TRANSPORTASI VERTIKAL
|
|
|
- Susanto Salim
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 MEKANIKAL UNTUK BANGUNAN GEDUNG TRANSPORTASI VERTIKAL Dr. SUKAMTA, S.T., M.T. PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK UIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA 2015
2 Alat Transportasi Vertikal Lift, Tangga Umum dan Darurat Alat transportasi bangunan merupakan alat yang menunjang dan memfasilitasi sirkulasi di dalam suatu bangunan gedung,terutama gedung berlantai banyak. Selain itu alat transportasi merupakan sarana Prasarana yang memperlancar pergerakan manusia di dalam bangunan tersebut. Transportasi pada bangunan dapat dibagi secara vertical dan horizontal sertamanual dan mekanis
3 Transportasi Secara Vertikal dan Horizontal Transportasi vertical adalah metoda transportasi digunakan untukmengangkut suatu benda atau manusia dari bawah ke atas ataupun sebaliknya. Ada berbagai macam tipe transportasi vertical, di antaranya tangga, lift, travator, escalator, dan lain-lain.
4 Transportasi Manual dan Mekanis Transportasi Manual Sistem transportasi ini disebut juga dengan sistem transportasitanpa mesin. Sehingga sistem transportasi yang dipakai berupa tanggadan ramps. Sistem ini pun tidak perlu mengeluarkan banyak biayaseperti pada sistem mekanis.
5 Transportasi Manual dan Mekanis Transportasi Mekanis Berbeda dengan sistem manual, sistem transportasi ini disebut juga dengan sistem transportasi alat / mesin. Sistem ini tentunya akanmengeluarkan banyak biaya, diantaranya saat pemesanan,operasionalnya sehari- hari dan biaya untuk perawatannya. Sistemtransportasi mekanis ini berupa eskalator, konveyor, lift dan eskalator. BAGIAN BAGIAN A. Tangga Tangga merupakan salah satu alat transportasi dalam bangunanyang menghubungkan antar lantai satu dengan lantai lain dengan systemtransportasi manual. Penggunaan tangga pada bangunan bertingkat lebihdari tiga lantai, biasanya digunakan sebagai tangga darurat.tangga pada umumnya memiliki syarat: 1. Kemiringan sudutnya tidak diperbolehkan lebih dari 38 derajat. 2. Jika jumlah anak tangga lebih dari 12 anak tangga, aka harus menggunakan bordes. 3. Lebar anak tangga untuk satu orang cukup 90 cm, sedangkan untuk dua orang cm. 4. Tinggi balustrade sekitar cm.
6 Perhitungan optrede dan antrede mempengaruhi kenyamanan bagi pengguna tangga agar tidak cepat lelah bagi yang naik dan tidak mudahtergelincir bagi yang turun. Hal ini juga berkaitan dengan estetika dari bangunan itu sendiri.
7 B.Tangga darurat Keriteria dan persyaratan sebuah tangga darurat diantaranya: a. Kemiringan maximum 40 ; b. Letak antar tangga darurat dalam bangunan m (+100 feet) ; c. Dilengkapi penerangan yang cukup dengan listrik cadanganmenggunakan baterai selama listrik bangunan dimatikan karenakeadaan darurat; d. Harus terlindung dengan material tahan api termasuk dinding (beton)dan pintu tahan api(metal); e. Suplai udara segar diatur / dialirkan (menggunakan Exhaust fan atau Smoke Vestibule pada puncak / ujung tangga) sehingga pernafasantidak terganggu; f. Dilengkapi peralatan darurat; g. Pintu pada lantai terbawah terbuka langsung ke arah luar gedung; h. Pada tangga darurat, tiap lantai harus dihubungkan dengan pintumasuk ke dalam ruang tangga tersebut
8 ELEVATOR atau LIFT Lift adalah alat transportasi vertikal yang digunakan untuk mengangkut orang atau barang. Lift terhubung antar lantai dalam bangunan bertingkat secara menerus dengan menggunakan tenaga mesin (mekanik). Umumnya digunakan di gedung-gedung bertingkat tinggi; biasanya lebih dari tiga atau empat lantai. Gedung-gedung yang lebih rendah biasanya hanya mempunyai tangga atau eskalator.
9 Persyaratan Umum Lift / Elevator a. Bangunan lebih dari 3 lantai harus dilengkapi dengan elevator / lift b. Jika menggunakan traction system, dimensi kabel yang dapatdigunkan minimum 12 mm c. Jumlah kabel minimal 3 buah d. Balok pemikul dari baja / beton bertulang e. Rel Lift dari bahan bajaf. f. Saat operasi ruang Lift harus tertutup rapat. g. Lubang masuk lift hanya satu tidak boleh lebih. h. Jarak tepi cabin lift dengan tepi lantai maksimal 4 cmi. i. Tiap lift harus memiliki motor penggerak dan panel kontrol sendiri. j. Dasar lubang lift harus memiliki pondasi kedap airk. k. Pintu otomatisl. l. Panel Control yang jelas pada cabin.
10 Lanjutan, m. Elevator barang tidak diperkenankan menjadi satu dengan tanggadaruratn. n. Elevator berdiri sendiri / satu kesatuan. Tabung lift meneruskepuncak bangunano. o. Ruang mesin lift memiliki ketinggian minimal 2,1 m, terhindar dari petir, air, api.
11 ELEVATOR atau LIFT Lift menurut fungsinya dapat dibagi menjadi empat, yaitu : 1. Lift penumpang, (passanger elevator) digunakan untuk mengangkut manusia 2. Lift barang, (fright elevator) digunakan untuk menngangkut barang 3. Lift uang/ makanan (dumb waiters) 4. Lift pemadam kebakaran (biasanya berfungsi sekaligus sebagai lift barang) Untuk menentukan kriteria perancangan lift penumpang yang perlu diperhatikan adalah : 1. Type dan fungsi dari bangunan 2. Banyaknya lantai 3. Luas tiap lantai 4. Dan intervalnya
12 Sistem penggerak dalam elevator dibedakan dalam : Sistem gearless Yaitu mesin yang berada diatas, untuk perkantoran, hotel, apartemen, rumah sakit dan sebagainya (sekarang ada juga lift yang mesinnya disamping). Sistem hydrolic Yaitu mesin dibawah, hanya terbatas pada 3-4 lantai, biasanya digunakan untuk lift makanan dan uang. Sekarang system hydrolic juga dipakai untuk penumpang manusia contoh di Bandara Kuala Lumpur. Rumah lift dapat dibagi dalam 3 bagian yaitu : Lift pit Merupakan tempat pemberhentian akhir yang paling bawah, berupa buffer sangkar dan buffer beban penyeimbang. Karena letaknya yang paling bawah, harus dibuat dari dinding kedap air. Ruang luncur (hoistway) Tempat meluncurnya sangkar/kereta lift, terdapat pintu2 masuk ke kereta lift, tempat meluncurnya beban penyeimbang, meletakkan rel peluncur dan beban penyeimbang. Ruang mesin Tempat meletakkan mesin/ motor traksi lift, dan tempat control panel (yang mengatur jalannya kereta)
13 Macam-Macam Elevator / Lift Bentuk dan macam lift tergantung pada fungsi dan kegunaan gedung 1. Lift Penumpang (yang tertutup) Lift yang sering kita jumpai di kantor keempat sisinya tertutup dan disesuaikan dengan kebutuhan standart. 2. Lift Penumpang (yang transparan) Lift yang salah satu atau semua sisi interiornya tembus pandang (kaca) biasanya disebut juga lift panorama. Dalam gedung (mall, pusat perbelanjaan) biasanya diletakkan di Hall 3. Lift untuk Rumah Sakit Karena fungsinya untuk RS maka dimensi besarannya memanjang dengan 2 pintu pada sisinya. Ranjang pasien dapat terakomodasi dengan layak 4. Lift untuk kebakaran (barang) Ruangannya tertutup, interior sederhana, digunakan jika terjadi kebakaran. Interiornya harus tahan kebakaran minimal 2 jam dengan ruang peluncurnya terbuat dari beton (dinding tahan api).
14 Macam-macam Lift / Elevator
15 Eskalator Escalator atau tangga berjalan adalah alat transportasi antarlantai, sebagaimana tangga (manual) yang menghubungkan satu lantaidengan satu lantai yang di atasnya maupun di bawahnya denganmenggunakan system tangga yang berjalan dengan bertenaga/bergerakatas bantuan tenagamesin.. Secara horizontal dibutuhkan ruang cukupluas untuk fasilitas ini, karenanya, Escalator biasa digunakan pada bangunan yang bersifat public seperti mall, bandar udara, dll.
