BAB VI SPESIFIKASI TEKNIS
|
|
|
- Erlin Sasmita
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB VI SPESIFIKASI TEKNIS VI.1 Ketentuan Pelaksanaan VI.1.1 Bangunan Sementara Bangunan sementara adalah bangunan direksi, bangunan kerja, gudang bahan-bahan, dan lain-lain. Bangunan sementara dibuat di lokasi proyek. Besar kecilnya ukuran bangunan sementara disesuaikan dengan kebutuhan. Bangunan direksi dan bangunan kerja harus dilengkapi dengan 2 (dua) buah meja tulis, 2 (dua) buah kursi, ruangan untuk buang air dan cuci tangan, perlengkapan dan penyediaan obat-obatan (P3K), peti untuk menyimpan barang, lemari, dan lain-lain yang kira-kira diperlukan. Semua bangunan sementara harus dibongkar setelah pekerjaan selesai, dan bekas bongkarannya menjadi milik pemberi tugas. VI.1.2. Ketentuan Penyelidikan Bahan/Alat Semua ketentuan bahan yang harus disediakan oleh pemborong harus memenuhi Standar Normalisasi Indonesia, dan Standar Pemeriksaan Umum Bahan-bahan (PUBB), sedangkan untuk beton berlaku Peraturan Umum Beton Bertulang Indonesia (PBBI). Pemborong diwajibkan mengirim contoh-contoh bahan yang diberikan kepada pemberi tugas, bahan yang kualitasnya diragukan akan dikirim ke kantor Penyelidikan Bahan-Bahan Bangunan atas biaya pemborong. Apabila ternyata terdapat bahan-bahan yang dinyatakan tidak baik oleh pemberi tugas dilapangan pekerjaan, maka pemborong harus segera mengangkut bahan-bahan tersebut keluar lapangan dalam jangka waktu 3 (tiga) hari. Pemborong wajib menyediakan barang-barang antara lain : Concrete mixture VI-1
2 Concrete internal Concrete external vibrator Vibrator Pompa air Water pass, dan lain-lain. VI.1.3. Gambar-Gambar Gambar-gambar kerja untuk seluruh pekerjaan harus selalu ada di lapangan setiap waktu. Gambar-gambar kerja harus dalam keadaan jelas, dapat dibaca dan menunjukkan perubahan-perubahan terakhir. VI.1.4 Rencana kerja Sebelum dimulai dengan pelaksanaan pekerjaan pemborong harus membuat rencana kerja yang disetujui direksi dan diajukan selambat-lambatnya satu minggu setelah pelulusan pekerjaan. Dalam rencana kerja harus dilampirkan Network Planning, daftar staf ahli di lapangan, dan daftar peralatan. VI.1.5 Peraturan Terkait Tata cara pelaksanaan dan lain-lain yang berhubungan dengan peraturan pembangunan yang sah berlaku di Republik Indonesia selama pelaksanaan kontrak ini harus betul-betul ditaati. Peraturan-peraturan tersebut adalah : Peraturan umum untuk pemeriksaan bahan-bahan bangunan NI-3 (PUBB) 1965, NI , PUBB Peraturan-peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBI-1971) Peraturan Muatan Indonesia (PMI-NI 18/1969) Peraturan Perburuhan Indonesia (tentang penggunaan tenaga harian, mingguan, bulanan, dan borongan) Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia (PKKI-NI ) VI-2
3 Peraturan Perusahaan Listrik Negara tentang instalasi listrik dan tenaga (POL.L-NI 6) Peraturan Perusahaan Air Minum Negara. VI.2. Spesifikasi Teknis Material VI.2.1 Umum Seluruh material yang ditawarkan pemborong harus memenuhi persyaratan teknis baik kualitas maupun ukurannya. Untuk material bekas pabrik yang ditawarkan pemborong, harus ada data-data pokok yang dilampiri dengan brosurnya. Bagi kontraktor yang memenangkan pelelangan harus menunjukkan contoh setiap material yang ditawarkan untuk mendapatkan persetujuan direksi. VI.2.2 Semen Portland Semen Portland yang dipakai harus memenuhi syarat-syarat dalam standar NIS. Semen dapat diterima berdasarkan hasil penyelidikan selama 7 hari, disertai riwayat kualitas dari penghasil semen selama 12 bulan terakhir. Pemborong harus menyediakan gudang penyimpanan semen pada tempat-tempat yang baik dan memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: semen senantiasa terlindung dari kelembaban atau keadaan cuaca lain yang merusak. lantai gudang harus kuat dan minimal berjarak 30 cm dari atas tanah. gudang harus cukup untuk memuat semen dalam jumlah besar sehingga tidak menimbulkan kemacetan dalam penerimaan atau pengeluaran semen. semen dalam sak-sak tidak boleh ditumpuk lebih dari 2 m. VI-3
4 VI.2.3. Agregat Kasar, Pasir, dan Batu Segala cara yang dilaksanakan pemborong untuk pengangkutan, pembongkaran, pengerjaan dan penimbunan agregat kasar, pasir, dan batu harus mendapat persetujuan direksi. Tempat penimbunan harus dibersihkan, diatur sedemikian rupa sehingga pasir atau agregat kasar tersebut tidak berceceran, dan tidak terkena kotoran lain pada waktu hujan atau kena air rembesan. Pemborong atas biaya sendiri harus mengolah kembali pasir atau agregat kasar yang kotor atau tercecer karena penimbunan yang tidak sempurna. Tinggi timbunan maksimum adalah 1,23 m dan tidak boleh dipindahkan tempatnya kecuali atas instruksi direksi. a. Pasir Semua pasir yang diperlukan harus diperoleh pemborong dari sumber yang disetujui direksi. Pemborong menanggung semua masalah dan biaya yang dibutuhkan untuk memperoleh pasir tersebut. Pemborong harus memberikan contoh pasir yang akan dipakai dalam jumlah yang cukup sebelum pemakaian. Pasir harus bersih dan terbebas dari gumpalan-gumpalan tanah, alkalis, bahan-bahan yang mengandung organik, dan kotoran-kotoran lainnya yang dapat merusak. Pasir beton harus mempunyai modulus kehalusan antara 2 sampai 32, atau sesuai dengan PBI 1972, atau sesuai dengan ketentuan seperti tersaji dalam Tabel VI.1. VI-4
5 Tabel VI.1. Kehalusan Pasir Beton No % Satuan Timbangan Saringan Tertinggal di Saringan PAN 3-7 (Peraturan Beton Indonesia, 1972) Apabila presentase yang tertinggal di saringan no 16 adalah 20%, maka batas maksimum untuk yang tertinggal di saringan no 8 dapat naik sampai 20%. Pasir pasang harus memenuhi gradasi seperti yang terdapat pada Tabel VI.2. Tabel VI.2. Kehalusan Pasir Pasangan No Saringan % Timbangan Melalui Saringan (maksimum) (Peraturan Beton Indonesia, 1972) b. Agregat Kasar Agregat kasar yang diperoleh pemborong harus berasal dari sumber yang disetujui oleh direksi. Pemborong harus menanggung semua permasalahan dan biaya yang diperlukan untuk memperoleh agregat kasar tersebut. Agregat kasar harus bersih dan bebas dari bagian-bagian yang halus, mudah pecah, tipis atau panjang-panjang, bahan alkalis, atau organis dan substansi lain yang merusak. Berat substansi yang merusak tidak boleh lebih dari 3 %. Agregat kasar harus terdegradasi baik dengan ukuran 5 50 mm. Modulus kehalusan butir harus berada antara 6,0 7,5 atau memenuhi standar PBI Agregat kasar VI-5
