PILLAR OF PHYSICS, Vol. 7. April 2016, 33-40

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PILLAR OF PHYSICS, Vol. 7. April 2016, 33-40"

Transkripsi

1 PILLAR OF PHYSICS, Vol. 7. April 2016, IDENTIFIKASI JENIS DAN UKURAN BULIR MINERAL MAGNETIK PADA LINDI TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (TPA) SAMPAH AIR DINGIN KOTA PADANG MENGGUNAKAN METODE X-RAY DIFFRACTION (XRD) Robi Marcian* ), Mahrizal** ), Fatni Mufit ** ) *) Mahasiswa Fisika, FMIPA Universitas Negeri Padang **) Staf Pengajar Jurusan Fisika, FMIPA Universitas Negeri Padang [email protected] ABSTRACT A cities or urban areas having large population growth should be supported by the provision of advice and good infrastructure such as a waste management. Padang municipal waste management is done by the method of removal of garbage from disposal temporary to the final disposal that generate wastewater that leachate emanating from the garbage. Leachate is a liquid yellow, brown or black, and result from the decomposition process due to ingress of water, whether it is rain water or ground water, into a pile of garbage. If not managed properly, the surface of the water used by residents around the landfill is likely contaminated by pollutants called leachate (liquid waste / leachate). Mngetahui This study aims to determine the type and size of magnetic mineral grains in landfill leachate Air Dingin of Padang using X-Ray Difraction (XRD) Characteristing magnetic minerals is done using X-Ray Difraction (XRD) aims to determine the type of magnetic minerals and the size of the grains in the leachate. This study uses nine samples taken from 5 points leachate ponds, 2 points on the river, and 2 points of the gutter landfill Air Dingin of Padang. Samples of leachate pond, river, ditch and first extracted by using methanol bath soap that aims to separate the magnetic and non-magnetic minerals. Type of magnetic minerals can be determined by analyzing the peaks of the intensity of the XRD measurement results using Bragg law, while the grain size can be determined using the equation Scherrer. After analysing, the results showed that each sample contains the same type of mineral is magnetite (Fe3O4) which derived from the source - that is Anthopogenic. Magnetic mineral grain size of samples gutter Final Disposal (TPA) Air Dingin of Padang classified multi-domain (MD). Magnetite has the largest size is μm with an average grain size of lm. Keywords : Leachate, Magnetite, X-Ray Diffraction) PENDAHULUAN Sampah ialah sebagian dari sesuatu yang tidak dipakai, disenangi atau sesuatu yang harus dibuang, yang umumnya berasal dari kegiatan yang dilakukan oleh manusia (termasuk kegiatan industri) dan bersifat padat. Sampah telah menjadi masalah serius bagi setiap perkotaan. Terutama bagi kota yang memiliki tingkat kepadatan penduduk yang cukup tinggi. Kota Padang sebagai Ibukota Sumatera Barat mengalami perkembangan yang cukup pesat. Hal ini dapat dilihat dengan adanya pembangunan kawasan dari arah timur, utara, maupun selatan. Hal ini akan berdampak pada peningkatan jumlah penduduk yang akhirnya akan menambah jumlah sampah yang dihasilkan. Pengelolaan sampah kota Padang dilakukan dengan metode pemindahan sampah dari Tempat Pembuangan Sementara (TPS) ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). TPA Air Dingin Kelurahan Balai Gadang Kecamatan Koto Tangah merupakan tempat pembuangan akhir sampah kota Padang. TPA yang berjarak ±17 km dari pusat kota dengan luas areal 30 ha ini telah beroperasi sejak tahun Selama hampir 22 tahun, TPA ini hanya digunakan untuk menampung sampah tanpa dilengkapi sarana dan fasilitas pengolahan dan pembuangan limbah cair (air lindi) yang baik. Penduduk di sekitar TPA Air Dingin Kelurahan Balai Gadang Kecamatan Koto Tangah terdiri dari ± 100 kepala keluarga (KK). Ada sekitar 40 KK yang tinggal berdekatan dengan TPA. Penduduk tersebut menggunakan air permukaan seperti air sumur dan air sungai untuk air minum, air mandi dan kebutuhan sehari-hari. Lindi merupakan suatu cairan yang berwarna kuning, coklat atau hitam [1] dan timbul akibat proses dekomposisi karena masuknya air, baik itu berupa air hujan ataupun air tanah, ke dalam tumpukan sampah [2]. Cairan ini muncul baik di tempat penampungan sampah terbuka ataupun yang disertai lapisan tanah penutup [3]. Air lindi mengandung bahan organik dan logam berat yang tinggi. Jika tidak dikelola dengan baik air lindi ini merupakan kontributor utama pencemar tanah, air permukaan, dan air tanah di sekitar lokasi kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Defenisi lindi secara umum adalah cairan sampah yang ditimbulkan oleh proses dekomposisi sampah padat dan perkolasi air ke dalam timbunan sampah. Sampah padat dengan kandungan air minimum 25% akan mengalami pembusukan secara organik oleh pengurai menghasilkan lindi sebagai salah satu hasilnya. Lindi yang dihasilkan 33

2 merupakan cairan kotor yang berbau busuk yang berasal dari sampah dan biasanya bewarna kuning, coklat, dan hitam. Cairan ini muncul dari tempat penampungan sampah terbuka ataupun tertutup yang disertai lapisan tanah penutup. Cairan lindi yang dihasilkan juga dipengaruhi oleh faktor cuaca, yaitu tinggi rendahnya curah hujan yang terjadi. Gambar 1. Skema Proses Terjadinya Lindi Gambar 1 diatas memperlihatkan mekanisme masuknya air lindi ke air tanah. Evapotranspirasi merupakan penguapan air yang ada di permukaan bumi ke atmosfer kemudian menjadi awan. Pada keadaan jenuh awan itu akan menjadi bintik-bintik air yang selanjutnya terjadi presipitasi. presipitasi adalah peristiwa klimatik yang bersifat alamiah yaitu perubahan bentuk uap air di atmosfer menjadi curah hujan yang sebagai akibat proses kondensasi [4]. Dapat dikatakan bahwa kualitas air lindi yang dihasilkan akan banyak tergantung pada masuknya air dari luar, sebagian besar dari air hujan, kemiringan permukaan, kondisi iklim, dan sebagainya. Kemampuan tanah dan sampah untuk menahan uap air dan kemudian menguapkannya bila memungkinkan, menyebabkan perhitungan timbulan lindi agak rumit untuk diprakirakan [5]. Penelitian tentang mineral magnetik pada lindi yang terdapat di Jelekong Bandung, yang menunjukkan bahwa mineral magnetik yang terkandung pada lindi adalah magnetite (Fe 3 O 4 ) yang berukuran cukup besar dan memiliki domain jamak (multidomain, MD) [6]. Selain itu, bulir-bulir mineral magnetik lindi cenderung berbentuk bulat atau flamboid sehingga diyakini berasal dari sumbersumber yang bersifat anthropogenic seperti sampah. Mineral magnetik yang bersifat antropogenik mempunyai sifat-sifat magnetik yang berbeda dengan mineral magnetik alamiah, diantaranya sampahsampah bahan industri. Lindi yang diambil dari kolam lindi di sekitar TPA, tidak saja terdiri dari bagian cair tetapi juga mempunyai bagian padat berupa lumpur yang dihasilkan oleh proses pengendapan partikel-partikel padatan yang terikut dalam aliran lindi. Pada hasil pengukuran dengan menggunakan scanning electron microscopice yang mineral magnetik lindi di TPA Air Dingin Kota Padang berasal dari sumber antrophogenic yang menunjukkan bahwa mineral magnetik lebih cenderung berbentuk bulat (spherules) atau framboid sehingga diyakini berasal dari sumber antrophogenic. Selain itu, ukuran bulir mineral magnetik yang terkandung pada lindi TPA Air Dingin Kota Padang termasuk cukup besar yakni > 20 µm, dan termasuk dalam kelompok multidomain [7]. Kelimpahan mineral magnetik di lingkungan ternyata memiliki hubungan yang erat dengan prosesproses pencemaran dan kelimpahannya kemudian dipakai untuk mengestimasi status pencemaran [8]. Sejumlah penelitian yang telah banyak dilakukan sebelumnya membuktikan bahwa semakin tinggi kandungan logam berat, maka makin tinggi pula parameter magnetik, terutama nilai suseptibilitas. Beberapa mineral magnetik yang tergolong ke dalam keluarga oksida titanium besi yaitu magnetite (Fe 3 O 4 ), hematite (α-fe 2 O 3 ) dan maghemite (γ- Fe 2 O 3 ). Mineral-mineral magnetik dari keluarga sulfida besi adalah Greigite (Fe 3 S 4 ) dan phyrhotite (Fe 7 S 8 ), sedangkan yang tergolong dalam hidroksida besi adalah goethite (α-feooh). Keluarga oksida titanium besi merupakan mineral magnetik bumi yang penting karena dianggap sebagai mineralmineral magnetik yang paling dominan. Keluarga oksida ini bisa digambarkan melalui diagram segitiga (ternary diagram) TiO 2 -FeO-Fe 2 O 3 seperti terlihat pada Gambar 2. Gambar 2. Diagram Ternary TiO 2 -FeO-Fe 2 O 3 Posisi dari kiri ke kanan menandakan meningkatnya rasio Fe 3+ terhadap Fe 2+, sementara dari bawah ke atas menandakan peningkatan Ti 4+ terhadap besi. Pada puncak segitiga hanya ditemukan Ti 4+ saja, pada ujung sebelah kiri terdapat ferrous oxide (FeO) dengan bilangan oksidasi yaitu Fe 2+, sementara pada ujung sebelah kanan terdapat ferric oxide (Fe 2 O 3 ) dengan bilangan oksidasi Fe 3+. Pada diagram segitiga ini ada dua kelompok oksida titanium besi Mineral-mineral magnetik pada keluarga oksida titanium besi utama, yaitu kelompok titanomagnetite dan kelompok titanohematite. Titanomagnetite merupakan mineral kubus dengan struktur inverse spinel dan titanohematite dicirikan dengan simetri rhombohedral [9]. Kedua mineral ini 34

