Bab IV Hasil dan Diskusi

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Bab IV Hasil dan Diskusi"

Transkripsi

1 Bab IV Hasil dan Diskusi IV.1 Hasil Dari hasil ekstraksi diperoleh mineral-mineral magnetik dengan bentuk dan komposisi yang variatif. Perbedaan ini dipahami sebagai pengaruh kondisi lingkungan tempat terbentuknya mineral tersebut (terjadi dalam lingkungan sedimen yang oxic atau anoxic). Hasil ekstraksi magnetik dari lumpur memperlihatkan bentuk mineral magnetik tersebut berada dalam beberapa keadaan: 1. Mineral magnetik yang masih ditutupi oleh komposisi besi (Fe) dan silikat (Si) di permukaannya. 2. Mineral magnetik yang mengalami intergrowth dengan ukuran yang sangat halus dan banyak menempel dalam matrix silicate (gambar IV.8 dan IV.9). 3. Berbentuk amorphous (individual grain) yang memiliki kandungan oksida besi (titanomagnetite, titanomaghemite) dan sulfida besi (pyrrhotite dan pyrite) dengan ukuran yang relatif cukup besar (> 20 µm). Selain bentuk yang variatif, dari hasil EDX diperoleh kandungan yang berbedabeda pada bulir yang ada, sehingga ada indikasi bahwa terdapat mineral magnetik yang sedang mengalami perubahan struktur magnetik (intergrowth) karena proses oksidasi. Gambar-gambar spektrum EDX berikut merupakan representasi dari hasil ekstraksi magnetik untuk beberapa area (spot). Dari hasil EDX kita belum bisa menentukan mineral secara tepat, tetapi metode ini sangat membantu kita dalam menentukan sulfida besi dan oksida besi (dengan kandungan titanium yang variatif). IV.1.1 Oksida Besi Beberapa bulir magnetik yang dianalisa umumnya mengandung Fe-TiO. Bulirbulir ini merepresentasikan adanya sifat magnetik dengan komposisi mineral FeO, titanomagnetite dan titanomaghemite (keluarga besi-titanum oksida) yang banyak 18

2 terdapat di alam. Dari hasil spectrum EDX, hampir semua bulir yang tampak masih terkontaminasi oleh pengaruh matrix silicate (seperti: Al, Mg, Si, Ca, K) atau beberapa mineral lain dalam jumlah yang bervariasi. Dari gambar IV.2 diperoleh indikasi beberapa keadaan untuk mineral magnetik seperti; terdapatnya mineral magnetik yang masih ditutupi oleh matrix silicate (Si) di permukaannya (area 2), mineral magnetik dengan ukuran yang halus dan menempel pada cluster silikat (area 3). Bentuk cluster (individual grain) yang memiliki kandungan oksida besi tinggi dengan ukuran relatif besar (pada permukaan area 1), pada permukaan area 1 diindikasikan bahwa beberapa mineral saling berasosiasi dengan butiran FeO. Mineral-mineral yang berasosiasi ini diperkirakan merupakan hasil dari proses oksidasi pada permukaan FeO tersebut. Pada setiap titik pengamatan EDX selalu didapatkan senyawa yang mengandung unsur titanium (Ti). Hasil ini mempertegas kenyataan bahwa mineral magnetik dari lumpur ini tergolong kelompok Fe-TiO dan merupakan hasil proses sedimentasi dari material atau partikel vulkanik. Ukuran individualnya cendrung besar (> 20 µm). Hasil analisis EDX dari gambar (IV.3, IV.4 dan IV.5) merepresentasikan kandungan FeO yang tinggi. Selain senyawa ini, terdapat juga kandungan kadar Ti yang cukup signifikan. Keberadaan unsur Ti sangat penting dalam proses pembentukan senyawa Fe-TiO. Senyawa ini sebagian besar merupakan bagian dari kelompok ulvöspinel-magnetite atau bagian dari yang telah mengalami oksidasi seperti kelompok maghemite-titanomaghemite dan ilmenitehematite. Kelompok Fe-TiO jika mengalami proses oksidasi pada temperatur yang rendah dan tinggi akan memiliki teksture yang berbeda (gambar IV.6). Menurut Freeman (1986), hal ini merupakan proses oksidasi mineral magnetite yang dihasilkan oleh proses pelapukan, mineral yang dihasilkan adalah ilmenite lamellae. 19

3 Gambar IV.1 Citra Backscatter Electron (BSE) dari hasil ekstraksi magnetik lumpur, memperlihatkan bentuk mineral magnetik tersebut berada dalam beberapa keadaan, bulir yang terang mengindikasikan bahwa terdapat kandungan besi yang tinggi di permukaannya. Untuk bulir yang berwarna gelap diindikasi bahwa pada permukaan masih ditutupi oleh lempung. Gambar IV.2 Citra BSE dengan perbesaran 550 kali dan hasil analisa EDS (lampiran 1) yang menunjukan area 1 dan 3 memiliki kandungan oksida besi yang tinggi (permukaan yang berwarna terang). Pada area 2, bulir yang memiliki kandungan silikat tinggi (berwarna cendrung gelap) dan pada area 3 tampak bahwa bulir magnetik tersebut menempel pada matrix silicate. 20

4 Gambar IV.3 Citra BSE dari hasil ekstraksi magnetik untuk oksida besi yang diidentifikasi sebagai Fe-TiO, dengan morphology berupa cluster besar oksida besi. Analisis EDS (lampiran 1) memperlihatkan bahwa oksida besi ini cendrung memiliki komposisi titanomaghemite atau hematite. Gambar IV.4 Citra BSE untuk oksida besi yang diidentifikasi sebagai Fe-TiO, dengan morphology oksida besi berupa cluster besar. Analisis EDS (lampiran 1) memperlihatkan bahwa oksida besi ini cendrung memiliki komposisi titanomaghemite atau hematite. 21

5 Gambar IV.5 Citra BSE untuk oksida besi yang diidentifikasi sebagai Fe-TiO (berwarna terang) dan mineral silikat untuk warna yang cendrung gelap, dengan morphology oksida besi berupa cluster besar. Dari analisis EDS (lampiran 1) memperlihatkan bahwa oksida besi ini cendrung memiliki komposisi yang terdiri dari titanomagnetite (area 1) dan titanomaghemite (area 2,3). Gambar IV.6 dari citra BSE dan hasil EDS (lampiran 1) menunjukan bahwa area tersebut merupakan titanohematite lamellae. Pada permukaan bulir terdapat tekstur berbentuk jeruji yang disebabkan oleh proses oksidasi pada suhu tinggi (Garming et al., 2005). 22

6 Gambar IV.7 Citra BSE dan hasil EDS (lampiran 1) menunjukan bahwa spot tersebut mengandung oksida besi dan sulfida besi, mengalami proses transisi (intergrowth) pergantian dari oksida besi menjadi sulfida besi pada matrix silicate. Hal menarik lainnya spot tersebut memiliki kandungan carbon yang cukup tinggi. Gambar IV.8 Citra BSE dan EDS menunjukan spot (1 dan 2) memiliki kandungan oksida besi yang tinggi, (3) bulir memiliki kandungan sulfida besi yang tinggi (dari hasil analisa EDS diduga bahwa mineral ini merupakan pyrrhotite), semua mineral magnetik tersebut menempel pada bongkahan besar yang memiliki kandungan silikat tinggi. 23

7 Gambar IV.9 Citra BSE dari hasil ekstraksi magnetik, hasil EDS (lampiran 2) menunjukan spot tersebut memiliki kandungan oksida besi dan sulfida besi. Bulir yang berbentuk framboidal ini diperkirakan sedang mengalami proses transisi pergantian (intergrowth) dari (titano-) magnetite menjadi sulfida besi (diidentifikasi sebagai pyrite) atau juga dikenal sebagai proses pyritisasi, pyritisasi ini biasanya berlangsung saat proses late diagenesis. Gambar IV.10 Citra BSE dari hasil ekstraksi magnetik untuk sulfida besi yang diidentifikasi sebagai pyrrhotite (1 dan 2), dengan morphology hexagonal, analisis EDS (lampiran 2) memperlihatkan bahwa sulfida besi ini memiliki komposisi monoclinic pyrrhotite (Fe 7 S 8 ). 24