6 yang tidak memenuhi ketentuan tersebut harus disaring kembali atas biaya pemborong. c. Batu Batu yang digunakan adalah batu kali atau batu pecah dari gunung atau batu-batu besar yang bermutu granit, kwasit, dan trap yang mempunyai berat jenis minimum 2,40 gr/cm 3 dan kekuatan tekan tidak kurang dari 40 kg/cm 2, keras, kekar, bersih, penuh, bebas pori-pori, dan bebas cacat belah-belah. VI.2.4. Air Air yang digunakan untuk pengadukan beton atau pembuatan spesi harus menggunakan air tawar yang bersih dan memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: tidak mengandung minyak dan bagian-bagian terapung/melayang harus netral atau sedikit alkalis kadar sulfat maksimum adalah 0,5 % atau 5 gr/l, kadar klor maksimum adalah 1,5 % atau 15 gr/l banyaknya KMnO 4 maksimum yang dipakai untuk mengoreksi air kotor organik didalam air adalah 1000 mg/l. Apabila contoh air tidak dapat dilakukan, maka dalam hal keragu-raguan mengenai air harus dilakukan percobaan perbandingan antara kekuatan tekanan mortal semenpasir dengan memakai air suling. Air tersebut dianggap dapat dipakai apabila kekuatan tekanan mortal dengan pemakaian air tersebut pada umur 7 dan 28 hari paling sedikit adalah 90 % kekuatan mortal dengan memakai air suling pada umur yang sama. VI.2.5. Baja Tulangan Baja tulangan harus dari baja yang lunak dengan tegangan leleh 2400 kg/cm 2 dan tegangan maksimum 5000 kg/cm 2. Bahan-bahan tersebut dalam segala hal harus memenuhi ketentuan PBI-1971 atau Jepang kelas 5.R.24 atau VI-6
7 Baja tulangan harus disimpan dengan tidak menyentuh tanah dan tidak boleh disimpan di tempat terbuka dalam waktu lama. VI.2.6. Baja Struktur Profil Penyediaan bahan harus lengkap dengan peralatannya dan disesuaikan dengan mutu kelas I. Mutu baja profil, pelat-pelat simpul, baut, mur, dan paku keling harus memenuhi persyaratan minimal yang mempunyai kekuatan normal 3700 kg/cm 2. Bahan-bahan yang dipakai untuk pekerjaan-pekerjaan baja harus diperoleh dari suplier yang disetujui oleh pemberi tugas. Pasangan-pasangan yang tepat, bentuk, tebal ukuran, berat, dan detail-detail konstruksi yang ditunjukkan pada gambar harus disediakan. Bahan baja kecuali ditentukan lain oleh pemberi tugas harus sesuai dengan PUBB-56. Baut dan paku keling yang digunakan untuk konstruksi harus mempunyai ukuran yang sesuai dengan yang tercantum pada gambar. Kekuatan baut atau paku keling minimal harus sama dengan kekuatan baja profil dan pelat simpul. Pemasangan baut dan paku keling harus benar-benar kokoh. VI.2.7 Standar Pipa Jenis-jenis pipa yang dipergunakan dalam pengerjaan ini adalah pipa dari jenis Ductile Cast Iron Pipe (DCIP). Pipa galvanis yang didatangkan dari suplier harus dalam keadaan utuh/baru dan semua dalam keadaan terlindung, dan sesuai dengan kelas yang disyaratkan dan memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai berikut: pipa besi yang dimaksud disini adalah lengkap dengan soket dan perlengkapan-perlengkapan sambungan penyambungan dilakukan dengan mengikuti ketentuan pabrik minimum hidrostatic test pressure harus mencapai 10 atm pipa yang digunakan harus dari jenis kelas 1 pipa yang ditawarkan harus baru dan dijamin keutuhannya. VI-7
8 VI.2.8 Perlengkapan Pipa Perlengkapan pipa yang dimaksud adalah perlengkapan yang sesuai untuk macam pipa yang digunakan. Sambungan dilakukan dengan union socket. Minimum hidrostatic test pressure yang harus dicapai sesuai dengan yang berlaku untuk pipanya. VI.2.9 Gate Valve Gate valve yang digunakan adalah Round Flange Valve dengan Direct Drive Non Rising Stem. Kriteria lain yang harus dipenuhi: minimun leakage pressure adalah 8 atm spendel terbuat dari brause VI.3 Persyaratan Teknis Pekerjaan Sipil/Konstruksi Ruang lingkup pekerjaan sipil meliputi: pekerjaan persiapan, pekerjaan pematangan tanah, pekerjaan pondasi, pekerjaan beton, pekerjaan bata dan plesteran, pekerjaan kayu, pekerjaan atap, pekerjaan kaca, serta pekerjaan sarana jalan. VI.3.1 Perkerjaan Persiapan Pekerjaan persiapan merupakan awal dari kegiatan pembangunan. Lokasi tempat pembangunan harus dibersihkan dari hal-hal yang dapat mengganggu kelancaran kerja, misalnya: pohon, akar-akar tanaman, dan semak-semak di lokasi tersebut. Pada tahap ini juga dibuat sarana penunjang lain seperti pembuatan kantor kontraktor dan konsultan, pemasangan genset, dan lain-lain. VI.3.2 Pekerjaan Pematangan Tanah Pada tahap pekerjaan ini dilakukan persiapan lokasi pembangunan IPAL agar mencapai elevasi yang telah direncanakan dalam gambar rencana penempatan unitunit pengolahan. VI-8
9 Pekerjaan tanah tersebut meliputi: a. pekerjaan pengukuran dan pematokan b. pekerjaan pembersihan lokasi c. pekerjaan penggalian d. pekerjaan pengurugan. Pekerjaan penggalian tanah dilakukan sesuai dengan pematokan yang telah dilakukan. Klasifikasi jenis galian menurut tingkat kesulitannya untuk menentukan pembiayaan adalah sebagai berikut: galian tanah biasa galian tanah keras/cadas merupakan tanah berbatu, umumnya untuk menggali tanah ini digunakan bor atau dengan bahan peledak atau alat khusus lainnya. Galian tanah yang selalu berair akan menimbulkan masalah air tanah setelah mencapai kedalaman gali lebih dari 0,2 dari permukaan air konstan. Bila perlu saat dilakukan penggalian, galian harus diberi penguat dan dibuat agak miring sehingga tidak terjadi longsor yang dapat mengganggu bangunan yang telah dibuat dan menjaga para pekerja untuk bekerja dengan aman. Daerah penggalian harus mempunyai saluran pembuangan air yang baik dan bebas dari genangan air atau dapat juga digunakan pompa air, karena seluruh pekerjaan sedapat mungkin dikerjakan dalam keadaan kering. Galian harus dibuat dengan lebar berlebih untuk memasukkan unit-unit penyangga, penguat galian, peralatan pembangunan sipil dan harus cukup untuk meletakkan dan menyambungkan pipa dengan baik. Harus dilakukan persiapan-persiapan tersendiri untuk menampung sementara bahan galian, yang diperlukan untuk pengurugan kembali. Bahan galian yang tidak dapat digunakan sebagai bahan urugan atau keperluan lain, diangkut dari lapangan untuk dibuang ke tempat pembuangan akhir yang telah disepakati. VI-9
