Visi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)
|
|
|
- Hartanti Pranata
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Sari Pediatri, Sari Pediatri, Vol. 8, No. Vol. 2, 8, September No. 2, September 2006: Penyebaran Spesialis Anak di Indonesia Tahun 2004: Implikasinya Terhadap Kebijakan Kesehatan dan Pendidikan Yati Soenarto, Laksono Trisnantoro, Anis Fuad Komposisi penyebaran tenaga dokter spesialis anak (SpA) di tingkat propinsi di Indonesia masih belum merata. Distribusi penyebaran tenaga spesialis ini hampir 70% berpusat di Jawa dan Bali, bahkan tercatat di beberapa propinsi lain yang tidak memiliki satupun tenaga SpA. Tulisan ini menyajikan distribusi penyebaran SpA di setiap di propinsi di Indonesia dan proporsi pertumbuhan SpA berdasarkan jenis kelamin. Dalam tulisan ini juga didiskusikan beberapa implikasi terhadap kebijakan yang mungkin dapat dijadikan pertimbangan dalam pengembangan model distribusi tenaga SpA. Kata kunci: dokter spesialis anak, pola penyebaran, proporsi pertumbuhan, implikasi kebijakan Visi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) ialah pada tahun 2010 terbina komunitas spesialis anak dengan kemampuan profesional bertaraf internasional dan mampu berperan aktif dalam tercapainya hak dan perlindungan anak di Indonesia dalam pembangunan manusia Indonesia seutuhnya untuk membentuk masyarakat madani Alamat korespondensi: Dr. S. Yati Soenarto, PhD, SpA(K). Anggota Kolegium Ilmu Kesehatan Anak Indonesia Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UGM/RS Dr. Sardjito Jl. Kesehatan No. 1, Sekip Utara, Yogyakarta Telp. (0274) ext 219/ Hp Fax. (0274) Prof. Dr. Laksono Trisnantoro, MSc, PhD, Anis Fuad, Sked, MSc Bagian IKM Fakultas Kedokteran UGM Jl. Farmako, Sekip Utara, Yogyakarta.. Telp. (0274) Fax. (0274) dan dalam wadah bangsa yang maju, mandiri, sejahtera, dan berkeadilan. 1 Salah satu indikator pelayanan kesehatan anak berkolerasi dengan penyebaran jumlah dokter Spesialis Anak (SpA) di seluruh lapisan masyarakat. Oleh karena itu, perlu disikapi dan dikaji beberapa alternatif sebagai dasar pertimbangan pengambilan keputusan oleh semua pihak terkait. Pendistribusian SpA, khususnya dalam upaya pemerataan penyebaran secara geografis, perlu mempertimbangkan beberapa faktor yang mempengaruhinya. 2 Apalagi konsep desentralisasi termasuk isu reformasi kesehatan telah banyak diajukan untuk peningkatan sektor pelayanan publik. 3 Kajian ini bertujuan untuk (1) membahas penyebaran dokter anak, (2) mengkaji pertumbuhan dokter anak dikaitkan dengan jenis kelamin; dan (3) mengkaji skenario serta implikasi kebijakannya, dengan menggunakan data cross-sectional dan data sekunder dari (1) register anak di IDAI dan (2) data dari Departemen Keuangan dan Badan Pusat Statistik Jakarta. 94
2 Distribusi komposisi penyebaran dokter SpA Untuk mengetahui penyebaran dokter Spesialis Anak (SpA) di Indonesia, dilakukan analisis database IDAI pada bulan Juni Data menunjukkan terdapat 1821 SpA, termasuk yang sudah meninggal dunia. Register pertama adalah almarhum Prof. Dr. Sugiri, Sp.A dari Bandung sedangkan register terakhir tercatat atas nama dr. IB Eka Utami Wija, SpA dari Jakarta Selatan yang lulus PSSp1IKA (Program Studi Spesialis1 Ilmu Kesehatan Anak) pada tahun Dugaan bahwa sebagian besar SpA terkonsentrasi di pulau Jawa dan Bali, ternyata memang benar. Hampir 70% dari seluruh penyebaran SpA terpusat di Jawa- Bali yang berpenduduk 118 juta, atau 56% dari seluruh populasi di Indonesia. Rasio komposisi penyebaran SpA tertinggi adalah di DKI Jakarta, disusul DI Yogjakarta, Sulawesi Utara dan Bali. Bahkan, menurut database IDAI di propinsi Bengkulu dan Maluku Utara tidak tercatat adanya SpA. (Gambar 1 dan 2) Gambar 1. Distribusi SpA di seluruh wilayah Indonesia berdasarkan jumlah absolut di masing-masing propinsi (Sumber: database IDAI) Gambar 2. Rasio SpA per penduduk menurut propinsi (sumber: database IDAI) 95
3 Selain berdasar pada dua pola penyebaran tersebut, komposisi distribusi SpA juga dapat dilakukan dengan melihat kemampuan pemerintah daerah dan masyarakat (Tabel 1). Dapat dilihat bahwa distribusi SpA mengikuti pola ada gula ada semut. 4 Kemampuan pemerintah daerah dan masyarakat, secara umum dibagi atas 4 kelompok (kuadran). Kuadran 1 adalah pemerintah dan masyarakat kaya, kuadran 2 adalah pemerintah miskin dan masyarakat kaya, kuadran 3 adalah pemerintah kaya dan masyarakat miskin, sedangkan kuadran 4 adalah pemerintah dan masyarakat miskin. Jumlah SpA yang paling sedikit berada di kuadran 4, sedangkan sebagian besar terkonsentrasi di kuadran 1. Akan tetapi, dari keempat propinsi dengan rasio SpA terbanyak seperti telah disebutkan, kategori kondisi kekayaan pemerintah dan masyarakatnya berbeda. Jakarta dan Bali terletak di kuadran 1 dengan pemerintah daerah dan masyarakatnya yang kaya. DI Yogyakarta, sama halnya dengan Sulawesi Utara, terletak di kuadran 3 yang walaupun masyarakatnya miskin, tetapi pemerintahannya kaya. Kesamaan pada keempat propinsi tersebut yaitu semuanya mempunyai Angka Kematian Bayi/AKB (per 1.000) yang rendah. 