN Data Pohon Klasifikasi Botani-Lanskap Klasifikasi Umum Data Pohon dalam Basis Data... 80

9 Basis Data Pohon dalam FileMaker Pro Struktur Basis Data Pohon dalam FileMaker Pro Tampilan Basis Data Pohon dalam FileMaker Pro Penggunaan Basis Data Manfaat Basis Data Pohon Basis Data Pohon bagi Pengelola Kebun Raya Bogor Basis Data Pohon untuk Aplikasi dalam Bidang Arsitektur Lanskap Basis Data Pohon untuk Masyarakat Umum KESIMPULAN Kesimpulan Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

10 97 DAFTAR TABEL Nomor Halaman Teks 1. Identifikasi Pemilihan Pohon Identifikasi Morfologi Biji dan Buah Identifikasi Morfologi Bunga Berdasarkan Jumlah Bunga dan Letak Bunga Identifikasi Morfologi Daun Berdasarkan Jumlah Daun Identifikasi Morfologi Daun Berdasarkan Permukaan Daun Identifikasi Morfologi Batang Berdasarkan Bentuk Batang Identifikasi Morfologi Batang Berdasarkan Percabangan Identifikasi Morfologi Akar Berdasarkan Sistem Perakaran Identifikasi Karakteristik Pohon Berdasarkan Bentuk Pertumbuhan Identifikasi Karakteristik Pohon Berdasarkan Bentuk Tajuk Identifikasi Karakteristik Pohon Berdasarkan Tekstur Pohon Identifikasi Sifat Ekologi Pohon Identifikasi Fungsi Pohon Berdasarkan Fungsi Memperbaiki Iklim Identifikasi Fungsi Pohon Berdasarkan Fungsi Arsitektural Identifikasi Fungsi Pohon Berdasarkan Fungsi Engineering Identifikasi Fungsi Pohon Berdasarkan Fungsi Estetis Identifikasi Fungsi Pohon Berdasarkan Fungsi Lain Identifikasi Daya Tarik Estetis Pohon Identifikasi Manfaat/Penggunaan Pohon Identifikasi Lingkungan Tumbuh Pohon Field, Tipe Data, dan Options/Comments Field dan Field Formatnya Form Layout, Tipe Layout, Field, Layout Field, Button, Specify Button, Hubungan antar Data/Field/layout, dan Elemen Desain layout Lampiran 1. Tabel Data Jenis Pohon (Query Bentuk Tajuk Tidak Beraturan dan Daya Tarik Estetis Bunga Menarik) Tabel Data Jenis Pohon (Query Bentuk Tajuk Tidak Beraturan dan Daya Tarik Estetis Bunga Kurang Menarik) Tabel Data Jenis Pohon (Query Bentuk Tajuk Horisontal dan Daya Tarik Estetis Bunga Menarik) Tabel Data Jenis Pohon (Query Bentuk Tajuk Horisontal dan Daya Tarik Estetis Bunga Kurang Menarik) Tabel Data Jenis Pohon (Query Bentuk Tajuk Piramid dan Daya Tarik Estetis Bunga Menarik) Tabel Data Jenis Pohon (Query Bentuk Tajuk Piramid dan Daya Tarik Estetis Bunga Kurang Menarik) Tabel Data Jenis Pohon (Query Bentuk Tajuk Berkolom dan Daya Tarik Estetis Bunga Menarik) Tabel Data Jenis Pohon (Query Bentuk Tajuk Berkolom dan Daya Tarik Estetis Bunga Kurang Menarik) Tabel Data Jenis Pohon (Query Bentuk Tajuk Bulat dan Daya Tarik Estetis Bunga Menarik)

11 10. Tabel Data Jenis Pohon (Query Bentuk Tajuk Bulat dan Daya Tarik Estetis Bunga Kurang Menarik) Tabel Data Jenis Pohon (Query Bentuk Tajuk Kubah dan Daya Tarik Estetis Bunga Menarik) Tabel Data Jenis Pohon (Query Bentuk Tajuk Kubah dan Daya Tarik Estetis Bunga Kurang Menarik)

12 99 DAFTAR GAMBAR Nomor Teks Halaman 1. Kerangka Pikir Bentuk Tajuk Pohon (Sumber: Carpenter et al., 1975) Logo Kebun Raya Bogor (Sumber: Wikipedia (b), 2007) Contoh Label Identifikasi (Sumber: Levelink dan Mawdsley, 1996) Peta Kebun Raya Bogor Metode Studi Penyusunan Basis Data Pohon Kebun Raya Bogor Model Klasifikasi Pohon Kebun Raya Bogor Model Klasifikasi Botani-Lanskap Model Klasifikasi Sifat Morfologi Pohon Model Klasifikasi Morfologi Biji Model Klasifikasi Morfologi Buah Model Klasifikasi Morfologi Bunga Model Klasifikasi Morfologi Daun Model Klasifikasi Morfologi Batang Model Klasifikasi Morfologi Akar Model Klasifikasi Karakteristik Pohon Model Klasifikasi Sifat Ekologi Pohon Model Klasifikasi Fungsi Pohon Model Klasifikasi Umum Morfologi Bentuk Daun (Sumber: Tjitrosoepomo, 2001) Morfologi Daun Majemuk (Sumber: Tjitrosoepomo, 2001) Morfologi Tulang Daun (Sumber: Tjitrosoepomo, 2001) Morfologi Ujung Daun (Sumber: Tjitrosoepomo, 2001) Morfologi Tepi Daun (Sumber: Tjitrosoepomo, 2001) Morfologi Permukaan Batang (Sumber: Grey dan Deneke, 1978) Morfologi Percabangan (Sumber: Tjitrosoepomo, 2001) Morfologi Sistem Perakaran Pohon (Sumber: Tjitrosoepomo, 2001) Morfologi Modifikasi Akar Pohon (Sumber: Tjitrosoepomo, 2001) Bentuk Tajuk Pohon (Sumber: Carpenter et al., 1975) Jendela New Database Jendela Create a new file named: Jendela Define Database Jendela Field Format Jendela New Layout/Report Jendela Specify Button Form Layout SIPArlan vol Form Layout Morfologi Form Layout Morfologi Form Layout Morfologi Form Layout Karakteristik Form Layout Sifat Ekologi Form Layout Fungsi Form Layout Fungsi Form Layout Fungsi Form Layout Umum Form Layout Umum

13 Form Layout Umum Form Layout Detail Foto Pohon Form Layout Detail Lokasi Form Layout Detail Lokasi Form Layout Detail Lokasi Form Layout Detail Lokasi Form Layout Detail Lokasi Form Layout Detail Lokasi Form Layout Detail Lokasi Form Layout Daftar Pohon Form Layout Bantuan Form Layout Ikhtisar Form Layout Tombol Navigasi Form Layout Pendataan Pohon Form Layout Informasi Sistem Form Layout Tentang SIPArlan Jendela Insert Picture Jendela Browse mode Jendela Find mode Jendela Accounts & Privileges Jendela Open File Tampilan Basis Data Berbasis GUI Tampilan Basis Data Tombol pada Basis Data Proses Pencarian Pohon Proses menuju tampilan semula (Browse mode) Lampiran 1. Peta Lokasi Pohon (Vak) Kebun Raya Bogor (Sumber: Danimihardja, S. dan Djumadi N. (Eds.),1985)... 93

14 101 PENDAHULUAN Latar Belakang Kebun Raya Bogor merupakan salah satu kebun koleksi terbesar di Indonesia. Kebun Raya Bogor memiliki lebih dari 5000 spesies tanaman berupa ground cover hingga pohon, yang merupakan tanaman asli Indonesia maupun tanaman introduksi. Untuk memudahkan pengelolaannya, pengelola Kebun Raya Bogor menerbitkan katalog tanaman Kebun Raya Bogor setiap 6 tahun sekali. Katalog tersebut berisikan deskripsi umum tanaman Kebun Raya Bogor secara botani. Potensi yang dimiliki Kebun Raya Bogor belum sepenuhnya termanfaatkan secara optimal. Hal ini disebabkan masih kurangnya data dan informasi mengenai jenis tanaman terutama pohon seperti sifat, karakteristik serta syarat tumbuhnya, maka perlu dilakukan penyempurnaan baik berupa pengembangan materi maupun penyajian katalog. Pohon merupakan jenis tanaman lanskap yang memiliki dampak paling besar pada sebagian besar lanskap (Lancestor, 1993). Pohon memiliki perbedaan dalam sifat morfologi, karakteristik, sifat ekologi, dan fungsi, yang menjadi acuan pertimbangan dalam pemilihan jenis pohon yang sesuai dengan kriteria yang diharapkan. Pemilihan jenis pohon yang sesuai dengan kondisi lanskap tertentu akan meningkatkan peluang pertumbuhan yang optimal, sehingga sesuai dengan fungsi yang diinginkan. Pengetahuan mengenai data dan informasi mengenai pohon yang akan digunakan merupakan hal mendasar dalam bidang arsitektur lanskap yang mencakup perencanaan, perancangan, maupun pengelolaan suatu lanskap. Data dan informasi yang kurang mengenai sifat, karakteristik serta syarat tumbuh dari suatu pohon akan mempersulit pemilihan dan penentuan pohon yang akan digunakan; sehingga seringkali yang diperhatikan hanya nilai estetis dari pohon tersebut, tanpa memperhatikan peluang pohon tersebut dapat tumbuh dengan baik atau tidak pada tapak. Melihat kondisi demikian, maka perlu dilakukan penyusunan basis data pohon Kebun Raya Bogor yang lebih lengkap menghimpun informasi mengenai pohon, terorganisir, komunikatif, dan aplikatif terutama dalam bidang arsitektur lanskap. Penyusunan basis data pohon Kebun Raya Bogor dilakukan dengan berbasis komputer. Basis data berbasis komputer dapat disusun dengan

15 102 menggunakan perangkat lunak (software) yang memiliki kemampuan membuat, menyimpan dan mengelola basis data (database) seperti Microsoft Access, Microsoft Visual Basic, FileMaker dan perangkat lunak lainnya. Tujuan Penelitian ini merupakan pengembangan dari penelitian sebelumnya oleh Rukmono (2004) dan Arimbi (2004), dimana penelitian ini bertujuan untuk menyusun sekaligus melengkapi basis data pohon Kebun Raya Bogor untuk aplikasi dalam bidang arsitektur lanskap. Penyusunan basis data ini berbasis komputer dengan mengunakan perangkat lunak FileMaker Pro 7. Manfaat Manfaat penyusunan basis data pohon Kebun Raya Bogor ini secara umum dapat mempermudah pengguna, baik pengelola Kebun Raya Bogor, arsitek lanskap maupun masyarakat umum dalam memperoleh data dan informasi mengenai jenis pohon sesuai kriteria yang diharapkan. Sedangkan manfaatnya secara khusus, penyusun memperoleh pengetahuan mengenai penyusunan basis data berbasis komputer dan pengetahuan mengenai sifatsifat pohon tropis seperti sifat morfologi, karakteristik, sifat ekologi, dan fungsi. Kerangka Pikir Potensi yang dimiliki Kebun Raya Bogor belum termanfaatkan secara optimal karena masih kurangnya data dan informasi mengenai jenis tanaman terutama pohon, seperti sifat, karakteristik serta syarat tumbuhnya. Pengetahuan mengenai data dan informasi mengenai pohon yang akan digunakan merupakan hal mendasar dalam bidang arsitektur lanskap yang mencakup perencanaan, perancangan, maupun pengelolaan suatu lanskap. Melihat kondisi demikian, sehingga perlu penyusunan basis data pohon Kebun Raya Bogor yang lebih lengkap menghimpun informasi mengenai pohon, terorganisir, komunikatif, dan aplikatif terutama dalam bidang arsitektur lanskap. Penyusunan basis data pohon Kebun Raya Bogor disusun berbasis komputer dengan menggunakan perangkat lunak FileMaker Pro 7.

16 103 Potensi Kebun Raya Bogor Belum Termanfaatkan Secara Optimal Pengetahuan Mengenai Data dan Informasi Pohon Basis Data KRB Belum Lengkap Menghimpun Informasi Pohon Fundamental dalam Arsitektur Lanskap Penyusunan Basis Data Pohon KRB untuk Aplikasi Arsitektur Lanskap Klasifikasi Pohon Klasifikasi Botani-Lanskap Klasifikasi Umum Sifat Morfologi Karakteristik Sifat Ekologi Fungsi Daya Tarik Estetis Manfaat/Pengunaan Lingkungan Tumbuh Penyusunan Basis Data Pohon KRB dengan Berbasis Komputer FileMaker Pro 7 Sistem Informasi Pohon dengan Tampilan Berbasis GUI dan User Friendly Gambar 1. Kerangka Pikir

17 104 TINJAUAN PUSTAKA Tanaman Lanskap Elemen dalam Lanskap terdiri atas hardware (perkerasan), software (tanaman) dan organoware. Elemen tanaman mudah mengalami perubahan berupa pertumbuhan maupun perkembangan, sehingga merupakan elemen yang dinamis dari suatu lanskap. Tanaman lanskap memiliki jenis yang beragam, berupa tanaman penutup tanah (ground cover), tanaman air, tanaman merambat/memanjat, semak/perdu, pohon, dan Iain-lain. Lancestor (1993) menyatakan bahwa pohon merupakan jenis tanaman lanskap yang memiliki dampak paling besar pada sebagian besar lanskap. Pada umumnya pohon merupakan tanaman soliter, pohon memiliki batang tunggal yang tumbuh dari dalam tanah. Pohon memiliki perbedaan dalam sifat morfologi, karakteristik, sifat ekologi, dan fungsi. Meskipun demikian pohon mampu tumbuh dan berkembang serta bertahan di lingkungan yang serupa. Klasifikasi Tanaman (Pohon) Eckbo (1956) menyatakan bahwa ilmu botani atau ilmu tumbuhan mencakup taksonomi (identifikasi dan klasifikasi tanaman), sifat morfologi dan fisiologi, sifat ekologi (kaitannya dengan atmosfer dan tanah), dan hortikultura (kaitannya dengan fungsi dan tujuan pengguna). Menurut Carpenter et al. (1975), tanaman dalam bidang arsitektur lanskap diklasifikasikan berdasarkan ukuran, kebiasaan tumbuh, fungsi, dan adaptasi terhadap lingkungan spesifik. Taksonomi dan Tata Nama Dalam keanekaragaman tumbuhan yang sangat besar, dapat diidentifikasi unit-unit dengan persamaan sifat-sifat tertentu (penampakan dan struktur). Unit-unit tersebut memiliki variasi besar unit yang beranekaragam. Unit-unit tersebut lebih lanjut oleh ahli-ahli ilmu botani dinamakan takson. Taksonomi dapat diartikan sebagai klasifikasi berhirarki dari sesuatu atau prinsip yang mendasari klasifikasi. Istilah dan nama ilmiah yang menyangkut taksonomi tumbuhan diatur dalam Kode International Tatanama Tumbuhan (International Code of Botanical Nomenclatur) yang merupakan kesepakatan ahli-ahli tumbuhan

18 105 seluruh dunia, bersifat universal dan berlaku serta dapat dimengerti oleh siapapun yang berkecimpung dalam dunia ilmu pengetahuan (Tjitrosoepomo, 2001). Pada umumnya, metode yang digunakan adalah penamaan dengan dua sebutan, yang dikenal sebagai tatanama binomial (binomial nomenclature), yang diusulkan oleh Carolus Linnaeus. Metode ini terdiri dari enam hirarki (pemeringkatan) untuk mengelompokkan semua organisme hidup. Keenam hirarki (takson) itu berturut-turut dari terendah hingga tertinggi yaitu Species (Jenis/Spesies), Genus (Marga), Familia (Suku), Ordo (Bangsa), Classis (Kelas), dan Kingdom (Filum (hewan)/divisio (tumbuhan)) (Wikipedia (c), 2007). Menurut Tjitrosoepomo (2001), spesies merupakan suatu populasi yang menempati suatu daerah penyebaran tertentu dan terdiri atas individuindividu dengan sifat-sifat yang sama begitupun dengan keturunannya. Spesies dengan persamaan sifat tertentu membentuk suatu takson yang diberi kedudukan dan jenjang lebih tinggi, yang disebut dengan istilah genus (marga). Selanjutnya berturut-turut sejumlah genus dijadikan satu familia (suku), beberapa familia dijadikan satu ordo (bangsa) dan begitu seterusnya hingga pada satu kingdom. Metode Linnaeus ini memberikan dua kata bahasa Latin untuk setiap jenis. Nama pertama mengacu pada kelompok jenis yang berkerabat dekat (marga), sedangkan nama kedua membedakan spesies yang satu dengan spesies lainnya dalam marga yang sama. Seringkali nama marga dan spesies ini mengacu pada sifat khas dari suatu tumbuhan, lokasi dimana ditemukan, atau nama orang yang mengkoleksi atau memberi nama (Levelink dan Mawdsley, 1996). Klasifikasi Botani-Lanskap Klasifikasi botani-lanskap mencakup klasifikasi botani dan klasifikasi dalam bidang arsitektur lanskap. Klasifikasi ini terbagi menjadi sifat morfologi, karakteristik, sifat ekologi, dan fungsi pohon. Sifat-sifat morfologi yang harus diperhatikan dalam mendeskripsikan pohon menurut Tjitrosoepomo (2001) dibedakan berdasarkan morfologi biji, morfologi buah, morfologi bunga, morfologi daun, morfologi batang, dan morfologi akar. Setiap sifat morfologi dibedakan menjadi beberapa kriteria

19 106 seperti warna, jumlah, bentuk, dan Iain-lain. Sifat morfologi yang dibentuk oleh pohon akan mempengaruhi fungsi dari pohon itu sendiri. Carpenter et al. (1975) mengklasifikasikan karakteristik tanaman (pohon) berdasarkan bentuk, ukuran, tekstur, dan warna. Lebih lanjut karakteristik tanaman diklasifikasikan menjadi bentuk pertumbuhan, bentuk tajuk, tinggi pohon, tekstur, aroma, asal tanaman, dan diameter tajuk (Carpenter et al., 1975 dan Grey & Deneke, 1978). Sedangkan menurut Eckbo (1956), ukuran karakteristik fisik atau penampakan luar tanaman (pohon) adalah ketinggian, diameter, penyebaran, ruang, dan tingkat pertumbuhan. Bentuk tanaman memegang peranan dan harus dipertimbangkan dalam perancangan lanskap. Pohon dengan jenis yang sama pada ruang yang berbeda akan memiliki bentuk yang berbeda pula. Tingkat perkembangan dan perubahan pada pohon digunakan untuk mengetahui daya adaptasi pohon tersebut. Bentuk tanaman dibangun oleh garis luar tajuk, struktur cabang dan ranting, serta pola pertumbuhannya. Carpenter et al. (1975) mengklasifikasikan bentuk tajuk pohon menjadi bentuk kipas (vshape), menjurai (roundweeping), bulat (round), oval, berkolom (columnar), dan piramidal (pyramidal) (Gambar 2). Steven et al. (1994) dalam Wungkar (2005) menambahkan bentuk khusus sesuai karakter pohon yaitu palmate untuk jenis palem-paleman. Gambar 2. Bentuk Tajuk Pohon (Sumber: Carpenter et al., 1975) Ukuran pohon terbagi menjadi tinggi pohon dan diameter tajuk (kanopi) pohon (Carpenter et al., 1975). Lancestor (1993) mengklasifikasikan ukuran ketinggian pohon menjadi pohon pendek (3-6 m), pohon medium (6-15 m), dan pohon tinggi (>15 m). Tekstur pohon sangat mempengaruhi fungsi estetis suatu pohon. Tekstur pohon terbagi menjadi tekstur kasar dan tekstur halus. Pohon dengan tekstur kasar memiliki ciri berdaun besar (lebar), berjarak renggang,

20 107 menempel rapat, dan kaku. Sedangkan tekstur halus memiliki ciri berdaun kecil, berlekuk dalam, letak rapat (daun panjang), dan mengkilap. Variasi tekstur juga dipengaruhi oleh jarak pengamat ke pohon (Carpenter et al., 1975). Menurut Miller (1988), tanaman memiliki perbedaan dalam bentuk, warna, tekstur, densitas, dan tingkat pertumbuhan. Pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh keadaan lingkungan hidupnya (ekologi) (Carpenter et al., 1975). Carpenter et al. (1975) mengklasifikasikan hubungan antara tanaman dengan lingkungan berdasarkan toleransi terhadap bayangan, toleransi terhadap tanah basah, toleransi terhadap kemiringan, toleransi terhadap iklim pantai, dan toleransi terhadap kondisi kota. Sedangkan Eckbo (1956) mengklasifikasikan sifat ekologi tanaman berdasarkan toleransi terhadap suhu (temperatur), toleransi terhadap air (kelembaban), toleransi terhadap cahaya, toleransi terhadap tanah, toleransi angin, toleransi terhadap pemangkasan, dan toleransi terhadap hama dan penyakit. Tanaman (pohon) memberikan efek yang berbeda-beda dalam habitat yang sama (Carpenter et al., 1975). Pohon memiliki fungsi yang beragam sesuai dengan sifat morfologi, karakteristik, dan sifat ekologinya. Grey dan Deneke (1978) mengklasifikasikan fungsi pohon menjadi fungsi memperbaiki iklim (amelioration uses), fungsi pembentuk ruang (arsitektural), fungsi memperbaiki fungsi lingkungan (engineering), fungsi estetis, dan fungsi lain. Klasifikasi Umum Wee (2003) dan Steenis (1978) mengklasifikasikan pohon ke dalam klasifikasi yang lebih umum dikenal masyarakat. Menurut Wee (2003) pohon diklasifikasikan berdasarkan karakteristik tipikalnya yang mencakup bunga menarik (spectacular flower), dahan dan daun bercorak (colourful foliage and bark), aroma harum (sweet fragrance), buah menarik (fascinating figs), unik dan tak lazim (the bizarre and the unusual), manfaat umum (general purpose trees), pohon buah (fruit trees), penarik satwa (trees for the birds), pohon kayu (timber trees), sayuran (vegetables from trees), dan rempah, beverages, dan biji-bijianbijian (spices, beverages and nuts). Sedangkan Steenis (1978) mengklasifikasikan pohon berdasarkan lingkungan tumbuhnya yang mencakup tepi jalan (tanaman peneduh jalan), pohon dalam park, halaman di desa

21 108 (pekarangan), lingkungan tumbuh basah hingga tergenang (hygrofit), mangrove, pantai pasir, dan tanaman ruderal (keterbatasan lingkungan tumbuh). Klasifikasi menurut Wee (2003) dan Steenis (1978) selanjutnya dapat dikelompokkan menjadi klasifikasi umum. Klasifikasi umum tersebut dibedakan menjadi pohon dengan daya tarik estetis, manfaat/penggunaan, dan lingkungan tumbuh. Database dan Relational Database Management System (RDBMS) Basis data (database) merupakan sekumpulan informasi yang terkait pada subyek tertentu atau terkait pada tujuan tertentu. Basis data dapat juga didefinisikan sebagai kumpulan data yang secara logis berhubungan dan dirancang sesuai dengan kebutuhan pemiliknya (Awaluddin, 2004). Sedangkan menurut Firdaus (2006), basis data adalah tempat menyimpan data suatu informasi. Basis data dihimpun dan diorganisir berdasarkan jumlah data, sifat data, tingkat keberagaman dan tingkat kompleksitas data. Perangkat lunak word processing (Microsoft Word) digunakan untuk menghimpun dan mengorganisir basis data yang sederhana. Perangkat lunak spreadsheet (Microsoft Excel) digunakan dalam pengelolaan basis data yang terdiri dari data yang bersifat angka dan diperlukan perhitungan lanjutan. Namun jika jumlah data yang dikelola dalam jumlah banyak dan komponen data yang ada sangat beragam dan kompleks, maka penggunaan software word processing maupun software spreadsheet menjadi tidak tepat guna lagi. Pengelolaan data akan mengalami kendala, seperti data yang tersebar dalam berbagai file pada word processing maupun pada berbagai file pada spreadsheet, demikian pula jika dilakukan sebuah perubahan data, maka file yang ada pada data terkait harus ikut diubah pula, yang tentunya sulit dijamin pengubahan akan selalu tepat (Susanto dan Santoso, 2003). Konsep Relational Database Management System (RDBMS) digunakan untuk mengelola basis data yang terdiri dari data dalam jumlah yang banyak, komponen data yang ada sangat beragam, dan kompleks. Dalam RDBMS, semua data disimpan dalam sebuah tabel penyimpanan informasi mengenai sebuah subyek tertentu. Pada prinsipnya sebuah RDBMS terdiri dari tiga bagian (Susanto dan Santoso, 2003) yaitu Data Definition (mendefinisikan jenis data, metode relasi

22 109 data, validasi data dan lainnya), Data Manipulation (filter data, melakukan proses query dan sebagainya), Data Control (berkaitan dengan pengendalian data, seperti user control, bagaimana data dapat digunakan oleh banyak user dan sebagainya) Perangkat Lunak FileMaker Pro 7 FileMaker Pro merupakan aplikasi basis data cross-platform yang dikembangkan oleh FileMaker Inc (pemasok Apple Inc.). FileMaker merupakan software database yang diintegrasikan dengan tampilan berdasar GUI (Graphical User Interface) yang memudahkan pengguna untuk mengakses serta memodifikasi basis data dengan mendrag elemen baru ke dalam form layout yang tersedia pada tampilan pengguna. Sebagian besar sistem basis data lain, memisahkan antara basis data dan tampilan pengguna (user interface) tersebut, dan lebih menitikberatkan pada mengorganisasi dan menyimpan data (database). FileMaker Pro Versi 7, yang dirilis pada maret 2004, memberikan kemudahan untuk membangun dan mengelola multiple table per file dan graphical relationship editor yang menampilkan dan memudahkan memanipulasi tabel-tabel yang berkaitan pada sebuah form yang menyerupai format entityrelationship diagram. FileMaker Pro memudahkan pengguna untuk menulis dan mengedit script (kode) secara otomatis pada fungsi-fungsi umum dan perhitungan yang kompleks. Terdapat lebih dari 130 langkah script tersedia untuk navigasi, conditional execution of script steps, mengedit record, controlling windows, mencari record tertentu, memeriksa pengejaan dan pengelolaan account pengguna. Di samping itu, fungsi built-in dapat digunakan pada langkahlangkah script untuk perhitungan matematika, manipulasi teks dan pengqueryan konfigurasi basis data pengguna (Wikipedia (a), 2007).