10 a. Pekerjaan Pengurugan Pengurugan harus dilakukan sesuai dengan gambar rencana dan spesifikasinya serta disebutkan dalam Pekerjaan Tanah. Pengurugan harus memenuhi ketentuanketentuan bahwa tanah yang digunakan bukan termasuk tanah lempung asli (kadar clay <20%). Pengurugan dilakukan secara berlapis dengan tebal lapisan 20 cm, kemudian dipadatkan dengan menggunakan alat berat. Bahan urugan harus bebas dari akarakaran, bahan organik, sampah, dan batuan yang lebih besar dari 10 cm. b. Bahan urugan: Bahan dari galian tanah Pengurugan dapat menggunakan bahan galian, meliputi bahan-bahan yang menggandung lempung, pasir, kerikil, atau bahan lain yang bebas dari kotoran. Bahan dari pasir dan kerikil Semua pasir yang digunakan dalam pengurugan harus berasal dari pasir alam, dengan butiran dari halus sampai kasar, bebas dari kotoran, debu, atau bahanbahan lain yang tidak sesuai. Lempung yang terdapat pada pasir tidak boleh lebih dari 10% berat keseluruhan. Pada pekerjaan sipil pembangunan unit-unit pengolahan maupun pekerjaan pengurugan di bawaah pipa harus diberi dasar pasir setebal 10 cm, dasar pasir ini dipadatkan dengan pemadat dan dibasahi serta harus memiliki permukaan yang rata, urugan pasir ini harus disebar merata ke seluruh lokasi pengurugan. VI.3.3 Pekerjaan Pondasi a. Konstruksi pondasi dibuat berdasarkan gambar hasil perhitungan sipil. b. Galian tanah atau pemancangan untuk pondasi harus sampai pada tanah asli dengan daya dukung tertentu. Jika daya dukung tanah kurang, maka dilakukan perbaikan tanah sesuai dengan ketentuan yang ada. VI-10
11 c. Jika tanah mengandung lumpur atau humus yang cukup dalam, maka tanah tersebut harus dibuang atau dikupas dan diadakan perbaikan struktur tanah. d. Pondasi yang akan dipasang adalah pondasi batu kali dengan memakai bahan material: batu kapur setebal cm, dipadatkan pasir urug untuk alas pondasi dengan ketebalan 5-10 cm dan dipadatkan adukan campuran 1 pc : 2 ps : 3 krl. VI.3.4 Pekerjaan Beton a. Kualitas beton yang digunakan adalah K-225 untuk lantai dan dinding unit-unit pengolahan, dan beton 1 : 3 : 5 untuk lantai kerja. b. Persyaratan bahan dan pelaksanaan pekerjaan pondasi harus sesuai dengan gambar rencana dan spesifikasi teknis untuk pekerjaan sipil. Secara umum spesifikasi bahan-bahan konstruksi dalam pekerjaan ini adalah sebagai berikut: Semen. Semua semen yang digunakan adalah jenis semen portland biasa dengan mutu terbaik. Semen harus disimpan dengan baik untuk mencegah kelembaban atau pencemaran oleh bahan-bahan lain. Pasir dan Kerikil/batu pecah. Pasir dan kerikil/batu pecahan harus diangkut, ditangani, dan ditimbun sedemikian rupa sehingga yang berukuran nominal terpisah dari yang berukuran lain dan tidak bercampur dengan benda-benda lain. Kerikil dan batu pecahan harus keras, tahan lama, bersih, serta bebas dari bahan organik yang mengganggu konstuksi beton, lapisan yang menempel dan dari debu. Beton Perbandingan campuran beton harus 1 : 2 : 3 kecuali ada ketentuan lain, untuk mendapatkan mutu beton yang baik perbandingan kerikil dan pecahan batu yang harus digunakan harus diubah-ubah (dapat dipadatkan dengan baik tanpa penggunaan terlalu banyak air). VI-11
12 c. Untuk pencampuran semen harus digunakan air bersih, tidak berwarna, tidak mengandung bahan organik, minyak, asam, alkali, atau campuran lain yang dapat merusak beton atau dapat mempengaruhi daya lekat semen. d. Pengadukan beton dilakukan dengan mesin pengaduk sampai susunan warna dan kekentalannya harus sama. e. Sebelum dilakukan pengecoran bekisting harus dipasang dengan kokoh sesuai dengan bentukannya. Bekisting dibuat dari kayu bermutu baik dengan ketebalan minimal 2,5 cm. Dipasang sekokoh mungkin, kaku, dan kuat menahan getaran alat pemadat. f. Beton harus dicor dan dipadatkan tidak kurang dari 30 menit setelah dicampur dan dibiarkan dalam keadaan basah dan terlindung dari sinar matahari selama minimal 7 hari. g. Cetakan dan penyempurnaan Cetakan untuk cor beton harus dibuat rapi dan diperkuat secukupnya sesuai dengan gambar rencana. Semua sambungan-sambungan harus rapat untuk menjamin agar tidak terdapat kebocoran yang menyebabkan beton menjadi basah pada cetakannya. Cetakan tidak boleh dibongkar selama 24 jam setelah pengecoran. h. Permukaan beton yang horizontal dan yang terlihat harus diratakan sampai halus dengan sendok baja setelah pengerasan pertama terjadi. i. Pekerjaan beton meliputi: pekerjaan struktur, pondasi, kolom, sloof, balok, pelat lantai, pelat atap, bak air. pekerjaan beton tumbuk, dudukan piapa, pompa, mesin. j. Campuran Macam campuran (adukan) menggunakan agregat kasar dan halus untuk tiap 50 kg semen portland dan ukuran nominal, ditunjukkan pada Tabel VI.3. VI-12
13 Tabel VI.3. Jenis Beton dan Spesifikasinya Agregat Agregat Ukuran Jenis Campuran Halus Kasar Nominal Beton (m 3 ) (m 3 ) (mm) B1 1 : 1,5 : 2, B2 1: 2: B3 1 : 2,5 : B4 1: 3: B5 1: 2: (Peraturan Beton Indonesia, 1972) Penjelasan pemakaian jenis beton adalah sebagai berikut: B1 = beton yang memerlukan kekedapan air, pelat-pelat atap, reservoir, balok yang bersangkutan dengan atap dan reservoir. B2 = semua beton bertulang, kolom, sloof, balok-balok, pondasi diluar ketentuan pada B1 B3 = jalan setapak sekitar bangunan B4 = semua beton bertulang kecuali jenis B2 VI.3.5 Pekerjaan Bata dan Plesteran. Bata yang digunakan adalah bata merah berukuran 6 cm x 12 cm x 24 cm, bersudut runcing, rata dan keras. Siar-siar dibuat rapi setebal 1 cm dan dikorek sedalam 0.5 cm. Siar-siar vertikal tidak boleh bertemu dalam satu garis lurus. Perbandingan adukan untuk plesteran dinding pasangan bata adalah 1 kp : 1 pc : 2 ps. Sedangkan untuk plesteran beton digunakan campuran 1 pc : 2 ps. VI.3.6 Pekerjaan Kayu, Atap, Kaca dan Cat Semua kusen pintu dan jendela terbuat dari kayu kamper yang kering, sedangkan untuk kuda-kuda atap dan langit-langit dari kayu borneo. Semua pekerjaan kayu harus diketam halus dan digosok dengan kertas pasir sebelum dicat. VI-13
14 Atap ditutup dengan genteng, sedangkan nok ditutup dengan genteng bubungan. Kaca untuk jendela, ventilasi, digunakan kaca 3 mm. VI.4 Pekerjaan Mekanikal dan Elektrikal Pekerjaan mekanikal dan elektrikal meliputi pemasangan pipa, pompa, aerator,dan instalasi listrik. VI.4.1 Pemasangan Pipa Pengukuran dilakukan dengan arah memanjang searah pekerjaan pipa. Penentuan ketinggian dan sudut-sudut dilakukan dengan bantuan water pass dan theodolit. Pematokan dilakukan sesuai dengan hasil pengukuran di atas dengan mencantumkan nomor patok dan jarak, elevasi permukaan tanah, elevasi dasar tanah yang harus digali, elevasi peletakan pipa, elevasi permukaan tanah atau jalan setelah dilakukan pekerjaan pengurugan. Pipa harus dipasang lurus pada kedalaman yang tepat sesuai dengan gambar rencana. Dasar parit harus dibentuk sedemikian rupa agar memberi penopangan keliling yang merata dan kuat bagi bagian bawah dari setiap pipa. Pengukuran galian parit pada pekerjaan pemasangan pipa harus dilaksanakan dengan ukuran lari yaitu sesuai dengan jalur pemasangan pipa dan permukaan pipa. Penggalian parit harus dilaksanakan dengan tepat dan cepat, penimbunan galian dan perataan permukaan harus dimulai dan diselesaikan bila pipa terpasang dan tersambung dan telah diuji secara hidrolis. Jika dasar galian ternyata tidak stabil atau mengandung bahan-bahan yang tidak stabil, seperti debu, sampah, dan sebagainya maka harus dilakukan penggalian dan menyingkirkan bahan-bahan tidak stabil tersebut. Apabila dalam galian parit terdapat pasangan batu, bongkahan-bongkahan, atau rintangan lain, maka rintangan tersebut harus digali sampai 20 cm di VI-14
