BAB VII SPESIFIKASI TEKNIS

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB VII SPESIFIKASI TEKNIS"

Transkripsi

1 BAB VII SPESIFIKASI TEKNIS VII.1. Umum Yang dimaksud dengan spesifikasi teknis penyaluran dan pengolahan air buangan adalah : o Pengadaan bahan utama. o Pengadaan bahan pendukung. o Pemasangan peralatan-peralatan. Ketiganya menunjang pelaksanaan kerja sistem penyaluran air buangan yang lengkap dan baik serta telah diuji sehingga siap digunakan. Yang termasuk dalam lingkup pekerjaan ini adalah : o Pekerjaan perpipaan. o Pekerjaan bangunan pelengkap penyaluran air buangan. o Pekerjaan bangunan unit pengolahan air buangan. o Operasi dan pemeliharaan. VII.2. Persyaratan Umum dan Spesifikasi Syarat-syarat umum dan spesifikasi teknis meliputi : 1. Penetapan spesifikasi standar. Dalam pelaksanaan pekerjaan, kontraktor harus menggunakan persyaratan standar yang ditetapkan oleh pemberi tugas. Jika pemberi tugas menghendaki untuk hal tersebut, kontraktor harus menyerahkan contoh bahan kepada pemberi tugas dengan kualitas yang sesuai dengan yang telah ditetapkan pada pelanggan. 2. Bangunan sementara Yang dimaksud dengan bangunan sementara adalah los pemberi tugas, los kerja, gudang bahan-bahan, dan lain-lain. Bangunan sementara harus dibuat di lokasi proyek. Besar kecilnya ukuran bangunan sementara disesuaikan dengan kebutuhan. Los pemberi tugas dan los kerja harus dilengkapi dengan dua buah meja tulis, lengkap dengan fasilitas penerangan kerja, dua kursi, ruangan untuk buang air dan cuci tangan, perlengkapan dan penyediaan obat-obatan (P3K), peti untuk menyimpan barang, lemari, dan fasilitas penunjang lainnya untuk digunakan oleh pemberi tugas-pemberi Erika Herliana ( ) VII - 1

2 tugas lapangan sesuai dengan yang telah ditentukan. Semua bangunan sementara harus dibongkar setelah pekerjaan selesai, dan bekas bongkarannya menjadi milik pemberi tugas. 3. Pengukuran dan pengetesan bahan dan alat. Semua ketentuan bahan yang harus disediakan oleh pemborong harus memenuhi Standar Normalisasi Indonesia, dan Standar Pemeriksaan Umum Bahan-bahan (PUBB). Sedangkan untuk beton berlaku Peraturan Umum Beton Bertulang Indonesia (PBBI). Bahan-bahan yang digunakan pada pekerjaan ini harus sesuai dengan peraturan yang berlaku 42 hari sebelum pelelangan, kecuali ditentukan lain dalam kontrak. Pemborong diwajibkan mengirim contoh-contoh bahan yang diberikan kepada pemberi tugas, bahan yang kualitasnya diragukan akan dikirim ke kantor Penyelidikan Bahan-Bahan Bangunan atas biaya pemborong. Jika kemudian dibutuhkan perubahan peralatan yang diperlukan, maka kontraktor harus menyediakan jenis peralatan yang ditentukan dengan biaya kontraktor. Pemberi tugas harus menentukan peralatan yang tidak dapat digunakan karena faktor keamanan, kebisingan, dan sebagainya. Apabila ternyata terdapat bahan-bahan yang dinyatakan tidak baik oleh pemberi tugas di lapangan pekerjaan, maka pemborong harus segera mengangkut bahan-bahan tersebut keluar lapangan dalam jangka waktu tiga hari. Pemborong wajib menyediakan barang-barang antara lain : Concrete mixture Concrete internal Concrete external vibrator Vibrator Pompa air Water pass Theodolite Peralatan pengetesan pasir dan tanah urug Dan lain-lain 4. Keamanan hasil pekerjaan Kontraktor harus bertanggung jawab atas keamanan dan hasil kerja dari berbagai faktor, seperti cuaca, dan hal-hal lain selama masa kerja. Erika Herliana ( ) VII - 2

3 5. Rencana metode dan urutan kerja Kontraktor harus menyerahkan rencana kerja, dua minggu setelah keluar Surat Perintah Kerja. Setelah itu, kontraktor harus mempersiapkan hal-hal sebagai berikut : Daftar peralatan kerja, termasuk bentuk dan kapasitasnya. Daftar tenaga kerja. Daftar tenaga ahli dan tenaga ahli khusus yang akan dipekerjakan. Detail desain rencana penurapan. 6. Gambar gambar Gambar-gambar kerja untuk seluruh pekerjaan harus selalu ada di lapangan setiap waktu. Gambar-gambar kerja harus dalam keadaan jelas, dapat dibaca dan menunjukkan perubahan-perubahan terakhir. 7. Rencana kerja Sebelum dimulai dengan pelaksanaan pekerjaan pemborong harus membuat rencana kerja yang disetujui pemberi tugas dan diajukan selambat-lambatnya satu minggu setelah pelulusan pekerjaan. Dalam rencana kerja harus dilampirkan Network Planning, daftar staf ahli di lapangan, dan daftar peralatan. 8. Peraturan Tata cara pelaksanaan dan lain-lain yang berhubungan dengan peraturan pembangunan yang sah berlaku di Republik Indonesia selama pelaksanaan kontrak ini harus betul-betul ditaati. Peraturan-peraturan tersebut adalah : Peraturan umum untuk pemeriksaan bahan-bahan bangunan NI-3 (PUBB) 1965, NI , PUBB Peraturan-peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBI-1971) Peraturan Muatan Indonesia (PMI-NI 18/1969) Peraturan Perburuhan Indonesia (tentang penggunaan tenaga harian, mingguan, bulanan, dan borongan). Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia (PKKI-NI ) Peraturan Perusahaan Listrik Negara tentang instalasi listrik dan tenaga (POL.L-NI 6). Peraturan Perusahaan Air Minum Negara Kontraktor harus menyelesaikan pekerjaan pemasangan bagian-bagian pipa sebelum melaksanakan : Pemasangan pipa. Erika Herliana ( ) VII - 3

4 Perurugan tanah. Pengembalian pada keadaan semula. Penyelesaian pekerjaan dan pemasangan dop pada ujung pipa. Pembersihan dan penggelontoran. Pengujian akhir. Dua minggu sebelum mulai melaksanakan pekerjaan, kontraktor harus memberitahukan terlebih dahulu kepada pemberi tugas dan ketua RW setempat untuk menentukan lokasi pekerjaan yang akan dilaksanakan. Untuk pekerjaan jalan umum, sebelumnya harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari pihak pemberi tugas. 9. Papan proyek dan rambu-rambu Kontraktor harus membuat papan proyek dan rambu-rambu sesuai dengan permintaan pemberi tugas. 10. Keamanan, kesehatan dan kesejahteraan Kontraktor harus menaati segala peraturan atau perundang-undangan pelaksanaan pekerjaan yang berlaku di Indonesia mengenai kondisi kerja, keamanan, dan kesejahteraan pekerja dan pemberi tugas lapangan. Kontraktor harus menaati peraturan mengenai keselamatan tenaga kerja yang bekerja berbatasan dengan lalu lintas kendaraan. 11. Faktor bahaya pada pekerja air kotor Seluruh tenaga kerja yang akan dipekerjakan terlebih dahulu harus mengetahui faktor-faktor bahaya pada pekerjaan saluran dan unit pengolahan air kotor khususnya mengenai resiko kecelakaan, infeksi karena bakteri akibat air kotor, dan faktor bahaya dari gas-gas beracun yang dihasilkan air kotor. Apabila pekerja terpaksa harus masuk ke dalam manhole, stasiun pompa, atau bangunan air kotor lainnya yang mungkin terdapat gas berbahaya, maka harus memperhatikan hal-hal di bawah ini : 1. Peralatan yang diperlukan sebelum masuk ke dalam bangunan air kotor adalah sebagai berikut : a. Gas detector. b. Tambang. c. Helm dan pakaian khusus yang dilengkapi dengan lampu untuk setiap orang yang masuk ke bangunan air kotor. Erika Herliana ( ) VII - 4

5 d. Dua set tabung oksigen berkapasitas 1800 liter dan pipa karet kualitas baik, minimal sepanjang 70 m untuk pemakaian selama kurang lebih 45 menit. e. Pengesetan peralatan tabung oksigen darurat lengkap dengan masker dan alat bernafas dengan kapasitas 800 liter. 2. Ventilasi dibuat dengan cara membuka tutup manhole yang terletak di bagian hulu dan hilir bangunan air kotor yang akan dimasuki atau dengan cara lain yang diperlukan. 3. Gas detector harus dimasukkan ke dalam bangunan air kotor yang akan dimasuki selama pekerja berada di dalam bangunan. Apabila terdeteksi ada gas beracun dan berbahaya, maka pekerja harus menggunakan tabung oksigen. 4. Tidak diperkenankan menggunakan api terbuka dan merokok di dalam bangunan air kotor. 5. Paling sedikit dua orang harus siap siaga di lubang masuk yang siap setiap terjadi keadaan darurat. 6. Setiap peralatan kerja harus selalu diperiksa kondisinya secara teratur. VII.3. Persyaratan Teknis Pekerjaan Sipil / Konstruksi Ruang lingkup pekerjaan sipil meliputi: pekerjaan persiapan, pekerjaan pematangan tanah, pekerjaan pondasi, pekerjaan beton, pekerjaan bata dan plesteran, pekerjaan kayu, pekerjaan atap, pekerjaan kaca, serta pekerjaan sarana jalan. VII.3.1. Perkerjaan Persiapan Pekerjaan persiapan merupakan awal dari kegiatan pembangunan. Lokasi tempat pembangunan harus dibersihkan dari hal-hal yang dapat mengganggu kelancaran kerja, misalnya: pohon, akar-akar tanaman, dan semak-semak di lokasi tersebut. Pada tahap ini juga dibuat sarana penunjang lain seperti pembuatan kantor kontraktor dan konsultan, pemasangan genset, dan lain-lain. VII.3.2. Pekerjaan Tanah Pada tahap pekerjaan ini dilakukan persiapan lokasi pembangunan instalasi agar mencapai elevasi yang telah direncanakan dalam gambar rencana penempatan unitunit pengolahan. Pekerjaan tanah tersebut meliputi: Erika Herliana ( ) VII - 5

6 a. Pekerjaan pengukuran dan pematokan. b. Pekerjaan pembersihan lokasi. c. Pekerjaan penggalian. d. Pekerjaan pengurugan Pekerjaan penggalian tanah dilakukan sesuai dengan pematokan yang telah dilakukan. Klasifikasi jenis galian menurut tingkat kesulitannya untuk menentukan pembiayaan adalah sebagai berikut: Galian tanah biasa. Galian tanah keras/cadas merupakan tanah berbatu, umumnya untuk menggali tanah ini digunakan bor atau dengan bahan peledak atau alat khusus lainnya. Galian tanah yang selalu berair akan menimbulkan masalah air tanah setelah mencapai kedalaman gali lebih dari 0.2 dari permukaan air konstan. Bila perlu saat dilakukan penggalian, galian harus diberi penguat dan dibuat agak miring sehingga tidak terjadi longsor yang dapat mengganggu bangunan yang telah dibuat dan menjaga para pekerja untuk bekerja dengan aman. Daerah penggalian harus mempunyai saluran pembuangan air yang baik dan bebas dari genangan air atau dapat juga digunakan pompa air, karena seluruh pekerjaan sedapat mungkin dikerjakan dalam keadaan kering. Galian harus dibuat dengan lebar berlebih untuk memasukkan unit-unit penyangga, penguat galian, peralatan pembangunan sipil dan harus cukup untuk meletakkan dan menyambungkan pipa dengan baik. Harus dilakukan persiapan-persiapan tersendiri untuk menampung sementara bahan galian, yang diperlukan untuk pengurugan kembali. Bahan galian yang tidak dapat digunakan sebagai bahan urugan atau keperluan lain, diangkut dari lapangan untuk dibuang ke tempat pembuangan akhir yang telah disepakati. Pengurugan harus dilakukan sesuai dengan gambar rencana dan spesifikasinya serta disebutkan dalam Pekerjaan Tanah. Pengurugan harus memenuhi ketentuan-ketentuan bahwa tanah yang digunakan bukan termasuk tanah lempung asli ( kadar clay <20%). Pengurugan dilakukan secara berlapis dengan tebal lapisan 20 cm, kemudian dipadatkan dengan menggunakan alat berat. Bahan urugan harus bebas dari akarakaran, bahan organik, sampah, dan batuan yang lebih besar dari 10 cm. Bahan urugan: Erika Herliana ( ) VII - 6