23 110 KONDISI UMUM KEBUN RAYA BOGOR Kebun Raya Bogor Kebun Raya Bogor merupakan salah satu kebun koleksi dan penelitian terbesar di Indonesia. Kebun Raya Bogor memiliki luas sekitar 80 hektar dan memiliki jenis koleksi tanaman berupa ground cover hingga pohon, yang merupakan tanaman asli Indonesia maupun tanaman introduksi. Di sekitar Kebun Raya Bogor tersebar pusat-pusat keilmuan yaitu Herbarium Bogoriense, Museum Zoologi, dan Institut Pertanian Bogor. Gambar 3. Logo Kebun Raya Bogor (Sumber: Wikipedia (b), 2007) Sejarah Kebun Raya Bogor Kebun Raya Bogor pada mulanya merupakan bagian dari Samida (hutan buatan atau taman buatan) yang telah ada pada pemerintahan Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi, ) dari Kerajaan Pajajaran, sebagaimana tertulis dalam Prasasti Batutulis. Hutan buatan itu ditujukan untuk keperluan menjaga kelestarian lingkungan sebagai tempat memelihara benih benih kayu yang langka. Sir Thomas Stamford Raffles yang menjadi Gubernur Jenderal di Jawa pada periode 1811 hingga 1816, menetap di Buitenzorg, memiliki minat besar dalam bidang botani. Raffles berupaya membentuk kebun istana menjadi taman bergaya Inggris klasik. Inilah awal mula Kebun Raya Bogor dalam bentuknya sekarang. Ide pendirian Kebun Raya dicetuskan oleh Prof. Caspar Georg Karl Reinwardt, ahli biologi yang menjabat sebagai Kepala Usaha Pertanian, Kesenian, dan Pengetahuan untuk Jawa dan Pulau-Pulau di sekitarnya, yang meminta kepada Komisaris Jenderal Van Der Capellen untuk memberikannya

24 111 sebidang tanah yang akan dijadikan kebun tumbuhan yang bermanfaat, tempat pendidikan guru, dan koleksi tumbuhan bagi pengembangan kebun-kebun yang lain. Gubernur Jenderal Van Der Capellen secara resmi mendirikan Kebun Raya Bogor pada tahun 18 Mei 1817, dengan nama s'lands Plantentuinte Buitenzorg. Reinwardt menjadi direktur pertamanya dari 1817 sampai Reinwardt melakukan pengumpulan tanaman dan benih dari berbagai bagian lain nusantara. Dengan segera Bogor menjadi pusat pengembangan pertanian dan hortikultura di Indonesia. Reinwardt digantikan oleh Dr. Carl Ludwig Blume (1822) yang melakukan inventarisasi tanaman koleksi yang tumbuh di kebun. Blume digantikan oleh Johanes Elias Teysmann (1831) yang dibantu oleh Hasskarl, melakukan pengaturan penanaman tanaman koleksi dengan mengelompokkan menurut familia (suku). Teysmann kemudian digantikan oleh Dr. Scheffer pada tahun 1867 menjadi direktur, dan dilanjutkan kemudian oleh Prof. Dr. Melchior Treub. Direktur Kebun Raya Bogor hingga diambil alih pengelolaannya oleh Indonesia, yaitu Caspar Georg Karl Reinwardt ( ), Carl Ludwig Blume ( ), Johannes Elias Teijsmann ( ), Rudolph Herman Christian Carel Scheffer ( ), Melchior Treub ( ), Willem Marius Docters van Leeuwen ( ), Hermann Ernst Wolff von Wülfing ( ), Takenosin Nakai ( ), Dirk Fok van Slooten ( ). Pendirian Kebun Raya Bogor mengawali perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Dari sini lahir beberapa institusi ilmu pengetahuan lain, seperti Bibliotheca Bogoriensis (1842), Herbarium Bogoriense (1844), Kebun Raya Cibodas (1860), Laboratorium Treub (1884), dan Museum dan Laboratorium Zoologi (1894); dan kelembagaan internal Kebun Raya, seperti Herbarium, Museum, Laboratorium Botani, Kebun Percobaan, Laboratorium Kimia, Laboratorium Farmasi, Cabang Kebun Raya di Sibolangit dan di Purwodadi, Perpustakaan Fotografi dan Tata Usaha, Kantor Perikanan dan Akademi Biologi (cikal bakal IPB) (Wikipedia (b), 2007). Katalog Kebun Raya Bogor Kegiatan pembuatan katalog mengenai koleksi tanaman di Kebun Raya Bogor telah dilakukan oleh direktur-direktur sebelum diambil alih oleh Indonesia,

25 112 mencakup pencatatan lengkap tentang koleksi tumbuh-tumbuhan Cryptogamae, 25 spesies Gymnospermae, 51 spesies Monocotyledonae dan 2200 spesies Dicotyledonae, usaha pengenalan tanaman ekonomi penting di Indonesia, dan pengumpulan tanaman-tanaman yang berguna bagi Indonesia (Wikipedia (b), 2007). Katalog tanaman Kebun Raya yang pertama mencatat sebanyak 914 spesies (jenis) tanaman, dipublikasikan pada tahun 1823 oleh Dr. Carl Ludwig Blume. Buku ini menjadi dasar katalog yang masih dipergunakan saat ini. Katalog Kebun Raya Bogor yang paling lengkap, An Alphabetical List of Plants Cultivated in The Botanic Garden, disusun oleh Dakkus pada tahun Katalog tersebut diperbaharui dua kali yaitu pada tahun 1957 dan An Alphabetical List of Plant Species Cultivated in The Hortus Botanicus Bogoriensis diterbitkan pada tahun Katalog tersebut mengalami perbaikan pada tahun 1985 (Levelink dan Mawdsley, 1996). Pengelola Kebun Raya Bogor menerbitkan katalog tanaman Kebun Raya Bogor setiap 6 tahun sekali. Katalog tersebut berisikan Nama Species Tanaman, Nama Familia Tanaman, Nomor Tanaman, Lokasi Tanaman, Taksonomis Pendeskripsi Tanaman, dan Wilayah Penyebaran Tanaman. Potensi yang dimiliki Kebun Raya Bogor belum sepenuhnya termanfaatkan secara optimal karena masih kurangnya data dan informasi mengenai jenis tanaman terutama pohon seperti sifat, karakteristik serta syarat tumbuhnya, hingga diperlukan penyempurnaan baik berupa penyempurnaan materi maupun penyajian katalog. Pengelompokan Lokasi Koleksi Jalan utama (aspal), jalan setapak (batu), dan saluran air membagi Kebun Raya Bogor menjadi bagian-bagian yang kemudian dibagi lagi menjadi petak-petak. Setiap bagian ditandai dengan angka romawi dan setiap petak ditandai dengan huruf; keduanya dituliskan pada tonggak kecil di tepi suatu bagian. Hampir semua tanaman memiliki label dari logam berwarna hijau dan label aluminium kecil yang mengidentifikasi tanaman itu secara lengkap. Periode tahun 1837 hingga 1844, Kebun Raya Bogor mengalami penataan ulang menjadi kelompok suku-suku dan sebagai akibatnya sebagian besar koleksi harus ditanam ulang. Tanaman yang tak mungkin ditanam ulang dan berada di luar bagian suku tumbuhannya diidentifikasi dengan label berwarna merah yang menunjukkan tahun tanamnya. Lingkaran kecil merah

26 113 dengan huruf K menunjukkan bahwa tanaman tersebut merupakan spesimen tunggal dan Kebun Raya belum berhasil memperbanyaknya, sehingga tergolong kritis (dalam bahaya kepunahan) (Levelink dan Mawdsley, 1996). Gambar 4. Contoh Label Identifikasi (Sumber: Levelink dan Mawdsley, 1996)

27 114 METODOLOGI Lokasi dan Waktu Penelitian dilakukan di Kebun Raya Bogor, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor. Waktu penelitian dimulai pada bulan Juli 2007 hingga Desember Gambar 5. Peta Kebun Raya Bogor Bahan dan Alat Data input penelitian meliputi foto dan data atribut. Foto yang digunakan berupa foto pohon. Kendala teknis pengambilan foto untuk memperoleh foto yang representatif, misalnya tumpang tindih tajuk, mungkin akan dialami, sehingga ditampilkan foto yang mewakili jenis pohon tersebut dari pustaka. Foto Pohon mencakup foto primer dan foto sekunder; foto primer diperoleh melalui pengambilan foto langsung di lapang (di dalam dan atau di luar Kebun Raya Bogor), sedangkan foto sekunder diperoleh dari pustaka dan penelitian sebelumnya. Foto diambil dengan menggunakan kamera digital sehingga mudah dalam proses pemasukan data. Data atribut berupa informasi mengenai deskripsi dan klasifikasi jenis pohon, yang mencakup klasifikasi botani-lanskap (sifat morfologi, sifat ekologi, karakteristik, dan fungsi) dan klasifikasi umum. Data atribut diperoleh melalui pengamatan langsung di lapang dan diperoleh dari pustaka. Pustaka diperoleh di Perpustakaan Kebun Raya Bogor, Perpustakaan Departemen Arsitektur Lanskap IPB, dan Lembaga Sumber daya Informasi (LSI) IPB. Peralatan lapang berupa kamera digital untuk merekam obyek pohon, alat ukur panjang dan alat tulis. Kamera digital yang digunakan memiliki kemampuan rekam 2 megapixel warna.

28 115 Peralatan yang digunakan untuk penyusunan basis data adalah perangkat komputer Toshiba TECRA 8100 yang mencakup Processor Intel Pentium III 690 MHz (MegaHertz), Hard disk drive 20 GB (GygaByte), RAM (Random Access Memory) card 256 MB (MegaByte), DVD-Rom drive 8x speed (CD-Rom drive 52x speed), VGA (Visual Graphics Accelerator) card built-in, Operating System Microsoft Windows XP Professional Version Perangkat lunak penyusunan basis data adalah perangkat lunak FileMaker Pro 7. FileMaker digunakan untuk membuat aplikasi basis data dengan user interface yang user friendly. Metode Studi Metode studi penyusunan basis data pohon Kebun Raya Bogor mencakup: a. Tahap studi pustaka mengenai identifikasi dan klasifikasi pohon Menganalisa klasifikasi jenis pohon Proses mencari data untuk pengklasifikasian jenis tanaman, kemudian dianalisa data yang dibutuhkan untuk pengklasifikasian jenis pohon. Pengumpulan data jenis pohon Mengumpulkan jenis pohon yang akan dimasukkan dalam basis data. Mendeskripsikan dan mengidentifikasi jenis pohon yang dipilih berdasarkan klasifikasi yang telah ditentukan. b. Tahap pengambilan dan pengumpulan data dan informasi pohon (survey) c. Tahap penentuan rancangan (struktur) basis data Penentuan data input yang akan dihimpun dalam basis data. Proses membangun basis data dengan menggunakan FileMaker Pro 7. d. Tahap pemasukan data dan pengelolaan basis data Proses pemasukan data dalam FileMaker Pro 7 sesuai dengan sifat dan jenis data yang diklasifikasikan Proses pengelolaan/pengaturan basis data (basis data dan tampilan pengguna) e. Tahap pembahasan Proses pembahasan dan analisa mengenai data pohon, basis data, dan manfaatnya.

29 116 Tahap Studi Pustaka Mengenai Deskripsi dan Klasifikasi Pohon Menganalisa Klasifikasi Jenis Pohon Pengumpulan Data Jenis Pohon Mendeskripsikan dan Mengidentifikasi Jenis Pohon Tahap Pengambilan dan Pengumpulan Data dan Informasi Pohon (Survey) Tahap Penentuan Rancangan (Struktur) Basis Data Tahap Pemasukan Data dan Pengelolaan Basis Data Tahap Pembahasan Gambar 6. Metode Studi Penyusunan Basis Data Pohon Kebun Raya Bogor Klasifikasi Obyek Obyek dalam studi ini berupa pohon koleksi Kebun Raya Bogor yang dikelompokkan berdasarkan pengklasifikasian secara botani pada takson tingkat familia, lokasi pohon di Kebun Raya Bogor, klasifikasi botani-lanskap (sifat morfologi, karakteristik, sifat ekologi, dan fungsi) dan klasifikasi umum (daya tarik estetis, manfaat/penggunaan, dan lingkungan tumbuh) (Gambar 7). Pengelompokan ini digunakan sebagai data atribut yang diinput dalam basis data. Klasifikasi Botani-Lanskap Sifat-sifat morfologi yang harus diperhatikan dalam mendeskripsikan pohon menurut Tjitrosoepomo (2001) (Gambar 9), dibedakan berdasarkan morfologi biji (Tabel 10), morfologi buah (Gambar 11), morfologi bunga (Gambar 12), morfologi daun (Gambar 13), morfologi batang (Gambar 14), dan morfologi akar (Gambar 15). Setiap sifat morfologi dibedakan menjadi beberapa kriteria seperti warna, jumlah, bentuk, dan Iain-lain.

30 117 Carpenter et al. (1975) mengklasifikasikan karakter tanaman (pohon) berdasarkan bentuk, ukuran, tekstur, dan warna. Lebih lanjut karakteristik pohon diklasifikasikan menjadi bentuk pertumbuhan, bentuk tajuk, tinggi pohon, diameter tajuk, tekstur, aroma, dan asal tanaman (Carpenter, 1975 dan Grey & Deneke, 1978) (Gambar 16). Eckbo (1956) mengklasifikasikan sifat ekologi tanaman (pohon) berdasarkan toleransi terhadap suhu (temperatur), toleransi terhadap air (kelembaban), toleransi terhadap cahaya, toleransi terhadap tanah (ph), toleransi angin, toleransi terhadap pemangkasan (pemeliharaan), dan toleransi terhadap hama dan penyakit (Gambar 17). Grey dan Deneke (1978) mengklasifikasikan fungsi pohon menjadi fungsi memperbaiki iklim (amelioration uses), fungsi pembentuk ruang (arsitektural), fungsi memperbaiki fungsi lingkungan (engineering), fungsi estetis, dan fungsi lain; dimana fungsi-fungsi tersebut diklasifikasikan lagi menjadi fungsi-fungsi yang lebih terperinci untuk setiap jenis pohon (Gambar 18). Klasifikasi Umum Wee (2003) dan Steenis (1978) mengklasifikasikan pohon ke dalam klasifikasi yang lebih umum dikenal masyarakat. Klasifikasi umum tersebut dibedakan menjadi pohon dengan daya tarik estetis, manfaat/penggunaan, dan lingkungan tumbuh (Gambar 19). Daya tarik estetis pohon mencakup bunga menarik, dahan dan daun bercorak, aroma harum, buah menarik, serta unik dan tak lazim (Wee, 2003); pengelompokan berdasarkan manfaat/penggunaan mencakup pohon peneduh (Steenis, 1978), pohon buah, penarik satwa, pohon kayu, rempah, beverages, dan biji-bijian-bijian, sayuran, dan manfaat umum (Wee, 2003); sedangkan pengelompokan berdasarkan lingkungan tumbuh mencakup tepi jalan, pohon dalam park/garden, lingkungan tumbuh basah hingga tergenang (hygrofit), mangrove, pantai pasir, dan tanaman ruderal (keterbatasan lingkungan tumbuh) (Steenis, 1978).

31 118 Tanaman Koleksi Kebun Raya Bogor Pohon Familia Species (Nama Botani, Nama Umum, Lokasi di KRB, Foto) Klasifikasi Botani-Lanskap Klasifikasi Umum Sifat Morfologi Karakteristik Sifat Ekologi Fungsi Daya Tarik Estetis Manfaat/Pengunaan Lingkungan Tumbuh Gambar 7. Model Klasifikasi Pohon Kebun Raya Bogor Klasifikasi Botani-Lanskap Sifat Morfologi Karakteristik Sifat Ekologi Fungsi Morfologi Biji Morfologi Buah Morfologi Bunga Morfologi Daun Morfologi Batang Morfologi Akar Bentuk Pertumbuhan Bentuk Tajuk Tinggi Pohon Diameter Tajuk Tekstur Aroma Asal Tanaman Toleransi Suhu Toleransi Air Toleransi Cahaya Toleransi ph Toleransi Angin Toleransi HPT Toleransi Ketinggian Tingkat Pemeliharaan Amelioration Arsitektural Engineering Estetis Lainnya Gambar 8. Model Klasifikasi Botani-Lanskap

32 119 Sifat Morfologi Morfologi Biji Morfologi Buah Morfologi Bunga Morfologi Daun Morfologi Batang Morfologi Akar Gambar 9. Model Klasifikasi Sifat Morfologi Pohon Morfologi Biji Jenis Biji Biji Terbuka (Gymnospermae) Biji Tertutup (Angiospermae) Tidak Berbiji Gambar 10. Model Klasifikasi Morfologi Biji Morfologi Buah Jenis Buah Buah Semu Buah Sejati Tidak Berbuah Gambar 11. Model Klasifikasi Morfologi Buah Morfologi Bunga Jumlah Bunga Letak Bunga Warna Bunga Berbunga Tunggal Berbunga Banyak Ujung Batang Ketiak Daun Pangkal Cabang Batang Merah Putih Lainnya Gambar 12. Model Klasifikasi Morfologi Bunga

33 120 Morfologi Daun Bentuk Daun Tulang Daun Ujung Tepi Daun Warna Daun Daun Permukaan Daun Bulat Memanjang Jorong Lanset Perisai Bulat Telur Lainnya Menyirip Menjari Melengkung Sejajar Lainnya Runcing Meruncing Tumpul Membulat Rampang Terbelah Berduri Rata Bergerigi Bergiri Beringgit Berlekuk Berombak Lainnya Hijau Tua Hijau Merah Lainnya Licin Berkerut Berbulu Bersisik Lainnya Gambar 13. Model Klasifikasi Morfologi Daun Morfologi Batang Bentuk Batang Permukaan Batang Percabangan Bulat Persegi Pipih Licin Kasar Beralur Bersisik Berduri Lainnya Monopodial Simpodial Dikotom Gambar 14. Model Klasifikasi Morfologi Batang Morfologi Akar Sistem Perakaran Modifikasi Akar Akar Tunggang Akar Serabut Akar Udara Akar Pembelit Akar Nafas Akar Tunjang Akar Lutut Akar Banir Gambar 15. Model Klasifikasi Morfologi Akar

34 121 Karakteristik Bentuk Pertumbuhan Bentuk Tajuk Tinggi Pohon Diameter Tajuk Tekstur Aroma Asal Pohon Deciduous Evergreen Palem Bambu Irregular V-shape Horisontal Piramidal Berkolom Bulat Menjurai Kubah Palmate 3-6 m 6-15 m >15 m <6 m 6-15 m >15 m Kasar Halus Ada Tidak Ada Indonesia Introduksi Gambar 16. Model Klasifikasi Karakteristik Pohon Sifat Ekologi Toleransi Suhu Toleransi Air Toleransi Cahaya Toleransi ph Toleransi Angin Toleransi HPT Toleransi Ketinggian Tingkat Pemeliharaan Rendah Tinggi Rendah- Tinggi Kering Lembab Kering- Lembab Naungan Setengah Naungan Terbuka Asam Netral Basa Asam- Basa Rendah Tinggi Peka Cukup Tahan Rendah Rendah- Tinggi Intensif Tidak Intensif Gambar 17. Model Klasifikasi Sifat Ekologi Pohon Fungsi Memperbaiki Iklim Fungsi Arsitektural Engineering Uses Fungsi Estetis Fungsi Lainnya Kontrol Suhu Kontrol Angin Kontrol Kelembaban Membentuk Dinding Membentuk Ruang Kontrol Privasi Pembatas Pengarah Memberi Naungan Mengontrol Erosi Mengurangi Kebisingan Mengontrol Jalan Kontrol Visual Mengurangi Polusi Membingkai View Melunakkan Garis Arsitektural Menyatukan Elemen Lanskap Melunakkan Setting Kaku Indikator Sejarah Habitat Satwa Liar Upacara Adat/Agama Gambar 18. Model Klasifikasi Fungsi Pohon

35 122 Klasifikasi Umum Daya Tarik Estetis Manfaat/Penggunaan Lingkungan Tumbuh Bunga Menarik Dahan dan Daun Bercorak Aroma Harum Buah Menarik Unik dan Tak Lazim Pohon Peneduh Pohon Buah Penarik Satwa Pohon Kayu Rempah, Beverages, dan Biji-bijian Sayuran Manfaat Umum Tepi Jalan Park/Garden Basah hingga Tergenang Mangrove Pantai Pasir Ruderal Gambar 19. Model Klasifikasi Umum Identifikasi Klasifikasi Obyek Obyek dalam studi ini berupa pohon koleksi Kebun Raya Bogor. Identifikasi jenis pohon merupakan syarat untuk klasifikasi-klasifikasi selanjutnya. Identifikasi jenis pohon tersebut ditunjukkan pada Tabel 1. Tabel 1. Identifikasi Pemilihan Pohon Obyek Pohon Koleksi Kebun Raya Bogor Identifikasi Habitusnya berupa pohon Keberadaannya merupakan koleksi Kebun Raya Bogor Sumber: Danimihardja, S. dan Djumadi N. (Eds.) (1985) dan basis data koleksi Kebun Raya Bogor Kebun Raya Bogor dikelompokkan menjadi bagian-bagian yang kemudian dikelompokkan kembali menjadi petak-petak. Setiap bagian ditandai dengan angka romawi dan setiap petak ditandai dengan huruf; keduanya dituliskan pada tonggak kecil di tepi suatu bagian. Lokasi pohon di Kebun Raya Bogor diidentifikasikan berdasarkan bagian-bagian dan petak-petak (vak) tersebut (Gambar Lampiran 1). Identifikasi Klasifikasi Botani-Lanskap Klasifikasi sifat morfologi pohon diidentifikasikan berdasarkan morfologi biji, morfologi buah, morfologi bunga, morfologi daun, morfologi batang, dan morfologi akar. Morfologi biji dan buah masing-masing diidentifikasikan berdasarkan jenis biji dan jenis buah (Tabel 2).

36 Tabel 2. Identifikasi Morfologi Biji dan Buah Sifat Morfologi A. Morfologi Biji (Jenis Biji) 1. Biji Terbuka (Gymnospermae) 2. Biji Tertutup (Angiospermae) B. Morfologi Buah (Jenis Buah) 1. Buah Semu 2. Buah Sejati Sumber: Tjitrosoepomo (2001) Identifikasi 123 Kulit biji terdiri dari dua lapisan yaitu lapisan kulit luar dan kulit dalam Kulit biji terdiri dari tiga lapisan yaitu lapisan kulit luar, kulit tengah, dan kulit dalam Buah bukan berasal dari bakal buah, tetapi dari bagian-bagian bunga lainnya seperti tangkai bunga, tandan bunga, dasar bunga dan kelopak bunga Buah berasal dari bakal buah Klasifikasi morfologi bunga diidentifikasikan berdasarkan jumlah bunga, letak bunga, dan warna bunga. Identifikasi morfologi bunga berdasarkan jumlah bunga dan letak bunga ditunjukkan pada Tabel 3, sedangkan identifikasi morfologi bunga berdasarkan warna bunga dibedakan berdasarkan warna yang telah dikenal umum. Tabel 3. Identifikasi Morfologi Bunga Berdasarkan Jumlah Bunga dan Letak Bunga Morfologi Bunga Identifikasi 1. Jumlah Bunga a. Berbunga Tunggal Dalam satu pohon hanya terdapat satu bunga b. Berbunga Majemuk Dalam satu pohon terdapat lebih dari satu bunga 2. Letak Bunga a. Ujung Batang b. Ketiak Daun c. Pangkal Cabang d. Batang Sumber: Tjitrosoepomo (2001) Bunga tumbuh di ujung batang Bunga tumbuh di ketiak daun Bunga tumbuh di pangkal cabang Bunga tumbuh pada batang Klasifikasi morfologi daun diidentifikasikan berdasarkan bentuk daun (Gambar 20), jumlah daun (Tabel 4) (Gambar 21), tulang daun (Gambar 22), ujung daun (Gambar 23), tepi daun (Gambar 24), warna daun (dibedakan berdasarkan warna yang telah dikenal umum), dan permukaan daun (Tabel 5).

37 124 Gambar 20. Morfologi Bentuk Daun (Sumber: Tjitrosoepomo, 2001) Tabel 4. Identifikasi Morfologi Daun Berdasarkan Jumlah Daun Morfologi Daun Berdasarkan Identifikasi Jumlah Daun Daun Tunggal Hanya terdapat satu helaian daun pada tangkai daunnya Daun Majemuk Tangkainya bercabang-cabang Helaian daun terdapat pada cabang tangkai Terdapat lebih dari satu helaian daun pada tangkai daunnya Sumber: Tjitrosoepomo (2001) Gambar 21. Morfologi Daun Majemuk (Sumber: Tjitrosoepomo, 2001)

38 125 Gambar 22. Morfologi Tulang Daun (Sumber: Tjitrosoepomo, 2001) Gambar 23. Morfologi Ujung Daun (Sumber: Tjitrosoepomo, 2001) Gambar 24. Morfologi Tepi Daun (Sumber: Tjitrosoepomo, 2001) Tabel 5. Identifikasi Morfologi Daun Berdasarkan Permukaan Daun Morfologi Daun Identifikasi Berdasarkan Permukaan Daun Licin Permukaan daun mengkilat, suram atau berselaput lilin Gundul Permukaan daun tidak mengkilat Kasap Permukaan daun apabila disentuh akan terasa kasar Berkerut Permukaan daun terlihat berkerut Berbulu Permukaan daun apabila disentuh akan

39 126 Bersisik Sumber: Tjitrosoepomo (2001) terasa berbulu Permukaan terlihat bersisik Klasifikasi morfologi batang diidentifikasikan berdasarkan bentuk batang (Tabel 6), permukaan batang (Gambar 25) dan percabangan (Tabel 7) (Gambar 26). Tabel 6. Identifikasi Morfologi Batang Berdasarkan Bentuk Batang Morfologi Batang Identifikasi Berdasarkan Bentuk Batang Bulat Bentuk penampang melintang batang berbentuk bulat Persegi Bentuk penampang melintang batang berbentuk segi tiga, dan atau Bentuk penampang melintang batang berbentuk segi empat Pipih Bentuk penampang melintang batang melebar menyerupai daun dan mengambil alih fungsi daun Sumber: Tjitrosoepomo (2001) Gambar 25. Morfologi Permukaan Batang (Sumber: Grey dan Deneke, 1978) Tabel 7. Identifikasi Morfologi Batang Berdasarkan Percabangan Morfologi Batang Identifikasi Berdasarkan Bentuk Percabangan Monopodial Batang pokok selalu tampak jelas, karena lebih besar dan lebih panjang daripada cabang-cabangnya Simpodial Batang pokok sukar ditentukan Dikotom/Menggarpu Cara percabangan dimana batang setiap kali menjadi dua cabang Sumber: Tjitrosoepomo (2001)

40 127 Gambar 26. Morfologi Percabangan (Sumber: Tjitrosoepomo, 2001) Klasifikasi morfologi akar diidentifikasikan berdasarkan sistem perakaran (Tabel 8) (Gambar 27) dan modifikasi akar (Gambar 28). Tabel 8. Identifikasi Morfologi Akar Berdasarkan Sistem Perakaran Morfologi Akar Identifikasi Berdasarkan Sistem Percabangan Akar Tunggang Akar lembaga tumbuh terus menjadi akar pokok yang bercabang-cabang menjadi akar yang lebih kecil Akar Serabut Akar lembaga dalam perkembangan selanjutnya mati atau kemudian disusul oleh sejumlah akar yang kurang lebih sama besar dan semuanya keluar dari pangkal batang Sumber: Tjitrosoepomo (2001) Gambar 27. Morfologi Sistem Perakaran Pohon (Sumber: Tjitrosoepomo, 2001)

41 128 Gambar 28. Morfologi Modifikasi Akar Pohon (Sumber: Tjitrosoepomo, 2001) Klasifikasi Karakteristik pohon dalam basis data ini diidentifikasikan berdasarkan bentuk pertumbuhan (Tabel 9), bentuk tajuk (Tabel 10) (Gambar 29), tinggi pohon, diameter pohon, tekstur pohon (Tabel 11), aroma, perbanyakan, dan asal pohon. Tabel 9. Identifikasi Karakteristik Pohon Berdasarkan Bentuk Pertumbuhan Karakteristik Pohon Identifikasi Berdasarkan Bentuk Pertumbuhan Pohon Gugur Daun (Deciduous) Pada waktu tertentu dapat menggugurkan daunnya Pohon Evergreen Berdaun sepanjang tahun Palem Memiliki akar serabut Memiliki bentuk tajuk palmate Bambu Memiliki bentuk batang bulat dan permukaan batang licin Bentuk daun pedang Tabel 10. Identifikasi Karakteristik Pohon Berdasarkan Bentuk Tajuk Karakteristik Pohon Identifikasi Berdasarkan Bentuk Tajuk Tidak Beraturan (Irregular) Bentuk pohon terlihat tidak teratur, percabangan tidak teratur Kipas (V-Shape) Bentuk pohon berbentuk seperti kipas, semakin ke bawah, semakin mengecil Horisontal Percabangan horisontal Piramid Bentuk pohon semakin ke atas semakin mengecil seperti bangun kerucut Berkolom Bentuk pohon dari atas sampai bawah sama besar membentuk tabung atau silinder Bulat Bentuk pohon bulat Menjurai (Weeping) Arah percabangan melengkung ke bawah