3 mempunyai komposisi yang sama tapi berbeda struktur, sebagai contoh maghemite dan hematite, menempati posisi yang sama dalam diagram ternary. Sifat dari mineral magnetik sangat dipengaruhi oleh ukuran bulir magnetik. Ukuran bulir magnetik dari suatu bahan akan mempengaruhi kestabilannya. Perilaku magnetik berdasarkan jenis domain dibagi menjadi tiga bagian yaitu single-domain (SD), multidomain (MD), pseudo-single domain (PSD). [10] Single-domain adalah domain tunggal yang mempunyai ukuran bulir kecil dari 0.1 µm yang momen magnetiknya searah [11]. Untuk multidomain biasanya disebut juga Soft Magnetik, karena sangat mudah dipengaruhi oleh medan luar [12]. Bulir multidomain memiliki ukuran besar dari 10 µm. Selain bulir-bulir single-domain dan multidomain, ada juga bulir-bulir yang berukuran transisi. Bulirbulir ini disebut dengan bulir berdomain tunggal semu atau pseudo-single domain (PSD). Interval ukuran bulir PSD untuk magnetite adalah µm. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis dan ukuran bulir mineral magnetik pada lindi tempat pembuangan akhir (TPA) sampah Air Dingin kota Padang dengan menggunakan metode X-Ray Difraction (XRD). METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian dasar yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan ilmiah atau menemukan bidang penelitian baru tanpa suatu tujuan praktis tertentu. Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh dari hasil X-ray Diffraction (XRD). Hasil penelitian ini tidak hanya sampai pada pengumpulan dan penyusunan data tetapi mencakup analisis dan interpretasi data. Gambar 3. Peta Lokasi Pengambilan Sampel Lindi di TPA Sungai Air Dingin kota Padang Gambar 4. Gambar Sketsa Kolam Tempat Pengambilan Sampel TPA Air Dingin Kota Padang. Prosedur penelitian dilakukan dalam beberapa tahap yaitu: Pengambilan Sampel Sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah lindi (leachate), sungai dan selokan yang diambil dari TPA Air Dingin di Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah, Padang. Sampel lindi diambil di kolam tempat penampungan lindi (leachate), dimana kolam tersebut berjumlah 8 buah kolam. Sampel diambil dengan 5 titik yaitu titik A, B, C, D, dan E untuk kolam 2, 3, 4, 5, 6, 7 dan 8 sedangkan untuk kolam 1 diambil 3 titik A, B dan C saja, karena ukuran kolamnya yang kecil dibandingkan kolam yang lainnya. Sedangkan untuk sampel sungai di ambil dari sungai dekat kolam penampungan lindi yang berjumlah 16 titik. dan untuk sampel selokan di ambil dari tanah dekat TPA sebanyak 10 titik. Pemilihan Sampel Sampel lindi (leachate) yang berjumlah 37 titik, sampel sungai 16 titik dan selokan 10 titik, sebelum di ukur menggunakan X-Ray Diffractometer (XRD), sampel dikeringkan dengan cara dijemur, diayak dan yang sudah diukur nilai suseptibilitasnya. Setelah dilakukan pengukuran nilai suseptibilitas, sampel diambil yang nilai suseptibilitasnya tinggi karena hal tersebut mengindikasikan tingginya konsentrasi mineralmagnetik yang terdapat pada sampel. Sampel lindi yang di pilih yaitu TPA K-1A dan TPA K-4E untuk kolam, TPA S-0 untuk sungai dan TPA SK-7 untuk selokan, setelah itu baru dilanjutkan dengan proses ekstraksi sampel. 35

4 Ekstraksi Sampel Setelah pemilihan sampel selanjutnya dilakukan proses ektraksi sampel dengan Methanol Soap Bath yaitu sampel lindi, sungai dan selokan diekstraksi dengan sabun deterjen yang bertujuan untuk memisahkan mineral magnetik dengan mineral non magnetik. Busa sabun akan mengikat kotoran berupa tanah, dan mengapung hingga mineral non magnetik terbawa kepermukaan bersama busa sabun [13]. Untuk memutus ikatan busa sabun dengan mineral magnetik yang ikut mengapung ditambahkan sedikit larutan methanol (CH 3 OH). Setelah dilakukan proses pemisahan ini, kemudian mineral magnetik diekstraksi dengan menggunakan sebuah magnet kuat yang dilapisi plastik terlebih dahulu agar semua mineral magnetik yang memiliki sifat magnetik kuat dan lemah dapat ditarik seluruhnya. Proses ini dilakukan berulang kali, sampai bersih dan sampai diperoleh mineral magnetiknya. Pengukuran Sampel dengan Menggunakan XRD Dari hasil ekstraksi diperoleh sampel lindi, sungai dan selokan berupa serbuk, kemudian dikeringkan. Sampel lindi, sungai dan selokan yang sudah berupa serbuk mineral magnetik selanjutnya akan dipreparasi untuk dilakukan analisa lebih lanjut menggunakan XRD. Instrumen X-Ray Diffractometer terdiri atas tiga komponen dasar, yaitu sumber sinar-x, sampel, dan detektor yang terletak pada suatu lingkaran yang sejajar dengan lingkaran fokus. Sudut antara proyeksi sumber sinar-x dan detector adalah, sedangkan sudut antara bidang sampel dan sumber sinar-x adalah. Lingkaran difraktometer berpusat pada sampel dimana sumber sinar-x dan detektor terletak pada keliling lingkaran seperti terlihat pada Gambar 5 berikut ini. Gambar 5.Geometri X-Ray Diffraction (XRD) [14] Penelitian ini menggunakan alat dengan spesifikasi sebagai berikut ini. Tipe alat : XRD XD-610 Phillips Logam sasaran sinar-x : Cu Tegangan dan Arus : 40,0 kvolt, 30,0 ma Rentang sudut yang diambil : 10 o 80 o Pencacahan : 0.02 o Panjang gelombang : 1.54 nm Filter : K α Hasil pengukuran menghasilkan difraktogram yang menyatakan hubungan antara sudut difraksi dengan intensitas sinar-x yang dipantulkan. Hasil pengukuran juga menghasilkan nilai FWHM (Full Width Half Maximum) pada tiap- tiap puncak diffraksi. FWHM merupakan adalah lebar puncak difraksi puncak pada setengah maksimum dari sampel benda uji yang digunakan untik mencari ukuran bulir menggunakan persamaan Scherrer. Jenis mineral magnetik dapat diketahui dengan menganalisis puncak-puncak intensitas tersebut menggunakan hukum Bragg. Berkas sinar datang, normal pada bidang kisi mendifraksi dan sinar terdifraksi selalu berada pada bidang datar. Sudut antara berkas sinar terdifraksi dengan berkas sinar datang selalu sama dengan, yakni sudut Interpretasi data yang didapat dari hasil pengukuran disajikan dalam bentuk grafik. Selanjutnya, data dalam bentuk grafik akan dipindahkan kedalam bentuk tabel, sehingga diperoleh suatu kesimpulan dari penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Hasil pengukuran yang diperoleh dengan x-ray diffractometer sampel endapan kolam lindi,selokan dan sungai di TPA Sampah Air Dingin Kota Pdang adalah berupa intensitas difraksi dengan sudut difraksi tertentu. Data hasil pengukuran berupa sudut difraksi ( ), intensitas difraksi ( ), jarak antar bidang ( ) dan intensitas relatif ( ). Hasil pengukuran berupa difraktogram yang menyatakan hubungan antara intensitas difraksi ( ) dengan sudut difraksi ( ). Difraktogram hasil pengukuran dapat digunakan untuk menentukan jenis mineral yang terkandung pada sampel. Penyelidikan jenis mineral magnetik yang terkandung pada sampel dapat diketahui dengan membandingkan data hasil pengukuran yang diperoleh dengan database mineral. Perbandingan dilakukan dengan mencocokan sudut difraksi ( ) dan intensitas relatif ( ) dari hasil pengukuran dengan database mineral. Intensitas relatif ( ) yang diperoleh dari perbandingan antara intensitas yang signifikan pada sudut difraksi tertentu dengan intensitas yang paling signifikan. Intensitas relatif dan sudut difraksi dari hasil pengukuran dengan database mineral diplot sehingga berbetuk kurva. Kurva yang diperoleh didempetkan sehingga jenis mineral dapat diketahui pada sudut difraksi dan puncak intensitas mineral yang sama. 36

5 Jenis Mineral Magnetik Hasil pengukuran pengukuran x-ray diffractometer 4 sampel yang diambil dari TPA Sampah Air Dingin Kota Padang adalah sebagai berikut: Sampel kolam lindi TPA K-1A Perbandingan hasil pengukuran dengan database mineral menunjukkan bahwa sampel TPA K1-A memiliki kandungan mineral yang bervariasi. Variasi menunjukkan bahwa ada jenis mineral magnetik dan jenis mineral non magnetik yang terkandung pada sampel kolam lindi. Hasil pengidentifikasian jenis mineral yang terkandung pada sampel kolam lindi dapat dilihat pada Tabel 1. Sampel kolam lindi TPA K-4E Perbandingan hasil pengukuran dengan database mineral menunjukkan bahwa sampel TPA K-4E memiliki kandungan mineral yang bervariasi. Variasi menunjukkan bahwa ada jenis mineral magnetik dan jenis mineral non magnetik yang terkandung pada sampel kolam lindi. Hasil pengidentifikasian jenis mineral yang terkandung pada sampel kolam lindi dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Perbandingan Data Hasil Pengukuran TPA K-4E dan Database Mineral. Tabel 1. Perbandingan Data Hasil Pengukuran TPA K1-A dan Database Mineral. Hasil pencocokan diketahui adanya jenis mineral magnetik dan non magnetik yang terkandung pada sampel kolam lindi TPA K1-A. Jenis mineral magnetik yang dapat diketahui yaitu magnetite dan sedangkan jenis mineral non magnetik yaitu calcite dan quartz. Hasil pencocokan jenis mineral magnetik dapat dilihat pada Gambar 6. Dari hasil pencocokan intensitas dan sudut difraksi pada data dengan intensitas dan sudut difraksi mineral. Jenis mineral magnetik yang terkandung pada sampel kolam lindi TPA K-4E adalah magnetite. Jenis mineral non magnetik yang terkandung pada sampel kolam lindi TPA K-4E adalah quartz, Calcium Carbonate dan Silicon Oxide seperti terlihat pada Gambar 7. Gambar 6. Analisa Hasil Pengukuran X-Ray Diffraction Sampel Kolam Lindi TPA K-1A : Magnetite : Calcite : Quartz Gambar 7. Analisa Hasil Pengukuran X-ray Diffraction Sampel Kolam Lindi TPA K-4E dengan Software Hight Score Plus : Magnetite : Quartz Sampel Selokan TPA SK-7 Perbandingan hasil pengukuran dengan database mineral menunjukkan bahwa sampel TPA SK-7memiliki kandungan mineral yang bervariasi. 37