7 a. Bahan dari galian tanah. Pengurugan dapat menggunakan bahan galian, meliputi bahan-bahan yang menggandung lempung, pasir, kerikil, atau bahan lain yang bebas dari kotoran. b. Bahan dari pasir dan kerikil. Semua pasir yang digunakan dalam pengurugan harus berasal dari pasir alam, dengan butiran dari halus sampai kasar, bebas dari kotoran, debu, atau bahanbahan lain yang tidak sesuai. Lempung yang terdapat pada pasir tidak boleh lebih dari 10% berat keseluruhan. Pada pekerjaan sipil pembangunan unit-unit pengolahan maupun pekerjaan pengurugan di bawaah pipa harus diberi dasar pasir setebal 10 cm, dasar pasir ini dipadatkan dengan pemadat dan dibasahi serta harus memiliki permukaan yang rata, urugan pasir ini harus disebar merata ke seluruh lokasi pengurugan. VII.3.3. Pekerjaan Pondasi Konstruksi pondasi dibuat berdasarkan gambar hasil perhitungan sipil. Galian tanah atau pemancangan untuk pondasi harus sampai pada tanah asli dengan daya dukung tertentu. Jika daya dukung tanah kurang, maka dilakukan perbaikan tanah sesuai dengan ketentuan yang ada. Jika tanah mengandung lumpur atau humus yang cukup dalam, maka tanah tersebut harus dibuang atau dikupas dan diadakan perbaikan struktur tanah. Pondasi yang akan dipasang adalah pondasi batu kali dengan memakai bahan material: Batu kapur setebal cm, dipadatkan. Pasir urug untuk alas pondasi dengan ketebalan 5-10 cm dan dipadatkan. Adukan campuran 1 pc : 2 ps : 3 krl. VII.3.4. Pekerjaan Beton Kualitas beton yang digunakan adalah K-275 untuk lantai dan dinding unitunit pengolahan, dan beton 1 : 3 : 5 untuk lantai kerja. Persyaratan bahan dan pelaksanaan pekerjaan pondasi harus sesuai dengan gambar rencana dan spesifikasi teknis untuk pekerjaan sipil. Secara umum spesifikasi bahan-bahan konstruksi dalam pekerjaan ini adalah sebagai berikut: Semen. Erika Herliana ( ) VII - 7

8 Semua semen yang digunakan adalah jenis semen portland biasa dengan mutu terbaik. Semen harus disimpan dengan baik untuk mencegah kelembaban atau pencemaran oleh bahan-bahan lain. Pasir dan Kerikil/batu pecah. Pasir dan kerikil/batu pecahan harus diangkut, ditangani, dan ditimbun sedemikian rupa sehingga yang berukuran nominal terpisah dari yang berukuran lain dan tidak bercampur dengan benda-benda lain. Kerikil dan batu pecahan harus keras, tahan lama, bersih, serta bebas dari bahan organik yang mengganggu konstuksi beton, lapisan yang menempel dan dari debu. Beton Perbandingan campuran beton harus 1 : 2 : 3 kecuali ada ketentuan lain, untuk mendapatkan mutu beton yang baik perbandingan kerikil dan pecahan batu yang harus digunakan harus diubah-ubah (dapat dipadatkan dengan baik tanpa penggunaan terlalu banyak air). Untuk pencampuran semen harus digunakan air bersih, tidak berwarna, tidak mengandung bahan organik, minyak, asam, alkali, atau campuran lain yang dapat merusak beton atau dapat mempengaruhi daya lekat semen. Pengadukan beton dilakukan dengan mesin pengaduk sampai susunan warna dan kekentalannya harus sama. Sebelum dilakukan pengecoran bekisting harus dipasang dengan kokoh sesuai dengan bentukannya. Bekisting dibuat dari kayu bermutu baik dengan ketebalan minimal 2.5 cm. Dipasang sekokoh mungkin, kaku, dan kuat menahan getaran alat pemadat. Beton harus dicor dan dipadatkan tidak kurang dari 30 menit setelah dicampur dan dibiarkan dalam keadaan basah dan terlindung dari sinar matahari selama minimal 7 hari. Cetakan dan penyempurnaan Cetakan untuk cor beton harus dibuat rapi dan diperkuat secukupnya sesuai dengan gambar rencana. Semua sambungan-sambungan harus rapat untuk menjamin agar tidak terdapat kebocoran yang menyebabkan beton menjadi Erika Herliana ( ) VII - 8

9 basah pada cetakannya. Cetakan tidak boleh dibongkar selama 24 jam setelah pengecoran. Permukaan beton yang horizontal dan yang terlihat harus diratakan sampai halus dengan sendok baja setelah pengerasan pertama terjadi. Pekerjaan beton meliputi: Pekerjaan struktur, pondasi, kolom, sloof, balok, pelat lantai, pelat atap, bak air. Pekerjaan beton tumbuk, dudukan piapa, pompa, mesin. Campuran Macam campuran (adukan) menggunakan agregat kasar dan halus untuk tiap 50 kg semen portland dan ukuran nominal, ditunjukkan pada Tabel 7.1 berikut: Tabel 7.1 Jenis Beton dan Spesifikasinya (PBI 1997) Jenis Agregat Halus Agregat Kasar Ukuran Nominal Campuran Beton (m 3 ) (m 3 ) (mm) B1 1 : 1,5 : 2,5 0,06 0,10 10 B2 1: 2: 3 0,08 0,12 20 B3 1 : 2,5 : 5 0,10 0,20 38 B4 1: 3: 6 0,12 0,24 38 B5 1: 2: 3 0,06 0,12 30 Penjelasan pemakaian jenis beton adalah sebagai berikut: B1 = beton yang memerlukan kekedapan air, pelat-pelat atap, reservoir, balok yang bersangkutan dengan atap dan reservoir. B2 = semua beton bertulang, kolom, sloof, balok-balok, pondasi diluar ketentuan pada B1 B3 = jalan setapak sekitar bangunan B4 = semua beton bertulang kecuali jenis B2 VII.3.5. Pekerjaan Bata dan Plesteran Bata yang digunakan adalah bata merah berukuran 6 cm x 12 cm x 24 cm, bersudut runcing, rata dan keras. Siar-siar dibuat rapi setebal 1 cm dan dikorek sedalam 0,5 cm. Siar-siar vertikal tidak boleh bertemu dalam satu garis lurus. Erika Herliana ( ) VII - 9

10 Perbandingan adukan untuk plesteran dinding pasangan bata adalah 1 kp : 1 pc : 2 ps. Sedangkan untuk plesteran beton digunakan campuran 1 pc : 2 ps. VII.3.6. Pekerjaan Kayu, Atap, Kaca dan Cat Semua kusen pintu dan jendela terbuat dari kayu kamper yang kering, sedangkan untuk kuda-kuda atap dan langit-langit dari kayu borneo. Semua pekerjaan kayu harus diketam halus dan digosok dengan kertas pasir sebelum dicat. Atap ditutup dengan genteng, sedangkan nok ditutup dengan genteng bubungan. Kaca untuk jendela, ventilasi, digunakan kaca 3 mm. VII.4. Spesifikasi Teknis Material VII.4.1. Umum Seluruh material yang ditawarkan pemborong harus memenuhi persyaratan teknis baik kualitas maupun ukurannya. Untuk material eks pabrik yang ditawarkan pemborong, harus ada data-data pokok yang dilampiri dengan brosurnya. Bagi kontraktor yang memenangkan pelelangan harus menunjukkan contoh setiap material yang ditawarkan untuk mendapatkan persetujuan pemberi tugas. VII.4.2. Semen Portland Semen Portland yang dipakai harus memenuhi syarat-syarat dalam standar NIS. Semen dapat diterima berdasarkan hasil penyelidikan selama 7 hari, disertai riwayat kualitas dari penghasil semen selama 12 bulan terakhir. Pemborong harus menyediakan gudang penyimpanan semen pada tempat-tempat yang baik dan memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: Semen senantiasa terlindung dari kelembaban atau keadaan cuaca lain yang merusak. Lantai gudang harus kuat dan minimal berjarak 30 cm dari atas tanah. Gudang harus cukup untuk memuat semen dalam jumlah besar sehingga tidak menimbulkan kemacetan dalam penerimaan atau pengeluaran semen. Semen dalam sak-sak tidak boleh ditumpuk lebih dari 2 m. Erika Herliana ( ) VII - 10

11 VII.4.3. Agregat Kasar, Pasir, dan Batu Segala cara yang dilaksanakan pemborong untuk pengangkutan, pembongkaran, pengerjaan dan penimbunan agregat kasar, pasir, dan batu harus mendapat persetujuan pemberi tugas. Tempat penimbunan harus dibersihkan, diatur sedemikian rupa sehingga pasir atau agregat kasar tersebut tidak berceceran, dan tidak terkena kotoran lain pada waktu hujan atau kena air rembesan. Pemborong atas biaya sendiri harus mengolah kembali pasir atau agregat kasar yang kotor atau tercecer karena penimbunan yang tidak sempurna. Tinggi timbunan maksimum adalah 1,23 m dan tidak boleh dipindahkan tempatnya kecuali atas instruksi pemberi tugas. VII Pasir Semua pasir yang diperlukan harus diperoleh pemborong dari sumber yang disetujui pemberi tugas. Pemborong menanggung semua masalah dan biaya yang dibutuhkan untuk memperoleh pasir tersebut. Pemborong harus memberikan contoh pasir yang akan dipakai dalam jumlah yang cukup sebelum pemakaian. Pasir harus bersih dan terbebas dari gumpalan-gumpalan tanah, alkalis, bahan-bahan yang mengandung organik, dan kotoran-kotoran lainnya yang dapat merusak. Pasir beton harus mempunyai modulus kehalusan antara 2 sampai 32, atau sesuai dengan PBI 1972, atau sesuai dengan ketentuan seperti tersaji dalam Tabel 7.2 Tabel 7.2 Kehalusan Pasir Beton (PBI, 1972) No. Saringan % Satuan Timbangan Tertinggal di Saringan PAN 3-7 Jika presentase yang tertinggal di saringan nomor 16 adalah 20% maka batas maksimum untuk yang tertinggal di saringan nomor 8 dapat naik sampai 20%. Pasir pasang harus memenuhi gradasi seperti tersaji pada Tabel 6.2 berikut ini. Erika Herliana ( ) VII - 11

12 Tabel 7.3 Kehalusan Pasir Pasangan (PBI, 1972) No Saringan % Timbangan Melalui Saringan (maksimum) VII Agregat Kasar Agregat kasar yang diperoleh pemborong harus berasal dari sumber yang disetujui oleh pemberi tugas. Pemborong harus menanggung semua permasalahan dan biaya yang diperlukan untuk memperoleh agregat kasar tersebut. Agregat kasar harus bersih dan bebas dari bagian-bagian yang halus, mudah pecah, tipis atau panjang-panjang, bahan alkalis, atau organis dan substansi lain yang merusak. Berat substansi yang merusak tidak boleh lebih dari 3 %. Agregat kasar harus terdegradasi baik dengan ukuran 5 50 mm. Modulus kehalusan butir harus berada antara 6,0 7,5 atau memenuhi standar PBI Agregat kasar yang tidak memenuhi ketentuan tersebut harus disaring kembali atas biaya pemborong. VII Batu Batu yang digunakan adalah batu kali atau batu pecah dari gunung atau batu-batu besar yang bermutu granit, kwasit, dan trap yang mempunyai berat jenis minimum 2,40 gr/cm 3 dan kekuatan tekan tidak kurang dari 40 kg/cm 2, keras, kekar, bersih, penuh, bebas pori-pori, dan bebas cacat belah-belah. VII.4.4. Air Air yang digunakan untuk pengadukan beton atau pembuatan spesi harus menggunakan air tawar yang bersih dan memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: Tidak mengandung minyak dan bagian-bagian terapung/melayang. Harus netral atau sedikit alkalis. Kadar sulfat maksimum adalah 0,5 % atau 5 gr/l, kadar klor maksimum adalah 1,5 % atau 15 gr/l. Banyaknya KMnO 4 maksimum yang dipakai untuk mengoreksi air kotor organik didalam air adalah 1000 mg/l. Apabila contoh air tidak dapat dilakukan, maka dalam hal keragu-raguan mengenai air harus dilakukan percobaan perbandingan antara kekuatan tekanan mortal semen-pasir dengan memakai air suling. Air tersebut dianggap dapat dipakai apabila Erika Herliana ( ) VII - 12