15 bawah dasar parit serta disetiap sisi pipa dan perlengkapannya, kemudian mengisinya kembali dengan pasir dan memadatkannya sampai ketinggian yang diperlukan. Lebar galian harus dibuat lebih agar dapat memasukan penyangga, penguat galian, peralatan, meletakan pipa, dan menyambungkannya dengan baik Urugan dibawah pipa Galian harus dibuat sampai kedalaman yang ditentukan untuk membuat dasar pipa yang rata dan seragam, parit-parit galian harus diberi dasar pasir setebal 10 cm lebih dahulu, atau sesuai gambar rencana sebelum pipa dipasang didalamnya. Dasar pasir ini harus dipadatkan dengan pemadat dan dibasahi serta harus mempunyai permukaan yang rata. Setiap dasar pasir pada ujung pipa harus 5 cm lebih rendah agar pipa terjamin kedudukannya pada keseluruhan panjangnya dan bukan ditahan oleh sambungan-sambungannya. Setelah pipa dipasang di dalam parit kemudian ditimbun dengan pasir dan kerikil halus mulai dari dasar sampai atas pipa. Bahan urugan harus tersebar merata. Penimbunan kembali ini dilakukan lapisan demi lapisan, kemudian dipadatkan sekeliling dan di atas pipa dengan cara yang tidak merusak pipa. Dari kedalaman 10 cm di atas pipa hingga ke permukaan, galian harus ditimbun dengan tangan atau metode mekanis yang disetujui dan dipadatkan dengan alat pemadat, untuk mencegah menurunnya permukaan setelah selesai pekerjaan penimbunan. Pipa tidak boleh diturunkan kedalam parit sebelum parit mempunyai kedalaman yang telah ditentukan. Panjang parit yang harus digali harus disesuaikan dengan pipa dan harus dipasang sesuai dengan gambar rencana. VI-15
16 VI.4.2 Pompa Pompa yang digunakan memiliki spesifikasi sebagai berikut: Pompa air limbah Tipe pompa : Grundfos end-suction centrifugal pumps NK Kapasitas pompa : dapat dilihat pada Lampiran C Head pompa : dapat dilihat pada Lampiran C Putaran : 1450 rpm Temperatur air : -10 o C s.d 160 o C Daya pompa : 0,37 Kw Material : Cast iron Berat pompa : 34 kg Jumlah : 2 unit Pompa pembubuh larutan alkalinitas Tipe pompa : DME 8-10, Grundfos Dosing Pump Kapasitas pompa : 2,5-7,5 L/jam Tekanan maksimum : dapat dilihat pada Lampiran C Power supply (V,Hz) : 1x V, Hz Akurasi : ± 1% Jumlah : 2 unit Pompa pembubuh larutan urea Tipe pompa : DMS 2π, Grundfos Dosing Pump Kapasitas pompa : 0-2,5 L/jam Tekanan maksimum : dapat dilihat pada Lampiran C Power supply (V,Hz) : 1x230/50 V, 1x120/60 Hz Akurasi : ± 1% Jumlah : 2 unit VI-16
17 Pompa pembubuh larutan asam fosfat Tipe pompa : DMS 2π, Grundfos Dosing Pump Kapasitas pompa : 0-2,5 L/jam Tekanan maksimum : dapat dilihat pada Lampiran C Power supply (V,Hz) : 1x230/50 V, 1x120/60 Hz Akurasi : ± 1% Jumlah : 2 unit Pemasangan pompa transfer air limbah dilakukan dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut: pompa dan motor harus diletakkan datar dengan bantuan water pass pondasi tempat meletakkan pompa harus mampu menyerap getaran pompa dan penggeraknya dan mampu menahannya. Berat pondasi sekurangkurangnya 3 kali berat pompa (dan motornya) pompa yang dikopel langsung dengan motor dipasang pada satu landasan. Apabila digunakan transmisi sabuk dapat digunakan landasan terpisah dengan ketentuan jarak tertentu ambang pada bagian inlet maupun outlet terbuat dari baja untuk mencegah aliran balik dan agar tidak mudah rusak bearing pada bagian inlet maupun outlet diberi minyak pelumas agar pompa dapat berputar dengan lancar. System pelumasan dilakukan secara otomatis. Kedua bearing dirancang agar kedap air untuk menghindari kerusakan yang dapat terjadi akibat lumpur yang dialirkan baut dan mur yang digunakan untuk menyatukan pompa dengan peletakan harus cukup kuat agar getaran yang ditimbulkan dapat diperkecil. Pompa dan motor penggerak harus diletakkan pada pondasi sedemikian rupa sehingga poros kedua mesin tersebut terletak sesumbu. Jika diperlukan dapat memakai ganjal-ganjal berbentuk baji dari baja. Tiap pasang baji terdiri atas baji atas dan baji bawah. VI-17
18 VI.4.3 Aerator Aerator yang digunakan memiliki spesifikasi sebagai berikut: Aerator Tangki Ekualisasi Tipe : Surface aerator, SFA-02 Kapasitas : 5 m 3 /menit Oksigen transfer rate : 3 kg O 2 /jam Diameter mixing area : 5 m Kedalamam mixing area : 2 3 m Daya : 2 HP Jumlah : 1 unit Surface Aerator Sequencing Batch Activated Sludge Tipe : Surface aerator, SFA-07 Kapasitas : 11 m 3 /menit Oksigen transfer rate : 9,6 kg O 2 /jam Diameter mixing area : 16 m Kedalamam mixing area : 5-6 m Daya : 7,5 HP Jumlah : 1 unit Pemasangan aerator dilakukan dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut: aerator dipasang pada posisi dan elevasi yang sesuai dengan gambar rencana aerator diikatkan pada kawat baja dengan diberi baut dan mur yang cukup kuat sehingga getaran yang ditimbulkannya dapat diperkecil dan posisinya tetap. kabel listrik yang digunakan oleh motor aerator dilapisi oleh bahan isolasi kedap air. VI-18
19 VI.4.4 Decanter Decanter yang digunakan memiliki spesifikasi sebagai berikut: Tipe : DH Kapasitas maksimum : 1,4 m 3 /menit Dimensi (Panjang x Lebar x Tinggi) : 34 x60 x20 Berat : 160 lbs Ukuran port outlet : 4 Material : Stainless steel VI.4.5 Media Pertumbuhan Bakteri Anaerob Media pertumbuhan bakteri yang digunakan memiliki spesifikasi sebagai berikut: Tipe : Pall Rings Ukuran : 50 mm (2 inci) Material : Polypropylene Persen pori : 94,9% Luas permukaan spesifik : 100 m 2 / m 3 Berat jenis : 45,3 kg/m 3 VI-19
BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT. alat - alat tertentu sesuai kebutuhan untuk mendukung pembangunan tersebut.
BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT 4.1 Peralatan Dalam melaksanakan proyek pembangunan maka pastilah digunakan alat - alat tertentu sesuai kebutuhan untuk mendukung pembangunan tersebut. Alat
BAB VII TATA LAKSANA LAPANGAN
7-1 BAB VII TATA LAKSANA LAPANGAN 7.1 Pekerjaan Persiapan Pada pelaksanaan pekerjaan pembangunan suatu proyek biasanya diawali dengan pekerjaan persiapan. Adapun pekerjaan persiapan tersebut itu meliputi
BAB IV MATERIAL DAN PERALATAN
BAB IV MATERIAL DAN PERALATAN 4.1 Material Perlu kita ketahui bahwa bahan bangunan atau material bangunan memegang peranan penting dalam suatu konstruksi bangunan ini menentukan kekuatan, keamanan, dan
BAB VII SPESIFIKASI TEKNIS
BAB VII SPESIFIKASI TEKNIS VII.1. Umum Yang dimaksud dengan spesifikasi teknis penyaluran dan pengolahan air buangan adalah : o Pengadaan bahan utama. o Pengadaan bahan pendukung. o Pemasangan peralatan-peralatan.