8 Gambar IV.11 Citra BSE dari hasil ekstraksi magnetik untuk sulfida besi yang diidentifikasi sebagai pyrrhotite (1, 2 dan 3), dengan morphology menyerupai hexagonal, analisis EDS (lampiran 2) memperlihatkan bahwa sulfida besi ini memiliki komposisi hexagonal pyrrhotite (FeS). Gambar IV.12 Citra untuk sulfida besi yang diidentifikasi sebagai pyrite (1), dan masih terdapatnya lempung di sekitarnya. dengan morphology framboidal, analisis EDS (lampiran 2) memperlihatkan bahwa sulfida besi ini memiliki komposisi pyrite (FeS 2 ), merupakan hasil dari proses overgrowth magnetite. 25

9 IV.1.2 Sulfida Besi Hasil Scanning Elektron Microscope (SEM) mengindikasi bahwa mineral magnetik LUSI adalah sulfida besi seperti seperti pyrite dan pyrrhotite. Mineral-mineral ini berada dalam 2 keadaan: 1. Sulfida besi yang merupakan perubahan dari oksida besi karena proses overgrowth (berbentuk bulir halus dan menempel pada matrix silicate). 2. Berbentuk cluster dari sulfida besi dengan ukuran besar dari 20 µm. Mineral-mineral sulfida besi pada LUSI diduga terdapat dalam fasa authigenic pada lapisan sedimen yang anoxic. Keberadaan mineral magnetik sulfida besi dalam sedimen merupakan suatu hal yang menarik, karena memberikan implikasi atau gambaran mengenai magnetostratigraphy-nya. Proses diagenesis dan authigenesis dapat berperan dalam memberikan efek yang signifikan untuk mineral magnetik pada sedimen, khususnya mineral magnetik sulfida besi (Karlin dan Levi, 1983). Menurut Rickard (1995), pyrrhotite terbentuk setelah terjadinya proses kompaksi pada sedimen, sehingga tidak mungkin terjadi pada saat early diagenesis, dan pyrrhotite banyak ditemukan pada sedimen tua. Selain itu, beberapa penelitian sebelumnya menunjukan bahwa terbentuknya pyrrhotite di dalam batuan membutuhkan waktu paling sedikit beberapa juta tahun dengan proses kimia yang cukup panjang untuk membentuk monoclinic pyrrhotite (Horng dan Roberts, 2006). Hal ini memberi implikasi terhadap dugaan bahwa mineral magnetik LUSI terbentuk dari proses kompaksi yang lama. Dalam kondisi diagenesis, pembentukan monoclinic pyrrhotite (Fe 7 S 8 ) terjadi sangat lambat dengan temperatur sekitar ~180 C, yang membuat hal ini tidak mungkin memberikan sifat remanen diagenesis dalam sedimen (Horng dan Roberts, 2006). Keberadaan monoclinic pyrrhotite dalam kawasan sabuk metamorf lebih cendrung berbentuk detrital jika dibandingkan dengan proses authigenesis mineral magnetik di kawasan cekungan atau lingkungan yang sama (Horng dan Roberts, 2006). Untuk itu dapat disimpulkan bahwa kecil kemungkinan terbentuknya pyrrhotite pada LUSI saat early diagenesis. 26

10 Pyrrhotite banyak terdapat dalam sedimen yang memiliki struktur halus, dan biasanya berdampingan dengan greigite (Horng, 1998; Sagnotti, 2001; Weaver, 2002). Dampak dari mineral-mineral besi yang reaktif terhadap material organik merupakan faktor yang mengontrol perubahan bentuk FeS menjadi greigite atau menjadi pyrrhotite (Kao et al., 2004). Dibandingkan dengan greigite, pyrrhotite secara istimewa dapat terbentuk dalam keadaan lingkungan reduktif dan kosentrasi H 2 S yang tinggi, hal ini dapat diidentifikasi dengan pemakaian karbon organic yang tinggi (Kao et al., 2004). IV.2 Diskusi Umumnya mineral magnetik alami utama dalam sedimen dan banyak terdapat di alam adalah magnetite (Fe 3 O 4 ) dan hematite (Fe 2 O 3 ) dari keluarga oksida besi (iron oxide). Mineral ini merupakan mineral pelengkap pada banyak batuan yang terbentuk dari proses oksidasi lava. selama proses sedimentasi, perubahan pada mineral magnetik dipengaruhi oleh proses diagenetik. Hal yang mempengaruhi antara lain: jenis lingkungan sedimentasi dan ukuran bulir magnetite yang mengalami oksidasi. Pada tahap awal dalam lingkungan yang kaya akan oksigen (oxic) terjadi perubahan mineralogy, seperti perubahan magnetite menjadi hematite atau maghemite. Proses ini, biasanya banyak terjadi pada sedimen yang berumur muda dan berada dekat pada permukaan. Sehingga besar kemungkinan bahwa beberapa mineral Fe-TiO yang memiliki ukuran relatif besar (gambar IV.3 dan IV.4) berasal dari lapisan sedimen yang masih muda dan diduga mineral ini merupakan detrital dari material atau partikel hasil proses vulkanik, karena belum terjadi proses dissolusi dan perubahan struktur karena proses diagenesis. 4Fe 3 O 4 + O 2 6 Fe 2 O 3... (1) Selain keadaan lingkungan, laju proses oksidasi juga di kontrol oleh rasio bulir (luas permukaan/volume bulir). Bulir dengan ukuran halus akan cendrung cepat mengalami proses oksidasi. 27

11 Untuk zona diagenesis yang berbeda, maka akan diperoleh kandungan atau jenis mineral besi yang berbeda juga, hal ini tidak hanya berlaku untuk oksida besi saja tetapi juga termasuk mineral besi lainnya. Berdasarkan SEM diperoleh mineral magnetik LUSI ada yang berbentuk butiran yang menempel pada matrix silicate (gambar IV.8 area 3) amorphous dengan kandungan silikat (gambar IV.10 dan IV.11). Bentuk ini mengindikasikan bahwa lingkungan tempat terbentuk mineral ini memiliki kandungan sulphate yang tinggi. Dalam lingkungan dengan tingkat reduksi yang tinggi maka biasanya terdapat mineral besi dalam beberapa keadaan: berupa mineral besi yang memiliki sedikit kandungan oksigen, pyrite dan mineral besi lainnya (gambar IV.9 dan IV.12). Selain itu, secara umum mineral magnetik LUSI terdiri dari titanomagnetite dan titanomaghemite. Dengan adanya kedua mineral ini ada kemungkinan terdapatnya suatu zona tempat terjadinya reduksi oksida besi LUSI menjadi sulfida besi. Dalam lingkungan anoxic, yang berada pada struktur yang dalam, hidrogen sulfida (H 2 S) sangat dibutuhkan dalam pembentukan sulfida besi. Hal ini sangat dipengaruhi oleh proses reduksi biogenik dari sulphate (SO 2-4 ) dan oksidasi dari methane (CH 4 ). Menurut Boetius (2000) di dalam sedimen yang terdapat gas hydrate, terjadi proses reduksi pada sulphate dan oksidasi pada methane. Hasil reaksi dari sulphate-methane ini akan menghasilkan hidrogen sulphite (HS - ) yang berperan penting dalam proses desolusi Fe-TiO khususnya magnetite. Reaksinya dapat ditunjukan pada persamaan di bawah ini (Garming et al., 2005): CH 4 + SO 4 2- HCO HS - + H 2 O... (2) Pada saat kadar hidrogen sulphite (HS - ) melebihi konsentrasi besi yang tereduksi, sehingga terjadi proses disolusi pada magnetite (Evans dan Heller, 2003). Proses reduksi untuk magnetite adalah: Fe 3 O 4 + HS - + 7H + 3Fe 2+ + S 0 + 4H 2 O... (3) 28