13 kekuatan tekanan mortal dengan pemakaian air tersebut pada umur 7 dan 28 hari paling sedikit adalah 90 % kekuatan mortal dengan memakai air suling pada umur yang sama. VII.4.5. Baja Tulangan Baja tulangan harus dari baja yang lunak dengan tegangan leleh 2400 kg/cm 2 dan tegangan maksimum 5000 kg/cm 2. Bahan-bahan tersebut dalam segala hal harus memenuhi ketentuan PBI-1971 atau Jepang kelas 5.R.24 atau Baja tulangan harus disimpan dengan tidak menyentuh tanah dan tidak boleh disimpan di tempat tebuka dalam waktu lama. VII.4.6. Baja Struktur Profil Penyediaan bahan harus lengkap dengan peralatannya dan disesuaikan dengan mutu kelas I. Mutu baja profil, pelat-pelat simpul, baut, mur, dan paku keling harus memenuhi persyaratan minimal yang mempunyai kekuatan normal 3700 kg/cm 2. Bahan-bahan yang dipakai untuk pekerjaan-pekerjaan baja harus diperoleh dari suplier yang disetujui oleh pemberi tugas. Pasangan-pasangan yang tepat, bentuk, tebal ukuran, berat, dan detail-detail konstruksi yang ditunjukkan pada gambar harus disediakan. Bahan baja kecuali ditentukan lain oleh pemberi tugas harus sesuai dengan PUBB-56. Baut dan paku keling yang digunakan untuk konstruksi harus mempunyai ukuran yang sesuai dengan yang tercantum pada gambar. Kekuatan baut atau paku keling minimal harus sama dengan kekuatan baja profil dan pelat simpul. Pemasangan baut dan paku keling harus benar-benar kokoh. VII.4.7. Standar Pipa Jenis-jenis pipa yang dipergunakan dalam pengerjaan ini adalah pipa dari jenis Ductile Cast Iron Pipe (DCIP). Pipa galvanis yang didatangkan dari suplier harus dalam keadaan utuh/baru dan semua dalam keadaan terlindung, dan sesuai dengan kelas yang disyaratkan dan memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai berikut: Pipa besi yang dimaksud disini adalah lengkap dengan soket dan perlengkapan-perlengkapan sambungan Penyambungan dilakukan dengan mengikuti ketentuan pabrik Erika Herliana ( ) VII - 13

14 Minimum hidrostatic test pressure harus mencapai 10 atm Pipa yang digunakan harus dari jenis kelas 1 Pipa yang ditawarkan harus baru dan dijamin keutuhannya VII.4.8 Perlengkapan Pipa Perlengkapan pipa yang dimaksud adalah perlengkapan yang sesuai untuk macam pipa yang digunakan. Sambungan dilakukan dengan Union Socket. Minimum hidrostatic test pressure yang harus dicapai sesuai dengan yang berlaku untuk pipanya. VII.4.9. Gate Valve Gate valve yang digunakan adalah Round Flange Valve dengan Direct Drive Non Rising Stem. Kriteria lain yang harus dipenuhi : Minimun leakage pressure adalah 8 atm Spendel terbuat dari brause VII.5. Pekerjaan Mekanikal dan Elektrikal Pekerjaan mekanikal dan elektrikal meliputi pekerjaan pengukuran, pengetesan lubang, pekerjaan penggalian pipa, pekerjaan pemasangan pipa dan bedding, pekerjaan perpipaan untuk aliran bertekanan dan tidak bertekanan, pekerjaan urugan tanah dan perataan, penyimpanan pipa, bangunan pelengkap,dan instalasi listrik. Persyaratan yang harus dipenuhi dalam pekerjaan pipa : 1. Pekerjaan pipa harus memenuhi pedoman pekerjaan Plumbing Indonesia dan instansi lain yang berwenang. 2. Bahan yang digunakan berkualitas baik dan telah disetujui lembaga yang berwenang. 3. Gambar denah peletakan perpipaan secara garis besar menunjukkan letak peralatan instansi dan jalur pipa harus mengikuti kondisi setempat. 4. Setelah semua pekerjaan perpipaan selesai, maka perlu dilakukan pengujian atas seluruh bagian pekerjaan ini. 5. Semua kekurangan dan kebocoran dalam sistem perpipaan harus diperbaiki. Pekerjaan perpipaan meliputi : Erika Herliana ( ) VII - 14

15 VII.5.1. Pekerjaan Pengukuran Yang dimaksud pekerjaan pengukuran adalah pengukuran arah memanjang dari pekerjaan perpipaan. Penentuan ketinggian dan sudut-sudut dilakukan dengan bantuan water pass dan theodolit. Pekerjaan pengukuran ini sepenuhnya diawasi dan atau dilakukan bersama-sama pemberi tugas pekerjaan, dan kebenaran dari hasil pengukuran tetap menjadi tanggung jawab kontraktor. Pengukuran galian parit pada pekerjaan pemasangan pipa harus dilaksanakan dengan ukuran lari yaitu sesuai dengan jalur pemasangan pipa dan permukaan pipa. Berdasarkan hasil pengukuran tersebut kontraktor harus membuat rencana kerja yang berisi : 1. Nomor patok dan arah. 2. Evaluasi muka tanah yang ada. 3. Evaluasi invert saluran. 4. Evaluasi muka tanah atau jalan setelah selesai pekerjaan urugan dan pembuatan jalan. 5. Letak patok ukuran dan kilometer. 6. Letak posisi perpipaan yang lurus, belokan pipa, thrust block, dan letak manhole. 7. Dan lain-lain sesuai kondisi nyata di lapangan dan atau atas petunjuk pemberi tugas pekerjaan. 8. Patok ukur dibuat dari kayu ukuran 75 x 10 x 10 cm, ditanam kokoh di tanah sedalam 40 cm setiap jarak 50 cm. Patok tersebut berisi tulisan nomor patok, ketinggian dasar galian dan tanah asli. VII.5.2. Pengetesan Lubang Lubang galian pekerjaan dibuat dengan menggunakan metode konvensional (digali dengan tangan), dengan ukuran panjang 100 cm, lebar 40 cm, dan kedalaman ditentukan berdasarkan pekerjaan adanya pipa-pipa selain pipa air buangan yang tertanam pada rencana jaringan pipa air buangan. Lubang percobaan dilakukan untuk keperluan pengecekkan jaringan instalasi lain yang tertanam pada tempat-tempat dimana informasi tentang kondisi tanah tersebut tidak diperoleh, hal ini pun dilakukan agar dapat diambil alternatif pergesaran jaringan pipa pada posisi yang tepat apabila terjadi persilangan dengan jaringan pipa yang ada, pengetesan lubang dilakukan hanya Erika Herliana ( ) VII - 15

16 untuk rencana jaringan pipa air buangan (sewer) di tepi jalan atau lokasi-lokasi tertentu yang diperkirakan adanya pipa non- sewer. VII.5.3. Pekerjaan Penggalian Pipa Pipa harus dipasang lurus pada kedalaman yang tepat sesuai dengan gambar rencana. Sebelum penggalian pipa dimulai, data lapangan secara detail disiapkan sesuai dengan rencana penyelidikan data ulang kondisi daerah pelayanan. Panjang pelaksanaan pekerjaan penggalian pipa disesuaikan dengan kemampuan pipa yang akan dipasang agar tidak meninggalkan galian pipa yang terbuka. Lebar galian harus dibuat lebih agar dapat memasukan penyangga, penguat galian, peralatan, meletakan pipa, dan menyambungkannya dengan baik. Lebar galian yang akan dibuat harus memenuhi ketentuan yaitu, lebar maksimum = [(1.5 x diameter) mm]. Lebar galian tergantung pada kedalaman pipa dan diameter pipa yang akan dipasang, seperti terlihat pada Tabel 7.4. Tabel 7.4 Lebar Galian Berdasarkan Kedalaman (Pedoman Perencanaan dan Pelaksanaan Kerja Konstruksi Sewerage, PDAM, 1999) Kedalaman (m) Lebar Galian (m) Lebar galian-galian untuk setiap sambungan pipa harus dapat memberikan ruang gerak bagi pekerja, sehingga memungkinkan pengerjaan pipa dapat dilakukan dengan baik. Untuk galian pipa di atas diameter 300 mm, harus disediakan balok-balok dan baji yang cukup memadai baik ukuran maupun kekuatan dan dapat diatur agar pipapipa dapat diletakkan pada posisi yang benar. Dasar parit harus dibentuk sedemikian rupa agar memberi penopangan keliling yang merata dan kuat bagi bagian bawah dari setiap pipa. Galian harus dibuat sampai kedalaman yang ditentukan untuk membuat dasar pipa yang rata dan seragam, paritparit galian harus diberi dasar pasir setebal 10 cm lebih dahulu, atau sesuai gambar rencana sebelum pipa dipasang didalamnya. Dasar pasir ini harus dipadatkan dengan pemadat dan dibasahi serta harus mempunyai permukaan yang rata. Setiap dasar pasir pada ujung pipa harus 5 cm lebih rendah agar pipa terjamin kedudukannya pada keseluruhan panjangnya dan bukan ditahan oleh sambungan-sambungannya. Setelah Erika Herliana ( ) VII - 16

17 pipa dipasang di dalam parit kemudian ditimbun dengan pasir dan kerikil halus mulai dari dasar sampai atas pipa. Bahan urugan harus tersebar merata. Bila kedalaman galian lebih dari 1.5 m, galian harus dipasangi turap agar tidak terjadi longsoran dan dilengkapi dengan barikade pengaman serta rambu-rambu lalu lintas. Kedalaman galian hendaknya disisakan ± 10 cm agar dasar galian tidak lembek tergenang air saat pipa terpasang, dasar galian harus bebas genangan air sehingga perlu dibuat alur air di tepi galian kemudian dibuat sumuran dam dipompa agar air tidak menggenang dan dasar galian tetap kering. Bagian tepi galian harus dijaga sedemikian rupa agar terjamin stabilitas dan tidak terjadi longsoran. Tanah dan bahan galian yang tidak diperlukan dan tidak digunakan sebagai bahan timbunan diangkut dari lokasi ke tempat pembuangan akhir. Penggalian dilaksanakan tepat, sesuai dengan jadwal waktu dan persyaratan-persyaratan teknis yang tercantum dalam rencana. Apabila dalam galian parit terdapat pasangan batu, bongkahan-bongkahan, atau rintangan lain, maka rintangan tersebut harus digali sampai 20 cm di bawah dasar parit serta disetiap sisi pipa dan perlengkapannya, kemudian mengisinya kembali dengan pasir dan memadatkannya sampai ketinggian yang diperlukan. VII.5.4. Pekerjaan Pemasangan Pipa dan Bedding Pipa tidak boleh diturunkan ke dalam lubang sebelum lubang mempunyai kedalaman yang telah ditentukan. Panjang parit yang harus digali harus disesuaikan dengan pipa dan harus dipasang sesuai dengan gambar rencana. Pelaksanaan pekerjaan tidak boleh dimulai sebelum alat-alat bantu yang diperlukan tersedia di lokasi, pipa-pipa yang akan dipasang diperiksa terlebih dahulu dengan seksama, susunan pemasangan alat-alat bantu sementara untuk penopang kedudukan pipa dipergunakan dengan hati-hati dan benar agar tidak terjadi kerusakan pada pipa. Permukaan alas pipa (bedding) harus rata, tidak ada pengosongan dan tidak bergelombang terutama pada bagian sambungan pipa. Sebelum pipa terpasang, dasar galian harus memanjang mangikuti garis kemiringan (slope) yang dikehendaki dan galian bersih bebas dari benda-benda asing. Bentang pipa-pipa yang dipasang ditempatkan sedekat mungkin pada lokasi akhir jalur jaringan pipa dengan memperhitungkan keamanan dan tidak mengganggu lalu lintas. Pemasangan tipe bedding harus memenuhi syarat spesifikasi secara menyeluruh dengan diameter butiran yang sama disamping sebagai alas pipa juga dapat memberi perlindungan pada pipa maupun pengamanan bagian permukaan pipa akibat Erika Herliana ( ) VII - 17