16 Syarat eskalator: a. Dilengkapi dengan railing, b. Tidak ada celah antara lantai dengan anak tangga pada Escalator dan Sebaiknya didesain secara otomatis. PERLETAKAN ESKALATOR: A. Paralel. Diletakkan secara paralel. Perencanaannya lebih menekankansegi arsitektural dan memungkinkan sudut pandang yang luas. B. Cross Over. Perletakan bersilangan secara menerus (naik saja atauturun saja). Kurang efisien dalam sistim sirkulasi tetapi bernilai estetis tinggi. C. Double Cross Over. Perletakan bersilangan antara naik dan turun,sehingga dapat mengangkut penumpang dengan dalam jumlah lebih banyak.
17 PERLETAKAN ESKALATOR:
18 Bangunan-bangunan tinggi dalam Arsitektur tidaklah menjadi hasil karya para Arsitek dan Insinyur struktur saja, tetapi menjadi paduan karya berbagai keahlian antara lain juga Insinyur Mesin, Elektro dan Fisika Teknik, yang merupakan paduan antara karya seni dan Teknologi. PERHITUNGAN ELEVATOR (LIFT) Alat untuk transportasi vertikal dalam bangunan bertingkat adalah lift atau elevator. Hal ini akan memakan volume gedung yang akan menentukan efisiensi gedung. Kriteria kualitas pelayanan elevator adalah : 1. Waktu menunggu (Interval, waiting time) 2. Daya angkut (Handling Capacity) 3. Waktu perjalanan bulak-balik lift (round trip time)
19 2. WAKTU MENUNGGU ( Interval, Waiting Time ) Kesabaran orang untuk menunggu lift tergantung kota dan negara dimana gedung itu ada. Orang-orang dikota besaar lazimnya kurang sabar disbanding dengan orang-orang di kota kecil. Untuk proyek-proyek komersiil perkantoran diperhitungkan waktu menunggu sekitar 30 detik. Waktu menunggu = waktu perjalanan bolak-balik dibagi jumlah lift. Waktu menunggu juga sangat variabel terantung jenis gedung. Contoh-contohnya sebagai berikut : a. Perkantoran detik b. Flat detik c. Hotel detik d. Asrama detik Waktu menunggu minimum adalah sama dengan waktu pengosongan lift ialah kapasitas lift x 1,5 detik per penumpang.
20 3. DAYA ANGKUT LIFT ( Handling Capacity ) Daya angkut lift tergantung dari kapasitas dan frekuensi pemuatannya. Standard daya angkut lift diukur untuk jangka waktu 5 menit jam-jam sibuk (rush-hour). Daya angkut 1 lift dalam 5 menit adalah : 5x60xm 5x60xmxN M = = w T Dimana : m = Kap lift (org) dan daya angkut 75 kg/org T/N. w = Waktu menunggu (waitingtime/interval) dalam detik = 5 M = x 60 T x m
21 4. WAKTU PERJALANAN BOLAK-BALIK LIFT ( Round Trip Time ) Round Trip Time dapat dihitung secara pendekatan, sebab perjalanan lift antar lantai pasti tidak akan mencapai kecepatan yang menjadi kemampuan lift itu sendiri dan pada perjalanan lift non stop, kecepatan kemampuannya baru tercapai setelah lift bergerak beberapa lantai dulu. Waktu perjalanan bolak-balik lift terdiri dari : a. Masuk lift di lantai dasar 1,5 m detik b. Pintu lift menutup kembali 2 detik c. Pintu lift membuka di Setiap lantai tingkat (n-1)2 detik d. Meninggalkan lift di setiap Lantai dalam 1 zone sebanyak (n-1) lantai : (n-1) x m/n-1 x 1,5 detik 1,5 m detik e. Pintu lift menutup kembali disetiap lantai tingkat : (n-2)2 detik. f. Perjalanan bolak-balik dalam 1 zone (2(n-1)h detik s g. Pintu membuka dilantai daras 2 detik Jumlah : T = (2h + 4s)(n -1) s + s(3m + 4) detik
22 Dimana : T = Waktu Perjalanan bolak-balik lift (Round trip time) h = Tinggi Lt s = Kecepatan rata-rata lift n = Jmh Lt dalam 1 zone m = Kapasitas lift 5. Beban Puncak Lift (Peak Load) Beban puncak diperhitungkan berdasarkan pesentasi empiris terhadap jumlah Penghuni gedung, yang diperhitungkan harus terangkat oleh lift-lift dalam 5 menit pertama jam-jam padat (rushhour). Untuk Indonesia persentasi tersebut adalah: a. Perkantoran 4% x Jml penghuni gedung b. Flat 3% x Jml penghuni gedung c. Hotel 5% x Jml penghuni gedung Data-data penaksiran jumlah penghuni gedung : a. Perkantoran 4 m 2 /orang b. Flat 3 m 2 /orang c. Hotel 5 m 2 /orang
23 6. EFISIENSI BANGUNAN ( Building Efficiency ) Efisiensi lantai adalah persentasi luas lantai yang dapat dihuni atau disewakan terhadap luas lantai kotor. Untuk proyek perkantoran adalah : 10 Lantai :.. 85% 20 Lantai : Lantai % Lantai % 30 Lantai : Lantai % Lantai % Lantai % 40 Lantai : Lantai % Lantai % Lantai % Lantai %
24 7. PERHITUNGAN JUMLAH LIFT DALAM 1 ZONE Puncak lift dalam suatu gedung diperhitungkan sebesar P % x Jumlah penghuni gedung atas dasar a m 2 per orang luas lantai netto, maka beban puncak lift : Dimana : L = P P = Persentasi empiris beban puncak lift (%) (a - a" a = Luas lantai kotor/tk (m2) n = Jml lantai k = Luas inti gedung (m2) a = Luas lantai netto/org Sedangkan : Maka: k)n K = 5 x N x m x 0,3 =1,5 m N L = P (a a" - k)n
25 Daya angkut 1 lift dalam 5 menit : 5 x 60 x m 300m M = = w T Daya angkut 1 lift dalam 5 menit : 300 m N M N = T Persamaan : L = MN P (2a - 3 mn)n 300 m N = 2a" T 2 ant P N = 3m (200a" + Dimana : ntp) N = Jumlah lift dalam 1 zone a = Luas lantai kotor per tingkat. P= persentasi jumlah penghuni gedung yang diperhitungkan sebagai beban puncak lift T = waktu perjalanan bolak-balik lift m= kapasitas lift a = luas lantai netto per orang. n = Jumlah lantai dalam 1 zone.
26 8. KORELASI JUMLAH LANTAI DALAM 1 ZONE KAPASITAS LIFT DAN JUMLAH LIFT Daya angkut lift dalam 5 menit : = 5 x 60 x m = 300m M w w Beban puncak lift : = Luas lantai netto dalam1 zone L P% x Luas lantai netto per orang = na' L P a" Dimana : n a adalah luas lantai netto dalam 1 zone. Persamaan : M = L 300 m = a' np w a" Maka : n n N 300 a" m = & a' w P 300 a" m N = a' P T a' n P T = 300 a" m a' nwp 300a"
27 9. SISTEM ZONE BANYAK ( Multi Zone System ) Untuk meningkatkan efisiensi bangunan, orang berusaha memperkecil volume gedung yang dipergunakan untuk sirkulasi vertikal, terutama dalam bangunan tinggi ( lebih dari 20 lantai ). Juga untuk memperpendek waktu perjalanan bolak-balik lift dan waktu menunggu lift terutama di lantai dasar. Untuk tujuan ini orang melakukan Zoning lift artinya pembagian kerja kelompok-kelompok lift, misalnya 4 lift melayani lantai 1-15, 4 lift melayani 16-30, jadi tidak berhenti di lantai Contoh perhitungan : Suatu gedung 30 lantai dengan luas rata-rata a = 1200 m 2, tinggi lantai sampai dengan lantai h = 3,60 m dibagi dalam 2 zone ; zone bawah 15 lantai, dan zone atas 15 lantai. Gedung tersebut direncanakan untuk dilayani oleh lift-lift berkecapatan rata-rata 4 m/detik dan kapasitas m = 20 orang/lift. Perhitungan Zone-2 Waktu perjalanan bolak-balik lift (1-15 non-stop) dengan kecepatan ratarata S 2 =5 m/detik.