12 Dalam konsentrasi air pori yang tinggi pada lingkungan hidrogen sulfida akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membentuk pyrrothite dari mineral magnetite (Canfield dan Berner, 1987). Mineral magnetite dapat bertahan jika tidak terdapat formasi yang memiliki kandungan hidrogen sulfida (H 2 S), atau jika kandungan hidrogen sulfida tidak mencukupi maka dapat bereaksi dengan mineral oksida besi yang lebih reaktif (Canfield dan Berner, 1987). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Emiroglu (2004) dan oleh Liu (2004) memperlihatkan hal yang sebaliknya, hematite dan geothite lebih cendrung resistant terhadap proses desolusi reduktif dalam kondisi sulfida jika dibandingkan dengan magnetite, walaupun pada akhirnya mineral ini akan tetap mengalami reduksi. Selanjutnya Fe 2+ dari hasil persamaan reaksi 3 di atas dapat bereaksi dengan HS - secara langsung (Berner, 1970) : Fe 2+ + HS - FeS(s) + H +... (4) Untuk fasa (Mono) sulphidic (seperti mackinawite, greigite dan pyrrhotite) merupakan mineral yang pertama kali terbentuk ketika besi yang mengalami reduksi bereaksi dengan hidrogen sulfid (Berner, 1984; Roberts dan Turner, 1993) sehingga dapat diindikasi bahwa untuk mineral pada gambar IV.10 dan IV.11 yang merupakan monoclinik pyrrhotite dan hexagonal pyrrhotite terbentuk pada reaksi ini, beberapa literatur mengatakan bahwa pyrrhotite merupakan mineral intermediate pada saat terjadi proses perubahan dari FeS menjadi pyrite. Selama sisa atau kelebihan dari hydrogen sulfid ini masih ada di dalam lingkungan tersebut maka mineral ini akan tidak stabil dan akan berubah menjadi pyrite (Schoonen dan Barnes, 1991). Menurut Morse (2002) proses oksidasi FeS oleh hidrogen sulfida cendrung lebih cepat jika dibandingkan dengan proses oksidasi oleh unsur sulfur. Selain phyrrotite mineral lain yang dimiliki LUSI adalah pyrite (gambar IV.12). Mineral ini diduga terbentuk karena proses oksidasi oleh adanya kandungan HS - dalam lingkungan dimana mineral ini terbentuk. Menurut Rickard (1997) proses 29

13 terbentuknya pyrite karena proses oksidasi oleh HS - thermodinamic: terjadi dalam keadaan FeS(s) + HS - (aq) + H + (aq) FeS 2 (s) + H 2 (g)... (5) Menurut Shuh-Ji Kao (2004), perbedaan antara distribusi ukuran bulir pada greigite dan pyrrhotite dipengaruhi oleh lingkungan tempat terbentuknya mineral ini, hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Horng. Greigite ditemukan dalam lingkungan sedimen laut dengan kedalaman sekitar m, sedangkan pyrrhotite ditemukan dalam sedimen laut dangkal dengan kedalaman m. Kuat dugaan bahwa mineral-mineral sulfida besi LUSI terbentuk oleh proses authigenesis dalam lingkungan sedimen yang anoxic dengan kandungan carbon organic yang cendrung tinggi. Hal ini tampak dari kadar konsentrasi karbon yang cukup tinggi dan menempel pada bulir oksida besi (gambar IV.7 IV.12). Beberapa penelitian sebelumnya menunjukan bahwa proses authigenesis pada mineral magnetik terjadi dalam lingkungan sedimen yang anoxic dengan kandungan carbon organic (Berner, 1984; Roberts dan Turner, 1993). Proses authigenesis dari mineral magnetik sulfida besi (pyrrhotite dan greigite) biasanya juga dapat berubah menjadi paramagnetic pyrite (FeS 2 ; Berner, 1964; 1970; 1984; Canfield dan Berner, 1987). Dengan proses reduksi kimia pada unsur Fe. Proses ini dapat dimediasi oleh bakteri, dengan mereduksi sulphate dari air pori (SO 2-4 ) menjadi sulphide (S - ) dan berasosiasi dengan mengkonsumsi carbon organic selama pengendapan. Selanjutnya Hidrogen sulfat (H 2 S) bereaksi dengan mineral besi menjadi pyrite. Sulfida besi seperti greigite dan pyrrhotite cendrung metastabil jika ada H 2 S dengan cendrung berubah menjadi pyrite. Selain itu ada indikasi bahwa sebagian besar mineral magnetik LUSI kemungkinan besar mengalami proses sedimentasi yang diikuti dengan diagenesis dan berasal dari kawasan sulphidic yang merupakan kawasan transisi antara sulphate dan methane, dalam keadaan anoxic zona tersebut cendrung 30

14 menyebabkan unsur besi untuk mengalami reduksi untuk menjadi stabil pada bentuk Fe 2+. Sehingga dalam lingkungan sulphidic ini, titanomagnetite cendrung untuk berubah menjadi titanohematite. Dari gambar IV.5 diperoleh indikasi bahwa bulir tersebut mengalami proses maghemitisasi yang disertai terjadinya retakan dan rekahan dipermukaan bulir (gambar IV.5). Menurut Garming (2005) proses ini dapat berlangsung dalam lingkungan sulphidic, proses maghemitisasi ini merupakan proses yang penting pada lingkungan sulphidic. Proses ini dapat mengubah karakteristik magnetik dari fraksi (titano-) magnetite yang tersisa. Kesimpulan lain yang dapat diperoleh dari proses difusi dari Fe 2+ yang keluar dari (titano-) magnetite, menunjukan bahwa hematite dan titanohematite cendrung bersifat stabil pada lingkungan sulphidic (gambar IV.8). Pada gambar IV.7 dan IV.9 diperoleh indikasi terjadinya proses intergrowth mineral magnetik yang menempel pada cluster silikat, ukuran kristal yang dihasilkan cukup halus (kurang dari 10 µm), proses intergrowth ini merupakan bagian dari authigenesis pada mineral oksida besi dan terjadi selama proses diagenenesis. Dari gambar IV.6 yang merupakan titanohematite lamellae memperkuat bahwa telah terjadi proses pelapukan pada mineral magnetik tersebut, proses pelapukan tersebut memperkuat bahwa mineral tersebut telah mengalami proses authigenesi pada saat sedimentasi. Sebagian mineral magnetik LUSI selalu disertai oleh kandungan silikat yang tinggi, kandungan silikat yang tinggi ini memberikan korelasi yang positif dengan lingkungan tempat terbentuknya mineral magnetik ini. Struktur yang sangat mungkin adalah mineral magnetik ini terbentuk pada daerah sedimentasi lempung yang kaya akan kandungan Si. Berdasarkan stratigrafi pada gambar III.2 daerah yang cendrung mendekati keadaan zona sulphidic ini tidak dapat diinterpretasi secara tepat, namun jika dilihat dari keberadaan H 2 S yang cendrung konstan semenjak terjadinya erupsi mengindikasikan adanya kontribusi campuran biogenik gas yang berasal dari kedalaman tertentu dan kaya akan kandungan hydrocarbon, seperti H 2 S yang 2- dihasilkan dari daerah dengan kandungan SO 4 dan methane yang tinggi. 31

15 Garming (2005) mengindikasikan bahwa zona ini merupakan sulphate methane transition (SMT) dan zona ini merupakan kawasan yang anoxic yang juga dikenal dengan zona sulphidic. Menurut Mazzini (2007) daerah yang terdiri dari overpressured clayey unit (dengan kedalaman ) merupakan sumber yang memiliki kemungkinan yang tinggi sebagai lapisan kaya akan biogenik gas. Jika dilihat pada gambar III.2 zona ini memiliki umur 0,8 juta tahun (Pleistocene), bagian dari formasi upper kallibeng dan merupakan lempung dengan warna abu kebiru-biruan. Dengan laju pengendapan pada kedalaman m m adalah sekitar m dalam 0,8 juta tahun (2480 m/ma), tingginya laju pengendapan ini menyebabkan lapisan ini memiliki tekanan yang tinggi. Temperature lumpur Sidoarjo (LUSI) yang muncul di permukaan dapat mencapai 100 o C (Mazzini et al., 2007). Kondisi ini mengindikasikan ada kemungkinan jika daerah tempat lumpur itu berasal memiliki temperatur yang mendekati fasa uap air. Selain itu, dari gradient temperatur-tekanan yang diperoleh terhadap kedalaman (gambar III.2), daerah yang memiliki temperature mendekati fasa uap air berada pada kedalaman diatas 1700 m (yang merupakan bluish gray clay). Selain itu, diduga mekanisme yang terjadi adalah material padatan yang memiliki kandungan mineral magnetik (bluish gray clay) tersebut mengalami pengikisan oleh air dari aquifer sehingga terbentuklah material lumpur yang mengalami erupsi kepermukaan. Menurut Rubiandini (2006) air yang bergerak ke atas dan mengikis lapisan bluish gray clay ini merupakan air yang berasal dari Batugamping Kujung (Formasi Kujung) yang berada pada kedalaman 9290 feet. 32

