Analisa Statistik Erupsi Gunung Merapi
|
|
|
- Bambang Tan
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Analisa Statistik Erupsi Gunung Merapi Dhika Rosari Purbaa), Acep Purqonb) Laboratorium Fisika Bumi, Kelompok Keilmuan Fisika Bumi dan Sistem Kompleks, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha no. 10 Bandung, Indonesia, a) (corresponding author) b) Abstrak Pada penelitian kali ini akan dilakukan kajian statistik yang dilakukan terhadap runtun waktu dari waktu istirahat (repose period) Gunung Merapi dari tahun 1780 hingga tahun Dimana dari analisis ini kemudian didapat kebolehjadian Gunung Merapi erupsi yang dapat dipakai sebagai besaran fisis yang harus dipantau dalam mengantisipasi erupsi Gunung Merapi di masa yang akan datang. Kajian statistik runtun waktu erupsi gunungapi dilakukan dengan analisa distribusi statistik eksponensial Wickmann dan fungsi Probability Density Function Poissonian untuk mendapat angka kebolehjadian Gunung Merapi akan mengalami erupsi. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa runtun waktu erupsi Gunung Merapi pada tahun 1780 hingga tahun 2000 memiliki karakteristik stokastik acak dengan cacah erupsi sebagai fungsi waktu istirahat erupsi dengan distribusi statistik eksponensial dan fungsi Probability Density Function Poissonian. Dari hasil penelitian diketahui bahwa Gunung Merapi memiliki koefisien atenuasi cacah erupsi fungsi waktu istirahat sebesar sama 0,2316 per tahun dan nilai menengah waktu istirahat erupsi sebesar 4,3177 tahun. Selain itu, pada tahun 2016 Gunung Merapi memiliki kebolehjadian akan mengalami erupsi sebesar 63,8%. Kata-kata kunci: Eksponensial Wickmann, Erupsi, Probability Density Function, Statistik. PENDAHULUAN Gunung Merapi merupakan salah satu gunungapi aktif di wilayah Indonesia. Posisi geografis Merapi berada pada koordinat LS BT dan berada di wilayah administratif Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Merapi merupakan gunungapi bertipe Strato-volcano yang secara petrologi magma bersifat andesit-basaltik. Gunung Merapi memiliki ketinggian 2978 m di jantung pulau Jawa dengan diameter 28 km, luas km2 dan volume 150 km3. Berdasarkan sejarah tercatat sejak tahun 1600-an Gunung Merapi meletus lebih dari 80 kali atau rata-rata sekali meletus dalam 4 tahun. Dimana secara rata-rata Merapi mengalami erupsi (puncak keaktifan) dalam siklus pendek yaitu setiap dua sampai lima tahun sekali. Pada abad ke-20 terjadi minimal 28 kali letusan, dimana letusan terbesar terjadi pada tahun Erupsi Merapi termasuk sering dalam 100 tahun terakhir ini, sehingga bahaya utama dapat mengancam sekitar jiwa yang tinggal di Kawasan Rawan Bencana akibat erupsi Merapi umumnya didahului pertumbuhan kubah lava diikuti guguran awanpanas, guguran lava pijar dan jatuhan piroklastik. Pada penelitian kali ini akan dilakukan kajian statistik yang dilakukan terhadap runtun waktu dari waktu istirahat (repose period) Gunung Merapi dari tahun 1780 hingga tahun Dimana dari analisis ini kemudian didapat Kebolehjadian Gunung Merapi erupsi yang dapat dipakai sebagai besaran fisis yang harus dipantau dalam mengantisipasi erupsi Gunung Merapi di masa yang akan datang. 452
2 KAJIAN STATISTIK Dalam kajian statistik, distribusi runtun waktu erupsi gunungapi dapat dinyatakan sebagai fungsi distribusi eksponensial (Wickmann, 1965) yaitu dengan persamaan : (1) N ( λ, t ) = N 0 e λt Dimana : N = Cacah erupsi yang mempunyai waktu istirahat lebih lama dari pada t; No = Cacah erupsi yang mempunyai waktu istirahat lebih lama dari pada 0 tahun; t = Waktu istirahat; λ = Koefisien atenuasi eksponensial. Dari persamaan distribusi statistik eksponensial (persamaan 1) dapat diketahui waktu istirahat erupsi rerata yang merupakan mempunyai nilai menengah T ( mean value). Besar mean value dapat diperoleh dengan persamaan : T = 1/λ (2) Teori distribusi statistik eksponensial Poissonian seperti pada persamaan 1, pada dasarnya adalah gejala yang bersifat acak (random). Sehingga runtun waktu erupsi gunungapi mempunyai Fungsi Densitas Kebolehjadian (PDF,Probability Density Function, Wickmann, 1965). Maka dalam hal ini dapat ditentukan Fungsi Densitas Kebolehjadian Gunung Merapi tidak terjadinya rupsi (PDF Tidak Erupsi) dan Fungsi Densitas Kebolehjadian Gunung Merapi erupsi (PDF Erupsi). Dimana, Fungsi Densitas Kebolehjadian Gunung Merapi tidak terjadinya erupsi (PDF Tidak Erupsi) didapat sesuai dengan persamaan : PDF Tidak Erupsi (λ,t) = λ t (e-λt) (3) Dan Fungsi Densitas Kebolehjadian Gunung Merapi terjadinya erupsi (PDF Erupsi) didapat sesuai dengan persamaan : PDF Erupsi (λ,t) = 1 - λ t (e-λt) (4) METODE Pada penelitian ini akan dilakukan kajian statistik dari data erupsi Gunung Merapi sejak tahun 1780 hingga tahun Dimana kajian statistik dilakukan terhadap runtun waktu dari waktu istirahat (repose period) dari