42 129 Kubah sehingga bentuknya seperti memayung Bentuk pohon setengah lingkaran Gambar 29. Bentuk Tajuk Pohon (Sumber: Carpenter et al., 1975) Tabel 11. Identifikasi Karakteristik Pohon Berdasarkan Tekstur Pohon Karakteristik Pohon Identifikasi Berdasarkan Tekstur Pohon Tekstur Kasar Daun lebar/besar, jarak antar daun berjauhan dan atau, Daun kecil, menempel rapat, dan kaku Tekstur Halus Daun kecil, berlekuk dalam, letak rapat dan atau, Daun mengkilap, panjang Sumber: Carpenter et al. (1975) Klasifikasi sifat ekologi pohon dalam basis data ini diidentifikasikan berdasarkan toleransi suhu, toleransi kelembaban, toleransi cahaya, toleransi ph tanah, toleransi angin, tingkat pemeliharaan, dan toleransi hama dan penyakit tanaman. Identifikasi sifat ekologi pohon ditunjukkan pada Tabel 12. Tabel 12. Identifikasi Sifat Ekologi Pohon Sifat Ekologi Pohon A. Toleransi Suhu 1. Rendah 2. Tinggi B. Toleransi Kelembaban 1. Kering 2. Lembab Identifikasi Pohon masih dapat tumbuh pada suhu rendah Suhu terendah hingga 5 O C (Molisch (1896) dalam Levitt (1980)) Pohon masih dapat tumbuh pada suhu tinggi Suhu tertinggi hingga 40 O C (Levitt, 1980) Pohon masih dapat tumbuh pada kelembaban kering Kelembaban relatif hingga 0,49% (Levitt, 1972) Pohon masih dapat tumbuh pada

43 130 C. Toleransi Cahaya 1. Naungan 2. Setengah Naungan 3. Terbuka D. Toleransi ph Tanah 1. Asam 2. Basa 3. Netral 4. Asam-Basa E. Toleransi Angin 1. Tinggi 2. Rendah F. Tingkat Pemeliharaan 1. Intensif 2. Tidak Intensif G. Toleransi Hama dan Penyakit 1. Peka 2. Tahan kelembaban lembab Kelembaban relatif hingga mendekati 100% (Levitt, 1980) Pertumbuhan pohon optimum pada daerah yang ternaungi Pohon memerlukan intensitas cahaya sedang Pertumbuhan pohon optimum pada daerah yang terkena cahaya matahari langsung ph tanah berkisar antara 0-7 ph tanah berkisar antara 7-14 ph tanah 7 ph tanah berkisar antara 0-14 Perakaran dan percabangan kuat Perakaran tidak kuat dan percabangan lemah Pemeliharaan rutin; pohon peka terhadap HPT Pemeliharaan tidak rutin; pohon tahan terhadap HPT Pohon rentan terhadap perubahan iklim dan HPT Pohon tahan terhadap perubahan iklim dan HPT Klasifikasi fungsi pohon dalam basis data ini dibedakan berdasarkan fungsi memperbaiki iklim (Tabel 13), fungsi arsitektural (Tabel 14), fungsi engineering (Tabel 15), fungsi estetis (Tabel 16), dan fungsi lain (Tabel 17). Identifikasi fungsi pohon ini dapat ditentukan berdasar sifat morfologi dan karakteristik pohon yang telah diklasifikasikan. Tabel 13. Identifikasi Fungsi Pohon Berdasarkan Fungsi Memperbaiki Iklim Fungsi Pohon Identifikasi Berdasarkan Fungsi Memperbaiki Iklim Kontrol Suhu Pohon yang memiliki kerapatan daun yang tinggi Pohon yang memiliki bentuk tajuk bulat, berkolom, dan menjurai (weeping) Kontrol Angin Pohon yang memiliki kerapatan daun yang tinggi Pohon dengan bentuk pertumbuhan konifer lebih efektif dalam mengurangi kecepatan angin Pohon yang memiliki batang, percabangan dan perakaran yang kuat Kontrol Kelembaban Pohon yang memiliki kerapatan daun yang tinggi, dan atau

44 131 Sumber: Grey dan Deneke (1978) Pohon yang memiliki bentuk tajuk bulat, berkolom, dan menjurai (weeping) Tabel 14. Identifikasi Fungsi Pohon Berdasarkan Fungsi Arsitektural Fungsi Pohon Identifikasi Berdasarkan Fungsi Arsitektural Membentuk Dinding Tajuk berkolom atau piramid Membentuk Ruang dan Menempati Bentuk tajuk bulat atau tidak beraturan Ruang Memiliki warna yang menarik Kontrol Privasi Percabangan rendah Kerapatan daun tinggi Pembatas Tajuk pohon berbentuk oval atau bulat Kerapatan daun tinggi Pengarah Tajuk pohon berbentuk bulat, berkolom atau piramid Memberi Naungan Tajuk menjurai/bulat/kubah dan Kerapatan daun tinggi Sumber: Grey dan Deneke (1978) Tabel 15. Identifikasi Fungsi Pohon Berdasarkan Fungsi Engineering Fungsi Pohon Identifikasi Berdasarkan Fungsi Engineering Kontrol Erosi Pohon yang memiliki kerapatan daun yang tinggi Permukaan daun berambut Bentuk pertumbuhan konifer Batang pohon kasar Percabangan horisontal Pohon yang memiliki akar serabut Kontrol Suara Kerapatan daun tinggi Daun yang berdaging tebal Percabangan rendah Kontrol Visual Kerapatan daun tinggi Bentuk tajuk yang menarik seperti bulat, piramid, berkolom, menjurai Pohon yang memiliki bunga dengan warna yang menarik Kontrol Polusi Udara Permukaan daun berambut Bentuk pertumbuhan deciduous dan konifer sangat efektif dalam mengurangi polusi udara Pohon yang memiliki aroma harum Kontrol Jalan Pohon memiliki bentuk tajuk yang menarik, seperti piramid, berkolom, menjurai Tidak memiliki ketinggian yang dapat menghalangi pandangan pengguna jalan Pohon tidak menghasilkan buah yang besar Daya tumbuh tidak agresif Kontrol Cahaya Pohon yang memiliki kerapatan daun yang tinggi

45 Percabangan pendek Pohon dengan tajuk bulat/kubah/tidak beraturan/menjurai Sumber: Grey dan Deneke (1978) dan Steenis (1978) 132 Tabel 16. Identifikasi Fungsi Pohon Berdasarkan Fungsi Estetis Fungsi Pohon Identifikasi Berdasarkan Fungsi Estetis Membingkai View Pohon dengan tajuk oval atau bulat Melunakkan Garis Arsitektural Pohon dengan tajuk oval atau bulat Menyatukan Elemen Lanskap Pohon dengan tajuk oval atau bulat Melunakkan Setting Yang Kaku Pohon dengan tajuk bulat atau berkolom Sumber: Grey dan Deneke (1978) Tabel 17. Identifikasi Fungsi Pohon Berdasarkan Fungsi Lain Fungsi Pohon Identifikasi Berdasarkan Fungsi lain Indikator Sejarah Pohon memiliki nilai terhadap suatu wilayah, negara, atau peristiwa Habitat Satwa Liar Pohon dengan kerapatan daun yang tinggi Pohon penghasil makanan satwa Upacara Adat/Keagamaan Pohon memiliki nilai dan digunakan dalam upacara adat/keagamaan Sumber: Grey dan Deneke (1978) dan Wee (2003) Identifikasi Klasifikasi Umum Klasifikasi daya tarik estetis pohon dalam basis data ini diidentifikasikan berdasarkan bunga menarik, dahan dan daun bercorak, aroma harum, buah menarik, unik dan tak lazim. Identifikasi daya tarik estetis pohon ditunjukkan pada Tabel 18. Tabel 18. Identifikasi Daya Tarik Estetis Pohon Daya Tarik Estetis Pohon Identifikasi Bunga Menarik Berbunga menarik ketika mekar sempurna Bentuk bunga yang besar Bunga dengan warna menarik Kumpulan bunga-bunga kecil dalam jumlah yang banyak Dahan dan Daun Bercorak Pohon yang memiliki bagian tubuh, selain bunga, bercorak/berwarna Dahan, daun, maupun batang Aroma Harum Pohon yang memiliki bagian tubuh beraroma harum Bunga, daun, maupun batang Buah Menarik Buah berdaging dengan bunga didalamnya (figs) Bukan merupakan buah yang umum

46 133 Unik dan Tak Lazim Sumber: Wee (2003) dikonsumsi (fruits) Pada umumnya merupakan famili moraceae Pohon yang memiliki beberapa bagian tubuh yang tidak biasa, dan Seringkali ditanam karena keingintahuan Klasifikasi manfaat/penggunaan pohon dalam basis data ini diidentifikasikan berdasarkan pohon peneduh, pohon buah, penarik satwa, pohon kayu, rempah, beverages, dan biji-bijian, sayuran, dan manfaat umum. Identifikasi manfaat/penggunaan pohon ditunjukkan pada Tabel 19. Tabel 19. Identifikasi Manfaat/Penggunaan Pohon Manfaat/Penggunaan Pohon Identifikasi Pohon Peneduh Tajuk pohon menjurai/bulat/kubah Daun lebat, rapat, rimbun Buah tidak terlalu besar Toleransi angin tinggi Pohon Buah Pohon penghasil buah (fruits), dan buahnya dapat dikonsumsi dalam bentuk mentah Penarik Satwa Pohon dengan kerapatan daun yang tinggi Pohon penghasil makanan satwa Pohon Kayu Pohon yang memiliki nilai pada kayunya untuk digunakan pada konstruksi Memiliki batang tunggal yang kuat dan tinggi Pada umumnya tidak bercabang pada jarak tertentu dari tanah Rempah, beverages, dan biji-bijian-bijian Pohon dengan bagian tubuh yang digunakan sebagai rempah (bumbu, obat), bahan penyegar (beverages), maupun biji-bijian (nuts) Sayuran Pohon yang memiliki bagian tubuh yang dapat/seringkali dimakan sebagai sayuran Bunga, daun, maupun buah Manfaat Umum Pohon yang populer ditanam di daerah perkotaan atau kota-kota tropis karena daya tarik estetisnya Sumber: Wee (2003) dan Steenis (1978) Klasifikasi lingkungan tumbuh pohon dalam basis data ini diidentifikasikan berdasarkan tepi jalan, park/garden, basah hingga tergenang, mangrove, pantai pasir, dan ruderal. Identifikasi lingkungan tumbuh pohon ditunjukkan pada Tabel 20.

47 Tabel 20. Identifikasi Lingkungan Tumbuh Pohon Lingkungan Tumbuh Pohon Identifikasi Tepi Jalan Tidak memiliki ketinggian yang dapat menghalangi pandangan pengguna jalan Buah tidak terlalu besar Gugur daun tidak terlalu banyak Daya tumbuh tidak agresif Toleransi angin tinggi Pohon tidak terlalu rimbun (berkaitan dengan pencahayaan dan drainase jalan) Tahan HPT dan toleransi polusi udara Park/Garden Pohon yang memiliki karakteristik menarik dan daya tarik estetis Pada umumnya merupakan pohon peneduh, pohon bunga dan pohon buah Basah hingga Tergenang Pohon yang memiliki toleransi air/ kelembaban tinggi (hygrofit) Mangrove* Pohon yang tumbuh di antara garis pasang surut Pohon yang memiliki toleransi air/ kelembaban tinggi (hygrofit) Pohon yang memiliki salinitas tinggi Pantai Pasir Pohon yang termasuk dalam formasi pescaprae dan formasi barringtonia Ruderal Pohon yang tumbuh pada lingkungan yang terganggu/terbatas, dan Seringkali bukan merupakan tanah yang tidak subur Sumber: Steenis (1978) 134 *) Rusila Noor et al. (1999) menggunakan istilah mangrove secara umum mengacu pada habitat, namun dalam beberapa hal, digunakan untuk jenis tumbuhannya, termasuk yang terdapat pada pinggiran mangrove seperti formasi pescaprae dan formasi barringtonia. Penyajian Basis Data Basis data pohon Kebun Raya Bogor tersimpan dalam format FileMaker Pro 7 (fp7 file format). Dalam format ini dapat dilakukan filtrasi, editing, updating, dan menjalankan query terhadap database record; sekaligus editing tampilan untuk basis data.

48 135 BASIS DATA POHON Basis data pohon ini disusun dan dirancang untuk menampilkan data dan informasi mengenai jenis pohon, baik berdasarkan klasifikasi botani-lanskap maupun klasifikasi umum; serta menyediakan kemudahan dalam mencari dan menentukan jenis pohon yang sesuai dengan kriteria yang diharapkan. Penyusunan basis data pohon ini berbasis komputer dengan menggunakan perangkat lunak FileMaker Pro 7. FileMaker Pro 7 merupakan perangkat lunak basis data yang diintegrasikan dengan tampilan berdasar GUI (Graphical User Interface), yang memudahkan pengguna untuk mengakses serta memodifikasi basis data dengan mendrag elemen baru ke dalam form layout yang tersedia pada tampilan pengguna. Pada sebagian besar sistem basis data lain, memisahkan antara basis data dan tampilan pengguna (user interface) tersebut, dan lebih menitikberatkan pada mengorganisasi dan menyimpan data (database). Struktur Basis Data Perancangan struktur basis data merupakan tahap awal dalam penyusunan basis data pohon. Pada proses ini dilakukan penentuan data input yang akan dihimpun dalam basis data. Struktur basis data menentukan jenis table, field, tipe data yang akan dimasukkan (data type), hubungan (relationship) antara tabel-tabel tersebut, dan value list. Table dan field dibuat berdasarkan pengklasifikasian yang telah dilakukan dan jenis data yang akan dimasukkan ke dalam basis data. Table adalah pengelompokan secara logika dari informasi yang berhubungan. Table dibentuk oleh record dan field. Suatu record mengandung informasi dari suatu isian tunggal dalam suatu table. Suatu record dibentuk oleh banyak table. Setiap field dalam suatu record mengandung suatu potongan tunggal dari informasi tentang record. Merancang Struktur Basis Data dalam FileMaker Pro 7 Langkah awal dalam merancang struktur basis data pada aplikasi FileMaker adalah dengan menentukan file basis data yang akan dirancang/digunakan. Setelah aplikasi FileMaker terakses, akan tampil jendela (window) New Database yang menyediakan pilihan file basis data (dan atau,

49 136 dengan memilih menu File, kemudian mengklik New Database) (Gambar 30). Pada jendela New Database, Create a new empty file dipilih untuk memulai file baru, kemudian mengklik OK sehingga tampil kotak jendela Create a new file named: (Gambar 31). File yang dibuat adalah SIPArlan vol. 1.fp7, kemudian mengklik Save sehingga akan tampil jendela FileMaker. Gambar 30. Jendela New Database Gambar 31. Jendela Create a new file named: Penentuan Table, Field, Relationship, dan Value List Perancangan struktur basis data ini diawali dengan menentukan table, field, relationship, dan value list. Langkah pengerjaan yaitu dengan memilih menu File, kemudian mengklik Define > Database sehingga akan tampil jendela Define Database (Gambar 32).

50 137 Gambar 32. Jendela Define Database Jendela Define Database terdiri dari tiga tab, yaitu tab Tables, tab Fields, dan tab Relationships. Tab Tables digunakan untuk menentukan table. Tab Fields digunakan untuk menentukan field, tipe data, dan options/comments. Tipe data pada FileMaker dapat berupa text, number, date, time, timestamp, container, calculation, dan summary. Options berfungsi untuk mengatur parameter fields yang diinginkan, seperti validation, storage, dan sebagainya. Sedangkan tab Relationships yang digunakan untuk menentukan relationship antar table. Tab Tables dipilih pada jendela Define Database, kemudian buat table dengan nama SIPArlan vol. 1. Selanjutnya tab Fields dipilih, kemudian menentukan field dengan nama, tipe data, options/comments seperti tampak pada Tabel 21. Tabel 21. Field, Tipe Data, dan Options/Comments Field Tipe Option/Comment Data Id Pohon Text Field penghimpunan data berupa kode identitas jenis pohon Kode identitas jenis pohon bernilai unik dan tidak boleh kosong (bernilai null) Indexed (berkaitan dengan sorting) Required value (berkaitan dengan penghimpunan data) Unique (nilai unik dan tidak boleh kosong) Maximum (maksimal 6 karakter) Message (pesan ditampilkan, jika validasi gagal). Nama Botani Text Field penghimpunan data berupa nama botani pohon Nama Umum Text Field penghimpunan data berupa nama umum (nama lokal) pohon

51 138 Famili Text Field penghimpunan data berupa nama famili pohon Lokasi Text Field penghimpunan data berupa lokasi pohon di Kebun Raya Bogor Foto Pohon Container Field penghimpunan data berupa foto pohon secara keseluruhan Foto Buah Container Field penghimpunan data berupa foto detail buah Foto Bunga Container Field penghimpunan data berupa foto detail bunga Foto Daun Container Field penghimpunan data berupa foto detail daun Foto Batang Container Field penghimpunan data berupa foto detail batang Foto Akar Container Field penghimpunan data berupa foto detail akar Keterangan Foto Text Field penghimpunan data berupa keterangan lokasi pengambilan foto Keterangan Indikator Sejarah Text Field penghimpunan data berupa keterangan indikator sejarah Keterangan Upacara Adat/Keagamaan Text Field penghimpunan data berupa keterangan upacara adat/keagamaan Morfologi Biji Number Field keterangan sehingga tidak digunakan untuk penghimpunan data Morfologi Buah Number Field keterangan sehingga tidak digunakan untuk penghimpunan data. Morfologi Bunga Number Field keterangan sehingga tidak digunakan untuk penghimpunan data Morfologi Daun Number Field keterangan sehingga tidak digunakan untuk penghimpunan data Morfologi Batang Number Field keterangan sehingga tidak digunakan untuk penghimpunan data Morfologi Akar Number Field keterangan sehingga tidak digunakan untuk penghimpunan data Jenis Biji Text Field penghimpunan data berupa jenis biji Jenis Buah Text Field penghimpunan data berupa jenis buah Jumlah Bunga Text Field penghimpunan data berupa jumlah bunga Letak Bunga Text Field penghimpunan data berupa letak bunga Warna Bunga Text Field penghimpunan data berupa warna bunga Bentuk Daun Text Field penghimpunan data berupa bentuk daun Jumlah Daun Text Field penghimpunan data berupa jumlah daun Tulang Daun Text Field penghimpunan data berupa tulang daun Ujung Daun Text Field penghimpunan data berupa ujung daun Tepi Daun Text Field penghimpunan data berupa tepi daun Warna Daun Text Field penghimpunan data berupa warna daun Permukaan Daun Text Field penghimpunan data berupa permukaan daun Bentuk Batang Text Field penghimpunan data berupa bentuk batang Permukaan Batang Text Field penghimpunan data berupa permukaan batang Percabangan Text Field penghimpunan data berupa percabangan pohon Sistem Perakaran Text Field penghimpunan data berupa sistem perakaran Modifikasi Akar Text Field penghimpunan data berupa modifikasi akar

52 139 Bentuk Pertumbuhan Text Field penghimpunan data berupa bentuk pertumbuhan pohon Bentuk Tajuk Text Field penghimpunan data berupa bentuk tajuk Tinggi Pohon Text Field penghimpunan data berupa tinggi pohon Diameter Pohon Text Field penghimpunan data berupa diameter tajuk pohon Tekstur Pohon Text Field penghimpunan data berupa tekstur pohon Aroma Text Field penghimpunan data berupa aroma Perbanyakan Text Field penghimpunan data berupa perbanyakan Asal Pohon Text Field penghimpunan data berupa asal pohon Toleransi Suhu Text Field penghimpunan data berupa toleransi suhu Toleransi Air Text Field penghimpunan data berupa toleransi air Toleransi Cahaya Text Field penghimpunan data berupa toleransi cahaya Toleransi ph Tanah Text Field penghimpunan data berupa toleransi ph tanah Toleransi Angin Text Field penghimpunan data berupa toleransi angin Toleransi HPT Text Field penghimpunan data berupa toleransi hama dan penyakit pohon Toleransi Ketinggian Text Field penghimpunan data berupa toleransi ketinggian Tingkat Pemeliharaan Text Field penghimpunan data berupa tingkat pemeliharaan Fungsi Memperbaiki Iklim Text Field penghimpunan data berupa fungsi pohon berdasarkan fungsi untuk memperbaiki iklim Fungsi Arsitektural Text Field penghimpunan data berupa fungsi pohon berdasarkan fungsi arsitektural Fungsi Engineering Text Field penghimpunan data berupa fungsi pohon berdasarkan fungsi engineering Fungsi Estetis Text Field penghimpunan data berupa fungsi pohon berdasarkan fungsi estetis Fungsi Lain Text Field penghimpunan data berupa fungsi pohon berdasarkan fungsi lain Daya Tarik Estetis Text Field penghimpunan data berupa daya tarik estetis Manfaat/Penggunaan Text Field penghimpunan data berupa manfaat/penggunaan Lingkungan Tumbuh Text Field penghimpunan data berupa lingkungan tumbuh Basis data ini hanya terdiri dari satu table, yaitu table SIPArlan vol.1, sehingga tidak memungkinkan untuk dibuat relasi antar table. Untuk menghubungkan (menentukan relasi) satu data (field) dengan data lain digunakan metode copy-paste dan memanfaatkan script/specify button pada FileMaker (diuraikan pada Merancang Tampilan Basis Data dalam FileMaker Pro 7). Aplikasi FileMaker menyediakan lebih dari 130 langkah script yang berfungsi untuk navigasi, conditional execution of script steps, mengedit record, controlling windows, mencari record tertentu, memeriksa pengejaan dan

53 140 pengelolaan account pengguna. Namun untuk menampilkan hubungan relasi antar table maka langkah pengerjaannya yaitu dengan memilih tab Relationships, kemudian buat relasi antar table dengan cara menambah jumlah table dan buat relasi diantaranya, sesuai dengan klasifikasi pohon yang telah disusun. Setelah tab Tables, tab Fields, dan tab Relationships ditentukan, kemudian OK diklik, sehingga pada jendela FileMaker akan tampil field-field yang telah ditentukan sebelumnya. Langkah selanjutnya adalah menentukan value list. Value list adalah pilihan data untuk memudahkan pengisian data pada field. Untuk menentukan value list, yaitu dengan memilih menu View, kemudian mengklik Layout Mode, sehingga jendela FileMaker berubah menjadi mode editing. Field yang akan ditentukan value listnya dipilih, kemudian klik kanan dan Field Format dipilih, sehingga akan tampil jendela Field Format (Gambar 33). Selanjutnya menentukan Field beserta field formatnya seperti tampak pada Tabel 22. Gambar 33. Jendela Field Format Jendela Field Format terdiri dari dua bagian, yaitu frame Style dan frame Repetitions. Frame Style digunakan untuk menentukan field format dan menentukan sumber value. Field format dapat berupa Edit Box (digunakan untuk menampilkan text yang dapat diubah oleh pengguna pada saat browse mode (mode tampilan)), Pop-up List (digunakan untuk menampilkan value list yang dapat didrop-down dalam bentuk listbox), Pop-up Menu (serupa dengan Pop-up List, namun memiliki judul (kepala) listbox), Checkbox Set (digunakan untuk menampilkan value list (pilihan) yang dapat dipilih lebih dari satu), dan Radio Button Set (digunakan untuk menampilkan value list (pilihan) yang hanya dapat

54 141 dipilih salah satu) (Daryanto, 2003). Sumber value berupa value list yang telah dibuat dan atau dilakukan pembuatan value list yang baru melalui jendela field format. Sedangkan frame Repetitions digunakan untuk menentukan tampilan value list pada field. Tabel 22. Field dan Field Formatnya Field Format Display Value From Value List Field As Keterangan Foto Pop-up list Keterangan Foto Foto diambil di Kebun Raya Bogor Foto diambil dari Luar Kebun Raya Bogor Foto diambil/dikutip dari Sumber Pustaka Jenis Biji Pop-up list Jenis Biji Biji Terbuka (Gymnospermae) Biji Tertutup (Angiospermae) Tidak Berbiji Jenis Buah Pop-up list Jenis Buah Buah Semu Buah Sejati Tidak Berbuah Jumlah Bunga Pop-up list Jumlah Bunga Tunggal Majemuk Letak Bunga Pop-up list Letak Bunga Ujung Batang Ketiak Daun Pangkal Daun/Batang Ujung Batang dan Ketiak Daun Warna Bunga Pop-up list Warna Bunga Merah Putih Kuning Putih Kekuningan Hijau Hijau Kekuningan Ungu Pink Krem Jingga Lainnya Bentuk Daun Pop-up list Bentuk Daun Bulat Memanjang Jorong Lanset Perisai Bulat Telur Ginjal Jarum Pita Garis Pedang Kipas

55 Dabus Sudip/Solet Segitiga Jumlah Daun Pop-up list Jumlah Daun Tunggal Majemuk Tulang Daun Pop-up list Tulang Daun Menyirip Menjari Melengkung Sejajar Lainnya Ujung Daun Pop-up list Ujung Daun Runcing Meruncing Tumpul Membulat Rompang Terbelah Berduri Tepi Daun Pop-up list Tepi Daun Rata Bergerigi Bergiri Beringgit Berombak Berlekuk Bercangap Berbagi Warna Daun Pop-up list Warna Daun Hijau Tua Hijau Hijau Kekuningan Merah Kuning Variegata Lainnya Permukaan Daun Pop-up list Permukaan Daun Licin Gundul Kasap Berkerut Berbulu Bersisik Bentuk Batang Pop-up list Bentuk Batang Bulat Bersegi Pipih Permukaan Batang Pop-up list Permukaan Batang Licin Kasar Memperlihatkan Bekas Daun Beralur Berduri Berambut Bersisik Lainnya Percabangan Pop-up list Percabangan Monopodial Simpodial Dikotom Lainnya 142

56 Sistem Perakaran Pop-up list Sistem Perakaran Akar Tunggang Akar Serabut Modifikasi Akar Pop-up list Modifikasi Akar Akar Udara Akar Pembelit Akar Napas Akar Tunjang Akar Lutut Akar Banir Bentuk Pertumbuhan Pop-up list Bentuk Pertumbuhan Deciduous Evergreen Palem Bambu Bentuk Tajuk Pop-up list Bentuk Tajuk Tidak Beraturan Kipas Horisontal Piramid Berkolom Bulat Menjurai Kubah Palmate Tinggi Pohon Pop-up list Tinggi Pohon 3-6 m 6-15 m >15 m Diameter Pohon Pop-up list Diameter Pohon <6 m 6-15 m >15 m Tekstur Pohon Pop-up list Tekstur Pohon Tekstur Kasar Tekstur Halus Aroma Pop-up list Aroma Ada Tidak Ada Perbanyakan Pop-up list Perbanyakan Biji Cangkok Stek Biji/Okulasi Biji/Cangkok Biji/Stek Biji/Tunas Biji/Cangkok/Stek Cangkok/Stek Asal Pohon Pop-up list Asal Pohon Tropis Asal Indonesia Introduksi Toleransi Suhu Pop-up list Toleransi Suhu Rendah Tinggi Rendah-Tinggi Toleransi Air Pop-up list Toleransi Air Kering Kering-Lembab Lembab Toleransi Cahaya Pop-up list Toleransi Cahaya Naungan Setengah Naungan Terbuka Toleransi ph Tanah Pop-up list Toleransi ph Tanah Tidak Ada Data Asam Netral 143

57 144 Basa Asam-Basa Toleransi Angin Pop-up list Toleransi Angin Kecepatan Rendah Kecepatan Tinggi Toleransi HPT Pop-up list Toleransi HPT Peka Cukup Peka Tahan Toleransi Ketinggian Pop-up list Toleransi Ketinggian Rendah Rendah-Tinggi Tinggi Tingkat Pemeliharaan Fungsi Memperbaiki Iklim Fungsi Arsitektural Fungsi Engineering Fungsi Estetis Fungsi Lain Daya Tarik Estetis Manfaat/Penggunaan Lingkungan Tumbuh Pop-up list Checkbox set Checkbox set Checkbox set Checkbox set Checkbox set Checkbox set Checkbox set Checkbox set Tingkat Pemeliharaan Fungsi Memperbaiki Iklim Fungsi Arsitektural Fungsi Engineering Fungsi Estetis Fungsi Lain Daya Tarik Estetis Manfaat/Penggunaan Lingkungan Tumbuh Intensif Semi Intensif Tidak Intensif Kontrol Suhu Kontrol Angin Kontrol Kelembaban Membentuk Dinding Membentuk Ruang Kontrol Privasi Pembatas Pengarah Memberi Naungan Kontrol Erosi Kontrol Suara Kontrol Visual Kontrol Polusi Udara Kontrol Jalan Kontrol Cahaya Membingkai View Melunakkan Garis Arsitektural Menyatukan Elemen Lanskap Melunakkan Setting Kaku Indikator Sejarah Habitat Satwa Liar Upacara Adat/Keagamaan Bunga Menarik Dahan dan Daun Bercorak Aroma Harum Buah Menarik Unik dan Tak Lazim Pohon Peneduh Pohon Buah Penarik Satwa Pohon Kayu Rempah, Beverages dan Biji-bijian Sayuran Manfaat Umum Tepi Jalan