Bab II Tinjauan Pustaka

Bab II Tinjauan Pustaka Bab II Tinjauan Pustaka II.1. Lumpur Sidoarjo Semburan lumpur panas yang terjadi di Sidoarjo merupakan suatu gejala alam yang sebelumnya pernah terjadi di berbagai tempat lainnya didunia dan biasanya disebut

Lebih terperinci

MINERALOGI MAGNETIK LUMPUR SIDOARJO TESIS. MUHAMMAD IRVAN NIM Program Studi Fisika

MINERALOGI MAGNETIK LUMPUR SIDOARJO TESIS. MUHAMMAD IRVAN NIM Program Studi Fisika MINERALOGI MAGNETIK LUMPUR SIDOARJO TESIS Karya tulis sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Magister dari Institut Teknologi Bandung Oleh MUHAMMAD IRVAN NIM. 20206005 Program Studi Fisika INSTITUT

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN. 4.1 Karakterisasi Lumpur Sidoarjo

BAB IV PEMBAHASAN. 4.1 Karakterisasi Lumpur Sidoarjo BAB IV PEMBAHASAN Pada bagian ini penulis akan membahas hasil percobaan serta beberapa parameter yang mempengaruhi hasil percobaan. Parameter-parameter yang berpengaruh pada penelitian ini antara lain

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK LUMPUR SIDOARJO

KARAKTERISTIK LUMPUR SIDOARJO KARAKTERISTIK LUMPUR SIDOARJO Sifat Umum Lumpur Sidoarjo merupakan lumpur yang keluar dari perut bumi, berasal dari bagian sedimentasi formasi Kujung, formasi Kalibeng dan formasi Pucangan. Sedimen formasi

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Perlakuan Awal dan Karakteristik Abu Batubara Abu batubara yang digunakan untuk penelitian ini terdiri dari 2 jenis, yaitu abu batubara hasil pembakaran di boiler tungku

Lebih terperinci

Bab IV Hasil dan Pembahasan

Bab IV Hasil dan Pembahasan Bab IV Hasil dan Pembahasan IV.1 Larutan Garam Klorida Besi dari Pasir Besi Hasil reaksi bahan alam pasir besi dengan asam klorida diperoleh larutan yang berwarna coklat kekuningan, seperti ditunjukkan

Lebih terperinci

Analisa SEM (Scanning Electron Microscopy) dalam Pemantauan Proses Oksidasi Magnetite Menjadi Hematite

Analisa SEM (Scanning Electron Microscopy) dalam Pemantauan Proses Oksidasi Magnetite Menjadi Hematite Rekayasa dan Aplikasi Mesin di Industri Analisa SEM (Scanning Electron Microscopy) dalam Pemantauan Proses Oksidasi Magnetite Menjadi Hematite Nuha Desi Anggraeni Jurusan Mesin, Fakultas Teknologi Industri

Lebih terperinci

, NO 3-, SO 4, CO 2 dan H +, yang digunakan oleh

, NO 3-, SO 4, CO 2 dan H +, yang digunakan oleh TINJAUAN PUSTAKA Penggenangan Tanah Penggenangan lahan kering dalam rangka pengembangan tanah sawah akan menyebabkan serangkaian perubahan kimia dan elektrokimia yang mempengaruhi kapasitas tanah dalam

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. hidupnya. Salah satu contoh diantaranya penggunaan pelat baja lunak yang biasa

I. PENDAHULUAN. hidupnya. Salah satu contoh diantaranya penggunaan pelat baja lunak yang biasa 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia telah banyak memanfaatkan logam untuk berbagai keperluan di dalam hidupnya. Salah satu contoh diantaranya penggunaan pelat baja lunak yang biasa digunakan sebagai

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. sol-gel, dan mempelajari aktivitas katalitik Fe 3 O 4 untuk reaksi konversi gas

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. sol-gel, dan mempelajari aktivitas katalitik Fe 3 O 4 untuk reaksi konversi gas IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pengantar Penelitian ini pada intinya dilakukan dengan dua tujuan utama, yakni mempelajari pembuatan katalis Fe 3 O 4 dari substrat Fe 2 O 3 dengan metode solgel, dan mempelajari

Lebih terperinci

STUDI EKSTRAKSI RUTILE (TiO 2 ) DARI PASIR BESI MENGGUNAKAN GELOMBANG MIKRO DENGAN VARIABEL WAKTU PENYINARAN GELOMBANG MIKRO

STUDI EKSTRAKSI RUTILE (TiO 2 ) DARI PASIR BESI MENGGUNAKAN GELOMBANG MIKRO DENGAN VARIABEL WAKTU PENYINARAN GELOMBANG MIKRO STUDI EKSTRAKSI RUTILE (TiO 2 ) DARI PASIR BESI MENGGUNAKAN GELOMBANG MIKRO DENGAN VARIABEL WAKTU PENYINARAN GELOMBANG MIKRO IGA A RI H IMANDO 2710 100 114 D O SEN P E MBIMBING SUNGGING P INTOWA N T ORO,

Lebih terperinci

Nama : Peridotit Boy Sule Torry NIM : Plug : 1

Nama : Peridotit Boy Sule Torry NIM : Plug : 1 DIAGENESA BATUAN SEDIMEN Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk sebagai hasil pemadatan endapan yang berupa bahan lepas. Batuan sedimen juga dapat terbentuk oleh penguapan larutan kalsium karbonat,

Lebih terperinci

REAKSI REDUKSI DAN OKSIDASI

REAKSI REDUKSI DAN OKSIDASI REAKSI REDUKSI DAN OKSIDASI Definisi Reduksi Oksidasi menerima elektron melepas elektron Contoh : Mg Mg 2+ + 2e - (Oksidasi ) O 2 + 4e - 2O 2- (Reduksi) Senyawa pengoksidasi adalah zat yang mengambil elektron

Lebih terperinci

BAB II PEMBAHASAN. II.1. Electrorefining

BAB II PEMBAHASAN. II.1. Electrorefining BAB II PEMBAHASAN II.1. Electrorefining Electrorefining adalah proses pemurnian secara elektrolisis dimana logam yangingin ditingkatkan kadarnya (logam yang masih cukup banyak mengandung pengotor)digunakan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 2, 50/50 (sampel 3), 70/30 (sampel 4), dan 0/100 (sampel 5) dilarutkan dalam

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 2, 50/50 (sampel 3), 70/30 (sampel 4), dan 0/100 (sampel 5) dilarutkan dalam IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Oksidasi Spesimen baja AISI 4130 dilapisi alumunium dengan cara mencelupkan ke dalam bak alumunium cair pada temperatur 700 ºC selama 16 detik. NaCl/Na2SO4 dengan perbandingan

Lebih terperinci

TANAH / PEDOSFER. OLEH : SOFIA ZAHRO, S.Pd

TANAH / PEDOSFER. OLEH : SOFIA ZAHRO, S.Pd TANAH / PEDOSFER OLEH : SOFIA ZAHRO, S.Pd 1.Definisi Tanah adalah kumpulan dari benda alam di permukaan bumi yang tersusun dalam horizon-horizon, terdiri dari campuran bahan mineral organic, air, udara

Lebih terperinci

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Hasil Penelitian dan Pembahasan Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan IV.1 Pengaruh Arus Listrik Terhadap Hasil Elektrolisis Elektrolisis merupakan reaksi yang tidak spontan. Untuk dapat berlangsungnya reaksi elektrolisis digunakan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. (C), serta unsur-unsur lain, seperti : Mn, Si, Ni, Cr, V dan lain sebagainya yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. (C), serta unsur-unsur lain, seperti : Mn, Si, Ni, Cr, V dan lain sebagainya yang BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Baja Baja merupakan paduan yang terdiri dari unsur utama besi (Fe) dan karbon (C), serta unsur-unsur lain, seperti : Mn, Si, Ni, Cr, V dan lain sebagainya yang tersusun dalam

Lebih terperinci

BAB IV DATA HASIL PENELITIAN

BAB IV DATA HASIL PENELITIAN BAB IV DATA HASIL PENELITIAN 4.1. DATA KARAKTERISASI BAHAN BAKU Proses penelitian ini diawali dengan karakterisasi sampel batu besi yang berbentuk serbuk. Sampel ini berasal dari kalimantan selatan. Karakterisasi