data erupsi Gunung Merapi dari tahun 1780 hingga tahun Dalam melakukan kajian statistik ini, kemudian dibuat kerangka kerja dalam penelitian yaitu sebagai berikut : Melakukan impor data erupsi Gunung Merapi dari tahun 1780 hingga tahun 2000 dari website Kementerian ESDM Badan Geologi yaitu Melakukan analisis runtun waktu erupsi Gunung Merapi dari data waktu istirahat antar erupsi Gunung Merapi. Melakukan analisa Fungsi Densitas Kebolehjadian (PDF, Probability Density Function) dari Gunung Merapi. Mendapat angka Kebolehjadian Gunung Merapi erupsi. Analisis Runtun Waktu Erupsi Gunung Merapi Sejarah erupsi Gunung Merapi secara tertulis mulai tercatat sejak awal masa kolonial Belanda yaitu pada sekitar abad ke-17. Secara umum, letusan Gunung Merapi pada abad ke-18 dan abab ke-19 masa istirahatnya relatif lebih panjang, sedangkan indeks letusannya lebih besar. Gambar 1 memberikan deskripsi singkat letusan Gunung Merapi yang tercatat pada tahun 1780 hingga tahun Letusan Gunung Merapi umumnya relatif besar dibanding letusan pada abad ke-20, dengan masa istirahatnya lebih panjang. Gambar 2 merupakan histogram yang menunjukkan runtun waktu dari waktu istirahat (repose period) Gunung Kelud mulai tahun 1780 hingga Gambar 3 merupakan histogram yang mendeskripsikan cacah kejadian erupsi sebagai fungsi waktu istirahat yang dikelompokkan dalam kurun waktu 5 tahunan. Variasi waktu istirahat erupsi ini pada umumnya proporsional dengan tingkat energi pada erupsi yang mengikutinya. Jika waktu istirahat antar erupsi pendek, maka biasanya energi pada erupsi yang 453
3 mengikutinya juga kecil, sebaliknya apabila waktu istirahatnya panjang, maka energi dari erupsi yang mengikutinya juga besar. Gambar 1. Erupsi Gunung Merapi yang tercatat pada tahun 1780 hingga tahun 2000 beserta index letusan dan masa istirahat. Gambar 2.Histogram yang menunjukkan runtun waktu dari waktu istirahat (repose period) Gunung Kelud mulai tahun 1780 hingga
4 Gambar 3. Histogram yang menunjukkan cacah kejadian erupsi sebagai fungsi waktu istirahat yang dikelompokkan dalam kurun waktu 4 tahunan HASIL PERHITUNGAN DISTRIBUSI EKSPONENSIAL WICKMANN Gambar 4. Grafik Plot Data Distribusi eksponensial (Wickmann, 1965) erupsi Gunung Merapi dari tahun 1780 sampai dengan tahun Dari hasil plot data didapat No sebesar 91,89 dan λ sebesar 0,2316 dengan koefisien korelasi R2 = 0,9908. Sesuai dengan fungsi distribusi eksponensial Wickmann pada persamaan 1, dilakukan plot data Cacah Erupsi (N) terhadap Waktu Istirahat (t). Hasil plot data ditampilkan pada Gambar 4. Dari hasil plot data didapat No sebesar 91,89 dan λ sebesar 0,2316 dengan koefisien korelasi R2 = 0,9908 yang mengartikan data mempunyai confidence level mendekati 99% (Bevington, 1969). Dari hasil ini didapatkan pula nilai menengah T ( mean value) yang merupakan waktu istirahat erupsi rerata. Karena didapat λ sebesar 0,2316 maka sesuai dengan persamaan 2, T untuk Gunung Merapi adalah 4,3177 tahun. Dalam hal ini, tidak berarti pada setiap 4,3177 tahun selalu terjadi erupsi pada Gunung Merapi. Sehingga tidak dapat dikatakan bahwa T merupakan periode ulang. Sehingga, dapat disimpulkan gejala kejadian erupsi Gunung Merapi yang mempunyai distribusi statistik eksponensial ini bersifat random. Hal ini didukung dengan teori dimana distribusi statistik eksponensial Poissonian pada dasarnya adalah gejala yang bersifat acak (random). Sehingga runtun waktu erupsi gunungapi memiliki Fungsi Densitas Kebolehjadian. Dari persamaan 3 dan persamaan 4 dapat ditentukan Fungsi Densitas Kebolehjadian Gunung Merapi tidak terjadinya erupsi (PDF Tidak Erupsi) dan Fungsi Densitas Kebolehjadian Gunung Merapi Erupsi (PDF Erupsi). Dimana hasilnya digambarkan pada Gambar 5 dan Gambar
5 Gambar 5. Distribusi PDF terjadinya erupsi Gunung Merapi yang mengikuti distribusi statistik Poissonian (Wickmann, 1965) Gambar 6. Distribusi PDF tidak terjadinya erupsi Gunung Merapi yang mengikuti distribusi statistik Poissonian (Wickmann, 1965) Gambar 5 melukiskan PDF terjadinya erupsi Gunung Merapi dengan λ = 0,2316/tahun. Tercatat erupsi terakhir Gunung Merapi terjadi pada November Sehingga, pada saat ini Gunung Merapi memiliki t = = 5 tahun sehingga Kebolehjadian Gunung Merapi erupsi sebesar : *5*exp( *5) = = = 63,8% Sehingga dari angka kebolehjadian terjadinya erupsi Gunung Merapi yang saat ini sebesar 63,8%, maka saat ini ada risiko yang harus ditanggung dan tidak boleh diabaikan. Sehingga sebaiknya ada tindakan mitigasi yang dapat meminimumkan dampak buruk yang dapat terjadi akibat erupsi dari Gunung Merapi ini. KESIMPULAN Metoda analisa statistik erupsi Gunung Merapi merupakan salah satu metoda yang dapat dipakai untuk menentukan kebolehjadian Gunung Merapi erupsi di masa yang akan datang. Runtun waktu erupsi Gunung Merapi pada tahun 1780 hingga tahun 2000 memiliki karakteristik stokastik acak dengan cacah erupsi sebagai fungsi waktu istirahat erupsi dengan distribusi statistik eksponensial dan fungsi Probability Density Function Poissonian. Dari hasil perhitungan didapat koefisien atenuasi cacah erupsi fungsi waktu istirahat Gunung Merapi sebesar sama 0,2316 per tahun dan nilai menengah waktu istirahat erupsi sebesar 4,3177 tahun. Selain itu, pada tahun 2016 Gunung Merapi memiliki kebolehjadian akan mengalami erupsi sebesar 63,8%. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu dalam penulisan makalah ini. Makalah ini didanai oleh Riset Inovasi Institut Teknologi Bandung REFERENSI Bevington, P.R, Data reduction and error analysis for the physical sciences. McGraw-Hill Book Company, New York (1969) Kirbani Sri Brotopuspito dan Wahyudi, Eruption of The Kelud Volcano and b-value of Its Surrounding Earthquakes, Universitas Gadjah Mada,Yogyakarta (2007) Badan Geologi, 2015, Badan Geologi Kementrian ESDM, G.Merapi, Connor, Charles B, Sparks, R. S. J, Mason, R. M, Bonadonna, Costanza and Young, S.R, 2003, Exploring links between physical and probabilistic models of volcanic eruptions: The Soufrie`re Hills Volcano, Montserrat, GEOPHYSICAL RESEARCH LETTERS, VOL. 30, NO. 13:
6 Bebbington,M. S and Lai, C. D, 1996b, On Nonhomogenous Models for Volcanic Eruptions, Math. Geol. 28/5, p Ho, C. H, 1991, Time Trend Analysis of Basaltic Volcanism for The Yukka Mountain Site, Journal of Volcanology and Geothermal Research Vol. 46, p Watt, S. F. L, Mather, T. A., Pyle, D. M, 2007, Vulcanian Explosion Cycles: Patterns and Predictability, Geology 35/9, p , doi: /G23562A.1. Wickman, F. E, 1966, Repose Period Patterns of Volcanoes,I: Volcanic Eruption Regarded as Random Phenomena, Arkiv For Mineralogi och Geologi 4, p Wickman, F. E, 1966, Repose Period Patterns of Volcanoes,II:Eruption Histories of Some East Indian Volcanoes, Ibid 4, p
Analisis Statistik Temporal Erupsi Gunung Merapi
Analisis Statistik Temporal Erupsi Gunung Merapi Desi Kiswiranti 1 dan Prof. Dr. H Kirbani S. B 2,* 1 Jurusan Fisika, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta 2 Jurusan Fisika, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Analisis Statistik Temporal Erupsi Gunung Kelud, Semeru dan Merapi
Analisis Statistik Temporal Erupsi Gunung Kelud, Semeru dan Merapi Desi Kiswiranti 1 1 Jurusan Teknik Geologi, IST AKPRIND Yogyakarta * Email: [email protected] ABSTRAK Pulau Jawa terbentuk akibat
Analisis Statistik Temporal Erupsi Gunungapi di Indonesia
Analisis Statistik Temporal Erupsi Gunungapi di Indonesia Temporal Statistical Analysis of the Volcanic Eruptions in Indonesia Desi Kiswiranti Jurusan Fisika FMIPA UGM Abstrak Pada penelitian ini, akan
ERUPSI GUNUNGAPI KELUD DAN NILAI-B GEMPABUMI DI SEKITARNYA (Eruption of The Kelud Volcano and b-value of Its Surrounding Earthquakes)
Kirbani Sri Brotopuspito dan Wahyudi, Erupsi Dunungapi Kelud ERUPSI GUNUNGAPI KELUD DAN NILAI-B GEMPABUMI DI SEKITARNYA (Eruption of The Kelud Volcano and b-value of Its Surrounding Earthquakes) Kirbani
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gunung Merapi adalah salah satu gunung api yang sangat aktif di Indonesia yang terletak di daerah berpenduduk padat di Propinsi Jawa Tengah dan Propinsi Daerah Istimewa
BADAN GEOLOGI - ESDM
Studi Kasus Merapi 2006 : Peranan Pengukuran Deformasi dalam Prediksi Erupsi A. Ratdomopurbo Kepala BPPTK-PVMBG Sosialisasi Bidang Geologi -----------------------------------------------------------------------
7.5. G. IBU, Halmahera Maluku Utara
7.5. G. IBU, Halmahera Maluku Utara G. Ibu dilihat dari Kampung Duono, 2008 KETERANGAN UMUM Lokasi a. Geografi b. Adminstrasi : : 1 29' LS dan 127 38' BT Kecamatan Ibu, Kabupaten Halmahera Barat, Prop.
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi bencana geologi yang sangat besar, fakta bahwa besarnya potensi bencana geologi di Indonesia dapat dilihat dari
Fisika Gunung Api JENIS SKALA DAN FREKUENSI LETUSAN
Fisika Gunung Api JENIS SKALA DAN FREKUENSI LETUSAN PENDAHULUAN Erupsi dari gunungapi memperlihatkan berbagai macam karakter, seperti : Tipe Erupsi Produk yang dihasilkan Endapan Piroklastik, Aliran Lava
Penentuan Daerah Potensi Rawan Bencana Letusan Gunung Kelud Menggunakan Citra Satelit
Penentuan Daerah Potensi Rawan Bencana Letusan Gunung Kelud Menggunakan Citra Satelit Tri Martha KP* 1), Widya Utama 2), Istiqomah Ari K 1) Jurusan Fisika 2) Program Studi Teknik Geofisika InstitutTeknologi
4.15. G. LEWOTOBI PEREMPUAN, Nusa Tenggara Timur
4.15. G. LEWOTOBI PEREMPUAN, Nusa Tenggara Timur G. Lewotobi Laki-laki (kiri) dan Perempuan (kanan) KETERANGAN UMUM Nama Lain Tipe Gunungapi : Lobetobi, Lewotobi, Lowetobi : Strato dengan kubah lava Lokasi
Bersama ini dengan hormat disampaikan tentang perkembangan kegiatan G. Kelud di Kabupaten Kediri, Blitar dan Malang, Provinsi Jawa Timur.