28 T = 2(n 1)h (2h 4S )(n 1) S (3m 4) S2 S = 2h(n1 1) (2h 4S 2)(n2 1) S 2(3m 4) T 2 S2 Untuk : h = 3.60 m n 1 = 15 n 2 = 15 S 1 = 3 m/det S 2 = 5 m/det m = 20 org/lift Maka : T 2 = 160,32 detik Beban puncak lift untuk zone-2 : L 2 = n 2 x (2a - 3 m N 2 a" Daya angkut lift dlm 5 menit untuk zone-2 : 300 m M = 2 T 2 N 2 2 )
29 Persamaan : L2=M2 Maka : 2 = 2 an T P N a"m + 3mn T P Untuk : a = 1200 m 2 n 2 = 15 = 160,32 detik T 2 P = 4% a = 4 m 2 /orang m = 20 orang/lift n 2 P (2a - 3m N 2 2a" 2 2 ) 300 m N = T Maka : N 2 = 4 20 orang w 2 = 40,08 detik > w min = 30 detik < w max = 45 detik Perhitungan zone-1 Beban puncak lift untuk zone-1: 2
30 [ + N )] n P 2a - 3m (N = a" n P 2a - 3m (N N = 4; L = a" L 2 + 4) Daya angkut lift dalam zone-1 sebanyak N 1 buah selama 5 menit. 300 m N 1 M = 1 T1 (2h+ 4s) 1 (n - 1 1) + s1 (3m+ 4) Sedangkan : T = 1 1 Persamaan : L 1 =M 1 n P(2a-3m(N + 4) 300mN 1 1 = 1 2a" T 1 2n T P (a - 6 m) N = 1 1 Untuk : 1 3m (200 a" + n T P) 1 1 a = 1200 m 2 n 1 = 15 m = 20 h = 3,60 m s 1 = 3 m/detik a = 4 m 2 /orang P = 4 % T 1 = 153,6 detik s
31 Maka : N 1 = 4 20 org W 1 = 38,4 det > W min = 30 detik < W max = 45 detik Jadi : Zone-1 dan zone-2 masing-masing dilayani 4 20 orang dengan kecepatan rata- rata 3 m/detik dan 5 m/detik. 10. SISTEM ZONE BANYAK DENGAN SKYLOBBY Untuk bangunan yang sangat tinggi dengan jumlah puluhan lantai mendekati 100 lantai atau lebih perlu diadakan penghematan volume inti gedung dengan mengadakan zoning pelayanan elevator ditambah lobby-lobby antara (sky lobby) yangdapat dicapai dari lantai dasar dengan lift-lift express yang langsung menuju skylobby-skylobby tersebut. Skylobby berfungsi sebagai : 1. Lantai perpindahan menuju lift-lift lokal dalam zone di atasnya. 2. Tempat berkumpul sementara (mengungsi) pada waktu ada keadaan darurat. 3. Karena ada lift-lift lokal yang melayani zone-zone, maka diperlukan ruang mesin lift langsung di atasnya.
32 Kebutuhan ruang mesin lift disatukan pula dengan kebutuhan ruang mesin AC, ruang mesin-mesin pompa air, reservoir antara untuk persediaan air bersih dan lain-lain. Ruang mesin tersebut berupa ruang beton tulang yang padat dan kokoh yang berfungsi pula sebagai penghadang menjalarnya kebakaran ke atas. Sedangkan skylobby-sklylobby tersebut terletak di atas ruang-ruang mesin yang kokoh tersebut. Adanya ruang-ruang antara tersebut juga sangat menghemat energi listrik untuk pemompaan air bersih, penghawaan mekanis dan AC dan penghematan rongga-rongga untuk tabung-tabung instalasi listrik, AC maupun pemipaan. Secara struktural, ruang mesin yang kokoh tersebut, pasti dapat menambah ketahanan gedung terhadap gaya-gaya horizontal akibat gempa ataupun angin. PERHITUNGAN JUMLAH LIFT Suatu gedung dengan luas lantai rata rata 2190 m 2 dan jumlah lantai 63 dibagi dalam 5 zone dengan 5 skylobby. Setiap zone mengandung 11 lantai termasuk skylobby
33 1. Perhitungan lift lokal Luas lantai -rata a = 2190 m 2 Jumlah lantai Waktu menunggu n = 10(non Skylobby) w = 30 detik Luas lantai netto a = 1814 m 2 Luas lantai netto/org a = 4 m 2 /org Persentasi penghuni untuk beban puncak lift p = 4% Tinggi lantai s/d lantai Kapasitas lift h = 3,60 m a'n w P m = = 18 0rg/lift 300 a" Kecepatan rata - rata lift Waktu perjalanan bolak - balik lift : s= 3 m/detik. ( )( ) ( ) Jumlah lift lokal: 2h+ 4s n-1 + s 3m+ 4 T = s T = 126,4detik.
34 a'npt N = = 5lift /18org 300a"m 126,4 w = = 25,28det< w min= 1,5m= 27det. 5 Dicoba dengan lift lokal kapasitas 20 org/lift. Diketahui : T= 132,4 det, N= 4 20 org Maka : w= 33 det > w min = 30 det. Jadi setiap zone dilayani lift lokal sebanyak 4 buah dengan kapasitas 20 orang/lift dan kecepatan rata-rata 2 m/detik. 2. Perhitungan lift express a. Untuk mencapai skylobby diatas zone-1. n = 14 s = 2 m/detik h = 3,60 m W minimum = 24 detik W maximum = 45 detik Kapasitas lift = 20 orang/lift.
35 Waktu perjalanan bolak-balik lift : Pintu lift membuka di Lantai dasar Penumpang masuk 1,5 detik/orang = 20 x 1,5 Pintu lift menutup kembali di lantai dasar Pintu lift membuka dan menutup di skylobby Penumpang keluar lift di 1,5 detik/orang Perjalanan bolak-balik lift 2 (14-1) 3,60 2 Beban puncak lift express diatas zone-1: Beban puncak lift lokal : 0,04 x 10 x 1814 Jumlah lift : 4 N a'n P T = 300 a" m N 1814 x 10 x 0,04 x 114,8 = 300 x 4 x 20 Waktu menunggu w 114,8 = 4 = 4 = 28,7 T det = 2 detik =30 detik = 2 detik = 4 detik = 30 detik = 46,8 detik = 114,8 detik
36 Jadi skylobby di atas zone-1 dilayani 4 20 orang. b. Untuk mencapai skylobby di atas zone-2 : n = 26 s = 3,5m/detik h = 3,60 m m = 20 orang/lift w min = 24,3 detik w max = 45 detik Waktu perjalanan bolak-balik lift T : Pintu membuka dan menutup di lantai dasar = 4 detik Pintu lift membuka dan menutup di skylobby = 4 detik Penumpang masuk di lantai dasar = 20 x 1,5 detik = 30 detik Penumpang keluar di skylobby = 20 x 1,5 detik = 30 detik Perjalanan bolak-balik lift = 2(26-1)3,60 = 51,43 detik 3,5 T = 119,43 detik
37 1814 x 10 x 0,04 x 119,43 N = = x 4 x Waktu menunggu w = 4 43 = 29,86 det c. Untuk mencapai skylobby di atas zone - 3 Diketahui : n = 38 s = 5 m/det ik h = 2,60 m m = 20 or ang/lift W min = 24 det ik W max = 45 det ik Waktu perjalanan bolak - balik lift : 0. Pintu membuka dan menutup di lantai dasar = 4 detik 1. Pintu lift membuka dan menutup di skylobby = 4 detik 2. Penumpang masuk di Lt dasar = 20 x 1,5 det ik = 30 detik 3. Penumpang keluar di skylobby = 20 x 1,5 detik = 30 detik 4. Perjalanan bolak - balik lift = 2(38-1)3,60 = 53,28 det ik 5 T =121,28 det ik N = 1814 x 10 x 0,04 x 121,28 = 4 20 orang 300 x 4 x 20 Waktu menunggu w = 121,28 4 = 30,32 detik org
38 d. Untuk mencapai skylobby di atas zone - 4 Diketahui : n = 50 s = 7 m/det ik h = 3,60 m m = 20 orang/lift w min = 24 detik w max= 45 detik Waktu perjalanan bolak-balik lift : 0. Pintu membuka dan menutup di lantai dasar = 4 detik 1. Pintu lift membuka dan menutup di skylobby = 4 detik. 2. Penumpang masuk di lantai dasar = 20 x 1,5 det ik = 30 detik 3. Penumpang keluar lift di skylobby = 20 x 1,5 detik = 30 detik 4. Perjalanan bolak - balik lift = 2 (50-1) 3,60 = 50,4 detik 7 T = 118,4 detik N = 1814 x 10 x 0,04 x 118,4 300 x 4 x 20 = 20 orang w = 118,4 4 = 29,60 detik
39 e. Untuk mencapai skylobby di atas zone -5 Diketahui : n = 62 s = 8,5 m/det ik h = 3,60 m m = 20 or ang/lift w min = 24 det ik w max = 45 det ik Waktu perjalanan bolak- balik lift : 0. Pintu membuka dan menutup di lantai dasar = 4 detik 1. Pintu lift membuka dan menutup di skylobby = 4 detik 2. Penumpang masuk di Lantai dasar= 20 x 1,5 det ik= 30 detik 3. Penumpang keluar lift di skylobby = 20 x 1,5 det ik= 30 detik 4. Perjalanan bolak- - balik lift =2 (62-1) 3,60 = 51,67 detik 8,5 T = 119,67 detik N = 1814x10x 0,04x119,67= 300x 4 x 20 4lift@20org w = 119,67 = 4 29,92detik
40 10. PROYEK PERKANTORAN BENTUK TOWER Perhitungan Lift 2 Zone Jumlah Lantai 30 Data : Luas lantai bertulang/typ ical a = 42 x 42=176 m 2 Kapasitas lift m = 20 orang Kecepatan lift zone - 1 s1 = 3,5 m/det ik Satuan luas kantor/or ang a = 4 m 2/orang Tinggi lantai sama dengan lantai h = 3,60 m Jumlah lantai zone - 1 n1 = 15 Waktu menunggu min imum w 1 = 30 det ik. Waktu perjalanan bolak- balik : Zone-1 T (2h 4s ) (n 1) s (3m 4) 1 = s1 T (2 x 3,6 4 x 3,5) (15-1) (3 20 4) 1 = = 3,5 148,8 detik N 0,8 x1764 x15 x 0,04 x148,8 1 = = 5 lift kap20 orang w 148, x 4 x 20 1 = = 30 detik.