BAB VI BAHAN DAN PERALATAN
BAB VI BAHAN DAN PERALATAN 6.1 Jenis-jenis dan Mutu Bahan Yang Digunakan Mutu dari setiap bahan yang akan digunakan tidak boleh berkurang dan diharapkan dapat memenuhi target yang telah direncanakan. Adapun
Metode Pelaksanaan Pembangunan Jalan Lingkungan Datuk Taib Desa Leuhan < SEBELUMNYA BERIKUTNYA >
Metode Pelaksanaan Pembangunan Jalan Lingkungan Datuk Taib Desa Leuhan < SEBELUMNYA BERIKUTNYA > GSF-Aceh. Didalam Pelaksanaan Proyek, metode pelaksanaan sangat penting dilaksanakan, hal ini untuk mengetahui
BAB V LAPORAN PROSES PENGAMATAN PELAKSANAAN PROYEK PEMBANGUNAN RUKO SETIABUDHI - BANDUNG
BAB V LAPORAN PROSES PENGAMATAN PELAKSANAAN PROYEK PEMBANGUNAN RUKO SETIABUDHI - BANDUNG Dalam bahasan laporan mingguan proses pengamatan pelaksanaan proyek ini, praktikan akan memaparkan dan menjelaskan
PEKERJAAN STRUKTUR BAWAH
PEKERJAAN STRUKTUR BAWAH 1. UMUM A. Lingkup Pekerjaan Pekerjaan ini meliputi : - Pekerjaan galian, - Pekerjaan Pilecap, Tie beam & Kolom. B. Pengukuran Peil (Levelling) Sebagai patokan tinggi peil (level)
DINDING DINDING BATU BUATAN
DINDING Dinding merupakan salah satu elemen bangunan yang berfungsi memisahkan/ membentuk ruang. Ditinjau dari segi struktur dan konstruksi, dinding ada yang berupa dinding partisi/ pengisi (tidak menahan
RENCANA KERJA DAN SYARAT SYARAT
KONSTRUKSI SARANG LABA LABA seri 3 RENCANA KERJA DAN SYARAT SYARAT RENCANA KERJA DAN SYARAT SYARAT PELAKSANAAN KONSTRUKSI BANGUNAN BAWAH dengan sistim KONSTRUKSI SARANG LABA LABA seri 3 Proyek : Gedung
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Semen yang digunakan pada penelitian ini ialah semen portland komposit
III. METODE PENELITIAN A. Bahan Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Semen yang digunakan pada penelitian ini ialah semen portland komposit merek Holcim, didapatkan dari toko bahan
PETUNJUK TEKNIS TATA CARA PEMBANGUNAN IPLT SISTEM KOLAM
PETUNJUK TEKNIS TATA CARA PEMBANGUNAN IPLT SISTEM KOLAM TATA CARA PEMBANGUNAN IPLT SISTEM KOLAM BAB I DESKRIPSI 1.1 Ruang lingkup Tatacara ini meliputi ketentuan-ketentuan, cara pengerjaan bangunan utama
SPESIFIKASI TEKNIS PEMBANGUNAN KANDANG LAKTASI TAMPUSU, MINAHASA. Pasal 1 SYARAT SYARAT PELAKSANAAN
SPESIFIKASI TEKNIS PEMBANGUNAN KANDANG LAKTASI TAMPUSU, MINAHASA Pasal 1 SYARAT SYARAT PELAKSANAAN Dalam melaksanakan pekerjaan pemborongan harus berpedoman kepada ketentuan yang terdapat di dalam : 1.
BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN BEKISTING, PEMBESIAN DAN PENGECORAN
BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN BEKISTING, PEMBESIAN DAN PENGECORAN 5.1 Pekerjaan Bekisting 5.1.1 Umum Perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan bekisting harus memenuhi syarat PBI 1971 N 1-2 dan Recomended Practice
BAB VI BAHAN DAN PERALATAN
6-1 BAB VI BAHAN DAN PERALATAN 6.1 Jenis-jenis dan Mutu Bahan Yang Digunakan Mutu dari setiap bahan tidak boleh berkurang dan diharapkan dapat memenuhi target yang telah direncanakan. Adapun jenis dan
BAB IV MATERIAL DAN PERALATAN
BAB IV MATERIAL DAN PERALATAN 4.1 Material Perlu kita ketahui bahwa bahan bangunan atau material bangunan memegang peranan penting dalam suatu konstruksi bangunan yang menentukan kekuatan, keamanan, dan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu Penelitian yang sudah pernah dilakukan dan dapat di jadikan literatur untuk penyusunan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Ishaq Maulana
BAB VIII SPESIFIKASI PEKERJAAN
BAB VIII SPESIFIKASI PEKERJAAN VIII.1 Persyaratan Umum VIII.1.1 Nama Pekerjaan dan Lokasi Proyek Nama Pekerjaan : Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Minum Kota Garut Lokasi Proyek : Kecamatan Bayongbong,
BAB V METODE UMUM PELAKSAAN KONSTRUKSI. Untuk mengetahui metode pelaksanaan di lapangan, dibuatkan gambar shop
BAB V METODE UMUM PELAKSAAN KONSTRUKSI 5.1 Uraian Umum Pada Setiap proyek, metode pelaksanaan konstruksi merupakan salah satu proses pelaksanaan konstruksi yang harus direncanakan sebelumnya. Untuk mengetahui
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI. Yufiter (2012) dalam jurnal yang berjudul substitusi agregat halus beton
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka Yufiter (2012) dalam jurnal yang berjudul substitusi agregat halus beton menggunakan kapur alam dan menggunakan pasir laut pada campuran beton
A. METODE PELAKSANAAN GEDUNG 2 TINGKAT PONDASI TIANG PANCANG. Adapun metode pelaksanaan yang digunakan adalah sebagai berikut:
A. METODE PELAKSANAAN GEDUNG 2 TINGKAT PONDASI TIANG PANCANG Adapun metode pelaksanaan yang digunakan adalah sebagai berikut: 1. Pekerjaan Pendahuluan Pekerjaan pendahuluan merupakan pekerjaan persiapan
BAB VIII RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB)
BAB VIII RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB) Dalam merencanakan suatu proyek, adanya rencana anggaran biaya merupakan hal yang tidak dapat diabaikan. Rencana anggaran biaya disusun berdasarkan dimensi dari bangunan
BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN. Pekerjaan persiapan berupa Bahan bangunan merupakan elemen
BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN 5.1 Pekerjaan Persiapan Pekerjaan persiapan berupa Bahan bangunan merupakan elemen terpenting dari suatu proyek pembangunan, karena kumpulan berbagai macam material itulah yang
PROSEDUR MOBILISASI DAN PEMASANGAN PIPA AIR MINUM SUPLEMEN MODUL SPAM PERPIPAAN BERBASIS MASYARAKAT DENGAN POLA KKN TEMATIK
PROSEDUR MOBILISASI DAN PEMASANGAN PIPA AIR MINUM SUPLEMEN MODUL SPAM PERPIPAAN BERBASIS MASYARAKAT DENGAN POLA KKN TEMATIK A. DEFINISI - Pengangkutan Pekerjaan pemindahan pipa dari lokasi penumpukan ke
DINAS PERHUBUNGAN DAN KOMINFO
PEMERINTAH KABUPATEN KONAWE KEPULAUAN DINAS PERHUBUNGAN DAN KOMINFO TAHUN ANGGARAN 2015 RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS) PEMBANGUNAN TAMBATAN PERAHU KABUPATEN KONAWE KEPULAUAN VOLUME = 104,85 M 1
METODE PELAKSANAAN BENDUNGAN
METODE PELAKSANAAN BENDUNGAN 1. Saluran Bangunan Pelimpah (Spillway) dan peredam energi Gambar 1. Layout Spillway Pekerjaan pembangunan bangunan pelimpah (spillway) adalah sebagai berikut : Pekerjaan Tanah
PEDOMAN PEMBANGUNAN BANGUNAN TAHAN GEMPA
LAMPIRAN SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL CIPTA KARYA NOMOR: 111/KPTS/CK/1993 TANGGAL 28 SEPTEMBER 1993 TENTANG: PEDOMAN PEMBANGUNAN BANGUNAN TAHAN GEMPA A. DASAR DASAR PERENCANAAN BANGUNAN TAHAN GEMPA
PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA UNIT LAYANAN PENGADAAN BARANG/JASA
PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA UNIT LAYANAN PENGADAAN BARANG/JASA (PROCUREMENT UNIT) Jl. Jend. A. Yani No. 12 Amuntai Telp/fax : 0527-62471 PENJELASAN TAMBAHAN pertanyaan : Dalam Daftar
1 Membangun Rumah 2 Lantai. Daftar Isi. Kata Pengantar... i Daftar Isi... ii\ Tugas Struktur Utilitas II PSDIII-Desain Arsitektur Undip
Daftar Isi Kata Pengantar... i Daftar Isi... ii\ Kata Pengantar Pedoman Teknis Rumah berlantai 2 dilengkapi dengan Metode dan Cara Perbaikan Kerusakan ini dipersiapkan oleh Panitia D-III Arsitektur yang
BAB VIII SPESIFIKASI PEKERJAAN
BAB VIII VIII.1. Persyaratan Umum VIII.1.1. Nama Pekerjaan dan Lokasi Proyek Nama Pekerjaan : Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Minum Kecamatan Sukra, Anjatan, dan Haurgeulis, Kabupaten Indramayu, Jawa
BABV PELAKSANAAN PEKERJAAN. perencana. Dengan kerjasama yang baik dapat menghasilkan suatu kerja yang efektif
BABV PELAKSANAAN PEKERJAAN 5.1 Tinjauan Umum Dalam pelaksanaan pekerjaan diperlukan kerjasama yang baik dari semua pihak yang terkait, baik itu perencana, pemberi tugas, pengawas maupun pelaksana karena
BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT. Manajemen pelaksanaan dilakukan dalam rangka menjamin kelancaran
BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT 4.1 Uraian Umum Manajemen pelaksanaan dilakukan dalam rangka menjamin kelancaran pelaksanaan pekerjaan proyek yang akan berlangsung. Manajemen pelaksanaan bukan
BAB V PONDASI TELAPAK
BAB V PONDASI TELAPAK I. METODA KONSTRUKSI PONDASI SETEMPAT A. Urutan Kegiatan Pekerjaan Pondasi Setempat Metoda konstruksi untuk pekerjaan pondasi setempat yaitu: 1. Penggalian tanah pondasi 2. Penulangan
TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT. Penyediaan alat kerja dan bahan bangunan pada suatu proyek memerlukan
BAB III TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT 4.1 Tinjauan Umum Penyediaan alat kerja dan bahan bangunan pada suatu proyek memerlukan manajemen yang baik untuk menunjang kelancaran pengerjaannya. Pengadaan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1. Mortar Mortar didefinisikan sebagai campuran material yang terdiri dari agregat halus (pasir), bahan perekat (tanah liat, kapur, semen portland) dan air dengan komposisi tertentu
PENELITIAN PEMANFAATAN SERBUK BEKAS PENGGERGAJIAN KAYU SEBAGAI BAHAN SUBSTITUSI PEMBUATAN BATA BETON (BATAKO) UNTUK PEMASANGAN DINDING
WAHANA INOVASI VOLUME 5 No.2 JULI-DES 16 ISSN : 89-8592 PENELITIAN PEMANFAATAN SERBUK BEKAS PENGGERGAJIAN KAYU SEBAGAI BAHAN SUBSTITUSI PEMBUATAN BATA BETON (BATAKO) UNTUK PEMASANGAN DINDING Heri Sujatmiko
Metode pengujian kuat lentur kayu konstruksi Berukuran struktural
SNI 03-3975-1995 Standar Nasional Indonesia Metode pengujian kuat lentur kayu konstruksi Berukuran struktural ICS Badan Standardisasi Nasional DAFTAR ISI Daftar Isi... Halaman i BAB I DESKRIPSI... 1 1.1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Mortar Menurut SNI 03-6825-2002 mortar didefinisikan sebagai campuran material yang terdiri dari agregat halus (pasir), bahan perekat (tanah liat, kapur, semen portland) dan
BAB VI BAHAN DAN PERALATAN
BAB VI BAHAN DAN PERALATAN 6.1 Jenis-jenis dan Mutu Bahan Yang Digunakan Mutu dari setiap bahan yang akan digunakan tidak boleh berkurang dan diharapkan dapat memenuhi target yang telah direncanakan. Adapun
SPESIFIKASI TEKNIS. Pasal 1 JENIS DAN LOKASI PEKERJAAN
SPESIFIKASI TEKNIS Pasal 1 JENIS DAN LOKASI PEKERJAAN 1. Nama Kegiatan : Penataan Listrik Perkotaan 2. Nama pekerjaan : Penambahan Lampu Taman (65 Batang) 3. Lokasi : Pasir Pengaraian Pasal 2 PEKERJAAN
1 PEKERJAAN PENDAHULUAN
SPESIFIKASI TEKNIS Pasal 1 PEKERJAAN PENDAHULUAN Lingkup Pekerjaan Menyediakan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat- alat bantu lainnya untuk persiapan pelaksanaan pekerjaan agar pekerjaan konstruksi
BAB V METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN
BAB V METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN 5.1 Uraian Umum Metoda pelaksanaan dalam sebuah proyek konstruksi adalah suatu bagian yang sangat penting dalam proyek konstruksi untuk mencapai hasil dan tujuan yang
LAPIS PONDASI AGREGAT SEMEN (CEMENT TREATED BASE / CTB)
BAB V LAPIS PONDASI AGREGAT SEMEN (CEMENT TREATED BASE / CTB) 5.1. UMUM a. Lapis Pondasi Agregat Semen (Cement Treated Base / CTB) adalah Lapis Pondasi Agregat Kelas A atau Kelas B atau Kelas C yang diberi
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 KESIMPULAN 1. Kuat tekan beton yang direncanakan adalah 250 kg/cm 2 dan kuat tekan rencana ditargetkan mencapai 282 kg/cm 2. Menurut hasil percobaan yang telah dilakukan
II. PEKERJAAN PENDAHULUAN
METODE PELAKSANAAN I. PRA PEMBANGUNAN 1. Pemeriksaan gambar-gambar untuk pelaksanaan : Semua gambar-gambar yang disiapkan adalah gambar-gambar yang telah ditandatangani oleh Direksi dan apabila ada perubahan
PENGARUH LIMBAH PECAHAN GENTENG SEBAGAI PENGGANTI AGREGAT KASAR PADA CAMPURAN MUTU BETON 16,9 MPa (K.200)
PENGARUH LIMBAH PECAHAN GENTENG SEBAGAI PENGGANTI AGREGAT KASAR PADA CAMPURAN MUTU BETON 16,9 MPa (K.200) Asri Mulyadi 1), Fachrul Rozi 2) Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Palembang
BAB IV PENGAMATAN PEKERJAAN SIPIL LAPANGAN
BAB IV PENGAMATAN PEKERJAAN PELAKSANAAN LAPANGAN 4.1 Pekerjaan pondasi 1. papan bekisting 2. beton ready mix 3. pasir urug 4. Besi poer D16, D10, Ø8 2. Langkah Kerja a. Setelah Tiang pancang ditanam, b.
BAB VII PEMBAHASAN MASALAH. Pekerjaan pondasi dibagi menjadi dua bagian, yaitu pondasi dangkal dan pondasi
BAB VII PEMBAHASAN MASALAH 7.1 Tinjauan umum Pekerjaan pondasi dibagi menjadi dua bagian, yaitu pondasi dangkal dan pondasi dalam. Pondasi dalam sendiri dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan teknik
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1. Tinjauan Umum Pelaksanaan penelitian ini dimulai dari tahap perencanaan, teknis pelaksanaan, dan pada tahap analisa hasil, tidak terlepas dari peraturan-peraturan maupun referensi
SYARAT-SYARAT TEKNIS PELAKSANAAN. Bangunan yang dilaksanakan adalah kegiatan PEMBANGUNAN RUANG KELAS
Spesifikasi Teknis SYARAT-SYARAT TEKNIS PELAKSANAAN 1. LINGKUP UMUM Bangunan yang dilaksanakan adalah kegiatan PEMBANGUNAN RUANG KELAS BARU ( RKB ) yang diadakan oleh Kementrian Agama Kab. Kep Selayar.
BAB VII TINJAUAN KHUSUS METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN BALOK
BAB VII TINJAUAN KHUSUS METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN BALOK 7.1 Pelaksanaan Pekerjaan Balok Balok adalah batang dengan empat persegi panjang yang dipasang secara horizontal. Hal hal yang perlu diketahui
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN A.