6 Variasi menunjukkan bahwa ada jenis mineral magnetik dan jenis mineral non magnetik yang terkandung pada sampel kolam lindi. Hasil pengidentifikasian jenis mineral yang terkandung pada sampel kolam lindi dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 4. Perbandingan Data Hasil Pengukuran TPA S-0 dan Database Mineral. Tabel 3. Perbandingan Data Hasil Pengukuran TPA SK-7 dan Database Mineral. Dari pencocokan intensitas dan sudut difraksi pada data dengan intensitas dan sudut difraksi mineral. Jenis mineral magnetik yang terkandung sampel selokan TPASK-7 adalah magnetite dan hydrohematite. Jenis mineral non magnetik yang terkandung pada sampel adalah Magnesium silicate seperti terlihat pada terlihat pada Gambar 8. Gambar 9. Analisa Hasil Pengukuran X-Ray Diffraction Sampel Selokan TPA S-0 : Magnetite Hasil pencocokan diketahui hanya ada jenis mineral magnetik yang terkandung pada sampael selokan TPA S-0. Jenis mineral magnetik yang dapat diketahui yaitu magnetite dan iron Oxide. Hasil pencocokan jenis mineral magnetik dapat dilihat pada Gambar 9. Gambar 8. Analisa Hasil Pengukuran X-Ray Diffraction TPASK-7 : Magnetite Sampel Selokan TPA S-0 Perbandingan hasil pengukuran dengan database mineral menunjukkan bahwa sampel TPA S-0 memiliki kandungan mineral yang bervariasi. Variasi menunjukkan bahwa ada jenis mineral magnetik dan jenis mineral non magnetik yang terkandung pada sampel kolam lindi. Hasil pengidentifikasian jenis mineral yang terkandung pada sampel kolam lindi dapat dilihat pada Tabel 4. Ukuran Bulir Mineral Magnetik Sampel Ukuran Bulir mineral berdasarkan hasil pengukuran X-Ray Diffractometer dapat diketahui dengan mnggunakan persamaan. Berdasarkan data 2 dan FWHM dari XRD maka dapat diketahui ukuran bulir mineral penyusun dari sampel Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Air Dingin Kota Padang. Berikut adalah uraian masing- masing sampel. Sampel kolam lindi TPA K-1A Tabel 5 menunjukkan bahwa pada sampel endapan kolam lindi TPA K-1A Magnetite memiliki ukuran bulir µm, Mineral non magnetik yang terkandung pada sampel TPA K-1A yaitu Quartz memiliki rata-rata ukuran bulir µm dan Calcite memiliki rata-rata ukuran bulir µm. 38

7 Tabel 5. Ukuran Bulir Kristal Endapan Kolam Lindi TPA K-1A Tabel 7. Ukuran Bulir Kristal Endapan Kolam Lindi Sampel kolam lindi TPA K-4E Dari Tabel 6 diketahui bahwa mineral magnetik yang terkandung pada sampel endapan kolam lindi TPA K-4E yaitu Magnetite yang memiliki rata- rata ukuran bulir µm. Mineral non magnetik yang terdapat pada sampel TPA K-4E adalah Quartz yang memiliki ukuran bulir rata-rata µm, Calcium Carbonate yang memiliki ratarata ukuran bulir dan Silicon Oxide yang memiliki rata-rata ukuran bulir Sampel Selokan TPA S-0 Tabel 8. Ukuran Bulir Kristal Endapan Kolam Lindi Tabel 6. Ukuran Bulir Kristal Endapan Kolam Lindi TPA K-4E Tabel 8 menunjukkan bahwa jenis mineral magnetik yang terkandung pada sampel endapan sungai TPA S-0 yaitu Magnetite yang memilik ratarata ukuran bulir 40 µm. Sampel Selokan TPA SK-7 Tabel 7 diketahui bahwa mineral magnetik yang terkandung pada sampel endapan selokan TPA SK-7 memiliki rata- rata ukuran bulir µm. Mineral non magnetik yang terdapat pada sampel TPA SK-7 adalah Hydrohematite (NR) yang memiliki ukuran bulir µm dan Magnesium Silicate yang memiliki rata-rata ukuran bulir PEMBAHASAN Jenis Mineral Magnetik Penentuan jenis mineral magnetik dari hasil pengukuran dapat diperoleh dengan membandingkan hasil pengukuran dengan database mineral dan menggunakan software Hight Score Plus. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa adanya mineral magnetite yang ditemukan pada sampel kolam lindi, sungai dan selokan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Air Dingin Kota Padang. Pada sampel kolam lindi ditemukan mineral magnetite pada seluruh sampel yaitu TPA K-1A dan TPA K-4E yang berasal dari cairan lindi. Ini diduga merupakan mineral magnetik antropogenik yang berasal dari sisa- sisa sampah. Sedangkan pada sampel sungai TPA S-0 mineral magnetite lebih dominan karena sampel telah bercampur dengan mineral magnetik yang berasal dari tanah. Sampel sungai TPA S-0 lebih banyak mengandung mineral magnetite dari pada sa,pel lain karena sampel TPA S- 0 terletak berdekatan dengan saluran kolam lindi. Pada sampel selokan TPA SK-7 juga ditemukan mineral magnetite pada sampel. Pada sampel TPA SK-7 ditemukan mineral magnetite yang lebih banyak karena sampel TPA SK-7 terletak lebih dekat dengan sumber tempat pembuangan sampah jika dibandingkan sampel lain. 39

8 Ukuran Bulir Perhitungan ukuran bulir mineral magnetik terhadap sampel Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Air Dingin Kota Padang menggunakan persamaan 7. Diketahui bahwa ukuran bulir Magnetite memiliki ukuran terbesar yaitu 193,25 µm dengan rata-rata ukuran bulir 63,90 µm yang tergolong dalam ukuran multi-domain (MD). Hasil ini sama dengan yang didapatkan pada penelitian tentang mineral magnetik pada lindi yang terdapat di Jelekong Bandung, yang menunjukkan bahwa mineral magnetik yang terkandung pada lindi adalah magnetite (Fe 3 O 4 ) yang berukuran cukup besar dan memiliki domain jamak (multidomain, MD). Selain itu, bulir-bulir mineral magnetik lindi cenderung berbentuk bulat atau flamboid sehingga diyakini berasal dari sumber-sumber yang bersifat anthropogenic seperti sampah. KESIMPULAN Berdasarkan analisa data software Hight Score plus dan perbandingan dengan database mineral menunjukkan bahwa setiap sampel memiliki kandungan jenis mineral yang sama yaitu magnetite (Fe 3 O 4 ). Sedangkan mineral non magnetik yang teridentifikasi pada hasil pengukuran disebabkan oleh sampel yang digunakan tidak melewati proses ekstraksi yang baik sehingga mineral nonmagnetik yang terdeteksi x-ray diffractometer berfungsi sebagai pengotor. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa adanya mineral magnetik di kolam, sungai dan selokan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Air Dingin Kota Padang berasal dari sumber- sumber yang bersifat Anthropogenic. Ukuran bulir mineral magnetik sampel selokan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Air Dingin Kota Padang tergolong multi-domain SARAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan sampel yang digunakan harus melewati proses ekstraksi yang maksimal agar memudahkan untuk menemukan jenis mineral magnetik yang terkandung pada sampel. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada kementerian Pendidikan Tinggi (DIKTI) yang telah mendanai penelitian Hibah Bersaing Tahun dengan Judul Penentuan Zona Pencemaran Air Tanah dan Karakterisasi Magnetik Logam Berat Sebagai Polutan Pada Lindi (Leachate) TPA Sampah Menggunakan Metoda Kemagnetan Batuan (Rock Magnetic Methods) dan Geolistrik (Studi Kasus pada TPA Sampah Air Dingin Kota Padang). Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh Tim Peneliti Lindi di TPA Air Dingin Kota Padang. DAFTAR PUSTAKA [1] Zouboulis, A.I., Chai, X.-L., and Katsoyiannis, I.A., 2004, The Application of Bioflocculant for the Removal of Humic Acids from Stabilized Landfill Leachates. Journal of Environmental Management, v. 70, p [2] Christensen, T.H., Kjeldsen, P., Bjerg, P.L., et al Biogeochemistry of Landfill Leachate Plumes, Applied Geochemistry, v. 16, p [3] Aziz, H. A., S. Alias., M. N. Adlan., et al Colour Removal from Landfill Leachate by Coagulation and Flocculation Processes. Bioresource Technology, v. 98, p [4] Chay, Asdak Diklat landfilling limbah- FTSL, Pengelolaan Leachate (Lindi). ITB. PenangananLindi.pdf [5] Damanhuri, E Teknik Pembuangan Akhir. Jurusan Teknik Lingkungan. Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan. Institut Teknologi Bandung. [6] Chaparro, M.A.E., Sinitio, A.M., Ramasamy, V., Marinelli, C., Chaparro, M.A.E., Mullainathan, S., dan Murugesan, S. (2008) : Magnetic measurements and pollutans of sediments from Cauvery and Palaru River, India, Environmental Geology, 56, [7] Malita Y.A Karakterisasi Mineral Magnetik Lindi (Leachate) TPA Air Dingin Kota Padang Menggunakan Scanning Electron Microscopice (SEM). FMIPA. Universitas Negeri Padang. Padang. [8] Huliselan, Estavanus Kristian dan Satria Bijaksana Identifikasi Mineral Magnetik pada Lindi (Leachate). Jurnal Geofisika, Vol.2. [9] Evan, M. E., & F, Heller Environment Magnetism Principles and Application of Enviromagnetics. California: Academic Presses. [10] Hunt, C. P Handbook From The Environmental Magnetism Workshop. Minneopolis. University of Minneasota. [11] Butler, R. F Paleomagnetism Magnetic Domains to Geologic Teranes. Boston: Blackwell Scientific Publication. [12] Dunlop, D., & O. Ozdemir Rock Magnetism. USA: Fundamentals and frontiers. Cambridge Universitas Press. [13] Rifai, H, E. Rahman, M. Irvan Ekstraksi Magnetik pada Methanol-Soap Bathed Muds. Palembang: Jurnal Penelitian Sains 14 1(B). [14] Suryanarayana.1998.X-Ray Diffraction A Practical Approach.New York:Plenum Press.Pp