41 Zone -2: n1=15 ; s2= 7 m/det. T = 2(n -1)h (2h + 4s ) (n -1) + s (3m ) s 2 s 2 T = 2(15-1) 3,6 + (2 x3,6+ 4 x7)(15-1) + 7(3x 20x 4) = 148,8detik. N = 0,8 x1764x15 x 0,04 x148,8 = 2 5 lift kapasitas 300 x 4 x orang. w = 148,8 = 2 30 detik 5 Luas lantai produktif total = 30 x 0,8 x 1764 = m 2. Perhitungan Lift 3 Zone dengan 2 Skylobby Jumlah Lantai T otal 45. Perhitungan lift lokal sertiap zone sama dengan sistem 1- zone A 15 lantai, dengan hasil 5 lift kapasitas 20 orang kecepatan 3,5 m/det (700 FPM), waktu menunggu 30 detik. Perhitu ngan lift ekspres di atas -1 zone 0. Jumlah lantai pencapaian lift ekspres ne -1 = Kecepatan lift ekspres se -1 = 4 m/det ik.
42 Waktu perjalanan bolak - balik lift ekspres : Pintu membuka dan menutup di lobby dasar dan skylobby = 8 detik. Penumpang ke luar dan masuk di lobby dan skylobby 2 x 20x 1,5 detik = 60 det ik. 2. Waktu perjalanan bolak - balik = 2 (11-1) 3,60 4 = 18 detik T = 86 det ik Jumlah lift ekspres : N = 11x 0,8x1764x 0,04x 86 = 2 lift A 20org 300x 4 x 20 Waktu menunggu w : w = 86 = 43detik 2 w = 1,5x 20 = min 30 detik Lift ekspres di atas Zone -2 : n E 2 = 26 ; s E 2 = 7 m/det T = 2( ,7 7 1)3,60 + = N w = 15 = x 93,7 3 0,8 x 1764 x 0, x 4 x 20 = 31,2 det 30 x detik detik 93,7 = 3 lift A 20 org
43 Jumlah lift eks pres = 5 Luas lantai produksi = 35 x 0,8 x x 2 x 0,36 x 1764= m 2 (Setiap skybolly mengurangi 2 x 0,64 x 1764 m + 2 x 1764 m2 ) N = 0,75x1764x13 x 0,04x138,8 = 300x 4 x 20 4 lift A 20org w = 138,8 = 4 34,7det. Luas lantai produktif total= 50 x 0,75 x x 2 x 0,36 x 1764= m2 Catatan : Lift ekspres 1 dan 2 masing - masing melayani sebagian penghuni zone -3 dan zone Perhitungan Lift 4 Z one dengan 2 Skylobby Jumlah Lantai T otal 60 Perhitungan lift lokal: Zone - 1 : n=13; s=3 m/det; m=20 T = (2 x 3,6 + 4 x 3) (13-1) + 3(3 x ) = 3 140,8det N = 0,75 x1764 x13 x 0,04 x140,8 = 300 x 4 x 20 4 lift A 20 org w = 140,8 = 4 35,2det.
44 Skema Lift Bangunan Tinggi. Multizone + Skylobby Skylobby M & E n = 60 n = 45 n = 30 Zone-2 : s = 6 m/det; n1= n2; m = 20
45 T 2(13-1)3,6 = 6 = 139,54 det (2 x 3, x 6) (13-1) 6 + 6(3 x ) N 0,75 x 1764 x 13 x 0,04 = 300 x 4 x 20 = 4 lift A 20 org x 139,54 139,54 w = 4 = 34,9 det Lift ekspres di atas zone-2 : N=24; s=2,5 m/det; m=20 2(24-1)3,6 T = 2,5 0,75 x 1764 x 13 x0,04 N = 300 x 4 x 20 = 4 lift A 20 org w 134,24 = = 33,6 det = 134,24 x det 134,24
46 Lift ekspres ke skylobby puncak : n = 60; s = 6 m/det; m = 20 2(60-1)3,6 T = + 68= 138, 8det DAYA LISTRIK UNTUK LIFT Daya listrik yang diperlukan untuk satu kelompok lift sangat tergantung kapasitas, kecepatan dan jumlah lift. Suatu lift dengan kapasitas m dan kecepatan s m/det memerlukan daya: 0,75x mx75xs E = HP = 0,75mskw. 75 Sedangkan faktor kebutuhan daya untuk suatu kelompok lift adalah : lift daya ,52 0,44 0,40 0,35
47 Contoh : Lift dengan kapasitas 3500 lb = 1587,6 kg dan kecepatan 3 m/det memerlukan daya listrik. 0,75 x 1587,6 75 Untuk 5 lift = 0,67 x 5 x 48 HP = 160 HP Catatan : x 3 HP 48 HP 1 orang diperhitungkan 75 kg. Penggunaan daya listrik oleh lift(10 jam/hari): 0,746kw Kwh= 0,20x160HPx x10jam HP = 240 kwh 13. BEBAN PANAS RUANG MESIN LIFT Beban panas ruang mesin lift maximum diperhitungkan 1/3 x jumlah HP Dimana 1 HP = 2500 Btu (1 Btu=0,25 calori). Temperatur ruang mesin lift harus dipertahankan antara o F. Suatu lift dengan kapasitas 2000 lb dan kecepatan 2,5 m/det memerlukan daya Listrik:
48 0,75 x 2000 x 0,4536 x 2,5 HP = 23 HP 75 (1 pound=0,4536 kg; 1 HP = 75 kg m/det; 1 HP = 0,746 KVA) beban panas = 1/3 x 23 x 2500 btu = 19,167 btu 14. LIFT BARANG Setiap gedung bertingkat baik dalam bentuk perkantoran, flat, atau penggunaan campuran dengan gedung komersiil pasti memerlukan sarana sirkulasi vertikal untuk barang disamping untuk orang. Kriteria untuk lift barang yang penting ialah ukuran dan berat barang yang harus diangkut. Perkiraan yang dapat digunakan dalam perencanaan ialah untuk setiap 5 lift orang diperlukan 1 lift barang. Kapasitas lift barang berkisar antara 1-5 ton dengan ukuran dlm antara 1.60 x 2.10 m sampai 3.10 x 4.20 m dan kecepatan bergerak 1,5 2 m/det maximum atau rata-rata 0,25 1 m/detik.