18 pengaruh-pengaruh dari luar yang dapat mengakibatkan perubahan posisi atau kerugian kerusakan pipa. Bagian sambungan socket, spigot, flexible joint, dan lainnya pada pipa yang telah dipasang tidak boleh ditimbun sebelum dilakukan pengetesan, sedangkan ujung-ujung pipa ditutup untuk mencegah masuknya unsur-unsur yang merusak ke dalam pasangan pipa, semua pekerjaan pipa-pipa cadangan untuk penyambungan maupun sambungan rumah di masa yang akan datang, harus ditutup. VII.5.5. Pengetesan Pipa Kemampuan kekuatan pipa air buangan diuji dengan air atau udara yang berprinsip sama dengan air bersih. Pengujian dengan air Pengujian dengan air ditekankan dengan pengujian pada tekanan air setinggi 1.2 m di atas lengkungan (punggung) pipa awal / pangkal yang tinggi, dan tidak lebih dari 6 m pada kemiringan yang curam, maka pengujian dilakukan bertahap per bagian panjang pipa. Tiga puluh menit setelah pengisian air, dilakukan pengukuran kehilangan air dengan penambahan air yang diukur dengan tong-tong pada setiap interval 10 menit akan dicatat air yang ditambahkan, untuk menjaga muka air yang konstan pada tong-tong pengukur. Penambahan rata-rata banyaknya air pada pipa berdiameter 480 mm diharapkan tidak melebihi 1.0 liter/jam per panjang pipa per 1000 diameter nominal. Besar turunnya muka air pada tong-tong pengukuran pada setiap 100 m panjang pipa selama 10 menit pengujian tidak melampaui : L = 25 x 10/d mm Dimana : L = tinggi turunnya muka air pada tong-tong pengukuran D = diameter pipa (mm) Pengujian dengan udara Cara ini dilakukan sebelum penimbunan pipa, atau tidak dilakukan bila parit penuh dengan air. Panjang pipa yang diuji secara efektif diisi dengan pemompa udara hingga tekanan air mencapai 100 mm pada tabung gelas U yang dihubungkan ke sistem pengujian pipa. Tekanan udara yang terjadi tidak boleh kurang dari 75 mm selama 5 menit tanpa pemompaan dan pada temperatur udara yang stabil. Setiap pengetesan dari pipa harus dihadiri oleh petugas atau wakilnya. Perlengkapan pengetesan harus disiapkan oleh kontraktor. Jika hasil pengujian tidak memenuhi persyaratan yang dikehendaki oleh pemberi tugas, maka kontraktor harus Erika Herliana ( ) VII - 18

19 memperbaiki kebocoran kerusakan pipa dengan biaya sendiri. Pengujian pipa diulangi sampai memenuhi persyaratan. VII.5.6. Pekerjaan Urugan Tanah dan Perataan Perurugan galian tanah atau penimbunan dilakukan setelah pipa-pipa terpasang dengan sambungannya dan tes udara telah dilakukan. Jika dasar galian ternyata tidak stabil atau mengandung bahan-bahan yang tidak stabil, seperti debu, sampah, dan sebagainya maka harus dilakukan penggalian dan menyingkirkan bahan-bahan tidak stabil tersebut. Jika elevasi dasar galian telah tercapai dan jenis tanah baik maka tahap pelaksanaan pekerjaan berikutnya adalah : 1. Pemadatan permukaan galian tanah tersebut. 2. Lapisan pertama adalah pasir urugan. Bahan yang digunakan untuk bedding pipa harus kering, bersih dan bergradasi sesuai ketentuan. Untuk pipa PVC, penanaman adalah modifikasi tipe BO dengan tebal minimal material penimbun 300 mm di atas pipa dan sisanya material granular. Tabel 7.5 Diameter Material Penimbun (Pedoman Perencanaan dan Pelaksanaan Kerja Konstruksi Sewerage, PDAM, 1999) Diameter Pipa (inchi) Diameter Material Granular (inchi) Setelah pipa dipasang sebaik-baiknya dalam lubang galian, maka pekerjaan urugan dilaksanakan secara berlapis setiap cm dipadatkan dengan alat pemadat sampai selesai dan mencapai ketinggian yang dikehendaki menurut rencana. Jika lapisan dasar, yang telah disebutkan di atas tidak memenuhi syarat sebagai lapisan peletakan pipa, misalnya karena tanahnya jelek, ada air tanah yang bisa merusak pekerjaan perpipaan, maka kontraktor harus segera melaporkan keadaan tersebut kepada pemberi tugas pekerja dan bersama-sama mengatasi keadaan tersebut sehingga lapisan dasar tersebut dapat diperbaiki dan kuat berfungsi sebagai lapis sehingga memenuhi petunjuk pemberi tugas pekerjaan. Hasil pekerjaan tersebut menjadi tanggung jawab kontraktor sepenuhnya. Untuk tanah penimbun atau urugan dapat menggunakan tanah bekas galian, jika bahan-bahan bekas galian dari jenis tanah yang baik dan untuk bahan bekas galian Erika Herliana ( ) VII - 19

20 yang tidak baik harus segera disingkirkan dari lokasi proyek dan jika masih diperlukan tanah penimbun maka kontraktor harus mendatangkan jenis tanah yang baik dari luar. Penimbunan kembali ini dilakukan lapisan demi lapisan, kemudian dipadatkan sekeliling dan di atas pipa dengan cara yang tidak merusak pipa. Dari kedalaman 10 cm di atas pipa hingga ke permukaan, galian harus ditimbun dengan tangan atau metode mekanis yang disetujui dan dipadatkan dengan alat pemadat, untuk mencegah menurunnya permukaan setelah selesai pekerjaan penimbunan. VII.5.7. Pekerjaan Perpipaan Untuk Aliran Tidak Bertekanan Pipa yang dipergunakan untuk aliran tidak bertekanan adalah pipa PVC. Untuk pipa PVC, pengaliran secara gravitasi harus memenuhi standar yang ada yaitu SII dan fitting memenuhi SII Penyambungan pipa PVC menggunakan rubber gasket ring. Bagian pipa yang akan disambung, dibersihkan dan diberi pelumas yang dibenarkan cincin karet harus dari jenis yang sesuai dengan standar pabrik. Perubahan arah pada penempatan pemasangan pipa untuk aliran tidak bertekanan harus menggunakan elbow atau bend penyaluran air buangan, untuk nilai sudut belokan kurang dari maka diperlukan manhole. VII.5.8. Pekerjaan Perpipaan Untuk Aliran Bertekanan Pipa yang digunakan untuk aliran bertekanan seperti pada stasiun pemompaan adalah pipa PVC. Jenis sambungan yang dianjurkan adalah rubber gasket ring. Penyambungan harus sesuai dengan standar yang telah ditetapkan, penyambungan dengan bahan standar lain harus menggunakan fitting adaptor. VII.5.9. Penyimpanan Pipa Penyimpanan pipa di gudang atau di lapangan harus terlindung dari sinar matahari terutama pada jenis pipa PVC, untuk menghindari terjadinya lendutan pada pipa sehingga kualitas pipa tetap terjaga. Penyimpanan pipa diatur sedemikian rupa dan untuk fitting disimpan secara terpisah. Tumpukan pipa-pipa diberi sanggahan sedemikian rupa sehingga lendutan yang besar pada pipa dapat dihindari. Tumpukan pipa maksimal enam. Untuk pipa PVC penyimpanan harus terjaga dari getaran, pipa- Erika Herliana ( ) VII - 20

21 pipa disimpan pada daerah yang datar, dipatok pada kedua sisi untuk mencegah terjadinya pergeseran, atau ditempatkan pada rak-rak tertentu. VII Pekerjaan Bangunan Pelengkap VII Manhole Manhole terbuat dari beton bertulang dengan ketebalan dinding dan konstruksi seperti pada gambar (lampiran). Saluran setengah pipa harus dipasang pada pada manhole dan harus dengan material dan spesifikasi yang sama dengan jalur pipanya. Jika kontraktor tidak berhasil mendapatkannya, maka harus mengusulkan alternatif lainnya.pekerjaan manhole meliputi : 1. Pekerjaan pengukuran. Persyaratannya sama dengan pengukuran yang telah dilakukan sebelumnya. 2. Pekerjaan galian tanah. Untuk melaksanakan pekerjaan galian tanah, dalam pekerjaan manhole berlaku : - Lubang galian harus secukupnya untuk pelaksanaan pekerjaan konstruksi beton. - Lubang galian harus dibuat miring dan dilindungi konstruksi pelindung galian yang memuaskan pemberi tugas pekerjaan. 3. Pekerjaan urugan tanah dan pemadatan. Untuk melaksanakan pekerjaan ini sama dengan pekerjaan urugan dan pemadatan yang telah dibuat sebelum ini. 4. Pekerjaan konstruksi beton bertulang. Bila dasar galian telah memenuhi kedalaman pemadatan serta mampu sebagai tanah pondasi kontruksi manhole dan disetujui oleh pemberi tugas pekerjaan, maka kontraktor baru diperkenankan melakukan pekerjaan selanjutnya dengan urugan sebagai berikut : - Lapisan pasir urug dengan tebal 10 cm padat. - Lapisan lantai kerja dari beton tumpuk 1 : 2 : 3 - Konstruksi beton bertulang ditetapkan adukan 1 : 2 : 3 dari besi beton dengan kualitas U-24. Syarat bahan dan pelaksanaan pekerjaan pembetonan sepenuhnya mengikuti PBI Besi tangga dibuat dari logam anti karat. - Perurugan hanya diperkenankan setelah konstruksi berumur 14 hari atau lebih. Erika Herliana ( ) VII - 21

22 - Bila pekerjaan manhole terdapat di jalan maka kontraktor harus melaksanakan sesuai ketentuan terdahulu Sedangkan tutup manhole terbuat dari cast iron pipe, dengan karakteristik : - Tahan karat. - Kuat aman. - Memiliki kunci agar tidak mudah dicuri. - Memiliki lubang ventilasi. - Mudah dioperasikan oleh petugas. - Frame dilengkapi dengan gelang polyethilene untuk menghindari kontak metal dengan metal. - Ukuran tergantung dari tipe manhole yang digunakan. - Frame memiliki lubang-lubang pembautan. VII Terminal Clean Out Terminal clean out berupa pipa tegak, sejenis saluran air buangan yang dihubungkan. Terminal clean out merupakan pengganti manhole awal yang dipasang pada awal saluran. Pada pipa berdiameter kecil kecil juga dibangun terminal clenaot dengan lokasi 50 m di hulu manhole. Terminal clean out dilengkapi dengan : 1. Dop yang terbuat bahan sejenis pipa yang dihubungkan. 2. Cover dan frame terbuat dari ductile cast iron. 3. Untuk terminal clean out yang terletak di tangah jalan, maka tebal cover dua kali lebih tebal daripada cover di tepi jalan. VII Stasiun Pompa Pompa Pompa yang digunakan adalah jenis submersible pump, dan dipasang satu buah pompa sebagai cadangan. Pemasangan pompa harus sesuai standar dari pabrik. Stasiun pompa (lift station) Konstruksi sumur pengumpul terubat dari beton yang dilapisi waterproof layer untuk menghindari rembesan air buangan ke dinding sump well, dan untuk material tangga digunakan bahan logam anti karat. Pemasangan pompa dilakukan dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut: Pompa dan motor harus diletakkan datar dengan bantuan water pass. Erika Herliana ( ) VII - 22

23 Pondasi tempat meletakkan pompa harus mampu menyerap getaran pompa dan penggeraknya dan mampu menahannya. Berat pondasi sekurangkurangnya 3 kali berat pompa (dan motornya). Ambang pada bagian outlet terbuat dari baja untuk mencegah aliran balik dan agar tidak mudah rusak. Bearing pada bagian outlet diberi minyak pelumas agar pompa dapat berputar dengan lancar dan dirancang agar kedap air untuk menghindari kerusakan yang dapat terjadi akibat lumpur yang dialirkan. Baut dan mur yang digunakan untuk menyatukan pompa dengan peletakan harus cukup kuat agar getaran yang ditimbulkan dapat diperkecil. VII Tangki Interseptor Tangki harus dibuat dari pasangan yang tahan terhadap korosi, kedap air, dan tahan lama. Konstruksi tangki harus cukup kuat menahan beton dan gaya-gaya yang timbul akibat tekanan air dan tanah. Bahan yang dapat digunakan adalah : Dinding dan dasar bak Batu bata merah dan beton sedangkan untuk plesteran digunakan mortar dari semen dan pasir. Plat penutup tangki Beton bertulang, kayu, dan plat besi. Saluran air buangan Pipa PVC. VII.6. Operasi dan Pemeliharaan VII.6.1. Umum Program pemeliharaan bertujuan untuk memanfaatkan biaya investasi yang telah ditanamkan dalam pembangunan dan melindungi fasilitas dari gangguan dan kerusakan sehingga dapat dioperasikan dengan efisiensi dan kinerja yang optimum. Program pemeliharaan terdiri dari : 1. Pemeliharaan pencegahan Program yang menjadwalkan perencanaan operasi sehingga gangguan-gangguan pada sistem dapat diperkecil, dan bertujuan pula untuk mengoreksi hal-hal yang kurang efisien. Oleh karena itu diperlukan penempatan tenaga terampil yang teliti Erika Herliana ( ) VII - 23