58 145 Park/Garden Basah hingga Tergenang Mangrove Pantai Pasir Ruderal Tampilan Basis Data (Graphical User Interface) Perancangan tampilan basis data merupakan tahap selanjutnya dalam penyusunan basis data pohon dengan visualisasi komputer. Pada proses ini dilakukan penentuan tampilan basis data (user interface) yang akan menampilkan data dan informasi basis data, sehingga memudahkan pengguna untuk mengakses dan menggunakannya. Langkah-langkah dalam perancangan tampilan basis data meliputi penentuan tipe form layout, layout field, button, specify button, hubungan (relationship) antar layout dan elemen desain layout. Hubungan (relationship) antar data/field/layout dibuat berdasarkan pengklasifikasian yang telah dilakukan. Form layout adalah media pengembangan/perancangan untuk layout field, button dan elemen desain layout. Button adalah tombol yang digunakan untuk mendapatkan konfirmasi pengguna untuk pelaksanaan fungsi tertentu. Sedangkan specify button digunakan untuk memberi fungsi tertentu pada button. Merancang Tampilan Basis Data dalam FileMaker Pro 7 Langkah awal dalam merancang tampilan basis data pada aplikasi FileMaker adalah dengan menentukan form layout yang akan digunakan. Langkah pengerjaan yaitu dengan memilih menu View, kemudian mengklik Layout Mode, sehingga jendela FileMaker berubah menjadi mode editing. Menu Layouts dipilih, kemudian mengklik New Layout/Report, sehingga akan tampil jendela New Layout/Report (Gambar 34). Jendela New Layout/Report digunakan untuk menentukan sumber record, nama layout, dan tipe layout. Tipe layout dapat berupa Standard form, Columnar list/report, Table view, Labels, Vertical labels, Envelope, dan Blank Layout. Sumber record hanya berasal dari table SIPArlan vol. 1. Masing-masing form layout memiliki materi isi (item) yang berbeda-beda. Field-field untuk setiap layout ditentukan dengan metode copy-paste dari layout SIPArlan vol.1. Button dan elemen desain layout ditentukan dengan memilih dari toolbar kemudian

59 146 mendragnya pada form layout. Hubungan antar data/field/layout ditentukan dengan memanfaatkan/menggunakan script/specify button pada FileMaker. Gambar 34. Jendela New Layout/Report Untuk menentukan script/specify, menu View dipilih, kemudian mengklik Layout Mode, sehingga jendela FileMaker berubah menjadi mode editing. Data/field/button yang akan ditentukan script/specify buttonnya dipilih, kemudian klik kanan dan Specify Button dipilih. Pada jendela Specify Button (Gambar 35), fungsi yang akan ditentukan pada data/field/button dipilih. Selanjutnya form layout beserta tipe layout, field, layout field, button, specify button, hubungan (relationship) antar data/field/layout, dan elemen desain layout ditentukan seperti tampak pada Tabel 23. Gambar 35. Jendela Specify Button

60 147 Tabel 23. Form Layout, Tipe Layout, Field, Layout Field, Button, Specify Button, Hubungan antar Data/Field/Layout, dan Elemen Desain layout Form Layout Tipe Layout Field Button Hubungan antar Data/Field/Layout Layout Field & Elemen SIPArlan vol.1 Blank layout Info Perihal Keluar Masuk Morfologi Blank layout Id Pohon Nama Botani Nama Umum Famili Lokasi Foto Pohon Foto Buah Foto Bunga Foto Daun Foto Batang Foto Akar Keterangan Foto Jenis Biji Jenis Buah Jumlah Bunga Letak Bunga Warna bunga Morfologi 1 Blank layout Id Pohon Nama Botani Nama Umum Famili Klasifikasi Botani-Lanskap Klasifikasi Umum Detail Lokasi Tombol Keluar Ubah Hapus Cari Tombol view as form Tombol view as table Tombol bantuan Detail Foto Morfologi Karakteristik Sifat Ekologi Fungsi Morfologi Biji, Buah, dan Bunga Morfologi Daun Morfologi Batang & Akar Klasifikasi Botani-Lanskap Klasifikasi Umum Detail Lokasi Tombol Keluar Go to Layout > Bantuan Go to Layout > About Exit Application Go to Layout > Morfologi Do Nothing Go to Layout > Umum Go to Layout > Detail Lokasi Go to Layout > SIPArlan vol.1 New/Request Record Delete Record/Request Enter Find Mode Do Nothing Go to Layout > Daftar Pohon Go to Layout > Bantuan Go to Layout > Detail Foto Pohon Do Nothing Go to Layout > Karakteristik Go to Layout > Sifat Ekologi Go to Layout > Fungsi Do Nothing Go to Layout > Morfologi 1 Go to Layout > Morfologi 2 Do Nothing Go to Layout > Umum Go to Layout > Detail Lokasi Go to Layout > SIPArlan vol.1 Desain layout (Gambar 36) (Gambar 37) (Gambar 38) 47

61 148 Lokasi Foto Pohon Foto Buah Foto Bunga Foto Daun Foto Batang Foto Akar Keterangan Foto Bentuk Daun Jumlah Daun Tulang Daun Ujung Daun Tepi Daun Warna Daun Permukaan Daun Morfologi 2 Blank layout Id Pohon Nama Botani Nama Umum Famili Lokasi Foto Pohon Foto Buah Foto Bunga Foto Daun Foto Batang Foto Akar Keterangan Foto Bentuk Batang Permukaan Ubah Hapus Cari Tombol view as form Tombol view as table Tombol bantuan Detail Foto Morfologi Karakteristik Sifat Ekologi Fungsi Morfologi Biji, Buah, dan Bunga Morfologi Daun Morfologi Batang & Akar Klasifikasi Botani-Lanskap Klasifikasi Umum Detail Lokasi Tombol Keluar Ubah Hapus Cari Tombol view as form Tombol view as table Tombol bantuan Detail Foto Morfologi Karakteristik Sifat Ekologi New/Request Record Delete Record/Request Enter Find Mode Do Nothing Go to Layout > Daftar Pohon Go to Layout > Bantuan Go to Layout > Detail Foto Pohon Do Nothing Go to Layout > Karakteristik Go to Layout > Sifat Ekologi Go to Layout > Fungsi Go to Layout > Morfologi Do Nothing Go to Layout > Morfologi 2 Do Nothing Go to Layout > Umum Go to Layout > Detail Lokasi Go to Layout > SIPArlan vol.1 New/Request Record Delete Record/Request Enter Find Mode Do Nothing Go to Layout > Daftar Pohon Go to Layout > Bantuan Go to Layout > Detail Foto Pohon Do Nothing Go to Layout > Karakteristik Go to Layout > Sifat Ekologi (Gambar 39) 48

62 149 Batang Percabangan Sistem Perakaran Modifikasi Akar Karakteristik Blank layout Id Pohon Nama Botani Nama Umum Famili Lokasi Foto Pohon Foto Buah Foto Bunga Foto Daun Foto Batang Foto Akar Keterangan Foto Bentuk Pertumbuhan Bentuk Tajuk Tinggi Pohon Diameter Pohon Tekstur Pohon Aroma Perbanyakan Asal Pohon Sifat Ekologi Blank layout Id Pohon Nama Botani Nama Umum Famili Fungsi Morfologi Biji, Buah, dan Bunga Morfologi Daun Morfologi Batang & Akar Klasifikasi Botani-Lanskap Klasifikasi Umum Detail Lokasi Tombol Keluar Ubah Hapus Cari Tombol view as form Tombol view as table Tombol bantuan Detail Foto Morfologi Karakteristik Sifat Ekologi Fungsi Klasifikasi Botani-Lanskap Klasifikasi Umum Detail Lokasi Tombol Keluar Go to Layout > Fungsi Go to Layout > Morfologi Go to Layout > Morfologi 1 Do Nothing Do Nothing Go to Layout > Umum Go to Layout > Detail Lokasi Go to Layout > SIPArlan vol.1 New/Request Record Delete Record/Request Enter Find Mode Do Nothing Go to Layout > Daftar Pohon Go to Layout > Bantuan Go to Layout > Detail Foto Pohon Go to Layout > Morfologi Do Nothing Go to Layout > Sifat Ekologi Go to Layout > Fungsi Do Nothing Go to Layout > Umum Go to Layout > Detail Lokasi Go to Layout > SIPArlan vol.1 (Gambar 40) (Gambar 41) 49

63 150 Lokasi Foto Pohon Foto Buah Foto Bunga Foto Daun Foto Batang Foto Akar Keterangan Foto Toleransi Suhu Toleransi Air Toleransi Cahaya Toleransi ph Tanah Toleransi Angin Toleransi Ketinggian Tingkat Pemeliharaan Fungsi Blank layout Id Pohon Nama Botani Nama Umum Famili Lokasi Foto Pohon Foto Buah Foto Bunga Foto Daun Foto Batang Foto Akar Keterangan Ubah Hapus Cari Tombol view as form Tombol view as table Tombol bantuan Detail Foto Morfologi Karakteristik Sifat Ekologi Fungsi Klasifikasi Botani-Lanskap Klasifikasi Umum Detail Lokasi Tombol Keluar Ubah Hapus Cari Tombol view as form Tombol view as table Tombol bantuan Detail Foto New/Request Record Delete Record/Request Enter Find Mode Do Nothing Go to Layout > Daftar Pohon Go to Layout > Bantuan Go to Layout > Detail Foto Pohon Go to Layout > Morfologi Go to Layout > Karakteristik Do Nothing Go to Layout > Fungsi Do Nothing Go to Layout > Umum Go to Layout > Detail Lokasi Go to Layout > SIPArlan vol.1 New/Request Record Delete Record/Request Enter Find Mode Do Nothing Go to Layout > Daftar Pohon Go to Layout > Bantuan Go to Layout > Detail Foto Pohon (Gambar 42) 50

64 151 Foto Kontrol Suhu Kontrol Angin Kontrol Kelembaban Kontrol Erosi Kontrol Suara Kontrol Visual Kontrol Polusi Udara Kontrol Jalan Kontrol Cahaya Fungsi 1 Blank layout Id Pohon Nama Botani Nama Umum Famili Lokasi Foto Pohon Foto Buah Foto Bunga Foto Daun Foto Batang Foto Akar Keterangan Foto Membentuk Dinding Membentuk Ruang Kontrol Privasi Pembatas Pengarah Morfologi Karakteristik Sifat Ekologi Fungsi Memperbaiki Iklim & Arsitektural Engineering & Estetis Lain Klasifikasi Botani-Lanskap Klasifikasi Umum Detail Lokasi Tombol Keluar Ubah Hapus Cari Tombol view as form Tombol view as table Tombol bantuan Detail Foto Morfologi Karakteristik Sifat Ekologi Fungsi Memperbaiki Iklim & Arsitektural Engineering & Estetis Lain Go to Layout > Morfologi Go to Layout > Karakteristik Go to Layout > Sifat Ekologi Do Nothing Do Nothing Go to Layout > Fungsi 1 Go to Layout > Fungsi 2 Do Nothing Go to Layout > Umum Go to Layout > Detail Lokasi Go to Layout > SIPArlan vol.1 New/Request Record Delete Record/Request Enter Find Mode Do Nothing Go to Layout > Daftar Pohon Go to Layout > Bantuan Go to Layout > Detail Foto Pohon Go to Layout > Morfologi Go to Layout > Karakteristik Go to Layout > Sifat Ekologi Do Nothing Go to Layout > Fungsi Do Nothing Go to Layout > Fungsi 2 (Gambar 43) 51

65 152 Memberi Naungan Membingkai View Melunakkan Garis Arsitektural Menyatukan Elemen Lanskap Melunakkan Setting Kaku Fungsi 2 Blank layout Id Pohon Nama Botani Nama Umum Famili Lokasi Foto Pohon Foto Buah Foto Bunga Foto Daun Foto Batang Foto Akar Keterangan Foto Indikator Sejarah Habitat Satwa Liar Upacara Adat /Keagamaan Keterangan Indikator Klasifikasi Botani-Lanskap Klasifikasi Umum Detail Lokasi Tombol Keluar Ubah Hapus Cari Tombol view as form Tombol view as table Tombol bantuan Detail Foto Morfologi Karakteristik Sifat Ekologi Fungsi Memperbaiki Iklim & Arsitektural Engineering & Estetis Lain Do Nothing Go to Layout > Umum Go to Layout > Detail Lokasi Go to Layout > SIPArlan vol.1 New/Request Record Delete Record/Request Enter Find Mode Do Nothing Go to Layout > Daftar Pohon Go to Layout > Bantuan Go to Layout > Detail Foto Pohon Go to Layout > Morfologi Go to Layout > Karakteristik Go to Layout > Sifat Ekologi Do Nothing Go to Layout > Fungsi Go to Layout > Fungsi 1 Do Nothing (Gambar 44) 52

66 153 Sejarah Keterangan Upacara Adat/ Keagamaan Umum Blank layout Id Pohon Nama Botani Nama Umum Famili Lokasi Foto Pohon Foto Buah Foto Bunga Foto Daun Foto Batang Foto Akar Keterangan Foto Bunga Menarik Dahan dan Daun Bercorak Aroma Harum Buah Menarik Unik dan Tak Lazim Umum 1 Blank layout Id Pohon Nama Botani Nama Umum Famili Lokasi Foto Pohon Foto Buah Foto Bunga Klasifikasi Botani-Lanskap Klasifikasi Umum Detail Lokasi Tombol Keluar Ubah Hapus Cari Tombol view as form Tombol view as table Tombol bantuan Detail Foto Daya Tarik Estetis Manfaat/Penggunaan Lingkungan Tumbuh Klasifikasi Botani-Lanskap Klasifikasi Umum Detail Lokasi Tombol Keluar Ubah Hapus Cari Tombol view as form Go to Layout > Morfologi Do Nothing Go to Layout > Detail Lokasi Go to Layout > SIPArlan vol.1 New/Request Record Delete Record/Request Enter Find Mode Do Nothing Go to Layout > Daftar Pohon Go to Layout > Bantuan Go to Layout > Detail Foto Pohon Do Nothing Go to Layout > Umum 1 Go to Layout > Umum 2 Go to Layout > Morfologi Do Nothing Go to Layout > Detail Lokasi Go to Layout > SIPArlan vol.1 New/Request Record Delete Record/Request Enter Find Mode Do Nothing (Gambar 45) (Gambar 46) 53

67 154 Foto Daun Foto Batang Foto Akar Keterangan Foto Pohon Peneduh Pohon Buah Penarik Satwa Pohon Kayu Rempah, beverages, dan biji-bijian Sayuran Manfaat Umum Umum 2 Blank layout Id Pohon Nama Botani Nama Umum Famili Lokasi Foto Pohon Foto Buah Foto Bunga Foto Daun Foto Batang Foto Akar Keterangan Foto Tepi Jalan Park/Garden Basah hingga Tergenang Tombol view as table Tombol bantuan Detail Foto Daya Tarik Estetis Manfaat/Penggunaan Lingkungan Tumbuh Klasifikasi Botani-Lanskap Klasifikasi Umum Detail Lokasi Tombol Keluar Ubah Hapus Cari Tombol view as form Tombol view as table Tombol bantuan Detail Foto Daya Tarik Estetis Manfaat/Penggunaan Lingkungan Tumbuh Go to Layout > Daftar Pohon Go to Layout > Bantuan Go to Layout > Detail Foto Pohon Go to Layout > Umum Do Nothing Go to Layout > Umum 2 Go to Layout > Morfologi Do Nothing Go to Layout > Detail Lokasi Go to Layout > SIPArlan vol.1 New/Request Record Delete Record/Request Enter Find Mode Do Nothing Go to Layout > Daftar Pohon Go to Layout > Bantuan Go to Layout > Detail Foto Pohon Go to Layout > Umum Go to Layout > Umum 1 Do Nothing (Gambar 47) 54

68 155 Detail Foto Pohon Blank layout Mangrove Pantai Pasir Ruderal Foto Pohon Foto Buah Foto Bunga Foto Daun Foto Batang Foto Akar Keterangan Foto Klasifikasi Botani-Lanskap Klasifikasi Umum Detail Lokasi Tombol Keluar Ubah Hapus Cari Tombol view as form Tombol view as table Tombol bantuan Detail Lokasi Blank layout Klasifikasi Botani-Lanskap Klasifikasi Umum Detail Lokasi Tombol Keluar Cari Tombol view as form Tombol view as table Tombol bantuan Normal Perbesar Perkecil Total Vak I-III Vak IV-VI Vak VII-IX Vak X-XIV Vak XV-XVII Vak XIX-XX Go to Layout > Morfologi Go to Layout > Umum Go to Layout > Detail Lokasi Go to Layout > SIPArlan vol.1 New/Request Record Delete Record/Request Enter Find Mode Do Nothing Go to Layout > Daftar Pohon Go to Layout > Bantuan Go to Layout > Morfologi Go to Layout > Umum Do Nothing Go to Layout > SIPArlan vol.1 Enter Find Mode Do Nothing Go to Layout > Daftar Pohon Go to Layout > Bantuan Set Zoom Level > 100% Set Zoom Level > Zoom In Set Zoom Level > Zoom Out Do Nothing Go to Layout > Detail Lokasi 1 Go to Layout > Detail Lokasi 2 Go to Layout > Detail Lokasi 3 Go to Layout > Detail Lokasi 4 Go to Layout > Detail Lokasi 5 Go to Layout > Detail Lokasi 6 (Gambar 48) (Gambar 49) Detail Lokasi 1 Blank layout Klasifikasi Botani-Lanskap Go to Layout > Morfologi (Gambar 50) 55

69 156 Klasifikasi Umum Detail Lokasi Tombol Keluar Cari Tombol view as form Tombol view as table Tombol bantuan Normal Perbesar Perkecil Total Vak I-III Vak IV-VI Vak VII-IX Vak X-XIV Vak XV-XVII Vak XIX-XX Detail Lokasi 2 Blank layout Klasifikasi Botani-Lanskap Klasifikasi Umum Detail Lokasi Tombol Keluar Cari Tombol view as form Tombol view as table Tombol bantuan Normal Perbesar Perkecil Total Vak I-III Vak IV-VI Vak VII-IX Go to Layout > Umum Go to Layout > Detail Lokasi Go to Layout > SIPArlan vol.1 Enter Find Mode Do Nothing Go to Layout > Daftar Pohon Go to Layout > Bantuan Set Zoom Level > 100% Set Zoom Level > Zoom In Set Zoom Level > Zoom Out Go to Layout > Detail Lokasi Do Nothing Go to Layout > Detail Lokasi 2 Go to Layout > Detail Lokasi 3 Go to Layout > Detail Lokasi 4 Go to Layout > Detail Lokasi 5 Go to Layout > Detail Lokasi 6 Go to Layout > Morfologi Go to Layout > Umum Go to Layout > Detail Lokasi Go to Layout > SIPArlan vol.1 Enter Find Mode Do Nothing Go to Layout > Daftar Pohon Go to Layout > Bantuan Set Zoom Level > 100% Set Zoom Level > Zoom In Set Zoom Level > Zoom Out Go to Layout > Detail Lokasi Go to Layout > Detail Lokasi 1 Do Nothing Go to Layout > Detail Lokasi 3 (Gambar 51) 56

70 157 Vak X-XIV Vak XV-XVII Vak XIX-XX Detail Lokasi 3 Blank layout Klasifikasi Botani-Lanskap Klasifikasi Umum Detail Lokasi Tombol Keluar Cari Tombol view as form Tombol view as table Tombol bantuan Normal Perbesar Perkecil Total Vak I-III Vak IV-VI Vak VII-IX Vak X-XIV Vak XV-XVII Vak XIX-XX Detail Lokasi 4 Blank layout Klasifikasi Botani-Lanskap Klasifikasi Umum Detail Lokasi Tombol Keluar Cari Tombol view as form Tombol view as table Tombol bantuan Normal Perbesar Perkecil Go to Layout > Detail Lokasi 4 Go to Layout > Detail Lokasi 5 Go to Layout > Detail Lokasi 6 Go to Layout > Morfologi Go to Layout > Umum Go to Layout > Detail Lokasi Go to Layout > SIPArlan vol.1 Enter Find Mode Do Nothing Go to Layout > Daftar Pohon Go to Layout > Bantuan Set Zoom Level > 100% Set Zoom Level > Zoom In Set Zoom Level > Zoom Out Go to Layout > Detail Lokasi Go to Layout > Detail Lokasi 1 Go to Layout > Detail Lokasi 2 Do Nothing Go to Layout > Detail Lokasi 4 Go to Layout > Detail Lokasi 5 Go to Layout > Detail Lokasi 6 Go to Layout > Morfologi Go to Layout > Umum Go to Layout > Detail Lokasi Go to Layout > SIPArlan vol.1 Enter Find Mode Do Nothing Go to Layout > Daftar Pohon Go to Layout > Bantuan Set Zoom Level > 100% Set Zoom Level > Zoom In Set Zoom Level > Zoom Out (Gambar 52) (Gambar 53) 57

71 158 Total Vak I-III Vak IV-VI Vak VII-IX Vak X-XIV Vak XV-XVII Vak XIX-XX Detail Lokasi 5 Blank layout Klasifikasi Botani-Lanskap Klasifikasi Umum Detail Lokasi Tombol Keluar Cari Tombol view as form Tombol view as table Tombol bantuan Normal Perbesar Perkecil Total Vak I-III Vak IV-VI Vak VII-IX Vak X-XIV Vak XV-XVII Vak XIX-XX Detail Lokasi 6 Blank layout Klasifikasi Botani-Lanskap Klasifikasi Umum Detail Lokasi Tombol Keluar Cari Tombol view as form Tombol view as table Go to Layout > Detail Lokasi Go to Layout > Detail Lokasi 1 Go to Layout > Detail Lokasi 2 Go to Layout > Detail Lokasi 3 Do Nothing Go to Layout > Detail Lokasi 5 Go to Layout > Detail Lokasi 6 Go to Layout > Morfologi Go to Layout > Umum Go to Layout > Detail Lokasi Go to Layout > SIPArlan vol.1 Enter Find Mode Do Nothing Go to Layout > Daftar Pohon Go to Layout > Bantuan Set Zoom Level > 100% Set Zoom Level > Zoom In Set Zoom Level > Zoom Out Go to Layout > Detail Lokasi Go to Layout > Detail Lokasi 1 Go to Layout > Detail Lokasi 2 Go to Layout > Detail Lokasi 3 Go to Layout > Detail Lokasi 4 Do Nothing Go to Layout > Detail Lokasi 6 Go to Layout > Morfologi Go to Layout > Umum Go to Layout > Detail Lokasi Go to Layout > SIPArlan vol.1 Enter Find Mode Do Nothing Go to Layout > Daftar Pohon (Gambar 54) (Gambar 55) 58

72 159 Daftar Pohon Table layout Id Pohon Nama Botani Nama Umum Famili Lokasi Tombol bantuan Normal Perbesar Perkecil Total Vak I-III Vak IV-VI Vak VII-IX Vak X-XIV Vak XV-XVII Vak XIX-XX Klasifikasi Botani-Lanskap Klasifikasi Umum Detail Lokasi Tombol Keluar Ubah Hapus Cari Tombol view as form Tombol view as table Tombol bantuan Bantuan Blank layout Klasifikasi Botani-Lanskap Klasifikasi Umum Detail Lokasi Tombol Keluar Tombol view as form Tombol view as table Tombol bantuan Tombol lanjut Ikhtisar Tombol Navigasi Go to Layout > Bantuan Set Zoom Level > 100% Set Zoom Level > Zoom In Set Zoom Level > Zoom Out Go to Layout > Detail Lokasi Go to Layout > Detail Lokasi 1 Go to Layout > Detail Lokasi 2 Go to Layout > Detail Lokasi 3 Go to Layout > Detail Lokasi 4 Go to Layout > Detail Lokasi 5 Do Nothing Go to Layout > Morfologi Go to Layout > Umum Go to Layout > Detail Lokasi Go to Layout > SIPArlan vol.1 New/Request Record Delete Record/Request Enter Find Mode Go to Layout > Morfologi Do Nothing Go to Layout > Bantuan Go to Layout > Morfologi Go to Layout > Umum Go to Layout > Detail Lokasi Go to Layout > SIPArlan vol.1 Go to Layout > Morfologi Go to Layout > Daftar Pohon Do Nothing Go to Layout > Ikhtisar Go to Layout > Ikhtisar Go to Layout > Tombol Navigasi (Gambar 56) (Gambar 57) 59

73 160 Pendataan Pohon Informasi Sistem Tentang SIPArlan Ikhtisar Blank layout Klasifikasi Botani-Lanskap Klasifikasi Umum Detail Lokasi Tombol Keluar Tombol view as form Tombol view as table Tombol bantuan Tombol kembali Tombol lanjut Pendataan Pohon Tombol Navigasi Blank layout Klasifikasi Botani-Lanskap Klasifikasi Umum Detail Lokasi Tombol Keluar Tombol view as form Tombol view as table Tombol bantuan Tombol kembali Tombol lanjut Pendataan Pohon Blank layout Klasifikasi Botani-Lanskap Klasifikasi Umum Detail Lokasi Tombol Keluar Go to Layout > Pendataan Pohon Go to Layout > Informasi Sistem Go to Layout > Tentang SIPArlan Go to Layout > Morfologi Go to Layout > Umum Go to Layout > Detail Lokasi Go to Layout > SIPArlan vol.1 Go to Layout > Morfologi Go to Layout > Daftar Pohon Go to Layout > Bantuan Go to Layout > Bantuan Go to Layout > Bantuan Tombol Navigasi Go to Layout > Pendataan Pohon Go to Layout > Morfologi Go to Layout > Umum Go to Layout > Detail Lokasi Go to Layout > SIPArlan vol.1 Go to Layout > Morfologi Go to Layout > Daftar Pohon Go to Layout > Bantuan Go to Layout > Ikhtisar Go to Layout > Pendataan Pohon Go to Layout > Morfologi Go to Layout > Umum Go to Layout > Detail Lokasi Go to Layout > SIPArlan vol.1 (Gambar 58) (Gambar 59) (Gambar 60) 60

74 161 Tombol view as form Tombol view as table Tombol bantuan Tombol kembali Tombol lanjut Informasi Sistem Blank layout Klasifikasi Botani-Lanskap Klasifikasi Umum Detail Lokasi Tombol Keluar Tombol view as form Tombol view as table Tombol bantuan Tombol kembali Tombol lanjut Tentang SIPArlan Blank layout Klasifikasi Botani-Lanskap Klasifikasi Umum Detail Lokasi Tombol Keluar Tombol view as form Tombol view as table Tombol bantuan Tombol kembali Go to Layout > Morfologi Go to Layout > Daftar Pohon Go to Layout > Bantuan Go to Layout > Tombol Navigasi Go to Layout > Informasi Sistem Go to Layout > Morfologi Go to Layout > Umum Go to Layout > Detail Lokasi Go to Layout > SIPArlan vol.1 Go to Layout > Morfologi Go to Layout > Daftar Pohon Go to Layout > Bantuan Go to Layout > Pendataan Pohon Go to Layout > Tentang SIPArlan Go to Layout > Morfologi Go to Layout > Umum Go to Layout > Detail Lokasi Go to Layout > SIPArlan vol.1 Go to Layout > Morfologi Go to Layout > Daftar Pohon Go to Layout > Bantuan Go to Layout > Informasi Sistem (Gambar 61) (Gambar 62) 61