4 Data seperti ini sangat penting sebagai masukan terhadap kebijakan pemerintah dalam penentuan penempatan SpA. Sebetulnya pemerintah sudah/sudah pernah mengeluarkan peraturan-peraturan, antara lain wajib kerja spesialis dan pembatasan spesialisasi anak bagi dokter perempuan. Tetapi, apakah peraturan tersebut mengatasi permasalahan? Kalau tidak, apakah ada indikator lain yang berperan? Proporsi berdasarkan jenis kelamin Meskipun program residensi saat ini tampaknya menunjukkan kecenderungan dominasi jumlah dokter perempuan, tetapi hingga saat ini dalam database IDAI jumlah dokter laki-laki masih dominan (64,9% atau 1111 peserta program). Angka ini masih dapat berubah, karena terdapat 4,1% atau sejumlah 70 record yang tidak tercatat jenis kelaminnya. Namun perubahan tersebut tidak akan mengubah komposisi secara bermakna. (Gambar 3 dan 4) Jika masih menggunakan kriteria seperti pada Tabel 1, maka penyebaran SpA menurut jenis kelamin pada wilayah tersebut masih setara. Seperti disajikan pada Tabel 2, pada setiap kuadran terlihat pola komposisi 2 banding 1 antara SpA laki-laki dibanding SpA perempuan. Pertumbuhan Dokter Spesialis Anak Jumlah lulusan dokter spesialis anak (SpA) di Indonesia secara fluktuatif cenderung meningkat dari tahun ke tahun dengan rerata 28 per tahun. Seperti tertera pada Gambar 5, jumlah lulusan terbanyak terjadi pada tahun 1984 yaitu sejumlah 63 orang. Pada dekade jumlah lulusan terlihat stabil pada kisaran di atas 50 per tahun. Pada tahun 1994, jumlah tersebut sempat menurun tajam, akan tetapi Tabel 1. Distribusi SpA berdasarkan kuadran kemampuan pemerintah daerah dan masyarakat Kemampuan Pemerintah Pemerintah kaya Pemerintah miskin Jumlah Kemampuan Masyarakat Masyarakat kaya Masyarakat miskin Jumlah Tabel 2. Distribusi SpA di setiap kuadran berdasarkan jenis kelamin Kemampuan Pemerintah Pemerintah kaya Pemerintah miskin Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan Kemampuan Masyarakat kaya Masyarakat Masyarakat miskin
4 laki-laki 64,9% 4,1% 31,0% Perempuan Gambar 3. Distribusi Spesialis Anak berdasarkan jenis kelamin Gambar 4. Pertumbuhan SpA pertahun berdasarkan jenis kelamin (Sumber: database IDAI) perlahan-lahan meningkat, dan kemudian meningkat tajam pada tahun Fluktuasi ini jelas sekali dipengaruhi oleh berbagai instrumen kebijakan pemerintah, misalnya pemberlakukan kebijakan Pegawai Tidak Tetap (PTT) yang dimulai pada tahun 1992, termasuk juga dampak kebijakan desentralisasi serta penghapusan kewajiban PTT. Perlu dicermati tentang kecenderungan semakin banyaknya spesialis anak perempuan. Hal ini merupakan fenomena universal, termasuk dalam penerimaan mahasiswa baru di Fakultas Kedokteran. Berdasarkan database IDAI, jumlah SpA perempuan memang mengalami fluktuasi, akan tetapi mulai 1997 pertambahan jumlah tersebut mulai melampaui jumlah SpA laki-laki (21:19). Pada saat yang sama, terlihat penurunan secara fluktuatif jumlah SpA lakilaki sejak tahun 1984 sampai sekarang (Gambar 4). Pertanyaan yang perlu dijawab adalah berapa jumlah spesialis yang diperlukan untuk melayani kesehatan anak di Indonesia? Apabila masih kurang, kapan dan bagaimana PSSp1IKA dapat memenuhi kebutuhannya? Apakah kualitas SpA yang dikeluarkan telah memenuhi standar dan mampu bersaing secara nasional, global? Apakah kecenderungan peningkatan salah satu jenis kelamin spesialis anak, dalam hal ini perempuan, akan memberikan dampak pada ketidakmerataan penempatan spesialis anak atau pada kebijakan? 97
5 Gambar 5. Pertumbuhan Spesialis Anak per tahun (Sumber: database IDAI) Implikasi terhadap kebijakan Implikasi terhadap kesehatan nasional Data yang telah disajikan jelas menunjukkan bahwa komposisi penyebaran SpA mengelompok di daerah yang masyarakat dan pemerintahannya kaya. Sementara itu, tanpa memandang penyebaran SpA berdasar pada data IDAI, status kesehatan yang tercermin dari angka kematian bayi (AKB) sangat dipengaruhi oleh keberadaan SpA. Di daerah dengan jumlah Spesialis Anak tinggi, jumlah AKB rendah. Dengan demikian, kebijakan memprioritaskan distribusi SpA di propinsi dengan AKB rendah adalah mutlak. Dengan berlakunya otonomi daerah, sudah tidak dapat ditunda, bahwa propinsi dengan AKB rendah berkewajiban memprioritaskan program kesehatan dengan upaya setempat yang spesifik, agar SpA yang ditempatkan di wilayahnya bersedia menetap. Apalagi data menunjukkan bahwa di daerah kaya yang masyarakatnya miskin, SpA masih berminat tinggal di daerah tersebut (atau mungkin oleh kerena wajib kerja?). Hal ini perlu diteliti secara lebih cermat dengan metode penelitian kualitatif, sehingga bisa ditelusuri minat SpA menetap di suatu wilayah. Temuan tersebut akan sangat diperlukan dalam menentukan kebijakan-kebijakan pemerintah daerah dalam mewujudkan good governance, khususnya di bidang kesehatan, komponen pelaksana utama meliputi pemerintah, masyarakat, dan kelompok pelaku usaha. 