24 sehingga kerusakan-kerusakan kecil dapat segera terdeteksi sebelum berubah menjadi kerusakan besar yang bisa berakibat fatal. Pemeliharaan pencegahan dimulai dengan pengawasan awal (pre-inspection), kemudian dapat diperoleh metode dan jenis pemeliharaan pencegahan berikutnya, sehingga dapat diketahui peralatan yang diperlukan. 2. Pemeliharaan perbaikan Program untuk mereparasi atau mengganti bagian-bagian yang sudah rusak atau jelek. Program pemeliharaan perbaikan meliputi normalisasi saluran, perbaikan mesin-mesin pompa, penggelontoran dan pembersihan saluran, pengecatan agar tidak cepat keropos akibat korosi, pengangkatan endapan, pembersihan akar tumbuhan, perbaikan dan pemeliharaan konstruksi. 3. Program pemeliharaan keindahan Salah satu kegiatan dari program ini adalah pemeliharaan estetika pada sambungan rumah, gedung-gedung, stasiun pompa dan instalasi lainnya agar terjaga keindahannya. 4. Pendataan dan pelaporan Pendataan dan pelaporan yang dilakukan dengan benar dan kontinu dapat menjaga sifat, keadaan dan karakteristik saluran dan unit-unit agar selalu terjaga dengan baik. Data-data yang diperoleh dari kegiatan pendataan ini dapat dipakai untuk perencanaan sistem selanjutnya, sehingga dapat diperoleh efisiensi operasional yang optimal. Pendataan dan pelaporan meliputi laporan bulanan tentang saluran rumah yang buntu, laporan harian, mingguan, dan bulanan dari seluruh sistem saluran dan instalasi pengolahan. Terdapat dua pengelompokkan dalam pendataan dan pelaporan, yaitu data intern dan ekstern. Data intern yaitu data sistem organisasi, desain dan pelaksanaan pembangunan, investasi, pelaksanaan dan pembiayaan operasi dan pemeliharaan. Sedangkan data ekstern adalah data mengenai dampak terhadap lingkungan sekitarnya. VII.6.2. Permasalahan Operasional dan Penanganannya Permasalahan yang sering terjadi pada penyaluran dan instalasi air buangan meliputi : Masalah endapan dan sampah Endapan pada saluran air buangan tidak hanya terdiri dari bahan tinja atau padatan yang terbawa keluar dari efluen tangki interseptor, melainkan mungkin pasir dan Erika Herliana ( ) VII - 24

25 lumpur tanah yang terbawa bersama limpasan air hujan, memasuki lubang-lubang manhole. Tidak hanya lumpur tanah dan pasir yang masuk, tetapi juga berbagai jenis sampah, apalagi jika tutup manhole terbuka, sehingga sering masyarakat membuang sampah ke dalam manhole. Penanganan untuk masalah ini adalah : a. Drainase pada daerah jalur saluran harus diperbaiki b. Tutup manhole tidak boleh tergenang air limpasan hujan. c. Tutup manhole dijaga jangan sampai terbuka. d. Penyuluhan ke masyarakat agar tidak membuangan sampah sembarangan. e. Sering diadakan inspeksi pada setiap manhole dan dalam salurannya agar gangguan yang terjadi sedini mungkin dapat ditangani. Tutup manhole Sering sekali tutup manhole dicuri karena terbuat dari besi / baja yang memiliki bahan ekonomis yang cukup tinggi. Hal ini sangat berbahaya. Penanganan untuk masalah ini adalah : a. Konstruksi tutup manhole diberi gembok atau kunci b. Bahan tutup manhole karena terletak di pertengahan jalan dipilih dari bahan yang kekuatannya memadai sehingga tidak mudah diangkat bila ingin dicuri dan mampu menahan beban bergerak. c. Penyuluhan pada masyarakat Permasalahan akar pohon Sering akar pohon melalui bawah saluran sehingga kadang-kadang mengangkat saluran sehingga aliran terganggu. Demikian juga dengan akar-akar yang menerobos menembus bahan saluran sehingga menyebabkan pipa retak, dan mengakibatkan kebocoran pada pipa. Penanganannya adalah : a. Dilarang menanam pohon dekat jalur lintasan pipa, terutama jenis pohon yang berakar panjang dan berserabut. b. Untuk yang sudah masuk, segera dibersihkan dengan root cutting dan pohonnya ditebang. VII.6.3. Pengembangan Prosedur Pengoperasian Dan Pemeliharaan Untuk mengembangkan prosedur pengoperasian dan pemeliharaan maka perlu dipelajari permasalahan-permasalahan dari proyek sejenis di Indonesia dan yang terpenting adalah tersedianya data-data pendukung yang menunjang program pemeliharaan. Hal-hal yang dapat dijadikan bahan pembelajaran seperti : Erika Herliana ( ) VII - 25

26 - Metode pemecahan masalah yang diterapkan. - Petunjuk pengoperasian dan pemeliharaan. - Pendataan gambar sewer eksisting kepemilikan sambungan. - Petunjuk penggunaan peralatan kendaraan. - Kriteria perencanaan untuk sambungan kepemilikan. - Metode untuk mengkoordinasikan dan mengintegrasikan program penyambungan sewer dengan program lain seperti penyediaan air bersih, persetujuan izin mendirikan bangunan, dan lain-lain. Dengan terlaksananya program-program pemeliharaan dengan baik, maka diharapkan sistem utilitas perumahan, berupa penyaluran dan pengolahan air buangan dapat berfungsi dengan optimal. Erika Herliana ( ) VII - 26

BAB VI SPESIFIKASI TEKNIS

BAB VI SPESIFIKASI TEKNIS BAB VI SPESIFIKASI TEKNIS VI.1 Ketentuan Pelaksanaan VI.1.1 Bangunan Sementara Bangunan sementara adalah bangunan direksi, bangunan kerja, gudang bahan-bahan, dan lain-lain. Bangunan sementara dibuat di

Lebih terperinci

PEKERJAAN STRUKTUR BAWAH

PEKERJAAN STRUKTUR BAWAH PEKERJAAN STRUKTUR BAWAH 1. UMUM A. Lingkup Pekerjaan Pekerjaan ini meliputi : - Pekerjaan galian, - Pekerjaan Pilecap, Tie beam & Kolom. B. Pengukuran Peil (Levelling) Sebagai patokan tinggi peil (level)

Lebih terperinci

BAB VII TATA LAKSANA LAPANGAN

BAB VII TATA LAKSANA LAPANGAN 7-1 BAB VII TATA LAKSANA LAPANGAN 7.1 Pekerjaan Persiapan Pada pelaksanaan pekerjaan pembangunan suatu proyek biasanya diawali dengan pekerjaan persiapan. Adapun pekerjaan persiapan tersebut itu meliputi

Lebih terperinci

BAB VIII RENCANA ANGGARAN BIAYA

BAB VIII RENCANA ANGGARAN BIAYA BAB VIII RENCANA ANGGARAN BIAYA VIII.1 Umum Rencana anggaran biaya merupakan perkiraan besarnya biaya yang dibutuhkan untuk membangun sistem penyaluran dan pengolahan air buangan mulai dari perencanaan

Lebih terperinci

PEDOMAN PEMBANGUNAN BANGUNAN TAHAN GEMPA

PEDOMAN PEMBANGUNAN BANGUNAN TAHAN GEMPA LAMPIRAN SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL CIPTA KARYA NOMOR: 111/KPTS/CK/1993 TANGGAL 28 SEPTEMBER 1993 TENTANG: PEDOMAN PEMBANGUNAN BANGUNAN TAHAN GEMPA A. DASAR DASAR PERENCANAAN BANGUNAN TAHAN GEMPA

Lebih terperinci

BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN BEKISTING, PEMBESIAN DAN PENGECORAN

BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN BEKISTING, PEMBESIAN DAN PENGECORAN BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN BEKISTING, PEMBESIAN DAN PENGECORAN 5.1 Pekerjaan Bekisting 5.1.1 Umum Perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan bekisting harus memenuhi syarat PBI 1971 N 1-2 dan Recomended Practice

Lebih terperinci

SPESIFIKASI TEKNIS. Pasal 1 JENIS DAN LOKASI PEKERJAAN

SPESIFIKASI TEKNIS. Pasal 1 JENIS DAN LOKASI PEKERJAAN SPESIFIKASI TEKNIS Pasal 1 JENIS DAN LOKASI PEKERJAAN 1. Nama Kegiatan : Penataan Listrik Perkotaan 2. Nama pekerjaan : Penambahan Lampu Taman (65 Batang) 3. Lokasi : Pasir Pengaraian Pasal 2 PEKERJAAN

Lebih terperinci

BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT. alat - alat tertentu sesuai kebutuhan untuk mendukung pembangunan tersebut.

BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT. alat - alat tertentu sesuai kebutuhan untuk mendukung pembangunan tersebut. BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT 4.1 Peralatan Dalam melaksanakan proyek pembangunan maka pastilah digunakan alat - alat tertentu sesuai kebutuhan untuk mendukung pembangunan tersebut. Alat

Lebih terperinci

BAB VI BAHAN DAN PERALATAN

BAB VI BAHAN DAN PERALATAN BAB VI BAHAN DAN PERALATAN 6.1 Jenis-jenis dan Mutu Bahan Yang Digunakan Mutu dari setiap bahan yang akan digunakan tidak boleh berkurang dan diharapkan dapat memenuhi target yang telah direncanakan. Adapun

Lebih terperinci

PETUNJUK TEKNIS TATA CARA PEMBANGUNAN IPLT SISTEM KOLAM

PETUNJUK TEKNIS TATA CARA PEMBANGUNAN IPLT SISTEM KOLAM PETUNJUK TEKNIS TATA CARA PEMBANGUNAN IPLT SISTEM KOLAM TATA CARA PEMBANGUNAN IPLT SISTEM KOLAM BAB I DESKRIPSI 1.1 Ruang lingkup Tatacara ini meliputi ketentuan-ketentuan, cara pengerjaan bangunan utama

Lebih terperinci

PROSEDUR MOBILISASI DAN PEMASANGAN PIPA AIR MINUM SUPLEMEN MODUL SPAM PERPIPAAN BERBASIS MASYARAKAT DENGAN POLA KKN TEMATIK

PROSEDUR MOBILISASI DAN PEMASANGAN PIPA AIR MINUM SUPLEMEN MODUL SPAM PERPIPAAN BERBASIS MASYARAKAT DENGAN POLA KKN TEMATIK PROSEDUR MOBILISASI DAN PEMASANGAN PIPA AIR MINUM SUPLEMEN MODUL SPAM PERPIPAAN BERBASIS MASYARAKAT DENGAN POLA KKN TEMATIK A. DEFINISI - Pengangkutan Pekerjaan pemindahan pipa dari lokasi penumpukan ke

Lebih terperinci

BAB IV MATERIAL DAN PERALATAN

BAB IV MATERIAL DAN PERALATAN BAB IV MATERIAL DAN PERALATAN 4.1 Material Perlu kita ketahui bahwa bahan bangunan atau material bangunan memegang peranan penting dalam suatu konstruksi bangunan ini menentukan kekuatan, keamanan, dan

Lebih terperinci

BAB V PONDASI TELAPAK

BAB V PONDASI TELAPAK BAB V PONDASI TELAPAK I. METODA KONSTRUKSI PONDASI SETEMPAT A. Urutan Kegiatan Pekerjaan Pondasi Setempat Metoda konstruksi untuk pekerjaan pondasi setempat yaitu: 1. Penggalian tanah pondasi 2. Penulangan

Lebih terperinci

RENCANA KERJA DAN SYARAT SYARAT

RENCANA KERJA DAN SYARAT SYARAT KONSTRUKSI SARANG LABA LABA seri 3 RENCANA KERJA DAN SYARAT SYARAT RENCANA KERJA DAN SYARAT SYARAT PELAKSANAAN KONSTRUKSI BANGUNAN BAWAH dengan sistim KONSTRUKSI SARANG LABA LABA seri 3 Proyek : Gedung