49 Thank You Make Presentation much more fun
PERHITUNGAN BEBAN SIRKULASI VERTIKAL (LIFT)
PERHITUNGAN BEBAN SIRKULASI VERTIKAL (LIFT) Mekanisasi bangunan, terutama bangunan tinggi menjadi hal yang menonjol dengan timbulnya kebutuhan akan gedung-gedung tinggi di seluruh dunia. Bangunan-bangunan
TUGAS BESAR PERANCANGAN SISTEM MEKANIK
TUGAS BESAR PERANCANGAN SISTEM MEKANIK SURVEY DAN ANALISIS LIFT GEDUNG C FEB UNDIP Disusun oleh: Ricky Petra F S- 1 TEKNIK MESIN UNIVERSITAS DIPONEGORO 2016 Lift Gedung C FEB Universitas Diponegoro Semarang
BAB IV PEMBAHASAN DAN ANALISIS
BAB IV PEMBAHASAN DAN ANALISIS 4.1 Jumlah Populasi penghuni dalam Gedung Apartemen 17 Lantai Gambar 4.1 Data asumsi perhitungan jumlah populasi (Dokumen Pribadi) Pada gambar 4.1 diatas merupakan perkiraan
Perencanaan Lift Hotel Bertingkat Tiga Puluh Berdasarkan SNI Nomor:
Perencanaan Lift Hotel Bertingkat Tiga Puluh Berdasarkan SNI Nomor: 03-6573-2001 Ahmad Zayadi Cahyono HP Masyhudi Program Studi Teknik Mesin Fakultas Teknik dan Sains Universitas Nasional Jakarta Korespondensi:
Jenis transportasi vertikal. 1. elevator/lift 2. Gondola 3. Dumb waiters
Jenis transportasi vertikal 1. elevator/lift 2. Gondola 3. Dumb waiters Tranportasi vertikal Elevator Kriteria kualitas pelayanan elevator adalah : 1. Waktu menunggu (Interval, Waiting time) 2. Daya angkut
Bagian IV: SISTEM TRANSPORTASI
Bagian IV: SISTEM TRANSPORTASI PENGERTIAN Alat transportasi dalam bangunan merupakan alat yang menunjang atau memberi fasilitas sirkulasi dalam bangunan gedung bertingkat, serta merupakan sarana prasarana
MAKALAH ELEVATOR (LIFT) Disusun oleh: Jhon Fetra Sitepu Miftahudin TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
MAKALAH ELEVATOR (LIFT) Disusun oleh: Jhon Fetra Sitepu 413111100 Miftahudin 41311110058 TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS MERCU BUANA JAKARTA 2014/2015 PENGENALAN ELEVATOR I. SEJARAH
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sekarang ini banyak bangunan atau gedung (perkantoran, apartemen, instansi, hotel berbintang, trade center, dan lainnya) yang dibangun dengan konsep luas dan ketinggian
ANALISIS KEBUTUHAN ELEVATOR PADA GEDUNG GRHA WIDYA MARANATHA
ANALISIS KEBUTUHAN ELEVATOR PADA GEDUNG GRHA WIDYA MARANATHA INDRA DWI GUNA 0221074 Pembimbing : Yohanes Lim D. Adianto, Ir.,MT UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK SIPIL BANDUNG
OPTIMASI PERHITUNGAN ULANG KEBUTUHAN LIFT PENUMPANG TYPE IRIS1-NV PA 20 (1350) CO105 PADA GEDUNG APARTEMEN 17 LANTAI
23 JTM Vol. 05, No. 1, Juni 2016 OPTIMASI PERHITUNGAN ULANG KEBUTUHAN LIFT PENUMPANG TYPE IRIS1-NV PA 20 (1350) CO105 PADA GEDUNG APARTEMEN 17 LANTAI Andri Sulistyo Program Studi Teknik Mesin, Fakultas
Program pemeliharaan. Proses pemeliharaan. Staf pemeliharaan. Catatan hasil pemeliharaan
32 BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN 4.1 ALUR PROSES Berikut diagram alir proses perawatan dan pemeliharaan Jadwal pemeliharaan Program pemeliharaan Pemeliharaan mingguan Staf pemeliharaan Proses pemeliharaan
BAB III METODE PERHITUNGAN
BAB III METODE PERHITUNGAN 3.1 Pengertian Optimasi Secara umum optimasi adalah berarti pencarian nilai terbaik (minimum atau maksimum) dari beberapa fungsi yang diberikan pada suatu konteks. Optimasi juga
SISTEM PENANGGULANGAN BAHAYA KEBAKARAN I
Pertemuan ke-12 Materi Perkuliahan : Sistem penanggulangan bahaya kebakaran 1 (Sistem deteksi kebakaran, fire alarm, fire escape) SISTEM PENANGGULANGAN BAHAYA KEBAKARAN I Kebakaran adalah bahaya yang diakibatkan
SISTEM TRANSPORTASI PADA BANGUNAN. Disiapkan Oleh: Muhammad Iqbal, ST., M.Sc Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Malikussaleh Tahun 2015
SISTEM TRANSPORTASI PADA BANGUNAN Disiapkan Oleh: Muhammad Iqbal, ST., M.Sc Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Malikussaleh Tahun 2015 SISTEM TRANSPORTASI PADA BANGUNAN Sistem Transportasi pada bangunan,
UTILITAS 02 PROGRAM STUDI TEKNIK ARSITEKTUR UNIVERSITAS GUNADARMA
UTILITAS 02 PROGRAM STUDI TEKNIK ARSITEKTUR UNIVERSITAS GUNADARMA Veronika Widi Prabawasari adalah angkutan transportasi vertikal yang digunakan untuk mengangkut orang atau barang. Lift umumnya digunakan
BAB V KONSEP PERENCANAAN
BAB V KONSEP PERENCANAAN 5.1. Dasar Perencanaan Dalam perencanaan rumah susun bersubsidi kriteria utama yang diterapkan adalah : Dapat mencapai kenyamanan di dalam ruang bangunan yang berada pada iklim
Pengertian struktur. Macam-macam struktur. 1. Struktur Rangka. Pengertian :
Pengertian struktur Struktur adalah sarana untuk menyalurkan beban dalam bangunan ke dalam tanah. Fungsi struktur dalam bangunan adalah untuk melindungi suatu ruang tertentu terhadap iklim, bahayabahaya
TUGAS MEKATRONIKA SISTEM LIFT
TUGAS MEKATRONIKA SISTEM LIFT Di susun oleh: 1. Kevin Adelin (L2F009059) 2. Rohmat Hidayat (L2F009064) 3. Alga Bagas S (L2F009065) 4. Adhi Warsito (L2F009077) JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS
BAB IV KONSEP. 4.1 Ide Awal
BAB IV KONSEP 4.1 Ide Awal Kawasan Manggarai, menurut rencana pemprov DKI Jakarta akan dijadikan sebagai kawasan perekonomian yang baru dengan kelengkapan berbagai fasilitas. Fasilitas utama pada kawasan
BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 6.1 Program Dasar Perencanaan 6.1.1. Program Ruang Jenis ruang dan kebutuhan luasan ruang kelompok utama Pusat Informasi Budaya Baduy dapat dilihat pada tabel
BAB V LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR STASIUN INTERMODA DI TANGERANG
BAB V LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR STASIUN INTERMODA DI TANGERANG 5.1 KONSEP DASAR PERENCANAAN Berdasarkan dari uraian bab sebelumnya mengenai analisis dan pemikiran didasarkan
BAB V KONSEP PERENCANAAN
BAB V KONSEP PERENCANAAN 5.1. Konsep Dasar Dari Tema Perancangan Pusat Data & Informasi Bencana Alam ini menggunakan konsep bentuk menjadikan ekspresi yang mengarah kepada arsitekturalnya, tentunya dengan
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1 Konsep Dasar Perancangan V.1.1 Konsep Manusia Pelaku Kegiatan No. Pelaku 1. Penghuni/Pemilik Rumah Susun 2. Pengunjung Rumah Susun 3. Pengunjung Pasar Tradisional
INTI BANGUNAN. Pertemuan 14: 7 Desember 2009
INTI BANGUNAN Pertemuan 14: 7 Desember 2009 Pendahuluan Inti bangunan (core) adalah bagian dari bangunan bertingkat yang merupakan area atau tempat berkumpulnya fungsifungsi ruang tertentu, jaringan, instalasi,
kondisi jalur di pusat perbelanjaan di jantung kota Yogyakarta ini kurang BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
kondisi jalur di pusat perbelanjaan di jantung kota Yogyakarta ini kurang memadai. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Penelitian ini telah melakukan evaluasi terhadap kondisi jalur evakuasi darurat
SISTEM STRUKTUR PADA BANGUNAN GEDUNG BERTINGKAT
SISTEM STRUKTUR PADA BANGUNAN GEDUNG BERTINGKAT Unknown Add Comment Arsitek, sipil Sistem struktur pada bangunan gedung secara garis besar menggunakan beberapa sistem utama seperti dibawah berikut ini
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. V. 1 Konsep Dasar Perencanaan dan Perancangan. mengenai isu krisis energi dan pemanasan global.