Identifikasi Polutan Dalam Air Permukaan Di Sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Air Dingin Padang

Identifikasi Polutan Dalam Air Permukaan Di Sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Air Dingin Padang Identifikasi Polutan Dalam Air Permukaan Di Sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Air Dingin Padang Arif Budiman, Jernih Wati Zendrato Laboratorium Fisika Bumi Jurusan Fisika FMIPA Universitas Andalas

Lebih terperinci

ANALISA UKURAN BULIR MINERAL MAGNETIK PADA LINDI TPA SAMPAH KOTA PADANG MENGGUNAKAN METODA ANHYSTERETIC REMANENT MAGNETIZATION (ARM)

ANALISA UKURAN BULIR MINERAL MAGNETIK PADA LINDI TPA SAMPAH KOTA PADANG MENGGUNAKAN METODA ANHYSTERETIC REMANENT MAGNETIZATION (ARM) PILLAR OF PHYSICS, Vol. 6. Oktober 2015, 89-96 ANALISA UKURAN BULIR MINERAL MAGNETIK PADA LINDI TPA SAMPAH KOTA PADANG MENGGUNAKAN METODA ANHYSTERETIC REMANENT MAGNETIZATION (ARM) Risaldi Putra* ), Mahrizal**

Lebih terperinci

PILLAR OF PHYSICS, Vol. 1. April 2013, 52-59

PILLAR OF PHYSICS, Vol. 1. April 2013, 52-59 PILLAR OF PHYSICS, Vol. 1. April 2013, 52-59 PENENTUAN JENIS MINERAL MAGNETIK GUANO DARI GUA SOLEK DAN GUA RANTAI KECAMATAN LAREH SAGO HALABAN KABUPATEN LIMA PULUH KOTA MENGGUNAKAN METODE X-RAY DIFFRACTION

Lebih terperinci

KARAKTERISASI MINERAL MAGNETIK LINDI (LEACHATE) TPA AIR DINGIN KOTA PADANG MENGGUNAKAN SCANNING ELECTRON MICROSCOPICE (SEM) dan

KARAKTERISASI MINERAL MAGNETIK LINDI (LEACHATE) TPA AIR DINGIN KOTA PADANG MENGGUNAKAN SCANNING ELECTRON MICROSCOPICE (SEM) dan PILLAR OF PHYSICS, Vol. 5. April 2015, 81-88 KARAKTERISASI MINERAL MAGNETIK LINDI (LEACHATE) TPA AIR DINGIN KOTA PADANG MENGGUNAKAN SCANNING ELECTRON MICROSCOPICE (SEM) Yosi Apri Malita* ), Ratnawulan**

Lebih terperinci

Nilam Sari *), Hamdi Rifai *), Fatni Mufit *) ABSTRACT

Nilam Sari *), Hamdi Rifai *), Fatni Mufit *) ABSTRACT PILLAR OF PHYSICS, Vol. 2. Oktober 2013, 18-25 PENENTUAN UKURAN BULIR DAN JENIS DOMAIN MAGNETIK GUANO DARI GUA RANTAI DAN GUA SOLEK DI KECAMATAN LAREH SAGO HALABAN KABUPATEN 50 KOTA DENGAN METODE ANHYSTERETIC

Lebih terperinci

PENERAPAN METODE ISOTHERMAL REMANENT MAGNETIZATION

PENERAPAN METODE ISOTHERMAL REMANENT MAGNETIZATION PILLAR OF PHYSICS, Vol. 6. Oktober 2015, 65-72 PENERAPAN METODE ISOTHERMAL REMANENT MAGNETIZATION (IRM) UNTUK MENENTUKAN JENIS MINERAL MAGNETIK PADA LINDI DI TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (TPA) AIR DINGIN KOTA

Lebih terperinci

Bab II Tinjauan Pustaka

Bab II Tinjauan Pustaka Bab II Tinjauan Pustaka II.1 Mineral Magnetik Alamiah Mineral magnetik di alam dapat digolongkan dalam keluarga oksida besi-titanium, sulfida besi dan oksihidroksida besi. Keluarga oksida besi-titanium

Lebih terperinci

Afdal, Elio Nora Islami. Jurusan Fisika FMIPA Universitas Andalas, Padang

Afdal, Elio Nora Islami. Jurusan Fisika FMIPA Universitas Andalas, Padang KARAKTERISASI MAGNETIK BATUAN BESI DARI BUKIT BARAMPUANG, NAGARI LOLO, KECAMATAN PANTAI CERMIN, KABUPATEN SOLOK, SUMATERA BARAT (MAGNETIC CHARACTERIZATION OF IRON STONE OF BARAMPUANG HILL, NAGARI LOLO,

Lebih terperinci

Bab IV Hasil dan Pembahasan

Bab IV Hasil dan Pembahasan Bab IV Hasil dan Pembahasan IV.1 Larutan Garam Klorida Besi dari Pasir Besi Hasil reaksi bahan alam pasir besi dengan asam klorida diperoleh larutan yang berwarna coklat kekuningan, seperti ditunjukkan

Lebih terperinci

KAITAN SIFAT MAGNETIK DENGAN TINGKAT KEHITAMAN (DARKNESS) PASIR BESI DI PANTAI MASANG SUMATERA BARAT

KAITAN SIFAT MAGNETIK DENGAN TINGKAT KEHITAMAN (DARKNESS) PASIR BESI DI PANTAI MASANG SUMATERA BARAT KAITAN SIFAT MAGNETIK DENGAN TINGKAT KEHITAMAN (DARKNESS) PASIR BESI DI PANTAI MASANG SUMATERA BARAT Fatni Mufit, Harman Amir, Fadhilah, Satria Bijaksana Jurusan Fisika FMIPA UNP, Jurusan Teknik Pertambangan

Lebih terperinci

PENGARUH TEMPERATUR TERHADAP UKURAN PARTIKEL FE3O4 DENGAN TEMPLATE PEG-2000 MENGGUNAKAN METODE KOPRESIPITASI

PENGARUH TEMPERATUR TERHADAP UKURAN PARTIKEL FE3O4 DENGAN TEMPLATE PEG-2000 MENGGUNAKAN METODE KOPRESIPITASI PENGARUH TEMPERATUR TERHADAP UKURAN PARTIKEL FE3O4 DENGAN TEMPLATE PEG-2000 MENGGUNAKAN METODE KOPRESIPITASI Santi Dewi Rosanti, Dwi Puryanti Jurusan Fisika FMIPA Universitas Andalas Kampus Unand, Limau

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI JENIS MINERAL MAGNETIK GUANO DARI GUA BAU-BAU KALIMANTAN TIMUR MENGGUNAKAN X-RAY DIFFRACTION (XRD)

IDENTIFIKASI JENIS MINERAL MAGNETIK GUANO DARI GUA BAU-BAU KALIMANTAN TIMUR MENGGUNAKAN X-RAY DIFFRACTION (XRD) PILLAR OF PHYSICS, Vol. 4. November 2014, 25-31 IDENTIFIKASI JENIS MINERAL MAGNETIK GUANO DARI GUA BAU-BAU KALIMANTAN TIMUR MENGGUNAKAN X-RAY DIFFRACTION (XRD) Dolla Yuliza Pertama 1) Hamdi 2) Akmam 2)

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI PENCEMARAN AIR PERMUKAAN SUNGAI BY PASS KOTA PADANG DENGAN METODE SUSEPTIBILITAS MAGNET

IDENTIFIKASI PENCEMARAN AIR PERMUKAAN SUNGAI BY PASS KOTA PADANG DENGAN METODE SUSEPTIBILITAS MAGNET IDENTIFIKASI PENCEMARAN AIR PERMUKAAN SUNGAI BY PASS KOTA PADANG DENGAN METODE SUSEPTIBILITAS MAGNET Dwi Puryanti, Rizka Pramita Sari Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI MINERAL MAGNETIK PADA GUANO DI GUA BAU-BAU KALIMANTAN TIMUR MENGGUNAKAN SCANNING ELECTRON MICROSCOPE (SEM)

IDENTIFIKASI MINERAL MAGNETIK PADA GUANO DI GUA BAU-BAU KALIMANTAN TIMUR MENGGUNAKAN SCANNING ELECTRON MICROSCOPE (SEM) PILLAR OF PHYSICS, Vol. 1. April 2014, 97-104 IDENTIFIKASI MINERAL MAGNETIK PADA GUANO DI GUA BAU-BAU KALIMANTAN TIMUR MENGGUNAKAN SCANNING ELECTRON MICROSCOPE (SEM) Tauhida Amalia Sari 1), Hamdi 2), Fatni

Lebih terperinci

Bab III Metodologi Penelitian

Bab III Metodologi Penelitian Bab III Metodologi Penelitian Penelitian yang dilakukan ini menggunakan metode eksperimen. Eksperimen dilakukan di beberapa tempat yaitu Laboratorium Kemagnetan Bahan, Jurusan Fisika, FMIPA Universitas

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI MINERAL MAGNETIK MENGGUNAKAN METODA X-RAY DIFFRACTION (XRD) TERHADAP POLUSI DI KOTA PADANG

IDENTIFIKASI MINERAL MAGNETIK MENGGUNAKAN METODA X-RAY DIFFRACTION (XRD) TERHADAP POLUSI DI KOTA PADANG PILLAR OF PHYSICS, Vol. 7. April 2016, 57-64 IDENTIFIKASI MINERAL MAGNETIK MENGGUNAKAN METODA X-RAY DIFFRACTION (XRD) TERHADAP POLUSI DI KOTA PADANG Catur Krisna Gobah* ), Mahrizal** ), Harman Amir** )

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. didalamnya dilakukan karakterisasi XRD. 20%, 30%, 40%, dan 50%. Kemudian larutan yang dihasilkan diendapkan