Lebih terperinci

BAB IV SISTEM PANAS BUMI DAN GEOKIMIA AIR

BAB IV SISTEM PANAS BUMI DAN GEOKIMIA AIR BAB IV SISTEM PANAS BUMI DAN GEOKIMIA AIR 4.1 Sistem Panas Bumi Secara Umum Menurut Hochstein dan Browne (2000), sistem panas bumi adalah istilah umum yang menggambarkan transfer panas alami pada volume

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Analisis Struktur Mikro Menggunakan Optical Microsope Fe- Mn-Al pada Baja Karbon Rendah Sebelum Heat Treatment Hasil karakterisasi cross-section lapisan dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada masa sekarang kecenderungan pemakaian bahan bakar sangat tinggi sedangkan sumber bahan bakar minyak bumi yang di pakai saat ini semakin menipis. Oleh karena itu,

Lebih terperinci

Vulkanisme. Yuli Ifana Sari

Vulkanisme. Yuli Ifana Sari Vulkanisme Yuli Ifana Sari Konsep Penting Vulkanisme: transpot magma dr dlm ke permukaan bumi. Proses alam yg berhubungan dg kegiatan kegunungapian, mulai dr asal usul pembentukan magma di dlm bumi hingga

Lebih terperinci

Kecamatan Nunukan, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Timur

Kecamatan Nunukan, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Timur Umur Analisis mikropaleontologi dilakukan pada contoh batuan pada lokasi NA805 dan NA 803. Hasil analisis mikroplaeontologi tersebut menunjukkan bahwa pada contoh batuan tersebut tidak ditemukan adanya

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 ANALISIS MINEROLOGI DAN KOMPOSISI KIMIA BIJIH LIMONITE Tabel 4.1. Komposisi Kimia Bijih Limonite Awal Sampel Ni Co Fe SiO 2 CaO MgO MnO Cr 2 O 3 Al 2 O 3 TiO 2 P 2 O 5 S

Lebih terperinci

Potensi Panas Bumi Berdasarkan Metoda Geokimia Dan Geofisika Daerah Danau Ranau, Lampung Sumatera Selatan BAB I PENDAHULUAN

Potensi Panas Bumi Berdasarkan Metoda Geokimia Dan Geofisika Daerah Danau Ranau, Lampung Sumatera Selatan BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang memiliki sumber daya energi yang melimpah dan beraneka ragam, diantaranya minyak bumi, gas bumi, batubara, gas alam, geotermal, dll.

Lebih terperinci

BAB IV STUDI KHUSUS GEOKIMIA TANAH DAERAH KAWAH TIMBANG DAN SEKITARNYA

BAB IV STUDI KHUSUS GEOKIMIA TANAH DAERAH KAWAH TIMBANG DAN SEKITARNYA BAB IV STUDI KHUSUS GEOKIMIA TANAH DAERAH KAWAH TIMBANG DAN SEKITARNYA IV.1 TINJAUAN UMUM Pengambilan sampel air dan gas adalah metode survei eksplorasi yang paling banyak dilakukan di lapangan geotermal.

Lebih terperinci

BAB III DASAR TEORI Semen. Semen adalah suatu bahan pengikat yang bereaksi ketika bercampur

BAB III DASAR TEORI Semen. Semen adalah suatu bahan pengikat yang bereaksi ketika bercampur BAB III DASAR TEORI 3.1. Semen Semen adalah suatu bahan pengikat yang bereaksi ketika bercampur dengan air. Semen dihasilkan dari pembakaran kapur dan bahan campuran lainnya seperti pasir silika dan tanah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Komplek vulkanik Dieng di Jawa Tengah memiliki sistem panas bumi

BAB I PENDAHULUAN. Komplek vulkanik Dieng di Jawa Tengah memiliki sistem panas bumi BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Komplek vulkanik Dieng di Jawa Tengah memiliki sistem panas bumi temperatur tinggi yang berkaitan dengan gunung api (Layman, 2002). Sistem panas bumi ini dapat dibagi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pencemaran lingkungan oleh logam berat menjadi masalah yang cukup serius seiring dengan penggunaan logam berat dalam bidang industri yang semakin meningkat. Keberadaan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis tanah lokasi penelitian disajikan pada Lampiran 1. Berbagai sifat kimia tanah yang dijumpai di lokasi

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis tanah lokasi penelitian disajikan pada Lampiran 1. Berbagai sifat kimia tanah yang dijumpai di lokasi IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis tanah lokasi penelitian disajikan pada Lampiran 1. Berbagai sifat kimia tanah yang dijumpai di lokasi penelitian terlihat beragam, berikut diuraikan sifat kimia

Lebih terperinci

RANCANGAN PENGOLAHAN LIMBAH CAIR. Oleh DEDY BAHAR 5960

RANCANGAN PENGOLAHAN LIMBAH CAIR. Oleh DEDY BAHAR 5960 RANCANGAN PENGOLAHAN LIMBAH CAIR Oleh DEDY BAHAR 5960 PEMERINTAH KABUPATEN TEMANGGUNG DINAS PENDIDIKAN SMK NEGERI 1 (STM PEMBANGUNAN) TEMANGGUNG PROGRAM STUDY KEAHLIAN TEKNIK KIMIA KOPETENSI KEAHLIAN KIMIA

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. INDIKASI FASA PADA SETIAP LAPISAN INTERMETALIK Berdasarkan hasil SEM terhadap H13 yang telah mengalami proses pencelupan di dalam Al-12Si cair, terlihat dalam permukaan

Lebih terperinci

BAB IV DATA HASIL PENELITIAN

BAB IV DATA HASIL PENELITIAN BAB IV DATA HASIL PENELITIAN 4.1. PENGAMATAN VISUAL bab ini. Data hasil proses anodisasi dengan variabel pada penelitian ini terurai pada Gambar 4.1. Foto permukaan sampel sebelum dianodisasi (a) (b) (c)

Lebih terperinci

STOKIOMETRI BAB. B. Konsep Mol 1. Hubungan Mol dengan Jumlah Partikel. Contoh: Jika Ar Ca = 40, Ar O = 16, Ar H = 1, tentukan Mr Ca(OH) 2!

STOKIOMETRI BAB. B. Konsep Mol 1. Hubungan Mol dengan Jumlah Partikel. Contoh: Jika Ar Ca = 40, Ar O = 16, Ar H = 1, tentukan Mr Ca(OH) 2! BAB 7 STOKIOMETRI A. Massa Molekul Relatif Massa Molekul Relatif (Mr) biasanya dihitung menggunakan data Ar masing-masing atom yang ada dalam molekul tersebut. Mr senyawa = (indeks atom x Ar atom) Contoh:

Lebih terperinci

BAB II STUDI PUSTAKA

BAB II STUDI PUSTAKA BAB II STUDI PUSTAKA 2.1 Beton Konvensional Beton adalah sebuah bahan bangunan komposit yang terbuat dari kombinasi agregat dan pengikat (semen). Beton mempunyai karakteristik tegangan hancur tekan yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Telah disadari bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi harus

BAB I PENDAHULUAN. Telah disadari bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi harus 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Telah disadari bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi harus dibayar oleh umat manusia berupa pencemaran udara. Dewasa ini masalah lingkungan kerap

Lebih terperinci

1 BAB I PENDAHULUAN. Salah satu industri yang cukup berkembang di Indonesia saat ini adalah

1 BAB I PENDAHULUAN. Salah satu industri yang cukup berkembang di Indonesia saat ini adalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu industri yang cukup berkembang di Indonesia saat ini adalah industri baja. Peningkatan jumlah industri di bidang ini berkaitan dengan tingginya kebutuhan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam bab ini diuraikan mengenai latar belakang masalah, tujuan dari penelitian dan manfaat yang diharapkan. I.