5 Implikasi terhadap pengembangan ilmu Penempatan SpA di daerah dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat, dalam hubungannya dengan pengembangan ilmu adalah signifikan sejalan, diwujudkan dengan peningkatan kepedulian dan kemampuan pendidikan berbasis komunitas secara lebih profesional di bidang kesehatan anak. Terlebih lagi, dengan kondisi masyarakat yang semakin heterogen baik secara kesukuan bahkan kewarganegaraan seiring dengan perkembangan globalisasi saat ini, permasalahan kesehatanpun semakin beragam dan kompleks. Fenomena ini menuntut sensitive attention dari semua pihak, 6 dan oleh karena itu pengembangan ilmu pengetahuan diharapkan dapat lebih meluas kajian dan cakupannya. Dikatakan oleh para ahli kesehatan anak bahwa future pediatricians harus mampu menyiapkan diri untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan bagi seluruh anak dari seluruh lapisan masyarakat. 7 Hal senada juga dikemukakan oleh William Cull dkk bahwa berada di tengah masyarakat bagi seorang SpA akan dapat meningkatkan community experiences and child advocacy. 8 Profesionalisme kerja dan pengalaman seorang SpA harus terus ditingkatkan seiring dengan kemajuan zaman. Program pengembangan kajian keilmuan seperti ini juga akan membawa dampak positif tidak hanya dalam memahami kebutuhan pelayanan kesehatan, tetapi juga team building dan koordinasi kerja. 9 98
6 Implikasi terhadap kesejahteraan Dengan kemajuan hasil pembangunan saat ini diharapkan tingkat kesejahteraan masyarakat, termasuk kesehatan, akan menjadi lebih baik. Sejalan dengan hal ini, tuntutan kebutuhan pelayanan kesehatan yang profesional dan berkualitas akan sangat diperlukan, terutama dengan rasio penyebaran spesialis dengan jumlah yang memadai di setiap daerah. Perlu untuk dijadikan perhatian dan pertimbangan tentang beberapa hal yang sering menjadi concerns dalam suatu rencana strategi kebijakan penempatan dan penyebaran tenaga SpA di daerah antara lain ketakutan akan keterbatasan peluang karir dan pendidikan bagi keluarga serta potential profesional isolation. 8 Implikasi untuk pendidikan (competency based) Spesialis adalah tenaga profesional yang telah mencapai kompetensi tertentu dan profesional. Proses pendidikan, termasuk pendidikan kedokteran, merupakan proses yang dinamis dan kontinum, 10 oleh karena itu sistem pendidikan berbasis kompetensi yang menekankan pada perilaku profesional 11 diakui sebagai hal yang penting untuk dirancang secara terpadu. Sementara itu permasalahan kesehatan yang ada dewasa ini semakin beragam dan kompleks. Dengan penyebaran SpA ke seluruh lapisan masyarakat, pada sisi lain juga akan membawa dampak positif yaitu peningkatan kemampuan akademik dan profesional secara lebih komprehensif. Terlebih lagi, seorang SpA diharapkan untuk tidak hanya melaksanakan fungsi dalam pelayanan kesehatan, tetapi juga fungsi akademik sebagai tenaga peneliti dan pendidik. 12 Keterbatasan Database IDAI yang digunakan dalam kajian ini memiliki beberapa keterbatasan, - Sebanyak 4,1 persen data anggota tidak tercatat jenis kelamin. - Pencatatan wilayah (baik propinsi maupun kabupaten) tidak konsisten dan tidak up to date. Data mengenai jumlah penduduk dan struktur sosial ekonomi, yang menggunakan standar wilayah menurut BPS perlu dipertimbangkan agar dapat memberikan kontribusi yang lebih besar pada aspek kebijakan. Daftar Pustaka 1. Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia, periode : Kompendium Ikatan Dokter Anak Indonesia, Edisi kedua. Jakarta: Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia; Committee on Pediatric Workforce. Pediatric workforce statement. Pediatrics 1998; 102; Trisnantoro, L. Desentralisasi kesehatan di Indonesia dan perubahan fungsi pemerintahan , Apakah merupakan uji coba?. Gadjah Mada University; Badan Pusat Statistik Jakarta: Indonesia; Trisnantoro, L. Aspek strategis manajemen rumah sakit antara misi sosial dan tekanan pasar. Andi Offset: Yogyakarta; The future of pediatric education UU: Organizing pediatric education to meet the needs of infants, children, adolescents, and young adults in the 21 st Century [editorial]. Pediatrics 2000; 105; Committee on pediatric workforce. Culturally effective pediatric care: education and training issues. Pediatrics 1999; 103; William