HASIL DAN PEMBAHASAN. didalamnya dilakukan karakterisasi XRD. 20%, 30%, 40%, dan 50%. Kemudian larutan yang dihasilkan diendapkan 6 didalamnya dilakukan karakterisasi XRD. 3.3.3 Sintesis Kalsium Fosfat Sintesis kalsium fosfat dalam penelitian ini menggunakan metode sol gel. Senyawa kalsium fosfat diperoleh dengan mencampurkan serbuk

Lebih terperinci

KARAKTERISASI SIFAT MAGNET DAN KANDUNGAN MINERAL PASIR BESI SUNGAI BATANG KURANJI PADANG SUMATERA BARAT

KARAKTERISASI SIFAT MAGNET DAN KANDUNGAN MINERAL PASIR BESI SUNGAI BATANG KURANJI PADANG SUMATERA BARAT KARAKTERISASI SIFAT MAGNET DAN KANDUNGAN MINERAL PASIR BESI SUNGAI BATANG KURANJI PADANG SUMATERA BARAT Afdal & Lusi Niarti Jurusan Fisika FMIPA Universitas Andalas Kampus Unand, Limau Manis, Padang, 25163

Lebih terperinci

Analisa SEM (Scanning Electron Microscopy) dalam Pemantauan Proses Oksidasi Magnetite Menjadi Hematite

Analisa SEM (Scanning Electron Microscopy) dalam Pemantauan Proses Oksidasi Magnetite Menjadi Hematite Rekayasa dan Aplikasi Mesin di Industri Analisa SEM (Scanning Electron Microscopy) dalam Pemantauan Proses Oksidasi Magnetite Menjadi Hematite Nuha Desi Anggraeni Jurusan Mesin, Fakultas Teknologi Industri

Lebih terperinci

Analisa Mineral Magnetik Pasir Sisa Pendulangan Intan di Cempaka, Kota Banjarbaru Berdasarkan Nilai Suseptibilitas Magnetik

Analisa Mineral Magnetik Pasir Sisa Pendulangan Intan di Cempaka, Kota Banjarbaru Berdasarkan Nilai Suseptibilitas Magnetik Analisa Mineral Magnetik Pasir Sisa Pendulangan Intan di Cempaka, Kota Banjarbaru Berdasarkan Nilai Suseptibilitas Magnetik Muhammad Saukani, Sudarningsih dan Totok Wianto Abstrak: Pasir sisa pendulangan

Lebih terperinci

ANALISIS KESUBURAN TANAH DAN RESIDU PEMUPUKAN PADA TANAH DENGAN MENGGUNAKAN METODE KEMAGNETAN BATUAN

ANALISIS KESUBURAN TANAH DAN RESIDU PEMUPUKAN PADA TANAH DENGAN MENGGUNAKAN METODE KEMAGNETAN BATUAN Jurnal Ilmu dan Inovasi Fisika Vol. 01, No. 02 (2017) 52 61 Departemen Fisika FMIPA Universitas Padjadjaran ANALISIS KESUBURAN TANAH DAN RESIDU PEMUPUKAN PADA TANAH DENGAN MENGGUNAKAN METODE KEMAGNETAN

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI MINERAL MAGNETIK ABU TERBANG (FLY ASH) DAN ABU DASAR (BOTTOM ASH) SISA PEMBAKARAN BATUBARA PLTU ASAM-ASAM

IDENTIFIKASI MINERAL MAGNETIK ABU TERBANG (FLY ASH) DAN ABU DASAR (BOTTOM ASH) SISA PEMBAKARAN BATUBARA PLTU ASAM-ASAM IDENTIFIKASI MINERAL MAGNETIK ABU TERBANG (FLY ASH) DAN ABU DASAR (BOTTOM ASH) SISA PEMBAKARAN BATUBARA PLTU ASAM-ASAM Wardatul Husna 1, Sudarningsih 2, dan Totok Wianto 2 Abstrak: Pembakaran batubara

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sampah Sampah dapat didefinisikan sebagai semua buangan yang dihasilkan dari aktivitas manusia dan hewan yang berupa padatan, yang dibuang karena sudah tidak berguna atau diperlukan

Lebih terperinci

PROSES PELAPISAN SERBUK Fe-50at.%Al PADA BAJA KARBON DENGAN PENAMBAHAN Cr MELALUI METODA PEMADUAN MEKANIK SKRIPSI

PROSES PELAPISAN SERBUK Fe-50at.%Al PADA BAJA KARBON DENGAN PENAMBAHAN Cr MELALUI METODA PEMADUAN MEKANIK SKRIPSI PROSES PELAPISAN SERBUK Fe-50at.%Al PADA BAJA KARBON DENGAN PENAMBAHAN Cr MELALUI METODA PEMADUAN MEKANIK SKRIPSI Oleh ARI MAULANA 04 04 04 010 Y SKRIPSI INI DIAJUKAN UNTUK MELENGKAPI SEBAGIAN PERSYARATAN

Lebih terperinci

SIFAT MAGNETIK TANAH DAN DAUN SEBAGAI INDIKATOR PENCEMARAN

SIFAT MAGNETIK TANAH DAN DAUN SEBAGAI INDIKATOR PENCEMARAN DOI: doi.org/10.21009/0305020601 SIFAT MAGNETIK TANAH DAN DAUN SEBAGAI INDIKATOR PENCEMARAN Agum Gumelar Prakoso 1, Riski Darmasetiawan 1 Rahma Andini Pratiwi 1, Bambang Widjatmoko 1, Kartika Hajar Kirana

Lebih terperinci

Identifikasi Kandungan Mineral Magnetik Guano di Gua Solek dan Gua Rantai Menggunakan Metode Scanning Electron Microscope (SEM)

Identifikasi Kandungan Mineral Magnetik Guano di Gua Solek dan Gua Rantai Menggunakan Metode Scanning Electron Microscope (SEM) PILLAR OF PHYSICS, Vol. 2. Oktober 2013, 115-122 Identifikasi Kandungan Mineral Magnetik Guano di Gua Solek dan Gua Rantai Menggunakan Metode Scanning Electron Microscope (SEM) Wardina Nasution, Hamdi

Lebih terperinci

Karakteristik Air Lindi (Leachate) di Tempat Pembuangan Akhir Sampah Air Dingin Kota Padang

Karakteristik Air Lindi (Leachate) di Tempat Pembuangan Akhir Sampah Air Dingin Kota Padang Karakteristik Air Lindi (Leachate) di Tempat Pembuangan Akhir Sampah Air Dingin Kota Padang Resti Nanda Sari*, Afdal Laboratorium Fisika Bumi, Jurusan Fisika, FMIPA, Universitas Andalas Kampus Unand, Limau

Lebih terperinci

4 Hasil dan Pembahasan

4 Hasil dan Pembahasan 4 Hasil dan Pembahasan 4.1 Sintesis Padatan TiO 2 Amorf Proses sintesis padatan TiO 2 amorf ini dimulai dengan melarutkan titanium isopropoksida (TTIP) ke dalam pelarut etanol. Pelarut etanol yang digunakan

Lebih terperinci

Gambar 2.1. momen magnet yang berhubungan dengan (a) orbit elektron (b) perputaran elektron terhadap sumbunya [1]

Gambar 2.1. momen magnet yang berhubungan dengan (a) orbit elektron (b) perputaran elektron terhadap sumbunya [1] BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Momen Magnet Sifat magnetik makroskopik dari material adalah akibat dari momen momen magnet yang berkaitan dengan elektron-elektron individual. Setiap elektron dalam atom mempunyai

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN. 4.1 Karakterisasi Lumpur Sidoarjo

BAB IV PEMBAHASAN. 4.1 Karakterisasi Lumpur Sidoarjo BAB IV PEMBAHASAN Pada bagian ini penulis akan membahas hasil percobaan serta beberapa parameter yang mempengaruhi hasil percobaan. Parameter-parameter yang berpengaruh pada penelitian ini antara lain

Lebih terperinci

SINTESIS DAN KARAKTERISASI XRD MULTIFERROIK BiFeO 3 DIDOPING Pb

SINTESIS DAN KARAKTERISASI XRD MULTIFERROIK BiFeO 3 DIDOPING Pb SINTESIS DAN KARAKTERISASI XRD MULTIFERROIK BiFeO 3 DIDOPING Pb Oleh: Tahta A 1, Darminto 1, Malik A 1 Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya,

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. sol-gel, dan mempelajari aktivitas katalitik Fe 3 O 4 untuk reaksi konversi gas

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. sol-gel, dan mempelajari aktivitas katalitik Fe 3 O 4 untuk reaksi konversi gas IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pengantar Penelitian ini pada intinya dilakukan dengan dua tujuan utama, yakni mempelajari pembuatan katalis Fe 3 O 4 dari substrat Fe 2 O 3 dengan metode solgel, dan mempelajari

Lebih terperinci

sumber daya alam yang tersimpan di setiap daerah. Pengelolaan dan pengembangan

sumber daya alam yang tersimpan di setiap daerah. Pengelolaan dan pengembangan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia memiliki potensi sumber daya mineral yang sangat besar. Sumber daya mineral terbentuk melalui pembentukan pegunungan, aktivitas magma pada gunung api danproses

Lebih terperinci

Tugas Akhir Pemodelan Dan Analisis Kimia Airtanah Dengan Menggunakan Software Modflow Di Daerah Bekas TPA Pasir Impun Bandung, Jawa Barat

Tugas Akhir Pemodelan Dan Analisis Kimia Airtanah Dengan Menggunakan Software Modflow Di Daerah Bekas TPA Pasir Impun Bandung, Jawa Barat BAB V ANALISIS DATA 5.1 Aliran dan Pencemaran Airtanah Aliran airtanah merupakan perantara yang memberikan pengaruh yang terus menerus terhadap lingkungan di sekelilingnya di dalam tanah (Toth, 1984).