BAB I PENDAHULUAN. Dalam bab ini diuraikan mengenai latar belakang masalah, tujuan dari penelitian dan manfaat yang diharapkan. I. BAB I PENDAHULUAN Dalam bab ini diuraikan mengenai latar belakang masalah, tujuan dari penelitian dan manfaat yang diharapkan. I.1 Latar Belakang Pasir besi merupakan salah satu sumber besi yang dalam

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN 5.1 ANALISIS LINGKUNGAN PENGENDAPAN BATUBARA Analisis Pengawetan Struktur Jaringan dan Derajat Gelifikasi

BAB V PEMBAHASAN 5.1 ANALISIS LINGKUNGAN PENGENDAPAN BATUBARA Analisis Pengawetan Struktur Jaringan dan Derajat Gelifikasi BAB V PEMBAHASAN 5.1 ANALISIS LINGKUNGAN PENGENDAPAN BATUBARA Dalam menentukan lingkungan pengendapan batubara di Pit J daerah Pinang dilakukan dengan menganalisis komposisi maseral batubara. Sampel batubara

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI. Beton pada umumnya adalah campuran antara agregat. kasar (batu pecah/alam), agregat halus (pasir), kemudian

BAB III LANDASAN TEORI. Beton pada umumnya adalah campuran antara agregat. kasar (batu pecah/alam), agregat halus (pasir), kemudian 11 BAB III LANDASAN TEORI 3.1. Beton Beton pada umumnya adalah campuran antara agregat kasar (batu pecah/alam), agregat halus (pasir), kemudian direkatkan dengan semen Portland yang direaksikan dengan

Lebih terperinci

UJIAN MASUK BERSAMA (UMB) Mata Pelajaran : Kimia Tanggal : 07 Juni 009 Kode Soal : 9. Penamaan yang tepat untuk : CH CH CH CH CH CH OH CH CH adalah A. -etil-5-metil-6-heksanol B.,5-dimetil-1-heptanol C.

Lebih terperinci

BAB V PEMBENTUKAN NIKEL LATERIT

BAB V PEMBENTUKAN NIKEL LATERIT BAB V PEMBENTUKAN NIKEL LATERIT 5.1. Genesa Lateritisasi Proses lateritisasi mineral nikel disebabkan karena adanya proses pelapukan. Pengertian pelapukan menurut Geological Society Engineering Group Working

Lebih terperinci

Identifikasi Kandungan Mineral Magnetik Guano di Gua Solek dan Gua Rantai Menggunakan Metode Scanning Electron Microscope (SEM)

Identifikasi Kandungan Mineral Magnetik Guano di Gua Solek dan Gua Rantai Menggunakan Metode Scanning Electron Microscope (SEM) PILLAR OF PHYSICS, Vol. 2. Oktober 2013, 115-122 Identifikasi Kandungan Mineral Magnetik Guano di Gua Solek dan Gua Rantai Menggunakan Metode Scanning Electron Microscope (SEM) Wardina Nasution, Hamdi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan, baik itu kehidupan manusia maupun kehidupan binatang dan tumbuh-tumbuhan. Air adalah merupakan bahan yang sangat vital

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Batubara merupakan bahan tambang yang berasal dari sedimen organik dari berbagai macam tumbuhan yang telah mengalami proses penguraian dan pembusukan dalam jangka waktu

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Preparasi Awal Bahan Dasar Karbon Aktif dari Tempurung Kelapa dan Batu Bara

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Preparasi Awal Bahan Dasar Karbon Aktif dari Tempurung Kelapa dan Batu Bara 23 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Pada bab hasil dan pembahasan ini akan diuraikan mengenai hasil preparasi bahan dasar karbon aktif dari tempurung kelapa dan batu bara, serta hasil karakterisasi luas permukaan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA 3 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sifat Fisika Kimia Abu Terbang Abu terbang adalah bagian dari sisa pembakaran batubara berupa bubuk halus dan ringan yang diambil dari tungku pembakaran yang mempergunakan bahan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Batu bara + O pembakaran. CO 2 + complex combustion product (corrosive gas + molten deposit

BAB I PENDAHULUAN. Batu bara + O pembakaran. CO 2 + complex combustion product (corrosive gas + molten deposit BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pemadaman listrik yang dialami hampir setiap daerah saat ini disebabkan kekurangan pasokan listrik. Bila hal ini tidak mendapat perhatian khusus dan penanganan

Lebih terperinci

Geokimia Minyak & Gas Bumi

Geokimia Minyak & Gas Bumi Geokimia Minyak & Gas Bumi Geokimia Minyak & Gas Bumi merupakan aplikasi dari ilmu kimia yang mempelajari tentang asal, migrasi, akumulasi serta alterasi minyak bumi (John M. Hunt, 1979). Petroleum biasanya

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. Untuk mengetahui gambaran penyebaran kandungan komposisi kimia secara

BAB V PEMBAHASAN. Untuk mengetahui gambaran penyebaran kandungan komposisi kimia secara BAB V PEMBAHASAN Untuk mengetahui gambaran penyebaran kandungan komposisi kimia secara horizontal dan vertikal akibat intrusi basalt maka perlu dikorelasikan antara hasil analisis kimia, tekstur (ukuran

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. didalamnya dilakukan karakterisasi XRD. 20%, 30%, 40%, dan 50%. Kemudian larutan yang dihasilkan diendapkan

HASIL DAN PEMBAHASAN. didalamnya dilakukan karakterisasi XRD. 20%, 30%, 40%, dan 50%. Kemudian larutan yang dihasilkan diendapkan 6 didalamnya dilakukan karakterisasi XRD. 3.3.3 Sintesis Kalsium Fosfat Sintesis kalsium fosfat dalam penelitian ini menggunakan metode sol gel. Senyawa kalsium fosfat diperoleh dengan mencampurkan serbuk

Lebih terperinci

ANALISIS KESUBURAN TANAH DAN RESIDU PEMUPUKAN PADA TANAH DENGAN MENGGUNAKAN METODE KEMAGNETAN BATUAN

ANALISIS KESUBURAN TANAH DAN RESIDU PEMUPUKAN PADA TANAH DENGAN MENGGUNAKAN METODE KEMAGNETAN BATUAN Jurnal Ilmu dan Inovasi Fisika Vol. 01, No. 02 (2017) 52 61 Departemen Fisika FMIPA Universitas Padjadjaran ANALISIS KESUBURAN TANAH DAN RESIDU PEMUPUKAN PADA TANAH DENGAN MENGGUNAKAN METODE KEMAGNETAN

Lebih terperinci

DAUR AIR, CARBON, DAN SULFUR

DAUR AIR, CARBON, DAN SULFUR DAUR AIR, CARBON, DAN SULFUR Daur Air/H 2 O (daur/siklus hidrologi) 1. Air di atmosfer berada dalam bentuk uap air 2. Uap air berasal dari air di daratan dan laut yang menguap (evaporasi) karena panas

Lebih terperinci

PENGARUH VARIASI MILLING TIME dan TEMPERATUR KALSINASI pada MEKANISME DOPING 5%wt AL NANOMATERIAL TiO 2 HASIL PROSES MECHANICAL MILLING

PENGARUH VARIASI MILLING TIME dan TEMPERATUR KALSINASI pada MEKANISME DOPING 5%wt AL NANOMATERIAL TiO 2 HASIL PROSES MECHANICAL MILLING PENGARUH VARIASI MILLING TIME dan TEMPERATUR KALSINASI pada MEKANISME DOPING 5%wt AL NANOMATERIAL TiO 2 HASIL PROSES MECHANICAL MILLING I Dewa Gede Panca Suwirta 2710100004 Dosen Pembimbing Hariyati Purwaningsih,

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Korosi Baja Karbon dalam Lingkungan Elektrolit Jenuh Udara

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Korosi Baja Karbon dalam Lingkungan Elektrolit Jenuh Udara BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Korosi Baja Karbon dalam Lingkungan Elektrolit Jenuh Udara Untuk mengetahui laju korosi baja karbon dalam lingkungan elektrolit jenuh udara, maka dilakukan uji korosi dengan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanah Tanah secara umum didefinisikan sebagai material yang terdiri dari agregat (butiran) mineral-mineral padat yang tidak tersementasi (terikat secara kimia) satu sama lain

Lebih terperinci

BAB V ANALISIS HASIL PERCOBAAN DAN DISKUSI

BAB V ANALISIS HASIL PERCOBAAN DAN DISKUSI BAB V ANALISIS HASIL PERCOBAAN DAN DISKUSI Dari hasil percobaan dan uji sampel pada bab IV, yang pertama dilakukan adalah karakterisasi reaktor. Untuk mewakili salah satu parameter reaktor yaitu laju sintesis

Lebih terperinci

TINJAUAN UMUM DAERAH PENELITIAN

TINJAUAN UMUM DAERAH PENELITIAN BAB III TINJAUAN UMUM DAERAH PENELITIAN 3.1 Tambang Zeolit di Desa Cikancra Tasikmalaya Indonesia berada dalam wilayah rangkaian gunung api mulai dari Sumatera, Jawa, Nusatenggara, Maluku sampai Sulawesi.