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN A. Bahan dan Material Penelitian Bahan-bahan yang digunakan dalam campuran beton dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Agregat halus yang digunakan dalam penelitian
> NORMAL CONCRETE MIX DESIGN <
> NORMAL CONCRETE MIX DESIGN < Soal : Rencanakan campuran beton untuk f c 30MPa pada umur 28 hari berdasarkan SNI 03-2834-2000 dengan data bahan sebagai berikut : 1. Agregat kasar yang dipakai : batu pecah
BAB I SYARAT SYARAT PENAWARAN
DAFTAR ISI Halaman BAB I SYARAT SYARAT PENAWARAN... 1/7 Pasal 01 Maksud... 1/7 Pasal 02 Dokumen Pelelangan... 1/7 Pasal 03 Itikat Penawaran... 6/7 Pasal 04 Masa Berlaku Penawaran... 6/7 Pasal 05 Keabsahan
SYARAT SYARAT TEKNIS PEKERJAAN. Pasal 1 PENJELASAN UMUM
SYARAT SYARAT TEKNIS PEKERJAAN Pasal 1 PENJELASAN UMUM 1. Pekerjaan yang dilaksanakan adalah Pemasangan Paving Blok Jalan Lingkungan. 1. Pekerjaan harus dikerjakan sesuai dengan : Rencana Kerja dan Syarat-syarat
BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN PERALATAN
BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN PERALATAN Bab IV - Tinjauan Bahan Bangunan & Peralatan BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN PERALATAN 4.1 Tinjauan Umum Penyediaan alat kerja dan bahan bangunan pada suatu
REKAPITULASI RENCANA ANGGARAN BIAYA
REKAPITULASI RENCANA ANGGARAN BIAYA Kegiatan : 0 PEKERJAAN : PENGEMBANGAN PENETASAN LOKASI : BPTU KDI KEC. TAMBANG ULANG NO URAIAN PEKERJAAN JUMLAH (Rp) I. PEKERJAAN PERSIAPAN II. PEKERJAAN TANAH DAN PONDASI
BAB V METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN. Dalam pelaksanaan suatu proyek baik proyek besar maupun proyek kecil selalu
BAB V METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN Dalam pelaksanaan suatu proyek baik proyek besar maupun proyek kecil selalu diharapkan hasil dengan kualitas yang baik dan memuaskan, yaitu : 1. Memenuhi spesifikasi
Pengaruh Variasi Jumlah Semen Dengan Faktor Air Yang Sama Terhadap Kuat Tekan Beton Normal. Oleh: Mulyati, ST., MT*, Aprino Maramis** Abstrak
Pengaruh Variasi Jumlah Semen Dengan Faktor Air Yang Sama Terhadap Kuat Tekan Beton Normal Oleh: Mulyati, ST., MT*, Aprino Maramis** *Dosen Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan **
Nama Pekerjaan : Pembangunan Abutmen Jembatan Air Jernih Gumpang Lempuh Perusahaan : CV. RABO PERKASA Lokasi : Gumpang Lempuh Tahun Anggaran : 2017
METODE PELAKSANAAN Nama Pekerjaan : Pembangunan Abutmen Jembatan Air Jernih Gumpang Lempuh Perusahaan : CV. RABO PERKASA Lokasi : Gumpang Lempuh Tahun Anggaran : 2017 1. PEKERJAAN UMUM Mobilisasi Cakupan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metodologi yang dilakukan adalah dengan cara membuat benda uji di
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Umum Metodologi yang dilakukan adalah dengan cara membuat benda uji di Laboraturium Bahan Konstruksi Teknik Universitas Mercu Buana, kemudian menguji kuat tekan pada umur
METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN KONSTRUKSI PEMBANGUNAN STADION BAROMBONG TAHUN 2013
PRELIMINARIES Pekerjaan ini meliputi : 1. Pekerjaan pembersihan Sebelum pekerjaan ini dimulai dengan kontraktor terlebih dahulu membersihkan lokasi pekerjaan, dari kotoran sampah, pohon dan semak belukar
Kompetensi Kerja Nasional Indonesia). Salah satunya adalah Metode UJI MATERIAL GEDUNG melalui suatu pelatihan khusus.
Seorang Pelaksana Pekerjaan Gedung memiliki : keahlian dan ketrampilan sebagaimana diterapkan dalam SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia). Salah satunya adalah Metode UJI MATERIAL GEDUNG
BAB IV MANAJEMEN PROYEK
249 BAB IV MANAJEMEN PROYEK 4.1. Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Rencana kerja dan syarat-syarat (RKS) adalah dokumen yang bersikan nama proyek berikut penjelasaannya berupa jenis, besar dan lokasihnya,
KONSTRUKSI PONDASI Pondasi Dangkal Pasangan Batu bata/batu kali
KONSTRUKSI PONDASI 9.1 Konstruksi Pondasi Batu Kali atau Rollaag Konstruksi pondasi ini merupakan bagian dari konstruksi bangunan gedung dan sangat penting karena sangat menentukan kekokohan bangunan.
BAB VI SPESIFIKASI TEKNIS PASAL 1 LINGKUP PEKERJAAN
BAB VI SPESIFIKASI TEKNIS PASAL 1 LINGKUP PEKERJAAN 1. Lingkup pekerjaan yang akan dilaksanakan meliputi : I. Perbaikan/Rehab dermaga TPI/PPI 2. Sarana bekerja dan tata cara pelaksanaan. a. Untuk kelancaran
BAB III METODE PENELITIAN
40 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Bahan dan Struktur Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Udayana di Kampus Bukit Jimbaran. 3.2 Bahan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Baja Baja adalah salah satu dari bahan konstruksi yang paling penting. Sifatsifatnya yang terutama penting dalam penggunaan konstruksi adalah kekuatannya yang tinggi, dibandingkan
METODE PELAKSANAAN D.I. BONDUKUH.
METODE PELAKSANAAN Kegiatan : Dana Alokasi Khusus ( DAK ) Kabupaten Karanganyar Tahun Anggaran 2016 Pekerjaan : Rehabilitasi Jaringan Irigasi D.I. BONDUKUH. Lokasi : Desa Tlobo, Kecamatan Jatiyoso. Target
BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN. Pada prinsipnya, pekerjaan struktur atas sebuah bangunan terdiri terdiri dari
BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN 5.1. Pengamatan Pekerjaan Konstruksi Pada prinsipnya, pekerjaan struktur atas sebuah bangunan terdiri terdiri dari beberapa pekerjaan dasar. Yaitu pekerjaan pengukuran, pembesian,
kenaikan upah rata-rata per lantai. Harga upah mengalami kenaikan untuk tiap
BAB VI PEMBAHASAN Menyusun rencana anggaran biaya proyek merupakan langkah awal dalam proses pembangunan suatu proyek, sehingga harus diiakukan dengan teliti dan secermat mungkin agar diperoleh biaya bangunan
Bidang Teknik PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN MUTU BETON
Majalah Ilmiah Unikom, Vol.6, hlm. 61-68 PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN MUTU BETON Bidang Teknik PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN MUTU BETON YATNA SUPRIYATNA Jurusan Teknik Sipil Universitas Komputer Indonesia
ADDENDUM DOKUMEN PENGADAAN. Nomor : Add. 02/03/PK/Indag.01/ULP-HB/VII/2015. Tanggal : 22 Juli untuk Pekerjaan PEMBANGUNAN PASAR RAKYAT
ADDENDUM DOKUMEN PENGADAAN Nomor : Add. 02/03/PK/Indag.01/ULP-HB/VII/2015 Tanggal : 22 Juli 2015 untuk Pekerjaan PEMBANGUNAN PASAR RAKYAT Kelompok Kerja II Konstruksi Unit Layanan Pengadaan PEMERINTAH
PENGARUH LUBANG DALAM BETON TERHADAP KEKUATAN MEMIKUL BEBAN AKSIAL
PENGARUH LUBANG DALAM BETON TERHADAP KEKUATAN MEMIKUL BEBAN AKSIAL SAFRIN ZURAIDAH 1, HANDO 2, K BUDIHASTONO Jurusan Teknik Sipil-UNITOMO Surabaya Email : [email protected] Abstrak Dunia usaha properti
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan obyek berupa paving blok mutu rencana 400 Kg/ dan 500 Kg/ sebanyak masing-masing 64 blok. Untuk setiap percobaan kuat tekan dan tarik belah paving
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN A. Kerusakan Komponen Gedung D Lantai Dasar Lantai 4 1. Komponen Arsitektur a. Keramik Kerusakan lantai yang terdapat pada lantai dasar Gedung KH.Mas Mansur adalah lantai keramik
METODA PELAKSANAAN. CV. SABATA UTAMA Rehabilitasi Jaringan Irigasi D.I Tangan-Tangan
METODA PELAKSANAAN Nama Perusahaan : Nama Paket Pekerjaan : No. Paket : CV. SABATA UTAMA Rehabilitasi Jaringan Irigasi D.I Tangan-Tangan 481625 Jangka waktu pelaksanaan : Metode pelaksanaan merupakan hal
HARGA SATUAN POKOK KEGIATAN (HSPK)
NOMOR : TANGGAL : NOMOR URAIAN KEGIATAN Koef. A BANGUNAN GEDUNG 24.01 Pekerjaan Persiapan & Tanah 24.01.01.01 Pembuatan Bouwplank /Titik Titik 23.02.04.01.01.F Mandor 0.0045 Orang Hari 158,000.00 711.00
BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN. membentuk masa padat. Jenis beton yang dihasilkan dalam perencanaan ini adalah
BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN 2.1 Dasar Teori Beton adalah campuran antara semen, agregat halus, agregat kasar dan air yang membentuk masa padat. Jenis beton yang dihasilkan dalam perencanaan ini adalah campuran
BAB IV MATERIAL DAN PERALATAN
BAB IV MATERIAL DAN PERALATAN 4.1. Peralatan Dalam melaksanakan proyek pembangunan maka pastilah digunakan alatalat tertentu sesuai kebutuhan untuk mendukung pembangunan tersebut. Alat-alat yang digunakan
IV Material. Bab. dan peralatan BAB IV BAHAN. diperoleh. pelaksanaan. Pada proyek. Excavator tanah ke. ditempat lain.