LC, Beth KY, Scott AS, Richard JP. pediatric training and job market trends: result from the American Academy of Pediatrics third-year resident survey, Pediatrics 2003; 4; Applebaum M, DeAngelis CD, McAndrews LA, Pan R. Comments of a rector panel pediatric resident education in community settings. Pediatrics 1996; (suppl 6: Sastrowijoto, S. Kebijakan nasional pengembangan pendidikan kedokteran di Indonesia. Jurnal pendidikan kedokteran dan profesi kesehatan Indonesia. Jakarta 2005; I: Savitri, T. Perumusan kompetensi dokter di Indonesia. Jurnal pendidikan kedokteran dan profesi kesehatan Indonesia. Jakarta 2005; I: Kolegium Ilmu Kesehatan Anak Indonesia. Kurikulum pendidikan dokter spesialis Anak Indonesia Jakarta;
BAB I PENDAHULUAN. perkapita sebuah negara meningkat untuk periode jangka panjang dengan syarat, jumlah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pembangunan ekonomi adalah proses yang dapat menyebabkan pendapatan perkapita sebuah
Pendidikan kedokteran pada dasarnya bertujuan
Artikel Asli Sikap Peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Kesehatan Anak Terhadap Tugas Administrasi Rumah Sakit Soepardi Soedibyo, R. Adhi Teguh P.I, Dede Lia Marlia Departemen Ilmu Kesehatan
Visi Pendidikan Spesialis dan Subspesialis: Menjadi bagian integral dalam Sistem Pelayanan Kesehatan di Indonesia
Visi Pendidikan Spesialis dan Subspesialis: Menjadi bagian integral dalam Sistem Pelayanan Kesehatan di Indonesia Laksono Trisnantoro, Fakultas Kedokteran UGM Pengantar Jaminan Kesehatan Nasional talah
KEADAAN KETENAGAKERJAAN DI DKI JAKARTA AGUSTUS 2008
BPS PROVINSI DKI JAKARTA No. 04/01/31/Th. XI, 5 Januari 2009 KEADAAN KETENAGAKERJAAN DI DKI JAKARTA AGUSTUS 2008 Jumlah angkatan kerja di Provinsi DKI Jakarta pada Agustus 2008 mencapai 4,77 juta orang,
BAB I PENDAHULUAN. yang penting dilakukan suatu Negara untuk tujuan menghasilkan sumber daya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan manusia merupakan salah satu syarat mutlak bagi kelangsungan hidup bangsa dalam rangka menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Menciptakan pembangunan
I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Sektor Pertanian memegang peranan yang cukup strategis bagi sebuah
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor Pertanian memegang peranan yang cukup strategis bagi sebuah negara. Peran sektor pertanian sebagai penyedia bahan makanan utama merupakan peran strategis terkait
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Otonomi daerah adalah hak dan wewenang daerah untuk mengatur dan
16 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Otonomi daerah adalah hak dan wewenang daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Urusan rumah tangga sendiri ialah urusan yang lahir atas dasar prakarsa
BAB 1 PENDAHULUAN. manusia. Seiring perkembangan zaman tentu kebutuhan manusia bertambah, oleh
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perekonomian merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Seiring perkembangan zaman tentu kebutuhan manusia bertambah, oleh karena itu perekonomian
BAB 1 PENDAHULUAN. upaya-upaya secara maksimal untuk menciptakan rerangka kebijakan yang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Di era perdagangan bebas atau globalisasi, setiap negara terus melakukan upaya-upaya secara maksimal untuk menciptakan rerangka kebijakan yang mampu menciptakan
BPS PROVINSI SUMATERA SELATAN
BADAN PUSAT STATISTIK BPS PROVINSI SUMATERA SELATAN No.53/09/16 Th. XVIII, 01 September 2016 TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK SUMATERA SELATAN MARET 2016 GINI RATIO SUMSEL PADA MARET 2016 SEBESAR
BAB I PENDAHULUAN. Kemiskinan menghambat tercapainya demokrasi, keadilan dan persatuan.
BAB I PENDAHULUAN Kemiskinan menghambat tercapainya demokrasi, keadilan dan persatuan. Penanggulangan kemiskinan memerlukan upaya yang sungguh-sungguh, terusmenerus, dan terpadu dengan menekankan pendekatan
BAB I PENDAHULUAN. Sekolah Dasar (SD) Negeri Wirosari memiliki visi menjadikan SD
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sekolah Dasar (SD) Negeri Wirosari memiliki visi menjadikan SD Negeri Wirosari sekolah yang unggul, kreatif, inovatif, kompetitif dan religius. Sedangkan misinya
Perencanaan Pembangunan Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau
Perencanaan Pembangunan Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau 1 1. Pendahuluan UU No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan Pembangunan kesehatan bertujuan untuk: meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kemiskinan merupakan salah satu masalah dalam proses pembangunan ekonomi. Permasalahan kemiskinan dialami oleh setiap negara, baik negara maju maupun negara berkembang.