Lebih terperinci

ENKAPSULASI NANOPARTIKEL MAGNESIUM FERRITE (MgFe2O4) PADA ADSORPSI LOGAM Cu(II), Fe(II) DAN Ni(II) DALAM LIMBAH CAIR

ENKAPSULASI NANOPARTIKEL MAGNESIUM FERRITE (MgFe2O4) PADA ADSORPSI LOGAM Cu(II), Fe(II) DAN Ni(II) DALAM LIMBAH CAIR ENKAPSULASI NANOPARTIKEL MAGNESIUM FERRITE (MgFe2O4) PADA ADSORPSI LOGAM Cu(II), Fe(II) DAN Ni(II) DALAM LIMBAH CAIR Dibuat Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pilihan Teknologi Nano Oleh : Nama : Dwi Tri

Lebih terperinci

BAB III EKSPERIMEN. 1. Bahan dan Alat

BAB III EKSPERIMEN. 1. Bahan dan Alat BAB III EKSPERIMEN 1. Bahan dan Alat Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini ialah Ca(NO 3 ).4H O (99%) dan (NH 4 ) HPO 4 (99%) sebagai sumber ion kalsium dan fosfat. NaCl (99%), NaHCO 3 (99%),

Lebih terperinci

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sampah merupakan sisa-sisa aktivitas manusia dan lingkungan yang sudah tidak diinginkan lagi keberadaannya. Sampah sudah semestinya dikumpulkan dalam suatu tempat

Lebih terperinci

PRISMA FISIKA, Vol. IV, No. 01 (2016), Hal ISSN :

PRISMA FISIKA, Vol. IV, No. 01 (2016), Hal ISSN : Pemetaan Sebaran Kandungan ph, TDS, dan Konduktivitas Air Sumur Bor (Studi Kasus Kelurahan Sengkuang Kabupaten Sintang Kalimantan Barat) Leonard Sihombing a, Nurhasanah a *, Boni. P. Lapanporo a a Prodi

Lebih terperinci

PENGARUH PEG-2000 TERHADAP UKURAN PARTIKEL Fe 3 O 4 YANG DISINTESIS DENGAN METODE KOPRESIPITASI

PENGARUH PEG-2000 TERHADAP UKURAN PARTIKEL Fe 3 O 4 YANG DISINTESIS DENGAN METODE KOPRESIPITASI PENGARUH PEG-2000 TERHADAP UKURAN PARTIKEL Fe 3 O 4 YANG DISINTESIS DENGAN METODE KOPRESIPITASI Dori Andani, Dwi Puryanti Jurusan Fisika FMIPA Universitas Andalas, Padang Kampus Unand Limau Manis, Pauh

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian yang dilakukan di Kelompok Bidang Bahan Dasar PTNBR-

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian yang dilakukan di Kelompok Bidang Bahan Dasar PTNBR- BAB III METODOLOGI PENELITIAN Penelitian yang dilakukan di Kelompok Bidang Bahan Dasar PTNBR- BATAN Bandung meliputi beberapa tahap yaitu tahap preparasi serbuk, tahap sintesis dan tahap analisis. Meakanisme

Lebih terperinci

ANALISIS KANDUNGAN MINERAL PASIR PANTAI LOSARI KOTA MAKASSAR MENGGUNAKAN XRF DAN XRD.

ANALISIS KANDUNGAN MINERAL PASIR PANTAI LOSARI KOTA MAKASSAR MENGGUNAKAN XRF DAN XRD. 19 ANALISIS KANDUNGAN MINERAL PASIR PANTAI LOSARI KOTA MAKASSAR MENGGUNAKAN XRF DAN XRD Alimin 1,Maryono 2, dan Suriati Eka Putri 3 1,2,3 Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,Universitas Negeri

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Telah disadari bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi harus

BAB I PENDAHULUAN. Telah disadari bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi harus 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Telah disadari bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi harus dibayar oleh umat manusia berupa pencemaran udara. Dewasa ini masalah lingkungan kerap

Lebih terperinci

BAB IV HASIL dan PEMBAHASAN

BAB IV HASIL dan PEMBAHASAN BAB IV HASIL dan PEMBAHASAN 4.1 Sintesis Padatan ZnO dan CuO/ZnO Pada penelitian ini telah disintesis padatan ZnO dan padatan ZnO yang di-doped dengan logam Cu. Doping dengan logam Cu diharapkan mampu

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN Intensitas (arb.unit) Intensitas (arb.unit) Intensitas (arb. unit) Intensitas 7 konstan menggunakan buret. Selama proses presipitasi berlangsung, suhu larutan tetap dikontrol pada 7 o C dengan kecepatan

Lebih terperinci

PASI NA R SI NO L SI IK LI A KA

PASI NA R SI NO L SI IK LI A KA NANOSILIKA PASIR Anggriz Bani Rizka (1110 100 014) Dosen Pembimbing : Dr.rer.nat Triwikantoro M.Si JURUSAN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA

Lebih terperinci

Mahasiswa Prodi Fisika Jurusan Fisika FMIP UNP, 2)

Mahasiswa Prodi Fisika Jurusan Fisika FMIP UNP,   2) PILLAR OF PHYSICS, Vol. 7. April 2016, 49-56 KARAKTERISASI JENIS MINERAL MAGNETIK SEDIMEN GUA DI GUA LIANG LUAR KABUPATEN MANGGARAI BARAT PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR MENGGUNAKAN METODE X-RAY DIFFRACTION

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Sumber daya alam merupakan bagian penting bagi kehidupan dan. keberlanjutan manusia serta makhluk hidup lainnya.

BAB 1 PENDAHULUAN. Sumber daya alam merupakan bagian penting bagi kehidupan dan. keberlanjutan manusia serta makhluk hidup lainnya. BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sumber daya alam merupakan bagian penting bagi kehidupan dan keberlanjutan manusia serta makhluk hidup lainnya. Namun dalam pemanfaatannya, manusia cenderung melakukan

Lebih terperinci

ANALISIS TEMBAGA, KROM, SIANIDA DAN KESADAHAN AIR LINDI TPA MUARA FAJAR PEKANBARU

ANALISIS TEMBAGA, KROM, SIANIDA DAN KESADAHAN AIR LINDI TPA MUARA FAJAR PEKANBARU ISSN 2085-0050 ANALISIS TEMBAGA, KROM, SIANIDA DAN KESADAHAN AIR LINDI TPA MUARA FAJAR PEKANBARU Subardi Bali, Abu Hanifah Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Riau e-mail:

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. XRD Uji XRD menggunakan difraktometer type Phylips PW3710 BASED dilengkapi dengan perangkat software APD (Automatic Powder Difraction) yang ada di Laboratorium UI Salemba

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. bengkel, rumah sakit, pasar, perusahaan berpotensi besar menghasilkan limbah

BAB 1 PENDAHULUAN. bengkel, rumah sakit, pasar, perusahaan berpotensi besar menghasilkan limbah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Hingga saat ini sampah masih menjadi permasalah utama di Indonesia, khususnya di kota-kota besar. Bertambahnya populasi penduduk dan aktifitasnya meningkatkan pula

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI Fase KOMPOSIT OKSIDA BESI - ZEOLIT ALAM

IDENTIFIKASI Fase KOMPOSIT OKSIDA BESI - ZEOLIT ALAM IDENTIFIKASI Fase KOMPOSIT OKSIDA BESI - ZEOLIT ALAM HASIL PROSES MILLING Yosef Sarwanto, Grace Tj.S., Mujamilah Pusat Teknologi Bahan Industri Nuklir - BATAN Kawasan Puspiptek Serpong, Tangerang 15314.

Lebih terperinci

METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini akan dilakukan di Laboratorium Kimia Anorganik-Fisik Universitas

METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini akan dilakukan di Laboratorium Kimia Anorganik-Fisik Universitas III. METODELOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini akan dilakukan di Laboratorium Kimia Anorganik-Fisik Universitas Lampung. Analisis XRD di Universitas Islam Negeri Jakarta Syarif

Lebih terperinci

Lenny Marcillina, Erwin, dan Tengku Emrinaldi

Lenny Marcillina, Erwin, dan Tengku Emrinaldi PENENTUAN NILAI TINGKAT KEMAGNETAN DAN SUSEPTIBILITAS MAGNETIK ENDAPAN PASIR BESI SEBAGAI FUNGSI KEDALAMAN DI PANTAI ARTA DAN PANTAI KATA PARIAMAN SUMATERA BARAT Lenny Marcillina, Erwin, dan Tengku Emrinaldi

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. perlakuan panas atau annealing pada lapisan sehingga terbentuk butiran-butiran

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. perlakuan panas atau annealing pada lapisan sehingga terbentuk butiran-butiran BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode penelitian Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah eksperimen dengan membuat lapisan tipis Au di atas substrat Si wafer, kemudian memberikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. gas/uap. Maka dari itu, bumi merupaka satu-satunya planet dalam Tata Surya. yang memiliki kehidupan (Kodoatie, 2012).

BAB I PENDAHULUAN. gas/uap. Maka dari itu, bumi merupaka satu-satunya planet dalam Tata Surya. yang memiliki kehidupan (Kodoatie, 2012). 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Air adalah salah satu kekayaan alam yang ada di bumi. Air merupakan salah satu material pembentuk kehidupan di bumi. Tidak ada satu pun planet di jagad raya ini yang

Lebih terperinci

PENGARUH PEG-2000 TERHADAP POLA DIFRAKSI SINAR-X PARTIKEL Fe 3 O 4 YANG DISINTESIS DENGAN METODE KOPRESIPITASI

PENGARUH PEG-2000 TERHADAP POLA DIFRAKSI SINAR-X PARTIKEL Fe 3 O 4 YANG DISINTESIS DENGAN METODE KOPRESIPITASI PENGARUH PEG-2000 TERHADAP POLA DIFRAKSI SINAR-X PARTIKEL Fe 3 O 4 YANG DISINTESIS DENGAN METODE KOPRESIPITASI EFFECT OF PEG-2000 ON X-RAY DIFFRACTION PATTERNS OF Fe 3 O 4 PARTICLES WERE SYNTHESIZED WITH

Lebih terperinci

Sintesis dan Karakterisasi XRD Multiferroik BiFeO 3 Didoping Pb

Sintesis dan Karakterisasi XRD Multiferroik BiFeO 3 Didoping Pb JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 1, No. 1, (Sept. 2012) ISSN: 2301-928X B-81 Sintesis dan Karakterisasi XRD Multiferroik BiFeO 3 Didoping Pb Tahta A, Malik A. B, Darminto Jurusan Fisika Fakultas Matematika