Lebih terperinci

BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN. Pekerjaan persiapan berupa Bahan bangunan merupakan elemen

BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN. Pekerjaan persiapan berupa Bahan bangunan merupakan elemen BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN 5.1 Pekerjaan Persiapan Pekerjaan persiapan berupa Bahan bangunan merupakan elemen terpenting dari suatu proyek pembangunan, karena kumpulan berbagai macam material itulah yang

Lebih terperinci

DINDING DINDING BATU BUATAN

DINDING DINDING BATU BUATAN DINDING Dinding merupakan salah satu elemen bangunan yang berfungsi memisahkan/ membentuk ruang. Ditinjau dari segi struktur dan konstruksi, dinding ada yang berupa dinding partisi/ pengisi (tidak menahan

Lebih terperinci

1 Membangun Rumah 2 Lantai. Daftar Isi. Kata Pengantar... i Daftar Isi... ii\ Tugas Struktur Utilitas II PSDIII-Desain Arsitektur Undip

1 Membangun Rumah 2 Lantai. Daftar Isi. Kata Pengantar... i Daftar Isi... ii\ Tugas Struktur Utilitas II PSDIII-Desain Arsitektur Undip Daftar Isi Kata Pengantar... i Daftar Isi... ii\ Kata Pengantar Pedoman Teknis Rumah berlantai 2 dilengkapi dengan Metode dan Cara Perbaikan Kerusakan ini dipersiapkan oleh Panitia D-III Arsitektur yang

Lebih terperinci

PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA UNIT LAYANAN PENGADAAN BARANG/JASA

PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA UNIT LAYANAN PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA UNIT LAYANAN PENGADAAN BARANG/JASA (PROCUREMENT UNIT) Jl. Jend. A. Yani No. 12 Amuntai Telp/fax : 0527-62471 PENJELASAN TAMBAHAN pertanyaan : Dalam Daftar

Lebih terperinci

TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT. Penyediaan alat kerja dan bahan bangunan pada suatu proyek memerlukan

TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT. Penyediaan alat kerja dan bahan bangunan pada suatu proyek memerlukan BAB III TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT 4.1 Tinjauan Umum Penyediaan alat kerja dan bahan bangunan pada suatu proyek memerlukan manajemen yang baik untuk menunjang kelancaran pengerjaannya. Pengadaan

Lebih terperinci

BAB VII TINJAUAN KHUSUS METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN BALOK

BAB VII TINJAUAN KHUSUS METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN BALOK BAB VII TINJAUAN KHUSUS METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN BALOK 7.1 Pelaksanaan Pekerjaan Balok Balok adalah batang dengan empat persegi panjang yang dipasang secara horizontal. Hal hal yang perlu diketahui

Lebih terperinci

BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT. Manajemen pelaksanaan dilakukan dalam rangka menjamin kelancaran

BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT. Manajemen pelaksanaan dilakukan dalam rangka menjamin kelancaran BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT 4.1 Uraian Umum Manajemen pelaksanaan dilakukan dalam rangka menjamin kelancaran pelaksanaan pekerjaan proyek yang akan berlangsung. Manajemen pelaksanaan bukan

Lebih terperinci

Metode Pelaksanaan Pembangunan Jalan Lingkungan Datuk Taib Desa Leuhan < SEBELUMNYA BERIKUTNYA >

Metode Pelaksanaan Pembangunan Jalan Lingkungan Datuk Taib Desa Leuhan < SEBELUMNYA BERIKUTNYA > Metode Pelaksanaan Pembangunan Jalan Lingkungan Datuk Taib Desa Leuhan < SEBELUMNYA BERIKUTNYA > GSF-Aceh. Didalam Pelaksanaan Proyek, metode pelaksanaan sangat penting dilaksanakan, hal ini untuk mengetahui

Lebih terperinci

BAB V LAPORAN PROSES PENGAMATAN PELAKSANAAN PROYEK PEMBANGUNAN RUKO SETIABUDHI - BANDUNG

BAB V LAPORAN PROSES PENGAMATAN PELAKSANAAN PROYEK PEMBANGUNAN RUKO SETIABUDHI - BANDUNG BAB V LAPORAN PROSES PENGAMATAN PELAKSANAAN PROYEK PEMBANGUNAN RUKO SETIABUDHI - BANDUNG Dalam bahasan laporan mingguan proses pengamatan pelaksanaan proyek ini, praktikan akan memaparkan dan menjelaskan

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN A. Kerusakan Komponen Gedung D Lantai Dasar Lantai 4 1. Komponen Arsitektur a. Keramik Kerusakan lantai yang terdapat pada lantai dasar Gedung KH.Mas Mansur adalah lantai keramik

Lebih terperinci

BAB X PEKERJAAN DINDING DAN PASANGAN

BAB X PEKERJAAN DINDING DAN PASANGAN BAB X PEKERJAAN DINDING DAN PASANGAN Pasal 1 : Batu Bata 1. Batu bata harus mempunyai dimensi dan ukuran yang standar sesuai Peraturan Bahan Bangunan yang berlaku. 2. Batu bata mempunyai dimensi seperti

Lebih terperinci

BABV PELAKSANAAN PEKERJAAN. perencana. Dengan kerjasama yang baik dapat menghasilkan suatu kerja yang efektif

BABV PELAKSANAAN PEKERJAAN. perencana. Dengan kerjasama yang baik dapat menghasilkan suatu kerja yang efektif BABV PELAKSANAAN PEKERJAAN 5.1 Tinjauan Umum Dalam pelaksanaan pekerjaan diperlukan kerjasama yang baik dari semua pihak yang terkait, baik itu perencana, pemberi tugas, pengawas maupun pelaksana karena

Lebih terperinci

LAMPIRAN. Suatu bangunan gedung harus mampu secara struktural stabil selama kebakaran

LAMPIRAN. Suatu bangunan gedung harus mampu secara struktural stabil selama kebakaran LAMPIRAN Sistem proteksi pasif terdiri dari : Ketahanan Api dan Stabilitas Suatu bangunan gedung harus mampu secara struktural stabil selama kebakaran sehingga pada saat terjadi kebakaran pengguna gedung

Lebih terperinci

1 PEKERJAAN PENDAHULUAN

1 PEKERJAAN PENDAHULUAN SPESIFIKASI TEKNIS Pasal 1 PEKERJAAN PENDAHULUAN Lingkup Pekerjaan Menyediakan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat- alat bantu lainnya untuk persiapan pelaksanaan pekerjaan agar pekerjaan konstruksi

Lebih terperinci

BAB IV PERALATAN DAN MATERIAL. 1. Staff teknik dengan staff logistik dan peralatan, memberikan data-data

BAB IV PERALATAN DAN MATERIAL. 1. Staff teknik dengan staff logistik dan peralatan, memberikan data-data BAB IV PERALATAN DAN MATERIAL 4.1 Pengadaan Alat dan Bahan Prosedur dalam pengadaan bahan dan alat adalah : 1. Staff teknik dengan staff logistik dan peralatan, memberikan data-data bahan/alat yang di

Lebih terperinci

BAB V METODE UMUM PELAKSAAN KONSTRUKSI. Untuk mengetahui metode pelaksanaan di lapangan, dibuatkan gambar shop

BAB V METODE UMUM PELAKSAAN KONSTRUKSI. Untuk mengetahui metode pelaksanaan di lapangan, dibuatkan gambar shop BAB V METODE UMUM PELAKSAAN KONSTRUKSI 5.1 Uraian Umum Pada Setiap proyek, metode pelaksanaan konstruksi merupakan salah satu proses pelaksanaan konstruksi yang harus direncanakan sebelumnya. Untuk mengetahui

Lebih terperinci

A. METODE PELAKSANAAN GEDUNG 2 TINGKAT PONDASI TIANG PANCANG. Adapun metode pelaksanaan yang digunakan adalah sebagai berikut:

A. METODE PELAKSANAAN GEDUNG 2 TINGKAT PONDASI TIANG PANCANG. Adapun metode pelaksanaan yang digunakan adalah sebagai berikut: A. METODE PELAKSANAAN GEDUNG 2 TINGKAT PONDASI TIANG PANCANG Adapun metode pelaksanaan yang digunakan adalah sebagai berikut: 1. Pekerjaan Pendahuluan Pekerjaan pendahuluan merupakan pekerjaan persiapan

Lebih terperinci

Spesifikasi Pipa Beton untuk Air Buangan, Saluran Peluapan dari Gorong-Gorong

Spesifikasi Pipa Beton untuk Air Buangan, Saluran Peluapan dari Gorong-Gorong Spesifikasi Pipa Beton untuk Air Buangan, Saluran Peluapan dari Gorong-Gorong SNI 03-6367-2000 1 Ruang lingkup Spesifikasi ini meliputi pipa beton tidak bertulang yang digunakan sebagai pembuangan air

Lebih terperinci

METODE PEMBUATAN DAN PERAWATAN BENDA UJI BETON DI LAPANGAN BAB I DESKRIPSI

METODE PEMBUATAN DAN PERAWATAN BENDA UJI BETON DI LAPANGAN BAB I DESKRIPSI METODE PEMBUATAN DAN PERAWATAN BENDA UJI BETON DI LAPANGAN BAB I DESKRIPSI 1.1 Ruang Lingkup Metode Pembuatan dan Perawatan Benda Uji di Lapangan ini mencakup : 1) Cara pembuatan dan perawatan benda uji

Lebih terperinci

BAB VIII RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB)

BAB VIII RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB) BAB VIII RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB) Dalam merencanakan suatu proyek, adanya rencana anggaran biaya merupakan hal yang tidak dapat diabaikan. Rencana anggaran biaya disusun berdasarkan dimensi dari bangunan

Lebih terperinci

DINAS PERHUBUNGAN DAN KOMINFO

DINAS PERHUBUNGAN DAN KOMINFO PEMERINTAH KABUPATEN KONAWE KEPULAUAN DINAS PERHUBUNGAN DAN KOMINFO TAHUN ANGGARAN 2015 RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS) PEMBANGUNAN TAMBATAN PERAHU KABUPATEN KONAWE KEPULAUAN VOLUME = 104,85 M 1

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu Penelitian yang sudah pernah dilakukan dan dapat di jadikan literatur untuk penyusunan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Ishaq Maulana

Lebih terperinci

SPESIFIKASI TEKNIS PEMBANGUNAN KANDANG LAKTASI TAMPUSU, MINAHASA. Pasal 1 SYARAT SYARAT PELAKSANAAN

SPESIFIKASI TEKNIS PEMBANGUNAN KANDANG LAKTASI TAMPUSU, MINAHASA. Pasal 1 SYARAT SYARAT PELAKSANAAN SPESIFIKASI TEKNIS PEMBANGUNAN KANDANG LAKTASI TAMPUSU, MINAHASA Pasal 1 SYARAT SYARAT PELAKSANAAN Dalam melaksanakan pekerjaan pemborongan harus berpedoman kepada ketentuan yang terdapat di dalam : 1.