BAB I PENDAHULUAN. reformasi diindikasikan dengan adanya perombakan di segala bidang kehidupan,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Era reformasi yang sedang berjalan atau bahkan sudah memasuki pasca reformasi diindikasikan dengan adanya perombakan di segala bidang kehidupan, politik, moneter, pertahanan
. Keberhasilan manajemen data dan informasi kependudukan yang memadai, akurat, lengkap, dan selalu termutakhirkan.
S ensus Penduduk, merupakan bagian terpadu dari upaya kita bersama untuk mewujudkan visi besar pembangunan 2010-2014 yakni, Terwujudnya Indonesia yang Sejahtera, Demokratis dan Berkeadilan. Keberhasilan
BAB 1 PENDAHULUAN. dan rehabilitasi dengan mendekatkan pelayanan pada masyarakat. Rumah sakit
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Rumah sakit merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan yang kompleks dan mempunyai fungsi luas menyangkut fungsi pencegahan, penyembuhan dan rehabilitasi dengan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Kemiskinan merupakan hal klasik yang belum tuntas terselesaikan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kemiskinan merupakan hal klasik yang belum tuntas terselesaikan terutama di Negara berkembang, artinya kemiskinan menjadi masalah yang dihadapi dan menjadi perhatian
I. PENDAHULUAN. Kebijakan pembangunan merupakan persoalan yang kompleks, karena
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kebijakan pembangunan merupakan persoalan yang kompleks, karena melibatkan seluruh sistem yang terlibat dalam suatu negara. Di negara-negara berkembang modifikasi kebijakan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permasalahan kependudukan mendasar yang terjadi di Indonesia selain pertumbuhan penduduk yang masih tinggi adalah persebaran penduduk yang tidak merata. Hasil sensus
BAB I PENDAHULUAN. ekonomi, sehingga harus disembuhkan atau paling tidak dikurangi. Permasalahan kemiskinan memang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Salah satu tujuan pembangunan nasional adalah meningkatkan kinerja perekonomian agar mampu menciptakan lapangan kerja dan menata kehidupan yang layak bagi seluruh
BAB I PENDAHULUAN. Negara Indonesia merupakan negara kepulauan yang mempunyai wilayah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Negara Indonesia merupakan negara kepulauan yang mempunyai wilayah sangat luas yang terdiri dari beribu-ribu pulau besar dan kecil serta susunan masyarakatnya
BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN
BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Untuk dapat mewujudkan Visi Terwujudnya Sebagai Pusat Perdagangan dan Jasa Berbasis Masyarakat yang Berakhlak dan Berbudaya sangat dibutuhkan political will, baik oleh
RILIS HASIL AWAL PSPK2011
RILIS HASIL AWAL PSPK2011 Kementerian Pertanian Badan Pusat Statistik Berdasarkan hasil Pendataan Sapi Potong, Sapi Perah, dan Kerbau (PSPK) 2011 yang dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia mulai 1-30
Kebijakan dan Manajemen Kesehatan. Deskripsi
Mata Kuliah Kebijakan dan Manajemen Kesehatan KUI 661 Sesi 1: Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc, PhD 1 Deskripsi Matakuliah ini membahas mengenai ilmu kebijakan k dan manajemen yang diterapkan di sektor
TUJUAN 3. Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan
TUJUAN 3 Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan 43 Tujuan 3: Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan Target 4: Menghilangkan ketimpangan gender di tingkat pendidikan dasar
Nama Mata Kuliah : Manajemen Stratejik dan Kesinambungan Finansial Kode : KUI 6681
PROGRAM STUDI PASCASARJANA KEBIJAKAN DAN MANAJEMEN KESEHATAN, FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS GADJAH MADA, YOGYAKARTA Nama Mata Kuliah : Manajemen Stratejik dan Kesinambungan Finansial Kode : KUI 6681
BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN
BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN I. VISI Pembangunan di Kabupaten Flores Timur pada tahap kedua RPJPD atau RPJMD tahun 2005-2010 menuntut perhatian lebih, tidak hanya untuk menghadapi permasalahan
BAB I PENDAHULUAN. Pangan merupakan kebutuhan dasar utama bagi manusia yang harus
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pangan merupakan kebutuhan dasar utama bagi manusia yang harus dipenuhi setiap saat. Sebagai kebutuhan dasar dan hak asasi manusia, pangan mempunyai arti dan peran
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Pembangunan ekonomi merupakan perhatian utama semua negara terutama
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan ekonomi merupakan perhatian utama semua negara terutama negara berkembang. Pembangunan ekonomi dicapai diantar anya dengan melakukan usaha-usaha untuk meningkatkan
BAB I PENDAHULUAN. untuk mengembangkan kegiatan ekonominya sehingga infrastruktur lebih banyak
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pembangunan merupakan serangkaian usaha dalam suatu perekonomian untuk mengembangkan kegiatan ekonominya sehingga infrastruktur lebih banyak tersedia, perusahaan