75 162 Gambar 36. Form Layout SIPArlan Vol 1 Gambar 37. Form Layout Morfologi Gambar 38. Form Layout Morfologi 1

76 163 Gambar 39. Form Layout Morfologi 2 Gambar 40. Form Layout Karakteristik Gambar 41. Form Layout Sifat Ekologi

77 164 Gambar 42. Form Layout Fungsi Gambar 43. Form Layout Fungsi 1 Gambar 44. Form Layout Fungsi 2

78 165 Gambar 45. Form Layout Umum Gambar 46. Form Layout Umum 1 Gambar 47. Form Layout Umum 2

79 166 Gambar 48. Form Layout Detail Foto Pohon Gambar 49. Form Layout Detail Lokasi Gambar 50. Form Layout Detail Lokasi 1

80 167 Gambar 51. Form Layout Detail Lokasi 2 Gambar 52. Form Layout Detail Lokasi 3 Gambar 53. Form Layout Detail Lokasi 4

81 168 Gambar 54. Form Layout Detail Lokasi 5 Gambar 55. Form Layout Detail Lokasi 6 Gambar 56. Form Layout Daftar Pohon

82 169 Gambar 57. Form Layout Bantuan Gambar 58. Form Layout Ikhtisar Gambar 59. Form Layout Tombol Navigasi

83 170 Gambar 60. Form Layout Pendataan Pohon Gambar 61. Form Layout Informasi Sistem Gambar 62. Form Layout Tentang SIPArlan

84 171 Pemasukan Data Basis Data Pohon dalam FileMaker Pro 7 Data masukan pada basis data pohon ini berupa data teks, data gambar, data teks pilihan (value list), dan data opsional sesuai dengan klasifikasi yang telah dilakukan sehingga pengisian data menggunakan field entry data berbentuk edit box (tipe data text), edit box (tipe data container), pop-up list, dan checkbox set. Field entry data berbentuk edit box (tipe data text) digunakan pada field Id Pohon, Nama Botani, Nama Umum, Famili, Lokasi. Field entry data berbentuk edit box (tipe data container) digunakan pada field Foto Pohon, Foto Buah, Foto Bunga, Foto Batang, Foto Akar. Field entry data berbentuk pop-up list dan checkbox set telah dijelaskan sebelumnya (diuraikan pada Penentuan Table, Field, Relationship, dan Value List). Langkah awal dalam proses pemasukan data/record pada aplikasi FileMaker adalah dengan mengubah tampilan jendela Filemaker menjadi Browse Mode. Langkah pengerjaan yaitu dengan memilih menu View, kemudian mengklik Browse Mode, sehingga tampilan jendela FileMaker berubah menjadi mode tampilan (Gambar 64). Proses pendataan dilakukan dengan menggunakan tombol ubah dan tombol hapus. Tombol ubah digunakan untuk setiap proses pemasukan sebuah record baru, sedangkan tombol hapus digunakan untuk menghapus sebuah record. Proses Pemasukan data dilakukan dengan memilih tombol ubah (dan atau memilih menu Records, kemudian mengklik New Record), kemudian field yang akan diisi data dipilih. Untuk field entry data berbentuk edit box (tipe data text), proses pemasukan data dilakukan dengan mengetikkan data pada field. Ketentuan khusus berlaku pada field Id Pohon, yaitu data maksimum terdiri dari enam karakter, bersifat unik, dan tidak boleh bernilai kosong (null). Field entry data berbentuk edit box (tipe data container), proses pemasukan data dilakukan dengan mengklik kanan field, kemudian Insert Picture dipilih, sehingga tampil jendela Insert Picture. Pada jendela Insert Picture, data gambar yang akan dimasukkan dipilih, kemudian memberi tanda check pada label Store only a reference to file, sehingga jika terdapat perubahan data maka dengan sendirinya (secara otomatis) basis data akan mengupdate link (Gambar 63). Gambar-gambar pohon yang dimasukkan ke dalam basis data berbentuk file-file gambar dengan format JPEG (Joint Photographic Experts Group) dan

85 172 disimpan di dalam folder khusus. File tersebut diberi nama sesuai dengan nama botaninya, sehingga memudahkan dalam proses pemasukan data. Gambar 63. Jendela Insert Picture Field entry data berbentuk pop-up list, data yang akan dimasukkan, dipilih pada value list. Sedangkan Field entry data berbentuk checkbox set, proses pemasukan data dilakukan dengan memberi tanda check pada data yang akan dimasukkan. Proses perpindahan dari satu field menuju field lain dilakukan dengan menekan tombol Tab pada keyboard, sehingga memudahkan dalam proses pemasukan data. Sedangkan proses perpindahan dari satu layout menuju layout lain dilakukan dengan mengklik button-button yang telah diatur sebelumnya. Data dalam basis data pohon ini diurutkan berdasarkan id pohon sesuai urutan abjad. Pengurutan dilakukan dengan memilih menu Records, kemudian Sort Records diklik, sehingga akan tampil jendela Sort Records. Data yang ingin diurutkan pada jendela Sort Records dipilih, kemudian Sort diklik. Penggunaan Basis Data Pohon Basis data pohon ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu Bagian 1 dan Bagian 2. Bagian 1 merupakan halaman depan basis data yang berisikan informasi umum mengenai basis data dan nama pohon; sedangkan bagian 2 merupakan halaman inti yang berisikan informasi dan foto pohon. Basis data pohon ini menggunakan dua mode penggunaan, yaitu browse mode dan find mode (mode pencarian). Browse mode digunakan untuk pendataan dan untuk menampilkan data dan informasi pohon; sedangkan find

86 173 mode digunakan untuk mencari data dan informasi pohon. Informasi pada basis data pohon ini dikelompokkan berdasarkan klasifikasi botani-lanskap dan klasifikasi umum, yang ditampilkan dalam dua pilihan tampilan (view as form dan view as table). Penggunaan basis data pohon ini terbagi menjadi proses membaca/memperoleh data dan informasi pohon; dan proses pencarian data dan informasi pohon. Proses membaca/memperoleh data dan informasi pohon, dilakukan dengan memilih browse mode (Gambar 64). Untuk pendataan telah diuraikan sebelumnya (diuraikan pada Pemasukan Data Basis Data Pohon dalam FileMaker Pro 7); sedangkan untuk memperoleh informasi mengenai suatu jenis pohon dilakukan dengan memilih tombol identifikasi pohon yang dikehendaki. Untuk berpindah dari satu record (data satu jenis pohon) menuju record lain dilakukan dengan mengklik tombol pindah file pada toolbar/sidebar jendela FileMaker. Gambar 64. Jendela Browse mode Filemaker menyediakan fasilitas untuk melakukan pencarian secara berganda. Pencarian berganda memudahkan pencarian data dan informasi pohon berdasarkan query. Query adalah pengelompokan berdasarkan kriteria identifikasi tertentu, misalnya query berdasarkan biji tertutup. Proses pencarian data dan informasi pohon dilakukan dengan memilih find mode (Gambar 65). Langkah pengerjaannya yaitu dengan mengetikkan/memilih kriteria identifikasi pohon yang dicari/dikehendaki pada field. Selanjutnya dengan mengklik tombol find untuk eksekusi pada toolbar/sidebar jendela FileMaker, sehingga akan tampil data dan informasi

87 174 mengenai pohon yang dicari. Data dan informasi mengenai pohon yang diperoleh merupakan query berdasarkan kriteria identifikasi pohon yang dicari/dikehendaki. Gambar 65. Jendela Find mode Untuk melakukan pencarian berganda dikerjakan seperti langkah pencarian sebelumnya, namun dengan mengetikkan/memilih dua atau lebih kriteria identifikasi. Data dan informasi mengenai pohon yang diperoleh merupakan query berdasarkan dua atau lebih kriteria identifikasi pohon yang diketikkan/dipilih. Semakin banyak kriteria identifikasi yang diketikkan/dipilih, maka data dan informasi mengenai pohon yang diperoleh semakin spesifik. Untuk kembali menuju tampilan semula (browse mode) dan atau menampilkan keseluruhan record, yaitu dengan memilih menu Records kemudian klik Show All Records, sehingga akan tampil keseluruhan record. Pengaturan Account Pengguna FileMaker menyediakan fasilitas pengaturan account pengguna, sehingga memudahkan dalam pengaturan pengguna dalam mengakses basis data pohon ini. Pengaturan account pengguna basis data pohon ini terbagi menjadi dua, yaitu Admin Account dan Guest Account. Admin Account digunakan untuk melakukan proses editing dan updating baik basis data maupun tampilan pengguna, dan disertai dengan password. Sedangkan Guest Account digunakan bagi pengguna umum untuk sekedar memperoleh dan mencari data dan informasi mengenai pohon, dan tanpa fungsi editing dan updating.

88 175 Langkah pengaturan account pengguna pada FileMaker, yaitu dengan memilih menu File, kemudian mengklik Define > Accounts & Privileges, sehingga akan tampil jendela Accounts & Privileges (Gambar 66). Jendela Accounts & Privileges terdiri dari tiga tab, yaitu tab Accounts, tab Privilege Sets, dan tab Extended Privileges. Gambar 66. Jendela Accounts & Privileges Langkah selanjutnya, yaitu dengan memberi tanda check pada Account Guest dan Account Admin. Account Admin pada tab Accounts dipilih, kemudian Edit diklik, sehingga akan tampil jendela Edit Account. Pada jendela Edit Account, dilakukan penentuan nama account, password, dan pengaturan yang diinginkan, kemudian OK diklik. Pada jendela Accounts & Privileges, OK diklik, sehingga akan tampil jendela Confirm Full Access Login. Selanjutnya, pada jendela Confirm Full Access Login, dilakukan penentuan nama account dan password yang serupa dengan nama account dan password yang dimasukkan pada jendela Edit Account. Prosedur Penginstallan dan Penggunaan Basis Data Pohon Langkah penginstallan dan penggunaan basis data pohon ini adalah sebagai berikut: 1. Folder SIPArlan Vol.1 dicopykan ke dalam perangkat komputer. 2. Untuk menjalankan program harus melalui perangkat lunak FileMaker Pro 7 karena program tersimpan dalam format *fp7 (ektensi FileMaker Pro 7). Untuk diketahui, file basis data bernama SIPArlan vo.1.fp7, dan dapat diakses dengan mengklik ganda pada explorer atau dengan membuka nama file tersebut dalam FileMaker Pro 7.

89 Setelah file SIPArlan vol.1.fp7 diakses didalam FileMaker, maka akan tampil jendela Open File (Gambar 67), kemudian Guest Account dipilih, dan program akan menampilkan basis data pohon. 4. Editing dan atau updating basis data dilakukan dengan memilih Account Name and Password (Admin Account) pada jendela Open File. Admin Account dilengkapi dengan password, sehingga editing dan atau updating basis data hanya dapat dilakukan oleh pengguna tertentu (terbatas). Gambar 67. Jendela Open File

90 PEMBAHASAN 177 Data Pohon Data (obyek) dalam basis data ini berupa pohon yang dikelompokkan berdasarkan pengklasifikasian secara botani pada takson tingkat familia. Data yang dimasukkan meliputi foto dan data atribut. Data foto mencakup foto pohon secara keseluruhan, foto buah, foto bunga, foto daun, foto batang, dan foto akar. Data atribut berupa informasi mengenai deskripsi dan klasifikasi jenis pohon, yang mencakup klasifikasi botani-lanskap (sifat morfologi, sifat ekologi, karakteristik, dan fungsi) dan klasifikasi umum. Deskripsi umum jenis pohon mencakup nama botani, nama umum, famili, dan lokasi keberadaannya di Kebun Raya Bogor. Lebih lanjut, deskripsi dan klasifikasi jenis pohon dibedakan menjadi klasifikasi botani-lanskap dan klasifikasi umum. Klasifikasi Botani-Lanskap Klasifikasi botani-lanskap dikelompokkan berdasarkan klasifikasi menurut ilmu botani (taksonomi tumbuhan) dan klasifikasi menurut ilmu arsitektur lanskap (ekologi/hortikultura). Klasifikasi botani-lanskap mencakup sifat morfologi, karakteristik, sifat ekologi, dan fungsi pohon. Sifat morfologi pohon dibedakan menjadi morfologi biji, buah, bunga, daun, batang, dan akar. Data sifat morfologi pohon memberi informasi kepada pengguna mengenai morfologi (bentuk) pohon. Data tersebut selanjutnya dapat dijadikan dasar pedoman dalam menentukan fungsi dan kualitas estetis pohon; yang notabene merupakan hal fundamental dalam menentukan pohon. Karakteristik pohon dalam basis data ini dibedakan menjadi bentuk pertumbuhan, bentuk tajuk, tinggi pohon (dewasa), diameter tajuk pohon (dewasa), tekstur pohon, aroma, perbanyakan, dan asal pohon. Data karakteristik pohon memberi informasi kepada pengguna mengenai karakteristik (kekhasan) pohon. Pengetahuan mengenai karakteristik pohon memudahkan bagi pengguna untuk menentukan pohon yang diinginkan atau dibutuhkan dalam tapaknya. Sifat ekologi pohon dalam basis data ini dibedakan menjadi toleransi terhadap suhu (temperatur), toleransi terhadap air (kelembaban), toleransi terhadap ph tanah (derajat kemasaman), toleransi terhadap cahaya, toleransi

91 178 terhadap angin, toleransi terhadap hama dan penyakit, toleransi ketinggian, dan tingkat pemeliharaan. Data sifat ekologi pohon memberi informasi kepada pengguna mengenai batas toleransi pohon untuk tumbuh. Identifikasi mengenai sifat ekologi pohon pada basis data pohon ini belum sepenuhnya lengkap. Hal ini disebabkan karena pohon memerlukan lebih banyak data untuk memperoleh lingkungan tumbuh yang optimal. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian secara mendalam mengenai toleransi pohon terhadap lingkungan tumbuhnya. Fungsi pohon dibedakan menjadi fungsi memperbaiki iklim, fungsi arsitektural, fungsi engineering, fungsi estetis, dan fungsi lain. Fungsi memperbaiki iklim diidentifikasikan berdasarkan hubungan sifat morfologi dan karakteristik pohon terhadap perbaikan iklim, seperti kontrol suhu, kontrol kelembaban, dan kontrol angin. Hubungan sifat morfologi pohon terhadap perbaikan iklim mencakup morfologi daun, morfologi batang, dan morfologi akar. Sedangkan hubungan karakteristik terhadap perbaikan iklim mencakup bentuk pertumbuhan, bentuk tajuk, tinggi pohon, dan diameter pohon. Fungsi arsitektural merupakan fungsi pohon yang mendasar dalam bidang arsitektur lanskap, seperti membentuk dinding, membentuk ruang, kontrol privasi, pembatas, pengarah, dan memberi naungan. Fungsi arsitektural juga diidentifikasikan berdasarkan sifat morfologi dan karakteristik pohon yang serupa pada fungsi memperbaiki iklim. Fungsi engineering merupakan fungsi pohon yang berkaitan dengan pengendalian lingkungan sekitar yang tercemar, sebagai dampak kegiatan manusia. Fungsi engineering mencakup kontrol erosi, kontrol suara, kontrol visual, kontrol polusi udara, kontrol jalan, dan kontrol cahaya. Fungsi pohon ini diidentifikasikan berdasarkan sifat morfologi pohon berupa morfologi buah, bunga, daun, batang, dan akar; dan karakteristik pohon berupa bentuk pertumbuhan, bentuk tajuk, tinggi pohon, diameter pohon, tekstur pohon, dan aroma. Fungsi estetis merupakan fungsi pohon berkaitan dengan daya tarik estetis pohon. Fungsi pohon ini diidentifikasikan berdasarkan karakteristik pohon dalam membingkai view, melunakkan garis arsitektural, menyatukan elemen lanskap dan melunakkan setting yang kaku

92 179 Fungsi lain merupakan pengelompokan fungsi pohon yang tidak dapat dimasukkan pada fungsi pohon lain. Fungsi ini mencakup indikator sejarah, habitat satwa liar, dan upacara adat/keagamaan. Identifikasi mengenai fungsi pohon pada basis data pohon ini belum sepenuhnya lengkap. Hal ini disebabkan karena identifikasinya hanya berdasarkan identifikasi fisik pohon. Untuk mengoptimalkan penggunaannya, fungsi pohon tersebut perlu memadukan identifikasi fisik dan non fisik pohon. Data non fisik adalah data mengenai kemampuan bagian-bagian dan karakteristik pohon dalam persentase, seperti persen kerapatan daun, dan persen ketebalan daun. Klasifikasi Umum Klasifikasi umum dikelompokkan berdasarkan klasifikasi yang lebih umum dikenal oleh masyarakat. Klasifikasi umum mencakup pohon dengan daya tarik estetis, manfaat/penggunaan, dan lingkungan tumbuh. Daya tarik estetis dibedakan menjadi bunga menarik, dahan dan daun bercorak, aroma harum, buah menarik, serta unik dan tak lazim. Data pohon dengan daya tarik estetis memberi informasi kepada pengguna mengenai daya tarik pohon berupa keestetisan/keindahan/kekhasan, yang telah dikenal oleh masyarakat. Data tersebut selanjutnya dapat dijadikan dasar pedoman dalam menentukan manfaat/penggunaan pohon; yang notabene dibutuhkan oleh masyarakat. Manfaat/penggunaan dalam basis data ini dibedakan menjadi pohon peneduh, pohon buah, penarik satwa, pohon kayu, rempah, beverages, dan bijibijian-bijian, sayuran, dan manfaat umum. Data manfaat/penggunaan pohon memberi informasi kepada pengguna mengenai manfaat atau penggunaan umum pohon, yang telah dikenal oleh masyarakat. Lingkungan tumbuh dalam basis data ini dibedakan menjadi tepi jalan, park/garden, basah hingga tergenang, mangrove, pantai pasir, dan ruderal. Data lingkungan tumbuh pohon memberi informasi kepada pengguna, mengenai lingkungan tumbuh yang optimal mendukung pertumbuhan pohon. Identifikasi mengenai klasifikasi umum belum sepenuhnya memberi kemudahan masyarakat umum. Hal ini disebabkan karena masih terdapat identifikasi dan klasifikasinya menggunakan istilah yang jarang dikenal masyarakat, seperti buah menarik (fascinating figs) dan ruderal.

93 180 Data Pohon dalam Basis Data Pohon dalam basis data ini merupakan pohon koleksi Kebun raya Bogor. Selanjutnya, pohon tersebut dikelompokkan sebagai pohon yang mampu beradaptasi di daerah tropis, baik yang berasal dari daerah tropis maupun introduksi dari daerah lain. Basis data dalam studi ini menghimpun 59 famili pohon yang tercakup dalam 136 vak di Kebun Raya Bogor. Jumlah pohon tersebut mencakup 388 spesies pohon dan belum dapat mewakili keseluruhan spesies pohon koleksi Kebun Raya Bogor, yang jumlahnya mencapai 1800 spesies pohon. Hal ini disebabkan penghimpunan data dicukupkan/terbatas untuk keperluan studi. Berdasar program basis data yang telah tersusun ini, selanjutnya dapat dilakukan entry data keseluruhan famili/spesies pohon koleksi Kebun Raya Bogor. Basis Data Pohon dalam FileMaker Pro 7 Basis data pohon ini disusun dan dirancang untuk menampilkan data dan informasi mengenai jenis pohon, baik berdasarkan klasifikasi botani-lanskap maupun klasifikasi umum; serta menyediakan kemudahan dalam mencari dan menentukan jenis pohon yang sesuai dengan kriteria yang diharapkan. Penyusunan basis data pohon ini berbasis komputer dengan menggunakan perangkat lunak FileMaker Pro 7. Perangkat lunak ini menyediakan basis data yang diintegrasikan dengan tampilan pengguna, yang memudahkan pengguna untuk mengakses serta memodifikasi baik basis data maupun tampilan pengguna. Basis data pohon ini harus dijalankan melalui perangkat lunak FileMaker Pro 7 karena program tersimpan dalam format *fp7 (ekstensi FileMaker Pro 7). FileMaker tidak menyediakan fasilitas untuk mengubah file dalam format *fp7 menjadi aplikasi. Struktur Basis Data Pohon dalam FileMaker Pro 7 Struktur basis data disusun dan dirancang berdasarkan pengklasifikasian yang telah dilakukan dan jenis data yang akan dimasukkan ke dalam basis data. Penggunaan FileMaker Pro 7 dalam perancangan struktur basis data pohon ini memberikan kemudahan baik dalam proses perancangan struktur basis data, proses pemasukan data, dan proses pengembangannya.

94 181 Tampilan Basis Data Pohon dalam FileMaker Pro 7 Tampilan basis data pohon disusun dan dirancang untuk menampilkan data dan informasi basis data. Penggunaan FileMaker Pro 7 dalam perancangan tampilan basis data pohon ini memberikan kemudahan baik dalam proses perancangan tampilan basis data, proses pencarian data, dan proses pengembangannya. Tampilan basis data dirancang dalam tampilan GUI (Graphical User Interface) sehingga memudahkan dalam mengakses serta memodifikasi basis data dengan mendrag elemen baru ke dalam form layout yang tersedia pada tampilan pengguna. Selain itu, memberikan kemudahan dalam merancang tampilan basis data yang menarik dan mudah dimengerti oleh pengguna (user friendly). Tampilan basis data menjadi menarik karena didukung dengan penggunaan bentuk yang up to date, penggunaan warna yang serasi, baik warna tulisan, button, dan elemen desain layout serta pemilihan jenis tulisan (font) yang baik dan jelas. Sedangkan tampilan yang mudah dimengerti oleh pengguna (user friendly), dimana pengguna (users) hanya cukup memilih tombol identifikasi pohon yang dikehendaki untuk memperoleh informasi mengenai suatu jenis pohon Gambar 68. Tampilan Basis Data Berbasis GUI 1. Button dan elemen desain layout 2. Font yang baik dan jelas 3. Tombol identifikasi pohon

95 182 Penggunaan Basis Data Pohon Basis data pohon ini menggunakan dua mode penggunaan, yaitu browse mode dan find mode (mode pencarian). Browse mode digunakan untuk pendataan dan untuk menampilkan data dan informasi pohon; sedangkan find mode digunakan untuk mencari data dan informasi pohon. Informasi pada basis data pohon ini dikelompokkan berdasarkan klasifikasi botani-lanskap dan klasifikasi umum, yang ditampilkan dalam dua pilihan tampilan (view as form dan view as table) Gambar 69. Tampilan Basis Data 1. Browse mode 2. Find mode 3. View as form 4. View as table Penggunaan basis data pohon ini terbagi menjadi proses membaca/memperoleh data dan informasi pohon; dan proses pencarian data dan informasi pohon. Proses membaca/memperoleh data dan informasi pohon dilakukan dengan memilih tombol identifikasi pohon yang dikehendaki.

96 Gambar 70. Tombol pada Basis Data 1. Tombol identifikasi pohon 1 2. Tombol tampilan basis data 3. Tombol Pindah file (record) 4. Tombol identifikasi 2 Proses pencarian data dan informasi pohon dilakukan dengan memilih mode pencarian. Filemaker menyediakan fasilitas untuk melakukan pencarian secara berganda. Pencarian berganda memudahkan pencarian data dan informasi pohon berdasarkan query. Query adalah pengelompokan berdasarkan kriteria identifikasi tertentu, misalnya query berdasarkan biji tertutup. Semakin banyak kriteria identifikasi yang diketikkan/dipilih, maka data dan informasi mengenai pohon yang diperoleh semakin spesifik. Sebagai contoh pada proses membaca/memperoleh data dan informasi pohon (Browse mode); jika pengguna ingin mengetahui/memperoleh data dan informasi jenis pohon secara berurutan berdasarkan abjad, maka langkah yang dilakukan pengguna adalah mengklik tombol pindah file pada toolbar/sidebar jendela FileMaker. Sedangkan untuk memperoleh informasi mengenai suatu jenis pohon tertentu dilakukan dengan memilih tombol identifikasi pohon yang dikehendaki, misalnya dengan memilih tombol Morfologi Daun untuk memperoleh informasi mengenai morfologi daun. Sebagai contoh pada proses pencarian data dan informasi pohon (Find mode); jika pengguna ingin mencari jenis pohon dengan kriteria identifikasi tertentu berdasarkan nama famili, maka langkah yang dilakukan pengguna adalah memilih mode pencarian (Find mode) dengan mengklik tombol Cari, kemudian mengetikkan nama famili yang diinginkan. Selanjutnya dengan mengklik tombol find untuk eksekusi pada toolbar/sidebar jendela FileMaker,

97 184 sehingga akan tampil data dan informasi mengenai jenis pohon yang tercakup dalam famili tersebut secara berurutan berdasarkan abjad. Jika pengguna ingin mencari jenis pohon dengan dua atau lebih kriteria identifikasi (pencarian berganda), maka langkah yang dilakukan seperti langkah pada proses pencarian sebelumnya (sebuah kriteria identifikasi), namun dengan mengetikkan/memilih dua atau lebih kriteria identifikasi. Misalnya, pengguna ingin mencari jenis pohon dengan kriteria identifikasi berdasarkan bentuk tajuk tidak beraturan dan daya tarik estetis bunga menarik, maka langkah yang dilakukan dengan memilih mode pencarian, kemudian memilih tidak beraturan pada field Bentuk Tajuk (tombol Karakteristik); dan memilih bunga menarik pada field Daya Tarik Estetis (tombol Daya Tarik Estetis). Selanjutnya dengan mengklik tombol find, sehingga akan tampil data dan informasi mengenai jenis pohon yang tercakup dalam bentuk tajuk tidak beraturan dan daya tarik estetis bunga menarik (Tabel Lampiran 1) Gambar 71. Proses Pencarian Pohon 1. Tekan tombol cari 2. Memilih kriteria identifikasi 1 (Tidak Beraturan) 3. Memilih kriteria identifikasi 2 (Bunga Menarik), tekan find 4. Tampil data dan informasi (Tidak Beraturan dan Bunga Menarik)

98 185 Jika pengguna ingin kembali mengetahui/memperoleh data dan informasi jenis pohon secara berurutan berdasarkan abjad, maka langkah yang dilakukan pengguna adalah menuju tampilan semula (browse mode) dan atau menampilkan keseluruhan record, yaitu dengan memilih menu Records kemudian klik Show All Records. Gambar 72. Proses Menuju Tampilan Semula (Browse mode) Manfaat Basis Data Pohon Manfaat penyusunan basis data pohon Kebun Raya Bogor ini secara umum dapat mempermudah pengguna, baik Pengelola Kebun Raya Bogor, arsitek lanskap maupun masyarakat umum dalam memperoleh data dan informasi mengenai jenis pohon sesuai kriteria yang diharapkan. Selain itu, pengguna memperoleh pengetahuan mengenai penyusunan basis data berbasis komputer dan pengetahuan mengenai klasifikasi pohon. Basis Data Pohon bagi Pengelola Kebun Raya Bogor Pengelola Kebun Raya Bogor memperoleh manfaat penggunaan basis data pohon ini, baik manfaat umum maupun manfaat khusus. Manfaat umumnya, yaitu data dan informasi yang melengkapi keberadaan katalog Kebun Raya Bogor yang telah ada sebelumnya. Sedangkan manfaat khususnya, yaitu memperoleh informasi yang mendukung kegiatan pengelolaan/pemeliharaan pohon, dan Pengelola Kebun Raya Bogor dapat memanfaatkan dan atau mengembangkan basis data ini menjadi fasilitas informasi maupun sebagai kenang-kenangan (souvenir) khas Kebun Raya Bogor.