Lebih terperinci

METODE PELAKSANAAN BENDUNGAN

METODE PELAKSANAAN BENDUNGAN METODE PELAKSANAAN BENDUNGAN 1. Saluran Bangunan Pelimpah (Spillway) dan peredam energi Gambar 1. Layout Spillway Pekerjaan pembangunan bangunan pelimpah (spillway) adalah sebagai berikut : Pekerjaan Tanah

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI. Yufiter (2012) dalam jurnal yang berjudul substitusi agregat halus beton

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI. Yufiter (2012) dalam jurnal yang berjudul substitusi agregat halus beton BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka Yufiter (2012) dalam jurnal yang berjudul substitusi agregat halus beton menggunakan kapur alam dan menggunakan pasir laut pada campuran beton

Lebih terperinci

TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT YANG DIGUNAKAN. tinggi dapat menghasilkan struktur yang memenuhi syarat kekuatan, ketahanan,

TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT YANG DIGUNAKAN. tinggi dapat menghasilkan struktur yang memenuhi syarat kekuatan, ketahanan, BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT YANG 4.1. Tinjauan Bahan dan Material Bahan dan material bangunan merupakan elemen terpenting dari suatu proyek pembangunan, karena dari berbagai macam bahan dan

Lebih terperinci

BAB VII TINJAUAN KHUSUS

BAB VII TINJAUAN KHUSUS BAB VII TINJAUAN KHUSUS 7.1 Uraian Umum Dalam pelaksanaan kerja praktik yang berlangsung selama kurang lebih 2 bulan (terhitung sejak 1 Maret s/d 30 April 2017) dan penulisan laporan akhir yang membutuhkan

Lebih terperinci

TATA CARA PEMBUATAN DAN PERAWATAN BENDA UJI KUAT TEKAN DAN LENTUR TANAH SEMEN DI LABORATORIUM

TATA CARA PEMBUATAN DAN PERAWATAN BENDA UJI KUAT TEKAN DAN LENTUR TANAH SEMEN DI LABORATORIUM TATA CARA PEMBUATAN DAN PERAWATAN BENDA UJI KUAT TEKAN DAN LENTUR TANAH SEMEN DI LABORATORIUM SNI 03-6798-2002 BAB I DESKRIPSI 1.1 Ruang Lingkup Tata cara ini meliputi prosedur pembuatan dan perawatan

Lebih terperinci

LAPIS PONDASI AGREGAT SEMEN (CEMENT TREATED BASE / CTB)

LAPIS PONDASI AGREGAT SEMEN (CEMENT TREATED BASE / CTB) BAB V LAPIS PONDASI AGREGAT SEMEN (CEMENT TREATED BASE / CTB) 5.1. UMUM a. Lapis Pondasi Agregat Semen (Cement Treated Base / CTB) adalah Lapis Pondasi Agregat Kelas A atau Kelas B atau Kelas C yang diberi

Lebih terperinci

KONSTRUKSI PONDASI Pondasi Dangkal Pasangan Batu bata/batu kali

KONSTRUKSI PONDASI Pondasi Dangkal Pasangan Batu bata/batu kali KONSTRUKSI PONDASI 9.1 Konstruksi Pondasi Batu Kali atau Rollaag Konstruksi pondasi ini merupakan bagian dari konstruksi bangunan gedung dan sangat penting karena sangat menentukan kekokohan bangunan.

Lebih terperinci

BAB VII PEMBAHASAN MASALAH. Pekerjaan pondasi dibagi menjadi dua bagian, yaitu pondasi dangkal dan pondasi

BAB VII PEMBAHASAN MASALAH. Pekerjaan pondasi dibagi menjadi dua bagian, yaitu pondasi dangkal dan pondasi BAB VII PEMBAHASAN MASALAH 7.1 Tinjauan umum Pekerjaan pondasi dibagi menjadi dua bagian, yaitu pondasi dangkal dan pondasi dalam. Pondasi dalam sendiri dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan teknik

Lebih terperinci

BAB VI BAHAN DAN PERALATAN

BAB VI BAHAN DAN PERALATAN BAB VI BAHAN DAN PERALATAN 6.1 Jenis-jenis dan Mutu Bahan Yang Digunakan Mutu dari setiap bahan yang akan digunakan tidak boleh berkurang dan diharapkan dapat memenuhi target yang telah direncanakan. Adapun

Lebih terperinci

BAB V METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN. Dalam pelaksanaan suatu proyek baik proyek besar maupun proyek kecil selalu

BAB V METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN. Dalam pelaksanaan suatu proyek baik proyek besar maupun proyek kecil selalu BAB V METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN Dalam pelaksanaan suatu proyek baik proyek besar maupun proyek kecil selalu diharapkan hasil dengan kualitas yang baik dan memuaskan, yaitu : 1. Memenuhi spesifikasi

Lebih terperinci

BAB IV MATERIAL DAN PERALATAN

BAB IV MATERIAL DAN PERALATAN BAB IV MATERIAL DAN PERALATAN 4.1 Material Perlu kita ketahui bahwa bahan bangunan atau material bangunan memegang peranan penting dalam suatu konstruksi bangunan yang menentukan kekuatan, keamanan, dan

Lebih terperinci

BAB V METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN

BAB V METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN BAB V METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN 5.1 Uraian Umum Metoda pelaksanaan dalam sebuah proyek konstruksi adalah suatu bagian yang sangat penting dalam proyek konstruksi untuk mencapai hasil dan tujuan yang

Lebih terperinci

METODE PENGUJIAN KEPADATAN BERAT ISI TANAH DI LAPANGAN DENGAN BALON KARET

METODE PENGUJIAN KEPADATAN BERAT ISI TANAH DI LAPANGAN DENGAN BALON KARET METODE PENGUJIAN KEPADATAN BERAT ISI TANAH DI LAPANGAN DENGAN BALON KARET SNI 19-6413-2000 1. Ruang Lingkup 1.1 Metode ini mencakup penentuan kepadatan dan berat isi tanah hasil pemadatan di lapangan atau

Lebih terperinci

BAB IV BAHAN AIR UNTUK CAMPURAN BETON

BAB IV BAHAN AIR UNTUK CAMPURAN BETON BAB IV BAHAN AIR UNTUK CAMPURAN BETON Air merupakan salah satu bahan pokok dalam proses pembuatan beton, peranan air sebagai bahan untuk membuat beton dapat menentukan mutu campuran beton. 4.1 Persyaratan

Lebih terperinci

BAB IV PENGAMATAN PEKERJAAN SIPIL LAPANGAN

BAB IV PENGAMATAN PEKERJAAN SIPIL LAPANGAN BAB IV PENGAMATAN PEKERJAAN PELAKSANAAN LAPANGAN 4.1 Pekerjaan pondasi 1. papan bekisting 2. beton ready mix 3. pasir urug 4. Besi poer D16, D10, Ø8 2. Langkah Kerja a. Setelah Tiang pancang ditanam, b.

Lebih terperinci

BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN. Pada prinsipnya, pekerjaan struktur atas sebuah bangunan terdiri terdiri dari

BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN. Pada prinsipnya, pekerjaan struktur atas sebuah bangunan terdiri terdiri dari BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN 5.1. Pengamatan Pekerjaan Konstruksi Pada prinsipnya, pekerjaan struktur atas sebuah bangunan terdiri terdiri dari beberapa pekerjaan dasar. Yaitu pekerjaan pengukuran, pembesian,

Lebih terperinci

METODA PELAKSANAAN. CV. SABATA UTAMA Rehabilitasi Jaringan Irigasi D.I Tangan-Tangan

METODA PELAKSANAAN. CV. SABATA UTAMA Rehabilitasi Jaringan Irigasi D.I Tangan-Tangan METODA PELAKSANAAN Nama Perusahaan : Nama Paket Pekerjaan : No. Paket : CV. SABATA UTAMA Rehabilitasi Jaringan Irigasi D.I Tangan-Tangan 481625 Jangka waktu pelaksanaan : Metode pelaksanaan merupakan hal

Lebih terperinci

PENGARUH LUBANG DALAM BETON TERHADAP KEKUATAN MEMIKUL BEBAN AKSIAL

PENGARUH LUBANG DALAM BETON TERHADAP KEKUATAN MEMIKUL BEBAN AKSIAL PENGARUH LUBANG DALAM BETON TERHADAP KEKUATAN MEMIKUL BEBAN AKSIAL SAFRIN ZURAIDAH 1, HANDO 2, K BUDIHASTONO Jurusan Teknik Sipil-UNITOMO Surabaya Email : [email protected] Abstrak Dunia usaha properti

Lebih terperinci

BAB VI KONSTRUKSI KOLOM

BAB VI KONSTRUKSI KOLOM BAB VI KONSTRUKSI KOLOM 6.1. KOLOM SEBAGAI BAHAN KONSTRUKSI Kolom adalah batang tekan vertikal dari rangka struktur yang memikul beban dari balok. Kolom merupakan suatu elemen struktur tekan yang memegang

Lebih terperinci

Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan tanah untuk konstruksi bangunan gedung dan perumahan

Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan tanah untuk konstruksi bangunan gedung dan perumahan SNI 2835:2008 Standar Nasional Indonesia Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan tanah untuk konstruksi bangunan gedung dan perumahan ICS 91.010.20 Badan Standardisasi Nasional SNI 2835:2008 Daftar

Lebih terperinci

REKAPITULASI RENCANA ANGGARAN BIAYA

REKAPITULASI RENCANA ANGGARAN BIAYA REKAPITULASI RENCANA ANGGARAN BIAYA Kegiatan : 0 PEKERJAAN : PENGEMBANGAN PENETASAN LOKASI : BPTU KDI KEC. TAMBANG ULANG NO URAIAN PEKERJAAN JUMLAH (Rp) I. PEKERJAAN PERSIAPAN II. PEKERJAAN TANAH DAN PONDASI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Pondasi adalah bagian terbawah dari suatu struktur yang berfungsi menyalurkan beban dari struktur diatasnya ke lapisan tanah pendukung. Pondasi sendiri jenisnya ada

Lebih terperinci

BAB VI BAHAN DAN PERALATAN

BAB VI BAHAN DAN PERALATAN 6-1 BAB VI BAHAN DAN PERALATAN 6.1 Jenis-jenis dan Mutu Bahan Yang Digunakan Mutu dari setiap bahan tidak boleh berkurang dan diharapkan dapat memenuhi target yang telah direncanakan. Adapun jenis dan

Lebih terperinci

b. Komponen D2 Berat komponen adalah 19,68 kg Gambar 65. Komponen D1 Gambar 66. Komponen D2

b. Komponen D2 Berat komponen adalah 19,68 kg Gambar 65. Komponen D1 Gambar 66. Komponen D2 1. Varian I Varian I memiliki tiga buah komponen yaitu komponen D1 yang berfungsi sebagai dinding utama, komponen D2, komponen D3 dan komponen D4. Varian I dikembangkan dalam modul 70 x 60 cm. a. Komponen

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN.. DINAS PENDIDIKAN SMKNEGERI. UJIAN AKHIR SEKOLAH TAHUN PELAJARAN :

PEMERINTAH KABUPATEN.. DINAS PENDIDIKAN SMKNEGERI. UJIAN AKHIR SEKOLAH TAHUN PELAJARAN : PEMERINTAH KABUPATEN.. DINAS PENDIDIKAN SMKNEGERI. UJIAN AKHIR SEKOLAH TAHUN PELAJARAN : Kompetensi Keahlian : Hari / Tanggal : Teknik Gambar Bangunan Kelas / Jurusan : III / Teknik Gambar Bangunan Waktu

Lebih terperinci

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN A.

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN A. BAB IV METODOLOGI PENELITIAN A. Bahan dan Material Penelitian Bahan-bahan yang digunakan dalam campuran beton dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Agregat halus yang digunakan dalam penelitian

Lebih terperinci

Persyaratan agar Pondasi Sumuran dapat digunakan adalah sebagai berikut:

Persyaratan agar Pondasi Sumuran dapat digunakan adalah sebagai berikut: Pondasi Caisson atau Pondasi Sumuran Pondasi sumuran adalah suatu bentuk peralihan antara pondasi dangkal dan pondasi tiang dan digunakan apabila tanah dasar (tanah keras) terletak pada kedalaman yang

Lebih terperinci

BAB VIII SPESIFIKASI PEKERJAAN

BAB VIII SPESIFIKASI PEKERJAAN BAB VIII SPESIFIKASI PEKERJAAN VIII.1 Persyaratan Umum VIII.1.1 Nama Pekerjaan dan Lokasi Proyek Nama Pekerjaan : Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Minum Kota Garut Lokasi Proyek : Kecamatan Bayongbong,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB 1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG BAB 1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Perkerasan jalan beton semen atau secara umum disebut perkerasan kaku, terdiri atas plat (slab) beton semen sebagai lapis pondasi dan lapis pondasi bawah (bisa juga

Lebih terperinci

JUDUL MODUL II: PEMBUATAN DAN PENGUJIAN BETON DI LABORATORIUM MODUL II.a MENGUJI KELECAKAN BETON SEGAR (SLUMP) A. STANDAR KOMPETENSI: Membuat Adukan Beton Segar untuk Pengujian Laboratorium B. KOMPETENSI

Lebih terperinci

BAB XIII PEKERJAAN PLAFOND DAN DINDING PARTISI

BAB XIII PEKERJAAN PLAFOND DAN DINDING PARTISI BAB XIII PEKERJAAN PLAFOND DAN DINDING PARTISI Pasal 1 : Material Plafond 1. Material utama plafond adalah GYPSUM BOARD 9 MM DAN ACRILYC 5 MM dengan ukuran panel standard adalah 1220 mm x 2440 mm. 2. Material

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Baja Baja adalah salah satu dari bahan konstruksi yang paling penting. Sifatsifatnya yang terutama penting dalam penggunaan konstruksi adalah kekuatannya yang tinggi, dibandingkan