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA BADAN GEOLOGI JALAN DIPONEGORO NO. 57 BANDUNG 40122 JALAN JEND. GATOT SUBROTO KAV. 49 JAKARTA 12950 Telepon: 022-7212834, 5228424, 021-5228371
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA BADAN GEOLOGI
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA BADAN GEOLOGI JALAN DIPONEGORO NOMOR 57 BANDUNG 40122 JALAN JENDERAL GATOT SUBROTO KAV. 49 JAKARTA 12950 TELEPON: 022-7215297/021-5228371 FAKSIMILE:
Reka Geomatika Jurusan Teknik Geodesi Itenas No. 2 Vol. 1 ISSN X Desember 2013 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional
Reka Geomatika Jurusan Teknik Geodesi Itenas No. 2 Vol. 1 ISSN 2338-350X Desember 2013 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Estimasi Kedalaman Pusat Tekanan dan Volume Magma dari Hasil Perbandingan
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA BADAN GEOLOGI
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA BADAN GEOLOGI JALAN DIPONEGORO NO. 57 BANDUNG 40122 JALAN JEND GATOT SUBROTO KAV. 49 JAKARTA 12950 Telepon: 022-7212834, 5228424,021-5228371
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA BADAN GEOLOGI
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA BADAN GEOLOGI JALAN DIPONEGORO NO. 57 BANDUNG 40122 JALAN JEND GATOT SUBROTO KAV. 49 JAKARTA 12950 Telepon: 022-7212834, 5228424,021-5228371
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kawasan lereng Gunungapi Merapi merupakan daerah yang dipenuhi oleh berbagai aktivitas manusia meskipun daerah ini rawan terhadap bencana. Wilayah permukiman, pertanian,
BAB I PENDAHULUAN. bencana. Dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Semua daerah tidak pernah terhindar dari terjadinya suatu bencana. Bencana bisa terjadi kapan dan dimana saja pada waktu yang tidak diprediksi. Hal ini membuat
LAPORAN HASIL PENELITIAN HIBAH KOMPETENSI
GEOFISIKA MITIGASI BENCANA LAPORAN HASIL PENELITIAN HIBAH KOMPETENSI PENERAPAN METODE GEOFISIKA TERPADU UNTUK MENGURANGI RESIKO LETUSAN G. SEMERU, JAWA TIMUR Oleh: Sukir Maryanto, Ph.D Dr.Eng. Didik R.
BAB I PENDAHULUAN. untuk dijadikan permukiman sehingga muncul larangan bermukim. Merapi terletak antara dua provinsi yakni Daerah Istimewa
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Permukiman merupakan kebutuhan dasar manusia yang tidak dapat terelakkan. Semakin tinggi pertumbuhan penduduk semakin banyak kebutuhan lahan yang harus disiapkan untuk
KESIAPSIAGAAN SISWA SMA NEGERI 1 CANGKRINGAN TERHADAP BENCANA ERUPSI GUNUNG MERAPI DI KABUPATEN SLEMAN YOGYAKARTA
KESIAPSIAGAAN SISWA SMA NEGERI 1 CANGKRINGAN TERHADAP BENCANA ERUPSI GUNUNG MERAPI DI KABUPATEN SLEMAN YOGYAKARTA Oleh: Fitri Chumairoh, Program Studi Pendidikan Geografi Universitas Negeri Yogyakarta.
AKTIVITAS GUNUNGAPI SEMERU PADA NOVEMBER 2007
AKTIVITAS GUNUNGAPI SEMERU PADA NOVEMBER 27 UMAR ROSADI Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Sari Pada bulan Oktober akhir hingga November 27 terjadi perubahan aktivitas vulkanik G. Semeru. Jumlah
BAB I PENDAHULUAN. dibanding erupsi tahun 2006 dan Dari tiga episode tersebut, erupsi terbesar
BAB I PENDAHULUAN I.1. LATAR BELAKANG Pada dekade terakhir ini, Gunung Merapi mengalami erupsi setiap empat tahun sekali, yaitu tahun 2006, 2010, serta erupsi 2014 yang tidak terlalu besar dibanding erupsi
BAB 1 PENDAHULUAN. lempeng yaitu Lempeng Eurasia, Hindia-australia dan Lempeng Filipina dan. akibat pertumbukan lempeng-lempeng tersebut (Gambar 2).