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V. 1 Konsep Dasar Perencanaan dan Perancangan Konsep dasar perancangan kostel ini yaitu untuk memenuhi kebutuhan hunian bagi mahasiswa Binus University, khususnya
ANALISIS KELAYAKAN ELEVATOR STUDI KASUS HOTEL GRAND TJOKRO DAN MATARAM CITY YOGYAKARTA
ABSTRACT ANALISIS KELAYAKAN ELEVATOR STUDI KASUS HOTEL GRAND TJOKRO DAN MATARAM CITY YOGYAKARTA Achmad Syaifudin 1, Sumardjito 2 1,2 Jurusan Pendidikan Teknik Sipil dan Perencanaan FT-UNY [email protected]
ALAT PENGANGKAT CRANE INDRA IRAWAN
INDRA IRAWAN - 075524046 ALAT PENGANGKAT CRANE Crane adalah alat pengangkat yang pada umumnya dilengkapi dengan drum tali baja, tali baja dan rantai yang dapat digunakan untuk mengangkat dan menurunkan
SISTEM TRANSPORTASI PADA BANGUNAN
SISTEM TRANSPORTASI PADA BANGUNAN SEBAGAI TUGAS MATA KULIAH UTILITAS BANGUNAN DOSEN : Ir. Edi Hari Purnomo, MT OLEH : MARDIAN SANJAYA (08106100 ) WAHYU RESTRIONO (0810610022) ARIF LUKITO (0810610033) AYU
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1. Dasar Perencanaan dan Perancangan Arsitektur Tropis merupakan salah satu bentuk arsitektur yang dapat memahami kondisi iklim tropis beserta permasalahannya.
BAB IV: KONSEP Pendekatan Aspek Kinerja Sistem Pencahayaan Sistem Penghawaan Sistem Jaringan Air Bersih
BAB IV: KONSEP 4.1. Pendekatan Aspek Kinerja 4.1.1. Sistem Pencahayaan System pencahayaan yang digunakan yaitu system pencahayaan alami dan buatan dengan presentase penggunaan sebagai berikut : a. Pencahayaan
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1 Konsep Perencanaan dan Perancangan V.1.1 Topik dan Tema Proyek Hotel Kapsul ini menggunakan pendekatan sustainable design sebagai dasar perencanaan dan perancangan.
BAB V PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. Pelatihan
BAB V PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 5.1 Konsep Perancangan 5.1.1 Aspek Fungsional Pengelompokan berdasarkan area aktivitas besar : Pelatihan pelatihan kerja (teori&praktek) uji sertifikasi,informasi
BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN KAMPUS II PONDOK PESANTREN MODERN FUTUHIYYAH DI MRANGGEN
BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN KAMPUS II PONDOK PESANTREN MODERN FUTUHIYYAH DI MRANGGEN 5.1. Program Dasar perencanaan Program dasar perencanaan pada kampus II Pondok Pesantren Futuhiyyah terdiri
Bab V. PROGRAM PERENCANAAN dan PERANCANGAN MARKAS PUSAT DINAS KEBAKARAN SEMARANG. No Kelompok Kegiatan Luas
Bab V PROGRAM PERENCANAAN dan PERANCANGAN MARKAS PUSAT DINAS KEBAKARAN SEMARANG 5.1. Program Dasar Perencanaan 5.1.1. Program Ruang No Kelompok Kegiatan Luas 1 Kegiatan Administrasi ± 1.150 m 2 2 Kegiatan
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1 Dasar Perencanaan dan Perancangan Konsep dasar perancangan hotel kapsul ini adalah menciptakan suatu bangunan yang dapat mewadahi hunian sementara/transit dan
BAB IV KONSEP PERANCANGAN
BAB IV KONSEP PERANCANGAN IV.1 KONSEP TAPAK DAN RUANG LUAR IV.1.1 Pengolahan Tapak dan Ruang Luar Mempertahankan daerah tapak sebagai daerah resapan air. Mempertahankan pohon-pohon besar yang ada disekitar
BAB III TEORI PENUNJANG. penggerak frekuensi variable. KONE Minispace TM
BAB III TEORI PENUNJANG 3.1. KONE MiniSpace TM KONE Minispace TM adalah lift dengan pengimbang menggunakan EcoDisc, motor sinkronisasi tanpa perseneling yang digerakkan oleh suatu penggerak frekuensi variable.
TRANSPORTASI VERTIKAL ESKALATOR TRAVELATOR
UTILITAS 02 TRANSPORTASI VERTIKAL ESKALATOR TRAVELATOR PROGRAM STUDI TEKNIK ARSITEKTUR UNIVERSITAS GUNADARMA Veronika Widi Prabawasari Transportasi Vertikal adalah Moda transportasi digunakan untuk mengangkut
LIFT (ELEVATOR) Berikut yang perlu diketahui tentang lift, antara lain : A. Jenis Jenis Motor Penggerak Lift. 1. Motor Gear
LIFT (ELEVATOR) Lift atau elevator merupakan alat transfortasi vertikal suatu gedung. Lift sekarang ini telah menjadi kebutuhan yang mendasar di gedung gedung pemerintahan, perkantoran, hotel, apartemen,
BAB VI HASIL RANCANGAN. ini merupakan hasil pengambilan keputusan dari hasil analisa dan konsep pada bab
BAB VI HASIL RANCANGAN 6.1 Dasar Rancangan Hasil rancangan pada Perancangan Kompleks Gedung Bisnis Multimedia di Malang ini merupakan hasil pengambilan keputusan dari hasil analisa dan konsep pada bab
BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. Pemikiran yang melandasi perancangan dari proyek Mixed-use Building
BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1. Dasar Perencanaan dan Perancangan Pemikiran yang melandasi perancangan dari proyek Mixed-use Building Rumah Susun dan Pasar ini adalah adanya kebutuhan hunian
PERENCANAAN DAN EVALUASI KINERJA GEDUNG A RUSUNAWA GUNUNGSARI MENGGUNAKAN KONSTRUKSI BAJA BERBASIS KONSEP KINERJA DENGAN METODE PUSHOVER ANALYSIS
TUGAS AKHIR RC09 1380 PERENCANAAN DAN EVALUASI KINERJA GEDUNG A RUSUNAWA GUNUNGSARI MENGGUNAKAN KONSTRUKSI BAJA BERBASIS KONSEP KINERJA DENGAN METODE PUSHOVER ANALYSIS Oleh : RANGGA PRADIKA 3107.100.032
BAB V KONSEP PERANCANGAN CENGKARENG OFFICE PARK KONSEP DASAR PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERANCANGAN V.1. KONSEP DASAR PERANCANGAN Kantor sewa merupakan sebuah area untuk bekerja, dimana banyak orang selalu disuguhkan dengan konsep yang kaku dan cenderung membosankan sehingga
SIRKULASI (VERTIKAL & HORIZONTAL) PADA BANGUNAN BERTINGKAT.
Pertemuan ke-2 dan ke-3 Materi Perkuliahan : Sirkulasi ( vertikal dan horizontal) pada bangunan bertingkat yang berkaitan dengan pergerakan manusia, barang dan kendaraan. Sistem aksesibilitas dari moda
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1 Dasar Perencanaan dan Perancangan V.1.1 Data Proyek Gambar 5.1 RUTRK Tapak Luas Lahan : 10.150 m 2 KDB : 20% x 10.150 m 2 = 2.030 m 2 KLB : 2,5 x 10.150 m 2
BAB III: GAMBARAN UMUM LOKASI STUDI
BAB III: GAMBARAN UMUM LOKASI STUDI 3.1. Deskripsi studi kasus Universitas Mercu Buana didirikan pada 22 Oktober 1985. Sampai saat ini, telah mempunyai 4 kampus yang terdiri dari kampus utama yang dinamakan
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1 Dasar Perencanaan dan Perancangan Arsitektur yang didasarkan dengan perilaku manusia merupakan salah satu bentuk arsitektur yang menggabungkan ilmu pengetahuan
BAB II DISKRIPSI BUKA TUTUP PINTU YANG DIBANGUN. Fungsi lift merupakan alat transportasi pada gedung atau bangunan bertingkat
BAB II DISKRIPSI BUKA TUTUP PINTU YANG DIBANGUN A.2.1 KLASIFIKASI LIFT SECARA UMUM Fungsi lift merupakan alat transportasi pada gedung atau bangunan bertingkat yang dapat digunakan untuk mengangkat orang
BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. dengan lingkungannya yang baru.
BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 5.1 Dasar Perencanaan dan Perancangan Beberapa hal yang menjadi dasar perencanaan dan perancangan Asrama Mahasiwa Bina Nusantara: a. Mahasiswa yang berasal dari
BAB V KESIMPULAN ARSITEKTUR BINUS UNIVERSITY
81 BAB V KESIMPULAN V.1 Dasar Perencanaan dan Perancangan V.1.1 Keterkaitan Konsep dengan Tema dan Topik Konsep dasar pada perancangan ini yaitu penggunaan isu tentang Sustainable architecture atau Environmental
Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung
HALAMAN JUDUL DAFTAR ISI... i BAB 1 PENDAHULUAN... 1-1 1.1. LATAR BELAKANG... 1-1 1.2. PERMASALAHAN UMUM... 1-2 1.3. MAKSUD TUJUAN DAN SASARAN... 1-2 1.3.1. Maksud... 1-2 1.3.2. Tujuan... 1-3 1.3.3. Sasaran...
MODIFIKASI PERENCANAAN GEDUNG PERKANTORAN THE BELLEZZEA OFFICE JAKARTA SELATAN MENGGUNAKAN FLAT SLAB
PRESENTASI TUGAS AKHIR MODIFIKASI PERENCANAAN GEDUNG PERKANTORAN THE BELLEZZEA OFFICE JAKARTA SELATAN MENGGUNAKAN FLAT SLAB Dosen Pembimbing : Endah Wahyuni, ST., MSc., Ph.D Dr.techn Pudjo Aji, ST., MT
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN STUDI BANDING
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i LEMBAR PENGESAHAN... ii KATA PENGANTAR... iii DAFTAR ISI... iv DAFTAR GAMBAR... vii DAFTAR TABEL... ix BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Tujuan dan Sasaran...
BAB II. Bioklimatik Desain. Bioklimatik berasal dari bahasa asing yaitu Bioclimatology. Menurut
BAB II Bioklimatik Desain Bioklimatik berasal dari bahasa asing yaitu Bioclimatology. Menurut Kenneth Yeang Bioclimatology is the study of the relationship between climate and life, particulary the effect
MODIFIKASI PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG RAWAT INAP RUMAH SAKIT DENGAN SISTEM FLAT SLAB DAN SHEAR WALL
TUGAS AKHIR MODIFIKASI PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG RAWAT INAP RUMAH SAKIT DENGAN SISTEM FLAT SLAB DAN SHEAR WALL Mahasiswa : ADE ROSE RAHMAWATI 3111 105 001 Dosen Pembimbing : BAMBANG PISCESA, ST. MT.
PUSAT MODIFIKASI MOBIL BAB V KONSEP PERANCANGAN KONSEP METAFORA PADA BANGUNAN Beban angin pada ban lebih dinamis.
PRODUCED BY AN AUTODESK EDUCATIONALPRODUCT PUSAT MODIFIKASI MOBIL BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1. KONSEP METAFORA PADA BANGUNAN Beban angin pada ban lebih dinamis. Berangkat Dari Ide Ban Kendaraan yang Bersifat
BAB I PENDAHULUAN. vertikal maupun beban puntir yang bekerja padanya. Disain bangunan tinggi harus bersifat flexible untuk pengaturan tata letak,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perencanaan struktur suatu bangunan tinggi dapat ditetapkan bahwa gaya lateral sehubungan dengan gaya angin ataupun gaya gempa merupakan hal yang sangat penting dan
MODIFIKASI STRUKTUR GEDUNG WISMA SEHATI MANOKWARI DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM GANDA
MODIFIKASI STRUKTUR GEDUNG WISMA SEHATI MANOKWARI DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM GANDA Oleh : ELVAN GIRIWANA 3107100026 1 Dosen Pembimbing : TAVIO, ST. MT. Ph.D Ir. IMAN WIMBADI, MS 2 I. PENDAHULUAN I.1 LATAR
Pertemuan 6: SISTEM PENGHAWAAN PADA BANGUNAN
AR-3121: SISTEM BANGUNAN & UTILITAS Pertemuan 6: SISTEM PENGHAWAAN PADA BANGUNAN 12 Oktober 2009 Dr. Sugeng Triyadi PENDAHULUAN Penghawaan pada bangunan berfungsi untuk mencapai kenyamanan thermal. Dipengaruhi:
MODIFIKASI PERENCANAAN GEDUNG APARTEMEN TRILIUM DENGAN METODE PRACETAK (PRECAST) PADA BALOK DAN PELAT MENGGUNAKAN SISTEM RANGKA GEDUNG (BUILDING
MODIFIKASI PERENCANAAN GEDUNG APARTEMEN TRILIUM DENGAN METODE PRACETAK (PRECAST) PADA BALOK DAN PELAT MENGGUNAKAN SISTEM RANGKA GEDUNG (BUILDING FRAME SYSTEM) LATAR BELAKANG Perkembangan industri konstruksi
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1 Konsep Dasar Perancangan V.1.1 Kebutuhan Luas Ruangan Gedung Asrama Putri Ruang Standart Sumber Kapasitas Jumlah Luas (m 2 ) Unit 2 orang 12,25 m 2 / kmr Asumsi
ANALISA KEBUTUHAN DAN MANAJEMEN PEMELIHARAAN ELEVATOR PADA GEDUNG PERUM PERHUTANI UNIT I JAWA TENGAH
ANALISA KEBUTUHAN DAN MANAJEMEN PEMELIHARAAN ELEVATOR PADA GEDUNG PERUM PERHUTANI UNIT I JAWA TENGAH Aisyah Fitri Afifah 1, Tyas Herlintang P. 1, Dianita Ratna K. 1,*, Nugroho Hartono 1 1) Program Studi
BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN STASIUN MRT BLOK M JAKARTA 6.1 Konsep Dasar Dapat ditarik kesimpulan bahwa perencanaan dan perancangan Stasiun MRT Blok M Jakarta ini adalah sebuah bangunan publik
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. disesuaikan dengan tema bangunan yaitu sebuah fasilitas hunian yang
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1 Konsep Dasar Perancangan Dasar dari perancangan Rumah Susun dan Pasar di Jakarta Barat ini disesuaikan dengan tema bangunan yaitu sebuah fasilitas hunian yang
Dasar Dasar Utilitas. Perkuliahan Minggu ke 1
Dasar Dasar Utilitas Perkuliahan Minggu ke 1 Utilitas 1. Mata kuliah ini merupakan mata kuliah kelompok Teknologi Bangunan Arsitektur yang mengoperasionalkan Sistim Bangunan. 2. Agar mahasiswa mempunyai
BAB V KONSEP. Gambar 5.1: Kesimpulan Analisa Pencapaian Pejalan Kaki
BAB V KONSEP 5.1 Konsep Perancangan Tapak 5.1.1 Pencapaian Pejalan Kaki Gambar 5.1: Kesimpulan Analisa Pencapaian Pejalan Kaki Sisi timur dan selatan tapak terdapat jalan utama dan sekunder, untuk memudahkan
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1 Dasar Perencanaan dan Perancangan Arsitektur yang didasarkan dengan perilaku manusia merupakan salah satu bentuk arsitektur yang menggabungkan ilmu pengetahuan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. KONSEP PEMILIHAN JENIS STRUKTUR Pemilihan jenis struktur atas (upper structure) mempunyai hubungan yang erat dengan sistem fungsional gedung. Dalam proses desain
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1 Konsep Perencanaan dan Perancangan Topik dan Tema Proyek wisma atlet ini menggunakan pendekatan behavior/perilaku sebagai dasar perencanaan dan perancangan.
BAB V KONSEP PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERANCANGAN Konsep perancangan pada Perancangan Kembali Citra Muslim Fashion Center menggunakan tema Metafora Intangible Libasuttaqwa. Yang diperoleh dari hasil analisis yang kemudian disimpulkan(sintesis).
BAB IV ANALISA PERENCANAAN
BAB IV ANALISA PERENCANAAN IV.1. Analisa Tapak dan Lingkungan IV.1.1 Data Fisik Tapak PETA LOKASI / SITE Utara - 19 - Data fisik tapak / kondisi tapak saat ini tidak banyak berbeda dengan apa yang akan
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 5.1 Konsep Makro 5.1.1 Site terpilih Gambar 5.1 Site terpilih Sumber : analisis penulis Site terpilih sangat strategis dengan lingkungan kampus/ perguruan tinggi
BAB III LANDASAN TEORI. A. Evaluasi Sistem Proteksi Kebakaran Gedung
A III LANDASAN TEORI A. Evaluasi Sistem Proteksi ebakaran Gedung Evaluasi terhadap sistem proteksi kebakaran dapat dilakukan dengan menggunakan suatu jenis pedoman. Salah satu pedoman yang bisa dipakai
BAB II TINJAUAN UMUM
BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Pengertian Dasar Rusunawa Pembangunan rumah susun merupakan salah satu alternatif pemecahan masalah kebutuhan perumahan dan pemukiman terutama di daerah perkotaan yang jumlah penduduknya
Konstruksi Rangka. Page 1
Konstruksi Rangka o Perwujudan dari pertentangan antara gaya tarik bumi & kekokohan o Komposisi dari kolom kolom (vertikal) & balok-balok (horizontal) o Kolom sbg penyalur beban ke tanah; sedangkan balok
BAB V PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANAGAN
BAB V PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANAGAN 5.1 Program Perencanaan 5.1.1 Program Ruang Tabel 5.1 Program ruang Sumber : Analisa Jenis Ruang Luas Kegiatan Administrasi Kepala Dinas 42,00 Sekretariat
BAB V KONSEP. a. Memberikan ruang terbuka hijau yang cukup besar untuk dijadikan area publik.