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. FeO. CO Fe CO 2. Fe 3 O 4. Fe 2 O 3. Gambar 2.1. Skema arah pergerakan gas CO dan reduksi

BAB II DASAR TEORI. FeO. CO Fe CO 2. Fe 3 O 4. Fe 2 O 3. Gambar 2.1. Skema arah pergerakan gas CO dan reduksi BAB II DASAR TEORI Pengujian reduksi langsung ini didasari oleh beberapa teori yang mendukungnya. Berikut ini adalah dasar-dasar teori mengenai reduksi langsung yang mendasari penelitian ini. 2.1. ADSORPSI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lainnya untuk bisa terus bertahan hidup tentu saja sangat tergantung pada ada atau

BAB I PENDAHULUAN. lainnya untuk bisa terus bertahan hidup tentu saja sangat tergantung pada ada atau BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan salah satu materi penting yang ada di bumi dan terdapat dalam fasa cair, uap air maupun es. Kebutuhan manusia dan makhluk hidup lainnya untuk bisa terus

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 47 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pengantar Penelitian ini bertujuan untuk menunjukan pengaruh suhu sintering terhadap struktur Na 2 O dari Na 2 CO 3 yang dihasilkan dari pembakaran tempurung kelapa. Pada

Lebih terperinci

BAB IV DATA DAN ANALISIS

BAB IV DATA DAN ANALISIS BAB IV DATA DAN ANALISIS 4.1 Karakterisasi Abu Ampas Tebu ( Sugarcane Ash ) 4.1.1 Analisis Kimia Basah Analisis kimia basah abu ampas tebu (sugarcane ash) dilakukan di Balai Besar Bahan dan Barang Teknik

Lebih terperinci

Gambar 4.7. SEM Gelas BG-2 setelah perendaman di dalam SBF Ringer

Gambar 4.7. SEM Gelas BG-2 setelah perendaman di dalam SBF Ringer Porositas Gambar 4.7. SEM Gelas BG-2 setelah perendaman di dalam SBF Ringer Dari gambar 4.6 dan 4.7 terlihat bahwa partikel keramik bio gelas aktif berbentuk spherical menuju granular. Bentuk granular

Lebih terperinci

Besar butir adalah ukuran (diameter dari fragmen batuan). Skala pembatasan yang dipakai adalah skala Wentworth

Besar butir adalah ukuran (diameter dari fragmen batuan). Skala pembatasan yang dipakai adalah skala Wentworth 3. Batuan Sedimen 3.1 Kejadian Batuan Sedimen Batuan sedimen terbentuk dari bahan yang pernah lepas dan bahan terlarut hasil dari proses mekanis dan kimia dari batuan yang telah ada sebelumnya, dari cangkang

Lebih terperinci

MEKANIKA TANAH ASAL USUL TERBENTUKNYA TANAH. UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA Jl. Boulevard Bintaro Sektor 7, Bintaro Jaya Tangerang Selatan 15224

MEKANIKA TANAH ASAL USUL TERBENTUKNYA TANAH. UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA Jl. Boulevard Bintaro Sektor 7, Bintaro Jaya Tangerang Selatan 15224 MEKANIKA TANAH ASAL USUL TERBENTUKNYA TANAH UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA Jl. Boulevard Bintaro Sektor 7, Bintaro Jaya Tangerang Selatan 15224 PENGERTIAN TANAH Apa itu tanah? Material yang terdiri dari

Lebih terperinci

Deskripsi METODE UNTUK PENUMBUHAN MATERIAL CARBON NANOTUBES (CNT)

Deskripsi METODE UNTUK PENUMBUHAN MATERIAL CARBON NANOTUBES (CNT) 1 Deskripsi METODE UNTUK PENUMBUHAN MATERIAL CARBON NANOTUBES (CNT) Bidang Teknik Invensi Invensi ini berhubungan dengan metode untuk penumbuhan material carbon nanotubes (CNT) di atas substrat silikon

Lebih terperinci

batuan, butiran mineral yang tahan terhadap cuaca (terutama kuarsa) dan mineral yang berasal dari dekomposisi kimia yang sudah ada.

batuan, butiran mineral yang tahan terhadap cuaca (terutama kuarsa) dan mineral yang berasal dari dekomposisi kimia yang sudah ada. DESKRIPSI BATUAN Deskripsi batuan yang lengkap biasanya dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: 1. Deskripsi material batuan (atau batuan secara utuh); 2. Deskripsi diskontinuitas; dan 3. Deskripsi massa batuan.

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. (CH 2 O)n + n O 2 n CO 2 + n H 2 O + e - (1) mikrob (CH 2 O)n + nh 2 O nco 2 + 4n e - + 4n H + (2)

HASIL DAN PEMBAHASAN. (CH 2 O)n + n O 2 n CO 2 + n H 2 O + e - (1) mikrob (CH 2 O)n + nh 2 O nco 2 + 4n e - + 4n H + (2) HASIL DAN PEMBAHASAN Dinamika Eh dan ph Ketika tanah digenangi, air akan menggantikan udara dalam pori tanah. Pada kondisi seperti ini, mikrob aerob tanah menggunakan semua oksigen yang tersisa dalam tanah.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perencanaan konstruksi dengan sifat-sifat yang ada di dalamnya seperti. plastisitas serta kekuatan geser dari tanah tersebut.

BAB I PENDAHULUAN. perencanaan konstruksi dengan sifat-sifat yang ada di dalamnya seperti. plastisitas serta kekuatan geser dari tanah tersebut. BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Tanah memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap perencanaan suatu konstruksi maka tanah menjadi komponen yang perlu diperhatikan dalam perencanaan konstruksi dengan

Lebih terperinci

ACARA IX MINERALOGI OPTIK ASOSIASI MINERAL DALAM BATUAN

ACARA IX MINERALOGI OPTIK ASOSIASI MINERAL DALAM BATUAN ACARA IX MINERALOGI OPTIK I. Pendahuluan Ilmu geologi adalah studi tentang bumi dan terbuat dari apa itu bumi, termasuk sejarah pembentukannya. Sejarah ini dicatat dalam batuan dan menjelaskan bagaimana

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI MINERAL MAGNETIK ABU TERBANG (FLY ASH) DAN ABU DASAR (BOTTOM ASH) SISA PEMBAKARAN BATUBARA PLTU ASAM-ASAM

IDENTIFIKASI MINERAL MAGNETIK ABU TERBANG (FLY ASH) DAN ABU DASAR (BOTTOM ASH) SISA PEMBAKARAN BATUBARA PLTU ASAM-ASAM IDENTIFIKASI MINERAL MAGNETIK ABU TERBANG (FLY ASH) DAN ABU DASAR (BOTTOM ASH) SISA PEMBAKARAN BATUBARA PLTU ASAM-ASAM Wardatul Husna 1, Sudarningsih 2, dan Totok Wianto 2 Abstrak: Pembakaran batubara

Lebih terperinci

Bab IV Hasil dan Pembahasan

Bab IV Hasil dan Pembahasan Bab IV Hasil dan Pembahasan IV.1 Serbuk Awal Membran Keramik Material utama dalam penelitian ini adalah serbuk zirkonium silikat (ZrSiO 4 ) yang sudah ditapis dengan ayakan 400 mesh sehingga diharapkan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Syarat Tumbuh Tanaman Kelapa Sawit Kelapa sawit adalah tumbuhan hutan yang dibudidayakan. Tanaman ini memiliki respon yang

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Syarat Tumbuh Tanaman Kelapa Sawit Kelapa sawit adalah tumbuhan hutan yang dibudidayakan. Tanaman ini memiliki respon yang II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Syarat Tumbuh Tanaman Kelapa Sawit Kelapa sawit adalah tumbuhan hutan yang dibudidayakan. Tanaman ini memiliki respon yang baik sekali terhadap kondisi lingkungan hidup dan perlakuan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 26 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Pada penelitian ini, pembuatan soft magnetic menggunakan bahan serbuk besi dari material besi laminated dengan perlakuan bahan adalah dengan proses kalsinasi dan variasi

Lebih terperinci

FOSFOR A. KELIMPAHAN FOSFOR

FOSFOR A. KELIMPAHAN FOSFOR FOSFOR A. KELIMPAHAN FOSFOR Fosfor termasuk unsur bukan logam yang cukup reaktif, sehingga tidak ditemukan di alam dalamkeadaan bebas. Fosfor berasal dari bahasa Yunani, phosphoros, yang berarti memiliki