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Teknologi membran telah banyak digunakan pada berbagai proses pemisahan dan sangat spesifik terhadap molekul-molekul dengan ukuran tertentu. Selektifitas membran ini

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN BaTiO 3 merupakan senyawa oksida keramik yang dapat disintesis dari senyawaan titanium (IV) dan barium (II). Proses sintesis ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti suhu, tekanan,

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian yang dilakukan adalah metode eksperimen secara kualitatif dan kuantitatif. Metode penelitian ini menjelaskan proses degradasi fotokatalis

Lebih terperinci

Sintesis Nanopartikel ZnO dengan Metode Kopresipitasi

Sintesis Nanopartikel ZnO dengan Metode Kopresipitasi Sintesis Nanopartikel ZnO dengan Metode Kopresipitasi NURUL ROSYIDAH Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Sepuluh Nopember Pendahuluan Kesimpulan Tinjauan Pustaka

Lebih terperinci

Tabel 3.1 Efisiensi proses kalsinasi cangkang telur ayam pada suhu 1000 o C selama 5 jam Massa cangkang telur ayam. Sesudah kalsinasi (g)

Tabel 3.1 Efisiensi proses kalsinasi cangkang telur ayam pada suhu 1000 o C selama 5 jam Massa cangkang telur ayam. Sesudah kalsinasi (g) 22 HASIL PENELITIAN Kalsinasi cangkang telur ayam dan bebek perlu dilakukan sebelum cangkang telur digunakan sebagai prekursor Ca. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, kombinasi suhu

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan yaitu eksperimen. Pembuatan serbuk CSZ menggunakan cara sol gel. Pembuatan pelet dilakukan dengan cara kompaksi dan penyinteran dari serbuk calcia-stabilized

Lebih terperinci

PENGARUH SUHU PADA PROSES SONIKASI TERHADAP MORFOLOGI PARTIKEL DAN KRISTALINITAS NANOPARTIKEL Fe 3 O 4

PENGARUH SUHU PADA PROSES SONIKASI TERHADAP MORFOLOGI PARTIKEL DAN KRISTALINITAS NANOPARTIKEL Fe 3 O 4 PENGARUH SUHU PADA PROSES SONIKASI TERHADAP MORFOLOGI PARTIKEL DAN KRISTALINITAS NANOPARTIKEL Fe 3 O 4 Hari Gusti Firnando, Astuti Jurusan Fisika FMIPA Universitas Andalas, Padang Kampus Unand Limau Manis,

Lebih terperinci

KARAKTERISASI LIMBAH HASIL PEMURNIAN Fe 3 O 4 DARI BAHAN BAKU LOKAL PASIR BESI

KARAKTERISASI LIMBAH HASIL PEMURNIAN Fe 3 O 4 DARI BAHAN BAKU LOKAL PASIR BESI KARAKTERISASI LIMBAH HASIL PEMURNIAN Fe 3 O 4 DARI BAHAN BAKU LOKAL PASIR BESI Tria Madesa 1, Yosef Sarwanto 1 dan Wisnu Ari Adi 1 1) Pusat Sains dan Teknologi Bahan Maju Badan Tenaga Nuklir Nasional Kawasan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Nanoteknologi adalah ilmu dan rekayasa dalam penciptaan material dan struktur fungsional dalam skala nanometer. Perkembangan nanoteknologi selalu dikaitkan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 2 Skema Pembuatan elektrode pasta karbon.

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 2 Skema Pembuatan elektrode pasta karbon. 3 Pasta dimasukkan ke ujung tabung hingga penuh dan padat. Permukaan elektrode dihaluskan menggunakan ampelas halus dan kertas minyak hingga licin dan berkilau (Gambar 2). Gambar 2 Skema Pembuatan elektrode

Lebih terperinci

Pengelolaan Emisi Gas pada Penutupan TPA Gunung Tugel di Kabupaten Banyumas. Puji Setiyowati dan Yulinah Trihadiningrum

Pengelolaan Emisi Gas pada Penutupan TPA Gunung Tugel di Kabupaten Banyumas. Puji Setiyowati dan Yulinah Trihadiningrum Pengelolaan Emisi Gas pada Penutupan TPA Gunung Tugel di Kabupaten Banyumas Puji Setiyowati dan Yulinah Trihadiningrum Jurusan Teknik Lingkungan FTSP, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya * email:

Lebih terperinci

PENGARUH WAKTU PEMANASAN TERHADAP SINTESIS NANOPARTIKEL FE3O4

PENGARUH WAKTU PEMANASAN TERHADAP SINTESIS NANOPARTIKEL FE3O4 PENGARUH WAKTU PEMANASAN TERHADAP SINTESIS NANOPARTIKEL FE3O4 Astuti, Aso Putri Inayatul Hasanah Jurusan Fisika. FMIPA. Universitas Andalas Email: [email protected] ABSTRAK Nanopartikel magnetik Fe 3O

Lebih terperinci

Bab III Metodologi Penelitian

Bab III Metodologi Penelitian Bab III Metodologi Penelitian III. 1. Tahap Penelitian Penelitian ini terbagai dalam empat tahapan kerja, yaitu: a. Tahapan kerja pertama adalah persiapan bahan dasar pembuatan LSFO dan LSCFO yang terdiri

Lebih terperinci

SINTESIS OKSIDA LOGAM AURIVILLIUS SrBi 4 Ti 4 O 15 MENGGUNAKAN METODE HIDROTERMAL DAN PENENTUAN SIFAT FEROELEKTRIKNYA

SINTESIS OKSIDA LOGAM AURIVILLIUS SrBi 4 Ti 4 O 15 MENGGUNAKAN METODE HIDROTERMAL DAN PENENTUAN SIFAT FEROELEKTRIKNYA 27 SINTESIS OKSIDA LOGAM AURIVILLIUS SrBi 4 Ti 4 O 15 MENGGUNAKAN METODE HIDROTERMAL DAN PENENTUAN SIFAT FEROELEKTRIKNYA Synthesis of Metal Oxide Aurivillius SrBi 4 Ti 4 O 15 Using Hydrothermal Method

Lebih terperinci

Pengaruh Polietilen Glikol (PEG) Terhadap Ukuran Partikel Magnetit (Fe 3 O 4 ) yang Disintesis dengan Menggunakan Metode Kopresipitasi

Pengaruh Polietilen Glikol (PEG) Terhadap Ukuran Partikel Magnetit (Fe 3 O 4 ) yang Disintesis dengan Menggunakan Metode Kopresipitasi Pengaruh Polietilen Glikol (PEG) Terhadap Ukuran Partikel Magnetit (Fe 3 O 4 ) yang Disintesis dengan Menggunakan Metode Kopresipitasi Irfan Nursa*, Dwi Puryanti, Arif Budiman Jurusan Fisika FMIPA Universitas

Lebih terperinci

BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN

BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN 4.1 SINTESIS SBA-15 Salah satu tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan material mesopori silika SBA-15 melalui proses sol gel dan surfactant-templating. Tahapan-tahapan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sampah adalah material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah merupakan konsep buatan dan konsekuensi dari adanya aktivitas manusia. Di

Lebih terperinci

ANALISIS KOMPOSISI UNSUR Fe TERHADAP NILAI SUSEPTIBILITAS MAGNETIK DI KOTA PADANG MENGGUNAKAN METODE X-RAY FLUORESCENCE (XRF)

ANALISIS KOMPOSISI UNSUR Fe TERHADAP NILAI SUSEPTIBILITAS MAGNETIK DI KOTA PADANG MENGGUNAKAN METODE X-RAY FLUORESCENCE (XRF) PILLAR OF PHYSICS, Vol. 5. April 2015, 57-64 ANALISIS KOMPOSISI UNSUR Fe TERHADAP NILAI SUSEPTIBILITAS MAGNETIK DI KOTA PADANG MENGGUNAKAN METODE X-RAY FLUORESCENCE (XRF) Elsa feryani harifan 1), Mahrizal

Lebih terperinci

MOTTO DAN PERSEMBAHAN...

MOTTO DAN PERSEMBAHAN... DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... ii PERNYATAAN... iii MOTTO DAN PERSEMBAHAN... iv PRAKATA... v DAFTAR ISI... vii DAFTAR GAMBAR... ix DAFTAR TABEL... xii INTISARI... xiii ABSTRACT...

Lebih terperinci

Bab IV Hasil dan Diskusi

Bab IV Hasil dan Diskusi Bab IV Hasil dan Diskusi IV.1 Hasil Dari hasil ekstraksi diperoleh mineral-mineral magnetik dengan bentuk dan komposisi yang variatif. Perbedaan ini dipahami sebagai pengaruh kondisi lingkungan tempat

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Sintesis Partikel Magnetik Terlapis Polilaktat (PLA)

HASIL DAN PEMBAHASAN Sintesis Partikel Magnetik Terlapis Polilaktat (PLA) 10 1. Disiapkan sampel yang sudah dikeringkan ± 3 gram. 2. Sampel ditaburkan ke dalam holder yang berasal dari kaca preparat dibagi dua, sampel ditaburkan pada bagian holder berukuran 2 x 2 cm 2, diratakan

Lebih terperinci

PENGARUH ph, DAN WAKTU ELEKTRODEPOSISI TERHADAP EFISIENSI ELEKTRODEPOSISI ION PERAK(I) DALAM LIMBAH CAIR ELEKTROPLATING DENGAN AGEN PEREDUKSI ASETON

PENGARUH ph, DAN WAKTU ELEKTRODEPOSISI TERHADAP EFISIENSI ELEKTRODEPOSISI ION PERAK(I) DALAM LIMBAH CAIR ELEKTROPLATING DENGAN AGEN PEREDUKSI ASETON PENGARUH ph, DAN WAKTU ELEKTRODEPOSISI TERHADAP EFISIENSI ELEKTRODEPOSISI ION PERAK(I) DALAM LIMBAH CAIR ELEKTROPLATING DENGAN AGEN PEREDUKSI ASETON THE EFFECT OF ph OF THE SOLUTION, AND ELECTRODEPOSITION