BAB V KONSEP 5.1 Konsep Tapak Setelah merangkum hasil dari analisa dan studi tema maka dijadikan acuan untuk mengeluarkan konsep tapak dengan pendekatan ruang publik dengan cara sebagai berikut: a. Memberikan
KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB V PERENCANAAN DAN PERANCANGAN Berdasarkan uraian pada analisa sebelumnya yang didasarkan pada teori dan data, maka langkah selanjutnya adalah menjadikan analisa tersebut ke dalam konsep berupa pernyataan
BAB III: DATA DAN ANALISA
BAB III: DATA DAN ANALISA 3.1. Data Fisik dan Non Fisik 2.1.1. Data Fisik Lokasi Luas Lahan Kategori Proyek Pemilik RTH Sifat Proyek KLB KDB RTH Ketinggian Maks Fasilitas : Jl. Stasiun Lama No. 1 Kelurahan
LOGO POMPA CENTRIF TR UGAL
LOGO POMPA CENTRIFUGAL Dr. Sukamta, S.T., M.T. Pengertian Pompa Pompa merupakan salah satu jenis mesin yang berfungsi untuk memindahkan zat cair dari suatu tempat ke tempat yang diinginkan. Klasifikasi
BAB I PENDAHULUAN. perencana (arsitek, struktur & MEP) dan tim pelaksana (lapangan). Tim perencanaan
BAB I PENDAHULUAN 1. 1. LATAR BELAKANG MASALAH Pada suatu proyek pembangunan gedung bertingkat (high rise building) terdapat tim-tim untuk mendukung suskesnya proyek pembangunan tersebut seperti tim perencana
BAB III DASAR PERANCANGAN LIFT
BAB III DASAR PERANCANGAN LIFT 3.1. Sejarah Perkembangan Lift Elevator atau yang lebih akrab dikenal oleh masyarakat luas dengan nama lift. Lift adalah salah satu alat Bantu dalam kehidupan manusia yang
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah daerah rawan gempa, untuk mengurangi resiko korban
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia adalah daerah rawan gempa, untuk mengurangi resiko korban jiwa akibat bencana gempa perlu suatu konstruksi bangunan yang tahan terhadap gempa. Perencanaan
BAB III METODOLOGI PERENCANAAN
BAB III METODOLOGI PERENCANAAN III.. Gambaran umum Metodologi perencanaan desain struktur atas pada proyek gedung perkantoran yang kami lakukan adalah dengan mempelajari data-data yang ada seperti gambar
PUSAT PERBELANJAAN, KANTOR SEWA DAN APARTEMENT DI MEGA KUNINGAN JAKARTA
JUDUL : PUSAT PERBELANJAAN, KANTOR SEWA DAN APARTEMENT DI MEGA KUNINGAN JAKARTA Nama : Trika Prijayanto NPM : 20399052 Jurusan : Teknik Arsitektur Dosen Pembimbing : 1. Dr. Ing. Dalhar Susanto 2. Agung
JENIS-JENIS LIFT DAN FUNGSINYA
Lift adalah angkutan transportasi vertikal yang digunakan untuk mengangkut orang atau barang. Lift umumnya digunakan di gedung-gedung bertingkat tinggi; biasanya lebih dari tiga atau empat lantai. Gedung-gedung
BAB V KONSEP DASAR DAN PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR
BAB V KONSEP DASAR DAN PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR 5.1. Program Dasar Perencanaan 5.1.1. Program Ruang Pasar Yaik Semarang Program ruang pasar Yaik Semarang berdasarkan hasil studi
BAB V LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR STASIUN KERETA API TAMBUN BEKASI
BAB V LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR STASIUN KERETA API TAMBUN BEKASI 5.1 Konsep Dasar Perencanaan Berdasarkan dari uraian bab sebelumnya tentang analisis maka ditarik kesimpulan
BAB V KONSEP PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERANCANGAN V.1. Konsep Perancangan Makro V.1.1. Konsep Manusia Pelaku kegiatan di dalam apartemen adalah: 1. Penyewa meliputi : o Kelompok orang yang menyewa unit hunian pada apartemen yang
BAB V KONSEP PERANCANGAN ARSITEKTUR
BAB V KONSEP PERANCANGAN ARSITEKTUR 5.1. Konsep Dasar Perancangan 5.1.1. Konsep Kinerja Bangunan 1. Sistem Distribusi Listrik Distribusi listrik berasal dari PLN yang disalurkan ke gardu utama atau trafo.
PERANCANGAN MODIFIKASI STRUKTUR PENUNJANG MEDIS RSUD BOJONEGORO DENGAN SISTEM FLAT-SLAB
PERANCANGAN MODIFIKASI STRUKTUR PENUNJANG MEDIS RSUD BOJONEGORO DENGAN SISTEM FLAT-SLAB DAN SHEARWALL PADA ZONA GEMPA MENENGAH SEBAGAI PENGGANTI SISTEM KONVENSIONAL MUHAMMAD HADID 3109.106.002 DOSEN PEMBIMBING
ANALISIS SISTEM PERAWATAN LIFT GEDUNG MOCH. ICHSAN BALAI KOTA SEMARANG
ANALISIS SISTEM PERAWATAN LIFT GEDUNG MOCH. ICHSAN BALAI KOTA SEMARANG Refinda Rahmadhani 1), Pulung Septian Yahya 1) Nugroho Hartono 2), dan Supriyo 2) 1) Mahasiswa Program Studi Teknik Perawatan dan
USAHA DAN ENERGI. Fisika Dasar / Fisika Terapan Program Studi Teknik Sipil Salmani, ST., MT., MS.
USAHA DAN ENERGI Fisika Dasar / Fisika Terapan Program Studi Teknik Sipil Salmani, ST., MT., MS. SOAL - SOAL : 1. Pada gambar, kita anggap bahwa benda ditarik sepanjang jalan oleh sebuah gaya 75
A. GAMBAR ARSITEKTUR.
A. GAMBAR ARSITEKTUR. Gambar Arsitektur, yaitu gambar deskriptif dari imajinasi pemilik proyek dan visualisasi desain imajinasi tersebut oleh arsitek. Gambar ini menjadi acuan bagi tenaga teknik sipil
Pencapaian pejalan kaki dalam hal ini khususnya para penumpang kendaraan ang
BABIV KONSEP DASAR PERANCANGAN 4.1. KONSEP PERENCANAAN TAPAK 4.1.1. Pencapaian Ke Site/Tapak Pencapaian ke site/tapak Pasar Kota Purbalingga dengan : 1. Pencapaian kendaraan pribadi. Pencapaian ke site
TUGAS AKHIR PERANCANGAN RUMAH SAKIT PENDIDIKAN JATISAMPURNA - BEKASI
TUGAS AKHIR PERANCANGAN RUMAH SAKIT PENDIDIKAN JATISAMPURNA - BEKASI Diajukan sebagai syarat untuk meraih Gelar Sarjana Teknik Arsitektur Strata 1 (S-1) Disusun Oleh : Nama : RUHENDAR NIM : PROGRAM STUDI
Jenis dan besaran ruang dalam bangunan ini sebagai berikut :
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1 Dasar Perencanaan dan Perancangan Pemikiran yang melandasi perancangan mixed use building adalah kebutuhan akan hunian yaitu rumah susun bagi masyarakat menengah
Tabel 5.1. Kapasitas Kelompok Kegiatan Utama. Standar Sumber Luas Total Perpustakaan m 2 /org, DA dan AS 50 m 2
BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN RUMAH AKULTURASI BUDAYA KAMPUNG LAYUR 5.1 Program Dasar Perencanaan 5.1.1. Program Berdasarkan analisa mengenai kebutuhan dan besaran ruang pada Rumah Akulturasi