99 186 Basis Data Pohon untuk Aplikasi dalam Bidang Arsitektur Lanskap Pengetahuan mengenai data dan informasi mengenai pohon yang akan digunakan merupakan hal mendasar dalam bidang arsitektur lanskap, yang mencakup perencanaan, perancangan, maupun pengelolaan suatu lanskap. Keahlian arsitek lanskap mengenai pohon mencakup pengetahuan mengenai fungsi, pemahaman mengenai sifat, karakteristik desain, dan syarat tumbuh pohon, serta kemampuan untuk menggunakannya dalam konteks desain tertentu (Carpenter et al.,1975). Basis data pohon ini memfasilitasi kebutuhan tersebut dengan menghimpun data dan informasi (sifat morfologi, karakteristik, sifat ekologi, dan fungsi pohon) ke dalam klasifikasi botani-lanskap. Namun, data dan informasi tersebut masih kurang mendetail bagi pengguna seperti planner/desainer dan arsitek lanskap. Basis data pohon ini memberikan kemudahan dalam penggunaan dan memberi kemudahan dalam memperoleh/mencari data dan informasi pohon yang sesuai dengan kriteria yang diharapkan bagi arsitek lanskap. Basis data pohon ini menyediakan data dan informasi mengenai pohon dan fungsi pencarian pohon. Fungsi pencarian pohon dapat dilakukan dengan berdasarkan satu atau lebih kriteria identifikasi pohon (pencarian berganda). Fungsi pencarian berganda sangat mempermudah dan mempercepat arsitek lanskap untuk mencari jenis pohon diharapkan, mengingat lingkup kerja arsitek lanskap terbatas oleh waktu serta pengetahuan mengenai data dan informasi yang masih kurang. Basis Data Pohon untuk Masyarakat Umum Basis data pohon ini memberi manfaat bagi masyarakat umum untuk memperoleh data dan informasi mengenai jenis pohon sesuai kriteria yang diharapkan, seperti informasi mengenai jenis pohon yang sesuai ditanam pada lahan pekarangan dekat pantai. Selain itu, juga diperuntukkan bagi masyarakat untuk menambah pengetahuan mengenai jenis pohon, koleksi Kebun Raya Bogor, yang terdapat dalam basis data pohon ini. Masyarakat umum cenderung mencari jenis pohon yang telah dikelompokkan berdasarkan klasifikasi yang telah umum dikenal, seperti berdasarkan keindahan pohon, manfaat/penggunaan pohon, dan tempat hidup (lingkungan tumbuh) pohon. Basis data pohon ini memfasilitasi kebutuhan

100 187 tersebut dengan menghimpun data dan informasi (daya tarik estetis, manfaat/penggunaan, dan lingkungan tumbuh) ke dalam klasifikasi umum.

101 KESIMPULAN DAN SARAN 188 Kesimpulan Penelitian ini merupakan pengembangan dari penelitian sebelumnya oleh Rukmono (2004) dan Arimbi (2004). Pengembangan tersebut berupa penambahan kriteria identifikasi pohon, penambahan jenis pohon, serta penyusunan dan perancangan basis data dengan menggunakan perangkat lunak yang berbeda. Selain itu, penyusunan basis data pohon Kebun Raya Bogor ini merupakan pengembangan basis data (katalog) Kebun Raya Bogor yang telah ada sebelumnya, baik berupa pengembangan materi terutama untuk aplikasi dalam bidang arsitektur lanskap; maupun penyajian basis data. Basis data pohon Kebun Raya Bogor untuk aplikasi dalam bidang arsitektur lanskap, yang menarik sekaligus user friendly telah berhasil disusun dan dirancang dengan memanfaatkan perangkat lunak FileMaker Pro 7. Basis data ini mencakup data dan informasi mengenai jenis pohon koleksi Kebun Raya Bogor, yang diklasifikasikan berdasarkan klasifikasi botani-lanskap dan klasifikasi umum; serta menyediakan kemudahan dalam mencari dan menentukan jenis pohon yang sesuai dengan kriteria yang diharapkan. Data dalam basis data ini meliputi foto dan data atribut mengenai pohon koleksi Kebun Raya Bogor. Data yang dihimpun dalam basis data ini sebanyak 59 famili pohon yang mencakup 388 spesies pohon dan terletak dalam 136 vak di Kebun Raya Bogor. Data dan informasi mengenai jenis pohon Kebun Raya Bogor yang diperoleh dicukupkan/terbatas untuk keperluan studi. Berdasar program basis data yang telah tersusun ini, selanjutnya dapat dilakukan entry data keseluruhan famili/spesies pohon koleksi Kebun Raya Bogor. Saran Penghimpunan data dan informasi mengenai jenis pohon Kebun Raya Bogor dicukupkan/terbatas untuk keperluan studi. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian lanjutan maupun penelitian pengembangan. Penelitian lanjutan dilakukan untuk menambah kriteria identifikasi pohon yang lebih mendetail, serta untuk menambah dan melengkapi data jenis pohon koleksi Kebun Raya Bogor. Sedangkan penelitian pengembangan dilakukan untuk memperluas skala klasifikasi, seperti klasifikasi habitus semak koleksi Kebun Raya Bogor, klasifikasi pohon sub tropis yang dapat dintroduksi ke daerah

102 189 tropis, ataupun klasifikasi lokasi yang berbeda; serta penyusunan dan perancangan basis data dengan menggunakan perangkat lunak yang menyediakan fasilitas untuk mengubah file menjadi aplikasi, sehingga lebih mudah dan luas skala penggunaannya.

103 DAFTAR PUSTAKA 190 Ariati, S. R., T. Yulistyarini, dan A. Suprapto (Eds.) Koleksi Polong-Polongan Kebun Raya Purwodadi. Seri Koleksi Vol III, No 1. Kebun Raya Purwodadi. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. 66 hlm. Arimbi, V. N Penyusunan Basis Data Pohon dengan Visualisasi Komputer. Skripsi. Departemen Budi Daya Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. 126 hlm. Awaluddin, T Merancang dan Membangun Aplikasi Database dengan Microsoft Access Salemba Infotek. Jakarta. 176 hlm. Carpenter, P. L., T. D. Walker, and F. O. Lanphear Plants in The Landscape. W. H. Freeman and Company. San Francisco. 481 p. Danimihardja, S. dan Djumadi N. (Eds.) An Alphabetical List of Plant Species Cultivated in The Hortus Botanicus Bogoriensis. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Bogor. 252 hlm. Daryanto Belajar Komputer Visual Basic. CV. Yrama Widya. Bandung. 176 hlm. Eckbo, G The Art of Home Landscaping. McGraw-Hill Book Company, United States of America. 278 p. Firdaus Jam Belajar Interaktif Visual Basic 6.0 untuk Orang Awam. Penerbit Maxikom. Palembang. 183 hlm. Grey, G. W. and F. J, Deneke Urban Forestry. John Wiley & Sons, Inc. United States of America. 279 p. Lancestor, R Trees for Your Garden. First Edition. Aidan Ellis Pub. 158 p. Levelink, J. dan A. Mawdsley Empat Rute Jalan Kaki dengan Panduan Kebun Raya Bogor. Kebun Raya Indonesia. 57 hlm. Levitt, J Responses of Plants to Environmental Stresses. Academic Press, A subsidiary of Harcourt Brace Jovanovich, Publisher. 697 p Responses of Plants to Environmental Stresses. Vol 1 & vol 2, 2 nd Edition. Academic Press, A Subsidiary of Harcourt Brace Jovanich, Publisher. 607 p. Miller, R. W Urban Forestry: Planning and Managing Urban Greenspace. Prentice Hall, Inc. 404 p.

104 191 Rukmono, B. S Penyusunan Basis Data Tanaman Lanskap. Skripsi. Departemen Budi Daya Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. 97 hlm. Rusila Noor, Y., M. Khazali, dan I. N. N. Suryadiputra Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. PKA/WI-IP. Bogor. 220 hlm. Steenis, C. G. G. J. van, Flora untuk Sekolah di Indonesia. PT Pradnya Paramita. Jakarta. 485 hlm. Susanto, B. dan S. Santoso Aplikasi Access dalam Pengolahan Data Personalia. PT Elex Media Komputindo. Jakarta. 198 hlm. Tee, S. P. and Wee M.L. (Eds.) Trees of Our Garden City, A Guide to the Common Trees of Singapores. National Parks Board. Singapore. 202 p. Tjitrosoepomo, G Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. 266 hlm. Wee, Y. C Tropical Trees and Shrubs, A Selection for Urban Plantings. Sun Tree Publishing Limited. USA. 393 p. Widjaja, A. E Identifikasi Jenis-Jenis Bambu di Jawa. Puslitbang Biologi- Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. 101 hlm. Widyatmoko, D., S. Wuryanti, dan A. Suprapto (Eds.) Koleksi Palem Kebun Raya Purwodadi. Seri Koleksi Vol.III, No.2. Kebun Raya Purwodadi. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Lawang. 73 hlm. Wikipedia (a) Filemaker. [20 Nopember 2007] (b) Kebun Raya Bogor. _Bogor. [24 Juli 2007] (c) Taksonomi. Taksonomi. [24 Juli 2007] Witono, J. R., A. Suhatman, N. Suryana, dan R. S. Purwantoro (Eds.) Koleksi Palem Kebun Raya Cibodas. Seri Koleksi Vol.II, No.1. Cabang Balai Kebun Raya Cibodas. UPT Balai Pengembangan Kebun Raya. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Cianjur. 67 hlm. Wungkar, M. M Evaluasi Aspek Fungsi dan Kualitas Estetika Arsitektural Pohon Lanskap Jalan Kota Bogor. Tesis. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. 142 hlm.

105 192

106 93 93

107 94 Tabel Lampiran 1. Tabel Data Jenis Pohon (Query Bentuk Tajuk Tidak Beraturan dan Daya Tarik Estetis Bunga Menarik) No. Id Pohon Nama Botani Nama Umum Famili Lokasi 1 Fab012 Cassia spectabilis Kasia Kuning Fabaceae XX.C. 2 Coc001 Cochlospermum religiosum (L.) Alston Buttercup Tree Cochlospermaceae XVI.H. 3 Cae017 Delonix regia (Bojer ex Hook.) Rafin. Flamboyan Caesalpiniaceae XXIV.A. 4 Log001 Fagraea fragrans Roxb. Tembusu Loganiaceae IV.A. 5 Big003 Jacaranda obtusifolia H.B. & K. subsp. rhombifolia (G.Mey.) Jakaranda Bignoniaceae VII.E. 6 Big011 Tabebuia chrysantha Bunga Terompet Bignoniaceae XV.J.A.X. Tabel Lampiran 2. Tabel Data Jenis Pohon (Query Bentuk Tajuk Tidak Beraturan dan Daya Tarik Estetis Bunga Kurang Menarik) No. Id Pohon Nama Botani Nama Umum Famili Lokasi 1 Cae012 Acrocarpus fraxinifolius Wight & Arn. Delimas/Pink Cedar Caesalpiniaceae I.J. 2 Rub003 Adina trichotoma (Zoll. & Moritzi) Bonpl. & Humb. Adina trichotoma Rubiaceae IV.E. 3 The001 Adinandra dumosa Jack Medang Penagil Theaceae VI.C. 4 Lau001 Alseodaphne semicarpifolia Nees Alseodaphne semicarpifolia Lauraceae IX.D. 5 Cae010 Amherstia nobilis Wall. Bunga Ratu Caesalpiniaceae I.I. 6 Ann006 Annona muricata L. Sirsak Annonaceae XXIV.A.VII. 7 Mor004 Artocarpus altilis (Park. ex Zoll.) Forsberg Sukun Moraceae VII.G. 8 Eup009 Baccaurea motleyana (Müll.Arg.) Müll.Arg. Rambai Euphorbiaceae VIII.F. 9 Poa010 Bambusa polymorpha Bambu Poaceae XXIV.A. 10 Fab001 Bauhinia purpurea Bunga Kupu-kupu Fabaceae I.B. 11 Cae015 Caesalpinia coriaria (Jacq.) Willd. Divi-divi Caesalpiniaceae II.P. 12 Fab010 Caesalpinia sappan Secang Fabaceae XVII.D. 13 Bur002 Canarium vulgare Leenh. Kenari Burseraceae VI.B. 14 Lec004 Chydenanthus excelsus (Blume) Miers Besole Lecythidaceae V.A. 15 Rub009 Coffea excelsa A.Chev. Kopi Rubiaceae V.E. 16 Rub010 Coffea laurentii Kopi Rubiaceae V.E. 17 Rub011 Coffea perrieri Kopi Rubiaceae V.E. 94

108 95 18 Rub012 Coffea sp. Kopi Rubiaceae V.E. 19 Ste001 Cola nitida (Vent.) Schott & Endl. Kola Nut Tree Sterculiaceae IV.I. 20 Lec005 Couroupita guianensis Aubl. Canonball Tree Lecythidaceae V.A. 21 Cae007 Cynometra cauliflora L. Nam-nam Caesalpiniaceae I.F. 22 Cae002 Cynometra ramiflora L. var. ramiflora Katang Laut/Kepel Caesalpiniaceae I.B. 23 Urt001 Dendrocnide stimulans (L. f.) Chew Dendrocnide stimulans Urticaceae XI.B.XVIII. 24 Dil001 Dillenia indica L. Sempur Air Dilleniaceae II.Q. 25 Cae018 Dipteryx odorata (Aubl.) Willd. Dipteryx odorata Caesalpiniaceae XXV.A. 26 Fab014 Erythrina variegata Dadap Belang Fabaceae XXV.A. 27 Cae003 Erythrophleum suaveolens (Guillm. & Perrott.) Brenan Missanda Caesalpiniaceae I.B. 28 Myt010 Eugenia boerlagei Merr. Eugenia boerlagei Myrtaceae V.C. 29 Myt005 Eugenia jaboticaba Kiaersk. var. murta Eugenia jaboticaba Myrtaceae V.B. 30 Myt011 Eugenia sexangulata Miq. Eugenia sexangulata Myrtaceae V.C. 31 Mor006 Ficus auriculata Roxburgh's Fig Moraceae VII.G. 32 Mor003 Ficus consociata Blume Ara Moraceae VII.F. 33 Mor009 Ficus fistulosa Ara Moraceae XI.B.XV. 34 Mor008 Ficus microcarpa L.f. Ara/Preh Moraceae VII.G. 35 Mor002 Ficus religiosa L. Bunut/Bodh Tree Moraceae VI.A. 36 Fla001 Flacourtia rukam Zoll. & Moritzi Rukem Flacourtiaceae IV.F. 37 Rub002 Genipa americana L. Jagus/Caruto Rubiaceae IV.D. 38 Ver002 Geunsia pentandra (Roxb.) Merr. Geunsia pentandra Verbenaceae XI.G. 39 Poa008 Gigantochloa hasskarliana Bambu Poaceae XIII.M. 40 Fab005 Gliricidia sepium Gamal Fabaceae I.E. 41 Sap006 Harpullia pendula Planch. ex F.Muell. Tulip Wood Sapindaceae III.I. 42 Sap003 Harpullia sphaeroloba Harpullia sphaeroloba Sapindaceae III.F. 43 Pro001 Helicia robusta (Roxb.) R.Br. ex Wall. var. robusta Helicia robusta Proteaceae XI.B.XIV. 44 Ste009 Heritiera rumphii Kosterm. Heritiera rumphii Sterculiaceae VII.E. 45 Ste003 Herrania albiflora Gaudot Herrania albiflora Sterculiaceae IV.I. 46 Dip003 Hopea pierrei Hance Damar Dipterocarpaceae VII.B. 95

109 96 47 Dip004 Hopea sangal Korth. Damar Dipterocarpaceae VII.B. 48 Eup010 Hura crepitans L. Kerawitan Euphorbiaceae XVII.I. 49 Cae004 Hymenaea courbaril L. var. courbaril West Indian Locust Tree Caesalpiniaceae I.B. 50 Myt006 Kjelbergiodendron celebicum (Koord.) Merr. Kjelbergiodendron celebicum Myrtaceae V.B. 51 Ste010 Kleinhovia hospita L. Guest Tree Sterculiaceae XVI.G. 52 Apo012 Kopsia fruticosa (Ker) A.DC. Pink Kopsia Apocynaceae XI.B.VIII. 53 Lyt002 Lawsonia inermis Henna/Pacar Kuku Lythraceae XV.J.B.VI. 54 Sap007 Lepisanthes alata (Blume) Leenh. Lepisanthes alata Sapindaceae III.I. 55 Mim007 Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit Petai Cina/Lamtoro Mimosaceae XXIV.B.XIII. 56 Sap004 Litchi chinensis Sonn. Leci Sapindaceae III.H. 57 Sao001 Lucuma grandiflora A.DC. Lucuma grandiflora Sapotaceae IV.B. 58 Clu008 Mammea odorata (Rafin.) Kosterm. Chopak Clusiaceae VI.A. 59 Clu014 Mammea siamensis T.Anderson Mammea siamensis Clusiaceae VII.D. 60 Ana001 Mangifera indica L. Mangga Anacardiaceae VI.B. 61 Ana004 Mangifera similis Blume Mangifera similis Anacardiaceae VII.D. 62 Sao005 Manilkara kauki (L.) Duby Sawo Kecik Sapotaceae IV.C. 63 Sao010 Mimusops elengi L. Tanjung Sapotaceae XVI.E. 64 Ann003 Monodora tenuifolia Benth. Monodora tenuifolia Annonaceae XX.D. 65 Moi001 Moringa pterygosperma Gaertn. Morunggai Moringaceae XXIV.B.XXV. 66 Myr002 Myristica philippensis Myristica philippensis Myristicaceae IV.G. 67 Iri001 Neomarica gracilis Apostle Walking Iris Iridaceae XI.B.XI. 68 Apo011 Ochrosia coccinea (Teijsm. & Binn.) Miq. Ochrosia coccinea Apocynaceae VIII.G. 69 Apo009 Ochrosia parviflora Hemsl. Ochrosia parviflora Apocynaceae IV.A. 70 Big010 Oroxylum indicum (L.) Vent. Beka/Midnight Horror Bignoniaceae XIX.M. 71 Mim004 Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen Sengon Laut Mimosaceae I.K. 72 Mim001 Parkia timoriana (DC.) Merr. Petai Mimosaceae I.B. 73 Sao007 Payena acuminata (Blume) Pierre var. acuminata Payena acuminata Sapotaceae IV.C. 74 Fab003 Pithecellobium dulce (Roxb.) Benth. Asam Kranji Fabaceae I.C. 75 Sap009 Pometia pinnata (L.) Pierre Langsir/Matoa Sapindaceae III.J. 96

110 97 76 Myt001 Psidium guajava L. Jambu Biji Myrtaceae IX.D. 77 Mel004 Sandoricum koetjape (Burm.f.) Merr. Kecapi/Sentul Meliaceae III.B. 78 Ara001 Schefflera actinophylla (Endl.) Harms Walisongo Araliaceae XIII.J. 79 Poa007 Schizostachyum caudatum Bambu Poaceae XIII.C. 80 Fab013 Sesbania grandiflora Turi Fabaceae XXIV.B.XXI. 81 Ana002 Spondias mombin L. Kedondong Cina Anacardiaceae VII.A. 82 Big006 Stereospermum chelonoides (L.f.) A.DC. Snake Tree Bignoniaceae XI.H. 83 Myt019 Syzygium aquem (Burm.f.) Alst. Jambu Air Myrtaceae XV.J.B.XXI. 84 Myt008 Syzygium racemosum (Blume) DC. Syzygium racemosum Myrtaceae V.B. 85 Myt009 Syzygium zeylanicum (L.) DC. Syzygium zeylanicum Myrtaceae V.B. 86 Ver003 Teijsmanniodendron bogoriense Koord. Teijsmanniodendron bogoriense Verbenaceae XI.G. 87 Ver007 Teijsmanniodendron kostermansii Mold. Teijsmanniodendron kostermansii Verbenaceae XII.B.VI. 88 Ver006 Teijsmanniodendron pteropodum (Miq.) Bakh. Teijsmanniodendron pteropodum Verbenaceae XI.K. 89 Ste006 Theobroma cacao L. cv. Calabacillo Kakao/Coklat Sterculiaceae IV.I. 90 Apo016 Thevetia peruviana (Pers.) Merr. Egg Tree Apocynaceae XV.J.A.V. 91 Rub007 Timonius amboinicus Boerl. Timonius amboinicus Rubiaceae IV.E. 92 Ver004 Vitex doniana Sweet Vitex doniana Verbenaceae XI.I. Tabel Lampiran 3. Tabel Data Jenis Pohon (Query Bentuk Tajuk Horisontal dan Daya Tarik Estetis Bunga Menarik) No. Id Pohon Nama Botani Nama Umum Famili Lokasi 1 Big005 Spathodea campanulata Beauv. Kecrutan Bignoniaceae XI.H. Tabel Lampiran 4. Tabel Data Jenis Pohon (Query Bentuk Tajuk Horisontal dan Daya Tarik Estetis Bunga Kurang Menarik) No. Id Pohon Nama Botani Nama Umum Famili Lokasi 1 Mim002 Acacia auriculiformis A.Cunn. ex Benth. Akasia Mimosaceae I.C. 2 Ana005 Anacardium occidentale L. Jambu Monyet Anacardiaceae VII.E. 3 Ave001 Averrhoa carambola L. Belimbing Manis Averrhoaceae XVI.I.A. 97

111 98 4 Eup006 Baccaurea bracteata Müll.Arg. Rambai Euphorbiaceae VIII.E. 5 Pap003 Baphia nitida Afzel. ex Lodd. Bar Wood Papilionaceae XII.B.V. 6 Bix001 Bixa orellana Kesumba/Galuga Bixaceae IV.F. 7 Eup002 Bridelia sp. Salam Anjing Euphorbiaceae IV.H. 8 Ann001 Cananga odorata (Lam.) Hook.f. & Thomson Kenanga Annonaceae XI.A. 9 Fab002 Cassia siamea Johar Fabaceae I.B. 10 Bom002 Ceiba pentandra (L.) Gaertn. Kapuk/Randu Bombacaceae XX.C. 11 Lau004 Dehaasia caesia Blume Huru Kacang Lauraceae V.E. 12 Bom001 Durio zibethinus Murr. Durian Bombacaceae XVI.G. 13 Myt020 Eucalyptus deglupta Blume Galang Myrtaceae XXI.A. 14 Clu005 Garcinia mangostana L. Manggis Clusiaceae VI.A. 15 Big008 Jacaranda acutifolia Humb. & Bonpl. Jakaranda Bignoniaceae XI.I. 16 Big002 Kigelia africana (Lam.) Benth. Pohon Sosis/Kasturi Bignoniaceae IV.E. 17 Sao009 Manilkara fasciculata (Warb.) H.J.Lam Manilkara fasciculata Sapotaceae IV.D. 18 Mag002 Michelia champaca L. var. alba Cempaka Oranye Magnoliaceae IV.F. 19 Til001 Microcos tomentosa Sm. Talok/Jerenai Tiliaceae VI.A. 20 Rub014 Morinda citrifolia L. Mengkudu Rubiaceae XXIV.B.XXVIII. 21 Rub001 Nauclea lanceolata Blume Nauclea lanceolata Rubiaceae III.L. 22 Rub006 Nauclea subdita (Korth.) Steud. Nauclea subdita Rubiaceae IV.E. 23 Sap005 Nephelium lappaceum L. Rambutan Sapindaceae III.H. 24 Lau005 Phoebe cuneata Phoebe cuneata Lauraceae XX.A. 25 Myt017 Rhodomyrtus psidioides Benth. Native Guava Myrtaceae VI.C. 26 Myt014 Syzygium paucipunctatum (Koord. & Valeton) Merr. & L.M.Perry Syzygium paucipunctatum Myrtaceae V.C. 27 Myt007 Syzygium polycephaloides (C.B.Rob.) Merr. Syzygium polycephaloides Myrtaceae V.B. 28 Myt003 Syzygium pseudoformosum (King) Merr. & L.M.Perry Syzygium pseudoformosum Myrtaceae V.A. 29 Myt018 Syzygium sumatranum Miq. Syzygium sumatranum Myrtaceae VI.C. 30 Com001 Terminalia catappa L. Ketapang Combretaceae VIII.A. 31 Cup002 Thuja orientalis L. Cemara kipas Cupressaceae XIII.F. 98

112 99 Tabel Lampiran 5. Tabel Data Jenis Pohon (Query Bentuk Tajuk Piramid dan Daya Tarik Estetis Bunga Menarik) No. Id Pohon Nama Botani Nama Umum Famili Lokasi 1 Big012 Tabebuia heterophylla DC. Bunga Terompet Bignoniaceae XVI.G. Tabel Lampiran 6. Tabel Data Jenis Pohon (Query Bentuk Tajuk Piramid dan Daya Tarik Estetis Bunga Kurang Menarik) No. Id Pohon Nama Botani Nama Umum Famili Lokasi 1 Aru002 Agathis dammara (Lamb.) L.C. Rich. Damar Araucariaceae V.F. 2 Poa001 Arundinaria japonica Bambu Jepang Poaceae V.M. 3 Clu001 Calophyllum inophyllum L. Nyamplung Clusiaceae VI.A. 4 Clu002 Calophyllum soulattri Burm.f. Sulatri Clusiaceae VI.A. 5 Bur003 Canarium kipella (Blume) Miq. Kenari Burseraceae VII.B. 6 Cas001 Casuarina sumatrana Jungh. ex de Vriese Cemara Balon Casuarinaceae VIII.G. 7 Lau006 Cinnamomum celebicum Miq. Kayu Manis Lauraceae XX.B. 8 Lau003 Cinnamomum sp. Kayu Manis Lauraceae IX.E. 9 Ver001 Citharexylum spinosum L. Fiddle-Wood Verbenaceae XI.G. 10 Eup004 Cleidion spiciflorum (Burm.f.) Merr. Cleidion spiciflorum Euphorbiaceae IX.A. 11 Cup001 Cupressus funebris Endl. Cemara Menjurai Cupressaceae XIII.F. 12 Cup003 Cupressus sempervirens L. var. horizontalis Gordon Cemara Lilin Cupressaceae XX.G. 13 Ebe001 Diospyros blancoi A.DC. Diospyros blancoi Ebenaceae II.Q. 14 Ebe002 Diospyros cauliflora Blume Diospyros cauliflora Ebenaceae IV.C. 15 Ebe003 Diospyros frutescens Blume Diospyros frutescens Ebenaceae IV.C. 16 Rub004 Diplospora singularis Korth. Diplospora singularis Rubiaceae IV.E. 17 Mel002 Dysoxylum acutangulum Miq. subsp. acutangulum Dysoxylum acutangulum Meliaceae III.B. 18 Mel003 Dysoxylum parasiticum (Osbeck) Kosterm. Yellow Mahogany Meliaceae III.B. 19 Clu012 Garcinia cornea Garcinia cornea Clusiaceae VI.C. 20 Clu003 Garcinia echinocarpa Thwaites Garcinia echinocarpa Clusiaceae VI.A. 21 Clu017 Garcinia forbesii King Garcinia forbesii Clusiaceae XIX.F. 99

113 Clu013 Garcinia latissima Miq. Garcinia latissima Clusiaceae VI.C. 23 Clu006 Garcinia megaphylla Verdc. Garcinia megaphylla Clusiaceae VI.A. 24 Clu007 Garcinia picrorhiza Miq. Garcinia picrorhiza Clusiaceae VI.A. 25 Clu016 Garcinia porrecta Wall. Garcinia porrecta Clusiaceae XIX.E. 26 Ste008 Heritiera gigantea Kosterm. Heritiera gigantea Sterculiaceae VI.C. 27 Ste007 Heritiera littoralis Dryand. ex W.T.Aiton Heritiera littoralis Sterculiaceae IX.D. 28 Ste002 Heritiera percoriacea Kosterm. Heritiera percoriacea Sterculiaceae IV.I. 29 Eup008 Hevea brasiliensis ( Willd ex A. Juss.) Karet Euphorbiaceae VIII.F. 30 Dip005 Hopea odorata Roxb. Chengal Pasir Dipterocarpaceae VIII.A. 31 Apo007 Kopsia arborea Blume Penang Sloe Apocynaceae IV.A. 32 Sao006 Manilkara zapota (L.) P. van Royen Sawo Manila Sapotaceae IV.C. 33 Clu009 Mesua stylosa (Thw.) Kosterm. Mesua stylosa Clusiaceae VI.A. 34 Myr003 Myristica fragrans Pala Myristicaceae IV.H. 35 Dip006 Parashorea lucida Kurz Seraya Dipterocarpaceae VIII.D. 36 Pin001 Pinus merkusii Jungh. & de Vriese Pinus Pinaceae V.F. 37 Pod002 Podocarpus polystachyus R.Br. ex Endl. Kayu Serai Podocarpaceae V.F. 38 Pod003 Podocarpus rumphii Blume Jati Laut Podocarpaceae VIII.G. 39 Dip007 Shorea multiflora (Burck) Symington Meranti Dipterocarpaceae VIII.D. 40 Dip001 Shorea stenoptera Burck Meranti Dipterocarpaceae VI.C. 41 Ste011 Sterculia foetida L. Java Olive Sterculiaceae XVI.H. 42 Eup005 Sumbaviopsis albicans (Blume) J.J.Sm. Sumbaviopsis albicans Euphorbiaceae IX.A. 43 Dip002 Vatica granulata Slooten ssp. granulata Vatica granulata Dipterocarpaceae VI.C. 44 Dip008 Vatica pauciflora (Korth.) Blume Vatica pauciflora ( Dipterocarpaceae XIX.B. 45 Dip010 Vatica venulosa Blume Vatica venulosa Dipterocarpaceae XXV.A. 46 Mel010 Walsura aheriana Perk. Walsura aheriana Meliaceae XXIV.A. 100