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Berdasarkan peta jalur lempeng dunia, wilayah Indonesia terletak pada pertemuan lempeng yaitu Lempeng Eurasia, Hindia-australia dan Lempeng Filipina dan Lempeng Pasifik
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Letusan Gunung Merapi pada tanggal 26 Oktober sampai 5 Nopember
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Letusan Gunung Merapi pada tanggal 26 Oktober sampai 5 Nopember 2010 tercatat sebagai bencana terbesar selama periode 100 tahun terakhir siklus gunung berapi teraktif
BAB I PENDAHULUAN. menyertai kehidupan manusia. Dalam kaitannya dengan vulkanisme, Kashara
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Aktivitas vulkanisme dapat mengakibatkan bentuk bencana alam yang menyertai kehidupan manusia. Dalam kaitannya dengan vulkanisme, Kashara (Hariyanto, 1999:14) mengemukakan
KARAKTERISTIK ERUPSI GUNUNG MERAPI PERIODE APRIL JULI 2006
KARAKTERISTIK ERUPSI GUNUNG MERAPI PERIODE APRIL JULI 2006 Wahyu Budi Setyawan Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Jl. Pasir Putih I, Ancol Timur, Jakarta Tlp. 021 64713850, Fax. 021 64711948, e-mail: [email protected]
II. PENGAMATAN 2.1. VISUAL
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA BADAN GEOLOGI JALAN DIPONEGORO NO. 57 BANDUNG 4122 JALAN JEND. GATOT SUBROTO KAV. 49 JAKARTA 1295 Telepon: 22-7212834, 5228424, 21-5228371
EVALUASI SEISMIK DAN VISUAL KEGIATAN VULKANIK G. EGON, APRIL 2008
EVALUASI SEISMIK DAN VISUAL KEGIATAN VULKANIK G. EGON, APRIL 28 KRISTIANTO, AGUS BUDIANTO Bidang Pengamatan dan Penyelidikan Gunungapi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Sari Letusan G. Egon
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kondisi geografis Indonesia terletak pada busur vulkanik Circum Pacific and
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kondisi geografis Indonesia terletak pada busur vulkanik Circum Pacific and Trans Asiatic Volcanic Belt dengan jajaran pegunungan yang cukup banyak dimana 129 gunungapi
6.6. G. TANGKOKO, Sulawesi Utara
6.6. G. TANGKOKO, Sulawesi Utara KETERANGAN UMUM Nama Lain : Tonkoko Nama Kawah : - Lokasi Ketinggian Kota Terdekat Tipe Gunungapi Pos Pengamatan Gunungapi : Administratif: termasuk Desa Makewide, Kecamatan
II. TINJAUAN PUSTAKA
5 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Lokasi Objek Penelitian Berdasarkan bentuk morfologinya, puncak Gunung Lokon berdampingan dengan puncak Gunung Empung dengan jarak antara keduanya 2,3 km, sehingga merupakan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang terletak di ring of fire (Rokhis, 2014). Hal ini berpengaruh terhadap aspek geografis, geologis dan klimatologis. Indonesia
BAB I PENDAHULUAN. Gunung Kelud merupakan salah satu gunung api aktif yang ada di
1 BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Gunung Kelud merupakan salah satu gunung api aktif yang ada di Indonesia, yaitu berada di perbatasan Kabupaten Kediri, Kabupaten Malang, dan Kabupaten Blitar, Provinsi
BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1. Peta Ancaman Bencana Gunung Api Di Indonesia (Sumber : BNPB dalam Website, 2011)
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Gunung Merapi secara geografis terletak pada posisi 7º 32.5 Lintang Selatan dan 110º 26.5 Bujur Timur, dan secara administrasi terletak pada 4 (empat) wilayah kabupaten
IDENTIFIKASI LOKASI RAWAN BENCANA BANJIR LAHAR DI DAERAH ALIRAN SUNGAI PABELAN, MAGELANG, JAWA TENGAH
IDENTIFIKASI LOKASI RAWAN BENCANA BANJIR LAHAR DI DAERAH ALIRAN SUNGAI PABELAN, MAGELANG, JAWA TENGAH Suprapto Dibyosaputro 1, Henky Nugraha 2, Ahmad Cahyadi 3 dan Danang Sri Hadmoko 4 1 Departemen Geografi
BAB I PENGANTAR 1.1. Latar Belakang
1 BAB I PENGANTAR 1.1. Latar Belakang Indonesia rawan akan bencana yang diakibatkan oleh aktivitas gunungapi. Salah satu gunungapi aktif yang ada di Indonesia yaitu Gunungapi Merapi dengan ketinggian 2968
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penelitian Menurut Schieferdecker (1959) maar adalah suatu cekungan yang umumnya terisi air, berdiameter mencapai 2 km, dan dikelilingi oleh endapan hasil letusannya.
6.1. G. COLO (P. Una-una), Sulawesi Tengah
6.1. G. COLO (P. Una-una), Sulawesi Tengah (a) (b) Erupsi G. Colo 1983 (a), Lapangan fumarola, di selatan danau kawah G. Colo (b) KETERANGAN UMUM Nama : G. Colo Nama Lain : - Lokasi Geografi Administratif
Analisis Risiko Bencana-... (Akhmad Ganang H.)