Laksono Trisnantoro Ketua Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Laksono Trisnantoro Ketua Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada 1 Pembahasan 1. Makna Ekonomi Politik 2. Makna Pemerataan 3. Makna Mutu 4. Implikasi terhadap
INDEKS PEMBANGUNAN GENDER DAN INDEKS PEMBERDAYAAN GENDER Provinsi DKI Jakarta TAHUN 2011
No. 07/01/31/Th. XV, 2 Januari 2013 INDEKS PEMBANGUNAN GENDER DAN INDEKS PEMBERDAYAAN GENDER Provinsi DKI Jakarta TAHUN 2011 1. Indeks Pembangunan Gender (IPG) DKI Jakarta Tahun 2011 A. Penjelasan Umum
Kekuatan Asing Masih Kuasai Ekonomi Perikanan Nasional
PUSAT KAJIAN PEMBANGUNAN KELAUTAN DAN PERADABAN MARITIM Kekuatan Asing Masih Kuasai Ekonomi Perikanan Nasional Laporan Ekonomi Perikanan Triwulan I Tahun 2011 Suhana 5/11/2011 Alamat Kontak : Blog : Http://pk2pm.wordpress.com,
BAB I PENDAHULUAN. Kebijakan pembangunan pada era 1950-an hanya berfokus pada bagaimana
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebijakan pembangunan pada era 1950-an hanya berfokus pada bagaimana suatu negara dapat meningkatkan pendapatannya guna mencapai target pertumbuhan. Hal ini sesuai
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Undang-undang desentralisasi membuka peluang bagi daerah untuk dapat secara lebih baik dan bijaksana memanfaatkan potensi yang ada bagi peningkatan kesejahteraan dan kualitas
BAB I PENDAHULUAN. fiskal maupun moneter. Pada skala mikro, rumah tangga/masyarakat misalnya,
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Secara umum angka inflasi yang menggambarkan kecenderungan umum tentang perkembangan harga dan perubahan nilai dapat dipakai sebagai informasi dasar dalam pengambilan
I. PENDAHULUAN. percepatan terwujudnya peningkatan kesejahteraan seluruh rakyat (Bappenas,
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tujuan utama kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal adalah percepatan terwujudnya peningkatan kesejahteraan seluruh rakyat (Bappenas, 2007). Untuk mewujudkan
Clinical Leadership. Modul. Program Pendidikan Dokter Spesialis Fakultas Kedokteran- UGM Tim Fasilitator. Prof dr Laksono Trisnantoro, MSc.
Modul Clinical Leadership Program Pendidikan Dokter Spesialis Fakultas Kedokteran- UGM 2011 Tim Fasilitator Prof dr Laksono Trisnantoro, MSc., PhD Dr Endro Basuki, SpBS Dr. Wiryawan, M., SpBS Dr Andreasta
BAB I PENDAHULUAN. Isu mengenai ketimpangan ekonomi antar wilayah telah menjadi fenomena
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Isu mengenai ketimpangan ekonomi antar wilayah telah menjadi fenomena global. Permasalahan ketimpangan bukan lagi menjadi persoalan pada negara dunia ketiga saja. Kesenjangan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perempuan karir, dalam segala levelnya, kian hari kian mewabah. Dari posisi pucuk pimpinan negara, top executive, hingga kondektur bus bahkan tukang becak. Hingga kini
I. PENDAHULUAN. mengembangkan sistem pemerintahan yang baik (Good Governance), yaitu
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Reformasi politik yang bergulir sejak Tahun 1998 merupakan upaya untuk mengembangkan sistem pemerintahan yang baik (Good Governance), yaitu pemerintahan yang berkeadilan,
IPM KABUPATEN BANGKA: CAPAIAN DAN TANTANGAN PAN BUDI MARWOTO BAPPEDA BANGKA 2014
IPM KABUPATEN BANGKA: CAPAIAN DAN TANTANGAN PAN BUDI MARWOTO BAPPEDA BANGKA 2014 LATAR BELAKANG Sebelum tahun 1970-an, pembangunan semata-mata dipandang sebagai fenomena ekonomi saja. (Todaro dan Smith)
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Otonomi daerah merupakan salah satu kebijakan pengembangan wilayah yang mencoba merubah sistem sentralistik menjadi desentralistik. Melalui kebijakan ini, diharapkan
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan suatu negara. Pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami perubahan yang cukup berfluktuatif. Pada
Pokok-pokok pemikiran mengenai IDI dan Kolegium sebagai organisasi profesi yang terpisah
Pokok-pokok pemikiran mengenai IDI dan Kolegium sebagai organisasi profesi yang terpisah Untuk mencegah hilangnya/pembatasan hak konstitusi masyarakat dalam mendapat pelayanan kesehatan dan pendidikan
CAPAIAN PERTUMBUHAN EKONOMI BERKUALITAS DI INDONESIA. Abstrak
CAPAIAN PERTUMBUHAN EKONOMI BERKUALITAS DI INDONESIA Abstrak yang berkualitas adalah pertumbuhan yang menciptakan pemerataan pendapatan,pengentasan kemiskinan dan membuka kesempatan kerja yang luas. Di
PROFIL PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI OLEH MASYARAKAT
No. 42 / IX / 14 Agustus 2006 PROFIL PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI OLEH MASYARAKAT Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2005 Dari hasil Susenas 2005, sebanyak 7,7 juta dari 58,8 juta rumahtangga
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Isu kemiskinan masih menjadi isu strategik dan utama dalam pembangunan, baik di tingkat nasional, regional, maupun di provinsi dan kabupaten/kota. Di era pemerintahan
POST GRADUATE PROGRAM IN PUBLIC HEALTH, FACULTY OF MEDICINE, UNIVERSITAS GADJAH MADA, YOGYAKARTA
POST GRADUATE PROGRAM IN PUBLIC HEALTH, FACULTY OF MEDICINE, UNIVERSITAS GADJAH MADA, YOGYAKARTA Nama Mata Kuliah : Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan Kode : KUI 6041 Kredit : 2 SKS Status Mata