Lebih terperinci

SYARAT SYARAT TEKNIS PEKERJAAN. Pasal 1 PENJELASAN UMUM

SYARAT SYARAT TEKNIS PEKERJAAN. Pasal 1 PENJELASAN UMUM SYARAT SYARAT TEKNIS PEKERJAAN Pasal 1 PENJELASAN UMUM 1. Pekerjaan yang dilaksanakan adalah Pemasangan Paving Blok Jalan Lingkungan. 1. Pekerjaan harus dikerjakan sesuai dengan : Rencana Kerja dan Syarat-syarat

Lebih terperinci

HARGA SATUAN POKOK KEGIATAN (HSPK)

HARGA SATUAN POKOK KEGIATAN (HSPK) NOMOR : TANGGAL : NOMOR URAIAN KEGIATAN Koef. A BANGUNAN GEDUNG 24.01 Pekerjaan Persiapan & Tanah 24.01.01.01 Pembuatan Bouwplank /Titik Titik 23.02.04.01.01.F Mandor 0.0045 Orang Hari 158,000.00 711.00

Lebih terperinci

PETUNJUK PRAKTIS PEMELIHARAAN RUTIN JALAN

PETUNJUK PRAKTIS PEMELIHARAAN RUTIN JALAN PEMELIHARAAN RUTIN JALAN DAN JEMBATAN PETUNJUK PRAKTIS PEMELIHARAAN RUTIN JALAN UPR. 02 UPR. 02.4 PEMELIHARAAN RUTIN TALUD & DINDING PENAHAN TANAH AGUSTUS 1992 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL

Lebih terperinci

BAB VI SPESIFIKASI TEKNIS PASAL 1 LINGKUP PEKERJAAN

BAB VI SPESIFIKASI TEKNIS PASAL 1 LINGKUP PEKERJAAN BAB VI SPESIFIKASI TEKNIS PASAL 1 LINGKUP PEKERJAAN 1. Lingkup pekerjaan yang akan dilaksanakan meliputi : I. Perbaikan/Rehab dermaga TPI/PPI 2. Sarana bekerja dan tata cara pelaksanaan. a. Untuk kelancaran

Lebih terperinci

BAB II STUDI PUSTAKA

BAB II STUDI PUSTAKA 7 BAB II STUDI PUSTAKA 2.1 TINJAUAN UMUM Pelaksanaan konstruksi merupakan rangkaian kegiatan atau bagian dari kegiatan dalam pekerjaan konstruksi mulai dari persiapan lapangan sampai dengan penyerahan

Lebih terperinci

(Ririn Endah Badriani, ST., MT.) A. Umum. B. Acuan Normatif

(Ririn Endah Badriani, ST., MT.) A. Umum. B. Acuan Normatif 1 IINSPEKSII DAN PEMELIIHARAAN DRAIINASE JALAN (Ririn Endah Badriani, ST., MT.) A. Umum Salah satu penyebab utama cepatnya kerusakan saluran samping jalan adalah akibat kurang terpeliharanya sistem drainase

Lebih terperinci

BAB III KONSTRUKSI DINDING BATU BATA

BAB III KONSTRUKSI DINDING BATU BATA BAB III KONSTRUKSI DINDING BATU BATA 3.1 Pendahuluan Batu bata adalah salah satu jenis bahan bangunan yang dibuat dari tanah liat (lempung) dengan atau tanpa bahan lain, yang dibakar pada temperatur yang

Lebih terperinci

[ 인도네시아섬유산단조성사업 기본및실시설계공사시방서 - 우 오수관로 ( 인도네시아어 )]

[ 인도네시아섬유산단조성사업 기본및실시설계공사시방서 - 우 오수관로 ( 인도네시아어 )] Indonesia Industrial Park Construction Project Specification of Basic and Detailed Design Construction Specification - Saluran air hujan dan kotor(indonesian) [ 인도네시아섬유산단조성사업 기본및실시설계공사시방서 - 우 오수관로 ( 인도네시아어

Lebih terperinci

BAB VIII SPESIFIKASI PEKERJAAN

BAB VIII SPESIFIKASI PEKERJAAN BAB VIII VIII.1. Persyaratan Umum VIII.1.1. Nama Pekerjaan dan Lokasi Proyek Nama Pekerjaan : Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Minum Kecamatan Sukra, Anjatan, dan Haurgeulis, Kabupaten Indramayu, Jawa

Lebih terperinci

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Semen yang digunakan pada penelitian ini ialah semen portland komposit

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Semen yang digunakan pada penelitian ini ialah semen portland komposit III. METODE PENELITIAN A. Bahan Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Semen yang digunakan pada penelitian ini ialah semen portland komposit merek Holcim, didapatkan dari toko bahan

Lebih terperinci

BAB 8 RENCANA ANGGARAN BIAYA

BAB 8 RENCANA ANGGARAN BIAYA BAB 8 RENCANA ANGGARAN BIAYA 8.1 Volume Pekerjaan 8.1.1 Perkerjaan Persiapan 8.1.1.1 Pembersihan Lokasi panjang bangunan (p) = 40 m lebar bangunan (l) = 40 m Luas Pembersihan Lokasi = p x l = 1600 m2 8.1.1.2

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 KESIMPULAN 1. Kuat tekan beton yang direncanakan adalah 250 kg/cm 2 dan kuat tekan rencana ditargetkan mencapai 282 kg/cm 2. Menurut hasil percobaan yang telah dilakukan

Lebih terperinci

PENELITIAN PEMANFAATAN SERBUK BEKAS PENGGERGAJIAN KAYU SEBAGAI BAHAN SUBSTITUSI PEMBUATAN BATA BETON (BATAKO) UNTUK PEMASANGAN DINDING

PENELITIAN PEMANFAATAN SERBUK BEKAS PENGGERGAJIAN KAYU SEBAGAI BAHAN SUBSTITUSI PEMBUATAN BATA BETON (BATAKO) UNTUK PEMASANGAN DINDING WAHANA INOVASI VOLUME 5 No.2 JULI-DES 16 ISSN : 89-8592 PENELITIAN PEMANFAATAN SERBUK BEKAS PENGGERGAJIAN KAYU SEBAGAI BAHAN SUBSTITUSI PEMBUATAN BATA BETON (BATAKO) UNTUK PEMASANGAN DINDING Heri Sujatmiko

Lebih terperinci

SYARAT-SYARAT TEKNIS PELAKSANAAN. Bangunan yang dilaksanakan adalah kegiatan PEMBANGUNAN RUANG KELAS

SYARAT-SYARAT TEKNIS PELAKSANAAN. Bangunan yang dilaksanakan adalah kegiatan PEMBANGUNAN RUANG KELAS Spesifikasi Teknis SYARAT-SYARAT TEKNIS PELAKSANAAN 1. LINGKUP UMUM Bangunan yang dilaksanakan adalah kegiatan PEMBANGUNAN RUANG KELAS BARU ( RKB ) yang diadakan oleh Kementrian Agama Kab. Kep Selayar.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Umum Mulai tahap perencanaan hingga tahap analisis, penelitian dilaksanakan berdasarkan sumber yang berkaitan dengan topik yang dipilih, yaitu penelitian tentang agregat

Lebih terperinci

METODE PELAKSANAAN D.I. BONDUKUH.

METODE PELAKSANAAN D.I. BONDUKUH. METODE PELAKSANAAN Kegiatan : Dana Alokasi Khusus ( DAK ) Kabupaten Karanganyar Tahun Anggaran 2016 Pekerjaan : Rehabilitasi Jaringan Irigasi D.I. BONDUKUH. Lokasi : Desa Tlobo, Kecamatan Jatiyoso. Target

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA Team ilmu sipil dalam websitenya mengartikan pile cap sebagai bagian dari pondasi bangunan yang digunakan untuk mengikat tiang pancang yang sudah terpasang dengan struktur diatasnya

Lebih terperinci

SELAMAT DATANG TUKANG BEKISTING DAN PERANCAH

SELAMAT DATANG TUKANG BEKISTING DAN PERANCAH SELAMAT DATANG TUKANG BEKISTING DAN PERANCAH Pelatihan Tukang Bekisting dan Perancah Nomor Modul SBW 04 Judul Modul KONSTRUKSI BEKISTING DAN PERANCAH DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN A. Objek Penelitian Objek dalam penelitian ini adalah balok dengan ukuran panjang 300 cm, tinggi 27 cm dan lebar 15 cm. Material yang digunakan dalam penelitian ini adalah beton

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA Beton adalah bahan yang diperoleh dengan mencampurkan agregat halus, agregat kasar, semen Portland, dan air ( PBBI 1971 N.I. 2 ). Seiring dengan penambahan umur, beton akan semakin

Lebih terperinci

KOP PERUSAHAAN R E K A P I T U L A S I

KOP PERUSAHAAN R E K A P I T U L A S I KOP PERUSAHAAN R E K A P I T U L A S I Pekerjaan : Pembangunan Gedung Perpustakaan SD Negeri 1 Gumanano Lokasi : Kecamatan Mawasangka Tahun Anggaran : 2016 NO JUMLAH (Rp.) 1 2 3 I PEKERJAAN PENDAHULUAN

Lebih terperinci

II. PEKERJAAN PENDAHULUAN

II. PEKERJAAN PENDAHULUAN METODE PELAKSANAAN I. PRA PEMBANGUNAN 1. Pemeriksaan gambar-gambar untuk pelaksanaan : Semua gambar-gambar yang disiapkan adalah gambar-gambar yang telah ditandatangani oleh Direksi dan apabila ada perubahan

Lebih terperinci

BONDEK DAN HOLLOW CORE SLAB

BONDEK DAN HOLLOW CORE SLAB BONDEK DAN HOLLOW CORE SLAB Dibuat Untuk Memenuhi Persyaratan Perkuliahan Struktur Beton Gedung Semester IV Tahun Ajaran 2015 Dibuat oleh : KELOMPOK 6 Deasy Monica Parhastuti 131111003 Gani Adnan Sastrajaya

Lebih terperinci

BAB XIV INSTALASI PIPA PVC

BAB XIV INSTALASI PIPA PVC BAB XIV INSTALASI PIPA PVC Pipa PVC sudah banyak digunakan di dunia dan di Indonesia pada khususnya. Mulai untuk pipa air bersih, air kotor, kotoran, dan air hujan. Pipa PVC standar pipa pasar atau pipa

Lebih terperinci

(Ir. Hernu Suyoso, MT., M. Akir.) A. Komponen Jembatan. 1. Tipe Jembatan. a) Jembatan Pelat Beton Berongga. b) Jembatan Pelat. c) Jembatan Girder

(Ir. Hernu Suyoso, MT., M. Akir.) A. Komponen Jembatan. 1. Tipe Jembatan. a) Jembatan Pelat Beton Berongga. b) Jembatan Pelat. c) Jembatan Girder 1 PEKERJAAN JEMBATAN (Ir. Hernu Suyoso, MT., M. Akir.) A. Komponen Jembatan 1. Tipe Jembatan a) Jembatan Pelat Beton Berongga b) Jembatan Pelat c) Jembatan Girder d) Jembatan Beton Balok T e) Jembatan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Mortar Menurut SNI 03-6825-2002 mortar didefinisikan sebagai campuran material yang terdiri dari agregat halus (pasir), bahan perekat (tanah liat, kapur, semen portland) dan

Lebih terperinci

Panduan Praktis Perbaikan Kerusakan Rumah Pasca Gempa Bumi

Panduan Praktis Perbaikan Kerusakan Rumah Pasca Gempa Bumi Panduan Praktis Kerusakan Rumah Pasca Gempa Bumi Jl. Panyaungan, Cileunyi Wetan, Kabupaten Bandung 0393 Telp:(022) 7798393 ( lines), Fax: (022) 7798392, E-mail: [email protected], Website: http://puskim.pu.go.id

Lebih terperinci

BAB IV MATERIAL DAN PERALATAN

BAB IV MATERIAL DAN PERALATAN BAB IV MATERIAL DAN PERALATAN 4.1. Material Perlu diketahui bahwa bangunan atau material bangunan memegang peranan penting dalam suatu konstruksi bangunan ini menentukan kekuatan, keamanan dan kekakuan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 40 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Bahan dan Struktur Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Udayana di Kampus Bukit Jimbaran. 3.2 Bahan

Lebih terperinci

BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN. selama beton dituang dan dibentuk sesuai dengan bentuk yang diinginkan.

BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN. selama beton dituang dan dibentuk sesuai dengan bentuk yang diinginkan. BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN 5.1 Pekerjaan Bekisting 5.1.1 Umum Bekisting adalah cetakan sementara yang digunakan untuk menahan beton selama beton dituang dan dibentuk sesuai dengan bentuk yang diinginkan.

Lebih terperinci