Analisis Risiko Bencana-... (Akhmad Ganang H.) ANALISIS RISIKO BENCANA ERUPSI GUNUNGAPI SUNDORO DI KECAMATAN NGADIREJO KABUPATEN TEMANGGUNG DISASTER RISK ANALYSIS OF SUNDORO VOLCANIC HAZARD ERUPTION IN
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan salah satu Negara di dunia yang dilewati oleh dua jalur pegunungan muda dunia sekaligus, yakni pegunungan muda Sirkum Pasifik dan pegunungan
4.9. G. EBULOBO, Nusa Tenggara Timur
4.9. G. EBULOBO, Nusa Tenggara Timur Gunungapi Ebulobo (sumber PVMBG) KETERANGAN UMUM Nama Lain Tipe Gunungapi Nama Kawah Lokasi Geografis Administratif Ketinggian Tipe Gununapi Kota Terdekat Pos Pengamatan
Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang I.1.1 Lokasi Kompleks Gunung Guntur
Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang I.1.1 Lokasi Kompleks Gunung Guntur Daerah penelitian meliputi Kompleks Gunung Guntur terdiri dari Kaldera Pangkalan atau Kamojang, Kaldera Gandapura, dan puncak-puncak
2 Pengajar Program Studi Statistika, FMIPA UII Yogyakarta Abstrak
INTERVAL KONFIDENSI BAGI FUNGSI TAHAN HIDUP WAKTU TUNGGU LETUSAN GUNUNG KELUD (Studi Kasus : Data Berdistribusi Eksponensial Dua Parameter Tersensor Lengkap) Tri Prihatin Nurul Muthmainatul Jannah 1) dan
PREDIKSI KAPASITAS TAMPUNG SEDIMEN KALI GENDOL TERHADAP MATERIAL ERUPSI GUNUNG MERAPI 2006
PREDIKSI KAPASITAS TAMPUNG SEDIMEN KALI GENDOL TERHADAP MATERIAL ERUPSI GUNUNG MERAPI 2006 Tiny Mananoma [email protected] Mahasiswa S3 - Program Studi Teknik Sipil - Sekolah Pascasarjana - Fakultas
BAB I PENDAHULUAN. samudra Hindia, dan Samudra Pasifik. Pada bagian selatan dan timur
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Secara geografis Indonesia merupakan Negara kepulauan yang terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik yaitu lempeng benua Eurasia, lempeng samudra Hindia,
Studi Pengaruh Lahar Dingin Pada Pemanfaatan Sumber Air Baku Di Kawasan Rawan Bencana Gunungapi (Studi Kasus: Gunung Semeru)
Studi Pengaruh Lahar Dingin Pada Pemanfaatan Sumber Air Baku Di Kawasan Rawan Bencana Gunungapi (Studi Kasus: Gunung Semeru) Disusun oleh: Anita Megawati 3307 100 082 Dosen Pembimbing: Ir. Eddy S. Soedjono.,Dipl.SE.,MSc.,
BAB I PENDAHULUAN. menyebabkan Indonesia termasuk dalam daerah rawan bencana gempabumi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kepulauan Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama, yaitu lempeng Indo-Australia di bagian Selatan, lempeng Eurasia di bagian Utara, dan lempeng
Dekomposisi Wavelet Data Seismik Broadband dari Stasiun Wanagama Yogyakarta pada saat Letusan Gunung Merapi 2010
JURNAL FISIKA DAN APLIKASINYA VOLUME 13, NOMOR 2 JUNIN 2017 Dekomposisi Wavelet Data Seismik Broadband dari Stasiun Wanagama Yogyakarta pada saat Letusan Gunung Merapi 2010 Dairoh dan Wiwit Suryanto Program
BAB I PENDAHULUAN. termasuk wilayah pacific ring of fire (deretan Gunung berapi Pasifik), juga
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan salah satu negara yang terletak pada zona rawan bencana. Posisi geografis kepulauan Indonesia yang sangat unik menyebabkan Indonesia termasuk
ANALISIS DISTRIBUSI FASIES GUNUNG MERAPI DI KECAMATAN SELO UNTUK IDENTIFIKASI JENIS BAHAYA ERUPSI
ANALISIS DISTRIBUSI FASIES GUNUNG MERAPI DI KECAMATAN SELO UNTUK IDENTIFIKASI JENIS BAHAYA ERUPSI Oleh: Edi Widodo Supporting Staff Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Magelang [email protected] Abstrak
5.2. G. WETAR, Kepulauan Banda, Maluku
5.2. G. WETAR, Kepulauan Banda, Maluku Pulau Gunung Api di utara P. Wetar ditutupi belukar dilihat dari utara (gbr. Kiri) dan dilihat dari barat (gbr. Kanan) (Foto: Lili Sarmili).(2001) KETERANGAN UMUM
BAB I PENDAHULUAN. Istimewa Yogyakarta merupakan gunung paling aktif di dunia. Gunung Merapi
1 BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Gunung Merapi yang berada di Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan gunung paling aktif di dunia. Gunung Merapi memiliki interval waktu erupsi
BAB I PENDAHULUAN. letusan dan leleran ( Eko Teguh Paripurno, 2008 ). Erupsi lelehan menghasilkan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gunungapi Merapi merupakan gunung yang aktif, memiliki bentuk tipe stripe strato yang erupsinya telah mengalami perbedaan jenis erupsi, yaitu erupsi letusan dan leleran
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang I.2. Perumusan Masalah
15 BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Daerah Bangunjiwo yang merupakan lokasi ini, merupakan salah satu desa di Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, D.I Yogyakarta. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Yogyakarta,
ANALISIS PERUBAHAN NILAI TANAH DI AREA LERENG GUNUNG KELUD PASCA ERUPSI 2014 (Studi Kasus: Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri)
ANALISIS PERUBAHAN NILAI TANAH DI AREA LERENG GUNUNG KELUD PASCA ERUPSI 2014 Udiana Wahyu Deviantari 1, Yanto Budisusanto 2, Mohammad Ibnu Aqil 3 1,2,3 Institut Teknologi Sepuluh Nopember Departemen Teknik