BAB 1 PENDAHULUAN. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 adalah melindungi
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 adalah melindungi segenap bangsa Indonesia
1 PENDAHULUAN. Latar Belakang. Tabel 1 Peringkat daya saing negara-negara ASEAN tahun
1 1 PENDAHULUAN Daya saing merupakan suatu hal yang mutlak dimiliki dalam persaingan pasar bebas. Perkembangan daya saing nasional di tingkat internasional juga tidak terlepas dari perkembangan daya saing
Sensus Pertanian 2013 (ST2013) merupakan sensus pertanian keenam yang diselenggarakan Badan Pusat Statistik
Seuntai Kata Sensus Pertanian 2013 (ST2013) merupakan sensus pertanian keenam yang diselenggarakan Badan Pusat Statistik (BPS) setiap 10 (sepuluh) tahun sekali sejak 1963. Pelaksanaan ST2013 merupakan
1. PENDAHULUAN. Pembangunan nasional bangsa lndonesia bertujuan untuk. mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan
1. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan nasional bangsa lndonesia bertujuan untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Dalam rangka pencapaian tujuan tersebut
& KELEBIHAN KOPERASI dalam Melindungi Petani & Usahawan Kecil Pedesaan
PENGENTASAN KEMISKINAN & KELEBIHAN KOPERASI dalam Melindungi Petani & Usahawan Kecil Pedesaan Pengantar oleh: Rajiv I.D. Mehta Director Pengembangan ICA Asia Pacific 1 Latar Belakang Perekonomian dunia
Jumlah dan Pertumbuhan Penduduk di Indonesia Mulai Tahun 1961 sampai Tahun 2010
Jumlah dan Pertumbuhan Penduduk di Indonesia Mulai Tahun 1961 sampai Tahun 2010 Kondis i penduduk di suatu negara sangat besar pengaruhnya terhadap pembangunan nasional. Jumlah penduduk di suatu negara
Professional Development
Professional Development untuk Peningkatan Mutu Laksono Trisnantoro Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan FK- UGM/Magister Manajemen Rumahsakit/Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan UGM 1
PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2012 TENTANG
MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG BIDANG KETENAGAKERJAAN
Skenario RS menghadapi era
Skenario RS menghadapi era BPJS: dalam konteks spesialis dan kebijakan industri Laksono Trisnantoro Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan FK UGM Ob servasi 15 tahun terakhir: Masyarakat miskin yang dulu
PENDAHULUAN Latar Belakang
PENDAHULUAN Latar Belakang Otonomi Daerah sebagai wujud dari sistem demokrasi dan desentralisasi merupakan landasan dalam pelaksanaan strategi pembangunan yang berkeadilan, merata, dan inklusif. Kebijakan
I. PENDAHULUAN. daerahnya sendiri dipertegas dengan lahirnya undang-undang otonomi daerah yang terdiri
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tekad pemerintah pusat untuk meningkatkan peranan pemerintah daerah dalam mengelola daerahnya sendiri dipertegas dengan lahirnya undang-undang otonomi daerah yang terdiri
VISI MISI DAN PROGRAM IR. DJAMALUDDIN MAKNUN, MP DR. MASJKUR, SP., M.SI CALON BUPATI DAN WAKIL BUPATI GOWA PERIODE
VISI MISI DAN PROGRAM IR. DJAMALUDDIN MAKNUN, MP DR. MASJKUR, SP., M.SI CALON BUPATI DAN WAKIL BUPATI GOWA PERIODE 2015 2020 Isu Isu Strategis Issue- issue strategis dan yang mendesak untuk diselesaikan
BAB 1 PENDAHULUAN. dalam bidang pengelolaan keuangan negara maupun daerah. Akuntabilitas
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Reformasi sektor publik yang disertai adanya tuntutan demokratisasi menjadi suatu fenomena global termasuk di Indonesia. Tuntutan demokratisasi ini menyebabkan
SKEMA GRAND DESIGN LAM-PTKes
SKEMA GRAND DESIGN LAM-PTKes 1 Kompetensi tenaga kesehatan yang belum sesuai dengan kebutuhan individual pasien maupun populasi; Kerja sama antar profesi yang masih rendah; Paradigma yang lebih berorientasi
BAB I PENDAHULUAN. seluruh aspek kehidupan. Salah satu aspek reformasi yang dominan adalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Reformasi yang dimulai beberapa tahun lalu telah merambah ke seluruh aspek kehidupan. Salah satu aspek reformasi yang dominan adalah aspek pemerintahan yaitu
TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK MALUKU UTARA SEPTEMBER 2016
No. 11/02/82/Th. XVI, 1 Februari 2017 TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK MALUKU UTARA SEPTEMBER 2016 GINI RATIO DI MALUKU UTARA KEADAAN SEPTEMBER 2016 SEBESAR 0,309 Pada September 2016, tingkat ketimpangan
PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2013 TENTANG PENDIDIKAN KEDOKTERAN
PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2013 TENTANG PENDIDIKAN KEDOKTERAN I. UMUM Pendidikan Kedokteran merupakan salah satu unsur perwujudan tujuan negara yang diamanatkan dalam
Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia kaya ragam budaya, adat istiadat, suku bangsa, bahasa, agama
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1862, 2015 KEMENKES. Tenaga Kesehatan. Penugasana Khusus. Perubahan. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 80 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Medan Tahun BAB 1 PENDAHULUAN
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sejalan dengan perkembangan kondisi sosial, ekonomi dan budaya, Kota Medan tumbuh dan berkembang menjadi salah satu kota metropolitan baru di Indonesia, serta menjadi