Lebih terperinci

BATUAN PEMBENTUK PERMUKAAN TANAH

BATUAN PEMBENTUK PERMUKAAN TANAH BATUAN PEMBENTUK PERMUKAAN TANAH Proses Pembentukan Tanah. Tanah merupakan lapisan paling atas pada permukaan bumi. Manusia, hewan, dan tumbuhan memerlukan tanah untuk tempat hidup. Tumbuh-tumbuhan tidak

Lebih terperinci

Handout. Bahan Ajar Korosi

Handout. Bahan Ajar Korosi Handout Bahan Ajar Korosi PENDAHULUAN Aplikasi lain dari prinsip elektrokimia adalah pemahaman terhadap gejala korosi pada logam dan pengendaliannya. Berdasarkan data potensial reduksi standar, diketahui

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kebutuhan energi akan semakin meningkat bersamaan dengan. perkembangan teknologi dan pertumbuhan penduduk. Saat ini sebagian besar

BAB I PENDAHULUAN. Kebutuhan energi akan semakin meningkat bersamaan dengan. perkembangan teknologi dan pertumbuhan penduduk. Saat ini sebagian besar BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebutuhan energi akan semakin meningkat bersamaan dengan perkembangan teknologi dan pertumbuhan penduduk. Saat ini sebagian besar energi dihasilkan dari bahan bakar

Lebih terperinci

Bahan 1. Problem set 6 lembar 2. Skala Wentwort 3. Beberapa Batuan Sedimen Non Karbonat

Bahan 1. Problem set 6 lembar 2. Skala Wentwort 3. Beberapa Batuan Sedimen Non Karbonat BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Batuan sedimen sudah banyak dikenal orang dan juga sudah sering dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari, dari hal yang paling sederhana seperti pembuatan pondasi

Lebih terperinci

TUGAS KOROSI FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LAJU KOROSI

TUGAS KOROSI FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LAJU KOROSI TUGAS KOROSI FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LAJU KOROSI Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Korosi Dosen pengampu: Drs. Drs. Ranto.H.S., MT. Disusun oleh : Deny Prabowo K2513016 PROGRAM

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK TANAH. Angga Yuhistira Teknologi dan Manajemen Lingkungan - IPB

KARAKTERISTIK TANAH. Angga Yuhistira Teknologi dan Manajemen Lingkungan - IPB KARAKTERISTIK TANAH Angga Yuhistira Teknologi dan Manajemen Lingkungan - IPB Pendahuluan Geosfer atau bumi yang padat adalah bagian atau tempat dimana manusia hidup dan mendapatkan makanan,, mineral-mineral

Lebih terperinci

Pemantauan Kerusakan Lahan untuk Produksi Biomassa

Pemantauan Kerusakan Lahan untuk Produksi Biomassa Pemantauan Kerusakan Lahan untuk Produksi Biomassa Rajiman A. Latar Belakang Pemanfaatan lahan memiliki tujuan utama untuk produksi biomassa. Pemanfaatan lahan yang tidak bijaksana sering menimbulkan kerusakan

Lebih terperinci

PEDOSFER BAHAN AJAR GEOGRAFI KELAS X SEMESTER GENAP

PEDOSFER BAHAN AJAR GEOGRAFI KELAS X SEMESTER GENAP PEDOSFER BAHAN AJAR GEOGRAFI KELAS X SEMESTER GENAP PENGERTIAN TANAH Pedosfer berasal dari bahasa latin yaitu pedos = tanah, dan sphera = lapisan. Pedosfer yaitu lapisan kulit bumi yang tipis yang letaknya

Lebih terperinci

BAB 4 SIKLUS BIOGEOKIMIA

BAB 4 SIKLUS BIOGEOKIMIA Siklus Biogeokimia 33 BAB 4 SIKLUS BIOGEOKIMIA Kompetensi Dasar: Menjelaskan siklus karbon, nitrogen, oksigen, belerang dan fosfor A. Definisi Siklus Biogeokimia Siklus biogeokimia atau yang biasa disebut

Lebih terperinci

TEKANAN PADA ERUPSI GUNUNG BERAPI

TEKANAN PADA ERUPSI GUNUNG BERAPI TEKANAN PADA ERUPSI GUNUNG BERAPI ARINI ROSA SINENSIS SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) NURUL HUDA 2017 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG Indonesia dikenal dengan negara yang memiliki

Lebih terperinci

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 15 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pembuatan Arang Aktif dari Sekam Padi Arang sekam yang telah diaktivasi disebut arang aktif. Arang aktif yang diperoleh memiliki ukuran seragam (210 µm) setelah

Lebih terperinci

BAB 4 DATA DAN ANALISIS

BAB 4 DATA DAN ANALISIS BAB 4 DATA DAN ANALISIS 4.1. Kondisi Sampel TiO 2 Sampel TiO 2 disintesa dengan memvariasikan jenis pelarut, block copolymer, temperatur kalsinasi, dan kelembaban relatif saat proses aging. Kondisi sintesisnya

Lebih terperinci

Efek Substitusi Semen dengan Limbah Padat Industri Pupuk PT. Petrokimia terhadap Kuat Lentur Genteng Beton di PT.

Efek Substitusi Semen dengan Limbah Padat Industri Pupuk PT. Petrokimia terhadap Kuat Lentur Genteng Beton di PT. Efek Substitusi Semen dengan Limbah Padat Industri Pupuk PT. Petrokimia terhadap Kuat Lentur Genteng Beton di PT. Varia Usaha Beton Oleh : Yultino Syaifullah F 3110030087 M. Rohim Lathiif 3110030091 Pembimbing

Lebih terperinci

Bab II Tinjauan Pustaka

Bab II Tinjauan Pustaka Bab II Tinjauan Pustaka II.1 Mineral Magnetik Alamiah Mineral magnetik di alam dapat digolongkan dalam keluarga oksida besi-titanium, sulfida besi dan oksihidroksida besi. Keluarga oksida besi-titanium

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemakaian batubara sebagai sumber energi telah menjadi salah satu pilihan di Indonesia sejak harga bahan bakar minyak (BBM) berfluktuasi dan cenderung semakin mahal.

Lebih terperinci

PENGARUH PENAMBAHAN FLUX DOLOMITE PADA PROSES CONVERTING PADA TEMBAGA MATTE MENJADI BLISTER

PENGARUH PENAMBAHAN FLUX DOLOMITE PADA PROSES CONVERTING PADA TEMBAGA MATTE MENJADI BLISTER JURNAL TEKNIK POMITS Vol. x, No. x, (2014) ISSN: xxxx-xxxx (xxxx-xxxx Print) 1 PENGARUH PENAMBAHAN FLUX DOLOMITE PADA PROSES CONVERTING PADA TEMBAGA MATTE MENJADI BLISTER Girindra Abhilasa dan Sungging

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Hujan merupakan unsur iklim yang paling penting di Indonesia karena

II. TINJAUAN PUSTAKA. Hujan merupakan unsur iklim yang paling penting di Indonesia karena II. TINJAUAN PUSTAKA A. Defenisi Hujan Asam Hujan merupakan unsur iklim yang paling penting di Indonesia karena keragamannya sangat tinggi baik menurut waktu dan tempat. Hujan adalah salah satu bentuk

Lebih terperinci

BAB V ALTERASI PERMUKAAN DAERAH PENELITIAN

BAB V ALTERASI PERMUKAAN DAERAH PENELITIAN BAB V ALTERASI PERMUKAAN DAERAH PENELITIAN 5.1 Tinjauan Umum Alterasi hidrotermal adalah suatu proses yang terjadi sebagai akibat dari adanya interaksi antara batuan dengan fluida hidrotermal. Proses yang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Kebutuhan pada senyawa berukuran atau berstruktur nano khususnya dalam

I. PENDAHULUAN. Kebutuhan pada senyawa berukuran atau berstruktur nano khususnya dalam I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kebutuhan pada senyawa berukuran atau berstruktur nano khususnya dalam bidang sintesis material, memacu para peneliti untuk mengembangkan atau memodifikasi metode preparasi

Lebih terperinci

Universitas Gadjah Mada 36

Universitas Gadjah Mada 36 5) Pelapukan 5.1) Pelapukan Fisik Pelapukan secara umum mengacu pada sekelompok proses dengan mana batuan permukaan terpecah belah menjadi partikel-partikel halus atau terlarutkan ke dalam air karena pengaruh

Lebih terperinci