BAB I PENGANTAR. menjadi dua yaitu bahaya primer dan bahaya sekunder. Bahaya primer
BAB I PENGANTAR 1.1. Latar Belakang Indonesia memiliki 129 gunungapi yang tersebar luas mulai dari Pulau Sumatra, Pulau Jawa, Kepulauan Nusa Tenggara, Kepulauan Banda, Kepulauan Halmahera dan Sulawesi
6.2. G. AMBANG, SULAWESI UTARA
6.2. G. AMBANG, SULAWESI UTARA G. Ambang (Kunrat, S. L. /PVMBG/2007) KETERANGAN UMUM Nama : G. Ambang Nama Lain : - Nama Kawah : Kawah Muayat, Kawah Moyayat Lokasi : a. Geografi : 0 o 44' 30" LU dan 124
KORELASI PARAMETER SUHU AIR PANAS, KEGEMPAAN, DAN DEFORMASI LETUSAN G. SLAMET APRIL - MEI 2009
KORELASI PARAMETER SUHU AIR PANAS, KEGEMPAAN, DAN DEFORMASI LETUSAN G. SLAMET APRIL - MEI 009 Estu KRISWATI dan Oktory PRAMBADA Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, Jalan Diponegoro
BAB III METODA PENELITIAN
44 BAB III METODA PENELITIAN 3.1. Metoda Pembacaan Rekaman Gelombang gempa Metode geofisika yang digunakan adalah metode pembacaan rekaman gelombang gempa. Metode ini merupakaan pembacaan dari alat yang
BAB I PENDAHULUAN. Secara geografis Indonesia terletak di daerah khatulistiwa dan melalui
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Secara geografis Indonesia terletak di daerah khatulistiwa dan melalui garis astronomis 93⁰BT-141 0 BT dan 6 0 LU-11 0 LS. Dengan morfologi yang beragam dari
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia adalah salah satu negara yang sangat rentan akan bencana, diantaranya bencana letusan gunungapi, tsunami, gempa bumi dan sebagainya. Bencana tidak
PENGARUH GEMPA TEKTONIK TERHADAP AKTIVITAS GUNUNGAPI : STUDI KASUS G. TALANG DAN GEMPABUMI PADANG 30 SEPTEMBER 2009
PENGARUH GEMPA TEKTONIK TERHADAP AKTIVITAS GUNUNGAPI : STUDI KASUS G. TALANG DAN GEMPABUMI PADANG 30 SEPTEMBER 2009 Ahmad BASUKI., dkk. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Sari Terjadinya suatu
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia terletak di antara tiga lempeng aktif dunia, yaitu Lempeng
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia terletak di antara tiga lempeng aktif dunia, yaitu Lempeng Eurasia, Indo-Australia dan Pasifik. Konsekuensi tumbukkan lempeng tersebut mengakibatkan negara
Gunungapi (Volcano)* Pokok Bahasan. Pendahuluan
Pokok Bahasan Gunungapi (Volcano)* Dr. Hendra Grandis Kelompok Keilmuan Geofisika Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB Pusat Mitigasi Bencana ITB *disarikan dari berbagai sumber Pendahuluan
LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 15 TAHUN 2011 TANGGAL : 9 SEPTEMBER 2011 PEDOMAN MITIGASI BENCANA GUNUNGAPI
LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 15 TAHUN 2011 TANGGAL : 9 SEPTEMBER 2011 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang PEDOMAN MITIGASI BENCANA GUNUNGAPI Indonesia adalah negara
Beda antara lava dan lahar
lahar panas arti : endapan bahan lepas (pasir, kerikil, bongkah batu, dsb) di sekitar lubang kepundan gunung api yg bercampur air panas dr dl kawah (yg keluar ketika gunung meletus); LAHAR kata ini berasal
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Erupsi Gunung Merapi tahun 2010 yang lalu adalah letusan terbesar jika dibandingkan dengan erupsi terbesar Gunung Merapi yang pernah ada dalam sejarah yaitu tahun 1872.
Bersama ini dengan hormat disampaikan tentang perkembangan kegiatan G. Sinabung di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara.
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA BADAN GEOLOGI JALAN DIPONEGORO NO. 57 BANDUNG 40122 JALAN JEND. GATOT SUBROTO KAV. 49 JAKARTA 12950 Telepon: 022-7212834, 5228424, 021-5228371
24 November 2013 : 2780/45/BGL.V/2013
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA BADAN GEOLOGI JALAN DIPONEGORO NO. 57 BANDUNG 40122 JALAN JEND. GATOT SUBROTO KAV. 49 JAKARTA 12950 Telepon: 022-7212834, 5228424, 021-5228371
TEKANAN PADA ERUPSI GUNUNG BERAPI
TEKANAN PADA ERUPSI GUNUNG BERAPI ARINI ROSA SINENSIS SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) NURUL HUDA 2017 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG Indonesia dikenal dengan negara yang memiliki
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pattern Recognition Konsep utama dari Pattern Recognition adalah tentang ketidakpastian (uncertainty) (Bishop, 2006). Pattern Recognition disebut juga sebagai proses klasifikasi
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Gunung Merapi merupakan gunung api tipe strato, dengan ketinggian 2.980 meter dari permukaan laut. Secara geografis terletak pada posisi 7 32 31 Lintang Selatan dan
4.12. G. ROKATENDA, Nusa Tenggara Timur
4.12. G. ROKATENDA, Nusa Tenggara Timur Puncak G. Rokatenda dilihat dari laut arah selatan P. Palue (Agustus 2008) KETERANGAN UMUM Nama : G. Rokatenda Nama Kawah : Ada dua buah kawah dan tiga buah kubah
ERUPSI G. KARANGETANG 2007 DAN PERKIRAAN KEDALAMAN SUMBER TEKANAN BERDASARKAN DATA ELECTRONIC DISTANCE MEASUREMENT (EDM)