Lebih terperinci

PENGELOLAAN EMISI GAS PADA PENUTUPAN TPA GUNUNG TUGEL DI KABUPATEN BANYUMAS

PENGELOLAAN EMISI GAS PADA PENUTUPAN TPA GUNUNG TUGEL DI KABUPATEN BANYUMAS PENGELOLAAN EMISI GAS PADA PENUTUPAN TPA GUNUNG TUGEL DI KABUPATEN BANYUMAS Puji Setiyowati* dan Yulinah Trihadiningrum Jurusan Teknik Lingkungan FTSP, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya * email:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam lingkungan hidup, sampah merupakan masalah penting yang harus

BAB I PENDAHULUAN. Dalam lingkungan hidup, sampah merupakan masalah penting yang harus BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Dalam lingkungan hidup, sampah merupakan masalah penting yang harus mendapat penanganan dan pengolahan sehingga tidak menimbulkan dampak yang membahayakan. Berdasarkan

Lebih terperinci

ANALISIS JENIS MINERAL MAGNETIK DARI POLUTAN KENDARAAN BERMOTOR MENGGUNAKAN METODE ISOTHERMAL REMANENT MAGNETIZATION (IRM) DI KOTA PADANG ABSTRACT

ANALISIS JENIS MINERAL MAGNETIK DARI POLUTAN KENDARAAN BERMOTOR MENGGUNAKAN METODE ISOTHERMAL REMANENT MAGNETIZATION (IRM) DI KOTA PADANG ABSTRACT PILLAR OF PHYSICS, Vol. 1. April 2013, 09-15 ANALISIS JENIS MINERAL MAGNETIK DARI POLUTAN KENDARAAN BERMOTOR MENGGUNAKAN METODE ISOTHERMAL REMANENT MAGNETIZATION (IRM) DI KOTA PADANG Pramita Syafrina *),

Lebih terperinci

Sintesis dan Karakterisasi Tinta Serbuk (TONER) berbahan baku Pasir Besi Menggunakan XRD dan SEM-EDAX

Sintesis dan Karakterisasi Tinta Serbuk (TONER) berbahan baku Pasir Besi Menggunakan XRD dan SEM-EDAX Sintesis dan Karakterisasi Tinta Serbuk (TONER) berbahan baku Pasir Besi Menggunakan XRD dan SEM-EDAX Prita Yustisia Wardani Jurusan Fisika, Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Republik Indonesia mempunyai visi yang sangat ideal, yakni masyarakat Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. Republik Indonesia mempunyai visi yang sangat ideal, yakni masyarakat Indonesia BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia Sehat 2010 yang telah dicanangkan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia mempunyai visi yang sangat ideal, yakni masyarakat Indonesia yang penduduknya

Lebih terperinci

BAB III PENGUKURAN DAN PERHITUNGAN SIFAT FISIS LUMPUR SIDOARJO. (a)

BAB III PENGUKURAN DAN PERHITUNGAN SIFAT FISIS LUMPUR SIDOARJO. (a) 81 BAB III PENGUKURAN DAN PERHITUNGAN SIFAT FISIS LUMPUR SIDOARJO 3.1 Lokasi Pengambilan Sample (a) (b) (c) Gambar 3.1 Lokasi pengambilan sampel (a) Peta pulau jawa yang menunjukkan lokasi semburan lumpur

Lebih terperinci

3.5 Karakterisasi Sampel Hasil Sintesis

3.5 Karakterisasi Sampel Hasil Sintesis 7 konsentrasi larutan Ca, dan H 3 PO 4 yang digunakan ada 2 yaitu: 1) Larutan Ca 1 M (massa 7,6889 gram) dan H 3 PO 4 0,6 M (volume 3,4386 ml) 2) Larutan Ca 0,5 M (massa 3,8449) dan H 3 PO 4 0,3 M (volume

Lebih terperinci

PERENCANAAN TEMPAT PEMROSESAN AKHIR (TPA) SAMPAH DENGAN SISTEM SANITARY LANDFILL DI TPA PECUK KABUPATEN INDRAMAYU

PERENCANAAN TEMPAT PEMROSESAN AKHIR (TPA) SAMPAH DENGAN SISTEM SANITARY LANDFILL DI TPA PECUK KABUPATEN INDRAMAYU PERENCANAAN TEMPAT PEMROSESAN AKHIR (TPA) SAMPAH DENGAN SISTEM SANITARY LANDFILL DI TPA PECUK KABUPATEN INDRAMAYU Oleh: Hamdani Abdulgani Sipil Fakultas Teknik Universitas Wiralodra Indramayu ABSTRAK Tempat

Lebih terperinci

PENENTUAN NILAI TINGKAT KEMAGNETAN DAN SUSEPTIBILITAS MAGNETIK PASIR DAN DEBU SEPANJANG JALAN UTAMA DI KOTA PEKANBARU

PENENTUAN NILAI TINGKAT KEMAGNETAN DAN SUSEPTIBILITAS MAGNETIK PASIR DAN DEBU SEPANJANG JALAN UTAMA DI KOTA PEKANBARU PENENTUAN NILAI TINGKAT KEMAGNETAN DAN SUSEPTIBILITAS MAGNETIK PASIR DAN DEBU SEPANJANG JALAN UTAMA DI KOTA PEKANBARU Iin Driani, Erwin, Tengku Emrinaldi Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan

Lebih terperinci

PENGARUH RASIO Fe 3 O 4 Fe 2 O 3, RASIO Fe : C DAN UKURAN BULIR MINERAL MAGNETIK PADA SUSEPTIBILITAS MAGNETIK TONER

PENGARUH RASIO Fe 3 O 4 Fe 2 O 3, RASIO Fe : C DAN UKURAN BULIR MINERAL MAGNETIK PADA SUSEPTIBILITAS MAGNETIK TONER PENGARUH RASIO Fe 3 O 4 Fe 2 O 3, RASIO Fe : C DAN UKURAN BULIR MINERAL MAGNETIK PADA SUSEPTIBILITAS MAGNETIK TONER Titis Lestyowati 1, Siti Zulaikah, Abdulloh Fuad Program Studi Fisika MIPA Universitas

Lebih terperinci

PEMETAAN NILAI SUSEPTIBILITAS MAGNETIK PADA TOP SOIL SEBAGAI INDIKATOR PENYEBARAN LOGAM BERAT DI SEKITAR JALAN SOEKARNO-HATTA MALANG

PEMETAAN NILAI SUSEPTIBILITAS MAGNETIK PADA TOP SOIL SEBAGAI INDIKATOR PENYEBARAN LOGAM BERAT DI SEKITAR JALAN SOEKARNO-HATTA MALANG PEMETAAN NILAI SUSEPTIBILITAS MAGNETIK PADA TOP SOIL SEBAGAI INDIKATOR PENYEBARAN LOGAM BERAT DI SEKITAR JALAN SOEKARNO-HATTA MALANG Silvia Candra Wahyuni Universitas Negeri Malang E-mail: [email protected]

Lebih terperinci

ANALISIS SUSEPTIBILITAS MAGNETIK HASIL OKSIDASI MEGNETIT MENJADI HEMATIT PASIR BESI PANTAI SUNUR KOTA PARIAMAN SUMATERA BARAT

ANALISIS SUSEPTIBILITAS MAGNETIK HASIL OKSIDASI MEGNETIT MENJADI HEMATIT PASIR BESI PANTAI SUNUR KOTA PARIAMAN SUMATERA BARAT ANALISIS SUSEPTIBILITAS MAGNETIK HASIL OKSIDASI MEGNETIT MENJADI HEMATIT PASIR BESI PANTAI SUNUR KOTA PARIAMAN SUMATERA BARAT Helvy Trilismana, Arif Budiman Laboratorium Fisika Bumi, Jurusan Fisika FMIPA

Lebih terperinci

PENENTUAN NILAI SUSEPTIBILITAS MAGNETIK GUANO YANG BERASAL DARI GUA BABA KECAMATAN LUBUK KILANGAN KOTA PADANG

PENENTUAN NILAI SUSEPTIBILITAS MAGNETIK GUANO YANG BERASAL DARI GUA BABA KECAMATAN LUBUK KILANGAN KOTA PADANG PENENTUAN NILAI SUSEPTIBILITAS MAGNETIK GUANO YANG BERASAL DARI GUA BABA KECAMATAN LUBUK KILANGAN KOTA PADANG Beny Ramdani, Arif Budiman Jurusan Fisika Universitas Andalas, Limau Manis, Padang 25163 E-mail:

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang dilakukan adalah metode eksperimen yang dilakukan di

BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang dilakukan adalah metode eksperimen yang dilakukan di BAB III METODE PENELITIAN Metode penelitian yang dilakukan adalah metode eksperimen yang dilakukan di lab. Fisika Material, Jurusan Pendidikan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas

Lebih terperinci

ANALISIS STRUKTUR KRISTAL DAN SIFAT MAGNETIK PASIR BESI SUNGAI BENGAWAN SOLO KECAMATAN TRUCUK KABUPATEN BOJONEGORO ABSTRAK

ANALISIS STRUKTUR KRISTAL DAN SIFAT MAGNETIK PASIR BESI SUNGAI BENGAWAN SOLO KECAMATAN TRUCUK KABUPATEN BOJONEGORO ABSTRAK ANALISIS STRUKTUR KRISTAL DAN SIFAT MAGNETIK PASIR BESI SUNGAI BENGAWAN SOLO KECAMATAN TRUCUK KABUPATEN BOJONEGORO Rizki Kusuma Program Studi Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas

Lebih terperinci

PEMETAAN PERSENTASE KANDUNGAN DAN NILAI SUSEPTIBILITAS MINERAL MAGNETIK PASIR BESI PANTAI SUNUR KABUPATEN PADANG PARIAMAN SUMATERA BARAT

PEMETAAN PERSENTASE KANDUNGAN DAN NILAI SUSEPTIBILITAS MINERAL MAGNETIK PASIR BESI PANTAI SUNUR KABUPATEN PADANG PARIAMAN SUMATERA BARAT PEMETAAN PERSENTASE KANDUNGAN DAN NILAI MINERAL MAGNETIK PASIR BESI PANTAI SUNUR KABUPATEN PADANG PARIAMAN SUMATERA BARAT Palkrisman, Arif Budiman Laboratorium Fisika Bumi, Jurusan Fisika FMIPA Universitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. biasanya disertai dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat.

BAB I PENDAHULUAN. biasanya disertai dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Secara umum perkembangan jumlah penduduk yang semakin besar biasanya disertai dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat. Perkembangan tersebut membawa

Lebih terperinci