114 101 Tabel Lampiran 7. Tabel Data Jenis Pohon (Query Bentuk Tajuk Berkolom dan Daya Tarik Estetis Bunga Menarik) No. Id Pohon Nama Botani Nama Umum Famili Lokasi 1 Myt015 Syzygium polyanthum (Wight) Walp var. polyanthum Salam Myrtaceae V.C. Tabel Lampiran 8. Tabel Data Jenis Pohon (Query Bentuk Tajuk Berkolom dan Daya Tarik Estetis Bunga Kurang Menarik) No. Id Pohon Nama Botani Nama Umum Famili Lokasi 1 Aru001 Agathis borneensis Warb. Agathis borneensis Araucariaceae V.F. 2 Fab011 Albizia falcataria Sengon Fabaceae XVII.H. 3 Apo002 Alstonia angustiloba Miq. Pulai Apocynaceae IV.A. 4 Apo014 Alstonia scholaris (L.) R. Br. Indian Pulai Apocynaceae XII.C. 5 Aru003 Araucaria columnaris (Forst.f.) Hook. Cemara Natal Araucariaceae V.F. 6 Aru004 Araucaria cunninghamii Aiton ex D.Don Cemara Cuninghami Araucariaceae V.F. 7 Aru005 Araucaria hunsteinii K.Schum. Cemara Araucariaceae V.F. 8 Eup007 Baccaurea parviflora (Müll.Arg.) Müll.Arg Rambai hutan Euphorbiaceae VIII.E. 9 Poa009 Bambusa vulgaris Bambu Ampel Poaceae XIV.B. 10 Lec007 Bertholletia excelsa Brazil Nut Tree Lecythidaceae XXV.A. 11 Bur001 Canarium hirsutum Willd. Kamakoan Burseraceae VI.B. 12 Rhi001 Carallia brachiata (Lour.) Merr. False Kelat Rhizophoraceae VI.C. 13 Rub013 Chiococca javanica Chiococca javanica Rubiaceae XI.B.XVII. 14 Lau002 Cinnamomum burmanni Nees ex Blume Kayu Manis Merah Lauraceae IX.E. 15 Til002 Colona scabra Burret Colona scabra Tiliaceae VI.C. 16 Poa003 Dendrocalamus asper Bambu Betung Poaceae V.M. 17 Sap002 Dimocarpus longan Lour. subsp. longan var. longan Longan Sapindaceae III.E. 18 Ery001 Erythroxylum cuneatum (Miq.) Kurz Erythroxylum cuneatum Erythroxylaceae III.K. 19 Poa004 Gigantochloa atter Bambu Ater Poaceae V.M. 20 Poa005 Gigantochloa verticillata Bambu Poaceae V.M. 21 Gne001 Gnetum gnemon L. Belinjau/Melinjo Gnetaceae V.F. 22 Myr001 Horsfieldia iryagedhii (Gaertn.) Warb. Horsfieldia iryagedhii Myristicaceae III.L. 101

115 Fla002 Hydnocarpus anthelminthica Pierre ex Laness. Hydnocarpus anthelminthica Flacourtiaceae IV.F. 24 Fla003 Hydnocarpus heterophylla Blume Hydnocarpus heterophylla Flacourtiaceae IV.F. 25 Rub005 Hymenodictyon excelsum (Roxb.) Wall. Hymenodictyon excelsum Rubiaceae IV.E. 26 Mel008 Khaya senegalensis (Desr.) A.Juss. Senegal Mahogany Meliaceae XVII.D. 27 Mon001 Kibara macrophylla Benth. Kibara macrophylla Monimiaceae XII.B.VIII. 28 Apo006 Kibatalia arborea (Blume) G.Don Kibatalia arborea Apocynaceae IV.A. 29 Clu015 Mesua ferrea L. Nagasari Clusiaceae XII.B.VII. 30 Mag001 Michelia alba DC. Cempaka Putih Magnoliaceae IV.F. 31 Ann005 Polyalthia longifolia (Sonn.) Thwaites Glodokan Tiang Annonaceae XX.D. 32 Sao008 Pouteria duclitan (Blanco) Baehni Karet Anjing Sapotaceae IV.C. 33 Big009 Radermachera elegans Steenis Radermachera elegans Bignoniaceae XIII.J. 34 Rub008 Randia versteegii Val. Black Berry Rubiaceae V.D. 35 Apo010 Rauvolfia sumatrana Jack Rauvolfia sumatrana Apocynaceae IV.A. 36 Poa006 Schizostachyum brachycladum Bambu Lemang Poaceae V.M. 37 Big007 Stereospermum fimbriatum (Wall. ex G.Don) A.DC. Snake Tree Bignoniaceae XI.H. 38 Mel006 Swietenia mahagoni (L.) Jacq. Mahoni Meliaceae XI.D. 39 Myt013 Syzygium grande (Wight) Walp Sea Apple Myrtaceae V.C. 40 Apo013 Tabernaemontana pandacaqui Poir. Tabernaemontana pandacaqui Apocynaceae XII.B.IV. 41 Ver008 Tectona grandis L.f. Jati Verbenaceae XIX.N. Tabel Lampiran 9. Tabel Data Jenis Pohon (Query Bentuk Tajuk Bulat dan Daya Tarik Estetis Bunga Menarik) No. Id Pohon Nama Botani Nama Umum Famili Lokasi 1 Clu011 Cratoxylum formosum (Jack) Dyer Pink Mempat Clusiaceae VI.C. 2 Mal002 Hibiscus tiliaceus L. subsp. similis (L.) Borss. Waru Malvaceae XVI.G. 3 Apo015 Plumeria obtusa L. Kamboja Putih Apocynaceae XV.I.V. 102

116 103 Tabel Lampiran 10. Tabel Data Jenis Pohon (Query Bentuk Tajuk Bulat dan Daya Tarik Estetis Bunga Kurang Menarik) No. Id Pohon Nama Botani Nama Umum Famili Lokasi 1 Bom003 Adansonia digitata L. Baobab Bombacaceae XXI.A. 2 Mim003 Adenanthera pavonina L. Saga Mimosaceae I.K. 3 Eup003 Aleurites moluccana (L.) Willd. Kemiri Euphorbiaceae IX.A. 4 Sap010 Arfeuillea arborescens Pierre Hop Tree Sapindaceae III.K. 5 Mor005 Artocarpus heterophyllus Lam. Nangka Moraceae VII.G. 6 Mel001 Azadirachta excelsa (Jack) Jacobs Sentang Meliaceae III.B. 7 Mel007 Azadirachta indica A.Juss. Nim Tree Meliaceae XV.J.B.XXXI. 8 Cae006 Bauhinia variegata L. Bunga Kupu-kupu Caesalpiniaceae I.F. 9 Ana003 Bouea oppositifolia (Roxb.) Meiss. Gandaria Hutan Anacardiaceae VII.D. 10 Cas002 Casuarina equisetifolia Cemara Laut Casuarinaceae XXIV.A. 11 Apo004 Cerbera odollam Pong-pong Apocynaceae IV.A. 12 Mel005 Chikrassia tabularis A.Juss. Chikrasia Meliaceae III.D. 13 Sao004 Chrysophyllum cainito L. Sawo Duren Sapotaceae IV.C. 14 Lau007 Cinnamomum iners Reinw. ex Blume Kayu Manis Cengkeh Lauraceae XX.B. 15 Myt002 Cleistocalyx nervosum (DC.) Kosterm. Cleistocalyx nervosum Myrtaceae V.A. 16 Big001 Crescentia cujete L. Pohon Maja Bignoniaceae II.Q. 17 Dil002 Dillenia pteropoda (Miq.) Hoogl. Dilenia Dilleniaceae IV.G. 18 Apo005 Dyera costulata (Miq.) Hook.f. Jelutong Apocynaceae IV.A. 19 Myt004 Eucalyptopsis papuana C.T.White Eucalyptopsis papuana Myrtaceae V.B. 20 Sap008 Filicium decipiens (Wight & Arn.) Thwaites Kerei Payung Sapindaceae III.J. 21 Ana006 Gluta renghas L. Rengas Suloh Anacardiaceae VII.E. 22 Lec006 Gustavia sp. Gustavia Lecythidaceae V.A. 23 Apo008 Kopsia flavida Blume Penang Sloe Apocynaceae IV.A. 24 Myt012 Melaleuca cayuputi Powell Kayu Putih/Gelam Myrtaceae V.C. 25 Sap001 Nephellium mutabile Nephellium mutabile Sapindaceae II.O.IV.A. 26 Sao002 Palaquium pseudocalophyllum H.J.Lam Palaquium pseudocalophyllum Sapotaceae IV.B. 27 Sao003 Palaquium sumatranum Burck Palaquium sumatranum Sapotaceae IV.B. 103

117 Big004 Parmentiera cerifera Seem Parmentiera cerifera Bignoniaceae XI.H. 29 Fab007 Pithecellobium jiringa Jengkol Fabaceae I.I. 30 Ann004 Polyalthia celebica Miq. Glodokan Celebicum Annonaceae XX.D. 31 Myt016 Rhodamnia cinerea Jack Keremunjing Myrtaceae VI.C. 32 Cae005 Saraca indica L. Pohon Asoka Caesalpiniaceae I.C. 33 Ste004 Sterculia hyposticta Miq. Sterculia hyposticta Sterculiaceae IV.I. 34 Ste005 Sterculia spectabilis Miq. Sterculia spectabilis Sterculiaceae IV.I. 35 Mel009 Swietenia macrophylla King American Mahogany Meliaceae XVII.I. 36 Ver005 Vitex pinnata L. Laban Verbenaceae XI.J. Tabel Lampiran 11. Tabel Data Jenis Pohon (Query Bentuk Tajuk Kubah dan Daya Tarik Estetis Bunga Menarik) No. Id Pohon Nama Botani Nama Umum Famili Lokasi 1 Cae016 Cassia fistula L. Trengguli Caesalpiniaceae II.Q. 2 Pap004 Erythrina crista-galli L. Dadap Merah Papilionaceae XXI.A. 3 Lyt001 Lagerstroemia speciosa (L.) Pers. Bungur Lythraceae VII.D. 4 Fab006 Millettia artopurpurea Meribungan Fabaceae I.F. 5 Apo001 Plumeria rubra L. var. acutifolia (Poir.) Woodson Kamboja Merah Apocynaceae II.O.III. 6 Pap001 Pterocarpus indicus Willd. Angsana Papilionaceae I.A. 7 Cae009 Saraca thaipingensis Cantley ex Prain Saraka Kuning Caesalpiniaceae I.G. Tabel Lampiran 12. Tabel Data Jenis Pohon (Query Bentuk Tajuk Kubah dan Daya Tarik Estetis Bunga Kurang Menarik) No. Id Pohon Nama Botani Nama Umum Famili Lokasi 1 Pap002 Andira inermis (Wright) DC. Brown-Heart Papilionaceae V.M. 2 Poa002 Bambusa glaucescens Bambu Cina Poaceae V.M. 3 Lec001 Barringtonia asiatica (L.) Kurz Keben/Bitung Lecythidaceae II.Q. 4 Lec002 Barringtonia racemosa (L.) Spreng. Bitung Darat Lecythidaceae IX.D. 5 Lec003 Barringtonia sarcostachys (Blume) Miq. Bitung Lecythidaceae V.A. 104

118 105 6 Cae011 Brownea capitella Jacq. Pohon Sapu Tangan Caesalpiniaceae I.I. 7 Cae001 Brownea grandiceps Jacq. Montain Rose Caesalpiniaceae I.B. 8 Cae013 Cassia sieberiana DC. Kasia Caesalpiniaceae I.J. 9 Apo003 Cerbera manghas L. Bintaro Apocynaceae IV.A. 10 Pol001 Coccoloba uvifera (L.) L. Sea Grape Polygonaceae IX.D. 11 Fab008 Dalbergia oliveri Tamalan Fabaceae I.K. 12 Dil003 Dillenia philippinensis Rolfe Sempur Dilleniaceae XX.E. 13 Mor007 Ficus benjamina L. Beringin Moraceae VII.G. 14 Clu004 Garcinia livingstonei Anderson Garcinia livingstonei Clusiaceae VI.A. 15 Fab004 Millettia pinnata (L.) Panigrahi Millettia pinnata Fabaceae I.D. 16 Mim005 Parkia speciosa Petai Mimosaceae I.K. 17 Nyc001 Pisonia grandis R.Br. forma alba (Span.) Heim Kol Banda Nyctaginaceae XI.B.XIX. 18 Pod001 Podocarpus neriifolius D.Don Ki Putri Podocarpaceae V.F. 19 Ann002 Polyalthia rumpfii (Blume ex Hensch.) Merr. Glodokan Annonaceae XVII.I. 20 Fab009 Pongamia pinnata Mempari/Bangkong Fabaceae XIX.A. 21 Mim006 Samanea saman (Jacq.) Merr. Ki Hujan/Trembesi Mimosaceae IX.D. 22 Cae014 Sindora wallichii Benth. Kampas Hantu Caesalpiniaceae I.K. 23 Cae008 Tamarindus indica L. Asam Jawa Caesalpiniaceae I.F. 105

119

120 Filename: pdf.doc Directory: G:\PENELITIAN_BSU\1 Skripsi Template: D:\Documents and Settings\Bambang S\Application Data\Microsoft\Templates\Normal.dot Title: PENYUSUNAN BASIS DATA POHON KEBUN RAYA BOGOR DENGAN VISUALISASI KOMPUTER Subject: Author: Nature Keywords: Comments: Creation Date: 1/30/2008 6:16 PM Change Number: 24 Last Saved On: 1/30/2008 7:40 PM Last Saved By: Bambang S Total Editing Time: 84 Minutes Last Printed On: 1/30/2008 7:41 PM As of Last Complete Printing Number of Pages: 119 Number of Words: (approx.) Number of Characters: (approx.)

PENYUSUNAN BASIS DATA POHON KEBUN RAYA BOGOR DENGAN VISUALISASI KOMPUTER

PENYUSUNAN BASIS DATA POHON KEBUN RAYA BOGOR DENGAN VISUALISASI KOMPUTER PENYUSUNAN BASIS DATA POHON KEBUN RAYA BOGOR DENGAN VISUALISASI KOMPUTER 88 ZAENAL ARIFIN A34202011 PROGRAM STUDI ARSITEKTUR LANSKAP FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 PENYUSUNAN BASIS DATA

Lebih terperinci

PENYUSUNAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PEMELIHARAAN POHON PENGISI JALUR HIJAU JALAN DI KOTAMADYA JAKARTA TIMUR OLEH : RR. RIALUN WULANSARI A

PENYUSUNAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PEMELIHARAAN POHON PENGISI JALUR HIJAU JALAN DI KOTAMADYA JAKARTA TIMUR OLEH : RR. RIALUN WULANSARI A PENYUSUNAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PEMELIHARAAN POHON PENGISI JALUR HIJAU JALAN DI KOTAMADYA JAKARTA TIMUR OLEH : RR. RIALUN WULANSARI A 34201036 PROGRAM STUDI ARSITEKTUR LANSKAP FAKULTAS PERTANIAN

Lebih terperinci

V GAMBARAN UMUM KEBUN RAYA BOGOR

V GAMBARAN UMUM KEBUN RAYA BOGOR V GAMBARAN UMUM KEBUN RAYA BOGOR 5.1 Profil Kebun Raya Bogor Kebun Raya Bogor (KRB) merupakan tempat yang cocok untuk memenuhi kebutuhan pendidikan dan rekreasi sekaligus dalam satu tempat. Sebelum diberi

Lebih terperinci

BAB V IMPLEMENTASI SISTEM. tersebut siap diterapkan atau diimplementasikan. Tahap Implementasi Sistem

BAB V IMPLEMENTASI SISTEM. tersebut siap diterapkan atau diimplementasikan. Tahap Implementasi Sistem BAB V IMPLEMENTASI SISTEM Setelah tahap penganalisaan dan perancangan, maka langkah selanjutnya dalam membangun sebuah sistem informasi adalah menguji apakah sistem tersebut siap diterapkan atau diimplementasikan.

Lebih terperinci

BAB III METODE DAN PROSEDUR PENELITIAN. yang dilaksanakan adalah penelitian deskriptif eksploratif yaitu suatu

BAB III METODE DAN PROSEDUR PENELITIAN. yang dilaksanakan adalah penelitian deskriptif eksploratif yaitu suatu 44 BAB III METODE DAN PROSEDUR PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian yang dilaksanakan adalah penelitian deskriptif eksploratif

Lebih terperinci

PENYUSUNAN BASIS DATA POHON PADA BEBERAPA JALAN KOLEKTOR DI BANDUNG DENGAN VISUALISASI KOMPUTER. Oleh: Anjar Pujarama A

PENYUSUNAN BASIS DATA POHON PADA BEBERAPA JALAN KOLEKTOR DI BANDUNG DENGAN VISUALISASI KOMPUTER. Oleh: Anjar Pujarama A PENYUSUNAN BASIS DATA POHON PADA BEBERAPA JALAN KOLEKTOR DI BANDUNG DENGAN VISUALISASI KOMPUTER Oleh: Anjar Pujarama A34204011 DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif yaitu penelitian

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif yaitu penelitian 1 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis penelitian Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif yaitu penelitian yang bermaksud untuk membuat pencandraan (deskripsi) mengenai situasisitusi atau

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Komputer berasal dari bahasa Latin computare yang artinya menghitung. Jadi

BAB 2 LANDASAN TEORI. Komputer berasal dari bahasa Latin computare yang artinya menghitung. Jadi BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Komputer Komputer berasal dari bahasa Latin computare yang artinya menghitung. Jadi komputer dapat diartikan sebagai alat untuk menghitung. Perkembangan teknologi dan

Lebih terperinci

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. Perangkat ajar yang dirancang oleh penulis diharapkan dapat membantu

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. Perangkat ajar yang dirancang oleh penulis diharapkan dapat membantu 80 BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI 4.1 Implementasi 4.1.1 Implementasi Perangkat Ajar Perangkat ajar yang dirancang oleh penulis diharapkan dapat membantu guru dan siswa SMU tahun kedua dalam mempelajari

Lebih terperinci

BAB V IMPLEMENTASI SISTEM

BAB V IMPLEMENTASI SISTEM BAB V IMPLEMENTASI SISTEM Tahapan selanjutnya dalam perancangan sistem adalah tahapan implementasi sistem. Dalam tahap implementasi sistem terdapat beberapa kegiatan yang lakukan, antara lain : pengujian

Lebih terperinci

PERSEPSI KUALITAS ESTETIKA DAN EKOLOGI PADA JALUR WISATA ALAM TAMAN NASIONAL GEDE PANGRANGO. Oleh DIDIK YULIANTO A

PERSEPSI KUALITAS ESTETIKA DAN EKOLOGI PADA JALUR WISATA ALAM TAMAN NASIONAL GEDE PANGRANGO. Oleh DIDIK YULIANTO A PERSEPSI KUALITAS ESTETIKA DAN EKOLOGI PADA JALUR WISATA ALAM TAMAN NASIONAL GEDE PANGRANGO Oleh DIDIK YULIANTO A34202008 PROGRAM STUDI ARSITEKTUR LANSKAP FAKULTAS PERTANIAN INSTIT UT PERTANIAN BOGOR 2006

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV.1. Tampilan Hasil Pembahasan mengenai hasil mencakup spesifikasi perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software) serta tampilan output perangkat lunak. IV.1.1.

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Istilah komputer (computer) berasal dari bahasa latin computere yang berarti

BAB 2 LANDASAN TEORI. Istilah komputer (computer) berasal dari bahasa latin computere yang berarti BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Komputer Istilah komputer (computer) berasal dari bahasa latin computere yang berarti menghitung. Dalam bahasa Inggris komputer berasal dari kata to compute yang artinya

Lebih terperinci

EVALUASI LAPANGAN KERAGAMAN GENOTIPE-GENOTIPE SOMAKLONAL ARTEMISIA (Artemisia annua L.) HASIL INDUKSI MUTASI IRADIASI SINAR GAMMA

EVALUASI LAPANGAN KERAGAMAN GENOTIPE-GENOTIPE SOMAKLONAL ARTEMISIA (Artemisia annua L.) HASIL INDUKSI MUTASI IRADIASI SINAR GAMMA EVALUASI LAPANGAN KERAGAMAN GENOTIPE-GENOTIPE SOMAKLONAL ARTEMISIA (Artemisia annua L.) HASIL INDUKSI MUTASI IRADIASI SINAR GAMMA oleh Purwati A34404015 PROGRAM STUDI PEMULIAAN TANAMAN DAN TEKNOLOGI BENIH

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Informasi Sistem berasal dari bahasa latin Systema dan bahasa Yunani adalah suatu kesatuan yang terdiri dari komponen atau elemen yang dihubuungkan bersama untuk memudahkan

Lebih terperinci

METODOLOGI. Peta Kabupaten Bogor (http://students.ukdw.ac.id, 2010) Peta Bukit Golf Hijau (Sentul City, 2009)

METODOLOGI. Peta Kabupaten Bogor (http://students.ukdw.ac.id, 2010) Peta Bukit Golf Hijau (Sentul City, 2009) 19 METODOLOGI Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di cluster Bukit Golf Hijau yang berada di dalam Sentul. Sentul terletak di Kecamatan Babakan Madang dan Kecamatan Sukaraja Kabupaten

Lebih terperinci

III. RUANG DAN FUNGSI TANAMAN LANSKAP KOTA

III. RUANG DAN FUNGSI TANAMAN LANSKAP KOTA Lanskap Perkotaan (Urban Landscape) III. RUANG DAN FUNGSI TANAMAN LANSKAP KOTA Dr. Ir. Ahmad Sarwadi, MEng. Siti Nurul Rofiqo Irwan, S.P., MAgr, PhD. Tujuan Memahami bentuk-bentuk ruang dengan tanaman

Lebih terperinci

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. maka harus disediakan sarana-sarana yang dibutuhkan untuk menjalankannya. Saranasarana

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. maka harus disediakan sarana-sarana yang dibutuhkan untuk menjalankannya. Saranasarana BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI 4.1 Implementasi Dalam penerapan kios informasi Kebun Raya Bogor yang berbasis multimedia, maka harus disediakan sarana-sarana yang dibutuhkan untuk menjalankannya. Saranasarana

Lebih terperinci

BAB IV IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN. dan pengujian merupakan langkah yang dilakukan setelah melakukan

BAB IV IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN. dan pengujian merupakan langkah yang dilakukan setelah melakukan 75 BAB IV IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN Berdasarkan perancangan software pada bab sebelumnya, maka dihasilkan sebuah aplikasi fingerscan untuk keamanan ruang kelas. Implementasi dan pengujian merupakan langkah

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantiatif. Penelitian deskriptif merupakan penelitian

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Istilah komputer (computer) berasal dari bahasa Latin Computare yang berarti

BAB 2 LANDASAN TEORI. Istilah komputer (computer) berasal dari bahasa Latin Computare yang berarti BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Komputer Istilah komputer mempunyai arti yang luas dan berbeda untuk orang yang berbeda. Istilah komputer (computer) berasal dari bahasa Latin Computare yang berarti

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Sistem berasal dari bahasa Yunani yaitu Systema, yang artinya sekumpulan objek

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Sistem berasal dari bahasa Yunani yaitu Systema, yang artinya sekumpulan objek BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 2.1 Pengertian Sistem Sistem berasal dari bahasa Yunani yaitu Systema, yang artinya sekumpulan objek yang bekerja bersama-sama menghasilkan metode, prosedur, teknik yang digabungkan

Lebih terperinci

KERAGAAN KARAKTER PURWOCENG (Pimpinella pruatjan Molk.) HASIL INDUKSI MUTASI SINAR GAMMA DI TIGA LOKASI. Oleh Muhammad Yusuf Pulungan A

KERAGAAN KARAKTER PURWOCENG (Pimpinella pruatjan Molk.) HASIL INDUKSI MUTASI SINAR GAMMA DI TIGA LOKASI. Oleh Muhammad Yusuf Pulungan A KERAGAAN KARAKTER PURWOCENG (Pimpinella pruatjan Molk.) HASIL INDUKSI MUTASI SINAR GAMMA DI TIGA LOKASI Oleh Muhammad Yusuf Pulungan A34403065 PROGRAM STUDI PEMULIAAN TANAMAN DAN TEKNOLOGI BENIH FAKULTAS

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman gonda dalam bahasa jawa disebut gondo atau orang barat

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman gonda dalam bahasa jawa disebut gondo atau orang barat II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Deskripsi Tanaman Gonda Tanaman gonda dalam bahasa jawa disebut gondo atau orang barat menyebutnya chikenspike termasuk dalam keluarga Sphenocleaceae. Klasifikasi taksonomi dijelaskan

Lebih terperinci

EVALUASI ASPEK FUNGSI DAN KUALITAS ESTETIKA TANAMAN LANSKAP KEBUN RAYA BOGOR (Kasus : Pohon dan Perdu) IPAH NAPISAH A

EVALUASI ASPEK FUNGSI DAN KUALITAS ESTETIKA TANAMAN LANSKAP KEBUN RAYA BOGOR (Kasus : Pohon dan Perdu) IPAH NAPISAH A EVALUASI ASPEK FUNGSI DAN KUALITAS ESTETIKA TANAMAN LANSKAP KEBUN RAYA BOGOR (Kasus : Pohon dan Perdu) IPAH NAPISAH A34204014 DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009

Lebih terperinci

PERSEPSI DAN PREFERENSI PENGUNJUNG TERHADAP FUNGSI DAN LOKASI OBYEK-OBYEK REKREASI DI KEBUN RAYA BOGOR

PERSEPSI DAN PREFERENSI PENGUNJUNG TERHADAP FUNGSI DAN LOKASI OBYEK-OBYEK REKREASI DI KEBUN RAYA BOGOR PERSEPSI DAN PREFERENSI PENGUNJUNG TERHADAP FUNGSI DAN LOKASI OBYEK-OBYEK REKREASI DI KEBUN RAYA BOGOR Oleh SEPTA ARI MAMIRI A34203047 DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA jenis yang terbagi dalam 500 marga (Tjitrosoepomo, 1993: 258). Indonesia

BAB II KAJIAN PUSTAKA jenis yang terbagi dalam 500 marga (Tjitrosoepomo, 1993: 258). Indonesia 6 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Biologi Anggrek 2.1.1 Deskripsi Anggrek Anggrek merupakan famili terbesar dalam tumbuhan biji, seluruhnya meliputi 20.000 jenis yang terbagi dalam 500 marga (Tjitrosoepomo,

Lebih terperinci

Gambar Rancangan Layar Halaman Kuis Guru (Langkah Dua)

Gambar Rancangan Layar Halaman Kuis Guru (Langkah Dua) Gambar 4.149 Rancangan Layar Halaman Kuis Guru (Langkah Dua) 270 Gambar 4.150 Rancangan Layar Halaman Kuis Guru (Cek) 271 Gambar 4.151 Rancangan Layar Halaman Nilai Guru 272 Gambar 4.152 Rancangan Layar

Lebih terperinci

Modul 4 Microsoft Access 2007

Modul 4 Microsoft Access 2007 Tugas Pendahulan Modul 4 Microsoft Access 2007 Mata kuliah : CF 1310 Pengantar Teknologi Informasi Disusun oleh : Nama Route Gemilang 5208 100 073 Semester Ganjil 2008/2009 Jurusan Sistem Informasi Fakultas

Lebih terperinci

PENGANTAR ARSITEKTUR PERTAMANAN

PENGANTAR ARSITEKTUR PERTAMANAN Materi 3 PENGANTAR ARSITEKTUR PERTAMANAN Bambang B. Santoso Semester Genap Tahun Ajaran 2009/2010 PENGENALAN ELEMEN PEMBENTUK TAMAN TUJUAN BELAJAR BAB INI : Mampu menyebutkan dan kemudian menjelaskan macam-macam

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI Tempat dan Waktu Penelitian

BAB III METODOLOGI Tempat dan Waktu Penelitian BAB III METODOLOGI 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini mengambil lokasi di jalan bebas hambatan Tol Jagorawi dengan mengambil beberapa segmen jalan yang mewakili karakteristik lanskap jalan

Lebih terperinci

A. JUDUL Keanekaragaman dan Klasifikasi Makhluk Hidup

A. JUDUL Keanekaragaman dan Klasifikasi Makhluk Hidup A. JUDUL Keanekaragaman dan Klasifikasi Makhluk Hidup B. TUJUAN PRAKTIKUM 1. Menginventarisasi karakter morfologi individu-individu penyusun populasi 2. Melakukan observasi ataupun pengukuran terhadap

Lebih terperinci

BAB V IMPLEMENTASI SISTEM

BAB V IMPLEMENTASI SISTEM BAB V IMPLEMENTASI SISTEM Tahapan selanjutnya dalam perancangan sistem adalah tahapan implementasi sistem. Dalam tahap implementasi sistem terdapat beberapa kegiatan yang lakukan, antara lain : pengujian

Lebih terperinci

Bab 3. Metode Perancangan

Bab 3. Metode Perancangan Bab 3 Metode Perancangan 3.1 Metode Perancangan Sistem Pada bab ini akan memuat langkah-langkah yang akan dikerjakan untuk perancangan sistem sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan. Perancangan

Lebih terperinci

BAB IV IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. Sebelum melakukan implementasi dan menjalankan sistem E-Auction pada

BAB IV IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. Sebelum melakukan implementasi dan menjalankan sistem E-Auction pada BAB IV IMPLEMENTASI DAN EVALUASI 4.1 Kebutuhan dan Instalasi Sistem Sebelum melakukan implementasi dan menjalankan sistem E-Auction pada PDAM Surya Sembada Kota Surabaya. Maka dibutuhkan spesifikasi perangkat

Lebih terperinci

KAJIAN LANSKAP PERTIGAAN JALAN LINGKAR KEBUN RAYA BOGOR INDAH CAHYA IRIANTI

KAJIAN LANSKAP PERTIGAAN JALAN LINGKAR KEBUN RAYA BOGOR INDAH CAHYA IRIANTI KAJIAN LANSKAP PERTIGAAN JALAN LINGKAR KEBUN RAYA BOGOR INDAH CAHYA IRIANTI DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2010 RINGKASAN INDAH CAHYA IRIANTI. A44050251.