I. PENDAHULUAN. Pembangunan nasional pada hakekatnya merupakan upaya dalam meningkatkan kapasitas
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan nasional pada hakekatnya merupakan upaya dalam meningkatkan kapasitas pemerintah secara profesional untuk memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat,
BAB I PENDAHULUAN. dan masyarakatnya mengelola sumberdaya-sumberdaya yang ada dan. swasta untuk menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang
Analisis struktur perekonomian kota Depok sebelum dan sesudah otonomi daerah UNIVERSITAS SEBELAS MARET Oleh: HARRY KISWANTO NIM F0104064 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembangunan daerah merupakan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebagaimana tertulis dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014, pemerintah menetapkan visi pembangunan yaitu Terwujudnya Indonesia yang
BAB I PENDAHULUAN. Hal ini ditandai dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun
digilib.uns.ac.id BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Desentralisasi fiskal sudah dilaksanakan di Indonesia sejak tahun 2001. Hal ini ditandai dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun
Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Ringkasan Eksekutif
Ringkasan Eksekutif Pendidikan telah menjadi sebuah kekuatan bangsa khususnya dalam proses pembangunan di Jawa Timur. Sesuai taraf keragaman yang begitu tinggi, Jawa Timur memiliki karakter yang kaya dengan
BAB I PENDAHULUAN. Peningkatan persaingan akan mendorong perusahaan untuk melakukan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Di era globalisasi ini, persaingan dalam dunia bisnis semakin meningkat. Peningkatan persaingan akan mendorong perusahaan untuk melakukan penyesuaian terhadap
BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI MALUKU
BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI MALUKU Seuntai Kata Sensus Pertanian 2013 (ST2013) merupakan sensus pertanian keenam yang diselenggarakan Badan Pusat Statistik (BPS) setiap 10 (sepuluh) tahun sekali sejak
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kabupaten Lebak mempunyai catatan tersendiri dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Pada jaman kolonial, kabupaten ini sudah dikenal sebagai daerah perkebunan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perhatian terhadap penduduk terutama jumlah, struktur dan pertumbuhan dari waktu ke waktu selalu berubah. Pada zaman Yunani dan Romawi kuno aspek jumlah penduduk sangat
BAB I PENDAHULUAN. kesempatan kerja sangatlah terbatas (Suratiyah dalam Irwan, 2006)
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Secara umum masalah utama yang sedang dihadapi secara nasional adalah sedikitnya peluang kerja, padahal peluang kerja yang besar dalam aneka jenis pekerjaan
I. PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Indonesia adalah negara agraris dimana sebagian besar penduduknya mempunyai mata pencaharian sebagai petani. Mereka menggantungkan hidupnya dari hasil bercocok tanam atau
BAB I PENDAHULUAN. Efektivitas proses..., Hani Khotijah Susilowati, FISIP UI, Universitas Indonesia
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada awal abad XXI, dunia pendidikan di Indonesia menghadapi tiga tantangan besar. Tantangan pertama, sebagai akibat dari krisis ekonomi, dunia pendidikan dituntut
Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Kata Pengantar
Kata Pengantar Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas perkenan-nya kami dapat menyelesaikan penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Dinas Pendidikan
RANCANGAN RENCANA STRATEGIS (RENSTRA)
RANCANGAN RENCANA STRATEGIS (RENSTRA) BADAN KELUARGA BERENCANA DAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN KABUPATEN GARUT TAHUN 2014 KATA PENGANTAR Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas
BAB I VISI, MISI, NILAI, TUJUAN, SASARAN. 1.1 Visi Menjadi institusi pendidikan di bidang Gizi Kesehatan yang bermutu internasional.
BAB I VISI, MISI, NILAI, TUJUAN, SASARAN 1.1 Visi Menjadi institusi pendidikan di bidang Gizi Kesehatan yang bermutu internasional. 1.2 Misi 1.2.1 Menyelenggarakan pendidikan di bidang gizi kesehatan yang
BAB I PENDAHULUAN. Rencana Kerja Dinas Kesehatan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Program dan kegiatan pembangunan pada dasarnya disusun untuk meningkatkan kualitas kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat sebesarbesarnya yang diukur berdasarkan
BAB I PENDAHULUAN. Padahal sumber data penduduk yang tersedia hanya secara periodik, yaitu Sensus Penduduk
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Para pemakai data kependudukan, khususnya para perencana, pengambil kebijaksanaan, dan peneliti sangat membutuhkan data penduduk yang berkesinambungan dari tahun ke
PERATURAN DAERAH KABUPATEN KLUNGKUNG NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN BIDANG PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN DAERAH KABUPATEN KLUNGKUNG NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN BIDANG PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KLUNGKUNG, Menimbang : a. bahwa bidang pendidikan merupakan