BAB IV ALAT-ALAT DAN BAHAN 4..1 Peralatan Di dalam melaksanakan suatu pekerjaan agar diperoleh hasil yang maksimal dalam waktu yang singkat maka diperlukan suatu alat bantu. Alat-alat yang digunakan disesuaikan
Metode Pelaksanaan Pekerjaan Pembangunan Gedung Sekolah Berlantai 2 (dua)
Metode Pelaksanaan Pekerjaan Pembangunan Gedung Sekolah Berlantai 2 (dua) METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN Nama Pekerjaan : Pembangunan MTsN 2 Banda Aceh Lokasi : MTsN 2 Banda Aceh Tahun Anggaran : 2013 RUANG
BAB VII TINJAUAN KHUSUS
BAB VII TINJAUAN KHUSUS 7.1 Uraian Umum Dalam pelaksanaan kerja praktik yang berlangsung selama kurang lebih 2 bulan (terhitung sejak 1 Maret s/d 30 April 2017) dan penulisan laporan akhir yang membutuhkan
BAB IV BAHAN AIR UNTUK CAMPURAN BETON
BAB IV BAHAN AIR UNTUK CAMPURAN BETON Air merupakan salah satu bahan pokok dalam proses pembuatan beton, peranan air sebagai bahan untuk membuat beton dapat menentukan mutu campuran beton. 4.1 Persyaratan
Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan tanah untuk konstruksi bangunan gedung dan perumahan
SNI 2835:2008 Standar Nasional Indonesia Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan tanah untuk konstruksi bangunan gedung dan perumahan ICS 91.010.20 Badan Standardisasi Nasional SNI 2835:2008 Daftar
BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN. Vittoria Residences Apartement terdiri dari 3 tower dengan : c. Podium 5 lantai, dengan 1 lantai semi basement
BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN 5.1. Uraian umum Vittoria Residences Apartement terdiri dari 3 tower dengan : a. Tower A 18 lantai - Atap 1 lantai b. Tower B & C 24 lantai - Atap 1 lantai c. Podium 5 lantai,
III. METODOLOGI PENELITIAN. Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Semen yang digunakan pada penelitian ini ialah semen PCC merek
25 III. METODOLOGI PENELITIAN A. Bahan Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Semen yang digunakan pada penelitian ini ialah semen PCC merek Holcim, didapatkan dari toko bahan bangunan
BAB III METODOLOGI DAN RANCANGAN PENELITIAN
BAB III METODOLOGI DAN RANCANGAN PENELITIAN 3.1. Pengujian Material Dalam mendesain suatu campuran beton, perlu terlebih dahulu diadakan suatu pengujian material atau bahan-bahan pencampur beton. Di antaranya
BAB IV PERALATAN DAN MATERIAL. 1. Staff teknik dengan staff logistik dan peralatan, memberikan data-data
BAB IV PERALATAN DAN MATERIAL 4.1 Pengadaan Alat dan Bahan Prosedur dalam pengadaan bahan dan alat adalah : 1. Staff teknik dengan staff logistik dan peralatan, memberikan data-data bahan/alat yang di
TATA CARA PEMBUATAN DAN PERAWATAN BENDA UJI KUAT TEKAN DAN LENTUR TANAH SEMEN DI LABORATORIUM
TATA CARA PEMBUATAN DAN PERAWATAN BENDA UJI KUAT TEKAN DAN LENTUR TANAH SEMEN DI LABORATORIUM SNI 03-6798-2002 BAB I DESKRIPSI 1.1 Ruang Lingkup Tata cara ini meliputi prosedur pembuatan dan perawatan
DAFTAR ANALISA BIAYA KONSTRUKSI
DAFTAR ANALISA BIAYA KONSTRUKSI 1 SNI 03-2835-2002 PEKERJAAN PERSIAPAN PA 6,8 1 m² Membersihkan lapangan dan perataan SNI 03-2835-2002 / 6.8 Upah Pekerja 0,100 Oh x Rp 0 = Rp 0,00 Mandor 0,005 Oh x Rp
Pemeriksaan Gradasi Agregat Halus (Pasir) (SNI ) Berat Tertahan (gram)
Lampiran 1 Pemeriksaan Gradasi Agregat Halus (Pasir) (SNI 03-1968-1990) 1. Berat cawan kosong = 131,76 gram 2. Berat pasir = 1000 gram 3. Berat pasir + cawan = 1131,76 gram Ukuran Berat Tertahan Berat
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Team ilmu sipil dalam websitenya mengartikan pile cap sebagai bagian dari pondasi bangunan yang digunakan untuk mengikat tiang pancang yang sudah terpasang dengan struktur diatasnya
DAFTAR HARGA SATUAN ANALISA PEKERJAAN
DAFTAR SATUAN ANALISA PEKERJAAN No SATUAN UPAH BAHAN A PEKERJAAN PERSIAPAN 1 PEMASANGAN BOWPLANK/ 10 M' 0,01000 Kepala Tukang 0,10000 Tukang 0,10000 Pekerja 0,05000 Mandor 0,01200 M3 Balok Klas IV 0,02000
KONSTRUKSI JALAN PAVING BLOCK
KONSTRUKSI JALAN PAVING BLOCK Pengertian Paving block atau blok beton terkunci menurut SII.0819-88 adalah suatuko mposisi bahan bangunan yang terbuat dari campuran semen portland atau bahan perekat hidrolis
TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT YANG DIGUNAKAN. tinggi dapat menghasilkan struktur yang memenuhi syarat kekuatan, ketahanan,
BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT YANG 4.1. Tinjauan Bahan dan Material Bahan dan material bangunan merupakan elemen terpenting dari suatu proyek pembangunan, karena dari berbagai macam bahan dan
BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN
BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN 5.1 Pekerjaan Persiapan Pekerjaan persiapan berupa Bahan bangunan merupakan elemen terpenting dari suatu proyek pembangunan, karena kumpulan berbagai macam material itulah yang
BAB III METODE PENELITIAN. Metodelogi penelitian dilakukan dengan cara membuat benda uji (sampel) di
26 BAB III METODE PENELITIAN Metodelogi penelitian dilakukan dengan cara membuat benda uji (sampel) di Laboratorium Bahan dan Konstruksi Fakultas Teknik Universitas Lampung. Benda uji dalam penelitian
KERANGKA ACUAN KERJA
KERANGKA ACUAN KERJA 1. LINGKUP UMUM Bangunan yang dilaksanakan adalah kegiatan ( RKB ) TAHUN ANGGARAN 2016 yang diadakan oleh Kementrian Agama Kab. Kep Selayar.. Perincian bagian dan jenis pekerjaan yang