Lebih terperinci

BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN

BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN Pada bagian ini penulis akan menganalisis kebutuhan-kebutuhan dalam membuat aplikasi ini, karena dengan melakukan analisis akan membuat lebih terarah dan jelas alur aplikasinya.

Lebih terperinci

KEMAMPUAN SERAPAN KARBONDIOKSIDA PADA TANAMAN HUTAN KOTA DI KEBUN RAYA BOGOR SRI PURWANINGSIH

KEMAMPUAN SERAPAN KARBONDIOKSIDA PADA TANAMAN HUTAN KOTA DI KEBUN RAYA BOGOR SRI PURWANINGSIH KEMAMPUAN SERAPAN KARBONDIOKSIDA PADA TANAMAN HUTAN KOTA DI KEBUN RAYA BOGOR SRI PURWANINGSIH Kemampuan Serapan Karbondioksida pada Tanaman Hutan Kota di Kebun Raya Bogor SRI PURWANINGSIH DEPARTEMEN KONSERVASI

Lebih terperinci

Kemampuan Serapan Karbondioksida pada Tanaman Hutan Kota di Kebun Raya Bogor SRI PURWANINGSIH

Kemampuan Serapan Karbondioksida pada Tanaman Hutan Kota di Kebun Raya Bogor SRI PURWANINGSIH Kemampuan Serapan Karbondioksida pada Tanaman Hutan Kota di Kebun Raya Bogor SRI PURWANINGSIH DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2007 Kemampuan

Lebih terperinci

BAB V IMPLEMENTASI DAN PEMBAHASAN

BAB V IMPLEMENTASI DAN PEMBAHASAN BAB V IMPLEMENTASI DAN PEMBAHASAN 5.1 Sistem yang Digunakan Berikut ini adalah hardware dan software yang dibutuhkan untuk menggunakan program Sistem Informasi Pembelian dan Penjualan pada UD. PRIBUMI,

Lebih terperinci

BAB V IMPLEMENTASI. A. Lingkungan Implementasi. Dalam hal kegiatan implementasi sistem ini adapun yang

BAB V IMPLEMENTASI. A. Lingkungan Implementasi. Dalam hal kegiatan implementasi sistem ini adapun yang BAB V IMPLEMENTASI A. Lingkungan Implementasi Dalam hal kegiatan implementasi sistem ini adapun yang meliputi kebutuhan didalamnya adalah perangkat lunak, perangkat keras, listing program yang sesuai,

Lebih terperinci

BAB III. Penelitian inii dilakukan. dan Danau. bagi. Peta TANPA SKALA

BAB III. Penelitian inii dilakukan. dan Danau. bagi. Peta TANPA SKALA 14 BAB III METODOLOGI 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian inii dilakukan di Sentul City yang terletak di Kecamatan Babakan Madang dan Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat (Gambar

Lebih terperinci

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. Sistem yang telah dianalisis dan dirancang akan digunakan sebagai alat bantu

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. Sistem yang telah dianalisis dan dirancang akan digunakan sebagai alat bantu BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI 4.1 Rencana Implementasi Sistem yang telah dianalisis dan dirancang akan digunakan sebagai alat bantu penyebaran informasi tentang bagaimana cara menggunakan website IDI

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. menjadi tegas, kering, berwarna terang segar bertepung. Lembab-berdaging jenis

TINJAUAN PUSTAKA. menjadi tegas, kering, berwarna terang segar bertepung. Lembab-berdaging jenis 16 TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Ada 2 tipe akar ubi jalar yaitu akar penyerap hara di dalam tanah dan akar lumbung atau umbi. Menurut Sonhaji (2007) akar penyerap hara berfungsi untuk menyerap unsur-unsur

Lebih terperinci

IV. Pemilihan Tanaman Lanskap Kota

IV. Pemilihan Tanaman Lanskap Kota Lanskap Perkotaan (Urban Landscape) IV. Pemilihan Tanaman Lanskap Kota Dr. Ir. Ahmad Sarwadi, MEng. Siti Nurul Rofiqo Irwan,S.P., MAgr, PhD. Tujuan Memahami kriteria tanaman Lanskap Kota Mengetahui berbagai

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Komputer Istilah komputer (computer) berasal dari bahasa latin computere yang berarti menghitung. Dalam bahasa inggris dari kata computer yang berarti menghitung. Dapat

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. pada area bekas tambang batu bara Kecamatan Lahei Barat Barito Utara. tempat pengambilan sampel penelitian.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. pada area bekas tambang batu bara Kecamatan Lahei Barat Barito Utara. tempat pengambilan sampel penelitian. 45 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi lokasi penelitian Deskripsi masing-masing jenis tumbuhan paku yang ditemukan pada area bekas tambang batu bara Kecamatan Lahei Barat Barito Utara. Penelitian

Lebih terperinci

BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN. Pada dasarnya perancangan sistem yang dibuat oleh peneliti adalah

BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN. Pada dasarnya perancangan sistem yang dibuat oleh peneliti adalah BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN Pada dasarnya perancangan sistem yang dibuat oleh peneliti adalah mengenai perancangan software. Software yang dimaksud adalah aplikasi database yang digunakan untuk menyimpan

Lebih terperinci

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. Processor Intel Pentium IV atau lebih tinggi. Memory RAM 256 Mb atau lebih tinggi. Minimal Hardisk 8 Gb atau lebih

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. Processor Intel Pentium IV atau lebih tinggi. Memory RAM 256 Mb atau lebih tinggi. Minimal Hardisk 8 Gb atau lebih BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI 4.1 Spesifikasi Sistem 4.1.1 Dukungan Perangkat Keras Perangkat keras yang digunakan untuk perancangan aplikasi VB 6.0 dan ArcView. Processor Intel Pentium IV atau lebih

Lebih terperinci

BAB V IMPLEMENTASI DAN PEMBAHASAN

BAB V IMPLEMENTASI DAN PEMBAHASAN BAB V IMPLEMENTASI DAN PEMBAHASAN 5.1 Sistem yang Digunakan Berikut ini adalah hardware dan software yang dibutuhkan untuk menggunakan program Sistem Informasi Manajemen Parkir pada PT. Surya Toto Indonesia

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Lanskap Kota

TINJAUAN PUSTAKA Lanskap Kota 5 TINJAUAN PUSTAKA Lanskap Kota Kota merupakan suatu organisme yang kompleks yang didalamnya terdapat unsur-unsur yang terjalin menjadi satu oleh suatu jaringan jalan dan jalur transportasi, saluran air,

Lebih terperinci

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI SISTEM

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI SISTEM 94 BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI SISTEM 4.1 Implementasi 4.1.1 Spesifikasi Hardware Spesifikasi hardware minimum yang diperlukan untuk menjalankan sistem informasi ini adalah sebagai berikut : a. Processor

Lebih terperinci

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN TAMPILAN LAYAR

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN TAMPILAN LAYAR 141 BAB 4 IMPLEMENTASI DAN TAMPILAN LAYAR 4.1 Arsitektur Aplikasi Pengajaran Mata Kuliah Analisa dan Perancangan Sistem Informasi Berbasiskan Multimedia Arsitektur aplikasi pengajaran mata kuliah Analisa

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Komputer Istilah komputer (computer) berasal dari bahasa latin computere yang berarti menghitung. Dalam Bahasa Inggris komputer berasal dari kata to compute yang artinya

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Informasi Dan Data Informasi di jaman modern seperti ini sangat dibutuhkan oleh setiap individu maupun suatu organisasi. Karena informasi dapat digunakan sebagai bahan

Lebih terperinci

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. menjalankan aplikasi dengan baik adalah : a. Prosesor Intel Pentium IV atau lebih tinggi

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. menjalankan aplikasi dengan baik adalah : a. Prosesor Intel Pentium IV atau lebih tinggi BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI 4.1 Spesifikasi Sistem 4.1.1 Spesifikasi Perangkat Keras Spesifikasi perangkat keras minimum yang digunakan untuk dapat menjalankan aplikasi dengan baik adalah : a. Prosesor

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Ciri Tanaman Lanskap 9/5/2014 TANAMAN DAN DESAIN PENANAMAN

PENDAHULUAN. Ciri Tanaman Lanskap 9/5/2014 TANAMAN DAN DESAIN PENANAMAN PENDAHULUAN TANAMAN DAN DESAIN PENANAMAN Tanaman merupakan elemen utama lanskap, tidak ada lanskap tanpa elemen tanaman, bahkan pada rock garden di sekitarnya juga terdapat tanaman. Tanaman merupakan sumber

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Pengertian Komputer Menurut Jogiyanto dalam Salim Agus (2012) Komputer adalah seperangkat alat atau peralatan elektronik yang bekerja bersama-sama secara otomatis, menerima input

Lebih terperinci

V GAMBARAN UMUM KEBUN RAYA BOGOR

V GAMBARAN UMUM KEBUN RAYA BOGOR V GAMBARAN UMUM KEBUN RAYA BOGOR 5.1. Sejarah Singkat Kebun Raya Bogor Pada tanggal 15 April 1817, Reinwardt mencetuskan gagasannya untuk mendirikan Kebun Botani yang disampaikan kepada G.A.G.P. Baron

Lebih terperinci

HASIL. Gambar 1 Permukaan atas daun nilam Aceh. Gambar 2 Permukaan atas daun nilam Jawa.

HASIL. Gambar 1 Permukaan atas daun nilam Aceh. Gambar 2 Permukaan atas daun nilam Jawa. 6 3 lintas, ada tiga hal yang harus diperhatikan yaitu: 1. Apabila koefisien korelasi antara peubah hampir sama dengan koefisien lintas (nilai pengaruh langsung) maka korelasi tersebut menjelaskan hubungan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Tanaman merupakan sumber keindahan, kenyamanan dan memberi daya dukung terhadap kehidupan

PENDAHULUAN. Tanaman merupakan sumber keindahan, kenyamanan dan memberi daya dukung terhadap kehidupan TANAMAN DAN DESAIN PENANAMAN PENDAHULUAN Tanaman merupakan elemen utama lanskap, tidak ada lanskap tanpa elemen tanaman, bahkan pada rock garden di sekitarnya juga terdapat tanaman. Tanaman merupakan sumber

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM. umum SETWAN DPRD Kota Sukabumi yaitu badan pemerintahan yang terdiri

BAB IV ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM. umum SETWAN DPRD Kota Sukabumi yaitu badan pemerintahan yang terdiri BAB IV ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM 4.1 Analisis Sistem yang Berjalan Adapun analisis sistem akan dilakukan pada sub bagian kepegawaian dan umum SETWAN DPRD Kota Sukabumi yaitu badan pemerintahan yang

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Istilah komputer ( computer ) berasal dari bahasa latin computere yang berarti

BAB 2 LANDASAN TEORI. Istilah komputer ( computer ) berasal dari bahasa latin computere yang berarti BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Komputer Istilah komputer ( computer ) berasal dari bahasa latin computere yang berarti menghitung. Dalam bahasa Inggris berasal dari kata computer yang artinya menghitung.

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Manggis dengan nama latin Garcinia mangostana L. merupakan tanaman buah

II. TINJAUAN PUSTAKA. Manggis dengan nama latin Garcinia mangostana L. merupakan tanaman buah II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Botani Manggis dan Syarat Tumbuh Manggis dengan nama latin Garcinia mangostana L. merupakan tanaman buah berupa pohon yang banyak tumbuh secara alami pada hutan tropis di kawasan

Lebih terperinci

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. membutuhkan spesifikasi Perangkat Keras (Hardware) dan Perangkat Lunak (Software)

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. membutuhkan spesifikasi Perangkat Keras (Hardware) dan Perangkat Lunak (Software) 108 BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI 4.1 Implementasi Implementasi majalah elektronik Bitmap beserta editor majalah ini akan membutuhkan spesifikasi Perangkat Keras (Hardware) dan Perangkat Lunak (Software)

Lebih terperinci

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM. sistem penjualan dan stok barang. Dengan menganalisis prosedur sistem yang

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM. sistem penjualan dan stok barang. Dengan menganalisis prosedur sistem yang BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM 3.1 Analisis Sistem Analisis sistem dapat didefinisikan sebagai tahap yang bertujuan untuk memahami sistem, mengetahui kekurangan sistem dan menentukan kebutuhan

Lebih terperinci

Lanskap Perkotaan (Urban Landscape) HUTAN KOTA. Dr. Ir. Ahmad Sarwadi, MEng. Ir. Siti Nurul Rofiqo Irwan, MAgr, PhD.

Lanskap Perkotaan (Urban Landscape) HUTAN KOTA. Dr. Ir. Ahmad Sarwadi, MEng. Ir. Siti Nurul Rofiqo Irwan, MAgr, PhD. Lanskap Perkotaan (Urban Landscape) HUTAN KOTA Dr. Ir. Ahmad Sarwadi, MEng. Ir. Siti Nurul Rofiqo Irwan, MAgr, PhD. Tujuan Memahami makna dan manfaat hutan kota pada penerapannya untuk Lanskap Kota. Memiliki

Lebih terperinci

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. Spesifikasi perangkat keras dan perangkat lunak yang digunakan baik oleh user

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. Spesifikasi perangkat keras dan perangkat lunak yang digunakan baik oleh user BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI 4.1 Spesifikasi Spesifikasi perangkat keras dan perangkat lunak yang digunakan baik oleh user dan admin adalah sebagai berikut: 4.1.1 Spesifikasi Perangkat Keras Berikut

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Jogiyanto (2008, hal : 34) Suatu sistem dapat didefenisikan sebagai kumpulan

BAB 2 LANDASAN TEORI. Jogiyanto (2008, hal : 34) Suatu sistem dapat didefenisikan sebagai kumpulan 17 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Jogiyanto (2008, hal : 34) Suatu sistem dapat didefenisikan sebagai kumpulan komponen yang saling berhubungan yang membentuk satu kesatuan untuk mencapai tujuan tertentu.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Perencanaan Hutan Kota Arti kata perencanaan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Fak. Ilmu Komputer UI 2008) adalah proses, perbuatan, cara merencanakan (merancangkan).

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Tanaman Buah Naga

TINJAUAN PUSTAKA Tanaman Buah Naga II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tanaman Buah Naga Buah naga ( Dragon Fruit) merupakan salah satu tanaman hortikultura yang baru dibudidayakan di Indonesia dengan warna buah merah yang menyala dan bersisik hijau

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. A. Waktu dan Lokasi Penelitian. B. Perancangan Penelitian. C. Teknik Penentuan Sampel. D. Jenis dan Sumber Data

III. METODE PENELITIAN. A. Waktu dan Lokasi Penelitian. B. Perancangan Penelitian. C. Teknik Penentuan Sampel. D. Jenis dan Sumber Data 16 III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober 2015 s/d Januari 2016. Lokasi penelitian berada di Desa Giriharjo, Kecamatan Ngrambe, Kabupaten Ngawi,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN Pengantar

BAB 1 PENDAHULUAN Pengantar BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Pengantar Dewasa ini fungsi komputer semakin dimanfaatkan dalam segala bidang. Baik di bidang pendidikan, bisnis, ataupun penelitian. Penggunaan komputer kini tidak lagi terbatas

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Komputer Teknologi komputer sesungguhnya telah banyak merubah sistem tata kerja yang digunakan oleh manusia yang bergerak di bidang informasi. Istilah komputer mempunyai

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Penerapan teknologi informasi saat ini menyebar hampir di semua bidang termasuk di

BAB 1 PENDAHULUAN. Penerapan teknologi informasi saat ini menyebar hampir di semua bidang termasuk di BAB 1 PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Masalah Penerapan teknologi informasi saat ini menyebar hampir di semua bidang termasuk di perpustakaan. Perpustakaan sebagai institusi pengelola informasi merupakan

Lebih terperinci

PENGARUH JENIS MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT SIRIH MERAH (Piper crocatum Ruiz and Pav.) OLEH: YULIANA RIYANTI A

PENGARUH JENIS MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT SIRIH MERAH (Piper crocatum Ruiz and Pav.) OLEH: YULIANA RIYANTI A PENGARUH JENIS MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT SIRIH MERAH (Piper crocatum Ruiz and Pav.) OLEH: YULIANA RIYANTI A34304039 PROGRAM STUDI HORTIKULTURA DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS

Lebih terperinci

4. BAB IV IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN

4. BAB IV IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN 4. BAB IV IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN Sebelum program di implementasikan, maka program harus bebas dari kesalahan. Kesalahan program yang mungkin terjadi antara lain karena kesalahan penulisan (coding),

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Aplikasi Aplikasi dapat diartikan sebagai program komputer yang dibuat untuk menolong manusia dalam melaksanakan tugas tertentu ( kamus komputer, 1996, Hal:20). Aplikasi

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Jurusan Ilmu Komputer, Fakultas Matematika dan Ilmu

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Jurusan Ilmu Komputer, Fakultas Matematika dan Ilmu 38 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di Jurusan Ilmu Komputer, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung yang berada di jalan

Lebih terperinci

SIMULASI UJI BUSS (BARU, UNIK, SERAGAM, STABIL) TIGA VARIETAS NENAS (Ananas comosus L. Merr) Oleh Efi Mulyati A

SIMULASI UJI BUSS (BARU, UNIK, SERAGAM, STABIL) TIGA VARIETAS NENAS (Ananas comosus L. Merr) Oleh Efi Mulyati A SIMULASI UJI BUSS (BARU, UNIK, SERAGAM, STABIL) TIGA VARIETAS NENAS (Ananas comosus L. Merr) Oleh Efi Mulyati A34404022 PROGRAM STUDI PEMULIAAN TANAMAN DAN TEKNOLOGI BENIH FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Pengertian Visualisasi Visualisasi adalah tampilan pada layar monitor baik dalam bentuk gambar yang bergerak ataupun tidak, serta dapat pula gambar yang disertai dengan suara.

Lebih terperinci

BAB II KLASIFIKASI MAKHLUK HIDUP

BAB II KLASIFIKASI MAKHLUK HIDUP BAB II KLASIFIKASI MAKHLUK HIDUP Standar Kompetensi : Memahami prinsip-prinsip pengelompokan makhluk hidup. Kompetensi Dasar : 2.1 Mendeskripsikan prinsip dasar klasifikasi makhluk hidup Tujuan Pembelajaran

Lebih terperinci

BAB IV IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. perancangan dapat diimplementasikan dalam tahap-tahap sebagai berikut :

BAB IV IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. perancangan dapat diimplementasikan dalam tahap-tahap sebagai berikut : BAB IV IMPLEMENTASI DAN EVALUASI Berdasarkan perancangan sistem yang dibuat sebelumnya, maka perancangan dapat diimplementasikan dalam tahap-tahap sebagai berikut : 4.1. Implementasi Aplikasi Untuk menjalankan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. yang saling berinteraksi untuk mencapai tujuan. yang dimaksud dengan data dan informasi? Data adalah fakta fakta yang

BAB 2 LANDASAN TEORI. yang saling berinteraksi untuk mencapai tujuan. yang dimaksud dengan data dan informasi? Data adalah fakta fakta yang BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Sistem Informasi Sistem berasal dari bahasa Yunani yaitu systema yang mengandung arti kesatuan dari bagian yang berhubungan satu dengan yang lain. Menurut Jogiyanto system adalah

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Analisa Kebutuhan Perangkat Lunak Analisa kebutuhan merupakan langkah awal untuk menentukan perangkat lunak yang dihasilkan. Perangkat lunak yang baik dan sesuai dengan kebutuhan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi tanaman mentimun ( Cucumis sativus L.) (Cahyono, 2006) dalam tata nama tumbuhan, diklasifikasikan kedalam :

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi tanaman mentimun ( Cucumis sativus L.) (Cahyono, 2006) dalam tata nama tumbuhan, diklasifikasikan kedalam : 1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Mentimun Klasifikasi tanaman mentimun ( Cucumis sativus L.) (Cahyono, 2006) dalam tata nama tumbuhan, diklasifikasikan kedalam : Divisi :

Lebih terperinci

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM. informasi yang utuh kedalam bagian-bagian komponennya dengan maksud untuk

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM. informasi yang utuh kedalam bagian-bagian komponennya dengan maksud untuk BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM 3.1 Analisis Sistem Analisis sistem dapat didefinisikan sebagai penguraian dari suatu sistem informasi yang utuh kedalam bagian-bagian komponennya dengan maksud

Lebih terperinci

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. menjalankan aplikasi SIG ini dengan baik adalah sebagai berikut :

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. menjalankan aplikasi SIG ini dengan baik adalah sebagai berikut : BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI 4.1 Implementasi 4.1.1 Perangkat Keras (Hardware) Spesifikasi minimum perangkat keras yang dibutuhkan untuk menjalankan aplikasi SIG ini dengan baik adalah sebagai berikut

Lebih terperinci

BAB III METODE DAN PROSEDUR PENELITIAN. penelitian untuk membuat gambaran mengenai situasi dan kejadian. 1 Atau

BAB III METODE DAN PROSEDUR PENELITIAN. penelitian untuk membuat gambaran mengenai situasi dan kejadian. 1 Atau 32 BAB III METODE DAN PROSEDUR PENELITIAN A. Jenis penelitian Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif yaitu suatu penelitian untuk membuat gambaran mengenai situasi dan kejadian. 1

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Perangkat lunak adalah perintah ( program komputer ) yang bila dieksekusi

BAB 2 LANDASAN TEORI. Perangkat lunak adalah perintah ( program komputer ) yang bila dieksekusi BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Perangkat Lunak Perangkat lunak adalah perintah ( program komputer ) yang bila dieksekusi memberikan fungsi dan unjuk kerja seperti yang diinginkan, struktur data yang

Lebih terperinci

PERANCANGAN LANSKAP SEKOLAH ISLAM TERPADU UMMUL QURO BERDASARKAN KONSEP TAMAN ISLAMI FISQA TASYARA A

PERANCANGAN LANSKAP SEKOLAH ISLAM TERPADU UMMUL QURO BERDASARKAN KONSEP TAMAN ISLAMI FISQA TASYARA A PERANCANGAN LANSKAP SEKOLAH ISLAM TERPADU UMMUL QURO BERDASARKAN KONSEP TAMAN ISLAMI FISQA TASYARA A34203058 PROGRAM STUDI ARSITEKTUR LANSKAP FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 Dengan ini

Lebih terperinci

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. Untuk menjalankan alat bantu normalisasi ini dibutuhkan sarana perangkat keras

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. Untuk menjalankan alat bantu normalisasi ini dibutuhkan sarana perangkat keras BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI 4.1 Implementasi 4.1.1 Spesifikasi Sistem Untuk menjalankan alat bantu normalisasi ini dibutuhkan sarana perangkat keras dan piranti lunak sebagai berikut : Spesifikasi

Lebih terperinci

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI 4.1 Implementasi Program Aplikasi Pada bagian ini, Penulis akan menjelaskan kebutuhan spesifikasi perangkat keras dan perangkat lunak, serta menjelaskan bagaimana cara program

Lebih terperinci

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI 4.1 Spesifikasi Kebutuhan Program Untuk menjalankan aplikasi ini ada beberapa kebutuhan yang harus dipenuhi oleh pengguna. Spesifikasi kebutuhan berikut ini merupakan spesifikasi

Lebih terperinci

FUNGSI TANAMAN BAMBU DALAM LANSEKAP BERDASARKAN KARAKTER FISIK DAN VISUAL. Oleh : RETNO ISMURDIATI

FUNGSI TANAMAN BAMBU DALAM LANSEKAP BERDASARKAN KARAKTER FISIK DAN VISUAL. Oleh : RETNO ISMURDIATI FUNGSI TANAMAN BAMBU DALAM LANSEKAP BERDASARKAN KARAKTER FISIK DAN VISUAL Oleh : RETNO ISMURDIATI JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANLAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 1998 RETNO ISMURDIATI. Fungsi Tanaman

Lebih terperinci

BAB V IMPLEMENTASI SISTEM

BAB V IMPLEMENTASI SISTEM BAB V IMPLEMENTASI SISTEM Implementasi Sistem merupakan kegiatan memperoleh dan mengintegrasikan sumber daya fisik dan konseptual yang menghasilkan suatu sistem yang bekerja. Dalam tahap implementasi sistem

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) divisi spermatophyta, subdivisi angiospermae, kelas monocotyledonae,

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) divisi spermatophyta, subdivisi angiospermae, kelas monocotyledonae, TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Tanaman bawang merah diklasifikasikan sebagai berikut, divisi spermatophyta, subdivisi angiospermae, kelas monocotyledonae, ordo liliales,

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Program Aplikasi Program aplikasi merupakan suatu bentuk rancangan program yang dibuat sedemikian rupa dalam mencapai suatu tujuan tertentu dengan mengikuti prosedur serta memiliki

Lebih terperinci