ERUPSI G. KARANGETANG 7 DAN PERKIRAAN KEDALAMAN SUMBER TEKANAN BERDASARKAN DATA ELECTRONIC DISTANCE MEASUREMENT (EDM) CECEP SULAEMAN, IYAN MULYANA, OKTORY PRIAMBADA, AGUS BUDIANTO Pusat Vulkanologi dan
ANALISIS SINYAL SEISMIK TREMOR HARMONIK DAN TREMOR SPASMODIK GUNUNGAPI SEMERU, JAWA TIMUR INDONESIA
ANALISIS SINYAL SEISMIK TREMOR HARMONIK DAN TREMOR SPASMODIK GUNUNGAPI SEMERU, JAWA TIMUR INDONESIA Arin Wildani 1, Sukir Maryanto 2, Adi Susilo 3 1 Program Studi Pendidikan Fisika, FKIP, Universitas Islam
I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara kepulauan tempat dimana tiga lempeng besar dunia
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan tempat dimana tiga lempeng besar dunia bertemu, yaitu lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik. Interaksi antar
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Banyaknya parameter dan banyaknya jenis mekanisme sumber yang belum diketahui secara pasti, dimana parameter tersebut ikut mempengaruhi pola erupsi dan waktu erupsi
1.1. G. PUET SAGOE, NANGGROE ACEH DARUSSALAM
1.1. G. PUET SAGOE, NANGGROE ACEH DARUSSALAM KETERANGAN UMUM Nama Lain : Puet Sague, Puet Sagu atau Ampat Sagi Lokasi a. Geografi Puncak b. Administrasi : : 4 55,5 Lintang Utara dan 96 20 Bujur Timur Kabupaten
BAB I PENDAHULUAN. bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Mitigasi bencana merupakan serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan
Aplikasi Artificial Neural Network (ANN) untuk Memprediksi Perilaku Sumur Geotermal
Aplikasi Artificial Neural Network (ANN) untuk Memprediksi Perilaku Sumur Geotermal Henny Dwi Bhakti 1,a), Acep Purqon 2,b) 1 Program Studi Sains Komputasi, FMIPA ITB Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1046, 2014 KEMENPERA. Bencana Alam. Mitigasi. Perumahan. Pemukiman. Pedoman. PERATURAN MENTERI PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN
SEJARAH LETUSAN GUNUNG MERAPI BERDASARKAN FASIES GUNUNGAPI DI DAERAH ALIRAN SUNGAI BEDOG, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
ISSN 0125-9849 e- ISSN 2354-6638 Ris.Geo.Tam Vol. 22, No.2, Juni 2012 (73-79) DOI: 10.14203/risetgeotam2012.v22.59 SEJARAH LETUSAN GUNUNG MERAPI BERDASARKAN FASIES GUNUNGAPI DI DAERAH ALIRAN SUNGAI BEDOG,
4.14. G. LEWOTOBI LAKI-LAKI, Nusa Tenggara Timur
4.14. G. LEWOTOBI LAKI-LAKI, Nusa Tenggara Timur G. Lewotobi Laki-laki (kiri) dan Perempuan (kanan) KETERANGAN UMUM Nama Lain : Lobetobi, Lewotobi, Lowetobi Lokasi a. Geografi Puncak b. Administratif :
ERUPSI G. SOPUTAN 2007
ERUPSI G. SOPUTAN 2007 AGUS SOLIHIN 1 dan AHMAD BASUKI 2 1 ) Penyelidik Bumi Muda di Bidang Pengamatan dan Penyelidikan Gunungapi 2 ) Penganalisis Seismik di Bidang Pengamatan dan Penyelidikan Gunungapi
Proses Titik Self-Exciting dan Penerapannya pada Data Gempa Bumi di Jawa
Proses Titik Self-Exciting dan Penerapannya pada Data Gempa Bumi di Jawa Winda Haryanto 1*, Hasih Pratiwi 2, dan Ririn Setiyowati 3 1,3 Program Studi Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
DEBIT AIR LIMPASAN SEBAGAI RISIKO BENCANA PERUBAHAN LUAS SUNGAI TUGURARA DI KOTA TERNATE, PROVINSI MALUKU UTARA
DEBIT AIR LIMPASAN SEBAGAI RISIKO BENCANA PERUBAHAN LUAS SUNGAI TUGURARA DI KOTA TERNATE, PROVINSI MALUKU UTARA Julhija Rasai Dosen Fakultas Teknik Pertambangan, Universitas Muhammadiyah Maluku Utara [email protected]
7.4. G. KIE BESI, Maluku Utara
7.4. G. KIE BESI, Maluku Utara G. Kie Besi dilihat dari arah utara, 2009 KETERANGAN UMUM Nama Lain : Wakiong Nama Kawah : Lokasi a. Geografi b. : 0 o 19' LU dan 127 o 24 BT Administrasi : Pulau Makian,
Studi Komputasi Gerak Bouncing Ball pada Vibrasi Permukaan Pantul
Studi Komputasi Gerak Bouncing Ball pada Vibrasi Permukaan Pantul Haerul Jusmar Ibrahim 1,a), Arka Yanitama 1,b), Henny Dwi Bhakti 1,c) dan Sparisoma Viridi 2,d) 1 Program Studi Magister Sains Komputasi,
5.6. G. LEGATALA, Kepulauan Banda, Maluku
5.6. G. LEGATALA, Kepulauan Banda, Maluku Puncak G. Legatala dilihat dari arah Kampung Lesturu, 1978 KETERANGAN UMUM Nama Lain : Serua, Sorek Lokasi a. Geografi b. Administratif : : 6 o 18' Lintang Selatan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia memiliki karakteristik bencana yang kompleks, karena terletak pada tiga lempengan aktif yaitu lempeng Euro-Asia di bagian utara, Indo-Australia di bagian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Secara geografis Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik yaitu lempeng Benua Eurasia, lempeng Samudera Hindia, dan Samudra
MUSEUM GUNUNG KRAKATAU DI ANYER, BANTEN
MUSEUM GUNUNG KRAKATAU DI ANYER, BANTEN MUSEUM GUNUNG KRAKATAU DI ANYER, BANTEN Oleh : Bayu Aditya Perdana, Resza Riskiyanto, Djoko Indrosaptono Gunung Krakatau terletak ditengah laut. Tepatnya di Selat
4.20. G. BATUTARA, Nusa Tenggara Timur
4.20. G. BATUTARA, Nusa Tenggara Timur KETERANGAN UMUM Nama Lain : Pulu Komba, Pulu Kambing II, Pulu Betah Nama Kawah Tipe Gunungapi Lokasi Geografis Lokasi Administrasi : Batutara terletak di pulau berbentuk
